Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 21 Mei 2026

inspirasi pagi

Doa untuk Hari Esok: Energi yang Menguatkan Langkah Hidup

Pagi itu langit Jakarta masih tampak redup. Matahari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Jalanan mulai ramai oleh orang-orang yang bergegas mengejar waktu. Di sebuah sudut ruang kerja sederhana, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab dipanggil Omjay, duduk sambil menatap layar laptopnya. Secangkir kopi hangat menemani pagi yang sunyi.

Di tengah kesibukan hidup yang tak pernah berhenti, Omjay kembali membaca sebuah kalimat sederhana namun begitu dalam maknanya:

"Belajarlah dari hari-hari kemarin dan hiduplah untuk hari ini, lalu berdoalah untuk hari esok."

Kalimat itu membuatnya terdiam cukup lama.

Hidup memang selalu berjalan maju. Tidak ada seorang pun yang bisa kembali ke masa lalu. Kesalahan kemarin tidak bisa dihapus. Luka kemarin mungkin masih membekas. Kegagalan kemarin terkadang masih terasa menyakitkan. Namun manusia diberi kesempatan untuk belajar dari semuanya.

Omjay teringat masa-masa ketika dirinya masih menjadi guru muda. Saat itu semangatnya begitu besar untuk mengajar, tetapi kenyataan tidak selalu berjalan mudah. Pernah suatu hari ia pulang dari sekolah dengan hati yang sangat lelah. Bukan karena tubuhnya capek, melainkan karena merasa usahanya tidak dihargai.

Ada murid yang sulit diatur. Ada pekerjaan administrasi yang menumpuk. Ada kritik yang menusuk hati. Bahkan ada saat ketika dirinya merasa gagal menjadi guru yang baik.

Namun malam itu, di atas sajadah sederhana, Omjay berdoa dengan air mata yang jatuh perlahan.

“Ya Allah, jika hari ini aku belum berhasil, maka kuatkan aku untuk mencoba lagi esok hari.”

Doa itu sederhana. Tidak panjang. Tidak indah susunan katanya. Tetapi doa itu lahir dari hati yang tulus.

Dan ternyata benar. Keesokan harinya, Allah memberinya kekuatan baru.

Omjay mulai memahami bahwa doa bukan sekadar ucapan bibir. Doa adalah energi batin yang membuat manusia mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan. Ketika hati merasa lemah, doa menguatkan. Ketika pikiran buntu, doa menenangkan. Ketika langkah terasa berat, doa membuat manusia kembali berdiri.

Banyak orang mengira kekuatan hidup hanya berasal dari uang, jabatan, atau relasi. Padahal tidak sedikit orang yang memiliki semuanya tetapi tetap merasa kosong. Sebaliknya, banyak orang sederhana yang hidupnya penuh ketenangan karena hatinya dekat dengan doa.

Dalam perjalanan hidupnya sebagai guru, Omjay sering bertemu banyak orang yang kehilangan harapan. Ada guru honorer yang gajinya kecil tetapi tetap mengajar dengan penuh cinta. Ada siswa yang hampir putus sekolah tetapi tetap datang belajar dengan wajah ceria. Ada orang tua murid yang berjuang keras demi pendidikan anak-anaknya.

Mereka mungkin tidak memiliki kehidupan yang mudah. Namun mereka memiliki satu hal yang luar biasa: doa.

Omjay pernah berbincang dengan seorang guru tua di daerah pelosok. Guru itu setiap hari harus menempuh jalan rusak demi mengajar anak-anak desa. Penghasilannya tidak besar. Fasilitas sekolah sangat terbatas. Namun wajahnya selalu teduh.

Omjay bertanya, “Apa yang membuat Bapak tetap kuat mengajar?”

Guru tua itu tersenyum sambil berkata pelan:

“Saya ini hidup dari doa, Pak. Kalau hanya mengandalkan tenaga sendiri, mungkin saya sudah menyerah sejak dulu.”

Jawaban itu sangat membekas di hati Omjay.

Benar sekali. Tidak semua persoalan hidup bisa diselesaikan dengan logika manusia. Ada titik di mana manusia harus berserah diri kepada Allah SWT. Ada masa ketika usaha sudah maksimal tetapi hasil belum terlihat. Di situlah doa menjadi cahaya yang menjaga harapan tetap hidup.

Ali bin Abi Thalib pernah berkata:

"Doamu untuk hari esok adalah energi yang menguatkan."

Kalimat itu bukan sekadar nasihat indah. Itu adalah kenyataan hidup.

Setiap manusia pasti memiliki kekhawatiran tentang hari esok. Ada yang takut kehilangan pekerjaan. Ada yang takut gagal. Ada yang cemas tentang kesehatan. Ada yang bingung memikirkan masa depan anak-anaknya.

Namun doa membuat hati tidak mudah runtuh oleh rasa takut.

Doa mengajarkan manusia untuk percaya bahwa Allah selalu bersama hamba-Nya.

Omjay sendiri merasakan banyak keajaiban doa dalam hidupnya. Ketika tubuhnya melemah karena sakit, doa membuatnya tetap optimis. Ketika menghadapi tekanan hidup, doa memberinya ketenangan. Bahkan ketika tulisan-tulisannya mulai dikenal banyak orang, Omjay sadar semua itu bukan semata karena kemampuan dirinya, tetapi karena pertolongan Allah melalui doa-doa yang tidak pernah berhenti dipanjatkan.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay percaya bahwa tulisan yang paling kuat bukanlah tulisan yang hanya penuh teori, tetapi tulisan yang lahir dari hati yang dekat kepada Tuhan.

Karena itu, ia selalu mengajak para guru untuk tidak hanya mengajar dengan ilmu, tetapi juga dengan doa. Sebab mendidik anak bukan pekerjaan ringan. Guru tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga membangun masa depan manusia.

Setiap pagi sebelum mengajar, Omjay terbiasa berdoa:

“Ya Allah, jadikan ilmuku bermanfaat dan jadikan aku guru yang membawa kebaikan.”

Doa sederhana itu menjadi sumber semangat yang luar biasa.

Hari ini mungkin hidup belum sempurna. Mungkin masih ada luka yang belum sembuh. Masih ada masalah yang belum selesai. Masih ada impian yang belum tercapai.

Namun jangan pernah berhenti berdoa.

Sebab doa adalah bukti bahwa manusia masih memiliki harapan.

Dan selama harapan itu masih hidup, maka hidup akan selalu memiliki alasan untuk diperjuangkan.

Belajarlah dari kemarin. Syukurilah hari ini. Dan doakanlah hari esok dengan penuh keyakinan.

Karena bisa jadi, kekuatan terbesar dalam hidup kita bukan berasal dari apa yang kita miliki, melainkan dari doa-doa yang diam-diam kita langitkan setiap malam.

Ayo semangat menjalani hidup.

Barakallah fiikum.

Rabu, 20 Mei 2026

Ketika Omjay Belajar Memahami PGRI

Ketika Omjay Belajar Memahami PGRI: Dari Kecurigaan Menjadi Kesadaran

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

Dulu saya pernah memiliki cara pandang yang keras terhadap organisasi guru, terutama PGRI. Saya sering bertanya dalam hati, “Mengapa organisasi sebesar PGRI terlihat begitu dekat dengan birokrasi?” Bahkan saya pernah berpikir, jangan-jangan organisasi ini hanya menjadi tempat nyaman bagi pejabat pendidikan dan para pengurus yang sibuk dengan jabatan.

Perasaan itu muncul bukan tanpa alasan. Sebagai guru yang hidup di lapangan, saya melihat sendiri berbagai persoalan pendidikan yang dihadapi guru setiap hari. Ada guru yang kesejahteraannya belum layak. Ada guru honorer yang mengabdi bertahun-tahun tetapi nasibnya tidak jelas. Ada guru yang takut bersuara karena khawatir berhadapan dengan atasan. Di sisi lain, saya melihat sebagian pejabat tampak hidup nyaman di ruang ber-AC sambil berbicara tentang pendidikan tanpa benar-benar merasakan denyut kehidupan sekolah.

Karena itulah, ketika mendengar ada Kepala Dinas Pendidikan menjadi pengurus PGRI, hati saya dulu ikut bertanya-tanya. Bukankah organisasi guru seharusnya berdiri independen? Bukankah organisasi perjuangan seharusnya menjaga jarak dengan kekuasaan?

Saya yakin, pertanyaan seperti itu bukan hanya muncul di hati saya. Banyak guru lain juga memiliki kegelisahan yang sama.

