Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 19 Mei 2026

waktu

Jam Kehidupan yang Hanya Diputar Sekali

Kisah Omjay dan Pelajaran Tentang Waktu

Pagi itu udara di sekolah masih terasa sejuk. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Omjay melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah. Beberapa siswa terlihat berjalan tergesa sambil membawa tas besar di punggung mereka. Ada yang masih mengantuk, ada yang sibuk bercanda, dan ada pula yang berjalan sambil menatap layar ponsel.

Omjay hanya tersenyum.

Di tangannya ada secangkir kopi hangat dan sebuah buku kecil berisi catatan harian. Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas, beliau duduk sejenak di ruang guru sambil merenung tentang kehidupan.

Hari itu beliau membaca sebuah kalimat sederhana:

> “Jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.”

Kalimat itu tampak singkat, tetapi terasa begitu dalam menghunjam hati. Omjay terdiam cukup lama. Beliau membayangkan perjalanan hidupnya selama ini. Dari seorang guru biasa, kemudian dikenal banyak orang sebagai Guru Blogger Indonesia, hingga akhirnya mampu menulis ribuan artikel yang menginspirasi banyak guru di seluruh Indonesia.

Semua itu ternyata tidak terjadi dalam semalam.

Ada waktu yang dipakai dengan sungguh-sungguh. Ada malam-malam panjang ketika orang lain tidur, tetapi Omjay masih menulis. Ada hari-hari lelah ketika tubuh ingin beristirahat, tetapi hati tetap ingin berkarya.

Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya:

“Orang sukses bukan karena punya waktu lebih banyak. Tetapi karena mereka menghargai waktu yang dimiliki.”

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya pagi itu.

Beliau lalu teringat pada seorang teman lama yang dulu sangat pandai. Temannya memiliki banyak mimpi besar. Ingin menulis buku. Ingin menjadi pembicara. Ingin melanjutkan kuliah hingga doktoral. Namun semua hanya tinggal rencana.

Mengapa?

Karena terlalu sering berkata:

“Nanti saja.” “Besok masih ada waktu.” “Tahun depan saja mulai serius.”

Padahal hidup tidak pernah memberi jaminan bahwa “besok” itu pasti ada.

Omjay kemudian membuka laptopnya dan mulai mengetik sebuah tulisan. Jarinya bergerak cepat menuliskan pengalaman hidup yang pernah ia alami.

Beliau pernah berada di titik lelah luar biasa. Mengajar sejak pagi, menghadiri seminar, membimbing guru, menulis artikel, hingga larut malam masih membalas pesan para sahabat literasi. Banyak orang bertanya:

“Pak Jay kok tidak capek?”

Omjay hanya tersenyum sambil berkata:

“Capek itu biasa. Tapi waktu yang hilang tidak akan kembali.”

Kalimat itu sederhana, tetapi penuh makna.

Beliau sadar betul bahwa umur manusia terbatas. Karena itu, setiap detik harus memiliki nilai ibadah dan manfaat. Menjadi guru bukan sekadar datang ke sekolah lalu pulang menerima gaji. Menjadi guru adalah meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun suatu hari jasad sudah tiada.

Omjay sering mengingatkan bahwa tulisan adalah warisan abadi. Ketika seseorang meninggal dunia, hartanya mungkin habis. Jabatan bisa digantikan orang lain. Namun ilmu dan tulisan akan terus hidup.

Karena itulah beliau memilih menulis setiap hari.

Kadang tulisannya dibaca ribuan orang. Kadang hanya dibaca beberapa orang saja. Namun beliau tidak pernah berhenti. Sebab baginya, menulis adalah cara menghidupkan waktu.

Suatu hari, seorang guru muda bertanya kepada Omjay:

“Bagaimana caranya agar bisa produktif seperti Bapak?”

Omjay menjawab dengan tenang:

“Jangan tunggu semangat datang. Mulailah bergerak, nanti semangat akan mengikuti.”

Jawaban itu membuat guru muda tersebut terdiam.

Memang benar. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak menunda. Mereka menunggu waktu yang sempurna. Menunggu suasana hati baik. Menunggu kondisi nyaman.

Padahal waktu terus berjalan.

Jarum jam kehidupan tidak pernah berhenti menunggu kesiapan manusia.

Omjay sendiri pernah merasakan kehilangan orang-orang tercinta secara mendadak. Ada sahabat yang kemarin masih bercanda, hari ini sudah dipanggil Allah SWT. Ada rekan guru yang dulu aktif mengajar, tiba-tiba sakit dan tak lagi mampu berdiri di depan kelas.

Peristiwa-peristiwa itu membuat beliau semakin sadar bahwa hidup benar-benar singkat.

Karena itu Omjay selalu berusaha mengisi hidup dengan hal-hal baik: menulis, mengajar, berbagi ilmu, memotivasi guru, membantu siswa, dan menyebarkan semangat literasi.

Beliau percaya, hidup yang bermakna bukan hidup yang panjang, tetapi hidup yang bermanfaat.

Pagi itu, setelah selesai menulis, Omjay memandang keluar jendela ruang guru. Siswa-siswa mulai memenuhi lapangan sekolah. Suara tawa mereka terdengar riang.

Omjay tersenyum haru.

Beliau sadar, mungkin suatu hari dirinya akan pensiun. Rambut semakin memutih. Tenaga semakin berkurang. Tetapi selama masih diberi kesempatan hidup, beliau ingin terus berkarya.

Sebab tidak ada yang tahu kapan jarum jam kehidupan berhenti.

Mungkin satu jam lagi. Mungkin besok. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan.

Tidak ada manusia yang tahu.

Yang kita miliki hanyalah hari ini.

Karena itu Omjay selalu mengajak para guru dan murid untuk menghargai waktu. Jangan habiskan hidup hanya untuk mengeluh. Jangan sibuk iri pada kehidupan orang lain. Jangan terlalu lama marah dan menyimpan dendam.

Gunakan waktu untuk sesuatu yang membuat hidup bernilai.

Jika punya ilmu, bagikan. Jika punya rezeki, bantulah orang lain. Jika punya kesempatan, berkaryalah. Jika punya mimpi, mulailah sekarang.

Jangan menunggu sempurna untuk bergerak.

Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling terkenal. Hidup adalah tentang siapa yang paling banyak memberi manfaat sebelum waktu habis.

Di akhir tulisannya, Omjay menuliskan kalimat sederhana yang sangat menyentuh:

> “Ketika jarum jam kehidupan berhenti, yang tersisa hanyalah amal, ilmu, dan kebaikan yang pernah kita tinggalkan.”

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.

Mari bekerja dengan sungguh-sungguh. Mari berkarya selagi mampu. Mari mencintai keluarga sebelum terlambat. Mari menulis, mengajar, dan berbagi ilmu selama masih diberi kesempatan.

Karena jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 18 Mei 2026

Kisah omjay Berkarya dan berprestasi bersama bu Rita Wati

Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional Lewat Tulisan

Kisah Omjay dalam KBMN Gelombang 34

Senin malam, 18 Mei 2026, pukul 19.00.wib ruang virtual KBMN Gelombang 34 kembali dipenuhi semangat belajar. Para guru dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam satu tujuan mulia: belajar menulis dan bertumbuh bersama. 

Pertemuan ke-13 kali ini terasa begitu istimewa karena menghadirkan narasumber hebat, Rita Wati, seorang penulis dan akademisi yang telah membuktikan bahwa karya tulis mampu membawa seseorang dikenal di tingkat nasional.

Acara dipandu dengan hangat oleh moderator muda penuh semangat, Edmu Yulfizar Abdan Syakura. Tema malam itu sangat menggugah hati: “Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional.”

Bagi Omjay, tema itu bukan sekadar kalimat motivasi. Tema itu adalah perjalanan hidup yang benar-benar beliau alami.

