Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 15 Mei 2026

Proofreeding Sebelum Menerbitkan Tulisan

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Menulis itu mudah. Yang sulit adalah memastikan tulisan kita nyaman dibaca orang lain. Banyak penulis semangat menuangkan ide, tetapi lupa merapikan hasil tulisannya sebelum dipublikasikan. Akibatnya, tulisan yang sebenarnya bagus menjadi kurang enak dinikmati karena typo, kalimat berulang, penggunaan tanda baca yang salah, atau susunan paragraf yang membingungkan pembaca.

Padahal, pembaca ingin menikmati tulisan yang mengalir, jelas, dan nyaman dibaca sampai akhir. Mereka ingin mendapatkan manfaat, inspirasi, atau hiburan tanpa terganggu oleh kesalahan kecil yang sebenarnya bisa diperbaiki sebelumnya.

Inilah pentingnya proofreading.

Dalam Pertemuan ke-12 Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang ke-34, peserta diajak memahami pentingnya proofreading sebelum menerbitkan tulisan. Kegiatan ini menghadirkan Susanto, S.Pd., yang dikenal sebagai “polisi bahasa” di KBMN, dengan moderator Lely Suryani, S.Pd., SD.

Materi ini sangat penting bagi siapa saja yang ingin tulisannya berkualitas, baik guru, mahasiswa, blogger, penulis pemula, maupun penulis buku.

Apa Itu Proofreading?

Proofreading adalah proses membaca ulang dan memeriksa tulisan sebelum dipublikasikan atau dicetak. Tujuannya untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan penulisan.

Kesalahan itu bisa berupa:

  • Typo atau salah ketik
  • Penggunaan huruf kapital yang tidak tepat
  • Kesalahan tanda baca
  • Kalimat tidak efektif
  • Pengulangan kata
  • Susunan paragraf yang kacau
  • Pemilihan diksi yang kurang tepat
  • Kesalahan ejaan
  • Inkonsistensi istilah

Proofreading adalah tahap terakhir sebelum tulisan dipublikasikan. Ibarat memasak, proofreading adalah proses mencicipi makanan sebelum disajikan kepada tamu.

Tulisan tanpa proofreading sering kali membuat pembaca lelah. Ide bagus pun bisa kehilangan daya tarik karena pembaca terganggu dengan kesalahan kecil yang berulang.

Mengapa Proofreading Sangat Penting?

Banyak penulis merasa setelah selesai mengetik maka tulisannya sudah selesai. Padahal belum tentu.

Sering kali otak penulis terlalu fokus pada isi sehingga tidak menyadari ada banyak kesalahan dalam tulisannya sendiri. Karena itulah proofreading menjadi sangat penting.

Berikut manfaat proofreading:

1. Membuat Tulisan Lebih Profesional

Tulisan yang rapi menunjukkan bahwa penulis menghargai pembacanya. Kesalahan kecil memang manusiawi, tetapi terlalu banyak typo membuat tulisan terlihat asal-asalan.

2. Memudahkan Pembaca Memahami Isi

Kalimat yang efektif dan jelas membantu pembaca menangkap pesan lebih cepat. Tulisan menjadi nyaman dinikmati.

3. Mengurangi Kesalahpahaman

Salah tanda baca bisa mengubah makna kalimat. Proofreading membantu memastikan maksud penulis tersampaikan dengan benar.

4. Meningkatkan Kredibilitas Penulis

Penulis yang teliti akan lebih dipercaya pembacanya. Terutama bagi guru, dosen, jurnalis, atau blogger pendidikan.

5. Membantu Tulisan Lebih Enak Dibaca

Tulisan yang mengalir membuat pembaca betah sampai akhir. Bahkan bisa membuat mereka ingin membaca karya lainnya.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Tulisan

Dalam dunia menulis, ada beberapa kesalahan yang sering ditemukan, di antaranya:

Typo atau Salah Ketik

Contohnya:

  • “sya” seharusnya “saya”
  • “karna” seharusnya “karena”

Kesalahan seperti ini terlihat kecil, tetapi jika terlalu banyak akan mengganggu pembaca.

Pengulangan Kata

Misalnya:

“Saya sangat benar-benar senang sekali.”

Kalimat itu terlalu berlebihan. Cukup ditulis:

“Saya sangat senang.”

Kalimat Terlalu Panjang

Kalimat yang terlalu panjang membuat pembaca kehabisan napas saat membaca. Sebaiknya gunakan kalimat yang singkat tetapi jelas.

Penggunaan Tanda Baca yang Salah

Contohnya:

“Mari makan guru.”

Kalimat itu berbeda makna dengan:

“Mari makan, Guru.”

Satu koma bisa menyelamatkan makna.

Paragraf Terlalu Padat

Paragraf panjang tanpa jeda membuat mata cepat lelah. Pisahkan ide utama ke dalam beberapa paragraf agar lebih nyaman dibaca.

Cara Melakukan Proofreading yang Efektif

Proofreading tidak cukup hanya membaca sekilas. Ada teknik tertentu agar hasilnya lebih maksimal.

1. Jangan Langsung Dipublikasikan

Setelah selesai menulis, istirahatkan tulisan beberapa saat. Bisa 30 menit, beberapa jam, atau bahkan sehari.

Saat membaca kembali dengan pikiran segar, kita lebih mudah menemukan kesalahan.

2. Baca Perlahan

Jangan terburu-buru. Bacalah kata demi kata dengan teliti.

Fokus pada:

  • Ejaan
  • Tanda baca
  • Susunan kalimat
  • Alur paragraf

3. Baca dengan Suara Keras

Teknik ini sangat efektif. Saat membaca keras, kita akan lebih mudah menemukan kalimat yang janggal atau terlalu panjang.

4. Gunakan Kamus dan PUEBI

Jika ragu pada ejaan atau tanda baca, jangan malu membuka pedoman bahasa Indonesia.

Penulis hebat bukan yang tidak pernah salah, tetapi yang mau memperbaiki kesalahan.

5. Gunakan Bantuan Teknologi

Saat ini banyak aplikasi pemeriksa ejaan dan tata bahasa. Namun jangan sepenuhnya bergantung pada aplikasi. Sentuhan manusia tetap penting.

6. Minta Orang Lain Membaca

Kadang kita terlalu akrab dengan tulisan sendiri sehingga sulit menemukan kesalahan.

Mintalah teman atau rekan membaca tulisan kita. Mereka sering menemukan hal yang luput dari perhatian kita.

Proofreading Bukan Sekadar Mencari Salah

Banyak orang mengira proofreading hanya mencari typo. Padahal lebih dari itu.

Proofreading juga membantu memperindah tulisan agar:

  • Lebih nyaman dibaca
  • Lebih komunikatif
  • Lebih menarik
  • Lebih hidup

Tulisan yang baik bukan hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga mampu menyentuh hati pembaca.

Guru dan Kemampuan Proofreading

Bagi guru, kemampuan proofreading sangat penting. Guru sering membuat:

  • Modul ajar
  • Artikel pendidikan
  • Soal ujian
  • Buku ajar
  • Konten media sosial edukatif

Kesalahan kecil dalam tulisan guru bisa memengaruhi pemahaman siswa.

Karena itu, guru perlu membiasakan diri membaca ulang tulisannya sebelum dibagikan kepada peserta didik.

Menulis Hebat Dimulai dari Ketelitian

Menjadi penulis hebat bukan berarti harus langsung sempurna. Semua penulis pasti pernah melakukan kesalahan.

Namun penulis yang baik selalu mau memperbaiki tulisannya sebelum diterbitkan.

Proofreading mengajarkan kita untuk lebih teliti, sabar, dan menghargai pembaca.

Jangan sampai ide besar yang kita miliki tenggelam hanya karena malas membaca ulang tulisan sendiri.

Mari biasakan:

  • Menulis dengan hati
  • Mengedit dengan teliti
  • Menerbitkan dengan percaya diri

Sebab tulisan yang baik bukan hanya selesai ditulis, tetapi juga selesai diperiksa.

Selamat belajar proofreading bersama KBMN. Semoga semakin banyak lahir penulis hebat dari kalangan guru Indonesia.

Membangun Bisnis Menulis Dari Nol Hingga Ratusan Juta Rupiah Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Membangun Penghasilan Menulis dari Nol hingga Ratusan Juta Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Di era digital seperti sekarang, menulis bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang. Menulis telah berubah menjadi jalan rezeki yang mampu menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta rupiah. Banyak orang bermimpi menjadi penulis sukses, tetapi tidak sedikit yang menyerah sebelum memulai. Mereka merasa tidak berbakat, tidak punya koneksi, atau takut tulisannya tidak dibaca orang.

Namun kisah Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay membuktikan bahwa semua orang bisa membangun penghasilan dari menulis, asalkan mau belajar, konsisten, dan tidak mudah menyerah.

Omjay bukan lahir sebagai penulis terkenal. Beliau memulai semuanya dari nol. Seorang guru biasa yang memiliki semangat luar biasa dalam berbagi ilmu melalui tulisan. Dari blog sederhana, media sosial, hingga buku, Omjay terus menulis tanpa lelah. Perlahan tetapi pasti, tulisan-tulisannya dikenal banyak orang. Dari situlah pintu rezeki mulai terbuka.

Menulis Dimulai dari Keberanian

Banyak orang gagal menjadi penulis bukan karena tidak mampu menulis, tetapi karena takut memulai. Takut salah. Takut dikritik. Takut dianggap tidak pintar.

Omjay pernah mengatakan bahwa penulis hebat bukanlah orang yang langsung pandai menulis, melainkan orang yang terus menulis meski tulisannya belum sempurna.

Awalnya, tulisan Omjay mungkin dibaca hanya oleh beberapa orang. Namun beliau tidak berhenti. Setiap hari beliau belajar memperbaiki gaya bahasa, memperkaya wawasan, dan memahami kebutuhan pembaca. Dari sinilah terbentuk jam terbang menulis yang luar biasa.

Menulis itu seperti menanam pohon. Hari pertama belum terlihat hasilnya. Minggu pertama belum menghasilkan apa-apa. Tetapi jika dirawat dengan konsisten, suatu hari akan tumbuh besar dan berbuah lebat.

Blog Menjadi Ladang Rezeki

Saat banyak orang hanya menggunakan internet untuk hiburan, Omjay justru memanfaatkannya untuk berkarya. Blog menjadi rumah bagi ide-idenya. Dari pengalaman mengajar, motivasi pendidikan, teknologi, hingga kisah inspiratif, semua ditulis dengan hati.

Lama-kelamaan blog tersebut memiliki banyak pembaca. Ketika pembaca bertambah, peluang penghasilan pun mulai datang. Ada tawaran menjadi narasumber, pelatihan menulis, kerja sama media, hingga penerbitan buku.

Inilah yang sering tidak dipahami banyak orang. Penghasilan besar dari menulis tidak datang secara instan. Penghasilan itu lahir dari kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun melalui konsistensi karya.

Seseorang yang terus menulis akan dikenal sebagai ahli di bidangnya. Ketika sudah dipercaya, maka peluang ekonomi akan mengikuti.

Menulis Buku Membuka Banyak Jalan

Salah satu sumber penghasilan terbesar seorang penulis adalah buku. Omjay membuktikan bahwa guru pun bisa menghasilkan banyak karya buku.

Buku bukan hanya menghasilkan royalti. Buku juga meningkatkan reputasi. Ketika seseorang memiliki buku, ia lebih mudah dipercaya sebagai pembicara, trainer, atau mentor.

Banyak guru akhirnya mengundang Omjay untuk berbagi ilmu menulis. Dari seminar, workshop, kelas online, hingga pelatihan nasional, semuanya menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat besar.

Menariknya, Omjay tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Beliau membantu banyak guru Indonesia agar berani menulis dan menerbitkan buku. Ribuan guru akhirnya memiliki karya karena terinspirasi oleh perjuangan beliau.

Media Sosial sebagai Mesin Personal Branding

Di zaman sekarang, penulis tidak cukup hanya pandai menulis. Penulis juga harus mampu membangun personal branding.

Omjay aktif membagikan tulisan motivasi, pengalaman hidup, kegiatan pendidikan, dan semangat literasi melalui berbagai media sosial. Dari sinilah banyak orang mengenal beliau sebagai “Guru Blogger Indonesia”.

Personal branding yang kuat membuat peluang datang tanpa dicari. Banyak lembaga pendidikan, komunitas, dan instansi akhirnya mengundang Omjay sebagai pembicara.

Penghasilan besar sering kali lahir bukan hanya dari tulisan itu sendiri, tetapi dari dampak tulisan tersebut terhadap orang lain.

Konsistensi adalah Rahasia Utama

Banyak orang ingin cepat terkenal. Baru menulis dua atau tiga artikel sudah berharap viral. Ketika tidak ada hasil, mereka berhenti.

Omjay mengajarkan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada bakat.

Menulis satu halaman setiap hari selama setahun akan menghasilkan ratusan halaman tulisan. Menulis satu artikel setiap hari akan membangun ribuan pembaca. Sedikit demi sedikit, tulisan itu akan menjadi aset digital yang terus menghasilkan.

Hari ini mungkin tulisan kita dibaca sepuluh orang. Besok bisa seratus orang. Tahun depan mungkin puluhan ribu orang.

Tidak ada kesuksesan besar tanpa proses panjang.

Penghasilan Menulis Bisa Sangat Besar

Banyak orang meremehkan profesi penulis. Padahal dunia literasi memiliki potensi ekonomi luar biasa.

Penghasilan penulis bisa berasal dari:

  • Royalti buku
  • Honor artikel
  • Blog monetisasi
  • Seminar dan pelatihan
  • Kelas online
  • Menjadi pembicara
  • Endorsement pendidikan
  • Konsultasi
  • Affiliate digital
  • Penjualan ebook

Ketika semua sumber ini digabungkan, bukan tidak mungkin penghasilan mencapai ratusan juta rupiah.

Namun semua itu tidak datang dalam semalam. Dibutuhkan ketekunan bertahun-tahun seperti yang dilakukan Omjay.

Menulis dengan Hati

Salah satu kekuatan tulisan Omjay adalah ketulusan. Beliau menulis bukan sekadar mencari uang, tetapi ingin berbagi manfaat.

Tulisan yang lahir dari hati akan lebih mudah menyentuh pembaca. Orang bisa merasakan kejujuran dalam setiap kalimat.

Karena itu, jangan hanya mengejar viral atau uang. Fokuslah memberi manfaat. Ketika tulisan kita membantu banyak orang, rezeki biasanya datang mengikuti.

Guru Harus Berani Menulis

Omjay sering mengingatkan bahwa guru adalah gudang pengalaman. Setiap hari guru memiliki cerita inspiratif di kelas. Sayangnya, banyak pengalaman berharga hilang karena tidak ditulis.

Padahal pengalaman seorang guru bisa menjadi artikel, buku, modul, atau materi pelatihan yang bernilai ekonomi tinggi.

Jika setiap guru mau menulis satu halaman setiap hari, maka Indonesia akan dipenuhi karya luar biasa.

Penutup

Perjalanan Dr. Wijaya Kusumah membangun penghasilan dari menulis membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari modal besar. Kadang cukup dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari.

Menulis bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan. Tulisan mampu menginspirasi, mengubah hidup orang lain, dan membuka pintu rezeki yang tidak pernah disangka.

Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Mulailah sekarang. Karena siapa tahu, tulisan sederhana hari ini akan menjadi jalan menuju kesuksesan besar di masa depan.

Kisah Aki3 yang Menginspirasi

Dari Selembar Tikar Menuju Kemandirian

Kisah Aki 3 atau Tri Budihardjo yang Menginspirasi Anak Muda

Tahun 1986 menjadi tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh Tri Budihardjo, yang akrab dipanggil Aki 3. Di tahun itulah beliau mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang mungkin dianggap nekat oleh sebagian orang, tetapi justru menjadi titik awal lahirnya kemandirian dan keteguhan hidup.

Saat itu, kehidupan belum semudah sekarang. Tidak ada media sosial untuk pamer pencapaian. Tidak ada marketplace yang memudahkan membeli apa saja dengan sekali klik. Semua harus diperjuangkan dengan peluh, kesabaran, dan keyakinan.

Aki 3 adalah seorang guru muda dengan penghasilan sederhana. Setelah menikah, beliau tinggal di rumah mertuanya. Namun jauh di dalam hati, beliau ingin hidup mandiri bersama istrinya. Bukan karena tidak menghormati mertua, melainkan karena beliau ingin belajar bertanggung jawab terhadap keluarganya sendiri.

Dengan keberanian besar, beliau berkata kepada istrinya bahwa mereka harus mulai hidup mandiri.

“Apakah kamu mau ikut bersamaku?” tanya beliau kepada sang istri.

Istrinya mengangguk pelan.

“Mau.”

Jawaban sederhana itu menjadi kekuatan luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga, dukungan pasangan adalah modal utama menghadapi kerasnya kehidupan.

Mereka pun pergi meninggalkan kenyamanan rumah mertua. Tidak membawa kemewahan. Tidak membawa tabungan besar. Hanya membawa keyakinan dan semangat untuk membangun kehidupan sendiri.

Beruntung, seorang teman sesama guru menawarkan bantuan. Temannya memiliki dua rumah, dan satu rumah sedang kosong.

“Silakan ditempati dulu sambil belajar mandiri,” kata temannya dengan tulus.

Kalimat sederhana itu menjadi pertolongan besar yang tidak pernah dilupakan Aki 3.

Rumah itu sangat sederhana. Nyaris kosong tanpa perabot. Tidak ada kasur empuk. Tidak ada lemari mewah. Tidak ada televisi. Bahkan untuk tidur pun mereka hanya beralaskan selembar tikar.

Namun justru di situlah pelajaran hidup dimulai.

Selama hampir tiga bulan, Aki 3 dan istrinya tidur berdua di atas tikar sederhana. Saat malam datang, mereka saling menguatkan. Tidak mengeluh. Tidak menyalahkan keadaan. Mereka menikmati perjuangan itu bersama.

Kadang angin malam terasa dingin menusuk. Kadang perut harus berkompromi dengan lauk seadanya. Namun mereka percaya, kehidupan tidak akan selamanya sulit jika terus berusaha.

Sebagai guru muda, penghasilan Aki 3 saat itu sangat terbatas. Tetapi beliau tidak malu dengan keadaan. Beliau tetap berangkat mengajar dengan penuh semangat. Tetap mendidik murid-muridnya dengan hati tulus.

Bagi beliau, menjadi guru bukan soal kaya atau miskin. Menjadi guru adalah pengabdian.

Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya datang kabar yang sangat membahagiakan. Untuk pertama kalinya beliau menerima gaji ke-13.

Bagi sebagian orang zaman sekarang, gaji ke-13 mungkin dianggap biasa. Namun bagi Aki 3 saat itu, gaji tersebut terasa seperti cahaya harapan di tengah perjuangan hidup.

Beliau menggunakan uang itu bukan untuk berfoya-foya. Tidak dipakai membeli barang mewah. Dengan penuh rasa syukur, uang itu digunakan untuk membeli tempat tidur sederhana dan beberapa peralatan rumah tangga.

Saat tempat tidur itu tiba di rumah kecil mereka, hati Aki 3 dan istrinya begitu bahagia. Mereka memandangi tempat tidur sederhana itu dengan mata berkaca-kaca.

Bukan karena harganya mahal.

Tetapi karena tempat tidur itu dibeli dari hasil perjuangan sendiri.

Dari situlah Aki 3 belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari kemewahan, melainkan dari hasil jerih payah yang halal dan penuh perjuangan.

Kisah hidup Aki 3 memberi pelajaran besar kepada anak muda zaman sekarang. Banyak anak muda hari ini ingin sukses secara instan. Baru bekerja sebentar sudah ingin hidup mewah. Baru memulai usaha sedikit sudah ingin hasil besar. Ketika menghadapi kesulitan kecil, langsung menyerah dan mengeluh.

Padahal generasi dahulu membangun kehidupan dari nol dengan penuh kesabaran.

Mereka tidak malu hidup sederhana. Mereka tidak gengsi memulai dari bawah. Mereka percaya bahwa proses adalah bagian penting menuju keberhasilan.

Aki 3 mengajarkan bahwa kemandirian harus dilatih sejak muda. Jangan terus bergantung kepada orang tua. Jangan takut hidup sederhana selama itu hasil usaha sendiri.

Beliau juga mengajarkan arti syukur. Meski hanya tidur di atas tikar, beliau tetap bersyukur karena masih memiliki pasangan yang setia menemani perjuangan.

Dalam hidup, pasangan yang mau diajak susah adalah anugerah terbesar.

Kini setelah puluhan tahun berlalu, kenangan tidur di atas tikar itu justru menjadi cerita paling indah dalam hidup Aki 3. Sebab dari perjuangan kecil itulah lahir mental kuat, rasa tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.

Anak muda zaman sekarang perlu belajar bahwa kehidupan tidak selalu harus dimulai dengan kemewahan. Tidak masalah memulai dari rumah kontrakan kecil. Tidak masalah memakai perabot sederhana. Tidak masalah hidup hemat di awal pernikahan.

Yang paling penting adalah kemauan bekerja keras, hidup jujur, dan terus berusaha memperbaiki keadaan.

Kesuksesan besar sering kali lahir dari perjuangan yang sederhana.

Aki 3 telah membuktikannya.

Dari selembar tikar, beliau belajar arti kehidupan.

Dari rumah kosong sederhana, beliau belajar arti perjuangan.

Dan dari gaji ke-13 pertamanya, beliau belajar bahwa hasil kecil yang diperoleh dengan kerja keras akan terasa jauh lebih membahagiakan daripada kemewahan yang datang tanpa perjuangan.

Semoga kisah Aki 3 atau Tri Budihardjo ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia agar tidak mudah menyerah menghadapi hidup. Sebab masa depan yang baik tidak dibangun dalam semalam, tetapi dibangun sedikit demi sedikit dengan kesabaran, pengorbanan, dan kerja keras.

Mens Sana in Corpore Sano

Mens Sana in Corpore Sano: Di Dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Kuat

Video YouTube berikut menjadi inspirasi penting tentang bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan jiwa:

Video YouTube Mens Sana in Corpore Sano

Ungkapan Latin mens sana in corpore sano sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat ini sering diterjemahkan sebagai “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Ungkapan tersebut bukan sekadar slogan olahraga, melainkan sebuah filosofi hidup yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental.

Dalam video YouTube tersebut, pesan utama yang disampaikan sangat mendalam. Manusia tidak cukup hanya memiliki tubuh yang sehat, tetapi juga harus menjaga pikiran, hati, dan jiwanya agar tetap sehat. Kehidupan modern yang penuh tekanan sering membuat manusia lupa menjaga keseimbangan tersebut. Banyak orang bekerja keras mengejar materi, namun melupakan kesehatan tubuhnya. Sebaliknya, ada pula yang terlalu fokus pada penampilan fisik tetapi mengabaikan ketenangan jiwa dan kebersihan hati.

Ungkapan mens sana in corpore sano berasal dari penyair Romawi bernama Juvenal. Kalimat lengkapnya sebenarnya adalah Orandum est ut sit mens sana in corpore sano, yang berarti “hendaknya kita berdoa agar memiliki jiwa yang sehat di dalam tubuh yang sehat.” Filosofi ini menunjukkan bahwa kesehatan jasmani dan rohani harus berjalan beriringan agar manusia dapat hidup bahagia dan bermakna.

Di zaman sekarang, tantangan menjaga kesehatan semakin berat. Teknologi membuat manusia semakin jarang bergerak. Anak-anak lebih banyak bermain gawai daripada bermain di lapangan. Orang dewasa sibuk bekerja di depan komputer selama berjam-jam hingga lupa berolahraga. Akibatnya, tubuh mudah lelah, mata cepat lemah, pikiran stres, dan emosi menjadi tidak stabil.

Padahal tubuh manusia diciptakan untuk bergerak. Olahraga memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan. Ketika seseorang rutin berolahraga, aliran darah menjadi lancar, otot menjadi kuat, dan daya tahan tubuh meningkat. Tidak hanya itu, olahraga juga membantu memperbaiki suasana hati karena tubuh menghasilkan hormon endorfin yang membuat seseorang merasa lebih bahagia dan rileks.

Karena itu, banyak dokter dan ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk rutin berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau melakukan senam ringan setiap hari. Aktivitas sederhana seperti membersihkan rumah, berkebun, atau berjalan pagi bersama keluarga juga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.

Namun kesehatan fisik saja tidak cukup. Jiwa dan pikiran manusia juga membutuhkan perhatian. Pikiran yang dipenuhi rasa marah, iri, dengki, dan kecemasan dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Banyak penyakit muncul akibat stres yang berkepanjangan. Tekanan hidup, masalah ekonomi, konflik keluarga, dan beban pekerjaan sering membuat manusia kehilangan ketenangan.

Oleh sebab itu, menjaga kesehatan mental menjadi sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan berpikir positif dan belajar bersyukur. Orang yang mampu mensyukuri hidup biasanya lebih tenang dan bahagia. Selain itu, mendekatkan diri kepada Tuhan juga membantu hati menjadi damai. Ibadah, doa, membaca kitab suci, dan melakukan kebaikan dapat menjadi obat bagi jiwa yang lelah.

https://youtu.be/5U5lPdOFjRQ?si=RvWmIm1yLnWHfANe

Dalam dunia pendidikan, semboyan mens sana in corpore sano sangat penting diterapkan. Sekolah tidak hanya bertugas mencerdaskan otak siswa, tetapi juga membentuk karakter dan menjaga kesehatan mereka. Guru perlu mengingatkan peserta didik agar hidup sehat, makan bergizi, rajin berolahraga, serta menjaga etika dan sopan santun.

Kisah Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay juga menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan dalam berkarya. Sebagai guru, blogger, dan penulis aktif, Omjay memahami bahwa tubuh yang sehat sangat mendukung produktivitas. Menulis membutuhkan konsentrasi dan pikiran yang jernih. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam kehidupannya agar tetap mampu menginspirasi banyak orang melalui tulisan-tulisannya.

Banyak orang baru sadar pentingnya kesehatan ketika sakit datang. Saat tubuh sehat, manusia dapat bekerja, belajar, menulis, mengajar, dan beribadah dengan nyaman. Namun ketika sakit menyerang, semua aktivitas menjadi terganggu. Oleh sebab itu, kesehatan harus dijaga sejak dini.

Cara menjaga kesehatan sebenarnya tidak sulit. Pertama, menjaga pola makan dengan mengonsumsi makanan bergizi seperti sayur, buah, ikan, dan air putih yang cukup. Kedua, rutin berolahraga minimal tiga puluh menit setiap hari. Ketiga, tidur cukup agar tubuh dapat beristirahat dengan baik. Keempat, menjaga pikiran tetap positif dan menghindari stres berlebihan. Kelima, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Selain kesehatan fisik dan mental, kesehatan sosial juga penting. Manusia membutuhkan teman, keluarga, dan lingkungan yang mendukung. Hubungan sosial yang baik membuat seseorang merasa dihargai dan dicintai. Sebaliknya, lingkungan yang penuh konflik dapat menyebabkan tekanan mental yang berat.

Dalam budaya Indonesia sebenarnya nilai mens sana in corpore sano sudah lama diterapkan. Kegiatan gotong royong, olahraga bersama, kerja bakti, dan aktivitas sosial menunjukkan pentingnya menjaga tubuh sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Sayangnya, gaya hidup modern membuat sebagian orang menjadi individualis dan kurang peduli terhadap kesehatan.

Video YouTube tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah investasi terbesar dalam hidup manusia. Harta yang melimpah tidak akan berarti jika tubuh sakit dan hati tidak tenang. Sebaliknya, tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat akan membuat hidup lebih produktif, bahagia, dan penuh semangat.

Akhirnya, semboyan mens sana in corpore sano mengajarkan kita untuk hidup seimbang. Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan kesehatan. Jangan pula hanya memperhatikan penampilan luar tanpa menjaga hati dan pikiran. Tubuh dan jiwa harus dirawat bersama agar manusia mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan penuh optimisme.

Mari mulai dari langkah kecil: bangun lebih pagi, berjalan kaki, makan makanan sehat, memperbanyak senyum, berpikir positif, serta meluangkan waktu bersama keluarga. Sebab di dalam tubuh yang sehat, akan lahir jiwa yang kuat, pikiran yang jernih, dan kehidupan yang lebih bermakna.

Kamis, 14 Mei 2026

Belajar Membuat Website Interaktif di KBMN PGRI

Web Interaktif untuk Kelas Menulis Nusantara: Guru Kreatif di Era Digital

Perkembangan teknologi telah mengubah cara guru mengajar dan cara siswa belajar. Jika dahulu pembelajaran hanya mengandalkan papan tulis, buku paket, dan ceramah di kelas, kini dunia pendidikan bergerak menuju pembelajaran digital yang lebih menarik, interaktif, dan menyenangkan. Salah satu inovasi yang mulai banyak digunakan adalah web interaktif untuk pembelajaran. Materi ini dibahas dalam Pertemuan ke-11 Gelombang 34 Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) bersama Nur Dwi Yanti.

Materi tentang web interaktif menjadi sangat penting karena guru masa kini dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus mampu menciptakan pengalaman belajar yang menyenangkan. Kehadiran web interaktif mampu menjawab tantangan tersebut.

Mengenal Web Interaktif

Web interaktif adalah halaman web yang memungkinkan pengguna berinteraksi langsung melalui berbagai elemen seperti kuis, formulir, video, gambar interaktif, tombol navigasi, maupun permainan edukatif.

Berbeda dengan website biasa yang hanya menampilkan informasi satu arah, web interaktif membuat siswa ikut terlibat aktif dalam pembelajaran. Mereka tidak hanya membaca materi, tetapi juga dapat menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas, memberikan respons, bahkan berdiskusi langsung melalui media digital.

Dalam dunia pendidikan modern, web interaktif menjadi jembatan antara teknologi dan kreativitas guru. Guru dapat membuat pembelajaran lebih hidup tanpa harus menjadi ahli pemrograman komputer.

Era No-Code Membantu Guru Berkarya

Salah satu hal menarik dari materi ini adalah penggunaan konsep no-code. No-code merupakan cara membuat aplikasi atau website tanpa menulis kode pemrograman.

Konsep ini sangat membantu guru karena:

  • Tidak perlu belajar coding yang rumit
  • Bisa menggunakan sistem drag and drop
  • Mudah dipelajari pemula
  • Proses pembuatan lebih cepat

Guru yang sebelumnya merasa takut dengan teknologi kini memiliki kesempatan besar untuk berkreasi. Dengan platform no-code, guru dapat membuat media pembelajaran sendiri sesuai kebutuhan siswa.

Bayangkan seorang guru Bahasa Indonesia membuat web khusus untuk tugas menulis cerpen. Di dalamnya terdapat materi, video inspirasi, kuis, formulir pengumpulan tugas, dan ruang komentar siswa. Semua itu bisa dibuat tanpa kemampuan coding yang rumit.

Platform Populer untuk Membuat Web Interaktif

Dalam materi KBMN dijelaskan beberapa platform populer yang dapat digunakan guru untuk membuat web interaktif.

Beberapa di antaranya adalah:

1. Canva

Selama ini Canva dikenal sebagai aplikasi desain grafis. Namun ternyata Canva juga dapat digunakan membuat website sederhana dan presentasi interaktif. Guru dapat memasukkan video, animasi, tombol, bahkan tautan pembelajaran.

2. Google Sites

Google Sites menjadi pilihan favorit banyak guru karena gratis dan mudah digunakan. Guru dapat membuat website kelas, bank soal, hingga portal tugas siswa dengan cepat.

3. Wix

Platform ini cocok untuk membuat website profesional dengan tampilan modern. Meski lebih kompleks dibanding Google Sites, Wix menawarkan banyak template menarik.

4. WordPress

WordPress sangat populer untuk blog dan portal berita pendidikan. Guru dapat menulis artikel pembelajaran sekaligus mengintegrasikan media interaktif.

5. Carrd dan Framer

Kedua platform ini cocok untuk membuat landing page sederhana dan website modern berbasis AI.

Dengan banyaknya pilihan platform, guru dapat menyesuaikan kebutuhan dan kemampuan masing-masing.

Manfaat Web Interaktif dalam Pembelajaran

Penggunaan web interaktif memberikan banyak manfaat dalam proses belajar mengajar. Materi KBMN menyebutkan beberapa keunggulan utama, yaitu meningkatkan keterlibatan siswa, memudahkan evaluasi, memperkuat pemahaman, dan mendukung pembelajaran mandiri.

Meningkatkan Keterlibatan Siswa

Siswa menjadi lebih aktif karena pembelajaran terasa seperti bermain sambil belajar. Mereka tertarik mencoba kuis, membuka video, atau menjawab tantangan yang diberikan guru.

Memudahkan Evaluasi

Guru dapat mengetahui hasil belajar siswa secara cepat melalui formulir dan kuis online. Penilaian menjadi lebih praktis dan efisien.

Memperkuat Pemahaman

Materi yang disampaikan secara visual dan interaktif lebih mudah dipahami dibanding pembelajaran satu arah.

Mendorong Belajar Mandiri

Siswa dapat mengakses materi kapan saja dan di mana saja. Mereka tidak lagi bergantung sepenuhnya pada penjelasan guru di kelas.

Langkah Membuat Web Interaktif Sederhana

Materi KBMN juga memberikan panduan langkah demi langkah membuat halaman web interaktif tanpa coding.

Langkah-langkahnya meliputi:

Menentukan Tujuan

Guru harus menentukan tujuan pembelajaran terlebih dahulu. Misalnya untuk latihan menulis, evaluasi materi, atau penyampaian tugas.

Memilih Platform

Pilih platform yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan guru.

Menambahkan Elemen Interaktif

Guru dapat memasukkan kuis, gambar, video, tombol, atau formulir.

Mempublikasikan

Setelah selesai, website dapat dibagikan kepada siswa melalui tautan.

Langkah-langkah sederhana ini membuktikan bahwa membuat media pembelajaran digital sebenarnya tidak sesulit yang dibayangkan.

Strategi Penggunaan di Kelas

Penggunaan web interaktif harus dilakukan secara terencana agar hasilnya maksimal. Dalam materi dijelaskan beberapa strategi integrasi web interaktif di kelas.

Guru dapat menggunakan web interaktif sebagai:

  • Bahan pendukung pembelajaran
  • Media tugas harian
  • Sarana mendapatkan feedback siswa
  • Tempat diskusi dan refleksi belajar

Dengan strategi yang tepat, web interaktif bukan sekadar tren teknologi, tetapi benar-benar menjadi alat pembelajaran yang efektif.

Studi Kasus yang Menginspirasi

Salah satu bagian menarik dalam materi adalah studi kasus implementasi web interaktif di kelas Nusantara. Disebutkan bahwa penggunaan web interaktif untuk tugas menulis meningkatkan keterlibatan siswa hingga 40 persen dan menghasilkan hasil belajar yang lebih baik.

Hal ini menunjukkan bahwa siswa sebenarnya menyukai pembelajaran yang kreatif dan interaktif. Ketika guru menghadirkan media yang menarik, siswa lebih semangat belajar dan tidak mudah bosan.

Bagi guru penulis seperti Omjay, web interaktif dapat menjadi sarana luar biasa untuk membangun budaya literasi digital. Siswa tidak hanya membaca dan menulis, tetapi juga belajar mempublikasikan karya mereka di dunia digital.

Tips Membuat Web Interaktif yang Efektif

Dalam materi juga dijelaskan beberapa tips penting agar web interaktif lebih optimal.

Beberapa tips tersebut antara lain:

  • Gunakan interface sederhana
  • Sesuaikan dengan kebutuhan siswa
  • Perhatikan aksesibilitas
  • Lakukan uji coba sebelum digunakan

Kesederhanaan justru menjadi kunci utama. Jangan membuat tampilan terlalu rumit hingga membingungkan siswa.

Guru Harus Terus Belajar

Materi ini mengingatkan kita bahwa guru masa depan adalah guru yang mau belajar dan beradaptasi. Teknologi tidak boleh ditakuti, tetapi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Nur Dwi Yanti telah memberikan contoh nyata bahwa guru mampu berkembang menjadi kreator pembelajaran digital. Dari guru seni hingga menjadi Guru Pejuang Digital dan Super Trainer Wayground, perjalanan beliau menunjukkan bahwa semangat belajar tidak mengenal batas usia.

Penutup

Web interaktif bukan sekadar media digital biasa. Ia adalah jembatan menuju pembelajaran masa depan yang lebih kreatif, menyenangkan, dan bermakna. Guru tidak lagi hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga menjadi desainer pengalaman belajar.

Melalui pelatihan seperti KBMN, para guru diajak untuk berani mencoba, berani berkarya, dan berani berubah mengikuti perkembangan zaman. Sebab pendidikan yang hebat lahir dari guru yang terus belajar.

Kini saatnya guru Indonesia naik kelas. Dari pengguna teknologi menjadi pencipta pembelajaran digital yang menginspirasi.

Rabu, 13 Mei 2026

Menulis dan Menerbitkan Bukundi Usia Senja

Menulis dan Menerbitkan Buku di Usia Senja: Jangan Biarkan Api Itu Padam

Ada sebuah curahan hati yang sangat menyentuh.

Seorang bapak menulis pesan sederhana, tetapi sarat makna. Dahulu ketika masih aktif mengajar, beliau rajin menulis buku ajar dan modul pembelajaran. Aktivitas menulis bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari pengabdian sebagai guru. Namun setelah memasuki masa purna tugas, semangat itu perlahan memudar. Kesibukan baru, perubahan ritme hidup, dan mungkin rasa lelah membuat pena tak lagi sering menari di atas kertas.

Lalu pada tanggal 27 Juni 2023, saat bertemu sahabat lama di Asrama Haji Yogyakarta, muncul kembali percikan semangat menulis. Hati kembali tergerak. Ada keinginan untuk berkarya lagi. Sayangnya, kesibukan di kampus membuat niat itu kembali kandas di tengah jalan.

Kisah ini sebenarnya bukan hanya milik satu orang. Banyak guru, dosen, dan pensiunan pendidik mengalami hal yang sama. Ketika masih aktif mengajar, mereka penuh ide, penuh energi, dan terbiasa menghasilkan karya. Namun setelah usia bertambah dan rutinitas berubah, semangat berkarya perlahan meredup.

Padahal sesungguhnya, usia senja bukan akhir dari kreativitas. Justru di usia itulah seseorang memiliki kekayaan pengalaman yang luar biasa.

Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd, sering mengatakan bahwa menulis tidak mengenal usia. Menulis adalah tentang hati yang terus hidup. Selama seseorang masih memiliki pengalaman, selama masih ada kenangan, gagasan, dan pelajaran hidup, maka sesungguhnya bahan tulisan tidak akan pernah habis.

Banyak orang muda punya tenaga, tetapi belum tentu punya pengalaman. Sebaliknya, para senior memiliki pengalaman hidup yang sangat kaya. Pengalaman itu mahal. Pengalaman itu berharga. Dan pengalaman itu akan hilang begitu saja bila tidak dituliskan.

Bayangkan berapa banyak ilmu yang pernah diajarkan selama puluhan tahun mengajar. Berapa banyak kisah siswa yang menginspirasi. Berapa banyak metode pembelajaran yang pernah dicoba. Semua itu sebenarnya dapat menjadi buku yang sangat berharga bagi generasi berikutnya.

Sayangnya, banyak orang merasa minder ketika memasuki usia senja. Mereka berkata:

“Saya sudah tua.” “Saya sudah tidak produktif.” “Siapa yang mau membaca tulisan saya?”

Padahal sejarah membuktikan banyak karya besar lahir di usia matang. Ada penulis yang baru menerbitkan buku pertamanya di usia 60 tahun. Ada pula guru pensiunan yang justru menjadi produktif setelah tidak lagi sibuk mengajar setiap hari.

Mengapa?

Karena mereka akhirnya memiliki waktu untuk merenung dan menulis.

Masalah terbesar sebenarnya bukan usia. Masalah terbesar adalah kehilangan motivasi.

Motivasi itu seperti api. Jika tidak dijaga, ia akan padam perlahan. Karena itu, api semangat menulis harus terus disiram dengan inspirasi, komunitas, dan tujuan hidup yang jelas.

Ada beberapa kiat sederhana agar semangat menulis tumbuh kembali di usia senja.

Pertama, jangan berpikir harus langsung menulis buku tebal.

Mulailah dari tulisan pendek. Tulis pengalaman mengajar satu halaman saja. Tulis kisah lucu bersama siswa. Tulis kenangan saat pertama kali menjadi guru. Dari tulisan kecil itu, lama-lama akan terkumpul menjadi buku yang indah.

Kedua, jangan menunggu sempurna.

Banyak orang gagal menulis karena ingin tulisannya langsung hebat. Padahal penulis besar pun memulai dari tulisan sederhana. Yang penting adalah mulai dulu. Menulis itu seperti mengayuh sepeda. Semakin sering dilakukan, semakin lancar jalannya.

Ketiga, bergabunglah dengan komunitas menulis.

Semangat seseorang sering naik turun bila berjalan sendirian. Tetapi ketika berkumpul dengan orang-orang yang memiliki semangat sama, energi positif akan tumbuh kembali. Itulah sebabnya banyak guru kembali produktif setelah bergabung dengan komunitas menulis seperti KBMN atau komunitas literasi lainnya.

Keempat, tanamkan niat bahwa tulisan adalah amal jariyah.

Seorang guru mungkin akan pensiun dari sekolah, tetapi ilmu tidak pernah pensiun. Buku yang ditulis hari ini bisa terus dibaca bertahun-tahun kemudian. Bahkan ketika penulisnya sudah tiada, ilmunya tetap hidup.

Bukankah itu luar biasa?

Bayangkan seorang siswa di masa depan membaca buku karya seorang guru senior, lalu mendapatkan inspirasi hidup darinya. Betapa besar pahala yang terus mengalir.

Kelima, jangan takut teknologi.

Banyak senior merasa minder dengan perkembangan digital. Padahal teknologi justru mempermudah proses menulis dan menerbitkan buku. Sekarang ada blog, platform digital, hingga penerbit indie yang siap membantu. Bahkan tulisan sederhana di media sosial pun bisa menjadi cikal bakal sebuah buku.

Yang terpenting bukanlah kecanggihan teknologi, melainkan kemauan untuk terus belajar.

Usia senja seharusnya bukan menjadi alasan berhenti berkarya. Justru di usia itulah seseorang sedang memanen hikmah kehidupan. Dan hikmah yang tidak dituliskan akan mudah hilang ditelan waktu.

Menulis adalah cara manusia meninggalkan jejak.

Tubuh boleh menua. Rambut boleh memutih. Langkah boleh melambat. Tetapi pikiran dan hati tetap bisa terus berkarya.

Karena itu, jangan biarkan semangat menulis padam hanya karena usia atau kesibukan. Nyalakan kembali api itu, walau kecil. Mulailah dari satu paragraf. Satu cerita. Satu pengalaman hidup.

Kelak tulisan-tulisan itu akan menjadi warisan berharga bagi anak, cucu, murid, dan generasi penerus bangsa.

Dan siapa tahu, buku terbaik dalam hidup seseorang justru lahir di usia senja.

Salam blogger persahabatan
Omjay/Kakek Jay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 12 Mei 2026

Akibat Malas Membaca


Malas Membaca dalam Kisah Omjay: Ketika Buku Tak Lagi Menjadi Sahabat

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau membaca.” Kalimat itu sering kita dengar, tetapi dalam kenyataan sehari-hari, budaya membaca justru semakin memudar. Banyak orang lebih senang menggulir layar ponsel dibanding membuka lembar demi lembar buku. Fenomena inilah yang juga menjadi kegelisahan Omjay, seorang guru, blogger, sekaligus pegiat literasi yang selama bertahun-tahun mengajak masyarakat Indonesia mencintai membaca dan menulis.

Omjay pernah bercerita bahwa saat masih kecil, membaca adalah jendela utama untuk mengenal dunia. Di masa itu belum ada internet seperti sekarang. Anak-anak pergi ke perpustakaan sekolah, meminjam buku cerita, membaca majalah anak, atau menunggu koran datang setiap pagi. Buku menjadi hiburan sekaligus sumber ilmu pengetahuan.

Namun kini keadaan berubah drastis. Teknologi memang mempermudah hidup, tetapi di sisi lain membuat banyak orang kehilangan minat membaca. Ironisnya, masyarakat sekarang lebih suka membaca judul daripada isi. Banyak yang langsung berkomentar tanpa memahami keseluruhan tulisan. Bahkan ada yang hanya membaca potongan informasi di media sosial lalu merasa paling benar.

Omjay melihat kondisi ini sebagai tantangan besar dunia pendidikan. Sebagai guru, beliau sering menemukan siswa yang malas membaca buku pelajaran. Ketika diberi tugas, sebagian siswa lebih memilih menyalin jawaban dari internet tanpa memahami isi materi. Mereka ingin serba cepat dan instan. Padahal membaca membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan berpikir.

Dalam sebuah kesempatan, Omjay pernah bertanya kepada murid-muridnya, “Berapa halaman buku yang kalian baca minggu ini?” Sebagian besar hanya tersenyum malu. Ada yang mengaku tidak membaca sama sekali selain chat WhatsApp dan media sosial. Jawaban itu membuat Omjay prihatin. Sebab rendahnya minat baca akan berdampak panjang terhadap kualitas generasi masa depan.

Menurut Omjay, malas membaca bukan sekadar masalah kebiasaan, tetapi juga masalah pola pikir. Banyak orang menganggap membaca itu membosankan. Mereka tidak sadar bahwa membaca justru membuka pintu kesuksesan. Hampir semua tokoh besar dunia memiliki kebiasaan membaca. Mereka memperluas wawasan melalui buku.

Omjay sendiri menjadi bukti nyata kekuatan membaca. Dari kebiasaan membaca, beliau kemudian rajin menulis di blog pribadi. Tulisan-tulisannya dibaca banyak orang dan menginspirasi guru-guru di seluruh Indonesia. Ia dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia bukan karena kebetulan, melainkan karena konsistensi belajar melalui membaca dan menulis.

Beliau sering mengatakan bahwa membaca adalah olahraga otak. Jika tubuh perlu makanan bergizi, maka pikiran juga membutuhkan asupan ilmu dari bacaan. Orang yang rajin membaca biasanya memiliki kemampuan berpikir lebih baik, lebih kritis, dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.

Manfaat Membaca

1. Menambah Ilmu Pengetahuan

Membaca membuat seseorang mengetahui banyak hal baru. Dari buku, artikel, dan berbagai bacaan lainnya, kita dapat memahami dunia lebih luas. Orang yang rajin membaca biasanya lebih mudah berdiskusi karena memiliki banyak referensi pengetahuan.

2. Melatih Kemampuan Berpikir

Membaca membantu otak bekerja aktif. Ketika membaca, kita belajar memahami informasi, menganalisis masalah, dan menarik kesimpulan. Karena itu membaca sangat penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis.

3. Menambah Kosakata dan Kemampuan Berbahasa

Orang yang gemar membaca biasanya lebih lancar berbicara dan menulis. Mereka memiliki banyak kosakata sehingga mampu menyampaikan ide dengan baik. Hal inilah yang dialami Omjay ketika aktif membaca dan menulis blog setiap hari.

4. Membuka Peluang Kesuksesan

Banyak orang sukses memiliki kebiasaan membaca. Buku memberi inspirasi dan pengalaman dari orang lain. Dengan membaca, seseorang bisa belajar tanpa harus mengalami semua kesalahan sendiri.

5. Mengurangi Stres

Membaca buku favorit dapat membuat pikiran lebih tenang. Saat membaca, seseorang seolah masuk ke dunia baru yang menyenangkan. Karena itu membaca juga baik untuk kesehatan mental.

6. Menumbuhkan Empati dan Kebijaksanaan

Melalui bacaan, kita memahami kehidupan orang lain. Novel, biografi, maupun kisah inspiratif mengajarkan nilai kemanusiaan. Membaca membuat hati lebih peka terhadap penderitaan dan perjuangan sesama.

Kerugian Kurang Membaca

1. Wawasan Menjadi Sempit

Orang yang jarang membaca biasanya sulit memahami berbagai persoalan. Pengetahuannya terbatas sehingga mudah percaya hoaks atau informasi palsu.

2. Sulit Berpikir Kritis

Kurang membaca membuat seseorang malas menganalisis informasi. Akibatnya mudah terpengaruh opini orang lain tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu.

3. Kemampuan Berbahasa Menurun

Kurang membaca menyebabkan seseorang miskin kosakata. Ia kesulitan menyampaikan pendapat secara baik dan runtut.

4. Mudah Bosan dan Tidak Kreatif

Membaca dapat merangsang imajinasi dan kreativitas. Jika jarang membaca, ide-ide segar sulit muncul karena otak tidak terbiasa menerima informasi baru.

5. Prestasi Belajar Menurun

Banyak siswa gagal memahami pelajaran karena malas membaca. Mereka hanya mengandalkan hafalan tanpa benar-benar mengerti isi materi.

6. Mudah Terjebak Informasi Dangkal

Di era media sosial, banyak orang hanya membaca judul tanpa memahami isi berita. Akibatnya muncul kesalahpahaman, fitnah, bahkan perpecahan.

Omjay percaya bahwa budaya membaca harus dibangun sejak dini. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu memberi contoh nyata. Jangan hanya menyuruh anak membaca, tetapi orang dewasa juga harus menunjukkan kebiasaan membaca di rumah maupun di sekolah.

Beliau sering mengingatkan bahwa membaca tidak harus langsung buku tebal. Mulailah dari bacaan ringan yang disukai. Yang penting adalah membiasakan diri membaca setiap hari. Sedikit demi sedikit, kebiasaan itu akan tumbuh menjadi kebutuhan.

Di tengah derasnya arus digital, membaca tetap menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Teknologi boleh berkembang, tetapi buku dan literasi tidak boleh ditinggalkan. Sebab bangsa yang malas membaca akan sulit bersaing di masa depan.

Omjay berharap generasi muda Indonesia kembali mencintai buku. Karena dari membaca lahir pemikiran besar, karya hebat, dan perubahan positif bagi negeri. Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan investasi masa depan yang nilainya tidak ternilai.

Mari mulai hari ini kita luangkan waktu membaca. Lima belas menit sehari pun sudah sangat berarti. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan mungkin, dari satu buku yang kita baca hari ini, lahirlah mimpi besar untuk masa depan Indonesia.

Senin, 11 Mei 2026

Menaklukan Panggung Penerbit Mayor Bersama KBMN PGRI

Menaklukkan Panggung Penerbit Mayor Bersama KBMN PGRI

Malam nanti akan menjadi malam penting bagi para guru penulis di seluruh Indonesia. Setelah pada pertemuan sebelumnya para peserta belajar meramu naskah menjadi tulisan yang enak dibaca, kini saatnya naik ke level berikutnya: memahami bagaimana sebuah karya bisa diterima penerbit mayor dan sampai ke tangan pembaca.

Melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI (KBMN) Gelombang 34 Pertemuan ke-10, para peserta akan mendapatkan kesempatan emas belajar langsung dari dunia penerbitan profesional. Tema yang diangkat sangat relevan dan dinanti banyak penulis pemula maupun penulis yang sudah lama menyimpan naskah di laptopnya:

“Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta.”

Banyak guru sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa. Mereka setiap hari berhadapan dengan dinamika pendidikan, karakter siswa, perjuangan hidup, hingga berbagai kisah inspiratif di ruang kelas. Sayangnya, tidak semua guru memahami bagaimana cara mengubah pengalaman itu menjadi buku yang layak terbit.

Di sinilah pentingnya kelas malam nanti.

Acara ini menghadirkan Agus Subardana, SE., M.M. sebagai narasumber. Beliau akan membagikan pengalaman dan strategi praktis mengenai dunia penerbitan mayor, khususnya bagaimana standar penerbit besar seperti PT Andi Offset dalam menilai sebuah naskah.

Para peserta tidak hanya diajak memahami teori menulis, tetapi juga memahami “dapur” penerbitan. Banyak penulis gagal bukan karena tulisannya buruk, melainkan karena tidak memahami kebutuhan penerbit. Ada naskah yang sebenarnya bagus, tetapi formatnya berantakan. Ada pula ide yang kuat, namun penyajiannya tidak sesuai segmentasi pasar.

Melalui kelas ini, peserta akan belajar bahwa menulis buku bukan sekadar selesai mengetik ratusan halaman. Menulis adalah tentang bagaimana menyampaikan gagasan secara sistematis, menarik, dan memiliki nilai manfaat bagi pembaca.

Acara ini akan dipandu oleh Sigid PN, S.H. yang dikenal aktif mendampingi kegiatan literasi dan komunitas menulis. Dengan gaya moderasi yang komunikatif dan tajam, suasana diskusi dipastikan akan hidup dan penuh wawasan.

Kegiatan akan dilaksanakan pada:

  • Senin, 11 Mei 2026
  • Pukul 19.00 WIB
  • Daring melalui WA Group KBMN

Bagi banyak guru, kelas ini bisa menjadi titik balik perjalanan literasi mereka. Selama ini ada banyak guru yang rajin menulis di blog, media sosial, atau media online, tetapi belum percaya diri mengirimkan naskah ke penerbit mayor.

Padahal, peluang itu selalu ada.

Penerbit besar sesungguhnya tidak hanya mencari penulis terkenal. Mereka mencari naskah yang berkualitas, relevan, memiliki segmentasi pembaca yang jelas, dan ditulis dengan sungguh-sungguh.

KBMN PGRI selama ini telah membuktikan bahwa guru Indonesia mampu menghasilkan karya luar biasa. Dari komunitas inilah lahir banyak buku antologi, buku solo, hingga karya inspiratif yang kini tersebar di berbagai daerah.

Semangat inilah yang terus digaungkan oleh Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, yang sejak lama percaya bahwa guru harus meninggalkan jejak melalui tulisan.

Menurut Omjay, karya adalah warisan pemikiran yang akan terus hidup bahkan ketika seseorang sudah tidak lagi berada di ruang kelas. Guru yang menulis tidak hanya mengajar murid hari ini, tetapi juga mendidik generasi masa depan melalui buku-bukunya.

Karena itu, kelas malam nanti bukan sekadar agenda rutin KBMN. Ini adalah ruang pembelajaran yang membuka pintu harapan bagi para guru penulis.

Bayangkan jika pengalaman mengajar puluhan tahun hanya tersimpan di kepala. Betapa banyak pelajaran hidup yang akhirnya hilang begitu saja. Namun ketika pengalaman itu ditulis menjadi buku, ia akan menjadi cahaya bagi orang lain.

Itulah sebabnya penerbit mayor menjadi penting. Mereka membantu sebuah karya menjangkau pembaca yang lebih luas. Mereka membantu gagasan seorang guru dari daerah kecil agar bisa dibaca masyarakat Indonesia.

Namun tentu saja, untuk sampai ke sana dibutuhkan kesiapan.

Penulis harus memahami struktur naskah, konsistensi isi, kekuatan ide, hingga cara membangun komunikasi profesional dengan editor. Semua itu akan dibahas dalam pertemuan KBMN nanti malam.

Banyak penulis pemula sering takut ditolak penerbit. Padahal penolakan adalah bagian dari proses belajar. Bahkan penulis besar dunia pun pernah mengalami penolakan berkali-kali sebelum akhirnya berhasil menerbitkan buku.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki kualitas tulisan dan mau belajar.

KBMN hadir bukan hanya untuk mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membangun mental penulis. Mental untuk terus berkarya, terus mencoba, dan tidak mudah menyerah.

Di era digital seperti sekarang, menulis menjadi keterampilan yang semakin penting. Guru bukan hanya dituntut mampu mengajar di kelas, tetapi juga mampu mendokumentasikan gagasan dan pengalaman dalam bentuk tulisan.

Tulisan guru bisa menjadi inspirasi pendidikan. Bisa menjadi bahan refleksi. Bisa pula menjadi solusi bagi berbagai persoalan pembelajaran.

Karena itu, kesempatan belajar langsung bersama penerbit mayor seperti PT Andi Offset adalah kesempatan yang sangat berharga.

Jangan sampai naskah yang sudah ditulis dengan penuh perjuangan hanya menjadi file yang tersimpan di laptop atau flashdisk. Jangan biarkan ide-ide besar berhenti hanya karena takut mengirimkan naskah.

Malam nanti adalah saat yang tepat untuk membuka jalan baru.

KBMN kembali membuktikan dirinya sebagai ruang tumbuh bagi para guru yang ingin naik kelas dalam dunia literasi. Dari ruang WA Group yang sederhana, lahir semangat besar untuk membangun budaya menulis di Indonesia.

Semoga semakin banyak guru yang berani menulis, berani berkarya, dan berani menembus penerbit mayor.

Karena bangsa yang besar lahir dari budaya literasi yang kuat. Dan budaya literasi yang kuat dimulai dari guru yang mau menulis.

Payung Kehidupan Omjay

Payung Kehidupan Omjay: Tetap Melindungi Meski Sering Dilupakan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

Pagi itu langit Jakarta tampak mendung. Gerimis kecil turun membasahi jalanan ibu kota. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ada yang memakai jas hujan, ada yang menunggu di halte, dan ada pula yang sibuk membuka payungnya.

Omjay memandangi sebuah payung hitam tua yang selalu dibawanya ke sekolah. Payung itu sudah lama menemaninya. Warnanya mulai pudar, gagangnya sedikit longgar, tetapi tetap setia melindungi dari panas dan hujan.

Saat melihat payung itu, Omjay tiba-tiba tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata, “Ternyata hidup manusia sering seperti payung.”

Payung hanya dicari ketika hujan datang. Ketika cuaca cerah, ia dilipat, disimpan, bahkan kadang dilupakan di sudut rumah. Namun payung tidak pernah marah. Ia tetap siap dipakai kembali saat dibutuhkan.

Begitulah kehidupan seorang guru.

Selama puluhan tahun menjadi pendidik, Omjay merasakan betapa sering guru hanya dicari ketika diperlukan. Saat ada masalah pendidikan, guru diminta membantu. Ketika siswa membutuhkan motivasi, guru dipanggil. Saat sekolah ingin prestasi, guru dituntut bekerja keras.

Namun setelah semuanya berjalan baik, jasa guru terkadang terlupakan.

Meski demikian, Omjay memilih untuk tetap menjadi “payung” bagi banyak orang.

Ia teringat ketika dulu mengajar di sekolah dengan fasilitas yang sangat terbatas. Komputer belum memadai, internet masih lambat, bahkan banyak guru belum mengenal dunia digital. Namun Omjay tidak menyerah. Ia belajar menulis blog, belajar teknologi, lalu membagikan ilmunya kepada sesama guru di seluruh Indonesia.

Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri menulis akhirnya mampu menerbitkan buku. Banyak guru yang takut teknologi akhirnya berani tampil di dunia digital. Semua itu membuat Omjay bahagia.

Anehnya, tidak semua orang mengingat proses perjuangan tersebut.

Ada yang datang hanya ketika membutuhkan bantuan membuat tulisan. Ada yang mendekat saat ingin belajar teknologi. Bahkan ada yang tiba-tiba akrab ketika membutuhkan rekomendasi atau dukungan.

Namun setelah berhasil, sebagian perlahan menjauh.

Kalau dipikir dengan perasaan manusia biasa, tentu hal itu bisa membuat kecewa. Tetapi Omjay memilih belajar dari payung.

Payung tidak pernah memilih siapa yang akan dilindungi. Ia tidak bertanya apakah orang itu akan berterima kasih atau melupakannya nanti. Tugas payung hanyalah melindungi.

Begitu pula hidup seorang guru.

Guru sejati mengajar bukan untuk dipuji manusia. Guru mengajar karena itu adalah panggilan hati. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat murid berhasil. Ada rasa syukur ketika ilmu yang diberikan menjadi manfaat bagi orang lain.

Omjay percaya, kebaikan yang tulus tidak akan pernah sia-sia.

Suatu hari, Omjay pernah bertemu mantan muridnya di sebuah pusat perbelanjaan. Murid itu kini sudah sukses bekerja di perusahaan besar. Dengan mata berkaca-kaca, murid tersebut berkata:

“Pak Omjay, dulu bapak pernah menyemangati saya ketika saya hampir putus sekolah. Kata-kata bapak masih saya ingat sampai sekarang.”

Omjay terdiam sesaat.

Ia bahkan hampir lupa pernah mengucapkan kalimat itu. Tetapi bagi muridnya, nasihat sederhana tersebut menjadi titik perubahan hidup.

Dari situ Omjay sadar bahwa kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi sangat besar di mata orang lain.

Kadang kita merasa lelah membantu orang. Kadang kita kecewa karena tidak dihargai. Kadang kita sedih karena dilupakan setelah berjuang.

Namun hidup bukan tentang seberapa banyak manusia mengingat jasa kita.

Hidup adalah tentang seberapa tulus kita menjalankan amanah dari Allah ﷻ.

Bukankah matahari tetap bersinar walaupun banyak manusia tidak pernah mengucapkan terima kasih?

Bukankah pohon tetap memberi buah walaupun sering dilempari batu?

Bukankah payung tetap melindungi walaupun hanya dicari saat hujan?

Omjay kemudian teringat firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

"Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat itu menjadi penguat hati.

Kebaikan sejati memang tidak selalu mendapatkan balasan langsung dari manusia. Namun Allah melihat setiap niat baik, setiap langkah kecil, dan setiap ketulusan hati hamba-Nya.

Karena itulah Omjay terus menulis.

Ia tetap berbagi inspirasi setiap hari melalui blog dan media sosialnya. Ia terus memotivasi guru-guru agar semangat berkarya. Ia ingin para guru Indonesia sadar bahwa mereka sangat berharga.

Guru bukan hanya pengajar di ruang kelas.

Guru adalah pelita kehidupan.

Guru adalah payung yang melindungi generasi bangsa dari kebodohan.

Guru adalah matahari yang terus bersinar memberi cahaya ilmu.

Dalam perjalanan hidup, Omjay belajar bahwa semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami arti keikhlasan. Membantu tanpa banyak menuntut balasan ternyata membuat hati lebih tenang.

Sebab jika semua kebaikan hanya dilakukan demi pujian manusia, maka hati akan mudah kecewa.

Tetapi jika semua dilakukan karena Allah, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna.

Pagi itu hujan mulai reda. Matahari perlahan muncul di balik awan. Orang-orang mulai menutup payung mereka dan melanjutkan perjalanan.

Omjay pun melipat payung hitam tuanya sambil tersenyum.

“Tak apa dilupakan manusia,” gumamnya pelan. “Yang penting tetap bermanfaat.”

Dan begitulah hidup seharusnya dijalani.

Menjadi pribadi yang tetap memberi manfaat, tetap menolong, tetap berbagi ilmu, meski kadang tidak dipuji dan tidak selalu diingat.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah penghargaan manusia, melainkan ridha Allah ﷻ.

Semoga kita semua mampu menjadi seperti payung: sederhana, ikhlas, dan selalu siap melindungi siapa saja yang membutuhkan.

Sabtu, 09 Mei 2026

Omjay Hampir Mati Konyol

Omjay Hampir Mati Konyol: Ketika Kesibukan Membuat Tubuh Menyerah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Menjadi guru itu melelahkan.
Menjadi guru yang suka menulis jauh lebih melelahkan.
Namun menjadi guru, penulis, narasumber, blogger, sekaligus pengurus organisasi dalam satu waktu, ternyata bisa sangat berbahaya bila lupa menjaga kesehatan.

Omjay pernah mengalaminya sendiri.
Sebuah pengalaman yang sampai hari ini masih membuat bulu kuduk berdiri bila diingat kembali. Pengalaman yang membuat Omjay sadar bahwa manusia bukan robot. Tubuh punya batas. Dan ketika batas itu dilanggar terus-menerus, tubuh akan “memberontak”.

Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.

Saat itu aktivitas Omjay benar-benar padat. Pagi mengajar di sekolah. Siang rapat. Sore menjadi narasumber pelatihan guru. Malam menulis artikel di blog dan Kompasiana. Kadang masih harus membalas ratusan pesan WhatsApp dari guru-guru seluruh Indonesia yang ingin belajar menulis.

Omjay menikmati semua aktivitas itu. Rasanya bahagia sekali ketika tulisan dibaca banyak orang. Rasanya bangga ketika guru-guru mulai berani menulis buku setelah ikut kelas belajar menulis. Hidup terasa penuh makna.

Namun diam-diam tubuh Omjay mulai memberikan tanda bahaya.

Tidur makin sedikit.
Makan sering terlambat.
Minum kopi makin banyak.
Olahraga hampir tidak pernah.

Tetapi Omjay tetap keras kepala.

“Ah, saya kuat.”

Kalimat itu sering diucapkan Omjay dalam hati. Padahal sebenarnya tubuh sudah lemah. Kepala sering pusing. Lambung mulai sakit. Badan gampang lelah. Namun semuanya dianggap biasa.

Hingga akhirnya kejadian “hampir mati konyol” itu datang.

Malam itu Omjay baru selesai menulis artikel panjang untuk diposting di blog. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Mata mulai berat, tetapi Omjay masih memaksakan diri menatap layar laptop.

Tiba-tiba dada terasa sesak.

Awalnya Omjay mengira hanya masuk angin biasa. Omjay mencoba minum air hangat dan menarik napas panjang. Namun rasa sesak justru makin kuat. Kepala berputar. Keringat dingin bercucuran.

Omjay mulai panik.

Tubuh terasa lemas sekali. Bahkan untuk berdiri saja sulit. Jantung berdegup sangat cepat seperti genderang perang. Saat itulah Omjay benar-benar takut.

“Jangan-jangan ini serangan jantung?”

Pikiran buruk langsung bermunculan. Omjay teringat istri, anak-anak, murid-murid, dan begitu banyak tulisan yang belum selesai dibuat. Dalam kondisi setengah sadar, Omjay mencoba meminta bantuan keluarga.

Akhirnya Omjay dibawa ke rumah sakit tengah malam.

Di perjalanan, Omjay hanya bisa berdoa. Rasanya campur aduk. Takut, menyesal, sedih, semuanya menjadi satu. Omjay baru sadar bahwa selama ini terlalu memaksakan diri.

Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi Omjay drop karena kelelahan berat, kurang istirahat, pola makan buruk, dan asam lambung yang naik cukup parah hingga memicu sesak dada serta jantung berdebar kencang.

Dokter berkata dengan nada serius.

“Bapak ini terlalu capek. Kalau terus dipaksakan bisa berbahaya.”

Kalimat itu menampar Omjay keras sekali.

Selama ini Omjay sibuk memotivasi orang lain agar semangat berkarya, tetapi lupa menjaga diri sendiri. Padahal tubuh adalah kendaraan utama untuk beribadah, bekerja, dan berkarya.

Kalau tubuh rusak, semua aktivitas juga akan berhenti.

Sejak kejadian itu, Omjay mulai belajar mengatur hidup lebih baik. Tidak mudah memang. Apalagi bagi seseorang yang terbiasa aktif dan produktif. Namun Omjay sadar, produktif bukan berarti harus menyiksa diri.

Omjay mulai belajar tidur lebih cukup. Mengurangi begadang. Minum kopi tidak berlebihan. Makan lebih teratur. Sesekali berjalan kaki dan olahraga ringan.

Yang paling sulit adalah belajar berkata “tidak”.

Kadang ada undangan seminar, pelatihan, atau kegiatan menulis yang sangat menarik. Dulu semua diterima tanpa berpikir panjang. Sekarang Omjay mulai memilih mana yang benar-benar penting.

Sebab kesehatan jauh lebih mahal daripada popularitas.

Kejadian hampir mati konyol itu juga mengajarkan Omjay tentang makna hidup. Ternyata manusia sering merasa dirinya kuat dan hebat, padahal sangat rapuh.

Kita bisa sibuk mengejar prestasi, jabatan, uang, dan popularitas. Namun ketika tubuh jatuh sakit, semua itu mendadak terasa kecil.

Di ruang rumah sakit, Omjay melihat banyak orang kaya yang tetap menangis kesakitan. Ada pejabat yang tetap lemah di atas ranjang. Ada orang terkenal yang tetap membutuhkan bantuan perawat untuk sekadar berjalan ke kamar mandi.

Saat sakit datang, manusia benar-benar sadar bahwa dirinya hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan.

Karena itu Omjay sekarang selalu mengingatkan guru-guru dan para penulis muda: berkaryalah sebaik mungkin, tetapi jangan melupakan kesehatan.

Jangan bangga begadang setiap malam.
Jangan merasa hebat karena tidak pernah libur.
Jangan menganggap tubuh akan selalu kuat.

Tubuh punya hak untuk istirahat.

Bahkan mesin saja bisa rusak bila dipakai terus-menerus tanpa henti. Apalagi manusia yang punya rasa lelah, rasa sakit, dan keterbatasan.

Omjay bersyukur masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini. Masih bisa menulis. Masih bisa mengajar. Masih bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang.

Mungkin Allah sedang menegur Omjay lewat cara yang cukup keras.

Teguran itu membuat Omjay sadar bahwa hidup bukan sekadar bekerja tanpa henti. Hidup juga tentang menjaga amanah tubuh yang telah diberikan Tuhan.

Kini setiap kali melihat jam sudah larut malam, Omjay sering tersenyum sendiri sambil mengingat kejadian itu.

Laptop boleh panas.
Ide boleh mengalir deras.
Target tulisan boleh banyak.

Tetapi kesehatan tetap nomor satu.

Sebab percuma punya seribu tulisan bila tubuh tumbang di tengah jalan.

Dan Omjay tidak ingin lagi “hampir mati konyol” hanya karena terlalu memaksakan diri demi pekerjaan yang sebenarnya masih bisa menunggu esok hari.