Kenangan Indah di Kontrakan Ungu: Ketika Rumah Kecil Mengajarkan Arti Kebahagiaan
Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)
Ada masa-masa tertentu dalam kehidupan yang baru terasa begitu berharga setelah waktu berlalu cukup lama. Ketika kita sedang menjalaninya, mungkin kita menganggap semuanya biasa saja. Bahkan, terkadang kita merasa tidak nyaman, sedih, atau berharap masa itu segera berakhir. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, justru masa-masa sederhana itulah yang sering datang kembali dalam ingatan. Ia hadir melalui potongan-potongan kenangan kecil. Terkadang melalui sebuah aroma, sebuah tempat, sebuah lagu, atau sekadar warna cat pada dinding rumah. Begitulah kenangan saya tentang sebuah rumah kecil yang dulu kami tempati sementara. Sebuah rumah kontrakan dengan warna yang mudah dikenali. Kami menyebutnya Kontrakan Ungu.
Kini, ketika saya kembali membuka lembaran perjalanan hidup pada tahun 2019, ingatan saya melayang kepada masa ketika rumah kami sedang direnovasi. Pada saat itu, kami sekeluarga harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Kami membutuhkan tempat tinggal selama proses renovasi berlangsung. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada sebuah rumah kontrakan sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari lingkungan tempat kami biasa beraktivitas.
Selama hampir dua bulan, rumah kontrakan itulah yang menjadi tempat kami pulang.
Pada awalnya, tentu saja ada rasa canggung. Setelah terbiasa tinggal di rumah sendiri, tiba-tiba kami harus menyesuaikan diri dengan sebuah rumah yang jauh lebih kecil. Rumah itu sangat mungil. Kalau ingin bergurau, semua tempat terasa dekat ke mana-mana. Kamar mandi dekat. Kamar tidur dekat. Ruang tamu dekat. Dapur pun dekat. Bahkan, rasanya kalau berjalan beberapa langkah saja, kita sudah sampai ke ruangan lain.
He-he-he.
Rumah itu memang hanya memiliki satu kamar. Ruangannya terbatas. Fasilitasnya sederhana. Tidak ada kemewahan yang bisa dibanggakan. Namun, siapa sangka rumah mungil itu kemudian meninggalkan kenangan yang begitu besar dalam perjalanan keluarga kami?
Saat pertama kali pindah, saya sempat merasa sedih.
Rumah kami sedang direnovasi. Ada sesuatu yang terasa hilang ketika untuk sementara waktu kita harus meninggalkan rumah sendiri. Rumah bukan hanya tempat berteduh. Di dalamnya ada kebiasaan, ada cerita, ada kenangan, dan ada kenyamanan yang telah tumbuh selama bertahun-tahun. Setiap sudut rumah seakan sudah mengenal kehidupan penghuninya.
Ketika semua itu harus ditinggalkan sementara, ada perasaan asing yang muncul.
Namun, kehidupan selalu mengajarkan satu hal kepada saya. Manusia ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.
Apa yang pada awalnya terasa asing, perlahan menjadi biasa.
Apa yang semula terasa sempit, lama-lama menjadi nyaman.
Dan apa yang awalnya kami anggap hanya sebagai tempat tinggal sementara, ternyata berubah menjadi tempat lahirnya banyak kenangan indah.
Yang paling membuat saya bahagia adalah melihat kedua putri saya, Intan dan Berlian. Berbeda dengan saya yang sempat merasa harus beradaptasi dengan suasana baru, mereka justru terlihat sangat menikmati kehidupan di lingkungan Kontrakan Ungu.
Anak-anak memang sering mengajarkan kepada orang dewasa tentang cara menikmati hidup.
Mereka tidak terlalu memikirkan luas atau sempitnya rumah. Mereka tidak bertanya apakah rumah itu milik sendiri atau rumah kontrakan. Mereka tidak menghitung fasilitas apa yang tidak tersedia. Yang mereka lihat sederhana saja: adakah teman untuk bermain?
Dan ternyata, di lingkungan Kontrakan Ungu, teman-teman baru begitu mudah ditemukan.
Di situlah saya melihat wajah anak-anak saya berubah semakin ceria. Mereka bermain bersama anak-anak seusianya. Mereka bercanda. Mereka tertawa. Mereka belajar mengenal lingkungan baru. Mereka menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang mungkin dianggap sederhana oleh orang dewasa.
Sebuah pertemanan.
