Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 31 Desember 2025

omjay bertemu presiden Jokowi dalam mimpi

Bertemu Presiden Jokowi dalam Mimpi: Sebuah Percakapan Sunyi tentang Bangsa dan Nurani

Malam itu hujan turun pelan. Tidak deras, tidak pula sekadar rintik. Hujan yang seolah tahu, bahwa seseorang sedang lelah bukan hanya oleh pekerjaan, tetapi oleh pikiran tentang negeri ini. Saya tertidur dengan kepala penuh tanya: ke mana arah bangsa, bagaimana nasib pendidikan, dan apa peran kecil seorang guru di tengah riuh politik dan kekuasaan.

Dalam tidur itulah mimpi datang. Anehnya begitu nyata.

Saya berdiri di sebuah ruangan sederhana, mirip Istana Negara, tetapi tanpa kemewahan berlebihan. Tidak ada protokol, tidak ada ajudan yang mondar-mandir. Hanya sebuah meja kayu, dua kursi, dan Presiden Joko Widodo duduk di hadapan saya. Beliau mengenakan kemeja putih khasnya. Senyum tipis, wajah tenang, seperti yang sering kita lihat di televisi—tetapi kali ini lebih manusiawi, lebih dekat.

“Silakan duduk,” katanya pelan.

Saya tertegun. Bukan karena bertemu Presiden, tetapi karena suasana yang terasa hangat. Tidak ada jarak kekuasaan. Tidak ada rasa takut. Hanya dua manusia yang sedang berbincang.

“Pak Presiden,” kata saya membuka percakapan, “saya hanya guru biasa. Menulis, mengajar, dan mencoba bertahan di tengah perubahan zaman.”

Beliau tersenyum. “Justru guru biasa itulah yang membuat negeri ini luar biasa,” jawabnya.

Kalimat sederhana itu seperti mengetuk dada. Dalam mimpi, saya memberanikan diri bertanya tentang banyak hal: pendidikan yang sering berubah kebijakan, guru yang lelah oleh administrasi, anak-anak yang lebih akrab dengan gawai daripada buku.

Presiden Jokowi mendengarkan. Tidak memotong. Tidak menggurui.

“Negeri ini besar,” katanya, “dan tidak semua bisa selesai dalam satu masa jabatan. Tapi saya percaya, selama masih ada guru yang mau peduli, mau menulis, mau bersuara dengan hati, Indonesia tidak akan kehilangan arah.”

Saya terdiam. Dalam mimpi itu, saya merasa bukan sedang berbicara dengan kepala negara, tetapi dengan seorang ayah yang memikul beban berat. Beban yang sering tak terlihat oleh rakyatnya sendiri.

Saya bertanya lagi, “Pak, apakah Bapak lelah?”

Beliau tertawa kecil. “Manusia mana yang tidak lelah? Tapi lelah itu harus tetap diiringi niat baik. Kalau niatnya untuk rakyat, lelahnya jadi ibadah.”

Percakapan berlanjut ke hal-hal yang lebih sunyi: tentang kritik, tentang hujatan, tentang media sosial yang sering kejam. Presiden Jokowi menatap ke luar jendela. Langit di mimpi itu cerah, seolah hujan sudah selesai.

“Kadang yang paling berat,” katanya, “bukan kebijakan, tapi salah paham. Namun pemimpin harus belajar berdamai dengan itu.”

Saya mengangguk. Sebagai penulis dan guru, saya paham betul rasanya disalahpahami. Ternyata, di puncak kekuasaan pun rasa itu tetap ada.

Sebelum mimpi berakhir, beliau berdiri dan menepuk bahu saya. “Teruslah menulis. Suara guru penting, meski pelan. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.”

Lalu semuanya memudar.

Saya terbangun saat azan subuh berkumandang. Jantung masih berdebar. Bukan karena mimpi bertemu Presiden, tetapi karena pesan-pesan yang tertinggal di hati. Mimpi itu mungkin hanya bunga tidur. Namun seperti banyak mimpi lain, ia membawa makna.

Bagi saya, mimpi itu adalah refleksi. Tentang harapan rakyat kecil kepada pemimpinnya. Tentang kerinduan akan dialog yang jujur, sederhana, dan manusiawi. Juga tentang tanggung jawab pribadi: bahwa mengeluh saja tidak cukup, menulis saja tidak cukup, mengajar saja tidak cukup—semuanya harus disertai keikhlasan.

Bertemu Presiden Jokowi dalam mimpi bukan tentang kebanggaan, melainkan pengingat. Bahwa bangsa ini dibangun bukan hanya oleh mereka yang duduk di istana, tetapi juga oleh guru-guru di kelas sempit, oleh penulis yang setia mengetik di dini hari, oleh rakyat biasa yang tetap mencintai Indonesia meski sering kecewa.

Mimpi itu telah usai. Presiden tetap Presiden. Saya tetap guru dan penulis. Namun pagi itu, langkah terasa sedikit lebih ringan. Karena saya percaya, selama masih ada niat baik—di istana maupun di ruang kelas—Indonesia akan terus berjalan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, percakapan sunyi dalam mimpi itu akan menjelma menjadi kenyataan: dialog yang jujur antara pemimpin dan rakyatnya, tanpa jarak, tanpa topeng, hanya hati dan harapan untuk negeri tercinta. 🇮🇩✍️

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 30 Desember 2025

tpg anda belum cair dan tertunda? ikuti kisah omjay di bawah ini!

TPG Tertahan di Tengah Alih Peran: Ketika Guru PAI Menjadi Pengawas Sekolah Umum

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Pagi ini saya menerima sebuah telepon yang membuat langkah saya terhenti sejenak. Seorang kawan, guru Pendidikan Agama Islam (PAI), menyampaikan kegelisahannya. Nada suaranya tenang, tetapi terasa berat. Ia bercerita bahwa Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang biasa diterimanya belum juga cair sejak ia diangkat menjadi pengawas sekolah umum.

Padahal, ia bukan guru pindahan instansi. Sejak awal, ia adalah guru PAI yang diangkat oleh dinas pendidikan daerah, bukan pegawai Kementerian Agama. Namun selama menjadi guru PAI, TPG-nya dibayarkan melalui Kemenag, sebagaimana mekanisme yang selama ini berlaku.

Masalah muncul ketika ia naik peran dari guru menjadi pengawas sekolah umum. Sejak saat itu, pembayaran TPG berpindah dari Kemenag ke Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemdikdasmen). Di sinilah persoalan bermula. Proses verifikasi dan validasi lintas kementerian berjalan sangat lambat. Hak belum cair, sementara kewajiban terus berjalan.

Guru PAI: Di Dinas Pendidikan, Tapi TPG dari Kemenag

Banyak orang belum memahami posisi unik guru PAI. Secara kepegawaian dan penugasan, guru PAI berada di bawah dinas pendidikan daerah. Namun khusus untuk tunjangan profesi, selama masih menjadi guru PAI, pembayarannya dikelola oleh Kemenag.

Skema ini sudah berlangsung lama dan relatif berjalan baik selama status guru tidak berubah. Masalah baru muncul ketika guru PAI diangkat menjadi pengawas sekolah umum, bukan lagi pengawas PAI.

Sejak saat itu:

Status jabatan berubah,

Tugas tidak lagi spesifik PAI,

Jalur pembinaan dan pembayaran TPG pun harus berpindah ke Kemdikdasmen.

Secara regulasi, hal ini benar. Namun secara teknis, perpindahan data tidak sesederhana memindahkan berkas.

Pengawas Sekolah Umum Tetap Berhak atas TPG

Perlu ditegaskan, pengawas sekolah umum tetap berhak menerima TPG, selama memenuhi ketentuan:

1. Memiliki sertifikat pendidik yang sah,

2. Diangkat resmi sebagai pengawas sekolah umum,

3. Melaksanakan beban kerja pengawas sesuai aturan,

4. Terdata aktif dan valid di Dapodik,

5. Tidak ada masalah administrasi yang belum diverifikasi.

Artinya, TPG tidak hilang, hanya tertahan karena proses administratif yang belum tuntas.

Masalahnya, proses ini sering kali memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bisa lebih dari satu tahun.

Di Mana Masalah Utamanya?

Dari berbagai kasus serupa, persoalan utama bukan pada guru atau pengawas, melainkan pada:

1. Perpindahan kewenangan pembayaran TPG
Dari Kemenag ke Kemdikdasmen membutuhkan sinkronisasi lintas sistem yang belum sepenuhnya terintegrasi.

2. Validasi data sertifikasi pendidik
Sertifikat yang sebelumnya terbaca di sistem Kemenag harus diverifikasi ulang agar diakui sistem Kemdikdasmen.

3. Status jabatan di Dapodik
Perubahan dari guru ke pengawas sering kali belum terbaca sempurna atau masih menunggu sinkronisasi pusat.

4. Koordinasi pusat dan daerah yang tidak selalu seirama
Daerah merasa sudah mengirim berkas, pusat masih menunggu validasi tambahan.

Akibatnya, pengawas berada di posisi yang serba tidak enak: bekerja penuh tanggung jawab, tetapi haknya tertunda.

Apa yang Harus Dilakukan Agar TPG Bisa Cair?

Dari pengalaman mendampingi rekan-rekan guru dan pengawas, berikut langkah-langkah realistis yang bisa ditempuh:

1. Pastikan SK Pengawas Sekolah Umum Sudah Jelas

SK pengangkatan sebagai pengawas sekolah umum harus:

Memuat TMT yang tegas,

Tidak tumpang tindih dengan SK guru sebelumnya,

Diterbitkan oleh pejabat berwenang.

2. Pastikan Data di Dapodik Sudah Final

Koordinasikan dengan:

Operator Dapodik,

Dinas Pendidikan setempat,

agar status:

Jabatan pengawas,

NUPTK,

Riwayat sertifikasi,

terbaca dengan benar di sistem.

3. Kawal Proses Verifikasi TPG di Kemdikdasmen

Karena ini proses lintas kementerian, jangan pasif. Pantau:

Apakah data sudah diterima pusat,

Apakah masih ada berkas yang perlu dilengkapi,

Apakah sudah masuk antrean pencairan.

4. Bangun Komunikasi, Bukan Emosi

Sampaikan keluhan dengan bahasa santun, tertulis, dan terdokumentasi. Simpan bukti pengajuan, surat, dan tanggapan.

5. Bersabar, Tapi Jangan Diam

Kesabaran penting, tetapi diam terlalu lama sering membuat berkas terlupakan.

Luka Sunyi Para Pengawas

Yang sering luput dari perhatian adalah beban psikologis. Pengawas sekolah dituntut menjadi teladan, pembina, dan penggerak mutu pendidikan. Namun di balik itu, ada kegelisahan yang tak selalu terucap: hak yang belum sampai ke rekening.

Bukan soal besar kecilnya nominal, tetapi soal pengakuan atas profesionalitas.

Penutup: Hak Tidak Gugur, Hanya Menunggu Disempurnakan

Saya menutup obrolan pagi itu dengan satu kalimat sederhana,
“TPG itu tidak hilang, hanya sedang mencari jalannya.”

Untuk para guru PAI yang kini mengemban amanah sebagai pengawas sekolah umum, tetaplah kuat. Lengkapi berkas, kawal proses, dan jangan ragu bersuara dengan cara yang bermartabat.

Semoga ke depan, sistem lintas kementerian semakin terintegrasi, sehingga alih peran pengabdian tidak lagi diiringi penantian panjang atas hak.

Karena pengawas sekolah sejatinya adalah penjaga mutu pendidikan. Dan penjaga mutu bangsa layak mendapatkan kepastian, bukan sekadar kesabaran.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 26 Desember 2025

catatan literasi dari malang

**Dari Aroma Bromo hingga Penumpang Misterius di Kursi 5B:

Catatan Literasi dari Malang**

Oleh: Tini Suhartini (Kota Tangerang)
Peserta KOPDAR KBMN Ke-4 Goes to Malang 2025

Malang, kota dengan sejuta pesona, baru saja meninggalkan jejak yang begitu dalam di hati saya. Pada tanggal 21–24 Desember 2025, saya menempuh perjalanan jauh dari Kota Tangerang bukan sekadar untuk bertamasya, melainkan untuk sebuah misi literasi. Siapa sangka, perjalanan ini menjelma menjadi paket lengkap—menyentuh jiwa, mengasah pikiran, dan sesekali mengocok perut dengan tawa.

Perjalanan ini terasa semakin bermakna karena saya tidak sendiri. Saya ditemani putra bungsu tercinta, Muhammad Fauzi, serta dua sahabat seperjuangan, Anis Solihah dan Yulia Wardani. Bersama-sama, kami menjadi bagian dari sejarah manis KOPDAR KBMN ke-4, yang mengusung tema:
“A Literary Journey Across the Archipelago, Where Inspiration Meets the City of Flowers.”

---

Simfoni Nakhoda dan Mantra yang Menembus Kalbu

Di balik suksesnya perhelatan di BBGTK Jawa Timur, ada peran besar Ibu Helwiyah, S.Pd., M.M. yang layaknya seorang nakhoda ulung. Dengan ketenangan dan ketegasannya, beliau merajut seluruh rangkaian acara menjadi harmoni yang indah antara edukasi, refleksi, dan rekreasi. Kami tidak hanya belajar, tetapi juga merayakan persaudaraan yang tulus.

Namun, ada satu sosok yang menjadi denyut utama gerakan literasi ini, yakni Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay). Meski kondisi kesehatan beliau kadang naik turun, semangatnya tak pernah surut. Kalimat legendarisnya,
“Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi,”
bukan sekadar slogan, melainkan mantra yang menembus relung kalbu.

Kalimat itu membakar keraguan kami—saya, Anis, dan Yulia—untuk terus menulis, memahat makna, dan percaya bahwa keabadian bisa lahir dari rangkaian kata. Omjay adalah api yang terus menyala, menerangi langkah para penulis agar tak takut berjalan dalam sunyi.

---

Filosofi Kuda Bromo: Antara Literasi dan Toilet

Puncak perenungan perjalanan ini kami rasakan saat tadabur alam di Gunung Bromo. Menyaksikan matahari terbit perlahan dari balik ufuk, kami seolah diajak membaca tanda-tanda kebesaran Allah SWT dengan cara yang paling jujur dan sunyi.

Namun, di balik suasana spiritual itu, terselip kisah jenaka yang pecah dalam tawa saat kami sudah kembali ke bus. Obrolan tentang “harumnya” aroma air seni kuda di lautan pasir Bromo mendadak berubah ketika Bu Anis melontarkan celetukan polos namun menggelitik:

"Kasihan ya kudanya, mereka nggak tahu letak toilet, padahal tulisannya gede banget: TOILET!"

Kami pun tergelak. Aih, Bu Anis! Ternyata literasi memang tidak berlaku untuk semua makhluk, termasuk kuda-kuda Bromo yang tak pernah mengenyam bangku sekolah. Humor sederhana itu menjadi penghangat perjalanan pulang.

---

Drama Menegangkan: Misteri Kursi Nomor 5B

Keceriaan kami belum usai. Drama kecil bertajuk “Misteri Kursi Nomor 5B” sempat membuat suasana bus menegang. Bus tak kunjung berangkat karena Pak Kondektur mondar-mandir sambil mengecek tiket, wajahnya tampak serius.

Sebelumnya, Bu Anis sempat berbisik,
"Ini sebelah teman saya kosong, Pak."
Namun laporan itu berlalu begitu saja.

Tak lama, Pak Kondektur kembali dan menghampiri Fauzi di kursi 5A.
"Mas, boleh saya lihat tiketnya?"

Belum sempat Fauzi menjawab, saya dan Bu Anis spontan menjelaskan,
"Pak, kursi sebelah itu memang kosong, sekarang cuma diisi tas."

Sekejap, wajah Pak Kondektur berubah. Ia menghela napas panjang—antara lega dan kesal.
"Oalah… pantesan. Dari tadi saya nungguin penumpang kursi 5B. Saya kira orangnya belum naik!"

Bus pun akhirnya melaju. “Penumpang misterius” di kursi 5B ternyata hanyalah sebuah tas yang duduk manis, tanpa tiket dan tanpa protes. ❤️

---

Menenun Rindu di Jalan Pulang

Ketika roda bus mulai menjauh dari Malang, rasa haru perlahan menyelinap. Empat hari terasa begitu singkat, seperti kedipan mata. Kami pulang tidak hanya membawa lelah yang indah, tetapi juga peti-peti rindu yang penuh dengan tawa, cerita, dan kehangatan keluarga besar Tim Solid Omjay (TOS) serta para penulis Nusantara.

Di Malang, saya belajar bahwa literasi bukan sekadar menyusun kata, melainkan menyusun doa dan cinta. Persaudaraan yang terjalin adalah cermin kasih sayang Allah SWT yang hadir melalui senyum sahabat dan genggaman tangan anak tercinta.

Persaudaraan ini adalah perpustakaan hidup—tempat kami saling membaca, memahami, dan menguatkan tanpa menghakimi. Menulis adalah cara saya mencintai kehidupan, dan melalui tulisan ini, saya mengabadikan cinta seorang ibu, kesetiaan seorang sahabat, serta pengabdian seorang hamba kepada Sang Maha Pencipta.

Malang telah menjadi rahim bagi lahirnya gagasan-gagasan baru. Perpisahan ini bukan titik akhir, melainkan sebuah koma panjang—tempat kami menarik napas sebelum menuliskan bab selanjutnya dalam kitab kehidupan.

Kenangan ini akan selalu mekar dalam kalbu, manis, hangat, dan abadi—bahkan terasa lebih manis dari apel Malang.

Terima kasih KBMN.
Terima kasih Malang.
Sampai jumpa di tikungan takdir berikutnya,
dalam dekapan literasi dan cinta yang tak pernah usai.

“Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.”

Senin, 22 Desember 2025

Tak Ada Dinding yang Kosong di MI Khadijah

Tak Ada Dinding yang Kosong di MI Khadijah Malang Jawa Timur 

Sekolah sering kali hanya dipahami sebagai tempat belajar formal: ruang kelas, papan tulis, meja, kursi, dan deretan jadwal pelajaran. Namun pemahaman itu runtuh seketika ketika kami melangkahkan kaki ke MI Khadijah Malang. Di sekolah ini, tak ada dinding yang kosong, dan yang lebih penting, tak ada waktu yang terbuang sia-sia. Kami seakan “terpulau”—tenggelam dan larut—dalam berbagai macam kegiatan bermakna yang hidup di setiap sudut sekolah.

Dinding-dinding MI Khadijah bukan sekadar pembatas ruang. Ia berbicara. Ia bercerita. Setiap tembok dipenuhi hasil karya siswa: tulisan tangan penuh makna, poster literasi, peta konsep, infografis pelajaran, kutipan ayat Al-Qur’an, hadis, kata-kata motivasi, hingga dokumentasi kegiatan sekolah. Semua tertata rapi, estetis, dan sarat nilai pendidikan. Tidak ada ruang kosong yang dibiarkan bisu. Semua sudut sekolah menjadi media belajar visual yang aktif.

Yang membuat kami terkesan, pajangan itu bukan sekadar hiasan. Guru dan siswa menjadikannya bagian dari proses belajar. Saat berjalan di koridor sekolah, kami melihat siswa membaca, berdiskusi, bahkan menjelaskan isi poster kepada temannya. Sekolah ini benar-benar mempraktikkan konsep lingkungan belajar sebagai guru ketiga—setelah guru dan orang tua.

Namun MI Khadijah Malang tidak hanya “hidup” di dindingnya. Sekolah ini juga hidup oleh denyut kegiatan yang nyaris tak pernah berhenti. Sejak pagi hingga pulang sekolah, siswa terlibat dalam berbagai aktivitas yang terencana dan bermakna. Mulai dari pembiasaan religius, kegiatan literasi, pembelajaran berbasis proyek, praktik ibadah, seni budaya, olahraga, hingga kegiatan sosial.

Kami merasa seperti “terpulau” bukan karena terisolasi, tetapi karena terhanyut dalam atmosfer belajar yang aktif dan menyenangkan. Setiap jam terasa penuh makna. Tidak ada kesan sekolah yang kaku dan membosankan. Guru tidak hanya mengajar, tetapi membersamai. Siswa tidak hanya mendengar, tetapi mengalami.

Budaya literasi menjadi salah satu kekuatan MI Khadijah Malang. Buku-buku hadir di berbagai sudut: pojok baca kelas, rak buku lorong, hingga karya tulis siswa yang dipajang dengan bangga. Anak-anak dibiasakan menulis, membaca, dan bercerita sejak dini. Mereka belajar bahwa gagasan itu penting, dan karya mereka layak dihargai.

Tak kalah menarik adalah integrasi nilai-nilai keislaman dalam setiap aktivitas. MI Khadijah tidak memisahkan antara ilmu dan iman. Salat berjamaah, doa harian, adab, dan akhlak bukan hanya diajarkan, tetapi dibiasakan. Pendidikan karakter tumbuh secara alami melalui keteladanan guru dan budaya sekolah.

Kepemimpinan sekolah terlihat kuat dan visioner. Manajemen sekolah berjalan rapi, guru-guru tampak solid, dan suasana kerja terasa hangat. Kolaborasi menjadi kata kunci. Tidak ada guru yang berjalan sendiri. Semua bergerak dalam irama yang sama: mendidik dengan hati.

MI Khadijah Malang memberi pelajaran penting bagi dunia pendidikan kita: sekolah yang baik bukanlah sekolah yang megah secara fisik, tetapi sekolah yang hidup secara ruhani dan intelektual. Dinding yang penuh karya mencerminkan pikiran yang aktif. Kegiatan yang beragam mencerminkan kepedulian pada potensi setiap anak.

Kami pulang dari MI Khadijah Malang dengan rasa kagum dan harapan. Kagum karena sekolah ini mampu memaksimalkan setiap ruang dan waktu. Berharap semoga semangat ini menular ke sekolah-sekolah lain di Indonesia. Karena sejatinya, pendidikan yang bermakna lahir dari sekolah yang tidak membiarkan satu pun dinding kosong, dan satu pun anak kehilangan kesempatan untuk berkembang.

MI Khadijah Malang telah membuktikan itu—dengan karya, dengan aktivitas, dan dengan hati.
Demikianlah hasil kunjungan kami ke MI Khadijah di Malang Jawa Timur. Temu penulis KBMN PGRI mengajak kami berwisata literasi ke sekolah yang bagus ini.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
BLOG https://wijayalabs.com

Senin, 15 Desember 2025

Siapakah Guru Termahal Indonesia?

Siapakah Guru Termahal di Indonesia?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia

Siapakah guru termahal di Indonesia?
Pertanyaan ini kerap muncul dalam diskusi pendidikan, terutama ketika isu kesejahteraan guru kembali mengemuka. Apakah guru termahal itu mereka yang mengajar di sekolah internasional dengan gaji puluhan juta rupiah? Ataukah guru privat elite dengan tarif ratusan ribu rupiah per jam?

Jawabannya bukan.

Guru termahal di Indonesia tidak diukur dari besar kecilnya gaji, melainkan dari besarnya pengorbanan, keikhlasan, dan dampak hidup yang ia berikan kepada murid-muridnya.

Guru Termahal Itu Tidak Pernah Mengeluh di Depan Muridnya

Guru termahal adalah mereka yang tetap datang ke sekolah meski:

Honor belum cair berbulan-bulan

Fasilitas sekolah sangat terbatas

Harus mengeluarkan uang pribadi untuk spidol, kertas, dan kuota internet

Mengajar di daerah terpencil, menyeberangi sungai, melewati hutan, atau mendaki bukit

Mereka mungkin tak terkenal. Tak viral. Tak punya panggung besar. Namun tanpa mereka, roda pendidikan akan berhenti berputar.

Mahal dalam Pengorbanan, Murah dalam Penghargaan

Ironisnya, banyak guru di Indonesia justru:

Dibayar rendah

Dituntut tinggi

Disalahkan pertama kali ketika ada masalah

Dilupakan saat kebijakan dibuat

Guru memberi yang terbaik, tetapi sering menerima yang tersisa. Jika pengabdian guru dihitung dengan logika pasar, maka negara sebenarnya berutang sangat besar.

Guru Termahal adalah Mereka yang Mengubah Hidup

Guru termahal bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi:

Menyelamatkan anak dari putus sekolah

Menguatkan murid yang kehilangan orang tua

Menjadi pendengar saat anak tak punya tempat bercerita

Menanamkan nilai saat dunia sibuk mengejar angka

Banyak orang sukses hari ini berdiri di atas bahu guru-guru sederhana yang tak pernah disebut namanya di media.

Komentar Omjay: Guru Mahal Karena Ketulusan

Menurut Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay), Guru Blogger Indonesia:

> “Guru termahal itu bukan karena gajinya besar, tapi karena ketulusannya langka. Ia mendidik dengan hati, bukan dengan hitungan jam. Ia mengajar bukan demi pujian, tetapi demi masa depan anak-anak bangsa.”

Omjay menegaskan bahwa jika ketulusan guru hilang, maka sehebat apa pun kurikulum, pendidikan akan kehilangan ruhnya.

Menulis: Cara Guru Memperpanjang Pengabdian

Banyak guru memilih menulis sebagai bentuk perlawanan sunyi. Menulis bukan untuk mencari uang, melainkan untuk menyuarakan nurani dan mengabadikan pengalaman mendidik.

> “Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi tulisannya akan terus mengajar,”
ujar Omjay.

Melalui tulisan, guru tidak hanya mengajar murid di kelas, tetapi juga mendidik masyarakat luas.

Keteladanan adalah Harga Paling Mahal

Guru termahal adalah teladan hidup:

Datang tepat waktu meski tak diawasi

Jujur meski bisa curang

Sabar meski sering disakiti

Konsisten meski jarang diapresiasi

Nilai-nilai inilah yang membentuk karakter bangsa, dan tidak bisa dibeli dengan uang.

Penutup: Guru Termahal Ada di Sekitar Kita

Guru termahal di Indonesia mungkin adalah:

Guru honorer di sekolah pinggiran

Guru desa yang mengajar multikelas

Guru tua yang tetap setia di ruang kelas

Guru yang diam-diam mendoakan muridnya setiap malam

Mereka tidak meminta dihormati berlebihan. Mereka hanya ingin dimanusiakan.

Karena sesungguhnya, bangsa yang besar bukan yang paling kaya, tetapi yang paling menghargai gurunya.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Inilah klarifikasi organisasi ikatan guru informatika pgri

*KLARIFIKASI ORGANISASI*

TENTANG KEDUDUKAN DAN LEGITIMASI KBMN PGRI

Atas beredarnya pernyataan, penghapusan informasi, serta perdebatan di ruang komunikasi internal guru yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman, bersama ini kami menyampaikan klarifikasi resmi terkait keberadaan dan kedudukan KBMN PGRI.

1. KBMN PGRI Lahir dari Rahim IGTIK PGRI

KBMN PGRI merupakan kelas pembelajaran menulis yang lahir dan dikembangkan di bawah Ikatan Guru Informatika dan TIK (IGTIK) PGRI, sebagai bagian dari program peningkatan kompetensi guru dalam bidang literasi dan publikasi karya tulis.

Dengan demikian, KBMN PGRI bukan program personal, bukan komunitas di luar organisasi, dan bukan gerakan independen tanpa afiliasi, melainkan bagian dari ekosistem pembelajaran IGTIK PGRI.

2. IGTIK PGRI Memiliki Banyak Kelas Pembelajaran

IGTIK PGRI sejak awal menjalankan berbagai kelas pengembangan kompetensi guru, antara lain:

Kelas Informatika dan TIK

Literasi Digital

Public Speaking Edukatif

Pemanfaatan AI untuk Pembelajaran

Kelas Menulis (KBMN PGRI)

KBMN PGRI adalah salah satu kelas yang berkembang paling luas karena konsistensi pelaksanaan dan dampaknya di lapangan.

3. KBMN PGRI Berskala Nasional

Hingga saat ini, KBMN PGRI telah:

Berjalan hingga lebih dari 33 gelombang

Diikuti ribuan guru

Peserta tersebar dari Aceh hingga Papua

Melahirkan ribuan karya tulis guru yang dipublikasikan secara luas

Fakta ini menunjukkan bahwa KBMN PGRI telah dikenal dan dimanfaatkan oleh guru Indonesia secara nasional, sehingga keberadaannya tidak dapat dipersempit sebagai kegiatan lokal atau insidental.

4. Tidak Ada Klaim Eksklusivitas Literasi dalam Tubuh PGRI

PGRI sebagai organisasi profesi guru adalah rumah besar yang menaungi berbagai asosiasi profesi dan keahlian (APKS).
Tidak ada satu pun APKS yang memiliki hak eksklusif atas tema literasi, menulis, atau pengembangan kompetensi guru.

Perbedaan program dan pendekatan adalah kekuatan organisasi, bukan dasar untuk saling meniadakan atau membatasi.

5. Pengelolaan Grup Bukan Dasar Meniadakan Program

Kami menghormati aturan internal setiap grup komunikasi.
Namun perlu ditegaskan bahwa pengelolaan grup tidak dapat dijadikan dasar untuk menggiring opini, meniadakan fakta sejarah, atau mempertanyakan legitimasi program resmi PGRI lainnya.

Koordinasi penting.
Namun klarifikasi fakta organisasi jauh lebih penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di kalangan guru.

6. Penegasan Sikap

Melalui klarifikasi ini kami menegaskan bahwa:

KBMN PGRI sah secara organisasi

KBMN PGRI bagian dari IGTIK PGRI

KBMN PGRI berjalan sejalan dengan semangat PGRI

KBMN PGRI tidak dimaksudkan untuk menyaingi atau meniadakan program APKS lain

Kami berharap seluruh pihak dapat menjaga etika komunikasi organisasi, mengedepankan sinergi, dan tidak membangun narasi yang berpotensi memecah kepercayaan guru terhadap PGRI.

Penutup

Klarifikasi ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab organisasi, bukan polemik.
Kami percaya bahwa kedewasaan berorganisasi adalah fondasi utama dalam membangun PGRI yang kuat, inklusif, dan bermartabat.

Atas perhatian dan kerja samanya, kami ucapkan terima kasih.

Hormat kami,

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Ketua KOGTIK
Ketua Ikatan Guru Informatika dan TIK (IGTIK) PGRI
Blog https://wijayalabs.com

Membangkitkan Semangat dan Gairah Menulis Guru

Menyalakan Kembali Api Menulis Guru Indonesia Bersama Omjay dan Membangkitkan Gairah Menulis Guru di Kota Batu Malang 

Di tengah padatnya tugas administrasi, target kurikulum, dan dinamika pendidikan yang tak pernah sederhana, guru sering kali kehilangan ruang untuk menyuarakan pikirannya. 

Padahal, dari sanalah sejatinya kekuatan guru lahir: menulis. Bersama Omjay—Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, yang dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia—menulis bukan sekadar keterampilan, melainkan jalan perjuangan, refleksi, dan pengabdian.

Menulis bagi guru bukan pekerjaan tambahan. Ia adalah bagian dari profesi itu sendiri. Guru yang menulis sedang merawat nalar, menjaga nurani, dan memperpanjang pengaruh pendidikannya. 

Omjay berulang kali mengingatkan bahwa menulis tidak harus menunggu sempurna. “Tulislah dengan hati, bukan dengan rasa takut,” pesan sederhana yang telah membangkitkan ribuan guru untuk berani memulai.

Dari kebiasaan menulis satu paragraf setiap hari, lahirlah perubahan besar. Guru yang awalnya hanya pembaca kini menjadi penulis. Yang semula ragu kini percaya diri. Menulis mengajarkan kejujuran, kesabaran, dan konsistensi—nilai-nilai yang juga diajarkan guru kepada murid-muridnya.

Lebih dari itu, menulis adalah ruang penyembuhan bagi guru. Saat lelah menghadapi realitas kelas, kebijakan yang berubah-ubah, dan tantangan sosial murid, tulisan menjadi tempat paling jujur untuk berpulang. Di sanalah guru menemukan kembali makna mengapa ia memilih profesi mulia ini.

Semangat menulis guru Indonesia kini bergerak dalam irama kebersamaan melalui Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI. Komunitas ini bukan sekadar tempat belajar teknik menulis, melainkan ruang saling menguatkan. Tidak ada yang merasa lebih hebat, karena semua sedang belajar.

Sebagai puncak perjumpaan literasi guru, Temu Penulis KBMN PGRI akan kembali digelar pada 21–23 Desember 2025 di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Ini bukan sekadar agenda tahunan, tetapi ruang pertemuan hati para guru penulis dari seluruh Indonesia. Kota Batu yang sejuk dan inspiratif menjadi saksi lahirnya ide-ide segar, persahabatan baru, dan semangat menulis yang diperbarui.

Dalam temu penulis ini, guru akan berdiskusi, berbagi praktik baik, mengikuti kelas-kelas literasi, serta menyerap energi positif dari sesama pendidik. Kehadiran Omjay dan para penggerak literasi guru akan menjadi bahan bakar semangat yang sulit ditemukan di ruang-ruang formal.

Inilah saat yang tepat untuk ikut terlibat. Jangan hanya menjadi penonton gerakan literasi guru. Jadilah bagian dari sejarahnya.
Jika selama ini Anda merasa:

ingin menulis tetapi belum berani,

sudah menulis tetapi sering kehilangan semangat,

atau ingin bertemu guru-guru hebat yang rendah hati dan saling mendukung,

maka Temu Penulis KBMN PGRI di Kota Batu adalah jawabannya.

Datanglah, meski hanya membawa satu tulisan. Pulanglah dengan semangat baru, jejaring persahabatan, dan keyakinan bahwa guru Indonesia mampu bersuara lewat kata. Jangan menunda, karena kesempatan ini bukan sekadar soal tanggal dan tempat, tetapi tentang keberanian melangkah dan memilih bertumbuh.

Ajak rekan sejawat, sahabat sekolah, dan komunitas guru di sekitar Anda. Libatkan diri, karena gerakan besar selalu dimulai dari keputusan kecil: mendaftar dan hadir. Dari Batu, suara guru Indonesia akan kembali menggema—lewat tulisan yang jujur, berani, dan bermakna.

Seperti pesan Omjay yang selalu menggugah, “Jangan tunggu hebat untuk menulis, tapi menulislah agar menjadi hebat.”
Mari bertemu, belajar, dan menyalakan kembali api menulis itu bersama.

Temu Penulis KBMN PGRI
21–23 Desember 2025
Kota Batu, Malang, Jawa Timur

Ayo terus menulis, karena guru yang menulis, sedang menyiapkan masa depan pendidikan Indonesia. Mari kita bangkitkan gairah menulis di kalangan guru.✍️🔥

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 13 Desember 2025

Temu Penulis KBMN PGRI keempat di kota Batu Malang Jawa Timur 21 sampai 23 Desember 2025

Register Peserta KBMN-4
Kopdar Malang + Bromo Adventure
Biaya Rp 1.175.000,-
Fasilitas:
Penginapan 3 hari 2 malam
Sarapan dan Makan
Tiket masuk Malang Heritage dan Jatim Park 3
Tranportasi ke lokasi Studi Literasi, Malang Heritage dan Jatim Park 3
Bromo Adventure
Sertifikat 32 JP

Kopdar Malang
Biaya Rp 800.000,-
Fasilitas:
Penginapan 3 hari 2 malam
Sarapan dan Makan
Tiket masuk Malang Heritage dan Jatim Park 3
Tranportasi ke lokasi Studi Literasi, Malang Heritage dan Jatim Park 3
Sertifikat 32 JP

Seminar luring
Biaya Rp 100.000,-
Fasilitas:
Snack
Sertifikat 32 JP

Webinar
Biaya Rp 50.000,-
Fasilitas:
Materi
Sertifikat 32 JP
Contact Person:
Mutmainah, M.Pd (085216628447)
Dyah Kusumaningrum, ST. (0818466541 / 089679136358)

Nomor Rekening Register dan sponsor
Bank BRI No. Rek: 033001027273502
Atas Nama Raliyanti

Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui tautan:

https://s.id/RegKBMN-4

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Ibu Mutmainnah, M.Pd --- 0852 1662 8447

Ibu Dyah Kusumaningrum, ST --- 0818 466 541

Dengan kuota terbatas, panitia mengimbau calon peserta untuk segera mendaftar sebelum tempat penuh.

Klik https://kogtik.com

Fakta Menarik Tentang Guri


Fakta Menarik tentang Guru yang Jarang Dibahas — Versi Omjay

Menjadi guru bukan sekadar profesi. Ia adalah perjalanan batin, panggilan jiwa, dan bentuk ketulusan yang terus diuji setiap hari. Banyak orang melihat guru hanya sebagai pengajar di depan kelas, tetapi ada begitu banyak sisi lain yang tidak pernah tersampaikan. Sisi-sisi kecil yang kadang membuat hati hangat, kadang menguras emosi, namun justru membuat profesi ini terasa sangat manusiawi.

Sebagai seorang guru selama puluhan tahun, saya—Omjay—sering merasakan hal-hal unik yang tak pernah saya tulis sebelumnya. Berikut adalah 10 fakta menarik tentang guru yang jarang dibahas, dilengkapi pengalaman saya di ruang kelas, di ruang guru, dan bahkan di perjalanan hidup sebagai pendidik.


1. 👂 Guru hafal suara setiap murid

Tanpa melihat wajah pun, guru tahu siapa yang sedang ngobrol, berisik, atau saling menggoda temannya.

Saya sering tersenyum sendiri saat mengajar. Ada satu murid yang kalau batuk saja, saya langsung tahu itu suaranya. Ketika saya berkata, “Itu suara kamu, kan?” seluruh kelas langsung tertawa. Mereka heran bagaimana mungkin telinga guru bisa setajam itu. Tapi itulah guru—pendengar yang bekerja tanpa henti.


2. 👀 Guru membaca bahasa tubuh murid

Guru bisa melihat siapa yang benar-benar paham, siapa yang pura-pura mengangguk, dan siapa yang sedang menahan kantuk sebelum jatuh ke meja.

Saya pernah memberi pertanyaan di kelas, dan satu murid mengangguk semangat. Tapi matanya kosong. “Kamu ngerti?” tanya saya. Dia menggeleng pelan dan seisi kelas tertawa. Saat itulah saya belajar, memahami murid jauh lebih penting daripada sekadar menyampaikan materi.


3. 📒 Guru lebih ingat tingkah laku daripada nilai

Nilai bisa berubah. Tapi tingkah laku lucu, unik, atau ‘ajaib’ murid, justru paling membekas.

Sampai hari ini, saya masih ingat seorang murid yang selalu datang terlambat, tapi alasan terlambatnya selalu kreatif. “Ban saya kempes, Pak.” Besoknya, “Sepatu saya ketukar.” Dan suatu hari, “Saya ikut nenek ke pasar.” Kami tertawa. Tingkahnya jauh lebih melekat daripada nilai rapor yang sudah lama hilang.


4. 😄 Guru sering menahan tawa di kelas

Kadang murid terlalu lucu, tetapi guru juga harus menjaga wibawa.

Saya pernah menahan tawa sampai meneteskan air mata karena jawaban murid yang spontan dan polos. Namun, sebagai guru, saya tetap harus tampak serius. Padahal dalam hati, saya sudah ngakak lima babak.


5. 🫱 Guru tahu siapa yang suka membantu dan siapa yang suka kabur

Guru itu peka. Bahkan tanpa bertanya, guru tahu siapa “pasukan penggerak meja” dan siapa yang langsung menghilang kalau disuruh bersih-bersih.

Sebelum kelas dimulai, saya sudah bisa menebak siapa yang akan sigap mengambil spidol, siapa yang siap bantu mengangkat barang, dan siapa yang pura-pura nyari bolpoin di tas—padahal cuma ngumpet.


6. 💛 Guru berpura-pura tegas, tapi hatinya lembut

Teguran seorang guru sering kali bukan karena marah, tapi karena sayang.

Saya pernah menegur murid yang terus bermain HP di kelas. Wajahnya langsung muram. Tapi setelah kelas usai, saya dekati dan saya bilang, “Pak guru sayang kamu. Kamu anak pintar. Jangan buang waktumu.” Dia terdiam dan matanya berkaca. Kadang, tegasan hanyalah selimut dari kelembutan.


7. 🌱 Guru diam-diam bangga melihat perkembangan kecil murid

Tidak semua guru mengungkapkan rasa bangganya. Tapi percayalah, di hati mereka, ada rasa senang yang luar biasa.

Saya sering melihat murid yang dulu pendiam, tiba-tiba berani bertanya. Murid yang dulu sering salah, kini menjawab dengan mantap. Perubahan kecil itu terasa seperti kemenangan besar. Kadang saya sampai menulisnya di buku harian saya.


8. 🎨 Guru lebih kreatif dari yang disadari

Mulai dari cara menjelaskan materi, membuat perumpamaan, sampai menenangkan kelas, guru terus berinovasi tanpa sadar.

Saya pernah menggunakan cerita super hero untuk menjelaskan jaringan komputer. Murid tertawa, tapi mereka mengingatnya sampai sekarang. Kreativitas itu muncul spontan, tanpa latihan, tanpa skrip.


9. 🧠 Guru mengingat murid bertahun-tahun

Murid bisa lupa siapa gurunya, tetapi guru sering mengingat nama, wajah, bahkan cerita kehidupan muridnya.

Saya sering bertemu mantan murid di jalan. Ada yang sudah jadi pengusaha, guru, polisi, atau bapak-bapak yang menggendong anak. Begitu melihat mereka, kenangan di kelas langsung muncul seperti film yang diputar ulang.


10. 📚 Guru juga belajar setiap hari

Belajar memahami situasi kelas, belajar menghadapi karakter yang unik-unik, dan belajar mengikuti perkembangan zaman.

Saya sendiri merasa menjadi murid setiap hari. Murid mengajarkan saya ilmu baru, membuat saya tetap muda, dan menjaga saya dari kejumudan. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga belajar menjadi manusia.


Penutup: Guru, Profesi yang Dihidupkan oleh Hati

Fakta-fakta ini mungkin kecil, sederhana, dan tidak pernah masuk kurikulum. Tapi di balik hal-hal kecil itulah kehangatan profesi guru tumbuh.

Saya, Omjay, percaya bahwa menjadi guru adalah perjalanan panjang yang dipenuhi cerita. Cerita yang membuat kita tertawa, menangis, bangga, kecewa, bahkan tak jarang ingin menyerah. Namun, ketika melihat satu murid tersenyum karena akhirnya paham pelajaran, rasanya semua lelah terbayar lunas.

Guru bukan hanya pengajar. Guru adalah pengingat, pendengar, pelindung, penguat, sekaligus penanam harapan.

Dan semua itu bekerja dalam diam.


Jumat, 12 Desember 2025

Kisah Omjay Tentang Mobil MBG Menabrak Siswa

Kisah Wijaya Kusumah 

Opini Omjay: Ketika Anak-Anak Kita Menjadi Korban Kelalaian – Sebuah Renungan dari Insiden SDN 1 Kalibaru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

---

Rabu pagi, 06.30 WIB. Seharusnya itu adalah waktu di mana tawa anak-anak sekolah dasar memenuhi udara. Waktu ketika mereka bermain kejar-kejaran, bercanda dengan teman sebangku, atau sekadar duduk di halaman sambil menunggu bel tanda pelajaran dimulai.

Namun pagi itu, di SDN 1 Kalibaru, Cilincing, Jakarta Utara, tawa itu mendadak terhenti. Sebuah minibus operasional Makan Bergizi Gratis (MBG) melaju tak terkendali dan menabrak kerumunan siswa. Dalam hitungan detik, suasana ceria berubah menjadi jeritan, tangis, dan kepanikan.

Sebagai guru dan orang tua, hati saya hancur membaca dan mendengar kabar ini. Anak-anak—yang setiap harinya penuh semangat berangkat ke sekolah demi mengejar mimpi—menjadi korban kelalaian yang seharusnya bisa dicegah.

Keselamatan Anak Seharusnya Menjadi Prioritas Utama

Ketika saya membaca bahwa 20 korban—19 siswa dan 1 guru—harus dilarikan ke RSUD Cilincing dan RS Koja, dada saya sesak. Meski tidak ada korban jiwa, luka fisik dan trauma psikis anak-anak itu tidak bisa dianggap enteng.

Sekolah adalah ruang aman. Tempat di mana anak-anak datang untuk belajar, bermain, dan membangun masa depan. Jika tempat seaman sekolah saja bisa menjadi lokasi musibah, kita harus bertanya:
Ada apa dengan sistem keamanan kita?

Kelalaian Kecil, Dampak Besar

Dugaan awal menyebut sopir salah menginjak pedal gas. Kelalaian sekecil apa pun, ketika berada di area penuh anak-anak, bisa berubah menjadi tragedi besar.

Saya teringat betul, bagaimana di banyak sekolah pada pagi hari kendaraan keluar-masuk begitu bebas tanpa ada manajemen lalu lintas yang tertib. Anak-anak berlarian di halaman, sementara kendaraan operasional melintas terlalu dekat.

Ini bukan soal menyalahkan individu semata, tapi soal sistem. Sistem pengelolaan kendaraan sekolah, sistem pelatihan sopir, sistem pengawasan pagi hari. Semua harus dibenahi.

Belajar dari Kejadian Ini: Jangan Tunggu Ada Korban Lagi

Sebagai bangsa, kita sering kali baru bergerak setelah terjadi kejadian memilukan. Padahal keselamatan anak-anak seharusnya menjadi urusan yang tak boleh ditawar.

Saya mengajak:

Pemerintah daerah untuk memperketat SOP kendaraan operasional sekolah.

Sekolah untuk membuat jalur aman bagi siswa dan area khusus kendaraan.

Orang tua untuk lebih aktif menuntut keamanan lingkungan belajar anak.

Dan kita semua untuk menjadikan kejadian ini sebagai peringatan keras.

Jangan sampai kita kembali membaca kabar buruk tentang anak-anak kita yang menjadi korban karena kelalaian yang seharusnya bisa dicegah.

Guru, Murid, dan Luka yang Tak Terlihat

Di antara 20 korban itu ada seorang guru yang juga terluka. Guru yang setiap hari menjaga dan mendidik anak-anak kita. Saya membayangkan bagaimana paniknya para guru ketika melihat murid-muridnya terseret kendaraan. Betapa berat beban batin yang mereka tanggung.

Anak-anak yang selamat dari tabrakan pun belum tentu selamat dari trauma. Butuh waktu, pendampingan, dan kasih sayang untuk memulihkan mereka.

Harapan Omjay untuk Semua Korban

Sebagai sesama pendidik, saya hanya bisa berdoa:
Semoga seluruh korban lekas pulih. Semoga orang tua diberi kekuatan menghadapi cobaan ini. Semoga guru-guru di SDN 1 Kalibaru tetap sabar dan tegar membimbing anak-anak dalam masa pemulihan ini.

Kita tidak bisa membalikkan waktu. Tapi kita bisa memperbaiki masa depan dengan memastikan keamanan sekolah jauh lebih baik daripada hari ini.

Penutup: Jangan Anggap Ini Sekadar Berita

Bagi sebagian orang, ini mungkin hanya berita pagi.
Namun bagi 20 keluarga, ini adalah luka yang akan dikenang sepanjang hidup.

Anak-anak adalah amanah. Tugas kita sebagai pendidik, orang tua, dan pemerintah adalah memastikan amanah itu dijaga sebaik-baiknya.

Jangan tunggu tragedi berikutnya. Bertindaklah sekarang.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 11 Desember 2025

Temu Penulis KBMN PGRI Keempat di Kota Malang Jawa Timur 21-23 Desember 2025

Liburan ke Kota Batu? Yuk Ikut Temu Penulis dan Seminar Nasional KBMN PGRI!

KBMN Goes to Malang 2025 Hadirkan Narasumber Nasional dan Pengalaman Literasi Tak Terlupakan

Liburan sekolah sudah di depan mata. Sebagian orang mungkin sudah menyiapkan rencana perjalanan jauh, sementara sebagian lainnya masih bingung ke mana harus membawa keluarga mengisi waktu liburan yang berharga. Bila Anda termasuk yang belum memiliki agenda khusus, Kota Batu, Malang, Jawa Timur bisa menjadi pilihan yang sangat menyenangkan—dan kali ini ada alasan yang jauh lebih menarik untuk datang ke sana.

Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI menghadirkan sebuah acara besar bertajuk KBMN Goes to Malang, sebuah temu penulis sekaligus seminar nasional yang dirancang untuk mempertemukan para pecinta literasi dari seluruh Indonesia. Bukan hanya kegiatan ilmiah, tetapi juga kemasan wisata edukatif yang cocok untuk keluarga.

Acara bergengsi ini akan berlangsung 21–23 Desember 2025 di lokasi prestisius BBGTK Jawa Timur, Kota Batu, Malang, sebuah daerah yang terkenal dengan udara sejuk, pemandangan indah, dan berbagai destinasi wisata keluarga.

Narasumber Nasional, Materi Berkelas

Kegiatan ini menghadirkan empat narasumber keren yang sudah dikenal luas dalam dunia kepenulisan dan pendidikan Indonesia:

Prof. Dr. Ngainun Naim — akademisi, penulis produktif, dan pembicara nasional yang karyanya menginspirasi ribuan pendidik.

Dr. Moch Khoiri, M.Si — penulis aktif dan tokoh literasi yang dikenal dengan pendekatan menulis berbasis rasa dan pengalaman hidup.

Dr. Deswatia Astuty, M.Pd — pendamping literasi dan praktisi pendidikan yang sering menjadi mentor penulis pemula.

Dr. Mudafiatun Isriyah, M.Pd — akademisi dan trainer menulis kreatif yang sudah melahirkan banyak karya bersama para guru.

Sementara itu, acara ini juga akan dibuka oleh Keynote Speaker Dr. Abdul Haer, M.Pd, Kepala BBGTK Provinsi Jawa Timur, yang akan memberikan arahan strategis terkait penguatan kompetensi guru melalui literasi.

Dengan jajaran narasumber dan pembicara seperti ini, peserta bukan hanya diajak belajar menulis, tetapi juga diajak memahami bagaimana literasi dapat menjadi jembatan menuju kualitas hidup dan profesionalisme yang lebih baik.

Biaya Terjangkau dengan Fasilitas Super Lengkap

Dengan kontribusi sebesar Rp 800.000, peserta mendapatkan fasilitas lengkap selama tiga hari, antara lain:

Penginapan 2 malam di lingkungan BBGTK yang nyaman

Makan dan snack

Tiket Jatim Park 3, salah satu wisata favorit keluarga

Studi literasi langsung di Kota Batu

Sertifikat Seminar Nasional 32 jam

Peluncuran karya para penulis KBMN

Penghargaan bagi guru penulis berprestasi

Konsep kegiatan ini bukan hanya seminar, tetapi paket lengkap yang menggabungkan pembelajaran, wisata, relasi, dan pengalaman berharga bersama keluarga. Sangat cocok bagi guru, penulis pemula, mahasiswa, dan siapa pun yang ingin memperdalam dunia literasi.

Kota Batu: Liburan, Belajar, dan Kebahagiaan dalam Satu Waktu

Tak banyak kegiatan pelatihan yang menawarkan pengalaman sekomplit ini. Peserta bisa belajar menulis pada pagi dan siang hari, lalu bersantai dengan keluarga di malam hari sambil menikmati suasana Kota Batu yang sejuk. Dengan adanya tiket Jatim Park 3, peserta dapat mengajak anak-anak sekaligus memberikan pengalaman liburan yang edukatif.

Kombinasi wisata dan literasi inilah yang membuat KBMN Goes to Malang berbeda dengan kegiatan literasi lainnya.

Komentar Omjay, Founder KBMN PGRI

Pendiri KBMN PGRI, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau akrab disapa Omjay, menyampaikan harapan besarnya terhadap kegiatan ini.

“KBMN Goes to Malang bukan sekadar seminar menulis, tetapi perjalanan literasi yang akan meninggalkan jejak bagi para peserta. Kami ingin guru-guru bahagia, produktif, dan mampu melahirkan karya yang terus bermanfaat. Kota Batu kami pilih karena mampu menghadirkan perpaduan belajar dan liburan. Semoga kegiatan ini menjadi momentum lahirnya banyak penulis hebat dari Indonesia,” ujar Omjay.

Ia juga menegaskan bahwa KBMN PGRI dibangun untuk memperkuat budaya literasi di kalangan guru dan masyarakat umum. Setiap kegiatan dirancang tidak hanya berorientasi pada teori, tetapi praktik dan pendampingan nyata.

Cara Pendaftaran

Pendaftaran dapat dilakukan secara online melalui tautan:

👉 https://s.id/RegKBMN-4

Informasi lebih lanjut dapat menghubungi:

Ibu Mutmainnah, M.Pd — 0852 1662 8447

Ibu Dyah Kusumaningrum, ST — 0818 466 541

Dengan kuota terbatas, panitia mengimbau calon peserta untuk segera mendaftar sebelum tempat penuh.

KBMN Goes to Malang 2025 bukan sekadar kegiatan, tetapi sebuah pengalaman. Bila Anda masih bingung menentukan liburan keluarga, Kota Batu menanti dengan kehangatan, pembelajaran, dan inspirasi literasi yang tak akan terlupakan.

Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



Minggu, 07 Desember 2025

jam kerja guru

Jam Kerja Guru, Kebijakan yang Perlu Direfleksi Ulang: Suara Lapangan, Suara Keadilan

Pembahasan mengenai jam kerja guru kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir. Isu ini mengemuka setelah Kang Dedi Mulyadi (KDM) menyampaikan kritik tegas terkait ketidakadilan yang dialami guru di banyak sekolah. Menurutnya, guru sudah berangkat sejak subuh dan tiba di sekolah jauh lebih awal dibanding profesi lain, sehingga tidak tepat jika guru harus dipaksa bertahan hingga pukul 15.00 hanya demi memenuhi aturan formal. KDM menegaskan bahwa guru seharusnya bisa pulang sekitar pukul 13.30 ketika tugas inti pembelajaran telah selesai.

Banyak guru menyambut pernyataan tersebut sebagai suara pembelaan yang selama ini mereka tunggu. Guru bukan sekadar hadir secara fisik. Mereka hadir dengan beban administratif, beban moral, beban emosional, dan tuntutan profesional yang tidak ringan. Dalam satu hari, guru mengajar, membimbing, memetakan karakter siswa, mengelola kelas, menyusun administrasi pembelajaran, hingga menjalin komunikasi intensif dengan orang tua siswa. Semua itu tidak pernah terangkum dalam sekadar jumlah jam hadir.

Guru Tidak Bisa Disamakan dengan Pegawai Biasa

Tidak adil jika guru disamakan dengan pegawai yang hanya datang, absen, dan menghabiskan waktu dengan bermain HP. Tugas guru jauh lebih kompleks, menuntut energi mental dan kesiapan batin yang tetap terjaga. Mengajar bukan pekerjaan mekanis — ia adalah kombinasi antara seni, ilmu, dan pengabdian.

Setelah HUT PGRI ke-80 yang Meriah, Refleksi Menjadi Kebutuhan

Isu ini muncul bersamaan dengan euforia HUT PGRI ke-80 yang digelar dengan sangat meriah di BritAma Arena Kelapa Gading. Ribuan guru membanjiri arena, sebagian besar hadir dengan biaya mandiri, menunjukkan loyalitas dan cinta mendalam pada organisasi yang telah lama menaungi mereka.

Namun kemeriahan itu sekaligus menjadi alarm bahwa masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibereskan. Semangat kebersamaan harus dibarengi dengan pembenahan struktural, refleksi organisasi, serta konsistensi perjuangan.

Negara Berdasar Hukum, PGRI Pun Demikian

Dalam upaya mewujudkan aspirasi guru, refleksi tidak boleh hanya berhenti pada kritik. Harus ada langkah nyata. Negara berdiri di atas hukum, begitu pula PGRI sebagai organisasi profesi, ketenagakerjaan, dan perjuangan.

Karena itu:

AD/ART, PO, dan aturan organisasi lainnya wajib menjadi pegangan utama.

Marwah PGRI harus dirawat dengan menempatkan semua pihak pada posisi yang sesuai.

Pihak yang bukan bagian dari organisasi tidak boleh bermain dalam politik organisasi.

Hubungan PGRI dengan para pengelola kebijakan harus ditata dan diorkestrasi ulang agar efektif dan saling menghormati peran masing-masing.

Soliditas guru harus diwujudkan dalam implementasi nyata, bukan sekadar slogan.

Pesan Ketua Umum PB PGRI: PGRI Selalu Bersama Guru

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd, menegaskan kembali komitmen PGRI untuk selalu hadir bersama guru Indonesia. Dalam berbagai kesempatan beliau menyampaikan pesan yang sangat kuat:

"Di mana ada guru, di situ ada PGRI. Dan PGRI akan selalu bersama guru Indonesia."

Ini bukan kalimat seremonial. Ini komitmen organisasi untuk selalu menjadi rumah perjuangan, rumah advokasi, dan rumah perlindungan bagi guru di seluruh pelosok negeri.

Komentar Sunarto: Pemerintah Peduli Guru, Tetapi PGRI Juga Harus Introspeksi

Di tengah perdebatan tentang kehadiran presiden dalam acara HUT PGRI ke-80, Sunarto memberikan pandangan yang patut dicermati dengan kepala dingin. Ia menyampaikan:

“Saya yakin presiden sangat memperhatikan guru. Buktinya beliau hadir bersama beberapa menterinya dalam acara Hari Guru Nasional yang diselenggarakan oleh Kemdikdasmen. Pembelaan presiden pada guru, peningkatan kesejahteraan guru, dan pemberian TPG yang semakin lancar sudah sangat membuktikan itu. Jadi antara guru dengan pemerintah tidak ada masalah.”

Sunarto melanjutkan dengan pertanyaan penting:

“Yang jadi pertanyaan, kenapa tidak hadir di HUT PGRI ke-80? Selain karena prioritas bencana, bukankah sudah sering presiden tidak hadir pada upacara HUT PGRI?”

Ia mengajak PGRI untuk melakukan introspeksi organisasi:

Apakah para pengurus benar-benar memiliki kapabilitas dan kompetensi sebagai sparing partner pemerintah dalam merumuskan kebijakan pendidikan?

Sejauh mana PGRI berperan membantu negara dalam pendidikan sehingga pemerintah merasa terbantu?

Sebenarnya yang kecewa atas ketidakhadiran presiden itu guru atau pengurus PGRI?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk melemahkan PGRI, tetapi sebagai ajakan untuk memperkuat posisi organisasi agar semakin disegani negara dan dipercaya guru.

Saatnya Kebijakan Memahami Realitas Lapangan

Perdebatan mengenai jam kerja guru semestinya menjadi momentum bagi pemerintah, dinas pendidikan, dan organisasi profesi untuk duduk bersama. Guru bekerja bukan berdasarkan hitungan menit absensi, melainkan kualitas interaksi dan efektivitas pembelajaran.

Jika guru sudah datang sejak subuh dan menjalankan tugasnya dengan baik, maka memaksa mereka bertahan tanpa tugas jelas hanyalah menciptakan kelelahan yang tidak produktif. Kebijakan pendidikan harus berbasis empati, realitas lapangan, dan penghargaan atas kompleksitas kerja guru.

Solidaritas Guru Harus Menjadi Gerakan Nyata

Solidaritas yang selama ini terasa kuat harus diimplementasikan dalam:

perjuangan yang lebih rapi dan terarah,

organisasi yang semakin profesional,

kebijakan yang berpihak pada guru, dan

hubungan yang harmonis antara PGRI dan pemerintah.

Jika semua pihak mau menata ulang peran dan memperkuat kolaborasi, maka masa depan guru Indonesia akan semakin cerah.

Salam sehat untuk semua guru Indonesia.

Teruslah menginspirasi, menjaga marwah profesi, dan melangkah bersama dalam solidaritas yang sejati.

Bebaskan Pak Guru Mansyur Pak Presiden

Pesan penting buat presiden Prabowo Subianto

Lepaskan Pak Guru Mansyur, Pak Presiden: Beliau Tidak Bersalah

Di tengah upaya bangsa ini memperbaiki kualitas pendidikan, kita kembali dikejutkan oleh sebuah peristiwa yang menyayat hati: seorang guru kembali berhadapan dengan hukum karena tuduhan yang belum tentu benar. Nama itu adalah Pak Guru Mansyur—seorang pendidik yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak bangsa, namun kini harus menanggung beban yang tidak layak ia pikul.

Kisah ini bukan sekadar tentang seorang guru yang dituduh. Ini adalah kisah tentang ketidakadilan yang sering menimpa profesi yang seharusnya paling dihormati. Maka suara publik harus lantang: Pak Presiden, lepaskan Pak Guru Mansyur. Beliau tidak bersalah.

---

Pengabdian yang Tak Layak Dibalas dengan Tuduhan

Mereka yang mengenal Pak Guru Mansyur tahu benar betapa besar dedikasinya. Ia adalah guru yang sabar, penyayang, dan penuh ketulusan. Ia kerap datang lebih awal, pulang lebih larut, hanya untuk memastikan murid-muridnya tidak ketinggalan pelajaran. Banyak murid tumbuh menjadi orang sukses berkat bimbingannya. Ia bukan sekadar mengajar, tetapi mendidik sepenuh hati.

Namun kini, sosok yang seharusnya dihormati justru ditempatkan pada posisi yang menyedihkan: diperlakukan seolah-olah pelaku kejahatan. Tuduhan yang dialamatkan padanya tidak berdasar pada bukti kuat, melainkan pada kesalahpahaman dan emosi sesaat.

Sebagaimana banyak kasus lain, guru kembali menjadi korban kriminalisasi. Padahal dalam dunia pendidikan, situasi tegang atau miskomunikasi bisa saja terjadi, tetapi tidak semua layak dibawa ke ranah hukum. Ketika disiplin dan ketegasan guru dianggap sebagai pelanggaran, maka masa depan pendidikan kita berada dalam ancaman.

---

Kriminalisasi Guru Merusak Fondasi Pendidikan

Fenomena kriminalisasi guru bukanlah hal baru. Sudah banyak guru yang dilaporkan hanya karena menegur, mendisiplinkan, atau membina siswa. Masalah yang seharusnya diselesaikan secara kekeluargaan di lingkungan sekolah justru dilemparkan ke meja polisi. Akibatnya, guru merasa takut bertindak. Mereka menghindari memberikan disiplin karena khawatir salah langkah dan berujung dipenjara.

Jika guru tidak punya perlindungan, siapa yang akan menjaga karakter generasi muda?

Kriminalisasi guru adalah bom waktu bagi pendidikan Indonesia. Guru menjadi pasif, takut mendidik nilai, dan akhirnya hanya mengajar materi tanpa keberanian memberi sikap. Anak-anak pun kehilangan pembinaan moral yang seharusnya mereka dapatkan di sekolah.

Kasus Pak Guru Mansyur adalah salah satu simbol betapa rentannya posisi guru. Ketika seorang pendidik tulus seperti beliau dapat dijadikan tersangka, maka siapa saja bisa mengalami nasib yang sama.

---

Komentar Omjay: “Jangan Biarkan Guru Diperlakukan Tidak Adil”

Dalam situasi ini, banyak tokoh pendidikan ikut bersuara. Salah satunya Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd), tokoh guru TIK sekaligus Ketua Komunitas Guru TIK Indonesia (KOGTIK), yang sejak lama memperjuangkan harkat dan martabat guru.

Omjay menyampaikan dengan tegas:

> “Guru tidak boleh diperlakukan seperti kriminal hanya karena menjalankan tugas. Kita harus berhenti menghukum guru sebelum mengetahui fakta yang sebenarnya. Pak Mansyur adalah contoh bagaimana guru menjadi korban kesalahpahaman. Saya berharap Presiden turun tangan dan memastikan keadilan ditegakkan.”

Lebih lanjut, Omjay menambahkan bahwa guru selama ini bekerja dengan hati, bukan hanya dengan tangan dan kepala. Ia menegaskan:

> “Kalau guru terus dibiarkan sendirian menghadapi masalah hukum, ke depan tidak ada lagi yang berani mendidik dengan tegas. Ini bahaya bagi masa depan bangsa. Negara harus hadir melindungi guru-gurunya.”

Suara Omjay menjadi pengingat bahwa masalah ini bukan hanya soal seorang guru, tetapi soal masa depan profesi pendidik.

---

Harapan kepada Presiden: Keadilan Harus Dipulihkan

Presiden Republik Indonesia adalah pemimpin tertinggi bangsa ini. Kami tidak meminta intervensi yang melanggar hukum, tetapi meminta kehadiran negara dalam memastikan bahwa proses hukum terhadap guru tidak dilakukan dengan terburu-buru dan tanpa mempertimbangkan konteks pendidikan.

Kita berharap Presiden:

Menugaskan lembaga terkait meninjau ulang kasus Pak Guru Mansyur secara objektif.

Menekankan perlindungan hukum bagi profesi guru sebagai ujung tombak pendidikan.

Mempercepat regulasi yang mengakhiri kriminalisasi guru.

Menghadirkan kebijakan yang lebih manusiawi bagi pendidik.

Setiap keputusan yang melibatkan guru harus melihat satu hal penting: guru bekerja untuk anak-anak kita. Mereka bukan musuh, mereka adalah pembangun peradaban.

---

Solidaritas Guru dan Masyarakat: Pak Mansyur Tidak Sendiri

Kabar tentang kasus ini membuat banyak guru di seluruh Indonesia bersuara. Mereka prihatin, marah, dan merasa kasus ini adalah ancaman bagi diri mereka. Dalam berbagai forum, grup WhatsApp, dan organisasi profesi, guru-guru menyatakan solidaritas untuk Pak Mansyur.

Mereka berkata:

> “Hari ini Pak Mansyur, besok bisa jadi kita.”

Itulah sebabnya masyarakat pendidikan harus bersatu. Tidak boleh ada guru yang diperjuangkan sendirian. Apalagi ketika tuduhan tidak berdasar.

---

Penutup: Kembalikan Pak Guru ke Ruang Kelas

Pada akhirnya, hanya ada satu permintaan: Lepaskan Pak Guru Mansyur. Beliau tidak bersalah.

Ia harus kembali ke tempat yang semestinya—di kelas, mengajar murid-muridnya, bukan terjebak dalam proses hukum yang tidak proporsional. Ia adalah pendidik, bukan penjahat.

Dan kepada Presiden Republik Indonesia, kami titipkan suara para guru:

“Pak Presiden, selamatkan Pak Mansyur. Selamatkan guru-guru Indonesia dari kriminalisasi.”

Karena masa depan pendidikan Indonesia tidak boleh dibangun di atas penderitaan para pendidiknya.

Salqm blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 05 Desember 2025

optimalisasi google dan ai untuk guru

Info Wijaya Kusumah 

Optimalisasi Mesin Pencari dan Kecerdasan Artifisial: Kolaborasi Cerdas untuk Era Digital
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd – Guru Blogger Indonesia & Ketua Komunitas Guru TIK dan KKA Indonesia (KOGTIK)

---

Di era digital yang terus berkembang, dua kekuatan besar kini menjadi penentu arus informasi dan visibilitas konten: Search Engine Optimization (SEO) dan Kecerdasan Artifisial (AI). Keduanya tidak hanya berperan dalam mengubah cara manusia mencari informasi, tetapi juga mengubah cara guru mengajar, cara siswa belajar, serta cara konten diproduksi dan dikonsumsi oleh publik. Di Indonesia, di mana literasi digital masih perlu terus diperkuat, pemahaman mendalam tentang SEO dan AI menjadi kebutuhan yang tidak bisa lagi ditunda.

Artikel ini mengupas secara mendalam sinergi SEO dan AI dalam membangun ekosistem digital yang lebih kuat, sekaligus menghadirkan komentar Omjay mengenai pentingnya sentuhan hati dalam era teknologi cerdas.

---

1. Mengapa SEO Tetap Relevan di Tengah Arus AI?

Walaupun AI kini menguasai banyak lini kehidupan digital, SEO tetap menjadi pondasi yang menentukan apakah sebuah konten layak tampil di halaman pertama mesin pencari. Mesin pencari seperti Google menggunakan algoritma kompleks untuk menilai relevansi suatu artikel.

SEO meliputi:

Penggunaan kata kunci yang tepat

Struktur tulisan yang teratur

Metadata yang benar

Kecepatan website

Kualitas isi

Pengalaman pengguna

Konten tanpa SEO ibarat rumah tanpa alamat—bagus, tetapi sulit ditemukan.

---

2. AI: Asisten Digital yang Mengubah Cara Kita Berkarya

Kemunculan AI memberikan lompatan besar dalam produktivitas manusia. Dalam penulisan, AI menjadi alat untuk:

Merancang kerangka tulisan

Mengembangkan ide

Mengoreksi tata bahasa

Menganalisis tren pencarian

Menyempurnakan struktur kalimat

Namun, AI hanya bekerja berdasarkan data masa lalu. Ia tidak memiliki intuisi, empati, dan nilai moral yang dimiliki manusia. Karena itulah, karya terbaik tetap lahir dari kombinasi kecerdasan teknologi dan kecerdasan emosional manusia.

---

3. Sinergi SEO dan AI: Kolaborasi yang Tak Terpisahkan

AI membantu mempercepat pembuatan konten, sementara SEO memastikan konten tersebut sampai kepada audiens yang tepat. Dengan AI, penulis dapat:

Menentukan kata kunci potensial

Menghasilkan draft awal lebih cepat

Mengoptimalkan paragraf

Mengevaluasi kualitas konten

Namun Google kini menggunakan AI juga untuk menilai konten berkualitas. Artikel yang dibuat sepenuhnya oleh AI tanpa sentuhan manusia sering kali tidak bertahan lama di peringkat atas.

Artinya, peran penulis tidak tergantikan—justru semakin penting.

---

4. Tantangan Etika: Jangan Biarkan AI Menghilangkan Identitas

Meskipun AI mempermudah pekerjaan, penggunaan yang tidak bijak bisa menghadirkan risiko:

Plagiarisme terselubung

Konten dangkal tanpa pengalaman nyata

Ketergantungan berlebihan pada mesin

Menurunnya kualitas literasi

Guru, siswa, dan masyarakat digital harus memahami bahwa AI adalah alat bantu, bukan pengganti kreativitas. Tulisan yang baik lahir dari pengalaman, bukan dari kumpulan data semata.

---

5. Peluang Besar AI dan SEO untuk Guru Indonesia

Dunia pendidikan adalah salah satu sektor yang paling diuntungkan dengan kemajuan AI dan SEO. Beberapa manfaatnya:

a. Guru bisa membuat konten pembelajaran yang mudah ditemukan

Dengan SEO, materi ajar yang dipublikasikan guru dapat dijangkau lebih banyak orang.

b. Meningkatkan kemampuan literasi digital siswa

Membuat blog, kanal edukasi, atau konten digital kini menjadi bagian penting dari pembelajaran zaman sekarang.

c. Mendukung berbagai administrasi guru

Mulai dari RPP, modul, evaluasi, hingga analisis nilai—AI membuatnya lebih mudah.

d. Meningkatkan branding guru

Konten yang optimal akan membuka peluang kerjasama, jejaring profesional, dan kesempatan berbagi ke level nasional.

---

6. Komentar Omjay: “Teknologi Membantu, Hati yang Memutuskan”

Sebagai Ketua Komunitas Guru TIK dan KKA Indonesia, Omjay memberikan pandangan:

> “AI boleh membantu, tetapi jangan biarkan tulisan kehilangan hati. Mesin tidak punya pengalaman menjadi guru. Mesin tidak tahu bagaimana rasanya berada di kelas. Karena itu, tulislah dengan hati, lalu minta AI membantu merapikannya.”

Ia juga menegaskan pentingnya SEO:

> “Guru harus belajar SEO. Tulisan yang baik jangan sampai hilang di mesin pencari. Kita perlu strategi agar karya-karya guru mudah ditemukan dan memberikan manfaat untuk banyak orang.”

Dan yang paling penting, Omjay memberi pesan untuk para guru:

> “Jangan takut AI. Asal kita gunakan dengan bijak, AI justru membantu guru menjadi lebih kreatif dan produktif. Jangan sampai murid lebih dulu menguasai teknologi dibanding gurunya.”

---

7. KOGTIK Siap Membuat Pelatihan Guru: SEO, AI, dan Literasi Digital

Sebagai organisasi yang fokus pada TIK dan kecerdasan artifisial di dunia pendidikan, KOGTIK (Komunitas Guru TIK dan KKA Indonesia) siap menyelenggarakan pelatihan untuk guru di seluruh Indonesia.

Program pelatihan tersebut mencakup:

Pelatihan SEO dasar dan lanjutan

Pelatihan pemanfaatan AI untuk membuat RPP, modul, dan media ajar

Pelatihan menulis blog edukasi

Pelatihan keamanan digital dan etika AI

Pendampingan membuat konten kreatif

Workshop pemanfaatan AI di kelas

KOGTIK berkomitmen mendampingi para guru agar mampu menghadapi tantangan digital sekaligus memanfaatkan peluangnya.

---

8. Penutup: Masa Depan Milik Mereka yang Siap Berkolaborasi dengan AI

SEO membantu konten ditemukan, AI membantu konten dibuat lebih cepat, tetapi manusialah yang menentukan nilai dan makna sebuah karya. Dengan pemahaman literasi digital yang baik, guru dan masyarakat Indonesia bisa mengambil manfaat besar dari teknologi.

Sebagaimana pesan Omjay:
“Teknologi boleh canggih, tetapi hati tetap pemimpin yang sejati.”

Dengan keterampilan digital, kecerdasan emosional, dan semangat berbagi, kita dapat menjadikan era AI sebagai peluang emas untuk pendidikan Indonesia.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com
Website https://kogtik.com

Kamis, 04 Desember 2025

Bagaimana Cara Agar Orang yang Benci PGRI menjadi Suka PGRI?

Kisah Wijaya Kusumah - omjay 

Bagaimana Caranya Orang yang Benci PGRI Menjadi Menyukai PGRI?

Sebuah Renungan di HUT PGRI ke-80 untuk Guru-Guru Indonesia

Tidak semua orang langsung jatuh cinta pada PGRI. Bahkan, ada sebagian guru yang secara terang-terangan menyampaikan ketidaksukaannya. Ada yang merasa PGRI tidak hadir ketika dibutuhkan, ada yang kecewa karena pengalaman pribadi, atau sekadar mendengar kabar miring dari luar tanpa benar-benar mengetahui apa itu PGRI dan apa saja yang sudah dilakukan organisasi ini selama 80 tahun berdiri.

Namun, apakah mungkin seseorang yang awalnya membenci PGRI berubah menjadi menyukai, bahkan bangga menjadi bagiannya?

Jawabannya: sangat mungkin.
Dan hal itu telah dialami oleh banyak guru—termasuk Omjay sendiri, seorang Guru Blogger Indonesia yang kini dikenal sebagai sosok inspiratif dalam dunia pendidikan digital.

---

1. Ketidaksukaan pada PGRI Sering Berawal dari Ketidaktahuan

Kita hidup di zaman serba cepat, serba viral, dan serba instan. Banyak orang mengambil kesimpulan tanpa riset, tanpa membaca, bahkan tanpa berdialog. Banyak guru muda yang baru masuk ke dunia profesi mendapatkan stigma atau komentar negatif tentang PGRI dari rekan-rekannya.

Dari sinilah benih kebencian itu tumbuh.

Padahal, seseorang yang membenci organisasi apa pun biasanya hanya mengetahui sebagian kecil cerita—bukan keseluruhan kenyataan.

Sering kali, orang-orang seperti ini belum pernah:

membaca AD/ART PGRI,

mengikuti pelatihan atau pertemuan resmi PGRI,

mengenal tokoh-tokoh luar biasa yang bekerja dengan ikhlas untuk memperjuangkan hak guru,

atau melihat bagaimana PGRI bekerja tanpa publikasi demi menyelesaikan kasus guru yang terancam kriminalisasi.

Benci karena tidak tahu itu wajar. Yang tidak wajar adalah membenci tanpa mau mencari tahu.

---

2. Mengenal Lebih Dekat PGRI Mengubah Banyak Hal

Ada banyak guru berubah pandangan setelah mereka benar-benar mengenal PGRI secara langsung. Mereka melihat bahwa PGRI bukan sekadar organisasi yang hadir dalam upacara Hari Guru Nasional. PGRI adalah organisasi profesi yang solid dengan jaringan besar dari pusat sampai ke ranting.

Apa yang mereka temukan ketika mengenal lebih dekat?

PGRI memperjuangkan Undang-Undang yang melindungi guru.
Banyak guru tidak tahu bahwa perjuangan PGRI-lah yang membuat profesi guru memiliki legal standing yang kuat di mata hukum.

PGRI hadir dalam kasus-kasus kriminalisasi guru.
Banyak kasus guru yang dilaporkan karena masalah kecil, dan PGRI hadir memberi advokasi.

PGRI memberikan pelatihan, peningkatan kompetensi, hingga beasiswa studi lanjut.
Banyak guru yang sekarang sukses menjadi kepala sekolah, pengawas, bahkan dosen berawal dari pelatihan PGRI.

PGRI adalah rumah besar.
Dari Sabang sampai Merauke, guru punya tempat pulang, tempat berbagi, dan tempat diperjuangkan.

Ketika seseorang mulai melihat ini, hatinya perlahan berubah.

---

3. Mendengarkan Cerita Guru adalah Cara Terbaik Menghilangkan Kebencian

Banyak guru yang awalnya tidak peduli, bahkan sinis terhadap PGRI, berubah ketika mendengar sendiri kisah-kisah nyata:

bagaimana PGRI menjemput guru yang dipolisikan,

bagaimana PGRI membantu guru honorer memperjuangkan kesejahteraan,

bagaimana PGRI memberikan pelatihan gratis atau murah,

bagaimana PGRI menjadi wadah kekeluargaan yang tidak dimiliki organisasi lain.

Setiap guru yang mendengar langsung kisah dari sesama guru, biasanya hatinya lebih cepat luluh. Karena guru selalu percaya pada pengalaman nyata, bukan opini kosong.

---

4. Mengikuti Kegiatan PGRI: Dari Curiga Menjadi Bangga

Ada pepatah Jawa: "Witing tresno jalaran soko kulino."
(Cinta tumbuh karena terbiasa.)

Banyak guru yang awalnya ikut acara PGRI dengan ogah-ogahan. Namun setelah merasakan atmosfernya, mendengar materi pelatihan, dan bertemu teman-teman sejawat dari berbagai daerah, mereka mulai sadar:

“Ternyata PGRI itu menyenangkan, hangat, dan bermanfaat.”

Di sinilah perubahan terjadi.
Tidak sedikit guru yang akhirnya berkata:

"Andai saya tahu dari dulu bahwa PGRI seperti ini, saya pasti bergabung lebih awal."

---

5. Membaca Informasi PGRI dari Sumber Resmi Jauh Lebih Menenangkan

Di era digital, berita hoaks tentang organisasi sangat mudah beredar. PGRI pun pernah dan sering menjadi korban misinformasi. Banyak orang membenci PGRI karena membaca postingan dari orang yang bahkan bukan anggota.

Padahal, jika mau membaca dari sumber resmi—website PGRI, media arus utama, dokumen kongres—guru akan menemukan fakta yang jauh berbeda.

Kebencian akan cepat hilang ketika kebenaran ditemukan.

---

6. Bicara Langsung dengan Pengurus PGRI Menghapus Jarak dan Prasangka

Pengurus PGRI, mulai dari tingkat ranting sampai pengurus besar, adalah guru-guru yang bekerja tanpa gaji tambahan, tanpa fasilitas khusus, dan tanpa imbalan apa pun kecuali rasa pengabdian.

Banyak orang yang awalnya sinis langsung luluh ketika bertemu mereka dan mengetahui cerita perjuangan di balik layar: kerja larut malam, advokasi, mediasi, menyusun regulasi, hingga turun langsung ke lapangan.

Di sini, orang menyadari bahwa PGRI bukanlah organisasi yang bekerja di balik meja.
PGRI adalah organisasi yang bekerja di lapangan, bersama guru, bersama rakyat, bersama pendidikan Indonesia.

---

7. Menghargai Peran Guru adalah Gerbang Menyukai PGRI

Ketika seseorang memahami betapa berat pekerjaan guru:

mengajar dengan gaji minim,

mendidik generasi bangsa dengan penuh kesabaran,

menghadapi orang tua yang menuntut tanpa memahami,

menyelesaikan tugas administratif yang menumpuk,

dan tetap dituntut tersenyum setiap hari,

maka ia akan lebih mudah memahami pentingnya organisasi profesi seperti PGRI.

PGRI hadir untuk membuat guru tidak sendirian.

---

Komentar Mendalam dari Omjay: Dulu Membenci PGRI, Kini Justru Menyayanginya

> “Saya dulu pembenci PGRI. Serius. Saya merasa PGRI tidak peduli pada guru seperti saya.”
— Omjay, Guru Blogger Indonesia

Omjay bercerita bahwa dulu ia sering mengkritik PGRI. Ia melihat PGRI dari jauh, bukan dari dekat. Ia melihat dari kabar-kabar negatif, bukan dari kenyataan lapangan.

Namun pandangannya berubah total ketika ia mengikuti kegiatan PGRI untuk pertama kalinya. Ia bertemu guru-guru hebat, merasakan kekeluargaan yang kuat, dan menemukan bahwa PGRI sebenarnya telah bekerja keras membela guru.

> “Setelah saya masuk PGRI, saya baru sadar bahwa PGRI tidak pernah berhenti bekerja untuk guru. Saya yang dulu membenci, sekarang justru bangga menjadi bagian dari keluarga besar PGRI.”

Ia menambahkan:

> “Jika saya yang dulu anti-PGRI saja bisa berubah, saya yakin banyak guru lain pun bisa. Asal diberi kesempatan untuk mengenal PGRI dari dekat.”

Kisah nyata seperti Omjay adalah bukti bahwa perubahan itu mungkin.

---

Kesimpulan: PGRI Tidak Perlu Disukai, Tapi Perlu Dikenal

Tidak ada organisasi yang sempurna. Tidak PGRI, tidak pula organisasi profesi lainnya. Tapi satu hal pasti:

Tidak ada organisasi lain di Indonesia yang memperjuangkan guru selama 80 tahun tanpa henti—selain PGRI.

Jika ada orang yang membenci PGRI, jangan buru-buru menghakimi.
Mungkin mereka hanya belum mengenal PGRI.
Mungkin mereka butuh cerita guru lain.
Mungkin mereka perlu mengikuti kegiatan.
Mungkin mereka perlu bertemu pengurus.
Atau mungkin mereka hanya perlu membuka hati dan memberi kesempatan.

Karena sering kali, sesuatu yang kita benci hari ini…
adalah sesuatu yang akan kita cintai ketika kita mengenalnya lebih dalam.

---

Salam blogger persahabatan,
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Selasa, 02 Desember 2025

TPG Omjay Sudah Cair, Bagaimana dengan Kawan-Kawan?

TPG Omjay Sudah Cair, Bagaimana dengan Kawan-Kawan?

Inilah 5 Alasan Mengapa TPG Anda Mungkin Belum Cair**

Alhamdulillah, pagi ini Omjay membuka aplikasi mobile banking dan mendapati kabar baik: Tunjangan Profesi Guru (TPG) sudah cair dan masuk ke rekening BNI. Dana tersebut ditransfer langsung oleh Kemdikdasmen, tepat waktu dan tepat jumlah.
Rasanya lega, bersyukur, dan tentu menjadi penyemangat untuk terus mengabdi sebagai guru.

Namun, di balik rasa syukur itu, Omjay langsung teringat banyak kawan guru yang mengirim pesan dan bertanya:

  • “Omjay, TPG saya kok belum cair?”

  • “Kok teman saya sudah cair, saya belum?”

  • “Apa yang harus saya lakukan ya Om?”

Pertanyaan ini muncul dari berbagai daerah, mulai dari Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, hingga Indonesia Timur. Setiap triwulan, masalahnya hampir sama: sebagian guru TPG-nya cair, sebagian lagi tertunda.

Agar tidak terjadi kebingungan, Omjay menuliskan artikel ini agar kawan-kawan guru memahami penyebab tertundanya TPG serta langkah-langkah yang dapat dilakukan. Semoga tulisan ini bermanfaat bagi guru di seluruh Indonesia.


Apa Itu TPG dan Mengapa Penting?

TPG (Tunjangan Profesi Guru) adalah bentuk penghargaan negara kepada guru yang telah memenuhi standar profesional, yaitu:

  1. Memiliki sertifikat pendidik

  2. Memenuhi beban kerja minimal 24 jam tatap muka atau setara

  3. Data valid di Dapodik dan Info GTK

  4. SKTP (SK Tunjangan Profesi) telah terbit

TPG bukan bonus, bukan hadiah, tetapi hak bagi guru profesional. Namun, karena prosesnya menggunakan sistem administrasi digital yang ketat, sedikit saja ada data yang tidak sesuai, pencairan bisa tertunda.


Mengapa Ada Guru yang TPG-nya Belum Cair?

Berikut lima penyebab paling sering berdasarkan pengalaman Omjay dan diskusi dengan banyak guru di seluruh Indonesia.


1. SKTP Belum Terbit

Ini adalah penyebab nomor satu.

Jika SKTP belum keluar, tunjangan tidak bisa dicairkan.
SKTP bisa belum terbit jika:

  • Jam mengajar tidak sesuai

  • Mata pelajaran tidak linear dengan sertifikasi

  • Data belum valid atau belum disinkronkan

Banyak guru merasa sudah memenuhi syarat, tetapi ternyata SKTP belum terbit karena masalah teknis di Dapodik atau Info GTK.


2. Jam Mengajar Tidak Mencapai 24 Jam Tatap Muka

Beberapa sekolah memiliki jumlah rombongan belajar sedikit, sehingga guru tidak mendapatkan jam mengajar yang cukup.

Padahal, persyaratan pencairan TPG mengharuskan guru memiliki 24 jam tatap muka atau setara. Bila kurang, SKTP otomatis tidak bisa diproses.

Solusi yang bisa dilakukan:

  • Mengajar di sekolah lain (dengan surat tugas resmi)

  • Mengambil tugas tambahan

  • Team teaching

  • Mengajar ekskul yang diakui jamnya

Semua harus tercatat di dalam sistem.


3. Data Tidak Valid di Info GTK

Ini penyebab yang sering mengejutkan guru.

Nama yang salah satu huruf, NUPTK yang keliru satu angka, atau tanggal lahir yang tidak sama bisa membuat sistem menolak validasi.

Omjay sendiri pernah mengalami hal ini.

Nama “Wijaya Kusumah” tertulis tanpa huruf “h” menjadi “Kusuma”.
Hanya beda sedikit, tetapi SKTP tidak keluar dan TPG tertunda.


4. Mutasi, Pindah Sekolah, atau Perubahan Status

Guru yang baru pindah sekolah, baru naik pangkat, atau baru lulus PPG biasanya harus menunggu data-update tersinkron terlebih dahulu.

Perubahan status membutuhkan verifikasi ulang oleh:

  • Operator sekolah

  • Operator dinas

  • Sistem pusat

Proses berjenjang ini bisa memakan waktu, sehingga berdampak pada keterlambatan TPG.


5. Sinkronisasi Dapodik Belum Dilakukan atau Terlambat

Walaupun data guru sudah benar, jika belum disinkron secara rutin, sistem pusat tidak bisa membaca pembaruan.

Operator sekolah memiliki peran penting di sini.
Karena itu, guru dan operator harus bekerja sama agar data selalu terbarui.


Apa yang Harus Dilakukan Jika TPG Anda Belum Cair?

Berikut langkah praktis yang bisa diambil:

Cek Info GTK Secara Berkala

Pastikan statusnya VALID, bukan belum valid atau data tidak ditemukan.

Pastikan Jam Mengajar 24 Jam Terekam di Dapodik

Jangan hanya mengajar, tetapi pastikan jamnya tercatat.

Konsultasikan dengan Operator Sekolah

Operator adalah kunci kelancaran administrasi guru.

Pantau SKTP Setiap Triwulan

Jika belum muncul, segera cari penyebabnya.

Jangan Diam—Kawal Data Anda Sendiri

Guru yang aktif mengawal data cenderung lebih cepat menyelesaikan masalah.


Penutup: TPG Adalah Penghargaan, Namun Administrasinya Harus Tepat

Omjay bersyukur TPG cair tepat waktu. Tetapi kebahagiaan ini belum lengkap jika masih banyak sahabat guru yang menunggu tanpa kepastian.

Semoga tulisan ini membantu kawan-kawan memahami:

  • Mengapa TPG bisa tertunda

  • Apa yang harus dicek

  • Langkah untuk memperbaiki masalah

Tetap semangat, tetap profesional, dan jangan lupa terus memperbarui data.
Semoga rezeki kita semua lancar dan berkah. Aamiin.

Salam hormat,
Omjay – Guru Blogger Indonesia
www.omjay.web.id

https://wijayalabs.com