ART SATUPENA 2026: Menata Rumah Besar Para Penulis Indonesia
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Ada dokumen yang ketika kita baca hanya terasa seperti kumpulan pasal dan ayat. Namun ada pula dokumen yang membuat kita berhenti sejenak, kemudian berpikir, ke mana organisasi ini akan dibawa?
Begitulah perasaan saya ketika membaca Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA) yang merupakan hasil pelaksanaan mandat Kongres SATUPENA tanggal 13 Agustus 2026.
Dokumen tersebut ditetapkan oleh Dewan Formatur SATUPENA di Jakarta pada 26 Agustus 2026. ART ini disusun sebagai pelaksanaan mandat Kongres untuk melakukan perubahan, penyesuaian, penyempurnaan, dan finalisasi AD dan ART dalam batas waktu yang telah diberikan.
Saya membacanya sebagai seorang guru yang sudah lama bersentuhan dengan dunia pendidikan, teknologi, blogging, buku, komunitas, dan literasi.
Saya membacanya pula sebagai seorang penulis yang percaya bahwa organisasi penulis tidak boleh hanya sibuk dengan persoalan internal. Organisasi penulis harus mampu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.
Sebab pada akhirnya, menulis adalah jalan pengabdian.
Tulisan dapat menjadi ilmu.
Tulisan dapat menjadi inspirasi.
Tulisan dapat menjadi kritik.
Tulisan dapat menjadi dokumentasi sejarah.
Dan tulisan juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya.
Karena itulah saya melihat ART SATUPENA 2026 bukan sekadar aturan organisasi. Saya melihatnya sebagai bagian dari upaya menata sebuah rumah besar bagi para penulis Indonesia.
Mengapa Organisasi Penulis Membutuhkan ART?
Saya pernah berada dalam berbagai komunitas. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa sebuah komunitas bisa tumbuh karena semangat, tetapi sebuah organisasi membutuhkan sistem.
Semangat membuat orang mau berkumpul.
Namun sistem membuat organisasi mampu bertahan.
Di awal berdirinya sebuah komunitas, mungkin tidak terlalu banyak aturan yang diperlukan. Semua orang saling mengenal. Semua bisa berbicara langsung. Persoalan dapat diselesaikan sambil minum kopi.
Tetapi ketika organisasi berkembang, anggota semakin banyak, wilayah semakin luas, program semakin beragam, dan tanggung jawab semakin besar, maka diperlukan aturan yang jelas.
Di sinilah ART memiliki peran penting.
ART SATUPENA secara tegas menyatakan dirinya sebagai ketentuan pelaksanaan lebih lanjut dari Anggaran Dasar. ART tersebut mengikat anggota, Dewan Pengawas, Badan Pengurus, kepengurusan SATUPENA Pulau dan Provinsi, serta alat kelengkapan organisasi.
Bagi saya, ini penting.
Sebab organisasi yang sehat harus memiliki kepastian mengenai siapa melakukan apa, bagaimana keputusan dibuat, bagaimana konflik diselesaikan, bagaimana keuangan dikelola, dan bagaimana organisasi mempertanggungjawabkan kegiatannya kepada anggota.
Tanpa aturan, organisasi mudah berjalan berdasarkan kehendak orang per orang.
Dengan aturan, organisasi memiliki rambu-rambu.
Tetapi tentu saja, aturan bukan tujuan akhir.
Aturan adalah alat untuk mencapai tujuan organisasi.
SATUPENA dan Rumah Besar Kepenulisan
Saya senang melihat bahwa ART SATUPENA memberikan ruang kepada berbagai kelompok yang berkaitan dengan dunia kepenulisan, literasi, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.
Keanggotaan SATUPENA terdiri atas Anggota Biasa, Anggota Luar Biasa, dan Anggota Kehormatan. Anggota Biasa memiliki rekam kegiatan atau karya dalam bidang yang berkaitan dengan maksud dan tujuan Perkumpulan. Anggota Luar Biasa memiliki perhatian, kontribusi, atau keterlibatan dalam pengembangan bidang tersebut, sedangkan Anggota Kehormatan adalah mereka yang dinilai mempunyai jasa atau kontribusi penting.
Saya melihatnya sebagai sebuah pintu yang terbuka.
Dunia literasi Indonesia sangat luas.
Ada penulis buku.
Ada penulis artikel.
Ada blogger.
Ada wartawan.
Ada guru yang menulis pengalaman mengajarnya.
