Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 20 Oktober 2026

Sebuah Nasehat yang Saya Ingat Materi KBMN PGRI gelombang 35 pertemuan ke-20 Bersama Omjay

SEBUAH NASIHAT YANG SAYA INGAT

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 – Pertemuan ke-20

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Tema: Sebuah Nasihat yang Saya Ingat

A. Pembukaan: Nasihat yang Mengubah Jalan Hidup

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sehat dan bahagia untuk Bapak dan Ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Apa kabar semuanya? Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan semangat untuk terus belajar serta berbagi ilmu kepada sesama.

Malam ini kita kembali bertemu dalam kegiatan Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35, yang telah memasuki pertemuan ke-20. Tidak terasa, perjalanan belajar menulis kita sudah semakin jauh. Ada peserta yang terus bersemangat menulis setiap hari, ada yang masih berjuang mencari ide, dan mungkin ada pula yang sesekali kehilangan motivasi.

Apa pun keadaan kita saat ini, jangan pernah berhenti belajar. Sebab, setiap perjalanan selalu menghadirkan pelajaran yang berharga.

Malam ini, Omjay masih bertugas di Bali. Di tengah kegiatan dan pengalaman yang Omjay jalani di sini, Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu guru merenungkan sebuah tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita: Sebuah Nasihat yang Saya Ingat.

Pernahkah Bapak dan Ibu menerima nasihat dari orang tua, guru, sahabat, pasangan, atau bahkan murid yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatan?

Mungkin nasihat itu hanya disampaikan dalam satu kalimat. Namun, kalimat tersebut mampu mengubah cara kita berpikir, mengambil keputusan, menjalani kehidupan, bahkan menentukan masa depan.

Nasihat yang baik tidak selalu datang melalui pidato panjang. Terkadang, ia hadir dalam percakapan sederhana, diucapkan dengan penuh kasih sayang, dan terus hidup dalam hati kita bertahun-tahun kemudian.

B. Mengapa Nasihat Begitu Berharga?

Nasihat adalah pesan, petunjuk, atau arahan yang diberikan seseorang agar kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Nasihat dapat menjadi pengingat ketika kita mulai melupakan tujuan, penyemangat ketika kita hampir menyerah, dan penuntun ketika kita menghadapi kesulitan.

Dalam kehidupan seorang guru, nasihat memiliki tempat yang istimewa. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga membantu peserta didik membangun karakter, kepercayaan diri, dan tanggung jawab.

Ada nasihat yang baru kita pahami setelah bertahun-tahun berlalu. Ketika masih muda, kita mungkin menganggapnya biasa saja. Namun, setelah mengalami kegagalan, kehilangan, perjuangan, dan keberhasilan, barulah kita menyadari betapa dalam maknanya.

Sebagai contoh, nasihat sederhana, "Jangan takut gagal, tetapi takutlah jika tidak pernah mau mencoba," dapat menjadi pegangan bagi seorang guru yang sedang belajar menggunakan teknologi baru.

Demikian pula nasihat, "Jangan menunggu sempurna untuk memulai," dapat mendorong seseorang yang ingin menulis buku, tetapi selalu merasa tulisannya belum cukup bagus.

Kita tidak harus menjadi orang yang paling pintar untuk memberikan manfaat. Kita hanya perlu bersedia belajar, berbuat baik, dan membagikan pengalaman yang dapat menginspirasi orang lain.

C. Nasihat untuk Penulis Pemula: Menulislah Setiap Hari

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan,

Ada satu nasihat yang sangat relevan dengan perjalanan kita saat ini:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat ini bukan sekadar ajakan untuk memenuhi halaman kosong. Di dalamnya terdapat semangat untuk membangun kebiasaan, melatih keberanian, dan membuktikan bahwa kemampuan menulis dapat tumbuh melalui latihan yang konsisten.

Tidak semua tulisan harus langsung bagus. Tidak semua artikel harus dibaca ribuan orang. Tidak setiap pengalaman harus menghasilkan pujian.

Yang paling penting adalah kita mau memulai.

Ketika pertama kali menulis, mungkin kita hanya mampu menghasilkan satu paragraf. Besok kita mencoba dua paragraf. Beberapa hari kemudian, kita mulai mampu menyusun cerita yang lebih panjang dan teratur.

Lama-kelamaan, kita akan menemukan gaya bahasa sendiri, memahami cara menyusun alur, dan belajar menyampaikan pesan kepada pembaca.

Omjay telah menjalani perjalanan panjang dalam dunia pendidikan dan kepenulisan. Pengalaman mengajar, menulis di blog, serta berbagi melalui komunitas guru mengajarkan bahwa karya tidak lahir hanya dari keinginan. Karya lahir dari kebiasaan yang dipelihara.

Blog dapat menjadi rumah bagi gagasan kita. Artikel dapat menjadi jejak perjalanan hidup. Buku dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis. Mulailah dari pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Tulislah pengalaman mengajar hari ini. Tulislah percakapan yang menyentuh hati. Tulislah nasihat orang tua yang masih kita ingat. Tulislah kegagalan yang membuat kita lebih kuat.

Sebab, pengalaman yang menurut kita biasa saja bisa menjadi pelajaran yang luar biasa bagi orang lain.

D. Nasihat Orang Tua dan Guru yang Tidak Mudah Dilupakan

Coba kita kembali mengingat masa kecil.

Mungkin ada seorang ibu yang berpesan, "Jangan lupa berdoa sebelum melakukan sesuatu."

Mungkin ada seorang ayah yang mengingatkan, "Jadilah orang yang jujur meskipun tidak ada yang melihat."

Mungkin ada seorang guru yang berkata, "Kamu pasti bisa asalkan mau berusaha."

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika kita menghadapi persoalan hidup, nasihat tersebut dapat muncul kembali dan membantu kita menentukan pilihan.

Bagi seorang guru, nasihat yang diberikan kepada murid juga dapat meninggalkan jejak panjang. Kita mungkin lupa pernah mengucapkannya, tetapi murid kita bisa jadi masih mengingatnya sampai dewasa.

Karena itu, berhati-hatilah dalam berkata-kata kepada peserta didik. Jangan mudah memberi label bahwa seorang anak bodoh, malas, atau tidak memiliki masa depan.

Lebih baik katakan, "Kamu masih bisa belajar. Mari kita coba bersama-sama."

Perkataan yang merendahkan dapat mematahkan semangat. Sebaliknya, perkataan yang membangun dapat menumbuhkan keberanian.

Inilah salah satu tanggung jawab moral seorang guru: menyampaikan ilmu sekaligus menanamkan harapan.

E. Pengalaman Menjadi Guru: Nasihat Harus Disertai Keteladanan

Dalam dunia pendidikan, nasihat akan lebih kuat apabila disertai contoh nyata.

Seorang guru dapat meminta muridnya disiplin, tetapi ia juga perlu menunjukkan kedisiplinan. Guru dapat mengajak murid membaca, tetapi ia sebaiknya memperlihatkan kebiasaan membaca. Guru dapat meminta murid menulis, tetapi akan lebih baik jika ia sendiri juga menulis.

Omjay mengajak Bapak dan Ibu melihat hubungan antara nasihat dan keteladanan melalui kegiatan sederhana.

Bayangkan seorang guru berkata kepada muridnya, "Jangan pernah berhenti belajar."

Murid tersebut kemudian melihat gurunya tetap mengikuti pelatihan, membaca buku, mempelajari teknologi, dan menulis artikel meskipun sudah bertahun-tahun mengajar.

Pesan itu menjadi lebih bermakna karena murid menyaksikannya secara langsung.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay memandang bahwa perkembangan teknologi menuntut kita untuk terus belajar. Perubahan digital, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran koding membuka peluang baru, tetapi juga menghadirkan tantangan.

Guru tidak harus mengetahui segala sesuatu. Guru perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa dirinya masih harus belajar.

Kecerdasan artifisial dapat membantu kita mencari ide, menyusun kerangka, dan memperbaiki tulisan. Namun, pengalaman pribadi, kejujuran, pertimbangan moral, dan tanggung jawab penulis tetap penting.

Gunakan teknologi untuk membantu pekerjaan, bukan untuk menghilangkan proses berpikir dan belajar.

Nasihat Omjay untuk peserta KBMN malam ini adalah: Jadilah guru yang terus belajar, penulis yang terus berlatih, dan manusia yang tidak berhenti memperbaiki diri.

F. Kisah Omjay yang Masih Bertugas di Bali

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia,

Saat ini Omjay masih bertugas di Bali. Berada jauh dari rutinitas mengajar di Jakarta memberikan kesempatan untuk melihat dunia pendidikan dan teknologi dari sudut pandang yang lebih luas.

Dalam rangkaian kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali, Omjay berkesempatan mengenal pembahasan mengenai ekosistem internet, nama domain internasional, DNS, dan pentingnya akses internet yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan beragam bahasa.

Pengalaman tersebut mengingatkan Omjay bahwa belajar tidak mengenal batas ruang dan usia. Seorang guru dapat terus menambah wawasan melalui pertemuan, diskusi, pengamatan, dan perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Apa yang kita pelajari di suatu tempat tidak seharusnya berhenti menjadi pengetahuan pribadi. Pengetahuan itu dapat diolah menjadi artikel, bahan pembelajaran, atau cerita inspiratif yang bermanfaat bagi orang lain.

Itulah salah satu alasan Omjay senang menulis pengalaman. Ketika mengikuti kegiatan di Bali, ada banyak hal yang dapat dipelajari. Ketika kembali ke sekolah, pengetahuan itu dapat dibagikan kepada murid dan rekan guru. Ketika dituangkan ke dalam tulisan, manfaatnya dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.

Dari pengalaman tersebut, kita dapat mengambil nasihat:

"Ke mana pun kita pergi, bawalah semangat belajar. Apa pun yang kita pelajari, carilah cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain."

Kita tidak harus mengikuti kegiatan besar di luar kota untuk mendapatkan bahan tulisan. Pengalaman di ruang kelas, perjalanan menuju sekolah, percakapan dengan teman, dan interaksi dengan murid pun dapat menjadi sumber inspirasi.

Yang diperlukan adalah kemauan untuk memperhatikan, merenungkan, dan menuliskannya.

G. Cara Mengubah Nasihat Menjadi Tulisan yang Menyentuh

Bagaimana cara menulis kisah tentang sebuah nasihat agar menarik dan menyentuh pembaca?

Bapak dan Ibu dapat menggunakan langkah-langkah berikut.

1. Ingat kembali siapa yang memberikan nasihat.

Apakah nasihat itu berasal dari orang tua, guru, sahabat, pasangan, kepala sekolah, atau murid? Sebutkan sosok tersebut jika memang pantas dan diizinkan untuk diceritakan.

