Dari Malas Membaca Menjadi Ketagihan Membaca
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
"Omjay, sekarang aku malas membaca. Kenapa ya?"
Pesan singkat itu saya terima dari seorang sahabat guru di Kalimantan Tengah. Saya tersenyum membacanya. Pertanyaan itu sederhana, tetapi sesungguhnya mewakili perasaan banyak orang saat ini. Bukan hanya guru, tetapi juga siswa, mahasiswa, bahkan para profesional yang dulu gemar membaca.
Saya pun membalas dengan singkat.
"Mungkin karena banyak kesibukan. Hehehe."
Namun setelah saya pikirkan lebih dalam, ternyata jawabannya tidak sesederhana itu. Banyak orang yang sebenarnya tidak kehilangan waktu untuk membaca. Mereka hanya kehilangan kebiasaan membaca.
Di era digital seperti sekarang, kita bisa menghabiskan berjam-jam menonton video pendek, menggulir media sosial, membaca komentar, atau melihat status teman. Tanpa terasa waktu habis begitu saja. Mata kita tetap melihat tulisan, tetapi bukan membaca yang sesungguhnya. Kita hanya melompat dari satu informasi ke informasi lain tanpa sempat merenungkan maknanya.
Saya teringat masa kecil di Wanaraja, Garut. Saat itu belum ada internet, belum ada smartphone, bahkan televisi pun tidak sebanyak sekarang. Buku menjadi jendela dunia. Saya rela berjalan kaki untuk meminjam buku di perpustakaan sekolah. Kadang saya membaca koran bekas yang dibungkus untuk makanan. Apa saja yang ada tulisannya saya baca.
Dari situlah kecintaan pada membaca tumbuh perlahan.
Membaca bukan karena disuruh guru. Membaca bukan karena ada tugas sekolah. Membaca karena rasa ingin tahu yang besar.
Sayangnya, ketika usia bertambah dan kesibukan semakin banyak, kebiasaan membaca sering kali mulai ditinggalkan. Kita merasa lelah setelah bekerja seharian. Pikiran sudah penuh dengan urusan keluarga, pekerjaan, organisasi, dan berbagai tanggung jawab lainnya. Akibatnya, ketika ada waktu luang, kita memilih hiburan yang instan daripada membaca buku yang membutuhkan konsentrasi.
Padahal membaca adalah makanan bagi pikiran.
Bayangkan jika tubuh tidak diberi makanan bergizi selama berhari-hari. Tubuh akan lemah. Tenaga berkurang. Kesehatan menurun.
Hal yang sama terjadi pada pikiran.
Ketika kita berhenti membaca, wawasan menjadi sempit. Ide-ide baru semakin sedikit. Kreativitas perlahan menghilang. Bahkan kemampuan menulis juga ikut menurun.
Sebagai seorang guru yang sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya merasakan betul hubungan antara membaca dan menulis. Saya tidak mungkin bisa menulis ratusan artikel, puluhan buku, dan ribuan postingan blog jika tidak gemar membaca.
Semua tulisan yang saya buat lahir dari hasil membaca.
Membaca buku.
Membaca pengalaman hidup.
Membaca keadaan sekitar.
Membaca peristiwa yang terjadi setiap hari.
Karena itulah saya selalu mengatakan bahwa penulis yang baik adalah pembaca yang baik.
Lalu bagaimana caranya agar orang yang malas membaca bisa kembali senang membaca?
Langkah pertama adalah jangan memaksa diri membaca buku yang berat.
Banyak orang gagal membangun kebiasaan membaca karena langsung memilih buku yang terlalu sulit. Akibatnya mereka cepat bosan.
Mulailah dari bacaan yang disukai.
Jika suka olahraga, bacalah artikel olahraga.
Jika suka memasak, bacalah buku resep.
Jika suka kisah inspiratif, bacalah biografi tokoh.
Yang penting adalah membangun kembali rasa senang terhadap aktivitas membaca.
Langkah kedua adalah membaca sedikit tetapi rutin.
Banyak orang berpikir membaca harus berjam-jam.
Padahal tidak.
Mulailah lima menit sehari.
Bacalah dua halaman.
Bacalah satu artikel.
Bacalah satu kisah inspiratif.
Lakukan setiap hari.
Kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus akan menghasilkan perubahan besar.
Langkah ketiga adalah mencatat apa yang dibaca.
Saya memiliki kebiasaan menuliskan poin-poin penting dari bacaan saya. Kadang saya tulis di buku catatan. Kadang langsung saya jadikan artikel blog.
Ketika kita menulis kembali apa yang dibaca, otak akan bekerja lebih aktif. Kita tidak hanya membaca, tetapi juga memahami.
Langkah keempat adalah bergabung dengan komunitas yang gemar membaca dan menulis.
Saya beruntung memiliki banyak sahabat guru yang suka membaca dan menulis. Melalui komunitas seperti KBMN PGRI, KOGTIK, dan berbagai grup literasi lainnya, semangat membaca terus terjaga.
Lingkungan sangat memengaruhi kebiasaan kita.
Jika setiap hari kita bergaul dengan orang yang suka belajar, maka kita akan terdorong untuk belajar.
Jika setiap hari kita bergaul dengan orang yang suka membaca, maka kita akan terdorong untuk membaca.
Langkah kelima adalah menemukan tujuan membaca.
Banyak orang malas membaca karena tidak tahu untuk apa mereka membaca.
Padahal membaca memiliki banyak manfaat.
Membaca membuat kita lebih percaya diri ketika berbicara.
Membaca membantu kita mengambil keputusan yang lebih baik.
Membaca membuat kita memiliki banyak ide.
Membaca memperluas wawasan dan membuka peluang baru.
Membaca bahkan dapat mengubah jalan hidup seseorang.
Saya adalah salah satu contohnya.
Anak kampung dari Garut yang gemar membaca akhirnya bisa menjadi guru, blogger, penulis, pembicara, hingga menyelesaikan pendidikan doktoral.
Semua berawal dari kebiasaan sederhana: membaca.
Karena itu, ketika ada sahabat yang berkata, "Omjay, sekarang aku malas membaca," saya tidak akan memarahinya.
Saya hanya akan mengajaknya mengingat kembali betapa banyak manfaat yang pernah diperoleh dari membaca.
Saya yakin tidak ada orang yang benar-benar malas membaca.
Yang ada hanyalah orang yang belum menemukan bacaan yang membuat hatinya tertarik.
Begitu menemukan bacaan yang tepat, rasa malas itu akan hilang dengan sendirinya.
Membaca bukanlah beban.
Membaca adalah perjalanan.
Membaca adalah petualangan.
Membaca adalah cara kita bertemu dengan ribuan guru, jutaan pengalaman, dan tak terhitung pengetahuan tanpa harus meninggalkan tempat duduk kita.
Maka jika hari ini Anda merasa malas membaca, jangan khawatir. Mulailah dari satu halaman. Besok satu halaman lagi. Lusa tambah menjadi dua halaman. Teruslah melangkah sedikit demi sedikit.
Suatu hari nanti Anda akan tersenyum dan berkata,
"Ternyata membaca itu menyenangkan. Saya hanya lupa memulainya."
Sebab buku yang baik tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mampu mengubah hidup seseorang. Dan perubahan besar sering kali dimulai dari satu halaman yang dibaca dengan penuh kesadaran.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com