Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 17 Januari 2026

Ketika Koruptor Menuduh Koruptor

Ketika Koruptor Menuduh Koruptor: Negara yang Sibuk Berpura-pura Jujur

> “Di India, koruptor menuduh koruptor menjadi korup dan korup menyelidiki koruptor dan membebaskan koruptor menjadi korup.”
— Shekhar Kapur

Kalimat ini terdengar lucu. Tapi sesungguhnya ia mengerikan. Karena ketika kita tertawa membacanya, bisa jadi kita sedang menertawakan diri sendiri. Sebab kalimat Shekhar Kapur itu bukan hanya potret India. Ia adalah cermin besar bangsa-bangsa yang lelah pada kebenaran, tetapi masih pura-pura menegakkan keadilan.

Di negeri seperti ini, korupsi tidak lagi bersembunyi. Ia tampil percaya diri, mengenakan jas rapi, berbicara tentang integritas, lalu pulang tanpa rasa bersalah. Yang disidang hanyalah nama. Yang dihukum hanyalah opini publik. Sistemnya tetap utuh, seolah tidak pernah salah.

Dan di tengah sandiwara itu, pendidikan diminta tetap mengajarkan kejujuran.

Negara yang Pandai Mengajar, Tapi Gagal Memberi Contoh

Sebagai guru, Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd) sering gelisah. Bukan karena kurikulum semata, bukan karena teknologi, tetapi karena kontradiksi brutal antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang dipertontonkan di luar sekolah.

Di kelas, guru diminta menanamkan nilai kejujuran.
Di luar kelas, siswa menyaksikan kebohongan dirayakan.

Di buku pelajaran, korupsi disebut kejahatan luar biasa.
Di dunia nyata, korupsi sering diperlakukan sebagai kesalahan administratif.

Lalu kita bertanya dengan wajah polos: “Mengapa anak-anak kita kehilangan moral?”

Pertanyaan itu seharusnya diarahkan ke cermin, bukan ke ruang kelas.

Pendidikan Tidak Netral, Tapi Sering Dipaksa Diam

Omjay percaya satu hal yang sering dianggap berbahaya: pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu berpihak. Jika ia tidak berpihak pada kebenaran, maka ia sedang berpihak pada pembiaran.

Masalahnya, di negeri yang koruptor menuduh koruptor, keberanian sering dianggap ancaman. Kritik dilabeli kebencian. Kejujuran dicurigai. Guru yang bersuara dianggap “tidak tahu diri”.

Akhirnya banyak yang memilih aman.
Diam dianggap bijak.
Patuh dianggap profesional.

Padahal, diam dalam ketidakadilan adalah pengkhianatan paling sopan.

Literasi: Musuh Alami Korupsi

Mengapa korupsi takut pada literasi?
Karena literasi melahirkan pertanyaan.
Dan pertanyaan adalah awal kehancuran kebohongan.

Bagi Omjay, literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan membongkar narasi palsu, menolak normalisasi kebusukan, dan berpikir waras di tengah kegilaan massal.

Itulah sebabnya Omjay menulis. Bukan untuk mencari aman. Bukan untuk menyenangkan siapa pun. Tetapi untuk menjaga akal sehat tetap hidup.

Melalui tulisan di blog dan media seperti Melintas.id, Omjay mengingatkan: korupsi tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh subur dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Menyontek yang dianggap remeh.
Titip absen yang dianggap biasa.
Laporan palsu yang dianggap cerdik.

Dari situlah lahir generasi yang pintar, tapi miskin nurani.

Guru di Negeri yang Gemar Menyalahkan Guru

Ironisnya, ketika moral runtuh, yang pertama disalahkan adalah guru.
Ketika karakter rusak, yang dituding adalah sekolah.

Padahal guru hanya satu simpul kecil dalam sistem besar yang bobrok.

Omjay sadar, guru bukan pahlawan super. Guru manusia biasa. Tetapi jika guru ikut menyerah, maka tamatlah sudah. Karena pendidikan adalah benteng terakhir saat institusi lain runtuh.

Kisah Omjay adalah kisah tentang bertahan di tengah kelelahan. Tetap menulis ketika suara dibungkam. Tetap mendidik ketika teladan langka. Tetap kritis ketika banyak memilih netral—padahal netral adalah ilusi.

Melintas.id: Ruang yang Tidak Takut Berpikir

Di tengah media yang sibuk mengejar klik, Melintas.id memilih jalur sunyi: literasi dan edukasi. Di sinilah tulisan-tulisan yang tidak nyaman menemukan tempat. Di sinilah kritik tidak perlu berteriak untuk terdengar.

Bagi Omjay, Melintas.id bukan sekadar media. Ia adalah ruang perlawanan intelektual. Ruang di mana guru, orang tua, dan warga waras bisa saling menguatkan lewat kata-kata.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari pikiran yang berani berbeda.

Menulis sebagai Bentuk Perlawanan Paling Elegan

Omjay selalu berpesan: menulislah dengan hati, bukan dengan pesanan.
Karena tulisan yang jujur mungkin tidak disukai hari ini, tetapi ia akan menjadi arsip kebenaran di masa depan.

Kutipan Shekhar Kapur adalah peringatan keras: jika koruptor terus membersihkan koruptor, maka kebenaran akan terus dikubur hidup-hidup. Maka pendidikan harus bergerak lebih dulu—sebelum nurani kalah oleh kekuasaan.

Catatan Terakhir Omjay

Omjay tahu, satu tulisan tidak akan menjatuhkan sistem. Tetapi ia yakin, sistem yang rapuh selalu takut pada orang-orang yang masih berpikir jernih.

Di negeri yang sibuk berpura-pura jujur, Omjay memilih jujur sungguhan.
Di tengah kebisingan kepalsuan, ia memilih literasi.
Di antara koruptor yang saling menuduh, ia memilih mendidik.

Karena ketika semua ikut bermain sandiwara, orang yang menolak berakting akan terlihat paling berbahaya.

Dan Omjay memilih menjadi orang itu.

---

Salam Blogger Persahabatan,
Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
๐ŸŒ https://wijayalabs.com

Rabu, 14 Januari 2026

Hidup Sesudah Mati

Hidup Sesudah Mati: Perjalanan Panjang yang Sering Kita Lupakan

Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup yang tak pernah meminta izin. Ia datang tanpa jadwal, tanpa peringatan, dan tanpa bisa ditunda. Namun ironisnya, justru hal yang paling pasti inilah yang paling sering kita lupakan. Kita sibuk merencanakan hidup, mengejar dunia, menumpuk harta, jabatan, dan pujian, seolah-olah kematian tidak pernah ada dalam daftar rencana kita.

Padahal, bagi seorang mukmin, kematian bukanlah akhir segalanya. Ia hanyalah gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya: hidup sesudah mati.

Kematian Bukan Akhir, Tapi Awal

Allah SWT berfirman:

> “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Ankabut: 57)

Ayat ini menegaskan bahwa kematian bukan titik akhir perjalanan manusia. Setelah ruh berpisah dari jasad, manusia akan memasuki fase baru yang disebut alam barzakh. Di sanalah amal perbuatan mulai menampakkan hasilnya. Tak ada lagi harta, pangkat, atau gelar akademik yang menemani—yang ada hanyalah iman dan amal.

Alam Barzakh: Kesunyian yang Penuh Makna

Alam kubur sering kita bayangkan sebagai tempat yang gelap dan menakutkan. Namun sejatinya, kubur akan terasa lapang dan menenangkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sebaliknya, ia menjadi tempat yang sempit dan menyiksa bagi mereka yang lalai dan durhaka.

Rasulullah SAW bersabda:

> “Kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurang-jurang neraka.”
(HR. Tirmidzi)

Kesunyian di alam barzakh adalah momen perhitungan tanpa suara. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk memperbaiki kesalahan. Semuanya telah selesai di dunia.

Hari Kebangkitan dan Pertanggungjawaban

Setelah alam barzakh, manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat. Hari yang sangat dahsyat, ketika semua manusia dikumpulkan tanpa pakaian, tanpa harta, dan tanpa pelindung kecuali amalnya sendiri.

Allah SWT berfirman:

> “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Tak ada yang luput dari perhitungan. Bahkan niat yang tersembunyi di dalam hati pun akan dihisab.

Surga dan Neraka: Tujuan Akhir

Hidup sesudah mati berujung pada dua tempat: surga atau neraka. Surga adalah tempat penuh kenikmatan yang tak pernah terlintas dalam pikiran manusia. Sementara neraka adalah tempat siksa yang tak sanggup dibayangkan oleh akal sehat.

Namun rahmat Allah jauh lebih luas daripada murka-Nya. Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Selama matahari belum terbit dari barat.

Hidup di Dunia: Ladang untuk Akhirat

Dunia bukan tujuan, melainkan ladang amal. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di akhirat nanti. Salat, sedekah, kejujuran, kesabaran, memaafkan, dan membantu sesama—semua itu adalah investasi abadi.

Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata:

> “Dunia telah pergi meninggalkan kita, dan akhirat telah datang mendekati kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, bukan anak-anak dunia.”

Penutup: Sudah Siapkah Kita?

Hidup sesudah mati bukan cerita fiksi, bukan dongeng pengantar tidur. Ia adalah kebenaran yang pasti kita alami. Pertanyaannya bukan apakah kita akan mati, tetapi kapan dan dalam keadaan bagaimana kita mati.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika ajal menjemput, tersenyum karena telah mempersiapkan bekal terbaik. Bukan mereka yang menyesal karena terlalu sibuk mencintai dunia dan melupakan kehidupan yang abadi.

Karena sejatinya, hidup yang sesungguhnya baru dimulai… setelah kita mati.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 12 Januari 2026

Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar

Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar

Perubahan zaman menuntut sekolah untuk tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membekali siswa dengan cara berpikir yang relevan dengan era digital. Salah satu upaya penting yang kini mulai diperkenalkan adalah pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), termasuk di jenjang Sekolah Dasar (SD).

Namun, masih banyak guru SD yang bertanya-tanya: bagaimana cara mengajarkannya di kelas? Apakah harus mahir komputer? Apakah butuh perangkat mahal? Jawabannya: tidak. KKA di SD justru bisa diajarkan secara sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak.

Artikel ini menyajikan contoh praktik KKA di kelas SD yang mudah diterapkan oleh guru, bahkan oleh guru yang baru pertama kali mengenal koding dan AI.


KKA di SD: Bukan Tentang Kode, Tapi Cara Berpikir

Sebelum masuk ke praktik, penting dipahami bahwa KKA di sekolah dasar bukan bertujuan mencetak programmer cilik. Fokus utamanya adalah melatih:

  • Berpikir logis dan runtut

  • Memecahkan masalah sederhana

  • Berani mencoba dan memperbaiki kesalahan

  • Bekerja sama dan berkomunikasi

Dengan kata lain, KKA adalah sarana untuk membentuk cara berpikir komputasional, bukan menghafal bahasa pemrograman.


Praktik 1: Unplugged Coding – Bermain Jadi Robot

(Tanpa Komputer, Kelas 1–3)

Praktik paling sederhana bisa dimulai tanpa komputer sama sekali. Guru cukup mengajak siswa bermain peran.

Satu siswa berperan sebagai robot, dan siswa lainnya sebagai programmer. Programmer memberi perintah sederhana seperti “maju dua langkah”, “belok kanan”, atau “berhenti”. Robot hanya boleh bergerak sesuai perintah.

Tujuannya sederhana: membawa robot menuju satu titik, misalnya meja guru atau sebuah kursi.

Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa:

  • Perintah harus jelas

  • Urutan perintah sangat penting

  • Satu kesalahan kecil bisa membuat tujuan tidak tercapai

Tanpa disadari, siswa sedang belajar algoritma, inti dari koding.


Praktik 2: Menyusun Urutan Kegiatan Sehari-hari

(Kelas 2–4)

Guru menyiapkan kartu bergambar aktivitas sehari-hari: bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah. Kartu dibagikan secara acak kepada kelompok kecil.

Tugas siswa adalah menyusun kartu tersebut menjadi urutan yang benar. Setelah itu, guru mengaitkan kegiatan ini dengan koding.

“Komputer itu seperti kita tadi. Kalau urutannya salah, hasilnya juga salah.”

Kegiatan sederhana ini membuat siswa memahami bahwa logika koding ada di kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang asing.


Praktik 3: Koding Visual dengan Scratch Jr

(Dengan Perangkat, Kelas 3–6)

Jika sekolah memiliki tablet atau komputer, guru dapat menggunakan aplikasi Scratch Jr atau Scratch.

Guru tidak perlu menjelaskan istilah rumit. Cukup menunjukkan balok perintah seperti:

  • maju

  • putar

  • berhenti

Siswa diberi tantangan sederhana: buat karakter berjalan menuju rumahnya. Jika karakter tidak sampai tujuan, siswa diminta memperbaiki susunan perintah.

Di sinilah pembelajaran bermakna terjadi. Siswa belajar bahwa:

  • Salah itu wajar

  • Kesalahan bisa diperbaiki

  • Mencoba ulang adalah bagian dari belajar


Praktik 4: Cerita Digital Interaktif

(Integrasi Bahasa Indonesia, Kelas 4–6)

KKA tidak berdiri sendiri. Guru bisa mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain.

Dalam praktik ini, siswa diminta menulis cerita pendek, lalu mengubahnya menjadi animasi sederhana menggunakan Scratch. Karakter bisa bergerak, berbicara, atau berubah latar.

Hasilnya bukan hanya pembelajaran koding, tetapi juga:

  • Literasi membaca dan menulis

  • Kreativitas

  • Kepercayaan diri saat presentasi


Praktik 5: Mengenal Kecerdasan Artifisial (AI) Secara Sederhana

(Tanpa Coding)

Untuk mengenalkan AI, guru tidak perlu membuat program canggih. Cukup ajak siswa berdiskusi.

Guru bertanya, “Mengapa ponsel bisa mengenali wajah?”
Dari jawaban siswa, guru menjelaskan bahwa AI belajar dari banyak contoh.

Siswa kemudian diajak berdiskusi tentang:

  • Manfaat AI

  • Risiko penggunaan AI

  • Etika dan privasi

Di sinilah pendidikan karakter bertemu dengan teknologi.


Praktik 6: Simulasi AI di Kelas

(Role Play, Kelas 4–6)

Guru menyiapkan gambar hewan dan benda. Siswa berperan sebagai “mesin pintar”. Guru memberi contoh beberapa kali, lalu siswa diminta menebak gambar baru berdasarkan contoh sebelumnya.

Melalui permainan ini, siswa memahami bahwa:

  • AI bisa salah

  • AI tergantung pada data

  • Manusia tetap memegang kendali


Penilaian dalam Pembelajaran KKA

Penilaian KKA di SD sebaiknya tidak berfokus pada angka. Guru dapat menilai melalui:

  • Keaktifan siswa

  • Proses berpikir

  • Kerja sama

  • Kreativitas

Portofolio karya siswa jauh lebih bermakna daripada tes tertulis.


Penutup: Guru Tidak Harus Hebat Teknologi, Cukup Berani Memulai

Koding dan Kecerdasan Artifisial di sekolah dasar bukan tentang kecanggihan alat, melainkan tentang keberanian guru untuk belajar bersama siswa.

Guru tidak harus sempurna.
Guru tidak harus ahli.
Guru cukup satu langkah lebih maju dan mau mencoba.

Dari kelas sederhana, lahir generasi yang tidak hanya memakai teknologi, tetapi memahami, mengendalikan, dan menggunakannya dengan bijak.


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi


Ngobrol Santai Bareng Omjay

Rabu, 07 Januari 2026

Cerita Liburan Seru Ameera Jena Pribadi Kelas 8G Absen 7 SMP Labschool Jakarta

CERITA LIBURAN SERU AMEERA JENA PRIBADI 8G 07

 


Liburan kali ini benar-benar menjadi pengalaman yang tak terlupakan dalam hidupku. Jika selama ini kata “liburan” selalu identik dengan kesenangan, hiburan, dan pelarian dari rutinitas, maka perjalanan umroh memberiku definisi baru tentang makna liburan yang sesungguhnya. Ini bukan sekadar perjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perjalanan batin yang penuh perenungan, keikhlasan, dan rasa syukur yang mendalam.

Keputusan untuk berangkat umroh bukanlah keputusan yang datang secara tiba-tiba. Ada proses panjang yang menyertainya, mulai dari niat yang terus dipanjatkan dalam doa hingga persiapan yang dilakukan dengan penuh kehati-hatian. Aku menyadari bahwa perjalanan ini bukan perjalanan biasa, sehingga persiapan mental dan spiritual menjadi hal yang sangat penting. Aku mulai memperbanyak ibadah, memperbaiki hubungan dengan sesama, dan memohon maaf kepada orang-orang terdekat agar langkahku menuju Tanah Suci terasa lebih ringan.

Hari keberangkatan akhirnya tiba. Bandara dipenuhi oleh jamaah yang datang dari berbagai penjuru negeri. Suasana begitu ramai, namun terasa damai. Wajah-wajah penuh harap dan senyum tipis menghiasi setiap sudut. Ada yang tampak terharu karena akhirnya impian mereka terwujud, ada pula yang tak henti-hentinya berdoa sambil menunggu panggilan boarding. Aku berdiri di antara mereka, menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri sambil mensyukuri kesempatan luar biasa ini.

Saat pesawat mulai mengudara, perasaan haru tak bisa kutahan. Aku menyadari bahwa tidak semua orang mendapatkan kesempatan untuk berkunjung ke Tanah Suci. Di dalam pesawat, suasana terasa khusyuk. Banyak jamaah yang mengisi waktu dengan membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau berdoa. Aku pun ikut larut dalam suasana itu, membiarkan pikiranku perlahan menjauh dari urusan dunia dan fokus pada perjalanan spiritual yang sedang kulalui.

Perjalanan udara yang panjang terasa lebih ringan karena hati dipenuhi oleh rasa antusias dan harapan. Aku berbincang dengan beberapa jamaah yang duduk di sekitarku. Ada seorang bapak yang telah menunggu belasan tahun untuk bisa berangkat umroh, dan ada pula seorang ibu yang menjadikan perjalanan ini sebagai hadiah ulang tahun pernikahannya. Cerita-cerita mereka membuatku semakin sadar bahwa setiap jamaah membawa kisah dan doa masing-masing.

Setibanya di Jeddah, udara panas langsung menyambut kami. Meski tubuh terasa lelah, semangat justru semakin menguat. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan menuju Madinah. Sepanjang perjalanan, aku memandangi hamparan gurun yang luas dan sunyi. Tidak banyak pepohonan, tidak ada gedung-gedung tinggi, hanya langit biru dan tanah yang terbentang sejauh mata memandang. Pemandangan itu menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan, seolah mengajak hati untuk lebih banyak merenung.

Madinah menyambut kami dengan suasana yang begitu damai. Kota ini terasa berbeda, lebih tenang dan menenangkan. Saat pertama kali melihat Masjid Nabawi, aku terdiam lama. Keindahannya begitu memukau, namun yang lebih menyentuh adalah aura spiritual yang terasa begitu kuat. Aku melangkah masuk dengan hati bergetar, menyadari bahwa aku berada di salah satu tempat paling mulia di dunia.

Shalat di Masjid Nabawi memberikan pengalaman spiritual yang sangat mendalam. Setiap rakaat terasa lebih khusyuk, setiap doa mengalir dari hati yang paling dalam. Ketika berkesempatan masuk ke Raudhah, aku merasakan ketenangan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Aku berdoa panjang, menyebutkan satu per satu harapan, rasa syukur, dan permohonan ampun kepada Allah. Air mata mengalir tanpa bisa kutahan, bukan karena sedih, tetapi karena merasa begitu dekat dengan-Nya.

Hari-hari di Madinah diisi dengan berbagai aktivitas ibadah dan ziarah. Kami mengunjungi makam Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Berdiri di dekat makam Rasulullah membuatku merenungkan betapa besar cinta dan pengorbanan beliau untuk umatnya. Kami juga mengunjungi Masjid Quba, masjid pertama yang dibangun dalam sejarah Islam, serta Jabal Uhud, tempat terjadinya perang Uhud yang sarat dengan pelajaran tentang ketaatan dan keikhlasan.

Di Jabal Uhud, aku berdiri memandangi gunung yang kokoh dan sunyi. Aku membayangkan bagaimana para sahabat Rasulullah berjuang di tempat itu, mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan iman. Momen itu membuatku merenung tentang kehidupan modern yang sering kali dipenuhi keluhan, padahal perjuangan kita tidak sebanding dengan apa yang telah mereka lalui.

Setelah beberapa hari di Madinah, perjalanan dilanjutkan menuju Makkah. Kami bersiap mengenakan pakaian ihram dan berniat umroh di miqat. Mengenakan ihram memberikan perasaan yang sangat berbeda. Tidak ada perhiasan, tidak ada pakaian mewah, semua terlihat sama. Aku merasa benar-benar meninggalkan identitas duniawi dan berdiri sebagai hamba di hadapan Allah.

Perjalanan menuju Makkah dipenuhi dengan lantunan talbiyah. Suara jamaah yang mengucapkan “Labbaik Allahumma Labbaik” menggema di dalam bus, menciptakan suasana yang begitu menggetarkan hati. Setiap kalimat talbiyah terasa seperti jawaban atas panggilan Allah, dan aku melafalkannya dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.

Saat akhirnya memasuki Masjidil Haram dan melihat Ka’bah untuk pertama kalinya, aku terdiam dalam waktu yang lama. Ka’bah berdiri megah di hadapanku, sederhana namun penuh wibawa. Air mata mengalir deras, dan aku merasa seolah semua doa dan rindu yang selama ini kupendam akhirnya bertemu di satu titik. Momen itu benar-benar menjadi puncak emosional dalam perjalanan umrohku.

Thawaf mengelilingi Ka’bah menjadi pengalaman yang sangat mengesankan. Bergerak bersama ribuan jamaah dari berbagai negara membuatku merasakan persaudaraan Islam yang begitu kuat. Aku melihat wajah-wajah dengan bahasa, warna kulit, dan budaya yang berbeda, namun semua memiliki tujuan yang sama. Setiap putaran thawaf terasa seperti perjalanan batin, melepaskan beban hidup satu per satu.

Sa’i antara bukit Shafa dan Marwah mengajarkanku tentang arti usaha dan tawakal. Langkah demi langkah yang kuambil mengingatkanku pada perjuangan Siti Hajar yang tidak pernah menyerah meski berada dalam keterbatasan. Dari kisah itu, aku belajar bahwa pertolongan Allah datang setelah usaha yang sungguh-sungguh.

Tahallul menjadi penanda selesainya rangkaian ibadah umroh. Saat rambutku dipotong, aku merasakan kelegaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata. Aku merasa seperti dilahirkan kembali, dengan hati yang lebih bersih dan niat yang lebih lurus.

Hari-hari selanjutnya di Makkah diisi dengan ibadah dan refleksi. Aku berusaha memanfaatkan setiap kesempatan untuk shalat berjamaah di Masjidil Haram, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa. Duduk berlama-lama memandangi Ka’bah memberikan ketenangan yang luar biasa. Dalam keheningan itu, aku banyak merenungkan hidup, kesalahan masa lalu, dan harapan untuk masa depan.

Di sela-sela ibadah, kebersamaan dengan sesama jamaah menjadi bagian yang tak kalah berkesan. Kami saling membantu, berbagi makanan, dan bertukar cerita. Ada kehangatan yang tercipta dari kebersamaan itu, membuat perjalanan ini terasa semakin seru dan bermakna.

Menjelang kepulangan, perasaan sedih mulai menyelimuti hati. Aku merasa belum cukup menikmati setiap momen di Tanah Suci. Ada rasa rindu yang tumbuh bahkan sebelum benar-benar pergi. Aku berdoa agar Allah mengizinkanku kembali suatu hari nanti, membawa keluarga dan orang-orang tercinta.

Saat pesawat meninggalkan Arab Saudi, aku menatap ke luar jendela dengan perasaan campur aduk. Perjalanan ini telah mengubah banyak hal dalam diriku. Aku belajar untuk lebih bersyukur, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalani hidup. Umroh mengajarkanku bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal besar, tetapi dari hati yang tenang dan dekat dengan Allah.

Liburan umroh ini bukan hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga membawa perubahan yang mendalam. Ia menjadi pengingat bahwa hidup ini adalah perjalanan, dan tujuan akhirnya adalah kembali kepada Sang Pencipta. Umroh adalah liburan paling seru, paling bermakna, dan paling berharga yang pernah aku alami—sebuah perjalanan yang akan selalu hidup dalam ingatan dan hatiku.

 


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Senin, 05 Januari 2026



MELINTAS.ID - Mengapa Guru Perlu Belajar Menulis? Ayo Bergabung di Kelas Belajar Menulis Nusantara atau KBMN PGRI Gratis dan Dapatkan Ilmunya Dari Pakarnya. 

Mengapa Guru Perlu Belajar Menulis? Ayo Bergabung di Kelas Belajar Menulis Nusantara atau KBMN PGRI Gel 34 Gratis dan Dapatkan Ilmunya Dari Para Pakar dengan mengirimkan nama peserta ke Omjay di WA 08159155515.

Guru bukan sekadar pengajar di ruang kelas, tetapi pendidik peradaban. Guru menanamkan nilai, membentuk karakter, dan membuka cara berpikir generasi masa depan. 


https://www.melintas.id/literasi/347030427/orientasi-pengurus-pgri-dalam-memyatukan-visi-menguatkan-tata-kelola-organisasi-dan-menjaga-marwah-organisasi-pgri-di-semua-tingkatan


Ajak Kawan Lainnya ikut bergabung di kelas belajar menulis nusantara GRATIS!

Buka tautan ini untuk bergabung ke grup WhatsApp saya: https://chat.whatsapp.com/D0eHEHXJV8L2WuEy8lYSSJ

Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Orientasi Pengurus PGRI

Orientasi Pengurus PGRI: Menyatukan Visi, Menguatkan Tata Kelola, Menjaga Marwah Organisasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Organisasi yang besar tidak lahir hanya dari jumlah anggotanya, tetapi dari kesadaran kolektif para pengurusnya dalam memahami, menjalankan, dan menjaga aturan organisasi. 

PGRI sebagai organisasi profesi guru tertua dan terbesar di Indonesia memikul amanah besar: memperjuangkan harkat, martabat, dan kesejahteraan guru, sekaligus menjaga mutu pendidikan nasional.

Karena itulah, Kegiatan Orientasi Pengurus PGRI yang wajib diikuti oleh seluruh pengurus di semua tingkatan—dari pusat hingga cabang—menjadi momentum strategis untuk menyamakan pemahaman, memperkuat tata kelola, dan meneguhkan komitmen organisasi.

Orientasi ini bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan ruang belajar bersama agar PGRI tetap kokoh, profesional, dan dipercaya anggotanya.

1. Tata Kelola Keorganisasian: Fondasi Organisasi yang Sehat

Tata kelola organisasi PGRI harus berpijak pada prinsip transparansi, akuntabilitas, partisipasi, dan kolektivitas. Setiap pengurus perlu memahami struktur organisasi, mekanisme pengambilan keputusan, alur koordinasi, serta hubungan kerja antar tingkatan kepengurusan.

PGRI bukan milik individu atau kelompok tertentu, melainkan milik seluruh anggota. Karena itu, setiap kebijakan harus dilahirkan melalui musyawarah dan dijalankan secara kolektif.

2. Keanggotaan: Jantung Kehidupan PGRI

Anggota adalah kekuatan utama PGRI. Orientasi pengurus harus menegaskan kembali:

Hak dan kewajiban anggota

Mekanisme pendaftaran dan pendataan anggota

Pelayanan dan perlindungan organisasi terhadap anggota

Etika hubungan pengurus dan anggota

Pengurus PGRI sejatinya adalah pelayan anggota, bukan sebaliknya. Tanpa anggota yang terlayani dengan baik, organisasi akan kehilangan ruhnya.

3. Kesekretariatan: Wajah Profesional Organisasi

Administrasi yang tertib mencerminkan organisasi yang sehat. Dalam orientasi ini, pengurus perlu memahami:

Sistem surat-menyurat

Pengarsipan dokumen organisasi

Notulensi rapat

Manajemen data dan informasi

Kesekretariatan yang baik bukan pekerjaan remeh, melainkan penopang utama keberlanjutan organisasi.

4. Keuangan hingga RAPBO: Amanah yang Harus Dijaga

Keuangan organisasi adalah amanah anggota. Oleh karena itu, pengurus wajib memahami:

Sumber dan pengelolaan keuangan PGRI

Prinsip transparansi dan akuntabilitas

Penyusunan dan pelaksanaan RAPBO (Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Organisasi)

Pelaporan keuangan yang dapat dipertanggungjawabkan

Pengelolaan keuangan yang bersih akan melahirkan kepercayaan, sedangkan pengelolaan yang abai akan meruntuhkan organisasi dari dalam.

5. Atribut Organisasi: Identitas dan Marwah PGRI

Atribut organisasi—mulai dari logo, bendera, hingga pakaian resmi PGRI—bukan sekadar simbol, tetapi identitas dan kehormatan organisasi. Orientasi ini penting agar pengurus memahami:

Ketentuan penggunaan atribut

Makna filosofis logo dan warna

Etika berpakaian dalam kegiatan resmi PGRI

Menjaga atribut berarti menjaga marwah PGRI di mata publik.

6. AD & ART: Konstitusi Organisasi

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD & ART) adalah konstitusi PGRI. Setiap pengurus wajib:

Membaca

Memahami

Mengamalkan AD & ART secara konsisten

Tidak boleh ada kebijakan, sikap, atau tindakan pengurus yang bertentangan dengan AD & ART. Tanpa pemahaman ini, organisasi akan berjalan tanpa arah dan aturan.

7. Tata Kerja Pengurus: Bekerja Kolektif, Bukan Individual

Orientasi ini menegaskan bahwa kepengurusan PGRI adalah kerja tim. Tata kerja pengurus mencakup:

Pembagian tugas dan fungsi

Mekanisme rapat dan pengambilan keputusan

Koordinasi internal dan eksternal

Etika kepemimpinan organisasi

PGRI tidak membutuhkan pengurus yang menonjolkan diri, tetapi pengurus yang mampu bekerja bersama.

8. Materi Penting Lainnya: Etika, Integritas, dan Loyalitas Organisasi

Selain materi teknis, orientasi pengurus juga harus menanamkan:

Etika berorganisasi

Integritas dan kejujuran

Loyalitas pada organisasi, bukan pada kepentingan pribadi

Larangan konflik kepentingan

Disiplin organisasi

Pengurus PGRI harus menjadi teladan, baik di dalam organisasi maupun di tengah masyarakat.

Penutup: Orientasi sebagai Ikhtiar Menjaga Masa Depan PGRI

Orientasi pengurus PGRI bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan ikhtiar bersama untuk menjaga masa depan organisasi. Dengan pemahaman yang utuh tentang tata kelola, keanggotaan, keuangan, AD & ART, hingga etika organisasi, PGRI akan tetap berdiri tegak sebagai rumah besar guru Indonesia.

Mari kita ikuti orientasi ini dengan sungguh-sungguh, dengan hati yang ikhlas dan pikiran yang terbuka. Sebab, PGRI yang kuat lahir dari pengurus yang paham aturan dan setia pada nilai-nilai organisasi.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 04 Januari 2026

PGRI dan Etika Organisasi

PGRI dan Etika Organisasi: Mengapa Pengurus Tidak Boleh Rangkap Jabatan dan Keanggotaan?

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) adalah organisasi profesi guru tertua dan terbesar di negeri ini. Sejak awal berdiri, PGRI memposisikan diri sebagai rumah besar perjuangan guru—bukan sekadar wadah berkumpul, tetapi alat perjuangan kolektif untuk martabat, kesejahteraan, dan profesionalisme pendidik Indonesia.

Namun, seiring perjalanan waktu, muncul persoalan klasik yang terus berulang: rangkap keanggotaan dan rangkap jabatan pengurus. Tak sedikit pengurus PGRI yang juga menjadi anggota atau bahkan pengurus organisasi profesi lain, serta merangkap jabatan struktural PGRI di lebih dari satu tingkatan—cabang, kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat.

Padahal, secara etika organisasi, anggota dan pengurus PGRI tidak boleh menjadi anggota atau pengurus organisasi profesi lain, dan tidak boleh merangkap jabatan pengurus PGRI di tingkat yang berbeda. Mengapa hal ini penting?

Menjaga Loyalitas dan Integritas Organisasi

Organisasi profesi hidup dari loyalitas anggotanya. Ketika seorang pengurus PGRI juga aktif di organisasi profesi lain, maka muncul potensi konflik kepentingan. Ke mana loyalitas akan berpihak ketika terjadi perbedaan sikap, tuntutan, atau strategi perjuangan?

PGRI membutuhkan pengurus yang fokus, utuh, dan total. Bukan setengah hati, apalagi menjadikan PGRI sekadar “kendaraan” menuju kepentingan lain.

Mencegah Konflik Kepentingan dan Politik Internal

Rangkap jabatan sering kali melahirkan praktik tidak sehat: tarik-menarik kepentingan, dominasi kelompok tertentu, hingga matinya kaderisasi. Pengurus yang duduk di banyak kursi cenderung ingin mengendalikan arah organisasi sesuai kepentingannya sendiri, bukan aspirasi anggota.

Organisasi profesi seharusnya menjadi ruang pengabdian, bukan panggung kekuasaan.

Membuka Ruang Kaderisasi yang Sehat

Jika satu orang merangkap pengurus di berbagai tingkat, lalu di mana ruang bagi kader muda? Di mana kesempatan bagi guru-guru potensial untuk belajar memimpin?

Larangan rangkap jabatan bukan bentuk pembatasan, melainkan upaya menciptakan regenerasi kepemimpinan yang adil dan berkelanjutan. Organisasi besar seperti PGRI tidak boleh bergantung pada figur yang itu-itu saja.

Menjaga Marwah PGRI sebagai Organisasi Profesi Tunggal

PGRI bukan organisasi sembarangan. Ia lahir dari sejarah perjuangan bangsa. Ketika pengurusnya bebas menjadi anggota organisasi profesi lain, citra PGRI sebagai organisasi induk guru bisa tergerus.

Bukan soal anti-organisasi lain, tetapi soal komitmen dan konsistensi. Jika sudah memilih PGRI, maka berjuanglah sepenuh hati di dalamnya.

Ketegasan Aturan adalah Bentuk Kecintaan

Menegakkan aturan tidak akan melemahkan PGRI—justru sebaliknya. Ketegasan terhadap larangan rangkap keanggotaan dan jabatan adalah bentuk kecintaan pada organisasi.

PGRI yang kuat bukan diukur dari banyaknya jabatan yang dirangkap pengurusnya, tetapi dari soliditas, kepercayaan anggota, dan keberanian menyuarakan kebenaran.

Penutup

Menjadi pengurus PGRI adalah amanah, bukan kehormatan semata. Amanah itu menuntut fokus, loyalitas, dan integritas. Tidak rangkap organisasi profesi lain, dan tidak rangkap jabatan di tingkat yang berbeda, adalah wujud kedewasaan berorganisasi.

Jika PGRI ingin tetap menjadi suara utama guru Indonesia, maka disiplin organisasi harus ditegakkan—tanpa pandang bulu, tanpa kompromi.

Karena organisasi profesi yang besar hanya bisa berdiri tegak jika dipimpin oleh orang-orang yang berani memilih, berani setia, dan berani bertanggung jawab.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 03 Januari 2026

kisah Omjay pilih Serigala Atau Harimau?

Serigala atau Harimau? Republik Tak Akan Berubah oleh Kaum Rebahan

Pagi itu, sebuah kisah lama kembali beredar di grup percakapan. Tentang serigala lumpuh, harimau pemburu, dan manusia yang salah menafsirkan makna tawakal. Kisah sederhana, tetapi maknanya menghantam kesadaran kita hari ini—di tengah republik yang gaduh oleh keluhan, tetapi sunyi dari keberanian bertindak.

Seorang musafir melihat serigala lumpuh di hutan. Empat kakinya tak berfungsi, namun ia tetap hidup. Rasa penasaran membawa musafir itu mengamati lebih jauh. Tak lama, datanglah harimau dengan kijang hasil buruannya. Harimau makan seperlunya, lalu pergi. Sisa daging itulah yang menghidupi serigala lumpuh.

Hari demi hari, pola itu berulang. Serigala hidup bukan karena ia pasrah, melainkan karena ada harimau yang bekerja.

Namun manusia sering keliru membaca tanda. Musafir itu pulang dengan keyakinan yang salah: “Kalau Allah memberi makan serigala lumpuh, maka aku pun cukup diam di rumah. Allah pasti mencukupiku.”

Ia memilih menganggur. Menunggu. Bersandar penuh pada harapan kosong. Hari berganti hari, perutnya kosong. Hingga hampir mati, terdengarlah suara yang menampar kesadarannya:

“Ikutilah teladan harimau, bukan meniru serigala yang lumpuh.”

Tawakal yang Disalahpahami

Di sinilah banyak dari kita terjebak. Kita mengira tawakal adalah diam. Kita mengira iman adalah pasrah tanpa ikhtiar. Padahal, Islam—dan semua nilai luhur kemanusiaan—selalu menempatkan usaha sebagai pintu datangnya pertolongan Tuhan.

Allah tidak menurunkan rezeki dalam bentuk nasi siap saji. Ia menurunkannya dalam bentuk akal, tenaga, keberanian, dan kesempatan untuk berbuat.

Seperti dalam kisah kedua: ketika seseorang melihat gadis kelaparan dan menggigil kedinginan, lalu marah kepada Tuhan karena merasa Tuhan tidak adil. Jawaban Tuhan justru sederhana, pedih, dan jujur:

“Aku telah berbuat sesuatu. Aku menciptakan engkau.”

Pesannya jelas: kita sering berdoa minta perubahan, tapi menolak menjadi pelaku perubahan.

Republik Rebahan dan Jempol Pasif

Di sinilah kisah itu bertemu dengan realitas republik hari ini. Kita hidup di zaman rebahan massal. Bukan sekadar tubuh yang malas bergerak, tetapi pikiran yang nyaman dalam keluhan. Jempol aktif di media sosial, tetapi kaki enggan melangkah ke lapangan.

Sebuah pesan keras beredar pagi itu:

> “Buat kader rebahan, bangunlah. Perubahan tak lahir dari kasur empuk dan jempol pasif.”

Kalimat itu terasa kasar, tetapi jujur. Republik ini tidak kekurangan komentar. Ia kekurangan pejuang yang mau berlelah-lelah.

Kita mengeluh soal kemiskinan, tetapi menolak turun tangan. Kita marah pada ketimpangan, tetapi takut kehilangan kenyamanan. Kita menuntut reformasi, tetapi lebih memilih menjadi penonton.

Beras bantuan memang habis hari ini. Tetapi ketimpangan diwariskan puluhan tahun. Maka perubahan tidak bisa diserahkan pada aktor tunggal, tokoh karismatik, atau politisi yang menjanjikan surga instan.

Reformasi tidak butuh penonton. Ia butuh pelaku.

Musuh Terbesar: Rasa Takut

Musuh utama negeri ini bukan partai, bukan tokoh, bukan ideologi. Musuh utamanya adalah rasa takut. Takut kehilangan kenyamanan. Takut dicap berbeda. Takut berdiri di barisan perubahan.

Bahkan orang-orang yang paling vokal sekalipun—jika jujur—sering kali masih takut melangkah lebih jauh. Karena melawan takut berarti siap meninggalkan zona aman yang palsu.

Rasa takut itulah yang membuat banyak orang memilih menjadi “serigala lumpuh”—menunggu sisa, berharap belas kasih sistem, menggantungkan hidup pada janji dan bantuan.

Padahal republik ini lebih membutuhkan harimau-harimau sosial:
mereka yang mau bergerak, bekerja, berburu solusi, lalu berbagi hasilnya untuk yang lemah.

Jangan Menunggu Allah Turun Langsung

Sering kali kita berdoa:
“Ya Allah, selesaikan masalah bangsa ini.”

Padahal mungkin jawaban-Nya sudah lama sama:
“Aku telah menciptakan kalian.”

Allah bekerja melalui manusia. Melalui guru yang mendidik dengan hati. Melalui relawan yang turun ke jalan. Melalui warga yang berani bersuara, berorganisasi, dan berjuang secara bermartabat.

Perubahan tidak lahir dari kasur empuk. Ia lahir dari kaki yang lecet, tangan yang kotor, dan hati yang berani.

Penutup: Pilihan Ada di Tangan Kita

Kita selalu punya pilihan:
menjadi serigala yang menunggu sisa, atau harimau yang bergerak.
menjadi penonton, atau pejuang.
menjadi orang yang mengeluh pada Tuhan, atau menjadi jawaban dari doa orang lain.

Republik ini tidak butuh lebih banyak keluhan.
Ia butuh keberanian untuk bangun, berdiri, dan berjalan bersama perubahan.

Karena sejarah tidak ditulis oleh mereka yang rebahan,
melainkan oleh mereka yang berani bangun dan melangkah.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 01 Januari 2026

selamat tahun baru 2026 buat guru indonesia

Guru Blogger Indonesia: Ketika Ruang Kelas Tak Lagi Berbatas Dinding

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
https://wijayalabs.com

Guru yang berhenti menulis perlahan kehilangan suaranya, dan ketika suara guru hilang, arah pendidikan pun mudah ditentukan oleh mereka yang tak pernah mengajar.

Tahun demi tahun dunia pendidikan terus berubah. Kurikulum berganti, teknologi melaju cepat, dan cara belajar anak-anak tak lagi sama seperti dulu. Namun satu hal yang seharusnya tidak berubah: peran guru sebagai penyalur nilai, pengetahuan, dan inspirasi. Di tengah perubahan itulah saya menemukan satu jalan pengabdian yang tak pernah saya rencanakan sejak awal—menjadi guru blogger.

Saya adalah guru biasa. Sejak 1992 mengajar Informatika di SMP Labschool Jakarta. Setiap hari saya berdiri di depan kelas, mengajar logika, teknologi, dan etika digital. Namun saya sadar, ruang kelas punya batas. Ketika bel berbunyi, pelajaran usai. Ketika murid pulang, proses belajar seakan berhenti. Dari kegelisahan itulah saya mulai menulis.

Awalnya hanya sekadar catatan kecil. Tentang pengalaman mengajar, tentang murid-murid yang menginspirasi, tentang kebijakan pendidikan yang sering membuat guru bingung di lapangan. Tulisan-tulisan itu saya simpan di blog pribadi yang kini dikenal sebagai wijayalabs.com. Saya tidak pernah menyangka, dari blog sederhana itulah lahir identitas yang kemudian disematkan banyak orang kepada saya: Guru Blogger Indonesia.

Menulis: Jalan Sunyi Seorang Guru

Bagi saya, menulis bukan soal ingin terkenal. Menulis adalah cara guru berpikir lebih jernih. Ketika kita menulis, kita dipaksa merenung, mengolah pengalaman, dan jujur pada diri sendiri. Banyak guru merasa tidak punya waktu menulis, padahal yang sering kurang bukan waktu, melainkan keberanian memulai.

Saya selalu mengatakan kepada rekan-rekan guru: menulislah sebelum tidur. Tidak perlu panjang, tidak harus sempurna. Yang penting konsisten. Dari kebiasaan kecil itulah lahir ribuan tulisan yang kini tersimpan rapi di blog saya. Tulisan tentang literasi digital, refleksi Hari Guru, kritik kebijakan pendidikan, kisah perjalanan sebagai pendidik, hingga cerita-cerita kemanusiaan yang menyentuh hati.

Di era digital, tulisan guru adalah jejak peradaban. Apa yang kita alami hari ini, jika tidak ditulis, akan hilang begitu saja. Padahal pengalaman guru di lapangan sering jauh lebih jujur daripada laporan resmi yang penuh angka dan istilah teknis.

Blog sebagai Ruang Kelas Kedua

Saya percaya, hari ini setiap guru memiliki dua ruang kelas: kelas fisik dan kelas digital. Blog adalah ruang kelas kedua saya. Di sana, saya mengajar tanpa papan tulis, tanpa spidol, tanpa batas usia dan wilayah. Siapa pun bisa belajar, berdiskusi, bahkan berbeda pendapat.

Lewat blog, saya melihat bagaimana tulisan bisa menggerakkan orang. Banyak guru mulai berani menulis setelah membaca artikel saya. Banyak yang awalnya ragu, merasa tulisannya tidak layak dibaca. Padahal justru dari tulisan sederhana itulah lahir kesadaran kolektif bahwa guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi pemikir dan agen perubahan.

Dari semangat itulah kemudian lahir berbagai komunitas belajar menulis guru, termasuk Komunitas Belajar Menulis Nasional (KBMN). Saya menyaksikan sendiri bagaimana guru-guru yang awalnya “tak percaya diri” berubah menjadi penulis produktif, bahkan artikelnya dimuat di media nasional.

Guru dan Literasi Digital

Menjadi guru di era digital bukan pilihan, tetapi keharusan. Anak-anak kita hidup di dunia algoritma, kecerdasan buatan, dan banjir informasi. Jika guru gagap teknologi dan alergi menulis, maka jarak dengan murid akan semakin lebar.

Namun literasi digital bukan hanya soal bisa menggunakan aplikasi atau AI. Literasi digital adalah kemampuan berpikir kritis, beretika, dan bertanggung jawab di ruang digital. Melalui blog, saya berusaha menanamkan nilai itu—bahwa teknologi harus berpihak pada kemanusiaan, bukan sebaliknya.

Saya juga selalu mengingatkan, jangan sampai guru tergoda jalan pintas. Menulis bukan untuk mengejar viral, bukan untuk sekadar mencari pujian. Menulis adalah proses belajar seumur hidup. Bahkan disertasi doktoral saya pun lahir dari kegelisahan yang sama: bagaimana blog kolaboratif bisa meningkatkan keterampilan menulis dan berpikir siswa.

Guru Tidak Boleh Diam

Saya sering gelisah melihat guru hanya mengeluh di ruang tertutup, di grup pesan singkat, tanpa pernah menuangkan gagasannya ke ruang publik. Padahal, jika guru diam, suara pendidikan akan didominasi oleh mereka yang tidak pernah mengajar di kelas.

Melalui blog dan tulisan opini, guru bisa menyampaikan realitas pendidikan dari sudut pandang paling jujur: pengalaman langsung. Media seperti Melintas.id menjadi ruang penting agar suara guru tidak tenggelam oleh jargon dan kepentingan sesaat.

Menulis adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk berpikir, bersikap, dan bertanggung jawab atas kata-kata sendiri.

Penutup: Menjadi Guru yang Dikenang Zaman

Saya tidak tahu sampai kapan akan mengajar di kelas. Namun saya berharap, selama tulisan saya masih dibaca, selama ada guru yang tergerak menulis, maka pengabdian saya belum selesai.

Menjadi guru blogger bukan tentang teknologi, tetapi tentang niat berbagi. Tentang meninggalkan jejak kebaikan di dunia digital. Tentang memastikan bahwa suara guru tetap hidup, jujur, dan berpihak pada pendidikan yang memanusiakan manusia.

Menjadi guru di era digital berarti berani berpikir, menulis, dan berbagi; sebab dari kata-kata yang jujur, lahir perubahan yang tak lekang oleh zaman.

Jika hari ini Anda seorang guru, mulailah menulis. Karena kelak, bukan hanya murid yang akan mengenang Anda, tetapi juga zaman.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com