Jumat, 12 Juni 2026

Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran




Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran

Rangkuman dan Telaah Materi Prof. Dr. Totok Bintoro, Kepala BPS Labschool UNJ

Materi yang disampaikan Prof. Dr. Totok Bintoro berjudul "Meneguhkan Peran Guru Labschool dalam Ekosistem Pembelajaran" menegaskan bahwa guru bukan lagi sekadar pengajar yang menyampaikan materi di depan kelas, melainkan menjadi pusat kehidupan sebuah ekosistem pembelajaran yang sehat, dinamis, dan transformatif. 

Apa Itu Ekosistem Pembelajaran?

Prof. Totok memulai dengan menjelaskan konsep ekosistem. Dalam ilmu biologi, ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yang saling memengaruhi demi menjaga keberlangsungan hidup. Konsep ini kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan. 

Ekosistem pembelajaran adalah jejaring kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya yang saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik. 

Dalam ekosistem yang sehat, semua unsur bergerak harmonis menuju tujuan yang sama, yaitu memanusiakan manusia secara manusiawi agar lahir manusia-manusia yang berkualitas dan berkarakter. 

Guru Adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran

Pesan paling kuat dalam presentasi ini adalah bahwa guru merupakan jantung dari ekosistem pembelajaran. 

Jika jantung berhenti berdetak, seluruh tubuh akan lumpuh. Demikian pula jika guru kehilangan semangat, kreativitas, dan komitmen, maka ekosistem pendidikan akan kehilangan energi kehidupannya.

Menurut Prof. Totok, peran guru telah berevolusi menjadi:

1. Aktivator Pembelajaran Mendalam

Guru membantu siswa memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal fakta. Guru mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata. 

2. Fasilitator dan Adaptor Teknologi

Di era digital dan kecerdasan buatan (AI), guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang interaktif sekaligus membimbing siswa menjadi pembelajar mandiri. 

3. Pembangun Karakter dan Budaya Kelas

Guru menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga siswa tidak takut gagal dan berani mencoba hal-hal baru. 

4. Kolaborator Dunia Nyata

Guru menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata melalui kerja sama dengan praktisi, akademisi, dunia usaha, dan dunia industri. 


Labschool Sebagai Lembaga Pendidikan Transformatif

Prof. Totok menegaskan bahwa Labschool bukan sekadar sekolah unggulan, melainkan lembaga pendidikan transformatif. 

Pendidikan transformatif memiliki ciri-ciri:

Berpusat pada refleksi kritis

Mendorong perubahan pola pikir

Berbasis masalah nyata

Mengembangkan dialog rasional

Membentuk pribadi yang mandiri

Mengedepankan kolaborasi dan partisipasi aktif 


Target pendidikan seperti ini bukan hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal ujian, tetapi menghasilkan manusia yang:

Berpikir kritis

Adaptif terhadap perubahan

Memiliki empati sosial

Kreatif

Mampu memecahkan masalah

Peka terhadap tantangan global

Mampu melakukan refleksi diri 


Karakter Guru Transformatif

Prof. Totok menggambarkan karakter guru masa depan yang dibutuhkan Labschool dan Indonesia.

Inspiratif

Guru mampu membangkitkan semangat dan harapan peserta didik.

Mengajar dengan Transformasi

Fokus guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi mengubah sikap, nilai, keyakinan, dan karakter siswa. 

Inovatif

Terbuka terhadap ide baru, berani mencoba hal baru, dan menciptakan budaya inovasi. 

Mentor

Membangun hubungan yang kuat dengan peserta didik dan rekan sejawat. 

Membimbing Berpikir Kritis

Membantu siswa menjadi pembelajar yang mampu menetapkan tujuan hidup dan melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. 


Pendidikan Karakter Dimulai dari Keluarga

Salah satu slide yang sangat menarik menjelaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya dilakukan sekolah.

Ekosistem pembentukan budi pekerti dimulai dari:

1. Keluarga sebagai pembentuk pertama.


2. Sekolah yang menyempurnakan melalui pendidikan dan keteladanan.


3. Masyarakat dan dunia kerja yang memberikan pengaruh lanjutan.


4. Budaya, ilmu pengetahuan, ideologi, politik, media, dan teknologi yang terus memengaruhi kehidupan anak. 



Karena itu pendidikan karakter tidak boleh hanya dibebankan kepada guru.


Akar Karakter yang Harus Ditanamkan

Prof. Totok menggunakan ilustrasi pohon karakter.

Akar yang harus ditanamkan adalah:

Bersyukur

Ikhlas

Jujur

Sabar

Rendah hati

Menghargai sesama

Sederhana

Ketahanan menghadapi kesulitan

Kerja keras 


Jika akar ini kuat, maka akan tumbuh batang, ranting, daun, bunga, dan buah yang baik.

Buahnya adalah manusia yang:

Menghargai diri sendiri

Menghargai orang lain

Menghargai kelompok dan komunitas

Menghargai lingkungan dan keindahan alam 


Ekosistem Pendidikan Labschool

Prof. Totok menggambarkan pendidikan sebagai sebuah sistem besar.

Inputnya adalah siswa.

Prosesnya melibatkan:

Kurikulum

Pendidik dan tenaga kependidikan

Sarana dan prasarana

Pembiayaan

Manajemen sekolah

Dukungan orang tua

Dukungan masyarakat

Dukungan pemerintah dan lingkungan sosial. 


Output akhirnya adalah lulusan unggul yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan dunia. 



Mutu atau Mati

Salah satu bagian yang paling menggugah adalah slogan:

"Mutu atau Mati"

Prof. Totok mengajak seluruh insan Labschool untuk membangun budaya mutu melalui pendekatan Total Quality Management (TQM). 

Prinsip TQM yang harus diterapkan:

Customer Satisfaction

Kepuasan pelanggan, yaitu siswa, orang tua, dan masyarakat.

Respect for People

Menghargai setiap individu dalam organisasi.

Speaking with Fact

Semua keputusan berdasarkan data dan fakta.

Continuous Improvement

Perbaikan berkelanjutan atau Kaizen. 

Budaya mutu harus menjadi nafas dalam setiap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan sekolah. 


---

Strategi Membangun Labschool UNJ

Prof. Totok menawarkan tiga strategi utama:

Policy

Kebijakan, regulasi, tata kelola, dan penjaminan mutu.

Technical

Manajemen pendidikan, kurikulum, sistem pembelajaran, pembinaan SDM, serta penghargaan dan evaluasi kinerja.

Cultural

Budaya Labschool, nilai-nilai dasar Labschool, spirit Labschool, dan panduan hidup warga Labschool. 


Waspadai Kesuksesan Semu

Pada bagian akhir, Prof. Totok mengingatkan tentang bahaya Isomorphic Mimicry.

Istilah ini menggambarkan sesuatu yang tampak berhasil dari luar, tetapi sesungguhnya tidak memiliki kualitas yang sesungguhnya. Beliau mengibaratkan dua jenis ular yang terlihat sama, tetapi salah satunya berbisa dan yang lainnya tidak. 

Dalam pendidikan, sekolah tidak boleh hanya tampak hebat karena gedung megah, sertifikat, atau pencitraan.

Kehebatan harus lahir dari mutu yang nyata, budaya belajar yang kuat, karakter yang baik, dan hasil pendidikan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik dan masyarakat. 


Kesimpulan

Materi Prof. Dr. Totok Bintoro mengingatkan kita bahwa guru adalah jantung kehidupan sekolah. Ketika guru terus belajar, berinovasi, berkolaborasi, dan menjaga integritasnya, maka seluruh ekosistem pendidikan akan hidup dan berkembang.

Labschool UNJ ingin menjadi lembaga pendidikan transformatif yang tidak hanya menghasilkan siswa cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan manusia yang berkarakter, berempati, kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia.

Pesan yang paling membekas dari presentasi ini adalah bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk manusia seutuhnya. Guru menjadi aktor utama yang menjaga denyut kehidupan ekosistem pembelajaran itu setiap hari. Sebagaimana slogan penutup yang ditampilkan Prof. Totok Bintoro:

"Dari Labschool untuk Indonesia dan Dunia." 

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia – SMP Labschool Jakarta

Labschool Rumah Keduaku

Labschool Rumah Keduaku: Kisah Cinta Seorang Guru yang Tak Pernah Padam

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Di atas meja kerja saya tergeletak sebuah buku yang sangat istimewa. Sampulnya sederhana, tetapi maknanya luar biasa. Judulnya Labschool Rumah Keduaku. Ketika saya memandang sampul buku itu, seolah ribuan kenangan berlari kembali memenuhi ruang ingatan. Ada tawa siswa yang riang di lorong sekolah, ada suara bel yang menandai pergantian jam pelajaran, ada canda para guru di ruang guru, dan ada pula air mata perpisahan yang diam-diam jatuh ketika siswa-siswi yang kami cintai harus melangkah menuju masa depan mereka.

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Buku ini adalah potret perjalanan hidup saya sebagai guru yang telah mengabdikan diri selama puluhan tahun di SMP Labschool Jakarta. Setiap halaman menyimpan cerita. Setiap kalimat mengandung kenangan. Dan setiap kenangan menghadirkan rasa syukur yang begitu dalam kepada Allah SWT karena telah mempertemukan saya dengan keluarga besar Labschool Jakarta.

Ketika pertama kali menginjakkan kaki di Labschool Jakarta pada tahun 1994, saya hanyalah seorang guru muda yang penuh semangat dan idealisme. Saat itu saya belum mengetahui bahwa sekolah ini akan menjadi bagian penting dari perjalanan hidup saya. Saya datang dengan membawa mimpi sederhana, yaitu menjadi guru yang mampu memberikan manfaat bagi siswa. Namun ternyata Allah memberikan lebih dari yang saya bayangkan. Labschool bukan hanya tempat saya mengajar. Labschool menjadi tempat saya belajar tentang kehidupan.

