Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 24 Oktober 2026

Sebuah Apel Dari Mr Bams di Acara ICANN87 Bali

Sebuah Apel dari Mr. Bams: Oleh-Oleh Persahabatan dari ICANN87 Bali hingga Bekasi

Kisah Omjay: Buah Apel yang Menyimpan Kenangan dan Kehangatan Persahabatan

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Ada oleh-oleh yang tidak harus mahal untuk membuat hati bahagia. Ada buah tangan sederhana yang justru menyimpan kenangan indah, terutama ketika oleh-oleh itu mengingatkan kita kepada perjalanan, pertemuan, dan persahabatan yang terjalin di suatu tempat.

Itulah yang Omjay rasakan ketika sebuah apel pemberian Mr. Bams dari kegiatan ICANN87 di Bali terbawa sampai ke Bekasi.

Sepintas, apel hanyalah buah biasa. Kita bisa membelinya di pasar, supermarket, atau toko buah. Namun, apel yang satu ini terasa berbeda. Bukan semata-mata karena bentuknya, warnanya, atau rasanya, melainkan karena ada cerita persahabatan yang menyertainya.

Kenangan Indah dari ICANN87 Bali

Pada Oktober 2026, Omjay berkesempatan mengikuti kegiatan ICANN87 di Bali. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan menghadiri acara internasional. Bagi Omjay, ada banyak pengalaman, pengetahuan, dan pertemuan dengan orang-orang baru yang memberikan warna tersendiri dalam kehidupan.

Di tengah kesibukan mengikuti kegiatan, berdiskusi, dan bertukar pengalaman, Omjay juga merasakan bahwa persahabatan merupakan bagian penting dari sebuah perjalanan. Kita mungkin datang dari daerah yang berbeda, memiliki pekerjaan yang berbeda, dan membawa pengalaman hidup masing-masing. Namun, ketika bertemu dalam sebuah kegiatan, kita bisa saling menyapa, berbagi cerita, dan membangun hubungan yang hangat.

Salah satu kenangan itu datang dari Mr. Bams.

Dari pertemuan di Bali, ada sebuah apel yang kemudian terbawa hingga ke Bekasi. Buah sederhana itu menjadi pengingat bahwa perjalanan yang berkesan tidak selalu diukur dari banyaknya tempat yang dikunjungi atau sertifikat yang dibawa pulang. Terkadang, kenangan paling membekas justru hadir melalui hal-hal kecil yang tidak pernah kita rencanakan.

Apel yang Menempuh Perjalanan Jauh

Bayangkan sebuah apel yang ikut dalam perjalanan dari Bali menuju Bekasi. Buah itu tidak bisa bercerita, tetapi keberadaannya mengingatkan Omjay pada suasana pertemuan bersama sahabat.

Setelah kegiatan ICANN87 berakhir, peserta kembali ke daerah masing-masing. Ada yang kembali bekerja, mengajar, menulis, dan melanjutkan berbagai kegiatan. Kehidupan berjalan seperti biasa. Namun, kenangan selama berada di Bali tetap tersimpan dalam ingatan.

Ketika melihat apel pemberian Mr. Bams, Omjay kembali teringat pada perjalanan tersebut. Ternyata, sebuah benda sederhana bisa menjadi penghubung antara pengalaman masa lalu dan kehidupan kita hari ini.

Apel itu seolah membawa pesan bahwa persahabatan tidak berhenti ketika sebuah acara selesai. Hubungan baik tetap bisa tumbuh meskipun kita sudah kembali ke rumah masing-masing.

Bagi Omjay yang senang menulis pengalaman sehari-hari, kejadian kecil seperti ini tentu sayang jika dilewatkan begitu saja. Sebab, bahan tulisan tidak selalu berasal dari peristiwa besar. Kehidupan sehari-hari pun menyediakan banyak kisah yang bisa dibagikan kepada orang lain.

Persahabatan Tidak Diukur dari Harga Oleh-Oleh

Ada pelajaran sederhana yang Omjay petik dari apel pemberian Mr. Bams. Persahabatan tidak diukur dari mahal atau murahnya oleh-oleh, tetapi dari perhatian dan ketulusan yang menyertainya.

Buah apel mungkin akan habis setelah dimakan. Rasanya mungkin hanya bertahan sebentar di lidah. Namun, kenangan tentang orang yang memberikannya bisa bertahan jauh lebih lama.

Begitulah persahabatan yang baik. Kita tidak harus selalu memberikan sesuatu yang besar untuk menunjukkan perhatian. Sapaan yang ramah, senyuman, bantuan kecil, atau buah tangan sederhana dapat membuat orang lain merasa dihargai.

Dalam kehidupan sebagai guru, blogger, dan pegiat literasi, Omjay belajar bahwa hubungan antarmanusia perlu terus dirawat. Teknologi boleh semakin maju. Pertemuan boleh dilakukan melalui layar komputer. Komunikasi boleh berlangsung melalui berbagai aplikasi. Namun, sentuhan kemanusiaan tetap menjadi bagian penting dari kehidupan.

Pengalaman di ICANN87 Bali mengingatkan Omjay bahwa di balik pembicaraan tentang teknologi dan internet, selalu ada manusia yang bertemu, belajar, bekerja sama, dan membangun persahabatan.

Menulis dari Hal Kecil, Menyebarkan Inspirasi

Sahabat pembaca, mungkin ada yang bertanya, mengapa sebuah apel perlu ditulis menjadi artikel?

Jawabannya sederhana. Karena setiap pengalaman memiliki cerita, dan setiap cerita bisa menyimpan pelajaran.

Apel dari Mr. Bams mengajarkan Omjay untuk menghargai perhatian kecil dari seorang sahabat. Apel itu juga mengingatkan bahwa perjalanan yang baik bukan hanya tentang tujuan, tetapi juga tentang orang-orang yang kita temui sepanjang perjalanan.

Ketika kembali ke Bekasi, Omjay membawa lebih dari sekadar barang bawaan. Ada pengalaman mengikuti kegiatan internasional, pengetahuan baru, perjumpaan dengan banyak orang, dan kenangan persahabatan yang layak disimpan dalam tulisan.

Sebagai seorang blogger, Omjay percaya bahwa menulis adalah cara sederhana untuk merawat kenangan. Apa yang hari ini terlihat biasa saja, suatu saat mungkin menjadi cerita berharga yang ingin kita baca kembali.

Karena itu, jangan pernah meremehkan pengalaman kecil. Bisa jadi, dari sebuah apel, lahir tulisan yang mengingatkan banyak orang tentang arti ketulusan, persahabatan, dan rasa syukur.

Penutup: Terima Kasih, Mr. Bams

Terima kasih, Mr. Bams, untuk apel yang menjadi bagian dari kenangan Omjay selama mengikuti ICANN87 di Bali. Semoga persahabatan yang terjalin terus terawat, meskipun kita telah kembali ke kesibukan masing-masing.

Apel itu mungkin hanya buah sederhana. Namun, bagi Omjay, ia menjadi simbol bahwa kebaikan kecil dapat meninggalkan kesan yang besar.

Dari Bali hingga Bekasi, ada cerita yang terus hidup. Dari sebuah apel, ada persahabatan yang kembali dikenang. Dan dari pengalaman sederhana, ada tulisan yang bisa dibagikan untuk menginspirasi orang lain.

Sebab, oleh-oleh terbaik dari sebuah perjalanan bukan hanya benda yang kita bawa pulang, melainkan kenangan indah dan persahabatan yang tetap tumbuh setelah perjalanan usai.

Salam Blogger Persahabatan!

Omjay

Wijaya Kusumah
Guru Blogger Indonesia

Jumat, 23 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 pertemuan 23 Bersama Omjay dengan tema Pengalaman yang Mengubah Saya

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-23: Pengalaman yang Mengubah Saya

Bersama Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Tema: Pengalaman yang Mengubah Saya

Sasaran: Peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35

Tujuan pembelajaran: Peserta mampu menggali pengalaman hidup, menemukan pelajaran berharga di dalamnya, dan menuliskannya menjadi kisah inspiratif yang menyentuh hati pembaca.

### A. Pembukaan: Setiap Orang Punya Cerita

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sehat dan bahagia untuk sahabat penulis KBMN PGRI Gelombang 35 di mana pun berada.

Apa kabar semuanya? Semoga kita selalu diberikan kesehatan, semangat, dan kesempatan untuk terus belajar menulis setiap hari.

Sahabat penulis yang hebat, pada pertemuan ke-23 ini, kita akan belajar menulis dengan tema “Pengalaman yang Mengubah Saya.”

Pernahkah sahabat mengalami suatu peristiwa yang membuat cara pandang terhadap kehidupan berubah? Mungkin pernah mengalami kegagalan, bertemu seseorang yang menginspirasi, menerima nasihat dari orang tua, menghadapi masalah dalam pekerjaan, kehilangan sesuatu yang berharga, atau merasakan kebahagiaan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Bisa juga pengalaman itu terjadi ketika kita menjadi guru, mendampingi murid yang kesulitan belajar, mengikuti sebuah pelatihan, melakukan perjalanan jauh, atau mencoba sesuatu yang awalnya kita takuti.

Semua pengalaman tersebut bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa.

Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya selalu percaya bahwa setiap orang mempunyai cerita, tetapi tidak semua orang mau meluangkan waktu untuk menuliskannya. Padahal, pengalaman yang kita anggap sederhana mungkin menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Menulis bukan hanya tentang merangkai kata. Menulis juga merupakan cara kita mengenali diri sendiri, memahami masa lalu, dan membagikan pelajaran hidup kepada sesama.

Mari kita belajar bersama!

### B. Apa yang Dimaksud dengan Pengalaman yang Mengubah Saya?

Pengalaman yang mengubah saya adalah sebuah peristiwa atau kejadian yang memberikan pengaruh berarti terhadap pikiran, perasaan, sikap, kebiasaan, atau cara kita menjalani kehidupan.

Pengalaman tersebut tidak harus berupa peristiwa besar. Hal kecil pun bisa mengubah hidup seseorang apabila memberikan pelajaran yang mendalam.

Contohnya sebagai berikut.

1\. Pengalaman mengalami kegagalan

Seorang peserta lomba menulis tidak berhasil menjadi juara. Awalnya ia kecewa dan ingin berhenti menulis. Namun, setelah membaca kembali tulisannya dan menerima masukan dari teman-teman, ia mulai memperbaiki diri. Kegagalan itu mengubahnya menjadi penulis yang lebih tekun.

2\. Pengalaman bertemu guru yang menginspirasi

Seorang murid merasa dirinya tidak pintar. Namun, seorang guru terus memberikan semangat dan kesempatan kepadanya. Perlahan-lahan, ia mulai percaya diri dan berani mencoba. Pengalaman tersebut mengubah pandangannya terhadap kemampuan diri sendiri.

3\. Pengalaman menerima kritik

Seorang penulis merasa tulisannya sudah bagus. Ketika mendapat kritik, ia sempat tersinggung. Setelah merenung, ia menyadari bahwa kritik yang disampaikan dengan baik dapat membantunya berkembang. Sejak saat itu, ia lebih terbuka terhadap saran.

4\. Pengalaman melakukan perjalanan

Seseorang mengikuti kegiatan di luar kota dan bertemu banyak orang dari latar belakang berbeda. Ia belajar bahwa setiap orang mempunyai pemikiran, budaya, dan pengalaman yang beragam. Perjalanan itu membuatnya lebih terbuka dan menghargai perbedaan.

Dari contoh-contoh tersebut, kita belajar bahwa pengalaman menjadi bermakna ketika kita mampu menemukan pelajaran di baliknya.

### C. Mengapa Pengalaman Hidup Layak Ditulis?

Ada lima alasan mengapa pengalaman hidup penting untuk ditulis.

1\. Sebagai pengingat perjalanan hidup

Tulisan membantu kita mengingat peristiwa yang pernah terjadi. Ketika dibaca kembali beberapa tahun kemudian, tulisan itu menjadi dokumentasi perjalanan diri.

2\. Sebagai sarana belajar dari masa lalu

Dengan menulis, kita dapat mengevaluasi keputusan, kesalahan, keberhasilan, dan perubahan yang pernah dialami.

3\. Sebagai sumber inspirasi bagi orang lain

Pengalaman kita mungkin membantu seseorang yang sedang menghadapi persoalan serupa. Kisah sederhana tentang kegigihan bisa menumbuhkan harapan bagi pembaca.

4\. Sebagai latihan keterampilan menulis

Pengalaman pribadi merupakan bahan tulisan yang dekat dengan kehidupan kita. Kita tidak harus menjadi ahli atau menggunakan kata-kata yang rumit untuk mulai menulis.

5\. Sebagai warisan pemikiran

Tulisan dapat dibaca oleh keluarga, murid, sahabat, dan generasi berikutnya. Mereka dapat mengetahui apa yang kita alami dan pelajari selama menjalani kehidupan.

Ingatlah pesan Omjay:

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Mulailah menulis dari pengalaman yang kita miliki, lalu teruslah belajar agar tulisan kita semakin baik.

### D. Lima Langkah Menulis Pengalaman yang Mengubah Saya

Untuk memudahkan peserta KBMN PGRI Gelombang 35, berikut lima langkah yang dapat digunakan.

Langkah 1: Temukan satu pengalaman

Pilih satu peristiwa yang paling berkesan. Jangan langsung menceritakan seluruh perjalanan hidup. Fokuslah pada satu pengalaman yang memberikan perubahan berarti.

Langkah 2: Ceritakan perasaan Anda

Tuliskan apa yang dirasakan saat peristiwa itu terjadi. Apakah Anda takut, sedih, kecewa, malu, bahagia, atau justru terkejut?

Langkah 3: Ceritakan peristiwanya

Gunakan urutan yang mudah dipahami: apa yang terjadi, siapa yang terlibat, di mana peristiwa berlangsung, dan bagaimana Anda menghadapinya.

Langkah 4: Tunjukkan perubahan diri

Jelaskan perbedaan diri Anda sebelum dan sesudah pengalaman tersebut. Perubahan inilah yang menjadi inti cerita.

Langkah 5: Tuliskan pelajaran hidup

Akhiri dengan pelajaran yang diperoleh dan bagaimana Anda menerapkannya dalam kehidupan sekarang.

Kelima langkah tersebut dapat menjadi panduan sederhana untuk menulis kisah yang jujur, runtut, dan bermakna.

### E. Contoh Tulisan: Pengalaman yang Mengubah Saya

Berikut contoh tulisan sederhana yang dapat dipelajari peserta. Kisah ini merupakan contoh ilustratif yang bisa dijadikan model, bukan pengalaman pribadi nyata yang diklaim sebagai pengalaman penulis.

### Saya Belajar Bangkit dari Kegagalan

Dahulu, saya menganggap kegagalan sebagai tanda bahwa saya tidak mampu. Ketika pekerjaan yang saya lakukan tidak memberikan hasil sesuai harapan, saya mudah kecewa. Bahkan, terkadang saya berpikir untuk berhenti mencoba karena merasa usaha saya sia-sia.

Suatu hari, saya mengikuti sebuah kegiatan menulis. Saya sudah berusaha menyelesaikan tulisan dengan sebaik-baiknya. Saya berharap tulisan tersebut mendapatkan penilaian yang baik. Namun, hasilnya ternyata tidak sesuai dengan harapan.

Awalnya, saya sedih. Saya merasa sudah bekerja keras, tetapi hasilnya belum terlihat. Saya mulai membandingkan diri dengan orang lain yang tulisannya lebih bagus.

Setelah beberapa hari, saya mencoba membaca kembali tulisan tersebut. Saya menemukan banyak hal yang perlu diperbaiki. Ada bagian yang kurang jelas, ada contoh yang belum kuat, dan ada kalimat yang seharusnya bisa ditulis dengan lebih sederhana.

Saat itulah saya menyadari bahwa kegagalan tidak selalu berarti akhir dari perjalanan. Kegagalan bisa menjadi kesempatan untuk belajar.

Saya mulai memperbaiki kebiasaan. Saya belajar membaca lebih banyak, menerima kritik, dan menulis secara teratur. Saya tidak lagi hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menghargai proses belajar yang saya jalani.

Pengalaman itu mengubah cara pandang saya. Saya memahami bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat. Ada proses panjang yang membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri.

Kini, ketika menghadapi kesulitan, saya berusaha tidak langsung menyerah. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa yang bisa saya pelajari dari keadaan ini?

Saya akhirnya memahami satu hal: kegagalan bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Selama kita mau belajar, selalu ada kesempatan untuk menjadi lebih baik.

### Apa yang dapat dipelajari dari contoh tersebut?

* Pembukaan: Penulis memperkenalkan masalah, yaitu pandangan negatif terhadap kegagalan.

* Isi: Penulis menceritakan peristiwa yang dialami, perasaan yang muncul, dan proses refleksi.

* Perubahan: Penulis menjadi lebih terbuka terhadap kritik dan lebih tekun berlatih.

* Penutup: Penulis menyampaikan pelajaran hidup yang dapat dipahami pembaca.

Peserta tidak perlu meniru ceritanya. Gunakan struktur tersebut untuk menceritakan pengalaman sendiri.

### F. Cara Membuat Tulisan Lebih Hidup dan Menyentuh

Agar pengalaman yang ditulis tidak terasa seperti laporan kegiatan, gunakan beberapa teknik berikut.

1\. Gunakan detail yang nyata.

Jangan hanya menulis, “Saya sangat sedih.” Ceritakan apa yang membuat Anda sedih dan apa yang Anda lakukan saat itu.

Misalnya:

“Ketika membaca pengumuman hasil lomba, saya terdiam beberapa saat. Saya menutup laptop dan mencoba memahami mengapa hasilnya berbeda dari yang saya harapkan.”

2\. Gunakan dialog jika memang diingat.

Contohnya:

“Ibu berkata, ‘Jangan takut mencoba lagi. Kamu masih punya kesempatan untuk belajar.’”

Gunakan dialog yang benar-benar diingat atau nyatakan sebagai rekonstruksi jika kata-katanya tidak persis sama.

3\. Ceritakan perubahan, bukan hanya kejadian.

Pembaca perlu memahami bagaimana pengalaman itu memengaruhi kehidupan Anda. Apa yang berubah dalam cara berpikir, sikap, atau kebiasaan Anda?

4\. Tulis dengan jujur.

Tidak semua cerita harus berakhir dengan keberhasilan. Anda boleh menceritakan proses yang masih berlangsung, asalkan jujur terhadap apa yang dialami.

5\. Jangan menggurui pembaca.

Biarkan pengalaman dan refleksi Anda menyampaikan pesan. Gunakan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.

### G. Kesalahan yang Perlu Dihindari

Saat menulis pengalaman yang mengubah diri, perhatikan beberapa hal berikut.

* Menceritakan terlalu banyak peristiwa sekaligus sehingga fokus tulisan hilang.

* Hanya menjelaskan kejadian tanpa menunjukkan perasaan dan pemikiran.

* Menyampaikan nasihat panjang, tetapi tidak memberikan contoh pengalaman.

* Menggunakan kata-kata yang terlalu rumit sehingga pembaca kesulitan memahami cerita.

* Mengarang pengalaman lalu menyajikannya seolah-olah benar-benar terjadi.

* Menyalin tulisan orang lain atau menyerahkan seluruh tulisan kepada AI tanpa proses refleksi pribadi.

AI boleh digunakan sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyusun kerangka, atau memperbaiki ejaan. Namun, pengalaman, perasaan, pemikiran, dan pelajaran yang menjadi inti tulisan harus berasal dari diri penulis sendiri.

Sebab, tulisan yang bermakna bukan sekadar tulisan yang indah, melainkan tulisan yang memiliki kejujuran dan pengalaman manusia di dalamnya.

### H. Tugas Menulis Pertemuan ke-23 KBMN PGRI Gelombang 35

### Tugas Utama: Pengalaman yang Mengubah Saya

Latihan menulis pengalaman pribadi dan refleksi diri

Tujuan tugas

Peserta mampu menghasilkan satu tulisan pengalaman pribadi yang runtut, jujur, mudah dipahami, dan mengandung pelajaran hidup.

Ketentuan tulisan

* Panjang tulisan: 500–800 kata.

* Judul: menarik, sesuai isi, dan menggambarkan pengalaman yang diceritakan.

* Isi: berdasarkan pengalaman pribadi yang benar-benar dialami.

* Bahasa: sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami.

* Struktur: pembukaan, isi cerita, perubahan diri, dan refleksi atau penutup.

* Publikasi: unggah di blog pribadi atau media publikasi yang ditentukan oleh pengurus KBMN PGRI Gelombang 35.

* Pengumpulan: kirimkan tautan tulisan melalui kanal pengumpulan tugas yang ditentukan panitia.

### Pilihan topik tulisan

Peserta bebas memilih satu topik yang paling dekat dengan kehidupannya.

1\. Pengalaman yang membuat saya lebih dewasa

Ceritakan peristiwa yang mengubah cara Anda menghadapi kehidupan.

2\. Kegagalan yang mengajarkan saya arti perjuangan

Ceritakan kegagalan yang akhirnya memberikan pelajaran berharga.

3\. Seseorang yang mengubah hidup saya

Ceritakan sosok yang memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan Anda.

4\. Pengalaman mengajar yang mengubah cara pandang saya

Khusus bagi guru, ceritakan pengalaman bersama murid, orang tua, atau rekan sejawat yang mengajarkan sesuatu yang baru.

5\. Saat saya menyadari pentingnya bersyukur

Ceritakan peristiwa yang membuat Anda lebih menghargai kehidupan.

6\. Pengalaman berani keluar dari zona nyaman

Ceritakan saat Anda mencoba hal baru meskipun awalnya merasa takut atau ragu.

### Pertanyaan panduan sebelum menulis

Jawablah pertanyaan berikut terlebih dahulu dalam catatan pribadi Anda.

* Pengalaman apa yang paling mengubah diri saya?

* Kapan dan di mana pengalaman itu terjadi?

* Siapa saja yang terlibat?

* Apa yang saya rasakan ketika peristiwa itu terjadi?

* Apa tantangan atau masalah yang saya hadapi?

* Apa yang saya lakukan untuk menghadapi keadaan tersebut?

* Apa yang berubah dalam diri saya setelah mengalaminya?

* Apa pelajaran yang ingin saya bagikan kepada pembaca?

Setelah menjawab pertanyaan tersebut, susun jawaban menjadi sebuah cerita yang utuh. Tidak perlu langsung sempurna. Tulislah dahulu, kemudian baca kembali dan perbaiki.