Di tengah kesibukan sebagai guru, Omjay pernah berada di titik lelah. Mengajar setiap hari, menyiapkan administrasi sekolah, mendampingi siswa, hingga menghadapi berbagai persoalan pendidikan membuat waktu terasa habis begitu saja. Namun di balik semua itu, ada satu kebiasaan kecil yang terus beliau jaga: menulis.

Awalnya sederhana. Omjay hanya ingin berbagi pengalaman mengajar. Kadang menulis tentang siswa, kadang tentang perjalanan hidup, kadang tentang keresahan dunia pendidikan. Tulisan-tulisan itu diunggah di blog pribadi tanpa berharap apa-apa.

Namun siapa sangka, dari tulisan sederhana itulah jalan prestasi mulai terbuka.

Omjay sering mengatakan bahwa tulisan memiliki kekuatan yang tidak terlihat. Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisannya akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca. Dan benar saja, perlahan tulisan Omjay mulai dibaca banyak orang. Ada guru yang merasa termotivasi. Ada siswa yang kembali semangat belajar. Ada kepala sekolah yang terinspirasi memperbaiki budaya literasi di sekolahnya.

Menulis ternyata bukan hanya tentang kata-kata. Menulis adalah tentang memberi manfaat.

Dalam pertemuan KBMN malam itu, narasumber menjelaskan bahwa karya tulis bisa menjadi jembatan menuju prestasi nasional. Banyak guru yang akhirnya menjadi pembicara, penulis buku, bahkan mendapatkan penghargaan karena konsisten menulis.

Omjay tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Sebab beliau pernah mengalami sendiri bagaimana tulisan membuka pintu-pintu yang sebelumnya terasa mustahil.

Dari blog sederhana, Omjay mulai diundang menjadi narasumber. Dari tulisan harian, lahirlah buku-buku inspiratif. Dari kebiasaan menulis, beliau dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Padahal semuanya dimulai dari satu langkah kecil: berani menulis.

Malam itu peserta KBMN tampak antusias. Banyak yang awalnya merasa tidak percaya diri menulis. Ada yang berkata dirinya tidak pandai merangkai kata. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada pula yang merasa usianya sudah tidak muda lagi untuk mulai belajar.

Namun Omjay selalu punya jawaban sederhana.

“Menulislah dulu. Jangan takut salah. Karena penulis hebat pun dulu pernah menjadi penulis pemula.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat menguatkan.

Di sela diskusi, moderator membacakan beberapa resume peserta yang sudah diunggah ke blog. Salah satunya tulisan dari yang mengangkat semangat berkarya di tengah keterbatasan. Ada juga tulisan dari yang menekankan bahwa menulis bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi sarana bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Omjay merasa haru membaca semangat para peserta. Dulu beliau juga seperti mereka. Belajar perlahan. Menulis perlahan. Bahkan sering ditertawakan karena terlalu rajin menulis di blog.

Tetapi Omjay percaya satu hal: orang yang terus berkarya tidak akan pernah kalah oleh keadaan.

Prestasi tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang prestasi dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari. Dari keberanian mengunggah tulisan pertama. Dari keberanian menerima kritik dan terus belajar.

Malam semakin larut, tetapi suasana KBMN semakin hangat. Banyak peserta mulai sadar bahwa menulis bukan bakat bawaan. Menulis adalah keterampilan yang diasah setiap hari.

Omjay lalu bercerita bahwa beliau pernah mengalami masa ketika tulisannya sepi pembaca. Tidak ada komentar. Tidak ada apresiasi. Namun beliau tetap menulis. Sebab tujuan utama menulis bukan mencari pujian, melainkan menyampaikan kebaikan.

Dan ternyata konsistensi itulah yang akhirnya membawa hasil.

Kini banyak guru mulai sadar bahwa menulis dapat menjadi jalan pengabdian. Lewat tulisan, seorang guru bisa menginspirasi ribuan orang tanpa harus bertemu langsung. Lewat tulisan, pengalaman mengajar yang berharga tidak hilang begitu saja. Lewat tulisan, ilmu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

KBMN Gelombang 34 malam itu bukan sekadar kelas menulis biasa. Ia menjadi ruang tumbuh bagi banyak guru Indonesia. Ruang tempat mimpi-mimpi kecil dirawat bersama. Ruang tempat para guru belajar percaya bahwa mereka juga mampu berkarya di tingkat nasional.

Di akhir sesi, Omjay kembali mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak dituliskan. Jangan merasa hidup kita biasa saja. Justru pengalaman sederhana sering kali paling menyentuh hati pembaca.

Seorang guru yang sabar mengajar di pelosok desa punya cerita berharga. Seorang ibu yang membagi waktu antara keluarga dan menulis punya kisah luar biasa. Seorang guru honorer yang tetap mengabdi meski penuh keterbatasan juga memiliki inspirasi besar.

Semua itu pantas ditulis.

Karena tulisan bukan hanya meninggalkan jejak tinta. Tulisan meninggalkan jejak kehidupan.

KBMN Gelombang 34 kembali membuktikan bahwa gerakan literasi guru Indonesia masih terus menyala. Dan Omjay percaya, selama para guru terus menulis, harapan pendidikan Indonesia akan selalu hidup.

Mari berkunjung dan saling menguatkan melalui tulisan. 🔥🥰

Menimbang Ulang Tujuan Pendidikan Nasional dalam RUU Sisdiknas

Menimbang Ulang Tujuan Pendidikan Nasional dalam RUU SISDIKNAS

Pendidikan adalah fondasi utama sebuah bangsa. Dari ruang-ruang kelaslah lahir generasi penerus yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Karena itu, ketika Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS), perhatian masyarakat menjadi sangat penting. Salah satu catatan kritis datang dari Riadi Budiman yang menilai bahwa rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang SISDIKNAS saat ini belum sepenuhnya selaras dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Masukan tersebut bukan sekadar persoalan redaksi hukum, melainkan menyangkut arah besar pendidikan Indonesia: apakah pendidikan hanya menghasilkan manusia cerdas secara intelektual, atau juga manusia yang kuat iman, takwa, dan akhlaknya.

Pendidikan Nasional dan Amanat Konstitusi

Dalam Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 ditegaskan:

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimat “dalam rangka” memiliki makna yang sangat mendalam. Frasa tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia bukan sekadar pelengkap pendidikan, melainkan menjadi dasar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Artinya, kecerdasan bangsa tidak boleh dilepaskan dari pondasi moral dan spiritual. Pendidikan tidak hanya bertugas mencetak manusia pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati nurani, etika, dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Hal ini diperkuat lagi oleh Pasal 31 ayat (5) UUD 1945:

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Konstitusi dengan jelas menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibingkai oleh nilai agama dan persatuan bangsa. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah moral.

Di era digital seperti sekarang, amanat ini terasa semakin relevan. Kecanggihan teknologi dapat menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikendalikan oleh nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Artificial Intelligence (AI), media sosial, hingga perkembangan teknologi informasi dapat digunakan untuk mencerdaskan bangsa, tetapi juga bisa menjadi alat penyebar kebencian, hoaks, pornografi, hingga penipuan apabila tidak disertai pendidikan karakter dan spiritual.

Kelemahan Pasal 3 UU SISDIKNAS

Pasal 3 UU SISDIKNAS yang berlaku saat ini berbunyi:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Kemudian dilanjutkan dengan daftar tujuan peserta didik agar menjadi manusia yang:

  • beriman dan bertakwa,
  • berakhlak mulia,
  • sehat,
  • berilmu,
  • cakap,
  • kreatif,
  • mandiri,
  • demokratis,
  • dan bertanggung jawab.

Sekilas rumusan ini terlihat lengkap. Namun menurut Riadi Budiman, terdapat beberapa kelemahan mendasar.

