Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 11 Mei 2026

Menaklukan Panggung Penerbit Mayor Bersama KBMN PGRI

Menaklukkan Panggung Penerbit Mayor Bersama KBMN PGRI

Malam nanti akan menjadi malam penting bagi para guru penulis di seluruh Indonesia. Setelah pada pertemuan sebelumnya para peserta belajar meramu naskah menjadi tulisan yang enak dibaca, kini saatnya naik ke level berikutnya: memahami bagaimana sebuah karya bisa diterima penerbit mayor dan sampai ke tangan pembaca.

Melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI (KBMN) Gelombang 34 Pertemuan ke-10, para peserta akan mendapatkan kesempatan emas belajar langsung dari dunia penerbitan profesional. Tema yang diangkat sangat relevan dan dinanti banyak penulis pemula maupun penulis yang sudah lama menyimpan naskah di laptopnya:

“Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta.”

Banyak guru sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa. Mereka setiap hari berhadapan dengan dinamika pendidikan, karakter siswa, perjuangan hidup, hingga berbagai kisah inspiratif di ruang kelas. Sayangnya, tidak semua guru memahami bagaimana cara mengubah pengalaman itu menjadi buku yang layak terbit.

Di sinilah pentingnya kelas malam nanti.

Acara ini menghadirkan Agus Subardana, SE., M.M. sebagai narasumber. Beliau akan membagikan pengalaman dan strategi praktis mengenai dunia penerbitan mayor, khususnya bagaimana standar penerbit besar seperti PT Andi Offset dalam menilai sebuah naskah.

Para peserta tidak hanya diajak memahami teori menulis, tetapi juga memahami “dapur” penerbitan. Banyak penulis gagal bukan karena tulisannya buruk, melainkan karena tidak memahami kebutuhan penerbit. Ada naskah yang sebenarnya bagus, tetapi formatnya berantakan. Ada pula ide yang kuat, namun penyajiannya tidak sesuai segmentasi pasar.

Melalui kelas ini, peserta akan belajar bahwa menulis buku bukan sekadar selesai mengetik ratusan halaman. Menulis adalah tentang bagaimana menyampaikan gagasan secara sistematis, menarik, dan memiliki nilai manfaat bagi pembaca.

Acara ini akan dipandu oleh Sigid PN, S.H. yang dikenal aktif mendampingi kegiatan literasi dan komunitas menulis. Dengan gaya moderasi yang komunikatif dan tajam, suasana diskusi dipastikan akan hidup dan penuh wawasan.

Kegiatan akan dilaksanakan pada:

  • Senin, 11 Mei 2026
  • Pukul 19.00 WIB
  • Daring melalui WA Group KBMN

Bagi banyak guru, kelas ini bisa menjadi titik balik perjalanan literasi mereka. Selama ini ada banyak guru yang rajin menulis di blog, media sosial, atau media online, tetapi belum percaya diri mengirimkan naskah ke penerbit mayor.

Padahal, peluang itu selalu ada.

Penerbit besar sesungguhnya tidak hanya mencari penulis terkenal. Mereka mencari naskah yang berkualitas, relevan, memiliki segmentasi pembaca yang jelas, dan ditulis dengan sungguh-sungguh.

KBMN PGRI selama ini telah membuktikan bahwa guru Indonesia mampu menghasilkan karya luar biasa. Dari komunitas inilah lahir banyak buku antologi, buku solo, hingga karya inspiratif yang kini tersebar di berbagai daerah.

Semangat inilah yang terus digaungkan oleh Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, yang sejak lama percaya bahwa guru harus meninggalkan jejak melalui tulisan.

Menurut Omjay, karya adalah warisan pemikiran yang akan terus hidup bahkan ketika seseorang sudah tidak lagi berada di ruang kelas. Guru yang menulis tidak hanya mengajar murid hari ini, tetapi juga mendidik generasi masa depan melalui buku-bukunya.

Karena itu, kelas malam nanti bukan sekadar agenda rutin KBMN. Ini adalah ruang pembelajaran yang membuka pintu harapan bagi para guru penulis.

Bayangkan jika pengalaman mengajar puluhan tahun hanya tersimpan di kepala. Betapa banyak pelajaran hidup yang akhirnya hilang begitu saja. Namun ketika pengalaman itu ditulis menjadi buku, ia akan menjadi cahaya bagi orang lain.

Itulah sebabnya penerbit mayor menjadi penting. Mereka membantu sebuah karya menjangkau pembaca yang lebih luas. Mereka membantu gagasan seorang guru dari daerah kecil agar bisa dibaca masyarakat Indonesia.

Namun tentu saja, untuk sampai ke sana dibutuhkan kesiapan.

Penulis harus memahami struktur naskah, konsistensi isi, kekuatan ide, hingga cara membangun komunikasi profesional dengan editor. Semua itu akan dibahas dalam pertemuan KBMN nanti malam.

Banyak penulis pemula sering takut ditolak penerbit. Padahal penolakan adalah bagian dari proses belajar. Bahkan penulis besar dunia pun pernah mengalami penolakan berkali-kali sebelum akhirnya berhasil menerbitkan buku.

Yang terpenting adalah terus memperbaiki kualitas tulisan dan mau belajar.

KBMN hadir bukan hanya untuk mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membangun mental penulis. Mental untuk terus berkarya, terus mencoba, dan tidak mudah menyerah.

Di era digital seperti sekarang, menulis menjadi keterampilan yang semakin penting. Guru bukan hanya dituntut mampu mengajar di kelas, tetapi juga mampu mendokumentasikan gagasan dan pengalaman dalam bentuk tulisan.

Tulisan guru bisa menjadi inspirasi pendidikan. Bisa menjadi bahan refleksi. Bisa pula menjadi solusi bagi berbagai persoalan pembelajaran.

Karena itu, kesempatan belajar langsung bersama penerbit mayor seperti PT Andi Offset adalah kesempatan yang sangat berharga.

Jangan sampai naskah yang sudah ditulis dengan penuh perjuangan hanya menjadi file yang tersimpan di laptop atau flashdisk. Jangan biarkan ide-ide besar berhenti hanya karena takut mengirimkan naskah.

Malam nanti adalah saat yang tepat untuk membuka jalan baru.

KBMN kembali membuktikan dirinya sebagai ruang tumbuh bagi para guru yang ingin naik kelas dalam dunia literasi. Dari ruang WA Group yang sederhana, lahir semangat besar untuk membangun budaya menulis di Indonesia.

Semoga semakin banyak guru yang berani menulis, berani berkarya, dan berani menembus penerbit mayor.

Karena bangsa yang besar lahir dari budaya literasi yang kuat. Dan budaya literasi yang kuat dimulai dari guru yang mau menulis.

Payung Kehidupan Omjay

Payung Kehidupan Omjay: Tetap Melindungi Meski Sering Dilupakan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

Pagi itu langit Jakarta tampak mendung. Gerimis kecil turun membasahi jalanan ibu kota. Orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Ada yang memakai jas hujan, ada yang menunggu di halte, dan ada pula yang sibuk membuka payungnya.

Omjay memandangi sebuah payung hitam tua yang selalu dibawanya ke sekolah. Payung itu sudah lama menemaninya. Warnanya mulai pudar, gagangnya sedikit longgar, tetapi tetap setia melindungi dari panas dan hujan.

Saat melihat payung itu, Omjay tiba-tiba tersenyum kecil. Dalam hati ia berkata, “Ternyata hidup manusia sering seperti payung.”

Payung hanya dicari ketika hujan datang. Ketika cuaca cerah, ia dilipat, disimpan, bahkan kadang dilupakan di sudut rumah. Namun payung tidak pernah marah. Ia tetap siap dipakai kembali saat dibutuhkan.

Begitulah kehidupan seorang guru.

Selama puluhan tahun menjadi pendidik, Omjay merasakan betapa sering guru hanya dicari ketika diperlukan. Saat ada masalah pendidikan, guru diminta membantu. Ketika siswa membutuhkan motivasi, guru dipanggil. Saat sekolah ingin prestasi, guru dituntut bekerja keras.

Namun setelah semuanya berjalan baik, jasa guru terkadang terlupakan.

Meski demikian, Omjay memilih untuk tetap menjadi “payung” bagi banyak orang.

