TRIK JITU MENULIS BUKU: KISAH OMJAY YANG MENGUBAH TULISAN MENJADI WARISAN ABADI
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Banyak orang bertanya kepada saya, “Pak Omjay, apa trik jitu menulis buku?”
Pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali saya menjadi narasumber pelatihan menulis untuk guru, dosen, mahasiswa, maupun komunitas literasi. Ada yang bertanya dengan penuh semangat, ada yang bertanya dengan rasa penasaran, bahkan ada yang bertanya sambil mengeluh karena sudah lama ingin menulis buku tetapi tak kunjung selesai.
Saya biasanya tersenyum sebelum menjawab.
Sebab setelah menulis puluhan buku dan ribuan artikel, saya menemukan satu kenyataan sederhana yang sering dilupakan banyak orang. Trik menulis buku yang paling ampuh sebenarnya bukan terletak pada bakat, bukan pada kecerdasan, dan bukan pula pada teknologi canggih. Trik itu adalah keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus menulis meskipun tidak ada yang membaca.
Saya belajar hal itu dari perjalanan hidup saya sendiri.
Dulu saya bukan penulis terkenal. Saya hanyalah seorang guru biasa yang setiap hari mengajar di sekolah. Bahkan ketika pertama kali mencoba menulis, tulisan saya sering ditolak. Ada kalanya tulisan yang saya kirim tidak dimuat media. Ada kalanya tulisan saya hanya dibaca beberapa orang saja. Namun saya terus menulis karena saya percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan yang akan tetap hidup ketika usia kita semakin menua.
Saya masih ingat ketika banyak teman bertanya, “Apa gunanya menulis setiap hari?”
Pertanyaan itu sempat membuat saya berpikir. Namun kemudian saya menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan. Menulis adalah proses melatih pikiran, memperkaya hati, dan mendewasakan jiwa.
Setiap kali saya menulis, saya sedang berdialog dengan diri sendiri. Saya belajar memahami pengalaman hidup yang saya alami. Saya belajar mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Saya belajar melihat hikmah di balik setiap peristiwa.
Dari situlah lahir trik pertama menulis buku.
Tulislah apa yang Anda alami.
Banyak orang gagal menulis buku karena sibuk mencari ide yang hebat. Padahal ide terbaik sering kali ada di sekitar kita. Pengalaman mengajar, pengalaman menjadi orang tua, pengalaman menghadapi kesulitan hidup, bahkan pengalaman sederhana saat naik kereta atau menunggu antrean rumah sakit bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa.
Saya sendiri sering menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika mengalami kecelakaan, saya menulis. Ketika dirawat di rumah sakit, saya menulis. Ketika bertemu guru-guru hebat dari berbagai daerah, saya menulis. Ketika menyaksikan perjuangan orang tua mendidik anak, saya menulis.
Semua pengalaman itu akhirnya menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis.
Trik kedua adalah menulis sedikit demi sedikit setiap hari.
Banyak orang bermimpi menulis buku setebal 200 halaman dalam waktu singkat. Akibatnya mereka merasa tugas itu terlalu berat dan akhirnya menyerah sebelum memulai.
Saya memiliki kebiasaan berbeda.
Saya menulis sedikit demi sedikit setiap hari. Kadang hanya satu halaman. Kadang dua halaman. Bahkan ketika sangat sibuk, saya tetap berusaha menulis beberapa paragraf.
Lama-kelamaan tulisan itu bertambah banyak. Seperti menabung uang receh yang akhirnya menjadi jutaan rupiah, tulisan kecil yang dibuat setiap hari akhirnya berubah menjadi sebuah buku.
Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan bahwa buku bukan ditulis dalam sehari. Buku lahir dari kebiasaan menulis setiap hari.
Trik ketiga adalah jangan menunggu sempurna.
Inilah kesalahan terbesar banyak calon penulis.
Mereka ingin kalimat pertama langsung sempurna. Mereka ingin paragraf pertama langsung memukau. Mereka ingin buku pertama langsung menjadi best seller.
Akibatnya mereka tidak pernah selesai menulis.
Saya belajar bahwa tulisan yang selesai jauh lebih berharga daripada tulisan sempurna yang hanya ada di kepala.
Ketika menulis, saya membiarkan ide mengalir terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah saya melakukan revisi. Dengan cara itu, naskah terus bergerak maju dan tidak terjebak dalam kesempurnaan yang semu.
Trik keempat adalah menulis dengan hati.
Saya percaya pembaca dapat merasakan kejujuran seorang penulis.
Tulisan yang ditulis dengan hati memiliki energi yang berbeda. Ia mampu menyentuh perasaan pembaca. Ia mampu membuat orang tersenyum, tertawa, bahkan menangis.
Ketika saya menulis tentang perjuangan guru honorer, saya membayangkan wajah-wajah guru yang tetap mengajar meskipun penghasilannya kecil. Ketika saya menulis tentang orang tua, saya teringat jasa kedua orang tua saya yang telah membesarkan saya dengan penuh kasih sayang. Ketika saya menulis tentang sahabat yang telah wafat, saya mengenang semua kebaikan yang pernah mereka berikan.
Karena itulah banyak pembaca mengatakan bahwa tulisan saya terasa dekat dengan kehidupan mereka.
Mereka tidak hanya membaca kata-kata. Mereka merasakan emosi yang tersimpan di balik tulisan tersebut.
Trik kelima adalah percaya bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan orang lain.
Inilah rahasia terbesar yang membuat saya terus menulis hingga hari ini.
Saya pernah menerima pesan dari seorang guru di pelosok Indonesia yang mengatakan bahwa tulisan saya membuatnya bangkit dari rasa putus asa. Saya pernah menerima pesan dari seorang mahasiswa yang kembali semangat belajar setelah membaca artikel yang saya tulis. Saya juga pernah menerima pesan dari seorang pensiunan guru yang menangis karena merasa kisah hidupnya terwakili oleh tulisan saya.
Saat itulah saya menyadari bahwa menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata.
Menulis adalah ibadah.
Menulis adalah sedekah ilmu.
Menulis adalah cara meninggalkan warisan kebaikan.
Jika suatu hari nanti Omjay sudah tidak mengajar lagi, mungkin suara saya tidak lagi terdengar di ruang kelas. Namun tulisan-tulisan yang saya tinggalkan akan tetap berbicara kepada banyak orang. Tulisan itu akan terus hidup, menginspirasi, dan memberi manfaat.
Karena itulah saya selalu mengajak para guru untuk menulis buku.
Jangan takut memulai.
Jangan takut salah.
Jangan takut tidak ada yang membaca.
Tulislah pengalamanmu. Tulislah perjuanganmu. Tulislah kisah hidupmu.
Sebab bisa jadi kisah yang menurutmu biasa saja justru menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup orang lain.
Dan percayalah, ketika sebuah buku lahir dari ketulusan hati, ia bukan hanya kumpulan halaman dan tinta. Ia adalah warisan kehidupan yang akan terus hidup bahkan ketika penulisnya telah tiada.
Maka mulailah menulis hari ini juga. Jangan tunggu besok. Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu punya banyak waktu.
Ambillah pena, buka laptop, atau ketik di ponselmu.
Tuliskan satu kalimat.
Lalu satu paragraf.
Kemudian satu halaman.
Dan buktikan sendiri apa yang akan terjadi.
Karena setiap buku besar di dunia ini selalu dimulai dari satu kata pertama yang ditulis dengan penuh keberanian.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.