Suatu hari saya berdiskusi panjang dengan seorang sahabat lama, Tabrani Yunis. Beliau menyampaikan keresahan yang sangat jujur tentang dunia pendidikan, tentang jabatan yang dianggap semakin transaksional, dan tentang kekhawatiran jika organisasi guru terlalu dekat dengan kekuasaan.

Saya memahami kegelisahan itu.

Sebab orang yang pernah menjadi guru biasanya memiliki luka batin ketika melihat pendidikan berjalan tidak sesuai harapan. Guru hidup dengan idealisme. Maka ketika melihat birokrasi terasa jauh dari suara rakyat kecil di sekolah, kekecewaan itu mudah muncul.

Namun semakin lama saya terlibat dalam organisasi dan bertemu banyak orang di dunia pendidikan, saya mulai menyadari bahwa hidup tidak selalu hitam putih.

Saya mulai bertemu kepala dinas yang ternyata sangat peduli kepada guru. Ada yang rela turun langsung ke sekolah pelosok. Ada yang berani memperjuangkan anggaran pendidikan meski harus berhadapan dengan tekanan politik. Ada pula yang diam-diam membantu guru honorer tanpa mencari popularitas.

Di situlah saya belajar satu hal penting: jabatan tidak selalu menentukan hati seseorang.

Tidak semua pejabat buruk. Dan tidak semua aktivis organisasi otomatis benar.

Saya pun mulai memahami bahwa banyak kepala dinas pendidikan sejatinya lahir dari rahim perjuangan guru. Mereka pernah berdiri di depan kelas, mengajar murid, membuat RPP hingga larut malam, menghadapi orang tua siswa, dan merasakan beratnya menjadi guru.

Karena itu, ketika ada kepala dinas yang aktif di PGRI, persoalannya sebenarnya bukan boleh atau tidak boleh. Yang jauh lebih penting adalah apakah ia tetap amanah atau tidak.

Kalau seorang pejabat tetap mendengar suara guru, memperjuangkan pendidikan dengan tulus, dan tidak menjadikan organisasi sebagai alat kekuasaan, maka kehadirannya justru bisa menjadi jembatan komunikasi yang baik antara guru dan pemerintah.

Sebaliknya, kalau organisasi hanya dijadikan kendaraan politik atau pencitraan, maka lambat laun kepercayaan anggota akan runtuh.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa organisasi sebesar PGRI memang tidak mungkin memuaskan semua orang. Selalu ada kritik. Selalu ada kekecewaan. Tetapi organisasi juga tetap dibutuhkan.

Bayangkan kalau guru tidak memiliki organisasi profesi yang kuat. Siapa yang akan memperjuangkan perlindungan guru ketika menghadapi persoalan hukum? Siapa yang akan menyuarakan kesejahteraan guru honorer? Siapa yang akan menjadi rumah besar tempat guru berdiskusi dan saling menguatkan?

Karena itulah, meski kritik terhadap PGRI terus muncul, saya percaya organisasi ini tetap penting bagi masa depan pendidikan Indonesia.

Saya juga belajar bahwa kritik tidak boleh dimatikan.

Guru harus tetap berani bersuara. Organisasi harus siap menerima masukan. Sebab kritik yang lahir dari cinta terhadap pendidikan sesungguhnya adalah vitamin bagi organisasi agar tidak kehilangan arah.

Namun kritik juga perlu disampaikan dengan etika dan hati yang jernih.

Jangan sampai perbedaan pendapat membuat sesama guru saling membenci. Jangan sampai media sosial menjadi tempat membuka aib dan memperkeruh suasana tanpa solusi.

Guru seharusnya menjadi teladan dalam berdialog secara dewasa.

Saya teringat percakapan dengan Bang Tabrani ketika beliau berkata bahwa sekarang banyak jabatan terasa transaksional. Saya memahami rasa kecewa itu. Masyarakat memang sering melihat jabatan lebih dekat dengan kepentingan politik daripada pengabdian.

Tetapi saya juga percaya, bangsa ini masih memiliki orang-orang baik.

Kalau kita berhenti percaya bahwa masih ada pejabat yang amanah, maka pendidikan akan kehilangan harapan. Padahal perubahan justru membutuhkan orang-orang baik di dalam sistem.

Hari ini mungkin banyak orang mengejar jabatan. Tetapi sejarah tidak pernah benar-benar menghormati jabatan semata. Yang dikenang adalah pengabdian.

Banyak orang pernah menjadi pejabat, tetapi dilupakan begitu masa jabatannya selesai. Sebaliknya, ada guru sederhana yang tidak pernah memiliki jabatan tinggi, tetapi tetap dikenang murid-muridnya sepanjang hidup.

Karena itu saya akhirnya memahami bahwa perjuangan pendidikan tidak cukup hanya dengan kemarahan. Pendidikan membutuhkan dialog, kebijaksanaan, dan hati yang tetap bersih meski sering kecewa.

Dan saya bersyukur pernah mengalami proses berpikir itu.

Dulu saya mudah curiga kepada organisasi. Dulu saya mudah kecewa kepada birokrasi. Dulu saya melihat semuanya dengan emosi.

Namun sekarang saya belajar melihat lebih luas: bahwa memperbaiki pendidikan tidak bisa hanya dengan menyalahkan orang lain. Kita juga harus ikut menjadi bagian dari solusi.

PGRI bukan milik pejabat. PGRI juga bukan milik kelompok tertentu.

PGRI adalah rumah besar guru Indonesia.

Rumah itu mungkin belum sempurna. Kadang gaduh. Kadang penuh perbedaan pendapat. Kadang mengecewakan.

Tetapi rumah itu tetap perlu dijaga bersama.

Sebab di sanalah guru belajar saling menguatkan, saling mengingatkan, dan terus memperjuangkan pendidikan Indonesia agar tetap memiliki hati nurani.

Dan saya, Omjay, pernah menjadi orang yang sangat curiga kepada organisasi itu.

Sampai akhirnya saya belajar: bahwa perubahan tidak selalu lahir dari orang yang berada di luar pagar, tetapi sering dimulai oleh mereka yang mau masuk, berdialog, dan memperbaiki dari dalam dengan cinta dan kejujuran.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Youtube Ruang Belajar Baru Mencari Ilmu

Berikut tautan video YouTube yang dimaksud:
[Video YouTube](https://youtu.be/EcfPDHsxAkk?utm_source=chatgpt.com)


---

YouTube: Ruang Belajar Baru yang Mengubah Cara Manusia Mencari Ilmu

Di era digital seperti sekarang, belajar tidak lagi terbatas di ruang kelas. Kehadiran platform video seperti [YouTube](https://www.youtube.com?utm_source=chatgpt.com) telah mengubah cara manusia mendapatkan informasi, berbagi pengalaman, bahkan membangun karier. Video yang terdapat pada tautan tersebut menggambarkan bagaimana YouTube bukan sekadar media hiburan, tetapi telah berkembang menjadi ruang belajar baru yang sangat berpengaruh dalam kehidupan masyarakat modern.

Dahulu, seseorang harus pergi ke perpustakaan untuk mencari ilmu. Buku menjadi sumber utama pengetahuan. Kini, hanya dengan telepon genggam dan koneksi internet, jutaan video pembelajaran dapat diakses kapan saja. Mulai dari pelajaran sekolah, tutorial komputer, memasak, keterampilan kerja, hingga ceramah agama tersedia lengkap di YouTube. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi telah mendekatkan ilmu kepada siapa saja tanpa batas ruang dan waktu.

Video tersebut juga memperlihatkan bagaimana konten digital menjadi alat komunikasi yang sangat kuat. Banyak orang mampu belajar secara mandiri melalui video. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber ilmu, melainkan menjadi pembimbing yang membantu siswa memilah dan memahami informasi yang tersedia luas di internet. Perubahan ini menuntut dunia pendidikan untuk beradaptasi dengan cepat.

Dalam dunia pendidikan modern, YouTube menjadi media pembelajaran yang efektif karena memadukan unsur visual, audio, dan praktik langsung. Penjelasan yang rumit menjadi lebih mudah dipahami ketika ditampilkan dalam bentuk video. Itulah sebabnya banyak guru mulai menggunakan YouTube sebagai media pendukung pembelajaran di kelas.

Penelitian tentang penggunaan YouTube dalam pendidikan menunjukkan bahwa platform ini mampu meningkatkan motivasi belajar siswa dan membantu pemahaman materi secara lebih efektif. 

Bagi siswa, video pembelajaran terasa lebih menarik dibanding hanya membaca teks panjang. Mereka dapat mengulang materi kapan saja sesuai kebutuhan. Bahkan siswa yang malu bertanya di kelas dapat belajar kembali secara mandiri di rumah melalui video-video edukatif yang tersedia.

