Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 21 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI gelombang 35 pertemuan ke-21 bersama omjay


Berikut materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke-21 tanpa gambar, dengan materi yang lengkap, inspiratif, dan siap dibagikan kepada peserta.

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-21: Mengapa Literasi Penting?

Tema: Membangun Budaya Membaca, Menguatkan Kemampuan Menulis, dan Menginspirasi Sesama

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Sasaran: Guru, pendidik, penulis pemula, dan pegiat literasi.

### A. Pembukaan: Salam Literasi Bersama Omjay

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Salam literasi!

Apa kabar Bapak dan Ibu guru hebat di seluruh Indonesia? Semoga kita senantiasa sehat, bahagia, dan terus bersemangat untuk belajar serta berbagi ilmu.

Selamat datang di pertemuan ke-21 KBMN PGRI Gelombang 35. Kita sudah melewati perjalanan belajar menulis yang panjang. Setiap pertemuan menjadi kesempatan untuk mengenali diri sendiri, menggali pengalaman, dan menuangkan pemikiran ke dalam tulisan yang bermanfaat bagi orang lain.

Pada pertemuan kali ini, Omjay mengajak Bapak dan Ibu merenungkan satu pertanyaan sederhana, tetapi sangat penting.

Mengapa literasi penting dalam kehidupan kita?

Apakah literasi hanya berarti membaca buku? Apakah seseorang yang bisa membaca dan menulis otomatis sudah memiliki kemampuan literasi yang baik? Lalu, bagaimana peran guru dalam membangun budaya literasi di sekolah dan masyarakat?

Mari kita bahas bersama-sama.

### B. Apa Itu Literasi?

Literasi adalah kemampuan seseorang untuk mengakses, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan mengomunikasikan informasi melalui berbagai bentuk teks dan media.

Pada awalnya, literasi sering dipahami sebatas kemampuan membaca dan menulis. Namun, dalam kehidupan modern, maknanya semakin luas.

Literasi juga mencakup kemampuan memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah, serta menggunakan pengetahuan secara bertanggung jawab.

Beberapa jenis literasi yang penting untuk kita kembangkan adalah:

* Literasi baca tulis. Kemampuan memahami bacaan, menemukan gagasan utama, menafsirkan informasi, dan menyampaikan pemikiran melalui tulisan.

* Literasi numerasi. Kemampuan menggunakan angka, data, tabel, grafik, dan konsep matematika untuk mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.

* Literasi digital. Kemampuan menggunakan teknologi digital untuk mencari, memahami, menilai, dan menyebarkan informasi secara aman dan bertanggung jawab.

* Literasi informasi. Kemampuan membedakan informasi yang dapat dipercaya dari informasi yang keliru, menyesatkan, atau belum terverifikasi.

* Literasi sains. Kemampuan memahami fenomena ilmiah dan menggunakan pengetahuan untuk mengambil keputusan.

* Literasi budaya dan kewargaan. Kemampuan memahami keragaman budaya, menghargai perbedaan, dan berpartisipasi secara bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat.

Di era kecerdasan artifisial atau AI, kemampuan literasi menjadi semakin penting. Kita tidak cukup hanya bisa meminta AI membuat tulisan. Kita juga perlu memahami isi, memeriksa kebenaran, mempertimbangkan etika, dan bertanggung jawab atas hasil yang kita gunakan.

### C. Mengapa Literasi Penting?

### 1\. Literasi membuka jendela pengetahuan

Buku, artikel, jurnal, dan sumber informasi yang tepercaya membantu kita mengenal dunia yang lebih luas.

Melalui membaca, seorang guru dapat mempelajari metode pembelajaran baru. Seorang siswa dapat menemukan pengetahuan yang belum dijelaskan di kelas. Seorang penulis pemula dapat belajar menyampaikan gagasan secara lebih runtut.

Kita tidak harus mengalami semua hal sendiri untuk mendapatkan pelajaran. Pengalaman orang lain dapat menjadi sumber pengetahuan melalui tulisan mereka.

Membaca membuat kita belajar dari pengalaman orang lain, sedangkan menulis membuat pengalaman kita dapat dipelajari orang lain.

### 2\. Literasi melatih berpikir kritis

Setiap hari kita menerima banyak informasi melalui media sosial, grup percakapan, situs berita, dan berbagai platform digital.

Namun, tidak semua informasi benar.

Orang yang memiliki kemampuan literasi akan terbiasa bertanya:

* Siapa yang menyampaikan informasi ini?

* Apa bukti yang mendukungnya?

* Apakah sumbernya dapat dipercaya?

* Apakah informasi ini masih relevan?

* Apakah ada sudut pandang lain yang perlu dipertimbangkan?

Kebiasaan tersebut membantu kita agar tidak mudah menyebarkan kabar bohong, fitnah, atau informasi yang belum terverifikasi.

Literasi mengajarkan kita untuk tidak hanya cepat membaca, tetapi juga cermat memahami.

### 3\. Literasi meningkatkan kualitas pembelajaran

Sekolah yang memiliki budaya literasi tidak hanya menyediakan buku di perpustakaan. Sekolah juga menciptakan lingkungan yang membuat warga sekolah senang membaca, berdiskusi, bertanya, meneliti, dan menulis.

Guru dapat mengawali pembelajaran dengan kegiatan membaca singkat. Siswa kemudian diminta menjelaskan gagasan utama, menghubungkan bacaan dengan kehidupan sehari-hari, atau menuliskan pendapatnya.

Dengan demikian, kegiatan literasi bukan hanya tugas guru Bahasa Indonesia. Guru Informatika, Matematika, IPA, IPS, dan mata pelajaran lainnya juga dapat mengembangkan literasi sesuai bidangnya.

### 4\. Literasi membantu kita berkomunikasi

Orang yang terbiasa membaca dan menulis memiliki kesempatan untuk memperkaya kosakata, memahami berbagai sudut pandang, dan menyusun gagasan dengan lebih jelas.

Kemampuan tersebut berguna saat menyampaikan pendapat, menulis laporan, membuat karya ilmiah, menyusun bahan ajar, ataupun berbicara di depan umum.

Bagi seorang guru, kemampuan menyampaikan gagasan dengan baik akan membantu proses pembelajaran dan komunikasi dengan orang tua, rekan kerja, serta masyarakat.

### 5\. Literasi membangun kepercayaan diri

Banyak orang sebenarnya memiliki pengalaman yang berharga, tetapi merasa tidak mampu menuliskannya.

Ada guru yang menganggap tulisannya tidak menarik. Ada pula yang takut salah menggunakan tanda baca atau merasa tidak memiliki bakat menjadi penulis.

Padahal, kemampuan menulis dapat dilatih secara bertahap.

Mulailah dengan menuliskan pengalaman mengajar hari ini. Ceritakan satu peristiwa yang mengubah cara pandang kita. Tuliskan pelajaran yang diperoleh dari seorang murid.

Tidak harus langsung menjadi tulisan yang sempurna. Yang penting, kita berani memulai dan terus memperbaiki diri.

### 6\. Literasi membantu kita beradaptasi dengan perkembangan teknologi

Perkembangan teknologi dan AI mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berkomunikasi.

Dengan literasi digital yang baik, kita dapat menggunakan teknologi untuk mencari informasi, menyusun bahan pembelajaran, mengembangkan ide, dan menghasilkan karya.

Namun, teknologi tetap perlu digunakan secara bijaksana. Kita harus mampu memeriksa hasil yang diberikan AI, menjaga privasi, menghargai hak cipta, dan tidak menganggap seluruh jawaban mesin pasti benar.

Bagi Omjay, teknologi merupakan alat bantu. Pengalaman manusia, kejujuran, tanggung jawab, dan hati nurani tetap memiliki peran penting.

### D. Kisah Omjay: Menulis, Berbagi, dan Menginspirasi

Omjay, yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, telah menekuni dunia menulis melalui blog sejak tahun 2007. Perjalanan tersebut mengajarkan bahwa menulis bukan sekadar kegiatan merangkai kata, melainkan cara untuk mendokumentasikan pengalaman, membagikan pengetahuan, dan menginspirasi orang lain.

Bagi Omjay, blog menjadi ruang belajar yang terbuka. Pengalaman mengajar, kegiatan pendidikan, perjalanan, pertemuan dengan orang-orang hebat, dan berbagai peristiwa kehidupan dapat diolah menjadi tulisan yang bermanfaat.

Tulisan yang kita buat hari ini mungkin terasa sederhana. Akan tetapi, beberapa tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi dokumentasi perjalanan hidup yang berharga bagi diri sendiri, keluarga, rekan guru, bahkan generasi berikutnya.

Bayangkan seorang guru yang menulis pengalaman mengajarnya setiap hari. Ia menceritakan bagaimana menghadapi murid yang kesulitan memahami pelajaran, bagaimana menemukan metode pembelajaran baru, dan bagaimana sebuah nasihat sederhana mengubah perilaku peserta didik.

Pengalaman tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa menit di kelas. Namun, ketika ditulis dan dibagikan, guru lain dapat mengambil pelajaran darinya.

Inilah kekuatan literasi.

Pengalaman yang ditulis dapat menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang dibagikan dapat menjadi inspirasi. Inspirasi yang diterapkan dapat membawa perubahan.

Omjay juga mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 untuk tidak takut memulai. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk menulis. Mulailah menulis agar kita terus belajar menjadi penulis yang lebih baik.

Kita tidak harus menunggu memiliki banyak waktu. Kita bisa menulis dari pengalaman hari ini, dari percakapan dengan murid, dari buku yang dibaca, atau dari peristiwa sederhana di sekitar kita.

Menulislah dengan hati. Gunakan teknologi sebagai alat bantu, tetapi jangan kehilangan suara, pengalaman, dan kejujuran diri sendiri.

### E. Literasi dan Peran Guru di Sekolah

Guru mempunyai peran penting dalam membangun budaya literasi. Peserta didik tidak cukup hanya diminta membaca dan menulis. Mereka perlu melihat contoh nyata dari guru yang juga gemar membaca, berdiskusi, dan berkarya.

Berikut beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan guru.

### 1\. Membiasakan membaca setiap hari

Sediakan waktu khusus untuk membaca, meskipun hanya 10–15 menit. Bacaan dapat berupa buku, artikel pendidikan, cerita pendek, atau sumber informasi yang sesuai dengan usia peserta didik.

Setelah membaca, ajak siswa menceritakan kembali isi bacaan atau menyampaikan satu hal baru yang mereka pelajari.

### 2\. Menghidupkan perpustakaan dan sudut baca

Perpustakaan hendaknya menjadi tempat yang menyenangkan. Sekolah juga dapat menyediakan sudut baca di kelas agar buku mudah dijangkau.

Yang terpenting bukan hanya jumlah buku, melainkan kesempatan peserta didik untuk berinteraksi dengan bacaan yang sesuai dengan minat dan kebutuhannya.

### 3\. Mengajak siswa menulis dari pengalaman

Guru dapat memberikan tugas menulis sederhana, seperti:

* Pengalaman paling berkesan di sekolah.

* Guru yang menginspirasi saya.

* Pelajaran dari sebuah kegagalan.

* Buku yang mengubah cara pandang saya.

* Teknologi yang membantu kehidupan saya.

* Cita-cita dan harapan saya untuk masa depan.

Tema seperti ini dekat dengan kehidupan peserta didik sehingga mereka lebih mudah menemukan ide.

### 4\. Mengintegrasikan literasi dalam semua mata pelajaran

Guru Matematika dapat meminta siswa membaca grafik dan menjelaskan maknanya. Guru IPA dapat mengajak siswa membaca hasil pengamatan. Guru IPS dapat meminta siswa membandingkan informasi dari beberapa sumber.

Guru Informatika dapat mengajarkan cara mengevaluasi informasi di internet dan menggunakan AI secara bertanggung jawab.

Dengan cara ini, literasi menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari, bukan sekadar program tambahan.

### 5\. Menghargai karya peserta didik

Berikan apresiasi kepada siswa yang berani menulis, meskipun tulisannya masih sederhana.

Karya mereka dapat dipajang di kelas, diterbitkan di majalah sekolah, dimuat di blog, atau dikumpulkan menjadi buku antologi dengan pendampingan yang sesuai.

Apresiasi dapat meningkatkan kepercayaan diri dan mendorong siswa untuk terus berkarya.

### F. Tantangan Literasi di Era Digital dan AI

Kita hidup pada masa ketika informasi dapat diperoleh dengan sangat mudah. Namun, kemudahan akses tidak selalu berarti kemudahan memahami.

Ada beberapa tantangan literasi yang perlu kita hadapi bersama.

Pertama, kebiasaan membaca yang belum kuat. Sebagian orang lebih terbiasa melihat informasi singkat daripada membaca tulisan panjang secara mendalam.

Kedua, banjir informasi. Banyaknya informasi membuat kita harus lebih cermat menentukan sumber yang layak dipercaya.

Ketiga, budaya menyalin tanpa memahami. Dalam pembelajaran dan penulisan, menyalin karya orang lain tanpa mencantumkan sumber dapat merusak kejujuran akademik.