2. Ceritakan situasi ketika nasihat itu disampaikan.

Jangan langsung menuliskan nasihatnya. Ceritakan dahulu suasananya. Di mana peristiwa itu terjadi? Apa yang sedang kita alami? Mengapa nasihat tersebut muncul?

3. Tuliskan nasihat yang masih diingat.

Jika kita mengingat kalimat persisnya, tuliskan sebagaimana adanya. Jika tidak ingat secara persis, sampaikan sebagai inti pesan, bukan sebagai kutipan langsung.

4. Jelaskan perasaan kita saat mendengarnya.

Apakah kita merasa sedih, kecewa, marah, malu, termotivasi, atau justru belum memahami maknanya?

5. Ceritakan perubahan yang terjadi.

Apakah nasihat tersebut membuat kita berani mencoba lagi, memperbaiki hubungan, belajar lebih tekun, atau mengubah kebiasaan?

6. Tutup dengan pelajaran yang dapat dipetik pembaca.

Tulisan yang baik tidak hanya bercerita tentang diri sendiri. Tulisan yang baik juga mengajak pembaca menemukan makna dalam pengalaman tersebut.

Sebagai contoh, kita dapat memulai dengan kalimat:

"Saya masih ingat sebuah nasihat yang disampaikan seseorang ketika saya hampir menyerah. Saat itu, saya merasa usaha saya tidak menghasilkan apa-apa. Namun, kalimat sederhana yang ia ucapkan membuat saya berpikir kembali."

Setelah itu, lanjutkan dengan kisah nyata yang benar-benar pernah dialami.

Ingat, kekuatan tulisan bukan terletak pada dramatisasi cerita, melainkan pada kejujuran dan makna yang disampaikan.

H. Contoh Tulisan: Nasihat yang Selalu Saya Ingat

Berikut contoh singkat yang dapat dijadikan inspirasi. Bapak dan Ibu dapat menggantinya dengan pengalaman pribadi masing-masing.

Nasihat yang Menguatkan Langkah Saya

Ada kalanya kehidupan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Kita telah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya belum terlihat. Kita mulai meragukan kemampuan diri sendiri dan bertanya apakah perjuangan ini layak diteruskan.

Dalam keadaan seperti itu, sebuah nasihat dapat menjadi cahaya kecil yang menerangi jalan.

"Jangan menyerah hanya karena hari ini belum berhasil. Teruslah belajar dan perbaiki apa yang masih kurang."

Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kelemahan dan memperbaiki langkah.

Saya kemudian memahami bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat. Ada proses yang perlu dijalani, keterampilan yang perlu dilatih, dan kesabaran yang perlu dipelihara.

Hal yang sama berlaku ketika belajar menulis. Artikel pertama mungkin belum menarik. Tulisan berikutnya mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Namun, setiap kali menulis dan memperbaiki karya, kita sedang membangun kemampuan.

Kini saya memahami bahwa nasihat yang baik bukan hanya kalimat yang enak didengar. Nasihat yang baik adalah pesan yang membuat kita berani melakukan perubahan.

Saya ingin terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Sebab, hidup tidak hanya tentang seberapa banyak keberhasilan yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat kita bagikan.

I. Tugas Menulis Pertemuan ke-20

Sekarang, tibalah saatnya Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 menulis kisah sendiri.

Judul tulisan: Sebuah Nasihat yang Saya Ingat

Tuliskan pengalaman nyata tentang satu nasihat yang masih melekat dalam ingatan hingga hari ini.

Panduan penulisan:

  1. Siapa yang memberikan nasihat tersebut?
  2. Kapan dan dalam situasi apa nasihat itu disampaikan?
  3. Apa isi nasihat yang masih Anda ingat?
  4. Bagaimana perasaan Anda ketika mendengarnya?
  5. Apakah nasihat tersebut mengubah sikap atau keputusan Anda?
  6. Apa pelajaran yang ingin Anda bagikan kepada pembaca?

Ketentuan tugas:

  • Panjang tulisan sekitar 400–700 kata.
  • Gunakan bahasa Indonesia yang baik, jelas, dan mudah dipahami.
  • Utamakan pengalaman pribadi yang nyata.
  • Buat judul yang menarik dan sesuai dengan isi.
  • Tambahkan pesan atau refleksi pada akhir tulisan.
  • Periksa kembali ejaan dan tanda baca sebelum mengumpulkan karya.
  • Jika menggunakan AI untuk membantu penyuntingan, tetap pastikan isi tulisan berasal dari pengalaman dan pemikiran sendiri.

Tidak perlu menunggu tulisan sempurna. Mulailah dari apa yang Anda ingat. Jika baru mampu menulis satu paragraf, lanjutkan sedikit demi sedikit sampai menjadi cerita utuh.

J. Refleksi: Nasihat Apa yang Akan Kita Wariskan?

Sebelum mengakhiri pertemuan, Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu merenungkan tiga pertanyaan.

Pertama, nasihat apa yang paling membekas dalam hidup Anda?

Kedua, apakah Anda sudah menjalankan nasihat tersebut dalam kehidupan sehari-hari?

Ketiga, nasihat apa yang ingin Anda wariskan kepada murid, anak, keluarga, dan generasi berikutnya?

Mungkin kita tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, kita dapat meninggalkan tulisan, pengalaman, nilai kehidupan, dan nasihat yang menguatkan orang lain.

Seorang guru mungkin tidak selalu mengetahui dampak dari kata-katanya. Akan tetapi, satu nasihat yang tulus dapat menjadi pegangan seorang murid ketika ia menghadapi masa sulit bertahun-tahun kemudian.

Demikian pula sebuah artikel sederhana. Hari ini mungkin hanya dibaca oleh beberapa orang. Namun, suatu saat tulisan tersebut dapat ditemukan seseorang yang sedang membutuhkan semangat.

Karena itulah, jangan meremehkan kekuatan tulisan.

Teruslah menulis, bukan semata-mata demi popularitas, melainkan untuk mendokumentasikan pengalaman, menyebarkan pengetahuan, dan meninggalkan jejak kebaikan.

K. Penutup

Bapak dan Ibu guru hebat peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

Pertemuan ke-20 ini mengajak kita memahami bahwa nasihat yang berharga tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan. Nasihat itu perlu dihidupkan melalui tindakan dan dibagikan melalui tulisan.

Omjay masih bertugas di Bali, tetapi semangat belajar dan berbagi tetap dapat dilakukan di mana saja. Jarak bukan alasan untuk berhenti menulis. Kesibukan bukan alasan untuk kehilangan kesempatan belajar. Kekurangan bukan alasan untuk tidak berkarya.

Mari kita jadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran, setiap pelajaran sebagai tulisan, dan setiap tulisan sebagai kesempatan untuk menginspirasi.

Ingatlah tiga pesan Omjay malam ini:

  1. Jangan berhenti belajar meskipun usia terus bertambah.
  2. Jangan takut menulis meskipun tulisan kita belum sempurna.
  3. Jangan pelit berbagi ilmu karena manfaat kebaikan dapat melampaui batas ruang dan waktu.

Semoga melalui KBMN PGRI Gelombang 35, semakin banyak guru Indonesia yang berani menuliskan pengalaman, menyebarkan inspirasi, dan melahirkan buku yang bermanfaat.

Teruslah menulis dengan hati. Jadikan pengalaman sebagai guru kehidupan dan tulisan sebagai jejak pengabdian.

Salam blogger persahabatan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Narasumber KBMN PGRI Gelombang 35

Senin, 19 Oktober 2026

Pengalaman Berbagi dalam materi kbmn pgri gelombang 35 pertemuan ke- 19

MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35 – PERTEMUAN KE-19

### Pengalaman Berbagi Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Tema: Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Sasaran: Peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35

Tujuan pembelajaran: Mengajak peserta memahami makna berbagi ilmu dan pengalaman, belajar dari perjalanan hidup, serta membangun kebiasaan menulis sebagai sarana berbagi manfaat bagi sesama guru dan masyarakat.

### A. Pembukaan: Berbagi Itu Indah, Menulis Itu Ibadah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Bapak dan Ibu guru hebat peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan.

Apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap semangat belajar menulis meskipun kesibukan sebagai guru tidak pernah ada habisnya.

Malam ini kita akan belajar tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi terkadang kita lupa melakukannya. Sesuatu itu bernama berbagi.

Berbagi tidak harus menunggu kaya. Berbagi tidak harus menunggu menjadi profesor. Berbagi juga tidak harus menunggu menjadi penulis terkenal. Kita bisa berbagi sejak hari ini, dari hal-hal sederhana yang kita miliki.

Seorang guru dapat berbagi pengalaman mengajar. Seorang penulis dapat berbagi gagasan melalui tulisan. Seorang kepala sekolah dapat berbagi pengalaman memimpin sekolah. Bahkan seorang murid pun bisa berbagi pelajaran berharga kepada gurunya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat indah:

“Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Matahari menyinari bumi tanpa meminta manusia membayar sinarnya. Ia menerangi siapa saja, tanpa membedakan kaya atau miskin, tua atau muda, guru atau murid.

Begitulah seharusnya kita berbagi ilmu dan pengalaman. Kita memberikan apa yang kita ketahui agar orang lain memperoleh manfaat. Kita menulis bukan hanya untuk mendapatkan pujian, tetapi juga agar pengalaman kita dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

Malam ini Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu tidak sekadar belajar teori tentang berbagi, melainkan juga merenungkan pengalaman nyata dalam kehidupan kita sebagai guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat.

Sebab, ilmu yang disimpan sendirian hanya akan berhenti pada diri sendiri. Namun, ilmu yang dibagikan dapat tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat kepada banyak orang.

### B. Apa Makna Berbagi yang Sesungguhnya?

Berbagi adalah kesediaan memberikan sebagian dari apa yang kita miliki untuk membantu, menginspirasi, atau memudahkan kehidupan orang lain.

Selama ini, sebagian orang menganggap berbagi identik dengan memberikan uang atau barang. Padahal, ada banyak bentuk berbagi yang nilainya tidak kalah besar.

Pertama, berbagi ilmu pengetahuan. Guru yang mengajarkan cara membuat media pembelajaran digital kepada rekan sejawat sedang berbagi ilmu. Penulis yang menjelaskan cara menyusun artikel yang baik juga sedang berbagi ilmu.

Kedua, berbagi pengalaman. Kita mungkin pernah gagal mengelola kelas, mengalami kesulitan menyelesaikan penelitian, atau menghadapi tantangan dalam mendampingi murid. Pengalaman itu dapat menjadi pelajaran berharga ketika diceritakan dengan jujur dan disertai refleksi.

