Inilah Kisah Omjay | Menyiapkan Olimpiade TIK, Informatika, Koding dan Kecerdasan Artifisial dengan Bukti yang Lengkap agar OTN 8 terkurasi puspresnas kemdikdasmen.
Ada satu hal penting yang perlu dipahami seluruh panitia OTN 8 Tahun 2026. Juga para peserta OTN yang nanti akan bertanding di OTN 8 JICC Senayan Jakarta.
Menyelenggarakan lomba itu bukan hanya soal acara berjalan sukses. Lebih dari itu, setiap proses harus dapat dibuktikan.
OTN 8 Tahun 2026 atau Olimpiade TIK, Informatika, Koding dan Kecerdasan Artifisial sedang dipersiapkan dengan semangat yang lebih besar. Bukan sekadar ingin membuat sebuah perlombaan yang meriah, tetapi juga ingin membangun sebuah ajang yang tertib, kredibel, transparan, dan memberikan manfaat bagi peserta.
Karena itu, sejak awal panitia perlu membiasakan satu prinsip sederhana:
Apa yang kita kerjakan harus ada buktinya. Apa yang kita klaim harus dapat diverifikasi.
Prinsip sederhana inilah yang menurut saya penting dipahami oleh semua panitia.
Jangan Menunggu Acara Selesai
Kesalahan yang sering terjadi dalam sebuah kegiatan adalah dokumen baru dicari setelah acara selesai.
Ketika diminta foto rapat panitia, baru mencari foto.
Ketika diminta daftar juri, baru mencari surat tugas.
Ketika diminta data peserta, baru membuka kembali formulir pendaftaran.
Ketika diminta bukti publikasi pemenang, baru berpikir akan dipublikasikan di mana.
Cara seperti ini tentu akan menyulitkan panitia. OTN 8 harus dibangun dengan sistem dokumentasi sejak awal.
Artinya, ketika rapat berlangsung, dokumentasikan. Ketika SK panitia ditandatangani, simpan dengan baik. Ketika juri ditetapkan, simpan CV dan bukti kompetensinya. Ketika peserta mendaftar, data disimpan secara rapi.
Dengan demikian, ketika seluruh dokumen diperlukan, panitia tidak perlu bekerja dari awal lagi.
Kurasi Membutuhkan Bukti
Dalam Pedoman Kurasi Talenta, Instrumen 1A digunakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai ajang, penyelenggara, serta komponen penyelenggaraan dan kebernilaian ajang. Penilaian tidak hanya melihat ada atau tidaknya kegiatan, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut diselenggarakan dan seberapa bernilai kegiatan tersebut.
Pedoman tersebut membagi penilaian ke dalam dua aspek besar, yaitu penyelenggaraan dan kebernilaian.
Pada aspek penyelenggaraan terdapat komponen yang berkaitan dengan ajang dan cabang ajang. Sementara itu, aspek kebernilaian melihat kebermanfaatan, persaingan, kepesertaan, orientasi penyelenggaraan, serta kewajaran penyelenggaraan.
Jadi, panitia OTN 8 tidak cukup hanya mengatakan: "OTN 8 diikuti banyak sekolah."
Pertanyaannya kemudian: Mana datanya?
Tidak cukup mengatakan: "Juri OTN 8 adalah para ahli."
Pertanyaan berikutnya: Apa bukti kualifikasi jurinya?
Tidak cukup mengatakan: "OTN 8 bermanfaat bagi peserta."
Pertanyaannya: Apa bentuk manfaatnya dan apa buktinya?
Inilah pola berpikir yang perlu dibangun sejak sekarang.
Panitia Harus Punya Satu Sistem Dokumentasi
Saya mengusulkan agar panitia OTN 8 membuat folder digital bersama yang tertata sejak awal. Misalnya:
00_PROFIL_PENYELENGGARA
01_SK_KEPANITIAAN
02_JUKNIS
03_JURI
04_PESERTA
05_SARPRAS
06_PEMBIAYAAN
07_PENGHARGAAN
08_PUBLIKASI
09_MEDIA
10_KEMITRAAN
11_DOKUMENTASI
12_DATA_PEMENANG
13_SERTIFIKAT
14_LAPORAN_AKHIR
Setiap koordinator bidang mempunyai tanggung jawab memasukkan bukti kegiatannya ke dalam folder yang sudah ditentukan. Dengan cara ini, panitia tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita bekerja sebagai satu tim.
Juknis Jangan Sekadar Ada
Salah satu dokumen penting adalah petunjuk teknis atau juknis. Juknis harus menjelaskan lomba dengan bahasa yang mudah dipahami peserta.
Untuk OTN 8, peserta akan mengikuti berbagai cabang lomba, antara lain Cerdas Cermat Informatika dan KKA, Koding, Robotik, Informatika dan Kecerdasan Artifisial, serta E-Sport Mobile Legend.