Keempat, penggunaan AI tanpa pemeriksaan. AI dapat membantu mencari ide dan menyusun draf, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa kebenarannya, disesuaikan dengan konteks, dan diolah berdasarkan pemahaman penulis.

Lantas, bagaimana sebaiknya kita bersikap?

Jadilah pembaca yang kritis, penulis yang jujur, dan pengguna teknologi yang bertanggung jawab.

Gunakan AI untuk membantu belajar, bukan untuk menghindari proses belajar. Gunakan internet untuk memperluas wawasan, bukan untuk menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya.

Dalam kegiatan menulis, pengalaman nyata dan pemikiran pribadi merupakan kekuatan yang tidak boleh diabaikan.

### G. Strategi Membentuk Kebiasaan Literasi bagi Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Agar literasi tidak berhenti menjadi teori, Omjay mengajak peserta mencoba langkah sederhana berikut.

* Baca setiap hari. Pilih bacaan yang bermanfaat dan sesuai dengan minat.

* Catat ide yang muncul. Gunakan buku catatan atau aplikasi pencatat untuk menyimpan gagasan.

* Tuliskan pengalaman. Mulailah dari peristiwa yang benar-benar dialami.

* Kembangkan tulisan. Susun pengalaman menjadi pembukaan, isi, dan penutup yang jelas.

* Periksa kembali tulisan. Perbaiki ejaan, susunan kalimat, fakta, dan alur cerita.

* Bagikan karya. Publikasikan melalui blog, media sosial, majalah sekolah, atau komunitas menulis.

* Terus belajar. Terima masukan dengan terbuka dan gunakan kritik yang membangun untuk memperbaiki karya.

Ingatlah, kebiasaan yang baik tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kebiasaan tersebut tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan secara konsisten.

### H. Tugas Menulis Pertemuan Ke-21

### Tugas: Literasi yang Mengubah Hidup Saya

Tujuan: Melatih peserta menggali pengalaman pribadi, mengembangkan gagasan, dan menulis artikel reflektif tentang pentingnya literasi.

Petunjuk pengerjaan:

* Buatlah artikel dengan tema “Mengapa Literasi Penting bagi Saya?”

* Panjang tulisan sekitar 500–700 kata.

* Ceritakan pengalaman nyata yang berhubungan dengan membaca, menulis, belajar, atau menggunakan teknologi.

* Jelaskan pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut.

* Tuliskan tindakan nyata yang akan dilakukan untuk meningkatkan budaya literasi.

* Gunakan bahasa sendiri dan cantumkan sumber jika mengutip karya orang lain.

* Publikasikan tulisan di blog pribadi atau media yang ditentukan oleh panitia KBMN PGRI Gelombang 35.

Batas waktu: Ikuti jadwal yang ditetapkan oleh pengelola KBMN PGRI Gelombang 35.

### Pertanyaan pemantik

Untuk memudahkan peserta menemukan ide, renungkan pertanyaan berikut.

* Buku apa yang paling berkesan dalam hidup saya?

* Siapa yang pertama kali mengajarkan saya pentingnya membaca?

* Kapan saya merasakan manfaat menulis?

* Bagaimana literasi membantu saya menyelesaikan masalah?

* Apa perubahan yang saya rasakan setelah terbiasa membaca atau menulis?

* Bagaimana saya dapat mengajak keluarga, murid, dan rekan kerja untuk meningkatkan literasi?

Peserta tidak harus menjawab seluruh pertanyaan. Pilih satu atau dua pertanyaan yang paling dekat dengan pengalaman pribadi, kemudian kembangkan menjadi cerita yang bermakna.

### I. Refleksi Bersama: Sudahkah Kita Menjadi Teladan Literasi?

Bapak dan Ibu guru yang hebat,

Mari kita bertanya kepada diri sendiri. Apakah kita sudah meluangkan waktu untuk membaca hari ini? Apakah kita sudah menulis sesuatu yang bermanfaat? Apakah murid-murid kita melihat contoh nyata dari kebiasaan membaca dan menulis yang kita lakukan?

Kita sering berharap siswa rajin membaca, tetapi terkadang lupa menunjukkan bahwa gurunya juga gemar membaca.

Kita berharap siswa mampu menulis, tetapi terkadang belum memberikan ruang yang cukup bagi mereka untuk mengekspresikan pengalaman dan pemikirannya.

Budaya literasi tidak tumbuh hanya melalui slogan. Budaya literasi tumbuh melalui keteladanan, pembiasaan, kesempatan, dan apresiasi.

Guru tidak harus menjadi penulis terkenal untuk menginspirasi murid. Guru cukup memulai dengan membaca, menulis, dan membagikan pengetahuan secara konsisten.

Satu tulisan sederhana mungkin dapat membantu seorang guru lain menemukan metode pembelajaran yang lebih baik. Satu cerita inspiratif mungkin dapat membuat seorang siswa kembali percaya diri. Satu buku mungkin dapat mengubah cara seseorang memandang kehidupan.

Karena itu, jangan pernah meremehkan kekuatan membaca dan menulis.

### J. Penutup: Literasi Adalah Investasi Masa Depan

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan,

Literasi bukan sekadar kemampuan membaca huruf atau merangkai kalimat. Literasi adalah kemampuan untuk memahami dunia, menimbang informasi, mengambil keputusan, dan menyampaikan pemikiran secara bertanggung jawab.

Membaca memperluas wawasan. Menulis mengasah pemikiran. Berbagi pengetahuan memperkuat hubungan antarmanusia.

Sebagai guru, kita memiliki tanggung jawab untuk menumbuhkan budaya literasi di sekolah dan masyarakat. Kita dapat memulainya dari diri sendiri, dari rumah, dari ruang kelas, dan dari komunitas belajar yang kita ikuti.

Jangan menunggu fasilitas lengkap untuk mulai membaca. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Jangan menunggu memiliki banyak waktu untuk berbagi ilmu.

Mulailah dari apa yang kita miliki dan dari pengalaman yang kita alami.

Seperti yang selalu Omjay tekankan dalam perjalanan menulis, konsistensi adalah bagian penting dari proses belajar. Tulisan yang sederhana, jika terus dikembangkan dan dibagikan dengan niat baik, dapat menjadi warisan pengetahuan yang bermanfaat bagi banyak orang.

Membaca membuat kita belajar. Menulis membuat kita bertumbuh. Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi sesama.

Mari terus menumbuhkan budaya literasi. Mari menulis dengan jujur, membaca dengan kritis, dan menggunakan teknologi dengan bijaksana.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Omjay, Guru Blogger Indonesia Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Fellowship Pandi di Acara ICANN87 Bali

Fellowship PANDI di Bali: Merajut Persahabatan, Membangun Masa Depan Internet Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Blog https://wijayalabs.com

Ada banyak hal berharga yang bisa kita bawa pulang dari sebuah perjalanan. Bukan hanya oleh-oleh, bukan pula sekadar foto kenangan, melainkan persahabatan, pengalaman, dan pengetahuan baru yang akan terus hidup dalam ingatan.

Itulah yang saya rasakan ketika mengikuti rangkaian kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali. Di tengah pertemuan komunitas internet dunia, saya mendapatkan kesempatan untuk menikmati kebersamaan dalam kegiatan Fellowship PANDI. Momen ini menjadi salah satu pengalaman menarik yang patut saya ceritakan kepada pembaca Kompasiana.

Berfoto Bersama, Menyimpan Cerita

Dalam foto kebersamaan tersebut, kami berdiri berdampingan dengan senyum yang menghiasi wajah. Latar dekorasi yang indah dan tulisan ICANN87 menjadi saksi sebuah perjumpaan yang bermakna. Ada peserta yang mengenakan kaus, kemeja, dan batik. Masing-masing hadir dengan latar belakang serta pengalaman yang berbeda, tetapi dipertemukan oleh ketertarikan terhadap dunia internet dan perkembangan teknologi digital.

Bagi saya, foto bersama bukan sekadar dokumentasi kegiatan. Foto adalah pengingat bahwa di balik teknologi yang terus berkembang, selalu ada manusia yang bekerja, belajar, berdiskusi, dan membangun hubungan satu sama lain.

Kita mungkin datang dari tempat yang berbeda. Kita mungkin memiliki pekerjaan dan tanggung jawab yang tidak sama. Namun, ketika bertemu dalam sebuah forum, kita mempunyai kesempatan untuk saling mengenal dan belajar.

Saya percaya, persahabatan sering kali dimulai dari percakapan sederhana. Sapaan, senyuman, dan kesediaan mendengarkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan orang-orang dengan beragam pengalaman.

Mengenal Dunia Internet Lebih Dekat

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya memandang internet bukan hanya sebagai teknologi untuk mencari informasi atau berkomunikasi. Internet telah menjadi bagian penting dalam pendidikan, pekerjaan, pelayanan publik, dan kehidupan masyarakat.

Melalui internet, guru dapat berbagi bahan ajar. Siswa bisa menjelajahi sumber pengetahuan dari berbagai belahan dunia. Penulis dapat menerbitkan gagasan melalui blog dan media digital. Bahkan, komunitas yang berjauhan dapat bekerja sama tanpa harus selalu bertemu secara langsung.

Namun, di balik semua kemudahan tersebut, ada infrastruktur, tata kelola, standar teknis, dan kerja sama banyak pihak yang memungkinkan internet berjalan dengan baik.

Itulah salah satu alasan saya tertarik mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan ekosistem internet global. Saya ingin memperluas wawasan, memahami perkembangan teknologi, dan membawa pengalaman yang relevan ke dunia pendidikan Indonesia.

PANDI, atau Pengelola Nama Domain Internet Indonesia, memiliki peran penting dalam pengelolaan nama domain Indonesia, khususnya domain .id. Sementara itu, ICANN merupakan organisasi yang berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet secara global, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan nama domain.

Keduanya berada dalam lingkup yang berbeda, tetapi isu nama domain dan tata kelola internet memperlihatkan betapa pentingnya koordinasi antara tingkat nasional dan global.

Fellowship: Belajar, Berjejaring, dan Berbagi

Kata fellowship mengingatkan saya pada pentingnya kebersamaan dalam proses belajar. Pengetahuan tidak selalu datang dari ruang kelas, buku, atau presentasi resmi. Pengetahuan juga bisa tumbuh dari percakapan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Dalam sebuah forum internasional, kita berkesempatan mendengar sudut pandang baru, memahami persoalan yang mungkin belum pernah kita pikirkan, dan menemukan kemungkinan kolaborasi.

Bagi seorang guru dan blogger seperti saya, kesempatan semacam ini sangat berharga. Saya terbiasa menulis pengalaman sehari-hari dan membagikannya kepada pembaca. Saya percaya, pengalaman yang dituliskan dengan jujur dapat menjadi sumber inspirasi bagi orang lain.

Karena itu, saya ingin menjadikan pengalaman mengikuti ICANN87 dan kebersamaan dalam Fellowship PANDI sebagai bahan refleksi sekaligus pembelajaran. Saya tidak ingin pengalaman ini berhenti sebagai foto yang tersimpan di galeri telepon genggam.

Saya ingin pengalaman ini menjadi cerita yang bermanfaat, terutama bagi guru, pelajar, blogger, dan masyarakat yang ingin mengenal dunia internet lebih dekat.

Membawa Pengalaman Bali ke Ruang Kelas

Sepulang dari kegiatan ini, ada banyak hal yang dapat saya bagikan kepada peserta didik. Salah satunya adalah pemahaman bahwa internet tidak muncul begitu saja. Ada orang-orang, organisasi, standar, dan kesepakatan yang memungkinkan jaringan global ini bekerja.

Siswa perlu memahami bahwa menjadi pengguna internet bukan hanya soal mampu membuka situs, menggunakan media sosial, atau memanfaatkan kecerdasan artifisial. Mereka juga perlu mengenal keamanan digital, privasi, etika berkomunikasi, literasi informasi, dan tanggung jawab sebagai warga digital.

Saya ingin menceritakan kepada mereka bahwa dunia teknologi sangat luas. Seorang siswa yang hari ini belajar Informatika di sekolah bisa saja kelak menjadi pengembang perangkat lunak, peneliti keamanan siber, ahli jaringan, pengelola sistem digital, atau berkontribusi dalam tata kelola internet.

Mimpi besar sering kali dimulai dari rasa ingin tahu. Karena itu, tugas guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi juga membuka jendela agar siswa melihat berbagai kemungkinan masa depan.

Persahabatan yang Tidak Berhenti pada Foto

Saya bersyukur dapat menikmati momen kebersamaan ini di Bali. Bagi saya, perjalanan seperti ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan beriringan dengan kemajuan hubungan antarmanusia.

Teknologi dapat menghubungkan perangkat, tetapi persahabatan membutuhkan ketulusan. Internet dapat mempercepat pertukaran informasi, tetapi kebijaksanaan tetap membutuhkan kemauan untuk mendengar, berpikir kritis, dan menghargai perbedaan.

Kita boleh memiliki perangkat yang canggih, jaringan yang cepat, dan akses informasi yang luas. Namun, semua itu akan lebih bermakna jika digunakan untuk berbagi pengetahuan, memperkuat pendidikan, dan membantu sesama.

