Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 14 Agustus 2026

Kisah Kakek Mas Ahmad Dimjati


Jejak Kakek Dimjati di Al-Azhar: Dari Aula Masjid hingga Menjadi Sekolah Besar

Ada cerita yang terasa berbeda ketika datang langsung dari anaknya sendiri. Cerita itu bukan sekadar kenangan seorang cucu kepada kakeknya, tetapi kesaksian dari orang yang menyaksikan perjalanan hidup sang ayah dari dekat. Begitulah kisah Kakek M.A. Dimjati yang diceritakan oleh Mas Achmad Hanafi, Om Oi, anak beliau.

Menurut cerita Om Oi, dahulu nama masjid yang sekarang dikenal sebagai Masjid Agung Al-Azhar adalah Masjid Agung Kebayoran. Dalam pembangunan masjid tersebut, Uyut H.M.D. Sutawijaya, ayah dari Nene Djubaedah, juga ikut menjadi panitia pembangunan. Saat itu beliau bekerja di Kotapraja dan kantornya berada di kawasan CSW, yang sekarang dikenal sebagai lokasi Gedung ASEAN. Dari lingkungan inilah keluarga kemudian memiliki hubungan yang cukup dekat dengan perjalanan awal Masjid Agung Kebayoran.

Namun, ada bagian sejarah yang sangat menarik dan penting bagi keluarga, yaitu kiprah Kakek M.A. Dimjati dalam mendirikan dan mengembangkan sekolah di lingkungan masjid tersebut.

Pada sekitar tahun 1960-an, menurut penuturan Om Oi, sekolah yang didirikan Kakek Dimjati bernama Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran. Sekolah itu pada awalnya belum memiliki gedung besar seperti sekolah yang kita kenal sekarang. Kegiatan belajar mengajar justru dimulai dari tempat yang sangat sederhana, yaitu aula masjid.

Bayangkan suasana kelas pada masa itu. Anak-anak belajar di aula masjid, duduk di bawah, dengan bangku panjang yang dalam satu baris dapat digunakan oleh sekitar sepuluh orang. Tidak ada ruang kelas yang megah. Tidak ada fasilitas modern. Tidak ada berbagai perangkat teknologi seperti yang dimiliki sekolah masa kini.

Tetapi pendidikan tidak pernah menunggu gedung menjadi sempurna.

Ada guru yang mau mengajar. Ada murid yang mau belajar. Ada orang tua yang percaya kepada pendidikan. Dan ada sosok seperti Kakek Dimjati yang berani memulai.

Inilah bagian yang membuat saya semakin terharu ketika menelusuri kisah Kakek Dimjati. Sebuah sekolah yang kelak berkembang besar ternyata pernah dimulai dari aula masjid dengan bangku panjang dan murid-murid yang duduk bersama-sama. Kebesaran sebuah lembaga pendidikan ternyata memang sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Seiring berjalannya waktu, jumlah murid semakin banyak. Aula masjid tidak lagi mampu menampung seluruh anak yang ingin belajar. Karena itu, kegiatan belajar kemudian dipindahkan ke beberapa ruangan di sekitar Masjid Agung Kebayoran. Guru yang mengajar juga bertambah. Kakek Dimjati tidak lagi sendirian. Beberapa guru ikut membantu agar anak-anak dapat memperoleh pendidikan dengan lebih baik.

Menurut Om Oi, bahkan ada anak dari kawasan Kedutaan yang bersekolah di madrasah tersebut. Ini menunjukkan bahwa sekolah yang dirintis dari lingkungan masjid itu mulai mendapatkan kepercayaan masyarakat yang lebih luas.

Di bagian penerimaan murid, ada pula seorang yang dikenal bernama Habib Abdullah. Rumahnya berada di belakang Masjid Agung. Kehadiran orang-orang seperti inilah yang ikut menjadi bagian dari cerita awal perjalanan sekolah tersebut.

Kalau kita berhenti sejenak dan membayangkan keadaan pada masa itu, ada sebuah pelajaran yang sangat dalam. Kakek Dimjati tidak sedang membangun sebuah sekolah besar untuk dirinya sendiri. Ia sedang membangun tempat agar anak-anak dapat belajar. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa beberapa puluh tahun kemudian lembaga pendidikan tersebut akan berkembang menjadi bagian dari jaringan pendidikan Al-Azhar yang begitu dikenal masyarakat.

Pada sekitar tahun 1970, menurut cerita Om Oi, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian membangun gedung baru khusus untuk sekolah di halaman depan Masjid Agung. Gedung itu menghadap Jalan Sisingamangaraja. Dengan adanya gedung baru tersebut, kegiatan pendidikan menjadi semakin berkembang.

Nama sekolah itu kemudian dikenal sebagai Sekolah Islam Teladan Al-Azhar. Dalam perjalanan berikutnya, tempat tersebut mengalami perubahan fungsi dan perkembangan hingga kini dikenal sebagai bagian dari lingkungan Universitas Al-Azhar Indonesia.

Bagi saya, cerita ini bukan hanya tentang sebuah gedung. Justru yang paling penting adalah manusia yang berada di balik lahirnya pendidikan tersebut.

Kakek Dimjati adalah salah satu orang yang memulai dari bawah. Ia tidak menunggu sekolah memiliki gedung sendiri. Ia tidak menunggu murid datang dalam jumlah banyak. Ia memulai dari aula masjid. Ketika murid bertambah, ia mencari ruang. Ketika jumlah guru tidak mencukupi, ia menambah guru.

Ada sebuah semangat yang sangat kuat di sana: pendidikan harus berjalan meskipun fasilitas belum sempurna.

Dan ternyata, semangat seperti itulah yang sering menjadi awal dari perubahan besar.

Om Oi bahkan masih mengingat sesuatu yang bagi orang lain mungkin dianggap sepele, tetapi bagi keluarga merupakan benda bersejarah. Dahulu, Kakek Dimjati masih menyimpan stempel sekolah Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran.

Saya membayangkan stempel itu. Mungkin bentuknya sederhana. Mungkin sudah tidak terlihat istimewa. Tetapi kalau benda tersebut masih ada, sesungguhnya ia bukan sekadar stempel. Ia adalah saksi bisu dari sebuah masa ketika Kakek Dimjati bersama para guru lainnya berjuang mendidik anak-anak di aula Masjid Agung Kebayoran.

Satu cap di atas kertas mungkin terlihat kecil. Tetapi di balik cap itu ada nama sekolah, ada guru, ada murid, ada orang tua, ada perjuangan, dan ada sejarah.

Karena itu, kalau stempel tersebut masih tersimpan di keluarga, menurut saya benda itu layak dirawat dengan baik. Bahkan kalau memungkinkan, perlu difoto, dicatat keterangannya, dan disimpan bersama dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan sejarah Kakek Dimjati. Kelak benda sederhana itu bisa menjadi bagian penting dari dokumentasi sejarah keluarga dan pendidikan.

Kisah ini juga membuat saya melihat kembali foto lama Kakek M.A. Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru. Foto itu sekarang memiliki makna yang lebih dalam. Kita tidak lagi hanya melihat beberapa orang guru berdiri di depan sebuah bangunan. Kita sedang melihat orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan pada masa awal.

Di dalam foto itu ada wajah-wajah yang mungkin sudah tidak dikenal oleh generasi sekarang. Tetapi mereka pernah berdiri bersama, mengajar bersama, dan berjuang bersama. Salah satunya adalah Kakek Dimjati.

Sementara itu, di rumah, cucu-cucunya mengenang beliau sebagai Engki yang murah senyum, ramah, tidak suka marah, memberikan permen ketika pulang, senang makan lobak putih, dan selepas salat Subuh sering memberikan kultum sebelum berdoa. Jadi, sosok Kakek Dimjati memiliki dua wajah kenangan yang saling melengkapi: seorang pendidik yang berjuang di luar rumah dan seorang kakek yang penuh kasih sayang di tengah keluarga.

Kini, ketika anak dan cucu beliau mulai mengumpulkan kembali cerita-cerita lama, saya merasa sedang membuka sebuah album sejarah yang selama ini tersimpan dalam ingatan keluarga.

Ada cerita tentang Al-Azhar. Ada cerita tentang madrasah. Ada cerita tentang aula masjid. Ada cerita tentang murid-murid yang semakin banyak. Ada cerita tentang guru-guru yang kemudian ikut membantu. Ada cerita tentang gedung baru pada masa Ali Sadikin. Ada cerita tentang stempel sekolah yang pernah disimpan Kakek Dimjati.

Semua cerita itu seperti kepingan puzzle. Kalau dikumpulkan satu demi satu, akan terlihat gambaran besar tentang perjuangan seorang guru yang mungkin tidak pernah merasa dirinya sedang menulis sejarah.

Justru itulah keindahan seorang pendidik. Ia bekerja pada zamannya, mengajar anak-anak di hadapannya, dan menanamkan ilmu tanpa mengetahui bagaimana besar buah dari pekerjaannya kelak.

Kakek Dimjati mungkin tidak pernah menyangka bahwa cucu-cucunya puluhan tahun kemudian akan duduk bersama, bertanya, mengingat, membuka foto lama, mencari dokumen, dan mencoba menyusun kembali perjalanan hidupnya.

Tetapi itulah yang sekarang sedang dilakukan.

Kita sedang mencari kembali jejak seorang guru yang dahulu mencari muridnya sendiri.

Dari aula Masjid Agung Kebayoran, dari bangku panjang yang diduduki banyak anak, dari ruang-ruang sederhana di sekitar masjid, dari bertambahnya murid dan guru, hingga berdirinya gedung sekolah yang lebih besar—semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan.

Semoga kisah Kakek M.A. Dimjati tidak berhenti sebagai cerita keluarga. Semoga ia menjadi inspirasi bahwa sekolah besar dapat bermula dari ruang sederhana, pendidikan besar dapat lahir dari kepedulian kecil, dan seorang guru dapat meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang daripada usia hidupnya.

Gedung boleh berubah, nama sekolah boleh berubah, zaman boleh berganti. Tetapi jejak seorang guru yang tulus mendidik akan selalu tinggal dalam ingatan murid, anak, cucu, dan generasi yang datang sesudahnya.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seseorang melihat kembali foto lama Kakek Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru, ia akan bertanya, “Siapa mereka?”

Lalu keluarga akan menjawab dengan bangga:

“Mereka adalah orang-orang yang pernah ikut menanam benih pendidikan. Dan salah satunya adalah Kakek M.A. Dimjati.”


