Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 23 November 2025

Guru Pilar yang Menyangga Negeri

Guru: Pilar yang Menyangga Negeri, Namun Masih Berdiri di Atas Ketidakpastian

Di balik kemajuan sebuah bangsa, selalu ada para guru yang bekerja dalam senyap. Mereka hadir setiap pagi ketika banyak orang masih terlelap, dan pulang ketika hampir semua pekerjaan lain telah usai. Mereka menghabiskan tenaga, waktu, dan air mata untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapat masa depan yang lebih baik.

Namun di balik dedikasi itu, masih terdapat kegelisahan yang belum juga menemukan jawaban: ketidakpastian status, karier, dan kesejahteraan guru.

Antara PNS dan PPPK: Dua Jalur, Satu Pengabdian

Secara regulasi, ASN terbagi menjadi dua: PNS dan PPPK. Namun di lapangan, keduanya sama-sama mengajar, sama-sama berdiri di depan kelas, sama-sama memikul amanah mencerdaskan kehidupan bangsa.

Perbedaannya?

PNS memiliki kepastian status hingga masa pensiun. Ada rasa tenang bagi keluarganya, ada jaminan hari tua yang jelas.

PPPK berada dalam sistem kontrak pemerintah daerah. Masa depan kariernya masih seperti langit berawan: terlihat terang, namun setiap saat dapat berubah. Hak pensiun pun belum sekuat PNS, meski proses seleksinya sama sulitnya.

Di ruang-ruang guru, sering terdengar keluhan lirih dari mereka yang bertahun-tahun mengabdi, tetapi masih berada di persimpangan status. Mereka bertanya dalam hati:

> “Mengapa ketika tugas dan tanggung jawab kami sama, hak dan masa depan kami berbeda?”

Pertanyaan itu mungkin sederhana, tetapi menyimpan luka yang tidak kecil.

Guru Honorer: Mereka yang Tak Pernah Tercatat Namun Selalu Hadir

Undang-undang dan peraturan pemerintah sebenarnya menegaskan bahwa guru honorer daerah tidak seharusnya ada. Namun realitas berkata lain.

Di pelosok-pelosok negeri, guru honorer masih berdiri tegak, mengabdi dengan gaji yang kadang jauh di bawah standar layak.
Ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah per bulan, namun tetap mengajar dengan senyum yang tidak pernah padam.

Mereka tidak pernah menuntut banyak.
Mereka hanya ingin diakui dan diberikan kepastian.

Guru Swasta: Penjaga Mutu yang Sering Terlupa

Di balik gedung-gedung sekolah swasta, ada pendidik yang juga bekerja tanpa lelah. Mereka bukan ASN, bukan honorer, bukan PPPK. Mereka adalah guru swasta—yang sering berada di antara idealisme dan keterbatasan.

Padahal tanpa mereka, jutaan anak Indonesia tak akan mendapatkan akses pendidikan yang layak. Namun kesejahteraan mereka masih perlu ditingkatkan, baik melalui insentif, subsidi, maupun perlindungan tenaga kerja.

Satu Pengabdian, Maka Seharusnya Satu Kepastian

Kondisi-kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar dalam dunia pendidikan:
Mengapa pendidik yang menjalankan tugas dan beban kerja yang sama, justru diterima dengan status dan perlakuan yang berbeda?

Untuk itu, dengan penuh hormat, aspirasi berikut perlu dipertimbangkan demi masa depan pendidikan Indonesia:

1. Menyatukan jalur ASN menjadi satu status: PNS.

Agar tidak ada lagi jurang perbedaan bagi mereka yang menjalankan tugas mulia yang sama.

2. Jika jalur PPPK tetap diperlukan, beri jalan menjadi PNS.

Terutama bagi guru-guru yang telah mengabdi puluhan tahun, memiliki rekam jejak baik, dan terbukti layak.

3. Guru honorer yang tersisa perlu diikutsertakan seleksi PNS secara terstruktur dan adil.

Bersama dengan guru swasta agar semua pendidik punya kesempatan menuju status yang pasti.

4. Kesejahteraan guru swasta perlu menjadi agenda penting negara.

Karena mereka bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan nasional.

5. Perbaikan dan pemerataan fasilitas sekolah.

Baik negeri maupun swasta berhak memiliki ruang belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak.

Jika Guru adalah Pilar, Maka Negara Harus Menjadi Payungnya

Bangsa ini dibangun oleh doa, kerja keras, dan keikhlasan para guru. Namun kita tidak bisa terus membiarkan mereka berdiri di atas ketidakpastian.

Guru membutuhkan status yang jelas, pengakuan yang layak, dan masa depan yang terjamin—sebagaimana anak-anak kita membutuhkan mereka setiap hari.

Jika negara benar-benar menganggap guru sebagai pilar pendidikan, maka sudah sewajarnya negara juga memberikan:

Kepastian karier

Perlindungan kerja

Kesejahteraan yang sepadan

Fasilitas pendukung yang memadai

Aspirasi ini bukan sekadar permintaan.
Ini adalah suara hati dari mereka yang setiap hari berada di barisan terdepan perjuangan intelektual bangsa.

Penutup: Untuk Indonesia yang Lebih Adil dan Bermartabat

Kami menyampaikan aspirasi ini dengan penuh hormat dan kecintaan terhadap dunia pendidikan. Semoga pemerintah dan pemangku kebijakan dapat mendengar dan mempertimbangkan harapan para pendidik di seluruh negeri.

Karena ketika guru merasa dihargai, maka anak-anak bangsa akan tumbuh dalam pendidikan yang lebih manusiawi.
Dan ketika pendidik mendapatkan kepastian hidup, maka Indonesia akan melangkah menuju masa depan yang lebih kuat, adil, dan bermartabat.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 22 November 2025

Kami Berharap Presiden Prabowo Hadir di HUT PGRI KE 80

Guru Se-Indonesia Berharap Presiden Prabowo Hadir di HUT PGRI ke-80: Sebuah Seruan dari Hati para Pendidik

Oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
(Pengurus APKS Pusat PGRI / Ketua Umum KOGTIK)

---

Ada satu harapan yang hari-hari ini menggema dari Sabang sampai Merauke, dari ruang guru di kota besar hingga kelas-kelas sederhana di pedalaman nusantara. Harapan itu sederhana, namun penuh makna: guru-guru Indonesia ingin Presiden Prabowo Subianto hadir dalam peringatan HUT PGRI ke-80 di Jakarta.

Mengapa harapan ini begitu kuat? Karena bagi guru, kehadiran seorang presiden bukan sekadar simbol. Ia adalah tanda penghargaan, tanda hubungan batin, dan pengakuan bahwa negara berdiri bersama para pendidik yang setiap hari mengabdi tanpa pamrih.

---

Delapan Puluh Tahun Perjuangan, Delapan Puluh Tahun Kesetiaan Guru

Organisasi PGRI telah berdiri sejak 1945—organisasi yang lahir bahkan sebelum Republik ini benar-benar kukuh berdiri. Selama 80 tahun, guru berdiri di garis terdepan, menjaga akal dan karakter bangsa, meski sering kali hidup dalam tekanan, keterbatasan, dan kebijakan yang berubah-ubah.