Foto Fellowship PANDI di ICANN87 Bali akan menjadi salah satu pengingat bagi saya tentang pentingnya belajar sepanjang hayat. Sebagai guru, saya harus terus belajar. Sebagai blogger, saya harus terus menulis. Sebagai bagian dari masyarakat digital, saya harus ikut mendorong pemanfaatan internet yang lebih baik.

Saya ingin terus memegang prinsip sederhana: menulislah dengan hati, berbagi ilmu dengan tulus, dan gunakan teknologi untuk menebarkan manfaat.

Semoga persahabatan yang terjalin dalam kegiatan ini terus tumbuh, membuka peluang kolaborasi, dan memberikan sumbangsih bagi perkembangan internet Indonesia.

Salam blogger persahabatan.

Omjay

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia

kisah omjay di acara icann87 bali tentang masa depan internet

One Country, Two Internets: Kisah Omjay Belajar tentang Masa Depan Internet di ICANN87 Bali

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Ada banyak hal menarik yang saya pelajari selama mengikuti kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali. Sebagai seorang guru Informatika, blogger, dan pegiat literasi digital, saya merasa beruntung bisa menyaksikan langsung diskusi internasional tentang masa depan internet. Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah sebuah presentasi dengan judul **“One Country, Two Internets”** atau *Satu Negara, Dua Internet*.

Judul itu membuat saya berpikir. Apakah mungkin dalam satu negara terdapat dua pengalaman internet yang berbeda? Bukankah internet seharusnya menjadi jembatan yang menghubungkan manusia tanpa mengenal batas geografis, bahasa, dan budaya?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul di benak saya ketika memperhatikan layar presentasi di ruang pertemuan ICANN87.

Internet yang Sama, Pengalaman yang Berbeda

Dalam presentasi tersebut, terlihat sebuah ilustrasi yang membandingkan dua pengalaman pengguna internet. Pengalaman A ditandai dengan kata *works*, yang berarti berfungsi atau dapat diakses. Sementara itu, pengalaman B ditandai dengan kata *blocked*, yang berarti diblokir.

Ilustrasi tersebut menggambarkan persoalan penting dalam dunia internet: dua orang yang berada di negara yang sama belum tentu mendapatkan pengalaman mengakses internet yang sama.

Seseorang mungkin dapat membuka sebuah situs web dengan mudah, sementara orang lain menghadapi pemblokiran atau kesulitan mengakses layanan yang sama. Perbedaan ini bisa terjadi karena kebijakan jaringan, pengaturan akses, pemblokiran konten, penyedia layanan internet, maupun faktor teknis lainnya.

Tentu saja, kita perlu memahami konteks lengkap presentasi sebelum menyimpulkan penyebab khusus dari contoh yang ditampilkan. Namun, ilustrasi itu cukup untuk mengingatkan saya bahwa internet bukan hanya soal tersambung atau tidak tersambung. Ada persoalan akses, kebijakan, teknologi, dan pengalaman pengguna yang perlu diperhatikan bersama.

Nama Domain dan Peran ICANN

Sebagai peserta ICANN87, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet dunia melibatkan banyak pihak. Salah satu bagian pentingnya adalah sistem nama domain, yaitu sistem yang membantu manusia mengakses situs web melalui nama yang mudah diingat.

Bayangkan jika kita harus menghafalkan deretan angka alamat IP setiap kali ingin membuka sebuah situs. Tentu akan merepotkan. Nama domain memudahkan kita mengingat alamat situs, seperti halnya kita mengingat nama seseorang daripada menghafalkan nomor identitasnya.

ICANN atau *Internet Corporation for Assigned Names and Numbers* berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik internet, termasuk nama domain dan parameter teknis tertentu. Namun, ICANN bukan lembaga yang mengendalikan seluruh isi internet atau menentukan sendiri semua situs mana yang boleh diakses di setiap negara.

Karena itu, ketika membicarakan fenomena *One Country, Two Internets*, kita perlu membedakan antara sistem nama domain, infrastruktur jaringan, kebijakan pemerintah, dan mekanisme pemblokiran akses. Semuanya dapat memengaruhi pengalaman pengguna, tetapi memiliki fungsi dan kewenangan yang berbeda.

Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak mencampuradukkan persoalan teknis dengan persoalan kebijakan.

Sebagai Guru Informatika, Saya Melihat Pelajaran Berharga

Saya, Omjay, yang sehari-hari mengajar Informatika di SMP Labschool Jakarta, melihat tema ini sebagai bahan pembelajaran yang sangat menarik bagi murid-murid.

Selama ini, ketika belajar internet, siswa sering berfokus pada cara menghubungkan komputer ke jaringan, mencari informasi melalui mesin pencari, mengirim surat elektronik, atau menggunakan aplikasi digital. Semua itu memang penting.

Namun, ada pertanyaan yang lebih mendalam untuk kita diskusikan.

Mengapa sebuah situs dapat dibuka oleh seseorang, tetapi tidak dapat diakses oleh orang lain? Mengapa suatu informasi tersedia di satu jaringan, tetapi dibatasi di jaringan yang berbeda? Bagaimana kita mengetahui apakah sebuah situs tidak dapat diakses karena gangguan teknis atau karena kebijakan tertentu?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat melatih siswa berpikir kritis. Mereka belajar bahwa teknologi tidak berdiri sendiri. Ada manusia, aturan, kepentingan, dan tanggung jawab di balik setiap sistem digital.

Saya ingin murid-murid tidak sekadar menjadi pengguna internet. Mereka juga harus menjadi warga digital yang cerdas, kritis, santun, dan bertanggung jawab.

Internet Harus Membuka Peluang, Bukan Memperlebar Kesenjangan

Internet memberikan kesempatan besar bagi dunia pendidikan. Guru dapat berbagi materi pembelajaran, siswa dapat mencari referensi, dan komunitas belajar dapat berkolaborasi tanpa harus bertemu secara langsung.

Sebagai blogger yang telah menulis sejak 2007, saya merasakan sendiri manfaat internet. Melalui blog, saya dapat membagikan pengalaman mengajar, menyampaikan gagasan, dan menginspirasi guru-guru di berbagai daerah di Indonesia.

Akan tetapi, manfaat tersebut akan berkurang apabila akses internet tidak merata atau informasi penting sulit dijangkau oleh sebagian masyarakat.

Kita perlu terus memperjuangkan akses internet yang terjangkau, aman, andal, dan inklusif. Pada saat yang sama, perlindungan terhadap keamanan pengguna, privasi, serta kepatuhan pada hukum juga perlu menjadi bagian dari pembicaraan.

Internet yang baik bukan semata-mata internet yang cepat. Internet yang baik adalah internet yang membantu manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, dan mengembangkan potensi dirinya.

Belajar dari Forum Internasional di Bali

Mengikuti ICANN87 memberikan pengalaman berharga bagi saya. Saya dapat melihat bagaimana berbagai pemangku kepentingan membicarakan persoalan internet dari sudut pandang yang berbeda.

Ada aspek teknis yang harus dipahami oleh para ahli jaringan. Ada kebijakan yang menjadi perhatian pemerintah. Ada pula kepentingan masyarakat, dunia pendidikan, pelaku usaha, dan pengguna internet sehari-hari.

Perbedaan pandangan seperti ini perlu dipertemukan melalui dialog. Internet merupakan sumber daya global yang manfaatnya dirasakan oleh masyarakat di berbagai negara. Karena itu, tata kelolanya membutuhkan komunikasi, kerja sama, dan pemahaman lintas sektor.

Saya semakin menyadari bahwa menjadi guru Informatika pada zaman sekarang berarti harus terus belajar. Perkembangan teknologi berjalan cepat. Materi yang kita ajarkan hari ini perlu terus diperbarui agar relevan dengan kenyataan yang dihadapi generasi muda.

Guru harus mau membuka diri terhadap pengetahuan baru, termasuk dengan mengikuti forum internasional, membaca referensi, berdiskusi, dan berbagi pengalaman dengan sesama pendidik.

Penutup: Satu Negara, Banyak Pengalaman Digital

Judul *One Country, Two Internets* mengajak kita melihat internet dari sudut pandang yang lebih luas. Dalam satu negara, pengalaman digital masyarakat dapat berbeda karena kondisi jaringan, kebijakan akses, pengaturan teknis, dan berbagai faktor lainnya.

Bagi saya, pelajaran terpenting dari diskusi ini adalah perlunya memahami internet secara utuh. Kita tidak cukup hanya bisa menggunakan teknologi. Kita juga perlu memahami bagaimana teknologi bekerja, siapa saja yang terlibat dalam pengelolaannya, serta bagaimana dampaknya terhadap kehidupan manusia.

Saya ingin membawa pengetahuan yang saya peroleh dari ICANN87 Bali ke ruang kelas dan komunitas guru di Indonesia. Semoga semakin banyak pendidik yang memahami pentingnya literasi digital dan mengajak siswa menggunakan internet secara cerdas.

Sebab, masa depan internet bukan hanya urusan para ahli teknologi. Masa depan internet juga berkaitan dengan masa depan pendidikan, masa depan generasi muda, dan masa depan masyarakat kita.

Salam blogger persahabatan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 20 Oktober 2026

Sebuah Nasehat yang Saya Ingat Materi KBMN PGRI gelombang 35 pertemuan ke-20 Bersama Omjay

SEBUAH NASIHAT YANG SAYA INGAT

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 – Pertemuan ke-20

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Tema: Sebuah Nasihat yang Saya Ingat

A. Pembukaan: Nasihat yang Mengubah Jalan Hidup

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sehat dan bahagia untuk Bapak dan Ibu guru hebat di seluruh Indonesia.

Apa kabar semuanya? Semoga kita senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, dan semangat untuk terus belajar serta berbagi ilmu kepada sesama.

Malam ini kita kembali bertemu dalam kegiatan Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35, yang telah memasuki pertemuan ke-20. Tidak terasa, perjalanan belajar menulis kita sudah semakin jauh. Ada peserta yang terus bersemangat menulis setiap hari, ada yang masih berjuang mencari ide, dan mungkin ada pula yang sesekali kehilangan motivasi.

Apa pun keadaan kita saat ini, jangan pernah berhenti belajar. Sebab, setiap perjalanan selalu menghadirkan pelajaran yang berharga.

Malam ini, Omjay masih bertugas di Bali. Di tengah kegiatan dan pengalaman yang Omjay jalani di sini, Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu guru merenungkan sebuah tema sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan kita: Sebuah Nasihat yang Saya Ingat.

Pernahkah Bapak dan Ibu menerima nasihat dari orang tua, guru, sahabat, pasangan, atau bahkan murid yang sampai hari ini masih melekat dalam ingatan?

Mungkin nasihat itu hanya disampaikan dalam satu kalimat. Namun, kalimat tersebut mampu mengubah cara kita berpikir, mengambil keputusan, menjalani kehidupan, bahkan menentukan masa depan.

Nasihat yang baik tidak selalu datang melalui pidato panjang. Terkadang, ia hadir dalam percakapan sederhana, diucapkan dengan penuh kasih sayang, dan terus hidup dalam hati kita bertahun-tahun kemudian.

B. Mengapa Nasihat Begitu Berharga?

Nasihat adalah pesan, petunjuk, atau arahan yang diberikan seseorang agar kita dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik. Nasihat dapat menjadi pengingat ketika kita mulai melupakan tujuan, penyemangat ketika kita hampir menyerah, dan penuntun ketika kita menghadapi kesulitan.

Dalam kehidupan seorang guru, nasihat memiliki tempat yang istimewa. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, melainkan juga membantu peserta didik membangun karakter, kepercayaan diri, dan tanggung jawab.

Ada nasihat yang baru kita pahami setelah bertahun-tahun berlalu. Ketika masih muda, kita mungkin menganggapnya biasa saja. Namun, setelah mengalami kegagalan, kehilangan, perjuangan, dan keberhasilan, barulah kita menyadari betapa dalam maknanya.

Sebagai contoh, nasihat sederhana, "Jangan takut gagal, tetapi takutlah jika tidak pernah mau mencoba," dapat menjadi pegangan bagi seorang guru yang sedang belajar menggunakan teknologi baru.

Demikian pula nasihat, "Jangan menunggu sempurna untuk memulai," dapat mendorong seseorang yang ingin menulis buku, tetapi selalu merasa tulisannya belum cukup bagus.

Kita tidak harus menjadi orang yang paling pintar untuk memberikan manfaat. Kita hanya perlu bersedia belajar, berbuat baik, dan membagikan pengalaman yang dapat menginspirasi orang lain.

C. Nasihat untuk Penulis Pemula: Menulislah Setiap Hari

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan,

Ada satu nasihat yang sangat relevan dengan perjalanan kita saat ini:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat ini bukan sekadar ajakan untuk memenuhi halaman kosong. Di dalamnya terdapat semangat untuk membangun kebiasaan, melatih keberanian, dan membuktikan bahwa kemampuan menulis dapat tumbuh melalui latihan yang konsisten.