Ketiga, berbagi waktu dan perhatian. Mendengarkan keluh kesah teman sejawat, mendampingi guru pemula, dan memberikan masukan terhadap tulisan orang lain merupakan bentuk kepedulian yang nyata.

Keempat, berbagi kesempatan. Kita dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil, berbicara, menulis, menjadi narasumber, atau memimpin kegiatan.

Kelima, berbagi inspirasi. Kisah sederhana tentang guru yang pantang menyerah dapat membangkitkan semangat guru lain yang sedang menghadapi kesulitan.

Dari berbagai bentuk tersebut, kita dapat memahami bahwa berbagi tidak selalu membutuhkan biaya. Yang paling penting adalah ketulusan, kepedulian, dan kesediaan untuk memberikan manfaat.

Pertanyaan refleksi untuk peserta:

Pernahkah Bapak dan Ibu mendapatkan pertolongan dari seseorang yang tidak mengharapkan imbalan? Apa yang Bapak dan Ibu rasakan saat itu?

Cobalah mengingat satu peristiwa tersebut. Bisa jadi, pengalaman itulah yang kelak menjadi tulisan inspiratif.

### C. Mengapa Guru Perlu Berbagi Pengalaman?

Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi pelajaran. Guru adalah pembelajar yang setiap hari berhadapan dengan beragam karakter, persoalan, dan pengalaman manusia.

Setiap hari di sekolah, guru mengumpulkan banyak cerita. Ada murid yang kesulitan memahami pelajaran, murid yang tiba-tiba menunjukkan kemampuan luar biasa, orang tua yang datang dengan berbagai harapan, hingga rekan guru yang menemukan metode pembelajaran baru.

Sayangnya, tidak semua pengalaman itu dicatat.

Ketika pengalaman tidak ditulis, kita berisiko melupakannya. Padahal, pengalaman yang kita anggap biasa mungkin sangat berharga bagi guru lain.

Bayangkan seorang guru di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas internet. Ia menemukan cara kreatif mengajarkan algoritma tanpa komputer. Jika pengalaman itu ditulis dan dibagikan, guru di sekolah lain dapat mempelajari dan mengadaptasinya.

Bayangkan pula seorang guru yang berhasil menumbuhkan kebiasaan membaca di kelas melalui kegiatan sederhana selama sepuluh menit setiap pagi. Ceritanya bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain.

Itulah kekuatan berbagi melalui tulisan.

Ada beberapa alasan mengapa guru perlu berbagi pengalaman.

* Membantu guru lain belajar lebih cepat. Pengalaman kita dapat menjadi jalan pintas bagi orang lain untuk menemukan solusi.

* Membangun budaya refleksi. Ketika menulis pengalaman, kita belajar melihat kembali apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

* Menguatkan komunitas guru. Berbagi membuat guru merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pendidikan.

* Menyebarkan praktik baik. Pengalaman pembelajaran yang berhasil dapat diadaptasi oleh guru lain sesuai kebutuhan sekolahnya.

* Meninggalkan jejak kebaikan. Tulisan kita dapat dibaca dan dimanfaatkan orang lain bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di sekolah.

Oleh karena itu, menulis bagi guru bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Menulis dapat menjadi bagian dari pengembangan profesi sekaligus pengabdian kepada sesama.

### D. Kisah Nyata Omjay: Dari Blog Pribadi Menjadi Jalan Berbagi

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang berbahagia,

Izinkan Omjay berbagi pengalaman perjalanan menulis yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Omjay sebagai guru.

Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., adalah guru Informatika di SMP Labschool Jakarta. Selain mengajar, Omjay juga aktif menulis, menjadi narasumber, mengembangkan literasi, dan mendampingi guru-guru yang ingin belajar menulis.

Perjalanan ini tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Omjay mulai membangun kebiasaan menulis dan mengembangkan blog sejak tahun 2007.

Pada waktu itu, blog menjadi salah satu ruang bagi Omjay untuk menyimpan gagasan, menceritakan pengalaman, dan berbagi pengetahuan. Tulisan-tulisan yang awalnya terasa sederhana perlahan menjadi dokumentasi perjalanan sebagai guru dan pembelajar.

Omjay belajar bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan kalimat yang indah. Menulis juga tentang keberanian mengabadikan pemikiran dan kesediaan membagikannya kepada orang lain.

Blog Omjay, [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com), menjadi salah satu sarana untuk berbagi gagasan dan pengalaman. Melalui tulisan, pengalaman yang semula hanya diketahui oleh Omjay dapat dibaca oleh orang lain yang membutuhkan.

Omjay juga aktif menulis di Kompasiana dan berbagai ruang publikasi lainnya. Ada pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, teknologi, literasi, hingga kisah perjalanan yang dijadikan bahan pembelajaran.

Dari perjalanan tersebut, Omjay semakin meyakini satu hal: jangan meremehkan tulisan sederhana yang dibuat dengan ketulusan.

Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang membutuhkan tulisan kita. Bisa jadi, seorang guru sedang mencari cara mengatasi masalah pembelajaran. Bisa jadi, seorang penulis pemula sedang membutuhkan motivasi. Bisa jadi pula, seseorang yang hampir menyerah kembali bersemangat setelah membaca pengalaman kita.

Karena itulah, Omjay terus mendorong guru untuk menulis setiap hari.

Bukan berarti setiap tulisan harus sempurna. Bukan pula berarti setiap tulisan harus langsung viral. Yang terpenting adalah kita berani memulai, konsisten berlatih, dan bersedia belajar dari kesalahan.

Motto yang selalu Omjay gaungkan adalah:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Kalimat ini bukan sekadar slogan. Ia merupakan ajakan untuk membuktikan sendiri manfaat menulis melalui praktik yang berkelanjutan.

### 1\. Berbagi melalui komunitas belajar menulis

Salah satu bentuk berbagi yang Omjay jalani adalah terlibat dalam kegiatan Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI.

Melalui KBMN PGRI, guru-guru dari berbagai daerah memperoleh ruang untuk belajar menulis, berdiskusi, mengembangkan gagasan, dan berlatih menghasilkan karya.

Omjay ikut menggerakkan kegiatan belajar menulis ini karena percaya bahwa setiap guru memiliki cerita yang layak dibagikan.

Ada guru yang baru pertama kali menulis artikel. Ada yang ingin menulis buku. Ada yang ingin mengembangkan blog. Ada pula yang sebenarnya memiliki banyak pengalaman, tetapi belum percaya diri untuk menceritakannya.

Mereka membutuhkan ruang yang aman untuk belajar.

Di sinilah pentingnya komunitas. Guru yang sudah lebih dahulu belajar dapat membantu guru yang baru memulai. Peserta yang telah berhasil menyelesaikan artikel dapat menyemangati peserta lain. Pengalaman satu orang dapat menjadi pembelajaran bersama.

Melalui kegiatan seperti KBMN PGRI, semangat berbagi diharapkan tidak berhenti pada satu pertemuan. Peserta dapat meneruskan ilmunya kepada rekan guru di sekolah masing-masing.

Bayangkan jika satu guru membantu lima guru lainnya untuk mulai menulis. Jika lima guru tersebut kemudian mengajak lima guru lagi, manfaatnya dapat berkembang jauh melampaui kelompok awal.

Itulah semangat berbagi: ilmu tidak habis ketika diberikan, tetapi justru berpotensi bertambah manfaatnya.

### 2\. Berbagi ilmu tentang teknologi dan pendidikan

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay memiliki pengalaman dalam pembelajaran teknologi, TIK, coding, dan kecerdasan artifisial.

Omjay memahami bahwa perkembangan teknologi membuat guru harus terus belajar. Apa yang kita kuasai hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan pendidikan beberapa tahun mendatang.

Karena itu, pengalaman belajar teknologi perlu dibagikan.

Ketika guru memahami suatu aplikasi, ia dapat menjelaskan cara menggunakannya kepada rekan sejawat. Ketika guru menemukan strategi mengajarkan coding, ia dapat mendokumentasikannya. Ketika guru mencoba memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk pembelajaran, ia dapat membagikan manfaat, keterbatasan, dan pelajaran yang diperoleh.

Namun, Omjay juga selalu menekankan pentingnya hati nurani dan tanggung jawab manusia.

Teknologi adalah alat bantu. Kecerdasan artifisial dapat membantu menyusun gagasan, tetapi guru tetap perlu menggunakan pengetahuan, pengalaman, kreativitas, dan pertimbangan etikanya sendiri.

Dalam kegiatan menulis, AI dapat menjadi teman berdiskusi. Akan tetapi, pengalaman pribadi, kejujuran, dan suara khas penulis tetap harus dijaga.

Sebab, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang rapi, melainkan tulisan yang membawa makna dan dapat dipertanggungjawabkan.

### 3\. Berbagi tidak harus menunggu terkenal

Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu memahami satu hal penting.

Jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki ribuan pengikut untuk menginspirasi. Jangan menunggu buku diterbitkan untuk mulai menulis.

Mulailah dari pengalaman yang ada di depan mata.

Ceritakan pengalaman mengajar hari ini. Tuliskan cara Bapak dan Ibu membantu murid yang kesulitan belajar. Bagikan pengalaman mengikuti pelatihan. Dokumentasikan praktik baik di sekolah.

Tulisan pertama mungkin hanya dibaca beberapa orang. Tulisan berikutnya mungkin mendapat tanggapan dari rekan sejawat. Seiring waktu, kumpulan tulisan itu dapat menjadi sumber belajar yang berguna.

Omjay sendiri terus mengajak guru untuk menulis dan berbagi melalui blog, media sosial, pelatihan, webinar, dan komunitas belajar.

Tujuannya bukan semata-mata mendapatkan popularitas. Tujuannya adalah memperluas kesempatan agar ilmu dan pengalaman dapat menjangkau lebih banyak orang.

Jika sebuah tulisan membantu satu orang, itu sudah merupakan manfaat. Jika tulisan tersebut membantu seratus orang, manfaatnya semakin luas. Jika tulisan itu terus dibaca dan dipraktikkan oleh banyak guru, pengaruhnya dapat berlangsung lebih lama daripada yang kita bayangkan.

Tentu saja, kita tidak perlu mengklaim bahwa setiap tulisan pasti dibaca jutaan orang. Yang perlu kita lakukan adalah terus menulis, memperbaiki kualitas karya, dan membuka kesempatan agar tulisan tersebut dapat menjangkau sebanyak mungkin pembaca.

### E. Hanya Memberi Tak Harap Kembali: Belajar dari Sang Surya

Mengapa tema kita malam ini menggunakan ungkapan “Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”?

