Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Sabtu, 03 Oktober 2026
Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan Ketiga Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia
Pengalaman Belajar
Belajar Mendalam dalam Kisah Omjay: Dari Memahami, Mengaplikasi, hingga Merefleksi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu saya kembali mendapatkan satu pemahaman penting tentang pendidikan. Sebuah slide sederhana terpampang di layar dengan judul “Pengalaman Belajar”.
Di dalamnya terdapat sebuah siklus yang menarik perhatian saya:
Memahami → Mengaplikasi → Merefleksi
Di tengah lingkaran itu tertulis Pembelajaran Mendalam.
Saya langsung berpikir, “Bukankah sebenarnya guru setiap hari sedang melakukan perjalanan seperti ini?”
Guru mengajak peserta didik memahami sesuatu. Setelah memahami, mereka mencoba menerapkannya. Kemudian mereka melihat kembali apa yang sudah dilakukan, menemukan kekurangan, dan memperbaikinya.
Bagi saya, inilah pembelajaran yang sesungguhnya.
Belajar bukan sekadar menghafal
Selama menjadi guru, saya semakin menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari kemampuan siswa menjawab soal.
Siswa bisa saja mendapatkan nilai tinggi dalam sebuah ujian, tetapi belum tentu memahami makna dari apa yang dipelajarinya.
Sebaliknya, seorang siswa mungkin melakukan kesalahan ketika mengerjakan sebuah tugas. Namun, jika ia mampu menyadari kesalahannya, memperbaikinya, dan mencoba kembali, sebenarnya ia sedang mengalami proses belajar yang sangat berharga.
Karena itu, pembelajaran mendalam bukan sekadar membuat siswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka memahami, menggunakan, dan merefleksikan pengetahuan tersebut.
Dalam gambar yang saya lihat, pengalaman belajar diarahkan secara bertahap untuk mencapai pembelajaran mendalam.
Ada tiga proses penting yang digambarkan melalui sebuah siklus.
1. Memahami
Tahap pertama adalah memahami.
Pada tahap ini peserta didik membangun pengetahuan. Mereka tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi berusaha menemukan hubungan antara pengetahuan baru dengan pengalaman yang sudah dimiliki.
Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya sering menemukan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika mereka melihat contoh nyata.
Misalnya ketika belajar tentang kecerdasan artifisial, saya tidak ingin siswa hanya mengetahui definisi AI dari buku.
Saya mengajak mereka bertanya:
“Di mana kalian menemukan AI dalam kehidupan sehari-hari?”
Mereka kemudian mulai menyebutkan mesin pencari, rekomendasi video, kamera pada telepon pintar, penerjemah otomatis, chatbot, hingga berbagai aplikasi yang mereka gunakan.
Dari situ pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Mereka tidak sekadar menghafal pengertian AI.
Mereka memahami keberadaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengaplikasi
Setelah memahami, siswa perlu diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan.
Inilah bagian yang sering membuat pembelajaran menjadi lebih hidup.
Pengetahuan yang hanya tersimpan di kepala belum tentu memberikan manfaat jika tidak digunakan.
Dalam pembelajaran Informatika dan Koding, misalnya, setelah siswa memahami algoritma, mereka dapat diminta membuat langkah-langkah penyelesaian sebuah masalah.
Setelah memahami konsep coding, mereka dapat membuat program sederhana.
Setelah memahami AI, mereka dapat mencoba menggunakan AI secara bertanggung jawab untuk membantu proses belajar.
Saya selalu senang melihat siswa mulai berkata,
“Pak, ternyata saya bisa membuatnya.”
Kalimat sederhana itu sangat berarti bagi seorang guru.
Ada rasa percaya diri yang tumbuh.
Siswa mulai menyadari bahwa dirinya bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga bisa menjadi pencipta teknologi.
Di sinilah pengetahuan aplikatif menjadi penting.
3. Merefleksi
Tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah merefleksi.
Bagi saya, refleksi sering kali menjadi bagian yang terlupakan dalam pembelajaran.
Setelah tugas selesai, guru terkadang langsung memberikan nilai.
Padahal masih ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apa yang sudah dipelajari?
Apa yang masih sulit?
Apa kesalahan yang terjadi?
Mengapa kesalahan itu terjadi?
Apa yang akan dilakukan agar menjadi lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuat siswa belajar mengenal dirinya sendiri.
Mereka mulai memiliki kemampuan regulasi diri.
Mereka tidak lagi selalu menunggu guru mengatakan apa yang harus dilakukan.
Mereka mulai mampu merencanakan, mengerjakan, memantau, mengevaluasi, dan memperbaiki proses belajarnya.
Bagi saya, inilah salah satu tujuan penting pendidikan.
Pengetahuan bukan hanya tentang materi
Slide tersebut juga mengingatkan saya bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berkaitan dengan satu jenis pengetahuan.
Ada pengetahuan esensial, pengetahuan aplikatif, serta pengetahuan nilai dan karakter.
Ketiganya perlu berjalan bersama.
Pengetahuan esensial menjawab pertanyaan:
“Apa yang perlu saya ketahui?”
Pengetahuan aplikatif menjawab:
“Bagaimana pengetahuan ini dapat saya gunakan?”
Sedangkan pengetahuan nilai dan karakter mengajak siswa bertanya:
“Untuk apa pengetahuan ini digunakan dan bagaimana saya menggunakannya dengan baik?”
Pertanyaan terakhir sangat penting di era teknologi dan kecerdasan artifisial.
Siswa mungkin mampu menggunakan AI.
Tetapi apakah mereka mampu menggunakannya secara bertanggung jawab?
Siswa mungkin mampu membuat konten digital.
Tetapi apakah mereka memahami etika dalam membuat dan menyebarkan konten?
Siswa mungkin mampu mencari informasi dengan cepat.
Tetapi apakah mereka mampu membedakan informasi yang benar dan keliru?
Di sinilah pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak boleh dipisahkan dari pembelajaran teknologi.
Pengalaman Omjay menggunakan KKA
Ketika saya mengajarkan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), saya semakin merasakan bahwa pembelajaran tidak bisa hanya berorientasi pada hasil akhir.
Saya lebih suka mengajak siswa menikmati proses.
Misalnya, ketika siswa diminta membuat sebuah proyek sederhana, saya membiarkan mereka mengalami proses mencoba.
Ada yang berhasil.
Ada yang salah.
Ada yang programnya tidak berjalan.
Ada yang bingung mencari penyebabnya.
Ada pula yang akhirnya meminta bantuan temannya.
Saya mengatakan kepada mereka:
“Kesalahan bukan musuh dalam belajar. Kesalahan adalah guru yang mengajarkan kita sesuatu.”
Dari kesalahan itulah siswa belajar melakukan debugging.
Mereka belajar berpikir logis.
Mereka belajar bekerja sama.
Mereka belajar bertanya.
Mereka belajar mencari solusi.
Dan yang paling penting, mereka belajar untuk tidak mudah menyerah.
Pembelajaran mendalam membutuhkan pengalaman
Bagi saya, pengalaman adalah guru yang sangat kuat.
Saya sudah lama berada di dunia pendidikan. Sejak mengajar di SMP Labschool Jakarta, saya melihat perubahan zaman yang luar biasa. Teknologi berubah, perangkat berubah, aplikasi berubah, bahkan cara anak-anak belajar juga berubah.
Namun ada satu hal yang tidak berubah.
Anak-anak tetap membutuhkan guru yang mau mendampingi proses belajarnya.
Teknologi dapat memberikan informasi dengan sangat cepat.
AI dapat membantu mencari ide.
Internet dapat menyediakan berbagai sumber belajar.
Tetapi pengalaman belajar tetap membutuhkan manusia yang mampu memberikan makna.
Guru bukan sekadar penyampai materi.
Guru adalah pendamping perjalanan belajar.
Karena itu saya percaya bahwa teknologi seharusnya memperkuat pembelajaran, bukan menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pendidikan.
Belajar adalah sebuah siklus
Saya kemudian melihat kembali gambar berbentuk lingkaran itu.
Memahami.
Mengaplikasi.
Merefleksi.
Kemudian kembali lagi untuk memahami sesuatu yang lebih baik.