1. Tidak Ada Hierarki Tujuan

Semua unsur tujuan pendidikan disusun sejajar dan setara. Akibatnya, keimanan dan ketakwaan seolah hanya salah satu poin di antara banyak tujuan lain.

Padahal, konstitusi menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai fondasi utama. Dengan kata lain, kecerdasan intelektual seharusnya tumbuh di atas dasar moral dan spiritual.

Jika tidak ada penegasan hierarki, maka orientasi pendidikan mudah bergeser menjadi sekadar mengejar prestasi akademik, nilai ujian, atau kompetensi kerja.

2. Nilai Demokrasi Tidak Dihubungkan dengan Nilai Agama

Frasa “demokratis serta bertanggung jawab” tidak dijelaskan dalam bingkai ketuhanan. Hal ini dapat menimbulkan penafsiran yang terlalu bebas dan sekuler.

Padahal demokrasi Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan liberalisme Barat. Demokrasi Indonesia berdasarkan Pancasila yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Demokrasi tanpa moral agama dapat melahirkan kebebasan tanpa batas, individualisme, dan hilangnya rasa hormat terhadap nilai budaya bangsa.

3. Tidak Mencerminkan Semangat “Dalam Rangka”

Konstitusi menghendaki agar mencerdaskan bangsa dilakukan dalam kerangka peningkatan iman dan akhlak. Namun Pasal 3 UU SISDIKNAS belum memperlihatkan hubungan tersebut secara tegas.

Akibatnya, pendidikan agama sering dipahami hanya sebagai mata pelajaran tersendiri, bukan sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan.

Dampak yang Mulai Terlihat

Kritik terhadap sistem pendidikan bukan tanpa alasan. Banyak fenomena sosial yang menunjukkan adanya krisis moral di tengah meningkatnya kecerdasan intelektual.

Kita menyaksikan:

  • maraknya korupsi,
  • intoleransi,
  • kekerasan pelajar,
  • penyalahgunaan teknologi,
  • perundungan digital,
  • hingga menurunnya etika sosial.

Ironisnya, banyak pelaku merupakan orang-orang berpendidikan tinggi. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup.

Sekolah dan perguruan tinggi sering berhasil mencetak lulusan pintar, tetapi belum tentu berhasil membentuk manusia yang jujur, berempati, dan berakhlak mulia.

Di sisi lain, pendidikan agama kerap diposisikan hanya sebagai pelengkap kurikulum. Nilai agama belum sepenuhnya menjadi napas dalam pembelajaran matematika, sains, teknologi, ekonomi, maupun pendidikan kewarganegaraan.

Pentingnya Reorientasi Pendidikan Nasional

RUU SISDIKNAS menjadi momentum penting untuk memperbaiki arah pendidikan nasional. Pendidikan Indonesia perlu kembali menempatkan nilai ketuhanan sebagai poros utama.

Hal ini bukan berarti pendidikan menjadi sempit atau anti ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang:

  • cerdas secara intelektual,
  • unggul dalam teknologi,
  • kreatif dan inovatif,
  • tetapi tetap memiliki iman, moral, dan tanggung jawab sosial.

Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan. Teknologi tanpa nilai agama dapat disalahgunakan. Demokrasi tanpa etika dapat berubah menjadi kebebasan yang liar.

Karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan bersama nilai agama dan persatuan bangsa sebagaimana amanat UUD 1945.

Pendidikan sebagai Pembentuk Peradaban

Pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, melainkan proses membangun peradaban.

Guru bukan sekadar pengajar materi pelajaran, tetapi pembentuk karakter bangsa. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai rapor, tetapi tempat menanamkan kejujuran, disiplin, toleransi, dan tanggung jawab.

Apabila RUU SISDIKNAS mampu memperjelas hierarki tujuan pendidikan dengan menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai landasan utama, maka pendidikan Indonesia akan memiliki arah yang lebih kokoh.

Generasi masa depan Indonesia tidak hanya akan menjadi manusia yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Mereka tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga luhur budi pekertinya.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi bangsa yang mampu menjaga moral, spiritualitas, dan kemanusiaannya. Dan semua itu bermula dari pendidikan yang benar-benar berakar pada nilai ketuhanan dan akhlak mulia.

Tanggalkan Baju Kesombonganmu

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Mengejar Panggung

Di sebuah grup menulis, kita tidak hanya sedang belajar merangkai kata. Kita juga sedang belajar menghargai rasa, menjaga empati, dan memahami etika dalam berinteraksi. Sebab dunia literasi bukan sekadar tempat memamerkan tulisan, melainkan ruang bersama untuk saling menguatkan.

Apa yang disampaikan dalam pesan tersebut sebenarnya bukan hanya tentang satu orang atau satu peristiwa tertentu. Ada kegelisahan yang cukup dalam di sana. Kegelisahan tentang bagaimana sebagian orang terkadang terlalu sibuk mengejar perhatian, sampai lupa menjaga perasaan orang lain.

Menulis memang membutuhkan keberanian. Namun keberanian tanpa empati sering kali berubah menjadi sikap yang melukai.

Dalam kehidupan bermedia sosial maupun di grup komunitas, ada satu hal sederhana yang kadang terlupakan, yaitu menghargai momentum orang lain. Ketika seseorang baru saja membagikan karya, pengalaman, atau tulisannya, sesungguhnya ia sedang membuka pintu hati. Ia ingin berbagi cerita, berbagi ilmu, atau sekadar berharap ada teman yang membaca dengan tulus.

Namun apa jadinya jika beberapa detik kemudian ada orang lain langsung menimpali dengan memposting karya miliknya sendiri demi mencari perhatian yang sama?

Mungkin bagi sebagian orang itu dianggap biasa. Tidak ada aturan tertulis yang dilanggar. Tidak ada kata-kata kasar yang diucapkan. Tetapi dalam etika pergaulan, terutama di komunitas literasi, sikap seperti itu bisa terasa kurang bijak.

Mengapa?

Karena komunikasi bukan hanya soal apa yang dilakukan, tetapi juga soal kapan dan bagaimana melakukannya.

Ada perasaan yang kadang tidak tertulis. Ada ruang penghormatan yang semestinya dijaga. Saat seseorang sedang berbagi, alangkah indahnya bila kita memberi ruang sejenak untuk karya itu bernapas. Membaca, mengapresiasi, atau sekadar memberikan dukungan kecil jauh lebih bermakna daripada buru-buru mengalihkan perhatian kepada diri sendiri.

Inilah yang disebut empati digital.

Sayangnya, di era media sosial hari ini, banyak orang terjebak dalam budaya “aku juga harus terlihat.” Akibatnya, setiap momen orang lain dianggap peluang untuk ikut naik panggung. Dalam bahasa populer, mungkin disebut “riding the wave.” Menumpang gelombang perhatian yang sedang mengarah kepada orang lain.

Padahal penulis sejati tidak dibentuk oleh seberapa sering ia muncul, tetapi oleh seberapa dalam ia menghargai sesama.

Kita semua tentu pernah merasa diabaikan. Pernah merasa apa yang kita bagikan seolah tenggelam karena orang lain lebih sibuk mempromosikan dirinya sendiri. Rasanya tidak nyaman. Dan ketika itu terus berulang, perlahan muncul rasa lelah.

Lebih menyedihkan lagi bila kebiasaan itu menjadi pola.

Komunitas menulis semestinya menjadi rumah yang hangat. Tempat setiap anggota merasa dihargai. Tempat senior memberi teladan dan junior belajar adab. Karena sesungguhnya kekuatan komunitas bukan pada banyaknya postingan, tetapi pada kualitas hubungan antar anggotanya.

Kita patut belajar dari para penulis senior yang tetap rendah hati meski karya mereka luar biasa. Mereka tidak sibuk berebut sorotan. Mereka justru lebih banyak memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh.

