Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 26 Oktober 2026

Materi kbmn pgri gelombang 35 dengan tema mimpi yg belum terwujud di pertemuan ke-26

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-26: Mimpi yang Belum Terwujud

Bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia

Tema: Mimpi yang Belum Terwujud: Menulis Harapan, Merawat Semangat, dan Melangkah Menuju Kenyataan

Salam blogger persahabatan!

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang hebat, selamat datang di pertemuan ke-26. Semoga kita semua tetap semangat belajar menulis, berbagi pengalaman, dan menginspirasi sesama melalui tulisan.

Pada pertemuan kali ini, kita akan belajar menulis tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan setiap manusia, yaitu mimpi yang belum terwujud.

Setiap orang pasti mempunyai mimpi. Ada yang ingin menerbitkan buku, menjadi guru inspiratif, melanjutkan pendidikan, membahagiakan orang tua, membangun sekolah yang lebih baik, atau meninggalkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Namun, tidak semua mimpi dapat terwujud dengan cepat. Ada mimpi yang harus menunggu bertahun-tahun. Ada pula mimpi yang terhambat oleh keadaan, keterbatasan biaya, kesibukan, rasa takut, bahkan keraguan terhadap kemampuan diri sendiri.

Apakah mimpi yang belum terwujud berarti kita gagal?

Tentu saja tidak. Selama kita masih mau belajar, berusaha, dan memperbaiki diri, selalu ada kesempatan untuk melangkah kembali.

Mari kita pelajari materi berikut ini dengan bahasa yang sederhana dan mudah dipahami.

### A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ke-26 ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami arti mimpi dan harapan dalam kehidupan.

* Mengenali mimpi pribadi yang belum terwujud.

* Menemukan pengalaman dan pelajaran dari perjalanan mengejar mimpi.

* Mengubah pengalaman pribadi menjadi tulisan yang menarik dan menyentuh hati.

* Menumbuhkan semangat untuk mewujudkan mimpi melalui langkah nyata.

### B. Apa Itu Mimpi yang Belum Terwujud?

Mimpi adalah sesuatu yang ingin kita capai dalam kehidupan. Mimpi dapat berupa cita-cita, harapan, keinginan, atau tujuan yang ingin diwujudkan pada masa depan.

Mimpi tidak selalu berkaitan dengan kekayaan atau jabatan. Mimpi juga bisa sangat sederhana, tetapi bermakna bagi kehidupan seseorang.

Contohnya:

* Seorang guru bermimpi menerbitkan buku pertamanya.

* Seorang penulis ingin tulisannya dibaca dan bermanfaat bagi banyak orang.

* Seorang guru ingin menjadi inspirasi bagi murid-muridnya.

* Seorang anak ingin membahagiakan kedua orang tuanya.

* Seorang peserta KBMN ingin konsisten menulis setiap hari.

* Seorang pendidik ingin membangun komunitas belajar yang terus berkembang.

Mimpi yang belum terwujud adalah harapan yang masih dalam proses perjuangan atau belum berhasil kita capai.

Jangan buru-buru mengubur mimpi hanya karena hari ini kita belum berhasil. Bisa jadi, kita masih perlu belajar, mengubah strategi, memperbaiki kebiasaan, atau menunggu waktu yang tepat.

Mimpi bukan sekadar sesuatu yang kita bayangkan, melainkan sesuatu yang perlu kita perjuangkan.

### C. Mengapa Mimpi Belum Terwujud?

Ada banyak alasan mengapa seseorang belum berhasil mencapai impiannya. Mari kita kenali beberapa penyebabnya.

1\. Takut memulai

Kita sering mempunyai ide yang bagus, tetapi tidak segera melaksanakannya. Kita takut tulisan dianggap jelek, takut dikritik, atau takut gagal.

Akibatnya, mimpi hanya tersimpan dalam pikiran.

Contohnya, seorang guru ingin menulis buku pengalaman mengajar. Namun, ia selalu berkata, "Nanti saja kalau sudah punya banyak waktu."

Hari demi hari berlalu, tetapi bukunya tidak pernah selesai.

Padahal, ia bisa memulai dengan menulis satu halaman setiap hari.

2\. Kurang konsisten

Semangat biasanya muncul ketika kita baru memulai sesuatu. Akan tetapi, mempertahankan semangat tidak selalu mudah.

Pada awalnya kita rajin menulis. Setelah beberapa hari, kita mulai sibuk dan berhenti.

Padahal, keberhasilan sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara terus-menerus.

3\. Terlalu banyak alasan

Kesibukan mengajar, pekerjaan rumah, kegiatan organisasi, dan berbagai tanggung jawab memang nyata. Namun, jika kita selalu mencari alasan, mimpi akan semakin jauh dari kenyataan.

Kita tidak harus menunggu waktu luang yang panjang. Kita bisa memanfaatkan waktu 15–20 menit untuk menulis satu paragraf.

4\. Membandingkan diri dengan orang lain

Melihat orang lain berhasil menerbitkan banyak buku terkadang membuat kita merasa tertinggal.

Kita lupa bahwa setiap orang mempunyai perjalanan yang berbeda.

Daripada sibuk membandingkan pencapaian, lebih baik kita membandingkan perkembangan diri hari ini dengan diri kita kemarin.

5\. Belum mempunyai rencana yang jelas

Mempunyai mimpi saja belum cukup. Kita perlu mengetahui langkah-langkah untuk mencapainya.

Jika ingin menerbitkan buku, misalnya, kita perlu menentukan tema, membuat daftar tulisan, menyusun naskah, melakukan penyuntingan, dan mencari penerbit atau cara penerbitan yang sesuai.

Mimpi yang besar perlu dipecah menjadi langkah-langkah kecil agar lebih mudah dilaksanakan.

### D. Mimpi yang Belum Terwujud Bukan Berarti Kegagalan

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang berbahagia,

Dalam perjalanan hidup, kita tidak selalu memperoleh hasil sesuai dengan harapan. Ada perlombaan yang tidak kita menangkan, naskah yang belum diterima penerbit, rencana yang tertunda, atau kesempatan yang belum datang.

Semua itu bisa menjadi bahan pembelajaran.

Ketika sebuah mimpi belum terwujud, cobalah bertanya kepada diri sendiri:

* Apa yang sudah saya lakukan untuk mencapainya?

* Apa yang masih menjadi kekurangan saya?

* Apa yang bisa saya perbaiki?

* Siapa yang dapat membantu atau memberikan masukan?

* Langkah kecil apa yang bisa saya mulai hari ini?

Pertanyaan tersebut membantu kita berpindah dari sekadar menyesali keadaan menuju usaha untuk melakukan perubahan.

Ingatlah, kegagalan dalam satu usaha bukanlah akhir dari seluruh perjalanan hidup kita.

Namun, kita juga perlu bersikap realistis. Ada mimpi yang harus diubah bentuknya, disesuaikan dengan keadaan, atau diganti dengan tujuan baru yang lebih sesuai. Mengubah strategi bukan berarti menyerah. Terkadang, justru itulah tanda bahwa kita semakin dewasa.

### E. Belajar dari Perjalanan Omjay

Sebagai seorang guru dan penulis, Omjay percaya bahwa menulis merupakan perjalanan panjang yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

Menulis tidak cukup hanya mengandalkan inspirasi. Kita perlu menyediakan waktu, membaca, berlatih, menerima kritik, dan terus memperbaiki tulisan.

Sejak mulai menulis di blog pada tahun 2007 dan bergabung dengan Kompasiana pada tahun 2008, perjalanan menulis menjadi bagian penting dalam kehidupan Omjay. Pengalaman mengajar, kegiatan organisasi, pertemuan dengan banyak orang, dan berbagai peristiwa kehidupan dapat menjadi bahan tulisan yang berharga.

Namun, perjalanan panjang bukan berarti semua keinginan dapat langsung tercapai. Selalu ada karya yang ingin dikembangkan, pengetahuan yang ingin dipelajari, dan pengalaman yang ingin dibagikan.

Dari perjalanan tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa mimpi perlu dirawat melalui kebiasaan.

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Mulailah menulis dari pengalaman yang kita miliki. Jangan menunggu tulisan sempurna untuk berani membagikannya. Tulislah dengan sungguh-sungguh, kemudian perbaiki berdasarkan masukan yang membangun.

Dalam kehidupan seorang guru, mimpi juga tidak selalu berbentuk penghargaan atau jabatan. Bisa jadi, mimpi terbesar kita adalah melihat murid tumbuh menjadi manusia yang berkarakter, mampu berpikir kritis, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Ada pula mimpi untuk membagikan ilmu kepada lebih banyak guru melalui tulisan dan komunitas belajar.

Semua itu membutuhkan proses.

Jangan biarkan mimpi berhenti hanya karena perjalanan kita terasa lambat. Teruslah belajar, berkarya, dan berbagi manfaat bagi sesama.

### F. Bagaimana Cara Mewujudkan Mimpi?

Berikut tujuh langkah sederhana yang bisa diterapkan oleh peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

1\. Tuliskan mimpi Anda

Jangan hanya menyimpan mimpi di dalam pikiran. Tuliskan dalam buku catatan atau dokumen pribadi.

Contoh:

"Saya ingin menerbitkan buku kumpulan pengalaman mengajar sebelum akhir tahun depan."

Tulisan tersebut membuat tujuan kita lebih jelas.

2\. Tentukan alasan yang kuat

Tanyakan kepada diri sendiri, mengapa mimpi itu penting?

Apakah ingin berbagi pengalaman? Meninggalkan warisan ilmu? Membantu orang lain? Atau membuktikan bahwa kita mampu menyelesaikan sesuatu yang telah lama diimpikan?

Alasan yang kuat dapat membantu kita bertahan ketika semangat mulai menurun.

3\. Buat target yang realistis

Jika ingin menulis buku, jangan langsung memikirkan ratusan halaman.

Mulailah dengan target kecil, misalnya satu tulisan setiap minggu atau 300 kata setiap hari.

Target tersebut bisa disesuaikan dengan kesibukan masing-masing.

4\. Susun langkah kerja

Buat rencana yang sederhana dan dapat dilakukan.

Misalnya, untuk menerbitkan buku:

* Minggu pertama: menentukan tema buku.

* Minggu kedua: membuat kerangka tulisan.

* Minggu ketiga sampai kedelapan: menulis naskah.

* Minggu kesembilan: menyunting tulisan.

* Minggu kesepuluh: meminta masukan dari teman.

* Minggu berikutnya: memperbaiki dan menyiapkan penerbitan.

Jadwal tersebut hanyalah contoh. Sesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan Anda.

5\. Berani menghadapi kritik

Tulisan pertama kita mungkin belum bagus. Jangan berkecil hati.

Mintalah teman membaca tulisan kita. Terimalah kritik yang membangun. Perbaiki bagian yang masih lemah.

Kritik bukan selalu tanda bahwa kita tidak mampu. Kritik dapat menjadi jalan untuk berkembang.

6\. Cari teman seperjuangan

Bergabunglah dengan komunitas yang mendukung perkembangan diri.

KBMN PGRI merupakan salah satu ruang belajar untuk berbagi pengalaman, memperoleh masukan, dan saling menyemangati dalam menulis.

Ketika kita merasa lelah, dukungan dari teman dapat membantu kita menemukan semangat kembali.

7\. Mulai hari ini

Jangan menunggu hari Senin, bulan depan, atau tahun depan untuk melakukan langkah pertama.

Jika ingin menjadi penulis, tulislah satu paragraf hari ini.

Jika ingin menerbitkan buku, mulailah mengumpulkan tulisan.

Jika ingin menjadi guru inspiratif, lakukan satu tindakan baik yang dapat memberikan manfaat bagi murid.

Langkah kecil yang nyata lebih baik daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.

### G. Menjadikan Mimpi sebagai Bahan Tulisan

Tema Mimpi yang Belum Terwujud sangat cocok untuk latihan menulis pengalaman pribadi.

Mengapa?

Karena setiap orang mempunyai kisah perjuangan yang berbeda. Ada harapan yang pernah disimpan sejak kecil, cita-cita yang tertunda karena keadaan keluarga, impian yang belum tercapai karena keterbatasan waktu, dan keinginan yang kembali tumbuh setelah mengalami kegagalan.

Kisah seperti ini dapat menyentuh hati pembaca jika ditulis dengan jujur.

Gunakan rumus sederhana berikut:

Mimpi + Perjuangan + Hambatan + Pelajaran + Harapan

Penjelasannya:

* Mimpi: Apa yang ingin Anda capai?

* Perjuangan: Apa yang sudah Anda lakukan?

* Hambatan: Apa yang membuat mimpi itu belum terwujud?

* Pelajaran: Apa yang Anda pelajari dari pengalaman tersebut?

* Harapan: Apa yang akan Anda lakukan selanjutnya?

Sebagai contoh, seorang guru mempunyai mimpi menerbitkan buku. Ia mulai menulis pengalaman mengajarnya, tetapi berkali-kali berhenti karena kesibukan. Setelah mengikuti KBMN PGRI, ia menyadari bahwa menulis membutuhkan disiplin. Ia kemudian bertekad menulis secara rutin dan mengumpulkan naskah sedikit demi sedikit.

Kisah sederhana itu bisa dikembangkan menjadi artikel yang menarik karena mempunyai masalah, perjuangan, perubahan sikap, dan harapan.

Yang terpenting, tulislah berdasarkan pengalaman sendiri. Jangan merasa harus mempunyai kisah yang luar biasa. Pengalaman sederhana pun bisa menjadi inspirasi apabila kita mampu mengambil pelajaran darinya.

### H. Struktur Artikel: Mimpi yang Belum Terwujud

Agar peserta lebih mudah mulai menulis, berikut contoh kerangka artikel yang dapat digunakan.

