Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 16 Juni 2026

PENA, AI, DAN JEJAK KEBAIKAN





Berdasarkan tema-tema tulisan Omjay di Kompasiana selama Juni 2026—tentang guru, literasi, AI, menulis, pendidikan, perjalanan hidup, dan refleksi kemanusiaan—saya melihat ada satu benang merah yang sangat kuat: menulis sebagai jalan hidup, jalan pengabdian, dan jalan meninggalkan jejak kebaikan. (KOMPASIANA)

Judul Utama yang Berpotensi Laris

PENA, AI, DAN JEJAK KEBAIKAN

Kisah Nyata Omjay Menulis, Mengajar, dan Menginspirasi Indonesia

Judul ini kuat karena memadukan tiga kata kunci yang sedang dicari pembaca saat ini:

  • Pena → literasi dan menulis

  • AI → teknologi dan masa depan

  • Jejak Kebaikan → nilai kemanusiaan dan inspirasi


Alternatif Judul Bestseller

  1. Menulis dengan Hati di Era AI

  2. Guru yang Tak Pernah Berhenti Menulis

  3. Jejak Digital Seorang Guru

  4. Ketika AI Menjawab dan Guru Menginspirasi

  5. Menulislah Sebelum Tidur

  6. Guru Blogger Indonesia

  7. Tulisan yang Mengubah Kehidupan

  8. Dari Ruang Kelas ke Hati Pembaca

  9. Menjadi Abadi Melalui Tulisan

  10. Pena yang Menembus Zaman


DAFTAR ISI BUKU

Kata Pengantar

Menulis Adalah Jalan Pengabdian

PROLOG

Mengapa Saya Tidak Pernah Berhenti Menulis


BAGIAN I

MENULIS DENGAN HATI

Bab 1. Menulis Adalah Jalan Hidup

Bab 2. Tulisan yang Mengubah Nasib Penulisnya

Bab 3. Menulislah Sebelum Tidur

Bab 4. Mengapa Guru Harus Menulis

Bab 5. Tulisan adalah Warisan Abadi


BAGIAN II

GURU YANG MENGINSPIRASI

Bab 6. Guru adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran

Bab 7. Kasta Tertinggi Seorang Guru

Bab 8. Ketika Guru Menjadi Inspirasi

Bab 9. Dari Ruang Kelas ke Hati Murid

Bab 10. Air Mata di Balik Senyuman Pelepasan Siswa

Tulisan-tulisan ini mengangkat makna profesi guru sebagai penggerak peradaban dan pembentuk masa depan bangsa. (KOMPASIANA)


BAGIAN III

MENULIS DI ERA KECERDASAN BUATAN

Bab 11. Bolehkah Menulis Pakai AI?

Bab 12. AI Bukan Musuh Guru

Bab 13. Menulis Bersama AI dengan Hati Nurani

Bab 14. Ketika Mesin Menjawab dan Guru Mengajar

Bab 15. Menjaga Keaslian di Tengah Kecerdasan Buatan

Bab-bab ini sangat relevan dengan kebutuhan pembaca masa kini yang sedang mencari panduan memanfaatkan AI secara bijak. (KOMPASIANA)


BAGIAN IV

LITERASI YANG MENGGERAKKAN

Bab 16. Malas Membaca Kok Ingin Jadi Penulis?

Bab 17. Membaca adalah Nutrisi Penulis

Bab 18. Blog sebagai Universitas Kehidupan

Bab 19. Tulisanmu Adalah Konten Mahal

Bab 20. Literasi yang Mengubah Indonesia

Tema literasi merupakan kekuatan utama Omjay yang telah dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia. (KOMPASIANA)


BAGIAN V

PENDIDIKAN MASA DEPAN

Bab 21. STEAM It Up!

Bab 22. Pembelajaran yang Menggerakkan

Bab 23. Kreativitas Lebih Penting dari Hafalan

Bab 24. Sekolah yang Membahagiakan

Bab 25. Masa Depan Pendidikan Ada di Tangan Guru

Tema ini sangat menarik bagi guru, kepala sekolah, mahasiswa pendidikan, dan pengambil kebijakan pendidikan. (KOMPASIANA)


BAGIAN VI

JEJAK KEHIDUPAN OMYAY

Bab 26. Menjadi Guru Blogger Indonesia

Bab 27. Menulis di Kereta dan Rumah Sakit

Bab 28. Ketika Penyakit Mengajarkan Makna Kehidupan

Bab 29. Doa yang Menemukan Jalannya

Bab 30. Meninggalkan Jejak Kebaikan


EPILOG

Menulis Agar Tetap Hidup Setelah Tiada


Mengapa Buku Ini Berpotensi Banyak Dibaca dan Dibeli?

1. Mengangkat Tema yang Sedang Dicari

AI, literasi, pendidikan, dan pengembangan diri adalah topik yang sedang diminati pembaca saat ini.

2. Berisi Kisah Nyata

Pembaca lebih menyukai pengalaman autentik dibanding teori yang kering.

3. Memiliki Nama Penulis yang Sudah Dikenal

Nama Dr. Wijaya Kusumah (Omjay) telah memiliki komunitas pembaca yang luas di kalangan guru, blogger, dan pegiat literasi. (KOMPASIANA)

4. Menyentuh Banyak Segmen Pasar

  • Guru

  • Kepala sekolah

  • Mahasiswa pendidikan

  • Dosen

  • Penulis pemula

  • Blogger

  • Orang tua

  • Penggiat literasi

5. Relevan dalam Jangka Panjang

Nilai-nilai tentang menulis, pendidikan, karakter, dan teknologi tidak cepat usang sehingga buku memiliki umur jual yang panjang.

Rekomendasi Judul Final

PENA, AI, DAN JEJAK KEBAIKAN

Kisah Nyata Omjay Menulis, Mengajar, dan Menginspirasi Indonesia

Judul ini memiliki kekuatan emosional, relevan dengan perkembangan zaman, sekaligus mencerminkan identitas Omjay sebagai guru, penulis, blogger, dan pegiat literasi.

Alhamdulillah Buku Terbaru Omjay Terkirim Via JNE dengan biaya terjangkau

Buku Terbaru Omjay Terkirim via JNE dengan Biaya Terjangkau

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Alhamdulillah, kabar menggembirakan datang dari dunia literasi. Buku-buku terbaru karya Omjay kini mulai dikirim ke berbagai daerah di Indonesia melalui layanan JNE dengan biaya pengiriman yang cukup terjangkau. Dari Bekasi hingga Solo, dari Depok hingga Gorontalo, dari Lombok hingga Malang, buku-buku Omjay telah berangkat menemui para pembacanya. Data pengiriman tanggal 16 Juni 2026 menunjukkan bahwa dalam satu pagi saja, sebelas paket buku berhasil dikirim ke berbagai kota dengan ongkos kirim yang relatif ringan.

Sebagai penulis sekaligus guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya merasakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat buku-buku yang ditulis dengan penuh cinta itu akhirnya sampai ke tangan pembaca. Setiap buku yang dikirim bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan, melainkan jejak pengalaman hidup, refleksi pendidikan, semangat literasi, dan harapan agar semakin banyak guru serta masyarakat Indonesia gemar membaca dan menulis.

Pagi itu, saya membuka laporan pengiriman JNE. Satu per satu nama penerima muncul di layar. Ada yang berasal dari Solo, Depok, Bogor, Demak, Jakarta Timur, Gorontalo, Sidoarjo, Lombok Barat, Malang, Banjarnegara, hingga Bandung Barat. Saya tersenyum haru membayangkan buku-buku itu sedang menempuh perjalanan panjang melewati jalan raya, pelabuhan, bandara, dan berbagai jalur distribusi lainnya demi sampai ke rumah para pembaca.

Yang membuat saya semakin bersyukur adalah biaya pengirimannya masih sangat bersahabat. Untuk wilayah yang dekat seperti Depok, Bogor, dan Jakarta Timur, ongkos kirimnya hanya sekitar Rp10.000. Sementara untuk daerah yang lebih jauh seperti Demak, Malang, Banjarnegara, atau Solo, biaya pengiriman tetap berada dalam kisaran yang masih terjangkau. Bahkan untuk wilayah yang cukup jauh seperti Lombok dan Gorontalo, biaya pengirimannya tetap masuk akal dibandingkan manfaat ilmu yang akan diperoleh pembacanya.

Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa masih bersusah payah menerbitkan buku cetak di era digital dan kecerdasan buatan? Bukankah sekarang semuanya bisa dibaca melalui layar gawai? Pertanyaan itu selalu saya jawab dengan senyum. Buku cetak memiliki keistimewaan yang tidak tergantikan. Ada aroma kertas yang menenangkan, ada sensasi membalik halaman demi halaman, dan ada kedekatan emosional antara penulis dan pembaca yang sulit digantikan oleh teknologi apa pun.

