Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 31 Juli 2026

kisah omjay belajar sabar dalam menjalani hidup

Nasihat Pagi yang Menguatkan Hati: Kisah Omjay Belajar Sabar dalam Menjalani Kehidupan
Blig https://wijayalabs.com/about

Jumat pagi selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi saya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebelum memulai aktivitas mengajar, menulis, dan menjalankan berbagai amanah sebagai pendidik, saya membiasakan diri membaca kalimat-kalimat hikmah yang mampu menyegarkan pikiran sekaligus menenangkan hati. Pagi ini saya membaca sebuah nasihat sederhana yang berbunyi, "Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sabar dalam ketaatan." Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Saya teringat perjalanan hidup yang telah saya lalui selama puluhan tahun sebagai guru. Ternyata benar, kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling dahulu mencapai tujuan, melainkan perjalanan panjang untuk tetap istiqamah menjalankan kebaikan meskipun jalan yang ditempuh sering kali berliku, penuh ujian, bahkan terkadang terasa sangat melelahkan.

Saya masih mengingat masa-masa ketika cita-cita terasa begitu jauh dari kenyataan. Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang menjanjikan kemewahan. Banyak orang memilih profesi lain yang dianggap lebih bergengsi dan menghasilkan penghasilan lebih besar. Namun, saya tetap bertahan karena percaya bahwa setiap langkah yang diniatkan untuk mencari ridha Allah tidak akan pernah sia-sia. Keyakinan itulah yang membuat saya mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas belajar, kesibukan mengajar, melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor, sampai menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang sempat membuat langkah saya terhenti. Dalam setiap ujian, saya belajar bahwa kesabaran bukan berarti menyerah, melainkan tetap melangkah walaupun langkah itu terasa berat.

Nasihat berikutnya yang sangat menyentuh hati berbunyi, "Apa yang Allah ambil darimu, akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik jika kamu bersabar." Saya pernah merasakan kehilangan kesempatan, kehilangan kesehatan, bahkan kehilangan kenyamanan yang selama ini dianggap biasa. Saat tubuh mulai memberi sinyal bahwa saya harus lebih menjaga diri, saya sempat bertanya mengapa semua ini terjadi. Akan tetapi, setelah merenungkannya lebih dalam, saya justru menemukan banyak hikmah yang sebelumnya tidak pernah saya sadari. Saya menjadi lebih dekat kepada keluarga, lebih menghargai waktu, lebih disiplin menjaga kesehatan, dan semakin rajin menulis. Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari perjalanan baru yang lebih bermakna apabila dijalani dengan penuh keikhlasan.

Saya juga belajar untuk tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada manusia. Kalimat, "Jangan takut kehilangan manusia, takutlah kehilangan ridha Allah," menjadi pengingat yang sangat kuat. Dalam perjalanan hidup, tidak semua orang akan memahami niat baik kita. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang mencibir. Ada yang mendukung, ada juga yang menjatuhkan. Jika hati terlalu sibuk mengejar penilaian manusia, kita akan mudah kecewa. Sebaliknya, ketika tujuan utama adalah mencari ridha Allah, maka pujian tidak membuat kita tinggi hati dan hinaan tidak membuat kita kehilangan semangat. Itulah pelajaran yang terus saya pegang selama menjadi guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat.

Perjalanan hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki tujuan yang mulia. Ketika saya menghadapi cobaan kesehatan beberapa waktu lalu, banyak sahabat yang mengirimkan doa dan memberikan semangat. Saya menyadari bahwa ujian tidak datang untuk menghancurkan kehidupan seseorang. Justru melalui ujian itulah Allah menguatkan hati, membersihkan dosa, sekaligus mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi tetap Allah yang menentukan hasil akhirnya. Saat hati mulai pasrah kepada-Nya, beban yang terasa berat perlahan berubah menjadi kekuatan untuk bangkit kembali.

Sebagai seorang guru, saya sering mengatakan kepada para siswa bahwa rezeki bukan hanya berbentuk uang. Ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keluarga yang harmonis, sahabat yang tulus, kesempatan berbagi pengalaman, bahkan kemampuan menulis setiap hari juga merupakan rezeki yang luar biasa. Karena itu, saya sangat menyukai nasihat, "Rezeki tidak pernah salah alamat, ia datang di waktu yang paling tepat." Kalimat tersebut mengajarkan agar kita tidak iri terhadap pencapaian orang lain. Setiap orang memiliki garis hidup yang berbeda. Ada yang berhasil di usia muda, ada yang baru menuai hasil setelah puluhan tahun berjuang. Yang terpenting adalah terus berikhtiar tanpa kehilangan harapan.

Dalam perjalanan menulis ribuan artikel, saya juga sering merasakan doa yang belum langsung dikabulkan. Ada keinginan yang harus menunggu bertahun-tahun sebelum akhirnya menjadi kenyataan. Pada awalnya memang terasa berat, tetapi setelah melihat ke belakang, saya menyadari bahwa waktu yang Allah pilih selalu lebih baik daripada waktu yang saya inginkan. Ketika doa belum terkabul, bukan berarti Allah tidak mendengar. Justru pada masa penantian itulah karakter kita sedang dibentuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih matang dalam memaknai kehidupan.

Kini, di usia yang tidak lagi muda, saya semakin memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Jabatan, harta, popularitas, dan berbagai pencapaian hanyalah titipan yang suatu saat akan ditinggalkan. Yang akan tetap menemani adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, doa anak-anak yang saleh, dan karya yang menginspirasi banyak orang. Karena itulah saya terus berusaha menulis setiap hari. Saya berharap tulisan-tulisan sederhana yang lahir dari pengalaman hidup dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya, bahkan ketika saya sudah tidak lagi berada di dunia ini.

Akhirnya, saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya harta ataupun tingginya kedudukan, melainkan dari hati yang dipenuhi rasa syukur dan keikhlasan. Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup, sementara orang yang ikhlas akan menemukan ketenangan dalam keadaan apa pun. Itulah sebabnya saya selalu mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk tidak berhenti memperbaiki hubungan dengan Allah. Hati yang dekat dengan-Nya tidak akan lama terpuruk karena selalu memiliki harapan untuk bangkit. Semoga setiap nasihat yang kita baca pada pagi hari tidak hanya berhenti menjadi rangkaian kata-kata indah, tetapi benar-benar menjadi cahaya yang menerangi langkah kehidupan kita. Tetaplah bersabar, teruslah bersyukur, jangan pernah berhenti berbuat baik, dan yakinlah bahwa Allah selalu mengetahui setiap lelah yang kita sembunyikan dari pandangan manusia. Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

belum bisa

Satu Kata yang Mengubah Masa Depan: Kekuatan Kata “Belum”

Dalam kehidupan, sering kali kita menjadi hakim yang paling keras bagi diri sendiri. Ketika menghadapi kesulitan, kegagalan, atau tantangan baru, kalimat yang pertama kali muncul adalah, “Saya tidak bisa.” Tanpa disadari, kalimat sederhana itu menjadi penghalang yang menutup pintu harapan. Pikiran menjadi pesimis, semangat menurun, dan akhirnya kita memilih berhenti sebelum benar-benar mencoba. Padahal, perubahan besar terkadang hanya membutuhkan satu kata sederhana yang mampu mengubah cara berpikir kita. Kata itu adalah “belum.”

Mengganti kalimat “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa” tampak seperti perubahan kecil. Namun, dampaknya sangat besar. Kata “belum” menunjukkan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan sesuatu yang dapat terus berkembang melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Kata itu memberi ruang bagi harapan, usaha, dan keyakinan bahwa suatu hari nanti apa yang belum dikuasai akan menjadi kemampuan yang membanggakan.

Dalam dunia pendidikan, konsep ini dikenal sebagai growth mindset atau pola pikir berkembang yang dipopulerkan oleh psikolog Carol S. Dweck melalui bukunya Mindset: The New Psychology of Success. Menurutnya, orang yang memiliki pola pikir berkembang percaya bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat ditingkatkan melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan kemauan untuk terus belajar. Sebaliknya, orang dengan pola pikir tetap cenderung menganggap kemampuan adalah bakat bawaan sehingga mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

Bagi seorang guru, kata “belum” memiliki makna yang sangat mendalam. Ketika seorang siswa belum mampu menyelesaikan soal matematika, belum lancar membaca, belum percaya diri berbicara di depan kelas, atau belum memahami konsep tertentu, tugas guru bukanlah memberi label bahwa siswa itu tidak mampu. Sebaliknya, guru perlu membantu siswa menyadari bahwa mereka belum berhasil, tetapi sedang berada dalam proses belajar. Dengan begitu, siswa akan memiliki keberanian untuk mencoba lagi tanpa takut gagal.

Hal yang sama juga berlaku bagi para guru. Di era digital saat ini, banyak guru yang merasa kesulitan menggunakan teknologi, memanfaatkan kecerdasan artifisial, membuat media pembelajaran interaktif, atau mengelola kelas digital. Jangan pernah berkata, “Saya tidak bisa menggunakan teknologi.” Ubah menjadi, “Saya belum bisa menggunakan teknologi, tetapi saya sedang belajar.” Kalimat itu akan membangkitkan motivasi untuk mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan rekan sejawat, membaca buku, dan terus meningkatkan kompetensi diri.

Perubahan besar memang selalu diawali dari langkah kecil. Sebuah pohon yang rindang berawal dari benih mungil yang tumbuh perlahan. Demikian pula kesuksesan. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli dalam satu malam. Semua melewati proses panjang yang dipenuhi latihan, kegagalan, evaluasi, dan semangat untuk bangkit kembali. Kata “belum” mengingatkan kita bahwa perjalanan masih panjang dan kesempatan untuk berkembang masih selalu terbuka.

Refleksi ini juga sejalan dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itulah yang terbaik bagi kita. Ayat tersebut mengajarkan bahwa keterbatasan hari ini bukanlah akhir dari perjalanan. Di balik setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan pelajaran, hikmah, dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Karena itu, jangan pernah menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Bisa jadi kegagalan adalah pintu menuju keberhasilan yang lebih besar.

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Ada yang gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, bahkan dalam kehidupan keluarga. Namun, mereka yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang terus berkata kepada dirinya sendiri, “Saya belum berhasil, tetapi saya akan terus belajar dan mencoba.” Sikap inilah yang membuat seseorang tetap melangkah ketika orang lain memilih menyerah.

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Kalimat apa yang paling sering kita ucapkan ketika menghadapi kesulitan? Apakah kita masih mengatakan “Saya tidak bisa,” atau sudah mulai membiasakan diri berkata, “Saya belum bisa”? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah masa depan kita. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi sering kali berawal dari cara kita berbicara kepada diri sendiri.

Mulailah hari ini dengan mengganti satu kata dalam setiap tantangan yang datang. Tambahkan kata “belum” pada setiap keterbatasan yang kita rasakan. Dengan begitu, kita sedang menanam benih optimisme, membuka pintu pembelajaran, dan membangun keyakinan bahwa setiap usaha kecil hari ini adalah langkah besar menuju masa depan yang lebih baik. Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan teruslah menginspirasi, karena masa depan selalu berpihak kepada mereka yang tidak pernah berhenti mengatakan, “Saya belum bisa, tetapi saya sedang belajar.”

Kamis, 30 Juli 2026

komunikasi yang nyaman dengan cara menjadi pendengar yang aktif

Kisah Omjay: Strategi Mendengar Aktif untuk Menciptakan Komunikasi yang Nyaman
Blog https://wijayalabs.com/about

Dalam perjalanan hidup sebagai guru selama lebih dari tiga dekade, saya belajar bahwa kemampuan mengajar yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mendengarkan. Banyak orang menganggap komunikasi yang efektif ditentukan oleh kepandaian berbicara. Padahal, pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa komunikasi yang nyaman justru lahir ketika seseorang mampu mendengar dengan sepenuh hati. Itulah pelajaran berharga yang terus saya pegang hingga hari ini sebagai pendidik, penulis, narasumber, sekaligus pembelajar sepanjang hayat.

Pada masa-masa awal menjadi guru, saya sering bersemangat menjelaskan materi di depan kelas. Saya ingin seluruh siswa memahami apa yang saya sampaikan sehingga hampir seluruh waktu pembelajaran dipenuhi penjelasan dari saya. Setelah beberapa tahun mengajar, saya mulai menyadari bahwa tidak semua peserta didik membutuhkan guru yang banyak berbicara. Mereka lebih membutuhkan sosok yang bersedia mendengarkan pertanyaan, kebingungan, bahkan keluh kesah yang sering kali tidak sempat mereka ungkapkan. Sejak saat itulah saya mulai mengubah cara berkomunikasi di kelas.

Saya membiasakan diri memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat tanpa takut disalahkan. Ketika seorang anak berbicara, saya berusaha menghentikan aktivitas lain, memandang wajahnya, memperhatikan bahasa tubuhnya, kemudian mencoba memahami isi pesannya sebelum memberikan tanggapan. Ternyata perubahan sederhana tersebut membawa dampak yang luar biasa. Suasana kelas menjadi lebih hangat, siswa lebih percaya diri menyampaikan ide, dan proses belajar berlangsung dengan penuh rasa saling menghargai.

Pengalaman serupa juga saya rasakan ketika aktif di berbagai organisasi profesi guru. Dalam sebuah rapat atau diskusi, sering kali muncul perbedaan pandangan yang cukup tajam. Dahulu saya cenderung ingin segera memberikan solusi. Namun seiring bertambahnya pengalaman, saya memahami bahwa seseorang tidak selalu membutuhkan jawaban cepat. Banyak orang sebenarnya hanya ingin didengar. Ketika mereka merasa dihargai, suasana diskusi menjadi lebih tenang dan jalan keluar lebih mudah ditemukan. Mendengar aktif ternyata mampu meredakan ketegangan sebelum konflik berkembang menjadi lebih besar.

Strategi mendengar aktif bukan sekadar diam saat orang lain berbicara. Mendengar aktif berarti hadir sepenuhnya dalam percakapan. Pikiran tidak sibuk menyusun bantahan atau mencari alasan untuk memotong pembicaraan. Sebaliknya, perhatian diarahkan sepenuhnya kepada lawan bicara sehingga ia merasakan bahwa setiap kata yang disampaikan memiliki nilai. Kehadiran seperti inilah yang menciptakan rasa aman dalam berkomunikasi.

Dalam berbagai pelatihan menulis yang saya dampingi, saya juga menemukan hubungan yang sangat erat antara kemampuan mendengar dan kemampuan menulis. Penulis yang baik biasanya merupakan pendengar yang baik. Ia mampu menangkap cerita, memahami emosi, mengamati sudut pandang orang lain, lalu mengolah semuanya menjadi tulisan yang menyentuh hati pembaca. Karena itulah saya selalu mengajak para peserta untuk lebih banyak mendengarkan pengalaman orang lain sebelum mulai menulis. Setiap manusia menyimpan kisah yang layak dipelajari, asalkan kita bersedia membuka telinga dan hati.

Saya teringat ketika mengikuti program pendidikan di Tiongkok bersama puluhan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Selama berada di sana, saya bertemu dengan banyak pendidik yang memiliki latar belakang berbeda. Daripada sibuk menceritakan pengalaman sendiri, saya memilih mendengarkan kisah mereka. Dari percakapan itulah saya memperoleh begitu banyak inspirasi tentang inovasi pembelajaran, budaya belajar, serta semangat para guru dalam menghadapi tantangan pendidikan. Pengalaman tersebut kemudian saya abadikan dalam berbagai tulisan di blog sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Mendengar aktif juga menjadi bekal penting dalam kehidupan keluarga. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan nasihat panjang. Terkadang pasangan, anak, atau sahabat hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menemani dan mendengarkan tanpa menghakimi. Ketika kita memberi ruang kepada mereka untuk menyampaikan isi hati, hubungan menjadi lebih erat karena komunikasi dibangun di atas rasa saling percaya.

Di era digital saat ini, tantangan untuk menjadi pendengar yang baik semakin besar. Gawai sering mengalihkan perhatian saat seseorang sedang berbicara. Tidak sedikit orang yang lebih sibuk melihat layar telepon daripada menatap lawan bicaranya. Akibatnya, komunikasi kehilangan kehangatan. Saya berusaha membiasakan diri menyimpan telepon genggam ketika sedang berdiskusi, memberikan kontak mata yang tulus, serta menunjukkan perhatian melalui anggukan atau pertanyaan lanjutan. Kebiasaan sederhana tersebut membuat orang merasa dihormati dan dihargai.

Sebagai guru, saya semakin yakin bahwa mendengar aktif merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Peserta didik akan belajar menghargai orang lain ketika mereka melihat gurunya memberikan teladan. Sikap saling mendengarkan melahirkan budaya dialog, mengurangi prasangka, serta menumbuhkan empati yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, melainkan ruang untuk membangun manusia yang mampu berkomunikasi dengan santun dan penuh kepedulian.

Pengalaman hidup mengajarkan bahwa setiap orang ingin dimengerti sebelum diberi nasihat. Oleh sebab itu, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Semakin banyak mendengarkan, semakin luas wawasan yang diperoleh. Semakin dalam memahami orang lain, semakin mudah membangun hubungan yang harmonis. Komunikasi yang nyaman bukan lahir dari kata-kata yang indah, melainkan dari kesediaan menghadirkan perhatian yang tulus kepada siapa pun yang sedang berbicara.

Akhirnya saya memahami bahwa telinga yang mau mendengar sering kali lebih berharga daripada mulut yang pandai berbicara. Ketika kita belajar menjadi pendengar yang aktif, kita bukan hanya mempererat hubungan dengan orang lain, tetapi juga memperkaya diri dengan berbagai pelajaran kehidupan. Itulah strategi sederhana yang terus saya praktikkan sebagai Omjay: mendengar dengan hati, memahami dengan empati, lalu berbicara dengan penuh kebijaksanaan. Dari situlah komunikasi yang nyaman akan tumbuh, kepercayaan akan menguat, dan setiap perjumpaan menjadi kesempatan untuk saling menginspirasi.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Bukan Menjadi Guru Sempurna

Hari Ini Bukan Tentang Menjadi Guru Sempurna

Oleh: Omjay

Menjadi guru bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling hebat atau paling sempurna. Seorang guru tidak diukur dari seberapa sedikit ia melakukan kesalahan, tetapi dari seberapa besar kemauannya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi guru yang lebih baik daripada hari kemarin.

Kalimat inspiratif dalam gambar tersebut mengingatkan kita bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utama seorang pendidik. Yang jauh lebih penting adalah proses perubahan yang dilakukan secara konsisten. Guru yang hebat adalah guru yang selalu mengevaluasi dirinya setelah pembelajaran selesai. Ia bertanya, "Apakah murid saya sudah memahami pelajaran? Apakah cara saya mengajar sudah membuat mereka senang belajar? Apa yang harus saya perbaiki pada pertemuan berikutnya?" Refleksi seperti inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan profesional seorang guru.

Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, guru juga harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Teknologi berkembang begitu cepat, karakter peserta didik berubah, dan tantangan pembelajaran semakin kompleks. Jika guru berhenti belajar, maka pembelajaran di kelas akan tertinggal. Sebaliknya, guru yang terus membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan, menulis, dan berbagi pengalaman akan selalu menemukan cara baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mungkin hari ini kita belajar lebih sabar mendengarkan pendapat peserta didik. Besok kita mencoba metode pembelajaran yang lebih menarik. Lusa kita mulai membiasakan diri memberikan umpan balik yang membangun. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, jika dilakukan secara konsisten, akan melahirkan perubahan besar dalam kualitas pembelajaran. Refleksi yang dilakukan secara rutin terbukti membantu guru mengambil keputusan yang lebih baik dan meningkatkan kualitas mengajarnya.

Hadis Rasulullah SAW yang tertulis pada gambar tersebut juga memberikan motivasi luar biasa, "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Bagi seorang guru, mencari ilmu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menyebarkan manfaat kepada peserta didik. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Pada akhirnya, marilah kita tidak membandingkan diri dengan guru lain. Bandingkanlah diri kita dengan diri kita sendiri kemarin. Jika hari ini kita lebih sabar, lebih kreatif, lebih peduli kepada peserta didik, dan lebih semangat belajar daripada kemarin, berarti kita telah bertumbuh menjadi guru yang lebih baik.

Pertanyaan refleksi hari ini:

"Kebiasaan kecil apa yang akan saya ubah mulai besok agar menjadi guru yang lebih baik daripada hari ini?"

Karena guru hebat bukanlah guru yang sempurna, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar, bertumbuh, dan menginspirasi. Sebab, ketika guru terus bertumbuh, murid akan berkembang, sekolah akan maju, dan bangsa pun akan menjadi lebih kuat.

Ketika Omjay Dicela

Ketika Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya

Inspirasi Pagi
Kamis, 30 Juli 2026

"Jika orang berkata buruk tentangmu tidak usah galau. Karena sebenarnya mereka tidak berbicara tentang engkau. Mereka sedang memperlihatkan watak mereka sendiri."

Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan. Ada yang memberikan apresiasi dengan tulus, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan kritik yang menyakitkan, bahkan menilai tanpa mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dulu, setiap kali mendengar ucapan yang merendahkan, hati saya mudah terluka. Pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa masih ada orang yang memilih menjatuhkan sesamanya. Namun, semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa tidak semua perkataan buruk pantas disimpan dalam hati. Sebagian cukup dijadikan pelajaran agar kita semakin kuat menjalani kehidupan.

Sebagai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sekaligus penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan kepada masyarakat, saya merasakan betul bahwa berkarya selalu mengundang beragam tanggapan. Ada pembaca yang memperoleh manfaat lalu mengirimkan doa, ucapan terima kasih, bahkan menjadikan tulisan saya sebagai penyemangat hidup. Sebaliknya, ada pula yang memberikan komentar sinis, mengejek, atau meragukan kemampuan saya. Pada awalnya saya mencoba menjawab satu per satu, tetapi akhirnya saya memahami bahwa energi akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melahirkan karya berikutnya daripada melayani perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.

Saya teringat sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali, "Saat satu jarimu menuduh buruk orang lain, maka empat jarimu sedang menuduh buruk pada dirimu." Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan isi hatinya sendiri. Cara seseorang berbicara sering kali menjadi cermin karakter yang dimilikinya. Oleh sebab itu, saya belajar untuk tidak tergesa-gesa membalas perkataan yang menyakitkan. Diam yang penuh kesabaran sering kali lebih bermakna daripada jawaban panjang yang hanya memperkeruh suasana.

Pengalaman hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian membawa pelajaran berharga. Ketika saya mengalami berbagai cobaan, mulai dari masalah kesehatan hingga tantangan dalam perjalanan karier, banyak orang yang memberikan dukungan sehingga saya mampu bangkit kembali. Akan tetapi, ada juga yang memandang sinis dan menganggap saya tidak akan mampu melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya. Kenyataannya, justru dari keterbatasan itulah saya semakin terdorong untuk terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi. Saya ingin membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh komentar orang lain, melainkan oleh ketekunan dalam memperbaiki diri setiap hari.

Menulis telah menjadi sahabat terbaik dalam perjalanan hidup saya. Melalui tulisan, saya menuangkan pengalaman, kegagalan, harapan, dan rasa syukur agar dapat menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Saya percaya bahwa karya akan berbicara lebih lantang daripada perdebatan. Orang boleh saja meragukan kemampuan kita, tetapi waktu akan menunjukkan siapa yang tetap konsisten menebarkan manfaat. Ketika niat kita lurus untuk berbagi ilmu dan menginspirasi sesama, setiap langkah akan menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah, saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan memikirkan penilaian yang tidak membangun. Saya memilih memaafkan, mendoakan, lalu melanjutkan pekerjaan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Sikap tersebut bukan berarti lemah, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi kehidupan. Semakin kita sibuk memperbaiki diri, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memikirkan keburukan orang lain.

Semoga setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi sumber kebaikan, bukan penyebab luka bagi sesama. Marilah menjadikan lisan sebagai sarana menyebarkan harapan, semangat, dan kasih sayang. Apabila suatu hari kita menjadi sasaran cibiran, jangan biarkan hati dipenuhi kebencian. Tetaplah melangkah dengan kepala tegak, hati yang ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap niat baik yang kita perjuangkan. Pada akhirnya, bukan penilaian manusia yang menentukan nilai hidup kita, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil kita tinggalkan untuk orang lain.

Salam literasi. Salam inspirasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Rabu, 29 Juli 2026

Pengalaman Belajar di China tahun 2019

Belajar di Negeri Tirai Bambu: Kisah Omjay Menimba Ilmu di China Bersama 52 Guru Indonesia

"Perjalanan sejauh ribuan kilometer akan menjadi lebih bermakna ketika setiap langkahnya diabadikan dalam tulisan."

Tahun 2019 menjadi salah satu bab terindah dalam perjalanan hidup saya sebagai guru. Saya mendapatkan kesempatan berharga mengikuti Program Pelatihan Guru dan Kepala Sekolah Berprestasi Kementerian Pendidikan Republik Indonesia di China University of Mining and Technology (CUMT), Xuzhou, Tiongkok. Bersama 52 guru dan kepala sekolah terbaik dari seluruh Indonesia, saya belajar, berdiskusi, dan menyaksikan secara langsung bagaimana dunia pendidikan di China berkembang begitu pesat. 

Foto bersama yang kami abadikan di depan kampus CUMT menjadi saksi bahwa mimpi seorang guru Indonesia dapat mengantarkannya menembus batas negara. Kami datang dari berbagai provinsi, latar belakang, dan jenjang pendidikan, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu pulang membawa ilmu untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Selama 21 hari berada di China, saya tidak ingin pengalaman berharga itu hanya menjadi kenangan di dalam ingatan. Setiap malam, setelah seluruh kegiatan selesai, saya membuka laptop atau menulis melalui telepon genggam. Saya menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan pelajari. Tulisan-tulisan itu kemudian saya publikasikan di blog pribadi wijayalabs.com dan di Kompasiana agar para guru di Indonesia dapat ikut belajar dari pengalaman kami. 

Banyak pelajaran yang saya peroleh selama berada di Negeri Tirai Bambu. Saya melihat bagaimana teknologi benar-benar menjadi bagian dari proses pembelajaran. Guru-guru memanfaatkan multimedia secara maksimal, siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan mengerjakan proyek. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan pada aktivitas peserta didik. Saya juga berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah, laboratorium robotika, pusat inovasi, hingga tempat pengembangan teknologi yang membuka wawasan baru tentang pentingnya pendidikan STEM dan literasi digital. 

Yang paling mengesankan bukan hanya gedung-gedung modern atau kecanggihan teknologinya, tetapi budaya belajar masyarakatnya. Disiplin, menghargai waktu, bekerja keras, dan semangat belajar sepanjang hayat benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Saya semakin yakin bahwa kemajuan sebuah bangsa selalu dimulai dari pendidikan yang berkualitas.

Selama berada di China, saya juga belajar bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan perjalanan. Ketika teman-teman sibuk beristirahat setelah kegiatan, saya memilih menyelesaikan jurnal harian. Kini, bertahun-tahun kemudian, tulisan-tulisan itu masih bisa dibaca dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak guru. Inilah bukti bahwa tulisan mampu mengalahkan waktu.

Perjalanan ke China semakin menguatkan motto hidup saya:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Karena saya menulis setiap hari, pengalaman belajar di China tidak hanya menjadi milik saya, tetapi juga menjadi milik ribuan pembaca yang mengikuti kisah perjalanan tersebut melalui blog dan Kompasiana. Tulisan telah menjadikan perjalanan singkat selama 21 hari sebagai warisan ilmu yang terus hidup hingga hari ini.

Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari rombongan 52 guru Indonesia yang belajar di China. Pengalaman itu mengajarkan bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Di mana pun berada, guru harus terus membuka diri terhadap ilmu baru, teknologi baru, dan pengalaman baru, agar dapat kembali ke tanah air membawa perubahan bagi peserta didiknya.

Salam Literasi. Salam Inspirasi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi." 
Blog https://wijayalabs.com

kisah omjay sebelum ajal tiba

Sebelum Ajal Tiba: Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Pagi itu, seperti biasa, saya membuka telepon genggam. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan seorang sahabat langsung menarik perhatian saya. Isinya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

"Orang hebat itu adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum ia meninggal dunia."

Saya terdiam beberapa saat. Kalimat itu mengajak saya merenung. Bukankah pada akhirnya semua manusia akan meninggalkan dunia? Namun, ternyata yang dimaksud bukanlah meninggalkan dunia secara fisik, melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun jasad telah tiada.

Saya teringat perjalanan hidup sebagai guru selama puluhan tahun. Tidak ada harta melimpah yang saya miliki. Namun, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati, berbagi ilmu kepada sesama guru, dan menyemangati siapa pun yang ingin belajar. Dari sanalah saya memahami bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan megah atau tabungan yang banyak, tetapi ilmu yang bermanfaat dan hati yang pernah menguatkan orang lain.

Pesan itu kemudian melanjutkan, "Orang yang bersedekah sampai kaya, bukan kaya baru bersedekah." Kalimat ini menampar saya dengan lembut. Betapa sering kita menunda berbagi karena merasa belum cukup. Padahal, sedekah tidak menunggu seseorang menjadi kaya. Justru sedekah mengajarkan kita bahwa keberkahan sering kali datang kepada mereka yang mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang penghasilannya sangat sederhana. Namun, setiap kali ada teman yang kesulitan, ia selalu menyisihkan sebagian rezekinya. Anehnya, hidupnya selalu terasa cukup. Dari beliau saya belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan luasnya hati.

Pesan berikutnya berbunyi, "Orang yang berdakwah sampai jadi alim, bukan sudah alim baru berdakwah." Saya memaknainya sebagai ajakan untuk tidak menunggu sempurna sebelum berbagi kebaikan. Kita memang harus terus belajar, tetapi jangan sampai keinginan menjadi sempurna membuat kita berhenti menyampaikan hal-hal baik yang sudah kita ketahui.

Begitu pula dengan menulis. Saya selalu mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis, "Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kemampuan akan tumbuh seiring kebiasaan. Keberanian akan lahir karena terus mencoba.

Kalimat berikutnya membuat saya semakin tersentuh, "Orang yang datang ke masjid sampai tua, bukan sudah tua baru ke masjid." Kehidupan tidak pernah memberi jaminan bahwa kita akan sampai pada usia tua. Karena itu, jangan menunda ibadah. Jangan menunggu waktu luang. Jangan menunggu pensiun. Jangan menunggu semua urusan selesai. Mulailah hari ini, karena hari esok belum tentu menjadi milik kita.

Terakhir, saya membaca kalimat yang paling dalam maknanya, "Orang beramal sampai ikhlas, bukan ikhlas baru beramal." Betapa sering kita menunggu hati benar-benar bersih sebelum berbuat baik. Padahal, keikhlasan justru tumbuh melalui proses. Semakin sering kita beramal, semakin kita belajar membersihkan niat hanya karena Allah.

Perjalanan hidup saya juga penuh ujian. Pernah mengalami sakit, menjalani masa pemulihan, hingga merasakan betapa berharganya setiap detik kehidupan. Pengalaman itu mengajarkan bahwa umur adalah rahasia Allah. Tidak ada yang tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Karena itu, setiap pagi adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri, meminta maaf, berbagi ilmu, menolong sesama, dan menanam amal yang kelak menjadi bekal.

Hari ini saya kembali mengingatkan diri sendiri bahwa hidup bukan tentang menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah sekarang. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu pintar untuk berbagi ilmu. Jangan menunggu tua untuk rajin beribadah. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.

Sebab, ajal tidak pernah mengirim undangan sebelum datang menjemput.

Mari kita isi setiap hari dengan karya, doa, ilmu, dan amal yang bermanfaat. Semoga ketika suatu saat kita meninggalkan dunia ini, nama kita tetap hidup dalam doa orang-orang yang pernah merasakan manfaat dari kehadiran kita.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Berbuat baiklah setiap hari dan saksikan bagaimana Allah menumbuhkan keberkahan dalam hidup kita.

