Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 30 Mei 2026

Panen Labu di Kampung Tegalpanjang Garut

Panen Labu di Kampung Tegalpanjang Garut: Nikmat Sederhana yang Mengajarkan Rasa Syukur

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara di Kampung Tegalpanjang, Garut, terasa begitu sejuk. Embun masih menempel di dedaunan. Burung-burung kecil berkicau merdu seolah menyambut datangnya mentari pagi. Langit tampak cerah membiru. Di kejauhan terlihat hamparan sawah dan kebun yang menghijau, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.

Omjay berdiri di halaman rumah sambil menghirup udara segar khas pegunungan Garut. Hati terasa damai. Tidak ada suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Tidak ada kemacetan yang membuat kepala pening. Yang terdengar hanya suara alam yang mengajak manusia untuk kembali mengingat Sang Pencipta.

Saat berjalan menuju kebun kecil milik keluarga, Omjay melihat sesuatu yang membuat hati terasa gembira. Di bawah rimbunnya daun-daun hijau, bergelantungan buah labu yang siap dipanen. Bentuknya unik, berwarna hijau muda, tampak segar dan sehat.

“Alhamdulillah, panennya banyak sekali,” kata Omjay sambil tersenyum.

Satu per satu labu dipetik dengan hati-hati. Ada yang berukuran besar, ada pula yang masih kecil. Semuanya dikumpulkan ke dalam ember hitam besar. Tidak terasa ember itu perlahan penuh oleh hasil panen pagi itu.

Melihat tumpukan labu yang memenuhi ember, Omjay teringat sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Manusia sering kali sibuk mengejar sesuatu yang besar hingga lupa mensyukuri hal-hal kecil yang sudah Allah berikan.

Padahal kebahagiaan tidak selalu datang dari rumah mewah, kendaraan mahal, atau jabatan tinggi. Kebahagiaan justru sering hadir melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti pagi itu.

Melihat hasil panen labu saja sudah mampu menghadirkan rasa syukur yang begitu besar di dalam hati.

Omjay kemudian duduk di bawah pohon sambil memperhatikan hasil panen yang telah terkumpul. Tiba-tiba teringat masa kecil dahulu ketika tinggal di kampung.

Dulu, hampir setiap rumah memiliki kebun sendiri. Tidak perlu pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Di belakang rumah sudah tersedia cabai, tomat, kangkung, singkong, pepaya, dan berbagai tanaman lainnya.

Ketika musim panen tiba, hasilnya tidak hanya dinikmati sendiri. Tetangga pun ikut merasakan.

Jika satu rumah panen banyak, maka sebagian hasil panen dibagikan kepada tetangga.

Begitulah kehidupan kampung mengajarkan arti berbagi.

Tidak ada yang merasa rugi ketika memberi.

Justru kebahagiaan bertambah ketika melihat orang lain ikut menikmati rezeki yang Allah titipkan.

Omjay tersenyum mengingat masa-masa itu.

Hari ini, nilai-nilai tersebut mulai jarang ditemukan di kota besar. Banyak orang hidup berdampingan tetapi tidak saling mengenal. Rumah berdempetan, tetapi hati terasa berjauhan.

Karena itulah setiap kali pulang ke Garut, Omjay selalu merasa sedang pulang ke sekolah kehidupan.

Kampung mengajarkan banyak hal.

Kampung mengajarkan kesederhanaan.

Kampung mengajarkan gotong royong.

Kampung mengajarkan rasa syukur.

Dan kampung mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dengan materi.

Sambil memandangi hasil panen labu, Omjay kembali merenung.

Labu-labu itu tidak tumbuh dalam semalam.

Mereka membutuhkan waktu.

Mereka membutuhkan sinar matahari.

Mereka membutuhkan air.

Mereka membutuhkan kesabaran.

Sama seperti kehidupan manusia.

Kesuksesan tidak datang secara instan.

Ilmu tidak datang dalam semalam.

Buku tidak selesai ditulis dalam satu hari.

Gelar doktor yang diraih Omjay pun tidak diperoleh dengan mudah.

Delapan tahun perjalanan kuliah S3 dijalani dengan penuh perjuangan. Ada rasa lelah. Ada rasa ingin menyerah. Ada biaya yang harus dikeluarkan. Ada waktu yang harus dikorbankan.

Namun semua itu akhirnya membuahkan hasil.

Persis seperti tanaman labu yang dirawat dengan penuh kesabaran.

Apa yang ditanam dengan baik akan menghasilkan buah yang baik.

Karena itu Omjay selalu berpesan kepada para guru dan murid di seluruh Indonesia:

“Jangan pernah bosan menanam kebaikan.”

Hari ini mungkin kita belum melihat hasilnya.

Besok mungkin belum terlihat juga.

Tetapi suatu saat nanti, Allah akan menunjukkan buah dari semua usaha yang telah kita lakukan.

Melihat panen labu pagi itu membuat Omjay semakin yakin bahwa kehidupan selalu memberi pelajaran kepada siapa saja yang mau belajar.

Bahkan dari sebuah labu sederhana.

Labu tidak pernah protes ketika terkena panas matahari.

Labu tidak mengeluh ketika harus tumbuh perlahan.

Labu hanya terus bertumbuh hingga akhirnya siap dipanen.

Begitu pula manusia.

Jika ingin berhasil, teruslah bertumbuh.

Teruslah belajar.

Teruslah memperbaiki diri.

Teruslah berbuat baik.

Dan biarkan waktu yang membuktikan hasilnya.

Menjelang siang, sebagian labu mulai dibersihkan. Ada yang akan dimasak menjadi sayur. Ada yang akan dibagikan kepada keluarga dan tetangga.

Melihat itu semua, hati Omjay terasa hangat.

Rezeki memang akan terasa lebih nikmat ketika dibagikan.

Sebagaimana ilmu yang dibagikan kepada murid-murid akan menjadi amal jariyah.

Sebagaimana tulisan yang dibagikan kepada pembaca akan menjadi warisan peradaban.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan:

“Tulisanku adalah tabunganku. Tulisanku kusimpan dalam alat rekam yang ajaib bernama blog. Kelak ketika usia tak lagi muda, tulisan-tulisan itu akan tetap hidup, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi banyak orang.”

Panen labu di Kampung Tegalpanjang Garut pagi itu bukan sekadar kegiatan memetik hasil kebun.

Lebih dari itu, panen tersebut menjadi pengingat bahwa hidup ini sesungguhnya adalah proses menanam dan memanen.

Siapa yang menanam kebaikan akan memanen keberkahan.

Siapa yang menanam ilmu akan memanen kebijaksanaan.

Siapa yang menanam kesabaran akan memanen kebahagiaan.

Dan siapa yang menanam rasa syukur akan memanen ketenangan hati.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan serba cepat, semoga kita tetap mampu menikmati kebahagiaan sederhana seperti menikmati hasil panen di kampung halaman.

Karena sering kali, kebahagiaan yang paling tulus justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana.

Alhamdulillah, panen labu hari ini mengajarkan Omjay satu hal penting: jangan pernah berhenti bersyukur atas nikmat kecil, sebab dari situlah Allah menghadirkan nikmat yang jauh lebih besar.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah omjay Menjaga Keistiqomahan

Kisah Omjay: Menjaga Keistiqamahan Meski Tidak Dipuji Manusia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Sabtu 30 Mei 2026, udara di Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Mentari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Burung-burung mulai berkicau menyambut datangnya pagi. Setelah menunaikan sholat Subuh, Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.

Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang menghijau. Angin pagi berhembus pelan membawa ketenangan. Dalam suasana yang damai itu, Omjay merenungkan satu hal yang sering menjadi ujian dalam kehidupan manusia: bagaimana tetap istiqamah berbuat baik meski tidak dipuji manusia.

Tidak mudah memang.

Manusia pada dasarnya senang dihargai. Senang ketika hasil kerjanya diapresiasi. Senang ketika usahanya diakui. Senang ketika namanya disebut dan jasanya dikenang.

Omjay pun manusia biasa.

Sebagai guru yang sudah mengabdi lebih dari tiga dekade, ada kalanya Omjay merasa lelah. Ada kalanya kerja keras yang dilakukan seolah tidak terlihat. Ada kalanya tulisan yang dibuat dengan penuh kesungguhan hanya dibaca sedikit orang.

Namun perjalanan hidup mengajarkan Omjay sebuah pelajaran penting.

Berbuat baik bukan untuk dipuji manusia. Berbuat baik adalah bentuk pengabdian kepada Allah.

Ketika Tulisan Tidak Mendapat Banyak Pembaca

Sebagai penulis dan blogger, Omjay menulis hampir setiap hari.

Ada tulisan yang dibaca ribuan orang.

Ada pula tulisan yang hanya dibaca puluhan orang.

Awalnya, Omjay juga pernah merasa kecewa ketika sebuah tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati ternyata sepi pembaca.

"Apakah tulisan saya tidak menarik?"

"Apakah tulisan saya tidak bermanfaat?"

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menghampiri hati.

Namun semakin lama menulis, Omjay menyadari bahwa ukuran keberhasilan bukan semata jumlah pembaca.

Bisa jadi satu tulisan yang hanya dibaca satu orang justru mengubah hidupnya.

Bisa jadi satu artikel sederhana mampu menginspirasi seseorang yang sedang putus asa.

Bisa jadi satu kalimat yang ditulis dengan ikhlas menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Sejak saat itu Omjay berusaha menulis bukan untuk mengejar pujian.

Omjay menulis karena ingin berbagi.

Omjay menulis karena ingin meninggalkan jejak kebaikan.

Omjay menulis karena percaya bahwa tulisan adalah investasi akhirat.

Seperti yang sering Omjay sampaikan:

"Tulisan adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan dalam alat rekam yang ajaib bernama blog."

Belajar dari Guru-Guru Hebat

Dalam perjalanan sebagai pengurus organisasi profesi guru dan pegiat literasi, Omjay bertemu banyak guru luar biasa.

Ada guru yang setiap hari mengajar di pelosok tanpa fasilitas memadai.

Ada guru yang rela mengeluarkan biaya pribadi demi membantu siswanya.

Ada guru yang diam-diam membelikan seragam bagi murid yang kurang mampu.

Hebatnya, banyak dari mereka tidak pernah mempublikasikan apa yang dilakukan.

Tidak ada unggahan media sosial.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada pencitraan.

Mereka bekerja dalam diam.

Mereka mengabdi dengan tulus.

Mereka tetap melayani meski tidak ada yang memuji.

Dari mereka, Omjay belajar bahwa amal terbaik sering kali dilakukan tanpa sorotan kamera.

Kebaikan yang paling kuat justru lahir dari hati yang ikhlas.

Allah Tidak Pernah Lupa

Suatu hari Omjay pernah membaca sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati.

"Jika manusia lupa menghargaimu, jangan sedih. Allah tidak pernah lupa mencatat kebaikanmu."

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

Manusia memiliki keterbatasan.

Kadang lupa.

Kadang tidak tahu.

Kadang bahkan salah menilai.

Namun Allah Maha Melihat.

Tidak ada satu tetes keringat yang sia-sia.

Tidak ada satu langkah menuju kebaikan yang terlewat dari pengawasan-Nya.

Tidak ada satu huruf yang kita tulis untuk menyebarkan ilmu yang hilang begitu saja.

Semua tercatat dengan sempurna.

Kesadaran inilah yang membuat Omjay terus berusaha menjaga semangat.

Ketika tidak ada yang memuji, tetap menulis.

Ketika tidak ada yang mengapresiasi, tetap berbagi.

Ketika tidak ada yang melihat, tetap berbuat baik.

Karena tujuan utama bukanlah manusia.

Tujuan utama adalah ridha Allah.

Istiqamah Itu Tidak Mudah

Omjay menyadari bahwa istiqamah jauh lebih sulit daripada memulai.

Banyak orang bersemangat di awal.

Namun hanya sedikit yang mampu bertahan dalam perjalanan panjang.

Menulis sehari itu mudah.

Menulis setiap hari selama bertahun-tahun membutuhkan komitmen.

Mengajar sehari itu mudah.

Mengajar puluhan tahun dengan penuh cinta membutuhkan keikhlasan.

Berbuat baik sekali dua kali itu mudah.

Berbuat baik terus-menerus tanpa mengharapkan balasan adalah ujian sesungguhnya.

Karena itu, istiqamah bukan tentang kesempurnaan.

Istiqamah adalah tentang terus berjalan meski perlahan.

Tetap bangkit ketika jatuh.

Tetap melangkah ketika lelah.

Tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memperhatikan.

Pesan Omjay untuk Sahabat Semua

Pagi ini Omjay ingin berbagi pesan sederhana kepada para sahabat pembaca.

Jika hari ini usaha kita belum dihargai, jangan berhenti.

Jika kerja keras kita belum terlihat, jangan menyerah.

Jika kebaikan kita belum mendapat pengakuan, jangan berkecil hati.

Teruslah melangkah.

Teruslah berkarya.

Teruslah menulis.

Teruslah mengajar.

Teruslah berbagi.

Karena sesungguhnya yang paling penting bukanlah tepuk tangan manusia.

Yang paling penting adalah ridha Allah SWT.

Kelak mungkin manusia lupa pada nama kita.

Mungkin mereka tidak mengenang jasa kita.

Namun jika Allah menerima amal kita, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya.

Pagi semakin terang. Matahari mulai muncul dari balik awan. Omjay menutup catatan kecilnya sambil tersenyum.

Hatinya terasa tenang.

Sebab ia sadar bahwa hidup bukanlah perlombaan mencari pujian manusia.

Hidup adalah perjalanan panjang untuk mengumpulkan amal terbaik menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Mari kita terus menjaga keistiqamahan.

Tetap berbuat baik meski tidak dipuji.

Tetap menolong meski tidak disebut.

Tetap berkarya meski tidak selalu diapresiasi.

Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai hidup kita bukanlah banyaknya pujian manusia, melainkan seberapa besar ridha Allah kepada kita.

Ayo semangat berbuat baik hari ini.

Barakallah fiikum. 🌷

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Mengapa Tulisan Kita Tidak Pernah Selesai?

Mengapa Tulisan Kita Tidak Pernah Selesai dan Diposting di Blog?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

"Omjay, mengapa ya tulisan saya tidak pernah selesai dan akhirnya tidak jadi diposting di blog?"

Pertanyaan itu datang dari seorang kawan penulis saat kami berdiskusi santai seusai sebuah webinar literasi. Ia terlihat serius ketika mengajukan pertanyaan tersebut. Mungkin karena ia merasa sudah memiliki banyak ide, sudah sering membuka laptop, bahkan sudah berkali-kali membuat judul tulisan. Namun hingga hari itu, blognya masih sepi dari tulisan baru.

Omjay tersenyum.

Pertanyaan itu sebenarnya bukan hanya milik satu orang. Banyak guru, dosen, mahasiswa, bahkan penulis pemula mengalami hal yang sama. Mereka memiliki banyak ide, tetapi sedikit tulisan yang benar-benar selesai dan dipublikasikan.

Dulu Omjay juga pernah mengalami hal serupa.

Menunggu Waktu Luang yang Tidak Pernah Datang

Banyak orang berpikir bahwa menulis membutuhkan waktu yang panjang dan suasana yang sempurna.

Akibatnya mereka terus menunggu.

Menunggu hari libur.

Menunggu inspirasi datang.

Menunggu mood bagus.

Menunggu pekerjaan selesai.

Menunggu rumah sepi.

Menunggu anak-anak tidur.

Menunggu laptop baru.

Menunggu kopi hangat.

Sayangnya, waktu yang ditunggu itu sering kali tidak pernah datang.

Omjay belajar satu hal penting selama puluhan tahun menulis di blog.

Tulisan tidak selesai karena kita terlalu banyak menunggu.

Sementara penulis yang produktif tidak menunggu waktu luang. Mereka justru meluangkan waktu untuk menulis.

Lima belas menit sehari jauh lebih baik daripada menunggu dua jam yang tidak pernah ada.

Terlalu Ingin Sempurna

Penyebab kedua adalah penyakit yang sering menyerang para penulis.

Namanya adalah perfeksionisme.

Banyak orang ingin tulisan pertamanya langsung sempurna.

Judulnya harus menarik.

Kalimatnya harus indah.

Datanya harus lengkap.

Bahasanya harus mengalir.

Tidak boleh ada kesalahan.

Akibatnya tulisan terus diedit dan tidak pernah selesai.

Omjay sering mengingatkan peserta pelatihan menulis:

> "Tulisan yang selesai selalu lebih baik daripada tulisan sempurna yang tidak pernah diterbitkan."

Ketika Omjay mulai aktif menulis blog, banyak tulisan yang sebenarnya sederhana. Bahkan jika dibaca sekarang mungkin masih banyak kekurangannya.

Namun tulisan-tulisan itu sudah dipublikasikan.

Dari situlah kemampuan menulis berkembang.

Kalau menunggu sempurna, mungkin sampai hari ini Omjay masih sibuk memperbaiki paragraf pertama.

Terlalu Banyak Berpikir, Terlalu Sedikit Menulis

Ada juga yang senang mengumpulkan teori menulis.

Membaca buku menulis.

Mengikuti webinar menulis.

Menyimpan ratusan materi menulis.

Menonton video tentang menulis.

Namun jarang benar-benar menulis.

Mereka tahu cara membuat artikel.

Mereka tahu teknik SEO.

Mereka tahu struktur tulisan.

Tetapi pengetahuan itu hanya berhenti di kepala.

Tulisan tidak pernah lahir karena tangan tidak pernah bergerak.

Omjay selalu mengatakan kepada peserta KBMN PGRI:

Menulis bukan keterampilan yang dipelajari dengan membaca saja. Menulis adalah keterampilan yang harus dipraktikkan.

Sama seperti belajar berenang.

Membaca buku renang tidak akan membuat kita bisa berenang jika tidak pernah masuk ke air.

Takut Dikritik

Alasan berikutnya lebih dalam lagi.

Banyak orang takut tulisannya dibaca orang lain.

Takut dikritik.

Takut dianggap tidak pintar.

Takut salah.

Takut tidak ada yang membaca.

Takut tidak mendapatkan komentar.

Padahal semua penulis pernah mengalami fase itu.

Ketika pertama kali menulis blog, Omjay juga pernah merasa gugup.

Apakah tulisan ini bagus?

Apakah ada yang akan membacanya?

Apakah orang akan menyukai tulisan saya?

Namun kemudian Omjay menyadari sesuatu.

Kita tidak bisa mengendalikan penilaian orang lain.

Yang bisa kita kendalikan adalah keberanian untuk terus berkarya.

Tulisan yang tidak dipublikasikan tidak akan pernah memberi manfaat kepada siapa pun.

Terjebak di Folder Draft

Penyakit lain yang sering menyerang penulis adalah terlalu banyak menyimpan draft.

Judulnya sudah ada.

Paragraf pembuka sudah dibuat.

Foto sudah disiapkan.

Tetapi tulisan berhenti di tengah jalan.

Hari berganti minggu.

Minggu berganti bulan.

Bulan berganti tahun.

Draft itu tetap berada di dalam folder laptop.

Akhirnya ide yang tadinya terasa menarik menjadi basi.

Semangat menulis pun hilang.

Omjay pernah menemukan puluhan draft lama yang belum selesai. Sebagian akhirnya dilanjutkan dan dipublikasikan. Sebagian lagi terpaksa dihapus karena sudah tidak relevan.

Sejak saat itu Omjay membuat kebiasaan sederhana.

Kalau mulai menulis, usahakan selesai pada hari yang sama.

Tidak harus panjang.

Tidak harus sempurna.

Yang penting selesai.

Menulis Setiap Hari adalah Solusinya

Banyak orang bertanya apa rahasia Omjay bisa terus menulis.

Jawabannya sederhana.

Bukan karena Omjay lebih pintar.

Bukan karena Omjay memiliki banyak waktu.

Bukan karena Omjay selalu mendapat inspirasi.

Rahasianya adalah membangun kebiasaan.

Menulis sedikit demi sedikit setiap hari.

Kadang hanya 300 kata.

Kadang 500 kata.

Kadang lebih dari 1.000 kata.

Yang penting konsisten.

Lama-kelamaan menulis menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Seperti makan.

Seperti minum.

Seperti beribadah.

Ketika kebiasaan itu terbentuk, menulis tidak lagi terasa berat.

Blog Adalah Alat Rekam yang Ajaib

Omjay selalu mengatakan kepada para guru dan peserta pelatihan menulis:

"Tulisanmu adalah tabunganmu."

Ketika tulisan diposting di blog, ia tidak akan hilang begitu saja.

Ia akan tersimpan.

Dibaca orang lain.

Menginspirasi banyak orang.

Menjadi jejak pemikiran kita.

Menjadi warisan intelektual yang berharga.

Karena itulah Omjay sering menyampaikan kalimat yang sangat disukai para peserta pelatihan:

> "Tulisan saya adalah tabungan saya untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."

Blog bukan sekadar tempat menyimpan tulisan.

Blog adalah saksi perjalanan hidup.

Blog adalah museum kenangan.

Blog adalah rumah bagi ide-ide yang lahir dari pengalaman sehari-hari.

Mulailah Hari Ini

Sebelum kami berpisah, kawan yang bertanya tadi tersenyum.

Ia akhirnya memahami bahwa masalahnya bukan karena tidak punya ide.

Bukan pula karena tidak bisa menulis.

Masalahnya adalah terlalu banyak alasan yang membuat tulisan tertunda.

Omjay kemudian berkata kepadanya,

"Jangan pulang membawa ide. Pulanglah membawa satu tulisan yang selesai."

Karena sesungguhnya perbedaan antara penulis dan orang yang ingin menulis sangat sederhana.

Orang yang ingin menulis terus memikirkan tulisannya. Sedangkan penulis benar-benar menyelesaikannya dan mempublikasikannya.

Maka jika hari ini ada satu ide yang sedang berputar-putar di kepala Anda, jangan ditunda lagi.

Bukalah laptop atau ponsel Anda.

Tulislah paragraf pertama.

Lanjutkan hingga selesai.

Lalu tekan tombol "Publikasikan."

Sebab tulisan yang mengubah hidup orang lain bukanlah tulisan yang tersimpan rapi di folder draft, melainkan tulisan yang berani hadir dan menemukan pembacanya di dunia nyata.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

indahnya Tinggal di Kampung Bojong Desa Wanamekar Wanaraja Garut

Indahnya Tinggal di Kampung Bojong Desa Wanamekar Wanaraja Garut Jawa Barat

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu matahari baru saja menyapa bumi Garut dengan sinarnya yang hangat. Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota besar yang penuh dengan kebisingan kendaraan dan gedung-gedung tinggi. Omjay berdiri di depan rumah keluarga di Kampung Bojong, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Di hadapan Omjay terlihat sebuah papan informasi kegiatan pembangunan desa yang terpasang rapi. Papan itu menjadi bukti bahwa pembangunan terus berjalan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tertera informasi tentang kegiatan rabat beton dan normalisasi saluran air limbah yang didanai oleh Dana Desa. Bagi sebagian orang mungkin itu hanya papan proyek biasa, tetapi bagi Omjay papan itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Papan itu menjadi simbol bahwa desa terus bergerak maju.

Di balik setiap pembangunan jalan, saluran air, dan fasilitas umum lainnya, tersimpan harapan masyarakat agar kehidupan menjadi lebih baik.

Omjay tersenyum sambil memandangi suasana kampung yang begitu damai.

Burung-burung berkicau dari pepohonan. Angin pagi bertiup pelan membawa aroma tanah yang khas. Anak-anak mulai bermain di halaman rumah. Para ibu tampak menyapu halaman, sementara bapak-bapak bersiap berangkat ke sawah atau kebun.

Pemandangan sederhana itu menghadirkan kebahagiaan yang sulit ditemukan di tengah kehidupan kota yang serba cepat.

Kampung yang Menyimpan Banyak Kenangan

Bagi Omjay, Kampung Bojong bukan sekadar tempat singgah ketika mudik ke Garut. Kampung ini adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan keluarga.

Di sinilah Omjay sering berkumpul bersama saudara, kerabat, dan keluarga besar. Canda tawa yang tercipta saat makan bersama terasa begitu hangat.

Tidak ada kemewahan yang berlebihan.

Tidak ada pusat perbelanjaan megah.

Tidak ada gedung pencakar langit.

Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat hati merasa tenang.

Ketika berada di Kampung Bojong, Omjay merasakan waktu berjalan lebih lambat.

Tidak ada suara klakson yang saling bersahutan.

Tidak ada kemacetan panjang yang menguras emosi.

Yang ada hanyalah ketenangan dan kedamaian.

Di desa, manusia lebih dekat dengan alam.

Mereka mengenal tetangga satu per satu. Mereka saling membantu ketika ada kesulitan. Mereka bergotong royong ketika ada pekerjaan bersama.

Nilai-nilai kebersamaan masih terjaga dengan baik.

Desa yang Terus Berkembang

Saat melihat papan informasi pembangunan yang terpampang di depan bangunan desa, Omjay merasa bangga.

Pembangunan rabat beton dan normalisasi saluran air limbah merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan masyarakat.

Jalan yang baik akan memudahkan aktivitas warga.

Saluran air yang tertata akan menjaga kebersihan lingkungan.

Pembangunan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi kehidupan sehari-hari.

Omjay teringat pesan para pemimpin bangsa bahwa pembangunan Indonesia harus dimulai dari desa.

Desa yang maju akan melahirkan masyarakat yang sejahtera.

Desa yang tertata akan menciptakan kehidupan yang lebih nyaman.

Karena itu, setiap rupiah yang digunakan untuk pembangunan desa harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.

Melihat pembangunan di Desa Wanamekar, Omjay merasa optimis bahwa desa ini akan terus berkembang menjadi desa yang lebih maju dan mandiri.

Belajar dari Kehidupan Desa

Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan masyarakat desa.

Masyarakat desa mengajarkan arti kesederhanaan.

Mereka tidak berlomba-lomba menunjukkan kemewahan.

Mereka hidup sesuai kebutuhan.

Mereka bekerja keras setiap hari.

Mereka bersyukur atas apa yang dimiliki.

Ketika musim panen tiba, mereka bersyukur.

Ketika hasil panen tidak sesuai harapan, mereka tetap bersabar.

Kehidupan desa mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari banyaknya harta.

Kebahagiaan sering kali lahir dari rasa syukur.

Omjay menyadari bahwa masyarakat modern terkadang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa menikmati hidup.

Padahal kebahagiaan sering hadir dalam hal-hal sederhana.

Secangkir kopi hangat di pagi hari.

Obrolan santai bersama keluarga.

Udara segar tanpa polusi.

Dan kesempatan menikmati alam ciptaan Allah SWT.

Menulis di Tengah Kedamaian Desa

Sebagai seorang guru dan penulis, Omjay selalu menemukan inspirasi ketika berada di Kampung Bojong.

Suasana desa yang tenang membuat pikiran lebih jernih.

Ide-ide tulisan mengalir lebih lancar.

Banyak artikel yang lahir dari perenungan sederhana ketika menikmati suasana kampung.

Omjay sering membawa laptop atau telepon genggam untuk mencatat ide yang muncul.

Setiap sudut desa seolah memiliki cerita.

Ada cerita tentang perjuangan petani.

Ada cerita tentang gotong royong warga.

Ada cerita tentang anak-anak yang bercita-cita tinggi.

Semua itu menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan:

"Tulisanku adalah tabunganku. Tulisan-tulisan itu suatu saat akan menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."

Blog menjadi tempat Omjay menyimpan kenangan, pengalaman, dan pelajaran hidup yang diperoleh dari berbagai perjalanan.

Termasuk perjalanan sederhana ke Kampung Bojong, Desa Wanamekar.

Bersyukur Memiliki Kampung Halaman

Tidak semua orang masih memiliki kesempatan menikmati suasana kampung yang asri.

Banyak orang lahir dan tumbuh di tengah hiruk-pikuk perkotaan.

Karena itu, Omjay merasa sangat bersyukur masih bisa menikmati udara segar Garut yang menenangkan hati.

Ketika berdiri memandang jalan kampung yang mulai tertata rapi, Omjay berdoa dalam hati.

Semoga Desa Wanamekar semakin maju.

Semoga masyarakatnya semakin sejahtera.

Semoga semangat gotong royong tetap terjaga.

Semoga generasi mudanya tumbuh menjadi generasi yang berpendidikan dan berakhlak mulia.

Kampung Bojong mungkin hanya sebuah kampung kecil di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Namun bagi Omjay, kampung ini adalah tempat yang selalu mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan dunia, melainkan pada hati yang penuh syukur, keluarga yang saling menyayangi, dan lingkungan yang membuat jiwa merasa damai.

Ketika sore mulai tiba dan matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Garut, Omjay kembali memandang sekeliling.

Hamparan langit terlihat begitu indah.

Angin berhembus lembut.

Suara anak-anak masih terdengar bermain di kejauhan.

Saat itulah Omjay kembali menyadari satu hal penting:

Kadang-kadang, untuk menemukan ketenangan hidup, kita tidak perlu pergi jauh. Cukup pulang ke kampung, menyapa alam, berkumpul bersama keluarga, dan mensyukuri nikmat Allah yang begitu melimpah.

Dan Kampung Bojong, Desa Wanamekar, Wanaraja, Garut, selalu menjadi tempat yang mengingatkan Omjay akan makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

Menulis yang Baik dan Menghasilkan Uang

Kisah Omjay: Kiat Menulis yang Baik dan Menghasilkan Uang

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

"Tulisan yang baik akan menemukan pembacanya sendiri."

Kalimat sederhana itu selalu terngiang di telinga Omjay setiap kali membuka laptop dan mulai menulis. Banyak orang bertanya kepada Omjay, “Bagaimana caranya menulis yang baik dan bisa menghasilkan uang?”

Pertanyaan itu terlihat sederhana, tetapi jawabannya tidak sesederhana yang dibayangkan. Sebab menulis bukan hanya soal merangkai kata. Menulis adalah perjalanan jiwa. Menulis adalah proses berbagi pengalaman, ilmu, dan hikmah kehidupan kepada orang lain.

Lebih dari itu, menulis adalah investasi jangka panjang yang hasilnya sering datang tanpa diduga.

Menulis Berawal dari Hati

Omjay tidak pernah bercita-cita menjadi penulis terkenal. Ketika pertama kali mengenal blog pada tahun 2008, Omjay hanya ingin berbagi pengalaman sebagai guru.

Tulisan pertama yang dibuat pun sangat sederhana. Tidak ada teknik SEO. Tidak ada strategi pemasaran. Tidak ada target pembaca.

Yang ada hanyalah keinginan untuk berbagi.

Ternyata justru dari kejujuran itulah tulisan Omjay mulai dikenal banyak orang.

Omjay belajar bahwa tulisan yang lahir dari hati akan lebih mudah menyentuh hati pembaca.

Ketika kita menulis dengan jujur, pembaca akan merasakan ketulusan yang ada di balik setiap kata.

Karena itu, kiat pertama untuk menulis yang baik adalah:

Menulislah dengan hati.

Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah tulisan akan viral atau tidak. Fokuslah pada manfaat yang bisa diberikan kepada pembaca.

Biasakan Menulis Setiap Hari

Salah satu rahasia terbesar seorang penulis adalah konsistensi.

Banyak orang ingin menjadi penulis, tetapi sedikit yang mau menulis setiap hari.

Omjay selalu mengingat pesan sederhana:

"Jangan menunggu mood datang. Menulislah, maka mood akan mengikuti."

Awalnya memang tidak mudah.

Kadang ide tidak muncul.

Kadang tubuh lelah.

Kadang pekerjaan sekolah menumpuk.

Namun Omjay tetap berusaha menulis setiap hari walaupun hanya beberapa paragraf.

Sedikit demi sedikit tulisan terkumpul.

Tulisan yang awalnya hanya satu halaman berkembang menjadi artikel.

Artikel berkembang menjadi buku.

Buku berkembang menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang.

Karena itu, jika ingin menjadi penulis yang baik, biasakan menulis setiap hari.

Tidak harus panjang.

Yang penting konsisten.

Tulislah Hal yang Dekat dengan Kehidupan

Kesalahan banyak penulis pemula adalah mencoba terlihat hebat.

Mereka menulis sesuatu yang jauh dari pengalaman mereka sendiri.

Padahal sumber tulisan terbaik justru berasal dari kehidupan sehari-hari.

Omjay sering menulis tentang:

Pengalaman mengajar di SMP Labschool Jakarta.

Kisah keluarga.

Perjalanan ke berbagai daerah.

Pengalaman sakit dan bangkit kembali.

Pengalaman belajar di Jepang dan China.

Pengalaman menjadi guru selama lebih dari 30 tahun.

Ternyata tulisan sederhana seperti itulah yang paling banyak dibaca.

Mengapa?

Karena pembaca merasa dekat dengan cerita tersebut.

Mereka menemukan diri mereka di dalam tulisan kita.

Mereka merasa tidak sendirian menghadapi kehidupan.

Bangun Blog dan Media Sosial

Di era digital saat ini, menulis saja tidak cukup.

Tulisan harus memiliki rumah.

Bagi Omjay, rumah tulisan itu adalah blog.

Blog menjadi alat rekam yang ajaib.

Semua tulisan tersimpan dengan rapi dan dapat dibaca kapan saja oleh siapa saja.

Omjay sering mengatakan:

"Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."

Dari blog itulah banyak peluang datang.

Undangan webinar.

Undangan menjadi narasumber.

Kesempatan menulis buku.

Kerja sama pendidikan.

Bahkan persahabatan dengan banyak orang dari seluruh Indonesia.

Karena itu, jika ingin serius menulis, mulailah membuat blog pribadi.

Jadikan blog sebagai portofolio karya terbaik Anda.

Jangan Menyerah Saat Tidak Dibaca

Setiap penulis pasti pernah mengalami masa sepi pembaca.

Omjay pun mengalaminya.

Ada tulisan yang hanya dibaca beberapa orang.

Ada artikel yang hampir tidak mendapatkan komentar.

Namun Omjay tetap menulis.

Mengapa?

Karena tujuan utama menulis bukan mencari pujian.

Tujuan utama menulis adalah berbagi manfaat.

Jika hari ini tulisan kita hanya dibaca satu orang, bisa jadi suatu hari nanti tulisan itu menyelamatkan kehidupan seseorang.

Tulisan memiliki umur yang panjang.

Bahkan kadang jauh lebih panjang daripada usia penulisnya.

Belajar Membuat Judul yang Menarik

Judul adalah pintu masuk pembaca.

Tulisan yang bagus bisa tidak dibaca jika judulnya kurang menarik.

Omjay belajar membuat judul yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca.

Misalnya:

Guru: Dibutuhkan Tapi Sering Dilupakan

Menulislah dengan Hati, Bukan dengan ChatGPT

Ketika Waktu Menjadi Guru Kehidupan

Tulisanmu Adalah Konten Mahal

Judul seperti itu membuat pembaca berhenti sejenak dan ingin mengetahui isi tulisannya.

Karena itu, luangkan waktu untuk membuat judul yang kuat.

Bagaimana Menulis Bisa Menghasilkan Uang?

Ini pertanyaan yang paling sering ditanyakan.

Jawabannya sederhana:

Jangan fokus pada uang terlebih dahulu. Fokuslah pada kualitas dan manfaat tulisan.

Ketika tulisan bermanfaat, peluang akan datang dengan sendirinya.

Omjay merasakan sendiri bagaimana menulis membuka banyak pintu rezeki.

Di antaranya:

Honor artikel.

Penjualan buku.

Menjadi narasumber webinar.

Pelatihan menulis.

Monetisasi blog.

Kerja sama pendidikan.

Pembuatan konten digital.

Penguatan personal branding.

Banyak orang mengira uang datang dari tulisan secara langsung.

Padahal sering kali uang datang dari kepercayaan yang lahir karena tulisan kita.

Tulisan membangun reputasi.

Reputasi membangun kepercayaan.

Kepercayaan menghadirkan peluang.

Dan peluang menghadirkan rezeki.

Mulailah Hari Ini

Jika Anda sedang membaca artikel ini dan masih ragu untuk menulis, izinkan Omjay menyampaikan satu pesan sederhana.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu punya laptop mahal.

Jangan menunggu menjadi ahli.

Mulailah dari apa yang Anda miliki hari ini.

Tulislah pengalaman hidup Anda.

Tulislah ilmu yang Anda miliki.

Tulislah kebaikan yang ingin Anda sebarkan.

Karena bisa jadi, tulisan sederhana yang Anda buat hari ini akan menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain di masa depan.

Dan ketika tulisan itu memberi manfaat kepada banyak orang, rezeki akan menemukan jalannya sendiri.

Sebab pada akhirnya, menulis bukan hanya tentang menghasilkan uang.

Menulis adalah tentang meninggalkan jejak kebaikan yang tetap hidup meskipun suatu hari nanti kita sudah tiada.

Menulislah dengan hati. Menulislah setiap hari. Bagikan manfaatmu kepada dunia. Karena tulisan yang baik akan selalu menemukan pembacanya sendiri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Resume kbmn pgri dalam Menerbitkan Buku

Kisah Omjay: Kupas Tuntas Menerbitkan Buku Bersama Cak Inin di KBMN PGRI Gelombang 34

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Malam Jumat, 29 Mei 2026, menjadi malam yang sangat berkesan bagi para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34. Tepat pukul 19.00 WIB, ruang belajar virtual kembali dipenuhi semangat para guru, dosen, kepala sekolah, dan pegiat literasi dari berbagai daerah di Indonesia.

Pertemuan ke-17 malam itu terasa istimewa karena menghadirkan seorang narasumber yang sudah sangat dikenal di kalangan penulis Indonesia, yaitu Cak Inin Nastain, seorang penulis, editor, sekaligus founder penerbit buku yang telah membantu banyak penulis mewujudkan impiannya menerbitkan karya.

Tema yang diangkat malam itu adalah "Kupas Tuntas Menerbitkan Buku Bersama Cak Inin".

Sebagai seorang yang telah menulis puluhan buku dan ribuan artikel di blog, Omjay merasa materi malam itu sangat penting. Sebab, banyak orang mampu menulis, tetapi tidak semua tahu bagaimana mengubah tulisan menjadi buku yang layak dibaca masyarakat luas.

Menulis Itu Mudah, Menerbitkan Buku Butuh Ilmu

Di awal pemaparannya, Cak Inin menyampaikan bahwa menulis dan menerbitkan buku adalah dua hal yang berbeda.

Banyak orang memiliki naskah yang bagus. Banyak guru memiliki pengalaman luar biasa. Banyak mahasiswa mempunyai hasil penelitian yang sangat baik. Namun sayangnya, naskah tersebut sering hanya tersimpan di laptop dan tidak pernah sampai ke tangan pembaca.

Menurut Cak Inin, sebuah tulisan baru benar-benar hidup ketika sudah dibaca oleh orang lain.

Kalimat tersebut membuat Omjay teringat pada pengalaman pribadinya.

Dulu, Omjay juga hanya menyimpan tulisan di komputer pribadi. Namun setelah mengenal dunia blogging dan penerbitan buku, Omjay menyadari bahwa tulisan memiliki kekuatan luar biasa ketika dipublikasikan.

Tulisan dapat melintasi ruang dan waktu.

Tulisan dapat menginspirasi orang yang bahkan belum pernah kita temui.

Tulisan dapat membuat seseorang tetap hidup dalam ingatan meskipun raganya telah tiada.

Mengapa Banyak Orang Gagal Menerbitkan Buku?

Cak Inin menjelaskan beberapa penyebab utama mengapa banyak calon penulis gagal menerbitkan buku.

Pertama, mereka menunggu naskah sempurna.

Padahal tidak ada naskah yang benar-benar sempurna.

Kedua, mereka takut ditolak penerbit.

Ketiga, mereka tidak memahami proses penerbitan.

Keempat, mereka tidak konsisten menulis.

Kelima, mereka berhenti di tengah jalan karena merasa tulisannya tidak bagus.

Mendengar penjelasan tersebut, Omjay tersenyum.

Betapa banyak peserta KBMN yang awalnya merasa tidak mampu menulis, tetapi akhirnya berhasil menerbitkan buku setelah mengikuti kelas menulis secara rutin.

Kuncinya ternyata sederhana:

Menulis terus-menerus.

Mengenal Jalur Penerbitan Buku

Salah satu materi yang paling menarik malam itu adalah pembahasan mengenai berbagai jalur penerbitan buku.

Cak Inin menjelaskan bahwa saat ini ada beberapa pilihan yang bisa ditempuh penulis.

1. Penerbit Mayor

Penerbit mayor biasanya memiliki seleksi yang ketat.

Kelebihannya:

Distribusi luas.

Editing profesional.

Kredibilitas tinggi.

Peluang masuk toko buku nasional.

Kekurangannya:

Proses seleksi lama.

Tidak semua naskah diterima.

2. Penerbit Indie

Penerbit indie memberikan kesempatan lebih besar kepada penulis.

Kelebihannya:

Proses cepat.

Penulis memiliki kontrol lebih besar.

Cocok untuk penulis pemula.

Kekurangannya:

Biaya penerbitan biasanya ditanggung penulis.

Distribusi terbatas jika tidak dipromosikan dengan baik.

3. Self Publishing

Pada model ini, penulis menjadi penerbit bagi dirinya sendiri.

Semua proses mulai dari editing, layout, desain cover hingga pemasaran dilakukan secara mandiri.

Model ini semakin populer di era digital saat ini.

Pentingnya Editing dan Layout

Cak Inin menegaskan bahwa naskah yang baik belum tentu menjadi buku yang baik.

Mengapa?

Karena buku membutuhkan proses penyuntingan.

Editing berfungsi memperbaiki:

Tata bahasa.

Ejaan.

Alur tulisan.

Konsistensi isi.

Kualitas penyampaian pesan.

Selain editing, layout juga memegang peranan penting.

Tata letak yang rapi membuat pembaca nyaman membaca buku.

Omjay sangat setuju dengan hal tersebut.

Berkali-kali Omjay menemukan buku dengan isi bagus tetapi tampilannya kurang menarik sehingga pembaca cepat bosan.

Cover Buku Menentukan Kesan Pertama

Salah satu bagian yang membuat peserta sangat antusias adalah pembahasan tentang desain cover.

Menurut Cak Inin, cover adalah "wajah" sebuah buku.

Sebelum membaca isi buku, calon pembaca akan melihat cover terlebih dahulu.

Karena itu desain cover harus:

Menarik.

Relevan dengan isi.

Mudah diingat.

Mampu membangun rasa penasaran.

Omjay langsung teringat dengan proses penyusunan cover buku terbarunya yang berjudul:

"Menulislah dengan Hati: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi."

Berulang kali desain cover direvisi hingga akhirnya menghasilkan tampilan yang benar-benar mewakili isi buku.

Buku Tidak Akan Laku Jika Tidak Dipromosikan

Materi berikutnya membahas pemasaran buku.

Menurut Cak Inin, kesalahan terbesar penulis adalah mengira buku akan laku dengan sendirinya.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Penulis juga harus menjadi pemasar.

Saat ini promosi dapat dilakukan melalui:

Blog pribadi.

Facebook.

Instagram.

TikTok.

YouTube.

WhatsApp.

Webinar.

Komunitas literasi.

Omjay tersenyum lagi.

Pengalaman menunjukkan bahwa blog menjadi sarana promosi yang sangat efektif.

Melalui blog, Omjay dapat memperkenalkan buku kepada ribuan pembaca setiap hari.

Inilah alasan mengapa Omjay selalu menyampaikan pesan:

"Tulisan yang dipublikasikan akan menemukan pembacanya."

KBMN Melahirkan Banyak Penulis Buku

Salah satu hal yang paling membanggakan adalah kenyataan bahwa KBMN telah melahirkan ratusan bahkan ribuan penulis baru.

Malam itu terlihat dari berbagai resume yang ditulis peserta seperti:

Imas Masitoh

Hayatunnufus

Tuti Umyati

Tini Suhartini

Emmi Suhaimi

Annisa

Masing-masing menuliskan pemahaman dan refleksi mereka dari materi yang disampaikan.

Hal ini menunjukkan bahwa semangat literasi di Indonesia terus tumbuh.

Banyak guru kini tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga menulis dan menerbitkan buku.

Menulis Adalah Investasi Peradaban

Menjelang akhir sesi, Omjay kembali merenung.

Betapa beruntungnya para peserta KBMN yang mendapatkan ilmu langsung dari para praktisi penerbitan.

Ilmu tersebut bukan sekadar teori.

Melainkan pengalaman nyata yang dapat langsung dipraktikkan.

Malam itu Omjay semakin yakin bahwa menulis adalah investasi peradaban.

Guru yang menulis akan meninggalkan jejak.

Penulis yang menerbitkan buku akan mewariskan pemikiran.

Dan orang yang terus berbagi ilmu melalui tulisan akan tetap hidup dalam karya-karyanya.

Sebagaimana pesan yang selalu Omjay sampaikan kepada para peserta KBMN:

> "Tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati."

Karena itu, jangan hanya berhenti menulis.

Jangan hanya menyimpan naskah di laptop.

Jangan biarkan ide-ide hebat mengendap menjadi file yang terlupakan.

Terbitkanlah menjadi buku.

Bagikan kepada dunia.

Sebab boleh jadi, satu buku yang Anda tulis hari ini akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang di masa depan.

Dan malam bersama Cak Inin di KBMN PGRI Gelombang 34 telah mengajarkan kepada kita satu hal yang sangat penting:

Menulis adalah awal perjalanan, tetapi menerbitkan buku adalah cara agar gagasan kita hidup lebih lama daripada usia kita sendiri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Resensi Buku Menulislah Dengan Hati

Kisah Omjay: Hangatnya Kumpul Keluarga di Bandung Bersama Cucu Kakek Jay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain berkumpul bersama keluarga. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau perjalanan yang jauh tidak akan mampu menggantikan hangatnya kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

Malam itu, suasana rumah di Bandung terasa begitu hangat. Setelah melewati berbagai aktivitas dan perjalanan yang cukup melelahkan, Omjay akhirnya dapat menikmati momen sederhana namun sangat berharga bersama keluarga besar. Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tampak anggota keluarga duduk santai menikmati kebersamaan.

Ada yang sibuk memainkan telepon genggam, ada yang berbincang ringan, ada pula yang hanya duduk sambil tersenyum menikmati suasana. Di tengah-tengah mereka, cucu kecil Kakek Jay menjadi pusat perhatian. Tingkah lucunya membuat suasana rumah semakin hidup.

Omjay memandangi mereka satu per satu.

Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak selalu mudah didapatkan. Kesibukan pekerjaan, sekolah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya sering kali membuat anggota keluarga berada di tempat yang berbeda-beda.

Karena itulah, setiap momen kebersamaan selalu terasa istimewa.

Malam itu Omjay teringat pesan almarhum ayahnya.

"Jangan pernah lupa pulang. Karena sejauh apa pun kita pergi, keluarga adalah tempat kita kembali."

Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam hati.

Anak-anak yang dahulu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menempuh pendidikan, ada yang bekerja, dan ada pula yang mulai merencanakan masa depannya.

Waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin Omjay mengantar mereka ke sekolah. Baru kemarin mengajarkan mereka membaca dan menulis. Baru kemarin menggendong mereka ketika menangis.

Kini mereka sudah mampu berjalan sendiri.

Sementara itu, Omjay dan istri mulai memasuki fase kehidupan yang berbeda. Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Langkah yang dahulu begitu cepat kini mulai melambat.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Kasih sayang keluarga.

Malam semakin larut. Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Cucu Kakek Jay berlarian ke sana kemari dengan penuh semangat. Tingkahnya yang polos membuat semua orang tersenyum.

Anak kecil memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghadirkan kebahagiaan.

Mereka tidak memikirkan jabatan.

Mereka tidak memikirkan harta.

Mereka tidak memikirkan masalah kehidupan.

Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan menikmati hidup.

Melihat cucu bermain, Omjay kembali belajar tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ternyata kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.

Kebahagiaan bisa hadir dari senyum seorang cucu.

Dari obrolan ringan di ruang keluarga.

Dari secangkir teh hangat yang dinikmati bersama.

Dari tawa sederhana yang muncul tanpa dibuat-buat.

Di tengah percakapan keluarga malam itu, Omjay menyadari bahwa usia manusia terus bertambah. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Hari ini kita masih dapat berkumpul.

Besok belum tentu.

Karena itulah setiap pertemuan harus disyukuri.

Setiap pelukan harus dihargai.

Setiap kebersamaan harus dinikmati.

Banyak orang baru menyadari pentingnya keluarga ketika kehilangan kesempatan untuk bersama.

Padahal keluarga adalah anugerah terbesar yang Allah titipkan kepada kita.

Omjay teringat berbagai perjalanan hidup yang telah dilalui selama ini. Dari perjuangan menyelesaikan pendidikan doktor selama delapan tahun, perjalanan ke Jepang dan China untuk belajar, hingga aktivitas mengajar dan berbagi ilmu di berbagai daerah Indonesia.

Semua pencapaian itu tentu membanggakan.

Namun ketika kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga, Omjay menyadari bahwa keluarga tetap menjadi sumber kekuatan utama.

Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir saat kita jatuh.

Mereka adalah orang-orang yang selalu mendoakan ketika kita menghadapi kesulitan.

Mereka adalah orang-orang yang tetap menerima kita apa adanya.

Malam itu tidak ada acara mewah.

Tidak ada restoran mahal.

Tidak ada pesta besar.

Hanya duduk bersama di ruang keluarga.

Namun justru di situlah letak keindahannya.

Kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam kesederhanaan.

Ketika semua orang mulai lelah dan satu per satu bersiap beristirahat, Omjay masih duduk sejenak menikmati suasana.

Beliau memandang wajah-wajah yang dicintainya.

Hati terasa penuh syukur.

Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Kesehatan.

Keluarga.

Anak-anak yang tumbuh dengan baik.

Cucu yang membawa keceriaan.

Sahabat dan kerabat yang selalu mendukung.

Semua itu adalah karunia yang tidak ternilai harganya.

Dalam hati Omjay berdoa.

"Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam kebaikan. Berikan kesehatan kepada keluarga kami. Jadikan anak cucu kami generasi yang saleh dan salehah. Satukan hati kami dalam kasih sayang dan keberkahan-Mu."

Malam di Bandung pun semakin sunyi.

Namun kehangatan keluarga tetap terasa.

Momen sederhana itu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah dunia. Tidak akan masuk berita televisi. Tidak akan menjadi perbincangan banyak orang.

Tetapi bagi Omjay, momen itu adalah harta yang sangat berharga.

Karena pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang dari seberapa banyak harta yang dimiliki.

Bukan pula dari seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih.

Melainkan dari seberapa besar cinta yang ia tanamkan kepada keluarganya.

Dan malam itu, di sebuah rumah sederhana di Bandung, Omjay kembali belajar bahwa keluarga adalah sekolah kehidupan terbaik. Dari keluarga kita belajar mencintai. Dari keluarga kita belajar berbagi. Dan dari keluarga pula kita belajar arti pulang yang sesungguhnya.

Pesan Omjay:

"Jangan menunggu hari raya untuk berkumpul. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Selagi masih ada waktu, duduklah bersama keluarga, dengarkan cerita mereka, peluk mereka, dan abadikan kenangan indah itu dalam hati. Karena suatu hari nanti, kenangan itulah yang akan menjadi harta paling berharga dalam hidup kita." ❤️🙏🏻

Jumat, 29 Mei 2026

Kebahagiaan Keluarga Omjay

Kisah Omjay: Hangatnya Kumpul Keluarga di Bandung Bersama Cucu Kakek Jay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain berkumpul bersama keluarga. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau perjalanan yang jauh tidak akan mampu menggantikan hangatnya kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.

Malam itu, suasana rumah di Bandung terasa begitu hangat. Setelah melewati berbagai aktivitas dan perjalanan yang cukup melelahkan, Omjay akhirnya dapat menikmati momen sederhana namun sangat berharga bersama keluarga besar. Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tampak anggota keluarga duduk santai menikmati kebersamaan.

Ada yang sibuk memainkan telepon genggam, ada yang berbincang ringan, ada pula yang hanya duduk sambil tersenyum menikmati suasana. Di tengah-tengah mereka, cucu kecil Kakek Jay menjadi pusat perhatian. Tingkah lucunya membuat suasana rumah semakin hidup.

Omjay memandangi mereka satu per satu.

Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak selalu mudah didapatkan. Kesibukan pekerjaan, sekolah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya sering kali membuat anggota keluarga berada di tempat yang berbeda-beda.

Karena itulah, setiap momen kebersamaan selalu terasa istimewa.

Malam itu Omjay teringat pesan almarhum ayahnya.

"Jangan pernah lupa pulang. Karena sejauh apa pun kita pergi, keluarga adalah tempat kita kembali."

Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam hati.

Anak-anak yang dahulu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menempuh pendidikan, ada yang bekerja, dan ada pula yang mulai merencanakan masa depannya.

Waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin Omjay mengantar mereka ke sekolah. Baru kemarin mengajarkan mereka membaca dan menulis. Baru kemarin menggendong mereka ketika menangis.

Kini mereka sudah mampu berjalan sendiri.

Sementara itu, Omjay dan istri mulai memasuki fase kehidupan yang berbeda. Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Langkah yang dahulu begitu cepat kini mulai melambat.

Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.

Kasih sayang keluarga.

Malam semakin larut. Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Cucu Kakek Jay berlarian ke sana kemari dengan penuh semangat. Tingkahnya yang polos membuat semua orang tersenyum.

Anak kecil memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghadirkan kebahagiaan.

Mereka tidak memikirkan jabatan.

Mereka tidak memikirkan harta.

Mereka tidak memikirkan masalah kehidupan.

Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan menikmati hidup.

Melihat cucu bermain, Omjay kembali belajar tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

Ternyata kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.

Kebahagiaan bisa hadir dari senyum seorang cucu.

Dari obrolan ringan di ruang keluarga.

Dari secangkir teh hangat yang dinikmati bersama.

Dari tawa sederhana yang muncul tanpa dibuat-buat.

Di tengah percakapan keluarga malam itu, Omjay menyadari bahwa usia manusia terus bertambah. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.

Hari ini kita masih dapat berkumpul.

Besok belum tentu.

Karena itulah setiap pertemuan harus disyukuri.

Setiap pelukan harus dihargai.

Setiap kebersamaan harus dinikmati.

Banyak orang baru menyadari pentingnya keluarga ketika kehilangan kesempatan untuk bersama.

Padahal keluarga adalah anugerah terbesar yang Allah titipkan kepada kita.

Omjay teringat berbagai perjalanan hidup yang telah dilalui selama ini. Dari perjuangan menyelesaikan pendidikan doktor selama delapan tahun, perjalanan ke Jepang dan China untuk belajar, hingga aktivitas mengajar dan berbagi ilmu di berbagai daerah Indonesia.

Semua pencapaian itu tentu membanggakan.

Namun ketika kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga, Omjay menyadari bahwa keluarga tetap menjadi sumber kekuatan utama.

Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir saat kita jatuh.

Mereka adalah orang-orang yang selalu mendoakan ketika kita menghadapi kesulitan.

Mereka adalah orang-orang yang tetap menerima kita apa adanya.

Malam itu tidak ada acara mewah.

Tidak ada restoran mahal.

Tidak ada pesta besar.

Hanya duduk bersama di ruang keluarga.

Namun justru di situlah letak keindahannya.

Kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam kesederhanaan.

Ketika semua orang mulai lelah dan satu per satu bersiap beristirahat, Omjay masih duduk sejenak menikmati suasana.

Beliau memandang wajah-wajah yang dicintainya.

Hati terasa penuh syukur.

Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.

Kesehatan.

Keluarga.

Anak-anak yang tumbuh dengan baik.

Cucu yang membawa keceriaan.

Sahabat dan kerabat yang selalu mendukung.

Semua itu adalah karunia yang tidak ternilai harganya.

Dalam hati Omjay berdoa.

"Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam kebaikan. Berikan kesehatan kepada keluarga kami. Jadikan anak cucu kami generasi yang saleh dan salehah. Satukan hati kami dalam kasih sayang dan keberkahan-Mu."

Malam di Bandung pun semakin sunyi.

Namun kehangatan keluarga tetap terasa.

Momen sederhana itu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah dunia. Tidak akan masuk berita televisi. Tidak akan menjadi perbincangan banyak orang.

Tetapi bagi Omjay, momen itu adalah harta yang sangat berharga.

Karena pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang dari seberapa banyak harta yang dimiliki.

Bukan pula dari seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih.

Melainkan dari seberapa besar cinta yang ia tanamkan kepada keluarganya.

Dan malam itu, di sebuah rumah sederhana di Bandung, Omjay kembali belajar bahwa keluarga adalah sekolah kehidupan terbaik. Dari keluarga kita belajar mencintai. Dari keluarga kita belajar berbagi. Dan dari keluarga pula kita belajar arti pulang yang sesungguhnya.

Pesan Omjay:

"Jangan menunggu hari raya untuk berkumpul. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Selagi masih ada waktu, duduklah bersama keluarga, dengarkan cerita mereka, peluk mereka, dan abadikan kenangan indah itu dalam hati. Karena suatu hari nanti, kenangan itulah yang akan menjadi harta paling berharga dalam hidup kita." ❤️🙏🏻

Sholat Jumat di Masjid jami Al Islam Bandung

Kisah Omjay: Sholat Jumat di Masjid Jami Al Islam Bandung

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Hari Jumat selalu memiliki tempat istimewa di hati Omjay. Ada ketenangan yang berbeda ketika adzan Jumat berkumandang. Kesibukan dunia seolah berhenti sejenak. Aktivitas pekerjaan, urusan keluarga, bahkan berbagai target yang ingin dicapai, semuanya ditinggalkan untuk memenuhi panggilan Allah SWT.

Jumat, 29 Mei 2026, Omjay berkesempatan menunaikan Sholat Jumat di Masjid Jami Al Islam Bandung. Sebuah masjid yang sederhana, tetapi menghadirkan suasana yang menenangkan jiwa. Saat melangkahkan kaki memasuki masjid, hati Omjay langsung terasa damai. Lantai kayu yang bersih, jamaah yang mulai berdatangan, dan lantunan ayat suci Al-Qur'an yang terdengar pelan membuat suasana semakin khusyuk.

Dalam foto yang diabadikan hari itu, tampak para jamaah duduk rapi menghadap mimbar. Ada yang mengenakan baju koko putih, ada yang memakai peci hitam, ada pula yang datang dengan pakaian kerja sederhana. Semua duduk sejajar tanpa memandang status sosial, jabatan, atau kekayaan. Di hadapan Allah SWT, semua manusia sama. Yang membedakan hanyalah ketakwaannya.

Omjay duduk di bagian belakang sambil memperhatikan suasana masjid. Di mimbar terlihat seorang khatib muda sedang menyampaikan khutbah Jumat. Suaranya tegas namun lembut. Setiap kalimat yang diucapkannya mengandung pesan yang begitu dalam.

Khutbah hari itu mengingatkan jamaah tentang pentingnya memanfaatkan waktu untuk beribadah dan berbuat kebaikan. Sang khatib menyampaikan bahwa kehidupan manusia di dunia sangat singkat. Banyak orang sibuk mengejar harta, jabatan, dan popularitas, tetapi lupa menyiapkan bekal untuk kehidupan yang kekal di akhirat.

Kalimat itu begitu menancap dalam hati Omjay.

Tiba-tiba Omjay teringat perjalanan hidup yang telah dilalui. Sejak menjadi guru pada tahun 1993 hingga sekarang, begitu banyak pengalaman yang telah Allah berikan. Ada masa sulit, ada masa bahagia, ada pula masa penuh perjuangan.

Omjay teringat ketika harus menyelesaikan studi doktoral selama delapan tahun. Teringat saat belajar di Jepang pada tahun 2016 dan di China pada tahun 2019. Teringat pula ketika harus membagi waktu antara mengajar, menulis, keluarga, dan organisasi.

Semua perjalanan itu terasa begitu cepat berlalu.

Seolah baru kemarin Omjay menjadi guru muda yang penuh semangat. Kini rambut mulai memutih dan usia terus bertambah. Waktu ternyata berjalan jauh lebih cepat daripada yang kita bayangkan.

Di tengah khutbah, Omjay merenungkan satu hal penting.

Apa yang akan dibawa ketika meninggalkan dunia ini?

Rumah yang megah akan ditinggalkan.

Mobil yang mahal akan ditinggalkan.

Jabatan yang tinggi akan berakhir.

Tabungan dan investasi tidak akan ikut masuk ke liang lahat.

Yang akan menemani hanyalah amal ibadah dan kebaikan yang pernah dilakukan selama hidup.

Karena itulah Omjay selalu berusaha menulis setiap hari.

Bagi Omjay, tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Tulisan adalah jejak kehidupan. Tulisan adalah amal jariyah yang diharapkan terus memberikan manfaat kepada orang lain.

Omjay sering mengatakan:

"Tulisanku adalah tabunganku."

Tabungan itu bukan disimpan di bank. Bukan pula berupa emas atau deposito. Tabungan itu tersimpan dalam bentuk artikel, buku, blog, dan berbagai karya tulis yang dapat dibaca banyak orang.

Setiap kali seseorang mendapatkan manfaat dari tulisan tersebut, Omjay berharap akan mengalir pahala yang terus menerus.

Khutbah Jumat hari itu juga mengingatkan jamaah agar tidak menunda-nunda kebaikan.

Banyak orang berkata:

"Nanti kalau sudah pensiun saya akan rajin ibadah."

"Nanti kalau sudah kaya saya akan banyak bersedekah."

"Nanti kalau sudah punya waktu saya akan menulis buku."

Padahal tidak ada seorang pun yang tahu sampai kapan usianya.

Kematian tidak pernah menunggu seseorang selesai dengan urusan dunianya.

Maka yang terbaik adalah memulai kebaikan hari ini.

Saat melihat jamaah yang duduk khusyuk mendengarkan khutbah, Omjay merasa sangat bersyukur. Masih diberikan kesempatan untuk datang ke rumah Allah. Masih diberikan kesehatan untuk berjalan menuju masjid. Masih diberikan waktu untuk memperbaiki diri.

Betapa banyak orang yang ingin datang ke masjid tetapi terhalang sakit.

Betapa banyak orang yang ingin beribadah tetapi waktunya telah habis.

Karena itu setiap kesempatan beribadah adalah nikmat yang luar biasa.

Setelah khutbah selesai, iqamah pun dikumandangkan. Seluruh jamaah berdiri merapatkan shaf. Bahu bertemu bahu. Kaki sejajar dengan kaki.

Tidak ada perbedaan antara orang kaya dan miskin.

Tidak ada perbedaan antara pejabat dan rakyat biasa.

Semua berdiri sebagai hamba Allah yang berharap rahmat dan ampunan-Nya.

Ketika imam mengucapkan takbiratul ihram, suasana masjid menjadi sangat tenang. Hanya terdengar bacaan Al-Qur'an yang meresap ke dalam hati.

Dalam sujudnya, Omjay memanjatkan doa sederhana.

Semoga Allah selalu menjaga keluarga.

Semoga Allah memberikan kesehatan.

Semoga Allah memudahkan langkah dalam berbagi ilmu.

Semoga tulisan-tulisan yang lahir dari hati dapat menjadi manfaat bagi banyak orang.

Dan semoga Allah menerima seluruh amal ibadah yang dilakukan selama hidup.

Usai sholat Jumat, para jamaah saling bersalaman. Wajah-wajah penuh senyum terlihat di berbagai sudut masjid. Ada kehangatan persaudaraan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Omjay kemudian melangkah keluar masjid dengan hati yang terasa lebih ringan.

Jumat siang itu kembali mengingatkan bahwa hidup ini hanyalah perjalanan singkat. Dunia hanyalah tempat singgah sementara. Sedangkan kampung halaman yang sesungguhnya adalah akhirat.

Karena itu selama masih diberikan kesempatan hidup, mari kita isi hari-hari dengan amal kebaikan.

Menulis kebaikan.

Menyebarkan ilmu.

Membantu sesama.

Memakmurkan masjid.

Dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Sebab ketika usia telah berakhir, yang akan tersisa bukanlah apa yang kita miliki, melainkan apa yang telah kita berikan.

"Semoga setiap langkah menuju masjid menjadi saksi kebaikan, dan setiap tulisan yang lahir dari hati menjadi cahaya yang menerangi perjalanan menuju akhirat." Aamiin Ya Rabbal Alamin.

Muara Tulisan Adalah Buku

Jangan Biarkan Naskah Anda Hanya Menjadi File di Laptop!

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Berapa banyak tulisan yang sudah Anda buat selama ini?

Berapa banyak ide yang tersimpan rapi di laptop, flashdisk, Google Drive, atau bahkan masih berdiam di dalam pikiran?

Mungkin ada puluhan artikel yang sudah selesai ditulis. Mungkin ada kumpulan puisi yang selama ini hanya dibaca sendiri. Ada pula catatan pengalaman mengajar yang begitu inspiratif, tetapi belum pernah dibukukan. Bahkan bisa jadi ada naskah yang sudah bertahun-tahun menunggu untuk diwujudkan menjadi buku.

Pertanyaannya, sampai kapan karya itu hanya menjadi dokumen digital yang tersimpan diam?

Tulisan yang baik tidak cukup hanya ditulis. Tulisan yang baik harus dibaca, dibagikan, dan diwariskan. Salah satu cara terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan menerbitkan buku.

Buku adalah jejak peradaban.

Buku adalah saksi perjalanan hidup.

Buku adalah warisan pemikiran yang akan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.

Karena itulah, banyak penulis bermimpi melihat namanya tercetak di sampul buku. Ada kebanggaan tersendiri ketika karya yang lahir dari proses panjang akhirnya dapat digenggam, dibaca, dan menginspirasi banyak orang.

Namun kenyataannya, masih banyak calon penulis yang ragu melangkah.

Ada yang bertanya:

"Bagaimana cara menerbitkan buku?"

"Apakah harus melalui penerbit besar?"

"Apakah biaya menerbitkan buku mahal?"

"Bagaimana agar buku terlihat profesional dan menarik?"

"Bisakah penulis pemula menerbitkan buku?"

"Bagaimana memilih penerbit yang tepat?"

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam benak para penulis.

Kabar baiknya, semua pertanyaan tersebut akan mendapatkan jawaban secara langsung dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-17 yang akan dilaksanakan:

📅 Jumat, 29 Mei 2026
🕖 Pukul 19.00 WIB
📍 Daring melalui Grup WhatsApp KBMN

Mengangkat tema yang sangat menarik:

"Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie"

Tema ini sangat relevan bagi siapa saja yang memiliki impian menjadi penulis buku.

Malam nanti peserta akan diajak memahami dunia penerbitan secara lebih dekat. Bukan hanya teori, tetapi juga pengalaman nyata dari praktisi yang telah membantu banyak penulis mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan.

Hadir sebagai narasumber adalah:

Mukminin, M.Pd.

Beliau dikenal sebagai salah satu founder penerbitan buku yang telah banyak membantu para penulis menerbitkan karya-karya terbaiknya.

Dengan pengalaman yang dimiliki, peserta akan memperoleh banyak wawasan berharga tentang proses penerbitan buku, mulai dari naskah hingga menjadi buku yang siap dibaca masyarakat.

Acara akan dipandu oleh moderator yang energik dan inspiratif:

Yandri Novita Sari, S.Pd.

Kehadiran moderator yang komunikatif akan membuat diskusi menjadi lebih hidup dan interaktif.

Mengapa Anda perlu mengikuti kegiatan ini?

Karena menulis tanpa menerbitkan ibarat menanam pohon tanpa membiarkannya berbuah.

Setiap tulisan memiliki muara.

Muara dari tulisan adalah pembaca.

Dan buku adalah salah satu jembatan terbaik agar tulisan sampai kepada lebih banyak pembaca.

Bagi para guru, buku bukan hanya sarana berbagi ilmu. Buku juga menjadi bukti profesionalisme dan karya nyata yang dapat memberikan manfaat luas bagi dunia pendidikan.

Bagi mahasiswa, buku menjadi portofolio intelektual yang membanggakan.

Bagi pegiat literasi, buku adalah media dakwah ilmu yang sangat efektif.

Bagi masyarakat umum, buku adalah warisan pemikiran yang nilainya tidak ternilai.

Dalam dunia yang semakin digital, buku justru tetap memiliki tempat istimewa.

Ketika seseorang memegang buku hasil karyanya sendiri, ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Omjay masih ingat ketika pertama kali menerima buku karya sendiri dari percetakan. Rasanya seperti melihat mimpi yang akhirnya menjadi nyata.

Berbulan-bulan menulis.

Berkali-kali merevisi.

Mengorbankan waktu istirahat.

Menahan rasa lelah.

Semua terbayar ketika buku itu akhirnya hadir dalam genggaman.

Pengalaman itulah yang ingin dibagikan kepada para peserta KBMN.

Sebab setiap orang sebenarnya memiliki potensi menjadi penulis buku.

Yang membedakan hanyalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus belajar.

KBMN selama ini telah melahirkan banyak penulis baru dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak peserta yang awalnya merasa tidak mampu menulis, akhirnya berhasil menerbitkan buku bahkan menjadi penulis produktif.

Malam nanti bisa jadi menjadi titik awal perjalanan Anda.

Bisa jadi buku yang selama ini hanya ada dalam angan-angan mulai menemukan jalannya menuju kenyataan.

Bisa jadi malam nanti Anda menemukan jawaban atas semua keraguan yang selama ini menghambat langkah.

Karena itu, jangan sampai terlewat.

Siapkan buku catatan.

Siapkan semangat belajar.

Siapkan pertanyaan terbaik Anda.

Mari belajar bersama dan menimba ilmu langsung dari ahlinya.

Ingatlah satu hal:

Tulisan yang hanya disimpan akan menjadi arsip.

Tulisan yang diterbitkan akan menjadi inspirasi.

Jangan biarkan naskah Anda terus tertidur di dalam folder laptop.

Bangunkan ia.

Rapikan ia.

Terbitkan ia.

Dan biarkan karya Anda menemukan para pembacanya.

Sampai jumpa malam ini di KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-17, pukul 19.00 WIB.

Mari wujudkan mimpi menjadi penulis buku.

Karena setiap buku besar selalu berawal dari satu tulisan sederhana yang berani diterbitkan.

Salam Literasi!

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia.