Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Sabtu, 02 Mei 2026
Omjay Setelah Terserang Stroke
Menulis Pakai Ai Bersama Pak Dedi
Selamat Hari Pendidikan Nasional
Tema yang diangkat tahun ini, “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”, menjadi pengingat bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Tidak hanya guru, tetapi juga orang tua, masyarakat, pemerintah, dan bahkan peserta didik itu sendiri. Pendidikan yang bermutu tidak bisa lahir dari kerja satu pihak saja, melainkan dari kolaborasi seluruh elemen bangsa.
Dalam gambar tersebut juga tertulis kalimat yang sangat kuat: “Pendidikan adalah cahaya masa depan.” Kalimat ini bukan sekadar slogan, tetapi sebuah kebenaran yang telah terbukti sepanjang sejarah. Pendidikan mampu mengubah kehidupan seseorang, mengangkat derajat keluarga, bahkan membangun peradaban bangsa. Tanpa pendidikan, masa depan akan gelap dan penuh ketidakpastian.
Sosok guru dalam ilustrasi tersebut tampak tersenyum, penuh kasih, dan membimbing siswa dengan sabar. Inilah gambaran ideal seorang pendidik: bukan hanya pengajar, tetapi juga pembimbing dan inspirator. Guru tidak hanya mentransfer ilmu, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kehidupan. Dari tangan seorang guru, lahirlah generasi yang cerdas, berkarakter, dan berdaya saing.
Di momen istimewa ini, kita tidak bisa melupakan pesan dari Omjay, Wijaya Kusumah, yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia. Omjay selalu mengingatkan bahwa menulis adalah salah satu cara terbaik untuk mengabadikan ilmu dan pengalaman. Menurut beliau, guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga harus berbagi melalui tulisan agar ilmunya dapat menjangkau lebih banyak orang.
Omjay sering mengatakan, “Menulislah dengan hati, maka tulisanmu akan sampai ke hati.” Pesan ini sangat relevan dengan semangat Hari Pendidikan Nasional. Dalam era digital seperti sekarang, guru dituntut untuk tidak hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi. Menulis di blog, media sosial, atau platform digital lainnya menjadi sarana efektif untuk menyebarkan inspirasi dan pengetahuan.
Lebih jauh lagi, Omjay menekankan pentingnya literasi sebagai fondasi pendidikan. Literasi bukan hanya kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan memahami, menganalisis, dan menciptakan. Dalam konteks ini, gerakan literasi harus terus digalakkan, baik di sekolah maupun di masyarakat. Guru, siswa, dan orang tua harus bersama-sama membangun budaya literasi yang kuat.
Ilustrasi anak-anak yang membaca buku di tepi pantai juga memberikan pesan bahwa belajar bisa dilakukan di mana saja. Pendidikan tidak harus selalu formal dan kaku. Justru dengan suasana yang menyenangkan, proses belajar akan menjadi lebih efektif dan bermakna. Anak-anak akan lebih mudah menyerap ilmu ketika mereka merasa nyaman dan bahagia.
Namun, kita juga harus jujur bahwa masih banyak tantangan dalam dunia pendidikan Indonesia. Masih ada kesenjangan akses pendidikan di berbagai daerah, kualitas sarana dan prasarana yang belum merata, serta tantangan dalam meningkatkan kompetensi guru. Oleh karena itu, tema “partisipasi semesta” menjadi sangat relevan. Semua pihak harus bergerak bersama untuk mengatasi berbagai permasalahan tersebut.
Peran orang tua juga sangat penting dalam mendukung pendidikan anak. Orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak-anaknya. Dukungan, perhatian, dan teladan dari orang tua akan sangat mempengaruhi perkembangan karakter dan prestasi anak. Oleh karena itu, sinergi antara sekolah dan keluarga harus terus diperkuat.