Karena ungkapan tersebut mengajarkan ketulusan.

Matahari menjalankan perannya dengan menyinari bumi. Kita dapat menjadikannya perumpamaan tentang orang yang memberikan manfaat tanpa menjadikan imbalan sebagai tujuan utama.

Dalam kehidupan seorang guru, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana.

Seorang guru berbagi bahan ajar tanpa merasa terancam bahwa rekan sejawatnya akan menjadi lebih hebat. Seorang penulis memberikan masukan dengan sopan tanpa merendahkan penulis pemula. Seorang mentor membimbing peserta sampai mereka berani menghasilkan karya sendiri.

Semua itu merupakan bentuk berbagi yang patut kita teladani.

Namun, ketulusan bukan berarti kita harus mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Guru tetap berhak memperoleh penghargaan yang layak. Penulis tetap boleh menerima honorarium. Narasumber tetap boleh mendapatkan imbalan profesional.

Yang perlu kita jaga adalah niat dan cara kita memperlakukan orang lain.

Jangan sampai kita hanya mau berbagi jika mendapat pujian. Jangan sampai kita berhenti membantu karena tidak disebut dalam ucapan terima kasih. Jangan sampai kita merasa rugi ketika ilmu yang kita ajarkan membuat orang lain lebih maju.

Sebaliknya, berbahagialah ketika orang yang kita bimbing berhasil.

Jika peserta KBMN PGRI mampu menerbitkan buku, kita patut bersyukur. Jika rekan guru berhasil membuat blog, kita patut memberikan apresiasi. Jika murid berhasil mengembangkan kemampuan yang dahulu belum dimilikinya, kita patut ikut berbahagia.

Keberhasilan orang lain bukan ancaman bagi kita. Keberhasilan mereka dapat menjadi bukti bahwa ilmu yang dibagikan telah menemukan tempat untuk bertumbuh.

Berbagi bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa tulus kita berusaha memberikan manfaat.

### F. Lima Prinsip Berbagi ala Omjay

Agar semangat berbagi dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 memegang lima prinsip berikut.

### 1\. Berbagi dari apa yang kita miliki

Kita tidak harus menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Bagikan apa yang benar-benar kita ketahui dan alami.

Jika kita baru belajar menulis artikel, bagikan pengalaman saat menyusun paragraf pertama. Jika kita baru berhasil menggunakan aplikasi pembelajaran, ceritakan proses belajarnya.

Jangan menunggu sempurna untuk memulai.

### 2\. Berbagi dengan jujur

Tulislah pengalaman sesuai kenyataan. Jika kita pernah gagal, akui kegagalan itu. Jika kita belum memahami sesuatu, jangan berpura-pura menjadi ahli.

Kejujuran membuat tulisan lebih manusiawi dan membantu pembaca memahami proses belajar yang sesungguhnya.

### 3\. Berbagi tanpa merendahkan

Setiap orang memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami teknologi, ada pula yang memerlukan pendampingan lebih lama.

Guru yang berpengalaman seharusnya membantu, bukan mempermalukan. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang membangun.

### 4\. Berbagi secara konsisten

Kebaikan tidak harus selalu dilakukan dalam kegiatan besar. Kita dapat berbagi sedikit demi sedikit, tetapi secara berkelanjutan.

Tulisan pendek yang dibuat secara rutin dapat berkembang menjadi kumpulan artikel. Percakapan singkat yang memberi semangat dapat membantu seseorang bertahan dalam proses belajarnya.

### 5\. Berbagi sambil terus belajar

Orang yang berbagi bukan berarti sudah mengetahui semuanya. Justru ketika menjelaskan sesuatu kepada orang lain, kita sering menemukan hal-hal yang belum kita pahami.

Karena itu, jangan berhenti membaca, berdiskusi, menerima masukan, dan memperbaiki tulisan.

Semakin banyak kita belajar, semakin banyak pula hal yang dapat dibagikan dengan bertanggung jawab.

### G. Bagaimana Mengubah Pengalaman Menjadi Tulisan yang Bermanfaat?

Bapak dan Ibu guru hebat,

Salah satu tantangan penulis pemula adalah merasa tidak memiliki bahan tulisan. Padahal, bahan tulisan sering kali berada di sekitar kita.

Untuk membantu peserta KBMN PGRI Gelombang 35, Omjay membagikan metode sederhana yang dapat digunakan kapan saja.

Gunakan lima langkah berikut.

Langkah pertama: Ingat satu peristiwa.

Pilih satu pengalaman nyata yang berkesan. Misalnya, ketika seorang murid yang biasanya pendiam tiba-tiba berani mempresentasikan hasil karyanya.

Langkah kedua: Catat kejadian yang sebenarnya.

Tuliskan kapan peristiwa terjadi, siapa yang terlibat, apa masalahnya, dan bagaimana peristiwa itu berlangsung. Jaga privasi murid dan orang lain yang terlibat.

Langkah ketiga: Ceritakan perasaan dan tantangannya.

Apa yang Bapak dan Ibu rasakan? Apa kesulitan yang muncul? Mengapa peristiwa itu penting?

Langkah keempat: Temukan pelajarannya.

Jangan berhenti pada cerita. Jelaskan apa yang berubah dalam cara pandang kita dan apa yang dapat dipelajari oleh pembaca.

Langkah kelima: Bagikan melalui media yang sesuai.

Tulisan dapat diterbitkan di blog pribadi, Kompasiana, majalah sekolah, atau media lain yang relevan. Sebelum menerbitkan, periksa kembali ejaan, fakta, dan etika penulisannya.

Berikut contoh sederhana.

Judul: Ketika Murid Pendiam Berani Berbicara

Hari itu saya meminta murid-murid mempresentasikan hasil kerja kelompok. Seorang murid yang biasanya diam terlihat ragu-ragu. Ia menunduk dan beberapa kali mengatakan belum siap.

Saya tidak langsung memaksanya. Saya memberinya waktu untuk mempersiapkan diri dan menawarkan kesempatan berbicara bersama temannya.

Ketika akhirnya ia berdiri di depan kelas, suaranya memang belum lantang. Namun, ia berhasil menyampaikan gagasan sampai selesai.

Saya merasa bahagia. Hari itu saya belajar bahwa keberanian murid tidak selalu tumbuh karena tuntutan. Terkadang, keberanian tumbuh karena ada guru yang memberikan ruang, waktu, dan kepercayaan.

Sejak saat itu, saya semakin memahami bahwa tugas guru bukan hanya meminta murid menunjukkan kemampuan, melainkan juga membantu mereka menemukan keberanian untuk berkembang.

Pengalaman sederhana ini dapat menjadi artikel yang bermanfaat karena memuat peristiwa, perasaan, refleksi, dan pelajaran.

Itulah salah satu cara mengubah pengalaman menjadi tulisan yang menginspirasi.

### H. Tantangan Berbagi di Era Digital dan Kecerdasan Artifisial

Di era digital, kita memiliki kesempatan berbagi yang semakin luas. Sebuah artikel dapat diterbitkan dalam hitungan menit. Materi pembelajaran dapat dibagikan kepada rekan guru di berbagai daerah. Diskusi dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab.

Pertama, kita harus memeriksa kebenaran informasi. Jangan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi hanya karena ingin menjadi orang pertama yang membagikannya.

Kedua, kita harus menghormati hak cipta. Jika menggunakan gagasan, gambar, atau tulisan orang lain, perhatikan izin penggunaan dan cantumkan sumber sesuai ketentuan.

Ketiga, kita harus menjaga privasi. Pengalaman mengajar boleh dibagikan, tetapi identitas murid, informasi pribadi keluarga, dan hal-hal sensitif harus dilindungi.

Keempat, kita harus menggunakan AI secara bijaksana. AI dapat membantu menyusun kerangka, memperbaiki bahasa, atau memancing ide. Namun, penulis perlu memeriksa fakta dan memastikan bahwa isi tulisan sesuai dengan pengalaman serta pemikirannya sendiri.

Kelima, kita harus mengutamakan manfaat. Jangan hanya mengejar jumlah tayangan atau tanda suka. Pikirkan apakah tulisan tersebut memberikan pengetahuan, inspirasi, atau solusi kepada pembaca.

Omjay percaya bahwa masa depan pendidikan membutuhkan guru yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Kita boleh menggunakan teknologi yang semakin canggih. Namun, kejujuran, empati, tanggung jawab, dan ketulusan tetap harus menjadi dasar dalam berbagi.

### I. Mengatasi Rasa Takut untuk Berbagi

Ada beberapa alasan mengapa guru enggan berbagi pengalaman.

Ada yang takut tulisannya dianggap jelek. Ada yang khawatir mendapat kritik. Ada yang merasa pengalamannya terlalu sederhana. Ada pula yang merasa tidak sepandai penulis lain.

Jika Bapak dan Ibu merasakan hal yang sama, jangan berkecil hati.

Semua penulis pernah berada pada tahap belajar. Kemampuan menulis tidak tumbuh dalam satu malam. Ia berkembang melalui latihan, membaca, berdiskusi, dan memperbaiki karya.

Berikut beberapa cara mengatasi rasa takut tersebut.

* Mulailah dengan tulisan pendek, sekitar 300–500 kata.

* Gunakan bahasa yang biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari.

* Ceritakan pengalaman yang benar-benar kita alami.

* Mintalah seorang teman membaca tulisan sebelum diterbitkan.

* Terimalah kritik yang membangun tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi.

* Jangan membandingkan tulisan pertama kita dengan karya penulis yang sudah puluhan tahun berlatih.

Ingatlah, tujuan awal kita bukan menjadi penulis paling hebat. Tujuan awal kita adalah menjadi penulis yang terus bertumbuh dan bersedia berbagi.

Jika hari ini kita mampu menulis satu paragraf, syukurilah. Jika besok kita mampu menyelesaikan satu artikel, teruskanlah. Jika suatu hari kumpulan tulisan kita menjadi sebuah buku, jadikanlah buku itu sebagai sarana memperluas manfaat.

### J. Tugas Praktik KBMN PGRI Gelombang 35

### Tugas Menulis: Pengalaman Berbagi yang Tak Terlupakan

Waktu pengerjaan: 30–45 menit

Tujuan: Melatih peserta menulis pengalaman nyata yang mengandung nilai kebaikan, pembelajaran, dan inspirasi.

Petunjuk pengerjaan:

* Pilih satu pengalaman ketika Bapak atau Ibu berbagi ilmu, waktu, tenaga, atau perhatian kepada orang lain.

* Tulislah pengalaman tersebut dalam bentuk artikel sepanjang 300–500 kata.

* Gunakan sudut pandang orang pertama, yaitu “saya”.

* Sertakan pelajaran yang diperoleh dan manfaat yang diharapkan bagi pembaca.

* Berikan judul yang menarik dan sesuai dengan isi cerita.

* Periksa kembali tulisan sebelum dibagikan di grup KBMN PGRI Gelombang 35.

Pilihan judul:

* Ketika Ilmu yang Saya Bagikan Menjadi Berkah

* Berbagi Tidak Membuat Kita Miskin

* Satu Kebaikan Kecil yang Tak Terlupakan

* Saya Bahagia Ketika Orang Lain Berhasil

* Pengalaman Berbagi yang Mengubah Hidup Saya

Kriteria penilaian:

* Keaslian dan kejujuran pengalaman: 30 poin

* Kejelasan alur cerita: 20 poin

* Kedalaman refleksi dan pelajaran: 25 poin

* Bahasa dan keterbacaan: 15 poin

* Judul dan ketepatan tema: 10 poin

Total: 100 poin.

Catatan: Gunakan pengalaman sendiri. AI boleh digunakan sebagai alat bantu penyuntingan jika diperlukan, tetapi jangan mengarang pengalaman pribadi atau menyalin tulisan orang lain.

### Contoh kerangka tulisan peserta

Untuk memudahkan peserta yang masih bingung, gunakan kerangka berikut.

* Pembukaan: pengalaman berbagi apa yang ingin diceritakan?

* Isi: kapan peristiwa itu terjadi dan apa yang dilakukan?

* Tantangan: kesulitan apa yang dihadapi?

* Hasil: apa yang terjadi setelah berbagi?

* Refleksi: pelajaran apa yang diperoleh?

* Penutup: ajakan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca?

Peserta tidak perlu menulis dengan bahasa yang rumit. Tulislah dengan bahasa yang jujur, runtut, dan menyentuh hati.

### K. Refleksi Bersama: Apakah Kita Sudah Menjadi Matahari bagi Orang Lain?

Sebelum menutup pertemuan malam ini, mari kita merenung sejenak.

Apakah selama ini kita hanya menyimpan ilmu untuk diri sendiri?

Apakah kita sudah memberikan kesempatan kepada rekan sejawat untuk berkembang?

Apakah kita bersedia membantu penulis pemula meskipun tulisannya belum sempurna?

Apakah kita mampu berbahagia ketika orang lain berhasil berkat ilmu yang pernah kita bagikan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Jawablah dengan jujur melalui tindakan nyata.

Kita tidak harus menjadi matahari yang menerangi seluruh dunia sekaligus. Kita dapat memulainya dengan menjadi cahaya kecil bagi orang-orang di sekitar kita.

Bagi seorang guru, cahaya itu bisa berupa satu penjelasan yang membuat murid memahami pelajaran. Bagi seorang penulis, cahaya itu bisa berupa satu artikel yang membuat pembaca kembali bersemangat. Bagi seorang mentor, cahaya itu bisa berupa satu kalimat yang membuat peserta berani menerbitkan tulisan pertamanya.

Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Kita tidak selalu mengetahui seberapa jauh manfaat dari apa yang kita bagikan. Tugas kita adalah berusaha memberikan manfaat dengan tulus, sedangkan hasilnya dapat berkembang melalui perjalanan hidup orang lain.

### L. Penutup: Mari Menjadi Guru yang Gemar Berbagi

Bapak dan Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay cintai dan banggakan,

Perjalanan kita sebagai guru tidak hanya diukur dari berapa banyak materi yang telah disampaikan, berapa banyak tugas yang telah diperiksa, atau berapa lama kita berdiri di depan kelas.

Perjalanan kita juga dapat diukur dari berapa banyak orang yang kita bantu untuk bertumbuh.

Omjay telah merasakan bahwa menulis dan berbagi dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat pengalaman seorang guru. Sejak membangun blog pada 2007, Omjay terus berusaha mendokumentasikan pengalaman, berbagi gagasan, dan mengajak guru-guru belajar menulis melalui berbagai ruang, termasuk KBMN PGRI.

Perjalanan tersebut tentu masih memiliki banyak tantangan. Tidak setiap tulisan mendapatkan perhatian yang besar. Tidak setiap peserta langsung aktif. Tidak semua orang dapat menyelesaikan proses belajar dengan kecepatan yang sama.

Namun, kita tidak boleh berhenti hanya karena hasilnya belum sesuai harapan.

Omjay ingin melihat semakin banyak guru Indonesia berani menulis. Guru yang menulis pengalaman mengajarnya. Guru yang membagikan praktik baik. Guru yang mendokumentasikan inovasinya. Guru yang menginspirasi murid dan rekan sejawat melalui karya nyata.

Kita ingin KBMN PGRI bukan sekadar tempat berkumpulnya anggota, melainkan ruang belajar yang hidup, tempat peserta saling membantu, saling membaca, saling memberi masukan, dan saling menguatkan.

Mari kita buktikan bahwa semangat berbagi tidak berhenti setelah pertemuan malam ini selesai.

Tulislah pengalaman Bapak dan Ibu. Bagikan ilmu yang bermanfaat. Bantu rekan yang sedang kesulitan. Berikan apresiasi kepada mereka yang sedang belajar. Teruslah berkarya meskipun langkah kita kecil.

Sebab, tulisan yang lahir dari pengalaman dan ketulusan dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Izinkan Omjay menutup materi malam ini dengan pesan sederhana:

Jangan menunggu hebat untuk berbagi. Berbagilah agar kita dan orang lain sama-sama bertumbuh. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Menulislah agar pengalaman kita tidak hilang ditelan waktu.

Mari kita pegang erat ungkapan yang menjadi tema pertemuan malam ini:

“Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Semoga kita menjadi guru yang bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga senang belajar, gemar menulis, dan tulus berbagi.

Semoga setiap ilmu yang kita bagikan menjadi jalan kebaikan. Semoga setiap tulisan yang kita terbitkan membawa manfaat. Dan semoga KBMN PGRI Gelombang 35 melahirkan penulis-penulis guru yang terus menginspirasi Indonesia.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

### M. Pantun Penutup Omjay

Pergi ke sekolah membawa buku,

Buku dibaca menambah wawasan.

Mari berbagi ilmu selalu,

Agar hidup penuh kebermanfaatan.

Burung merpati terbang ke awan,

Hinggap sebentar di pohon jati.

Jangan berhenti menebar kebaikan,

Tulislah kisah dengan sepenuh hati.

Jalan-jalan ke tepi samudra,

Melihat mentari bersinar terang.

Guru berbagi untuk Indonesia,

Ilmu mengalir sepanjang zaman.

Salam hangat dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke18 bersama Omjay

### MATERI PERTEMUAN KE-18 KBMN PGRI GELOMBANG 35

### AI dan Masa Depan Pendidikan: Guru Tetap di Hati, Teknologi Membantu Berkreasi

Narasumber: Omjay — Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. | Guru Blogger Indonesia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam bahagia dan salam literasi untuk seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35 di mana pun berada.

Bapak dan Ibu guru hebat, apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap bersemangat untuk belajar menulis. Kita sudah melewati banyak pertemuan dalam perjalanan belajar menulis selama bulan Oktober ini. Setiap hari kita berusaha menemukan ide, merangkai kata, membagikan pengalaman, dan menginspirasi pembaca melalui tulisan.

Pada pertemuan ke-18 ini, kita akan membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini, yaitu AI dan Masa Depan Pendidikan.

Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari. AI membantu kita mencari informasi, membuat rangkuman, menyusun bahan ajar, mengembangkan ide tulisan, bahkan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan guru? Apakah suatu saat nanti siswa cukup belajar dari mesin tanpa membutuhkan kehadiran seorang pendidik?

Mari kita membahasnya dengan pikiran terbuka, hati yang jernih, dan semangat untuk terus belajar.

### 1\. Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ke-18 ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami pengertian AI dan perannya dalam dunia pendidikan.

* Mengenali peluang dan tantangan penggunaan AI bagi guru dan siswa.

* Memanfaatkan AI secara bijak untuk mendukung kegiatan belajar dan menulis.

* Menumbuhkan sikap kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

* Menghasilkan tulisan reflektif tentang AI dan masa depan pendidikan berdasarkan pengalaman atau pemikiran pribadi.

### 2\. Apa itu AI?

AI atau kecerdasan artifisial adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali pola, menganalisis informasi, menghasilkan teks, dan membantu memecahkan masalah.

Contohnya, ketika kita meminta AI menyusun kerangka artikel tentang pengalaman mengajar, AI dapat memberikan beberapa pilihan judul, menyusun urutan pembahasan, dan menyarankan pertanyaan untuk menggali pengalaman pribadi.

Ketika guru mengajarkan Informatika, AI juga dapat membantu menjelaskan konsep algoritma, memberikan contoh kode program, menyusun soal latihan, atau menawarkan cara berbeda untuk menjelaskan materi yang sulit dipahami siswa.

Namun, kita harus memahami satu hal: AI dapat membantu menghasilkan jawaban, tetapi jawabannya belum tentu benar. AI bisa memberikan informasi yang keliru, membuat contoh yang tidak sesuai, atau menyampaikan informasi seolah-olah benar padahal perlu diperiksa kembali.

Karena itu, manusia tetap harus berpikir, memeriksa, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan.

### 3\. Bagaimana AI mengubah masa depan pendidikan?

Ada beberapa perubahan yang patut kita perhatikan.

### A. Pembelajaran menjadi lebih personal

Setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami bahasa. Ada pula siswa yang lebih mudah belajar melalui contoh, gambar, praktik, atau cerita.

AI dapat membantu menyediakan latihan dengan tingkat kesulitan berbeda, memberikan penjelasan alternatif, dan menyusun soal sesuai kebutuhan belajar siswa.

Meskipun demikian, guru tetap perlu mengamati perkembangan siswa secara langsung. Tidak semua kesulitan belajar dapat diketahui hanya dari jawaban di layar komputer.

### B. Guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyiapkan pembelajaran

Guru sering menghabiskan waktu untuk membuat soal, menyusun bahan presentasi, menyiapkan lembar kerja, dan merancang kegiatan pembelajaran.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan awal tersebut. Misalnya, guru dapat meminta AI menyusun sepuluh soal tentang keamanan digital untuk siswa SMP, lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasannya.

Setelah itu, guru memeriksa ketepatan soal, menyesuaikan tingkat kesulitan, dan menghubungkannya dengan tujuan pembelajaran.

Dengan cara ini, AI menjadi asisten yang membantu pekerjaan guru, bukan pengganti tanggung jawab profesional guru.

### C. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis semakin penting

Di masa depan, siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus mampu menilai informasi, mengenali berita palsu, memahami risiko keamanan data, dan mempertanyakan jawaban yang diperoleh dari AI.

Contohnya, ketika AI memberikan informasi tentang suatu peristiwa sejarah, siswa perlu membandingkannya dengan buku pelajaran dan sumber tepercaya. Mereka tidak boleh langsung menyalin jawaban tanpa memahami isinya.

Inilah kesempatan bagi guru untuk membiasakan siswa bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah buktinya kuat, dan apakah kesimpulannya masuk akal?

### D. Keterampilan manusia tetap dibutuhkan

Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari guru kepada siswa. Pendidikan juga merupakan proses membangun karakter, tanggung jawab, empati, kejujuran, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama.

AI dapat menghasilkan kalimat yang terdengar menyentuh, tetapi guru yang hadir di kelas dapat melihat siswa yang sedang kehilangan semangat, mendengarkan kegelisahannya, dan memberikan dukungan sesuai keadaan.

Teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi hubungan antarmanusia tetap memiliki peran penting.

### 4\. Peluang AI bagi guru dan penulis

Sebagai guru sekaligus penulis, kita dapat memanfaatkan AI untuk berbagai kegiatan.

| Kegiatan                  | Contoh pemanfaatan AI                                |
| ------------------------- | ---------------------------------------------------- |
| Menyiapkan bahan ajar     | Membuat kerangka materi dan contoh sederhana         |
| Membuat soal              | Menyusun soal latihan sesuai tujuan pembelajaran     |
| Mengembangkan ide tulisan | Mencari sudut pandang dan pilihan judul              |
| Menyunting artikel        | Memeriksa ejaan, struktur, dan kejelasan kalimat     |
| Membuat refleksi          | Menyusun pertanyaan untuk mengevaluasi pembelajaran  |
| Belajar mandiri           | Meminta penjelasan alternatif atas konsep yang sulit |

Kuncinya adalah menggunakan AI untuk membantu proses berpikir, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya.

Misalnya, seorang guru ingin menulis artikel berjudul Pengalaman Mengajar yang Tak Terlupakan. AI dapat membantu membuat kerangka tulisan, tetapi cerita tentang siswa yang pernah membuat guru terharu harus berasal dari pengalaman nyata sang guru.

Detail peristiwa, perasaan, dialog, dan pelajaran hidup merupakan bagian penting yang memberikan jiwa pada tulisan.

AI boleh membantu merangkai kata, tetapi pengalaman nyata dan kejujuran penulis tidak boleh dihilangkan.

### 5\. Tantangan penggunaan AI dalam pendidikan

Di balik berbagai peluang, ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama.

### A. Ketergantungan pada AI

Siswa bisa saja menggunakan AI untuk mengerjakan semua tugas tanpa membaca, memahami, atau memikirkan jawabannya. Guru pun dapat terjebak menggunakan bahan yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kebenarannya.

Solusinya bukan sekadar melarang teknologi, melainkan mengajarkan cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Guru dapat meminta siswa menjelaskan proses berpikirnya, mempraktikkan konsep yang dipelajari, atau menceritakan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan tugas.

### B. Kejujuran akademik

Jika siswa mengumpulkan tulisan yang seluruhnya dihasilkan AI dan mengaku sebagai karya pribadi tanpa mengikuti aturan tugas, proses belajarnya dapat kehilangan makna.

Karena itu, guru perlu menjelaskan kapan AI boleh digunakan, bagian apa yang harus dikerjakan sendiri, dan bagaimana mengungkapkan bantuan AI secara jujur.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak langsung menuduh siswa melakukan kecurangan hanya karena tulisannya tampak rapi. Penilaian harus berdasarkan proses dan bukti yang relevan, bukan dugaan semata.

### C. Privasi dan keamanan data

Jangan sembarangan memasukkan nama lengkap siswa, nilai, alamat, nomor telepon, rekam medis, atau informasi pribadi lainnya ke dalam layanan AI.

Guru perlu memeriksa kebijakan privasi layanan yang digunakan dan mengikuti aturan perlindungan data yang berlaku. Jika ingin menggunakan AI untuk membantu menganalisis hasil belajar, gunakan data yang telah diminimalkan atau dianonimkan sesuai kebutuhan.

### D. Kesenjangan akses teknologi

Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet yang stabil, perangkat yang memadai, atau kemampuan untuk menggunakan layanan AI berbayar.

Masa depan pendidikan yang baik harus tetap memperhatikan keadilan. Siswa yang tidak memiliki akses teknologi tidak boleh kehilangan kesempatan belajar.

Guru perlu menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi sekolah dan menyediakan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan tanpa perangkat digital.

### 6\. Guru seperti apa yang dibutuhkan pada masa depan?

Menurut Omjay, guru masa depan bukanlah guru yang harus mengetahui semua hal tentang teknologi. Guru masa depan adalah guru yang mau terus belajar, berani mencoba hal baru, dan mampu membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijaksana.

Guru perlu mengembangkan setidaknya lima kemampuan berikut.

* Literasi digital. Memahami cara kerja teknologi, manfaatnya, dan risikonya.

* Berpikir kritis. Memeriksa informasi dan tidak mudah percaya pada setiap jawaban AI.

* Kreativitas. Merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan sesuai kebutuhan siswa.

* Komunikasi dan empati. Mendengarkan siswa serta membangun hubungan yang sehat.

* Etika digital. Menghargai privasi, hak cipta, kejujuran, dan tanggung jawab.

Guru tidak harus menjadi ahli AI dalam satu malam. Kita dapat belajar secara bertahap, dimulai dari satu alat, satu kegiatan, dan satu pengalaman baru.

Jangan malu bertanya. Jangan takut mencoba. Jika menemui kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai bahan pembelajaran.

### 7\. Contoh praktik sederhana: Menggunakan AI untuk pembelajaran

Mari kita mencoba sebuah contoh yang bisa diterapkan oleh guru.

Seorang guru Informatika kelas VIII ingin mengajarkan keamanan digital. Ia dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun rancangan pembelajaran.

Contoh perintah atau prompt:

> Saya seorang guru Informatika kelas VIII SMP. Bantu saya menyusun kegiatan pembelajaran selama 40 menit tentang keamanan kata sandi dan phishing. Gunakan bahasa sederhana, berikan satu studi kasus yang dekat dengan kehidupan siswa, lima pertanyaan diskusi, dan satu tugas refleksi. Pastikan kegiatan mendorong siswa berpikir kritis dan tidak meminta mereka membagikan kata sandi pribadi.

Setelah mendapatkan jawaban, guru memeriksa apakah materinya benar, apakah contoh kasusnya sesuai usia siswa, dan apakah kegiatan tersebut aman dilakukan di kelas.

Guru kemudian menambahkan pengalaman mengajar, kondisi siswa, serta pendekatan yang sesuai dengan lingkungan sekolahnya.

Dengan demikian, AI membantu menyiapkan bahan awal, sedangkan guru tetap memegang kendali atas tujuan, isi, metode, dan evaluasi pembelajaran.

### 8\. Masa depan pendidikan: Berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi dengan AI

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia, kita tidak perlu melihat AI semata-mata sebagai ancaman. Teknologi ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membuka ruang kreativitas, dan membantu guru mengembangkan kompetensi.

Namun, kita juga tidak boleh menerima semua perkembangan teknologi tanpa pertimbangan. Setiap alat perlu dinilai berdasarkan manfaat, risiko, keadilan, dan kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan.

Bayangkan sebuah kelas pada masa depan. Siswa menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide, tetapi mereka tetap berdiskusi, melakukan percobaan, membaca buku, menulis refleksi, dan bekerja sama. Guru tidak hanya memeriksa hasil akhir, tetapi juga mendampingi proses berpikir dan perkembangan karakter siswa.

Itulah masa depan pendidikan yang patut kita perjuangkan: pendidikan yang memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi peserta KBMN PGRI Gelombang 35, hal ini juga berlaku dalam kegiatan menulis. Kita boleh memanfaatkan AI untuk menemukan ide, menyusun kerangka, dan memperbaiki ejaan. Namun, jangan sampai kebiasaan menggunakan AI membuat kita berhenti mengamati kehidupan, mendengarkan cerita orang lain, dan menuliskan pengalaman sendiri.

Tulisan yang bermakna tidak hanya dinilai dari susunan katanya, tetapi juga dari kejujuran, kedalaman pemikiran, dan manfaat yang diberikan kepada pembaca.

### 9\. Pertanyaan refleksi untuk peserta

Silakan Bapak dan Ibu menjawab pertanyaan berikut dalam hati atau melalui diskusi bersama peserta lainnya.

* Apa pengalaman pertama Anda menggunakan AI untuk kegiatan mengajar atau menulis?

* Manfaat apa yang paling Anda rasakan ketika menggunakan AI?

* Pernahkah Anda menemukan jawaban AI yang kurang tepat? Bagaimana Anda menyikapinya?

* Apa yang harus tetap dilakukan manusia meskipun teknologi AI semakin canggih?

* Bagaimana cara mengajarkan siswa agar menggunakan AI secara jujur dan bertanggung jawab?

Tidak ada jawaban yang harus sama. Setiap guru memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Justru perbedaan pengalaman itulah yang dapat memperkaya tulisan kita.

### 10\. Tugas menulis pertemuan ke-18

### Tugas Bahagia: AI dan Masa Depan Pendidikan

KBMN PGRI Gelombang 35 — Pertemuan ke-18

Judul tulisan: Bebas dan menarik, sesuai pengalaman masing-masing.

Tema: AI dan Masa Depan Pendidikan.

Panjang tulisan: 300–500 kata.

Bentuk tulisan: Artikel reflektif berdasarkan pengalaman, pengamatan, atau pendapat pribadi.

Panduan isi tulisan:

* Ceritakan pengalaman atau pandangan Anda tentang AI.

* Jelaskan manfaat AI bagi guru, siswa, atau kegiatan menulis.

* Ceritakan tantangan atau kekhawatiran yang Anda rasakan.

* Sampaikan harapan Anda terhadap masa depan pendidikan.

* Tutup tulisan dengan pesan inspiratif bagi guru dan siswa.

Publikasi: Unggah tulisan di blog pribadi atau media yang digunakan dalam kegiatan KBMN PGRI, kemudian bagikan tautannya di grup sesuai arahan panitia.

Target belajar: Menghasilkan satu tulisan yang jujur, sederhana, dan bermanfaat. Tidak harus sempurna. Yang penting, selesai, berani dibagikan, dan terus diperbaiki.

