Menulis Itu Mudah, Asal Mau Memulai
Teaser: Banyak orang merasa menulis itu sulit. Padahal, yang paling sulit bukan menulis, melainkan mengalahkan rasa takut untuk memulai.
Menulis sering kali terlihat seperti pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pandai merangkai kata. Kita melihat tulisan yang bagus di buku, media massa, blog, atau media sosial, lalu diam-diam berkata dalam hati, “Saya tidak mungkin bisa menulis seperti itu.” Akhirnya, niat menulis berhenti sebelum satu kalimat pun berhasil dibuat.
Padahal, benarkah menulis itu sulit?
Saya justru percaya sebaliknya. Menulis itu mudah, asal mau memulai. Kalimat ini bukan sekadar slogan. Selama bertahun-tahun menjadi guru dan menulis di blog, saya belajar bahwa kemampuan menulis tidak lahir karena seseorang tiba-tiba menjadi hebat dalam merangkai kata. Kemampuan itu tumbuh karena seseorang bersedia membaca, mencoba, berlatih, melakukan kesalahan, memperbaiki tulisan, lalu menulis lagi.
Saya sering mengatakan kepada guru dan peserta pelatihan, jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya tidak bisa menulis.” Cobalah bertanya kepada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang membuat saya belum mulai menulis?”
Pertanyaan sederhana itu sering membuka persoalan yang lebih besar.
Apa yang Membuat Kita Takut Menulis?
Ketika seseorang mengatakan menulis itu sulit, biasanya ada banyak alasan yang berada di belakangnya. Ada yang merasa tidak punya ide. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada yang merasa tidak pandai memilih kata. Ada yang mengatakan tidak punya waktu. Ada pula yang menunggu suasana hati atau mood yang tepat.
Ada juga orang yang terlalu banyak berpikir sebelum mulai menulis.
Kalimat pertama belum dibuat, tetapi sudah membayangkan bagaimana komentar pembaca. Baru satu paragraf, sudah memikirkan apakah tulisan tersebut akan viral. Bahkan belum selesai menulis, sudah sibuk membandingkan tulisannya dengan karya penulis lain yang sudah bertahun-tahun berlatih.
Di sinilah masalahnya.
Kesulitan terbesar dalam menulis sering kali bukan berada di tangan, tetapi di pikiran.
Tangan sebenarnya bisa mengetik. Jari bisa menekan tombol huruf di laptop atau ponsel. Buku catatan juga tersedia. Namun, pikiran terus berkata, “Nanti saja.”
Besok berubah menjadi minggu depan. Minggu depan berubah menjadi bulan depan. Tanpa terasa, ide yang semula begitu kuat akhirnya hilang.
Karena itu, jangan menunggu tulisan sempurna untuk mulai menulis. Mulailah dari tulisan yang sederhana.
Jangan Membuat Menulis Menjadi Rumit
Menulis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan berbicara kepada seorang sahabat.
Ketika berbicara dengan teman, kita tidak sibuk memikirkan apakah setiap kalimat sudah sempurna. Kita hanya menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Mengapa ketika menulis kita justru menjadi sangat takut?
Cobalah menulis dengan cara sederhana.
Tanyakan terlebih dahulu, “Apa yang ingin saya ceritakan?”
Setelah itu tuliskan.
Jangan langsung memikirkan kesempurnaan. Jangan takut salah. Jangan terlalu lama memikirkan judul. Tulis saja apa yang ada di kepala. Setelah selesai, barulah baca kembali, perbaiki bagian yang kurang jelas, kemudian publikasikan jika memang sudah siap.
Rumus sederhananya:
Tulis → Baca → Perbaiki → Publikasikan.
Dengan cara seperti ini, menulis tidak lagi menjadi pekerjaan yang menakutkan. Menulis berubah menjadi kebiasaan.
Dari Mana Mendapatkan Ide?
Pertanyaan lain yang sering muncul adalah, “Saya tidak punya ide untuk menulis.”
Benarkah kita tidak punya ide?
Coba lihat kehidupan sehari-hari.
Ide ada di sekitar kita. Pengalaman mengajar di kelas bisa menjadi tulisan. Percakapan dengan murid bisa menjadi tulisan. Pengalaman bersama keluarga bisa menjadi tulisan. Buku yang baru selesai dibaca bisa menjadi bahan tulisan. Berita yang menarik perhatian kita bisa dikembangkan menjadi artikel.
Bahkan perjalanan menuju sekolah, kejadian sederhana di ruang guru, pengalaman mengikuti pelatihan, kegagalan dalam sebuah kegiatan, atau keberhasilan seorang siswa menyelesaikan tugas dapat menjadi cerita yang menarik.
Jangan menunggu ide besar. Tuliskan hal kecil yang bermakna.
