Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Jumat, 09 Oktober 2026
Bermalam di The Highland Resort Park Bogor
Kamis, 08 Oktober 2026
kisah Omjay menggunakan teknologi dalam kehidupan saya
Teknologi dalam Kehidupan Saya: Dari WhatsApp, Tatap Layar, hingga Kecerdasan Buatan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay Guru Blogger Indonesia
Malam ini, peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35 kembali belajar bersama. Tema yang kami angkat sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari: “Teknologi dalam Kehidupan Saya.”
Saya sengaja memilih tema ini karena teknologi bukan lagi sesuatu yang jauh dari kehidupan manusia. Teknologi sudah berada di tangan kita, bahkan mungkin menjadi benda pertama yang kita cari ketika bangun tidur dan benda terakhir yang kita lihat sebelum memejamkan mata.
Salah satu teknologi yang sangat dekat dengan kehidupan saya dan peserta KBMN PGRI adalah WhatsApp.
Sejak KBMN PGRI Gelombang 1 sampai Gelombang 35, WhatsApp Group menjadi salah satu sarana utama untuk belajar bersama. Materi dapat dikirimkan dengan cepat. Peserta dapat membaca kapan saja. Diskusi dapat berlangsung tanpa harus berada di ruangan yang sama.
Sederhana, tetapi luar biasa.
Bahkan Prof. Eko Indrajit, pembina kami di KOGTIK PGRI, pernah memberikan saran agar kami menggunakan WhatsApp saja untuk pembelajaran. Alasannya sangat masuk akal. Peserta akan lebih mudah mendapatkan materi. Kuncinya sebenarnya sederhana: mau duduk sebentar dan kemudian membaca.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi dalam dunia pendidikan maknanya sangat dalam.
Teknologi tidak akan memberikan manfaat apabila manusia tidak mau menggunakannya untuk belajar.
Kita boleh memiliki smartphone yang mahal, internet yang cepat, laptop yang canggih, dan berbagai aplikasi pembelajaran. Namun semuanya tidak akan berarti apabila kita tidak memiliki kemauan untuk belajar.
Dari Tatap Muka Menuju Tatap Layar
Pengalaman saya dengan teknologi dalam pendidikan sebenarnya sudah berlangsung cukup lama.
Saya pernah menjadi dosen di Universitas Terbuka selama sekitar empat tahun. Pada awalnya, proses pembelajaran masih banyak dilakukan secara tatap muka. Namun perlahan, perkembangan teknologi mengubah cara kami berinteraksi dengan mahasiswa.
Kami mulai mengenal pembelajaran melalui tatap layar.
Bagi saya, perubahan tersebut merupakan pengalaman yang sangat menarik. Sebagai orang yang belajar dan mengajar dalam bidang teknologi pendidikan, saya melihat sendiri bagaimana teknologi dapat membantu guru dan dosen menyampaikan materi kepada peserta didik.
Indonesia adalah negara kepulauan.
Ada peserta didik yang tinggal di kota besar. Ada pula yang tinggal jauh di pelosok daerah. Jarak menjadi salah satu tantangan dalam pendidikan.
Karena itu, akses internet yang cepat dan merata sangat dibutuhkan oleh warga negara Indonesia.
Teknologi membuat jarak menjadi lebih pendek.
Guru di Jakarta dapat berbicara dengan siswa di daerah lain. Dosen dapat menyampaikan materi kepada mahasiswa yang berada jauh dari kampus. Penulis dapat berbagi gagasan kepada pembaca yang bahkan belum pernah ditemuinya secara langsung.
Inilah salah satu keajaiban teknologi.
Teknologi Membantu Saya Menjadi Guru
Dalam kehidupan saya sekarang, teknologi adalah alat bantu untuk menyampaikan materi yang saya ajarkan.
Apalagi dahulu saya pernah mengajar mata kuliah Media Pembelajaran.
Dari sana saya semakin memahami bahwa teknologi bukanlah tujuan akhir pendidikan. Teknologi hanyalah alat.
Tujuan akhirnya tetap sama: bagaimana peserta didik belajar, memahami, mengalami, dan mampu menerapkan pengetahuan dalam kehidupannya.
Teknologi hanyalah jembatan.
Guru tetap menjadi manusia yang membimbing perjalanan belajar.
Karena itulah saya selalu percaya bahwa teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan hati.
Dari Teknologi Pendidikan Lahir KBMN PGRI
Pengalaman saya menggunakan teknologi dalam pembelajaran kemudian membawa saya kepada sebuah perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Saya membuka Kelas Belajar Menulis Nusantara atau KBMN PGRI.
Kelas ini berkembang dari waktu ke waktu. Peserta datang dari berbagai daerah. Mereka belajar menulis, membaca, membuat blog, menerbitkan buku, dan berbagi pengalaman.
Sarana yang digunakan pun tidak selalu rumit.
WhatsApp menjadi salah satu kendaraan utama kami.
Sesekali kami menggunakan Zoom atau Google Meet apabila diperlukan untuk menyampaikan materi secara langsung.
Dari sinilah saya semakin yakin bahwa teknologi yang sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar apabila digunakan dengan benar.
Alhamdulillah, sudah banyak peserta KBMN PGRI yang menyelesaikan proses belajar dan mendapatkan sertifikat.
Ada yang kemudian menerbitkan buku.
Ada yang mulai aktif menulis di blog.
Ada yang menulis di media massa.
Ada pula yang akhirnya menjadi narasumber dan berbagi ilmu kepada orang lain.
Teknologi menjadi jembatan yang mempertemukan banyak orang dengan kesempatan baru.
Sekitar 21 Hari Lagi: OTN 8
Menariknya, tema pembelajaran malam ini juga sangat bersinggungan dengan kegiatan yang sedang kami persiapkan.
Dalam waktu sekitar 21 hari lagi, komunitas guru TIK dan Informatika akan melaksanakan OTN 8.
Kami ingin teknologi semakin dekat dengan kehidupan siswa dan guru.
Melalui OTN 8, kami ingin memberikan ruang kepada anak-anak untuk mengenal dan mengembangkan kemampuan di bidang teknologi, informatika, koding, robotik, kecerdasan artifisial, dan bidang terkait lainnya.
Kami juga berharap kegiatan ini dapat melewati proses kurasi Puspresnas Kemdikdasmen.
Bagi kami, kegiatan seperti OTN bukan hanya tentang lomba dan siapa yang menjadi juara.
Lebih dari itu, kami ingin menumbuhkan keberanian anak-anak untuk mencoba teknologi, memecahkan masalah, berkreasi, dan menghasilkan sesuatu.
Sebab anak-anak hari ini adalah generasi yang akan hidup dalam dunia teknologi yang jauh lebih maju.
Tugas kita sebagai guru bukan menjauhkan mereka dari teknologi.
Tugas kita adalah membimbing mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan cerdas, kreatif, etis, dan bertanggung jawab.
Sekarang Kita Memasuki Era AI
Perjalanan teknologi tidak berhenti pada WhatsApp, Zoom, Google Meet, blog, atau berbagai aplikasi pembelajaran.
Sekarang kita memasuki era Artificial Intelligence atau AI, yang sering kita sebut sebagai kecerdasan buatan.
Saya sendiri merasakan bahwa dengan adanya AI, kegiatan belajar membaca dan menulis menjadi semakin mudah.
Orang dapat memperoleh ide tulisan dalam hitungan detik.
Kita dapat meminta bantuan AI untuk membuat kerangka tulisan, memperbaiki struktur kalimat, mencari alternatif judul, menerjemahkan bahasa, bahkan membantu menyusun sebuah buku.
Saya sendiri pernah diajari membuat buku hanya dengan satu prompt menggunakan ChatGPT berbayar.
Luar biasa?
Tentu saja.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh kita lupakan.
Kecerdasan buatan memang pintar, tetapi manusia yang membuatnya jauh lebih pintar.
Karena itu, jangan takut kepada AI.
Gunakan AI sebagai alat bantu.
Jangan sampai kita justru menjadi alat bagi AI.
AI Boleh Membantu, tetapi Pengalaman Tetap Milik Kita
Sebagai seorang penulis, saya mempunyai prinsip sederhana.
AI boleh membantu kita menemukan ide.
AI boleh membantu kita membuat kerangka.
AI boleh membantu kita memperbaiki tulisan.
AI boleh membantu kita belajar.
Tetapi pengalaman hidup tetap milik kita.
Tidak ada AI yang mengalami masa kecil kita.
Tidak ada AI yang merasakan perjuangan kita menjadi guru.
Tidak ada AI yang merasakan kebahagiaan ketika buku pertama kita terbit.
Tidak ada AI yang merasakan air mata ketika kita mengalami kegagalan.
Dan tidak ada AI yang bisa menggantikan seluruh pengalaman manusia.
Karena itulah tulisan yang paling kuat sering kali bukan tulisan yang paling rumit.
Tulisan yang paling kuat adalah tulisan yang jujur dan berasal dari pengalaman.
Saya Masih Mengingat Pesan Almarhum Dr. Nusa Putra
Ada satu kalimat yang sampai hari ini masih saya ingat.
Kalimat tersebut disampaikan oleh almarhum Dr. Nusa Putra, guru menulis saya ketika belajar di Pascasarjana UNJ.
Beliau mengatakan bahwa untuk menulis, kita tidak perlu terlalu banyak berpikir sampai akhirnya tidak pernah mulai.
Kita hanya perlu duduk sebentar dan mulai menulis.
Kalimat itu sudah disampaikan sekitar sepuluh tahun lalu.
Namun sampai sekarang masih melekat kuat dalam ingatan saya.
Mengapa?
Karena memang benar.
Banyak orang ingin menjadi penulis.
Tetapi tidak banyak yang mau duduk dan mulai menulis.
Banyak orang mempunyai pengalaman luar biasa.
Tetapi pengalaman tersebut hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan.
Banyak guru memiliki cerita inspiratif.
Tetapi cerita tersebut hanya berhenti menjadi percakapan di ruang guru.
Padahal bisa jadi cerita sederhana seorang guru mampu mengubah hidup seorang pembaca.
Duduklah Sebentar, Lalu Menulislah
Malam ini saya ingin mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 melakukan hal yang sederhana.
Tidak perlu mencari tema yang terlalu jauh.
Lihatlah kehidupan kita sendiri.
Teknologi apa yang paling membantu kehidupan Anda?
Apakah WhatsApp?
Apakah smartphone?
Apakah laptop?
Apakah internet?
Apakah Zoom?
Apakah Google Meet?
Apakah blog?
Apakah AI?
Atau mungkin sebuah teknologi sederhana yang selama ini menemani perjalanan hidup Anda?
Pilih satu.
Kemudian ceritakan.
Kapan pertama kali mengenalnya?
Mengapa Anda menggunakannya?
Apa yang berubah setelah Anda menggunakannya?
Apa manfaatnya?
Apa masalah yang pernah Anda alami?
Apa pelajaran yang Anda dapatkan?
Dari pertanyaan-pertanyaan sederhana itu, sebuah tulisan akan lahir.
Tidak perlu menunggu sempurna.
Tidak perlu menunggu punya laptop mahal.
Tidak perlu menunggu mendapatkan ide yang luar biasa.
Ambil smartphone Anda.
Buka WhatsApp atau aplikasi pengolah kata.
Kemudian mulailah menulis.
Sebab sering kali masalah terbesar seorang penulis bukan tidak punya ide.
Masalah terbesar seorang penulis adalah tidak segera mulai menulis.
Teknologi Adalah Alat, Manusia Tetap Pemegang Kendali
Saya bersyukur hidup di zaman teknologi.
Saya dapat mengajar menggunakan teknologi.
Saya dapat menulis menggunakan teknologi.
Saya dapat berkomunikasi dengan guru dan peserta KBMN dari berbagai daerah menggunakan teknologi.
Saya dapat mengembangkan kegiatan OTN menggunakan teknologi.
Saya juga dapat belajar menggunakan kecerdasan artifisial.
Namun saya tidak ingin teknologi mengambil alih kehidupan saya.
Teknologi harus tetap menjadi alat.
Manusia tetap menjadi pengendali.
Sebab secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan keteladanan.
Tulisan tetap membutuhkan pengalaman.
Dan manusia tetap membutuhkan manusia lainnya.
Malam ini, setelah materi KBMN PGRI Gelombang 35 selesai, mungkin ada peserta yang masih bingung harus menulis apa.
Saya hanya ingin mengingatkan pesan guru menulis saya, almarhum Dr. Nusa Putra.
Duduklah sebentar.
Kemudian mulailah menulis.
Tidak perlu menunggu tulisan menjadi sempurna.
Tuliskan pengalaman Anda.
Tuliskan perjuangan Anda.
Tuliskan teknologi yang menemani kehidupan Anda.
Tuliskan bagaimana teknologi mengubah cara Anda belajar, bekerja, mengajar, berkomunikasi, dan berkarya.
Karena suatu hari nanti, teknologi akan terus berubah.
Aplikasi yang hari ini kita gunakan mungkin suatu saat akan ditinggalkan.
Namun cerita tentang perjalanan hidup kita akan tetap memiliki nilai.
Teknologi membantu kita bekerja lebih cepat.
Teknologi membantu kita belajar lebih mudah.
Teknologi membantu kita berkomunikasi lebih jauh.
Tetapi hanya manusia yang bisa memberikan makna.
Dan hanya tulisan yang mampu membuat pengalaman itu tetap hidup ketika kita sudah tidak lagi berada di sana.
Mari gunakan teknologi untuk belajar.
Mari gunakan teknologi untuk berkarya.
Mari gunakan teknologi untuk menulis.
Dan yang paling penting:
Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah manusia yang mampu menggunakan teknologi untuk menginspirasi sesama.
Salam literasi.
Menulislah dengan hati. Menulislah setiap hari. Karena guru yang menulis adalah guru yang menginspirasi.
Materi Kedelapan KBMN PGRI gelombang 35 tema Teknologi dalam Kehidupan saya
AMT SMP Labschool Jakarta
ketika omjay di wawancara kru metrotv
Dari Demo di UNJ hingga OTN 8: Perjuangan Panjang Menjaga Api Informatika Tetap Menyala
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay Guru Blogger Indonesia
Pagi ini Facebook kembali mengingatkan saya pada sebuah perjalanan panjang yang ternyata belum selesai. Sebuah foto lama muncul kembali di beranda. Sekilas mungkin hanya sebuah foto biasa, tetapi bagi saya foto itu menyimpan cerita, perjuangan, kegelisahan, sekaligus harapan tentang masa depan pendidikan informatika di Indonesia. Saya teringat pada masa ketika kami bersama-sama memperjuangkan agar Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) tetap mendapatkan tempat yang layak dalam dunia pendidikan. Saat itu, kebijakan Kurikulum 2013 membuat TIK tidak lagi berdiri seperti sebelumnya dan bergeser ke dalam pembelajaran Prakarya. Bagi kami yang setiap hari bersentuhan dengan dunia TIK, perubahan tersebut bukan sekadar perubahan nama mata pelajaran. Ada kekhawatiran besar bahwa kemampuan literasi digital dan keterampilan teknologi siswa akan semakin jauh dari perhatian sekolah.
Kami pun bergerak. Salah satu momen yang sampai sekarang masih saya ingat adalah ketika kami melakukan aksi penyampaian aspirasi di kampus UNJ Rawamangun. Kami datang bukan karena membenci perubahan, tetapi karena ingin menyampaikan suara guru dan masyarakat pendidikan. Kami percaya bahwa perkembangan teknologi tidak mungkin dihentikan hanya dengan menghapus sebuah mata pelajaran dari struktur kurikulum. Teknologi justru semakin berkembang dan masuk ke hampir seluruh kehidupan manusia. Anak-anak kita akan hidup di dunia digital, sehingga sekolah harus mempersiapkan mereka agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, menciptakan, dan memanfaatkannya secara bijak.
Pada saat itu, saya bahkan berkesempatan diwawancarai oleh kru Metro TV. Saya masih mengingat suasananya. Di tengah kesibukan aksi dan diskusi, ada kamera yang merekam suara kami. Bagi saya, wawancara tersebut bukan tentang siapa yang tampil di televisi, tetapi tentang bagaimana suara guru bisa sampai kepada masyarakat. Kami ingin menyampaikan pesan sederhana: jangan sampai pendidikan Indonesia berjalan meninggalkan teknologi, sementara anak-anak kita justru hidup di dalamnya setiap hari.
Waktu terus berjalan. Kebijakan pendidikan berubah. Istilah berubah. Kurikulum berubah. Teknologi juga berubah dengan sangat cepat. TIK berkembang menjadi informatika, coding semakin dikenal, kecerdasan artifisial atau artificial intelligence mulai menjadi bagian penting dalam kehidupan, dan dunia pendidikan kembali menyadari bahwa kemampuan komputasional, literasi digital, coding, data, AI, serta etika teknologi merupakan kompetensi penting bagi generasi masa depan.
Namun ada satu hal yang tidak berubah: semangat untuk memperjuangkan pendidikan informatika.
Hari ini, ketika Facebook menampilkan kembali foto lama tersebut, saya seperti sedang diajak bercermin oleh sejarah. Saya melihat perjalanan yang panjang. Dahulu kami berdiri dan menyuarakan pentingnya TIK di dunia pendidikan. Sekarang kami masih berdiri, tetapi bentuk perjuangannya sudah berbeda. Kalau dulu kami menyampaikan aspirasi melalui aksi dan wawancara, kini kami berusaha menghadirkan ruang belajar, kompetisi, seminar, komunitas, dan berbagai kegiatan yang membuat anak-anak Indonesia semakin dekat dengan informatika, coding, robotik, kecerdasan artifisial, dan teknologi digital.
Salah satu ikhtiar itu adalah OTN 8 tahun 2026.
OTN atau Olimpiade TIK dan Informatika yang terus berkembang menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan, kreativitas, keberanian, dan kecintaan mereka terhadap teknologi. Tahun ini OTN 8 akan diselenggarakan di JICC Senayan, Jakarta, pada 29 Oktober sampai 1 November 2026, sebagai bagian dari Main Event Indocomtech 2026. Bagi saya, tempat tersebut bukan hanya sebuah lokasi perlombaan. JICC akan menjadi ruang pertemuan anak-anak hebat dari berbagai daerah, guru-guru inspiratif, komunitas pendidikan, praktisi teknologi, dan mereka yang percaya bahwa masa depan Indonesia harus dibangun dengan sumber daya manusia yang mampu menguasai teknologi.
Menariknya, perjalanan menuju OTN 8 ini terasa semakin bermakna ketika saya mengingat foto lama tersebut. Dulu kami berjuang agar TIK jangan sampai hilang dari perhatian pendidikan. Kini kami justru mengajak anak-anak untuk berkompetisi dalam dunia yang jauh lebih luas: informatika, coding, kecerdasan artifisial, robotik, dan berbagai keterampilan digital lainnya. Dulu kami memperjuangkan ruang untuk TIK. Sekarang kami membuka ruang bagi generasi muda untuk menunjukkan bahwa mereka mampu menguasai teknologi.
Inilah yang membuat saya percaya bahwa perjuangan pendidikan tidak pernah benar-benar selesai. Generasi boleh berganti. Kurikulum boleh berubah. Teknologi boleh berkembang. Tetapi semangat seorang guru untuk memberikan yang terbaik kepada muridnya harus tetap menyala.
Saya teringat sebuah kalimat yang sering saya sampaikan kepada teman-teman guru: jangan hanya menjadi penonton perubahan. Jadilah bagian dari perubahan itu sendiri. Guru tidak cukup hanya mengajarkan apa yang sudah ada di buku. Guru juga harus berani melihat apa yang akan terjadi lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang. Anak-anak yang kita ajar hari ini akan menjadi orang-orang yang mengambil keputusan di masa depan. Karena itu, mereka harus diberi kesempatan untuk mencoba, gagal, belajar, berkreasi, berkompetisi, dan menemukan potensi dirinya.
OTN 8 bukan sekadar lomba untuk mencari juara. Di balik setiap peserta yang datang, ada orang tua yang mendukung, ada guru yang membimbing, ada sekolah yang memberikan kesempatan, dan ada anak yang mungkin sedang menemukan jalan hidupnya. Bisa jadi seorang peserta yang hari ini mengikuti lomba coding kelak menjadi programmer hebat. Peserta robotik mungkin kelak menjadi insinyur. Peserta yang tertarik AI mungkin kelak menjadi peneliti kecerdasan artifisial. Anak yang hari ini belajar memecahkan masalah melalui informatika bisa saja kelak menciptakan teknologi yang memberikan manfaat besar bagi masyarakat.
Karena itu, jangan melihat OTN hanya dari piala dan medali. Lihatlah OTN sebagai sebuah proses pendidikan. Anak-anak belajar bekerja keras, berpikir logis, menyelesaikan masalah, bekerja sama, berani tampil, menerima kekalahan, dan menghargai kemenangan. Semua pengalaman itu jauh lebih berharga daripada sekadar selembar sertifikat.
Dan sekarang kita sudah memasuki 8 Oktober 2026. Artinya, dari hari ini menuju pembukaan OTN 8 pada 29 Oktober 2026, tinggal 21 hari lagi. Dua puluh satu hari mungkin terasa singkat. Tetapi dalam 21 hari, seorang siswa masih bisa mempersiapkan diri. Seorang guru masih bisa membimbing siswanya. Sebuah sekolah masih bisa menentukan peserta terbaiknya. Dan sebuah keluarga masih bisa memberikan dukungan kepada anaknya untuk berani mencoba pengalaman baru.
OTN 8 tinggal 21 hari lagi.
Pertanyaannya sekarang bukan lagi apakah teknologi penting bagi pendidikan. Kita sudah tahu jawabannya. Pertanyaannya adalah: sudahkah kita memberikan kesempatan kepada anak-anak kita untuk menjadi bagian dari masa depan teknologi tersebut?
Kalau Anda seorang guru, ajaklah siswa terbaik Anda untuk ikut. Kalau Anda seorang kepala sekolah, berikan kesempatan kepada anak-anak di sekolah Anda untuk berprestasi. Kalau Anda orang tua, dukunglah anak Anda untuk mencoba sesuatu yang mungkin selama ini belum pernah mereka lakukan. Jangan takut jika mereka belum menjadi juara. Sebab keberanian untuk mendaftar, belajar, berlatih, dan tampil saja sudah merupakan sebuah kemenangan.
Pendaftaran resmi OTN 8 dapat dilakukan melalui:
Informasi panitia dapat diperoleh melalui 08159155515 (Omjay), Ketua KOGTIK PGRI OTN 8 2026.
Saya tidak tahu sampai kapan perjalanan perjuangan ini akan terus berlangsung. Tetapi saya tahu satu hal: selama masih ada guru yang peduli, masih ada anak-anak yang ingin belajar, dan masih ada komunitas yang mau bergerak, harapan pendidikan Indonesia akan selalu hidup.
Foto lama yang muncul kembali hari ini akhirnya mengajarkan saya sebuah pelajaran sederhana. Perjuangan yang dilakukan dengan hati tidak pernah benar-benar menjadi masa lalu. Ia akan menemukan bentuk baru pada zamannya.
Dulu kami berdiri memperjuangkan TIK.
Hari ini kami berdiri bersama anak-anak Indonesia melalui OTN 8.
Dan mungkin, suatu hari nanti, anak-anak yang mengikuti OTN 8 inilah yang akan berdiri di tempat kami, memperjuangkan pendidikan Indonesia dengan teknologi yang bahkan belum kita bayangkan hari ini.
Mari kita hitung bersama hari-harinya. OTN 8 tinggal 21 hari lagi.
Jangan hanya menjadi penonton. Ayo bergabung bersama kami di OTN 8 JICC Senayan Jakarta. Karena masa depan teknologi Indonesia sedang kita siapkan mulai hari ini.
Rabu, 07 Oktober 2026
Tugas Menulis dengan Tema Mengapa Guru Menulis?
## KBMN PGRI GELOMBANG 35
### Tema:
# “Mengapa Guru Perlu Menulis?”
**Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)**
Bapak/Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan,
Setelah mengikuti materi **“Mengapa Guru Perlu Menulis?”**, sekarang saatnya kita tidak hanya berbicara tentang menulis, tetapi **langsung praktik menulis**.
Jangan takut salah.
Jangan menunggu tulisan sempurna.
**Mulailah menulis dari pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan kita sebagai guru.**
---
## A. TUGAS UTAMA
Tulislah sebuah artikel dengan tema:
### “Mengapa Saya Perlu Menulis sebagai Guru?”
Bapak/Ibu bebas mengembangkan judul agar lebih menarik.
Contoh judul:
1. **Mengapa Saya Harus Menulis sebagai Guru?**
2. **Saya Guru, Saya Menulis, Saya Menginspirasi**
3. **Menulis untuk Mengabadikan Pengalaman Mengajar**
4. **Dari Kelas Menuju Tulisan**
5. **Guru Menulis, Guru Menginspirasi**
6. **Jangan Biarkan Pengalaman Mengajar Hilang**
7. **Menulis adalah Cara Saya Belajar Menjadi Guru**
8. **Satu Hari Satu Tulisan, Mungkinkah?**
9. **Saya Bukan Penulis, tetapi Saya Ingin Menulis**
10. **Tulisan Guru adalah Jejak yang Tak Lekang oleh Waktu**
Boleh menggunakan judul sendiri yang lebih kreatif.
---
## B. ISI TULISAN
Tulisan minimal **700 kata**.
Tulisan sebaiknya memuat:
### 1. Pengalaman
Ceritakan pengalaman Bapak/Ibu sebagai guru yang berhubungan dengan kegiatan menulis.
Misalnya:
- pernah menulis artikel;
- pernah menulis di blog;
- pernah membuat modul;
- pernah menulis buku;
- pernah membuat bahan ajar;
- pernah mengikuti lomba menulis;
- pernah menulis untuk sekolah;
- atau justru belum pernah menulis sama sekali.
### 2. Alasan
Jawab pertanyaan:
**Mengapa guru perlu menulis?**
Tuliskan berdasarkan pemahaman dan pengalaman pribadi.
### 3. Tantangan
Ceritakan apa yang membuat Bapak/Ibu sulit menulis.
Misalnya:
- tidak punya waktu;
- bingung mencari ide;
- takut tulisan jelek;
- tidak percaya diri;
- sulit memulai;
- belum terbiasa menulis;
- atau terlalu sibuk dengan pekerjaan.
### 4. Solusi
Ceritakan bagaimana Bapak/Ibu akan mengatasi hambatan tersebut.
### 5. Komitmen
Tuliskan komitmen setelah mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35.
Contoh:
> “Saya akan mulai menulis minimal satu paragraf setiap hari.”
atau:
> “Saya akan menulis satu artikel setiap minggu dan mempublikasikannya di blog.”
---
# C. GUNAKAN RUMUS 5W + 1H
Agar tulisan lebih mudah dikembangkan, gunakan pertanyaan berikut:
**What:** Apa yang ingin saya tulis?
**Who:** Siapa yang terlibat dalam pengalaman tersebut?
**When:** Kapan pengalaman itu terjadi?
**Where:** Di mana pengalaman itu terjadi?
**Why:** Mengapa pengalaman tersebut penting?
**How:** Bagaimana pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya?
Tambahkan satu pertanyaan penting:
### “Apa pelajaran yang saya dapatkan?”
Inilah bagian refleksi yang membuat tulisan menjadi lebih bermakna.
---
# D. WAJIB ADA UNSUR PENGALAMAN PRIBADI
Jangan hanya menulis teori tentang manfaat menulis.
Masukkan **kisah nyata Bapak/Ibu sendiri**.
Misalnya:
> “Saya pernah mendapatkan tugas membuat artikel. Saat itu saya merasa tidak mampu. Saya sudah membuka laptop selama hampir satu jam, tetapi halaman Word masih kosong. Dari pengalaman itu saya menyadari bahwa masalah terbesar bukan tidak punya ide, melainkan takut memulai.”
Cerita sederhana seperti itu justru dapat membuat tulisan menjadi hidup.
---
# E. PUBLIKASIKAN TULISAN
Setelah selesai, publikasikan tulisan di:
**Blog pribadi masing-masing peserta.**
Bagi peserta yang belum mempunyai blog, dapat menggunakan platform menulis yang tersedia.
Setelah tulisan dipublikasikan, kirimkan:
1. **Nama lengkap**
2. **Asal sekolah/instansi**
3. **Judul tulisan**
4. **Link tulisan**
5. **Satu kalimat inspiratif dari tulisan**
---
# F. TUGAS TAMBAHAN
Buat satu kalimat yang menggambarkan alasan Bapak/Ibu ingin menjadi penulis.
Contoh:
> **“Saya menulis bukan karena saya sudah hebat, tetapi karena saya ingin terus belajar.”**
Atau:
> **“Saya menulis agar pengalaman mengajar saya tidak hilang ditelan waktu.”**
Atau:
> **“Saya ingin tulisan saya menjadi jejak kebaikan bagi guru dan murid.”**
Tuliskan kalimat tersebut di akhir artikel.
---
# G. TARGET TUGAS
Setelah menyelesaikan tugas ini, peserta diharapkan:
✅ berani memulai menulis;
✅ mampu mengubah pengalaman menjadi tulisan;
✅ mampu melakukan refleksi sebagai guru;
✅ memiliki minimal satu artikel;
✅ mampu mempublikasikan tulisan di blog;
✅ mulai membangun kebiasaan menulis;
✅ dan memiliki keberanian untuk terus berkarya.
---
# H. PESAN OMJAY
Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.
**Mulailah menulis agar menjadi penulis hebat.**
Jangan menunggu punya banyak waktu.
**Sisihkan waktu untuk menulis.**
Jangan menunggu punya ide besar.
**Tuliskan pengalaman kecil yang bermakna.**
Dan jangan takut tulisan kita tidak dibaca.
Sebab tulisan pertama bukan tentang berapa banyak orang yang membaca.
Tulisan pertama adalah tentang **keberanian kita untuk memulai.**
### Selamat menulis.
### Selamat berkarya.
### Selamat menginspirasi.
**Guru menulis adalah guru yang menginspirasi.**
**Menulislah dengan hati, karena pengalaman guru adalah sumber inspirasi yang tidak pernah habis.**
**Salam literasi!**
**Omjay**
Blog https://wijayalabs.com
Mengapa Guru Perlu Menulis?
MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35
Mengapa Guru Perlu Menulis?
Menulis untuk Mengabadikan Pengalaman, Menginspirasi, dan Meninggalkan Jejak
Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay Guru Blogger Indonesia
A. Pembuka: Guru dan Tulisan
Bapak/Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan,
Pernahkah kita bertanya kepada diri sendiri:
“Kalau semua pengalaman mengajar kita hilang begitu saja, apa yang akan tersisa?”
Setiap hari guru mengajar. Setiap hari guru berbicara. Setiap hari guru menghadapi berbagai karakter peserta didik. Ada siswa yang membuat kita tersenyum, ada yang membuat kita berpikir keras, bahkan ada yang membuat kita hampir menyerah.
Namun, banyak pengalaman berharga itu berhenti menjadi cerita lisan.
Padahal, pengalaman seorang guru sesungguhnya adalah harta yang sangat mahal.
Ketika pengalaman itu ditulis, pengalaman pribadi dapat berubah menjadi pengetahuan yang bermanfaat bagi orang lain.
Karena itu saya sering mengatakan:
“Guru menulis adalah guru yang menginspirasi.”
B. Mengapa Guru Perlu Menulis?
Ada banyak alasan mengapa guru perlu menulis.
1. Karena Guru Memiliki Banyak Cerita
Guru setiap hari berhadapan dengan manusia.
Bukan hanya dengan buku dan kurikulum, tetapi dengan anak-anak yang mempunyai mimpi, masalah, karakter, dan kehidupan yang berbeda.
Ada siswa yang awalnya tidak bisa membaca lalu menjadi lancar.
Ada siswa yang tidak percaya diri kemudian berani tampil di depan kelas.
Ada siswa yang dahulu malas belajar kemudian menemukan cita-citanya.
Semua itu adalah cerita pendidikan.
Sayangnya, jika tidak ditulis, cerita tersebut akan hilang bersama waktu.
Menulis membuat pengalaman itu tetap hidup.
