Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 19 Juli 2020

inilah cara baru menerbitkan buku

Cara Baru Menerbitkan Buku. 


Banyak orang tidak tahu cara baru menerbitkan buku. Padahal cara ini sudah banyak dilakukan oleh orang-orang terdahulu. Menulis setiap hari adalah cara Buya Hamka menerbitkan buku. 

Tokoh agama dan sastrawan ini, melakukan kegiatan menulis setiap hari. Artikelnya sangat berisi. Tak mudah basi. Sangat menginspirasi dan memotivasi. Pembaca yang telah membaca hasil karyanya pasti akan memuji. 

Saya termasuk orang yang mengagumi beliau. Buya Hamka bersama kakek Dimjati sama sama mendirikan Al Azhar di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sayangnya kakek tidak menulis,  sehingga karyanya tidak terkenang seperti Buya Hamka. 

Cara baru menerbitkan buku saya ujicobakan kepada para guru. Kawan kawan guru saya ajak menulis di blog. Mereka menulis dan berlatih menulis setiap hari di blog. Hasilnya dahsyat sekali. Salah satunya, buku yang berjudul 25 jurus trik jitu menulis dan menerbitkan buku karya ibu Rita Wati.

Saya mengenal beliau dari tulisan-tulisannya di blog yang enak dibaca. Diam diam saya mengagumi tulisannya yang tidak biasa. Bahkan tanpa diminta langsung saya viralkan ke media sosial yang saya kelola. 

Membaca buku 25 jurus trik jitu menulis dan menerbitkan buku membuat saya terharu. Kesabarannya dalam membuat resume kuliah online bersama Omjay dan para narasumber lainnya telah terajut menjadi sebuah buku. Saya membacanya sampai habis selama 2 hari, Sabtu dan Minggu.

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit.  Itulah pepatah langit yang selalu diungkit. Membuat para guru Indonesia menjadi bangkit. Tetap sehat dan tak pernah merasakan sakit. 

Inilah cara baru menulis dan menerbitkan buku. Anda tak akan merasa jemu, membaca tulisan dari penulis yang berasal dari Tanjung Pinang Provinsi Kepulauan Riau yang sekarang mengabdi di SMP Negeri 2 Mendoyo Kab.Jembrana prov.Bali yang ingin maju. 

Selamat dan sukses untuk ibu Rita Wati. Karyamu akan selalu bersemi dihati ini.  Teruslah menulis sebelum mati. Buku adalah ilmu yang tak pernah mati. 

Seperti karya karya indah Buya Hamka. Di bawah lindungan kabah adalah salah satu buku hasil karyanya sepanjang masa. Herjunot Ali, salah satu murid omjay di SMP menjadi aktornya. Bukunya difilmkan dengan rasa bangga. Walaupun penulisnya telah tiada.

Ayo segeralah pesan buku yang menginspirasi ini. Ibu Rita Wati telah menggiring pembacanya untuk menulis setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. 


Salam Blogger Persahabatan 

Omjay,  Guru Blogger Indonesia 

Penulis buku best seller Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.

Blog http://wijayalabs.com

Jumat, 17 Juli 2020

Menghimpun yang Berserak dan Menulis dalam Kesibukan

KATA Pengantar Guru Blogger Indonesia
Wijaya Kusumah (Omjay)

Menerbitkan buku ber-ISBN adalah kebanggan penulisnya. Ibu Juni Marlinda Rambe, S.Pd adalah salah satu peserta yang rajin membuat resume. Saya baca di email omjaylabs@gmail.com, resumenya sangat lengkap. Tak ada satu pertemuanpun beliau lewatkan. Saya hanya meminta beliau membaca kembali dan menyatukannya dalam sebuah file.

Suatu hari beliau mengirimkan pesan di WA. Katanya beliau ingin resume yang dibuat menjadi buku yang menarik dan enak dibaca. Beliau meminta saran judul yang tepat untuk bukunya ini. Lalu saya sarankan untuk bertanya kepada penerbit saja. Sebab mereka lebih paham selera pasar. Saya minta beliau membaca ulang naskah bukunya dan membuat daftar isi dan profil penulisnya. Saya meminta beliau untuk membaca buku ber-ISBN yang sudah dicetak.

Baru pagi ini, hari Jumat pagi saya sempatkan diri untuk membuat kata pengantar atau sambutan buku yang beliau minta. Kegiatan begitu padat sekali sehingga banyak teman-teman guru yang minta dibuatkan kata pengantar belum sempat dikerjakalan. Mohon dimaafkan!

Saya baca pelan-pelan draft naskah buku beliau yang dikirimkan melalui aplikasi WA. Sungguh saya tak pernah menyangka kalau isinya sangat bagus sekali buat para penulis pemula. Para narasumber telah berbagi ilmu dan pengalamannya dalam dunia tulis menulis. Lebih dari 20 orang narsumber telah berbagi ilmunya. Saya hanya mengambil 2 saja di kata pengantar ini.

Salah satu narsum yang membuat saya terkesan adalah bapak Ukim Komarudin. Beliau adalah salah satu teman sejawat yang sukses merah karirnya dari menulis. Menurut beliau menulis merupakan ekspresi pribadi, menulis dengan jujur, sejujur-jujurnya. Apa adanya, menulis apa saja. Oleh karena beliau seorang guru, beliau menulis terkait pelajaran. 

Ada beragam kegiatan berupa proposal, liputan kegiatan siswa yang harus dituliskan di majalah dan menulis buku harian menjadi hobinya setiap hari. Begitulah setiap saat diisi oleh kegiatan menulis hingga tulisan itu mulai dilirik oleh orang–orang terdekat yang dalam hal ini teman-teman guru. Beliau menulis dari beragam kejadian, beragam waktu, dan dari beragam tokoh. Sehingga beliau menulis judul buku tersebut “Menghimpun yang Berserak“.

