Buat Apa Kita Menulis?
Kisah Omjay yang Menyentuh Hati
Suatu malam yang sunyi, Omjay duduk sendirian di depan laptopnya. Jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam, tetapi jemarinya masih setia menari di atas keyboard. Tidak ada honor menanti, tidak ada kontrak penerbitan, dan tidak ada jaminan tulisannya akan dibaca banyak orang. Namun, ia tetap menulis.
Di sela-sela keheningan itu, Omjay pernah bertanya pada dirinya sendiri, “Buat apa aku menulis?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Banyak orang menulis untuk uang. Tidak sedikit pula yang menulis agar dikenal, agar namanya muncul di media, agar dianggap hebat dan pintar. Omjay tidak menolak bahwa semua itu adalah hal yang wajar. Manusia memang membutuhkan pengakuan dan penghidupan. Tetapi, dalam perjalanan hidupnya sebagai guru dan pegiat literasi, ia menemukan bahwa alasan terdalam untuk menulis jauh lebih dalam daripada sekadar uang atau popularitas.
Omjay masih ingat ketika pertama kali menulis di blog. Tulisan-tulisannya tidak langsung mendapat komentar. Tidak ada yang membagikan. Bahkan, kadang ia sendiri merasa seperti berbicara di ruang kosong. Namun ia tetap menulis. Ia menulis tentang pengalaman mengajar, tentang murid-muridnya, tentang kegelisahan seorang guru yang ingin pendidikan di negeri ini menjadi lebih baik.
Suatu hari, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Seorang guru dari daerah terpencil menulis, “Terima kasih, Pak. Tulisan Bapak membuat saya semangat kembali mengajar. Saya merasa tidak sendirian.”
Saat membaca pesan itu, mata Omjay berkaca-kaca. Ia tidak mendapatkan uang dari tulisan tersebut. Ia juga tidak menjadi terkenal karena satu artikel itu. Namun, ia menyadari bahwa tulisannya telah menyentuh hati seseorang, bahkan mungkin mengubah hari dan semangat hidup orang lain.
Sejak saat itu, Omjay mengerti: menulis bukan sekadar soal dilihat banyak orang, tetapi tentang menyentuh satu hati pun sudah cukup berarti.
Ada masa di mana Omjay mengalami kesulitan hidup. Saat kesehatan menurun, saat pekerjaan menumpuk, bahkan ketika ia harus beristirahat di rumah sakit, ia tetap memikirkan tulisan. Bukan karena dikejar deadline, tetapi karena menulis adalah cara baginya untuk berbicara dengan dunia. Menulis adalah terapi, tempat ia mencurahkan rasa syukur, kesedihan, dan harapan.
Banyak orang mengira menulis itu harus menghasilkan uang agar dianggap berhasil. Omjay tidak menolak bahwa menulis bisa menjadi sumber rezeki. Ia pun pernah merasakan kebahagiaan saat tulisannya dimuat dan mendapat honor. Namun, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa jika menulis hanya untuk uang, maka semangat itu akan mudah padam ketika uang tidak datang.
Begitu juga dengan popularitas. Menjadi dikenal memang menyenangkan, tetapi ketenaran sering kali tidak abadi. Nama bisa naik dan turun, tetapi tulisan yang tulus akan tetap hidup di hati pembacanya, bahkan ketika nama penulisnya sudah dilupakan.
Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya,
“Menulislah bukan agar kalian terkenal, tetapi agar kalian dikenang karena kebaikan yang kalian bagikan.”
Dalam setiap tulisannya, Omjay mencoba menyisipkan nilai-nilai kehidupan. Ia menulis tentang kejujuran, tentang kesabaran, tentang perjuangan menjadi guru di tengah keterbatasan. Ia percaya bahwa tulisan adalah warisan. Jika suatu hari ia sudah tidak lagi mengajar, tidak lagi hadir di ruang kelas, tulisannya masih bisa berbicara kepada generasi berikutnya.
Ia membayangkan, mungkin suatu hari nanti, seorang anak muda akan membaca tulisannya dan menemukan semangat baru. Mungkin ada seorang guru yang hampir menyerah, lalu kembali bangkit setelah membaca kisahnya. Bagi Omjay, kemungkinan kecil itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus menulis.
Suatu ketika, seorang teman bertanya,
“Omjay, kalau tidak dibayar, kenapa masih rajin menulis?”
Omjay tersenyum. Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka salah satu artikelnya dan menunjukkan kolom komentar yang berisi ucapan terima kasih dari para pembaca. Lalu ia berkata pelan,
“Ini bayaran yang tidak bisa dihitung dengan uang.”
Menulis bagi Omjay adalah ibadah. Ia percaya bahwa setiap kata yang membawa kebaikan akan menjadi amal jariyah. Selama tulisannya masih dibaca dan menginspirasi, selama itu pula pahala mengalir. Keyakinan inilah yang membuatnya tetap menulis, bahkan di saat tubuh lelah dan pikiran penat.
Di penghujung malam, sebelum menutup laptopnya, Omjay sering berdoa dalam hati,
“Ya Allah, jika tulisanku bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, izinkan aku terus menulis.”
Maka, ketika kita bertanya, buat apa kita menulis? Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang. Ada yang menulis untuk uang, ada yang menulis untuk terkenal, dan itu tidak salah. Namun, kisah Omjay mengajarkan bahwa menulis juga bisa menjadi jalan untuk berbagi, menguatkan, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak uang yang kita dapat dari tulisan, dan bukan seberapa terkenal nama kita karenanya. Yang lebih penting adalah: berapa banyak hati yang pernah kita sentuh melalui kata-kata yang kita tuliskan. ✍️💙