Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com
Tampilkan postingan dengan label kisah Omjay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah Omjay. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Oktober 2026

Belajar Mengenal ccNSO di ICANN87 Bali

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



Belajar Mengenal ccNSO di ICANN87 Bali: Kisah Omjay Memahami Rumah Besar Pengelola Domain Internet Dunia

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Ada banyak hal yang baru kita pahami ketika bersedia melangkah keluar dari ruang kelas, meninggalkan rutinitas pekerjaan, dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serta pengetahuan berbeda. Bagi saya, perjalanan ke Bali untuk mengikuti kegiatan ICANN87 menjadi kesempatan berharga untuk belajar tentang dunia internet dari sudut pandang yang lebih luas.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya sudah lama mengajarkan kepada murid-murid tentang jaringan komputer, internet, nama domain, alamat IP, keamanan digital, dan berbagai teknologi yang mendukung kehidupan modern. Namun, mengikuti kegiatan internasional seperti ICANN87 membuat saya semakin menyadari bahwa internet bukan sekadar jaringan yang menghubungkan komputer dan telepon pintar. Di balik kemudahan kita membuka sebuah situs web, ada sistem global, organisasi, kebijakan, dan kerja sama banyak pihak yang memastikan internet tetap berjalan.

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah presentasi berjudul Introduction to the ccNSO, yang disampaikan oleh Biyi Oladipo dari .ng, Wakil Ketua Dewan ccNSO. Materi ini membuka wawasan saya tentang peran organisasi pengelola domain negara dalam ekosistem internet dunia.

Saya pun berpikir, pengetahuan seperti ini sangat penting dibagikan kepada guru, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat Indonesia agar kita tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga memahami bagaimana internet dikelola.

Mengenal ccNSO, rumah bersama pengelola domain negara

Apa itu ccNSO?

ccNSO merupakan singkatan dari Country Code Names Supporting Organization. Organisasi ini merupakan bagian dari struktur multistakeholder ICANN dan menjadi wadah bagi para pengelola country code top-level domain atau ccTLD.

Agar lebih mudah dipahami, mari kita mengenal contoh nama domain yang sering dijumpai ketika berselancar di internet.

Domain .id digunakan untuk Indonesia. Domain .jp berkaitan dengan Jepang, .uk dengan Britania Raya, .au dengan Australia, dan .ng dengan Nigeria. Sementara itu, .cn digunakan untuk Tiongkok dan .de untuk Jerman.

Bagian akhir dari nama domain tersebut bukan sekadar rangkaian huruf. Domain negara membantu menunjukkan identitas negara atau wilayah di ruang digital.

Organisasi atau entitas yang mengelola domain tingkat atas berkode negara memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan domain tersebut dikelola dengan baik. Melalui ccNSO, para pengelola domain dapat bertukar pengalaman, membahas persoalan bersama, serta berkontribusi dalam pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan ccTLD.

Dari materi yang saya pelajari, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan komunikasi, kerja sama, dan kesediaan mendengarkan berbagai kepentingan.

Inilah pelajaran penting dari model tata kelola internet yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Domain negara memiliki peran strategis

Dalam presentasinya, ccNSO menampilkan data mengenai kekuatan domain tingkat atas. Lima dari sepuluh domain tingkat atas terbesar dalam daftar yang ditampilkan merupakan ccTLD. Materi tersebut juga menunjukkan bahwa ccTLD mencakup hampir 40 persen pendaftaran domain dalam gambaran pasar yang digunakan pada presentasi.

Data itu merujuk pada laporan kuartal kedua tahun 2026 dari Verisign DNIB.

Angka tersebut membuat saya semakin memahami bahwa domain negara memiliki posisi penting dalam ekosistem internet. Domain negara bukan hanya identitas digital, melainkan juga bagian dari infrastruktur yang menopang aktivitas masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintahan, bisnis, dan berbagai layanan publik.

Bayangkan ketika sebuah sekolah memiliki situs web dengan domain .id. Melalui situs itu, sekolah dapat menyampaikan informasi kepada orang tua, menampilkan karya murid, memublikasikan kegiatan pembelajaran, dan memperkenalkan program pendidikan kepada masyarakat luas.

Demikian pula dengan lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, perusahaan, dan komunitas. Nama domain dapat membantu membangun identitas sekaligus memudahkan masyarakat menemukan layanan yang dibutuhkan.

Namun, kita perlu memahami bahwa penggunaan domain negara tidak dengan sendirinya menjamin sebuah situs aman atau tepercaya. Pengguna internet tetap perlu memeriksa alamat situs, memastikan keaslian layanan, dan menjaga data pribadi agar tidak dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai guru Informatika, saya ingin murid-murid memahami hal ini sejak dini. Mereka perlu mengetahui bahwa internet menawarkan banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan kecermatan dan tanggung jawab.

Setiap negara memiliki tantangan pengelolaan yang berbeda

Hal menarik lainnya dari presentasi ccNSO adalah penjelasan bahwa setiap pengelola domain negara memiliki karakteristik yang berbeda.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari wilayah geografis, model tata kelola, model pengelolaan registri, jumlah domain, hingga jumlah pegawai yang terlibat.

Artinya, pengelolaan domain sebuah negara tidak selalu dapat disamakan dengan negara lainnya. Kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, sumber daya manusia, struktur organisasi, dan kebijakan setempat dapat memengaruhi cara sebuah domain dikelola.

Saya melihat hal ini sebagai pelajaran yang sangat relevan bagi dunia pendidikan Indonesia.

Setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda. Ada sekolah dengan fasilitas komputer lengkap dan jaringan internet cepat. Ada pula sekolah yang masih berjuang mendapatkan akses internet stabil serta perangkat pembelajaran yang memadai.

Karena itu, ketika kita membicarakan transformasi digital, kita tidak boleh hanya berfokus pada teknologi yang digunakan. Kita juga harus memperhatikan kesiapan manusia, kebijakan, infrastruktur, dan kebutuhan masing-masing lingkungan.

Prinsip yang sama dapat kita pelajari dari pengelolaan domain negara. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan menggunakan satu pendekatan yang seragam.

ccNSO dan perannya dalam tata kelola internet global

Dalam struktur ICANN, ccNSO menjadi salah satu bagian yang mewakili kepentingan para pengelola domain negara.