Judul: Mimpi yang Belum Terwujud, tetapi Tidak Pernah Padam

Paragraf 1 — Pembukaan

Ceritakan bahwa setiap orang memiliki mimpi, termasuk Anda.

Paragraf 2 — Mimpi pribadi

Jelaskan satu mimpi yang sampai sekarang belum terwujud. Mengapa mimpi itu penting bagi Anda?

Paragraf 3 — Perjalanan perjuangan

Ceritakan usaha yang sudah dilakukan untuk mencapai mimpi tersebut.

Paragraf 4 — Hambatan dan tantangan

Jelaskan kesulitan yang pernah dihadapi. Ceritakan pula perasaan Anda ketika mengalami hambatan.

Paragraf 5 — Pelajaran kehidupan

Tuliskan apa yang Anda pelajari dari perjalanan tersebut. Apakah Anda menjadi lebih sabar, disiplin, berani, atau mampu menerima kenyataan?

Paragraf 6 — Rencana berikutnya

Jelaskan langkah nyata yang akan dilakukan untuk mendekatkan diri pada mimpi.

Paragraf 7 — Penutup

Akhiri artikel dengan pesan inspiratif bagi pembaca.

Dengan kerangka tersebut, peserta tidak perlu bingung memulai tulisan. Kembangkan setiap bagian menggunakan bahasa sendiri, pengalaman nyata, dan perasaan yang jujur.

### I. Contoh Pembukaan Artikel

Berikut contoh pembukaan yang dapat dipelajari, bukan untuk disalin begitu saja.

Saya mempunyai sebuah mimpi yang sampai hari ini belum sepenuhnya terwujud. Mimpi itu sudah lama tersimpan dalam hati. Ada kalanya saya merasa bersemangat untuk mengejarnya, tetapi ada pula saat ketika kesibukan dan berbagai keadaan membuat langkah saya melambat.

Dahulu, saya mengira bahwa mimpi akan terwujud ketika kita sudah mempunyai kemampuan yang cukup. Namun, seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa kemampuan saja tidak cukup. Kita juga membutuhkan keberanian untuk memulai, kesabaran untuk menjalani proses, dan kedisiplinan untuk terus melangkah.

Kini, saya tidak lagi hanya bertanya kapan mimpi itu akan terwujud. Saya mulai bertanya kepada diri sendiri, apa yang sudah saya lakukan hari ini untuk mendekatkan diri kepadanya?

Pembukaan tersebut dapat dikembangkan dengan kisah nyata masing-masing peserta. Tambahkan pengalaman pribadi agar tulisan terasa lebih hidup dan mempunyai ciri khas penulisnya.

### J. Tugas Menulis Pertemuan ke-26

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35, sekarang saatnya berlatih menulis.

### Lembar Refleksi Menulis

Jawab pertanyaan berikut untuk membantu menyusun artikel Anda. Jawaban ini dapat dikembangkan menjadi tulisan pribadi.

1\. Apa mimpi Anda yang belum terwujud?

2\. Mengapa mimpi itu penting bagi Anda?

3\. Apa hambatan yang Anda hadapi?

4\. Pelajaran apa yang Anda peroleh?

5\. Apa langkah nyata yang akan Anda lakukan?

Susun Menjadi Artikel

### Ketentuan tugas

* Buatlah satu artikel dengan tema "Mimpi yang Belum Terwujud".

* Gunakan pengalaman pribadi sebagai bahan utama tulisan.

* Panjang tulisan sekitar 500–800 kata.

* Gunakan bahasa yang jelas, santun, dan mudah dipahami.

* Sertakan pelajaran kehidupan serta langkah nyata untuk meraih mimpi.

* Hindari menyalin tulisan orang lain. Gunakan AI jika diperlukan sebagai pendamping untuk mencari ide atau memperbaiki bahasa, tetapi pengalaman dan refleksi harus berasal dari diri sendiri.

* Bacalah kembali tulisan sebelum dikumpulkan. Periksa judul, ejaan, alur cerita, dan pesan yang ingin disampaikan.

### K. Pertanyaan Refleksi untuk Peserta

Sebelum menutup pertemuan, mari kita renungkan beberapa pertanyaan berikut.

* Mimpi apa yang sudah lama ingin saya wujudkan?

* Mengapa sampai sekarang mimpi tersebut belum tercapai?

* Apakah saya sudah sungguh-sungguh memperjuangkannya?

* Kebiasaan apa yang perlu saya ubah?

* Apa satu langkah kecil yang bisa saya lakukan mulai hari ini?

* Jika suatu saat mimpi itu terwujud, manfaat apa yang ingin saya berikan kepada orang lain?

Tidak perlu merasa malu apabila mimpi kita belum tercapai. Tidak perlu pula merasa rendah diri ketika melihat orang lain sudah berhasil.

Setiap orang mempunyai waktu dan jalan perjuangan yang berbeda. Yang terpenting, kita berani mengevaluasi diri, belajar dari pengalaman, dan melanjutkan langkah sesuai kemampuan.

### L. Penutup: Jangan Biarkan Mimpi Padam

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan,

Kita sudah sampai pada pertemuan ke-26. Perjalanan belajar menulis ini mengajarkan bahwa kemampuan menulis tidak tumbuh dalam satu malam. Kita membutuhkan latihan, kesabaran, kedisiplinan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Begitu pula dengan mimpi.

Mungkin ada di antara kita yang belum berhasil menerbitkan buku. Ada yang ingin menjadi penulis produktif, tetapi masih kesulitan membagi waktu. Ada yang ingin menjadi guru inspiratif, tetapi merasa belum mempunyai cukup pengalaman. Ada pula yang mempunyai cita-cita besar, tetapi belum menemukan jalan untuk memulainya.

Jangan berkecil hati.

Mimpi yang belum terwujud masih bisa menjadi sumber semangat selama kita bersedia mengambil pelajaran dan melakukan langkah nyata. Kita tidak dapat mengubah semua keadaan, tetapi kita dapat memilih tindakan yang akan kita lakukan hari ini.

Mulailah dari hal sederhana. Tulislah pengalaman yang paling berkesan. Ceritakan kegagalan yang memberikan pelajaran. Bagikan harapan yang membuat kita tetap bertahan.

Siapa tahu, tulisan yang kita anggap biasa justru memberikan kekuatan kepada seseorang yang sedang berjuang menghadapi kesulitan hidupnya.

Jangan menunggu menjadi sempurna untuk mulai berkarya. Jangan pula menunggu semua keadaan menjadi mudah untuk mengambil langkah pertama.

Mimpi boleh belum terwujud, tetapi semangat untuk memperjuangkannya jangan sampai padam.

Teruslah menulis, teruslah belajar, dan teruslah menginspirasi. Semoga setiap kata yang kita tuliskan menjadi jejak kebaikan yang bermanfaat bagi diri sendiri, keluarga, murid, dan masyarakat.

Demikian materi KBMN PGRI Gelombang 35 pertemuan ke-26 bersama Omjay.

Salam blogger persahabatan!

Menulislah dengan hati, berkaryalah dengan ketulusan, dan wujudkan mimpi melalui tindakan nyata.

Omjay

Guru Blogger Indonesia

Menghormati Orang Lain cermin kemuliaan hati

Menghormati Orang Lain, Cermin Kemuliaan Hati: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia

Inspirasi Pagi, Senin, 26 Oktober 2026

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Pagi ini, Senin, 26 Oktober 2026, Omjay kembali merenungkan sebuah nasihat sederhana yang memiliki makna sangat dalam: hormati orang lain jika ingin dihormati orang lain.

Kalimat ini mungkin terdengar biasa. Kita sering mendengarnya sejak kecil, baik dari orang tua, guru, maupun orang-orang yang lebih dahulu menjalani kehidupan. Namun, semakin bertambah usia, semakin Omjay menyadari bahwa menghormati orang lain bukanlah perkara yang selalu mudah dilakukan. Apalagi ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda pendapat, berbeda latar belakang, berbeda kedudukan, atau bahkan berbeda cara berpikir dengan kita.

Dalam perjalanan hidup sebagai seorang guru, penulis, dan blogger, Omjay belajar bahwa penghormatan kepada sesama manusia merupakan salah satu bentuk kedewasaan yang sesungguhnya. Seseorang tidak menjadi hebat hanya karena memiliki jabatan tinggi, gelar akademik, banyak pengikut di media sosial, atau dikenal oleh banyak orang. Seseorang menjadi hebat ketika ia mampu memperlakukan orang lain dengan baik, tanpa merasa dirinya lebih tinggi daripada orang lain.

Menghormati orang lain bukan karena siapa dirinya

Ada sebuah kalimat yang selalu layak kita renungkan: menghormati orang lain bukan karena siapa dia, tetapi karena siapa diri kita.

Bagi Omjay, kalimat ini mengandung pelajaran penting. Kita tidak perlu menunggu seseorang menjadi pejabat, orang kaya, profesor, kepala sekolah, atau tokoh terkenal untuk memperlakukannya dengan hormat. Setiap manusia layak diperlakukan dengan baik karena ia memiliki martabat sebagai manusia.

Bayangkan ketika kita bertemu seorang petugas kebersihan di sekolah. Apakah kita akan menyapanya dengan ramah? Apakah kita bersedia mengucapkan terima kasih atas pekerjaannya? Ataukah kita justru bersikap seolah-olah pekerjaannya tidak penting?

Padahal, sekolah yang bersih dan nyaman tidak hanya bergantung pada kepala sekolah atau guru. Ada petugas kebersihan yang bekerja dengan tekun, sering kali tanpa mendapatkan perhatian yang cukup.

Begitu pula ketika kita bertemu penjaga sekolah, petugas keamanan, pengemudi kendaraan umum, pedagang kecil, atau siapa pun yang kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Senyuman, sapaan, dan ucapan terima kasih mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membuat seseorang merasa dihargai.

Omjay percaya bahwa penghormatan tidak harus diwujudkan melalui hadiah mahal atau kata-kata yang indah. Kadang-kadang, cukup dengan mendengarkan orang lain berbicara tanpa memotong pembicaraannya, kita sudah menunjukkan bahwa kita menghargainya.

Pengalaman menjadi guru mengajarkan arti menghargai

Selama puluhan tahun mengajar di SMP Labschool Jakarta, Omjay semakin memahami bahwa tugas seorang guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga memiliki tanggung jawab untuk menanamkan karakter dan memberikan teladan kepada murid-muridnya.

Murid belajar bukan hanya dari apa yang disampaikan guru di depan kelas, melainkan juga dari bagaimana guru memperlakukan orang lain.

Jika seorang guru meminta murid menghormati teman, tetapi ia sendiri gemar merendahkan orang lain, nasihatnya akan kehilangan kekuatan. Sebaliknya, jika guru mampu mendengarkan pendapat murid, menghargai pertanyaan mereka, dan menegur dengan cara yang mendidik, murid akan melihat contoh nyata tentang arti menghormati sesama.

Omjay selalu meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Ada murid yang unggul dalam pelajaran matematika, ada yang pandai menulis, ada yang kreatif dalam menggambar, dan ada pula yang memiliki keterampilan sosial yang sangat baik.

Tidak adil jika kita hanya menghargai murid yang memperoleh nilai tinggi. Murid yang belum berhasil pun membutuhkan dukungan agar berani mencoba kembali.

Ketika seorang murid melakukan kesalahan, tugas guru bukan mempermalukannya di depan teman-temannya. Guru perlu membimbingnya agar memahami kesalahan dan belajar memperbaiki diri.

Mengangkat orang lain tidak akan membuat kita menjadi lebih rendah. Justru di situlah terlihat kebesaran hati kita.

Pelajaran ini juga berlaku dalam kehidupan keluarga. Anak-anak perlu belajar menghormati orang tua, tetapi orang tua juga perlu menghargai anak-anaknya. Suami dan istri perlu saling mendengarkan. Kakak dan adik perlu saling menyayangi. Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling melukai.

Keluarga yang harmonis bukanlah keluarga yang tidak pernah berbeda pendapat. Keluarga yang harmonis adalah keluarga yang tetap berusaha menjaga rasa hormat meskipun sedang menghadapi perbedaan.

Adab lebih tinggi daripada ilmu

Ada ungkapan yang sangat terkenal dalam dunia pendidikan: adab lebih tinggi daripada ilmu.

Ilmu memang penting. Dengan ilmu, manusia dapat mengembangkan teknologi, membangun peradaban, menemukan obat, dan menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan. Namun, ilmu yang tidak disertai adab dapat disalahgunakan untuk merendahkan orang lain.

Orang yang berpendidikan tinggi seharusnya semakin bijaksana dalam berbicara dan bertindak. Gelar akademik bukanlah alasan untuk merasa paling benar. Pengetahuan yang luas seharusnya membuat seseorang semakin sadar bahwa masih banyak hal yang belum diketahuinya.

Sebagai seorang guru yang juga aktif menulis di blog dan berbagai platform digital, Omjay memahami bahwa dunia menulis memberi ruang bagi siapa pun untuk menyampaikan pendapat. Kita boleh berbeda pandangan dalam menanggapi sebuah tulisan. Kita boleh mengkritik gagasan yang dianggap kurang tepat. Namun, kritik hendaknya diarahkan kepada gagasan, bukan digunakan untuk menghina pribadi penulisnya.

Di media sosial, kita sering menjumpai komentar yang kasar, ejekan, dan perdebatan yang tidak lagi berfokus pada persoalan. Seseorang merasa harus menang dalam setiap percakapan, seolah-olah mengakui pendapat orang lain berarti kalah.

Padahal, tidak semua perbedaan harus berakhir dengan pertengkaran. Ada kalanya kita perlu menjelaskan pendapat dengan santun. Ada kalanya kita perlu mendengarkan. Dan ada kalanya kita perlu memilih diam karena tidak semua perkataan harus dibalas.

Omjay ingin terus belajar menjadi penulis yang menyampaikan gagasan dengan hati. Tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang dibaca banyak orang, melainkan juga tulisan yang memberikan manfaat dan tidak sengaja melukai martabat orang lain.

Jangan sombong ketika berada di atas

Dalam ajaran Islam, kita diingatkan agar menjauhi kesombongan. Rasulullah saw. bersabda dalam hadis riwayat Muslim bahwa seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi pun tidak akan masuk surga.

Hadis ini memberikan peringatan yang sangat serius kepada kita. Kesombongan bukan sekadar persoalan cara berbicara atau penampilan. Kesombongan juga berkaitan dengan sikap hati yang menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Kita mungkin memiliki jabatan, kekayaan, pendidikan, pengalaman, atau prestasi yang membanggakan. Namun, semua itu tidak seharusnya membuat kita merasa lebih mulia daripada orang lain.

Hari ini kita mungkin berada di atas, tetapi keadaan hidup dapat berubah. Orang yang sekarang kita anggap biasa saja mungkin kelak menjadi sosok yang memberikan pertolongan kepada kita. Orang yang hari ini sedang mengalami kesulitan mungkin suatu saat menjadi orang yang berhasil dan menginspirasi banyak orang.

Karena itu, Omjay ingin terus mengingatkan diri sendiri agar tidak mudah meremehkan siapa pun.

Dalam perjalanan hidup, kita tidak pernah benar-benar tahu bagaimana masa depan seseorang. Tugas kita bukan menentukan siapa yang pantas direndahkan, melainkan berusaha menjadi manusia yang membawa kebaikan.

Muliakanlah manusia, bukan semata-mata karena kedudukan atau kekayaannya, tetapi karena kita ingin menjaga kemuliaan akhlak dalam diri sendiri.

Pengalaman sakit mengajarkan arti kesabaran dan kerendahan hati

Ada pelajaran kehidupan yang semakin terasa ketika seseorang menghadapi ujian kesehatan. Bagi Omjay, pengalaman sakit dan perjuangan menjalani pemulihan setelah mengalami serangan stroke membuat Omjay semakin menyadari pentingnya menjaga kehidupan dengan lebih bijaksana.

Ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, kita belajar bahwa ada banyak hal yang tidak dapat dilakukan sendirian. Kita membutuhkan dukungan keluarga, perhatian orang-orang terdekat, serta bantuan dari orang lain dalam berbagai keadaan.

Pengalaman seperti ini mengingatkan Omjay agar tidak mudah merasa paling kuat atau paling mampu. Manusia memiliki keterbatasan. Hari ini kita bisa membantu orang lain, tetapi suatu saat mungkin kitalah yang membutuhkan bantuan.

Karena itu, jangan pernah mempermalukan seseorang yang sedang sakit. Jangan merendahkan orang yang sedang mengalami kesulitan. Jangan pula menjadikan kelemahan orang lain sebagai bahan tertawaan.

Sebaliknya, berusahalah hadir untuk memberikan dukungan, selama kita mampu melakukannya.

Omjay juga belajar untuk semakin menghargai kesempatan menjalani hari, berjalan santai, berolahraga sesuai kemampuan, dan bertemu orang-orang yang memberikan semangat. Kebaikan kecil yang dahulu mungkin terasa biasa kini menjadi sesuatu yang patut disyukuri.

Hidup bukan hanya tentang seberapa tinggi pencapaian yang berhasil kita raih. Hidup juga tentang bagaimana kita memperlakukan orang lain sepanjang perjalanan menuju pencapaian tersebut.

Jika tidak bisa memuji, jangan menghina

Nasihat ini sangat sederhana, tetapi penting untuk dipraktikkan: jika kamu tidak bisa memuji, setidaknya jangan menghina.

Kita tidak harus selalu menyukai semua orang. Kita juga tidak harus menyetujui seluruh pendapat orang lain. Akan tetapi, kita tetap bisa memilih untuk berbicara dengan sopan.

Jika melihat seseorang berhasil, belajarlah ikut bersyukur dan mengambil inspirasi dari keberhasilannya. Jika melihat seseorang melakukan kesalahan, sampaikan kritik dengan cara yang baik. Jika belum mampu memberikan bantuan, setidaknya jangan menambah beban dengan kata-kata yang menyakitkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita dapat mulai melakukan beberapa kebiasaan sederhana.

Pertama, biasakan mengucapkan salam dan menyapa orang lain dengan ramah. Jangan hanya bersikap baik kepada orang yang kita anggap penting.

Kedua, dengarkan orang lain ketika berbicara. Tidak semua percakapan harus menjadi kesempatan untuk menunjukkan bahwa kita paling pintar.

Ketiga, hindari membicarakan kekurangan seseorang untuk dijadikan bahan ejekan. Jika memang ada persoalan yang perlu diselesaikan, bicarakan dengan orang yang tepat dan dengan tujuan mencari jalan keluar.

Keempat, belajarlah meminta maaf ketika melakukan kesalahan. Meminta maaf bukan tanda kelemahan, melainkan keberanian untuk mengakui bahwa kita juga manusia biasa.

Kelima, jangan merasa malu mengucapkan terima kasih. Sekecil apa pun bantuan yang diberikan orang lain, hargailah dengan tulus.

Kebiasaan-kebiasaan tersebut mungkin terlihat sepele. Namun, jika dilakukan secara konsisten, semuanya dapat membentuk pribadi yang lebih santun dan lingkungan yang lebih nyaman.

Mari kita wariskan sikap hormat kepada anak-anak

Sebagai orang tua dan guru, kita memiliki tanggung jawab untuk menanamkan sikap menghormati sesama kepada generasi muda.

Anak-anak tidak cukup hanya diberi nasihat. Mereka perlu melihat contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Ketika orang tua menghargai pendapat anak, anak belajar mendengarkan. Ketika guru menegur murid tanpa menghina, murid belajar memperbaiki kesalahan tanpa kehilangan harga diri. Ketika orang dewasa menghormati orang yang berbeda pendapat, anak-anak belajar bahwa perbedaan tidak harus menjadi permusuhan.

Kita perlu mengajarkan kepada anak bahwa keberhasilan bukan alasan untuk menyombongkan diri. Kegagalan bukan alasan untuk merendahkan orang lain. Kecerdasan bukan alasan untuk mengejek teman yang belum memahami pelajaran.

Anak yang berprestasi perlu belajar rendah hati. Anak yang sedang mengalami kesulitan perlu mendapatkan dukungan. Setiap anak harus memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai dengan potensi yang dimilikinya.

Bagi Omjay, pendidikan karakter seperti ini harus terus diperjuangkan di rumah, di sekolah, dan di tengah masyarakat.

Kita ingin melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki empati, tanggung jawab, dan kesantunan. Generasi yang mampu menggunakan teknologi dengan bijak, menyampaikan pendapat tanpa menghina, serta menghargai manusia tanpa memandang status sosialnya.

Sebab, kepintaran dapat membuka pintu kesempatan, tetapi adab membantu kita menjaga hubungan baik dengan sesama.

Penutup: Hormati orang lain, muliakan diri sendiri

Pagi ini Omjay ingin mengajak kita semua menjadikan Senin, 26 Oktober 2026, sebagai kesempatan untuk memperbaiki diri.

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah selama ini kita sudah menghormati orang lain? Apakah kita sudah mendengarkan pasangan, anak, orang tua, murid, teman kerja, dan orang-orang yang kita jumpai? Apakah perkataan kita sudah membawa ketenangan, atau justru menambah luka di hati orang lain?

Tidak ada manusia yang sempurna. Omjay pun masih harus terus belajar memperbaiki diri. Kita semua pernah melakukan kesalahan, berkata kurang tepat, atau bersikap kurang bijaksana. Yang terpenting adalah kesediaan untuk menyadari kekurangan dan berusaha menjadi lebih baik.

Jangan menunggu menjadi orang hebat untuk menghormati sesama. Mulailah dari hal-hal kecil. Sapa orang lain dengan ramah. Hargai pendapatnya. Jangan merendahkan pekerjaannya. Berikan dukungan ketika ia mengalami kesulitan. Dan jangan lupa mengucapkan terima kasih atas kebaikan yang kita terima.

Ingatlah selalu, orang hebat bukanlah orang yang gemar merendahkan orang lain, melainkan orang yang mampu mengangkat dan menguatkan sesamanya.

Hormati orang lain bukan hanya agar kita dihormati, tetapi karena kita ingin menjadi manusia yang memiliki hati dan akhlak yang baik.

Semoga Allah Swt. membimbing kita agar terhindar dari kesombongan, dijauhkan dari kebiasaan merendahkan sesama, serta diberikan hati yang lembut untuk saling menghargai dan menebarkan kebaikan.

Mari kita mulai pagi ini dengan senyuman, perkataan yang santun, dan niat yang baik.

Tetap semangat dalam menjalani kehidupan. Semoga setiap langkah kita menjadi jalan untuk menebarkan manfaat bagi keluarga, murid, sahabat, dan masyarakat.

Salam Blogger Persahabatan.

Salam hormat dan salam bahagia.

Barakallah fiikum.

Wijaya Kusumah (Omjay) — Guru Blogger Indonesia

Minggu, 25 Oktober 2026

Materi Pertemuan ke-25 KBMN PGRI Gelombang 35 dengan tema menulis sebagai terapi kehidupan

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-25: Menulis sebagai Terapi Kehidupan

Bersama Omjay (Wijaya Kusumah) • Materi belajar menulis yang mudah dipahami dan dipraktikkan

### A. Pendahuluan: Menulis Bukan Sekadar Merangkai Kata

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Salam Blogger Persahabatan!

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang luar biasa, apa kabar hari ini? Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, kebahagiaan, dan semangat untuk terus belajar menulis.

Pada pertemuan ke-25 ini, kita akan belajar tentang “Menulis sebagai Terapi Kehidupan.” Tema ini sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Setiap manusia memiliki cerita, pengalaman, kesedihan, kebahagiaan, kegagalan, dan harapan. Semua itu dapat menjadi bahan tulisan yang bermakna.

Pernahkah Bapak dan Ibu merasa sedih, kecewa, marah, atau bingung menghadapi persoalan hidup? Pernahkah kita ingin bercerita kepada seseorang, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana?

Cobalah mengambil buku catatan atau membuka laptop, kemudian mulailah menulis.

Tuliskan apa yang sedang dirasakan. Tidak perlu memikirkan tata bahasa terlebih dahulu. Tidak perlu takut salah. Tidak perlu khawatir tulisan kita tidak bagus.

Tulislah dengan jujur, seolah-olah kita sedang berbicara kepada sahabat yang bersedia mendengarkan tanpa menghakimi.

Terkadang, setelah menuliskan apa yang ada di dalam pikiran, kita menjadi lebih lega dan mampu melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Inilah salah satu manfaat menulis sebagai sarana refleksi diri.

Namun, perlu kita pahami bahwa menulis bukan pengganti bantuan psikolog atau tenaga kesehatan profesional. Menulis dapat menjadi kegiatan pendamping untuk mengenali emosi, memahami pengalaman, dan belajar menerima kenyataan.

### B. Apa yang Dimaksud dengan Menulis sebagai Terapi Kehidupan?

Menulis sebagai terapi kehidupan adalah kegiatan menuangkan pikiran, perasaan, pengalaman, dan harapan ke dalam tulisan untuk membantu kita memahami diri sendiri dan memaknai berbagai peristiwa kehidupan.

Kita tidak harus menjadi penulis terkenal untuk merasakan manfaatnya. Kita juga tidak harus menerbitkan buku agar tulisan kita bernilai.

Menulis di buku harian, membuat catatan pribadi, menulis puisi, menyusun kisah perjalanan, atau membuat artikel reflektif dapat menjadi cara untuk mengenali diri sendiri.

Misalnya, seorang guru merasa kecewa karena murid-muridnya kurang memperhatikan pelajaran. Ia pulang dengan perasaan sedih. Daripada terus memendam kekecewaan, ia mencoba menuliskan pengalaman mengajarnya.

Awalnya, ia hanya menulis tentang murid yang tidak memperhatikan pelajaran. Namun, setelah menulis lebih jauh, ia mulai bertanya kepada dirinya sendiri:

* Apakah cara mengajar saya sudah menarik?

* Apakah murid-murid sedang menghadapi masalah?

* Apa yang dapat saya perbaiki pada pertemuan berikutnya?

* Pelajaran apa yang bisa saya ambil dari kejadian ini?

Dari kegiatan menulis tersebut, ia tidak hanya mengungkapkan kekecewaan, tetapi juga menemukan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Itulah kekuatan menulis reflektif. Kita belajar memahami apa yang terjadi, mengenali perasaan, dan menentukan langkah yang lebih baik.

### C. Mengapa Menulis Dapat Membantu Kehidupan Kita?

Ada beberapa alasan mengapa menulis dapat menjadi kegiatan yang bermanfaat bagi kehidupan.

### 1\. Menulis membantu mengungkapkan perasaan

Tidak semua orang mudah menceritakan perasaannya secara langsung. Ada orang yang lebih nyaman berbicara, sementara orang lain merasa lebih mudah menulis.

Ketika kita menuliskan perasaan, kita memberikan ruang bagi diri sendiri untuk mengenali apa yang sedang terjadi di dalam pikiran.

Contohnya:

“Saya kecewa karena usaha saya belum mendapatkan hasil. Namun, saya menyadari bahwa saya masih memiliki kesempatan untuk belajar dan mencoba kembali.”

Kalimat sederhana tersebut membantu kita menyebutkan perasaan sekaligus melihat kemungkinan untuk melangkah maju.

