Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 29 Mei 2026

Kebahagiaan Keluarga Omjay

Kisah Omjay: Hangatnya Kumpul Keluarga di Bandung Bersama Cucu Kakek Jay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain berkumpul bersama keluarga. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau perjalanan yang jauh tidak akan mampu menggantikan hangatnya kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

Malam itu, suasana rumah di Bandung terasa begitu hangat. Setelah melewati berbagai aktivitas dan perjalanan yang cukup melelahkan, Omjay akhirnya dapat menikmati momen sederhana namun sangat berharga bersama keluarga besar. Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tampak anggota keluarga duduk santai menikmati kebersamaan.

Ada yang sibuk memainkan telepon genggam, ada yang berbincang ringan, ada pula yang hanya duduk sambil tersenyum menikmati suasana. Di tengah-tengah mereka, cucu kecil Kakek Jay menjadi pusat perhatian. Tingkah lucunya membuat suasana rumah semakin hidup.

Omjay memandangi mereka satu per satu.

Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak selalu mudah didapatkan. Kesibukan pekerjaan, sekolah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya sering kali membuat anggota keluarga berada di tempat yang berbeda-beda.

Karena itulah, setiap momen kebersamaan selalu terasa istimewa.

Malam itu Omjay teringat pesan almarhum ayahnya.

"Jangan pernah lupa pulang. Karena sejauh apa pun kita pergi, keluarga adalah tempat kita kembali."

Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam hati.

Anak-anak yang dahulu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menempuh pendidikan, ada yang bekerja, dan ada pula yang mulai merencanakan masa depannya.

Waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin Omjay mengantar mereka ke sekolah. Baru kemarin mengajarkan mereka membaca dan menulis. Baru kemarin menggendong mereka ketika menangis.

Kini mereka sudah mampu berjalan sendiri.

Sementara itu, Omjay dan istri mulai memasuki fase kehidupan yang berbeda. Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Langkah yang dahulu begitu cepat kini mulai melambat.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Kasih sayang keluarga.

Malam semakin larut. Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Cucu Kakek Jay berlarian ke sana kemari dengan penuh semangat. Tingkahnya yang polos membuat semua orang tersenyum.

Anak kecil memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghadirkan kebahagiaan.

Mereka tidak memikirkan jabatan.

Mereka tidak memikirkan harta.

Mereka tidak memikirkan masalah kehidupan.

Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan menikmati hidup.

Melihat cucu bermain, Omjay kembali belajar tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ternyata kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.

Kebahagiaan bisa hadir dari senyum seorang cucu.

Dari obrolan ringan di ruang keluarga.

Dari secangkir teh hangat yang dinikmati bersama.

Dari tawa sederhana yang muncul tanpa dibuat-buat.

Di tengah percakapan keluarga malam itu, Omjay menyadari bahwa usia manusia terus bertambah. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Hari ini kita masih dapat berkumpul.

Besok belum tentu.

Karena itulah setiap pertemuan harus disyukuri.

Setiap pelukan harus dihargai.

Setiap kebersamaan harus dinikmati.

Banyak orang baru menyadari pentingnya keluarga ketika kehilangan kesempatan untuk bersama.

Padahal keluarga adalah anugerah terbesar yang Allah titipkan kepada kita.

Omjay teringat berbagai perjalanan hidup yang telah dilalui selama ini. Dari perjuangan menyelesaikan pendidikan doktor selama delapan tahun, perjalanan ke Jepang dan China untuk belajar, hingga aktivitas mengajar dan berbagi ilmu di berbagai daerah Indonesia.

Semua pencapaian itu tentu membanggakan.

Namun ketika kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga, Omjay menyadari bahwa keluarga tetap menjadi sumber kekuatan utama.

Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir saat kita jatuh.

Mereka adalah orang-orang yang selalu mendoakan ketika kita menghadapi kesulitan.

Mereka adalah orang-orang yang tetap menerima kita apa adanya.

Malam itu tidak ada acara mewah.

Tidak ada restoran mahal.

Tidak ada pesta besar.

Hanya duduk bersama di ruang keluarga.

Namun justru di situlah letak keindahannya.

Kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam kesederhanaan.

Ketika semua orang mulai lelah dan satu per satu bersiap beristirahat, Omjay masih duduk sejenak menikmati suasana.

Beliau memandang wajah-wajah yang dicintainya.

Hati terasa penuh syukur.

Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Kesehatan.

Keluarga.

Anak-anak yang tumbuh dengan baik.

Cucu yang membawa keceriaan.

Sahabat dan kerabat yang selalu mendukung.

Semua itu adalah karunia yang tidak ternilai harganya.

Dalam hati Omjay berdoa.

"Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam kebaikan. Berikan kesehatan kepada keluarga kami. Jadikan anak cucu kami generasi yang saleh dan salehah. Satukan hati kami dalam kasih sayang dan keberkahan-Mu."

Malam di Bandung pun semakin sunyi.

Namun kehangatan keluarga tetap terasa.

Momen sederhana itu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah dunia. Tidak akan masuk berita televisi. Tidak akan menjadi perbincangan banyak orang.

Tetapi bagi Omjay, momen itu adalah harta yang sangat berharga.

Karena pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang dari seberapa banyak harta yang dimiliki.

Bukan pula dari seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih.

Melainkan dari seberapa besar cinta yang ia tanamkan kepada keluarganya.

Dan malam itu, di sebuah rumah sederhana di Bandung, Omjay kembali belajar bahwa keluarga adalah sekolah kehidupan terbaik. Dari keluarga kita belajar mencintai. Dari keluarga kita belajar berbagi. Dan dari keluarga pula kita belajar arti pulang yang sesungguhnya.

Pesan Omjay:

"Jangan menunggu hari raya untuk berkumpul. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Selagi masih ada waktu, duduklah bersama keluarga, dengarkan cerita mereka, peluk mereka, dan abadikan kenangan indah itu dalam hati. Karena suatu hari nanti, kenangan itulah yang akan menjadi harta paling berharga dalam hidup kita." ❤️🙏🏻

Sholat Jumat di Masjid jami Al Islam Bandung

Kisah Omjay: Sholat Jumat di Masjid Jami Al Islam Bandung

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Hari Jumat selalu memiliki tempat istimewa di hati Omjay. Ada ketenangan yang berbeda ketika adzan Jumat berkumandang. Kesibukan dunia seolah berhenti sejenak. Aktivitas pekerjaan, urusan keluarga, bahkan berbagai target yang ingin dicapai, semuanya ditinggalkan untuk memenuhi panggilan Allah SWT.

Jumat, 29 Mei 2026, Omjay berkesempatan menunaikan Sholat Jumat di Masjid Jami Al Islam Bandung. Sebuah masjid yang sederhana, tetapi menghadirkan suasana yang menenangkan jiwa. Saat melangkahkan kaki memasuki masjid, hati Omjay langsung terasa damai. Lantai kayu yang bersih, jamaah yang mulai berdatangan, dan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar pelan membuat suasana semakin khusyuk.

Dalam foto yang diabadikan hari itu, tampak para jamaah duduk rapi menghadap mimbar. Ada yang mengenakan baju koko putih, ada yang memakai peci hitam, ada pula yang datang dengan pakaian kerja sederhana. Semua duduk sejajar tanpa memandang status sosial, jabatan, atau kekayaan. Di hadapan Allah SWT, semua manusia sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Omjay duduk di bagian belakang sambil memperhatikan suasana masjid. Di mimbar terlihat seorang khatib muda sedang menyampaikan khutbah Jumat. Suaranya tegas namun lembut. Setiap kalimat yang diucapkannya mengandung pesan yang begitu dalam.

Khutbah hari itu mengingatkan jamaah tentang pentingnya memanfaatkan waktu untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Sang khatib menyampaikan bahwa kehidupan manusia di dunia sangat singkat. Banyak orang sibuk mengejar harta, jabatan, dan popularitas, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.

Kalimat itu begitu menancap dalam hati Omjay.

Tiba-tiba Omjay teringat perjalanan hidup yang telah dilalui. Sejak menjadi guru pada tahun 1993 hingga sekarang, begitu banyak pengalaman yang telah Allah berikan. Ada masa sulit, ada masa bahagia, ada pula masa penuh perjuangan.

