Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 12 Januari 2008

THE LITTLE BOY

BAB I
PENDAHULUAN

Menarik sekali membaca hasil karya seorang penulis yang sangat berpengalaman dalam dunia pendidikan. Tulisan yang merupakan buah karya Helen E. Bucklet dalam bukunya yang berjudul THE LITTLE BOY ini merupakan suatu tulisan yang menarik dan bagus untuk dibaca serta untuk direnungkan oleh para pendidik atau guru dan para orang tua.

Buku ini mengisahkan tentang seorang anak yang terbiasa dengan gaya kepemimpinan otokratis gurunya di sekolah sehingga pada akhirnya anak tersebut kehilangan kreativitasnya dan kemampuannya untuk memproduksi sesuatu. Suatu kejadian kecil yang tanpa kita sadari mungkin pernah terjadi di kelas kita, atau di sekolah kita.

Tanpa kita sadari, terkadang kita sering memperlakukan murid-murid kita seperti itu. Padahal kreativitas itu sangat mahal dan langka. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat bagi anak untuk mengembangkan potensi dirinya, juga kreativitasnya, justru malah menjadi tempat ”pembunuhan” kreativitas.

Piageat (1978) dalam Bransford dan Brown (1999) mengatakan “One of the challenges of schools is to build on children's motivation to explore, succeed, understand and harness it in the service of learning“ yang bisa diartikan bahwa suatu tantangan di sekolah berdasarkan pada semangat atau motivasi anak-anak menjelajahi, berhasil, memahami dan memiliki tenaga atau kemampuan pada pelayanan pembelajaran.

Sudahkah kita sebagai pendidik dan orang tua melakukan hal itu di sekolah dan juga di rumah? Atau tanpa kita sadari kita telah bersikap seperti guru pertama dalam tulisan Bucklet ini, sehingga pada akhirnya siswa dan anak kita hanya menjadi peniru yang ulung dan bukan seorang inovator.

Untuk saat ini sulit sekali mencari anak yang kreatif, karena tanpa disadari guru dan orang tua telah membuat anaknya tidak kreatif. Solusinya adalah memberikan sedikit kesempatan dan kebebasan anak dalam membuat sesuatu yang berbeda dan merupakan ide original dari anak tersebut.

BAB II
PEMBAHASAN

Kita juga bisa membaca tentang teori perkembangan Kognitif, yang dikembangkan oleh Jean Piaget, seorang psikolog Swiss yang hidup tahun 1896-1980. Teorinya memberikan banyak konsep utama dalam lapangan psikologi perkembangan dan berpengaruh terhadap perkembangan konsep kecerdasan, yang bagi Piaget, berarti kemampuan untuk secara lebih tepat merepresentasikan dunia dan melakukan operasi logis dalam representasi konsep yang berdasar pada kenyataan.

Teori ini membahas munculnya dan diperolehnya schemata—skema tentang bagaimana seseorang mempersepsi lingkungannya— dalam tahapan-tahapan perkembangan, saat seseorang memperoleh cara baru dalam merepresentasikan informasi secara mental. Teori ini digolongkan ke dalam konstruktivisme, yang berarti, tidak seperti teori nativisme (yang menggambarkan perkembangan kognitif sebagai pemunculan pengetahuan dan kemampuan bawaan), teori ini berpendapat bahwa kita membangun kemampuan kognitif kita melalui tindakan yang termotivasi dengan sendirinya terhadap lingkungan. Untuk pengembangan teori ini, Piaget memperoleh Erasmus Prize.

Piaget membagi skema yang digunakan anak untuk memahami dunianya melalui empat periode utama yang berkorelasi dengan dan semakin canggih seiring pertambahan usia:
1. Periode sensorimotor (usia 0–2 tahun)
2. Periode praoperasional (usia 2–7 tahun)
3. Periode operasional konkrit (usia 7–11 tahun)
4. Periode operasional formal (usia 11 tahun sampai dewasa)

Periode sensorimotor

Menurut Piaget, bayi lahir dengan sejumlah refleks bawaan selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotor adalah periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam sub-tahapan:
v Sub-tahapan skema refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama dengan refleks.
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
v Sub-tahapan koordinasi reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
v Sub-tahapan fase reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
v Sub-tahapan awal representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.

Tahapan praoperasional

Tahapan ini merupakan tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran (Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.

Menurut Piaget, tahapan pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini, mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda yang tidak hidup pun memiliki perasaan.

Tahapan operasional konkrit

Tahapan ini adalah tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
· Pengurutan—kemampuan untuk mengurutan objek menurut ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran, mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
· Klasifikasi—kemampuan untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya, ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua benda hidup dan berperasaan)
· Decentering—anak mulai mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
· Reversibility—anak mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
· Konservasi—memahami bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
· Penghilangan sifat Egosentrisme—kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain (bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh, tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci, setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.

Tahapan operasional formal

Tahap operasional formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas) dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia.

Dalam tahapan ini, seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada "gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan psikoseksual, dan perkembangan sosial.

Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap operasional konkrit.

Keempat tahapan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
· Walau tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu sama.
· Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
· Universal (tidak terkait budaya)
· Bisa digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
· Tahapan-tahapan tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
· Urutan tahapan bersifat hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
· Tahapan merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya perbedaan kuantitatif
Proses perkembangan

Seorang individu dalam hidupnya selalu berinteraksi dengan lingkungan. Dengan berinteraksi tersebut, seseorang akan memperoleh skema. Skema berupa kategori pengetahuan yang membantu dalam menginterpretasi dan memahami dunia. Skema juga menggambarkan tindakan baik secara mental maupun fisik yang terlibat dalam memahami atau mengetahui sesuatu.

Sehingga dalam pandangan Piaget, skema mencakup baik kategori pengetahuan maupun proses perolehan pengetahuan tersebut. Seiring dengan pengalamannya mengeksplorasi lingkungan, informasi yang baru didapatnya digunakan untuk memodifikasi, menambah, atau mengganti skema yang sebelumnya ada.

Sebagai contoh, seorang anak mungkin memiliki skema tentang sejenis binatang, misalnya dengan burung. Bila pengalaman awal anak berkaitan dengan burung kenari, anak kemungkinan beranggapan bahwa semua burung adalah kecil, berwarna kuning, dan mencicit. Suatu saat, mungkin anak melihat seekor burung unta. Anak akan perlu memodifikasi skema yang ia miliki sebelumnya tentang burung untuk memasukkan jenis burung yang baru ini.

Asimilasi adalah proses menambahkan informasi baru ke dalam skema yang sudah ada. Proses ini bersifat subjektif, karena seseorang akan cenderung memodifikasi pengalaman atau informasi yang diperolehnya agar bisa masuk ke dalam skema yang sudah ada sebelumnya. Dalam contoh di atas, melihat burung kenari dan memberinya label "burung" adalah contoh mengasimilasi binatang itu pada skema burung si anak.

Akomodasi adalah bentuk penyesuaian lain yang melibatkan pengubahan atau penggantian skema akibat adanya informasi baru yang tidak sesuai dengan skema yang sudah ada. Dalam proses ini dapat pula terjadi pemunculan skema yang baru sama sekali. Dalam contoh di atas, melihat burung unta dan mengubah skemanya tentang burung sebelum memberinya label "burung" adalah contoh mengakomodasi binatang itu pada skema burung si anak.

Melalui kedua proses penyesuaian tersebut, sistem kognisi seseorang berubah dan berkembang sehingga bisa meningkat dari satu tahap ke tahap di atasnya. Proses penyesuaian tersebut dilakukan seorang individu karena ia ingin mencapai keadaan equilibrium, yaitu berupa keadaan seimbang antara struktur kognisinya dengan pengalamannya di lingkungan. Seseorang akan selalu berupaya agar keadaan seimbang tersebut selalu tercapai dengan menggunakan kedua proses penyesuaian di atas.

Dengan demikian, kognisi seseorang berkembang bukan karena menerima pengetahuan dari luar secara pasif tapi orang tersebut secara aktif mengkonstruksi pengetahuannya. Sekaligus juga dapat membuat dirinya menjadi fleksibel.

Untuk membina fleksibilitas ini maka perlu ditingkatkan kemampuan berpikir logis, kritis, berinisiatif, dan kreatif. Kesadaran dan kebijakan pentingnya pengembangan berpikir kreatif menjadi modal dasar untuk melakukan inovasi. Pengembangan kreativitas pada pendidikan telah diterapkan dalam bentuk “Keterampilan Proses”, sesuai dengan definisi kreativitas oleh Torrence (1988).

Conny Semiawan (1989) menyatakan bahwa pengembangan kreativitas anak didik dapat terlaksana jika dalam pembelajaran diterapkan keterampilan proses. Upaya menerapkan pendekatan keterampilan proses atau mengembangkan kemampuan siswa dalam menggunakan metode ilmiah menunjukkan bahwa penguasaan siswa terhadap keterampilan proses belum utuh.

BAB III
PENUTUP

Sekarang, saya ajak anda untuk sedikit membaca potongan tulisan ini. Selamat membaca dan merenungkan sebagian isi tulisan emas dari seorang pendidik yang membumi, dalam buku Bucklet ini.

The Little Boy Once a little boy went to school. He was quite a little boyand it was quite a big school. And when the little boy found that he could go to his room by walking right in from the door outside,
He was happy. And the school did not seem quite so big any more.
One morning, when the little boy had been in school awhile, The teacher said, “Today we are going to make a picture.” “Good!” thought the little boy. He liked to make pictures. He could make all kinds: lions and tigers, chickens and cows, trains and boats –
And he took out his box of crayons and began to draw. But the teacher said: “Wait! It is not time to begin!” And she waited until everyone looked ready.
“Now,” said the teachers, “We are going to make flowers.” “Good!” thought the little boy. He liked to make flowers, And be began to make beautiful ones with his pink and orange and blue crayons.
But the teacher said, “Wait! And I will show you how.” And it was red with a green stem. “There,” said the teacher, “Now you may begin.”
The little boy looked at the teacher’s flower., then he looked at his own flower. He liked his flower better than the teacher’s. But he did not say this, He just turned his paper over and made a flower like the teacher’s. It was red, with a green stem.
On another day, when the little boy had opened the door from the outside all by himself. The teacher said: “Today we are going to make something with clay.” “Good!” thought the little boy. He liked clay. He could make all kinds of things with clay: snakes and snowmen, elephants and mice, cars and trucks – And he began to pull and pinch his ball of clay.
But the teacher said, “Wait! It is not time to begin!” And she waited until everyone looked ready. “Now,” said the teachers, “We are going to make a dish.” “Good!” thought the little boy. He liked to make dishes, and he began to make some hat were all shapes and sizes.
But the teacher said, “Wait! And I will show you how.” And she showed everyone how to make one deep dish “There,” said the teacher, “Now you may begin.”
The little boy looked at the teacher’s disk then he looket at his own. He liked his dishes better than the teacher’s but he did not say this. He just rolled his clay into a big ball again and made a dish like the teacher’s. It was a deep dish.
And pretty soon The little boy learned to wait, and to watch, and to make things just like the teacher. And pretty soon he didn’t make things on his own anymore
Then it happened.That the little boy and his family moved to another house, in another city. And the little boy had to go to another school.
This school was even bigger than the other one, And there was no door from the outside into his room. He had to go up some big steps, and walk down a long hall to get go his room.
And the very first day He was there, the teacher said: “Today we are going to make a picture,”
“Good!” thought the little boy. And he waited for the teacher to tell him what to do. But the teacher didn’t say anything, she just walked around the room.
When she came to the little boy she said, “Don’t you want to make a picture?” “Yes,” said the little boy, “What are we going to make?”“I don’t know until you make it,” said the teacher. “How shall I make it?” asked the little boy. “Why, any way you like,” said the teacher.
“And any color?” asked the little boy. “Any color.” Said the teacher. “If everyone made the same picture, and would I know who made what, and which was which?” “I don’t know,” said the little boy, and he began to make a red flower with a green stem.

--Helen E. Bucklet--

PEMUDA KECIL

Suatu kali pemuda kecil pergi ke sekolah.
dia adalah pemuda kecil yang sangat ingin tahu
dan dia benar-benar ingin sekolah.

dan ketika pemuda kecil menemukan
dia dapat pergi ke ruangan sekolah itu
dia seperti berjalan dengan benar
dari bagian luar pintu sekolah,
kelihatan dia gembira.
dan di sekolah tidak tampak apapun
lagi besar sangat benar.

Suatu pagi, ketika pemuda kecil telah berada di sekolah
guru mengatakan, “hari ini kita akan membuat gambar. ”
“baik! ” berpikir pemuda kecil.

dia menyukai membuat gambar-gambar.
dia dapat membuat semua jenis: singa dan harimau, ayam dan sapi, kereta dan perahu boat -
dan dia mengambil keluar kotak krayon kepunyaannya
dan mulai menggambar. tetapi guru mengatakan:

“Tunggu! itu bukan waktu mulai! ”
dan dia menunggu sampai semuanya melihat siap.
“Sekarang, ” mengatakan guru,
“Kita akan membuat bunga-bungaan. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.

dia sangat menyukai membuat bunga-bungaan,
dan senang membuatnya untuk orang-orang cantik
dengan merah muda dia dan oranye dan krayon biru.
tetapi guru mengatakan,

“Tunggu! dan saya akan pertunjukan kamu bagaimana. ”
dan itu merah dengan hijau menahan.

“Lihatlah, ” mengatakan guru, “Sekarang kamu boleh mulai. ”
pemuda kecil melihat bunga guru. ,
kemudian dia melihat bunga miliknya.
dia menyukai bunga yang ia buat.
dia merasa bunganya lebih baik daripada bunga buatan gurunya. tetapi dia tidak berani mengatakan ini,
lalu dia hanya berani memutar kertas sesuai arahan guru
dan membuat bunga kesukaan guru.
Yaitu merah, dengan hijau menahan seperti daun.

Suatu hari di hari berikutnya,
Ketika pemuda kecil telah membuka pintu
dari bagian luar semua sendiri.
guru mengatakan:
“Hari ini kita akan membuat sesuatu dengan tanah liat. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.

dia sangat menyukai tanah liat.
dia dapat membuat barang bermacam-macam dengan tanah liat:
ular dan snowmen, gajah dan tikus, mobil dan truk -
dan dia mulai menarik tanah dan membuat bola dari tanah liat.
tetapi guru mengatakan,

“Tunggu! itu bukan waktu mulai! ”
dan dia menunggu sampai semuanya melihat siap.
“sekarang, ” mengatakan guru, “Kita akan membuat piring. ”
“Baik! ” berpikir pemuda kecil.

Padahal dia lebih menyukai membuat dishes,
dan dia mulai membuat topi semua bentuk dan ukuran.
tetapi guru mengatakan, “tunggu!

dan saya akan pertunjukan kepada kamu bagaimana. ”
dan dia menunjukkan semuanya bagaimana
cara membuat satu piring yang dalam
“lihatlah, ” mengatakan guru,
“sekarang kamu boleh mulai. ”

pemuda kecil melihat disket guru
kemudian dia melihat miliknya.

dia sangat menyukai dishes yang lebih baik daripada buatan guru
tetapi dia tidak mengatakan ini.
dia hanya menggulungkan tanah liat
dia membuat ke bola besar lagi
dan membuat piring kesukaan guru.
itu piring yang dalam. dan segera akan menjadi cantik

pemuda kecil belajar menunggu, dan menonton,
dan membuat barang seperti halnya guru.
dan akan segera menjadikan cantik
dia tidak membuat barang atas kreativitasnya sendiri lagi
kemudian itu terjadi.

Lalu pemuda kecil dan keluarganya
Pindah ke rumah lainnya, di kota yang lain

dan pemuda kecil pindah ke sekolah lainnya
Bahkan lebih besar dari sekolahnya yg dulu,
dan di sana pintu tidak dari bagian luar ke ruangan dia.
dia mempunyai langkah besar,
dan jalan kebawah gedung pertemuan panjang memperoleh pergi ruangan dia.

dan hari sangat awal
dia di sana, guru mengatakan:
“hari ini kita akan membuat gambar, ”
“baik! ” berpikir pemuda kecil.
dan dia menunggu guru memberitahu dia harus berbuat apa.

tetapi guru tidak mengatakan apa saja,
dia hanya berjalan mengelilingi ruangan.
kapan dia datang ke pemuda kecil
dia mengatakan, “kamu ingin membuat gambar? ”
“Ya, ” mengatakan pemuda kecil,
“Bagaimana kami akan membuat? ”
“saya ingin tidak tahu sampai kamu membuat itu,
” mengatakan guru.
“Bagaimana apakah saya membuat itu?
” bertanya pemuda kecil.
“Kenapa, bagaimanapun juga kamu suka,
” mengatakan guru. “dan beberapa warna?
” bertanya pemuda kecil. “banyak warna.
” mengatakan guru.
“Jikalau semuanya membuat gambar yang sama,
dan saya akan tahu siapa membuat apa,
dan mana yang membuat? ”
“Saya tidak ketahui,
” mengatakan pemuda kecil,
dan dia mulai membuat bunga merah dengan hijau menahan.

--HELEN E. BUCKLET—

REFERENSI
Piaget, J. (1954). "The construction of reality in the child". New York: Basic Books.
Piaget, J. (1977). The Essential Piaget. ed by Howard E. Gruber and J. Jacques Voneche Gruber, New York: Basic Books.
Piaget, J. (1983). "Piaget's theory". In P. Mussen (ed). Handbook of Child Psychology. 4th edition. Vol. 1. New York: Wiley.
Piaget, J. (1995). Sociological Studies. London: Routledge.
Piaget, J. (2000). "Commentary on Vygotsky". New Ideas in Psychology, 18, 241–259.
Piaget, J. (2001). Studies in Reflecting Abstraction. Hove, UK: Psychology Press.
Seifer, Calvin "Educational Psychology"
Cole, M, et al. (2005). The Development of Children. New York: Worth Publishers.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.