### 2\. Menulis membantu memahami pengalaman

Setiap pengalaman mengandung pelajaran, tetapi pelajaran tersebut terkadang baru terlihat setelah kita merenungkannya.

Seorang guru yang pernah gagal menyelenggarakan kegiatan sekolah dapat menulis tentang penyebab kegagalan, kesalahan yang dilakukan, dan solusi yang akan dicoba pada kegiatan berikutnya.

Pengalaman yang semula terasa pahit dapat menjadi sumber pembelajaran bagi dirinya dan orang lain.

### 3\. Menulis membantu mengurangi beban pikiran

Pikiran yang bercampur aduk terkadang sulit dipahami. Dengan menuliskannya, kita dapat menyusun masalah satu demi satu.

Kita bisa membedakan mana fakta, mana perasaan, mana kekhawatiran, dan mana tindakan yang dapat dilakukan.

Menulis tidak selalu membuat masalah langsung selesai. Akan tetapi, kegiatan ini dapat membantu kita melihat persoalan dengan lebih teratur.

### 4\. Menulis menumbuhkan rasa syukur

Dalam kehidupan, kita sering lebih mudah mengingat kegagalan daripada keberhasilan kecil yang sudah dicapai.

Cobalah menuliskan tiga hal yang disyukuri setiap hari.

Misalnya:

* Hari ini saya masih diberikan kesempatan untuk mengajar.

* Saya bertemu dengan sahabat yang memberikan semangat.

* Saya berhasil menyelesaikan satu tulisan meskipun belum sempurna.

Kebiasaan sederhana ini dapat membantu kita memberikan perhatian pada hal-hal positif yang tetap hadir di tengah kesulitan.

### 5\. Menulis mengubah pengalaman menjadi inspirasi

Pengalaman pribadi dapat memberikan manfaat kepada orang lain ketika dibagikan dengan bijaksana.

Kisah seorang guru yang tidak menyerah, seorang murid yang bangkit setelah gagal, atau seseorang yang belajar menjalani kehidupan dengan lebih sehat dapat menginspirasi pembaca.

Kita tidak harus menceritakan kehidupan yang sempurna. Justru pengalaman yang jujur, termasuk kesalahan dan perjuangan, sering kali terasa dekat dengan kehidupan pembaca.

### D. Jenis-Jenis Tulisan yang Dapat Menjadi Sarana Refleksi

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 dapat memilih jenis tulisan yang paling sesuai dengan kenyamanan masing-masing.

1\. Buku harian

Tuliskan kejadian yang dialami hari ini, perasaan yang muncul, dan hal yang dipelajari. Tidak perlu panjang. Satu atau dua paragraf sudah cukup untuk memulai.

2\. Tulisan reflektif

Tulisan ini berisi perenungan tentang pengalaman tertentu. Contohnya, “Apa yang Saya Pelajari dari Sebuah Kegagalan?”

3\. Puisi

Bagi yang menyukai bahasa indah, puisi dapat menjadi sarana untuk mengungkapkan kerinduan, kebahagiaan, kesedihan, atau harapan.

4\. Kisah inspiratif

Tuliskan pengalaman nyata yang mengandung nilai kehidupan. Cerita tersebut dapat berasal dari pengalaman pribadi, keluarga, sekolah, atau lingkungan masyarakat.

5\. Surat untuk diri sendiri

Tulislah surat kepada diri sendiri tentang perjuangan yang sedang dijalani, kesalahan yang ingin diperbaiki, dan harapan untuk masa depan.

Surat tersebut tidak harus dikirimkan kepada siapa pun. Tujuannya adalah membantu kita berbicara kepada diri sendiri dengan jujur dan penuh kepedulian.

### E. Cara Memulai Menulis sebagai Terapi Kehidupan

Banyak orang ingin menulis, tetapi bingung memulainya. Berikut langkah sederhana yang dapat langsung dipraktikkan.

Langkah 1: Pilih pengalaman

Ingatlah satu peristiwa yang masih membekas di pikiran. Bisa berupa pengalaman menyenangkan, kegagalan, perjuangan, atau pertemuan dengan seseorang yang berkesan.

Langkah 2: Kenali perasaan

Tanyakan kepada diri sendiri, “Apa yang saya rasakan saat itu?” Tuliskan perasaan dengan jujur tanpa harus menghakimi diri sendiri.

Langkah 3: Tuliskan ceritanya

Mulailah dengan kalimat sederhana. Jangan terlalu sibuk mengedit ejaan, mencari judul yang sempurna, atau membandingkan tulisan dengan karya orang lain.

Langkah 4: Temukan maknanya

Setelah selesai, renungkan apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut. Apakah ada sikap yang perlu diperbaiki? Adakah hal yang patut disyukuri?

Langkah 5: Tentukan langkah berikutnya

Akhiri tulisan dengan satu tindakan kecil yang dapat dilakukan. Misalnya, meminta maaf, mencoba metode mengajar baru, beristirahat, atau kembali menulis esok hari.

Ingatlah prinsip sederhana ini: tulis dahulu, renungkan kemudian, lalu perbaiki seperlunya.

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Kemampuan menulis tumbuh melalui latihan yang dilakukan secara konsisten.

### F. Contoh Tulisan: Belajar Bangkit dari Kegagalan

Berikut contoh tulisan sederhana yang dapat menjadi inspirasi peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

Judul: Kegagalan yang Mengajarkan Saya untuk Bangkit

Hari itu saya merasa kecewa. Kegiatan yang sudah saya persiapkan dengan sungguh-sungguh ternyata tidak berjalan sesuai harapan. Saya merasa usaha yang dilakukan selama ini belum memberikan hasil yang memuaskan.

Sepanjang perjalanan pulang, pikiran saya dipenuhi berbagai pertanyaan. Mengapa kegiatan itu tidak berhasil? Apakah saya kurang persiapan? Apakah ada hal yang terlewatkan?

Sesampainya di rumah, saya mencoba menuliskan semua pengalaman tersebut. Awalnya, tulisan saya hanya berisi keluhan. Saya merasa sedih dan ingin menyalahkan keadaan.

Namun, setelah beberapa saat, saya mulai melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda. Ternyata ada beberapa hal yang belum saya persiapkan dengan baik. Saya juga menyadari bahwa saya perlu mendengarkan pendapat orang lain.

Perlahan-lahan, saya memahami bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir dari perjuangan. Ada pelajaran yang bisa dipetik dari setiap peristiwa.

Saya kemudian menuliskan tiga hal yang ingin saya perbaiki. Saya akan mempersiapkan kegiatan dengan lebih matang, berkomunikasi lebih baik, dan tidak malu meminta bantuan ketika membutuhkannya.

Pengalaman itu mengajarkan saya bahwa menulis bukan sekadar mencatat kejadian. Menulis juga dapat menjadi jalan untuk mengenali kesalahan, memahami perasaan, dan menemukan keberanian untuk mencoba kembali.

Saya memang belum berhasil hari itu. Namun, saya masih memiliki kesempatan untuk belajar.

Dan selama masih ada kesempatan untuk belajar, saya tidak ingin berhenti berusaha.

Catatan pembelajaran: contoh di atas merupakan ilustrasi. Peserta dapat menggantinya dengan pengalaman nyata masing-masing.

### G. Menulis dari Pengalaman Pribadi: Belajar dari Kisah Omjay

Bapak dan Ibu, salah satu sumber tulisan yang paling dekat dengan kita adalah pengalaman pribadi.

Kita tidak harus pergi ke tempat yang jauh, menjadi orang terkenal, atau mengalami peristiwa luar biasa untuk menghasilkan tulisan yang bermakna.

Pengalaman mengajar di kelas, berbincang dengan murid, menghadapi kesulitan, mengikuti kegiatan komunitas, atau menjalani perubahan dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi bahan tulisan.

Dalam perjalanan hidup Omjay sebagai guru dan penulis, kegiatan menulis dapat menjadi sarana untuk merekam pengalaman, berbagi pengetahuan, dan merenungkan berbagai peristiwa. Kebiasaan menulis juga membuat pengalaman yang sudah berlalu dapat dibaca kembali dan dijadikan bahan pembelajaran.

Ketika seseorang menuliskan kisah perjuangannya, ia dapat melihat kembali perjalanan yang telah ditempuh. Hal yang dahulu terasa berat mungkin sekarang bisa dipahami dengan lebih jernih. Kesalahan masa lalu dapat menjadi pengingat, sedangkan keberhasilan kecil dapat menjadi sumber semangat.

Dari sini, kita belajar bahwa setiap orang memiliki cerita dan setiap cerita memiliki peluang untuk menjadi pelajaran.

Sebagai guru, kita juga memiliki banyak kisah yang layak ditulis. Ada murid yang mengajarkan kesabaran, rekan kerja yang memberikan dukungan, orang tua yang berjuang untuk pendidikan anak, dan pengalaman sederhana yang mengubah cara pandang kita.

Jangan biarkan pengalaman itu berlalu begitu saja. Abadikan dalam tulisan.

Akan tetapi, ketika menulis pengalaman yang melibatkan orang lain, jagalah privasi mereka. Samarkan nama atau rincian yang sensitif bila diperlukan, dan mintalah izin sebelum membagikan cerita pribadi yang bukan milik kita.

Menulis dengan hati bukan berarti menceritakan semua hal kepada publik. Kita tetap berhak menyimpan sebagian cerita untuk diri sendiri.

### H. Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Menulis sebagai terapi kehidupan perlu dilakukan dengan bijaksana.

Pertama, jangan memaksa diri untuk menuliskan pengalaman yang terlalu menyakitkan jika kita belum siap. Mulailah dari pengalaman yang terasa aman untuk dibahas.

Kedua, jangan menuntut tulisan menjadi sempurna. Tujuan awalnya adalah mengenali pikiran dan perasaan, bukan menghasilkan karya sastra yang luar biasa.

Ketiga, kita tidak harus membagikan semua tulisan kepada orang lain. Tulisan pribadi boleh disimpan sendiri. Jika ingin menerbitkannya, pertimbangkan kembali dampaknya bagi diri sendiri dan orang lain.

Keempat, hindari menggunakan tulisan untuk menyebarkan kebencian atau mempermalukan orang lain. Tulislah pengalaman dengan bertanggung jawab.

Kelima, jika kesedihan, kecemasan, atau tekanan emosional berlangsung lama dan mengganggu kehidupan sehari-hari, jangan ragu mencari bantuan psikolog, konselor, dokter, atau tenaga kesehatan yang sesuai. Menulis dapat mendampingi proses tersebut, tetapi tidak menggantikan pertolongan profesional.

### I. Tugas Praktik Pertemuan ke-25 KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang saatnya Bapak dan Ibu mempraktikkan materi yang telah dipelajari.

### Tugas: Menulis sebagai Terapi Kehidupan

Tujuan: melatih refleksi diri, mengembangkan keterampilan menulis, dan menemukan makna dari pengalaman hidup.

Petunjuk pengerjaan

* Pilih satu pengalaman nyata yang paling berkesan dalam kehidupan Bapak dan Ibu.

* Ceritakan peristiwa tersebut secara runtut.

* Jelaskan perasaan yang muncul ketika peristiwa itu terjadi.

* Tuliskan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

* Akhiri tulisan dengan harapan atau tindakan yang ingin dilakukan setelahnya.

Pilihan tema tulisan:

* Pengalaman yang membuat saya lebih kuat.

* Kegagalan yang mengubah cara pandang saya.

* Menulis ketika hati sedang sedih.

* Pengalaman mengajar yang tidak pernah saya lupakan.

* Seseorang yang membantu saya bangkit.

* Perjalanan menemukan rasa syukur.

* Surat untuk diri saya di masa lalu.

Ketentuan tugas

* Panjang tulisan: 500–800 kata.

* Judul bebas, tetapi harus sesuai dengan isi tulisan.

* Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan berasal dari pengalaman sendiri.

* Tuliskan dengan jujur, runtut, dan reflektif.

* Perhatikan ejaan dan tanda baca setelah draf selesai.

* Publikasikan di blog pribadi atau platform yang digunakan dalam kegiatan KBMN, jika diminta oleh fasilitator.

### Pertanyaan panduan untuk membantu menulis

Jika masih bingung memulai, jawablah pertanyaan berikut dalam bentuk catatan terlebih dahulu.

* Peristiwa apa yang ingin saya ceritakan?

* Kapan dan di mana peristiwa itu terjadi?

* Siapa saja yang terlibat?

* Apa yang saya rasakan saat itu?

* Apa kesulitan atau tantangan yang saya hadapi?

* Bagaimana saya menghadapinya?

* Apa pelajaran yang saya dapatkan?

* Apa yang akan saya lakukan secara berbeda setelah pengalaman tersebut?

Setelah menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, susun jawaban menjadi cerita yang utuh. Tidak perlu langsung sempurna. Bacalah kembali, kemudian perbaiki secara bertahap.

### J. Rubrik Penilaian Tugas

Agar peserta memahami hal-hal yang dinilai, berikut rubrik sederhana yang dapat digunakan fasilitator.

| Aspek penilaian                        | Bobot |
| -------------------------------------- | ----- |
| Keaslian dan kejujuran pengalaman      | 25    |
| Keruntutan cerita                      | 20    |
| Kedalaman refleksi dan pelajaran hidup | 25    |
| Kejelasan bahasa dan ejaan             | 15    |
| Judul, penutup, dan daya inspirasi     | 15    |
| Total                                  | 100   |

Penilaian tidak hanya berfokus pada keindahan bahasa. Keaslian pengalaman, kemampuan melakukan refleksi, dan keberanian menyampaikan makna kehidupan juga sangat penting.

Peserta tidak perlu membuka rahasia pribadi atau menceritakan pengalaman traumatis untuk memperoleh nilai tinggi. Pengalaman sederhana yang ditulis dengan jujur dan reflektif pun dapat menjadi tulisan yang baik.

### K. Tantangan Menulis Selama Tujuh Hari

Agar kebiasaan menulis terus tumbuh, peserta dapat mencoba latihan sederhana berikut.

| Hari | Tantangan menulis                                    |
| ---- | ---------------------------------------------------- |
| 1    | Tuliskan satu hal yang disyukuri hari ini.           |
| 2    | Ceritakan pengalaman kecil yang membuat tersenyum.   |
| 3    | Tuliskan satu kegagalan dan pelajaran darinya.       |
| 4    | Ceritakan seseorang yang pernah membantu Anda.       |
| 5    | Tuliskan pengalaman yang mengubah cara pandang Anda. |
| 6    | Buat surat singkat untuk diri sendiri.               |
| 7    | Rangkum pelajaran yang diperoleh selama seminggu.    |

Latihan ini dapat dilakukan selama 10–15 menit sehari. Tidak harus panjang, dan tidak harus dipublikasikan. Hal terpenting adalah membangun kebiasaan menulis dengan teratur.

### L. Penutup: Menulislah dengan Hati

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan,

Kita telah belajar bahwa menulis bukan hanya keterampilan merangkai kata. Menulis juga dapat menjadi cara untuk mengenali diri, mengingat pengalaman, memahami perasaan, dan menemukan makna dari perjalanan hidup.

Jangan menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai menulis. Tulislah ketika bahagia, ketika sedang belajar, ketika menghadapi tantangan, atau ketika menemukan pelajaran sederhana dari kehidupan sehari-hari.

Tidak semua tulisan harus dibaca ribuan orang. Tidak semua cerita harus menjadi buku. Ada tulisan yang cukup menjadi teman untuk merenung, ada yang menjadi kenangan bagi keluarga, dan ada pula yang kelak memberikan inspirasi kepada banyak orang.

Siapa tahu, tulisan yang hari ini kita buat dengan sederhana justru menjadi penguat bagi seseorang yang sedang menghadapi persoalan serupa.

Jangan takut memulai. Jangan malu memperbaiki. Jangan berhenti belajar.

Menulislah untuk memahami kehidupan. Menulislah untuk merawat kenangan. Menulislah untuk menemukan pelajaran. Dan jika kita siap membagikannya, menulislah untuk menginspirasi sesama.

Mari kita jadikan menulis sebagai kebiasaan baik yang menemani perjalanan hidup, bukan sebagai beban yang membuat kita takut berkarya.

Teruslah menulis, Bapak dan Ibu. Sebab, pengalaman yang kita tuliskan hari ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi diri sendiri dan generasi yang akan datang.

Demikian materi pertemuan ke-25 KBMN PGRI Gelombang 35.

Semoga bermanfaat dan dapat langsung dipraktikkan.

Salam Blogger Persahabatan!

Omjay

Wijaya Kusumah

Guru Blogger Indonesia

hut senam ling tien kung yg meriah

# HUT Ling Tien Kung ke-21 di TMII: Kisah Omjay Menjaga Kesehatan, Persaudaraan, dan Kemurnian Gerakan

**Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)**

Minggu pagi, 25 Oktober 2026, menjadi hari yang istimewa bagi Omjay. Sejak pagi, suasana penuh semangat terasa ketika Omjay bersama rombongan Pak Supriadi dan rekan-rekan dari LTK Sasana Dharma Samudra, Jatibening Indah, Bekasi, berangkat menuju Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. Tujuan kami satu, yaitu menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Ling Tien Kung Indonesia ke-21.

Acara besar ini diselenggarakan di kawasan Istana Anak-Anak Indonesia, TMII, Jakarta Timur. Menurut informasi yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, lebih dari 12 ribu orang hadir untuk merayakan perjalanan Ling Tien Kung di Indonesia. Mereka datang dari berbagai sasana dan daerah dengan mengenakan seragam kebanggaan masing-masing. Ada yang mengenakan kaus putih dengan celana biru, ada pula yang memakai seragam khas Ling Tien Kung dengan warna yang beragam.

Pemandangan itu sungguh mengesankan. Lapangan dipenuhi peserta, panggung berdiri megah dengan latar biru bertuliskan HUT Ling Tien Kung ke-21, dan senyum persaudaraan terlihat di wajah banyak orang. Bagi Omjay, pertemuan ini bukan sekadar menghadiri sebuah acara ulang tahun organisasi. Ini adalah kesempatan untuk merawat persahabatan, mempererat kebersamaan, dan mengingat kembali alasan mengapa kita memulai perjalanan menjaga kesehatan.

## Dari pengalaman sakit menuju semangat hidup sehat

Sahabat pembaca yang baik hati, ada alasan khusus mengapa kegiatan seperti ini terasa begitu bermakna bagi Omjay. Beberapa waktu lalu, Omjay mengalami masalah kesehatan serius, termasuk serangan stroke. Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak boleh dianggap remeh. Tubuh yang selama ini menemani kita bekerja, mengajar, menulis, dan berkegiatan membutuhkan perhatian yang sungguh-sungguh.

Dahulu, mungkin Omjay lebih sering memikirkan pekerjaan, tugas sekolah, kegiatan organisasi, dan tulisan yang harus diselesaikan. Namun, setelah mengalami sakit, cara pandang Omjay terhadap kehidupan berubah. Kesehatan menjadi sesuatu yang harus dijaga setiap hari, bukan hanya dipikirkan ketika tubuh mulai memberikan peringatan.

Karena itulah, Omjay semakin bersemangat menjalani kegiatan fisik yang sesuai dengan kemampuan tubuh, termasuk mengikuti senam Ling Tien Kung dan berjalan santai. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar Omjay untuk membangun kebiasaan hidup yang lebih sehat.

Tentu saja, setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Bagi Omjay, mengikuti kegiatan olahraga bukan berarti memaksakan diri. Justru setelah mengalami sakit, Omjay belajar bahwa kita perlu mengenali batas kemampuan tubuh, mengikuti arahan dokter, dan menjaga keseimbangan antara aktivitas, istirahat, serta pola makan.

Kita tidak harus menunggu sakit untuk mulai peduli kepada kesehatan. Selagi masih diberi kesempatan, mari belajar merawat tubuh dengan lebih baik.

## Bersatu dalam kebersamaan, teguh menjaga kemurnian

Ada pesan penting yang tertulis pada panggung peringatan HUT Ling Tien Kung ke-21, yaitu **“Bersatu dalam Kebersamaan, Teguh Menjaga Kemurnian Ling Tien Kung.”**

Kalimat ini sederhana, tetapi maknanya sangat dalam.

Kebersamaan bukan sekadar berkumpul dalam satu lapangan, memakai seragam yang sama, lalu berfoto bersama. Kebersamaan sejati tumbuh ketika kita saling menghormati, saling membantu, dan memiliki tujuan yang sama. Dalam sebuah organisasi, perbedaan pendapat adalah hal yang wajar. Namun, perbedaan itu seharusnya tidak membuat kita melupakan tujuan bersama.

Begitu pula dengan menjaga kemurnian Ling Tien Kung. Kemajuan organisasi tentu penting. Jumlah anggota boleh bertambah, sasana boleh berkembang, kegiatan boleh semakin besar, dan pengurus boleh terus berinovasi. Akan tetapi, semua kemajuan itu harus tetap berpijak pada prinsip dan ajaran yang menjadi dasar gerakan Ling Tien Kung.

Jangan sampai kita terlalu sibuk membesarkan organisasi, tetapi lupa menjaga nilai-nilai yang membuat organisasi itu tumbuh sejak awal.

Bagi Omjay, pesan tersebut relevan bukan hanya untuk Ling Tien Kung, melainkan juga untuk organisasi profesi, komunitas belajar, sekolah, dan berbagai perkumpulan lainnya. Sebuah organisasi akan kuat apabila anggotanya tidak hanya mengejar jumlah, popularitas, atau kebesaran nama. Organisasi juga membutuhkan integritas, keteladanan, dan kesetiaan pada tujuan awalnya.

Kemajuan dan kemurnian seharusnya berjalan beriringan.

## Terapi kesehatan tanpa alat, tanpa obat, tanpa ragat

Salah satu ungkapan yang menjadi ciri kegiatan Ling Tien Kung adalah **“Terapi Kesehatan: Tanpa Alat, Tanpa Obat, Tanpa Ragat.”** Pesan ini menggambarkan pendekatan latihan yang menekankan gerakan tubuh dan dapat dilakukan tanpa peralatan khusus.

Bagi para peserta, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk berlatih bersama, membangun kedisiplinan, serta mempererat hubungan antarsesama anggota. Suasana kebersamaan terasa kuat ketika ribuan orang berkumpul dengan semangat yang sama.

Namun, ada satu hal yang perlu selalu kita ingat. Ikhtiar menjaga kebugaran melalui latihan fisik tidak berarti kita boleh mengabaikan pemeriksaan medis atau menghentikan pengobatan yang diresepkan dokter. Bagi siapa pun yang memiliki penyakit tertentu, termasuk diabetes, hipertensi, atau riwayat stroke, latihan perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing dan anjuran tenaga kesehatan.

Bagi Omjay sendiri, kesehatan adalah hasil dari ikhtiar yang berkelanjutan. Berolahraga, menjaga pola makan, beristirahat cukup, mengelola stres, dan mengikuti pengobatan yang diperlukan merupakan bagian dari usaha untuk menjalani kehidupan yang lebih baik.

Tidak ada jalan pintas untuk menjaga kesehatan. Yang diperlukan adalah kemauan untuk memulai dan kedisiplinan untuk terus melakukannya.

## Bertemu sahabat, mengabadikan kenangan

Di tengah keramaian acara, Omjay merasa bahagia dapat hadir bersama rombongan Pak Supriadi dan keluarga besar LTK Sasana Dharma Samudra, Jatibening Indah, Bekasi. Kami datang bersama, mengikuti kegiatan, menyaksikan suasana panggung, dan mengabadikan momen melalui foto-foto.

Dalam salah satu foto, tampak seorang peserta berdiri di atas panggung sambil membacakan sesuatu melalui mikrofon. Di belakangnya terbentang spanduk besar HUT Ling Tien Kung ke-21. Foto lainnya memperlihatkan peserta yang berkumpul dengan seragam biru-putih, tersenyum ke arah kamera, dan menikmati kebersamaan.

Omjay juga mengabadikan suasana panggung dari kejauhan. Dari sana terlihat betapa besar kegiatan ini dan betapa banyak orang yang datang untuk merayakannya.

Ada pula foto Omjay bersama suasana kegiatan yang menjadi kenangan tersendiri. Bagi seorang penulis seperti Omjay, foto bukan sekadar gambar. Foto adalah pintu untuk kembali mengingat sebuah peristiwa, merasakan kembali suasananya, dan membagikan pengalaman kepada orang lain.

Itulah sebabnya Omjay senang menulis kisah di balik sebuah foto. Sebuah gambar dapat berbicara lebih panjang ketika disertai cerita, pengalaman, dan pesan yang menyentuh hati.

Kelak, ketika foto-foto ini dilihat kembali, Omjay ingin mengingat bukan hanya kemeriahan acara, melainkan juga rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk hadir, bertemu sahabat, dan belajar menjaga kesehatan.

## Terima kasih kepada para penggerak Ling Tien Kung Indonesia

Pada kesempatan ini, Omjay menyampaikan terima kasih kepada para pendiri, penggerak, pelatih, pengurus, dan seluruh anggota Ling Tien Kung Indonesia yang terus berupaya mengembangkan kegiatan ini.

Perjalanan selama 21 tahun tentu bukan perjalanan yang singkat. Ada kerja keras, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, serta kesediaan banyak orang untuk menjaga keberlangsungan organisasi.

Semoga semangat para penggerak Ling Tien Kung Indonesia senantiasa terpelihara. Semoga para anggota semakin disiplin berlatih, semakin erat persaudaraannya, dan semakin bijaksana dalam menjaga kesehatan.

Kita juga perlu memberi ruang bagi evaluasi dan perbaikan. Organisasi yang sehat bukan organisasi yang merasa dirinya sudah sempurna, melainkan organisasi yang bersedia belajar, mendengarkan anggotanya, dan memperbaiki diri tanpa kehilangan jati dirinya.

Bagi Omjay, itulah makna penting dari menjaga kemurnian. Bukan sekadar mempertahankan nama, simbol, atau seragam, melainkan memastikan bahwa nilai-nilai dasar tetap menjadi pedoman dalam setiap langkah.

## Menjaga kesehatan, menjaga persaudaraan, menjaga kemurnian

Sahabat Omjay yang baik hati, peringatan HUT Ling Tien Kung ke-21 di TMII pada 25 Oktober 2026 memberikan pelajaran berharga. Kesehatan merupakan anugerah yang perlu dirawat. Persaudaraan merupakan kekuatan yang perlu dijaga. Sementara itu, kemurnian nilai adalah fondasi yang tidak boleh dilupakan ketika sebuah organisasi terus berkembang.

Omjay bersyukur dapat hadir bersama rombongan Pak Supriadi dan rekan-rekan LTK Sasana Dharma Samudra, Jatibening Indah, Bekasi. Di tengah ribuan peserta, Omjay kembali belajar bahwa perjalanan menuju hidup sehat tidak harus dijalani sendirian. Kita dapat saling menyemangati, saling mengingatkan, dan saling mendoakan.

Pengalaman setelah sakit mengajarkan Omjay untuk lebih menghargai setiap kesempatan. Bisa berjalan, bisa bertemu sahabat, bisa mengikuti kegiatan, dan bisa menuliskan pengalaman merupakan hal-hal yang patut disyukuri.

Mari kita terus bergerak sesuai kemampuan, menjaga kesehatan dengan bijaksana, dan memperkuat persaudaraan tanpa melupakan nilai-nilai yang menjadi dasar kebersamaan.

**Selamat HUT Ling Tien Kung Indonesia ke-21!**

Bersatu dalam kebersamaan, teguh menjaga kemurnian Ling Tien Kung. Semoga Ling Tien Kung Indonesia terus berkembang dengan tetap menjaga nilai-nilai dasarnya, membawa manfaat bagi para anggotanya, dan menginspirasi semakin banyak orang untuk menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bermakna.

Salam sehat, salam persahabatan, dan salam blogger!

Omjay guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

*Menulislah dengan hati, agar pengalaman sederhana menjadi inspirasi bagi banyak orang.*

Sabtu, 24 Oktober 2026

Materi kbmn pgri gelombang 35 pertemuan ke-24 bersama omjay guru blogger indonesia

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-24: Guru dan Perubahan Zaman

Bersama Omjay (Wijaya Kusumah)

Tema: Guru yang Terus Belajar, Beradaptasi, dan Menginspirasi di Tengah Perubahan Zaman

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Salam literasi!

Bapak dan Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang hebat, selamat datang di pertemuan ke-24. Semoga kita semua selalu sehat, bahagia, dan bersemangat untuk terus belajar serta menulis.

Pada pertemuan kali ini, kita akan membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, yaitu Guru dan Perubahan Zaman.

Mengapa tema ini penting? Karena dunia pendidikan terus berubah. Cara anak-anak belajar sekarang tidak selalu sama dengan cara kita belajar dahulu. Teknologi berkembang, kecerdasan artifisial atau AI semakin mudah digunakan, dan informasi dapat diperoleh hanya melalui telepon genggam.

Lantas, bagaimana seharusnya guru menghadapi perubahan zaman? Mari kita pelajari bersama.

### A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami makna perubahan zaman dalam dunia pendidikan.

* Menjelaskan tantangan guru pada era digital dan kecerdasan artifisial.

* Mengetahui cara beradaptasi dengan perkembangan teknologi.

* Memahami pentingnya literasi dan keterampilan menulis bagi guru.

* Menghasilkan tulisan reflektif tentang pengalaman menghadapi perubahan zaman.

### B. Apa yang Dimaksud dengan Perubahan Zaman?

Perubahan zaman adalah perubahan dalam kehidupan manusia yang memengaruhi cara berpikir, bekerja, berkomunikasi, dan belajar.

Dahulu, guru banyak mengandalkan papan tulis, buku paket, kapur, dan penjelasan secara langsung di kelas. Jika ingin mencari informasi, siswa harus membaca buku di perpustakaan atau bertanya kepada guru.

Sekarang, siswa dapat mencari informasi melalui internet, menonton video pembelajaran, mengikuti kelas daring, dan memanfaatkan berbagai aplikasi pendidikan.

Bahkan, dengan bantuan kecerdasan artifisial, siswa dapat memperoleh penjelasan tentang suatu materi dalam waktu singkat.

Perubahan ini memberikan peluang sekaligus tantangan bagi guru.

Pesan Omjay:

Guru tidak harus menguasai semua teknologi yang ada. Namun, guru perlu memiliki kemauan untuk belajar agar tidak tertinggal oleh perkembangan zaman.

### C. Apakah Peran Guru Akan Tergantikan oleh Teknologi?

Ini pertanyaan yang sering muncul.

Ketika teknologi semakin canggih, apakah guru masih diperlukan?

Jawabannya: guru tetap sangat diperlukan.

Teknologi dapat membantu menjelaskan materi, membuat latihan soal, menyusun bahan ajar, dan memberikan ide pembelajaran. Namun, pendidikan bukan sekadar memindahkan pengetahuan dari satu tempat ke tempat lain.

Guru juga mendidik karakter, membangun kepercayaan diri, menanamkan kejujuran, mendengarkan keluh kesah siswa, dan memberikan teladan melalui perilaku sehari-hari.

Bayangkan seorang siswa yang mengalami kesulitan belajar. Ia mungkin membutuhkan penjelasan tambahan, tetapi ia juga membutuhkan guru yang sabar, memahami keadaannya, dan memberinya semangat.

Teknologi dapat membantu proses belajar, tetapi hubungan antarmanusia tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan.

Karena itu, guru sebaiknya tidak memusuhi teknologi. Sebaliknya, guru perlu memanfaatkannya secara bijaksana.

Teknologi membantu guru bekerja lebih baik, sedangkan hati dan keteladanan guru memberikan makna pada pendidikan.

### D. Lima Perubahan yang Perlu Dihadapi Guru

### 1\. Perubahan cara belajar siswa

Siswa masa kini memiliki banyak sumber belajar. Mereka dapat membaca, menonton, mendengarkan, berdiskusi, dan berlatih melalui berbagai media.

Guru perlu membuat pembelajaran lebih menarik, aktif, dan sesuai dengan kebutuhan siswa.

Contohnya, ketika mengajarkan materi lingkungan, guru dapat mengajak siswa mengamati lingkungan sekolah, mendokumentasikan hasil pengamatan, lalu menuliskan kesimpulannya.

Dengan demikian, siswa tidak hanya menghafal teori, tetapi juga mengalami proses belajar secara langsung.

### 2\. Perkembangan teknologi digital

Guru perlu mengenal perangkat digital yang dapat mendukung pembelajaran, seperti aplikasi presentasi, video pembelajaran, kelas daring, dan alat kolaborasi.

Tidak perlu mempelajari semuanya sekaligus.

Mulailah dari satu aplikasi yang paling dibutuhkan. Pelajari cara menggunakannya, praktikkan di kelas, kemudian evaluasi manfaatnya.

Belajar sedikit demi sedikit lebih baik daripada tidak pernah mencoba sama sekali.

### 3\. Kehadiran kecerdasan artifisial atau AI

AI dapat membantu guru membuat rancangan pembelajaran, mencari ide kegiatan, menyusun pertanyaan, dan memperbaiki tulisan.

Namun, hasil AI tidak boleh langsung diterima tanpa pemeriksaan.

Guru harus memastikan kebenaran informasi, kesesuaian materi dengan tujuan pembelajaran, dan keamanan penggunaannya.

Siswa juga perlu dibimbing agar tidak sekadar menyalin jawaban AI. Mereka harus belajar bertanya, memeriksa fakta, berpikir kritis, dan menyampaikan pendapat sendiri.

AI seharusnya menjadi alat bantu untuk meningkatkan kemampuan manusia, bukan alasan untuk berhenti berpikir.

### 4\. Perubahan karakter dan kebutuhan siswa

Setiap generasi memiliki pengalaman, kebiasaan, dan tantangan yang berbeda.

Guru perlu memahami kondisi siswa tanpa kehilangan prinsip dasar pendidikan, seperti disiplin, tanggung jawab, sopan santun, dan kejujuran.

Guru yang baik bukan hanya pandai menjelaskan pelajaran, tetapi juga bersedia mendengarkan dan memahami siswanya.

### 5\. Perubahan cara guru mengembangkan diri

Guru tidak boleh berhenti belajar setelah memperoleh ijazah atau sertifikat pendidik.

Guru dapat mengikuti pelatihan, membaca buku, berdiskusi dengan rekan sejawat, mengikuti komunitas belajar, serta menulis pengalaman mengajarnya.

Salah satu cara sederhana untuk mengembangkan diri adalah menulis setiap hari.

Tulisan membantu guru merefleksikan pengalaman, mengenali kesalahan, menemukan solusi, dan berbagi pengetahuan dengan orang lain.

### E. Guru Harus Terus Belajar dan Beradaptasi

Bapak dan Ibu guru yang hebat,

Beradaptasi bukan berarti meninggalkan semua cara lama. Tidak semua metode pembelajaran tradisional buruk, dan tidak semua teknologi baru pasti cocok untuk setiap situasi.

Guru perlu memilih cara yang paling bermanfaat bagi siswa.

Ada kalanya penjelasan langsung dari guru lebih efektif. Ada kalanya diskusi kelompok lebih tepat. Pada kesempatan lain, teknologi dapat membuat pembelajaran lebih mudah dipahami.

Yang terpenting adalah tujuan pembelajaran tercapai dan siswa memperoleh pengalaman belajar yang bermakna.

Berikut lima langkah sederhana yang dapat dilakukan guru.

* Terbuka terhadap hal baru. Jangan takut mencoba metode pembelajaran yang berbeda.

* Belajar secara bertahap. Pilih satu keterampilan baru setiap minggu.

* Berdiskusi dengan rekan guru. Saling berbagi pengalaman dapat mempercepat proses belajar.

* Melakukan refleksi. Catat keberhasilan, kesulitan, dan hal yang perlu diperbaiki.

* Berani menulis dan berbagi. Pengalaman sederhana dapat menjadi pelajaran berharga bagi guru lain.

Ingatlah, guru yang hebat bukan guru yang mengetahui segalanya, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar.

### F. Mengapa Guru Perlu Menulis di Tengah Perubahan Zaman?

Menulis merupakan salah satu keterampilan penting yang dapat membantu guru menghadapi perubahan zaman.

Mengapa?

Pertama, menulis membantu guru menyimpan pengalaman. Pengalaman mengajar yang tidak dituliskan bisa terlupakan, sedangkan pengalaman yang ditulis dapat dibaca kembali dan dipelajari.

Kedua, menulis melatih kemampuan berpikir. Ketika menulis, guru harus menyusun gagasan, memilih kata, memeriksa fakta, dan menjelaskan pemikirannya dengan runtut.

Ketiga, menulis memungkinkan guru berbagi inspirasi. Pengalaman menghadapi siswa yang sulit belajar, menemukan metode baru, atau mengatasi masalah di kelas dapat bermanfaat bagi guru lain.

Keempat, menulis membangun jejak digital yang positif. Artikel pendidikan di blog, media daring, atau platform menulis dapat menjadi dokumentasi perjalanan profesional seorang guru.

Kelima, menulis melatih guru menggunakan AI secara bijaksana. Guru dapat memanfaatkan AI untuk mencari ide atau memperbaiki struktur tulisan, tetapi isi tulisan sebaiknya tetap berlandaskan pengalaman, pemikiran, dan tanggung jawab penulis.

Sebagaimana pesan yang sering Omjay sampaikan dalam kegiatan literasi:

Menulislah dengan hati, bukan sekadar mengandalkan teknologi.

Teknologi boleh membantu kita merangkai kata, tetapi pengalaman dan pemikiran kitalah yang memberikan jiwa pada tulisan.

### G. Kisah Reflektif Omjay: Belajar Tidak Mengenal Batas Usia

Izinkan Omjay mengajak Bapak dan Ibu guru merenungkan sebuah perjalanan.

Omjay telah mengajar di SMP Labschool Jakarta sejak tahun 1994. Selama bertahun-tahun menjadi guru, Omjay menyaksikan perubahan dalam dunia pendidikan, mulai dari perkembangan teknologi informasi hingga hadirnya kecerdasan artifisial.

Omjay juga mulai menekuni dunia blog sejak tahun 2007 dan menulis di Kompasiana sejak tahun 2008. Kegiatan menulis menjadi salah satu cara Omjay belajar, berbagi pengalaman, dan menjaga semangat literasi.

Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa guru perlu terus menyesuaikan diri. Pengetahuan yang kita miliki hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan esok hari.

Dalam perjalanan hidup, Omjay juga pernah mengalami masalah kesehatan serius, termasuk serangan stroke. Pengalaman itu membuat Omjay semakin menyadari pentingnya menjaga kesehatan, mengatur kegiatan, berolahraga sesuai kemampuan, dan menghargai kesempatan untuk terus belajar.

Perubahan dalam hidup terkadang datang tanpa kita rencanakan. Ada perubahan yang menyenangkan, tetapi ada pula yang menguji kesabaran.

Namun, selama kita masih memiliki kesempatan, selalu ada sesuatu yang dapat dipelajari.

Bagi Omjay, menjadi guru bukan hanya pekerjaan untuk menyampaikan pelajaran kepada siswa. Menjadi guru adalah perjalanan panjang untuk terus memperbaiki diri.

Guru belajar dari buku, teknologi, rekan sejawat, lingkungan, bahkan dari pengalaman hidup yang tidak mudah.

Karena itu, jangan pernah merasa terlambat untuk belajar hal baru. Jangan malu bertanya kepada guru yang lebih muda. Jangan pula merasa rendah diri ketika belum menguasai teknologi.

Setiap orang memiliki proses belajar yang berbeda.

Selama guru masih mau belajar, selama itu pula guru memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan memberikan inspirasi.

### H. Studi Kasus: Guru Menghadapi Siswa yang Menggunakan AI

Mari kita perhatikan contoh berikut.

Pak Budi memberikan tugas menulis artikel kepada siswanya. Ketika tugas dikumpulkan, ia menemukan beberapa tulisan yang bahasanya sangat rapi, tetapi siswa kesulitan menjelaskan isi tulisan tersebut.

Setelah berdiskusi, Pak Budi mengetahui bahwa beberapa siswa menggunakan AI untuk menyelesaikan tugas.

Apa yang sebaiknya dilakukan Pak Budi?

Menurut Omjay, guru tidak perlu langsung memarahi siswa atau melarang semua penggunaan AI. Guru dapat mengubah pendekatan pembelajaran.

Langkah yang bisa dilakukan antara lain:

* Meminta siswa menjelaskan kembali isi tulisannya dengan bahasa sendiri.

* Meminta siswa menuliskan pengalaman pribadi yang relevan dengan topik.

* Mengajarkan cara memeriksa kebenaran informasi dari AI.

* Meminta siswa mencantumkan penggunaan AI jika hal tersebut disyaratkan dalam tugas.

* Menilai proses berpikir, keaslian gagasan, dan kemampuan siswa menjelaskan hasil karyanya.

Dengan cara ini, AI dapat menjadi sarana belajar, bukan jalan pintas untuk menghindari proses berpikir.

Guru juga perlu menjelaskan bahwa kejujuran akademik tetap penting, baik ketika menulis dengan tangan maupun menggunakan teknologi.

### I. Tugas Pertemuan ke-24 KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang tibalah saatnya Bapak dan Ibu guru berlatih menulis.

Tema tugas kita adalah:

“Guru dan Perubahan Zaman: Pengalaman, Tantangan, dan Harapan Saya.”

Tulislah sebuah artikel reflektif berdasarkan pengalaman nyata Bapak dan Ibu guru.

Ketentuan tugas:

* Panjang tulisan sekitar 500–700 kata.

* Buat judul yang menarik dan sesuai dengan isi tulisan.

* Ceritakan satu pengalaman nyata ketika menghadapi perubahan dalam dunia pendidikan.

* Jelaskan tantangan yang dialami dan cara mengatasinya.

* Ceritakan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

* Tuliskan harapan Bapak dan Ibu untuk masa depan pendidikan.

* Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan paragraf yang runtut.

* Periksa kembali ejaan, tanda baca, dan kejelasan isi tulisan.

* Jika menggunakan AI, manfaatkan sebagai alat bantu dan pastikan tulisan tetap mencerminkan pengalaman serta pemikiran sendiri.

### Pertanyaan panduan untuk menulis

Bapak dan Ibu dapat menjawab pertanyaan berikut sebagai bahan tulisan.

* Perubahan apa yang paling terasa dalam pekerjaan saya sebagai guru?

* Bagaimana perasaan saya ketika pertama kali menghadapi perubahan tersebut?

* Apa kesulitan terbesar yang saya alami?

* Apa yang saya lakukan untuk mengatasinya?

* Siapa yang membantu saya dalam proses belajar?

* Apa pelajaran paling berharga dari pengalaman tersebut?

* Bagaimana saya akan mempersiapkan diri menghadapi perubahan berikutnya?

Tidak perlu menjawab semua pertanyaan secara terpisah. Susunlah jawaban menjadi sebuah cerita yang mengalir, menarik, dan mengandung pesan bagi pembaca.

### Contoh pembukaan artikel

Dahulu, saya merasa cukup mengajar dengan buku paket, papan tulis, dan penjelasan di depan kelas. Namun, perkembangan teknologi membuat saya menyadari bahwa dunia pendidikan terus bergerak. Siswa semakin mudah memperoleh informasi, sedangkan saya sebagai guru harus belajar menyesuaikan diri. Awalnya, perubahan itu terasa menantang. Namun, perlahan-lahan saya memahami bahwa menjadi guru berarti bersedia menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Bapak dan Ibu dapat mengembangkan contoh tersebut berdasarkan pengalaman masing-masing. Jangan menyalin begitu saja. Tuliskan kisah yang benar-benar pernah dialami agar artikel terasa hidup dan autentik.

### Kriteria penilaian tugas

| Aspek penilaian                  | Bobot |
| -------------------------------- | ----- |
| Kesesuaian dengan tema           | 20%   |
| Keaslian pengalaman dan refleksi | 25%   |
| Keruntutan dan kejelasan cerita  | 20%   |
| Penggunaan bahasa dan ejaan      | 15%   |
| Kedalaman pesan dan inspirasi    | 20%   |
| Total                            | 100%  |

### J. Penutup: Guru Hebat Tidak Berhenti Belajar

Bapak dan Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan,

Perubahan zaman tidak perlu ditakuti. Perubahan justru dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki diri, mengembangkan keterampilan, dan memberikan pelayanan pendidikan yang lebih baik.

Kita tidak harus menjadi guru yang paling canggih dalam menggunakan teknologi. Kita perlu menjadi guru yang mau belajar, mampu memilih teknologi yang tepat, menjaga integritas, dan tetap peduli kepada peserta didik.

Jangan sampai kesibukan mengajar membuat kita berhenti membaca. Jangan sampai perkembangan teknologi membuat kita kehilangan kemampuan berpikir kritis. Jangan sampai kemudahan AI membuat kita melupakan pentingnya pengalaman nyata dan kejujuran dalam berkarya.

Mari kita jadikan kegiatan menulis sebagai bagian dari perjalanan menjadi guru yang terus bertumbuh.

Tuliskan pengalaman kita hari ini. Bisa jadi pengalaman yang menurut kita sederhana justru menjadi inspirasi bagi guru lain di tempat yang berbeda.

Omjay percaya bahwa setiap guru memiliki cerita yang layak dibagikan. Tidak harus menunggu menjadi guru terkenal, meraih penghargaan, atau menguasai semua teknologi untuk mulai menulis.

Mulailah dari pengalaman sendiri. Tuliskan dengan jujur. Bagikan dengan tulus. Teruslah belajar dan berkarya.

Sebab zaman boleh berubah, teknologi boleh berkembang, tetapi ketulusan guru dalam mendidik generasi bangsa harus tetap terjaga.

Demikian materi pertemuan ke-24 KBMN PGRI Gelombang 35 bersama Omjay.

Semoga materi ini bermanfaat dan menambah semangat kita untuk terus belajar, menulis, serta menginspirasi.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam literasi!

Omjay (Wijaya Kusumah)

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

kisah omjay setelah mengalami stroke

Apa yang Kamu Mau dalam Hidup Ini? Kisah Omjay Setelah Mengalami Stroke dan Belajar Mensyukuri Kehidupan

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Pernahkah kita berhenti sejenak, lalu bertanya kepada diri sendiri, “Apa yang sebenarnya saya mau dalam hidup ini?”

Pertanyaan sederhana ini ternyata menyimpan makna yang sangat dalam. Setiap orang tentu ingin sukses, dihargai, hidup tenang, menjadi dewasa, mendapatkan keberkahan, hidup harmonis, terus maju, dipercaya, kuat menghadapi masalah, dan bahagia.

Namun, apakah semua keinginan itu bisa terwujud hanya dengan mengucapkannya?

Tentu tidak. Kita perlu berusaha, membangun kebiasaan baik, dan belajar dari setiap pengalaman yang hadir dalam kehidupan.

Saya, Wijaya Kusumah, yang biasa disapa Omjay, adalah seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta dan penulis blog yang terus belajar sepanjang hayat. Selama menjalani profesi sebagai guru dan penulis, saya mendapatkan banyak pelajaran berharga tentang kehidupan.

Akan tetapi, ada satu pengalaman yang mengubah cara pandang saya terhadap kesehatan dan kehidupan, yaitu ketika saya mengalami stroke.

Pengalaman itu menyadarkan saya bahwa hidup bukan hanya tentang pekerjaan yang berhasil diselesaikan, artikel yang berhasil diterbitkan, atau kegiatan yang berhasil dihadiri. Hidup juga tentang menjaga kesehatan, menghargai waktu, menyayangi keluarga, dan mensyukuri kesempatan yang masih diberikan Tuhan.

Dahulu, saya terbiasa menjalani berbagai kegiatan. Mengajar, menulis, menghadiri pertemuan, mengikuti seminar, dan bepergian menjadi bagian dari rutinitas saya. Ada banyak rencana yang ingin saya wujudkan.

Namun, ketika kesehatan mengalami gangguan, saya harus belajar menerima kenyataan bahwa tubuh mempunyai batas.

Dari pengalaman itulah saya semakin memahami sepuluh nasihat sederhana yang bisa menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan.

1. Mau sukses? Belajarlah disiplin.

Saya mulai mengenal dunia menulis dengan lebih serius melalui blog dan kemudian bergabung dengan Kompasiana pada 22 November 2008. Sejak saat itu, saya terus belajar mengembangkan kemampuan menulis dan membagikan pengalaman kepada pembaca.

Menulis setiap hari bukanlah perkara mudah. Ada kalanya ide mengalir deras, tetapi ada pula saat ketika pikiran terasa buntu. Kadang-kadang tubuh lelah, pekerjaan menumpuk, dan waktu terasa begitu cepat berlalu.

Namun, saya belajar bahwa kemampuan menulis berkembang melalui latihan dan kebiasaan yang konsisten.

Disiplin bukan hanya tentang memaksa diri menyelesaikan pekerjaan. Disiplin juga berarti mengetahui kapan harus bekerja, kapan harus beristirahat, dan kapan harus memperhatikan kesehatan.

Setelah mengalami stroke, saya semakin menyadari bahwa disiplin menjaga kesehatan sama pentingnya dengan disiplin bekerja. Saya perlu lebih memperhatikan anjuran dokter, menjalani pengobatan sesuai petunjuk, mengatur pola makan, dan melakukan aktivitas fisik sesuai kemampuan.

Saya tidak ingin hanya produktif dalam pekerjaan, tetapi melupakan tubuh yang memungkinkan saya berkarya.

Jika ingin sukses, bangunlah kebiasaan baik. Jika ingin terus berkarya, jangan abaikan kesehatan.

2. Mau dihargai? Jagalah ucapan.

Sebagai seorang guru, saya menyadari bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang luar biasa. Ucapan yang baik bisa membangkitkan semangat seseorang, sedangkan perkataan yang menyakitkan dapat meninggalkan luka yang sulit dilupakan.

Di sekolah, guru tidak hanya bertugas menyampaikan materi pelajaran. Guru juga perlu menjadi teladan dalam berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan memberikan nasihat dengan cara yang mendidik.

Pengalaman hidup mengajarkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar mengetahui seluruh persoalan yang sedang dihadapi orang lain.

Karena itu, jangan mudah menghakimi seseorang hanya berdasarkan apa yang terlihat. Jangan pula menggunakan kata-kata untuk merendahkan orang lain.

Sebagai penulis, saya juga harus berhati-hati dalam menyampaikan pendapat. Tulisan yang dipublikasikan di internet bisa dibaca banyak orang. Oleh sebab itu, saya ingin menggunakan tulisan untuk berbagi pengalaman dan memberikan manfaat.

Menghargai orang lain tidak membuat kita menjadi lebih rendah. Justru, sikap itulah yang menunjukkan kedewasaan kita.

Jika ingin dihargai, belajarlah menghargai orang lain melalui ucapan dan tindakan.

3. Mau tenang? Jangan sibuk mengurusi kehidupan orang lain.

Di zaman media sosial, kehidupan orang lain begitu mudah kita lihat. Kita dapat mengetahui perjalanan mereka, keberhasilan mereka, kegiatan mereka, bahkan persoalan yang mereka bagikan kepada publik.

Tanpa disadari, kita bisa menghabiskan banyak waktu untuk membandingkan diri dengan orang lain.

Saya belajar bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang berhasil lebih cepat, ada yang membutuhkan waktu lebih panjang, dan ada pula yang sedang berjuang menghadapi persoalan yang tidak diketahui banyak orang.

Setelah mengalami gangguan kesehatan, saya semakin memahami pentingnya menggunakan waktu dengan bijaksana.

Saya perlu memusatkan perhatian pada hal-hal yang benar-benar penting: menjaga kesehatan, menjalankan tanggung jawab, membangun hubungan baik dengan keluarga, dan terus belajar.

Bukan berarti kita tidak boleh peduli kepada orang lain. Kita tetap perlu membantu sesama ketika dibutuhkan. Namun, kepedulian berbeda dengan mencampuri urusan pribadi orang lain tanpa alasan yang tepat.

Daripada sibuk membicarakan kehidupan orang lain, lebih baik kita memperbaiki kehidupan sendiri.

Ketenangan tumbuh ketika kita mengurangi gosip, menghormati privasi, dan memperbanyak introspeksi.

4. Mau dewasa? Belajarlah mengalah.

Dalam kehidupan, tidak semua keinginan dapat terpenuhi. Tidak semua pendapat akan diterima. Ada kalanya kita harus menghadapi perbedaan dan menerima kenyataan bahwa orang lain memiliki sudut pandang yang tidak sama dengan kita.

Sebagai guru, saya belajar bahwa setiap murid memiliki karakter, kemampuan, dan kebutuhan yang berbeda. Cara menghadapi seorang murid belum tentu sama dengan cara menghadapi murid lainnya.

Kita perlu bersabar, mendengarkan, dan memahami keadaan sebelum mengambil keputusan.

Pengalaman menghadapi persoalan kesehatan juga mengajarkan saya untuk lebih menerima keterbatasan. Ada kegiatan yang perlu disesuaikan, ada kebiasaan yang perlu diubah, dan ada keputusan yang harus diambil demi keselamatan diri sendiri.

Saya pernah terbiasa bepergian dengan mobil pribadi. Namun, setelah mengalami gangguan kesehatan, dokter melarang saya mengemudi. Saya harus menerima keadaan tersebut dan mencari cara lain untuk bepergian.

Mengalah dalam keadaan seperti itu bukan berarti menyerah pada kehidupan. Mengalah berarti bersedia menerima kenyataan dan memilih langkah yang lebih bijaksana.

Kedewasaan bukan tentang selalu menang, melainkan tentang kemampuan mengendalikan diri dan mengambil keputusan yang tepat.

5. Mau hidup berkah? Carilah rezeki yang halal.

Sebagai guru dan penulis, saya memandang pekerjaan sebagai kesempatan untuk mencari nafkah sekaligus memberikan manfaat kepada orang lain.

Mengajar memberi saya kesempatan berbagi ilmu dengan murid. Menulis memungkinkan saya mendokumentasikan pengalaman dan menyampaikan gagasan kepada pembaca.

Namun, pengalaman kesehatan membuat saya semakin menyadari bahwa kesuksesan bukan hanya tentang jumlah uang yang diperoleh, jabatan yang dimiliki, atau banyaknya kegiatan yang diikuti.

Ada hal-hal lain yang tidak kalah penting, seperti ketenangan hati, kesehatan, keluarga, dan kesempatan melakukan kebaikan.

Saya ingin terus berkarya dengan cara yang jujur. Saya ingin mencari rezeki yang halal dan menjalankan tanggung jawab dengan sebaik-baiknya.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar materi sehingga lupa menjaga kesehatan atau mengabaikan orang-orang yang kita sayangi.

Bekerjalah dengan sungguh-sungguh, tetapi tetaplah mengetahui batas kemampuan diri.

Keberkahan bukan semata-mata tentang banyaknya yang kita dapatkan, melainkan juga tentang kejujuran, ketenangan, dan manfaat yang kita berikan.

6. Mau hidup harmonis? Kurangi ego.

Tidak ada manusia yang bisa menjalani kehidupan sendirian. Kita membutuhkan keluarga, sahabat, rekan kerja, dan orang-orang yang bersedia membantu ketika menghadapi kesulitan.

Ketika seseorang mengalami persoalan kesehatan, dukungan orang-orang terdekat dapat menjadi bagian penting dalam menjalani masa pemulihan.

Saya belajar bahwa kita tidak harus selalu terlihat kuat di hadapan orang lain. Ada kalanya kita perlu mengakui bahwa kita membutuhkan bantuan.

Mengurangi ego berarti bersedia mendengarkan, menerima masukan, dan mengakui kesalahan. Kita tidak perlu selalu memaksakan kehendak hanya agar pendapat kita diterima.

Dalam keluarga, keharmonisan tumbuh ketika setiap anggota mau saling memahami. Dalam pekerjaan, hubungan baik terbangun ketika kita bersedia bekerja sama. Dalam persahabatan, kepercayaan tumbuh ketika kita saling menghormati.

Jangan sampai ego membuat kita kehilangan hubungan yang sebenarnya sangat berharga.

Kurangi ego, perbanyak empati, dan jangan malu menerima kebaikan dari orang lain.

7. Mau maju? Kurangi keluhan, perbanyak tindakan.

Perjalanan menulis mengajarkan saya bahwa kemampuan tidak tumbuh hanya dengan keinginan. Kita harus berlatih, mencoba, mengevaluasi, dan memperbaiki kekurangan.

Hal yang sama saya pelajari ketika menghadapi persoalan kesehatan.

Setelah mengalami stroke, saya harus belajar menyesuaikan diri dengan kondisi tubuh. Ada kegiatan yang tidak lagi bisa saya lakukan dengan cara yang sama seperti sebelumnya. Saya juga perlu lebih memperhatikan istirahat dan mengikuti arahan tenaga kesehatan.

Tentu saja, menghadapi perubahan seperti itu tidak selalu mudah. Namun, saya belajar bahwa mengeluh terus-menerus tidak akan menyelesaikan persoalan.

Saya mulai memikirkan apa yang masih bisa saya lakukan dengan baik. Saya masih bisa membaca, menulis, berbagi ilmu, dan menjalankan kegiatan sesuai kemampuan.

Saya juga belajar bahwa menjaga kesehatan tidak boleh dilakukan dengan memaksakan diri. Ada kalanya kita perlu beristirahat, meminta bantuan, atau menunda pekerjaan.

Kemajuan tidak selalu terlihat dalam bentuk pencapaian besar. Terkadang, kemajuan berarti mampu membangun kebiasaan sehat, menjalankan tanggung jawab secara bertahap, atau menjadi lebih bijaksana dalam mengatur waktu.

Jangan menyerah pada keadaan. Kurangi keluhan, perbanyak tindakan, dan sesuaikan langkah dengan kemampuan diri.

8. Mau dipercaya? Tepatilah janji.

Kepercayaan merupakan sesuatu yang sangat berharga. Dalam keluarga, pekerjaan, dan persahabatan, kita membutuhkan orang yang bisa diandalkan.

Sebagai guru, saya ingin memberikan teladan kepada murid melalui ucapan dan tindakan. Sebagai penulis, saya ingin menyampaikan informasi dengan bertanggung jawab dan bersedia memperbaiki tulisan jika menemukan kekeliruan.

Namun, pengalaman kesehatan juga mengajarkan saya bahwa tanggung jawab harus disertai kebijaksanaan.

Ada kalanya kita sudah membuat rencana, tetapi keadaan tubuh tidak memungkinkan kita melaksanakannya tepat seperti yang diharapkan. Dalam situasi seperti itu, kita perlu jujur, menyampaikan keadaan dengan baik, dan mencari solusi.

Menepati janji bukan berarti memaksakan diri tanpa mempertimbangkan keadaan. Menepati janji berarti berusaha bertanggung jawab, memberikan kabar ketika ada perubahan, dan tidak mengabaikan kewajiban begitu saja.

Begitu pula dengan janji kepada diri sendiri untuk menjaga kesehatan. Kita perlu berusaha menjalankan kebiasaan yang baik secara konsisten.

Jika ingin dipercaya, selaraskan ucapan dengan tindakan dan jalankan tanggung jawab dengan jujur.

9. Mau kuat? Hadapilah masalah dengan sabar.

Inilah salah satu pelajaran paling berharga yang saya rasakan setelah mengalami stroke.

Pada Maret 2026, saya menjalani perawatan di RS Immanuel Bandung setelah mengalami kelemahan pada sisi kanan tubuh dan bicara menjadi pelo. Saya harus mendapatkan penanganan medis dan menjalani perawatan hingga diperbolehkan pulang pada 23 Maret 2026.

Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan tidak boleh dianggap remeh.

Selama ini, saya terbiasa menjalankan berbagai kegiatan. Saya ingin terus mengajar, menulis, menghadiri pertemuan, dan berbagi ilmu. Namun, ketika tubuh mengalami gangguan, saya harus belajar menerima kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan.

Saya harus memberikan perhatian lebih kepada kesehatan dan menjalani proses pemulihan dengan sabar.

Salah satu perubahan yang saya alami adalah tidak lagi leluasa mengendarai mobil. Dokter melarang saya mengemudi karena kondisi kesehatan. Saya pun perlu mencari alternatif transportasi yang sesuai dengan keadaan saya.

Saya mulai menggunakan transportasi umum, termasuk LRT dan KRL, untuk mendukung kegiatan sehari-hari ketika memungkinkan.

Awalnya, perubahan tersebut mengharuskan saya menyesuaikan banyak hal. Namun, saya belajar bahwa keterbatasan bukan berarti seluruh kesempatan telah tertutup.

Ketika satu cara tidak lagi memungkinkan, kita perlu mencari cara lain yang lebih aman.

Saya juga semakin menyadari bahwa pemulihan tidak harus dijalani dengan terburu-buru. Setiap orang memiliki kondisi yang berbeda. Karena itu, saya perlu mengikuti arahan tenaga kesehatan, menjaga kebiasaan sehari-hari, dan menyesuaikan aktivitas dengan kemampuan tubuh.

Saya tidak ingin berpura-pura bahwa semuanya mudah. Ada tantangan yang harus dihadapi dan kebiasaan yang perlu diperbaiki. Namun, saya ingin tetap memelihara harapan.

Saya masih ingin mengajar, menulis, dan berbagi pengalaman selama kondisi memungkinkan.

Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa kuat bukan berarti tidak pernah merasa takut, lelah, atau sedih. Kuat berarti bersedia menghadapi kenyataan, menerima bantuan, dan melanjutkan kehidupan dengan cara yang bijaksana.

Masalah mungkin mengubah jalan yang kita tempuh, tetapi kita masih bisa belajar menemukan jalan yang baru.

10. Mau bahagia? Belajarlah bersyukur.

Pengalaman kesehatan membuat saya semakin menghargai hal-hal sederhana yang sebelumnya mungkin terasa biasa.

Bisa membaca, menulis, berbicara, bergerak, berkumpul bersama keluarga, dan menjalankan aktivitas sehari-hari merupakan kesempatan yang sangat berharga.

Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari pencapaian besar. Terkadang, kebahagiaan hadir ketika kita menyadari bahwa masih ada kesempatan untuk memperbaiki diri dan melakukan kebaikan.

Saya bersyukur masih dapat menjalani profesi sebagai guru, berbagi pengalaman melalui tulisan, dan belajar dari orang-orang yang saya temui.

Saya juga bersyukur atas kesempatan untuk lebih memperhatikan kesehatan dan menata kembali prioritas kehidupan.

Bersyukur bukan berarti mengabaikan kesulitan. Saya tetap perlu menjalani perawatan, memperhatikan kondisi tubuh, dan berusaha menjaga kesehatan.

Namun, saya tidak ingin seluruh perhatian hanya tertuju pada hal-hal yang belum tercapai.

Saya ingin menghargai kesempatan yang masih tersedia hari ini.

Jangan menunggu hidup sempurna untuk bersyukur. Hargai kesempatan yang masih kita miliki sambil terus berusaha menjadi lebih baik.

Pelajaran dari perjalanan Omjay setelah stroke

Sahabat blogger yang baik hati,

Pengalaman setelah mengalami stroke mengubah cara saya memandang kehidupan.

Saya semakin menyadari bahwa kesehatan merupakan amanah yang perlu dijaga. Pekerjaan memang penting, tetapi tubuh juga membutuhkan perhatian. Cita-cita perlu diperjuangkan, tetapi kita harus mengetahui batas kemampuan diri.

Dahulu, saya sering memikirkan banyak hal yang ingin dikerjakan. Sekarang, saya belajar bahwa tidak semua pekerjaan harus diselesaikan sekaligus.

Saya perlu memilih kegiatan yang paling penting, mengatur waktu dengan lebih bijaksana, dan memberikan kesempatan bagi tubuh untuk beristirahat.

Saya juga belajar bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Kita tidak harus menyelesaikan semua persoalan seorang diri.

Ketika membutuhkan pertolongan, mintalah bantuan. Ketika tubuh membutuhkan istirahat, berikan waktu untuk beristirahat. Ketika dokter memberikan anjuran, berusahalah mengikutinya dengan baik.

Saya tidak ingin menjadikan pengalaman sakit sebagai alasan untuk berhenti berkarya. Sebaliknya, saya ingin menjadikannya pengingat agar bisa menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.

Saya masih ingin menulis artikel, berbagi pengalaman di Kompasiana, mengajar murid, dan berkontribusi dalam dunia pendidikan. Namun, saya juga ingin memastikan bahwa kegiatan tersebut berjalan seiring dengan upaya menjaga kesehatan.

Bagi saya, produktivitas bukan sekadar seberapa banyak pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Produktivitas juga tentang bagaimana kita memanfaatkan waktu secara bermakna tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Kita boleh memiliki mimpi besar. Kita boleh terus berkarya. Namun, jangan lupa menjaga tubuh yang memungkinkan kita menjalani semua itu.

Penutup: Hidup bukan hanya tentang mengejar, tetapi juga mensyukuri

Jika ada yang bertanya kepada saya, “Omjay, apa yang kamu mau dalam hidup ini?”

Jawaban saya sederhana.

Saya ingin terus menjadi manusia yang bermanfaat. Saya ingin tetap belajar, mengajar, menulis, dan berbagi ilmu selama masih diberikan kesempatan.

Saya ingin menjaga kesehatan, menyayangi keluarga, menghargai sahabat, dan menjalani kehidupan dengan penuh tanggung jawab.

Saya ingin terus memperbaiki diri, karena saya menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna.

Pengalaman menghadapi diabetes dan menjalani pemulihan setelah stroke mengajarkan saya bahwa kesehatan tidak boleh dianggap remeh. Kita perlu menjaganya dengan sungguh-sungguh, mengikuti arahan tenaga kesehatan, dan memberikan waktu bagi tubuh untuk menjalani proses pemulihan.

Maka, jika ingin sukses, belajarlah disiplin.

Jika ingin dihargai, jagalah ucapan.

Jika ingin tenang, hormati privasi orang lain.

Jika ingin dewasa, belajarlah mengalah.

Jika ingin hidup berkah, carilah rezeki yang halal.

Jika ingin harmonis, kurangi ego.

Jika ingin maju, kurangi keluhan dan perbanyak tindakan.

Jika ingin dipercaya, tepati janji.

Jika ingin kuat, hadapilah masalah dengan sabar.

Jika ingin bahagia, bersyukurlah.

Dan jika ingin terus berkarya, jangan lupa menjaga kesehatan.

Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk berubah. Kita juga tidak perlu menunggu tubuh memberikan peringatan keras untuk mulai memperhatikannya.

Mulailah hari ini. Lakukan hal-hal sederhana yang bisa kita kerjakan. Rawatlah tubuh, jagalah hati, hargailah waktu, dan manfaatkan kehidupan untuk sesuatu yang bermakna.

Saya, Omjay, masih terus belajar menjalani semua itu. Pengalaman hidup dan kesehatan ini menjadi pengingat bahwa setiap hari merupakan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Semoga kita semua diberikan kesehatan, kekuatan, kesabaran, dan kebijaksanaan dalam menjalani ujian kehidupan. Semoga kita dapat terus berkarya, menyayangi keluarga, dan memberikan manfaat kepada sesama.

Sebab, hidup yang baik bukan hanya tentang seberapa tinggi kita mencapai cita-cita, tetapi juga tentang bagaimana kita menjaga diri, menghargai sesama, dan mensyukuri setiap kesempatan yang diberikan Tuhan.

Demikianlah kisah Omjay kali ini.

Salam Blogger Persahabatan.

Menulislah dengan hati, jagalah kesehatan, belajarlah sepanjang hayat, dan tebarkan manfaat bagi sesama.

Wijaya Kusumah (Omjay)

Blog https://wijayalabs.com