### Rubrik penilaian tugas

| Aspek penilaian                   | Bobot |
| --------------------------------- | ----- |
| Keaslian dan kedalaman pengalaman | 25    |
| Alur cerita dan struktur tulisan  | 20    |
| Refleksi dan perubahan diri       | 25    |
| Bahasa, ejaan, dan keterbacaan    | 15    |
| Pesan inspiratif bagi pembaca     | 15    |
| Total                             | 100   |

Penilaian berfokus pada kejujuran pengalaman, kemampuan bercerita, dan kedalaman refleksi. Pengalaman yang sederhana tetap bisa menghasilkan tulisan yang kuat jika disampaikan dengan baik.

### I. Tugas Tambahan: Menulis dengan Hati

Bagi peserta yang ingin berlatih lebih jauh, lakukan tugas tambahan berikut.

Tugas: Tuliskan tiga pengalaman yang paling berpengaruh dalam hidup Anda. Pilih satu pengalaman yang paling bermakna, lalu jelaskan mengapa pengalaman tersebut layak diceritakan kepada orang lain.

Panjang tugas tambahan cukup 150–250 kata. Tugas ini dapat menjadi bahan awal untuk tulisan utama atau koleksi kisah pribadi yang kelak dikembangkan menjadi buku.

### J. Checklist Sebelum Mengumpulkan Tulisan

Persiapan pengumpulan

0 dari 8

Saya memilih satu pengalaman yang benar-benar saya alami.

Saya menceritakan kejadian secara runtut.

Saya menggambarkan perasaan dan pemikiran saya.

Saya menjelaskan perubahan diri setelah pengalaman tersebut.

Saya menuliskan pelajaran yang dapat dipetik.

Saya membaca ulang dan memperbaiki tulisan.

Saya memeriksa ejaan dan memastikan tulisan bukan hasil salinan.

Saya mencantumkan judul dan tautan tulisan dengan benar.

Ulangi pemeriksaan

### K. Pesan Omjay untuk Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sahabat penulis yang hebat,

Kita semua mempunyai perjalanan hidup yang berbeda. Ada yang pernah mengalami kegagalan, ada yang menemukan kebahagiaan setelah perjuangan panjang, ada yang mendapatkan pelajaran dari muridnya sendiri, dan ada pula yang baru memahami arti kesabaran setelah melewati masa sulit.

Jangan menganggap pengalaman kita terlalu sederhana untuk ditulis. Terkadang, peristiwa yang kita anggap biasa justru menjadi pelajaran luar biasa bagi orang lain.

Sebagai guru, kita juga memiliki banyak cerita. Ada murid yang membuat kita tersenyum, ada orang tua yang memberikan kepercayaan, ada rekan kerja yang menolong saat kita kesulitan, dan ada keadaan yang memaksa kita belajar menjadi lebih sabar.

Tuliskan pengalaman itu selagi masih kita ingat. Jangan menunggu sampai semuanya terlupakan.

Kita tidak harus menulis kisah yang sempurna. Kita hanya perlu berani memulai, jujur terhadap pengalaman sendiri, dan bersedia memperbaiki tulisan dari waktu ke waktu.

Jika hari ini kita pernah gagal, tulislah pelajarannya. Jika hari ini kita merasa bahagia, tulislah rasa syukurnya. Jika hari ini ada seseorang yang mengubah cara pandang kita, abadikan kebaikannya dalam tulisan.

Pengalaman membentuk diri kita, sedangkan tulisan memungkinkan pengalaman itu memberikan manfaat kepada orang lain.

Teruslah menulis, sahabat KBMN PGRI Gelombang 35. Jangan berhenti belajar hanya karena tulisan pertama belum sempurna. Tulisan yang baik lahir dari keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus memperbaiki diri.

Salam blogger persahabatan.

Menulislah dengan hati, bagikan pengalaman dengan jujur, dan jadikan tulisan sebagai jejak kebaikan.

Salam literasi!

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Guru Blogger Indonesia

### L. Penutup dan Refleksi

Sebelum mengakhiri pertemuan ke-23, mari kita renungkan satu pertanyaan:

“Jika saya hanya boleh menceritakan satu pengalaman yang mengubah hidup saya kepada generasi berikutnya, pengalaman apakah yang akan saya pilih, dan mengapa?”

Tuliskan jawaban Anda dalam beberapa kalimat. Jawaban itu bisa menjadi awal dari kisah terbaik yang akan Anda tulis hari ini.

Semoga melalui KBMN PGRI Gelombang 35, kita tidak hanya belajar menghasilkan tulisan, tetapi juga belajar memahami diri sendiri, menghargai perjalanan hidup, dan menyebarkan inspirasi melalui kata-kata.

Sampai bertemu pada pertemuan berikutnya. Tetap semangat menulis setiap hari!

PANDI Pemegang Gerbang Otoritatif intermet indonesia

PANDI, Pemegang Gerbang Otoritatif Internet Indonesia: Belajar Memahami Ekosistem Domain .id

Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia dari Kegiatan ICANN87 di Bali

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Internet sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat modern. Setiap hari, jutaan orang membuka situs web untuk mencari informasi, membaca berita, belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga menjalankan bisnis. Namun, pernahkah kita bertanya bagaimana sebuah nama domain dapat mengantarkan kita menuju situs web yang tepat? Siapa yang mengatur agar nama domain Indonesia dengan akhiran .id dapat digunakan secara tertib dan dikelola dengan baik?

Pertanyaan itulah yang menarik perhatian saya ketika mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali. Sebagai seorang guru Informatika, blogger, dan pegiat literasi digital, saya merasa perlu memahami bagaimana infrastruktur internet bekerja, bukan hanya dari sisi pengguna, tetapi juga dari sisi pengelolaannya.

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah penjelasan tentang posisi PANDI dalam ekosistem internet Indonesia. Melalui sebuah ilustrasi yang menggunakan analogi jalan tol digital, saya mendapatkan gambaran yang lebih mudah dipahami tentang peran PANDI dalam pengelolaan domain .id.

PANDI Ibarat Pengelola Gerbang Jalan Tol Digital

Bayangkan kita sedang berkendara di jalan tol. Ada kendaraan yang melintas, jalur yang harus diikuti, gerbang tol yang mengatur akses, serta berbagai ketentuan yang harus dipatuhi. Semua itu diperlukan agar perjalanan berlangsung dengan tertib dan sistem transportasi dapat berjalan dengan baik.

Sekarang, mari kita pindahkan gambaran tersebut ke dunia internet.

Internet dapat dianalogikan sebagai jaringan jalan tol digital yang menghubungkan pengguna dengan berbagai tujuan di seluruh dunia. Ketika seseorang mengetik alamat situs web dengan akhiran .id, perangkatnya perlu menemukan alamat internet yang sesuai agar dapat terhubung ke situs yang dituju.

Di sinilah sistem DNS atau Domain Name System berperan. DNS membantu menerjemahkan nama domain yang mudah dibaca manusia menjadi informasi alamat yang diperlukan untuk menemukan layanan di internet.

Sementara itu, PANDI atau Pengelola Nama Domain Internet Indonesia memiliki peran penting dalam pengelolaan nama domain Indonesia, khususnya domain tingkat tinggi kode negara .id.

PANDI bukan sekadar tempat seseorang mendaftarkan nama domain. Dalam ekosistem domain .id, PANDI menjalankan fungsi registri, menyusun kebijakan pengelolaan sesuai kewenangannya, serta mendukung keamanan dan keandalan sistem domain Indonesia.

Melalui analogi jalan tol, kita bisa membayangkan PANDI sebagai pengelola gerbang otoritatif yang membantu memastikan ekosistem domain .id dikelola secara teratur.

Tentu saja, analogi ini bukan berarti internet benar-benar bekerja seperti jalan tol. Sistem internet jauh lebih kompleks dan melibatkan banyak organisasi, penyedia layanan, serta infrastruktur teknis yang saling terhubung.

Memahami Hubungan Jalan Tol dan Ekosistem Domain .id

Dalam ilustrasi yang saya pelajari, terdapat beberapa perbandingan menarik antara infrastruktur jalan tol dan ekosistem domain .id.

Pertama, jaringan jalan tol dianalogikan sebagai internet.

Jalan tol menyediakan jalur bagi kendaraan untuk mencapai tujuan. Internet menyediakan jalur komunikasi bagi data untuk berpindah dari satu perangkat ke perangkat lainnya. Tanpa jaringan yang saling terhubung, pengguna akan kesulitan mengakses berbagai layanan digital.

Kedua, kendaraan yang melintas dianalogikan sebagai kueri DNS.

Ketika kita mengetik sebuah nama domain, perangkat dapat mengirimkan kueri DNS untuk mencari informasi yang dibutuhkan. Proses ini membantu perangkat menemukan alamat yang terkait dengan nama domain tersebut.

Sebagai contoh, ketika seorang guru ingin membuka situs pendidikan dengan domain .id, sistem DNS membantu menemukan informasi yang diperlukan agar perangkat dapat melanjutkan koneksi ke layanan yang dituju.

Ketiga, golongan kendaraan dianalogikan sebagai ekstensi domain.

Dalam ilustrasi tersebut, kita melihat beberapa nama domain, seperti .go.id, .ac.id, .co.id, .sch.id, .my.id, dan .biz.id.

Setiap ekstensi memiliki ketentuan penggunaan dan peruntukan masing-masing. Sebagai contoh, .go.id digunakan untuk instansi pemerintah, sedangkan .ac.id diperuntukkan bagi perguruan tinggi yang memenuhi persyaratan. Domain .sch.id digunakan untuk sekolah, sementara .co.id berkaitan dengan badan usaha atau perusahaan sesuai ketentuan yang berlaku.

Keberadaan berbagai ekstensi tersebut membantu masyarakat mengenali jenis organisasi atau pengguna yang berada di balik suatu nama domain.

Keempat, gerbang tol dianalogikan sebagai name server otoritatif .id.

Name server otoritatif memberikan jawaban DNS yang berwenang untuk zona domain yang dikelolanya. Dalam ekosistem .id, infrastruktur DNS otoritatif sangat penting untuk membantu memastikan nama domain dapat ditemukan oleh sistem yang memerlukan informasinya.

Ilustrasi yang ditampilkan menyebutkan adanya 378 node anycast di 136 negara. Angka tersebut menggambarkan skala infrastruktur yang dicantumkan dalam materi presentasi. Angka ini perlu dipahami sesuai konteks dan waktu penyusunan materi, karena infrastruktur jaringan dapat berubah.

Teknologi anycast memungkinkan sejumlah lokasi jaringan menggunakan alamat IP yang sama sehingga permintaan dapat diarahkan ke salah satu lokasi layanan yang sesuai berdasarkan mekanisme perutean jaringan. Pendekatan ini dapat membantu meningkatkan ketersediaan layanan dan memperluas jangkauan akses.

Kelima, loket dan mitra resmi dianalogikan sebagai registrar.

Masyarakat yang ingin mendaftarkan domain .id dapat menggunakan registrar yang bekerja sesuai ketentuan PANDI. Registrar melayani kebutuhan pelanggan, termasuk proses pendaftaran dan pengelolaan nama domain.

Dengan demikian, masyarakat tidak harus memahami seluruh proses teknis DNS untuk memiliki nama domain sendiri. Mereka dapat memanfaatkan layanan registrar yang tersedia.

Keenam, PANDI dianalogikan sebagai pengelola yang mengatur, mencatat, dan mengawasi.

Dalam ilustrasi jalan tol, terdapat badan yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan jalan tol. Dalam ekosistem domain .id, PANDI menjalankan peran sebagai registri domain .id sekaligus mengelola kebijakan dan operasional yang berkaitan dengan domain tersebut sesuai kewenangannya.

Dari analogi ini, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet membutuhkan organisasi, aturan, infrastruktur, dan kerja sama yang berkesinambungan.

Mengapa Domain .id Penting bagi Indonesia?

Sebagai seorang blogger yang telah menulis di internet selama bertahun-tahun, saya merasakan bahwa nama domain bukan sekadar alamat sebuah situs. Nama domain merupakan identitas digital yang membantu pembaca menemukan karya, lembaga, organisasi, maupun usaha seseorang.

Domain .id juga mempunyai arti penting bagi identitas digital Indonesia.

Ketika sekolah, lembaga pendidikan, komunitas, atau pelaku usaha menggunakan domain Indonesia yang sesuai dengan ketentuan, mereka turut memperkuat keberadaan identitas digital nasional.

Bagi dunia pendidikan, penggunaan domain yang tepat dapat membantu sekolah membangun kehadiran resmi di internet. Sekolah dapat menggunakannya untuk menyebarkan informasi, menampilkan kegiatan pembelajaran, mempublikasikan karya siswa, dan membangun komunikasi dengan orang tua.

Bagi guru blogger seperti saya, nama domain juga menjadi bagian dari perjalanan literasi digital. Blog bukan hanya tempat menyimpan tulisan, melainkan ruang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan masyarakat luas.

Namun, memiliki domain saja tidak cukup. Pengelola situs juga perlu menjaga keamanan, memperbarui konten, menghormati privasi pengguna, serta memastikan informasi yang dipublikasikan dapat dipertanggungjawabkan.

Identitas digital yang kuat harus disertai tanggung jawab.

Belajar Tata Kelola Internet dari ICANN87 Bali

Mengikuti kegiatan ICANN87 di Bali memberikan pengalaman berharga bagi saya. Saya dapat melihat bahwa internet bukan hanya persoalan perangkat komputer, jaringan, atau aplikasi yang digunakan setiap hari. Di balik kemudahan mengakses informasi, terdapat tata kelola yang melibatkan berbagai pihak dengan peran dan tanggung jawab berbeda.

ICANN atau Internet Corporation for Assigned Names and Numbers berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk sistem nama domain. Sementara itu, PANDI berfokus pada pengelolaan domain Indonesia .id.

Keduanya berada dalam lingkup tata kelola yang berbeda, tetapi saling berkaitan dalam ekosistem internet global.

Pengalaman ini mengingatkan saya bahwa internet membutuhkan kolaborasi. Pemerintah, organisasi teknis, komunitas, penyedia layanan, akademisi, pelaku usaha, dan masyarakat memiliki kepentingan yang perlu dipertemukan agar internet dapat terus berkembang dan memberikan manfaat.

Bagi saya sebagai guru Informatika, pengetahuan seperti ini penting untuk dibawa ke ruang kelas. Siswa tidak cukup hanya diajarkan cara membuka situs web atau menggunakan aplikasi. Mereka juga perlu memahami bagaimana internet bekerja, siapa saja yang terlibat di dalamnya, serta bagaimana menjaga keamanan dan tanggung jawab ketika beraktivitas di ruang digital.

Guru Informatika Perlu Memahami Infrastruktur Digital

Perkembangan teknologi menuntut guru untuk terus belajar. Materi Informatika di sekolah akan terasa lebih bermakna apabila dikaitkan dengan kehidupan nyata.

Ketika mengajarkan jaringan komputer dan internet, misalnya, saya dapat mengajak siswa mengenali nama domain, memahami fungsi DNS, membedakan beberapa ekstensi domain, dan mempelajari pentingnya keamanan situs web.

Siswa juga dapat berlatih merancang identitas digital sekolah atau proyek pembelajaran dengan memahami bagaimana sebuah nama domain digunakan. Dengan pendekatan tersebut, pembelajaran tidak berhenti pada hafalan istilah teknis, tetapi berkembang menjadi pemahaman yang kontekstual.

Saya percaya, guru yang terus belajar akan lebih siap membimbing siswa menghadapi perubahan zaman.

Pengalaman mengikuti forum internasional seperti ICANN87 juga membuka wawasan bahwa literasi digital bukan hanya tentang kemampuan menggunakan teknologi. Literasi digital mencakup pemahaman terhadap sistem, kesadaran akan keamanan, etika, dan tanggung jawab sebagai warga internet.

Penutup: Di Balik Satu Nama Domain, Ada Ekosistem yang Bekerja

Dari analogi jalan tol digital tersebut, saya belajar bahwa sesuatu yang terlihat sederhana bagi pengguna sering kali didukung oleh sistem yang kompleks.

Kita cukup mengetik sebuah alamat situs di peramban, lalu menunggu halaman terbuka. Namun, di balik proses itu, terdapat jaringan, sistem DNS, server, registri, registrar, dan berbagai pihak yang bekerja sesuai peran masing-masing.

PANDI memiliki posisi penting dalam ekosistem domain .id. Pengelolaan domain nasional membutuhkan infrastruktur yang andal, aturan yang jelas, serta kolaborasi dengan berbagai pihak agar identitas digital Indonesia dapat terus berkembang.

Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya membawa pulang satu pelajaran penting dari kegiatan ICANN87 di Bali: memahami internet berarti memahami manusia, sistem, dan kerja sama yang membuat dunia digital tetap terhubung.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pengetahuan dan tanggung jawab manusia tetap menjadi kunci pemanfaatannya.

Mari kita terus belajar, berbagi pengalaman, dan meningkatkan literasi digital. Sebab, di era internet, menjadi pengguna saja tidak cukup. Kita juga perlu menjadi warga digital yang cerdas, kritis, aman, dan bertanggung jawab.

Salam blogger persahabatan.

Omjay/Kakek Jay

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Kamis, 22 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI gelombang 35 pertemuan ke-22 Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-22: Kisah di Balik Sebuah Foto

Bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia

Tema: Satu Foto, Sejuta Cerita, dan Sejuta Makna

### A. Pendahuluan: Setiap Foto Punya Cerita

Sahabat penulis KBMN PGRI Gelombang 35 yang hebat,

Pernahkah Anda membuka galeri foto di ponsel, kemudian berhenti sejenak melihat sebuah foto lama? Mungkin foto bersama keluarga, foto saat mengajar di kelas, foto perjalanan ke suatu tempat, foto bersama sahabat, atau foto ketika menerima penghargaan. Tanpa disadari, senyum pun muncul. Ingatan kita kembali ke masa lalu, seolah-olah peristiwa itu baru saja terjadi kemarin.

Itulah kekuatan sebuah foto.

Foto bukan sekadar gambar yang merekam wajah, tempat, atau peristiwa. Di balik sebuah foto, tersimpan kenangan, perjuangan, kebahagiaan, kesedihan, bahkan pelajaran hidup yang mungkin tidak diketahui orang lain.

Sebuah foto bisa terlihat sederhana bagi orang yang melihatnya. Namun, bagi orang yang berada di dalam foto tersebut, ada cerita panjang yang menyertainya.

Foto seorang guru yang tersenyum di depan kelas, misalnya. Orang lain mungkin hanya melihat seorang guru sedang mengajar. Padahal, di balik senyum itu, mungkin ada perjuangan menyiapkan materi hingga larut malam, menghadapi murid yang beragam karakternya, atau mengatasi masalah pribadi sebelum berangkat ke sekolah.

Karena itulah, pada pertemuan ke-22 KBMN PGRI Gelombang 35 ini, kita akan belajar mengubah sebuah foto menjadi tulisan yang hidup, menyentuh, dan menginspirasi.

Ingatlah, foto menyimpan kenangan, sedangkan tulisan menghidupkan kembali kenangan tersebut.

### B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami hubungan antara foto, kenangan, dan keterampilan menulis.

* Menggali pengalaman pribadi berdasarkan sebuah foto.

* Mengembangkan foto menjadi cerita yang menarik dan bermakna.

* Menulis kisah berdasarkan pengalaman nyata dengan bahasa yang mengalir.

* Menyusun judul, pembukaan, isi, dan penutup tulisan secara runtut.

* Menggunakan foto sebagai sumber inspirasi untuk menulis artikel di blog, Kompasiana, atau media sosial.

* Menumbuhkan kebiasaan menulis dari peristiwa sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

### C. Mengapa Foto Bisa Menjadi Sumber Inspirasi Menulis?

Ada beberapa alasan mengapa foto sangat bermanfaat bagi seorang penulis.

1\. Foto membantu kita mengingat peristiwa

Kadang-kadang kita lupa pada detail suatu kejadian. Namun, ketika melihat foto, ingatan tentang tempat, suasana, orang-orang yang hadir, dan perasaan saat itu dapat muncul kembali.

Misalnya, foto ketika mengikuti sebuah seminar. Melihat foto tersebut dapat mengingatkan kita pada materi yang dipelajari, orang yang ditemui, atau pengalaman berharga selama kegiatan.

2\. Foto mengandung emosi

Foto seorang anak yang memeluk gurunya dapat mengingatkan kita pada kasih sayang. Foto orang tua yang tersenyum dapat menghadirkan rasa syukur. Foto ruang kelas yang kosong mungkin mengingatkan kita pada perjalanan panjang sebagai pendidik.

Emosi inilah yang dapat membuat tulisan terasa dekat dengan pembaca.

3\. Foto menjadi bukti perjalanan hidup

Kita bisa membandingkan foto masa lalu dengan keadaan sekarang. Foto ketika pertama kali mengajar, misalnya, dapat menjadi bahan refleksi tentang perubahan diri, pengalaman, dan pembelajaran yang diperoleh selama bertahun-tahun.

4\. Foto membuat tulisan lebih konkret

Daripada hanya menulis, “Saya pernah mengalami pengalaman yang menyenangkan,” kita bisa menjelaskan kejadian tertentu berdasarkan foto yang kita miliki. Cerita pun menjadi lebih jelas dan mudah dibayangkan pembaca.

5\. Foto membantu kita menemukan ide ketika kehabisan bahan tulisan

Jika merasa tidak punya ide, cobalah membuka galeri foto. Pilih satu foto, lalu tanyakan kepada diri sendiri: apa yang terjadi sebelum foto ini diambil? Apa yang saya rasakan saat itu? Apa yang tidak terlihat oleh kamera?

Sering kali, dari pertanyaan sederhana tersebut lahir sebuah tulisan yang menarik.

### D. Teknik Menggali Kisah dari Sebuah Foto

Omjay mengajak sahabat penulis menggunakan teknik sederhana berikut.

Langkah 1 — Pilih satu foto

Pilih foto yang memiliki kenangan kuat. Tidak harus foto yang bagus atau mahal. Foto sederhana pun bisa menyimpan cerita luar biasa.

Langkah 2 — Hidupkan kembali ingatan

Ingat tempat, waktu, orang-orang yang hadir, kejadian yang berlangsung, serta perasaan Anda saat itu.

Langkah 3 — Ajukan lima pertanyaan

* Apa yang terlihat dalam foto?

* Kapan dan di mana foto itu diambil?

* Mengapa momen itu penting?

* Apa yang terjadi sebelum dan sesudahnya?

* Pelajaran apa yang saya peroleh?

Langkah 4 — Tuliskan ceritanya

Mulailah dari pengalaman yang paling diingat. Jangan terlalu sibuk memikirkan tata bahasa pada kalimat pertama. Tulis dahulu, lalu perbaiki setelah cerita selesai.

Langkah 5 — Temukan maknanya

Akhiri tulisan dengan refleksi, pesan, atau pelajaran hidup yang dapat dipetik pembaca.

### E. Struktur Tulisan “Kisah di Balik Sebuah Foto”

Agar tulisan tidak sekadar menjadi keterangan gambar, gunakan struktur berikut.

1\. Judul yang menggugah rasa ingin tahu

Contoh:

* Sebuah Foto yang Mengubah Cara Pandang Saya

* Di Balik Senyum Seorang Guru

* Foto Lama, Kenangan yang Tak Pernah Padam

* Perjalanan Panjang yang Terekam dalam Sebuah Foto

* Satu Foto, Seribu Kenangan

2\. Pembukaan yang menarik

Mulailah dengan suasana, perasaan, atau kejadian yang membuat foto tersebut berkesan.

Contoh:

“Pagi itu saya membuka galeri foto di ponsel. Di antara ratusan gambar, perhatian saya tertuju pada satu foto lama. Saya terdiam beberapa saat. Senyum orang-orang di dalamnya mengingatkan saya pada sebuah perjalanan yang ternyata memberikan pelajaran berharga tentang kehidupan.”

3\. Isi cerita yang mengalir

Jelaskan latar belakang peristiwa, orang-orang yang terlibat, tantangan yang dihadapi, serta kejadian yang membuat momen tersebut istimewa.

4\. Refleksi atau pesan kehidupan

Jangan hanya menceritakan apa yang terjadi. Jelaskan juga apa yang Anda pelajari dari pengalaman itu.

5\. Penutup yang membekas

Akhiri dengan kalimat yang menyentuh, menginspirasi, atau mengajak pembaca mengenang pengalaman mereka sendiri.

### F. Contoh Artikel: Kisah di Balik Sebuah Foto

Contoh berikut merupakan ilustrasi penulisan. Silakan sesuaikan dengan foto dan pengalaman nyata masing-masing peserta.

### Foto Sederhana yang Mengingatkan Saya pada Perjuangan

Saya pernah berpikir bahwa foto yang paling berharga adalah foto yang diambil dengan kamera mahal, memiliki pencahayaan sempurna, dan menampilkan semua orang dengan wajah tersenyum. Namun, seiring perjalanan waktu, saya menyadari bahwa nilai sebuah foto tidak selalu terletak pada kualitas gambarnya. Justru foto yang sederhana terkadang menyimpan cerita yang luar biasa.

Suatu hari, saya membuka galeri foto di ponsel. Saya menemukan sebuah foto ketika sedang mengikuti kegiatan bersama rekan-rekan. Dalam foto itu, kami berdiri berdekatan sambil tersenyum. Sekilas, gambar tersebut terlihat biasa saja. Tidak ada yang istimewa jika dilihat oleh orang yang tidak mengenal kami.

Namun, bagi saya, foto itu menyimpan banyak kenangan.

Saya kembali mengingat bagaimana kegiatan tersebut dipersiapkan. Ada waktu yang harus disisihkan, pekerjaan yang harus diselesaikan, dan perjalanan yang perlu ditempuh. Ada pula percakapan, tawa, serta pengalaman yang mempertemukan kami dengan orang-orang baru.

Saya menyadari bahwa sebuah foto hanya merekam satu detik dari kehidupan. Kamera tidak merekam seluruh persiapan, kelelahan, kecemasan, atau kebahagiaan yang terjadi sebelum gambar itu diambil. Semua itu tersimpan dalam ingatan orang-orang yang mengalaminya.

Dari foto tersebut, saya belajar bahwa perjalanan hidup tidak hanya tentang tujuan akhir. Proses yang kita jalani, orang-orang yang menemani, dan pengalaman yang kita bagikan juga memiliki nilai yang besar.

Saya kemudian berpikir, bagaimana jika kenangan itu hanya saya simpan di dalam galeri ponsel? Beberapa tahun mendatang, mungkin saya masih bisa melihat gambarnya, tetapi detail ceritanya bisa semakin memudar.

Karena itulah, saya ingin menuliskannya.

Menulis membuat kenangan memiliki tempat yang lebih panjang daripada sekadar album foto. Melalui tulisan, orang lain dapat memahami mengapa sebuah momen berarti bagi kita. Mereka mungkin menemukan pengalaman yang serupa, memperoleh pelajaran baru, atau tergerak untuk menghargai perjalanan hidup mereka sendiri.

Akhirnya, saya memahami satu hal sederhana: foto membantu kita mengingat, tetapi tulisan membantu kita membagikan makna dari apa yang kita ingat.

Maka, jangan biarkan foto-foto berharga hanya memenuhi ruang penyimpanan ponsel. Pilihlah satu foto, gali kisahnya, kemudian tuliskan dengan jujur dan sepenuh hati.

Siapa tahu, kisah sederhana yang kita tulis hari ini justru menjadi sumber inspirasi bagi seseorang pada masa mendatang.

### G. Bagaimana Menulis Kisah di Balik Foto agar Tidak Membosankan?

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

Pertama, jangan hanya mendeskripsikan gambar. Jika foto menampilkan seorang guru di depan kelas, jangan berhenti pada kalimat bahwa guru itu sedang mengajar. Ceritakan pengalaman, tantangan, atau perasaan yang membuat momen tersebut berkesan.

Kedua, gunakan detail yang nyata. Ingatlah suasana ruangan, suara yang terdengar, percakapan yang masih diingat, atau kejadian kecil yang membuat pengalaman itu unik. Jangan menambahkan detail seolah-olah benar terjadi jika Anda tidak mengingat atau tidak memiliki dasar untuk menyatakannya.

Ketiga, tulislah dengan jujur. Tidak semua pengalaman harus berakhir bahagia. Kisah tentang kegagalan, kehilangan, kesalahan, atau kekecewaan pun dapat memberikan pelajaran berharga.

Keempat, hadirkan diri Anda dalam cerita. Tulisan pengalaman akan terasa lebih hidup ketika penulis menjelaskan apa yang dipikirkan, dirasakan, dan dipelajari dari peristiwa tersebut.

Kelima, jangan lupakan pembaca. Setelah membaca tulisan kita, pembaca sebaiknya memperoleh sesuatu: pengetahuan, inspirasi, hiburan, motivasi, atau kesempatan untuk merenungkan pengalaman mereka sendiri.

### H. Foto dan Teknologi: Menulis di Era Digital

Pada zaman sekarang, hampir setiap orang memiliki ponsel yang mampu mengambil foto. Kita bisa merekam kegiatan mengajar, perjalanan, pertemuan, acara keluarga, hingga kejadian kecil di lingkungan sekitar.

Namun, banyak foto hanya tersimpan tanpa pernah diceritakan.

Padahal, foto-foto tersebut dapat menjadi bahan tulisan untuk blog pribadi, Kompasiana, majalah sekolah, buku kenangan, atau antologi pengalaman.

Kita juga bisa memanfaatkan kecerdasan artifisial (AI) untuk membantu mengembangkan ide, menyusun kerangka, atau memperbaiki ejaan. Akan tetapi, AI tidak boleh menggantikan pengalaman nyata penulis.

Foto harus menjadi pemantik ingatan, bukan alasan untuk mengarang kejadian. AI boleh membantu merapikan kata-kata, tetapi kejujuran, pengalaman, dan suara pribadi penulis tetap menjadi hal utama.

Bagi guru, kemampuan ini sangat bermanfaat. Dokumentasi kegiatan pembelajaran dapat diubah menjadi refleksi mengajar, praktik baik, cerita inspiratif, atau bahan berbagi kepada sesama pendidik.

Dengan demikian, kegiatan sederhana mengambil foto dapat berkembang menjadi budaya literasi yang berkelanjutan.

### I. Tugas Menulis Pertemuan ke-22 KBMN PGRI Gelombang 35

### Tantangan: Satu Foto, Satu Cerita

Latihan menulis berdasarkan pengalaman pribadi

Petunjuk tugas:

* Pilih satu foto yang paling berkesan dalam kehidupan Anda.

* Foto boleh berkaitan dengan keluarga, sekolah, pekerjaan, persahabatan, perjalanan, perjuangan, atau pengalaman yang mengubah cara pandang Anda.

* Tulislah kisah di balik foto tersebut sepanjang 500–800 kata.

* Buat judul yang menarik dan menggugah rasa ingin tahu.

* Ceritakan latar belakang, kejadian penting, perasaan, dan pelajaran yang Anda peroleh.

* Sertakan foto tersebut apabila Anda memiliki izin untuk membagikannya dan tidak melanggar privasi orang lain.

* Publikasikan tulisan di blog pribadi atau media yang ditentukan oleh pengelola KBMN PGRI Gelombang 35.

### Pertanyaan pemantik untuk peserta

Gunakan pertanyaan berikut untuk membantu menemukan cerita.

* Mengapa saya memilih foto ini?

* Siapa saja yang ada di dalam foto?

* Apa kenangan paling kuat yang muncul ketika melihatnya?

* Apa yang tidak terlihat oleh kamera?

* Adakah kesulitan atau perjuangan di balik momen tersebut?

* Apa yang berubah dalam hidup saya setelah peristiwa itu?

* Apa pesan yang ingin saya sampaikan kepada pembaca?

### Rubrik penilaian sederhana

| Aspek penilaian                          | Bobot |
| ---------------------------------------- | ----- |
| Keaslian pengalaman dan kejujuran cerita | 30%   |
| Kedalaman cerita dan refleksi            | 25%   |
| Struktur dan keterpaduan tulisan         | 20%   |
| Kreativitas judul dan pembukaan          | 15%   |
| Ejaan dan penggunaan bahasa              | 10%   |
| Total                                    | 100%  |

Penilaian sebaiknya memperhatikan pengalaman dan suara asli penulis, bukan sekadar panjang tulisan atau keindahan kalimat. Peserta boleh menggunakan alat bantu AI secara bijak, tetapi harus mampu menjelaskan pengalaman yang ditulis dan bertanggung jawab atas isi karyanya.

### J. Penutup: Jangan Biarkan Kenangan Berhenti di Galeri Foto

Sahabat penulis KBMN PGRI Gelombang 35,

Kita semua memiliki foto yang menyimpan cerita. Ada foto yang membuat kita tertawa, ada yang membuat kita terharu, dan ada pula yang mengingatkan kita pada perjuangan panjang yang pernah dilalui.

Sayangnya, tidak semua kenangan sempat kita tuliskan. Kita sering merasa masih punya banyak waktu, padahal ingatan manusia bisa memudar. Nama seseorang, suasana sebuah tempat, atau percakapan sederhana yang dahulu begitu berarti mungkin perlahan terlupakan.

Karena itu, mulailah menulis dari hal yang paling dekat dengan kehidupan kita. Tidak perlu menunggu pengalaman besar, perjalanan ke luar negeri, atau penghargaan yang membanggakan. Foto sederhana bersama murid, rekan kerja, keluarga, atau sahabat pun bisa menjadi awal dari sebuah tulisan yang bermakna.

Sebagai guru, kita dapat menulis kisah di balik foto kegiatan pembelajaran. Sebagai orang tua, kita dapat mengabadikan perjalanan tumbuh kembang anak. Sebagai manusia, kita dapat menceritakan pengalaman jatuh bangun yang membentuk diri kita hari ini.

Jangan takut jika tulisan pertama masih sederhana. Jangan berkecil hati jika belum banyak orang yang membacanya. Yang terpenting adalah keberanian untuk mulai menuliskan pengalaman sendiri.

Ingatlah pesan Omjay:

“Menulislah dengan hati, karena setiap pengalaman memiliki cerita. Jangan biarkan kenangan hanya tersimpan dalam foto, tetapi abadikanlah maknanya melalui tulisan.”

Foto mungkin hanya memperlihatkan satu momen. Namun, kisah yang kita tulis dapat membuat momen itu hidup kembali, bahkan menginspirasi orang yang belum pernah kita kenal.

Mari kita buka galeri foto malam ini. Pilih satu foto, kenang kembali peristiwanya, lalu mulailah menulis.

Siapa tahu, dari sebuah foto sederhana, lahir tulisan luar biasa yang kelak menjadi warisan kenangan bagi generasi berikutnya.

Salam blogger persahabatan.

Omjay, Guru Blogger Indonesia

### Refleksi untuk peserta

Sebelum mengakhiri pertemuan ke-22, jawablah satu pertanyaan ini:

“Jika Anda hanya boleh menyimpan satu foto untuk diceritakan kepada anak cucu kelak, foto apakah yang akan Anda pilih, dan kisah apa yang ingin Anda wariskan melalui foto tersebut?”

Tuliskan jawabannya dengan jujur. Bisa jadi, itulah awal dari tulisan terbaik Anda malam ini.

Rabu, 21 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI gelombang 35 pertemuan ke-21 bersama omjay


Berikut materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke-21 tanpa gambar, dengan materi yang lengkap, inspiratif, dan siap dibagikan kepada peserta.

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-21: Mengapa Literasi Penting?

Tema: Membangun Budaya Membaca, Menguatkan Kemampuan Menulis, dan Menginspirasi Sesama

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Sasaran: Guru, pendidik, penulis pemula, dan pegiat literasi.

### A. Pembukaan: Salam Literasi Bersama Omjay

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Salam literasi!

Apa kabar Bapak dan Ibu guru hebat di seluruh Indonesia? Semoga kita senantiasa sehat, bahagia, dan terus bersemangat untuk belajar serta berbagi ilmu.

Selamat datang di pertemuan ke-21 KBMN PGRI Gelombang 35. Kita sudah melewati perjalanan belajar menulis yang panjang. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri, menggali pengalaman, dan menuangkan pemikiran ke dalam tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.

Pada pertemuan kali ini, Omjay mengajak Bapak dan Ibu merenungkan satu pertanyaan sederhana, tetapi sangat penting.

Mengapa literasi penting dalam kehidupan kita?

Apakah literasi hanya berarti membaca buku? Apakah seseorang yang bisa membaca dan menulis otomatis sudah memiliki kemampuan literasi yang baik? Lalu, bagaimana peran guru dalam membangun budaya literasi di sekolah dan masyarakat?

Mari kita bahas bersama-sama.

### B. Apa Itu Literasi?

Literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi melalui berbagai bentuk teks dan media.

Pada awalnya, literasi sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Namun, dalam kehidupan modern, maknanya semakin luas.

Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Beberapa jenis literasi yang penting untuk kita kembangkan adalah:

* Literasi baca tulis. Kemampuan memahami bacaan, menemukan gagasan utama, menafsirkan informasi, dan menyampaikan pemikiran melalui tulisan.

* Literasi numerasi. Kemampuan menggunakan angka, data, tabel, grafik, dan konsep matematika untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

* Literasi digital. Kemampuan menggunakan teknologi digital untuk mencari, memahami, menilai, dan menyebarkan informasi secara aman dan bertanggung jawab.

* Literasi informasi. Kemampuan membedakan informasi yang dapat dipercaya dari informasi yang keliru, menyesatkan, atau belum terverifikasi.

* Literasi sains. Kemampuan memahami fenomena ilmiah dan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan.

* Literasi budaya dan kewargaan. Kemampuan memahami keragaman budaya, menghargai perbedaan, dan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Di era kecerdasan artifisial atau AI, kemampuan literasi menjadi semakin penting. Kita tidak cukup hanya bisa meminta AI membuat tulisan. Kita juga perlu memahami isi, memeriksa kebenaran, mempertimbangkan etika, dan bertanggung jawab atas hasil yang kita gunakan.

### C. Mengapa Literasi Penting?

### 1\. Literasi membuka jendela pengetahuan

Buku, artikel, jurnal, dan sumber informasi yang tepercaya membantu kita mengenal dunia yang lebih luas.

Melalui membaca, seorang guru dapat mempelajari metode pembelajaran baru. Seorang siswa dapat menemukan pengetahuan yang belum dijelaskan di kelas. Seorang penulis pemula dapat belajar menyampaikan gagasan secara lebih runtut.

Kita tidak harus mengalami semua hal sendiri untuk mendapatkan pelajaran. Pengalaman orang lain dapat menjadi sumber pengetahuan melalui tulisan mereka.

Membaca membuat kita belajar dari pengalaman orang lain, sedangkan menulis membuat pengalaman kita dapat dipelajari orang lain.

### 2\. Literasi melatih berpikir kritis

Setiap hari kita menerima banyak informasi melalui media sosial, grup percakapan, situs berita, dan berbagai platform digital.

Namun, tidak semua informasi benar.

Orang yang memiliki kemampuan literasi akan terbiasa bertanya:

* Siapa yang menyampaikan informasi ini?

* Apa bukti yang mendukungnya?

* Apakah sumbernya dapat dipercaya?

* Apakah informasi ini masih relevan?

* Apakah ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan?

Kebiasaan tersebut membantu kita agar tidak mudah menyebarkan kabar bohong, fitnah, atau informasi yang belum terverifikasi.

Literasi mengajarkan kita untuk tidak hanya cepat membaca, tetapi juga cermat memahami.

### 3\. Literasi meningkatkan kualitas pembelajaran

Sekolah yang memiliki budaya literasi tidak hanya menyediakan buku di perpustakaan. Sekolah juga menciptakan lingkungan yang membuat warga sekolah senang membaca, berdiskusi, bertanya, meneliti, dan menulis.

Guru dapat mengawali pembelajaran dengan kegiatan membaca singkat. Siswa kemudian diminta menjelaskan gagasan utama, menghubungkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari, atau menuliskan pendapatnya.

Dengan demikian, kegiatan literasi bukan hanya tugas guru Bahasa Indonesia. Guru Informatika, Matematika, IPA, IPS, dan mata pelajaran lainnya juga dapat mengembangkan literasi sesuai bidangnya.

### 4\. Literasi membantu kita berkomunikasi

Orang yang terbiasa membaca dan menulis memiliki kesempatan untuk memperkaya kosakata, memahami berbagai sudut pandang, dan menyusun gagasan dengan lebih jelas.

Kemampuan tersebut berguna saat menyampaikan pendapat, menulis laporan, membuat karya ilmiah, menyusun bahan ajar, ataupun berbicara di depan umum.

Bagi seorang guru, kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik akan membantu proses pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua, rekan kerja, serta masyarakat.

### 5\. Literasi membangun kepercayaan diri

Banyak orang sebenarnya memiliki pengalaman yang berharga, tetapi merasa tidak mampu menuliskannya.

Ada guru yang menganggap tulisannya tidak menarik. Ada pula yang takut salah menggunakan tanda baca atau merasa tidak memiliki bakat menjadi penulis.

Padahal, kemampuan menulis dapat dilatih secara bertahap.

Mulailah dengan menuliskan pengalaman mengajar hari ini. Ceritakan satu peristiwa yang mengubah cara pandang kita. Tuliskan pelajaran yang diperoleh dari seorang murid.

Tidak harus langsung menjadi tulisan yang sempurna. Yang penting, kita berani memulai dan terus memperbaiki diri.

### 6\. Literasi membantu kita beradaptasi dengan perkembangan teknologi

Perkembangan teknologi dan AI mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi.

Dengan literasi digital yang baik, kita dapat menggunakan teknologi untuk mencari informasi, menyusun bahan pembelajaran, mengembangkan ide, dan menghasilkan karya.

Namun, teknologi tetap perlu digunakan secara bijaksana. Kita harus mampu memeriksa hasil yang diberikan AI, menjaga privasi, menghargai hak cipta, dan tidak menganggap seluruh jawaban mesin pasti benar.

Bagi Omjay, teknologi merupakan alat bantu. Pengalaman manusia, kejujuran, tanggung jawab, dan hati nurani tetap memiliki peran penting.

### D. Kisah Omjay: Menulis, Berbagi, dan Menginspirasi

Omjay, yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, telah menekuni dunia menulis melalui blog sejak tahun 2007. Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar kegiatan merangkai kata, melainkan cara untuk mendokumentasikan pengalaman, membagikan pengetahuan, dan menginspirasi orang lain.

Bagi Omjay, blog menjadi ruang belajar yang terbuka. Pengalaman mengajar, kegiatan pendidikan, perjalanan, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan berbagai peristiwa kehidupan dapat diolah menjadi tulisan yang bermanfaat.

Tulisan yang kita buat hari ini mungkin terasa sederhana. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi dokumentasi perjalanan hidup yang berharga bagi diri sendiri, keluarga, rekan guru, bahkan generasi berikutnya.

Bayangkan seorang guru yang menulis pengalaman mengajarnya setiap hari. Ia menceritakan bagaimana menghadapi murid yang kesulitan memahami pelajaran, bagaimana menemukan metode pembelajaran baru, dan bagaimana sebuah nasihat sederhana mengubah perilaku peserta didik.

Pengalaman tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa menit di kelas. Namun, ketika ditulis dan dibagikan, guru lain dapat mengambil pelajaran darinya.

Inilah kekuatan literasi.

Pengalaman yang ditulis dapat menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang dibagikan dapat menjadi inspirasi. Inspirasi yang diterapkan dapat membawa perubahan.

Omjay juga mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 untuk tidak takut memulai. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk menulis. Mulailah menulis agar kita terus belajar menjadi penulis yang lebih baik.

Kita tidak harus menunggu memiliki banyak waktu. Kita bisa menulis dari pengalaman hari ini, dari percakapan dengan murid, dari buku yang dibaca, atau dari peristiwa sederhana di sekitar kita.

Menulislah dengan hati. Gunakan teknologi sebagai alat bantu, tetapi jangan kehilangan suara, pengalaman, dan kejujuran diri sendiri.

### E. Literasi dan Peran Guru di Sekolah

Guru mempunyai peran penting dalam membangun budaya literasi. Peserta didik tidak cukup hanya diminta membaca dan menulis. Mereka perlu melihat contoh nyata dari guru yang juga gemar membaca, berdiskusi, dan berkarya.

Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan guru.

### 1\. Membiasakan membaca setiap hari

Sediakan waktu khusus untuk membaca, meskipun hanya 10–15 menit. Bacaan dapat berupa buku, artikel pendidikan, cerita pendek, atau sumber informasi yang sesuai dengan usia peserta didik.

Setelah membaca, ajak siswa menceritakan kembali isi bacaan atau menyampaikan satu hal baru yang mereka pelajari.

### 2\. Menghidupkan perpustakaan dan sudut baca

Perpustakaan hendaknya menjadi tempat yang menyenangkan. Sekolah juga dapat menyediakan sudut baca di kelas agar buku mudah dijangkau.

Yang terpenting bukan hanya jumlah buku, melainkan kesempatan peserta didik untuk berinteraksi dengan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

### 3\. Mengajak siswa menulis dari pengalaman

Guru dapat memberikan tugas menulis sederhana, seperti:

* Pengalaman paling berkesan di sekolah.

