Rabu, 10 Juni 2026

Persiapan Pelepasan Siswa SMP Labschool Jakarta 2026 di Balai Sudirman Jakarta

Air Mata di Balik Senyum Pelepasan Siswa SMP Labschool Jakarta 2026

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Rabu, 10 Juni 2026, Balai Sudirman Jakarta masih sibuk dengan berbagai persiapan. Lampu-lampu panggung menyala terang. Layar raksasa menampilkan tema yang begitu indah:

"Cerdas dalam Ilmu, Kuat dalam Karakter, Gemilang dalam Prestasi."

Tema itu bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Di balik setiap kalimatnya tersimpan perjalanan panjang anak-anak hebat SMP Labschool Jakarta yang telah berjuang selama tiga tahun menempuh pendidikan.

Saya berdiri memandangi panggung yang masih kosong.

Kursi-kursi tamu belum seluruhnya terisi.

Suara teknisi terdengar mengatur tata cahaya dan tata suara.

Namun entah mengapa, hati saya sudah terasa penuh.

Bukan karena acara belum dimulai.

Bukan pula karena kesibukan persiapan.

Tetapi karena saya tahu, beberapa jam lagi akan ada banyak air mata yang jatuh.

Air mata kebahagiaan.

Air mata haru.

Dan air mata perpisahan.

Sebagai guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya sudah berkali-kali menghadiri acara pelepasan siswa. Namun setiap pelepasan selalu memiliki cerita yang berbeda.

Setiap angkatan mempunyai kenangan yang tidak akan pernah sama.

Begitu pula dengan Angkatan Tahun Ajaran 2025/2026 ini.

Saya masih ingat ketika mereka pertama kali datang ke SMP Labschool Jakarta.

Sebagian masih terlihat pemalu.

Sebagian lagi masih sangat bergantung kepada orang tua.

Ada yang menangis ketika mengikuti kegiatan sekolah.

Ada yang gugup saat presentasi di depan kelas.

Ada yang takut berbicara.

Ada pula yang kesulitan beradaptasi.

Tetapi waktu telah mengubah semuanya.

Hari ini mereka tumbuh menjadi remaja yang percaya diri.

Mereka belajar memimpin.

Belajar bekerja sama.

Belajar menghormati perbedaan.

Belajar bangkit dari kegagalan.

Belajar mengelola emosi.

Dan yang paling penting, mereka belajar menjadi manusia yang berkarakter.

Karena itulah tema tahun ini terasa sangat tepat.

Cerdas dalam ilmu.

Karena ilmu adalah bekal untuk menghadapi masa depan.

Namun ilmu saja tidak cukup.

Karena banyak orang pintar tetapi gagal menjadi manusia yang baik.

Maka lahirlah kalimat kedua:

Kuat dalam karakter.

Karakter adalah fondasi kehidupan.

Karakter adalah kejujuran ketika tidak ada yang melihat.

Karakter adalah tanggung jawab ketika menghadapi kesulitan.

Karakter adalah keberanian untuk berkata benar.

Karakter adalah kemampuan untuk tetap rendah hati ketika berada di puncak prestasi.

Lalu tema itu ditutup dengan kalimat:

Gemilang dalam prestasi.

Prestasi bukan hanya nilai rapor.

Prestasi bukan hanya piala.

Prestasi bukan hanya medali.

Prestasi terbesar adalah ketika seorang anak mampu menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya kemarin.

Saya kembali memandang layar besar di depan panggung.

Tiba-tiba ingatan saya melayang kepada para orang tua.

Mungkin saat ini mereka sedang bersiap datang ke Balai Sudirman.

Mereka akan mengenakan pakaian terbaik.

Mereka akan duduk dengan bangga menyaksikan putra-putrinya berjalan menuju masa depan.

Tetapi siapa yang tahu berapa banyak perjuangan yang mereka sembunyikan?

Ada ayah yang setiap pagi berangkat bekerja sebelum matahari terbit.

Ada ibu yang rela mengurangi kebutuhannya demi biaya pendidikan anak.

Ada orang tua yang diam-diam menangis ketika anaknya sakit.

Ada yang berjuang membayar sekolah di tengah kesulitan ekonomi.

Ada yang terus mendoakan anaknya setiap selesai salat.

Hari ini adalah hari mereka juga.

Hari ini bukan hanya pelepasan siswa.

Hari ini adalah pelepasan sebagian rasa cemas para orang tua.

Hari ini adalah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Sebagai guru, saya sering melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Saya melihat bagaimana seorang ibu menunggu anaknya selesai lomba.

Saya melihat bagaimana seorang ayah datang diam-diam menyaksikan anaknya tampil di panggung.

Saya melihat bagaimana orang tua menahan lelah demi masa depan buah hatinya.

Karena itu, setiap kali acara pelepasan berlangsung, saya selalu yakin bahwa yang paling banyak menangis biasanya bukan siswa.

Melainkan para ibu.

Mengapa?

Karena seorang ibu selalu mengingat perjalanan anaknya sejak kecil.

Ia ingat saat pertama kali menggendong.

Ia ingat saat pertama kali mengantar sekolah.

Ia ingat saat anaknya jatuh lalu menangis.

Ia ingat saat anaknya belajar membaca.

Ia ingat saat anaknya demam semalaman.

Dan hari ini ia melihat anak itu berdiri tegak di atas panggung sebagai seorang lulusan SMP.

Bagaimana mungkin air mata tidak jatuh?

Saya sendiri sebagai seorang ayah dan kakek memahami perasaan itu.

Ketika melihat cucu saya, Tanaya Faza Afisa, tumbuh dari hari ke hari, saya semakin mengerti bahwa waktu berjalan begitu cepat.

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku SMP, beberapa tahun lagi akan menjadi mahasiswa.

Beberapa tahun setelah itu mereka akan bekerja.

Menikah.

Membangun keluarga.

Dan suatu hari nanti mereka akan mengenang masa-masa di Labschool sebagai salah satu kenangan terindah dalam hidupnya.

Mungkin mereka akan lupa nilai ujian tertentu.

Mungkin mereka akan lupa rumus matematika yang pernah dipelajari.

Tetapi mereka tidak akan lupa guru yang pernah menyemangati mereka.

Mereka tidak akan lupa sahabat yang menemani masa remaja.

Mereka tidak akan lupa sekolah yang menjadi rumah kedua mereka.

Karena sekolah sejatinya bukan hanya tempat belajar.

Sekolah adalah tempat tumbuh.

Tempat menemukan jati diri.

Tempat membangun mimpi.

Dan bagi banyak siswa, Labschool Jakarta telah menjadi rumah kedua yang penuh cinta.

Menjelang acara dimulai, saya menarik napas panjang.

Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Saya bersyukur pernah menyaksikan mereka tumbuh.

Saya bersyukur pernah belajar bersama mereka.

Hari ini kami memang melepas mereka.

Namun sesungguhnya guru tidak pernah benar-benar melepaskan muridnya.

Doa seorang guru akan selalu mengikuti ke mana pun muridnya melangkah.

Kepada seluruh lulusan SMP Labschool Jakarta Tahun Ajaran 2025/2026, melangkahlah dengan penuh keyakinan.

Bawalah ilmu yang telah kalian pelajari.

Pegang teguh karakter yang telah kalian bangun.

Raihlah prestasi setinggi langit.

Dan ketika suatu hari kalian sukses, jangan pernah lupa kepada orang tua yang mendoakan kalian dalam setiap sujudnya.

Jangan lupa kepada guru yang pernah mengajarkan huruf demi huruf kehidupan.

Karena sesungguhnya, hari ini bukan akhir perjalanan.

Hari ini adalah awal dari babak baru kehidupan.

Selamat jalan anak-anakku.

Terbanglah setinggi mungkin.

Namun jangan pernah lupa pulang.

Sebab di Labschool Jakarta akan selalu ada guru-guru yang bangga menyebut nama kalian dalam setiap doa. ❤️

"Cerdas dalam Ilmu, Kuat dalam Karakter, Gemilang dalam Prestasi." Sebuah tema yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalani sepanjang kehidupan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.