Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 07 Juni 2026

Blog Mengubah Cara Siswa Belajar Menulis

Blog Mengubah Cara Siswa Belajar Menulis

Kisah Disertasi Omjay tentang Pengelolaan Blog Kolaboratif di Sekolah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Di era digital seperti sekarang, anak-anak sangat akrab dengan internet. Mereka setiap hari memegang handphone, membuka media sosial, menonton video YouTube, bermain game online, hingga berkomunikasi melalui aplikasi chat. Namun sayangnya, teknologi yang begitu canggih sering kali hanya digunakan untuk hiburan semata. Padahal, internet sebenarnya bisa menjadi alat belajar yang luar biasa bila dimanfaatkan dengan benar.

Hal inilah yang menginspirasi saya ketika melakukan penelitian disertasi doktoral di bidang teknologi pendidikan. Saya ingin membuktikan bahwa blog dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Dari pengalaman mengajar bertahun-tahun di sekolah, saya melihat banyak siswa sebenarnya memiliki ide yang bagus, tetapi kesulitan menuangkannya ke dalam tulisan. Mereka takut salah, malas menulis, dan merasa menulis adalah kegiatan yang membosankan.

Padahal, kemampuan menulis sangat penting untuk masa depan mereka. Menulis bukan hanya soal membuat karangan di sekolah, tetapi juga melatih cara berpikir, menyampaikan pendapat, dan membangun kreativitas. Karena itulah saya mencoba menghadirkan cara belajar baru melalui pengelolaan blog kolaboratif.

Penelitian ini dilakukan di SMP Labschool Jakarta dengan melibatkan ratusan siswa kelas VIII dan beberapa guru kolaborator. Kegiatan penelitian berlangsung pada masa pandemi Covid-19 ketika pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah masing-masing. Saat itu banyak guru mengalami kesulitan membuat pembelajaran online menjadi menarik. Interaksi guru dan siswa terasa sangat terbatas. Banyak siswa hanya hadir di kelas virtual tanpa benar-benar aktif belajar.

Saya kemudian memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Setiap siswa diminta membuat blog pribadi dan mengelolanya sendiri. Di blog itulah mereka menuliskan tugas-tugas sekolah, pengalaman pribadi, cerita inspiratif, hingga rangkuman pelajaran. Guru memberikan komentar positif pada tulisan siswa agar mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus menulis.

Hasilnya sungguh luar biasa.

Anak-anak yang awalnya malas menulis mulai menikmati kegiatan menulis di blog. Mereka merasa senang karena tulisan mereka bisa dibaca banyak orang, bukan hanya oleh guru di kelas. Ada rasa bangga ketika tulisan mendapatkan komentar dari teman atau pembaca lainnya. Bahkan beberapa siswa mulai kreatif menambahkan foto, video, dan desain menarik pada blog mereka.

Saya melihat perubahan besar dalam diri siswa. Mereka menjadi lebih percaya diri. Kemampuan menulis mereka meningkat dari waktu ke waktu. Tulisan yang awalnya pendek dan sederhana berubah menjadi lebih rapi, lebih panjang, dan lebih menarik dibaca. Blog ternyata bukan sekadar tempat menyimpan tugas sekolah, tetapi menjadi ruang kreativitas bagi siswa untuk mengekspresikan diri.

Yang lebih menarik lagi, kegiatan ini menciptakan kolaborasi antara guru dan siswa. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas, melainkan menjadi pendamping dan motivator. Guru membantu siswa menemukan ide tulisan, memperbaiki kesalahan, serta memberi semangat agar terus berkarya. Di sinilah pembelajaran kolaboratif benar-benar terjadi.

Saya juga menemukan bahwa blog mampu membangun budaya literasi digital di sekolah. Siswa belajar menggunakan internet secara positif. Mereka belajar bertanggung jawab terhadap tulisan yang dipublikasikan secara online. Mereka mulai memahami pentingnya kejujuran dalam berkarya dan menghindari plagiarisme atau copy paste.

Dalam penelitian ini, siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar berpikir kritis, belajar berkomunikasi, dan belajar memanfaatkan teknologi dengan bijak. Bahkan beberapa siswa berhasil membuat buku digital dari kumpulan tulisan mereka di blog. Sebuah pencapaian yang membanggakan untuk anak-anak SMP.

Sebagai guru, saya merasa sangat bahagia melihat perubahan tersebut. Saya semakin yakin bahwa setiap anak sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang bila diberikan ruang dan kesempatan. Terkadang yang mereka butuhkan hanyalah media yang tepat dan guru yang mau mendampingi dengan sabar.

Pengalaman penelitian ini juga memberikan pelajaran penting bagi saya pribadi. Dunia pendidikan harus terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Guru tidak boleh takut dengan teknologi. Justru teknologi harus dijadikan sahabat dalam pembelajaran. Blog hanyalah salah satu contoh sederhana bagaimana internet bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Saat ini menulis di blog menjadi semakin mudah. Anak-anak bisa menulis langsung dari handphone mereka. Mereka tidak harus memiliki laptop mahal untuk berkarya. Dengan koneksi internet dan kemauan belajar, siapa saja bisa menjadi penulis.

Saya percaya, bila budaya menulis terus dibangun sejak dini, maka akan lahir generasi yang lebih kreatif, kritis, dan berani menyampaikan gagasannya. Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan karya melalui teknologi tersebut.

Melalui disertasi ini saya ingin menyampaikan pesan sederhana kepada para guru di seluruh Indonesia: jangan pernah berhenti belajar dan mencoba hal baru. Jadikan teknologi sebagai jembatan untuk mendekatkan siswa pada dunia literasi. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membantu siswa menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Kini saya semakin yakin bahwa sebuah blog sederhana bisa mengubah cara siswa belajar menulis. Dari blog lahir keberanian, kreativitas, kolaborasi, dan semangat untuk terus belajar. Dan dari tulisan-tulisan kecil siswa hari ini, mungkin akan lahir penulis besar Indonesia di masa depan.

Salam literasi.

Universitas Negeri Jakarta
SMP Labschool Jakarta



Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Kebahagiaan Seorang Kakek

Kebahagiaan Seorang Kakek

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Hari ini, Ahad 7 Juni 2026, hati saya dipenuhi rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di hadapan saya berdiri seorang anak kecil yang lincah, lucu, dan selalu mampu menghadirkan senyum di wajah seluruh keluarga. Namanya Tanaya Faza Afisa, atau yang akrab kami panggil Tata.

Hari ini Tata genap berusia 2 tahun.

Di ruang sederhana yang dipenuhi tawa keluarga, kami berkumpul merayakan ulang tahunnya. Ada kue kecil di atas meja, ada dekorasi sederhana bertuliskan Happy Birthday 2, dan ada foto-foto perjalanan Tata sejak bayi yang tergantung di dinding. Semua tampak sederhana, tetapi bagi seorang kakek seperti saya, pemandangan itu terasa sangat luar biasa.

Saat melihat Tata berusaha mendekati kue ulang tahunnya dengan wajah polos dan penuh rasa ingin tahu, hati saya tiba-tiba teringat pada sebuah peristiwa besar dalam hidup saya.

Tepat empat tahun yang lalu.

7 Juni 2022.

Hari yang tidak pernah saya lupakan.

Hari ketika saya menjalani Ujian Terbuka Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Hari ketika perjuangan panjang selama delapan tahun akhirnya mencapai puncaknya.

Hari ketika saya resmi menyandang gelar doktor.

Ketika mengenang hari itu, saya masih bisa merasakan bagaimana jantung saya berdebar saat mempertahankan disertasi di hadapan para profesor penguji. Saya masih ingat bagaimana rasa cemas bercampur harap memenuhi pikiran saya.

Bertahun-tahun saya berjuang.

Bertahun-tahun saya menulis.

Bertahun-tahun saya bolak-balik antara tugas sebagai guru, keluarga, organisasi, dan kewajiban akademik.

Tidak mudah.

Ada saat-saat ketika saya hampir menyerah.

Ada saat-saat ketika tubuh terasa lelah.

Ada saat-saat ketika saya bertanya dalam hati, "Apakah saya mampu menyelesaikannya?"

Namun Allah SWT selalu menunjukkan jalan.

Dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar saya.

Istri saya yang setia mendampingi.

Anak-anak yang selalu memberi semangat.

Sahabat-sahabat yang mendoakan.

Para dosen pembimbing yang sabar membimbing.

Semua menjadi bagian dari perjalanan panjang itu.

Alhamdulillah.

Pada 7 Juni 2022, perjuangan itu berbuah manis.

Hari ini, empat tahun kemudian, tanggal yang sama kembali hadir dengan makna yang berbeda.

Bukan lagi tentang gelar akademik.

Bukan lagi tentang ujian terbuka.

Bukan lagi tentang disertasi.

Melainkan tentang seorang cucu yang tumbuh sehat dan bahagia.

Saya menyadari bahwa hidup memang penuh dengan kejutan yang indah.

Dulu saya bahagia karena berhasil meraih gelar doktor.

Kini saya bahagia karena melihat cucu saya tertawa.

Dulu saya berdiri di ruang sidang akademik.

Kini saya duduk di ruang keluarga.

Dulu saya mempertahankan disertasi.

Kini saya menikmati hasil perjuangan hidup bersama keluarga tercinta.

Dan ternyata kebahagiaan yang kedua terasa jauh lebih hangat.

Sebagai seorang kakek, saya mulai memahami bahwa usia bukan hanya soal bertambahnya angka.

Usia adalah kesempatan untuk melihat hasil dari perjalanan hidup yang panjang.

Melihat anak-anak tumbuh dewasa.

Melihat mereka membangun keluarga.

Melihat hadirnya cucu yang membawa warna baru dalam kehidupan.

Tata hadir membawa kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Setiap kali video call, hati saya berbunga-bunga.

Setiap kali mendengar suaranya memanggil, saya merasa lebih muda.

Setiap kali melihat senyumnya, segala lelah seakan menghilang.

Saya teringat ketika pertama kali menggendongnya saat masih bayi.

Tubuhnya kecil.

Tangannya mungil.

Tangisnya pelan.

Kini ia sudah berlari ke sana kemari.

Sudah mulai berbicara.

Sudah mulai mengenali orang-orang yang mencintainya.

Waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin saya mengantar anak-anak ke sekolah.

Kini saya sudah menjadi kakek.

Rasanya baru kemarin saya menyelesaikan studi doktor.

Kini saya menyaksikan cucu saya merayakan ulang tahun kedua.

Begitulah kehidupan.

Waktu tidak pernah berhenti.

Usia terus bertambah.

Namun kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada jabatan, gelar, atau harta yang dimiliki.

Kebahagiaan sejati adalah ketika kita dapat berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat.

Kebahagiaan sejati adalah ketika kita masih diberi kesempatan melihat orang-orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang.

Kebahagiaan sejati adalah ketika rumah dipenuhi tawa anak-anak.

Sebagai seorang yang pernah mengalami berbagai ujian hidup—mulai dari sakit, kecelakaan, hingga kehilangan orang-orang tercinta—saya semakin menyadari bahwa keluarga adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT.

Hari ini saya tidak meminta hadiah apa pun.

Saya hanya berdoa.

Ya Allah...

Jagalah cucuku Tanaya Faza Afisa.

Jadikan ia anak yang sehat.

Jadikan ia anak yang salehah.

Jadikan ia anak yang cerdas dan bermanfaat bagi sesama.

Lindungi langkah-langkahnya.

Mudahkan jalannya meraih cita-cita.

Dan izinkan kakeknya ini menyaksikan ia tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.

Saya juga berdoa agar Allah senantiasa menjaga keluarga kami dalam kasih sayang-Nya.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa banyak gelar yang kita miliki.

Bukan pula berapa banyak jabatan yang pernah kita raih.

Melainkan seberapa banyak cinta yang kita berikan kepada keluarga.

Foto sederhana ulang tahun Tata hari ini mengajarkan saya satu hal penting.

Bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan.

Kadang kebahagiaan hadir dalam sebuah kue kecil.

Dalam tawa seorang cucu.

Dalam pelukan keluarga.

Dalam rasa syukur yang memenuhi hati.

Selamat ulang tahun yang ke-2, cucuku tercinta Tanaya Faza Afisa (Tata).

Terima kasih telah menghadirkan kebahagiaan baru dalam hidup Kakek.

Dan terima kasih Ya Allah, karena pada tanggal yang sama, Engkau pernah menghadiahkan gelar doktor kepada saya, dan hari ini Engkau menghadiahkan senyum seorang cucu yang membuat hidup terasa jauh lebih bermakna.

Bekasi, 7 Juni 2026

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia dan Kakek yang Berbahagia ❤️

Ketika Kematian Datang Mengingatkan Kita

Kisah Omjay yang terinspirasi dari renungan pagi Ahad, 7 Juni 2026.

Ketika Kematian Datang Mengingatkan Kita

Renungan Pagi dalam Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Ahad pagi yang sejuk. Cahaya matahari perlahan menembus jendela rumah Omjay di Jatibening Indah, Bekasi. Seperti biasa, setelah shalat Subuh dan membaca beberapa ayat Al-Qur'an, Omjay membuka telepon genggamnya. Berbagai pesan WhatsApp masuk silih berganti. Ada informasi pendidikan, kabar teman, undangan kegiatan, hingga sebuah renungan yang membuat hati Omjay terdiam cukup lama.

Renungan itu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

"Pertandingan bola 90 menit. Film serial 60 menit. Film bioskop 130 menit. Shalat hanya 5 menit."

Kalimat itu seolah mengetuk hati Omjay yang selama ini sering merasa waktu berjalan begitu cepat. Kita mampu duduk berjam-jam menonton pertandingan sepak bola. Kita mampu menghabiskan waktu berjam-jam menonton serial favorit. Bahkan tanpa terasa kita bisa berlama-lama memainkan telepon genggam.

Namun ketika adzan berkumandang, terkadang kita merasa berat meninggalkan aktivitas dunia hanya untuk beberapa menit menghadap Allah SWT.

Omjay teringat perjalanan hidupnya yang tidak selalu mudah.

Pada tahun-tahun terakhir ini, Allah beberapa kali mengingatkan Omjay melalui sakit. Pernah mengalami vertigo hebat, hipertensi, diabetes, hingga gejala yang menyerupai stroke. Saat tubuh tiba-tiba melemah dan tangan sulit digerakkan, Omjay benar-benar merasakan betapa rapuhnya manusia.

Ketika berada di ruang perawatan rumah sakit, tidak ada jabatan yang menemani. Tidak ada gelar akademik yang mampu mengurangi rasa sakit. Tidak ada popularitas yang dapat menggantikan kesehatan.

Yang tersisa hanyalah doa, dzikir, dan harapan kepada Allah SWT.

Saat itu Omjay mulai memahami bahwa hidup ini sesungguhnya sangat singkat.

Banyak sahabat yang dahulu bercanda bersama kini telah mendahului. Bahkan kakak kandung Omjay tercinta wafat pada Mei 2026. Kepergian beliau menjadi pelajaran berharga bahwa kematian tidak pernah menunggu usia tua.

Sering kali kita berkata, "Nanti saja bertobat kalau sudah tua."

Padahal siapa yang bisa menjamin kita sampai pada usia tua?

Kuburan bukan hanya milik orang yang berusia 70 atau 80 tahun. Kuburan juga menerima anak muda, remaja, bahkan bayi yang baru lahir.

Kematian tidak pernah bertanya apakah kita sudah siap atau belum.

Kematian datang tepat pada waktunya.

Renungan pagi itu juga mengingatkan Omjay tentang hakikat pertemanan.

Di WhatsApp mungkin kita memiliki ratusan bahkan ribuan kontak.

Di media sosial mungkin kita mempunyai ribuan pengikut.

Di lingkungan sekitar kita dikenal banyak orang.

Namun ketika masa sulit datang, sering kali hanya segelintir orang yang benar-benar hadir membantu.

Dan ketika kita meninggal dunia?

Yang mengantar sampai pemakaman biasanya keluarga dan beberapa sahabat dekat.

Setelah liang lahat ditutup, semua pulang.

Tinggallah kita seorang diri menghadapi alam kubur.

Saat merenungkan hal tersebut, Omjay teringat banyak peristiwa saat menghadiri pemakaman sahabat, guru, kerabat, dan keluarga.

Tangisan terdengar.

Doa dipanjatkan.

Bunga ditaburkan.

Namun setelah semuanya selesai, kehidupan kembali berjalan seperti biasa.

Dunia tidak berhenti karena kematian seseorang.

Maka pertanyaannya adalah:

Apa bekal yang kita bawa ketika meninggalkan dunia ini?

Harta tidak ikut.

Jabatan tidak ikut.

Kendaraan tidak ikut.

Rumah mewah tidak ikut.

Yang ikut hanyalah amal kebaikan.

Karena itulah Omjay semakin memahami mengapa para ulama selalu mengingatkan pentingnya membaca Al-Qur'an.

Al-Qur'an bukan sekadar bacaan.

Al-Qur'an adalah petunjuk hidup.

Al-Qur'an adalah cahaya di tengah kegelapan.

Al-Qur'an adalah sahabat yang akan menemani hingga alam kubur.

Betapa sedihnya jika mushaf Al-Qur'an di rumah kita dipenuhi debu karena jarang dibuka.

Betapa ruginya jika setiap hari kita mampu membaca ratusan pesan WhatsApp tetapi tidak sempat membaca beberapa ayat Al-Qur'an.

Padahal membaca satu huruf Al-Qur'an saja bernilai pahala.

Renungan tersebut juga mengingatkan Omjay bahwa dunia hanya terdiri dari tiga hari.

Hari kemarin.

Hari ini.

Dan hari esok.

Hari kemarin telah berlalu dan tidak mungkin kembali.

Semua kesalahan, kegagalan, dan penyesalan tidak dapat diulang.

Hari ini adalah kesempatan yang Allah berikan.

Kesempatan untuk memperbaiki diri.

Kesempatan untuk meminta maaf.

Kesempatan untuk berbuat baik.

Kesempatan untuk bersedekah.

Kesempatan untuk memperbanyak ibadah.

Sedangkan hari esok?

Tidak ada seorang pun yang mengetahui apakah ia masih diberi kesempatan hidup atau tidak.

Karena itulah Omjay belajar untuk tidak menunda kebaikan.

Jika bisa membantu hari ini, bantulah.

Jika bisa meminta maaf hari ini, mintalah.

Jika bisa bersedekah hari ini, bersedekahlah.

Jika bisa membaca Al-Qur'an hari ini, bacalah.

Jangan menunggu nanti.

Sebab belum tentu nanti itu datang.

Di usia yang kini telah melewati setengah abad, Omjay semakin menyadari bahwa kehidupan bukan tentang siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling berkuasa.

Kehidupan adalah tentang bagaimana kita mempersiapkan perjalanan pulang kepada Sang Pencipta.

Semoga Allah SWT memberikan kepada kita semua hati yang lembut untuk menerima nasihat, kekuatan untuk memperbaiki diri, dan kesempatan untuk terus beramal saleh hingga akhir hayat.

Mari saling memaafkan.

Mari saling mendoakan.

Mari memperbanyak sedekah dan amal kebaikan.

Karena suatu hari nanti, aku, engkau, dan mereka akan pergi meninggalkan dunia ini.

Dan ketika saat itu tiba, semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita husnul khatimah, memasukkan kita ke dalam surga-Nya, serta menjauhkan kita dari siksa api neraka.

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

---

Omjay – Guru Blogger Indonesia

Mari terus menulis, berbagi, dan menginspirasi dengan hati.

Kunjungi blog Omjay di:

๐ŸŒ https://wijayalabs.com

Sabtu, 06 Juni 2026

Pensiun Bukan Akhir Perjalanan

Pensiun Bukan Akhir Perjalanan, Melainkan Awal Babak Kehidupan yang Baru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Suatu hari seorang sahabat menghubungi Omjay. Dengan suara yang hangat ia berkata, “Omjay, coba tuliskan tentang persiapan menjelang pensiun. Banyak teman yang mulai cemas menghadapi masa purna tugas.”

Permintaan itu membuat Omjay termenung cukup lama.

Pikiran Omjay langsung melayang kepada tiga sahabat guru di SMP Labschool Jakarta yang baru saja memasuki masa pensiun. Mereka adalah Pak Dedi Hadi Riski, Ibu Siti Johariah, dan Ibu Titin Setiawati.

Ketiganya telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan. Puluhan tahun mereka datang ke sekolah pagi-pagi, menyiapkan pembelajaran, mendidik siswa dengan penuh kesabaran, menghadiri rapat, mengoreksi tugas, dan menjalani berbagai dinamika kehidupan seorang guru.

Namun yang membuat Omjay kagum, ketika tiba waktunya memasuki masa pensiun, mereka tidak tampak sedih.

Sebaliknya, mereka terlihat bahagia.

Wajah mereka memancarkan ketenangan.

Mereka tersenyum lebih lepas.

Mereka menikmati hari-hari yang datang dengan rasa syukur.

Melihat mereka, Omjay belajar bahwa pensiun bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Ketakutan yang Sering Menghantui

Banyak orang merasa cemas ketika mendekati masa pensiun.

Ada yang khawatir kehilangan penghasilan.

Ada yang takut kehilangan jabatan.

Ada yang takut kehilangan kesibukan.

Bahkan ada yang merasa dirinya tidak lagi berguna setelah tidak bekerja.

Padahal sesungguhnya yang berakhir hanyalah masa tugas formal.

Bukan kehidupan.

Bukan karya.

Bukan pengabdian.

Bukan pula kesempatan untuk memberi manfaat.

Sayangnya, banyak orang terlalu lama mengidentikkan dirinya dengan pekerjaannya.

Ketika menjadi guru, ia merasa dirinya adalah guru.

Ketika menjadi kepala sekolah, ia merasa dirinya adalah kepala sekolah.

Ketika menjadi pejabat, ia merasa dirinya adalah pejabat.

Akibatnya ketika jabatan itu selesai, ia merasa kehilangan identitas.

Di sinilah sumber kecemasan terbesar menjelang pensiun.

Padahal nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh jabatannya.

Nilai seseorang ditentukan oleh manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Belajar dari Tiga Sahabat

Omjay melihat sendiri bagaimana Pak Dedi Hadi Riski menjalani masa pensiunnya dengan penuh syukur.

Beliau tidak sibuk meratapi masa lalu.

Beliau justru menikmati waktu bersama keluarga yang selama ini mungkin terbagi dengan kesibukan pekerjaan.

Begitu pula Ibu Siti Johariah.

Beliau tampak menikmati kehidupannya dengan hati yang lapang.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada penyesalan.

Yang ada hanyalah rasa syukur karena telah menyelesaikan amanah dengan baik.

Ibu Titin Setiawati pun demikian.

Beliau memasuki masa purna tugas dengan senyum yang tulus.

Seolah ingin mengatakan bahwa pensiun hanyalah perpindahan ruang pengabdian.

Dari sekolah menuju masyarakat.

Dari ruang kelas menuju keluarga.

Dari jadwal kantor menuju kebebasan memilih aktivitas yang dicintai.

Melihat mereka bertiga, Omjay semakin yakin bahwa kebahagiaan masa pensiun bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh cara berpikir.

Menyiapkan Pensiun Sejak Masih Aktif Bekerja

Salah satu kesalahan terbesar adalah baru memikirkan pensiun ketika surat pensiun sudah keluar.

Padahal persiapan pensiun harus dimulai jauh-jauh hari.

Tidak hanya persiapan keuangan.

Tetapi juga persiapan mental.

Persiapan spiritual.

Dan persiapan aktivitas.

Keuangan memang penting.

Namun uang saja tidak cukup membuat seseorang bahagia.

Banyak pensiunan yang berkecukupan secara materi tetapi tetap merasa kesepian.

Mengapa?

Karena mereka kehilangan tujuan hidup.

Oleh sebab itu, setiap orang perlu memiliki kegiatan yang dicintai.

Ada yang menulis.

Ada yang berkebun.

Ada yang mengajar masyarakat.

Ada yang berbisnis.

Ada yang aktif di organisasi sosial.

Ada pula yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Yang terpenting adalah tetap memiliki alasan untuk bangun pagi dengan penuh semangat.

Menulis Menjadi Teman Masa Pensiun

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay percaya bahwa menulis adalah sahabat terbaik menjelang dan setelah pensiun.

Tulisan mampu menjaga pikiran tetap aktif.

Tulisan membuat pengalaman hidup tidak hilang begitu saja.

Tulisan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bayangkan jika pengalaman mengajar selama puluhan tahun hanya tersimpan di dalam ingatan.

Suatu saat semuanya akan terlupakan.

Namun ketika dituliskan, pengalaman itu akan hidup lebih lama daripada usia penulisnya.

Karena itulah Omjay selalu mengajak para guru untuk mulai menulis sejak sekarang.

Jangan menunggu pensiun.

Mulailah hari ini.

Tuliskan pengalaman mengajar.

Tuliskan kisah siswa.

Tuliskan pelajaran hidup.

Tuliskan perjalanan karier.

Kelak tulisan-tulisan itu bisa menjadi buku yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Pensiun Adalah Hadiah

Dulu Omjay pernah berpikir bahwa pensiun adalah akhir perjalanan.

Namun semakin bertambah usia, Omjay justru melihat pensiun sebagai hadiah.

Hadiah berupa waktu.

Hadiah berupa kebebasan.

Hadiah berupa kesempatan menikmati hidup dengan ritme yang lebih tenang.

Selama puluhan tahun kita bekerja mengikuti jadwal.

Bangun pagi.

Berangkat kerja.

Pulang sore.

Mengulang rutinitas yang sama.

Ketika pensiun datang, Allah memberikan kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda.

Kita bisa lebih dekat dengan keluarga.

Lebih sering beribadah.

Lebih banyak membaca.

Lebih banyak menulis.

Lebih banyak berbagi pengalaman kepada generasi muda.

Bukankah itu sebuah nikmat yang luar biasa?

Jangan Takut Menjadi Tua

Setiap manusia pasti akan menua.

Setiap pekerja pasti akan pensiun.

Itu adalah hukum kehidupan yang tidak bisa ditolak.

Yang perlu kita lakukan bukanlah takut menghadapinya.

Melainkan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Omjay teringat sebuah kalimat bijak:

"Jangan ukur hidup dari berapa lama kita bekerja, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan."

Ketika masa pensiun tiba, sesungguhnya yang dihitung bukan lagi berapa jabatan yang pernah kita pegang.

Bukan berapa besar ruangan kerja yang pernah kita miliki.

Bukan berapa banyak penghargaan yang pernah kita terima.

Yang dikenang orang adalah kebaikan kita.

Ketulusan kita.

Dan manfaat yang pernah kita berikan.

Penutup

Melihat Pak Dedi Hadi Riski, Ibu Siti Johariah, dan Ibu Titin Setiawati memasuki masa pensiun dengan wajah penuh kebahagiaan membuat Omjay belajar satu hal penting.

Pensiun bukan akhir kehidupan.

Pensiun adalah awal dari babak baru yang mungkin justru lebih indah.

Karena itu jangan menyambut pensiun dengan ketakutan.

Sambutlah dengan rasa syukur.

Jangan menganggap pensiun sebagai kehilangan.

Anggaplah sebagai kesempatan.

Kesempatan untuk menikmati hasil perjuangan panjang.

Kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga.

Kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

Dan kesempatan untuk terus berkarya tanpa dibatasi oleh jam kerja.

Sebab sejatinya manusia tidak pernah pensiun untuk berbuat baik.

Selama napas masih berembus, selama hati masih berdetak, dan selama pikiran masih bekerja, selalu ada cara untuk memberi manfaat kepada sesama.

Itulah pensiun yang sesungguhnya.

Bukan berhenti berkarya.

Melainkan berkarya dengan cara yang berbeda.

Kasta Tertinggi Seorang Guru

Resensi Buku

KASTA TERTINGGI SEORANG GURU

Ketika Mengajar Menjadi Ibadah, Menulis Menjadi Warisan, dan Murid Menjadi Amal Jariyah

Judul: Kasta Tertinggi Seorang Guru
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Tebal: 200 Halaman
Penerbit: Literasi Nusantara
ISBN: Dalam Proses
Kategori: Pendidikan, Motivasi, Autobiografi, Literasi

Guru Sejati Tidak Pernah Pensiun dari Pengabdiannya

Di tengah derasnya arus teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan dunia pendidikan yang begitu cepat, hadir sebuah buku yang mengingatkan kita pada hakikat seorang guru. Buku berjudul "Kasta Tertinggi Seorang Guru" karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) bukan sekadar buku pendidikan biasa. Buku setebal 200 halaman ini adalah catatan perjalanan hidup, refleksi pengabdian, dan warisan pemikiran seorang guru yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari tiga dekade di SMP Labschool Jakarta.

Ketika pertama kali membaca judulnya, mungkin sebagian orang akan bertanya, "Apa sebenarnya kasta tertinggi seorang guru?" Apakah menjadi kepala sekolah? Pengawas? Profesor? Atau pejabat pendidikan?

Melalui buku ini, Omjay memberikan jawaban yang sederhana tetapi sangat mendalam. Kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan yang disandangnya, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berubah karena ilmu yang dibagikannya.

Kalimat tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh isi buku.

Perjalanan 34 Tahun yang Menginspirasi

Buku ini disusun berdasarkan pengalaman nyata Omjay selama 34 tahun menjadi guru. Pembaca diajak menyusuri perjalanan hidup seorang guru dari masa muda hingga menjadi sosok yang dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia.

Omjay tidak hanya bercerita tentang keberhasilan. Ia juga membuka lembaran-lembaran kehidupannya yang penuh perjuangan, kegagalan, sakit, kehilangan, dan proses belajar yang tidak pernah berhenti.

Kisah-kisah yang ditulis terasa hidup karena lahir dari pengalaman nyata. Pembaca akan menemukan cerita tentang hari pertama mengajar, menghadapi murid-murid dengan karakter yang beragam, membangun hubungan dengan orang tua siswa, hingga menyaksikan murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang sukses.

Keunggulan buku ini adalah kejujuran penulis dalam bercerita. Tidak ada kesan menggurui. Omjay menempatkan dirinya sebagai seorang pembelajar yang terus berkembang bersama murid-muridnya.

Menulis yang Mengubah Takdir

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah kisah perjalanan Omjay sebagai penulis.

Banyak guru menganggap menulis sebagai pekerjaan yang sulit. Namun Omjay membuktikan bahwa menulis dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kemauan belajar dan konsistensi.

Melalui blog yang dikelolanya selama bertahun-tahun, Omjay berhasil mendokumentasikan ribuan pengalaman hidup dan pendidikan. Tulisan-tulisan itulah yang kemudian menjadi sumber inspirasi bagi banyak guru di Indonesia.

Dalam buku ini, pembaca akan menemukan berbagai pelajaran berharga tentang:

  • Pentingnya menulis setiap hari.
  • Blog sebagai alat rekam kehidupan.
  • Menulis sebagai sarana refleksi diri.
  • Menulis untuk berbagi manfaat.
  • Menulis sebagai warisan abadi.

Pesan yang sangat kuat dari buku ini adalah bahwa guru yang menulis akan hidup lebih lama melalui karya-karyanya.

Pendidikan di Era Artificial Intelligence

Buku ini juga sangat relevan dengan perkembangan zaman karena membahas dunia pendidikan di era AI.

Sebagai guru Informatika, Omjay memiliki pandangan yang seimbang terhadap perkembangan teknologi. Ia tidak memandang AI sebagai ancaman, tetapi juga tidak memujanya secara berlebihan.

Menurut Omjay, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya tetap manusia.

Dalam beberapa bab, pembaca diajak memahami bagaimana guru dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Pesan penting yang berulang kali muncul dalam buku ini adalah:

"AI boleh membantu menulis, tetapi hati manusialah yang memberi makna pada tulisan."

Pandangan tersebut menjadi sangat relevan di tengah maraknya penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan.

Ketika Guru Diuji Kehidupan

Bagian yang paling menyentuh hati terdapat pada bab-bab akhir buku.

Omjay menuliskan pengalaman pribadinya ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan, mulai dari masalah kesehatan, kecelakaan, kehilangan orang-orang tercinta, hingga perjuangan bangkit kembali setelah sakit.

Kisah tentang hipertensi, diabetes, vertigo, hingga serangan yang menyerupai stroke tidak ditulis dengan nada keluhan. Sebaliknya, semua pengalaman itu menjadi sumber pembelajaran tentang pentingnya bersyukur dan menjaga kesehatan.

Pembaca akan merasakan bahwa buku ini bukan hanya berbicara tentang profesi guru, tetapi juga tentang perjalanan menjadi manusia yang lebih baik.

Banyak bagian yang mampu mengaduk emosi dan membuat pembaca merenung tentang arti kehidupan.

Kelebihan Buku

Beberapa kelebihan buku ini antara lain:

1. Ditulis dari Pengalaman Nyata

Seluruh isi buku berasal dari pengalaman langsung penulis sehingga terasa autentik dan menyentuh.

2. Bahasa Ringan dan Mengalir

Omjay menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

3. Kaya Nilai Pendidikan

Buku ini mengandung banyak pelajaran tentang pendidikan, karakter, kepemimpinan, dan kehidupan.

4. Relevan dengan Zaman

Pembahasan tentang AI dan literasi digital menjadikan buku ini sangat aktual.

5. Inspiratif dan Memotivasi

Setiap bab menghadirkan semangat baru bagi pembaca untuk terus belajar dan berkarya.

Kekurangan Buku

Jika ada kekurangan, mungkin karena banyaknya kisah inspiratif yang disajikan membuat pembaca ingin mendapatkan cerita yang lebih panjang pada beberapa bagian tertentu. Namun justru hal itu menunjukkan bahwa buku ini mampu membangun kedekatan emosional dengan pembacanya.

Layak Dibaca oleh Siapa?

Buku ini sangat direkomendasikan untuk:

  • Guru dan tenaga pendidik.
  • Kepala sekolah.
  • Dosen dan mahasiswa pendidikan.
  • Pegiat literasi.
  • Orang tua.
  • Pelajar dan mahasiswa.
  • Siapa saja yang ingin memahami makna pengabdian.

Kesimpulan

"Kasta Tertinggi Seorang Guru" bukan sekadar buku tentang profesi guru. Buku ini adalah refleksi kehidupan yang ditulis dengan hati oleh seorang guru yang telah mengabdikan dirinya selama 34 tahun di dunia pendidikan.

Melalui 200 halaman yang sarat inspirasi, Omjay mengajak pembaca memahami bahwa ukuran kesuksesan seorang guru bukanlah jabatan, pangkat, atau penghargaan yang diraih, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya.

Buku ini mengajarkan bahwa mengajar adalah ibadah, menulis adalah warisan, dan murid adalah amal jariyah yang akan terus mengalirkan pahala bahkan ketika seorang guru telah tiada.

Sebuah buku yang layak dibaca, dimiliki, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Nilai Resensi: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

"Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi pengaruhnya akan terus hidup dalam hati murid-muridnya."Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay).


Menjadi Sehat Kembali Dengan Senam Ling Tien Kung

Menemukan Kembali Semangat Hidup Bersama Senam Ling Tien Kung

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Setiap hari Sabtu pagi, ketika sebagian orang masih menikmati hangatnya tempat tidur, Omjay sudah bersiap menuju lapangan Blok A Jatibening Indah, Bekasi. Udara pagi yang sejuk, suara burung yang bernyanyi, serta senyum hangat para peserta senam menjadi penyemangat tersendiri untuk memulai hari.

Di lapangan sederhana itu terpampang sebuah spanduk bertuliskan "Sasana Dharma Samudera Ling Tien Kung", sebuah komunitas yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Omjay untuk kembali sehat setelah mengalami berbagai ujian kesehatan.

Banyak orang mungkin mengenal Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia yang aktif menulis setiap hari. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa beberapa tahun terakhir Omjay harus berjuang melawan berbagai penyakit, mulai dari diabetes, hipertensi, vertigo, hingga gejala yang menyerupai serangan stroke.

Pengalaman itu mengubah cara pandang Omjay tentang kesehatan.

Ketika Tubuh Memberi Peringatan

Awalnya Omjay termasuk orang yang sangat sibuk.

Pagi mengajar di sekolah, siang mengikuti kegiatan organisasi, malam menulis artikel, dan akhir pekan menghadiri seminar atau pelatihan.

Tubuh terasa kuat sehingga sering kali mengabaikan tanda-tanda kelelahan.

Hingga suatu hari kesehatan mulai terganggu.

Tekanan darah naik.

Gula darah meningkat.

Vertigo datang tanpa diundang.

Bahkan pada bulan Maret 2026, saat perjalanan mudik ke Bandung, Omjay mengalami kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Tangan kanan sulit digerakkan dan mulut terasa terkunci. Gejalanya sangat mirip dengan stroke.

Saat itu Omjay benar-benar merasakan betapa berharganya kesehatan.

Ketika tubuh tidak lagi mampu bekerja sebagaimana mestinya, jabatan, harta, dan kesibukan terasa tidak berarti.

Yang paling penting adalah sehat.

Sejak saat itulah Omjay mulai serius mencari cara untuk memperbaiki kualitas hidup.

Selain menjalani pengobatan dari dokter, mengatur pola makan, dan mengonsumsi obat secara teratur, Omjay juga mencari olahraga yang aman dan sesuai dengan kondisi kesehatan.

Pilihan itu akhirnya jatuh kepada Senam Ling Tien Kung.

Mengenal Sejarah Ling Tien Kung

Ling Tien Kung berasal dari Indonesia dan dikembangkan oleh Master H. Gerson Poyk, seorang praktisi kesehatan yang memiliki kepedulian besar terhadap kesehatan masyarakat.

Nama Ling Tien Kung berasal dari bahasa Tionghoa.

  • Ling berarti spiritual atau jiwa.
  • Tien berarti langit.
  • Kung berarti latihan atau keterampilan.

Secara sederhana, Ling Tien Kung dapat dimaknai sebagai latihan yang menyelaraskan tubuh, pikiran, dan energi kehidupan.

Senam ini mulai dikenal luas karena menawarkan metode latihan yang sederhana, mudah dipelajari, dan dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia.

Berbeda dengan olahraga berat yang membutuhkan tenaga besar, Ling Tien Kung lebih menekankan pada:

  • Peregangan tubuh.
  • Pengaturan pernapasan.
  • Pelemasan persendian.
  • Aktivasi energi tubuh.
  • Relaksasi pikiran.

Banyak peserta mengaku merasakan manfaat setelah rutin mengikuti latihan, seperti tubuh lebih segar, tidur lebih nyenyak, nyeri berkurang, dan kualitas hidup meningkat.

Karena gerakannya relatif ringan, senam ini banyak diikuti oleh lansia maupun mereka yang sedang dalam masa pemulihan kesehatan.

Terapi Tanpa Obat, Tanpa Alat, Tanpa Pijat

Salah satu slogan yang menarik perhatian Omjay ketika pertama kali melihat spanduk Ling Tien Kung adalah:

"Tanpa Obat – Tanpa Alat – Tanpa Pijat."

Tentu saja slogan ini bukan berarti menggantikan pengobatan medis.

Namun lebih kepada ajakan agar tubuh diberi kesempatan untuk mengoptimalkan kemampuan alaminya dalam menjaga kesehatan.

Tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme penyembuhan yang luar biasa.

Ketika otot-otot diregangkan dengan benar, aliran darah menjadi lebih lancar.

Ketika pernapasan diatur dengan baik, oksigen yang masuk ke tubuh meningkat.

Ketika pikiran lebih tenang, hormon stres menurun.

Semua itu membantu tubuh bekerja lebih optimal.

Inilah yang dirasakan Omjay selama mengikuti latihan Ling Tien Kung.

Pengalaman Omjay Mengikuti Ling Tien Kung

Awalnya Omjay datang hanya karena ingin mencoba.

Namun setelah beberapa kali mengikuti latihan, Omjay mulai merasakan perubahan.

Tubuh yang biasanya kaku di pagi hari menjadi lebih ringan.

Leher dan bahu yang sering tegang mulai terasa nyaman.

Tidur menjadi lebih berkualitas.

Yang paling penting, semangat hidup kembali tumbuh.

Setiap Sabtu pagi Omjay bertemu banyak teman baru.

Ada pensiunan, guru, pegawai, ibu rumah tangga, hingga anggota TNI AL yang ikut berlatih bersama.

Mereka datang dengan tujuan yang sama.

Yaitu ingin hidup sehat.

Suasana kekeluargaan yang hangat membuat latihan terasa menyenangkan.

Tidak ada persaingan.

Tidak ada tuntutan.

Semua saling mendukung.

Kadang setelah latihan, peserta berbincang santai sambil berbagi pengalaman kesehatan.

Dari sanalah Omjay belajar bahwa banyak orang sedang berjuang melawan penyakit yang berbeda-beda.

Namun mereka tidak menyerah.

Mereka memilih bergerak.

Mereka memilih berusaha.

Mereka memilih berharap.

Kesehatan Adalah Investasi Terbaik

Pengalaman sakit mengajarkan Omjay sebuah pelajaran berharga.

Kita sering bekerja keras mencari uang.

Namun lupa menjaga kesehatan.

Padahal ketika sakit datang, uang yang telah dikumpulkan bisa habis untuk biaya pengobatan.

Karena itu menjaga kesehatan bukanlah pengeluaran.

Melainkan investasi.

Ling Tien Kung mengingatkan Omjay bahwa menjaga kesehatan tidak harus mahal.

Cukup meluangkan waktu.

Cukup menggerakkan tubuh.

Cukup menjaga pola hidup.

Dan yang terpenting, tetap bersyukur.

Menjadi Pribadi yang Lebih Bersyukur

Setelah mengalami berbagai ujian kesehatan, Omjay semakin menyadari bahwa setiap tarikan napas adalah nikmat yang luar biasa.

Dulu mungkin Omjay sering mengeluh karena macet, pekerjaan menumpuk, atau target yang belum tercapai.

Kini Omjay lebih banyak bersyukur.

Bersyukur masih bisa berjalan.

Bersyukur masih bisa mengajar.

Bersyukur masih bisa menulis.

Bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Dan bersyukur masih bisa mengikuti senam Ling Tien Kung setiap Sabtu pagi.

Bagi Omjay, Ling Tien Kung bukan sekadar senam.

Ia adalah perjalanan menuju kesehatan yang lebih baik.

Ia adalah sarana mempererat persaudaraan.

Ia adalah pengingat bahwa tubuh harus dirawat sebelum terlambat.

Penutup

Jika ada satu pelajaran yang ingin Omjay bagikan kepada para pembaca, pelajaran itu adalah:

Jangan menunggu sakit untuk mulai hidup sehat.

Luangkan waktu untuk berolahraga.

Jaga pola makan.

Istirahat yang cukup.

Kelola stres.

Dan temukan komunitas positif yang dapat mendukung perjalanan kesehatan Anda.

Omjay mungkin pernah jatuh karena penyakit.

Namun Omjay memilih untuk bangkit.

Melangkah perlahan.

Menggerakkan tubuh setiap Sabtu pagi bersama sahabat-sahabat Ling Tien Kung di Lapangan Blok A Jatibening Indah Bekasi.

Karena kesehatan bukanlah tujuan akhir.

Kesehatan adalah kendaraan yang mengantarkan kita untuk terus berkarya, menginspirasi, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Salam sehat, salam literasi, dan salam bahagia dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Dapatkan Buku Terbaru Omjay!

๐Ÿ“š BUKU TERBARU OMJAY SUDAH TERBIT!

"Menulislah dengan Hati: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi"

Buku ini berisi kisah nyata perjalanan Omjay selama lebih dari 30 tahun menjadi guru, pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, semangat literasi, serta cara menulis dengan hati di era AI.

Jika Anda guru, dosen, mahasiswa, pelajar, atau pegiat literasi, buku ini wajib dimiliki.

Karena tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya. ❤️

Pesan sekarang:
๐Ÿ‘‰ https://wijayalabs.com/2026/06/05/mau-pesan-buku-terbaru-omjay-2/

Jangan sampai kehabisan. Yuk miliki bukunya sekarang juga!

Belajar Pantun di KBMN PGRI

Belajar Pantun Bersama KBMN 34: Ketika Omjay Kembali Jatuh Cinta pada Pantun

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Malam itu, seperti biasa, Omjay membuka grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34. Satu per satu peserta mulai mengumpulkan resume hasil belajar mereka dari pertemuan ke-20. Tema yang dibahas kali ini terasa berbeda dibandingkan tema-tema sebelumnya. Jika biasanya peserta belajar menulis artikel, buku, blog, atau memanfaatkan AI untuk menulis, kali ini mereka diajak kembali mengenal salah satu warisan budaya bangsa yang sangat kaya makna, yaitu pantun.

Ketika membaca daftar resume yang masuk, hati Omjay terasa hangat. Ada tulisan dari Hayatunnufus dengan judul Saatnya Jatuh Cinta pada Pantun, Sa’diyah dengan tulisan Kaidah Pantun, Hanifah dengan Pantun Oh Pantun, dan Anis Solihah yang menulis Membuka Mata Melalui Pantun.

Keempat tulisan itu memiliki gaya yang berbeda, tetapi menyampaikan pesan yang sama: pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, melainkan warisan budaya yang sarat nilai, nasihat, kreativitas, dan pendidikan karakter.

Saat membaca resume-resume tersebut dalam perjalanan menuju sekolah menggunakan kereta LRT dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas, Omjay tersenyum sendiri. Ingatan masa kecil kembali hadir. Dulu, ketika Omjay masih duduk di bangku sekolah dasar, pantun sering menjadi bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia. Guru meminta murid membuat pantun nasihat, pantun jenaka, atau pantun persahabatan.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, pantun mulai jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak lebih akrab dengan media sosial, video pendek, dan berbagai bentuk komunikasi instan. Padahal, pantun memiliki kekuatan luar biasa untuk melatih kreativitas berbahasa.

Tulisan Hayatunnufus mengajak pembacanya untuk kembali jatuh cinta pada pantun. Menurutnya, pantun bukan hanya milik masa lalu. Pantun tetap relevan digunakan saat ini karena mampu menyampaikan pesan dengan cara yang santun, indah, dan menyenangkan. Omjay sangat setuju dengan pendapat tersebut.

Di tengah maraknya komentar kasar di media sosial, pantun justru mengajarkan cara berkomunikasi dengan penuh etika. Kritik bisa disampaikan melalui pantun. Nasihat bisa diberikan melalui pantun. Bahkan ungkapan kasih sayang pun dapat dibungkus dengan pantun yang menarik.

Sementara itu, Sa’diyah mengingatkan pentingnya memahami kaidah pantun. Pantun memiliki aturan yang khas, yaitu terdiri atas empat baris, bersajak a-b-a-b, memiliki sampiran dan isi, serta jumlah suku kata yang relatif seimbang.

Melalui tulisannya, Omjay kembali menyadari bahwa menulis pantun sebenarnya melatih kemampuan berpikir sistematis. Kita tidak hanya menyusun kata-kata yang indah, tetapi juga harus memperhatikan struktur, irama, dan makna.

Dalam dunia pendidikan modern yang menekankan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, pantun ternyata memiliki peran yang sangat penting.

Tulisan Hanifah yang berjudul Pantun Oh Pantun membawa Omjay pada kesadaran lain. Pantun memiliki daya tarik karena sifatnya yang ringan dan menyenangkan. Banyak orang merasa takut menulis artikel panjang, tetapi mereka lebih percaya diri ketika diminta membuat pantun.

Dari sebuah pantun sederhana, seseorang dapat mulai belajar menulis. Ia belajar memilih kata yang tepat. Ia belajar menyusun kalimat yang efektif. Ia belajar menyampaikan pesan secara ringkas namun bermakna.

Omjay teringat perjalanan panjangnya sebagai penulis. Semua penulis besar memulai langkah dari tulisan-tulisan sederhana. Tidak ada yang langsung mampu menulis buku tebal dalam semalam. Semuanya berawal dari keberanian merangkai kata demi kata.

Karena itu, pantun dapat menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis.

Tulisan Anis Solihah yang berjudul Membuka Mata Melalui Pantun memberikan perspektif yang menarik. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan refleksi kehidupan.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia menggunakan pantun untuk menyampaikan pesan moral. Melalui pantun, orang tua mengajarkan sopan santun kepada anak-anak. Melalui pantun, para tokoh masyarakat menyampaikan petuah kepada generasi muda.

Pantun menjadi media pendidikan karakter yang sangat efektif karena pesannya disampaikan secara halus dan mudah diingat.

Semakin lama membaca resume para peserta KBMN, semakin Omjay yakin bahwa pantun masih memiliki tempat penting di era digital.

Bahkan di tengah hadirnya kecerdasan buatan (AI), pantun tetap membutuhkan sentuhan rasa manusia. AI mungkin mampu membuat pantun dengan cepat, tetapi hanya manusia yang mampu memberikan pengalaman hidup, emosi, dan makna mendalam di balik setiap bait pantun.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi budaya jangan sampai hilang.

Pantun adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Jika generasi muda berhenti mengenalnya, maka kita kehilangan salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga.

Melalui KBMN PGRI Gelombang 34, para peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga ikut melestarikan budaya literasi bangsa.

Malam itu Omjay menutup layar ponselnya dengan hati yang bahagia. Resume-resume yang dikirim peserta bukan sekadar tugas. Di dalamnya tersimpan semangat belajar, kecintaan terhadap budaya, dan tekad untuk terus berkembang menjadi penulis yang lebih baik.

Omjay percaya, siapa pun yang terus belajar menulis akan menemukan jalan menuju kesuksesan. Dan siapa pun yang mencintai pantun berarti ikut menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah derasnya arus zaman.

Sebelum turun dari kereta, Omjay pun tersenyum sambil membuat sebuah pantun sederhana:

Pergi ke pasar membeli ketan,
Pulangnya singgah membeli durian.
Belajar pantun menambah wawasan,
Melestarikan budaya untuk masa depan.

Selamat kepada seluruh peserta KBMN 34 yang telah menulis resume pertemuan ke-20. Teruslah menulis, teruslah belajar, dan teruslah berkarya. Sebab, seperti yang selalu Omjay yakini, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya menuju hati pembaca.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 05 Juni 2026

kaidah pantun

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34

Pertemuan ke-20: Kaidah Pantun

Informasi Kegiatan

Tema: Kaidah Pantun
Program: Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34
Pertemuan: Ke-20
Hari/Tanggal: Jumat, 5 Juni 2026
Waktu: Pukul 19.00 WIB
Tempat: Daring melalui Grup WhatsApp KBMN
Moderator: Lely Suryani, S.Pd. SD
Narasumber: Miftahul Hadi, S.Pd.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran menulis yang diselenggarakan oleh komunitas KBMN PGRI bekerja sama dengan KSGN (Komunitas Sejuta Guru Ngeblog) dan Melintas.id. Pertemuan ke-20 mengangkat tema yang sangat menarik dan dekat dengan budaya bangsa Indonesia, yaitu Kaidah Pantun.


Mengapa Belajar Pantun Penting?

Pantun merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, tetapi mengandung nilai pendidikan, moral, nasihat, humor, bahkan kritik sosial yang disampaikan secara santun.

Di era digital saat ini, kemampuan membuat pantun menjadi semakin menarik karena:

  • Melatih kreativitas berbahasa.
  • Mengasah kemampuan memilih kata.
  • Meningkatkan keterampilan menulis.
  • Melestarikan budaya bangsa.
  • Menjadi media komunikasi yang menyenangkan.
  • Membantu guru membuat pembelajaran lebih menarik.

Tidak heran jika pantun kini sering digunakan dalam pidato, presentasi, pembelajaran, media sosial, hingga acara resmi pemerintahan.


Materi yang Akan Dipelajari

Peserta KBMN akan diajak memahami berbagai aspek penting dalam penulisan pantun, antara lain:

1. Pengertian Pantun

Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait dengan pola rima tertentu dan memiliki sampiran serta isi.

2. Struktur Pantun

Pantun memiliki dua bagian utama:

Sampiran

  • Baris pertama dan kedua.
  • Berfungsi sebagai pengantar.

Isi

  • Baris ketiga dan keempat.
  • Berisi pesan utama.

Contoh:

Pergi ke pasar membeli ikan,
Ikan dibeli bersama ketan.
Rajin belajar sepanjang zaman,
Agar sukses di masa depan.

Dua baris pertama adalah sampiran, sedangkan dua baris terakhir adalah isi.

3. Ciri-Ciri Pantun

  • Terdiri dari empat baris.
  • Setiap baris 8–12 suku kata.
  • Bersajak a-b-a-b.
  • Memiliki sampiran dan isi.
  • Mengandung pesan tertentu.

4. Jenis-Jenis Pantun

  • Pantun Nasihat
  • Pantun Pendidikan
  • Pantun Agama
  • Pantun Jenaka
  • Pantun Cinta
  • Pantun Persahabatan
  • Pantun Anak-anak

5. Teknik Membuat Pantun

Peserta akan belajar:

  • Menentukan tema.
  • Menulis isi terlebih dahulu.
  • Membuat sampiran yang sesuai.
  • Menyesuaikan rima.
  • Memastikan jumlah suku kata seimbang.

Mengenal Narasumber

Miftahul Hadi

Beliau dikenal sebagai pendidik yang aktif dalam dunia literasi dan kepenulisan. Pengalamannya dalam mengembangkan budaya menulis menjadi modal penting untuk membimbing peserta memahami teknik menulis pantun yang baik dan benar.

Melalui materi ini peserta tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga praktik langsung membuat pantun yang menarik dan bermakna.


Peran Moderator

Lely Suryani

Sebagai moderator, beliau akan memandu jalannya diskusi sehingga kegiatan berlangsung interaktif, tertib, dan menyenangkan. Peserta dapat bertanya langsung seputar kesulitan membuat pantun maupun penerapannya dalam pembelajaran.


Manfaat bagi Guru dan Penulis

Bagi guru, materi pantun sangat bermanfaat untuk:

  • Membuat pembelajaran Bahasa Indonesia lebih kreatif.
  • Mengembangkan literasi siswa.
  • Menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
  • Menjadi media pembelajaran karakter.
  • Mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Bagi penulis, pantun melatih kepekaan bahasa, ketelitian memilih diksi, serta kemampuan menyampaikan pesan secara singkat namun berkesan.


Pesan untuk Peserta KBMN

KBMN bukan sekadar tempat belajar menulis, tetapi wadah bertumbuh bagi para guru, penulis, dan pegiat literasi dari seluruh Indonesia. Setiap pertemuan menghadirkan ilmu baru yang dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana sering disampaikan oleh Omjay, Guru Blogger Indonesia:

"Menulis adalah keterampilan yang akan semakin tajam jika terus diasah. Pantun mengajarkan kita memilih kata dengan cermat, menyusun pesan dengan indah, dan menyampaikan makna dengan cara yang menyenangkan."

Maka jangan lewatkan pertemuan ke-20 KBMN PGRI Gelombang 34 ini. Mari belajar bersama, melestarikan budaya bangsa, dan mengembangkan kemampuan menulis melalui seni berpantun.

Pantun Penutup

Jalan-jalan ke Kota Blitar,
Jangan lupa membeli ketan.
Mari belajar menulis pintar,
Dengan pantun yang penuh pesan.

Salam literasi.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Judul Buku: Labschool Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Penerbit: Labschool UNJ
Tebal: 190 halaman
Genre: Pendidikan, Inspirasi, Memoar Pendidikan

Ketika Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar

Ada banyak buku tentang pendidikan yang berbicara mengenai kurikulum, metode pembelajaran, atau teori pendidikan. Namun, buku Labschool Rumah Keduaku karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay menghadirkan sesuatu yang berbeda. Buku ini tidak hanya membahas pendidikan sebagai sebuah sistem, tetapi menghadirkan pendidikan sebagai pengalaman hidup yang penuh makna.

Sejak membaca halaman-halaman awal buku ini, pembaca akan langsung merasakan kedekatan emosional penulis dengan Labschool. Bagi Omjay, Labschool bukan sekadar tempat bekerja selama puluhan tahun, melainkan rumah kedua yang telah membentuk dirinya sebagai pendidik, penulis, sekaligus manusia yang terus belajar sepanjang hayat.

Kalimat yang menjadi ruh buku ini sangat kuat:

"Di Labschool, kita tidak hanya belajar untuk hidup, tetapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan penuh makna."

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar terasa dalam setiap bab buku.

Mengangkat Wajah Humanis Pendidikan

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilannya menggambarkan sekolah sebagai rumah kedua. Di tengah dunia pendidikan yang sering kali terjebak pada angka, ranking, dan capaian akademik, Omjay mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang memanusiakan manusia.

Melalui pengalaman pribadinya selama lebih dari tiga dekade mengabdi di SMP Labschool Jakarta, penulis menunjukkan bahwa hubungan guru dan siswa tidak boleh berhenti pada aktivitas mengajar dan belajar saja. Guru adalah pembimbing, sahabat, bahkan orang tua kedua bagi peserta didik.

Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari tumbuhnya karakter, empati, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar dalam diri siswa. Pesan ini terasa sangat relevan di era digital ketika banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses.

Kaya Kisah dan Pengalaman Nyata

Tidak seperti buku pendidikan yang cenderung teoritis, Labschool Rumah Keduaku dipenuhi kisah nyata yang hangat dan membumi.

Penulis menghadirkan berbagai pengalaman tentang:

  • Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)
  • Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa)
  • Studi Apresiasi Kepemimpinan Siswa (SAKSI)
  • SALAM (Studi Amaliah Islam)
  • Pentas Seni
  • Kegiatan ekstrakurikuler
  • Hubungan guru, siswa, dan alumni

Yang menarik, Omjay tidak hanya menuliskan pandangannya sebagai guru. Ia juga menyisipkan tulisan para siswa Labschool yang menceritakan pengalaman mereka tentang sekolah sebagai rumah kedua.

Pendekatan ini membuat buku terasa hidup karena pembaca dapat melihat Labschool dari berbagai sudut pandang.

Kisah-kisah sederhana yang ditampilkan justru menjadi kekuatan terbesar buku ini. Pembaca diajak mengenang masa sekolahnya sendiri, mengingat guru-guru yang pernah membimbingnya, serta menyadari bahwa kenangan sekolah sering kali menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidup seseorang.

Menampilkan Filosofi Pendidikan Labschool

Buku ini juga memberikan gambaran mendalam mengenai sejarah dan filosofi Labschool sebagai sekolah laboratorium yang lahir dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Salah satu bagian yang sangat menarik adalah pembahasan mengenai motto Labschool:

Iman – Ilmu – Amal.

Menurut penulis, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi utama pendidikan Labschool:

  • Iman membangun karakter dan moral.
  • Ilmu membentuk kecerdasan dan kemampuan berpikir.
  • Amal mengajarkan pentingnya memberi manfaat bagi sesama.

Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyeimbangkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial.

Di tengah maraknya pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik, filosofi ini terasa sangat relevan dan dibutuhkan.

Relevan dengan Tantangan Zaman

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan mengenai Labschool di era digital. Penulis menjelaskan bagaimana sekolah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Omjay menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Sentuhan manusia tetap menjadi inti pendidikan.

Pandangan ini sangat penting di era kecerdasan buatan (AI), ketika banyak proses pembelajaran mulai didukung teknologi. Buku ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan hati, keteladanan, dan hubungan antarmanusia.

Kelebihan Buku

Beberapa kelebihan buku ini antara lain:

1. Bahasa sederhana dan komunikatif

Penulis menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh guru, siswa, orang tua, maupun masyarakat umum.

2. Penuh inspirasi

Setiap bab menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bahan refleksi.

3. Kaya pengalaman nyata

Isi buku berasal dari pengalaman langsung penulis selama puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan.

4. Dokumentasi sejarah yang berharga

Buku ini menjadi catatan penting perjalanan Labschool dan budaya pendidikan yang dibangun di dalamnya.

5. Menghidupkan kembali makna sekolah

Pembaca diajak melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Kekurangan Buku

Sebagai karya yang sangat personal, beberapa bagian buku terasa lebih bersifat dokumentasi pengalaman dibandingkan analisis mendalam. Namun justru di situlah letak keunikannya. Buku ini memang ditulis dari hati seorang guru yang ingin berbagi pengalaman, bukan sebagai kajian akademik yang kaku.

Kesimpulan

Labschool Rumah Keduaku bukan sekadar buku tentang sebuah sekolah. Buku ini adalah surat cinta seorang guru kepada dunia pendidikan.

Melalui tulisan yang hangat dan penuh ketulusan, Omjay berhasil menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter, berempati, dan siap menghadapi kehidupan.

Buku ini sangat layak dibaca oleh:

  • Guru dan tenaga pendidik
  • Kepala sekolah
  • Mahasiswa pendidikan
  • Orang tua
  • Alumni Labschool
  • Siapa saja yang mencintai dunia pendidikan

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa kenangan terbaik tentang sekolah bukanlah nilai ujian yang tinggi, melainkan guru yang menginspirasi, sahabat yang menemani, dan lingkungan yang membuat kita merasa pulang.

Nilai Resensi: 9/10

"Labschool Rumah Keduaku adalah bukti bahwa sekolah yang hebat bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghangatkan hati."