Setiap lomba membutuhkan aturan yang jelas. Siapa pesertanya? Bagaimana cara mendaftar? Apa syaratnya? Bagaimana babak penyisihannya? Bagaimana sistem penilaiannya? Apa yang menjadi kriteria kemenangan? Bagaimana jika terjadi pelanggaran? Siapa yang mengambil keputusan?
Semua harus ditulis dengan jelas. Jangan sampai peserta baru mengetahui aturan ketika perlombaan sudah dimulai.
Juri Harus Kredibel
Juri adalah bagian yang sangat penting dalam sebuah kompetisi. Juri bukan hanya nama yang ditulis di poster. Kualifikasi juri harus dapat dibuktikan.
Karena itu, panitia perlu menyiapkan surat tugas atau keputusan penetapan juri, biodata, riwayat pendidikan atau pengalaman, serta bukti kompetensi yang relevan apabila tersedia.
Pedoman kurasi juga memuat kebutuhan informasi mengenai kualifikasi juri, asal juri, serta unsur-unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan.
Bagi saya, semakin jelas rekam jejak juri, semakin kuat kepercayaan peserta terhadap OTN 8. Kompetisi yang baik harus memiliki sistem penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan.
Data Peserta Jangan Hilang
Data peserta juga harus menjadi perhatian. Jangan hanya menyimpan jumlah peserta. Simpan data secara lengkap dan terstruktur. Berapa sekolah yang mengikuti? Dari daerah mana saja? Jenjang SD, SMP, SMA atau SMK? Berapa peserta setiap cabang? Berapa sekolah yang mengikuti secara daring atau luring, jika format tersebut digunakan?
Data tersebut nantinya dapat menjadi bukti bahwa OTN 8 memiliki kepesertaan yang nyata dan terukur.
Pedoman kurasi memang meminta informasi mengenai tingkat peserta, sebaran peserta, jumlah peserta, tahapan penyelenggaraan, dan frekuensi penyelenggaraan.
Jadi, sejak pendaftaran dibuka, sistem pendataan peserta harus sudah dipersiapkan.
Dokumentasi Jangan Hanya Foto Bersama
Ada kebiasaan yang perlu kita ubah. Dokumentasi kegiatan jangan hanya foto panitia berdiri bersama. Foto seperti itu memang bagus untuk kenangan.
Namun untuk pertanggungjawaban kegiatan, kita membutuhkan dokumentasi yang menggambarkan proses. Misalnya:
foto rapat panitia,
foto technical meeting,
foto peserta mengikuti lomba,
foto juri melakukan penilaian,
foto proses pertandingan,
foto penggunaan sarana dan prasarana,
foto seminar nasional,
foto penyerahan penghargaan,
serta foto kegiatan lainnya.
Video juga dapat disimpan sebagai dokumentasi pendukung.
https://www.youtube.com/watch?v=YHkO7aWTMdo
Hal yang paling penting adalah setiap dokumentasi diberi nama file yang jelas. Jangan menyimpan file dengan nama: IMG_1234.jpg
Lebih baik: 2026-10-30_TM_CerdasCermat.jpg
Dengan begitu, orang lain dapat memahami isi dokumen tanpa harus membuka satu per satu.
Publikasi Pemenang Harus Jelas
Setelah lomba selesai, pekerjaan panitia belum selesai. Pemenang harus diumumkan dengan jelas. Data juara harus terdokumentasi. Sertifikat harus tersimpan. Jika ada berita atau publikasi mengenai pemenang, simpan tautannya.
Pedoman kurasi juga memasukkan publikasi pemenang secara daring sebagai salah satu data yang perlu diperhatikan. Karena itu, bidang publikasi dan dokumentasi harus bekerja sama dengan baik. Jangan sampai panitia mempunyai data pemenang tetapi masyarakat sulit menemukan informasinya.
Bagaimana dengan Pembiayaan? Panitia juga perlu menyiapkan bukti pembiayaan. Dari mana sumber dana OTN 8? Bagaimana penggunaannya? Apakah ada dukungan sponsor? Apakah ada kontribusi peserta? Apakah ada dukungan lembaga atau mitra?
Semua harus dicatat secara transparan sesuai aturan organisasi dan ketentuan yang berlaku. Jangan sampai aspek keuangan justru menjadi bagian yang paling lemah dalam sebuah kegiatan besar.
Kegiatan yang baik bukan hanya bagus ketika dilihat dari panggung, tetapi juga tertib ketika diperiksa dokumennya.
Lima Pertanyaan Penting
Selain penyelenggaraan, panitia juga perlu memikirkan aspek kebernilaian. Pedoman kurasi menilai kebernilaian melalui lima aspek utama, yaitu:
Kebermanfaatan
Tingkat persaingan
Kepesertaan
Orientasi penyelenggaraan
Kewajaran
Penilaian kebernilaian dilakukan melalui pertimbangan para ahli atau expert judgement.
Karena itu, sejak awal panitia harus bertanya:
Apa manfaat OTN 8 bagi peserta?
Apakah kompetisinya sehat dan adil?
Apakah peserta berasal dari berbagai sekolah dan daerah?
Apakah orientasi kegiatan benar-benar untuk pengembangan talenta?
Apakah seluruh biaya, aturan, penghargaan, dan pelaksanaan berlangsung secara wajar?
Pertanyaan-pertanyaan ini jangan baru dijawab ketika mengisi instrumen kurasi. Jawabannya harus terlihat dalam pelaksanaan kegiatan.
OTN 8 Harus Bisa Dipertanggungjawabkan
Saya percaya OTN 8 Tahun 2026 dapat menjadi ajang yang semakin baik apabila semua panitia mempunyai kesadaran yang sama.
Kita tidak perlu takut dengan proses kurasi. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan kegiatan dengan benar sejak awal.
Pedoman kurasi menjelaskan bahwa data dan dokumen yang disampaikan akan melalui proses verifikasi dan validasi sebelum diberikan kepada kurator.
Artinya, dokumen bukan sekadar formalitas. Dokumen adalah bukti bahwa kegiatan benar-benar dilaksanakan. Karena itu, saya mengajak seluruh panitia OTN 8 untuk bekerja dengan prinsip:
Rancang dengan baik.
Laksanakan dengan jujur.
Dokumentasikan dengan lengkap.
Publikasikan dengan terbuka.
Simpan semua buktinya.
Jangan Menunggu Besok
OTN 8 masih dalam tahap persiapan. Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk merapikan semuanya.
Ketua panitia tidak mungkin mengerjakan semua hal.
Sekretaris tidak mungkin menyimpan semua dokumen.
Bendahara tidak mungkin mengetahui semua kegiatan.
Koordinator lomba tidak mungkin mendokumentasikan semuanya.
Karena itu, setiap bidang harus mempunyai PIC yang jelas. Setiap PIC harus tahu:
Apa tugas saya?
Apa dokumen yang harus saya hasilkan?
Kapan batas waktunya?
Di mana dokumen harus disimpan?
Kalau empat pertanyaan ini bisa dijawab, pekerjaan panitia akan jauh lebih mudah.
OTN 8 Bukan Sekadar Perlombaan
Bagi saya, OTN 8 bukan sekadar perlombaan.
OTN 8 adalah bagian dari ikhtiar guru dan komunitas pendidikan untuk memberikan ruang kepada peserta didik agar berani menunjukkan kemampuan di bidang teknologi, informatika, koding, robotik, kecerdasan artifisial, dan bidang kompetisi digital lainnya.
Kita ingin peserta datang bukan hanya untuk mendapatkan medali.
Mereka datang untuk belajar.
Mereka datang untuk berkompetisi secara sehat.
Mereka datang untuk bertemu teman-teman baru.
Mereka datang untuk menguji kemampuan.
Dan yang paling penting, mereka pulang membawa pengalaman.
Kalau semua proses tersebut terdokumentasi dengan baik, maka OTN 8 akan mempunyai rekam jejak yang kuat. Bukan hanya dikenang oleh peserta.
Tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tua, sekolah, mitra, masyarakat, dan pihak-pihak yang berkepentingan.
Penutup: Rancang, Laksanakan, Buktikan
Saya sering mengatakan bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar.
Guru juga perlu belajar mengelola kegiatan, membangun jejaring, menulis, mendokumentasikan, dan membagikan pengalaman.
Begitu pula dengan OTN 8. Kita tidak ingin hanya mengatakan: "OTN 8 sukses."
Kita ingin dapat menunjukkan:
"Inilah panitianya."
"Inilah juknisnya."
"Inilah jurinya."
"Inilah pesertanya."
"Inilah proses perlombaannya."
"Inilah dokumentasinya."
"Inilah pemenangnya."
"Inilah publikasinya."
"Inilah laporan akhirnya."
Dengan bukti yang lengkap, sebuah kegiatan akan mempunyai cerita yang jauh lebih kuat. Maka, untuk seluruh panitia OTN 8 Tahun 2026, mari kita mulai dari sekarang.
Tidak perlu menunggu acara selesai. Tidak perlu menunggu ada permintaan dokumen. Tidak perlu menunggu batas akhir pengajuan.
Kita siapkan semuanya sejak hari ini. Sebab sebuah ajang yang baik bukan hanya terlihat hebat ketika dilaksanakan, tetapi juga rapi ketika dibuktikan.
OTN 8: Rancang. Laksanakan. Dokumentasikan. Buktikan.
OTN 8 2026 hadir bukan sekadar lomba, tetapi panggung talenta digital pelajar untuk mengasah koding, robotik, KKA, informatika, dan E-Sport sekaligus menyiapkan ajang yang kredibel dan siap dikurasi.
OTN 8 2026 bukan sekadar lomba. Panitia harus menyiapkan kegiatan yang tertib, kredibel, terdokumentasi, dan siap dibuktikan untuk proses kurasi.
Salam Blogger Persahabatan.
Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
https://www.kompasiana.com/wijayalabs/6aa5e102ed64152c611a5055/otn-8-2026-harus-siap-dikurasi-bukan-sekadar-sukses-dilaksanakan-di-jicc
