Pensiun Bukan Akhir Perjalanan, Melainkan Awal Babak Kehidupan yang Baru
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Suatu hari seorang sahabat menghubungi Omjay. Dengan suara yang hangat ia berkata, “Omjay, coba tuliskan tentang persiapan menjelang pensiun. Banyak teman yang mulai cemas menghadapi masa purna tugas.”
Permintaan itu membuat Omjay termenung cukup lama.
Pikiran Omjay langsung melayang kepada tiga sahabat guru di SMP Labschool Jakarta yang baru saja memasuki masa pensiun. Mereka adalah Pak Dedi Hadi Riski, Ibu Siti Johariah, dan Ibu Titin Setiawati.
Ketiganya telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan. Puluhan tahun mereka datang ke sekolah pagi-pagi, menyiapkan pembelajaran, mendidik siswa dengan penuh kesabaran, menghadiri rapat, mengoreksi tugas, dan menjalani berbagai dinamika kehidupan seorang guru.
Namun yang membuat Omjay kagum, ketika tiba waktunya memasuki masa pensiun, mereka tidak tampak sedih.
Sebaliknya, mereka terlihat bahagia.
Wajah mereka memancarkan ketenangan.
Mereka tersenyum lebih lepas.
Mereka menikmati hari-hari yang datang dengan rasa syukur.
Melihat mereka, Omjay belajar bahwa pensiun bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.
Ketakutan yang Sering Menghantui
Banyak orang merasa cemas ketika mendekati masa pensiun.
Ada yang khawatir kehilangan penghasilan.
Ada yang takut kehilangan jabatan.
Ada yang takut kehilangan kesibukan.
Bahkan ada yang merasa dirinya tidak lagi berguna setelah tidak bekerja.
Padahal sesungguhnya yang berakhir hanyalah masa tugas formal.
Bukan kehidupan.
Bukan karya.
Bukan pengabdian.
Bukan pula kesempatan untuk memberi manfaat.
Sayangnya, banyak orang terlalu lama mengidentikkan dirinya dengan pekerjaannya.
Ketika menjadi guru, ia merasa dirinya adalah guru.
Ketika menjadi kepala sekolah, ia merasa dirinya adalah kepala sekolah.
Ketika menjadi pejabat, ia merasa dirinya adalah pejabat.
Akibatnya ketika jabatan itu selesai, ia merasa kehilangan identitas.
Di sinilah sumber kecemasan terbesar menjelang pensiun.
Padahal nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh jabatannya.
Nilai seseorang ditentukan oleh manfaat yang ia berikan kepada sesama.
Belajar dari Tiga Sahabat
Omjay melihat sendiri bagaimana Pak Dedi Hadi Riski menjalani masa pensiunnya dengan penuh syukur.
Beliau tidak sibuk meratapi masa lalu.
Beliau justru menikmati waktu bersama keluarga yang selama ini mungkin terbagi dengan kesibukan pekerjaan.
Begitu pula Ibu Siti Johariah.
Beliau tampak menikmati kehidupannya dengan hati yang lapang.
Tidak ada keluhan.
Tidak ada penyesalan.
Yang ada hanyalah rasa syukur karena telah menyelesaikan amanah dengan baik.
Ibu Titin Setiawati pun demikian.
Beliau memasuki masa purna tugas dengan senyum yang tulus.
Seolah ingin mengatakan bahwa pensiun hanyalah perpindahan ruang pengabdian.
Dari sekolah menuju masyarakat.
Dari ruang kelas menuju keluarga.
Dari jadwal kantor menuju kebebasan memilih aktivitas yang dicintai.
Melihat mereka bertiga, Omjay semakin yakin bahwa kebahagiaan masa pensiun bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh cara berpikir.
Menyiapkan Pensiun Sejak Masih Aktif Bekerja
Salah satu kesalahan terbesar adalah baru memikirkan pensiun ketika surat pensiun sudah keluar.
Padahal persiapan pensiun harus dimulai jauh-jauh hari.
Tidak hanya persiapan keuangan.
Tetapi juga persiapan mental.
Persiapan spiritual.
Dan persiapan aktivitas.
Keuangan memang penting.
Namun uang saja tidak cukup membuat seseorang bahagia.
Banyak pensiunan yang berkecukupan secara materi tetapi tetap merasa kesepian.
Mengapa?
Karena mereka kehilangan tujuan hidup.
Oleh sebab itu, setiap orang perlu memiliki kegiatan yang dicintai.
Ada yang menulis.
Ada yang berkebun.
Ada yang mengajar masyarakat.
Ada yang berbisnis.
Ada yang aktif di organisasi sosial.
Ada pula yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.
Yang terpenting adalah tetap memiliki alasan untuk bangun pagi dengan penuh semangat.
Menulis Menjadi Teman Masa Pensiun
Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay percaya bahwa menulis adalah sahabat terbaik menjelang dan setelah pensiun.
Tulisan mampu menjaga pikiran tetap aktif.
Tulisan membuat pengalaman hidup tidak hilang begitu saja.
Tulisan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bayangkan jika pengalaman mengajar selama puluhan tahun hanya tersimpan di dalam ingatan.
Suatu saat semuanya akan terlupakan.
Namun ketika dituliskan, pengalaman itu akan hidup lebih lama daripada usia penulisnya.
Karena itulah Omjay selalu mengajak para guru untuk mulai menulis sejak sekarang.
Jangan menunggu pensiun.
Mulailah hari ini.
Tuliskan pengalaman mengajar.
Tuliskan kisah siswa.
Tuliskan pelajaran hidup.
Tuliskan perjalanan karier.
Kelak tulisan-tulisan itu bisa menjadi buku yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Pensiun Adalah Hadiah
Dulu Omjay pernah berpikir bahwa pensiun adalah akhir perjalanan.
Namun semakin bertambah usia, Omjay justru melihat pensiun sebagai hadiah.
Hadiah berupa waktu.
Hadiah berupa kebebasan.
Hadiah berupa kesempatan menikmati hidup dengan ritme yang lebih tenang.
Selama puluhan tahun kita bekerja mengikuti jadwal.
Bangun pagi.
Berangkat kerja.
Pulang sore.
Mengulang rutinitas yang sama.
Ketika pensiun datang, Allah memberikan kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda.
Kita bisa lebih dekat dengan keluarga.
Lebih sering beribadah.
Lebih banyak membaca.
Lebih banyak menulis.
Lebih banyak berbagi pengalaman kepada generasi muda.
Bukankah itu sebuah nikmat yang luar biasa?
Jangan Takut Menjadi Tua
Setiap manusia pasti akan menua.
Setiap pekerja pasti akan pensiun.
Itu adalah hukum kehidupan yang tidak bisa ditolak.
Yang perlu kita lakukan bukanlah takut menghadapinya.
Melainkan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.
Omjay teringat sebuah kalimat bijak:
"Jangan ukur hidup dari berapa lama kita bekerja, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan."
Ketika masa pensiun tiba, sesungguhnya yang dihitung bukan lagi berapa jabatan yang pernah kita pegang.
Bukan berapa besar ruangan kerja yang pernah kita miliki.
Bukan berapa banyak penghargaan yang pernah kita terima.
Yang dikenang orang adalah kebaikan kita.
Ketulusan kita.
Dan manfaat yang pernah kita berikan.
Penutup
Melihat Pak Dedi Hadi Riski, Ibu Siti Johariah, dan Ibu Titin Setiawati memasuki masa pensiun dengan wajah penuh kebahagiaan membuat Omjay belajar satu hal penting.
Pensiun bukan akhir kehidupan.
Pensiun adalah awal dari babak baru yang mungkin justru lebih indah.
Karena itu jangan menyambut pensiun dengan ketakutan.
Sambutlah dengan rasa syukur.
Jangan menganggap pensiun sebagai kehilangan.
Anggaplah sebagai kesempatan.
Kesempatan untuk menikmati hasil perjuangan panjang.
Kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga.
Kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah SWT.
Dan kesempatan untuk terus berkarya tanpa dibatasi oleh jam kerja.
Sebab sejatinya manusia tidak pernah pensiun untuk berbuat baik.
Selama napas masih berembus, selama hati masih berdetak, dan selama pikiran masih bekerja, selalu ada cara untuk memberi manfaat kepada sesama.
Itulah pensiun yang sesungguhnya.
Bukan berhenti berkarya.
Melainkan berkarya dengan cara yang berbeda.