Bertemu Presiden Jokowi dalam Mimpi: Sebuah Percakapan Sunyi tentang Bangsa dan Nurani
Malam itu hujan turun pelan. Tidak deras, tidak pula sekadar rintik. Hujan yang seolah tahu, bahwa seseorang sedang lelah bukan hanya oleh pekerjaan, tetapi oleh pikiran tentang negeri ini. Saya tertidur dengan kepala penuh tanya: ke mana arah bangsa, bagaimana nasib pendidikan, dan apa peran kecil seorang guru di tengah riuh politik dan kekuasaan.
Dalam tidur itulah mimpi datang. Anehnya begitu nyata.
Saya berdiri di sebuah ruangan sederhana, mirip Istana Negara, tetapi tanpa kemewahan berlebihan. Tidak ada protokol, tidak ada ajudan yang mondar-mandir. Hanya sebuah meja kayu, dua kursi, dan Presiden Joko Widodo duduk di hadapan saya. Beliau mengenakan kemeja putih khasnya. Senyum tipis, wajah tenang, seperti yang sering kita lihat di televisi—tetapi kali ini lebih manusiawi, lebih dekat.
“Silakan duduk,” katanya pelan.
Saya tertegun. Bukan karena bertemu Presiden, tetapi karena suasana yang terasa hangat. Tidak ada jarak kekuasaan. Tidak ada rasa takut. Hanya dua manusia yang sedang berbincang.
“Pak Presiden,” kata saya membuka percakapan, “saya hanya guru biasa. Menulis, mengajar, dan mencoba bertahan di tengah perubahan zaman.”
Beliau tersenyum. “Justru guru biasa itulah yang membuat negeri ini luar biasa,” jawabnya.
Kalimat sederhana itu seperti mengetuk dada. Dalam mimpi, saya memberanikan diri bertanya tentang banyak hal: pendidikan yang sering berubah kebijakan, guru yang lelah oleh administrasi, anak-anak yang lebih akrab dengan gawai daripada buku.
Presiden Jokowi mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menggurui.
“Negeri ini besar,” katanya, “dan tidak semua bisa selesai dalam satu masa jabatan. Tapi saya percaya, selama masih ada guru yang mau peduli, mau menulis, mau bersuara dengan hati, Indonesia tidak akan kehilangan arah.”
Saya terdiam. Dalam mimpi itu, saya merasa bukan sedang berbicara dengan kepala negara, tetapi dengan seorang ayah yang memikul beban berat. Beban yang sering tak terlihat oleh rakyatnya sendiri.
Saya bertanya lagi, “Pak, apakah Bapak lelah?”
Beliau tertawa kecil. “Manusia mana yang tidak lelah? Tapi lelah itu harus tetap diiringi niat baik. Kalau niatnya untuk rakyat, lelahnya jadi ibadah.”
Percakapan berlanjut ke hal-hal yang lebih sunyi: tentang kritik, tentang hujatan, tentang media sosial yang sering kejam. Presiden Jokowi menatap ke luar jendela. Langit di mimpi itu cerah, seolah hujan sudah selesai.
“Kadang yang paling berat,” katanya, “bukan kebijakan, tapi salah paham. Namun pemimpin harus belajar berdamai dengan itu.”
Saya mengangguk. Sebagai penulis dan guru, saya paham betul rasanya disalahpahami. Ternyata, di puncak kekuasaan pun rasa itu tetap ada.
Sebelum mimpi berakhir, beliau berdiri dan menepuk bahu saya. “Teruslah menulis. Suara guru penting, meski pelan. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.”
Lalu semuanya memudar.
Saya terbangun saat azan subuh berkumandang. Jantung masih berdebar. Bukan karena mimpi bertemu Presiden, tetapi karena pesan-pesan yang tertinggal di hati. Mimpi itu mungkin hanya bunga tidur. Namun seperti banyak mimpi lain, ia membawa makna.
Bagi saya, mimpi itu adalah refleksi. Tentang harapan rakyat kecil kepada pemimpinnya. Tentang kerinduan akan dialog yang jujur, sederhana, dan manusiawi. Juga tentang tanggung jawab pribadi: bahwa mengeluh saja tidak cukup, menulis saja tidak cukup, mengajar saja tidak cukup—semuanya harus disertai keikhlasan.
Bertemu Presiden Jokowi dalam mimpi bukan tentang kebanggaan, melainkan pengingat. Bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya oleh mereka yang duduk di istana, tetapi juga oleh guru-guru di kelas sempit, oleh penulis yang setia mengetik di dini hari, oleh rakyat biasa yang tetap mencintai Indonesia meski sering kecewa.
Mimpi itu telah usai. Presiden tetap Presiden. Saya tetap guru dan penulis. Namun pagi itu, langkah terasa sedikit lebih ringan. Karena saya percaya, selama masih ada niat baik—di istana maupun di ruang kelas—Indonesia akan terus berjalan.
Dan mungkin, suatu hari nanti, percakapan sunyi dalam mimpi itu akan menjelma menjadi kenyataan: dialog yang jujur antara pemimpin dan rakyatnya, tanpa jarak, tanpa topeng, hanya hati dan harapan untuk negeri tercinta. 🇮🇩✍️
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.