### Contoh pilihan judul

* AI Tidak Menggantikan Guru, tetapi Mengajak Guru Terus Belajar

* Ketika Saya Mulai Mengenal Kecerdasan Artifisial

* Masa Depan Pendidikan di Tangan Guru yang Mau Berubah

* Belajar Menulis Bersama AI tanpa Kehilangan Suara Hati

* Antara Kecanggihan Teknologi dan Ketulusan Seorang Guru

* Murid Saya, AI, dan Pelajaran tentang Kejujuran

* Menjadi Guru di Tengah Perubahan Zaman

### Latihan menulis selama 15 menit

Agar tugas terasa ringan, lakukan langkah berikut.

* Lima menit pertama: tuliskan pengalaman atau pendapat tentang AI tanpa takut salah.

* Lima menit berikutnya: tambahkan contoh nyata, tantangan, atau harapan.

* Lima menit terakhir: buat judul, tulis kesimpulan, dan periksa kembali tulisan.

Jika ingin menggunakan AI, mintalah bantuan untuk mengembangkan kerangka atau memeriksa ejaan. Jangan memasukkan pengalaman yang tidak pernah terjadi hanya agar tulisan terlihat menarik.

### 11\. Rubrik penilaian sederhana

| Aspek                             | Bobot |
| --------------------------------- | ----- |
| Kesesuaian dengan tema            | 25    |
| Keaslian pengalaman dan pemikiran | 30    |
| Kejelasan isi dan alur tulisan    | 25    |
| Refleksi dan manfaat bagi pembaca | 20    |
| Total                             | 100   |

Rubrik ini dapat digunakan sebagai panduan belajar, bukan untuk membuat peserta takut menulis. Berikan apresiasi terhadap keberanian mencoba, kejujuran, dan kemajuan setiap peserta. Ingat, tujuan KBMN bukan hanya menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi juga membangun kebiasaan menulis.

### 12\. Penutup: Teknologi boleh canggih, hati tetap menjadi kompas

Bapak dan Ibu guru hebat, masa depan pendidikan sedang berubah. AI akan terus berkembang, berbagai pekerjaan akan menjadi lebih mudah, dan cara kita memperoleh pengetahuan akan semakin beragam. Namun, perubahan itu tidak berarti guru kehilangan perannya.

Guru tetap dibutuhkan untuk menanamkan nilai, membangun karakter, memberikan teladan, serta menuntun siswa memahami makna pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Begitu pula dengan menulis. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sederhana hari ini. Bisa tentang siswa yang membuat kita tersenyum, kesalahan yang memberikan pelajaran, atau teknologi yang mengubah cara kita mengajar.

Dari pengalaman sederhana itulah lahir tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Mari kita jadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan pengganti pikiran. Jadikan teknologi sebagai alat untuk berkarya, bukan alasan untuk berhenti berusaha. Teruslah membaca, menulis, berbagi, dan menginspirasi.

Pesan Omjay untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35:

> “Masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan tentang seberapa bijaksana kita mendidik manusia. AI dapat membantu kita menulis lebih cepat, tetapi pengalaman, kejujuran, dan hati kitalah yang membuat tulisan menjadi bermakna.”

Mari kita tutup pertemuan ini dengan tiga semangat sederhana:

Belajar dengan gembira. Menulis dengan hati. Menggunakan AI dengan bijaksana.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Belajar Mengenal ccNSO di ICANN87 Bali

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



Belajar Mengenal ccNSO di ICANN87 Bali: Kisah Omjay Memahami Rumah Besar Pengelola Domain Internet Dunia

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Ada banyak hal yang baru kita pahami ketika bersedia melangkah keluar dari ruang kelas, meninggalkan rutinitas pekerjaan, dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serta pengetahuan berbeda. Bagi saya, perjalanan ke Bali untuk mengikuti kegiatan ICANN87 menjadi kesempatan berharga untuk belajar tentang dunia internet dari sudut pandang yang lebih luas.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya sudah lama mengajarkan kepada murid-murid tentang jaringan komputer, internet, nama domain, alamat IP, keamanan digital, dan berbagai teknologi yang mendukung kehidupan modern. Namun, mengikuti kegiatan internasional seperti ICANN87 membuat saya semakin menyadari bahwa internet bukan sekadar jaringan yang menghubungkan komputer dan telepon pintar. Di balik kemudahan kita membuka sebuah situs web, ada sistem global, organisasi, kebijakan, dan kerja sama banyak pihak yang memastikan internet tetap berjalan.

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah presentasi berjudul Introduction to the ccNSO, yang disampaikan oleh Biyi Oladipo dari .ng, Wakil Ketua Dewan ccNSO. Materi ini membuka wawasan saya tentang peran organisasi pengelola domain negara dalam ekosistem internet dunia.

Saya pun berpikir, pengetahuan seperti ini sangat penting dibagikan kepada guru, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat Indonesia agar kita tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga memahami bagaimana internet dikelola.

Mengenal ccNSO, rumah bersama pengelola domain negara

Apa itu ccNSO?

ccNSO merupakan singkatan dari Country Code Names Supporting Organization. Organisasi ini merupakan bagian dari struktur multistakeholder ICANN dan menjadi wadah bagi para pengelola country code top-level domain atau ccTLD.

Agar lebih mudah dipahami, mari kita mengenal contoh nama domain yang sering dijumpai ketika berselancar di internet.

Domain .id digunakan untuk Indonesia. Domain .jp berkaitan dengan Jepang, .uk dengan Britania Raya, .au dengan Australia, dan .ng dengan Nigeria. Sementara itu, .cn digunakan untuk Tiongkok dan .de untuk Jerman.

Bagian akhir dari nama domain tersebut bukan sekadar rangkaian huruf. Domain negara membantu menunjukkan identitas negara atau wilayah di ruang digital.

Organisasi atau entitas yang mengelola domain tingkat atas berkode negara memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan domain tersebut dikelola dengan baik. Melalui ccNSO, para pengelola domain dapat bertukar pengalaman, membahas persoalan bersama, serta berkontribusi dalam pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan ccTLD.

Dari materi yang saya pelajari, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan komunikasi, kerja sama, dan kesediaan mendengarkan berbagai kepentingan.

Inilah pelajaran penting dari model tata kelola internet yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Domain negara memiliki peran strategis

Dalam presentasinya, ccNSO menampilkan data mengenai kekuatan domain tingkat atas. Lima dari sepuluh domain tingkat atas terbesar dalam daftar yang ditampilkan merupakan ccTLD. Materi tersebut juga menunjukkan bahwa ccTLD mencakup hampir 40 persen pendaftaran domain dalam gambaran pasar yang digunakan pada presentasi.

Data itu merujuk pada laporan kuartal kedua tahun 2026 dari Verisign DNIB.

Angka tersebut membuat saya semakin memahami bahwa domain negara memiliki posisi penting dalam ekosistem internet. Domain negara bukan hanya identitas digital, melainkan juga bagian dari infrastruktur yang menopang aktivitas masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintahan, bisnis, dan berbagai layanan publik.

Bayangkan ketika sebuah sekolah memiliki situs web dengan domain .id. Melalui situs itu, sekolah dapat menyampaikan informasi kepada orang tua, menampilkan karya murid, memublikasikan kegiatan pembelajaran, dan memperkenalkan program pendidikan kepada masyarakat luas.

Demikian pula dengan lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, perusahaan, dan komunitas. Nama domain dapat membantu membangun identitas sekaligus memudahkan masyarakat menemukan layanan yang dibutuhkan.

Namun, kita perlu memahami bahwa penggunaan domain negara tidak dengan sendirinya menjamin sebuah situs aman atau tepercaya. Pengguna internet tetap perlu memeriksa alamat situs, memastikan keaslian layanan, dan menjaga data pribadi agar tidak dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai guru Informatika, saya ingin murid-murid memahami hal ini sejak dini. Mereka perlu mengetahui bahwa internet menawarkan banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan kecermatan dan tanggung jawab.

Setiap negara memiliki tantangan pengelolaan yang berbeda

Hal menarik lainnya dari presentasi ccNSO adalah penjelasan bahwa setiap pengelola domain negara memiliki karakteristik yang berbeda.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari wilayah geografis, model tata kelola, model pengelolaan registri, jumlah domain, hingga jumlah pegawai yang terlibat.

Artinya, pengelolaan domain sebuah negara tidak selalu dapat disamakan dengan negara lainnya. Kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, sumber daya manusia, struktur organisasi, dan kebijakan setempat dapat memengaruhi cara sebuah domain dikelola.

Saya melihat hal ini sebagai pelajaran yang sangat relevan bagi dunia pendidikan Indonesia.

Setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda. Ada sekolah dengan fasilitas komputer lengkap dan jaringan internet cepat. Ada pula sekolah yang masih berjuang mendapatkan akses internet stabil serta perangkat pembelajaran yang memadai.

Karena itu, ketika kita membicarakan transformasi digital, kita tidak boleh hanya berfokus pada teknologi yang digunakan. Kita juga harus memperhatikan kesiapan manusia, kebijakan, infrastruktur, dan kebutuhan masing-masing lingkungan.

Prinsip yang sama dapat kita pelajari dari pengelolaan domain negara. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan menggunakan satu pendekatan yang seragam.

ccNSO dan perannya dalam tata kelola internet global

Dalam struktur ICANN, ccNSO menjadi salah satu bagian yang mewakili kepentingan para pengelola domain negara.

Materi presentasi menjelaskan bahwa Dewan ccNSO terdiri atas 15 wakil terpilih dari lima wilayah geografis ICANN dan tiga anggota yang ditunjuk oleh Nominating Committee ICANN. Dewan ini bertugas mengoordinasikan urusan ccNSO dan memimpin pengembangan rekomendasi kebijakan.

Melalui mekanisme tersebut, berbagai pengalaman dari negara dan wilayah yang berbeda dapat dibawa ke dalam pembahasan bersama.

Bagi saya, inilah salah satu nilai penting dari tata kelola internet global: keputusan yang berdampak luas perlu dibicarakan dengan mempertimbangkan beragam perspektif.

Internet digunakan oleh masyarakat dengan bahasa, budaya, kebutuhan, dan tingkat perkembangan teknologi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembahasannya tidak cukup hanya melihat kepentingan satu negara atau satu kelompok.

Keterlibatan berbagai pihak membantu memperkaya sudut pandang dan membuka kesempatan untuk mencari solusi yang lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini sebenarnya sederhana. Ketika menghadapi masalah bersama, kita perlu mendengarkan pihak-pihak yang terdampak, memahami persoalan dari berbagai sisi, lalu mencari jalan keluar melalui dialog.

Dari keamanan domain hingga pemulihan bencana

Saya juga tertarik ketika presentasi menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi komunitas ccNSO.

Beberapa di antaranya adalah menjaga ketahanan layanan ketika terjadi gangguan, mengatasi penyalahgunaan nama domain, meningkatkan keamanan operasional, memperluas penerimaan universal, serta mendukung tata kelola internet yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Ada pula kelompok kajian dan komite yang membahas berbagai persoalan, termasuk pemulihan bencana, keamanan operasional, penyalahgunaan DNS, dan penerimaan universal.

Apa maknanya bagi masyarakat biasa?

Ketika kita mengetik alamat situs web, kita berharap situs itu dapat dibuka dengan cepat dan aman. Kita jarang memikirkan apa yang terjadi ketika suatu layanan mengalami gangguan, infrastruktur terdampak bencana, atau sebuah nama domain disalahgunakan untuk menipu pengguna.

Padahal, di balik pengalaman sederhana tersebut terdapat pekerjaan teknis dan koordinasi yang sangat penting.

Misalnya, seseorang menerima pesan yang mengatasnamakan bank dan diminta mengeklik tautan tertentu. Sekilas, alamat situs pada tautan itu mungkin terlihat meyakinkan. Namun, jika ternyata mengarah ke situs palsu, pengguna dapat kehilangan kata sandi, informasi pribadi, bahkan akses ke rekeningnya.

Oleh sebab itu, keamanan internet tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola infrastruktur. Pengguna juga harus meningkatkan literasi digitalnya.

Di sekolah, murid perlu dibiasakan memeriksa alamat situs, mengenali tautan mencurigakan, tidak sembarangan memberikan kode OTP, menggunakan kata sandi yang kuat, serta mengaktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia.

Teknologi keamanan harus berjalan bersama pendidikan karakter digital.

Kita tidak cukup hanya mengajarkan murid menggunakan aplikasi. Kita juga harus membentuk kebiasaan agar mereka mampu menggunakan teknologi dengan aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Mengapa guru Informatika perlu belajar tata kelola internet?

Sebagai guru Informatika, saya merasa pembelajaran di kelas harus terus berkembang mengikuti perubahan teknologi.

Dahulu, pembelajaran TIK mungkin lebih banyak berfokus pada penggunaan komputer, aplikasi perkantoran, dan keterampilan dasar mengakses internet. Kini, murid perlu memahami lebih banyak hal, termasuk keamanan siber, identitas digital, privasi, kecerdasan artifisial, dan bagaimana layanan internet dikelola.

Materi mengenai ccNSO dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan konsep nama domain, DNS, dan tata kelola internet.

DNS atau Domain Name System merupakan sistem yang membantu menerjemahkan nama domain, seperti alamat situs yang mudah diingat manusia, menjadi informasi yang diperlukan agar perangkat dapat menemukan layanan internet yang dituju.

Tanpa perlu membahas seluruh kerumitan teknisnya sekaligus, guru dapat mengajak murid melakukan simulasi sederhana. Mereka dapat membandingkan nama domain, mengenali ekstensi domain negara, dan mendiskusikan mengapa sebuah situs perlu memiliki identitas yang jelas.

Pembelajaran kemudian dapat dikembangkan menjadi proyek kecil. Murid diminta merancang situs web sekolah fiktif, menentukan nama domain yang sesuai, membuat aturan keamanan, dan menyusun panduan untuk mencegah penipuan digital.

Dengan cara ini, konsep yang awalnya terasa jauh dan rumit menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Saya percaya pembelajaran Informatika akan lebih bermakna ketika murid tidak hanya menghafal istilah, tetapi juga memahami manfaat dan dampaknya bagi masyarakat.

Memulai dari langkah kecil untuk berkontribusi secara global

Satu hal yang menggugah perhatian saya dari presentasi tersebut adalah ajakan agar masyarakat memulai dari langkah kecil untuk berpartisipasi dalam komunitas global.

Materi ccNSO mendorong calon peserta untuk mengikuti pertemuan publik ICANN, menghadiri sesi terbuka ccNSO secara langsung atau daring, mengikuti buletin informasi, dan membangun hubungan dengan pengelola ccTLD di wilayah masing-masing.

Bagi saya, pesan tersebut sangat dekat dengan dunia pendidikan.

Tidak semua orang harus langsung menjadi pakar teknologi atau pengambil kebijakan internasional. Kita dapat memulai dengan membaca, bertanya, mengikuti diskusi, membagikan pengetahuan, dan membangun komunitas belajar.

Sebagai guru, saya dapat membawa pengetahuan yang diperoleh dari ICANN87 ke ruang kelas dan komunitas pendidikan. Saya dapat menulis artikel, berdiskusi dengan rekan guru, serta mengajak murid melihat internet dari perspektif yang lebih luas.

Saya juga dapat menghubungkan pembelajaran tersebut dengan kegiatan literasi digital, coding, dan kecerdasan artifisial yang semakin penting di sekolah.

Dari langkah kecil itulah, pengetahuan dapat menyebar dan memberi manfaat kepada lebih banyak orang.

Bali menjadi ruang belajar yang membuka wawasan

Mengikuti ICANN87 di Bali merupakan pengalaman yang mengingatkan saya bahwa belajar tidak mengenal batas usia maupun profesi.

Seorang guru tidak boleh berhenti belajar setelah bertahun-tahun mengajar. Justru semakin lama kita berada di dunia pendidikan, semakin besar tanggung jawab kita untuk memperbarui pengetahuan dan membagikan pengalaman kepada generasi berikutnya.

Saya datang sebagai guru Informatika dari Indonesia. Saya belajar tentang pengelolaan domain negara, tata kelola internet, keamanan operasional, dan pentingnya kerja sama lintas wilayah.

Saya pulang membawa bahan refleksi untuk pembelajaran di sekolah dan tulisan untuk masyarakat.

Bagi saya, kesempatan mengikuti forum internasional bukan semata-mata tentang menghadiri acara atau memperoleh sertifikat. Hal yang lebih penting adalah apa yang dapat kita pelajari, bagaimana kita menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat, dan sejauh mana pengetahuan tersebut dapat dibagikan.

Ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada diri sendiri.

Penutup: Jadilah pengguna internet yang cerdas dan warga digital yang bertanggung jawab

Pengalaman belajar mengenai ccNSO di ICANN87 mengingatkan saya bahwa internet merupakan hasil kerja bersama banyak pihak. Ada pengelola domain, pengembang teknologi, organisasi internasional, pemerintah, komunitas teknis, dunia pendidikan, dan pengguna yang memiliki peran masing-masing.

Kita mungkin tidak terlibat langsung dalam rapat kebijakan internasional. Namun, kita tetap dapat mengambil bagian dengan menggunakan internet secara bertanggung jawab, menjaga keamanan data, menghargai privasi, dan meningkatkan literasi digital.

Sebagai guru, saya ingin murid-murid memahami bahwa internet bukan sekadar tempat mencari jawaban atau bermain gim. Internet adalah ruang digital yang membuka kesempatan untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Saya pun semakin yakin bahwa pendidikan Informatika harus mengajarkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Pendidikan ini juga harus menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama pengguna internet.

Dari Bali, saya belajar bahwa dunia digital sangat luas. Akan tetapi, untuk mengambil bagian di dalamnya, kita tidak harus menunggu menjadi orang hebat terlebih dahulu.

Kita bisa memulainya dengan belajar, berbagi, dan terus menulis.

Menulislah dengan hati, bagikan ilmu dengan tulus, dan jadilah guru yang terus belajar sepanjang hayat.

Salam blogger persahabatan,

Wijaya Kusumah (Omjay)

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia

Kisah Omjay: Menjadi Fellowship ICANN87 Bali

Tiba-tiba ada telpon masuk ke ponsel jadul Omjay. Mbak Ulfa dari PANDI atau pengelola nama domain Indonesia menelpon Omjay. Katanya Omjay diajak pergi ke Bali untuk mengikuti program fellowship kegiatan ICANN87 di Bali.



Tentu saja Omjay senang mendapatkan kabar gembira tersebut. Sebab sudah lama tidak pergi ke Bali. Apalagi pergi ke Bali gratis dimana semua tiket pesawat dan penginapan selama di Bali ditanggung PANDI. Omjay dikasih uang saku pula.

Fellowship adalah program pendanaan atau beasiswa yang diberikan kepada individu untuk mengembangkan bidang keilmuan atau proyek tertentu untuk pelatihan pembelajaran atau penelitian.

Program ini biasanya diselenggarakan oleh universitas atau lembaga penelitian atau organisasi internasional atau pemerintah dan lebih berfokus pada kontribusi peserta terhadap riset atau pengembangan profesional daripada pembiayaan pendidikan formal.

Omjay diminta membuat blog pribadi di https://wijayalabschool.my.id yang dikelola oleh PANDI dan dibantu pak Bambang atau Mr.Bams dari Bandung. Alhamdulillah bisa tayang di internet.

Ada 17 orang fellowship yang diberangkatkan PANDI ke Bali. Salah satunya adalah Omjay. Semalam kami dikumpulkan di ruang meeting hotel Tijili Bali untuk mendapatkan pengarahan dari pak Isnawan ketua PANDI.


Kami diminta menulis apa saja yang kami lihat di Bali selama pelaksanaan kegiatan ICANN87. ICANN adalah organisasi nirlaba yang mengelola sistem nama domain, alamat IP, dan parameter teknis internet secara global untuk menjaga stabilitas dan keamanan jaringan.

ICANN singkatan dari internet corporation for assigned names and numbers, didirikan pada 18 September 1998 sebagai organisasi nirlaba independen untuk mengelola sistem identifikasi unik di internet, termasuk domain names system atau DNS dana alamat IP yang sebelumnya dikoordinasikan oleh pemerintah Amerika Serikat dan organisasi lain.

Tujuan utama ICANN adalah memastikan internet tetap stabil, aman, dan dapat dioperasikan secara global.


Terpilih menjadi salah satu fellowship PANDI buat Omjay adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan. Omjay bersyukur kepada Allah SWT, dan semoga selama berada di Bali Omjay semakin sehat setelah terkena serangan stroke dan penyakit darah tinggi serta diabetes.

Selama seminggu Omjay berada di Bali dari 16 sampai 23 Oktober 2026, dan rencananya kembali ke Jakarta hari Jumat pagi pukul 07.00 WITA. 

Berikut ini suasana pagi di Bali yang diliput dan direkam Mr. Bams di channel youtubenya.

(1156) Pagi Hari di Hotel Tijili Bali - ICANN87 - YouTube


Salam Blogger Persahabatan 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi