Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 10 Juni 2026

Kisah Omjay Jadi Panitia Qurban di Kampus fptk ikip Jakarta

Dari Panitia Kurban Menjadi Guru Blogger Indonesia

Kisah Omjay Saat Menjadi Mahasiswa IKIP Jakarta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali muncul di layar telepon genggam saya. Warnanya sudah memudar. Gambarnya tidak seterang foto zaman sekarang. Namun, nilainya jauh lebih berharga daripada ribuan foto digital yang tersimpan di memori ponsel.

Di dalam foto itu tampak sekelompok mahasiswa berdiri dan jongkok bersama di depan kampus tercinta, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) IKIP Jakarta. Kami adalah para mahasiswa yang sedang bertugas menjadi panitia kurban kampus.

Saat melihat foto itu, hati saya langsung terbang puluhan tahun ke belakang. Kembali ke masa ketika saya masih seorang mahasiswa sederhana yang penuh mimpi, semangat, dan harapan.

Kala itu, saya belum menyandang gelar doktor. Saya belum menjadi guru yang dikenal banyak orang. Saya juga belum menulis ribuan artikel seperti sekarang.

Saya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang sedang belajar tentang kehidupan.

Belajar dari Sebuah Kepanitiaan

Menjadi panitia kurban di kampus bukanlah pekerjaan yang ringan.

Beberapa hari sebelum Iduladha, kami sudah sibuk rapat. Kami membagi tugas. Ada yang bertanggung jawab pada administrasi, konsumsi, dokumentasi, hingga pembagian daging kurban.

Sebagai mahasiswa, kami tidak mendapatkan bayaran.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.

Kami mendapatkan pengalaman.

Saya masih ingat bagaimana kami bekerja sejak pagi hingga malam. Bahkan terkadang harus pulang larut karena memastikan semua persiapan berjalan lancar.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada protes.

Tidak ada yang bertanya, "Saya dapat apa?"

Yang ada hanya semangat kebersamaan.

Kami percaya bahwa melayani adalah bagian dari proses belajar.

Hari ini saya baru menyadari bahwa pengalaman menjadi panitia kurban itulah yang diam-diam membentuk karakter saya sebagai guru.

Kampus yang Mengajarkan Kehidupan

Banyak orang berpikir bahwa kuliah hanya belajar teori.

Padahal kampus mengajarkan jauh lebih banyak daripada itu.

Di ruang kelas kami belajar tentang ilmu.

Namun di organisasi dan kepanitiaan kami belajar tentang kehidupan.

Kami belajar bekerja sama dengan orang yang berbeda karakter.

Kami belajar mengendalikan emosi.

Kami belajar memimpin dan dipimpin.

Kami belajar menghargai waktu.

Kami belajar bertanggung jawab.

Semua pelajaran itu tidak tertulis dalam buku teks.

Namun justru pelajaran itulah yang paling sering saya gunakan hingga hari ini.

Ketika menjadi guru di SMP Labschool Jakarta, saya merasakan manfaatnya.

Saat harus memimpin kegiatan sekolah, mengelola kelas, menyelenggarakan seminar nasional, hingga mendirikan komunitas menulis guru, pengalaman masa mahasiswa itu seperti hidup kembali.

Saya sadar bahwa Allah sedang menyiapkan saya jauh sebelum saya menjadi seperti sekarang.

Persahabatan yang Tidak Pernah Hilang

Salah satu hal yang paling saya rindukan dari masa mahasiswa adalah persahabatan.

Di foto itu ada banyak wajah sahabat yang pernah berjuang bersama.

Sebagian masih sering berkomunikasi.

Sebagian sudah lama tidak bertemu.

Bahkan mungkin ada yang kini tinggal di kota yang sangat jauh.

Namun kenangan itu tetap hidup.

Kami pernah makan bersama dari uang patungan.

Kami pernah berjalan kaki karena uang di kantong hampir habis.

Kami pernah tertawa bersama.

Kami juga pernah menghadapi berbagai kesulitan bersama.

Saat itu kami tidak memiliki banyak harta.

Namun kami kaya akan persahabatan.

Hari ini ketika usia sudah melewati setengah abad, saya semakin memahami bahwa sahabat sejati adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup.

Foto tua itu menjadi saksi bahwa kami pernah berjalan bersama dalam sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan.

Kurban yang Mengajarkan Keikhlasan

Ada pelajaran lain yang saya dapatkan saat menjadi panitia kurban.

Pelajaran tentang keikhlasan.

Setiap tahun saya melihat orang-orang yang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk berkurban.

Mereka tidak mencari pujian.

Mereka tidak meminta penghargaan.

Mereka hanya berharap ridha Allah SWT.

Pemandangan itu sangat membekas di hati saya.

Saya belajar bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang hanya mengumpulkan sebanyak mungkin untuk diri sendiri.

Hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain.

Pelajaran itulah yang kemudian saya pegang ketika menjadi guru.

Saya ingin ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat.

Saya ingin tulisan yang saya buat bisa menginspirasi.

Saya ingin pengalaman hidup saya bisa menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Karena sejatinya manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Dari Mahasiswa Biasa Menjadi Guru yang Terus Belajar

Jika ada yang mengatakan kepada mahasiswa dalam foto itu bahwa suatu hari ia akan menjadi doktor, menulis buku, berbicara di berbagai seminar nasional, dan dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, mungkin saya sendiri tidak akan percaya.

Saat itu saya hanya menjalani hidup hari demi hari.

Belajar.

Berorganisasi.

Beribadah.

Bersahabat.

Dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Namun ternyata setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita pada tujuan yang besar.

Hari ini saya sering bertemu mahasiswa yang merasa minder karena belum sukses.

Saya selalu mengatakan kepada mereka:

"Jangan terburu-buru membandingkan dirimu dengan orang lain. Fokuslah menjadi versi terbaik dirimu sendiri."

Karena kesuksesan tidak datang dalam semalam.

Kesuksesan dibangun dari ribuan langkah kecil yang sering kali tidak terlihat orang lain.

Seperti ketika dahulu saya menjadi panitia kurban kampus.

Tidak ada yang memotret perjuangan kami saat rapat hingga larut malam.

Tidak ada yang melihat lelah kami saat mempersiapkan acara.

Namun Allah melihat semuanya.

Dan setiap pengalaman itu menjadi batu bata yang membangun kehidupan saya hari ini.

Terima Kasih Kampusku

Melihat foto ini membuat hati saya dipenuhi rasa syukur.

Terima kasih kepada IKIP Jakarta yang kini menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Terima kasih kepada para dosen yang telah membimbing kami.

Terima kasih kepada para sahabat seperjuangan.

Terima kasih kepada semua pengalaman yang pernah hadir dalam hidup saya.

Foto tua ini mengingatkan saya bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai.

Tetapi tentang bagaimana kita bertumbuh di sepanjang perjalanan.

Dan dari sekumpulan mahasiswa sederhana yang menjadi panitia kurban kampus itu, saya belajar satu hal yang tidak pernah berubah hingga hari ini:

Orang besar bukanlah mereka yang selalu berada di depan panggung. Orang besar adalah mereka yang dengan ikhlas mau bekerja di belakang layar demi keberhasilan banyak orang.

Alhamdulillah, saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Dan kenangan itu akan selalu hidup di dalam hati saya, sepanjang hayat. ❤️

Bekasi, Juni 2026
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.