* Guru yang menginspirasi saya.

* Pelajaran dari sebuah kegagalan.

* Buku yang mengubah cara pandang saya.

* Teknologi yang membantu kehidupan saya.

* Cita-cita dan harapan saya untuk masa depan.

Tema seperti ini dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga mereka lebih mudah menemukan ide.

### 4\. Mengintegrasikan literasi dalam semua mata pelajaran

Guru Matematika dapat meminta siswa membaca grafik dan menjelaskan maknanya. Guru IPA dapat mengajak siswa membaca hasil pengamatan. Guru IPS dapat meminta siswa membandingkan informasi dari beberapa sumber.

Guru Informatika dapat mengajarkan cara mengevaluasi informasi di internet dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Dengan cara ini, literasi menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari, bukan sekadar program tambahan.

### 5\. Menghargai karya peserta didik

Berikan apresiasi kepada siswa yang berani menulis, meskipun tulisannya masih sederhana.

Karya mereka dapat dipajang di kelas, diterbitkan di majalah sekolah, dimuat di blog, atau dikumpulkan menjadi buku antologi dengan pendampingan yang sesuai.

Apresiasi dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong siswa untuk terus berkarya.

### F. Tantangan Literasi di Era Digital dan AI

Kita hidup pada masa ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Namun, kemudahan akses tidak selalu berarti kemudahan memahami.

Ada beberapa tantangan literasi yang perlu kita hadapi bersama.

Pertama, kebiasaan membaca yang belum kuat. Sebagian orang lebih terbiasa melihat informasi singkat daripada membaca tulisan panjang secara mendalam.

Kedua, banjir informasi. Banyaknya informasi membuat kita harus lebih cermat menentukan sumber yang layak dipercaya.

Ketiga, budaya menyalin tanpa memahami. Dalam pembelajaran dan penulisan, menyalin karya orang lain tanpa mencantumkan sumber dapat merusak kejujuran akademik.

Keempat, penggunaan AI tanpa pemeriksaan. AI dapat membantu mencari ide dan menyusun draf, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa kebenarannya, disesuaikan dengan konteks, dan diolah berdasarkan pemahaman penulis.

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap?

Jadilah pembaca yang kritis, penulis yang jujur, dan pengguna teknologi yang bertanggung jawab.

Gunakan AI untuk membantu belajar, bukan untuk menghindari proses belajar. Gunakan internet untuk memperluas wawasan, bukan untuk menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Dalam kegiatan menulis, pengalaman nyata dan pemikiran pribadi merupakan kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

### G. Strategi Membentuk Kebiasaan Literasi bagi Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Agar literasi tidak berhenti menjadi teori, Omjay mengajak peserta mencoba langkah sederhana berikut.

* Baca setiap hari. Pilih bacaan yang bermanfaat dan sesuai dengan minat.

* Catat ide yang muncul. Gunakan buku catatan atau aplikasi pencatat untuk menyimpan gagasan.

* Tuliskan pengalaman. Mulailah dari peristiwa yang benar-benar dialami.

* Kembangkan tulisan. Susun pengalaman menjadi pembukaan, isi, dan penutup yang jelas.

* Periksa kembali tulisan. Perbaiki ejaan, susunan kalimat, fakta, dan alur cerita.

* Bagikan karya. Publikasikan melalui blog, media sosial, majalah sekolah, atau komunitas menulis.

* Terus belajar. Terima masukan dengan terbuka dan gunakan kritik yang membangun untuk memperbaiki karya.

Ingatlah, kebiasaan yang baik tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kebiasaan tersebut tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

### H. Tugas Menulis Pertemuan Ke-21

### Tugas: Literasi yang Mengubah Hidup Saya

Tujuan: Melatih peserta menggali pengalaman pribadi, mengembangkan gagasan, dan menulis artikel reflektif tentang pentingnya literasi.

Petunjuk pengerjaan:

* Buatlah artikel dengan tema “Mengapa Literasi Penting bagi Saya?”

* Panjang tulisan sekitar 500–700 kata.

* Ceritakan pengalaman nyata yang berhubungan dengan membaca, menulis, belajar, atau menggunakan teknologi.

* Jelaskan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

* Tuliskan tindakan nyata yang akan dilakukan untuk meningkatkan budaya literasi.

* Gunakan bahasa sendiri dan cantumkan sumber jika mengutip karya orang lain.

* Publikasikan tulisan di blog pribadi atau media yang ditentukan oleh panitia KBMN PGRI Gelombang 35.

Batas waktu: Ikuti jadwal yang ditetapkan oleh pengelola KBMN PGRI Gelombang 35.

### Pertanyaan pemantik

Untuk memudahkan peserta menemukan ide, renungkan pertanyaan berikut.

* Buku apa yang paling berkesan dalam hidup saya?

* Siapa yang pertama kali mengajarkan saya pentingnya membaca?

* Kapan saya merasakan manfaat menulis?

* Bagaimana literasi membantu saya menyelesaikan masalah?

* Apa perubahan yang saya rasakan setelah terbiasa membaca atau menulis?

* Bagaimana saya dapat mengajak keluarga, murid, dan rekan kerja untuk meningkatkan literasi?

Peserta tidak harus menjawab seluruh pertanyaan. Pilih satu atau dua pertanyaan yang paling dekat dengan pengalaman pribadi, kemudian kembangkan menjadi cerita yang bermakna.

### I. Refleksi Bersama: Sudahkah Kita Menjadi Teladan Literasi?

Bapak dan Ibu guru yang hebat,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk membaca hari ini? Apakah kita sudah menulis sesuatu yang bermanfaat? Apakah murid-murid kita melihat contoh nyata dari kebiasaan membaca dan menulis yang kita lakukan?

Kita sering berharap siswa rajin membaca, tetapi terkadang lupa menunjukkan bahwa gurunya juga gemar membaca.

Kita berharap siswa mampu menulis, tetapi terkadang belum memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk mengekspresikan pengalaman dan pemikirannya.

Budaya literasi tidak tumbuh hanya melalui slogan. Budaya literasi tumbuh melalui keteladanan, pembiasaan, kesempatan, dan apresiasi.

Guru tidak harus menjadi penulis terkenal untuk menginspirasi murid. Guru cukup memulai dengan membaca, menulis, dan membagikan pengetahuan secara konsisten.

Satu tulisan sederhana mungkin dapat membantu seorang guru lain menemukan metode pembelajaran yang lebih baik. Satu cerita inspiratif mungkin dapat membuat seorang siswa kembali percaya diri. Satu buku mungkin dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Karena itu, jangan pernah meremehkan kekuatan membaca dan menulis.

### J. Penutup: Literasi Adalah Investasi Masa Depan

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan,

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf atau merangkai kalimat. Literasi adalah kemampuan untuk memahami dunia, menimbang informasi, mengambil keputusan, dan menyampaikan pemikiran secara bertanggung jawab.

Membaca memperluas wawasan. Menulis mengasah pemikiran. Berbagi pengetahuan memperkuat hubungan antarmanusia.

Sebagai guru, kita memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan budaya literasi di sekolah dan masyarakat. Kita dapat memulainya dari diri sendiri, dari rumah, dari ruang kelas, dan dari komunitas belajar yang kita ikuti.

Jangan menunggu fasilitas lengkap untuk mulai membaca. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk berbagi ilmu.

Mulailah dari apa yang kita miliki dan dari pengalaman yang kita alami.

Seperti yang selalu Omjay tekankan dalam perjalanan menulis, konsistensi adalah bagian penting dari proses belajar. Tulisan yang sederhana, jika terus dikembangkan dan dibagikan dengan niat baik, dapat menjadi warisan pengetahuan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Membaca membuat kita belajar. Menulis membuat kita bertumbuh. Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi sesama.

Mari terus menumbuhkan budaya literasi. Mari menulis dengan jujur, membaca dengan kritis, dan menggunakan teknologi dengan bijaksana.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Omjay, Guru Blogger Indonesia Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Fellowship Pandi di Acara ICANN87 Bali

Fellowship PANDI di Bali: Merajut Persahabatan, Membangun Masa Depan Internet Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Blog https://wijayalabs.com

Ada banyak hal berharga yang bisa kita bawa pulang dari sebuah perjalanan. Bukan hanya oleh-oleh, bukan pula sekadar foto kenangan, melainkan persahabatan, pengalaman, dan pengetahuan baru yang akan terus hidup dalam ingatan.

Itulah yang saya rasakan ketika mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali. Di tengah pertemuan komunitas internet dunia, saya mendapatkan kesempatan untuk menikmati kebersamaan dalam kegiatan Fellowship PANDI. Momen ini menjadi salah satu pengalaman menarik yang patut saya ceritakan kepada pembaca Kompasiana.

Berfoto Bersama, Menyimpan Cerita

Dalam foto kebersamaan tersebut, kami berdiri berdampingan dengan senyum yang menghiasi wajah. Latar dekorasi yang indah dan tulisan ICANN87 menjadi saksi sebuah perjumpaan yang bermakna. Ada peserta yang mengenakan kaus, kemeja, dan batik. Masing-masing hadir dengan latar belakang serta pengalaman yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ketertarikan terhadap dunia internet dan perkembangan teknologi digital.

Bagi saya, foto bersama bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Foto adalah pengingat bahwa di balik teknologi yang terus berkembang, selalu ada manusia yang bekerja, belajar, berdiskusi, dan membangun hubungan satu sama lain.

Kita mungkin datang dari tempat yang berbeda. Kita mungkin memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak sama. Namun, ketika bertemu dalam sebuah forum, kita mempunyai kesempatan untuk saling mengenal dan belajar.

Saya percaya, persahabatan sering kali dimulai dari percakapan sederhana. Sapaan, senyuman, dan kesediaan mendengarkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang dengan beragam pengalaman.

Mengenal Dunia Internet Lebih Dekat

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya memandang internet bukan hanya sebagai teknologi untuk mencari informasi atau berkomunikasi. Internet telah menjadi bagian penting dalam pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, dan kehidupan masyarakat.

Melalui internet, guru dapat berbagi bahan ajar. Siswa bisa menjelajahi sumber pengetahuan dari berbagai belahan dunia. Penulis dapat menerbitkan gagasan melalui blog dan media digital. Bahkan, komunitas yang berjauhan dapat bekerja sama tanpa harus selalu bertemu secara langsung.

Namun, di balik semua kemudahan tersebut, ada infrastruktur, tata kelola, standar teknis, dan kerja sama banyak pihak yang memungkinkan internet berjalan dengan baik.

Itulah salah satu alasan saya tertarik mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan ekosistem internet global. Saya ingin memperluas wawasan, memahami perkembangan teknologi, dan membawa pengalaman yang relevan ke dunia pendidikan Indonesia.

PANDI, atau Pengelola Nama Domain Internet Indonesia, memiliki peran penting dalam pengelolaan nama domain Indonesia, khususnya domain .id. Sementara itu, ICANN merupakan organisasi yang berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet secara global, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan nama domain.

Keduanya berada dalam lingkup yang berbeda, tetapi isu nama domain dan tata kelola internet memperlihatkan betapa pentingnya koordinasi antara tingkat nasional dan global.

Fellowship: Belajar, Berjejaring, dan Berbagi

Kata fellowship mengingatkan saya pada pentingnya kebersamaan dalam proses belajar. Pengetahuan tidak selalu datang dari ruang kelas, buku, atau presentasi resmi. Pengetahuan juga bisa tumbuh dari percakapan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Dalam sebuah forum internasional, kita berkesempatan mendengar sudut pandang baru, memahami persoalan yang mungkin belum pernah kita pikirkan, dan menemukan kemungkinan kolaborasi.

Bagi seorang guru dan blogger seperti saya, kesempatan semacam ini sangat berharga. Saya terbiasa menulis pengalaman sehari-hari dan membagikannya kepada pembaca. Saya percaya, pengalaman yang dituliskan dengan jujur dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Karena itu, saya ingin menjadikan pengalaman mengikuti ICANN87 dan kebersamaan dalam Fellowship PANDI sebagai bahan refleksi sekaligus pembelajaran. Saya tidak ingin pengalaman ini berhenti sebagai foto yang tersimpan di galeri telepon genggam.

Saya ingin pengalaman ini menjadi cerita yang bermanfaat, terutama bagi guru, pelajar, blogger, dan masyarakat yang ingin mengenal dunia internet lebih dekat.

Membawa Pengalaman Bali ke Ruang Kelas

Sepulang dari kegiatan ini, ada banyak hal yang dapat saya bagikan kepada peserta didik. Salah satunya adalah pemahaman bahwa internet tidak muncul begitu saja. Ada orang-orang, organisasi, standar, dan kesepakatan yang memungkinkan jaringan global ini bekerja.

Siswa perlu memahami bahwa menjadi pengguna internet bukan hanya soal mampu membuka situs, menggunakan media sosial, atau memanfaatkan kecerdasan artifisial. Mereka juga perlu mengenal keamanan digital, privasi, etika berkomunikasi, literasi informasi, dan tanggung jawab sebagai warga digital.

Saya ingin menceritakan kepada mereka bahwa dunia teknologi sangat luas. Seorang siswa yang hari ini belajar Informatika di sekolah bisa saja kelak menjadi pengembang perangkat lunak, peneliti keamanan siber, ahli jaringan, pengelola sistem digital, atau berkontribusi dalam tata kelola internet.

Mimpi besar sering kali dimulai dari rasa ingin tahu. Karena itu, tugas guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka jendela agar siswa melihat berbagai kemungkinan masa depan.

Persahabatan yang Tidak Berhenti pada Foto

Saya bersyukur dapat menikmati momen kebersamaan ini di Bali. Bagi saya, perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemajuan hubungan antarmanusia.

Teknologi dapat menghubungkan perangkat, tetapi persahabatan membutuhkan ketulusan. Internet dapat mempercepat pertukaran informasi, tetapi kebijaksanaan tetap membutuhkan kemauan untuk mendengar, berpikir kritis, dan menghargai perbedaan.

Kita boleh memiliki perangkat yang canggih, jaringan yang cepat, dan akses informasi yang luas. Namun, semua itu akan lebih bermakna jika digunakan untuk berbagi pengetahuan, memperkuat pendidikan, dan membantu sesama.

Foto Fellowship PANDI di ICANN87 Bali akan menjadi salah satu pengingat bagi saya tentang pentingnya belajar sepanjang hayat. Sebagai guru, saya harus terus belajar. Sebagai blogger, saya harus terus menulis. Sebagai bagian dari masyarakat digital, saya harus ikut mendorong pemanfaatan internet yang lebih baik.

Saya ingin terus memegang prinsip sederhana: menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan gunakan teknologi untuk menebarkan manfaat.

Semoga persahabatan yang terjalin dalam kegiatan ini terus tumbuh, membuka peluang kolaborasi, dan memberikan sumbangsih bagi perkembangan internet Indonesia.

Salam blogger persahabatan.

Omjay

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia

kisah omjay di acara icann87 bali tentang masa depan internet

One Country, Two Internets: Kisah Omjay Belajar tentang Masa Depan Internet di ICANN87 Bali

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Ada banyak hal menarik yang saya pelajari selama mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali. Sebagai seorang guru Informatika, blogger, dan pegiat literasi digital, saya merasa beruntung bisa menyaksikan langsung diskusi internasional tentang masa depan internet. Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah sebuah presentasi dengan judul **“One Country, Two Internets”** atau *Satu Negara, Dua Internet*.

Judul itu membuat saya berpikir. Apakah mungkin dalam satu negara terdapat dua pengalaman internet yang berbeda? Bukankah internet seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan manusia tanpa mengenal batas geografis, bahasa, dan budaya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak saya ketika memperhatikan layar presentasi di ruang pertemuan ICANN87.

Internet yang Sama, Pengalaman yang Berbeda

Dalam presentasi tersebut, terlihat sebuah ilustrasi yang membandingkan dua pengalaman pengguna internet. Pengalaman A ditandai dengan kata *works*, yang berarti berfungsi atau dapat diakses. Sementara itu, pengalaman B ditandai dengan kata *blocked*, yang berarti diblokir.

Ilustrasi tersebut menggambarkan persoalan penting dalam dunia internet: dua orang yang berada di negara yang sama belum tentu mendapatkan pengalaman mengakses internet yang sama.

Seseorang mungkin dapat membuka sebuah situs web dengan mudah, sementara orang lain menghadapi pemblokiran atau kesulitan mengakses layanan yang sama. Perbedaan ini bisa terjadi karena kebijakan jaringan, pengaturan akses, pemblokiran konten, penyedia layanan internet, maupun faktor teknis lainnya.

Tentu saja, kita perlu memahami konteks lengkap presentasi sebelum menyimpulkan penyebab khusus dari contoh yang ditampilkan. Namun, ilustrasi itu cukup untuk mengingatkan saya bahwa internet bukan hanya soal tersambung atau tidak tersambung. Ada persoalan akses, kebijakan, teknologi, dan pengalaman pengguna yang perlu diperhatikan bersama.

Nama Domain dan Peran ICANN

Sebagai peserta ICANN87, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet dunia melibatkan banyak pihak. Salah satu bagian pentingnya adalah sistem nama domain, yaitu sistem yang membantu manusia mengakses situs web melalui nama yang mudah diingat.

Bayangkan jika kita harus menghafalkan deretan angka alamat IP setiap kali ingin membuka sebuah situs. Tentu akan merepotkan. Nama domain memudahkan kita mengingat alamat situs, seperti halnya kita mengingat nama seseorang daripada menghafalkan nomor identitasnya.

ICANN atau *Internet Corporation for Assigned Names and Numbers* berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk nama domain dan parameter teknis tertentu. Namun, ICANN bukan lembaga yang mengendalikan seluruh isi internet atau menentukan sendiri semua situs mana yang boleh diakses di setiap negara.

Karena itu, ketika membicarakan fenomena *One Country, Two Internets*, kita perlu membedakan antara sistem nama domain, infrastruktur jaringan, kebijakan pemerintah, dan mekanisme pemblokiran akses. Semuanya dapat memengaruhi pengalaman pengguna, tetapi memiliki fungsi dan kewenangan yang berbeda.

Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak mencampuradukkan persoalan teknis dengan persoalan kebijakan.

Sebagai Guru Informatika, Saya Melihat Pelajaran Berharga

Saya, Omjay, yang sehari-hari mengajar Informatika di SMP Labschool Jakarta, melihat tema ini sebagai bahan pembelajaran yang sangat menarik bagi murid-murid.

Selama ini, ketika belajar internet, siswa sering berfokus pada cara menghubungkan komputer ke jaringan, mencari informasi melalui mesin pencari, mengirim surat elektronik, atau menggunakan aplikasi digital. Semua itu memang penting.

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendalam untuk kita diskusikan.

Mengapa sebuah situs dapat dibuka oleh seseorang, tetapi tidak dapat diakses oleh orang lain? Mengapa suatu informasi tersedia di satu jaringan, tetapi dibatasi di jaringan yang berbeda? Bagaimana kita mengetahui apakah sebuah situs tidak dapat diakses karena gangguan teknis atau karena kebijakan tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat melatih siswa berpikir kritis. Mereka belajar bahwa teknologi tidak berdiri sendiri. Ada manusia, aturan, kepentingan, dan tanggung jawab di balik setiap sistem digital.

Saya ingin murid-murid tidak sekadar menjadi pengguna internet. Mereka juga harus menjadi warga digital yang cerdas, kritis, santun, dan bertanggung jawab.

Internet Harus Membuka Peluang, Bukan Memperlebar Kesenjangan

Internet memberikan kesempatan besar bagi dunia pendidikan. Guru dapat berbagi materi pembelajaran, siswa dapat mencari referensi, dan komunitas belajar dapat berkolaborasi tanpa harus bertemu secara langsung.

Sebagai blogger yang telah menulis sejak 2007, saya merasakan sendiri manfaat internet. Melalui blog, saya dapat membagikan pengalaman mengajar, menyampaikan gagasan, dan menginspirasi guru-guru di berbagai daerah di Indonesia.

Akan tetapi, manfaat tersebut akan berkurang apabila akses internet tidak merata atau informasi penting sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat.

Kita perlu terus memperjuangkan akses internet yang terjangkau, aman, andal, dan inklusif. Pada saat yang sama, perlindungan terhadap keamanan pengguna, privasi, serta kepatuhan pada hukum juga perlu menjadi bagian dari pembicaraan.

Internet yang baik bukan semata-mata internet yang cepat. Internet yang baik adalah internet yang membantu manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengembangkan potensi dirinya.

Belajar dari Forum Internasional di Bali

Mengikuti ICANN87 memberikan pengalaman berharga bagi saya. Saya dapat melihat bagaimana berbagai pemangku kepentingan membicarakan persoalan internet dari sudut pandang yang berbeda.

Ada aspek teknis yang harus dipahami oleh para ahli jaringan. Ada kebijakan yang menjadi perhatian pemerintah. Ada pula kepentingan masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan pengguna internet sehari-hari.

Perbedaan pandangan seperti ini perlu dipertemukan melalui dialog. Internet merupakan sumber daya global yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat di berbagai negara. Karena itu, tata kelolanya membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan pemahaman lintas sektor.

Saya semakin menyadari bahwa menjadi guru Informatika pada zaman sekarang berarti harus terus belajar. Perkembangan teknologi berjalan cepat. Materi yang kita ajarkan hari ini perlu terus diperbarui agar relevan dengan kenyataan yang dihadapi generasi muda.

Guru harus mau membuka diri terhadap pengetahuan baru, termasuk dengan mengikuti forum internasional, membaca referensi, berdiskusi, dan berbagi pengalaman dengan sesama pendidik.

Penutup: Satu Negara, Banyak Pengalaman Digital

Judul *One Country, Two Internets* mengajak kita melihat internet dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam satu negara, pengalaman digital masyarakat dapat berbeda karena kondisi jaringan, kebijakan akses, pengaturan teknis, dan berbagai faktor lainnya.

Bagi saya, pelajaran terpenting dari diskusi ini adalah perlunya memahami internet secara utuh. Kita tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi. Kita juga perlu memahami bagaimana teknologi bekerja, siapa saja yang terlibat dalam pengelolaannya, serta bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Saya ingin membawa pengetahuan yang saya peroleh dari ICANN87 Bali ke ruang kelas dan komunitas guru di Indonesia. Semoga semakin banyak pendidik yang memahami pentingnya literasi digital dan mengajak siswa menggunakan internet secara cerdas.

Sebab, masa depan internet bukan hanya urusan para ahli teknologi. Masa depan internet juga berkaitan dengan masa depan pendidikan, masa depan generasi muda, dan masa depan masyarakat kita.

Salam blogger persahabatan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com