Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Sabtu, 17 Januari 2026
Ketika Koruptor Menuduh Koruptor
Rabu, 14 Januari 2026
Hidup Sesudah Mati
Senin, 12 Januari 2026
Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar
Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar
Perubahan zaman menuntut sekolah untuk tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membekali siswa dengan cara berpikir yang relevan dengan era digital. Salah satu upaya penting yang kini mulai diperkenalkan adalah pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), termasuk di jenjang Sekolah Dasar (SD).
Namun, masih banyak guru SD yang bertanya-tanya: bagaimana cara mengajarkannya di kelas? Apakah harus mahir komputer? Apakah butuh perangkat mahal? Jawabannya: tidak. KKA di SD justru bisa diajarkan secara sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak.
Artikel ini menyajikan contoh praktik KKA di kelas SD yang mudah diterapkan oleh guru, bahkan oleh guru yang baru pertama kali mengenal koding dan AI.
KKA di SD: Bukan Tentang Kode, Tapi Cara Berpikir
Sebelum masuk ke praktik, penting dipahami bahwa KKA di sekolah dasar bukan bertujuan mencetak programmer cilik. Fokus utamanya adalah melatih:
-
Berpikir logis dan runtut
-
Memecahkan masalah sederhana
-
Berani mencoba dan memperbaiki kesalahan
-
Bekerja sama dan berkomunikasi
Dengan kata lain, KKA adalah sarana untuk membentuk cara berpikir komputasional, bukan menghafal bahasa pemrograman.
Praktik 1: Unplugged Coding – Bermain Jadi Robot
(Tanpa Komputer, Kelas 1–3)
Praktik paling sederhana bisa dimulai tanpa komputer sama sekali. Guru cukup mengajak siswa bermain peran.
Satu siswa berperan sebagai robot, dan siswa lainnya sebagai programmer. Programmer memberi perintah sederhana seperti “maju dua langkah”, “belok kanan”, atau “berhenti”. Robot hanya boleh bergerak sesuai perintah.
Tujuannya sederhana: membawa robot menuju satu titik, misalnya meja guru atau sebuah kursi.
Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa:
-
Perintah harus jelas
-
Urutan perintah sangat penting
-
Satu kesalahan kecil bisa membuat tujuan tidak tercapai
Tanpa disadari, siswa sedang belajar algoritma, inti dari koding.
Praktik 2: Menyusun Urutan Kegiatan Sehari-hari
(Kelas 2–4)
Guru menyiapkan kartu bergambar aktivitas sehari-hari: bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah. Kartu dibagikan secara acak kepada kelompok kecil.
Tugas siswa adalah menyusun kartu tersebut menjadi urutan yang benar. Setelah itu, guru mengaitkan kegiatan ini dengan koding.
“Komputer itu seperti kita tadi. Kalau urutannya salah, hasilnya juga salah.”
Kegiatan sederhana ini membuat siswa memahami bahwa logika koding ada di kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang asing.
Praktik 3: Koding Visual dengan Scratch Jr
(Dengan Perangkat, Kelas 3–6)
Jika sekolah memiliki tablet atau komputer, guru dapat menggunakan aplikasi Scratch Jr atau Scratch.
Guru tidak perlu menjelaskan istilah rumit. Cukup menunjukkan balok perintah seperti:
-
maju
-
putar
-
berhenti
Siswa diberi tantangan sederhana: buat karakter berjalan menuju rumahnya. Jika karakter tidak sampai tujuan, siswa diminta memperbaiki susunan perintah.
Di sinilah pembelajaran bermakna terjadi. Siswa belajar bahwa:
-
Salah itu wajar
-
Kesalahan bisa diperbaiki
-
Mencoba ulang adalah bagian dari belajar
Praktik 4: Cerita Digital Interaktif
(Integrasi Bahasa Indonesia, Kelas 4–6)
KKA tidak berdiri sendiri. Guru bisa mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain.