Sebuah permainan.
Sebuah tawa bersama.
Hal-hal kecil itu ternyata cukup untuk membuat masa kecil terasa begitu indah.
Suasana tersebut sangat berbeda dengan lingkungan tempat tinggal kami sebelumnya. Kami tinggal di kawasan yang rumah-rumahnya cukup besar. Lingkungannya tenang dan cenderung sepi. Orang-orang memiliki kesibukan masing-masing. Pagi hari berangkat bekerja. Anak-anak pergi ke sekolah. Sore hari kembali ke rumah. Setelah itu, banyak keluarga memilih menikmati waktu di dalam rumah masing-masing.
Tidak ada yang salah dengan keadaan tersebut. Setiap lingkungan memiliki karakter yang berbeda.
Namun, tinggal di Kontrakan Ungu membuat saya melihat kehidupan dari sisi yang lain.
Di lingkungan itu, interaksi antarmanusia terasa lebih dekat.
Orang lebih mudah menyapa.
Anak-anak lebih mudah bermain bersama.
Tetangga lebih sering bertemu.
Ada kehidupan sosial yang terasa lebih hidup.
Saya merasakan bahwa kami bisa dengan cepat berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Tidak peduli apakah seseorang sudah lama tinggal di sana atau baru datang seperti kami. Entah bagaimana, suasana di lingkungan itu membuat orang-orang lebih mudah saling mengenal.
Mungkin karena jarak rumah yang berdekatan.
Mungkin karena ruang hidup yang membuat penghuninya lebih sering bertemu.
Atau mungkin karena pada dasarnya manusia memang membutuhkan manusia lainnya.
Kami pun mulai mengenal lingkungan baru itu.
Rumah yang kami tempati disebut Kontrakan Ungu karena warna tembok bagian luarnya berwarna ungu. Nama yang sederhana. Tidak ada papan nama khusus. Tidak ada sejarah besar yang melekat padanya. Namun, bagi keluarga kami, nama Kontrakan Ungu kemudian menjadi bagian dari cerita kehidupan.
Di sekitar sana, banyak sekali berdiri rumah-rumah kontrakan.
Saya kemudian mulai memperhatikan kehidupan para penghuninya.
Ada keluarga yang tinggal sementara.
Ada pasangan muda yang baru memulai kehidupan.
Ada orang-orang yang sedang bekerja dan membutuhkan tempat tinggal dekat dengan tempat mencari nafkah.
Ada pula mereka yang mungkin masih mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit untuk suatu hari nanti bisa memiliki rumah sendiri.
Dari tempat sederhana itu, saya kembali belajar bahwa kehidupan setiap orang memiliki jalannya masing-masing.
Ada orang yang diberi kemudahan untuk memiliki rumah sendiri sejak usia muda.
Ada yang harus bekerja puluhan tahun sebelum mampu membeli rumah.
Ada pula yang hingga saat ini masih memilih tinggal di rumah kontrakan karena keadaan dan rezeki belum memungkinkan untuk memiliki rumah sendiri.
Apakah yang tinggal di rumah kontrakan lebih rendah daripada yang tinggal di rumah sendiri?
Tentu tidak.
Rumah bukan ukuran kemuliaan seseorang.
Harta bukan ukuran kebahagiaan seseorang.
Dan kepemilikan bukan satu-satunya tanda keberhasilan dalam hidup.
Saya melihat banyak orang yang tinggal sederhana tetapi memiliki kehidupan yang hangat. Mereka saling membantu. Mereka berbagi. Mereka mengenal tetangganya. Mereka masih sempat tersenyum dan menyapa orang lain.
Dari Kontrakan Ungu, saya belajar bahwa kebahagiaan ternyata tidak membutuhkan alamat yang mewah.
Kebahagiaan bisa tinggal di mana saja.
Ia bisa hadir di rumah besar.
Ia bisa hadir di rumah sederhana.
Ia bahkan bisa tumbuh di sebuah rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar.
Selama ada rasa syukur dan kebersamaan, sebuah tempat tinggal akan memiliki makna.
Selama tinggal di sana, saya juga mendapatkan inspirasi lain.
Saya mulai memperhatikan bisnis rumah kontrakan.
Ternyata, rumah kontrakan menjadi salah satu usaha yang cukup menarik. Para penghuni membayar sewa setiap bulan sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Ada rumah kontrakan yang sangat sederhana dengan harga sewa yang lebih terjangkau. Ada pula kontrakan dengan fasilitas lebih lengkap dan harga yang tentu saja lebih tinggi.
Saya sempat berbincang dengan pemilik kontrakan.
Dari perbincangan itu, muncul sebuah mimpi dalam hati saya.
“Bagaimana kalau suatu hari nanti saya juga memiliki beberapa rumah kontrakan?”
Mimpi itu bukan sekadar keinginan untuk mencari keuntungan. Saya membayangkan sebuah rumah kontrakan yang dirancang dengan nyaman. Sebuah tempat tinggal sederhana tetapi tetap mengikuti kebutuhan manusia modern.
Saya membayangkan tersedia akses internet yang baik.
Saya membayangkan penghuninya memiliki fasilitas yang memudahkan aktivitas sehari-hari.
Saya membayangkan rumah kontrakan bukan hanya menjadi tempat singgah, melainkan tempat yang membuat orang merasa nyaman untuk pulang.
Sebuah mimpi memang selalu dimulai dari pikiran.
Kadang-kadang, mimpi itu lahir ketika kita sedang berada di tempat yang sederhana.
Siapa yang menyangka bahwa tinggal di sebuah kontrakan bisa membuat saya memiliki gagasan untuk suatu hari membangun rumah kontrakan sendiri?
Begitulah kehidupan.
Inspirasi tidak selalu datang dari seminar besar.
Tidak selalu muncul dari ruangan mewah.
Tidak selalu lahir ketika kita membaca buku-buku hebat.
Inspirasi bisa datang dari mana saja.
Bahkan dari dinding rumah berwarna ungu.
Kontrakan Ungu juga memberikan sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan saya sebagai seorang penulis.
Banyak tulisan lahir selama kami tinggal di sana.
Entah mengapa, suasana baru membuat pikiran saya seperti mendapatkan energi baru. Saya lebih mudah menemukan bahan tulisan. Kehidupan di sekitar saya seakan menjadi sumber cerita yang tidak pernah habis.
Saya kembali membuktikan bahwa seorang penulis sebenarnya tidak perlu terlalu jauh mencari bahan tulisan.
Hidup adalah bahan tulisan.
Apa yang kita lihat bisa menjadi tulisan.
Apa yang kita dengar bisa menjadi tulisan.
Apa yang kita rasakan bisa menjadi tulisan.
Bahkan, apa yang sedang kita jalani hari ini bisa menjadi cerita yang suatu hari nanti dibaca kembali dengan penuh haru.
Kontrakan Ungu adalah salah satu buktinya.
Saat tinggal di sana, mungkin saya tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian saya masih akan menuliskan kembali kenangan tersebut. Saya hanya menjalani hari demi hari seperti biasa. Bangun pagi. Beraktivitas. Mengajar. Menulis. Kembali ke rumah. Berkumpul bersama keluarga.
Semua terasa biasa.
Namun, waktu ternyata mengubah sesuatu yang biasa menjadi istimewa.
Ketika anak-anak semakin besar, kenangan masa kecil mereka perlahan menjadi bagian dari sejarah keluarga.
Intan dan Berlian yang dahulu bermain dengan riang di sekitar Kontrakan Ungu kini tentu telah tumbuh dewasa. Waktu berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dahulu berlarian, bermain, dan tertawa bersama teman-temannya kini menjalani perjalanan hidupnya sendiri.
Di sinilah seorang ayah terkadang merasa terharu.
Kita tidak bisa menghentikan waktu.
Kita tidak bisa meminta anak-anak untuk tetap kecil selamanya.
Kita tidak bisa kembali kepada sebuah pagi dan berkata, “Jangan cepat-cepat tumbuh.”
Yang bisa kita lakukan hanyalah menyimpan kenangan.
Dan salah satu cara terbaik menyimpan kenangan adalah dengan menuliskannya.
Tulisan membuat saya bisa kembali berjalan ke masa lalu.
Ketika saya membaca tulisan lama, saya seperti bertemu kembali dengan diri saya pada masa itu. Saya bisa merasakan kembali suasana yang dahulu pernah saya jalani. Saya bisa membayangkan rumah mungil itu. Saya bisa mendengar kembali tawa anak-anak. Saya bisa merasakan suasana lingkungan yang ramai oleh kehidupan.
Itulah salah satu keajaiban menulis.
Tulisan adalah mesin waktu.
