Dahsyatnya Sakaratul Maut: Sebuah Pengingat untuk Manusia yang Sering Lalai
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering lupa bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara. Kita sibuk mengejar jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia, tetapi sering melupakan satu kenyataan yang pasti datang: kematian.
Sebuah buku berjudul Dahsyatnya Sakaratul Maut karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni menjadi pengingat keras sekaligus lembut bagi hati yang mulai lalai. Buku ini bukan sekadar bacaan biasa, tetapi tamparan spiritual yang membuat kita merenung tentang akhir perjalanan hidup manusia.
Ketika saya memegang buku ini, pikiran saya langsung melayang kepada kenyataan hidup yang sering kita abaikan. Saat ini kita sehat, tertawa, bercanda, bekerja, dan menikmati dunia. Namun suatu hari nanti kita akan terbaring lemah tanpa daya. Nafas yang selama ini terasa ringan akan berubah berat. Mata yang selama ini melihat dunia perlahan tertutup. Dan pada saat itulah manusia memasuki fase paling menegangkan dalam hidupnya: sakaratul maut.
Dalam bagian belakang buku tertulis kalimat yang sangat menggugah:
"Saat ini kita hidup. Tapi suatu ketika nanti kita mati. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan dan di mana kita mati."
Kalimat sederhana itu terasa sangat dalam. Tidak ada manusia yang tahu kapan ajal datang. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Orang kaya tidak bisa menyogok malaikat maut. Orang berpangkat tidak bisa meminta tambahan waktu. Bahkan dokter terbaik di dunia pun tidak mampu menghalangi datangnya ajal.
Buku ini menjelaskan bahwa sakaratul maut bukan peristiwa biasa. Ia adalah fase dahsyat yang dialami setiap manusia. Bahkan Rasulullah SAW pun merasakan beratnya sakaratul maut. Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah merasakan sakit yang sangat luar biasa menjelang wafatnya. Hal itu menunjukkan bahwa kematian memang bukan sesuatu yang ringan.
Membaca buku ini membuat saya merenung panjang. Betapa selama ini manusia sering merasa hidupnya akan lama. Kita menunda tobat. Menunda salat. Menunda meminta maaf. Menunda bersedekah. Seolah-olah kita yakin masih memiliki waktu panjang.
Padahal kematian bisa datang kapan saja.
Ada orang yang pagi masih bercanda, sore sudah tiada. Ada yang baru selesai membangun rumah megah, tetapi belum sempat menikmatinya. Ada yang baru pensiun, lalu dipanggil Allah SWT. Semua itu menjadi bukti bahwa hidup manusia sangat rapuh.
Sebagai seorang guru, saya sering berpikir bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai rapor atau kecerdasan akademik. Pendidikan juga harus mengajarkan manusia tentang makna kehidupan dan kematian. Anak-anak perlu dibimbing agar tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.
Buku ini mengingatkan bahwa kematian bagi orang saleh bisa menjadi sesuatu yang indah. Kalimat dalam buku tersebut sangat menarik:
"Kematian yang dibenci bisa menjadi disenangi dan digandrungi."
Mengapa demikian? Karena bagi orang beriman, kematian adalah gerbang menuju pertemuan dengan Allah SWT. Orang-orang saleh justru merindukan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Mereka ingin meninggal dalam keadaan baik, dalam keadaan sujud, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau sedang melakukan amal saleh.
Sebaliknya, bagi orang yang hidupnya dipenuhi dosa dan kesombongan, kematian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka takut menghadapi kenyataan amal perbuatannya sendiri.
Saya jadi teringat banyak kisah nyata yang pernah saya dengar. Ada orang sederhana yang meninggal dengan wajah tenang dan senyum mengembang. Ada pula orang yang sepanjang hidupnya bergelimang harta tetapi meninggal dalam kegelisahan luar biasa. Semua itu seakan menjadi bukti bahwa kualitas hidup seseorang menentukan kualitas akhir hidupnya.
Buku ini juga mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian. Jabatan hanyalah titipan. Kekayaan hanyalah amanah. Popularitas hanyalah sementara. Tidak ada yang abadi selain amal kebaikan.
Ironisnya, manusia sering bertengkar karena urusan dunia yang tidak akan dibawa mati. Persaudaraan rusak karena warisan. Persahabatan hancur karena jabatan. Bahkan keluarga bisa saling membenci hanya karena materi.
Padahal ketika maut datang, semuanya selesai.
Yang menemani manusia bukan mobil mewahnya. Bukan rumah besarnya. Bukan rekeningnya. Yang menemani hanyalah amal ibadah dan doa anak saleh.
Sebagai guru blogger, saya merasa tulisan seperti ini penting untuk dibagikan. Di era media sosial sekarang, manusia terlalu banyak disibukkan oleh pencitraan. Orang berlomba memperlihatkan kemewahan hidupnya, tetapi jarang memperlihatkan kedekatannya kepada Allah SWT.
Buku Dahsyatnya Sakaratul Maut mengajak kita untuk kembali merenungi tujuan hidup. Ia mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat singgah sebelum perjalanan panjang menuju akhirat.
Membaca buku ini membuat hati terasa kecil. Kesombongan runtuh. Keangkuhan perlahan luluh. Kita sadar bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta.
Karena itu, mumpung masih diberi kesempatan hidup, mari memperbaiki diri. Mari lebih banyak berbuat baik. Mari menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Mari memperbanyak ibadah dan sedekah. Jangan sampai ketika ajal datang, kita justru penuh penyesalan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pernah salah. Namun Allah SWT selalu membuka pintu tobat bagi hamba-Nya yang mau kembali.
Akhirnya, buku ini bukan sekadar buku tentang kematian. Ia adalah buku tentang kehidupan. Tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dengan lebih bermakna sebelum ajal benar-benar datang menjemput.
Semoga kita semua diberikan akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah, dan termasuk golongan orang-orang saleh yang dirindukan surga.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.