Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 10 Juli 2026

Kisah Omjay: Episode Terakhir Terikat Janji

Kisah Wijaya Kusumah - omjay 
Blog https://wijayalabs.com

Episode Terakhir Terikat Janji: Janji yang Akhirnya Terpenuhi

Mentari pagi menyinari halaman rumah keluarga Kusuma. Setelah berbulan-bulan dipenuhi air mata, pengkhianatan, dan pertarungan melawan kejahatan, akhirnya semua pelaku berhasil ditangkap. Dipa yang selama ini menjadi dalang berbagai kejahatan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah seluruh bukti berhasil diungkap oleh Sena, polisi yang selama ini menyamar sebagai penjual ketoprak. 

Davina datang mengunjungi Sena yang sedang berdiri di tepi danau.

"Apa semua sudah selesai?" tanya Davina.

Sena tersenyum.

"Sudah... sekarang tidak ada lagi rahasia di antara kita."

Davina menitikkan air mata. "Kalau begitu... tepati janjimu."

Sena berlutut, mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.

"Davina Kusuma... maukah kamu menjadi istriku?"

Dengan air mata bahagia, Davina mengangguk.

"Aku mau...."

Mereka berpelukan. Tepuk tangan keluarga dan sahabat menggema. Bahkan Novan yang dahulu paling keras menentang hubungan mereka kini tersenyum bangga.

Beberapa minggu kemudian....

Masjid yang dihiasi bunga putih dipenuhi tamu undangan.

Sena mengenakan jas putih, sementara Davina tampil anggun dengan gaun pengantin muslimah berwarna putih.

Ijab kabul berlangsung khidmat.

"Saya terima nikahnya Davina Kusuma binti Novan Kusuma dengan maskawin seperangkat alat salat dan emas 25 gram dibayar tunai."

"Sah...."

Suara para saksi bergema.

Davina tak mampu menahan air mata ketika Sena mencium keningnya.

"Mulai hari ini," kata Sena pelan, "aku bukan lagi polisi yang menyamar. Aku hanya ingin menjadi suami yang menjaga dan mencintaimu seumur hidup."

Davina menggenggam tangan Sena.

"Dulu kita terikat oleh kebohongan. Sekarang kita terikat oleh cinta dan janji yang sesungguhnya."

Semua tamu berdiri memberikan tepuk tangan.

Reza akhirnya resmi bertunangan dengan Jihan. Mereka ikut berbahagia menyaksikan pernikahan sahabat mereka.

Beberapa bulan kemudian....

Sena kembali bertugas sebagai anggota kepolisian, tetapi kini setiap pulang kerja selalu disambut Davina di rumah sederhana yang mereka bangun bersama.

Di teras rumah, Davina membawa kabar bahagia.

"Mas..."

"Iya?"

"Aku hamil."

Sena terdiam beberapa saat, lalu memeluk istrinya erat.

"Terima kasih, Ya Allah...."

Kamera menyorot foto pernikahan mereka yang tergantung di ruang tamu.

Narasi penutup berbunyi:

"Setiap janji akan menemukan jalannya. Kejujuran memang sering datang terlambat, tetapi cinta yang tulus akan selalu menemukan rumahnya. Karena pada akhirnya, bukan kebohongan yang menyatukan dua hati, melainkan keberanian untuk saling percaya."

Sena dan Davina berjalan bergandengan tangan menyusuri taman sambil menikmati matahari terbenam.

Layar perlahan menghitam.

TAMAT. ❤️

Jalan Jalan Pagi di Springhill Yume Lagoon Cisauk Tangerang

Jalan-Jalan Pagi Omjay di Sekitar Perumahan Springhill Yume Lagoon Cisauk Tangerang

Ketika Setiap Langkah Menjadi Dzikir, Syukur, dan Sumber Inspirasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay – Guru Blogger Indonesia)

Pagi itu langit Cisauk masih diselimuti cahaya lembut ketika saya membuka pintu rumah. Jam di tangan baru menunjukkan sekitar pukul enam. Udara terasa begitu segar. Angin berembus perlahan, membawa aroma pepohonan yang basah oleh embun. Burung-burung berkicau riang seolah mengajak setiap orang untuk menyambut hari dengan penuh semangat.
Saya pun melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan yang rapi di sekitar Perumahan Springhill Yume Lagoon, Cisauk, Tangerang. Tidak ada target harus berjalan berapa kilometer. Tidak ada keinginan memecahkan rekor langkah. Saya hanya ingin menikmati pagi, mensyukuri kesehatan, dan berdialog dengan diri sendiri.

Sejak Allah menguji saya dengan diabetes dan gejala stroke beberapa waktu lalu, cara saya memandang hidup berubah. Dahulu saya sering menganggap sehat sebagai sesuatu yang biasa. Kini saya menyadari bahwa kesehatan adalah nikmat luar biasa yang sering baru disadari ketika mulai berkurang.

Karena itulah setiap pagi saya berusaha meluangkan waktu berjalan kaki. Langkah demi langkah menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan.
Sepanjang perjalanan, saya melihat begitu banyak pemandangan yang menyejukkan hati. Ada anak-anak yang bersepeda sambil tertawa lepas. Ada pasangan lansia yang berjalan berdampingan dengan senyum bahagia. Ada seorang ayah yang menggandeng putrinya sambil mengajarkan cara menyeberang jalan dengan benar. Ada pula para pekerja yang berangkat lebih awal dengan semangat mencari rezeki halal.

Saya menyadari bahwa setiap orang sedang berjalan pada jalan hidupnya masing-masing. Ada yang sedang mengejar cita-cita, ada yang sedang berjuang melawan penyakit, ada yang sedang membangun keluarga, dan ada pula yang sedang berusaha bangkit dari kegagalan.

Bukankah hidup memang seperti perjalanan pagi?

Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan apakah kita tetap melangkah dengan hati yang bersyukur.

Di tepi danau, saya berhenti sejenak. Permukaan air tampak tenang memantulkan cahaya matahari yang mulai menghangat. Saya duduk di bangku taman sambil menarik napas panjang.

Dalam keheningan itu saya berdoa.

"Ya Allah, terima kasih Engkau masih memberiku kesempatan menikmati pagi ini. Berilah kesehatan agar aku terus dapat mengajar, menulis, dan berbagi manfaat kepada sesama."

Saya percaya doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya.

Saya lalu teringat perjalanan hidup saya sebagai guru. Lebih dari tiga dekade saya mengabdikan diri di dunia pendidikan. Banyak generasi telah saya temui. Ada yang kini menjadi dosen, dokter, pengusaha, programmer, guru, bahkan pemimpin di berbagai bidang.

Semua berawal dari ruang kelas.

Saya semakin yakin bahwa profesi guru adalah profesi yang tidak pernah berhenti menanam. Hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Ketika berjalan melewati deretan pepohonan yang rindang, saya melihat bagaimana pohon-pohon itu tetap berdiri tegak. Mereka tidak pernah meminta pujian. Mereka hanya terus memberi keteduhan.

Dalam hati saya berkata, "Beginilah seharusnya seorang guru."

Mengajar bukan untuk mencari tepuk tangan. Mengajar adalah menebarkan manfaat. Seperti pohon yang terus memberi kesejukan kepada siapa saja yang singgah di bawahnya.
Semakin jauh berjalan, semakin banyak ide bermunculan. Saya memang sering mendapatkan inspirasi ketika berjalan kaki. Pikiran menjadi lebih jernih. Hati menjadi lebih tenang.

Tidak heran jika banyak tulisan saya lahir dari perjalanan sederhana seperti ini.

Saya teringat kalimat yang selalu saya sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN):

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat itu bukan hanya slogan. Itu adalah pengalaman hidup saya sendiri. Saya belajar bahwa tulisan-tulisan kecil yang dibuat dengan konsisten dapat membuka pintu-pintu rezeki, memperluas persahabatan, dan meninggalkan jejak kebaikan.
Berjalan pagi juga mengajarkan saya tentang kesabaran. Tidak semua jalan lurus. Ada tanjakan, ada tikungan, ada jalan yang harus dilewati dengan lebih hati-hati.

Begitu pula kehidupan.

Kadang kita menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ujian yang terasa berat. Namun selama kita terus melangkah dan tidak menyerah, selalu ada harapan di ujung perjalanan.

Saya juga bersyukur karena masih diberi kesempatan mendampingi keluarga, mengajar para siswa, menulis di Kompasiana, membina komunitas guru, dan berbagi pengalaman kepada banyak orang. Semua itu adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Pagi semakin terang. Matahari mulai bersinar penuh. Saya merasakan keringat membasahi punggung, tetapi hati justru terasa ringan. Tubuh memang lelah, tetapi jiwa terasa segar.

Saya pulang sambil membawa satu pelajaran penting.

Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah. Kebahagiaan sering hadir dalam langkah-langkah sederhana, dalam udara pagi yang sejuk, dalam sapaan tetangga, dalam senyum orang-orang yang kita temui, dan dalam rasa syukur yang tumbuh di hati.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan secangkir teh hangat. Laptop pun saya buka. Jari-jari mulai menari di atas papan ketik. Semua pengalaman pagi itu saya tuangkan menjadi tulisan.

Saya percaya, setiap perjalanan akan menjadi kenangan. Setiap kenangan akan menjadi cerita. Dan setiap cerita yang ditulis dengan hati akan menemukan pembacanya sendiri.

Semoga kita semua diberikan kesehatan untuk terus melangkah, kekuatan untuk terus berjuang, dan kesempatan untuk terus berbagi manfaat kepada sesama.

Jangan menunggu sehat untuk bersyukur. Bersyukurlah, maka semoga Allah menjaga kesehatan kita. Jangan menunggu waktu luang untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan hari ini.

Mari terus berjalan, terus belajar, terus mengajar, dan terus menulis. Sebab setiap langkah yang kita ayunkan bisa menjadi amal, setiap ilmu yang kita bagikan bisa menjadi pahala, dan setiap tulisan yang menginspirasi dapat menjadi warisan yang tetap hidup meski kelak kita telah tiada.

Salam sehat. Salam literasi. Salam blogger Indonesia.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

Tahajud Adalah Undangan Istimewa Dari Allah

Sholat Tahajud: Undangan Istimewa dari Allah di Sepertiga Malam

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak semua undangan datang dalam bentuk surat, pesan WhatsApp, atau kartu yang dihiasi tinta emas. Ada undangan yang jauh lebih istimewa, lebih mulia, dan hanya diterima oleh mereka yang dipilih Allah. Undangan itu datang setiap malam, ketika sebagian besar manusia masih terlelap dalam mimpi. Itulah undangan untuk melaksanakan sholat tahajud.

Saya baru benar-benar memahami makna tahajud ketika usia semakin bertambah dan tubuh mulai sering memberi tanda bahwa kehidupan di dunia tidaklah abadi. Penyakit diabetes yang saya alami, tekanan darah yang harus dijaga, hingga berbagai ujian hidup membuat saya semakin sadar bahwa manusia tidak memiliki tempat bergantung selain kepada Allah SWT.

Pada awalnya, bangun di sepertiga malam bukan perkara mudah. Alarm sering dimatikan, rasa kantuk lebih kuat daripada niat. Namun, setiap kali berhasil bangun dan berwudhu dengan air yang dingin, hati justru terasa hangat. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah-olah Allah sedang berkata, "Hamba-Ku, Aku menunggumu."

Dalam kesunyian malam, tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk pekerjaan, tidak ada notifikasi media sosial yang mengganggu. Yang ada hanyalah seorang hamba yang berdiri menghadap Rabb-nya. Saat itulah air mata sering kali mengalir tanpa disadari. Semua beban yang selama ini dipendam terasa ringan ketika dipasrahkan kepada Allah.

Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan sholat tahajud, meskipun seluruh dosa beliau telah diampuni. Mengapa beliau tetap melaksanakannya? Karena tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan wujud cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Jika Rasul yang dijamin surga saja begitu menjaga tahajud, bagaimana dengan kita yang penuh dosa?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra: 79).

Ayat ini memberikan harapan besar. Tahajud bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga mengangkat derajat seseorang. Banyak orang mencari kehormatan melalui jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal, kemuliaan sejati datang dari kedekatan kepada Allah.

Saya sering mendengar kisah para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh yang menjadikan tahajud sebagai rahasia kesuksesan mereka. Ketika orang lain masih tidur, mereka justru sedang mengetuk pintu langit. Ketika orang lain sibuk mencari jalan keluar kepada manusia, mereka lebih dahulu meminta pertolongan kepada Allah.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai guru selama lebih dari tiga puluh tahun, saya menyaksikan banyak keajaiban doa. Ada murid yang awalnya dianggap biasa saja, tetapi akhirnya berhasil meraih cita-cita yang tinggi. Ada guru yang bertahun-tahun menunggu rezeki, lalu Allah bukakan jalan yang tidak pernah disangka. Semua itu mengingatkan saya bahwa tidak ada doa yang sia-sia, apalagi jika dipanjatkan pada sepertiga malam terakhir.

Rasulullah SAW bersabda bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia dan berfirman, "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni."

Betapa luar biasanya kesempatan itu. Sang Pencipta alam semesta membuka pintu rahmat-Nya dan mengundang hamba-hamba-Nya untuk datang. Sayangnya, sering kali kita lebih memilih melanjutkan tidur daripada memenuhi undangan tersebut.

Tahajud mengajarkan keikhlasan. Tidak ada yang melihat kecuali Allah. Tidak ada tepuk tangan manusia. Tidak ada pujian. Hanya ada hubungan yang begitu dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Karena itulah tahajud menjadi salah satu amalan yang paling tulus.

Saya pernah merasakan masa-masa ketika tubuh terasa lemah akibat penyakit. Saat itu saya berpikir mungkin saya tidak lagi mampu melakukan banyak hal. Namun setiap kali Allah membangunkan saya untuk tahajud, saya merasa mendapatkan energi baru. Hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan semangat hidup kembali tumbuh. Saya percaya bahwa kekuatan seorang mukmin bukan hanya berasal dari makanan yang bergizi atau obat yang diminum, tetapi juga dari doa-doa yang dipanjatkan di keheningan malam.

Banyak orang bertanya, apa rahasia agar bisa istiqamah tahajud? Jawabannya sederhana, tetapi membutuhkan latihan. Tidurlah lebih awal, kurangi begadang yang tidak bermanfaat, pasang niat yang kuat sebelum tidur, dan mintalah kepada Allah agar dibangunkan. Jika suatu malam gagal bangun, jangan menyerah. Teruslah mencoba. Allah melihat kesungguhan usaha kita.

Tahajud bukan hanya untuk orang yang sedang memiliki masalah. Jangan menunggu sakit baru rajin tahajud. Jangan menunggu kehilangan baru menangis di hadapan Allah. Jadikan tahajud sebagai kebutuhan hati, bukan sekadar pelarian ketika sedang mengalami kesulitan.

Sebagai seorang guru, saya juga belajar bahwa pendidikan terbaik bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan. Anak-anak akan lebih mudah belajar jika melihat orang tuanya bangun malam untuk beribadah. Murid-murid akan lebih terinspirasi ketika gurunya tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga dekat dengan Allah.

Tahajud adalah sekolah keikhlasan. Ia melatih kesabaran, keteguhan, kerendahan hati, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat. Tidak semua doa langsung dikabulkan sesuai keinginan kita, tetapi setiap doa pasti didengar oleh Allah. Kadang Allah mengabulkan segera, kadang menundanya, dan kadang menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Malam adalah waktu yang penuh rahasia. Ketika dunia seolah berhenti sejenak, langit justru terbuka lebar bagi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Jangan sia-siakan kesempatan emas itu.

Mulailah malam ini. Bangunlah meski hanya beberapa menit sebelum Subuh. Berwudhulah, dirikan dua rakaat tahajud, lalu curahkan seluruh isi hati kepada Allah. Mintalah ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, kebahagiaan keluarga, kemudahan dalam pekerjaan, serta husnul khatimah.

Siapa tahu, justru pada malam itulah Allah mengabulkan doa yang selama ini kita tunggu. Sebab sholat tahajud bukan sekadar ibadah sunah, melainkan undangan istimewa dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin semakin dekat dengan-Nya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memenuhi undangan mulia itu, sehingga setiap malam menjadi jalan menuju ketenangan hati, keberkahan hidup, dan ridha Allah SWT. Aamiin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 09 Juli 2026

Mengapa Gaji Guru dan ASN lainnya tidak Naik?

Mengapa Gaji Guru Tidak Naik? Memahami Tantangan Anggaran Negara Secara Objektif

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Belakangan ini beredar sebuah gambar di media sosial yang menyatakan bahwa gaji guru dan ASN tidak bisa naik karena uangnya tidak ada, sementara di sisi lain pemerintah dianggap mampu membiayai berbagai program besar, menaikkan gaji hakim, menambah jumlah kementerian, hingga mengalokasikan anggaran yang besar untuk kementerian tertentu. Gambar tersebut kemudian diakhiri dengan pertanyaan yang menggugah, "Itu uang dari mana?"

Sebagai seorang guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade, saya memahami mengapa narasi seperti ini mudah menyentuh hati para guru. Banyak guru merasa kesejahteraannya belum sebanding dengan pengabdian yang telah diberikan kepada bangsa. Namun, persoalan kenaikan gaji guru sebenarnya jauh lebih kompleks daripada sekadar ada atau tidak adanya uang negara.

Pertama, kita perlu memahami bahwa gaji guru ASN berasal dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) serta Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Setiap tahun pemerintah harus membagi anggaran untuk banyak sektor sekaligus, seperti pendidikan, kesehatan, pertahanan, infrastruktur, bantuan sosial, pembayaran utang, subsidi energi, hingga belanja pegawai. Semua kebutuhan tersebut harus diseimbangkan agar roda pemerintahan tetap berjalan.

Kenaikan gaji guru bukan hanya berdampak pada jutaan guru, tetapi juga pada seluruh aparatur sipil negara. Indonesia memiliki jutaan ASN yang terdiri atas guru, dosen, tenaga kesehatan, penyuluh pertanian, pegawai kementerian, hingga aparat pemerintah daerah. Jika pemerintah menaikkan gaji pokok seluruh ASN sebesar 10 persen saja, tambahan anggaran yang dibutuhkan bisa mencapai puluhan hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun. Kenaikan tersebut juga bersifat permanen karena menjadi bagian dari belanja pegawai pada tahun-tahun berikutnya.

Di sisi lain, pemerintah juga menjalankan berbagai program prioritas nasional. Program-program tersebut memiliki tujuan masing-masing, misalnya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, memperkuat pelayanan publik, membangun infrastruktur, atau mempercepat pertumbuhan ekonomi. Anggaran untuk program tertentu biasanya berasal dari pos belanja yang berbeda dengan belanja pegawai. Karena itu, meskipun masyarakat melihat adanya program baru dengan anggaran besar, bukan berarti dana tersebut secara sederhana dapat dipindahkan menjadi kenaikan gaji seluruh guru.

Salah satu hal yang sering dibandingkan adalah kenaikan gaji hakim. Kenaikan penghasilan hakim memiliki dasar kebijakan tersendiri yang berkaitan dengan upaya memperkuat independensi lembaga peradilan dan menarik sumber daya manusia yang berkualitas. Kebijakan tersebut tentu dapat diperdebatkan di ruang publik, tetapi secara administratif memiliki landasan hukum yang berbeda dengan kebijakan penggajian ASN secara umum.

Guru tentu bertanya, mengapa profesi yang mencerdaskan kehidupan bangsa belum memperoleh perhatian yang sama? Pertanyaan ini sangat wajar. Guru memiliki peran strategis dalam membentuk generasi masa depan Indonesia. Tanpa guru yang sejahtera, sulit mengharapkan pendidikan yang berkualitas.

Masalah kesejahteraan guru sebenarnya tidak hanya menyangkut gaji pokok. Banyak guru masih menghadapi persoalan keterlambatan tunjangan, perbedaan kesejahteraan antara guru pusat dan daerah, guru honorer yang belum memperoleh penghasilan layak, hingga belum meratanya kesempatan pengembangan karier. Oleh karena itu, pembahasan mengenai kesejahteraan guru sebaiknya dilakukan secara menyeluruh.

Selain itu, kondisi ekonomi nasional juga menjadi faktor penting. Pemerintah harus menjaga agar defisit anggaran tetap terkendali. Jika belanja negara meningkat terlalu besar tanpa diimbangi penerimaan negara yang cukup, risiko fiskal dapat meningkat. Oleh sebab itu, setiap keputusan menaikkan gaji ASN harus mempertimbangkan kemampuan keuangan negara dalam jangka panjang.

Namun demikian, bukan berarti kesejahteraan guru tidak bisa ditingkatkan. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan, antara lain meningkatkan efisiensi belanja negara, memperkuat penerimaan pajak, mengurangi kebocoran anggaran, memperbaiki tata kelola birokrasi, dan memastikan anggaran pendidikan benar-benar digunakan secara efektif. Dengan ruang fiskal yang lebih sehat, peluang peningkatan kesejahteraan guru pun akan semakin besar.

Sebagai guru, saya berharap pemerintah terus menempatkan pendidikan sebagai investasi utama bangsa. Guru bukan sekadar pegawai negara, melainkan pencetak generasi penerus Indonesia. Ketika guru bekerja dengan tenang karena kebutuhan keluarganya terpenuhi, kualitas pembelajaran di sekolah juga akan meningkat.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu memahami bahwa informasi yang beredar di media sosial sering kali menyederhanakan persoalan yang sebenarnya rumit. Perbandingan antara satu pos anggaran dengan pos lainnya tidak selalu dapat dilakukan secara langsung karena setiap anggaran memiliki dasar hukum, tujuan, dan mekanisme pengelolaan yang berbeda.

Harapan terbesar para guru bukan hanya kenaikan gaji, tetapi juga kepastian kebijakan, penghargaan terhadap profesi, kesempatan mengembangkan kompetensi, serta sistem pendidikan yang memberikan ruang bagi guru untuk berkarya dan berinovasi.

Pada akhirnya, pertanyaan "Mengapa gaji guru tidak naik?" tidak memiliki jawaban sesederhana "karena uangnya tidak ada". Jawabannya melibatkan kondisi fiskal negara, prioritas pembangunan, jumlah ASN yang sangat besar, kebijakan anggaran, dan keberlanjutan keuangan negara. Meskipun demikian, aspirasi guru untuk memperoleh kesejahteraan yang lebih baik adalah sesuatu yang sah dan patut diperjuangkan melalui dialog, kajian yang berbasis data, serta kebijakan publik yang berpihak pada peningkatan mutu pendidikan.

Semoga ke depan Indonesia semakin mampu memberikan penghargaan yang layak kepada para guru. Sebab, di tangan gurulah masa depan bangsa dibentuk. Ketika guru sejahtera, pendidikan akan semakin berkualitas. Dan ketika pendidikan berkualitas, Indonesia akan memiliki sumber daya manusia yang unggul untuk menghadapi tantangan zaman.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 08 Juli 2026

Kasih Ibu Kepada Beta Tak Terhingga Sepanjang Masa

Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Kisah Omjay Mengenang Kasih Ibu Sepanjang Masa

Penggalan lirik lagu Kasih Ibu kepada Beta yang berbunyi, "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa," selalu memiliki tempat yang istimewa di hati saya. Setiap kali mendengarnya, saya tidak hanya teringat kepada almarhumah ibu yang telah melahirkan dan membesarkan saya dengan penuh cinta, tetapi juga merenungkan betapa besar pengorbanan seorang ibu yang sering kali tidak pernah benar-benar dapat dibalas oleh anak-anaknya. Lagu sederhana yang diajarkan sejak duduk di bangku sekolah dasar itu ternyata menyimpan makna kehidupan yang semakin dalam ketika usia bertambah dan pengalaman hidup semakin panjang. Kini, setelah lebih dari tiga puluh tahun mengabdi sebagai guru, menjadi seorang ayah, bahkan telah merasakan kebahagiaan menjadi seorang kakek, saya semakin memahami bahwa kasih ibu adalah cinta yang paling tulus di dunia. Cinta yang tidak mengenal syarat, tidak mengenal batas, dan tidak pernah meminta balasan sedikit pun.

Saya sering mengatakan kepada para peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) bahwa tulisan terbaik lahir dari hati. Ketika hati berbicara, kata-kata akan mengalir dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Demikian pula ketika saya menulis tentang ibu. Rasanya tidak ada habisnya mengenang setiap pengorbanan beliau yang begitu besar dalam perjalanan hidup saya. Semakin dewasa, semakin saya menyadari bahwa keberhasilan yang saya raih hari ini sesungguhnya dibangun di atas doa-doa panjang seorang ibu yang mungkin tidak pernah saya dengar secara langsung, tetapi selalu dipanjatkan dalam setiap sujudnya kepada Allah SWT.

Saya lahir dari keluarga sederhana. Orang tua saya, Achmad Abdullah dan Siti Khodijah, membesarkan enam orang anak dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan kerja keras. Kehidupan kami jauh dari kemewahan, tetapi rumah kami selalu dipenuhi kehangatan. Dari kedua orang tua, terutama ibu, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh rasa syukur, kejujuran, saling menyayangi, dan semangat untuk terus berjuang. Sejak kecil saya menyaksikan bagaimana ibu bangun jauh sebelum matahari terbit. Beliau menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memastikan semua anaknya siap menjalani hari. Ketika malam tiba dan kami semua sudah terlelap, beliau masih memikirkan kebutuhan keluarga untuk esok hari. Semua dilakukan tanpa pernah mengeluh dan tanpa berharap dipuji.

Ketika masih kecil, saya menganggap semua itu adalah sesuatu yang biasa. Baru setelah saya berkeluarga dan memiliki anak, saya memahami betapa luar biasanya pengorbanan seorang ibu. Menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan makan dan pakaian, melainkan juga memberikan rasa aman, perhatian, pendidikan, dan kasih sayang yang tidak pernah putus. Seorang ibu rela mengurangi waktu tidurnya agar anak-anak dapat tidur dengan nyaman. Ia rela menahan lapar agar anak-anaknya kenyang lebih dahulu. Bahkan ketika tubuhnya sakit, ia tetap berusaha tersenyum agar anak-anaknya tidak ikut bersedih. Pengorbanan seperti itu tidak mungkin dapat dinilai dengan uang.

Lirik lagu, "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia," benar-benar menggambarkan sosok ibu. Matahari setiap hari menyinari bumi tanpa pernah meminta balasan. Ia memberikan cahaya kepada siapa saja tanpa membedakan kaya atau miskin, pintar atau bodoh, tua atau muda. Begitu pula kasih seorang ibu. Ia mencintai anak-anaknya tanpa syarat. Ia tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah diberikan. Yang ada dalam hatinya hanyalah keinginan melihat anak-anaknya tumbuh sehat, berakhlak baik, memperoleh pendidikan yang layak, dan kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Selama mengabdi sebagai Guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya telah bertemu ribuan peserta didik dengan berbagai latar belakang kehidupan. Ada anak yang hidup berkecukupan, tetapi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Ada pula anak yang hidup sederhana, tetapi memperoleh limpahan kasih sayang dari ibunya. Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa kasih sayang jauh lebih berharga daripada kekayaan. Anak-anak yang mendapatkan cinta dan perhatian dari orang tua biasanya tumbuh lebih percaya diri, lebih kuat menghadapi masalah, dan lebih mudah bangkit ketika mengalami kegagalan. Di balik keberhasilan mereka, hampir selalu ada doa seorang ibu yang tidak pernah putus.

Saya juga menyaksikan begitu banyak kisah perjuangan seorang ibu demi pendidikan anaknya. Ada yang bekerja dari pagi hingga malam agar anaknya tetap bisa sekolah. Ada yang menjual perhiasan terakhirnya demi membayar biaya kuliah. Ada yang rela menahan keinginan membeli kebutuhan pribadi agar anak-anaknya dapat membeli buku pelajaran. Semua pengorbanan itu dilakukan dengan wajah penuh keikhlasan. Tidak pernah ada catatan utang yang harus dibayar. Tidak pernah ada perjanjian bahwa semua pengorbanan itu harus dikembalikan ketika anak telah sukses. Ibu hanya ingin melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.

Sebagai guru, saya mencoba meneladani kasih seorang ibu dalam mendidik murid-murid. Saya percaya bahwa pendidikan sejatinya adalah bentuk kasih sayang. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing, menguatkan, memotivasi, dan mendoakan peserta didiknya agar berhasil. Ketika seorang guru mengajar dengan hati, ia sedang meneladani sifat seorang ibu yang hanya ingin melihat anak-anaknya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah sebabnya guru sering disebut sebagai orang tua kedua di sekolah.

Perjalanan panjang sebagai guru, penulis, blogger, dan narasumber membawa saya bertemu banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam setiap perjalanan, saya selalu menemukan satu kesamaan, yaitu besarnya cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Tidak peduli tinggal di kota besar maupun di pelosok desa, kasih seorang ibu selalu sama. Ia selalu hadir dalam doa, perhatian, pengorbanan, dan keikhlasan yang tidak pernah habis. Semakin sering saya berinteraksi dengan para guru dan orang tua, semakin saya yakin bahwa pendidikan pertama dan utama sesungguhnya dimulai dari rumah, melalui sentuhan kasih seorang ibu.

Kini saya juga telah menjadi seorang kakek. Kehadiran cucu membuat saya semakin memahami bagaimana cinta dalam sebuah keluarga terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saya melihat anak-anak saya berusaha memberikan kasih sayang yang sama kepada cucu saya sebagaimana dahulu saya menerima kasih sayang dari ibu. Di situlah saya menyadari bahwa cinta seorang ibu tidak pernah berhenti. Ia terus hidup melalui nilai-nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya.

Kehidupan modern yang serba cepat sering membuat kita lupa meluangkan waktu bersama orang tua. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya sosok ibu setelah beliau tiada. Penyesalan itu tidak akan mampu mengembalikan waktu. Karena itu, selagi ibu masih ada, jangan pernah menunda untuk membahagiakannya. Luangkan waktu untuk menelepon, mengunjunginya, memeluknya, mendengarkan ceritanya, atau sekadar menemaninya minum teh di sore hari. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali jauh lebih bermakna daripada hadiah yang mahal.

Jika ibu telah dipanggil Allah SWT, jangan pernah berhenti mengirimkan doa. Doa anak yang saleh akan menjadi hadiah terindah bagi orang tua yang telah mendahului kita. Kenangan tentang kasih sayangnya akan tetap hidup sepanjang masa dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup kita. Semakin bertambah usia, saya semakin merasakan bahwa doa ibu adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi nyata pengaruhnya dalam setiap langkah kehidupan.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca untuk kembali menghargai sosok ibu. Jangan menunggu Hari Ibu untuk mengucapkan terima kasih. Jangan menunggu sukses untuk membahagiakannya. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya. Selagi masih ada kesempatan, bahagiakanlah ibu dengan bakti, perhatian, doa, dan kasih sayang. Sebab, sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua.

Akhirnya saya memahami bahwa lirik sederhana yang dahulu sering kami nyanyikan di sekolah ternyata mengandung pelajaran kehidupan yang luar biasa. "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia." Itulah hakikat kasih seorang ibu. Memberi tanpa menghitung. Mencintai tanpa syarat. Berkorban tanpa pamrih. Menguatkan tanpa lelah. Mendoakan tanpa henti. Semoga kita semua menjadi anak-anak yang mampu menghormati, menyayangi, dan membalas kasih ibu dengan bakti terbaik selama hayat masih dikandung badan. Karena sesungguhnya, kasih ibu kepada kita memang tak terhingga sepanjang masa.

Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Guru Paling Ngeblog Kompasiana 
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

Selasa, 07 Juli 2026

Resensi Film Pursuit of Jade

Peringatan: spoiler besar untuk ending Pursuit of Jade (逐玉) di bawah ini.

Serial diadaptasi dari novel Zhu Yu (逐玉) karya Tuan Zi Lai Xi. Secara umum, adaptasi dramanya cukup setia, tetapi bagian akhir dibuat lebih ringkas dan lebih puitis dibanding novel.

Penjelasan ending film/serialnya:

  • Setelah melalui perang panjang, Xie Zheng akhirnya berhasil membongkar dalang sebenarnya di balik pembantaian keluarganya yang terjadi 17 tahun sebelumnya. Konspirasi politik yang selama ini tersembunyi akhirnya terungkap dan para pelaku menerima hukuman.

  • Fan Changyu, yang awalnya hanyalah putri seorang tukang jagal, tumbuh menjadi seorang jenderal yang disegani. Ia tidak hanya menjadi pendamping Xie Zheng, tetapi juga sosok yang ikut menentukan arah masa depan negeri.

  • Xie Zheng menolak dikuasai ambisi politik. Setelah semua dendam terselesaikan, ia memilih mengutamakan kehidupan damai bersama Fan Changyu daripada terus berada di pusat perebutan kekuasaan. Dalam novel, ia kemudian menjadi tokoh penting yang membantu pemerintahan sebagai wali atau penasihat sebelum akhirnya hidup lebih tenang bersama Changyu.

Perbedaan dengan novel

Inilah yang membuat banyak pembaca novel merasa dramanya kurang memberikan penutup yang memuaskan.

Di novel:

  • Xie Zheng dan Fan Changyu menikah secara resmi dengan seluruh prosesi adat, bukan sekadar tersirat.
  • Ada bab-bab tambahan yang memperlihatkan kehidupan rumah tangga mereka setelah perang, hubungan mereka yang semakin romantis, serta nasib tokoh-tokoh pendukung.
  • Bahkan terdapat ending alternatif ("what if") yang membayangkan bagaimana kehidupan mereka jika tragedi 17 tahun sebelumnya tidak pernah terjadi.

Makna adegan terakhir

Adegan terakhir dengan pohon harapan dan pita melambangkan bahwa:

  • dendam telah berakhir,
  • mereka akhirnya bebas menentukan masa depan sendiri,
  • cinta mereka berhasil bertahan melewati perang, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan.

Ending drama sengaja dibuat simbolis dan terbuka, sedangkan novel memberikan penutup yang jauh lebih lengkap, bahagia, dan penuh momen romantis sehingga banyak penggemar menganggap ending novel lebih memuaskan daripada ending dramanya.

omjay jangan bersedih

Jangan Bersedih, Allah Bersama Orang-Orang yang Sabar

Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia, Menemukan Kekuatan dalam Sabar, Tawakal, dan Menulis

Inspirasi pagi pada Selasa, 7 Juli 2026, menghadirkan pesan yang sangat menenangkan hati. Firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 40 mengingatkan, "Dan janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar." Ayat tersebut menjadi penawar bagi siapa saja yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang terbebas dari ujian. Ada yang diuji dengan kesehatan, ekonomi, keluarga, pekerjaan, bahkan ada pula yang diuji dengan perkataan manusia yang menyakitkan hati. Namun, seorang mukmin selalu memiliki tempat kembali, yaitu kepada Allah SWT yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sabar.

Pesan itulah yang selalu menguatkan hati Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang lebih dikenal sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia. Selama puluhan tahun mengabdi sebagai guru, Omjay telah mengalami begitu banyak dinamika kehidupan. Ada masa ketika hasil kerja kerasnya diapresiasi oleh banyak orang, tetapi tidak sedikit pula saat dirinya mendapatkan kritik, cibiran, bahkan diremehkan. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk kepribadiannya hingga menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan.

Omjay menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan di depan kelas. Menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru harus siap menerima perubahan, tantangan, bahkan kritik yang terkadang datang dari orang-orang yang tidak memahami perjuangannya. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, banyak guru merasa cemas akan masa depannya. Namun Omjay memilih jalan yang berbeda. Ia justru menjadikan perubahan sebagai sahabat yang harus dipelajari, bukan musuh yang harus ditakuti. Sikap tersebut lahir dari keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu mengandung kemudahan sebagaimana janji Allah SWT.

Perjalanan menjadi Guru Blogger Indonesia tidak diraih Omjay dalam semalam. Semua dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari. Saat sebagian orang menganggap kegiatan menulis hanyalah pekerjaan sampingan yang tidak menghasilkan apa-apa, Omjay tetap istiqamah menulis. Ia menuliskan pengalaman mengajar, kisah inspiratif, refleksi pendidikan, hingga berbagai motivasi untuk guru dan siswa. Banyak orang bertanya mengapa ia begitu tekun menulis. Jawabannya sederhana, karena menulis adalah ibadah yang dapat menyebarkan manfaat kepada banyak orang. Ketika tulisan mampu menginspirasi seseorang untuk menjadi lebih baik, di situlah seorang penulis memperoleh pahala yang terus mengalir.

Dalam perjalanan tersebut, Omjay pernah mengalami masa-masa sulit. Ada tulisan yang tidak dibaca, artikel yang ditolak media, hingga komentar yang meremehkan kualitas tulisannya. Pada awalnya tentu ada rasa sedih sebagai manusia biasa. Namun setiap kali hatinya mulai goyah, ia kembali mengingat firman Allah, "Dan janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." Ayat itu seolah menjadi energi baru yang menghidupkan semangatnya untuk terus berkarya tanpa harus sibuk membalas perkataan orang lain.

Nasihat Imam Syafi'i yang berbunyi, "Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu," juga menjadi pegangan hidup Omjay. Ia memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jabatan, penghargaan, popularitas, bahkan harta tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan dunia. Yang akan menemani hanyalah amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Oleh karena itu, setiap tulisan yang dibuatnya selalu diniatkan sebagai amal jariyah. Ia berharap setiap ilmu yang dibagikan dapat terus memberikan manfaat meskipun suatu hari nanti dirinya telah tiada.

Pandangan tersebut membuat Omjay tidak mudah silau oleh pujian. Ia juga tidak mudah hancur oleh cacian. Pesan Imam Ghazali yang mengatakan, "Jangan biarkan hatimu mendapat kesenangan karena pujian dari orang lain, kamu akan sedih dengan kecaman mereka suatu hari nanti," benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Ia belajar bahwa manusia memiliki penilaian yang selalu berubah-ubah. Hari ini seseorang dipuji, esok bisa saja dicela. Hari ini seseorang dianggap hebat, besok mungkin dilupakan. Jika kebahagiaan bergantung pada penilaian manusia, maka hidup akan dipenuhi kegelisahan. Karena itulah Omjay memilih menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Ada sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam perjalanan hidupnya. Ketika mengikuti berbagai pelatihan guru, Omjay bertemu dengan banyak pendidik hebat dari seluruh Indonesia. Mereka memiliki semangat yang luar biasa dalam belajar dan berbagi. Namun tidak semua perjalanan berjalan mulus. Ada kalanya usaha yang dilakukan tidak memperoleh hasil sesuai harapan. Ada program yang gagal, ada kegiatan yang sepi peserta, bahkan ada rencana yang harus dibatalkan. Dalam situasi seperti itu, Omjay selalu mengingatkan dirinya bahwa tugas manusia hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil sepenuhnya menjadi hak Allah SWT.

Kebiasaan bertawakal itulah yang membuat Omjay tetap tenang menghadapi berbagai perubahan kebijakan pendidikan. Kurikulum berubah, sistem penilaian berubah, teknologi berkembang sangat cepat, tetapi prinsip hidupnya tidak pernah berubah. Ia terus belajar, terus menulis, terus berbagi, dan terus mendekatkan diri kepada Allah. Baginya, keberhasilan bukanlah ketika memperoleh penghargaan atau menjadi terkenal, melainkan ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi sesama.

Suatu hari seorang guru muda bertanya kepada Omjay tentang rahasia semangatnya yang tidak pernah padam. Dengan senyum hangat ia menjawab bahwa semangat itu berasal dari keyakinan kepada Allah. Ketika seseorang menyandarkan harapannya kepada manusia, maka ia akan sering kecewa. Namun ketika seseorang menggantungkan harapannya kepada Allah, ia akan selalu memiliki alasan untuk bangkit. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang terus berusaha dan berdoa.

Nasihat yang mengatakan, "Jika ada orang yang menjatuhkanmu, bangkitlah karena Allah. Jangan putus asa hanya karena manusia. Jangan menyerah hanya karena urusan dunia, ingat ada Allah. Dia Maha Segalanya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya," benar-benar menjadi cermin perjalanan hidup Omjay. Ia pernah diremehkan, tetapi tetap memilih memperbaiki diri. Ia pernah gagal, tetapi tetap melanjutkan langkah. Ia pernah kecewa, tetapi tidak berhenti berharap kepada Allah. Semua pengalaman itu justru menguatkan mentalnya sebagai seorang pendidik sekaligus penulis.

Bagi Omjay, menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga terapi hati. Ketika hati gelisah, ia menuangkannya dalam tulisan. Ketika memperoleh ilmu baru, ia membagikannya melalui artikel. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia menjadikannya inspirasi, bukan alasan untuk iri. Sikap seperti inilah yang membuatnya terus berkembang hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia yang produktif menghasilkan ribuan tulisan.

Firman Allah dalam Surah Ath-Thalaq yang menyatakan, "Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya," telah berkali-kali terbukti dalam perjalanan hidupnya. Banyak kesempatan baik datang tanpa diduga. Undangan menjadi narasumber, kesempatan menerbitkan buku, hingga bertemu dengan banyak tokoh pendidikan hadir sebagai buah dari kesabaran, kerja keras, doa, dan tawakal kepada Allah. Semua itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa rezeki tidak hanya berupa uang, tetapi juga kesehatan, ilmu yang bermanfaat, sahabat yang baik, keluarga yang mendukung, dan kesempatan untuk terus berkarya.

Omjay juga selalu mengajak para guru agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan zaman. Dunia pendidikan akan terus berubah, tetapi nilai keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan dalam mengajar tidak akan pernah berubah. Guru yang terus belajar akan selalu menemukan jalan. Guru yang terus berbagi akan selalu dikenang. Guru yang terus mendekat kepada Allah akan memperoleh ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Di era kecerdasan buatan saat ini, Omjay mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang menentukan kualitas seorang guru tetaplah hati, akhlak, keteladanan, dan keikhlasan. AI dapat membantu membuat materi pembelajaran, tetapi tidak mampu menggantikan kasih sayang seorang guru kepada muridnya. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi tidak mampu menggantikan ketulusan hati seorang penulis yang ingin memberikan manfaat kepada pembacanya. Oleh sebab itu, setiap guru harus terus meningkatkan kompetensinya sambil menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT.

Menjelang akhir setiap tulisan yang dibuatnya, Omjay selalu mengajak pembaca untuk tidak mudah bersedih menghadapi kehidupan. Kesedihan hanyalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Kegagalan hanyalah pelajaran menuju keberhasilan. Kritik hanyalah sarana untuk memperbaiki diri. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, berarti masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Semoga inspirasi pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada alasan untuk putus asa selama Allah masih menjadi tempat bergantung. Jadikan kesabaran sebagai pakaian, tawakal sebagai kekuatan, doa sebagai senjata, dan menebarkan manfaat sebagai tujuan hidup. Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, maka tidak ada satu pun ujian yang terasa terlalu berat. Sebaliknya, setiap cobaan akan menjadi tangga yang mengangkat derajat seorang hamba di sisi-Nya.

Tetaplah melangkah dengan penuh keyakinan. Teruslah menulis, teruslah belajar, teruslah berbagi, dan teruslah menebarkan kebaikan sebagaimana yang telah dicontohkan Omjay, Guru Blogger Indonesia. Selama Allah bersama orang-orang yang sabar, maka tidak ada perjuangan yang sia-sia dan tidak ada air mata yang terbuang percuma. Semua akan berbuah indah pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 05 Juli 2026

Kisah Omjay: Jangan Pernah Putus Asa Dari Rahmat Allah

Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah

Kisah Omjay Menemukan Cahaya di Balik Setiap Ujian

Ahad pagi selalu menjadi waktu yang indah untuk merenung. Udara masih sejuk, suasana masih tenang, dan hati terasa lebih mudah menerima nasihat. Di pagi seperti inilah Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., biasanya membuka hari dengan membaca Al-Qur'an, berzikir, dan merenungkan makna kehidupan.

Ada satu ayat yang selalu menguatkan langkahnya ketika menghadapi berbagai ujian hidup.

"Janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada putus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)

Ayat tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ayat itu adalah obat bagi hati yang sedang gelisah, penawar bagi jiwa yang sedang lelah, dan pelita bagi siapa saja yang merasa hidupnya berada di jalan buntu.

Omjay memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sebagai seorang guru, penulis, pembicara, sekaligus ayah dalam keluarga, beliau pernah merasakan kegagalan, penolakan, dan kesedihan. Ada tulisan yang tidak dimuat media, ada rencana yang gagal terlaksana, bahkan ada doa yang terasa lama dikabulkan.

Namun setiap kali hati mulai lemah, beliau kembali mengingat firman Allah.

"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Bukan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. Artinya, ketika Allah memberikan ujian, pada saat yang sama Allah juga telah menyiapkan jalan keluarnya. Tugas manusia hanyalah terus berikhtiar, bersabar, dan tidak berhenti berharap kepada-Nya.

Omjay sering mengingatkan para guru yang mengikuti pelatihan menulis agar tidak menyerah hanya karena satu atau dua tulisan ditolak. Seorang penulis hebat bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang selalu bangkit setiap kali mengalami kegagalan.

Begitu pula dalam kehidupan. Tidak ada orang sukses yang jalannya selalu mulus. Semua pernah jatuh. Semua pernah menangis. Semua pernah merasa tidak mampu. Yang membedakan hanyalah cara mereka menyikapi ujian.

Ada yang berhenti di tengah jalan karena putus asa. Ada pula yang terus melangkah karena yakin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.

Omjay memilih menjadi orang yang kedua.

Beliau percaya bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan tidak pernah sia-sia. Ketika mengajar dengan penuh keikhlasan, Allah melihatnya. Ketika menulis untuk menginspirasi orang lain, Allah mencatatnya. Ketika membantu sesama tanpa mengharapkan balasan, Allah telah menyiapkan ganjaran terbaik.

Karena itulah beliau sangat menyukai firman Allah:

"Maka ingatlah kamu kepada-Ku; niscaya Aku ingat pula kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 152)

Betapa indah janji Allah itu. Jika manusia mengingat Allah melalui salat, doa, zikir, membaca Al-Qur'an, dan berbuat baik, maka Allah akan mengingat hamba-Nya dengan kasih sayang, pertolongan, serta keberkahan hidup.

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada diingat oleh Allah.

Omjay juga meyakini bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan pernah berkurang. Justru semakin banyak berbagi, semakin luas manfaat yang dirasakan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Barang siapa yang memberi petunjuk kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi penyemangat Omjay untuk terus menulis setiap hari. Barangkali ada seorang guru yang termotivasi mengajar lebih baik setelah membaca tulisannya. Mungkin ada seorang siswa yang kembali semangat belajar. Bisa jadi ada seorang pembaca yang kembali rajin beribadah karena tersentuh oleh sebuah artikel.

Jika itu terjadi, pahala akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan orang lain.

Inilah investasi terbaik yang tidak pernah merugi.

Dalam kehidupan rumah tangga pun Omjay belajar bahwa jodoh bukan hanya tentang bertemu, melainkan tentang menjaga amanah yang telah Allah titipkan. Banyak pasangan mampu menemukan cinta, tetapi tidak semuanya mampu merawatnya dengan kesabaran, keikhlasan, dan saling memaafkan.

Karena sesungguhnya jodoh telah Allah tetapkan. Yang menjadi tugas manusia adalah menjaga kepercayaan, memperbanyak syukur, dan membangun keluarga yang dipenuhi kasih sayang.

Di sisi lain, Omjay selalu mengingatkan dirinya agar tidak meremehkan dosa sekecil apa pun.

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar manusia tidak melihat kecilnya dosa, tetapi melihat kepada siapa dosa itu dilakukan.

Sering kali manusia merasa aman karena menganggap kesalahan yang diperbuat hanyalah hal sepele. Padahal setitik noda yang dibiarkan terus-menerus dapat menggelapkan hati.

Karena itu, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak istigfar, memperbaiki ibadah, dan memohon ampun kepada Allah.

Omjay percaya bahwa manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang segera bertobat ketika menyadari kesalahannya.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengeluh. Terlalu berharga untuk diisi dengan putus asa. Allah masih memberikan napas, kesehatan, keluarga, sahabat, dan kesempatan berbuat baik. Itu semua adalah tanda bahwa rahmat-Nya masih terbuka lebar.

Mari kita jadikan Ahad ini sebagai awal untuk memperbaiki diri. Perbanyak syukur ketika mendapat nikmat. Bersabar ketika mendapat ujian. Teruslah menebarkan ilmu, senyum, dan manfaat kepada sesama.

Percayalah, tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada air mata yang terbuang percuma. Tidak ada kebaikan yang hilang tanpa balasan.

Selama kita masih menggantungkan harapan kepada Allah, selalu ada alasan untuk bangkit dan melangkah.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya, menguatkan langkah kita dalam setiap ujian, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, menjaga keluarga kita dalam kebaikan, serta menjadikan kita pribadi yang selalu bermanfaat bagi orang lain.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Satu Foto, Satu Kerinduan yang Tak Terlupakan

Satu Foto, Seumur Hidup Kerinduan

Kisah Omjay Mengenang Orang Tua dan Kakak Tercinta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

"Setiap keluarga memiliki album kenangan. Namun ada satu foto yang nilainya jauh melebihi emas. Sebab, ketika sebagian orang di dalamnya telah kembali kepada Allah, foto itu berubah menjadi jendela kerinduan."

Saya memandangi kembali sebuah foto keluarga yang diambil beberapa tahun lalu. Foto itu sederhana. Tidak di studio mewah. Tidak memakai pakaian seragam. Bahkan latar belakangnya hanyalah sebuah tembok biasa. Namun bagi saya, foto itu adalah harta yang tak ternilai.

Di dalam foto itu ada enam bersaudara, anak-anak dari pasangan Achmad Abdullah dan Siti Khodijah. Senyum kami mengembang tanpa menyadari bahwa waktu akan membawa perubahan yang begitu besar. Kini, salah satu senyum itu hanya tinggal kenangan.

Kakak sulung kami, almarhum Dodi Achmad Fadillah, telah lebih dahulu dipanggil Allah Swt.

Setiap kali melihat foto ini, hati saya selalu berkata, "Andai waktu bisa diputar kembali."

Namun saya sadar, hidup tidak pernah berjalan mundur.

Keluarga Sederhana yang Kaya Kasih Sayang

Saya, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Omjay, adalah anak keempat dari enam bersaudara.

Urutan kami adalah:

Almarhum Dodi Achmad Fadillah (anak pertama)

Dwi Setiawaty (anak kedua)

Ata Sukawinata (anak ketiga)

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) (anak keempat)

Nunung Widianingsih (anak kelima)

Anita Yulianita (anak keenam)

Kami terdiri atas tiga laki-laki dan tiga perempuan.

Ayah kami, Achmad Abdullah, adalah seorang PNS di TNI Angkatan Laut. Beliau bukan orang yang banyak bicara. Namun setiap tindakannya mengajarkan arti tanggung jawab. Beliau selalu berangkat bekerja dengan penuh disiplin, seolah ingin menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa rezeki yang halal harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Sementara ibu kami, Siti Khodijah, adalah seorang perawat fisioterapi. Tangan beliau terbiasa membantu orang lain agar kembali sehat. Setelah bekerja seharian, beliau masih sempat memasak, mencuci, menemani kami belajar, bahkan menghibur kami ketika sedih.

Kami bukan keluarga yang bergelimang harta.

Tetapi kami tumbuh dalam limpahan kasih sayang.

Ayah dan ibu tidak pernah memanjakan kami dengan kemewahan. Sebaliknya, mereka mendidik kami agar hidup sederhana, saling menghormati, dan tidak pernah meninggalkan ibadah.

Kini, ketika saya telah menjadi seorang guru dan memiliki keluarga sendiri, saya baru benar-benar memahami betapa berat perjuangan kedua orang tua kami.

Rumah Kecil yang Selalu Ramai

Masa kecil kami penuh cerita.

Kami pernah berebut tempat tidur.

Berebut lauk favorit.

Berebut saluran televisi.

Bahkan kadang berebut siapa yang harus mencuci piring.

Saat itu kami sering mengeluh karena rumah terasa sempit.

Kini justru saya merindukan rumah kecil itu.

Saya rindu suara ayah yang memanggil nama anak-anaknya.

Saya rindu ibu yang sibuk di dapur.

Saya rindu candaan kakak-kakak dan adik-adik yang memenuhi rumah.

Dulu semua terasa biasa.

Sekarang semuanya menjadi luar biasa karena hanya tinggal kenangan.

Kakak Sulung yang Pulang Lebih Dulu

Di antara kami berenam, kakak sulung, Dodi Achmad Fadillah, adalah sosok yang selalu berusaha menjaga adik-adiknya.

Beliau tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir ketika keluarga membutuhkan.

Tak pernah terlintas dalam pikiran kami bahwa beliau akan pergi begitu cepat.

Serangan jantung merenggutnya dari tengah-tengah keluarga.

Hari itu menjadi salah satu hari paling berat dalam hidup kami.

Kami hanya bisa mengiringinya dengan doa dan air mata.

Saya masih sulit mempercayai kenyataan bahwa orang yang selama ini bisa kami telepon, kami datangi, dan kami peluk kini telah terbujur kaku.

Kematian memang selalu datang tanpa mengetuk pintu.

Ia tidak menunggu seseorang selesai menyusun rencana.

Ia tidak menunggu anak-anak selesai membalas jasa orang tua.

Ia datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Satu Liang Lahat, Sejuta Kerinduan

Yang membuat hati kami semakin haru adalah kenyataan bahwa kakak sulung kami dimakamkan di TPU Pondok Malaka, Jakarta Timur, dalam satu liang lahat bersama ayah dan bunda.

Saat berdiri di depan pusara itu, saya merasa seperti sedang melihat kembali perjalanan hidup keluarga kami.

Ayah yang dahulu membimbing kami.

Ibu yang dahulu memeluk kami.

Kini beristirahat berdampingan dengan anak sulung yang begitu mereka cintai.

Tak ada lagi percakapan.

Tak ada lagi tawa.

Yang tersisa hanyalah doa-doa yang terus mengalir dari anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Di situlah saya menyadari bahwa sebesar apa pun cinta kita kepada keluarga, suatu hari nanti semuanya akan kembali kepada Allah.

Warisan yang Tak Pernah Habis

Hari ini kami berenam telah memiliki keluarga masing-masing.

Alhamdulillah, semua anak Achmad Abdullah dan Siti Khodijah telah menikah dan dikaruniai anak.

Kami mungkin tinggal berjauhan.

Kesibukan sering membuat kami tidak bisa berkumpul sesering dulu.

Namun setiap kali bertemu, selalu ada cerita tentang ayah, ibu, dan kakak sulung.

Kami sadar bahwa warisan terbesar yang mereka tinggalkan bukanlah rumah, tanah, atau tabungan.

Warisan terbesar mereka adalah persaudaraan.

Ayah dan ibu mengajarkan bahwa saudara kandung adalah sahabat pertama dalam hidup.

Jangan sampai hubungan itu rusak hanya karena persoalan dunia.

Karena ketika orang tua telah tiada, saudara kandunglah yang akan menjadi tempat berbagi kenangan.

Dari Foto Menjadi Pengingat Kehidupan

Kini foto keluarga itu memiliki makna yang berbeda.

Dulu saya melihatnya sebagai dokumentasi.

Sekarang saya melihatnya sebagai pengingat.

Pengingat bahwa hidup sangat singkat.

Pengingat agar saya lebih sering menghubungi saudara.

Pengingat agar saya lebih mencintai keluarga.

Pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang akan dipanggil Allah lebih dahulu.

Kalau hari ini kita masih bisa memeluk orang tua, lakukanlah.

Kalau hari ini kita masih memiliki saudara, jangan pelit menyapa.

Kalau hari ini masih ada kesempatan meminta maaf, jangan menunggu esok.

Sebab penyesalan selalu datang ketika kesempatan telah pergi.

Sebuah Doa untuk Mereka yang Kami Cintai

Sebagai anak keempat, saya merasa sangat bersyukur pernah dilahirkan di tengah keluarga sederhana yang penuh kasih sayang.

Saya bangga menjadi anak dari Achmad Abdullah dan Siti Khodijah.

Saya bangga memiliki kakak dan adik yang saling menguatkan.

Dan saya bangga pernah memiliki kakak sulung seperti almarhum Dodi Achmad Fadillah.

Semoga Allah Swt. mengampuni segala dosa ayahanda Achmad Abdullah, ibunda Siti Khodijah, dan kakak tercinta Dodi Achmad Fadillah.

Semoga Allah melapangkan kubur mereka, menerangi alam barzakh mereka, menerima seluruh amal ibadah mereka, dan mempertemukan kami kembali di surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Hari ini saya belajar bahwa foto keluarga bukan sekadar gambar. Ia adalah saksi perjalanan hidup, saksi cinta yang tak pernah habis, dan saksi bahwa waktu terus berjalan.

Maka, selama Allah masih memberi kesempatan, peluklah keluarga kita. Ucapkan bahwa kita mencintai mereka. Luangkan waktu untuk berkumpul. Abadikan setiap momen bersama.

Karena kelak, ketika salah satu dari mereka telah lebih dahulu pulang kepada Sang Pencipta, kita akan menyadari bahwa kenangan adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 04 Juli 2026

Merangkai Tulisan Jadi Cuan

Merangkai Tulisan Jadi Cuan di Era AI: Kisah Omjay yang Tak Pernah Berhenti Menulis

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

"Kalau AI bisa menulis, apakah manusia masih perlu belajar menulis?"

Pertanyaan itu sering saya dengar dalam berbagai seminar, pelatihan guru, maupun diskusi di komunitas literasi. Sebagian orang mulai khawatir. Mereka merasa kemampuan menulis akan tergantikan oleh teknologi. Ada pula yang berpikir bahwa tidak perlu lagi belajar merangkai kata karena semuanya bisa dikerjakan oleh AI.

Saya justru memandangnya dari sudut yang berbeda.

AI memang dapat membantu menyusun kalimat, memperbaiki tata bahasa, bahkan membuat draf artikel dalam hitungan detik. Namun, AI tidak memiliki pengalaman hidup, perjuangan, air mata, kegagalan, maupun rasa syukur yang dimiliki manusia. AI dapat membantu merangkai kata, tetapi makna di balik setiap kata tetap lahir dari hati penulis.

Karena itulah saya tetap menulis.

Saya percaya bahwa tulisan yang lahir dari pengalaman nyata akan selalu memiliki tempat di hati pembaca.

Menulis Berawal dari Keberanian

Dulu saya bukan penulis hebat. Saya hanya seorang guru yang ingin berbagi pengalaman kepada sesama guru. Tulisan pertama saya jauh dari kata sempurna. Ada yang mengkritik, ada yang mengoreksi, bahkan ada yang tidak membacanya sama sekali.

Namun saya tidak berhenti.

Saya terus belajar.

Saya membaca buku, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan para penulis senior, lalu kembali menulis. Sedikit demi sedikit kemampuan itu berkembang.

Saya menyadari satu hal.

Orang yang terus menulis akan semakin terampil, sedangkan orang yang hanya menunggu sempurna sering kali tidak pernah menghasilkan karya.

Tulisan yang Mengubah Kehidupan

Seiring waktu, tulisan-tulisan saya mulai dikenal. Saya aktif menulis di blog, media daring, dan berbagai platform literasi. Dari situlah banyak pintu rezeki terbuka.

Saya diundang menjadi narasumber, mengisi pelatihan guru, menjadi mentor menulis, menerbitkan buku, hingga menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas pendidikan.

Saya belajar bahwa tulisan bukan hanya kumpulan kata. Tulisan adalah investasi yang terus bekerja bahkan ketika penulisnya sedang beristirahat.

Satu artikel yang kita tulis hari ini bisa dibaca ribuan orang beberapa tahun kemudian. Satu buku yang diterbitkan hari ini bisa menginspirasi generasi berikutnya.

Inilah kekuatan menulis.

AI Bukan Musuh Penulis

Banyak orang takut AI akan mengambil pekerjaan penulis.

Menurut saya, ketakutan itu muncul karena kita belum memahami cara memanfaatkannya.

AI bukan pengganti manusia. AI adalah alat bantu.

Saya menggunakan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, memeriksa ejaan, atau menemukan sudut pandang baru. Namun isi tulisan tetap saya lengkapi dengan pengalaman pribadi, nilai-nilai pendidikan, dan kisah nyata yang saya alami.

Justru dengan bantuan AI, proses menulis menjadi lebih cepat sehingga saya memiliki lebih banyak waktu untuk membaca, berdiskusi, dan memperkaya wawasan.

Teknologi akan menjadi sahabat jika digunakan dengan bijak.

Merangkai Kata Menjadi Cuan

Banyak orang bertanya kepada saya, "Apakah menulis bisa menghasilkan uang?"

Jawabannya tentu bisa.

Artikel dapat menghasilkan honor ketika dimuat di media. Buku dapat memberikan royalti. Pelatihan menulis membuka peluang menjadi narasumber. Blog dapat dimonetisasi. Konten media sosial yang berkualitas dapat menghadirkan kerja sama dengan berbagai pihak.

Bahkan, kemampuan menulis juga sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, bisnis, pemasaran, dan komunikasi.

Yang terpenting adalah membangun kepercayaan.

Ketika orang mengenal kualitas tulisan kita, mereka akan datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk belajar dan bekerja sama.

Menulis Adalah Personal Branding

Saya sering mengatakan kepada para guru bahwa menulis adalah cara terbaik memperkenalkan diri kepada dunia.

Tidak semua orang dapat bertemu langsung dengan kita.

Namun tulisan dapat menjangkau pembaca dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara.

Tulisan menjadi duta yang memperkenalkan siapa diri kita, apa nilai yang kita perjuangkan, dan bagaimana kita ingin memberikan manfaat kepada sesama.

Semakin banyak karya yang bermanfaat, semakin kuat pula kepercayaan masyarakat kepada kita.

Jangan Takut Memulai

Kesalahan terbesar bukanlah tulisan yang kurang bagus.

Kesalahan terbesar adalah tidak pernah mulai menulis.

Tulislah pengalaman mengajar.

Tulislah perjalanan hidup.

Tulislah kegagalan yang pernah dialami.

Tulislah keberhasilan yang dapat menjadi inspirasi.

Tidak ada pengalaman yang terlalu sederhana jika mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Konsistensi Mengalahkan Bakat

Selama bertahun-tahun saya belajar bahwa keberhasilan seorang penulis lebih banyak ditentukan oleh konsistensi daripada bakat.

Menulis satu halaman setiap hari akan menghasilkan ratusan halaman dalam setahun.

Menulis satu artikel setiap minggu akan menghasilkan puluhan artikel dalam setahun.

Sedikit demi sedikit, karya akan terkumpul menjadi buku, modul, bahan pelatihan, atau konten digital yang bernilai ekonomi.

Warisan Terindah

Harta bisa habis.

Jabatan bisa berakhir.

Popularitas bisa memudar.

Namun tulisan akan terus hidup selama masih ada yang membacanya.

Itulah sebabnya saya selalu mengajak para guru untuk menulis.

Guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran melalui karya tulis.

Ketika suatu hari kita tidak lagi berdiri di depan kelas, tulisan-tulisan kita masih akan mengajar banyak orang.

Penutup

Era AI bukanlah akhir dari dunia menulis. Sebaliknya, era ini menjadi kesempatan besar bagi siapa saja yang mau belajar, beradaptasi, dan terus berkarya.

AI dapat membantu mempercepat proses, tetapi hanya manusialah yang mampu menghadirkan empati, pengalaman, nilai, dan kebijaksanaan dalam setiap tulisan.

Mari jadikan AI sebagai mitra, bukan pesaing.

Mari terus membaca agar wawasan semakin luas.

Mari terus menulis agar ilmu semakin bermanfaat.

Dan mari terus berkarya agar setiap rangkaian kata tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menjadi sumber rezeki yang halal, berkah, dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Karena pada akhirnya, tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati para pembaca—dan dari sanalah, insyaallah, cuan akan mengikuti sebagai buah dari karya yang tulus dan konsisten.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com