Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 19 Oktober 2026

Pengalaman Berbagi dalam materi kbmn pgri gelombang 35 pertemuan ke- 19

MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35 – PERTEMUAN KE-19

### Pengalaman Berbagi Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Tema: Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Sasaran: Peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35

Tujuan pembelajaran: Mengajak peserta memahami makna berbagi ilmu dan pengalaman, belajar dari perjalanan hidup, serta membangun kebiasaan menulis sebagai sarana berbagi manfaat bagi sesama guru dan masyarakat.

### A. Pembukaan: Berbagi Itu Indah, Menulis Itu Ibadah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Bapak dan Ibu guru hebat peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan.

Apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap semangat belajar menulis meskipun kesibukan sebagai guru tidak pernah ada habisnya.

Malam ini kita akan belajar tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi terkadang kita lupa melakukannya. Sesuatu itu bernama berbagi.

Berbagi tidak harus menunggu kaya. Berbagi tidak harus menunggu menjadi profesor. Berbagi juga tidak harus menunggu menjadi penulis terkenal. Kita bisa berbagi sejak hari ini, dari hal-hal sederhana yang kita miliki.

Seorang guru dapat berbagi pengalaman mengajar. Seorang penulis dapat berbagi gagasan melalui tulisan. Seorang kepala sekolah dapat berbagi pengalaman memimpin sekolah. Bahkan seorang murid pun bisa berbagi pelajaran berharga kepada gurunya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat indah:

“Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Matahari menyinari bumi tanpa meminta manusia membayar sinarnya. Ia menerangi siapa saja, tanpa membedakan kaya atau miskin, tua atau muda, guru atau murid.

Begitulah seharusnya kita berbagi ilmu dan pengalaman. Kita memberikan apa yang kita ketahui agar orang lain memperoleh manfaat. Kita menulis bukan hanya untuk mendapatkan pujian, tetapi juga agar pengalaman kita dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

Malam ini Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu tidak sekadar belajar teori tentang berbagi, melainkan juga merenungkan pengalaman nyata dalam kehidupan kita sebagai guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat.

Sebab, ilmu yang disimpan sendirian hanya akan berhenti pada diri sendiri. Namun, ilmu yang dibagikan dapat tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat kepada banyak orang.

### B. Apa Makna Berbagi yang Sesungguhnya?

Berbagi adalah kesediaan memberikan sebagian dari apa yang kita miliki untuk membantu, menginspirasi, atau memudahkan kehidupan orang lain.

Selama ini, sebagian orang menganggap berbagi identik dengan memberikan uang atau barang. Padahal, ada banyak bentuk berbagi yang nilainya tidak kalah besar.

Pertama, berbagi ilmu pengetahuan. Guru yang mengajarkan cara membuat media pembelajaran digital kepada rekan sejawat sedang berbagi ilmu. Penulis yang menjelaskan cara menyusun artikel yang baik juga sedang berbagi ilmu.

Kedua, berbagi pengalaman. Kita mungkin pernah gagal mengelola kelas, mengalami kesulitan menyelesaikan penelitian, atau menghadapi tantangan dalam mendampingi murid. Pengalaman itu dapat menjadi pelajaran berharga ketika diceritakan dengan jujur dan disertai refleksi.

Ketiga, berbagi waktu dan perhatian. Mendengarkan keluh kesah teman sejawat, mendampingi guru pemula, dan memberikan masukan terhadap tulisan orang lain merupakan bentuk kepedulian yang nyata.

Keempat, berbagi kesempatan. Kita dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil, berbicara, menulis, menjadi narasumber, atau memimpin kegiatan.

Kelima, berbagi inspirasi. Kisah sederhana tentang guru yang pantang menyerah dapat membangkitkan semangat guru lain yang sedang menghadapi kesulitan.

Dari berbagai bentuk tersebut, kita dapat memahami bahwa berbagi tidak selalu membutuhkan biaya. Yang paling penting adalah ketulusan, kepedulian, dan kesediaan untuk memberikan manfaat.