Materi presentasi menjelaskan bahwa Dewan ccNSO terdiri atas 15 wakil terpilih dari lima wilayah geografis ICANN dan tiga anggota yang ditunjuk oleh Nominating Committee ICANN. Dewan ini bertugas mengoordinasikan urusan ccNSO dan memimpin pengembangan rekomendasi kebijakan.

Melalui mekanisme tersebut, berbagai pengalaman dari negara dan wilayah yang berbeda dapat dibawa ke dalam pembahasan bersama.

Bagi saya, inilah salah satu nilai penting dari tata kelola internet global: keputusan yang berdampak luas perlu dibicarakan dengan mempertimbangkan beragam perspektif.

Internet digunakan oleh masyarakat dengan bahasa, budaya, kebutuhan, dan tingkat perkembangan teknologi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembahasannya tidak cukup hanya melihat kepentingan satu negara atau satu kelompok.

Keterlibatan berbagai pihak membantu memperkaya sudut pandang dan membuka kesempatan untuk mencari solusi yang lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini sebenarnya sederhana. Ketika menghadapi masalah bersama, kita perlu mendengarkan pihak-pihak yang terdampak, memahami persoalan dari berbagai sisi, lalu mencari jalan keluar melalui dialog.

Dari keamanan domain hingga pemulihan bencana

Saya juga tertarik ketika presentasi menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi komunitas ccNSO.

Beberapa di antaranya adalah menjaga ketahanan layanan ketika terjadi gangguan, mengatasi penyalahgunaan nama domain, meningkatkan keamanan operasional, memperluas penerimaan universal, serta mendukung tata kelola internet yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Ada pula kelompok kajian dan komite yang membahas berbagai persoalan, termasuk pemulihan bencana, keamanan operasional, penyalahgunaan DNS, dan penerimaan universal.

Apa maknanya bagi masyarakat biasa?

Ketika kita mengetik alamat situs web, kita berharap situs itu dapat dibuka dengan cepat dan aman. Kita jarang memikirkan apa yang terjadi ketika suatu layanan mengalami gangguan, infrastruktur terdampak bencana, atau sebuah nama domain disalahgunakan untuk menipu pengguna.

Padahal, di balik pengalaman sederhana tersebut terdapat pekerjaan teknis dan koordinasi yang sangat penting.

Misalnya, seseorang menerima pesan yang mengatasnamakan bank dan diminta mengeklik tautan tertentu. Sekilas, alamat situs pada tautan itu mungkin terlihat meyakinkan. Namun, jika ternyata mengarah ke situs palsu, pengguna dapat kehilangan kata sandi, informasi pribadi, bahkan akses ke rekeningnya.

Oleh sebab itu, keamanan internet tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola infrastruktur. Pengguna juga harus meningkatkan literasi digitalnya.

Di sekolah, murid perlu dibiasakan memeriksa alamat situs, mengenali tautan mencurigakan, tidak sembarangan memberikan kode OTP, menggunakan kata sandi yang kuat, serta mengaktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia.

Teknologi keamanan harus berjalan bersama pendidikan karakter digital.

Kita tidak cukup hanya mengajarkan murid menggunakan aplikasi. Kita juga harus membentuk kebiasaan agar mereka mampu menggunakan teknologi dengan aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Mengapa guru Informatika perlu belajar tata kelola internet?

Sebagai guru Informatika, saya merasa pembelajaran di kelas harus terus berkembang mengikuti perubahan teknologi.

Dahulu, pembelajaran TIK mungkin lebih banyak berfokus pada penggunaan komputer, aplikasi perkantoran, dan keterampilan dasar mengakses internet. Kini, murid perlu memahami lebih banyak hal, termasuk keamanan siber, identitas digital, privasi, kecerdasan artifisial, dan bagaimana layanan internet dikelola.

Materi mengenai ccNSO dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan konsep nama domain, DNS, dan tata kelola internet.

DNS atau Domain Name System merupakan sistem yang membantu menerjemahkan nama domain, seperti alamat situs yang mudah diingat manusia, menjadi informasi yang diperlukan agar perangkat dapat menemukan layanan internet yang dituju.

Tanpa perlu membahas seluruh kerumitan teknisnya sekaligus, guru dapat mengajak murid melakukan simulasi sederhana. Mereka dapat membandingkan nama domain, mengenali ekstensi domain negara, dan mendiskusikan mengapa sebuah situs perlu memiliki identitas yang jelas.

Pembelajaran kemudian dapat dikembangkan menjadi proyek kecil. Murid diminta merancang situs web sekolah fiktif, menentukan nama domain yang sesuai, membuat aturan keamanan, dan menyusun panduan untuk mencegah penipuan digital.

Dengan cara ini, konsep yang awalnya terasa jauh dan rumit menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Saya percaya pembelajaran Informatika akan lebih bermakna ketika murid tidak hanya menghafal istilah, tetapi juga memahami manfaat dan dampaknya bagi masyarakat.

Memulai dari langkah kecil untuk berkontribusi secara global

Satu hal yang menggugah perhatian saya dari presentasi tersebut adalah ajakan agar masyarakat memulai dari langkah kecil untuk berpartisipasi dalam komunitas global.

Materi ccNSO mendorong calon peserta untuk mengikuti pertemuan publik ICANN, menghadiri sesi terbuka ccNSO secara langsung atau daring, mengikuti buletin informasi, dan membangun hubungan dengan pengelola ccTLD di wilayah masing-masing.

Bagi saya, pesan tersebut sangat dekat dengan dunia pendidikan.

Tidak semua orang harus langsung menjadi pakar teknologi atau pengambil kebijakan internasional. Kita dapat memulai dengan membaca, bertanya, mengikuti diskusi, membagikan pengetahuan, dan membangun komunitas belajar.

Sebagai guru, saya dapat membawa pengetahuan yang diperoleh dari ICANN87 ke ruang kelas dan komunitas pendidikan. Saya dapat menulis artikel, berdiskusi dengan rekan guru, serta mengajak murid melihat internet dari perspektif yang lebih luas.

Saya juga dapat menghubungkan pembelajaran tersebut dengan kegiatan literasi digital, coding, dan kecerdasan artifisial yang semakin penting di sekolah.

Dari langkah kecil itulah, pengetahuan dapat menyebar dan memberi manfaat kepada lebih banyak orang.