Saya masih ingat ketika pertama kali menulis buku. Saat itu saya hanya seorang guru yang ingin berbagi pengalaman kepada sesama pendidik. Tidak pernah terbayang bahwa suatu hari buku-buku saya akan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Semua berawal dari kebiasaan sederhana: menulis setiap hari. Dari satu tulisan menjadi puluhan tulisan, dari puluhan tulisan menjadi ratusan tulisan, lalu lahirlah buku demi buku yang kini menemani perjalanan literasi bangsa.

Melihat laporan pengiriman hari ini membuat saya semakin yakin bahwa budaya membaca dan menulis di Indonesia masih hidup. Banyak guru, mahasiswa, dosen, kepala sekolah, dan pegiat literasi yang rela menyisihkan sebagian rezekinya untuk membeli buku. Mereka memahami bahwa buku bukan pengeluaran, melainkan investasi pengetahuan yang nilainya akan terus bertambah sepanjang hayat.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada JNE yang telah membantu mendistribusikan buku-buku karya Omjay ke berbagai penjuru negeri. Kehadiran jasa pengiriman yang cepat, aman, dan terjangkau sangat membantu para penulis independen seperti saya. Tanpa dukungan layanan logistik yang baik, buku-buku mungkin akan sulit menjangkau pembaca yang berada jauh dari kota besar.

Perjalanan sebuah buku sesungguhnya sangat panjang. Ia dimulai dari sebuah ide yang muncul di kepala penulis. Kemudian ide itu ditulis menjadi naskah, diedit, ditata, dicetak, dipromosikan, dipesan pembaca, dikemas dengan hati-hati, lalu dikirim hingga akhirnya sampai ke tangan pembacanya. Setiap tahap membutuhkan kerja keras dan kesabaran. Karena itu, setiap kali melihat paket buku berangkat dari agen JNE, saya selalu merasa sedang menyaksikan lahirnya sebuah perjalanan ilmu yang baru.

Kepada para sahabat literasi yang telah memesan buku terbaru Omjay, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dukungan Anda menjadi energi bagi saya untuk terus menulis dan berkarya. Semoga buku-buku yang Anda terima tidak hanya menjadi koleksi di rak, tetapi benar-benar dibaca, direnungkan, dan menginspirasi lahirnya karya-karya baru.

Bagi yang belum memesan, jangan khawatir. Buku-buku terbaru Omjay masih tersedia dan siap dikirim ke seluruh Indonesia melalui JNE dengan biaya pengiriman yang terjangkau. Mari terus menyalakan semangat literasi. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca, menulis, dan berbagi ilmu kepada sesamanya.

Karena saya percaya, setiap buku yang dibaca akan membuka jendela dunia. Dan setiap buku yang ditulis akan membuat penulisnya tetap hidup dalam ingatan, bahkan ketika raganya telah tiada. Itulah keajaiban literasi yang selalu saya yakini sepanjang perjalanan sebagai guru, blogger, dan penulis Indonesia. 📚🇮🇩

Salam Literasi,

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Trik Jitu Menulis Buku

TRIK JITU MENULIS BUKU: KISAH OMJAY YANG MENGUBAH TULISAN MENJADI WARISAN ABADI

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Banyak orang bertanya kepada saya, “Pak Omjay, apa trik jitu menulis buku?”

Pertanyaan itu hampir selalu muncul setiap kali saya menjadi narasumber pelatihan menulis untuk guru, dosen, mahasiswa, maupun komunitas literasi. Ada yang bertanya dengan penuh semangat, ada yang bertanya dengan rasa penasaran, bahkan ada yang bertanya sambil mengeluh karena sudah lama ingin menulis buku tetapi tak kunjung selesai.

Saya biasanya tersenyum sebelum menjawab.

Sebab setelah menulis puluhan buku dan ribuan artikel, saya menemukan satu kenyataan sederhana yang sering dilupakan banyak orang. Trik menulis buku yang paling ampuh sebenarnya bukan terletak pada bakat, bukan pada kecerdasan, dan bukan pula pada teknologi canggih. Trik itu adalah keberanian untuk memulai dan ketekunan untuk terus menulis meskipun tidak ada yang membaca.

Saya belajar hal itu dari perjalanan hidup saya sendiri.

Dulu saya bukan penulis terkenal. Saya hanyalah seorang guru biasa yang setiap hari mengajar di sekolah. Bahkan ketika pertama kali mencoba menulis, tulisan saya sering ditolak. Ada kalanya tulisan yang saya kirim tidak dimuat media. Ada kalanya tulisan saya hanya dibaca beberapa orang saja. Namun saya terus menulis karena saya percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan yang akan tetap hidup ketika usia kita semakin menua.

Saya masih ingat ketika banyak teman bertanya, “Apa gunanya menulis setiap hari?”

Pertanyaan itu sempat membuat saya berpikir. Namun kemudian saya menyadari bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan. Menulis adalah proses melatih pikiran, memperkaya hati, dan mendewasakan jiwa.

Setiap kali saya menulis, saya sedang berdialog dengan diri sendiri. Saya belajar memahami pengalaman hidup yang saya alami. Saya belajar mensyukuri nikmat yang diberikan Allah. Saya belajar melihat hikmah di balik setiap peristiwa.

Dari situlah lahir trik pertama menulis buku.

Tulislah apa yang Anda alami.

Banyak orang gagal menulis buku karena sibuk mencari ide yang hebat. Padahal ide terbaik sering kali ada di sekitar kita. Pengalaman mengajar, pengalaman menjadi orang tua, pengalaman menghadapi kesulitan hidup, bahkan pengalaman sederhana saat naik kereta atau menunggu antrean rumah sakit bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa.

Saya sendiri sering menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Ketika mengalami kecelakaan, saya menulis. Ketika dirawat di rumah sakit, saya menulis. Ketika bertemu guru-guru hebat dari berbagai daerah, saya menulis. Ketika menyaksikan perjuangan orang tua mendidik anak, saya menulis.

Semua pengalaman itu akhirnya menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis.

Trik kedua adalah menulis sedikit demi sedikit setiap hari.

Banyak orang bermimpi menulis buku setebal 200 halaman dalam waktu singkat. Akibatnya mereka merasa tugas itu terlalu berat dan akhirnya menyerah sebelum memulai.

Saya memiliki kebiasaan berbeda.

Saya menulis sedikit demi sedikit setiap hari. Kadang hanya satu halaman. Kadang dua halaman. Bahkan ketika sangat sibuk, saya tetap berusaha menulis beberapa paragraf.

Lama-kelamaan tulisan itu bertambah banyak. Seperti menabung uang receh yang akhirnya menjadi jutaan rupiah, tulisan kecil yang dibuat setiap hari akhirnya berubah menjadi sebuah buku.

Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan bahwa buku bukan ditulis dalam sehari. Buku lahir dari kebiasaan menulis setiap hari.

Trik ketiga adalah jangan menunggu sempurna.

Inilah kesalahan terbesar banyak calon penulis.

Mereka ingin kalimat pertama langsung sempurna. Mereka ingin paragraf pertama langsung memukau. Mereka ingin buku pertama langsung menjadi best seller.

Akibatnya mereka tidak pernah selesai menulis.

Saya belajar bahwa tulisan yang selesai jauh lebih berharga daripada tulisan sempurna yang hanya ada di kepala.

Ketika menulis, saya membiarkan ide mengalir terlebih dahulu. Setelah selesai, barulah saya melakukan revisi. Dengan cara itu, naskah terus bergerak maju dan tidak terjebak dalam kesempurnaan yang semu.

Trik keempat adalah menulis dengan hati.

Saya percaya pembaca dapat merasakan kejujuran seorang penulis.

Tulisan yang ditulis dengan hati memiliki energi yang berbeda. Ia mampu menyentuh perasaan pembaca. Ia mampu membuat orang tersenyum, tertawa, bahkan menangis.

Ketika saya menulis tentang perjuangan guru honorer, saya membayangkan wajah-wajah guru yang tetap mengajar meskipun penghasilannya kecil. Ketika saya menulis tentang orang tua, saya teringat jasa kedua orang tua saya yang telah membesarkan saya dengan penuh kasih sayang. Ketika saya menulis tentang sahabat yang telah wafat, saya mengenang semua kebaikan yang pernah mereka berikan.

Karena itulah banyak pembaca mengatakan bahwa tulisan saya terasa dekat dengan kehidupan mereka.

Mereka tidak hanya membaca kata-kata. Mereka merasakan emosi yang tersimpan di balik tulisan tersebut.

Trik kelima adalah percaya bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan orang lain.

Inilah rahasia terbesar yang membuat saya terus menulis hingga hari ini.

Saya pernah menerima pesan dari seorang guru di pelosok Indonesia yang mengatakan bahwa tulisan saya membuatnya bangkit dari rasa putus asa. Saya pernah menerima pesan dari seorang mahasiswa yang kembali semangat belajar setelah membaca artikel yang saya tulis. Saya juga pernah menerima pesan dari seorang pensiunan guru yang menangis karena merasa kisah hidupnya terwakili oleh tulisan saya.