Omjay teringat ketika harus menyelesaikan studi doktoral selama delapan tahun. Teringat saat belajar di Jepang pada tahun 2016 dan di China pada tahun 2019. Teringat pula ketika harus membagi waktu antara mengajar, menulis, keluarga, dan organisasi.

Semua perjalanan itu terasa begitu cepat berlalu.

Seolah baru kemarin Omjay menjadi guru muda yang penuh semangat. Kini rambut mulai memutih dan usia terus bertambah. Waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Di tengah khutbah, Omjay merenungkan satu hal penting.

Apa yang akan dibawa ketika meninggalkan dunia ini?

Rumah yang megah akan ditinggalkan.

Mobil yang mahal akan ditinggalkan.

Jabatan yang tinggi akan berakhir.

Tabungan dan investasi tidak akan ikut masuk ke liang lahat.

Yang akan menemani hanyalah amal ibadah dan kebaikan yang pernah dilakukan selama hidup.

Karena itulah Omjay selalu berusaha menulis setiap hari.

Bagi Omjay, tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Tulisan adalah jejak kehidupan. Tulisan adalah amal jariyah yang diharapkan terus memberikan manfaat kepada orang lain.

Omjay sering mengatakan:

"Tulisanku adalah tabunganku."

Tabungan itu bukan disimpan di bank. Bukan pula berupa emas atau deposito. Tabungan itu tersimpan dalam bentuk artikel, buku, blog, dan berbagai karya tulis yang dapat dibaca banyak orang.

Setiap kali seseorang mendapatkan manfaat dari tulisan tersebut, Omjay berharap akan mengalir pahala yang terus menerus.

Khutbah Jumat hari itu juga mengingatkan jamaah agar tidak menunda-nunda kebaikan.

Banyak orang berkata:

"Nanti kalau sudah pensiun saya akan rajin ibadah."

"Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah."

"Nanti kalau sudah punya waktu saya akan menulis buku."

Padahal tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan usianya.

Kematian tidak pernah menunggu seseorang selesai dengan urusan dunianya.

Maka yang terbaik adalah memulai kebaikan hari ini.

Saat melihat jamaah yang duduk khusyuk mendengarkan khutbah, Omjay merasa sangat bersyukur. Masih diberikan kesempatan untuk datang ke rumah Allah. Masih diberikan kesehatan untuk berjalan menuju masjid. Masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri.

Betapa banyak orang yang ingin datang ke masjid tetapi terhalang sakit.

Betapa banyak orang yang ingin beribadah tetapi waktunya telah habis.

Karena itu setiap kesempatan beribadah adalah nikmat yang luar biasa.

Setelah khutbah selesai, iqamah pun dikumandangkan. Seluruh jamaah berdiri merapatkan shaf. Bahu bertemu bahu. Kaki sejajar dengan kaki.

Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin.

Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa.

Semua berdiri sebagai hamba Allah yang berharap rahmat dan ampunan-Nya.

Ketika imam mengucapkan takbiratul ihram, suasana masjid menjadi sangat tenang. Hanya terdengar bacaan Al-Qur'an yang meresap ke dalam hati.

Dalam sujudnya, Omjay memanjatkan doa sederhana.

Semoga Allah selalu menjaga keluarga.

Semoga Allah memberikan kesehatan.

Semoga Allah memudahkan langkah dalam berbagi ilmu.

Semoga tulisan-tulisan yang lahir dari hati dapat menjadi manfaat bagi banyak orang.

Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah yang dilakukan selama hidup.

Usai sholat Jumat, para jamaah saling bersalaman. Wajah-wajah penuh senyum terlihat di berbagai sudut masjid. Ada kehangatan persaudaraan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Omjay kemudian melangkah keluar masjid dengan hati yang terasa lebih ringan.

Jumat siang itu kembali mengingatkan bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Sedangkan kampung halaman yang sesungguhnya adalah akhirat.

Karena itu selama masih diberikan kesempatan hidup, mari kita isi hari-hari dengan amal kebaikan.

Menulis kebaikan.

Menyebarkan ilmu.

Membantu sesama.

Memakmurkan masjid.

Dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebab ketika usia telah berakhir, yang akan tersisa bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang telah kita berikan.

"Semoga setiap langkah menuju masjid menjadi saksi kebaikan, dan setiap tulisan yang lahir dari hati menjadi cahaya yang menerangi perjalanan menuju akhirat." Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Muara Tulisan Adalah Buku

Jangan Biarkan Naskah Anda Hanya Menjadi File di Laptop!

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Berapa banyak tulisan yang sudah Anda buat selama ini?

Berapa banyak ide yang tersimpan rapi di laptop, flashdisk, Google Drive, atau bahkan masih berdiam di dalam pikiran?

Mungkin ada puluhan artikel yang sudah selesai ditulis. Mungkin ada kumpulan puisi yang selama ini hanya dibaca sendiri. Ada pula catatan pengalaman mengajar yang begitu inspiratif, tetapi belum pernah dibukukan. Bahkan bisa jadi ada naskah yang sudah bertahun-tahun menunggu untuk diwujudkan menjadi buku.

Pertanyaannya, sampai kapan karya itu hanya menjadi dokumen digital yang tersimpan diam?

Tulisan yang baik tidak cukup hanya ditulis. Tulisan yang baik harus dibaca, dibagikan, dan diwariskan. Salah satu cara terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan menerbitkan buku.

Buku adalah jejak peradaban.

Buku adalah saksi perjalanan hidup.

Buku adalah warisan pemikiran yang akan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.

Karena itulah, banyak penulis bermimpi melihat namanya tercetak di sampul buku. Ada kebanggaan tersendiri ketika karya yang lahir dari proses panjang akhirnya dapat digenggam, dibaca, dan menginspirasi banyak orang.

Namun kenyataannya, masih banyak calon penulis yang ragu melangkah.

Ada yang bertanya:

"Bagaimana cara menerbitkan buku?"

"Apakah harus melalui penerbit besar?"

"Apakah biaya menerbitkan buku mahal?"

"Bagaimana agar buku terlihat profesional dan menarik?"

"Bisakah penulis pemula menerbitkan buku?"

"Bagaimana memilih penerbit yang tepat?"

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam benak para penulis.

Kabar baiknya, semua pertanyaan tersebut akan mendapatkan jawaban secara langsung dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-17 yang akan dilaksanakan:

📅 Jumat, 29 Mei 2026
🕖 Pukul 19.00 WIB
📍 Daring melalui Grup WhatsApp KBMN

Mengangkat tema yang sangat menarik:

"Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie"

Tema ini sangat relevan bagi siapa saja yang memiliki impian menjadi penulis buku.

Malam nanti peserta akan diajak memahami dunia penerbitan secara lebih dekat. Bukan hanya teori, tetapi juga pengalaman nyata dari praktisi yang telah membantu banyak penulis mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan.

Hadir sebagai narasumber adalah:

Mukminin, M.Pd.

Beliau dikenal sebagai salah satu founder penerbitan buku yang telah banyak membantu para penulis menerbitkan karya-karya terbaiknya.

Dengan pengalaman yang dimiliki, peserta akan memperoleh banyak wawasan berharga tentang proses penerbitan buku, mulai dari naskah hingga menjadi buku yang siap dibaca masyarakat.

Acara akan dipandu oleh moderator yang energik dan inspiratif:

Yandri Novita Sari, S.Pd.

Kehadiran moderator yang komunikatif akan membuat diskusi menjadi lebih hidup dan interaktif.

Mengapa Anda perlu mengikuti kegiatan ini?

Karena menulis tanpa menerbitkan ibarat menanam pohon tanpa membiarkannya berbuah.

Setiap tulisan memiliki muara.

Muara dari tulisan adalah pembaca.

Dan buku adalah salah satu jembatan terbaik agar tulisan sampai kepada lebih banyak pembaca.

Bagi para guru, buku bukan hanya sarana berbagi ilmu. Buku juga menjadi bukti profesionalisme dan karya nyata yang dapat memberikan manfaat luas bagi dunia pendidikan.

Bagi mahasiswa, buku menjadi portofolio intelektual yang membanggakan.

Bagi pegiat literasi, buku adalah media dakwah ilmu yang sangat efektif.

Bagi masyarakat umum, buku adalah warisan pemikiran yang nilainya tidak ternilai.

Dalam dunia yang semakin digital, buku justru tetap memiliki tempat istimewa.

Ketika seseorang memegang buku hasil karyanya sendiri, ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Omjay masih ingat ketika pertama kali menerima buku karya sendiri dari percetakan. Rasanya seperti melihat mimpi yang akhirnya menjadi nyata.

Berbulan-bulan menulis.

Berkali-kali merevisi.

Mengorbankan waktu istirahat.

Menahan rasa lelah.

Semua terbayar ketika buku itu akhirnya hadir dalam genggaman.

Pengalaman itulah yang ingin dibagikan kepada para peserta KBMN.

Sebab setiap orang sebenarnya memiliki potensi menjadi penulis buku.

Yang membedakan hanyalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus belajar.

KBMN selama ini telah melahirkan banyak penulis baru dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak peserta yang awalnya merasa tidak mampu menulis, akhirnya berhasil menerbitkan buku bahkan menjadi penulis produktif.

Malam nanti bisa jadi menjadi titik awal perjalanan Anda.

Bisa jadi buku yang selama ini hanya ada dalam angan-angan mulai menemukan jalannya menuju kenyataan.

Bisa jadi malam nanti Anda menemukan jawaban atas semua keraguan yang selama ini menghambat langkah.

Karena itu, jangan sampai terlewat.

Siapkan buku catatan.

Siapkan semangat belajar.

Siapkan pertanyaan terbaik Anda.

Mari belajar bersama dan menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Ingatlah satu hal:

Tulisan yang hanya disimpan akan menjadi arsip.

Tulisan yang diterbitkan akan menjadi inspirasi.

Jangan biarkan naskah Anda terus tertidur di dalam folder laptop.

Bangunkan ia.

Rapikan ia.

Terbitkan ia.

Dan biarkan karya Anda menemukan para pembacanya.

Sampai jumpa malam ini di KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-17, pukul 19.00 WIB.

Mari wujudkan mimpi menjadi penulis buku.

Karena setiap buku besar selalu berawal dari satu tulisan sederhana yang berani diterbitkan.

Salam Literasi!

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia.

Mempertahankan dan Menjaga Mood Menulis

Menjaga Mood Menulis Agar Tetap Stabil

Kisah Omjay untuk Para Guru dan Pembina Majalah Sekolah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

"Pak Omjay, bagaimana menjaga mood menulis agar stabil? Saya pembina majalah sekolah, tetapi menulis masih musiman."

Pertanyaan itu membuat saya tersenyum. Sebab, terus terang saja, saya pun pernah mengalami hal yang sama. Ada masa ketika ide menulis mengalir deras seperti air sungai di musim hujan. Namun ada pula saat-saat tertentu ketika membuka laptop saja terasa berat. Jangankan menulis satu artikel, mencari judul saja sudah membuat kepala terasa penuh.

Banyak orang mengira penulis produktif selalu memiliki mood yang baik untuk menulis. Padahal kenyataannya tidak demikian. Justru sebagian besar penulis produktif tetap menulis meskipun mood sedang tidak datang.

Dulu saya juga menunggu mood.

Kalau suasana hati sedang bagus, saya menulis. Kalau sedang sibuk, lelah, atau tidak ada inspirasi, saya berhenti menulis. Akibatnya tulisan yang lahir sangat sedikit.

Sampai akhirnya saya menyadari satu hal penting:

Menunggu mood adalah cara tercepat untuk berhenti menulis.

Sejak saat itu saya mengubah kebiasaan. Saya tidak lagi menunggu mood datang, tetapi menciptakan mood dengan cara menulis.

Menulis Itu Seperti Berolahraga

Bayangkan seseorang yang ingin sehat tetapi hanya berolahraga ketika mood datang.

Hari pertama semangat.

Hari kedua semangat.

Hari ketiga malas.

Hari keempat lupa.

Hari kelima sibuk.

Akhirnya olahraga berhenti.

Menulis juga demikian. Jika kita hanya menulis saat suasana hati mendukung, maka produktivitas akan naik turun seperti ombak di lautan.

Penulis yang konsisten bukanlah orang yang selalu bersemangat, tetapi orang yang tetap menulis meskipun sedang tidak bersemangat.

Mulailah dari Tulisan Kecil

Kesalahan banyak guru adalah ingin langsung menulis artikel panjang dan sempurna.

Padahal tidak harus demikian.

Ketika saya sedang kehilangan mood, saya memulai dengan hal sederhana:

- Menulis satu paragraf.
- Menulis satu pengalaman hari itu.
- Menulis satu pelajaran yang saya dapatkan.
- Menulis satu kutipan inspiratif.

Sering kali tulisan kecil itu berkembang menjadi artikel panjang.

Ibarat menyalakan mobil, yang sulit bukan menjalankannya, tetapi menghidupkan mesinnya.

Jadikan Menulis Sebagai Kebiasaan

Selama bertahun-tahun menjadi blogger, saya belajar bahwa kebiasaan lebih kuat daripada motivasi.

Motivasi datang dan pergi.

Mood datang dan pergi.

Tetapi kebiasaan akan tetap tinggal.

Karena itu saya membiasakan diri menulis setiap hari.

Tidak harus sempurna.

Tidak harus panjang.

Yang penting menulis.

Lama-kelamaan otak akan menganggap menulis sebagai aktivitas normal, sama seperti makan dan mandi.

Simpan Ide di Mana Saja

Banyak tulisan hilang karena ide tidak segera dicatat.

Padahal inspirasi sering datang di tempat yang tidak terduga:

- Saat mengajar.
- Saat naik kendaraan.
- Saat menghadiri rapat.
- Saat melihat siswa.
- Saat berbincang dengan teman.

Karena itu saya selalu mencatat ide di ponsel.

Ketika waktu menulis tiba, saya tidak lagi kebingungan mencari bahan.

Daftar ide sudah menunggu untuk dikembangkan.

Jangan Terlalu Perfeksionis

Penyakit terbesar para penulis pemula adalah ingin sempurna sejak kalimat pertama.

Akibatnya mereka tidak jadi menulis.

Saya selalu mengingatkan diri sendiri:

"Tulisan jelek yang selesai lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak pernah selesai."

Tulislah dulu.

Edit belakangan.

Perbaiki kemudian.

Yang penting tulisan lahir terlebih dahulu.

Bergabung dengan Komunitas Menulis

Salah satu alasan saya tetap semangat menulis adalah karena berada di lingkungan orang-orang yang juga gemar menulis.

Energi positif itu menular.

Ketika melihat teman menulis artikel, kita ikut termotivasi.

Ketika melihat guru menerbitkan buku, kita ikut terdorong.

Karena itulah komunitas menulis sangat penting.

Mereka menjadi pengingat ketika semangat mulai menurun.

Menulislah dari Hati

Banyak orang kehilangan mood karena merasa harus menulis hal-hal besar.

Padahal tulisan yang paling mudah lahir justru berasal dari pengalaman pribadi.

Tulislah:

- Kisah di kelas.
- Pengalaman mendidik siswa.
- Cerita bersama keluarga.
- Refleksi kehidupan.
- Pelajaran yang diperoleh setiap hari.

Tulisan yang lahir dari hati biasanya lebih mudah ditulis dan lebih mudah menyentuh hati pembaca.

Fokus pada Manfaat

Ketika merasa malas menulis, saya selalu bertanya kepada diri sendiri:

"Siapa yang akan mendapatkan manfaat dari tulisan ini?"

Pertanyaan sederhana itu sering mengembalikan semangat yang hilang.

Mungkin ada guru yang terbantu.

Mungkin ada siswa yang terinspirasi.

Mungkin ada orang tua yang mendapatkan pelajaran.

Ketika kita fokus pada manfaat, energi menulis biasanya akan kembali muncul.

Rahasia Terbesar Menjaga Mood Menulis

Setelah menulis ribuan artikel dan puluhan buku, saya menemukan satu rahasia sederhana:

Mood bukan penyebab kita menulis. Menulislah yang menciptakan mood.

Mulailah dengan satu kalimat.

Lanjutkan menjadi satu paragraf.

Kemudian satu halaman.

Lama-kelamaan semangat akan datang dengan sendirinya.

Karena itu, kepada sahabat yang menjadi pembina majalah sekolah tetapi merasa masih menulis secara musiman, saya ingin mengatakan:

Jangan menunggu inspirasi datang.

Duduklah.

Bukalah laptop.

Tuliskan satu kalimat.

Besok satu kalimat lagi.

Lusa satu paragraf.

Minggu depan satu artikel.

Sebulan kemudian Anda akan terkejut melihat begitu banyak tulisan yang telah lahir.

Sebagaimana yang selalu saya yakini:

"Tulisan yang hebat bukan lahir dari penulis yang selalu memiliki mood, tetapi dari penulis yang terus menulis meskipun mood belum datang."

Dan pesan yang selalu saya pegang hingga hari ini adalah:

"Tulisanku adalah tabunganku. Setiap hari saya menabung kata demi kata, hingga akhirnya menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."Semoga artikel ini dapat menginspirasi para guru, pembina majalah sekolah, dan pegiat literasi agar terus menulis setiap hari tanpa menunggu mood datang. Karena sesungguhnya, konsistensi jauh lebih penting daripada inspirasi sesaat.

Amalan Utama di Hari Tasyriq

Amalan Utama di Hari Tasyriq

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd – Omjay, Guru Blogger Indonesia

Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari istimewa yang sering kali dilupakan banyak orang. Setelah gema takbir Idul Adha mulai mereda, sebagian manusia kembali sibuk dengan urusan dunia. Padahal, justru pada tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah terdapat banyak keberkahan dan amalan utama yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam naskah khutbah Jumat KMM PWM Jawa Tengah dijelaskan bahwa hari-hari Tasyriq merupakan hari yang mulia di sisi Allah SWT. 

Pagi itu Omjay duduk termenung selepas sholat Subuh. Di meja makan masih tersisa hidangan daging kurban yang dimasak keluarga. Aroma sate dan gulai memenuhi rumah. Anak-anak bercanda riang. Suasana terasa hangat dan penuh syukur.

Omjay lalu teringat sabda Rasulullah SAW:

“Hari-hari Tasyriq adalah hari makan dan minum.” (HR. Muslim). 

Betapa indah ajaran Islam. Bahkan makan dan minum pun bisa bernilai ibadah ketika dilakukan dengan rasa syukur kepada Allah SWT.

Dalam khutbah tersebut dijelaskan bahwa kata Tasyriq berasal dari aktivitas menjemur daging kurban di bawah sinar matahari agar menjadi dendeng dan tahan lama. Ada pula ulama yang mengaitkannya dengan takbir yang dikumandangkan setelah sholat. 

Hari-hari ini bukan hari biasa. Hari Tasyriq adalah hari untuk memperbanyak dzikir, doa, rasa syukur, dan mendekatkan diri kepada Allah.

Omjay merasakan bahwa kehidupan manusia sebenarnya sangat singkat. Kita sering sibuk mengejar dunia sampai lupa menikmati nikmat yang Allah berikan. Padahal di Hari Tasyriq, Allah mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menikmati rezeki-Nya, lalu mengingat-Nya dengan penuh rasa syukur.

1. Memperbanyak Takbir, Tahmid, Tasbih, dan Tahlil

Amalan utama pertama di Hari Tasyriq adalah memperbanyak dzikir kepada Allah SWT. Dalam khutbah dijelaskan bahwa umat Islam dianjurkan memperbanyak takbir setelah sholat fardhu hingga tanggal 13 Dzulhijjah waktu Ashar. 

“Allahu Akbar, Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah wallahu akbar, Allahu Akbar walillahil hamd.”

Kalimat takbir itu bukan sekadar lafaz di bibir. Ia adalah pengingat bahwa sebesar apa pun masalah manusia, Allah jauh lebih besar.

Omjay pernah merasakan masa sulit dalam hidup. Saat menyelesaikan studi doktor selama delapan tahun, ada banyak ujian yang datang silih berganti. Kadang lelah, kadang hampir menyerah. Namun setiap kali mendengar takbir, hati terasa kuat kembali.

Takbir mengajarkan manusia untuk tidak sombong. Jabatan, harta, dan popularitas hanyalah titipan sementara. Yang kekal hanyalah Allah SWT.

Karena itu, Hari Tasyriq adalah momentum membersihkan hati melalui dzikir.

2. Memperbanyak Doa

Amalan kedua adalah memperbanyak doa, terutama doa sapu jagat:

“Rabbanaa aatinaa fid dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.” 

Doa ini sangat indah karena mencakup seluruh kebutuhan manusia. Meminta kebaikan dunia dan akhirat sekaligus perlindungan dari api neraka.

Dalam khutbah disebutkan bahwa para ulama salaf sangat menganjurkan membaca doa tersebut di hari-hari Tasyriq. 

Omjay percaya, doa adalah kekuatan terbesar orang beriman.

Kadang manusia merasa hebat karena teknologi. Merasa mampu melakukan segalanya sendiri. Padahal satu detik saja Allah mencabut kesehatan, manusia tidak akan mampu berbuat apa-apa.

Di Hari Tasyriq, Omjay belajar bahwa hidup harus selalu bergantung kepada Allah. Ketika tangan menengadah dalam doa, sebenarnya manusia sedang mengakui kelemahannya di hadapan Sang Pencipta.

Dan anehnya, justru di situlah letak kekuatan manusia.

3. Banyak Bersyukur kepada Allah

Amalan ketiga adalah memperbanyak syukur. Dalam khutbah disebutkan bahwa pada Hari Tasyriq terkumpul berbagai nikmat badaniyah berupa makanan dan minuman yang Allah karuniakan kepada manusia. 

Allah memberikan daging kurban yang melimpah, makanan bergizi, dan kesehatan untuk menikmatinya.

Namun sayangnya, banyak manusia lupa bersyukur.

Omjay pernah melihat seseorang mengeluh karena menu makanan di rumah tidak sesuai selera. Padahal di luar sana masih banyak saudara kita yang kesulitan makan.

Hari Tasyriq mengajarkan empati.

Ketika kita menikmati sate kurban, ada tetangga yang mungkin baru setahun sekali merasakan nikmatnya makan daging. Ketika kita duduk bersama keluarga, ada orang lain yang sedang menangis kehilangan orang tercinta.

Karena itu syukur bukan hanya ucapan “Alhamdulillah,” tetapi juga kepedulian kepada sesama.

Allah SWT berfirman:

“Jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah nikmat kepadamu.” 

Ayat ini sangat dalam maknanya. Orang yang bersyukur bukan hanya bertambah hartanya, tetapi juga bertambah ketenangan hatinya.

Hari Tasyriq dan Makna Kehidupan

Hari-hari Tasyriq sebenarnya mengajarkan keseimbangan hidup.

Ada ibadah. Ada kebersamaan keluarga. Ada makanan. Ada dzikir. Ada doa. Ada rasa syukur.

Islam bukan agama yang mempersulit hidup manusia. Islam mengajarkan kebahagiaan yang penuh keberkahan.

Omjay membayangkan jika setiap keluarga memanfaatkan Hari Tasyriq untuk berkumpul, saling memaafkan, berbagi makanan, dan memperbanyak dzikir, maka rumah-rumah akan dipenuhi ketenangan.

Sayangnya, hari ini banyak orang sibuk memotret makanan untuk media sosial, tetapi lupa menyebut nama Allah sebelum makan.

Padahal keberkahan hidup lahir dari hati yang bersyukur.

Hari Tasyriq juga mengingatkan kita bahwa hidup di dunia hanya sementara. Daging kurban akan habis dimakan. Pesta akan selesai. Tamu akan pulang. Tetapi amal ibadah akan tetap tinggal.

Karena itu, mari isi Hari Tasyriq dengan amal terbaik.

Perbanyak dzikir. Perbanyak doa. Perbanyak syukur. Perbanyak berbagi.

Sebab bisa jadi, inilah Hari Tasyriq terakhir dalam hidup kita.

Dan ketika kelak Allah memanggil kita pulang, semoga kita termasuk hamba yang meninggalkan dunia dalam keadaan hati penuh takbir, lisan penuh syukur, dan jiwa yang selalu mengingat Allah.

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog.” – Omjay

Sumber: Naskah Khutbah Jumat KMM PWM Jawa Tengah “Amalan Utama di Hari Tasyriq” karya Ust. Dr. Muttaqin, M.H. 

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru bligger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Perjalanan Omjay Mendapatkan Gelar Doktor

Kisah Omjay: Delapan Tahun Perjuangan Meraih Gelar Doktor UNJ

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Tanggal 9 November 2022 menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan Omjay. Di Sentul International Convention Center (SICC), Omjay berdiri mengenakan toga doktor Universitas Negeri Jakarta dengan hati bergetar penuh syukur. Perjalanan panjang selama delapan tahun akhirnya sampai pada satu titik yang membahagiakan.

Delapan tahun…

Bukan waktu yang singkat.

Omjay memulai perjalanan kuliah S3 pada tahun 2014. Saat itu Omjay hanyalah seorang guru yang memiliki mimpi sederhana: ingin terus belajar agar bisa memberi manfaat lebih besar bagi dunia pendidikan Indonesia.

Namun Omjay sadar, jalan menuju doktor tidak mudah.

Ada banyak pengorbanan yang harus dilakukan. Waktu bersama keluarga berkurang. Tenaga dan pikiran terkuras. Bahkan tabungan sering kali habis demi biaya pendidikan, penelitian, perjalanan seminar, dan membeli buku-buku referensi.

Tetapi Omjay percaya satu hal: “Ilmu adalah investasi terbaik dalam hidup.”

Pada awal kuliah doktoral, Omjay harus membagi waktu dengan sangat ketat. Pagi mengajar di sekolah. Siang hingga malam mengikuti kuliah. Setelah itu masih harus membaca jurnal dan menulis tugas akademik hingga dini hari.

Kadang tubuh terasa lelah.

Kadang hati merasa jenuh.

Namun Omjay selalu mengingat wajah keluarga tercinta yang menjadi sumber kekuatan terbesar.

Istri Omjay adalah sosok yang luar biasa. Dalam diam, beliau selalu mendukung perjuangan Omjay. Saat Omjay sibuk kuliah dan menulis disertasi, sang istri tetap setia menemani dengan doa dan kesabaran.

“Lanjutkan perjuangan Abang. Insya Allah ada jalan,” begitu kalimat sederhana yang selalu menguatkan hati Omjay.

Tahun demi tahun berlalu.

Perjalanan S3 ternyata tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga membuka jalan pengalaman internasional yang sangat berharga.

Pada tahun 2016, Omjay mendapat kesempatan belajar di Jepang.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri Sakura, Omjay begitu kagum melihat budaya disiplin masyarakat Jepang. Kereta datang tepat waktu. Orang-orang bekerja dengan penuh tanggung jawab. Lingkungan bersih dan tertata rapi.

Omjay belajar bahwa kemajuan sebuah bangsa bukan hanya karena teknologi, tetapi karena karakter manusianya.

Di Jepang, Omjay juga melihat bagaimana pendidikan sangat dihargai. Guru mendapat penghormatan tinggi. Anak-anak dilatih mandiri sejak kecil. Semua pengalaman itu menjadi pelajaran berharga yang terus melekat dalam hati Omjay.

Di sela kegiatan belajar di Jepang, Omjay sering merenung.

“Indonesia juga bisa maju kalau pendidikan dan karakter bangsanya dibangun dengan sungguh-sungguh.”

Sepulang dari Jepang, semangat belajar Omjay semakin besar. Omjay semakin aktif menulis di blog, mengikuti seminar, webinar, dan berbagi ilmu kepada guru-guru di Indonesia.

Namun perjalanan doktor belum selesai.

Masih ada revisi demi revisi.

Masih ada penelitian yang harus disempurnakan.

Masih ada perjuangan panjang yang menunggu.

Lalu pada tahun 2019, Omjay kembali mendapatkan kesempatan berharga untuk belajar di China.

Pengalaman di China memberikan pelajaran berbeda. Omjay melihat bagaimana teknologi berkembang sangat cepat di sana. Dunia digital menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Pendidikan berbasis teknologi tumbuh luar biasa pesat.

Omjay semakin yakin bahwa guru Indonesia harus siap menghadapi perubahan zaman.

Guru tidak boleh berhenti belajar.

Guru harus mampu mengikuti perkembangan teknologi dan kecerdasan artifisial agar tidak tertinggal.

Di China, Omjay semakin memahami pentingnya literasi digital dalam pendidikan modern. Pengalaman itu kemudian banyak dibagikan kepada para guru Indonesia melalui tulisan dan pelatihan.

Perjalanan belajar di Jepang dan China menjadi bagian penting dalam proses pendewasaan akademik Omjay. Dunia luar membuka wawasan bahwa pendidikan adalah jembatan kemajuan bangsa.

Namun setelah kembali ke Indonesia, perjuangan disertasi kembali menanti.

Ada masa ketika Omjay hampir menyerah.

Ada rasa lelah yang sulit dijelaskan.

Ada malam-malam panjang penuh revisi.

Kadang Omjay menatap layar laptop sambil bertanya dalam hati: “Apakah saya mampu menyelesaikan semua ini?”

Tetapi setiap kali rasa putus asa datang, Omjay kembali menulis.

Menulis menjadi terapi jiwa.

Menulis menjadi penguat hati.

Omjay percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan.

Karena itu Omjay terus aktif di blog pendidikan miliknya. Dari blog itulah banyak guru saling belajar dan berbagi inspirasi.

Omjay selalu mengatakan:

“Menulislah dengan hati, karena tulisan yang lahir dari hati akan sampai ke hati.”

Hingga akhirnya hari yang ditunggu itu datang.

9 November 2022.

Di SICC Sentul, Omjay resmi diwisuda sebagai Doktor Universitas Negeri Jakarta.

Saat nama Omjay dipanggil ke atas panggung, air mata hampir jatuh. Delapan tahun perjuangan seperti diputar kembali di dalam kepala.

Tahun 2014 memulai kuliah doktor.

Tahun 2016 belajar di Jepang.

Tahun 2019 belajar di China.

Dan tahun 2022 akhirnya menyelesaikan semuanya.

Perjalanan panjang itu mengajarkan Omjay bahwa kesuksesan bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mampu bertahan.

Banyak orang ingin hasil instan. Padahal keberhasilan sejati membutuhkan proses panjang, kesabaran, dan doa yang tidak pernah putus.

Foto wisuda yang kini terpajang di rumah bukan sekadar gambar biasa. Foto itu adalah simbol perjuangan hidup. Simbol ketekunan. Simbol cinta keluarga. Simbol doa orang tua. Simbol pengorbanan seorang guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Omjay ingin memberi pesan kepada guru-guru Indonesia:

“Jangan pernah takut bermimpi besar. Jangan pernah malu untuk terus belajar. Usia bukan penghalang untuk menuntut ilmu.”

Karena sesungguhnya, belajar adalah perjalanan seumur hidup.

Dan Omjay membuktikan sendiri bahwa mimpi yang diperjuangkan dengan sungguh-sungguh akan menemukan jalannya menjadi kenyataan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 28 Mei 2026

Hibah Buku yang Menghidupkan Cahaya Ilmu

Kisah Omjay: Hibah Buku yang Menghidupkan Cahaya Ilmu

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara Wanaraja Garut terasa sejuk. Matahari baru saja muncul dari balik pegunungan. Burung-burung kecil berkicau di halaman rumah, sementara Omjay duduk santai di teras sambil menyeruput kopi hangat. Di hadapan Omjay, beberapa kardus berisi buku tersusun rapi. Ada buku agama, buku pendidikan, buku motivasi, hingga buku keterampilan hidup.

Saat melihat tumpukan buku itu, hati Omjay tiba-tiba teringat pada sosok Pak Haji Romlan. Beliau dikenal sebagai pribadi sederhana yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan masyarakat. Di tengah zaman ketika banyak orang sibuk mengumpulkan harta, Pak Haji Romlan justru ingin berbagi ilmu melalui hibah buku.

Omjay tersenyum pelan.

“Masya Allah… masih ada orang yang berpikir tentang masa depan generasi melalui buku,” gumam Omjay dalam hati.

Bagi Omjay, hibah buku bukan sekadar memberi benda. Hibah buku adalah menanam benih peradaban. Buku bisa mengubah cara berpikir seseorang. Buku mampu membuat anak desa berani bermimpi tinggi. Buku juga bisa menjadi teman terbaik ketika hidup terasa sepi.

Omjay lalu teringat masa kecilnya dulu. Ketika akses buku sangat terbatas, satu buku saja bisa dibaca berkali-kali sampai hafal isinya. Bahkan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah terasa sangat berharga. Dari buku-buku itulah Omjay mulai mencintai dunia menulis dan pendidikan.

Kini zaman berubah. Anak-anak lebih akrab dengan layar handphone dibandingkan lembaran buku. Banyak yang sibuk bermain media sosial, tetapi jarang membaca buku berkualitas. Karena itulah Omjay merasa hibah buku yang dilakukan Pak Haji Romlan menjadi sangat penting.

Siang itu Omjay berbincang santai dengan beberapa warga. Mereka bercerita bahwa masih banyak sekolah, mushola, taman bacaan, dan perpustakaan kecil yang kekurangan buku. Ada anak-anak yang ingin membaca, tetapi bahan bacaannya sangat terbatas.

Mendengar cerita itu, hati Omjay semakin terenyuh.

“Betapa banyak anak hebat di negeri ini yang sebenarnya haus ilmu,” pikir Omjay.

Omjay lalu menyampaikan beberapa saran untuk Pak Haji Romlan agar hibah buku ini benar-benar memberi manfaat besar bagi masyarakat.

Menurut Omjay, yang paling penting bukan hanya jumlah buku yang dibagikan, tetapi ketepatan manfaatnya. Buku yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Anak-anak membutuhkan buku cerita yang mendidik dan menyenangkan. Remaja membutuhkan buku motivasi, teknologi, dan pengembangan diri. Guru membutuhkan buku pendidikan yang menginspirasi.

Omjay juga menyarankan agar hibah buku tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Akan jauh lebih indah bila kegiatan itu dilakukan secara berkelanjutan. Sedikit demi sedikit, tetapi rutin. Sebab perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang terus bertambah ilmunya.

“Jangan hanya memberi buku lalu selesai,” kata Omjay pelan. “Buku harus dihidupkan dengan kegiatan membaca dan menulis.”

Omjay percaya, budaya membaca harus berjalan bersama budaya menulis. Karena itulah Omjay selalu menyampaikan pesan kepada banyak guru dan siswa:

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog.”

Kalimat itu lahir dari pengalaman panjang Omjay sebagai guru blogger Indonesia. Menulis setiap hari membuat Omjay memahami bahwa ilmu yang ditulis akan hidup lebih lama dibandingkan hanya disimpan dalam pikiran.

Pak Haji Romlan tampak mendengarkan penuh perhatian.

Omjay lalu melanjutkan nasihatnya.

“Pak Haji, akan sangat bagus jika setiap buku hibah diberi pesan singkat yang menyentuh hati pembacanya.”

Misalnya:

‘Bacalah buku ini dengan hati, karena ilmu akan menerangi jalan hidupmu.’

Pesan sederhana seperti itu bisa menjadi motivasi besar bagi anak-anak yang membaca.

Tak terasa obrolan sore itu semakin hangat. Omjay melihat wajah-wajah penuh harapan. Ada guru, ada orang tua, dan ada anak-anak kecil yang memandang buku-buku itu dengan mata berbinar.

Saat itulah Omjay sadar bahwa buku memang memiliki kekuatan luar biasa. Buku bisa mempertemukan banyak hati dalam satu tujuan mulia: membangun manusia yang berilmu.

Omjay kemudian teringat sebuah kenyataan hidup. Ketika manusia meninggal dunia, yang dibawa bukanlah harta benda, bukan mobil mewah, bukan jabatan tinggi. Yang dibawa hanyalah amal kebaikan.

Hibah buku termasuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Selama buku itu dibaca dan ilmunya diamalkan, pahala akan terus sampai kepada pemberinya.

Betapa indahnya bila suatu hari ada seorang anak sukses menjadi guru, dokter, ulama, atau pemimpin bangsa karena dulu pernah membaca buku hibah dari Pak Haji Romlan.

Mungkin Pak Haji Romlan tidak akan pernah tahu siapa saja yang berubah hidupnya karena buku-buku itu. Namun Allah SWT mengetahui semuanya.

Langit mulai berubah jingga ketika percakapan sore itu berakhir. Angin Garut berhembus lembut. Omjay memandang tumpukan buku di depannya dengan hati yang hangat.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar materi, ternyata masih ada orang-orang baik yang percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah cahaya kehidupan.

Sebelum pulang, Omjay kembali menyampaikan pesan yang sangat dalam kepada Pak Haji Romlan.

“Pak Haji, bangunan bisa rusak dimakan waktu. Harta bisa habis. Tetapi ilmu yang ditanam melalui buku akan hidup dalam hati manusia. Itulah warisan terbaik.”

Pak Haji Romlan tersenyum haru.

Dan Omjay percaya, dari hibah buku sederhana itu, akan lahir cahaya-cahaya kecil yang kelak menerangi Indonesia.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tukang Rujak Bebek di Wanaraja Garut

Kisah Omjay: Rujak Bebek di Siang Hari Wanaraja Garut

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Siang itu matahari bersinar cukup terik di Kampung Wanaraja Garut. Udara terasa hangat, tetapi angin pegunungan Garut masih menyisakan kesejukan yang sulit ditemukan di kota besar. Omjay duduk santai di teras rumah kakak ipar sambil menikmati suasana kampung yang damai.

Sesekali terdengar suara motor lewat. Anak-anak kecil berlarian di jalan kampung. Burung berkicau di pepohonan. Semuanya terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.

Omjay memandang jalan depan rumah sambil tersenyum kecil. Sudah lama rasanya tidak menikmati suasana kampung seperti ini. Hidup di Jakarta sering kali membuat manusia lupa bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari gedung mewah, restoran mahal, atau pusat perbelanjaan modern.

Kadang kebahagiaan datang dari hal-hal kecil yang sederhana.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara khas yang sangat akrab di telinga masyarakat Sunda.

“Ruuujakkk… rujakkk bebekkk…”

Suara itu semakin mendekat.

Ternyata seorang tukang rujak tumbuk sedang lewat di depan rumah.

Spontan Omjay langsung memanggilnya.

“Pak… sini dulu!”

Tukang rujak itu pun berhenti sambil tersenyum ramah. Di depan motornya ada perlengkapan sederhana untuk membuat rujak bebek. Cobek batu, ulekan kayu, mangga muda, kedondong, bengkuang, nanas, timun, gula merah, cabai, garam, dan terasi tersusun rapi.

Melihat itu saja sudah membuat air liur terasa menetes.

“Pakai cabai banyak, Pak,” kata salah satu keluarga sambil tertawa.

Tukang rujak mulai bekerja dengan cekatan. Suara ulekan yang menghantam cobek terdengar begitu khas.

Cek… cek… cek…

Cabai rawit merah diulek bersama gula merah dan sedikit garam. Aroma terasi mulai tercium menggoda hidung. Setelah itu buah-buahan segar dimasukkan dan ditumbuk perlahan hingga bumbu meresap sempurna.

Itulah sebabnya disebut rujak tumbuk atau rujak bebek.

Bukan karena ada daging bebek di dalamnya.

Dalam bahasa Sunda, “dibebek” artinya diaduk dan ditumbuk hingga menyatu.

Siang itu suasana rumah langsung berubah ramai. Semua berkumpul menunggu rujak selesai dibuat. Ada yang sudah tidak sabar. Ada yang tertawa melihat cabai yang begitu banyak dimasukkan.

Ketika rujak selesai dan dibagikan ke piring kecil, aroma segarnya langsung menyebar.

Gigitan pertama benar-benar luar biasa.

Pedas.

Asam.

Manis.

Segar.

Semuanya bercampur menjadi rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Omjay tersenyum sambil menikmati suapan demi suapan rujak bebek itu. Keringat mulai keluar karena pedasnya cabai, tetapi justru di situlah kenikmatannya.

Kadang hidup memang seperti rujak bebek.

Ada rasa pedasnya.

Ada rasa asamnya.

Ada rasa manisnya.

Dan semuanya bercampur menjadi pengalaman hidup yang lengkap.

Omjay tiba-tiba teringat perjalanan hidupnya selama ini. Menjadi guru, penulis, blogger, narasumber webinar, hingga harus berpindah-pindah kota demi berbagi ilmu kepada banyak orang.

Semua perjalanan itu tidak selalu mudah.

Ada lelahnya.

Ada kecewanya.

Ada sedihnya.

Namun ada juga kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Seperti siang itu.

Makan rujak bersama keluarga di kampung ternyata mampu menghadirkan rasa bahagia yang begitu tulus.

