Sahabat yang Pergi, Kenangan yang Tak Pernah Mati
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Foto lama itu kembali saya pandangi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Warnanya memang sudah memudar dimakan usia. Beberapa bagian bahkan terlihat buram. Namun kenangan di dalamnya justru semakin jelas terlihat dalam hati saya.
Foto itu diambil saat kami masih menjadi mahasiswa Jurusan Elektro Elektronika FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990. Saat itu kami masih muda. Wajah-wajah penuh harapan. Senyum yang mengembang tanpa beban. Kami berdiri dan duduk berdesakan sambil memamerkan piala kemenangan yang berhasil diraih.
Tidak ada yang menyangka bahwa waktu akan bergerak begitu cepat.
Tiga puluh enam tahun berlalu seperti kedipan mata.
Sebagian dari kami sudah menjadi guru, dosen, pengusaha, pegawai negeri, dan pensiunan. Sebagian telah menjadi kakek dan nenek. Sebagian lagi masih aktif berkarya untuk bangsa.
Namun ada dua sahabat yang kini hanya tinggal nama dan kenangan.
Iis Nurhayati.
Hasyim Subarna.
Mereka telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Setiap kali melihat foto ini, hati saya selalu bergetar. Di antara tawa dan canda yang membeku dalam gambar tersebut, ada cerita persahabatan yang tak akan pernah bisa saya lupakan.
Ketika Kami Masih Muda
Tahun 1990 adalah masa yang indah.
Kami datang dari berbagai daerah dengan membawa mimpi yang sama. Menjadi guru teknik yang mampu mencerdaskan anak bangsa.
Kampus IKIP Jakarta menjadi rumah kedua kami.
Di ruang kuliah yang sederhana kami belajar elektronika, listrik, mesin, pendidikan, dan kehidupan.
Kami sering mengerjakan tugas hingga larut malam.
Kadang uang di kantong tinggal beberapa lembar ribuan.
Kadang harus menahan lapar demi membeli buku.
Kadang harus menumpang tidur di kamar teman karena kehabisan ongkos pulang.
Namun justru di situlah letak kebahagiaan kami.
Karena kami menjalaninya bersama.
Saya masih ingat bagaimana kami bercanda di kantin kampus.
Saya masih ingat bagaimana kami saling meminjam catatan menjelang ujian.
Saya masih ingat bagaimana kami berjuang menyelesaikan praktikum yang terasa begitu sulit.
Dan saya masih ingat suara tawa Iis Nurhayati yang selalu membuat suasana menjadi hangat.
Saya juga masih ingat sosok Hasyim Subarna yang penuh semangat dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Hari-hari itu terasa begitu dekat.
Padahal sudah puluhan tahun berlalu.
Waktu Mengajarkan Banyak Hal
Ketika masih mahasiswa, kami sering berbicara tentang masa depan.
Kami membayangkan akan bertemu kembali saat sudah sukses.
Kami berjanji akan terus menjaga silaturahmi.
Namun waktu ternyata memiliki jalannya sendiri.
Satu per satu sahabat sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Ada yang mengajar di sekolah.
Ada yang membangun keluarga.
Ada yang merantau ke kota lain.
Ada yang jarang terdengar kabarnya.
Meski begitu, setiap kali bertemu kembali, rasanya seperti tidak pernah berpisah.
Persahabatan sejati memang seperti itu.
Ia tidak membutuhkan pertemuan setiap hari.
Ia hidup dalam hati.
Dan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Kabar yang Membuat Hati Terdiam
Saya masih ingat perasaan ketika mendengar kabar bahwa Iis Nurhayati telah meninggal dunia.
Sejenak saya terdiam.
Tidak percaya.
Rasanya baru kemarin kami tertawa bersama di kampus.
Baru kemarin kami berdiskusi tentang tugas kuliah.
Baru kemarin kami berfoto bersama seperti dalam gambar itu.
Namun ternyata waktu tidak bisa diajak bernegosiasi.
Kematian datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
Beberapa waktu kemudian, kabar duka kembali datang.
Hasyim Subarna juga berpulang.
Sekali lagi hati saya seperti kehilangan sebagian dari masa muda saya.
Sahabat yang dulu duduk bersama di bangku kuliah kini telah pergi untuk selamanya.
Yang tersisa hanyalah foto-foto lama, kenangan, dan doa.
Foto yang Menyimpan Ribuan Cerita
Banyak orang menganggap foto hanyalah gambar.
Namun bagi saya, foto adalah mesin waktu.
Ketika saya memandang foto ini, saya tidak hanya melihat wajah-wajah lama.
Saya melihat perjuangan.
Saya melihat mimpi.
Saya melihat persahabatan.
Saya melihat cinta.
Saya melihat pengorbanan.
Dan saya melihat betapa berharganya setiap detik kehidupan.
Di foto ini tidak ada yang memikirkan penyakit.
Tidak ada yang memikirkan kematian.
Tidak ada yang memikirkan usia tua.
Kami hanya sekumpulan anak muda yang sedang menikmati hidup dan mengejar cita-cita.
Namun kini sebagian rambut telah memutih.
Sebagian tubuh mulai melemah.
Sebagian sahabat bahkan sudah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Foto ini mengajarkan kepada saya bahwa hidup sesungguhnya sangat singkat.
Terlalu singkat untuk saling membenci.
Terlalu singkat untuk saling menyakiti.
Terlalu singkat untuk memutus tali persahabatan.
Untuk Iis dan Hasyim
Sahabatku Iis Nurhayati.
Sahabatku Hasyim Subarna.
Mungkin jasad kalian telah lama beristirahat di alam keabadian.
Namun kenangan tentang kalian masih hidup di hati kami.
Kalian tetap hadir dalam setiap reuni.
Kalian tetap hadir dalam setiap cerita yang kami kenang bersama.
Kalian tetap hadir ketika kami membuka album foto lama.
Kalian tetap hadir dalam doa-doa yang kami panjatkan.
Hari ini, saat saya menulis kisah ini, air mata saya jatuh perlahan.
Bukan karena saya tidak ikhlas.
Tetapi karena saya merindukan kalian.
Merindukan masa-masa ketika hidup terasa begitu sederhana.
Merindukan tawa yang pernah memenuhi lorong-lorong kampus IKIP Jakarta.
Merindukan persahabatan yang tumbuh tanpa kepentingan.
Selamat Jalan Sahabatku
Kini saya memahami satu hal penting.
Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan orang yang kita cintai.
Selama namanya masih disebut dalam doa.
Selama kebaikannya masih dikenang.
Selama kenangannya masih hidup di hati.
Maka ia sesungguhnya tidak pernah pergi.
Untuk sahabat-sahabat FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990, mari kita jaga silaturahmi yang masih tersisa.
Mari kita saling mendoakan.
Mari kita saling menguatkan.
Karena suatu hari nanti, foto-foto yang kita ambil hari ini juga akan menjadi kenangan bagi generasi berikutnya.
Dan ketika saat itu tiba, semoga mereka berkata:
"Mereka adalah sahabat-sahabat yang saling mencintai karena Allah, saling mendukung dalam perjuangan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak pernah hilang ditelan waktu."
Selamat jalan, Iis Nurhayati.
Selamat jalan, Hasyim Subarna.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.
Namamu akan selalu hidup dalam kenangan, dan doa kami akan selalu mengiringimu.
Al-Fatihah untuk kedua sahabat tercinta. ๐คฒ๐ป๐
"Persahabatan sejati tidak berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Ia hanya berpindah tempat, dari hadapan mata menuju kedalaman hati." ❤️