Bali menjadi ruang belajar yang membuka wawasan

Mengikuti ICANN87 di Bali merupakan pengalaman yang mengingatkan saya bahwa belajar tidak mengenal batas usia maupun profesi.

Seorang guru tidak boleh berhenti belajar setelah bertahun-tahun mengajar. Justru semakin lama kita berada di dunia pendidikan, semakin besar tanggung jawab kita untuk memperbarui pengetahuan dan membagikan pengalaman kepada generasi berikutnya.

Saya datang sebagai guru Informatika dari Indonesia. Saya belajar tentang pengelolaan domain negara, tata kelola internet, keamanan operasional, dan pentingnya kerja sama lintas wilayah.

Saya pulang membawa bahan refleksi untuk pembelajaran di sekolah dan tulisan untuk masyarakat.

Bagi saya, kesempatan mengikuti forum internasional bukan semata-mata tentang menghadiri acara atau memperoleh sertifikat. Hal yang lebih penting adalah apa yang dapat kita pelajari, bagaimana kita menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat, dan sejauh mana pengetahuan tersebut dapat dibagikan.

Ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada diri sendiri.

Penutup: Jadilah pengguna internet yang cerdas dan warga digital yang bertanggung jawab

Pengalaman belajar mengenai ccNSO di ICANN87 mengingatkan saya bahwa internet merupakan hasil kerja bersama banyak pihak. Ada pengelola domain, pengembang teknologi, organisasi internasional, pemerintah, komunitas teknis, dunia pendidikan, dan pengguna yang memiliki peran masing-masing.

Kita mungkin tidak terlibat langsung dalam rapat kebijakan internasional. Namun, kita tetap dapat mengambil bagian dengan menggunakan internet secara bertanggung jawab, menjaga keamanan data, menghargai privasi, dan meningkatkan literasi digital.

Sebagai guru, saya ingin murid-murid memahami bahwa internet bukan sekadar tempat mencari jawaban atau bermain gim. Internet adalah ruang digital yang membuka kesempatan untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Saya pun semakin yakin bahwa pendidikan Informatika harus mengajarkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Pendidikan ini juga harus menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama pengguna internet.

Dari Bali, saya belajar bahwa dunia digital sangat luas. Akan tetapi, untuk mengambil bagian di dalamnya, kita tidak harus menunggu menjadi orang hebat terlebih dahulu.

Kita bisa memulainya dengan belajar, berbagi, dan terus menulis.

Menulislah dengan hati, bagikan ilmu dengan tulus, dan jadilah guru yang terus belajar sepanjang hayat.

Salam blogger persahabatan,

Wijaya Kusumah (Omjay)

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia

Kisah Omjay: Menjadi Fellowship ICANN87 Bali

Tiba-tiba ada telpon masuk ke ponsel jadul Omjay. Mbak Ulfa dari PANDI atau pengelola nama domain Indonesia menelpon Omjay. Katanya Omjay diajak pergi ke Bali untuk mengikuti program fellowship kegiatan ICANN87 di Bali.



Tentu saja Omjay senang mendapatkan kabar gembira tersebut. Sebab sudah lama tidak pergi ke Bali. Apalagi pergi ke Bali gratis dimana semua tiket pesawat dan penginapan selama di Bali ditanggung PANDI. Omjay dikasih uang saku pula.

Fellowship adalah program pendanaan atau beasiswa yang diberikan kepada individu untuk mengembangkan bidang keilmuan atau proyek tertentu untuk pelatihan pembelajaran atau penelitian.

Program ini biasanya diselenggarakan oleh universitas atau lembaga penelitian atau organisasi internasional atau pemerintah dan lebih berfokus pada kontribusi peserta terhadap riset atau pengembangan profesional daripada pembiayaan pendidikan formal.

Omjay diminta membuat blog pribadi di https://wijayalabschool.my.id yang dikelola oleh PANDI dan dibantu pak Bambang atau Mr.Bams dari Bandung. Alhamdulillah bisa tayang di internet.

Ada 17 orang fellowship yang diberangkatkan PANDI ke Bali. Salah satunya adalah Omjay. Semalam kami dikumpulkan di ruang meeting hotel Tijili Bali untuk mendapatkan pengarahan dari pak Isnawan ketua PANDI.


Kami diminta menulis apa saja yang kami lihat di Bali selama pelaksanaan kegiatan ICANN87. ICANN adalah organisasi nirlaba yang mengelola sistem nama domain, alamat IP, dan parameter teknis internet secara global untuk menjaga stabilitas dan keamanan jaringan.

ICANN singkatan dari internet corporation for assigned names and numbers, didirikan pada 18 September 1998 sebagai organisasi nirlaba independen untuk mengelola sistem identifikasi unik di internet, termasuk domain names system atau DNS dana alamat IP yang sebelumnya dikoordinasikan oleh pemerintah Amerika Serikat dan organisasi lain.

Tujuan utama ICANN adalah memastikan internet tetap stabil, aman, dan dapat dioperasikan secara global.


Terpilih menjadi salah satu fellowship PANDI buat Omjay adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan. Omjay bersyukur kepada Allah SWT, dan semoga selama berada di Bali Omjay semakin sehat setelah terkena serangan stroke dan penyakit darah tinggi serta diabetes.

Selama seminggu Omjay berada di Bali dari 16 sampai 23 Oktober 2026, dan rencananya kembali ke Jakarta hari Jumat pagi pukul 07.00 WITA. 

Berikut ini suasana pagi di Bali yang diliput dan direkam Mr. Bams di channel youtubenya.

(1156) Pagi Hari di Hotel Tijili Bali - ICANN87 - YouTube


Salam Blogger Persahabatan 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Jumat, 16 Oktober 2026

kisah Omjay Selama Kegiatan icann87 di Bali

Kisah Omjay di Bali: Belajar Tata Kelola Internet di ICANN87, Membuka Wawasan untuk Pendidikan Indonesia

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Bismillah.

Perjalanan selalu menyimpan cerita. Bagi saya, perjalanan bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain, tetapi juga kesempatan untuk belajar, bertemu orang-orang baru, dan memperluas wawasan. Kali ini, perjalanan saya membawa saya ke Pulau Dewata, Bali, untuk mengikuti kegiatan internasional yang sangat menarik, yaitu ICANN87 Annual General Meeting.

Sebagai seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya merasa bersyukur mendapatkan kesempatan untuk belajar lebih jauh tentang dunia internet. Selama ini, kita menggunakan internet hampir setiap hari. Kita mencari informasi, mengirim pesan, mengikuti pembelajaran daring, menulis artikel, dan membagikan pengalaman melalui media sosial.

Namun, pernahkah kita bertanya, siapa yang mengatur agar internet dapat bekerja dengan baik? Bagaimana nama domain sebuah situs web bisa digunakan oleh masyarakat di seluruh dunia? Siapa yang memastikan bahwa sistem alamat internet dapat saling terhubung?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat saya semakin tertarik mempelajari tata kelola internet.

Perjalanan ke Bali, Membawa Semangat Belajar

Jumat, 16 Oktober 2026, saya memulai perjalanan dari Jakarta menuju Bali. Berdasarkan tiket yang telah saya pesan, saya dijadwalkan terbang menggunakan AirAsia Indonesia Airways dengan nomor penerbangan QZ-820 dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta menuju Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai.

Perjalanan ini terasa istimewa karena saya akan mengikuti kegiatan ICANN87 yang berlangsung pada 17–22 Oktober 2026 di Bali International Convention Centre (BICC), Nusa Dua, Bali.

Ada rasa syukur yang mendalam ketika saya mendapatkan kesempatan untuk belajar dalam forum internasional. Saya menyadari bahwa kesempatan seperti ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Sebagai guru, saya tidak ingin berhenti belajar hanya karena sudah bertahun-tahun mengajar. Justru semakin lama menjadi pendidik, semakin saya memahami bahwa ilmu pengetahuan terus berkembang. Teknologi berubah, kebutuhan peserta didik bertambah, dan tantangan pendidikan semakin kompleks.

Karena itu, seorang guru harus terus membuka diri terhadap pengetahuan baru.

Saya ingin pulang dari Bali bukan hanya membawa foto perjalanan, tetapi juga membawa ilmu, pengalaman, dan inspirasi yang dapat dibagikan kepada guru-guru Indonesia.

Mengenal ICANN dan Pentingnya Tata Kelola Internet

ICANN merupakan singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers. Organisasi ini berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk nama domain dan sistem penomoran yang mendukung interoperabilitas internet.

Bagi sebagian orang, istilah tata kelola internet mungkin terdengar rumit. Padahal, dampaknya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Ketika kita mengetik alamat situs web di peramban, kita berharap situs tersebut dapat ditemukan. Ketika sekolah menggunakan domain untuk situs resminya, kita berharap alamat itu dapat diakses dengan baik. Ketika masyarakat berkomunikasi lintas negara melalui internet, kita membutuhkan sistem yang memungkinkan jaringan-jaringan tersebut saling terhubung.

Di balik kemudahan itu, ada infrastruktur teknis, kebijakan, dan kerja sama berbagai pihak yang perlu dipahami.

Saya semakin menyadari bahwa internet bukan sekadar aplikasi yang kita buka melalui telepon genggam. Internet merupakan ekosistem global yang membutuhkan koordinasi, kepercayaan, keamanan, dan partisipasi banyak pemangku kepentingan.

Melalui ICANN87, saya ingin memperluas pemahaman mengenai bagaimana proses tersebut berlangsung dan bagaimana masyarakat, termasuk generasi muda, dapat ikut memahami masa depan internet.

Bagi saya, pengetahuan ini penting untuk dibagikan kepada para guru, mahasiswa, dan peserta didik agar mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi warga digital yang kritis dan bertanggung jawab.

Enam Hari untuk Menambah Wawasan

ICANN87 dijadwalkan berlangsung selama enam hari, mulai Sabtu, 17 Oktober, hingga Kamis, 22 Oktober 2026. Pertemuan ini diselenggarakan secara hibrida, sehingga peserta dapat mengikuti kegiatan secara langsung maupun daring sesuai ketentuan setiap sesi.

Berdasarkan gambaran agenda yang telah saya pelajari, terdapat berbagai kegiatan komunitas, pembahasan kebijakan, diskusi teknis, dan pertemuan lintas kelompok.

Salah satu agenda yang menarik perhatian saya adalah Tech Day, yaitu sesi yang berfokus pada pembahasan teknologi internet. Topik-topik teknis seperti keamanan DNS dan DNSSEC menjadi bagian penting dalam memahami bagaimana internet dapat beroperasi dengan lebih aman.

Ada pula pembahasan mengenai pengembangan kebijakan, domain tingkat negara, dan tata kelola internet.

Setiap agenda memberikan kesempatan untuk melihat internet dari sudut pandang yang berbeda. Ada perspektif teknis, kebijakan, organisasi, hingga kepentingan masyarakat luas.

Tentu saja, saya perlu memeriksa jadwal resmi setiap sesi agar dapat menentukan kegiatan yang paling relevan dengan minat dan bidang pekerjaan saya.

Sebagai guru Informatika, saya ingin memahami hubungan antara teknologi, keamanan digital, kebijakan internet, dan pendidikan. Saya berharap pengetahuan tersebut dapat menjadi bahan pembelajaran yang menarik bagi peserta didik.

Sebab, pendidikan Informatika tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan perangkat lunak atau membuat program. Kita juga perlu membekali peserta didik dengan pemahaman tentang ekosistem digital yang mereka gunakan setiap hari.

Guru Harus Berani Belajar dari Dunia

Saya sering mengatakan bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Ungkapan ini bukan sekadar slogan yang enak dibaca, melainkan prinsip yang harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika mengikuti kegiatan internasional, kita memiliki kesempatan untuk melihat persoalan dari perspektif yang lebih luas. Kita dapat belajar bahwa tantangan digital di Indonesia memiliki hubungan dengan perkembangan teknologi dan kebijakan di tingkat global.

Internet tidak mengenal batas wilayah seperti ruang kelas. Sebuah perubahan teknologi dapat memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan berkolaborasi di berbagai negara.

Karena itu, guru perlu memahami perubahan tersebut agar mampu mendampingi peserta didik dengan lebih baik.

Saya membayangkan bagaimana pengetahuan tentang tata kelola internet dapat menjadi bahan diskusi di kelas Informatika. Peserta didik dapat diajak memahami nama domain, sistem DNS, keamanan digital, serta pentingnya menjaga data dan identitas di ruang siber.

Mereka juga dapat belajar bahwa internet bukan ruang tanpa aturan. Ada tanggung jawab yang harus dijalankan oleh pengguna, penyedia layanan, organisasi, dan berbagai pemangku kepentingan.

Dengan cara ini, pembelajaran Informatika menjadi lebih dekat dengan kehidupan nyata.

Saya ingin para siswa memahami bahwa menjadi generasi digital bukan hanya soal mahir menggunakan teknologi. Mereka juga harus memiliki etika, tanggung jawab, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian terhadap masyarakat.

Menulis sebagai Cara Berbagi Pengetahuan

Ada satu kebiasaan yang selalu saya bawa ke mana pun saya pergi, yaitu menulis.

Sejak menekuni dunia blog pada tahun 2007, saya merasakan bahwa menulis membantu saya mengingat pengalaman, merapikan pemikiran, dan membagikan pengetahuan kepada orang lain.

Karena itu, perjalanan ke Bali untuk mengikuti ICANN87 juga menjadi kesempatan untuk menulis. Saya ingin menceritakan pengalaman ini melalui blog pribadi saya, Kompasiana, dan berbagai ruang literasi digital yang saya gunakan.

Saya percaya bahwa ilmu akan lebih bermakna ketika dibagikan. Pengetahuan yang hanya disimpan untuk diri sendiri mungkin bermanfaat bagi kita, tetapi pengetahuan yang dibagikan berpeluang memberikan manfaat yang lebih luas.

Namun, menulis tentang kegiatan internasional juga membutuhkan tanggung jawab. Saya harus membedakan antara agenda yang tercantum dalam jadwal, materi yang benar-benar saya pelajari, dan refleksi pribadi yang muncul dari pengalaman tersebut.

Saya tidak ingin menulis seolah-olah telah mengikuti semua sesi apabila belum melakukannya. Saya juga tidak ingin menyampaikan kesimpulan yang belum didukung oleh informasi yang memadai.

Bagi saya, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang menarik. Tulisan yang baik juga harus jujur, dapat dipertanggungjawabkan, dan memberikan manfaat kepada pembaca.

Di sinilah pentingnya menulis dengan hati sekaligus menggunakan pikiran yang kritis.

Bali, Tempat Belajar dan Membangun Persahabatan

Bali dikenal sebagai salah satu destinasi yang memiliki daya tarik budaya dan alam. Namun, dalam perjalanan kali ini, saya ingin memandang Bali juga sebagai tempat untuk bertukar pengetahuan dan membangun persahabatan.

Pertemuan internasional membuka peluang untuk berkenalan dengan orang-orang dari berbagai latar belakang. Setiap orang membawa pengalaman, keahlian, dan pandangan yang berbeda.

Dari perbedaan itulah kita dapat belajar.

Saya berharap dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk memperluas wawasan mengenai tata kelola internet, memahami tantangan dunia digital, dan membangun hubungan yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan.

Saya juga ingin membawa semangat literasi Indonesia ke dalam setiap kesempatan yang saya miliki. Sebagai guru dan blogger, saya percaya bahwa pengalaman akan semakin bermakna apabila dapat diterjemahkan menjadi pengetahuan yang mudah dipahami masyarakat.

Tidak semua orang harus menjadi ahli teknologi untuk memahami pentingnya internet. Guru, orang tua, mahasiswa, dan peserta didik juga perlu mendapatkan penjelasan yang sederhana, benar, dan relevan dengan kehidupan mereka.

Itulah salah satu tujuan saya menulis kisah perjalanan ini.

Penutup: Pulang Membawa Ilmu, Berbagi dengan Hati

Perjalanan saya ke Bali untuk mengikuti ICANN87 menjadi pengingat bahwa belajar tidak pernah mengenal batas usia maupun tempat.

Kita dapat belajar di sekolah, di kampus, dalam pertemuan komunitas, bahkan ketika sedang melakukan perjalanan. Selama kita memiliki rasa ingin tahu dan kemauan untuk mendengarkan, selalu ada hal baru yang dapat dipelajari.

Saya bersyukur mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat dunia tata kelola internet. Saya ingin memanfaatkan pengalaman ini untuk memperkaya pengetahuan pribadi sekaligus memberikan manfaat bagi dunia pendidikan Indonesia.

Semoga setelah mengikuti kegiatan ini, saya dapat membagikan lebih banyak wawasan mengenai internet, keamanan digital, dan pentingnya partisipasi masyarakat dalam membangun masa depan digital yang lebih baik.

Kepada para guru dan sahabat literasi, mari kita terus belajar dan memperluas wawasan. Jangan takut memasuki bidang pengetahuan yang baru. Jangan merasa cukup dengan ilmu yang sudah kita miliki.

Dunia terus berubah, dan kita harus terus bertumbuh.

Sebab, guru yang baik bukan hanya orang yang pandai menjelaskan pelajaran, melainkan juga orang yang tidak pernah berhenti belajar.

Saya, Omjay Guru Blogger Indonesia, ingin terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi. Semoga perjalanan ke Bali ini menjadi salah satu jejak kecil yang membawa manfaat besar bagi pendidikan Indonesia.

Salam Blogger Persahabatan.

Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Blog: https://wijayalabs.com


Selasa, 13 Oktober 2026

MATERI PERTEMUAN KE-13 KBMN PGRI GELOMBANG 35




Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

MATERI PERTEMUAN KE-13 KBMN PGRI GELOMBANG 35

Tantangan Menjadi Guru: Tetap Menginspirasi di Tengah Perubahan

Selasa, 13 Oktober 2026 | Bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia

Guru bukan sekadar orang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan materi pelajaran. Guru adalah pendidik yang menemani perjalanan anak-anak menuju masa depan. Di balik senyum seorang guru, sering tersimpan perjuangan yang tidak diketahui banyak orang. Ada lelah yang disembunyikan, masalah yang harus diselesaikan, dan harapan yang terus dijaga agar murid-muridnya tumbuh menjadi manusia yang berilmu dan berkarakter.

Pada pertemuan ke-13 KBMN PGRI Gelombang 35, kita akan belajar menulis tentang tantangan menjadi guru. Kita akan menggali pengalaman pribadi, menemukan hikmah dari berbagai kesulitan, dan mengubah kisah nyata menjadi tulisan yang menginspirasi pembaca.

Pesan Omjay sederhana: Menulislah dengan hati, ceritakan pengalaman sendiri, dan bagikan pelajaran kehidupan kepada orang lain.

 

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Mengenali tantangan yang dihadapi guru dalam menjalankan tugasnya.
  2. Menggali pengalaman pribadi menjadi bahan tulisan yang menarik.
  3. Menulis artikel reflektif dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh hati.
  4. Menemukan hikmah dari kegagalan, kesulitan, dan keberhasilan selama menjadi guru.
  5. Mempublikasikan tulisan di blog pribadi atau media menulis lainnya.
  6. Menggunakan teknologi dan kecerdasan artifisial secara bijak tanpa kehilangan suara dan pengalaman pribadi.

 

B. Materi 1 — Apa Saja Tantangan Menjadi Guru?

Don't Make The Wrong Choice! This Is The Difference Between People's Schools And Ordinary Schools

Begini Pendampingan ABK di Sekolah Inklusi | Prokalteng

Teachability: Curriculum Designed to Allow Teachers to Focus on What Matters Most—The Students.

9

Menjadi guru adalah pekerjaan yang mulia, tetapi bukan berarti selalu mudah. Perubahan zaman membuat tugas guru semakin beragam. Guru tidak hanya dituntut menguasai materi pelajaran, tetapi juga perlu memahami karakter murid, beradaptasi dengan teknologi, berkomunikasi dengan orang tua, serta terus meningkatkan kompetensi.

Berikut beberapa tantangan yang dapat menjadi bahan tulisan peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

1. Menghadapi karakter murid yang beragam

Setiap murid memiliki latar belakang keluarga, kemampuan, minat, dan kebiasaan belajar yang berbeda. Ada murid yang cepat memahami pelajaran, ada yang membutuhkan pendampingan lebih lama. Ada yang aktif bertanya, tetapi ada pula yang lebih nyaman diam.

Tantangan guru bukan menyamakan semua murid, melainkan menemukan cara agar setiap anak memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Bahan renungan: Pernahkah kita menghadapi murid yang sulit diatur, tetapi akhirnya justru memberikan pelajaran berharga kepada kita?

2. Mengikuti perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial

Dunia pendidikan terus berubah. Guru kini berhadapan dengan internet, platform pembelajaran digital, koding, dan kecerdasan artifisial atau AI.

Teknologi dapat membantu guru menyiapkan materi, membuat media pembelajaran, dan memberikan pengalaman belajar yang lebih menarik. Namun, guru juga harus mengajarkan etika digital, memeriksa kebenaran informasi, dan membimbing murid agar tidak bergantung sepenuhnya pada teknologi.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi keteladanan, empati, dan sentuhan manusiawi tetap penting.

Bahan renungan: Apa pengalaman pertama kita menggunakan teknologi baru dalam pembelajaran? Apakah pernah mengalami kegagalan sebelum akhirnya berhasil?

3. Mengelola waktu dan administrasi

Guru memiliki banyak tanggung jawab. Selain mengajar, guru mempersiapkan pembelajaran, melakukan penilaian, mendampingi murid, mengikuti kegiatan pengembangan diri, dan menyelesaikan administrasi.

Di tengah kesibukan tersebut, guru tetap membutuhkan waktu untuk keluarga, beristirahat, dan mengembangkan diri.

Tantangannya adalah mengatur prioritas agar tugas terlaksana tanpa melupakan kesehatan dan kehidupan pribadi.

Bahan renungan: Bagaimana kita mengatasi hari-hari ketika pekerjaan terasa menumpuk?

4. Menghadapi perubahan kebijakan pendidikan

Perubahan kurikulum, sistem penilaian, tuntutan kompetensi, dan kebijakan pendidikan mengharuskan guru terus belajar. Tidak semua perubahan mudah diterapkan. Ada kalanya guru membutuhkan waktu, pelatihan, pendampingan, dan fasilitas yang memadai.

Guru perlu bersikap terbuka terhadap perubahan, sekaligus memberikan masukan berdasarkan pengalaman nyata di kelas.

Bahan renungan: Perubahan pendidikan apa yang paling menantang dalam perjalanan kita sebagai guru?

5. Menjalin komunikasi dengan orang tua

Pendidikan tidak hanya berlangsung di sekolah. Keluarga juga mempunyai peran penting dalam perkembangan anak.

Terkadang guru menghadapi perbedaan pandangan dengan orang tua mengenai perilaku, nilai, atau kebutuhan belajar murid. Situasi tersebut membutuhkan komunikasi yang baik, kesabaran, dan kemauan untuk mencari solusi bersama.

Bahan renungan: Pernahkah percakapan dengan orang tua murid mengubah cara pandang kita terhadap seorang anak?

6. Menjaga semangat ketika menghadapi kegagalan

Tidak semua metode pembelajaran berhasil. Tidak semua program berjalan sesuai rencana. Ada pula masa ketika usaha guru tidak mendapatkan penghargaan sebagaimana yang diharapkan.

Namun, kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan dapat menjadi bahan evaluasi dan pintu untuk menemukan cara yang lebih baik.

Guru yang terus belajar memberi contoh kepada murid bahwa manusia tidak harus selalu berhasil pada percobaan pertama.

7. Menjaga kesejahteraan dan martabat guru

Guru juga manusia yang memiliki kebutuhan, tanggung jawab keluarga, dan harapan terhadap masa depan. Kepastian penghasilan, kesempatan pengembangan profesi, fasilitas pembelajaran, serta penghargaan terhadap pekerjaan guru merupakan bagian penting dalam mendukung kualitas pendidikan.

Meskipun demikian, membicarakan tantangan kesejahteraan tidak harus membuat tulisan menjadi keluhan semata. Pengalaman tersebut dapat disampaikan secara kritis, santun, faktual, dan disertai gagasan perbaikan.

C. Materi 2 — Mengubah Tantangan Menjadi Tulisan yang Menginspirasi

Bagaimana cara menulis pengalaman menjadi guru agar pembaca tertarik?

Omjay mengajak peserta menggunakan pola sederhana berikut.

1. Awal: Ceritakan kejadian

Mulailah dengan pengalaman nyata. Kapan peristiwa itu terjadi? Di mana? Siapa yang terlibat? Apa masalah yang muncul?

2. Tengah: Ceritakan perjuangan

Jelaskan kesulitan, perasaan, keputusan, dan usaha yang dilakukan untuk mengatasi tantangan.