Ada dosen yang menulis hasil penelitian.
Ada sastrawan.
Ada budayawan.
Ada peneliti.
Ada pegiat literasi di desa.
Ada anak muda yang menulis melalui media digital.
Semuanya memiliki cerita.
Semuanya memiliki pengalaman.
Semuanya berpotensi memberikan kontribusi.
Sebagai Omjay, saya sering mengatakan bahwa setiap orang sebenarnya mempunyai buku di dalam dirinya.
Masalahnya adalah tidak semua orang mau mengeluarkannya.
Ada yang merasa tidak pandai menulis.
Ada yang takut salah.
Ada yang takut dikritik.
Ada yang merasa ceritanya tidak penting.
Padahal bisa jadi pengalaman sederhana seorang guru di sebuah sekolah justru menjadi inspirasi bagi guru lain di daerah yang berbeda.
Karena itu, organisasi penulis harus mampu menjadi tempat belajar.
Bukan tempat untuk saling merasa paling hebat.
Hak Menyampaikan Pendapat dan Kewajiban Menjaga Etika
Salah satu hal yang menurut saya sangat penting adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban.
ART memberikan hak kepada Anggota Biasa untuk mengikuti kegiatan, memperoleh informasi dan pelayanan organisasi, menyampaikan pendapat, usul, dan kritik secara bertanggung jawab, memilih dan dipilih, serta memperoleh perlindungan organisasi sesuai kemampuan dan kewenangan Perkumpulan.
Tetapi anggota juga memiliki kewajiban.
Mereka harus mematuhi AD, ART, dan keputusan organisasi. Mereka harus menjaga nama baik organisasi, menjunjung etika profesi, menghormati sesama anggota, menghormati keberagaman dan kebebasan berkarya, serta berpartisipasi sesuai kemampuan.
Saya kira prinsip ini sangat relevan dengan dunia digital hari ini.
Kita hidup di zaman ketika siapa pun dapat menjadi penulis.
Dengan sebuah telepon genggam, seseorang bisa membuat tulisan dan menyebarkannya kepada ribuan orang.
Persoalannya bukan lagi apakah seseorang bisa menerbitkan tulisan.
Persoalannya adalah apakah ia siap mempertanggungjawabkan tulisannya.
Kita perlu belajar membedakan kritik dengan penghinaan.
Kita perlu membedakan kebebasan berpendapat dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Kita perlu memahami bahwa kebebasan berkarya harus berjalan bersama etika.
Penulis boleh berbeda pendapat.
Penulis boleh kritis.
Penulis boleh menyampaikan kegelisahan.
Tetapi semua itu sebaiknya dilakukan dengan akal sehat dan hati yang jernih.
Kongres dan Demokrasi Organisasi
Saya juga tertarik membaca ketentuan mengenai Kongres.
ART memungkinkan Kongres diselenggarakan secara luring, daring, atau gabungan antara keduanya. Peserta yang hadir secara daring memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan peserta luring sepanjang identitas, status keanggotaan, kehadiran, dan hak suaranya dapat diverifikasi.
Bagi saya sebagai guru dan pegiat teknologi pendidikan, ketentuan ini menunjukkan bahwa organisasi tidak boleh alergi terhadap teknologi.
Teknologi bukan pengganti manusia.
Teknologi adalah alat untuk membantu manusia.
Dengan teknologi, anggota yang berada jauh dari Jakarta tetap dapat mengikuti kegiatan organisasi.
Dengan teknologi, rapat dapat dilakukan tanpa semua orang harus mengeluarkan biaya perjalanan.
Dengan teknologi, dokumen dapat dibagikan lebih cepat.
Namun penggunaan teknologi harus disertai tata kelola yang baik.
ART mengatur bahwa keputusan Kongres diutamakan melalui musyawarah untuk mufakat. Jika mufakat tidak tercapai, pemungutan suara dapat dilakukan sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Sistem pemungutan dan penghitungan suara juga harus memungkinkan hasilnya diverifikasi dan dicatat dalam berita acara.
Inilah demokrasi organisasi.
Bukan berarti semua orang harus selalu setuju.
Justru demokrasi memberi ruang untuk berbeda pendapat.
Yang penting, setelah keputusan diambil, semua pihak menghormati mekanisme yang telah disepakati.
Kepemimpinan Tidak Sekadar Jabatan
Dalam organisasi, jabatan memang diperlukan.
Namun saya belajar bahwa jabatan bukanlah tujuan.
Jabatan adalah amanah.
ART mengatur Dewan Formatur yang menjalankan mandat Kongres, termasuk menyusun dan menetapkan Dewan Pengawas dan Badan Pengurus serta melakukan finalisasi AD dan ART sesuai mandat yang diberikan. Masa kerja Dewan Formatur untuk menyelesaikan mandat tersebut dibatasi paling lambat 30 hari kalender sejak Kongres ditutup.
Selanjutnya, Badan Pengurus menjalankan kepemimpinan dan pengelolaan organisasi sehari-hari. Ketua Umum memimpin Badan Pengurus serta mengambil kebijakan organisasi dalam rangka melaksanakan AD, ART, keputusan Kongres, dan program Perkumpulan.
Saya berharap siapa pun yang mendapatkan amanah kepemimpinan di SATUPENA mampu memahami satu hal:
memimpin penulis berarti memimpin manusia-manusia yang memiliki gagasan.
Setiap penulis memiliki karakter.
Ada yang kritis.
Ada yang pendiam.
Ada yang vokal.
Ada yang produktif.
Ada yang lebih suka bekerja di belakang layar.
Ada yang aktif dalam komunitas.
Ada pula yang lebih nyaman bekerja sendiri.
Pemimpin harus mampu merangkul semuanya.
Jangan sampai organisasi penulis justru kehilangan penulis karena mereka merasa tidak didengar.
Pengawasan dan Transparansi
Organisasi yang besar membutuhkan pengawasan.
ART mengatur Dewan Pengawas untuk menjalankan fungsi pengawasan tanpa mengambil alih kewenangan eksekutif Badan Pengurus. Dewan Pengawas dapat meminta keterangan, dokumen, dan laporan yang relevan secara patut dan proporsional.
Bagi saya, pengawasan bukan berarti mencari-cari kesalahan.
Pengawasan adalah menjaga organisasi agar tetap berada di jalur yang benar.
Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan keuangan.
ART menyatakan bahwa seluruh penerimaan dan pengeluaran harus dicatat secara tertib, transparan, akuntabel, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan. Laporan kegiatan dan laporan keuangan disampaikan kepada anggota sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun.
Saya kira anggota organisasi berhak mengetahui bagaimana organisasi dikelola.
Kepercayaan tidak lahir dari slogan.
Kepercayaan lahir dari keterbukaan.
Semakin transparan sebuah organisasi, semakin mudah anggota merasa menjadi bagian dari organisasi tersebut.
Jangan Hanya Berpusat di Jakarta
Sebagai orang yang hidup di Indonesia, saya selalu percaya bahwa kekuatan bangsa ini berada di daerah.
Begitu pula dengan dunia kepenulisan.
Indonesia tidak hanya Jakarta.
Ada penulis dari Aceh.
Ada penulis dari Sumatra.
Ada penulis dari Jawa.
Ada penulis dari Kalimantan.
Ada penulis dari Sulawesi.
Ada penulis dari Bali dan Nusa Tenggara.
Ada penulis dari Maluku.
Ada penulis dari Papua.
Mereka memiliki cerita yang tidak kalah menarik.
ART SATUPENA memberikan struktur berupa SATUPENA Pulau dan SATUPENA Provinsi. Ketua SATUPENA Pulau bertugas mengoordinasikan kepengurusan provinsi dalam wilayahnya, memperkuat komunikasi dan kerja sama antarprovinsi, membantu pengembangan organisasi dan keanggotaan, serta melakukan koordinasi dan evaluasi.
Sementara itu, SATUPENA Provinsi bertugas memimpin organisasi, mengembangkan keanggotaan, dan melaksanakan kebijakan serta program Perkumpulan di tingkat provinsi.
Saya berharap struktur ini benar-benar menjadi jalan untuk mendekatkan SATUPENA kepada penulis di daerah.
Jangan sampai organisasi hanya aktif ketika ada kongres.
Jangan sampai anggota hanya menerima informasi dari pusat.
Mari bangun kegiatan yang membuat penulis daerah merasa memiliki rumah sendiri.
Pelatihan menulis.
Diskusi buku.
Bedah karya.
Festival literasi.
Penerbitan antologi.
Pendampingan penulis pemula.
Kegiatan literasi sekolah.
Kolaborasi dengan perguruan tinggi.
Bahkan program menulis untuk masyarakat di desa.
Semua itu dapat menjadi kegiatan yang membuat organisasi benar-benar hidup.
Teknologi, AI, dan Tantangan Penulis Masa Kini
Ada satu hal yang menurut saya tidak boleh diabaikan oleh organisasi penulis pada zaman sekarang: teknologi.
Dunia penulisan sedang mengalami perubahan besar.
Kecerdasan artifisial atau AI telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Orang dapat menggunakan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, menerjemahkan teks, bahkan membantu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang.
Tetapi saya selalu mengingatkan:
AI adalah alat. Manusia tetap memiliki hati.
Penulis jangan kehilangan identitasnya hanya karena menggunakan teknologi.
Justru teknologi seharusnya membantu penulis menjadi lebih produktif.
Di sinilah saya berharap organisasi seperti SATUPENA dapat menjadi tempat belajar bersama mengenai perkembangan teknologi.
Penulis perlu memahami AI.
Penulis juga perlu memahami etika penggunaannya.
Kita harus mampu membedakan antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.
Sebab tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang benar secara tata bahasa.
Tulisan yang baik memiliki pengalaman.
Memiliki gagasan.
Memiliki sudut pandang.
Memiliki kejujuran.
Dan yang paling penting, memiliki manusia di baliknya.
Konflik Tidak Harus Menjadi Perpecahan
Tidak ada organisasi yang sempurna.
Selama ada manusia, pasti ada perbedaan.
Yang satu punya pendapat A.
Yang lain percaya pada pendapat B.
Yang satu ingin organisasi bergerak cepat.
Yang lain ingin semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati.
Perbedaan seperti ini wajar.
Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.
Karena itu saya mengapresiasi adanya mekanisme penyelesaian perselisihan internal dalam ART SATUPENA.
Perselisihan terlebih dahulu diselesaikan melalui musyawarah dengan itikad baik. Jika tidak selesai, tersedia mekanisme mediasi Badan Pengurus dan dalam kondisi tertentu dapat dimintakan penyelesaian kepada Dewan Pengawas. Pengadilan ditempatkan sebagai upaya terakhir setelah mekanisme internal ditempuh.
Saya teringat satu kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.
Kalau kita sedang marah kepada seseorang, jangan langsung menulis.
Tarik napas.
Diam sebentar.
Baca kembali apa yang ingin kita tulis.
Tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah tulisan saya menyelesaikan masalah atau justru memperbesar masalah?
Pertanyaan sederhana ini sangat penting, terutama bagi seorang penulis.
Sebab tulisan memiliki daya.
Sekali dipublikasikan, ia dapat bergerak jauh melampaui apa yang kita bayangkan.
Menata Rumah, Bukan Sekadar Membuat Aturan
Setelah membaca ART SATUPENA 2026, saya semakin yakin bahwa organisasi ini sedang berusaha menata rumah besarnya.
Rumah itu bukan gedung.
Rumah itu bukan kantor.
Rumah itu adalah orang-orang yang berada di dalamnya.
Anggota adalah penghuninya.
Pengurus adalah pengelolanya.
Dewan Pengawas adalah bagian yang memastikan rumah tetap terawat.
Aturan adalah fondasinya.
Program adalah aktivitas kehidupan di dalamnya.
Dan karya para penulis adalah cahaya yang membuat rumah itu bermanfaat bagi masyarakat.
ART juga mengatur bahwa seluruh keputusan, peraturan, kepengurusan, dan alat kelengkapan organisasi yang sudah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan AD dan ART. Kepengurusan SATUPENA Pulau dan Provinsi yang telah ditetapkan sebelumnya juga tetap sah sampai dilakukan perubahan atau penetapan lain.
Artinya, perubahan organisasi tidak harus selalu berarti memulai semuanya dari nol.
Ada kesinambungan.
Ada sejarah.
Ada pengalaman.
Ada orang-orang yang sudah bekerja.
Tugas kita adalah memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dan melanjutkan apa yang sudah baik.
Harapan Seorang Guru Blogger
Saya menulis refleksi ini bukan sebagai orang yang merasa paling tahu tentang organisasi penulis.
Saya justru sedang belajar.
Selama menjadi guru, saya belajar bahwa organisasi yang baik adalah organisasi yang mau mendengar.
Selama menjadi blogger, saya belajar bahwa konsistensi lebih penting daripada popularitas sesaat.
Selama menulis buku, saya belajar bahwa sebuah karya membutuhkan kesabaran.
Selama berada di komunitas literasi, saya belajar bahwa kita tidak akan pernah bisa berjalan sendirian.
Dan selama menjadi pendidik, saya belajar bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan.
Karena itu saya berharap SATUPENA 2026 tidak berhenti pada dokumen ART.
Saya berharap pasal-pasal tersebut diterjemahkan menjadi gerakan.
Gerakan menulis.
Gerakan membaca.
Gerakan menerbitkan buku.
Gerakan mendokumentasikan pengalaman.
Gerakan menghidupkan literasi daerah.
Gerakan melindungi kebebasan berkarya.
Gerakan meningkatkan kompetensi penulis.
Dan gerakan mempertemukan penulis senior dengan penulis pemula.
Dari Penulis untuk Indonesia
ART SATUPENA ditutup dengan sebuah pesan yang menurut saya sangat penting. Seluruh anggota, Dewan Pengawas, Badan Pengurus, Ketua SATUPENA Pulau, Ketua SATUPENA Provinsi, serta alat kelengkapan organisasi wajib melaksanakan ART dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, dan semangat pengabdian kepada dunia kepenulisan dan literasi Indonesia.
Kata yang saya garis bawahi adalah pengabdian.
Menulis memang bisa menjadi profesi.
Menulis juga bisa menghasilkan pendapatan.
Buku bisa dijual.
Artikel bisa dimonetisasi.
Konten digital bisa menghasilkan penghasilan.
Namun jauh di atas semua itu, menulis dapat menjadi pengabdian.
Ketika seorang guru menulis pengalaman mengajar, ia sedang meninggalkan jejak bagi guru lainnya.
Ketika seorang penulis daerah menuliskan tradisi masyarakatnya, ia sedang menyelamatkan memori budaya.
Ketika seorang peneliti menulis hasil penelitiannya, ia sedang membagikan pengetahuan.
Ketika seorang penulis muda menceritakan kegelisahan generasinya, ia sedang menyuarakan zamannya.
Dan ketika seorang blogger menuliskan pengalaman sehari-hari dengan jujur, ia sedang mendokumentasikan kehidupan.
Itulah kekuatan tulisan.
Mari Menulis dan Merawat Rumah Bersama
Pada akhirnya, saya melihat ART SATUPENA 2026 sebagai sebuah langkah untuk menata organisasi agar memiliki tata kelola yang lebih jelas, demokratis, transparan, dan mampu menjangkau penulis di berbagai wilayah Indonesia.
Tetapi dokumen sebaik apa pun tidak akan memiliki arti apabila tidak dijalankan.
Karena itu, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah dokumen selesai.
Bagaimana pengurus menjalankannya?
Bagaimana anggota berpartisipasi?
Bagaimana kritik diterima?
Bagaimana konflik diselesaikan?
Bagaimana keuangan dilaporkan?
Bagaimana penulis pemula dibimbing?
Bagaimana penulis daerah diberdayakan?
Bagaimana teknologi dimanfaatkan?
Bagaimana literasi Indonesia dikembangkan?
Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan organisasi.
Sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia, saya ingin mengajak para penulis Indonesia untuk terus menulis.
Jangan menunggu menjadi terkenal.
Jangan menunggu memiliki buku.
Jangan menunggu memiliki jabatan.
Jangan menunggu tulisan kita dianggap hebat.
Mulailah dari pengalaman sendiri.
Tuliskan apa yang kita lihat.
Tuliskan apa yang kita rasakan.
Tuliskan apa yang kita pelajari.
Tuliskan apa yang kita pikirkan.
Dan yang paling penting, tuliskan sesuatu yang memberikan manfaat.
Sebab mungkin tulisan kita hari ini hanya dibaca oleh sepuluh orang.
Tetapi kita tidak pernah tahu, siapa di antara sepuluh orang itu yang kelak berubah hidupnya karena tulisan kita.
Itulah alasan saya terus menulis.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Mari kita jadikan SATUPENA sebagai rumah besar yang bukan hanya pandai membuat aturan, tetapi juga mampu melahirkan karya.
Rumah yang bukan hanya ramai ketika kongres berlangsung, tetapi hidup setiap hari.
Rumah yang tidak hanya berada di pusat, tetapi hadir sampai ke daerah.
Rumah yang mampu merangkul perbedaan.
Rumah yang menjaga etika.
Rumah yang transparan.
Rumah yang demokratis.
Dan rumah yang menjadikan kepenulisan dan literasi sebagai bagian penting dari perjalanan mencerdaskan bangsa Indonesia.
Salam literasi.
Salam menulis.
Salam SATUPENA.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