Di sekolah inilah saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran. Menjadi guru berarti hadir ketika siswa membutuhkan dukungan. Menjadi guru berarti mendengarkan ketika siswa sedang menghadapi masalah. Menjadi guru berarti menjadi teladan ketika siswa mencari arah kehidupan. Setiap hari saya menyaksikan bagaimana anak-anak tumbuh dari pribadi yang pemalu menjadi pribadi yang percaya diri. Saya melihat mereka berkembang dari siswa yang belum memahami arti tanggung jawab menjadi pemimpin masa depan yang membanggakan.

Saya masih mengingat begitu banyak wajah siswa yang pernah duduk di kelas saya. Sebagian dari mereka kini telah menjadi dokter, insinyur, dosen, pengusaha, pejabat, bahkan guru seperti saya. Ketika mereka menghubungi saya dan mengatakan, “Pak Omjay, terima kasih atas bimbingannya,” hati saya selalu bergetar haru. Bagi seorang guru, penghargaan terbesar bukanlah piala atau sertifikat. Penghargaan terbesar adalah melihat murid-muridnya berhasil dan tetap mengingat gurunya dengan penuh hormat.

Labschool Jakarta telah mengajarkan saya tentang arti keluarga. Di sini saya tidak hanya memiliki rekan kerja, tetapi juga saudara seperjuangan. Kami bersama-sama menghadapi berbagai tantangan pendidikan yang terus berubah dari waktu ke waktu. Kami menyaksikan pergantian kurikulum, perkembangan teknologi, hingga hadirnya kecerdasan buatan yang kini mengubah cara belajar dan mengajar. Namun satu hal yang tidak pernah berubah adalah semangat untuk melayani siswa dengan sepenuh hati.

Ada banyak momen yang tidak mungkin saya lupakan. Saya masih teringat ketika harus mendampingi siswa dalam berbagai kegiatan sekolah, mulai dari lomba, perkemahan, hingga kegiatan sosial. Saya menyaksikan bagaimana siswa belajar bekerja sama, belajar menghargai perbedaan, dan belajar menjadi manusia yang lebih baik. Di saat itulah saya menyadari bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya tentang nilai akademik, tetapi tentang membentuk karakter dan akhlak yang mulia.

Perjalanan panjang di Labschool juga tidak selalu mudah. Ada masa-masa ketika saya menghadapi berbagai ujian kehidupan. Saya pernah mengalami sakit diabetes, hipertensi, bahkan sempat mengalami kecelakaan dan gangguan kesehatan yang cukup berat. Dalam kondisi seperti itu, dukungan keluarga besar Labschool menjadi sumber kekuatan yang luar biasa. Rekan-rekan guru, pimpinan sekolah, dan para siswa memberikan perhatian yang membuat saya merasa tidak pernah berjalan sendirian. Saat itulah saya semakin yakin bahwa Labschool memang benar-benar rumah kedua bagi saya.

Rumah adalah tempat kita kembali ketika lelah. Rumah adalah tempat kita merasa diterima apa adanya. Rumah adalah tempat yang selalu menghadirkan kehangatan. Semua itu saya rasakan di Labschool Jakarta. Ketika saya datang ke sekolah setiap pagi, saya tidak merasa sedang berangkat bekerja. Saya merasa sedang pulang ke rumah yang penuh cinta dan harapan.

Kini, ketika usia terus bertambah dan masa pengabdian semakin panjang, saya semakin memahami betapa berharganya setiap detik yang saya lalui di sekolah ini. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk menjadi bagian dari sejarah Labschool Jakarta. Saya bersyukur karena dapat menyaksikan ribuan siswa tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang hebat. Saya bersyukur karena diberi kesempatan untuk menulis kisah-kisah inspiratif yang lahir dari perjalanan panjang sebagai guru.

Melalui buku Labschool Rumah Keduaku, saya ingin mengabadikan semua kenangan itu. Saya ingin berbagi cerita kepada generasi muda bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar. Sekolah adalah tempat menanam mimpi, membangun karakter, dan menciptakan masa depan. Saya juga ingin menyampaikan kepada para guru di seluruh Indonesia bahwa profesi guru adalah profesi yang sangat mulia. Mungkin kita tidak selalu mendapatkan penghargaan yang besar. Mungkin gaji kita tidak selalu mencukupi semua kebutuhan. Namun percayalah, setiap ilmu yang kita ajarkan akan menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Ketika suatu hari nanti saya tidak lagi berdiri di depan kelas, saya berharap jejak-jejak kebaikan yang pernah saya tanam di Labschool Jakarta akan tetap hidup dalam hati para siswa. Saya berharap mereka akan meneruskan semangat belajar, semangat berbagi, dan semangat menginspirasi orang lain. Sebab itulah warisan terbesar seorang guru.

Buku Labschool Rumah Keduaku adalah ungkapan cinta saya kepada sekolah yang telah menjadi bagian dari hidup saya selama lebih dari tiga dekade. Buku ini lahir dari hati, ditulis dengan penuh rasa syukur, dan dipersembahkan untuk seluruh keluarga besar Labschool Jakarta yang telah mewarnai perjalanan hidup saya.

Terima kasih, Labschool Jakarta. Terima kasih telah menjadi rumah keduaku. Terima kasih telah memberiku kesempatan untuk tumbuh, belajar, mengajar, dan mencintai dunia pendidikan dengan sepenuh hati. Semoga cinta ini tidak pernah padam, meskipun waktu terus berjalan dan generasi terus berganti. Karena bagi saya, Labschool bukan sekadar sekolah. Labschool adalah rumah, keluarga, dan bagian dari jiwa yang akan selalu saya kenang sepanjang hayat.


Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran bersama Prof. Totok Bintoro

Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran

Rangkuman dan Telaah Materi Prof. Dr. Totok Bintoro, Kepala BPS Labschool UNJ

Materi yang disampaikan Prof. Dr. Totok Bintoro berjudul "Meneguhkan Peran Guru Labschool dalam Ekosistem Pembelajaran" menegaskan bahwa guru bukan lagi sekadar pengajar yang menyampaikan materi di depan kelas, melainkan menjadi pusat kehidupan sebuah ekosistem pembelajaran yang sehat, dinamis, dan transformatif.

Apa Itu Ekosistem Pembelajaran?

Prof. Totok memulai dengan menjelaskan konsep ekosistem. Dalam ilmu biologi, ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yang saling memengaruhi demi menjaga keberlangsungan hidup. Konsep ini kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan.

Ekosistem pembelajaran adalah jejaring kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya yang saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik.

Dalam ekosistem yang sehat, semua unsur bergerak harmonis menuju tujuan yang sama, yaitu memanusiakan manusia secara manusiawi agar lahir manusia-manusia yang berkualitas dan berkarakter.


Guru Adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran

Pesan paling kuat dalam presentasi ini adalah bahwa guru merupakan jantung dari ekosistem pembelajaran.

Jika jantung berhenti berdetak, seluruh tubuh akan lumpuh. Demikian pula jika guru kehilangan semangat, kreativitas, dan komitmen, maka ekosistem pendidikan akan kehilangan energi kehidupannya.

Menurut Prof. Totok, peran guru telah berevolusi menjadi:

1. Aktivator Pembelajaran Mendalam

Guru membantu siswa memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal fakta. Guru mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata.

2. Fasilitator dan Adaptor Teknologi

Di era digital dan kecerdasan buatan (AI), guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang interaktif sekaligus membimbing siswa menjadi pembelajar mandiri.

3. Pembangun Karakter dan Budaya Kelas

Guru menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga siswa tidak takut gagal dan berani mencoba hal-hal baru.

4. Kolaborator Dunia Nyata

Guru menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata melalui kerja sama dengan praktisi, akademisi, dunia usaha, dan dunia industri.


Labschool Sebagai Lembaga Pendidikan Transformatif

Prof. Totok menegaskan bahwa Labschool bukan sekadar sekolah unggulan, melainkan lembaga pendidikan transformatif.

Pendidikan transformatif memiliki ciri-ciri:

  • Berpusat pada refleksi kritis
  • Mendorong perubahan pola pikir
  • Berbasis masalah nyata
  • Mengembangkan dialog rasional
  • Membentuk pribadi yang mandiri
  • Mengedepankan kolaborasi dan partisipasi aktif

Target pendidikan seperti ini bukan hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal ujian, tetapi menghasilkan manusia yang:

  • Berpikir kritis
  • Adaptif terhadap perubahan
  • Memiliki empati sosial
  • Kreatif
  • Mampu memecahkan masalah
  • Peka terhadap tantangan global
  • Mampu melakukan refleksi diri

Karakter Guru Transformatif

Prof. Totok menggambarkan karakter guru masa depan yang dibutuhkan Labschool dan Indonesia.

Inspiratif

Guru mampu membangkitkan semangat dan harapan peserta didik.

Mengajar dengan Transformasi

Fokus guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi mengubah sikap, nilai, keyakinan, dan karakter siswa.

Inovatif

Terbuka terhadap ide baru, berani mencoba hal baru, dan menciptakan budaya inovasi.

Mentor

Membangun hubungan yang kuat dengan peserta didik dan rekan sejawat.

Membimbing Berpikir Kritis

Membantu siswa menjadi pembelajar yang mampu menetapkan tujuan hidup dan melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri.


Pendidikan Karakter Dimulai dari Keluarga

Salah satu slide yang sangat menarik menjelaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya dilakukan sekolah.

Ekosistem pembentukan budi pekerti dimulai dari:

  1. Keluarga sebagai pembentuk pertama.
  2. Sekolah yang menyempurnakan melalui pendidikan dan keteladanan.
  3. Masyarakat dan dunia kerja yang memberikan pengaruh lanjutan.
  4. Budaya, ilmu pengetahuan, ideologi, politik, media, dan teknologi yang terus memengaruhi kehidupan anak.

Karena itu pendidikan karakter tidak boleh hanya dibebankan kepada guru.


Akar Karakter yang Harus Ditanamkan

Prof. Totok menggunakan ilustrasi pohon karakter.

Akar yang harus ditanamkan adalah:

  • Bersyukur
  • Ikhlas
  • Jujur
  • Sabar
  • Rendah hati
  • Menghargai sesama
  • Sederhana
  • Ketahanan menghadapi kesulitan
  • Kerja keras

Jika akar ini kuat, maka akan tumbuh batang, ranting, daun, bunga, dan buah yang baik.

Buahnya adalah manusia yang:

  • Menghargai diri sendiri
  • Menghargai orang lain
  • Menghargai kelompok dan komunitas
  • Menghargai lingkungan dan keindahan alam

Ekosistem Pendidikan Labschool

Prof. Totok menggambarkan pendidikan sebagai sebuah sistem besar.

Inputnya adalah siswa.

Prosesnya melibatkan:

  • Kurikulum
  • Pendidik dan tenaga kependidikan
  • Sarana dan prasarana
  • Pembiayaan
  • Manajemen sekolah
  • Dukungan orang tua
  • Dukungan masyarakat
  • Dukungan pemerintah dan lingkungan sosial.

Output akhirnya adalah lulusan unggul yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan dunia.


Mutu atau Mati

Salah satu bagian yang paling menggugah adalah slogan:

"Mutu atau Mati"

Prof. Totok mengajak seluruh insan Labschool untuk membangun budaya mutu melalui pendekatan Total Quality Management (TQM).

Prinsip TQM yang harus diterapkan:

Customer Satisfaction

Kepuasan pelanggan, yaitu siswa, orang tua, dan masyarakat.

Respect for People

Menghargai setiap individu dalam organisasi.

Speaking with Fact

Semua keputusan berdasarkan data dan fakta.

Continuous Improvement

Perbaikan berkelanjutan atau Kaizen.

Budaya mutu harus menjadi nafas dalam setiap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan sekolah.


Strategi Membangun Labschool UNJ

Prof. Totok menawarkan tiga strategi utama:

Policy

Kebijakan, regulasi, tata kelola, dan penjaminan mutu.

Technical

Manajemen pendidikan, kurikulum, sistem pembelajaran, pembinaan SDM, serta penghargaan dan evaluasi kinerja.

Cultural

Budaya Labschool, nilai-nilai dasar Labschool, spirit Labschool, dan panduan hidup warga Labschool.


Waspadai Kesuksesan Semu

Pada bagian akhir, Prof. Totok mengingatkan tentang bahaya Isomorphic Mimicry.

Istilah ini menggambarkan sesuatu yang tampak berhasil dari luar, tetapi sesungguhnya tidak memiliki kualitas yang sesungguhnya. Beliau mengibaratkan dua jenis ular yang terlihat sama, tetapi salah satunya berbisa dan yang lainnya tidak.

Dalam pendidikan, sekolah tidak boleh hanya tampak hebat karena gedung megah, sertifikat, atau pencitraan.

Kehebatan harus lahir dari mutu yang nyata, budaya belajar yang kuat, karakter yang baik, dan hasil pendidikan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik dan masyarakat.


Kesimpulan

Materi Prof. Dr. Totok Bintoro mengingatkan kita bahwa guru adalah jantung kehidupan sekolah. Ketika guru terus belajar, berinovasi, berkolaborasi, dan menjaga integritasnya, maka seluruh ekosistem pendidikan akan hidup dan berkembang.

Labschool UNJ ingin menjadi lembaga pendidikan transformatif yang tidak hanya menghasilkan siswa cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan manusia yang berkarakter, berempati, kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia.

Pesan yang paling membekas dari presentasi ini adalah bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk manusia seutuhnya. Guru menjadi aktor utama yang menjaga denyut kehidupan ekosistem pembelajaran itu setiap hari. Sebagaimana slogan penutup yang ditampilkan Prof. Totok Bintoro:

"Dari Labschool untuk Indonesia dan Dunia."

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia – SMP Labschool Jakarta

ketika bbm naik




KETIKA PERTAMAX NAIK, HATI RAKYAT IKUT BERGETAR


Kisah Omjay, Guru Sekolah Swasta dengan Gaji yang Tak Pernah Ikut Naik

*Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia*

Pagi itu saya terdiam cukup lama ketika membaca berita di layar ponsel. Harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikannya bukan seratus atau dua ratus rupiah seperti yang biasa terjadi, melainkan melonjak Rp3.950 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan tersebut mencapai lebih dari 30 persen dan langsung berlaku di seluruh wilayah pemasaran Pertamina. Banyak orang terkejut, termasuk saya. Sebagai guru sekolah swasta yang setiap hari harus berangkat bekerja menggunakan kendaraan pribadi, kenaikan ini tentu bukan sekadar angka di papan SPBU. Ini adalah kenyataan yang langsung menyentuh isi dompet rakyat kecil.

Saya memahami bahwa pemerintah dan Pertamina tentu memiliki alasan. Konflik di Timur Tengah membuat harga energi dunia bergejolak. Nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan sehingga biaya impor energi semakin mahal. Beban subsidi energi yang terus meningkat membuat pemerintah harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Pertamax sendiri memang bukan BBM bersubsidi. Namun ketika harga naik setinggi itu dalam waktu singkat, masyarakat tetap merasakan guncangannya.

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya sering mendengar keluhan para orang tua siswa. Mereka bekerja keras setiap hari demi membiayai pendidikan anak-anaknya. Ada yang menjadi sopir, pedagang kecil, karyawan swasta, buruh pabrik, hingga pekerja informal yang penghasilannya tidak menentu. Ketika harga BBM naik, ongkos hidup ikut bergerak naik. Biaya transportasi bertambah. Harga bahan pokok perlahan mengikuti. Pengeluaran rumah tangga membengkak. Namun pendapatan mereka tidak serta-merta bertambah. Inilah yang paling menyakitkan.

Saya teringat percakapan dengan seorang ayah siswa beberapa waktu lalu. Dengan wajah lelah ia berkata, "Pak Guru, sekarang yang sulit bukan mencari uang. Yang sulit itu menjaga agar uang tidak cepat habis." Kalimat sederhana itu terus terngiang di telinga saya. Betapa banyak rakyat Indonesia yang setiap hari berjuang bukan untuk menjadi kaya, melainkan sekadar agar dapurnya tetap mengepul.

Sebagai guru sekolah swasta, saya juga merasakan hal yang sama. Banyak orang mengira semua guru hidup berkecukupan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Masih banyak guru swasta yang menerima penghasilan jauh dari kata ideal. Kami tetap datang ke sekolah dengan semangat. Kami tetap mengajar dengan hati. Kami tetap tersenyum di depan siswa walaupun terkadang di rumah harus menghitung ulang pengeluaran bulanan. Ketika harga BBM naik, kami tidak bisa serta-merta meminta kenaikan gaji. Kami hanya bisa berhemat lebih ketat dari sebelumnya.

Respons masyarakat terhadap kenaikan Pertamax pun beragam. Ada yang marah karena merasa keputusan tersebut terlalu mendadak. Ada yang kecewa karena kenaikannya sangat besar. Ada pula yang mencoba memahami alasan pemerintah meskipun tetap merasa berat. Di media sosial, keluhan bermunculan dari berbagai kalangan. Para pekerja, pelaku UMKM, guru, pegawai swasta, hingga pengemudi ojek online menyampaikan kegelisahannya. Mereka bukan menolak pembangunan negara. Mereka hanya berharap kebijakan yang diambil tidak semakin memperberat kehidupan sehari-hari.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?

Menurut saya, pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan harga BBM tidak diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali. Pengawasan distribusi pangan harus diperketat. Operasi pasar perlu diperluas. Bantuan sosial harus tepat sasaran dan cepat disalurkan kepada masyarakat yang paling rentan. Pemerintah juga perlu memperkuat transportasi publik yang murah dan nyaman sehingga masyarakat memiliki alternatif selain menggunakan kendaraan pribadi.

Selain itu, kesejahteraan guru, tenaga kesehatan, buruh, petani, nelayan, dan pekerja sektor informal perlu mendapat perhatian lebih besar. Mereka adalah kelompok yang paling cepat merasakan dampak kenaikan biaya hidup. Jangan sampai mereka yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa justru semakin terjepit oleh keadaan ekonomi.

Saya percaya Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, tentu menginginkan rakyat hidup lebih sejahtera. Karena itu, melalui tulisan sederhana ini, izinkan saya menyampaikan salam hormat sebagai seorang guru sekolah swasta yang setiap hari berhadapan dengan generasi masa depan bangsa.

Bapak Presiden Prabowo yang kami hormati, di ruang-ruang kelas Indonesia ada jutaan anak yang sedang bermimpi. Mereka bermimpi menjadi dokter, insinyur, guru, tentara, polisi, ilmuwan, dan pemimpin masa depan negeri ini. Di balik mimpi mereka berdiri orang tua yang bekerja keras membiayai pendidikan anak-anaknya. Ketika harga-harga naik, mereka tetap berjuang. Ketika keadaan sulit, mereka tetap berharap. Tolong jaga harapan itu agar tidak padam.

Rakyat Indonesia adalah rakyat yang kuat. Mereka terbiasa menghadapi kesulitan. Mereka tidak mudah mengeluh. Namun sesungguhnya mereka hanya ingin hidup yang lebih layak. Mereka ingin bekerja dengan tenang, menyekolahkan anak dengan baik, membeli kebutuhan pokok tanpa rasa cemas, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Pada akhirnya, kenaikan Pertamax bukan hanya soal angka Rp3.950 per liter. Ini adalah tentang kehidupan jutaan orang yang setiap hari berjuang menghidupi keluarganya. Ini adalah tentang guru yang tetap mengajar walaupun biaya hidup terus naik. Ini adalah tentang orang tua yang tetap tersenyum di depan anak-anaknya meskipun hatinya sedang dihimpit banyak kekhawatiran. Dan ini adalah tentang harapan bahwa setiap kebijakan yang diambil negara akan selalu berpihak kepada rakyat kecil yang menjadi fondasi berdirinya Indonesia.

Semoga para pemimpin negeri ini selalu diberi kebijaksanaan. Semoga ekonomi Indonesia tetap kuat menghadapi berbagai tantangan dunia. Dan semoga rakyat Indonesia tidak hanya diminta untuk bertahan, tetapi juga diberi kesempatan untuk hidup lebih baik dari hari ke hari.

Karena sesungguhnya, kekuatan sebuah bangsa bukan diukur dari tingginya gedung-gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa banyak rakyat kecil yang bisa tersenyum dengan tenang saat pulang ke rumah.

Salam Blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay: Jumat di Dunia dan Akhirat

Jumat di Dunia, Jumat di Akhirat

Kisah Omjay Menanti Hari yang Penuh Berkah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Jumat 12 Juni 2026.

Seperti biasa, Omjay terbangun sebelum azan Subuh berkumandang. Udara Bekasi masih terasa sejuk. Dari jendela rumah sederhana di Jatibening Indah, langit tampak gelap dengan cahaya bintang yang mulai menghilang perlahan.

Omjay duduk sejenak di ruang kerja kecilnya. Di atas meja ada laptop yang hampir setiap hari menemaninya menulis. Ada juga beberapa buku yang sedang disiapkan untuk peluncuran. Namun pagi itu, pikirannya tidak tertuju pada buku, jabatan, atau aktivitas mengajar.

Pikirannya melayang jauh.

Jauh sekali.

Membayangkan sebuah hari yang disebut Rasulullah ﷺ sebagai hari yang sangat dinanti oleh penghuni surga.

Hari Jumat.

Tiba-tiba Omjay teringat sebuah hadits yang pernah dibacanya.

Bahwa penghuni surga begitu merindukan datangnya hari Jumat. Hari itu disebut Yaumul Maziid, hari tambahan. Hari ketika Allah memberikan tambahan kemuliaan dan kenikmatan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman.

Bahkan mereka sangat menantikan hari itu karena pada saat itulah mereka memperoleh kenikmatan terbesar, yaitu melihat wajah Allah Yang Maha Indah dan Maha Agung.

Ketika membaca hadits itu pertama kali, hati Omjay bergetar.

Air mata pernah jatuh tanpa disadari.

Mengapa?

Karena selama hidup di dunia, manusia sering mengejar tambahan yang salah.

Tambahan gaji.

Tambahan jabatan.

Tambahan harta.

Tambahan pengikut di media sosial.

Tambahan pujian.

Padahal di akhirat nanti, semua tambahan itu tidak lagi berarti.

Yang paling dirindukan adalah tambahan kemuliaan dari Allah.

---

Omjay teringat perjalanan hidupnya.

Sudah lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru.

Sudah ribuan siswa diajar.

Sudah ratusan artikel ditulis.

Sudah puluhan buku diterbitkan.

Namun semakin bertambah usia, Omjay semakin sadar bahwa hidup ini sebenarnya sangat singkat.

Rasanya baru kemarin menjadi mahasiswa Jurusan Elektro Elektronika IKIP Jakarta.

Baru kemarin menjadi guru muda yang bersemangat mengajar.

Baru kemarin mengantar anak-anak sekolah.

Baru kemarin menunggu cucu pertama lahir.

Ternyata waktu berlari sangat cepat.

Bahkan beberapa sahabat yang dahulu tertawa bersama kini sudah mendahului menghadap Allah.

Ada sahabat kuliah yang telah meninggal.

Ada kakak tercinta yang kini telah tiada.

Ada guru-guru senior yang dulu menjadi teladan kini hanya tinggal kenangan.

Setiap Jumat, Omjay selalu teringat mereka.

Apakah mereka sedang menikmati Jumat di alam yang berbeda?

Apakah amal mereka diterima?

Apakah mereka mendapat tempat terbaik di sisi Allah?

Pertanyaan-pertanyaan itu membuat Omjay sering merenung.

---

Jumat bukan sekadar pergantian hari.

Jumat adalah pengingat.

Pengingat bahwa hidup memiliki batas.

Pengingat bahwa setiap detik umur sedang berkurang.

Pengingat bahwa suatu hari nanti kita akan meninggalkan dunia yang kita cintai.

Sayangnya, banyak orang justru menyambut Jumat seperti hari biasa.

Mereka sibuk dengan pekerjaan.

Sibuk dengan urusan dunia.

Sibuk mengejar target yang tidak pernah selesai.

Padahal Jumat adalah kesempatan emas.

Kesempatan untuk mengisi tabungan akhirat.

Kesempatan memperbanyak shalawat.

Kesempatan membaca Surat Al-Kahfi.

Kesempatan memperbanyak dzikir.

Kesempatan berdoa pada waktu-waktu mustajab.

Kesempatan memperbaiki hubungan dengan Allah.

Omjay pernah mengalami masa-masa ketika penyakit datang silih berganti.

Saat gula darah naik.

Saat tekanan darah melonjak.

Saat vertigo menyerang.

Saat harus berbaring di rumah sakit.

Pada saat-saat itulah Omjay menyadari sesuatu.

Manusia sering merasa kuat ketika sehat.

Namun ketika sakit datang, semua kesombongan runtuh dalam sekejap.

Yang tersisa hanyalah doa.

Yang tersisa hanyalah harapan kepada Allah.

Yang tersisa hanyalah amal yang pernah dilakukan.

Tidak ada jabatan yang bisa menggantikan kesehatan.

Tidak ada harta yang bisa membeli satu detik umur tambahan.

Tidak ada popularitas yang mampu menghalangi kematian.

Karena itu, setiap Jumat Omjay berusaha mengingat kembali tujuan hidupnya.

Bahwa dunia hanyalah tempat singgah.

Bahwa akhirat adalah tujuan sebenarnya.

---

Ada satu pemandangan yang selalu membuat hati Omjay terharu.

Ketika berjalan menuju masjid pada hari Jumat.

Melihat para jamaah datang dengan pakaian terbaiknya.

Ada yang berjalan kaki.

Ada yang naik motor.

Ada yang datang bersama anak-anaknya.

Ada yang sudah renta dengan langkah perlahan.

Namun semuanya menuju tempat yang sama.

Masjid.

Mereka meninggalkan urusan dunia untuk memenuhi panggilan Allah.

Pemandangan sederhana itu selalu mengingatkan Omjay bahwa manusia pada akhirnya akan kembali kepada Sang Pencipta.

Tidak peduli kaya atau miskin.

Tidak peduli pejabat atau rakyat biasa.

Tidak peduli terkenal atau tidak dikenal.

Semua akan berdiri di hadapan Allah.

Semua akan mempertanggungjawabkan amalnya.

---

Maka ketika Jumat datang, seharusnya hati orang beriman bergembira.

Bukan karena akhir pekan akan tiba.

Bukan karena pekerjaan akan libur.

Tetapi karena Allah memberikan kesempatan baru untuk menambah pahala.

Kesempatan baru untuk memperbaiki diri.

Kesempatan baru untuk mendekat kepada-Nya.

Sebagaimana penghuni surga merindukan Jumat di akhirat karena ingin memperoleh tambahan kemuliaan dan kenikmatan, maka kita pun seharusnya merindukan Jumat di dunia untuk memperoleh tambahan keberkahan dan rahmat Allah.

Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa shalawat.

Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa Al-Kahfi.

Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa doa.

Jangan biarkan Jumat berlalu tanpa istighfar.

Karena mungkin saja ini adalah Jumat terakhir dalam hidup kita.

Tak ada yang tahu apakah Jumat depan kita masih diberi kesempatan bertemu lagi.

---

Pagi itu Omjay menutup laptopnya.

Kemudian mengambil mushaf Al-Qur'an yang sudah menemani bertahun-tahun.

Dengan hati yang tenang, ia mulai membaca Surat Al-Kahfi.

Di sela-sela bacaan itu, Omjay berdoa dalam hati.

"Ya Allah, jika penghuni surga merindukan Jumat karena ingin melihat wajah-Mu, maka jadikanlah kami termasuk orang-orang yang Engkau izinkan merasakan nikmat itu kelak. Ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, keluarga kami, sahabat-sahabat kami yang telah mendahului kami, dan wafatkanlah kami dalam keadaan husnul khatimah."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

Selamat menjemput keberkahan hari Jumat. Perbanyak shalawat, dzikir, membaca Al-Kahfi, dan doa. Semoga Allah mempertemukan kita dengan Jumat yang paling indah, bukan hanya di dunia, tetapi juga di surga-Nya kelak. 🤲🏻✨

Barakallahu fiikum.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Diklat Gratis stem IT Berbasis Proyek dan Digital Learning

📢 DIKLAT GRATIS STEM–IT BERBASIS PROYEK DAN DIGITAL LEARNING

Sahabat guru Indonesia, mari tingkatkan kompetensi pembelajaran abad ke-21 melalui kegiatan Diklat Gratis yang diselenggarakan oleh Akademi Coding Guru Mengajar.

🎓 Tema Diklat

Strategi Pembelajaran STEM–IT Berbasis Proyek dan Digital Learning

Pelatihan ini dirancang untuk membantu guru memahami dan menerapkan pembelajaran berbasis proyek (Project Based Learning) yang dipadukan dengan pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) serta pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran.


---

📅 Waktu Pelaksanaan

Hari/Tanggal:

Senin, 22 Juni 2026

Selasa, 23 Juni 2026


Pukul: 🕢 19.30 WIB – 21.00 WIB

Media Pelaksanaan:

Zoom Meeting

Live YouTube


Sehingga peserta dari seluruh Indonesia dapat mengikuti kegiatan ini secara daring dari rumah masing-masing.


---

👨‍🏫 Narasumber

Yudhi Kurnia, S.T., M.Pd., Gr.

Koordinator STEM Engineering Class

Beliau akan membagikan pengalaman dan praktik terbaik dalam mengembangkan pembelajaran STEM yang menarik, kreatif, inovatif, dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital.


---

🎁 Fasilitas Peserta

Peserta yang mengikuti diklat akan memperoleh:

✅ Sertifikat Bernama 32 JP

✅ Materi Diklat

✅ Surat Undangan

✅ Rekap Kehadiran

✅ Pengalaman belajar bersama praktisi pendidikan STEM

✅ Akses pembelajaran melalui Zoom dan YouTube


---

💰 Biaya

GRATIS (FREE)

Tidak dipungut biaya pendaftaran.

Ini merupakan kesempatan emas bagi guru, dosen, mahasiswa pendidikan, calon guru, instruktur, dan pegiat pendidikan untuk meningkatkan kompetensi tanpa biaya.


---

📝 Link Pendaftaran

Daftar sekarang melalui:

klikini.id/daftar-coding33-26


---

🎯 Materi yang Diperkirakan Akan Dibahas

Berdasarkan tema kegiatan, peserta akan mempelajari:

1. Konsep Pembelajaran STEM–IT

Integrasi Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika.

Implementasi STEM dalam kurikulum sekolah.


2. Project Based Learning (PjBL)

Merancang proyek yang bermakna.

Menyusun asesmen proyek.

Mengembangkan kreativitas dan kemampuan berpikir kritis siswa.


3. Digital Learning

Pemanfaatan platform digital dalam pembelajaran.

Penggunaan media interaktif.

Strategi pembelajaran hybrid dan online.


4. Pembelajaran Abad 21

Critical Thinking

Creativity

Collaboration

Communication (4C)


5. Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran

Pemanfaatan AI untuk pendidikan.

Coding dan computational thinking.

Pembelajaran berbasis teknologi digital.



---

👥 Siapa yang Sebaiknya Mengikuti?

Diklat ini sangat cocok untuk:

Guru SD, SMP, SMA/SMK

Guru Informatika

Guru IPA dan Matematika

Dosen

Mahasiswa FKIP

Pengawas Sekolah

Kepala Sekolah

Praktisi Pendidikan

Komunitas Guru



---

🌟 Mengapa Harus Mengikuti?

Di era kecerdasan buatan (AI), guru tidak cukup hanya mengajar materi. Guru perlu mampu merancang pengalaman belajar yang membuat siswa berpikir, berkolaborasi, berkreasi, dan memecahkan masalah nyata.

Pembelajaran STEM berbasis proyek menjadi salah satu pendekatan yang terbukti mampu:

Meningkatkan keterlibatan siswa.

Mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Menumbuhkan kreativitas.

Menghubungkan teori dengan praktik kehidupan nyata.

Mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan abad ke-21.



---

📢 Ayo Daftar Sekarang!

Jangan lewatkan kesempatan belajar bersama praktisi STEM dan Digital Learning.

📅 22–23 Juni 2026
🕢 19.30–21.00 WIB
💻 Zoom & YouTube
🎁 Sertifikat 32 JP dan berbagai fasilitas lainnya
💰 GRATIS

"Guru yang terus belajar akan selalu mampu menginspirasi murid-muridnya untuk belajar sepanjang hayat."

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Guru Informatika SMP Labschool Jakarta

Satuguru di Spanyol Bersama Pak Isnawan

PAK ISNAWAN DI SPANYOL, SEMANGAT GURU INDONESIA MENDUNIA

Foto ini memperlihatkan Pak Isnawan sedang berada di sebuah kawasan perkotaan yang tertata rapi di Spanyol. Beliau berdiri di tepi jalan dengan latar pepohonan hijau, pohon palem, jalan yang bersih, serta suasana pagi atau sore hari yang cerah dan tenang. Lingkungan di sekitarnya menunjukkan ciri khas kota-kota modern di Spanyol yang mengutamakan ruang terbuka hijau dan kenyamanan pejalan kaki.

Yang paling menarik perhatian adalah kaos hitam yang dikenakan Pak Isnawan. Pada bagian depan kaos tertulis:

"SATUGURU – Teaching is Fun!"

Tulisan tersebut bukan sekadar desain pakaian, tetapi membawa pesan kuat bahwa mengajar adalah aktivitas yang menyenangkan, membahagiakan, dan penuh makna. Di mana pun seorang guru berada, identitasnya tetap melekat sebagai pendidik yang membawa ilmu dan inspirasi.

Detail Foto

Lokasi: Kawasan perkotaan di Spanyol.

Objek utama: Pak Isnawan.

Pakaian: Kaos hitam bertuliskan "SATUGURU – Teaching is Fun!"

Aksesori: Kacamata.

Suasana: Cerah, tenang, dan nyaman.

Latar belakang: Jalan raya yang lengang, zebra cross, taman kota, pepohonan rindang, dan deretan pohon palem.

Kesan visual: Profesional, sederhana, dan inspiratif.


Makna Kaos SATUGURU di Negeri Matador

Kehadiran Pak Isnawan di Spanyol dengan mengenakan kaos SATUGURU seakan menyampaikan pesan bahwa guru Indonesia mampu hadir dan dikenal di panggung dunia. Kaos tersebut menjadi simbol persatuan guru, semangat belajar sepanjang hayat, serta kecintaan terhadap profesi pendidik.

Di tengah kemajuan Eropa, Pak Isnawan tetap bangga menunjukkan identitasnya sebagai bagian dari komunitas pendidikan Indonesia. Pesan "Teaching is Fun" terasa sangat relevan karena guru yang bahagia akan mampu menciptakan pembelajaran yang menyenangkan bagi siswanya.

Inspirasi untuk Guru Indonesia

Foto ini mengingatkan kita bahwa seorang guru tidak hanya mengajar di dalam kelas. Guru adalah duta ilmu pengetahuan, duta budaya, dan duta karakter bangsa. Ketika berada di luar negeri sekalipun, seorang guru tetap membawa nilai-nilai pendidikan yang diyakininya.

Pak Isnawan menunjukkan bahwa:

1. Guru harus terus belajar di mana pun berada.


2. Guru harus bangga dengan profesinya.


3. Guru Indonesia mampu bersaing di tingkat global.


4. Semangat berbagi ilmu tidak mengenal batas negara.


5. Identitas sebagai pendidik adalah kebanggaan yang layak ditunjukkan kepada dunia.



Pesan dari Foto Ini

Di sebuah sudut kota di Spanyol, Pak Isnawan berdiri dengan tenang mengenakan kaos SATUGURU. Barangkali banyak orang yang berlalu-lalang tidak mengenal beliau. Namun bagi dunia pendidikan Indonesia, foto ini menyimpan pesan yang sangat kuat:

"Guru boleh berjalan ribuan kilometer meninggalkan tanah air, tetapi semangat mendidiknya akan selalu dibawa ke mana pun ia pergi."

Kaos SATUGURU yang dikenakan Pak Isnawan menjadi bukti bahwa semangat guru Indonesia tidak hanya hidup di ruang kelas, tetapi juga dapat hadir dan menginspirasi hingga ke negeri Spanyol. Sebuah foto sederhana yang mengandung pesan besar: **guru Indonesia mendunia karena karya, dedikasi, dan semangat belajarnya yang tidak pernah berhenti.**

Kamis, 11 Juni 2026

omjay jadi pedagang buku dadakan

JUALAN BUKU ALA OMJAY: DARI GURU BIASA MENJADI PEDAGANG BUKU DADAKAN

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) — Guru Blogger Indonesia

"Pak, buku Omjay sudah terbit?"

"Sudah."

"Berapa harganya?"

"Murah."

"Murah itu berapa?"

"Lebih murah daripada harga satu kali makan keluarga di restoran."

"Lho, kok bisa?"

"Iya, karena tujuan saya bukan bikin kaya raya, tapi bikin banyak orang kaya ilmu."

Begitulah percakapan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Sejak empat buku terbaru saya selesai dicetak, mendadak saya berubah profesi. Pagi mengajar, siang menulis, malam jadi pedagang buku keliling WhatsApp.

Kadang saya sendiri tertawa.

Bayangkan saja. Selama lebih dari tiga puluh tahun mengajar, saya terbiasa berdiri di depan kelas menjelaskan pelajaran kepada siswa. Sekarang saya berdiri di depan grup WhatsApp menawarkan buku.

Bedanya, kalau siswa tidak memperhatikan saat belajar, saya masih bisa bilang:

"Anak-anak, perhatikan ke depan!"

Tapi kalau menawarkan buku di grup WhatsApp?

Yang terlihat cuma dua centang biru tanpa komentar.

Sakitnya tuh di sini.

Namun saya sadar, menjual buku memang tidak semudah menjual gorengan.

Kalau gorengan aromanya langsung menggoda.

Kalau buku?

Harus dibaca dulu baru terasa nikmatnya.

Meskipun begitu, saya tetap semangat.

Sebab saya percaya setiap buku memiliki takdir pembacanya sendiri.

Suatu hari seorang teman bertanya.

"Omjay, kenapa bikin empat buku sekaligus? Satu saja sudah susah menjualnya."

Saya tersenyum.

"Karena saya takut lupa."

"Lupa apa?"

"Lupa bahwa hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengeluh."

Teman saya tertawa.

Lalu saya menjelaskan.

Buku pertama berjudul LABSCHOOL RUMAH KEDUAKU.

Buku ini lahir dari cinta saya kepada sekolah yang sudah menjadi bagian hidup selama puluhan tahun.

Di sana saya belajar menjadi guru.

Di sana saya belajar menjadi manusia.

Dan di sana pula saya menemukan ribuan kenangan yang tak mungkin saya beli dengan uang.

Buku kedua berjudul MENULIS DENGAN HATI.

Nah, ini buku yang sangat berbahaya.

Kenapa?

Karena setelah membacanya, banyak orang mendadak ingin menulis.

Ada yang mulai membuat blog.

Ada yang mulai menulis buku.

Ada yang mulai rajin menulis status panjang di media sosial.

Pokoknya efek sampingnya cukup mengkhawatirkan bagi orang yang malas menulis.

Buku ketiga berjudul KASTA TERTINGGI SEORANG GURU.

Judulnya memang terdengar mewah.

Tapi isinya sederhana.

Saya ingin mengajak para guru memahami bahwa kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan.

Bukan pula penghargaan.

Melainkan ketika ilmunya terus hidup dalam diri murid-muridnya.

Karena guru sejati akan tetap dikenang bahkan ketika namanya mulai dilupakan.

Sedangkan buku keempat berjudul KISAH OMJAY: MENULIS SETIAP HARI DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI.

Ini buku yang paling dekat dengan hati saya.

Buku ini berisi perjalanan panjang seorang guru biasa yang mencoba menulis setiap hari.

Awalnya tidak ada yang membaca.

Kemudian mulai ada yang membaca.

Lalu ada yang mengomentari.

Kemudian ada yang membagikan.

Dan akhirnya tulisan-tulisan itu mengantarkan saya bertemu ribuan sahabat dari seluruh Indonesia.

Yang lucu adalah ketika ada teman bertanya.

"Omjay, kalau saya beli empat buku sekaligus, saya dapat apa?"

Saya jawab.

"Dapat empat buku."

Dia tertawa.

"Lalu bonusnya?"

"Dapat ilmu."

"Bukan itu maksud saya."

"Dapat motivasi."

"Bukan itu juga."

"Dapat inspirasi."

"Masih kurang."

Akhirnya saya berkata.

"Kalau beli empat buku sekaligus, Insya Allah dapat pahala karena membantu seorang guru tetap semangat menulis."

Nah, yang ini biasanya langsung diam.

Saya sering bercanda kepada teman-teman.

Harga buku cetak hanya Rp50.000.

Buku digital Rp25.000.

Kalau dihitung-hitung, harga satu buku bahkan lebih murah daripada biaya ngopi kekinian.

Bedanya, kopi habis dalam satu jam.

Buku bisa menemani bertahun-tahun.

Kopi menghangatkan tubuh.

Buku menghangatkan pikiran.

Kopi membuat mata melek beberapa jam.

Buku membuat wawasan melek sepanjang hayat.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, banyak orang bertanya.

"Apakah buku masih penting?"

Jawaban saya sederhana.

Justru semakin penting.

Karena AI bisa membantu kita menulis.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan pengalaman hidup.

AI bisa menghasilkan ribuan kata dalam hitungan detik.

Namun air mata, perjuangan, kegagalan, harapan, dan doa yang tertulis dalam sebuah buku tetap berasal dari manusia.

Itulah sebabnya saya tetap menulis.

Itulah sebabnya saya tetap menerbitkan buku.

Dan itulah sebabnya saya mengajak sahabat semua untuk membaca.

Bukan karena saya ingin buku saya laris.

Tetapi karena saya ingin semakin banyak orang percaya bahwa pengalaman hidup layak dibagikan.

---

Kalau suatu hari nanti Anda melihat saya sibuk mempromosikan buku di media sosial, jangan bayangkan saya sedang menjadi sales profesional.

Bayangkan saja seorang guru tua yang masih percaya bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan seseorang.

Seorang guru yang terus menulis meskipun pernah sakit.

Seorang guru yang terus belajar meskipun usia terus bertambah.

Dan seorang guru yang ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui buku-bukunya.

Jadi, kalau Anda bertanya apakah buku-buku Omjay layak dibeli?

Saya tidak akan menjawabnya.

Biarkan hati Anda yang menjawab.

Karena tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Salam Blogger Persahabatan.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

Guru Blogger Indonesia :::

Salam blogger persajabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com
@semua
@sorotan

Prestasi, Harapan, dan Sebuah Proses yang Masih Berjalan




Prestasi, Harapan, dan Sebuah Proses yang Masih Berjalan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Belakangan ini, diskusi mengenai status kurasi sertifikat Olimpiade TIK Nasional (OTN) menjadi perhatian banyak peserta, guru pembimbing, orang tua, dan panitia. Saya membaca satu per satu komentar yang masuk. Ada nada kecewa, ada harapan, ada pertanyaan, bahkan ada kegelisahan yang sangat dapat dipahami.

Sebagai seorang guru yang telah mendampingi siswa berkompetisi selama puluhan tahun, saya memahami semua perasaan itu.

Saya dapat merasakan kegundahan seorang siswa yang telah berlatih berbulan-bulan, mengorbankan waktu bermain, bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi mengikuti perlombaan. Ketika berhasil menjadi juara, tentu mereka berharap prestasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi.

Karena itu, ketika muncul informasi bahwa sertifikat yang diperoleh belum dapat digunakan sebagaimana yang diharapkan, kekecewaan adalah sesuatu yang sangat manusiawi.

Salah seorang guru menyampaikan kegelisahannya dengan sangat tulus:

"Eventnya sudah lama selesai dari akhir tahun 2025, dan sekarang sudah Juni 2026. Apakah pihak panitia tidak bisa mengupayakan lebih cepat prosesnya?"

Pertanyaan tersebut sesungguhnya mewakili suara banyak peserta dan guru pembimbing di berbagai daerah.

Mereka tidak sedang mencari kesalahan siapa pun. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian karena masa pendaftaran sekolah terus berjalan.

Kegelisahan lainnya juga sangat menyentuh hati:

"Kasihan siswa-siswi kami, kecewa dan merasa sia-sia sudah berkompetisi, datang jauh, tetapi tidak bisa masuk kurasi."

Sebagai guru, saya memahami kalimat itu.

Di balik sebuah sertifikat terdapat perjuangan yang tidak sederhana.

Ada siswa yang harus bangun dini hari untuk berangkat lomba.

Ada orang tua yang menyisihkan penghasilannya demi mendukung anaknya.

Ada guru pembimbing yang rela meluangkan waktu di luar jam kerja.

Ada sekolah yang memberikan dukungan penuh agar siswanya dapat berprestasi.

Maka sangat wajar apabila muncul harapan besar agar hasil perjuangan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masa depan peserta didik.

Di sisi lain, panitia juga telah berupaya memberikan penjelasan. Untuk para juara, panitia bahkan memfasilitasi legalisir sertifikat dan Surat Keputusan (SK) Juara sebagai bentuk penguatan administrasi yang dapat digunakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Panitia juga menjelaskan bahwa proses kurasi masih terus berjalan hingga saat ini. Bahkan ketika ditanya mengapa prosesnya belum selesai, panitia menjelaskan:

"Upaya kami berjalan, namun yang menentukan status tersebut bukan kami."

Kalimat ini penting untuk dipahami bersama.

Artinya, panitia memang memiliki kewajiban untuk melengkapi seluruh persyaratan administrasi dan terus melakukan komunikasi dengan pihak terkait. Namun keputusan akhir mengenai status kurasi berada pada lembaga yang berwenang melakukan verifikasi dan penetapan.

Panitia juga menegaskan:

"Proses kurasi tetap kami lanjutkan."

Bagi saya, pernyataan tersebut menunjukkan adanya komitmen untuk terus mengawal proses hingga selesai.

Namun di sisi lain, beberapa guru pembimbing juga menyampaikan pengalaman mereka terkait proses kurasi yang pernah dilakukan sekolah masing-masing. Salah satu masukan yang muncul adalah bahwa apabila terdapat kekurangan dokumen atau persyaratan administrasi, biasanya pihak yang melakukan kurasi akan memberikan pemberitahuan agar segera dilengkapi.

Seorang guru menyampaikan pendapatnya dengan santun:

"Memang betul bukan panitia yang menentukan. Tetapi jika ada kendala, biasanya pihak Puspresnas akan memberikan informasi mengenai kekurangan data atau dokumen yang harus dilengkapi. Karena itu kami berharap prosesnya dapat lebih cepat ditindaklanjuti."

Beliau juga menambahkan pengalaman yang pernah dialaminya:

"Sekolah kami juga pernah mengajukan kurasi, dan prosesnya kurang lebih hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga mendapatkan persetujuan."

Pernyataan tersebut tentu bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk harapan agar proses yang sedang berjalan dapat memperoleh perhatian dan pengawalan yang lebih intensif.

Apalagi bagi peserta didik yang saat ini sedang menghadapi tahapan penting dalam perjalanan pendidikannya, seperti Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), setiap waktu yang berlalu terasa sangat berharga.

Karena itu, muncul harapan dari para guru dan orang tua agar komunikasi antara penyelenggara dan pihak yang berwenang dapat terus dilakukan secara aktif sehingga apabila terdapat dokumen yang kurang atau persyaratan yang belum terpenuhi, proses perbaikannya dapat segera dilakukan. Dengan demikian, para peserta memperoleh kepastian yang mereka butuhkan tanpa harus menunggu terlalu lama.

Harapan tersebut sesungguhnya lahir dari rasa peduli terhadap siswa-siswi yang telah berjuang dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin memastikan bahwa setiap prestasi yang diraih anak-anak bangsa dapat memperoleh pengakuan dan manfaat yang semestinya.

Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.

Peserta berhak mendapatkan informasi yang jelas.

Guru pembimbing berhak mengetahui perkembangan terbaru.

Orang tua berhak memperoleh kepastian mengenai peluang penggunaan sertifikat yang dimiliki anak-anak mereka.

Sebaliknya, panitia juga berhak mendapatkan dukungan dan kesempatan untuk menyelesaikan proses yang masih berlangsung tanpa harus menjadi sasaran kemarahan yang berlebihan.

Saya melihat bahwa semua pihak sebenarnya memiliki tujuan yang sama.

Peserta ingin prestasinya diakui.

Guru ingin siswa binaannya memperoleh manfaat dari perjuangannya.

Orang tua ingin masa depan anaknya menjadi lebih baik.

Panitia ingin kompetisi yang mereka selenggarakan semakin berkualitas dan mendapatkan pengakuan resmi.

Karena tujuan kita sama, maka marilah kita menjaga suasana dialog tetap sehat dan produktif.

Kritik boleh disampaikan.

Masukan sangat diperlukan.

Evaluasi harus dilakukan.

Namun semuanya akan lebih baik jika disampaikan dengan bahasa yang santun dan penuh rasa saling menghormati.

Kepada para siswa yang merasa kecewa, saya ingin mengatakan satu hal.

Jangan pernah menganggap perjuangan kalian sia-sia.

Prestasi tidak hanya diukur dari apakah sertifikat itu diterima oleh sebuah sistem atau tidak.

Prestasi sejati adalah ilmu yang kalian peroleh selama proses belajar.

Prestasi sejati adalah keberanian kalian untuk bersaing secara sehat.

Prestasi sejati adalah karakter pantang menyerah yang tumbuh dalam diri kalian.

Sertifikat memang penting.

Tetapi kemampuan yang telah kalian bangun jauh lebih berharga.

Dan kepada panitia, saya yakin harapan terbesar peserta adalah mendapatkan informasi perkembangan yang terus diperbarui secara berkala sehingga mereka merasa didampingi dan diperhatikan selama menunggu proses kurasi selesai.

Semoga proses yang sedang berlangsung dapat segera memperoleh titik terang.

Semoga semua dokumen yang diperlukan dapat dipenuhi.

Semoga pihak yang berwenang segera memberikan keputusan terbaik.

Dan semoga ke depan setiap penyelenggaraan kompetisi dapat memiliki kepastian administrasi yang lebih kuat sejak awal sehingga tidak menimbulkan kebingungan di kemudian hari.

Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama.

Karena pada akhirnya, tujuan utama sebuah kompetisi bukan hanya menghasilkan juara, tetapi juga membangun generasi yang tangguh, jujur, berprestasi, dan mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin serta hati yang lapang.

Tetap semangat.

Karena setiap perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Prestasi boleh menunggu pengakuan administrasi, tetapi nilai perjuangan, ilmu, dan pengalaman yang diperoleh para peserta akan tetap menjadi bekal berharga sepanjang hayat.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
"Mendidik dengan hati, menulis untuk menginspirasi."
Blog https://wijayalabs.com

Cara Mudah Jualan Buku ebook


Cara Mudah Menjual Buku Ebook Secara Online: Pengalaman Omjay Menerbitkan dan Menjual Buku di Google Play

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

“Kalau buku cetak membutuhkan biaya cetak, gudang, dan ongkos kirim, maka ebook hanya membutuhkan satu hal: kemauan untuk mulai.”

Kalimat itu sering saya sampaikan kepada para guru ketika berbagi tentang literasi digital. Sebab, saya sendiri sudah merasakan bagaimana sebuah tulisan sederhana yang awalnya hanya tersimpan di blog akhirnya berubah menjadi buku digital yang dapat dibaca orang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.

Dulu saya berpikir menerbitkan buku adalah pekerjaan yang rumit. Harus mencari penerbit besar, menunggu berbulan-bulan, mengurus distribusi, dan menghadapi banyak tantangan lainnya. Namun, perkembangan teknologi telah mengubah semuanya. Kini, seorang guru, dosen, mahasiswa, bahkan pelajar dapat menerbitkan dan menjual ebook secara mandiri melalui platform digital seperti Google Play Books.

Saya ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai seorang guru yang hobi menulis setiap hari. Pengalaman ini semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari karya tulisnya.

Awalnya Hanya Menulis di Blog

Perjalanan saya menjual ebook dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari di blog.

Setiap pagi saya menulis pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, kisah inspiratif, hingga catatan perjalanan hidup. Awalnya tidak ada tujuan untuk menghasilkan uang. Saya hanya ingin berbagi ilmu dan pengalaman.

Namun, seiring waktu, tulisan-tulisan itu semakin banyak. Ratusan artikel tersimpan rapi di blog pribadi.

Suatu hari seorang teman berkata,

"Omjay, tulisan sebanyak ini sayang kalau hanya menjadi artikel. Mengapa tidak dijadikan buku?"

Kalimat sederhana itu membuat saya berpikir.

Benar juga.

Mengapa tidak mengubah tulisan yang sudah ada menjadi sebuah ebook?

Akhirnya saya mulai mengumpulkan tulisan-tulisan terbaik, menyusunnya berdasarkan tema, lalu mengeditnya menjadi naskah buku digital.

Ternyata prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan.

Langkah Pertama: Tentukan Tema Buku

Kesalahan banyak penulis pemula adalah ingin menulis semuanya sekaligus.

Padahal pembaca lebih menyukai buku yang fokus pada satu tema.

Misalnya:

  • Pengalaman mengajar
  • Motivasi belajar
  • Literasi digital
  • Kisah inspiratif
  • Public speaking
  • Teknologi pendidikan
  • Kecerdasan buatan (AI)
  • Pengembangan diri

Ketika saya menulis buku, saya memilih tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai guru.

Karena pengalaman nyata selalu lebih mudah ditulis dibandingkan teori yang hanya dibaca dari buku.

Pembaca juga lebih menyukai kisah nyata daripada cerita yang dibuat-buat.

Langkah Kedua: Susun Naskah dengan Rapi

Setelah tema ditentukan, mulailah menyusun naskah.

Saya biasanya melakukan langkah berikut:

  1. Mengumpulkan artikel yang relevan.
  2. Mengelompokkan berdasarkan bab.
  3. Menambahkan pengantar dan penutup.
  4. Memperbaiki tata bahasa.
  5. Menambahkan ilustrasi atau foto pendukung.

Jangan terlalu mengejar kesempurnaan.

Lebih baik buku selesai daripada sempurna tetapi tidak pernah terbit.

Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan menulis:

"Buku yang selesai lebih berharga daripada naskah sempurna yang hanya tersimpan di laptop."

Langkah Ketiga: Buat Cover yang Menarik

Orang sering mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya.

Namun kenyataannya, pembaca pertama kali melihat cover.

Karena itu buatlah cover yang menarik.

Saat ini membuat cover jauh lebih mudah.

Kita bisa menggunakan:

  • Canva
  • AI Image Generator
  • PowerPoint
  • Photoshop

Saya sering membuat konsep cover sendiri, lalu meminta bantuan desainer untuk menyempurnakannya.

Cover yang baik harus:

  • Judul jelas
  • Nama penulis terbaca
  • Warna menarik
  • Tidak terlalu ramai

Ingat, cover adalah etalase buku Anda.

Langkah Keempat: Ubah Menjadi Format Ebook

Platform ebook biasanya menggunakan format:

  • PDF
  • EPUB

Google Play Books lebih menyukai format EPUB karena tampilannya lebih fleksibel di berbagai perangkat.

Saat pertama kali menerbitkan ebook, saya belajar banyak dari tutorial di internet.

Ternyata mengubah dokumen Word menjadi EPUB tidak sesulit yang dibayangkan.

Banyak aplikasi gratis yang dapat membantu proses ini.

Yang penting isi buku sudah rapi dan siap diterbitkan.

Langkah Kelima: Terbitkan di Google Play Books

Inilah bagian yang paling menarik.

Google Play Books memberikan kesempatan kepada penulis independen untuk menjual bukunya secara langsung.

Keuntungannya antara lain:

  • Jangkauan global
  • Tidak perlu mencetak buku
  • Tidak perlu gudang penyimpanan
  • Pembayaran otomatis
  • Bisa dijual 24 jam sehari

Saat pertama kali melihat buku saya tampil di Google Play, rasanya seperti mimpi.

Saya teringat masa-masa ketika harus membawa buku cetak ke berbagai acara hanya untuk menawarkan kepada pembaca.

Kini buku itu dapat ditemukan hanya dengan mengetik judulnya di internet.

Teknologi benar-benar mengubah cara penulis berkarya.

Langkah Keenam: Promosikan Melalui Media Sosial

Kesalahan terbesar setelah buku terbit adalah berhenti bekerja.

Padahal pekerjaan sebenarnya baru dimulai.

Buku yang tidak dipromosikan akan sulit ditemukan pembaca.

Saya memanfaatkan berbagai media:

  • Blog pribadi
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Telegram
  • Kompasiana
  • YouTube
  • Webinar
  • Komunitas guru

Setiap kali mengisi pelatihan, saya selalu menyisipkan informasi tentang buku yang saya tulis.

Bukan untuk pamer.

Tetapi agar buku tersebut menemukan pembacanya.

Karena buku yang bermanfaat layak untuk diketahui lebih banyak orang.

Langkah Ketujuh: Bangun Personal Branding

Saya bersyukur dikenal sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Personal branding membantu pembaca mengenali karya kita.

Jika Anda seorang guru matematika, bangun reputasi sebagai penulis matematika.

Jika Anda guru bahasa, bangun reputasi sebagai penulis literasi.

Jika Anda dosen teknologi, bangun reputasi sebagai penulis teknologi.

Orang membeli buku bukan hanya karena judulnya.

Mereka membeli karena percaya kepada penulisnya.

Kepercayaan itu dibangun melalui konsistensi.

Jangan Takut Buku Tidak Laku

Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah:

"Omjay, bagaimana kalau bukunya tidak laku?"

Saya selalu menjawab:

"Yang tidak laku itu buku yang tidak pernah diterbitkan."

Banyak orang gagal sebelum mencoba.

Padahal setiap buku memiliki pembacanya sendiri.

Mungkin bukan ribuan.

Mungkin bukan jutaan.

Tetapi selalu ada orang yang membutuhkan ilmu yang kita tuliskan.

Saya sendiri tidak pernah menjadikan uang sebagai tujuan utama menulis.

Bagi saya, uang adalah bonus.

Tujuan utama saya adalah berbagi pengalaman dan meninggalkan jejak kebaikan.