Di sisi lain, pemerintah juga memiliki tanggung jawab besar dalam menyediakan kebijakan dan fasilitas yang mendukung pendidikan berkualitas. Program-program pendidikan harus dirancang secara inklusif, agar semua anak Indonesia, tanpa terkecuali, mendapatkan hak yang sama untuk belajar.
Kembali pada pesan Omjay, beliau mengajak para guru untuk terus belajar dan tidak berhenti berkembang. Guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Dengan terus belajar, guru akan mampu menghadapi perubahan zaman dan memberikan pendidikan terbaik bagi siswa.
Hari Pendidikan Nasional bukan hanya sekadar perayaan seremonial. Lebih dari itu, ini adalah momentum untuk introspeksi dan aksi nyata. Apa yang sudah kita lakukan untuk pendidikan? Apa yang bisa kita perbaiki? Dan bagaimana kita bisa berkontribusi lebih besar?
Mari kita jadikan semangat Hardiknas 2026 sebagai titik awal untuk perubahan yang lebih baik. Mari kita nyalakan cahaya pendidikan di mana pun kita berada. Seperti dalam gambar tersebut, dengan kebersamaan, keceriaan, dan semangat belajar, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih cerah.
Sebagaimana pesan Omjay, mari kita terus menulis, berbagi, dan menginspirasi. Karena dari tulisan-tulisan sederhana, bisa lahir perubahan besar bagi dunia pendidikan Indonesia.
Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Pendidikan adalah cahaya, dan kita semua adalah penjaga nyalanya.
Sabtu, 25 April 2026
5 Kebiasaan Guru yang Akan Terlihat Profesional Setiap.Hari
💛 5 Kebiasaan Kecil yang Membuat Guru Terlihat Profesional Setiap Hari
Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berubah, profesionalisme guru menjadi salah satu kunci utama keberhasilan pembelajaran. Namun, profesional bukan selalu tentang hal besar, gelar tinggi, atau sertifikat berderet. Justru, profesionalisme sering kali terpancar dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.
Kebiasaan sederhana ini mungkin terlihat sepele, tetapi dampaknya sangat besar—tidak hanya bagi citra guru di mata siswa, tetapi juga dalam membangun budaya belajar yang positif di kelas. Berikut adalah uraian lebih mendalam tentang lima kebiasaan kecil yang dapat membuat guru tampil profesional setiap hari.
1. Datang Tepat Waktu: Disiplin yang Menular
Datang tepat waktu bukan sekadar soal hadir di sekolah sesuai jadwal. Lebih dari itu, ini adalah bentuk komitmen dan tanggung jawab seorang guru terhadap tugasnya. Guru yang datang lebih awal memiliki waktu untuk mempersiapkan diri, mengecek perangkat pembelajaran, dan menata suasana kelas sebelum siswa datang.
Ketika guru menunjukkan kedisiplinan waktu, siswa akan melihat dan menirunya. Disiplin menjadi budaya, bukan sekadar aturan. Sebaliknya, jika guru sering terlambat, sulit rasanya menuntut siswa untuk menghargai waktu.
Profesionalisme dimulai dari hal sederhana: hadir tepat waktu dan siap mengajar.
2. Berpakaian Rapi dan Sopan: Bahasa Nonverbal yang Kuat
Penampilan adalah komunikasi pertama sebelum kata-kata diucapkan. Guru yang berpakaian rapi dan sopan menunjukkan rasa hormat terhadap profesi, siswa, dan lingkungan kerja. Ini bukan soal mahal atau tidaknya pakaian, tetapi tentang kerapian, kesesuaian, dan kesederhanaan yang elegan.
Penampilan yang baik juga meningkatkan kepercayaan diri guru saat mengajar. Siswa pun cenderung lebih menghormati guru yang tampil profesional. Dalam dunia pendidikan, guru adalah teladan. Apa yang dikenakan dan bagaimana cara membawa diri menjadi bagian dari proses pembelajaran itu sendiri.
