Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 18 Juni 2026

Peluncuran Buku Terbaru Omjay

Menulis dengan Hati di Era AI: Kisah Omjay Meluncurkan Empat Buku Sekaligus

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

"Meluncurkan satu buku itu biasa. Meluncurkan empat buku sekaligus, itu baru luar biasa." — Omjay

Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Melalui sebuah acara daring yang disiarkan langsung di YouTube, saya berkesempatan meluncurkan empat buku sekaligus hasil perjalanan panjang sebagai guru, penulis, blogger, dan pegiat literasi Indonesia. Acara tersebut menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat terwujud ketika seseorang mau menulis setiap hari dan tidak pernah menyerah.

📺 Tonton rekaman acaranya di sini:


Menulis Adalah Perjalanan Hidup

Banyak orang bertanya kepada saya, "Omjay, bagaimana caranya bisa menulis begitu banyak buku?"

Jawaban saya sederhana.

Saya tidak pernah memulai dengan tujuan menjadi penulis terkenal. Saya hanya ingin mencatat pengalaman hidup sebagai guru. Setiap hari saya menulis. Kadang hanya beberapa paragraf. Kadang satu artikel penuh. Kadang menulis ketika sedang bahagia. Kadang menulis ketika sedang sedih.

Lama-kelamaan tulisan itu menumpuk menjadi ribuan artikel di blog. Dari blog itulah lahir banyak buku.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki cerita. Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya cerita, tetapi mau atau tidaknya kita menuliskannya.

Menulis bukan tentang bakat semata. Menulis adalah soal kebiasaan.

Karena itulah salah satu buku yang saya luncurkan berjudul "Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi." Buku ini lahir dari pengalaman nyata seorang guru biasa yang menemukan keajaiban melalui konsistensi menulis setiap hari.


Empat Buku, Empat Pesan Kehidupan

Dalam acara peluncuran tersebut saya memperkenalkan empat buku yang memiliki benang merah yang sama, yaitu tentang pengabdian, pendidikan, dan kekuatan menulis.

1. Labschool Rumah Keduaku

Buku ini adalah catatan perjalanan lebih dari tiga dekade saya mengabdi di SMP Labschool Jakarta.

Labschool bukan sekadar tempat saya bekerja. Labschool adalah rumah kedua. Tempat saya belajar menjadi guru yang sesungguhnya. Tempat saya tumbuh bersama siswa, rekan guru, dan seluruh keluarga besar sekolah.

Dalam buku ini saya berbagi kisah tentang pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter, kejujuran, disiplin, dan kepedulian sosial.


2. Menulislah dengan Hati

Buku ini sangat personal bagi saya.

Di era kecerdasan buatan (AI), banyak orang dapat menghasilkan tulisan dengan cepat. Namun saya percaya ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi, yaitu hati manusia.

Tulisan yang lahir dari pengalaman, kejujuran, perjuangan, dan ketulusan akan selalu memiliki ruh yang menyentuh pembacanya.

Melalui buku ini saya ingin mengajak guru, siswa, dan masyarakat untuk tetap menulis dengan hati. AI boleh membantu, tetapi hati tetap menjadi sumber utama inspirasi.


3. Kasta Tertinggi Seorang Guru

Ketika mendengar judul buku ini, banyak yang penasaran.

Apa sebenarnya kasta tertinggi seorang guru?

Bukan jabatan.

Bukan pangkat.

Bukan gelar akademik.

Kasta tertinggi seorang guru adalah ketika ilmunya terus hidup dalam diri murid-muridnya.

Seorang guru sejati meninggalkan warisan berupa ilmu, karakter, dan keteladanan. Ketika murid-muridnya berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat, saat itulah seorang guru mencapai kasta tertingginya.


4. Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Buku ini menjadi semacam autobiografi sederhana perjalanan saya sebagai guru blogger Indonesia.

Saya ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa siapa pun bisa menjadi penulis.

Tidak harus hebat terlebih dahulu.

Tidak harus sempurna terlebih dahulu.

Mulailah dari apa yang ada.

Tulislah pengalaman hari ini.

Tulislah apa yang dipelajari hari ini.

Tulislah apa yang dirasakan hari ini.

Lalu lakukan setiap hari.

Suatu saat Anda akan terkejut melihat hasilnya.


Kehadiran Para Tokoh Pendidikan

Acara peluncuran buku menjadi semakin istimewa karena menghadirkan para tokoh pendidikan yang memberikan apresiasi dan bedah buku.

Salah satunya adalah Prof. Dr. Cepi Riyana, M.Pd., pakar teknologi pendidikan yang dikenal luas melalui karya-karyanya di bidang pendidikan digital dan kecerdasan artifisial. Beliau memberikan pandangan menarik tentang pentingnya guru terus berkarya dan menulis di era AI.

Kehadiran para narasumber membuat saya semakin yakin bahwa budaya literasi harus terus ditumbuhkan di kalangan guru Indonesia.

Guru tidak cukup hanya mengajar.

Guru juga perlu menulis.

Karena tulisan akan membuat pengalaman mengajar menjadi warisan yang tidak lekang oleh waktu.


Menulis di Era AI

Saat ini kita hidup di era yang sangat berbeda.

Kecerdasan buatan berkembang sangat cepat.

Banyak pekerjaan yang dahulu dilakukan manusia kini dapat dibantu teknologi.

Namun saya selalu mengatakan kepada para guru:

"AI adalah alat, bukan pengganti."

Teknologi dapat membantu mencari informasi.

Teknologi dapat membantu menyusun ide.

Teknologi dapat membantu mempercepat proses penulisan.

Tetapi pengalaman hidup, empati, ketulusan, dan nilai-nilai kemanusiaan tetap berasal dari manusia.

Karena itulah guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya.

Guru yang mampu memadukan teknologi dan hati akan menjadi guru yang relevan di masa depan.


Pesan untuk Para Guru Indonesia

Melalui peluncuran empat buku ini, saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana.

Jangan pernah meremehkan tulisan Anda.

Pengalaman yang menurut Anda biasa saja bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Cerita kecil di ruang kelas bisa menjadi pelajaran berharga bagi guru di daerah lain.

Kesalahan yang pernah kita alami bisa menjadi hikmah bagi banyak orang.

Mulailah menulis.

Tidak perlu menunggu sempurna.

Tidak perlu menunggu punya banyak waktu.

Mulailah hari ini.

Tulislah satu paragraf.

Besok satu paragraf lagi.

Lakukan terus menerus.

Karena menulis bukan perlombaan cepat, melainkan perjalanan panjang yang penuh makna.


Penutup

Ketika acara peluncuran berakhir, saya merenung sejenak.

Empat buku itu sesungguhnya bukan hanya kumpulan tulisan.

Empat buku itu adalah rekaman perjalanan hidup.

Tentang pengabdian sebagai guru.

Tentang perjuangan menjaga semangat belajar.

Tentang keyakinan bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan.

Dan tentang harapan agar semakin banyak guru Indonesia yang berani menulis dan berbagi.

Saya hanyalah seorang guru biasa.

Namun menulis setiap hari telah membawa saya bertemu banyak orang hebat, berbagi inspirasi kepada ribuan guru, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Maka saya ingin mengajak Anda semua:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Karena siapa tahu, suatu hari nanti, tulisan Anda akan menjadi cahaya yang menerangi jalan orang lain. ✍️📚

Salam Literasi,
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.