Alhamdulillah, ketika niat itu dijaga, rezeki datang dengan caranya sendiri.

Menulis Adalah Investasi Abadi

Hari ini kita hidup di era kecerdasan buatan (AI).

Semua orang dapat membuat tulisan dengan bantuan teknologi.

Namun satu hal yang tidak bisa digantikan AI adalah pengalaman hidup manusia.

Kisah perjuangan seorang guru.

Cerita jatuh bangun seorang penulis.

Pengalaman menghadapi murid.

Kenangan bersama keluarga.

Semua itu adalah kekayaan yang tidak dimiliki mesin.

Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk mulai menulis dan menerbitkan ebook.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu terkenal.

Jangan menunggu pensiun.

Mulailah sekarang.

Tulislah pengalaman terbaik Anda.

Susun menjadi buku.

Terbitkan secara digital.

Jual melalui Google Play Books dan berbagai platform lainnya.

Siapa tahu, tulisan yang Anda buat hari ini akan menjadi sumber inspirasi bagi ribuan orang di masa depan.

Sebab saya telah membuktikannya sendiri.

Dari seorang guru biasa yang menulis di blog setiap hari, kini karya-karya saya dapat dibaca oleh banyak orang melalui buku digital.

Dan saya semakin yakin bahwa guru yang menulis tidak akan pernah habis oleh zaman.

Karena ketika suara kita berhenti terdengar, tulisan kitalah yang akan terus berbicara. 📚✨

Peran PGRI Mendengar Jeritan Guru

Ketika Guru Menjerit karena Rombel Gemuk dan Jam Mengajar yang Kian Sulit

Kisah Omjay Mendengar Suara Hati Guru Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, seperti biasa, grup WhatsApp para guru ramai dengan berbagai diskusi. Ada yang membahas pembelajaran, ada yang berbagi informasi terbaru dari pemerintah, dan ada pula yang menyampaikan keluhan yang mewakili suara hati ribuan guru di seluruh Indonesia.

Salah satu pesan yang membuat saya terdiam datang dari seorang sahabat guru.

Beliau menuliskan harapan agar PB PGRI memperjuangkan dua hal yang dianggap sangat penting bagi kehidupan guru saat ini.

Pertama, jumlah siswa dalam satu kelas atau rombongan belajar (rombel) yang dinilai terlalu besar. Beliau berharap jumlah siswa dalam satu kelas diturunkan menjadi sekitar 20 hingga 25 orang agar proses pembelajaran lebih efektif.

Kedua, syarat minimal 24 jam tatap muka untuk menerima tunjangan profesi guru agar diturunkan menjadi 18 jam karena semakin banyak guru PPPK yang diangkat sehingga distribusi jam mengajar semakin sulit dipenuhi.

Saya membaca pesan itu berulang kali.

Lalu saya tersenyum kecil.

Bukan karena menganggapnya lucu, tetapi karena saya memahami betul kegelisahan yang sedang dirasakan para guru.

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya melihat sendiri bagaimana perubahan kebijakan pendidikan selalu membawa konsekuensi baru di lapangan.

Ketika Satu Kelas Berisi Terlalu Banyak Anak

Saya masih ingat saat pertama kali mengajar tahun 1994.

Di beberapa sekolah negeri, jumlah siswa dalam satu kelas bisa mencapai 45 hingga 50 orang.

Bahkan ada yang lebih.

Guru berdiri di depan kelas seperti seorang konduktor orkestra yang harus mengendalikan puluhan karakter berbeda sekaligus.

Ada siswa yang cepat memahami pelajaran.

Ada yang harus dijelaskan berkali-kali.

Ada yang aktif bertanya.

Ada pula yang diam tetapi sebenarnya sedang kebingungan.

Bayangkan jika semua itu terjadi dalam satu ruangan dengan jumlah siswa mendekati lima puluh orang.

Tidak mudah.

Ketika jumlah siswa terlalu besar, perhatian guru otomatis terbagi.

Guru akhirnya lebih banyak mengajar secara massal daripada mendampingi secara personal.

Padahal setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.

Di era pembelajaran mendalam (deep learning) seperti sekarang, hubungan guru dan murid justru harus semakin dekat.

Guru perlu mengenal karakter setiap peserta didik.

Guru perlu mengetahui siapa yang sedang mengalami kesulitan belajar.

Guru perlu memahami siapa yang membutuhkan dukungan emosional.

Semua itu akan lebih mudah dilakukan jika jumlah siswa dalam kelas lebih proporsional.

Saya membayangkan betapa bahagianya guru jika satu kelas hanya berisi 20 hingga 25 siswa.

Guru bisa lebih fokus.

Pembelajaran lebih hidup.

Diskusi lebih berkualitas.

Penilaian lebih akurat.

Anak-anak pun mendapatkan perhatian yang layak.

Namun di sisi lain, persoalan ini tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.

Menurunkan jumlah siswa per rombel berarti pemerintah harus menyediakan lebih banyak ruang kelas, lebih banyak guru, dan lebih banyak anggaran.

Di sinilah pentingnya data yang akurat sebagaimana disampaikan sahabat saya dalam diskusi tersebut.

Setiap daerah memiliki kondisi berbeda.

Ada sekolah yang kelebihan murid.

Ada sekolah yang kekurangan murid.

Ada sekolah yang kekurangan guru.

Ada pula sekolah yang justru kelebihan guru pada mata pelajaran tertentu.

Karena itu, solusi terbaik harus berbasis data, bukan sekadar asumsi.

Tantangan Guru PPPK dan Jam Mengajar

Persoalan kedua yang tidak kalah penting adalah syarat 24 jam mengajar.

Jujur saja, ini menjadi topik yang sering saya dengar dalam berbagai pertemuan guru.

Ketika pemerintah mengangkat ratusan ribu guru PPPK, banyak sekolah merasa bersyukur.

Akhirnya kebutuhan guru mulai terpenuhi.

Namun muncul persoalan baru.

Jam mengajar yang tersedia harus dibagi kepada lebih banyak guru.

Akibatnya, tidak sedikit guru yang kesulitan memenuhi syarat minimal 24 jam tatap muka.

Saya pernah bertemu seorang guru yang harus mengajar di dua bahkan tiga sekolah berbeda hanya demi memenuhi kewajiban tersebut.

Pagi mengajar di sekolah induk.

Siang berpindah ke sekolah lain.

Sore masih harus menyelesaikan administrasi pembelajaran.

Belum lagi perjalanan yang melelahkan.

Ketika sampai di rumah, tenaga sudah hampir habis.

Padahal guru juga manusia.

Guru punya keluarga.

Guru punya anak.

Guru punya orang tua yang harus diperhatikan.

Dalam kondisi seperti itu, banyak guru bertanya:

"Mengapa tunjangan profesi harus dikaitkan dengan angka 24 jam?"

Pertanyaan ini memang sering muncul.

Terlebih di era digital saat ini, tugas guru tidak hanya mengajar di kelas.

Guru menyiapkan materi.

Guru membuat media pembelajaran.

Guru membimbing proyek siswa.

Guru melakukan asesmen.

Guru mengikuti pelatihan.

Guru mengembangkan kompetensi.

Bahkan banyak guru yang aktif menulis dan berbagi praktik baik kepada sesama guru.

Semua itu membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.

Guru Bukan Pemburu Jam

Sebagai guru, saya percaya bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah mengejar angka.

Bukan mengejar jumlah jam.

Bukan mengejar administrasi.

Bukan pula mengejar laporan semata.

Tujuan utama pendidikan adalah membantu peserta didik tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Karena itu, kebijakan apa pun hendaknya berorientasi pada kualitas pembelajaran.

Jika syarat 24 jam memang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, tentu perlu dikaji ulang secara komprehensif.

Namun jika tetap dipertahankan, pemerintah juga perlu memastikan distribusi guru dan distribusi jam mengajar berjalan lebih adil.

Yang paling penting adalah jangan sampai guru sibuk berburu jam hingga kehilangan fokus mendidik anak-anak.

Peran PGRI dalam Memperjuangkan Aspirasi Guru

Sebagai organisasi profesi terbesar di Indonesia, PGRI memiliki tugas besar untuk menyuarakan aspirasi anggotanya.

Tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks.

Tidak cukup hanya berdiskusi di grup WhatsApp.

Diperlukan komunikasi yang baik antara organisasi profesi, pemerintah, DPR, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian PAN-RB, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Perjuangan guru harus dilakukan dengan data yang kuat, kajian yang matang, dan dialog yang konstruktif.

Saya yakin suara guru akan lebih didengar jika disampaikan secara terorganisasi dan berbasis fakta.

Penutup

Ketika saya selesai membaca diskusi pagi itu, hati saya teringat kepada jutaan guru di seluruh Indonesia.

Mereka datang ke sekolah sebelum matahari tinggi.

Mereka mengajar dengan penuh kesabaran.

Mereka mendidik anak-anak bangsa dengan segala keterbatasan yang ada.

Di balik senyum mereka, terkadang tersimpan kegelisahan yang tidak terlihat.

Kegelisahan tentang rombel yang terlalu padat.

Kegelisahan tentang jam mengajar yang sulit dipenuhi.

Kegelisahan tentang kesejahteraan yang masih harus diperjuangkan.

Namun saya percaya, selama guru terus bersuara dengan santun, selama organisasi profesi terus memperjuangkan aspirasi anggotanya, dan selama pemerintah membuka ruang dialog yang sehat, maka jalan menuju pendidikan yang lebih baik akan selalu ada.

Karena sejatinya, ketika kita memperjuangkan nasib guru, kita sedang memperjuangkan masa depan anak-anak Indonesia.

Dan masa depan bangsa ini selalu dimulai dari ruang kelas tempat seorang guru mengajar dengan hati.

Salam Literasi. Salam Pendidikan. Tetap Semangat dan Terus Menginspirasi.
Barakallah fiikum.