Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Sabtu, 07 November 2026
Ngrobol Santai Bareng Omjay dan Tim Solid Omjay
Selamat HUT PGRI
Semarak HUT ke-81 PGRI: Guru Bukan Hanya Mengajar, tetapi Juga Berkarya, Berolahraga, dan Menjaga Solidaritas
Oleh: Omjay – Guru Blogger Indonesia
Ada banyak cara untuk memperingati Hari Ulang Tahun Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Salah satunya adalah melalui kegiatan seni dan olahraga. Sebab, guru bukan hanya manusia yang setiap hari berdiri di depan kelas, menyampaikan materi pelajaran, dan memberikan tugas kepada murid. Guru juga manusia biasa yang membutuhkan kebahagiaan, kesehatan, persahabatan, dan ruang untuk mengembangkan bakatnya.
Tahun 2026 menjadi tahun yang istimewa bagi keluarga besar PGRI. Organisasi profesi guru yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia ini memasuki usia ke-81 tahun. Sebuah perjalanan panjang yang penuh perjuangan, pengabdian, dan pengorbanan para guru di seluruh penjuru negeri.
Dalam rangka memperingati HUT ke-81 PGRI sekaligus Hari Guru Nasional Tahun 2026, PGRI Kabupaten Gorontalo menggelar kegiatan lomba seni dan olahraga. Kegiatan ini mengangkat tema:
"Solidaritas Guru Berkualitas Menuju Indonesia Unggul dan Berdaulat."
Tema tersebut mengandung pesan yang sangat mendalam. Guru harus terus menjaga persatuan, meningkatkan kualitas diri, dan memperkuat semangat kebersamaan demi kemajuan pendidikan Indonesia.
Guru Juga Butuh Bahagia
Selama ini, masyarakat mengenal guru sebagai sosok yang selalu sibuk dengan pekerjaan. Mulai dari mempersiapkan pembelajaran, mengajar di kelas, memeriksa tugas, mengisi administrasi, hingga mengikuti berbagai kegiatan pengembangan kompetensi.
Kesibukan tersebut terkadang membuat guru lupa memperhatikan dirinya sendiri.
Padahal, guru yang sehat dan bahagia akan lebih bersemangat dalam mendidik murid-muridnya. Guru yang memiliki tubuh bugar dan pikiran segar tentu lebih siap menghadapi berbagai tantangan pendidikan.
Karena itulah, kegiatan seni dan olahraga dalam rangka HUT PGRI menjadi sangat penting.
Melalui kegiatan ini, guru bisa bertemu dengan rekan-rekan sejawat, tertawa bersama, menunjukkan kemampuan, dan menikmati kebersamaan di luar rutinitas sekolah.
Guru yang biasanya serius mengajar matematika, bahasa Indonesia, IPA, atau informatika, kali ini bisa menunjukkan bakatnya dalam bidang seni maupun olahraga.
Bukankah menyenangkan jika guru yang setiap hari mengajar ternyata juga pandai bernyanyi, bermain sepak bola, bermain catur, atau bermain tenis meja?
Beragam Lomba untuk Mempererat Persaudaraan
Dari poster kegiatan yang dibagikan, terdapat sejumlah cabang lomba seni dan olahraga yang menarik.
Dalam bidang seni, ada lomba vokalia dan sambung lirik. Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada para guru untuk menunjukkan kemampuan bernyanyi sekaligus mengembangkan kreativitas.
Sementara itu, dalam bidang olahraga terdapat beberapa cabang yang tidak kalah menarik, yaitu:
- Sepak bola, untuk membangun kekompakan dan kerja sama tim.
- Bola voli, untuk melatih semangat kebersamaan dan sportivitas.
- Catur, untuk mengasah konsentrasi, kesabaran, dan strategi.
- Tenis meja, untuk meningkatkan kelincahan dan kebugaran.
- Lomba vokalia dan sambung lirik, untuk menyalurkan bakat seni dan kreativitas para guru.
Setiap cabang lomba memiliki keunikan tersendiri. Ada yang membutuhkan kekuatan fisik, ada yang membutuhkan kecerdasan berpikir, dan ada pula yang membutuhkan keberanian untuk tampil di hadapan orang banyak.
Namun, tujuan utamanya bukan sekadar mendapatkan piala atau menjadi juara.
Ada sesuatu yang jauh lebih berharga, yaitu persaudaraan sesama guru.
PGRI Harus Terus Menjadi Rumah Besar Guru
Bagi saya, PGRI bukan sekadar organisasi profesi. PGRI adalah rumah besar tempat para guru belajar, berjuang, berbagi pengalaman, dan memperjuangkan masa depan pendidikan Indonesia.
Kita boleh berbeda sekolah, berbeda daerah, berbeda mata pelajaran, bahkan berbeda pengalaman mengajar. Namun, kita memiliki tujuan yang sama, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa.
Usia 81 tahun merupakan perjalanan panjang yang patut kita syukuri. Perjuangan para pendahulu PGRI harus terus dilanjutkan oleh generasi guru masa kini.
Tantangan pendidikan semakin kompleks. Perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, perubahan kurikulum, dan tuntutan kompetensi abad ke-21 mengharuskan guru terus belajar dan beradaptasi.
Namun, secanggih apa pun teknologi pendidikan, sentuhan hati seorang guru tidak boleh hilang.
Guru tetap memiliki peran penting dalam membangun karakter, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan memberikan keteladanan kepada peserta didik.
Karena itu, solidaritas guru harus terus diperkuat. Jangan sampai perbedaan pendapat membuat kita saling menjauh. Sebaliknya, perbedaan harus menjadi kekuatan untuk saling melengkapi.
Jangan Hanya Mengejar Prestasi, Nikmati Kebersamaan
Ada satu hal yang ingin saya sampaikan kepada seluruh peserta lomba seni dan olahraga HUT ke-81 PGRI.
Berlombalah dengan gembira. Tunjukkan kemampuan terbaik. Junjung tinggi sportivitas dan jangan lupa menjaga persaudaraan.
Jika menang, jangan menjadi sombong. Jika belum berhasil menjadi juara, jangan berkecil hati. Sebab, kemenangan yang sesungguhnya bukan hanya mendapatkan medali atau piala, melainkan mampu menjaga persahabatan dan kekompakan.
Jangan sampai setelah pertandingan selesai, hubungan sesama guru justru menjadi renggang karena persoalan menang dan kalah.
Mari kita jadikan kegiatan ini sebagai ajang silaturahmi, rekreasi, dan penyegaran pikiran.
Guru juga perlu tertawa. Guru juga perlu bernyanyi. Guru juga perlu berolahraga. Guru juga perlu menikmati kehidupan.
Dengan tubuh yang sehat, hati yang bahagia, dan persaudaraan yang kuat, kita akan semakin siap menjalankan tugas mulia sebagai pendidik.
Selamat HUT ke-81 PGRI dan Hari Guru Nasional 2026
Saya mengucapkan selamat memperingati HUT ke-81 PGRI dan Hari Guru Nasional Tahun 2026 kepada seluruh guru Indonesia, khususnya keluarga besar PGRI Kabupaten Gorontalo.
Semoga kegiatan lomba seni dan olahraga ini berjalan lancar, meriah, dan memberikan kebahagiaan bagi seluruh peserta.
Mari terus menjaga solidaritas, meningkatkan kompetensi, dan memperjuangkan kesejahteraan guru.
Jangan pernah lelah menjadi guru. Jangan pernah berhenti belajar. Jangan pernah berhenti menginspirasi.
Sebab, dari tangan para guru lahir generasi penerus bangsa. Dari ketulusan para pendidik tumbuh harapan bagi masa depan Indonesia.
Guru kuat, PGRI hebat. Guru sehat, Indonesia bermartabat.
Salam solidaritas!
Hidup Guru! Hidup PGRI! Solidaritas Yes!
kisah Omjay: Ikut Senam Ling Tien Kung Membuaku Kembali Bersemangat
Kisah Omjay Menulis di Blog dan Menerbitkan Buku Bermutu
Dari Blog Pribadi Menjadi Buku Sendiri, Omjay Mengajak Guru KBMN PGRI Gelombang 35 Naik Kelas Menjadi Penulis
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Sabtu pagi, 7 November 2026, sebelum matahari terbit, Omjay sudah mulai menulis dan berbagi ilmu. Ada satu harapan besar yang ingin Omjay wujudkan bersama peserta KBMN PGRI Gelombang 35. Semoga ada 16 orang guru yang mulai serius menulis dan mengelola blog pribadinya dengan baik.
Harapan itu bukan sekadar angan-angan. Omjay ingin melihat semakin banyak guru yang mampu mengubah kebiasaan menulis menjadi sebuah karya nyata berupa buku. Sebab, menulis di blog bukan hanya kegiatan mengisi waktu luang. Blog bisa menjadi tempat menyimpan pengalaman, gagasan, pemikiran, dan perjalanan hidup yang suatu hari nanti dapat dikumpulkan menjadi sebuah buku.
Pada materi hari keenam KBMN PGRI Gelombang 35, Omjay mengangkat tema "Bagaimana Cara Menyusun Tulisan di Blog Pribadi Menjadi Buku Sendiri?"
Materi ini sangat penting karena banyak guru sebenarnya sudah memiliki bahan untuk membuat buku. Mereka sudah menulis puluhan artikel, tetapi belum terpikir untuk mengumpulkannya menjadi sebuah naskah buku yang utuh.
Padahal, caranya tidak terlalu sulit. Kita hanya perlu mengumpulkan tulisan, memilih tema, menyusun daftar isi, mengedit naskah, membuat sampul, kemudian menerbitkannya.
Blog adalah ladang tulisan, buku adalah hasil panennya
Omjay selalu mengajak peserta KBMN PGRI untuk rajin menulis setiap hari. Salah satu tempat terbaik untuk menyimpan tulisan adalah blog pribadi.
Omjay sendiri sudah menulis secara rutin di blog wijayalabs.blogspot.com. Dari kebiasaan tersebut, Omjay bisa mengumpulkan tulisan setiap bulan dan mengolahnya menjadi buku.
Ada buku yang diterbitkan dengan ISBN dan ada pula yang diterbitkan tanpa ISBN. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan Omjay dalam mengembangkan budaya literasi.
Omjay ingin peserta KBMN PGRI Gelombang 35 merasakan pengalaman yang sama. Jangan sampai tulisan yang sudah dibuat dengan susah payah hanya menjadi arsip digital yang jarang dibaca kembali.
Mulailah membuka blog pribadi. Periksa tulisan yang pernah diterbitkan. Pilih sepuluh tulisan terbaik, kemudian kelompokkan berdasarkan tema.
Tulisan tentang pengalaman mengajar bisa menjadi buku kisah inspiratif guru. Tulisan tentang literasi bisa menjadi buku tentang membaca dan menulis. Tulisan tentang teknologi bisa dikembangkan menjadi buku pendidikan digital.
Dengan sedikit kesabaran dan ketekunan, tulisan yang awalnya berdiri sendiri bisa menjelma menjadi sebuah buku yang menarik.
Dari blog peserta KBMN PGRI lahir dua rancangan sampul buku
Ada pengalaman menarik dalam pembelajaran kali ini. Omjay memperlihatkan dua contoh sampul buku yang dibuat berdasarkan alamat blog peserta KBMN PGRI Gelombang 35.
Dua peserta tersebut adalah Pak Putune Watalam dan Ibu Leny Vitriasari.
Hanya dalam hitungan detik, dengan bantuan aplikasi ChatGPT.com, rancangan sampul depan buku mereka berhasil dibuat.
Tentu saja, sampul buku yang menarik belum cukup. Isi buku tetap harus dilengkapi dengan tulisan-tulisan yang berkualitas. Namun, setidaknya contoh tersebut membuktikan bahwa teknologi AI dapat membantu guru memulai perjalanan menerbitkan buku.
Omjay ingin peserta tidak hanya kagum melihat sampul buku yang bagus. Lebih penting lagi, mereka harus mulai mengisi buku tersebut dengan tulisan sendiri.
Sampul bisa dibuat dengan bantuan teknologi. Akan tetapi, pengalaman, pemikiran, dan cerita yang menjadi isi buku harus berasal dari penulisnya.
Berani menerbitkan buku dan belajar mendapatkan penghasilan
Omjay juga berbagi pengalaman tentang bagaimana buku dapat memberikan nilai ekonomi.
Salah satu buku yang Omjay jual dihargai Rp70.000 per eksemplar. Modal produksinya sekitar Rp50.000. Dengan demikian, ada selisih Rp20.000 dari setiap buku yang terjual.
Jika rata-rata terjual sepuluh buku, Omjay bisa memperoleh selisih sebesar Rp200.000.
Alhamdulillah, dari kebiasaan menulis dan menerbitkan buku, Omjay mendapatkan pengalaman sekaligus tambahan penghasilan.
Bagi Omjay, keuntungan tersebut bukanlah satu-satunya tujuan. Ada kebahagiaan tersendiri ketika melihat tulisan sendiri sudah menjadi buku dan bisa dibaca orang lain.
Dalam proses penerbitan, Omjay juga mengenal Penerbit YPTD yang memberikan kesempatan kepada penulis untuk menerbitkan buku secara gratis sesuai ketentuan yang berlaku.
Bagi teman-teman yang ingin menerbitkan buku ber-ISBN, Omjay menyarankan agar mempelajari proses dan persyaratannya serta dapat menghubungi Pak Haji Thamrin Dahlan. Beliau adalah seorang purnawirawan polisi berpangkat Komisaris Besar (Kombes) yang selama ini banyak membantu Omjay dalam perjalanan menerbitkan buku ber-ISBN.
Tentu saja, setiap penulis perlu memahami ketentuan penerbitan, hak cipta, biaya, dan fasilitas yang diberikan oleh penerbit.
ChatGPT bisa menjadi teman berdiskusi dan editor buku
Dalam kesempatan tersebut, Omjay juga menjelaskan bahwa perkembangan teknologi AI dapat dimanfaatkan untuk membantu proses penyusunan buku.
Kita bisa meminta bantuan ChatGPT untuk menyusun alternatif judul buku, membuat daftar isi, mengelompokkan artikel berdasarkan tema, memperbaiki ejaan, dan memberikan saran penyuntingan.
Bahkan, ChatGPT dapat diminta membantu menjadi editor awal agar tulisan lebih runtut dan enak dibaca.
Namun, Omjay selalu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat bantu.
Jangan sampai kita kehilangan suara dan karakter sebagai penulis. Jangan pula memasukkan pengalaman yang sebenarnya tidak pernah kita alami.
Guru memiliki pengalaman nyata yang tidak bisa digantikan oleh mesin. Ada kisah tentang murid, perjuangan mengajar, kegagalan, keberhasilan, dan berbagai peristiwa kehidupan yang memiliki nilai kemanusiaan.
Karena itu, gunakan AI dengan bijak. Biarkan teknologi membantu pekerjaan kita, tetapi jangan menyerahkan seluruh pemikiran dan tanggung jawab kepenulisan kepada AI.
Omjay percaya bahwa tulisan yang lahir dari pengalaman dan hati akan memiliki kekuatan tersendiri.
Malam ini ngobrol santai bersama Omjay dan Tim Solid Omjay
Setelah menyampaikan materi hari keenam, Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 untuk mengikuti kegiatan lanjutan melalui Zoom Meeting.
Pada Sabtu malam, 7 November 2026, pukul 19.30 WIB, Omjay akan menjelaskan secara langsung tentang bagaimana mengelola blog pribadi dan menyusun tulisan menjadi sebuah buku.
Kegiatan ini akan berlangsung dalam suasana santai bersama Omjay dan Tim Solid Omjay (TSO).
Omjay ingin peserta tidak hanya membaca materi, tetapi juga melihat langsung proses dan praktiknya. Kalau ada yang belum memahami cara membuat daftar isi, mengedit tulisan, atau menyiapkan sampul buku, semuanya bisa dibicarakan bersama.
Belajar menulis memang membutuhkan proses. Kadang kita merasa malas, bingung menentukan judul, atau tidak tahu harus memulai dari mana. Namun, jika kita mau bertanya dan terus berlatih, perlahan-lahan kemampuan menulis akan berkembang.
Jangan biarkan tulisan kita hanya menjadi arsip digital
Ada satu pesan yang ingin Omjay sampaikan kepada seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35.
Jangan hanya menjadi peserta kelas menulis yang rajin membaca materi. Jadilah penulis yang menghasilkan karya.
Mulailah dari blog pribadi. Tulislah pengalaman setiap hari. Kumpulkan tulisan terbaik. Susun menjadi sebuah buku. Tidak perlu menunggu sampai memiliki seratus artikel. Sepuluh tulisan yang disusun dengan baik pun bisa menjadi awal perjalanan menerbitkan buku.
Omjay berharap dari kegiatan ini akan muncul sedikitnya 16 guru yang semakin serius menulis dan mengelola blognya. Semoga harapan tersebut menjadi kenyataan.
Aamiin ya rabbal alamin.
Bagi Omjay, kebahagiaan seorang guru bukan hanya ketika berhasil mengajar murid di ruang kelas. Kebahagiaan juga hadir ketika ilmu dan pengalaman yang dimilikinya dapat dibagikan kepada banyak orang melalui tulisan.
Mari kita buktikan bahwa guru bukan hanya mampu mengajar, tetapi juga mampu menulis, menerbitkan buku, dan menginspirasi sesama.
Blog adalah tempat kita menanam tulisan. Buku adalah tempat kita memanen karya.
Teruslah menulis, teruslah belajar, dan jangan pernah berhenti berkarya.
Salam blogger persahabatan.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay Guru Blogger Indonesia
Founder KBMN PGRI
Jumat, 06 November 2026
Bagaimana Cara Menyusun Tulisan di Blog Pribadi Menjadi Buku Sendiri?
kisah Omjay: uang banyak buat apa?
UANG BANYAK BUAT APA? BUAT TRAKTIR PESERTA KBMN PGRI GELombang 35!
Uang banyak buat apa?
Buat membeli kebahagiaan? Bisa jadi. Buat membeli mobil mewah? Boleh saja. Buat membeli rumah megah? Tentu tidak ada yang melarang.
Namun, bagi Omjay, ada kebahagiaan yang jauh lebih sederhana dan bermakna. Uang yang kita miliki akan terasa lebih indah ketika digunakan untuk berbagi dengan orang lain.
Kali ini, Omjay ingin mentraktir peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang rajin menulis di blog pribadi dan berhasil menerbitkan bukunya.
Mengapa mereka?
Karena Omjay ingin memberikan apresiasi kepada teman-teman yang tidak pernah menyerah untuk belajar menulis. Mereka yang setiap hari berusaha meluangkan waktu untuk menuangkan gagasan, pengalaman, dan pemikirannya ke dalam tulisan.
Tidak mudah menjadi penulis yang konsisten. Ada rasa malas, kesibukan pekerjaan, kehabisan ide, bahkan rasa tidak percaya diri. Namun, mereka terus berjuang sampai akhirnya berhasil menerbitkan buku.
Bagi Omjay, keberhasilan itu pantas dirayakan.
Omjay ingin menunjukkan bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan kata-kata. Menulis adalah perjalanan panjang untuk meninggalkan jejak kebaikan dan menginspirasi orang lain.
Kalau ada rezeki lebih, mengapa tidak dibagikan? Kalau ada kesempatan membahagiakan orang lain, mengapa harus ditunda?
Semoga traktiran sederhana ini menjadi penyemangat bagi peserta KBMN PGRI Gelombang 35 untuk terus berkarya.
Ingatlah, kita tidak harus menjadi orang kaya untuk bisa berbagi. Kita hanya perlu memiliki hati yang mau peduli.
Teruslah menulis, terbitkan bukumu, dan sebarkan inspirasi.
Salam Blogger Persahabatan.
Omjay Guru Blogger Indonesia Founder KBMN PGRI
sepatu baru omjay