Tidak semua tulisan harus langsung bagus. Tidak semua artikel harus dibaca ribuan orang. Tidak setiap pengalaman harus menghasilkan pujian.

Yang paling penting adalah kita mau memulai.

Ketika pertama kali menulis, mungkin kita hanya mampu menghasilkan satu paragraf. Besok kita mencoba dua paragraf. Beberapa hari kemudian, kita mulai mampu menyusun cerita yang lebih panjang dan teratur.

Lama-kelamaan, kita akan menemukan gaya bahasa sendiri, memahami cara menyusun alur, dan belajar menyampaikan pesan kepada pembaca.

Omjay telah menjalani perjalanan panjang dalam dunia pendidikan dan kepenulisan. Pengalaman mengajar, menulis di blog, serta berbagi melalui komunitas guru mengajarkan bahwa karya tidak lahir hanya dari keinginan. Karya lahir dari kebiasaan yang dipelihara.

Blog dapat menjadi rumah bagi gagasan kita. Artikel dapat menjadi jejak perjalanan hidup. Buku dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis. Mulailah dari pengalaman yang paling dekat dengan kehidupan kita.

Tulislah pengalaman mengajar hari ini. Tulislah percakapan yang menyentuh hati. Tulislah nasihat orang tua yang masih kita ingat. Tulislah kegagalan yang membuat kita lebih kuat.

Sebab, pengalaman yang menurut kita biasa saja bisa menjadi pelajaran yang luar biasa bagi orang lain.

D. Nasihat Orang Tua dan Guru yang Tidak Mudah Dilupakan

Coba kita kembali mengingat masa kecil.

Mungkin ada seorang ibu yang berpesan, "Jangan lupa berdoa sebelum melakukan sesuatu."

Mungkin ada seorang ayah yang mengingatkan, "Jadilah orang yang jujur meskipun tidak ada yang melihat."

Mungkin ada seorang guru yang berkata, "Kamu pasti bisa asalkan mau berusaha."

Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun, ketika kita menghadapi persoalan hidup, nasihat tersebut dapat muncul kembali dan membantu kita menentukan pilihan.

Bagi seorang guru, nasihat yang diberikan kepada murid juga dapat meninggalkan jejak panjang. Kita mungkin lupa pernah mengucapkannya, tetapi murid kita bisa jadi masih mengingatnya sampai dewasa.

Karena itu, berhati-hatilah dalam berkata-kata kepada peserta didik. Jangan mudah memberi label bahwa seorang anak bodoh, malas, atau tidak memiliki masa depan.

Lebih baik katakan, "Kamu masih bisa belajar. Mari kita coba bersama-sama."

Perkataan yang merendahkan dapat mematahkan semangat. Sebaliknya, perkataan yang membangun dapat menumbuhkan keberanian.

Inilah salah satu tanggung jawab moral seorang guru: menyampaikan ilmu sekaligus menanamkan harapan.

E. Pengalaman Menjadi Guru: Nasihat Harus Disertai Keteladanan

Dalam dunia pendidikan, nasihat akan lebih kuat apabila disertai contoh nyata.

Seorang guru dapat meminta muridnya disiplin, tetapi ia juga perlu menunjukkan kedisiplinan. Guru dapat mengajak murid membaca, tetapi ia sebaiknya memperlihatkan kebiasaan membaca. Guru dapat meminta murid menulis, tetapi akan lebih baik jika ia sendiri juga menulis.

Omjay mengajak Bapak dan Ibu melihat hubungan antara nasihat dan keteladanan melalui kegiatan sederhana.

Bayangkan seorang guru berkata kepada muridnya, "Jangan pernah berhenti belajar."

Murid tersebut kemudian melihat gurunya tetap mengikuti pelatihan, membaca buku, mempelajari teknologi, dan menulis artikel meskipun sudah bertahun-tahun mengajar.

Pesan itu menjadi lebih bermakna karena murid menyaksikannya secara langsung.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay memandang bahwa perkembangan teknologi menuntut kita untuk terus belajar. Perubahan digital, kecerdasan artifisial, dan pembelajaran koding membuka peluang baru, tetapi juga menghadirkan tantangan.

Guru tidak harus mengetahui segala sesuatu. Guru perlu memiliki kerendahan hati untuk mengakui bahwa dirinya masih harus belajar.

Kecerdasan artifisial dapat membantu kita mencari ide, menyusun kerangka, dan memperbaiki tulisan. Namun, pengalaman pribadi, kejujuran, pertimbangan moral, dan tanggung jawab penulis tetap penting.

Gunakan teknologi untuk membantu pekerjaan, bukan untuk menghilangkan proses berpikir dan belajar.

Nasihat Omjay untuk peserta KBMN malam ini adalah: Jadilah guru yang terus belajar, penulis yang terus berlatih, dan manusia yang tidak berhenti memperbaiki diri.

F. Kisah Omjay yang Masih Bertugas di Bali

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia,

Saat ini Omjay masih bertugas di Bali. Berada jauh dari rutinitas mengajar di Jakarta memberikan kesempatan untuk melihat dunia pendidikan dan teknologi dari sudut pandang yang lebih luas.

Dalam rangkaian kegiatan ICANN87 Annual General Meeting di Bali, Omjay berkesempatan mengenal pembahasan mengenai ekosistem internet, nama domain internasional, DNS, dan pentingnya akses internet yang dapat digunakan oleh masyarakat dengan beragam bahasa.

Pengalaman tersebut mengingatkan Omjay bahwa belajar tidak mengenal batas ruang dan usia. Seorang guru dapat terus menambah wawasan melalui pertemuan, diskusi, pengamatan, dan perjumpaan dengan orang-orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Apa yang kita pelajari di suatu tempat tidak seharusnya berhenti menjadi pengetahuan pribadi. Pengetahuan itu dapat diolah menjadi artikel, bahan pembelajaran, atau cerita inspiratif yang bermanfaat bagi orang lain.

Itulah salah satu alasan Omjay senang menulis pengalaman. Ketika mengikuti kegiatan di Bali, ada banyak hal yang dapat dipelajari. Ketika kembali ke sekolah, pengetahuan itu dapat dibagikan kepada murid dan rekan guru. Ketika dituangkan ke dalam tulisan, manfaatnya dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.

Dari pengalaman tersebut, kita dapat mengambil nasihat:

"Ke mana pun kita pergi, bawalah semangat belajar. Apa pun yang kita pelajari, carilah cara agar dapat bermanfaat bagi orang lain."

Kita tidak harus mengikuti kegiatan besar di luar kota untuk mendapatkan bahan tulisan. Pengalaman di ruang kelas, perjalanan menuju sekolah, percakapan dengan teman, dan interaksi dengan murid pun dapat menjadi sumber inspirasi.

Yang diperlukan adalah kemauan untuk memperhatikan, merenungkan, dan menuliskannya.

G. Cara Mengubah Nasihat Menjadi Tulisan yang Menyentuh

Bagaimana cara menulis kisah tentang sebuah nasihat agar menarik dan menyentuh pembaca?

Bapak dan Ibu dapat menggunakan langkah-langkah berikut.

1. Ingat kembali siapa yang memberikan nasihat.

Apakah nasihat itu berasal dari orang tua, guru, sahabat, pasangan, kepala sekolah, atau murid? Sebutkan sosok tersebut jika memang pantas dan diizinkan untuk diceritakan.

2. Ceritakan situasi ketika nasihat itu disampaikan.

Jangan langsung menuliskan nasihatnya. Ceritakan dahulu suasananya. Di mana peristiwa itu terjadi? Apa yang sedang kita alami? Mengapa nasihat tersebut muncul?

3. Tuliskan nasihat yang masih diingat.

Jika kita mengingat kalimat persisnya, tuliskan sebagaimana adanya. Jika tidak ingat secara persis, sampaikan sebagai inti pesan, bukan sebagai kutipan langsung.

4. Jelaskan perasaan kita saat mendengarnya.

Apakah kita merasa sedih, kecewa, marah, malu, termotivasi, atau justru belum memahami maknanya?

5. Ceritakan perubahan yang terjadi.

Apakah nasihat tersebut membuat kita berani mencoba lagi, memperbaiki hubungan, belajar lebih tekun, atau mengubah kebiasaan?

6. Tutup dengan pelajaran yang dapat dipetik pembaca.

Tulisan yang baik tidak hanya bercerita tentang diri sendiri. Tulisan yang baik juga mengajak pembaca menemukan makna dalam pengalaman tersebut.

Sebagai contoh, kita dapat memulai dengan kalimat:

"Saya masih ingat sebuah nasihat yang disampaikan seseorang ketika saya hampir menyerah. Saat itu, saya merasa usaha saya tidak menghasilkan apa-apa. Namun, kalimat sederhana yang ia ucapkan membuat saya berpikir kembali."

Setelah itu, lanjutkan dengan kisah nyata yang benar-benar pernah dialami.

Ingat, kekuatan tulisan bukan terletak pada dramatisasi cerita, melainkan pada kejujuran dan makna yang disampaikan.

H. Contoh Tulisan: Nasihat yang Selalu Saya Ingat

Berikut contoh singkat yang dapat dijadikan inspirasi. Bapak dan Ibu dapat menggantinya dengan pengalaman pribadi masing-masing.

Nasihat yang Menguatkan Langkah Saya

Ada kalanya kehidupan tidak berjalan sesuai dengan harapan. Kita telah berusaha sekuat tenaga, tetapi hasilnya belum terlihat. Kita mulai meragukan kemampuan diri sendiri dan bertanya apakah perjuangan ini layak diteruskan.

Dalam keadaan seperti itu, sebuah nasihat dapat menjadi cahaya kecil yang menerangi jalan.

"Jangan menyerah hanya karena hari ini belum berhasil. Teruslah belajar dan perbaiki apa yang masih kurang."

Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan dapat menjadi kesempatan untuk mengenali kelemahan dan memperbaiki langkah.

Saya kemudian memahami bahwa keberhasilan tidak selalu datang dengan cepat. Ada proses yang perlu dijalani, keterampilan yang perlu dilatih, dan kesabaran yang perlu dipelihara.

Hal yang sama berlaku ketika belajar menulis. Artikel pertama mungkin belum menarik. Tulisan berikutnya mungkin masih memiliki banyak kekurangan. Namun, setiap kali menulis dan memperbaiki karya, kita sedang membangun kemampuan.

Kini saya memahami bahwa nasihat yang baik bukan hanya kalimat yang enak didengar. Nasihat yang baik adalah pesan yang membuat kita berani melakukan perubahan.

Saya ingin terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi. Semoga apa yang saya lakukan dapat memberikan manfaat bagi orang lain.

Sebab, hidup tidak hanya tentang seberapa banyak keberhasilan yang kita kumpulkan, tetapi juga tentang seberapa banyak kebaikan yang dapat kita bagikan.

I. Tugas Menulis Pertemuan ke-20

Sekarang, tibalah saatnya Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 menulis kisah sendiri.

Judul tulisan: Sebuah Nasihat yang Saya Ingat

Tuliskan pengalaman nyata tentang satu nasihat yang masih melekat dalam ingatan hingga hari ini.

Panduan penulisan:

  1. Siapa yang memberikan nasihat tersebut?
  2. Kapan dan dalam situasi apa nasihat itu disampaikan?
  3. Apa isi nasihat yang masih Anda ingat?
  4. Bagaimana perasaan Anda ketika mendengarnya?
  5. Apakah nasihat tersebut mengubah sikap atau keputusan Anda?
  6. Apa pelajaran yang ingin Anda bagikan kepada pembaca?

Ketentuan tugas:

  • Panjang tulisan sekitar 400–700 kata.
  • Gunakan bahasa Indonesia yang baik, jelas, dan mudah dipahami.
  • Utamakan pengalaman pribadi yang nyata.
  • Buat judul yang menarik dan sesuai dengan isi.
  • Tambahkan pesan atau refleksi pada akhir tulisan.
  • Periksa kembali ejaan dan tanda baca sebelum mengumpulkan karya.
  • Jika menggunakan AI untuk membantu penyuntingan, tetap pastikan isi tulisan berasal dari pengalaman dan pemikiran sendiri.

Tidak perlu menunggu tulisan sempurna. Mulailah dari apa yang Anda ingat. Jika baru mampu menulis satu paragraf, lanjutkan sedikit demi sedikit sampai menjadi cerita utuh.

J. Refleksi: Nasihat Apa yang Akan Kita Wariskan?

Sebelum mengakhiri pertemuan, Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu merenungkan tiga pertanyaan.

Pertama, nasihat apa yang paling membekas dalam hidup Anda?

Kedua, apakah Anda sudah menjalankan nasihat tersebut dalam kehidupan sehari-hari?

Ketiga, nasihat apa yang ingin Anda wariskan kepada murid, anak, keluarga, dan generasi berikutnya?

Mungkin kita tidak memiliki banyak harta untuk diwariskan. Namun, kita dapat meninggalkan tulisan, pengalaman, nilai kehidupan, dan nasihat yang menguatkan orang lain.

Seorang guru mungkin tidak selalu mengetahui dampak dari kata-katanya. Akan tetapi, satu nasihat yang tulus dapat menjadi pegangan seorang murid ketika ia menghadapi masa sulit bertahun-tahun kemudian.

Demikian pula sebuah artikel sederhana. Hari ini mungkin hanya dibaca oleh beberapa orang. Namun, suatu saat tulisan tersebut dapat ditemukan seseorang yang sedang membutuhkan semangat.

Karena itulah, jangan meremehkan kekuatan tulisan.

Teruslah menulis, bukan semata-mata demi popularitas, melainkan untuk mendokumentasikan pengalaman, menyebarkan pengetahuan, dan meninggalkan jejak kebaikan.

K. Penutup

Bapak dan Ibu guru hebat peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

Pertemuan ke-20 ini mengajak kita memahami bahwa nasihat yang berharga tidak seharusnya berhenti sebagai kenangan. Nasihat itu perlu dihidupkan melalui tindakan dan dibagikan melalui tulisan.

Omjay masih bertugas di Bali, tetapi semangat belajar dan berbagi tetap dapat dilakukan di mana saja. Jarak bukan alasan untuk berhenti menulis. Kesibukan bukan alasan untuk kehilangan kesempatan belajar. Kekurangan bukan alasan untuk tidak berkarya.

Mari kita jadikan setiap pengalaman sebagai pelajaran, setiap pelajaran sebagai tulisan, dan setiap tulisan sebagai kesempatan untuk menginspirasi.

Ingatlah tiga pesan Omjay malam ini:

  1. Jangan berhenti belajar meskipun usia terus bertambah.
  2. Jangan takut menulis meskipun tulisan kita belum sempurna.
  3. Jangan pelit berbagi ilmu karena manfaat kebaikan dapat melampaui batas ruang dan waktu.

Semoga melalui KBMN PGRI Gelombang 35, semakin banyak guru Indonesia yang berani menuliskan pengalaman, menyebarkan inspirasi, dan melahirkan buku yang bermanfaat.

Teruslah menulis dengan hati. Jadikan pengalaman sebagai guru kehidupan dan tulisan sebagai jejak pengabdian.

Salam blogger persahabatan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi!

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Narasumber KBMN PGRI Gelombang 35

Senin, 19 Oktober 2026

Pengalaman Berbagi dalam materi kbmn pgri gelombang 35 pertemuan ke- 19

MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35 – PERTEMUAN KE-19

### Pengalaman Berbagi Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Tema: Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Sasaran: Peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35

Tujuan pembelajaran: Mengajak peserta memahami makna berbagi ilmu dan pengalaman, belajar dari perjalanan hidup, serta membangun kebiasaan menulis sebagai sarana berbagi manfaat bagi sesama guru dan masyarakat.

### A. Pembukaan: Berbagi Itu Indah, Menulis Itu Ibadah

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam sejahtera untuk kita semua.

Bapak dan Ibu guru hebat peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay banggakan.

Apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap semangat belajar menulis meskipun kesibukan sebagai guru tidak pernah ada habisnya.

Malam ini kita akan belajar tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi terkadang kita lupa melakukannya. Sesuatu itu bernama berbagi.

Berbagi tidak harus menunggu kaya. Berbagi tidak harus menunggu menjadi profesor. Berbagi juga tidak harus menunggu menjadi penulis terkenal. Kita bisa berbagi sejak hari ini, dari hal-hal sederhana yang kita miliki.

Seorang guru dapat berbagi pengalaman mengajar. Seorang penulis dapat berbagi gagasan melalui tulisan. Seorang kepala sekolah dapat berbagi pengalaman memimpin sekolah. Bahkan seorang murid pun bisa berbagi pelajaran berharga kepada gurunya.

Ada sebuah ungkapan yang sangat indah:

“Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Matahari menyinari bumi tanpa meminta manusia membayar sinarnya. Ia menerangi siapa saja, tanpa membedakan kaya atau miskin, tua atau muda, guru atau murid.

Begitulah seharusnya kita berbagi ilmu dan pengalaman. Kita memberikan apa yang kita ketahui agar orang lain memperoleh manfaat. Kita menulis bukan hanya untuk mendapatkan pujian, tetapi juga agar pengalaman kita dapat menjadi pelajaran bagi orang lain.

Malam ini Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu tidak sekadar belajar teori tentang berbagi, melainkan juga merenungkan pengalaman nyata dalam kehidupan kita sebagai guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat.

Sebab, ilmu yang disimpan sendirian hanya akan berhenti pada diri sendiri. Namun, ilmu yang dibagikan dapat tumbuh, berkembang, dan memberikan manfaat kepada banyak orang.

### B. Apa Makna Berbagi yang Sesungguhnya?

Berbagi adalah kesediaan memberikan sebagian dari apa yang kita miliki untuk membantu, menginspirasi, atau memudahkan kehidupan orang lain.

Selama ini, sebagian orang menganggap berbagi identik dengan memberikan uang atau barang. Padahal, ada banyak bentuk berbagi yang nilainya tidak kalah besar.

Pertama, berbagi ilmu pengetahuan. Guru yang mengajarkan cara membuat media pembelajaran digital kepada rekan sejawat sedang berbagi ilmu. Penulis yang menjelaskan cara menyusun artikel yang baik juga sedang berbagi ilmu.

Kedua, berbagi pengalaman. Kita mungkin pernah gagal mengelola kelas, mengalami kesulitan menyelesaikan penelitian, atau menghadapi tantangan dalam mendampingi murid. Pengalaman itu dapat menjadi pelajaran berharga ketika diceritakan dengan jujur dan disertai refleksi.

Ketiga, berbagi waktu dan perhatian. Mendengarkan keluh kesah teman sejawat, mendampingi guru pemula, dan memberikan masukan terhadap tulisan orang lain merupakan bentuk kepedulian yang nyata.

Keempat, berbagi kesempatan. Kita dapat memberikan kesempatan kepada orang lain untuk tampil, berbicara, menulis, menjadi narasumber, atau memimpin kegiatan.

Kelima, berbagi inspirasi. Kisah sederhana tentang guru yang pantang menyerah dapat membangkitkan semangat guru lain yang sedang menghadapi kesulitan.

Dari berbagai bentuk tersebut, kita dapat memahami bahwa berbagi tidak selalu membutuhkan biaya. Yang paling penting adalah ketulusan, kepedulian, dan kesediaan untuk memberikan manfaat.

Pertanyaan refleksi untuk peserta:

Pernahkah Bapak dan Ibu mendapatkan pertolongan dari seseorang yang tidak mengharapkan imbalan? Apa yang Bapak dan Ibu rasakan saat itu?

Cobalah mengingat satu peristiwa tersebut. Bisa jadi, pengalaman itulah yang kelak menjadi tulisan inspiratif.

### C. Mengapa Guru Perlu Berbagi Pengalaman?

Guru bukan sekadar orang yang menyampaikan materi pelajaran. Guru adalah pembelajar yang setiap hari berhadapan dengan beragam karakter, persoalan, dan pengalaman manusia.

Setiap hari di sekolah, guru mengumpulkan banyak cerita. Ada murid yang kesulitan memahami pelajaran, murid yang tiba-tiba menunjukkan kemampuan luar biasa, orang tua yang datang dengan berbagai harapan, hingga rekan guru yang menemukan metode pembelajaran baru.

Sayangnya, tidak semua pengalaman itu dicatat.

Ketika pengalaman tidak ditulis, kita berisiko melupakannya. Padahal, pengalaman yang kita anggap biasa mungkin sangat berharga bagi guru lain.

Bayangkan seorang guru di daerah yang memiliki keterbatasan fasilitas internet. Ia menemukan cara kreatif mengajarkan algoritma tanpa komputer. Jika pengalaman itu ditulis dan dibagikan, guru di sekolah lain dapat mempelajari dan mengadaptasinya.

Bayangkan pula seorang guru yang berhasil menumbuhkan kebiasaan membaca di kelas melalui kegiatan sederhana selama sepuluh menit setiap pagi. Ceritanya bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain.

Itulah kekuatan berbagi melalui tulisan.

Ada beberapa alasan mengapa guru perlu berbagi pengalaman.

* Membantu guru lain belajar lebih cepat. Pengalaman kita dapat menjadi jalan pintas bagi orang lain untuk menemukan solusi.

* Membangun budaya refleksi. Ketika menulis pengalaman, kita belajar melihat kembali apa yang berhasil dan apa yang perlu diperbaiki.

* Menguatkan komunitas guru. Berbagi membuat guru merasa tidak sendirian dalam menghadapi tantangan pendidikan.

* Menyebarkan praktik baik. Pengalaman pembelajaran yang berhasil dapat diadaptasi oleh guru lain sesuai kebutuhan sekolahnya.

* Meninggalkan jejak kebaikan. Tulisan kita dapat dibaca dan dimanfaatkan orang lain bahkan ketika kita sudah tidak lagi berada di sekolah.

Oleh karena itu, menulis bagi guru bukan sekadar kegiatan mengisi waktu luang. Menulis dapat menjadi bagian dari pengembangan profesi sekaligus pengabdian kepada sesama.

### D. Kisah Nyata Omjay: Dari Blog Pribadi Menjadi Jalan Berbagi

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang berbahagia,

Izinkan Omjay berbagi pengalaman perjalanan menulis yang telah menjadi bagian penting dalam kehidupan Omjay sebagai guru.

Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., adalah guru Informatika di SMP Labschool Jakarta. Selain mengajar, Omjay juga aktif menulis, menjadi narasumber, mengembangkan literasi, dan mendampingi guru-guru yang ingin belajar menulis.

Perjalanan ini tidak dimulai dari sesuatu yang besar. Omjay mulai membangun kebiasaan menulis dan mengembangkan blog sejak tahun 2007.

Pada waktu itu, blog menjadi salah satu ruang bagi Omjay untuk menyimpan gagasan, menceritakan pengalaman, dan berbagi pengetahuan. Tulisan-tulisan yang awalnya terasa sederhana perlahan menjadi dokumentasi perjalanan sebagai guru dan pembelajar.

Omjay belajar bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan kalimat yang indah. Menulis juga tentang keberanian mengabadikan pemikiran dan kesediaan membagikannya kepada orang lain.

Blog Omjay, [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com), menjadi salah satu sarana untuk berbagi gagasan dan pengalaman. Melalui tulisan, pengalaman yang semula hanya diketahui oleh Omjay dapat dibaca oleh orang lain yang membutuhkan.

Omjay juga aktif menulis di Kompasiana dan berbagai ruang publikasi lainnya. Ada pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, teknologi, literasi, hingga kisah perjalanan yang dijadikan bahan pembelajaran.

Dari perjalanan tersebut, Omjay semakin meyakini satu hal: jangan meremehkan tulisan sederhana yang dibuat dengan ketulusan.

Kita tidak pernah tahu siapa yang sedang membutuhkan tulisan kita. Bisa jadi, seorang guru sedang mencari cara mengatasi masalah pembelajaran. Bisa jadi, seorang penulis pemula sedang membutuhkan motivasi. Bisa jadi pula, seseorang yang hampir menyerah kembali bersemangat setelah membaca pengalaman kita.

Karena itulah, Omjay terus mendorong guru untuk menulis setiap hari.

Bukan berarti setiap tulisan harus sempurna. Bukan pula berarti setiap tulisan harus langsung viral. Yang terpenting adalah kita berani memulai, konsisten berlatih, dan bersedia belajar dari kesalahan.

Motto yang selalu Omjay gaungkan adalah:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Kalimat ini bukan sekadar slogan. Ia merupakan ajakan untuk membuktikan sendiri manfaat menulis melalui praktik yang berkelanjutan.

### 1\. Berbagi melalui komunitas belajar menulis

Salah satu bentuk berbagi yang Omjay jalani adalah terlibat dalam kegiatan Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI.

Melalui KBMN PGRI, guru-guru dari berbagai daerah memperoleh ruang untuk belajar menulis, berdiskusi, mengembangkan gagasan, dan berlatih menghasilkan karya.

Omjay ikut menggerakkan kegiatan belajar menulis ini karena percaya bahwa setiap guru memiliki cerita yang layak dibagikan.

Ada guru yang baru pertama kali menulis artikel. Ada yang ingin menulis buku. Ada yang ingin mengembangkan blog. Ada pula yang sebenarnya memiliki banyak pengalaman, tetapi belum percaya diri untuk menceritakannya.

Mereka membutuhkan ruang yang aman untuk belajar.

Di sinilah pentingnya komunitas. Guru yang sudah lebih dahulu belajar dapat membantu guru yang baru memulai. Peserta yang telah berhasil menyelesaikan artikel dapat menyemangati peserta lain. Pengalaman satu orang dapat menjadi pembelajaran bersama.

Melalui kegiatan seperti KBMN PGRI, semangat berbagi diharapkan tidak berhenti pada satu pertemuan. Peserta dapat meneruskan ilmunya kepada rekan guru di sekolah masing-masing.

Bayangkan jika satu guru membantu lima guru lainnya untuk mulai menulis. Jika lima guru tersebut kemudian mengajak lima guru lagi, manfaatnya dapat berkembang jauh melampaui kelompok awal.

