Siang itu, hujan baru saja reda di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Udara masih menyisakan aroma tanah basah ketika sebuah pintu rumah sederhana terbuka perlahan. Di sanalah Ayah Didi, seorang guru sepuh yang rambutnya telah memutih oleh waktu, berdiri menyambut tamu yang sudah sangat lama tak ia jumpai. Tamu itu bukan orang asing. Ia adalah Dedi Dwitagama, mantan muridnya, yang dulu duduk rapi di bangku kelas, kini dikenal luas sebagai pendidik, penulis, dan penggerak literasi guru di Indonesia.
Pertemuan itu bukan pertemuan biasa. Ia adalah pertemuan batin antara guru dan murid, antara masa lalu dan masa kini, antara benih yang ditanam dan pohon yang kini berbuah lebat.
Guru yang Menanam, Murid yang Tumbuh
Ayah Didi adalah tipe guru yang mungkin tak banyak dikenal publik. Ia bukan pejabat, bukan tokoh viral, bukan pula pemburu panggung. Namun dari ruang kelas sederhananya, ia menanam nilai-nilai yang kelak tumbuh jauh melampaui dinding sekolah. Disiplin, kejujuran, keberanian berpikir, dan terutama cinta pada ilmu—itulah warisan yang ia titipkan kepada murid-muridnya.
Dedi Dwitagama masih ingat betul sosok Ayah Didi. Bukan karena galaknya, melainkan karena keteguhannya. “Beliau bukan guru yang banyak bicara,” kenang Dedi sambil tersenyum, “tapi setiap kata yang keluar selalu membuat kami berpikir.” Di kelas itulah, tanpa disadari, Dedi kecil mulai belajar bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan penuntun arah hidup.
Jatinegara Kaum dan Ingatan yang Pulang
Rumah Ayah Didi di Jatinegara Kaum tak banyak berubah. Kursi kayu tua masih setia di ruang tamu. Rak buku lama tetap berdiri, meski sebagian bukunya telah menguning. Namun justru di situlah kehangatan terasa. Rumah itu seakan menjadi museum hidup perjalanan seorang guru.
Ketika Dedi melangkah masuk, Ayah Didi terdiam sejenak. Matanya menyipit, mencoba memastikan wajah di hadapannya. Lalu senyum itu merekah. Senyum seorang guru yang melihat muridnya pulang, bukan sekadar bertamu.
“Pak Guru…” ucap Dedi pelan.
Panggilan itu sederhana, namun penuh makna. Tak ada titel, tak ada embel-embel prestasi. Di hadapan Ayah Didi, Dedi Dwitagama tetaplah muridnya.
Obrolan yang Menyambung Zaman
Percakapan mereka mengalir tanpa skrip. Tentang kelas dulu, tentang teman-teman lama, tentang dunia pendidikan yang kini berubah cepat. Ayah Didi mendengarkan dengan seksama ketika Dedi bercerita tentang guru-guru yang menulis, tentang literasi digital, tentang perubahan cara belajar anak-anak zaman sekarang.
“Zaman berubah,” kata Ayah Didi pelan, “tapi guru jangan berubah kehilangan hatinya.”
Kalimat itu menghentikan sejenak obrolan. Dedi terdiam. Ia sadar, sejauh apa pun teknologi melaju, inti pendidikan tetap sama: hubungan manusia dengan manusia.
Pertemuan yang Menguatkan Makna Guru
Bagi Ayah Didi, pertemuan ini bukan soal kebanggaan. Ia tak pernah menuntut murid-muridnya menjadi terkenal. Baginya, cukup satu hal: muridnya menjadi manusia yang bermanfaat. Melihat Dedi tumbuh menjadi pendidik yang menggerakkan guru lain, itu sudah lebih dari cukup.
Sementara bagi Dedi Dwitagama, pertemuan ini adalah pengingat. Bahwa semua langkah jauhnya berawal dari seorang guru yang mungkin kini jarang disebut, tapi jasanya tak terhapus waktu. Di tengah kesibukan, ia kembali diingatkan untuk tetap rendah hati, untuk terus menghormati guru, dan untuk tak lupa dari mana ia berasal.
Guru dan Murid: Ikatan yang Tak Pernah Usang
Pertemuan di Jatinegara Kaum itu mungkin tak diliput media. Tak ada kamera, tak ada panggung. Namun nilainya jauh lebih besar. Ia adalah bukti bahwa ikatan guru dan murid tak pernah benar-benar putus, meski waktu memisahkan puluhan tahun.
Di negeri ini, sering kali guru dilupakan setelah muridnya berhasil. Padahal, setiap keberhasilan murid selalu menyimpan jejak guru di belakangnya. Ayah Didi adalah salah satu dari ribuan guru yang bekerja dalam sunyi, namun pengaruhnya menjalar jauh.
Saat Dedi pamit, Ayah Didi menggenggam tangannya erat. Tak banyak pesan, hanya satu kalimat sederhana, “Teruslah jadi guru, jangan berhenti belajar.”
Penutup: Pulang yang Menghangatkan Jiwa
Ketika pintu rumah kembali tertutup, hujan benar-benar berhenti. Langit Jatinegara Kaum tampak lebih cerah. Pertemuan itu mungkin singkat, tapi maknanya panjang. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan angka, melainkan relasi, keteladanan, dan ingatan yang hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.