Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 05 Mei 2026

Guru Honorer Digaji Tak Layak Tetap mengajar

“Digaji Tak Layak, Tetap Mengajar: Air Mata Guru Honorer yang Tak Pernah Terlihat”

Salam blogger persahabatan,

Omjay ingin mengajak kita semua merenung sejenak. Tentang sebuah video yang mungkin lewat begitu saja di beranda media sosial kita. Tentang sosok yang berdiri di depan kelas, mengajar dengan penuh dedikasi, namun menyimpan luka yang dalam.

https://www.instagram.com/reel/DXszcxJE9pB/?igsh=MXVyaTE0aGdmODZ5dw==

Dialah guru honorer.

Dalam video yang beredar itu, kita tidak hanya melihat seorang guru. Kita melihat perjuangan. Kita melihat kelelahan yang disembunyikan. Kita melihat ketidakadilan yang sudah terlalu lama dianggap biasa.

Mengajar dengan Hati, Bertahan dengan Luka

Menjadi guru honorer bukan pilihan mudah. Banyak di antara mereka yang masuk ke dunia pendidikan bukan karena gaji, tetapi karena panggilan hati.

Namun, panggilan hati itu sering kali diuji dengan kenyataan yang pahit.

Gaji yang diterima tidak sebanding dengan beban kerja. Bahkan, ada yang hanya menerima honor Rp300 ribu hingga Rp500 ribu per bulan. Angka yang mungkin habis dalam hitungan hari.

Namun anehnya, mereka tetap datang ke sekolah. Tetap tersenyum di depan siswa. Tetap mengajar dengan penuh semangat.

Mengapa?

Karena mereka percaya, pendidikan adalah jalan perubahan.

Ketika Guru Tak Lagi Merasa Aman

Video tersebut juga membuka sisi lain yang jarang kita sadari. Bahwa menjadi guru hari ini tidak selalu aman.

Ada tekanan. Ada ancaman. Bahkan ada perlakuan yang tidak pantas terhadap guru.

Omjay merasa sedih. Dulu, guru adalah sosok yang sangat dihormati. Kini, sebagian dari mereka justru harus bertahan dalam situasi yang tidak nyaman, bahkan berbahaya.

Pertanyaannya sederhana:
Apakah ini yang kita sebut sebagai penghargaan terhadap pahlawan tanpa tanda jasa?

Dibutuhkan, Tapi Tidak Diprioritaskan

Ironi terbesar dari kisah guru honorer adalah satu: mereka sangat dibutuhkan, tetapi tidak diprioritaskan.

Sekolah membutuhkan mereka. Siswa membutuhkan mereka. Sistem pendidikan membutuhkan mereka.

Namun, ketika bicara kesejahteraan, mereka sering berada di urutan terakhir.

Status tidak jelas. Masa depan tidak pasti. Penghasilan tidak mencukupi.

Ini bukan sekadar masalah individu. Ini adalah masalah sistem.

Air Mata yang Tidak Pernah Terekam Kamera

Apa yang kita lihat di video hanyalah sebagian kecil dari realitas yang ada.

Di balik itu, ada cerita-cerita yang lebih pilu:

Guru yang harus berutang untuk biaya hidup

Guru yang berjalan jauh karena tidak punya ongkos

Guru yang tetap mengajar meski sakit

Guru yang menyembunyikan kesedihan demi terlihat kuat di depan murid

Mereka tidak mengeluh. Mereka hanya diam… dan bertahan.

Namun sampai kapan?

Harapan yang Terus Diperjuangkan

Meski hidup dalam keterbatasan, guru honorer tidak pernah berhenti berharap.

Mereka berharap diangkat menjadi ASN atau PPPK.
Mereka berharap mendapatkan penghasilan yang layak.
Mereka berharap diperlakukan dengan adil.

Banyak dari mereka yang terus belajar, mengikuti pelatihan, bahkan menulis dan berbagi ilmu seperti yang Omjay lakukan di dunia literasi.

Karena bagi mereka, menjadi guru bukan sekadar profesi. Ini adalah pengabdian.

Pesan Omjay: Jangan Biarkan Hati Guru Terluka

Omjay ingin menyampaikan satu hal penting:

Menjadi guru memang panggilan jiwa.
Tetapi kesejahteraan adalah hak.

Jangan sampai kita memanfaatkan dedikasi guru untuk menutupi kelemahan sistem. Jangan sampai kita menganggap wajar ketidakadilan yang mereka alami.

Guru bukan robot.
Guru bukan relawan tanpa batas.
Guru adalah manusia yang harus dihargai.

Saatnya Kita Peduli

Video itu bukan sekadar tontonan. Itu adalah tamparan.

Tamparan bagi kita semua—pemerintah, masyarakat, bahkan sesama pendidik.

Sudah saatnya kita bergerak.

Pemerintah harus memberikan kebijakan nyata, bukan sekadar wacana

Sekolah harus melindungi guru, bukan membiarkan mereka berjuang sendiri

Masyarakat harus menghargai guru, bukan merendahkan

Perubahan tidak akan terjadi jika kita hanya diam.

Penutup: Mereka Mengajar Masa Depan Kita

Guru honorer mungkin tidak memiliki gaji besar.
Mungkin tidak memiliki jabatan tinggi.
Mungkin tidak memiliki kepastian hidup.

Namun satu hal yang pasti:
Mereka mengajar masa depan bangsa ini.

Setiap huruf yang mereka ajarkan, setiap nilai yang mereka tanamkan, setiap semangat yang mereka berikan—semua itu akan menjadi bagian dari masa depan Indonesia.

Jadi, ketika kita melihat video seperti itu lagi, jangan hanya lewat.

Berhentilah sejenak.
Rasakan.
Dan lakukan sesuatu.

Karena di balik papan tulis, ada hati yang sedang berjuang.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.