Itulah semangat berbagi: ilmu tidak habis ketika diberikan, tetapi justru berpotensi bertambah manfaatnya.

### 2\. Berbagi ilmu tentang teknologi dan pendidikan

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay memiliki pengalaman dalam pembelajaran teknologi, TIK, coding, dan kecerdasan artifisial.

Omjay memahami bahwa perkembangan teknologi membuat guru harus terus belajar. Apa yang kita kuasai hari ini belum tentu cukup untuk menghadapi tantangan pendidikan beberapa tahun mendatang.

Karena itu, pengalaman belajar teknologi perlu dibagikan.

Ketika guru memahami suatu aplikasi, ia dapat menjelaskan cara menggunakannya kepada rekan sejawat. Ketika guru menemukan strategi mengajarkan coding, ia dapat mendokumentasikannya. Ketika guru mencoba memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk pembelajaran, ia dapat membagikan manfaat, keterbatasan, dan pelajaran yang diperoleh.

Namun, Omjay juga selalu menekankan pentingnya hati nurani dan tanggung jawab manusia.

Teknologi adalah alat bantu. Kecerdasan artifisial dapat membantu menyusun gagasan, tetapi guru tetap perlu menggunakan pengetahuan, pengalaman, kreativitas, dan pertimbangan etikanya sendiri.

Dalam kegiatan menulis, AI dapat menjadi teman berdiskusi. Akan tetapi, pengalaman pribadi, kejujuran, dan suara khas penulis tetap harus dijaga.

Sebab, tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang rapi, melainkan tulisan yang membawa makna dan dapat dipertanggungjawabkan.

### 3\. Berbagi tidak harus menunggu terkenal

Omjay ingin mengajak Bapak dan Ibu memahami satu hal penting.

Jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk berbagi. Jangan menunggu memiliki ribuan pengikut untuk menginspirasi. Jangan menunggu buku diterbitkan untuk mulai menulis.

Mulailah dari pengalaman yang ada di depan mata.

Ceritakan pengalaman mengajar hari ini. Tuliskan cara Bapak dan Ibu membantu murid yang kesulitan belajar. Bagikan pengalaman mengikuti pelatihan. Dokumentasikan praktik baik di sekolah.

Tulisan pertama mungkin hanya dibaca beberapa orang. Tulisan berikutnya mungkin mendapat tanggapan dari rekan sejawat. Seiring waktu, kumpulan tulisan itu dapat menjadi sumber belajar yang berguna.

Omjay sendiri terus mengajak guru untuk menulis dan berbagi melalui blog, media sosial, pelatihan, webinar, dan komunitas belajar.

Tujuannya bukan semata-mata mendapatkan popularitas. Tujuannya adalah memperluas kesempatan agar ilmu dan pengalaman dapat menjangkau lebih banyak orang.

Jika sebuah tulisan membantu satu orang, itu sudah merupakan manfaat. Jika tulisan tersebut membantu seratus orang, manfaatnya semakin luas. Jika tulisan itu terus dibaca dan dipraktikkan oleh banyak guru, pengaruhnya dapat berlangsung lebih lama daripada yang kita bayangkan.

Tentu saja, kita tidak perlu mengklaim bahwa setiap tulisan pasti dibaca jutaan orang. Yang perlu kita lakukan adalah terus menulis, memperbaiki kualitas karya, dan membuka kesempatan agar tulisan tersebut dapat menjangkau sebanyak mungkin pembaca.

### E. Hanya Memberi Tak Harap Kembali: Belajar dari Sang Surya

Mengapa tema kita malam ini menggunakan ungkapan “Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”?

Karena ungkapan tersebut mengajarkan ketulusan.

Matahari menjalankan perannya dengan menyinari bumi. Kita dapat menjadikannya perumpamaan tentang orang yang memberikan manfaat tanpa menjadikan imbalan sebagai tujuan utama.

Dalam kehidupan seorang guru, semangat tersebut dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana.

Seorang guru berbagi bahan ajar tanpa merasa terancam bahwa rekan sejawatnya akan menjadi lebih hebat. Seorang penulis memberikan masukan dengan sopan tanpa merendahkan penulis pemula. Seorang mentor membimbing peserta sampai mereka berani menghasilkan karya sendiri.

Semua itu merupakan bentuk berbagi yang patut kita teladani.

Namun, ketulusan bukan berarti kita harus mengabaikan kebutuhan diri sendiri. Guru tetap berhak memperoleh penghargaan yang layak. Penulis tetap boleh menerima honorarium. Narasumber tetap boleh mendapatkan imbalan profesional.

Yang perlu kita jaga adalah niat dan cara kita memperlakukan orang lain.

Jangan sampai kita hanya mau berbagi jika mendapat pujian. Jangan sampai kita berhenti membantu karena tidak disebut dalam ucapan terima kasih. Jangan sampai kita merasa rugi ketika ilmu yang kita ajarkan membuat orang lain lebih maju.

Sebaliknya, berbahagialah ketika orang yang kita bimbing berhasil.

Jika peserta KBMN PGRI mampu menerbitkan buku, kita patut bersyukur. Jika rekan guru berhasil membuat blog, kita patut memberikan apresiasi. Jika murid berhasil mengembangkan kemampuan yang dahulu belum dimilikinya, kita patut ikut berbahagia.

Keberhasilan orang lain bukan ancaman bagi kita. Keberhasilan mereka dapat menjadi bukti bahwa ilmu yang dibagikan telah menemukan tempat untuk bertumbuh.

Berbagi bukan tentang seberapa banyak yang kita berikan, melainkan seberapa tulus kita berusaha memberikan manfaat.

### F. Lima Prinsip Berbagi ala Omjay

Agar semangat berbagi dapat dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari, Omjay mengajak peserta KBMN PGRI Gelombang 35 memegang lima prinsip berikut.

### 1\. Berbagi dari apa yang kita miliki

Kita tidak harus menguasai seluruh ilmu pengetahuan. Bagikan apa yang benar-benar kita ketahui dan alami.

Jika kita baru belajar menulis artikel, bagikan pengalaman saat menyusun paragraf pertama. Jika kita baru berhasil menggunakan aplikasi pembelajaran, ceritakan proses belajarnya.

Jangan menunggu sempurna untuk memulai.

### 2\. Berbagi dengan jujur

Tulislah pengalaman sesuai kenyataan. Jika kita pernah gagal, akui kegagalan itu. Jika kita belum memahami sesuatu, jangan berpura-pura menjadi ahli.

Kejujuran membuat tulisan lebih manusiawi dan membantu pembaca memahami proses belajar yang sesungguhnya.

### 3\. Berbagi tanpa merendahkan

Setiap orang memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Ada yang cepat memahami teknologi, ada pula yang memerlukan pendampingan lebih lama.

Guru yang berpengalaman seharusnya membantu, bukan mempermalukan. Kritik sebaiknya disampaikan dengan bahasa yang membangun.

### 4\. Berbagi secara konsisten

Kebaikan tidak harus selalu dilakukan dalam kegiatan besar. Kita dapat berbagi sedikit demi sedikit, tetapi secara berkelanjutan.

Tulisan pendek yang dibuat secara rutin dapat berkembang menjadi kumpulan artikel. Percakapan singkat yang memberi semangat dapat membantu seseorang bertahan dalam proses belajarnya.

### 5\. Berbagi sambil terus belajar

Orang yang berbagi bukan berarti sudah mengetahui semuanya. Justru ketika menjelaskan sesuatu kepada orang lain, kita sering menemukan hal-hal yang belum kita pahami.

Karena itu, jangan berhenti membaca, berdiskusi, menerima masukan, dan memperbaiki tulisan.

Semakin banyak kita belajar, semakin banyak pula hal yang dapat dibagikan dengan bertanggung jawab.

### G. Bagaimana Mengubah Pengalaman Menjadi Tulisan yang Bermanfaat?

Bapak dan Ibu guru hebat,

Salah satu tantangan penulis pemula adalah merasa tidak memiliki bahan tulisan. Padahal, bahan tulisan sering kali berada di sekitar kita.

Untuk membantu peserta KBMN PGRI Gelombang 35, Omjay membagikan metode sederhana yang dapat digunakan kapan saja.

Gunakan lima langkah berikut.

Langkah pertama: Ingat satu peristiwa.

Pilih satu pengalaman nyata yang berkesan. Misalnya, ketika seorang murid yang biasanya pendiam tiba-tiba berani mempresentasikan hasil karyanya.

Langkah kedua: Catat kejadian yang sebenarnya.

Tuliskan kapan peristiwa terjadi, siapa yang terlibat, apa masalahnya, dan bagaimana peristiwa itu berlangsung. Jaga privasi murid dan orang lain yang terlibat.

Langkah ketiga: Ceritakan perasaan dan tantangannya.

Apa yang Bapak dan Ibu rasakan? Apa kesulitan yang muncul? Mengapa peristiwa itu penting?

Langkah keempat: Temukan pelajarannya.

Jangan berhenti pada cerita. Jelaskan apa yang berubah dalam cara pandang kita dan apa yang dapat dipelajari oleh pembaca.

Langkah kelima: Bagikan melalui media yang sesuai.

Tulisan dapat diterbitkan di blog pribadi, Kompasiana, majalah sekolah, atau media lain yang relevan. Sebelum menerbitkan, periksa kembali ejaan, fakta, dan etika penulisannya.

Berikut contoh sederhana.

Judul: Ketika Murid Pendiam Berani Berbicara

Hari itu saya meminta murid-murid mempresentasikan hasil kerja kelompok. Seorang murid yang biasanya diam terlihat ragu-ragu. Ia menunduk dan beberapa kali mengatakan belum siap.

Saya tidak langsung memaksanya. Saya memberinya waktu untuk mempersiapkan diri dan menawarkan kesempatan berbicara bersama temannya.

Ketika akhirnya ia berdiri di depan kelas, suaranya memang belum lantang. Namun, ia berhasil menyampaikan gagasan sampai selesai.

Saya merasa bahagia. Hari itu saya belajar bahwa keberanian murid tidak selalu tumbuh karena tuntutan. Terkadang, keberanian tumbuh karena ada guru yang memberikan ruang, waktu, dan kepercayaan.

Sejak saat itu, saya semakin memahami bahwa tugas guru bukan hanya meminta murid menunjukkan kemampuan, melainkan juga membantu mereka menemukan keberanian untuk berkembang.

Pengalaman sederhana ini dapat menjadi artikel yang bermanfaat karena memuat peristiwa, perasaan, refleksi, dan pelajaran.

Itulah salah satu cara mengubah pengalaman menjadi tulisan yang menginspirasi.

### H. Tantangan Berbagi di Era Digital dan Kecerdasan Artifisial

Di era digital, kita memiliki kesempatan berbagi yang semakin luas. Sebuah artikel dapat diterbitkan dalam hitungan menit. Materi pembelajaran dapat dibagikan kepada rekan guru di berbagai daerah. Diskusi dapat dilakukan tanpa harus bertemu secara langsung.

Namun, kemudahan tersebut juga membawa tanggung jawab.

Pertama, kita harus memeriksa kebenaran informasi. Jangan menyebarkan kabar yang belum terverifikasi hanya karena ingin menjadi orang pertama yang membagikannya.

Kedua, kita harus menghormati hak cipta. Jika menggunakan gagasan, gambar, atau tulisan orang lain, perhatikan izin penggunaan dan cantumkan sumber sesuai ketentuan.

Ketiga, kita harus menjaga privasi. Pengalaman mengajar boleh dibagikan, tetapi identitas murid, informasi pribadi keluarga, dan hal-hal sensitif harus dilindungi.

Keempat, kita harus menggunakan AI secara bijaksana. AI dapat membantu menyusun kerangka, memperbaiki bahasa, atau memancing ide. Namun, penulis perlu memeriksa fakta dan memastikan bahwa isi tulisan sesuai dengan pengalaman serta pemikirannya sendiri.

Kelima, kita harus mengutamakan manfaat. Jangan hanya mengejar jumlah tayangan atau tanda suka. Pikirkan apakah tulisan tersebut memberikan pengetahuan, inspirasi, atau solusi kepada pembaca.

Omjay percaya bahwa masa depan pendidikan membutuhkan guru yang mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.

Kita boleh menggunakan teknologi yang semakin canggih. Namun, kejujuran, empati, tanggung jawab, dan ketulusan tetap harus menjadi dasar dalam berbagi.

### I. Mengatasi Rasa Takut untuk Berbagi

Ada beberapa alasan mengapa guru enggan berbagi pengalaman.

Ada yang takut tulisannya dianggap jelek. Ada yang khawatir mendapat kritik. Ada yang merasa pengalamannya terlalu sederhana. Ada pula yang merasa tidak sepandai penulis lain.

Jika Bapak dan Ibu merasakan hal yang sama, jangan berkecil hati.

Semua penulis pernah berada pada tahap belajar. Kemampuan menulis tidak tumbuh dalam satu malam. Ia berkembang melalui latihan, membaca, berdiskusi, dan memperbaiki karya.

Berikut beberapa cara mengatasi rasa takut tersebut.

* Mulailah dengan tulisan pendek, sekitar 300–500 kata.