Dalam praktik ini, siswa diminta menulis cerita pendek, lalu mengubahnya menjadi animasi sederhana menggunakan Scratch. Karakter bisa bergerak, berbicara, atau berubah latar.
Hasilnya bukan hanya pembelajaran koding, tetapi juga:
-
Literasi membaca dan menulis
-
Kreativitas
-
Kepercayaan diri saat presentasi
Praktik 5: Mengenal Kecerdasan Artifisial (AI) Secara Sederhana
(Tanpa Coding)
Untuk mengenalkan AI, guru tidak perlu membuat program canggih. Cukup ajak siswa berdiskusi.
Guru bertanya, “Mengapa ponsel bisa mengenali wajah?”
Dari jawaban siswa, guru menjelaskan bahwa AI belajar dari banyak contoh.
Siswa kemudian diajak berdiskusi tentang:
-
Manfaat AI
-
Risiko penggunaan AI
-
Etika dan privasi
Di sinilah pendidikan karakter bertemu dengan teknologi.
Praktik 6: Simulasi AI di Kelas
(Role Play, Kelas 4–6)
Guru menyiapkan gambar hewan dan benda. Siswa berperan sebagai “mesin pintar”. Guru memberi contoh beberapa kali, lalu siswa diminta menebak gambar baru berdasarkan contoh sebelumnya.
Melalui permainan ini, siswa memahami bahwa:
-
AI bisa salah
-
AI tergantung pada data
-
Manusia tetap memegang kendali
Penilaian dalam Pembelajaran KKA
Penilaian KKA di SD sebaiknya tidak berfokus pada angka. Guru dapat menilai melalui:
-
Keaktifan siswa
-
Proses berpikir
-
Kerja sama
-
Kreativitas
Portofolio karya siswa jauh lebih bermakna daripada tes tertulis.
Penutup: Guru Tidak Harus Hebat Teknologi, Cukup Berani Memulai
Koding dan Kecerdasan Artifisial di sekolah dasar bukan tentang kecanggihan alat, melainkan tentang keberanian guru untuk belajar bersama siswa.
Guru tidak harus sempurna.
Guru tidak harus ahli.
Guru cukup satu langkah lebih maju dan mau mencoba.
Dari kelas sederhana, lahir generasi yang tidak hanya memakai teknologi, tetapi memahami, mengendalikan, dan menggunakannya dengan bijak.
Jumat, 09 Januari 2026
Rabu, 07 Januari 2026
Cerita Liburan Seru Ameera Jena Pribadi Kelas 8G Absen 7 SMP Labschool Jakarta
CERITA
LIBURAN SERU AMEERA JENA PRIBADI 8G 07
Liburan kali ini benar-benar
menjadi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Jika selama ini kata
“liburan” selalu identik dengan kesenangan, hiburan, dan pelarian dari
rutinitas, maka perjalanan umroh memberiku definisi baru tentang makna liburan
yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke
tempat lain, melainkan perjalanan batin yang penuh perenungan, keikhlasan, dan
rasa syukur yang mendalam.
Keputusan untuk berangkat
umroh bukanlah keputusan yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang
menyertainya, mulai dari niat yang terus dipanjatkan dalam doa hingga persiapan
yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Aku menyadari bahwa perjalanan ini
bukan perjalanan biasa, sehingga persiapan mental dan spiritual menjadi hal
yang sangat penting. Aku mulai memperbanyak ibadah, memperbaiki hubungan dengan
sesama, dan memohon maaf kepada orang-orang terdekat agar langkahku menuju
Tanah Suci terasa lebih ringan.
Hari keberangkatan akhirnya
tiba. Bandara dipenuhi oleh jamaah yang datang dari berbagai penjuru negeri.
Suasana begitu ramai, namun terasa damai. Wajah-wajah penuh harap dan senyum
tipis menghiasi setiap sudut. Ada yang tampak terharu karena akhirnya impian
mereka terwujud, ada pula yang tak henti-hentinya berdoa sambil menunggu
panggilan boarding. Aku berdiri di antara mereka, menarik napas dalam-dalam,
mencoba menenangkan diri sambil mensyukuri kesempatan luar biasa ini.
