Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 17 Mei 2026

Alhamdulillah PB PGRI Tetap Sah Dipimpin Unifah Rosyidi

Ucapan selamat dan sukses yang terpampang dalam gambar tersebut bukan sekadar formalitas organisasi, melainkan simbol penting dari perjalanan panjang perjuangan dunia pendidikan Indonesia. Dalam gambar itu tampak sosok Prof. Dr. Unifah Rosyidi dengan tulisan ucapan selamat atas penetapannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar PGRI periode 2024–2029 yang sah berdasarkan putusan Peninjauan Kembali (PK) Nomor 32 PK/TUN/2026 tanggal 5 Mei 2026.

Gambar tersebut memiliki makna yang sangat mendalam, terutama bagi kalangan guru dan tenaga kependidikan di seluruh Indonesia. Di bagian atas gambar tampak logo resmi Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI, organisasi profesi guru terbesar di Indonesia yang sejak lama menjadi rumah perjuangan para pendidik. Logo itu menjadi simbol persatuan, pengabdian, dan perjuangan kaum guru dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Tulisan “Selamat & Sukses” yang ditampilkan dengan huruf elegan memberi nuansa penghormatan sekaligus kebanggaan atas kepemimpinan Prof. Unifah Rosyidi. Sosok beliau selama ini dikenal luas sebagai figur perempuan tangguh di dunia pendidikan Indonesia. Kepemimpinannya di PGRI tidak hanya identik dengan perjuangan kesejahteraan guru, tetapi juga penguatan profesionalisme pendidik di era digital dan transformasi pendidikan nasional.

Dalam gambar disebutkan bahwa pengesahan tersebut berdasarkan putusan PK Nomor 32 PK/TUN/2026 tertanggal 5 Mei 2026. Hal ini menunjukkan bahwa perjalanan organisasi tidak selalu berjalan mulus. Ada dinamika hukum dan organisasi yang akhirnya memperoleh kepastian melalui jalur resmi negara. Dengan keluarnya putusan tersebut, kepemimpinan Prof. Unifah Rosyidi memperoleh legitimasi yang sah secara hukum untuk memimpin PB PGRI periode 2024–2029.

Bagi anggota PGRI di seluruh Indonesia, keputusan ini menjadi momentum penting untuk kembali fokus menjalankan program organisasi. Karena itu, pada bagian bawah gambar tertulis pesan yang sangat kuat:

“Mari fokus dan laksanakan program kerja dalam memartabatkan, mensejahterakan dan melindungi Guru.”

Kalimat ini bukan sekadar slogan. Pesan tersebut merupakan panggilan moral kepada seluruh pengurus dan anggota PGRI agar kembali bersatu demi kepentingan guru Indonesia. Ada tiga kata kunci utama yang sangat penting dalam pesan tersebut, yaitu memartabatkan, mensejahterakan, dan melindungi guru.

Pertama, memartabatkan guru berarti mengangkat kembali kehormatan profesi guru sebagai pekerjaan mulia. Guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga pembentuk karakter bangsa. Dalam era modern saat ini, tantangan guru semakin berat. Mereka tidak hanya dituntut mengajar, tetapi juga menguasai teknologi, memahami psikologi peserta didik, hingga menghadapi perubahan kurikulum yang terus berkembang. Karena itu, profesi guru harus dihargai dan ditempatkan pada posisi terhormat dalam pembangunan bangsa.

Kedua, mensejahterakan guru menjadi agenda penting yang terus diperjuangkan PGRI. Masih banyak guru di berbagai daerah yang menghadapi persoalan kesejahteraan, terutama guru honorer. Banyak dari mereka mengabdi bertahun-tahun dengan penghasilan yang sangat terbatas. Dalam berbagai kesempatan, Prof. Unifah Rosyidi dikenal aktif menyuarakan pentingnya peningkatan kesejahteraan guru agar mereka dapat bekerja dengan tenang dan maksimal dalam mendidik generasi penerus bangsa.

Ketiga, melindungi guru juga menjadi isu yang sangat relevan saat ini. Banyak guru menghadapi tekanan sosial, tuntutan hukum, bahkan intimidasi ketika menjalankan tugas pendidikan. Karena itu, organisasi profesi seperti PGRI memiliki peran penting dalam memberikan perlindungan hukum, advokasi, dan pendampingan kepada para guru di seluruh Indonesia.

Secara visual, gambar tersebut juga dirancang dengan sangat menarik dan profesional. Sosok Prof. Unifah Rosyidi tampil dengan senyum tenang dan penuh wibawa. Busana bernuansa putih bermotif batik yang dikenakannya memberi kesan elegan sekaligus mencerminkan identitas budaya Indonesia. Penampilan tersebut menunjukkan sosok pemimpin perempuan yang lembut tetapi kuat dalam prinsip dan perjuangan.

Latar warna putih pada bagian atas gambar memberi kesan bersih dan optimistis. Sementara bagian bawah menggunakan nuansa biru yang identik dengan ketenangan, stabilitas, dan harapan. Kombinasi warna ini seolah menggambarkan harapan baru bagi organisasi PGRI agar semakin solid dalam memperjuangkan aspirasi guru Indonesia.

Di bagian paling bawah gambar juga terdapat identitas media sosial resmi PB PGRI, seperti website dan akun media sosial organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa PGRI terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Organisasi guru tidak lagi bergerak secara konvensional, tetapi juga aktif membangun komunikasi digital dengan anggotanya melalui berbagai platform media sosial.

Kehadiran Prof. Unifah Rosyidi sebagai Ketua Umum PB PGRI juga menjadi inspirasi tersendiri bagi kaum perempuan Indonesia. Beliau membuktikan bahwa perempuan dapat tampil sebagai pemimpin nasional yang kuat, cerdas, dan berpengaruh dalam dunia pendidikan. Kepemimpinan beliau memberi semangat kepada banyak guru perempuan untuk terus berkarya dan mengambil peran strategis dalam membangun pendidikan bangsa.

Bagi para guru di Indonesia, gambar ini tentu menghadirkan harapan baru. Harapan agar organisasi profesi guru semakin solid, semakin kuat memperjuangkan hak-hak guru, dan semakin fokus meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Persatuan dan kebersamaan menjadi kunci utama agar PGRI tetap menjadi organisasi besar yang dicintai anggotanya.

Momentum pengesahan kepemimpinan ini juga dapat menjadi titik awal untuk memperkuat kolaborasi antara guru, pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan secara luas. Tantangan pendidikan di masa depan semakin kompleks, terutama menghadapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), digitalisasi pembelajaran, dan perubahan karakter generasi muda. Karena itu, organisasi guru harus mampu menjadi pelopor perubahan yang positif.

Melalui gambar tersebut, kita diajak untuk tidak larut dalam perbedaan atau konflik organisasi, melainkan kembali fokus pada tujuan utama pendidikan, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan memuliakan guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Semangat persatuan itulah yang tampak jelas dalam pesan visual yang sederhana tetapi penuh makna ini.

Akhirnya, ucapan selamat kepada Prof. Dr. Unifah Rosyidi bukan hanya bentuk penghormatan kepada seorang pemimpin organisasi, tetapi juga simbol harapan baru bagi jutaan guru Indonesia. Semoga kepemimpinan beliau membawa PGRI semakin maju, profesional, dan mampu menjadi pelindung sekaligus penggerak perubahan pendidikan Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Daparkan dan Segera Pesan Buku Terbaru Omjay Guru Blogger Indonesia

"Daftar Isi Buku Kisah Omjay Terbaru yang Bikin Haru"
 https://video.kompasiana.com/wijayalabs/69febcc0c925c44edb0f2005/daftar-isi-buku-kisah-omjay?utm_source=Whatsapp&utm_medium=Refferal&utm_campaign=Sharing_Mobile

Berikut Resensi Buku “Kisah Omjay”

Ketika Guru Menulis dengan Hati dan Menginspirasi Negeri

Nama Dr. Wijaya Kusumah atau yang lebih dikenal dengan sapaan Omjay, sudah tidak asing lagi di dunia literasi digital Indonesia. Sosok guru Informatika dari SMP Labschool Jakarta ini dikenal sebagai guru yang tak pernah lelah menulis, berbagi inspirasi, dan menggerakkan budaya literasi di kalangan guru maupun pelajar. Melalui buku terbarunya yang berjudul Kisah Omjay dengan mantra ajaib Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi, Omjay menghadirkan perjalanan hidup yang bukan hanya menarik dibaca, tetapi juga mampu menyentuh hati pembacanya. 

Buku ini bukan sekadar autobiografi biasa. Di dalamnya tersimpan kisah perjuangan seorang guru sederhana yang berhasil membuktikan bahwa menulis dapat mengubah hidup seseorang. Dari daftar isi yang telah dibagikan Omjay melalui Kompasiana, terlihat jelas bahwa buku ini disusun dengan alur yang sangat personal, inspiratif, dan penuh nilai kehidupan. 

Sejak halaman awal, pembaca langsung diajak masuk ke dunia Omjay. Bagian pertama buku mengisahkan perjalanan masa kecilnya di Jakarta, kehidupan keluarga sederhana, hingga awal mula mengenal internet dan dunia blogging. Kisah ini terasa begitu dekat dengan kehidupan banyak guru Indonesia yang memulai segalanya dari keterbatasan. Omjay menunjukkan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari fasilitas mewah, melainkan dari kemauan belajar dan keberanian mencoba hal baru. 

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah kejujuran penulis dalam bercerita. Omjay tidak berusaha tampil sempurna. Ia justru memperlihatkan bagaimana dirinya pernah takut teknologi, pernah diremehkan, bahkan pernah mengalami masa sulit dalam perjalanan hidupnya. Namun semua tantangan itu dihadapi dengan semangat belajar dan konsistensi menulis setiap hari.

Kalimat mantra Omjay yang terkenal:

> “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

menjadi napas utama buku ini. Kalimat sederhana tersebut bukan sekadar slogan, tetapi benar-benar dibuktikan dalam kehidupan nyata penulis. Dari kebiasaan menulis, Omjay akhirnya dikenal luas sebagai “Guru Blogger Indonesia”, menjadi narasumber nasional, menerbitkan buku, hingga keliling Indonesia berbagi ilmu literasi digital kepada para guru. 

Bagian kedua buku menjadi salah satu bagian paling menarik. Omjay menceritakan bagaimana blog pribadinya membuka pintu dunia. Dari tulisan sederhana di internet, lahirlah kesempatan-kesempatan besar yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Pembaca akan menemukan kisah bagaimana tulisan dapat menjadi jembatan persahabatan, sumber inspirasi, bahkan jalan rezeki.

Di era media sosial dan kecerdasan buatan saat ini, buku ini terasa sangat relevan. Omjay mengingatkan bahwa teknologi seharusnya menjadi alat untuk berkarya dan berbagi manfaat, bukan sekadar hiburan tanpa arah. Dalam beberapa bab, Omjay juga menyinggung pentingnya literasi digital bagi guru Indonesia dan bagaimana guru harus mampu beradaptasi di era AI. 

Yang membuat buku ini semakin hidup adalah hadirnya kisah-kisah nyata yang sangat manusiawi. Misalnya cerita ketika Omjay nekat pergi ke Jepang hanya bermodal kemampuan bahasa sederhana, pengalaman belajar STEAM di China, hingga kisah mengharukan bersama murid-muridnya. Semua ditulis dengan bahasa ringan, hangat, dan mudah dipahami.

Buku ini juga menyimpan banyak nilai moral tentang keluarga, persahabatan, dan pengabdian. Dalam berbagai tulisan Omjay di Kompasiana, tampak jelas bahwa ia adalah pribadi yang sangat menghargai keluarga dan persahabatan. Nuansa itu juga terasa kuat dalam buku ini. 

Selain inspiratif, buku ini juga memotivasi pembaca untuk mulai menulis. Omjay berhasil mematahkan anggapan bahwa menulis hanya untuk orang hebat atau sastrawan terkenal. Ia membuktikan bahwa guru biasa pun bisa dikenal luas lewat tulisan yang tulus dari hati. Pesan inilah yang menjadi kekuatan emosional buku Kisah Omjay.

Dari sisi penyajian, daftar isi buku ini sangat rapi dan sistematis. Pembagian enam bagian utama membuat pembaca mudah mengikuti perjalanan hidup Omjay dari masa kecil hingga menjadi tokoh literasi digital nasional. Setiap judul bab terasa menarik dan membuat penasaran. Misalnya bab “Menulis Sebagai Terapi Jiwa”, “Guru Bisa Terkenal Karena Karya”, hingga “Menjadi Manusia yang Bermanfaat”. Judul-judul tersebut menunjukkan bahwa buku ini bukan hanya tentang Omjay, tetapi juga tentang kehidupan dan perjuangan banyak guru Indonesia. 

Kelebihan lain buku ini adalah kedekatan emosionalnya dengan pembaca. Banyak orang mungkin akan merasa seperti sedang membaca kisah dirinya sendiri. Guru yang lelah mengajar, orang tua yang berjuang untuk keluarga, atau siapa pun yang pernah merasa kecil dan tidak percaya diri, akan menemukan semangat baru setelah membaca buku ini.

Meski demikian, karena buku ini sangat personal, ada beberapa bagian yang kemungkinan terasa lebih dekat bagi pembaca dari kalangan guru dan pegiat literasi. Namun justru di situlah nilai autentiknya. Buku ini tidak dibuat untuk tampil mewah, tetapi untuk menyampaikan pengalaman hidup yang nyata.

Secara keseluruhan, Kisah Omjay adalah buku yang layak disebut sebagai buku motivasi, autobiografi, dan literasi pendidikan dalam satu paket lengkap. Buku ini mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan cara meninggalkan jejak kebaikan untuk dunia.

Melalui buku ini, Dr. Wijaya Kusumah kembali membuktikan bahwa seorang guru bisa menjadi inspirasi nasional lewat karya dan ketulusan hati. Buku ini sangat cocok dibaca oleh guru, mahasiswa, pelajar, pegiat literasi, maupun siapa saja yang sedang mencari semangat hidup.

Jika buku ini benar-benar dicetak dan tersebar luas ke seluruh Indonesia seperti rencana Omjay, maka bukan tidak mungkin buku ini akan menjadi salah satu buku inspiratif terbaik dari dunia pendidikan Indonesia tahun ini. 

Buku Kisah Omjay mengingatkan kita bahwa tulisan sederhana yang lahir dari hati dapat mengubah kehidupan banyak orang. Dan Omjay telah membuktikannya.

Sabtu, 16 Mei 2026

Menyusuri Jalan Pengabdian Bersama ibu Prof Unifah Rosyidi Ketua Umum PB PGRI


Menyusuri Jalan Pengabdian Bersama Ibu Ketua Umum PB PGRI di Sulawesi Selatan

Perjalanan panjang dari Majene, Sulawesi Barat menuju Makassar, Sulawesi Selatan, bukan sekadar perpindahan dari satu kota ke kota lain. Di balik jalan berliku, panas matahari, dan rasa lelah yang menyertai perjalanan darat itu, tersimpan banyak pelajaran hidup yang begitu menyentuh hati. Perjalanan ini menjadi saksi bagaimana kesederhanaan, persahabatan, perjuangan, dan kerendahan hati masih hidup di tengah para pejuang pendidikan Indonesia.

Di tengah perjalanan itu, rombongan singgah di Sidrap untuk menikmati kuliner khas Sulawesi Selatan yang sangat terkenal, yaitu coto Makassar. Tempat sederhana itu mendadak terasa begitu hangat karena dipenuhi canda, tawa, dan rasa kekeluargaan. Bersama rombongan tampak sosok Ibu Ketua Umum PB PGRI, Unifah Rosyidi, yang selama ini dikenal sebagai figur tegas, cerdas, sekaligus penuh kasih kepada para guru di seluruh Indonesia.

Tidak ada kemewahan berlebihan dalam perjalanan itu. Semua berlangsung apa adanya. Justru di situlah letak keindahannya. Di sebuah rumah makan coto Makassar yang sederhana, para pejuang pendidikan duduk bersama menikmati hidangan hangat setelah perjalanan panjang. Coto Makassar yang kaya rempah itu terasa semakin nikmat karena disantap bersama orang-orang yang memiliki hati tulus untuk memajukan pendidikan bangsa.

“Waduh, makasih Prof. Hasnawi traktirannya,” begitu ungkapan spontan penuh rasa syukur dan bahagia. Ternyata, Prof. Hasnawi dan timnya bergerak lebih cepat. Bahkan makanan tambahan yang awalnya disiapkan untuk kucing pun sudah lebih dulu “diamankan” oleh tim beliau. Suasana langsung pecah oleh gelak tawa. Perjalanan yang melelahkan berubah menjadi penuh kehangatan.

Di balik candaan sederhana itu, tersimpan makna yang sangat dalam. Kebersamaan ternyata tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup ada ketulusan, rasa hormat, dan kebersamaan, maka perjalanan apa pun akan terasa indah. Itulah yang dirasakan sepanjang perjalanan menuju Makassar.

Perjalanan ini juga membawa kabar menggembirakan. Di tengah suasana santai dan penuh keakraban itu, datang berita bahwa perjuangan hukum yang panjang akhirnya membuahkan hasil. Peninjauan Kembali (PK) atas gugatan pihak sebelah yang sebelumnya juga kalah di tingkat kasasi, kembali dimenangkan.

Kabar kemenangan itu tentu membahagiakan. Namun yang paling mengagumkan justru respons dari para tokoh pendidikan dalam rombongan tersebut. Tidak ada pesta berlebihan. Tidak ada sikap jumawa. Tidak ada kata-kata yang merendahkan pihak lain. Yang muncul justru pesan bijak:

“Tetap merunduk dan rendah hati. Jangan jumawa.”

Kalimat sederhana itu terasa begitu kuat. Dalam kehidupan, kemenangan sering kali membuat manusia lupa diri. Banyak orang berubah ketika berada di atas. Namun para pejuang pendidikan ini justru menunjukkan sebaliknya. Semakin tinggi ilmu dan kedudukannya, semakin rendah hati sikapnya.

Perjalanan bersama Ibu Ketua Umum PB PGRI ini menjadi pelajaran nyata bahwa guru bukan hanya pengajar di ruang kelas. Guru adalah teladan kehidupan. Guru mengajarkan bagaimana menghadapi kemenangan dengan kepala dingin dan hati yang tetap bersih.

Sosok Unifah Rosyidi selama ini memang dikenal dekat dengan para guru di berbagai daerah. Dalam banyak kesempatan, beliau selalu mengingatkan bahwa perjuangan guru bukan sekadar mengejar jabatan atau penghargaan, tetapi menjaga marwah pendidikan Indonesia.

Di sepanjang perjalanan Sulawesi Barat menuju Sulawesi Selatan itu, tampak jelas bagaimana hubungan antarsesama pejuang pendidikan begitu hangat. Tidak ada sekat jabatan. Semua bercanda bersama. Semua makan bersama. Semua saling membantu.

Perjalanan darat yang panjang itu seolah menjadi simbol perjalanan panjang dunia pendidikan Indonesia. Jalannya kadang mulus, kadang berlubang, kadang melelahkan. Namun jika dijalani bersama orang-orang baik, semuanya terasa ringan.

Di rumah makan sederhana itu pula terlihat bahwa kebahagiaan sejati tidak datang dari kemewahan, tetapi dari rasa syukur. Sepiring coto Makassar terasa begitu nikmat karena disantap dalam suasana penuh persaudaraan.

Mungkin bagi orang lain, kejadian rebutan makanan tambahan hanyalah candaan biasa. Namun justru dari momen-momen kecil seperti itulah lahir kenangan indah yang akan selalu diingat sepanjang hidup. Kadang yang paling membekas bukan acara resmi atau pidato besar, tetapi tawa sederhana di tengah perjalanan.

Perjalanan ini juga mengingatkan bahwa perjuangan organisasi guru bukan perkara mudah. Banyak tantangan yang harus dihadapi. Banyak ujian yang harus dilewati. Bahkan terkadang perjuangan itu harus dibawa hingga ke meja hijau pengadilan. Namun ketika perjuangan dilakukan dengan niat baik dan hati bersih, hasil akhirnya akan menemukan jalannya sendiri.

Kemenangan PK itu bukan sekadar kemenangan hukum. Lebih dari itu, kemenangan tersebut menjadi simbol bahwa kebenaran dan ketulusan pada akhirnya akan menemukan tempatnya. Namun sekali lagi, kemenangan sejati bukan saat berhasil mengalahkan orang lain, melainkan saat mampu menjaga hati tetap rendah meski berada di atas.

Pesan “jangan jumawa” terasa sangat relevan di zaman sekarang. Dunia saat ini terlalu ramai oleh orang-orang yang ingin terlihat hebat. Sedikit keberhasilan sering dipamerkan berlebihan. Padahal semakin tinggi pohon, semakin ia merunduk.

Nilai itulah yang terasa begitu kuat dalam perjalanan ini. Para tokoh pendidikan yang memiliki ilmu tinggi, jabatan tinggi, dan pengalaman luas justru menunjukkan sikap sederhana dan penuh kehangatan. Mereka tertawa bersama di warung sederhana, berbagi makanan, dan tetap menjaga adab dalam kemenangan.

Perjalanan menuju Makassar itu akhirnya bukan hanya perjalanan fisik. Ia menjadi perjalanan batin. Mengajarkan bahwa hidup akan terasa indah jika dijalani dengan rasa syukur, persaudaraan, dan kerendahan hati.

Semoga kebersamaan para pejuang pendidikan ini menjadi inspirasi bagi guru-guru Indonesia di mana pun berada. Bahwa perjuangan harus terus dilakukan dengan hati yang bersih. Bahwa kemenangan tidak boleh membuat lupa diri. Dan bahwa setinggi apa pun jabatan seseorang, ia tetap harus mampu duduk bersama rakyat kecil, menikmati coto Makassar di warung sederhana sambil tertawa bersama sahabat seperjuangan.

Karena pada akhirnya, yang paling dikenang bukan seberapa tinggi jabatan kita, melainkan seberapa hangat kita memperlakukan orang lain dalam perjalanan hidup ini.

Senam Ling Tien Kung di Jatibening Indah

Senam Ling Tien Kung di Jatibening Indah: Menjaga Kesehatan, Mempererat Persaudaraan

Setiap hari Sabtu pagi, suasana di Lapangan Blok A Kompleks TNI AL Jatibening Indah tampak berbeda. Sejak pukul 06.00 WIB, warga mulai berdatangan dengan pakaian olahraga berwarna-warni. Ada yang datang bersama keluarga, ada pula yang hadir bersama sahabat dan tetangga. Mereka berkumpul bukan untuk sekadar bercengkerama, melainkan mengikuti kegiatan Senam Ling Tien Kung yang dilaksanakan rutin setiap Sabtu pukul 06.30 WIB dan terbuka untuk umum.

Kegiatan ini menjadi salah satu aktivitas positif yang semakin diminati masyarakat. Tidak hanya warga sekitar Jatibening Indah, tetapi juga peserta dari berbagai wilayah lain ikut hadir untuk merasakan manfaat senam kesehatan tersebut. Semangat kebersamaan tampak begitu terasa sejak awal kegiatan dimulai.

Senam Ling Tien Kung dikenal sebagai senam kesehatan yang menggabungkan gerakan tubuh, pernapasan, dan relaksasi pikiran. Gerakannya terlihat sederhana, namun memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan tubuh. Banyak peserta merasakan tubuh menjadi lebih segar, pernapasan lebih baik, tidur lebih nyenyak, serta pikiran menjadi lebih tenang setelah rutin mengikuti senam ini.

Bagi sebagian orang, hari Sabtu sering digunakan untuk beristirahat setelah menjalani kesibukan kerja selama lima hari. Namun bagi komunitas Ling Tien Kung di Jatibening Indah, Sabtu pagi justru menjadi waktu terbaik untuk menyehatkan badan sekaligus mempererat hubungan sosial antarwarga.

Instruktur senam memandu peserta dengan penuh semangat dan sabar. Gerakan dilakukan secara bertahap, mulai dari pemanasan, latihan inti, hingga pendinginan. Musik pengiring yang lembut membuat suasana semakin nyaman dan menyenangkan. Para peserta mengikuti setiap gerakan dengan antusias.

Menariknya, kegiatan ini tidak memandang usia. Anak muda, orang tua, hingga lanjut usia dapat mengikuti senam bersama-sama. Bahkan beberapa peserta mengaku baru pertama kali mencoba, namun langsung merasa nyaman karena suasana yang ramah dan penuh kekeluargaan.

Salah satu kelebihan Senam Ling Tien Kung adalah gerakannya yang relatif ringan sehingga aman dilakukan oleh banyak kalangan. Fokus utama senam ini adalah melatih kelenturan tubuh, melancarkan peredaran darah, memperbaiki postur tubuh, serta membantu menjaga kesehatan tulang dan sendi.

Di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan dan aktivitas padat, masyarakat memang membutuhkan ruang sehat seperti ini. Banyak orang terlalu sibuk bekerja hingga lupa menjaga kesehatan tubuhnya sendiri. Padahal kesehatan adalah investasi paling berharga dalam kehidupan.

Melalui kegiatan senam rutin, masyarakat diajak untuk mulai peduli terhadap kondisi tubuhnya. Tidak perlu menunggu sakit terlebih dahulu untuk berolahraga. Justru dengan olahraga teratur, tubuh akan lebih kuat menghadapi berbagai penyakit.

Selain manfaat kesehatan, kegiatan ini juga membawa dampak sosial yang sangat baik. Warga yang sebelumnya jarang bertemu menjadi saling mengenal. Hubungan antarwarga semakin akrab dan harmonis. Setelah senam selesai, peserta biasanya saling berbincang sambil menikmati suasana pagi yang segar.

Kebersamaan seperti inilah yang saat ini mulai langka di tengah kehidupan perkotaan. Banyak orang tinggal berdekatan, tetapi tidak saling mengenal. Melalui kegiatan positif seperti Senam Ling Tien Kung, hubungan sosial kembali terbangun dengan baik.

Tidak sedikit peserta yang mengaku merasakan perubahan positif setelah rutin mengikuti senam. Ada yang merasa badan lebih ringan, nyeri sendi berkurang, hingga tekanan pikiran menjadi lebih stabil. Hal ini menunjukkan bahwa olahraga bukan hanya bermanfaat bagi fisik, tetapi juga kesehatan mental.

Lingkungan Lapangan Blok A Kompleks TNI AL Jatibening Indah yang luas dan nyaman juga menjadi tempat ideal untuk kegiatan olahraga pagi. Udara pagi yang segar menambah semangat peserta dalam bergerak dan berlatih bersama.

Yang paling menarik, kegiatan ini terbuka untuk umum tanpa memandang latar belakang. Siapa saja boleh datang dan ikut bergabung. Semangat inklusif inilah yang membuat komunitas senam semakin berkembang dan dicintai masyarakat.

Kegiatan positif seperti ini patut diapresiasi dan didukung bersama. Di tengah maraknya gaya hidup kurang gerak akibat penggunaan teknologi dan aktivitas di depan layar, masyarakat perlu memiliki kegiatan sehat yang rutin dan menyenangkan.

Senam Ling Tien Kung bukan hanya tentang olahraga, tetapi juga tentang membangun gaya hidup sehat, menjaga kebersamaan, dan menciptakan lingkungan yang harmonis. Dari lapangan sederhana di Jatibening Indah, lahir semangat hidup sehat yang menginspirasi banyak orang.

Bagi masyarakat yang ingin mencoba hidup lebih sehat, tidak ada salahnya datang langsung setiap hari Sabtu pukul 06.30 WIB di Lapangan Blok A Kompleks TNI AL Jatibening Indah. Datanglah dengan semangat, ajak keluarga dan sahabat, lalu rasakan sendiri manfaatnya.

Karena sehat bukan hanya tentang panjang umur, tetapi juga tentang menikmati hidup dengan tubuh yang bugar, pikiran yang tenang, dan hati yang bahagia. Senam Ling Tien Kung menjadi salah satu jalan sederhana untuk meraih semua itu bersama-sama.

Tiga Malam Tahlilan dan Air Mata Untuk Kakak Tercinta

Tiga Malam Tahlilan dan Air Mata yang Tak Pernah Benar-Benar Kering

Hari Rabu, 13 Mei 2026, menjadi hari yang tidak akan pernah dilupakan oleh keluarga besar Omjay. Hari itu, kakak pertama Omjay meninggal dunia. Rasanya seperti mimpi yang begitu cepat berubah menjadi kenyataan pahit. Baru kemarin bercanda, baru kemarin saling menyapa di grup keluarga, baru kemarin mendengar suaranya. Kini semuanya tinggal kenangan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.

Siang itu keluarga langsung bergerak menuju TPU Malaka 1 Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Langit mendung seakan ikut bersedih. Tanah merah yang basah perlahan menutupi liang lahat kakak tercinta. Suara isak tangis keluarga pecah ketika jenazah mulai ditimbun tanah. Tidak ada seorang pun yang benar-benar siap menghadapi perpisahan.

Omjay berdiri memandangi makam kakaknya dengan hati yang terasa kosong. Ada banyak kenangan yang tiba-tiba berputar di kepala. Masa kecil bersama. Pertengkaran kecil antar saudara. Canda sederhana saat berkumpul keluarga. Semua datang bersamaan seperti tayangan film yang diputar ulang oleh Tuhan.

Kematian memang selalu mengajarkan satu hal penting: manusia hanya sedang singgah.

Malam harinya, rumah keluarga kakak dipenuhi pelayat. Kursi-kursi dan karpet disusun rapi. Karpet digelar di depan halaman rumah. Aroma teh hangat dan kopi bercampur dengan suasana duka yang masih sangat terasa. Tahlilan pertama dimulai. Bacaan Yasin dan doa-doa menggema pelan di dalam rumah.

Tidak sedikit yang menitikkan air mata.

Ada yang diam menunduk. Ada yang memandangi foto almarhum. Ada yang sibuk menyembunyikan kesedihannya agar tampak tegar di depan keluarga.

Padahal sesungguhnya hati mereka remuk.

Tahlilan berlangsung hingga tiga malam berturut-turut. Semalam menjadi malam ketiga. Bacaan doa masih sama, tetapi rasa kehilangan justru semakin terasa. Sebab setelah tamu mulai pulang, rumah kembali sunyi. Kursi kosong itu masih ada. Gelas yang biasa dipakai almarhum masih tersimpan. Bahkan suara langkahnya seperti masih terdengar di telinga.

Kesedihan keluarga belum benar-benar selesai.

Kebetulan hari Kamis sampai Jumat Omjay libur sekolah. Namun liburan kali ini terasa berbeda. Tidak ada keinginan pergi ke mana-mana. Tidak ada semangat berjalan-jalan atau sekadar mencari hiburan. Omjay memilih tetap di rumah.

Kadang duduk diam. Kadang membuka ponsel lalu melihat kembali foto-foto lama bersama kakak. Kadang tanpa sadar air mata jatuh begitu saja.

Ternyata kehilangan seseorang yang sangat dekat tidak pernah mudah.

Banyak orang mengira setelah pemakaman semuanya selesai. Padahal justru setelah semua tamu pulang, rasa sepi itu datang perlahan. Kita mulai sadar bahwa ada seseorang yang biasanya hadir, kini benar-benar sudah tiada.

Rumah terasa berbeda. Grup keluarga terasa berbeda. Bahkan hari-hari terasa berjalan lebih lambat.

Namun di balik kesedihan itu, keluarga Omjay tetap berusaha kuat. Sebab hidup harus terus berjalan. Doa-doa terus dipanjatkan agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.

Hari Sabtu ini keluarga kembali mengadakan doa bersama di rumah. Doa itu bukan hanya untuk kakak Omjay yang telah meninggal dunia, tetapi juga untuk keponakan Omjay yang bernama Alda yang kini sedang hamil empat bulan.

Di tengah suasana duka, keluarga juga ingin memohon keselamatan untuk calon bayi yang sedang tumbuh dalam kandungan.

Begitulah hidup berjalan.

Ada yang pergi meninggalkan dunia. Ada pula kehidupan baru yang sedang dipersiapkan Allah untuk hadir ke bumi.

Sungguh, hidup dan mati berjalan berdampingan.

Omjay sudah meminta Ustadz Sijai untuk memberikan ceramah dan memimpin doa nanti siang selepas salat Zuhur sekitar pukul 13.00 WIB. Keluarga berharap acara sederhana itu membawa ketenangan hati.

Sebab terkadang manusia hanya membutuhkan satu hal saat sedang berduka: doa dan kebersamaan keluarga.

Dalam suasana seperti ini, Omjay kembali menyadari betapa berharganya waktu bersama orang-orang tercinta. Kita sering sibuk bekerja, sibuk mengejar dunia, sibuk memikirkan banyak hal, sampai lupa bahwa umur manusia tidak ada yang tahu.

Mungkin hari ini kita masih bisa bercanda. Mungkin besok kita tinggal nama.

Karena itu, jangan pelit memberi perhatian kepada keluarga. Jangan gengsi meminta maaf. Jangan menunda menyayangi orang-orang yang masih ada.

Sebab ketika seseorang sudah pergi, penyesalan tidak akan mampu mengembalikannya lagi.

Kematian kakak pertama Omjay juga mengajarkan bahwa keluarga adalah tempat pulang paling sejati. Saat duka datang, keluarga saling menguatkan. Saat air mata jatuh, keluarga saling memeluk. Saat hati terasa rapuh, keluarga menjadi sandaran.

Dan malam-malam tahlilan itu bukan sekadar tradisi.

Di sana ada cinta. Di sana ada kerinduan. Di sana ada harapan agar doa-doa yang dikirimkan menjadi cahaya bagi almarhum di alam kuburnya.

Semoga Allah SWT mengampuni segala dosa kakak Omjay, melapangkan kuburnya, menerima amal ibadahnya, dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.

Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan keikhlasan.

Dan semoga keponakan Omjay, Alda, selalu diberikan kesehatan bersama calon bayinya hingga persalinan nanti.

Aamiin ya rabbal alamin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan: Pelajaran Berharga dari KBMN Gelombang 34

Menulis itu mudah, tetapi menghadirkan tulisan yang nyaman dibaca ternyata membutuhkan perjuangan yang lebih panjang. Hal itulah yang dirasakan Omjay ketika mengikuti kegiatan KBMN Gelombang 34 pada pertemuan ke-12 yang dilaksanakan Jumat, 15 Mei 2026. Tema yang dibahas malam itu sangat menarik dan dekat dengan kehidupan para penulis, yaitu “Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan.”

Narasumber malam itu adalah Susanto, seorang guru sekaligus penulis yang menyampaikan materi dengan sederhana namun sangat mengena di hati peserta. Acara dipandu dengan hangat oleh Lely Suryani yang membuat diskusi berjalan hidup dan penuh semangat.

Seperti biasa, Omjay mengikuti kegiatan tersebut sambil membuka laptop kecil kesayangannya. Di tengah suasana malam yang tenang, OmJay mulai menyadari satu hal penting: banyak penulis terlalu bersemangat menerbitkan tulisan, tetapi lupa memeriksa kembali tulisannya. Akibatnya, pembaca menemukan banyak kesalahan kecil yang mengganggu kenyamanan membaca.

Padahal, kesalahan kecil bisa merusak keindahan sebuah tulisan.

Dalam pemaparannya, Pak Susanto menjelaskan bahwa proofreading adalah tahap akhir sebelum tulisan dipublikasikan. Tujuannya sederhana, yakni memastikan tulisan bersih dari kesalahan pengetikan, penggunaan tanda baca, kalimat yang tidak efektif, hingga pengulangan kata yang tidak perlu.

Omjay langsung teringat masa-masa awal dirinya belajar menulis blog. Saat itu ia begitu bersemangat mempublikasikan tulisan. Baru beberapa menit tayang, ternyata ada huruf yang tertinggal, nama yang salah ketik, bahkan tanda baca berantakan. Kadang pembaca yang lebih dahulu menemukan kesalahan tersebut.

Rasanya malu sekali.

Namun dari situlah Omjay belajar bahwa menulis bukan sekadar menuangkan ide, melainkan juga menghormati pembaca. Tulisan yang rapi menunjukkan kesungguhan penulis dalam berkarya.

Pak Susanto memberikan contoh sederhana. Ada penulis yang sudah memiliki ide luar biasa, tetapi karena tulisannya dipenuhi typo dan kalimat berulang, pembaca akhirnya kehilangan fokus. Pesan penting yang ingin disampaikan menjadi tidak maksimal.

Malam itu peserta dibuat sadar bahwa proofreading bukan pekerjaan sepele. Justru tahap inilah yang sering menentukan kualitas akhir sebuah tulisan.

Omjay kemudian teringat pesan lama dari para editor media. Mereka selalu mengatakan bahwa tulisan yang baik bukan tulisan yang langsung jadi, melainkan tulisan yang sudah melalui proses membaca ulang berkali-kali.

Kadang setelah didiamkan beberapa jam, lalu dibaca kembali, penulis baru menemukan banyak kesalahan yang sebelumnya tidak terlihat.

Inilah keajaiban proofreading.

Menariknya, dalam sesi diskusi, peserta juga berbagi pengalaman lucu. Ada yang pernah salah menulis nama tokoh, salah menempatkan tanda baca, hingga salah memilih kata sehingga makna kalimat berubah total. Semua itu membuat suasana pelatihan menjadi hangat dan penuh tawa.

Omjay sendiri pernah mengalami pengalaman memalukan ketika menulis artikel panjang untuk blog pendidikan. Karena terlalu terburu-buru mengejar tayang, ia lupa memeriksa ulang. Akibatnya ada beberapa paragraf yang kalimatnya terpotong. Pembaca pun bingung memahami isi tulisan.

Sejak saat itu Omjay mulai disiplin melakukan proofreading sebelum menekan tombol “publikasikan”.

Ada beberapa langkah sederhana yang malam itu sangat membekas di hati Omjay.

Pertama, baca ulang tulisan secara perlahan. Jangan terburu-buru. Fokus pada setiap kalimat.

Kedua, periksa tanda baca. Ternyata koma dan titik sangat menentukan kenyamanan membaca.

Ketiga, hindari pengulangan kata yang tidak perlu.

Keempat, pastikan nama orang, tempat, dan data sudah benar.

Kelima, bila perlu mintalah orang lain membaca tulisan kita sebelum dipublikasikan.

Bagi Omjay, poin terakhir sangat penting. Kadang penulis terlalu akrab dengan tulisannya sendiri sehingga tidak sadar ada kesalahan. Mata orang lain justru lebih jeli menemukan kekurangan.

Di tengah perkembangan teknologi dan hadirnya kecerdasan buatan, proofreading tetap menjadi kemampuan penting. Mesin memang bisa membantu mendeteksi kesalahan, tetapi sentuhan manusia tetap dibutuhkan untuk menjaga rasa dan makna tulisan.

Sebab tulisan yang baik bukan hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga enak dibaca dan menyentuh hati pembacanya.

KBMN Gelombang 34 malam itu kembali mengingatkan Omjay bahwa proses menulis adalah perjalanan belajar tanpa akhir. Seorang penulis tidak cukup hanya rajin menulis, tetapi juga harus sabar memperbaiki tulisannya.

Menulis ibarat memasak. Ide adalah bahan masakan, sedangkan proofreading adalah proses mencicipi sebelum hidangan disajikan kepada tamu. Jika belum pas, maka perlu diperbaiki terlebih dahulu.

Omjay pun semakin memahami mengapa banyak penulis hebat sangat teliti terhadap detail kecil. Mereka sadar bahwa kualitas tulisan lahir dari ketekunan memperbaiki.

Di akhir sesi, Omjay berkunjung ke beberapa resume karya peserta yang dibagikan malam itu. Tulisan-tulisan mereka sangat menarik dan menunjukkan semangat belajar luar biasa.

Beberapa resume peserta dapat dibaca melalui blog berikut:

[Hayatunnufus Blog](https://nufusana81.blogspot.com/2026/05/proofreading-ketika-detail-kecil.html?utm_source=chatgpt.com)

[Blog Annisa](https://annisamenulismasakini.blogspot.com/2026/05/sebelum-tulisan-dipublikasikan-kita.html?utm_source=chatgpt.com)

[Wiya Neng Galih Blog](https://nenggalihmencatat.blogspot.com/2026/05/resume-ke-12-kbmn-pgri-34.html?utm_source=chatgpt.com)

[Emi Suhaimi Blog](https://emmiutan.blogspot.com/2026/05/proofreading-sebuah-tulisan.html?utm_source=chatgpt.com)


Membaca tulisan para peserta membuat Omjay semakin yakin bahwa budaya menulis di kalangan guru terus tumbuh dengan indah. Guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga berbagi inspirasi melalui tulisan.

Dan malam itu, satu pelajaran penting kembali tertanam kuat dalam hati Omjay:

“Jangan terburu-buru menerbitkan tulisan. Bacalah kembali dengan hati, sebab detail kecil sering menentukan kualitas sebuah karya.”

Karena tulisan yang baik bukan hanya selesai ditulis, tetapi juga selesai diperiksa.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 15 Mei 2026

Proofreeding Sebelum Menerbitkan Tulisan

Proofreading Sebelum Menerbitkan Tulisan

Menulis itu mudah. Yang sulit adalah memastikan tulisan kita nyaman dibaca orang lain. Banyak penulis semangat menuangkan ide, tetapi lupa merapikan hasil tulisannya sebelum dipublikasikan. Akibatnya, tulisan yang sebenarnya bagus menjadi kurang enak dinikmati karena typo, kalimat berulang, penggunaan tanda baca yang salah, atau susunan paragraf yang membingungkan pembaca.

Padahal, pembaca ingin menikmati tulisan yang mengalir, jelas, dan nyaman dibaca sampai akhir. Mereka ingin mendapatkan manfaat, inspirasi, atau hiburan tanpa terganggu oleh kesalahan kecil yang sebenarnya bisa diperbaiki sebelumnya.

Inilah pentingnya proofreading.

Dalam Pertemuan ke-12 Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang ke-34, peserta diajak memahami pentingnya proofreading sebelum menerbitkan tulisan. Kegiatan ini menghadirkan Susanto, S.Pd., yang dikenal sebagai “polisi bahasa” di KBMN, dengan moderator Lely Suryani, S.Pd., SD.

Materi ini sangat penting bagi siapa saja yang ingin tulisannya berkualitas, baik guru, mahasiswa, blogger, penulis pemula, maupun penulis buku.

Apa Itu Proofreading?

Proofreading adalah proses membaca ulang dan memeriksa tulisan sebelum dipublikasikan atau dicetak. Tujuannya untuk menemukan dan memperbaiki kesalahan penulisan.

Kesalahan itu bisa berupa:

  • Typo atau salah ketik
  • Penggunaan huruf kapital yang tidak tepat
  • Kesalahan tanda baca
  • Kalimat tidak efektif
  • Pengulangan kata
  • Susunan paragraf yang kacau
  • Pemilihan diksi yang kurang tepat
  • Kesalahan ejaan
  • Inkonsistensi istilah

Proofreading adalah tahap terakhir sebelum tulisan dipublikasikan. Ibarat memasak, proofreading adalah proses mencicipi makanan sebelum disajikan kepada tamu.

Tulisan tanpa proofreading sering kali membuat pembaca lelah. Ide bagus pun bisa kehilangan daya tarik karena pembaca terganggu dengan kesalahan kecil yang berulang.

Mengapa Proofreading Sangat Penting?

Banyak penulis merasa setelah selesai mengetik maka tulisannya sudah selesai. Padahal belum tentu.

Sering kali otak penulis terlalu fokus pada isi sehingga tidak menyadari ada banyak kesalahan dalam tulisannya sendiri. Karena itulah proofreading menjadi sangat penting.

Berikut manfaat proofreading:

1. Membuat Tulisan Lebih Profesional

Tulisan yang rapi menunjukkan bahwa penulis menghargai pembacanya. Kesalahan kecil memang manusiawi, tetapi terlalu banyak typo membuat tulisan terlihat asal-asalan.

2. Memudahkan Pembaca Memahami Isi

Kalimat yang efektif dan jelas membantu pembaca menangkap pesan lebih cepat. Tulisan menjadi nyaman dinikmati.

3. Mengurangi Kesalahpahaman

Salah tanda baca bisa mengubah makna kalimat. Proofreading membantu memastikan maksud penulis tersampaikan dengan benar.

4. Meningkatkan Kredibilitas Penulis

Penulis yang teliti akan lebih dipercaya pembacanya. Terutama bagi guru, dosen, jurnalis, atau blogger pendidikan.

5. Membantu Tulisan Lebih Enak Dibaca

Tulisan yang mengalir membuat pembaca betah sampai akhir. Bahkan bisa membuat mereka ingin membaca karya lainnya.

Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Tulisan

Dalam dunia menulis, ada beberapa kesalahan yang sering ditemukan, di antaranya:

Typo atau Salah Ketik

Contohnya:

  • “sya” seharusnya “saya”
  • “karna” seharusnya “karena”

Kesalahan seperti ini terlihat kecil, tetapi jika terlalu banyak akan mengganggu pembaca.

Pengulangan Kata

Misalnya:

“Saya sangat benar-benar senang sekali.”

Kalimat itu terlalu berlebihan. Cukup ditulis:

“Saya sangat senang.”

Kalimat Terlalu Panjang

Kalimat yang terlalu panjang membuat pembaca kehabisan napas saat membaca. Sebaiknya gunakan kalimat yang singkat tetapi jelas.

Penggunaan Tanda Baca yang Salah

Contohnya:

“Mari makan guru.”

Kalimat itu berbeda makna dengan:

“Mari makan, Guru.”

Satu koma bisa menyelamatkan makna.

Paragraf Terlalu Padat

Paragraf panjang tanpa jeda membuat mata cepat lelah. Pisahkan ide utama ke dalam beberapa paragraf agar lebih nyaman dibaca.

Cara Melakukan Proofreading yang Efektif

Proofreading tidak cukup hanya membaca sekilas. Ada teknik tertentu agar hasilnya lebih maksimal.

1. Jangan Langsung Dipublikasikan

Setelah selesai menulis, istirahatkan tulisan beberapa saat. Bisa 30 menit, beberapa jam, atau bahkan sehari.

Saat membaca kembali dengan pikiran segar, kita lebih mudah menemukan kesalahan.

2. Baca Perlahan

Jangan terburu-buru. Bacalah kata demi kata dengan teliti.

Fokus pada:

  • Ejaan
  • Tanda baca
  • Susunan kalimat
  • Alur paragraf

3. Baca dengan Suara Keras

Teknik ini sangat efektif. Saat membaca keras, kita akan lebih mudah menemukan kalimat yang janggal atau terlalu panjang.

4. Gunakan Kamus dan PUEBI

Jika ragu pada ejaan atau tanda baca, jangan malu membuka pedoman bahasa Indonesia.

Penulis hebat bukan yang tidak pernah salah, tetapi yang mau memperbaiki kesalahan.

5. Gunakan Bantuan Teknologi

Saat ini banyak aplikasi pemeriksa ejaan dan tata bahasa. Namun jangan sepenuhnya bergantung pada aplikasi. Sentuhan manusia tetap penting.

6. Minta Orang Lain Membaca

Kadang kita terlalu akrab dengan tulisan sendiri sehingga sulit menemukan kesalahan.

Mintalah teman atau rekan membaca tulisan kita. Mereka sering menemukan hal yang luput dari perhatian kita.

Proofreading Bukan Sekadar Mencari Salah

Banyak orang mengira proofreading hanya mencari typo. Padahal lebih dari itu.

Proofreading juga membantu memperindah tulisan agar:

  • Lebih nyaman dibaca
  • Lebih komunikatif
  • Lebih menarik
  • Lebih hidup

Tulisan yang baik bukan hanya benar secara tata bahasa, tetapi juga mampu menyentuh hati pembaca.

Guru dan Kemampuan Proofreading

Bagi guru, kemampuan proofreading sangat penting. Guru sering membuat:

  • Modul ajar
  • Artikel pendidikan
  • Soal ujian
  • Buku ajar
  • Konten media sosial edukatif

Kesalahan kecil dalam tulisan guru bisa memengaruhi pemahaman siswa.

Karena itu, guru perlu membiasakan diri membaca ulang tulisannya sebelum dibagikan kepada peserta didik.

Menulis Hebat Dimulai dari Ketelitian

Menjadi penulis hebat bukan berarti harus langsung sempurna. Semua penulis pasti pernah melakukan kesalahan.

Namun penulis yang baik selalu mau memperbaiki tulisannya sebelum diterbitkan.

Proofreading mengajarkan kita untuk lebih teliti, sabar, dan menghargai pembaca.

Jangan sampai ide besar yang kita miliki tenggelam hanya karena malas membaca ulang tulisan sendiri.

Mari biasakan:

  • Menulis dengan hati
  • Mengedit dengan teliti
  • Menerbitkan dengan percaya diri

Sebab tulisan yang baik bukan hanya selesai ditulis, tetapi juga selesai diperiksa.

Selamat belajar proofreading bersama KBMN. Semoga semakin banyak lahir penulis hebat dari kalangan guru Indonesia.

Membangun Bisnis Menulis Dari Nol Hingga Ratusan Juta Rupiah Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Membangun Penghasilan Menulis dari Nol hingga Ratusan Juta Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Di era digital seperti sekarang, menulis bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang. Menulis telah berubah menjadi jalan rezeki yang mampu menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta rupiah. Banyak orang bermimpi menjadi penulis sukses, tetapi tidak sedikit yang menyerah sebelum memulai. Mereka merasa tidak berbakat, tidak punya koneksi, atau takut tulisannya tidak dibaca orang.

Namun kisah Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay membuktikan bahwa semua orang bisa membangun penghasilan dari menulis, asalkan mau belajar, konsisten, dan tidak mudah menyerah.

Omjay bukan lahir sebagai penulis terkenal. Beliau memulai semuanya dari nol. Seorang guru biasa yang memiliki semangat luar biasa dalam berbagi ilmu melalui tulisan. Dari blog sederhana, media sosial, hingga buku, Omjay terus menulis tanpa lelah. Perlahan tetapi pasti, tulisan-tulisannya dikenal banyak orang. Dari situlah pintu rezeki mulai terbuka.

Menulis Dimulai dari Keberanian

Banyak orang gagal menjadi penulis bukan karena tidak mampu menulis, tetapi karena takut memulai. Takut salah. Takut dikritik. Takut dianggap tidak pintar.

Omjay pernah mengatakan bahwa penulis hebat bukanlah orang yang langsung pandai menulis, melainkan orang yang terus menulis meski tulisannya belum sempurna.

Awalnya, tulisan Omjay mungkin dibaca hanya oleh beberapa orang. Namun beliau tidak berhenti. Setiap hari beliau belajar memperbaiki gaya bahasa, memperkaya wawasan, dan memahami kebutuhan pembaca. Dari sinilah terbentuk jam terbang menulis yang luar biasa.

Menulis itu seperti menanam pohon. Hari pertama belum terlihat hasilnya. Minggu pertama belum menghasilkan apa-apa. Tetapi jika dirawat dengan konsisten, suatu hari akan tumbuh besar dan berbuah lebat.

Blog Menjadi Ladang Rezeki

Saat banyak orang hanya menggunakan internet untuk hiburan, Omjay justru memanfaatkannya untuk berkarya. Blog menjadi rumah bagi ide-idenya. Dari pengalaman mengajar, motivasi pendidikan, teknologi, hingga kisah inspiratif, semua ditulis dengan hati.

Lama-kelamaan blog tersebut memiliki banyak pembaca. Ketika pembaca bertambah, peluang penghasilan pun mulai datang. Ada tawaran menjadi narasumber, pelatihan menulis, kerja sama media, hingga penerbitan buku.

Inilah yang sering tidak dipahami banyak orang. Penghasilan besar dari menulis tidak datang secara instan. Penghasilan itu lahir dari kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun melalui konsistensi karya.

Seseorang yang terus menulis akan dikenal sebagai ahli di bidangnya. Ketika sudah dipercaya, maka peluang ekonomi akan mengikuti.

Menulis Buku Membuka Banyak Jalan

Salah satu sumber penghasilan terbesar seorang penulis adalah buku. Omjay membuktikan bahwa guru pun bisa menghasilkan banyak karya buku.

Buku bukan hanya menghasilkan royalti. Buku juga meningkatkan reputasi. Ketika seseorang memiliki buku, ia lebih mudah dipercaya sebagai pembicara, trainer, atau mentor.

Banyak guru akhirnya mengundang Omjay untuk berbagi ilmu menulis. Dari seminar, workshop, kelas online, hingga pelatihan nasional, semuanya menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat besar.

Menariknya, Omjay tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Beliau membantu banyak guru Indonesia agar berani menulis dan menerbitkan buku. Ribuan guru akhirnya memiliki karya karena terinspirasi oleh perjuangan beliau.

Media Sosial sebagai Mesin Personal Branding

Di zaman sekarang, penulis tidak cukup hanya pandai menulis. Penulis juga harus mampu membangun personal branding.

Omjay aktif membagikan tulisan motivasi, pengalaman hidup, kegiatan pendidikan, dan semangat literasi melalui berbagai media sosial. Dari sinilah banyak orang mengenal beliau sebagai “Guru Blogger Indonesia”.

Personal branding yang kuat membuat peluang datang tanpa dicari. Banyak lembaga pendidikan, komunitas, dan instansi akhirnya mengundang Omjay sebagai pembicara.

Penghasilan besar sering kali lahir bukan hanya dari tulisan itu sendiri, tetapi dari dampak tulisan tersebut terhadap orang lain.

Konsistensi adalah Rahasia Utama

Banyak orang ingin cepat terkenal. Baru menulis dua atau tiga artikel sudah berharap viral. Ketika tidak ada hasil, mereka berhenti.

Omjay mengajarkan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada bakat.

Menulis satu halaman setiap hari selama setahun akan menghasilkan ratusan halaman tulisan. Menulis satu artikel setiap hari akan membangun ribuan pembaca. Sedikit demi sedikit, tulisan itu akan menjadi aset digital yang terus menghasilkan.

Hari ini mungkin tulisan kita dibaca sepuluh orang. Besok bisa seratus orang. Tahun depan mungkin puluhan ribu orang.

Tidak ada kesuksesan besar tanpa proses panjang.

Penghasilan Menulis Bisa Sangat Besar

Banyak orang meremehkan profesi penulis. Padahal dunia literasi memiliki potensi ekonomi luar biasa.

Penghasilan penulis bisa berasal dari:

  • Royalti buku
  • Honor artikel
  • Blog monetisasi
  • Seminar dan pelatihan
  • Kelas online
  • Menjadi pembicara
  • Endorsement pendidikan
  • Konsultasi
  • Affiliate digital
  • Penjualan ebook

Ketika semua sumber ini digabungkan, bukan tidak mungkin penghasilan mencapai ratusan juta rupiah.

Namun semua itu tidak datang dalam semalam. Dibutuhkan ketekunan bertahun-tahun seperti yang dilakukan Omjay.

Menulis dengan Hati

Salah satu kekuatan tulisan Omjay adalah ketulusan. Beliau menulis bukan sekadar mencari uang, tetapi ingin berbagi manfaat.

Tulisan yang lahir dari hati akan lebih mudah menyentuh pembaca. Orang bisa merasakan kejujuran dalam setiap kalimat.

Karena itu, jangan hanya mengejar viral atau uang. Fokuslah memberi manfaat. Ketika tulisan kita membantu banyak orang, rezeki biasanya datang mengikuti.

Guru Harus Berani Menulis

Omjay sering mengingatkan bahwa guru adalah gudang pengalaman. Setiap hari guru memiliki cerita inspiratif di kelas. Sayangnya, banyak pengalaman berharga hilang karena tidak ditulis.

Padahal pengalaman seorang guru bisa menjadi artikel, buku, modul, atau materi pelatihan yang bernilai ekonomi tinggi.

Jika setiap guru mau menulis satu halaman setiap hari, maka Indonesia akan dipenuhi karya luar biasa.

Penutup

Perjalanan Dr. Wijaya Kusumah membangun penghasilan dari menulis membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari modal besar. Kadang cukup dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari.

Menulis bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan. Tulisan mampu menginspirasi, mengubah hidup orang lain, dan membuka pintu rezeki yang tidak pernah disangka.

Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Mulailah sekarang. Karena siapa tahu, tulisan sederhana hari ini akan menjadi jalan menuju kesuksesan besar di masa depan.

Kisah Aki3 yang Menginspirasi

Dari Selembar Tikar Menuju Kemandirian

Kisah Aki 3 atau Tri Budihardjo yang Menginspirasi Anak Muda

Tahun 1986 menjadi tahun yang tidak akan pernah dilupakan oleh Tri Budihardjo, yang akrab dipanggil Aki 3. Di tahun itulah beliau mengambil keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan yang mungkin dianggap nekat oleh sebagian orang, tetapi justru menjadi titik awal lahirnya kemandirian dan keteguhan hidup.

Saat itu, kehidupan belum semudah sekarang. Tidak ada media sosial untuk pamer pencapaian. Tidak ada marketplace yang memudahkan membeli apa saja dengan sekali klik. Semua harus diperjuangkan dengan peluh, kesabaran, dan keyakinan.

Aki 3 adalah seorang guru muda dengan penghasilan sederhana. Setelah menikah, beliau tinggal di rumah mertuanya. Namun jauh di dalam hati, beliau ingin hidup mandiri bersama istrinya. Bukan karena tidak menghormati mertua, melainkan karena beliau ingin belajar bertanggung jawab terhadap keluarganya sendiri.

Dengan keberanian besar, beliau berkata kepada istrinya bahwa mereka harus mulai hidup mandiri.

“Apakah kamu mau ikut bersamaku?” tanya beliau kepada sang istri.

Istrinya mengangguk pelan.

“Mau.”

Jawaban sederhana itu menjadi kekuatan luar biasa. Dalam kehidupan rumah tangga, dukungan pasangan adalah modal utama menghadapi kerasnya kehidupan.

Mereka pun pergi meninggalkan kenyamanan rumah mertua. Tidak membawa kemewahan. Tidak membawa tabungan besar. Hanya membawa keyakinan dan semangat untuk membangun kehidupan sendiri.

Beruntung, seorang teman sesama guru menawarkan bantuan. Temannya memiliki dua rumah, dan satu rumah sedang kosong.

“Silakan ditempati dulu sambil belajar mandiri,” kata temannya dengan tulus.

Kalimat sederhana itu menjadi pertolongan besar yang tidak pernah dilupakan Aki 3.

Rumah itu sangat sederhana. Nyaris kosong tanpa perabot. Tidak ada kasur empuk. Tidak ada lemari mewah. Tidak ada televisi. Bahkan untuk tidur pun mereka hanya beralaskan selembar tikar.

Namun justru di situlah pelajaran hidup dimulai.

Selama hampir tiga bulan, Aki 3 dan istrinya tidur berdua di atas tikar sederhana. Saat malam datang, mereka saling menguatkan. Tidak mengeluh. Tidak menyalahkan keadaan. Mereka menikmati perjuangan itu bersama.

Kadang angin malam terasa dingin menusuk. Kadang perut harus berkompromi dengan lauk seadanya. Namun mereka percaya, kehidupan tidak akan selamanya sulit jika terus berusaha.

Sebagai guru muda, penghasilan Aki 3 saat itu sangat terbatas. Tetapi beliau tidak malu dengan keadaan. Beliau tetap berangkat mengajar dengan penuh semangat. Tetap mendidik murid-muridnya dengan hati tulus.

Bagi beliau, menjadi guru bukan soal kaya atau miskin. Menjadi guru adalah pengabdian.

Hari demi hari berlalu. Hingga akhirnya datang kabar yang sangat membahagiakan. Untuk pertama kalinya beliau menerima gaji ke-13.

Bagi sebagian orang zaman sekarang, gaji ke-13 mungkin dianggap biasa. Namun bagi Aki 3 saat itu, gaji tersebut terasa seperti cahaya harapan di tengah perjuangan hidup.

Beliau menggunakan uang itu bukan untuk berfoya-foya. Tidak dipakai membeli barang mewah. Dengan penuh rasa syukur, uang itu digunakan untuk membeli tempat tidur sederhana dan beberapa peralatan rumah tangga.

Saat tempat tidur itu tiba di rumah kecil mereka, hati Aki 3 dan istrinya begitu bahagia. Mereka memandangi tempat tidur sederhana itu dengan mata berkaca-kaca.

Bukan karena harganya mahal.

Tetapi karena tempat tidur itu dibeli dari hasil perjuangan sendiri.

Dari situlah Aki 3 belajar bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari kemewahan, melainkan dari hasil jerih payah yang halal dan penuh perjuangan.

Kisah hidup Aki 3 memberi pelajaran besar kepada anak muda zaman sekarang. Banyak anak muda hari ini ingin sukses secara instan. Baru bekerja sebentar sudah ingin hidup mewah. Baru memulai usaha sedikit sudah ingin hasil besar. Ketika menghadapi kesulitan kecil, langsung menyerah dan mengeluh.

Padahal generasi dahulu membangun kehidupan dari nol dengan penuh kesabaran.

Mereka tidak malu hidup sederhana. Mereka tidak gengsi memulai dari bawah. Mereka percaya bahwa proses adalah bagian penting menuju keberhasilan.

Aki 3 mengajarkan bahwa kemandirian harus dilatih sejak muda. Jangan terus bergantung kepada orang tua. Jangan takut hidup sederhana selama itu hasil usaha sendiri.

Beliau juga mengajarkan arti syukur. Meski hanya tidur di atas tikar, beliau tetap bersyukur karena masih memiliki pasangan yang setia menemani perjuangan.

Dalam hidup, pasangan yang mau diajak susah adalah anugerah terbesar.

Kini setelah puluhan tahun berlalu, kenangan tidur di atas tikar itu justru menjadi cerita paling indah dalam hidup Aki 3. Sebab dari perjuangan kecil itulah lahir mental kuat, rasa tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah.

Anak muda zaman sekarang perlu belajar bahwa kehidupan tidak selalu harus dimulai dengan kemewahan. Tidak masalah memulai dari rumah kontrakan kecil. Tidak masalah memakai perabot sederhana. Tidak masalah hidup hemat di awal pernikahan.

Yang paling penting adalah kemauan bekerja keras, hidup jujur, dan terus berusaha memperbaiki keadaan.

Kesuksesan besar sering kali lahir dari perjuangan yang sederhana.

Aki 3 telah membuktikannya.

Dari selembar tikar, beliau belajar arti kehidupan.

Dari rumah kosong sederhana, beliau belajar arti perjuangan.

Dan dari gaji ke-13 pertamanya, beliau belajar bahwa hasil kecil yang diperoleh dengan kerja keras akan terasa jauh lebih membahagiakan daripada kemewahan yang datang tanpa perjuangan.

Semoga kisah Aki 3 atau Tri Budihardjo ini menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia agar tidak mudah menyerah menghadapi hidup. Sebab masa depan yang baik tidak dibangun dalam semalam, tetapi dibangun sedikit demi sedikit dengan kesabaran, pengorbanan, dan kerja keras.

Mens Sana in Corpore Sano

Mens Sana in Corpore Sano: Di Dalam Tubuh yang Sehat Terdapat Jiwa yang Kuat

Video YouTube berikut menjadi inspirasi penting tentang bagaimana manusia harus menjaga keseimbangan antara kesehatan tubuh dan kesehatan jiwa:

Video YouTube Mens Sana in Corpore Sano

Ungkapan Latin mens sana in corpore sano sudah sangat akrab di telinga masyarakat Indonesia. Kalimat ini sering diterjemahkan sebagai “di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.” Ungkapan tersebut bukan sekadar slogan olahraga, melainkan sebuah filosofi hidup yang mengajarkan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan kesehatan mental.

Dalam video YouTube tersebut, pesan utama yang disampaikan sangat mendalam. Manusia tidak cukup hanya memiliki tubuh yang sehat, tetapi juga harus menjaga pikiran, hati, dan jiwanya agar tetap sehat. Kehidupan modern yang penuh tekanan sering membuat manusia lupa menjaga keseimbangan tersebut. Banyak orang bekerja keras mengejar materi, namun melupakan kesehatan tubuhnya. Sebaliknya, ada pula yang terlalu fokus pada penampilan fisik tetapi mengabaikan ketenangan jiwa dan kebersihan hati.

Ungkapan mens sana in corpore sano berasal dari penyair Romawi bernama Juvenal. Kalimat lengkapnya sebenarnya adalah Orandum est ut sit mens sana in corpore sano, yang berarti “hendaknya kita berdoa agar memiliki jiwa yang sehat di dalam tubuh yang sehat.” Filosofi ini menunjukkan bahwa kesehatan jasmani dan rohani harus berjalan beriringan agar manusia dapat hidup bahagia dan bermakna.

Di zaman sekarang, tantangan menjaga kesehatan semakin berat. Teknologi membuat manusia semakin jarang bergerak. Anak-anak lebih banyak bermain gawai daripada bermain di lapangan. Orang dewasa sibuk bekerja di depan komputer selama berjam-jam hingga lupa berolahraga. Akibatnya, tubuh mudah lelah, mata cepat lemah, pikiran stres, dan emosi menjadi tidak stabil.

Padahal tubuh manusia diciptakan untuk bergerak. Olahraga memiliki manfaat luar biasa bagi kesehatan. Ketika seseorang rutin berolahraga, aliran darah menjadi lancar, otot menjadi kuat, dan daya tahan tubuh meningkat. Tidak hanya itu, olahraga juga membantu memperbaiki suasana hati karena tubuh menghasilkan hormon endorfin yang membuat seseorang merasa lebih bahagia dan rileks.

Karena itu, banyak dokter dan ahli kesehatan menyarankan masyarakat untuk rutin berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau melakukan senam ringan setiap hari. Aktivitas sederhana seperti membersihkan rumah, berkebun, atau berjalan pagi bersama keluarga juga dapat membantu menjaga kebugaran tubuh.

Namun kesehatan fisik saja tidak cukup. Jiwa dan pikiran manusia juga membutuhkan perhatian. Pikiran yang dipenuhi rasa marah, iri, dengki, dan kecemasan dapat memengaruhi kesehatan tubuh. Banyak penyakit muncul akibat stres yang berkepanjangan. Tekanan hidup, masalah ekonomi, konflik keluarga, dan beban pekerjaan sering membuat manusia kehilangan ketenangan.

Oleh sebab itu, menjaga kesehatan mental menjadi sangat penting. Salah satu caranya adalah dengan berpikir positif dan belajar bersyukur. Orang yang mampu mensyukuri hidup biasanya lebih tenang dan bahagia. Selain itu, mendekatkan diri kepada Tuhan juga membantu hati menjadi damai. Ibadah, doa, membaca kitab suci, dan melakukan kebaikan dapat menjadi obat bagi jiwa yang lelah.

https://youtu.be/5U5lPdOFjRQ?si=RvWmIm1yLnWHfANe

Dalam dunia pendidikan, semboyan mens sana in corpore sano sangat penting diterapkan. Sekolah tidak hanya bertugas mencerdaskan otak siswa, tetapi juga membentuk karakter dan menjaga kesehatan mereka. Guru perlu mengingatkan peserta didik agar hidup sehat, makan bergizi, rajin berolahraga, serta menjaga etika dan sopan santun.

Kisah Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay juga menunjukkan pentingnya menjaga kesehatan dalam berkarya. Sebagai guru, blogger, dan penulis aktif, Omjay memahami bahwa tubuh yang sehat sangat mendukung produktivitas. Menulis membutuhkan konsentrasi dan pikiran yang jernih. Karena itu, menjaga pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam kehidupannya agar tetap mampu menginspirasi banyak orang melalui tulisan-tulisannya.

Banyak orang baru sadar pentingnya kesehatan ketika sakit datang. Saat tubuh sehat, manusia dapat bekerja, belajar, menulis, mengajar, dan beribadah dengan nyaman. Namun ketika sakit menyerang, semua aktivitas menjadi terganggu. Oleh sebab itu, kesehatan harus dijaga sejak dini.

Cara menjaga kesehatan sebenarnya tidak sulit. Pertama, menjaga pola makan dengan mengonsumsi makanan bergizi seperti sayur, buah, ikan, dan air putih yang cukup. Kedua, rutin berolahraga minimal tiga puluh menit setiap hari. Ketiga, tidur cukup agar tubuh dapat beristirahat dengan baik. Keempat, menjaga pikiran tetap positif dan menghindari stres berlebihan. Kelima, menjaga hubungan baik dengan keluarga dan lingkungan sekitar.

Selain kesehatan fisik dan mental, kesehatan sosial juga penting. Manusia membutuhkan teman, keluarga, dan lingkungan yang mendukung. Hubungan sosial yang baik membuat seseorang merasa dihargai dan dicintai. Sebaliknya, lingkungan yang penuh konflik dapat menyebabkan tekanan mental yang berat.

Dalam budaya Indonesia sebenarnya nilai mens sana in corpore sano sudah lama diterapkan. Kegiatan gotong royong, olahraga bersama, kerja bakti, dan aktivitas sosial menunjukkan pentingnya menjaga tubuh sekaligus mempererat hubungan antarwarga. Sayangnya, gaya hidup modern membuat sebagian orang menjadi individualis dan kurang peduli terhadap kesehatan.

Video YouTube tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan adalah investasi terbesar dalam hidup manusia. Harta yang melimpah tidak akan berarti jika tubuh sakit dan hati tidak tenang. Sebaliknya, tubuh yang sehat dan jiwa yang kuat akan membuat hidup lebih produktif, bahagia, dan penuh semangat.

Akhirnya, semboyan mens sana in corpore sano mengajarkan kita untuk hidup seimbang. Jangan terlalu sibuk mengejar dunia hingga melupakan kesehatan. Jangan pula hanya memperhatikan penampilan luar tanpa menjaga hati dan pikiran. Tubuh dan jiwa harus dirawat bersama agar manusia mampu menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan penuh optimisme.

Mari mulai dari langkah kecil: bangun lebih pagi, berjalan kaki, makan makanan sehat, memperbanyak senyum, berpikir positif, serta meluangkan waktu bersama keluarga. Sebab di dalam tubuh yang sehat, akan lahir jiwa yang kuat, pikiran yang jernih, dan kehidupan yang lebih bermakna.