Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 07 Januari 2026

Cerita Liburan Seru Ameera Jena Pribadi Kelas 8G Absen 7 SMP Labschool Jakarta

CERITA LIBURAN SERU AMEERA JENA PRIBADI 8G 07

 


Liburan kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Jika selama ini kata “liburan” selalu identik dengan kesenangan, hiburan, dan pelarian dari rutinitas, maka perjalanan umroh memberiku definisi baru tentang makna liburan yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan batin yang penuh perenungan, keikhlasan, dan rasa syukur yang mendalam.

Keputusan untuk berangkat umroh bukanlah keputusan yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyertainya, mulai dari niat yang terus dipanjatkan dalam doa hingga persiapan yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan perjalanan biasa, sehingga persiapan mental dan spiritual menjadi hal yang sangat penting. Aku mulai memperbanyak ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memohon maaf kepada orang-orang terdekat agar langkahku menuju Tanah Suci terasa lebih ringan.

Hari keberangkatan akhirnya tiba. Bandara dipenuhi oleh jamaah yang datang dari berbagai penjuru negeri. Suasana begitu ramai, namun terasa damai. Wajah-wajah penuh harap dan senyum tipis menghiasi setiap sudut. Ada yang tampak terharu karena akhirnya impian mereka terwujud, ada pula yang tak henti-hentinya berdoa sambil menunggu panggilan boarding. Aku berdiri di antara mereka, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sambil mensyukuri kesempatan luar biasa ini.

Saat pesawat mulai mengudara, perasaan haru tak bisa kutahan. Aku menyadari bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci. Di dalam pesawat, suasana terasa khusyuk. Banyak jamaah yang mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa. Aku pun ikut larut dalam suasana itu, membiarkan pikiranku perlahan menjauh dari urusan dunia dan fokus pada perjalanan spiritual yang sedang kulalui.

Perjalanan udara yang panjang terasa lebih ringan karena hati dipenuhi oleh rasa antusias dan harapan. Aku berbincang dengan beberapa jamaah yang duduk di sekitarku. Ada seorang bapak yang telah menunggu belasan tahun untuk bisa berangkat umroh, dan ada pula seorang ibu yang menjadikan perjalanan ini sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya. Cerita-cerita mereka membuatku semakin sadar bahwa setiap jamaah membawa kisah dan doa masing-masing.

Setibanya di Jeddah, udara panas langsung menyambut kami. Meski tubuh terasa lelah, semangat justru semakin menguat. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan menuju Madinah. Sepanjang perjalanan, aku memandangi hamparan gurun yang luas dan sunyi. Tidak banyak pepohonan, tidak ada gedung-gedung tinggi, hanya langit biru dan tanah yang terbentang sejauh mata memandang. Pemandangan itu menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah mengajak hati untuk lebih banyak merenung.

Madinah menyambut kami dengan suasana yang begitu damai. Kota ini terasa berbeda, lebih tenang dan menenangkan. Saat pertama kali melihat Masjid Nabawi, aku terdiam lama. Keindahannya begitu memukau, namun yang lebih menyentuh adalah aura spiritual yang terasa begitu kuat. Aku melangkah masuk dengan hati bergetar, menyadari bahwa aku berada di salah satu tempat paling mulia di dunia.

Shalat di Masjid Nabawi memberikan pengalaman spiritual yang sangat mendalam. Setiap rakaat terasa lebih khusyuk, setiap doa mengalir dari hati yang paling dalam. Ketika berkesempatan masuk ke Raudhah, aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berdoa panjang, menyebutkan satu per satu harapan, rasa syukur, dan permohonan ampun kepada Allah. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan, bukan karena sedih, tetapi karena merasa begitu dekat dengan-Nya.

Hari-hari di Madinah diisi dengan berbagai aktivitas ibadah dan ziarah. Kami mengunjungi makam Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Berdiri di dekat makam Rasulullah membuatku merenungkan betapa besar cinta dan pengorbanan beliau untuk umatnya. Kami juga mengunjungi Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam, serta Jabal Uhud, tempat terjadinya perang Uhud yang sarat dengan pelajaran tentang ketaatan dan keikhlasan.

Di Jabal Uhud, aku berdiri memandangi gunung yang kokoh dan sunyi. Aku membayangkan bagaimana para sahabat Rasulullah berjuang di tempat itu, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan iman. Momen itu membuatku merenung tentang kehidupan modern yang sering kali dipenuhi keluhan, padahal perjuangan kita tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lalui.

Setelah beberapa hari di Madinah, perjalanan dilanjutkan menuju Makkah. Kami bersiap mengenakan pakaian ihram dan berniat umroh di miqat. Mengenakan ihram memberikan perasaan yang sangat berbeda. Tidak ada perhiasan, tidak ada pakaian mewah, semua terlihat sama. Aku merasa benar-benar meninggalkan identitas duniawi dan berdiri sebagai hamba di hadapan Allah.

Perjalanan menuju Makkah dipenuhi dengan lantunan talbiyah. Suara jamaah yang mengucapkan “Labbaik Allahumma Labbaik” menggema di dalam bus, menciptakan suasana yang begitu menggetarkan hati. Setiap kalimat talbiyah terasa seperti jawaban atas panggilan Allah, dan aku melafalkannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Saat akhirnya memasuki Masjidil Haram dan melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, aku terdiam dalam waktu yang lama. Ka’bah berdiri megah di hadapanku, sederhana namun penuh wibawa. Air mata mengalir deras, dan aku merasa seolah semua doa dan rindu yang selama ini kupendam akhirnya bertemu di satu titik. Momen itu benar-benar menjadi puncak emosional dalam perjalanan umrohku.

Thawaf mengelilingi Ka’bah menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Bergerak bersama ribuan jamaah dari berbagai negara membuatku merasakan persaudaraan Islam yang begitu kuat. Aku melihat wajah-wajah dengan bahasa, warna kulit, dan budaya yang berbeda, namun semua memiliki tujuan yang sama. Setiap putaran thawaf terasa seperti perjalanan batin, melepaskan beban hidup satu per satu.

Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah mengajarkanku tentang arti usaha dan tawakal. Langkah demi langkah yang kuambil mengingatkanku pada perjuangan Siti Hajar yang tidak pernah menyerah meski berada dalam keterbatasan. Dari kisah itu, aku belajar bahwa pertolongan Allah datang setelah usaha yang sungguh-sungguh.

Tahallul menjadi penanda selesainya rangkaian ibadah umroh. Saat rambutku dipotong, aku merasakan kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku merasa seperti dilahirkan kembali, dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih lurus.

Hari-hari selanjutnya di Makkah diisi dengan ibadah dan refleksi. Aku berusaha memanfaatkan setiap kesempatan untuk shalat berjamaah di Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Duduk berlama-lama memandangi Ka’bah memberikan ketenangan yang luar biasa. Dalam keheningan itu, aku banyak merenungkan hidup, kesalahan masa lalu, dan harapan untuk masa depan.

Di sela-sela ibadah, kebersamaan dengan sesama jamaah menjadi bagian yang tak kalah berkesan. Kami saling membantu, berbagi makanan, dan bertukar cerita. Ada kehangatan yang tercipta dari kebersamaan itu, membuat perjalanan ini terasa semakin seru dan bermakna.

Menjelang kepulangan, perasaan sedih mulai menyelimuti hati. Aku merasa belum cukup menikmati setiap momen di Tanah Suci. Ada rasa rindu yang tumbuh bahkan sebelum benar-benar pergi. Aku berdoa agar Allah mengizinkanku kembali suatu hari nanti, membawa keluarga dan orang-orang tercinta.

Saat pesawat meninggalkan Arab Saudi, aku menatap ke luar jendela dengan perasaan campur aduk. Perjalanan ini telah mengubah banyak hal dalam diriku. Aku belajar untuk lebih bersyukur, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalani hidup. Umroh mengajarkanku bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal besar, tetapi dari hati yang tenang dan dekat dengan Allah.

Liburan umroh ini bukan hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga membawa perubahan yang mendalam. Ia menjadi pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan, dan tujuan akhirnya adalah kembali kepada Sang Pencipta. Umroh adalah liburan paling seru, paling bermakna, dan paling berharga yang pernah aku alami—sebuah perjalanan yang akan selalu hidup dalam ingatan dan hatiku.

 


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.