Begitu seterusnya.
Tidak ada titik akhir dalam belajar.
Hari ini kita memahami sesuatu.
Besok kita mencoba menerapkannya.
Setelah itu kita melakukan refleksi.
Dari refleksi, kita menemukan kekurangan.
Kekurangan tersebut menjadi dasar untuk belajar kembali.
Maka terbentuklah sebuah siklus pembelajaran yang terus berkembang.
Saya teringat prinsip sederhana yang sering saya pegang:
Menulislah dari pengalaman, belajarlah dari pengalaman, dan bagikan pengalaman agar menjadi pembelajaran bagi orang lain.
Pengalaman seorang guru sebenarnya adalah sumber belajar yang sangat kaya.
Pengalaman ketika mengajar.
Pengalaman ketika gagal.
Pengalaman ketika menemukan metode baru.
Pengalaman ketika melihat siswa berhasil.
Semuanya dapat menjadi bahan refleksi.
Guru juga harus terus belajar
Sering kali kita berbicara tentang siswa yang harus belajar sepanjang hayat.
Padahal guru pun harus melakukan hal yang sama.
Saya sendiri terus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi pendidikan, Informatika, Koding, dan AI.
Saya belajar bukan karena sudah pintar.
Saya belajar karena sadar bahwa dunia terus berubah.
Hari ini kita merasa sudah menguasai sebuah teknologi. Besok muncul teknologi baru.
Hari ini kita merasa sudah memahami cara mengajar. Besok kita bertemu siswa dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, guru tidak boleh berhenti belajar.
Guru yang berhenti belajar akan kesulitan mengajak muridnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Dari pembelajaran menuju kehidupan
Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan hanya tentang apa yang terjadi di ruang kelas.
Tujuan akhirnya adalah bagaimana pengetahuan itu dibawa ke kehidupan.
Siswa belajar matematika untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.
Siswa belajar bahasa untuk berkomunikasi.
Siswa belajar Informatika untuk memecahkan masalah dengan teknologi.
Siswa belajar AI agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.
Siswa belajar karakter agar pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk kebaikan.
Karena itu, saya melihat pendidikan sebagai sebuah perjalanan.
Memahami membuat kita tahu.
Mengaplikasi membuat kita mampu.
Merefleksi membuat kita bertumbuh.
Dan ketika ketiganya berjalan bersama, terjadilah pembelajaran mendalam.
Penutup: Guru pun sedang menjalani proses belajar
Saya pulang dari kegiatan itu dengan sebuah kesadaran baru.
Ternyata bukan hanya murid yang sedang belajar.
Saya sebagai guru juga sedang belajar.
Setiap pertemuan dengan siswa memberikan pengalaman baru.
Setiap kesalahan memberikan pelajaran.
Setiap keberhasilan memberikan rasa syukur.
Setiap refleksi memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Itulah mengapa saya menikmati perjalanan sebagai guru.
Saya tidak ingin hanya menjadi guru yang menyampaikan materi.
Saya ingin menjadi guru yang terus belajar, terus berbagi, dan terus memberikan inspirasi.
Sebab pendidikan bukan tentang seberapa banyak materi yang mampu kita selesaikan.
Pendidikan adalah tentang seberapa dalam pengalaman belajar mampu mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, berkarya, dan menjalani kehidupannya.
Dan perjalanan itu tidak pernah selesai.
Mari terus memahami.
Mari terus mengaplikasikan.
Mari terus merefleksikan.
Mari terus belajar.
Karena sesungguhnya, belajar adalah perjalanan seumur hidup.
— Omjay
Guru Blogger Indonesia
Pendaftaran Lomba OTN 8 di JICC Senayan Jakarta
Workshop Persiapan AMI SMP Labschool Jakarta
Workshop Persiapan AMI 2026 SMP Labschool Jakarta: Menata Administrasi, Pembelajaran, dan Pemanfaatan AI
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Persiapan menghadapi Audit Mutu Internal (AMI) 2026 bukan sekadar menyiapkan dokumen administrasi. Lebih dari itu, AMI menjadi momentum bagi sekolah untuk melakukan refleksi, memperbaiki proses pembelajaran, menata administrasi, dan memastikan berbagai program sekolah berjalan secara terencana dan terdokumentasi.
Untuk itulah SMP Labschool Jakarta melaksanakan Workshop Persiapan AMI 2026 selama tiga hari, mulai Jumat, 2 Oktober sampai Minggu, 4 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan ini dirancang tidak hanya dalam bentuk paparan materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik, pelengkapan administrasi, brainstorming, hingga pengumpulan dokumen AMI.
Hari Pertama: Memahami Arah Sekolah dan Instrumen AMI
Kegiatan dimulai pada Jumat, 2 Oktober 2026 dengan registrasi peserta pukul 13.00–13.30 dan dilanjutkan dengan pembukaan.
Materi pertama berlangsung pukul 14.00–15.30 dengan tema “Mewujudkan Sekolah Hijau melalui Pembelajaran Berbasis Lingkungan”. Materi ini disampaikan oleh Dr. Taufiq Supriadi dengan PJ Ali Topan, S.Pd.
Tema sekolah hijau menarik karena pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pencapaian akademik. Sekolah juga mempunyai tanggung jawab untuk membangun kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
Setelah ISOMA, peserta mendapatkan Paparan Instrumen AMI pukul 16.00–17.30. Materi ini disampaikan oleh Pandu Novialdi, M.Pd., dengan Fardiah Musni, S.Pd. sebagai PJ.
Pemahaman terhadap instrumen AMI menjadi penting karena dokumen yang disiapkan harus benar-benar menggambarkan pelaksanaan program sekolah.
Malam harinya, pukul 19.30–21.00, peserta mengikuti Paparan Program Sekolah Model yang disampaikan oleh Dr. Yati Suwartini, M.Pd. dengan PJ Siti Innayatu Sholiha, S.Pd.
Hari pertama menjadi fondasi penting. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi mulai memahami bahwa AMI berkaitan erat dengan budaya mutu sekolah.
Hari Kedua: Dari Materi Menuju Praktik
Sabtu, 3 Oktober 2026 menjadi hari yang cukup padat.
Setelah sarapan, pukul 08.00–10.00 guru mengikuti Penyusunan Rencana Pembelajaran PM, KKA, berbasis STEM dan LITNUM. Materi ini menghadirkan Adien Novarisa, M.Pd., dengan PJ Wianti, S.S.
Sementara itu, tenaga kependidikan mendapatkan materi ISO 15489 dan 30301 yang dijadwalkan pukul 08.00–12.00, dengan narasumber masih dalam konfirmasi dan PJ Ilham Wijiyatno, S.Kom.
Menariknya, setelah sesi materi, peserta langsung diarahkan untuk melengkapi administrasi pembelajaran dan instrumen AMI. Kegiatan ini dilakukan beberapa sesi, yaitu pukul 10.00–12.00, 13.00–15.00, dan kembali pukul 19.30–21.00.
Di sinilah workshop benar-benar terasa manfaatnya.
Peserta tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi langsung membuka dokumen, memeriksa kelengkapan administrasi, memperbaiki bagian yang masih kurang, dan memastikan bukti pelaksanaan pembelajaran tersedia.
Ada Sesi Brainstorming Penggunaan AI
Salah satu kegiatan yang menarik dalam workshop ini adalah Brainstorming Penggunaan AI yang dilaksanakan Sabtu, 3 Oktober 2026 pukul 15.30–17.30.
Kegiatan tersebut melibatkan Pimpinan Sekolah dengan PJ Ita Berleani, S.Pd.
Kehadiran AI dalam agenda workshop menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan dan pembelajaran di sekolah.
AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyusun rancangan, menganalisis data, membantu pekerjaan administratif, maupun mendukung proses pembelajaran.
Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia.
AI adalah alat. Guru tetap menjadi manusia yang menentukan tujuan, memberikan konteks, melakukan verifikasi, dan mengambil keputusan.
Karena itu, brainstorming menjadi penting agar penggunaan AI di sekolah tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dan pembelajaran.
