PGRI Terus Bergerak dalam Senyap, Memperjuangkan Guru Tanpa Banyak Bicara
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Ada kalanya sebuah perjuangan tidak terdengar suaranya.
Tidak ada pengeras suara. Tidak ada spanduk besar. Tidak ada kerumunan yang memenuhi jalan. Bahkan terkadang tidak ada berita yang muncul setiap hari di media massa.
Namun, bukan berarti perjuangan itu berhenti.
Justru bisa jadi, ketika kita melihat suasana yang tenang, di tempat lain sedang berlangsung pembicaraan panjang untuk memperjuangkan nasib para guru.
Begitulah saya melihat perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI.
Pada Jumat malam, 29 Agustus 2026, saya mengirimkan sebuah berita dari JPNN.com kepada Ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi, Ketua Umum PB PGRI.
Saya mengirimkan berita tersebut karena saya tahu ada begitu banyak guru yang sedang menunggu kabar. Mereka bertanya, mereka berdiskusi, bahkan sebagian mulai gelisah.
Pertanyaan mereka sebenarnya sederhana.
“Sejauh mana perjuangan PGRI untuk memperjuangkan nasib guru?”
Terutama ketika berbagai persoalan kesejahteraan guru masih menjadi perhatian besar. Guru ingin mendapatkan kepastian. Guru ingin mengetahui arah perjuangan organisasi yang selama ini menjadi rumah bersama.
Tak lama kemudian, Ibu Ketum menjawab singkat.
“Mantap, buat artikelnya dalam kisah Omjay.”
Kalimat pendek itu justru membuat saya berpikir panjang.
Saya kemudian mengambil laptop dan mulai menulis.
Bukan karena saya sudah mengetahui seluruh proses perjuangan PGRI dari dalam.
Bukan pula karena saya ingin membela organisasi secara membabi buta.
Saya menulis karena saya adalah guru.
Saya menulis karena saya mendengar suara teman-teman guru.
Dan saya menulis karena saya percaya bahwa perjuangan guru perlu dicatat, dikawal, sekaligus disampaikan dengan cara yang santun dan bermartabat.
Guru Bertanya, Guru Menunggu
Saya memahami kegelisahan para guru.
Guru adalah manusia biasa yang memiliki keluarga, kebutuhan, tanggung jawab, dan harapan.
Di balik sosok guru yang berdiri di depan kelas, ada kehidupan yang tidak selalu terlihat oleh murid-muridnya.
Ada guru yang harus membayar cicilan rumah.
Ada yang membiayai pendidikan anak.
Ada yang membantu orang tua.
Ada yang setiap bulan harus menghitung pengeluaran dengan sangat hati-hati.
Ada guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, tetapi masih berharap mendapatkan kepastian status dan kesejahteraan.
Namun ketika masuk sekolah, mereka tetap tersenyum.
“Selamat pagi, anak-anak.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi kita tidak pernah tahu berapa banyak persoalan yang sudah mereka tinggalkan di rumah sebelum masuk kelas.
Guru tetap mengajar.
Tetap membuat bahan ajar.
Tetap memeriksa tugas.
Tetap membimbing murid.
Tetap menghadapi perubahan kurikulum.
Tetap belajar teknologi baru.
Bahkan sekarang guru dituntut memahami koding, kecerdasan artifisial, literasi digital, dan berbagai perubahan pendidikan yang begitu cepat.
Tuntutannya semakin tinggi.
Karena itu, wajar jika guru berharap kesejahteraannya juga mendapatkan perhatian yang serius.
Guru tidak ingin hanya diberi kata-kata penghargaan setiap Hari Guru.
Guru ingin penghargaan itu hadir dalam bentuk kebijakan yang nyata.
Jangan Ukur Perjuangan Hanya dari Keramaian
Di zaman media sosial seperti sekarang, kita sering terjebak pada sesuatu yang terlihat.
Kalau ada aksi besar, kita anggap sedang berjuang.
Kalau ada konferensi pers, kita anggap sedang bekerja.
Kalau ada unggahan yang viral, kita anggap perjuangannya berhasil.
Sebaliknya, ketika tidak ada unggahan atau pernyataan keras, kita mengira tidak ada kegiatan.
Padahal belum tentu.
Dalam perjuangan kebijakan, banyak hal memang tidak bisa dilakukan dengan cara berteriak.
Ada meja perundingan.
Ada rapat.
Ada komunikasi.
Ada kajian.
Ada negosiasi.
Ada proses menyampaikan aspirasi.
Ada pembahasan dengan pemerintah.
Ada komunikasi dengan kementerian dan lembaga negara.
Ada pula proses panjang yang tidak semuanya dapat dipublikasikan kepada masyarakat setiap saat.
Karena itu, saya belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi.
Saya lebih memilih bertanya.
Apa yang sedang diperjuangkan?
Bagaimana jalurnya?
Apa hasilnya?
Apa yang masih menjadi kendala?
Dan apa yang bisa dilakukan guru untuk membantu perjuangan tersebut?
Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang jauh lebih produktif.
PGRI Adalah Rumah Besar Guru
Saya melihat PGRI bukan sekadar sebuah nama organisasi.
Bagi banyak guru, PGRI adalah rumah besar.
Rumah yang di dalamnya berkumpul guru dari berbagai daerah, jenjang pendidikan, status kepegawaian, usia, dan pengalaman.
Di dalam rumah besar itu tentu ada perbedaan pendapat.
Itu hal yang wajar.
Bahkan menurut saya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menerima kritik.
Guru boleh bertanya.
Guru boleh menyampaikan kegelisahan.
Guru boleh meminta penjelasan.
Guru juga boleh mengingatkan pengurus organisasi jika ada hal yang dirasakan belum maksimal.
Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi kebencian.
Jangan sampai perbedaan pendapat membuat guru saling menjatuhkan.
Sebab ketika guru terpecah, perjuangan menjadi lebih sulit.
Kita boleh berbeda cara.
Tetapi tujuan kita harus tetap sama.
Meningkatkan martabat dan kesejahteraan guru serta memajukan pendidikan Indonesia.
Perjuangan Guru Tidak Bisa Instan
Saya pernah belajar satu hal dari perjalanan panjang sebagai guru.
Tidak semua hal bisa terjadi dengan cepat.
Saya sudah lebih dari tiga dekade berada di dunia pendidikan.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana kebijakan pendidikan berubah dari masa ke masa.
Teknologi berubah.
Kurikulum berubah.
Sistem kepegawaian berubah.
Cara mengajar berubah.
Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah semangat guru untuk mendidik.
Saya juga melihat bahwa perubahan kebijakan membutuhkan waktu.
Apa yang hari ini dibicarakan bisa jadi baru terlihat hasilnya beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.
Karena itu, perjuangan mengenai kesejahteraan guru tidak boleh hanya dilakukan ketika sedang ramai.
Ia harus terus dikawal.
Hari ini dibicarakan.
Besok ditanyakan lagi.
Kemudian dikaji.
Lalu diperjuangkan.
Setelah itu dievaluasi.
Jika belum berhasil, kita mencari jalan lain.
Begitu seterusnya.
Perjuangan adalah proses panjang.
Mengapa Guru Harus Tetap Bersatu?
Ada alasan sederhana mengapa guru membutuhkan organisasi profesi.
Karena jumlah guru sangat besar.
Jika masing-masing guru menyampaikan suara sendiri-sendiri, suara itu mudah tenggelam.
Tetapi ketika suara tersebut dihimpun dalam organisasi, aspirasi itu menjadi lebih terstruktur.
Inilah salah satu fungsi organisasi.
Mengumpulkan suara.
Menyusun aspirasi.
Membawa persoalan kepada pihak yang memiliki kewenangan.
Kemudian mengawal prosesnya.
PGRI memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kepentingan guru dan pendidikan.
Tentu sejarah panjang tersebut tidak berarti semua persoalan otomatis selesai.
Justru tantangan pendidikan semakin kompleks.
Hari ini kita menghadapi persoalan kesejahteraan.
Besok muncul persoalan teknologi.
Kemudian muncul persoalan perlindungan guru.
Ada persoalan beban administrasi.
Ada persoalan status kepegawaian.
Ada persoalan kualitas pembelajaran.
Ada persoalan kecerdasan artifisial.
Semua membutuhkan perhatian.
Maka organisasi guru juga harus terus bergerak mengikuti zaman.
Guru Jangan Hanya Menunggu
Namun saya juga ingin mengajak teman-teman guru melihat persoalan ini dari sisi yang lain.
Jangan hanya menunggu organisasi bekerja.
Guru juga harus ikut bergerak.
Bagaimana caranya?
Sederhana.
Mulailah dengan menjadi guru yang profesional.
Terus belajar.
Terus membaca.
Terus menulis.
Terus mengikuti perkembangan pendidikan.
Terus meningkatkan kompetensi.
Dan jangan berhenti menyampaikan aspirasi melalui jalur yang benar.
Saya sendiri memilih menulis.
Saya menulis pengalaman mengajar.
Saya menulis perjalanan mengikuti berbagai kegiatan pendidikan.
Saya menulis tentang guru.
Saya menulis tentang teknologi.
Saya menulis tentang kehidupan.
Mengapa?
Karena saya percaya tulisan dapat menjadi rekam jejak perjuangan.
Apa yang kita tulis hari ini mungkin tidak langsung menghasilkan perubahan.
Tetapi suatu saat nanti tulisan itu bisa menjadi dokumen sejarah.
Bisa menjadi bahan refleksi.
Bisa menjadi inspirasi bagi guru lain.
Bahkan bisa menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan bahwa pernah ada guru yang menyuarakan persoalan tersebut.
Bergerak dalam Senyap Bukan Berarti Diam
Saya kembali teringat pesan Ibu Ketum.
“Mantap, buat artikelnya dalam kisah Omjay.”
Saya memaknainya sebagai sebuah ajakan untuk terus menjaga optimisme.
PGRI terus bergerak.
Mungkin tidak semuanya terlihat.
Mungkin tidak semuanya diberitakan.
Mungkin tidak semua proses bisa disampaikan secara terbuka.
Tetapi selama aspirasi guru terus dibawa dan diperjuangkan, kita tidak boleh kehilangan harapan.
Dalam sebuah perjuangan, terkadang kita memang harus bersabar.
Seperti petani yang menanam padi.
Hari pertama menanam, tidak langsung panen.
Hari kedua belum panen.
Hari ketiga juga belum.
Petani menyiram.
Membersihkan rumput.
Menjaga tanaman dari hama.
Menunggu hujan.
Menunggu matahari.
Kemudian setelah berbulan-bulan, barulah hasilnya terlihat.
Perjuangan guru pun demikian.
Kita menanam harapan.
Kita merawat persatuan.
Kita menyampaikan aspirasi.
Kita berdialog.
Kita mengawal kebijakan.
Dan kita menunggu hasilnya dengan tetap kritis.
Saya Memilih Menulis
Mungkin ada yang bertanya, mengapa Omjay selalu menulis?
Jawabannya sederhana.
Karena saya tidak ingin suara guru hilang begitu saja.
Saya ingin setiap kegelisahan memiliki ruang untuk disampaikan.
Saya ingin setiap perjuangan memiliki catatan.
Saya ingin generasi guru berikutnya mengetahui bahwa sebelum mereka menikmati sebuah kebijakan, ada orang-orang yang pernah memperjuangkannya.
Menulis bagi saya bukan sekadar mencari pembaca.
Menulis adalah cara saya merawat ingatan.
Menulis adalah cara saya berbicara kepada banyak orang.
Menulis adalah cara saya mengajak guru berdiskusi.
Dan menulis adalah cara saya menjaga harapan.
Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan teman-teman:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Jangan Kehilangan Harapan
Untuk teman-teman guru yang sedang bertanya tentang kesejahteraan, saya ingin mengatakan satu hal.
Jangan kehilangan harapan.
Teruslah menyampaikan aspirasi.
Teruslah mengawal perjuangan.
Teruslah bertanya dengan cara yang santun.
Teruslah memberikan masukan.
Dan teruslah menjaga persatuan.
Kita tidak tahu kapan sebuah kebijakan akan berubah.
Kita tidak tahu kapan harapan itu menjadi kenyataan.
Tetapi kita tahu satu hal.
Jika kita berhenti berjuang, maka kemungkinan perubahan akan semakin kecil.
Sebaliknya, jika kita terus bergerak, terus berdialog, terus menulis, terus menyampaikan aspirasi, dan terus mengawal prosesnya, maka selalu ada kemungkinan perubahan terjadi.
Mungkin bukan hari ini.
Mungkin bukan besok.
Tetapi bisa jadi suatu hari nanti.
PGRI dan Harapan Guru Indonesia
Saya berharap PGRI terus menjadi rumah besar yang mampu menyatukan suara guru Indonesia.
Saya berharap perjuangan terhadap kesejahteraan guru terus dikawal.
Saya berharap pemerintah juga semakin mendengarkan suara guru.
Sebab pendidikan tidak akan pernah bisa berdiri kokoh jika orang-orang yang berada di garis depan pendidikan justru merasa tidak diperhatikan.
Kita ingin guru Indonesia menjadi guru yang bermartabat.
Guru yang sejahtera.
Guru yang terlindungi.
Guru yang profesional.
Guru yang terus belajar.
Guru yang mampu beradaptasi dengan teknologi.
Dan yang paling penting, guru yang tetap memiliki hati untuk mendidik.
Pada akhirnya, perjuangan kesejahteraan guru bukan hanya tentang angka.
Bukan hanya tentang gaji.
Bukan hanya tentang tunjangan.
Lebih jauh dari itu, perjuangan tersebut adalah perjuangan untuk memberikan penghargaan yang layak kepada orang-orang yang setiap hari membantu menyiapkan masa depan bangsa.
Karena di tangan gurulah anak-anak belajar membaca dunia.
Di tangan gurulah karakter dibentuk.
Di tangan gurulah mimpi-mimpi anak Indonesia dirawat.
Maka sudah sepantasnya guru mendapatkan perhatian yang layak.
Penutup: Tetap Bergerak, Tetap Berharap
Malam itu saya kembali menatap layar komputer.
Tulisan ini belum selesai.
Tetapi hati saya sudah menemukan kesimpulan.
Saya tidak ingin mengajak guru untuk hanya menunggu.
Saya juga tidak ingin mengajak guru untuk terus marah.
Saya ingin mengajak guru untuk tetap bergerak.
Bergerak melalui tulisan.
Bergerak melalui organisasi.
Bergerak melalui dialog.
Bergerak melalui karya.
Bergerak melalui pendidikan yang berkualitas.
Dan tentu saja, bergerak dengan tetap menjaga persatuan.
Sebab perjuangan yang besar tidak selalu dimulai dari kerumunan yang besar.
Kadang perjuangan dimulai dari satu pertanyaan sederhana.
“Apa kabar perjuangan guru hari ini?”
Kemudian pertanyaan itu disampaikan kepada organisasi.
Dibawa ke meja pembahasan.
Diperjuangkan melalui berbagai jalur.
Dan akhirnya menjadi sebuah perubahan.
Mungkin itulah arti bergerak dalam senyap.
Bukan berarti diam.
Bukan berarti menyerah.
Bukan berarti tidak bekerja.
Tetapi memilih bekerja dengan tenang, terukur, dan terus-menerus.
Saya percaya, suatu saat nanti guru akan memetik hasil dari perjuangan panjang ini.
Karena itu, jangan pernah berhenti berharap.
Jangan pernah berhenti bersuara.
Dan jangan pernah berhenti menulis.
Saya, Omjay, akan terus menulis kisah guru Indonesia.
Bukan karena saya paling tahu tentang perjuangan.
Tetapi karena saya juga bagian dari keluarga besar guru Indonesia.
Saya merasakan kegelisahan mereka.
Saya mendengar pertanyaan mereka.
Dan saya ingin ikut menjaga harapan mereka.
Semoga PGRI terus kuat.
Semoga para pengurusnya terus diberikan kekuatan untuk memperjuangkan aspirasi guru.
Semoga pemerintah semakin serius meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan guru.
Dan semoga guru Indonesia tetap bersatu dalam memperjuangkan masa depan pendidikan bangsa.
Karena perjuangan belum selesai.
Perjalanan masih panjang.
Dan kita masih punya harapan.
PGRI terus bergerak dalam senyap.
Guru terus mengabdi dengan ikhlas.
Kita terus mengawal perjuangan dengan sabar.
Sebab saya percaya:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam guru Indonesia.
Salam PGRI.
Guru kuat, Indonesia hebat.