Jumat, 12 Juni 2026

ketika bbm naik




KETIKA PERTAMAX NAIK, HATI RAKYAT IKUT BERGETAR


Kisah Omjay, Guru Sekolah Swasta dengan Gaji yang Tak Pernah Ikut Naik

*Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia*

Pagi itu saya terdiam cukup lama ketika membaca berita di layar ponsel. Harga Pertamax resmi naik menjadi Rp16.250 per liter mulai 10 Juni 2026. Kenaikannya bukan seratus atau dua ratus rupiah seperti yang biasa terjadi, melainkan melonjak Rp3.950 per liter dari harga sebelumnya Rp12.300 per liter. Kenaikan tersebut mencapai lebih dari 30 persen dan langsung berlaku di seluruh wilayah pemasaran Pertamina. Banyak orang terkejut, termasuk saya. Sebagai guru sekolah swasta yang setiap hari harus berangkat bekerja menggunakan kendaraan pribadi, kenaikan ini tentu bukan sekadar angka di papan SPBU. Ini adalah kenyataan yang langsung menyentuh isi dompet rakyat kecil.

Saya memahami bahwa pemerintah dan Pertamina tentu memiliki alasan. Konflik di Timur Tengah membuat harga energi dunia bergejolak. Nilai tukar rupiah juga mengalami tekanan sehingga biaya impor energi semakin mahal. Beban subsidi energi yang terus meningkat membuat pemerintah harus mengambil keputusan yang tidak mudah. Pertamax sendiri memang bukan BBM bersubsidi. Namun ketika harga naik setinggi itu dalam waktu singkat, masyarakat tetap merasakan guncangannya.

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya sering mendengar keluhan para orang tua siswa. Mereka bekerja keras setiap hari demi membiayai pendidikan anak-anaknya. Ada yang menjadi sopir, pedagang kecil, karyawan swasta, buruh pabrik, hingga pekerja informal yang penghasilannya tidak menentu. Ketika harga BBM naik, ongkos hidup ikut bergerak naik. Biaya transportasi bertambah. Harga bahan pokok perlahan mengikuti. Pengeluaran rumah tangga membengkak. Namun pendapatan mereka tidak serta-merta bertambah. Inilah yang paling menyakitkan.

Saya teringat percakapan dengan seorang ayah siswa beberapa waktu lalu. Dengan wajah lelah ia berkata, "Pak Guru, sekarang yang sulit bukan mencari uang. Yang sulit itu menjaga agar uang tidak cepat habis." Kalimat sederhana itu terus terngiang di telinga saya. Betapa banyak rakyat Indonesia yang setiap hari berjuang bukan untuk menjadi kaya, melainkan sekadar agar dapurnya tetap mengepul.

Sebagai guru sekolah swasta, saya juga merasakan hal yang sama. Banyak orang mengira semua guru hidup berkecukupan. Padahal kenyataannya tidak selalu demikian. Masih banyak guru swasta yang menerima penghasilan jauh dari kata ideal. Kami tetap datang ke sekolah dengan semangat. Kami tetap mengajar dengan hati. Kami tetap tersenyum di depan siswa walaupun terkadang di rumah harus menghitung ulang pengeluaran bulanan. Ketika harga BBM naik, kami tidak bisa serta-merta meminta kenaikan gaji. Kami hanya bisa berhemat lebih ketat dari sebelumnya.

Respons masyarakat terhadap kenaikan Pertamax pun beragam. Ada yang marah karena merasa keputusan tersebut terlalu mendadak. Ada yang kecewa karena kenaikannya sangat besar. Ada pula yang mencoba memahami alasan pemerintah meskipun tetap merasa berat. Di media sosial, keluhan bermunculan dari berbagai kalangan. Para pekerja, pelaku UMKM, guru, pegawai swasta, hingga pengemudi ojek online menyampaikan kegelisahannya. Mereka bukan menolak pembangunan negara. Mereka hanya berharap kebijakan yang diambil tidak semakin memperberat kehidupan sehari-hari.

Lalu apa yang seharusnya dilakukan pemerintah?

Menurut saya, pemerintah perlu memastikan bahwa kenaikan harga BBM tidak diikuti oleh lonjakan harga kebutuhan pokok yang tidak terkendali. Pengawasan distribusi pangan harus diperketat. Operasi pasar perlu diperluas. Bantuan sosial harus tepat sasaran dan cepat disalurkan kepada masyarakat yang paling rentan. Pemerintah juga perlu memperkuat transportasi publik yang murah dan nyaman sehingga masyarakat memiliki alternatif selain menggunakan kendaraan pribadi.

Selain itu, kesejahteraan guru, tenaga kesehatan, buruh, petani, nelayan, dan pekerja sektor informal perlu mendapat perhatian lebih besar. Mereka adalah kelompok yang paling cepat merasakan dampak kenaikan biaya hidup. Jangan sampai mereka yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa justru semakin terjepit oleh keadaan ekonomi.

Saya percaya Presiden Indonesia, Prabowo Subianto, tentu menginginkan rakyat hidup lebih sejahtera. Karena itu, melalui tulisan sederhana ini, izinkan saya menyampaikan salam hormat sebagai seorang guru sekolah swasta yang setiap hari berhadapan dengan generasi masa depan bangsa.

Bapak Presiden Prabowo yang kami hormati, di ruang-ruang kelas Indonesia ada jutaan anak yang sedang bermimpi. Mereka bermimpi menjadi dokter, insinyur, guru, tentara, polisi, ilmuwan, dan pemimpin masa depan negeri ini. Di balik mimpi mereka berdiri orang tua yang bekerja keras membiayai pendidikan anak-anaknya. Ketika harga-harga naik, mereka tetap berjuang. Ketika keadaan sulit, mereka tetap berharap. Tolong jaga harapan itu agar tidak padam.

Rakyat Indonesia adalah rakyat yang kuat. Mereka terbiasa menghadapi kesulitan. Mereka tidak mudah mengeluh. Namun sesungguhnya mereka hanya ingin hidup yang lebih layak. Mereka ingin bekerja dengan tenang, menyekolahkan anak dengan baik, membeli kebutuhan pokok tanpa rasa cemas, dan menatap masa depan dengan penuh optimisme.

Pada akhirnya, kenaikan Pertamax bukan hanya soal angka Rp3.950 per liter. Ini adalah tentang kehidupan jutaan orang yang setiap hari berjuang menghidupi keluarganya. Ini adalah tentang guru yang tetap mengajar walaupun biaya hidup terus naik. Ini adalah tentang orang tua yang tetap tersenyum di depan anak-anaknya meskipun hatinya sedang dihimpit banyak kekhawatiran. Dan ini adalah tentang harapan bahwa setiap kebijakan yang diambil negara akan selalu berpihak kepada rakyat kecil yang menjadi fondasi berdirinya Indonesia.

Semoga para pemimpin negeri ini selalu diberi kebijaksanaan. Semoga ekonomi Indonesia tetap kuat menghadapi berbagai tantangan dunia. Dan semoga rakyat Indonesia tidak hanya diminta untuk bertahan, tetapi juga diberi kesempatan untuk hidup lebih baik dari hari ke hari.

Karena sesungguhnya, kekuatan sebuah bangsa bukan diukur dari tingginya gedung-gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa banyak rakyat kecil yang bisa tersenyum dengan tenang saat pulang ke rumah.

Salam Blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.