Benarkah Kompasiana Tidak Menarik Lagi? Ketika GoPay Makin Sulit dan Blogger Mulai Melirik Tempat Lain
Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Suatu hari seorang teman bertanya kepada Omjay, "Jay, masih rajin menulis di Kompasiana?"
Saya tersenyum.
Pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan pertanyaan yang lebih besar.
"Masih menarik enggak sih menulis di Kompasiana? Sekarang GoPay-nya susah didapat. Di tempat lain katanya lebih mudah mendapatkan uang. Banyak blogger mulai pindah."
Saya tidak langsung menjawab.
Saya teringat perjalanan panjang Omjay bersama Kompasiana. Dulu, ketika pertama kali jatuh cinta pada dunia blogging, saya tidak pernah berpikir bahwa menulis bisa menghasilkan uang. Saya menulis karena senang berbagi pengalaman, senang berdiskusi dengan pembaca, dan senang ketika tulisan sederhana ternyata dibaca banyak orang.
Kemudian datanglah K-Rewards.
Bagi seorang blogger, mendapatkan apresiasi dari tulisan tentu menyenangkan. Apalagi kalau saldo digital itu bisa dicairkan menjadi sesuatu yang nyata. Bisa membeli buku, membayar kuota internet, mentraktir teman, atau sekadar membeli kopi sambil terus menulis.
Omjay pernah merasakan masa-masa itu.
Dalam tulisan saya pada 2025, saya pernah bercerita bagaimana K-Rewards menjadi salah satu bentuk apresiasi yang membuat aktivitas menulis terasa semakin menyenangkan. K-Rewards dikaitkan dengan keterbacaan tulisan dan menjadi salah satu pengalaman menarik bagi penulis yang aktif di Kompasiana.
Namun zaman berubah.
Sistem berubah.
Algoritma berubah.
Kebiasaan pembaca berubah.
Dan tentu saja, harapan penulis juga berubah.
Pada 2026, saya sendiri pernah menulis tentang GoPay Kompasiana yang semakin kecil. Saya melihat adanya keluhan dari sejumlah penulis mengenai nominal reward yang mereka terima. Bahkan dalam pengalaman Omjay, sudah sekitar setahun saya tidak mendapatkan GoPay Kompasiana. Namun anehnya, saya tetap menulis.
Mengapa?
Karena ternyata menulis bagi Omjay bukan hanya soal GoPay.
Menulis sudah menjadi kebutuhan jiwa.
Saya menulis ketika sedang bahagia. Saya menulis ketika sedang sedih. Saya menulis ketika mendapatkan pengalaman baru. Saya menulis setelah bertemu guru, siswa, penulis, dokter, teman lama, atau orang yang baru saya kenal.
Saya menulis karena selalu ada cerita.
Tetapi apakah semua penulis memiliki alasan yang sama?
Tentu tidak.
Ada penulis yang menjadikan blogging sebagai hobi. Ada yang ingin membangun personal branding. Ada yang ingin mendapatkan pembaca. Ada yang ingin mempromosikan buku. Ada yang ingin mendapatkan pekerjaan. Ada yang ingin menjadi influencer. Dan ada pula yang memang berharap mendapatkan penghasilan dari tulisan.
Karena itu, kalau seorang blogger kemudian membandingkan Kompasiana dengan platform lain yang dianggap lebih mudah menghasilkan uang, menurut saya itu sesuatu yang wajar.
Namanya juga mencari rezeki.
Seorang penulis tentu akan melihat di mana karya dan waktunya mendapatkan apresiasi yang paling baik.
Jangan Salah Memahami Blogger yang Pindah
Kalau ada blogger pindah ke platform lain, jangan buru-buru mengatakan mereka tidak setia.
Bisa jadi mereka sedang mencari jalan baru.
Seorang penulis membutuhkan tempat untuk tumbuh. Kalau sebuah platform mampu memberikan pembaca, komunitas, peluang ekonomi, dan pengalaman menulis yang baik, tentu penulis akan bertahan.