Belajar dari pengalaman pak Ukim itu, mungkin ibu Juni ingin mengimplementasikannya menjadi buku motivasi untuk para penulis. Begitu banyak file resume kuliah online berserakan di email. Sudah saatnya dirajut menjadi sebuah buku yang enak dibaca dan menginspirasi pembaca.

Hal kedua yang saya dapatkan dalam buku ini adalah materi bapak Much.Khoiri  yang biasa disapa Master Emcho. Beliau dosen & penulis 42 buku dan mengajar di Unesa Surabaya. Topik beliau sangat menarik, yaitu Menulis dalam Kesibukan.

Beliau mengingatkan bahwa “penulis sejati akan mencurahkan daya dan pikirannya untuk menghasilkan tulisan. Andaikata ia tidak sedang menulis, ia pastilah memikirkan tentang apa yang ia hendak tulis. Ada waktu istimewa yang dipilihnya, yang paling nyaman, untuk larut dalam menulis. Ia tidak membiarkan satu hari pun tanpa menulis. Menulis sama wajibnya dengan membaca.

Menurut Much. Khoiri bahwa “Apa yang kita angankan akan lenyap, apa yang kita katakan akan musnah, apa yang kita lakukan akan tak tersisa-kecuali dituliskan. Ia akan abadi dan menyejarah”. Semoga buku yang dituyliskan oleh ibu Juni Marlinda Rambe ini dapat menghilangkan dahaga ilmu dan memotivasi banyak guru untuk menulis setiap hari di sel-sela kesibukannya.


Salam Blogger Persahabatan
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog http://wijayalabs.com

Jumat, 10 Juli 2020

Hidupmu Berkah Ketika Lelah Menjadi Lillah.

Semoga Lelah Menjadi Lillah. 

Semalam saya lelah sekali. Saya tidur lebih awal dari istri. Mata sudah tak kuat lagi dan langsung masuk ke dunia mimpi. Bangun tidur pukul 04.00 pagi. 

Ribuan pesan wa belum dibaca kali ini. 
Saya terbangun ketika alarm mobil tetangga berbunyi. Mungkin mau ada yang mencuri. Saya tak tahu pasti. Sebab di luar gelap sekali. Bunyi alarmpun terhenti. Petugas keamanan sudah datang mengunjungi. 

Setelah sholat tahajud saya tuliskan ini. Mencoba merenungkan kembali perjalanan hidup ini.  Setengah abad sudah hidup di dunia yang fana ini. 

Apa yang kita cari selama ini? Apakah hidup hanya untuk memperkaya diri? Atau hanya ingin dapat dipuji? Semua jawaban ada dalam diri. Kita serahkan saja pada Sang Ilahi. 

Suara orang mengaji dan bersholawat nabi terdengar dari masjid ke masjid. Ini pertanda waktu subuh akan tiba sebentar lagi. Saya siap siap ke masjid di kompleks perumahan kami.  Bertemu Allah lewat sholat berjamaah senang sekali. 

Bumi berputar selama 24 jam mengitari planet lainnya. Manusia tak seperti bumi yang berputar selamanya. Manusia perlu istirahat agar kondisi tubuh tetap prima. Pekerjaan manusia memang tak ada habisnya. Tinggal kita pandai-pandai mengelolanya. 

Dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Manusia sebagai hamba Allah harus bekerja. Mereka menjemput rezekinya masing masing. Ada yang menjemputnya dengan cara mudah,  namun ada pula dengan cara susah. 

Itulah dinamika kehidupan manusia. Tak akan pernah tertukar rezekinya. Rajin pangkal pandai,  hemat pangkal kaya. Siapa yang malas tidak naik kelas. Kerja keras, cerdas, tuntas, dan ikhlas. Membuatmu menjadi manusia berkelas. 

Ketika lelah menjadi lillah. Hidup akan semakin berkah. Keluarga menjadi sakinah dan mawaddah. Hidup menjadi terasa indah. 


Salam Blogger persahabatan 

Omjay
Guru blogger Indonesia 
Blog http://wijayalabs.com

Rabu, 08 Juli 2020

kembali ke rumah di jatibening bekasi

Kembali ke Rumah di bekasi

Ada yang bilang rumahku adalah surgaku. Begitulah yang saya rasakan pagi ini. 


Pagi hari sudah mengisi air di kolam dan memberi makan ikan nila. Lalu menyirami makanan di halaman rumah. 

Seminggu sudah kami meninggalkan rumah. Ada beberapa tanaman mati kekeringan dan 2 ekor ikan mas mati mengenaskan. Mungkin mereka kelaparan karena tidak diberi makan. 


Kucing-kucing tetangga yang biasanya kumpul di rumah setiap pagi kini sepi. Baru satu ekor yang kembali meminta sarapan pagi. 

Anak anak masih tertidur pulas. Intan baru lulus ujian skipsi di Uin Bandung dan Berlian baru saja naik ke kelas 12 di SMA Labschool Jakarta.


Semalam mereka masak indomie karena kelaparan. Alhamdulillah perjalanan dari Bandung ke Bekasi tidak sampai 2 jam. Keponakan saya Aldi yang membawa kendaraan. Sekarang lewat tol bisa langsung lewat jalan layang dan keluar langsung di tol Pondok Gede. Bandung Bekasi terasa dekat.

Pukul 22.30 wib kami sudah sampai rumah di Bekasi. Anak anak langsung beres-beres rumah. Intan menyapu lantai dan Berlian menyiapkan tempat tidur.

Semenjak rumah kami sering kebanjiran, saya tak lagi tidur di tempat tidur.  Kita tidur gelar tikar beralaskan kasur lipat. Hal itu kami lakukan agar dengan mudah kami bereskan bila banjir datang lagi. 


Saya teringat ketika malam tahun baru 2020 tiba. Anak dan istri pergi rekreasi ke Pangandaran. Tinggal saya sendiri yang berada di rumah. 

Entahlah saya merasa punya firasat tidak enak. Saya putuskan tidak berangkat menyusul anak dan istri. 

Tadinya, sesudah mengisi materi di Talang Babungo, Solok, Sumatera Barat, saya langsung terbang ke Pangandaran dari bandara Halim. Ada pesawat yang langsung ke sana. Tapi kemudian saya berubah pikiran. 

Malam itu saya sendirian. Hujan datang tiba tiba besar sekali dan tiada henti. Saya mulai merapihkan barang. Namun sayang banjir begitu cepat datang. 

Motor Alda keponakan dan motornya Intan terendam banjir.  Di dalam rumah sudah sepinggang orang dewasa. Pak dokter Firdaus tetangga depan rumah menelepon. Katanya segera mengungsi ke rumahnya. 

Kisah lengkapnya saya tulis di buku catatan harian seorang guru blogger. Sudah 4 kali rumah kami kebanjiran tahun ini dan kami menikmatinya. Ini ujian kesabaran dari Allah. 


Pagi ini kembali ke rumah. Melihat rumah dari luar rumah. Saya duduk di beton peninggalan proyek danau buatan di dekat rumah kami. Alhamdulillah sekarang tak ada banjir lagi. 

Kembali ke rumah membawa berkah. Ada datang buku dari penerbit dan percetakan.  Mas Fahri mengirimkannya dari Bogor. Kalau mau pesan dipersilahkan. Buku Catatan Harian Seorang Guru Blogger dan Menulislah Setiap Hari dan Buktikan apa yang terjadi. 

Besok kamis mengisi workshop di SMP Islam Panglima Besar Sudirman Bekasi. Pagi ini mempersiapkan rekaman video untuk acara masa pengenalan lingkungan sekolah di SMP Labschool Jakarta.

Semua kegiatan dilaksanakan secara virtual karena siswa belum boleh pergi ke sekolah. Kami masih belajar, bekerja dan beribadah dari rumah karena Jakarta masih zona merah. 


Kembali ke rumah membuat saya bahagia sekali. Melihat ikan berenang ke sana kemari. Melihat tanaman di halaman segar kembali. Setelah ini cuci mobil lalu mandi. 

Semoga anda para pembaca bahagia bersama keluarga tercinta. Kebahagiaan itu sederhana. Mulailah dari keluarga anda yang sakinah dan mawaddah. Sampai nanti ya! 

Salam blogger Persahabatan 

Omjay
Guru Blogger Indonesia

https://wijayalabs.wordpress.com/2020/07/08/kembali-ke-rumah/

Selasa, 07 Juli 2020

kembali ke kota Bandung

Kembali ke Kota Kembang Bandung.

Semalam kami sekeluarga kembali ke kota Kembang Bandung. Dari Garut menuju Bandung,  kendaraan padat merayap. Sempat kena macet ketika mau masuk tol Purbalenyi. 

Kami mampir mengisi bensin dan ke toilet sebentar yang ada di jalan raya Rancaekek. Toiletnya bagus dan bersih. Petugasnya ramah dan kita diminta donasi kebersihan Rp. 2000 per orang. 

Hampir saja saya terlupa.  Kalau malam ini ada dua kuliah online. Pertama lewat wa group belajar menulis dan kedua lewat aplikasi Microsoft terms. 

Pak Edi S Mulyanta sudah siap berbagi ilmunya di wa group. Beliau menulis panjang lebar tentang berbagai permasalahan penerbit dan solusinya. Semua peserta bisa bertanya sepuasnya. Tapi sayang dibatasi oleh waktu. Dua jam lebih berjalan terasa kurang. 

Hal yang menarik juga omjay rasakan di kelas Microsoft office 365. Pak Agus menjadi narasumbernya dan dibimbing oleh ibu Roulina. Saya baru sekedar menyimak saja. Belum terlibat aktif di dalamnya.  Banyak traiber hebat yang siap berbagi ilmunya. 


Untungnya saya sudah sampai rumah kakak ioar di Bandung. Jadi tak mengalami kendala akses internet. Laptop saya buka untuk mengawasi jalannya kuliah online di wa group guru menulis gelombang 13 dan 14. Sedangkan HP saya gunakan untuk belajar Microsoft office 365. Alhamdulillah semua dapat berjalan lancar. Hanya saja saya tak bisa mengikuti sampai selesai di kuliah Microsoft karena sudah mengantuk. 

Kembali ke kota Bandung sudah mulai sibuk. Pagi hari wa grup diserbu banyak pesan. Ada yang mengucapkan terima kasih karena sertifikat webinar nasiobal peran guru TIK PGRI sudah diterima dengan baik.  Ada juga yang mengirimkan pesan belum menerima di emailnya. Lalu saya jawab satu persatu pesan itu. 

Pagi ini mau jalan kaki dulu untuk berolahraga pagi. Pukul 09.00 wib akan ada webinar di Labschool Jakarta.  Mohon maaf bila semua pesan belum dibalas satu persatu. Sebab istri sudah setia menunggu. 

"Ayah ayo kita berangkat!"  Itulah perkataan sayang istriku.  Sampai nanti ya! 


Salam Blogger Persahabatan 

Omjay
Blog http://wijayalabs.com

Rabu, 27 Mei 2020

Guru Kreatif di Masa Pandemi

Guru Kreatif di Masa Pandemi. Sekarang ini sedang dicari Mas menteri. Hal itulah yang saya lihat kini. Terkuak dari guru yang terpilih bertemu mendikbud Nadiem Makarim lewat online hari ini.

Malam ini saya tak bisa tidur. Istri juga demikian. Padahal ruangan kamar kami ber-AC tapi badan serasa panas. Keringat dingin keluar dari leher dan punggung belakang. Akhirnya kita ngobrol aja sampai pagi.
Saya memutar kembali video percakapan mendikbud dengan para guru inspiratif dan murid yang kreatif. Surat mereka terpilih untuk bertemu dengan mendikbud secara online. Wow inspiratif sekali isinya.

Ibu Santi dari Nganjuk Jawa Timur dan Ibu Maria dari Nusa Tenggara Timur benar benar sangat menginspirasi kami guru-guru di kota besar seperti Jakarta. Kedua guru ini memang layak diberi apresiasi oleh mas menteri.
Saya termasuk guru yang harus banyak bersyukur. Saat pandemi virus Corona merajalela, saya masih bisa berkomunikasi dengan guru dan peserta didik. Akses internet cepat di rumah sangat membantu saya dalam belajar dan mengajar dari rumah. Bahkan beribadah dari rumah.

Terima kasih ya Allah. Di saat banyak orang mengalami kesulitan, saya justru diberikan kemudahan. Berbeda dengan kawan-kawan guru di daerah 3T yang akses internetnya sering menghilang. Jadi teringat sewaktu diundang oleh Pak Mario Teguh. Kita harus menjadi sosok manusia yang kreatif.
Dalam kondisi fasilitas yang tak sama antara guru di kota dan di desa, membuat kita menjadi guru kreatif. Ketiadaan fasilitas dan kemewahan fasilitas membuat kita berpikir keras menciptakan pola pembelajaran yang efektif dari rumah. Terkadang dalam posisi sulit kita justru jadi kreatif.

Kegiatan belajar menulis dan menerbitkan buku sudah semakin banyak peminatnya. Mereka tak membayar satu rupiahpun. Guru hanya menyiapkan kuota internet agar bisa menyerap ilmu yang ada di whatsapp group. Para narasumber nasional sudah siap berbagi ilmunya.
Kemampuan membaca guru sangat penting agar bisa menulis. Mereka yang banyak membaca pasti akan mampu menulis. Hal itu perlu dilatih setiap hari. Sebab menulis adalah sebuah keterampilan.

Cara saya melatih menulis adalah dengan mengajak guru membuat blog gratis di internet. Kawan kawan guru bisa belajar menulis di blog. Guru dapat memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran online.
Selain itu, guru bisa pesiar dari pulau ke pulau. Indonesia adalah negara kepulauan. Perlu waktu 37 tahun untuk menjelajahi semua kota di Indonesia dengan menginap semalam. Dengan blog anda bisa piknik kesana dan kemari.
Dari bangun tidur sampai tertidur lagi sudah banyak blog saya kunjungi. Dari Aceh hingga Papua saya lalui dalam hitungan menit saja. Inilah salah satu keajaiban blog. Kita bisa saling berkunjung ke blog guru lainnya. Bahasa Inggrisnya Blog Walking. Saling berkunjung ke blog orang lain.
Malam ini menjelang waktu dinihari. Pukul 01.57 wib saya membaca blog ibu Herlina yang menginspirasi. Beliau seorang guru di Batam kepulauan Riau. Anda bisa berkunjung dan memberikan komentar ke blog http://herlinadk.blogspot.com.
Seandainya semua guru rajin menulis di blog, dan berbagi ilmunya lewat blog, maka dunia pendidikan Indonesia akan semakin maju. Tanpa diminta para guru menulis sendiri pengalamannya. Mereka saling berbagi pengalaman tanpa dipaksa atau dikasih hadiah kuota internet.
Saya mengajak para pembaca untuk membuat blog, dan mengisinya sedikit demi sedikit dengan kegiatan sehari sehari. Hal itulah yang saya lakukan hingga terbit 14 buku. Buku yang baru saja saya terbitkan adalah Catatan harian Seorang Guru Blogger.


Wabah covid 19 ini membuat guru dipaksa kreatif dengan keadaan. Guru yang kreatif tak akan pernah menyerah. Mari kita tuliskan pengalaman itu di blog. Dokumentasikan semua kegiatan anda di blog sebagai alat rekam yang ajaib. Keajaibannya akan anda rasakan setelah anda menjadi blogger.

Dahulu blog hanya bisa berisi teks. Sekarang sudah bisa diisi foto dan video. Blog menjadi semakin menarik dengan pernak perniknya yang bisa diganti sesuai dengan keinginan hati. Berbagai template bisa anda pilih sesuka hati.
Selamat menulis di blog bapak dan ibu guru. Rasakan kenikmatan menulis setiap hari. Lalu perhatikan apa yang terjadi.
Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger Indonesia



Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Ketika Guru Inspiratif dan Murid kreatif diundang Wawancara dengan Mas menteri




Menarik sekali percakapan mas menteri dengan para guru dan murid yang terpilih. Mereka terpilih dari ribuan surat untuk mas menteri Nadiem Makarim. Ikut menonton kisah mereka, dan mendengar isi surat mereka, panitia surat untuk mendikbud memang tak salah pilih. Mereka memang sosok yang menginspirasi. Anda bisa melihat rekamannya di youtube.com



Dari mereka saya banyak belajar. Ternyata apa yang saya lakukan belum ada apa-apanya bila dibandingkan oleh mereka guru penggerak ini. Oleh karena itu saya banyak belajar dari pak Agus melalui tulisan beliau yang saya bagikan di WA Group belajar menulis dan menerbitkan buku.


Selain itu, saya juga banyak belajar dari pak Abdullah Hehamahua, mantan anggota KPK. Saya banyak belajar dari tulisan beliau. Berikut ini saya copas untuk anda baca.

NIKMATNYA TINGGAL DI KAMPUNG
Abdullah Hehamahua

     Kampung tempat saya tinggal sekarang namanya Rawadenok. Kelurahannya Rangkapan Jaya Baru, berada di Kecamatan Pancoran Mas, Kota Depok. Kiri kanan jalan dan pekarangan rumah penduduk, kehijauan masih kentara dengan adanya pohon belimbing dan jambu merah. Depok terkenal sebagai kota belimbing.