Kita memang tidak bisa kembali secara fisik ke masa lalu. Namun, melalui tulisan, kita bisa membuka pintu kenangan kapan saja.
Kita bisa kembali kepada rumah masa kecil.
Kita bisa kembali kepada sekolah pertama.
Kita bisa kembali kepada orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita.
Kita bisa kembali kepada sebuah rumah kontrakan berwarna ungu.
Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah sebuah kontrakan biasa.
Bagi orang lain, mungkin tempat itu bahkan tidak memiliki arti apa-apa.
Namun, bagi saya, Kontrakan Ungu memiliki cerita.
Di tempat itulah saya melihat anak-anak belajar bersosialisasi.
Di tempat itulah mereka mendapatkan teman baru.
Di tempat itulah saya kembali melihat arti sederhana dari kebahagiaan.
Dan tanpa saya sadari, tinggal di sana juga menjadi salah satu cara untuk memberikan pendidikan kehidupan kepada anak-anak.
Saya ingin mereka memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keadaan yang kita inginkan.
Ada masa ketika kita tinggal di rumah sendiri.
Ada masa ketika kita harus tinggal di rumah kontrakan.
Ada masa ketika kehidupan terasa lapang.
Ada pula masa ketika kita harus belajar hidup dalam keterbatasan.
Namun, keterbatasan tidak harus membuat kita kehilangan kebahagiaan.
Justru dari keterbatasan, kita bisa belajar banyak hal.
Kita belajar bersyukur.
Kita belajar menyesuaikan diri.
Kita belajar berbagi ruang.
Kita belajar memahami keadaan orang lain.
Dan yang paling penting, kita belajar bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian.
Kebersamaan menjadi sesuatu yang sangat berharga.
Di Kontrakan Ungu, saya ingin anak-anak memahami bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada orang yang sedang berjuang untuk membeli rumah. Ada keluarga yang bekerja keras agar anak-anaknya tetap bisa sekolah. Ada orang yang tinggal di rumah kontrakan sambil menabung sedikit demi sedikit demi sebuah impian.
Karena itu, jangan pernah merendahkan seseorang hanya karena tempat tinggalnya.
Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena memiliki lebih banyak harta.
Hari ini kita mungkin sedang mendapatkan rezeki yang cukup. Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan di masa depan.
Roda kehidupan terus berputar.
Apa yang kita miliki hari ini adalah titipan.
Apa yang kita banggakan hari ini bisa saja suatu hari nanti hilang.
Karena itu, manusia harus selalu belajar rendah hati.
Bantulah orang lain sesuai dengan kemampuan kita.
Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi.
Tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk peduli.
Senyum pun bisa menjadi bentuk kebaikan.
Sapaan bisa menjadi tanda kepedulian.
Tenaga bisa menjadi bantuan.
Ilmu yang kita miliki pun bisa dibagikan kepada orang lain.
Kebaikan tidak pernah harus menunggu kita sempurna.
Ketika saya mengenang kembali Kontrakan Ungu, saya tidak mengingat betapa sempitnya rumah itu.
Saya tidak lagi memikirkan bahwa hanya ada satu kamar.
Saya tidak mengingat fasilitas apa saja yang mungkin tidak tersedia.
Semua itu seakan kalah oleh satu hal yang jauh lebih besar.
Kenangan.
Kenangan tentang sebuah keluarga yang sedang belajar menyesuaikan diri.
Kenangan tentang dua anak perempuan yang begitu ceria.
Kenangan tentang teman-teman baru.
Kenangan tentang tawa dan kebersamaan.
Kenangan tentang seorang ayah yang terus menulis di tengah perjalanan hidupnya.
Kenangan tentang sebuah mimpi yang lahir dari rumah kontrakan.
Dan kenangan tentang pelajaran sederhana bahwa kebahagiaan tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar rumah yang kita tinggali.
Saya kembali teringat wajah anak-anak saya pada masa itu.
Mereka begitu mudah menemukan kebahagiaan.
Barangkali, sebagai orang dewasa, kita perlu belajar kembali dari anak-anak.
Kita terlalu sering merasa bahagia harus menunggu semuanya lengkap.
Menunggu rumah lebih besar.
Menunggu penghasilan lebih banyak.
Menunggu pekerjaan lebih baik.
Menunggu memiliki kendaraan baru.
Menunggu semua keinginan terpenuhi.
Padahal, kalau terus menunggu, mungkin kita lupa menikmati hari ini.
Anak-anak tidak seperti itu.
Mereka bisa bahagia dengan teman.
Mereka bisa bahagia dengan permainan sederhana.
Mereka bisa tertawa meskipun rumah yang ditempati tidak besar.
Dari mereka, saya belajar satu hal.
Kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita memiliki lebih banyak. Kadang-kadang, kebahagiaan datang ketika kita mampu mensyukuri apa yang sedang kita miliki.
Kontrakan Ungu hanyalah persinggahan sementara dalam perjalanan hidup keluarga kami.
Kami tinggal di sana hanya hampir dua bulan.
Waktu yang sebenarnya tidak terlalu lama.
Namun, ternyata tidak semua kenangan ditentukan oleh panjangnya waktu.
Ada kenangan yang lahir dalam hitungan tahun tetapi perlahan memudar.
Ada pula kenangan yang hanya berlangsung beberapa minggu, tetapi terus tinggal di dalam hati.
Kontrakan Ungu adalah salah satunya.
Kini, bertahun-tahun setelah masa itu berlalu, saya masih bisa menuliskannya.
Saya masih bisa merasakan kehangatan kenangannya.
Saya masih bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami saat itu.
Dan saya semakin yakin bahwa setiap fase kehidupan memiliki hikmahnya sendiri.
Jangan pernah meremehkan hari-hari sederhana.
Jangan merasa bahwa kehidupan kita tidak memiliki cerita.
Sebab, kelak ketika waktu telah berlalu, mungkin justru hari-hari sederhana itulah yang paling kita rindukan.
Rumah kecil.
Satu kamar.
Dinding berwarna ungu.
Anak-anak yang bermain.
Teman-teman baru.
Tulisan-tulisan yang lahir.
Serta sebuah keluarga yang belajar menemukan kebahagiaan di tengah perubahan.
Semua itu kini menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.
Kontrakan Ungu telah mengajarkan banyak hal.
Tentang kesederhanaan.
Tentang kebersamaan.
Tentang persahabatan.
Tentang rasa syukur.
Tentang pendidikan kehidupan.
Dan tentu saja, tentang pentingnya menulis setiap kenangan.
Karena kenangan yang tidak ditulis bisa saja perlahan dilupakan.
Namun, kenangan yang dituliskan akan tetap hidup.
Ia bisa dibaca kembali oleh anak-anak.
Ia bisa dibaca oleh cucu-cucu.
Ia bisa menjadi saksi bahwa pernah ada sebuah keluarga yang tinggal sementara di sebuah rumah kecil berwarna ungu.
Dan di rumah sederhana itu, mereka menemukan sesuatu yang mungkin jauh lebih mahal daripada sebuah bangunan.
Mereka menemukan kebersamaan.
Mereka menemukan keceriaan.
Mereka menemukan rasa syukur.
Saya menutup tulisan ini dengan sebuah keyakinan sederhana.
Rumah memang penting. Kita semua tentu memiliki impian untuk tinggal di rumah yang nyaman. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa yang membuat sebuah rumah menjadi indah bukan hanya bentuk bangunannya.
Rumah menjadi indah karena ada orang-orang yang saling mencintai di dalamnya.
Rumah menjadi hangat karena ada kebersamaan.
Rumah menjadi penuh kenangan karena ada tawa.
Dan rumah, sekecil apa pun, bisa menjadi tempat yang sangat membahagiakan apabila kita mampu mensyukurinya.
Terima kasih, Kontrakan Ungu.
Engkau memang hanya menjadi tempat tinggal sementara.
Namun, kenanganmu tidak pernah sementara.
Engkau mungkin hanya sebuah rumah kecil dengan satu kamar.
Namun, engkau telah memberikan ruang yang begitu luas di dalam ingatan kami.
Sampai hari ini, ketika saya kembali mengenangmu, saya masih tersenyum.
Saya teringat anak-anak yang dahulu begitu ceria.
Saya teringat teman-teman baru di sekitar rumah.
Saya teringat kehidupan sederhana yang kami jalani.
Dan saya kembali memahami bahwa ternyata banyak hal indah dalam hidup yang baru benar-benar kita sadari nilainya setelah semuanya berlalu.
Kontrakan Ungu mungkin telah lama kami tinggalkan. Namun, keceriaan dan kenangan yang lahir di dalamnya akan selalu menemukan rumah di hati kami.
Salam Blogger Persahabatan,
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