Sebaliknya, kalau penulis merasa sudah bekerja keras tetapi penghargaan yang diterima semakin kecil, mereka mungkin akan mencoba tempat lain.
Itu hukum sederhana dalam dunia digital.
Penulis punya pilihan.
Platform juga punya pilihan.
Namun menurut saya, persoalannya jangan hanya dilihat dari besar kecilnya GoPay.
Pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah Kompasiana masih memberikan alasan kepada penulis untuk terus berkarya?
Jawaban saya: masih.
Mengapa?
Karena Kompasiana bukan hanya tempat mendapatkan uang.
Kompasiana adalah tempat bertemu dengan pembaca.
Tempat belajar menulis.
Tempat berdiskusi.
Tempat menemukan teman.
Tempat membangun reputasi.
Dan bagi sebagian orang, Kompasiana sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup.
Omjay termasuk di dalamnya.
Saya tidak bisa melupakan begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi Kompasianer. Saya belajar dari tulisan orang lain. Saya mendapatkan teman baru. Saya mendapatkan pembaca. Saya pernah mendapatkan K-Rewards. Saya pernah menjadi Kompasianer Terpopuler. Saya juga mendapatkan kesempatan memperkenalkan buku dan gagasan kepada masyarakat yang lebih luas.
Jadi, kalau hari ini GoPay tidak lagi sebesar dulu, apakah saya harus berhenti menulis?
Tidak.
Saya tetap menulis.
Karena bagi Omjay, uang adalah bonus, sedangkan tulisan adalah investasi.
Tetapi Platform Juga Harus Mendengarkan Penulis
Di sisi lain, saya ingin mengatakan sesuatu dengan jujur.
Platform digital tidak boleh menganggap keluhan penulis sebagai angin lalu.
Penulis adalah bagian penting dari ekosistem.
Tanpa penulis, tidak ada konten.
Tanpa konten, tidak ada pembaca.
Tanpa pembaca, platform juga akan kehilangan daya tariknya.
Karena itu, ketika banyak penulis mempertanyakan sistem reward, mekanisme artikel utama, perubahan dashboard, atau pengalaman menggunakan platform, sebaiknya semua itu menjadi bahan evaluasi bersama.
Kompasiana sendiri pada 2026 masih melakukan berbagai program komunitas dan reward. Bahkan mekanisme Community Quarter Rewards mengalami penyesuaian pada tahun keempat penyelenggaraannya. Ini menunjukkan bahwa ekosistemnya masih bergerak dan terus mencoba beradaptasi.
Dashboard menulis pun masih dikembangkan. Informasi yang beredar di komunitas menyebutkan bahwa beberapa fitur baru sedang ditambahkan dan proses migrasi data berlangsung pada Agustus 2026.
Artinya, Kompasiana belum mati.
Kompasiana belum selesai.
Kompasiana sedang berubah.
Dan setiap perubahan pasti menimbulkan pro dan kontra.
Jangan Membandingkan Apel dengan Jeruk
Saya sering mengatakan kepada teman-teman blogger, jangan hanya melihat platform lain dari sisi uang yang terlihat.
Lihat ekosistemnya.
Berapa banyak pembaca yang bisa kita dapatkan?
Bagaimana kualitas interaksinya?
Apakah tulisan kita mudah ditemukan?
Apakah kita bisa membangun personal branding?
Apakah kita memiliki komunitas?
Apakah platform tersebut bertahan dalam jangka panjang?
Apakah aturan monetisasinya bisa berubah sewaktu-waktu?
Semua harus dihitung.
Sebab mendapatkan uang dari internet itu bukan sekadar menulis lalu uang datang.
Ada algoritma.
Ada kebijakan.
Ada persaingan.
Ada perubahan teknologi.
Ada perubahan perilaku pembaca.
Hari ini sebuah platform bisa memberikan penghasilan yang menarik. Besok kebijakannya bisa berubah.
Karena itu, Omjay tidak pernah menyarankan seorang penulis hanya bergantung kepada satu platform.
Bangunlah rumah digital sendiri.
Miliki blog pribadi.
Miliki buku.
Miliki komunitas.
Miliki media sosial.
Miliki newsletter jika diperlukan.
Dan gunakan berbagai platform sebagai jalan untuk menemukan pembaca.
Kompasiana boleh menjadi salah satu rumah kita.
Tetapi jangan sampai seluruh rumah kita hanya berdiri di atas tanah milik orang lain.
Rezeki Tidak Pernah Tertukar
Inilah pelajaran yang semakin Omjay pahami setelah bertahun-tahun menulis.
Rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang kita duga.
Ketika GoPay Kompasiana tidak datang, mungkin rezeki datang melalui penjualan buku.
Ketika buku belum laku, mungkin datang undangan menjadi narasumber.
Ketika honor narasumber belum ada, mungkin datang teman baru.
Ketika tulisan tidak viral, mungkin ada satu pembaca yang mendapatkan manfaat besar.
Dan bukankah itu juga rezeki?
Kadang-kadang kita terlalu sibuk menghitung uang sampai lupa menghitung keberkahan.
Omjay pernah mengalami sendiri.
Ada tulisan yang menghasilkan uang.
Ada tulisan yang tidak menghasilkan uang.
Ada tulisan yang dibaca ribuan orang.
Ada tulisan yang hanya dibaca puluhan orang.
Tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari perjalanan.
Sebab seorang penulis sejati tidak hanya menulis ketika dibayar.
Ia menulis karena mempunyai sesuatu yang ingin dibagikan.
Jadi, Benarkah Kompasiana Tidak Menarik Lagi?
Jawaban Omjay sederhana.
Masih menarik, tetapi tidak boleh berhenti berbenah.
Bagi penulis, daya tarik sebuah platform bukan hanya soal GoPay.
Bagi penulis, yang penting adalah tiga hal: pembaca, komunitas, dan peluang.
Kalau ketiganya tetap hidup, platform masih mempunyai masa depan.
Namun kalau penulis merasa tidak dihargai, tidak didengar, sulit mendapatkan pembaca, dan tidak mempunyai peluang berkembang, mereka tentu akan mencari alternatif.
Itu bukan ancaman.
Itu adalah masukan.
Kompasiana memiliki sejarah panjang dalam perjalanan blogging Indonesia. Bahkan sampai sekarang masih ada artikel-artikel yang memperoleh keterbacaan sangat tinggi, dan komunitasnya masih menjalankan berbagai kegiatan.
Karena itu, Omjay memilih tidak ikut-ikutan mengatakan, "Kompasiana sudah tidak menarik."
Saya lebih suka mengatakan:
Kompasiana sedang berada di persimpangan perubahan.
Mau dibawa ke mana?
Tentu bukan hanya tugas pengelola.
Penulis juga punya peran.
Pembaca juga punya peran.
Komunitas juga punya peran.
Kalau kita ingin Kompasiana tetap menjadi rumah yang nyaman bagi blogger Indonesia, maka mari sama-sama menjaga rumah itu.
Pengelola mendengar suara penulis.
Penulis menghasilkan tulisan berkualitas.
Pembaca memberikan apresiasi.
Komunitas terus menghidupkan kegiatan.
Dan semua pihak terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pada akhirnya, Omjay akan tetap menulis.
Di Kompasiana, di blog pribadi, di media lain, atau di buku.
Sebab Omjay sudah terlalu lama jatuh cinta kepada dunia menulis untuk berhenti hanya karena nominal GoPay mengecil.
GoPay boleh mengecil. Semangat menulis jangan ikut mengecil.
Dan kalau suatu hari ada platform yang memberikan rezeki lebih besar, silakan dicoba.
Tidak perlu merasa bersalah.
Namun jangan lupa satu hal.
Jangan mengejar uang sampai kehilangan alasan mengapa kita pertama kali belajar menulis.
Karena uang bisa habis.
Platform bisa berubah.
Algoritma bisa berganti.
Tetapi tulisan yang bermanfaat dapat tinggal jauh lebih lama di hati pembaca.
Itulah sebabnya Omjay masih memegang teguh satu kalimat:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam blogger persahabatan.
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia