Jumat, 26 Desember 2025

catatan literasi dari malang

**Dari Aroma Bromo hingga Penumpang Misterius di Kursi 5B:

Catatan Literasi dari Malang**

Oleh: Tini Suhartini (Kota Tangerang)
Peserta KOPDAR KBMN Ke-4 Goes to Malang 2025

Malang, kota dengan sejuta pesona, baru saja meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati saya. Pada tanggal 21–24 Desember 2025, saya menempuh perjalanan jauh dari Kota Tangerang bukan sekadar untuk bertamasya, melainkan untuk sebuah misi literasi. Siapa sangka, perjalanan ini menjelma menjadi paket lengkap—menyentuh jiwa, mengasah pikiran, dan sesekali mengocok perut dengan tawa.

Perjalanan ini terasa semakin bermakna karena saya tidak sendiri. Saya ditemani putra bungsu tercinta, Muhammad Fauzi, serta dua sahabat seperjuangan, Anis Solihah dan Yulia Wardani. Bersama-sama, kami menjadi bagian dari sejarah manis KOPDAR KBMN ke-4, yang mengusung tema:
“A Literary Journey Across the Archipelago, Where Inspiration Meets the City of Flowers.”

---

Simfoni Nakhoda dan Mantra yang Menembus Kalbu

Di balik suksesnya perhelatan di BBGTK Jawa Timur, ada peran besar Ibu Helwiyah, S.Pd., M.M. yang layaknya seorang nakhoda ulung. Dengan ketenangan dan ketegasannya, beliau merajut seluruh rangkaian acara menjadi harmoni yang indah antara edukasi, refleksi, dan rekreasi. Kami tidak hanya belajar, tetapi juga merayakan persaudaraan yang tulus.

Namun, ada satu sosok yang menjadi denyut utama gerakan literasi ini, yakni Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay). Meski kondisi kesehatan beliau kadang naik turun, semangatnya tak pernah surut. Kalimat legendarisnya,
“Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi,”
bukan sekadar slogan, melainkan mantra yang menembus relung kalbu.

Kalimat itu membakar keraguan kami—saya, Anis, dan Yulia—untuk terus menulis, memahat makna, dan percaya bahwa keabadian bisa lahir dari rangkaian kata. Omjay adalah api yang terus menyala, menerangi langkah para penulis agar tak takut berjalan dalam sunyi.

---

Filosofi Kuda Bromo: Antara Literasi dan Toilet

Puncak perenungan perjalanan ini kami rasakan saat tadabur alam di Gunung Bromo. Menyaksikan matahari terbit perlahan dari balik ufuk, kami seolah diajak membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT dengan cara yang paling jujur dan sunyi.

Namun, di balik suasana spiritual itu, terselip kisah jenaka yang pecah dalam tawa saat kami sudah kembali ke bus. Obrolan tentang “harumnya” aroma air seni kuda di lautan pasir Bromo mendadak berubah ketika Bu Anis melontarkan celetukan polos namun menggelitik:

"Kasihan ya kudanya, mereka nggak tahu letak toilet, padahal tulisannya gede banget: TOILET!"

Kami pun tergelak. Aih, Bu Anis! Ternyata literasi memang tidak berlaku untuk semua makhluk, termasuk kuda-kuda Bromo yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Humor sederhana itu menjadi penghangat perjalanan pulang.

---

Drama Menegangkan: Misteri Kursi Nomor 5B

Keceriaan kami belum usai. Drama kecil bertajuk “Misteri Kursi Nomor 5B” sempat membuat suasana bus menegang. Bus tak kunjung berangkat karena Pak Kondektur mondar-mandir sambil mengecek tiket, wajahnya tampak serius.

Sebelumnya, Bu Anis sempat berbisik,
"Ini sebelah teman saya kosong, Pak."
Namun laporan itu berlalu begitu saja.

Tak lama, Pak Kondektur kembali dan menghampiri Fauzi di kursi 5A.
"Mas, boleh saya lihat tiketnya?"

Belum sempat Fauzi menjawab, saya dan Bu Anis spontan menjelaskan,
"Pak, kursi sebelah itu memang kosong, sekarang cuma diisi tas."

Sekejap, wajah Pak Kondektur berubah. Ia menghela napas panjang—antara lega dan kesal.
"Oalah… pantesan. Dari tadi saya nungguin penumpang kursi 5B. Saya kira orangnya belum naik!"

Bus pun akhirnya melaju. “Penumpang misterius” di kursi 5B ternyata hanyalah sebuah tas yang duduk manis, tanpa tiket dan tanpa protes. ❤️

---

Menenun Rindu di Jalan Pulang

Ketika roda bus mulai menjauh dari Malang, rasa haru perlahan menyelinap. Empat hari terasa begitu singkat, seperti kedipan mata. Kami pulang tidak hanya membawa lelah yang indah, tetapi juga peti-peti rindu yang penuh dengan tawa, cerita, dan kehangatan keluarga besar Tim Solid Omjay (TOS) serta para penulis Nusantara.

Di Malang, saya belajar bahwa literasi bukan sekadar menyusun kata, melainkan menyusun doa dan cinta. Persaudaraan yang terjalin adalah cermin kasih sayang Allah SWT yang hadir melalui senyum sahabat dan genggaman tangan anak tercinta.

Persaudaraan ini adalah perpustakaan hidup—tempat kami saling membaca, memahami, dan menguatkan tanpa menghakimi. Menulis adalah cara saya mencintai kehidupan, dan melalui tulisan ini, saya mengabadikan cinta seorang ibu, kesetiaan seorang sahabat, serta pengabdian seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Malang telah menjadi rahim bagi lahirnya gagasan-gagasan baru. Perpisahan ini bukan titik akhir, melainkan sebuah koma panjang—tempat kami menarik napas sebelum menuliskan bab selanjutnya dalam kitab kehidupan.

Kenangan ini akan selalu mekar dalam kalbu, manis, hangat, dan abadi—bahkan terasa lebih manis dari apel Malang.

Terima kasih KBMN.
Terima kasih Malang.
Sampai jumpa di tikungan takdir berikutnya,
dalam dekapan literasi dan cinta yang tak pernah usai.

“Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.”

1 komentar:

  1. MasyaAllah bahagianya tulisan saya di posting ulang oleh Omjay sang motivator ..Terima kasih Omjay sehat dan sukses selalu

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.