Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 28 Mei 2026

Hibah Buku yang Menghidupkan Cahaya Ilmu

Kisah Omjay: Hibah Buku yang Menghidupkan Cahaya Ilmu

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara Wanaraja Garut terasa sejuk. Matahari baru saja muncul dari balik pegunungan. Burung-burung kecil berkicau di halaman rumah, sementara Omjay duduk santai di teras sambil menyeruput kopi hangat. Di hadapan Omjay, beberapa kardus berisi buku tersusun rapi. Ada buku agama, buku pendidikan, buku motivasi, hingga buku keterampilan hidup.

Saat melihat tumpukan buku itu, hati Omjay tiba-tiba teringat pada sosok Pak Haji Romlan. Beliau dikenal sebagai pribadi sederhana yang memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan dan masyarakat. Di tengah zaman ketika banyak orang sibuk mengumpulkan harta, Pak Haji Romlan justru ingin berbagi ilmu melalui hibah buku.

Omjay tersenyum pelan.

“Masya Allah… masih ada orang yang berpikir tentang masa depan generasi melalui buku,” gumam Omjay dalam hati.

Bagi Omjay, hibah buku bukan sekadar memberi benda. Hibah buku adalah menanam benih peradaban. Buku bisa mengubah cara berpikir seseorang. Buku mampu membuat anak desa berani bermimpi tinggi. Buku juga bisa menjadi teman terbaik ketika hidup terasa sepi.

Omjay lalu teringat masa kecilnya dulu. Ketika akses buku sangat terbatas, satu buku saja bisa dibaca berkali-kali sampai hafal isinya. Bahkan buku pinjaman dari perpustakaan sekolah terasa sangat berharga. Dari buku-buku itulah Omjay mulai mencintai dunia menulis dan pendidikan.

Kini zaman berubah. Anak-anak lebih akrab dengan layar handphone dibandingkan lembaran buku. Banyak yang sibuk bermain media sosial, tetapi jarang membaca buku berkualitas. Karena itulah Omjay merasa hibah buku yang dilakukan Pak Haji Romlan menjadi sangat penting.

Siang itu Omjay berbincang santai dengan beberapa warga. Mereka bercerita bahwa masih banyak sekolah, mushola, taman bacaan, dan perpustakaan kecil yang kekurangan buku. Ada anak-anak yang ingin membaca, tetapi bahan bacaannya sangat terbatas.

Mendengar cerita itu, hati Omjay semakin terenyuh.

“Betapa banyak anak hebat di negeri ini yang sebenarnya haus ilmu,” pikir Omjay.

Omjay lalu menyampaikan beberapa saran untuk Pak Haji Romlan agar hibah buku ini benar-benar memberi manfaat besar bagi masyarakat.

Menurut Omjay, yang paling penting bukan hanya jumlah buku yang dibagikan, tetapi ketepatan manfaatnya. Buku yang diberikan harus sesuai dengan kebutuhan pembacanya. Anak-anak membutuhkan buku cerita yang mendidik dan menyenangkan. Remaja membutuhkan buku motivasi, teknologi, dan pengembangan diri. Guru membutuhkan buku pendidikan yang menginspirasi.

Omjay juga menyarankan agar hibah buku tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Akan jauh lebih indah bila kegiatan itu dilakukan secara berkelanjutan. Sedikit demi sedikit, tetapi rutin. Sebab perpustakaan yang hidup adalah perpustakaan yang terus bertambah ilmunya.

“Jangan hanya memberi buku lalu selesai,” kata Omjay pelan. “Buku harus dihidupkan dengan kegiatan membaca dan menulis.”

Omjay percaya, budaya membaca harus berjalan bersama budaya menulis. Karena itulah Omjay selalu menyampaikan pesan kepada banyak guru dan siswa:

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog.”

Kalimat itu lahir dari pengalaman panjang Omjay sebagai guru blogger Indonesia. Menulis setiap hari membuat Omjay memahami bahwa ilmu yang ditulis akan hidup lebih lama dibandingkan hanya disimpan dalam pikiran.

Pak Haji Romlan tampak mendengarkan penuh perhatian.

Omjay lalu melanjutkan nasihatnya.

“Pak Haji, akan sangat bagus jika setiap buku hibah diberi pesan singkat yang menyentuh hati pembacanya.”

Misalnya:

‘Bacalah buku ini dengan hati, karena ilmu akan menerangi jalan hidupmu.’

Pesan sederhana seperti itu bisa menjadi motivasi besar bagi anak-anak yang membaca.

Tak terasa obrolan sore itu semakin hangat. Omjay melihat wajah-wajah penuh harapan. Ada guru, ada orang tua, dan ada anak-anak kecil yang memandang buku-buku itu dengan mata berbinar.

Saat itulah Omjay sadar bahwa buku memang memiliki kekuatan luar biasa. Buku bisa mempertemukan banyak hati dalam satu tujuan mulia: membangun manusia yang berilmu.

Omjay kemudian teringat sebuah kenyataan hidup. Ketika manusia meninggal dunia, yang dibawa bukanlah harta benda, bukan mobil mewah, bukan jabatan tinggi. Yang dibawa hanyalah amal kebaikan.

Hibah buku termasuk amal jariyah yang pahalanya terus mengalir. Selama buku itu dibaca dan ilmunya diamalkan, pahala akan terus sampai kepada pemberinya.

Betapa indahnya bila suatu hari ada seorang anak sukses menjadi guru, dokter, ulama, atau pemimpin bangsa karena dulu pernah membaca buku hibah dari Pak Haji Romlan.

Mungkin Pak Haji Romlan tidak akan pernah tahu siapa saja yang berubah hidupnya karena buku-buku itu. Namun Allah SWT mengetahui semuanya.

Langit mulai berubah jingga ketika percakapan sore itu berakhir. Angin Garut berhembus lembut. Omjay memandang tumpukan buku di depannya dengan hati yang hangat.

Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar materi, ternyata masih ada orang-orang baik yang percaya bahwa ilmu pengetahuan adalah cahaya kehidupan.

Sebelum pulang, Omjay kembali menyampaikan pesan yang sangat dalam kepada Pak Haji Romlan.

“Pak Haji, bangunan bisa rusak dimakan waktu. Harta bisa habis. Tetapi ilmu yang ditanam melalui buku akan hidup dalam hati manusia. Itulah warisan terbaik.”

Pak Haji Romlan tersenyum haru.

Dan Omjay percaya, dari hibah buku sederhana itu, akan lahir cahaya-cahaya kecil yang kelak menerangi Indonesia.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tukang Rujak Bebek di Wanaraja Garut

Kisah Omjay: Rujak Bebek di Siang Hari Wanaraja Garut

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Siang itu matahari bersinar cukup terik di Kampung Wanaraja Garut. Udara terasa hangat, tetapi angin pegunungan Garut masih menyisakan kesejukan yang sulit ditemukan di kota besar. Omjay duduk santai di teras rumah kakak ipar sambil menikmati suasana kampung yang damai.

Sesekali terdengar suara motor lewat. Anak-anak kecil berlarian di jalan kampung. Burung berkicau di pepohonan. Semuanya terasa sederhana, tetapi justru di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.

Omjay memandang jalan depan rumah sambil tersenyum kecil. Sudah lama rasanya tidak menikmati suasana kampung seperti ini. Hidup di Jakarta sering kali membuat manusia lupa bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari gedung mewah, restoran mahal, atau pusat perbelanjaan modern.

Kadang kebahagiaan datang dari hal-hal kecil yang sederhana.

Tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara khas yang sangat akrab di telinga masyarakat Sunda.

“Ruuujakkk… rujakkk bebekkk…”

Suara itu semakin mendekat.

Ternyata seorang tukang rujak tumbuk sedang lewat di depan rumah.

Spontan Omjay langsung memanggilnya.

“Pak… sini dulu!”

Tukang rujak itu pun berhenti sambil tersenyum ramah. Di depan motornya ada perlengkapan sederhana untuk membuat rujak bebek. Cobek batu, ulekan kayu, mangga muda, kedondong, bengkuang, nanas, timun, gula merah, cabai, garam, dan terasi tersusun rapi.

Melihat itu saja sudah membuat air liur terasa menetes.

“Pakai cabai banyak, Pak,” kata salah satu keluarga sambil tertawa.

Tukang rujak mulai bekerja dengan cekatan. Suara ulekan yang menghantam cobek terdengar begitu khas.

Cek… cek… cek…

Cabai rawit merah diulek bersama gula merah dan sedikit garam. Aroma terasi mulai tercium menggoda hidung. Setelah itu buah-buahan segar dimasukkan dan ditumbuk perlahan hingga bumbu meresap sempurna.

Itulah sebabnya disebut rujak tumbuk atau rujak bebek.

Bukan karena ada daging bebek di dalamnya.

Dalam bahasa Sunda, “dibebek” artinya diaduk dan ditumbuk hingga menyatu.

Siang itu suasana rumah langsung berubah ramai. Semua berkumpul menunggu rujak selesai dibuat. Ada yang sudah tidak sabar. Ada yang tertawa melihat cabai yang begitu banyak dimasukkan.

Ketika rujak selesai dan dibagikan ke piring kecil, aroma segarnya langsung menyebar.

Gigitan pertama benar-benar luar biasa.

Pedas.

Asam.

Manis.

Segar.

Semuanya bercampur menjadi rasa yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Omjay tersenyum sambil menikmati suapan demi suapan rujak bebek itu. Keringat mulai keluar karena pedasnya cabai, tetapi justru di situlah kenikmatannya.

Kadang hidup memang seperti rujak bebek.

Ada rasa pedasnya.

Ada rasa asamnya.

Ada rasa manisnya.

Dan semuanya bercampur menjadi pengalaman hidup yang lengkap.

Omjay tiba-tiba teringat perjalanan hidupnya selama ini. Menjadi guru, penulis, blogger, narasumber webinar, hingga harus berpindah-pindah kota demi berbagi ilmu kepada banyak orang.

Semua perjalanan itu tidak selalu mudah.

Ada lelahnya.

Ada kecewanya.

Ada sedihnya.

Namun ada juga kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Seperti siang itu.

Makan rujak bersama keluarga di kampung ternyata mampu menghadirkan rasa bahagia yang begitu tulus.

Omjay kemudian memandangi tukang rujak itu lebih lama. Wajahnya sederhana. Bajunya penuh peluh. Tangannya kasar karena bekerja keras setiap hari. Namun dari pekerjaannya itulah ia menghidupi keluarga.

Omjay kembali belajar bahwa setiap manusia sedang berjuang dengan caranya masing-masing.

Tukang rujak itu mungkin tidak terkenal.

Namanya mungkin tidak masuk televisi.

Tidak viral di media sosial.

Tetapi pekerjaannya membawa kebahagiaan bagi banyak orang.

Siang itu ia berhasil membuat satu keluarga tersenyum bahagia hanya lewat seporsi rujak bebek.

Betapa sering manusia meremehkan pekerjaan kecil.

Padahal di mata Allah, setiap pekerjaan halal adalah mulia.

Omjay semakin menikmati suasana kampung yang penuh kehangatan itu. Tidak ada suara klakson panjang seperti di Jakarta. Tidak ada hiruk-pikuk kemacetan. Yang ada hanyalah suara manusia bercengkerama dan tertawa bersama.

Kebersamaan seperti inilah yang sekarang mulai mahal harganya.

Di zaman modern, banyak keluarga duduk satu meja tetapi sibuk dengan handphone masing-masing. Ada yang bermain media sosial. Ada yang sibuk membuat konten. Ada yang tenggelam dalam dunia digital.

Namun siang itu berbeda.

Rujak bebek sederhana berhasil menyatukan semua orang dalam obrolan hangat penuh tawa.

Omjay percaya, makanan bukan hanya soal rasa.

Makanan juga tentang kenangan.

Tentang kebersamaan.

Tentang cinta keluarga.

Karena itulah banyak orang selalu merindukan masakan ibu di rumah.

Bukan semata-mata karena rasanya enak, tetapi karena ada kasih sayang di dalamnya.

Begitu juga dengan rujak bebek siang itu.

Mungkin jika dimakan di restoran mewah rasanya tidak akan sama.

Karena yang membuatnya istimewa adalah suasananya.

Kampung Wanaraja Garut siang itu menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan.

Omjay lalu berkata pelan kepada anak-anak dan keluarga yang ada di sana:

“Nikmati momen sederhana seperti ini. Karena suatu hari nanti kita akan merindukannya.”

Semua mendadak diam sejenak.

Benar sekali.

Hidup berjalan begitu cepat.

Anak-anak tumbuh dewasa.

Orang tua menua.

Waktu terus bergerak tanpa pernah berhenti.

Yang nantinya tersisa hanyalah kenangan.

Dan kenangan indah sering kali lahir dari momen-momen sederhana seperti makan rujak bersama keluarga.

Omjay kemudian kembali teringat pesan yang selalu ia tuliskan di blognya di [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com):

“Tulisan adalah rekaman kehidupan.”

Karena itulah Omjay senang menulis.

Lewat tulisan, momen sederhana tidak hilang begitu saja.

Suara ulekan cobek.

Tawa keluarga.

Pedasnya cabai.

Segarnya buah.

Semua bisa hidup kembali lewat tulisan.

Omjay percaya, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Dan siang itu, di Wanaraja Garut, Omjay kembali belajar satu hal penting:

Bahagia ternyata tidak serumit yang manusia bayangkan.

Kadang bahagia hanya sesederhana memanggil tukang rujak yang lewat di depan rumah… lalu menikmatinya bersama orang-orang tercinta.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Oleh Oleh Umroh yang Menyimpan Kerinduan

Kisah Omjay: Oleh-Oleh Umroh yang Menyimpan Air Mata Kerinduan

Di sebuah rumah sederhana di Wanaraja, Garut, tersimpan benda-benda kecil yang mungkin bagi orang lain hanyalah pajangan biasa. Ada teko berwarna keemasan, gelas-gelas kecil khas Timur Tengah, vas bunga, dan miniatur kendaraan dari Arab Saudi. Semuanya tertata rapi di atas meja dengan alas plastik bening yang sudah mulai kusam dimakan waktu.

Namun bagi Omjay dan istri, benda-benda itu bukan sekadar oleh-oleh.

Di sanalah tersimpan kenangan, doa, perjuangan, dan air mata kerinduan kepada Tanah Suci.

Tahun 2017 menjadi tahun yang tidak pernah dilupakan Omjay. Tahun ketika Allah SWT akhirnya memanggil Omjay dan istri untuk menunaikan ibadah umroh. Sampai hari ini, setiap kali mata memandang teko emas kecil itu, hati OmJay selalu bergetar.

Ada rasa haru yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Pagi itu di rumah Wanaraja Garut, OmJay berdiri cukup lama di depan meja tempat oleh-oleh itu disimpan. Cahaya matahari masuk perlahan dari jendela rumah. Pantulan sinarnya membuat teko dan gelas-gelas kecil itu tampak berkilau.

Tiba-tiba hati OmJay terasa sesak.

Ingatan OmJay kembali melayang jauh ke tahun 2017…

Saat pertama kali kaki ini menginjak Kota Madinah.

Saat air mata jatuh tanpa bisa ditahan ketika mendengar adzan berkumandang di Masjid Nabawi.

Saat OmJay berdiri mematung di depan Raudhah sambil berdoa untuk keluarga, anak-anak, sahabat, dan semua orang yang dicintai.

Tidak terasa air mata OmJay kembali menetes pagi itu.

Betapa cepat waktu berlalu.

Rasanya baru kemarin OmJay dan istri berjalan bersama di pelataran Masjidil Haram. Baru kemarin melihat Ka'bah untuk pertama kali dengan dada berdebar hebat. Baru kemarin tangan ini menengadah sambil memohon ampunan kepada Allah SWT.

Kini yang tersisa hanyalah kenangan… dan beberapa oleh-oleh sederhana.

Namun justru dari benda-benda sederhana itulah OmJay belajar tentang arti syukur.

OmJay teringat bagaimana perjuangan menabung untuk berangkat umroh waktu itu. Tidak mudah bagi seorang guru untuk bisa berangkat ke Tanah Suci. Ada banyak kebutuhan keluarga yang harus didahulukan. Ada biaya sekolah anak. Ada kebutuhan rumah tangga. Ada tanggung jawab yang tidak sedikit.

Tetapi Allah selalu punya cara.

Sedikit demi sedikit rezeki dikumpulkan. Sedikit demi sedikit doa dipanjatkan. Sampai akhirnya Allah benar-benar membuka jalan.

OmJay masih ingat bagaimana bahagianya istri ketika koper mulai dipersiapkan. Wajahnya bersinar penuh kebahagiaan. Mata beliau berkaca-kaca ketika pertama kali mengenakan pakaian ihram.

Dan hari ini…

Kenangan itu seolah hidup kembali hanya karena melihat sebuah teko kecil dan gelas-gelas mungil dari Arab Saudi.

OmJay kemudian duduk perlahan sambil memandangi miniatur kendaraan kecil di samping meja. Benda itu dibeli hanya karena lucu dan unik. Harganya mungkin tidak seberapa. Tetapi sekarang nilainya terasa sangat mahal.

Karena kenangan tidak pernah bisa dibeli.

Banyak orang mengira kebahagiaan ada pada rumah besar, kendaraan mewah, atau harta melimpah. Padahal kebahagiaan sejati sering kali tersembunyi dalam kenangan sederhana yang penuh cinta dan syukur.

Oleh-oleh itu menjadi saksi bahwa OmJay dan istri pernah menjadi tamu Allah.

Pernah menangis di depan Ka'bah.

Pernah berdoa di Multazam.

Pernah bershalawat di dekat makam Rasulullah SAW.

Dan setiap kali melihat benda-benda itu, hati OmJay selalu berbisik lirih:

“Ya Allah… panggil kami kembali ke rumah-Mu.”

Tidak terasa air mata kembali jatuh.

OmJay sadar, hidup ini sebenarnya hanyalah perjalanan singkat. Semua yang kita miliki akan tertinggal. Rumah akan ditinggalkan. Jabatan akan dilepaskan. Harta tidak akan dibawa mati.

Yang tersisa hanyalah amal dan kenangan baik.

Karena itulah OmJay selalu berusaha menulis setiap hari. Menuliskan pengalaman hidup, rasa syukur, pelajaran kehidupan, dan perjalanan spiritual dalam blog sederhana miliknya.

Sebab OmJay percaya:

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam ajaib bernama blog.”

Mungkin suatu hari nanti OmJay sudah tiada.

Namun tulisan-tulisan itu akan tetap hidup.

Anak cucu bisa membacanya.

Sahabat bisa mengenangnya.

Dan siapa tahu, ada orang yang kembali semangat beribadah karena membaca kisah sederhana OmJay.

Di rumah Wanaraja Garut itu, benda-benda kecil dari Arab Saudi akhirnya mengajarkan satu hal penting:

Bahwa kenangan spiritual jauh lebih mahal daripada kemewahan dunia.

Teko emas itu mungkin suatu hari akan kusam.

Gelas-gelas kecil itu mungkin akan retak dimakan usia.

Miniatur kendaraan itu mungkin akan rusak.

Tetapi rasa rindu kepada Tanah Suci tidak akan pernah hilang.

Rindu itu justru semakin tumbuh seiring bertambahnya usia.

OmJay kemudian memandang istrinya yang sedang tersenyum kecil melihat pajangan itu. Dalam diam, OmJay bersyukur dipertemukan dengan pasangan hidup yang selalu setia mendampingi dalam suka dan duka.

Perjalanan umroh tahun 2017 bukan hanya perjalanan menuju Makkah dan Madinah.

Tetapi perjalanan hati.

Perjalanan untuk lebih mengenal Allah.

Perjalanan untuk belajar bahwa hidup ini sangat singkat.

Dan pagi itu di Wanaraja Garut, OmJay kembali sadar…

Kadang Allah menghadirkan rasa haru bukan lewat sesuatu yang besar.

Tetapi lewat benda-benda kecil yang menyimpan kenangan paling dalam.

Mungkin itulah sebabnya air mata mudah jatuh ketika melihat oleh-oleh umroh lama.

Karena sesungguhnya yang dirindukan bukan barangnya.

Tetapi momen ketika hati terasa sangat dekat dengan Allah SWT.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay: Yang Dikorbankan Adalah Hati yang Ikhlas

Kisah Omjay: Yang Dikorbankan Hati

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia

“Bukan daging dan darahnya yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang sampai kepada-Nya.”
(QS. Al-Hajj: 37)

Pagi itu langit Garut terlihat begitu cerah. Udara dingin pegunungan menyelinap masuk melalui sela-sela jendela rumah kakak ipar Omjay di Wanaraja. Takbir Idul Adha masih terdengar sayup-sayup dari masjid sekitar. Hati Omjay terasa tenang, tetapi juga penuh renungan.

Hari Raya Idul Adha selalu membawa makna berbeda dalam hidup Omjay. Bukan sekadar tentang menyembelih hewan kurban, bukan pula sekadar tradisi tahunan yang datang lalu pergi. Ada sesuatu yang jauh lebih dalam. Ada hati yang sedang diuji. Ada keikhlasan yang sedang dipertanyakan.

Omjay duduk sambil memandangi langit pagi. Di tangannya ada secangkir kopi hangat. Sementara di sudut ruang tamu, anak-anak sedang bercanda kecil dengan penuh kebahagiaan. Istri Omjay tampak sibuk membantu menyiapkan sarapan sederhana.

Saat itulah Omjay teringat sebuah kalimat yang begitu menyentuh hati:

“Tidak semua yang dikorbankan terlihat oleh manusia, tapi semua yang ikhlas dilihat dan dicatat oleh Allah.”

Kalimat itu seperti mengetuk pintu hati Omjay.

Selama ini banyak orang mengira pengorbanan selalu berbentuk sesuatu yang besar. Padahal sering kali yang paling berat justru pengorbanan yang tidak terlihat.

Ada orang yang mengorbankan waktu tidurnya demi mencari nafkah halal.

Ada guru yang mengorbankan kenyamanan hidup demi tetap mengajar anak-anak bangsa dengan penuh cinta.

Ada ibu yang diam-diam menangis agar anak-anaknya tetap bisa sekolah.

Ada ayah yang menahan lelah meski tubuhnya sakit.

Ada pula seseorang yang mengorbankan egonya demi menjaga persaudaraan.

Semua itu adalah kurban hati.

Omjay teringat perjalanan hidupnya sebagai guru. Tidak sedikit perjuangan yang harus dilalui. Menjadi guru di era digital bukanlah hal mudah. Banyak tantangan datang silih berganti. Kadang dihargai, kadang dilupakan. Kadang dipuji, kadang dicaci.

Namun Omjay belajar satu hal penting: mengajar dengan hati akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Bertahun-tahun Omjay menulis di blog. Banyak orang bertanya mengapa Omjay begitu rajin menulis setiap hari.

Omjay selalu menjawab sederhana:

“Karena tulisanku adalah tabunganku.”

Bukan tabungan uang. Bukan tabungan jabatan. Tetapi tabungan amal, ilmu, dan inspirasi.

Omjay percaya tulisan yang baik akan terus hidup bahkan ketika penulisnya telah tiada.

Karena itulah Omjay terus menulis dengan hati.

Dalam perjalanan pulang dari Bandung menuju Garut setelah melihat pembagian hewan kurban di Masjid Jami Al Islam Jamika, Omjay melihat begitu banyak orang berjalan kaki membawa kantong daging kurban.

Wajah mereka tampak bahagia.

Ada senyum yang sederhana, tetapi penuh makna.

Saat itulah Omjay kembali merenung.

Betapa Islam mengajarkan berbagi dengan begitu indah.

Kurban bukan tentang siapa yang paling besar sapinya. Bukan tentang siapa yang paling mahal kambingnya.

Tetapi tentang siapa yang paling ikhlas menyerahkan hatinya kepada Allah.

Nabi Ibrahim diuji bukan sekadar untuk menyembelih putranya, tetapi untuk membuktikan bahwa cintanya kepada Allah berada di atas segalanya.

Dan setiap manusia memiliki “Ismail”-nya masing-masing.

Ada yang harus mengorbankan rasa malas. Ada yang harus meninggalkan kesombongan. Ada yang harus melepaskan dendam. Ada yang harus belajar memaafkan.

Itulah pengorbanan hati yang sesungguhnya.

Omjay pernah berada pada masa lelah dalam hidup. Ada saat-saat ketika hati terasa begitu berat menghadapi kenyataan. Terkadang manusia ingin menyerah. Terkadang manusia merasa perjuangannya sia-sia.

Namun Idul Adha selalu datang membawa pelajaran besar.

Bahwa keikhlasan akan selalu menemukan cahaya.

Omjay teringat ketika pertama kali mulai aktif menulis di internet. Banyak yang meremehkan. Ada yang berkata menulis di blog tidak ada gunanya. Ada yang menganggap itu pekerjaan sia-sia.

Tetapi Omjay tetap berjalan.

Sedikit demi sedikit tulisan Omjay dibaca banyak orang. Sedikit demi sedikit tulisan itu menginspirasi guru-guru Indonesia.

Hari ini Omjay memahami: apa yang dilakukan dengan hati tidak akan pernah sia-sia.

Karena Allah melihat proses, bukan hanya hasil.

Menjelang sore, Omjay berjalan keluar rumah. Langit Garut mulai berubah jingga. Anak-anak kecil berlarian sambil tertawa. Aroma sate kurban mulai tercium dari rumah-rumah warga.

Omjay tersenyum kecil.

Hidup ternyata sederhana.

Bahagia tidak selalu datang dari kemewahan. Kadang kebahagiaan hadir dari hati yang ikhlas menerima hidup apa adanya.

Di tengah hiruk pikuk dunia modern, manusia sering lupa menjaga hati. Kita sibuk mengejar pengakuan manusia sampai lupa mencari ridha Allah.

Padahal hidup ini hanya sementara.

Semua yang kita miliki hanyalah titipan.

Jabatan akan pergi. Harta akan tertinggal. Popularitas akan hilang.

Tetapi amal baik akan tetap tinggal.

Karena itu Omjay selalu berusaha menanamkan pesan sederhana dalam setiap tulisannya:

“Menulislah dengan hati, karena tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati orang lain.”

Buku Yang Dikorbankan Hati mengingatkan Omjay bahwa hidup bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki, tetapi tentang seberapa tulus kita memberi.

Kadang yang perlu dikorbankan bukan harta, melainkan ego.

Kadang yang perlu disembelih bukan hewan, tetapi sifat sombong dalam diri.

Kadang yang harus dilepaskan bukan benda, tetapi rasa iri dan dendam.

Dan semua itu membutuhkan hati yang ikhlas.

Malam mulai turun perlahan. Takbir kembali terdengar dari kejauhan. Omjay menutup laptopnya setelah selesai menulis artikel ini.

Hati Omjay terasa hangat.

Semoga setiap tulisan yang lahir dari hati menjadi pengingat bahwa hidup ini bukan sekadar mencari dunia, tetapi juga mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Karena pada akhirnya, bukan apa yang kita miliki yang akan menyelamatkan kita.

Tetapi hati yang ikhlas karena Allah.

Dan Omjay percaya…

Tulisan yang ditulis dengan hati akan selalu hidup, bahkan ketika penulisnya telah lama pergi.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tulisanku Adalah Tabunganku

Inspirasi Pagi: Semua Hanya Titipan Allah 

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Kamis 28 Mei 2026, udara Garut terasa dingin menusuk kulit. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan di sekitar rumah kakak ipar Omjay di Wanaraja. Suara ayam berkokok bersahutan, sementara adzan Subuh baru saja selesai berkumandang dari masjid dekat rumah.

Omjay duduk pelan di teras rumah sambil memegang secangkir kopi hangat. Sesekali mata memandang langit yang perlahan mulai terang. Di tangan Omjay, sebuah pesan inspirasi pagi muncul di layar ponsel:

“Semua orang di dunia ini adalah tamu, sedangkan harta seluruhnya adalah titipan. Semua tamu pasti pergi, sedangkan barang titipan itu harus dikembalikan kepada pemilikNya.”

Kalimat sederhana itu tiba-tiba membuat hati Omjay bergetar.

Betapa sering manusia merasa memiliki segalanya. Rumah dianggap milik sendiri. Jabatan dianggap hasil perjuangan pribadi. Harta dianggap simbol keberhasilan. Bahkan kadang manusia merasa hidup akan berlangsung selamanya.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Kita semua hanyalah tamu di dunia ini.

Omjay terdiam cukup lama. Ingatan melayang kepada banyak peristiwa kehidupan yang telah dilewati. Ada masa ketika Omjay sibuk mengejar pekerjaan, mengejar target, mengejar pengakuan, bahkan mengejar hal-hal duniawi yang sebenarnya tidak akan ikut masuk ke liang kubur.

Namun waktu perlahan mengajarkan sebuah kebenaran besar.

Tidak ada yang benar-benar milik kita.

Semua hanyalah titipan Allah.

Mobil yang kita banggakan suatu hari akan berpindah tangan. Rumah megah yang kita bangun akan diwariskan. Jabatan akan berakhir. Uang akan habis atau ditinggalkan. Bahkan tubuh yang hari ini sehat dan kuat pun suatu saat akan kembali lemah dimakan usia.

Yang abadi hanyalah amal kebaikan.

Omjay teringat sebuah pengalaman yang sangat membekas di hati. Beberapa waktu lalu, Omjay pernah ikut mengantar jenazah kakak dan seorang sahabat. Ketika tubuh sahabat itu dimasukkan ke liang lahat, suasana mendadak sunyi. Tangis keluarga pecah. Semua yang hadir menundukkan kepala.

Saat itulah Omjay sadar.

Tidak ada satu pun harta yang ikut dibawa.

Tidak ada sertifikat rumah. Tidak ada ATM. Tidak ada mobil. Tidak ada jabatan. Tidak ada popularitas.

Yang ikut hanyalah amal ibadah dan kebaikan selama hidup di dunia.

Ayat Al-Qur’an yang dikutip dalam inspirasi pagi itu terasa begitu menenangkan:

“Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allahlah dikembalikan segala urusan.”
(QS. Ali ‘Imron [3]:109)

Ayat itu seperti menegur hati manusia yang sering lupa diri.

Omjay kemudian membuka laptop kecil yang selalu menemani perjalanan hidupnya. Jari-jari mulai menari di atas keyboard. Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan Omjay. Dari tulisan-tulisan sederhana, Omjay belajar memahami kehidupan dengan lebih dalam.

Bagi Omjay, menulis bukan sekadar merangkai kata.

Menulis adalah cara menyimpan jejak kebaikan.

Menulis adalah cara berbagi ilmu.

Menulis adalah sedekah yang bisa terus mengalir meski tubuh sudah tiada.

Karena itulah Omjay selalu berkata:

“Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan.

Omjay benar-benar merasakan keajaiban blog dalam perjalanan hidupnya. Tulisan yang dibuat bertahun-tahun lalu ternyata masih dibaca hingga hari ini. Ada guru dari pelosok Indonesia yang menghubungi Omjay karena merasa termotivasi oleh tulisan di blog. Ada siswa yang kembali semangat belajar setelah membaca kisah perjuangan seorang guru. Ada pula pembaca yang mengaku menangis setelah membaca artikel tentang kehidupan dan kematian.

Dari situlah Omjay memahami bahwa tulisan bisa menjadi amal jariyah.

Blog bukan hanya tempat menyimpan artikel.

Blog adalah alat rekam kehidupan.

Di dalamnya tersimpan jejak pemikiran, pengalaman, perjuangan, doa, bahkan air mata penulisnya. Ketika manusia sudah tidak lagi mampu berbicara, tulisan akan tetap hidup dan berbicara kepada dunia.

Pagi semakin terang.

Anak-anak mulai bermain di halaman. Suara motor terdengar berlalu-lalang di jalan kampung. Kehidupan berjalan seperti biasa. Namun hati Omjay pagi itu terasa berbeda.

Ada rasa syukur yang begitu besar.

Syukur karena masih diberi kesempatan hidup. Syukur karena masih bisa menulis. Syukur karena masih bisa berbagi ilmu. Syukur karena masih diberi kesempatan memperbaiki diri.

Omjay percaya, hidup bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling tinggi jabatannya.

Hidup adalah tentang siapa yang paling bermanfaat bagi sesama.

Sebab pada akhirnya semua akan kembali kepada Allah.

Kita datang tanpa membawa apa-apa. Dan nanti kita pergi pun tanpa membawa apa-apa.

Yang tersisa hanyalah nama baik dan amal kebaikan.

Karena itu Omjay terus belajar menulis dengan hati. Bukan sekadar mengejar viral atau popularitas. Omjay ingin setiap tulisan menjadi pengingat bahwa hidup ini sementara.

Hari ini kita masih bisa tersenyum. Besok belum tentu.

Hari ini kita masih bisa berkumpul bersama keluarga. Besok mungkin tinggal kenangan.

Hari ini kita masih diberi kesempatan berbuat baik. Maka jangan ditunda.

Sebelum menutup laptopnya, Omjay kembali menuliskan satu kalimat sederhana di blog pribadinya di [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com):

“Hidup hanyalah singgah sementara. Maka tinggalkanlah jejak kebaikan melalui tulisan yang lahir dari hati.”

Semoga setiap tulisan yang kita buat menjadi cahaya, bukan hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi orang lain.

Barakallah fiikum.

Tetap semangat menebar kebaikan melalui ilmu, tulisan, dan ketulusan hati.

Ringkasan Materi Mengelola Majalah Sekolah

Ringkasan Materi Mengelola Majalah Sekolah

Materi “Mengelola Majalah Sekolah” menjelaskan tentang pentingnya majalah sekolah sebagai media informasi, komunikasi, kreativitas, dan publikasi sekolah. Materi ini disampaikan secara lengkap mulai dari pengertian majalah, struktur redaksi, langkah penerbitan, hingga pembiayaan dan strategi pengelolaannya.

Pengertian Majalah Sekolah

Majalah adalah terbitan berkala yang berisi liputan jurnalistik, informasi, opini, dan hiburan. Majalah dapat dibedakan berdasarkan waktu terbitnya, seperti mingguan atau bulanan, serta berdasarkan isi, seperti majalah berita, pendidikan, olahraga, atau remaja.

Majalah sekolah adalah majalah yang dibuat, dikelola, dan diedarkan di lingkungan sekolah. Majalah ini menjadi media komunikasi “dari sekolah untuk sekolah” yang melibatkan guru dan siswa dalam proses kreatif dan jurnalistik.

Manfaat Majalah Sekolah

Majalah sekolah memiliki banyak manfaat, antara lain:

  1. Sarana komunikasi antara sekolah, siswa, dan orang tua.
  2. Media informasi tentang kegiatan dan prestasi sekolah.
  3. Wadah kreativitas siswa dan guru dalam menulis, menggambar, dan berkarya.
  4. Media publikasi sekolah kepada masyarakat.
  5. Menjadi nilai tambah sekolah terutama saat akreditasi.

Langkah-Langkah Menerbitkan Majalah Sekolah

Ada beberapa langkah penting dalam menerbitkan majalah sekolah:

1. Menyatukan Ide dan Membentuk Tim

Sekolah perlu membentuk tim redaksi yang memiliki semangat literasi dan kreativitas.

2. Membuat Proposal

Proposal berisi:

  • Latar belakang
  • Tujuan
  • Susunan redaksi
  • Anggaran dana
  • Program kerja

3. Merancang Konsep Majalah

Meliputi:

  • Nama majalah
  • Tema
  • Isi rubrik
  • Pendanaan
  • Jadwal terbit

4. Mencari Rekanan

Sekolah dapat bekerja sama dengan:

  • Percetakan
  • Sponsor
  • Mitra pendukung lainnya

Susunan Redaksi Majalah Sekolah

Dalam pengelolaan majalah sekolah diperlukan struktur organisasi yang jelas, seperti:

  • Penanggung jawab: Kepala sekolah
  • Pemimpin redaksi
  • Penasehat
  • Reporter
  • Editor
  • Fotografer
  • Layout designer
  • Bendahara

Setiap anggota memiliki tugas penting agar penerbitan majalah berjalan baik.

Isi dan Rubrik Majalah Sekolah

Majalah sekolah sebaiknya memuat berbagai rubrik menarik seperti:

  • Salam redaksi
  • Profil guru
  • Profil siswa berprestasi
  • Berita kegiatan sekolah
  • Karya siswa
  • Prestasi sekolah
  • Kuiz berhadiah
  • Informasi dan pengumuman
  • Komik dan artikel edukatif

Rubrik harus disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan dibuat menarik agar pembaca tidak bosan.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan

Beberapa hal penting dalam menerbitkan majalah sekolah:

  • Nama majalah harus unik dan mudah diingat.
  • Gunakan bahasa komunikatif dan sesuai usia siswa.
  • Pilih tema yang sedang populer atau relevan.
  • Buat cover dan layout yang menarik.
  • Gunakan desain sederhana tetapi nyaman dibaca.
  • Menyesuaikan jumlah halaman dengan anggaran.

Pembiayaan Majalah Sekolah

Sumber dana majalah sekolah dapat berasal dari:

  • Dana BOSDA
  • Sponsor atau iklan
  • Penjualan majalah kepada siswa

Biaya digunakan untuk:

  • Percetakan
  • Honor tim redaksi
  • Hadiah kuiz dan kegiatan lainnya.

Majalah Cetak dan Digital

Majalah sekolah dapat diterbitkan dalam bentuk:

  • Cetak
  • PDF online
  • Flipbook digital
  • Website sekolah
  • Media sosial

Hal ini memudahkan penyebaran informasi dan menyesuaikan kondisi sekolah.

Pentingnya Kekompakan Tim

Keberhasilan majalah sekolah sangat bergantung pada kekompakan tim redaksi. Semua anggota harus saling mendukung, terus belajar, dan meningkatkan kemampuan melalui pelatihan menulis, desain, dan teknologi informasi.

Kesimpulan

Majalah sekolah bukan sekadar media informasi, tetapi juga sarana membangun budaya literasi, kreativitas, dan komunikasi di lingkungan pendidikan. Dengan pengelolaan yang baik, majalah sekolah dapat menjadi kebanggaan sekolah sekaligus media pembentukan karakter siswa yang kreatif, kritis, dan komunikatif.

Kisah Omjay: Perjalanan Idul adha dari Bandung hingga Garut

Kisah Omjay: Perjalanan Idul Adha dari Bandung hingga Wanaraja Garut

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Malam itu Omjay terbangun dari mimpi. Suasana rumah terasa begitu sunyi. Angin malam Wanaraja, Garut, berhembus perlahan menembus celah jendela rumah kakak ipar. Jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Semua orang masih terlelap tidur, tetapi mata Omjay justru sulit terpejam kembali.

Di dalam keheningan malam itu, Omjay termenung panjang.

Betapa indahnya Allah mempertemukan keluarga dalam suasana Idul Adha yang penuh makna.

Hari itu terasa sangat panjang, tetapi juga sangat membahagiakan.

Pagi hari dimulai dengan gema takbir yang berkumandang di mana-mana. Udara terasa sejuk. Langit cerah seolah ikut menyambut datangnya Hari Raya Idul Adha. Setelah melaksanakan sholat Idul Adha bersama jamaah, Omjay merasakan ketenangan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Ada rasa syukur yang begitu besar di dalam hati.

Idul Adha bukan hanya tentang menyembelih hewan qurban. Lebih dari itu, Idul Adha mengajarkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan cinta kepada sesama manusia.

Seusai sholat Id, Intan dan Fazar, anak-anak Omjay, dengan penuh kasih mengantar Omjay dan istri menuju Bandung. Perjalanan pagi itu terasa hangat karena dipenuhi obrolan keluarga. Jalanan masih ramai oleh masyarakat yang mengenakan pakaian muslim terbaik mereka.

Sesekali terdengar suara takbir dari masjid-masjid yang dilewati.

OmJay memandangi wajah anak-anaknya dengan hati yang penuh haru. Waktu berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dulu digendong dan diajari berjalan, kini sudah mampu mengantar kedua orang tuanya bepergian.

Dalam hati Omjay berdoa:

“Ya Allah, jadikan anak-anak kami anak yang saleh dan salehah, penyejuk hati kedua orang tuanya.”

Perjalanan menuju Bandung terasa menyenangkan. Sesampainya di kawasan Jamika, Bandung, Omjay dan istri langsung menuju Masjid Jami Al Islam Jamika.

Di tempat itulah istri Omjay berqurban sapi tahun ini.

Ada tiga ekor sapi yang disembelih di masjid tersebut. Namun ketika Omjay tiba di lokasi, seluruh proses penyembelihan sudah selesai dilakukan panitia qurban. Daging-daging qurban sudah mulai dipotong kecil-kecil dan dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Suasana masjid begitu hidup.

Panitia bekerja penuh semangat. Ada yang memotong daging, ada yang membungkus kantong qurban, ada pula yang mengatur antrean warga. Semua dilakukan dengan wajah penuh kebahagiaan.

Omjay memperhatikan para warga yang datang dengan penuh harap.

Sebagian mungkin jarang menikmati daging dalam keseharian mereka. Namun di Hari Raya Idul Adha, Allah menghadirkan kebahagiaan itu melalui tangan-tangan orang yang mau berbagi.

Saat melihat pembagian daging qurban berlangsung tertib, hati Omjay terasa hangat.

Omjay teringat satu hal penting dalam hidup:

Harta yang kita miliki sejatinya hanyalah titipan Allah.

Yang benar-benar menjadi milik kita adalah apa yang sudah kita sedekahkan dan kita ikhlaskan di jalan Allah.

Istri Omjay tersenyum bahagia melihat qurbannya dapat memberi manfaat bagi banyak orang. Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain melihat orang lain tersenyum karena menerima rezeki dari Allah.

Idul Adha memang mengajarkan manusia untuk belajar melepaskan rasa cinta berlebihan terhadap dunia.

Nabi Ibrahim AS memberikan teladan luar biasa tentang keikhlasan. Nabi Ismail AS memberikan contoh tentang kepatuhan dan pengorbanan. Dari kisah itulah umat Islam belajar bahwa cinta kepada Allah harus berada di atas segalanya.

Setelah kegiatan qurban selesai, kakak ipar Omjay mengajak Omjay dan istri melanjutkan perjalanan menuju Wanaraja, Garut.

Perjalanan dari Bandung menuju Garut dipenuhi pemandangan alam yang begitu indah. Gunung terlihat berdiri gagah. Hamparan sawah hijau menenangkan mata. Udara Garut yang sejuk membuat hati terasa damai.

Sepanjang perjalanan, Omjay banyak merenung.

Kadang manusia terlalu sibuk mengejar dunia sampai lupa menikmati kebersamaan dengan keluarga.

Padahal kebahagiaan sejati sering kali hadir dari hal-hal sederhana: duduk bersama keluarga, bercanda di perjalanan, makan bersama, dan saling mendoakan.

Sesampainya di rumah kakak ipar di Wanaraja, suasana kekeluargaan terasa begitu hangat. Aroma masakan khas kampung menyambut kedatangan Omjay dan istri. Obrolan keluarga mengalir tanpa terasa hingga malam tiba.

Mereka saling berbagi cerita kehidupan.

Tentang pekerjaan. Tentang anak-anak. Tentang kesehatan. Tentang perjuangan hidup masing-masing.

Dan seperti biasa, setiap keluarga selalu memiliki cerita perjuangan yang tidak mudah.

Malam semakin larut.

Satu per satu anggota keluarga mulai tertidur. Namun Omjay justru terbangun dari mimpi di tengah malam. Dalam sunyi itu, Omjay kembali merenungkan perjalanan hari ini.

Betapa Allah masih memberikan begitu banyak nikmat.

Masih bisa berkumpul dengan keluarga. Masih diberi kesehatan. Masih diberi kesempatan berbagi melalui qurban. Masih diberi anak-anak yang berbakti. Masih diberi perjalanan hidup yang penuh pelajaran.

Kadang manusia baru menyadari arti kebahagiaan setelah duduk diam dalam kesunyian malam.

Omjay lalu mengambil air wudhu.

Dalam dinginnya malam Garut, Omjay mendirikan sholat malam dengan hati yang penuh syukur. Di hadapan Allah, Omjay menyadari bahwa hidup ini begitu singkat.

Jabatan tidak dibawa mati. Harta tidak dibawa mati. Popularitas tidak dibawa mati.

Yang menemani manusia hanyalah amal baiknya.

Idul Adha kembali mengingatkan Omjay bahwa hidup terbaik adalah hidup yang memberi manfaat bagi orang lain.

Berqurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga menyembelih sifat egois di dalam diri manusia.

Menyembelih kesombongan. Menyembelih rasa tamak. Menyembelih cinta dunia yang berlebihan.

Di rumah sederhana di Wanaraja Garut itu, Omjay akhirnya kembali merebahkan tubuh dengan hati yang tenang.

Di luar rumah, udara malam Garut terasa dingin.

Namun hati Omjay terasa hangat oleh cinta keluarga, indahnya berbagi, dan syukur yang tak henti-hentinya dipanjatkan kepada Allah SWT.

Karena sesungguhnya…

Kebahagiaan bukan tentang seberapa banyak yang kita miliki.

Tetapi tentang seberapa ikhlas kita berbagi kepada sesama.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 27 Mei 2026

Kiat Menulis yang Baik dan Menghasilkan Uang

Kiat Menulis yang Baik dan Menghasilkan Uang

Kisah Omjay: Menulis dari Hati, Rezeki pun Mengikuti

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Banyak orang ingin menjadi penulis. Banyak pula yang bermimpi mendapatkan uang dari tulisan. Namun tidak sedikit yang berhenti di tengah jalan karena merasa menulis itu sulit, melelahkan, dan tidak langsung menghasilkan uang.

Omjay pernah berada di titik itu.

Dulu, Omjay hanya seorang guru biasa yang senang bercerita. Tidak pernah terbayang tulisan sederhana yang dibuat setiap hari akhirnya membawa banyak pintu rezeki terbuka. Mulai dari honor menulis, menjadi narasumber webinar, menerbitkan buku, mendapat undangan pelatihan, hingga dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia.

Semua itu tidak datang secara instan.

Ada proses panjang, air mata, rasa lelah, dan perjuangan untuk tetap menulis ketika orang lain tidur nyenyak.

Omjay masih ingat saat pertama kali menulis di blog pribadi. Tulisan dibaca hanya beberapa orang. Kadang tidak ada komentar sama sekali. Bahkan pernah ada yang berkata:

“Menulis di blog itu buang waktu.”

Kalimat itu sempat membuat hati sedih. Namun Omjay memilih terus menulis. Sebab Omjay percaya satu hal:

“Tulisan yang baik akan menemukan pembacanya sendiri.”

Dan benar saja. Sedikit demi sedikit tulisan mulai dibaca banyak orang. Ada guru dari daerah yang menghubungi Omjay karena merasa termotivasi. Ada siswa yang kembali semangat belajar karena membaca tulisan Omjay. Bahkan ada pembaca yang menangis setelah membaca kisah perjuangan seorang guru.

Saat itulah Omjay sadar bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Tulisan adalah energi. Tulisan adalah jejak kehidupan. Tulisan adalah amal ilmu yang bisa terus hidup.

Lalu bagaimana cara menulis yang baik dan bisa menghasilkan uang?

Omjay ingin berbagi beberapa kiat sederhana yang selama ini dijalani.

1. Menulislah dengan Hati

Tulisan yang paling kuat bukan tulisan yang paling rumit, tetapi tulisan yang paling jujur.

Pembaca bisa merasakan mana tulisan yang dibuat asal-asalan dan mana tulisan yang lahir dari hati. Ketika Omjay menulis tentang keluarga, perjuangan guru, sholat tahajud, atau pengalaman hidup, Omjay menuliskannya dengan perasaan.

Karena itu banyak pembaca merasa dekat.

Jangan takut menulis sederhana. Bahasa yang sederhana justru lebih mudah menyentuh hati pembaca.

Tulisan yang baik bukan tentang kata-kata tinggi, tetapi tentang makna yang sampai ke hati.

2. Biasakan Menulis Setiap Hari

Kunci menjadi penulis bukan bakat, tetapi kebiasaan.

Omjay selalu percaya:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Awalnya memang sulit. Kadang bingung mau menulis apa. Kadang malas. Kadang merasa tulisan jelek.

Namun ketika dipaksa terus menulis, kemampuan akan tumbuh sendiri.

Menulis itu seperti olahraga. Semakin sering dilatih, semakin kuat.

Omjay sering menulis setelah Subuh atau sebelum tidur. Walaupun hanya satu halaman, yang penting konsisten.

Dari kebiasaan kecil itulah akhirnya lahir ratusan artikel dan beberapa buku.

3. Tulis Hal yang Dekat dengan Kehidupan

Banyak orang gagal menulis karena ingin terlihat hebat.

Padahal tulisan terbaik justru sering lahir dari pengalaman sehari-hari.

Omjay sering menulis tentang:

kehidupan guru,

pengalaman di sekolah,

perjalanan dakwah,

keluarga,

sholat,

sedekah,

perjalanan naik kereta,

hingga obrolan sederhana di warung kopi.

Hal kecil bisa menjadi tulisan besar jika ditulis dengan rasa.

Pembaca menyukai tulisan yang terasa nyata dan dekat dengan kehidupan mereka.

4. Bangun Blog dan Media Sosial

Di era digital, penulis tidak cukup hanya menulis. Penulis juga harus memiliki wadah untuk menyebarkan tulisan.

Omjay membangun blog pribadi di
[wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com)

Dari blog itulah banyak peluang datang.

Tulisan yang rutin dipublikasikan akan menjadi portofolio digital. Orang lain bisa melihat kemampuan kita melalui tulisan yang kita buat.

Selain blog, media sosial juga penting untuk membangun personal branding.

Namun ingat, jangan hanya mengejar viral. Fokuslah memberi manfaat.

Karena kebermanfaatan akan mendatangkan kepercayaan.

Dan kepercayaan akan mendatangkan rezeki.

5. Jangan Menyerah Saat Tidak Dibaca

Ini bagian paling berat.

Banyak penulis berhenti karena merasa tulisannya sepi pembaca.

Padahal semua penulis besar juga pernah mengalami hal yang sama.

Omjay pernah menulis panjang lebar tetapi hanya dibaca sedikit orang. Rasanya sedih.

Namun Omjay terus belajar satu hal:

“Menulis bukan hanya tentang dilihat manusia, tetapi juga tentang meninggalkan jejak kebaikan.”

Kadang tulisan yang hari ini sepi, justru menjadi inspirasi besar di masa depan.

Karena itu jangan berhenti.

6. Belajar Judul yang Menarik

Judul adalah pintu pertama pembaca masuk ke tulisan kita.

Tulisan bagus bisa sepi jika judulnya membosankan.

Omjay belajar membuat judul yang:

singkat,

menyentuh emosi,

membuat penasaran,

tetapi tetap jujur.

Contohnya:

“Ketika Guru Menangis Diam-Diam”

“Sholat Tahajud yang Mengubah Hidup Saya”

“Tulisanmu Adalah Konten Mahal”

“Guru: Dibutuhkan Tapi Sering Dilupakan”

Judul yang baik akan membuat orang ingin membaca sampai selesai.

7. Uang Akan Mengikuti Karya

Banyak orang ingin cepat mendapatkan uang dari menulis.

Padahal uang biasanya datang setelah karya dan kepercayaan tumbuh.

Omjay mendapatkan penghasilan dari:

honor artikel,

penjualan buku,

webinar,

pelatihan menulis,

menjadi narasumber,

monetisasi blog,

dan kerja sama pendidikan.

Namun semua itu datang karena konsistensi.

Jangan fokus dulu pada uangnya. Fokuslah membangun kualitas tulisan dan manfaatnya.

Jika tulisan kita memberi manfaat besar, insya Allah rezeki akan mengikuti.

Penutup

Malam itu Omjay kembali duduk di depan laptop. Suasana rumah mulai tenang. Anak-anak sudah tidur. Di layar laptop, kursor berkedip menunggu kata pertama ditulis.

Omjay tersenyum pelan.

Ternyata menulis bukan sekadar pekerjaan. Menulis adalah perjalanan jiwa. Menulis adalah cara manusia meninggalkan jejak kebaikan setelah dirinya tiada.

Omjay percaya, setiap orang sebenarnya bisa menjadi penulis.

Tidak harus sempurna. Tidak harus terkenal. Tidak harus langsung hebat.

Mulailah saja dulu.

Tulislah pengalaman hidupmu. Tulislah rasa syukurmu. Tulislah perjuanganmu. Tulislah ilmu yang kamu miliki.

Karena bisa jadi, tulisan sederhana yang kamu buat hari ini akan menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain di masa depan.

Dan siapa tahu, dari tulisan itu pula Allah membuka pintu rezeki yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya.

Salam Blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

kisah Omjay: 1 Hari 3 Kota

Kisah Omjay: Satu Hari Tiga Kota, Menjemput Ilmu dan Menjaga Hati

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd – Omjay, Guru Blogger Indonesia

Perjalanan hidup terkadang seperti jalan panjang yang penuh kejutan. Ada hari-hari biasa yang berjalan datar tanpa cerita. Namun ada pula hari yang terasa begitu padat, melelahkan, tetapi justru meninggalkan kenangan mendalam di hati.

Hari itu menjadi salah satu hari yang sulit Omjay lupakan. Dalam satu hari, Omjay harus berada di tiga kota berbeda. Pagi di Bekasi, siang di Bandung, dan malam di Garut. Sebuah perjalanan yang menguras tenaga, tetapi juga menguatkan jiwa.

Sejak pukul tiga dini hari, Omjay sudah terbangun dari tidur. Udara Bekasi masih terasa dingin. Jalanan pun masih sepi. Setelah melaksanakan sholat tahajud dan subuh, Omjay duduk sejenak sambil memandang layar laptop yang masih menyala sejak malam sebelumnya.

Ada banyak tugas yang harus diselesaikan. Tulisan yang harus dikirim. Materi webinar yang perlu dipersiapkan. Pesan WhatsApp dari guru-guru di berbagai daerah juga terus berdatangan.

Kadang Omjay tersenyum sendiri.

Menjadi guru di era digital ternyata membuat waktu terasa berjalan begitu cepat. Namun Omjay percaya, selama niatnya untuk berbagi ilmu dan menginspirasi orang lain, maka setiap langkah akan selalu dimudahkan Allah SWT.

Pagi itu Omjay berangkat dari Bekasi dengan penuh semangat. Matahari baru mulai muncul ketika kendaraan melaju meninggalkan hiruk-pikuk kota. Jalan tol perlahan mulai ramai oleh kendaraan yang bergegas menuju aktivitas masing-masing.

Di sepanjang perjalanan, Omjay melihat begitu banyak manusia sedang berjuang dengan hidupnya. Ada sopir truk yang tetap tersenyum meski membawa beban berat. Ada pedagang yang mulai membuka dagangannya sejak pagi buta. Ada pula para pekerja yang berangkat dengan wajah penuh harapan demi keluarga tercinta.

Omjay kembali merenung.

Ternyata hidup ini memang tentang perjuangan. Tidak ada keberhasilan tanpa pengorbanan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesabaran.

Menjelang siang, Omjay akhirnya tiba di Kota Bandung. Udara Bandung yang sejuk langsung terasa berbeda dibanding Bekasi. Di tengah padatnya aktivitas, Omjay bersyukur masih diberi kesempatan untuk mampir dan menenangkan hati di Masjid Al Islam Bandung.

Masjid itu terasa begitu nyaman.

Langkah Omjay melambat ketika memasuki area masjid. Hati yang sejak pagi dipenuhi kesibukan mendadak terasa lebih tenang. Suara lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar lembut memenuhi ruangan.

Omjay duduk sejenak di dalam masjid.

Kadang manusia terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa memberi waktu untuk jiwanya sendiri. Padahal hati juga butuh istirahat. Jiwa juga membutuhkan ketenangan.

Di masjid itulah Omjay kembali menyadari bahwa perjalanan sejauh apa pun akan terasa ringan jika hati selalu dekat dengan Allah SWT.

Setelah melaksanakan sholat dzuhur dan beristirahat sejenak, perjalanan kembali dilanjutkan. Jalan menuju Garut mulai dipenuhi kendaraan. Cuaca perlahan berubah mendung. Namun suasana pegunungan dan hamparan hijau di sepanjang jalan membuat hati terasa damai.

Di perjalanan menuju Garut, Omjay kembali bersyukur karena sempat singgah di Masjid Besar Al Muhajirin Nagreg.

Masjid itu berdiri megah di jalur yang sering dilalui para musafir. Banyak orang mampir untuk beristirahat, sholat, dan melepas lelah setelah perjalanan panjang.

Omjay melihat begitu banyak wajah lelah di sana. Ada sopir bus, keluarga yang bepergian, hingga para pengendara motor yang duduk bersandar sambil menikmati angin sore.

Namun ada satu hal yang sama dari semuanya: mereka mencari ketenangan.

Di masjid, manusia kembali menjadi sama. Tidak ada jabatan. Tidak ada kekayaan. Tidak ada perbedaan status sosial. Semua bersujud di hadapan Allah SWT.

Omjay teringat sebuah kalimat sederhana:

“Kadang perjalanan jauh bukan untuk mencari tempat baru, tetapi untuk menemukan hati yang baru.”

Kalimat itu terasa begitu dalam.

Perjalanan satu hari tiga kota ternyata bukan hanya tentang berpindah tempat. Lebih dari itu, perjalanan ini menjadi perjalanan jiwa. Perjalanan untuk belajar sabar, belajar bersyukur, dan belajar menikmati setiap detik kehidupan.

Menjelang malam, Omjay akhirnya tiba di Garut. Lampu-lampu kota mulai menyala. Udara malam Garut terasa dingin menusuk kulit, tetapi hati terasa hangat.

Rasa lelah tentu ada.

Punggung mulai pegal. Mata terasa berat. Tubuh pun meminta istirahat.

Namun Omjay percaya, setiap langkah yang dijalani dengan niat baik tidak akan pernah sia-sia.

Kadang hidup memang melelahkan. Ada hari ketika tubuh hampir menyerah. Ada waktu ketika pikiran terasa penuh. Namun selama hati masih yakin kepada Allah, selalu ada kekuatan untuk melanjutkan perjalanan.

Malam itu Omjay kembali membuka laptop.

Meski tubuh lelah, jari-jari tetap menulis.

Sebab Omjay percaya, tulisan adalah jejak kehidupan. Tulisan akan menjadi saksi bahwa seorang guru pernah berjalan dari kota ke kota untuk berbagi ilmu, menyebarkan semangat, dan menebarkan inspirasi.

Perjalanan satu hari tiga kota akhirnya selesai.

Bekasi mengajarkan tentang semangat memulai hari.

Bandung mengajarkan tentang pentingnya menenangkan hati.

Garut mengajarkan tentang rasa syukur di akhir perjalanan.

Dan dua masjid yang Omjay singgahi hari itu menjadi pengingat bahwa di tengah sibuknya dunia, manusia tetap membutuhkan tempat untuk kembali bersujud.

Karena sejatinya, perjalanan hidup bukan tentang seberapa jauh kita melangkah, tetapi seberapa dekat hati kita kepada Allah SWT.

Alhamdulillah…
Satu hari.
Tiga kota.
Banyak pelajaran kehidupan.

Salam literasi dari Omjay.
Guru Blogger Indonesia.
Blog https://wijayalabs.com

Menunggu TPG Cair Dengan Hati yang Tetap Ikhlas

Kisah Omjay: Menunggu TPG Cair dengan Hati yang Tetap Ikhlas

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di depan kelas. Menjadi guru adalah tentang kesabaran, pengabdian, dan perjuangan panjang yang sering kali tidak terlihat oleh banyak orang. Salah satu perjuangan yang setiap tahun selalu menjadi perhatian para guru adalah menunggu pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG).

Selasa sore itu, grup WhatsApp para guru kembali ramai. Ada yang bertanya, ada yang mulai cemas, ada pula yang mencoba menenangkan teman-temannya. Topiknya sama: “Kapan TPG cair?”

Omjay membaca satu per satu pesan yang masuk. Ada guru honorer yang berharap uang TPG bisa dipakai membayar cicilan sekolah anaknya. Ada guru ASN yang sudah menghitung kebutuhan rumah tangga menjelang akhir bulan. Ada pula yang hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Sabar ya, mungkin memang belum waktunya.”

Di tengah ramainya percakapan itu, muncul penjelasan tentang mengapa pencairan TPG ASN dan Non ASN berbeda waktu. Penjelasan tersebut sebenarnya cukup menenangkan karena memberikan gambaran bahwa keterlambatan bukan karena ada pilih kasih, melainkan karena jalur birokrasi yang berbeda.

Guru ASN harus melewati proses panjang. Dari pusat, masuk ke pemerintah daerah, diverifikasi lagi, diterbitkan SPM dan SP2D, lalu diproses melalui KPPN sebelum akhirnya masuk ke rekening guru. Sementara guru Non ASN memiliki jalur yang lebih singkat karena dana langsung dikirim dari pusat ke rekening penerima.

Ada yang mengibaratkan: “ASN lewat jalan biasa yang penuh lampu merah dan persimpangan.” “Non ASN lewat jalan tol.”

Omjay tersenyum membaca analogi itu. Sederhana, tetapi mudah dipahami.

Namun di balik semua penjelasan teknis tersebut, Omjay justru memikirkan hal yang lebih dalam. Mengapa TPG begitu dinanti para guru?

Karena realitas kehidupan guru memang tidak selalu mudah.

Masih banyak guru yang hidup sederhana. Gaji bulanan sering kali sudah habis untuk kebutuhan pokok, biaya sekolah anak, listrik, transportasi, hingga membantu orang tua di kampung halaman. Maka ketika TPG belum cair, sebagian guru mulai mengatur ulang pengeluaran mereka.

Ada yang menunda membeli kebutuhan rumah. Ada yang menahan diri untuk tidak bepergian. Ada yang mulai membuka catatan hutang kecil di warung tetangga.

Ironisnya, semua itu tetap dijalani sambil tersenyum di depan murid-muridnya.

Pagi hari mereka tetap datang ke sekolah. Tetap menyapa siswa dengan ramah. Tetap mengajar dengan penuh semangat.

Padahal mungkin di dalam hati, mereka sedang memikirkan banyak hal.

Omjay teringat perkataan seorang guru senior di sekolah:

“Guru itu sering menguatkan orang lain, padahal dirinya sendiri sedang lelah.”

Kalimat itu sangat dalam maknanya.

Guru mengajarkan optimisme kepada murid-muridnya, meski dirinya sendiri sedang menunggu hak yang belum cair. Guru mengajarkan kesabaran kepada siswa, sementara dirinya juga sedang belajar sabar menghadapi sistem yang panjang. Guru mengajarkan kejujuran, meskipun terkadang perjuangan hidup membuat keadaan terasa berat.

Itulah kemuliaan seorang guru.

Ketika banyak profesi diukur dari keuntungan materi, guru sering kali diukur dari pengabdiannya.

TPG sejatinya bukan hadiah. TPG adalah bentuk penghargaan negara kepada guru profesional yang telah menjalankan tugas mendidik generasi bangsa. Karena itu, wajar jika para guru berharap pencairannya tepat waktu.

Namun Omjay juga memahami bahwa sistem birokrasi negara memang memiliki tahapan yang harus dijalankan dengan hati-hati. Apalagi dana negara harus melalui proses verifikasi yang ketat agar tidak terjadi kesalahan penyaluran.

Dalam informasi terbaru disebutkan bahwa pencairan TPG Triwulan 2 Gelombang 1 bulan Mei 2026 sedang diproses oleh Kementerian Keuangan dan KPPN, serta diperkirakan cair pada tanggal 30 Mei 2026 setelah libur nasional selesai.

Bagi sebagian orang, menunggu beberapa hari mungkin hal biasa. Namun bagi guru yang sedang memiliki kebutuhan mendesak, beberapa hari bisa terasa sangat panjang.

Meski demikian, Omjay percaya bahwa guru Indonesia memiliki hati yang kuat.

Di ruang guru, sering terlihat kebersamaan yang mengharukan. Ada guru yang meminjamkan uang kepada rekannya. Ada yang saling menghibur. Ada pula yang berkata sambil bercanda:

“Yang penting masih bisa makan gorengan sama kopi.”

Tawa kecil itu sering menjadi penguat di tengah lelahnya perjuangan.

Omjay belajar bahwa kebahagiaan guru ternyata bukan hanya soal uang. Guru bahagia ketika muridnya berhasil. Guru bangga ketika siswanya sopan dan berprestasi. Guru terharu ketika ada alumni datang sambil berkata:

“Terima kasih ya Pak, Bu… dulu sudah membimbing saya.”

Kalimat sederhana itu kadang jauh lebih mahal daripada angka di rekening.

Namun tentu saja, kesejahteraan guru tetap penting diperjuangkan. Guru yang sejahtera akan lebih tenang dalam mengajar. Guru yang tidak dibebani kecemasan ekonomi akan lebih fokus mendidik anak bangsa.

Karena itulah, negara perlu terus memperbaiki sistem pelayanan pendidikan, termasuk pencairan hak-hak guru agar lebih cepat, tepat, dan manusiawi.

Omjay yakin para pengambil kebijakan juga terus berusaha memberikan pelayanan terbaik. Sebab di balik angka-angka administrasi itu, ada jutaan guru yang sedang berharap.

Ada keluarga yang menunggu. Ada anak-anak guru yang membutuhkan biaya sekolah. Ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.

Dan di balik semua itu, para guru tetap memilih bertahan di jalan pengabdian.

Menjelang magrib, Omjay menutup laptopnya. Di luar rumah, suara anak-anak mengaji mulai terdengar dari mushola dekat rumah. Hati terasa lebih tenang.

Omjay percaya, rezeki tidak akan pernah tertukar.

Jika hari ini belum cair, mungkin Allah sedang mengajarkan kesabaran. Jika harus menunggu lebih lama, mungkin Allah sedang melatih keikhlasan.

Karena sejatinya, guru bukan hanya sedang mendidik murid-muridnya. Guru juga sedang dididik oleh kehidupan.

Dan dari semua pelajaran hidup itu, satu hal yang paling penting adalah tetap menjaga hati agar tidak lelah berbuat baik.

Semoga seluruh guru Indonesia selalu diberikan kesehatan, kekuatan, dan keberkahan rezeki. Semoga TPG segera cair dan membawa kebahagiaan bagi keluarga para guru di seluruh Nusantara.

Tetap semangat mengajar. Tetap ikhlas mendidik. Karena jasa guru akan selalu hidup dalam perjalanan bangsa Indonesia.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com