Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Rabu, 13 Mei 2026
Menulis dan Menerbitkan Bukundi Usia Senja
Selasa, 12 Mei 2026
Akibat Malas Membaca
Malas Membaca dalam Kisah Omjay: Ketika Buku Tak Lagi Menjadi Sahabat
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau membaca.” Kalimat itu sering kita dengar, tetapi dalam kenyataan sehari-hari, budaya membaca justru semakin memudar. Banyak orang lebih senang menggulir layar ponsel dibanding membuka lembar demi lembar buku. Fenomena inilah yang juga menjadi kegelisahan Omjay, seorang guru, blogger, sekaligus pegiat literasi yang selama bertahun-tahun mengajak masyarakat Indonesia mencintai membaca dan menulis.
Omjay pernah bercerita bahwa saat masih kecil, membaca adalah jendela utama untuk mengenal dunia. Di masa itu belum ada internet seperti sekarang. Anak-anak pergi ke perpustakaan sekolah, meminjam buku cerita, membaca majalah anak, atau menunggu koran datang setiap pagi. Buku menjadi hiburan sekaligus sumber ilmu pengetahuan.
Namun kini keadaan berubah drastis. Teknologi memang mempermudah hidup, tetapi di sisi lain membuat banyak orang kehilangan minat membaca. Ironisnya, masyarakat sekarang lebih suka membaca judul daripada isi. Banyak yang langsung berkomentar tanpa memahami keseluruhan tulisan. Bahkan ada yang hanya membaca potongan informasi di media sosial lalu merasa paling benar.
Omjay melihat kondisi ini sebagai tantangan besar dunia pendidikan. Sebagai guru, beliau sering menemukan siswa yang malas membaca buku pelajaran. Ketika diberi tugas, sebagian siswa lebih memilih menyalin jawaban dari internet tanpa memahami isi materi. Mereka ingin serba cepat dan instan. Padahal membaca membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan berpikir.
Dalam sebuah kesempatan, Omjay pernah bertanya kepada murid-muridnya, “Berapa halaman buku yang kalian baca minggu ini?” Sebagian besar hanya tersenyum malu. Ada yang mengaku tidak membaca sama sekali selain chat WhatsApp dan media sosial. Jawaban itu membuat Omjay prihatin. Sebab rendahnya minat baca akan berdampak panjang terhadap kualitas generasi masa depan.
Menurut Omjay, malas membaca bukan sekadar masalah kebiasaan, tetapi juga masalah pola pikir. Banyak orang menganggap membaca itu membosankan. Mereka tidak sadar bahwa membaca justru membuka pintu kesuksesan. Hampir semua tokoh besar dunia memiliki kebiasaan membaca. Mereka memperluas wawasan melalui buku.
Omjay sendiri menjadi bukti nyata kekuatan membaca. Dari kebiasaan membaca, beliau kemudian rajin menulis di blog pribadi. Tulisan-tulisannya dibaca banyak orang dan menginspirasi guru-guru di seluruh Indonesia. Ia dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia bukan karena kebetulan, melainkan karena konsistensi belajar melalui membaca dan menulis.
Beliau sering mengatakan bahwa membaca adalah olahraga otak. Jika tubuh perlu makanan bergizi, maka pikiran juga membutuhkan asupan ilmu dari bacaan. Orang yang rajin membaca biasanya memiliki kemampuan berpikir lebih baik, lebih kritis, dan lebih bijaksana dalam mengambil keputusan.
Manfaat Membaca
1. Menambah Ilmu Pengetahuan
Membaca membuat seseorang mengetahui banyak hal baru. Dari buku, artikel, dan berbagai bacaan lainnya, kita dapat memahami dunia lebih luas. Orang yang rajin membaca biasanya lebih mudah berdiskusi karena memiliki banyak referensi pengetahuan.
2. Melatih Kemampuan Berpikir
Membaca membantu otak bekerja aktif. Ketika membaca, kita belajar memahami informasi, menganalisis masalah, dan menarik kesimpulan. Karena itu membaca sangat penting untuk melatih kemampuan berpikir kritis.
3. Menambah Kosakata dan Kemampuan Berbahasa
Orang yang gemar membaca biasanya lebih lancar berbicara dan menulis. Mereka memiliki banyak kosakata sehingga mampu menyampaikan ide dengan baik. Hal inilah yang dialami Omjay ketika aktif membaca dan menulis blog setiap hari.
4. Membuka Peluang Kesuksesan
Banyak orang sukses memiliki kebiasaan membaca. Buku memberi inspirasi dan pengalaman dari orang lain. Dengan membaca, seseorang bisa belajar tanpa harus mengalami semua kesalahan sendiri.
5. Mengurangi Stres
Membaca buku favorit dapat membuat pikiran lebih tenang. Saat membaca, seseorang seolah masuk ke dunia baru yang menyenangkan. Karena itu membaca juga baik untuk kesehatan mental.
6. Menumbuhkan Empati dan Kebijaksanaan
Melalui bacaan, kita memahami kehidupan orang lain. Novel, biografi, maupun kisah inspiratif mengajarkan nilai kemanusiaan. Membaca membuat hati lebih peka terhadap penderitaan dan perjuangan sesama.
Kerugian Kurang Membaca
1. Wawasan Menjadi Sempit
Orang yang jarang membaca biasanya sulit memahami berbagai persoalan. Pengetahuannya terbatas sehingga mudah percaya hoaks atau informasi palsu.
2. Sulit Berpikir Kritis
Kurang membaca membuat seseorang malas menganalisis informasi. Akibatnya mudah terpengaruh opini orang lain tanpa mencari kebenaran terlebih dahulu.
3. Kemampuan Berbahasa Menurun
Kurang membaca menyebabkan seseorang miskin kosakata. Ia kesulitan menyampaikan pendapat secara baik dan runtut.
4. Mudah Bosan dan Tidak Kreatif
Membaca dapat merangsang imajinasi dan kreativitas. Jika jarang membaca, ide-ide segar sulit muncul karena otak tidak terbiasa menerima informasi baru.
5. Prestasi Belajar Menurun
Banyak siswa gagal memahami pelajaran karena malas membaca. Mereka hanya mengandalkan hafalan tanpa benar-benar mengerti isi materi.
6. Mudah Terjebak Informasi Dangkal
Di era media sosial, banyak orang hanya membaca judul tanpa memahami isi berita. Akibatnya muncul kesalahpahaman, fitnah, bahkan perpecahan.
Omjay percaya bahwa budaya membaca harus dibangun sejak dini. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu memberi contoh nyata. Jangan hanya menyuruh anak membaca, tetapi orang dewasa juga harus menunjukkan kebiasaan membaca di rumah maupun di sekolah.
Beliau sering mengingatkan bahwa membaca tidak harus langsung buku tebal. Mulailah dari bacaan ringan yang disukai. Yang penting adalah membiasakan diri membaca setiap hari. Sedikit demi sedikit, kebiasaan itu akan tumbuh menjadi kebutuhan.
Di tengah derasnya arus digital, membaca tetap menjadi kunci utama kemajuan bangsa. Teknologi boleh berkembang, tetapi buku dan literasi tidak boleh ditinggalkan. Sebab bangsa yang malas membaca akan sulit bersaing di masa depan.
Omjay berharap generasi muda Indonesia kembali mencintai buku. Karena dari membaca lahir pemikiran besar, karya hebat, dan perubahan positif bagi negeri. Membaca bukan sekadar aktivitas mengisi waktu luang, melainkan investasi masa depan yang nilainya tidak ternilai.
Mari mulai hari ini kita luangkan waktu membaca. Lima belas menit sehari pun sudah sangat berarti. Sebab perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Dan mungkin, dari satu buku yang kita baca hari ini, lahirlah mimpi besar untuk masa depan Indonesia.
Senin, 11 Mei 2026
Menaklukan Panggung Penerbit Mayor Bersama KBMN PGRI
Menaklukkan Panggung Penerbit Mayor Bersama KBMN PGRI
Malam nanti akan menjadi malam penting bagi para guru penulis di seluruh Indonesia. Setelah pada pertemuan sebelumnya para peserta belajar meramu naskah menjadi tulisan yang enak dibaca, kini saatnya naik ke level berikutnya: memahami bagaimana sebuah karya bisa diterima penerbit mayor dan sampai ke tangan pembaca.
Melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI (KBMN) Gelombang 34 Pertemuan ke-10, para peserta akan mendapatkan kesempatan emas belajar langsung dari dunia penerbitan profesional. Tema yang diangkat sangat relevan dan dinanti banyak penulis pemula maupun penulis yang sudah lama menyimpan naskah di laptopnya:
“Mempermudah Penulis Bersama Penerbit Mayor PT. Andi Offset Yogyakarta.”
Banyak guru sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa. Mereka setiap hari berhadapan dengan dinamika pendidikan, karakter siswa, perjuangan hidup, hingga berbagai kisah inspiratif di ruang kelas. Sayangnya, tidak semua guru memahami bagaimana cara mengubah pengalaman itu menjadi buku yang layak terbit.
Di sinilah pentingnya kelas malam nanti.
Acara ini menghadirkan Agus Subardana, SE., M.M. sebagai narasumber. Beliau akan membagikan pengalaman dan strategi praktis mengenai dunia penerbitan mayor, khususnya bagaimana standar penerbit besar seperti PT Andi Offset dalam menilai sebuah naskah.
Para peserta tidak hanya diajak memahami teori menulis, tetapi juga memahami “dapur” penerbitan. Banyak penulis gagal bukan karena tulisannya buruk, melainkan karena tidak memahami kebutuhan penerbit. Ada naskah yang sebenarnya bagus, tetapi formatnya berantakan. Ada pula ide yang kuat, namun penyajiannya tidak sesuai segmentasi pasar.
Melalui kelas ini, peserta akan belajar bahwa menulis buku bukan sekadar selesai mengetik ratusan halaman. Menulis adalah tentang bagaimana menyampaikan gagasan secara sistematis, menarik, dan memiliki nilai manfaat bagi pembaca.
Acara ini akan dipandu oleh Sigid PN, S.H. yang dikenal aktif mendampingi kegiatan literasi dan komunitas menulis. Dengan gaya moderasi yang komunikatif dan tajam, suasana diskusi dipastikan akan hidup dan penuh wawasan.
Kegiatan akan dilaksanakan pada:
- Senin, 11 Mei 2026
- Pukul 19.00 WIB
- Daring melalui WA Group KBMN
Bagi banyak guru, kelas ini bisa menjadi titik balik perjalanan literasi mereka. Selama ini ada banyak guru yang rajin menulis di blog, media sosial, atau media online, tetapi belum percaya diri mengirimkan naskah ke penerbit mayor.
Padahal, peluang itu selalu ada.
Penerbit besar sesungguhnya tidak hanya mencari penulis terkenal. Mereka mencari naskah yang berkualitas, relevan, memiliki segmentasi pembaca yang jelas, dan ditulis dengan sungguh-sungguh.
KBMN PGRI selama ini telah membuktikan bahwa guru Indonesia mampu menghasilkan karya luar biasa. Dari komunitas inilah lahir banyak buku antologi, buku solo, hingga karya inspiratif yang kini tersebar di berbagai daerah.
Semangat inilah yang terus digaungkan oleh Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, yang sejak lama percaya bahwa guru harus meninggalkan jejak melalui tulisan.
Menurut Omjay, karya adalah warisan pemikiran yang akan terus hidup bahkan ketika seseorang sudah tidak lagi berada di ruang kelas. Guru yang menulis tidak hanya mengajar murid hari ini, tetapi juga mendidik generasi masa depan melalui buku-bukunya.
Karena itu, kelas malam nanti bukan sekadar agenda rutin KBMN. Ini adalah ruang pembelajaran yang membuka pintu harapan bagi para guru penulis.
Bayangkan jika pengalaman mengajar puluhan tahun hanya tersimpan di kepala. Betapa banyak pelajaran hidup yang akhirnya hilang begitu saja. Namun ketika pengalaman itu ditulis menjadi buku, ia akan menjadi cahaya bagi orang lain.
Itulah sebabnya penerbit mayor menjadi penting. Mereka membantu sebuah karya menjangkau pembaca yang lebih luas. Mereka membantu gagasan seorang guru dari daerah kecil agar bisa dibaca masyarakat Indonesia.
Namun tentu saja, untuk sampai ke sana dibutuhkan kesiapan.
Penulis harus memahami struktur naskah, konsistensi isi, kekuatan ide, hingga cara membangun komunikasi profesional dengan editor. Semua itu akan dibahas dalam pertemuan KBMN nanti malam.
Banyak penulis pemula sering takut ditolak penerbit. Padahal penolakan adalah bagian dari proses belajar. Bahkan penulis besar dunia pun pernah mengalami penolakan berkali-kali sebelum akhirnya berhasil menerbitkan buku.
Yang terpenting adalah terus memperbaiki kualitas tulisan dan mau belajar.
KBMN hadir bukan hanya untuk mengajarkan teknik menulis, tetapi juga membangun mental penulis. Mental untuk terus berkarya, terus mencoba, dan tidak mudah menyerah.
Di era digital seperti sekarang, menulis menjadi keterampilan yang semakin penting. Guru bukan hanya dituntut mampu mengajar di kelas, tetapi juga mampu mendokumentasikan gagasan dan pengalaman dalam bentuk tulisan.
Tulisan guru bisa menjadi inspirasi pendidikan. Bisa menjadi bahan refleksi. Bisa pula menjadi solusi bagi berbagai persoalan pembelajaran.
Karena itu, kesempatan belajar langsung bersama penerbit mayor seperti PT Andi Offset adalah kesempatan yang sangat berharga.
Jangan sampai naskah yang sudah ditulis dengan penuh perjuangan hanya menjadi file yang tersimpan di laptop atau flashdisk. Jangan biarkan ide-ide besar berhenti hanya karena takut mengirimkan naskah.
Malam nanti adalah saat yang tepat untuk membuka jalan baru.
KBMN kembali membuktikan dirinya sebagai ruang tumbuh bagi para guru yang ingin naik kelas dalam dunia literasi. Dari ruang WA Group yang sederhana, lahir semangat besar untuk membangun budaya menulis di Indonesia.
Semoga semakin banyak guru yang berani menulis, berani berkarya, dan berani menembus penerbit mayor.
Karena bangsa yang besar lahir dari budaya literasi yang kuat. Dan budaya literasi yang kuat dimulai dari guru yang mau menulis.
Payung Kehidupan Omjay
Sabtu, 09 Mei 2026
Omjay Hampir Mati Konyol
Omjay Hampir Mati Konyol: Ketika Kesibukan Membuat Tubuh Menyerah
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Menjadi guru itu melelahkan.
Menjadi guru yang suka menulis jauh lebih melelahkan.
Namun menjadi guru, penulis, narasumber, blogger, sekaligus pengurus organisasi dalam satu waktu, ternyata bisa sangat berbahaya bila lupa menjaga kesehatan.
Omjay pernah mengalaminya sendiri.
Sebuah pengalaman yang sampai hari ini masih membuat bulu kuduk berdiri bila diingat kembali. Pengalaman yang membuat Omjay sadar bahwa manusia bukan robot. Tubuh punya batas. Dan ketika batas itu dilanggar terus-menerus, tubuh akan “memberontak”.
Kejadian itu terjadi beberapa tahun lalu.
Saat itu aktivitas Omjay benar-benar padat. Pagi mengajar di sekolah. Siang rapat. Sore menjadi narasumber pelatihan guru. Malam menulis artikel di blog dan Kompasiana. Kadang masih harus membalas ratusan pesan WhatsApp dari guru-guru seluruh Indonesia yang ingin belajar menulis.
Omjay menikmati semua aktivitas itu. Rasanya bahagia sekali ketika tulisan dibaca banyak orang. Rasanya bangga ketika guru-guru mulai berani menulis buku setelah ikut kelas belajar menulis. Hidup terasa penuh makna.
Namun diam-diam tubuh Omjay mulai memberikan tanda bahaya.
Tidur makin sedikit.
Makan sering terlambat.
Minum kopi makin banyak.
Olahraga hampir tidak pernah.
Tetapi Omjay tetap keras kepala.
“Ah, saya kuat.”
Kalimat itu sering diucapkan Omjay dalam hati. Padahal sebenarnya tubuh sudah lemah. Kepala sering pusing. Lambung mulai sakit. Badan gampang lelah. Namun semuanya dianggap biasa.
Hingga akhirnya kejadian “hampir mati konyol” itu datang.
Malam itu Omjay baru selesai menulis artikel panjang untuk diposting di blog. Jam sudah menunjukkan lewat tengah malam. Mata mulai berat, tetapi Omjay masih memaksakan diri menatap layar laptop.
Tiba-tiba dada terasa sesak.
Awalnya Omjay mengira hanya masuk angin biasa. Omjay mencoba minum air hangat dan menarik napas panjang. Namun rasa sesak justru makin kuat. Kepala berputar. Keringat dingin bercucuran.
Omjay mulai panik.
Tubuh terasa lemas sekali. Bahkan untuk berdiri saja sulit. Jantung berdegup sangat cepat seperti genderang perang. Saat itulah Omjay benar-benar takut.
“Jangan-jangan ini serangan jantung?”
Pikiran buruk langsung bermunculan. Omjay teringat istri, anak-anak, murid-murid, dan begitu banyak tulisan yang belum selesai dibuat. Dalam kondisi setengah sadar, Omjay mencoba meminta bantuan keluarga.
Akhirnya Omjay dibawa ke rumah sakit tengah malam.
Di perjalanan, Omjay hanya bisa berdoa. Rasanya campur aduk. Takut, menyesal, sedih, semuanya menjadi satu. Omjay baru sadar bahwa selama ini terlalu memaksakan diri.
Setelah diperiksa dokter, ternyata kondisi Omjay drop karena kelelahan berat, kurang istirahat, pola makan buruk, dan asam lambung yang naik cukup parah hingga memicu sesak dada serta jantung berdebar kencang.
Dokter berkata dengan nada serius.
“Bapak ini terlalu capek. Kalau terus dipaksakan bisa berbahaya.”
Kalimat itu menampar Omjay keras sekali.
Selama ini Omjay sibuk memotivasi orang lain agar semangat berkarya, tetapi lupa menjaga diri sendiri. Padahal tubuh adalah kendaraan utama untuk beribadah, bekerja, dan berkarya.
Kalau tubuh rusak, semua aktivitas juga akan berhenti.
Sejak kejadian itu, Omjay mulai belajar mengatur hidup lebih baik. Tidak mudah memang. Apalagi bagi seseorang yang terbiasa aktif dan produktif. Namun Omjay sadar, produktif bukan berarti harus menyiksa diri.
Omjay mulai belajar tidur lebih cukup. Mengurangi begadang. Minum kopi tidak berlebihan. Makan lebih teratur. Sesekali berjalan kaki dan olahraga ringan.
Yang paling sulit adalah belajar berkata “tidak”.
Kadang ada undangan seminar, pelatihan, atau kegiatan menulis yang sangat menarik. Dulu semua diterima tanpa berpikir panjang. Sekarang Omjay mulai memilih mana yang benar-benar penting.
Sebab kesehatan jauh lebih mahal daripada popularitas.
Kejadian hampir mati konyol itu juga mengajarkan Omjay tentang makna hidup. Ternyata manusia sering merasa dirinya kuat dan hebat, padahal sangat rapuh.
Kita bisa sibuk mengejar prestasi, jabatan, uang, dan popularitas. Namun ketika tubuh jatuh sakit, semua itu mendadak terasa kecil.
Di ruang rumah sakit, Omjay melihat banyak orang kaya yang tetap menangis kesakitan. Ada pejabat yang tetap lemah di atas ranjang. Ada orang terkenal yang tetap membutuhkan bantuan perawat untuk sekadar berjalan ke kamar mandi.
Saat sakit datang, manusia benar-benar sadar bahwa dirinya hanyalah makhluk kecil di hadapan Tuhan.
Karena itu Omjay sekarang selalu mengingatkan guru-guru dan para penulis muda: berkaryalah sebaik mungkin, tetapi jangan melupakan kesehatan.
Jangan bangga begadang setiap malam.
Jangan merasa hebat karena tidak pernah libur.
Jangan menganggap tubuh akan selalu kuat.
Tubuh punya hak untuk istirahat.
Bahkan mesin saja bisa rusak bila dipakai terus-menerus tanpa henti. Apalagi manusia yang punya rasa lelah, rasa sakit, dan keterbatasan.
Omjay bersyukur masih diberi kesempatan hidup hingga hari ini. Masih bisa menulis. Masih bisa mengajar. Masih bisa berbagi pengalaman dengan banyak orang.
Mungkin Allah sedang menegur Omjay lewat cara yang cukup keras.
Teguran itu membuat Omjay sadar bahwa hidup bukan sekadar bekerja tanpa henti. Hidup juga tentang menjaga amanah tubuh yang telah diberikan Tuhan.
Kini setiap kali melihat jam sudah larut malam, Omjay sering tersenyum sendiri sambil mengingat kejadian itu.
Laptop boleh panas.
Ide boleh mengalir deras.
Target tulisan boleh banyak.
Tetapi kesehatan tetap nomor satu.
Sebab percuma punya seribu tulisan bila tubuh tumbang di tengah jalan.
Dan Omjay tidak ingin lagi “hampir mati konyol” hanya karena terlalu memaksakan diri demi pekerjaan yang sebenarnya masih bisa menunggu esok hari.
MBG Bermanfaat Atau Tidak?
Barang Bercerai Berai Bisa Jadi Bahan ajar yang Bernilai Tinggi
Barang Bercerai-Berai Bisa Jadi Bahan Ajar yang Bernilai Tinggi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah
Di sudut ruang kerja Omjay, ada tumpukan kertas yang terlihat tidak beraturan. Ada catatan kecil hasil seminar, potongan materi pelatihan, foto kegiatan siswa, coretan ide tulisan, hingga lembar tugas murid yang sudah mulai kusam dimakan waktu. Sekilas semua itu tampak seperti barang biasa yang tidak lagi berguna. Namun bagi Omjay, serpihan-serpihan kecil itu justru menyimpan energi besar untuk melahirkan karya.
Saat membaca tulisan di blog Annisa Menulis Masa Kini, Omjay teringat perjalanan panjangnya sebagai guru sekaligus penulis. Banyak orang mengira buku lahir dari inspirasi besar yang datang tiba-tiba. Padahal kenyataannya, buku sering lahir dari potongan pengalaman kecil yang dikumpulkan dengan sabar setiap hari.
Omjay percaya, tidak ada pengalaman yang benar-benar sia-sia. Bahkan catatan sederhana di pinggir meja guru pun bisa berubah menjadi bahan ajar yang menyentuh hati siswa jika diolah dengan cinta dan ketekunan.
Sebagai guru yang aktif menulis sejak lama, Omjay sering menyimpan berbagai “serpihan ilmu”. Kadang hanya berupa kalimat pendek dari murid. Kadang berupa pertanyaan polos siswa yang terdengar sederhana tetapi sangat dalam maknanya. Semua itu dicatat. Semua itu disimpan.
Dari kebiasaan kecil itulah lahir banyak artikel, modul pembelajaran, hingga buku pendidikan yang menginspirasi banyak guru di Indonesia.
Omjay pernah mengalami masa ketika bahan ajar terasa membosankan. Siswa terlihat pasif. Guru berbicara panjang lebar, tetapi murid tidak benar-benar terhubung dengan materi. Dari situ Omjay sadar bahwa bahan ajar terbaik bukan hanya yang rapi dan penuh teori, melainkan yang dekat dengan kehidupan nyata.
Maka Omjay mulai mengubah cara pandangnya.
Foto kegiatan sekolah dijadikan bahan refleksi. Pengalaman lucu di kelas dijadikan cerita pembelajaran. Percakapan dengan siswa dijadikan bahan diskusi. Bahkan perjalanan naik kereta menuju sekolah pun bisa menjadi inspirasi tulisan literasi.
Di tangan guru kreatif, barang yang tampak “bercerai-berai” ternyata dapat menjadi harta karun pendidikan.
Omjay sering mengatakan kepada guru-guru muda bahwa menulis tidak harus menunggu sempurna. Mulailah dari apa yang ada di sekitar kita. Kumpulkan serpihan pengalaman. Rekam ide kecil. Dokumentasikan aktivitas harian. Lama-lama semua itu akan menjadi mozaik ilmu yang indah.
Banyak guru gagal menulis bukan karena tidak mampu, tetapi karena merasa tidak punya bahan. Padahal bahan itu ada di mana-mana.
Seorang siswa yang terlambat datang ke sekolah bisa menjadi inspirasi tulisan tentang disiplin. Seorang murid yang tertidur di kelas bisa menjadi bahan refleksi tentang kondisi keluarga dan kesehatan mental anak. Sebuah kegiatan asesmen sekolah bisa menjadi artikel pendidikan yang menyentuh jika ditulis dengan hati.
Omjay membuktikan sendiri bahwa kekuatan tulisan lahir dari kepekaan melihat hal kecil.
Ketika pandemi melanda beberapa tahun lalu, banyak guru kebingungan membuat pembelajaran menarik. Namun Omjay justru melihat peluang besar. Ia mengumpulkan pengalaman guru-guru selama mengajar daring, lalu mengubahnya menjadi tulisan inspiratif. Dari situ lahir banyak karya yang dibaca ribuan orang.
Semua bermula dari serpihan pengalaman yang sebelumnya dianggap biasa saja.
Tulisan di blog tersebut mengingatkan Omjay bahwa kreativitas guru sebenarnya tidak pernah habis. Yang sering habis hanyalah keberanian untuk memulai. Banyak guru takut tulisannya jelek. Takut dikritik. Takut dianggap tidak penting. Padahal setiap guru memiliki kisah yang layak dibagikan.
Anak-anak di kelas tidak hanya membutuhkan guru pintar. Mereka membutuhkan guru yang mampu menghidupkan pembelajaran dengan pengalaman nyata.
Karena itu, Omjay selalu mengajak guru untuk menjadi “pengarsip kehidupan”. Simpan foto kegiatan. Catat ide mendadak. Rekam percakapan inspiratif. Dokumentasikan proses belajar siswa. Semua itu kelak akan menjadi bahan ajar yang kaya makna.
Bayangkan jika setiap guru di Indonesia menulis pengalaman mengajarnya setiap hari. Betapa luar biasanya kekayaan literasi pendidikan bangsa ini.
Omjay sendiri merasakan manfaat besar dari kebiasaan sederhana tersebut. Banyak tulisan yang awalnya hanya catatan pribadi ternyata disukai pembaca. Bahkan beberapa di antaranya menjadi materi seminar dan buku.
Inilah bukti bahwa karya besar sering lahir dari hal-hal kecil yang dikumpulkan secara konsisten.
Di era digital sekarang, guru sebenarnya sangat dimudahkan. Ponsel bisa menjadi alat dokumentasi. Blog bisa menjadi ruang berbagi. Media sosial dapat menjadi tempat menyebarkan inspirasi. Tinggal bagaimana guru mau memanfaatkannya.
Omjay percaya, guru yang menulis adalah guru yang sedang meninggalkan jejak peradaban. Ketika guru berhenti menulis, banyak pengalaman berharga ikut hilang tanpa sempat diwariskan.
Karena itu, jangan remehkan serpihan kecil di sekitar kita.
Barang yang berserakan di meja kerja mungkin tampak tidak penting hari ini. Tetapi bisa jadi itulah bahan utama lahirnya buku hebat di masa depan.
Coretan kecil murid hari ini mungkin akan menjadi inspirasi besar esok hari.
Foto sederhana kegiatan sekolah mungkin akan menjadi sejarah berharga beberapa tahun mendatang.
Semua bergantung pada cara kita memandangnya.
Omjay belajar bahwa kreativitas bukan tentang memiliki fasilitas mahal. Kreativitas adalah kemampuan melihat nilai dari hal-hal sederhana. Guru kreatif mampu mengubah pengalaman menjadi pembelajaran. Mengubah kenangan menjadi tulisan. Mengubah serpihan menjadi karya.
Dan dari sanalah pendidikan yang hidup akan lahir.
Karena sejatinya, pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan angka nilai. Pendidikan adalah tentang bagaimana pengalaman manusia diolah menjadi pelajaran kehidupan yang bermakna.
Maka jangan buang catatan lama. Jangan abaikan pengalaman kecil. Jangan anggap remeh aktivitas harian di sekolah.
Sebab bisa jadi, dari barang yang tampak bercerai-berai itu, lahir sebuah adikarya yang menginspirasi Indonesia.
Jumat, 08 Mei 2026
Susah Buang Air Besar?
Susah Buang Air Besar? Jangan Dianggap Sepele!
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Susah buang air besar atau sembelit sering dianggap masalah kecil. Banyak orang memilih diam dan menahannya karena malu bercerita. Padahal, kondisi ini bisa sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Perut terasa penuh, kembung, tidak nyaman, bahkan kepala ikut pusing karena tubuh terasa tidak enak.
Hampir setiap orang pernah mengalami sembelit. Ada yang hanya satu atau dua hari, tetapi ada pula yang sampai berminggu-minggu sulit BAB. Kondisi ini sebenarnya merupakan sinyal bahwa tubuh membutuhkan perhatian lebih, terutama terkait pola makan dan gaya hidup.
Mengapa Kita Bisa Susah Buang Air Besar?
Sembelit terjadi ketika feses menjadi keras dan sulit dikeluarkan. Hal itu biasanya disebabkan oleh kurangnya cairan dan serat di dalam tubuh. Ketika tubuh kekurangan air, usus akan menyerap lebih banyak cairan dari sisa makanan sehingga tinja menjadi keras.
Selain itu, pola hidup modern juga menjadi penyebab utama. Banyak orang terlalu sibuk bekerja sehingga lupa minum air putih, jarang makan buah dan sayur, serta kurang bergerak. Duduk terlalu lama di depan komputer atau gadget membuat kerja usus menjadi lambat.
Ada beberapa penyebab umum sembelit, antara lain:
- Kurang minum air putih
- Kurang makan serat
- Jarang olahraga
- Sering menahan BAB
- Terlalu banyak makanan cepat saji
- Efek samping obat tertentu
- Stres dan kurang tidur
Kadang-kadang sembelit juga bisa muncul karena perubahan pola makan saat bepergian atau saat sedang berpuasa.
Tanda-Tanda Sembelit yang Harus Diperhatikan
Seseorang dikatakan mengalami sembelit bila BAB kurang dari tiga kali seminggu atau merasa sangat sulit saat mengeluarkan feses. Beberapa gejalanya antara lain:
- Perut terasa penuh dan keras
- BAB keras dan kering
- Harus mengejan kuat saat BAB
- Perut kembung
- Nafsu makan berkurang
- Tubuh terasa lemas
- Kadang muncul nyeri di sekitar anus
Jika dibiarkan terlalu lama, sembelit dapat menyebabkan wasir atau ambeien karena terlalu sering mengejan.
Cara Alami Mengatasi Susah Buang Air Besar
Sebelum memakai obat, sebenarnya ada banyak cara alami yang cukup ampuh membantu melancarkan BAB.
1. Perbanyak Minum Air Putih
Air putih membantu melunakkan tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan. Biasakan minum minimal 8 gelas sehari. Air hangat di pagi hari sering membantu merangsang gerakan usus.
2. Konsumsi Buah dan Sayur
Buah kaya serat sangat baik untuk pencernaan. Pepaya menjadi salah satu buah favorit masyarakat Indonesia karena terkenal membantu melancarkan BAB. Selain pepaya, pisang, apel, pir, dan kiwi juga baik dikonsumsi.
Sayur hijau seperti bayam, kangkung, dan brokoli membantu usus bekerja lebih baik.
3. Rutin Bergerak dan Olahraga
Jalan kaki 20–30 menit setiap hari bisa membantu mempercepat gerakan usus. Tubuh yang aktif membuat sistem pencernaan ikut aktif.
4. Jangan Menahan BAB
Kebiasaan menahan BAB membuat tinja semakin keras. Jika sudah ada dorongan untuk BAB, segera pergi ke toilet.
5. Kurangi Makanan Instan
Makanan cepat saji biasanya rendah serat dan tinggi lemak sehingga membuat pencernaan melambat.
Obat yang Bisa Membantu Mengatasi Sembelit
Jika cara alami belum membantu, beberapa obat berikut sering digunakan untuk mengatasi sembelit.
Lactulose
Obat ini membantu menarik cairan ke usus sehingga feses menjadi lebih lunak dan mudah dikeluarkan.
Bisacodyl
Obat ini bekerja merangsang gerakan usus agar BAB lebih lancar. Biasanya digunakan dalam jangka pendek.
Psyllium Husk
Serat tambahan yang membantu memperbesar dan melunakkan tinja.
Microlax
Digunakan melalui dubur dan biasanya bekerja lebih cepat untuk membantu pengeluaran feses.
Namun penggunaan obat pencahar tidak boleh berlebihan. Bila terlalu sering dipakai, usus bisa menjadi tergantung.
Pengalaman Banyak Orang
Banyak orang baru sadar pentingnya menjaga pola makan setelah mengalami sembelit parah. Ada yang sampai tidak bisa tidur karena perut terasa sangat penuh. Ada pula yang harus ke dokter karena BAB disertai darah akibat mengejan terlalu keras.
Di tengah kesibukan hidup modern, kita sering lupa bahwa tubuh juga membutuhkan perhatian. Padahal kesehatan pencernaan sangat memengaruhi kualitas hidup. Ketika BAB lancar, tubuh terasa lebih ringan, nyaman, dan bersemangat menjalani aktivitas.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksa ke dokter bila mengalami kondisi berikut:
- Tidak BAB lebih dari seminggu
- BAB berdarah
- Berat badan turun drastis
- Nyeri perut hebat
- Muntah
- Perut membesar
- Demam
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda gangguan kesehatan yang lebih serius.
Menjaga Pola Hidup Sehat
Sembelit sebenarnya dapat dicegah dengan kebiasaan sederhana. Mulailah dari hal kecil seperti minum cukup air, makan buah setiap hari, dan bergerak aktif. Tubuh kita bekerja seperti mesin yang harus dirawat dengan baik.
Jangan tunggu sakit baru peduli kesehatan. Banyak penyakit bermula dari pola hidup yang diabaikan. Pencernaan yang sehat akan membantu tubuh menyerap nutrisi dengan baik dan membuat hidup terasa lebih nyaman.
Maka, bila hari ini Anda masih sering menunda minum air putih, malas makan sayur, atau terlalu lama duduk tanpa bergerak, mungkin inilah saatnya berubah. Karena sehat itu mahal, tetapi menjaga kesehatan sebenarnya jauh lebih mudah daripada mengobati penyakit.
Semoga kita semua diberikan kesehatan dan kelancaran dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Jangan anggap remeh susah buang air besar, sebab tubuh selalu punya cara untuk memberi sinyal bahwa ia membutuhkan perhatian.
Asesmen Sumatif Kelas Akhir SMP Labschool Jakarta
ASKA SMP Labschool Jakarta: Menapaki Ujian Akhir dengan Semangat, Kejujuran, dan Kebersamaan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Suasana berbeda tampak terasa di lingkungan SMP Labschool Jakarta dalam beberapa hari terakhir. Para siswa kelas IX datang lebih pagi dengan wajah penuh harap sekaligus tegang. Di tangan mereka terlihat buku panduan bertuliskan “Asesmen Sumatif Kelas Akhir (ASKA)” tahun ajaran 2025–2026. Sebuah momen penting yang menjadi penanda akhir perjalanan mereka di bangku SMP.
Kegiatan Asesmen Sumatif Kelas Akhir atau yang dikenal dengan ASKA ini menjadi salah satu agenda akademik paling penting bagi siswa kelas IX. ASKA bukan sekadar ujian biasa, tetapi menjadi bentuk evaluasi menyeluruh terhadap proses pembelajaran yang telah dijalani siswa selama tiga tahun di SMP Labschool Jakarta.
Dari foto dan dokumentasi kegiatan terlihat jelas bahwa sekolah mempersiapkan pelaksanaan ASKA dengan sangat baik. Buku panduan ASKA dibagikan kepada peserta sebagai pedoman resmi agar siswa memahami tata tertib, jadwal, serta teknis pelaksanaan ujian. Hal ini menunjukkan keseriusan sekolah dalam menjaga kualitas asesmen sekaligus membangun budaya disiplin dan tanggung jawab.
Di salah satu sudut sekolah juga terpampang spanduk besar bertuliskan:
"Yang tersayang Glorificentia, Selamat Menempuh Asesmen Sumatif Kelas Akhir (ASKA) Kelas IX Angkatan 32."
Tulisan sederhana itu ternyata memiliki makna yang sangat dalam. Ada cinta, dukungan, dan harapan besar dari guru, orang tua, serta seluruh warga sekolah kepada siswa-siswi kelas IX yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan tingkat SMP mereka.
ASKA Bukan Sekadar Ujian
Banyak siswa menganggap ujian sebagai sesuatu yang menakutkan. Padahal sesungguhnya asesmen adalah bagian dari proses belajar. Melalui ASKA, siswa diajak untuk membuktikan sejauh mana mereka memahami ilmu pengetahuan, mengembangkan karakter, serta menerapkan nilai-nilai kehidupan yang selama ini diajarkan di sekolah.
Di SMP Labschool Jakarta, ASKA tidak hanya menilai kemampuan akademik. Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas justru menjadi pondasi utama dalam pelaksanaan asesmen.
Karena itu, suasana ujian dibuat nyaman namun tetap tertib. Guru-guru hadir sebagai pengawas sekaligus penyemangat bagi peserta didik. Tidak ada tekanan berlebihan, tetapi siswa tetap didorong untuk memberikan hasil terbaik.
Sebagai seorang guru, saya melihat bahwa kegiatan seperti ini sangat penting dalam membentuk mental siswa. Mereka belajar menghadapi tantangan, mengatur waktu, mempersiapkan diri, dan menjaga fokus di tengah tekanan.
Perjalanan Tiga Tahun yang Tidak Mudah
Bagi siswa kelas IX angkatan 32, perjalanan menuju akhir pendidikan SMP tentu bukan perjalanan yang mudah. Mereka telah melewati berbagai pengalaman belajar, kegiatan sekolah, proyek kolaborasi, hingga dinamika persahabatan yang penuh warna.
Momen ASKA menjadi titik refleksi atas semua perjalanan itu.
Tidak sedikit siswa yang mulai merasa haru karena sebentar lagi mereka akan berpisah dengan teman-teman, guru, dan lingkungan sekolah yang selama ini menjadi rumah kedua mereka.
Dalam dokumentasi kegiatan tampak kebersamaan yang begitu kuat. Foto angkatan yang terpampang di banner besar menunjukkan kekompakan dan semangat persaudaraan yang dibangun selama tiga tahun belajar bersama.
Inilah yang membuat Labschool Jakarta bukan hanya sekolah biasa, tetapi juga tempat tumbuhnya karakter dan kenangan indah.
Peran Guru dalam Kesuksesan ASKA
Keberhasilan pelaksanaan ASKA tentu tidak lepas dari kerja keras para guru dan tenaga kependidikan. Mereka mempersiapkan soal, menyusun jadwal, mengatur ruang ujian, hingga memastikan seluruh kegiatan berjalan lancar.
Guru bukan hanya hadir untuk mengawasi ujian, tetapi juga memberi ketenangan kepada siswa.
Sering kali sebelum ujian dimulai, guru memberikan motivasi sederhana:
"Kerjakan dengan tenang, percaya diri, dan jujur."
Kalimat sederhana itu ternyata mampu membuat siswa lebih siap menghadapi soal-soal ujian.
Saya pribadi merasa bangga melihat dedikasi guru-guru SMP Labschool Jakarta. Mereka bekerja tidak mengenal lelah demi memastikan siswa mendapatkan pengalaman asesmen yang baik dan bermakna.
Dukungan Orang Tua Sangat Penting
Selain guru, peran orang tua juga sangat menentukan keberhasilan siswa dalam menghadapi ASKA. Dukungan moral dari keluarga menjadi energi besar bagi anak-anak.
Pada banner kegiatan bahkan tertulis pesan dukungan dari para orang tua angkatan 32:
"Kami yang selalu mendoakan."
Kalimat itu sangat menyentuh hati. Sebab di balik keberhasilan seorang anak, ada doa orang tua yang terus mengiringi langkah mereka.
Selama masa ASKA, orang tua tentu berharap anak-anak mereka dapat menjaga kesehatan, mengatur waktu belajar, serta tetap percaya diri menghadapi ujian.
Kadang yang dibutuhkan anak bukan hanya les tambahan atau nilai tinggi, tetapi perhatian, pelukan, dan kata-kata penyemangat dari rumah.
ASKA Berakhir Hari Jumat
Pelaksanaan ASKA SMP Labschool Jakarta dijadwalkan berakhir pada hari Jumat ini. Bagi siswa kelas IX, hari terakhir ujian tentu akan menjadi momen yang sangat melegakan sekaligus emosional.
Setelah berhari-hari berkutat dengan soal dan belajar hingga malam, akhirnya mereka dapat bernapas lega.
Namun lebih dari sekadar selesai ujian, ASKA adalah awal menuju perjalanan baru. Setelah ini mereka akan melanjutkan langkah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.
Ada yang akan masuk SMA favorit, ada yang mengejar cita-cita menjadi dokter, guru, insinyur, programmer, penulis, hingga pemimpin masa depan bangsa.
Semua berawal dari proses kecil yang dijalani dengan sungguh-sungguh hari ini.
Menanamkan Nilai Kejujuran Sejak Dini
Salah satu pelajaran terbesar dari ASKA adalah pentingnya kejujuran. Nilai tinggi tanpa kejujuran tidak akan memiliki makna.
Karena itu, budaya integritas harus terus ditanamkan kepada peserta didik sejak dini.
Di tengah perkembangan teknologi dan kecanggihan kecerdasan buatan, siswa perlu memahami bahwa karakter jauh lebih penting daripada sekadar angka rapor.
Bangsa ini membutuhkan generasi yang bukan hanya pintar, tetapi juga jujur, tangguh, dan memiliki empati.
Penutup
ASKA di SMP Labschool Jakarta bukan hanya kegiatan akademik tahunan. Ia adalah proses pembentukan mental, karakter, dan kedewasaan siswa sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.
Semoga seluruh siswa kelas IX angkatan 32 diberikan hasil terbaik sesuai usaha mereka. Semoga ilmu yang diperoleh selama belajar di SMP Labschool Jakarta menjadi bekal berharga untuk masa depan.
Terima kasih kepada seluruh guru, tenaga kependidikan, dan orang tua yang telah mendampingi anak-anak dengan penuh cinta dan kesabaran.
Selamat menempuh hari terakhir ASKA.
Percayalah, setiap perjuangan tidak akan pernah mengkhianati hasil.