Hari Ketiga: Mengumpulkan dan Memastikan Kelengkapan
Minggu, 4 Oktober 2026 menjadi tahap akhir workshop.
Kegiatan dimulai dengan sarapan pukul 06.00–08.00. Selanjutnya pukul 08.00–10.00 dilaksanakan Pengumpulan Administrasi Pembelajaran dan Instrumen AMI yang dikoordinasikan oleh panitia. Setelah itu, kegiatan ditutup pada pukul 10.00.
Dengan demikian, rangkaian workshop selama tiga hari memiliki alur yang cukup jelas:
memahami → menyusun → melengkapi → mengevaluasi → mengumpulkan.
Inilah yang membuat persiapan AMI menjadi proses pembelajaran bagi seluruh warga sekolah.
AMI Bukan Sekadar Menyiapkan Dokumen
Sering kali ketika mendengar kata audit, yang terbayang adalah tumpukan dokumen dan administrasi.
Padahal, AMI seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya:
- Apakah program sekolah sudah berjalan?
- Apakah pembelajaran sudah direncanakan dengan baik?
- Apakah dokumen yang dibuat sesuai dengan praktik di lapangan?
- Apakah bukti pelaksanaan tersedia?
- Apa yang sudah baik?
- Apa yang masih perlu diperbaiki?
Dokumen memang penting. Namun, dokumen harus menjadi cermin dari praktik nyata, bukan sekadar dibuat karena akan diperiksa.
Karena itu, kegiatan workshop seperti ini menjadi ruang yang baik bagi guru, tenaga kependidikan, dan pimpinan sekolah untuk duduk bersama, melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan, kemudian memperbaikinya secara berkelanjutan.
Belajar Bersama untuk Meningkatkan Mutu Sekolah
Dari jadwal workshop terlihat bahwa persiapan AMI 2026 di SMP Labschool Jakarta tidak hanya berfokus pada satu bidang.
Ada pembelajaran berbasis lingkungan, instrumen AMI, program sekolah model, perencanaan pembelajaran PM dan KKA, STEM dan LITNUM, pengelolaan arsip melalui ISO, administrasi pembelajaran, hingga pemanfaatan AI.
Semua bagian tersebut saling berkaitan.
Sekolah yang bermutu bukan hanya sekolah yang memiliki banyak program. Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu merencanakan program, melaksanakan dengan baik, mendokumentasikan, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Workshop Persiapan AMI 2026 menjadi salah satu langkah untuk membangun budaya tersebut.
Pada akhirnya, AMI bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
AMI adalah kesempatan untuk bercermin.
Melalui AMI, sekolah dapat melihat apa yang sudah dilakukan, apa yang belum lengkap, dan apa yang harus diperbaiki.
Dan dari sanalah peningkatan mutu sekolah dimulai.
Menata dokumen, memperbaiki pembelajaran, memanfaatkan teknologi, dan membangun budaya mutu bersama.
Itulah semangat Workshop Persiapan AMI SMP Labschool Jakarta 2026.
Jakarta, 3 Oktober 2026
Jumat, 02 Oktober 2026
Tugas Pertemuan Kedua KBMN PGRI
๐ TUGAS PERTEMUAN KEDUA
KBMN PGRI GELOMBANG 35
Tema: PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN
Sahabat penulis KBMN PGRI Gelombang 35,
Setiap orang mempunyai cerita.
Tidak harus cerita besar. Pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi tulisan yang menarik dan menginspirasi.
Pada pertemuan kedua ini, mari kita belajar menulis dari pengalaman sendiri.
๐ฏ TUGAS
Tulislah satu pengalaman yang paling berkesan atau tidak terlupakan dalam kehidupan Anda.
Pengalaman tersebut boleh berupa:
- pengalaman pertama menjadi guru;
- pengalaman pertama mengajar;
- pengalaman mengikuti pelatihan;
- pengalaman bertemu seseorang;
- pengalaman mendapatkan hadiah;
- pengalaman mengalami kegagalan;
- pengalaman meraih keberhasilan;
- pengalaman perjalanan;
- pengalaman menulis;
- pengalaman bersama keluarga;
- pengalaman membantu orang lain;
- atau pengalaman sederhana lainnya.
✍️ Ketentuan Tugas
Tulislah cerita sebanyak 300–500 kata.
Agar mudah, jawab terlebih dahulu 5 pertanyaan berikut:
1. Apa pengalaman yang Anda alami?
2. Kapan dan di mana pengalaman itu terjadi?
3. Siapa saja yang terlibat?
4. Apa yang Anda rasakan saat mengalami kejadian tersebut?
5. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?
Setelah menjawab kelima pertanyaan tersebut, gabungkan jawaban Anda menjadi sebuah cerita.
๐ Format Sederhana
Judul:
Buat judul yang menarik.
Pembuka:
Ceritakan kapan dan bagaimana pengalaman itu dimulai.
Isi:
Ceritakan kejadian yang Anda alami dan perasaan Anda.
Penutup:
Tuliskan pelajaran atau hikmah yang Anda dapatkan.
๐ฑ Contoh judul
- Pengalaman Pertama Menjadi Guru
- Hari yang Tidak Pernah Saya Lupakan
- Ketika Saya Hampir Menyerah
- Pengalaman Pertama Saya Menulis
- Sebuah Pertemuan yang Mengubah Hidup Saya
- Dari Kegagalan Saya Belajar
- Perjalanan yang Penuh Makna
๐ก Tips
Jangan takut tulisan Anda jelek.
Jangan terlalu lama mencari kata-kata yang indah.
Tulislah apa yang Anda alami dan rasakan.
Tulislah dengan bahasa sendiri.
Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.
Yang paling penting adalah mulai menulis.
๐ฎ Cara Mengumpulkan
- Tulis pengalaman Anda di blog pribadi atau media yang ditentukan.
- Berikan judul yang menarik.
- Baca kembali tulisan sebelum dipublikasikan.
- Bagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35 sesuai petunjuk panitia.
๐ Kalimat Penyemangat
"Jangan menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Mulailah menulis, maka perlahan kita akan menjadi penulis."
Selamat menulis pengalaman terbaik Anda.
Bisa jadi pengalaman yang menurut kita sederhana, justru menjadi inspirasi bagi orang lain.
Salam literasi.
Omjay
Guru Blogger Indonesia
KBMN PGRI Gelombang 35
Pertemuan Kedua KBMN PGRI Gelombang 35 Pengalaman yang Tak Terlupakan
PERTEMUAN KEDUA
KBMN PGRI GELOMBANG 35
PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN
Menulis Kisah Nyata dengan Hati
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pertemuan kedua ini, peserta diharapkan mampu:
- Menemukan pengalaman pribadi yang menarik untuk ditulis.
- Mengubah pengalaman menjadi sebuah cerita yang enak dibaca.
- Menentukan konflik atau masalah dalam cerita.
- Menuliskan perasaan dan refleksi dari pengalaman tersebut.
- Membuat tulisan yang menyentuh, inspiratif, dan memiliki pesan.
- Membiasakan diri menulis dari pengalaman sehari-hari.
B. Mengapa Pengalaman Layak Ditulis?
Setiap orang memiliki cerita.
Ada pengalaman yang membuat kita bahagia, sedih, kecewa, takut, bangga, malu, terharu, bahkan hampir menyerah.
Namun, tidak semua pengalaman harus berlalu begitu saja.
Pengalaman yang kita tuliskan akan menjadi dokumentasi kehidupan.
Apa yang hari ini terlihat sederhana, beberapa tahun kemudian bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.
Menulis pengalaman berarti mengabadikan perjalanan hidup.
Kita tidak harus menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis.
Kita hanya perlu memiliki pengalaman dan keberanian untuk menceritakannya.
C. Pengalaman yang Tak Terlupakan Itu Seperti Apa?
Pengalaman tak terlupakan tidak selalu berupa peristiwa besar.
Contohnya:
- pertama kali menjadi guru;
- pertama kali berdiri di depan kelas;
- bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup;
- mendapatkan penghargaan;
- mengalami kegagalan;
- kehilangan seseorang yang dicintai;
- melakukan perjalanan yang berkesan;
- mengalami kecelakaan;
- berhasil melewati masa sulit;
- bertemu kembali dengan sahabat lama;
- pengalaman mengikuti pelatihan;
- pengalaman menerbitkan buku;
- pengalaman pertama kali menulis;
- pengalaman menggunakan AI dalam pembelajaran;
- pengalaman membantu orang lain;
- pengalaman yang membuat kita semakin bersyukur.
Kuncinya bukan seberapa besar peristiwanya, tetapi seberapa besar maknanya bagi kita.
D. Rumus Sederhana Menulis Pengalaman
Gunakan rumus:
5W + 1H + PERASAAN + MAKNA
1. What — Apa yang terjadi?
Tuliskan peristiwa yang dialami.
2. Who — Siapa yang terlibat?
Ceritakan tokoh-tokoh yang ada dalam pengalaman tersebut.
3. When — Kapan terjadi?
Tuliskan waktu atau periode kejadian.
4. Where — Di mana terjadi?
Gambarkan tempat kejadian.
5. Why — Mengapa terjadi?
Jelaskan latar belakang peristiwa.
6. How — Bagaimana kejadiannya?
Ceritakan kronologi secara runtut.
Kemudian tambahkan:
7. Feel — Apa yang saya rasakan?
Inilah bagian yang membuat tulisan menjadi hidup.
8. Meaning — Apa maknanya?
Apa pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut?
E. Jangan Hanya Menceritakan Peristiwa
Kesalahan yang sering terjadi ketika menulis pengalaman adalah hanya menceritakan kronologi.
Contoh:
Saya pergi ke sekolah. Setelah itu saya mengajar. Kemudian saya pulang. Besoknya saya kembali mengajar.
Tulisan seperti ini memang benar, tetapi belum tentu menarik.
Cobalah memasukkan perasaan.
Pagi itu saya berdiri di depan kelas dengan tangan sedikit gemetar. Puluhan pasang mata siswa memandang ke arah saya. Untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Ada tanggung jawab besar yang harus saya jalankan.
Tulisan kedua lebih hidup karena pembaca dapat merasakan suasananya.
Jadi, jangan hanya menceritakan apa yang terjadi. Ceritakan juga apa yang kita rasakan.
F. Gunakan Teknik "Tunjukkan, Jangan Hanya Katakan"
Daripada menulis:
Saya sangat sedih.
Cobalah:
Saya terdiam cukup lama. Mata saya mulai berkaca-kaca. Tidak ada kata yang mampu keluar dari mulut saya.
Daripada:
Saya sangat bahagia.
Cobalah:
Saya tersenyum lebar. Rasanya ingin segera menelepon keluarga dan memberitahu mereka bahwa perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil.
Dengan cara ini, pembaca seolah-olah hadir di dalam cerita.
G. Struktur Tulisan Pengalaman
Peserta dapat menggunakan struktur sederhana berikut.
1. Judul
Buat judul yang menarik dan menggugah rasa ingin tahu.
Contoh:
- "Hari yang Tidak Akan Pernah Saya Lupakan"
- "Ketika Saya Hampir Menyerah"
- "Satu Pertemuan yang Mengubah Hidup Saya"
- "Pelajaran Berharga dari Sebuah Kegagalan"
- "Dari Air Mata Menuju Senyuman"
- "Perjalanan Panjang yang Mengajarkan Kesabaran"
2. Pembuka
Mulailah dengan adegan, pertanyaan, dialog, atau pernyataan yang menarik.
Contoh:
"Pak, jangan menyerah!"
Kalimat sederhana itu sampai sekarang masih teringat dalam benak saya.
3. Isi
Ceritakan peristiwa secara runtut.
Gunakan paragraf yang mengalir.
Masukkan:
- tempat;
- waktu;
- tokoh;
- kejadian;
- konflik;
- dialog;
- perasaan.
4. Klimaks
Ceritakan bagian paling menegangkan, menyedihkan, membahagiakan, atau menentukan.
5. Penyelesaian
Ceritakan bagaimana masalah tersebut berakhir.
6. Refleksi
Tuliskan pelajaran yang diperoleh.
Bagian ini sangat penting karena mengubah pengalaman biasa menjadi tulisan yang bermakna.
H. Contoh Tulisan Singkat
"Hari Ketika Saya Belajar untuk Tidak Menyerah"
Pagi itu hujan turun cukup deras.
Saya sebenarnya ingin membatalkan kegiatan yang sudah direncanakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Kondisi tubuh terasa lelah. Pikiran juga tidak sepenuhnya tenang.
Namun, saya memilih berangkat.
Sesampainya di lokasi, saya melihat beberapa peserta sudah menunggu. Mereka datang dengan semangat belajar yang luar biasa.
Saya kemudian berpikir, "Kalau mereka saja mau datang dan belajar, mengapa saya harus menyerah?"
Kegiatan pun dimulai.
Hari itu saya belajar sesuatu yang sederhana tetapi sangat berarti.
Terkadang kita tidak membutuhkan motivasi yang besar untuk terus berjalan. Kita hanya perlu melihat bahwa masih ada orang lain yang membutuhkan kehadiran kita.
Sejak saat itu saya semakin percaya bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai.
Kadang-kadang, kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengatakan kepada diri sendiri:
"Saya belum selesai. Saya masih ingin berjuang."
I. Latihan Menulis Peserta
Sekarang silakan pilih SATU pengalaman yang paling membekas dalam hidup Anda.
Kemudian jawab pertanyaan berikut:
1. Apa peristiwanya?
....................................................
2. Kapan peristiwa itu terjadi?
....................................................
3. Di mana peristiwa itu terjadi?
....................................................
4. Siapa saja yang terlibat?
....................................................
5. Apa masalah atau konflik yang terjadi?
....................................................
6. Apa yang Anda rasakan saat itu?
....................................................
7. Bagaimana peristiwa tersebut berakhir?
....................................................
8. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?
....................................................
9. Jika peristiwa itu terjadi kembali, apa yang akan Anda lakukan?
....................................................
J. Tantangan Menulis KBMN PGRI Gelombang 35
TUGAS PERTEMUAN KEDUA
Tulislah sebuah artikel dengan tema:
"Pengalaman yang Tak Terlupakan"
Ketentuan:
- Panjang tulisan minimal 500 kata.
- Berdasarkan pengalaman nyata.
- Memiliki judul yang menarik.
- Memiliki pembuka yang kuat.
- Memuat konflik atau persoalan.
- Menggambarkan perasaan penulis.
- Memiliki penyelesaian.
- Diakhiri dengan refleksi atau pesan.
- Gunakan bahasa yang mudah dipahami.
- Publikasikan di blog masing-masing.
Jika belum memiliki pengalaman yang dianggap besar, jangan khawatir.
Tulislah pengalaman kecil yang memiliki makna besar bagi kehidupan Anda.
K. Tips Agar Tulisan Lebih Menarik
1. Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang sahabat.
Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah tulisan kita sudah sempurna.
2. Jangan takut menceritakan kegagalan.
Kegagalan sering kali justru menjadi bagian paling menarik dalam sebuah cerita.
3. Masukkan dialog.
Dialog membuat cerita terasa hidup.
4. Masukkan detail.
Ceritakan suasana tempat, ekspresi wajah, suara, cuaca, dan keadaan sekitar.
5. Jangan terburu-buru mengedit.
Tulis dahulu sampai selesai.
Setelah itu baru lakukan penyuntingan.
6. Tulislah dengan hati.
AI dapat membantu mencari ide, membuat kerangka, atau memperbaiki bahasa.
Namun pengalaman, perasaan, dan suara pribadi tetap berasal dari manusia.
Tulislah pengalaman Anda dengan jujur.
L. Kalimat Pemantik untuk Memulai Menulis
Jika masih bingung memulai, gunakan salah satu kalimat berikut:
"Saya tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan mengubah hidup saya."
"Sampai hari ini saya masih mengingat kejadian tersebut."
"Ada satu pengalaman yang tidak pernah bisa saya lupakan."
"Saat itu saya berpikir semuanya sudah berakhir."
"Pagi itu terlihat seperti pagi biasa, tetapi ternyata..."
"Lima tahun telah berlalu, tetapi kejadian itu masih terasa dekat."
"Saya belajar sebuah pelajaran penting dari kegagalan tersebut."
"Jika waktu dapat diputar kembali, saya ingin kembali ke hari itu."
M. Penutup
Menulis pengalaman bukan sekadar menceritakan masa lalu.
Menulis pengalaman adalah cara kita memahami perjalanan hidup.
Ada pengalaman yang menjadi kenangan.
Ada pengalaman yang menjadi pelajaran.
Ada pengalaman yang menjadi luka.
Ada pengalaman yang menjadi kekuatan.
Dan ada pengalaman yang mungkin suatu hari nanti menjadi inspirasi bagi orang lain.
Karena itu, jangan biarkan pengalaman hidup berlalu tanpa dokumentasi.
Tulislah.
Mungkin bagi kita cerita itu sederhana.
Namun bagi orang lain, cerita kita bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan dan tidak menyerah.
"Pengalaman adalah guru terbaik, tetapi pengalaman yang ditulis dapat menjadi guru bagi banyak orang."
Selamat menulis.
Salam Blogger Indonesia.
Omjay – Guru Blogger Indonesia KBMN PGRI Gelombang 35 Menulis setiap hari, menginspirasi tanpa henti.
Sebuah Perjalanan yang Bernama Menulis
workshop guru smp labschool jakarta di vasaka hotel jakarta
Dari Lorong Sempit Lahir Solusi Besar: Belajar Menjadi Guru yang Peduli Lingkungan
Workshop Guru SMP Labschool Jakarta di Hotel Vasaka Jakarta
Ada banyak cara untuk belajar. Ada yang belajar melalui buku, membaca artikel, berdiskusi, mengikuti pelatihan, atau mendengarkan pengalaman orang lain. Namun, belajar yang paling berkesan sering kali terjadi ketika kita bertemu langsung dengan orang yang memiliki pengalaman dan gagasan untuk dibagikan.
Hal itulah yang saya rasakan dalam kegiatan workshop guru SMP Labschool Jakarta di Hotel Vasaka Jakarta.
Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah paparan bertema:
“Menuju Sekolah Ramah Lingkungan: Dari Lorong Sempit Lahir Solusi Besar.”
Materi tersebut disampaikan oleh Taufiq Supriadi, seorang Community Development Expert sekaligus Founder Surya Architecture Indonesia.
Judulnya sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.
Dari Lorong Sempit
Ketika mendengar kata lorong sempit, mungkin yang terbayang adalah ruang kecil yang terbatas. Tidak banyak pilihan. Tidak banyak tempat untuk bergerak. Bahkan mungkin dianggap sebagai sesuatu yang tidak memiliki nilai lebih.
Namun, dari tempat yang sempit ternyata dapat lahir sebuah gagasan besar.
Inilah pelajaran penting yang bisa kita bawa ke lingkungan sekolah.
Sekolah tidak selalu memiliki lahan yang luas. Tidak semua sekolah mempunyai taman yang besar. Tidak semua ruang dapat dibangun kembali sesuai keinginan. Ada sekolah yang berdiri di tengah permukiman padat dengan keterbatasan lahan.
Tetapi keterbatasan bukan berarti tidak bisa berinovasi.
Justru dari keterbatasan itulah kreativitas sering kali muncul.
Lorong sekolah dapat menjadi ruang hijau. Dinding dapat menjadi media edukasi. Sudut sekolah dapat dimanfaatkan menjadi taman kecil. Atap dapat dimanfaatkan untuk kegiatan tertentu. Bahkan ruang yang selama ini dianggap tidak berguna dapat diubah menjadi tempat belajar yang menyenangkan.
Kuncinya adalah kemauan melihat peluang.
Kalau Satu RT Bisa Berubah, Indonesia Juga Bisa
Ada satu kalimat dalam materi yang sangat menarik perhatian:
“Kalau satu RT bisa berubah, Indonesia juga bisa.”
Kalimat tersebut mengajarkan bahwa perubahan besar tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar.
Perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.
Mulai dari rumah.
Mulai dari kelas.
Mulai dari sekolah.
Mulai dari satu RT.
Kemudian perubahan kecil tersebut dilakukan secara konsisten dan melibatkan semakin banyak orang.
Dalam konteks pendidikan, guru mempunyai posisi yang sangat strategis. Guru bukan hanya mengajarkan teori tentang lingkungan, tetapi juga dapat memberikan contoh nyata kepada peserta didik.
Misalnya, membiasakan siswa membuang sampah pada tempatnya, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menghemat listrik dan air, merawat tanaman, menjaga kebersihan kelas, serta memanfaatkan barang bekas menjadi media pembelajaran.
Hal-hal sederhana seperti itu jika dilakukan bersama-sama akan menjadi budaya sekolah.
Sekolah Ramah Lingkungan Dimulai dari Kebiasaan
Sekolah ramah lingkungan bukan hanya sekolah yang mempunyai banyak tanaman.
Lebih dari itu, sekolah ramah lingkungan adalah sekolah yang membangun kesadaran dan kebiasaan seluruh warganya untuk menjaga lingkungan.
Guru, siswa, tenaga kependidikan, orang tua, dan masyarakat sekitar dapat menjadi bagian dari gerakan tersebut.
Saya membayangkan sebuah sekolah di mana setiap sudutnya menjadi ruang belajar.
Di lorong ada tanaman.
Di dinding terdapat karya siswa.
Di kelas terdapat tempat pemilahan sampah.
Di halaman ada kebun kecil.
Air digunakan secara bijak.
Lampu dan perangkat elektronik digunakan seperlunya.
Barang bekas tidak langsung dibuang, tetapi dipikirkan kembali bagaimana dapat dimanfaatkan.
Dengan demikian, lingkungan sekolah bukan hanya menjadi tempat belajar tentang lingkungan, tetapi menjadi tempat untuk mempraktikkan kepedulian terhadap lingkungan.
Guru Harus Berani Melihat dari Sudut yang Berbeda
Bagi saya, salah satu pesan penting dari workshop ini adalah perlunya guru memiliki cara pandang yang kreatif.
Jangan hanya melihat kekurangan.
Lihatlah potensi.
Jangan hanya melihat ruang yang sempit.
Lihat kemungkinan yang dapat diciptakan.
Jangan hanya mengatakan, “Sekolah kita tidak punya lahan.”
Tetapi bertanyalah:
“Apa yang masih bisa kita lakukan dengan ruang yang kita miliki?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat melahirkan banyak solusi.
Inilah semangat problem solving yang juga sangat penting dalam pembelajaran Informatika, Coding, dan Kecerdasan Artifisial.
Siswa perlu dibiasakan menghadapi masalah nyata, kemudian mencari solusi dengan kreativitas dan kolaborasi.
Workshop Bukan Sekadar Mendapatkan Materi
Mengikuti workshop guru bagi saya bukan sekadar mendapatkan materi untuk kemudian dilupakan.
Workshop seharusnya menjadi tempat untuk mendapatkan inspirasi baru.
Materi yang disampaikan narasumber dapat menjadi pemantik bagi guru untuk berpikir:
“Apa yang bisa saya lakukan setelah pulang dari workshop ini?”
Pertanyaan tersebut penting.
Sebab ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dipraktikkan.
Gagasan tentang sekolah ramah lingkungan juga dapat dikembangkan menjadi proyek pembelajaran. Guru Informatika, misalnya, dapat mengajak siswa membuat kampanye digital sekolah ramah lingkungan, membuat poster digital, video pendek, infografis, website sederhana, atau aplikasi yang membantu warga sekolah melakukan pemilahan sampah.
Dengan demikian, pendidikan lingkungan dapat bertemu dengan teknologi.
Dari Hotel Vasaka Jakarta untuk SMP Labschool Jakarta
Kegiatan workshop guru SMP Labschool Jakarta di Hotel Vasaka Jakarta menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari rutinitas mengajar.
Kami belajar.
Kami berdiskusi.
Kami mendapatkan inspirasi.
Dan yang paling penting, kami pulang membawa gagasan.
Saya percaya bahwa pendidikan tidak hanya tentang menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.
Pendidikan adalah proses membangun manusia yang mampu melihat masalah, memiliki kepedulian, bekerja sama, dan menemukan solusi.
Dari lorong yang sempit, ternyata bisa lahir solusi yang besar.
Begitu pula dari sebuah sekolah, dapat lahir perubahan yang lebih luas.
Barangkali kita tidak bisa langsung mengubah Indonesia.
Tetapi kita bisa mulai dari satu kelas.
Kita bisa mulai dari satu sekolah.
Kita bisa mulai dari satu lingkungan.
Dan seperti pesan yang terpampang dalam materi workshop:
“Kalau satu RT bisa berubah, Indonesia juga bisa.”
Maka, mari kita mulai perubahan itu dari tempat kita berada.
Guru bergerak, sekolah berubah.
Sekolah berubah, lingkungan tumbuh.
Lingkungan tumbuh, Indonesia pun semakin baik.
— Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Pertemuan Pertama Mengapa Saya Ingin Menulis?
PERTEMUAN PERTAMA
KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA (KBMN) PGRI GELOMBANG 35
Tema:
Menulis Setiap Hari: Mulai dari Sekarang, Mulai dari Diri Sendiri
๐
1 Oktober 2026
๐ Program Menulis: 1–31 Oktober 2026
๐จ๐ซ Narasumber/Penggerak: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
A. SELAMAT DATANG DI KBMN PGRI GELOMBANG 35
Selamat datang para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 35.
Hari ini kita memulai perjalanan baru. Perjalanan selama 31 hari untuk membangun kebiasaan menulis.
Kita tidak akan memulai dengan pertanyaan, “Bagaimana menjadi penulis hebat?”
Kita mulai dengan pertanyaan yang jauh lebih sederhana:
“Apakah hari ini saya sudah menulis?”
Sebab penulis bukanlah orang yang hanya mempunyai keinginan untuk menulis. Penulis adalah orang yang menulis.
B. MENGAPA HARUS MENULIS SETIAP HARI?
Menulis adalah keterampilan. Seperti keterampilan lainnya, kemampuan menulis akan berkembang jika terus dilatih.
Seorang guru yang ingin menjadi penulis tidak cukup hanya membaca buku tentang menulis. Ia harus berani mengambil pena, membuka laptop atau ponsel, kemudian mulai menulis.
Menulis setiap hari memberikan beberapa manfaat.
1. Membentuk kebiasaan
Awalnya menulis terasa berat. Setelah dilakukan berulang-ulang, menulis menjadi kebiasaan.
2. Melatih keberanian
Kita belajar berani menuangkan gagasan dan pengalaman.
3. Menemukan gaya menulis
Semakin sering menulis, semakin kita mengenal karakter tulisan sendiri.
4. Mengabadikan pengalaman
Pengalaman mengajar, perjalanan, pertemuan dengan orang lain, keberhasilan, kegagalan, semuanya dapat menjadi bahan tulisan.
5. Membuka peluang
Tulisan dapat berkembang menjadi artikel, buku, blog, modul pembelajaran, opini, bahkan karya yang memberikan manfaat dan peluang baru.
C. APA YANG AKAN KITA LAKUKAN SELAMA 31 HARI?
Program kita sederhana:
1 hari = 1 tulisan.
Mulai:
๐ 1 Oktober 2026
sampai:
๐ 31 Oktober 2026
Targetnya bukan membuat tulisan yang sempurna.
Target kita adalah konsisten menulis selama 31 hari.
Jika berhasil, kita akan memiliki setidaknya:
31 hari × 1 tulisan = 31 tulisan.
Bayangkan jika 31 tulisan tersebut kemudian kita revisi, kita kembangkan, dan kita kumpulkan menjadi sebuah buku.
Bisa jadi, pada 1 Oktober kita hanya mempunyai satu ide kecil.
Namun pada 31 Oktober kita sudah mempunyai sebuah portofolio tulisan.
D. RUMUS SEDERHANA MENULIS
Agar tidak bingung mencari ide, gunakan rumus:
Lihat – Rasakan – Pikirkan – Tuliskan
1. Lihat
Perhatikan apa yang terjadi di sekitar kita.
2. Rasakan
Apa yang kita rasakan dari peristiwa tersebut?
3. Pikirkan
Apa pelajaran atau makna yang kita dapatkan?
4. Tuliskan
Tuangkan pengalaman tersebut menjadi tulisan.
Contohnya sederhana.
Hari ini kita melihat seorang siswa membantu temannya.
Kita bisa menulis:
“Pelajaran tentang Kepedulian dari Seorang Siswa.”
Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.
Kisah sederhana yang ditulis dengan hati dapat menjadi tulisan yang luar biasa.
E. 10 SUMBER IDE TULISAN
Jika peserta merasa kehabisan ide, gunakan 10 sumber berikut:
- Pengalaman mengajar
- Pengalaman keluarga
- Perjalanan
- Buku yang sedang dibaca
- Film yang ditonton
- Percakapan dengan orang lain
- Masalah di sekolah
- Pengalaman mengikuti kegiatan
- Peristiwa yang terjadi hari ini
- Renungan atau pengalaman pribadi
Ingat:
Ide tulisan sebenarnya ada di sekitar kita. Kita hanya perlu membuka mata, telinga, pikiran, dan hati.
F. TUGAS HARI PERTAMA
Tema:
“Mengapa Saya Ingin Menulis?”
Tuliskan pengalaman dan alasan pribadi mengapa Anda mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35.
Tulisan dapat menjawab beberapa pertanyaan berikut:
- Siapa saya?
- Apa pekerjaan atau aktivitas saya?
- Mengapa saya tertarik belajar menulis?
- Apa pengalaman saya dalam menulis?
- Apa kesulitan terbesar saya dalam menulis?
- Apa yang ingin saya capai selama mengikuti KBMN?
- Buku atau tulisan seperti apa yang ingin saya hasilkan?
- Siapa orang yang menginspirasi saya dalam menulis?
- Apa harapan saya setelah mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35?
Tidak perlu menjawab semuanya secara kaku.
Jadikan pertanyaan tersebut sebagai pemantik tulisan.
G. TARGET TUGAS
Untuk tulisan pertama, peserta dianjurkan membuat:
Panjang: 300–500 kata
Judul: bebas dan menarik
Bentuk: narasi/pengalaman pribadi
Bahasa: komunikatif dan mudah dipahami
Yang paling penting:
Jangan takut salah.
Tulisan pertama bukan tulisan terakhir.
Tulisan pertama adalah langkah pertama.
H. TANTANGAN 31 HARI MENULIS
Selama Oktober, kita dapat menggunakan tema harian berikut:
| Hari | Tanggal | Tema |
|---|---|---|
| 1 | 1 Okt | Mengapa Saya Ingin Menulis? |
| 2 | 2 Okt | Pengalaman yang Tidak Terlupakan |
| 3 | 3 Okt | Guru yang Menginspirasi Saya |
| 4 | 4 Okt | Murid yang Memberikan Pelajaran |
| 5 | 5 Okt | Kegagalan yang Mengajarkan Saya |
| 6 | 6 Okt | Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya |
| 7 | 7 Okt | Mengapa Guru Perlu Menulis? |
| 8 | 8 Okt | Teknologi dalam Kehidupan Saya |
| 9 | 9 Okt | Pengalaman Mengajar yang Berkesan |
| 10 | 10 Okt | Sebuah Perjalanan |
| 11 | 11 Okt | Orang yang Saya Kagumi |
| 12 | 12 Okt | Pelajaran dari Kehidupan |
| 13 | 13 Okt | Tantangan Menjadi Guru |
| 14 | 14 Okt | Ketika Saya Hampir Menyerah |
| 15 | 15 Okt | Setengah Perjalanan: Apa yang Saya Rasakan? |
| 16 | 16 Okt | Sekolah Impian Saya |
| 17 | 17 Okt | Teknologi dan Pendidikan |
| 18 | 18 Okt | AI dan Masa Depan Pendidikan |
| 19 | 19 Okt | Pengalaman Berbagi |
| 20 | 20 Okt | Sebuah Nasihat yang Saya Ingat |
| 21 | 21 Okt | Mengapa Literasi Penting? |
| 22 | 22 Okt | Kisah di Balik Sebuah Foto |
| 23 | 23 Okt | Pengalaman yang Mengubah Saya |
| 24 | 24 Okt | Guru dan Perubahan Zaman |
| 25 | 25 Okt | Menulis sebagai Terapi Kehidupan |
| 26 | 26 Okt | Mimpi yang Belum Terwujud |
| 27 | 27 Okt | Apa yang Saya Pelajari dari 26 Hari Menulis? |
| 28 | 28 Okt | Menulis untuk Menginspirasi |
| 29 | 29 Okt | Rencana Saya Setelah KBMN |
| 30 | 30 Okt | 30 Hari Menulis: Apa yang Berubah? |
| 31 | 31 Okt | Surat untuk Diri Saya sebagai Penulis |
Tema tersebut bukan aturan kaku. Peserta boleh memilih tema lain selama tetap berkaitan dengan pengalaman, pendidikan, literasi, kehidupan, atau gagasan yang bermanfaat.
I. ATURAN EMAS KBMN PGRI GELOMBANG 35
1. Jangan menunggu sempurna
Tulis dulu. Perbaiki kemudian.
2. Jangan takut tulisan jelek
Tulisan jelek yang selesai masih lebih baik daripada tulisan bagus yang tidak pernah ditulis.
3. Jangan membandingkan tulisan kita dengan orang lain
Bandingkan tulisan kita hari ini dengan tulisan kita kemarin.
4. Saling membaca
Penulis yang baik juga merupakan pembaca yang baik.
5. Saling memberikan apresiasi
Komentar yang baik dapat membuat seseorang terus menulis.
6. Jangan plagiasi
Gunakan ide sendiri dan cantumkan sumber apabila menggunakan data, kutipan, atau gagasan orang lain.
7. Konsisten
Target utama kita bukan viral.
Target utama kita adalah konsisten.
J. MOTTO 31 HARI
Mari kita pegang kalimat sederhana ini:
Satu hari satu tulisan.
Satu tulisan satu pengalaman.
Satu pengalaman satu pelajaran.
Satu pelajaran satu inspirasi.
Jika dilakukan bersama-sama, 31 hari akan menjadi perjalanan yang luar biasa.
K. PENUTUP PERTEMUAN PERTAMA
Teman-teman penulis KBMN PGRI Gelombang 35,
jangan menunggu mempunyai waktu luang untuk menulis.
Sisihkan waktu untuk menulis.
Jangan menunggu mendapatkan ide besar.
Tulislah ide kecil yang ada hari ini.
Jangan menunggu menjadi penulis baru mulai menulis.
Menulislah, maka kita sedang belajar menjadi penulis.
Kita akan berjalan bersama selama 31 hari.
Mungkin ada yang mampu menulis setiap hari.
Mungkin ada yang sesekali tertinggal.
Tidak apa-apa.
Yang penting jangan berhenti terlalu lama.
Ketika jatuh, bangun lagi.
Ketika kehabisan ide, cari lagi.
Ketika tulisan belum bagus, perbaiki lagi.
Karena perjalanan menjadi penulis bukan tentang siapa yang paling cepat.
Perjalanan menjadi penulis adalah tentang siapa yang mau terus berjalan.
Selamat mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35.
Selamat menulis.
Selamat berkarya.
Selamat menginspirasi.
Menulislah dengan hati.
Tulislah pengalamanmu.
Bagikan manfaatnya.
Dan jangan pernah berhenti belajar.
Salam literasi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Cara Membuat Blog di Blogger.com
Cara Mudah Menulis di Blogger.com agar Tulisan Kita Terdokumentasi dengan Baik
Menulis sebenarnya tidak harus dimulai dengan sesuatu yang luar biasa. Kita bisa memulainya dari pengalaman sederhana yang terjadi setiap hari. Apa yang kita lihat, dengar, rasakan, pelajari, dan alami dapat menjadi bahan tulisan yang menarik apabila kita mau mengabadikannya.
Salah satu cara sederhana untuk mendokumentasikan tulisan adalah menggunakan Blogger.com. Bagi saya, blog bukan sekadar tempat untuk mempublikasikan tulisan. Blog adalah rumah digital tempat kita menyimpan gagasan, pengalaman, pengetahuan, dan perjalanan hidup agar tidak hilang ditelan waktu.
Saya sudah mengenal dunia blog sejak lama. Dari kegiatan menulis di blog, saya belajar bahwa tulisan yang hari ini mungkin dianggap sederhana, beberapa tahun kemudian bisa menjadi dokumentasi perjalanan hidup yang sangat berharga.
Mengapa Menulis di Blogger.com?
Pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa kita perlu memiliki blog?
Jawabannya sederhana: karena tulisan perlu didokumentasikan.
Kita mungkin pernah mengikuti seminar, pelatihan, perjalanan, kegiatan sekolah, kegiatan organisasi, atau mengalami sebuah peristiwa penting. Jika semuanya hanya disimpan dalam ingatan, lama-kelamaan kita bisa lupa. Foto mungkin masih tersimpan di telepon genggam, tetapi cerita di balik foto tersebut belum tentu terdokumentasikan.
Blog dapat menjadi tempat untuk menyimpan semuanya.
Dengan blog, kita bisa membuat arsip tulisan berdasarkan tanggal, label, kategori, atau topik. Tulisan yang dibuat hari ini dapat ditemukan kembali beberapa tahun kemudian.
Bayangkan jika kita menulis satu artikel setiap hari selama satu tahun. Kita sudah memiliki sekitar 365 tulisan. Jika dilakukan selama lima tahun, jumlahnya bisa mencapai ribuan tulisan.
Bukankah itu sebuah warisan digital yang luar biasa?
Mulailah dengan Membuat Blog
Langkah pertama tentu saja membuat blog di Blogger.com.
Kita membutuhkan akun Google untuk mengakses layanan Blogger. Setelah masuk ke Blogger, kita dapat membuat blog baru dan menentukan nama serta alamat blog yang sesuai dengan identitas atau tema yang ingin kita bangun.
Tidak perlu terlalu lama memikirkan nama blog. Yang paling penting adalah segera mulai menulis.
Nama blog dapat menggambarkan diri kita, profesi, komunitas, sekolah, hobi, atau bidang yang kita sukai. Misalnya, seorang guru Informatika dapat membuat blog yang berisi pengalaman mengajar, perangkat pembelajaran, tutorial teknologi, kegiatan sekolah, dan refleksi pendidikan.
Blog tersebut lama-kelamaan akan menjadi portofolio digital.
Langkah Mudah Membuat Tulisan
Setelah blog tersedia, kita bisa mulai membuat tulisan baru.
Secara umum langkahnya sederhana:
Buka Blogger → pilih blog → klik New Post/Tulisan Baru → tulis artikel → tambahkan gambar bila diperlukan → beri label → pratinjau → publikasikan.
Jangan takut melihat halaman editor yang tersedia. Anggap saja seperti menulis di buku digital.
Mulailah dengan judul.
Kemudian tuliskan paragraf pertama yang menarik perhatian pembaca. Setelah itu, ceritakan pengalaman atau gagasan kita secara runtut.
Tidak perlu langsung berpikir tentang tulisan yang sempurna.
Tulis dahulu. Edit kemudian.
Inilah salah satu kebiasaan yang penting bagi seorang penulis pemula.
Gunakan Judul yang Jelas dan Menarik
Judul merupakan pintu masuk menuju tulisan.
Jika judulnya terlalu umum, pembaca mungkin tidak tertarik untuk membukanya. Karena itu, buatlah judul yang jelas, sederhana, tetapi memiliki daya tarik.
Misalnya, daripada menulis:
"Pengalaman Mengajar"
kita dapat membuat judul:
"Pelajaran Berharga yang Saya Dapatkan Setelah 30 Tahun Mengajar"
Judul kedua membuat pembaca ingin mengetahui pengalaman apa yang dimaksud.
Namun, jangan membuat judul yang berlebihan hanya untuk mendapatkan klik. Judul sebaiknya tetap sesuai dengan isi tulisan.
Satu Tulisan, Satu Gagasan Utama
Kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah memasukkan terlalu banyak hal dalam satu artikel.
Akhirnya tulisan menjadi panjang, tetapi pembaca sulit menemukan pesan utamanya.
Cobalah menggunakan prinsip sederhana:
Satu tulisan memiliki satu gagasan utama.
Misalnya kita ingin menulis tentang pengalaman mengikuti pelatihan AI. Kita bisa membahas pengalaman tersebut dari awal sampai akhir. Jika ingin membahas manfaat AI bagi guru, kita dapat membuat artikel berikutnya.
Dengan demikian, ide yang kita miliki tidak cepat habis.
Justru sebaliknya, satu pengalaman bisa melahirkan beberapa tulisan.
Dokumentasikan Pengalaman Sehari-hari
Tidak perlu menunggu menjadi seorang ahli untuk mulai menulis.
Guru dapat menulis tentang pengalaman mengajar.
Siswa dapat menulis tentang pengalaman belajar.
Orang tua dapat menulis tentang pengalaman mendampingi anak.
Pegawai dapat menulis tentang pengalaman bekerja.
Komunitas dapat menulis tentang kegiatan yang mereka lakukan.
Bahkan perjalanan menuju sekolah pun bisa menjadi tulisan jika kita mampu menemukan makna di baliknya.
Saya sering mengatakan kepada peserta belajar menulis bahwa pengalaman adalah guru yang sangat berharga, sedangkan tulisan adalah cara kita membagikan pelajaran dari pengalaman tersebut kepada orang lain.
Karena itu, jangan biarkan pengalaman berharga berlalu begitu saja.
Tuliskan!
Tambahkan Foto sebagai Penguat Cerita
Tulisan akan terasa lebih hidup jika dilengkapi foto yang relevan.
Misalnya kita menulis tentang kegiatan seminar, kita dapat memasukkan foto saat menjadi peserta atau narasumber. Jika menulis tentang kegiatan sekolah, kita dapat memasukkan foto kegiatan pembelajaran.
Namun, gunakan foto yang memang relevan dengan tulisan dan perhatikan hak penggunaan foto serta privasi orang lain.
Foto bukan sekadar hiasan. Foto dapat menjadi bagian dari dokumentasi perjalanan kita.
Suatu hari nanti, ketika kita membuka kembali tulisan tersebut, foto itu bisa membantu menghidupkan kembali kenangan yang pernah terjadi.
Gunakan Label agar Tulisan Mudah Dicari
Salah satu fitur penting di Blogger adalah Label.
Label dapat digunakan untuk mengelompokkan tulisan berdasarkan topik.
Misalnya:
Informatika, AI, Koding, Pendidikan, Guru, Blogger, KBMN PGRI, KOGTIK, Pengalaman, Literasi Digital.
Dengan menggunakan label secara konsisten, tulisan kita akan lebih mudah dikelompokkan dan ditemukan kembali.
Inilah salah satu alasan mengapa blog sangat cocok dijadikan dokumentasi perjalanan profesional.
Jangan Lupa Menulis Tanggal dan Sumber
Jika tulisan berisi data, kutipan, atau informasi dari sumber lain, tuliskan sumbernya dengan jelas.
Kebiasaan ini penting untuk menjaga etika menulis.
Selain itu, kita juga perlu mencatat kapan sebuah peristiwa terjadi. Jangan hanya menulis "kemarin" atau "beberapa waktu lalu". Akan lebih baik jika kita menuliskan tanggal atau periode waktunya.
Misalnya:
"Pada 29 Oktober 2026, saya mengikuti Seminar Nasional OTN 8 di JICC Senayan Jakarta."
Beberapa tahun kemudian, informasi tersebut akan sangat membantu ketika kita ingin mengingat kembali sebuah peristiwa.
Simpan Tulisan sebagai Arsip Digital
Inilah manfaat terbesar dari blogging.
Tulisan yang sudah dipublikasikan akan menjadi bagian dari arsip digital kita. Selama blog dan datanya tetap terjaga, kita dapat membukanya kembali kapan saja.
Karena itu, saya menyarankan agar kita tidak hanya menulis untuk hari ini.
Menulislah untuk masa depan.
Tulisan hari ini mungkin hanya dibaca oleh beberapa orang. Tidak masalah.
Yang penting tulisan tersebut sudah menjadi dokumentasi.
Suatu saat, anak-anak kita mungkin membacanya. Murid-murid kita mungkin menemukannya. Teman sejawat mungkin mendapatkan manfaat darinya. Bahkan orang yang tidak pernah kita kenal bisa saja menemukan tulisan tersebut melalui mesin pencari.
Itulah keajaiban dokumentasi digital.
Buat Jadwal Menulis yang Sederhana
Jika ingin konsisten, jangan membuat target yang terlalu berat.
Mulailah dengan satu tulisan setiap minggu.
Jika sudah terbiasa, tingkatkan menjadi dua atau tiga tulisan dalam seminggu.
Jika memiliki banyak ide dan waktu yang cukup, kita bisa mencoba menulis setiap hari.
Yang paling penting bukan seberapa banyak tulisan yang dibuat dalam satu hari, tetapi seberapa konsisten kita mendokumentasikan gagasan.
Sediakan waktu khusus, misalnya 15–30 menit setiap hari untuk menulis.
Tidak perlu menunggu mendapatkan inspirasi.
Tuliskan saja apa yang kita alami hari itu.
Blog Adalah Jejak Perjalanan Hidup
Bagi saya, blog bukan hanya tempat memamerkan tulisan.
Blog adalah jejak perjalanan hidup.
Dari tulisan-tulisan yang terkumpul, kita dapat melihat bagaimana cara berpikir kita berkembang. Kita bisa melihat pengalaman yang pernah dilalui, orang-orang yang pernah ditemui, kegiatan yang pernah dilakukan, dan ilmu yang pernah dipelajari.
Tulisan lama juga dapat menjadi cermin.
Kadang-kadang kita membaca tulisan yang pernah dibuat bertahun-tahun lalu dan tersenyum sendiri. Kita menyadari bahwa ternyata kita sudah mengalami banyak hal.
Itulah nilai sebuah dokumentasi.
Jangan Takut Tulisan Kita Tidak Sempurna
Ini bagian yang sangat penting.
Banyak orang ingin menulis tetapi tidak pernah memulai karena takut tulisannya jelek.
Jangan menunggu sempurna.
Tulisan pertama boleh sederhana.
Tulisan kedua boleh masih banyak kekurangan.
Tulisan ketiga mungkin mulai lebih baik.
Lama-kelamaan kemampuan kita akan berkembang karena sering berlatih.
Seperti seorang guru yang mengajar, kemampuan mengajar berkembang karena pengalaman. Begitu juga seorang penulis. Kemampuan menulis berkembang karena menulis.
Jadi, jangan hanya belajar teori menulis.
Praktikkan.
Tulis.
Publikasikan.
Baca kembali.
Perbaiki.
Lalu tulis lagi.
Penutup: Menulis untuk Mengabadikan Kehidupan
Pada akhirnya, menulis di Blogger.com bukanlah perkara sulit.
Kita hanya membutuhkan kemauan untuk memulai, sebuah akun Google, koneksi internet, dan cerita yang ingin dibagikan.
Mulailah dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita.
Tuliskan pengalaman hari ini.
Dokumentasikan kegiatan yang kita lakukan.
Bagikan ilmu yang kita kuasai.
Ceritakan pelajaran yang kita dapatkan.
Jangan biarkan pengalaman berharga hanya tinggal dalam ingatan.
Tulislah, karena tulisan adalah cara kita mengabadikan kehidupan.
Foto bisa menjadi kenangan.
Video bisa menjadi dokumentasi.
Namun tulisan mampu merekam pikiran, perasaan, pengalaman, dan makna yang ada di balik sebuah peristiwa.
Karena itu, mari kita mulai menulis di Blogger.com.
Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat.
Jadilah penulis dengan mulai menulis.
Dan biarkan blog menjadi rumah bagi tulisan-tulisan kita, sehingga suatu hari nanti kita dapat membuka kembali jejak perjalanan hidup yang pernah kita lalui.
Menulis hari ini, mendokumentasikan kehidupan untuk masa depan.