Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 17 Januari 2026

Ketika Koruptor Menuduh Koruptor

Ketika Koruptor Menuduh Koruptor: Negara yang Sibuk Berpura-pura Jujur

> “Di India, koruptor menuduh koruptor menjadi korup dan korup menyelidiki koruptor dan membebaskan koruptor menjadi korup.”
— Shekhar Kapur

Kalimat ini terdengar lucu. Tapi sesungguhnya ia mengerikan. Karena ketika kita tertawa membacanya, bisa jadi kita sedang menertawakan diri sendiri. Sebab kalimat Shekhar Kapur itu bukan hanya potret India. Ia adalah cermin besar bangsa-bangsa yang lelah pada kebenaran, tetapi masih pura-pura menegakkan keadilan.

Di negeri seperti ini, korupsi tidak lagi bersembunyi. Ia tampil percaya diri, mengenakan jas rapi, berbicara tentang integritas, lalu pulang tanpa rasa bersalah. Yang disidang hanyalah nama. Yang dihukum hanyalah opini publik. Sistemnya tetap utuh, seolah tidak pernah salah.

Dan di tengah sandiwara itu, pendidikan diminta tetap mengajarkan kejujuran.

Negara yang Pandai Mengajar, Tapi Gagal Memberi Contoh

Sebagai guru, Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd) sering gelisah. Bukan karena kurikulum semata, bukan karena teknologi, tetapi karena kontradiksi brutal antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang dipertontonkan di luar sekolah.

Di kelas, guru diminta menanamkan nilai kejujuran.
Di luar kelas, siswa menyaksikan kebohongan dirayakan.

Di buku pelajaran, korupsi disebut kejahatan luar biasa.
Di dunia nyata, korupsi sering diperlakukan sebagai kesalahan administratif.

Lalu kita bertanya dengan wajah polos: “Mengapa anak-anak kita kehilangan moral?”

Pertanyaan itu seharusnya diarahkan ke cermin, bukan ke ruang kelas.

Pendidikan Tidak Netral, Tapi Sering Dipaksa Diam

Omjay percaya satu hal yang sering dianggap berbahaya: pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu berpihak. Jika ia tidak berpihak pada kebenaran, maka ia sedang berpihak pada pembiaran.

Masalahnya, di negeri yang koruptor menuduh koruptor, keberanian sering dianggap ancaman. Kritik dilabeli kebencian. Kejujuran dicurigai. Guru yang bersuara dianggap “tidak tahu diri”.

Akhirnya banyak yang memilih aman.
Diam dianggap bijak.
Patuh dianggap profesional.

Padahal, diam dalam ketidakadilan adalah pengkhianatan paling sopan.

Literasi: Musuh Alami Korupsi

Mengapa korupsi takut pada literasi?
Karena literasi melahirkan pertanyaan.
Dan pertanyaan adalah awal kehancuran kebohongan.

Bagi Omjay, literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan membongkar narasi palsu, menolak normalisasi kebusukan, dan berpikir waras di tengah kegilaan massal.

Itulah sebabnya Omjay menulis. Bukan untuk mencari aman. Bukan untuk menyenangkan siapa pun. Tetapi untuk menjaga akal sehat tetap hidup.

Melalui tulisan di blog dan media seperti Melintas.id, Omjay mengingatkan: korupsi tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh subur dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Menyontek yang dianggap remeh.
Titip absen yang dianggap biasa.
Laporan palsu yang dianggap cerdik.

Dari situlah lahir generasi yang pintar, tapi miskin nurani.

Guru di Negeri yang Gemar Menyalahkan Guru

Ironisnya, ketika moral runtuh, yang pertama disalahkan adalah guru.
Ketika karakter rusak, yang dituding adalah sekolah.

Padahal guru hanya satu simpul kecil dalam sistem besar yang bobrok.

Omjay sadar, guru bukan pahlawan super. Guru manusia biasa. Tetapi jika guru ikut menyerah, maka tamatlah sudah. Karena pendidikan adalah benteng terakhir saat institusi lain runtuh.

Kisah Omjay adalah kisah tentang bertahan di tengah kelelahan. Tetap menulis ketika suara dibungkam. Tetap mendidik ketika teladan langka. Tetap kritis ketika banyak memilih netral—padahal netral adalah ilusi.

Melintas.id: Ruang yang Tidak Takut Berpikir

Di tengah media yang sibuk mengejar klik, Melintas.id memilih jalur sunyi: literasi dan edukasi. Di sinilah tulisan-tulisan yang tidak nyaman menemukan tempat. Di sinilah kritik tidak perlu berteriak untuk terdengar.

Bagi Omjay, Melintas.id bukan sekadar media. Ia adalah ruang perlawanan intelektual. Ruang di mana guru, orang tua, dan warga waras bisa saling menguatkan lewat kata-kata.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari pikiran yang berani berbeda.

Menulis sebagai Bentuk Perlawanan Paling Elegan

Omjay selalu berpesan: menulislah dengan hati, bukan dengan pesanan.
Karena tulisan yang jujur mungkin tidak disukai hari ini, tetapi ia akan menjadi arsip kebenaran di masa depan.

Kutipan Shekhar Kapur adalah peringatan keras: jika koruptor terus membersihkan koruptor, maka kebenaran akan terus dikubur hidup-hidup. Maka pendidikan harus bergerak lebih dulu—sebelum nurani kalah oleh kekuasaan.

Catatan Terakhir Omjay

Omjay tahu, satu tulisan tidak akan menjatuhkan sistem. Tetapi ia yakin, sistem yang rapuh selalu takut pada orang-orang yang masih berpikir jernih.

Di negeri yang sibuk berpura-pura jujur, Omjay memilih jujur sungguhan.
Di tengah kebisingan kepalsuan, ia memilih literasi.
Di antara koruptor yang saling menuduh, ia memilih mendidik.

Karena ketika semua ikut bermain sandiwara, orang yang menolak berakting akan terlihat paling berbahaya.

Dan Omjay memilih menjadi orang itu.

---

Salam Blogger Persahabatan,
Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
🌐 https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.