Saat pesawat mulai mengudara,
perasaan haru tak bisa kutahan. Aku menyadari bahwa tidak semua orang
mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci. Di dalam pesawat,
suasana terasa khusyuk. Banyak jamaah yang mengisi waktu dengan membaca
Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa. Aku pun ikut larut dalam suasana itu,
membiarkan pikiranku perlahan menjauh dari urusan dunia dan fokus pada
perjalanan spiritual yang sedang kulalui.
Perjalanan udara yang panjang
terasa lebih ringan karena hati dipenuhi oleh rasa antusias dan harapan. Aku
berbincang dengan beberapa jamaah yang duduk di sekitarku. Ada seorang bapak
yang telah menunggu belasan tahun untuk bisa berangkat umroh, dan ada pula
seorang ibu yang menjadikan perjalanan ini sebagai hadiah ulang tahun
pernikahannya. Cerita-cerita mereka membuatku semakin sadar bahwa setiap jamaah
membawa kisah dan doa masing-masing.
Setibanya di Jeddah, udara
panas langsung menyambut kami. Meski tubuh terasa lelah, semangat justru
semakin menguat. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan menuju Madinah. Sepanjang
perjalanan, aku memandangi hamparan gurun yang luas dan sunyi. Tidak banyak
pepohonan, tidak ada gedung-gedung tinggi, hanya langit biru dan tanah yang
terbentang sejauh mata memandang. Pemandangan itu menghadirkan ketenangan yang
sulit dijelaskan, seolah mengajak hati untuk lebih banyak merenung.
Madinah menyambut kami dengan
suasana yang begitu damai. Kota ini terasa berbeda, lebih tenang dan
menenangkan. Saat pertama kali melihat Masjid Nabawi, aku terdiam lama.
Keindahannya begitu memukau, namun yang lebih menyentuh adalah aura spiritual
yang terasa begitu kuat. Aku melangkah masuk dengan hati bergetar, menyadari
bahwa aku berada di salah satu tempat paling mulia di dunia.
Shalat di Masjid Nabawi
memberikan pengalaman spiritual yang sangat mendalam. Setiap rakaat terasa
lebih khusyuk, setiap doa mengalir dari hati yang paling dalam. Ketika
berkesempatan masuk ke Raudhah, aku merasakan ketenangan yang belum pernah
kurasakan sebelumnya. Aku berdoa panjang, menyebutkan satu per satu harapan,
rasa syukur, dan permohonan ampun kepada Allah. Air mata mengalir tanpa bisa
kutahan, bukan karena sedih, tetapi karena merasa begitu dekat dengan-Nya.
Hari-hari di Madinah diisi
dengan berbagai aktivitas ibadah dan ziarah. Kami mengunjungi makam Rasulullah
SAW dan para sahabat beliau. Berdiri di dekat makam Rasulullah membuatku
merenungkan betapa besar cinta dan pengorbanan beliau untuk umatnya. Kami juga
mengunjungi Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam,
serta Jabal Uhud, tempat terjadinya perang Uhud yang sarat dengan pelajaran
tentang ketaatan dan keikhlasan.
Di Jabal Uhud, aku berdiri
memandangi gunung yang kokoh dan sunyi. Aku membayangkan bagaimana para sahabat
Rasulullah berjuang di tempat itu, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan
iman. Momen itu membuatku merenung tentang kehidupan modern yang sering kali
dipenuhi keluhan, padahal perjuangan kita tidak sebanding dengan apa yang telah
mereka lalui.
Setelah beberapa hari di
Madinah, perjalanan dilanjutkan menuju Makkah. Kami bersiap mengenakan pakaian
ihram dan berniat umroh di miqat. Mengenakan ihram memberikan perasaan yang
sangat berbeda. Tidak ada perhiasan, tidak ada pakaian mewah, semua terlihat
sama. Aku merasa benar-benar meninggalkan identitas duniawi dan berdiri sebagai
hamba di hadapan Allah.
Perjalanan menuju Makkah
dipenuhi dengan lantunan talbiyah. Suara jamaah yang mengucapkan “Labbaik
Allahumma Labbaik” menggema di dalam bus, menciptakan suasana yang begitu
menggetarkan hati. Setiap kalimat talbiyah terasa seperti jawaban atas
panggilan Allah, dan aku melafalkannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Saat akhirnya memasuki
Masjidil Haram dan melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, aku terdiam dalam
waktu yang lama. Ka’bah berdiri megah di hadapanku, sederhana namun penuh
wibawa. Air mata mengalir deras, dan aku merasa seolah semua doa dan rindu yang
selama ini kupendam akhirnya bertemu di satu titik. Momen itu benar-benar
menjadi puncak emosional dalam perjalanan umrohku.
Thawaf mengelilingi Ka’bah
menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Bergerak bersama ribuan jamaah dari
berbagai negara membuatku merasakan persaudaraan Islam yang begitu kuat. Aku
melihat wajah-wajah dengan bahasa, warna kulit, dan budaya yang berbeda, namun
semua memiliki tujuan yang sama. Setiap putaran thawaf terasa seperti
perjalanan batin, melepaskan beban hidup satu per satu.
Sa’i antara bukit Shafa dan
Marwah mengajarkanku tentang arti usaha dan tawakal. Langkah demi langkah yang
kuambil mengingatkanku pada perjuangan Siti Hajar yang tidak pernah menyerah
meski berada dalam keterbatasan. Dari kisah itu, aku belajar bahwa pertolongan
Allah datang setelah usaha yang sungguh-sungguh.
Tahallul menjadi penanda
selesainya rangkaian ibadah umroh. Saat rambutku dipotong, aku merasakan
kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku merasa seperti dilahirkan
kembali, dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih lurus.
Hari-hari selanjutnya di
Makkah diisi dengan ibadah dan refleksi. Aku berusaha memanfaatkan setiap
kesempatan untuk shalat berjamaah di Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, dan
memperbanyak doa. Duduk berlama-lama memandangi Ka’bah memberikan ketenangan yang
luar biasa. Dalam keheningan itu, aku banyak merenungkan hidup, kesalahan masa
lalu, dan harapan untuk masa depan.
Di sela-sela ibadah,
kebersamaan dengan sesama jamaah menjadi bagian yang tak kalah berkesan. Kami
saling membantu, berbagi makanan, dan bertukar cerita. Ada kehangatan yang
tercipta dari kebersamaan itu, membuat perjalanan ini terasa semakin seru dan
bermakna.
Menjelang kepulangan, perasaan
sedih mulai menyelimuti hati. Aku merasa belum cukup menikmati setiap momen di
Tanah Suci. Ada rasa rindu yang tumbuh bahkan sebelum benar-benar pergi. Aku
berdoa agar Allah mengizinkanku kembali suatu hari nanti, membawa keluarga dan
orang-orang tercinta.
Saat pesawat meninggalkan Arab
Saudi, aku menatap ke luar jendela dengan perasaan campur aduk. Perjalanan ini
telah mengubah banyak hal dalam diriku. Aku belajar untuk lebih bersyukur,
lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalani hidup. Umroh mengajarkanku bahwa
kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal besar, tetapi dari hati
yang tenang dan dekat dengan Allah.
Liburan umroh ini bukan hanya
meninggalkan kenangan indah, tetapi juga membawa perubahan yang mendalam. Ia
menjadi pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan, dan tujuan akhirnya adalah
kembali kepada Sang Pencipta. Umroh adalah liburan paling seru, paling
bermakna, dan paling berharga yang pernah aku alami—sebuah perjalanan yang akan
selalu hidup dalam ingatan dan hatiku.