3. Menyiapkan Materi Sebelum Masuk Kelas: Kunci Kepercayaan Siswa
Guru yang masuk kelas tanpa persiapan ibarat pelaut tanpa kompas. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi bagaimana menyusun alur pembelajaran yang menarik, jelas, dan bermakna.
Persiapan materi meliputi:
- Memahami tujuan pembelajaran
- Menyiapkan media atau alat bantu
- Mengantisipasi pertanyaan siswa
- Menentukan metode yang sesuai
Guru yang siap akan terlihat lebih percaya diri, tidak gugup, dan mampu mengelola kelas dengan baik. Siswa pun akan merasakan bahwa guru mereka benar-benar menguasai materi. Dari sinilah kepercayaan tumbuh.
Sebaliknya, guru yang tidak siap cenderung mengajar seadanya, kurang terarah, dan membuat siswa kehilangan minat belajar.
4. Menggunakan Bahasa Positif: Membangun Suasana Belajar yang Sehat
Bahasa adalah alat utama dalam interaksi pembelajaran. Kata-kata yang digunakan guru dapat membangun atau justru meruntuhkan semangat siswa. Guru profesional memahami bahwa cara menyampaikan pesan sama pentingnya dengan isi pesan itu sendiri.
Mengganti perintah dengan ajakan adalah langkah sederhana namun berdampak besar. Misalnya:
- “Ayo kita kerjakan bersama” terasa lebih hangat dibanding “Cepat kerjakan!”
- “Coba lagi, kamu pasti bisa” lebih membangun daripada “Kamu salah terus!”
Bahasa positif menciptakan suasana kelas yang nyaman, aman, dan menyenangkan. Siswa tidak merasa tertekan, tetapi justru termotivasi untuk belajar. Dalam jangka panjang, ini akan membentuk karakter siswa yang percaya diri dan berani mencoba.
Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga pembangun suasana hati.
5. Evaluasi Diri Setiap Hari: Kunci Perbaikan Berkelanjutan
Profesionalisme sejati lahir dari kesadaran untuk terus belajar dan memperbaiki diri. Evaluasi diri adalah kebiasaan sederhana yang sering diabaikan, padahal sangat penting.
Setelah selesai mengajar, luangkan waktu sejenak untuk bertanya:
- Apa yang berjalan dengan baik hari ini?
- Bagian mana yang kurang efektif?
- Bagaimana respon siswa?
- Apa yang bisa diperbaiki besok?
Refleksi ini tidak perlu rumit. Cukup jujur pada diri sendiri. Guru yang mau mengevaluasi diri tidak akan stagnan. Ia akan terus berkembang, menemukan cara baru, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.
Dalam dunia yang terus berubah, guru yang tidak belajar akan tertinggal. Tetapi guru yang reflektif akan selalu relevan.
🌟 Profesionalisme: Tentang Konsistensi, Bukan Kesempurnaan
Menjadi guru profesional bukan berarti harus sempurna setiap saat. Tidak ada guru yang selalu benar, selalu berhasil, atau selalu tanpa kesalahan. Profesionalisme justru terlihat dari bagaimana guru menjalani prosesnya dengan penuh kesadaran, tanggung jawab, dan dedikasi.
Lima kebiasaan kecil di atas bukan hal yang sulit dilakukan. Namun, kunci utamanya adalah konsistensi. Dilakukan setiap hari, kebiasaan ini akan membentuk karakter, membangun citra positif, dan menciptakan lingkungan belajar yang lebih baik.
Seorang guru hebat tidak hanya diingat karena ilmunya, tetapi juga karena sikap dan kebiasaannya. Dari cara datang ke sekolah, cara berbicara, hingga cara mengevaluasi diri—semuanya menjadi pelajaran hidup bagi siswa.
Pada akhirnya, profesionalisme bukan tentang terlihat hebat di depan banyak orang, tetapi tentang hadir dengan sepenuh hati dalam setiap proses pembelajaran.
Karena guru sejati bukan hanya mengajar, tetapi juga memberi teladan dalam setiap langkahnya.
Jumat, 24 April 2026
Gali Potensi Ukir Prestasi Bersama Aam Nurhasanah
Gali Potensi, Ukir Prestasi: Belajar Menulis dari Perjalanan Inspiratif Neng Aam di KBMN PGRI Gelombang 34
Arus… Arus… Arus!
Suasana kelas malam itu terasa begitu hidup. Sapaan hangat dari moderator membuka ruang kebersamaan lintas daerah, lintas budaya, dan lintas semangat. Dari salam khas Nusantara hingga pekik semangat ala Suku Dayak Kalimantan Tengah, semua menyatu dalam satu tujuan: belajar menulis dan menggali potensi diri.
Pada materi ke-3 KBMN PGRI Gelombang 34, peserta diajak menyelami tema yang sangat menggugah: “Gali Potensi, Ukir Prestasi.” Materi ini disampaikan oleh sosok inspiratif, seorang guru sekaligus penulis produktif, Aam Nurhasanah dari Lebak, Banten.
Dari Peserta Biasa Menjadi Penulis Luar Biasa
Perjalanan Neng Aam bukanlah kisah instan yang penuh kemudahan. Ia pernah gagal saat pertama mengikuti KBMN. Namun, kegagalan itu tidak membuatnya berhenti. Ia bangkit, mencoba kembali di gelombang berikutnya, dan akhirnya berhasil lulus.
Dari situlah langkah kecilnya dimulai.
Buku pertama yang ia hasilkan adalah buku antologi berjudul “Semangat Menulis Bersama Bu Kanjeng.” Meski ditulis bersama, kebahagiaan memiliki karya pertama menjadi titik balik yang luar biasa. Ia kemudian melanjutkan tantangan berikutnya: menulis buku solo.
Lahirlah buku “Mengukir Mimpi Jadi Penulis Hebat.”
Dari satu buku, ia terus melangkah. Menjadi moderator, mengikuti lomba blog, menulis tanpa jeda selama 28 hari hingga meraih juara 1, menjadi editor, kurator, hingga akhirnya dipercaya sebagai narasumber.
Hari ini, Neng Aam telah menulis lebih dari 65 buku. Sebuah pencapaian yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga menginspirasi banyak guru dan penulis pemula di seluruh Indonesia.
Makna “Gali Potensi, Ukir Prestasi”
Dalam pemaparannya, Neng Aam menjelaskan bahwa setiap individu memiliki potensi. Namun, potensi itu tidak akan berarti jika tidak digali dan diasah.
Gali Potensi berarti:
- Mengenali apa yang kita sukai
- Menyadari pengalaman hidup kita
- Mengembangkan apa yang kita kuasai
Sedangkan Ukir Prestasi adalah proses panjang untuk menghasilkan karya nyata dari potensi tersebut. Seperti mengukir kayu, dibutuhkan ketekunan, kesabaran, dan konsistensi hingga menjadi karya yang indah.
Menulis dari Hal Sederhana
Salah satu pesan kuat dari Neng Aam adalah:
“Tulislah apa yang kita alami.”
Menulis tidak harus menunggu ide besar. Justru dari hal kecil sehari-hari, kita bisa menghasilkan tulisan yang bermakna. Pengalaman mengajar, perjalanan hidup, bahkan cerita sederhana di rumah bisa menjadi bahan tulisan.
Ia juga menegaskan bahwa menulis adalah cara terbaik untuk “mengikat ingatan.” Apa yang tidak ditulis, akan mudah hilang.
Mengatasi Hambatan Menulis
Banyak peserta yang mengeluhkan kesulitan dalam menulis, seperti:
- Ide yang tiba-tiba hilang
- Kurang percaya diri
- Takut salah atau dibuli
- Merasa tidak berbakat
Menanggapi hal ini, Neng Aam memberikan solusi praktis:
- Mulai dari menulis ringan dan sederhana
- Ikut tantangan menulis atau buku antologi
- Banyak membaca untuk memperkaya gaya bahasa
- Terus berlatih tanpa takut salah
Menurutnya, menulis bukan soal bakat, tetapi soal kebiasaan.
