Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 01 Oktober 2026

otn 8 tinggal 28 hari lagi

28 Hari Menuju OTN 8: Dari Perjuangan Panitia untuk Prestasi Anak Negeri

Oleh: Wijaya Kusumah ketua kogtik PGRI 

Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Hari ini, 1 Oktober 2026, ketika saya menuliskan kisah ini, pelaksanaan Olimpiade TIK dan Informatika ke-8 (OTN 8) tinggal 28 hari lagi. Insyaallah, OTN 8 akan dilaksanakan di JICC Senayan, Jakarta, pada 29 Oktober sampai 1 November 2026 sebagai bagian dari rangkaian Main Event Indocomtech 2026.

Bagi sebagian orang, 28 hari mungkin terasa masih cukup panjang. Namun bagi panitia, 28 hari adalah waktu yang sangat berharga. Setiap hari ada pekerjaan yang harus diselesaikan, setiap informasi harus dipastikan, setiap peserta harus dilayani, setiap cabang lomba harus dipersiapkan, dan setiap narasumber serta mitra harus terus dikomunikasikan.

Saya bersyukur karena sampai hari ini persiapan OTN 8 terus bergerak. Banyak tangan bekerja, banyak pikiran dicurahkan, dan banyak doa dipanjatkan agar kegiatan ini benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia.

Semnas OTN 8: Menghadirkan Tokoh-Tokoh Inspiratif

Salah satu bagian penting dalam rangkaian OTN 8 adalah Seminar Nasional OTN 8 yang akan dilaksanakan pada 29 Oktober 2026 mulai pukul 13.00 WIB.

Kami berharap seminar nasional ini tidak hanya menjadi acara pembukaan, tetapi menjadi ruang belajar bersama bagi guru, orang tua, siswa, dan masyarakat umum untuk memahami perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, coding, pendidikan, dan masa depan anak-anak Indonesia.

Beberapa narasumber yang telah kami hubungi antara lain Prof. Eko Indrajit dan Pak Dedi Dwitagama. Kami juga telah menghubungi Kepala Puspresnas Kemendikdasmen serta pihak Epson Indonesia untuk turut mengisi rangkaian acara Semnas OTN 8.

Pak Simon Simarmata juga terus bergerak menghubungi dan berkoordinasi dengan para narasumber. Saya melihat sendiri bahwa sebuah kegiatan besar tidak pernah berdiri karena kerja satu orang. Ia lahir dari kerja bersama.

Karena itu, kami berharap guru, orang tua, siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum dapat ikut hadir dalam Seminar Nasional OTN 8. Target kami adalah 100 peserta. Bukan semata-mata mengejar angka 100, tetapi ingin menciptakan sebuah ruang pertemuan yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Saya membayangkan, di ruangan seminar nanti akan hadir guru yang sedang mencari inspirasi, orang tua yang ingin memahami masa depan pendidikan anaknya, siswa yang sedang menemukan cita-citanya, dan para praktisi teknologi yang ingin berbagi pengalaman.

Semoga dari pertemuan itu lahir gagasan-gagasan baru.

Lima Cabang Lomba OTN 8 Semakin Siap

Selain Semnas, lima cabang lomba OTN 8 juga terus dipersiapkan oleh para penanggung jawab masing-masing.

Pak Ramly mempersiapkan lomba E-Sport Mobile Legends dengan penuh perhatian. E-Sport bukan sekadar bermain gim. Jika dikelola dengan baik, kompetisi dapat menjadi ruang bagi siswa untuk belajar strategi, kerja sama tim, komunikasi, disiplin, dan sportivitas.

Pak Ratno mempersiapkan lomba robotik. Kami berharap cabang ini semakin banyak diminati siswa. Robotik bukan hanya tentang membuat robot bergerak, tetapi juga melatih logika, kreativitas, pemecahan masalah, ketekunan, dan kemampuan bekerja dalam tim.

Ibu Maria mempersiapkan lomba coding membuat game. Saya sangat berharap banyak siswa SD, SMP, SMA, dan SMK berani mencoba. Tidak harus langsung menjadi programmer hebat. Yang paling penting adalah berani mulai membuat sesuatu.

Sementara itu, Pak Rohandi mempersiapkan lomba film pendek. Melalui film, siswa dapat belajar bercerita, bekerja sama, menggunakan teknologi, menyampaikan pesan, dan melihat persoalan di sekitarnya dengan cara yang kreatif.

Kemudian Pak Asep telah mempersiapkan soal-soal Lomba Cerdas Cermat OTN untuk seluruh jenjang, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Terima kasih kepada seluruh penanggung jawab lomba yang terus bekerja di balik layar. Nama mereka mungkin tidak selalu terlihat oleh peserta, tetapi pekerjaan mereka sangat menentukan keberhasilan OTN 8.

Dua Sponsor yang Mendukung OTN 8

Alhamdulillah, sampai saat ini sudah ada dua sponsor yang siap mendukung OTN 8, yaitu Epson Indonesia dan Euro Management.

Dukungan tersebut hadir dalam bentuk barang maupun beasiswa.

Bagi kami, dukungan sponsor bukan hanya soal nilai materi. Lebih dari itu, dukungan tersebut merupakan bentuk kepercayaan bahwa kegiatan pendidikan seperti OTN layak diperjuangkan.

Kami ingin agar anak-anak Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Anak yang selama ini hanya dikenal sebagai siswa di kelas, mungkin saja ternyata memiliki kemampuan luar biasa dalam coding, robotik, film, cerdas cermat, atau e-sport.

Kompetisi dapat menjadi pintu untuk menemukan potensi itu.

Pendaftaran Sudah Dibuka

Informasi dan pendaftaran peserta OTN 8 telah dipublikasikan melalui beberapa kanal, antara lain website resmi KOGTIK.com, GurupenggerakIndonesia.id, dan blog WijayaLabs.com.

Kami juga berharap website OTN.or.id yang dikelola oleh Ibu Lilis Juwita dapat segera diperbarui sehingga informasi OTN 8 semakin mudah ditemukan masyarakat.

Kami ingin informasi tentang OTN 8 sampai ke sekolah-sekolah, guru, orang tua, dan siswa di berbagai daerah.

Jangan sampai ada anak yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi tidak mengetahui bahwa ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.

Karena itu, saya mengajak para guru untuk menyampaikan informasi OTN 8 kepada siswa. Saya juga mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya mengikuti kegiatan positif yang sesuai dengan minat dan bakat mereka.

Tidak semua anak harus menjadi juara.

Tetapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba.

Ada Sebuah Perjuangan yang Tidak Boleh Dilupakan

Di balik persiapan OTN 8 tahun ini, ada sebuah kisah yang sangat personal bagi saya.

Tahun lalu, proses kurasi Puspresnas sempat mengalami kendala setelah ketua kami, Pak Bambang, meninggal dunia karena serangan jantung.

Kehilangan beliau tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi kami.

Pada masa yang hampir bersamaan, saya sendiri juga mengalami ujian kesehatan berupa serangan stroke. Kondisi tersebut membuat saya harus menjalani proses pemulihan dan tidak dapat bekerja seperti biasanya.

Namun kegiatan harus tetap berjalan.

Pekerjaan yang belum selesai harus diteruskan. Proses kurasi yang sempat terhenti harus dilanjutkan. Dalam keadaan seperti itu, Pak Rohandi dan Pak Ratno ikut mengambil peran untuk meneruskan proses yang ada.

Di sinilah saya semakin memahami bahwa sebuah organisasi bukan dibangun oleh satu orang.

Ketika satu orang tidak mampu melanjutkan tugasnya, harus ada orang lain yang bersedia meneruskan perjuangan.

Itulah arti sebuah tim.

Itulah arti kebersamaan.

Dan itulah alasan mengapa saya selalu percaya bahwa kegiatan pendidikan harus dibangun dengan hati.

OTN Bukan Sekadar Perlombaan

Bagi saya, OTN bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan juara pertama.

OTN adalah tentang keberanian seorang anak untuk mencoba.

Ada siswa yang mungkin selama ini pendiam di kelas, tetapi sangat kreatif ketika membuat game. Ada siswa yang senang membongkar dan merakit sesuatu, lalu menemukan kegembiraan ketika mengikuti robotik. Ada siswa yang memiliki kemampuan berpikir cepat dan tepat ketika mengikuti cerdas cermat.

Ada pula anak yang mungkin setiap hari bermain gim dan kemudian belajar bahwa bermain secara sehat juga membutuhkan strategi, komunikasi, kerja sama, dan sportivitas.

Ada anak yang senang membuat video dan bercerita. Melalui lomba film pendek, ia menemukan bahwa teknologi dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang baik.

Itulah yang ingin kami bangun melalui OTN.

Teknologi bukan hanya untuk dikonsumsi. Teknologi harus dipelajari, digunakan, dan diciptakan.

Harapan agar OTN 8 Masuk Jalur Prestasi

Salah satu harapan besar kami tahun ini adalah agar OTN 8 dapat terkurasi oleh Puspresnas Kemendikdasmen, sehingga ke depan dapat menjadi bagian dari jalur prestasi bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, sesuai dengan ketentuan dan mekanisme yang berlaku.

Kami menyadari bahwa proses kurasi bukanlah sesuatu yang sederhana. Ada berbagai persyaratan dan proses yang harus dipenuhi.

Karena itu, kami berusaha mempersiapkan OTN 8 dengan lebih baik.

Kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Kami memperbaiki administrasi. Kami memperkuat pelaksanaan lomba. Kami menyiapkan soal dan sistem kompetisi. Kami membangun komunikasi dengan berbagai pihak.

Semua dilakukan agar OTN 8 dapat menjadi kegiatan yang kredibel, tertib, dan memberikan manfaat nyata bagi peserta.

Kami tidak ingin anak-anak datang hanya untuk menerima sertifikat.

Kami ingin mereka pulang membawa pengalaman.

Membawa keberanian.

Membawa persahabatan.

Dan mungkin membawa sebuah mimpi baru.

28 Hari Lagi, Mari Kita Bergerak Bersama

Kini tinggal 28 hari.

Saya membayangkan tanggal 29 Oktober nanti, ketika pintu JICC Senayan dibuka dan anak-anak dari berbagai sekolah mulai berdatangan.

Ada yang datang bersama orang tua.

Ada yang datang bersama guru.

Ada yang datang bersama teman-temannya.

Mungkin ada yang terlihat percaya diri. Mungkin ada pula yang gugup.

Tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: mereka datang untuk belajar dan mencoba.

Bagi saya, pemandangan seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar melihat jumlah peserta yang banyak.

Sebab di balik setiap peserta ada harapan orang tua.

Di balik setiap guru pendamping ada bentuk dukungan.

Dan di balik setiap anak yang berani mengikuti lomba, ada sebuah mimpi yang sedang diperjuangkan.

Karena itu, saya mengajak siswa SD, SMP, SMA, dan SMK di seluruh Indonesia untuk ikut OTN 8.

Saya mengajak para guru untuk memberikan kesempatan kepada siswanya.

Saya mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya.

Dan saya mengajak masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari gerakan pendidikan berbasis teknologi ini.

OTN 8 bukan hanya milik panitia. OTN 8 adalah ruang bersama untuk anak-anak Indonesia.

Mari kita jadikan JICC Senayan pada 29 Oktober–1 November 2026 sebagai tempat bertemunya anak-anak hebat, guru-guru hebat, orang tua hebat, dan para penggerak pendidikan yang memiliki satu harapan: melihat generasi muda Indonesia tumbuh menjadi manusia yang kreatif, berkarakter, mampu menggunakan teknologi, dan siap menghadapi masa depan.

Terima kasih kepada seluruh panitia, para PJ lomba, narasumber, sponsor, sekolah, guru, orang tua, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan.

Terima kasih kepada Pak Simon Simarmata, Pak Ramly, Pak Ratno, Ibu Maria, Pak Rohandi, Pak Asep, Ibu Lilis Juwita, serta seluruh tim yang bekerja dalam diam tetapi memberikan kontribusi yang sangat berarti.

Perjalanan menuju OTN 8 masih 28 hari.

Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan.

Masih ada informasi yang harus disebarkan.

Masih ada peserta yang harus diajak.

Dan masih ada doa yang harus dipanjatkan.

Semoga perjuangan kecil ini menjadi bagian dari perjalanan besar pendidikan Indonesia.

Sampai bertemu di JICC Senayan, Jakarta.

29 Oktober–1 November 2026.

OTN 8.

Mari berkompetisi dengan sehat, belajar dengan gembira, berkarya dengan hati, dan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk meraih masa depan.

Menang itu membanggakan. Tetapi berani mencoba adalah kemenangan pertama.

Salam pendidikan.
Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah
Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 30 September 2026

Saat Hati Mulai Lelah

Saat Hati Mulai Lelah, Jangan Biarkan Galau Menguasai Hidup

Pernahkah kita merasa tubuh masih sanggup bergerak, tetapi hati sudah terasa sangat lelah?

Pagi hari kita bangun, mandi, sarapan, lalu berangkat bekerja. Di sekolah kita bertemu siswa, mengajar, tersenyum, berdiskusi, menyelesaikan pekerjaan, dan sesekali bercanda dengan teman sejawat. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja. Namun ketika sendirian, pikiran justru mulai berkelana ke mana-mana.

Ada persoalan yang belum selesai. Ada ucapan seseorang yang masih teringat. Ada harapan yang belum terwujud. Ada kekecewaan yang belum bisa diterima. Ada masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali.

Itulah saat ketika hati mulai lelah.

Saya, Omjay, belajar dari perjalanan hidup bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kesehatan tubuh. Kita juga membutuhkan ketenangan pikiran dan kedamaian hati. Sebab ketika pikiran terlalu penuh, tubuh pun terkadang ikut merasakan dampaknya.

Sebagai guru yang telah puluhan tahun berada di dunia pendidikan, saya mengalami sendiri bahwa kehidupan seorang pendidik tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika pekerjaan terasa berat, ada tanggung jawab yang datang bersamaan, ada persoalan yang harus diselesaikan, dan ada kondisi yang membuat kita harus belajar menerima kenyataan.

Namun dari semua itu saya mendapatkan satu pelajaran penting: jangan menyimpan semua beban sendirian.

Kita memang harus kuat, tetapi kuat bukan berarti tidak boleh lelah.

Kita boleh menangis.

Kita boleh mengatakan, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”

Kita boleh meminta bantuan.

Kita boleh mengambil waktu untuk beristirahat.

Dan yang paling penting, kita boleh belajar memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita.

Galau Itu Manusiawi

Galau dan sedih adalah bagian dari kehidupan. Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Hanya bentuknya yang berbeda.

Ada orang yang galau karena pekerjaan. Ada yang sedih karena keluarga. Ada yang kecewa karena cita-citanya belum tercapai. Ada yang merasa sendirian meskipun berada di tengah banyak orang. Ada pula yang terus memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah berlalu.

Masalahnya bukan sekadar apakah kita pernah galau atau sedih.

Masalahnya adalah ketika kita membiarkan perasaan tersebut terlalu lama menguasai diri.

Kita kehilangan semangat. Sulit berkonsentrasi. Mudah marah. Tidak menikmati aktivitas yang biasanya menyenangkan. Pikiran terus menerus memikirkan hal yang sama.

Pada titik tertentu kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:

“Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?”

Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal perubahan.

Sebab sering kali kita sibuk mencari solusi untuk masalah di luar diri, tetapi lupa memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.

Guru Juga Bisa Lelah

Saya sering bertemu dengan guru dalam berbagai kegiatan pendidikan. Ada satu kesamaan yang saya rasakan: banyak guru memiliki semangat luar biasa untuk mendidik anak-anak, tetapi terkadang lupa memberikan perhatian kepada dirinya sendiri.

Guru dituntut sabar.

Guru dituntut menjadi teladan.

Guru dituntut kreatif.

Guru harus mengikuti perkembangan teknologi.

Guru harus menguasai berbagai kompetensi.

Guru juga harus berhadapan dengan administrasi, tuntutan pekerjaan, harapan orang tua, karakter siswa yang beragam, dan perubahan dunia pendidikan yang sangat cepat.

Di tengah semua itu, guru tetap manusia.

Guru bisa kecewa.

Guru bisa sedih.

Guru bisa bingung.

Guru bisa kehilangan motivasi.

Karena itu, menjaga kesehatan mental dan emosional bukan sesuatu yang memalukan. Justru merupakan bagian dari ikhtiar agar kita dapat menjalankan peran dengan lebih baik.

Saya semakin yakin bahwa seorang guru yang mampu memahami dirinya akan lebih mudah memahami siswanya.

Guru yang mampu mengelola emosinya akan lebih mudah menghadapi berbagai karakter anak.

Guru yang mampu berdamai dengan dirinya akan lebih mudah memberikan ketenangan kepada orang lain.

Belajar Melepaskan Beban

Saya tertarik dengan tema T.G.S atau Terapi Galau & Sedih yang menghadirkan Aris Ahmad Jaya, yang dikenal sebagai Mr. Sugesti Indonesia dari ABCo Therapy Center.

Tema ini menarik karena berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: galau, sedih, dan beban emosional.

Dalam kegiatan tersebut peserta diajak mengenali dan mengurai rasa galau serta mendapatkan teknik yang dapat digunakan untuk membantu menghadapi kesedihan dan beban emosional.

Bagi saya, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang refleksi.

Bukan berarti setiap persoalan kehidupan dapat diselesaikan hanya dengan mengikuti satu webinar. Bukan pula berarti semua masalah pasti berasal dari stres atau kesedihan.

Kehidupan manusia jauh lebih kompleks.

Namun, belajar mengenali emosi adalah langkah yang baik.

Kita perlu mengetahui kapan harus berusaha sendiri, kapan harus berbicara dengan orang yang dipercaya, dan kapan perlu mendapatkan bantuan dari tenaga profesional yang kompeten.

Jangan Percaya Semua yang Ada di Kepala Kita

Ada satu hal yang menarik dari pengalaman hidup.

Ketika sedang sedih, pikiran kita terkadang menghasilkan berbagai kesimpulan yang belum tentu benar.

Kita merasa tidak dihargai.

Kita merasa semua orang meninggalkan kita.

Kita merasa tidak akan berhasil.

Kita merasa masa depan akan selalu buruk.

Padahal belum tentu demikian.

Karena itu, jangan mengambil keputusan besar ketika emosi sedang berada di titik paling berat.

Tenangkan diri terlebih dahulu.

Berikan waktu kepada pikiran untuk kembali jernih.

Berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.

Saya sendiri menemukan bahwa menulis adalah salah satu cara yang membantu saya melakukan refleksi.

Ketika sesuatu memenuhi pikiran, saya menulis.

Saya menuangkan pengalaman, perasaan, kegelisahan, dan pelajaran hidup ke dalam tulisan. Setelah menjadi tulisan, saya bisa membacanya kembali dengan jarak yang berbeda.

Ternyata tidak semua masalah harus dilawan.

Sebagian harus diselesaikan.

Sebagian harus diterima.

Dan sebagian lainnya harus dilepaskan.

Jangan Memusuhi Kesedihan

Kesedihan tidak selalu menjadi musuh.

Kadang kesedihan justru mengajarkan kita tentang arti kehilangan.

Kegagalan mengajarkan kita tentang kesabaran.

Kekecewaan mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada orang lain.

Kesendirian mengajarkan kita mengenal diri sendiri.

Dan perjalanan hidup mengajarkan bahwa tidak ada keadaan yang berlangsung selamanya.

Hari ini kita mungkin sedang sedih.

Tetapi bukan berarti kita akan sedih selamanya.

Hari ini kita mungkin gagal.

Tetapi bukan berarti seluruh kehidupan kita adalah kegagalan.

Hari ini kita mungkin belum mendapatkan apa yang kita inginkan.

Tetapi masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha menjaga semangat untuk terus belajar dan menulis.

Hidup Tidak Harus Selalu Sempurna

Kita sering melihat kehidupan orang lain melalui media sosial.

Ada yang tampak sukses.

Ada yang tampak bahagia.

Ada yang sering bepergian.

Ada yang mendapatkan penghargaan.

Ada yang memiliki keluarga harmonis.

Ada yang kariernya melesat.

Kemudian tanpa sadar kita membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita.

Di sinilah masalah baru muncul.

Kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.

Jangan membandingkan halaman pertama kehidupan kita dengan halaman ke-100 kehidupan orang lain.

Setiap orang memiliki waktunya sendiri.

Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri.

Setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat.

Maka, kalau hari ini kita sedang berada dalam masa sulit, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kehidupan kita buruk.

Mungkin kita hanya sedang berada di satu bab yang belum selesai.

Mari Beri Ruang untuk Diri Sendiri

Saya belajar bahwa merawat diri bukan berarti egois.

Beristirahat bukan berarti malas.

Menolak sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan bukan berarti lemah.

Mencari bantuan bukan berarti gagal.

Dan mengakui bahwa kita sedang sedih bukan berarti kita kalah.

Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar.

Tarik napas.

Berdoa.

Berjalan.

Berbicara.

Menulis.

Membaca.

Berkumpul dengan orang-orang yang memberikan energi positif.

Atau sekadar duduk dalam keheningan dan bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini?”

Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat berarti.

Dari Galau Menuju Damai

Saya tidak ingin mengatakan bahwa setelah mengikuti webinar atau membaca sebuah artikel, semua masalah akan langsung hilang.

Tidak.

Kehidupan tidak sesederhana itu.

Tetapi setiap pengetahuan baru dapat menjadi satu anak tangga menuju pemahaman yang lebih baik.

Webinar T.G.S (Terapi Galau & Sedih) dapat menjadi salah satu ruang belajar bagi siapa saja yang ingin memahami dirinya, mengenali rasa galau, dan belajar mengelola kesedihan dengan cara yang lebih sehat.

Yang paling penting, kita tidak berhenti pada pengetahuan.

Kita mempraktikkannya dalam kehidupan.

Kita belajar mengenali emosi.

Kita belajar mengendalikan respons.

Kita belajar berkomunikasi.

Kita belajar memaafkan.

Kita belajar menerima.

Dan akhirnya kita belajar melepaskan.

Sebab terkadang yang membuat kita lelah bukan masalah yang sedang terjadi, tetapi keinginan kita agar sesuatu yang sudah terjadi bisa kembali seperti semula.

Padahal hidup terus bergerak.

Kita pun harus bergerak.

Saya Memilih Terus Menulis

Di usia saya sekarang, saya semakin menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang sudah kita capai.

Hidup juga tentang berapa banyak orang yang bisa kita beri manfaat.

Karena itu saya terus menulis.

Saya menulis pengalaman menjadi guru.

Saya menulis tentang pendidikan.

Saya menulis tentang teknologi.

Saya menulis tentang siswa.

Saya menulis tentang kehidupan.

Dan sesekali saya menulis tentang perasaan.

Bukan karena saya memiliki kehidupan yang sempurna.

Justru karena saya tahu kehidupan penuh dengan warna.

Ada bahagia.

Ada sedih.

Ada sukses.

Ada gagal.

Ada tawa.

Ada air mata.

Semuanya menjadi bagian dari perjalanan.

Saya ingin terus belajar menjalani semuanya dengan hati yang lebih lapang.

Kalau sedang bahagia, saya bersyukur.

Kalau sedang sedih, saya belajar menerima.

Kalau sedang gagal, saya mencoba lagi.

Kalau sedang galau, saya berhenti sejenak dan mencari jalan keluar.

Dan kalau tidak tahu harus berbuat apa, saya berdoa.

Karena pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam kehidupan.

Tetapi kita masih bisa belajar mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.

Jangan biarkan satu masalah mengambil seluruh kebahagiaan dalam hidup kita.

Jangan biarkan satu kekecewaan membuat kita lupa bahwa masih banyak hal baik yang layak disyukuri.

Jangan biarkan kesedihan membuat kita berhenti bermimpi.

Dan jangan biarkan galau membuat kita lupa bahwa hari esok masih menyimpan kemungkinan baru.

Hidup terus berjalan.

Mari kita jalani dengan hati yang lebih tenang.

Jika hari ini berat, istirahatlah.

Jika hari ini sedih, menangislah bila perlu.

Jika hari ini galau, carilah tempat untuk bercerita.

Jika membutuhkan bantuan, jangan ragu mencarinya.

Kemudian, setelah hati mulai tenang, bangkitlah dan lanjutkan perjalanan.

Karena masih banyak orang yang membutuhkan senyum kita.

Masih banyak ilmu yang bisa kita bagikan.

Masih banyak tulisan yang bisa kita lahirkan.

Dan masih banyak kebaikan yang bisa kita lakukan.

Menulislah dengan hati. Hidupilah kehidupan dengan syukur. Jangan menyerah hanya karena hari ini terasa berat.

Salam literasi.

Salam sehat.

Salam bahagia.

Omjay — Guru Blogger Indonesia

Selasa, 29 September 2026

kata pengantar omjay untuk buku antologi guru guru sdn johar baru 04

KATA PENGANTAR

Menulis dengan Hati, Mengabadikan Pengalaman, dan Menginspirasi Sesama

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga buku antologi tulisan guru-guru SDN Johar Baru 04 Jakarta ini dapat hadir di hadapan pembaca. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Buku ini adalah kumpulan pengalaman, pemikiran, kegelisahan, perjuangan, pembelajaran, dan cinta para guru kepada anak-anak yang mereka dampingi setiap hari.

Ketika saya membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, saya kembali diingatkan pada satu hal sederhana: setiap guru sebenarnya memiliki buku yang belum selesai ditulis. Buku itu bernama pengalaman. Setiap hari guru bertemu dengan anak-anak yang berbeda karakter, menghadapi persoalan yang berbeda, mencoba strategi pembelajaran yang berbeda, lalu pulang membawa cerita yang kadang membuat tersenyum, terharu, bahkan merenung panjang.

Sayangnya, tidak semua pengalaman tersebut sempat dituliskan. Banyak kisah guru berhenti menjadi percakapan di ruang guru. Banyak pengalaman berharga hanya tersimpan dalam ingatan. Padahal, pengalaman yang dituliskan dapat menjadi pengetahuan bagi orang lain. Kisah seorang guru ketika mendampingi seorang anak yang takut belajar Bahasa Inggris, misalnya, memperlihatkan bahwa sebelum mengajarkan materi, guru perlu memahami manusia yang sedang belajar. Pendekatan yang humanis, permainan, komunikasi, dan pendampingan dapat membuka kembali keberanian anak untuk belajar. 

Buku ini juga memperlihatkan bahwa menjadi guru tidak cukup hanya pandai menyampaikan materi. Guru perlu hadir dengan hati. Ada anak yang datang ke sekolah dengan persoalan keluarga, ada anak yang kurang percaya diri, ada anak yang belum lancar membaca dan menulis, ada pula anak yang membutuhkan perhatian lebih agar berani berkomunikasi. Salah satu tulisan dalam antologi ini bahkan mengisahkan pendampingan seorang siswa kelas 1 yang mengalami hambatan dalam berbicara dan akhirnya membutuhkan dukungan untuk membangun rasa percaya dirinya. 

Saya melihat inilah kekuatan utama buku ini. Guru tidak hanya bercerita tentang keberhasilan, tetapi juga tentang proses. Ada tantangan, ada kesulitan, ada kegagalan, ada kegelisahan, kemudian ada usaha untuk mencari jalan keluar. Dari proses itulah pembelajaran seorang guru berlangsung.

Menariknya lagi, buku ini tidak memisahkan pendidikan dari perkembangan zaman. Kita menemukan pengalaman guru menggunakan Papan Interaktif Digital untuk mengajarkan rantai makanan kepada siswa kelas 5A. Teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih interaktif dan membantu siswa memahami konsep melalui pengalaman yang lebih konkret. Namun, sebagaimana tergambar dalam tulisan tersebut, teknologi tetaplah alat bantu. Di balik perangkat digital tetap ada guru, interaksi, diskusi, pertanyaan, kolaborasi, dan pengalaman belajar. 

Bagi saya, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi boleh semakin canggih, kecerdasan artifisial boleh semakin berkembang, tetapi pendidikan tetap membutuhkan hati seorang guru. Anak-anak membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami, membimbing, memberi contoh, dan percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum mampu mempercayai dirinya.

Karena itulah saya merasa bersyukur dapat ikut menjadi bagian dari perjalanan literasi guru-guru SDN Johar Baru 04 Jakarta. Menulis bukan hanya aktivitas menghasilkan buku. Menulis adalah cara guru melakukan refleksi. Ketika guru menulis, guru sebenarnya sedang bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sudah saya lakukan, apa yang saya pelajari, apa yang perlu saya perbaiki, dan apa yang dapat saya bagikan kepada orang lain?

Saya selalu percaya bahwa guru yang mau menulis sedang membangun jejak pendidikan yang tidak mudah hilang. Suara guru hari ini dapat dibaca oleh guru lain beberapa tahun kemudian. Pengalaman sederhana di kelas 1 dapat memberikan inspirasi bagi guru kelas 1 di sekolah lain. Sebuah strategi pembelajaran yang dicoba di SDN Johar Baru 04 dapat menjadi gagasan baru bagi sekolah lain. Bahkan sebuah kisah tentang seorang anak dapat mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap perilaku siswa terdapat cerita yang perlu dipahami.

Buku ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan adalah pekerjaan bersama. Kepala sekolah, guru, murid, orang tua, alumni, masyarakat, dan berbagai pihak memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik. Hal tersebut sejalan dengan semangat yang tampak dalam buku ini bahwa pengalaman pendidikan tidak seharusnya disimpan sendiri, tetapi dibagikan agar manfaatnya semakin luas. 

Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh guru SDN Johar Baru 04 Jakarta yang telah berani menulis dan berbagi pengalaman. Tidak mudah menulis ketika kesibukan mengajar, administrasi sekolah, mendampingi murid, dan berbagai tugas lainnya terus menunggu. Namun, keberanian untuk menyediakan waktu dan menuangkan pengalaman menjadi tulisan adalah sebuah langkah penting dalam membangun budaya literasi dan budaya refleksi di sekolah.

Kepada para guru penulis, jangan pernah merasa bahwa cerita Bapak dan Ibu terlalu sederhana untuk dibagikan. Justru sering kali kisah yang sederhana adalah kisah yang paling dekat dengan kehidupan guru lainnya. Jangan menunggu menjadi guru hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sebagai guru, maka tulisan itulah yang kelak menjadi saksi perjalanan untuk menjadi guru yang lebih baik.

Saya berharap buku antologi ini tidak berhenti sebagai dokumentasi. Semoga buku ini menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman para guru dengan pembaca, khususnya para pendidik. Semoga ada guru yang menemukan inspirasi, ada kepala sekolah yang mendapatkan gagasan, ada orang tua yang semakin memahami perjuangan guru, dan ada pembaca yang semakin menghargai profesi guru.

Saya juga berharap buku ini menjadi awal dari karya-karya berikutnya. Setelah satu buku lahir, jangan berhenti menulis. Karena satu tulisan dapat melahirkan tulisan berikutnya. Satu pengalaman dapat membuka pengalaman baru. Dan satu guru yang mulai menulis dapat mengajak guru-guru lain untuk ikut menulis.

Menulislah dengan hati. Ceritakan pengalaman dengan jujur. Bagikan praktik baik dengan rendah hati. Sebab pengalaman seorang guru mungkin hanya berlangsung satu hari di ruang kelas, tetapi ketika dituliskan, manfaatnya dapat berlangsung jauh lebih lama.

Akhirnya, selamat kepada keluarga besar SDN Johar Baru 04 Jakarta atas lahirnya buku antologi ini. Semoga buku ini menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, menyenangkan, bermakna, dan berpihak pada tumbuh kembang anak.

Teruslah mengajar.
Teruslah belajar.
Teruslah menulis.
Dan teruslah menginspirasi.

Karena guru boleh selesai mengajar pada suatu hari, tetapi tulisan guru dapat terus mengajar siapa saja yang membacanya.

Jakarta, 29 September 2026

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 28 September 2026

kisah omjay: Jernih Hati dan Luhur Budi Untuk Masa Depan

Jernih Hati, Luhur Budi, dan Masa Depan yang Cerah

Kisah Omjay Hari Ini di Kompasiana
Inspirasi Pagi, Senin 28 September 2026
Oleh: Wijaya Kusumah Wijaya Kusumah - omjay 

Pagi itu suasana kelas Informatika di SMP Labschool Jakarta terasa hidup. Suara ketikan keyboard terdengar bersahutan. Beberapa siswa serius menatap layar komputer, sebagian berdiskusi dengan teman di sebelahnya, sementara yang lain sibuk mencoba menjalankan program yang mereka buat.

Di tengah suasana tersebut, saya melihat seorang siswa duduk diam. Matanya tertuju pada layar. Tangannya berhenti di atas keyboard. Wajahnya tampak bingung.

"Pak, saya tidak bisa. Coding saya error terus," katanya.

Saya mendekatinya. Saya tidak langsung mengambil alih komputer atau memperbaiki kodenya. Saya justru bertanya, "Menurut kamu, bagian mana yang membuat programnya error?"

Ia kembali memperhatikan layar. Kami membaca kode itu perlahan. Saya memberikan beberapa pertanyaan agar ia menemukan sendiri kesalahannya. Akhirnya ditemukan satu bagian kode yang keliru.

Kami perbaiki.

Program dijalankan kembali.

Masih error.

"Coba sekali lagi," kata saya.

Kami periksa bersama. Beberapa saat kemudian program itu akhirnya berjalan. Wajahnya yang semula tegang berubah menjadi senyum.

"Pak, ternyata saya bisa!"

Saya ikut tersenyum.

Bagi orang lain mungkin itu hanya kejadian kecil di kelas Informatika. Bagi saya, kejadian tersebut menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar coding.

Saya berkata kepadanya, "Jangan bilang saya tidak bisa. Katakan saya belum bisa."

Kata belum membuka pintu harapan. "Saya tidak bisa" seperti menutup perjalanan. Sebaliknya, "saya belum bisa" berarti masih ada kesempatan untuk belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan berkembang.

Guru Tidak Hanya Mengajarkan Materi

Saya sudah mengajar di SMP Labschool Jakarta sejak 1994. Puluhan tahun berada di dunia pendidikan membuat saya bertemu dengan begitu banyak siswa dan berbagai karakter manusia.

Ada siswa yang cepat memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berani mencoba. Ada pula yang takut salah.

Dari mereka saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi. Guru juga membantu siswa menemukan keberanian untuk mencoba.

Dalam Informatika, error bukan selalu kegagalan. Error justru bagian dari proses belajar. Siswa belajar mencari penyebab, membaca pesan kesalahan, memperbaiki kode, mencoba kembali, dan mengevaluasi hasilnya.

Tanpa disadari, mereka sedang belajar logika, ketelitian, kesabaran, dan pantang menyerah.

Bukankah kehidupan juga demikian?

Kita semua pernah mengalami "error". Ada rencana yang tidak berjalan, harapan yang belum terwujud, keputusan yang ternyata keliru, atau usaha yang belum memberikan hasil.

Yang penting bukan berapa kali kita mengalami kegagalan, tetapi apakah kita mau memperbaiki kesalahan dan mencoba kembali.

Dari Kelas, Saya Belajar Tentang Hati

Pengalaman sederhana di kelas tersebut membuat saya teringat pada sebuah kalimat yang terus saya renungkan:

Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki pula oleh Allah pada apa yang nyata di wajahnya.

Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian, jabatan, popularitas, atau seberapa banyak orang mengenal kita.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjaga hati, menjaga lisan, memperlakukan orang lain, dan memberikan manfaat.

Hati yang jernih membuat kita tidak mudah dikuasai kemarahan. Hati yang bersih membantu kita menerima perbedaan. Hati yang penuh syukur membuat kita mampu menikmati hal-hal sederhana.

Saya sendiri masih belajar tentang semua itu.

Dari Guru Menjadi Blogger

Perjalanan saya sebagai guru kemudian membawa saya semakin dekat dengan dunia teknologi dan menulis. Saya mulai serius menulis blog sejak 2007. Awalnya blog menjadi tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa pengalaman seorang guru ternyata dapat menjadi bahan belajar bagi banyak orang.

Saya kemudian aktif menulis di Kompasiana. Pengalaman mengajar, perjalanan, pertemuan dengan guru, kegiatan pendidikan, keluarga, bahkan kejadian sederhana sehari-hari menjadi sumber tulisan.

Dari situlah saya memegang prinsip:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Saya tidak menulis karena merasa sudah menjadi penulis hebat. Saya menulis karena masih belajar.

Ketika menulis tentang kesabaran, saya sedang mengingatkan diri sendiri agar lebih sabar. Ketika menulis tentang kejujuran, saya sedang mengingatkan diri sendiri agar tetap jujur.

Menulis bagi saya adalah cara bercermin.

Ketika Guru Mulai Berani Menulis

Dalam berbagai kegiatan literasi dan komunitas belajar, saya bertemu banyak guru yang sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa tetapi tidak percaya diri menulis.

Saya sering mengatakan kepada mereka, "Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat. Tuliskan saja pengalaman yang Anda alami."

Ada yang awalnya hanya berani menulis satu halaman. Kemudian berkembang menjadi artikel, buku, atau blog.

Ketika seorang guru berkata, "Omjay, sekarang saya berani menulis," saya merasakan kebahagiaan tersendiri.

Bagi saya, melihat orang lain tumbuh karena pernah kita beri semangat adalah sebuah keberhasilan.

Itulah sebabnya saya tidak pernah bosan mengajak guru untuk menulis pengalaman mereka sendiri. Sebab setiap guru memiliki cerita. Setiap kelas memiliki kisah. Setiap siswa memiliki perjuangan.

Sayang sekali jika semua itu hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan.

Tidak Semua Perbedaan Harus Dimenangkan

Tentu perjalanan hidup tidak selalu mulus. Ada kritik, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan komentar yang terkadang membuat hati tidak nyaman.

Semakin bertambah usia, saya belajar bahwa tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua komentar perlu dilayani. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.

Ada saatnya kita diam, tersenyum, lalu kembali bekerja.

Diam bukan berarti kalah. Terkadang diam adalah bentuk pengendalian diri. Saya lebih memilih membuktikan sesuatu melalui karya daripada menghabiskan energi dalam pertengkaran.

Di sinilah saya belajar tentang luhur budi.

Ketika seseorang berbicara kasar, kita tidak harus membalas dengan kasar. Ketika ada yang meremehkan, kita tidak perlu menjawab dengan kemarahan.

Kesopanan bukan kelemahan.

Kesopanan menunjukkan bahwa kita mampu mengendalikan diri.

Kejujuran Dimulai dari Keteladanan

Sebagai guru, saya sadar bahwa siswa tidak hanya mendengar apa yang saya katakan. Mereka memperhatikan bagaimana saya bersikap.

Guru boleh berbicara panjang tentang kejujuran, tetapi keteladanan jauh lebih kuat daripada nasihat.

Begitu pula dalam menulis. Saya berusaha menulis berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan. Saya tidak ingin tulisan hanya menjadi kumpulan kata yang terlihat indah, tetapi kehilangan makna.

Tulisan yang lahir dari pengalaman memiliki kekuatan tersendiri.

Karena itu, saya ingin terus menulis dengan hati.

Belajar Menghargai Waktu

Pengalaman hidup juga mengajarkan saya untuk lebih menghargai waktu dan kesehatan. Ada masa ketika saya harus lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas.

Dari sana saya semakin menghargai hal-hal sederhana: bangun pagi, bertemu keluarga, mengajar, berjalan, menulis, dan berbagi ilmu.

Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak energi untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Tidak semua komentar harus dijawab.

Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.

Ada pekerjaan yang jauh lebih penting: menjaga hati, keluarga, diri sendiri, terus belajar, dan memberikan manfaat.

Masa Lalu Bukan Penjara

Masa lalu tidak boleh menjadi penjara.

Kalau pernah salah, perbaiki. Kalau pernah gagal, belajar. Kalau pernah kecewa, jangan kehilangan harapan.

Saya memilih melihat masa lalu sebagai guru, bukan sebagai beban.

Bertemu siswa mengajarkan saya kesabaran. Bertemu guru mengajarkan kebersamaan. Menulis mengajarkan kejujuran. Kritik mengajarkan introspeksi. Kegagalan mengajarkan ketekunan. Keberhasilan mengajarkan rasa syukur.

Hidup adalah sekolah yang tidak pernah selesai.

Menjadi Guru yang Terus Belajar

Dunia pendidikan terus berubah. Teknologi berkembang. Coding, kecerdasan artifisial, literasi digital, dan berbagai teknologi baru semakin dekat dengan kehidupan siswa.

Sebagai guru Informatika, saya merasa harus terus belajar.

Namun, di tengah perkembangan teknologi tersebut, saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa teknologi hanyalah alat. Pendidikan tetap membutuhkan manusia yang memiliki hati, empati, keteladanan, dan pengalaman.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan manusia.

Itulah yang saya lihat dari pengalaman siswa di kelas tadi. Ia tidak hanya membutuhkan komputer dan coding. Ia membutuhkan seorang guru yang bersedia mendampingi dan mengatakan, "Coba lagi."

Kadang-kadang satu kalimat sederhana dapat mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri.

Jernihkan Hati, Teruslah Berkarya

Pagi ini, Senin 28 September 2026, saya kembali mengingatkan diri sendiri untuk menjaga hati.

Hati yang jernih membuat kita lebih mudah memaafkan. Rasa syukur membuat kita mampu melihat nikmat. Keikhlasan membuat kita tidak terlalu bergantung pada pengakuan manusia.

Saya ingin menjalani kehidupan dengan prinsip sederhana:

Berbuat baik, berkata baik, menulis yang baik, dan memberikan manfaat sebanyak mungkin.

Tidak perlu selalu dipuji. Tidak perlu selalu dikenal. Tidak perlu selalu dianggap benar.

Cukup terus berjalan dalam kebaikan.

Sebab manusia mungkin salah menilai kita, tetapi Allah mengetahui isi hati, niat, perjuangan, dan setiap langkah yang kita lakukan.

Inilah kisah Omjay hari ini: seorang guru yang masih belajar menjadi guru, seorang blogger yang masih belajar menjadi penulis, dan seorang manusia yang masih belajar menjaga hati.

Pengalaman di kelas tadi kembali mengingatkan saya bahwa kita semua mungkin pernah mengalami "error" dalam kehidupan.

Jangan buru-buru mengatakan, "Saya tidak bisa."

Mungkin kita hanya sedang berada pada tahap:

"Saya belum bisa."

Mari Menulis Kisah Kita Sendiri

Mari mulai dari diri sendiri. Jika pernah kecewa, belajar memaafkan. Jika pernah gagal, mencoba kembali. Jika pernah salah, berani memperbaiki. Jika pernah diremehkan, jangan berhenti berkarya.

Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Tuliskan pengalaman kita. Bagikan ilmu yang kita miliki. Hadirkan manfaat melalui karya sederhana.

Siapa tahu tulisan yang kita anggap biasa ternyata sedang dibutuhkan oleh seseorang yang hampir menyerah. Siapa tahu satu kalimat yang kita tuliskan mampu membuat seorang guru kembali bersemangat, seorang siswa kembali percaya diri, atau seorang pembaca berani memulai langkah baru.

Mari menulis dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan berkarya untuk memberi manfaat.

Saya, Omjay, akan terus belajar, terus mengajar, dan terus menulis.

Bagaimana dengan Anda?

Apa satu kebaikan yang akan Anda lakukan hari ini? Pengalaman apa yang ingin Anda tuliskan agar menjadi inspirasi bagi orang lain?

Mari mulai hari ini.

Jangan hanya menjadi pembaca. Jadilah penulis kehidupan Anda sendiri.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 27 September 2026

Kisah Omjay di Hari Minggu Bersama Anak Cucu

Melampaui Diri Sendiri: Kisah Omjay Menikmati Hari Minggu Bersama Anak dan Cucu

Inspirasi Minggu, 27 September 2026

“Mungkin hidupmu tidak seberuntung orang lain. Tapi orang lain belum tentu bisa sekuat kamu.”

Kalimat sederhana itu kembali terlintas dalam pikiran saya pada Minggu pagi ini. Setelah melewati hari-hari yang cukup padat dengan berbagai aktivitas sebagai guru, penulis, blogger, dan penggiat pendidikan, saya memilih menikmati hari Minggu dengan cara yang sederhana: berkumpul bersama keluarga, bercengkerama dengan anak-anak, bermain dan bercanda bersama cucu, serta menikmati waktu yang tidak selalu bisa kita dapatkan di tengah kesibukan.

Bagi saya, kebahagiaan ternyata tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang kebahagiaan hadir begitu dekat, bahkan duduk di samping kita. Ketika anak-anak berkumpul, ketika cucu tersenyum dan mengajak bermain, ketika obrolan keluarga terdengar di ruang rumah, ada rasa syukur yang sulit digantikan oleh apa pun. Pada saat seperti itu saya semakin menyadari bahwa perjalanan kehidupan bukan hanya tentang pekerjaan, pencapaian, penghargaan, atau seberapa banyak tulisan yang berhasil dibuat. Ada keluarga yang harus kita jaga, ada orang-orang yang kita cintai, dan ada waktu yang tidak mungkin kembali.

Hari Minggu, Saatnya Menikmati Kehidupan

Hari Minggu bagi saya bukan sekadar hari libur dari rutinitas mengajar. Hari Minggu adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas lebih panjang, melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui, dan menikmati kebersamaan bersama orang-orang yang kita sayangi. Kesibukan terkadang membuat kita lupa bahwa anak-anak terus bertumbuh dan cucu-cucu terus berkembang. Waktu berjalan begitu cepat. Apa yang hari ini masih kecil, tiba-tiba sudah besar. Apa yang dahulu sering kita gendong, suatu hari mungkin sudah mampu berlari dan memanggil kita dengan penuh keceriaan.

Karena itu, ketika ada kesempatan berkumpul bersama anak dan cucu, saya berusaha menikmatinya. Tidak perlu acara yang mewah. Tidak perlu pergi ke tempat yang jauh. Cukup duduk bersama, makan bersama, bercerita, bercanda, mendengarkan cerita anak-anak, dan melihat tingkah cucu yang kadang membuat kita tertawa. Hal-hal sederhana seperti inilah yang sering kali justru menjadi kenangan paling berharga.

Saya semakin memahami bahwa hidup tidak harus selalu mengejar sesuatu yang besar. Ada waktunya kita berjuang, ada waktunya kita bekerja keras, ada waktunya kita menulis, mengajar, menghadiri kegiatan, dan berbagi ilmu. Namun ada pula waktunya kita berhenti sejenak dan menikmati hasil dari perjalanan tersebut bersama keluarga.

Jangan Membandingkan Jalan Hidup

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat seseorang yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih terkenal, lebih sehat, atau lebih bahagia. Tanpa sadar kita kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak selalu melihat perjuangannya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui air mata yang pernah jatuh. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak mengetahui berapa kali dia mengalami kegagalan. Begitu pula orang lain tidak pernah mengetahui seluruh perjalanan hidup yang sudah kita lalui.

Saya pun belajar untuk tidak terlalu sibuk membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Setiap orang mempunyai jalan masing-masing. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan perlahan. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih awal, ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang langsung berhasil, ada pula yang harus jatuh berkali-kali sebelum akhirnya menemukan jalannya.

Tugas kita bukan melampaui orang lain. Tugas kita adalah melampaui diri sendiri.

Kalimat itu semakin terasa maknanya ketika saya melihat perjalanan hidup saya sendiri. Saya tidak harus menjadi lebih hebat daripada siapa pun. Saya hanya perlu berusaha menjadi Omjay yang lebih baik daripada Omjay kemarin. Kalau kemarin belum sempat menulis, hari ini saya mencoba menulis. Kalau kemarin belum sempat belajar, hari ini saya kembali belajar. Kalau kemarin ada kekurangan, hari ini saya berusaha memperbaikinya. Kalau kemarin ada kesalahan, hari ini saya mencoba mengambil pelajaran darinya.

Anak dan Cucu Mengajarkan Arti Kehidupan

Berkumpul bersama anak dan cucu ternyata juga menjadi ruang belajar bagi saya. Dari anak-anak saya belajar bahwa setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Dari cucu saya belajar tentang keceriaan, kesederhanaan, dan kemampuan menikmati sesuatu tanpa terlalu banyak memikirkan masa depan.

Cucu tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa bahagia. Kadang sebuah permainan sederhana sudah cukup membuat mereka tertawa. Sebuah cerita kecil bisa membuat mereka penasaran. Sebuah pelukan bisa membuat mereka merasa aman. Melihat hal itu, saya kembali belajar bahwa manusia sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak alasan untuk bersyukur.

Ketika usia bertambah, kita sering mengejar hal-hal yang semakin banyak. Kita ingin memiliki lebih banyak, mencapai lebih banyak, dikenal lebih banyak, dan menghasilkan lebih banyak. Namun anak dan cucu justru mengingatkan bahwa kebahagiaan juga bisa ditemukan dalam hal-hal yang sangat sederhana.

Duduk bersama keluarga.

Makan bersama.

Tertawa bersama.

Berdoa bersama.

Mendengarkan cerita.

Dan menikmati waktu yang sedang berjalan.

Mungkin itulah salah satu bentuk kekayaan yang sesungguhnya.

Menulis Adalah Bagian dari Perjalanan

Sebagai seorang guru dan penulis, saya tentu tidak bisa jauh dari kegiatan menulis. Menulis sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sejak bertahun-tahun lalu. Saya menulis bukan hanya karena ingin mendapatkan pembaca atau penghargaan. Saya menulis karena melalui tulisan saya dapat menyimpan pengalaman, berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, dan mungkin memberikan semangat kepada seseorang yang sedang membutuhkan.

Tidak semua tulisan mendapatkan perhatian besar. Tidak semua tulisan dibaca banyak orang. Tidak semua tulisan menghasilkan sesuatu secara materi. Tetapi saya percaya bahwa setiap tulisan mempunyai waktunya sendiri.

Bisa jadi hari ini hanya dibaca beberapa orang. Namun suatu hari nanti, tulisan tersebut mungkin ditemukan oleh seseorang yang sedang membutuhkan inspirasi. Bisa jadi tulisan yang kita anggap sederhana justru menjadi pengingat bagi orang lain untuk tidak menyerah.

Itulah sebabnya saya berusaha menulis dengan hati. Saya ingin setiap tulisan memiliki kehidupan. Ada pengalaman di dalamnya, ada pembelajaran, ada rasa syukur, dan ada pesan yang dapat dibawa pulang oleh pembacanya.

Menikmati Proses Kehidupan

Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang hasil. Proses justru sering kali jauh lebih berharga daripada hasil yang kita dapatkan.

Ketika mengajar, saya menikmati proses melihat siswa belajar. Ketika menulis, saya menikmati proses menuangkan pikiran. Ketika menjadi bagian dari komunitas pendidikan, saya menikmati proses bertemu dengan guru-guru dari berbagai daerah. Ketika berkumpul bersama keluarga, saya menikmati proses melihat anak-anak dan cucu bertumbuh.

Tidak semuanya berjalan sempurna. Ada hari ketika kita merasa lelah. Ada saat ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika hasil yang kita tunggu belum juga datang. Namun bukan berarti perjalanan harus dihentikan.

Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Saya percaya bahwa setiap orang mempunyai waktunya sendiri. Karena itu, saya tidak ingin terlalu memaksa kehidupan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Ada hal-hal yang bisa saya usahakan, tetapi ada pula hal-hal yang harus saya serahkan kepada Allah.

Tugas saya adalah berusaha.

Tugas saya adalah belajar.

Tugas saya adalah berdoa.

Tugas saya adalah bersyukur.

Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan jalan terbaik.

Hari Ini Harus Lebih Baik

Saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu seberapa jauh kita dibandingkan dengan orang lain. Ukuran yang lebih penting adalah apakah hari ini kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin.

Kalau kemarin mudah marah, hari ini belajar lebih sabar. Kalau kemarin malas membaca, hari ini membaca walaupun hanya beberapa halaman. Kalau kemarin belum sempat menulis, hari ini menghasilkan sebuah tulisan. Kalau kemarin kurang bersyukur, hari ini mencoba memperbanyak rasa syukur. Kalau kemarin sempat merasa putus asa, hari ini kembali menumbuhkan harapan.

Tidak perlu langsung berubah menjadi luar biasa.

Sedikit demi sedikit saja.

Hari demi hari.

Langkah demi langkah.

Sebab perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Keluarga Adalah Tempat Kembali

Minggu ini saya kembali merasakan bahwa keluarga adalah salah satu tempat terbaik untuk pulang. Di luar rumah kita mungkin memiliki banyak peran. Sebagai guru, kita harus mengajar. Sebagai penulis, kita harus berkarya. Sebagai pengurus organisasi, kita harus melayani dan bekerja bersama. Sebagai blogger, kita terus berbagi informasi dan pengalaman.

Namun ketika berada bersama keluarga, kita bisa menjadi diri sendiri.

Tidak perlu terlalu banyak pencitraan.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Cukup hadir dan menikmati kebersamaan.

Melihat anak tersenyum dan cucu tertawa sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Dari sana saya kembali mendapatkan energi untuk melanjutkan perjalanan pada hari-hari berikutnya.

Saya sadar bahwa waktu bersama keluarga tidak akan pernah bisa diulang. Karena itu, selama masih diberikan kesempatan oleh Allah, saya ingin menikmatinya sebaik mungkin.

Omjay Terus Berjalan

Saya pun masih terus belajar. Masih banyak kekurangan, masih banyak kesalahan, dan masih banyak impian yang belum tercapai. Tetapi saya tidak ingin berhenti hanya karena perjalanan belum sempurna.

Saya ingin terus menjadi guru yang belajar, guru yang berbagi, guru yang menulis, dan guru yang berusaha memberikan manfaat bagi orang lain. Saya ingin terus menulis selama masih diberikan kesempatan dan kesehatan. Saya ingin terus berbagi pengalaman agar perjalanan yang saya lalui tidak berhenti hanya menjadi cerita pribadi, tetapi dapat memberikan manfaat bagi guru, siswa, keluarga, dan masyarakat.

Hari Minggu bersama anak dan cucu membuat saya kembali memahami satu hal penting: hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani perjalanan dengan penuh syukur, menjaga orang-orang yang kita cintai, terus memperbaiki diri, dan memberikan manfaat selama masih diberi kesempatan.

Mungkin kehidupan saya tidak selalu seberuntung orang lain. Namun saya percaya bahwa Allah telah memberikan kekuatan yang cukup untuk melewati setiap perjalanan. Bahkan mungkin, tanpa saya sadari, kekuatan untuk terus bertahan, terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi itulah salah satu hadiah terbesar yang Allah berikan kepada saya.

Maka pada Minggu pagi ini, ketika saya bisa berkumpul bersama anak dan cucu, saya kembali mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu sibuk mengejar kehidupan orang lain. Nikmati apa yang ada di depan mata. Syukuri keluarga yang masih bersama. Hargai waktu yang masih diberikan. Teruslah berkarya, tetapi jangan lupa menikmati kehidupan.

Jangan menyerah.

Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Jangan berhenti hanya karena hasil belum terlihat.

Teruslah melangkah.

Nikmati prosesnya.

Perbaiki diri setiap hari.

Dan ketika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum sambil berkata, “Ternyata semua perjuangan itu memang ada hikmahnya.”

Saya percaya, Allah Maha Tahu kapan kita harus berhenti sejenak, kapan kita harus kembali berjalan, dan kapan hati kita siap menerima kebahagiaan.

Hari ini saya memilih bersyukur.

Bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Bersyukur masih bisa melihat anak-anak tersenyum.

Bersyukur masih bisa bermain dan bercanda bersama cucu.

Bersyukur masih bisa mengajar.

Bersyukur masih bisa menulis.

Bersyukur masih bisa berbagi.

Dan yang paling penting, bersyukur masih diberikan kesempatan untuk terus melampaui diri sendiri.

Bukan untuk mengalahkan orang lain.

Tetapi untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diri saya kemarin.

Terus belajar. Terus menulis. Terus berbagi. Terus bersyukur.

Karena hidup adalah perjalanan, dan setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.

Barakallah fiikum.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Sabtu, 26 September 2026

Ayo ikutan OTN 8 di JICC Senayan Jakarta

OTN 8 2026 Hadir di JICC Senayan: Saatnya Siswa dan Guru Indonesia Unjuk Kreativitas di Dunia Teknologi

Oleh: Wijaya Kusumah

Perkembangan teknologi digital berlangsung begitu cepat. Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), coding, robotik, informatika, hingga teknologi digital lainnya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di tengah perubahan tersebut, sekolah memiliki peran penting untuk memberikan ruang kepada peserta didik agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir, berkarya, berkreasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan inovasi dengan teknologi.

Salah satu ruang untuk mewujudkan semangat tersebut adalah OTN 8 Tahun 2026.

OTN 8 Hadir di JICC Senayan Jakarta

Olimpiade TIK dan Informatika ke-8 atau OTN 8 Tahun 2026 akan dilaksanakan pada:

📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta

OTN 8 menjadi bagian dari rangkaian kegiatan teknologi dan pendidikan yang berlangsung dalam Main Event Indocomtech 2026.

Berdasarkan matriks Rundown Main Event Indocomtech, berbagai cabang kegiatan OTN dijadwalkan selama penyelenggaraan, antara lain OTN Coding, OTN Robotic, OTN E-Sport, OTN Cerdas Cermat Informatika, dan OTN Film Pendek.

Ini bukan sekadar perlombaan.

OTN 8 merupakan kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka dapat menguji kemampuan, bekerja sama, berpikir kreatif, menyelesaikan persoalan, sekaligus membangun kepercayaan diri.


Ada Coding, Robotik, Informatika, Film Pendek, dan E-Sport

Teknologi tidak hanya tentang komputer.

Teknologi adalah tentang cara manusia berpikir dan menciptakan solusi.

Karena itu, OTN 8 menghadirkan berbagai kegiatan dengan karakter kemampuan yang berbeda.

💻 OTN Coding

Coding melatih peserta untuk berpikir logis, sistematis, dan terstruktur.

Melalui coding, siswa belajar bahwa sebuah masalah dapat dipecahkan secara bertahap melalui algoritma dan instruksi yang tepat.

🤖 OTN Robotic

Robotik menggabungkan kreativitas, logika, teknologi, dan pemecahan masalah.

Siswa tidak hanya belajar membuat sesuatu bergerak, tetapi juga belajar bagaimana sebuah sistem dapat dirancang agar mampu menjalankan fungsi tertentu.

🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika

Kegiatan ini menjadi ruang untuk menguji wawasan dan kemampuan peserta dalam bidang informatika.

Dalam matriks kegiatan, OTN Cerdas Cermat Informatika tercantum pada rangkaian acara Jumat, 30 Oktober 2026.

🎬 OTN Film Pendek

Teknologi juga dapat digunakan untuk bercerita.

Melalui film pendek, siswa dapat menggabungkan ide, penulisan cerita, pengambilan gambar, penyuntingan, dan kreativitas visual.

OTN Film Pendek juga tercantum dalam rangkaian kegiatan OTN pada Jumat, 30 Oktober 2026.

🎮 OTN E-Sport

E-sport menjadi salah satu bagian dari ekosistem digital yang berkembang di kalangan generasi muda.

Dalam rundown, OTN E-Sport tercantum pada Minggu, 1 November 2026.


Seminar Nasional OTN 8 Terbuka untuk Umum

Selain kompetisi, OTN 8 juga menghadirkan Seminar Nasional PGRI.

Yang menarik, pendaftaran Seminar Nasional OTN 8 terbuka untuk umum.

Jadi, kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi peserta lomba.

Guru, kepala sekolah, mahasiswa, orang tua, pemerhati pendidikan, komunitas, praktisi teknologi, dan masyarakat umum yang ingin menambah wawasan dapat mengikuti kegiatan seminar sesuai mekanisme pendaftaran yang disediakan panitia.

Dalam matriks Main Event Indocomtech, Seminar Nasional PGRI tercantum sebagai salah satu agenda pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Ini menjadi kesempatan yang baik untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan perkembangan teknologi.


Guru Jangan Hanya Menjadi Penonton

Sebagai guru, kita sering meminta siswa untuk berani mencoba.

Namun, terkadang kita lupa bahwa anak-anak membutuhkan kesempatan nyata.

Karena itu, mari kita mulai dari sekolah.

Guru dapat memilih siswa yang memiliki minat pada coding.

Ajak siswa yang senang merakit untuk mengenal robotik.

Berikan kesempatan kepada siswa yang kreatif untuk membuat film pendek.

Dorong siswa yang memiliki wawasan informatika untuk mengikuti cerdas cermat.

Dan berikan ruang bagi siswa yang tertarik dengan dunia e-sport untuk belajar tentang strategi, kerja sama, disiplin, dan sportivitas.

Tidak semua anak harus menjadi juara.

Tetapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba.

Bisa jadi pengalaman mengikuti OTN 8 menjadi awal dari perjalanan panjang mereka di dunia teknologi.


Jangan Tunggu Sampai Terlambat

Kadang kita baru mengetahui potensi seorang anak setelah memberikan kesempatan kepadanya.

Ada anak yang awalnya dianggap biasa saja, tetapi ternyata memiliki kemampuan coding yang luar biasa.

Ada siswa yang pendiam di kelas, tetapi sangat kreatif ketika membuat film.

Ada yang senang bermain dan bereksperimen dengan robot.

Ada pula yang memiliki kemampuan berpikir cepat dalam bidang informatika.

Karena itu, jangan matikan mimpi anak-anak hanya karena kita belum melihat potensinya hari ini.

Berikan mereka kesempatan.

Berikan mereka pengalaman.

Berikan mereka panggung untuk menunjukkan kemampuan.

OTN 8 hadir untuk menjadi salah satu panggung tersebut.


Ayo Daftarkan Peserta OTN 8

Bagi sekolah, guru, orang tua, dan siswa yang ingin mengikuti OTN 8, pendaftaran peserta dapat dilakukan melalui:

👉

Jangan menunggu sampai mendekati hari pelaksanaan.

Segera informasikan kepada kepala sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik yang memiliki minat di bidang teknologi.

Mari kita siapkan generasi muda Indonesia untuk menghadapi masa depan dengan kreativitas, kompetensi, karakter, dan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.


OTN 8 2026

📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta

🏆 OTN Coding
🤖 OTN Robotic
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🎮 OTN E-Sport
🎤 Seminar Nasional OTN 8 – Terbuka untuk Umum

Mari Belajar, Berkarya, Berkompetisi, dan Menginspirasi.

Jangan hanya menjadi pengguna teknologi.

Jadilah generasi yang mampu menciptakan teknologi dan menggunakannya untuk kebaikan.

Ayo daftar OTN 8 sekarang!

👉


📱 Versi Caption Instagram/Facebook

OTN 8 2026 SEGERA HADIR! 🚀

Saatnya siswa Indonesia menunjukkan kreativitas dan kemampuan di bidang teknologi.

📍 JICC Senayan, Jakarta
📅 29 Oktober–1 November 2026

Ada berbagai kegiatan menarik:

💻 Coding
🤖 Robotik
🧠 Cerdas Cermat Informatika
🎬 Film Pendek
🎮 E-Sport

Bukan hanya lomba, OTN 8 adalah ruang untuk belajar, berkarya, berkompetisi, dan membangun kepercayaan diri.

🎤 Seminar Nasional OTN 8 juga terbuka untuk umum!

Guru, kepala sekolah, mahasiswa, orang tua, komunitas pendidikan, praktisi, dan masyarakat umum dapat ikut berpartisipasi.

🔥 Ayo daftarkan peserta OTN 8 sekarang!

👉

Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta teknologi!

#OTN8 #OTN2026 #Coding #Robotik #Informatika #KecerdasanArtifisial #E Sport #FilmPendek #Indocomtech #JICC #KOGTIK #PGRI #SemnasOTN8 #PendidikanIndonesia


📱 Versi WhatsApp/Grup Guru

INFO OTN 8 2026

Bapak/Ibu Guru dan Sahabat Pendidikan,

OTN 8 Tahun 2026 akan dilaksanakan pada:

📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta

Cabang kegiatan antara lain:

💻 OTN Coding
🤖 OTN Robotic
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🎮 OTN E-Sport

Selain perlombaan, tersedia juga Seminar Nasional OTN 8 yang terbuka untuk umum.

Mari ajak siswa berbakat di sekolah untuk ikut berkompetisi dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda.

👉 Pendaftaran:

OTN 8 — Belajar, Berkarya, Berkompetisi, dan Menginspirasi.


Jumat, 25 September 2026

Strategi Membaca Soal TKA

TKA SMK Bukan Sekadar Ujian, tetapi Latihan Membaca dengan Cerdas

Oleh: Wijaya Kusumah

“Kalau melihat soal panjang, langsung pusing.”

“Kalau pilihan jawabannya A, B, C, D, dan E, saya biasanya memilih yang kelihatannya paling benar.”

Pernah mengalami hal seperti itu?

Bagi sebagian siswa SMK, melihat soal panjang dalam sebuah asesmen memang bisa menimbulkan rasa khawatir. Apalagi ketika waktu terbatas dan pilihan jawaban terlihat hampir semuanya benar.

Namun, dalam literasi TKA, memilih jawaban tidak cukup hanya berdasarkan perasaan atau tebakan.

Siswa perlu belajar menjadi pembaca yang cerdas.

Materi Literasi TKA SMK yang saya gunakan dalam pembelajaran bersama siswa SMKN 18 Jakarta menekankan bahwa kemampuan literasi bukan sekadar membaca cepat. Siswa perlu memahami teks, menemukan informasi, mencari bukti, melakukan analisis, menarik kesimpulan, dan mengevaluasi informasi.

Baca, Pahami, Cari Bukti, Analisis, Jawab

Ada satu rumus sederhana yang menurut saya penting untuk diingat siswa:

BACA → PAHAMI → CARI BUKTI → ANALISIS → JAWAB.

Bukan:

BACA → TEBAK → BERHARAP BENAR.

Dalam soal literasi, jawaban yang terlihat paling benar belum tentu menjadi jawaban yang paling tepat. Jawaban harus mempunyai dasar yang dapat ditemukan melalui informasi atau penalaran dari teks.

Inilah perubahan pola pikir yang perlu dibangun.

Ketika mendapatkan soal panjang, jangan langsung mengatakan, “Wah, susah!”

Ubahlah pertanyaan itu menjadi:

“Informasi apa yang sebenarnya diminta?”

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu siswa lebih fokus.

Mengenal Dua Dunia Teks

Dalam literasi TKA SMK, siswa akan berhadapan dengan berbagai bentuk teks.

Pertama, teks informasi.

Contohnya artikel, berita, laporan, prosedur, informasi ilmiah, informasi teknologi, infografik, dan teks mengenai fenomena sosial.

Dari teks informasi, siswa dapat ditanya tentang gagasan utama, informasi tersurat, informasi tersirat, hubungan antarinformasi, kesimpulan, hingga bukti yang mendukung jawaban.

Kedua, teks fiksi.

Misalnya cerpen, cerita, narasi, atau kutipan novel.

Dalam teks fiksi, siswa perlu memperhatikan tokoh, karakter tokoh, konflik, latar, makna ungkapan, alasan tokoh melakukan sesuatu, serta pesan yang dapat ditemukan dalam cerita.

Dengan demikian, membaca soal TKA sebenarnya merupakan latihan untuk memahami informasi secara utuh.

Trik Membaca Teks Informasi: K-B-B-K

Ada strategi sederhana yang dapat digunakan siswa ketika membaca teks informasi, yaitu K-B-B-K:

K = Kata kunci

B = Bukti

B = Bandingkan

K = Kesimpulan

Caranya sederhana.

Pertama, baca pertanyaan.

Kedua, cari kata kunci.

Ketiga, kembali ke teks dan temukan buktinya.

Keempat, bandingkan bukti tersebut dengan pilihan jawaban.

Terakhir, buat kesimpulan dan tentukan jawaban yang paling sesuai.

Strategi ini membantu siswa agar tidak membaca seluruh teks dengan kecepatan yang sama. Bagian yang berkaitan langsung dengan pertanyaan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Jangan Takut dengan Informasi Tersirat

Salah satu jenis soal yang sering membuat siswa ragu adalah soal informasi tersirat.

Informasi tersirat tidak selalu ditulis secara langsung.

Karena itu, siswa perlu menghubungkan beberapa informasi yang tersedia.

Rumus sederhananya:

Bukti teks + logika = inferensi.

Misalnya, sebuah teks menjelaskan bahwa setelah halte baru dibangun dekat sekolah, semakin banyak siswa menggunakan bus kota.

Tidak ada kalimat yang secara langsung mengatakan, “Siswa menggunakan bus karena halte menjadi lebih dekat.”

Namun, kita dapat menghubungkan informasi tersebut.

Halte baru → lebih mudah diakses → siswa lebih banyak menggunakan transportasi umum.

Inilah yang disebut kemampuan menalar.

Bagaimana dengan Teks Fiksi?

Untuk teks fiksi, siswa dapat menggunakan pola:

TOKOH → KONFLIK → BUKTI → MAKNA

Siapa tokohnya?

Apa masalah yang dihadapinya?

Tindakan atau perkataan apa yang menunjukkan karakternya?

Apa nilai atau pesan yang dapat dipetik?

Misalnya dalam cerita tentang seorang siswa bernama Raka yang takut mengatakan bahwa laptop kelompoknya rusak. Pada akhirnya Raka berani mengatakan keadaan sebenarnya kepada teman-temannya.

Jangan hanya melihat bahwa Raka merasa takut.

Perhatikan tindakan akhirnya.

Ia tetap mengatakan keadaan yang sebenarnya.

Maka karakter Raka yang paling kuat adalah berani berkata jujur.

Artinya, dalam memahami karakter tokoh, kita harus melihat bukti berupa tindakan dan perkataan tokoh, bukan sekadar perasaan yang muncul pada awal cerita.

Jangan Terjebak pada Soal HOTS

Istilah HOTS kadang membuat siswa merasa takut.

Padahal, soal penalaran pada dasarnya mengajak siswa untuk menghubungkan informasi, membandingkan, menganalisis, menyimpulkan, mengevaluasi, dan menggunakan bukti.

Jadi, ketika bertemu soal panjang, jangan langsung menyerah.

Baca pertanyaannya.

Cari kata kuncinya.

Temukan bukti.

Gunakan logika.

Kemudian tentukan jawaban.

Soal yang panjang tidak selalu berarti soal yang sulit.

Yang penting adalah mengetahui apa yang sebenarnya ditanyakan.

Strategi Tiga Putaran

Selain kemampuan membaca, siswa juga perlu mempunyai strategi mengatur waktu.

Gunakan metode 3 PUTARAN.

Putaran 1 – Mudah

Kerjakan soal yang jawabannya dapat ditemukan dengan cepat.

Putaran 2 – Analisis

Kerjakan soal yang membutuhkan penalaran lebih panjang.

Putaran 3 – Sulit

Kembali kepada soal yang sebelumnya ditandai dan belum selesai.

Dengan strategi tersebut, siswa tidak membiarkan satu soal menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal lainnya.

Ada satu kalimat menarik yang bisa menjadi pengingat:

“Jangan menikah dengan satu soal!”

Kalau satu soal membuat kita terjebak terlalu lama, tinggalkan sementara.

Kerjakan soal berikutnya.

Nanti, jika masih ada waktu, kembali lagi.

Tujuan kita bukan memenangkan satu soal.

Tujuan kita adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk keseluruhan asesmen.

Gunakan Eliminasi Jika Ragu

Bagaimana kalau masih ragu memilih jawaban?

Gunakan teknik eliminasi.

Coret pilihan yang:

1. tidak sesuai dengan teks;
2. terlalu ekstrem;
3. tidak memiliki bukti;
4. keluar dari pembahasan;
5. bertentangan dengan informasi dalam teks.

Jika akhirnya tinggal dua pilihan, kembali lagi kepada bukti.

Jangan berkata:

“Kayaknya A.”

Biasakan berkata:

“Saya memilih A karena ada bukti pada bagian tertentu dari teks.”

Inilah pola berpikir yang harus dilatih siswa.

Pilihan Ganda Kompleks Perlu Ketelitian

Siswa juga perlu memahami bahwa dalam pilihan ganda kompleks, bisa terdapat lebih dari satu jawaban yang benar.

Karena itu, jangan terburu-buru memilih satu jawaban.

Periksa setiap pernyataan.

Apakah benar-benar didukung oleh teks?

Apakah bertentangan dengan teks?

Apakah hanya terlihat benar berdasarkan pengetahuan kita, tetapi tidak didukung oleh informasi dalam bacaan?

Kuncinya adalah membaca instruksi dengan teliti dan memeriksa setiap pilihan berdasarkan isi teks.

Kesalahan Bukan untuk Ditakuti

Ada satu kebiasaan belajar yang sangat penting setelah latihan TKA.

Jangan hanya menghitung berapa soal yang benar.

Jangan pula hanya melihat nilai.

Yang lebih penting adalah bertanya:

“Mengapa jawaban saya benar?”

dan

“Mengapa jawaban saya salah?”

Materi latihan menyarankan latihan mandiri sekitar 15 menit setiap hari, dengan fokus yang berbeda-beda: teks informasi, gagasan utama, inferensi, kesimpulan, teks fiksi, soal campuran, dan evaluasi kesalahan.

Dengan latihan kecil tetapi konsisten, kemampuan membaca dan menalar dapat terus berkembang.

Jangan Kalah Sebelum Bertanding

Kepada siswa SMKN 18 Jakarta, saya ingin menyampaikan satu pesan.

Jangan menganggap TKA sebagai sesuatu yang harus ditakuti.

Anggaplah TKA sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan membaca, berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi.

Jangan hanya bertanya:

“Jawabannya apa?”

Mulailah bertanya:

“Mengapa jawaban itu benar?”

Sebab orang yang hebat bukan hanya orang yang mampu menemukan jawaban.

Orang yang hebat adalah orang yang mampu menjelaskan alasan di balik jawabannya.

Soal boleh panjang.

Waktu boleh terbatas.

Pilihan jawaban boleh membingungkan.

Tetapi siswa tetap mempunyai senjata yang sangat kuat:

pikiran yang tenang.

Baca dengan teliti.

Cari buktinya.

Gunakan logika.

Atur waktu.

Dan percaya kepada proses belajar yang sudah dijalani.

Siswa tidak harus menjadi sempurna untuk menghadapi TKA.

Siswa hanya perlu datang dengan persiapan, mengerjakan dengan strategi, dan memberikan usaha terbaik.

SMKN 18 Jakarta bisa!

Semangat belajar. Semangat membaca. Semangat menalar. Semangat menghadapi TKA!

---

Baca → Cari Bukti → Gunakan Logika → Pilih Jawaban → Cek Kembali.

Itulah kebiasaan sederhana yang perlu terus dilatih dalam literasi TKA SMK.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 24 September 2026

Belajar dan Berbagi Ilmu Menulis di SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat

Belajar dan Berbagi Ilmu Menulis Bersama Guru-Guru Hebat di SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat

Ada pertemuan yang sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang luar biasa.

Hari ini saya berkesempatan hadir dan belajar bersama guru-guru hebat di SDN Johar Baru 04, Jakarta Pusat. Suasana penuh keakraban, senyum, dan semangat berbagi terlihat dalam kebersamaan kami.

Bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di depan kelas. Guru juga harus terus belajar. Bahkan ketika sudah lama mengajar, selalu ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan dari pengalaman dan cerita guru lainnya.

Menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan pengalaman itu.

Apa yang kita alami di sekolah, bagaimana kita menghadapi siswa, keberhasilan pembelajaran, kesulitan yang kita hadapi, hingga praktik baik yang kita lakukan, semuanya dapat menjadi bahan tulisan yang bermanfaat bagi guru lainnya.

Saya selalu percaya bahwa setiap guru memiliki cerita yang layak dituliskan.

Tidak harus menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Justru dengan menulis secara rutin, kita belajar menjadi penulis yang lebih baik.

Pertemuan bersama guru-guru SDN Johar Baru 04 hari ini kembali mengingatkan saya bahwa budaya literasi dapat tumbuh dari hal sederhana: mau berbagi pengalaman dan mau belajar dari orang lain.

Terima kasih kepada keluarga besar SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat atas sambutan dan kebersamaannya.

Mari terus belajar, terus berbagi, dan terus menulis.

Menulis dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan menginspirasi tanpa henti.

Salam literasi dari Omjay.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

#SDNJoharBaru04 #GuruMenulis #LiterasiGuru #BelajarBersama #GuruInspiratif #Omjay

Rabu, 23 September 2026

Undangan Berbagi Ilmu TKA di SMKN 18 Jakarta

Dari Surat Undangan, Saya Belajar: Menjadi Guru Berarti Terus Berbagi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru menerima surat undangan untuk menjadi narasumber. Bukan semata-mata karena mendapatkan kesempatan berbicara di depan banyak orang, tetapi karena ada kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Hari ini, Rabu, 23 September 2026, saya menerima sebuah surat yang membuat saya kembali merenungkan perjalanan panjang sebagai seorang guru.

Surat itu datang dari SMK Negeri 18 Jakarta, melalui surat bernomor 787/PK.01.04, tertanggal 22 September 2026. Isinya adalah permohonan kepada Kepala SMP Labschool Jakarta agar menugaskan saya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada:

  • Hari: Jumat
  • Tanggal: 25 September 2026
  • Waktu: 08.00 WIB sampai selesai
  • Tempat: Aula SMK Negeri 18 Jakarta
  • Acara: Kegiatan Pelatihan Literasi TKA

Bagi sebagian orang, mungkin surat seperti ini hanyalah surat undangan biasa.

Namun bagi saya, surat tersebut mempunyai makna yang lebih dalam.

Dari Guru Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Saya mulai mengajar sejak tahun 1994.

Artinya, perjalanan saya sebagai guru sudah sangat panjang. Banyak perubahan terjadi dalam dunia pendidikan. Dulu kita mengajar dengan papan tulis dan kapur. Kemudian hadir komputer, internet, LCD projector, smartphone, media sosial, pembelajaran digital, hingga sekarang kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Perubahan itu mengajarkan saya satu hal.

Guru tidak boleh berhenti belajar.

Ketika guru berhenti belajar, ia akan kesulitan mengajak muridnya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha belajar dari siapa saja dan dari mana saja.

Saya belajar dari buku.

Saya belajar dari pengalaman mengajar.

Saya belajar dari murid.

Saya belajar dari guru lain.

Saya belajar dari komunitas.

Dan sekarang saya juga belajar bagaimana teknologi AI dapat digunakan secara bijak dalam dunia pendidikan.

Undangan Ini Mengingatkan Saya pada Perjalanan Menulis

Menjadi narasumber juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan saya sebagai seorang penulis.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007.

Awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan pengalaman mengajar. Saya menulis apa yang saya lakukan di kelas, apa yang saya pelajari, dan apa yang saya rasakan sebagai seorang guru.

Ternyata tulisan-tulisan sederhana itu membawa saya ke banyak tempat.

Saya kemudian mendapatkan kesempatan menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pendidikan.

Dari satu undangan muncul undangan berikutnya.

Dari satu tulisan lahir tulisan lainnya.

Dari satu pertemuan saya bertemu banyak guru hebat.

Saya semakin percaya bahwa menulis adalah salah satu cara guru meninggalkan jejak kebaikan.

Ketika kita menulis, pengalaman yang kita miliki tidak berhenti di dalam diri kita.

Pengalaman itu dapat dibaca orang lain.

Dapat dipelajari.

Dapat dikembangkan.

Bahkan mungkin dapat menginspirasi guru yang belum pernah kita kenal.

Literasi TKA Bukan Sekadar Persiapan Menghadapi Tes

Dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA nanti, saya tentu tidak ingin sekadar berbicara tentang bagaimana menjawab soal.

Literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks.

Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolahnya, menilai kebenarannya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.

Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan seperti ini menjadi semakin penting.

Anak-anak kita setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi.

Ada informasi yang benar.

Ada informasi yang belum tentu benar.

Ada opini.

Ada iklan.

Ada konten yang dibuat manusia.

Ada pula konten yang dibuat dengan bantuan AI.

Karena itu, kemampuan literasi harus terus dibangun.

Guru mempunyai peran penting dalam proses tersebut.

Saya Datang Bukan untuk Menggurui

Jika nanti berdiri di depan para peserta pelatihan, saya tidak ingin merasa sebagai orang yang paling tahu.

Saya datang sebagai sesama pembelajar.

Saya akan membawa pengalaman.

Saya akan berbagi praktik yang pernah saya lakukan.

Saya juga akan membawa cerita tentang keberhasilan dan kegagalan.

Sebab dari kegagalan pun kita bisa belajar.

Saya percaya bahwa narasumber yang baik bukanlah orang yang membuat peserta merasa dirinya hebat.

Narasumber yang baik adalah orang yang membuat peserta pulang dengan membawa gagasan baru yang bisa dipraktikkan.

Itulah prinsip yang ingin saya pegang.

Terima Kasih atas Kepercayaan

Saya mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 18 Jakarta yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbagi dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.

Saya juga berterima kasih kepada Kepala SMP Labschool Jakarta atas dukungan dan kepercayaannya.

Surat undangan ini kembali mengingatkan saya bahwa perjalanan seorang guru memang tidak pernah selesai.

Mengajar membuat kita belajar.
Belajar membuat kita berkembang.
Menulis membuat pengalaman kita terdokumentasi.
Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain.

Maka, selama masih diberi kesempatan, saya akan terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi.

Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu kepada murid.

Menjadi guru adalah perjalanan untuk terus menjadi manusia pembelajar.

Dan seperti yang sering saya katakan:

“Menulislah dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan teruslah belajar sampai akhir hayat.”

Semoga kegiatan Pelatihan Literasi TKA di SMK Negeri 18 Jakarta, Jumat 25 September 2026, menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Salam literasi.
Salam guru pembelajar.
Salam Blogger Guru Indonesia.

Wijaya Kusumah
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Ketua IGTIK PGRI
Guru Blogger Indonesia