Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 04 Oktober 2026

Murid

Berikut materi pertemuan keempat KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar pada 4 Oktober 2026.

Materi Pertemuan Keempat KBMN PGRI Gelombang 35

Murid yang Memberikan Pelajaran kepada Gurunya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 4 Oktober 2026

> “Guru memang mengajarkan banyak hal kepada murid. Namun, guru yang baik juga mau belajar dari muridnya.”

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan pengalaman ketika murid memberikan pelajaran berharga.

2. Mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita.

3. Menulis dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh.

4. Menemukan nilai atau hikmah dari pengalaman bersama murid.

5. Mempublikasikan tulisan di blog atau media sosial secara positif.

---

B. Pembukaan: Guru Juga Seorang Pembelajar

Selama ini kita sering berpikir bahwa guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada murid.

Guru menjelaskan materi.

Murid mendengarkan.

Guru memberikan tugas.

Murid mengerjakan.

Guru memberikan nilai.

Namun dalam kehidupan nyata, hubungan guru dan murid tidak sesederhana itu.

Ada kalanya murid justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada gurunya.

Murid mengajarkan guru tentang kesabaran.

Murid mengajarkan guru tentang ketulusan.

Murid mengajarkan guru tentang perjuangan.

Murid mengajarkan guru tentang keberanian mencoba.

Bahkan, kadang-kadang murid mengajarkan guru tentang teknologi yang belum dikuasainya.

Di sinilah seorang guru perlu memiliki kerendahan hati.

Guru tidak harus selalu paling tahu. Guru harus selalu mau belajar.

---

C. Kisah Omjay: Belajar dari Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay mengalami banyak peristiwa menarik bersama murid.

Dunia teknologi berubah sangat cepat.

Hari ini guru mengajarkan sebuah aplikasi. Besok muncul aplikasi baru.

Hari ini guru menjelaskan teknologi tertentu. Beberapa bulan kemudian teknologi tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.

Murid yang tumbuh bersama teknologi terkadang menemukan cara yang lebih cepat.

Mereka mencoba.

Mereka salah.

Mereka mencoba lagi.

Kemudian mereka berhasil.

Dari situlah guru mendapatkan pelajaran.

Murid mengajarkan kita untuk tidak takut mencoba.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat memberikan sebuah proyek kepada murid.

Guru menjelaskan langkah-langkah dasarnya.

Setelah itu murid diberikan kesempatan untuk bereksperimen.

Tidak jarang hasil karya murid justru membuat guru terkejut.

Ada murid yang menemukan cara berbeda.

Ada murid yang menghasilkan desain lebih kreatif.

Ada murid yang membuat program dengan pendekatan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai guru, kita tidak perlu merasa tersaingi.

Justru kita harus berkata:

“Wah, bagus sekali. Bagaimana kamu membuatnya?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuka pintu pembelajaran baru.

---

D. Murid Bukan Hanya Objek Pembelajaran

Salah satu kesalahan dalam pendidikan adalah menganggap murid hanya sebagai objek.

Guru berbicara.

Murid mendengarkan.

Guru menjelaskan.

Murid mencatat.

Padahal murid adalah subjek pembelajaran.

Mereka mempunyai pengalaman.

Mereka mempunyai ide.

Mereka mempunyai kreativitas.

Mereka mempunyai cara pandang sendiri.

Karena itu, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara dan berkarya.

Cobalah bertanya kepada murid:

Apa yang kamu sukai?

Apa yang kamu pelajari hari ini?

Apa yang paling sulit?

Bagaimana cara kamu menyelesaikannya?

Apa yang bisa saya pelajari dari kamu?

Jika kamu menjadi guru, apa yang akan kamu ajarkan kepada teman-teman?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Kadang-kadang jawaban murid sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran besar.

---

E. Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Pengalaman bersama murid sebenarnya adalah bahan tulisan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak guru merasa:

> “Saya tidak punya pengalaman menarik untuk ditulis.”

Padahal hampir setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.

Ada murid yang datang terlambat.

Ada murid yang tiba-tiba memberikan hadiah.

Ada murid yang berhasil setelah berkali-kali gagal.

Ada murid yang awalnya pendiam kemudian menjadi percaya diri.

Ada murid yang membantu gurunya memahami teknologi.

Ada murid yang memberikan nasihat sederhana tetapi sangat bermakna.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

---

F. Rumus Sederhana Menulis Kisah Murid

Gunakan rumus:

Kejadian → Perasaan → Pelajaran → Hikmah

1. Kejadian

Apa yang terjadi?

Contoh:

> Suatu hari saya sedang mengajarkan materi coding. Salah seorang murid mengatakan bahwa ada cara lain yang menurutnya lebih sederhana.

2. Perasaan

Apa yang Omjay rasakan?

> Awalnya saya penasaran. Saya kemudian meminta murid tersebut menjelaskan caranya di depan kelas.

3. Pelajaran

Apa yang Omjay pelajari?

> Saya menyadari bahwa seorang guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

4. Hikmah

Apa makna dari pengalaman tersebut?

> Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kelas adalah tempat belajar bersama. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru.

---

G. Contoh Tulisan

Judul: Hari Itu Murid Saya Mengajarkan Sesuatu yang Berharga

Hari itu saya sedang mengajar Informatika.

Saya menjelaskan sebuah materi kepada murid-murid. Setelah memberikan contoh, saya meminta mereka mencoba sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang murid mengangkat tangan.

“Omjay, boleh saya mencoba cara yang berbeda?”

Saya menjawab, “Silakan.”

Murid tersebut kemudian maju ke depan kelas.

Ia menunjukkan caranya.

Saya memperhatikan dengan saksama.

Ternyata cara yang digunakan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Namun hasilnya tetap benar.

Saya tersenyum.

Dalam hati saya berkata, ternyata murid saya hari ini sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya belajar bahwa dalam pembelajaran tidak selalu hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan.

Murid tersebut mungkin tidak sadar bahwa hari itu ia telah menjadi guru bagi gurunya sendiri.

Saya kemudian berkata kepada seluruh kelas:

“Anak-anak, hari ini Omjay belajar dari teman kalian.”

Kelas menjadi ramai.

Mereka tersenyum.

Saya pun ikut tersenyum.

Dari peristiwa sederhana itu saya mendapatkan pelajaran penting.

Guru tidak harus selalu merasa paling pintar. Guru harus berani mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar.

Sebab dunia terus berubah.

Teknologi terus berkembang.

Murid-murid kita juga terus berkembang.

Kalau guru berhenti belajar, maka guru akan tertinggal.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Hari itu saya tidak hanya mengajar Informatika.

Saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari seorang murid.

Dan pelajaran itu akan selalu saya ingat.

---

H. Latihan Menulis Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang giliran peserta.

Silakan pilih satu murid yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Anda.

Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.

Ambil pengalaman sederhana.

Tuliskan dengan pola berikut:

Judul:
Murid yang Mengajarkan Saya ...

1. Kejadian
Apa yang dilakukan murid?

2. Perasaan saya
Apa yang saya rasakan saat itu?

3. Pelajaran
Apa yang saya pelajari dari murid tersebut?

4. Hikmah
Apa pesan yang bisa dibagikan kepada pembaca?

Target tulisan:

500–700 kata.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang teman.

---

I. Tugas Pertemuan Keempat

Tugas: “Muridku, Guruku”

Buat sebuah tulisan dengan tema:

> “Murid yang Memberikan Pelajaran Berharga kepada Saya.”

Kemudian:

1. Publikasikan di blog masing-masing.

2. Berikan judul yang menarik.

3. Sertakan foto jika memungkinkan.

4. Berikan satu pesan atau hikmah di bagian akhir.

5. Bagikan link tulisan kepada kelompok KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus

Jika memungkinkan, wawancarai murid tersebut.

Tanyakan:

> “Apa yang kamu pelajari dari saya sebagai guru?”

Jawaban murid bisa menjadi bagian menarik dari tulisan.

---

J. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

jangan menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai menulis.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati.

Sebab terkadang sebuah kejadian kecil di kelas justru memiliki makna yang besar.

Murid yang kita ajar hari ini mungkin suatu saat menjadi dokter, guru, programmer, pengusaha, pejabat, seniman, atau pemimpin bangsa.

Namun sebelum mereka menjadi orang besar, mereka pernah duduk di bangku kelas kita.

Dan mungkin tanpa kita sadari, mereka juga pernah memberikan pelajaran yang mengubah cara pandang kita sebagai guru.

> Guru mengajar dengan ilmu.
Guru mendidik dengan keteladanan.
Guru belajar dari pengalaman.
Dan guru yang hebat tidak malu belajar dari muridnya.

Menulislah dengan hati.
Tuliskan kisah muridmu.
Karena suatu hari nanti, kisah itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia
Ketua IGTIK PGRI dan KOGTIK

Materi Keempat KBMN PGRI Gelombang 35 dengan Tema Murid yang Memberikan Pelajaran Pada Gurunya

Berikut materi pertemuan keempat KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar pada 4 Oktober 2026.

Materi Pertemuan Keempat KBMN PGRI Gelombang 35

Murid yang Memberikan Pelajaran kepada Gurunya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 4 Oktober 2026

> “Guru memang mengajarkan banyak hal kepada murid. Namun, guru yang baik juga mau belajar dari muridnya.”

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan pengalaman ketika murid memberikan pelajaran berharga.

2. Mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita.

3. Menulis dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh.

4. Menemukan nilai atau hikmah dari pengalaman bersama murid.

5. Mempublikasikan tulisan di blog atau media sosial secara positif.

---

B. Pembukaan: Guru Juga Seorang Pembelajar

Selama ini kita sering berpikir bahwa guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada murid.

Guru menjelaskan materi.

Murid mendengarkan.

Guru memberikan tugas.

Murid mengerjakan.

Guru memberikan nilai.

Namun dalam kehidupan nyata, hubungan guru dan murid tidak sesederhana itu.

Ada kalanya murid justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada gurunya.

Murid mengajarkan guru tentang kesabaran.

Murid mengajarkan guru tentang ketulusan.

Murid mengajarkan guru tentang perjuangan.

Murid mengajarkan guru tentang keberanian mencoba.

Bahkan, kadang-kadang murid mengajarkan guru tentang teknologi yang belum dikuasainya.

Di sinilah seorang guru perlu memiliki kerendahan hati.

Guru tidak harus selalu paling tahu. Guru harus selalu mau belajar.

---

C. Kisah Omjay: Belajar dari Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay mengalami banyak peristiwa menarik bersama murid.

Dunia teknologi berubah sangat cepat.

Hari ini guru mengajarkan sebuah aplikasi. Besok muncul aplikasi baru.

Hari ini guru menjelaskan teknologi tertentu. Beberapa bulan kemudian teknologi tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.

Murid yang tumbuh bersama teknologi terkadang menemukan cara yang lebih cepat.

Mereka mencoba.

Mereka salah.

Mereka mencoba lagi.

Kemudian mereka berhasil.

Dari situlah guru mendapatkan pelajaran.

Murid mengajarkan kita untuk tidak takut mencoba.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat memberikan sebuah proyek kepada murid.

Guru menjelaskan langkah-langkah dasarnya.

Setelah itu murid diberikan kesempatan untuk bereksperimen.

Tidak jarang hasil karya murid justru membuat guru terkejut.

Ada murid yang menemukan cara berbeda.

Ada murid yang menghasilkan desain lebih kreatif.

Ada murid yang membuat program dengan pendekatan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai guru, kita tidak perlu merasa tersaingi.

Justru kita harus berkata:

“Wah, bagus sekali. Bagaimana kamu membuatnya?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuka pintu pembelajaran baru.

---

D. Murid Bukan Hanya Objek Pembelajaran

Salah satu kesalahan dalam pendidikan adalah menganggap murid hanya sebagai objek.

Guru berbicara.

Murid mendengarkan.

Guru menjelaskan.

Murid mencatat.

Padahal murid adalah subjek pembelajaran.

Mereka mempunyai pengalaman.

Mereka mempunyai ide.

Mereka mempunyai kreativitas.

Mereka mempunyai cara pandang sendiri.

Karena itu, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara dan berkarya.

Cobalah bertanya kepada murid:

Apa yang kamu sukai?

Apa yang kamu pelajari hari ini?

Apa yang paling sulit?

Bagaimana cara kamu menyelesaikannya?

Apa yang bisa saya pelajari dari kamu?

Jika kamu menjadi guru, apa yang akan kamu ajarkan kepada teman-teman?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Kadang-kadang jawaban murid sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran besar.

---

E. Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Pengalaman bersama murid sebenarnya adalah bahan tulisan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak guru merasa:

> “Saya tidak punya pengalaman menarik untuk ditulis.”

Padahal hampir setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.

Ada murid yang datang terlambat.

Ada murid yang tiba-tiba memberikan hadiah.

Ada murid yang berhasil setelah berkali-kali gagal.

Ada murid yang awalnya pendiam kemudian menjadi percaya diri.

Ada murid yang membantu gurunya memahami teknologi.

Ada murid yang memberikan nasihat sederhana tetapi sangat bermakna.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

---

F. Rumus Sederhana Menulis Kisah Murid

Gunakan rumus:

Kejadian → Perasaan → Pelajaran → Hikmah

1. Kejadian

Apa yang terjadi?

Contoh:

> Suatu hari saya sedang mengajarkan materi coding. Salah seorang murid mengatakan bahwa ada cara lain yang menurutnya lebih sederhana.

2. Perasaan

Apa yang Omjay rasakan?

> Awalnya saya penasaran. Saya kemudian meminta murid tersebut menjelaskan caranya di depan kelas.

3. Pelajaran

Apa yang Omjay pelajari?

> Saya menyadari bahwa seorang guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

4. Hikmah

Apa makna dari pengalaman tersebut?

> Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kelas adalah tempat belajar bersama. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru.

---

G. Contoh Tulisan

Judul: Hari Itu Murid Saya Mengajarkan Sesuatu yang Berharga

Hari itu saya sedang mengajar Informatika.

Saya menjelaskan sebuah materi kepada murid-murid. Setelah memberikan contoh, saya meminta mereka mencoba sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang murid mengangkat tangan.

“Omjay, boleh saya mencoba cara yang berbeda?”

Saya menjawab, “Silakan.”

Murid tersebut kemudian maju ke depan kelas.

Ia menunjukkan caranya.

Saya memperhatikan dengan saksama.

Ternyata cara yang digunakan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Namun hasilnya tetap benar.

Saya tersenyum.

Dalam hati saya berkata, ternyata murid saya hari ini sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya belajar bahwa dalam pembelajaran tidak selalu hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan.

Murid tersebut mungkin tidak sadar bahwa hari itu ia telah menjadi guru bagi gurunya sendiri.

Saya kemudian berkata kepada seluruh kelas:

“Anak-anak, hari ini Omjay belajar dari teman kalian.”

Kelas menjadi ramai.

Mereka tersenyum.

Saya pun ikut tersenyum.

Dari peristiwa sederhana itu saya mendapatkan pelajaran penting.

Guru tidak harus selalu merasa paling pintar. Guru harus berani mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar.

Sebab dunia terus berubah.

Teknologi terus berkembang.

Murid-murid kita juga terus berkembang.

Kalau guru berhenti belajar, maka guru akan tertinggal.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Hari itu saya tidak hanya mengajar Informatika.

Saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari seorang murid.

Dan pelajaran itu akan selalu saya ingat.

---

H. Latihan Menulis Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang giliran peserta.

Silakan pilih satu murid yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Anda.

Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.

Ambil pengalaman sederhana.

Tuliskan dengan pola berikut:

Judul:
Murid yang Mengajarkan Saya ...

1. Kejadian
Apa yang dilakukan murid?

2. Perasaan saya
Apa yang saya rasakan saat itu?

3. Pelajaran
Apa yang saya pelajari dari murid tersebut?

4. Hikmah
Apa pesan yang bisa dibagikan kepada pembaca?

Target tulisan:

500–700 kata.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang teman.

---

I. Tugas Pertemuan Keempat

Tugas: “Muridku, Guruku”

Buat sebuah tulisan dengan tema:

> “Murid yang Memberikan Pelajaran Berharga kepada Saya.”

Kemudian:

1. Publikasikan di blog masing-masing.

2. Berikan judul yang menarik.

3. Sertakan foto jika memungkinkan.

4. Berikan satu pesan atau hikmah di bagian akhir.

5. Bagikan link tulisan kepada kelompok KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus

Jika memungkinkan, wawancarai murid tersebut.

Tanyakan:

> “Apa yang kamu pelajari dari saya sebagai guru?”

Jawaban murid bisa menjadi bagian menarik dari tulisan.

---

J. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

jangan menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai menulis.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati.

Sebab terkadang sebuah kejadian kecil di kelas justru memiliki makna yang besar.

Murid yang kita ajar hari ini mungkin suatu saat menjadi dokter, guru, programmer, pengusaha, pejabat, seniman, atau pemimpin bangsa.

Namun sebelum mereka menjadi orang besar, mereka pernah duduk di bangku kelas kita.

Dan mungkin tanpa kita sadari, mereka juga pernah memberikan pelajaran yang mengubah cara pandang kita sebagai guru.

> Guru mengajar dengan ilmu.
Guru mendidik dengan keteladanan.
Guru belajar dari pengalaman.
Dan guru yang hebat tidak malu belajar dari muridnya.

Menulislah dengan hati.
Tuliskan kisah muridmu.
Karena suatu hari nanti, kisah itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia
Ketua IGTIK PGRI dan KOGTIK

OTN 8 Siap Digelar 25 Hari Lagi. Sudahkah Anda Mendaftarkan Diri?

25 Hari Lagi Menuju OTN 8, Talenta Muda Mulai Berdatangan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd – Omjay Guru Blogger Indonesia

Waktu ternyata berjalan begitu cepat.

Hari ini, 4 Oktober 2026, tinggal 25 hari lagi menuju pelaksanaan Olimpiade TIK dan Informatika ke-8 atau OTN 8.

Insyaallah, OTN 8 akan dilaksanakan pada 29 Oktober sampai 1 November 2026 di JICC Senayan, Jakarta, sebagai bagian dari rangkaian Main Event Indocomtech 2026.

Yang membuat kami semakin bersemangat adalah mulai banyak siswa SD, SMP, SMA, dan SMK dari berbagai sekolah yang mendaftarkan diri.

Mereka bukan hanya ingin mengikuti lomba.

Mereka ingin belajar.

Mereka ingin mencoba.

Mereka ingin menunjukkan karya.

Dan tentu saja, mereka ingin menjadi juara.

Jangan Hanya Menjadi Pengguna Teknologi

OTN 8 bukan sekadar perlombaan.

Kami ingin menghadirkan sebuah panggung tempat anak-anak Indonesia belajar menjadi pencipta teknologi, bukan hanya pengguna teknologi.

Ada berbagai cabang yang dapat diikuti, mulai dari Cerdas Cermat Informatika dan KKA, Koding Membuat Game, Robotik, Informatika dan KKA, hingga E-Sport Mobile Legends. Selain itu, ada pula Seminar Nasional OTN 8 yang terbuka untuk umum.

Di sinilah siswa dapat bertemu dengan teman-teman baru dari sekolah lain.

Mereka dapat bertukar pengalaman.

Mereka dapat menguji kemampuan.

Dan yang paling penting, mereka dapat belajar bahwa keberhasilan tidak datang secara instan.

Ada proses.

Ada latihan.

Ada kegagalan.

Ada kerja sama.

Dan ada keberanian untuk mencoba kembali.

25 Hari Bukan Waktu yang Lama

Bagi siswa yang sudah mendaftar, sekarang saatnya melakukan persiapan dengan serius.

25 hari ke depan dapat digunakan untuk berlatih dan mempersiapkan diri.

Guru pembimbing dapat membuat jadwal latihan.

Siswa dapat mempelajari kembali materi Informatika dan KKA.

Tim coding dapat mulai menyempurnakan ide game.

Tim robotik dapat menguji kembali robotnya.

Tim cerdas cermat dapat memperbanyak latihan soal.

Dan seluruh peserta dapat belajar mengelola waktu serta menjaga semangat.

Jangan menunggu sampai hari perlombaan baru mempersiapkan diri.

Juara dipersiapkan jauh sebelum naik ke atas panggung.

Mari Ajak Siswa Terbaik dari Sekolah Anda

Bapak dan Ibu guru,

Jika di sekolah Anda ada siswa yang memiliki minat terhadap Informatika, coding, kecerdasan artifisial, robotik, atau teknologi digital, berikan mereka kesempatan.

Ajak mereka mengikuti OTN 8.

Tidak harus langsung berpikir tentang juara.

Yang paling penting adalah memberikan pengalaman.

Sebab bisa jadi, anak yang hari ini mengikuti OTN 8 hanya sebagai peserta, beberapa tahun kemudian menjadi programmer, engineer, pengembang AI, peneliti, atau pemimpin teknologi Indonesia.

Kita tidak pernah tahu masa depan seorang anak.

Tetapi kita bisa membantu membuka pintunya.

Sudahkah Sekolah Anda Mendaftar?

Pendaftaran OTN 8 dapat dilakukan melalui:

https://s.id/otn82026

Mari kita ramaikan OTN 8 dengan talenta-talenta muda terbaik dari seluruh Indonesia.

25 hari lagi menuju JICC Senayan.

Mari belajar.

Mari berkarya.

Mari berkompetisi.

Mari menginspirasi.

Karena OTN 8 bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.

OTN 8 adalah tentang bagaimana kita memberikan panggung kepada anak-anak Indonesia untuk berani bermimpi dan menunjukkan kemampuan terbaiknya.

Sampai bertemu di JICC Senayan!

OTN 8 2026.

Cerdas Berpikir, Kreatif Berkoding, Bijak Menggunakan AI.

Ayo daftar sekarang melalui https://s.id/otn82026.

kisah omjay: ketika Allah Mengambil Setir Mobilku

Ketika Allah Mengambil Setir Mobilku, Ternyata Dia Sedang Mengantarkanku pada Kebahagiaan yang Baru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Hidup sering kali mengajarkan pelajaran berharga melalui cara yang tidak kita sukai.

Bahkan terkadang melalui sesuatu yang awalnya membuat kita sedih, kecewa, dan merasa kehilangan.

Saya mengalaminya sendiri.

Terus terang, awalnya saya sedih.

Sangat sedih.

Selama bertahun-tahun saya terbiasa mengendarai mobil pribadi ke sekolah, ke kampus, ke seminar, ke berbagai kegiatan organisasi, dan ke mana pun saya ingin pergi.

Mobil itu bukan sekadar kendaraan.

Mobil itu menjadi teman perjalanan yang setia menemani berbagai kisah kehidupan.

Bersamanya saya mengantar anak sekolah, menghadiri pelatihan guru, mengisi seminar dari kota ke kota, bahkan menempuh perjalanan jauh hingga luar provinsi.

Karena itulah ketika dokter melarang saya menyetir mobil akibat kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, hati saya terasa berat.

Saya teringat peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Mulai dari kecelakaan yang saya alami hingga gangguan kesehatan yang membuat tubuh saya tidak lagi sekuat dulu.

Dokter dengan tegas berkata,

"Pak Wijaya, sementara jangan dulu membawa mobil sendiri."

Kalimat itu sederhana.

Namun bagi saya, rasanya seperti kehilangan sebagian kebebasan.

Saya sempat bertanya dalam hati.

"Kenapa harus sekarang?"

"Kenapa ketika saya masih banyak aktivitas?"

"Kenapa saya harus bergantung pada kendaraan umum?"

Sebagai manusia biasa, saya mengeluh dalam hati.

Saya merasa hidup menjadi lebih sulit.

Namun ternyata saya salah.

Sangat salah.

Allah ternyata sedang menyiapkan kejutan yang indah.

---

Hari pertama naik transportasi umum terasa canggung.

Saya harus berjalan menuju stasiun.

Saya harus menunggu kereta datang.

Saya harus berbagi ruang dengan banyak orang.

Saya harus menyesuaikan diri dengan ritme yang berbeda.

Awalnya saya merasa tidak nyaman.

Namun perlahan semuanya berubah.

Saya mulai menikmati perjalanan.

Saya mulai melihat hal-hal yang selama ini luput dari perhatian.

Saat naik LRT dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas, saya melihat wajah-wajah penuh perjuangan.

Ada siswa yang berangkat sekolah dengan semangat.

Ada pegawai yang berangkat kerja sejak pagi.

Ada pedagang kecil yang membawa barang dagangannya.

Ada ibu yang menggendong anaknya.

Ada kakek yang tetap tersenyum meskipun tubuhnya tidak lagi muda.

Saya menyadari bahwa setiap orang sedang berjuang dengan cara mereka masing-masing.

Dan saya adalah bagian dari mereka.

---

Yang lebih mengejutkan lagi adalah soal biaya.

Selama ini saya tidak terlalu menghitung.

Ketika membawa mobil pribadi, saya merasa itu biasa saja.

Padahal jika dihitung dengan jujur, biaya yang dikeluarkan cukup besar.

Tol pulang-pergi hampir lima puluh ribu rupiah.

Belum bensin.

Belum biaya parkir.

Belum perawatan kendaraan.

Belum risiko macet dan kelelahan.

Sementara ketika naik transportasi umum, saya hanya mengeluarkan sekitar dua puluh lima ribu rupiah.

Setengahnya.

Lebih hemat.

Lebih praktis.

Lebih tenang.

Saya tinggal duduk manis.

Tidak perlu memegang setir.

Tidak perlu memikirkan kemacetan.

Tidak perlu khawatir mencari parkir.

Bahkan sopirnya berganti-ganti setiap hari.

Saya tinggal menikmati perjalanan.

Ternyata ada kenikmatan yang selama ini tidak pernah saya rasakan.

---

Di dalam kereta saya bisa membaca buku.

Saya bisa menulis artikel.

Saya bisa membalas pesan.

Saya bisa mengamati kehidupan.

Saya bisa merenung.

Saya bisa bersyukur.

Dulu saat menyetir mobil, fokus saya hanya pada jalan.

Kini perjalanan menjadi ruang belajar yang sangat berharga.

Sering kali saya membuka laptop atau telepon genggam dan mulai menulis.

Ide-ide bermunculan begitu saja.

Tulisan demi tulisan lahir selama perjalanan.

Saya tersenyum sendiri.

Siapa sangka larangan dokter justru membuat saya lebih produktif?

---

Suatu pagi saya duduk dekat jendela kereta.

Matahari mulai muncul dari balik gedung-gedung tinggi Jakarta.

Cahayanya masuk melalui kaca.

Hangat.

Menenangkan.

Saat itu hati saya berbisik,

"Jay, ternyata Allah tidak mengambil sesuatu darimu tanpa menggantinya dengan sesuatu yang lebih baik."

Air mata saya hampir menetes.

Saya teringat betapa sering manusia hanya melihat apa yang hilang.

Padahal Allah sedang menyiapkan apa yang akan datang.

Kita sering menangisi pintu yang tertutup.

Padahal di depan sana ada banyak pintu lain yang sedang dibukakan.

Kita sering fokus pada kehilangan.

Padahal sesungguhnya kita sedang diarahkan menuju kebaikan.

---

Saya jadi memahami satu hal penting.

Tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik bagi kita.

Dan tidak semua yang kita kehilangan adalah sebuah kerugian.

Kadang Allah mengambil setir kehidupan kita karena kita sudah terlalu lelah mengemudi sendiri.

Kadang Allah meminta kita berhenti sejenak agar bisa melihat pemandangan yang selama ini terlewat.

Kadang Allah melarang sesuatu karena Dia ingin menjaga kita.

Bukan menghukum kita.

Bukan menyusahkan kita.

Tetapi menyayangi kita.

Hari ini saya justru bersyukur kepada dokter yang melarang saya menyetir.

Saya bersyukur kepada keluarga yang terus mengingatkan saya untuk menjaga kesehatan.

Saya bersyukur kepada tubuh yang memberi sinyal agar saya lebih bijaksana.

Dan yang paling utama, saya bersyukur kepada Allah SWT.

Karena melalui larangan sederhana itu, saya menemukan nikmat yang baru.

Nikmat yang sebelumnya tidak pernah saya sadari.

---

Jika hari ini Anda sedang kehilangan sesuatu, jangan buru-buru bersedih.

Jika hari ini rencana Anda berubah, jangan buru-buru kecewa.

Jika hari ini hidup tidak berjalan sesuai keinginan, jangan buru-buru putus asa.

Mungkin Allah sedang memindahkan Anda ke jalur yang lebih baik.

Mungkin Allah sedang mengurangi sesuatu agar Anda bisa menikmati hal lain yang lebih berharga.

Mungkin Allah sedang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari apa yang kita miliki.

Tetapi dari bagaimana kita mensyukuri apa yang diberikan-Nya.

Saya belajar bahwa kebahagiaan tidak berada di balik kemudi mobil pribadi.

Kebahagiaan ternyata berada di dalam hati yang mampu menerima takdir dengan ikhlas.

Dan ketika hati sudah ikhlas, perjalanan apa pun akan terasa indah.

Bahkan ketika kita tidak lagi memegang setir kehidupan kita sendiri.

Karena kita percaya, Allah adalah Pengemudi terbaik yang tidak pernah salah membawa hamba-Nya menuju tujuan yang paling baik.

Terima kasih Ya Allah. Ketika Engkau mengambil setir mobilku, ternyata Engkau sedang mengantarkanku menuju kebahagiaan yang baru.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 03 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan Ketiga Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

📚 Pertemuan Ketiga KBMN PGRI Gelombang 35

Guru yang Menginspirasi Saya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

🎯 Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan sosok guru yang pernah memberikan inspirasi.

2. Mengingat pengalaman berkesan bersama guru tersebut.

3. Mengubah pengalaman menjadi tulisan sederhana.

4. Menuliskan nilai atau pelajaran yang diperoleh.

5. Membagikan kisah tersebut melalui blog atau media digital.

---

🌱 1. Mengapa Kita Perlu Menulis tentang Guru?

Guru bukan hanya orang yang mengajarkan ilmu.

Guru bisa menjadi seseorang yang:

mengubah cara kita berpikir;

menumbuhkan keberanian;

memberikan teladan;

memotivasi ketika kita hampir menyerah;

mengenalkan kita pada dunia baru;

bahkan mengubah jalan hidup kita.

Kadang-kadang, seorang guru tidak menyadari bahwa satu kalimat yang pernah diucapkannya dapat dikenang murid selama puluhan tahun.

Karena itu, kisah tentang guru sangat layak untuk ditulis.

> Guru yang baik mengajarkan ilmu. Guru yang menginspirasi meninggalkan jejak dalam kehidupan muridnya.

---

✍️ 2. Siapa Guru yang Menginspirasi Saya?

Peserta tidak perlu memilih guru yang terkenal.

Guru yang menginspirasi bisa saja:

guru SD;

guru SMP;

guru SMA;

dosen;

guru mengaji;

wali kelas;

kepala sekolah;

guru olahraga;

guru yang pernah membimbing kita;

bahkan guru yang dulu pernah memarahi kita tetapi kemudian memberikan pelajaran hidup.

Pilih satu orang saja.

Kemudian jawab pertanyaan berikut:

5 Pertanyaan Pemantik

1. Siapa nama guru tersebut?

2. Kapan dan di mana saya mengenalnya?

3. Apa yang dilakukan guru tersebut sehingga saya terkesan?

4. Apa perubahan yang terjadi dalam diri saya setelah bertemu beliau?

5. Apa pesan atau pelajaran yang masih saya ingat sampai sekarang?

Lima pertanyaan ini sudah cukup untuk menjadi bahan tulisan.

---

📝 3. Rumus Mudah Menulis Kisah Guru

Gunakan pola:

SIAPA → PERISTIWA → PERASAAN → PELAJARAN → PESAN

Contohnya:

Siapa?
Guru Bahasa Indonesia saya ketika SMP.

Peristiwa?
Beliau pernah meminta saya membaca tulisan di depan kelas.

Perasaan?
Saya sangat malu dan takut ditertawakan.

Pelajaran?
Saya belajar bahwa keberanian harus dilatih.

Pesan?
Sampai sekarang saya berani berbicara dan menulis karena pengalaman tersebut.

Dari lima bagian itu, peserta sudah bisa mengembangkan tulisan menjadi beberapa paragraf.

---

🌟 4. Contoh Artikel Sederhana

Guru yang Menginspirasi Saya

Setiap orang pasti pernah memiliki seorang guru yang memberikan kesan mendalam dalam kehidupannya. Begitu juga dengan saya. Ada seorang guru yang sampai sekarang masih saya ingat karena beliau tidak hanya mengajarkan pelajaran, tetapi juga mengajarkan keberanian.

Guru tersebut adalah guru Bahasa Indonesia saya ketika SMP. Pada suatu hari, beliau meminta saya maju ke depan kelas untuk membacakan tulisan yang saya buat.

Saat itu saya merasa sangat takut. Saya tidak percaya diri dan khawatir teman-teman akan menertawakan saya.

Namun, guru saya berkata, “Jangan takut salah. Yang penting kamu berani mencoba.”

Kalimat sederhana itu ternyata sangat membekas dalam diri saya.

Sejak saat itu saya mulai berani berbicara di depan kelas. Saya juga mulai berani menulis. Saya menyadari bahwa kemampuan tidak akan berkembang kalau kita selalu takut mencoba.

Kini saya memahami bahwa tugas seorang guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran. Guru juga membantu murid menemukan keberanian dan percaya pada dirinya sendiri.

Guru tersebut mungkin sudah lupa dengan peristiwa itu. Tetapi saya tidak pernah melupakannya.

Bagi saya, beliau adalah salah satu guru yang menginspirasi kehidupan saya.

Saya belajar satu hal penting: jangan takut memulai karena setiap keberhasilan selalu diawali dengan keberanian untuk mencoba.

Terima kasih, Guruku.
---

❤️ 5. Menulis dengan Hati

Dalam KBMN PGRI, kita tidak sedang berlomba membuat tulisan yang menggunakan kata-kata sulit.

Kita belajar menulis pengalaman dengan jujur dan menyentuh.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang terlalu akademis.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang sahabat.

Misalnya:

❌ “Guru tersebut memiliki kompetensi pedagogik yang sangat baik.”

Lebih menarik:

✅ “Saya masih ingat cara beliau tersenyum ketika saya berhasil menyelesaikan tugas yang sebelumnya saya anggap sulit.”

Tulisan yang sederhana tetapi berasal dari pengalaman nyata sering kali lebih mudah menyentuh pembaca.

---

🤖 6. Bolehkah Menggunakan AI?

Boleh.

AI seperti ChatGPT dapat membantu:

mencari ide judul;

membuat kerangka tulisan;

memperbaiki ejaan;

memberikan saran paragraf;

membantu membuat tulisan lebih runtut.

Tetapi cerita, pengalaman, perasaan, dan pesan harus berasal dari diri kita sendiri.

Gunakan AI sebagai asisten menulis, bukan sebagai pengganti pengalaman.

> AI boleh membantu merapikan tulisan. Namun hati penulis tetap milik manusia.

---

🎯 7. Tugas Pertemuan Ketiga

Tugas: Guru yang Menginspirasi Saya

Tulislah sebuah artikel dengan ketentuan sederhana:

Judul:
Guru yang Menginspirasi Saya

Panjang:
500–700 kata.

Isi minimal:

1. Siapa guru yang menginspirasi Anda?

2. Kapan pertama kali bertemu?

3. Peristiwa apa yang paling Anda ingat?

4. Mengapa guru tersebut menginspirasi?

5. Apa perubahan yang terjadi dalam diri Anda?

6. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?

7. Apa pesan Anda untuk guru tersebut?

Kemudian:

Publikasikan tulisan di blog/website masing-masing dan kirimkan link artikelnya sesuai mekanisme kelas KBMN PGRI Gelombang 35.

---

💡 8. Pilihan Judul yang Menarik

Peserta tidak harus menggunakan judul “Guru yang Menginspirasi Saya”. Bisa memilih:

1. Guru yang Mengubah Jalan Hidup Saya

2. Satu Kalimat dari Guruku yang Tak Pernah Kulupa

3. Terima Kasih, Guruku

4. Guru yang Mengajarkan Saya Arti Keberanian

5. Dari Seorang Guru, Saya Belajar Bermimpi

6. Guru yang Pernah Membuat Saya Percaya Diri

7. Jejak Guruku dalam Hidupku

8. Ketika Guru Menyalakan Cahaya dalam Diri Saya

9. Guru, Engkau Menginspirasi Langkahku

10. Satu Guru, Sejuta Inspirasi

---

🎤 Pesan Omjay untuk Peserta

> “Jangan mencari cerita yang hebat. Ceritakan saja pengalaman yang pernah membuat hati Anda bergetar.”

Boleh jadi menurut kita pengalaman itu sederhana.

Namun bagi pembaca, pengalaman tersebut mungkin menjadi inspirasi.

Karena itu, jangan biarkan kenangan tentang guru hanya tinggal di dalam ingatan. Abadikan dalam tulisan.

Menulislah dengan hati.

Menulislah dari pengalaman sendiri.

Menulislah agar kebaikan guru kita tidak hilang ditelan zaman.

Salam literasi.
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Blog https://wijayalabs.com

Pengalaman Belajar

Belajar Mendalam dalam Kisah Omjay: Dari Memahami, Mengaplikasi, hingga Merefleksi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu saya kembali mendapatkan satu pemahaman penting tentang pendidikan. Sebuah slide sederhana terpampang di layar dengan judul “Pengalaman Belajar”.

Di dalamnya terdapat sebuah siklus yang menarik perhatian saya:

Memahami → Mengaplikasi → Merefleksi

Di tengah lingkaran itu tertulis Pembelajaran Mendalam.

Saya langsung berpikir, “Bukankah sebenarnya guru setiap hari sedang melakukan perjalanan seperti ini?”

Guru mengajak peserta didik memahami sesuatu. Setelah memahami, mereka mencoba menerapkannya. Kemudian mereka melihat kembali apa yang sudah dilakukan, menemukan kekurangan, dan memperbaikinya.

Bagi saya, inilah pembelajaran yang sesungguhnya.

Belajar bukan sekadar menghafal

Selama menjadi guru, saya semakin menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari kemampuan siswa menjawab soal.

Siswa bisa saja mendapatkan nilai tinggi dalam sebuah ujian, tetapi belum tentu memahami makna dari apa yang dipelajarinya.

Sebaliknya, seorang siswa mungkin melakukan kesalahan ketika mengerjakan sebuah tugas. Namun, jika ia mampu menyadari kesalahannya, memperbaikinya, dan mencoba kembali, sebenarnya ia sedang mengalami proses belajar yang sangat berharga.

Karena itu, pembelajaran mendalam bukan sekadar membuat siswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka memahami, menggunakan, dan merefleksikan pengetahuan tersebut.

Dalam gambar yang saya lihat, pengalaman belajar diarahkan secara bertahap untuk mencapai pembelajaran mendalam.

Ada tiga proses penting yang digambarkan melalui sebuah siklus.

1. Memahami

Tahap pertama adalah memahami.

Pada tahap ini peserta didik membangun pengetahuan. Mereka tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi berusaha menemukan hubungan antara pengetahuan baru dengan pengalaman yang sudah dimiliki.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya sering menemukan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika mereka melihat contoh nyata.

Misalnya ketika belajar tentang kecerdasan artifisial, saya tidak ingin siswa hanya mengetahui definisi AI dari buku.

Saya mengajak mereka bertanya:

“Di mana kalian menemukan AI dalam kehidupan sehari-hari?”

Mereka kemudian mulai menyebutkan mesin pencari, rekomendasi video, kamera pada telepon pintar, penerjemah otomatis, chatbot, hingga berbagai aplikasi yang mereka gunakan.

Dari situ pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Mereka tidak sekadar menghafal pengertian AI.

Mereka memahami keberadaan AI dalam kehidupan sehari-hari.

2. Mengaplikasi

Setelah memahami, siswa perlu diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan.

Inilah bagian yang sering membuat pembelajaran menjadi lebih hidup.

Pengetahuan yang hanya tersimpan di kepala belum tentu memberikan manfaat jika tidak digunakan.

Dalam pembelajaran Informatika dan Koding, misalnya, setelah siswa memahami algoritma, mereka dapat diminta membuat langkah-langkah penyelesaian sebuah masalah.

Setelah memahami konsep coding, mereka dapat membuat program sederhana.

Setelah memahami AI, mereka dapat mencoba menggunakan AI secara bertanggung jawab untuk membantu proses belajar.

Saya selalu senang melihat siswa mulai berkata,

“Pak, ternyata saya bisa membuatnya.”

Kalimat sederhana itu sangat berarti bagi seorang guru.

Ada rasa percaya diri yang tumbuh.

Siswa mulai menyadari bahwa dirinya bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga bisa menjadi pencipta teknologi.

Di sinilah pengetahuan aplikatif menjadi penting.

3. Merefleksi

Tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah merefleksi.

Bagi saya, refleksi sering kali menjadi bagian yang terlupakan dalam pembelajaran.

Setelah tugas selesai, guru terkadang langsung memberikan nilai.

Padahal masih ada pertanyaan yang jauh lebih penting:

Apa yang sudah dipelajari?

Apa yang masih sulit?

Apa kesalahan yang terjadi?

Mengapa kesalahan itu terjadi?

Apa yang akan dilakukan agar menjadi lebih baik?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuat siswa belajar mengenal dirinya sendiri.

Mereka mulai memiliki kemampuan regulasi diri.

Mereka tidak lagi selalu menunggu guru mengatakan apa yang harus dilakukan.

Mereka mulai mampu merencanakan, mengerjakan, memantau, mengevaluasi, dan memperbaiki proses belajarnya.

Bagi saya, inilah salah satu tujuan penting pendidikan.

Pengetahuan bukan hanya tentang materi

Slide tersebut juga mengingatkan saya bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berkaitan dengan satu jenis pengetahuan.

Ada pengetahuan esensial, pengetahuan aplikatif, serta pengetahuan nilai dan karakter.

Ketiganya perlu berjalan bersama.

Pengetahuan esensial menjawab pertanyaan:

“Apa yang perlu saya ketahui?”

Pengetahuan aplikatif menjawab:

“Bagaimana pengetahuan ini dapat saya gunakan?”

Sedangkan pengetahuan nilai dan karakter mengajak siswa bertanya:

“Untuk apa pengetahuan ini digunakan dan bagaimana saya menggunakannya dengan baik?”

Pertanyaan terakhir sangat penting di era teknologi dan kecerdasan artifisial.

Siswa mungkin mampu menggunakan AI.

Tetapi apakah mereka mampu menggunakannya secara bertanggung jawab?

Siswa mungkin mampu membuat konten digital.

Tetapi apakah mereka memahami etika dalam membuat dan menyebarkan konten?

Siswa mungkin mampu mencari informasi dengan cepat.

Tetapi apakah mereka mampu membedakan informasi yang benar dan keliru?

Di sinilah pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak boleh dipisahkan dari pembelajaran teknologi.

Pengalaman Omjay menggunakan KKA

Ketika saya mengajarkan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), saya semakin merasakan bahwa pembelajaran tidak bisa hanya berorientasi pada hasil akhir.

Saya lebih suka mengajak siswa menikmati proses.

Misalnya, ketika siswa diminta membuat sebuah proyek sederhana, saya membiarkan mereka mengalami proses mencoba.

Ada yang berhasil.

Ada yang salah.

Ada yang programnya tidak berjalan.

Ada yang bingung mencari penyebabnya.

Ada pula yang akhirnya meminta bantuan temannya.

Saya mengatakan kepada mereka:

“Kesalahan bukan musuh dalam belajar. Kesalahan adalah guru yang mengajarkan kita sesuatu.”

Dari kesalahan itulah siswa belajar melakukan debugging.

Mereka belajar berpikir logis.

Mereka belajar bekerja sama.

Mereka belajar bertanya.

Mereka belajar mencari solusi.

Dan yang paling penting, mereka belajar untuk tidak mudah menyerah.

Pembelajaran mendalam membutuhkan pengalaman

Bagi saya, pengalaman adalah guru yang sangat kuat.

Saya sudah lama berada di dunia pendidikan. Sejak mengajar di SMP Labschool Jakarta, saya melihat perubahan zaman yang luar biasa. Teknologi berubah, perangkat berubah, aplikasi berubah, bahkan cara anak-anak belajar juga berubah.

Namun ada satu hal yang tidak berubah.

Anak-anak tetap membutuhkan guru yang mau mendampingi proses belajarnya.

Teknologi dapat memberikan informasi dengan sangat cepat.

AI dapat membantu mencari ide.

Internet dapat menyediakan berbagai sumber belajar.

Tetapi pengalaman belajar tetap membutuhkan manusia yang mampu memberikan makna.

Guru bukan sekadar penyampai materi.

Guru adalah pendamping perjalanan belajar.

Karena itu saya percaya bahwa teknologi seharusnya memperkuat pembelajaran, bukan menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pendidikan.

Belajar adalah sebuah siklus

Saya kemudian melihat kembali gambar berbentuk lingkaran itu.

Memahami.

Mengaplikasi.

Merefleksi.

Kemudian kembali lagi untuk memahami sesuatu yang lebih baik.

Begitu seterusnya.

Tidak ada titik akhir dalam belajar.

Hari ini kita memahami sesuatu.

Besok kita mencoba menerapkannya.

Setelah itu kita melakukan refleksi.

Dari refleksi, kita menemukan kekurangan.

Kekurangan tersebut menjadi dasar untuk belajar kembali.

Maka terbentuklah sebuah siklus pembelajaran yang terus berkembang.

Saya teringat prinsip sederhana yang sering saya pegang:

Menulislah dari pengalaman, belajarlah dari pengalaman, dan bagikan pengalaman agar menjadi pembelajaran bagi orang lain.

Pengalaman seorang guru sebenarnya adalah sumber belajar yang sangat kaya.

Pengalaman ketika mengajar.

Pengalaman ketika gagal.

Pengalaman ketika menemukan metode baru.

Pengalaman ketika melihat siswa berhasil.

Semuanya dapat menjadi bahan refleksi.

Guru juga harus terus belajar

Sering kali kita berbicara tentang siswa yang harus belajar sepanjang hayat.

Padahal guru pun harus melakukan hal yang sama.

Saya sendiri terus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi pendidikan, Informatika, Koding, dan AI.

Saya belajar bukan karena sudah pintar.

Saya belajar karena sadar bahwa dunia terus berubah.

Hari ini kita merasa sudah menguasai sebuah teknologi. Besok muncul teknologi baru.

Hari ini kita merasa sudah memahami cara mengajar. Besok kita bertemu siswa dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.

Karena itu, guru tidak boleh berhenti belajar.

Guru yang berhenti belajar akan kesulitan mengajak muridnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Dari pembelajaran menuju kehidupan

Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan hanya tentang apa yang terjadi di ruang kelas.

Tujuan akhirnya adalah bagaimana pengetahuan itu dibawa ke kehidupan.

Siswa belajar matematika untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.

Siswa belajar bahasa untuk berkomunikasi.

Siswa belajar Informatika untuk memecahkan masalah dengan teknologi.

Siswa belajar AI agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.

Siswa belajar karakter agar pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk kebaikan.

Karena itu, saya melihat pendidikan sebagai sebuah perjalanan.

Memahami membuat kita tahu.

Mengaplikasi membuat kita mampu.

Merefleksi membuat kita bertumbuh.

Dan ketika ketiganya berjalan bersama, terjadilah pembelajaran mendalam.

Penutup: Guru pun sedang menjalani proses belajar

Saya pulang dari kegiatan itu dengan sebuah kesadaran baru.

Ternyata bukan hanya murid yang sedang belajar.

Saya sebagai guru juga sedang belajar.

Setiap pertemuan dengan siswa memberikan pengalaman baru.

Setiap kesalahan memberikan pelajaran.

Setiap keberhasilan memberikan rasa syukur.

Setiap refleksi memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Itulah mengapa saya menikmati perjalanan sebagai guru.

Saya tidak ingin hanya menjadi guru yang menyampaikan materi.

Saya ingin menjadi guru yang terus belajar, terus berbagi, dan terus memberikan inspirasi.

Sebab pendidikan bukan tentang seberapa banyak materi yang mampu kita selesaikan.

Pendidikan adalah tentang seberapa dalam pengalaman belajar mampu mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, berkarya, dan menjalani kehidupannya.

Dan perjalanan itu tidak pernah selesai.

Mari terus memahami.
Mari terus mengaplikasikan.
Mari terus merefleksikan.
Mari terus belajar.

Karena sesungguhnya, belajar adalah perjalanan seumur hidup.

— Omjay
Guru Blogger Indonesia


Pendaftaran Lomba OTN 8 di JICC Senayan Jakarta

📢 OTN 8 – INDOCOMTECH 2026

Olimpiade TIK, Informatika, Koding, Robotik & E-Sport akan digelar di JICC Senayan, Jakarta, 29 Oktober–1 November 2026.

🎯 SASARAN PESERTA
Terbuka untuk peserta didik SD, SMP, SMA/SMK sederajat, sesuai ketentuan masing-masing cabang lomba.

🏆 5 CABANG LOMBA
💻 OTN Coding
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🤖 OTN Robotic
🎮 OTN E-Sport Mobile Legends

🎤 SEMINAR NASIONAL OTN 8
📅 Kamis, 29 Oktober 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta
Terbuka untuk guru, peserta didik, mahasiswa, dan masyarakat umum yang ingin menambah wawasan tentang Informatika, Koding, Kecerdasan Artifisial, dan teknologi pendidikan.

💰 BIAYA PENDAFTARAN
🏆 Peserta lomba: Rp150.000/peserta
🎤 Seminar Nasional: Rp50.000 untuk sertifikat peserta.

⏰ BATAS PENDAFTARAN: 17 OKTOBER 2026

📅 RANGKAIAN OTN 8
29 Okt — 🎤 Seminar Nasional OTN 8
30 Okt — 💻 Coding, 🧠 Cerdas Cermat & 🎬 Film Pendek
31 Okt — 🤖 Robotic
1 Nov — 🎮 E-Sport Mobile Legends
1 Nov — 🏆 Penyerahan Piala OTN 8

🌟 OTN telah diselenggarakan sejak 2016:
Jakarta • Jakarta • Bali • Jakarta • Jakarta • Tangerang • Tangerang • Jakarta 2026

📝 DAFTAR SEKARANG:
"s.id/otn82026"

⚠️ Jangan tunggu sampai batas pendaftaran. Segera daftarkan siswa terbaik dari sekolah Anda dan jadilah bagian dari OTN 8 di JICC Senayan Jakarta! 🚀🏆

Workshop Persiapan AMI SMP Labschool Jakarta

Workshop Persiapan AMI 2026 SMP Labschool Jakarta: Menata Administrasi, Pembelajaran, dan Pemanfaatan AI

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Persiapan menghadapi Audit Mutu Internal (AMI) 2026 bukan sekadar menyiapkan dokumen administrasi. Lebih dari itu, AMI menjadi momentum bagi sekolah untuk melakukan refleksi, memperbaiki proses pembelajaran, menata administrasi, dan memastikan berbagai program sekolah berjalan secara terencana dan terdokumentasi.

Untuk itulah SMP Labschool Jakarta melaksanakan Workshop Persiapan AMI 2026 selama tiga hari, mulai Jumat, 2 Oktober sampai Minggu, 4 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan ini dirancang tidak hanya dalam bentuk paparan materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik, pelengkapan administrasi, brainstorming, hingga pengumpulan dokumen AMI.

Hari Pertama: Memahami Arah Sekolah dan Instrumen AMI

Kegiatan dimulai pada Jumat, 2 Oktober 2026 dengan registrasi peserta pukul 13.00–13.30 dan dilanjutkan dengan pembukaan.

Materi pertama berlangsung pukul 14.00–15.30 dengan tema “Mewujudkan Sekolah Hijau melalui Pembelajaran Berbasis Lingkungan”. Materi ini disampaikan oleh Dr. Taufiq Supriadi dengan PJ Ali Topan, S.Pd.

Tema sekolah hijau menarik karena pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pencapaian akademik. Sekolah juga mempunyai tanggung jawab untuk membangun kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.

Setelah ISOMA, peserta mendapatkan Paparan Instrumen AMI pukul 16.00–17.30. Materi ini disampaikan oleh Pandu Novialdi, M.Pd., dengan Fardiah Musni, S.Pd. sebagai PJ.

Pemahaman terhadap instrumen AMI menjadi penting karena dokumen yang disiapkan harus benar-benar menggambarkan pelaksanaan program sekolah.

Malam harinya, pukul 19.30–21.00, peserta mengikuti Paparan Program Sekolah Model yang disampaikan oleh Dr. Yati Suwartini, M.Pd. dengan PJ Siti Innayatu Sholiha, S.Pd.

Hari pertama menjadi fondasi penting. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi mulai memahami bahwa AMI berkaitan erat dengan budaya mutu sekolah.

Hari Kedua: Dari Materi Menuju Praktik

Sabtu, 3 Oktober 2026 menjadi hari yang cukup padat.

Setelah sarapan, pukul 08.00–10.00 guru mengikuti Penyusunan Rencana Pembelajaran PM, KKA, berbasis STEM dan LITNUM. Materi ini menghadirkan Adien Novarisa, M.Pd., dengan PJ Wianti, S.S.

Sementara itu, tenaga kependidikan mendapatkan materi ISO 15489 dan 30301 yang dijadwalkan pukul 08.00–12.00, dengan narasumber masih dalam konfirmasi dan PJ Ilham Wijiyatno, S.Kom.

Menariknya, setelah sesi materi, peserta langsung diarahkan untuk melengkapi administrasi pembelajaran dan instrumen AMI. Kegiatan ini dilakukan beberapa sesi, yaitu pukul 10.00–12.00, 13.00–15.00, dan kembali pukul 19.30–21.00.

Di sinilah workshop benar-benar terasa manfaatnya.

Peserta tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi langsung membuka dokumen, memeriksa kelengkapan administrasi, memperbaiki bagian yang masih kurang, dan memastikan bukti pelaksanaan pembelajaran tersedia.

Ada Sesi Brainstorming Penggunaan AI

Salah satu kegiatan yang menarik dalam workshop ini adalah Brainstorming Penggunaan AI yang dilaksanakan Sabtu, 3 Oktober 2026 pukul 15.30–17.30.

Kegiatan tersebut melibatkan Pimpinan Sekolah dengan PJ Ita Berleani, S.Pd.

Kehadiran AI dalam agenda workshop menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan dan pembelajaran di sekolah.

AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyusun rancangan, menganalisis data, membantu pekerjaan administratif, maupun mendukung proses pembelajaran.

Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia.

AI adalah alat. Guru tetap menjadi manusia yang menentukan tujuan, memberikan konteks, melakukan verifikasi, dan mengambil keputusan.

Karena itu, brainstorming menjadi penting agar penggunaan AI di sekolah tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dan pembelajaran.

Hari Ketiga: Mengumpulkan dan Memastikan Kelengkapan

Minggu, 4 Oktober 2026 menjadi tahap akhir workshop.

Kegiatan dimulai dengan sarapan pukul 06.00–08.00. Selanjutnya pukul 08.00–10.00 dilaksanakan Pengumpulan Administrasi Pembelajaran dan Instrumen AMI yang dikoordinasikan oleh panitia. Setelah itu, kegiatan ditutup pada pukul 10.00.

Dengan demikian, rangkaian workshop selama tiga hari memiliki alur yang cukup jelas:

memahami → menyusun → melengkapi → mengevaluasi → mengumpulkan.

Inilah yang membuat persiapan AMI menjadi proses pembelajaran bagi seluruh warga sekolah.

AMI Bukan Sekadar Menyiapkan Dokumen

Sering kali ketika mendengar kata audit, yang terbayang adalah tumpukan dokumen dan administrasi.

Padahal, AMI seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya:

  • Apakah program sekolah sudah berjalan?
  • Apakah pembelajaran sudah direncanakan dengan baik?
  • Apakah dokumen yang dibuat sesuai dengan praktik di lapangan?
  • Apakah bukti pelaksanaan tersedia?
  • Apa yang sudah baik?
  • Apa yang masih perlu diperbaiki?

Dokumen memang penting. Namun, dokumen harus menjadi cermin dari praktik nyata, bukan sekadar dibuat karena akan diperiksa.

Karena itu, kegiatan workshop seperti ini menjadi ruang yang baik bagi guru, tenaga kependidikan, dan pimpinan sekolah untuk duduk bersama, melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan, kemudian memperbaikinya secara berkelanjutan.

Belajar Bersama untuk Meningkatkan Mutu Sekolah

Dari jadwal workshop terlihat bahwa persiapan AMI 2026 di SMP Labschool Jakarta tidak hanya berfokus pada satu bidang.

Ada pembelajaran berbasis lingkungan, instrumen AMI, program sekolah model, perencanaan pembelajaran PM dan KKA, STEM dan LITNUM, pengelolaan arsip melalui ISO, administrasi pembelajaran, hingga pemanfaatan AI.

Semua bagian tersebut saling berkaitan.

Sekolah yang bermutu bukan hanya sekolah yang memiliki banyak program. Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu merencanakan program, melaksanakan dengan baik, mendokumentasikan, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.

Workshop Persiapan AMI 2026 menjadi salah satu langkah untuk membangun budaya tersebut.

Pada akhirnya, AMI bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.

AMI adalah kesempatan untuk bercermin.

Melalui AMI, sekolah dapat melihat apa yang sudah dilakukan, apa yang belum lengkap, dan apa yang harus diperbaiki.

Dan dari sanalah peningkatan mutu sekolah dimulai.

Menata dokumen, memperbaiki pembelajaran, memanfaatkan teknologi, dan membangun budaya mutu bersama.

Itulah semangat Workshop Persiapan AMI SMP Labschool Jakarta 2026.

Jakarta, 3 Oktober 2026


Jumat, 02 Oktober 2026

Tugas Pertemuan Kedua KBMN PGRI

📝 TUGAS PERTEMUAN KEDUA

KBMN PGRI GELOMBANG 35

Tema: PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN

Sahabat penulis KBMN PGRI Gelombang 35,

Setiap orang mempunyai cerita.

Tidak harus cerita besar. Pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi tulisan yang menarik dan menginspirasi.

Pada pertemuan kedua ini, mari kita belajar menulis dari pengalaman sendiri.

🎯 TUGAS

Tulislah satu pengalaman yang paling berkesan atau tidak terlupakan dalam kehidupan Anda.

Pengalaman tersebut boleh berupa:

  • pengalaman pertama menjadi guru;
  • pengalaman pertama mengajar;
  • pengalaman mengikuti pelatihan;
  • pengalaman bertemu seseorang;
  • pengalaman mendapatkan hadiah;
  • pengalaman mengalami kegagalan;
  • pengalaman meraih keberhasilan;
  • pengalaman perjalanan;
  • pengalaman menulis;
  • pengalaman bersama keluarga;
  • pengalaman membantu orang lain;
  • atau pengalaman sederhana lainnya.

✍️ Ketentuan Tugas

Tulislah cerita sebanyak 300–500 kata.

Agar mudah, jawab terlebih dahulu 5 pertanyaan berikut:

1. Apa pengalaman yang Anda alami?

2. Kapan dan di mana pengalaman itu terjadi?

3. Siapa saja yang terlibat?

4. Apa yang Anda rasakan saat mengalami kejadian tersebut?

5. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?

Setelah menjawab kelima pertanyaan tersebut, gabungkan jawaban Anda menjadi sebuah cerita.

📌 Format Sederhana

Judul:
Buat judul yang menarik.

Pembuka:
Ceritakan kapan dan bagaimana pengalaman itu dimulai.

Isi:
Ceritakan kejadian yang Anda alami dan perasaan Anda.

Penutup:
Tuliskan pelajaran atau hikmah yang Anda dapatkan.

🌱 Contoh judul

  • Pengalaman Pertama Menjadi Guru
  • Hari yang Tidak Pernah Saya Lupakan
  • Ketika Saya Hampir Menyerah
  • Pengalaman Pertama Saya Menulis
  • Sebuah Pertemuan yang Mengubah Hidup Saya
  • Dari Kegagalan Saya Belajar
  • Perjalanan yang Penuh Makna

💡 Tips

Jangan takut tulisan Anda jelek.

Jangan terlalu lama mencari kata-kata yang indah.

Tulislah apa yang Anda alami dan rasakan.

Tulislah dengan bahasa sendiri.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Yang paling penting adalah mulai menulis.

📮 Cara Mengumpulkan

  1. Tulis pengalaman Anda di blog pribadi atau media yang ditentukan.
  2. Berikan judul yang menarik.
  3. Baca kembali tulisan sebelum dipublikasikan.
  4. Bagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35 sesuai petunjuk panitia.

🌟 Kalimat Penyemangat

"Jangan menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Mulailah menulis, maka perlahan kita akan menjadi penulis."

Selamat menulis pengalaman terbaik Anda.

Bisa jadi pengalaman yang menurut kita sederhana, justru menjadi inspirasi bagi orang lain.

Salam literasi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
KBMN PGRI Gelombang 35


Pertemuan Kedua KBMN PGRI Gelombang 35 Pengalaman yang Tak Terlupakan

PERTEMUAN KEDUA

KBMN PGRI GELOMBANG 35

PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN

Menulis Kisah Nyata dengan Hati


A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan kedua ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Menemukan pengalaman pribadi yang menarik untuk ditulis.
  2. Mengubah pengalaman menjadi sebuah cerita yang enak dibaca.
  3. Menentukan konflik atau masalah dalam cerita.
  4. Menuliskan perasaan dan refleksi dari pengalaman tersebut.
  5. Membuat tulisan yang menyentuh, inspiratif, dan memiliki pesan.
  6. Membiasakan diri menulis dari pengalaman sehari-hari.

B. Mengapa Pengalaman Layak Ditulis?

Setiap orang memiliki cerita.

Ada pengalaman yang membuat kita bahagia, sedih, kecewa, takut, bangga, malu, terharu, bahkan hampir menyerah.

Namun, tidak semua pengalaman harus berlalu begitu saja.

Pengalaman yang kita tuliskan akan menjadi dokumentasi kehidupan.

Apa yang hari ini terlihat sederhana, beberapa tahun kemudian bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

Menulis pengalaman berarti mengabadikan perjalanan hidup.

Kita tidak harus menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis.

Kita hanya perlu memiliki pengalaman dan keberanian untuk menceritakannya.


C. Pengalaman yang Tak Terlupakan Itu Seperti Apa?

Pengalaman tak terlupakan tidak selalu berupa peristiwa besar.

Contohnya:

  • pertama kali menjadi guru;
  • pertama kali berdiri di depan kelas;
  • bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup;
  • mendapatkan penghargaan;
  • mengalami kegagalan;
  • kehilangan seseorang yang dicintai;
  • melakukan perjalanan yang berkesan;
  • mengalami kecelakaan;
  • berhasil melewati masa sulit;
  • bertemu kembali dengan sahabat lama;
  • pengalaman mengikuti pelatihan;
  • pengalaman menerbitkan buku;
  • pengalaman pertama kali menulis;
  • pengalaman menggunakan AI dalam pembelajaran;
  • pengalaman membantu orang lain;
  • pengalaman yang membuat kita semakin bersyukur.

Kuncinya bukan seberapa besar peristiwanya, tetapi seberapa besar maknanya bagi kita.


D. Rumus Sederhana Menulis Pengalaman

Gunakan rumus:

5W + 1H + PERASAAN + MAKNA

1. What — Apa yang terjadi?

Tuliskan peristiwa yang dialami.

2. Who — Siapa yang terlibat?

Ceritakan tokoh-tokoh yang ada dalam pengalaman tersebut.

3. When — Kapan terjadi?

Tuliskan waktu atau periode kejadian.

4. Where — Di mana terjadi?

Gambarkan tempat kejadian.

5. Why — Mengapa terjadi?

Jelaskan latar belakang peristiwa.

6. How — Bagaimana kejadiannya?

Ceritakan kronologi secara runtut.

Kemudian tambahkan:

7. Feel — Apa yang saya rasakan?

Inilah bagian yang membuat tulisan menjadi hidup.

8. Meaning — Apa maknanya?

Apa pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut?


E. Jangan Hanya Menceritakan Peristiwa

Kesalahan yang sering terjadi ketika menulis pengalaman adalah hanya menceritakan kronologi.

Contoh:

Saya pergi ke sekolah. Setelah itu saya mengajar. Kemudian saya pulang. Besoknya saya kembali mengajar.

Tulisan seperti ini memang benar, tetapi belum tentu menarik.

Cobalah memasukkan perasaan.

Pagi itu saya berdiri di depan kelas dengan tangan sedikit gemetar. Puluhan pasang mata siswa memandang ke arah saya. Untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Ada tanggung jawab besar yang harus saya jalankan.

Tulisan kedua lebih hidup karena pembaca dapat merasakan suasananya.

Jadi, jangan hanya menceritakan apa yang terjadi. Ceritakan juga apa yang kita rasakan.


F. Gunakan Teknik "Tunjukkan, Jangan Hanya Katakan"

Daripada menulis:

Saya sangat sedih.

Cobalah:

Saya terdiam cukup lama. Mata saya mulai berkaca-kaca. Tidak ada kata yang mampu keluar dari mulut saya.

Daripada:

Saya sangat bahagia.

Cobalah:

Saya tersenyum lebar. Rasanya ingin segera menelepon keluarga dan memberitahu mereka bahwa perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil.

Dengan cara ini, pembaca seolah-olah hadir di dalam cerita.


G. Struktur Tulisan Pengalaman

Peserta dapat menggunakan struktur sederhana berikut.

1. Judul

Buat judul yang menarik dan menggugah rasa ingin tahu.

Contoh:

  • "Hari yang Tidak Akan Pernah Saya Lupakan"
  • "Ketika Saya Hampir Menyerah"
  • "Satu Pertemuan yang Mengubah Hidup Saya"
  • "Pelajaran Berharga dari Sebuah Kegagalan"
  • "Dari Air Mata Menuju Senyuman"
  • "Perjalanan Panjang yang Mengajarkan Kesabaran"

2. Pembuka

Mulailah dengan adegan, pertanyaan, dialog, atau pernyataan yang menarik.

Contoh:

"Pak, jangan menyerah!"

Kalimat sederhana itu sampai sekarang masih teringat dalam benak saya.

3. Isi

Ceritakan peristiwa secara runtut.

Gunakan paragraf yang mengalir.

Masukkan:

  • tempat;
  • waktu;
  • tokoh;
  • kejadian;
  • konflik;
  • dialog;
  • perasaan.

4. Klimaks

Ceritakan bagian paling menegangkan, menyedihkan, membahagiakan, atau menentukan.

5. Penyelesaian

Ceritakan bagaimana masalah tersebut berakhir.

6. Refleksi

Tuliskan pelajaran yang diperoleh.

Bagian ini sangat penting karena mengubah pengalaman biasa menjadi tulisan yang bermakna.


H. Contoh Tulisan Singkat

"Hari Ketika Saya Belajar untuk Tidak Menyerah"

Pagi itu hujan turun cukup deras.

Saya sebenarnya ingin membatalkan kegiatan yang sudah direncanakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Kondisi tubuh terasa lelah. Pikiran juga tidak sepenuhnya tenang.

Namun, saya memilih berangkat.

Sesampainya di lokasi, saya melihat beberapa peserta sudah menunggu. Mereka datang dengan semangat belajar yang luar biasa.

Saya kemudian berpikir, "Kalau mereka saja mau datang dan belajar, mengapa saya harus menyerah?"

Kegiatan pun dimulai.

Hari itu saya belajar sesuatu yang sederhana tetapi sangat berarti.

Terkadang kita tidak membutuhkan motivasi yang besar untuk terus berjalan. Kita hanya perlu melihat bahwa masih ada orang lain yang membutuhkan kehadiran kita.

Sejak saat itu saya semakin percaya bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai.

Kadang-kadang, kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengatakan kepada diri sendiri:

"Saya belum selesai. Saya masih ingin berjuang."


I. Latihan Menulis Peserta

Sekarang silakan pilih SATU pengalaman yang paling membekas dalam hidup Anda.

Kemudian jawab pertanyaan berikut:

1. Apa peristiwanya?

....................................................

2. Kapan peristiwa itu terjadi?

....................................................

3. Di mana peristiwa itu terjadi?

....................................................

4. Siapa saja yang terlibat?

....................................................

5. Apa masalah atau konflik yang terjadi?

....................................................

6. Apa yang Anda rasakan saat itu?

....................................................

7. Bagaimana peristiwa tersebut berakhir?

....................................................

8. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?

....................................................

9. Jika peristiwa itu terjadi kembali, apa yang akan Anda lakukan?

....................................................


J. Tantangan Menulis KBMN PGRI Gelombang 35

TUGAS PERTEMUAN KEDUA

Tulislah sebuah artikel dengan tema:

"Pengalaman yang Tak Terlupakan"

Ketentuan:

  • Panjang tulisan minimal 500 kata.
  • Berdasarkan pengalaman nyata.
  • Memiliki judul yang menarik.
  • Memiliki pembuka yang kuat.
  • Memuat konflik atau persoalan.
  • Menggambarkan perasaan penulis.
  • Memiliki penyelesaian.
  • Diakhiri dengan refleksi atau pesan.
  • Gunakan bahasa yang mudah dipahami.
  • Publikasikan di blog masing-masing.

Jika belum memiliki pengalaman yang dianggap besar, jangan khawatir.

Tulislah pengalaman kecil yang memiliki makna besar bagi kehidupan Anda.


K. Tips Agar Tulisan Lebih Menarik

1. Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang sahabat.

Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah tulisan kita sudah sempurna.

2. Jangan takut menceritakan kegagalan.

Kegagalan sering kali justru menjadi bagian paling menarik dalam sebuah cerita.

3. Masukkan dialog.

Dialog membuat cerita terasa hidup.

4. Masukkan detail.

Ceritakan suasana tempat, ekspresi wajah, suara, cuaca, dan keadaan sekitar.

5. Jangan terburu-buru mengedit.

Tulis dahulu sampai selesai.

Setelah itu baru lakukan penyuntingan.

6. Tulislah dengan hati.

AI dapat membantu mencari ide, membuat kerangka, atau memperbaiki bahasa.

Namun pengalaman, perasaan, dan suara pribadi tetap berasal dari manusia.

Tulislah pengalaman Anda dengan jujur.


L. Kalimat Pemantik untuk Memulai Menulis

Jika masih bingung memulai, gunakan salah satu kalimat berikut:

"Saya tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan mengubah hidup saya."

"Sampai hari ini saya masih mengingat kejadian tersebut."

"Ada satu pengalaman yang tidak pernah bisa saya lupakan."

"Saat itu saya berpikir semuanya sudah berakhir."

"Pagi itu terlihat seperti pagi biasa, tetapi ternyata..."

"Lima tahun telah berlalu, tetapi kejadian itu masih terasa dekat."

"Saya belajar sebuah pelajaran penting dari kegagalan tersebut."

"Jika waktu dapat diputar kembali, saya ingin kembali ke hari itu."


M. Penutup

Menulis pengalaman bukan sekadar menceritakan masa lalu.

Menulis pengalaman adalah cara kita memahami perjalanan hidup.

Ada pengalaman yang menjadi kenangan.

Ada pengalaman yang menjadi pelajaran.

Ada pengalaman yang menjadi luka.

Ada pengalaman yang menjadi kekuatan.

Dan ada pengalaman yang mungkin suatu hari nanti menjadi inspirasi bagi orang lain.

Karena itu, jangan biarkan pengalaman hidup berlalu tanpa dokumentasi.

Tulislah.

Mungkin bagi kita cerita itu sederhana.

Namun bagi orang lain, cerita kita bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan dan tidak menyerah.

"Pengalaman adalah guru terbaik, tetapi pengalaman yang ditulis dapat menjadi guru bagi banyak orang."

Selamat menulis.

Salam Blogger Indonesia.

Omjay – Guru Blogger Indonesia KBMN PGRI Gelombang 35 Menulis setiap hari, menginspirasi tanpa henti.