Dari Menulis untuk Diri, Hingga Menginspirasi Orang Lain
Perjalanan Neng Aam tidak berhenti pada dirinya sendiri. Ia mulai mengajak:
- Guru untuk menulis buku
- Kepala sekolah untuk berkarya
- Siswa untuk berani menulis
Bahkan, salah satu muridnya berhasil menorehkan prestasi menulis di tingkat nasional. Hal ini membuktikan bahwa menulis bukan hanya mengubah diri sendiri, tetapi juga bisa mengubah masa depan orang lain.
Ia juga pernah menjadi editor novel seorang TKI yang menulis kisah hidupnya melalui WhatsApp. Dari potongan cerita yang dikumpulkan selama dua bulan, lahirlah novel setebal 300 halaman.
Sebuah bukti bahwa setiap orang punya cerita, dan setiap cerita layak untuk ditulis.
Kolaborasi dan Kesempatan
Kesuksesan Neng Aam juga tidak lepas dari kolaborasi. Ia pernah menulis buku bersama Richardus Eko Indrajit, yang diterbitkan oleh penerbit mayor.
Buku tersebut berjudul:
“Parenting 4.0: Mengenali Pribadi dan Potensi Anak Generasi Multiple Intelligences.”
Dari sini terlihat bahwa dunia menulis membuka banyak peluang:
- Menjadi penulis
- Editor
- Kurator
- Narasumber
- Juri lomba
Semua berawal dari satu langkah kecil: menulis.
Jawaban atas Pertanyaan Peserta
Dalam sesi tanya jawab, beberapa pertanyaan menarik muncul, di antaranya:
1. Bagaimana membulatkan tekad untuk menulis?
Jawabannya: mulai dari komunitas dan tantangan menulis agar terbiasa.
2. Bagaimana menjaga inspirasi tetap ada?
Dengan menulis setiap hari, sekecil apa pun.
3. Apakah semua orang bisa menulis?
Ya. Menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih, bukan semata bakat.
4. Bagaimana mengatasi rasa takut salah?
Dengan berani mencoba dan tidak takut gagal.
5. Bagaimana membagi waktu sebagai ibu rumah tangga?
Dengan manajemen waktu dan konsistensi, meski sedikit demi sedikit.
Penutup: Saatnya Menulis, Bukan Menunggu
Materi malam itu memberikan satu pesan kuat:
Jangan tunggu hebat untuk menulis, tapi menulislah untuk menjadi hebat.
Setiap guru, setiap individu, memiliki potensi luar biasa. Tinggal bagaimana kita mau menggali dan mengasahnya. Menulis adalah salah satu jalan terbaik untuk mengukir prestasi.
Seperti perjalanan Neng Aam, dari kegagalan menjadi keberhasilan, dari peserta menjadi inspirator—semua dimulai dari keberanian untuk mencoba.
Kini, pertanyaannya bukan lagi “bisa atau tidak”, tetapi:
“Mau mulai menulis hari ini, atau tetap menunda?”
Karena sejatinya, setiap tulisan yang kita buat hari ini, adalah jejak yang akan dikenang di masa depan.
Arus… Arus… Arus! 🚀
Menyalakan Pijar Menulis dari Dalam Diri: Menyambut Pertemuan Ketiga KBMN PGRI yang Menginspirasi
Menyalakan Pijar Menulis dari Dalam Diri: Menyambut Pertemuan Ketiga KBMN PGRI yang Menginspirasi
Di dalam lubuk hati yang paling dalam, setiap manusia sesungguhnya menyimpan potensi tak terbatas. Potensi itu ibarat sebongkah kayu yang belum tersentuh pahat—diam, namun menyimpan kemungkinan menjadi karya seni yang luar biasa. Hanya mereka yang berani menggali, mengukir, dan membentuknya dengan kesungguhanlah yang mampu melahirkan mahakarya bernama prestasi.
Begitu pula dengan dunia menulis. Ia bukan sekadar aktivitas merangkai kata, melainkan sebuah perjalanan panjang untuk menemukan jati diri, menyalakan kreativitas, serta meninggalkan jejak pemikiran yang abadi. Menulis adalah seni, ilmu, sekaligus ibadah intelektual yang mengangkat derajat manusia.
Semangat inilah yang terus digaungkan dalam kegiatan KBMN PGRI (Kelas Belajar Menulis Nusantara Persatuan Guru Republik Indonesia)—sebuah gerakan literasi yang telah melahirkan ribuan penulis dari kalangan guru di seluruh Indonesia. Kini, semangat itu kembali menggelora dalam pertemuan ketiga KBMN PGRI, yang siap menjadi momentum penting bagi para peserta untuk naik kelas dalam dunia kepenulisan.
Menulis: Dari Potensi Menjadi Prestasi
Menulis sering kali dianggap sebagai kegiatan yang sulit. Banyak orang merasa tidak berbakat, tidak punya ide, atau takut tulisannya tidak bagus. Padahal, sejatinya menulis adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dilatih.
Setiap kata yang kita tulis adalah cerminan dari apa yang kita pikirkan dan rasakan. Saat kita menulis, kita sedang berdialog dengan diri sendiri, sekaligus berbicara kepada dunia. Di situlah potensi kita perlahan muncul ke permukaan.
Dalam KBMN PGRI, para peserta tidak hanya diajarkan teknik menulis, tetapi juga diajak untuk menggali potensi diri. Mereka didorong untuk berani memulai, konsisten berlatih, dan percaya bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak untuk dibagikan.
Pertemuan Ketiga: Momentum Menyalakan Api Semangat
Pertemuan ketiga KBMN PGRI bukan sekadar agenda rutin. Ia adalah momentum penting untuk memperkuat fondasi menulis yang telah dibangun sejak pertemuan sebelumnya.
Malam ini, suasana akan berbeda. Energi positif akan mengalir dari narasumber yang telah berpengalaman dan terbukti mampu menginspirasi banyak penulis pemula hingga menjadi penulis produktif. Narasumber ini akan menjadi “penyulut api”, yang menyalakan kembali semangat yang mungkin mulai redup.
Peserta akan diajak untuk:
Memahami makna menulis yang lebih dalam
Mengatasi hambatan mental dalam menulis
Mengasah kreativitas dalam menemukan ide
Membangun kebiasaan menulis secara konsisten
Menjadikan tulisan sebagai jalan prestasi
Ini bukan sekadar belajar, tetapi sebuah pengalaman transformasi.
KBMN PGRI: Gerakan Literasi yang Menggerakkan
KBMN PGRI bukan hanya kelas biasa. Ia adalah gerakan nasional yang telah membuktikan bahwa guru Indonesia mampu menjadi penulis hebat.
Banyak peserta yang awalnya merasa tidak bisa menulis, kini telah berhasil:
Menerbitkan buku solo maupun antologi
Menulis artikel di media nasional
Menjadi narasumber literasi
Menginspirasi siswa untuk gemar menulis
Salah satu sosok inspiratif dalam gerakan ini adalah Dr. Wijaya Kusumah, yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia. Beliau adalah contoh nyata bagaimana konsistensi dalam menulis mampu mengubah hidup seseorang.
Omjay menulis setiap hari. Dari kebiasaan sederhana itu, lahirlah ratusan bahkan ribuan tulisan yang menginspirasi banyak orang. Ia tidak menunggu sempurna untuk mulai menulis, tetapi memulai dari apa yang ada, lalu terus belajar dan berkembang.
Kisah Omjay menjadi bukti bahwa menulis bukan tentang bakat semata, tetapi tentang kemauan, ketekunan, dan keberanian untuk memulai.
Menulis sebagai Jejak Abadi
Dalam dunia yang terus berubah, tulisan adalah jejak yang tidak mudah hilang. Apa yang kita tulis hari ini bisa menjadi inspirasi bagi orang lain di masa depan.
Bayangkan, satu tulisan sederhana yang Anda buat bisa:
Mengubah cara pandang seseorang
Memberikan semangat bagi yang sedang putus asa
Menjadi sumber ilmu bagi banyak orang
Bahkan menjadi warisan intelektual yang tak ternilai
Inilah kekuatan menulis. Ia melampaui ruang dan waktu.
Mengapa Anda Harus Hadir?
Pertemuan ketiga KBMN PGRI adalah kesempatan emas yang tidak boleh dilewatkan. Ini adalah saat yang tepat untuk:
Mengisi ulang semangat menulis
Belajar dari narasumber inspiratif
Berjejaring dengan sesama pegiat literasi
Mengembangkan potensi diri secara maksimal
Jangan biarkan potensi Anda tetap terkubur. Jangan biarkan ide-ide brilian hanya menjadi angan-angan. Saatnya Anda mengambil langkah nyata.
Saatnya Mengukir Mahakarya Anda
Seperti seniman yang mengukir kayu menjadi karya indah, Anda pun bisa mengukir diri Anda melalui tulisan. Setiap kata adalah pahat. Setiap kalimat adalah goresan. Dan setiap tulisan adalah karya.
Tidak perlu menunggu hebat untuk mulai. Mulailah, maka Anda akan menjadi hebat.
Malam ini, pijar itu akan dinyalakan. Api semangat akan disulut. Dan Anda adalah bagian dari perjalanan besar ini.
So, tunggu apa lagi?
Mari bergabung dalam pertemuan ketiga KBMN PGRI.
Nyalakan semangat, temukan potensi, dan ukir prestasi melalui tulisan.
Karena dunia membutuhkan lebih banyak penulis yang berani bersuara.
Dan mungkin… salah satunya adalah Anda.
Rabu, 22 April 2026
Membuat Resume di Blog
Menulis Resume di Blog
Senin, 20 April 2026
Menulis adalah Passion
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)
Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI kembali hadir. Malam itu, suasana terasa berbeda. Bukan karena kemewahan tempat atau gemerlap panggung, tetapi karena semangat yang terpancar dari layar-layar kecil di aplikasi Zoom. Ya, opening ceremony KBMN PGRI angkatan ke-34 resmi digelar secara daring, namun tetap mampu menghadirkan kehangatan dan energi yang luar biasa.
Sebagai seorang guru sekaligus pegiat literasi, saya—yang akrab disapa Omjay—merasakan kembali getaran semangat yang dulu pernah saya rasakan saat pertama kali belajar menulis. Meski hanya melalui layar, acara tersebut dikemas dengan cukup menarik. Terlihat jelas bahwa panitia bekerja dengan penuh dedikasi. Profesionalitas mereka patut diapresiasi. Dari susunan acara hingga pengaturan teknis, semuanya berjalan rapi.
Awalnya, acara ini direncanakan akan dibuka langsung oleh Pak Sumardiansyah Perdana Kusuma dari PGRI. Namun, karena adanya agenda lain di Surabaya yang waktunya bersamaan, beliau tidak dapat hadir. Sebagai gantinya, beliau menunjuk Sekretaris Jenderal APKS PGRI, Bapak Dudi Wahyudi.
Saya mengenal beliau sebagai sosok yang aktif, termasuk dalam pengelolaan KTA PGRI. Malam itu, Alhamdulillah beliau hadir dan memberikan sambutan yang hangat. Meski dalam sambutannya beliau tampak lupa secara eksplisit membuka acara, namun kehadirannya saja sudah menjadi bentuk dukungan yang luar biasa bagi keberlangsungan KBMN.
Memasuki angkatan ke-34 bukanlah perjalanan yang mudah. Konsistensi adalah kunci. Di tengah derasnya arus digitalisasi, terutama dalam dunia tulis-menulis, mempertahankan kelas seperti KBMN bukan perkara sederhana. Hari ini, menulis bukan lagi sesuatu yang dianggap sulit. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara orang memproduksi tulisan.
Banyak yang mulai berpikir praktis: untuk apa belajar menulis jika mesin bisa melakukannya dengan cepat dan rapi?
Pertanyaan itu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Menulis sejatinya bukan hanya tentang menghasilkan teks. Menulis adalah proses. Ia adalah perjalanan batin. Dalam setiap kata yang kita rangkai, ada perasaan yang disisipkan, ada pengalaman yang dituangkan, dan ada keresahan yang ingin disampaikan. Menulis adalah perpaduan antara logika dan emosi.
AI memang mampu menghasilkan tulisan yang terstruktur, sistematis, bahkan tampak ilmiah. Namun, jika tidak disentuh oleh rasa manusia, tulisan itu akan terasa hambar. Ia mungkin benar secara tata bahasa, tetapi kosong secara makna.
Saya sering mengatakan kepada peserta KBMN PGRI: *“Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi.”*
AI hanyalah alat bantu. Ia tidak memiliki empati. Ia tidak pernah merasakan sedih, bahagia, kecewa, atau harapan. Ia hanya mengolah data. Bahkan, jika data yang diberikan keliru, maka hasilnya pun bisa menyesatkan.
Di sinilah pentingnya kelas belajar menulis seperti KBMN. Kelas ini bukan hanya tempat belajar teknik menulis, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Di dalamnya, peserta dilatih untuk merangkai kata secara alami, menyusun kalimat yang hidup, dan membangun logika berpikir yang runtut.
Lebih dari itu, KBMN adalah ruang berbagi energi positif. Para peserta tidak berjalan sendiri. Mereka didampingi oleh mentor dan narasumber yang dengan sabar memberikan arahan dan motivasi. Setiap pertemuan adalah suntikan semangat baru.
Saya melihat sendiri bagaimana banyak peserta yang awalnya ragu, perlahan mulai percaya diri. Dari yang tidak pernah menulis, menjadi penulis yang produktif. Dari yang hanya pembaca, menjadi kontributor aktif di berbagai platform literasi.
Itulah kekuatan komunitas.
Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari gerakan ini. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga soal membangun peradaban. Bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar menulis, karena melalui tulisan, gagasan dapat diwariskan lintas generasi.
KBMN PGRI adalah salah satu bukti nyata bahwa gerakan literasi di Indonesia terus hidup. Bahkan, di tengah tantangan zaman yang serba instan, masih ada ruang bagi mereka yang ingin belajar dengan proses.
Saya percaya, peserta KBMN angkatan 34 adalah orang-orang pilihan. Mereka yang tidak sekadar ingin cepat, tetapi ingin benar. Mereka yang tidak hanya ingin dikenal, tetapi ingin memberi makna.
Akhirnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh peserta KBMN PGRI angkatan 34. Nikmati setiap prosesnya. Jangan takut salah, karena dari kesalahan kita belajar. Jangan malu memulai, karena setiap penulis hebat pernah menjadi pemula.
Teruslah menulis. Teruslah berkarya.
Semoga dari kelas ini lahir penulis-penulis hebat yang mampu membumikan gerakan literasi nasional. Penulis yang tidak hanya cerdas secara kata, tetapi juga bijak dalam rasa.
Karena pada akhirnya, tulisan terbaik bukanlah yang paling panjang atau paling indah, tetapi yang paling jujur—yang lahir dari hati.
Salam literasi. ✍️
Blog https://wijayalabs.com