Namun video tersebut juga memberi pesan penting bahwa kemudahan teknologi harus diimbangi dengan kebijaksanaan dalam menggunakan media digital. Tidak semua konten di internet membawa manfaat. Ada pula informasi yang menyesatkan, provokatif, atau bahkan tidak sesuai dengan nilai pendidikan dan moral.

Karena itu, kemampuan literasi digital menjadi sangat penting. Literasi digital bukan hanya kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memilih informasi yang benar, memverifikasi sumber, dan menggunakan media sosial secara bijak. Di sinilah peran guru dan orang tua tetap sangat dibutuhkan.

Anak-anak dan remaja perlu dibimbing agar tidak hanya menjadi penonton pasif, tetapi mampu menjadi pengguna internet yang cerdas dan kreatif. Mereka harus diajarkan bahwa teknologi adalah alat untuk berkembang, bukan sekadar tempat hiburan tanpa batas.

YouTube sendiri berkembang menjadi platform terbesar berbagi video di dunia dan memiliki pengaruh besar terhadap pola konsumsi informasi masyarakat global. 

Dalam konteks pendidikan Indonesia, YouTube juga membuka peluang besar bagi para guru untuk berkarya. Banyak guru kini membuat kanal pembelajaran sendiri. Mereka membagikan pengalaman mengajar, tutorial, hingga motivasi pendidikan kepada masyarakat luas. Hal ini menciptakan budaya berbagi ilmu yang semakin berkembang.

Fenomena tersebut sangat dekat dengan kisah Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay. Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay telah lama mengajak guru untuk tidak takut belajar teknologi. Menurut beliau, guru masa kini tidak cukup hanya pandai mengajar di kelas, tetapi juga harus mampu memanfaatkan media digital untuk berbagi inspirasi dan ilmu kepada masyarakat luas.

Omjay sering mengatakan bahwa menulis dan berbagi pengalaman adalah bentuk amal ilmu yang tidak akan pernah putus. Semangat itu kini diperkuat dengan hadirnya media digital seperti YouTube dan blog pendidikan. Guru bisa mengajar lebih luas, bahkan menjangkau ribuan orang yang belum pernah ditemui secara langsung.

Video tersebut juga memperlihatkan bahwa siapa pun kini memiliki kesempatan menjadi kreator. Tidak perlu menjadi artis terkenal untuk membuat konten yang bermanfaat. Seorang guru di desa, siswa SMP, bahkan ibu rumah tangga dapat membangun kanal edukasi yang membantu banyak orang.

Namun menjadi kreator juga membutuhkan tanggung jawab moral. Konten yang dibuat harus mendidik, jujur, dan tidak menyesatkan. Di tengah persaingan mencari penonton dan popularitas, nilai-nilai etika harus tetap dijaga.

Perkembangan YouTube bahkan telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial masyarakat modern. Banyak penelitian membahas pengaruh YouTube terhadap komunikasi publik, pendidikan, hingga pembentukan opini masyarakat. 

Bagi dunia pendidikan, tantangan terbesar saat ini bukan lagi kekurangan informasi, melainkan bagaimana mengarahkan generasi muda agar mampu menggunakan banjir informasi secara benar. Guru harus menjadi pembimbing literasi digital. Orang tua harus menjadi sahabat anak dalam menggunakan teknologi. Dan siswa harus belajar bertanggung jawab terhadap apa yang mereka tonton dan bagikan.

Pada akhirnya, video tersebut mengingatkan kita bahwa teknologi hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya adalah manusia yang menggunakannya. Jika digunakan dengan baik, YouTube dapat menjadi sekolah tanpa batas. Ia bisa menghadirkan ilmu, inspirasi, motivasi, dan peluang masa depan bagi jutaan orang.

Tetapi jika digunakan tanpa kontrol, media digital juga dapat menjauhkan manusia dari nilai-nilai moral dan kehidupan nyata. Karena itu, keseimbangan menjadi kunci utama.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, pendidikan harus terus bergerak mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya. Guru tetap penting. Buku tetap penting. Namun teknologi kini menjadi jembatan baru yang memperluas akses ilmu pengetahuan.

Dan mungkin benar apa yang sering disampaikan Omjay:
“Teknologi tidak akan menggantikan guru. Tetapi guru yang tidak mau belajar teknologi bisa tertinggal oleh zaman.”

Kalimat itu terasa semakin relevan di era YouTube saat ini.

Salam Blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Belajar Menulis Ilmiah dan Publikasinya di KBMN PGRI Bersama Ibu Eka Yulia

Publikasi dan Legalitas Karya Tulis: Menulis Tidak Cukup Hanya Selesai, Tetapi Harus Diakui

Dunia literasi Indonesia terus bergerak maju. Semakin banyak guru, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat umum yang mulai menyadari pentingnya menulis sebagai sarana berbagi ilmu, pengalaman, dan inspirasi. Namun di tengah semangat menulis yang terus tumbuh, masih banyak penulis pemula yang belum memahami satu hal penting: karya tulis tidak hanya perlu dibuat, tetapi juga perlu dipublikasikan dan memiliki legalitas yang jelas.

Semangat inilah yang tampak dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI (KBMN PGRI) Gelombang ke-34, pertemuan ke-14 yang mengangkat tema sangat menarik, yaitu “Publikasi dan Legalitas Karya Tulis.” Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Rabu, 20 Mei 2026 pukul 19.00 WIB secara daring melalui grup WhatsApp KBMN.

Dalam poster kegiatan tersebut terlihat sosok narasumber, Eka Yulia, seorang pendidik yang dikenal aktif dalam dunia literasi. Beliau tampil membawa sertifikat penghargaan dengan selempang “Penulis Terbaik,” sebuah simbol bahwa menulis bukan sekadar hobi, melainkan perjuangan yang menghasilkan pengakuan. Sementara moderator kegiatan adalah Arofiah Afifi, yang memandu jalannya diskusi agar peserta dapat memahami materi dengan baik.

Kegiatan ini didukung oleh berbagai komunitas dan organisasi literasi seperti PGRI, komunitas KBMN, serta media literasi yang terus mendorong budaya menulis di Indonesia.

Menulis Adalah Jejak Kehidupan

Banyak orang mengira bahwa menulis hanyalah kegiatan merangkai kata. Padahal menulis sesungguhnya adalah meninggalkan jejak kehidupan. Apa yang kita tulis hari ini bisa menjadi ilmu bagi orang lain bertahun-tahun kemudian.

Namun sangat disayangkan, masih banyak tulisan bagus yang hanya tersimpan di laptop, buku catatan, atau bahkan hilang begitu saja karena tidak dipublikasikan. Ada pula penulis yang karyanya digunakan orang lain tanpa izin karena tidak memahami legalitas karya tulis.

Inilah sebabnya tema “Publikasi dan Legalitas Karya Tulis” menjadi sangat penting. Menulis tidak cukup hanya selesai. Tulisan perlu dibagikan kepada dunia agar memberi manfaat yang lebih luas. Selain itu, penulis juga perlu memahami bagaimana melindungi hak cipta dan legalitas karya yang dibuatnya.

Pentingnya Publikasi Karya Tulis

Publikasi adalah proses memperkenalkan karya kepada masyarakat. Bentuknya bisa bermacam-macam, seperti:

Artikel di media online

Buku cetak

Buku digital

Blog pribadi

Jurnal ilmiah

Antologi bersama

Media sosial edukatif

Melalui publikasi, tulisan yang awalnya hanya dibaca sendiri dapat menjangkau ribuan pembaca. Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri menulis, akhirnya dikenal luas karena berani mempublikasikan tulisannya.

Di sinilah peran KBMN menjadi sangat penting. Program ini telah membantu banyak guru di Indonesia menemukan keberanian untuk menulis. Dari yang awalnya hanya pembaca, perlahan menjadi penulis aktif. Bahkan ada yang berhasil menerbitkan buku solo.

Bagi seorang guru, publikasi karya tulis juga memiliki manfaat besar, antara lain:

1. Meningkatkan kompetensi profesional.

2. Menjadi sarana berbagi praktik baik.

3. Mendukung pengembangan karier.

4. Menjadi amal ilmu yang terus mengalir.

5. Membangun budaya literasi di sekolah.

Guru yang menulis sesungguhnya sedang menghidupkan peradaban ilmu.

Legalitas Karya Tulis Jangan Diabaikan

Selain publikasi, hal lain yang sangat penting adalah legalitas karya tulis. Banyak penulis pemula belum memahami bahwa karya mereka perlu memiliki perlindungan hukum.

Legalitas karya tulis mencakup beberapa hal seperti:

Hak cipta

ISBN buku

Surat pencatatan kekayaan intelektual

Penerbit resmi

Bukti publikasi

Tanpa legalitas, karya yang sudah dibuat dengan susah payah bisa saja diklaim atau digunakan pihak lain tanpa izin. Karena itu, penulis perlu memahami bagaimana cara melindungi hasil pemikirannya.

Hak cipta bukan sekadar formalitas. Itu adalah bentuk penghargaan terhadap proses kreatif seseorang. Ketika karya memiliki legalitas, penulis memiliki bukti kuat bahwa karya tersebut memang miliknya.

Banyak penulis baru merasa takut mengurus legalitas karena dianggap rumit. Padahal saat ini prosesnya semakin mudah. Bahkan beberapa komunitas literasi membantu anggotanya mengurus ISBN maupun hak cipta karya.

Guru Harus Berani Menulis

Kegiatan seperti KBMN sesungguhnya bukan hanya kelas biasa. Ini adalah ruang perjuangan literasi. Di sana para guru belajar saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan membangun kepercayaan diri.

Sering kali guru merasa dirinya bukan penulis hebat. Padahal pengalaman mengajar setiap hari adalah sumber tulisan yang luar biasa. Kisah sederhana di kelas bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay pernah mengatakan bahwa menulis itu seperti berbicara yang diabadikan. Semakin sering menulis, semakin terlatih kemampuan berpikir dan menyampaikan gagasan.

Karena itu, guru tidak boleh takut salah saat mulai menulis. Tulisan pertama mungkin belum sempurna, tetapi keberanian untuk memulai adalah langkah paling penting.

Literasi yang Menggerakkan Indonesia

Melihat poster kegiatan ini, kita bisa merasakan bahwa gerakan literasi guru terus tumbuh dengan semangat kebersamaan. Warna ungu dalam desain poster memberi kesan elegan dan penuh semangat perubahan. Foto narasumber yang membawa penghargaan juga seakan memberi pesan bahwa kerja keras dalam dunia literasi akan menghasilkan sesuatu yang membanggakan.

Di era digital seperti sekarang, kemampuan menulis menjadi sangat penting. Orang yang mampu menulis dengan baik akan lebih mudah menyampaikan gagasan, memengaruhi orang lain, dan meninggalkan warisan pemikiran.

Sayangnya, budaya membaca dan menulis di Indonesia masih perlu terus diperkuat. Karena itu, komunitas seperti KBMN memiliki peran besar dalam membangun semangat literasi nasional.

Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan daring lewat WhatsApp. Lebih dari itu, ini adalah gerakan membangun peradaban melalui tulisan.

Penutup

Tema “Publikasi dan Legalitas Karya Tulis” mengingatkan kita bahwa tulisan bukan hanya tentang merangkai kata-kata indah. Tulisan adalah karya intelektual yang perlu dipublikasikan dan dilindungi.

Melalui kegiatan KBMN PGRI Gelombang ke-34 ini, para peserta diajak memahami bahwa setiap tulisan memiliki nilai. Jangan biarkan karya hanya tersimpan di folder laptop. Publikasikan. Bagikan manfaatnya. Lindungi legalitasnya.

Sebab suatu hari nanti, mungkin kita telah tiada, tetapi tulisan akan tetap hidup dan dibaca banyak orang.

Dan dari sanalah nama seorang guru akan terus dikenang.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Air Mata dan Kegelisahan Guru Honorer di Ujung Tahun 2026

Air Mata Guru Honorer di Ujung Tahun 2026: Mengabdi Puluhan Tahun, Kini Dihantui Ketidakpastian

Suasana ruang guru di banyak sekolah terasa berbeda sejak terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026. Di tengah aktivitas belajar mengajar yang tetap berjalan seperti biasa, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan dari wajah para guru honorer. Sebagian membaca isi surat edaran itu dengan tangan gemetar. Sebagian lainnya hanya terdiam lama setelah mengetahui bahwa penugasan guru non-ASN masih diperbolehkan hingga 31 Desember 2026.

Bagi masyarakat umum, surat edaran itu mungkin terlihat seperti dokumen administratif biasa. Namun bagi ribuan guru honorer di Indonesia, satu kalimat di dalamnya terasa seperti alarm yang mengingatkan bahwa masa pengabdian mereka bisa saja segera berakhir tanpa kepastian yang jelas.

Tidak sedikit guru honorer yang mengaku menangis setelah membaca isi aturan tersebut. Mereka merasa cemas memikirkan masa depan. Selama bertahun-tahun mereka telah mengabdi di sekolah negeri dengan penuh kesetiaan, tetapi kini mereka dihantui pertanyaan besar: setelah tahun 2026, apakah mereka masih memiliki tempat untuk mengajar?

Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Banyak guru honorer sudah mengabdikan hidupnya belasan bahkan puluhan tahun untuk dunia pendidikan. Mereka hadir paling pagi di sekolah dan sering pulang paling akhir. Mereka membantu murid memahami pelajaran, membimbing kegiatan sekolah, mendampingi lomba, hingga mengurus administrasi pendidikan yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Ironisnya, pengabdian sebesar itu sering kali tidak diiringi kesejahteraan yang memadai.

Masih banyak guru honorer yang menerima honor jauh di bawah kebutuhan hidup layak. Ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah setiap bulan. Bahkan di beberapa daerah, honor guru honorer dibayarkan tidak menentu. Namun mereka tetap bertahan. Bukan karena pekerjaan itu menjanjikan kekayaan, tetapi karena mereka mencintai dunia pendidikan.

Di desa-desa terpencil, guru honorer tetap datang ke sekolah meski harus melewati jalan rusak, menyeberangi sungai, atau mengendarai motor tua yang sering mogok di tengah perjalanan. Mereka tetap mengajar dengan senyum meski di rumah sendiri terkadang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada guru honorer yang menggunakan uang pribadi untuk membeli spidol, kertas, bahkan membantu murid yang tidak mampu membeli buku. Ada pula yang rela menahan keinginan pribadi demi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan baik.

Pengorbanan itu sering tidak terlihat.

Masyarakat hanya melihat guru berdiri di depan kelas. Padahal di balik itu, ada perjuangan panjang yang penuh air mata dan pengorbanan.

Kini, setelah muncul batas penugasan hingga akhir 2026, banyak guru honorer mulai dilanda kecemasan mendalam. Mereka takut kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Lebih dari itu, mereka takut kehilangan identitas sebagai seorang pendidik.

“Kalau tahun depan saya tidak mengajar lagi, saya harus kerja apa?” Pertanyaan itu mulai sering terdengar di ruang guru.

Bagi guru honorer yang masih muda, mungkin peluang mencari pekerjaan lain masih terbuka. Namun bagaimana dengan mereka yang sudah berusia di atas 40 atau 50 tahun? Setelah puluhan tahun mengajar, tentu tidak mudah memulai hidup baru dari nol.

Sebagian guru honorer bahkan tidak memiliki keterampilan lain selain mengajar. Hidup mereka telah sepenuhnya didedikasikan untuk sekolah dan murid-muridnya. Mereka menghabiskan usia produktif demi membantu negara mencerdaskan generasi bangsa.

Karena itulah, kegelisahan para guru honorer bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan. Ini tentang rasa takut menghadapi masa depan yang gelap setelah pengabdian panjang yang belum tentu dihargai secara layak.

Di media sosial, banyak masyarakat menyampaikan simpati dan dukungan kepada para guru honorer. Tidak sedikit orang tua murid yang merasa sedih membayangkan guru-guru anak mereka harus berhenti mengajar. Sebab mereka tahu, di banyak sekolah justru guru honorer menjadi tulang punggung kegiatan belajar mengajar.

Ada sekolah yang kekurangan guru ASN sehingga hampir seluruh aktivitas pendidikan ditangani guru honorer. Mereka mengajar berbagai mata pelajaran, menjadi wali kelas, hingga mengurus kegiatan ekstrakurikuler.

Tanpa guru honorer, banyak sekolah sebenarnya akan kesulitan menjalankan proses pendidikan secara normal.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan ini dari sisi administrasi kepegawaian semata. Di balik angka dan data, ada manusia-manusia yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Indonesia.

Pemerintah tentu memiliki tantangan besar dalam menata sistem pendidikan nasional. Penataan tenaga pendidik memang penting agar sesuai aturan dan kebutuhan jangka panjang. Namun masyarakat juga berharap kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan dan rasa keadilan bagi para guru honorer yang telah lama mengabdi.

Banyak pihak berharap ada solusi yang bijaksana dan manusiawi. Misalnya dengan memberikan jalur afirmasi yang adil, perlindungan kesejahteraan, pelatihan keterampilan tambahan, atau skema khusus bagi guru honorer yang telah lama mengabdi.

Sebab bagaimanapun, mereka bukan sekadar tenaga kerja biasa. Mereka adalah orang-orang yang ikut membentuk masa depan bangsa melalui pendidikan.

Anak-anak Indonesia belajar membaca, menulis, berhitung, bermimpi, dan mengenal masa depan dari tangan para guru. Termasuk dari tangan guru honorer yang selama ini bekerja dalam keterbatasan.

Sering kali kita lupa bahwa di balik kesuksesan seorang murid, ada guru yang diam-diam berjuang tanpa banyak sorotan.

Guru honorer tidak meminta hidup mewah. Mereka tidak menuntut fasilitas berlebihan. Yang mereka harapkan sebenarnya sederhana: kepastian untuk tetap mengabdi dan menjalani hidup dengan lebih tenang.

Mereka ingin tetap berdiri di depan kelas tanpa dihantui rasa takut bahwa suatu hari nanti pengabdian mereka akan berhenti begitu saja.

Karena sesungguhnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung sekolah megah, tetapi juga bangsa yang menghargai orang-orang yang dengan tulus mengajar di dalamnya.

Dan hari ini, ribuan guru honorer di Indonesia sedang menunggu satu hal yang paling mereka harapkan: kepastian bahwa pengabdian panjang mereka tidak akan berakhir dengan air mata.

Selasa, 19 Mei 2026

Omjay Guru Biasa Dengan Kisah Luar Biasa

Guru Biasa dengan Kisah Luar Biasa

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

“Omjay, saya bingung mau menulis apa. Hidup saya biasa saja.”

Kalimat itu sering sekali saya dengar dari para guru. Mereka merasa tidak punya pengalaman hebat. Tidak pernah menjadi pembicara internasional. Tidak pernah viral di media sosial. Tidak punya penghargaan nasional. Bahkan ada yang berkata lirih kepada saya, “Saya hanya guru biasa.”

Padahal justru di situlah letak keistimewaannya.

Saya tersenyum setiap mendengar kalimat itu. Sebab saya tahu, banyak guru tidak sadar bahwa ruang kelas kecil yang setiap hari mereka masuki sesungguhnya menyimpan ribuan kisah luar biasa. Kisah yang mungkin sederhana, tetapi mampu menyentuh hati banyak orang.

Saya teringat seorang guru di daerah pinggiran yang pernah menghubungi saya lewat WhatsApp. Ia mengatakan ingin belajar menulis, tetapi merasa minder.

“Omjay, murid saya biasa saja. Sekolah saya juga kecil. Tidak ada cerita menarik.”

Saya lalu bertanya sederhana.

“Apakah Ibu pernah membantu murid yang menangis?”

“Iya, sering.”

“Apakah Ibu pernah membelikan makanan untuk siswa yang lupa membawa bekal?”

“Iya pernah.”

“Apakah Ibu pernah merasa sedih ketika murid tidak masuk sekolah karena membantu orang tuanya bekerja?”

“Iya, pernah sekali sampai saya menangis.”

Saya lalu berkata pelan kepadanya:

“Itulah tulisan yang paling berharga.”

Tiba-tiba ia terdiam.

Banyak guru mengira tulisan hebat harus penuh teori, data rumit, atau bahasa tinggi. Padahal tulisan yang paling kuat justru lahir dari kejujuran hati. Dari pengalaman nyata. Dari perjuangan sederhana yang manusiawi.

Tulisan yang mampu membuat pembaca berkata, “Saya pernah merasakan itu.”

Menjadi guru bukan hanya soal mengajar matematika, bahasa Indonesia, atau informatika. Menjadi guru adalah perjalanan emosi yang panjang. Ada tawa. Ada lelah. Ada kecewa. Ada harapan. Semua itu adalah bahan tulisan yang tidak akan pernah habis.

Saya sendiri belajar banyak dari ruang kelas.

Dulu ketika mulai menulis blog, saya juga tidak merasa punya kisah istimewa. Saya hanya guru biasa yang setiap hari berangkat pagi, mengajar, lalu pulang sore. Namun ketika saya mulai menulis pengalaman sederhana, ternyata banyak orang merasa dekat.

Saya pernah menulis tentang murid yang tertidur di kelas karena semalaman membantu orang tuanya berjualan. Ada juga kisah tentang siswa yang diam-diam menyimpan surat kecil berisi ucapan terima kasih kepada gurunya. Hal-hal sederhana seperti itu justru membuat pembaca terharu.

Karena manusia selalu tersentuh oleh ketulusan.

Kadang guru tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi cahaya bagi orang lain.

Seorang guru mungkin lupa apa yang dia ajarkan hari itu. Namun murid bisa mengingat selamanya cara gurunya tersenyum, memberi semangat, atau memaafkan kesalahan mereka.

Itulah mengapa pengalaman guru sangat layak ditulis.

Jangan tunggu menjadi terkenal untuk mulai menulis.

Jangan tunggu sempurna untuk mulai berkarya.

Tulislah sekarang. Tulislah apa yang dilihat, dirasakan, dan diperjuangkan setiap hari.

Bisa jadi tulisan sederhana itu menjadi penguat bagi guru lain yang hampir menyerah.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang gajinya sangat kecil. Untuk pergi ke sekolah saja ia harus naik motor tua puluhan kilometer setiap hari. Ketika saya bertanya mengapa masih bertahan menjadi guru, jawabannya membuat hati saya diam lama.

“Karena saya ingin anak-anak di kampung saya punya masa depan lebih baik.”

Kalimat itu sederhana. Namun ketika ditulis dengan hati, ia mampu mengguncang perasaan pembaca.

Banyak orang mungkin melihat guru hanya berdiri di depan kelas. Tetapi sesungguhnya guru sedang menjaga masa depan bangsa sedikit demi sedikit.

Ada guru yang diam-diam menahan sakit demi tetap mengajar.

Ada guru yang tetap tersenyum meski masalah hidupnya berat.

Ada guru yang menggunakan uang pribadinya untuk membantu murid membeli buku.

Ada guru yang pulang paling akhir karena memastikan siswanya aman.

Bukankah semua itu layak dituliskan?

Menulis bukan tentang siapa yang paling pintar merangkai kata. Menulis adalah keberanian membagikan makna hidup kepada orang lain.

Tulisan guru memiliki kekuatan karena lahir dari pengalaman nyata. Tidak dibuat-buat. Tidak penuh pencitraan. Apa adanya, tetapi mengandung nilai kehidupan.

Saya percaya, setiap guru sesungguhnya adalah penulis kehidupan.

Ruang kelas adalah perpustakaan cerita.

Papan tulis adalah saksi perjuangan.

Dan murid-murid adalah halaman-halaman kenangan yang tidak akan pernah habis dibaca.

Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk mulai menulis dari hal paling sederhana.

Tulislah tentang murid yang membuat Anda tersenyum hari ini.

Tulislah tentang rasa haru ketika siswa akhirnya bisa membaca.

Tulislah tentang perjuangan datang ke sekolah saat hujan deras.

Tulislah tentang kegagalan, lalu bagaimana Anda bangkit kembali.

Percayalah, tulisan yang keluar dari hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca.

Di era digital seperti sekarang, guru tidak boleh hanya menjadi pembaca. Guru juga harus menjadi pencipta karya. Sebab tulisan guru bukan sekadar rangkaian kata, tetapi jejak perjuangan yang akan dikenang sepanjang masa.

Mungkin hari ini tulisan itu hanya dibaca beberapa orang.

Namun siapa tahu, suatu hari nanti ada seseorang yang kembali bersemangat hidup karena membaca pengalaman sederhana seorang guru.

Dan bukankah itu sudah sangat berarti?

Saya selalu percaya, guru yang menulis bukan hanya sedang mengabadikan cerita. Ia sedang menyalakan harapan.

Maka jangan pernah berkata:

“Saya tidak punya kisah istimewa.”

Karena sesungguhnya, setiap guru adalah kisah istimewa itu sendiri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Copy-Paste AI



Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Copy-Paste AI

Kisah Omjay di Tengah Gelombang Kecerdasan Buatan

Di sebuah ruang guru yang mulai lengang menjelang sore, Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay duduk memandangi layar laptopnya. Di depannya terbuka sebuah tulisan panjang yang tampak rapi, indah, dan nyaris tanpa kesalahan. Tulisan itu dibuat hanya dalam hitungan detik oleh ChatGPT.

Omjay tersenyum kecil.
Teknologi memang luar biasa.

Namun beberapa menit kemudian, senyumnya berubah menjadi renungan panjang ketika seorang guru muda menghampirinya sambil berkata:

“Omjay, sekarang menulis gampang ya. Tinggal buka ChatGPT, copy-paste, lalu posting. Cepat dapat pujian.”

Omjay terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan besar tentang masa depan literasi. Sebagai guru yang puluhan tahun mencintai dunia menulis, Omjay tahu betul bahwa tulisan bukan sekadar kumpulan kata. Tulisan adalah rekaman jiwa manusia.

Omjay lalu mengingat perjalanan panjangnya ketika mulai belajar menulis dulu. Tidak ada AI. Tidak ada mesin pintar. Yang ada hanyalah buku-buku, pengalaman hidup, kegagalan, dan semangat belajar setiap hari.

Omjay pernah menulis hingga larut malam hanya untuk menghasilkan satu artikel sederhana. Kadang tulisannya ditolak media. Kadang tidak ada yang membaca. Bahkan tidak sedikit yang mengkritik.

Tetapi dari proses itulah lahir ketekunan.

“Menulis itu bukan soal cepat selesai,” kata Omjay pelan.
“Menulis itu perjalanan mengenal diri sendiri.”

Guru muda tadi tersenyum malu. Ia mulai memahami arah pembicaraan Omjay.

Omjay lalu menjelaskan bahwa ChatGPT memang alat luar biasa. AI bisa membantu mencari ide, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, bahkan memberi inspirasi. Namun AI tetaplah alat bantu.

“Ibarat kamera,” ujar Omjay,
“kamera bisa memotret pemandangan indah, tetapi kamera tidak bisa menggantikan mata manusia yang mampu merasakan keharuan.”

Begitu pula AI.

AI bisa menghasilkan tulisan cepat, tetapi tidak bisa menggantikan pengalaman manusia yang pernah jatuh, gagal, menangis, bangkit, lalu belajar memahami kehidupan.

Omjay kemudian bercerita tentang seorang siswa yang pernah mengumpulkan tugas sangat bagus. Kalimatnya rapi. Bahasanya tinggi. Tetapi ketika ditanya isi tulisannya, siswa itu justru bingung menjelaskan.

Ternyata semua hasil copy-paste AI.

“Di situlah saya sedih,” kata Omjay.
“Anak itu kehilangan kesempatan belajar berpikir.”

Menurut Omjay, bahaya terbesar dari budaya copy-paste bukan hanya soal plagiarisme. Bahaya terbesarnya adalah hilangnya proses belajar. Orang menjadi ingin serba instan. Padahal karakter kuat justru lahir dari proses panjang.

Omjay mengibaratkan menulis seperti menanam pohon.

Kalau pohon plastik memang langsung jadi dan tampak indah. Tetapi ia tidak pernah tumbuh, tidak berbuah, dan tidak memberi keteduhan sejati.

Sedangkan pohon asli membutuhkan waktu. Harus disiram, dirawat, diterpa hujan, bahkan terkadang hampir mati. Namun dari proses itulah pohon menjadi kuat dan bermanfaat.

Begitu juga tulisan manusia.

Tulisan yang lahir dari hati akan terasa berbeda. Ada emosi di dalamnya. Ada pengalaman hidup. Ada napas kemanusiaan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin.

Omjay tidak anti teknologi. Justru ia termasuk guru yang aktif memanfaatkan teknologi untuk pendidikan. Ia percaya guru harus terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Namun ia juga percaya bahwa kecerdasan buatan tidak boleh mematikan kecerdasan manusia.

“AI boleh membantu menulis,” kata Omjay,
“tetapi jangan sampai AI mengambil alih hati dan pikiran kita.”

Di era sekarang, menurut Omjay, tantangan terbesar bukan lagi mencari informasi. Informasi sudah berlimpah di internet. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana manusia tetap jujur di tengah kemudahan teknologi.

Sebab sekarang orang bisa terlihat pintar hanya dengan sekali klik.

  • Bisa membuat artikel dalam hitungan detik.
  • Bisa membuat pidato tanpa berpikir panjang.
  • Bahkan bisa tampak produktif tanpa benar-benar berkarya.

Namun Omjay percaya, waktu akan selalu membedakan mana karya yang lahir dari proses dan mana yang sekadar hasil tempelan instan.

Pembaca yang berpengalaman biasanya dapat merasakan.

  • Tulisan asli manusia memiliki jiwa.
  • Kadang sederhana, tetapi menyentuh hati.
  • Kadang tidak sempurna, tetapi terasa hidup.

Sedangkan tulisan hasil copy-paste mentah dari AI sering terasa dingin. Kata-katanya indah, tetapi tidak memiliki kedalaman rasa.

Omjay lalu menatap para guru muda yang mendengarkannya sore itu.

Ia berkata dengan suara lembut:

“Gunakan AI sebagai teman belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk mendapat pengakuan.”

Kalimat itu membuat suasana ruang guru menjadi hening.

Omjay memahami bahwa generasi hari ini hidup di zaman yang berbeda. Teknologi berkembang sangat cepat. Namun nilai kejujuran tetap tidak boleh hilang.

Ia berharap para guru mampu mengajarkan kepada siswa bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan melatih:

  • berpikir,

  • merasakan,

  • memahami,

  • dan bertanggung jawab terhadap gagasan sendiri.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai membuat tulisan. Dunia membutuhkan manusia yang jujur dalam berkarya.

Menjelang magrib, Omjay menutup laptopnya perlahan.

Ia kembali tersenyum.

Teknologi boleh semakin canggih. AI boleh semakin pintar. Tetapi selama manusia masih mau berpikir, belajar, dan menulis dengan hati, maka ruh literasi tidak akan pernah mati.

Dan Omjay percaya, tulisan terbaik bukanlah tulisan yang paling cepat dibuat mesin, melainkan tulisan yang mampu membuat manusia lain merasa ditemani, dipahami, dan dikuatkan.

Karena itu, di tengah gelombang kecerdasan buatan, Omjay selalu mengingatkan:

“Menulis dengan bantuan AI itu boleh. Tetapi jangan pernah kehilangan suara asli diri sendiri.”


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi


waktu

Jam Kehidupan yang Hanya Diputar Sekali

Kisah Omjay dan Pelajaran Tentang Waktu

Pagi itu udara di sekolah masih terasa sejuk. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Omjay melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah. Beberapa siswa terlihat berjalan tergesa sambil membawa tas besar di punggung mereka. Ada yang masih mengantuk, ada yang sibuk bercanda, dan ada pula yang berjalan sambil menatap layar ponsel.

Omjay hanya tersenyum.

Di tangannya ada secangkir kopi hangat dan sebuah buku kecil berisi catatan harian. Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas, beliau duduk sejenak di ruang guru sambil merenung tentang kehidupan.

Hari itu beliau membaca sebuah kalimat sederhana:

> “Jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.”

Kalimat itu tampak singkat, tetapi terasa begitu dalam menghunjam hati. Omjay terdiam cukup lama. Beliau membayangkan perjalanan hidupnya selama ini. Dari seorang guru biasa, kemudian dikenal banyak orang sebagai Guru Blogger Indonesia, hingga akhirnya mampu menulis ribuan artikel yang menginspirasi banyak guru di seluruh Indonesia.

Semua itu ternyata tidak terjadi dalam semalam.

Ada waktu yang dipakai dengan sungguh-sungguh. Ada malam-malam panjang ketika orang lain tidur, tetapi Omjay masih menulis. Ada hari-hari lelah ketika tubuh ingin beristirahat, tetapi hati tetap ingin berkarya.

Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya:

“Orang sukses bukan karena punya waktu lebih banyak. Tetapi karena mereka menghargai waktu yang dimiliki.”

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya pagi itu.

Beliau lalu teringat pada seorang teman lama yang dulu sangat pandai. Temannya memiliki banyak mimpi besar. Ingin menulis buku. Ingin menjadi pembicara. Ingin melanjutkan kuliah hingga doktoral. Namun semua hanya tinggal rencana.

Mengapa?

Karena terlalu sering berkata:

“Nanti saja.” “Besok masih ada waktu.” “Tahun depan saja mulai serius.”

Padahal hidup tidak pernah memberi jaminan bahwa “besok” itu pasti ada.

Omjay kemudian membuka laptopnya dan mulai mengetik sebuah tulisan. Jarinya bergerak cepat menuliskan pengalaman hidup yang pernah ia alami.

Beliau pernah berada di titik lelah luar biasa. Mengajar sejak pagi, menghadiri seminar, membimbing guru, menulis artikel, hingga larut malam masih membalas pesan para sahabat literasi. Banyak orang bertanya:

“Pak Jay kok tidak capek?”

Omjay hanya tersenyum sambil berkata:

“Capek itu biasa. Tapi waktu yang hilang tidak akan kembali.”

Kalimat itu sederhana, tetapi penuh makna.

Beliau sadar betul bahwa umur manusia terbatas. Karena itu, setiap detik harus memiliki nilai ibadah dan manfaat. Menjadi guru bukan sekadar datang ke sekolah lalu pulang menerima gaji. Menjadi guru adalah meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun suatu hari jasad sudah tiada.

Omjay sering mengingatkan bahwa tulisan adalah warisan abadi. Ketika seseorang meninggal dunia, hartanya mungkin habis. Jabatan bisa digantikan orang lain. Namun ilmu dan tulisan akan terus hidup.

Karena itulah beliau memilih menulis setiap hari.

Kadang tulisannya dibaca ribuan orang. Kadang hanya dibaca beberapa orang saja. Namun beliau tidak pernah berhenti. Sebab baginya, menulis adalah cara menghidupkan waktu.

Suatu hari, seorang guru muda bertanya kepada Omjay:

“Bagaimana caranya agar bisa produktif seperti Bapak?”

Omjay menjawab dengan tenang:

“Jangan tunggu semangat datang. Mulailah bergerak, nanti semangat akan mengikuti.”

Jawaban itu membuat guru muda tersebut terdiam.

Memang benar. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak menunda. Mereka menunggu waktu yang sempurna. Menunggu suasana hati baik. Menunggu kondisi nyaman.

Padahal waktu terus berjalan.

Jarum jam kehidupan tidak pernah berhenti menunggu kesiapan manusia.

Omjay sendiri pernah merasakan kehilangan orang-orang tercinta secara mendadak. Ada sahabat yang kemarin masih bercanda, hari ini sudah dipanggil Allah SWT. Ada rekan guru yang dulu aktif mengajar, tiba-tiba sakit dan tak lagi mampu berdiri di depan kelas.

Peristiwa-peristiwa itu membuat beliau semakin sadar bahwa hidup benar-benar singkat.

Karena itu Omjay selalu berusaha mengisi hidup dengan hal-hal baik: menulis, mengajar, berbagi ilmu, memotivasi guru, membantu siswa, dan menyebarkan semangat literasi.

Beliau percaya, hidup yang bermakna bukan hidup yang panjang, tetapi hidup yang bermanfaat.

Pagi itu, setelah selesai menulis, Omjay memandang keluar jendela ruang guru. Siswa-siswa mulai memenuhi lapangan sekolah. Suara tawa mereka terdengar riang.

Omjay tersenyum haru.

Beliau sadar, mungkin suatu hari dirinya akan pensiun. Rambut semakin memutih. Tenaga semakin berkurang. Tetapi selama masih diberi kesempatan hidup, beliau ingin terus berkarya.

Sebab tidak ada yang tahu kapan jarum jam kehidupan berhenti.

Mungkin satu jam lagi. Mungkin besok. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan.

Tidak ada manusia yang tahu.

Yang kita miliki hanyalah hari ini.

Karena itu Omjay selalu mengajak para guru dan murid untuk menghargai waktu. Jangan habiskan hidup hanya untuk mengeluh. Jangan sibuk iri pada kehidupan orang lain. Jangan terlalu lama marah dan menyimpan dendam.

Gunakan waktu untuk sesuatu yang membuat hidup bernilai.

Jika punya ilmu, bagikan. Jika punya rezeki, bantulah orang lain. Jika punya kesempatan, berkaryalah. Jika punya mimpi, mulailah sekarang.

Jangan menunggu sempurna untuk bergerak.

Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling terkenal. Hidup adalah tentang siapa yang paling banyak memberi manfaat sebelum waktu habis.

Di akhir tulisannya, Omjay menuliskan kalimat sederhana yang sangat menyentuh:

> “Ketika jarum jam kehidupan berhenti, yang tersisa hanyalah amal, ilmu, dan kebaikan yang pernah kita tinggalkan.”

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.

Mari bekerja dengan sungguh-sungguh. Mari berkarya selagi mampu. Mari mencintai keluarga sebelum terlambat. Mari menulis, mengajar, dan berbagi ilmu selama masih diberi kesempatan.

Karena jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 18 Mei 2026

Kisah omjay Berkarya dan berprestasi bersama bu Rita Wati

Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional Lewat Tulisan

Kisah Omjay dalam KBMN Gelombang 34

Senin malam, 18 Mei 2026, pukul 19.00.wib ruang virtual KBMN Gelombang 34 kembali dipenuhi semangat belajar. Para guru dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam satu tujuan mulia: belajar menulis dan bertumbuh bersama. 

Pertemuan ke-13 kali ini terasa begitu istimewa karena menghadirkan narasumber hebat, Rita Wati, seorang penulis dan akademisi yang telah membuktikan bahwa karya tulis mampu membawa seseorang dikenal di tingkat nasional.

Acara dipandu dengan hangat oleh moderator muda penuh semangat, Edmu Yulfizar Abdan Syakura. Tema malam itu sangat menggugah hati: “Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional.”

Bagi Omjay, tema itu bukan sekadar kalimat motivasi. Tema itu adalah perjalanan hidup yang benar-benar beliau alami.

Di tengah kesibukan sebagai guru, Omjay pernah berada di titik lelah. Mengajar setiap hari, menyiapkan administrasi sekolah, mendampingi siswa, hingga menghadapi berbagai persoalan pendidikan membuat waktu terasa habis begitu saja. Namun di balik semua itu, ada satu kebiasaan kecil yang terus beliau jaga: menulis.

Awalnya sederhana. Omjay hanya ingin berbagi pengalaman mengajar. Kadang menulis tentang siswa, kadang tentang perjalanan hidup, kadang tentang keresahan dunia pendidikan. Tulisan-tulisan itu diunggah di blog pribadi tanpa berharap apa-apa.

Namun siapa sangka, dari tulisan sederhana itulah jalan prestasi mulai terbuka.

Omjay sering mengatakan bahwa tulisan memiliki kekuatan yang tidak terlihat. Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisannya akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca. Dan benar saja, perlahan tulisan Omjay mulai dibaca banyak orang. Ada guru yang merasa termotivasi. Ada siswa yang kembali semangat belajar. Ada kepala sekolah yang terinspirasi memperbaiki budaya literasi di sekolahnya.

Menulis ternyata bukan hanya tentang kata-kata. Menulis adalah tentang memberi manfaat.

Dalam pertemuan KBMN malam itu, narasumber menjelaskan bahwa karya tulis bisa menjadi jembatan menuju prestasi nasional. Banyak guru yang akhirnya menjadi pembicara, penulis buku, bahkan mendapatkan penghargaan karena konsisten menulis.

Omjay tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Sebab beliau pernah mengalami sendiri bagaimana tulisan membuka pintu-pintu yang sebelumnya terasa mustahil.

Dari blog sederhana, Omjay mulai diundang menjadi narasumber. Dari tulisan harian, lahirlah buku-buku inspiratif. Dari kebiasaan menulis, beliau dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Padahal semuanya dimulai dari satu langkah kecil: berani menulis.

Malam itu peserta KBMN tampak antusias. Banyak yang awalnya merasa tidak percaya diri menulis. Ada yang berkata dirinya tidak pandai merangkai kata. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada pula yang merasa usianya sudah tidak muda lagi untuk mulai belajar.

Namun Omjay selalu punya jawaban sederhana.

“Menulislah dulu. Jangan takut salah. Karena penulis hebat pun dulu pernah menjadi penulis pemula.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat menguatkan.

Di sela diskusi, moderator membacakan beberapa resume peserta yang sudah diunggah ke blog. Salah satunya tulisan dari yang mengangkat semangat berkarya di tengah keterbatasan. Ada juga tulisan dari yang menekankan bahwa menulis bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi sarana bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Omjay merasa haru membaca semangat para peserta. Dulu beliau juga seperti mereka. Belajar perlahan. Menulis perlahan. Bahkan sering ditertawakan karena terlalu rajin menulis di blog.

Tetapi Omjay percaya satu hal: orang yang terus berkarya tidak akan pernah kalah oleh keadaan.

Prestasi tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang prestasi dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari. Dari keberanian mengunggah tulisan pertama. Dari keberanian menerima kritik dan terus belajar.

Malam semakin larut, tetapi suasana KBMN semakin hangat. Banyak peserta mulai sadar bahwa menulis bukan bakat bawaan. Menulis adalah keterampilan yang diasah setiap hari.

Omjay lalu bercerita bahwa beliau pernah mengalami masa ketika tulisannya sepi pembaca. Tidak ada komentar. Tidak ada apresiasi. Namun beliau tetap menulis. Sebab tujuan utama menulis bukan mencari pujian, melainkan menyampaikan kebaikan.

Dan ternyata konsistensi itulah yang akhirnya membawa hasil.

Kini banyak guru mulai sadar bahwa menulis dapat menjadi jalan pengabdian. Lewat tulisan, seorang guru bisa menginspirasi ribuan orang tanpa harus bertemu langsung. Lewat tulisan, pengalaman mengajar yang berharga tidak hilang begitu saja. Lewat tulisan, ilmu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

KBMN Gelombang 34 malam itu bukan sekadar kelas menulis biasa. Ia menjadi ruang tumbuh bagi banyak guru Indonesia. Ruang tempat mimpi-mimpi kecil dirawat bersama. Ruang tempat para guru belajar percaya bahwa mereka juga mampu berkarya di tingkat nasional.

Di akhir sesi, Omjay kembali mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak dituliskan. Jangan merasa hidup kita biasa saja. Justru pengalaman sederhana sering kali paling menyentuh hati pembaca.

Seorang guru yang sabar mengajar di pelosok desa punya cerita berharga. Seorang ibu yang membagi waktu antara keluarga dan menulis punya kisah luar biasa. Seorang guru honorer yang tetap mengabdi meski penuh keterbatasan juga memiliki inspirasi besar.

Semua itu pantas ditulis.

Karena tulisan bukan hanya meninggalkan jejak tinta. Tulisan meninggalkan jejak kehidupan.

KBMN Gelombang 34 kembali membuktikan bahwa gerakan literasi guru Indonesia masih terus menyala. Dan Omjay percaya, selama para guru terus menulis, harapan pendidikan Indonesia akan selalu hidup.

Mari berkunjung dan saling menguatkan melalui tulisan. 🔥🥰

Menimbang Ulang Tujuan Pendidikan Nasional dalam RUU Sisdiknas

Menimbang Ulang Tujuan Pendidikan Nasional dalam RUU SISDIKNAS

Pendidikan adalah fondasi utama sebuah bangsa. Dari ruang-ruang kelaslah lahir generasi penerus yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Karena itu, ketika Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS), perhatian masyarakat menjadi sangat penting. Salah satu catatan kritis datang dari Riadi Budiman yang menilai bahwa rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang SISDIKNAS saat ini belum sepenuhnya selaras dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Masukan tersebut bukan sekadar persoalan redaksi hukum, melainkan menyangkut arah besar pendidikan Indonesia: apakah pendidikan hanya menghasilkan manusia cerdas secara intelektual, atau juga manusia yang kuat iman, takwa, dan akhlaknya.

Pendidikan Nasional dan Amanat Konstitusi

Dalam Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 ditegaskan:

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimat “dalam rangka” memiliki makna yang sangat mendalam. Frasa tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia bukan sekadar pelengkap pendidikan, melainkan menjadi dasar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Artinya, kecerdasan bangsa tidak boleh dilepaskan dari pondasi moral dan spiritual. Pendidikan tidak hanya bertugas mencetak manusia pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati nurani, etika, dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Hal ini diperkuat lagi oleh Pasal 31 ayat (5) UUD 1945:

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Konstitusi dengan jelas menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibingkai oleh nilai agama dan persatuan bangsa. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah moral.

Di era digital seperti sekarang, amanat ini terasa semakin relevan. Kecanggihan teknologi dapat menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikendalikan oleh nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Artificial Intelligence (AI), media sosial, hingga perkembangan teknologi informasi dapat digunakan untuk mencerdaskan bangsa, tetapi juga bisa menjadi alat penyebar kebencian, hoaks, pornografi, hingga penipuan apabila tidak disertai pendidikan karakter dan spiritual.

Kelemahan Pasal 3 UU SISDIKNAS

Pasal 3 UU SISDIKNAS yang berlaku saat ini berbunyi:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Kemudian dilanjutkan dengan daftar tujuan peserta didik agar menjadi manusia yang:

  • beriman dan bertakwa,
  • berakhlak mulia,
  • sehat,
  • berilmu,
  • cakap,
  • kreatif,
  • mandiri,
  • demokratis,
  • dan bertanggung jawab.

Sekilas rumusan ini terlihat lengkap. Namun menurut Riadi Budiman, terdapat beberapa kelemahan mendasar.

1. Tidak Ada Hierarki Tujuan

Semua unsur tujuan pendidikan disusun sejajar dan setara. Akibatnya, keimanan dan ketakwaan seolah hanya salah satu poin di antara banyak tujuan lain.

Padahal, konstitusi menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai fondasi utama. Dengan kata lain, kecerdasan intelektual seharusnya tumbuh di atas dasar moral dan spiritual.

Jika tidak ada penegasan hierarki, maka orientasi pendidikan mudah bergeser menjadi sekadar mengejar prestasi akademik, nilai ujian, atau kompetensi kerja.

2. Nilai Demokrasi Tidak Dihubungkan dengan Nilai Agama

Frasa “demokratis serta bertanggung jawab” tidak dijelaskan dalam bingkai ketuhanan. Hal ini dapat menimbulkan penafsiran yang terlalu bebas dan sekuler.

Padahal demokrasi Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan liberalisme Barat. Demokrasi Indonesia berdasarkan Pancasila yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Demokrasi tanpa moral agama dapat melahirkan kebebasan tanpa batas, individualisme, dan hilangnya rasa hormat terhadap nilai budaya bangsa.

3. Tidak Mencerminkan Semangat “Dalam Rangka”

Konstitusi menghendaki agar mencerdaskan bangsa dilakukan dalam kerangka peningkatan iman dan akhlak. Namun Pasal 3 UU SISDIKNAS belum memperlihatkan hubungan tersebut secara tegas.

Akibatnya, pendidikan agama sering dipahami hanya sebagai mata pelajaran tersendiri, bukan sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan.

Dampak yang Mulai Terlihat

Kritik terhadap sistem pendidikan bukan tanpa alasan. Banyak fenomena sosial yang menunjukkan adanya krisis moral di tengah meningkatnya kecerdasan intelektual.

Kita menyaksikan:

  • maraknya korupsi,
  • intoleransi,
  • kekerasan pelajar,
  • penyalahgunaan teknologi,
  • perundungan digital,
  • hingga menurunnya etika sosial.

Ironisnya, banyak pelaku merupakan orang-orang berpendidikan tinggi. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup.

Sekolah dan perguruan tinggi sering berhasil mencetak lulusan pintar, tetapi belum tentu berhasil membentuk manusia yang jujur, berempati, dan berakhlak mulia.

Di sisi lain, pendidikan agama kerap diposisikan hanya sebagai pelengkap kurikulum. Nilai agama belum sepenuhnya menjadi napas dalam pembelajaran matematika, sains, teknologi, ekonomi, maupun pendidikan kewarganegaraan.

Pentingnya Reorientasi Pendidikan Nasional

RUU SISDIKNAS menjadi momentum penting untuk memperbaiki arah pendidikan nasional. Pendidikan Indonesia perlu kembali menempatkan nilai ketuhanan sebagai poros utama.

Hal ini bukan berarti pendidikan menjadi sempit atau anti ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang:

  • cerdas secara intelektual,
  • unggul dalam teknologi,
  • kreatif dan inovatif,
  • tetapi tetap memiliki iman, moral, dan tanggung jawab sosial.

Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan. Teknologi tanpa nilai agama dapat disalahgunakan. Demokrasi tanpa etika dapat berubah menjadi kebebasan yang liar.

Karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan bersama nilai agama dan persatuan bangsa sebagaimana amanat UUD 1945.

Pendidikan sebagai Pembentuk Peradaban

Pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, melainkan proses membangun peradaban.

Guru bukan sekadar pengajar materi pelajaran, tetapi pembentuk karakter bangsa. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai rapor, tetapi tempat menanamkan kejujuran, disiplin, toleransi, dan tanggung jawab.

Apabila RUU SISDIKNAS mampu memperjelas hierarki tujuan pendidikan dengan menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai landasan utama, maka pendidikan Indonesia akan memiliki arah yang lebih kokoh.

Generasi masa depan Indonesia tidak hanya akan menjadi manusia yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Mereka tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga luhur budi pekertinya.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi bangsa yang mampu menjaga moral, spiritualitas, dan kemanusiaannya. Dan semua itu bermula dari pendidikan yang benar-benar berakar pada nilai ketuhanan dan akhlak mulia.