2. Menulis Membuat Guru Berpikir
Menulis bukan sekadar memindahkan kata dari pikiran ke kertas.
Menulis membuat kita bertanya:
• Apa yang sebenarnya terjadi?
• Mengapa hal itu terjadi?
• Apa yang saya pelajari?
• Apa kesalahan saya?
• Apa yang bisa diperbaiki?
• Apa manfaat pengalaman ini bagi guru lain?
Dengan menulis, guru melakukan refleksi.
Guru tidak hanya mengajar, tetapi belajar dari proses mengajarnya sendiri.
3. Menulis Membantu Guru Berbagi Praktik Baik
Setiap guru memiliki pengalaman baik.
Namun pengalaman itu sering hanya diketahui oleh guru tersebut dan beberapa orang di sekolahnya.
Bayangkan jika pengalaman tersebut ditulis di blog, media pendidikan, jurnal, atau buku.
Guru dari Jakarta dapat belajar dari guru di Papua.
Guru di Bandung dapat belajar dari guru di Makassar.
Guru di sekolah kecil dapat berbagi inspirasi kepada guru di sekolah besar.
Inilah kekuatan tulisan.
Satu pengalaman yang ditulis dapat menginspirasi ribuan orang.
4. Menulis Membangun Personal Branding Guru
Pada zaman digital, guru tidak hanya dikenal melalui sekolah tempatnya bekerja.
Guru dapat dikenal karena gagasan dan karya yang dihasilkan.
Blog, buku, artikel, video, dan media sosial dapat menjadi ruang bagi guru untuk menunjukkan kompetensinya.
Misalnya, seorang guru yang konsisten menulis tentang:
Informatika → Coding → AI → Pendidikan
lama-kelamaan akan dikenal sebagai guru yang mempunyai keahlian di bidang tersebut.
Inilah yang disebut personal branding.
Personal branding bukan berarti mencari popularitas semata.
Personal branding adalah membangun reputasi melalui karya dan konsistensi.
5. Menulis Membuka Pintu Kesempatan
Saya percaya bahwa tulisan dapat membuka pintu yang tidak pernah kita duga.
Sebuah artikel dapat membuat kita diundang menjadi narasumber.
Sebuah buku dapat mempertemukan kita dengan komunitas baru.
Sebuah blog dapat mempertemukan kita dengan orang-orang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Sebuah tulisan sederhana dapat menjadi awal perjalanan yang luar biasa.
Karena itu jangan pernah meremehkan tulisan sendiri.
Tulisan hari ini mungkin menjadi pintu kesempatan kita di masa depan.
6. Menulis Membantu Guru Naik Kelas
Guru yang menulis akan semakin terlatih untuk:
• berpikir kritis,
• membaca,
• melakukan refleksi,
• menyusun gagasan,
• berkomunikasi,
• mendokumentasikan pengalaman,
• dan menghasilkan karya.
Menulis juga dapat menjadi bagian dari pengembangan profesional guru.
Guru tidak berhenti menjadi pengajar.
Guru berkembang menjadi:
guru → penulis → pembelajar → penggerak → inspirator.
7. Menulis Adalah Cara Mengabadikan Gagasan
Manusia mempunyai umur yang terbatas.
Namun tulisan dapat hidup lebih lama daripada penulisnya.
Kita mungkin tidak selamanya berada di sekolah.
Suatu saat kita pensiun.
Suatu saat kita tidak lagi mengajar.
Tetapi buku yang kita tulis masih dapat dibaca.
Artikel yang kita publikasikan masih dapat ditemukan.
Blog yang kita bangun masih dapat memberikan manfaat.
Karena itu saya mempunyai prinsip:
“Menulislah sebelum terlambat. Terbitkan bukumu sebelum ajal menjemput.”
Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti.
Ini adalah pengingat bahwa waktu tidak pernah bisa kita ulang.
C. Apa yang Bisa Ditulis Guru?
Bapak/Ibu tidak perlu mencari topik yang terlalu rumit.
Mulailah dari kehidupan sehari-hari.
1. Pengalaman Mengajar
Contoh:
“Ketika Siswa Saya Akhirnya Berani Bertanya”
2. Kisah Inspiratif Siswa
Contoh:
“Dari Siswa Pemalu Menjadi Juara Pidato”
3. Praktik Baik Pembelajaran
Contoh:
“Mengajarkan Coding Tanpa Komputer di Sekolah”
4. Refleksi Guru
Contoh:
“Hari Ini Saya Belajar dari Murid Saya”
5. Teknologi Pendidikan
Contoh:
“Menggunakan AI Secara Bijak dalam Pembelajaran”
6. Pengalaman Mengikuti Pelatihan
Contoh:
“Apa yang Saya Dapatkan dari Pelatihan Guru Hari Ini?”
7. Kisah Kegagalan
Jangan takut menulis kegagalan.
Kegagalan dapat menjadi tulisan yang sangat menarik.
Misalnya:
“Saya Gagal, tetapi Saya Belajar Sesuatu yang Berharga.”
D. Rumus Sederhana Menulis Artikel
Bapak/Ibu yang masih bingung memulai tulisan dapat menggunakan rumus:
5W + 1H + REFLEKSI
What — Apa yang terjadi?
Who — Siapa yang terlibat?
When — Kapan terjadi?
Where — Di mana terjadi?
Why — Mengapa terjadi?
How — Bagaimana prosesnya?
Kemudian tambahkan:
Apa yang saya pelajari?
Bagian refleksi inilah yang sering membuat tulisan guru menjadi lebih hidup.
E. Jangan Menunggu Tulisan Sempurna
Salah satu penyakit penulis pemula adalah:
“Saya belum bisa menulis.”
Alasan lainnya:
“Saya tidak punya ide.”
“Saya tidak pandai merangkai kata.”
“Tulisan saya jelek.”
“Nanti kalau sudah punya waktu.”
Padahal menulis adalah keterampilan.
Keterampilan tidak lahir karena menunggu.
Keterampilan lahir karena berlatih.
Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.
Mulailah menulis agar menjadi penulis hebat.
F. Menulis dengan Hati
Teknologi kecerdasan artifisial sekarang dapat membantu guru mencari ide, membuat kerangka, memperbaiki struktur kalimat, dan mengembangkan tulisan.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang:
HATI PENULIS.
AI dapat membantu mengolah kata.
Tetapi pengalaman hidup kita adalah milik kita sendiri.
Karena itu saya mempunyai prinsip:
“Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan ChatGPT.”
Gunakan AI sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti pengalaman dan pemikiran guru.
Tuliskan apa yang benar-benar kita alami.
Tuliskan apa yang kita rasakan.
Tuliskan pelajaran yang kita dapatkan.
Dengan demikian tulisan akan terasa manusiawi dan mempunyai jiwa.
G. Dari Pengalaman Menjadi Buku
Bapak/Ibu tidak perlu langsung berpikir:
“Bagaimana saya menulis buku 100 halaman?”
Itu terlalu berat.
Mulailah dari satu tulisan.
Kemudian tulisan kedua.
Tulisan ketiga.
Tulisan keempat.
Terus menulis.
Misalnya:
30 hari = 30 tulisan.
Jika setiap tulisan rata-rata 1.000 kata, kita sudah memiliki sekitar:
30.000 kata.
Tulisan tersebut kemudian dapat diedit, dikelompokkan, diberi judul bab, dan dikembangkan menjadi sebuah buku.
Jadi sebenarnya:
Buku yang tebal dapat dimulai dari tulisan yang sederhana.
H. Tantangan 7 Hari Menulis
Untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35, saya mengajak Bapak/Ibu mengikuti tantangan sederhana.
Hari 1
Tuliskan pengalaman mengajar yang paling berkesan.
Hari 2
Tuliskan satu siswa yang pernah menginspirasi Anda.
Hari 3
Tuliskan satu kegagalan yang pernah Anda alami.
Hari 4
Tuliskan praktik baik pembelajaran Anda.
Hari 5
Tuliskan guru yang paling menginspirasi Anda.
Hari 6
Tuliskan perubahan terbesar dalam perjalanan Anda sebagai guru.
Hari 7
Tuliskan alasan mengapa Anda ingin terus menjadi guru.
Jangan memikirkan jumlah pembaca terlebih dahulu.
Yang penting selesai.
I. Tugas Praktik KBMN PGRI Gelombang 35
Tugas Utama
Buatlah satu artikel dengan tema:
“Mengapa Saya sebagai Guru Perlu Menulis?”
Panjang tulisan:
500–1.000 kata.
Tulisan dipublikasikan di blog pribadi masing-masing peserta.
Struktur tulisan:
Judul
Pembukaan
Ceritakan pengalaman atau alasan pribadi.
Isi
Jelaskan pengalaman, tantangan, manfaat, dan alasan Anda menulis.
Refleksi
Apa yang Anda pelajari dari pengalaman tersebut?
Penutup
Tuliskan komitmen Anda setelah mengikuti KBMN.
J. Tantangan untuk Peserta
Setelah tulisan dipublikasikan, peserta dapat membagikan:
1. Link artikel
2. Judul tulisan
3. Satu kalimat paling inspiratif dari tulisan
Contoh:
“Saya menulis bukan karena saya sudah hebat, tetapi karena saya ingin belajar menjadi lebih baik.”
K. Penutup: Guru Menulis, Guru Menginspirasi
Bapak/Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35,
Jangan berpikir bahwa tulisan kita harus sempurna.
Tidak ada tulisan pertama yang langsung sempurna.
Tulisan pertama adalah latihan.
Tulisan kedua adalah perbaikan.
Tulisan ketiga adalah keberanian.
Tulisan berikutnya adalah konsistensi.
Dan suatu hari nanti kita akan melihat kembali tulisan-tulisan itu dan berkata:
“Ternyata saya sudah menghasilkan begitu banyak karya.”
Guru bukan hanya orang yang berdiri di depan kelas.
Guru adalah manusia pembelajar yang mempunyai pengalaman, gagasan, dan cerita.
Jangan biarkan semua itu hilang begitu saja.
Tulislah.
Tuliskan pengalaman Anda.
Tuliskan kegagalan Anda.
Tuliskan keberhasilan Anda.
Tuliskan pembelajaran Anda.
Tuliskan kisah murid-murid Anda.
Tuliskan perjalanan hidup Anda sebagai seorang guru.
Sebab mungkin bagi kita cerita itu biasa.
Tetapi bagi orang lain, cerita kita bisa menjadi inspirasi luar biasa.
Dan akhirnya saya ingin menitipkan satu kalimat kepada seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35:
“Guru menulis adalah guru yang menginspirasi. Guru yang menulis buku sedang menyiapkan jejak kebaikan yang akan tetap hidup ketika dirinya sudah tidak lagi berada di ruang kelas.”
Mari menulis. Mari berbagi. Mari menginspirasi.
Salam literasi.
Omjay – Guru Blogger Indonesia - Blog https://wijayalabs.com