* Gunakan bahasa yang biasa kita pakai dalam kehidupan sehari-hari.

* Ceritakan pengalaman yang benar-benar kita alami.

* Mintalah seorang teman membaca tulisan sebelum diterbitkan.

* Terimalah kritik yang membangun tanpa menganggapnya sebagai serangan pribadi.

* Jangan membandingkan tulisan pertama kita dengan karya penulis yang sudah puluhan tahun berlatih.

Ingatlah, tujuan awal kita bukan menjadi penulis paling hebat. Tujuan awal kita adalah menjadi penulis yang terus bertumbuh dan bersedia berbagi.

Jika hari ini kita mampu menulis satu paragraf, syukurilah. Jika besok kita mampu menyelesaikan satu artikel, teruskanlah. Jika suatu hari kumpulan tulisan kita menjadi sebuah buku, jadikanlah buku itu sebagai sarana memperluas manfaat.

### J. Tugas Praktik KBMN PGRI Gelombang 35

### Tugas Menulis: Pengalaman Berbagi yang Tak Terlupakan

Waktu pengerjaan: 30–45 menit

Tujuan: Melatih peserta menulis pengalaman nyata yang mengandung nilai kebaikan, pembelajaran, dan inspirasi.

Petunjuk pengerjaan:

* Pilih satu pengalaman ketika Bapak atau Ibu berbagi ilmu, waktu, tenaga, atau perhatian kepada orang lain.

* Tulislah pengalaman tersebut dalam bentuk artikel sepanjang 300–500 kata.

* Gunakan sudut pandang orang pertama, yaitu “saya”.

* Sertakan pelajaran yang diperoleh dan manfaat yang diharapkan bagi pembaca.

* Berikan judul yang menarik dan sesuai dengan isi cerita.

* Periksa kembali tulisan sebelum dibagikan di grup KBMN PGRI Gelombang 35.

Pilihan judul:

* Ketika Ilmu yang Saya Bagikan Menjadi Berkah

* Berbagi Tidak Membuat Kita Miskin

* Satu Kebaikan Kecil yang Tak Terlupakan

* Saya Bahagia Ketika Orang Lain Berhasil

* Pengalaman Berbagi yang Mengubah Hidup Saya

Kriteria penilaian:

* Keaslian dan kejujuran pengalaman: 30 poin

* Kejelasan alur cerita: 20 poin

* Kedalaman refleksi dan pelajaran: 25 poin

* Bahasa dan keterbacaan: 15 poin

* Judul dan ketepatan tema: 10 poin

Total: 100 poin.

Catatan: Gunakan pengalaman sendiri. AI boleh digunakan sebagai alat bantu penyuntingan jika diperlukan, tetapi jangan mengarang pengalaman pribadi atau menyalin tulisan orang lain.

### Contoh kerangka tulisan peserta

Untuk memudahkan peserta yang masih bingung, gunakan kerangka berikut.

* Pembukaan: pengalaman berbagi apa yang ingin diceritakan?

* Isi: kapan peristiwa itu terjadi dan apa yang dilakukan?

* Tantangan: kesulitan apa yang dihadapi?

* Hasil: apa yang terjadi setelah berbagi?

* Refleksi: pelajaran apa yang diperoleh?

* Penutup: ajakan apa yang ingin disampaikan kepada pembaca?

Peserta tidak perlu menulis dengan bahasa yang rumit. Tulislah dengan bahasa yang jujur, runtut, dan menyentuh hati.

### K. Refleksi Bersama: Apakah Kita Sudah Menjadi Matahari bagi Orang Lain?

Sebelum menutup pertemuan malam ini, mari kita merenung sejenak.

Apakah selama ini kita hanya menyimpan ilmu untuk diri sendiri?

Apakah kita sudah memberikan kesempatan kepada rekan sejawat untuk berkembang?

Apakah kita bersedia membantu penulis pemula meskipun tulisannya belum sempurna?

Apakah kita mampu berbahagia ketika orang lain berhasil berkat ilmu yang pernah kita bagikan?

Pertanyaan-pertanyaan ini tidak perlu dijawab dengan tergesa-gesa. Jawablah dengan jujur melalui tindakan nyata.

Kita tidak harus menjadi matahari yang menerangi seluruh dunia sekaligus. Kita dapat memulainya dengan menjadi cahaya kecil bagi orang-orang di sekitar kita.

Bagi seorang guru, cahaya itu bisa berupa satu penjelasan yang membuat murid memahami pelajaran. Bagi seorang penulis, cahaya itu bisa berupa satu artikel yang membuat pembaca kembali bersemangat. Bagi seorang mentor, cahaya itu bisa berupa satu kalimat yang membuat peserta berani menerbitkan tulisan pertamanya.

Jangan pernah meremehkan kebaikan kecil.

Kita tidak selalu mengetahui seberapa jauh manfaat dari apa yang kita bagikan. Tugas kita adalah berusaha memberikan manfaat dengan tulus, sedangkan hasilnya dapat berkembang melalui perjalanan hidup orang lain.

### L. Penutup: Mari Menjadi Guru yang Gemar Berbagi

Bapak dan Ibu guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang Omjay cintai dan banggakan,

Perjalanan kita sebagai guru tidak hanya diukur dari berapa banyak materi yang telah disampaikan, berapa banyak tugas yang telah diperiksa, atau berapa lama kita berdiri di depan kelas.

Perjalanan kita juga dapat diukur dari berapa banyak orang yang kita bantu untuk bertumbuh.

Omjay telah merasakan bahwa menulis dan berbagi dapat menjadi jalan untuk memperluas manfaat pengalaman seorang guru. Sejak membangun blog pada 2007, Omjay terus berusaha mendokumentasikan pengalaman, berbagi gagasan, dan mengajak guru-guru belajar menulis melalui berbagai ruang, termasuk KBMN PGRI.

Perjalanan tersebut tentu masih memiliki banyak tantangan. Tidak setiap tulisan mendapatkan perhatian yang besar. Tidak setiap peserta langsung aktif. Tidak semua orang dapat menyelesaikan proses belajar dengan kecepatan yang sama.

Namun, kita tidak boleh berhenti hanya karena hasilnya belum sesuai harapan.

Omjay ingin melihat semakin banyak guru Indonesia berani menulis. Guru yang menulis pengalaman mengajarnya. Guru yang membagikan praktik baik. Guru yang mendokumentasikan inovasinya. Guru yang menginspirasi murid dan rekan sejawat melalui karya nyata.

Kita ingin KBMN PGRI bukan sekadar tempat berkumpulnya anggota, melainkan ruang belajar yang hidup, tempat peserta saling membantu, saling membaca, saling memberi masukan, dan saling menguatkan.

Mari kita buktikan bahwa semangat berbagi tidak berhenti setelah pertemuan malam ini selesai.

Tulislah pengalaman Bapak dan Ibu. Bagikan ilmu yang bermanfaat. Bantu rekan yang sedang kesulitan. Berikan apresiasi kepada mereka yang sedang belajar. Teruslah berkarya meskipun langkah kita kecil.

Sebab, tulisan yang lahir dari pengalaman dan ketulusan dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Izinkan Omjay menutup materi malam ini dengan pesan sederhana:

Jangan menunggu hebat untuk berbagi. Berbagilah agar kita dan orang lain sama-sama bertumbuh. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Menulislah agar pengalaman kita tidak hilang ditelan waktu.

Mari kita pegang erat ungkapan yang menjadi tema pertemuan malam ini:

“Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia.”

Semoga kita menjadi guru yang bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga senang belajar, gemar menulis, dan tulus berbagi.

Semoga setiap ilmu yang kita bagikan menjadi jalan kebaikan. Semoga setiap tulisan yang kita terbitkan membawa manfaat. Dan semoga KBMN PGRI Gelombang 35 melahirkan penulis-penulis guru yang terus menginspirasi Indonesia.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

### M. Pantun Penutup Omjay

Pergi ke sekolah membawa buku,

Buku dibaca menambah wawasan.

Mari berbagi ilmu selalu,

Agar hidup penuh kebermanfaatan.

Burung merpati terbang ke awan,

Hinggap sebentar di pohon jati.

Jangan berhenti menebar kebaikan,

Tulislah kisah dengan sepenuh hati.

Jalan-jalan ke tepi samudra,

Melihat mentari bersinar terang.

Guru berbagi untuk Indonesia,

Ilmu mengalir sepanjang zaman.

Salam hangat dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke18 bersama Omjay

### MATERI PERTEMUAN KE-18 KBMN PGRI GELOMBANG 35

### AI dan Masa Depan Pendidikan: Guru Tetap di Hati, Teknologi Membantu Berkreasi

Narasumber: Omjay — Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. | Guru Blogger Indonesia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam bahagia dan salam literasi untuk seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35 di mana pun berada.

Bapak dan Ibu guru hebat, apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap bersemangat untuk belajar menulis. Kita sudah melewati banyak pertemuan dalam perjalanan belajar menulis selama bulan Oktober ini. Setiap hari kita berusaha menemukan ide, merangkai kata, membagikan pengalaman, dan menginspirasi pembaca melalui tulisan.

Pada pertemuan ke-18 ini, kita akan membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini, yaitu AI dan Masa Depan Pendidikan.

Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari. AI membantu kita mencari informasi, membuat rangkuman, menyusun bahan ajar, mengembangkan ide tulisan, bahkan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan guru? Apakah suatu saat nanti siswa cukup belajar dari mesin tanpa membutuhkan kehadiran seorang pendidik?

Mari kita membahasnya dengan pikiran terbuka, hati yang jernih, dan semangat untuk terus belajar.

### 1\. Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ke-18 ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami pengertian AI dan perannya dalam dunia pendidikan.

* Mengenali peluang dan tantangan penggunaan AI bagi guru dan siswa.

* Memanfaatkan AI secara bijak untuk mendukung kegiatan belajar dan menulis.

* Menumbuhkan sikap kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

* Menghasilkan tulisan reflektif tentang AI dan masa depan pendidikan berdasarkan pengalaman atau pemikiran pribadi.

### 2\. Apa itu AI?

AI atau kecerdasan artifisial adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali pola, menganalisis informasi, menghasilkan teks, dan membantu memecahkan masalah.

Contohnya, ketika kita meminta AI menyusun kerangka artikel tentang pengalaman mengajar, AI dapat memberikan beberapa pilihan judul, menyusun urutan pembahasan, dan menyarankan pertanyaan untuk menggali pengalaman pribadi.

Ketika guru mengajarkan Informatika, AI juga dapat membantu menjelaskan konsep algoritma, memberikan contoh kode program, menyusun soal latihan, atau menawarkan cara berbeda untuk menjelaskan materi yang sulit dipahami siswa.

Namun, kita harus memahami satu hal: AI dapat membantu menghasilkan jawaban, tetapi jawabannya belum tentu benar. AI bisa memberikan informasi yang keliru, membuat contoh yang tidak sesuai, atau menyampaikan informasi seolah-olah benar padahal perlu diperiksa kembali.

Karena itu, manusia tetap harus berpikir, memeriksa, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan.

### 3\. Bagaimana AI mengubah masa depan pendidikan?

Ada beberapa perubahan yang patut kita perhatikan.

### A. Pembelajaran menjadi lebih personal

Setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami bahasa. Ada pula siswa yang lebih mudah belajar melalui contoh, gambar, praktik, atau cerita.

AI dapat membantu menyediakan latihan dengan tingkat kesulitan berbeda, memberikan penjelasan alternatif, dan menyusun soal sesuai kebutuhan belajar siswa.

Meskipun demikian, guru tetap perlu mengamati perkembangan siswa secara langsung. Tidak semua kesulitan belajar dapat diketahui hanya dari jawaban di layar komputer.

### B. Guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyiapkan pembelajaran

Guru sering menghabiskan waktu untuk membuat soal, menyusun bahan presentasi, menyiapkan lembar kerja, dan merancang kegiatan pembelajaran.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan awal tersebut. Misalnya, guru dapat meminta AI menyusun sepuluh soal tentang keamanan digital untuk siswa SMP, lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasannya.

Setelah itu, guru memeriksa ketepatan soal, menyesuaikan tingkat kesulitan, dan menghubungkannya dengan tujuan pembelajaran.

Dengan cara ini, AI menjadi asisten yang membantu pekerjaan guru, bukan pengganti tanggung jawab profesional guru.

### C. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis semakin penting

Di masa depan, siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus mampu menilai informasi, mengenali berita palsu, memahami risiko keamanan data, dan mempertanyakan jawaban yang diperoleh dari AI.

Contohnya, ketika AI memberikan informasi tentang suatu peristiwa sejarah, siswa perlu membandingkannya dengan buku pelajaran dan sumber tepercaya. Mereka tidak boleh langsung menyalin jawaban tanpa memahami isinya.

Inilah kesempatan bagi guru untuk membiasakan siswa bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah buktinya kuat, dan apakah kesimpulannya masuk akal?

### D. Keterampilan manusia tetap dibutuhkan

Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari guru kepada siswa. Pendidikan juga merupakan proses membangun karakter, tanggung jawab, empati, kejujuran, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama.

AI dapat menghasilkan kalimat yang terdengar menyentuh, tetapi guru yang hadir di kelas dapat melihat siswa yang sedang kehilangan semangat, mendengarkan kegelisahannya, dan memberikan dukungan sesuai keadaan.

Teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi hubungan antarmanusia tetap memiliki peran penting.

### 4\. Peluang AI bagi guru dan penulis

Sebagai guru sekaligus penulis, kita dapat memanfaatkan AI untuk berbagai kegiatan.

| Kegiatan                  | Contoh pemanfaatan AI                                |
| ------------------------- | ---------------------------------------------------- |
| Menyiapkan bahan ajar     | Membuat kerangka materi dan contoh sederhana         |
| Membuat soal              | Menyusun soal latihan sesuai tujuan pembelajaran     |
| Mengembangkan ide tulisan | Mencari sudut pandang dan pilihan judul              |
| Menyunting artikel        | Memeriksa ejaan, struktur, dan kejelasan kalimat     |
| Membuat refleksi          | Menyusun pertanyaan untuk mengevaluasi pembelajaran  |
| Belajar mandiri           | Meminta penjelasan alternatif atas konsep yang sulit |

Kuncinya adalah menggunakan AI untuk membantu proses berpikir, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya.

Misalnya, seorang guru ingin menulis artikel berjudul Pengalaman Mengajar yang Tak Terlupakan. AI dapat membantu membuat kerangka tulisan, tetapi cerita tentang siswa yang pernah membuat guru terharu harus berasal dari pengalaman nyata sang guru.

Detail peristiwa, perasaan, dialog, dan pelajaran hidup merupakan bagian penting yang memberikan jiwa pada tulisan.

AI boleh membantu merangkai kata, tetapi pengalaman nyata dan kejujuran penulis tidak boleh dihilangkan.

### 5\. Tantangan penggunaan AI dalam pendidikan

Di balik berbagai peluang, ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama.

### A. Ketergantungan pada AI

Siswa bisa saja menggunakan AI untuk mengerjakan semua tugas tanpa membaca, memahami, atau memikirkan jawabannya. Guru pun dapat terjebak menggunakan bahan yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kebenarannya.

Solusinya bukan sekadar melarang teknologi, melainkan mengajarkan cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Guru dapat meminta siswa menjelaskan proses berpikirnya, mempraktikkan konsep yang dipelajari, atau menceritakan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan tugas.

### B. Kejujuran akademik

Jika siswa mengumpulkan tulisan yang seluruhnya dihasilkan AI dan mengaku sebagai karya pribadi tanpa mengikuti aturan tugas, proses belajarnya dapat kehilangan makna.

Karena itu, guru perlu menjelaskan kapan AI boleh digunakan, bagian apa yang harus dikerjakan sendiri, dan bagaimana mengungkapkan bantuan AI secara jujur.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak langsung menuduh siswa melakukan kecurangan hanya karena tulisannya tampak rapi. Penilaian harus berdasarkan proses dan bukti yang relevan, bukan dugaan semata.

### C. Privasi dan keamanan data

Jangan sembarangan memasukkan nama lengkap siswa, nilai, alamat, nomor telepon, rekam medis, atau informasi pribadi lainnya ke dalam layanan AI.

Guru perlu memeriksa kebijakan privasi layanan yang digunakan dan mengikuti aturan perlindungan data yang berlaku. Jika ingin menggunakan AI untuk membantu menganalisis hasil belajar, gunakan data yang telah diminimalkan atau dianonimkan sesuai kebutuhan.

### D. Kesenjangan akses teknologi

Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet yang stabil, perangkat yang memadai, atau kemampuan untuk menggunakan layanan AI berbayar.

Masa depan pendidikan yang baik harus tetap memperhatikan keadilan. Siswa yang tidak memiliki akses teknologi tidak boleh kehilangan kesempatan belajar.

Guru perlu menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi sekolah dan menyediakan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan tanpa perangkat digital.

### 6\. Guru seperti apa yang dibutuhkan pada masa depan?

Menurut Omjay, guru masa depan bukanlah guru yang harus mengetahui semua hal tentang teknologi. Guru masa depan adalah guru yang mau terus belajar, berani mencoba hal baru, dan mampu membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijaksana.

Guru perlu mengembangkan setidaknya lima kemampuan berikut.

* Literasi digital. Memahami cara kerja teknologi, manfaatnya, dan risikonya.

* Berpikir kritis. Memeriksa informasi dan tidak mudah percaya pada setiap jawaban AI.

* Kreativitas. Merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan sesuai kebutuhan siswa.

* Komunikasi dan empati. Mendengarkan siswa serta membangun hubungan yang sehat.

* Etika digital. Menghargai privasi, hak cipta, kejujuran, dan tanggung jawab.

Guru tidak harus menjadi ahli AI dalam satu malam. Kita dapat belajar secara bertahap, dimulai dari satu alat, satu kegiatan, dan satu pengalaman baru.

Jangan malu bertanya. Jangan takut mencoba. Jika menemui kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai bahan pembelajaran.

### 7\. Contoh praktik sederhana: Menggunakan AI untuk pembelajaran

Mari kita mencoba sebuah contoh yang bisa diterapkan oleh guru.

Seorang guru Informatika kelas VIII ingin mengajarkan keamanan digital. Ia dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun rancangan pembelajaran.

Contoh perintah atau prompt:

> Saya seorang guru Informatika kelas VIII SMP. Bantu saya menyusun kegiatan pembelajaran selama 40 menit tentang keamanan kata sandi dan phishing. Gunakan bahasa sederhana, berikan satu studi kasus yang dekat dengan kehidupan siswa, lima pertanyaan diskusi, dan satu tugas refleksi. Pastikan kegiatan mendorong siswa berpikir kritis dan tidak meminta mereka membagikan kata sandi pribadi.

Setelah mendapatkan jawaban, guru memeriksa apakah materinya benar, apakah contoh kasusnya sesuai usia siswa, dan apakah kegiatan tersebut aman dilakukan di kelas.

Guru kemudian menambahkan pengalaman mengajar, kondisi siswa, serta pendekatan yang sesuai dengan lingkungan sekolahnya.

Dengan demikian, AI membantu menyiapkan bahan awal, sedangkan guru tetap memegang kendali atas tujuan, isi, metode, dan evaluasi pembelajaran.

### 8\. Masa depan pendidikan: Berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi dengan AI

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia, kita tidak perlu melihat AI semata-mata sebagai ancaman. Teknologi ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membuka ruang kreativitas, dan membantu guru mengembangkan kompetensi.

Namun, kita juga tidak boleh menerima semua perkembangan teknologi tanpa pertimbangan. Setiap alat perlu dinilai berdasarkan manfaat, risiko, keadilan, dan kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan.

Bayangkan sebuah kelas pada masa depan. Siswa menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide, tetapi mereka tetap berdiskusi, melakukan percobaan, membaca buku, menulis refleksi, dan bekerja sama. Guru tidak hanya memeriksa hasil akhir, tetapi juga mendampingi proses berpikir dan perkembangan karakter siswa.

Itulah masa depan pendidikan yang patut kita perjuangkan: pendidikan yang memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi peserta KBMN PGRI Gelombang 35, hal ini juga berlaku dalam kegiatan menulis. Kita boleh memanfaatkan AI untuk menemukan ide, menyusun kerangka, dan memperbaiki ejaan. Namun, jangan sampai kebiasaan menggunakan AI membuat kita berhenti mengamati kehidupan, mendengarkan cerita orang lain, dan menuliskan pengalaman sendiri.

Tulisan yang bermakna tidak hanya dinilai dari susunan katanya, tetapi juga dari kejujuran, kedalaman pemikiran, dan manfaat yang diberikan kepada pembaca.

### 9\. Pertanyaan refleksi untuk peserta

Silakan Bapak dan Ibu menjawab pertanyaan berikut dalam hati atau melalui diskusi bersama peserta lainnya.

* Apa pengalaman pertama Anda menggunakan AI untuk kegiatan mengajar atau menulis?

* Manfaat apa yang paling Anda rasakan ketika menggunakan AI?

* Pernahkah Anda menemukan jawaban AI yang kurang tepat? Bagaimana Anda menyikapinya?

* Apa yang harus tetap dilakukan manusia meskipun teknologi AI semakin canggih?

* Bagaimana cara mengajarkan siswa agar menggunakan AI secara jujur dan bertanggung jawab?

Tidak ada jawaban yang harus sama. Setiap guru memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Justru perbedaan pengalaman itulah yang dapat memperkaya tulisan kita.

### 10\. Tugas menulis pertemuan ke-18

### Tugas Bahagia: AI dan Masa Depan Pendidikan

KBMN PGRI Gelombang 35 — Pertemuan ke-18

Judul tulisan: Bebas dan menarik, sesuai pengalaman masing-masing.

Tema: AI dan Masa Depan Pendidikan.

Panjang tulisan: 300–500 kata.

Bentuk tulisan: Artikel reflektif berdasarkan pengalaman, pengamatan, atau pendapat pribadi.

Panduan isi tulisan:

* Ceritakan pengalaman atau pandangan Anda tentang AI.

* Jelaskan manfaat AI bagi guru, siswa, atau kegiatan menulis.

* Ceritakan tantangan atau kekhawatiran yang Anda rasakan.

* Sampaikan harapan Anda terhadap masa depan pendidikan.

* Tutup tulisan dengan pesan inspiratif bagi guru dan siswa.

Publikasi: Unggah tulisan di blog pribadi atau media yang digunakan dalam kegiatan KBMN PGRI, kemudian bagikan tautannya di grup sesuai arahan panitia.

Target belajar: Menghasilkan satu tulisan yang jujur, sederhana, dan bermanfaat. Tidak harus sempurna. Yang penting, selesai, berani dibagikan, dan terus diperbaiki.

### Contoh pilihan judul

* AI Tidak Menggantikan Guru, tetapi Mengajak Guru Terus Belajar

* Ketika Saya Mulai Mengenal Kecerdasan Artifisial

* Masa Depan Pendidikan di Tangan Guru yang Mau Berubah

* Belajar Menulis Bersama AI tanpa Kehilangan Suara Hati

* Antara Kecanggihan Teknologi dan Ketulusan Seorang Guru

* Murid Saya, AI, dan Pelajaran tentang Kejujuran

* Menjadi Guru di Tengah Perubahan Zaman

### Latihan menulis selama 15 menit

Agar tugas terasa ringan, lakukan langkah berikut.

* Lima menit pertama: tuliskan pengalaman atau pendapat tentang AI tanpa takut salah.

* Lima menit berikutnya: tambahkan contoh nyata, tantangan, atau harapan.

* Lima menit terakhir: buat judul, tulis kesimpulan, dan periksa kembali tulisan.

Jika ingin menggunakan AI, mintalah bantuan untuk mengembangkan kerangka atau memeriksa ejaan. Jangan memasukkan pengalaman yang tidak pernah terjadi hanya agar tulisan terlihat menarik.

### 11\. Rubrik penilaian sederhana

| Aspek                             | Bobot |
| --------------------------------- | ----- |
| Kesesuaian dengan tema            | 25    |
| Keaslian pengalaman dan pemikiran | 30    |
| Kejelasan isi dan alur tulisan    | 25    |
| Refleksi dan manfaat bagi pembaca | 20    |
| Total                             | 100   |

Rubrik ini dapat digunakan sebagai panduan belajar, bukan untuk membuat peserta takut menulis. Berikan apresiasi terhadap keberanian mencoba, kejujuran, dan kemajuan setiap peserta. Ingat, tujuan KBMN bukan hanya menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi juga membangun kebiasaan menulis.

### 12\. Penutup: Teknologi boleh canggih, hati tetap menjadi kompas

Bapak dan Ibu guru hebat, masa depan pendidikan sedang berubah. AI akan terus berkembang, berbagai pekerjaan akan menjadi lebih mudah, dan cara kita memperoleh pengetahuan akan semakin beragam. Namun, perubahan itu tidak berarti guru kehilangan perannya.

Guru tetap dibutuhkan untuk menanamkan nilai, membangun karakter, memberikan teladan, serta menuntun siswa memahami makna pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Begitu pula dengan menulis. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sederhana hari ini. Bisa tentang siswa yang membuat kita tersenyum, kesalahan yang memberikan pelajaran, atau teknologi yang mengubah cara kita mengajar.

Dari pengalaman sederhana itulah lahir tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Mari kita jadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan pengganti pikiran. Jadikan teknologi sebagai alat untuk berkarya, bukan alasan untuk berhenti berusaha. Teruslah membaca, menulis, berbagi, dan menginspirasi.

Pesan Omjay untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35:

> “Masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan tentang seberapa bijaksana kita mendidik manusia. AI dapat membantu kita menulis lebih cepat, tetapi pengalaman, kejujuran, dan hati kitalah yang membuat tulisan menjadi bermakna.”

Mari kita tutup pertemuan ini dengan tiga semangat sederhana:

Belajar dengan gembira. Menulis dengan hati. Menggunakan AI dengan bijaksana.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.