Salam blogger persahabatan 
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 26 Juli 2026

Buku Kisah Omjay 4 Tahun Lalu

Empat Tahun Berlalu, Buku Ini Tetap Mengajarkan Saya Menjadi Manusia
Blog https://wijayalabs.com/about

Empat tahun telah berlalu sejak buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia terbit. Waktu bergerak begitu tenang, tetapi meninggalkan jejak yang begitu dalam. Saat buku itu pertama kali hadir di tangan para pembaca, usia saya tepat lima puluh tahun. Kini, tanpa terasa, saya telah menginjak usia lima puluh empat. Angka memang bertambah, namun makna kehidupan terus bertumbuh bersama pengalaman yang tak pernah berhenti memberi pelajaran.

Ketika memandang kembali sampul buku itu, saya tidak sekadar melihat foto diri sendiri. Saya melihat potongan perjalanan panjang yang penuh warna. Ada kisah perjuangan sebagai seorang guru, suami, ayah, sahabat, penulis, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cermin yang memantulkan perjalanan batin seorang manusia yang terus berusaha memperbaiki diri.

Selama empat tahun terakhir, kehidupan memberikan banyak kejutan. Ada saat-saat membahagiakan ketika bertemu ribuan pembaca, berbagi ilmu kepada guru dari berbagai daerah, menerbitkan buku-buku baru, hingga menyaksikan teknologi kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja. Namun, ada pula masa yang menguji ketabahan. Kondisi kesehatan mengingatkan saya bahwa tubuh mempunyai batas, sedangkan semangat sering kali ingin melampaui kemampuan fisik.

Di situlah saya memahami sebuah kenyataan yang dahulu belum sepenuhnya saya mengerti. Menjadi manusia bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan. Menjadi manusia berarti belajar menerima keterbatasan tanpa kehilangan harapan. Kesadaran seperti inilah yang justru menghadirkan kedewasaan.

Banyak orang mengira usia hanyalah hitungan kalender. Padahal, usia sesungguhnya adalah akumulasi kebijaksanaan yang berhasil dipetik dari setiap peristiwa. Ada orang yang berumur panjang, tetapi miskin hikmah. Sebaliknya, ada yang usianya tidak terlalu tua, namun pemikirannya telah matang karena mampu merenungkan setiap pengalaman.

Ilmu psikologi perkembangan menyebutkan bahwa semakin bertambah umur, seseorang memiliki peluang lebih besar membangun generativity, yaitu dorongan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Warisan itu tidak selalu berupa harta. Gagasan, keteladanan, karya tulis, dan inspirasi sering kali jauh lebih bernilai karena dapat terus hidup meskipun pemiliknya telah tiada.

Kesadaran itulah yang membuat saya tetap menulis hingga hari ini. Setiap tulisan adalah ikhtiar meninggalkan jejak kebaikan. Kata-kata mungkin sederhana, tetapi mampu menyeberangi ruang dan waktu. Seorang pembaca yang belum pernah saya temui bisa memperoleh semangat hanya karena membaca sebuah pengalaman yang saya bagikan dengan tulus.

Empat tahun setelah buku ini terbit, saya juga belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu bergerak naik. Ada kalanya seseorang harus melambat. Justru ketika langkah diperlambat, kita memiliki kesempatan mengamati hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat. Senyum keluarga, sapaan murid, doa sahabat, udara pagi, bahkan secangkir teh hangat ternyata menyimpan kebahagiaan yang dahulu sering diabaikan.

Saya semakin yakin bahwa rasa syukur bukan muncul setelah memperoleh semuanya. Sebaliknya, rasa syukur membuat kita mampu menikmati apa pun yang telah dimiliki. Inilah pengetahuan yang sangat berharga. Otak manusia memiliki kecenderungan yang disebut hedonic adaptation, yaitu cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga kebahagiaan mudah memudar. Karena itu, melatih syukur setiap hari membantu menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat optimisme.

Teknologi berkembang sangat pesat. Kecerdasan buatan kini mampu membantu manusia menulis, menerjemahkan, menganalisis data, bahkan menghasilkan karya visual. Namun satu hal tetap tidak dapat digantikan mesin, yaitu ketulusan hati. Pengalaman hidup yang lahir dari air mata, tawa, perjuangan, dan doa akan selalu mempunyai nilai yang berbeda dibanding sekadar rangkaian kalimat yang tersusun rapi.

Itulah sebabnya saya terus percaya bahwa menulis bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan juga perjalanan spiritual. Ketika seseorang menulis dengan hati, ia sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Setiap paragraf menjadi ruang refleksi, sedangkan setiap titik mengajarkan bahwa semua perjalanan memiliki jeda untuk merenung.

Kini, pada usia lima puluh empat tahun, saya tidak lagi mengejar pengakuan. Saya lebih ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Jika suatu hari nama saya terlupakan, semoga tulisan-tulisan yang pernah saya tinggalkan masih mampu menyalakan semangat belajar, menumbuhkan keberanian berkarya, serta menguatkan mereka yang sedang berjuang menghadapi kehidupan.

Buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia mungkin telah berusia empat tahun. Kertasnya bisa menguning, sampulnya mungkin mulai memudar, tetapi nilai yang dikandungnya justru semakin menemukan makna baru. Sebab kehidupan tidak berhenti pada usia lima puluh, lima puluh empat, atau angka berapa pun. Kehidupan adalah kesempatan tanpa henti untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih arif, lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih mencintai sesama.

Saya menutup tulisan ini dengan keyakinan sederhana. Selama napas masih berembus, masih ada halaman baru yang dapat ditulis. Selama hati tetap menyala, selalu ada pengalaman yang layak dibagikan. Dan selama ilmu terus diamalkan, usia bukan sekadar pertambahan angka, melainkan perjalanan indah menuju kematangan jiwa. Menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi terus bertumbuh menjadi manusia yang membawa manfaat adalah pilihan yang akan selalu saya perjuangkan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indinesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 24 Juli 2026

Hari jumat

Hari Jumat Mengingatkan Omjay: Hidup Hanya Sekali, Sudahkah Kita Menyiapkan Bekal?
Blog https://wijayalabs.com/about

Suara azan Subuh berkumandang lembut ketika Omjay membuka mata pada Jumat pagi, 24 Juli 2026. Udara terasa sejuk, tetapi hati justru dipenuhi renungan yang begitu dalam. Hari Jumat selalu menghadirkan suasana berbeda. Bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan pengingat bahwa hidup terus berjalan menuju satu tujuan yang pasti. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan putaran waktu.

Pengalaman keluar masuk rumah sakit beberapa waktu lalu mengubah cara Omjay memandang kehidupan. Ketika tubuh melemah, tekanan darah melonjak, dan langkah terasa berat, tersadar bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kuasa atas usia. Selama ini banyak rencana disusun, banyak impian ingin diwujudkan, tetapi kapan perjalanan berakhir tidak pernah ada yang mengetahui.

Mungkin setahun lagi. Mungkin sebulan lagi. Bisa jadi sepekan lagi. Bahkan sehari, sejam, atau beberapa menit lagi. Semua menjadi rahasia Allah SWT.

Kesadaran itulah yang membuat setiap Jumat terasa begitu istimewa. Hari yang penuh keberkahan ini mengajak setiap insan menghentikan sejenak kesibukan dunia. Jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang akan menemani hanyalah amal saleh yang pernah dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Sebagai guru, Omjay sering mengatakan kepada para murid, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Namun semakin bertambah usia, kalimat itu memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menulis karya, tetapi juga menulis kebaikan dalam lembar kehidupan. Setiap senyum yang diberikan, ilmu yang diajarkan, doa yang dipanjatkan, sedekah yang disisihkan, hingga sholawat yang dilantunkan akan menjadi catatan indah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Hari Jumat juga menjadi waktu terbaik memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Lisan yang biasanya sibuk membicarakan urusan dunia, hari ini semoga dipenuhi pujian kepada manusia terbaik yang telah membawa cahaya Islam kepada umatnya. Semoga dengan sholawat, hati menjadi lebih tenang, dosa diampuni, dan langkah hidup selalu mendapat petunjuk.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 127).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa surga bukan diraih karena angan-angan, melainkan karena amal saleh yang dilakukan secara konsisten. Kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.

OmJay menyadari bahwa setiap tulisan yang dipublikasikan bukan sekadar mengejar pembaca atau komentar. Lebih dari itu, semoga setiap kalimat yang mengajak kepada kebaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir meskipun kelak raga telah tiada. Bukankah ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amalan yang tidak akan terputus?

Maka, selagi napas masih berembus, jangan menunda berbuat baik. Selagi tangan masih mampu bergerak, gunakan untuk membantu sesama. Selagi lisan masih diberi kesempatan berbicara, ucapkan kata-kata yang menyejukkan. Selagi hati masih berdenyut, penuhilah dengan zikir dan rasa syukur.

Hari Jumat adalah hari syafaat. Jauhilah maksiat, perbanyak sholawat, dan manfaatkan setiap detik sebagai bekal menuju kampung akhirat. Semoga ketika putaran kehidupan berhenti tanpa pemberitahuan, Allah SWT berkenan menyambut kepulangan kita dengan penuh kasih sayang dan menempatkan kita di Darussalam, surga yang telah dijanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Semoga Jumat ini menjadi titik awal untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menebarkan manfaat kepada sebanyak mungkin manusia. Sebab hidup hanya diputar sekali, tetapi balasan amal akan berlangsung untuk selama-lamanya.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 22 Juli 2026

Semangkuk Mie Hangat di Negeri Panda

Kisah Omjay: Semangkuk Mi Hangat di Negeri Panda, Persahabatan yang Menghangatkan Jiwa
Blog https://wijayalabs.com/about

Langit pagi di kota Xuzhou, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, terasa begitu sejuk. Angin berembus lembut menyapu halaman China University of Mining and Technology (CUMT). Di kampus ternama itu, enam guru Indonesia sedang mengikuti pelatihan dan pembelajaran STEAM. Mereka datang membawa harapan besar, bukan sekadar menambah ilmu, melainkan juga membawa mimpi untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna bagi anak-anak Indonesia.

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan akademik yang padat, rombongan memutuskan berjalan kaki menyusuri kawasan sekitar kampus. Langkah demi langkah membawa mereka menuju sebuah masjid yang berdiri tenang di tengah lingkungan masyarakat Tionghoa Muslim. Bangunan sederhana itu memancarkan kedamaian. Kaligrafi menghiasi dinding, sementara papan informasi berbahasa Mandarin memperlihatkan betapa Islam telah lama hidup berdampingan dengan budaya Tiongkok.

Menjelang waktu makan siang, rasa lapar mulai menyapa. Tak jauh dari masjid, terdapat warung kecil yang menjual mi instan khas Tiongkok. Bukan restoran mewah dengan dekorasi megah, melainkan tempat sederhana yang dipenuhi aroma kuah hangat dan senyum ramah penjualnya.

Enam guru Indonesia itu pun membeli semangkuk mi panas. Tidak ada kursi empuk. Tidak ada meja makan yang panjang. Mereka memilih duduk di tepi trotoar, menikmati hidangan sederhana bersama-sama. Botol air mineral diletakkan di samping kaki. Canda dan tawa mengalir tanpa dibuat-buat.

Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang melintas. Namun, bagi Omjay, momen sederhana seperti itulah yang sering menyimpan makna paling dalam.

Ketika seseorang berada jauh dari tanah air, kebersamaan menjadi kemewahan yang sulit dinilai dengan materi. Semangkuk mi yang harganya murah terasa jauh lebih lezat karena disantap bersama sahabat seperjuangan.

Tidak ada yang mengeluh karena harus duduk di pinggir jalan. Tidak ada yang sibuk mencari tempat paling nyaman. Semua menikmati suasana apa adanya. Justru kesederhanaan itu melahirkan rasa syukur yang semakin besar.

Omjay teringat sebuah pepatah yang mengatakan, "Perjalanan terbaik bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang orang-orang yang berjalan bersama."

Belajar STEAM di CUMT tentu menjadi pengalaman akademik yang luar biasa. Para dosen memperlihatkan bagaimana sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dipadukan dalam pembelajaran yang kreatif. Mahasiswa didorong berpikir kritis, berkolaborasi, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Namun, di balik ruang kuliah yang modern, ada pelajaran kehidupan yang jauh lebih berharga.

Persahabatan.

Enam guru itu berasal dari latar belakang berbeda. Ada yang mengajar informatika, ada yang mengampu mata pelajaran lain. Daerah asal mereka pun tidak sama. Akan tetapi, ketika berada di negeri orang, semua perbedaan melebur menjadi satu keluarga besar.

Semangkuk mi hangat menjadi saksi bahwa kebersamaan tidak membutuhkan kemewahan.

Omjay percaya, pendidikan tidak hanya dibangun di dalam ruang kelas. Pendidikan juga tumbuh ketika guru belajar saling menghargai, saling membantu, dan saling menguatkan.

Ketika salah seorang masih kesulitan menggunakan sumpit, teman di sebelahnya membantu sambil tertawa. Ketika ada yang belum terbiasa dengan cita rasa makanan Tiongkok, yang lain memberikan semangat untuk mencoba. Suasana penuh keakraban membuat rasa rindu kepada keluarga di Indonesia sedikit terobati.

Di dekat masjid itu pula, Omjay merasakan bahwa Islam benar-benar mengajarkan persaudaraan tanpa mengenal batas negara. Walaupun berada ribuan kilometer dari Indonesia, azan tetap terdengar merdu. Masjid tetap menjadi tempat yang menenangkan hati. Senyum para jamaah Muslim Tionghoa seakan mengatakan bahwa umat Islam adalah saudara, di mana pun berada.

Momen sederhana tersebut mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaan.

STEAM memang mengajarkan inovasi. Artificial Intelligence membantu pekerjaan manusia. Robot semakin canggih. Komputer mampu memproses data dalam hitungan detik. Akan tetapi, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan kehangatan persahabatan.

Robot tidak dapat merasakan haru ketika menikmati makan siang bersama teman seperjuangan.

Kecerdasan buatan tidak mampu menghadirkan rasa syukur ketika menemukan masjid di negeri yang asing.

Semua itu hanya dapat dirasakan oleh hati manusia.

Omjay berharap pengalaman belajar di CUMT tidak berhenti sebagai cerita perjalanan luar negeri semata. Ilmu yang diperoleh hendaknya dibawa pulang untuk memperkaya pembelajaran di sekolah masing-masing. Anak-anak Indonesia berhak merasakan pendidikan yang kreatif, menyenangkan, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Namun, ada bekal lain yang tidak kalah penting untuk dibawa pulang, yaitu semangat kebersamaan.

Bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang yang mampu bekerja sama, bukan saling menjatuhkan. Guru yang hebat bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga mampu menjadi sahabat bagi sesama pendidik.

Foto sederhana yang memperlihatkan enam guru menikmati mi di dekat masjid mungkin tidak akan menjadi berita utama dunia. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Tidak ada pencapaian yang diumumkan dengan gegap gempita. Akan tetapi, foto itu menyimpan kisah yang jauh lebih berharga daripada sekadar dokumentasi perjalanan.

Di balik setiap senyum, tersimpan perjuangan meninggalkan keluarga demi menuntut ilmu. Di balik setiap suapan mi hangat, terdapat tekad untuk membawa perubahan bagi pendidikan Indonesia. Di balik setiap tawa, ada doa yang dipanjatkan agar perjalanan ini menjadi amal kebaikan yang terus mengalir manfaatnya.

Omjay menatap foto itu dengan hati yang penuh syukur. Semoga persahabatan enam guru Indonesia di negeri Panda terus terjalin erat. Semoga ilmu yang diperoleh di China University of Mining and Technology menjadi cahaya yang menerangi ruang-ruang kelas di tanah air. Dan semoga semangkuk mi sederhana yang disantap di dekat masjid itu menjadi kenangan indah yang selalu mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari hati yang bersyukur, persaudaraan yang tulus, serta semangat belajar yang tidak pernah padam.

Karena pada akhirnya, perjalanan yang paling berharga bukanlah seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa banyak ilmu, kasih sayang, dan inspirasi yang dibawa pulang untuk dibagikan kepada sesama. Itulah makna perjalanan enam guru Indonesia di CUMT, sebuah kisah sederhana yang akan terus hidup dalam ingatan, menghangatkan hati layaknya semangkuk mi di tengah udara sejuk Negeri Panda.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ
Blog https://wijayalabs.com/about

Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan yang dimulai pada pagi hari lalu berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi. Guru mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaannya demi membentuk generasi penerus bangsa. Selama puluhan tahun mengajar di SMP Labschool UNJ, saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak rekan guru mencurahkan seluruh hidupnya untuk pendidikan. Mereka datang lebih awal daripada siswa, pulang paling akhir setelah memastikan semua tugas selesai, dan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi keberhasilan peserta didik.

Pengabdian seperti itu tentu layak mendapatkan penghargaan yang bermartabat. Salah satunya adalah jaminan kehidupan yang layak setelah memasuki masa purna tugas. Sayangnya, kenyataan yang dihadapi sebagian guru sekolah swasta, termasuk guru di bawah yayasan, sering kali berbeda dengan harapan. Ketika masa mengajar berakhir, penghasilan rutin ikut berhenti. Padahal kebutuhan hidup tetap berjalan. Biaya kesehatan meningkat seiring bertambahnya usia. Kebutuhan keluarga tidak pernah berhenti. Sementara tenaga sudah tidak lagi sekuat dahulu.

Setiap kali menghadiri acara pelepasan guru purnabakti, hati saya selalu dipenuhi rasa haru. Wajah-wajah yang dahulu penuh semangat mendidik kini memasuki babak baru kehidupan. Tepuk tangan bergema, bunga diberikan, foto kenangan diabadikan, lalu perlahan semua kembali menjalani aktivitas masing-masing. Namun muncul satu pertanyaan yang terus mengusik hati. Bagaimana kehidupan para guru hebat itu setelah tidak lagi menerima gaji bulanan?

Pertanyaan itulah yang mendorong saya menulis kisah ini. Bukan untuk mengeluh, melainkan mengajak semua pihak memikirkan masa depan para guru yang telah mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan.

Saya membayangkan betapa indahnya apabila setiap guru Labschool UNJ memasuki masa pensiun dengan hati tenang. Mereka tetap memperoleh penghasilan bulanan sehingga tidak perlu khawatir memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka dapat menikmati hari tua bersama keluarga, mengajar secara sukarela bila masih mampu, menulis buku, berbagi pengalaman, atau menjadi mentor bagi guru muda tanpa dibayangi kecemasan ekonomi.

Harapan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Banyak perusahaan swasta telah memiliki program dana pensiun bagi karyawannya. Program seperti Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) memungkinkan perusahaan atau yayasan menghimpun iuran selama pegawai masih aktif bekerja. Ketika pegawai memasuki masa pensiun, manfaat pensiun dapat dibayarkan secara berkala sesuai ketentuan. Selain itu tersedia pula Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang dapat menjadi alternatif bagi institusi yang belum memiliki dana pensiun sendiri.

Di sisi lain, seluruh pekerja termasuk guru yayasan juga dapat memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Program tersebut meliputi Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian. Apabila memenuhi persyaratan, peserta Jaminan Pensiun dapat menerima manfaat bulanan setelah memasuki usia pensiun.

Sebagai guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun, saya percaya bahwa kesejahteraan guru tidak boleh hanya dibicarakan ketika masih aktif mengajar. Masa purna tugas juga harus menjadi perhatian bersama. Pengabdian selama tiga puluh hingga empat puluh tahun bukanlah perjalanan singkat. Itu adalah investasi kemanusiaan yang hasilnya dinikmati oleh bangsa ini melalui lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Saya membayangkan suatu hari nanti Yayasan Pembina UNJ bersama pimpinan Labschool, perwakilan guru, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama merancang sistem pensiun yang berkelanjutan. Setiap guru memberikan iuran sesuai kemampuan. Yayasan pun ikut memberikan kontribusi. Dana tersebut dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel sehingga tumbuh menjadi jaminan kesejahteraan pada masa tua.

Program seperti itu bukan hanya memberikan rasa aman kepada guru senior. Guru-guru muda pun akan bekerja dengan semangat karena mengetahui bahwa pengabdiannya dihargai hingga akhir masa kerja. Rasa memiliki terhadap sekolah semakin kuat. Loyalitas meningkat. Kualitas pendidikan ikut bertambah karena guru dapat berkonsentrasi mengajar tanpa dihantui kekhawatiran mengenai masa depannya.

Saya selalu percaya bahwa sekolah hebat dibangun oleh guru yang sejahtera. Ketika guru merasa dihargai, semangat mengajarnya akan memancar kepada peserta didik. Anak-anak memperoleh teladan tentang arti dedikasi. Orang tua semakin percaya kepada sekolah. Lingkaran kebaikan pun terus berputar.

Perjuangan menghadirkan pensiun bulanan tentu membutuhkan waktu. Dibutuhkan komunikasi yang baik, kajian yang matang, serta komitmen seluruh pihak. Namun setiap perubahan besar selalu diawali oleh sebuah gagasan sederhana. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Sebagai Omjay, saya tidak pernah lelah mengajak semua guru untuk terus menulis. Tulisan memiliki kekuatan luar biasa. Dari tulisan lahir ide. Dari ide lahir perubahan. Dari perubahan lahir kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Karena itulah saya berharap semakin banyak guru menyuarakan pentingnya perlindungan hari tua bagi tenaga pendidik.

