Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 05 Juni 2026

kaidah pantun

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34

Pertemuan ke-20: Kaidah Pantun

Informasi Kegiatan

Tema: Kaidah Pantun
Program: Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34
Pertemuan: Ke-20
Hari/Tanggal: Jumat, 5 Juni 2026
Waktu: Pukul 19.00 WIB
Tempat: Daring melalui Grup WhatsApp KBMN
Moderator: Lely Suryani, S.Pd. SD
Narasumber: Miftahul Hadi, S.Pd.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran menulis yang diselenggarakan oleh komunitas KBMN PGRI bekerja sama dengan KSGN (Komunitas Sejuta Guru Ngeblog) dan Melintas.id. Pertemuan ke-20 mengangkat tema yang sangat menarik dan dekat dengan budaya bangsa Indonesia, yaitu Kaidah Pantun.


Mengapa Belajar Pantun Penting?

Pantun merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, tetapi mengandung nilai pendidikan, moral, nasihat, humor, bahkan kritik sosial yang disampaikan secara santun.

Di era digital saat ini, kemampuan membuat pantun menjadi semakin menarik karena:

  • Melatih kreativitas berbahasa.
  • Mengasah kemampuan memilih kata.
  • Meningkatkan keterampilan menulis.
  • Melestarikan budaya bangsa.
  • Menjadi media komunikasi yang menyenangkan.
  • Membantu guru membuat pembelajaran lebih menarik.

Tidak heran jika pantun kini sering digunakan dalam pidato, presentasi, pembelajaran, media sosial, hingga acara resmi pemerintahan.


Materi yang Akan Dipelajari

Peserta KBMN akan diajak memahami berbagai aspek penting dalam penulisan pantun, antara lain:

1. Pengertian Pantun

Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait dengan pola rima tertentu dan memiliki sampiran serta isi.

2. Struktur Pantun

Pantun memiliki dua bagian utama:

Sampiran

  • Baris pertama dan kedua.
  • Berfungsi sebagai pengantar.

Isi

  • Baris ketiga dan keempat.
  • Berisi pesan utama.

Contoh:

Pergi ke pasar membeli ikan,
Ikan dibeli bersama ketan.
Rajin belajar sepanjang zaman,
Agar sukses di masa depan.

Dua baris pertama adalah sampiran, sedangkan dua baris terakhir adalah isi.

3. Ciri-Ciri Pantun

  • Terdiri dari empat baris.
  • Setiap baris 8–12 suku kata.
  • Bersajak a-b-a-b.
  • Memiliki sampiran dan isi.
  • Mengandung pesan tertentu.

4. Jenis-Jenis Pantun

  • Pantun Nasihat
  • Pantun Pendidikan
  • Pantun Agama
  • Pantun Jenaka
  • Pantun Cinta
  • Pantun Persahabatan
  • Pantun Anak-anak

5. Teknik Membuat Pantun

Peserta akan belajar:

  • Menentukan tema.
  • Menulis isi terlebih dahulu.
  • Membuat sampiran yang sesuai.
  • Menyesuaikan rima.
  • Memastikan jumlah suku kata seimbang.

Mengenal Narasumber

Miftahul Hadi

Beliau dikenal sebagai pendidik yang aktif dalam dunia literasi dan kepenulisan. Pengalamannya dalam mengembangkan budaya menulis menjadi modal penting untuk membimbing peserta memahami teknik menulis pantun yang baik dan benar.

Melalui materi ini peserta tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga praktik langsung membuat pantun yang menarik dan bermakna.


Peran Moderator

Lely Suryani

Sebagai moderator, beliau akan memandu jalannya diskusi sehingga kegiatan berlangsung interaktif, tertib, dan menyenangkan. Peserta dapat bertanya langsung seputar kesulitan membuat pantun maupun penerapannya dalam pembelajaran.


Manfaat bagi Guru dan Penulis

Bagi guru, materi pantun sangat bermanfaat untuk:

  • Membuat pembelajaran Bahasa Indonesia lebih kreatif.
  • Mengembangkan literasi siswa.
  • Menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
  • Menjadi media pembelajaran karakter.
  • Mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Bagi penulis, pantun melatih kepekaan bahasa, ketelitian memilih diksi, serta kemampuan menyampaikan pesan secara singkat namun berkesan.


Pesan untuk Peserta KBMN

KBMN bukan sekadar tempat belajar menulis, tetapi wadah bertumbuh bagi para guru, penulis, dan pegiat literasi dari seluruh Indonesia. Setiap pertemuan menghadirkan ilmu baru yang dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana sering disampaikan oleh Omjay, Guru Blogger Indonesia:

"Menulis adalah keterampilan yang akan semakin tajam jika terus diasah. Pantun mengajarkan kita memilih kata dengan cermat, menyusun pesan dengan indah, dan menyampaikan makna dengan cara yang menyenangkan."

Maka jangan lewatkan pertemuan ke-20 KBMN PGRI Gelombang 34 ini. Mari belajar bersama, melestarikan budaya bangsa, dan mengembangkan kemampuan menulis melalui seni berpantun.

Pantun Penutup

Jalan-jalan ke Kota Blitar,
Jangan lupa membeli ketan.
Mari belajar menulis pintar,
Dengan pantun yang penuh pesan.

Salam literasi.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Judul Buku: Labschool Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Penerbit: Labschool UNJ
Tebal: 190 halaman
Genre: Pendidikan, Inspirasi, Memoar Pendidikan

Ketika Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar

Ada banyak buku tentang pendidikan yang berbicara mengenai kurikulum, metode pembelajaran, atau teori pendidikan. Namun, buku Labschool Rumah Keduaku karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay menghadirkan sesuatu yang berbeda. Buku ini tidak hanya membahas pendidikan sebagai sebuah sistem, tetapi menghadirkan pendidikan sebagai pengalaman hidup yang penuh makna.

Sejak membaca halaman-halaman awal buku ini, pembaca akan langsung merasakan kedekatan emosional penulis dengan Labschool. Bagi Omjay, Labschool bukan sekadar tempat bekerja selama puluhan tahun, melainkan rumah kedua yang telah membentuk dirinya sebagai pendidik, penulis, sekaligus manusia yang terus belajar sepanjang hayat.

Kalimat yang menjadi ruh buku ini sangat kuat:

"Di Labschool, kita tidak hanya belajar untuk hidup, tetapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan penuh makna."

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar terasa dalam setiap bab buku.

Mengangkat Wajah Humanis Pendidikan

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilannya menggambarkan sekolah sebagai rumah kedua. Di tengah dunia pendidikan yang sering kali terjebak pada angka, ranking, dan capaian akademik, Omjay mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang memanusiakan manusia.

Melalui pengalaman pribadinya selama lebih dari tiga dekade mengabdi di SMP Labschool Jakarta, penulis menunjukkan bahwa hubungan guru dan siswa tidak boleh berhenti pada aktivitas mengajar dan belajar saja. Guru adalah pembimbing, sahabat, bahkan orang tua kedua bagi peserta didik.

Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari tumbuhnya karakter, empati, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar dalam diri siswa. Pesan ini terasa sangat relevan di era digital ketika banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses.

Kaya Kisah dan Pengalaman Nyata

Tidak seperti buku pendidikan yang cenderung teoritis, Labschool Rumah Keduaku dipenuhi kisah nyata yang hangat dan membumi.

Penulis menghadirkan berbagai pengalaman tentang:

  • Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)
  • Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa)
  • Studi Apresiasi Kepemimpinan Siswa (SAKSI)
  • SALAM (Studi Amaliah Islam)
  • Pentas Seni
  • Kegiatan ekstrakurikuler
  • Hubungan guru, siswa, dan alumni

Yang menarik, Omjay tidak hanya menuliskan pandangannya sebagai guru. Ia juga menyisipkan tulisan para siswa Labschool yang menceritakan pengalaman mereka tentang sekolah sebagai rumah kedua.

Pendekatan ini membuat buku terasa hidup karena pembaca dapat melihat Labschool dari berbagai sudut pandang.

Kisah-kisah sederhana yang ditampilkan justru menjadi kekuatan terbesar buku ini. Pembaca diajak mengenang masa sekolahnya sendiri, mengingat guru-guru yang pernah membimbingnya, serta menyadari bahwa kenangan sekolah sering kali menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidup seseorang.

Menampilkan Filosofi Pendidikan Labschool

Buku ini juga memberikan gambaran mendalam mengenai sejarah dan filosofi Labschool sebagai sekolah laboratorium yang lahir dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Salah satu bagian yang sangat menarik adalah pembahasan mengenai motto Labschool:

Iman – Ilmu – Amal.

Menurut penulis, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi utama pendidikan Labschool:

  • Iman membangun karakter dan moral.
  • Ilmu membentuk kecerdasan dan kemampuan berpikir.
  • Amal mengajarkan pentingnya memberi manfaat bagi sesama.

Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyeimbangkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial.

Di tengah maraknya pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik, filosofi ini terasa sangat relevan dan dibutuhkan.

Relevan dengan Tantangan Zaman

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan mengenai Labschool di era digital. Penulis menjelaskan bagaimana sekolah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Omjay menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Sentuhan manusia tetap menjadi inti pendidikan.

Pandangan ini sangat penting di era kecerdasan buatan (AI), ketika banyak proses pembelajaran mulai didukung teknologi. Buku ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan hati, keteladanan, dan hubungan antarmanusia.

Kelebihan Buku

Beberapa kelebihan buku ini antara lain:

1. Bahasa sederhana dan komunikatif

Penulis menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh guru, siswa, orang tua, maupun masyarakat umum.

2. Penuh inspirasi

Setiap bab menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bahan refleksi.

3. Kaya pengalaman nyata

Isi buku berasal dari pengalaman langsung penulis selama puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan.

4. Dokumentasi sejarah yang berharga

Buku ini menjadi catatan penting perjalanan Labschool dan budaya pendidikan yang dibangun di dalamnya.

5. Menghidupkan kembali makna sekolah

Pembaca diajak melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Kekurangan Buku

Sebagai karya yang sangat personal, beberapa bagian buku terasa lebih bersifat dokumentasi pengalaman dibandingkan analisis mendalam. Namun justru di situlah letak keunikannya. Buku ini memang ditulis dari hati seorang guru yang ingin berbagi pengalaman, bukan sebagai kajian akademik yang kaku.

Kesimpulan

Labschool Rumah Keduaku bukan sekadar buku tentang sebuah sekolah. Buku ini adalah surat cinta seorang guru kepada dunia pendidikan.

Melalui tulisan yang hangat dan penuh ketulusan, Omjay berhasil menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter, berempati, dan siap menghadapi kehidupan.

Buku ini sangat layak dibaca oleh:

  • Guru dan tenaga pendidik
  • Kepala sekolah
  • Mahasiswa pendidikan
  • Orang tua
  • Alumni Labschool
  • Siapa saja yang mencintai dunia pendidikan

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa kenangan terbaik tentang sekolah bukanlah nilai ujian yang tinggi, melainkan guru yang menginspirasi, sahabat yang menemani, dan lingkungan yang membuat kita merasa pulang.

Nilai Resensi: 9/10

"Labschool Rumah Keduaku adalah bukti bahwa sekolah yang hebat bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghangatkan hati."

Resensi Buku Kisah Omjay Menulis Setiap Hari

Resensi Buku

Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Genre: Motivasi, Pendidikan, Literasi, Biografi Inspiratif
Tagline: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Sebuah Buku yang Mampu Mengubah Cara Pandang Kita Tentang Menulis

Banyak orang ingin menulis buku, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Banyak guru ingin berbagi pengalaman, tetapi merasa kisah hidupnya tidak menarik. Banyak pula yang berpikir bahwa menjadi penulis hebat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berbakat.

Buku "Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi" hadir untuk mematahkan semua anggapan tersebut.

Buku ini bukan teori yang rumit. Bukan pula kisah seorang tokoh yang lahir dengan segala kelebihan. Justru sebaliknya.

Ini adalah kisah nyata seorang guru biasa yang memilih untuk terus menulis setiap hari hingga akhirnya dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia. Dari sebuah blog sederhana, lahirlah puluhan buku, ribuan artikel, ratusan seminar nasional, serta jaringan pertemanan yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Mengapa Buku Ini Layak Dibaca?

Karena buku ini ditulis dari pengalaman nyata.

Omjay tidak hanya mengajarkan cara menulis, tetapi menunjukkan bagaimana menulis telah mengubah hidupnya.

Pembaca akan diajak menyaksikan perjalanan seorang guru yang awalnya hanya menulis di blog untuk berbagi pengalaman mengajar. Sedikit demi sedikit tulisannya dibaca banyak orang. Dari situlah berbagai peluang datang menghampiri.

Buku ini membuktikan bahwa:

Menulis dapat membuka pintu rezeki.

Menulis dapat memperluas jaringan pertemanan.

Menulis dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Menulis dapat mengabadikan gagasan.

Menulis dapat menjadi amal jariyah ilmu.


Yang paling menarik, Omjay tidak pernah menggurui pembacanya. Ia bercerita dengan bahasa sederhana, hangat, dan mengalir seperti sedang berbincang langsung dengan sahabatnya.

Kekuatan Terbesar Buku Ini

Kekuatan buku ini terletak pada kejujuran.

Pembaca akan menemukan kisah perjuangan, kegagalan, keraguan, dan proses panjang yang sering tidak terlihat di balik kesuksesan seseorang.

Di era media sosial saat ini, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Buku ini justru memperlihatkan prosesnya.

Pembaca akan belajar bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja semalam, melainkan akumulasi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Dan kebiasaan kecil itu adalah:

MENULIS.

Cocok Dibaca Oleh Siapa?

Buku ini sangat cocok untuk:

✅ Guru dan dosen
✅ Mahasiswa
✅ Pelajar SMP dan SMA
✅ Blogger pemula
✅ Penulis pemula
✅ Pegiat literasi
✅ Orang tua
✅ Siapa saja yang ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan

Bahkan bagi mereka yang merasa tidak berbakat menulis, buku ini mampu membangkitkan semangat untuk mulai mencoba.

Nilai Lebih yang Tidak Banyak Dimiliki Buku Motivasi Lain

Berbeda dengan banyak buku motivasi yang hanya berisi teori, buku ini berisi pengalaman nyata selama puluhan tahun.

Dr. Wijaya Kusumah dikenal sebagai pendidik, blogger, penulis, dan penggerak literasi yang telah menginspirasi ribuan guru melalui berbagai komunitas menulis dan literasi digital. 

Karena itu, setiap halaman terasa hidup.

Pembaca tidak hanya mendapatkan motivasi, tetapi juga mendapatkan contoh nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.

Kalimat yang Akan Terus Terngiang di Hati Pembaca

> "Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya guru biasa yang suka menulis. Tetapi saya percaya, tulisan kecil yang kita bagikan hari ini bisa menjadi inspirasi besar bagi seseorang di masa depan."



Kalimat sederhana itu menjadi ruh dari keseluruhan buku.

Kesimpulan

"Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi" bukan sekadar buku tentang menulis.

Ini adalah buku tentang harapan.

Tentang mimpi yang diwujudkan melalui konsistensi.

Tentang seorang guru yang membuktikan bahwa tulisan mampu mengubah kehidupan.

Jika Anda sedang mencari buku yang mampu membangkitkan semangat berkarya, menggerakkan hati untuk mulai menulis, dan membuat Anda percaya bahwa setiap orang memiliki kisah berharga untuk dibagikan, maka buku ini wajib ada di rak buku Anda.

⭐⭐⭐⭐⭐ 5/5

Satu buku yang tidak hanya menginspirasi Anda untuk menulis, tetapi juga menginspirasi Anda untuk mengubah hidup melalui tulisan. 📖✨

"Menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi." — Omjay.

Rabu, 03 Juni 2026

Pemanfaatan AI untuk Menulis

Berikut artikel yang dapat digunakan untuk materi KBMN PGRI maupun dipublikasikan di blog.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34: Pemanfaatan AI untuk Menulis.

Berikut artikel yang dapat digunakan untuk materi KBMN PGRI maupun dipublikasikan di blog.


Pemanfaatan AI untuk Menulis: Menjadikan Teknologi sebagai Sahabat Literasi


Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia


Perkembangan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia literasi dan kepenulisan. Jika dahulu seorang penulis harus menghabiskan waktu berjam-jam mencari referensi di perpustakaan, kini berbagai informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui internet. Bahkan saat ini hadir teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, yang mampu membantu manusia dalam berbagai pekerjaan, termasuk menulis.


Banyak orang masih bertanya-tanya, apakah AI akan menggantikan penulis? Apakah guru, dosen, mahasiswa, siswa, blogger, dan penulis profesional akan kehilangan perannya?


Jawabannya adalah tidak.


AI hanyalah alat bantu. Seperti halnya komputer, internet, atau mesin pencari, AI hadir untuk membantu manusia bekerja lebih cepat dan lebih efektif. Kreativitas, empati, pengalaman hidup, dan sentuhan hati tetap menjadi milik manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.


Mengenal AI dalam Dunia Menulis


Artificial Intelligence adalah teknologi yang dirancang untuk meniru kemampuan berpikir manusia. AI mampu memahami perintah, mengolah data, menganalisis informasi, hingga menghasilkan teks berdasarkan instruksi yang diberikan.


Saat ini banyak aplikasi AI yang dapat membantu penulis, seperti:


- ChatGPT

- Gemini

- Claude

- Copilot

- Perplexity AI

- DeepSeek


Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun pada prinsipnya, semuanya dapat digunakan untuk membantu proses menulis.


Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay melihat AI sebagai sahabat baru bagi para penulis. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi bukan menggantikan peran penulis.


Pengalaman Omjay Menggunakan AI


Awalnya Omjay termasuk orang yang penasaran dengan perkembangan AI. Sebagai guru Informatika, Omjay merasa perlu mempelajari teknologi baru agar tidak tertinggal zaman.


Ketika pertama kali mencoba AI, Omjay meminta bantuan membuat kerangka tulisan. Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam hitungan detik AI mampu membuat daftar isi yang biasanya memerlukan waktu cukup lama.


Namun Omjay segera menyadari satu hal penting.


Tulisan yang dihasilkan AI akan terasa datar apabila tidak diberi sentuhan pengalaman pribadi. Tulisan menjadi hidup ketika penulis memasukkan kisah nyata, emosi, refleksi, dan pelajaran hidup yang pernah dialaminya.


Sejak saat itu Omjay menggunakan AI bukan sebagai pengganti menulis, melainkan sebagai asisten pribadi yang membantu mempercepat proses kreatif.


Manfaat AI untuk Menulis


1. Membantu Mencari Ide Tulisan


Sering kali seorang penulis mengalami kebuntuan ide.


AI dapat membantu memberikan berbagai topik menarik yang dapat dikembangkan menjadi artikel, buku, atau materi pembelajaran.


Misalnya ketika ingin menulis tentang pendidikan, AI dapat memberikan puluhan ide judul yang relevan dengan kondisi saat ini.


2. Membuat Kerangka Tulisan


Banyak orang kesulitan memulai tulisan karena tidak tahu harus memulai dari mana.


AI dapat membantu menyusun:


- Judul

- Pendahuluan

- Subjudul

- Kesimpulan


Dengan adanya kerangka tulisan, penulis akan lebih mudah mengembangkan isi tulisan.


3. Membantu Menyusun Kalimat


AI dapat membantu memperbaiki struktur kalimat sehingga lebih jelas dan mudah dipahami pembaca.


Hal ini sangat membantu bagi penulis pemula yang masih belajar menyusun tulisan dengan baik.


4. Membantu Meringkas Informasi


Saat membaca artikel atau dokumen yang panjang, AI dapat membantu membuat ringkasan sehingga penulis lebih cepat memahami isi bacaan.


Waktu yang biasanya digunakan berjam-jam dapat dipersingkat menjadi beberapa menit saja.


5. Membantu Mengoreksi Tulisan


AI dapat membantu memeriksa:


- Kesalahan ejaan

- Tata bahasa

- Struktur paragraf

- Konsistensi tulisan


Namun hasil koreksi tetap harus diperiksa kembali oleh penulis.


6. Membantu Membuat Konten Pembelajaran


Bagi guru, AI sangat membantu dalam membuat:


- Modul ajar

- Soal latihan

- Rubrik penilaian

- Presentasi

- Ringkasan materi


Sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada proses pembelajaran.


Bahaya Menggunakan AI Tanpa Bijak


Walaupun memiliki banyak manfaat, penggunaan AI juga memiliki risiko apabila tidak digunakan dengan bijaksana.


1. Menjadi Malas Berpikir


Jika semua pekerjaan diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir kritis akan menurun.


Penulis harus tetap aktif membaca, menganalisis, dan mengembangkan ide sendiri.


2. Informasi Tidak Selalu Benar


AI bisa saja memberikan informasi yang kurang akurat.


Karena itu setiap informasi yang diperoleh perlu diverifikasi kembali dari sumber yang terpercaya.


3. Kehilangan Identitas Penulis


Tulisan yang sepenuhnya dibuat AI sering kali terasa kaku dan kurang memiliki jiwa.


Pembaca sebenarnya dapat merasakan apakah sebuah tulisan lahir dari pengalaman nyata atau hanya hasil olahan mesin.


Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar dengan AI


Inilah pesan yang selalu Omjay sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN).


AI memang canggih.


AI memang cepat.


AI memang membantu.


Tetapi AI tidak memiliki hati.


AI tidak pernah merasakan perjuangan seorang guru yang mengajar puluhan tahun.


AI tidak pernah menangis ketika kehilangan orang yang dicintai.


AI tidak pernah merasakan haru ketika melihat muridnya sukses.


Semua pengalaman hidup itu hanya dimiliki manusia.


Karena itulah tulisan terbaik akan lahir ketika teknologi bertemu dengan hati.


AI dapat membantu menyiapkan bahan baku tulisan, tetapi manusialah yang memberi rasa dan makna pada setiap kata.


Masa Depan Penulis di Era AI


Banyak orang takut profesi penulis akan hilang karena AI.


Kekhawatiran itu sebenarnya tidak perlu berlebihan.


Sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru justru melahirkan peluang baru.


Ketika komputer hadir, profesi penulis tidak hilang.


Ketika internet hadir, profesi penulis juga tidak hilang.


Demikian pula ketika AI hadir.


Yang akan tertinggal bukanlah penulis yang menggunakan AI, melainkan penulis yang menolak belajar teknologi.


Karena itu, tugas kita bukan melawan AI.


Tugas kita adalah belajar memanfaatkan AI secara bijaksana.


Penulis masa depan adalah mereka yang mampu menggabungkan kreativitas manusia dengan kecerdasan teknologi.


Penutup


AI adalah alat bantu yang luar biasa dalam dunia kepenulisan. Dengan AI, proses mencari ide, menyusun kerangka, mengoreksi tulisan, hingga membuat materi pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.


Namun kita harus selalu ingat bahwa AI hanyalah alat.


Tulisan yang menginspirasi lahir dari pengalaman, ketulusan, dan sentuhan hati manusia.


Karena itu, gunakanlah AI sebagai sahabat menulis, bukan sebagai pengganti berpikir.


Teruslah membaca.


Teruslah belajar.


Teruslah menulis setiap hari.


Dan seperti yang sering Omjay katakan kepada para sahabat penulis di seluruh Indonesia:


"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan AI. Sebab teknologi dapat membantu menulis, tetapi hanya hati yang mampu menyentuh hati."Semoga artikel ini bermanfaat untuk materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34: Pemanfaatan AI untuk Menulis.

Kenangan Seminar Guru TIK

Ketika Guru TIK Menyambut Lahirnya Mata Pelajaran Informatika

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali mengingatkan saya pada sebuah peristiwa penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Sebuah momen yang mungkin tidak banyak diketahui orang, tetapi memiliki arti sangat besar bagi para guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di seluruh Indonesia.

Di dalam foto tersebut tampak para guru TIK berdiri bersama penuh semangat dalam sebuah kegiatan bertajuk “Seminar Nasional Guru Informatika: Penguatan Guru TIK dalam Menyambut Mata Pelajaran Informatika.”

Di belakang para peserta terpampang spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang kepada peserta seminar nasional. Wajah-wajah yang hadir saat itu memancarkan harapan. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: memperjuangkan agar kompetensi guru TIK tetap dibutuhkan dan menjadi bagian penting dalam masa depan pendidikan Indonesia.

Saat itu, dunia pendidikan sedang berada pada persimpangan jalan. Mata pelajaran TIK yang pernah diajarkan di sekolah mengalami berbagai dinamika kebijakan. Banyak guru TIK merasa cemas. Mereka bertanya-tanya tentang masa depan profesinya.

Namun di tengah kegelisahan tersebut, secercah harapan muncul.

Pemerintah mulai menggagas lahirnya mata pelajaran Informatika, sebuah bidang ilmu yang lebih luas daripada sekadar penggunaan komputer. Informatika mengajarkan cara berpikir komputasional, pemrograman, analisis data, kecerdasan buatan, hingga literasi digital yang kini menjadi kebutuhan abad ke-21.

Sebagai guru yang sejak lama mengajar bidang teknologi, saya merasakan betul bagaimana suasana hati para guru ketika itu.

Ada rasa khawatir.

Ada rasa tidak pasti.

Tetapi juga ada semangat untuk belajar kembali.

Karena seorang guru sejati tidak pernah berhenti belajar.

Seminar nasional yang terekam dalam foto tersebut menjadi salah satu momentum bersejarah. Kegiatan itu dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., yang sejak lama dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa guru harus menjadi aktor utama perubahan pendidikan dan harus siap menghadapi transformasi digital.

Kehadiran Prof. Unifah memberikan energi baru bagi para guru TIK.

Beliau memahami bahwa perubahan kurikulum tidak boleh membuat guru kehilangan harapan. Sebaliknya, perubahan harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas wawasan.

Di seminar tersebut para guru diajak melihat masa depan pendidikan dengan lebih optimis.

Bahwa teknologi bukan ancaman.

Bahwa digitalisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Bahwa guru tetap menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan.

Selain dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, kegiatan tersebut juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia saat itu, Rudiantara. Kehadiran beliau menjadi simbol kuat bahwa penguatan literasi digital harus dimulai dari sekolah dan guru memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi Indonesia menghadapi era digital. Seminar tersebut juga mendorong guru Informatika untuk membekali peserta didik dengan kemampuan literasi digital yang baik.

Saya masih ingat suasana ruangan saat itu.

Para peserta mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mereka sadar bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat.

Internet berkembang pesat.

Media sosial mulai mendominasi kehidupan masyarakat.

Big data, cloud computing, dan kecerdasan buatan mulai diperbincangkan.

Anak-anak yang duduk di bangku sekolah saat itu kelak akan hidup di dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Karena itulah guru harus berubah.

Guru harus belajar lagi.

Guru harus meningkatkan kompetensinya.

Di sinilah peran seminar nasional tersebut menjadi sangat penting.

Bukan sekadar acara seremonial.

Bukan hanya kumpul-kumpul guru.

Tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk mempersiapkan masa depan.

Saya melihat banyak guru yang awalnya khawatir justru pulang dengan penuh semangat.

Mereka mulai mengikuti pelatihan coding.

Belajar pemrograman.

Memahami computational thinking.

Belajar kecerdasan buatan.

Belajar keamanan siber.

Belajar literasi digital.

Bahkan banyak yang kemudian menjadi pelopor pembelajaran Informatika di sekolah masing-masing.

Hari ini, ketika mata pelajaran Informatika telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Indonesia, saya sering mengenang kembali momen yang ada dalam foto tersebut.

Foto itu bukan sekadar gambar.

Foto itu adalah saksi sejarah.

Saksi perjuangan para guru yang tidak menyerah pada perubahan.

Saksi bahwa guru Indonesia memiliki daya juang luar biasa.

Saksi bahwa ketika diberi kesempatan belajar, guru Indonesia mampu berkembang dengan sangat cepat.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.

Perjalanan yang mengajarkan bahwa perubahan tidak bisa dihindari.

Tetapi perubahan bisa dihadapi.

Bahkan perubahan bisa menjadi peluang besar jika kita mau belajar.

Kini kita memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Tantangan baru kembali muncul. Banyak guru bertanya apakah AI akan menggantikan guru.

Jawabannya tidak.

AI tidak akan menggantikan guru.

Tetapi guru yang mampu memanfaatkan AI akan menggantikan guru yang tidak mau belajar.

Pesan itulah yang sesungguhnya telah diajarkan sejak seminar nasional dalam foto tersebut.

Bahwa kompetensi harus terus diperbarui.

Bahwa belajar tidak mengenal usia.

Bahwa guru harus selalu berada di garis depan perubahan.

Ketika saya memandang foto lama itu, hati saya terasa hangat.

Saya melihat bukan hanya wajah-wajah guru.

Saya melihat pejuang pendidikan.

Saya melihat orang-orang yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempersiapkan masa depan anak bangsa.

Dan saya percaya, selama masih ada guru yang mau belajar, Indonesia akan selalu memiliki harapan.

Karena di balik setiap kemajuan teknologi, tetap ada seorang guru yang mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak.

Di balik setiap kecerdasan buatan, tetap ada guru yang menanamkan nilai kemanusiaan.

Dan di balik setiap generasi hebat, selalu ada guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Terima kasih para guru TIK.

Terima kasih para guru Informatika.

**Kalian bukan sekadar mengajarkan teknologi. Kalian sedang membangun masa depan Indonesia.**

Pemanfaatan AI untuk Menulis

Pemanfaatan AI untuk Menulis: Materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pada hari Rabu, 3 Juni 2026 pukul 19.00 WIB, Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 kembali mengadakan pertemuan ke-19 dengan tema yang sangat relevan dengan perkembangan zaman, yaitu “Pemanfaatan AI untuk Menulis.”

Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Grup WhatsApp KBMN dengan moderator Dail Ma’ruf, M.Pd. dan narasumber Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay).

Tema ini dipilih karena saat ini dunia pendidikan, literasi, dan kepenulisan sedang mengalami perubahan besar akibat hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI). Banyak guru, mahasiswa, siswa, dosen, bahkan penulis profesional mulai memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan mereka.

Namun muncul pertanyaan penting:

Apakah AI akan menggantikan penulis?

Jawabannya adalah tidak.

AI hanyalah alat bantu. Penulis tetap manusia yang memiliki hati, pengalaman, emosi, nilai, dan kebijaksanaan yang tidak dapat digantikan mesin.

---

Mengenal Artificial Intelligence (AI)

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.

Contohnya:

Menjawab pertanyaan

Membuat ringkasan

Menulis artikel

Menerjemahkan bahasa

Membuat gambar

Membantu riset

Mengolah data

Saat ini banyak aplikasi AI yang populer digunakan, seperti:

ChatGPT

Gemini

Claude

Copilot

DeepSeek

Perplexity

Grok

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

---

Mengapa Penulis Perlu Mengenal AI?

Omjay sering mengatakan kepada para guru:

> "Jangan takut kepada teknologi. Takutlah jika kita tidak mau belajar teknologi."

Perkembangan teknologi tidak bisa dihentikan.

Seperti ketika komputer menggantikan mesin ketik.

Seperti ketika internet menggantikan surat menyurat.

Kini AI hadir untuk membantu manusia bekerja lebih cepat.

Jika guru dan penulis tidak belajar AI, maka mereka akan tertinggal.

Namun jika mempelajarinya dengan bijak, AI akan menjadi sahabat yang sangat membantu.

---

Manfaat AI untuk Menulis

1. Membantu Mencari Ide Tulisan

Banyak orang ingin menulis tetapi bingung memulai dari mana.

AI dapat membantu memberikan:

Judul tulisan

Kerangka artikel

Daftar isi buku

Ide cerita

Tema blog

Misalnya cukup mengetik:

"Berikan saya 20 ide artikel tentang pendidikan karakter."

Dalam hitungan detik AI akan memberikan banyak pilihan.

---

2. Membuat Kerangka Tulisan

Kerangka adalah fondasi tulisan.

AI dapat membantu menyusun:

Pendahuluan

Isi

Penutup

Sehingga penulis tidak mulai dari nol.

Namun kerangka tersebut tetap perlu dikembangkan menggunakan pengalaman dan pemikiran pribadi.

---

3. Membantu Riset

Dulu mencari referensi membutuhkan waktu lama.

Kini AI membantu:

Mencari informasi awal

Menjelaskan konsep

Merangkum materi

Membandingkan teori

Waktu riset menjadi lebih efisien.

---

4. Membantu Menyunting Tulisan

AI dapat membantu:

Memperbaiki tata bahasa

Memeriksa ejaan

Memperjelas kalimat

Mengubah gaya bahasa

Sehingga tulisan menjadi lebih nyaman dibaca.

---

5. Membantu Membuat Judul yang Menarik

Judul adalah pintu masuk pembaca.

AI dapat memberikan berbagai alternatif judul yang lebih menarik dan SEO-friendly.

Misalnya:

Judul biasa:

"Pentingnya Menulis Setiap Hari"

Dapat dikembangkan menjadi:

"Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi dalam Hidup Anda"

Atau:

"Rahasia Penulis Produktif: Menulis Sedikit Setiap Hari"

---

Pengalaman Omjay Menggunakan AI

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay tidak menolak kehadiran AI.

Justru Omjay memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas.

Namun Omjay memiliki prinsip:

AI adalah asisten, bukan pengganti.

Ketika menulis artikel, Omjay tetap menggunakan:

Pengalaman pribadi

Kisah nyata

Perjalanan hidup

Refleksi pendidikan

Nilai-nilai kemanusiaan

AI hanya membantu mempercepat proses.

Karena tulisan yang menyentuh hati lahir dari pengalaman manusia.

AI tidak pernah merasakan:

Menjadi guru selama lebih dari 30 tahun

Mengajar ribuan siswa

Menempuh perjalanan dari Bekasi ke Garut

Menangis saat meraih gelar doktor

Bersyukur ketika bisa mengunjungi Jepang dan Tiongkok

Semua itu hanya dimiliki manusia.

---

Bahaya Menggunakan AI Tanpa Bijak

Walaupun bermanfaat, AI juga memiliki risiko.

1. Menjadi Malas Berpikir

Jika semua pekerjaan diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir kritis akan menurun.

Padahal menulis adalah proses berpikir.

---

2. Informasi Bisa Salah

AI kadang memberikan informasi yang tidak akurat.

Karena itu setiap hasil AI harus diverifikasi.

---

3. Hilangnya Keaslian Tulisan

Tulisan yang seluruhnya dibuat AI sering terasa datar.

Tidak ada jiwa.

Tidak ada pengalaman.

Tidak ada emosi.

Karena itu penulis harus tetap menjadi pengendali utama.

---

Cara Menggunakan AI Secara Bijak

Omjay memberikan beberapa tips:

Gunakan AI untuk:

✅ Mencari ide

✅ Membuat kerangka

✅ Menyunting tulisan

✅ Membantu riset

✅ Membuat ilustrasi

✅ Merangkum materi

Jangan gunakan AI untuk:

❌ Menyontek

❌ Membuat karya palsu

❌ Menyebarkan hoaks

❌ Menggantikan proses berpikir

❌ Menghilangkan identitas penulis

---

Menulis dengan Hati di Era AI

Inilah pesan utama yang ingin disampaikan kepada peserta KBMN Gelombang 34.

Di era AI, kemampuan menggunakan teknologi memang penting.

Namun yang lebih penting adalah menjaga nilai kemanusiaan dalam tulisan.

Tulisan yang baik bukan sekadar kumpulan kata.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang:

Menginspirasi

Mengedukasi

Menggerakkan

Menyentuh hati pembaca

AI dapat membantu menyusun kalimat.

Tetapi AI tidak memiliki hati.

AI tidak memiliki pengalaman hidup.

AI tidak memiliki empati.

Karena itu penulis tetap memiliki peran yang sangat penting.

---

Penutup

Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34 menjadi momentum penting bagi para guru dan penulis untuk memahami bahwa AI bukan musuh, melainkan alat yang dapat dimanfaatkan secara bijak.

Sebagaimana kalkulator tidak menggantikan matematika, AI juga tidak akan menggantikan penulis.

Yang akan terjadi adalah:

Penulis yang mampu memanfaatkan AI akan melampaui penulis yang menolak AI.

Namun penulis yang hanya mengandalkan AI tanpa berpikir akan kehilangan jati dirinya.

Mari jadikan AI sebagai sahabat belajar dan berkarya.

Tetaplah menulis dengan hati, berbagi pengalaman, menyebarkan inspirasi, dan meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.

Sebab pada akhirnya, teknologi akan terus berubah, tetapi nilai kemanusiaan dalam tulisan akan selalu abadi.

"Gunakan AI untuk membantu menulis, tetapi biarkan hati Anda yang memimpin tulisan itu."

— Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Menulis itu Bukan Sekedar Hobi

Menulis Itu Bukan Sekadar Hobi, Tetapi Jalan Menuju Masa Depan

Kisah Omjay Menjadi Narasumber di SMKN 40 Jakarta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay melangkahkan kaki menuju SMKN 40 Jakarta. Undangan sebagai narasumber telah diterima beberapa hari sebelumnya. Tema yang diminta sangat menarik dan dekat dengan dunia anak muda, yaitu “Cara Menghasilkan Uang dengan Menulis.”

Ketika memasuki ruang kelas, Omjay melihat puluhan siswa SMK sudah duduk dengan rapi. Sebagian membawa laptop, sebagian lagi memegang telepon genggam. Wajah mereka tampak penasaran.

Di era media sosial seperti sekarang, banyak anak muda ingin cepat mendapatkan uang. Ada yang bercita-cita menjadi YouTuber, selebgram, influencer, atau content creator. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa hampir semua profesi digital itu membutuhkan satu kemampuan yang sama.

Kemampuan menulis.

Omjay tersenyum lalu memulai materinya dengan sebuah pertanyaan sederhana.

"Siapa yang suka menulis?"

Hanya beberapa tangan yang terangkat.

Kemudian Omjay bertanya lagi.

"Siapa yang ingin punya penghasilan sendiri?"

Hampir seluruh tangan langsung terangkat.

Suasana kelas pun menjadi riuh.

Omjay tersenyum kembali.

"Nah, kalau kalian ingin punya penghasilan sendiri, maka mulai hari ini belajarlah menulis."

Para siswa mulai memperhatikan dengan serius.

---

Menulis Mengubah Hidup Omjay

Omjay bukan berasal dari keluarga kaya.

Ketika masih muda, Omjay hanyalah seorang guru biasa yang mengajar dengan penuh semangat. Gaji guru saat itu tidak sebesar sekarang. Bahkan untuk membeli buku kadang harus menabung terlebih dahulu.

Namun Omjay memiliki satu kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan.

Menulis setiap hari.

Apa yang dilihat ditulis.

Apa yang didengar ditulis.

Apa yang dirasakan ditulis.

Awalnya tulisan-tulisan itu hanya tersimpan di buku catatan.

Kemudian berkembang menjadi tulisan di blog.

Lalu menjadi artikel di berbagai media online.

Akhirnya berubah menjadi buku.

Dari kegiatan sederhana itulah banyak pintu rezeki terbuka.

Omjay mulai diundang menjadi narasumber di berbagai kota.

Banyak sekolah, kampus, komunitas, dan organisasi yang mengundang Omjay untuk berbagi pengalaman.

Bahkan melalui aktivitas menulis, Omjay mendapatkan kesempatan belajar ke berbagai negara seperti Jepang dan Tiongkok.

Semua berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Menulis.

---

Mengapa Menulis Bisa Menghasilkan Uang?

Omjay menjelaskan kepada para siswa bahwa tulisan adalah aset digital.

Sekali tulisan dipublikasikan di internet, tulisan tersebut dapat dibaca ribuan bahkan jutaan orang.

Karena itulah banyak perusahaan, media, dan organisasi membutuhkan orang yang mampu menulis dengan baik. Peluang menghasilkan uang dari menulis terbuka melalui blog, artikel lepas, content writing, copywriting, hingga penerbitan buku. 

Tulisan yang bermanfaat akan terus dicari orang.

Tulisan yang baik akan menjadi portofolio.

Tulisan yang konsisten akan membangun reputasi.

Dan reputasi yang baik akan mendatangkan peluang.

---

Lima Cara Menghasilkan Uang dengan Menulis

Di depan kelas, Omjay menuliskan lima cara yang bisa dilakukan siswa SMK.

1. Menjadi Blogger

Blogger adalah profesi yang sangat cocok untuk siswa.

Buatlah blog gratis terlebih dahulu.

Tulislah pengalaman belajar, praktik kerja lapangan, teknologi, otomotif, kuliner, atau hobi yang disukai.

Jika blog berkembang dan memiliki banyak pembaca, blog dapat dimonetisasi melalui iklan atau kerja sama dengan berbagai pihak. 

Omjay sendiri memulai perjalanan menulis melalui blog.

Sampai hari ini blog masih menjadi rumah utama karya-karyanya.

---

2. Menjadi Penulis Artikel Freelance

Banyak media online membutuhkan artikel berkualitas.

Siswa yang mampu menulis dengan baik dapat mengirimkan artikel ke berbagai platform.

Setiap artikel yang diterima biasanya mendapatkan honor sesuai kebijakan media. Peluang ini terus berkembang karena kebutuhan konten digital semakin besar. 

---

3. Menjadi Content Writer

Saat ini hampir semua perusahaan membutuhkan konten untuk website dan media sosial.

Mereka membutuhkan orang yang mampu membuat tulisan menarik.

Profesi content writer menjadi salah satu pekerjaan yang banyak dicari di era digital. 

---

4. Mengikuti Lomba Menulis

Banyak lomba menulis menawarkan hadiah jutaan rupiah.

Selain hadiah uang, lomba juga dapat meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri.

Bahkan tidak sedikit penulis terkenal yang memulai kariernya dari lomba menulis.

---

5. Menulis Buku Digital

Saat ini menerbitkan buku jauh lebih mudah.

Siswa dapat menerbitkan buku digital secara mandiri.

Buku yang berisi pengalaman, keterampilan, atau pengetahuan tertentu dapat menjadi sumber penghasilan jangka panjang. 

---

Rahasia Sukses Menulis

Seorang siswa bertanya,

"Omjay, apa rahasia agar bisa menghasilkan uang dari menulis?"

Omjay tersenyum.

"Rahasianya sederhana."

Seluruh kelas menjadi hening.

"Lakukan tiga hal ini."

Pertama, menulislah setiap hari.

Jangan menunggu inspirasi.

Inspirasi justru datang ketika kita mulai menulis.

Kedua, bangun portofolio.

Semua tulisan yang dibuat simpan di blog atau media online.

Portofolio adalah bukti kemampuan kita.

Ketiga, jangan mudah menyerah.

Banyak penulis berhenti sebelum berhasil.

Padahal keberhasilan sering datang setelah seseorang bertahan lebih lama dibandingkan orang lain.

---

Tulisan Adalah Tabungan Masa Depan

Di akhir sesi, Omjay menunjukkan beberapa buku hasil tulisannya.

Para siswa terlihat kagum.

Mereka tidak menyangka seorang guru bisa menghasilkan begitu banyak karya.

Omjay kemudian berkata,

"Anak-anak, uang bisa habis. Barang bisa rusak. Tetapi tulisan akan tetap hidup."

Tulisan yang baik akan terus dibaca.

Tulisan yang bermanfaat akan terus menginspirasi.

Tulisan yang ikhlas akan menjadi amal jariyah.

Karena itu jangan pernah meremehkan kemampuan menulis.

Mulailah dari hal yang sederhana.

Tuliskan apa yang kalian pelajari hari ini.

Tuliskan pengalaman praktik di sekolah.

Tuliskan cita-cita dan impian kalian.

Tuliskan apa yang kalian ketahui.

Lalu bagikan kepada dunia.

Siapa tahu dari tulisan sederhana itu lahir peluang yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Omjay membuktikan sendiri bahwa menulis telah mengubah hidupnya.

Dari seorang guru biasa menjadi Guru Blogger Indonesia yang dikenal banyak orang.

Dari sebuah blog sederhana lahir buku, persahabatan, perjalanan ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri.

Semua berawal dari satu langkah kecil.

Mulailah menulis hari ini.

Karena tulisanmu bukan sekadar rangkaian kata.

Tulisanmu adalah tabungan masa depan. ✍️📚💡

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada Berapa Ekor Kucing yang Anda Lihat?

Blog Omjay: https://wijayalabs.com
Motto: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.



Dari gambar tersebut, saya menghitung ada 11 ekor kucing.


Rinciannya:


7 kucing besar yang terlihat jelas di bagian depan dan tengah.


4 kucing tersembunyi:


1. Di sisi kiri dekat batang pohon (hanya sebagian tubuh terlihat).



2. Di belakang kucing tengah dekat aliran sungai.



3. Di kanan belakang dekat sungai.



4. Di pojok kanan bawah di balik semak-semak.





Total = 7 + 4 = 11 ekor kucing. 🐱


Gambar seperti ini memang termasuk teka-teki visual karena beberapa kucing disamarkan dengan warna yang sama dengan lingkungan sekitarnya. Jika diperhatikan sekilas, banyak orang hanya melihat 7–8 kucing saja.

Menulis Sebagai Jalan Karya

Menulis sebagai Jalan Karya, Manfaat, dan Jejak Guru Tangguh

Kisah Omjay Membaca Resume Peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay berangkat menuju sekolah seperti biasa. Dari rumahnya di Jatibening Indah, Bekasi, Omjay berjalan menuju Stasiun Cikunir. Udara pagi masih terasa sejuk. Matahari baru saja menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Para pekerja, mahasiswa, dan pelajar mulai memadati stasiun untuk memulai aktivitas mereka.

Tak lama kemudian, LRT Jabodebek yang ditunggu pun datang. Omjay naik kereta dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas. Seperti biasa, perjalanan pagi itu dimanfaatkan untuk membaca dan belajar. Di dalam kereta yang melaju tenang di atas rel layang, Omjay membuka ponsel dan melihat daftar pengumpulan resume peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18.

Satu per satu tautan blog peserta dibuka.

Ada tulisan dari Hayatunnufus, Imas Masitoh, Anis Solihah, Neng Galih, Atu Maesaroh, Tini Suhartini, dan Annisa.

Kereta terus melaju membelah hiruk-pikuk Jakarta. Dari balik jendela tampak gedung-gedung tinggi berdiri megah. Namun perhatian Omjay tertuju pada tulisan-tulisan para peserta. Setiap resume dibaca dengan penuh perhatian. Sesekali Omjay tersenyum ketika menemukan kalimat yang ditulis dengan penuh semangat. Di lain waktu, Omjay mengangguk kagum melihat perkembangan kemampuan menulis para peserta.

Bagi Omjay, perjalanan dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas bukan sekadar perjalanan menuju tempat bekerja. Perjalanan itu menjadi ruang belajar, ruang membaca, sekaligus ruang refleksi. Dari tulisan-tulisan peserta, Omjay melihat tumbuhnya semangat belajar yang luar biasa.

Semangat yang mengingatkan Omjay pada perjalanan panjangnya sendiri saat belajar menulis hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Saat membaca resume-resume tersebut, Omjay menemukan benang merah yang sama.

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah jalan berkarya, jalan berbagi manfaat, dan jalan meninggalkan jejak kebaikan.

Menulis Adalah Perjalanan Panjang

Dalam berbagai resume peserta, tergambar jelas bagaimana perjalanan seorang penulis tidak selalu mudah.

Ada rasa malas.

Ada rasa takut.

Ada rasa ragu.

Ada pula kekhawatiran bahwa tulisan yang dibuat tidak akan dibaca orang lain.

Omjay pernah merasakan semua itu.

Saat pertama kali membuat blog pada tahun 2008, Omjay juga sering bertanya dalam hati.

"Apakah ada yang mau membaca tulisan saya?"

"Apakah tulisan saya cukup bagus?"

"Apakah saya mampu menulis setiap hari?"

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam benak banyak penulis pemula.

Namun seiring waktu, Omjay menyadari satu hal penting.

Penulis besar bukanlah orang yang langsung hebat sejak awal.

Penulis besar adalah orang yang terus menulis meskipun tulisannya masih sederhana.

Mereka tidak berhenti hanya karena belum sempurna.

Mereka terus belajar dari setiap tulisan yang dibuat.

Karena itulah Omjay selalu mengajak peserta KBMN untuk terus menulis.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu banyak pembaca.

Tulislah sekarang juga.

Guru Tangguh Tidak Pernah Berhenti Belajar

Tema yang banyak muncul dalam resume peserta adalah tentang ketangguhan guru.

Omjay sangat setuju.

Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa sudah tahu semuanya.

Guru yang hebat adalah guru yang selalu belajar.

Setiap malam peserta KBMN meluangkan waktu mengikuti pelatihan menulis.

Mereka sudah lelah mengajar.

Mereka sudah sibuk mengurus keluarga.

Sebagian harus menyelesaikan administrasi sekolah.

Namun mereka masih menyempatkan diri belajar.

Itulah ketangguhan yang sesungguhnya.

Omjay teringat ketika menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta.

Perjalanan itu tidak mudah.

Delapan tahun perjuangan.

Banyak tantangan yang harus dihadapi.

Ada masa-masa ketika semangat menurun.

Ada saat-saat ketika tubuh terasa lelah.

Namun Omjay terus berjalan.

Karena Omjay percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup.

Semangat yang sama kini terlihat pada peserta KBMN Gelombang 34.

Mereka sedang membangun masa depan melalui tulisan.

Menulis Membuat Guru Abadi

Ketika membaca resume para peserta, Omjay kembali teringat pesan yang selalu disampaikannya.

Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi guru tidak akan pernah pensiun dari menulis.

Tulisan membuat seorang guru tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ilmu yang disampaikan secara lisan mungkin akan terlupakan.

Namun ilmu yang ditulis akan terus hidup.

Tulisan dapat dibaca kapan saja.

Tulisan dapat ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Tulisan dapat menginspirasi generasi berikutnya.

Karena itu Omjay selalu mengatakan,

"Guru yang menulis akan abadi."

Bukan karena namanya terkenal.

Melainkan karena ilmunya terus bermanfaat.

Blog Adalah Rumah Karya

Hal menarik dari daftar resume KBMN kali ini adalah seluruh peserta telah memiliki blog pribadi.

Mereka menulis dan mempublikasikan karya mereka secara terbuka.

Bagi Omjay, blog adalah rumah karya.

Rumah tempat menyimpan gagasan.

Rumah tempat berbagi pengalaman.

Rumah tempat mendokumentasikan perjalanan hidup.

Rumah tempat meninggalkan jejak kebaikan.

Omjay sendiri telah merasakan manfaat luar biasa dari blog.

Dari blog, Omjay mendapatkan banyak sahabat.

Dari blog, Omjay mendapatkan kesempatan menjadi narasumber di berbagai daerah.

Dari blog, Omjay bisa berbagi pengalaman dengan ribuan guru di seluruh Indonesia.

Bahkan dari blog pula Omjay mendapatkan kesempatan mengunjungi berbagai negara, termasuk Jepang dan Tiongkok.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Menulis setiap hari.

Menulis dengan Hati

Ada satu pelajaran penting yang Omjay dapatkan setelah membaca resume peserta.

Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang penuh kata-kata rumit.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang lahir dari hati.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan merasakan kejujurannya.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan menemukan makna di balik setiap kalimat.

Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisan itu akan lebih mudah menyentuh hati orang lain.

Karena itulah Omjay selalu mengingatkan peserta KBMN.

"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi."

Teknologi boleh membantu.

Kecerdasan buatan boleh membantu.

Aplikasi boleh membantu.

Namun hati seorang penulis tetap tidak bisa digantikan.

Kejujuran.

Pengalaman.

Perjuangan.

Harapan.

Doa.

Semuanya lahir dari hati.

Dan itulah yang membuat sebuah tulisan menjadi hidup.

Resume Hari Ini, Buku Besar Esok Hari

Ketika kereta mulai mendekati Dukuh Atas, Omjay menutup ponselnya sejenak.

Pikirannya melayang pada masa depan para peserta KBMN.

Mungkin hari ini mereka hanya menulis resume.

Mungkin hari ini mereka masih belajar menyusun paragraf.

Mungkin hari ini mereka masih merasa tulisannya biasa saja.

Namun siapa yang tahu?

Beberapa tahun ke depan bisa jadi mereka telah menerbitkan buku.

Menjadi blogger terkenal.

Menjadi narasumber nasional.

Atau menjadi inspirasi bagi ribuan guru lainnya.

Karena setiap penulis besar selalu memulai dari langkah kecil.

Dan langkah kecil itu adalah keberanian untuk mulai menulis.

Terus Menulis dan Buktikan Apa yang Terjadi

Sesampainya di Dukuh Atas, Omjay melanjutkan perjalanan menuju SMP Labschool Jakarta.

Namun pesan dari resume-resume yang dibacanya masih terngiang di dalam hati.

Setiap resume bukan sekadar tugas pelatihan.

Resume-resume itu adalah jejak perjuangan para guru yang sedang belajar meninggalkan karya melalui tulisan.

Mereka sedang menanam benih-benih kebaikan.

Mereka sedang membangun warisan ilmu.

Mereka sedang menyiapkan jejak yang akan dikenang oleh banyak orang.

Karena sesungguhnya menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan.

Menulis adalah tentang berbagi manfaat.

Menulis adalah tentang mengabadikan pengalaman.

Menulis adalah tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun usia terus bertambah.

Maka kepada seluruh peserta KBMN Gelombang 34, Omjay ingin berpesan:

Jangan berhenti menulis.

Jangan berhenti belajar.

Jangan berhenti berkarya.

Sebab tulisan yang Anda buat hari ini mungkin akan menjadi cahaya bagi seseorang di masa depan.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah berkarya.

Karena siapa yang menanam kebaikan melalui tulisan, akan menuai manfaat yang tak pernah putus meskipun dirinya telah tiada.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Blog Alat Rekam yang Ajaib

Berikut artikel yang dapat Omjay publikasikan di blog atau Kompasiana.

Semoga artikel ini dapat menambah semangat para guru dan peserta KBMN untuk terus menulis dan menjadikan blog sebagai "gudang karya" yang kelak berubah menjadi buku-buku yang bermanfaat bagi banyak orang.

Blog Omjay: https://wijayalabs.com
Motto: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.