Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 20 April 2026

Menulis adalah Passion

Menulis adalah Passion: Kisah Omjay yang Tak Pernah Padam

Oleh: Wijaya Kusumah

Menulis bukan sekadar aktivitas merangkai kata. Ia adalah perjalanan jiwa, rekam jejak pemikiran, sekaligus warisan abadi yang tak lekang oleh waktu. Dalam kelas KBMN (Kelas Belajar Menulis Nusantara) Angkatan 34 malam itu, saya kembali diingatkan bahwa menulis bukan soal bakat, melainkan soal kemauan dan kebiasaan. Dan dari sanalah, saya teringat perjalanan panjang saya sendiri—perjalanan yang membuktikan bahwa menulis adalah passion.

Saya, Wijaya Kusumah, sering dipanggil Omjay, bukanlah seseorang yang sejak awal hebat dalam menulis. Bahkan, jika jujur, saya juga pernah berada di titik yang sama seperti banyak peserta KBMN malam itu: ragu, tidak percaya diri, dan bingung harus memulai dari mana. Namun satu hal yang membedakan adalah keberanian untuk mencoba dan terus melangkah.

Dalam sesi yang dibawakan oleh Sri Sugiastuti, atau yang akrab disapa Bunda Kanjeng, peserta diajak untuk mengubah mindset. Bahwa menulis bukanlah bakat bawaan, melainkan keterampilan yang bisa dilatih. Pernyataan itu begitu sederhana, namun memiliki kekuatan luar biasa. Ia menghancurkan mitos lama yang selama ini menjadi penghambat banyak orang untuk mulai menulis.

Saya tersenyum ketika mendengar peserta berbagi alasan mengapa mereka belum menulis. Ada yang merasa tidak percaya diri, takut salah, bahkan ada yang merasa tulisannya tidak layak dibaca. Bukankah itu juga pernah saya rasakan? Namun, seperti yang disampaikan Bunda Kanjeng, musuh terbesar kita bukanlah kemampuan, melainkan diri kita sendiri.

Perjalanan saya di dunia literasi dimulai dari hal sederhana: menulis di blog. Saya percaya bahwa setiap orang yang memiliki ponsel sebenarnya sudah bisa menulis. Tinggal bagaimana kita mau atau tidak untuk memulai. Dari situlah, saya mulai aktif berbagi tulisan, membangun komunitas, hingga akhirnya dipercaya untuk membimbing banyak guru di seluruh Indonesia.

Bagi saya, menulis bukan sekadar hobi. Ia telah menjadi bagian dari hidup. Bahkan lebih dari itu, menulis adalah passion. Sebuah panggilan jiwa yang terus mendorong saya untuk berbagi, menginspirasi, dan meninggalkan jejak kebaikan.

Dalam kelas KBMN, saya melihat semangat yang sama. Ketika peserta diminta menulis tiga paragraf dengan kata kunci “mengapa”, banyak tulisan yang lahir dengan jujur dan menyentuh. Ada yang menulis karena ingin dikenang, ada yang menjadikan menulis sebagai terapi jiwa, bahkan ada yang berharap tulisannya menjadi amal jariyah.

Di situlah letak keindahan menulis. Ia tidak harus sempurna. Ia hanya perlu jujur.

Bunda Kanjeng juga membagikan beberapa teknik sederhana yang bisa menjadi jalan awal bagi penulis pemula. Salah satunya adalah free writing, menulis tanpa takut salah, membiarkan kata-kata mengalir begitu saja. Teknik lain adalah story telling, menulis seolah sedang bercerita kepada orang terdekat. Dan yang paling sederhana namun powerful adalah membiasakan menulis 15 menit setiap hari.

Saya sendiri telah membuktikan bahwa konsistensi kecil bisa menghasilkan perubahan besar. Dari menulis satu paragraf, menjadi satu artikel, hingga akhirnya puluhan bahkan ratusan tulisan. Dari yang awalnya hanya dibaca sedikit orang, hingga kini menjangkau pembaca yang lebih luas.

Menulis juga membuka banyak pintu. Saya bertemu banyak orang hebat, berbagi pengalaman, bahkan menghasilkan buku. Semua itu berawal dari satu langkah kecil: mulai menulis.

Satu hal yang selalu saya tekankan kepada para peserta adalah: jangan menunggu sempurna untuk mulai. Karena kesempurnaan itu justru datang dari proses yang panjang. Tulisan pertama kita boleh saja berantakan, tapi dari situlah kita belajar.

Dalam perjalanan ini, saya juga belajar bahwa komunitas memiliki peran penting. Lingkungan yang positif akan menjaga semangat kita tetap menyala. Seperti di KBMN, di mana para peserta saling mendukung, berbagi, dan belajar bersama. Di sana tidak ada yang merasa paling hebat, karena semua sedang bertumbuh.

Menulis, pada akhirnya, bukan hanya tentang kata-kata. Ia adalah tentang makna. Tentang bagaimana kita memberi manfaat bagi orang lain. Seperti yang disampaikan dalam kelas malam itu, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat.

Dan menulis adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi bermanfaat.

Kini, pertanyaannya kembali kepada kita masing-masing: Mengapa kita menulis?

Jika “mengapa” kita cukup kuat, maka kita akan terus menulis, apapun keadaannya. Tidak peduli sibuk, tidak peduli lelah, tidak peduli apakah tulisan kita dibaca banyak orang atau tidak. Karena kita tahu, setiap kata yang kita tulis adalah bagian dari perjalanan kita.

Saya percaya, setiap orang bisa menulis. Dan setiap orang punya cerita yang layak dibagikan.

Jadi, mari mulai menulis hari ini. Tidak perlu menunggu besok. Tidak perlu menunggu sempurna. Cukup mulai saja.

Karena bisa jadi, dari satu tulisan sederhana, lahir perubahan besar.

Dan dari situlah, passion itu tumbuh… dan tak akan pernah padam.

Salam blogger persahabatan 
Omjay
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com



Menulis dengan Hati di Tengah Era AI: Kisah Omjay di Opening KBMN PGRI Angkatan 34

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI kembali hadir. Malam itu, suasana terasa berbeda. Bukan karena kemewahan tempat atau gemerlap panggung, tetapi karena semangat yang terpancar dari layar-layar kecil di aplikasi Zoom. Ya, opening ceremony KBMN PGRI angkatan ke-34 resmi digelar secara daring, namun tetap mampu menghadirkan kehangatan dan energi yang luar biasa.

Sebagai seorang guru sekaligus pegiat literasi, saya—yang akrab disapa Omjay—merasakan kembali getaran semangat yang dulu pernah saya rasakan saat pertama kali belajar menulis. Meski hanya melalui layar, acara tersebut dikemas dengan cukup menarik. Terlihat jelas bahwa panitia bekerja dengan penuh dedikasi. Profesionalitas mereka patut diapresiasi. Dari susunan acara hingga pengaturan teknis, semuanya berjalan rapi.

Awalnya, acara ini direncanakan akan dibuka langsung oleh Pak Sumardiansyah Perdana Kusuma dari PGRI. Namun, karena adanya agenda lain di Surabaya yang waktunya bersamaan, beliau tidak dapat hadir. Sebagai gantinya, beliau menunjuk Sekretaris Jenderal APKS PGRI, Bapak Dudi Wahyudi.

Saya mengenal beliau sebagai sosok yang aktif, termasuk dalam pengelolaan KTA PGRI. Malam itu, Alhamdulillah beliau hadir dan memberikan sambutan yang hangat. Meski dalam sambutannya beliau tampak lupa secara eksplisit membuka acara, namun kehadirannya saja sudah menjadi bentuk dukungan yang luar biasa bagi keberlangsungan KBMN.

Memasuki angkatan ke-34 bukanlah perjalanan yang mudah. Konsistensi adalah kunci. Di tengah derasnya arus digitalisasi, terutama dalam dunia tulis-menulis, mempertahankan kelas seperti KBMN bukan perkara sederhana. Hari ini, menulis bukan lagi sesuatu yang dianggap sulit. Kehadiran kecerdasan buatan (AI) telah mengubah cara orang memproduksi tulisan.

Banyak yang mulai berpikir praktis: untuk apa belajar menulis jika mesin bisa melakukannya dengan cepat dan rapi?

Pertanyaan itu tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.

Menulis sejatinya bukan hanya tentang menghasilkan teks. Menulis adalah proses. Ia adalah perjalanan batin. Dalam setiap kata yang kita rangkai, ada perasaan yang disisipkan, ada pengalaman yang dituangkan, dan ada keresahan yang ingin disampaikan. Menulis adalah perpaduan antara logika dan emosi.

AI memang mampu menghasilkan tulisan yang terstruktur, sistematis, bahkan tampak ilmiah. Namun, jika tidak disentuh oleh rasa manusia, tulisan itu akan terasa hambar. Ia mungkin benar secara tata bahasa, tetapi kosong secara makna.

Saya sering mengatakan kepada peserta KBMN PGRI: *“Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi.”*

AI hanyalah alat bantu. Ia tidak memiliki empati. Ia tidak pernah merasakan sedih, bahagia, kecewa, atau harapan. Ia hanya mengolah data. Bahkan, jika data yang diberikan keliru, maka hasilnya pun bisa menyesatkan.

Di sinilah pentingnya kelas belajar menulis seperti KBMN. Kelas ini bukan hanya tempat belajar teknik menulis, tetapi juga ruang untuk bertumbuh. Di dalamnya, peserta dilatih untuk merangkai kata secara alami, menyusun kalimat yang hidup, dan membangun logika berpikir yang runtut.

Lebih dari itu, KBMN adalah ruang berbagi energi positif. Para peserta tidak berjalan sendiri. Mereka didampingi oleh mentor dan narasumber yang dengan sabar memberikan arahan dan motivasi. Setiap pertemuan adalah suntikan semangat baru.

Saya melihat sendiri bagaimana banyak peserta yang awalnya ragu, perlahan mulai percaya diri. Dari yang tidak pernah menulis, menjadi penulis yang produktif. Dari yang hanya pembaca, menjadi kontributor aktif di berbagai platform literasi.

Itulah kekuatan komunitas.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bangga bisa menjadi bagian dari gerakan ini. Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi juga soal membangun peradaban. Bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar menulis, karena melalui tulisan, gagasan dapat diwariskan lintas generasi.

KBMN PGRI adalah salah satu bukti nyata bahwa gerakan literasi di Indonesia terus hidup. Bahkan, di tengah tantangan zaman yang serba instan, masih ada ruang bagi mereka yang ingin belajar dengan proses.

Saya percaya, peserta KBMN angkatan 34 adalah orang-orang pilihan. Mereka yang tidak sekadar ingin cepat, tetapi ingin benar. Mereka yang tidak hanya ingin dikenal, tetapi ingin memberi makna.

Akhirnya, saya ingin mengucapkan selamat kepada seluruh peserta KBMN PGRI angkatan 34. Nikmati setiap prosesnya. Jangan takut salah, karena dari kesalahan kita belajar. Jangan malu memulai, karena setiap penulis hebat pernah menjadi pemula.

Teruslah menulis. Teruslah berkarya.

Semoga dari kelas ini lahir penulis-penulis hebat yang mampu membumikan gerakan literasi nasional. Penulis yang tidak hanya cerdas secara kata, tetapi juga bijak dalam rasa.

Karena pada akhirnya, tulisan terbaik bukanlah yang paling panjang atau paling indah, tetapi yang paling jujur—yang lahir dari hati.

Salam literasi. ✍️
Blog https://wijayalabs.com



Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Sabtu, 04 April 2026

Sesendok Kasih Dari Istri Tercinta

Sesendok Kasih dari Istri: Kisah Sederhana yang Mengubah Hidup Omjay

Ada sebuah momen sederhana dalam hidup Dr. Wijaya Kusumah yang tak pernah ia lupakan. Momen itu bukan terjadi di ruang seminar atau saat ia berbicara di depan ratusan guru. Justru, momen itu hadir dalam keheningan rumah, saat tubuhnya lemah dan semangatnya hampir padam.

Hari itu, Omjay merasa tidak seperti biasanya. Tubuhnya lemas, kepala terasa berat, dan pikirannya dipenuhi rasa cemas. Aktivitas menulis yang biasanya menjadi sumber energi, mendadak terasa hambar. Ia hanya bisa duduk terdiam, memandangi layar tanpa kata.

Di saat itulah, hadir sosok yang selama ini setia mendampinginya dalam suka dan duka—istri tercintanya.

Dengan langkah pelan, ia menghampiri Omjay sambil membawa sesendok makanan hangat. Bukan makanan mewah, hanya sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, tersimpan cinta yang luar biasa.

“Coba makan dulu, Ayah,” ucapnya lembut.

Omjay menatap sendok itu. Ada rasa haru yang sulit dijelaskan. Seolah-olah, bukan hanya makanan yang disodorkan, tetapi juga perhatian, kesabaran, dan doa yang tak pernah putus.

Perlahan, ia menerima suapan itu.

Saat makanan itu masuk ke mulutnya, Omjay merasakan kehangatan yang berbeda. Bukan sekadar rasa, tetapi energi yang mengalir hingga ke hati. Ia tersadar, selama ini ia terlalu sibuk mengurus banyak hal, hingga lupa menjaga dirinya sendiri.

Dan dari sesendok kecil itulah, perubahan besar dimulai.

Omjay mulai menata ulang hidupnya. Ia mengikuti nasihat istrinya: makan lebih teratur, mengurangi makanan tidak sehat, memperbanyak sayur, dan mulai rutin bergerak. Ia juga belajar mengatur waktu, tidak lagi memaksakan diri begadang hanya demi menyelesaikan tulisan.

Awalnya tentu tidak mudah. Kebiasaan lama selalu menggoda untuk kembali. Namun setiap kali ia hampir menyerah, ia teringat pada wajah istrinya—yang dengan penuh kesabaran merawatnya tanpa keluh.

Itulah yang membuatnya bertahan.

Beberapa minggu kemudian, Omjay memutuskan untuk memeriksakan kesehatannya. Dengan perasaan penuh harap sekaligus cemas, ia menunggu hasil pemeriksaan.

Namun hasilnya justru membuatnya terdiam.

“Alhamdulillah, semuanya normal, Pak,” kata dokter.

Gula darah normal. Tekanan darah stabil. Kolesterol baik. Bahkan asam urat pun dalam batas aman.

Omjay tak kuasa menahan haru. Dalam diam, ia mengucap syukur. Ia tahu, ini bukan hanya hasil usahanya sendiri, tetapi juga berkat perhatian dan kasih sayang istrinya yang tak pernah lelah merawatnya.

Sejak saat itu, Omjay semakin menyadari satu hal penting: di balik laki-laki yang kuat, ada perempuan hebat yang selalu berdiri di sampingnya.

Istrinya bukan hanya pendamping hidup, tetapi juga penjaga kesehatannya, penguat saat ia lemah, dan pengingat saat ia lupa diri.

Kisah sederhana itu kemudian ia bagikan melalui tulisannya. Ia ingin banyak orang sadar bahwa kesehatan adalah nikmat yang sering diabaikan. Ia juga ingin mengingatkan bahwa pasangan hidup bukan sekadar teman berbagi, tetapi juga anugerah yang harus dijaga dan dihargai.

“Sehat itu mahal,” tulis Omjay. “Dan seringkali, yang paling peduli pada kesehatan kita adalah orang terdekat—yang kadang kita anggap biasa saja.”

Tulisan itu menyentuh banyak hati. Banyak yang tersadar, bahwa selama ini mereka terlalu sibuk dengan dunia luar, hingga lupa menghargai orang di rumah yang selalu setia.

Kini, setiap kali Omjay melihat sendok, ia tidak lagi melihat benda biasa. Ia melihat simbol cinta. Ia melihat pengingat akan perjuangan kecil yang membawa perubahan besar dalam hidupnya.

Dan yang paling penting, ia belajar bahwa cinta sejati tidak selalu hadir dalam kata-kata besar. Kadang, ia hadir dalam tindakan kecil—seperti sesendok makanan yang disuapkan dengan penuh kasih.

Penutup:

Jika hari ini kita masih diberi kesehatan, jangan lupa berterima kasih pada mereka yang selalu merawat kita dengan tulus. Karena bisa jadi, kesembuhan kita bukan hanya karena obat, tetapi karena cinta yang tak pernah berhenti mengalir dari orang terdekat kita.

Selasa, 31 Maret 2026

Kisah Nyata Omjay Menabung di Bank BNI

Kisah Nyata: Mengapa Omjay Memilih Menabung di Bank BNI

Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah)

Menabung adalah kebiasaan sederhana yang dampaknya luar biasa. Namun, di balik keputusan seseorang untuk menabung di sebuah bank tertentu, selalu ada cerita, pengalaman, dan pertimbangan yang tidak terlihat di permukaan. Begitu pula dengan saya, yang akrab disapa Omjay. Ada kisah nyata yang melatarbelakangi mengapa saya memilih menabung di Bank BNI.

Perjalanan ini dimulai dari masa awal saya menjadi seorang guru. Saat itu, penghasilan yang saya terima belum sebesar sekarang. Bahkan, untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari saja harus benar-benar diperhitungkan dengan matang. Namun, sejak dulu saya percaya bahwa sekecil apa pun penghasilan, harus disisihkan untuk masa depan. Prinsip itu saya pegang erat hingga hari ini.

Awalnya, saya tidak langsung memilih Bank BNI. Saya mencoba beberapa bank lain, mengikuti arus, dan sekadar ikut-ikutan teman. Namun, pengalaman mengajarkan saya bahwa memilih bank tidak bisa hanya berdasarkan tren atau ajakan orang lain. Harus ada kenyamanan, kemudahan, dan kepercayaan.

Pertemuan saya dengan Bank BNI terjadi secara tidak sengaja. Saat itu, sekolah tempat saya mengajar bekerja sama dengan BNI dalam pengelolaan keuangan, termasuk pembayaran gaji. Mau tidak mau, saya harus membuka rekening di sana. Dari situlah perjalanan saya bersama BNI dimulai.

Awalnya, saya menganggap rekening itu hanya sebagai tempat menerima gaji. Tidak lebih. Namun, seiring waktu, saya mulai merasakan kemudahan yang diberikan. Layanan yang cepat, jaringan yang luas, serta kemudahan transaksi membuat saya merasa nyaman. Saya tidak lagi harus repot antre lama atau khawatir mencari ATM.

Yang paling berkesan adalah ketika saya mulai belajar menabung secara konsisten. Setiap menerima gaji, saya langsung menyisihkan sebagian ke dalam tabungan. Saya membuat komitmen pada diri sendiri: “Tabungan bukan sisa, tetapi prioritas.” Dari sinilah kebiasaan baik itu terbentuk.

BNI memberikan kemudahan bagi saya untuk mengontrol keuangan. Dengan layanan digital yang semakin berkembang, saya bisa memantau saldo, melakukan transfer, hingga membayar berbagai kebutuhan hanya dari genggaman tangan. Hal ini sangat membantu saya sebagai guru yang memiliki aktivitas padat.

Namun, alasan terbesar saya tetap bertahan menabung di BNI bukan hanya soal fasilitas. Lebih dari itu, ada rasa aman dan percaya. Saya merasa uang yang saya simpan dikelola dengan baik. Ini penting, karena menabung bukan hanya tentang menyimpan uang, tetapi juga tentang menjaga masa depan.

Salah satu momen yang tidak pernah saya lupakan adalah ketika saya berhasil mengumpulkan tabungan untuk mewujudkan impian umroh. Perjalanan spiritual tersebut bukan hanya hasil kerja keras, tetapi juga hasil dari kedisiplinan dalam menabung. Saat itu, saya benar-benar merasakan bahwa keputusan kecil untuk menabung setiap bulan membawa dampak besar dalam hidup saya.

Saya juga belajar bahwa menabung bukan hanya untuk diri sendiri. Dengan kondisi keuangan yang lebih teratur, saya bisa membantu keluarga, berbagi dengan sesama, bahkan mendukung kegiatan pendidikan. Semua itu berawal dari kebiasaan sederhana: menyisihkan uang dan menyimpannya dengan disiplin.

Sebagai seorang guru dan juga penulis, saya sering berbagi pengalaman ini kepada siswa dan rekan sejawat. Saya ingin mereka memahami bahwa literasi keuangan sangat penting. Jangan menunggu kaya untuk menabung, tetapi menabunglah agar menjadi lebih baik secara finansial.

Kini, bertahun-tahun berlalu sejak pertama kali saya membuka rekening di BNI. Banyak perubahan terjadi dalam hidup saya, tetapi satu hal yang tetap sama adalah komitmen untuk menabung. Bank BNI bukan sekadar tempat menyimpan uang, tetapi telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Dari pengalaman ini, saya ingin mengajak siapa pun yang membaca tulisan ini untuk mulai menabung. Tidak perlu menunggu waktu yang tepat, karena waktu terbaik adalah sekarang. Pilihlah bank yang membuat Anda nyaman dan percaya, lalu mulailah langkah kecil tersebut.

Percayalah, dari kebiasaan kecil itu akan lahir perubahan besar dalam hidup Anda. Seperti yang saya alami, menabung bukan hanya tentang uang, tetapi tentang harapan, impian, dan masa depan yang lebih baik.

Menabung hari ini, menuai kebahagiaan di masa depan.Pada akhirnya, saya belajar bahwa menabung di Bank Negara Indonesia (BNI) bukan sekadar menyimpan uang, tetapi menanam harapan. Setiap rupiah yang tersimpan adalah doa yang dipupuk diam-diam, hingga suatu hari tumbuh menjadi kenyataan yang membahagiakan. Karena itu, jangan tunda untuk menabung—sebab masa depan tidak dibangun dari niat, melainkan dari langkah kecil yang konsisten hari ini.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 28 Maret 2026

Mengulik dan Menganalisis Tulisan Omjay Sepanjang Bulan September 2024 di Kompasiana

Berikut adalah tulisan omjay di kompasiana sepanjang bulan September 2024

https://video.kompasiana.com/wijayalabs/66d3212234777c1eaf3ac4d2/kiat-sukses-berbicara-efektif-di-depan-publik


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Reuni Dadakan Alumni IKIP Jakarta

Reuni Dadakan Alumni FPTK IKIP Jakarta di Rumah Omjay: Hangatnya Persaudaraan yang Tak Lekang oleh Waktu

Sore itu, langit di Jatibening Indah, Bekasi, tampak sedikit mendung. Namun, suasana di rumah Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah justru terasa hangat dan penuh keceriaan. Tanpa perencanaan panjang, tanpa undangan resmi yang mewah, sebuah reuni dadakan alumni FPTK IKIP Jakarta terselenggara dengan penuh makna.

Semua berawal dari pesan singkat di grup WhatsApp alumni IKIP Jakarta. “Bagaimana kalau kita silaturahmi ke rumah Omjay?” tulis salah satu alumni. Tanpa banyak basa-basi, satu per satu anggota grup merespons dengan antusias. Dalam hitungan jam, rencana sederhana itu berubah menjadi kenyataan.

Omjay, yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, menyambut kabar itu dengan hati terbuka. Rumahnya di Jatibening Indah pun dipersiapkan seadanya, tanpa kemewahan, namun penuh keikhlasan. Baginya, yang terpenting bukanlah hidangan yang tersaji, melainkan kehadiran sahabat-sahabat lama yang pernah berjuang bersama di bangku kuliah.

Menjelang magrib, satu per satu alumni mulai berdatangan. Ada yang datang dari Jakarta, Bekasi, bahkan dari luar kota. Wajah-wajah yang dulu muda kini tampak lebih matang, namun senyum dan canda mereka tetap sama seperti puluhan tahun lalu.

“Masih ingat tugas bengkel yang bikin kita begadang?” celetuk salah satu alumni, disambut gelak tawa yang pecah di ruang tamu. Kenangan masa kuliah di FPTK IKIP Jakarta seakan kembali hidup. Mereka mengenang dosen-dosen yang tegas namun penuh dedikasi, praktikum yang melelahkan, hingga perjuangan menyelesaikan skripsi.

Omjay sendiri tampak sangat bahagia. Ia menyambut setiap tamu dengan pelukan hangat. Baginya, momen ini bukan sekadar reuni, melainkan pengingat bahwa persahabatan sejati tidak pernah lekang oleh waktu.

Di ruang tengah, obrolan mengalir tanpa henti. Ada yang berbagi cerita tentang karier sebagai guru, ada yang sukses di dunia usaha, bahkan ada yang telah pensiun namun tetap aktif berkarya. Perjalanan hidup masing-masing alumni begitu beragam, namun satu hal yang sama: mereka semua pernah ditempa oleh pendidikan di IKIP Jakarta.

Salah satu momen yang paling mengharukan adalah ketika mereka sholat maghrib berjamaah dan saling mendoakan. Dalam suasana sederhana, penuh keakraban, mereka menengadahkan tangan, memohon kepada Tuhan agar persaudaraan ini tetap terjaga hingga akhir hayat.

“Dulu kita hanya mahasiswa biasa, penuh mimpi dan harapan. Sekarang kita sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup masing-masing. Tapi hari ini, kita kembali menjadi diri kita yang dulu,” ujar salah satu alumni dengan mata berkaca-kaca.

Hidangan sederhana pun tersaji di meja makan. Tidak ada menu mewah, hanya masakan rumahan yang dimasak dengan penuh cinta. Namun justru di situlah letak keistimewaannya. Mereka makan bersama, saling bercanda, seolah waktu berhenti sejenak.

Anak-anak dan istri Omjay yang melihat suasana itu pun ikut merasakan kehangatan. Mereka menyaksikan bagaimana ayahnya memiliki begitu banyak sahabat yang setia. Sebuah pelajaran berharga tentang arti persahabatan sejati.

Reuni dadakan ini juga menjadi pengingat penting bahwa di tengah kesibukan hidup, manusia tetap membutuhkan waktu untuk kembali pada akar—pada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Tak terasa, malam semakin larut. Namun tak satu pun yang ingin segera pulang. Obrolan terus berlanjut, bahkan hingga larut malam. Mereka seakan enggan berpisah, karena sadar bahwa momen seperti ini tidak datang setiap saat.

Sebelum berpisah, mereka sepakat untuk tidak menunggu waktu lama untuk bertemu kembali. “Jangan tunggu reuni resmi. Yang penting kita tetap terhubung,” kata Omjay penuh harap.

Malam itu, di sebuah rumah sederhana di Jatibening Indah, telah terukir sebuah kenangan indah. Reuni dadakan yang mungkin tidak direncanakan secara matang, namun justru menjadi sangat berkesan.

Dari pertemuan itu, kita belajar bahwa persahabatan sejati tidak membutuhkan undangan resmi, tidak membutuhkan tempat mewah, dan tidak membutuhkan acara besar. Cukup dengan niat tulus untuk bertemu dan saling menyapa, maka kebahagiaan akan hadir dengan sendirinya.

Reuni itu bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang mensyukuri perjalanan hidup yang telah dilalui. Tentang bagaimana waktu telah mengubah banyak hal, namun tidak pernah mampu menghapus kenangan indah yang pernah tercipta.

Dan di rumah Omjay malam itu, semua orang pulang dengan hati yang hangat, membawa kembali semangat persahabatan yang mungkin sempat terlupakan oleh rutinitas kehidupan.

Karena pada akhirnya, yang paling berharga dalam hidup ini bukanlah apa yang kita miliki, melainkan siapa yang tetap bersama kita, meski waktu terus berlalu.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ziarah Kubur di TPU Pondok Malaka1 Jaktim

ZIARAH YANG MENYADARKAN: KISAH OMJAY DI TPU PONDOK MALAKA 1 JAKARTA TIMUR

Pagi itu, langit di Jakarta Timur tampak mendung. Awan kelabu menggantung pelan seolah ikut merasakan haru yang menyelimuti hati Omjay. Dengan langkah perlahan, beliau menyusuri jalan menuju TPU Pondok Malaka 1—sebuah tempat yang tak asing, namun selalu menghadirkan rasa yang berbeda setiap kali dikunjungi.

Hari itu bukan sekadar perjalanan biasa. Ini adalah perjalanan hati. Perjalanan seorang anak yang rindu kepada kedua orang tuanya yang telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.

Begitu memasuki area pemakaman, suasana sunyi langsung terasa. Deretan nisan berdiri rapi, masing-masing menyimpan kisah kehidupan yang telah selesai. Omjay menarik napas panjang. Di tempat inilah, semua gelar, jabatan, dan kebanggaan dunia terasa tak berarti.

Langkahnya berhenti di sebuah makam sederhana. Itulah tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuanya. Tanpa berkata apa-apa, beliau duduk pelan di samping pusara. Tangannya mulai membersihkan rumput liar yang tumbuh di sekitar makam. Hatinya bergetar.

“Dulu saya kecil, selalu dituntun dan dijaga. Sekarang, saya datang sendiri, hanya bisa mendoakan,” gumamnya lirih.

Air mata tak terasa mengalir. Ingatan masa kecil kembali hadir. Wajah ibu yang penuh kasih. Suara ayah yang tegas namun penuh cinta. Semua terasa begitu dekat, meski jasad mereka kini telah terbaring diam di bawah tanah.

Omjay kemudian membaca doa. Setiap ayat yang dilantunkan terasa lebih dalam maknanya. Seakan ada percakapan batin antara dirinya dan kedua orang tuanya. Ia menyadari bahwa doa adalah jembatan kasih yang tak pernah terputus, bahkan oleh kematian.

Di tengah keheningan itu, Omjay merenung.

Betapa cepat waktu berlalu. Dulu orang tuanya yang sering mengajaknya ke makam untuk berziarah. Kini, ia yang datang sendiri, mendoakan mereka. Roda kehidupan terus berputar. Generasi berganti. Dan suatu hari nanti, giliran kita yang akan berada di tempat seperti ini.

Ia menatap sekeliling. Banyak makam yang tampak baru. Ada juga yang sudah lama, bahkan nyaris tak terurus. Semua menyampaikan pesan yang sama: hidup di dunia hanyalah sementara.

Omjay teringat sebuah pesan sederhana namun sangat dalam maknanya:

“Setiap makhluk yang bernyawa pasti akan menghadapi kematian.”

Tak ada yang bisa menghindar. Tak peduli kaya atau miskin, pejabat atau rakyat biasa, semua akan sampai pada titik akhir yang sama. Kematian adalah kepastian yang tak bisa ditawar.

Namun, ziarah hari itu juga mengingatkan satu hal penting lainnya:

Kematian bukanlah akhir dari segalanya.

Justru, kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. Kehidupan setelah mati, kehidupan di alam yang berbeda, di mana semua amal perbuatan selama di dunia akan dipertanggungjawabkan.

Omjay semakin larut dalam perenungan.

“Kalau hari ini saya dipanggil, apa yang sudah saya siapkan?” pertanyaan itu menggema dalam hatinya.

Ia sadar, hidup bukan sekadar tentang mencari harta, mengejar jabatan, atau popularitas. Semua itu akan ditinggalkan. Yang akan menemani hanyalah amal kebaikan.

Ziarah ini bukan hanya tentang mengenang. Tapi juga tentang memperbaiki diri.

Omjay kemudian berjanji dalam hati: Ia ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Ia ingin memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Ia ingin terus menebar manfaat, terutama melalui dunia pendidikan dan tulisan-tulisannya.

Karena ia yakin, salah satu amal yang tak akan terputus adalah ilmu yang bermanfaat.

Setelah beberapa lama, Omjay berdiri. Ia menatap sekali lagi makam kedua orang tuanya. Ada rasa haru, tapi juga ketenangan.

“InsyaAllah, doa anakmu akan selalu mengalir,” ucapnya dalam hati.

Langkahnya kemudian menjauh perlahan dari makam. Namun, pelajaran yang ia dapatkan hari itu akan terus melekat dalam hidupnya.

Sebelum meninggalkan TPU, ia kembali menatap deretan makam yang terbentang luas. Hatinya berbisik:

Suatu hari nanti, kita semua akan berada di tempat seperti ini.

Maka, selama masih diberi kesempatan hidup, gunakanlah waktu untuk berbuat baik. Jangan menunda kebaikan. Jangan menunggu waktu luang untuk beribadah. Karena kita tidak pernah tahu kapan waktu itu akan habis.

Ziarah kubur bukan sekadar tradisi. Ia adalah pengingat paling nyata tentang hakikat kehidupan.

Bahwa dunia ini sementara.
Bahwa kematian itu pasti.
Dan bahwa setelah kematian, akan ada kehidupan yang kekal.

Omjay pun melangkah pulang dengan hati yang berbeda.

Lebih tenang.
Lebih sadar.
Dan lebih siap untuk menjalani hidup dengan tujuan yang lebih bermakna.

Pesan untuk kita semua:

Jangan tunggu kehilangan untuk belajar menghargai.
Jangan tunggu tua untuk mulai berbenah diri.

Karena pada akhirnya…

Setiap makhluk yang bernyawa akan menghadapi kematian.
Dan setelah itu, akan ada kehidupan sesudah mati yang kekal.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 27 Maret 2026

Tiga Penyakit yang Diam Diam Mengintai Omjay

Tiga Penyakit yang Diam-Diam Mengintai: Darah Tinggi, Diabetes, dan Vertigo dalam Kisah Omjay

Pagi itu terasa berbeda bagi Dr. Wijaya Kusumah. Tubuhnya terasa lebih berat dari biasanya. Kepala sedikit pusing, tengkuk kaku, dan pandangan seperti berputar sesaat ketika bangun dari tempat tidur. Sebagai seorang guru, penulis, sekaligus pegiat literasi digital, Omjay terbiasa dengan aktivitas padat. Namun hari itu, tubuhnya seperti memberi sinyal: “Ada yang tidak beres.”

Awalnya, Omjay menganggap hal itu sebagai kelelahan biasa. Maklum, jadwal mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi di berbagai komunitas membuat waktu istirahatnya sering terabaikan. Namun, ketika keluhan itu muncul berulang kali, ia mulai menyadari pentingnya memeriksakan diri.

Hasil pemeriksaan cukup mengejutkan. Tekanan darahnya tinggi, kadar gula dalam darahnya meningkat, dan dokter juga menyebut kemungkinan gangguan vertigo. Tiga kondisi yang sering dianggap sepele, tetapi sebenarnya sangat berbahaya jika tidak ditangani dengan baik.

1. Darah Tinggi: Si “Silent Killer” dalam Kesibukan Omjay

Darah tinggi atau Hipertensi sering disebut sebagai “silent killer” karena gejalanya tidak selalu terasa, tetapi dampaknya sangat serius.

Dalam kasus Omjay, penyebab utama hipertensi yang ia alami antara lain:

Stres berlebihan
Aktivitas padat tanpa jeda membuat pikiran terus bekerja. Tekanan pekerjaan sebagai guru dan penulis membuat hormon stres meningkat, yang berpengaruh pada tekanan darah.

Kurang istirahat
Begadang demi menyelesaikan tulisan atau materi pembelajaran menjadi kebiasaan yang sulit dihindari.

Pola makan tidak sehat
Konsumsi makanan cepat saji, tinggi garam, dan kurang sayur serta buah menjadi pemicu utama.

Kurang aktivitas fisik
Terlalu lama duduk di depan laptop membuat tubuh kurang bergerak.

Omjay pun menyadari bahwa kesuksesan dalam berkarya tidak boleh dibayar dengan kesehatan. Ia mulai mengubah gaya hidupnya: rutin berjalan pagi, mengurangi garam, dan belajar mengelola stres.

2. Diabetes: Manis yang Diam-Diam Membahayakan

Selain hipertensi, Omjay juga didiagnosis mengalami gejala awal Diabetes Mellitus. Penyakit ini terjadi ketika kadar gula dalam darah terlalu tinggi akibat gangguan produksi atau kerja insulin.

Penyebab diabetes dalam kisah Omjay tidak jauh dari kebiasaan sehari-hari:

Konsumsi gula berlebih
Minuman manis, kopi dengan gula, hingga camilan menjadi teman setia saat menulis.

Kurang olahraga
Tubuh jarang bergerak membuat metabolisme gula tidak optimal.

Berat badan meningkat
Pola hidup sedentari memicu penumpukan lemak yang berpengaruh pada resistensi insulin.

Faktor usia dan keturunan
Risiko diabetes meningkat seiring bertambahnya usia, apalagi jika ada riwayat keluarga.

Omjay tersadar bahwa “manisnya hidup” tidak harus selalu berasal dari gula. Ia mulai mengganti gaya hidupnya dengan pola makan sehat, mengurangi gula, dan memperbanyak air putih.

3. Vertigo: Dunia Berputar Tanpa Aba-Aba

Keluhan pusing berputar yang dialami Omjay ternyata mengarah pada Vertigo. Vertigo bukan sekadar pusing biasa, tetapi sensasi seolah-olah lingkungan berputar.

Beberapa penyebab vertigo yang dialami Omjay antara lain:

Kelelahan ekstrem
Aktivitas tanpa jeda membuat sistem keseimbangan tubuh terganggu.

Kurang tidur
Istirahat yang tidak cukup memengaruhi fungsi otak dan telinga dalam.

Stres
Tekanan pikiran dapat memperparah gejala vertigo.

Gangguan pada telinga dalam
Bagian ini berperan penting dalam menjaga keseimbangan tubuh.

Saat vertigo kambuh, Omjay harus menghentikan aktivitasnya. Ia belajar bahwa tubuh memiliki batas yang tidak boleh dipaksakan.

Titik Balik: Saat Omjay Memilih Sehat

Kejadian ini menjadi titik balik dalam hidup Omjay. Ia mulai menyadari bahwa kesehatan adalah aset utama seorang guru. Bagaimana mungkin bisa menginspirasi murid jika tubuh sendiri tidak terjaga?

Perubahan pun dilakukan secara bertahap:

Mengatur pola tidur lebih teratur

Rutin berolahraga ringan seperti jalan pagi

Mengurangi konsumsi gula, garam, dan makanan olahan

Mengelola stres dengan menulis dan berbagi hal positif

Rutin memeriksakan kesehatan

Omjay juga mulai mengkampanyekan gaya hidup sehat kepada rekan guru dan muridnya. Ia percaya bahwa guru bukan hanya mengajar ilmu, tetapi juga memberi teladan dalam menjaga kehidupan yang seimbang.

Penutup: Sehat Itu Pilihan, Bukan Kebetulan

Kisah Dr. Wijaya Kusumah mengajarkan kita bahwa penyakit seperti hipertensi, diabetes, dan vertigo tidak datang tiba-tiba. Semuanya berawal dari kebiasaan kecil yang sering kita abaikan.

Kesibukan bukan alasan untuk melupakan kesehatan. Justru di tengah padatnya aktivitas, kita harus lebih bijak dalam menjaga tubuh.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak karya yang kita hasilkan yang akan dikenang, tetapi seberapa lama kita bisa terus berkarya dan memberi manfaat bagi orang lain.

Mulailah dari hal kecil hari ini: minum air putih yang cukup, bergerak lebih banyak, dan istirahat yang berkualitas.
Sebab sehat itu bukan tujuan akhir, melainkan bekal utama untuk menjalani hidup yang bermakna.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 25 Maret 2026

Lidah

Lidah Kecil, Penentu Nasib Besar
Inspirasi Pagi – Rabu, 25 Maret 2026

Di antara sekian banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia, ada satu yang sering kita anggap sepele, padahal dampaknya luar biasa besar: lidah. Ia kecil, tersembunyi, tidak bertulang, namun kekuatannya mampu mengangkat derajat manusia setinggi langit—atau justru menjatuhkannya ke tempat yang paling hina.

Lidah tidak memiliki otot yang kuat seperti tangan, tidak pula sekeras kaki yang mampu melangkah jauh. Tetapi dari lidahlah keluar kata-kata yang mampu melukai hati, merusak persaudaraan, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang. Sebaliknya, dari lidah pula lahir dzikir, doa, nasihat, dan kalimat-kalimat kebaikan yang menjadi jalan menuju ridha Allah.

Allah telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:

"Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentu kalian merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)

Perumpamaan ini begitu kuat dan menggugah. Menggunjing atau ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri—sesuatu yang menjijikkan, menjauhkan nurani, dan merusak hati. Namun ironisnya, banyak dari kita melakukannya tanpa rasa bersalah. Bahkan terkadang dianggap sebagai hal biasa dalam obrolan sehari-hari.

Padahal, setiap kata yang keluar dari lidah tidak pernah luput dari catatan malaikat. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya akan dipertanggungjawabkan.

Lidah dan Ujian Kehidupan

Dalam kehidupan sehari-hari, lidah sering menjadi sumber ujian. Saat emosi memuncak, lidah ingin melampiaskan kemarahan. Saat iri menyelimuti hati, lidah tergoda untuk mencela. Saat berkumpul dengan teman, lidah mudah tergelincir dalam ghibah dan fitnah.

Di sinilah letak perjuangan sejati. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menahan ucapan. Bukan hanya menjaga perbuatan, tetapi juga menjaga perkataan.

Betapa banyak hubungan retak karena satu kalimat. Betapa banyak hati terluka karena satu ucapan. Dan betapa banyak penyesalan datang karena lidah yang tidak terjaga.

Namun sebaliknya, satu kata yang baik bisa menjadi penyelamat. Satu nasihat bisa mengubah hidup seseorang. Satu dzikir bisa menenangkan jiwa.

Lidah yang Menghidupkan Hati

Lidah yang digunakan untuk berdzikir akan membawa ketenangan. Mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar bukan sekadar rutinitas, tetapi energi yang menghidupkan hati yang kering.

Lidah yang membaca Al-Qur’an akan menjadi cahaya. Lidah yang mengucap doa akan membuka pintu langit. Lidah yang memberi semangat akan menguatkan orang lain.

Bayangkan jika setiap pagi kita memulai hari dengan kata-kata baik. Menyapa dengan senyum, mendoakan orang lain, dan menghindari ucapan yang menyakitkan. Dunia ini akan terasa jauh lebih damai.

Belajar Menjaga Lidah

Menjaga lidah bukan perkara mudah, tetapi bukan pula mustahil. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:

  1. Berpikir sebelum berbicara
    Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar? apakah ini bermanfaat? apakah ini menyakitkan?

  2. Perbanyak diam
    Rasulullah mengajarkan bahwa diam adalah keselamatan. Tidak semua hal harus diucapkan.

  3. Isi waktu dengan dzikir
    Lidah yang sibuk berdzikir akan sulit digunakan untuk hal yang sia-sia.

  4. Ingat akhirat
    Setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini akan membuat kita lebih berhati-hati.

Penutup: Pilihan di Ujung Lidah

Pada akhirnya, lidah adalah pilihan. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau justru menyeret ke neraka. Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.

Hari ini, mari kita mulai dengan niat sederhana: menjaga ucapan, menghindari ghibah, dan memperbanyak dzikir. Karena bisa jadi, keselamatan kita di akhirat kelak bukan ditentukan oleh seberapa besar amal kita, tetapi oleh seberapa baik kita menjaga lidah.

Tetap semangat memperbaiki diri.
Semoga setiap kata yang keluar dari lisan kita menjadi pahala, bukan dosa.

Barakallahu fiikum.

Senin, 23 Maret 2026

Buat Apa Kita Menulis?

Buat Apa Kita Menulis?
Kisah Omjay yang Menyentuh Hati

Suatu malam yang sunyi, Omjay duduk sendirian di depan laptopnya. Jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam, tetapi jemarinya masih setia menari di atas keyboard. Tidak ada honor menanti, tidak ada kontrak penerbitan, dan tidak ada jaminan tulisannya akan dibaca banyak orang. Namun, ia tetap menulis.

Di sela-sela keheningan itu, Omjay pernah bertanya pada dirinya sendiri, “Buat apa aku menulis?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Banyak orang menulis untuk uang. Tidak sedikit pula yang menulis agar dikenal, agar namanya muncul di media, agar dianggap hebat dan pintar. Omjay tidak menolak bahwa semua itu adalah hal yang wajar. Manusia memang membutuhkan pengakuan dan penghidupan. Tetapi, dalam perjalanan hidupnya sebagai guru dan pegiat literasi, ia menemukan bahwa alasan terdalam untuk menulis jauh lebih dalam daripada sekadar uang atau popularitas.

Omjay masih ingat ketika pertama kali menulis di blog. Tulisan-tulisannya tidak langsung mendapat komentar. Tidak ada yang membagikan. Bahkan, kadang ia sendiri merasa seperti berbicara di ruang kosong. Namun ia tetap menulis. Ia menulis tentang pengalaman mengajar, tentang murid-muridnya, tentang kegelisahan seorang guru yang ingin pendidikan di negeri ini menjadi lebih baik.

Suatu hari, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Seorang guru dari daerah terpencil menulis, “Terima kasih, Pak. Tulisan Bapak membuat saya semangat kembali mengajar. Saya merasa tidak sendirian.”

Saat membaca pesan itu, mata Omjay berkaca-kaca. Ia tidak mendapatkan uang dari tulisan tersebut. Ia juga tidak menjadi terkenal karena satu artikel itu. Namun, ia menyadari bahwa tulisannya telah menyentuh hati seseorang, bahkan mungkin mengubah hari dan semangat hidup orang lain.

Sejak saat itu, Omjay mengerti: menulis bukan sekadar soal dilihat banyak orang, tetapi tentang menyentuh satu hati pun sudah cukup berarti.

Ada masa di mana Omjay mengalami kesulitan hidup. Saat kesehatan menurun, saat pekerjaan menumpuk, bahkan ketika ia harus beristirahat di rumah sakit, ia tetap memikirkan tulisan. Bukan karena dikejar deadline, tetapi karena menulis adalah cara baginya untuk berbicara dengan dunia. Menulis adalah terapi, tempat ia mencurahkan rasa syukur, kesedihan, dan harapan.

Banyak orang mengira menulis itu harus menghasilkan uang agar dianggap berhasil. Omjay tidak menolak bahwa menulis bisa menjadi sumber rezeki. Ia pun pernah merasakan kebahagiaan saat tulisannya dimuat dan mendapat honor. Namun, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa jika menulis hanya untuk uang, maka semangat itu akan mudah padam ketika uang tidak datang.

Begitu juga dengan popularitas. Menjadi dikenal memang menyenangkan, tetapi ketenaran sering kali tidak abadi. Nama bisa naik dan turun, tetapi tulisan yang tulus akan tetap hidup di hati pembacanya, bahkan ketika nama penulisnya sudah dilupakan.

Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya,
“Menulislah bukan agar kalian terkenal, tetapi agar kalian dikenang karena kebaikan yang kalian bagikan.”

Dalam setiap tulisannya, Omjay mencoba menyisipkan nilai-nilai kehidupan. Ia menulis tentang kejujuran, tentang kesabaran, tentang perjuangan menjadi guru di tengah keterbatasan. Ia percaya bahwa tulisan adalah warisan. Jika suatu hari ia sudah tidak lagi mengajar, tidak lagi hadir di ruang kelas, tulisannya masih bisa berbicara kepada generasi berikutnya.

Ia membayangkan, mungkin suatu hari nanti, seorang anak muda akan membaca tulisannya dan menemukan semangat baru. Mungkin ada seorang guru yang hampir menyerah, lalu kembali bangkit setelah membaca kisahnya. Bagi Omjay, kemungkinan kecil itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus menulis.

Suatu ketika, seorang teman bertanya,
“Omjay, kalau tidak dibayar, kenapa masih rajin menulis?”

Omjay tersenyum. Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka salah satu artikelnya dan menunjukkan kolom komentar yang berisi ucapan terima kasih dari para pembaca. Lalu ia berkata pelan,
“Ini bayaran yang tidak bisa dihitung dengan uang.”

Menulis bagi Omjay adalah ibadah. Ia percaya bahwa setiap kata yang membawa kebaikan akan menjadi amal jariyah. Selama tulisannya masih dibaca dan menginspirasi, selama itu pula pahala mengalir. Keyakinan inilah yang membuatnya tetap menulis, bahkan di saat tubuh lelah dan pikiran penat.

Di penghujung malam, sebelum menutup laptopnya, Omjay sering berdoa dalam hati,
“Ya Allah, jika tulisanku bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, izinkan aku terus menulis.”

Maka, ketika kita bertanya, buat apa kita menulis? Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang. Ada yang menulis untuk uang, ada yang menulis untuk terkenal, dan itu tidak salah. Namun, kisah Omjay mengajarkan bahwa menulis juga bisa menjadi jalan untuk berbagi, menguatkan, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia.

Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak uang yang kita dapat dari tulisan, dan bukan seberapa terkenal nama kita karenanya. Yang lebih penting adalah: berapa banyak hati yang pernah kita sentuh melalui kata-kata yang kita tuliskan. ✍️💙