Mari belajar etos kerja dan kedisiplinan dari Jepang

Belajar Etos Kerja dan Kedisiplinan dari Negeri Sakura

Ketika saya berada di Jepang, ada banyak hal yang menarik perhatian dan membuat saya kagum. Jepang bukan hanya dikenal sebagai negara maju dengan teknologi yang canggih, tetapi juga memiliki budaya kerja, kedisiplinan, kesederhanaan, dan sikap menghargai orang lain yang sangat kuat. Selama berada di Negeri Sakura, saya melihat sendiri bagaimana masyarakat Jepang menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh semangat dan tanggung jawab.

Hal pertama yang sangat berkesan bagi saya adalah etos kerja masyarakat Jepang. Sejak pagi hari, aktivitas sudah terlihat begitu hidup. Para pekerja berangkat menuju kantor dan tempat kerja dengan semangat. Mereka menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang dikerjakan. Semangat bekerja seperti ini menjadi salah satu kekuatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya.

Saya melihat bahwa bekerja bagi masyarakat Jepang bukan sekadar mencari penghasilan. Ada rasa tanggung jawab dan kebanggaan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Mereka berusaha memberikan yang terbaik dalam menjalankan tugasnya. Semangat tersebut terlihat bukan hanya di kantor, tetapi juga dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.

Hal menarik lainnya adalah pola hidup sederhana. Masyarakat Jepang tidak selalu bergantung pada kendaraan pribadi untuk bepergian. Banyak orang memilih berjalan kaki, menggunakan sepeda, atau memanfaatkan transportasi umum. Kebiasaan ini membuat kehidupan di kota menjadi lebih teratur sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak selalu harus diwujudkan dalam gaya hidup yang berlebihan.

Berjalan kaki dan menggunakan sepeda juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Mereka terbiasa melakukan aktivitas dengan sederhana dan efisien. Transportasi umum tersedia dengan baik sehingga masyarakat dapat menggunakannya untuk pergi ke tempat kerja, sekolah, maupun berbagai aktivitas lainnya. Dari sini saya belajar bahwa hidup sederhana bukan berarti tertinggal. Justru kesederhanaan dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern yang maju.

Kemudian saya menemukan hal yang tidak kalah menarik, yaitu kedisiplinan dalam menjaga kebersihan. Ketika berjalan di beberapa kawasan kota Jepang, saya melihat lingkungan yang bersih, rapi, dan nyaman. Masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. Kebersihan bukan hanya menjadi tugas petugas kebersihan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Bagi saya, kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan memiliki dampak yang luar biasa. Ketika setiap orang memiliki kesadaran yang sama, lingkungan menjadi bersih tanpa harus selalu diingatkan. Inilah salah satu budaya positif yang menurut saya sangat layak dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah sikap menghormati dan menghargai orang lain. Ketika berada di hotel, saya merasakan sendiri bagaimana petugas memberikan pelayanan dengan ramah. Mereka menyambut tamu dengan sopan dan menunjukkan rasa hormat, salah satunya melalui kebiasaan membungkukkan badan ketika memberikan penghormatan.

Bagi saya, sikap tersebut bukan sekadar gerakan tubuh. Ada nilai budaya yang terkandung di dalamnya, yaitu menghargai orang lain. Siapa pun tamunya, mereka berusaha memberikan pelayanan dengan baik. Saya yang datang dari Indonesia merasa sangat dihargai ketika mendapatkan pelayanan seperti itu.

Budaya menghormati orang lain juga terlihat dalam kehidupan masyarakat Jepang. Mereka terbiasa menggunakan ungkapan terima kasih, meminta maaf, dan memberikan salam. Hal-hal sederhana seperti ini ternyata mampu menciptakan suasana komunikasi yang nyaman. Kita dapat belajar bahwa keramahan tidak membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan kesadaran dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.

Saya juga terkesan dengan kedisiplinan berlalu lintas di Jepang. Kendaraan berjalan dengan tertib dan masyarakat mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Penumpang menaikkan dan menurunkan kendaraan di tempat yang semestinya. Semua berjalan secara teratur sehingga perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman.

Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa aturan sebenarnya dibuat bukan untuk menyulitkan manusia. Aturan dibuat agar kehidupan bersama menjadi lebih tertib. Ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk menaati aturan, semua orang mendapatkan manfaatnya.

Namun, dari semua pengalaman itu, ada satu pelajaran besar yang saya bawa pulang dari Jepang, yaitu budaya kerja keras. Masyarakat Jepang memiliki semangat yang tinggi dalam menjalankan aktivitas. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan memiliki etos kerja yang kuat. Bahkan dalam beberapa keadaan, semangat bekerja tersebut membuat mereka bisa begitu larut dalam pekerjaan.

Sebagai seorang guru, pengalaman melihat langsung budaya Jepang membuat saya banyak melakukan refleksi. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia? Tentu kita tidak harus meniru Jepang secara keseluruhan. Setiap bangsa memiliki budaya dan karakter masing-masing. Namun, nilai-nilai positif seperti disiplin, kerja keras, tanggung jawab, hidup sederhana, menjaga kebersihan, menghargai orang lain, dan menaati aturan adalah nilai universal yang dapat dipelajari siapa saja.

Perjalanan ke Jepang bagi saya bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Saya tidak hanya melihat gedung tinggi, teknologi canggih, kereta yang tertib, atau kota yang bersih. Saya melihat budaya yang membentuk manusia. Saya melihat bagaimana kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari pada akhirnya menjadi karakter masyarakat.

Sepulang dari Jepang, saya semakin yakin bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kekayaan alam. Kemajuan juga dibangun dari karakter manusia. Bangsa yang memiliki masyarakat disiplin, pekerja keras, bertanggung jawab, menghargai sesama, dan peduli terhadap lingkungan akan memiliki kekuatan besar untuk berkembang.

Karena itu, pengalaman sembilan hari saya di Jepang pada Mei 2016 menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya datang sebagai guru pendamping siswa SMP Labschool Jakarta, tetapi pulang membawa banyak pelajaran tentang kehidupan. Perjalanan tersebut mengajarkan saya bahwa menjadi maju bukan hanya tentang memiliki teknologi terbaru, melainkan tentang bagaimana manusia menggunakan waktu, menaati aturan, menghargai orang lain, dan bekerja dengan sepenuh hati.

Jepang telah memberikan saya banyak inspirasi. Negeri Sakura mengajarkan bahwa etos kerja, disiplin, kesederhanaan, kebersihan, keramahan, dan rasa hormat dapat menjadi kekuatan sebuah bangsa. Nilai-nilai itulah yang menurut saya layak kita renungkan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga pengalaman sederhana ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua. Tidak perlu selalu pergi jauh untuk mendapatkan pelajaran hidup, tetapi ketika kesempatan datang, bukalah mata, bukalah hati, dan belajarlah sebanyak mungkin. Sebab perjalanan yang baik bukan hanya membawa kita ke tempat baru, tetapi juga membuat kita pulang sebagai manusia yang lebih baik.

workshop menulis best practice utk kepsek sd

Dari Pengalaman Menjadi Inspirasi: Menulis Best Practice Kepala Sekolah dengan Metode STAR

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada begitu banyak cerita hebat di sekolah yang tidak pernah sampai menjadi tulisan. Cerita itu hanya berpindah dari satu percakapan ke percakapan lain: dibicarakan dalam rapat, disampaikan saat bertemu kepala sekolah lain, diceritakan kepada guru, atau menjadi bahan diskusi ketika mengikuti kegiatan K3S. Padahal, di balik keseharian seorang kepala sekolah, ada begitu banyak pengalaman yang sangat berharga. Ada masalah yang berhasil diselesaikan, guru yang berhasil digerakkan, siswa yang mengalami perubahan, budaya sekolah yang perlahan tumbuh, serta inovasi sederhana yang ternyata memberikan dampak besar.

Pertanyaannya sederhana: mengapa pengalaman tersebut berhenti menjadi cerita lisan?

Pertanyaan itulah yang menjadi salah satu pemantik dalam Workshop Menulis Best Practice dengan Metode STAR. Tujuan workshop ini bukan sekadar mengajarkan kepala sekolah menulis. Lebih dari itu, kegiatan ini mengajak kepala sekolah menyadari bahwa pengalaman kepemimpinan yang telah dijalani merupakan sumber pengetahuan yang sangat berharga. Ketika pengalaman ditulis, ia menjadi dokumentasi. Ketika direnungkan, ia menjadi pembelajaran. Dan ketika dibagikan, ia dapat menjadi inspirasi bagi orang lain.

Kepala Sekolah Punya Banyak Cerita

Seorang kepala sekolah setiap hari berhadapan dengan persoalan yang beragam. Ada siswa yang membutuhkan pendampingan, guru yang memerlukan dukungan, orang tua yang harus diajak berkomunikasi, program sekolah yang harus dijalankan, serta perubahan kebijakan yang harus direspons dengan bijaksana.

Belum lagi persoalan budaya sekolah. Bagaimana membangun budaya membaca? Bagaimana meningkatkan kedisiplinan? Bagaimana mengembangkan komunitas belajar guru? Bagaimana memanfaatkan teknologi dengan sumber daya yang tersedia? Bagaimana membangun kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat?

Semua itu sebenarnya adalah bahan tulisan.

Materi workshop menunjukkan berbagai sumber ide best practice, mulai dari program literasi dan budaya membaca, peningkatan kedisiplinan dan budaya positif, pendampingan guru, pemanfaatan teknologi, kolaborasi dengan orang tua dan masyarakat, penanganan masalah siswa, hingga pengembangan ekstrakurikuler dan prestasi.

Sayangnya, banyak kepala sekolah merasa tidak mempunyai bahan untuk menulis. Padahal masalahnya bukan kekurangan pengalaman. Justru pengalaman mereka terlalu banyak. Tantangannya adalah bagaimana memilih satu pengalaman, menyusunnya secara runtut, lalu mengubahnya menjadi tulisan yang menarik.

Di sinilah metode STAR dapat membantu.

Best Practice Bukan Cerita Kesempurnaan

Ada kesalahpahaman yang sering muncul ketika kita mendengar istilah best practice. Seolah-olah best practice harus menceritakan sekolah yang paling hebat, program yang paling sukses, atau prestasi yang luar biasa.

Padahal tidak demikian.

Best practice adalah praktik baik yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan atau meningkatkan kualitas sekolah. Ia berangkat dari pengalaman nyata dan memiliki proses, tindakan, hasil, serta pembelajaran yang dapat menjadi inspirasi atau rujukan bagi orang lain. Bahkan, best practice tidak harus sempurna dan tidak selalu harus menghasilkan penghargaan.

Justru cerita menjadi menarik ketika di dalamnya terdapat persoalan.

Ada masalah. Ada tantangan. Ada usaha. Ada kegagalan. Ada perbaikan. Ada hasil. Dan akhirnya ada pembelajaran.

Dengan demikian, best practice bukanlah cerita tentang kesempurnaan. Best practice adalah cerita tentang proses belajar dan perubahan.

Seorang kepala sekolah tidak perlu menunggu sampai sekolahnya mendapatkan penghargaan nasional untuk mulai menulis. Pengalaman sederhana yang berhasil mengubah kebiasaan siswa atau guru pun dapat menjadi tulisan yang sangat berarti.

Mengenal Metode STAR

Untuk membantu kepala sekolah menulis pengalaman tersebut, digunakan metode STAR. Kerangka ini sederhana dan mudah diingat:

S — Situation atau Situasi

T — Task atau Tantangan

A — Action atau Aksi

R — Reflection atau Refleksi

Dengan empat unsur tersebut, sebuah pengalaman yang semula hanya tersimpan dalam ingatan dapat diubah menjadi cerita yang runtut.

Mari kita lihat satu per satu.

S — Situation: Apa yang Terjadi?

Bagian pertama adalah situasi. Di sinilah penulis menjelaskan kondisi awal yang menjadi latar belakang cerita.

Apa yang terjadi di sekolah? Siapa yang terlibat? Mengapa masalah tersebut penting? Apa buktinya?

Tulislah kondisi yang benar-benar terjadi. Jangan langsung berbicara tentang keberhasilan. Pembaca perlu memahami terlebih dahulu keadaan sebelum sebuah tindakan dilakukan.

Misalnya, sebuah sekolah menghadapi persoalan budaya membaca. Perpustakaan sepi dan siswa belum mempunyai kebiasaan membaca. Kondisi inilah yang menjadi titik awal cerita.

Semakin konkret situasinya, semakin mudah pembaca memahami persoalan yang dihadapi.

Jika tersedia, gunakan data atau bukti. Namun, jangan membuat data hanya agar tulisan terlihat hebat. Tulislah berdasarkan pengalaman dan kondisi yang benar-benar terjadi.

T — Task: Apa Tantangannya?

Setelah menjelaskan situasi, masuklah pada tantangan.

Apa yang harus diselesaikan? Apa hambatan utamanya? Mengapa masalah tersebut tidak mudah diselesaikan? Perubahan apa yang ingin dicapai?

Pada bagian ini, pembaca mulai melihat bahwa perubahan tidak terjadi begitu saja.

Misalnya, kepala sekolah ingin meningkatkan budaya membaca, tetapi tidak ingin program tersebut justru menambah beban belajar siswa. Maka tantangannya adalah bagaimana menciptakan kebiasaan membaca yang menyenangkan, sederhana, dan dapat dilakukan secara konsisten.

Tantangan membuat cerita menjadi hidup karena pembaca mulai bertanya: Apa yang dilakukan kepala sekolah untuk mengatasi masalah tersebut?

Pertanyaan itulah yang membawa kita menuju bagian berikutnya.

A — Action: Apa yang Dilakukan?

Inilah bagian paling penting dalam sebuah best practice.

Jelaskan tindakan konkret yang dilakukan. Jangan hanya menulis, “Kami meningkatkan budaya membaca.” Kalimat tersebut terlalu umum.

Ceritakan bagaimana caranya.

Siapa yang dilibatkan? Program apa yang dibuat? Bagaimana pelaksanaannya? Bagaimana guru dilibatkan? Bagaimana siswa merespons? Bagaimana kegiatan dimonitor?

Dalam contoh budaya membaca, sekolah dapat melakukan berbagai tindakan seperti menyediakan waktu membaca 15 menit, membuat pojok baca, menggunakan jurnal membaca, memberikan keteladanan dari guru, dan memberikan apresiasi.

Tindakan konkret inilah yang membuat best practice memiliki nilai.

Pembaca bukan hanya ingin mengetahui bahwa sebuah program berhasil. Mereka ingin mengetahui bagaimana program itu dijalankan.

Sebab, pengalaman yang dapat dipelajari adalah pengalaman yang menjelaskan proses.

R — Reflection: Apa yang Dipelajari?

Bagian terakhir adalah refleksi.

Apa yang berubah? Apa yang berhasil? Apa yang belum berhasil? Apa pelajaran yang diperoleh? Apa tindak lanjutnya?

Refleksi membedakan tulisan pengalaman biasa dengan tulisan best practice yang bermakna.

Jangan takut menceritakan kekurangan.

Justru ketika kita berani mengatakan bahwa sebuah program belum sempurna, tulisan terasa lebih manusiawi dan dapat dipercaya.

Mungkin ada bagian program yang berhasil, tetapi ada pula yang harus diperbaiki. Mungkin tidak semua guru langsung menerima perubahan. Mungkin tidak semua siswa menunjukkan respons yang sama.

Semua itu adalah bagian dari proses pembelajaran.

Pada akhirnya, pembaca ingin mengetahui bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi juga apa yang dipelajari dari tindakan tersebut.

Dari Masalah Menjadi Cerita

Jika diringkas, rumus cepat menulis best practice sebenarnya sangat sederhana:

Masalah → Tantangan → Aksi → Hasil → Refleksi.

Jika kelima bagian tersebut sudah terjawab, sebenarnya bahan tulisan sudah tersedia. Kita tidak perlu menunggu mendapatkan ide besar. Mulailah dari pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan kita sebagai kepala sekolah.

Misalnya, ada kepala sekolah yang berhasil mengubah rapat guru dari kegiatan yang monoton menjadi ruang berbagi praktik baik. Ada kepala sekolah yang berhasil menggerakkan guru untuk membuat komunitas belajar. Ada kepala sekolah yang menemukan cara sederhana untuk meningkatkan kedisiplinan siswa.

Cerita-cerita tersebut mungkin terasa biasa bagi pelakunya. Namun, bagi sekolah lain, pengalaman itu bisa menjadi inspirasi.

Karena itu, jangan meremehkan pengalaman sendiri.

Sesuatu yang sederhana bagi kita bisa menjadi solusi bagi orang lain.

Jangan Menunggu Tulisan Sempurna

Salah satu hambatan terbesar dalam menulis adalah keinginan untuk menghasilkan tulisan yang langsung sempurna.

Akibatnya, kita terlalu lama memikirkan kalimat pertama. Setelah menulis satu paragraf, kita menghapusnya. Menulis lagi, menghapus lagi. Akhirnya satu halaman pun tidak pernah selesai.

Dalam workshop ini, peserta diajak menggunakan prinsip sederhana: tulis dulu, edit kemudian.

Tuangkan gagasan tanpa terlalu banyak mengoreksi. Setelah draf selesai, barulah perbaiki struktur, ejaan, judul, dan alurnya. Latihan rutin selama 15 menit sehari juga lebih baik daripada menunggu waktu luang yang belum tentu datang.

Saya sering mengatakan bahwa menulis itu seperti berbicara kepada pembaca melalui tulisan. Jangan terlalu takut salah pada saat menuangkan gagasan. Yang penting pengalaman nyata kita keluar terlebih dahulu.

Nanti kita bisa memperbaikinya.

Latihan Menulis Selama 15 Menit

Cobalah satu latihan sederhana.

Pasang timer selama 15 menit. Pilih satu pengalaman nyata yang paling Anda ingat. Kemudian tulislah tanpa menghapus.

Jangan membuka media sosial. Jangan sibuk mencari kalimat yang sempurna. Jangan terlalu lama memilih kata. Teruskan menulis sampai timer berbunyi.

Untuk membantu, gunakan tujuh pertanyaan pemantik:

  1. Apa yang terjadi?
  2. Mengapa hal itu penting?
  3. Apa tantangannya?
  4. Apa yang saya lakukan?
  5. Siapa yang terlibat?
  6. Apa hasilnya?
  7. Apa yang saya pelajari?

Jika ketujuh pertanyaan tersebut dijawab dengan jujur berdasarkan pengalaman, biasanya kita sudah memiliki bahan tulisan yang cukup kuat.

Pembuka Menentukan Ketertarikan Pembaca

Tulisan yang baik tidak harus dimulai dengan kalimat yang terlalu formal.

Bandingkan dua pembuka berikut.

“Program literasi sekolah dilaksanakan untuk meningkatkan minat baca siswa.”

Kalimat tersebut benar, tetapi terasa seperti laporan.

Sekarang bandingkan dengan pembuka yang lebih bercerita:

“Pagi itu saya melihat seorang siswa duduk di sudut kelas. Sebuah buku ada di tangannya, tetapi matanya tidak membaca.”

Pembuka kedua membuat pembaca bertanya-tanya: Mengapa siswa itu tidak membaca? Apa yang terjadi?

Inilah kekuatan cerita.

Kita dapat membuka tulisan dengan kejadian, pertanyaan, masalah, kontras, atau dialog.

Seorang kepala sekolah sebenarnya mempunyai banyak sekali momen seperti itu. Tinggal memilih satu momen yang paling kuat.

Judul Jangan Terlalu Umum

Judul juga menentukan apakah pembaca tertarik melanjutkan membaca.

Judul seperti “Program Literasi Sekolah”, “Best Practice Kepala Sekolah”, atau “Peningkatan Mutu Sekolah” memang benar, tetapi terlalu umum.

Cobalah membuat judul yang lebih spesifik dan memiliki unsur cerita.

Misalnya:

“15 Menit yang Mengubah Budaya Membaca di Sekolah”

atau

“Dari Masalah Menjadi Prestasi”

atau

“Rapat Guru yang Berubah Menjadi Ruang Berbagi”.

Judul seperti ini membuat pembaca ingin mengetahui cerita di baliknya.

Pengalaman Kepala Sekolah Adalah Aset Pengetahuan

Saya percaya bahwa pengalaman seorang kepala sekolah adalah aset pengetahuan.

Selama memimpin sekolah, seorang kepala sekolah telah mengambil begitu banyak keputusan. Ada keputusan yang tepat, ada yang perlu diperbaiki. Ada program yang berhasil, ada pula yang tidak berjalan sesuai rencana.

Semua itu memiliki nilai pembelajaran.

Karena itu, menulis best practice bukan sekadar kegiatan menghasilkan artikel. Menulis adalah cara untuk melakukan refleksi terhadap kepemimpinan kita sendiri.

Ketika menulis, kita seperti bercermin.

Kita melihat kembali mengapa sebuah keputusan diambil. Kita melihat prosesnya. Kita memahami apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

Dengan menulis, pengalaman tidak hilang begitu saja. Pengalaman berubah menjadi pengetahuan yang dapat diwariskan.

Dari Tulisan Menjadi Jejak Digital

Setelah tulisan selesai, perjalanan belum berakhir.

Draf perlu diedit. Setelah diperbaiki dan diperkaya, tulisan dapat dipublikasikan melalui blog, media, jurnal, atau buku. Setelah itu, tulisan dapat dibaca dan diadaptasi oleh orang lain.

Pada tahap inilah pengalaman pribadi berubah menjadi jejak pengetahuan sekolah.

Bayangkan jika setiap kepala sekolah menulis minimal satu best practice dalam satu tahun.

Berapa banyak pengalaman pendidikan yang akan terdokumentasi?

Jika ada seratus kepala sekolah, akan ada seratus cerita. Jika seribu kepala sekolah menulis, akan ada seribu pengalaman yang dapat dipelajari.

Bayangkan jika pengalaman tersebut saling dibaca dan dibagikan.

Sekolah tidak lagi belajar hanya dari teori, tetapi juga dari pengalaman nyata sekolah lain.

Tetap Menjaga Etika

Menulis pengalaman sekolah tentu tidak berarti kita boleh menulis apa saja.

Ada etika yang harus dijaga.

Gunakan pengalaman dan data yang benar. Jaga privasi dan identitas siswa. Jangan melebih-lebihkan hasil. Jika menggunakan data atau karya orang lain, cantumkan sumbernya. Hargai kontribusi guru, siswa, orang tua, dan pihak lain yang terlibat. Fokuslah pada pembelajaran, bukan menyalahkan pihak tertentu.

Tulisan best practice bukan tempat untuk mencari siapa yang salah.

Tulisan best practice adalah ruang untuk menunjukkan bagaimana kita belajar dari sebuah persoalan.

Bagaimana Jika Menggunakan AI?

Di era kecerdasan artifisial, kepala sekolah juga dapat menggunakan AI sebagai alat bantu menulis.

AI dapat membantu melakukan brainstorming, menyusun pertanyaan, memberikan alternatif judul, merapikan bahasa, atau memberikan umpan balik terhadap tulisan. Namun, manusia tetap harus memegang kendali. Pengalaman harus nyata, data harus diverifikasi, dan refleksi harus benar-benar berasal dari penulis.

Jangan menyerahkan seluruh tulisan kepada AI.

Mengapa?

Karena AI tidak menjalani pengalaman kepemimpinan kita.

AI tidak berada di ruang rapat ketika keputusan dibuat. AI tidak melihat ekspresi siswa ketika program dijalankan. AI tidak merasakan kegembiraan ketika sebuah program berhasil atau kekecewaan ketika sebuah program belum mencapai target.

Itulah sebabnya pengalaman dan refleksi harus tetap menjadi milik manusia.

AI boleh membantu menulis, tetapi jangan sampai menggantikan pengalaman dan pikiran kita.

Saatnya Kepala Sekolah Menulis

Pada akhirnya, menulis best practice bukan tentang menjadi penulis profesional.

Ini tentang keberanian untuk mendokumentasikan pengalaman.

Mulailah dari satu masalah.

Pilih satu pengalaman.

Tuliskan situasinya.

Jelaskan tantangannya.

Ceritakan aksi yang dilakukan.

Tunjukkan hasilnya.

Kemudian tuliskan refleksi.

Selesai.

Dari sana, tulisan dapat diperbaiki sedikit demi sedikit.

Target awal pun tidak perlu terlalu panjang. Dalam workshop ini, produk yang ditargetkan adalah satu tulisan sekitar 300–500 kata, memiliki satu judul sementara, satu pengalaman nyata, lima unsur situasi, tantangan, aksi, hasil, dan refleksi, minimal satu bukti atau perubahan, serta satu paragraf penutup yang menginspirasi.

Yang penting bukan panjangnya tulisan.

Yang penting adalah kejujuran pengalaman dan kedalaman pembelajarannya.

Jangan Biarkan Pengalaman Hilang

Saya membayangkan suatu hari nanti seorang guru atau kepala sekolah membaca tulisan kita dan berkata, “Ternyata sekolah lain pernah mengalami masalah yang sama.”

Lalu ia menemukan solusi dari tulisan tersebut.

Pada saat itulah tulisan kita menjadi berarti.

Mungkin kita tidak pernah bertemu dengan orang tersebut. Mungkin kita tidak pernah tahu bahwa tulisan kita membantu sekolah lain. Namun, pengalaman yang kita tulis telah berjalan lebih jauh daripada langkah kaki kita.

Itulah kekuatan tulisan.

Pengalaman yang hanya disimpan di kepala akan berhenti bersama ingatan. Pengalaman yang diceritakan akan sampai kepada orang yang mendengarkan. Tetapi pengalaman yang ditulis dapat terus dibaca, dipelajari, dan dikembangkan oleh orang lain.

Karena itu, kepada para kepala sekolah SD dan para anggota K3S, jangan merasa tidak mempunyai bahan untuk menulis.

Bahan tulisan itu ada di sekolah Anda.

Ada di ruang kelas.

Ada di ruang guru.

Ada di perpustakaan.

Ada dalam rapat.

Ada dalam percakapan dengan orang tua.

Ada dalam masalah siswa.

Ada dalam keberhasilan guru.

Ada pula dalam kegagalan yang pernah kita alami.

Tinggal satu langkah yang harus dilakukan: menuliskannya.

Sebab pengalaman yang ditulis menjadi pengetahuan. Pengalaman yang dibagikan menjadi inspirasi.

Maka, jangan tunggu sampai semua pengalaman terlupakan.

Ambillah satu pengalaman kepemimpinan hari ini.

Tulis satu kalimat.

Kemudian lanjutkan dengan kalimat berikutnya.

Gunakan metode STAR: Situasi, Tantangan, Aksi, dan Refleksi.

Siapa tahu, tulisan sederhana yang Anda mulai hari ini kelak menjadi inspirasi bagi kepala sekolah lain di seluruh Indonesia.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.


Kamis, 13 Agustus 2026

gopay kompasiana

GoPay Kompasiana Makin Tipis, Iklannya Makin Manis: Sebuah Gugatan dengan Senyum

Ada satu misteri yang sampai sekarang belum berhasil dipecahkan oleh para penulis Kompasiana. Mengapa semakin rajin menulis, semakin banyak pembaca, semakin banyak iklan berseliweran, tetapi GoPay yang diterima penulis justru terasa semakin kecil?

Ini bukan teka-teki silang. Ini juga bukan soal matematika tingkat lanjut. Namun, kalau dibiarkan, bisa-bisa para Kompasianer harus mengikuti pelatihan khusus: “Cara Menghitung Penghasilan Tanpa Menangis.”

Saya sebagai penulis yang sudah cukup lama berkeliaran di dunia Kompasiana ingin menggugat dengan cara yang paling aman: menggugat sambil tersenyum. Sebab kalau menggugat sambil marah, nanti dikira sedang kurang piknik. Kalau menggugat sambil menangis, takutnya admin malah bingung harus memberikan tisu atau menjelaskan algoritma.

Pertanyaan sederhana saya kepada admin dan pengelola Kompasiana adalah: mengapa GoPay penulis semakin kecil, sementara iklan di Kompasiana terasa semakin banyak?

Dulu, ketika membuka artikel, kita merasa seperti sedang membaca tulisan. Sekarang, kadang-kadang rasanya seperti sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Baru membaca judul, ada iklan. Baru membaca paragraf pertama, ada iklan. Scroll sedikit, bertemu iklan lagi.

Saya sampai berpikir, jangan-jangan nanti ketika membuka artikel akan muncul tulisan: “Untuk melanjutkan membaca paragraf berikutnya, silakan nikmati iklan selama 30 detik.”

Kalau itu terjadi, saya tidak akan protes. Saya hanya ingin tahu, apakah setelah iklannya selesai, GoPay saya ikut bertambah?

Sebab inilah yang menjadi kegelisahan banyak penulis. Kami memahami bahwa sebuah platform membutuhkan biaya. Server harus dibayar, pegawai harus digaji, teknologi harus dikembangkan, dan iklan merupakan salah satu sumber pendapatan. Itu semua masuk akal.

Tetapi penulis juga punya kebutuhan yang masuk akal.

Penulis membutuhkan alasan untuk terus menulis.

Menulis bukan sekadar mengetik. Ada waktu yang dikeluarkan untuk mencari ide, membaca referensi, menyusun kalimat, mengedit tulisan, memilih foto, membuat judul, kemudian membagikan artikel ke berbagai media sosial. Bahkan setelah artikel terbit, penulis masih harus membalas komentar pembaca.

Kalau semua itu dihargai dengan GoPay yang semakin tipis, lama-lama muncul pertanyaan sederhana: apakah kami sedang menulis untuk mendapatkan penghasilan, atau sedang membantu menyediakan konten gratis agar iklan semakin ramai?

Nah, di sinilah humor mulai berubah menjadi pertanyaan serius.

Saya membayangkan ada seorang Kompasianer duduk di depan laptop sambil berkata kepada istrinya, “Bu, hari ini saya dapat GoPay dari Kompasiana.”

Istrinya menjawab, “Berapa?”

“Lumayan.”

“Bisa buat beli apa?”

“Bisa buat beli… semangat.”

Waduh!

Semangat memang penting. Tetapi warung tidak menerima pembayaran dengan semangat. Tukang nasi goreng juga belum tentu mau dibayar dengan jumlah pembaca. Kalau kita berkata, “Bang, saya punya 10.000 views,” mungkin tukang nasi goreng menjawab, “Bagus. Tapi saya tetap perlu uang untuk beli beras.”

Karena itu, saya berharap pengelola Kompasiana mau membuka ruang komunikasi yang sehat dengan para penulis. Jangan sampai penulis hanya diminta rajin membuat konten, sementara mekanisme penghargaan terhadap konten tersebut semakin sulit dipahami.

Kalau pendapatan iklan meningkat, apakah mungkin sebagian peningkatan itu bisa ikut dirasakan oleh para penulis?

Kalau jawabannya tidak memungkinkan, tentu kami ingin tahu alasannya.

Kalau algoritmanya berubah, jelaskan.

Kalau sistem perhitungan GoPay berubah, jelaskan.

Kalau jumlah iklan meningkat tetapi pendapatan penulis tidak otomatis meningkat karena ada banyak faktor lain, jelaskan juga.

Penulis sebenarnya bisa menerima kenyataan yang tidak menyenangkan, asalkan mendapatkan penjelasan yang menyenangkan.

Yang membuat penasaran adalah ketika angka pendapatan mengecil sementara iklan semakin rajin muncul. Rasanya seperti kita sedang melihat toko yang semakin penuh pembeli, tetapi pedagangnya berkata kepada pegawainya, “Gajimu bulan ini kita kurangi karena toko semakin ramai.”

Lho?

Bukankah biasanya kalau toko semakin ramai, peluang pendapatan juga semakin besar?

Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh pendapatan iklan harus dibagikan kepada penulis. Tidak sesederhana itu. Saya juga tidak tahu bagaimana biaya operasional Kompasiana dihitung. Tetapi sebagai penulis, saya merasa berhak bertanya: bagaimana sebenarnya hubungan antara iklan, traffic, engagement, dan GoPay?

Kami bukan ahli keuangan Kompasiana. Kami hanya penulis yang ingin memahami permainan di lapangan.

Sebab penulis itu sebenarnya makhluk yang sederhana. Diberi pembaca, senang. Diberi komentar, senang. Artikelnya masuk headline, senang. Mendapat apresiasi, senang. Kalau kemudian ada GoPay, tentu tambah senang.

Tetapi kalau pembaca banyak, iklan banyak, komentar ada, lalu GoPay makin kecil, penulis bisa mengalami kondisi psikologis baru yang mungkin belum ada dalam buku psikologi: “bingung monetisasi.”

Maka izinkan saya, Omjay, menyampaikan gugatan kecil dengan bahasa besar:

Wahai admin Kompasiana, jangan biarkan penulis hanya menjadi mesin produksi artikel.

Kami ingin menjadi bagian dari ekosistem yang sehat. Platform membutuhkan penulis, dan penulis membutuhkan platform. Pembaca membutuhkan tulisan yang berkualitas, sementara pengiklan membutuhkan pembaca. Semua sebenarnya saling membutuhkan.

Kalau satu bagian merasa semakin kecil sementara bagian lain terlihat semakin besar, tentu wajar jika muncul pertanyaan.

Saya berharap pertanyaan ini tidak dianggap sebagai serangan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian dari penulis yang masih ingin Kompasiana menjadi rumah yang nyaman bagi para kreator.

Saya masih ingin menulis di Kompasiana. Saya masih ingin membaca tulisan teman-teman. Saya masih ingin berdiskusi di kolom komentar. Saya bahkan masih ingin mengejar GoPay.

Tetapi jangan sampai suatu hari nanti para penulis membuat slogan baru:

“Menulislah setiap hari, dapatkan pembaca sebanyak-banyaknya, dan buktikan bahwa GoPay bisa menghilang secara misterius.”

Hehehe.

Akhirnya, saya hanya punya satu permintaan sederhana kepada admin dan pengelola Kompasiana: tolong jelaskan kepada kami, para penulis, mengapa GoPay terasa semakin kecil ketika iklan terasa semakin besar?

Kami tidak minta bulan.

Kami hanya minta penjelasan yang terang.

Kalau memang ada alasan teknis, sampaikan. Kalau ada perubahan kebijakan, umumkan. Kalau sistem monetisasi sedang dievaluasi, beri tahu. Dengan komunikasi yang terbuka, penulis tidak perlu menerka-nerka.

Sebab penulis itu tugasnya menulis cerita, bukan menulis teori konspirasi tentang algoritma.

Dan kalau nanti GoPay kembali membesar, kami berjanji akan membuat artikel yang lebih bahagia:

“GoPay Kompasiana Membesar, Penulis Pun Kembali Bersinar.”

Semoga bukan sekadar judul.

Semoga menjadi kenyataan.

Karena pada akhirnya, penulis juga ingin mendapatkan apresiasi yang sepadan dengan tulisan yang mereka lahirkan.


Senyum Kakek Dimjati yang Tidak Pernah Hilang Dari Ingatan

Senyum Kakek Dimjati yang Tak Pernah Hilang dari Ingatan

Ada kenangan sederhana dari Heri, cucu Kakek Dimjati, yang menurut saya justru sangat berharga untuk melengkapi kisah tentang sosok beliau. Heri mengenang Kakek Dimjati sebagai orang yang almarhum dan hambel kepada semua orang, terlebih kepada cucu-cucunya. Ia dikenal murah senyum. Bahkan setelah sekian lama berlalu, senyum Kakek Dimjati masih melekat kuat dalam ingatan Heri.

“Seingat saya senyumnya itu tidak bisa lupa.”

Kalimat sederhana tersebut terasa begitu dalam. Terkadang, seseorang tidak dikenang karena banyaknya kata-kata yang pernah diucapkan, tetapi karena sikap kecil yang diberikan kepada orang-orang di sekitarnya. Senyum adalah salah satunya. Senyum Kakek Dimjati ternyata menjadi bagian dari kenangan masa kecil yang tetap hidup dalam hati cucunya.

Heri juga mengingat masa ketika Kakek Dimjati sedang sakit dan harus berobat ke RS Fatmawati. Saat itu Kakek sempat menginap di rumah sakit, mungkin agar lebih dekat ketika harus menjalani kontrol dan pengobatan. Bagi keluarga, masa tersebut tentu bukan masa yang mudah. Melihat orang yang dicintai sakit selalu menghadirkan rasa sedih, terlebih bagi seorang cucu yang masih kecil.

Sayangnya, pada masa itu Kakek Dimjati lebih sering berada di dalam kamar karena kondisi kesehatannya. Kesempatan untuk bercengkerama dengan cucu pun menjadi terbatas. Heri sebenarnya ingin dekat dengan kakeknya, tetapi dunia anak-anak memiliki kesibukannya sendiri. Saat itu sedang musim layangan. Heri lebih banyak bermain di luar bersama teman-temannya.

“Sayang Kakek jarang keluar kamar karena sakit. Saya main terus waktu itu musim layangan, jadi kurang dekat.”

Pengakuan Heri ini justru terasa sangat manusiawi. Tidak ada penyesalan yang berlebihan, hanya sebuah kesadaran ketika ia sudah dewasa bahwa ternyata ada masa-masa kecil yang tidak mungkin diulang kembali. Dahulu ia mungkin lebih tertarik mengejar layangan di langit daripada duduk menemani kakeknya di kamar. Kini, ketika kenangan itu kembali muncul, ia menyadari bahwa waktu bersama orang yang kita cintai ternyata sangat berharga.

Dari cerita Heri, kita belajar bahwa kenangan keluarga tidak selalu berupa peristiwa besar. Kadang-kadang yang paling melekat justru sebuah senyum, sebuah tatapan, atau suasana sederhana ketika seorang kakek berada di dalam kamar sementara cucunya bermain di halaman.

Kakek Dimjati mungkin tidak banyak keluar kamar ketika sedang sakit, tetapi kasih sayangnya kepada keluarga tetap terasa. Orang yang murah senyum biasanya meninggalkan suasana hangat di hati orang-orang yang pernah berada di dekatnya. Itulah sebabnya senyum Kakek Dimjati masih diingat Heri hingga sekarang.

Ada satu pelajaran penting dari kisah ini. Selagi orang tua, kakek, nenek, atau orang-orang yang kita cintai masih ada, jangan terlalu sibuk dengan urusan kita sendiri. Luangkan waktu untuk duduk bersama, mendengarkan cerita mereka, bertanya tentang masa lalu, atau sekadar menemani mereka tersenyum. Sebab ketika mereka sudah tiada, yang tersisa bukan lagi kesempatan untuk bertemu, melainkan kenangan.

Dan mungkin, suatu hari nanti, kita akan seperti Heri. Mengingat kembali masa kecil dan berkata dalam hati, “Andai waktu itu saya lebih sering duduk menemani Kakek.”

Namun kenangan tidak selalu harus berakhir dengan penyesalan. Kenangan dapat menjadi cara untuk menjaga seseorang tetap hidup dalam cerita keluarga. Senyum Kakek Dimjati yang masih diingat Heri adalah salah satu buktinya.

Kakek Dimjati telah pergi, tetapi senyumnya belum benar-benar pergi. Ia masih hidup dalam ingatan cucu-cucunya, dalam cerita keluarga, dan dalam kisah yang terus diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.

Sebab ada orang yang meninggalkan harta, ada yang meninggalkan nama, tetapi ada pula yang meninggalkan senyum. Dan senyum seperti itulah yang sering kali paling lama tinggal di hati.

Foto ini menjadi dokumentasi berharga dalam kisah perjalanan Kakek M.A. Dimjati di lingkungan Al-Azhar Kebayoran Baru. Dalam foto tersebut tampak Kakek M.A. Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru pada masa itu.

Foto lama seperti ini bukan sekadar gambar kenangan. Di dalamnya tersimpan cerita tentang perjuangan para guru pada masa awal perkembangan pendidikan Al-Azhar. Mereka menjadi bagian dari perjalanan panjang sebuah lembaga pendidikan yang kemudian berkembang besar dan dikenal luas oleh masyarakat Indonesia.

Bagi keluarga, foto ini tentu sangat istimewa. Sosok Kakek M.A. Dimjati yang selama ini dikenang sebagai pribadi yang rendah hati, murah senyum, dan dekat dengan banyak orang kini dapat dikenang melalui sebuah dokumentasi sejarah.

Satu foto, banyak cerita. Satu generasi guru, meninggalkan jejak pendidikan yang terus hidup sampai hari ini.


Rabu, 12 Agustus 2026

Saat Masih Sekolah Apa yang Kamu Lakukan?

Saat Masih Sekolah, Apa yang Paling Kamu Rindukan?

Pagi itu saya melihat sebuah pertanyaan sederhana terpampang di layar: “Saat masih sekolah, apa yang paling kamu rindukan?” Pertanyaan tersebut sebenarnya sangat sederhana, tetapi diam-diam mampu membawa pikiran kita berjalan jauh ke masa lalu. Masa ketika seragam sekolah masih melekat di tubuh, tas tergantung di bahu, dan bel sekolah menjadi suara yang begitu akrab setiap hari.

Saya teringat masa sekolah saya sendiri. Ada banyak hal yang dulu terasa biasa saja, bahkan terkadang membuat kita ingin segera lulus. Namun setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, justru hal-hal sederhana itulah yang paling sering dirindukan. Bertemu teman setiap pagi, bercanda di dalam kelas, menunggu guru datang, mengerjakan tugas bersama, bahkan dimarahi guru pun kini menjadi kenangan yang terasa manis.

Sekolah ternyata bukan hanya tentang buku, pelajaran, nilai, dan ujian. Sekolah adalah tempat kita belajar menjadi manusia. Di sanalah kita pertama kali mengenal persahabatan, persaingan, kerja sama, tanggung jawab, kegagalan, keberhasilan, bahkan rasa kehilangan. Banyak pelajaran penting dalam kehidupan justru tidak tertulis di papan tulis dan tidak selalu keluar dalam soal ujian.

Ketika melihat para peserta kegiatan di PGRI Provinsi Jawa Barat seperti pada foto ini, saya membayangkan pertanyaan tersebut tentu memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang merindukan teman sebangku. Ada yang merindukan guru favorit. Ada yang rindu suasana kantin sekolah. Ada yang ingin kembali mengikuti upacara bendera. Ada pula yang mungkin sangat merindukan masa ketika masalah terbesar dalam hidup hanyalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Saya sendiri mungkin paling merindukan kebersamaan. Dulu, bertemu teman bukan sesuatu yang harus dijadwalkan melalui WhatsApp. Setiap hari kami otomatis bertemu di sekolah. Kalau ingin berbicara, tinggal duduk bersebelahan. Kalau ingin bermain, cukup berjalan ke halaman sekolah. Kalau ada masalah, teman-teman ada di depan mata untuk mendengarkan cerita.

Sekarang semuanya berbeda. Teknologi membuat kita semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu membuat kita semakin dekat. Kita bisa mengirim pesan kepada siapa saja dalam hitungan detik, tetapi pertemuan tatap muka justru menjadi sesuatu yang semakin mahal. Karena itu, kenangan masa sekolah terasa begitu berharga.

Ada satu hal lagi yang saya rindukan: semangat untuk bermimpi.

Ketika masih sekolah, rasanya dunia begitu luas. Kita bebas bercita-cita menjadi guru, dokter, insinyur, pengusaha, penulis, tentara, programmer, atau apa pun yang kita inginkan. Tidak terlalu banyak yang kita pikirkan tentang kegagalan. Yang ada dalam pikiran hanyalah bagaimana suatu hari nanti bisa menjadi seseorang yang membanggakan orang tua.

Seiring bertambahnya usia, ternyata kehidupan mengajarkan hal yang berbeda. Kita mulai mengenal tanggung jawab, kebutuhan keluarga, pekerjaan, berbagai persoalan, dan kenyataan bahwa tidak semua mimpi dapat diraih dengan mudah. Namun justru karena itulah saya selalu percaya bahwa mimpi anak-anak sekolah harus dirawat, bukan dipadamkan.

Sebagai seorang guru, saya sering melihat wajah anak-anak yang sedang tumbuh mencari jati dirinya. Mereka mungkin belum tahu akan menjadi apa kelak. Tidak apa-apa. Tugas guru bukan memaksa mereka segera menemukan semua jawaban, tetapi menemani mereka menemukan jalan.

Saya pernah berada di posisi mereka. Duduk di bangku sekolah, mendengarkan guru berbicara di depan kelas, menulis catatan, mengerjakan tugas, dan sesekali memandang keluar jendela sambil membayangkan masa depan. Kini saya justru berada di sisi lain kelas. Saya menjadi guru dan melihat generasi baru tumbuh dengan tantangan yang berbeda.

Itulah mengapa pertanyaan “Saat masih sekolah, apa yang paling kamu rindukan?” menjadi sangat bermakna bagi saya. Pertanyaan ini bukan sekadar mengajak kita bernostalgia. Lebih jauh lagi, pertanyaan ini mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah suatu saat akan menjadi orang dewasa. Mereka akan bekerja, berkeluarga, menjadi guru, dokter, pengusaha, pejabat, atau profesi lainnya. Suatu hari nanti, mereka juga akan melihat foto-foto lama dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa dulu saya tidak lebih menikmati masa sekolah?”

Maka, untuk para guru, mari kita ciptakan sekolah yang kelak dirindukan oleh murid-murid kita. Jangan hanya membuat mereka mengingat rumus dan teori, tetapi berikan pengalaman yang membekas di hati. Jadikan kelas sebagai tempat yang aman untuk bertanya, mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh.

Untuk para murid, nikmatilah masa sekolah. Hargai guru-gurumu. Sayangi teman-temanmu. Jangan terlalu cepat ingin meninggalkan masa yang sedang kamu jalani. Sebab kelak, ketika semuanya sudah berlalu, kita mungkin akan rela membayar mahal hanya untuk kembali menikmati satu hari sebagai siswa.

Dan untuk saya sendiri, sekolah bukan sekadar masa lalu. Sekolah adalah bagian dari perjalanan hidup yang terus hidup dalam ingatan.

Hari ini saya menjadi guru. Besok mungkin saya akan menjadi kenangan bagi murid-murid saya. Semoga ketika mereka sudah dewasa nanti, ada satu hal yang mereka rindukan dari sekolah: suasana belajar yang membuat mereka merasa dihargai, dicintai, dan dipercaya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita rindukan dari sekolah bukanlah gedungnya, bukan seragamnya, bukan pula nilai rapornya.

Yang kita rindukan adalah orang-orang yang pernah membuat masa sekolah kita begitu berarti.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa setiap kali bertemu teman lama atau guru yang pernah mengajar kita, hati tiba-tiba terasa hangat. Kita seperti kembali menjadi anak sekolah untuk beberapa saat.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Karena kenangan yang dituliskan hari ini, bisa menjadi cerita yang dirindukan orang lain di kemudian hari.


RUU Sisdiknas Dinilai Belum Membela Guru

RUU Sisdiknas Harapan Semua Guru: Jangan Hanya Mengubah Aturan, Tetapi Bela Nasib Pendidik

Kisah Omjay | Guru Blogger Indonesia

Membaca berita utama Kompas edisi Rabu, 12 Agustus 2026, saya kembali teringat pada satu harapan besar yang selama ini hidup di hati para guru: semoga RUU Sisdiknas benar-benar menjadi rumah besar yang mampu melindungi dan memuliakan guru Indonesia. Judul beritanya cukup menggugah perhatian, “RUU Sisdiknas Dinilai Belum Bela Nasib Guru.” Bagi saya, ini bukan sekadar judul berita. Ini adalah suara kegelisahan yang perlu didengar oleh para pengambil kebijakan.

PB PGRI menilai RUU Sisdiknas belum menjawab sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi guru, terutama berkaitan dengan kesejahteraan, kepastian profesi, dan tata kelola. Karena itu, RUU tersebut dinilai tidak perlu buru-buru disahkan sebelum substansinya benar-benar mampu memberikan perlindungan dan kepastian bagi guru.

Sebagai guru yang sudah puluhan tahun berada di ruang kelas, saya memahami bahwa guru tidak membutuhkan janji yang terlalu tinggi. Guru membutuhkan kepastian. Kepastian bahwa profesinya dihargai, pekerjaannya dilindungi, penghasilannya layak, kariernya jelas, dan ketika menghadapi persoalan dalam menjalankan tugas, negara hadir memberikan perlindungan.

Guru setiap hari berdiri di depan murid dengan membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Di tangan guru ada masa depan anak-anak Indonesia. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendidik karakter, membangun kepercayaan diri, mengajarkan keterampilan, mendampingi murid menghadapi persoalan, bahkan sering kali menjadi tempat anak bercerita ketika mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa.

Karena itu, ketika negara menyusun undang-undang tentang sistem pendidikan nasional, suara guru semestinya menjadi salah satu suara yang paling penting untuk didengarkan.

Guru tidak ingin menjadi korban perubahan kebijakan

Dunia pendidikan sudah terlalu sering mengalami perubahan kebijakan. Kurikulum berubah, sistem berubah, aplikasi berubah, mekanisme administrasi berubah, tetapi guru tetap berada di ruang kelas yang sama: mendampingi anak-anak belajar dan bertumbuh.

Saya sering mengatakan kepada teman-teman guru bahwa perubahan kebijakan boleh terjadi, tetapi jangan sampai guru selalu menjadi korban dari perubahan tersebut.

Guru membutuhkan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Jangan sampai setiap pergantian kebijakan membuat guru kembali belajar dari awal, mengurus administrasi dari awal, memahami sistem baru dari awal, sementara persoalan mendasar tentang kesejahteraan dan perlindungan belum juga selesai.

RUU Sisdiknas seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki persoalan tersebut secara menyeluruh.

Bukan sekadar mengganti pasal demi pasal, tetapi memastikan bahwa sistem pendidikan benar-benar berpihak kepada proses pembelajaran dan manusia yang menjalankannya.

Kesejahteraan guru bukan sekadar angka

Ketika berbicara tentang kesejahteraan guru, pembahasannya jangan hanya berhenti pada nominal gaji atau tunjangan. Kesejahteraan juga menyangkut kepastian karier, status kepegawaian, kesempatan meningkatkan kompetensi, perlindungan hukum, beban kerja yang manusiawi, serta penghargaan terhadap profesionalisme guru.

Masih ada guru yang bertahun-tahun mengabdi dengan status yang tidak memberikan kepastian masa depan. Ada guru yang memiliki kompetensi dan pengalaman, tetapi jalur kariernya belum jelas. Ada pula guru yang harus menghadapi berbagai tuntutan administrasi sehingga waktu untuk mempersiapkan pembelajaran justru berkurang.

Guru tentu tidak takut bekerja keras. Sejak dahulu guru memang terbiasa bekerja dengan hati. Tetapi kerja keras harus mendapatkan penghargaan yang layak.

Jangan meminta guru menjadi profesional jika sistemnya belum memberikan kepastian untuk tumbuh sebagai seorang profesional.

Perlindungan guru harus nyata

Harapan berikutnya adalah perlindungan.

Guru membutuhkan rasa aman ketika melaksanakan tugas profesionalnya. Dalam mendidik anak, seorang guru tentu harus memiliki keberanian untuk menegakkan disiplin, memberikan penilaian secara objektif, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pendidikan.

Namun guru juga perlu memahami batas-batas kewenangannya dan mendapatkan pendampingan ketika muncul persoalan.

Perlindungan guru bukan berarti memberikan guru kekebalan hukum. Bukan pula berarti guru selalu benar. Guru juga manusia yang bisa melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab apabila terbukti melakukan pelanggaran.

Tetapi ketika seorang guru menghadapi persoalan karena menjalankan tugas profesionalnya, harus ada mekanisme perlindungan yang jelas, adil, dan tidak membuat guru merasa sendirian.

Guru jangan sampai berada dalam posisi takut mendidik karena khawatir setiap keputusan pedagogis dapat berujung pada persoalan hukum.

RUU Sisdiknas harus mendengar suara guru

Menurut saya, salah satu kekuatan RUU Sisdiknas nantinya adalah seberapa jauh proses penyusunannya mampu mendengarkan suara para pelaku pendidikan.

Jangan sampai undang-undang pendidikan disusun terlalu banyak dari meja birokrasi, sementara pengalaman guru di sekolah hanya menjadi catatan kecil.

Guru yang berada di kelas mengetahui persoalan pendidikan dari jarak paling dekat. Mereka tahu mengapa seorang anak sulit belajar. Mereka tahu bagaimana perubahan kurikulum dirasakan oleh sekolah. Mereka tahu persoalan administrasi yang menghabiskan waktu. Mereka tahu bagaimana kondisi guru di daerah, sekolah negeri, sekolah swasta, guru tetap, guru honorer, maupun berbagai persoalan lainnya.

Mendengarkan guru bukan berarti semua keinginan guru harus diterima. Tetapi suara guru harus menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan.

Saya berharap pembahasan RUU Sisdiknas dilakukan secara terbuka, partisipatif, dan sungguh-sungguh. Organisasi profesi guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, serta masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pandangan.

Jangan terburu-buru mengesahkan

Bagi saya, ukuran keberhasilan sebuah undang-undang pendidikan bukanlah seberapa cepat undang-undang itu disahkan.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar undang-undang tersebut mampu memperbaiki kehidupan guru, meningkatkan kualitas pembelajaran, melindungi peserta didik, dan membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan.

Kalau masih ada persoalan mendasar yang belum terjawab, tidak ada salahnya pembahasannya dilakukan dengan lebih matang.

Lebih baik sedikit lebih lama tetapi menghasilkan aturan yang kuat, daripada cepat disahkan tetapi kemudian menimbulkan persoalan baru.

Guru sudah terlalu sering menjadi pelaksana kebijakan. Kali ini guru berharap dapat menjadi bagian dari proses lahirnya kebijakan tersebut.

RUU Sisdiknas adalah harapan

Saya percaya sebagian besar guru tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.

Guru hanya ingin dihargai sebagai profesi yang penting bagi masa depan bangsa.

Guru ingin bekerja dengan tenang. Guru ingin memiliki kepastian karier. Guru ingin mendapatkan penghasilan yang layak. Guru ingin memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. Guru ingin mendapatkan perlindungan ketika menjalankan tugas. Dan yang paling penting, guru ingin dapat berkonsentrasi mendidik anak-anak tanpa terus dihantui ketidakpastian.

Inilah yang saya kira menjadi harapan banyak guru terhadap RUU Sisdiknas.

Jangan jadikan RUU Sisdiknas sekadar dokumen hukum. Jadikan ia sebagai komitmen negara untuk membangun pendidikan yang bermutu sekaligus memuliakan guru.

Sebab pendidikan yang hebat tidak mungkin lahir dari guru yang selalu gelisah dengan masa depannya.

Anak-anak membutuhkan guru yang tenang. Sekolah membutuhkan guru yang profesional. Bangsa membutuhkan guru yang bermartabat.

Maka, sebelum RUU Sisdiknas disahkan, mari bertanya sekali lagi:

Apakah aturan ini benar-benar sudah menjawab persoalan guru?

Jika jawabannya belum, mari kita sempurnakan bersama.

Sebab pada akhirnya, RUU Sisdiknas bukan hanya tentang sistem pendidikan. Ia adalah tentang masa depan anak-anak Indonesia dan tentang nasib orang-orang yang setiap hari mendidik mereka.

Dan bagi saya, sebagai guru, RUU Sisdiknas adalah harapan. Harapan agar guru tidak hanya diminta mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga benar-benar dijaga, dihargai, dan disejahterakan oleh negara.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia


Selasa, 11 Agustus 2026

Dua Pejuang PGRI

Dua Pejuang PGRI: Ayah Didi dan Pak Syam, Mengabdi Tanpa Banyak Bicara

Ada foto yang sekadar menjadi kenangan. Ada pula foto yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, pengabdian, persahabatan, dan kesetiaan. Foto dua orang pejuang PGRI ini adalah salah satunya. Di sebuah ruang tunggu bandara, Ayah Didi dan Pak Syam duduk berdampingan sambil membentangkan bendera PGRI. Wajah mereka mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perjalanan panjang memperjuangkan martabat guru dan pendidikan Indonesia.

Bagi saya, melihat foto ini seperti membuka kembali lembaran sejarah perjuangan para guru. Bendera PGRI yang mereka pegang bukan sekadar kain dengan lambang organisasi. Di dalamnya ada harapan jutaan guru. Ada suara guru yang ingin didengar. Ada perjuangan agar profesi guru dihargai. Ada doa agar anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Ayah Didi dan Pak Syam adalah dua sosok yang layak disebut pejuang PGRI.

Mereka bukan pejuang yang membawa senjata. Senjata mereka adalah keteguhan hati, keberanian menyampaikan aspirasi, kesetiaan kepada organisasi, dan keyakinan bahwa guru harus terus diperjuangkan. Perjuangan mereka mungkin tidak selalu masuk berita. Tidak selalu mendapatkan penghargaan. Bahkan mungkin tidak banyak orang yang mengetahui berapa banyak waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan yang telah mereka korbankan.

Namun begitulah perjuangan seorang guru.

Sering kali yang paling tulus justru tidak banyak berbicara tentang pengorbanannya.

Ayah Didi dan Pak Syam mengajarkan kepada kita bahwa berjuang tidak harus menunggu menjadi orang besar. Berjuang bisa dimulai dari kepedulian terhadap teman sejawat. Berjuang bisa dilakukan dengan hadir ketika organisasi membutuhkan. Berjuang bisa diwujudkan dengan menyampaikan suara guru dengan cara yang bermartabat.

Saya membayangkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Berangkat dari satu daerah ke daerah lain, menghadiri pertemuan, berdiskusi, menyampaikan aspirasi, mendengarkan keluhan guru, kemudian kembali pulang membawa harapan baru. Tidak semua perjalanan mudah. Ada rasa lelah, ada perbedaan pendapat, ada kekecewaan, bahkan mungkin ada saat ketika perjuangan terasa seperti tidak menghasilkan apa-apa.

Tetapi mereka tetap berjalan.

Karena bagi seorang pejuang, hasil bukan satu-satunya alasan untuk berjuang. Ada nilai yang jauh lebih besar, yaitu keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan itu benar dan bermanfaat bagi orang lain.

Foto ini juga mengingatkan saya bahwa PGRI bukan hanya sebuah organisasi. PGRI adalah rumah besar guru Indonesia. Di dalamnya berkumpul guru-guru dari berbagai daerah, berbagai latar belakang, dan berbagai generasi. Mereka dipersatukan oleh satu cita-cita: menjaga martabat guru dan memperjuangkan pendidikan Indonesia.

Bendera PGRI yang dibentangkan Ayah Didi dan Pak Syam seakan sedang berkata kepada kita semua: jangan pernah lelah memperjuangkan guru.

Guru boleh berganti generasi. Pengurus organisasi boleh berganti. Zaman terus berubah. Teknologi berkembang begitu cepat. Tantangan pendidikan semakin kompleks. Namun semangat perjuangan untuk memuliakan guru tidak boleh berhenti.

Hari ini mungkin kita menikmati hasil dari perjuangan orang-orang terdahulu. Besok, generasi setelah kita akan menikmati hasil dari apa yang kita perjuangkan hari ini.

Karena itu, jangan pernah menganggap kecil sebuah perjuangan.

Sebuah tulisan yang menyuarakan keresahan guru mungkin menjadi awal perubahan. Sebuah pertemuan kecil mungkin menghasilkan kebijakan besar. Sebuah keberanian untuk berbicara mungkin membuka jalan bagi ribuan guru lainnya.

Dan terkadang, sebuah foto sederhana di ruang tunggu bandara dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan itu nyata.

Saya melihat Ayah Didi dan Pak Syam bukan hanya sebagai dua orang yang sedang memegang bendera PGRI. Saya melihat dua manusia yang sedang memegang amanah sejarah.

Amanah untuk meneruskan perjuangan para pendahulu.

Amanah untuk menjaga marwah guru.

Amanah untuk memastikan bahwa guru tidak berjalan sendirian.

Kita mungkin tidak tahu sampai kapan tenaga mereka akan terus kuat. Usia akan bertambah. Rambut akan memutih. Langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu. Tetapi semangat pengabdian tidak harus menjadi tua.

Justru semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi muda.

Kepada para pejuang PGRI seperti Ayah Didi dan Pak Syam, izinkan kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Menjadi guru adalah pengabdian. Dan memperjuangkan guru adalah bagian dari perjuangan menjaga masa depan bangsa.

Semoga langkah mereka selalu dimudahkan. Semoga setiap lelah menjadi amal kebaikan. Semoga setiap perjalanan menjadi catatan sejarah yang indah. Dan semoga generasi guru hari ini tidak melupakan jasa para pejuang yang telah berjalan lebih dahulu.

Dua pejuang PGRI, Ayah Didi dan Pak Syam.

Mungkin suatu hari foto ini hanya tinggal gambar dalam album kenangan. Namun cerita di baliknya jangan sampai hilang.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya tertulis dalam buku sejarah. Bangsa juga dibangun oleh orang-orang sederhana yang bekerja dalam diam, berjuang tanpa pamrih, dan tetap berdiri ketika perjuangan terasa berat.

Guru adalah pejuang. PGRI adalah rumah perjuangannya. Dan perjuangan itu harus terus dilanjutkan.

Salam hormat untuk Ayah Didi dan Pak Syam. Semoga semangat juang kalian menjadi inspirasi bagi kami semua.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Senin, 10 Agustus 2026

Jangan Diam

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/6a79011934777c0b3058e432/jangan-diam-ketika-kebaikan-membutuhkan-suara

Minggu, 09 Agustus 2026

Guru Labschool Menjaga Nilai

Guru Labschool: Menjaga Nilai, Menyalakan Ilmu, dan Menjadi Teladan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada pesan yang sangat menarik dari Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., Penasihat Labschool, tentang bagaimana seharusnya seorang guru menjalankan perannya dalam pendidikan. Bagi saya, pesan tersebut bukan sekadar teori tentang profesi guru, tetapi sebuah pengingat bahwa menjadi guru berarti memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas.

Guru adalah sosok yang ikut menentukan seperti apa generasi masa depan akan tumbuh. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjaga nilai, memberikan keteladanan, membangun karakter, serta mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kemampuan sekaligus kepribadian yang baik.

Dalam pemaparan Prof. Arief Rachman, terdapat lima peran penting guru, yaitu konservator, inovator, transmitor, transformator, dan organisator. Kelima peran tersebut semakin bermakna ketika dihubungkan dengan 7 Nilai Dasar Labschool, yaitu bertakwa, berintegritas tinggi, berdaya juang kuat, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi.

Jika kita renungkan, lima peran guru dan tujuh nilai dasar tersebut sesungguhnya saling berkaitan. Guru menjadi orang yang menjaga nilai sekaligus menjadi contoh bagaimana nilai itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru sebagai Konservator: Menjaga Nilai

Peran pertama guru adalah sebagai konservator, yaitu memelihara sistem nilai yang menjadi sumber norma kedewasaan.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, peran ini menjadi sangat penting. Teknologi berubah, cara belajar berubah, media komunikasi berubah, bahkan karakter peserta didik juga mengalami perubahan. Namun, ada nilai-nilai yang tidak boleh ikut berubah.

Kejujuran tetap harus dijaga. Tanggung jawab tetap harus ditanamkan. Kesopanan tetap harus dikedepankan. Kepedulian kepada sesama tetap harus tumbuh. Demikian pula ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa harus menjadi bagian penting dalam kehidupan peserta didik.

Di sinilah guru berperan sebagai penjaga nilai.

Guru Labschool tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik bagaimana menjadi pintar, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang baik. Karena itu, nilai pertama dari 7 Nilai Dasar Labschool adalah bertakwa.

Ketakwaan menjadi landasan agar ilmu yang dimiliki tidak digunakan untuk sesuatu yang merugikan orang lain. Kecerdasan harus berjalan bersama moral dan tanggung jawab.

Guru sebagai Inovator: Terus Belajar dan Berkembang

Peran kedua adalah inovator. Guru harus mampu mengembangkan sistem nilai dan ilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangan zaman.

Guru yang baik tidak boleh berhenti belajar.

Saya merasakan sendiri tantangan ini sebagai guru Informatika. Dunia teknologi berubah begitu cepat. Apa yang dianggap baru beberapa tahun lalu, sekarang mungkin sudah menjadi sesuatu yang biasa. Hari ini kita berbicara tentang pemrograman, kecerdasan artifisial, keamanan digital, data, dan berbagai teknologi baru.

Karena itu, guru harus memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Namun inovasi bukan sekadar menggunakan teknologi terbaru. Inovasi adalah keberanian mencari cara yang lebih baik agar peserta didik dapat belajar dengan lebih bermakna.

Dalam konteks ini, nilai berintelektual tinggi menjadi penting. Peserta didik tidak cukup hanya menghafal pengetahuan. Mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, mampu memecahkan masalah, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Guru pun harus memberikan contoh bahwa belajar tidak pernah berhenti meskipun seseorang sudah menjadi guru.

Guru sebagai Transmitor: Mewariskan Nilai kepada Generasi Berikutnya

Peran ketiga adalah transmitor, yaitu meneruskan sistem nilai kepada peserta didik.

Guru pada hakikatnya adalah jembatan antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Nilai-nilai baik yang telah diwariskan oleh para pendidik terdahulu harus terus diteruskan kepada generasi muda. Kejujuran, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, gotong royong, rasa hormat, kepedulian, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan harus tetap hidup.

Namun cara menyampaikannya tentu harus menyesuaikan zaman.

Anak-anak sekarang tumbuh di tengah dunia digital. Mereka mendapatkan informasi bukan hanya dari guru dan buku, tetapi juga dari internet, media sosial, video, dan kecerdasan artifisial.

Karena itu, guru harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur dengan kehidupan peserta didik saat ini.

Nilainya boleh tetap, tetapi cara menyampaikannya harus kreatif.

Di sinilah nilai berbudi pekerti luhur menjadi sangat penting. Peserta didik tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga akhlak dan sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Guru sebagai Transformator: Menjadi Teladan

Menurut saya, inilah salah satu peran guru yang paling berat sekaligus paling mulia, yaitu sebagai transformator.

Guru menerjemahkan sistem nilai melalui kepribadian dan perilakunya dalam berinteraksi dengan peserta didik.

Dengan kata lain, guru tidak cukup hanya berbicara tentang nilai. Guru harus menunjukkan nilai tersebut melalui tindakan nyata.

Jika guru ingin murid jujur, guru harus menunjukkan kejujuran.

Jika guru ingin murid disiplin, guru harus memberikan contoh kedisiplinan.

Jika guru ingin murid menghargai orang lain, guru harus terlebih dahulu menghargai peserta didiknya.

Jika guru ingin murid berani mengakui kesalahan, guru pun tidak perlu malu meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Anak-anak mungkin lupa dengan materi pelajaran yang disampaikan guru. Namun mereka sering kali mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka.

Karena itu, guru sesungguhnya adalah kurikulum yang hidup.

Nilai berintegritas tinggi sangat erat dengan peran ini. Integritas berarti adanya keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Guru tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi berusaha hidup dalam kebaikan tersebut.

Guru sebagai Organisator: Menyelenggarakan Pendidikan dengan Tanggung Jawab

Peran kelima adalah organisator, yaitu penyelenggara proses pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Guru harus mampu merancang pembelajaran, mengelola kelas, memahami kebutuhan peserta didik, menciptakan suasana belajar yang nyaman, serta memastikan proses pendidikan berjalan dengan baik.

Tanggung jawab guru bukan hanya menyelesaikan materi pelajaran.

Guru perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah peserta didik saya berkembang? Apakah mereka menjadi lebih mandiri? Apakah mereka berani berpikir? Apakah mereka memiliki daya juang? Apakah mereka mampu bekerja sama? Apakah mereka memiliki karakter yang baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi menghasilkan manusia yang mampu menjalani kehidupannya dengan baik.

Karena itu, nilai mandiri dan berdaya juang kuat menjadi bagian penting dari karakter yang harus dibangun di Labschool.

Peserta didik perlu belajar menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap pilihannya, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Tujuh Nilai Dasar Labschool

Ketika Prof. Arief menyampaikan 7 Nilai Dasar Labschool, saya melihat bahwa ketujuh nilai tersebut sebenarnya merupakan gambaran manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui pendidikan.

Pertama, bertakwa. Peserta didik memiliki landasan spiritual dan menjadikan nilai ketuhanan sebagai pedoman dalam kehidupan.

Kedua, berintegritas tinggi. Peserta didik memiliki kejujuran dan konsistensi antara perkataan, sikap, dan perbuatan.

Ketiga, berdaya juang kuat. Peserta didik tidak mudah menyerah, memiliki semangat menghadapi tantangan, dan terus berusaha mencapai yang terbaik.

Keempat, berkepribadian utuh. Peserta didik berkembang secara seimbang, bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, moral, dan spiritual.

Kelima, berbudi pekerti luhur. Peserta didik memiliki kesantunan, kepedulian, rasa hormat, dan akhlak yang baik.

Keenam, mandiri. Peserta didik mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Ketujuh, berintelektual tinggi. Peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, serta memiliki semangat untuk terus belajar.

Ketujuh nilai ini tidak akan tumbuh hanya karena dituliskan di dalam dokumen sekolah. Nilai akan tumbuh ketika seluruh warga sekolah menghidupkannya.

Dan guru memiliki posisi yang sangat strategis untuk menghidupkan nilai tersebut.

Guru dan Tantangan Zaman

Sebagai guru di Labschool, saya semakin menyadari bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan semakin ringan.

Peserta didik hidup dalam dunia yang penuh informasi. Mereka bisa mendapatkan jawaban hanya dalam hitungan detik. Dengan kecerdasan artifisial, mereka bahkan bisa memperoleh bantuan untuk menulis, membuat gambar, menyusun presentasi, hingga menghasilkan program komputer.

Namun pertanyaannya bukan lagi sekadar "Apakah anak bisa mendapatkan jawaban?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah anak tahu bagaimana menggunakan jawaban tersebut dengan benar?

Di sinilah guru tetap dibutuhkan.

Teknologi mungkin bisa memberikan informasi, tetapi guru membantu peserta didik menemukan makna.

Teknologi bisa memberikan jawaban, tetapi guru mengajarkan tanggung jawab.

Teknologi bisa membuat sesuatu dengan cepat, tetapi guru mengajarkan kepada anak mengapa sesuatu itu harus dibuat dan untuk siapa manfaatnya.

Karena itu, secanggih apa pun teknologi pendidikan, peran manusia sebagai pendidik tetap sangat penting.

Menjadi Guru Berarti Menjadi Teladan

Setelah mendengarkan pemikiran Prof. Arief Rachman, saya semakin memahami bahwa menjadi guru Labschool bukan hanya tentang mengajar.

Guru adalah konservator yang menjaga nilai.

Guru adalah inovator yang terus belajar dan berkembang.

Guru adalah transmitor yang mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.

Guru adalah transformator yang menerjemahkan nilai melalui keteladanan.

Guru adalah organisator yang memastikan proses pendidikan berjalan dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu, 7 Nilai Dasar Labschool menjadi arah karakter yang hendak dibangun: bertakwa, berintegritas tinggi, berdaya juang kuat, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi.

Semua itu mengingatkan saya bahwa ukuran keberhasilan seorang guru sebenarnya tidak berhenti pada nilai rapor peserta didik.

Bisa jadi, bertahun-tahun setelah lulus, seorang murid tidak lagi mengingat rumus yang pernah diajarkan gurunya. Mereka mungkin lupa halaman buku yang pernah dibaca bersama. Mereka mungkin lupa tugas-tugas yang pernah diberikan.

Tetapi mereka akan mengingat seorang guru yang pernah percaya kepada mereka.

Mereka akan mengingat guru yang pernah memberikan semangat ketika mereka hampir menyerah.

Mereka akan mengingat guru yang mengajarkan kejujuran.

Mereka akan mengingat guru yang memperlakukan mereka dengan penuh hormat.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika mereka menjadi orang tua, profesional, pemimpin, atau guru, nilai-nilai itu akan mereka teruskan kepada generasi berikutnya.

Itulah warisan seorang guru.

Bukan sekadar materi pelajaran yang selesai disampaikan, tetapi nilai kehidupan yang terus hidup dalam diri peserta didik.

Terima kasih Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., Penasihat Labschool, atas pengingat yang begitu bermakna. Semoga kami para guru Labschool mampu terus menjaga amanah pendidikan, menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan memberikan keteladanan terbaik bagi peserta didik.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak menjadi pintar, tetapi membantu mereka menjadi manusia yang bertakwa, berintegritas, tangguh, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi.

Itulah guru Labschool.
Itulah pendidikan yang berkarakter.
Itulah warisan yang harus terus kita jaga.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.