     Rumah saya, 31 km dari kantor KPK, kata kilometer mobil.  Secara teoritis, jarak tersebut bisa ditempuh dalam waktu 30 menit. Namun, saya harus tinggalkan rumah, tepat pukul 05.00. Tiba di kantor pukul 06.45. Budaya ini saya pelihara selama 12 tahun, 4 tahun di KPKPN dan 8 tahun sebulan di KPK. Biasa yang datang hampir bersamaan di kantor dengan saya adalah Pak Waluyo (Deputi Pencegahan), pak Jasin (wakil ketua), dan Dedy Rahim (Direktur Dikyanmas). Sekarang beliau menjabat Wakil Walikota Bogor. Pernah sekali, saya tinggalkan rumah pukul 05 lewat 5 menit karena waktu subuh, mundur. Dampaknya, saya perlu waktu hampir tiga jam untuk sampai kantor. Konsistensi tiba di kantor pukul 06.45, saya  siasati dengan kontrak rumah (sebelumnya sewa kamar) di daerah Bukit Duri, Bali Matraman, tidak jauh dari kantor.

     Jalanan umum, lebih tepat gang di Rawadenok cukup hanya untuk satu mobil sebesar milik saya, avanza. Saya perlu waktu sejam untuk sampai Margonda, jalan protokol di tengah bandar Depok.

Ronda Bersama

     Lapangan kerja yang terbatas, memicu penduduk mencari sesuap nasi dengan cara tidak terpuji. Mereka mencuri apa yang bisa dimanfaatkan, mulai dari sepeda, kambing sampai dengan motor. Mungkin mereka berpikir, kalau pejabat, Penyelenggara Negara dan ASN bisa mencuri uang rakyat milyaran rupiah, mengapa dirinya tidak bisa. Bukankah mereka lebih mengkhianati amanah rakyat.?

     Mengeliminasi maraknya pencurian, disepakati warga, ada kegiatan ronda malam. Mulai dari pukul 21.00 sampai menjelang subuh. Saya biasa dapat giliran malam ahad bersama dua orang muda lain. Sebab, pada hari Sabtu dan Ahad saya ada di rumah. Hari-hari lain, saya nginap di kontrakkan. Ketika ronda malam, kami biasa bergantian mengelilingi perkampungan RT kami. Seorang jaga di pos ronda dan dua orang berkeliling. Setiap sejam sampai dua jam, kami mengelilingi lingkungan RT. Mereka tidak tau kalau saya kerja di KPK. Kalau ditanya, saya hanya bilang, kerja di daerah kuningan. Hubungan, obrolan, bahkan dialog pun berlangsung lepas, santai dan penuh canda dan tawa. Inilah salah satu nikmat tinggal di kampung. Tidak ada saling mengkhianati seperti yang terjadi di pemerintahan dan legislative. 

     Namun, ketika muncul di kaca teve sebagai Ketua Komite Etik KPK (2011), saya tidak bisa lagi membohongi orang kampung. Padahal saya serius melaksanakan Kode Etik (tidak mengenalkan diri sebagai insan KPK ke siapa pun kecuali karena tugas) selama enam tahun. Apalagi, suatu hari ketika dalam perjalanan di gang sempit menuju jalan besar, ibu penjual nasi lemak, melompat ke tengah gang, menghadang mobil saya.  Breeek, saya injak pedal rem. Ibu itu menghampiri saya, sambil tangannya menari-nari: “Pakcik jangan boong lagi,” katanya dengan wajah serius. Sebelum saya bicara, beliau lanjutkan, “pakcik orang KPK kan ? Saya lihat di teve,” katanya memvonis saya. Beberapa detik, saya terdiam. Sambil jenaka saya bilang, “bu, yang di teve itu mungkin kembaran saya,” sambil  meninggalkan beliau. 

     Dampaknya, saya harus lebih telaten dalam berperilaku sehari-hari guna menjaga nama baik KPK. Suatu hari, di tikungan tajam, tetiba ada anak kecil turun dari sepedanya dan mencampakkannya  di jalan. Di gang sempit itu, saya tidak mungkin membanting setir ke kiri atau ke kanan jalan. Praaak, sepeda itu terkena ban mobil saya dan bengkok. Orang yang ada di situ tidak berkata apa pun. Mungkin mereka tau, anaknya salah. Bisa juga karena mereka sudah tau kalau saya orang KPK sehingga segan untuk menegur. Mungkin juga karena bapak itu biasa menjadi jamaah di mushalla berhampiran rumahnya ketika saya mengimami shalat subuh. Saya hanya minta maaf sambil meninggalkan tempat itu.

     Tiba di Pasar Rumput, Manggarai, saya menghentikan mobil persis di tempat penjualan sepeda anak-anak. Isteri yang sudah tau maksud saya, langsung turun dan membeli sebuah sepeda, serupa persis dengan yang ditabrak tadi. Hati saya lapang ketika menyaksikan anak seusia 4 tahun itu gembira ria waktu menerima sepeda baru. Selamatlah nama baik KPK, batinku. Inilah nikmat tinggal di kampung di mana tidak ada saling mengkhianati seperti yang terjadi di DPR yang mengesahkan sekian RUU pesanan asing dan aseng. 

Gotong Royong

     Kenikmatan lain tinggal di kampung, gotong royong di antara sesama penduduk se-RT. Got yang mampet, jembatan kayu yang rusak atau jalan berlobang, dibaiki penduduk kampung secara gotong royong. Biaya diperoleh dari tabungan beras perelek oleh warga RT. Di depan setiap rumah, digantung kaleng di mana sepekan sekali, petugas RT mengutip beras yang ada di dalamnya, tabungan penghuni rumah. Hasil penjualan beras perelek warga RT itulah yang digunakan untuk membiyai kegiatan gotong royong. Terkadang saya menghayal, Ketua RT lebih pantas menjadi Menteri Keuangan. Tidak perlu sekolah jauh-jauh di luar negeri kalau cuma  bisa minta utang luar negeri atau memakan riba bank. 

