Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Selasa, 03 Februari 2026
Tangisan Sunyi Guru Honorer
Senin, 02 Februari 2026
Ketika TPG Terjebak Jam Mengajar: Catatan Hati Seorang Guru
Ketika TPG Terjebak Jam Mengajar: Catatan Hati Seorang Guru
Oleh: Omjay – Guru Blogger Indonesia
Beberapa hari terakhir, pesan-pesan dari guru terus masuk ke ponsel saya. Ada yang mengeluh, ada yang bertanya, ada pula yang hanya ingin didengar. Intinya sama: Tunjangan Profesi Guru (TPG) mereka terhenti karena jam mengajar tidak mencapai 24 jam tatap muka.
Sebagai guru, saya paham betul perasaan itu. Bukan soal besar kecilnya tunjangan semata, tetapi soal rasa keadilan dan pengakuan. Ketika seorang guru sudah bersertifikat pendidik, sudah diakui negara sebagai tenaga profesional, mengapa hak profesinya bisa gugur hanya karena hitungan jam?
Pertanyaan ini terus menggelayut di kepala saya.
Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara jelas menyebutkan bahwa guru adalah tenaga profesional. Profesionalisme itu dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diterbitkan oleh negara setelah guru memenuhi standar kompetensi. Sertifikat itu bukan hadiah, bukan pula formalitas. Ia adalah pengakuan negara bahwa seorang guru layak disebut profesional.
Dalam semangat itulah TPG lahir: sebagai penghargaan profesi.
Namun, dalam praktiknya, makna itu perlahan bergeser. TPG seakan berubah menjadi tunjangan berbasis jam mengajar. Jika jam kurang, meski hanya satu atau dua jam, maka hak profesi bisa hilang. Di sinilah kegelisahan itu bermula.
Saya sering merenung: apakah profesionalisme guru benar-benar diukur dari jumlah jam tatap muka? Apakah kerja guru hanya bernilai saat berdiri di depan kelas?
Padahal kita tahu, tugas guru jauh lebih luas dari itu. Guru merencanakan pembelajaran, menyusun perangkat ajar, melakukan asesmen, membimbing peserta didik, berkomunikasi dengan orang tua, mengikuti pelatihan, dan terus belajar agar tidak tertinggal zaman. Semua itu adalah kerja profesional, meski tidak selalu tercatat sebagai jam mengajar.
Realitas di lapangan juga tidak sesederhana di atas kertas. Banyak sekolah memiliki keterbatasan rombongan belajar. Ada mata pelajaran yang kelebihan guru. Ada kebijakan zonasi yang mengubah komposisi kelas. Dalam kondisi seperti ini, bukan kemauan guru yang menentukan jam, tetapi sistem.
Lalu, apakah adil jika guru menanggung konsekuensi dari sistem yang tidak ia rancang?
Saya teringat seorang guru senior yang berkata lirih, “Kami diminta profesional, tapi sering diperlakukan seperti pekerja harian yang dihitung per jam.” Kalimat itu sederhana, tetapi menohok.
TPG seharusnya bukan upah lembur mengajar. Ia adalah simbol penghargaan negara kepada profesi guru. Ketika TPG digantungkan sepenuhnya pada jam mengajar, maka yang terjadi bukan peningkatan mutu pendidikan, melainkan kegelisahan kolektif para guru.
Banyak guru akhirnya sibuk mengejar jam tambahan ke sana ke mari. Energi habis untuk urusan administratif, bukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Padahal, pendidikan yang baik lahir dari guru yang bekerja dengan tenang dan bermartabat.
Saya tidak menolak pengaturan jam mengajar. Jam mengajar tetap penting sebagai bagian dari manajemen beban kerja. Namun, ia harus ditempatkan secara proporsional, adil, dan kontekstual. Jangan sampai jam mengajar menjadi alat untuk menggugurkan hak profesi yang sudah diakui undang-undang.
Sudah saatnya kebijakan TPG dikembalikan pada ruh Undang-Undang Guru dan Dosen. Sertifikat pendidik harus menjadi dasar utama penghargaan profesi. Sementara pengaturan jam mengajar menjadi instrumen pengelolaan kerja, bukan palu pemukul hak.
Guru ingin mengajar dengan hati, bukan dengan rasa takut. Guru ingin fokus mendidik, bukan sibuk menghitung jam. Guru ingin dimanusiakan, agar mampu memanusiakan manusia.
Semoga catatan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua: pendidikan tidak akan maju jika gurunya terus didera kegelisahan. Negara besar adalah negara yang menghargai gurunya, bukan sekadar menghitung jamnya.
Salam hormat,
Omjay
Sabtu, 31 Januari 2026
Ketika Guru Bertemu Muridnya
Menjaga Api Literasi di PGRI
Kamis, 29 Januari 2026
Jadilah Seperti Pohon
Senin, 26 Januari 2026
Kabar Duka Pak Tori Meninggal
Sabtu, 17 Januari 2026
Ketika Koruptor Menuduh Koruptor
Rabu, 14 Januari 2026
Hidup Sesudah Mati
Senin, 12 Januari 2026
Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar
Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar
Perubahan zaman menuntut sekolah untuk tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membekali siswa dengan cara berpikir yang relevan dengan era digital. Salah satu upaya penting yang kini mulai diperkenalkan adalah pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), termasuk di jenjang Sekolah Dasar (SD).
Namun, masih banyak guru SD yang bertanya-tanya: bagaimana cara mengajarkannya di kelas? Apakah harus mahir komputer? Apakah butuh perangkat mahal? Jawabannya: tidak. KKA di SD justru bisa diajarkan secara sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak.
Artikel ini menyajikan contoh praktik KKA di kelas SD yang mudah diterapkan oleh guru, bahkan oleh guru yang baru pertama kali mengenal koding dan AI.
KKA di SD: Bukan Tentang Kode, Tapi Cara Berpikir
Sebelum masuk ke praktik, penting dipahami bahwa KKA di sekolah dasar bukan bertujuan mencetak programmer cilik. Fokus utamanya adalah melatih:
-
Berpikir logis dan runtut
-
Memecahkan masalah sederhana
-
Berani mencoba dan memperbaiki kesalahan
-
Bekerja sama dan berkomunikasi
Dengan kata lain, KKA adalah sarana untuk membentuk cara berpikir komputasional, bukan menghafal bahasa pemrograman.
Praktik 1: Unplugged Coding – Bermain Jadi Robot
(Tanpa Komputer, Kelas 1–3)
Praktik paling sederhana bisa dimulai tanpa komputer sama sekali. Guru cukup mengajak siswa bermain peran.
Satu siswa berperan sebagai robot, dan siswa lainnya sebagai programmer. Programmer memberi perintah sederhana seperti “maju dua langkah”, “belok kanan”, atau “berhenti”. Robot hanya boleh bergerak sesuai perintah.
Tujuannya sederhana: membawa robot menuju satu titik, misalnya meja guru atau sebuah kursi.
Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa:
-
Perintah harus jelas
-
Urutan perintah sangat penting
-
Satu kesalahan kecil bisa membuat tujuan tidak tercapai
Tanpa disadari, siswa sedang belajar algoritma, inti dari koding.
Praktik 2: Menyusun Urutan Kegiatan Sehari-hari
(Kelas 2–4)
Guru menyiapkan kartu bergambar aktivitas sehari-hari: bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah. Kartu dibagikan secara acak kepada kelompok kecil.
Tugas siswa adalah menyusun kartu tersebut menjadi urutan yang benar. Setelah itu, guru mengaitkan kegiatan ini dengan koding.
“Komputer itu seperti kita tadi. Kalau urutannya salah, hasilnya juga salah.”
Kegiatan sederhana ini membuat siswa memahami bahwa logika koding ada di kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang asing.
Praktik 3: Koding Visual dengan Scratch Jr
(Dengan Perangkat, Kelas 3–6)
Jika sekolah memiliki tablet atau komputer, guru dapat menggunakan aplikasi Scratch Jr atau Scratch.
Guru tidak perlu menjelaskan istilah rumit. Cukup menunjukkan balok perintah seperti:
-
maju
-
putar
-
berhenti
Siswa diberi tantangan sederhana: buat karakter berjalan menuju rumahnya. Jika karakter tidak sampai tujuan, siswa diminta memperbaiki susunan perintah.
Di sinilah pembelajaran bermakna terjadi. Siswa belajar bahwa:
-
Salah itu wajar
-
Kesalahan bisa diperbaiki
-
Mencoba ulang adalah bagian dari belajar
Praktik 4: Cerita Digital Interaktif
(Integrasi Bahasa Indonesia, Kelas 4–6)
KKA tidak berdiri sendiri. Guru bisa mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain.
Dalam praktik ini, siswa diminta menulis cerita pendek, lalu mengubahnya menjadi animasi sederhana menggunakan Scratch. Karakter bisa bergerak, berbicara, atau berubah latar.
Hasilnya bukan hanya pembelajaran koding, tetapi juga:
-
Literasi membaca dan menulis
-
Kreativitas
-
Kepercayaan diri saat presentasi
Praktik 5: Mengenal Kecerdasan Artifisial (AI) Secara Sederhana
(Tanpa Coding)
Untuk mengenalkan AI, guru tidak perlu membuat program canggih. Cukup ajak siswa berdiskusi.
Guru bertanya, “Mengapa ponsel bisa mengenali wajah?”
Dari jawaban siswa, guru menjelaskan bahwa AI belajar dari banyak contoh.
Siswa kemudian diajak berdiskusi tentang:
-
Manfaat AI
-
Risiko penggunaan AI
-
Etika dan privasi
Di sinilah pendidikan karakter bertemu dengan teknologi.
Praktik 6: Simulasi AI di Kelas
(Role Play, Kelas 4–6)
Guru menyiapkan gambar hewan dan benda. Siswa berperan sebagai “mesin pintar”. Guru memberi contoh beberapa kali, lalu siswa diminta menebak gambar baru berdasarkan contoh sebelumnya.
Melalui permainan ini, siswa memahami bahwa:
-
AI bisa salah
-
AI tergantung pada data
-
Manusia tetap memegang kendali
Penilaian dalam Pembelajaran KKA
Penilaian KKA di SD sebaiknya tidak berfokus pada angka. Guru dapat menilai melalui:
-
Keaktifan siswa
-
Proses berpikir
-
Kerja sama
-
Kreativitas
Portofolio karya siswa jauh lebih bermakna daripada tes tertulis.
Penutup: Guru Tidak Harus Hebat Teknologi, Cukup Berani Memulai
Koding dan Kecerdasan Artifisial di sekolah dasar bukan tentang kecanggihan alat, melainkan tentang keberanian guru untuk belajar bersama siswa.
Guru tidak harus sempurna.
Guru tidak harus ahli.
Guru cukup satu langkah lebih maju dan mau mencoba.
Dari kelas sederhana, lahir generasi yang tidak hanya memakai teknologi, tetapi memahami, mengendalikan, dan menggunakannya dengan bijak.