Tahun 2025 adalah tahun yang istimewa:
PGRI mencapai usia 80 tahun, usia yang tidak hanya panjang, tetapi menjadi bukti daya tahan perjuangan para pendidik.

Karena itu, ketika para guru menyampaikan harapan agar Presiden Prabowo hadir di acara puncak HUT PGRI ke-80 di Britama Arena, Kelapa Gading, Jakarta, itu bukan sekadar undangan seremonial.
Itu adalah panggilan dari hati.

---

Prabowo dan Guru: Hubungan yang Sudah Terjalin Sejak Awal

Sejak masa kampanye hingga setelah dilantik, Presiden Prabowo berulang kali menegaskan bahwa ia ingin meningkatkan kesejahteraan guru, memperbaiki kualitas pendidikan, dan memberi perhatian lebih besar pada profesi pendidik.

Pernyataan itu seperti angin segar bagi para guru, apalagi di tengah berbagai masalah seperti:

carut-marut status honorer,

linieritas yang membingungkan,

kesejahteraan guru swasta yang masih rendah,

serta beban administrasi yang tak kunjung ringan.

Maka ketika guru berharap Presiden hadir, ini bukan sekadar formalitas.
Ini adalah bentuk keyakinan bahwa Prabowo adalah pemimpin yang mau hadir dan mendengar.

---

Sebuah Momen yang Dinanti: Presiden di Hadapan Seratus Ribu Guru

Bayangkan suasana 29 November 2025 nanti.
Britama Arena yang megah dipenuhi guru dari berbagai daerah. Ada yang datang naik pesawat, ada yang menempuh perjalanan darat dua hari penuh, ada pula yang patungan ongkos hanya demi hadir pada hari bersejarah itu.

Lalu di tengah lautan guru itu, Presiden Prabowo berdiri di panggung memberi sambutan.

Panggilan “Bapak Presiden” menggema, bukan karena formalitas, tetapi karena rasa hormat.

Kalau momen ini benar-benar terjadi, ia akan menjadi salah satu penanda sejarah:
Pertemuan Presiden Indonesia dengan para guru di HUT PGRI ke-80.
Momen yang akan selalu dikenang dan menjadi catatan emas di dunia pendidikan.

---

Mengapa Kehadiran Presiden Begitu Penting?

1. Simbol penghargaan negara kepada guru

Guru sering merasa menjadi garda terdepan yang tidak terlihat. Dengan Presiden hadir, guru merasa negara benar-benar ada untuk mereka.

2. Membangkitkan moral dan semangat guru

Setelah pandemi, digitalisasi, kurikulum baru, dan berbagai tekanan, guru sangat membutuhkan momentum penyemangat.

3. Memberi sinyal kuat bahwa pendidikan adalah prioritas nasional

Kehadiran presiden akan menjadi bukti bahwa pemerintah menjadikan pendidikan sebagai wajah perubahan Indonesia.

4. Menegaskan kembali komitmen perbaikan kesejahteraan guru

Guru honorer, guru swasta, guru di daerah 3T, semua berharap didengar langsung oleh pemimpin negaranya.

---

Viral di Media Sosial: Suara Guru Makin Bergema

Dalam beberapa hari terakhir, unggahan video di Kompasiana berjudul
“Seluruh Guru dan Anggota PGRI Berharap Presiden Prabowo Subianto Hadir di HUT PGRI yang ke-80 di Jakarta”
telah beredar luas. Para guru membagikannya di WhatsApp, Facebook, Instagram, bahkan TikTok.

Hashtag seperti:

#PrabowoDiHUTPGRI80

#GuruMengundangPresiden

#PGRI80Tahun

mulai berseliweran di media sosial para pendidik.

Ini bukan gerakan politik. Ini bukan kampanye.
Ini adalah aspirasi murni dari para pendidik Indonesia.

---

Pesan Para Guru untuk Presiden Prabowo

Jika digambarkan dengan kata-kata yang paling sederhana, harapan guru adalah:

> “Datanglah, Pak Presiden. Kami ingin Bapak hadir di tengah kami.
Kami ingin didengar. Kami ingin dihargai. Kami ingin menunjukkan bahwa guru Indonesia tetap setia menjaga masa depan bangsa.”

Tidak ada tuntutan berlebihan.
Tidak ada agenda tersembunyi.
Hanya sebuah harapan, sederhana namun tulus.

---

Apakah Presiden Akan Datang?

Kita semua berharap demikian.
PGRI sudah menyampaikan undangan resmi.
Pengurus dari pusat hingga daerah mendukung penuh.
Guru-guru terus menyuarakan harapan mereka.

Jika Presiden Prabowo hadir, itu akan menjadi sejarah besar.
Jika beliau tidak hadir, guru tentu tetap menghormati.
Namun, jika kehadiran itu terwujud…

Indonesia akan melihat bahwa Presiden bersama para guru — bukan hanya dalam janji, tetapi dalam kenyataan.

---

Penutup: Suara Guru Adalah Suara Masa Depan Bangsa

Saya menulis artikel ini bukan untuk kepentingan pribadi, bukan pula untuk kepentingan politik. Saya menulis sebagai seorang guru, seorang pendidik, dan anggota PGRI yang telah 80 tahun menjaga marwah profesi ini.

Dan saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana:

“Pak Presiden, datanglah.
Guru-guru Indonesia menunggu Bapak.”

Jika Anda membaca artikel ini, mari bantu sebarkan.
Bagikan di media sosial Anda.
Sampaikan dengan sopan, penuh hormat, dan penuh harapan.

Karena suara guru adalah suara masa depan bangsa.
Dan masa depan Indonesia akan lebih kuat jika pemimpinnya hadir untuk mereka.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 19 November 2025

Asyiknya Menulis Bagi Guru yang Mencerahkan

Kisah omjay guru blogger indonesia:

Asyiknya Menulis: Menjadikan Kelas Bersinar dan Guru Tetap Tangguh Berhati Cahaya

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang semakin kompleks, salah satu keterampilan yang sering terlupakan namun memiliki kekuatan luar biasa adalah menulis. Padahal, menulis bukan hanya aktivitas menuangkan kata-kata, tetapi sebuah proses menyelami makna, memperjelas pikiran, dan membangun jembatan antara pengalaman dan pengetahuan.

Bagi seorang guru, menulis dapat menjadi cahaya—penerang dalam perjalanan panjang pengabdian yang kadang melelahkan, kadang membahagiakan, namun selalu bermakna. Melalui tulisan, seorang guru dapat menemukan versi terbaik dari dirinya: reflektif, peka, kreatif, dan terus berkembang.

Tidak heran bila guru yang terbiasa menulis sering terlihat lebih bijak dalam mengambil keputusan, lebih sabar menghadapi dinamika kelas, dan lebih mampu melihat hal-hal kecil yang kerap luput dari orang lain. Menulis menjadikan guru bukan hanya pengajar, tetapi juga penjaga api pengetahuan, pelestari pengalaman, serta pengabdi ilmu yang berhati terang.

Menulis Sebagai Cahaya Batin Guru

Menulis dapat menjadi refleksi harian yang membantu guru memahami apa yang terjadi di kelas. Setiap pembelajaran membawa cerita. Ada tawa, ada tanya, bahkan ada air mata. Semua itu sering berlalu tanpa sempat dipahami secara mendalam. Padahal di balik setiap kejadian ada hikmah dan pelajaran.

Ketika seorang guru menulis catatan harian pembelajaran, ia sesungguhnya sedang melakukan dialog batin dengan dirinya sendiri: Apa yang berhasil hari ini? Mengapa aktivitas tertentu berjalan lancar? Mengapa ada siswa yang tampak tidak semangat? Apa yang bisa diperbaiki esok hari?

Dari sinilah cahaya muncul. Guru mulai menyadari bahwa tidak ada hari yang benar-benar buruk. Setiap hari selalu menyimpan hal baik yang dapat dicatat, dipahami, dan diambil manfaatnya. Menulis menjadikan guru lebih tangguh, karena ia terbiasa melihat sisi terang dalam setiap situasi.

Asyiknya Menulis di Kelas: Ketika Siswa Menemukan Suaranya

Menulis bukan hanya untuk guru. Kelas yang aktif menulis adalah kelas yang hidup. Di dalamnya, siswa tidak sekadar menerima pengetahuan, tetapi juga mengolah dan mengekspresikan apa yang mereka pahami. Guru yang membiasakan siswanya menulis akan melihat perubahan besar: siswa menjadi lebih percaya diri, lebih jujur terhadap dirinya sendiri, dan lebih terampil mengkomunikasikan ide.

Menulis memberi ruang bagi siswa untuk memiliki “suara”. Bahkan siswa yang pendiam sekalipun akan menemukan keberanian ketika ia diberi kesempatan mengekspresikan pikirannya melalui tulisan. Kadang tulisan menjadi cara terbaik bagi siswa untuk menyampaikan emosi yang tidak bisa mereka ucapkan.

Kelas pun menjadi tempat yang lebih manusiawi, lebih penuh empati, lebih kaya makna.

Tips dan Trik Implementasi Menulis yang Mencerahkan di Kelas

Agar kegiatan menulis dapat membawa cahaya dalam pembelajaran, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan oleh guru di satuan pendidikan mana pun.

1. Mulai dengan Catatan Harian Singkat (5–7 menit di awal atau akhir pelajaran)

Ajak siswa menulis refleksi pendek:

Apa hal paling menarik hari ini?

Apa yang kamu pahami?

Apa hal yang ingin kamu tanyakan?

Apa perasaanmu selama belajar?

Latihan singkat ini melatih kepekaan, memperkuat memori belajar, dan memperbaiki proses berpikir siswa.

2. Gunakan Free Writing Tanpa Takut Salah

Berikan 3–5 menit bagi siswa untuk menulis apa saja tanpa berhenti. Tidak perlu terlalu memikirkan ejaan atau tata bahasa. Tujuannya adalah membebaskan pikiran dan membiasakan mereka menulis dari hati. Ini sangat efektif untuk membangun keberanian.

3. Buat “Pojok Cahaya Tulisan” di Kelas

Pajang karya-karya terbaik siswa di dinding kelas. Dengan begitu, siswa merasa dihargai dan terdorong untuk menghasilkan tulisan yang lebih baik. Guru bisa memberi judul:
“Cahaya Karya Kita” sebagai simbol bahwa setiap tulisan memiliki sinarnya masing-masing.

4. Gunakan Menulis Sebagai Alat Pemahaman Materi

Misalnya setelah menjelaskan materi, mintalah siswa menulis kembali:

Kesimpulan pelajaran

Contoh nyata di sekitar mereka

Satu pertanyaan yang masih mereka pikirkan

Kegiatan ini meningkatkan pemahaman sekaligus memperkuat kemampuan berpikir kritis.

5. Jadikan Menulis Sebagai Rutinitas Mingguan Guru

Guru pun perlu menulis. Bentuknya bisa beragam:

jurnal harian pembelajaran

catatan refleksi

dokumentasi praktik baik

kisah inspiratif

artikel untuk Kompasiana atau blog

Guru yang menulis sesungguhnya sedang mengabadikan perjalanan pengabdian. Suatu saat, catatan itu bukan hanya bermanfaat bagi dirinya, tetapi juga bagi guru-guru lain yang sedang belajar dari pengalamannya.

6. Gunakan Platform Digital untuk Mendukung Budaya Menulis

Di era digital, guru dapat memanfaatkan blog, Google Docs, atau platform edukasi untuk tempat publikasi karya siswa. Mereka akan bangga mengetahui bahwa tulisannya tidak hanya dibaca guru, tetapi juga oleh orang lain.

7. Berikan Umpan Balik yang Menguatkan, Bukan Menghakimi

Dalam menulis, kepercayaan diri adalah kunci. Guru sebaiknya memberi komentar positif terlebih dulu sebelum menyampaikan perbaikan teknis. Dengan begitu, siswa tidak takut mencoba lagi.

Catatan Harian Guru Tangguh Berhati Cahaya

Pada akhirnya, menulis bukan hanya kegiatan akademik. Menulis adalah perjalanan batin. Guru yang menulis setiap hari akan melihat bahwa dirinya perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih peka, lebih sabar, dan lebih kuat.

Seorang guru tangguh bukan berarti tidak pernah lelah, tetapi ia selalu menemukan cara untuk menjaga cahayanya tetap menyala. Menulis adalah salah satu cara itu.

Dalam setiap goresan pena, guru meletakkan sepotong jiwanya—catatan demi catatan yang suatu hari bisa menjadi inspirasi bagi generasi selanjutnya. Kelas pun ikut bercahaya ketika gurunya bersinar melalui tulisan.

Karena itu, mari kita hidupkan budaya menulis di sekolah.
Mari jadikan menulis sebagai cahaya.
Cahaya bagi guru.
Cahaya bagi siswa.
Cahaya bagi pendidikan Indonesia.

Salam blogger peraahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

ppg semakin sulit hqti guru pai banyak yang terluka

Inilah artikel yang menyentuh hati pembaca—khususnya menggambarkan keresahan guru PAI yang merasa proses PPG makin rumit dan melelahkan. Silakan dibaca, dan semoga segera ada solusinya.

---

PPG Semakin Sulit, Hati Guru PAI Makin Terluka: Suara yang Perlu Didengar

“Bu, Pak… kapan saya bisa ikut PPG? Kok persyaratannya makin banyak, dan prosesnya makin rumit?”
Pertanyaan itu bukan hanya keluar dari satu dua guru PAI. Tapi dari ribuan guru yang mengabdikan diri setiap hari, menanamkan akhlak, menuntun iman, sekaligus mendidik generasi. Guru-guru yang, ironisnya, justru sering menjadi yang paling sulit mendapatkan kejelasan dalam perjalanan profesinya.

PPG—Program Pendidikan Profesi Guru—seharusnya menjadi jalan terang untuk meningkatkan kompetensi dan karier guru. Tapi beberapa waktu terakhir, banyak guru PAI merasa jalan itu semakin kabur, berliku, bahkan terasa seperti gerbang yang terbuka hanya sebentar, lalu tertutup kembali sebelum banyak orang sempat melangkah.

Persyaratan yang menumpuk. Pengecekan provinsi yang begitu lama. Tidak adanya masa perbaikan. Pendaftaran yang hanya dibuka beberapa hari.

Semuanya membuat hati sebagian guru PAI runtuh pelan-pelan.

---

Mereka Guru, Bukan Administrator

Guru PAI bukan ahli mengisi dokumen digital. Mereka bukan petugas administrasi yang setiap hari bekerja mengolah berkas, mengunggah dokumen, atau menyesuaikan format. Mereka adalah pendidik hati.

Di kelas mereka mengajarkan kesabaran, kejujuran, dan cinta tanah air.
Di sekolah mereka membimbing anak-anak agar punya akhlak yang baik.
Di rumah mereka menyiapkan materi untuk esok hari, memikirkan murid yang butuh perhatian lebih, atau mempersiapkan nilai dan laporan.

Tetapi ketika PPG dibuka, mereka harus berjibaku dengan syarat yang kadang tidak masuk akal:
file harus JPG, bukan PDF; ukuran tak boleh lebih dari sekian; harus stempel tahun tertentu; harus sinkron dengan data yang kadang tidak bisa mereka ubah sendiri.

Dan saat mereka bertanya, “Boleh diperbaiki tidak?”
Jawabannya hanya satu: Tidak ada masa perbaikan.

Bagaimana mungkin seorang guru tidak diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahan teknis?
Bagaimana mungkin program peningkatan kompetensi justru membuat guru merasa tidak dihargai?

---

Ketika Harapan Guru PAI Seolah Dijeda

Yang paling membuat hati perih adalah lamanya pengecekan provinsi.
Ada yang menunggu berminggu-minggu. Ada yang tiap hari membuka portal, berharap status berubah.
Ada yang sudah siap dengan semua persyaratan, tetapi akhirnya harus menerima kenyataan: “Tidak lolos administrasi.”

Dan lebih menyakitkan lagi, pendaftaran PPG hanya dibuka beberapa hari.
Guru yang sedang mengajar, pelatihan, atau sedang kegiatan sekolah tidak sempat mengunggah.
Guru di daerah dengan jaringan terbatas harus naik bukit, ke warnet, ke sekolah lain, hanya untuk mengejar waktu yang tidak manusiawi.

Semua itu membuat mereka merasa seperti penonton dalam nasib mereka sendiri.
Padahal, mereka ingin ikut PPG bukan untuk gaya-gayaan.
Mereka ingin mengabdi lebih baik, ingin punya kepastian karier, dan ingin masa depan yang lebih tenang untuk keluarga.

---

Guru PAI Tidak Minta Dipermudah. Mereka Hanya Minta Dimanusiakan.

Guru PAI tidak meminta prosedur yang longgar.
Mereka tidak minta aturan diturunkan.
Mereka hanya ingin keadilan dan keterbukaan.

Mereka ingin masa perbaikan—karena setiap manusia pasti bisa salah.
Mereka ingin waktu pendaftaran yang wajar—karena mereka sedang mengabdi di kelas, bukan di meja admin.
Mereka ingin sistem yang transparan—karena tidak ada yang lebih menyakitkan daripada menunggu tanpa kepastian.
Mereka ingin pemerintah mendengar, bukan hanya mengatur dari jauh.

PPG seharusnya membuat guru bersemangat, bukan merasa disisihkan.

---

Guru PAI: Pahlawan yang Tetap Tersenyum Meski Terluka

Meski semuanya terasa semakin sulit, guru PAI tetap mengajar dengan sabar.
Tetap menyampaikan salam, doa, dan pesan moral dengan senyum.
Tetap menjadi tempat curhat murid-murid yang kehilangan arah.
Tetap menenangkan anak-anak yang sedang tumbuh dan mencari jati diri.

Mereka tetap menjadi pelita, meski pelita itu mulai meredup karena angin kebijakan yang makin kencang.

Dan itulah alasan mengapa suara mereka perlu didengar—bukan untuk mengurangi kualitas pendidikan, tetapi untuk menguatkan pondasinya.
Karena tanpa guru yang dihargai, pendidikan tidak akan pernah maju.

---

Saatnya Pemerintah dan Pemangku Kebijakan Membuka Mata dan Hati

Artikel ini bukan keluhan.
Ini adalah suara hati.
Suara guru-guru PAI yang ingin terus mengabdi, tetapi terhambat administrasi yang tidak manusiawi.

Pemerintah perlu melakukan evaluasi.
Perlu memperbaiki mekanisme.
Perlu memberikan ruang perbaikan.
Perlu membuka pendaftaran lebih lama.
Perlu melakukan verifikasi lebih cepat dan transparan.

Karena ketika fasilitas disulitkan, justru guru-guru terbaiklah yang akhirnya patah semangat.
Dan itu bukan hanya kerugian guru—tapi kerugian bangsa.

---

Akhir Kata: Dengarkan Kami, Guru PAI Juga Ingin Maju

Guru PAI hanya ingin satu hal:
kesempatan yang adil untuk berkembang.

Mereka ingin mendapatkan PPG, bukan sebagai beban, tetapi sebagai jalan meningkatkan kualitas pendidikan Islam di Indonesia.

Semoga artikel ini menjadi jembatan suara hati.
Semoga ada kebijakan yang lebih manusiawi.
Dan semoga para guru PAI tetap kuat, tetap sabar, dan tetap menjadi cahaya bagi murid-muridnya, meski dunia kadang tidak ramah kepada mereka.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kisah omjay naik gojek dan angkutan umum

Omjay dan Perjalanan Pulang Pergi yang Membumi: Naik Gojek, KRL, dan Angkot

Di tengah kesibukannya sebagai pendidik, penulis, sekaligus penggerak komunitas guru di Indonesia, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd—yang akrab disapa Omjay—tetap memilih hidup sederhana dan membumi. 

Banyak yang mengenalnya sebagai “Guru Blogger Indonesia”, sosok yang kerap tampil di seminar, webinar nasional, hingga undangan berbicara di berbagai sekolah dan kampus. Namun jarang yang tahu bahwa di balik semua aktivitas itu, Omjay masih setia berangkat dan pulang menggunakan angkutan umum.

Pilihan itu bukan sekadar gaya hidup hemat, tetapi cermin kedekatannya dengan realitas masyarakat kota. Dan dari perjalanan-perjalanan itulah, banyak cerita yang kemudian menjadi inspirasi tulisan-tulisannya.

Berangkat Pagi dengan Gojek Motor

Hari kegiatan Omjay keluar rumah biasanya dimulai sejak subuh. Setelah bersiap dan memastikan materi mengajar maupun agenda harian telah siap, barulah ia membuka aplikasi Gojek. Pilihannya hampir selalu sama: Gojek motor.

Mengapa motor? Karena Jakarta punya satu hukum tak tertulis: kalau mau cepat sampai, hindari macet—dan ojek motor adalah salah satu penyelamat terbaik. 

Bukan sekali dua kali Omjay harus mengejar waktu untuk rapat, mengajar, atau menghadiri undangan sebagai narasumber. Dengan naik Gojek motor, ia bisa meluncur lincah di antara padatnya arus kendaraan.

Di perjalanan, Omjay sering mengobrol santai dengan abang ojek. Mulai dari cerita pendapatan harian, kondisi jalanan, sampai harapan hidup mereka — semua menjadi bagian dari realitas yang tak pernah ingin Omjay tinggalkan. 

“Dari mereka saya belajar tentang ketangguhan,” ucapnya suatu ketika. “Mereka bekerja di jalanan setiap hari, tapi tetap ramah, tetap berusaha jujur, dan yang penting tetap berjuang.”

Kadang perjalanan itu justru menjadi ruang refleksi. Angin pagi, kemacetan yang tak berubah, dan kota Jakarta yang mulai ramai sering memunculkan ide-ide tulisan spontan. Banyak artikel Omjay di blog pribadi maupun Kompasiana lahir dari perjalanan pendek di atas jok motor Gojek.

Wijaya Kusumah - omjay Pulang dengan KRL: Antara Lelah, Inspirasi, dan Rasa Syukur

Sore atau malam hari, perjalanan kembali ke rumah punya coraknya sendiri. Alih-alih memilih kendaraan pribadi atau taksi online, Omjay lebih sering memilih KRL (Kereta Rel Listrik). 

Bagi sebagian orang, KRL mungkin identik dengan padat, berdesakan, dan butuh kesabaran ekstra. Namun bagi Omjay, kereta justru menjadi ruang belajar sosial yang sangat nyata.

Di dalam KRL, Omjay melihat berbagai potret masyarakat urban: para pekerja kantoran yang pulang dengan wajah penat, pelajar yang berdiri sambil memegang buku, ibu-ibu yang membawa belanjaan, hingga pedagang kecil yang menawarkan barang seadanya. Semua itu membuat Omjay merasa menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Tak jarang ada yang mengenalinya. “Omjay ya? Yang suka nulis?” tanya seorang bapak muda suatu sore. Dari pertemuan kecil seperti itu, diskusi hangat pun mengalir—tentang pendidikan, tentang anak-anak yang butuh perhatian lebih, tentang gawai yang membuat interaksi di rumah berubah. KRL menjadi ruang dialog yang tulus.

Selain itu, perjalanan dengan KRL memberikan Omjay waktu untuk menenangkan pikiran setelah seharian beraktivitas. Di sini pula ia sering menuliskan catatan kecil di ponsel, yang nanti berkembang menjadi artikel panjang.

Dari stasiun disambung Angkot: Transportasi Rakyat yang Masih Setia Berjalan

Setelah turun dari stasiun, perjalanan Omjay biasanya belum selesai. Ia masih harus naik angkot, moda transportasi yang meski mulai tergusur modernisasi, tetap bertahan melayani masyarakat hingga hari ini.

Naik angkot memberi sensasi berbeda: lebih pelan, lebih dekat dengan obrolan spontan penumpang lain, dan penuh cerita kehidupan sederhana. Kadang sopirnya memutar lagu dangdut, kadang musik pop tahun 90-an, dan kadang hanya suara mesin yang menemani.

Di angkot, Omjay sering tersenyum sendiri mendengar percakapan antarpenumpang: obrolan tentang harga sembako, tentang sekolah anak, sampai tentang acara televisi semalam. Di sinilah ia benar-benar merasa berada di tengah denyut paling dasar masyarakat.

Bagi Omjay, angkot bukan sekadar transportasi murah. Ia adalah ruang sosial yang jujur, apa adanya, dan penuh pelajaran hidup.

Di Balik Kesederhanaan, Ada Filosofi Hidup

Banyak yang bertanya mengapa seorang tokoh pendidikan, penulis produktif, dan pekerja keras seperti Omjay tidak memilih kendaraan pribadi. Jawabannya sederhana:

Karena hidup harus tetap membumi. Karena guru harus tetap dekat dengan kenyataan.

Menggunakan transportasi umum membuat Omjay tidak melayang dalam kenyamanan pribadi. Ia tetap berada di tengah masyarakat, menyerap dinamika kehidupan yang kelak menjadi sumber inspirasi untuk menulis, mengajar, dan berbagi.

Pilihan naik Gojek motor, KRL, dan angkot bukan sebatas kebutuhan. Itu adalah filosofi. Sebuah cara menjalani hidup yang sederhana, bersahaja, namun penuh makna.

Penutup: Perjalanan yang Menghidupkan Cerita

Setiap hari Omjay pergi-pulang melewati tiga moda transportasi yang sangat Indonesia: ojek motor, kereta, dan angkot. Di sana ia bertemu orang-orang baru, mendengar cerita-cerita kecil, dan menyaksikan kehidupan bergerak apa adanya. 

Perjalanan itu sering melelahkan, tentu saja. Tapi dari sanalah muncul tulisan-tulisan inspiratif yang kita baca di blognya, di Kompasiana, hingga di berbagai buku yang ia terbitkan.

Omjay selalu bilang, “Setiap perjalanan adalah cerita. Tugas kita adalah menangkapnya dengan hati.”

Dan dari angkutan umum itulah, kisah-kisah hebat lahir. Omjay bersyukur bisa kembali naik angkutan umum. Masa sekolah dulu seolah terulang kembali. Terima kasih ya Allah atas segala nikmat yang telah diberikan. 

Naik mobil.pribadi memang terasa lebih nyaman dan cepat. Namun naik angkutan umum jauh lebih nyaman bila kita bersyukur ada skenario Allah yang ada di belakang kita.

Semenjak sakit dan dirawat di tiga rumah sakit, istri melarang omjay bawa mobil sendiri. Pilihan naik angkutan umum adalah pilihan terbaik karena omjay belum bisa membayar gaji supir pribadi. 

Semoga penyakit darah tinggi dan diabetes yang Omjay derita semakin hari semakin membaik dan Omjay bisa kembali mengendarai mobil.pribadi pergi dan pulang. 

Salam blogger persahabatan 
Omjay
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 13 November 2025

memahami jenis gula darah

Memahami Jenis dan Waktu Pemeriksaan Gula Darah: Panduan Sederhana untuk Hidup Sehat
Oleh: Wijaya Kusumah

“Belum tentu, Pak Ari, tergantung sudah berapa lama Bapak berpuasa 😊”
Kalimat ini mungkin terdengar ringan, tetapi di baliknya tersimpan pengetahuan penting tentang bagaimana cara yang benar untuk memeriksa kadar gula darah. Banyak orang yang belum memahami bahwa hasil pemeriksaan gula darah sangat bergantung pada kapan dan bagaimana pemeriksaan itu dilakukan.

Pemeriksaan gula darah adalah langkah sederhana namun sangat penting dalam menjaga kesehatan, terutama bagi mereka yang berisiko atau sudah menderita diabetes melitus. Namun, tahukah Anda bahwa ada tiga jenis pemeriksaan gula darah yang berbeda berdasarkan waktu pengambilannya? Masing-masing memiliki tujuan dan standar hasil yang berbeda pula. Mari kita bahas satu per satu dengan bahasa yang mudah dipahami.


---

1. Gula Darah Puasa (GDP)

Pemeriksaan Gula Darah Puasa (GDP) dilakukan setelah seseorang berpuasa selama 8 hingga 10 jam. Artinya, sebelum pemeriksaan, Anda tidak boleh makan atau minum selain air putih. Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tubuh mengatur kadar gula darah tanpa pengaruh makanan.

Nilai normal GDP adalah di bawah 100 mg/dL. Jika hasilnya berada di antara 100 hingga 125 mg/dL, hal ini disebut pra-diabetes, artinya tubuh mulai menunjukkan gangguan dalam mengatur gula darah. Sedangkan bila hasilnya 126 mg/dL atau lebih, maka kemungkinan besar seseorang sudah mengidap diabetes dan perlu pemeriksaan lanjutan oleh dokter.

Namun, jangan langsung panik bila hasilnya tinggi. Kadang, hasil GDP bisa terpengaruh oleh kurang tidur, stres, atau konsumsi obat tertentu. Karena itu, penting untuk mencatat kondisi tubuh sebelum pemeriksaan dan melakukan tes ulang bila perlu.


---

2. Gula Darah 2 Jam Post-Prandial (GD2PP)

Jenis pemeriksaan kedua adalah Gula Darah 2 Jam Post-Prandial (GD2PP). Tes ini dilakukan dua jam setelah makan, dihitung sejak suapan pertama. Tujuannya untuk melihat seberapa baik tubuh Anda memproses gula dari makanan yang baru saja dikonsumsi.

Hasil normal GD2PP adalah di bawah 140 mg/dL. Nilai antara 140 hingga 199 mg/dL menunjukkan adanya toleransi glukosa terganggu, sedangkan 200 mg/dL atau lebih menandakan kemungkinan besar diabetes.

Tes ini sangat berguna untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan atau diet pada penderita diabetes. Banyak dokter menggunakan GD2PP untuk menilai seberapa cepat insulin bekerja menurunkan kadar gula setelah makan.


---

3. Gula Darah Sewaktu (GDS)

Jenis ketiga adalah Gula Darah Sewaktu (GDS). Pemeriksaan ini bisa dilakukan kapan saja, tanpa harus berpuasa atau menunggu waktu makan tertentu. Tes ini biasanya digunakan untuk skrining cepat atau penilaian kondisi darurat.

Nilai normal GDS umumnya di bawah 200 mg/dL. Jika hasilnya melebihi batas tersebut, apalagi bila disertai gejala klasik seperti sering haus, sering buang air kecil, mudah lelah, dan berat badan menurun tanpa sebab jelas, maka pemeriksaan lanjutan sangat disarankan.


---

Mengapa Penting Mengetahui Jenis Pemeriksaan?

Banyak masyarakat yang salah paham ketika melihat hasil pemeriksaan gula darah. Misalnya, seseorang baru saja makan lalu melakukan tes, kemudian panik karena hasilnya tinggi. Padahal, jika pemeriksaan dilakukan setelah makan, wajar bila kadar gula meningkat. Oleh karena itu, pemahaman tentang waktu dan jenis pemeriksaan sangat penting agar tidak salah menafsirkan hasil.

Selain itu, pemeriksaan rutin bisa membantu mendeteksi dini gangguan metabolisme. Semakin cepat diketahui, semakin mudah pula mengontrolnya dengan pola hidup sehat: makan teratur, kurangi gula tambahan, rutin bergerak, dan kelola stres.


---

Penutup

Kadar gula darah bukan sekadar angka di alat tes, melainkan cerminan bagaimana tubuh bekerja menjaga keseimbangan energi. Dengan memahami perbedaan antara GDP, GD2PP, dan GDS, kita bisa melakukan pemeriksaan dengan benar dan menafsirkan hasilnya dengan bijak.

Mulailah hari ini dengan langkah sederhana: kenali tubuh Anda, atur pola makan, dan jadwalkan pemeriksaan gula darah secara berkala. Karena mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

> “Menjaga gula darah bukan hanya urusan penderita diabetes, tapi tanggung jawab setiap orang yang ingin hidup sehat dan panjang umur.”




---

Artikel ini ditulis untuk memberikan edukasi kesehatan sederhana bagi masyarakat agar lebih sadar akan pentingnya pemeriksaan gula darah secara rutin. Yuk, mulai peduli dengan kesehatan diri dan keluarga!

Dua Guru Di Luwu Utara Dapat Rehabilitasi Presiden Prabowo

Judul: Harkat Guru Dipulihkan: Dua Pahlawan Pendidikan Akhirnya Bebas dan Direhabilitasi

Alhamdulillah, kabar gembira datang dari dunia pendidikan Indonesia. Dua guru asal Kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan — Rasnal dan Abdul Muis — akhirnya dibebaskan setelah melalui proses panjang dan penuh ujian. Mereka memperoleh haknya kembali sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui keputusan prerogatif Presiden Republik Indonesia yang memberikan rehabilitasi penuh atas kasus yang sempat menjerat keduanya.

Kabar ini disambut dengan rasa syukur dan haru oleh banyak kalangan, terutama para pendidik di seluruh Indonesia. Betapa tidak, perjuangan dua guru ini telah menjadi simbol keteguhan hati dan cinta profesi di tengah tekanan dan ketidakadilan. Dengan keputusan ini, harkat dan martabat mereka sebagai guru akhirnya dikembalikan dan dipulihkan sepenuhnya.


Kisah Dua Guru yang Terzalimi

Beberapa waktu lalu, publik dibuat terhenyak oleh kisah Rasnal dan Abdul Muis, dua guru yang dipecat karena urusan sumbangan sukarela dari orang tua siswa sebesar Rp20.000. Sumbangan itu sejatinya dimaksudkan untuk membantu guru honorer di sekolah mereka, namun justru berbuntut pada sanksi berat.

Mereka kemudian mengadukan nasibnya ke DPRD Sulawesi Selatan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP). Kisah itu viral dan mengetuk hati banyak pihak. Banyak yang menilai, keputusan pemecatan mereka sangat tidak proporsional dan mencerminkan lemahnya perlindungan terhadap profesi guru, terutama di daerah.

Namun di balik tekanan itu, Rasnal dan Abdul Muis tetap tegar. Mereka tidak kehilangan semangat, tidak menyerah pada keadaan, dan terus memperjuangkan keadilan dengan cara bermartabat. Mereka membuktikan bahwa guru sejati bukan hanya mengajar di kelas, tapi juga mengajarkan integritas melalui sikap hidupnya sendiri.


Peran Presiden dan Doa dari Seluruh Negeri

Berita pembebasan dan rehabilitasi ini menjadi bukti bahwa Presiden mendengar suara rakyatnya. Dalam sistem pemerintahan, prerogatif presiden adalah hak konstitusional yang dapat digunakan untuk memberikan amnesti, abolisi, atau rehabilitasi bagi warga negara yang dinilai layak mendapat keadilan.

Keputusan ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir dan peduli terhadap guru, profesi yang menjadi tulang punggung peradaban bangsa. Banyak pihak, termasuk organisasi guru dan tokoh pendidikan nasional, menyampaikan apresiasi mendalam atas langkah bijak ini.

“Alhamdulillah, keputusan ini mengembalikan marwah guru Indonesia. Harkat dan martabat mereka telah dipulihkan,” ujar salah satu tokoh PGRI dengan mata berkaca-kaca.

Ungkapan “Alhamdulillah ❤️🙏” pun menggema di media sosial. Doa dan ucapan syukur datang dari seluruh penjuru negeri. Para guru merasa bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia. Ada harapan baru bahwa keadilan bagi pendidik bukan hal mustahil di negeri ini.


Makna Rehabilitasi: Lebih dari Sekadar Bebas

Pemberian rehabilitasi bukan sekadar membebaskan dua guru dari jerat hukum atau pemecatan administratif. Lebih dari itu, rehabilitasi adalah pemulihan nama baik, harkat, dan martabat sebagai manusia dan pendidik.

Artinya, mereka kini kembali diakui sebagai ASN, kembali memiliki haknya sebagai guru, dan kembali dapat mengabdi dengan penuh kehormatan. Ini juga menjadi preseden penting bahwa guru harus mendapat perlindungan hukum yang memadai.

Kisah ini menjadi pengingat bagi semua pihak — mulai dari pemerintah daerah, dinas pendidikan, hingga kepala sekolah — agar lebih bijak dalam membuat keputusan yang menyangkut nasib para pendidik. Guru bukan sekadar pegawai, tetapi penentu masa depan bangsa.


Penutup: Kemenangan Kemanusiaan dan Keadilan

Kisah Rasnal dan Abdul Muis bukan hanya tentang dua orang guru yang dibebaskan, tetapi tentang kemenangan kemanusiaan dan keadilan di tengah derasnya arus birokrasi. Mereka telah menjadi simbol bahwa perjuangan guru tak boleh dipandang remeh, dan suara kebenaran pada akhirnya akan menemukan jalannya.

Kini, dengan hati yang lapang, mereka bisa kembali ke ruang kelas, menyapa murid-muridnya, dan mengajar dengan penuh cinta. Sebab seperti kata pepatah bijak, “Guru sejati tidak mencari penghargaan, tetapi keadilan akan selalu menghargai guru yang tulus mengabdi.”

Alhamdulillah. Harkat dan martabat guru telah dikembalikan. Semoga kisah ini menjadi inspirasi bagi seluruh guru di Indonesia untuk tetap kuat, sabar, dan yakin bahwa kebenaran selalu menang pada waktunya. ❤️🙏

Rabu, 12 November 2025

tunjangan profesi guru atau tpg yang sering terlambat cair

Info tpg guru yang lambat cairnya

Derita Guru Sepanjang Masa: Ketika TPG Tak Kunjung Cair

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia – Anggota PGRI

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa.”
Kalimat itu indah, tetapi di baliknya tersimpan derita panjang yang belum juga berakhir.

Hingga kini, banyak guru di berbagai daerah masih mengeluh karena Tunjangan Profesi Guru (TPG) mereka belum cair. Padahal mereka sudah lulus PPG (Pendidikan Profesi Guru), memiliki gelar G.r, dan melaksanakan tugas mengajar dengan penuh tanggung jawab.

Suara Ketua Umum PB PGRI: “Apalagi Kalau Keluarga Lapar”

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, menegaskan bahwa banyak laporan masuk dari daerah, termasuk dari guru-guru agama Kristen di bawah Kementerian Agama yang belum menerima hak mereka.

> “Meskipun menjadi kewenangan pusat yang konon ditransfer langsung ke rekening guru, kenyataannya izin untuk mentransfer masih di bawah. Syarat 24 jam mengajar tetap jadi keharusan karena itu ketentuan undang-undang. Padahal, aturan dari kementerian yang memperbolehkan 16 jam tatap muka tidak berlaku. Derita guru sepanjang masa. Kalau kebijakan tidak konsisten, bagaimana guru bisa fokus mengabdi? Apalagi kalau keluarga lapar,” ujar Bunda Unifah dengan nada getir.

Kata-kata itu menggugah nurani kita semua. Di satu sisi, guru dituntut profesional dan berdedikasi. Namun di sisi lain, hak-hak dasar mereka sering tersendat karena birokrasi dan ketidaksinkronan kebijakan.

Kebijakan Indah di Atas Kertas, Pahit di Lapangan

Guru Maksimus Masan Kian dari PGRI Nusa Tenggara Timur menambahkan:

> “Semua yang indah di Permendikdasmen Nomor 11 Tahun 2025 itu di lapangan pepesan kosong. Kementerian Pendidikan merasa berhasil dengan program PPG, tapi di lapangan guru-guru kesulitan mendapatkan TPG. Banyak yang tidak valid. Seharusnya TPG melekat pada gaji dan diberikan setiap bulan kepada mereka yang sudah bergelar G.r.”

Suara ini menggema di seluruh pelosok negeri. Guru-guru di daerah pedalaman, dari Sabang hingga Merauke, menghadapi kenyataan pahit yang sama: data tidak valid, jam mengajar kurang, atau proses verifikasi lambat.

Padahal, setiap bulan guru tetap berangkat ke sekolah, mengajar, membimbing, dan mendidik generasi bangsa dengan sepenuh hati.

Kisah Nyata: Omjay dan TPG yang Tertunda

Saya sendiri, Omjay, mengalami hal serupa. Bulan demi bulan menunggu pencairan TPG, namun dana belum juga masuk.

Akhirnya, saya mencoba menghubungi Pak Temu Ismail, Sekretaris Dirjen GTK, dan berkat bantuan beliau serta Pak Dicky dari Kemdikdasmen, akhirnya TPG saya bisa cair.

Namun, saya sadar bahwa tidak semua guru memiliki akses komunikasi seperti itu.
Banyak guru di pelosok Indonesia hanya bisa menunggu, pasrah, dan berharap sistem segera bekerja.

Suara dari Kementerian: Ada Proses yang Harus Dibenahi

Ketika dikonfirmasi, Sekretaris Direktorat Jenderal GTK, Temu Ismail, menjelaskan bahwa keterlambatan pencairan TPG seringkali disebabkan oleh proses verifikasi data dan validasi jam mengajar yang belum sempurna.

> “Kami memahami keluhan para guru. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Kementerian Keuangan untuk mempercepat prosesnya. Prinsip kami sederhana: guru yang berhak harus menerima haknya,” ujar Pak Temu.

Sementara itu, Perwakilan dari Direktorat Kemdikdasmen menambahkan bahwa pemerintah berupaya menyesuaikan regulasi agar persyaratan 24 jam tatap muka dapat lebih fleksibel, khususnya untuk guru di sekolah kecil atau daerah terpencil.

> “Kami tidak ingin guru kehilangan haknya hanya karena kondisi geografis atau keterbatasan siswa. Regulasi baru sedang dikaji untuk menjamin keadilan bagi semua guru,” katanya.

Ketidakkonsistenan Kebijakan: Akar Masalahnya

Permasalahan ini muncul karena ketidaksinkronan antar kebijakan: Undang-Undang, Peraturan Menteri, hingga sistem administrasi daerah.
Misalnya, aturan 24 jam tatap muka masih dijadikan patokan utama, padahal di lapangan tidak semua guru bisa memenuhi itu.

Bunda Unifah menegaskan,

> “Kebijakan yang tidak konsisten akan mengganggu ruang berpikir dan pengabdian guru. Jika pemerintah ingin guru fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran, maka kesejahteraan mereka harus dijamin tanpa syarat yang memberatkan.”

Menutup Luka Lama Guru

Sudah saatnya pemerintah melihat TPG bukan sekadar angka transfer, tapi sebagai bentuk penghargaan negara kepada profesi mulia yang melahirkan jutaan anak bangsa.

Kita boleh berbicara tentang Merdeka Belajar, AI di sekolah, atau Transformasi Digital Pendidikan.
Namun semua itu tidak akan bermakna jika para gurunya masih berjuang hanya untuk mendapatkan hak mereka sendiri.

Guru tidak meminta istana.
Mereka hanya ingin haknya diberikan tepat waktu.
Karena di balik senyum sabar seorang guru, ada perjuangan yang tak selalu terlihat — perjuangan melawan ketidakpastian.

Dan seperti kata Bunda Unifah,

> “Apalagi kalau keluarga lapar…”

#PGRI #UnifahRosyidi #OmjayGuruBlogger #TPG #KesejahteraanGuru #PendidikanIndonesia #MerdekaBelajar

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 11 November 2025

produk digital apa yang lagi laris?

Info produk digital yang lagi laris

Produk Digital yang Laku Keras Saat Ini

Dunia terus bergerak menuju era digital yang semakin maju. Segala sesuatu kini bisa diakses dari genggaman tangan. Dari berbelanja, belajar, bekerja, hingga mencari hiburan—semuanya dilakukan secara daring. Tak heran jika produk digital kini menjadi komoditas yang paling laku keras di pasaran.

Banyak orang yang dulunya berjualan barang fisik, kini mulai beralih ke produk digital karena modalnya relatif kecil, proses produksinya cepat, dan bisa dijual berulang kali tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan. Lalu, apa saja produk digital yang paling laris saat ini? Mari kita bahas satu per satu.

---

1. E-Book dan Buku Digital

Buku digital atau e-book masih menjadi primadona. Banyak orang memilih membaca lewat ponsel atau tablet karena lebih praktis dan bisa dibawa ke mana saja.
Tema yang paling laris biasanya seputar:

Pengembangan diri dan motivasi,

Keuangan dan investasi,

Panduan menulis,

Cara menjadi kreator digital.

Guru Blogger Indonesia, Dr. Wijaya Kusumah (Omjay), sering mengatakan:

> “Menulis e-book itu seperti menanam pohon ilmu. Sekali ditanam, hasilnya bisa dinikmati banyak orang tanpa batas waktu.”

Dengan platform seperti Google Play Book, Gramedia Digital, dan Amazon Kindle, siapa pun kini bisa menjual e-book dengan mudah.

---

2. Kursus Online dan Kelas Digital

Pandemi telah mengubah cara belajar. Kini masyarakat sudah terbiasa belajar dari rumah melalui platform seperti Udemy, Skillshare, Coursera, Ruangguru, hingga Kelas Omjay di Komunitas Guru TIK Indonesia (KOGTIK).

Kelas online yang paling diminati antara lain:

Desain grafis dan editing video,

Pembuatan konten digital,

Coding dan Artificial Intelligence,

Public speaking, menulis, dan marketing digital.

Produk digital berupa kelas daring atau webinar berbayar sangat potensial karena bisa dijual ke ratusan peserta tanpa batas ruang dan waktu.

---

3. Template dan Desain Digital

Desain siap pakai seperti template PowerPoint, Canva, CV profesional, feed Instagram, dan presentasi sekolah juga sedang laku keras. Banyak pelajar, guru, dan karyawan mencari desain instan untuk mempermudah pekerjaan mereka.

Jika Anda kreatif dan menguasai desain, ini peluang besar untuk menjual karya Anda di marketplace seperti Etsy, Creative Market, Envato, atau Canva Creator.

---

4. Musik, Sound Effect, dan Jingle

Kreator video dan podcaster butuh musik bebas hak cipta. Maka, produk audio digital seperti sound effect, backsound, dan jingle pendek sangat dicari.
Musisi independen kini bisa menjual karya digitalnya melalui platform seperti AudioJungle, Pond5, atau bahkan TikTok Sounds.

---

5. Aplikasi dan Plugin

Bagi yang jago coding, membuat aplikasi Android, plugin WordPress, atau ekstensi browser bisa jadi ladang emas.
Banyak developer muda di Indonesia sukses menjual software sederhana yang membantu pengguna meningkatkan produktivitas atau mempercantik tampilan website.

Contohnya:

Plugin SEO untuk WordPress,

Aplikasi belajar bahasa,

Kalkulator keuangan pribadi,

Aplikasi jadwal belajar siswa.

---

6. Foto dan Video Digital

Fotografer kini tak perlu menunggu pesanan pemotretan. Cukup unggah hasil karyanya ke situs Shutterstock, Adobe Stock, atau iStockPhoto, dan setiap kali foto diunduh, mereka mendapat royalti.
Konten visual yang paling banyak dicari biasanya bertema gaya hidup, pendidikan, teknologi, dan kesehatan.

---

7. AI Prompt dan Preset Editing

Produk digital baru yang sedang naik daun adalah AI prompt—panduan siap pakai untuk ChatGPT, Midjourney, atau Canva Magic Studio.
Selain itu, preset editing Lightroom dan filter video juga banyak diburu oleh konten kreator dan influencer muda.

---

8. Sertifikat dan Template Pembelajaran

Bagi guru dan pendidik, produk digital seperti template RPP, modul ajar, sertifikat, atau asesmen digital juga sangat diminati.
Komunitas guru, termasuk KOGTIK, kini banyak mengembangkan produk-produk ini untuk mendukung guru dalam menerapkan pembelajaran berbasis digital.

---

Mengapa Produk Digital Begitu Menarik?

Modal kecil, bahkan banyak yang hanya butuh laptop dan koneksi internet.

Bisa dijual tanpa batas stok.

Mendatangkan penghasilan pasif. Sekali buat, bisa dijual berulang.

Jangkauan global. Produk bisa dibeli orang dari berbagai negara.

---

Komentar Penutup dari Omjay

> “Di era digital, pengetahuan adalah mata uang baru. Siapa yang bisa mengubah ilmu dan kreativitas menjadi produk digital, dia tidak hanya menciptakan karya, tapi juga membuka peluang rezeki tanpa batas.”

---

Kesimpulan

Dari e-book hingga kursus online, dari template hingga aplikasi, produk digital adalah peluang emas di era sekarang.
Yang dibutuhkan bukan modal besar, melainkan kemauan belajar dan konsistensi berkarya.
Seperti kata pepatah, “Bukan teknologi yang membuat seseorang sukses, tapi semangatnya untuk terus beradaptasi.”

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

public speaking for teacher pertemuan kedelapan

https://youtu.be/b8ev1DtDR1M?si=9sW-JCk8oGRhcUuv

👉 Daftar segera melalui tautan: bitĥ.ly/PSFTPGRI
📱 Info & Kontak: 085697606840 (Achmad Alfahrizi)

Topic: public speaking
Time: This is a recurring meeting Meet anytime
Join Zoom Meeting
https://us02web.zoom.us/j/88334951692?pwd=iow6tzl9YVFCaNtybwyrrd3cV8rIza.1

Meeting ID: 883 3495 1692
Passcode: 078056

Jangan lewatkan kesempatan belajar bersama  nanti  malam ya Bapak/Ibu guru hebat, pukul 19.00 - 21.00 WIB 💪🏻💪🏻💪🏻🔥