Pertanyaan refleksi untuk peserta:

Pernahkah Bapak dan Ibu mendapatkan pertolongan dari seseorang yang tidak mengharapkan imbalan? Apa yang Bapak dan Ibu rasakan saat itu?

Cobalah mengingat satu peristiwa tersebut. Bisa jadi, pengalaman itulah yang kelak menjadi tulisan inspiratif.

### C. Mengapa Guru Perlu Berbagi Pengalaman?

Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi pelajaran. Guru adalah pembelajar yang setiap hari berhadapan dengan beragam karakter, persoalan, dan pengalaman manusia.

Setiap hari di sekolah, guru mengumpulkan banyak cerita. Ada murid yang kesulitan memahami pelajaran, murid yang tiba-tiba menunjukkan kemampuan luar biasa, orang tua yang datang dengan berbagai harapan, hingga rekan guru yang menemukan metode pembelajaran baru.

Sayangnya, tidak semua pengalaman itu dicatat.

Ketika pengalaman tidak ditulis, kita berisiko melupakannya. Padahal, pengalaman yang kita anggap biasa mungkin sangat berharga bagi guru lain.

Bayangkan seorang guru di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas internet. Ia menemukan cara kreatif mengajarkan algoritma tanpa komputer. Jika pengalaman itu ditulis dan dibagikan, guru di sekolah lain dapat mempelajari dan mengadaptasinya.

Bayangkan pula seorang guru yang berhasil menumbuhkan kebiasaan membaca di kelas melalui kegiatan sederhana selama sepuluh menit setiap pagi. Ceritanya bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain.

Itulah kekuatan berbagi melalui tulisan.

Ada beberapa alasan mengapa guru perlu berbagi pengalaman.

* Membantu guru lain belajar lebih cepat. Pengalaman kita dapat menjadi jalan pintas bagi orang lain untuk menemukan solusi.

* Membangun budaya refleksi. Ketika menulis pengalaman, kita belajar melihat kembali apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

* Menguatkan komunitas guru. Berbagi membuat guru merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pendidikan.

* Menyebarkan praktik baik. Pengalaman pembelajaran yang berhasil dapat diadaptasi oleh guru lain sesuai kebutuhan sekolahnya.

* Meninggalkan jejak kebaikan. Tulisan kita dapat dibaca dan dimanfaatkan orang lain bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di sekolah.

Oleh karena itu, menulis bagi guru bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Menulis dapat menjadi bagian dari pengembangan profesi sekaligus pengabdian kepada sesama.

### D. Kisah Nyata Omjay: Dari Blog Pribadi Menjadi Jalan Berbagi

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang berbahagia,

Izinkan Omjay berbagi pengalaman perjalanan menulis yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Omjay sebagai guru.

Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., adalah guru Informatika di SMP Labschool Jakarta. Selain mengajar, Omjay juga aktif menulis, menjadi narasumber, mengembangkan literasi, dan mendampingi guru-guru yang ingin belajar menulis.

Perjalanan ini tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Omjay mulai membangun kebiasaan menulis dan mengembangkan blog sejak tahun 2007.

Pada waktu itu, blog menjadi salah satu ruang bagi Omjay untuk menyimpan gagasan, menceritakan pengalaman, dan berbagi pengetahuan. Tulisan-tulisan yang awalnya terasa sederhana perlahan menjadi dokumentasi perjalanan sebagai guru dan pembelajar.

Omjay belajar bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan kalimat yang indah. Menulis juga tentang keberanian mengabadikan pemikiran dan kesediaan membagikannya kepada orang lain.

Blog Omjay, [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com), menjadi salah satu sarana untuk berbagi gagasan dan pengalaman. Melalui tulisan, pengalaman yang semula hanya diketahui oleh Omjay dapat dibaca oleh orang lain yang membutuhkan.

Omjay juga aktif menulis di Kompasiana dan berbagai ruang publikasi lainnya. Ada pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, teknologi, literasi, hingga kisah perjalanan yang dijadikan bahan pembelajaran.

Dari perjalanan tersebut, Omjay semakin meyakini satu hal: jangan meremehkan tulisan sederhana yang dibuat dengan ketulusan.

Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang membutuhkan tulisan kita. Bisa jadi, seorang guru sedang mencari cara mengatasi masalah pembelajaran. Bisa jadi, seorang penulis pemula sedang membutuhkan motivasi. Bisa jadi pula, seseorang yang hampir menyerah kembali bersemangat setelah membaca pengalaman kita.

Karena itulah, Omjay terus mendorong guru untuk menulis setiap hari.

Bukan berarti setiap tulisan harus sempurna. Bukan pula berarti setiap tulisan harus langsung viral. Yang terpenting adalah kita berani memulai, konsisten berlatih, dan bersedia belajar dari kesalahan.

Motto yang selalu Omjay gaungkan adalah:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Kalimat ini bukan sekadar slogan. Ia merupakan ajakan untuk membuktikan sendiri manfaat menulis melalui praktik yang berkelanjutan.

### 1\. Berbagi melalui komunitas belajar menulis

Salah satu bentuk berbagi yang Omjay jalani adalah terlibat dalam kegiatan Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI.

Melalui KBMN PGRI, guru-guru dari berbagai daerah memperoleh ruang untuk belajar menulis, berdiskusi, mengembangkan gagasan, dan berlatih menghasilkan karya.

Omjay ikut menggerakkan kegiatan belajar menulis ini karena percaya bahwa setiap guru memiliki cerita yang layak dibagikan.

Ada guru yang baru pertama kali menulis artikel. Ada yang ingin menulis buku. Ada yang ingin mengembangkan blog. Ada pula yang sebenarnya memiliki banyak pengalaman, tetapi belum percaya diri untuk menceritakannya.

Mereka membutuhkan ruang yang aman untuk belajar.

Di sinilah pentingnya komunitas. Guru yang sudah lebih dahulu belajar dapat membantu guru yang baru memulai. Peserta yang telah berhasil menyelesaikan artikel dapat menyemangati peserta lain. Pengalaman satu orang dapat menjadi pembelajaran bersama.

Melalui kegiatan seperti KBMN PGRI, semangat berbagi diharapkan tidak berhenti pada satu pertemuan. Peserta dapat meneruskan ilmunya kepada rekan guru di sekolah masing-masing.

Bayangkan jika satu guru membantu lima guru lainnya untuk mulai menulis. Jika lima guru tersebut kemudian mengajak lima guru lagi, manfaatnya dapat berkembang jauh melampaui kelompok awal.

Itulah semangat berbagi: ilmu tidak habis ketika diberikan, tetapi justru berpotensi bertambah manfaatnya.

### 2\. Berbagi ilmu tentang teknologi dan pendidikan

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay memiliki pengalaman dalam pembelajaran teknologi, TIK, coding, dan kecerdasan artifisial.

Omjay memahami bahwa perkembangan teknologi membuat guru harus terus belajar. Apa yang kita kuasai hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan pendidikan beberapa tahun mendatang.

Karena itu, pengalaman belajar teknologi perlu dibagikan.

Ketika guru memahami suatu aplikasi, ia dapat menjelaskan cara menggunakannya kepada rekan sejawat. Ketika guru menemukan strategi mengajarkan coding, ia dapat mendokumentasikannya. Ketika guru mencoba memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk pembelajaran, ia dapat membagikan manfaat, keterbatasan, dan pelajaran yang diperoleh.

Namun, Omjay juga selalu menekankan pentingnya hati nurani dan tanggung jawab manusia.

Teknologi adalah alat bantu. Kecerdasan artifisial dapat membantu menyusun gagasan, tetapi guru tetap perlu menggunakan pengetahuan, pengalaman, kreativitas, dan pertimbangan etikanya sendiri.

Dalam kegiatan menulis, AI dapat menjadi teman berdiskusi. Akan tetapi, pengalaman pribadi, kejujuran, dan suara khas penulis tetap harus dijaga.

Sebab, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang rapi, melainkan tulisan yang membawa makna dan dapat dipertanggungjawabkan.

### 3\. Berbagi tidak harus menunggu terkenal

Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu memahami satu hal penting.

Jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki ribuan pengikut untuk menginspirasi. Jangan menunggu buku diterbitkan untuk mulai menulis.

Mulailah dari pengalaman yang ada di depan mata.

Ceritakan pengalaman mengajar hari ini. Tuliskan cara Bapak dan Ibu membantu murid yang kesulitan belajar. Bagikan pengalaman mengikuti pelatihan. Dokumentasikan praktik baik di sekolah.

Tulisan pertama mungkin hanya dibaca beberapa orang. Tulisan berikutnya mungkin mendapat tanggapan dari rekan sejawat. Seiring waktu, kumpulan tulisan itu dapat menjadi sumber belajar yang berguna.

Omjay sendiri terus mengajak guru untuk menulis dan berbagi melalui blog, media sosial, pelatihan, webinar, dan komunitas belajar.

Tujuannya bukan semata-mata mendapatkan popularitas. Tujuannya adalah memperluas kesempatan agar ilmu dan pengalaman dapat menjangkau lebih banyak orang.

Jika sebuah tulisan membantu satu orang, itu sudah merupakan manfaat. Jika tulisan tersebut membantu seratus orang, manfaatnya semakin luas. Jika tulisan itu terus dibaca dan dipraktikkan oleh banyak guru, pengaruhnya dapat berlangsung lebih lama daripada yang kita bayangkan.

Tentu saja, kita tidak perlu mengklaim bahwa setiap tulisan pasti dibaca jutaan orang. Yang perlu kita lakukan adalah terus menulis, memperbaiki kualitas karya, dan membuka kesempatan agar tulisan tersebut dapat menjangkau sebanyak mungkin pembaca.

### E. Hanya Memberi Tak Harap Kembali: Belajar dari Sang Surya

Mengapa tema kita malam ini menggunakan ungkapan “Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”?

Karena ungkapan tersebut mengajarkan ketulusan.

Matahari menjalankan perannya dengan menyinari bumi. Kita dapat menjadikannya perumpamaan tentang orang yang memberikan manfaat tanpa menjadikan imbalan sebagai tujuan utama.

Dalam kehidupan seorang guru, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana.

Seorang guru berbagi bahan ajar tanpa merasa terancam bahwa rekan sejawatnya akan menjadi lebih hebat. Seorang penulis memberikan masukan dengan sopan tanpa merendahkan penulis pemula. Seorang mentor membimbing peserta sampai mereka berani menghasilkan karya sendiri.

Semua itu merupakan bentuk berbagi yang patut kita teladani.

Namun, ketulusan bukan berarti kita harus mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Guru tetap berhak memperoleh penghargaan yang layak. Penulis tetap boleh menerima honorarium. Narasumber tetap boleh mendapatkan imbalan profesional.

Yang perlu kita jaga adalah niat dan cara kita memperlakukan orang lain.

Jangan sampai kita hanya mau berbagi jika mendapat pujian. Jangan sampai kita berhenti membantu karena tidak disebut dalam ucapan terima kasih. Jangan sampai kita merasa rugi ketika ilmu yang kita ajarkan membuat orang lain lebih maju.

Sebaliknya, berbahagialah ketika orang yang kita bimbing berhasil.

Jika peserta KBMN PGRI mampu menerbitkan buku, kita patut bersyukur. Jika rekan guru berhasil membuat blog, kita patut memberikan apresiasi. Jika murid berhasil mengembangkan kemampuan yang dahulu belum dimilikinya, kita patut ikut berbahagia.

Keberhasilan orang lain bukan ancaman bagi kita. Keberhasilan mereka dapat menjadi bukti bahwa ilmu yang dibagikan telah menemukan tempat untuk bertumbuh.

Berbagi bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa tulus kita berusaha memberikan manfaat.

### F. Lima Prinsip Berbagi ala Omjay

Agar semangat berbagi dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 memegang lima prinsip berikut.

### 1\. Berbagi dari apa yang kita miliki

Kita tidak harus menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Bagikan apa yang benar-benar kita ketahui dan alami.

Jika kita baru belajar menulis artikel, bagikan pengalaman saat menyusun paragraf pertama. Jika kita baru berhasil menggunakan aplikasi pembelajaran, ceritakan proses belajarnya.

Jangan menunggu sempurna untuk memulai.

### 2\. Berbagi dengan jujur

Tulislah pengalaman sesuai kenyataan. Jika kita pernah gagal, akui kegagalan itu. Jika kita belum memahami sesuatu, jangan berpura-pura menjadi ahli.

Kejujuran membuat tulisan lebih manusiawi dan membantu pembaca memahami proses belajar yang sesungguhnya.

### 3\. Berbagi tanpa merendahkan

Setiap orang memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami teknologi, ada pula yang memerlukan pendampingan lebih lama.

Guru yang berpengalaman seharusnya membantu, bukan mempermalukan. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang membangun.

### 4\. Berbagi secara konsisten

Kebaikan tidak harus selalu dilakukan dalam kegiatan besar. Kita dapat berbagi sedikit demi sedikit, tetapi secara berkelanjutan.

Tulisan pendek yang dibuat secara rutin dapat berkembang menjadi kumpulan artikel. Percakapan singkat yang memberi semangat dapat membantu seseorang bertahan dalam proses belajarnya.

### 5\. Berbagi sambil terus belajar

Orang yang berbagi bukan berarti sudah mengetahui semuanya. Justru ketika menjelaskan sesuatu kepada orang lain, kita sering menemukan hal-hal yang belum kita pahami.

Karena itu, jangan berhenti membaca, berdiskusi, menerima masukan, dan memperbaiki tulisan.

Semakin banyak kita belajar, semakin banyak pula hal yang dapat dibagikan dengan bertanggung jawab.

### G. Bagaimana Mengubah Pengalaman Menjadi Tulisan yang Bermanfaat?

Bapak dan Ibu guru hebat,

Salah satu tantangan penulis pemula adalah merasa tidak memiliki bahan tulisan. Padahal, bahan tulisan sering kali berada di sekitar kita.

Untuk membantu peserta KBMN PGRI Gelombang 35, Omjay membagikan metode sederhana yang dapat digunakan kapan saja.

Gunakan lima langkah berikut.

Langkah pertama: Ingat satu peristiwa.

Pilih satu pengalaman nyata yang berkesan. Misalnya, ketika seorang murid yang biasanya pendiam tiba-tiba berani mempresentasikan hasil karyanya.

Langkah kedua: Catat kejadian yang sebenarnya.

Tuliskan kapan peristiwa terjadi, siapa yang terlibat, apa masalahnya, dan bagaimana peristiwa itu berlangsung. Jaga privasi murid dan orang lain yang terlibat.

Langkah ketiga: Ceritakan perasaan dan tantangannya.

Apa yang Bapak dan Ibu rasakan? Apa kesulitan yang muncul? Mengapa peristiwa itu penting?

Langkah keempat: Temukan pelajarannya.

Jangan berhenti pada cerita. Jelaskan apa yang berubah dalam cara pandang kita dan apa yang dapat dipelajari oleh pembaca.

Langkah kelima: Bagikan melalui media yang sesuai.

Tulisan dapat diterbitkan di blog pribadi, Kompasiana, majalah sekolah, atau media lain yang relevan. Sebelum menerbitkan, periksa kembali ejaan, fakta, dan etika penulisannya.

Berikut contoh sederhana.

Judul: Ketika Murid Pendiam Berani Berbicara

Hari itu saya meminta murid-murid mempresentasikan hasil kerja kelompok. Seorang murid yang biasanya diam terlihat ragu-ragu. Ia menunduk dan beberapa kali mengatakan belum siap.

Saya tidak langsung memaksanya. Saya memberinya waktu untuk mempersiapkan diri dan menawarkan kesempatan berbicara bersama temannya.

Ketika akhirnya ia berdiri di depan kelas, suaranya memang belum lantang. Namun, ia berhasil menyampaikan gagasan sampai selesai.

Saya merasa bahagia. Hari itu saya belajar bahwa keberanian murid tidak selalu tumbuh karena tuntutan. Terkadang, keberanian tumbuh karena ada guru yang memberikan ruang, waktu, dan kepercayaan.

Sejak saat itu, saya semakin memahami bahwa tugas guru bukan hanya meminta murid menunjukkan kemampuan, melainkan juga membantu mereka menemukan keberanian untuk berkembang.

Pengalaman sederhana ini dapat menjadi artikel yang bermanfaat karena memuat peristiwa, perasaan, refleksi, dan pelajaran.

Itulah salah satu cara mengubah pengalaman menjadi tulisan yang menginspirasi.

### H. Tantangan Berbagi di Era Digital dan Kecerdasan Artifisial

Di era digital, kita memiliki kesempatan berbagi yang semakin luas. Sebuah artikel dapat diterbitkan dalam hitungan menit. Materi pembelajaran dapat dibagikan kepada rekan guru di berbagai daerah. Diskusi dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab.

Pertama, kita harus memeriksa kebenaran informasi. Jangan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi hanya karena ingin menjadi orang pertama yang membagikannya.

Kedua, kita harus menghormati hak cipta. Jika menggunakan gagasan, gambar, atau tulisan orang lain, perhatikan izin penggunaan dan cantumkan sumber sesuai ketentuan.

Ketiga, kita harus menjaga privasi. Pengalaman mengajar boleh dibagikan, tetapi identitas murid, informasi pribadi keluarga, dan hal-hal sensitif harus dilindungi.

Keempat, kita harus menggunakan AI secara bijaksana. AI dapat membantu menyusun kerangka, memperbaiki bahasa, atau memancing ide. Namun, penulis perlu memeriksa fakta dan memastikan bahwa isi tulisan sesuai dengan pengalaman serta pemikirannya sendiri.

Kelima, kita harus mengutamakan manfaat. Jangan hanya mengejar jumlah tayangan atau tanda suka. Pikirkan apakah tulisan tersebut memberikan pengetahuan, inspirasi, atau solusi kepada pembaca.

Omjay percaya bahwa masa depan pendidikan membutuhkan guru yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Kita boleh menggunakan teknologi yang semakin canggih. Namun, kejujuran, empati, tanggung jawab, dan ketulusan tetap harus menjadi dasar dalam berbagi.

### I. Mengatasi Rasa Takut untuk Berbagi

Ada beberapa alasan mengapa guru enggan berbagi pengalaman.

Ada yang takut tulisannya dianggap jelek. Ada yang khawatir mendapat kritik. Ada yang merasa pengalamannya terlalu sederhana. Ada pula yang merasa tidak sepandai penulis lain.

Jika Bapak dan Ibu merasakan hal yang sama, jangan berkecil hati.

Semua penulis pernah berada pada tahap belajar. Kemampuan menulis tidak tumbuh dalam satu malam. Ia berkembang melalui latihan, membaca, berdiskusi, dan memperbaiki karya.

Berikut beberapa cara mengatasi rasa takut tersebut.

* Mulailah dengan tulisan pendek, sekitar 300–500 kata.

* Gunakan bahasa yang biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari.

* Ceritakan pengalaman yang benar-benar kita alami.

* Mintalah seorang teman membaca tulisan sebelum diterbitkan.

* Terimalah kritik yang membangun tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi.

* Jangan membandingkan tulisan pertama kita dengan karya penulis yang sudah puluhan tahun berlatih.

Ingatlah, tujuan awal kita bukan menjadi penulis paling hebat. Tujuan awal kita adalah menjadi penulis yang terus bertumbuh dan bersedia berbagi.

Jika hari ini kita mampu menulis satu paragraf, syukurilah. Jika besok kita mampu menyelesaikan satu artikel, teruskanlah. Jika suatu hari kumpulan tulisan kita menjadi sebuah buku, jadikanlah buku itu sebagai sarana memperluas manfaat.

### J. Tugas Praktik KBMN PGRI Gelombang 35

### Tugas Menulis: Pengalaman Berbagi yang Tak Terlupakan

Waktu pengerjaan: 30–45 menit

Tujuan: Melatih peserta menulis pengalaman nyata yang mengandung nilai kebaikan, pembelajaran, dan inspirasi.

Petunjuk pengerjaan:

* Pilih satu pengalaman ketika Bapak atau Ibu berbagi ilmu, waktu, tenaga, atau perhatian kepada orang lain.

* Tulislah pengalaman tersebut dalam bentuk artikel sepanjang 300–500 kata.

* Gunakan sudut pandang orang pertama, yaitu “saya”.

* Sertakan pelajaran yang diperoleh dan manfaat yang diharapkan bagi pembaca.

* Berikan judul yang menarik dan sesuai dengan isi cerita.

* Periksa kembali tulisan sebelum dibagikan di grup KBMN PGRI Gelombang 35.

Pilihan judul:

* Ketika Ilmu yang Saya Bagikan Menjadi Berkah

* Berbagi Tidak Membuat Kita Miskin

* Satu Kebaikan Kecil yang Tak Terlupakan

* Saya Bahagia Ketika Orang Lain Berhasil

* Pengalaman Berbagi yang Mengubah Hidup Saya

Kriteria penilaian:

* Keaslian dan kejujuran pengalaman: 30 poin

* Kejelasan alur cerita: 20 poin

* Kedalaman refleksi dan pelajaran: 25 poin

* Bahasa dan keterbacaan: 15 poin

* Judul dan ketepatan tema: 10 poin

Total: 100 poin.

Catatan: Gunakan pengalaman sendiri. AI boleh digunakan sebagai alat bantu penyuntingan jika diperlukan, tetapi jangan mengarang pengalaman pribadi atau menyalin tulisan orang lain.

### Contoh kerangka tulisan peserta

Untuk memudahkan peserta yang masih bingung, gunakan kerangka berikut.

* Pembukaan: pengalaman berbagi apa yang ingin diceritakan?

* Isi: kapan peristiwa itu terjadi dan apa yang dilakukan?

* Tantangan: kesulitan apa yang dihadapi?

* Hasil: apa yang terjadi setelah berbagi?

* Refleksi: pelajaran apa yang diperoleh?

* Penutup: ajakan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca?

Peserta tidak perlu menulis dengan bahasa yang rumit. Tulislah dengan bahasa yang jujur, runtut, dan menyentuh hati.

### K. Refleksi Bersama: Apakah Kita Sudah Menjadi Matahari bagi Orang Lain?

Sebelum menutup pertemuan malam ini, mari kita merenung sejenak.

Apakah selama ini kita hanya menyimpan ilmu untuk diri sendiri?

Apakah kita sudah memberikan kesempatan kepada rekan sejawat untuk berkembang?

Apakah kita bersedia membantu penulis pemula meskipun tulisannya belum sempurna?

Apakah kita mampu berbahagia ketika orang lain berhasil berkat ilmu yang pernah kita bagikan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Jawablah dengan jujur melalui tindakan nyata.

Kita tidak harus menjadi matahari yang menerangi seluruh dunia sekaligus. Kita dapat memulainya dengan menjadi cahaya kecil bagi orang-orang di sekitar kita.

Bagi seorang guru, cahaya itu bisa berupa satu penjelasan yang membuat murid memahami pelajaran. Bagi seorang penulis, cahaya itu bisa berupa satu artikel yang membuat pembaca kembali bersemangat. Bagi seorang mentor, cahaya itu bisa berupa satu kalimat yang membuat peserta berani menerbitkan tulisan pertamanya.

Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Kita tidak selalu mengetahui seberapa jauh manfaat dari apa yang kita bagikan. Tugas kita adalah berusaha memberikan manfaat dengan tulus, sedangkan hasilnya dapat berkembang melalui perjalanan hidup orang lain.

### L. Penutup: Mari Menjadi Guru yang Gemar Berbagi

Bapak dan Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay cintai dan banggakan,

Perjalanan kita sebagai guru tidak hanya diukur dari berapa banyak materi yang telah disampaikan, berapa banyak tugas yang telah diperiksa, atau berapa lama kita berdiri di depan kelas.

Perjalanan kita juga dapat diukur dari berapa banyak orang yang kita bantu untuk bertumbuh.

Omjay telah merasakan bahwa menulis dan berbagi dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat pengalaman seorang guru. Sejak membangun blog pada 2007, Omjay terus berusaha mendokumentasikan pengalaman, berbagi gagasan, dan mengajak guru-guru belajar menulis melalui berbagai ruang, termasuk KBMN PGRI.

Perjalanan tersebut tentu masih memiliki banyak tantangan. Tidak setiap tulisan mendapatkan perhatian yang besar. Tidak setiap peserta langsung aktif. Tidak semua orang dapat menyelesaikan proses belajar dengan kecepatan yang sama.

Namun, kita tidak boleh berhenti hanya karena hasilnya belum sesuai harapan.

Omjay ingin melihat semakin banyak guru Indonesia berani menulis. Guru yang menulis pengalaman mengajarnya. Guru yang membagikan praktik baik. Guru yang mendokumentasikan inovasinya. Guru yang menginspirasi murid dan rekan sejawat melalui karya nyata.

Kita ingin KBMN PGRI bukan sekadar tempat berkumpulnya anggota, melainkan ruang belajar yang hidup, tempat peserta saling membantu, saling membaca, saling memberi masukan, dan saling menguatkan.

Mari kita buktikan bahwa semangat berbagi tidak berhenti setelah pertemuan malam ini selesai.

Tulislah pengalaman Bapak dan Ibu. Bagikan ilmu yang bermanfaat. Bantu rekan yang sedang kesulitan. Berikan apresiasi kepada mereka yang sedang belajar. Teruslah berkarya meskipun langkah kita kecil.

Sebab, tulisan yang lahir dari pengalaman dan ketulusan dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Izinkan Omjay menutup materi malam ini dengan pesan sederhana:

Jangan menunggu hebat untuk berbagi. Berbagilah agar kita dan orang lain sama-sama bertumbuh. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Menulislah agar pengalaman kita tidak hilang ditelan waktu.

Mari kita pegang erat ungkapan yang menjadi tema pertemuan malam ini:

“Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Semoga kita menjadi guru yang bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga senang belajar, gemar menulis, dan tulus berbagi.

Semoga setiap ilmu yang kita bagikan menjadi jalan kebaikan. Semoga setiap tulisan yang kita terbitkan membawa manfaat. Dan semoga KBMN PGRI Gelombang 35 melahirkan penulis-penulis guru yang terus menginspirasi Indonesia.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

### M. Pantun Penutup Omjay

Pergi ke sekolah membawa buku,

Buku dibaca menambah wawasan.

Mari berbagi ilmu selalu,

Agar hidup penuh kebermanfaatan.

Burung merpati terbang ke awan,

Hinggap sebentar di pohon jati.

Jangan berhenti menebar kebaikan,

Tulislah kisah dengan sepenuh hati.

Jalan-jalan ke tepi samudra,

Melihat mentari bersinar terang.

Guru berbagi untuk Indonesia,

Ilmu mengalir sepanjang zaman.

Salam hangat dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.
Blog https://wijayalabs.com

2 komentar:

  1. MasyaAllah sangat menginspirasi dan membacanya penuh dengan semangat Terimakasih Omjay

    BalasHapus

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.