Omjay kemudian memandangi tukang rujak itu lebih lama. Wajahnya sederhana. Bajunya penuh peluh. Tangannya kasar karena bekerja keras setiap hari. Namun dari pekerjaannya itulah ia menghidupi keluarga.

Omjay kembali belajar bahwa setiap manusia sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Tukang rujak itu mungkin tidak terkenal.

Namanya mungkin tidak masuk televisi.

Tidak viral di media sosial.

Tetapi pekerjaannya membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Siang itu ia berhasil membuat satu keluarga tersenyum bahagia hanya lewat seporsi rujak bebek.

Betapa sering manusia meremehkan pekerjaan kecil.

Padahal di mata Allah, setiap pekerjaan halal adalah mulia.

Omjay semakin menikmati suasana kampung yang penuh kehangatan itu. Tidak ada suara klakson panjang seperti di Jakarta. Tidak ada hiruk-pikuk kemacetan. Yang ada hanyalah suara manusia bercengkerama dan tertawa bersama.

Kebersamaan seperti inilah yang sekarang mulai mahal harganya.

Di zaman modern, banyak keluarga duduk satu meja tetapi sibuk dengan handphone masing-masing. Ada yang bermain media sosial. Ada yang sibuk membuat konten. Ada yang tenggelam dalam dunia digital.

Namun siang itu berbeda.

Rujak bebek sederhana berhasil menyatukan semua orang dalam obrolan hangat penuh tawa.

Omjay percaya, makanan bukan hanya soal rasa.

Makanan juga tentang kenangan.

Tentang kebersamaan.

Tentang cinta keluarga.

Karena itulah banyak orang selalu merindukan masakan ibu di rumah.

Bukan semata-mata karena rasanya enak, tetapi karena ada kasih sayang di dalamnya.

Begitu juga dengan rujak bebek siang itu.

Mungkin jika dimakan di restoran mewah rasanya tidak akan sama.

Karena yang membuatnya istimewa adalah suasananya.

Kampung Wanaraja Garut siang itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan.

Omjay lalu berkata pelan kepada anak-anak dan keluarga yang ada di sana:

“Nikmati momen sederhana seperti ini. Karena suatu hari nanti kita akan merindukannya.”

Semua mendadak diam sejenak.

Benar sekali.

Hidup berjalan begitu cepat.

Anak-anak tumbuh dewasa.

Orang tua menua.

Waktu terus bergerak tanpa pernah berhenti.

Yang nantinya tersisa hanyalah kenangan.

Dan kenangan indah sering kali lahir dari momen-momen sederhana seperti makan rujak bersama keluarga.

Omjay kemudian kembali teringat pesan yang selalu ia tuliskan di blognya di [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com):

“Tulisan adalah rekaman kehidupan.”

Karena itulah Omjay senang menulis.

Lewat tulisan, momen sederhana tidak hilang begitu saja.

Suara ulekan cobek.

Tawa keluarga.

Pedasnya cabai.

Segarnya buah.

Semua bisa hidup kembali lewat tulisan.

Omjay percaya, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Dan siang itu, di Wanaraja Garut, Omjay kembali belajar satu hal penting:

Bahagia ternyata tidak serumit yang manusia bayangkan.

Kadang bahagia hanya sesederhana memanggil tukang rujak yang lewat di depan rumah… lalu menikmatinya bersama orang-orang tercinta.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Oleh Oleh Umroh yang Menyimpan Kerinduan

Kisah Omjay: Oleh-Oleh Umroh yang Menyimpan Air Mata Kerinduan

Di sebuah rumah sederhana di Wanaraja, Garut, tersimpan benda-benda kecil yang mungkin bagi orang lain hanyalah pajangan biasa. Ada teko berwarna keemasan, gelas-gelas kecil khas Timur Tengah, vas bunga, dan miniatur kendaraan dari Arab Saudi. Semuanya tertata rapi di atas meja dengan alas plastik bening yang sudah mulai kusam dimakan waktu.

Namun bagi Omjay dan istri, benda-benda itu bukan sekadar oleh-oleh.

Di sanalah tersimpan kenangan, doa, perjuangan, dan air mata kerinduan kepada Tanah Suci.

Tahun 2017 menjadi tahun yang tidak pernah dilupakan Omjay. Tahun ketika Allah SWT akhirnya memanggil Omjay dan istri untuk menunaikan ibadah umroh. Sampai hari ini, setiap kali mata memandang teko emas kecil itu, hati OmJay selalu bergetar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pagi itu di rumah Wanaraja Garut, OmJay berdiri cukup lama di depan meja tempat oleh-oleh itu disimpan. Cahaya matahari masuk perlahan dari jendela rumah. Pantulan sinarnya membuat teko dan gelas-gelas kecil itu tampak berkilau.

Tiba-tiba hati OmJay terasa sesak.

Ingatan OmJay kembali melayang jauh ke tahun 2017…

Saat pertama kali kaki ini menginjak Kota Madinah.

Saat air mata jatuh tanpa bisa ditahan ketika mendengar adzan berkumandang di Masjid Nabawi.

Saat OmJay berdiri mematung di depan Raudhah sambil berdoa untuk keluarga, anak-anak, sahabat, dan semua orang yang dicintai.

Tidak terasa air mata OmJay kembali menetes pagi itu.

Betapa cepat waktu berlalu.

Rasanya baru kemarin OmJay dan istri berjalan bersama di pelataran Masjidil Haram. Baru kemarin melihat Ka'bah untuk pertama kali dengan dada berdebar hebat. Baru kemarin tangan ini menengadah sambil memohon ampunan kepada Allah SWT.

Kini yang tersisa hanyalah kenangan… dan beberapa oleh-oleh sederhana.

Namun justru dari benda-benda sederhana itulah OmJay belajar tentang arti syukur.

OmJay teringat bagaimana perjuangan menabung untuk berangkat umroh waktu itu. Tidak mudah bagi seorang guru untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Ada banyak kebutuhan keluarga yang harus didahulukan. Ada biaya sekolah anak. Ada kebutuhan rumah tangga. Ada tanggung jawab yang tidak sedikit.

Tetapi Allah selalu punya cara.

Sedikit demi sedikit rezeki dikumpulkan. Sedikit demi sedikit doa dipanjatkan. Sampai akhirnya Allah benar-benar membuka jalan.

OmJay masih ingat bagaimana bahagianya istri ketika koper mulai dipersiapkan. Wajahnya bersinar penuh kebahagiaan. Mata beliau berkaca-kaca ketika pertama kali mengenakan pakaian ihram.

Dan hari ini…

Kenangan itu seolah hidup kembali hanya karena melihat sebuah teko kecil dan gelas-gelas mungil dari Arab Saudi.

OmJay kemudian duduk perlahan sambil memandangi miniatur kendaraan kecil di samping meja. Benda itu dibeli hanya karena lucu dan unik. Harganya mungkin tidak seberapa. Tetapi sekarang nilainya terasa sangat mahal.

Karena kenangan tidak pernah bisa dibeli.

Banyak orang mengira kebahagiaan ada pada rumah besar, kendaraan mewah, atau harta melimpah. Padahal kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam kenangan sederhana yang penuh cinta dan syukur.

Oleh-oleh itu menjadi saksi bahwa OmJay dan istri pernah menjadi tamu Allah.

Pernah menangis di depan Ka'bah.

Pernah berdoa di Multazam.

Pernah bershalawat di dekat makam Rasulullah SAW.

Dan setiap kali melihat benda-benda itu, hati OmJay selalu berbisik lirih:

“Ya Allah… panggil kami kembali ke rumah-Mu.”

Tidak terasa air mata kembali jatuh.

OmJay sadar, hidup ini sebenarnya hanyalah perjalanan singkat. Semua yang kita miliki akan tertinggal. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Harta tidak akan dibawa mati.

Yang tersisa hanyalah amal dan kenangan baik.

Karena itulah OmJay selalu berusaha menulis setiap hari. Menuliskan pengalaman hidup, rasa syukur, pelajaran kehidupan, dan perjalanan spiritual dalam blog sederhana miliknya.

Sebab OmJay percaya:

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam ajaib bernama blog.”

Mungkin suatu hari nanti OmJay sudah tiada.

Namun tulisan-tulisan itu akan tetap hidup.

Anak cucu bisa membacanya.

Sahabat bisa mengenangnya.

Dan siapa tahu, ada orang yang kembali semangat beribadah karena membaca kisah sederhana OmJay.

Di rumah Wanaraja Garut itu, benda-benda kecil dari Arab Saudi akhirnya mengajarkan satu hal penting:

Bahwa kenangan spiritual jauh lebih mahal daripada kemewahan dunia.

Teko emas itu mungkin suatu hari akan kusam.

Gelas-gelas kecil itu mungkin akan retak dimakan usia.

Miniatur kendaraan itu mungkin akan rusak.

Tetapi rasa rindu kepada Tanah Suci tidak akan pernah hilang.

Rindu itu justru semakin tumbuh seiring bertambahnya usia.

OmJay kemudian memandang istrinya yang sedang tersenyum kecil melihat pajangan itu. Dalam diam, OmJay bersyukur dipertemukan dengan pasangan hidup yang selalu setia mendampingi dalam suka dan duka.

Perjalanan umroh tahun 2017 bukan hanya perjalanan menuju Makkah dan Madinah.

Tetapi perjalanan hati.

Perjalanan untuk lebih mengenal Allah.

Perjalanan untuk belajar bahwa hidup ini sangat singkat.

Dan pagi itu di Wanaraja Garut, OmJay kembali sadar…

Kadang Allah menghadirkan rasa haru bukan lewat sesuatu yang besar.

Tetapi lewat benda-benda kecil yang menyimpan kenangan paling dalam.

Mungkin itulah sebabnya air mata mudah jatuh ketika melihat oleh-oleh umroh lama.

Karena sesungguhnya yang dirindukan bukan barangnya.

Tetapi momen ketika hati terasa sangat dekat dengan Allah SWT.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay: Yang Dikorbankan Adalah Hati yang Ikhlas

Kisah Omjay: Yang Dikorbankan Hati

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia

“Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Pagi itu langit Garut terlihat begitu cerah. Udara dingin pegunungan menyelinap masuk melalui sela-sela jendela rumah kakak ipar Omjay di Wanaraja. Takbir Idul Adha masih terdengar sayup-sayup dari masjid sekitar. Hati Omjay terasa tenang, tetapi juga penuh renungan.

Hari Raya Idul Adha selalu membawa makna berbeda dalam hidup Omjay. Bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, bukan pula sekadar tradisi tahunan yang datang lalu pergi. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Ada hati yang sedang diuji. Ada keikhlasan yang sedang dipertanyakan.

Omjay duduk sambil memandangi langit pagi. Di tangannya ada secangkir kopi hangat. Sementara di sudut ruang tamu, anak-anak sedang bercanda kecil dengan penuh kebahagiaan. Istri Omjay tampak sibuk membantu menyiapkan sarapan sederhana.

Saat itulah Omjay teringat sebuah kalimat yang begitu menyentuh hati:

“Tidak semua yang dikorbankan terlihat oleh manusia, tapi semua yang ikhlas dilihat dan dicatat oleh Allah.”

Kalimat itu seperti mengetuk pintu hati Omjay.

Selama ini banyak orang mengira pengorbanan selalu berbentuk sesuatu yang besar. Padahal sering kali yang paling berat justru pengorbanan yang tidak terlihat.

Ada orang yang mengorbankan waktu tidurnya demi mencari nafkah halal.

Ada guru yang mengorbankan kenyamanan hidup demi tetap mengajar anak-anak bangsa dengan penuh cinta.

Ada ibu yang diam-diam menangis agar anak-anaknya tetap bisa sekolah.

Ada ayah yang menahan lelah meski tubuhnya sakit.

Ada pula seseorang yang mengorbankan egonya demi menjaga persaudaraan.

Semua itu adalah kurban hati.

Omjay teringat perjalanan hidupnya sebagai guru. Tidak sedikit perjuangan yang harus dilalui. Menjadi guru di era digital bukanlah hal mudah. Banyak tantangan datang silih berganti. Kadang dihargai, kadang dilupakan. Kadang dipuji, kadang dicaci.

Namun Omjay belajar satu hal penting: mengajar dengan hati akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Bertahun-tahun Omjay menulis di blog. Banyak orang bertanya mengapa Omjay begitu rajin menulis setiap hari.

Omjay selalu menjawab sederhana:

“Karena tulisanku adalah tabunganku.”

Bukan tabungan uang. Bukan tabungan jabatan. Tetapi tabungan amal, ilmu, dan inspirasi.

Omjay percaya tulisan yang baik akan terus hidup bahkan ketika penulisnya telah tiada.

Karena itulah Omjay terus menulis dengan hati.

Dalam perjalanan pulang dari Bandung menuju Garut setelah melihat pembagian hewan kurban di Masjid Jami Al Islam Jamika, Omjay melihat begitu banyak orang berjalan kaki membawa kantong daging kurban.

Wajah mereka tampak bahagia.

Ada senyum yang sederhana, tetapi penuh makna.

Saat itulah Omjay kembali merenung.

Betapa Islam mengajarkan berbagi dengan begitu indah.

Kurban bukan tentang siapa yang paling besar sapinya. Bukan tentang siapa yang paling mahal kambingnya.

Tetapi tentang siapa yang paling ikhlas menyerahkan hatinya kepada Allah.

Nabi Ibrahim diuji bukan sekadar untuk menyembelih putranya, tetapi untuk membuktikan bahwa cintanya kepada Allah berada di atas segalanya.

Dan setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing.

Ada yang harus mengorbankan rasa malas. Ada yang harus meninggalkan kesombongan. Ada yang harus melepaskan dendam. Ada yang harus belajar memaafkan.

Itulah pengorbanan hati yang sesungguhnya.

Omjay pernah berada pada masa lelah dalam hidup. Ada saat-saat ketika hati terasa begitu berat menghadapi kenyataan. Terkadang manusia ingin menyerah. Terkadang manusia merasa perjuangannya sia-sia.

Namun Idul Adha selalu datang membawa pelajaran besar.

Bahwa keikhlasan akan selalu menemukan cahaya.

Omjay teringat ketika pertama kali mulai aktif menulis di internet. Banyak yang meremehkan. Ada yang berkata menulis di blog tidak ada gunanya. Ada yang menganggap itu pekerjaan sia-sia.

Tetapi Omjay tetap berjalan.

Sedikit demi sedikit tulisan Omjay dibaca banyak orang. Sedikit demi sedikit tulisan itu menginspirasi guru-guru Indonesia.

Hari ini Omjay memahami: apa yang dilakukan dengan hati tidak akan pernah sia-sia.

Karena Allah melihat proses, bukan hanya hasil.

Menjelang sore, Omjay berjalan keluar rumah. Langit Garut mulai berubah jingga. Anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Aroma sate kurban mulai tercium dari rumah-rumah warga.

Omjay tersenyum kecil.

Hidup ternyata sederhana.

Bahagia tidak selalu datang dari kemewahan. Kadang kebahagiaan hadir dari hati yang ikhlas menerima hidup apa adanya.

Di tengah hiruk pikuk dunia modern, manusia sering lupa menjaga hati. Kita sibuk mengejar pengakuan manusia sampai lupa mencari ridha Allah.

Padahal hidup ini hanya sementara.

Semua yang kita miliki hanyalah titipan.

Jabatan akan pergi. Harta akan tertinggal. Popularitas akan hilang.

Tetapi amal baik akan tetap tinggal.

Karena itu Omjay selalu berusaha menanamkan pesan sederhana dalam setiap tulisannya:

“Menulislah dengan hati, karena tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati orang lain.”

Buku Yang Dikorbankan Hati mengingatkan Omjay bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa tulus kita memberi.

Kadang yang perlu dikorbankan bukan harta, melainkan ego.

Kadang yang perlu disembelih bukan hewan, tetapi sifat sombong dalam diri.

Kadang yang harus dilepaskan bukan benda, tetapi rasa iri dan dendam.

Dan semua itu membutuhkan hati yang ikhlas.

Malam mulai turun perlahan. Takbir kembali terdengar dari kejauhan. Omjay menutup laptopnya setelah selesai menulis artikel ini.

Hati Omjay terasa hangat.

Semoga setiap tulisan yang lahir dari hati menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan sekadar mencari dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Karena pada akhirnya, bukan apa yang kita miliki yang akan menyelamatkan kita.

Tetapi hati yang ikhlas karena Allah.

Dan Omjay percaya…

Tulisan yang ditulis dengan hati akan selalu hidup, bahkan ketika penulisnya telah lama pergi.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com