3. Puncak: Tunjukkan perubahan

Ceritakan momen yang membuat keadaan berubah, pelajaran yang ditemukan, atau kesadaran baru yang muncul.

4. Akhir: Bagikan hikmah

Tutup tulisan dengan refleksi. Apa yang berubah dalam diri kita? Apa yang dapat dipelajari guru lain dari pengalaman tersebut?

Ingat, tulisan yang menyentuh hati tidak harus menggunakan kata-kata yang rumit. Pengalaman sederhana yang diceritakan secara jujur sering kali lebih bermakna daripada tulisan panjang yang tidak memiliki pengalaman nyata.

D. Contoh Artikel untuk Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Ketika Menjadi Guru Tidak Selalu Mudah

Menjadi guru adalah perjalanan panjang yang penuh cerita. Ada kebahagiaan ketika melihat murid berhasil memahami pelajaran, ada kebanggaan ketika mantan murid mencapai cita-citanya, tetapi ada pula hari-hari ketika seorang guru harus pulang dengan membawa banyak pertanyaan dalam pikirannya.

Saya pernah berpikir bahwa jika materi sudah dijelaskan dengan baik, murid pasti akan memahaminya. Ternyata, kenyataan di kelas tidak selalu demikian. Ada murid yang langsung mengerti, tetapi ada pula yang masih kebingungan meskipun penjelasan sudah diulang beberapa kali.

Pada awalnya, keadaan seperti itu bisa membuat seorang guru merasa kecewa. Apakah cara mengajar saya kurang tepat? Apakah penjelasan saya terlalu sulit? Atau, apakah murid-murid memang membutuhkan pendekatan yang berbeda?

Pertanyaan tersebut akhirnya mengajarkan saya untuk tidak terburu-buru menyalahkan murid. Setiap anak mempunyai kemampuan dan cara belajar yang berbeda. Tugas guru bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan mencari jalan agar pengetahuan dapat dipahami oleh anak-anak yang dipercayakan kepadanya.

Tantangan menjadi guru juga semakin besar ketika teknologi berkembang dengan cepat. Kita perlu belajar menggunakan berbagai perangkat digital, memahami kecerdasan artifisial, dan menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan zaman. Kadang-kadang kita harus belajar kembali sesuatu yang sebelumnya belum pernah kita kenal.

Namun, bukankah guru memang harus menjadi pembelajar sepanjang hayat?

Saya menyadari bahwa guru yang baik bukanlah guru yang mengetahui segala sesuatu. Guru yang baik adalah guru yang bersedia belajar, mengakui kekurangan, dan terus berusaha memberikan yang terbaik bagi murid-muridnya.

Dalam perjalanan mengajar, saya juga belajar bahwa keberhasilan tidak selalu terlihat dalam bentuk nilai tinggi atau piala perlombaan. Terkadang, keberhasilan hadir ketika seorang murid yang semula tidak percaya diri akhirnya berani bertanya. Terkadang, keberhasilan terlihat ketika murid yang sulit memahami pelajaran mulai menunjukkan kemajuan kecil.

Perubahan kecil seperti itulah yang membuat perjuangan seorang guru terasa berarti.

Tentu saja, guru tetap membutuhkan dukungan. Beban administrasi perlu dikelola dengan baik, fasilitas pembelajaran perlu diperhatikan, dan kesejahteraan guru harus menjadi bagian dari perhatian bersama. Guru yang didukung dengan baik akan memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan pembelajaran yang bermutu.

Lalu, apa yang harus kita lakukan ketika tantangan datang silih berganti?

Menurut saya, kita perlu terus belajar, menjaga komunikasi dengan sesama guru, berani mencoba pendekatan baru, dan tidak malu meminta bantuan. Kita juga perlu menyediakan waktu untuk membaca dan menulis agar pengalaman mengajar tidak hilang begitu saja.

Melalui tulisan, kita dapat menyimpan pengalaman, mengevaluasi perjalanan, dan berbagi inspirasi dengan guru lain. Kesulitan yang pernah kita hadapi mungkin sedang dialami pula oleh seorang guru di tempat berbeda. Kisah kita bisa menjadi penguat bagi mereka.

Menjadi guru memang tidak selalu mudah. Akan tetapi, kesulitan bukan alasan untuk berhenti bertumbuh. Setiap tantangan memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi pendidik yang lebih bijaksana.

Saya percaya, pendidikan tidak hanya dibangun oleh gedung sekolah, buku pelajaran, dan teknologi canggih. Pendidikan juga dibangun oleh kesabaran guru, ketulusan dalam mendampingi murid, serta kesediaan untuk terus belajar meskipun zaman berubah.

Mari kita terus mengajar dengan ilmu, mendidik dengan keteladanan, dan menulis dengan hati. Sebab, pengalaman seorang guru terlalu berharga jika hanya disimpan dalam ingatan.

Guru yang hebat bukan guru yang tidak pernah menghadapi kesulitan, melainkan guru yang terus belajar dan berusaha memberikan harapan di tengah kesulitan.

Catatan untuk peserta: Contoh tersebut merupakan bahan belajar. Silakan kembangkan dengan pengalaman pribadi, kejadian nyata, dialog, dan refleksi masing-masing. Jangan mengaku mengalami peristiwa yang sebenarnya tidak pernah dialami.

E. Materi 3 — Teknik Membuat Tulisan Lebih Hidup

Agar artikel tidak terasa seperti laporan kegiatan, gunakan beberapa teknik berikut.

1. Mulailah dengan pertanyaan atau peristiwa yang menarik.

Contoh: “Pernahkah kita merasa sudah mengajar dengan sungguh-sungguh, tetapi ternyata murid belum memahami apa yang kita sampaikan?”

2. Gunakan detail yang nyata.

Jangan hanya menulis, “Saya merasa sedih.” Jelaskan apa yang terjadi, apa yang kita pikirkan, dan bagaimana kita merespons keadaan tersebut.

3. Masukkan dialog jika memang terjadi.

Misalnya, jika sesuai pengalaman nyata: “Pak, saya belum mengerti,” kata seorang murid. Kalimat sederhana itu dapat menjadi awal cerita tentang kesabaran guru.

4. Jangan hanya menceritakan masalah.

Jelaskan tindakan yang dilakukan, hasilnya, dan pelajaran yang diperoleh. Pembaca perlu melihat proses, bukan hanya kesulitan.