Saya tidak sedang meminta keistimewaan. Saya hanya berharap setiap guru yang telah mengabdikan hidupnya memperoleh penghormatan yang layak ketika memasuki masa purna tugas. Guru tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Guru hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang setelah puluhan tahun membimbing anak bangsa.

Semoga suatu hari nanti, ketika seorang guru Labschool UNJ mengakhiri tugasnya di ruang kelas, senyumnya bukan hanya karena bangga melihat murid-muridnya sukses, tetapi juga karena yakin kehidupannya setelah pensiun tetap terjamin. Itulah hadiah terindah bagi seorang pendidik. Penghargaan yang tidak hanya diberikan dalam bentuk piagam atau bunga, melainkan dalam kepastian bahwa pengabdian panjangnya tidak berakhir dengan kecemasan.

Saya percaya mimpi itu dapat diwujudkan apabila seluruh keluarga besar Labschool UNJ memiliki visi yang sama. Mari membangun sistem yang menghormati guru sejak hari pertama mengajar hingga hari terakhir menikmati masa pensiun. Sebab bangsa yang menghargai gurunya adalah bangsa yang sedang menyiapkan masa depan terbaik bagi generasi berikutnya.

Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com


Senin, 20 Juli 2026

Spanyol Juara Dunia Sepakbola 2026

Ketika La Roja Menaklukkan Dunia, Omjay Menemukan Makna Kemenangan yang Sesungguhnya
Klik https://wijayalabs.com/about

Peluit panjang akhirnya memecah langit malam. Ribuan pasang mata di stadion bergemuruh. Jutaan penggemar di berbagai penjuru bumi bersorak tanpa mampu menyembunyikan luapan emosi. Spanyol menorehkan babak baru dalam sejarah sepak bola. Gol Ferran Torres mengantarkan La Roja mengangkat trofi paling bergengsi di muka bumi. Bukan sekadar kemenangan, melainkan penegasan bahwa ketekunan, kecerdasan, dan kekompakan mampu mengalahkan siapa pun.

Saya menikmati partai puncak itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Sebagai Omjay, pertandingan selalu menghadirkan lebih dari sekadar angka pada papan skor. Lapangan hijau sering kali berubah menjadi ruang belajar yang menyampaikan pelajaran kehidupan tanpa selembar buku maupun sebatang kapur.

Sejak wasit meniup peluit awal, irama permainan langsung memikat perhatian. Operan pendek nan presisi menjadi ciri khas Spanyol. Bola berpindah dengan elegan, seolah setiap sentuhan telah dirancang jauh sebelum pertandingan dimulai. Argentina pun membalas melalui determinasi yang luar biasa. Tidak ada ruang yang dibiarkan terbuka. Seluruh pemain bekerja tanpa mengenal lelah.

Saya terpukau menyaksikan kecerdasan membaca situasi. Tidak seorang pun berusaha menjadi pusat perhatian. Semua menjalankan peran dengan kesadaran penuh bahwa kejayaan hanya lahir melalui kolaborasi. Pemandangan tersebut mengingatkan saya pada suasana sekolah. Keberhasilan pendidikan tidak pernah bertumpu pada seorang guru semata, melainkan tercipta melalui sinergi kepala sekolah, pendidik, peserta didik, orang tua, serta seluruh warga sekolah.

Menit demi menit bergulir. Serangan silih berganti. Penyelamatan gemilang terus bermunculan. Ketegangan merayap hingga ke ruang keluarga para penonton. Bahkan secangkir kopi yang saya seduh perlahan kehilangan kehangatannya karena perhatian sepenuhnya tertuju pada layar televisi.

Saat pertandingan memasuki tambahan waktu, suasana berubah semakin menegangkan. Tidak sedikit yang mulai membayangkan drama adu penalti. Namun sepak bola selalu menyimpan kejutan bagi mereka yang tetap memelihara keyakinan.

Kemudian tibalah momen yang mengubah segalanya.

Sebuah rangkaian serangan dibangun melalui kesabaran luar biasa. Aliran bola bergerak laksana alunan simfoni. Nico Williams melepaskan umpan yang sangat matang. Ferran Torres menyambutnya dengan sentuhan sederhana, tetapi mematikan. Bola meluncur deras menuju jaring gawang Argentina.

Stadion berguncang.

Sorak-sorai membelah angkasa.

Air mata kebahagiaan mengalir tanpa dapat dibendung.

Saya ikut berdiri. Bukan semata-mata merayakan keberhasilan Spanyol, melainkan mengagumi perjalanan panjang yang akhirnya berbuah manis. Gol tersebut lahir melalui kesabaran, ketelitian, keberanian, dan kepercayaan antarpemain.

Peristiwa itu mengingatkan saya pada perjalanan menulis. Sebuah tulisan berkualitas tidak muncul begitu saja. Kalimat demi kalimat harus dipahat dengan kesungguhan. Gagasan memerlukan perenungan. Pengalaman membutuhkan penghayatan. Kesabaran menjadi sahabat terbaik sepanjang proses kreatif.

Saya teringat perjalanan selama puluhan tahun menjadi guru. Tidak sedikit murid yang datang dengan rasa minder. Sebagian merasa dirinya biasa-biasa saja. Ada pula yang nyaris kehilangan harapan. Namun waktu membuktikan bahwa sentuhan pendidikan mampu mengubah arah kehidupan. Banyak di antara mereka kini menjadi pribadi sukses pada bidang masing-masing.

Hal serupa tampak pada perjalanan Spanyol. Tidak semua generasi memperoleh keberuntungan secara instan. Ada masa ketika mereka tersingkir lebih awal. Ada fase penuh kekecewaan. Ada pula periode yang memaksa seluruh elemen melakukan pembenahan. Semua pengalaman tersebut menjadi fondasi menuju pencapaian tertinggi.

Saya semakin yakin bahwa kehidupan selalu menghargai proses.

Pohon rindang tidak tumbuh dalam semalam.

Samudra tidak tercipta oleh setetes hujan.

Pelangi tidak muncul tanpa mendung.

Demikian pula keberhasilan. Setiap pencapaian besar lahir melalui perjalanan panjang yang dipenuhi pengorbanan.

Pertandingan final malam itu menjadi cermin yang sangat indah. Saya melihat keberanian, ketulusan, kedisiplinan, pengorbanan, serta keteguhan berpadu menjadi satu kesatuan. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya jauh lebih berharga dibandingkan sekadar mengangkat trofi.

Sebagai pendidik, saya percaya ruang kelas juga memiliki "Piala Dunia" masing-masing. Seorang peserta didik yang semula kesulitan membaca lalu mampu memahami buku pertama merupakan kemenangan. Anak yang sebelumnya takut berbicara kemudian berani menyampaikan pendapat di depan teman-temannya juga merupakan prestasi. Guru yang tetap mengajar dengan hati di tengah berbagai tantangan telah memenangkan pertandingan hidupnya.

Malam itu saya tidak hanya menyaksikan Spanyol mengalahkan Argentina. Saya menyaksikan keyakinan mengalahkan keraguan. Saya menyaksikan kerja sama mengalahkan ego. Saya menyaksikan ketekunan mengalahkan keputusasaan.

Peluit akhir menandai berakhirnya pertandingan, tetapi makna yang tertinggal justru baru memulai perjalanan panjang di dalam benak saya.

Saya menutup siaran dengan senyum penuh syukur. Secangkir kopi yang telah dingin tetap saya habiskan hingga tetes terakhir. Rasanya berbeda. Bukan karena campuran gula atau biji kopinya, melainkan karena malam itu saya memperoleh inspirasi yang tidak dapat dibeli oleh apa pun.

Kemenangan Spanyol menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak pernah memilih usia, latar belakang, ataupun profesi. Siapa saja berhak meraihnya selama bersedia memeluk disiplin, memelihara semangat belajar, menjaga integritas, serta menghormati proses.

Sebagai Omjay, saya akan terus menulis, terus berbagi, terus belajar, dan terus mengajak siapa pun untuk menyalakan harapan melalui rangkaian aksara. Sebab saya percaya, setiap lembar tulisan mampu menjadi gol kemenangan bagi seseorang yang sedang mencari cahaya di tengah perjalanan hidupnya.

Akhirnya, La Roja membawa pulang mahkota dunia. Sementara saya membawa pulang pelajaran yang jauh lebih berharga: impian sebesar apa pun akan menemukan jalannya apabila disertai keteguhan hati, kegigihan yang tak surut, serta kesediaan melangkah tanpa pernah berhenti.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru Blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 19 Juli 2026

kisah omjay: 1 Tulisan 1 Suara 1 Perubahan

1 Tulisan, 1 Suara, 1 Perubahan: Perjalanan Omjay Kembali Sehat dengan Menulis dari Hati

Ada masa dalam hidup ketika langkah terasa begitu berat. Tubuh yang selama puluhan tahun setia mengabdi sebagai guru mendadak memberi isyarat bahwa ia membutuhkan perhatian. Bagi saya, itu bukan sekadar ujian kesehatan. Itu adalah ujian tentang kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa harapan tidak pernah benar-benar pergi selama kita masih mau berjuang.

Ketika dokter menyampaikan berbagai hasil pemeriksaan, pikiran saya seakan berhenti sesaat. Diabetes, tekanan darah tinggi, vertigo, hingga gejala stroke datang silih berganti. Sebagai seorang guru yang terbiasa berdiri di depan kelas, berbicara penuh semangat, menulis setiap hari, dan berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, saya harus menerima kenyataan bahwa tubuh memiliki batas.

Saat itu saya bertanya dalam hati, "Apakah perjalanan saya sebagai guru dan penulis akan berhenti sampai di sini?"

Jawabannya ternyata tidak.

Allah selalu memiliki cara untuk menguatkan hamba-Nya. Saya mulai menyadari bahwa sakit bukanlah akhir perjalanan. Sakit adalah cara Tuhan mengajarkan manusia untuk lebih menghargai setiap napas yang masih diberikan.

Saya belajar berjalan pelan. Saya belajar mengurangi ego yang selama ini ingin terus bekerja tanpa mengenal lelah. Saya belajar mendengarkan tubuh sendiri. Bahkan saya belajar menikmati pagi dengan cara yang sebelumnya jarang saya lakukan.

Di tengah proses pemulihan itu, saya kembali menemukan sahabat lama yang tidak pernah meninggalkan saya: menulis.

Menulis bukan lagi sekadar hobi. Menulis berubah menjadi terapi. Setiap kalimat yang saya ketik seolah mengobati luka batin yang tidak terlihat. Setiap cerita yang saya bagikan membuat beban di dada terasa lebih ringan. Saya tidak sedang mengejar jumlah pembaca ataupun popularitas. Saya hanya ingin terus hidup melalui tulisan.

