Serigala atau Harimau? Republik Tak Akan Berubah oleh Kaum Rebahan
Pagi itu, sebuah kisah lama kembali beredar di grup percakapan. Tentang serigala lumpuh, harimau pemburu, dan manusia yang salah menafsirkan makna tawakal. Kisah sederhana, tetapi maknanya menghantam kesadaran kita hari ini—di tengah republik yang gaduh oleh keluhan, tetapi sunyi dari keberanian bertindak.
Seorang musafir melihat serigala lumpuh di hutan. Empat kakinya tak berfungsi, namun ia tetap hidup. Rasa penasaran membawa musafir itu mengamati lebih jauh. Tak lama, datanglah harimau dengan kijang hasil buruannya. Harimau makan seperlunya, lalu pergi. Sisa daging itulah yang menghidupi serigala lumpuh.
Hari demi hari, pola itu berulang. Serigala hidup bukan karena ia pasrah, melainkan karena ada harimau yang bekerja.
Namun manusia sering keliru membaca tanda. Musafir itu pulang dengan keyakinan yang salah: “Kalau Allah memberi makan serigala lumpuh, maka aku pun cukup diam di rumah. Allah pasti mencukupiku.”
Ia memilih menganggur. Menunggu. Bersandar penuh pada harapan kosong. Hari berganti hari, perutnya kosong. Hingga hampir mati, terdengarlah suara yang menampar kesadarannya:
“Ikutilah teladan harimau, bukan meniru serigala yang lumpuh.”
Tawakal yang Disalahpahami
Di sinilah banyak dari kita terjebak. Kita mengira tawakal adalah diam. Kita mengira iman adalah pasrah tanpa ikhtiar. Padahal, Islam—dan semua nilai luhur kemanusiaan—selalu menempatkan usaha sebagai pintu datangnya pertolongan Tuhan.
Allah tidak menurunkan rezeki dalam bentuk nasi siap saji. Ia menurunkannya dalam bentuk akal, tenaga, keberanian, dan kesempatan untuk berbuat.
Seperti dalam kisah kedua: ketika seseorang melihat gadis kelaparan dan menggigil kedinginan, lalu marah kepada Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil. Jawaban Tuhan justru sederhana, pedih, dan jujur:
“Aku telah berbuat sesuatu. Aku menciptakan engkau.”
Pesannya jelas: kita sering berdoa minta perubahan, tapi menolak menjadi pelaku perubahan.
Republik Rebahan dan Jempol Pasif
Di sinilah kisah itu bertemu dengan realitas republik hari ini. Kita hidup di zaman rebahan massal. Bukan sekadar tubuh yang malas bergerak, tetapi pikiran yang nyaman dalam keluhan. Jempol aktif di media sosial, tetapi kaki enggan melangkah ke lapangan.
Sebuah pesan keras beredar pagi itu:
> “Buat kader rebahan, bangunlah. Perubahan tak lahir dari kasur empuk dan jempol pasif.”
Kalimat itu terasa kasar, tetapi jujur. Republik ini tidak kekurangan komentar. Ia kekurangan pejuang yang mau berlelah-lelah.
Kita mengeluh soal kemiskinan, tetapi menolak turun tangan. Kita marah pada ketimpangan, tetapi takut kehilangan kenyamanan. Kita menuntut reformasi, tetapi lebih memilih menjadi penonton.
Beras bantuan memang habis hari ini. Tetapi ketimpangan diwariskan puluhan tahun. Maka perubahan tidak bisa diserahkan pada aktor tunggal, tokoh karismatik, atau politisi yang menjanjikan surga instan.
Reformasi tidak butuh penonton. Ia butuh pelaku.
Musuh Terbesar: Rasa Takut
Musuh utama negeri ini bukan partai, bukan tokoh, bukan ideologi. Musuh utamanya adalah rasa takut. Takut kehilangan kenyamanan. Takut dicap berbeda. Takut berdiri di barisan perubahan.
Bahkan orang-orang yang paling vokal sekalipun—jika jujur—sering kali masih takut melangkah lebih jauh. Karena melawan takut berarti siap meninggalkan zona aman yang palsu.
Rasa takut itulah yang membuat banyak orang memilih menjadi “serigala lumpuh”—menunggu sisa, berharap belas kasih sistem, menggantungkan hidup pada janji dan bantuan.
Padahal republik ini lebih membutuhkan harimau-harimau sosial:
mereka yang mau bergerak, bekerja, berburu solusi, lalu berbagi hasilnya untuk yang lemah.
Jangan Menunggu Allah Turun Langsung
Sering kali kita berdoa:
“Ya Allah, selesaikan masalah bangsa ini.”
Padahal mungkin jawaban-Nya sudah lama sama:
“Aku telah menciptakan kalian.”
Allah bekerja melalui manusia. Melalui guru yang mendidik dengan hati. Melalui relawan yang turun ke jalan. Melalui warga yang berani bersuara, berorganisasi, dan berjuang secara bermartabat.
Perubahan tidak lahir dari kasur empuk. Ia lahir dari kaki yang lecet, tangan yang kotor, dan hati yang berani.
Penutup: Pilihan Ada di Tangan Kita
Kita selalu punya pilihan:
menjadi serigala yang menunggu sisa, atau harimau yang bergerak.
menjadi penonton, atau pejuang.
menjadi orang yang mengeluh pada Tuhan, atau menjadi jawaban dari doa orang lain.
Republik ini tidak butuh lebih banyak keluhan.
Ia butuh keberanian untuk bangun, berdiri, dan berjalan bersama perubahan.
Karena sejarah tidak ditulis oleh mereka yang rebahan,
melainkan oleh mereka yang berani bangun dan melangkah.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger Indonesia
MNtap
BalasHapus