Sikap itulah yang membuat mereka dihormati.

Banyak penulis besar tidak lahir karena rajin mencari perhatian, melainkan karena rajin menjaga perasaan orang lain. Mereka memahami bahwa tulisan yang baik lahir dari hati yang baik.

Apa gunanya tulisan indah jika sikap kita membuat orang lain tidak nyaman?

Apa artinya ribuan pembaca bila kita kehilangan empati?

Kadang kita terlalu fokus pada angka: jumlah viewer, komentar, like, dan share. Sampai lupa bahwa di balik layar ada manusia dengan hati dan perasaan. Ada teman yang ingin dihargai. Ada sahabat yang ingin didengar.

Etika dalam komunitas sebenarnya sederhana.

Jika teman sedang berbagi cerita, dengarkan dulu.

Jika orang lain sedang mendapat perhatian, jangan terburu-buru mencuri panggung.

Jika ingin dihargai, maka belajarlah menghargai.

Karena rasa hormat tidak lahir dari aturan grup, tetapi dari kedewasaan diri.

Tulisan yang hebat bukan hanya yang viral. Tulisan yang hebat adalah tulisan yang membuat pembacanya merasa dihormati sebagai manusia. Dan itu dimulai dari perilaku penulisnya sendiri.

Kita semua tentu masih belajar. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tindakannya mengganggu orang lain. Bisa jadi ia hanya terlalu bersemangat menunjukkan karyanya. Karena itu, teguran yang disampaikan dengan baik juga merupakan bentuk kasih sayang dalam komunitas.

Terkadang kita memang perlu bercermin.

Sudahkah kita hadir sebagai teman yang menyenangkan?

Ataukah tanpa sadar kita justru membuat ruang bersama terasa sesak?

Dunia literasi membutuhkan lebih banyak empati daripada ego. Sebab menulis sejatinya adalah pekerjaan hati. Kata-kata yang lahir dari hati akan sampai ke hati. Namun sikap yang tidak berempati juga akan terasa, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Mari kita jadikan komunitas menulis sebagai taman yang indah. Tempat setiap orang bisa tumbuh tanpa saling menutupi cahaya satu sama lain. Karena matahari tidak pernah iri kepada bulan. Dan bulan tidak pernah marah ketika bintang bersinar.

Semua punya waktunya sendiri untuk bercahaya.

Semoga kita semua dapat belajar, bukan hanya menjadi penulis yang pandai merangkai kata, tetapi juga manusia yang mampu menjaga etika dan empati di mana pun berada.

Sebab pada akhirnya, orang mungkin lupa apa yang kita tulis. Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana sikap kita terhadap sesama.

Belajar Menulis Dari Omjay


Belajar Menulis dari Om Jay: Semua Penulis Hebat Pernah Menjadi Pemula

“Saya seneng baca Om Jay, tapi belum bisa nulis kaya Om Jay.”

Kalimat sederhana itu disampaikan oleh Pak Ujang dalam sebuah grup WhatsApp. Lalu dijawab santai oleh Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Om Jay:

“Nanti juga lama-lama bisa kalau belajar menulis setiap hari hehehe.”

Jawaban singkat itu terlihat sederhana. Namun di balik kalimat tersebut tersimpan pesan yang sangat dalam bagi siapa pun yang ingin belajar menulis. Bahwa kemampuan menulis bukan bakat yang turun dari langit. Menulis adalah keterampilan yang diasah setiap hari dengan kesabaran, latihan, dan keberanian untuk terus mencoba.

Banyak orang kagum melihat tulisan para penulis hebat. Mereka membaca artikel yang menyentuh hati, cerita yang menginspirasi, atau opini yang menggugah pikiran. Namun sering kali mereka lupa bahwa semua penulis hebat juga pernah menjadi pemula. Mereka pernah bingung memulai tulisan pertama. Pernah merasa tulisannya jelek. Pernah takut dikritik orang lain. Bahkan mungkin pernah ditertawakan.

Tetapi ada satu hal yang membedakan penulis sukses dengan orang yang hanya bermimpi menjadi penulis. Mereka terus menulis meskipun belum sempurna.

Menulis itu seperti belajar berjalan. Tidak mungkin seorang anak langsung bisa berlari. Ia akan jatuh berkali-kali. Namun karena terus mencoba, akhirnya ia bisa berjalan dengan baik. Begitu pula dengan menulis.

Banyak orang berkata, “Saya tidak berbakat menulis.”

Padahal sebenarnya mereka belum membiasakan diri menulis.

Om Jay sering mengingatkan bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Semakin sering menulis, semakin terlatih otak kita menuangkan ide ke dalam kata-kata. Awalnya mungkin hanya satu paragraf. Besok menjadi dua paragraf. Lama-lama bisa menulis satu halaman penuh tanpa terasa.

Masalah terbesar penulis pemula sebenarnya bukan tidak bisa menulis, tetapi takut memulai.

Takut salah. Takut jelek. Takut dibandingkan. Takut dikritik.

Padahal tulisan pertama memang tidak harus sempurna.

Jangan menunggu hebat untuk mulai menulis. Mulailah menulis agar menjadi hebat.

Kalimat ini sangat penting untuk direnungkan para penulis pemula. Sebab kesempurnaan tidak lahir dalam semalam. Bahkan buku-buku best seller pun lahir dari proses panjang revisi, perbaikan, dan latihan terus-menerus.

Menulis juga bukan hanya soal kemampuan merangkai kata indah. Menulis adalah keberanian menyampaikan isi hati dan pikiran. Tulisan yang jujur sering kali lebih menyentuh daripada tulisan yang terlalu rumit.

Banyak penulis pemula merasa minder ketika membaca tulisan orang lain yang terlihat hebat. Padahal mereka tidak tahu perjuangan panjang di balik tulisan tersebut. Bisa jadi penulis itu sudah menulis selama bertahun-tahun. Sudah membaca ratusan buku. Sudah berkali-kali gagal sebelum akhirnya dikenal banyak orang.

Karena itu, jangan bandingkan langkah pertama kita dengan langkah keseratus orang lain.

Fokuslah pada proses belajar kita sendiri.

Kalau hari ini baru bisa menulis satu paragraf, itu sudah bagus. Kalau hari ini baru berani menulis status pendek, itu juga kemajuan. Kalau hari ini baru mulai menulis diary atau catatan harian, itu pun langkah luar biasa.

Yang penting terus bergerak.

Menulis setiap hari akan membuat kita menemukan gaya tulisan sendiri. Lama-lama kita akan tahu bagaimana menyusun kalimat, memilih kata, dan menyampaikan pesan dengan lebih baik. Semua itu tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui latihan yang konsisten.

Om Jay adalah contoh nyata bahwa kebiasaan menulis bisa membawa seseorang dikenal luas. Beliau tidak lahir langsung sebagai “Guru Blogger Indonesia.” Semua dimulai dari keberanian menulis dan membagikan pengalaman hidupnya kepada orang lain. Dari tulisan sederhana, akhirnya lahirlah ribuan tulisan yang menginspirasi banyak pembaca di seluruh Indonesia.

Yang menarik, Om Jay tidak pernah pelit berbagi semangat kepada penulis pemula. Beliau selalu percaya bahwa setiap orang bisa menulis jika mau belajar dan berlatih.

Menulis juga memiliki kekuatan luar biasa dalam kehidupan seseorang. Dengan menulis, kita bisa meninggalkan jejak pemikiran. Dengan menulis, kita bisa berbagi pengalaman hidup. Bahkan dengan menulis, kita bisa menguatkan hati orang lain yang sedang terluka.

Kadang kita tidak sadar bahwa tulisan sederhana yang kita buat ternyata mampu memberi harapan bagi pembaca.

Karena itu, jangan pernah meremehkan tulisan sendiri.

Tulisan yang menurut kita biasa saja mungkin sangat berarti bagi orang lain.

Untuk para penulis pemula, jangan malu belajar. Banyak membaca, banyak mendengar, dan banyak berlatih. Tidak ada penulis hebat yang berhenti belajar. Semakin banyak membaca, semakin kaya kosa kata dan ide kita.

Cobalah menulis dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Tulis pengalaman sehari-hari. Tulis kenangan masa kecil. Tulis kisah perjalanan hidup. Tulis tentang guru, keluarga, sahabat, atau perjuangan hidup yang pernah dialami. Semua pengalaman hidup sebenarnya bisa menjadi tulisan yang menarik jika ditulis dengan hati.

Dan yang paling penting, jangan menyerah hanya karena kritik.

Kritik bukan tanda kita gagal. Kritik adalah bagian dari proses belajar menjadi lebih baik.

Bisa jadi hari ini tulisan kita belum bagus. Namun jika terus belajar dan menulis setiap hari, perlahan kemampuan itu akan tumbuh. Seperti tanaman yang disiram setiap hari, tulisan juga akan berkembang jika terus dirawat dengan latihan dan semangat belajar.

Akhirnya, pesan Om Jay sangat layak kita renungkan bersama:

“Nanti juga lama-lama bisa kalau belajar menulis setiap hari.”

Kalimat sederhana itu mengandung harapan besar. Bahwa siapa pun bisa menjadi penulis selama mau memulai, mau belajar, dan mau terus berlatih tanpa lelah.

Sebab penulis hebat bukanlah mereka yang langsung sempurna, tetapi mereka yang tidak berhenti menulis meskipun masih belajar.

kopdar Dadakan di Labschhool UNJ


Tamu Dadakan di Labschool: Pertemuan Hangat yang Menguatkan Persahabatan dan Semangat Pendidikan

Hari itu suasana di sekolah berjalan seperti biasa. Aktivitas belajar mengajar berlangsung dengan ritme yang akrab di lingkungan Labschool Jakarta. Para guru sibuk menjalankan tugasnya, siswa belajar dengan penuh semangat, dan ruang-ruang sekolah dipenuhi percakapan tentang pendidikan, masa depan, serta harapan. Namun di tengah kesibukan itu, sebuah kejutan kecil datang membawa kebahagiaan yang tidak terduga.


Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah kedatangan tamu istimewa. Tamu itu bukan tamu resmi dengan undangan mewah atau acara besar penuh protokoler. Mereka datang sederhana, penuh kehangatan, dan membawa energi persahabatan yang tulus. Mereka adalah Ibu Helwiyah dan Prof Muda, dua sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap dunia pendidikan dan persahabatan.

Pertemuan itu berlangsung sederhana di ruang kerja Labschool. Tidak ada kemewahan. Tidak ada panggung besar. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan makna yang mendalam. Kadang-kadang, kebahagiaan tidak datang dari acara megah, tetapi dari pertemuan tulus antarsahabat yang saling menghargai dan menguatkan.

Dalam foto yang diabadikan hari itu, tampak senyum hangat menghiasi wajah ketiganya. Senyum yang bukan dibuat-buat, melainkan lahir dari rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu, berbincang, dan berbagi cerita. Ibu Helwiyah terlihat anggun dengan hijab lembut dan senyum teduhnya. Prof Muda tampil sederhana namun penuh wibawa. Sementara Omjay berdiri di tengah dengan wajah penuh kebahagiaan menerima tamu yang datang tanpa jarak.

Bagi Omjay, tamu dadakan seperti ini justru sering meninggalkan kesan yang paling dalam. Sebab pertemuan spontan biasanya berlangsung lebih jujur dan apa adanya. Tidak ada skenario. Tidak ada pencitraan. Yang ada hanyalah kehangatan hati.

Obrolan mereka pun mengalir begitu saja. Dari cerita tentang pendidikan, pengalaman mengajar, dunia literasi, hingga kisah kehidupan sehari-hari. Di sela percakapan, sesekali terdengar tawa kecil yang membuat suasana semakin akrab. Ruangan yang tadinya biasa saja berubah menjadi ruang penuh energi positif.

Omjay percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang buku dan nilai akademik. Pendidikan sejati juga tumbuh dari hubungan antarmanusia yang saling menguatkan. Ketika guru saling menyemangati, ketika sahabat datang membawa perhatian, ketika seseorang rela meluangkan waktu untuk bersilaturahmi, di situlah pendidikan hati sedang berlangsung.

Pertemuan sederhana itu juga mengingatkan bahwa persahabatan di dunia pendidikan adalah anugerah yang sangat berharga. Guru sering kali terlihat kuat di depan murid-muridnya, tetapi sesungguhnya guru juga manusia biasa yang membutuhkan dukungan moral, perhatian, dan teman berbagi cerita. Kehadiran sahabat seperti Ibu Helwiyah dan Prof Muda menjadi pengingat bahwa perjuangan mendidik generasi bangsa tidak dijalani sendirian.

Dalam dunia yang semakin sibuk dan individualistis, silaturahmi menjadi sesuatu yang mahal nilainya. Banyak orang terlalu sibuk mengejar urusan masing-masing hingga lupa menyapa sahabatnya. Padahal, satu kunjungan sederhana bisa menghadirkan kebahagiaan luar biasa. Satu pertemuan hangat bisa menghapus lelah yang menumpuk selama berhari-hari.

Omjay merasakan hal itu hari tersebut. Kehadiran tamu dadakan justru menjadi penyegar jiwa di tengah rutinitas sekolah yang padat. Ada rasa haru ketika melihat masih ada orang-orang baik yang menjaga hubungan dengan tulus. Tidak datang karena kepentingan, tetapi datang karena persaudaraan.

Prof Muda dalam obrolannya banyak memberikan motivasi tentang pentingnya terus belajar sepanjang hayat. Menurutnya, guru tidak boleh berhenti berkembang. Dunia berubah begitu cepat. Teknologi bergerak maju. Tantangan pendidikan semakin kompleks. Karena itu guru harus terus membuka diri terhadap ilmu baru tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara Ibu Helwiyah berbagi banyak cerita tentang ketulusan dalam mendidik. Baginya, seorang guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga penjaga harapan. Dari tangan guru lahir generasi yang kelak menentukan masa depan bangsa. Karena itu guru harus mengajar dengan hati, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Omjay mendengarkan semua itu dengan penuh perhatian. Sebagai seorang guru blogger Indonesia, Omjay memang dikenal aktif menulis dan berbagi inspirasi pendidikan kepada masyarakat luas. Namun di balik aktivitas menulisnya, Omjay tetaplah seorang manusia yang bahagia ketika dikelilingi sahabat-sahabat baik.

Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan foto bersama. Sebuah foto sederhana, tetapi menyimpan banyak cerita. Kelak mungkin foto itu hanya terlihat sebagai dokumentasi biasa. Namun bagi mereka yang ada di dalamnya, foto tersebut adalah pengingat tentang persahabatan, perjuangan, dan cinta terhadap dunia pendidikan.

Kadang hidup memang tidak membutuhkan terlalu banyak hal besar untuk merasa bahagia. Cukup ada orang-orang baik yang datang membawa senyum dan ketulusan. Cukup ada sahabat yang masih mau menyempatkan diri untuk bertemu. Cukup ada ruang kecil tempat berbagi cerita dengan hati yang lapang.

Tamu dadakan di Labschool hari itu menjadi bukti bahwa silaturahmi tidak pernah sia-sia. Ia menghadirkan energi baru, memperpanjang umur persaudaraan, dan menguatkan langkah perjuangan. Dari ruang sederhana itu lahir kembali semangat untuk terus mengabdi di dunia pendidikan.