Ia teringat ketika dulu mengajar di sekolah dengan fasilitas yang sangat terbatas. Komputer belum memadai, internet masih lambat, bahkan banyak guru belum mengenal dunia digital. Namun Omjay tidak menyerah. Ia belajar menulis blog, belajar teknologi, lalu membagikan ilmunya kepada sesama guru di seluruh Indonesia.

Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri menulis akhirnya mampu menerbitkan buku. Banyak guru yang takut teknologi akhirnya berani tampil di dunia digital. Semua itu membuat Omjay bahagia.

Anehnya, tidak semua orang mengingat proses perjuangan tersebut.

Ada yang datang hanya ketika membutuhkan bantuan membuat tulisan. Ada yang mendekat saat ingin belajar teknologi. Bahkan ada yang tiba-tiba akrab ketika membutuhkan rekomendasi atau dukungan.

Namun setelah berhasil, sebagian perlahan menjauh.

Kalau dipikir dengan perasaan manusia biasa, tentu hal itu bisa membuat kecewa. Tetapi Omjay memilih belajar dari payung.

Payung tidak pernah memilih siapa yang akan dilindungi. Ia tidak bertanya apakah orang itu akan berterima kasih atau melupakannya nanti. Tugas payung hanyalah melindungi.

Begitu pula hidup seorang guru.

Guru sejati mengajar bukan untuk dipuji manusia. Guru mengajar karena itu adalah panggilan hati. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika melihat murid berhasil. Ada rasa syukur ketika ilmu yang diberikan menjadi manfaat bagi orang lain.

Omjay percaya, kebaikan yang tulus tidak akan pernah sia-sia.

Suatu hari, Omjay pernah bertemu mantan muridnya di sebuah pusat perbelanjaan. Murid itu kini sudah sukses bekerja di perusahaan besar. Dengan mata berkaca-kaca, murid tersebut berkata:

“Pak Omjay, dulu bapak pernah menyemangati saya ketika saya hampir putus sekolah. Kata-kata bapak masih saya ingat sampai sekarang.”

Omjay terdiam sesaat.

Ia bahkan hampir lupa pernah mengucapkan kalimat itu. Tetapi bagi muridnya, nasihat sederhana tersebut menjadi titik perubahan hidup.

Dari situ Omjay sadar bahwa kebaikan kecil yang dilakukan dengan ikhlas bisa menjadi sangat besar di mata orang lain.

Kadang kita merasa lelah membantu orang. Kadang kita kecewa karena tidak dihargai. Kadang kita sedih karena dilupakan setelah berjuang.

Namun hidup bukan tentang seberapa banyak manusia mengingat jasa kita.

Hidup adalah tentang seberapa tulus kita menjalankan amanah dari Allah ﷻ.

Bukankah matahari tetap bersinar walaupun banyak manusia tidak pernah mengucapkan terima kasih?

Bukankah pohon tetap memberi buah walaupun sering dilempari batu?

Bukankah payung tetap melindungi walaupun hanya dicari saat hujan?

Omjay kemudian teringat firman Allah ﷻ dalam Al-Qur’an:

"Dan berbuat baiklah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik."
(QS. Al-Baqarah: 195)

Ayat itu menjadi penguat hati.

Kebaikan sejati memang tidak selalu mendapatkan balasan langsung dari manusia. Namun Allah melihat setiap niat baik, setiap langkah kecil, dan setiap ketulusan hati hamba-Nya.

Karena itulah Omjay terus menulis.

Ia tetap berbagi inspirasi setiap hari melalui blog dan media sosialnya. Ia terus memotivasi guru-guru agar semangat berkarya. Ia ingin para guru Indonesia sadar bahwa mereka sangat berharga.

Guru bukan hanya pengajar di ruang kelas.

Guru adalah pelita kehidupan.

Guru adalah payung yang melindungi generasi bangsa dari kebodohan.

Guru adalah matahari yang terus bersinar memberi cahaya ilmu.

Dalam perjalanan hidup, Omjay belajar bahwa semakin dewasa seseorang, semakin ia memahami arti keikhlasan. Membantu tanpa banyak menuntut balasan ternyata membuat hati lebih tenang.

Sebab jika semua kebaikan hanya dilakukan demi pujian manusia, maka hati akan mudah kecewa.

Tetapi jika semua dilakukan karena Allah, maka sekecil apa pun amal akan terasa bermakna.

Pagi itu hujan mulai reda. Matahari perlahan muncul di balik awan. Orang-orang mulai menutup payung mereka dan melanjutkan perjalanan.

Omjay pun melipat payung hitam tuanya sambil tersenyum.

“Tak apa dilupakan manusia,” gumamnya pelan. “Yang penting tetap bermanfaat.”

Dan begitulah hidup seharusnya dijalani.

Menjadi pribadi yang tetap memberi manfaat, tetap menolong, tetap berbagi ilmu, meski kadang tidak dipuji dan tidak selalu diingat.

Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah penghargaan manusia, melainkan ridha Allah ﷻ.

Semoga kita semua mampu menjadi seperti payung: sederhana, ikhlas, dan selalu siap melindungi siapa saja yang membutuhkan.

Sabtu, 09 Mei 2026

Omjay Hampir Mati Konyol

Omjay Hampir Mati Konyol: Ketika Kesibukan Membuat Tubuh Menyerah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Menjadi guru itu melelahkan.
Menjadi guru yang suka menulis jauh lebih melelahkan.
Namun menjadi guru, penulis, narasumber, blogger, sekaligus pengurus organisasi dalam satu waktu, ternyata bisa sangat berbahaya bila lupa menjaga kesehatan.

Omjay pernah mengalaminya sendiri.
Sebuah pengalaman yang sampai hari ini masih membuat bulu kuduk berdiri bila diingat kembali. Pengalaman yang membuat Omjay sadar bahwa manusia bukan robot. Tubuh punya batas. Dan ketika batas itu dilanggar terus-menerus, tubuh akan “memberontak”.

Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.

Saat itu aktivitas Omjay benar-benar padat. Pagi mengajar di sekolah. Siang rapat. Sore menjadi narasumber pelatihan guru. Malam menulis artikel di blog dan Kompasiana. Kadang masih harus membalas ratusan pesan WhatsApp dari guru-guru seluruh Indonesia yang ingin belajar menulis.

Omjay menikmati semua aktivitas itu. Rasanya bahagia sekali ketika tulisan dibaca banyak orang. Rasanya bangga ketika guru-guru mulai berani menulis buku setelah ikut kelas belajar menulis. Hidup terasa penuh makna.

Namun diam-diam tubuh Omjay mulai memberikan tanda bahaya.

Tidur makin sedikit.
Makan sering terlambat.
Minum kopi makin banyak.
Olahraga hampir tidak pernah.

Tetapi Omjay tetap keras kepala.

“Ah, saya kuat.”

Kalimat itu sering diucapkan Omjay dalam hati. Padahal sebenarnya tubuh sudah lemah. Kepala sering pusing. Lambung mulai sakit. Badan gampang lelah. Namun semuanya dianggap biasa.

Hingga akhirnya kejadian “hampir mati konyol” itu datang.

Malam itu Omjay baru selesai menulis artikel panjang untuk diposting di blog. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Mata mulai berat, tetapi Omjay masih memaksakan diri menatap layar laptop.

Tiba-tiba dada terasa sesak.

Awalnya Omjay mengira hanya masuk angin biasa. Omjay mencoba minum air hangat dan menarik napas panjang. Namun rasa sesak justru makin kuat. Kepala berputar. Keringat dingin bercucuran.

Omjay mulai panik.

Tubuh terasa lemas sekali. Bahkan untuk berdiri saja sulit. Jantung berdegup sangat cepat seperti genderang perang. Saat itulah Omjay benar-benar takut.

“Jangan-jangan ini serangan jantung?”

Pikiran buruk langsung bermunculan. Omjay teringat istri, anak-anak, murid-murid, dan begitu banyak tulisan yang belum selesai dibuat. Dalam kondisi setengah sadar, Omjay mencoba meminta bantuan keluarga.

Akhirnya Omjay dibawa ke rumah sakit tengah malam.

Di perjalanan, Omjay hanya bisa berdoa. Rasanya campur aduk. Takut, menyesal, sedih, semuanya menjadi satu. Omjay baru sadar bahwa selama ini terlalu memaksakan diri.

Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi Omjay drop karena kelelahan berat, kurang istirahat, pola makan buruk, dan asam lambung yang naik cukup parah hingga memicu sesak dada serta jantung berdebar kencang.

Dokter berkata dengan nada serius.

“Bapak ini terlalu capek. Kalau terus dipaksakan bisa berbahaya.”

Kalimat itu menampar Omjay keras sekali.

Selama ini Omjay sibuk memotivasi orang lain agar semangat berkarya, tetapi lupa menjaga diri sendiri. Padahal tubuh adalah kendaraan utama untuk beribadah, bekerja, dan berkarya.

Kalau tubuh rusak, semua aktivitas juga akan berhenti.

Sejak kejadian itu, Omjay mulai belajar mengatur hidup lebih baik. Tidak mudah memang. Apalagi bagi seseorang yang terbiasa aktif dan produktif. Namun Omjay sadar, produktif bukan berarti harus menyiksa diri.

Omjay mulai belajar tidur lebih cukup. Mengurangi begadang. Minum kopi tidak berlebihan. Makan lebih teratur. Sesekali berjalan kaki dan olahraga ringan.

Yang paling sulit adalah belajar berkata “tidak”.

Kadang ada undangan seminar, pelatihan, atau kegiatan menulis yang sangat menarik. Dulu semua diterima tanpa berpikir panjang. Sekarang Omjay mulai memilih mana yang benar-benar penting.

Sebab kesehatan jauh lebih mahal daripada popularitas.

Kejadian hampir mati konyol itu juga mengajarkan Omjay tentang makna hidup. Ternyata manusia sering merasa dirinya kuat dan hebat, padahal sangat rapuh.

Kita bisa sibuk mengejar prestasi, jabatan, uang, dan popularitas. Namun ketika tubuh jatuh sakit, semua itu mendadak terasa kecil.

Di ruang rumah sakit, Omjay melihat banyak orang kaya yang tetap menangis kesakitan. Ada pejabat yang tetap lemah di atas ranjang. Ada orang terkenal yang tetap membutuhkan bantuan perawat untuk sekadar berjalan ke kamar mandi.

Saat sakit datang, manusia benar-benar sadar bahwa dirinya hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan.

Karena itu Omjay sekarang selalu mengingatkan guru-guru dan para penulis muda: berkaryalah sebaik mungkin, tetapi jangan melupakan kesehatan.

Jangan bangga begadang setiap malam.
Jangan merasa hebat karena tidak pernah libur.
Jangan menganggap tubuh akan selalu kuat.

Tubuh punya hak untuk istirahat.

Bahkan mesin saja bisa rusak bila dipakai terus-menerus tanpa henti. Apalagi manusia yang punya rasa lelah, rasa sakit, dan keterbatasan.

Omjay bersyukur masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini. Masih bisa menulis. Masih bisa mengajar. Masih bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang.

Mungkin Allah sedang menegur Omjay lewat cara yang cukup keras.

Teguran itu membuat Omjay sadar bahwa hidup bukan sekadar bekerja tanpa henti. Hidup juga tentang menjaga amanah tubuh yang telah diberikan Tuhan.

Kini setiap kali melihat jam sudah larut malam, Omjay sering tersenyum sendiri sambil mengingat kejadian itu.

Laptop boleh panas.
Ide boleh mengalir deras.
Target tulisan boleh banyak.

Tetapi kesehatan tetap nomor satu.

Sebab percuma punya seribu tulisan bila tubuh tumbang di tengah jalan.

Dan Omjay tidak ingin lagi “hampir mati konyol” hanya karena terlalu memaksakan diri demi pekerjaan yang sebenarnya masih bisa menunggu esok hari.

MBG Bermanfaat Atau Tidak?

Semestinya Presiden Bertanya Soal MBG kepada Murid, Bukan kepada Buruh

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

“Kalau ingin tahu rasa makanan di sekolah, tanyalah kepada murid yang memakannya. Jangan kepada buruh yang sedang memikirkan harga beras dan biaya kontrakan.”

Kalimat itu tiba-tiba terlintas di kepala Omjay ketika membaca berbagai komentar di media sosial tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ada yang memuji, ada yang mengkritik, dan ada pula yang merasa program tersebut belum menyentuh kebutuhan utama rakyat kecil.

Omjay jadi teringat obrolan sederhana dengan seorang buruh harian di pinggir jalan dekat sekolah. Wajahnya lelah. Bajunya penuh debu. Tangannya kasar karena bekerja dari pagi hingga malam.

“Pak, bagaimana menurut bapak soal MBG?” tanya seseorang dalam sebuah video yang viral.

Buruh itu tersenyum tipis.

“Yang saya pikirkan sekarang bukan makan gratis di sekolah, Pak. Anak saya memang senang kalau dapat makan di sekolah. Tapi saya bingung bayar kontrakan, harga beras naik, gas naik, ongkos naik. Gaji saya segitu-gitu saja.”

Jawaban itu terasa sangat jujur. Sangat sederhana. Namun menampar kesadaran kita semua.

Omjay memahami bahwa program MBG memiliki niat baik. Tidak ada yang salah dengan memberi makanan bergizi kepada anak-anak sekolah. Bahkan sebagai guru, Omjay sangat mendukung anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang baik agar bisa belajar dengan sehat dan semangat.

Karena Omjay melihat sendiri di sekolah, ada siswa yang datang pagi tanpa sarapan. Ada yang menahan lapar sampai siang. Ada pula yang hanya membawa uang jajan seadanya. Ketika pelajaran berlangsung, konsentrasi mereka buyar bukan karena malas belajar, tetapi karena perut kosong.

Bagi anak-anak seperti itu, program MBG bisa menjadi penolong.

Namun persoalannya menjadi berbeda ketika suara buruh justru dipakai untuk mengukur keberhasilan program tersebut. Buruh tentu memiliki sudut pandang yang berbeda. Mereka hidup dalam tekanan ekonomi yang nyata setiap hari.

Harga kebutuhan pokok terus bergerak naik. Beras mahal. Cabai mahal. Minyak goreng mahal. Gas elpiji naik. Air mineral naik. Ongkos transportasi juga naik perlahan-lahan.

Sementara gaji mereka sering kali tidak bergerak secepat kenaikan kebutuhan hidup.

Omjay pernah duduk lama bersama seorang penjaga sekolah yang juga bekerja sambilan sebagai buruh bangunan. Ia bercerita sambil menyeruput kopi sachet murah.

“Pak Omjay, kami ini bukan menolak program pemerintah. Tapi kadang kami berharap pemerintah juga mendengar keluhan kami. Anak memang perlu makan bergizi. Tapi orang tuanya juga perlu hidup layak.”

Kalimat itu terus terngiang di telinga Omjay.

Karena sesungguhnya rakyat kecil tidak pernah banyak menuntut. Mereka hanya ingin hidup lebih tenang. Bisa membeli beras tanpa cemas. Bisa mengisi gas tanpa menghitung sisa uang di dompet. Bisa menyekolahkan anak tanpa takut tunggakan.

Itulah sebabnya Omjay merasa, semestinya ketika ingin mengevaluasi program MBG, Presiden lebih tepat bertanya langsung kepada murid-murid di sekolah.

Tanyakan kepada mereka:

“Apakah makanannya enak?” “Apakah kalian jadi lebih semangat belajar?” “Apakah kalian lebih sehat?” “Apakah kalian senang datang ke sekolah?”

Karena merekalah penerima manfaat utama program tersebut.

Anak-anak akan menjawab dengan polos dan jujur. Kalau makanannya enak, mereka bilang enak. Kalau kurang enak, mereka juga akan bicara apa adanya. Anak-anak belum pandai berpura-pura seperti orang dewasa.

Sedangkan buruh memiliki persoalan hidup yang berbeda. Pikiran mereka dipenuhi kebutuhan rumah tangga. Mereka memikirkan biaya sekolah anak, cicilan motor, listrik, dan harga sembako yang terus naik.

Maka wajar bila jawaban mereka lebih banyak bicara soal penghasilan dibanding MBG.

Omjay percaya pemerintah memiliki niat baik. Tetapi niat baik harus dibarengi dengan kepekaan membaca kebutuhan rakyat dari sudut yang tepat.

Jangan sampai rakyat kecil merasa suaranya hanya dibutuhkan untuk mendukung sebuah program, tetapi keluhan hidup mereka sehari-hari tidak benar-benar didengar.

Sebagai guru, Omjay melihat pendidikan tidak bisa dipisahkan dari kesejahteraan keluarga. Anak yang lapar sulit belajar. Tetapi anak yang orang tuanya stres karena ekonomi juga sulit tumbuh bahagia.

Guru di sekolah sering menjadi saksi diam kondisi itu.

Ada murid yang tidak fokus belajar karena ayahnya baru terkena PHK. Ada anak yang murung karena ibunya terlambat membayar uang sekolah. Ada siswa yang tertidur di kelas karena malamnya membantu orang tua berjualan.

Semua itu nyata.

Karena itu, memperbaiki pendidikan Indonesia tidak cukup hanya memberi makan gratis. Pendidikan juga membutuhkan keluarga yang kuat secara ekonomi. Orang tua yang tenang akan melahirkan anak yang lebih siap belajar.

Omjay membayangkan betapa indahnya bila program MBG berjalan berdampingan dengan kebijakan yang memperkuat kesejahteraan buruh dan rakyat kecil.

Upah yang layak. Harga kebutuhan pokok yang stabil. Lapangan kerja yang baik. Akses pendidikan yang murah. Pelayanan kesehatan yang mudah.

Jika semua itu berjalan bersama, maka anak-anak Indonesia akan tumbuh lebih sehat lahir dan batin.

Di ruang kelas, Omjay sering melihat secercah harapan di mata murid-muridnya. Mereka ingin masa depan yang lebih baik. Mereka ingin sekolah tinggi. Mereka ingin membanggakan orang tua mereka.

Namun harapan itu tidak boleh hanya dibebankan kepada anak-anak. Negara juga harus hadir untuk menjaga kehidupan keluarga mereka.

Pada akhirnya, tulisan ini bukan untuk menyalahkan siapa pun. Omjay hanya ingin mengingatkan bahwa setiap rakyat memiliki sudut pandang berbeda.

Murid akan bicara tentang makanan sekolah. Guru akan bicara tentang pendidikan. Buruh akan bicara tentang penghasilan dan kebutuhan hidup.

Semua suara itu penting untuk didengar.

Karena bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya pandai membuat program, tetapi bangsa yang mau mendengar suara rakyatnya dengan hati.

Salam hangat dari Omjay, Guru yang percaya bahwa pendidikan dan kesejahteraan harus berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih manusiawi.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Barang Bercerai Berai Bisa Jadi Bahan ajar yang Bernilai Tinggi


Barang Bercerai-Berai Bisa Jadi Bahan Ajar yang Bernilai Tinggi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

Di sudut ruang kerja Omjay, ada tumpukan kertas yang terlihat tidak beraturan. Ada catatan kecil hasil seminar, potongan materi pelatihan, foto kegiatan siswa, coretan ide tulisan, hingga lembar tugas murid yang sudah mulai kusam dimakan waktu. Sekilas semua itu tampak seperti barang biasa yang tidak lagi berguna. Namun bagi Omjay, serpihan-serpihan kecil itu justru menyimpan energi besar untuk melahirkan karya.

Saat membaca tulisan di blog Annisa Menulis Masa Kini, Omjay teringat perjalanan panjangnya sebagai guru sekaligus penulis. Banyak orang mengira buku lahir dari inspirasi besar yang datang tiba-tiba. Padahal kenyataannya, buku sering lahir dari potongan pengalaman kecil yang dikumpulkan dengan sabar setiap hari.

Omjay percaya, tidak ada pengalaman yang benar-benar sia-sia. Bahkan catatan sederhana di pinggir meja guru pun bisa berubah menjadi bahan ajar yang menyentuh hati siswa jika diolah dengan cinta dan ketekunan.

Sebagai guru yang aktif menulis sejak lama, Omjay sering menyimpan berbagai “serpihan ilmu”. Kadang hanya berupa kalimat pendek dari murid. Kadang berupa pertanyaan polos siswa yang terdengar sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Semua itu dicatat. Semua itu disimpan.

Dari kebiasaan kecil itulah lahir banyak artikel, modul pembelajaran, hingga buku pendidikan yang menginspirasi banyak guru di Indonesia.

Omjay pernah mengalami masa ketika bahan ajar terasa membosankan. Siswa terlihat pasif. Guru berbicara panjang lebar, tetapi murid tidak benar-benar terhubung dengan materi. Dari situ Omjay sadar bahwa bahan ajar terbaik bukan hanya yang rapi dan penuh teori, melainkan yang dekat dengan kehidupan nyata.

Maka Omjay mulai mengubah cara pandangnya.

Foto kegiatan sekolah dijadikan bahan refleksi. Pengalaman lucu di kelas dijadikan cerita pembelajaran. Percakapan dengan siswa dijadikan bahan diskusi. Bahkan perjalanan naik kereta menuju sekolah pun bisa menjadi inspirasi tulisan literasi.

Di tangan guru kreatif, barang yang tampak “bercerai-berai” ternyata dapat menjadi harta karun pendidikan.

Omjay sering mengatakan kepada guru-guru muda bahwa menulis tidak harus menunggu sempurna. Mulailah dari apa yang ada di sekitar kita. Kumpulkan serpihan pengalaman. Rekam ide kecil. Dokumentasikan aktivitas harian. Lama-lama semua itu akan menjadi mozaik ilmu yang indah.

Banyak guru gagal menulis bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak punya bahan. Padahal bahan itu ada di mana-mana.

Seorang siswa yang terlambat datang ke sekolah bisa menjadi inspirasi tulisan tentang disiplin. Seorang murid yang tertidur di kelas bisa menjadi bahan refleksi tentang kondisi keluarga dan kesehatan mental anak. Sebuah kegiatan asesmen sekolah bisa menjadi artikel pendidikan yang menyentuh jika ditulis dengan hati.

Omjay membuktikan sendiri bahwa kekuatan tulisan lahir dari kepekaan melihat hal kecil.

Ketika pandemi melanda beberapa tahun lalu, banyak guru kebingungan membuat pembelajaran menarik. Namun Omjay justru melihat peluang besar. Ia mengumpulkan pengalaman guru-guru selama mengajar daring, lalu mengubahnya menjadi tulisan inspiratif. Dari situ lahir banyak karya yang dibaca ribuan orang.

Semua bermula dari serpihan pengalaman yang sebelumnya dianggap biasa saja.

Tulisan di blog tersebut mengingatkan Omjay bahwa kreativitas guru sebenarnya tidak pernah habis. Yang sering habis hanyalah keberanian untuk memulai. Banyak guru takut tulisannya jelek. Takut dikritik. Takut dianggap tidak penting. Padahal setiap guru memiliki kisah yang layak dibagikan.

Anak-anak di kelas tidak hanya membutuhkan guru pintar. Mereka membutuhkan guru yang mampu menghidupkan pembelajaran dengan pengalaman nyata.

Karena itu, Omjay selalu mengajak guru untuk menjadi “pengarsip kehidupan”. Simpan foto kegiatan. Catat ide mendadak. Rekam percakapan inspiratif. Dokumentasikan proses belajar siswa. Semua itu kelak akan menjadi bahan ajar yang kaya makna.

Bayangkan jika setiap guru di Indonesia menulis pengalaman mengajarnya setiap hari. Betapa luar biasanya kekayaan literasi pendidikan bangsa ini.

Omjay sendiri merasakan manfaat besar dari kebiasaan sederhana tersebut. Banyak tulisan yang awalnya hanya catatan pribadi ternyata disukai pembaca. Bahkan beberapa di antaranya menjadi materi seminar dan buku.

Inilah bukti bahwa karya besar sering lahir dari hal-hal kecil yang dikumpulkan secara konsisten.

Di era digital sekarang, guru sebenarnya sangat dimudahkan. Ponsel bisa menjadi alat dokumentasi. Blog bisa menjadi ruang berbagi. Media sosial dapat menjadi tempat menyebarkan inspirasi. Tinggal bagaimana guru mau memanfaatkannya.

Omjay percaya, guru yang menulis adalah guru yang sedang meninggalkan jejak peradaban. Ketika guru berhenti menulis, banyak pengalaman berharga ikut hilang tanpa sempat diwariskan.

Karena itu, jangan remehkan serpihan kecil di sekitar kita.

Barang yang berserakan di meja kerja mungkin tampak tidak penting hari ini. Tetapi bisa jadi itulah bahan utama lahirnya buku hebat di masa depan.

Coretan kecil murid hari ini mungkin akan menjadi inspirasi besar esok hari.

Foto sederhana kegiatan sekolah mungkin akan menjadi sejarah berharga beberapa tahun mendatang.

Semua bergantung pada cara kita memandangnya.

Omjay belajar bahwa kreativitas bukan tentang memiliki fasilitas mahal. Kreativitas adalah kemampuan melihat nilai dari hal-hal sederhana. Guru kreatif mampu mengubah pengalaman menjadi pembelajaran. Mengubah kenangan menjadi tulisan. Mengubah serpihan menjadi karya.

Dan dari sanalah pendidikan yang hidup akan lahir.

Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan angka nilai. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengalaman manusia diolah menjadi pelajaran kehidupan yang bermakna.

Maka jangan buang catatan lama. Jangan abaikan pengalaman kecil. Jangan anggap remeh aktivitas harian di sekolah.

Sebab bisa jadi, dari barang yang tampak bercerai-berai itu, lahir sebuah adikarya yang menginspirasi Indonesia.

Jumat, 08 Mei 2026

Susah Buang Air Besar?

Susah Buang Air Besar? Jangan Dianggap Sepele!

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Susah buang air besar atau sembelit sering dianggap masalah kecil. Banyak orang memilih diam dan menahannya karena malu bercerita. Padahal, kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Perut terasa penuh, kembung, tidak nyaman, bahkan kepala ikut pusing karena tubuh terasa tidak enak.

Hampir setiap orang pernah mengalami sembelit. Ada yang hanya satu atau dua hari, tetapi ada pula yang sampai berminggu-minggu sulit BAB. Kondisi ini sebenarnya merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan perhatian lebih, terutama terkait pola makan dan gaya hidup.

Mengapa Kita Bisa Susah Buang Air Besar?

Sembelit terjadi ketika feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan. Hal itu biasanya disebabkan oleh kurangnya cairan dan serat di dalam tubuh. Ketika tubuh kekurangan air, usus akan menyerap lebih banyak cairan dari sisa makanan sehingga tinja menjadi keras.

Selain itu, pola hidup modern juga menjadi penyebab utama. Banyak orang terlalu sibuk bekerja sehingga lupa minum air putih, jarang makan buah dan sayur, serta kurang bergerak. Duduk terlalu lama di depan komputer atau gadget membuat kerja usus menjadi lambat.

Ada beberapa penyebab umum sembelit, antara lain:

  1. Kurang minum air putih
  2. Kurang makan serat
  3. Jarang olahraga
  4. Sering menahan BAB
  5. Terlalu banyak makanan cepat saji
  6. Efek samping obat tertentu
  7. Stres dan kurang tidur

Kadang-kadang sembelit juga bisa muncul karena perubahan pola makan saat bepergian atau saat sedang berpuasa.

Tanda-Tanda Sembelit yang Harus Diperhatikan

Seseorang dikatakan mengalami sembelit bila BAB kurang dari tiga kali seminggu atau merasa sangat sulit saat mengeluarkan feses. Beberapa gejalanya antara lain:

  • Perut terasa penuh dan keras
  • BAB keras dan kering
  • Harus mengejan kuat saat BAB
  • Perut kembung
  • Nafsu makan berkurang
  • Tubuh terasa lemas
  • Kadang muncul nyeri di sekitar anus

Jika dibiarkan terlalu lama, sembelit dapat menyebabkan wasir atau ambeien karena terlalu sering mengejan.

Cara Alami Mengatasi Susah Buang Air Besar

Sebelum memakai obat, sebenarnya ada banyak cara alami yang cukup ampuh membantu melancarkan BAB.

1. Perbanyak Minum Air Putih

Air putih membantu melunakkan tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan. Biasakan minum minimal 8 gelas sehari. Air hangat di pagi hari sering membantu merangsang gerakan usus.

2. Konsumsi Buah dan Sayur

Buah kaya serat sangat baik untuk pencernaan. Pepaya menjadi salah satu buah favorit masyarakat Indonesia karena terkenal membantu melancarkan BAB. Selain pepaya, pisang, apel, pir, dan kiwi juga baik dikonsumsi.

Sayur hijau seperti bayam, kangkung, dan brokoli membantu usus bekerja lebih baik.

3. Rutin Bergerak dan Olahraga

Jalan kaki 20–30 menit setiap hari bisa membantu mempercepat gerakan usus. Tubuh yang aktif membuat sistem pencernaan ikut aktif.

4. Jangan Menahan BAB

Kebiasaan menahan BAB membuat tinja semakin keras. Jika sudah ada dorongan untuk BAB, segera pergi ke toilet.

5. Kurangi Makanan Instan

Makanan cepat saji biasanya rendah serat dan tinggi lemak sehingga membuat pencernaan melambat.

Obat yang Bisa Membantu Mengatasi Sembelit

Jika cara alami belum membantu, beberapa obat berikut sering digunakan untuk mengatasi sembelit.

Lactulose

Obat ini membantu menarik cairan ke usus sehingga feses menjadi lebih lunak dan mudah dikeluarkan.

Bisacodyl

Obat ini bekerja merangsang gerakan usus agar BAB lebih lancar. Biasanya digunakan dalam jangka pendek.

Psyllium Husk

Serat tambahan yang membantu memperbesar dan melunakkan tinja.

Microlax

Digunakan melalui dubur dan biasanya bekerja lebih cepat untuk membantu pengeluaran feses.

Namun penggunaan obat pencahar tidak boleh berlebihan. Bila terlalu sering dipakai, usus bisa menjadi tergantung.

Pengalaman Banyak Orang

Banyak orang baru sadar pentingnya menjaga pola makan setelah mengalami sembelit parah. Ada yang sampai tidak bisa tidur karena perut terasa sangat penuh. Ada pula yang harus ke dokter karena BAB disertai darah akibat mengejan terlalu keras.

Di tengah kesibukan hidup modern, kita sering lupa bahwa tubuh juga membutuhkan perhatian. Padahal kesehatan pencernaan sangat memengaruhi kualitas hidup. Ketika BAB lancar, tubuh terasa lebih ringan, nyaman, dan bersemangat menjalani aktivitas.

Kapan Harus ke Dokter?

Segera periksa ke dokter bila mengalami kondisi berikut:

  • Tidak BAB lebih dari seminggu
  • BAB berdarah
  • Berat badan turun drastis
  • Nyeri perut hebat
  • Muntah
  • Perut membesar
  • Demam

Kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan kesehatan yang lebih serius.

Menjaga Pola Hidup Sehat

Sembelit sebenarnya dapat dicegah dengan kebiasaan sederhana. Mulailah dari hal kecil seperti minum cukup air, makan buah setiap hari, dan bergerak aktif. Tubuh kita bekerja seperti mesin yang harus dirawat dengan baik.

Jangan tunggu sakit baru peduli kesehatan. Banyak penyakit bermula dari pola hidup yang diabaikan. Pencernaan yang sehat akan membantu tubuh menyerap nutrisi dengan baik dan membuat hidup terasa lebih nyaman.

Maka, bila hari ini Anda masih sering menunda minum air putih, malas makan sayur, atau terlalu lama duduk tanpa bergerak, mungkin inilah saatnya berubah. Karena sehat itu mahal, tetapi menjaga kesehatan sebenarnya jauh lebih mudah daripada mengobati penyakit.

Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jangan anggap remeh susah buang air besar, sebab tubuh selalu punya cara untuk memberi sinyal bahwa ia membutuhkan perhatian.

Asesmen Sumatif Kelas Akhir SMP Labschool Jakarta

ASKA SMP Labschool Jakarta: Menapaki Ujian Akhir dengan Semangat, Kejujuran, dan Kebersamaan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

Suasana berbeda tampak terasa di lingkungan SMP Labschool Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Para siswa kelas IX datang lebih pagi dengan wajah penuh harap sekaligus tegang. Di tangan mereka terlihat buku panduan bertuliskan “Asesmen Sumatif Kelas Akhir (ASKA)” tahun ajaran 2025–2026. Sebuah momen penting yang menjadi penanda akhir perjalanan mereka di bangku SMP.

Kegiatan Asesmen Sumatif Kelas Akhir atau yang dikenal dengan ASKA ini menjadi salah satu agenda akademik paling penting bagi siswa kelas IX. ASKA bukan sekadar ujian biasa, tetapi menjadi bentuk evaluasi menyeluruh terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani siswa selama tiga tahun di SMP Labschool Jakarta.

Dari foto dan dokumentasi kegiatan terlihat jelas bahwa sekolah mempersiapkan pelaksanaan ASKA dengan sangat baik. Buku panduan ASKA dibagikan kepada peserta sebagai pedoman resmi agar siswa memahami tata tertib, jadwal, serta teknis pelaksanaan ujian. Hal ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam menjaga kualitas asesmen sekaligus membangun budaya disiplin dan tanggung jawab.

Di salah satu sudut sekolah juga terpampang spanduk besar bertuliskan:

"Yang tersayang Glorificentia, Selamat Menempuh Asesmen Sumatif Kelas Akhir (ASKA) Kelas IX Angkatan 32."

Tulisan sederhana itu ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Ada cinta, dukungan, dan harapan besar dari guru, orang tua, serta seluruh warga sekolah kepada siswa-siswi kelas IX yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan tingkat SMP mereka.

ASKA Bukan Sekadar Ujian

Banyak siswa menganggap ujian sebagai sesuatu yang menakutkan. Padahal sesungguhnya asesmen adalah bagian dari proses belajar. Melalui ASKA, siswa diajak untuk membuktikan sejauh mana mereka memahami ilmu pengetahuan, mengembangkan karakter, serta menerapkan nilai-nilai kehidupan yang selama ini diajarkan di sekolah.

Di SMP Labschool Jakarta, ASKA tidak hanya menilai kemampuan akademik. Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas justru menjadi pondasi utama dalam pelaksanaan asesmen.

Karena itu, suasana ujian dibuat nyaman namun tetap tertib. Guru-guru hadir sebagai pengawas sekaligus penyemangat bagi peserta didik. Tidak ada tekanan berlebihan, tetapi siswa tetap didorong untuk memberikan hasil terbaik.

Sebagai seorang guru, saya melihat bahwa kegiatan seperti ini sangat penting dalam membentuk mental siswa. Mereka belajar menghadapi tantangan, mengatur waktu, mempersiapkan diri, dan menjaga fokus di tengah tekanan.

Perjalanan Tiga Tahun yang Tidak Mudah

Bagi siswa kelas IX angkatan 32, perjalanan menuju akhir pendidikan SMP tentu bukan perjalanan yang mudah. Mereka telah melewati berbagai pengalaman belajar, kegiatan sekolah, proyek kolaborasi, hingga dinamika persahabatan yang penuh warna.

Momen ASKA menjadi titik refleksi atas semua perjalanan itu.

Tidak sedikit siswa yang mulai merasa haru karena sebentar lagi mereka akan berpisah dengan teman-teman, guru, dan lingkungan sekolah yang selama ini menjadi rumah kedua mereka.

Dalam dokumentasi kegiatan tampak kebersamaan yang begitu kuat. Foto angkatan yang terpampang di banner besar menunjukkan kekompakan dan semangat persaudaraan yang dibangun selama tiga tahun belajar bersama.

Inilah yang membuat Labschool Jakarta bukan hanya sekolah biasa, tetapi juga tempat tumbuhnya karakter dan kenangan indah.

Peran Guru dalam Kesuksesan ASKA

Keberhasilan pelaksanaan ASKA tentu tidak lepas dari kerja keras para guru dan tenaga kependidikan. Mereka mempersiapkan soal, menyusun jadwal, mengatur ruang ujian, hingga memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar.

Guru bukan hanya hadir untuk mengawasi ujian, tetapi juga memberi ketenangan kepada siswa.

Sering kali sebelum ujian dimulai, guru memberikan motivasi sederhana:

"Kerjakan dengan tenang, percaya diri, dan jujur."

Kalimat sederhana itu ternyata mampu membuat siswa lebih siap menghadapi soal-soal ujian.

Saya pribadi merasa bangga melihat dedikasi guru-guru SMP Labschool Jakarta. Mereka bekerja tidak mengenal lelah demi memastikan siswa mendapatkan pengalaman asesmen yang baik dan bermakna.

Dukungan Orang Tua Sangat Penting

Selain guru, peran orang tua juga sangat menentukan keberhasilan siswa dalam menghadapi ASKA. Dukungan moral dari keluarga menjadi energi besar bagi anak-anak.

Pada banner kegiatan bahkan tertulis pesan dukungan dari para orang tua angkatan 32:

"Kami yang selalu mendoakan."

Kalimat itu sangat menyentuh hati. Sebab di balik keberhasilan seorang anak, ada doa orang tua yang terus mengiringi langkah mereka.

Selama masa ASKA, orang tua tentu berharap anak-anak mereka dapat menjaga kesehatan, mengatur waktu belajar, serta tetap percaya diri menghadapi ujian.

Kadang yang dibutuhkan anak bukan hanya les tambahan atau nilai tinggi, tetapi perhatian, pelukan, dan kata-kata penyemangat dari rumah.

ASKA Berakhir Hari Jumat

Pelaksanaan ASKA SMP Labschool Jakarta dijadwalkan berakhir pada hari Jumat ini. Bagi siswa kelas IX, hari terakhir ujian tentu akan menjadi momen yang sangat melegakan sekaligus emosional.

Setelah berhari-hari berkutat dengan soal dan belajar hingga malam, akhirnya mereka dapat bernapas lega.

Namun lebih dari sekadar selesai ujian, ASKA adalah awal menuju perjalanan baru. Setelah ini mereka akan melanjutkan langkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Ada yang akan masuk SMA favorit, ada yang mengejar cita-cita menjadi dokter, guru, insinyur, programmer, penulis, hingga pemimpin masa depan bangsa.

Semua berawal dari proses kecil yang dijalani dengan sungguh-sungguh hari ini.

Menanamkan Nilai Kejujuran Sejak Dini

Salah satu pelajaran terbesar dari ASKA adalah pentingnya kejujuran. Nilai tinggi tanpa kejujuran tidak akan memiliki makna.

Karena itu, budaya integritas harus terus ditanamkan kepada peserta didik sejak dini.

Di tengah perkembangan teknologi dan kecanggihan kecerdasan buatan, siswa perlu memahami bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar angka rapor.

Bangsa ini membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga jujur, tangguh, dan memiliki empati.

Penutup

ASKA di SMP Labschool Jakarta bukan hanya kegiatan akademik tahunan. Ia adalah proses pembentukan mental, karakter, dan kedewasaan siswa sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.

Semoga seluruh siswa kelas IX angkatan 32 diberikan hasil terbaik sesuai usaha mereka. Semoga ilmu yang diperoleh selama belajar di SMP Labschool Jakarta menjadi bekal berharga untuk masa depan.

Terima kasih kepada seluruh guru, tenaga kependidikan, dan orang tua yang telah mendampingi anak-anak dengan penuh cinta dan kesabaran.

Selamat menempuh hari terakhir ASKA.

Percayalah, setiap perjuangan tidak akan pernah mengkhianati hasil.

Kamis, 07 Mei 2026

Darimana Ide Menulis Datang?

Darimana Ide Menulis Datang?
Sebuah Kisah Omjay yang Mengalir dari Hati

Pagi itu terasa berbeda. Udara Bandung masih dingin, sisa embun menempel di dedaunan halaman rumah. Omjay duduk di teras, memegang secangkir kopi hangat yang perlahan mengepulkan uap. Di tangannya, bukan buku tebal atau referensi ilmiah, melainkan sebuah ponsel sederhana yang menjadi “jendela dunia”-nya.

Namun, pagi itu ia tidak langsung menulis.

Layar ponselnya kosong.

Kursor berkedip pelan.

Seolah bertanya, “Hari ini, kau ingin menulis apa?”

Omjay tersenyum tipis. Pertanyaan itu bukan hal baru. Hampir setiap hari ia mengalaminya. Banyak orang mengira seorang penulis produktif seperti dirinya tidak pernah kehabisan ide. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya—ia sering memulai dari kekosongan.

Lalu dari mana ide itu datang?

Omjay menarik napas panjang. Ia memejamkan mata sejenak. Ingatannya melayang ke masa lalu, ketika ia pertama kali belajar menulis. Saat itu, ia juga sering bertanya hal yang sama. Ia merasa harus menemukan ide besar, ide hebat, ide yang luar biasa agar tulisannya layak dibaca.

Namun, waktu mengajarkannya satu hal penting:
ide besar seringkali lahir dari hal-hal kecil yang kita rasakan.

Pagi itu, suara burung yang berkicau di pohon mangga depan rumah tiba-tiba menyadarkannya. Ia membuka mata. Ia memperhatikan sekeliling. Istrinya di dalam rumah sedang menyiapkan sarapan. Tetangga menyapu halaman. Seorang anak kecil berlari sambil tertawa mengejar layangan.

Sederhana.

Biasa saja.

Tapi bagi Omjay, di situlah ide mulai tumbuh.

Ia mulai mengetik:

"Pagi ini aku belajar bahwa kehidupan tidak pernah kehabisan cerita, hanya kita saja yang sering lupa memperhatikannya..."

Jari-jarinya mulai bergerak lebih cepat. Kata demi kata mengalir. Tanpa terasa, paragraf demi paragraf terbentuk.

Omjay tersenyum lagi.

Ia sadar, ide menulis bukan sesuatu yang harus dicari jauh-jauh. Ide itu ada di sekitar kita—dalam pengalaman, dalam rasa, bahkan dalam luka.

Ia teringat saat pernah dirawat di rumah sakit selama beberapa hari. Tanpa internet, tanpa dunia maya, hanya ada dirinya dan pikirannya sendiri. Saat itu ia sempat merasa kehilangan—seolah tidak punya bahan untuk menulis.

Namun justru di situlah ia menemukan ide yang paling jujur.

Ia menulis tentang kesepian. Tentang rasa takut. Tentang harapan untuk sembuh. Tulisan itu bukan hanya menjadi artikel, tetapi juga menjadi terapi bagi jiwanya.

Dari situlah Omjay memahami:
ide terbaik bukan yang paling hebat, tetapi yang paling jujur.

Ia kemudian menuliskan pengalamannya mengajar, bertemu siswa, berbincang dengan sesama guru, hingga perjalanan hidupnya sebagai pegiat literasi. Semua itu menjadi sumber ide yang tak pernah habis.

Kadang ide datang dari kebahagiaan.
Kadang dari kesedihan.
Kadang dari kegagalan.
Bahkan kadang dari pertanyaan sederhana yang belum terjawab.

Seorang murid pernah bertanya kepadanya, “Pak, bagaimana supaya bisa menulis seperti Bapak?”

Omjay tidak langsung menjawab panjang lebar. Ia hanya tersenyum dan berkata,
“Mulailah dari apa yang kamu rasakan hari ini.”

Karena baginya, menulis bukan soal pintar merangkai kata. Menulis adalah soal kepekaan hati.

Pagi itu, tulisan Omjay hampir selesai. Ia membaca ulang dari awal hingga akhir. Tidak ada kata-kata yang terlalu rumit. Tidak ada istilah yang sulit. Tapi ada sesuatu yang terasa hangat—sebuah kejujuran yang mengalir dari hati.

Ia menutup tulisannya dengan kalimat sederhana:

"Ide menulis tidak pernah pergi. Ia hanya menunggu kita untuk berhenti sejenak, melihat, merasakan, lalu menuliskannya dengan hati."

Omjay meletakkan ponselnya. Kopinya sudah dingin, tapi hatinya terasa hangat.

Hari itu ia kembali belajar, bahwa menjadi penulis bukan tentang mencari ide ke langit yang tinggi, tetapi tentang menyelami kehidupan yang kita jalani setiap hari.

Dan dari situlah, ide akan datang… tanpa perlu dipaksa.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indinesia
Blog https://wijayalabs.com

Dahsyatnya Sakaratul Maut

Dahsyatnya Sakaratul Maut: Sebuah Pengingat untuk Manusia yang Sering Lalai

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering lupa bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara. Kita sibuk mengejar jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia, tetapi sering melupakan satu kenyataan yang pasti datang: kematian.

Sebuah buku berjudul Dahsyatnya Sakaratul Maut karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni menjadi pengingat keras sekaligus lembut bagi hati yang mulai lalai. Buku ini bukan sekadar bacaan biasa, tetapi tamparan spiritual yang membuat kita merenung tentang akhir perjalanan hidup manusia.

Ketika saya memegang buku ini, pikiran saya langsung melayang kepada kenyataan hidup yang sering kita abaikan. Saat ini kita sehat, tertawa, bercanda, bekerja, dan menikmati dunia. Namun suatu hari nanti kita akan terbaring lemah tanpa daya. Nafas yang selama ini terasa ringan akan berubah berat. Mata yang selama ini melihat dunia perlahan tertutup. Dan pada saat itulah manusia memasuki fase paling menegangkan dalam hidupnya: sakaratul maut.

Dalam bagian belakang buku tertulis kalimat yang sangat menggugah:

"Saat ini kita hidup. Tapi suatu ketika nanti kita mati. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan dan di mana kita mati."

Kalimat sederhana itu terasa sangat dalam. Tidak ada manusia yang tahu kapan ajal datang. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Orang kaya tidak bisa menyogok malaikat maut. Orang berpangkat tidak bisa meminta tambahan waktu. Bahkan dokter terbaik di dunia pun tidak mampu menghalangi datangnya ajal.

Buku ini menjelaskan bahwa sakaratul maut bukan peristiwa biasa. Ia adalah fase dahsyat yang dialami setiap manusia. Bahkan Rasulullah SAW pun merasakan beratnya sakaratul maut. Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah merasakan sakit yang sangat luar biasa menjelang wafatnya. Hal itu menunjukkan bahwa kematian memang bukan sesuatu yang ringan.

Membaca buku ini membuat saya merenung panjang. Betapa selama ini manusia sering merasa hidupnya akan lama. Kita menunda tobat. Menunda salat. Menunda meminta maaf. Menunda bersedekah. Seolah-olah kita yakin masih memiliki waktu panjang.

Padahal kematian bisa datang kapan saja.

Ada orang yang pagi masih bercanda, sore sudah tiada. Ada yang baru selesai membangun rumah megah, tetapi belum sempat menikmatinya. Ada yang baru pensiun, lalu dipanggil Allah SWT. Semua itu menjadi bukti bahwa hidup manusia sangat rapuh.

Sebagai seorang guru, saya sering berpikir bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai rapor atau kecerdasan akademik. Pendidikan juga harus mengajarkan manusia tentang makna kehidupan dan kematian. Anak-anak perlu dibimbing agar tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.

Buku ini mengingatkan bahwa kematian bagi orang saleh bisa menjadi sesuatu yang indah. Kalimat dalam buku tersebut sangat menarik:

"Kematian yang dibenci bisa menjadi disenangi dan digandrungi."

Mengapa demikian? Karena bagi orang beriman, kematian adalah gerbang menuju pertemuan dengan Allah SWT. Orang-orang saleh justru merindukan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Mereka ingin meninggal dalam keadaan baik, dalam keadaan sujud, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau sedang melakukan amal saleh.

Sebaliknya, bagi orang yang hidupnya dipenuhi dosa dan kesombongan, kematian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka takut menghadapi kenyataan amal perbuatannya sendiri.

Saya jadi teringat banyak kisah nyata yang pernah saya dengar. Ada orang sederhana yang meninggal dengan wajah tenang dan senyum mengembang. Ada pula orang yang sepanjang hidupnya bergelimang harta tetapi meninggal dalam kegelisahan luar biasa. Semua itu seakan menjadi bukti bahwa kualitas hidup seseorang menentukan kualitas akhir hidupnya.

Buku ini juga mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian. Jabatan hanyalah titipan. Kekayaan hanyalah amanah. Popularitas hanyalah sementara. Tidak ada yang abadi selain amal kebaikan.

Ironisnya, manusia sering bertengkar karena urusan dunia yang tidak akan dibawa mati. Persaudaraan rusak karena warisan. Persahabatan hancur karena jabatan. Bahkan keluarga bisa saling membenci hanya karena materi.

Padahal ketika maut datang, semuanya selesai.

Yang menemani manusia bukan mobil mewahnya. Bukan rumah besarnya. Bukan rekeningnya. Yang menemani hanyalah amal ibadah dan doa anak saleh.

Sebagai guru blogger, saya merasa tulisan seperti ini penting untuk dibagikan. Di era media sosial sekarang, manusia terlalu banyak disibukkan oleh pencitraan. Orang berlomba memperlihatkan kemewahan hidupnya, tetapi jarang memperlihatkan kedekatannya kepada Allah SWT.

Buku Dahsyatnya Sakaratul Maut mengajak kita untuk kembali merenungi tujuan hidup. Ia mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat singgah sebelum perjalanan panjang menuju akhirat.

Membaca buku ini membuat hati terasa kecil. Kesombongan runtuh. Keangkuhan perlahan luluh. Kita sadar bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta.

Karena itu, mumpung masih diberi kesempatan hidup, mari memperbaiki diri. Mari lebih banyak berbuat baik. Mari menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Mari memperbanyak ibadah dan sedekah. Jangan sampai ketika ajal datang, kita justru penuh penyesalan.

Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pernah salah. Namun Allah SWT selalu membuka pintu tobat bagi hamba-Nya yang mau kembali.

Akhirnya, buku ini bukan sekadar buku tentang kematian. Ia adalah buku tentang kehidupan. Tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dengan lebih bermakna sebelum ajal benar-benar datang menjemput.

Semoga kita semua diberikan akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah, dan termasuk golongan orang-orang saleh yang dirindukan surga.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Wow Sepatu 27 Miliar dan Pendidikan yang kehilangan arah

Sepatu Rp 27 Miliar dan Pendidikan yang Kehilangan Arah

Di sebuah negeri yang masih menyimpan jutaan anak putus sekolah, ruang kelas rusak, dan guru honorer dengan gaji memprihatinkan, publik dikejutkan oleh polemik pengadaan sepatu senilai Rp 27 miliar untuk program Sekolah Rakyat. Angka itu bukan sekadar nominal. Ia menjadi simbol dari cara berpikir pendidikan yang selama ini sering terjebak pada tampilan luar, bukan pada kualitas isi pendidikan itu sendiri.

Masyarakat pun bertanya-tanya: benarkah sepatu mahal dapat menyelamatkan masa depan pendidikan Indonesia?

Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendalam. Sebab selama bertahun-tahun, pendidikan kita memang sering sibuk mengurusi hal-hal yang tampak di mata: seragam harus sama, sepatu harus hitam, tas harus tertentu, atribut harus lengkap, rambut harus seragam, hingga cara berpakaian harus identik. Anak-anak akhirnya lebih banyak dinilai dari penampilan dibandingkan isi pikirannya.

Padahal pendidikan sejati tidak pernah lahir dari keseragaman penampilan.

Anak menjadi cerdas bukan karena memakai sepatu yang sama. Anak berkembang bukan karena warna seragamnya serupa. Yang membuat anak tumbuh adalah guru yang menginspirasi, lingkungan belajar yang sehat, buku-buku yang mudah diakses, budaya membaca yang hidup, dan ruang berpikir yang merdeka.

Ironisnya, di tengah semangat “pendidikan gratis”, banyak orang tua justru merasa sekolah semakin mahal. Tahun ajaran baru sering menjadi musim kecemasan. Ada orang tua yang harus meminjam uang demi membeli seragam, sepatu, tas, buku paket, hingga atribut sekolah. Bahkan ada yang rela menjual barang berharga agar anaknya tidak malu datang ke sekolah.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan kita diam-diam sedang berubah menjadi arena penyeragaman sosial.

Anak-anak didorong tampil sama, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan belajar yang setara.

Masih banyak sekolah yang kekurangan guru berkualitas. Masih banyak perpustakaan kosong tanpa buku menarik. Masih banyak siswa yang belum mampu memahami bacaan sederhana. Literasi dan numerasi kita pun masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.

Namun anehnya, yang sering menjadi prioritas justru proyek-proyek fisik dan atribut.

Kita seperti sedang membangun kemasan megah untuk isi yang belum tentu kuat.

Sebagai seorang guru, banyak pendidik sebenarnya memahami bahwa semangat belajar anak tidak lahir dari mahalnya perlengkapan sekolah. Anak-anak justru paling bahagia ketika gurunya mengajar dengan hati, ketika mereka diberi kesempatan bertanya, ketika pendapat mereka dihargai, dan ketika sekolah menjadi tempat yang aman untuk tumbuh.

Sayangnya, budaya pendidikan kita masih sering memaksa anak untuk “taat bentuk” daripada “aktif berpikir”.

Anak yang bajunya kurang rapi sering ditegur lebih cepat dibanding anak yang kesulitan membaca. Anak yang sepatunya lusuh kadang merasa minder di kelas. Bahkan ada siswa yang malu datang ke sekolah hanya karena tidak mampu membeli atribut baru.

Di sinilah pendidikan perlahan kehilangan ruhnya.

Pendidikan seharusnya memerdekakan manusia, bukan membebani keluarga dengan tuntutan simbolik.

Ki Hadjar Dewantara sejak dulu sudah mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun kodrat anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, pendidikan harus fokus pada pengembangan manusia, bukan sekadar keseragaman administratif.

Kalau anggaran Rp 27 miliar itu dialihkan untuk memperkuat perpustakaan sekolah, mungkin ribuan buku baru bisa hadir untuk anak-anak Indonesia. Jika digunakan untuk pelatihan guru, mungkin kualitas pembelajaran meningkat. Jika dipakai memperbaiki sekolah rusak di daerah terpencil, mungkin banyak anak bisa belajar lebih nyaman.

Karena itu, polemik ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional.

Kita perlu bertanya dengan jujur: apa sebenarnya tujuan pendidikan Indonesia?

Apakah kita ingin mencetak anak-anak yang sekadar terlihat rapi dan seragam? Ataukah kita ingin melahirkan generasi yang kritis, kreatif, berani berpikir, dan memiliki karakter kuat?

Pertanyaan ini penting karena masa depan bangsa tidak dibangun oleh sepatu mahal. Masa depan bangsa dibangun oleh kualitas manusia yang lahir dari pendidikan bermakna.

Banyak negara maju justru memberi ruang kebebasan lebih besar kepada siswa. Mereka tidak terlalu sibuk mengatur warna sepatu atau model rambut. Fokus utama mereka adalah kualitas pembelajaran, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, riset, dan inovasi.

Sementara di Indonesia, energi pendidikan sering habis untuk urusan administratif dan simbolik.

Kita lupa bahwa anak-anak memiliki mimpi yang jauh lebih besar daripada sekadar tampil seragam.

Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, masyarakat tentu berharap setiap anggaran pendidikan benar-benar menyentuh kebutuhan utama siswa. Pendidikan harus hadir sebagai jalan pembebasan sosial, bukan menjadi tambahan beban ekonomi keluarga.

Polemik sepatu Rp 27 miliar akhirnya menyadarkan kita bahwa bangsa ini membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola pendidikan.

Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat menyeragamkan tubuh anak-anak.

Sekolah harus menjadi ruang yang memerdekakan pikiran mereka.

Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang memakai sepatu paling mahal. Pendidikan adalah tentang siapa yang mampu menyalakan cahaya pengetahuan di dalam dirinya.

Dan cahaya itu tidak pernah lahir dari kulit sepatu.

Ia lahir dari guru yang tulus, buku yang dibaca, pengalaman hidup, diskusi yang sehat, dan keberanian untuk berpikir merdeka.