     Ketika gotong royong berlangsung, ada anak-anak datang ke Panitia, membawa sumbangan, mulai dari 5 ribu sampai seratus ribu rupiah. Sarapan dan makan siang disumbang oleh ibu-ibu di RT terkait. Sewaktu istirahat, saya langsung pulang karena memang sudah masuk  waktu dzuhur. Bukan menganggap makanan tersebut sebagai gratifikasi, tetapi  saya tidak tega mengkonsumsi hidangan dari penduduk yang penghasilannya cukup untuk keperluan sehari. Ketika bertugas di daerah, boleh dikata,  saya tidak makan di hotel. Saya memilih makan di kaki lima, baik di warteg maupun pecel lele. Selain meragukan kehalalan masakan hotel, saya selalu membayangkan bagaimana sebagian rakyat di Papua, Papua Barat, NTT dan Maluku, yang pagi makan, siang kelaparan. Tengah hari makan, malamnya tidur dengan perut keroncong. Saya tidak tega mengkhianati puluhan juta rakyat Indonesia yang karena pajak dan jerih payah mereka, saya memeroleh gaji setiap bulan. Pengkhianatan yang sekarang dilakukan pemerintah, DPR dan konglomerat, biarlah menjadi urusan mahasiswa dan Muhammad Nuh, buruh kasar di Jambi yang gagal masuk istana.

     Sewaktu orang yang dituakan di RT ke rumah  mengajak untuk makan bersama, luluh hati saya. Masyaa Allah, nikmatnya makan bersama di lantai dengan piring kaleng, daun singkong rebus dan ikan asin. Alam pikiran saya melayang jauh ke kota angin mamiri, puluhan tahun lepas ketika mengikuti Basic Training HMI di Fakultas Teknik UNHAS. Bukankah menu harian selama sepekan itu adalah ikan teri dan sayur kangkung.? Bukankah menu makanan seperti itu yang menjadikan saya seperti sekarang.? Timbul pertanyaan, apakah saudara Aksa Mahmud, jenderal polisi (purn) Chairuddin Ismail dan lain-lain yang mengikuti basic training bersama saya waktu itu masih ingat semuanya. Akhhh !!!. Mereka mungkin sudah mengikuti trend pengkhianat bangsa sehingga negara sekarang dibebankan utang sampai tahun 2050. Khayalan saya sirnah ketika Ketua RT menyodorkan bakul nasi ke saya. Inilah nikmatnya tinggal di kampung. “Nikmat Rabb-mu yang  manakah yang kamu dustakan,?” sabda Allah yang sampai mengulanginya sebanyak 31 kali dalam surah Ar Rahmaan.

Bersatu Menghadapi Virus China. 

     Gotong royong penduduk RW di tempat saya yang berjalan selama puluhan tahun, tetiba, retak karena ada pengkhianat bangsa yang masuk ke Depok melalui virus corona China. DKM di RT saya tetap melaksanakan shalat jum'at sekalipun ada edaran MUI yang oleh penguasa ditafsirkan sebagai penutupan masjid dan mushalla.  Sesudah shalat jum'at, satpol PP mendatangi pengurus DKM. Orang kampung lazimnya taat dan takut terhadap penguasa. Di masyarakat Indonesia, terkenal guyonan, perajurit lebih galak dari jenderal. Namun, pada rezim ini, mereka saksikan dengan penuh keheranan, ada jenderal yang lebih galak dari presiden, sampai-sampai beliau digelar Menteri Semua Urusan. 

     Hasilnya, DKM tidak melaksanakan shalat jum'at. Namun, shalat 5 waktu tetap dilaksanakan secara berjamaah. Saya pun shalat jum'at di rumah dengan anak-anak dan isteri. Jum'at berikutnya, pengurus mushalla Muhammadiyah meminta saya khutbah karena takut terkena hadis yang mengatakan, seseorang akan kafir fasik kalau tiga kali berturut-turut tidak shalat jum'at tanpa uzur. Menurut mereka, tidak ada uzur seperti yang disebutkan Rasulullah saw sehingga mereka wajib melaksanakan shalat jum'at berjamaah. Alhamdulillah, kami laksanakan shalat jum'at di mushalla. Jum'at berikutnya, DKM masjid dekat rumah mengeluarkan edaran, tidak ada shalat jum'at, tarwih, dan ittikaf.  Ketua DKM kerja di kantor Kelurahan dan sekretarisnya baru diterima sebagai dosen di salah satu universitas negeri Jakarta sehingga mereka berdua takut melawan bos.

     Menyadari tindakan Ketua dan Sekretaris DKM melanggar tradisi gotong royong karena edaran dikeluarkan tanpa musyawarah,  jamaah protes. Ketua Yayasan menghubungi saya, meminta saya menjadi khotib pada jum'at pertama, ramadhan. Alasan mereka, sama, tidak ada uzur apa pun seperti yang dimaksud Rasulullah saw. Apalagi di masjid diterapkan protokol virus corona: ada penyeteril tangan di masjid, jamaah mengenakan masker serta membawa sajadah masing-masing. 

     Aplikasinya, semua jamaah kerja sama melawan virus corona China dengan cara tetap shalat jum'at, tarwih, ittikaf, dan shalat idul fitri di masjid dan lapangan. Inilah nikmat tinggal di kampung, yang jarang diperoleh di bandar. Maknanya, jika kerjasama berpandukan al Quran dan as sunnah, maka pengkhianat sekelas apa pun, dapat dikalahkan.  In shaa Allah  !!!

Idul Fitri di Lapangan

     Jamaah Muhammadiyah meminta saya untuk khutbah di lapangan. Ini tradisi dari dulu. Alasan mereka sama, tidak ada uzur syar’i untuk tidak shalat Idul Fitri di lapangan. Apalagi Fatwa MUI yang terbaru, di zona hijau, dapat dilaksanakan shalat di lapangan atau masjid.