Saat itulah saya menyadari bahwa menulis bukan sekadar aktivitas menuangkan kata-kata.

Menulis adalah ibadah.

Menulis adalah sedekah ilmu.

Menulis adalah cara meninggalkan warisan kebaikan.

Jika suatu hari nanti Omjay sudah tidak mengajar lagi, mungkin suara saya tidak lagi terdengar di ruang kelas. Namun tulisan-tulisan yang saya tinggalkan akan tetap berbicara kepada banyak orang. Tulisan itu akan terus hidup, menginspirasi, dan memberi manfaat.

Karena itulah saya selalu mengajak para guru untuk menulis buku.

Jangan takut memulai.

Jangan takut salah.

Jangan takut tidak ada yang membaca.

Tulislah pengalamanmu. Tulislah perjuanganmu. Tulislah kisah hidupmu.

Sebab bisa jadi kisah yang menurutmu biasa saja justru menjadi cahaya yang menerangi jalan hidup orang lain.

Dan percayalah, ketika sebuah buku lahir dari ketulusan hati, ia bukan hanya kumpulan halaman dan tinta. Ia adalah warisan kehidupan yang akan terus hidup bahkan ketika penulisnya telah tiada.

Maka mulailah menulis hari ini juga. Jangan tunggu besok. Jangan tunggu sempurna. Jangan tunggu punya banyak waktu.

Ambillah pena, buka laptop, atau ketik di ponselmu.

Tuliskan satu kalimat.

Lalu satu paragraf.

Kemudian satu halaman.

Dan buktikan sendiri apa yang akan terjadi.

Karena setiap buku besar di dunia ini selalu dimulai dari satu kata pertama yang ditulis dengan penuh keberanian.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Selamat Tahun Baru Dengan Membaca Buku Baru Pasti Seru

Selamat Tahun Baru Islam! Menyambut 1 Muharram dengan Membaca Buku Baru dan Menerbitkan 5 Buku Baru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pergantian tahun selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Bagi umat Islam, datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram bukan sekadar pergantian angka dalam kalender hijriah, melainkan momentum hijrah menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah dari kebiasaan yang kurang baik menuju kebiasaan yang lebih baik. Hijrah dari kemalasan menuju semangat berkarya. Hijrah dari banyak berbicara menuju banyak berbuat.

Sebagai seorang guru yang telah mengabdikan diri di dunia pendidikan selama puluhan tahun, saya selalu menyambut Tahun Baru Islam dengan cara yang sederhana tetapi sangat bermakna, yaitu membaca buku baru dan menerbitkan buku baru. Bagi saya, buku adalah sahabat terbaik yang selalu menemani perjalanan hidup. Buku mengajarkan banyak hal yang tidak selalu diajarkan di ruang kelas. Buku juga menjadi jembatan ilmu yang menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Tahun Baru Islam kali ini terasa sangat istimewa bagi saya. Di tengah berbagai aktivitas sebagai guru, narasumber pelatihan menulis, dan penggerak literasi, Allah SWT memberikan kesempatan kepada saya untuk menerbitkan lima buku baru sekaligus. Rasanya seperti mendapatkan hadiah yang sangat indah di awal tahun hijriah.

Ketika pertama kali memegang buku-buku tersebut, hati saya dipenuhi rasa syukur. Saya teringat perjalanan panjang yang telah dilalui. Ada banyak malam yang saya habiskan untuk menulis. Ada banyak pagi yang saya awali dengan membaca berbagai referensi. Ada banyak waktu yang saya sisihkan untuk belajar dan memperbaiki tulisan demi tulisan.

Saya sadar bahwa tidak ada buku yang lahir secara instan. Di balik setiap halaman buku terdapat perjuangan, doa, air mata, kegagalan, dan semangat yang tidak pernah padam. Karena itulah setiap buku memiliki kisahnya sendiri.

Pada Tahun Baru Islam ini, saya menerbitkan lima buku yang masing-masing memiliki pesan dan makna mendalam. Buku pertama berjudul "Menulislah dengan Hati" yang mengajak pembaca memahami bahwa menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyampaikan pesan dengan ketulusan jiwa. Buku ini lahir dari pengalaman saya selama bertahun-tahun membimbing guru-guru Indonesia untuk menulis dan menerbitkan buku.

Buku kedua berjudul "Kisah Omjay: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi". Buku ini berisi pengalaman nyata bagaimana kebiasaan menulis setiap hari mampu mengubah kehidupan seseorang. Saya ingin menunjukkan kepada para guru bahwa menulis bukan bakat bawaan, tetapi keterampilan yang dapat dilatih setiap hari.

Buku ketiga berjudul "Kasta Tertinggi Seorang Guru". Buku ini lahir dari keyakinan bahwa guru yang mau belajar, berbagi, dan menulis akan meninggalkan warisan ilmu yang abadi. Guru bukan hanya pengajar di kelas, tetapi juga pembangun peradaban melalui tulisan-tulisannya.

Buku keempat berjudul "Labschool Rumah Keduaku". Buku ini menjadi bentuk cinta saya kepada sekolah tempat saya mengabdi selama puluhan tahun. Banyak kenangan indah yang saya tuliskan di dalamnya. Kisah para siswa, guru, kepala sekolah, hingga perjalanan pendidikan yang penuh warna menjadi bagian penting dari buku tersebut.

Buku kelima berjudul "Menulis di Era AI". Buku ini mengajak pembaca memahami bahwa kecerdasan buatan bukan ancaman bagi penulis, melainkan alat yang dapat membantu meningkatkan produktivitas dan kreativitas. Saya ingin para guru tidak takut menghadapi perkembangan teknologi, tetapi mampu memanfaatkannya secara bijak.

Ketika kelima buku tersebut tersusun rapi di meja kerja saya, hati ini teringat pada perjalanan hidup yang tidak selalu mudah. Saya pernah mengalami masa-masa sulit. Saya pernah sakit, dirawat di rumah sakit, mengalami kecelakaan, menghadapi berbagai tantangan hidup, dan merasakan kelelahan yang luar biasa. Namun menulis selalu menjadi terapi yang menenangkan hati.

Menulis membuat saya belajar bersyukur. Menulis membuat saya mampu melihat hikmah di balik setiap peristiwa. Menulis membuat saya tetap produktif meskipun usia terus bertambah.

Pada Tahun Baru Islam ini, saya juga mengajak para guru, siswa, mahasiswa, dan masyarakat Indonesia untuk menjadikan membaca sebagai kebiasaan harian. Tidak perlu langsung membaca buku yang tebal. Mulailah dari beberapa halaman setiap hari. Sedikit demi sedikit, kebiasaan membaca akan membentuk karakter pembelajar sepanjang hayat.

Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan menulis bahwa seorang penulis yang baik adalah pembaca yang rajin. Sulit menghasilkan tulisan yang berkualitas jika kita jarang membaca. Membaca adalah mengisi pikiran, sedangkan menulis adalah mengeluarkan isi pikiran. Keduanya tidak bisa dipisahkan.

Menyambut Tahun Baru Islam dengan membaca buku baru memberikan semangat baru. Kita seperti mendapatkan teman perjalanan yang akan membimbing langkah-langkah kehidupan. Sementara menerbitkan buku baru adalah bentuk syukur atas ilmu yang telah Allah SWT titipkan kepada kita.

Saya membayangkan suatu hari nanti buku-buku yang saya tulis akan dibaca oleh generasi muda Indonesia. Mungkin saya sudah tidak ada lagi di dunia ini, tetapi tulisan-tulisan tersebut masih bisa memberikan manfaat. Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa salah satu amal yang tidak terputus adalah ilmu yang bermanfaat?

Karena itulah saya terus menulis. Bukan untuk mengejar popularitas. Bukan untuk mencari pujian. Tetapi untuk meninggalkan jejak kebaikan yang dapat terus mengalir manfaatnya.

Di awal Tahun Baru Islam ini, saya ingin mengucapkan kepada seluruh sahabat literasi Indonesia:

Selamat Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah. Semoga tahun ini menjadi tahun penuh keberkahan, kesehatan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Mari berhijrah menjadi pribadi yang lebih baik. Mari membaca lebih banyak buku. Mari menulis lebih banyak karya. Mari menebar manfaat seluas-luasnya.

Karena sesungguhnya, setiap buku yang kita baca akan membuka jendela ilmu, dan setiap buku yang kita tulis akan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan orang lain. Tahun baru terasa semakin seru ketika kita menyambutnya dengan buku baru. Lebih indah lagi ketika kita mampu menghadiahkan buku baru untuk dunia melalui karya-karya terbaik yang lahir dari hati. Selamat membaca, selamat menulis, dan selamat menyambut Tahun Baru Islam dengan semangat hijrah menuju masa depan yang lebih gemilang.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

JNE Membantu omjay Kirim Buku Ke Seluruh Indonesia

JNE Membantu Omjay Mengantarkan Buku Berkeliling Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Menjadi seorang penulis adalah sebuah perjalanan panjang yang tidak berhenti ketika buku selesai ditulis. Justru perjalanan sesungguhnya dimulai ketika buku itu sampai ke tangan para pembaca. Sebagai guru yang gemar menulis dan berbagi inspirasi, saya merasakan betul bahwa sebuah buku akan menemukan maknanya ketika dibaca, dipahami, dan menginspirasi orang lain. Dalam perjalanan itulah saya merasakan betapa besar peran JNE dalam membantu mengantarkan karya-karya saya berkeliling Indonesia.

Beberapa hari yang lalu saya berdiri di depan meja agen JNE sambil membawa tumpukan buku karya saya. Buku-buku itu bukan sekadar kumpulan kertas yang dijilid rapi. Di dalamnya ada pengalaman hidup, perjuangan sebagai guru, semangat literasi, kisah inspiratif, serta harapan agar semakin banyak guru Indonesia berani menulis dan berbagi ilmu. Saat melihat satu per satu buku dibungkus dan diberi label tujuan pengiriman, hati saya dipenuhi rasa syukur. Buku yang lahir dari ruang kecil tempat saya menulis di rumah Jatibening Indah, Bekasi, akan segera melakukan perjalanan jauh ke berbagai daerah di Indonesia. 

Saya tersenyum ketika membaca daftar tujuan pengiriman. Ada buku yang akan dikirim ke Sidoarjo, Jombang, Tangerang, Jember, Demak, Buton, Garut, Brebes, Depok, Jakarta Timur, hingga Purwokerto. Masing-masing tujuan memiliki cerita tersendiri. Di sana ada guru, kepala sekolah, sahabat literasi, dan para pembaca yang menunggu kedatangan buku karya Omjay. Ada yang sudah lama mengikuti tulisan saya di blog, ada yang mengenal saya melalui pelatihan menulis, dan ada pula yang baru mengenal karya-karya saya melalui media sosial. 

Ketika melihat nama-nama daerah tersebut, saya membayangkan perjalanan panjang yang akan ditempuh oleh setiap paket buku. Dari Bekasi menuju berbagai kota dan kabupaten yang tersebar di Pulau Jawa bahkan hingga Pulau Sulawesi. Salah satu buku bahkan dikirim ke Buton, Sulawesi Tenggara. Saya membayangkan petugas JNE yang bekerja siang dan malam memastikan paket sampai dengan selamat. Mereka mungkin tidak pernah membaca isi buku yang mereka antar, tetapi jasa mereka membuat ilmu pengetahuan dapat berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

Sebagai seorang guru, saya sangat memahami bahwa pendidikan membutuhkan kolaborasi banyak pihak. Guru menulis buku, penerbit mencetak buku, pembaca membeli buku, dan perusahaan logistik seperti JNE menghubungkan semuanya. Tanpa adanya sistem distribusi yang baik, buku-buku yang saya tulis mungkin hanya menumpuk di rumah. Namun berkat JNE, buku-buku tersebut dapat menjelajah Nusantara dan menemukan pembacanya.

Saya teringat masa-masa ketika pertama kali menerbitkan buku. Saat itu saya belum memahami bagaimana proses pengiriman buku ke berbagai daerah. Saya hanya fokus menulis dan menerbitkan. Namun seiring waktu saya belajar bahwa keberhasilan sebuah buku tidak hanya ditentukan oleh kualitas isi, tetapi juga oleh kemudahan buku tersebut sampai ke tangan pembaca. Di sinilah saya mulai mengenal pentingnya jasa pengiriman yang terpercaya.

Banyak pembaca yang menghubungi saya melalui WhatsApp dan media sosial. Mereka berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Ada yang mengaku termotivasi setelah membaca buku saya. Ada yang mulai berani menulis artikel. Ada yang akhirnya menerbitkan buku pertamanya. Bahkan ada guru yang mengaku menemukan kembali semangat mengajar setelah membaca kisah-kisah yang saya tulis. Setiap kali menerima pesan seperti itu, saya merasa perjuangan menulis tidak sia-sia.

Saya sering mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis bahwa buku adalah kendaraan ilmu pengetahuan. Namun kendaraan itu membutuhkan jalan agar bisa sampai ke tujuan. Dalam konteks ini, JNE menjadi salah satu jalan yang menghubungkan penulis dan pembaca. Mereka membantu mengantarkan gagasan, pengalaman, dan inspirasi ke seluruh penjuru negeri.

Melihat laporan pengiriman buku yang mencapai berbagai kota membuat saya semakin yakin bahwa gerakan literasi Indonesia terus tumbuh. Buku-buku yang saya kirim mungkin jumlahnya tidak sebanyak buku-buku karya penulis terkenal. Namun setiap buku yang sampai ke tangan pembaca adalah benih perubahan. Satu buku bisa mengubah cara berpikir seseorang. Satu buku bisa melahirkan penulis baru. Satu buku bisa menginspirasi lahirnya karya-karya berikutnya.

Saya juga terharu ketika mengetahui banyak pembeli buku saya adalah para guru. Mereka membeli bukan karena ingin mengoleksi buku semata, tetapi karena ingin belajar dan berkembang. Di tengah kesibukan mengajar, mereka masih menyempatkan diri membaca. Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompleks, mereka tetap menjaga semangat belajar sepanjang hayat.

Bagi saya, setiap paket buku yang dikirim memiliki makna yang sangat dalam. Paket itu bukan hanya barang dagangan. Paket itu membawa mimpi, harapan, dan semangat untuk berbagi ilmu. Ketika paket tersebut tiba di rumah pembaca, sesungguhnya yang sampai bukan hanya buku, tetapi juga energi positif yang ingin saya sebarkan kepada sesama.

Karena itulah saya mengucapkan terima kasih kepada seluruh sahabat pembaca yang telah mempercayai karya-karya saya. Terima kasih pula kepada JNE yang telah menjadi mitra perjalanan buku-buku Omjay. Berkat pelayanan mereka, karya sederhana seorang guru dari Bekasi dapat berkeliling Indonesia dan menemui para pembacanya dari berbagai daerah. 

Perjalanan ini mengajarkan kepada saya bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya, tetapi juga tentang menghubungkan hati manusia. Setiap buku yang dikirim adalah jembatan yang mempertemukan penulis dan pembaca. Setiap paket yang tiba adalah bukti bahwa ilmu pengetahuan selalu menemukan jalannya untuk sampai kepada mereka yang membutuhkannya.

Semoga semakin banyak guru Indonesia yang berani menulis, menerbitkan buku, dan menyebarkan inspirasi ke seluruh penjuru negeri. Dan semoga JNE terus menjadi sahabat para penulis Indonesia dalam mengantarkan ilmu, inspirasi, dan harapan dari satu kota ke kota lainnya. Dari Bekasi untuk Indonesia, dari ruang kerja sederhana Omjay menuju ribuan hati yang siap menerima manfaat melalui buku-buku yang dikirim berkeliling Nusantara.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru bligger indonwsia 
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 15 Juni 2026

Dikenal di Langit Tak Dikenal di Bumi

Dikenal di Langit Meski Tak Terkenal di Bumi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu saya membaca sebuah renungan yang sangat menampar hati. Kalimat demi kalimatnya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Saya membacanya perlahan sambil menyeruput secangkir teh hangat di teras rumah. Udara pagi Bekasi masih terasa sejuk setelah hujan semalam. Burung-burung berkicau seolah ikut mengajak saya merenungkan kehidupan yang sering kali terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.

Dalam renungan itu tertulis bahwa Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan agar hati kita selalu khawatir. Allah juga membuka pintu taubat agar kita selalu memiliki harapan. Dan Allah menjadikan amalan penutup hidup sebagai penentu akhir perjalanan manusia agar tidak ada seorang pun yang tertipu oleh amalnya sendiri.

Kalimat itu membuat saya terdiam cukup lama.

Selama ini manusia sering sibuk menghitung amalnya sendiri. Ada yang bangga karena sering bersedekah, ada yang bangga karena rajin beribadah, ada yang bangga karena sering tampil di depan publik. Padahal tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apakah amal itu diterima oleh Allah atau tidak.

Saya teringat seorang guru senior yang pernah saya kenal. Beliau bukan orang terkenal. Tidak pernah tampil di televisi. Tidak pernah menjadi narasumber seminar nasional. Tidak memiliki ribuan pengikut di media sosial. Namun setiap pagi beliau datang paling awal ke sekolah. Beliau menyapa semua orang dengan senyum tulus. Beliau membantu siswa yang kesulitan tanpa berharap pujian. Bahkan ketika sakit pun beliau tetap mendoakan murid-muridnya agar sukses di masa depan.

Ketika beliau meninggal dunia, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Ratusan murid datang melayat. Banyak di antara mereka menangis. Ada yang sudah menjadi dokter, guru, tentara, polisi, bahkan pengusaha sukses. Mereka semua mengaku pernah merasakan kebaikan hati beliau.

Saat itu saya sadar bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari sorotan kamera atau banyaknya penghargaan yang diterima. Ada orang yang namanya tidak dikenal masyarakat luas, tetapi jejak kebaikannya hidup di hati banyak orang.

Renungan pagi itu juga mengingatkan bahwa seandainya paras dan raga lebih berharga daripada ruh, tentu ruh tidak akan naik ke langit sementara raga harus kembali ke tanah. Betapa sering manusia menghabiskan waktu mempercantik penampilan lahiriah, tetapi lupa memperindah jiwanya.

Saya teringat masa muda ketika masih kuliah di IKIP Jakarta. Saat itu saya juga seperti kebanyakan anak muda lainnya yang ingin terlihat hebat. Saya ingin dipuji. Saya ingin dihargai. Saya ingin dianggap berhasil. Namun semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa semua itu hanyalah sementara.

Ketika seseorang meninggal dunia, yang dibawa bukanlah jabatan, bukan pula kendaraan mewah atau rumah megah. Yang menemani perjalanan panjang menuju akhirat hanyalah amal baik dan keikhlasan hati.

Beberapa bulan lalu saya kehilangan kakak tercinta. Kepergiannya begitu mendadak. Saat berdiri di dekat liang lahat, saya kembali diingatkan bahwa kehidupan ini sangat singkat. Tidak ada yang tahu kapan giliran kita dipanggil pulang.

Di depan pusara itu saya bertanya kepada diri sendiri.

Sudahkah hidup saya bermanfaat bagi orang lain?

Sudahkah saya menjadi guru yang mengajar dengan hati?

Sudahkah tulisan-tulisan yang saya buat mendekatkan manusia kepada kebaikan?

Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran saya hingga sekarang.

Renungan tersebut juga menyebutkan bahwa betapa banyak orang terkenal di bumi, tetapi tidak dikenal oleh penghuni langit. Sebaliknya, betapa banyak orang yang tidak dikenal di bumi, namun dikenal baik oleh penghuni langit.

Kalimat ini benar-benar menggugah hati saya.

Di era media sosial seperti sekarang, manusia sering berlomba-lomba mencari perhatian. Banyak orang rela melakukan apa saja agar viral. Mereka ingin dikenal banyak orang. Mereka ingin menjadi pusat perhatian. Mereka ingin mendapatkan pujian sebanyak mungkin.

Padahal belum tentu popularitas di bumi sejalan dengan kemuliaan di sisi Allah.

Sebaliknya, mungkin ada seorang ibu yang setiap malam mendoakan anak-anaknya dengan penuh keikhlasan. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang memujinya. Namun doanya menembus langit.

Mungkin ada seorang guru di pelosok negeri yang mengajar dengan penuh cinta meski gajinya kecil. Tidak ada media yang meliput perjuangannya. Tidak ada penghargaan yang diberikan kepadanya. Namun Allah mencatat setiap langkah pengabdiannya.

Mungkin ada seorang ayah yang bekerja keras demi keluarga sambil menjaga kejujuran dalam pekerjaannya. Tidak ada yang menyanjungnya. Namun namanya harum di hadapan para malaikat.

Bukankah itu jauh lebih berharga?

Sebagai seorang guru, saya belajar bahwa tugas kita bukan mencari tepuk tangan manusia. Tugas kita adalah menanam benih kebaikan. Jika benih itu tumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain, maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Saya sering mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis bahwa menulislah dengan hati. Jangan menulis hanya untuk mendapatkan jumlah pembaca yang banyak. Jangan menulis hanya untuk mengejar popularitas. Menulislah karena ingin berbagi manfaat.

Jika tulisan kita membantu seseorang bangkit dari keterpurukan, maka itu sudah menjadi pahala yang luar biasa. Jika tulisan kita membuat seseorang kembali bersemangat menjalani hidup, maka itu sudah menjadi kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka.

Pada akhirnya, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekuatan raga, bukan kekayaan, bukan jabatan, dan bukan popularitas. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.

Karena itu, jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Penilaian manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini dipuji, besok dicaci. Hari ini dihormati, besok dilupakan.

Yang lebih penting adalah bagaimana Allah memandang kita.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri, terus beramal dengan ikhlas, selalu memiliki harapan melalui taubat, dan tidak pernah tertipu oleh amal yang sudah dilakukan.

Semoga ketika kelak kita meninggalkan dunia ini, kita termasuk orang-orang yang mungkin tidak terlalu terkenal di bumi, tetapi dikenal baik oleh penghuni langit.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Dikenal di Langit Tak Dikenal di Bumi

Dikenal di Langit Meski Tak Terkenal di Bumi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu saya membaca sebuah renungan yang sangat menampar hati. Kalimat demi kalimatnya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam. Saya membacanya perlahan sambil menyeruput secangkir teh hangat di teras rumah. Udara pagi Bekasi masih terasa sejuk setelah hujan semalam. Burung-burung berkicau seolah ikut mengajak saya merenungkan kehidupan yang sering kali terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia.

Dalam renungan itu tertulis bahwa Allah merahasiakan diterimanya sebuah amalan agar hati kita selalu khawatir. Allah juga membuka pintu taubat agar kita selalu memiliki harapan. Dan Allah menjadikan amalan penutup hidup sebagai penentu akhir perjalanan manusia agar tidak ada seorang pun yang tertipu oleh amalnya sendiri.

Kalimat itu membuat saya terdiam cukup lama.

Selama ini manusia sering sibuk menghitung amalnya sendiri. Ada yang bangga karena sering bersedekah, ada yang bangga karena rajin beribadah, ada yang bangga karena sering tampil di depan publik. Padahal tidak ada satu pun dari kita yang benar-benar tahu apakah amal itu diterima oleh Allah atau tidak.

Saya teringat seorang guru senior yang pernah saya kenal. Beliau bukan orang terkenal. Tidak pernah tampil di televisi. Tidak pernah menjadi narasumber seminar nasional. Tidak memiliki ribuan pengikut di media sosial. Namun setiap pagi beliau datang paling awal ke sekolah. Beliau menyapa semua orang dengan senyum tulus. Beliau membantu siswa yang kesulitan tanpa berharap pujian. Bahkan ketika sakit pun beliau tetap mendoakan murid-muridnya agar sukses di masa depan.

Ketika beliau meninggal dunia, saya melihat sesuatu yang luar biasa. Ratusan murid datang melayat. Banyak di antara mereka menangis. Ada yang sudah menjadi dokter, guru, tentara, polisi, bahkan pengusaha sukses. Mereka semua mengaku pernah merasakan kebaikan hati beliau.

Saat itu saya sadar bahwa kemuliaan seseorang tidak selalu terlihat dari sorotan kamera atau banyaknya penghargaan yang diterima. Ada orang yang namanya tidak dikenal masyarakat luas, tetapi jejak kebaikannya hidup di hati banyak orang.

Renungan pagi itu juga mengingatkan bahwa seandainya paras dan raga lebih berharga daripada ruh, tentu ruh tidak akan naik ke langit sementara raga harus kembali ke tanah. Betapa sering manusia menghabiskan waktu mempercantik penampilan lahiriah, tetapi lupa memperindah jiwanya.

Saya teringat masa muda ketika masih kuliah di IKIP Jakarta. Saat itu saya juga seperti kebanyakan anak muda lainnya yang ingin terlihat hebat. Saya ingin dipuji. Saya ingin dihargai. Saya ingin dianggap berhasil. Namun semakin bertambah usia, saya menyadari bahwa semua itu hanyalah sementara.

Ketika seseorang meninggal dunia, yang dibawa bukanlah jabatan, bukan pula kendaraan mewah atau rumah megah. Yang menemani perjalanan panjang menuju akhirat hanyalah amal baik dan keikhlasan hati.

Beberapa bulan lalu saya kehilangan kakak tercinta. Kepergiannya begitu mendadak. Saat berdiri di dekat liang lahat, saya kembali diingatkan bahwa kehidupan ini sangat singkat. Tidak ada yang tahu kapan giliran kita dipanggil pulang.

Di depan pusara itu saya bertanya kepada diri sendiri.

Sudahkah hidup saya bermanfaat bagi orang lain?

Sudahkah saya menjadi guru yang mengajar dengan hati?

Sudahkah tulisan-tulisan yang saya buat mendekatkan manusia kepada kebaikan?

Pertanyaan itu terus berputar dalam pikiran saya hingga sekarang.

Renungan tersebut juga menyebutkan bahwa betapa banyak orang terkenal di bumi, tetapi tidak dikenal oleh penghuni langit. Sebaliknya, betapa banyak orang yang tidak dikenal di bumi, namun dikenal baik oleh penghuni langit.

Kalimat ini benar-benar menggugah hati saya.

Di era media sosial seperti sekarang, manusia sering berlomba-lomba mencari perhatian. Banyak orang rela melakukan apa saja agar viral. Mereka ingin dikenal banyak orang. Mereka ingin menjadi pusat perhatian. Mereka ingin mendapatkan pujian sebanyak mungkin.

Padahal belum tentu popularitas di bumi sejalan dengan kemuliaan di sisi Allah.

Sebaliknya, mungkin ada seorang ibu yang setiap malam mendoakan anak-anaknya dengan penuh keikhlasan. Tidak ada yang mengenalnya. Tidak ada yang memujinya. Namun doanya menembus langit.

Mungkin ada seorang guru di pelosok negeri yang mengajar dengan penuh cinta meski gajinya kecil. Tidak ada media yang meliput perjuangannya. Tidak ada penghargaan yang diberikan kepadanya. Namun Allah mencatat setiap langkah pengabdiannya.

Mungkin ada seorang ayah yang bekerja keras demi keluarga sambil menjaga kejujuran dalam pekerjaannya. Tidak ada yang menyanjungnya. Namun namanya harum di hadapan para malaikat.

Bukankah itu jauh lebih berharga?

Sebagai seorang guru, saya belajar bahwa tugas kita bukan mencari tepuk tangan manusia. Tugas kita adalah menanam benih kebaikan. Jika benih itu tumbuh dan memberi manfaat bagi orang lain, maka itulah kebahagiaan yang sesungguhnya.

Saya sering mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis bahwa menulislah dengan hati. Jangan menulis hanya untuk mendapatkan jumlah pembaca yang banyak. Jangan menulis hanya untuk mengejar popularitas. Menulislah karena ingin berbagi manfaat.

Jika tulisan kita membantu seseorang bangkit dari keterpurukan, maka itu sudah menjadi pahala yang luar biasa. Jika tulisan kita membuat seseorang kembali bersemangat menjalani hidup, maka itu sudah menjadi kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan angka.

Pada akhirnya, ukuran kemuliaan di sisi Allah bukanlah kekuatan raga, bukan kekayaan, bukan jabatan, dan bukan popularitas. Ukuran kemuliaan adalah ketakwaan.

Karena itu, jangan terlalu sibuk memikirkan penilaian manusia. Penilaian manusia bisa berubah setiap saat. Hari ini dipuji, besok dicaci. Hari ini dihormati, besok dilupakan.

Yang lebih penting adalah bagaimana Allah memandang kita.

Semoga kita semua menjadi pribadi yang terus memperbaiki diri, terus beramal dengan ikhlas, selalu memiliki harapan melalui taubat, dan tidak pernah tertipu oleh amal yang sudah dilakukan.

Semoga ketika kelak kita meninggalkan dunia ini, kita termasuk orang-orang yang mungkin tidak terlalu terkenal di bumi, tetapi dikenal baik oleh penghuni langit.

Aamiin ya Rabbal ‘Alamiin.

Minggu, 14 Juni 2026

Menulis buku Dalam Semalam dan Ditunggu Jutaan Guru. Bisakah?

Menulis Buku dalam Semalam dan Ditunggu Jutaan Guru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

"Pak Omjay, benarkah bisa menulis buku dalam semalam?"

Pertanyaan itu sering saya terima ketika mengisi pelatihan menulis bagi guru di berbagai daerah Indonesia. Ada yang bertanya dengan nada penasaran. Ada pula yang bertanya dengan nada tidak percaya.

Saya hanya tersenyum.

"Kalau menulis bukunya saja, bisa. Tetapi kalau menyiapkan ilmunya, pengalamannya, dan perjuangannya, itu tidak bisa semalam," jawab saya.

Jawaban itu membawa saya mengenang sebuah malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Malam ketika saya duduk sendirian di depan laptop. Rumah sudah sepi. Istri dan anak-anak sudah tertidur pulas. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Mata sebenarnya lelah karena seharian mengajar di SMP Labschool Jakarta, membimbing siswa, menjawab pesan WhatsApp dari peserta pelatihan menulis, dan menulis artikel di blog.

Namun malam itu hati saya tidak bisa diajak beristirahat.

Ada sesuatu yang terus mengetuk pintu pikiran saya.

Sebuah ide buku.

Saya membuka laptop dan mulai mengetik. Satu halaman. Dua halaman. Lima halaman. Sepuluh halaman. Kata demi kata mengalir begitu saja seperti air yang menemukan jalannya menuju lautan.

Saya tidak lagi memikirkan jumlah halaman.

Saya tidak lagi memikirkan apakah tulisan itu akan laku atau tidak.

Saya hanya ingin menuliskan apa yang selama ini tersimpan di hati.

Pengalaman menjadi guru.

Perjalanan menjadi blogger.

Kegagalan yang pernah saya alami.

Mimpi-mimpi yang dulu dianggap mustahil.

Semua keluar begitu saja.

Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Mata mulai terasa berat. Namun semangat di dalam dada justru semakin menyala.

Pukul dua dini hari saya masih menulis.

Pukul tiga dini hari saya masih mengetik.

Pukul empat dini hari naskah itu akhirnya selesai.

Saya menatap layar laptop dengan perasaan haru.

Air mata hampir menetes.

Bukan karena lelah.

Bukan karena mengantuk.

Tetapi karena saya sadar bahwa buku itu bukan lahir dalam semalam.

Buku itu lahir dari perjalanan hidup selama puluhan tahun.

Apa yang saya tulis malam itu sesungguhnya adalah kumpulan pengalaman sejak kecil di Wanaraja Garut, ketika saya gemar membaca buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Buku itu adalah kumpulan kenangan saat menjadi mahasiswa IKIP Jakarta yang harus berhemat demi membeli buku. Buku itu adalah catatan perjalanan ketika saya pertama kali mengenal internet dan blog. Buku itu adalah hasil dari ribuan artikel yang saya tulis selama bertahun-tahun.

Orang melihat saya menulis buku dalam semalam.

Padahal sesungguhnya saya menyiapkan bahan bukunya selama puluhan tahun.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa tidak ada kesuksesan yang benar-benar instan. Yang terlihat cepat sering kali adalah hasil dari proses panjang yang tidak dilihat orang lain.

Banyak guru berkata kepada saya bahwa mereka ingin menulis buku.

Namun ketika saya bertanya berapa artikel yang sudah ditulis minggu ini, mereka terdiam.

Ketika saya bertanya buku apa yang sudah dibaca bulan ini, mereka tersenyum malu.

Padahal menulis buku yang bermutu bukan dimulai dari menulis buku.

Menulis buku yang bermutu dimulai dari membaca setiap hari, belajar setiap hari, mengajar dengan hati setiap hari, dan menulis sedikit demi sedikit setiap hari.

Saya selalu mengingatkan peserta KBMN PGRI bahwa satu artikel yang ditulis hari ini adalah satu batu bata yang akan membangun rumah besar bernama buku.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu punya waktu luang.

Jangan menunggu pensiun.

Mulailah menulis sekarang.

Ketika artikel demi artikel terkumpul, suatu hari Anda akan terkejut melihat bahwa bahan buku Anda ternyata sudah sangat banyak.

Saya sendiri merasakan keajaiban itu.

Dari kebiasaan menulis setiap hari lahirlah berbagai buku yang dibaca guru-guru Indonesia. Banyak di antara mereka menghubungi saya melalui pesan pribadi.

Ada guru di Papua yang mengatakan bahwa tulisan saya membuatnya bangkit dari rasa putus asa.

Ada guru di Aceh yang mengatakan bahwa buku saya membuatnya berani membuat blog.

Ada guru di Nusa Tenggara Timur yang mengatakan bahwa tulisan saya menginspirasinya menerbitkan buku pertama.

Pesan-pesan seperti itulah yang membuat saya terus menulis.

Bukan royalti yang terbesar.

Bukan jumlah buku yang terjual.

Melainkan manfaat yang dirasakan pembaca.

Saya percaya bahwa buku yang bermutu bukanlah buku yang tebalnya ratusan halaman.

Buku yang bermutu adalah buku yang mampu mengubah kehidupan pembacanya.

Buku yang bermutu adalah buku yang membuat seseorang berani bermimpi.

Buku yang bermutu adalah buku yang membuat seseorang bangkit setelah jatuh.

Buku yang bermutu adalah buku yang menyalakan harapan ketika keadaan terasa gelap.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, menulis buku memang menjadi lebih mudah. Teknologi dapat membantu menyusun kerangka, memperbaiki tata bahasa, dan memberikan berbagai referensi. Namun teknologi tidak bisa menggantikan pengalaman hidup, ketulusan hati, dan perjuangan seorang penulis.

Itulah sebabnya saya selalu berkata kepada para guru bahwa AI bisa membantu menulis kata-kata, tetapi pengalaman hiduplah yang memberi ruh pada tulisan.

Ketika saya menyelesaikan buku dalam semalam, sesungguhnya yang bekerja bukan hanya jari-jari saya yang mengetik. Yang bekerja adalah pengalaman mengajar lebih dari tiga dekade, ribuan siswa yang pernah saya temui, jutaan kata yang pernah saya baca, serta jutaan doa yang mengiringi perjalanan hidup saya.

Jika hari ini Anda merasa belum mampu menulis buku, jangan berkecil hati. Mulailah dengan satu paragraf. Besok tambahkan satu paragraf lagi. Lusa tulislah satu halaman. Teruslah menulis tanpa lelah.

Sebab tidak ada buku besar yang lahir tanpa dimulai dari satu kalimat pertama.

Dan siapa tahu, suatu malam nanti, ketika semua orang sedang tertidur, Anda akan duduk di depan laptop dengan hati yang penuh semangat. Kata-kata mengalir tanpa henti. Halaman demi halaman terisi. Saat fajar menyingsing, sebuah buku selesai ditulis.

Orang-orang mungkin akan berkata bahwa Anda menulis buku dalam semalam.

Padahal hanya Anda dan Tuhan yang tahu bahwa buku itu sesungguhnya dibangun oleh ketekunan yang Anda lakukan setiap hari selama bertahun-tahun.

Teruslah menulis.

Teruslah berkarya.

Karena guru yang menulis akan dikenang lebih lama daripada usianya. Tulisannya akan terus hidup, menginspirasi, dan menyalakan harapan bagi generasi yang akan datang.

Kekurangan Omjay Sebagai Guru

Kekurangan Omjay sebagai Guru: Sebuah Refleksi Diri yang Terus Belajar

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Banyak orang mengenal saya sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia. Ada yang mengenal saya sebagai guru informatika SMP Labschool Jakarta, penulis buku, blogger, narasumber webinar, pendiri komunitas belajar menulis, penggerak literasi, dan aktivis organisasi profesi guru. Ketika melihat berbagai aktivitas yang saya lakukan, sebagian orang mungkin berpikir bahwa Omjay adalah sosok guru yang hebat dan nyaris tanpa kekurangan.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Semakin bertambah usia dan pengalaman, saya justru semakin sadar bahwa masih banyak kekurangan yang harus saya perbaiki. Saya percaya bahwa guru yang baik bukanlah guru yang merasa dirinya sempurna, melainkan guru yang mau mengakui kelemahannya dan terus belajar memperbaiki diri setiap hari.

Karena itulah saya menulis artikel ini. Bukan untuk merendahkan diri, tetapi sebagai bahan refleksi agar saya tetap membumi dan tidak terjebak dalam pujian yang sering diberikan orang lain.

Saya teringat sebuah nasihat bijak yang mengatakan bahwa cermin terbaik bagi manusia adalah dirinya sendiri. Ketika kita berani bercermin dengan jujur, kita akan menemukan banyak hal yang perlu diperbaiki.

Sebagai seorang guru yang sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya menyadari bahwa salah satu kekurangan terbesar saya adalah terlalu banyak melakukan aktivitas dalam waktu yang bersamaan. Saya mengajar di sekolah, menulis artikel setiap hari, mengelola blog, mengikuti rapat organisasi, menjadi narasumber webinar, membimbing guru-guru menulis, hingga menyusun berbagai program pelatihan.

Sering kali saya merasa waktu dua puluh empat jam sehari tidak cukup. Akibatnya, saya harus membagi perhatian ke banyak hal sekaligus. Tidak jarang saya merasa kelelahan secara fisik maupun mental. Saya pernah berpikir bahwa semakin banyak kegiatan yang dilakukan, semakin besar pula manfaat yang diberikan kepada orang lain. Namun seiring berjalannya waktu, saya menyadari bahwa tubuh manusia memiliki batas kemampuan.

Pengalaman sakit yang pernah saya alami menjadi pelajaran berharga. Ketika vertigo menyerang, ketika gula darah naik, ketika tekanan darah tidak stabil, bahkan ketika mengalami kecelakaan, saya tetap berusaha menjalankan aktivitas seperti biasa. Saya sering memaksakan diri untuk tetap mengajar, menulis, dan menghadiri kegiatan karena merasa memiliki tanggung jawab yang besar.

Kini saya mulai memahami bahwa menjaga kesehatan juga merupakan bagian dari tanggung jawab seorang guru. Bagaimana mungkin saya bisa terus menginspirasi orang lain jika kesehatan saya sendiri tidak terjaga?

Kekurangan lain yang saya rasakan adalah sulit mengatakan tidak kepada orang yang membutuhkan bantuan. Ketika ada guru meminta bantuan membuat artikel, saya bantu. Ketika ada sahabat meminta dibuatkan resensi buku, saya bantu. Ketika ada komunitas yang meminta menjadi narasumber, saya berusaha hadir. Ketika ada organisasi yang membutuhkan dukungan, saya berusaha memberikan waktu.

Keinginan untuk membantu sesama memang baik. Namun kadang-kadang saya lupa bahwa diri sendiri juga membutuhkan waktu untuk beristirahat. Akibatnya, jadwal menjadi sangat padat dan energi terkuras tanpa disadari.

Saya juga menyadari bahwa semangat menulis setiap hari yang selama ini saya gaungkan memiliki sisi yang perlu diseimbangkan. Menulis adalah kebiasaan yang sangat saya cintai. Bahkan saya sering mengajak guru-guru di seluruh Indonesia untuk menulis setiap hari dan membuktikan apa yang terjadi.

Namun dalam perjalanan itu, saya belajar bahwa menulis saja tidak cukup. Seorang penulis juga harus memperbanyak membaca, mendengar, mengamati, dan merenungkan kehidupan. Ada kalanya saya terlalu fokus menghasilkan tulisan baru sehingga kurang memberikan waktu untuk memperdalam bacaan dan melakukan refleksi yang lebih mendalam.

Padahal membaca adalah bahan bakar utama seorang penulis. Tulisan yang baik lahir dari pikiran yang kaya, dan pikiran yang kaya lahir dari kebiasaan membaca yang luas.

Sebagai guru, saya juga memiliki kecenderungan untuk terlalu idealis terhadap dunia pendidikan. Saya sangat mencintai profesi guru. Saya ingin melihat guru Indonesia hidup lebih sejahtera. Saya ingin melihat pendidikan Indonesia semakin maju. Saya ingin melihat murid-murid tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Namun kadang-kadang idealisme itu membuat saya kecewa ketika berhadapan dengan kenyataan. Tidak semua perubahan bisa terjadi dengan cepat. Tidak semua kebijakan sesuai harapan. Tidak semua orang memiliki semangat perjuangan yang sama.

Dalam kondisi seperti itu, saya belajar bahwa perubahan besar membutuhkan kesabaran. Guru bukan hanya dituntut memiliki semangat, tetapi juga ketabahan. Kita harus mampu menerima kenyataan sambil terus berusaha memperbaikinya sedikit demi sedikit.

Saya juga menyadari bahwa terkadang saya terlalu sibuk mengejar target dan program sehingga kurang menikmati proses perjalanan itu sendiri. Padahal kebahagiaan sering kali hadir bukan ketika tujuan tercapai, melainkan ketika kita menikmati langkah demi langkah menuju tujuan tersebut.

Ketika melihat kembali perjalanan hidup saya dari seorang anak kampung di Wanaraja Garut hingga menjadi guru, penulis, dan doktor pendidikan, saya memahami bahwa semua pencapaian itu bukan karena saya hebat. Semua terjadi karena pertolongan Allah SWT, dukungan keluarga, doa orang tua, bantuan sahabat, serta kesempatan yang diberikan oleh banyak orang baik di sekitar saya.

Kesadaran itulah yang membuat saya terus belajar rendah hati. Setinggi apa pun ilmu seseorang, selalu ada yang lebih berilmu. Sebanyak apa pun pengalaman seseorang, selalu ada yang lebih berpengalaman. Sebesar apa pun prestasi seseorang, tetap ada kekurangan yang perlu diperbaiki.

Hari ini saya ingin mengatakan kepada diri saya sendiri bahwa menjadi guru bukan berarti harus sempurna. Menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru yang baik bukan guru yang tidak pernah salah, tetapi guru yang berani mengakui kesalahan dan terus memperbaiki diri.

Karena itu, jika ada satu pelajaran penting yang saya dapatkan dari refleksi ini, maka pelajaran tersebut adalah bahwa perjalanan menjadi guru sesungguhnya adalah perjalanan mengenal diri sendiri. Semakin lama mengajar, semakin saya sadar bahwa masih banyak yang harus dipelajari. Semakin banyak menulis, semakin saya sadar bahwa masih banyak yang harus dibaca. Semakin banyak berbagi ilmu, semakin saya sadar bahwa masih banyak ilmu yang belum saya ketahui.

Semoga refleksi sederhana ini menjadi pengingat bagi saya pribadi untuk terus menjaga kesehatan, mengelola waktu dengan lebih bijak, memperbanyak membaca, menikmati proses kehidupan, dan tetap rendah hati dalam setiap langkah. Sebab pada akhirnya, guru yang paling hebat bukanlah guru yang merasa dirinya paling pintar, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar hingga akhir hayatnya.

Salam literasi.

Omjay Guru Blogger Indonesia
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

STEAM

STEAM It Up! Seni Mengajar yang Menggerakkan, Bukan Sekadar Menyampaikan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pada Jumat, 12 Juni 2026, saya berkesempatan mengikuti pelatihan “STEAM It Up! Seni Mengajar yang Menggerakkan, Bukan Sekadar Menyampaikan” yang disampaikan oleh Ibu Yuni Widiastuti, S.Si., M.Psi.T., CT di SMP Labschool Jakarta. Pelatihan ini membuka mata saya bahwa pembelajaran masa depan tidak cukup hanya membuat siswa mendengarkan, mencatat, dan mengerjakan soal. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang membuat siswa berpikir, berkreasi, berkolaborasi, dan memecahkan masalah nyata di sekitarnya. 

Ringkasan Materi STEAM

Pelatihan ini memiliki tiga tujuan utama, yaitu memahami esensi STEAM sebagai pendekatan pembelajaran terpadu, kreatif, dan kontekstual; mengidentifikasi peluang integrasi STEAM dalam setiap mata pelajaran; serta merancang pembelajaran STEAM sederhana berbasis konteks SMP. 

STEAM merupakan gabungan dari:

1. Science (Sains)

Sains mengajarkan siswa untuk mengamati, bertanya, memprediksi, melakukan eksperimen, dan berdiskusi menggunakan metode ilmiah dalam memahami fenomena alam. 

2. Technology (Teknologi)

Teknologi adalah segala bentuk inovasi dan alat yang membantu manusia memenuhi kebutuhan hidup, baik teknologi elektronik maupun non-elektronik. 

3. Engineering (Rekayasa)

Engineering merupakan kemampuan mendesain dan mengonstruksi alat, sistem, atau proses yang bermanfaat bagi manusia dengan memanfaatkan sains, matematika, dan teknologi untuk memecahkan masalah. 

4. Art (Seni)

Seni melatih kreativitas, imajinasi, dan kemampuan mengekspresikan gagasan. Kehadiran unsur seni menjadikan STEM berkembang menjadi STEAM karena kreativitas merupakan kunci inovasi. 

5. Mathematics (Matematika)

Matematika menjadi bahasa yang menghubungkan sains, teknologi, dan rekayasa melalui pola, angka, pengukuran, logika, dan pemodelan untuk menyelesaikan masalah kehidupan. 

Menurut Susan Riley, STEAM adalah pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan sains, teknologi, engineering, seni, dan matematika untuk mengembangkan kemampuan inkuiri, berpikir kritis, dan komunikasi peserta didik. 

---

Kisah Omjay: Saat Guru Tidak Lagi Menjadi Sumber Jawaban

Saya teringat ketika pertama kali mengajar di SMP Labschool Jakarta pada tahun 1994. Saat itu guru dianggap sebagai sumber utama pengetahuan. Murid bertanya, guru menjawab. Murid mencatat, guru menerangkan. Murid menghafal, guru memberi nilai.

Namun dunia berubah begitu cepat.

Anak-anak yang saya ajar sekarang hidup di era kecerdasan buatan. Mereka bisa bertanya kepada AI dalam hitungan detik. Mereka bisa menemukan video pembelajaran dari seluruh dunia hanya melalui telepon genggam. Mereka tidak lagi membutuhkan guru yang sekadar menyampaikan informasi.

Yang mereka butuhkan adalah guru yang mampu menggerakkan pikiran dan hati mereka.

Pelatihan STEAM yang saya ikuti membuat saya semakin sadar bahwa tugas guru saat ini bukan menjadi satu-satunya sumber ilmu, melainkan menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan sendiri pengetahuannya.

Saya membayangkan seorang siswa SMP yang melihat sampah menumpuk di selokan dekat sekolahnya. Dalam pembelajaran konvensional, guru mungkin hanya menjelaskan tentang pencemaran lingkungan. Namun dalam pendekatan STEAM, siswa diajak mengamati langsung kondisi selokan, meneliti penyebabnya, merancang solusi, membuat alat sederhana, menghitung biaya, mendesain kampanye lingkungan, lalu mempresentasikan hasilnya kepada masyarakat.

Di situlah pembelajaran menjadi hidup.

Di situlah ilmu menemukan maknanya.

Di situlah siswa belajar menjadi manusia yang mampu menyelesaikan masalah.

Pelatihan ini juga menjelaskan bahwa dunia sedang bergerak menuju Society 5.0, yaitu masyarakat yang berpusat pada manusia dan memanfaatkan integrasi ruang fisik dan ruang digital untuk menyelesaikan berbagai persoalan sosial. 

Untuk menghadapi masa depan tersebut, siswa membutuhkan keterampilan abad ke-21 seperti berpikir kritis, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, rasa ingin tahu, kepemimpinan, kemampuan beradaptasi, dan literasi teknologi. Semua keterampilan itu dapat tumbuh melalui pembelajaran STEAM. 

Saya semakin memahami mengapa Kurikulum Nasional saat ini menekankan Pembelajaran Mendalam dengan delapan Dimensi Profil Lulusan, yaitu keimanan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, komunikasi, kemandirian, dan kesehatan. 

Ternyata nilai-nilai tersebut sangat selaras dengan filosofi STEAM.

Dalam pelatihan dijelaskan bahwa karakteristik pembelajaran STEAM mencakup tiga hal utama, yaitu penyelesaian masalah, praktik saintifik dan engineering, serta integrasi lintas disiplin ilmu. 

Inilah yang sering kali belum dipahami sebagian guru.

Banyak guru mengira STEAM harus menggunakan robot mahal, laboratorium canggih, atau komputer berteknologi tinggi. Padahal tidak demikian.

STEAM bisa dimulai dari masalah sederhana yang ada di sekitar siswa. Misalnya bagaimana menghemat penggunaan air di sekolah, mengurangi sampah plastik, membuat taman yang ramah lingkungan, atau merancang tempat parkir sepeda yang lebih aman.

Masalah sederhana itu justru lebih bermakna karena dekat dengan kehidupan siswa sehari-hari. 

Saya sangat terinspirasi ketika melihat contoh integrasi lintas disiplin yang dijelaskan dalam pelatihan. Pada level multidisipliner, setiap mata pelajaran masih berjalan sendiri-sendiri. Pada level interdisipliner, berbagai mata pelajaran mulai bekerja sama dalam satu proyek. Sedangkan pada level transdisipliner, seluruh disiplin ilmu melebur untuk menyelesaikan masalah nyata yang dihadapi siswa dan masyarakat. 

Menurut saya, inilah masa depan pendidikan Indonesia.

Guru IPA, Matematika, Informatika, Bahasa Indonesia, Seni Budaya, IPS, bahkan Pendidikan Agama dapat bekerja bersama dalam satu proyek yang bermakna.

Bayangkan siswa merancang "Sekolah Ramah Lingkungan". Mereka belajar IPA tentang energi, Matematika untuk menghitung kebutuhan listrik, Informatika untuk membuat sistem monitoring, Bahasa Indonesia untuk menyusun laporan, Seni Budaya untuk membuat kampanye kreatif, dan Pendidikan Agama untuk menanamkan nilai menjaga alam sebagai amanah Tuhan.

Bukankah pembelajaran seperti itu jauh lebih hidup dibandingkan sekadar mengerjakan soal pilihan ganda?

Sebagai guru yang sudah mengajar lebih dari tiga dekade, saya percaya bahwa perubahan pendidikan harus dimulai dari keberanian guru untuk belajar hal baru.

STEAM bukan sekadar singkatan lima disiplin ilmu.

STEAM adalah cara berpikir.

STEAM adalah cara memandang dunia secara utuh.

STEAM adalah seni mengajar yang menggerakkan siswa untuk bertanya, mencoba, gagal, memperbaiki, dan akhirnya menemukan solusi.

Karena itu saya mengajak para guru Indonesia untuk mulai mempelajari STEAM. Tidak perlu menunggu fasilitas lengkap. Tidak perlu menunggu sekolah menjadi sekolah unggulan. Mulailah dari masalah sederhana yang ada di sekitar siswa.

Ketika guru mau belajar STEAM, siswa akan belajar berpikir.

Ketika siswa belajar berpikir, mereka akan belajar memecahkan masalah.

Ketika mereka mampu memecahkan masalah, mereka akan siap menghadapi masa depan.

Dan ketika masa depan itu datang, mereka tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta solusi bagi bangsa Indonesia.

Itulah esensi STEAM yang saya pelajari di SMP Labschool Jakarta: mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, tetapi menggerakkan siswa untuk menjadi manusia pembelajar sepanjang hayat. 

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indinesia 
Blog https://wijayalabs.com