Guru Disuruh Literasi, Tapi Dibungkam: Kisah Omjay dan PGRI di Persimpangan Sejarah Pendidikan
Setiap kali kata literasi diucapkan dalam forum pendidikan, ia terdengar indah dan menjanjikan. Guru diminta membaca, menulis, berpikir kritis, dan menjadi teladan intelektual. Namun setelah acara selesai, realitas kembali menampar: guru tenggelam dalam administrasi, dibebani laporan, dan sering kali kehilangan ruang untuk bersuara.
Ironisnya, di saat guru diminta literat, suara mereka justru kerap dianggap mengganggu. Kritik dicap keluhan. Opini ditafsirkan sebagai pembangkangan. Tulisan guru dipandang berbahaya jika tak sejalan dengan narasi resmi. Di titik inilah literasi kehilangan rohnya.
Namun tidak semua guru memilih diam. Salah satunya adalah Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., guru dengan lebih dari 33 tahun pengabdian yang memilih menulis sebagai jalan perlawanan paling sunyi, tetapi paling bermakna.
Menulis Bukan Hobi, Tapi Sikap Hidup Guru
Omjay bukan guru yang lahir dari ruang nyaman. Ia hidup bersama perubahan kebijakan pendidikan yang datang silih berganti, sering tanpa arah dan minim empati pada realitas sekolah. Ia menyaksikan bagaimana guru dipuji sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi kerap dilupakan ketika bicara kesejahteraan, martabat, dan kebebasan berpikir.
Alih-alih mengeluh di ruang guru, Omjay memilih menulis. Dari blog pribadi hingga media nasional, ia menuangkan keresahan, harapan, dan kritik dengan jujur. Bagi Omjay, menulis bukan untuk mencari popularitas. Menulis adalah cara menjaga kewarasan dan martabat profesi guru.
Ia meyakini satu hal sederhana namun mendasar:
guru yang berhenti menulis sedang menghapus dirinya sendiri dari sejarah pendidikan.
Literasi Guru yang Direduksi Jadi Program
Selama ini literasi guru sering direduksi menjadi program seremonial: pojok baca, lomba menulis sesekali, atau pelatihan yang berakhir pada sertifikat. Padahal literasi sejati adalah keberanian berpikir dan bersuara.
Jika guru hanya mengajar lalu diam, maka narasi pendidikan akan ditulis oleh mereka yang tidak pernah mengajar. Oleh pejabat, konsultan, dan pengambil kebijakan yang melihat sekolah dari balik meja, bukan dari balik papan tulis.
Di sinilah tulisan guru menjadi penting—bahkan menakutkan. Karena tulisan yang jujur adalah cermin yang memaksa sistem bercermin.
Api Literasi yang Dinyalakan dari Pinggir
Apa yang dilakukan Omjay bukan gerakan besar dengan anggaran besar. Ia menyalakan api literasi dari pinggir—dari tulisan sederhana, dari ajakan tulus kepada sesama guru, dari contoh nyata bahwa menulis itu mungkin dan perlu.
Banyak guru awalnya hanya pembaca. Lalu memberanikan diri menulis. Awalnya ragu, takut salah, takut dianggap sok pintar. Omjay selalu menegaskan:
“Menulislah dari pengalaman, bukan dari kesempurnaan.”
Api itu pun menular. Guru mulai menulis tentang muridnya, tentang sekolahnya, tentang kebijakan yang membingungkan, dan tentang harapan akan pendidikan yang lebih manusiawi. Bahkan tenaga kependidikan—kepala sekolah, pengawas, pustakawan, hingga staf tata usaha—ikut menemukan suaranya.
Sekolah yang literat bukan pabrik nilai, melainkan ekosistem berpikir.
Di Mana PGRI Saat Api Itu Hampir Padam?
Jika guru adalah api, maka PGRI seharusnya menjadi penjaga nyala itu. Bukan sekadar organisasi struktural yang sibuk dengan rapat dan seremonial, tetapi rumah besar tempat suara guru dilindungi dan dirawat.
Sayangnya, fakta di lapangan tak selalu ideal. Tak sedikit guru yang bahkan tak memahami peran strategis PGRI dalam kehidupan profesional mereka. Literasi belum sepenuhnya menjadi gerakan, masih sering berhenti sebagai slogan.
Padahal PGRI lahir dari sejarah perjuangan. Ia dibentuk untuk membela martabat guru, bukan sekadar menjadi mitra pemerintah yang selalu mengangguk.
PGRI dan Tanggung Jawab Intelektual Guru
Literasi guru bukan urusan individu. Ia adalah tanggung jawab kolektif. PGRI memiliki posisi strategis untuk menjadikan literasi sebagai kekuatan advokasi.
Apa yang dilakukan Omjay seharusnya menjadi arus utama PGRI:
melindungi guru yang menulis kritis,
menyediakan ruang aman bagi perbedaan pendapat,
dan menjadikan tulisan guru sebagai dasar memperjuangkan kebijakan yang adil.
Jika guru takut menulis karena khawatir dianggap melawan atasan, maka di situlah PGRI diuji: hadir membela atau memilih diam.
Dari Seremonial ke Gerakan Nyata
Sudah saatnya PGRI keluar dari zona nyaman. Literasi tidak tumbuh dari baliho dan jargon, tetapi dari ekosistem yang sehat. PGRI dapat:
membangun media literasi guru yang independen,
mendorong pengurus menjadi teladan menulis,
dan mengangkat tulisan guru sebagai suara resmi organisasi.
Tulisan guru bukan ancaman. Justru itulah denyut nadi pendidikan yang sesungguhnya.
Omjay dan Pertanyaan untuk PGRI
Kisah Omjay membuktikan bahwa satu guru bisa menyalakan api. Namun api itu akan jauh lebih besar jika PGRI meniupkannya, bukan memadamkannya.
Organisasi guru yang kuat bukan yang anti kritik, tetapi yang tahan diuji. Guru bukan prajurit yang hanya patuh, melainkan intelektual yang berpikir.
Penutup: PGRI atau Penonton Sejarah?
Pertanyaannya kini sederhana namun tajam:
apakah PGRI ingin menjadi penggerak literasi guru, atau hanya penonton ketika suara guru perlahan dibungkam?
Jika guru diam, pendidikan akan mati perlahan.
Jika guru menulis, pendidikan masih punya harapan.
Dan selama masih ada guru seperti Omjay—yang menulis dengan jujur dan berani—api literasi belum padam. Tinggal satu pertanyaan terakhir: siapa yang mau menjaga nyalanya bersama?
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.