Selasa, 04 Agustus 2026

Ketika Buku-Buku Omjay Terbang Ke Berbagai Kota di Indonesia Melalui JNE

Ketika Buku-Buku Karya Omjay Terbang ke Berbagai Daerah Melalui JNE

Blog https://wijayalabs.com/about


Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat buku yang kita tulis mulai meninggalkan rumah. Buku-buku itu tidak lagi hanya tersusun rapi di rak, tetapi satu demi satu masuk ke dalam kardus, dibungkus dengan hati-hati, ditempeli alamat, lalu diserahkan kepada petugas JNE untuk memulai perjalanan panjang menuju para pembaca. Saat itulah saya menyadari bahwa sebuah buku ternyata memiliki kehidupan sendiri. Ia terbang membawa ilmu, pengalaman, harapan, dan mimpi ke berbagai penjuru Indonesia.


Beberapa hari terakhir saya kembali mengantarkan puluhan paket buku ke kantor JNE. Dari laporan pengiriman terlihat bahwa buku-buku karya saya meluncur ke berbagai kota, mulai dari Jakarta, Bekasi, Tangerang, Solo, Yogyakarta, Boyolali, Malang, Pasuruan, Jambi, Makassar, Palangka Raya, hingga Labuhanbatu di Sumatera Utara. Semua itu tercatat dalam laporan pengiriman JNE periode 21 Juli–3 Agustus 2026.


Melihat daftar tujuan pengiriman itu membuat hati saya bergetar. Saya membayangkan setiap paket akan tiba di rumah seseorang yang dengan penuh rasa ingin tahu membuka bungkusnya. Ada guru yang langsung membaca setelah pulang mengajar. Ada kepala sekolah yang menjadikan buku itu sebagai bahan diskusi. Ada mahasiswa yang mencari inspirasi. Bahkan mungkin ada seorang anak muda yang baru mulai belajar menulis dan menemukan semangat baru setelah membaca kisah perjalanan saya.


Saya selalu percaya bahwa buku adalah sahabat yang tidak pernah lelah menemani pembacanya. Buku mampu menembus batas ruang dan waktu. Penulis mungkin berada di Bekasi, tetapi pikirannya bisa hadir di Makassar, Palangka Raya, Solo, atau Jambi melalui lembar-lembar buku yang dibaca orang lain. Itulah keajaiban menulis yang sejak dulu selalu saya yakini.


Ketika saya pertama kali belajar menulis di blog, tidak pernah terbayang suatu hari karya-karya saya akan dikirim ke berbagai daerah. Semua bermula dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari. Saya sering mengulang kalimat yang kini menjadi penyemangat banyak orang, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat itu ternyata bukan sekadar slogan. Saya sendiri menjadi saksi bahwa kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten mampu menghasilkan sesuatu yang luar biasa.


Setiap kali ada notifikasi pemesanan buku masuk melalui WhatsApp, saya merasa seperti mendapatkan amanah baru. Pembeli bukan sekadar pelanggan, melainkan pembaca yang mempercayai isi pikiran saya. Karena itu, sebelum buku dikirim, saya selalu memastikan kondisinya baik. Tidak jarang saya menuliskan tanda tangan dan kalimat penyemangat di halaman awal agar pembaca merasakan sentuhan yang lebih personal.


Banyak orang mengira pekerjaan seorang penulis selesai setelah naskah diterbitkan. Padahal justru setelah buku terbit, perjalanan baru dimulai. Penulis harus memperkenalkan bukunya, menjawab pertanyaan pembaca, mengemas buku, mengirimkannya, bahkan memantau apakah buku itu sudah sampai dengan selamat. Semua proses itu saya nikmati karena setiap paket yang berangkat membawa harapan agar ilmu yang saya tuliskan benar-benar bermanfaat.


Saya juga belajar menghargai peran para kurir dan petugas ekspedisi. Mereka adalah pahlawan yang sering terlupakan. Di bawah terik matahari maupun hujan, mereka memastikan buku sampai ke alamat tujuan. Tanpa mereka, mungkin buku-buku itu hanya akan menumpuk di rumah saya. Berkat tangan-tangan mereka, karya sederhana seorang guru dapat dibaca oleh masyarakat dari Sabang sampai Merauke.


Sebagai guru, saya merasa tugas saya bukan hanya mengajar di ruang kelas. Saya ingin tetap mengajar melalui tulisan. Ketika seorang guru menulis buku, sesungguhnya ia sedang memperluas ruang kelasnya. Muridnya bukan lagi hanya tiga puluh atau empat puluh orang dalam satu kelas, melainkan siapa saja yang membaca bukunya. Itulah sebabnya saya tidak pernah lelah menulis, meskipun harus meluangkan waktu di sela-sela kesibukan mengajar, menjadi narasumber, maupun berorganisasi.


Melihat laporan pengiriman buku membuat saya semakin bersyukur. Angka-angka di dalam laporan bukan sekadar biaya kirim atau jumlah paket. Di balik setiap nomor resi terdapat sebuah cerita. Ada doa dari penulis agar bukunya bermanfaat. Ada harapan pembaca yang ingin memperoleh ilmu baru. Ada semangat untuk terus menebarkan literasi ke seluruh penjuru negeri.


Perjalanan buku-buku itu juga mengingatkan saya bahwa mimpi tidak pernah mengenal batas geografis. Dari sebuah ruang kerja sederhana, buku dapat mengunjungi kota-kota yang mungkin belum sempat saya datangi. Buku menjadi duta yang memperkenalkan gagasan, pengalaman, dan semangat belajar kepada siapa pun yang bersedia membuka halamannya.


Saya berharap setiap pembaca tidak berhenti setelah membaca satu buku. Semoga mereka terdorong untuk mulai menulis kisahnya sendiri. Indonesia membutuhkan lebih banyak guru yang menulis, lebih banyak orang tua yang berbagi pengalaman, lebih banyak anak muda yang berani menuangkan gagasan. Semakin banyak orang menulis, semakin kaya pula warisan pengetahuan yang kita tinggalkan bagi generasi berikutnya.


Terima kasih kepada semua sahabat literasi yang telah membeli, membaca, dan merekomendasikan buku-buku karya saya. Terima kasih pula kepada JNE yang telah menjadi jembatan sehingga buku-buku itu dapat "terbang" ke berbagai daerah di Indonesia. Semoga setiap paket yang tiba tidak hanya membawa sebuah buku, tetapi juga membawa semangat untuk terus belajar, terus berbagi, dan terus menulis.


Karena saya percaya, sebuah buku mungkin berangkat dari tangan seorang penulis, tetapi ketika sampai di tangan pembaca, ia telah berubah menjadi cahaya yang mampu menerangi kehidupan banyak orang. Dan selama masih ada pembaca yang menunggu, saya akan terus menulis setiap hari, lalu membiarkan buku-buku itu kembali terbang mengelilingi Indonesia, membawa mimpi-mimpi baru yang tak pernah berhenti tumbuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.