     Di atas podium, saya tertegun menyaksikan seorang nenek di atas kursi roda, didorong cucunya untuk bernaung di bawah pohon karena sinar matahari mulai menerpa jamaah. Menyaksikan hal itu, sambil menyampaikan khutbah, saya membatin, “ya Allah, jika dengan peristiwa ini, saya terpapar virus corona sehingga mencapai ajalku, saya ikhlas menghadap-Mu.”

     Usai khutbah, sebagian besar jamaah menyalami saya. Saya menyambutnya dengan gembira karena sudah mengenakan sarung tangan dan masker. Di rumah, tetangga datang bersilaturrahim, ciri khas masyarakat kampung, sekalipun tetap memerhatikan protocol virus corona China. Ya Allah, betapa nikmatnya hubungan silaturrahim yang ikhlas, polos dari masyarakat kampung. Saya tidak tau, apakah masih menemui nikmatnya tinggal kampung tahun depan. Namun, saya tetap berharap untuk menjadi orang kampung, sampai kapan-kapanpun. Wallahu’alam

Rawadenok, 2 Syawal 1441H

Membaca tulisan beliau, saya banyak belajar menjadi orang yang jujur dan mampu menjadi teladan buat sesama. Hari ini pun saya menonton acara presiden Jokowi, dimana kita akan memasuki dunia baru. Pak Jokowi memastikan kesiapan kita menuju kenormalan baru. Kota Bekasi Jawa Barat akan menjadi contoh untuk kota lainnya. Videonya dapat anda saksikan di sini.


Hari ini saya juga belajar mengembangkan jiwa enterpreneurship pada ibu Elly Mahayani melalui tulisan beliau di blog,  https://cening-mai-melajah.blogspot.com/2020/05/mengembangkan-jiwa-enterpreneur-siswa.html?m=1 

Juga cerita ibu Fatma di blognya https://fatmaeviana.wordpress.com/2020/05/26/cerita-pagi-hari-ke-3-setelah-lebaran-1441-h

Cerita ibu Tini Andriani juga bagus di blognya, https://tinamenulis2020.wordpress.com/2020/05/26/rindu-terhalang-pandemi/

Kisah pengalaman ibu Dayu di blog https://dayusastrika-gurukimia.blogspot.com/2020/05/menciptakan-suasana-belajar-siswa.html?m=1

Sudah hampir memasuki bulan ketiga kita melakukan kegiatan di rumah, baik itu bekerja dari rumah, sembahyang dari rumah dan belajar dari rumah. Hal ini dilakukan untuk mencegah penularan virus corona yang sedang melanda di seluruh dunia. Tidak terkecuali saya sebagai seorang guru yang mengajar di sekolah menengah atas tepatnya di SMA Negeri 2 Negara dengan kesungguhan hati menjalankan tugas mengajar dari rumah.

Sebagai seorang guru mempunyai tanggung jawab yang cukup berat dalam melakukan pembelajaran daring di saat situasi seperti sekarang ini, selain memperhatikan situasi dan kondisi peserta didik juga kendala atas kemampuan para guru dalam memanfaatkan tekhnologi. Karena tidak semua guru mahir dalam tekhnologi artinya kemampuan untuk menafaatkan aplikasi-aplikasi yang ada, dibutuhkan waktu untuk belajar, tidak semua guru mampu membeli kuota dan memiliki jaringan internet yang bagus.

Pembelajaran yang kami lakukan hanya lewat WA grup, link sumber belajar yang bisa dimanfaatkan untuk belajar peserta didik saya bagikan. Jika ada peserta didik yang bermasalah karena jaringan internet tidak bagus saya berikan file bahan ajar yang bisa di pelajari oleh peserta didik secara offline.  Lembar kerja peserta didik saya bagikan untuk evaluasi. Lembar kerja ini dikerjakan oleh peserta didik secara bertahap. Saya menganjurkan peserta didik membuat blog untuk menjawab lembar kerja peserta didik. Banyak siswa bertanya bagaimana cara membuat blog, dengan bertanya artinya ada respon positif dari siswa untuk membuat blog. Saya serahkan ke peserta didik untuk berupaya membuat blog, alhasil sudah ada beberapa yang melaporkan bahwa sudah membuat blog. Salah satu alamat blog siswa: Putriardityaratnasari.blogspot.com dan bagi peserta didik yang belum sanggup membuat blog, banyak alternative yang saya berikan untuk mereka membuat tugas, misalnya membuat di kertas double folio lalu difoto kemudian kirim lewat wa pribadi,  atau diketik kemudian kirim  lewat email.

Tulisan Ibu Endah Ekowati juga sangat menginspirasi di WA Group gelombang 10.

Hari penuh Kenangan.

Hari Lebaran kedua adalah hari yang bahagia bagi keluarga kecilku... karena putri bungsuku dilamar dengan menggunakan media komunikasi Zoom. 

     Tepat pukul 12.00 WITA panas udara Sumbawa Barat tidak terasa saat undangan dari anak bungsuku yang ngak bisa pulang mudik karena korona membuat aku terhendak dari rebahanku, lalu kubaca WA berisi link undangan masuk Zoom dengan massage " mama masuk sekarang ngih " .

Kemudian dengan perasaaan berdebar-debar aku buka Zoom di laptop untuk suamiku dan aku gunakan hp jreng jreng... disana sudah ada calon mantu dan anak bungsuku kemudian muncul juga anak sulungku yang tinggal di Bandung, muncul juga adik kandung, semua akan menyaksikan apa yang akan terjadi di ruang meeting ini, sambil menunggu keluarga dari calon mantu.

Alhamdulillah, sekitar 15 menit kami bersilatuhrahmi dengan saling mengucapkan mohon maaf lahir batin dan menanyakan kabar masing-2. Dengan masuknya adik Bintang dari Gorontalo dan Ibunya Bintang maka terungkaplah maksud pertemuan ini selain silahturahmi Bintang mekinta secara resmi anak busungku untuk menjadi calon istrinya. Suamiku mulai menjawab dan menanyakan pada anak bungsuku.... 

Alhamdulilah tidak lama jawaban ya pa aku siap menjadi pendamping Bintang sebagai istrinya ... aku cuma bisa menangis dan rasa syukur dari mulutku berkali kali terucap Alhamdulilah ya Roob ... semoga semua berjalancar. Singkat cerita acara akad nikah Insha Allaah 16 Agustus 2020 di Tangerang Jakarta. Mohon Doa Restu semoga nanti acara berjalan lancar Yaa Roob. Aamiin

Hari ini saya banyak belajar dari tulisan orang lain. Tak salah bila waktu saya habis untuk terbang dari Aceh hingga Papua. Saya terbang memalui tulisan mereka di blog. Indah sekali bisa berkunjung ke blog guru-guru hebat ini. Semoga dapat saya lakukan terus setiap hari. Saya seperti melakukan pesiar ke antar pulau di Indonesia.

Informasi kegiatan belajar menulis dan menerbitkan buku dari Omjay sudah disampaikan melalui Youtube. Mohon semua peserta menonton acara ini, https://www.youtube.com/watch?v=pZkfmDQ9WnA.



Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Selasa, 26 Mei 2020

Kisah Omjay di Lebaran Virtual

Alhamdulillah kita telah memasuki hari lebaran ketiga di bulan Syawal. Baru saja saya siaran langsung di http://youtube.com/wijyalabs. Sekedar menyapa dan memberitahukan isi email peserta belajar menulis dan menerbitkan buku. Alhamdulilah lumayan banyak yang menyimak. Anda bisa menonton siaran ulangnya di link yang saya bagikan ini. Kita bisa berlebaran virtula walaupun tak bisa bertemu secara langsung.


Ayo kita semangat menerbitkan buku baru. Kita harus menjadi penulis yang produktif. Seperti pak Brian yang meluncurkan buku terbarunya hari ini di WA Group belajar menulis dan menerbitkan buku PGRI. Masih murah harga bukunya. Harga Promosi hanya Rp. 45.000,-



BOOK LAUNCHING !!

TELAH TERBIT


AKSI LITERASI GURU MASA KINI


Buku ini berisi pengalaman membangkitkan gerakan literasi sekolah. Berbagai inovasi kegiatan yang menumbuhkan minat literasi siswa SD. 

Salah satunya adalah program siswa menulis buku. Apakah bisa ? Bagaimana prosesnya ?

Dapatkan buku ini selagi masih masa promosi.

Judul: Aksi Literasi Guru Masa Kini
Penulis: Raimundus Brian Prasetyawan, S.Pd
Tebal: viii + 94 halaman
Penerbit: Gemala
Tahun Terbit: Mei 2020

Semoga setelah hari raya idul fitri ini semakin banyak guru yang menerbitkan buku baru. Semua itu terjadi kalau kita fokus untuk menyelesaikan bukunya. Terkadang penyakit malas menyerang diri. Akhirnya buku yang akan diterbitkan tidak pernah jadi. Dalam lebaran virtula ini kita saling mengingatkan agar dapat menyelesaikan buku yang akan diterbitkan.

Selamat lebaran virtual bersama keluarga tercinta. Walau jarak kita berjauhan, kita masih bisa saling jumpa. Saya juga kemarin pakai aplikasi zoom dengan adik-adik saya yang ada di banjarbaru, depok dan Jakarta timur. Sementara saya dari Jatibening Bekasi. 



Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com

Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Lebaran Idul Fitri Hari Ketiga


Tak terasa sudah hari ketiga lebaran Idul Fitri 1441 Hijriah. Rasanya baru kemarin kita berlebaran. Begitu cepat waktu berputar dan tak akan pernah kembali lagi. Oleh karenanya, mari kita isi kegiatan hari ini dengan kegiatan yang bermanfaat untuk sesama. Belajar, Bekerja, dan Beribadah dari rumah. Semoga menjadi karya nyata kita setelah berhari raya.

Hari ini omjay bangun untuk makan sahur. Biasanya kita makan sahur bersama. Kini omjay makan sahur seorang diri. Anak dan istri masih tidur. Sudah omjay bangunkan untuk makan sahur. Kita akan mulai berpuasa 6 hari di bulan syawal. Rupanya mereka masih mengantuk. Jadi tidak ikutan makan sahur. Omjay makan sahur pakai opor ayam. Segelas air putih hangat melegakan tenggorokan.

Semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin. Mari kita niatkan karena Allah. Semoga pula kegiatan hai ini lebih menarik dan lebih bermanfaat untuk semua. Pasti akan banyak cerita dituliskan di alat rekam yang ajaib. Menulis di blog menjadi kegiatan rutin yang tidak pernah terlupakan. Semoga bisa siaran live di youtube.com. Sampai nanti ya! 


Salam Blogger Persahabatan
Omjay
http://wijayalabs.com 

Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Senin, 25 Mei 2020

Lebaran Idul Fitri Hari Kedua

Hari Kedua di bulan Syawal.

Biasanya saya dan keluarga langsung puasa 6 hari di bulan syawal setelah lebaran hari kedua. Apalagi sekarang kami tidak bisa kemana mana. Lebaran idul fitri tahun ini di rumah aja.

Kemarin kami sekeluarga siaran langsung lewat http://youtube.com/wijayalabs. Suasana rumah yang tadinya sepi jadi ramai ketika banyak yang memberikan ucapan selamat hari raya idul fitri secara langsung.



Silahturahim dengan keluarga besar juga dilakukan lewat internet. Senang banget kami bisa berkumpul bersama walaupun hanya bertatap maya lewat internet. Jarak yang jauh serasa dekat. Tanpa mudik kami bisa kumpul walaupun hanya lewat dunia maya.