Omjay pun kembali teringat satu hal penting dalam hidup: manusia hebat bukan hanya mereka yang memiliki jabatan tinggi atau popularitas besar, tetapi mereka yang tetap rendah hati menjaga hubungan baik dengan sesama.

Semoga pertemuan hangat itu menjadi kenangan indah yang terus hidup dalam hati. Dan semoga semakin banyak insan pendidikan yang menjaga persaudaraan, saling mendukung, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi Indonesia.

Sidang Terbuka UNJ

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas ibu kota, sebuah spanduk besar terpampang megah di lingkungan Universitas Negeri Jakarta. Spanduk itu bukan sekadar penanda acara biasa, melainkan simbol semangat akademik, kemajuan pendidikan, dan cita-cita besar dunia kampus dalam menyiapkan generasi unggul Indonesia. Tulisan besar “Sidang Terbuka Universitas Negeri Jakarta” menjadi perhatian siapa saja yang melintas di kawasan tersebut.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka pembukaan Dies Natalis ke-62 UNJ. Sebuah usia yang tidak lagi muda bagi sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Selama lebih dari enam dekade, Universitas Negeri Jakarta telah menjadi salah satu pusat pendidikan yang melahirkan banyak guru, akademisi, peneliti, birokrat, hingga tokoh bangsa yang berkiprah di berbagai bidang.

Tema yang diangkat dalam sidang terbuka kali ini sangat relevan dengan kebutuhan zaman, yakni:

“Penguatan Talenta Unggul bagi Dunia Kerja Melalui Integrasi Pendidikan Humanis dalam Mewujudkan UNJ Berdampak dan Bereputasi Global.”

Tema tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik semata, tetapi juga menekankan pentingnya pendidikan yang humanis. Artinya, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja profesional, melainkan juga manusia yang memiliki empati, karakter kuat, kemampuan komunikasi, dan kepedulian sosial.

Di era kecerdasan buatan dan revolusi digital saat ini, perguruan tinggi memang dituntut untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing secara global. Namun di sisi lain, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh hilang. Inilah yang tampaknya ingin ditegaskan oleh UNJ melalui Dies Natalis ke-62 mereka.

Acara sidang terbuka tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Latief Hendraningrat Gedung Dewi Sartika UNJ. Aula tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan akademik dan seremonial penting di lingkungan kampus.

Dalam spanduk terlihat dua tokoh penting yang menjadi sorotan utama acara. Di sisi kiri terdapat foto Prof. Dr. Komarudin selaku Rektor UNJ yang akan memberikan sambutan resmi. Kehadiran beliau menjadi simbol arah kepemimpinan kampus dalam membawa UNJ menuju perguruan tinggi berkelas dunia.

Sementara di sisi kanan terpampang foto Prof. Yassierli yang dijadwalkan menyampaikan orasi ilmiah. Kehadiran Menteri Ketenagakerjaan dalam forum akademik ini tentu memiliki makna mendalam. Dunia kerja saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, dan transformasi industri. Karena itu, kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja menjadi sangat penting.

Orasi ilmiah dari Menteri Ketenagakerjaan diperkirakan akan membahas bagaimana perguruan tinggi harus mampu menyiapkan talenta unggul yang siap menghadapi tantangan global. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta daya adaptasi tinggi terhadap perubahan zaman.

Menariknya, di bawah spanduk utama terdapat pula banner bertuliskan “Zero Waste Green Campus – Bersama Kita Jaga Kampus, Jaga Bumi.” Banner tersebut menunjukkan bahwa UNJ tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup.

Gerakan zero waste atau minim sampah kini memang menjadi perhatian banyak kampus di dunia. Kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari lingkungan pendidikan agar mahasiswa terbiasa hidup ramah lingkungan sejak dini. Pesan tersebut menjadi sangat penting di tengah meningkatnya persoalan sampah dan perubahan iklim global.

Kehadiran banner lingkungan di bawah spanduk Dies Natalis seolah memberikan pesan bahwa kampus modern bukan hanya kampus yang cerdas secara intelektual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan bumi. Pendidikan dan kepedulian lingkungan harus berjalan beriringan.

Jika diperhatikan lebih jauh, foto ini juga memperlihatkan suasana khas lingkungan perkotaan Jakarta. Kabel-kabel listrik yang melintang di atas jalan, aktivitas mahasiswa yang berlalu-lalang, serta suasana kampus yang ramai menjadi gambaran nyata kehidupan akademik di tengah padatnya ibu kota. Namun di balik kesibukan itu, semangat untuk terus belajar dan membangun masa depan bangsa tetap menyala.

Dies Natalis bukan sekadar acara ulang tahun kampus. Lebih dari itu, Dies Natalis merupakan momentum refleksi perjalanan panjang sebuah institusi pendidikan. Pada usia ke-62, UNJ tentu telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan. Dari masa ke masa, kampus ini terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan Indonesia, UNJ memiliki tanggung jawab besar untuk terus melahirkan generasi pendidik dan profesional berkualitas. Tema tentang pendidikan humanis yang diangkat kali ini menunjukkan bahwa UNJ ingin tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus modernisasi.

Bagi para mahasiswa, kegiatan seperti sidang terbuka Dies Natalis juga menjadi ruang inspirasi. Mereka dapat belajar langsung dari para pemimpin bangsa, akademisi, dan tokoh nasional yang hadir dalam acara tersebut. Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian termotivasi untuk meningkatkan prestasi akademik maupun kontribusi sosialnya setelah mengikuti forum ilmiah semacam ini.

Sementara bagi para dosen dan tenaga kependidikan, Dies Natalis menjadi pengingat bahwa tugas mendidik bukan sekadar mengajar di ruang kelas, melainkan membentuk karakter dan masa depan generasi muda Indonesia.

Foto spanduk ini akhirnya bukan hanya sekadar dokumentasi acara kampus. Ia menjadi simbol harapan besar dunia pendidikan Indonesia. Harapan agar perguruan tinggi mampu melahirkan talenta unggul yang cerdas, berkarakter, peduli lingkungan, dan siap membawa Indonesia bersaing di tingkat global.

Di usia ke-62, Universitas Negeri Jakarta tampaknya ingin menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat mencari gelar, tetapi juga tempat membangun peradaban.

Apakah Wajar Bila Kita Copas Dari Chatgpt?



Seorang kawan di WA Group The writres bertanya kepada Omjay.

Chat GPT punya data dari ribuan buku, ide orang lain, dan dari berbagai sumber. Namun Chat GPT tidak pernah menyebutkan sumber-sumber tersebut dalam mengutip untuk memberikan jawaban. Menurut Om Jay apakah wajar kalau kita melakukan copy-paste dari chat GPT dan mengklaimnya ?

Tidak wajar. Bahkan itu bisa menjadi bentuk “pembajakan intelektual” yang halus tetapi berbahaya.

Memang benar, ChatGPT belajar dari sangat banyak data: buku, artikel, jurnal, forum, percakapan, dan berbagai sumber lain. Namun ChatGPT bukan mesin penyalin langsung. Ia menghasilkan jawaban baru berdasarkan pola bahasa yang dipelajari. Karena itu, sering kali sumber asli tidak muncul secara otomatis dalam jawaban.

Tetapi di sinilah letak persoalannya.
Ketika seseorang tinggal copy-paste hasil ChatGPT lalu mengaku, “Ini karya saya sepenuhnya,” maka ada masalah etika di sana. Apalagi jika dipublikasikan, dilombakan, dijadikan buku, karya ilmiah, atau bahkan dipakai mencari keuntungan tanpa proses berpikir dan pengolahan pribadi.

Bayangkan seorang guru memberi tugas menulis kepada muridnya. Tujuannya bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi melatih cara berpikir, kejujuran, dan karakter. Jika murid hanya menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya, maka yang tumbuh bukan kemampuan, melainkan ketergantungan.

AI itu seharusnya seperti:

  • kalkulator untuk berhitung,
  • kamera untuk mengabadikan momen,
  • atau mesin pencari untuk membantu menemukan informasi.

Ia alat bantu, bukan pengganti nurani dan kreativitas manusia.

Masalah terbesar dari budaya copy-paste bukan hanya soal hak cipta. Yang lebih berbahaya adalah matinya proses belajar. Orang jadi malas membaca, malas merenung, malas mengalami, dan malas menulis dari hati. Padahal tulisan yang paling kuat sering lahir bukan dari kecanggihan kata, melainkan dari pengalaman hidup dan kejujuran penulisnya.

Banyak tulisan AI terlihat rapi, tetapi terasa dingin.
Sementara tulisan manusia kadang sederhana, tetapi punya jiwa.

Karena itu, menggunakan ChatGPT secara bijak jauh lebih penting daripada sekadar menggunakannya. Misalnya:

  • meminta ide kerangka tulisan,
  • mencari referensi awal,
  • memperbaiki tata bahasa,
  • membantu menyusun poin-poin,
  • atau memancing inspirasi.

Setelah itu, manusialah yang harus memberi:

  • pengalaman,
  • sudut pandang,
  • emosi,
  • nilai,
  • dan tanggung jawab moral.

Kalau ada orang memakai ChatGPT lalu mengedit, menambahkan pengalaman pribadi, melakukan riset tambahan, memberi analisis sendiri, lalu menyebut bahwa tulisan dibantu AI — itu masih etis.

Namun kalau:

  • copy mentah,
  • tidak membaca ulang,
  • tidak memahami isi,
  • lalu mengaku karya asli pribadi,

maka itu sama saja memakai “otak pinjaman” sambil berharap mendapat pengakuan sebagai pemikir.

Ironisnya, pembaca yang berpengalaman biasanya bisa merasakan.
Tulisan yang lahir dari pengalaman hidup memiliki napas. Ada luka, ada harapan, ada detail manusiawi. Sedangkan tulisan copy-paste AI sering terasa terlalu licin, terlalu sempurna, tetapi kosong ruhnya.

Di era AI sekarang, menurut saya ukuran kecerdasan bukan lagi “siapa paling cepat menghasilkan tulisan”, tetapi:

  • siapa yang paling jujur,
  • siapa yang mampu memberi nilai tambah,
  • dan siapa yang tetap punya suara asli di tengah banjir teks buatan mesin.

Menulis dengan bantuan AI itu boleh.
Tetapi kehilangan keaslian diri demi pujian instan, itu kerugian besar bagi masa depan literasi kita.


Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Mari Kita Ketuk Pintu Langit



Mari Kita Ketuk Pintu Langit

Hidup ini tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan. Ada hari-hari ketika langkah terasa ringan, rezeki datang tanpa disangka, dan hati dipenuhi rasa syukur. Namun, ada pula masa ketika hidup terasa sesak. Masalah datang bertubi-tubi. Air mata jatuh diam-diam di tengah malam. Hati lelah memikul beban yang tak mampu diceritakan kepada siapa pun.

Di saat seperti itulah manusia sadar bahwa dirinya hanyalah hamba yang lemah.

Sering kali kita mencoba terlihat kuat di hadapan manusia. Kita tersenyum meski hati sedang rapuh. Kita berkata baik-baik saja padahal dada terasa penuh luka. Kita sibuk mencari pertolongan ke sana kemari, mengetuk banyak pintu manusia, berharap ada yang memahami derita kita. Namun, tidak semua orang mampu mengerti isi hati kita.

Ada luka yang terlalu dalam untuk dijelaskan dengan kata-kata.

Ada kesedihan yang hanya mampu diterjemahkan oleh air mata.

Di tengah semua itu, Allah masih membuka satu pintu yang tidak pernah tertutup. Pintu itu adalah pintu langit. Pintu tempat doa-doa dipanjatkan. Pintu tempat seorang hamba mencurahkan semua keluh kesahnya kepada Dzat Pemilik Ka’bah.

Betapa indahnya ketika kita sadar bahwa kita masih memiliki Allah.

Ketika dunia terasa sempit, Allah selalu memiliki jalan keluar. Ketika manusia mulai menjauh, Allah tetap dekat. Ketika semua terasa mustahil, Allah mampu mengubah keadaan hanya dengan kalimat “Kun fayakun”.

Mari kita ketuk pintu langit.

Mari kita angkat kedua tangan dengan hati yang tulus. Tidak perlu kata-kata indah. Tidak perlu kalimat yang panjang. Sampaikan saja semuanya kepada Allah. Ceritakan rasa sakit yang selama ini disimpan rapat-rapat. Adukan semua luka yang membuat hati tidak tenang. Sebab Allah tidak pernah bosan mendengar doa hamba-Nya.

Kadang kita lupa bahwa doa bukan hanya tentang meminta. Doa adalah cara seorang hamba mendekatkan diri kepada Tuhannya. Saat sujud panjang di sepertiga malam, sebenarnya kita sedang menyerahkan seluruh beban hidup kepada Yang Maha Kuasa.

Bukankah begitu banyak keajaiban yang lahir dari doa?

Ada orang yang sembuh setelah divonis sulit sembuh.

Ada keluarga yang kembali harmonis setelah hampir hancur.

Ada rezeki yang datang dari arah yang tidak pernah disangka.

Ada air mata yang berubah menjadi kebahagiaan.

Semua itu terjadi karena Allah mendengar doa-doa hamba-Nya.

Mungkin hari ini hidup kita belum berubah. Masalah masih ada. Hutang belum lunas. Penyakit belum sembuh. Hati masih sering sedih. Namun jangan pernah berhenti mengetuk pintu langit. Sebab doa yang terus dipanjatkan tidak pernah sia-sia.

Allah mungkin tidak langsung mengabulkan sesuai keinginan kita, tetapi Allah selalu memberikan yang terbaik pada waktu yang paling tepat.

Sering kali manusia ingin jawaban yang cepat. Padahal Allah sedang mempersiapkan sesuatu yang jauh lebih indah. Kita hanya diminta bersabar dan terus percaya.

Lihatlah Ka’bah di tanah suci. Jutaan manusia datang dari seluruh penjuru dunia dengan membawa doa dan harapan. Ada yang menangis memohon ampunan. Ada yang meminta kesembuhan untuk orang tercinta. Ada yang berharap diberi keturunan. Ada yang memohon agar hidupnya dipenuhi keberkahan.

Semua berdiri sama di hadapan Allah.

Tidak ada jabatan yang dibanggakan.

Tidak ada kekayaan yang diutamakan.

Yang paling mulia hanyalah hati yang ikhlas dan penuh ketakwaan.

Kadang kita merasa doa kita kecil dibanding masalah yang besar. Padahal bagi Allah, tidak ada yang sulit. Laut bisa terbelah. Api bisa menjadi dingin. Hati manusia bisa dibolak-balik dalam sekejap. Maka jangan pernah meragukan kekuatan doa.

Saat dunia membuatmu lelah, mendekatlah kepada Allah.

Saat hati terasa hancur, bersujudlah lebih lama.

Saat air mata tak mampu dibendung, biarkan ia jatuh di atas sajadah.

Sebab ada ketenangan yang tidak bisa dijelaskan ketika seorang hamba benar-benar berserah diri kepada Tuhannya.

Malam adalah waktu terbaik mengetuk pintu langit. Ketika banyak manusia terlelap, ada jiwa-jiwa yang bangun untuk berdoa. Mereka menangis dalam sunyi. Mereka memohon dengan penuh harap. Dan Allah Yang Maha Mendengar tidak pernah menolak doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus.

Jangan malu menangis di hadapan Allah. Sebab air mata seorang hamba adalah tanda bahwa ia masih memiliki harapan kepada Rabb-nya.

Hari ini mungkin kita sedang diuji. Namun percayalah, tidak ada ujian yang abadi. Setelah kesulitan akan datang kemudahan. Setelah hujan akan hadir pelangi. Setelah luka akan ada bahagia.

Tetaplah berdoa.

Tetaplah berharap.

Tetaplah percaya.

Mari kita ketuk pintu langit dan kirimkan semua keluh serta permohonan kepada Dzat Pemilik Ka’bah. Sebab hanya kepada-Nya tempat terbaik untuk bersandar. Hanya kepada-Nya hati yang gelisah menemukan ketenangan. Dan hanya kepada-Nya segala doa akan bermuara.

Semoga setiap air mata yang jatuh menjadi penghapus dosa.

Semoga setiap doa yang dipanjatkan menjadi jalan datangnya pertolongan.

Dan semoga Allah selalu menjaga langkah kita hingga akhir hayat nanti.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamiin.


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Guru Tidak Perlu Partai, Guru Perlu Diperkuat Perannya di Tengah Masyarakat

Guru Tidak Perlu Partai, Guru Perlu Diperkuat Perannya di Tengah Masyarakat

Di tengah hiruk-pikuk politik yang semakin ramai, muncul pertanyaan yang cukup menggelitik hati: apakah guru perlu memiliki partai politik sendiri? Sebagian orang mungkin menganggap itu sebagai jalan memperkuangkan nasib guru agar lebih didengar penguasa. Namun banyak pula yang merasa bahwa guru tidak perlu masuk terlalu jauh ke arena perebutan kekuasaan. Guru cukup memiliki organisasi profesi yang kuat seperti Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI, yang sejak lama berdiri untuk memperjuangkan kesejahteraan guru dan memajukan pendidikan Indonesia.

Guru sejatinya bukan alat politik. Guru adalah pelita bangsa. Ketika guru terlalu sibuk mengejar kekuasaan, ada kekhawatiran arah perjuangan menjadi rancu. Dunia pendidikan akhirnya terseret dalam kepentingan politik praktis yang sering kali mengorbankan nilai kejujuran dan pengabdian. Padahal, sejarah membuktikan bahwa guru memiliki kekuatan besar tanpa harus duduk di kursi partai politik.

Guru dihormati bukan karena jabatan politiknya, tetapi karena ilmunya, ketulusannya, dan pengaruhnya dalam membentuk manusia. Dari tangan guru lahir dokter, tentara, polisi, hakim, menteri, bahkan presiden. Maka sesungguhnya guru memiliki posisi sangat mulia dalam kehidupan masyarakat.

Sayangnya, kini banyak guru merasa kehilangan wibawa sosialnya. Tidak sedikit guru yang justru dipandang sebelah mata. Bahkan muncul istilah yang menyakitkan hati: “guru kotak PPPK.” Seolah-olah status administratif lebih penting daripada pengabdian dan kualitas mendidik. Padahal guru-guru muda adalah penjaga masa depan Indonesia. Mereka bukan sekadar pekerja kontrak, melainkan penanam peradaban bangsa.

Karena itu perjuangan guru hari ini seharusnya bukan mendirikan partai politik, melainkan memperkuat kembali peran guru di semua lapisan masyarakat.

Guru harus hadir di tengah rakyat.

Di lingkungan pertahanan negara, guru dapat bekerja sama dengan Tentara Nasional Indonesia untuk membina semangat bela negara, cinta tanah air, disiplin, dan nasionalisme generasi muda. Banyak anak zaman sekarang mengenal dunia digital lebih cepat daripada mengenal sejarah bangsanya sendiri. Di sinilah guru mengambil peran penting agar generasi muda tidak kehilangan identitas kebangsaan.

Di bidang keamanan, guru juga dapat bersinergi dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia dalam membina kesadaran hukum dan ketertiban masyarakat. Guru dapat menjadi pelopor pendidikan antiperundungan, anti narkoba, anti kekerasan, dan pendidikan etika digital. Anak-anak tidak cukup hanya diajarkan matematika dan bahasa, tetapi juga harus diajarkan menjadi manusia yang menghargai hukum dan sesama.

Dalam bidang kesehatan, guru mempunyai peran besar membimbing masyarakat hidup sehat. Setelah dunia pernah dihantam pandemi, kita sadar bahwa pendidikan kesehatan sangat penting. Guru dapat menjadi penggerak kebersihan lingkungan, pola makan sehat, kesehatan mental siswa, hingga pendidikan reproduksi yang benar dan bermartabat. Guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga mengedukasi keluarga dan masyarakat sekitar.

Di bidang pemerintahan dan demokrasi, guru adalah penjaga akal sehat bangsa. Guru mengajarkan bagaimana demokrasi dijalankan dengan etika, kejujuran, dan tanggung jawab. Guru mendidik anak-anak agar tidak mudah terprovokasi hoaks, fitnah, maupun politik kebencian. Bangsa yang kuat bukan bangsa yang gaduh oleh perebutan kekuasaan, tetapi bangsa yang rakyatnya cerdas dan berkarakter.

Bahkan di lingkungan tempat tinggal masing-masing, guru sesungguhnya dapat menjadi tokoh masyarakat yang dihormati. Guru bisa membimbing remaja masjid, karang taruna, kegiatan literasi, pelatihan digital, hingga pembinaan moral keluarga. Dahulu, masyarakat sangat menghormati guru karena guru hadir sebagai penuntun kehidupan sosial. Ketika ada masalah keluarga, konflik warga, atau kebingungan pendidikan anak, masyarakat datang kepada guru untuk meminta nasihat.

Kini peran itu mulai memudar.

Guru terlalu dibebani administrasi. Guru terlalu sibuk mengejar laporan dan sistem. Bahkan kadang guru dipaksa mengejar target birokrasi dibanding membangun hubungan kemanusiaan dengan masyarakat. Akibatnya, jarak antara guru dan rakyat semakin lebar.

Padahal kekuatan guru sesungguhnya ada pada pengaruh sosialnya.

Bangsa Jepang maju karena menghormati guru. Bangsa Korea maju karena pendidikan dijadikan budaya. Indonesia pun bisa maju jika guru kembali ditempatkan sebagai guru bangsa, bukan sekadar pekerja pendidikan.

PGRI memiliki tugas besar untuk mengembalikan marwah itu. Organisasi guru tidak cukup hanya memperjuangkan tunjangan dan administratif kepegawaian, tetapi juga harus memperkuat posisi guru sebagai pembina masyarakat. Guru harus diberi ruang lebih luas untuk berkontribusi di bidang sosial, budaya, kesehatan, keamanan, dan pembangunan karakter bangsa.

Ketika guru aktif membina masyarakat, maka penghormatan kepada guru akan tumbuh dengan sendirinya. Tidak perlu meminta dihormati. Masyarakat akan menghargai guru karena melihat manfaat nyata kehadiran mereka.

Guru sejati tidak haus kekuasaan.

Guru sejati haus perubahan.

Mungkin itulah sebabnya banyak orang tua dulu berkata, “Kalau ingin melihat masa depan bangsa, lihatlah bagaimana gurunya dihargai.” Sebab ketika guru jatuh martabatnya, maka perlahan bangsa juga kehilangan arah.

Karena itu, guru tidak perlu partai politik. Guru cukup diperkuat perannya. Guru harus kembali menjadi cahaya di tengah masyarakat. Menjadi pembina bangsa. Menjadi penjaga moral. Menjadi penuntun generasi muda.

Sebab kekuasaan bisa berganti setiap lima tahun. Tetapi pengaruh seorang guru bisa hidup sepanjang zaman.


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi