Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 16 Mei 2026

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan: Pelajaran Berharga dari KBMN Gelombang 34

Menulis itu mudah, tetapi menghadirkan tulisan yang nyaman dibaca ternyata membutuhkan perjuangan yang lebih panjang. Hal itulah yang dirasakan Omjay ketika mengikuti kegiatan KBMN Gelombang 34 pada pertemuan ke-12 yang dilaksanakan Jumat, 15 Mei 2026. Tema yang dibahas malam itu sangat menarik dan dekat dengan kehidupan para penulis, yaitu “Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan.”

Narasumber malam itu adalah Susanto, seorang guru sekaligus penulis yang menyampaikan materi dengan sederhana namun sangat mengena di hati peserta. Acara dipandu dengan hangat oleh Lely Suryani yang membuat diskusi berjalan hidup dan penuh semangat.

Seperti biasa, Omjay mengikuti kegiatan tersebut sambil membuka laptop kecil kesayangannya. Di tengah suasana malam yang tenang, OmJay mulai menyadari satu hal penting: banyak penulis terlalu bersemangat menerbitkan tulisan, tetapi lupa memeriksa kembali tulisannya. Akibatnya, pembaca menemukan banyak kesalahan kecil yang mengganggu kenyamanan membaca.

Padahal, kesalahan kecil bisa merusak keindahan sebuah tulisan.

Dalam pemaparannya, Pak Susanto menjelaskan bahwa proofreading adalah tahap akhir sebelum tulisan dipublikasikan. Tujuannya sederhana, yakni memastikan tulisan bersih dari kesalahan pengetikan, penggunaan tanda baca, kalimat yang tidak efektif, hingga pengulangan kata yang tidak perlu.

Omjay langsung teringat masa-masa awal dirinya belajar menulis blog. Saat itu ia begitu bersemangat mempublikasikan tulisan. Baru beberapa menit tayang, ternyata ada huruf yang tertinggal, nama yang salah ketik, bahkan tanda baca berantakan. Kadang pembaca yang lebih dahulu menemukan kesalahan tersebut.

Rasanya malu sekali.

Namun dari situlah Omjay belajar bahwa menulis bukan sekadar menuangkan ide, melainkan juga menghormati pembaca. Tulisan yang rapi menunjukkan kesungguhan penulis dalam berkarya.

Pak Susanto memberikan contoh sederhana. Ada penulis yang sudah memiliki ide luar biasa, tetapi karena tulisannya dipenuhi typo dan kalimat berulang, pembaca akhirnya kehilangan fokus. Pesan penting yang ingin disampaikan menjadi tidak maksimal.

Malam itu peserta dibuat sadar bahwa proofreading bukan pekerjaan sepele. Justru tahap inilah yang sering menentukan kualitas akhir sebuah tulisan.

Omjay kemudian teringat pesan lama dari para editor media. Mereka selalu mengatakan bahwa tulisan yang baik bukan tulisan yang langsung jadi, melainkan tulisan yang sudah melalui proses membaca ulang berkali-kali.

Kadang setelah didiamkan beberapa jam, lalu dibaca kembali, penulis baru menemukan banyak kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat.

Inilah keajaiban proofreading.

Menariknya, dalam sesi diskusi, peserta juga berbagi pengalaman lucu. Ada yang pernah salah menulis nama tokoh, salah menempatkan tanda baca, hingga salah memilih kata sehingga makna kalimat berubah total. Semua itu membuat suasana pelatihan menjadi hangat dan penuh tawa.

Omjay sendiri pernah mengalami pengalaman memalukan ketika menulis artikel panjang untuk blog pendidikan. Karena terlalu terburu-buru mengejar tayang, ia lupa memeriksa ulang. Akibatnya ada beberapa paragraf yang kalimatnya terpotong. Pembaca pun bingung memahami isi tulisan.

Sejak saat itu Omjay mulai disiplin melakukan proofreading sebelum menekan tombol “publikasikan”.

Ada beberapa langkah sederhana yang malam itu sangat membekas di hati Omjay.

Pertama, baca ulang tulisan secara perlahan. Jangan terburu-buru. Fokus pada setiap kalimat.

Kedua, periksa tanda baca. Ternyata koma dan titik sangat menentukan kenyamanan membaca.

Ketiga, hindari pengulangan kata yang tidak perlu.

Keempat, pastikan nama orang, tempat, dan data sudah benar.

Kelima, bila perlu mintalah orang lain membaca tulisan kita sebelum dipublikasikan.

Bagi Omjay, poin terakhir sangat penting. Kadang penulis terlalu akrab dengan tulisannya sendiri sehingga tidak sadar ada kesalahan. Mata orang lain justru lebih jeli menemukan kekurangan.

Di tengah perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan, proofreading tetap menjadi kemampuan penting. Mesin memang bisa membantu mendeteksi kesalahan, tetapi sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk menjaga rasa dan makna tulisan.

Sebab tulisan yang baik bukan hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga enak dibaca dan menyentuh hati pembacanya.

KBMN Gelombang 34 malam itu kembali mengingatkan Omjay bahwa proses menulis adalah perjalanan belajar tanpa akhir. Seorang penulis tidak cukup hanya rajin menulis, tetapi juga harus sabar memperbaiki tulisannya.

Menulis ibarat memasak. Ide adalah bahan masakan, sedangkan proofreading adalah proses mencicipi sebelum hidangan disajikan kepada tamu. Jika belum pas, maka perlu diperbaiki terlebih dahulu.

Omjay pun semakin memahami mengapa banyak penulis hebat sangat teliti terhadap detail kecil. Mereka sadar bahwa kualitas tulisan lahir dari ketekunan memperbaiki.

Di akhir sesi, Omjay berkunjung ke beberapa resume karya peserta yang dibagikan malam itu. Tulisan-tulisan mereka sangat menarik dan menunjukkan semangat belajar luar biasa.

Beberapa resume peserta dapat dibaca melalui blog berikut:

[Hayatunnufus Blog](https://nufusana81.blogspot.com/2026/05/proofreading-ketika-detail-kecil.html?utm_source=chatgpt.com)

[Blog Annisa](https://annisamenulismasakini.blogspot.com/2026/05/sebelum-tulisan-dipublikasikan-kita.html?utm_source=chatgpt.com)

[Wiya Neng Galih Blog](https://nenggalihmencatat.blogspot.com/2026/05/resume-ke-12-kbmn-pgri-34.html?utm_source=chatgpt.com)

[Emi Suhaimi Blog](https://emmiutan.blogspot.com/2026/05/proofreading-sebuah-tulisan.html?utm_source=chatgpt.com)


Membaca tulisan para peserta membuat Omjay semakin yakin bahwa budaya menulis di kalangan guru terus tumbuh dengan indah. Guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga berbagi inspirasi melalui tulisan.

Dan malam itu, satu pelajaran penting kembali tertanam kuat dalam hati Omjay:

“Jangan terburu-buru menerbitkan tulisan. Bacalah kembali dengan hati, sebab detail kecil sering menentukan kualitas sebuah karya.”

Karena tulisan yang baik bukan hanya selesai ditulis, tetapi juga selesai diperiksa.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.