Saya percaya, tulisan yang lahir dari air mata akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Banyak orang melihat saya tetap aktif mengajar, mengisi seminar, membimbing guru, dan menulis hampir setiap hari. Namun tidak semua mengetahui bahwa di balik senyum itu ada perjuangan panjang melawan rasa pusing yang datang tiba-tiba, tubuh yang mudah lelah, serta kekhawatiran apakah kesehatan akan kembali seperti dahulu.

Ada hari-hari ketika saya ingin menyerah. Ada saat-saat ketika tubuh meminta berhenti. Namun setiap kali membuka pesan dari para sahabat, membaca komentar pembaca, atau bertemu siswa yang berkata, "Terima kasih, Omjay. Tulisan Om membuat saya semangat," saya kembali menemukan alasan untuk bangkit.

Saya akhirnya memahami bahwa hidup bukan tentang seberapa kuat kita tidak pernah jatuh. Hidup adalah tentang seberapa sering kita memilih bangkit setelah terjatuh.

Perlahan saya mulai mengubah pola hidup. Saya lebih menjaga makanan, rutin bergerak, berolahraga, mengurangi stres, serta berusaha tidur lebih teratur. Semua itu tidak mudah. Mengubah kebiasaan yang telah dilakukan puluhan tahun membutuhkan tekad yang besar. Namun saya percaya bahwa kesehatan adalah amanah yang harus dijaga.

Di sela-sela perjuangan itu, lahirlah sebuah kalimat sederhana yang begitu bermakna bagi saya.

Satu tulisan. Satu suara. Satu perubahan.

Awalnya kalimat itu hanya terdengar sederhana. Namun semakin saya renungkan, semakin saya menyadari bahwa perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil.

Satu tulisan mampu mengubah cara seseorang berpikir.

Satu suara mampu menguatkan orang yang hampir menyerah.

Satu perubahan kecil mampu mengubah masa depan sebuah keluarga.

Saya teringat perjalanan menulis sejak bertahun-tahun lalu. Ribuan halaman telah saya tulis. Ratusan artikel telah dipublikasikan. Puluhan buku berhasil diterbitkan. Semua itu ternyata bukan sekadar kumpulan kata. Semua menjadi jejak perjuangan seorang guru yang ingin tetap bermanfaat meski tubuhnya pernah melemah.

Kini saya semakin yakin bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya. Menulis adalah meninggalkan warisan nilai.

Mungkin suatu hari nanti nama saya akan dilupakan. Jabatan akan berganti. Murid-murid akan tumbuh dewasa. Namun saya berharap tulisan-tulisan yang saya tinggalkan masih dapat menemani seseorang yang sedang kehilangan harapan.

Jika ada satu pembaca saja yang kembali bersemangat menjalani hidup setelah membaca tulisan saya, maka perjuangan ini tidak sia-sia.

Saya bersyukur memiliki keluarga yang terus menguatkan, sahabat yang selalu mendoakan, para guru yang tidak pernah berhenti memberi semangat, serta para pembaca yang setia menemani perjalanan saya. Dukungan mereka adalah obat yang tidak dijual di apotek mana pun.

Hari ini saya belum sepenuhnya sempurna. Tubuh saya masih terus belajar pulih. Saya juga masih harus menjaga pola hidup dengan disiplin. Namun saya tidak lagi takut menghadapi masa depan.

Saya percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.

Karena itu saya ingin mengajak siapa pun yang sedang berjuang melawan penyakit, kesedihan, kegagalan, atau kehilangan harapan agar jangan pernah menyerah.

Mulailah dari satu langkah kecil.

Tulislah satu pengalaman.

Sampaikan satu suara kebaikan.

Lakukan satu perubahan hari ini.

Kelak, langkah kecil itu akan menjadi perjalanan panjang yang mengubah hidup banyak orang.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan kalimat yang kini begitu dekat di hati saya.

Satu tulisan, satu suara, satu perubahan.

Semoga setiap tulisan yang lahir dari hati mampu menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berada dalam gelap. Semoga setiap suara yang kita sampaikan menjadi penyemangat bagi mereka yang hampir menyerah. Dan semoga setiap perubahan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi amal baik yang terus mengalir hingga akhir hayat.

Sebab saya telah merasakannya sendiri. Ketika tubuh melemah, harapan jangan ikut sakit. Selama tangan masih mampu menulis, selama hati masih mampu bersyukur, dan selama Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, selalu ada alasan untuk bangkit, berkarya, dan menginspirasi sesama.

Salam blogger persahabatan
Omjay guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

kisah omjay: Dari Satu Kalinat Menjadi SEJUTA Peluang

Dari Satu Kalimat Menjadi Sejuta Peluang: Kisah Omjay Membangun Rezeki Melalui Tulisan
Blog https://wijayalabs.com/about

Tidak ada suara tepuk tangan ketika langkah pertama dimulai. Tidak ada karpet merah yang menyambut. Yang ada hanyalah selembar halaman kosong, sebuah keyboard sederhana, dan tekad untuk tidak berhenti menulis.

Begitulah perjalanan Omjay bermula.

Di tengah kesibukan sebagai pendidik, waktu luang sering kali menjadi barang mewah. Pagi mengajar, siang menyiapkan pembelajaran, malam mendampingi keluarga. Di sela-sela itulah lahir catatan demi catatan yang kemudian menjelma menjadi ribuan tulisan. Tidak pernah terlintas bahwa kebiasaan sederhana itu suatu hari membuka begitu banyak pintu kesempatan.

Banyak orang mengira keberhasilan dalam dunia literasi selalu diawali bakat istimewa. Padahal, kenyataannya berbeda. Kemampuan berkembang karena latihan yang terus diulang. Setiap tulisan adalah ruang belajar. Setiap kesalahan menjadi guru yang memperkaya pengalaman. Setiap kritik menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.

Menulis bukan perlombaan lari cepat. Ia menyerupai perjalanan mendaki gunung. Langkah kecil yang dilakukan tanpa putus jauh lebih berharga daripada berlari kencang lalu berhenti di tengah jalan.

Ketika dunia digital berkembang pesat, sebagian orang memanfaatkannya sebagai tempat mencari hiburan. Ada pula yang menjadikannya ruang untuk menebar ilmu. Pilihan kedua itulah yang diambil Omjay. Blog menjadi rumah bagi gagasan, pengalaman mengajar, refleksi kehidupan, serta semangat berbagi kepada siapa pun yang ingin belajar.

Pada masa-masa awal, jumlah pembaca belum seberapa. Tidak ada angka fantastis yang menghiasi statistik kunjungan. Namun keadaan itu tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Sebuah tulisan tetap diterbitkan setiap kali selesai ditulis, karena tujuan utamanya bukan mengejar popularitas, melainkan membangun kebiasaan berkarya.

Waktu bekerja dengan caranya sendiri.

Artikel yang semula dibaca segelintir orang mulai dibagikan ke berbagai komunitas. Tulisan yang lahir dari pengalaman nyata terasa lebih dekat dengan kehidupan pembaca. Perlahan, kepercayaan tumbuh. Dari kepercayaan itulah kesempatan bermunculan.

Undangan berbicara hadir silih berganti. Pelatihan literasi mulai dipercayakan. Workshop kepenulisan mengisi kalender kegiatan. Dunia pendidikan membuka ruang kolaborasi yang semakin luas. Semua bermula dari tulisan yang dikerjakan dengan kesungguhan.

Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Sedikit yang menyaksikan perjalanan panjang di belakang layar.

Sebuah buku tidak lahir dalam semalam. Sebuah artikel yang menginspirasi juga bukan hasil satu kali duduk. Di balik setiap karya terdapat proses membaca, mengamati, merenung, memperbaiki, bahkan menghapus kalimat berkali-kali hingga menemukan bentuk terbaiknya.

Buku kemudian menjadi tonggak penting dalam perjalanan tersebut.

Bukan semata karena nilai ekonominya, melainkan karena buku mampu memperluas kepercayaan. Sebuah karya yang diterbitkan menjadi bukti kesungguhan seseorang dalam menguasai bidang tertentu. Dari sana, jalan menuju ruang pelatihan, seminar, pendampingan, hingga kerja sama profesional terbuka semakin lebar.

Menariknya, pencapaian itu tidak disimpan untuk diri sendiri.

Ribuan guru diajak menyadari bahwa pengalaman mengajar merupakan harta yang sangat berharga. Setiap hari ruang kelas menyuguhkan kisah tentang perjuangan, kreativitas, kegagalan, harapan, dan keberhasilan peserta didik. Semua itu layak diabadikan melalui tulisan agar dapat menginspirasi pendidik lain di berbagai daerah.

Banyak guru awalnya mengaku tidak percaya diri. Mereka merasa bahasa yang digunakan terlalu sederhana. Ada pula yang khawatir tulisannya dianggap biasa saja.

Padahal, pembaca tidak selalu mencari kalimat yang rumit. Mereka lebih membutuhkan pengalaman yang jujur, gagasan yang bermanfaat, serta solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah kekuatan tulisan yang lahir dari pengalaman.

Tulisan semacam itu memiliki ruh. Ia berbicara kepada hati pembacanya karena ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengalami peristiwa tersebut.

Perjalanan membangun penghasilan dari dunia literasi juga mengajarkan bahwa sumber rezeki tidak hanya berasal dari satu pintu. Artikel membuka jalan menuju buku. Buku menghadirkan kesempatan menjadi pembicara. Pelatihan melahirkan komunitas belajar. Komunitas kemudian menghadirkan kolaborasi baru. Seluruhnya saling terhubung membentuk ekosistem yang terus bertumbuh.

Akan tetapi, semua peluang tersebut mempunyai akar yang sama, yakni konsistensi.

Tidak sedikit orang bersemangat pada pekan pertama, lalu kehilangan energi ketika hasil belum terlihat. Mereka berharap satu tulisan langsung menjadi perbincangan. Padahal, karya yang bertahan lama dibangun melalui kesabaran yang panjang.

Setiap tulisan ibarat benih. Tidak semuanya tumbuh pada waktu yang sama. Ada yang segera berkembang, ada pula yang baru memperlihatkan hasil setelah bertahun-tahun. Namun benih yang tidak pernah ditanam tentu tidak akan menghasilkan apa pun.

Karena itu, halaman kosong jangan dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia justru merupakan ruang yang menunggu diisi oleh gagasan terbaik.

Menulis juga meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapus waktu.

Uang dapat habis digunakan. Jabatan akan berganti. Popularitas bisa memudar. Namun gagasan yang dituliskan akan terus hidup, dibaca, dipelajari, bahkan menginspirasi generasi berikutnya.

Itulah sebabnya literasi memiliki nilai yang jauh melampaui angka rupiah.

Bagi seorang guru, tulisan merupakan warisan pemikiran. Bagi peserta didik, tulisan menjadi sumber pembelajaran. Bagi masyarakat, tulisan menghadirkan pengetahuan yang dapat mengubah cara berpikir.

Rezeki akhirnya bukan hanya hadir dalam bentuk materi. Ada kepuasan ketika mengetahui sebuah artikel mampu membangkitkan semangat seseorang. Ada kebahagiaan ketika sebuah buku menjadi teman belajar bagi banyak guru. Ada rasa syukur saat pengalaman sederhana ternyata mampu memberi manfaat bagi orang yang belum pernah ditemui.

Semua itu bermula dari keberanian menuliskan satu kalimat.

Satu kalimat berubah menjadi satu paragraf.
Satu paragraf berkembang menjadi satu artikel.
Satu artikel menjelma menjadi satu buku.
Satu buku membuka jalan menuju ribuan pembaca.

Lalu ribuan pembaca melahirkan kesempatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Inilah pelajaran terbesar dari perjalanan Omjay. Kesuksesan dalam dunia kepenulisan bukan hadiah bagi mereka yang paling berbakat, melainkan buah bagi mereka yang tetap berkarya ketika orang lain memilih berhenti.

Maka, jangan menunggu waktu luang yang sempurna. Jangan menunggu merasa hebat. Jangan menunggu dipuji.

Mulailah hari ini.

Tuliskan pengalaman, renungan, ilmu, atau kisah yang hanya Anda miliki. Siapa tahu, tulisan yang lahir pada hari ini kelak menjadi cahaya bagi banyak orang sekaligus membuka pintu rezeki yang bahkan belum pernah terlintas dalam bayangan.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 17 Juli 2026

Ekskul Komputer di Expo Ekskul SMP Labschool Jakarta

Expo Ekskul SMP Labschool Jakarta yang Meriah, Saatnya Memilih Ekstrakurikuler Komputer untuk Menyongsong Masa Depan
Blog https://wijayalabs.com/about

Suasana SMP Labschool Jakarta hari itu benar-benar berbeda. Sejak pagi, halaman sekolah telah dipenuhi senyum, tawa, dan semangat para siswa yang ingin mengenal lebih dekat berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Aneka stan berdiri berjajar dengan dekorasi yang menarik perhatian. Ada stan olahraga yang memamerkan berbagai piala kejuaraan, stan seni yang dipenuhi lukisan dan hasil karya kreatif siswa, stan musik yang menghadirkan alunan lagu yang memikat, hingga stan bahasa dan sains yang tak kalah ramai. Semua berpadu menciptakan suasana Expo Ekstrakurikuler yang meriah dan penuh inspirasi.

Bagi saya, Expo Ekstrakurikuler bukan sekadar agenda tahunan sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang perjumpaan antara bakat, minat, dan cita-cita para siswa. Di sinilah mereka mulai mengenal potensi dirinya. Mereka bebas bertanya, mencoba, bahkan membayangkan masa depan yang ingin mereka raih. Setiap stan menawarkan pengalaman berbeda, namun semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu siswa berkembang menjadi pribadi yang utuh, kreatif, dan percaya diri.

Di tengah keramaian itu, saya berdiri dengan penuh semangat di stan Ekstrakurikuler Komputer. Di atas meja tersusun rapi berbagai buku Informatika dan Koding serta Kecerdasan Artifisial (KKA), laptop yang menampilkan hasil karya siswa, serta berbagai contoh proyek yang telah mereka buat. Banyak siswa datang menghampiri dengan rasa penasaran. Ada yang memperhatikan tampilan animasi di layar laptop, ada yang bertanya tentang cara membuat permainan sederhana, dan ada pula yang ingin tahu apakah mereka bisa belajar membuat aplikasi meskipun belum pernah mengenal pemrograman.

Pertanyaan seperti itu selalu membuat saya tersenyum. Saya menjawab dengan penuh keyakinan, "Tentu saja bisa. Semua programmer hebat juga pernah menjadi pemula. Yang penting bukan seberapa pintar kita hari ini, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar."

Jawaban sederhana itu ternyata mampu menghilangkan keraguan mereka. Wajah-wajah yang semula ragu mulai berubah menjadi penuh antusias. Mereka mulai bertanya lebih banyak tentang kegiatan yang dilakukan dalam ekstrakurikuler komputer. Saat itulah saya menyadari bahwa banyak anak sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia teknologi. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau membimbing dan memberi kesempatan.

Perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat. Hampir setiap aspek kehidupan manusia tidak lagi terlepas dari komputer, internet, dan kecerdasan artifisial. Dunia kerja masa depan pun semakin membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir logis, kreatif, kritis, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Oleh karena itu, belajar komputer bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan zaman.

Namun, belajar komputer di ekstrakurikuler bukan berarti anak-anak hanya duduk di depan layar sepanjang waktu. Justru sebaliknya, mereka diajak belajar melalui berbagai proyek yang menyenangkan. Mereka belajar menyusun logika berpikir, memecahkan masalah, berdiskusi dalam kelompok, serta menuangkan ide-ide kreatif menjadi sebuah karya nyata.

Di ekstrakurikuler komputer SMP Labschool Jakarta, siswa dikenalkan pada dunia coding secara bertahap. Mereka memulai dari aplikasi yang mudah dipahami seperti Scratch untuk membuat animasi dan permainan sederhana. Setelah mulai memahami konsep dasar pemrograman, mereka belajar membuat website, mengenal bahasa pemrograman modern, hingga mencoba memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai alat bantu belajar. Semua dilakukan sesuai kemampuan dan perkembangan peserta didik sehingga belajar terasa menyenangkan, bukan menakutkan.

Saya selalu percaya bahwa keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari nilai yang diperoleh. Yang jauh lebih penting adalah perubahan sikap dan karakter yang tumbuh selama proses pembelajaran. Hal itulah yang saya lihat setiap tahun di ekstrakurikuler komputer.

Ada siswa yang awalnya sangat pendiam, bahkan malu berbicara di depan kelas. Setelah beberapa bulan mengikuti kegiatan, ia mulai berani mempresentasikan hasil program yang dibuatnya. Ada pula siswa yang sempat berkali-kali gagal menjalankan program karena kesalahan kecil dalam penulisan kode. Alih-alih menyerah, ia justru semakin tertantang untuk menemukan letak kesalahan tersebut. Ketika akhirnya berhasil, senyum bangga di wajahnya menjadi hadiah yang tak ternilai.

Momen-momen seperti itulah yang membuat saya semakin mencintai profesi sebagai guru. Saya tidak hanya mengajarkan cara membuat program komputer, tetapi juga membantu siswa belajar menghadapi kegagalan, melatih kesabaran, membangun rasa percaya diri, dan menanamkan semangat pantang menyerah. Karakter-karakter inilah yang kelak akan menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka.

Expo Ekstrakurikuler menjadi kesempatan terbaik untuk memperlihatkan hasil kerja keras para anggota ekskul komputer. Mereka dengan bangga menunjukkan game sederhana yang telah dibuat, animasi yang bergerak dengan menarik, hingga website yang dapat diakses melalui internet. Melihat karya mereka dipuji oleh teman-temannya menjadi pengalaman yang membangun rasa percaya diri sekaligus memotivasi mereka untuk terus berkarya.

Sebagai pembimbing, saya merasa bangga melihat perkembangan anak-anak tersebut. Mereka datang dengan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang sudah mengenal komputer sejak kecil, ada pula yang baru pertama kali mencoba membuat program. Namun di dalam ekstrakurikuler, semua belajar bersama tanpa saling merendahkan. Yang lebih mampu membantu temannya yang masih kesulitan. Budaya saling berbagi pengetahuan inilah yang membuat suasana belajar menjadi hangat dan menyenangkan.

Saya sering mengatakan kepada para siswa bahwa teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah manusia yang menggunakannya. Teknologi akan memberikan manfaat besar apabila digunakan untuk menciptakan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat. Karena itu, saya selalu mendorong siswa agar tidak sekadar menjadi pengguna aplikasi, tetapi berani menjadi pencipta inovasi.

Siapa yang dapat memastikan masa depan? Mungkin hari ini seorang siswa hanya belajar membuat permainan sederhana menggunakan Scratch. Lima atau sepuluh tahun lagi, bukan tidak mungkin ia menjadi programmer profesional, pengembang aplikasi pendidikan, ahli keamanan siber, ilmuwan data, insinyur kecerdasan artifisial, atau bahkan mendirikan perusahaan rintisan berbasis teknologi yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Semua mimpi besar itu berawal dari keberanian mengambil langkah pertama.

Di era digital seperti sekarang, kemampuan coding bukan hanya milik mahasiswa teknik informatika atau programmer profesional. Coding telah menjadi keterampilan masa depan yang dapat dipelajari siapa saja sejak usia sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler komputer, siswa belajar memahami cara berpikir komputasional, memecahkan masalah secara sistematis, serta mengembangkan kreativitas melalui teknologi.

Saya juga percaya bahwa setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda. Ada yang berbakat di bidang olahraga, seni, musik, bahasa, sains, ataupun teknologi. Tidak ada bidang yang lebih tinggi daripada yang lain. Yang terpenting adalah setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk menemukan dunia yang membuatnya berkembang dan merasa bahagia. Expo Ekstrakurikuler menjadi jembatan yang mempertemukan setiap siswa dengan passion mereka masing-masing.

Melihat ramainya stan Ekstrakurikuler Komputer pada Expo tahun ini membuat hati saya dipenuhi rasa syukur. Semakin banyak siswa yang tertarik mempelajari teknologi, semakin besar pula harapan lahirnya generasi Indonesia yang siap menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 dan era kecerdasan artifisial. Mereka bukan hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Akhirnya, saya mengajak seluruh siswa SMP Labschool Jakarta untuk tidak ragu bergabung bersama Ekstrakurikuler Komputer. Tidak perlu takut jika belum pernah belajar coding. Tidak perlu minder jika merasa belum mahir menggunakan komputer. Semua peserta memulai perjalanan dari titik yang sama. Yang dibutuhkan hanyalah rasa ingin tahu, kemauan belajar, kerja keras, dan keberanian mencoba.

Mari kita jadikan Expo Ekstrakurikuler bukan sekadar acara tahunan, tetapi sebagai langkah awal menuju masa depan yang lebih cerah. Hari ini kita belajar coding, besok kita menciptakan inovasi. Hari ini kita menjadi siswa yang penuh semangat belajar, kelak kita menjadi generasi yang membawa perubahan bagi Indonesia melalui teknologi.

Ayo bergabung di Ekstrakurikuler Komputer SMP Labschool Jakarta!

Belajar dengan gembira, berkarya tanpa henti, berinovasi dengan teknologi, dan siapkan diri menjadi pemimpin di era digital.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com