Jumat, 29 Mei 2026

Mempertahankan dan Menjaga Mood Menulis

Menjaga Mood Menulis Agar Tetap Stabil

Kisah Omjay untuk Para Guru dan Pembina Majalah Sekolah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

"Pak Omjay, bagaimana menjaga mood menulis agar stabil? Saya pembina majalah sekolah, tetapi menulis masih musiman."

Pertanyaan itu membuat saya tersenyum. Sebab, terus terang saja, saya pun pernah mengalami hal yang sama. Ada masa ketika ide menulis mengalir deras seperti air sungai di musim hujan. Namun ada pula saat-saat tertentu ketika membuka laptop saja terasa berat. Jangankan menulis satu artikel, mencari judul saja sudah membuat kepala terasa penuh.

Banyak orang mengira penulis produktif selalu memiliki mood yang baik untuk menulis. Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru sebagian besar penulis produktif tetap menulis meskipun mood sedang tidak datang.

Dulu saya juga menunggu mood.

Kalau suasana hati sedang bagus, saya menulis. Kalau sedang sibuk, lelah, atau tidak ada inspirasi, saya berhenti menulis. Akibatnya tulisan yang lahir sangat sedikit.

Sampai akhirnya saya menyadari satu hal penting:

Menunggu mood adalah cara tercepat untuk berhenti menulis.

Sejak saat itu saya mengubah kebiasaan. Saya tidak lagi menunggu mood datang, tetapi menciptakan mood dengan cara menulis.

Menulis Itu Seperti Berolahraga

Bayangkan seseorang yang ingin sehat tetapi hanya berolahraga ketika mood datang.

Hari pertama semangat.

Hari kedua semangat.

Hari ketiga malas.

Hari keempat lupa.

Hari kelima sibuk.

Akhirnya olahraga berhenti.

Menulis juga demikian. Jika kita hanya menulis saat suasana hati mendukung, maka produktivitas akan naik turun seperti ombak di lautan.

Penulis yang konsisten bukanlah orang yang selalu bersemangat, tetapi orang yang tetap menulis meskipun sedang tidak bersemangat.

Mulailah dari Tulisan Kecil

Kesalahan banyak guru adalah ingin langsung menulis artikel panjang dan sempurna.

Padahal tidak harus demikian.

Ketika saya sedang kehilangan mood, saya memulai dengan hal sederhana:

- Menulis satu paragraf.
- Menulis satu pengalaman hari itu.
- Menulis satu pelajaran yang saya dapatkan.
- Menulis satu kutipan inspiratif.

Sering kali tulisan kecil itu berkembang menjadi artikel panjang.

Ibarat menyalakan mobil, yang sulit bukan menjalankannya, tetapi menghidupkan mesinnya.

Jadikan Menulis Sebagai Kebiasaan

Selama bertahun-tahun menjadi blogger, saya belajar bahwa kebiasaan lebih kuat daripada motivasi.

Motivasi datang dan pergi.

Mood datang dan pergi.

Tetapi kebiasaan akan tetap tinggal.

Karena itu saya membiasakan diri menulis setiap hari.

Tidak harus sempurna.

Tidak harus panjang.

Yang penting menulis.

Lama-kelamaan otak akan menganggap menulis sebagai aktivitas normal, sama seperti makan dan mandi.

Simpan Ide di Mana Saja

Banyak tulisan hilang karena ide tidak segera dicatat.

Padahal inspirasi sering datang di tempat yang tidak terduga:

- Saat mengajar.
- Saat naik kendaraan.
- Saat menghadiri rapat.
- Saat melihat siswa.
- Saat berbincang dengan teman.

Karena itu saya selalu mencatat ide di ponsel.

Ketika waktu menulis tiba, saya tidak lagi kebingungan mencari bahan.

Daftar ide sudah menunggu untuk dikembangkan.

Jangan Terlalu Perfeksionis

Penyakit terbesar para penulis pemula adalah ingin sempurna sejak kalimat pertama.

Akibatnya mereka tidak jadi menulis.

Saya selalu mengingatkan diri sendiri:

"Tulisan jelek yang selesai lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak pernah selesai."

Tulislah dulu.

Edit belakangan.

Perbaiki kemudian.

Yang penting tulisan lahir terlebih dahulu.

Bergabung dengan Komunitas Menulis

Salah satu alasan saya tetap semangat menulis adalah karena berada di lingkungan orang-orang yang juga gemar menulis.

Energi positif itu menular.

Ketika melihat teman menulis artikel, kita ikut termotivasi.

Ketika melihat guru menerbitkan buku, kita ikut terdorong.

Karena itulah komunitas menulis sangat penting.

Mereka menjadi pengingat ketika semangat mulai menurun.

Menulislah dari Hati

Banyak orang kehilangan mood karena merasa harus menulis hal-hal besar.

Padahal tulisan yang paling mudah lahir justru berasal dari pengalaman pribadi.

Tulislah:

- Kisah di kelas.
- Pengalaman mendidik siswa.
- Cerita bersama keluarga.
- Refleksi kehidupan.
- Pelajaran yang diperoleh setiap hari.

Tulisan yang lahir dari hati biasanya lebih mudah ditulis dan lebih mudah menyentuh hati pembaca.

Fokus pada Manfaat

Ketika merasa malas menulis, saya selalu bertanya kepada diri sendiri:

"Siapa yang akan mendapatkan manfaat dari tulisan ini?"

Pertanyaan sederhana itu sering mengembalikan semangat yang hilang.

Mungkin ada guru yang terbantu.

Mungkin ada siswa yang terinspirasi.

Mungkin ada orang tua yang mendapatkan pelajaran.

Ketika kita fokus pada manfaat, energi menulis biasanya akan kembali muncul.

Rahasia Terbesar Menjaga Mood Menulis

Setelah menulis ribuan artikel dan puluhan buku, saya menemukan satu rahasia sederhana:

Mood bukan penyebab kita menulis. Menulislah yang menciptakan mood.

Mulailah dengan satu kalimat.

Lanjutkan menjadi satu paragraf.

Kemudian satu halaman.

Lama-kelamaan semangat akan datang dengan sendirinya.

Karena itu, kepada sahabat yang menjadi pembina majalah sekolah tetapi merasa masih menulis secara musiman, saya ingin mengatakan:

Jangan menunggu inspirasi datang.

Duduklah.

Bukalah laptop.

Tuliskan satu kalimat.

Besok satu kalimat lagi.

Lusa satu paragraf.

Minggu depan satu artikel.

Sebulan kemudian Anda akan terkejut melihat begitu banyak tulisan yang telah lahir.

Sebagaimana yang selalu saya yakini:

"Tulisan yang hebat bukan lahir dari penulis yang selalu memiliki mood, tetapi dari penulis yang terus menulis meskipun mood belum datang."

Dan pesan yang selalu saya pegang hingga hari ini adalah:

"Tulisanku adalah tabunganku. Setiap hari saya menabung kata demi kata, hingga akhirnya menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."Semoga artikel ini dapat menginspirasi para guru, pembina majalah sekolah, dan pegiat literasi agar terus menulis setiap hari tanpa menunggu mood datang. Karena sesungguhnya, konsistensi jauh lebih penting daripada inspirasi sesaat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.