Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 02 Juni 2026

Wow kisah Cing Ato guru Madrasah Inspiratif

Berikut resume kisah Omjay dari materi Cing Ato/Pak Suharto.

Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Malam itu, Selasa, 2 Juni 2026, suasana Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 34 terasa berbeda. Pertemuan ke-18 menghadirkan materi yang sangat menyentuh hati, yaitu “Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif.” Narasumbernya adalah Pak Suharto, S.Ag., M.Pd., yang akrab disapa Cing Ato.

Omjay merasa sangat bahagia melihat semangat peserta KBMN yang terus menyala. Grup WhatsApp dikunci oleh moderator, Ibu Raliyanti, agar acara berjalan tertib. Peserta diminta menyimak video narasumber terlebih dahulu. Dari awal saja, aura inspirasi sudah terasa kuat.

Ketika Cing Ato mulai menyapa peserta, suasana menjadi hangat. Beliau membuka cerita dengan rendah hati. Katanya, beliau sebenarnya malu menjadi narasumber karena merasa masih banyak kekurangan. Namun justru dari kerendahan hati itulah peserta melihat kebesaran jiwa seorang guru madrasah yang tangguh.

Cing Ato bercerita bahwa beliau adalah alumni KBMN Gelombang 8 bersama Teh Aam dan Pak Mukminin. Uniknya, beliau mengaku tidak lulus. Peserta tentu bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus KBMN kemudian menjadi narasumber?

Jawabannya sungguh mengharukan.

Saat mengikuti KBMN, Cing Ato sedang dalam kondisi sakit berat. Selang masih menempel di leher dan hidungnya. Beliau hanya mampu mengikuti pelatihan sebatas kemampuan. Ketika pusing, beliau berhenti. Esok paginya, beliau membaca kembali materi di grup WhatsApp dan menyalinnya. Namun karena banyak materi berbentuk voice note, beliau kesulitan membuat resume lengkap.

Akhirnya, beliau tidak mengumpulkan resume dan dinyatakan tidak lulus.

Tetapi cerita tidak berhenti di sana.

Materi-materi yang sempat beliau kumpulkan kemudian menjadi bahan tulisan. Dari proses itu lahirlah buku berjudul “Belajar Tak Bertepi.” Setelah terus menulis dan akhirnya menerbitkan buku, beliau dianggap berhasil menuntaskan perjuangan literasinya. Inilah pelajaran penting bagi peserta KBMN. Lulus sejati bukan sekadar mendapat sertifikat, tetapi mampu melahirkan karya nyata.

Cing Ato lalu berkisah tentang awal mula menulis. Ada dua alasan utama yang membuat beliau menulis. Pertama, karena kebutuhan. Ketika diangkat menjadi wakil kepala bidang kurikulum, beliau melihat banyak administrasi guru dibuat asal ada. Dari situlah muncul keinginan menulis buku panduan administrasi pembelajaran. Namun beliau merasa kehabisan kata dan belum paham ilmu perbukuan.

Tahun 2016, beliau mengikuti pelatihan yang diselenggarakan KSGN. Di sanalah beliau bertemu dengan tiga guru besarnya, yaitu Omjay, Om Dedi Dwitama, dan Dr. Namin ibn Kholdun. Dari pelatihan itulah kemampuan menulisnya mulai tumbuh.

Tahun 2017, beliau mengikuti pelatihan Media Guru di Cipanas, Bogor. Dari pelatihan tersebut, lahirlah buku solo perdana. Namun ujian besar datang tidak lama setelah itu. Tubuh beliau tiba-tiba tumbang. Hampir seluruh saraf mati. Tidak ada yang bergerak kecuali leher dan mata. Napas dibantu oksigen. Leher dilubangi. Selama hampir 18 bulan, beliau terbujur kaku di atas pembaringan. Empat bulan lebih beliau dirawat di RSCM.

Namun luar biasanya, Cing Ato tidak larut dalam kesedihan.

Beliau berkata bahwa dirinya ridha terhadap ketetapan Allah. Dalam sakitnya, beliau merenung. Apa yang masih bisa dilakukan agar hidup tetap bermanfaat bagi banyak orang? Dari renungan itulah muncul jawaban: menulis.

Akhirnya, beliau menulis tentang apa yang dialami, dirasakan, dan dipelajari. Malam hari sebelum tidur, beliau mencari ide. Setelah Subuh, beliau menulis satu artikel sederhana. Tulisan itu kemudian dibagikan di Facebook. Ternyata respons pembaca luar biasa. Sejak saat itu, menulis menjadi terapi jiwa dan raga.

Ketika sudah bisa duduk dan menekan keyboard laptop, tulisan-tulisan yang berserakan di media sosial dikumpulkan. Tulisan itu diikat menjadi buku. Dari sakit, lahir karya. Dari keterbatasan, muncul kebermanfaatan.

Cing Ato juga menjadikan buku sebagai sedekah dan wakaf. Banyak buku beliau bagikan kepada lembaga pendidikan, kelompok literasi, dan masyarakat. Baginya, menulis bukan hanya tentang uang. Menulis adalah jalan berbagi, jalan silaturahmi, dan jalan amal jariah.

Hasil dari ketekunan menulis sangat luar biasa. Beliau mendapatkan banyak teman literasi, penghasilan, kesempatan berbagi, serta berbagai penghargaan. Di antaranya penganugerahan sebagai pahlawan pendidikan, penghargaan IKALUIN Award 2024 kategori pendidikan dan pengembangan umat, GTK Berprestasi Nasional kategori Guru Madrasah Inspiratif 2024, apresiasi sebagai Guru Tangguh dari Darul Qur’an Ciledug, tampil di TVONE pada Hari Pendidikan Nasional 2024, tampil di DAAI TV sebagai narasumber inspiratif 2025, dikunjungi para YouTuber, mahasiswa, dan kembali menjadi narasumber KBMN.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana: menulis setiap hari.

Cing Ato juga mendirikan kelas belajar menulis di madrasah tempatnya mengajar. Dari sana telah lahir empat buku antologi. Walaupun peserta awalnya tidak banyak, beliau tetap berjalan. Muridnya ada 700 orang, tetapi yang ikut literasi hanya 13 siswa. Namun beliau tidak kecewa. Baginya, dari satu orang bisa tumbuh seribu kebaikan.

Dalam sesi tanya jawab, banyak pelajaran penting disampaikan. Untuk mewujudkan tulisan menjadi buku, Cing Ato menyarankan agar guru menulis setiap hari dari apa yang bisa, dirasakan, dan dialami. Guru juga harus membangun jejaring dengan komunitas penulis dan penerbit.

Tentang semangat menulis, beliau berpesan agar jangan menunggu mood. Menulislah walau hanya satu kalimat. Konsistenlah. Perbanyak membaca tulisan teman, membaca buku penulis hebat, mengikuti pelatihan, dan bersahabat dengan komunitas literasi.

Ketika ditanya tentang hal paling berat dalam menulis di tengah keterbatasan, Cing Ato menjawab dengan sangat kuat. Baginya, tidak ada yang berat jika kita terus mencoba. Setiap rintangan harus dilompati. Bekal membaca buku motivasi, mendengar video motivasi, dan memperdalam agama membuat beliau tegar seperti batu karang di tengah lautan.

Di akhir materi, Cing Ato memberikan pesan penutup yang sangat menggetarkan hati.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau kita yakin, percaya, mau belajar, bersungguh-sungguh, dan konsisten. Kesuksesan akan membersamai orang-orang yang tidak mudah menyerah.

Omjay terharu mendengar kisah murid literasinya itu. Dulu Cing Ato mengikuti KBMN dalam keadaan sakit. Kini beliau hadir sebagai narasumber yang memberi cahaya kepada banyak guru. Inilah bukti bahwa menulis dapat mengubah hidup seseorang.

Cing Ato menutup dengan kalimat yang terinspirasi dari ajian pamungkas Omjay:

“Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi.”

Kalimat itu menjadi pesan kuat bagi seluruh peserta KBMN Gelombang 34. Guru yang menulis tidak hanya meninggalkan kata-kata, tetapi juga meninggalkan jejak perjuangan. Guru tangguh bukan guru yang tidak pernah jatuh. Guru tangguh adalah guru yang tetap bangkit, tetap berkarya, dan tetap memberi manfaat meskipun tubuh sedang diuji.

Salam literasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Inilah. narsum kbmn pgri gelombang 34 jejak guru madrasah inspiratif

Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif

Pertemuan ke-18 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34

Malam ini, Selasa, 2 Juni 2026 pukul 19.00 WIB, peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 kembali akan mendapatkan sajian materi yang sangat menarik, inspiratif, dan penuh makna. Pada pertemuan ke-18 ini, tema yang diangkat adalah “Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif”.

Tema ini dipilih karena guru bukan hanya sosok yang mengajar di kelas, tetapi juga seorang pejuang pendidikan yang setiap hari menghadapi berbagai tantangan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan semangat pengabdian. Di balik kesuksesan para siswa, ada guru-guru tangguh yang terus berjuang meskipun sering kali bekerja dalam keterbatasan.

Kegiatan ini akan menghadirkan narasumber yang memiliki pengalaman panjang dalam dunia pendidikan, khususnya pendidikan madrasah, yaitu Bapak Suharto, S.Ag., M.Pd. Beliau akan berbagi kisah perjalanan hidup, pengalaman mengajar, perjuangan membangun pendidikan, serta berbagai inspirasi yang dapat memotivasi para guru dan calon penulis di seluruh Indonesia.

Acara ini akan dipandu oleh moderator yang tidak kalah hebat, yaitu Ibu Raliyanti, yang selama ini dikenal aktif mendukung kegiatan literasi dan pembelajaran menulis di lingkungan KBMN.


Mengapa Tema Ini Penting?

Menjadi guru pada era sekarang bukanlah pekerjaan yang mudah. Guru dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi, memahami karakter generasi digital, serta terus meningkatkan kompetensi profesionalnya.

Selain itu, guru juga harus menghadapi berbagai tantangan lainnya, seperti:

  • Perubahan kurikulum yang dinamis.
  • Perkembangan kecerdasan buatan (AI).
  • Tuntutan administrasi yang semakin kompleks.
  • Kebutuhan pembelajaran yang lebih kreatif dan inovatif.
  • Harapan masyarakat yang semakin tinggi terhadap kualitas pendidikan.

Dalam kondisi seperti ini, dibutuhkan sosok guru yang tangguh.

Guru tangguh bukan berarti guru yang tidak pernah lelah. Guru tangguh adalah guru yang tetap melangkah meskipun lelah. Guru tangguh adalah mereka yang tetap mengajar dengan hati meskipun menghadapi berbagai keterbatasan.

Melalui tema "Jejak Guru Madrasah Inspiratif", peserta akan diajak menyelami perjalanan seorang pendidik yang telah membuktikan bahwa ketulusan dan semangat belajar dapat membawa perubahan besar bagi dunia pendidikan.


Mengenal Narasumber: Suharto, S.Ag., M.Pd.

Nama Suharto tentu tidak asing di kalangan pendidik madrasah. Beliau dikenal sebagai sosok guru yang memiliki dedikasi tinggi terhadap pendidikan.

Perjalanan beliau sebagai pendidik penuh dengan cerita inspiratif yang layak dijadikan teladan. Dari ruang kelas sederhana hingga berbagai forum pendidikan, beliau terus menunjukkan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membangun peradaban bangsa.

Melalui pengalaman yang akan dibagikan malam ini, peserta diharapkan dapat memperoleh banyak pelajaran berharga tentang:

  • Ketangguhan dalam menghadapi tantangan pendidikan.
  • Strategi membangun motivasi belajar siswa.
  • Pengalaman mengembangkan literasi di lingkungan sekolah dan madrasah.
  • Pentingnya menulis bagi guru.
  • Cara menjadikan pengalaman hidup sebagai karya inspiratif.

Materi ini sangat relevan bagi guru, dosen, kepala sekolah, mahasiswa, maupun siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap dunia pendidikan.


KBMN: Melahirkan Guru Penulis Indonesia

KBMN atau Kelas Belajar Menulis Nusantara merupakan program pelatihan menulis yang digagas oleh para pegiat literasi pendidikan Indonesia.

Program ini telah melahirkan ribuan guru penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak alumni KBMN yang berhasil:

  • Menerbitkan buku solo.
  • Menjadi penulis aktif di media online.
  • Mengelola blog pendidikan.
  • Menjadi narasumber literasi.
  • Mengembangkan komunitas menulis di daerah masing-masing.

KBMN bukan hanya mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membangun budaya literasi yang berkelanjutan.

Melalui kegiatan ini, peserta belajar bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah sarana berbagi ilmu, pengalaman, inspirasi, dan kebaikan kepada masyarakat luas.


Apa yang Akan Didapatkan Peserta?

Peserta yang mengikuti kegiatan malam ini akan memperoleh banyak manfaat, antara lain:

1. Inspirasi Menjadi Guru Tangguh

Pengalaman nyata narasumber akan memberikan motivasi bagi peserta untuk tetap semangat menjalankan profesi sebagai pendidik.

2. Penguatan Literasi

Peserta akan belajar bagaimana menjadikan pengalaman mengajar sebagai bahan tulisan yang menarik dan bermanfaat.

3. Motivasi Menulis

Banyak guru sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa, tetapi belum terbiasa menuangkannya dalam tulisan. Melalui KBMN, peserta didorong untuk mulai menulis dan membagikan kisah inspiratif mereka.

4. Memperluas Jaringan

KBMN mempertemukan guru-guru dari berbagai daerah sehingga tercipta jejaring kolaborasi yang kuat.

5. Menambah Wawasan Pendidikan

Materi yang disampaikan narasumber akan memperkaya wawasan peserta tentang praktik pendidikan yang inspiratif.


Menulis Adalah Jejak Abadi Guru

Salah satu pesan yang selalu digaungkan dalam KBMN adalah bahwa guru yang menulis akan meninggalkan jejak abadi.

Mengajar mungkin hanya berlangsung beberapa jam di kelas, tetapi tulisan dapat hidup puluhan bahkan ratusan tahun setelah penulisnya tiada.

Melalui tulisan, guru dapat:

  • Menyebarkan ilmu lebih luas.
  • Mendokumentasikan pengalaman berharga.
  • Menginspirasi generasi berikutnya.
  • Menjadi teladan bagi peserta didik.

Karena itu, setiap guru sesungguhnya memiliki peluang besar untuk menjadi penulis.

Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu menunggu menjadi ahli.

Mulailah menulis dari apa yang dialami, dilihat, dirasakan, dan dipelajari setiap hari.


Ayo Bergabung Malam Ini!

Bagi para peserta KBMN Gelombang 34, jangan lewatkan kesempatan berharga ini.

Mari hadir dan belajar bersama dalam kegiatan:

Tema: Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif
Narasumber: Suharto, S.Ag., M.Pd.
Moderator: Raliyanti
Hari/Tanggal: Selasa, 2 Juni 2026
Waktu: Pukul 19.00 WIB
Tempat: Daring melalui Grup WhatsApp KBMN PGRI Gelombang 34

Mari siapkan buku catatan, semangat belajar, dan hati yang terbuka untuk menerima inspirasi.

Karena dari kisah seorang guru, kita belajar tentang ketulusan.

Dari perjuangan seorang guru, kita belajar tentang pengabdian.

Dan dari tulisan seorang guru, kita belajar bahwa ilmu akan terus hidup dan memberi manfaat sepanjang zaman.

Salam Literasi!

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) — Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Mengapa Menulis Menambah Wawasan?



Menulis menambah wawasan karena saat menulis kita dipaksa untuk berpikir, membaca, mengingat, dan menghubungkan berbagai informasi yang kita miliki. Semakin sering seseorang menulis, semakin luas pula pengetahuan yang diperolehnya.
Ada beberapa alasan mengapa menulis dapat menambah wawasan:
1. Menulis Membuat Kita Banyak Membaca
Sebelum menulis, biasanya kita mencari referensi terlebih dahulu. Kita membaca buku, artikel, berita, jurnal, atau pengalaman orang lain. Dari proses membaca itulah wawasan bertambah.
Pepatah mengatakan:
> "Pembaca yang baik belum tentu penulis yang baik, tetapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik."
2. Menulis Melatih Berpikir Kritis
Ketika menulis, kita tidak hanya menyalin informasi. Kita harus menganalisis, membandingkan, dan menyimpulkan berbagai informasi yang diperoleh. Proses berpikir kritis ini membuat pemahaman kita semakin mendalam.
3. Menulis Membantu Mengingat Lebih Lama
Informasi yang ditulis akan lebih mudah tersimpan dalam memori dibandingkan hanya dibaca atau didengar. Saat menulis, otak bekerja lebih aktif sehingga pengetahuan menjadi lebih melekat.
4. Menulis Mengajarkan Kita Belajar Sepanjang Hayat
Seorang penulis tidak pernah berhenti belajar. Setiap hari ada hal baru yang ingin ditulis. Karena itu, penulis selalu terdorong untuk mencari ilmu baru.
5. Menulis Membuka Jaringan dan Pengalaman Baru
Tulisan yang dipublikasikan dapat dibaca banyak orang. Dari sana muncul diskusi, komentar, dan pertukaran gagasan yang memperkaya wawasan penulis.
6. Menulis Membuat Kita Mengenal Diri Sendiri
Saat menulis pengalaman, pemikiran, dan perasaan, kita belajar memahami diri sendiri. Kita menjadi lebih reflektif dan bijaksana dalam memandang kehidupan.
Pelajaran dari Omjay
Sebagai Guru Blogger Indonesia, Dr. Wijaya Kusumah (Omjay) merasakan langsung manfaat menulis. Awalnya Omjay menulis untuk berbagi pengalaman mengajar. Namun dari kebiasaan menulis setiap hari, wawasan Omjay semakin luas. Menulis membawanya bertemu banyak tokoh pendidikan, belajar di Jepang dan Tiongkok, menerbitkan buku, menjadi narasumber di berbagai daerah, hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.
Omjay sering mengatakan:
> "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Kalimat sederhana itu mengandung makna yang sangat dalam. Ketika kita menulis setiap hari, kita akan terdorong untuk membaca setiap hari. Ketika membaca setiap hari, wawasan bertambah. Ketika wawasan bertambah, kualitas tulisan meningkat. Begitulah lingkaran kebaikan yang terus berputar.
Kesimpulan
Menulis bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis adalah proses belajar. Setiap tulisan yang kita buat sebenarnya sedang membangun wawasan, memperkuat ingatan, melatih berpikir kritis, dan memperluas pengalaman hidup kita.
Karena itu, jika ingin menambah wawasan, jangan hanya membaca. Mulailah menulis. Tuliskan apa yang Anda baca, lihat, dengar, dan rasakan. Semakin banyak menulis, semakin banyak pula ilmu yang akan Anda miliki.
Menulislah setiap hari. Sebab setiap tulisan adalah jejak pengetahuan yang akan membuat kita terus tumbuh dan berkembang.

Salam blogger persahabatan
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Belajar dan berbagi ilmu di SMKN 40 Jakarta


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



Carilah Teman yang Baik

Carilah Teman yang Baik Agamanya dan Memberikan Manfaat untuk Hidupmu

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Selasa, 2 Juni 2026, Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat. Udara pagi terasa sejuk. Burung-burung berkicau riang seolah ikut menyambut datangnya hari yang baru.

Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas mengajar dan menulis, Omjay membaca beberapa pesan inspirasi yang masuk ke telepon genggamnya. Salah satu pesan yang menarik perhatian adalah tentang pentingnya memilih teman yang baik agamanya dan mampu memberikan manfaat dalam kehidupan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Seseorang itu tergantung pada agama temannya. Oleh karena itu, salah satu di antara kalian hendaknya memperhatikan siapa yang dia jadikan teman."

Hadis tersebut membuat Omjay merenung cukup lama.

Benar sekali.

Dalam kehidupan ini, teman memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap cara berpikir, cara bersikap, bahkan arah perjalanan hidup seseorang.

Saat itulah Omjay teringat kepada dua sahabat baik yang sama-sama bernama Indro.

Meskipun memiliki profesi yang berbeda, keduanya telah memberikan banyak pelajaran berharga dalam kehidupan Omjay.

Indro Sang Pelawak yang Mengajarkan Kerendahan Hati

Indro pertama adalah sosok yang dikenal masyarakat Indonesia sebagai pelawak legendaris.

Namanya sangat populer.

Wajahnya sering muncul di televisi.

Jutaan orang mengenalnya.

Namun di balik ketenarannya, Omjay melihat sosok yang sangat sederhana dan rendah hati.

Omjay mengenalnya karena anak-anak beliau bersekolah di Labschool Jakarta.

Sebagai guru, Omjay berkesempatan berinteraksi dengan anak-anaknya dan sesekali bertemu langsung dengan beliau di lingkungan sekolah.

Yang membuat Omjay kagum adalah kesederhanaannya.

Tidak ada jarak.

Tidak ada kesan sebagai selebritas besar.

Beliau selalu menyapa dengan ramah.

Tersenyum kepada guru-guru.

Menghargai semua orang.

Dari beliau, Omjay belajar bahwa semakin tinggi seseorang terbang, semakin rendah pula seharusnya hatinya.

Suatu hari Omjay pernah berpikir.

Mengapa banyak orang mencintai beliau?

Ternyata bukan hanya karena lucunya.

Bukan semata karena kepintarannya menghibur.

Tetapi karena akhlaknya.

Karena kemanusiaannya.

Karena kemampuannya menghormati orang lain.

Omjay menyadari bahwa humor yang baik bukan sekadar membuat orang tertawa, tetapi juga membuat orang bahagia.

Dan itulah yang selalu beliau lakukan.

Beliau menyebarkan kebahagiaan kepada banyak orang.

Indro Sang Pendidik yang Mengajarkan Semangat Belajar

Indro kedua adalah seorang pendidik.

Beliau juga memiliki anak yang bersekolah di Labschool Jakarta.

Karena itulah hubungan kami semakin dekat.

Sering berdiskusi tentang pendidikan.

Berbagi pengalaman mengajar.

Bertukar pikiran mengenai masa depan anak-anak Indonesia.

Dari beliau, Omjay belajar tentang pentingnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Setiap kali bertemu, selalu ada ilmu baru yang bisa dipelajari.

Selalu ada wawasan baru yang membuka cakrawala berpikir.

Beliau tidak pernah merasa paling pintar.

Justru semakin banyak ilmunya, semakin haus untuk belajar.

Sikap itulah yang membuat Omjay terinspirasi.

Karena sesungguhnya guru yang hebat bukanlah guru yang merasa sudah tahu semuanya.

Guru yang hebat adalah guru yang terus belajar setiap hari.

Dalam banyak kesempatan, kami berdiskusi tentang dunia pendidikan, teknologi, kecerdasan buatan, literasi digital, dan masa depan generasi muda.

Dari diskusi-diskusi itu lahirlah banyak ide tulisan yang kemudian Omjay bagikan kepada pembaca blog dan Kompasiana.

Pertemanan yang Membawa Kebaikan

Ketika membaca nasihat para ulama tentang memilih teman yang baik, Omjay merasa sangat bersyukur dipertemukan dengan orang-orang hebat seperti kedua sahabat bernama Indro tersebut.

Mereka memiliki profesi yang berbeda.

Yang satu menghibur masyarakat.

Yang satu mendidik generasi bangsa.

Namun keduanya memiliki kesamaan.

Sama-sama membawa manfaat.

Sama-sama menebarkan kebaikan.

Sama-sama memberikan inspirasi.

Omjay teringat nasihat Syaikh Rabi bin Hadi Al Madkhali tentang ciri teman yang baik:

  • Menolong dalam ketaatan kepada Allah.
  • Memberikan semangat untuk berbuat baik.
  • Mengingatkan dari keburukan.
  • Tidak mendatangkan kecuali kebaikan.

Ketika direnungkan, kedua sahabat tersebut memenuhi kriteria itu.

Mereka tidak pernah mengajak kepada hal yang sia-sia.

Tidak pernah menjerumuskan kepada keburukan.

Sebaliknya, mereka selalu mengajak berpikir positif, berkarya, dan terus memberikan manfaat kepada sesama.

Lingkungan Menentukan Masa Depan

Omjay sering menyampaikan kepada para siswa di Labschool Jakarta bahwa masa depan seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

Jika bergaul dengan orang yang gemar membaca, maka kita akan ikut gemar membaca.

Jika berteman dengan orang yang rajin menulis, maka kita akan terdorong untuk menulis.

Jika berteman dengan orang yang suka belajar, maka kita akan ikut belajar.

Sebaliknya, jika lingkungan pergaulan dipenuhi kebiasaan buruk, maka sedikit demi sedikit kebiasaan itu akan memengaruhi diri kita.

Karena itulah memilih teman bukan perkara sepele.

Banyak orang sukses bukan hanya karena kecerdasannya, tetapi karena mereka berada dalam lingkungan yang baik.

Lingkungan yang mendukung pertumbuhan.

Lingkungan yang memberi semangat.

Lingkungan yang saling mengingatkan dalam kebaikan.

Pelajaran Berharga untuk Generasi Muda

Kisah persahabatan Omjay dengan dua sahabat bernama Indro memberikan pelajaran penting bagi generasi muda.

Jangan mencari teman hanya karena populer.

Jangan mencari teman hanya karena kaya.

Jangan mencari teman hanya karena terkenal.

Carilah teman yang membuat kita menjadi lebih baik.

Teman yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.

Teman yang membuat kita rajin belajar.

Teman yang membuat kita berani bermimpi.

Teman yang mengingatkan ketika kita salah.

Teman yang ikut bahagia ketika kita berhasil.

Dan teman yang tetap hadir ketika kita sedang mengalami kesulitan.

Karena pada akhirnya, teman yang baik adalah salah satu nikmat terbesar dalam kehidupan.

Menjadi Teman yang Menginspirasi

Perenungan pagi itu membuat Omjay menyadari satu hal penting.

Selain mencari teman yang baik, kita juga harus berusaha menjadi teman yang baik bagi orang lain.

Jangan hanya berharap mendapatkan sahabat yang menginspirasi.

Jadilah pribadi yang mampu menginspirasi.

Jangan hanya berharap mendapatkan manfaat.

Berusahalah menjadi manusia yang bermanfaat.

Bukankah Rasulullah mengajarkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya?

Pagi itu Omjay menutup telepon genggamnya dengan hati yang penuh syukur.

Syukur karena Allah mempertemukan dirinya dengan banyak orang baik dalam perjalanan hidup.

Termasuk dua sahabat bernama Indro yang telah memberikan banyak inspirasi.

Satu mengajarkan kerendahan hati di tengah ketenaran.

Satu mengajarkan semangat belajar sepanjang hayat.

Keduanya menunjukkan bahwa teman yang baik bukan hanya hadir untuk menemani perjalanan hidup, tetapi juga membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik setiap harinya.

Semoga kita semua dipertemukan dengan sahabat-sahabat yang membawa keberkahan, menguatkan langkah dalam kebaikan, dan menjadi jalan menuju ridha Allah SWT.

Aamiin ya Rabbal 'Alamin.

Mengapa Menulis Menambah Wawasan?

Menulis menambah wawasan karena saat menulis kita dipaksa untuk berpikir, membaca, mengingat, dan menghubungkan berbagai informasi yang kita miliki. Semakin sering seseorang menulis, semakin luas pula pengetahuan yang diperolehnya.

Ada beberapa alasan mengapa menulis dapat menambah wawasan:

1. Menulis Membuat Kita Banyak Membaca

Sebelum menulis, biasanya kita mencari referensi terlebih dahulu. Kita membaca buku, artikel, berita, jurnal, atau pengalaman orang lain. Dari proses membaca itulah wawasan bertambah.

Pepatah mengatakan:

> "Pembaca yang baik belum tentu penulis yang baik, tetapi penulis yang baik pasti pembaca yang baik."

2. Menulis Melatih Berpikir Kritis

Ketika menulis, kita tidak hanya menyalin informasi. Kita harus menganalisis, membandingkan, dan menyimpulkan berbagai informasi yang diperoleh. Proses berpikir kritis ini membuat pemahaman kita semakin mendalam.

3. Menulis Membantu Mengingat Lebih Lama

Informasi yang ditulis akan lebih mudah tersimpan dalam memori dibandingkan hanya dibaca atau didengar. Saat menulis, otak bekerja lebih aktif sehingga pengetahuan menjadi lebih melekat.

4. Menulis Mengajarkan Kita Belajar Sepanjang Hayat

Seorang penulis tidak pernah berhenti belajar. Setiap hari ada hal baru yang ingin ditulis. Karena itu, penulis selalu terdorong untuk mencari ilmu baru.

5. Menulis Membuka Jaringan dan Pengalaman Baru

Tulisan yang dipublikasikan dapat dibaca banyak orang. Dari sana muncul diskusi, komentar, dan pertukaran gagasan yang memperkaya wawasan penulis.

6. Menulis Membuat Kita Mengenal Diri Sendiri

Saat menulis pengalaman, pemikiran, dan perasaan, kita belajar memahami diri sendiri. Kita menjadi lebih reflektif dan bijaksana dalam memandang kehidupan.

Pelajaran dari Omjay

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Dr. Wijaya Kusumah (Omjay) merasakan langsung manfaat menulis. Awalnya Omjay menulis untuk berbagi pengalaman mengajar. Namun dari kebiasaan menulis setiap hari, wawasan Omjay semakin luas. Menulis membawanya bertemu banyak tokoh pendidikan, belajar di Jepang dan Tiongkok, menerbitkan buku, menjadi narasumber di berbagai daerah, hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Omjay sering mengatakan:

> "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat sederhana itu mengandung makna yang sangat dalam. Ketika kita menulis setiap hari, kita akan terdorong untuk membaca setiap hari. Ketika membaca setiap hari, wawasan bertambah. Ketika wawasan bertambah, kualitas tulisan meningkat. Begitulah lingkaran kebaikan yang terus berputar.

Kesimpulan

Menulis bukan sekadar merangkai kata-kata. Menulis adalah proses belajar. Setiap tulisan yang kita buat sebenarnya sedang membangun wawasan, memperkuat ingatan, melatih berpikir kritis, dan memperluas pengalaman hidup kita.

Karena itu, jika ingin menambah wawasan, jangan hanya membaca. Mulailah menulis. Tuliskan apa yang Anda baca, lihat, dengar, dan rasakan. Semakin banyak menulis, semakin banyak pula ilmu yang akan Anda miliki.

Menulislah setiap hari. Sebab setiap tulisan adalah jejak pengetahuan yang akan membuat kita terus tumbuh dan berkembang.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 01 Juni 2026

Sedekah yang Mengubah Hidup

Sedekah yang Mengubah Hidup

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Senin 1 Juni 2026, Omjay duduk di teras rumah sederhana di kampung halaman Wanaraja Garut. Udara pagi terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Dari kejauhan terdengar suara ayam berkokok dan kicauan burung yang seolah sedang menyanyikan lagu syukur kepada Sang Pencipta. 

Secangkir kopi hangat menemani renungan pagi sebelum memulai aktivitas. Di tangan Omjay tergenggam sebuah ponsel yang menampilkan pesan inspirasi tentang sedekah. 

Kalimat demi kalimat dibaca perlahan, lalu meresap ke dalam hati. Pikiran Omjay pun melayang pada perjalanan hidup yang telah dilalui selama puluhan tahun, perjalanan yang penuh pelajaran tentang makna memberi.

Dalam hidup ini, manusia sering kali sibuk menghitung apa yang dimilikinya. Berapa banyak uang yang tersimpan di rekening, berapa luas tanah yang dimiliki, berapa kendaraan yang terparkir di rumah, atau berapa banyak jabatan yang berhasil diraih. 

Namun, sangat sedikit yang mau menghitung berapa banyak kebaikan yang sudah diberikan kepada orang lain. Padahal ketika ajal datang menjemput, semua yang dimiliki akan ditinggalkan. Tidak ada satu pun yang ikut dibawa kecuali amal saleh yang pernah dilakukan selama hidup di dunia. 

Di situlah Omjay mulai memahami bahwa sedekah bukan hanya tentang memberikan sebagian harta, tetapi tentang menyiapkan bekal terbaik untuk perjalanan panjang menuju kehidupan yang abadi.

Omjay teringat masa-masa ketika hidup tidak selalu mudah. Sebagai seorang guru, penghasilan yang diterima pada awal karier tidaklah besar. Ada masa ketika kebutuhan keluarga harus diatur dengan sangat hati-hati. 

Namun di tengah keterbatasan itu, Omjay sering mendengar nasihat orang tua bahwa rezeki tidak akan berkurang karena sedekah. Nasihat itu terdengar sederhana, tetapi tidak mudah dipraktikkan. 

Ketika kebutuhan terasa banyak dan penghasilan terbatas, godaan untuk menahan pemberian selalu muncul. Namun setiap kali Omjay memberanikan diri berbagi, selalu ada kejutan yang datang dari arah yang tidak pernah disangka.

Suatu hari, ketika masih aktif mengajar dengan berbagai kesibukan sekolah, Omjay bertemu seorang siswa yang mengalami kesulitan membeli buku pelajaran. Wajah anak itu tampak murung karena tidak ingin membebani orang tuanya. 

Tanpa banyak berpikir, Omjay membantu membelikan buku yang dibutuhkan. Jumlah uang yang dikeluarkan memang tidak besar, tetapi kebahagiaan yang terpancar dari wajah siswa tersebut jauh lebih berharga daripada nominal yang diberikan. 

Bertahun-tahun kemudian, siswa itu tumbuh menjadi pribadi yang sukses. Ketika bertemu kembali, ia mengingat bantuan kecil yang pernah diterimanya dan mengaku bahwa perhatian gurunya saat itu telah memberikan semangat untuk terus belajar. 

Dari pengalaman itu Omjay belajar bahwa sedekah tidak pernah benar-benar hilang. Ia akan tumbuh seperti benih yang ditanam di tanah subur, lalu suatu hari menghasilkan buah yang bahkan tidak pernah kita bayangkan.

Perjalanan hidup Omjay juga memperlihatkan bahwa sedekah tidak selalu berbentuk uang. Menyisihkan waktu untuk membantu orang lain, berbagi ilmu kepada sesama guru, memberikan motivasi kepada murid, hingga menuliskan pengalaman hidup yang menginspirasi, semuanya adalah bentuk sedekah. 

Ketika Omjay membimbing ribuan guru melalui berbagai pelatihan menulis, sesungguhnya yang dibagikan bukan hanya pengetahuan tentang merangkai kata. Yang dibagikan adalah harapan, semangat, dan keyakinan bahwa setiap orang memiliki potensi untuk berkarya. 

Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri menulis akhirnya mampu menerbitkan buku. Banyak yang semula takut berbicara di depan umum akhirnya berani berbagi pengalaman. Semua itu berawal dari kesediaan untuk berbagi tanpa menghitung untung rugi.

Dalam berbagai kesempatan, Omjay juga menyaksikan keajaiban sedekah yang terjadi pada orang-orang di sekitarnya. Ada sahabat yang rutin membantu anak yatim meskipun penghasilannya biasa saja. Anehnya, usahanya terus berkembang dan keluarganya hidup penuh keberkahan. 

Ada pula seorang ibu yang setiap bulan menyisihkan sebagian kecil penghasilannya untuk membantu tetangga yang membutuhkan. Meskipun jumlahnya tidak besar, hidupnya terasa tenang dan selalu dipermudah dalam banyak urusan. Kisah-kisah seperti itu membuat Omjay semakin yakin bahwa janji Allah bukanlah sekadar kata-kata. Allah memiliki cara yang luar biasa untuk membalas setiap kebaikan yang dilakukan hamba-Nya.

Ketika Omjay mendapatkan kesempatan mengunjungi berbagai negara seperti Jepang dan Tiongkok dalam rangka belajar, hati kecilnya selalu teringat bahwa perjalanan itu bukan hanya hasil kerja keras semata. 

Ada doa-doa yang dipanjatkan, ada bantuan orang-orang baik yang pernah hadir dalam kehidupan, dan ada keberkahan dari kebiasaan berbagi yang terus dijaga. Setiap kali melihat tempat-tempat baru di negeri orang, Omjay semakin memahami bahwa rezeki tidak hanya berbentuk uang. 

Rezeki bisa berupa kesehatan, ilmu, kesempatan, pengalaman, keluarga yang harmonis, sahabat yang tulus, dan hati yang damai. Semua itu adalah karunia yang tidak ternilai harganya.

Sedekah juga mengajarkan manusia untuk tidak terlalu mencintai dunia. Ketika seseorang mampu melepaskan sebagian hartanya dengan ikhlas, ia sedang melatih dirinya agar tidak diperbudak oleh materi. Ia sedang belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada seberapa banyak yang dimiliki, melainkan seberapa banyak yang bisa diberikan. 

Orang yang gemar berbagi biasanya memiliki hati yang lapang. Ia tidak mudah iri terhadap keberhasilan orang lain. Ia tidak sibuk membandingkan dirinya dengan sesama. Sebaliknya, ia merasa cukup karena yakin bahwa Allah selalu mencukupkan kebutuhan hamba-Nya yang bersyukur.

Pagi itu, setelah membaca kembali pesan tentang pentingnya sedekah, Omjay menatap langit yang mulai cerah. Matahari perlahan naik menerangi bumi. Cahaya keemasannya seolah membawa pesan bahwa hidup akan selalu lebih indah ketika kita menjadi sumber manfaat bagi orang lain. 

Omjay lalu membuka laptop dan mulai menulis. Jari-jarinya bergerak merangkai kata demi kata, berharap tulisan ini menjadi pengingat bagi dirinya sendiri dan bagi siapa pun yang membacanya. Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang apa yang berhasil kita kumpulkan, melainkan tentang apa yang berhasil kita berikan.

Mari kita biasakan bersedekah mulai hari ini. Tidak perlu menunggu kaya. Tidak perlu menunggu memiliki segalanya. Mulailah dari yang kecil dan yang mampu kita lakukan. Senyum yang tulus, bantuan sederhana, ilmu yang bermanfaat, waktu yang diberikan untuk mendengarkan keluh kesah orang lain, hingga sebagian rezeki yang kita sisihkan dengan ikhlas. 

Karena bisa jadi, dari sedekah yang tampak kecil itulah Allah menguatkan iman kita, melapangkan hati kita, mengangkat derajat kita, dan membuka pintu-pintu keberkahan yang selama ini belum pernah kita bayangkan.

Sebagaimana yang selalu diyakini Omjay, menulis adalah sedekah ilmu yang tidak pernah habis manfaatnya. Tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca. 

Maka teruslah menebar kebaikan, teruslah berbagi, dan teruslah bersedekah. Sebab ketika kita memberi kepada sesama, sesungguhnya kita sedang menabung untuk kehidupan yang jauh lebih abadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kesaktian Pancasila itu Nyata

Kesaktian Pancasila Itu Nyata

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay duduk di teras rumahnya di Jatibening, Bekasi. Segelas teh hangat menemani renungan pagi sebelum memulai berbagai aktivitas. Matahari baru saja menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Burung-burung kecil beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya. Suasana pagi yang tenang membuat hati Omjay larut dalam rasa syukur.

Di atas meja kecil di sampingnya terletak sebuah buku sejarah bangsa Indonesia yang sudah beberapa kali dibaca. Halaman-halamannya mulai menguning, tetapi pesan yang tersimpan di dalamnya tetap terasa hidup dan relevan hingga hari ini. Sambil menikmati hangatnya teh, Omjay membuka lembar demi lembar buku tersebut. Pikirannya kemudian melayang jauh ke masa lalu, kepada perjalanan panjang bangsa Indonesia yang penuh perjuangan, pengorbanan, dan ujian berat.

Saat itulah Omjay kembali merenungkan sebuah pertanyaan sederhana.

Mengapa sampai hari ini Indonesia masih berdiri kokoh?

Padahal bangsa ini terdiri atas ribuan pulau yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Ratusan suku bangsa hidup berdampingan. Beragam bahasa daerah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Berbagai agama dan kepercayaan tumbuh dan berkembang di negeri ini. Budaya yang berbeda-beda mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

Namun hingga hari ini Indonesia tetap berdiri sebagai satu bangsa.

Jawaban yang muncul di hati Omjay hanya satu.

Karena Pancasila.

Ya, kesaktian Pancasila itu nyata.

Bukan sekadar slogan yang diucapkan saat upacara.

Bukan hanya tulisan yang terpajang di dinding sekolah.

Bukan pula sekadar hafalan lima sila yang diingat saat pelajaran Pendidikan Pancasila.

Kesaktian Pancasila nyata dalam kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia.

Ketika Bangsa Ini Hampir Terpecah

Omjay teringat kembali pelajaran sejarah yang dahulu diajarkan kepada murid-muridnya di kelas.

Indonesia pernah menghadapi berbagai ancaman yang dapat memecah belah bangsa.

Pemberontakan terjadi di berbagai daerah.

Konflik ideologi pernah menguji persatuan nasional.

Krisis ekonomi pernah mengguncang kehidupan masyarakat.

Bahkan pernah ada upaya untuk mengganti dasar negara yang telah disepakati para pendiri bangsa.

Namun semua itu berhasil dilalui.

Bangsa Indonesia tetap berdiri.

Merah Putih tetap berkibar.

Mengapa?

Karena bangsa ini memiliki fondasi yang kokoh.

Fondasi itu bernama Pancasila.

Pancasila bukan milik satu golongan.

Bukan milik satu agama.

Bukan milik satu suku.

Pancasila adalah rumah besar yang dibangun untuk seluruh rakyat Indonesia.

Di dalam rumah besar itu semua mendapat tempat yang sama.

Yang berbeda agama dapat hidup berdampingan.

Yang berbeda suku dapat saling menghormati.

Yang berbeda pandangan politik tetap bisa bekerja sama demi kepentingan bangsa.

Inilah kesaktian Pancasila yang sesungguhnya.

Kesaktian yang Tidak Terlihat

Ketika mendengar kata "sakti", sebagian orang membayangkan kekuatan luar biasa yang mampu mengalahkan musuh dengan mudah.

Namun kesaktian Pancasila bukan seperti itu.

Kesaktian Pancasila justru hadir dalam hal-hal sederhana yang sering tidak kita sadari.

Saat tetangga yang berbeda agama saling membantu ketika ada musibah.

Saat warga bergotong royong membersihkan lingkungan.

Saat masyarakat bersama-sama membangun fasilitas umum tanpa memandang latar belakang.

Saat guru mengajar semua murid dengan kasih sayang tanpa membeda-bedakan.

Saat itulah Pancasila sedang bekerja.

Diam-diam.

Tanpa suara.

Namun dampaknya nyata.

Omjay pernah menyaksikan sendiri bagaimana masyarakat Indonesia menjaga nilai-nilai tersebut.

Ketika ada tetangga yang sakit, warga berdatangan memberikan bantuan.

Ketika ada keluarga yang berduka, semua ikut membantu meskipun berbeda agama dan suku.

Ketika ada kegiatan lingkungan, semua warga hadir dengan semangat kebersamaan.

Tidak ada yang bertanya siapa agamanya.

Tidak ada yang mempersoalkan dari suku mana ia berasal.

Yang ada hanyalah rasa kemanusiaan.

Bukankah itulah makna sila kedua?

Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Pelajaran dari Dunia Pendidikan

Sebagai guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, Omjay melihat sendiri bagaimana Pancasila hidup di lingkungan sekolah.

Di SMP Labschool Jakarta, murid-murid datang dari berbagai latar belakang keluarga, budaya, dan daerah.

Ada yang berasal dari Jawa.

Sunda.

Betawi.

Batak.

Minang.

Bugis.

Dan banyak suku lainnya.

Namun ketika mereka belajar bersama, bermain bersama, dan mengerjakan tugas bersama, mereka tidak lagi melihat perbedaan itu sebagai penghalang.

Mereka belajar menghargai satu sama lain.

Mereka belajar bekerja sama.

Mereka belajar menjadi bagian dari Indonesia.

Melihat hal itu, Omjay semakin yakin bahwa kesaktian Pancasila bukan cerita masa lalu.

Kesaktian Pancasila masih hidup hingga hari ini.

Di ruang kelas.

Di lapangan sekolah.

Di lingkungan masyarakat.

Dan di mana pun nilai persatuan dijaga.

Tantangan Zaman Digital

Namun Omjay juga menyadari bahwa zaman terus berubah.

Kini masyarakat hidup di era digital.

Informasi bergerak sangat cepat.

Media sosial dapat menjadi sarana belajar yang luar biasa.

Tetapi media sosial juga dapat menjadi sumber perpecahan jika digunakan tanpa bijak.

Hoaks menyebar dengan mudah.

Fitnah beredar tanpa batas.

Kebencian sering kali lebih cepat viral dibandingkan kebaikan.

Banyak orang mudah terpancing emosi hanya karena membaca sebuah unggahan.

Padahal bangsa ini dibangun bukan oleh kebencian.

Bangsa ini dibangun oleh semangat persatuan.

Karena itu Omjay selalu mengingatkan murid-muridnya untuk menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.

Jangan mudah percaya informasi yang belum jelas kebenarannya.

Jangan mudah menyebarkan berita yang dapat memecah belah masyarakat.

Jangan menggunakan media sosial untuk menebar kebencian.

Gunakan teknologi untuk memperkuat persaudaraan dan memperluas manfaat.

Karena kesaktian Pancasila akan tetap hidup selama generasi mudanya menjaga nilai-nilai tersebut.

Kesaktian yang Harus Dirawat

Sambil menghabiskan teh hangat yang mulai mendingin, Omjay memandang langit pagi yang semakin terang.

Tiba-tiba sebuah pelajaran sederhana muncul dalam pikirannya.

Tanaman yang subur tidak akan menghasilkan buah jika tidak dirawat.

Begitu pula Pancasila.

Kesaktiannya tidak akan terasa jika hanya dihafalkan.

Kesaktiannya harus diwujudkan dalam tindakan nyata.

Menghormati orang lain.

Bersikap jujur.

Menolong sesama.

Bekerja keras.

Bergotong royong.

Menjaga persatuan.

Mencintai tanah air.

Semua itu adalah cara merawat kesaktian Pancasila.

Jika nilai-nilai tersebut terus hidup dalam hati rakyat Indonesia, maka Pancasila akan tetap menjadi benteng yang menjaga bangsa ini dari berbagai ancaman.

Pesan Omjay

Menjelang siang, segelas teh hangat di meja Omjay telah habis. Namun renungannya tentang Pancasila masih terus mengalir.

Omjay semakin yakin bahwa kesaktian Pancasila bukanlah mitos.

Kesaktian Pancasila adalah kemampuan luar biasa untuk menyatukan jutaan manusia yang berbeda dalam satu bangsa bernama Indonesia.

Kesaktian Pancasila adalah kekuatan yang membuat masyarakat tetap saling menghormati di tengah keberagaman.

Kesaktian Pancasila adalah semangat yang membuat Indonesia tetap tegak berdiri meskipun berkali-kali diterpa badai sejarah.

Karena itu, jangan hanya memperingati Hari Kesaktian Pancasila setiap tanggal 1 Oktober.

Hidupkanlah nilai-nilainya setiap hari.

Di rumah.

Di sekolah.

Di tempat kerja.

Di media sosial.

Dan di mana pun kita berada.

Sebab selama nilai-nilai Pancasila hidup di hati rakyat Indonesia, selama itu pula kesaktiannya akan tetap nyata.

Dan Omjay percaya, bangsa yang menjaga Pancasila dengan hati akan selalu menemukan jalan untuk bangkit, bersatu, dan maju menuju masa depan yang lebih baik.

Pancasila bukan sekadar dasar negara. Pancasila adalah jiwa bangsa Indonesia. Selama jiwa itu hidup dalam diri setiap warga negara, Indonesia akan tetap kokoh berdiri menghadapi zaman.

Salam Literasi. Salam Pancasila. Merdeka! 🇮🇩

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 31 Mei 2026

Pesan Jenderal Polisi Hoegeng

Memang Penting Jadi Orang Pintar, Tapi Lebih Penting Jadi Orang Baik

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara di kampung Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang menghijau. Burung-burung kecil beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya, seolah sedang mengajarkan sebuah pelajaran kehidupan yang sederhana namun bermakna.

Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat. Di tangannya tergenggam sebuah telepon pintar yang setiap hari menjadi jendela untuk melihat dunia.

Seperti biasa, Omjay membaca berbagai tulisan yang beredar di media sosial. Di antara sekian banyak tulisan, matanya berhenti pada sebuah kutipan yang sangat terkenal dari Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso.

"Memang penting jadi orang pintar, tapi lebih penting jadi orang baik."

Omjay membacanya sekali. Lalu membacanya lagi. Dan kembali membacanya untuk ketiga kali. Semakin dibaca, semakin terasa dalam maknanya.

Kalimat itu sederhana. Tidak panjang. Tidak rumit. Namun mengandung pelajaran hidup yang luar biasa.

Omjay lalu teringat perjalanan panjangnya sebagai guru selama lebih dari tiga dekade. Dalam dunia pendidikan, Omjay bertemu ribuan siswa dengan berbagai karakter.

Ada siswa yang sangat pintar. Nilai matematikanya selalu sempurna. Cepat memahami pelajaran. Cepat menjawab soal. Cepat menguasai teknologi. Namun tidak semuanya memiliki sikap yang baik.

Sebaliknya, ada juga siswa yang nilainya biasa saja. Tidak selalu menjadi juara kelas. Tidak selalu tampil menonjol.

Tetapi mereka sopan. Mereka jujur. Mereka menghormati guru. Mereka senang membantu teman yang kesulitan. Dan anehnya, dalam kehidupan nyata setelah dewasa, justru banyak di antara mereka yang berhasil membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Saat itulah Omjay memahami bahwa kepintaran memang penting, tetapi kebaikan jauh lebih penting.

Belajar dari Keteladanan Hoegeng

Nama Hoegeng bukan sekadar nama dalam buku sejarah.

Beliau adalah simbol integritas.

Ketika banyak orang menggunakan jabatan untuk memperkaya diri, Hoegeng memilih hidup sederhana.

Ketika banyak orang tergoda oleh kekuasaan, Hoegeng memilih mempertahankan kejujuran.

Beliau membuktikan bahwa menjadi baik bukanlah kelemahan.

Justru menjadi baik membutuhkan keberanian yang luar biasa.

Orang pintar banyak.

Orang kaya banyak.

Orang berjabatan tinggi juga banyak.

Tetapi orang yang tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang, itulah yang langka.

Omjay membayangkan jika seluruh pejabat Indonesia meneladani Hoegeng.

Mungkin korupsi akan berkurang.

Mungkin rakyat akan lebih sejahtera.

Mungkin pendidikan akan semakin maju.

Sebab akar dari banyak masalah bangsa sesungguhnya bukan kurangnya orang pintar.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar.

Yang sering kurang adalah orang baik yang memegang amanah dengan jujur.

Sekolah Bisa Mengajarkan Ilmu, Tetapi Karakter Dibentuk Setiap Hari

Sebagai guru, Omjay sering merenungkan satu pertanyaan penting.

Apa tujuan pendidikan?

Apakah sekadar menghasilkan siswa dengan nilai tinggi?

Apakah sekadar membuat mereka lulus ujian?

Apakah sekadar membuat mereka diterima di perguruan tinggi favorit?

Jawabannya tentu tidak.

Pendidikan sejati adalah membentuk manusia yang utuh.

Manusia yang cerdas sekaligus berakhlak.

Manusia yang pintar sekaligus peduli.

Manusia yang sukses tanpa kehilangan hati nurani.

Omjay teringat banyak murid yang sudah menjadi dokter, insinyur, pengusaha, dosen, programmer, dan berbagai profesi lainnya.

Namun yang paling membanggakan bukanlah jabatan mereka.

Yang paling membanggakan adalah ketika mereka tetap rendah hati.

Tetap menghormati gurunya.

Tetap peduli kepada sesama.

Tetap membantu orang lain.

Karena itulah tanda bahwa pendidikan berhasil.

Guru sejati bukan hanya mengajar pelajaran.

Guru sejati juga mengajarkan kehidupan.

Murid Akan Lupa Rumus, Tetapi Tidak Akan Lupa Kebaikan

Ada satu pelajaran yang selalu Omjay pegang selama menjadi guru.

Murid mungkin akan lupa rumus matematika.

Murid mungkin akan lupa teori yang diajarkan.

Murid mungkin akan lupa isi presentasi guru.

Tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana guru memperlakukan mereka.

Mereka akan ingat guru yang sabar mendengarkan.

Mereka akan ingat guru yang memberi semangat ketika mereka gagal.

Mereka akan ingat guru yang percaya kepada mereka ketika orang lain meragukan mereka.

Kebaikan meninggalkan jejak yang jauh lebih lama dibandingkan pengetahuan.

Karena itu, Omjay selalu berusaha menjadi guru yang bukan hanya pintar mengajar, tetapi juga baik kepada murid.

Sebab ilmu bisa dicari di internet.

Ilmu bisa diperoleh dari buku.

Ilmu bisa dipelajari dari video.

Tetapi keteladanan harus dilihat langsung.

Menjadi Baik di Era Digital

Hari ini kita hidup di era kecerdasan buatan.

Teknologi berkembang sangat cepat.

Informasi tersedia dalam hitungan detik.

Anak-anak semakin mudah menjadi pintar.

Namun ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi.

Yaitu hati yang baik.

Artificial Intelligence bisa menjawab pertanyaan.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan kasih sayang.

AI bisa menulis artikel.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan ketulusan.

AI bisa membantu pekerjaan manusia.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan karakter baik yang dibangun melalui keteladanan.

Karena itu Omjay selalu mengingatkan para guru dan siswa.

Belajarlah setinggi mungkin.

Kuasailah teknologi.

Kuasailah AI.

Kuasailah ilmu pengetahuan.

Tetapi jangan pernah kehilangan akhlak.

Karena ketika kepintaran tidak dibimbing oleh kebaikan, maka kepintaran itu bisa menjadi bencana.

Tulisan yang Akan Dikenang

Saat matahari mulai meninggi di atas langit Garut, Omjay menutup telepon pintarnya.

Kutipan Hoegeng masih terngiang di telinga.

"Memang penting jadi orang pintar, tapi lebih penting jadi orang baik."

Kalimat itu terasa seperti nasihat yang tidak akan pernah usang dimakan zaman.

Omjay lalu membuka blog pribadinya di .

Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard.

Ia menuliskan refleksi pagi itu agar bisa dibaca banyak orang.

Karena Omjay percaya, tulisan bukan sekadar rangkaian kata.

Tulisan adalah warisan pemikiran.

Tulisan adalah jejak kebaikan.

Tulisan adalah cara menyebarkan nilai-nilai yang akan hidup lebih lama daripada usia penulisnya.

Dan pada akhirnya, Omjay semakin yakin bahwa dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak orang pintar yang saling mengalahkan.

Dunia membutuhkan lebih banyak orang baik yang saling menguatkan.

Sebab kepintaran membuat kita dikagumi.

Namun kebaikan membuat kita dicintai.

Kepintaran membuat kita berhasil.

Namun kebaikan membuat hidup kita berarti.

Maka jika hari ini kita harus memilih, jadilah orang yang terus belajar agar pintar. Tetapi jangan pernah berhenti menjadi orang baik.

Karena sejarah membuktikan, orang pintar mungkin dikenang karena prestasinya.

Tetapi orang baik akan dikenang karena keteladanannya.Semoga artikel ini cocok untuk dipublikasikan di blog Omjay atau Kompasiana dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter, keteladanan Hoegeng, dan peran guru dalam membentuk generasi yang pintar sekaligus baik.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jadikan Menulis Sebagai Proses Pencerahan Diri

Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay duduk sendirian di teras rumah kampung di Wanaraja, Garut. Udara terasa sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Burung-burung kecil berkicau riang seolah sedang menyampaikan pesan kehidupan kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

Di tangan Omjay ada secangkir kopi hangat.

Di hadapannya terbentang hamparan sawah hijau yang memanjakan mata.

Namun pikiran Omjay justru sedang berjalan jauh menembus ruang digital yang kini dipenuhi jutaan tulisan setiap hari.

Saat membuka ponsel, Omjay membaca sebuah tulisan yang membuat hatinya bergetar.

Judulnya sederhana.

"Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi."

Omjay terdiam cukup lama.

Ada sesuatu yang terasa menancap dalam hati.

Sebab di tengah dunia yang semakin gaduh, pertanyaan itu terasa sangat penting.

Mengapa kita menulis?

Apakah untuk mencari perhatian?

Apakah untuk mengejar popularitas?

Apakah untuk menjadi viral?

Ataukah untuk menghadirkan cahaya bagi kehidupan orang lain?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.

Sebagai seorang guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade dan menulis selama bertahun-tahun, Omjay melihat perubahan besar dalam dunia literasi.

Dahulu orang menulis dengan kesabaran.

Mereka membaca banyak buku.

Mencatat gagasan.

Berdiskusi.

Merenung.

Lalu menuliskan pemikirannya dengan hati-hati.

Hari ini semuanya terasa berbeda.

Segalanya bergerak sangat cepat.

Orang ingin cepat terkenal.

Cepat viral.

Cepat mendapatkan perhatian.

Bahkan terkadang lebih sibuk menghitung jumlah like daripada menghitung manfaat dari tulisannya sendiri.

Padahal tulisan yang viral belum tentu bernilai.

Tulisan yang ramai diperbincangkan belum tentu membawa pencerahan.

Sebaliknya, tulisan yang sederhana dan nyaris tak terdengar justru sering kali mampu mengubah kehidupan seseorang.

Omjay teringat masa-masa awal ketika membuat blog.

Saat itu belum banyak orang mengenal dirinya.

Tulisan yang dipublikasikan sering kali hanya dibaca satu atau dua orang.

Kadang tidak ada komentar sama sekali.

Sepi.

Sunyi.

Namun Omjay tetap menulis.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Tahun demi tahun.

Apa yang dilihat ditulis.

Apa yang didengar ditulis.

Apa yang dirasakan ditulis.

Apa yang dipelajari ditulis.

Bukan karena ingin terkenal.

Tetapi karena Omjay percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan.

Tulisan adalah rekaman perjalanan manusia.

Tulisan adalah saksi zaman.

Tulisan adalah warisan pemikiran yang akan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.

Banyak orang mengira menulis itu pekerjaan yang sia-sia.

Padahal sesungguhnya menulis adalah cara manusia mengabadikan makna hidupnya.

Bertahun-tahun kemudian Omjay mulai merasakan keajaiban dari kebiasaan sederhana itu.

Tulisan-tulisan yang dahulu sepi pembaca perlahan menemukan jalannya sendiri.

Ada guru dari pelosok negeri yang menghubungi Omjay dan berkata bahwa tulisannya membuat mereka kembali bersemangat mengajar.

Ada mahasiswa yang menjadikan tulisan Omjay sebagai referensi penelitian.

Ada orang tua yang mengaku kembali bangkit dari keterpurukan setelah membaca kisah-kisah sederhana yang Omjay bagikan.

Saat itulah Omjay memahami satu hal.

Tulisan tidak bekerja seperti petir yang langsung menyambar langit.

Tulisan bekerja seperti air.

Pelan.

Tenang.

Diam-diam mengalir.

Namun mampu menghidupkan banyak kehidupan.

Di era media sosial saat ini, sensasi sering kali lebih menarik daripada substansi.

Judul dibuat bombastis.

Isi dibuat provokatif.

Emosi pembaca sengaja dipancing agar tulisan cepat menyebar.

Akibatnya, banyak tulisan hanya hidup beberapa jam lalu hilang tanpa meninggalkan makna.

Hari ini viral.

Besok dilupakan.

Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban besar dibangun oleh tulisan-tulisan yang mencerahkan.

Buku-buku yang mengubah dunia tidak lahir dari sensasi.

Mereka lahir dari kejujuran berpikir.

Dari ketekunan belajar.

Dari keberanian menyampaikan kebenaran.

Dan dari ketulusan berbagi ilmu kepada sesama.

Tulisan yang baik bukan sekadar membuat pembaca berkata,

"Wah, keren sekali!"

Tetapi membuat pembaca berkata,

"Hari ini saya mendapatkan pelajaran berharga."

Itulah pencerahan.

Itulah tujuan sejati dari sebuah tulisan.

Omjay masih ingat ketika pertama kali mendapat kesempatan belajar ke Jepang pada tahun 2016.

Kemudian pada tahun 2019 Omjay berkesempatan belajar ke China.

Saat berdiri di negeri yang maju itu, Omjay memandangi gedung-gedung tinggi dan perkembangan teknologi yang begitu luar biasa.

Tiba-tiba air mata menetes tanpa disadari.

Omjay membatin dalam hati.

"Ya Allah, kalau dulu saya menyerah menulis, mungkin saya tidak akan pernah sampai di sini."

Air mata itu bukan karena kesedihan.

Air mata itu lahir dari rasa syukur.

Siapa sangka kebiasaan sederhana menulis setiap hari mampu membuka begitu banyak pintu kehidupan?

Menulis mempertemukan Omjay dengan ribuan sahabat.

Menulis membawa Omjay berkeliling Indonesia.

Menulis mengantarkan Omjay belajar ke berbagai negara.

Menulis membuka kesempatan yang dahulu hanya menjadi mimpi.

Karena itu Omjay selalu berpesan kepada para guru, mahasiswa, siswa, dan siapa saja yang ingin mulai menulis:

Menulislah setiap hari.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu terkenal.

Jangan menunggu viral.

Tulislah sekarang juga.

Tulislah apa yang ada di hati.

Tulislah pengalamanmu.

Tulislah perjuanganmu.

Tulislah kegagalanmu.

Tulislah harapanmu.

Sebab tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati yang lain.

Hari ini mungkin tulisanmu hanya dibaca sepuluh orang.

Besok mungkin seratus orang.

Lima tahun lagi mungkin ribuan orang.

Tetapi sesungguhnya yang paling penting bukan jumlah pembacanya.

Yang paling penting adalah manfaatnya.

Sebab tulisan yang bermanfaat akan hidup jauh lebih lama dibanding sensasi sesaat.

Tulisan yang mencerahkan akan terus menyala seperti lilin di tengah kegelapan.

Tulisan yang menginspirasi akan menjadi sedekah ilmu yang pahalanya terus mengalir.

Matahari pagi mulai meninggi.

Kabut perlahan menghilang.

Suara ayam jantan masih terdengar bersahutan dari kejauhan.

Omjay menatap layar ponselnya sekali lagi.

Lalu tersenyum.

Di zaman yang penuh kegaduhan ini, dunia tidak kekurangan orang yang bisa berbicara.

Dunia juga tidak kekurangan orang yang bisa membuat sensasi.

Tetapi dunia masih membutuhkan lebih banyak orang yang mau menghadirkan pencerahan.

Orang-orang yang menulis dengan hati.

Orang-orang yang menjadikan pena sebagai jalan pengabdian.

Orang-orang yang percaya bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cahaya yang mampu menerangi kehidupan manusia.

Karena pada akhirnya, tulisan yang paling berharga bukanlah tulisan yang paling viral.

Melainkan tulisan yang mampu membuat seseorang menjadi lebih baik setelah membacanya.

Maka jika hari ini engkau mulai menulis, jangan tanyakan berapa banyak orang yang membaca tulisanmu.

Jangan tanyakan berapa banyak yang memberi tanda suka.

Jangan tanyakan apakah tulisanmu viral atau tidak.

Tanyakanlah satu hal yang lebih penting:

"Apakah tulisan ini mampu memberi cahaya bagi kehidupan orang lain?"

Jika jawabannya "iya", teruslah menulis.

Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika dirimu sudah tiada, tulisan itulah yang masih berbicara.

Menyapa para pembacanya.

Menguatkan hati mereka.

Menginspirasi langkah mereka.

Dan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang penulis yang memilih menghadirkan pencerahan, bukan sekadar sensasi.

Karena sesungguhnya umur manusia terbatas.

Tetapi tulisan yang lahir dari hati bisa hidup melintasi zaman.

---

Salam Blogger Persahabatan

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

🌐 Blog: https://wijayalabs.com

"Tulisan adalah jejak kehidupan. Menulislah setiap hari dan lihatlah keajaiban yang Allah hadirkan dalam hidupmu."