5. Akhiri dengan pesan yang bermakna.

Ajak pembaca merenungkan apa yang bisa diperbaiki, dipelajari, atau dilakukan setelah membaca kisah tersebut.

6. Gunakan AI secara bijaksana.

AI boleh membantu mencari ide, menyusun kerangka, atau memperbaiki ejaan. Namun, pengalaman, fakta, pendapat, dan refleksi utama harus tetap berasal dari penulis. Periksa kembali hasilnya sebelum dipublikasikan.

F. Tugas Praktik Pertemuan Ke-13

Tantangan Menulis Harian

Satu Guru, Satu Kisah, Satu Inspirasi

Tugas utama: Tulislah sebuah artikel reflektif bertema “Tantangan Menjadi Guru” berdasarkan pengalaman nyata.

Target panjang: 300–500 kata untuk latihan awal. Peserta boleh mengembangkan tulisan lebih panjang.

Pilih salah satu topik berikut:

Menghadapi murid dengan karakter yang beragam

Belajar teknologi baru atau menggunakan AI dalam pembelajaran

Kegagalan yang mengajarkan saya menjadi guru lebih baik

Mengelola waktu, tugas, dan administrasi sekolah

Menghadapi tantangan komunikasi dengan orang tua murid

Beradaptasi dengan perubahan pendidikan

Perjuangan guru yang jarang diketahui orang lain

Rancang tulisan Anda

Isi bagian berikut untuk membantu menemukan arah tulisan. Ini merupakan alat bantu perencanaan, bukan pengganti artikel lengkap.

Judul sementara

Pengalaman nyata yang ingin diceritakan

Hikmah yang diperoleh

Salin rancangan tugas

Panduan penulisan artikel

Artikel yang dibuat harus memiliki empat bagian:

  1. Pembukaan: Ceritakan situasi atau tantangan yang dihadapi.
  2. Isi: Jelaskan perjuangan, perasaan, tindakan, dan proses penyelesaian.
  3. Perubahan: Ceritakan hasil atau hal yang disadari setelah mengalami peristiwa tersebut.
  4. Penutup: Tuliskan hikmah dan pesan untuk sesama guru.

Ketentuan pengumpulan tugas

  • Tulis artikel sebanyak 300–500 kata.
  • Gunakan judul yang menarik dan sesuai isi.
  • Utamakan pengalaman nyata, bukan sekadar teori.
  • Publikasikan di blog pribadi atau platform menulis yang digunakan.
  • Tambahkan foto dokumentasi yang relevan jika tersedia dan layak dibagikan.
  • Bagikan tautan artikel di grup KBMN PGRI Gelombang 35 sesuai arahan pengelola kelas.
  • Bacalah setidaknya satu tulisan peserta lain dan berikan komentar yang santun serta membangun.

G. Rubrik Penilaian

Aspek

Bobot

Kesesuaian tema dan keaslian pengalaman

30

Alur cerita dan kelengkapan isi

25

Refleksi dan hikmah yang diperoleh

25

Bahasa, judul, dan keterbacaan

10

Publikasi dan interaksi dengan peserta lain

10

Total

100

Penilaian bukan untuk mencari siapa yang paling pandai merangkai kata. Tujuannya adalah mendorong peserta terus berlatih, berani berbagi pengalaman, dan menghasilkan tulisan yang bermanfaat.

H. Tantangan Tambahan: Tujuh Pertanyaan untuk Menggali Kisah Guru

Jika masih bingung memulai tulisan, jawablah pertanyaan berikut dalam catatan pribadi.

  1. Apa tantangan paling berat yang pernah saya hadapi selama menjadi guru?
  2. Mengapa tantangan itu terasa sulit bagi saya?
  3. Siapa yang membantu atau mendukung saya?
  4. Apa tindakan yang saya lakukan untuk mengatasi masalah tersebut?
  5. Apakah usaha saya berhasil? Jika belum, apa yang saya pelajari?
  6. Bagaimana pengalaman itu mengubah cara saya mendidik murid?
  7. Apa pesan yang ingin saya sampaikan kepada guru lain yang sedang menghadapi masalah serupa?

Jawaban atas tujuh pertanyaan tersebut dapat menjadi bahan utama artikel. Tulislah dahulu tanpa terlalu sibuk memperbaiki kalimat. Setelah semua gagasan terkumpul, barulah susun menjadi cerita yang runtut.

I. Penutup Materi Pertemuan Ke-13

Bapak dan Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan, perjalanan menjadi guru tidak selalu dipenuhi keberhasilan. Ada saat ketika kita merasa lelah, bingung, bahkan bertanya-tanya apakah usaha kita sudah memberikan manfaat bagi murid.

Namun, jangan biarkan tantangan menghapus seluruh kebaikan yang telah kita lakukan.

Mungkin kita tidak selalu mengetahui hasil dari setiap pelajaran yang diberikan. Bisa jadi, bertahun-tahun kemudian seorang murid masih mengingat nasihat sederhana yang pernah kita sampaikan. Bisa jadi, sikap sabar yang kita tunjukkan menjadi teladan yang dibawanya hingga dewasa.

Karena itu, mari kita rawat pengalaman tersebut melalui tulisan. Blog bukan sekadar tempat memajang artikel, melainkan ruang untuk menyimpan perjalanan hidup, merekam praktik baik, dan berbagi inspirasi kepada sesama pendidik.

Jangan menunggu menjadi guru sempurna untuk mulai menulis. Tulislah ketika masih belajar, ketika menghadapi tantangan, ketika melakukan kesalahan, dan ketika menemukan cara baru untuk memperbaiki keadaan.

Sebab, kisah guru bukan hanya milik guru itu sendiri. Kisah tersebut dapat menjadi sumber pembelajaran bagi banyak orang.

Salam blogger persahabatan.

Omjay, Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Menulislah dengan hati, sebab pengalaman yang dibagikan dengan tulus dapat menyalakan semangat guru lain untuk terus belajar dan menginspirasi.

Checklist peserta

·         Menentukan satu tantangan nyata yang pernah dialami

·         Menulis artikel 300–500 kata

·         Memeriksa judul, alur, ejaan, dan hikmah

·         Mempublikasikan tulisan di blog

·         Membagikan tautan dan mengomentari tulisan peserta lain

·         0 dari 5 langkah selesai