Satu pengalaman sederhana bisa menjadi artikel. Beberapa artikel dapat menjadi kumpulan tulisan. Kumpulan tulisan bisa berkembang menjadi buku. Pada akhirnya, tulisan-tulisan itu dapat menjadi warisan pemikiran yang terus dibaca orang lain.
Saya menyebutnya sebagai proses dari tulisan menjadi banyak karya.
Mulailah dari catatan kecil. Kembangkan menjadi artikel. Publikasikan di blog. Kumpulkan tulisan-tulisan tersebut. Setelah jumlahnya cukup, susun menjadi buku.
Jangan pernah meremehkan satu tulisan.
Bisa jadi tulisan yang hari ini kita anggap sederhana justru menjadi awal lahirnya sebuah buku beberapa tahun kemudian.
Gunakan Rumus 3M
Bagi saya, ada rumus sederhana untuk mulai menulis: Mulai dari Hal Kecil, Mulai dari Diri Sendiri, dan Mulai Saat Ini.
Mulai dari hal kecil. Jangan langsung memaksakan diri menulis buku. Satu paragraf pun cukup. Satu pengalaman pun cukup. Yang penting mulai.
Mulai dari diri sendiri. Tulislah pengalaman yang benar-benar kita alami. Ketika menulis pengalaman sendiri, biasanya kita tidak akan kehabisan bahan karena kita memiliki cerita, perasaan, kejadian, dan pelajaran yang bisa dibagikan.
Mulai saat ini. Jangan menunggu besok. Sebab, kalau bukan sekarang, kapan lagi?
Tiga langkah sederhana ini dapat mengubah kebiasaan seseorang. Yang awalnya hanya berniat menulis, perlahan menjadi orang yang benar-benar menulis.
Jangan Takut Tulisan Jelek
Salah satu musuh terbesar penulis pemula adalah rasa takut.
Takut tulisannya jelek.
Padahal, tulisan yang belum sempurna masih bisa diperbaiki. Tulisan yang tidak pernah dibuat sama sekali tidak bisa diperbaiki.
Karena itu, ubahlah cara berpikir.
Daripada berkata:
“Tulisan saya jelek.”
lebih baik mengatakan:
“Tulisan saya sedang belajar menjadi lebih baik.”
Kalimat sederhana tersebut mengubah cara kita memandang proses belajar.
Tidak ada penulis yang langsung menghasilkan tulisan sempurna pada percobaan pertama. Menulis adalah proses. Semakin sering menulis dan membaca, semakin terasah kemampuan kita.
Menulis itu seperti pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam.
Begitu juga kemampuan menulis. Semakin sering membaca, menulis, mengevaluasi, lalu menulis kembali, kemampuan kita akan berkembang.
Ketika Tidak Punya Ide, Cobalah Bertanya
Ada hari ketika kita merasa benar-benar tidak punya ide. Tidak perlu panik.
Cobalah bertanya kepada diri sendiri:
Apa yang saya alami hari ini?
Apa yang membuat saya bahagia?
Apa yang membuat saya kecewa?
Apa yang saya pelajari?
Apa yang ingin saya bagikan kepada orang lain?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju sebuah tulisan.
Kadang-kadang kita merasa tidak punya ide karena terlalu jauh mencari sesuatu yang besar. Padahal, ide terbaik justru sedang berada di depan mata.
Pengalaman hari ini adalah bahan tulisan.
Kesalahan hari ini adalah bahan pembelajaran.
Percakapan hari ini adalah bahan cerita.
Bahkan kegagalan hari ini dapat menjadi tulisan yang menginspirasi orang lain.
Jangan Menunggu Mood
Ada satu kebiasaan yang sering menghambat penulis pemula: menunggu mood.
“Saya akan menulis kalau sedang punya mood.”
Masalahnya, mood tidak selalu datang sesuai jadwal.
Kalau kita hanya menulis ketika mood datang, bisa jadi kita lebih sering menunggu daripada menulis.
Karena itu, tulis saja sebelum mood datang.
Sering kali justru mood muncul setelah kita mulai menulis.
Awalnya hanya satu kalimat. Kemudian menjadi satu paragraf. Setelah itu muncul paragraf kedua. Tidak terasa, tulisan mulai mengalir.
Jadi jangan menunggu mood untuk menulis.
Menulislah, maka mood bisa menyusul.
Bahkan ketika kita sedang tidak memiliki ide untuk menulis, kita bisa menulis kalimat sederhana seperti, “Hari ini saya tidak punya ide untuk menulis.” Dari kalimat tersebut kita dapat bercerita tentang mengapa kita kehilangan ide, apa yang terjadi sepanjang hari, dan bagaimana akhirnya kita menemukan kembali semangat untuk menulis.
Itulah menariknya menulis.
Satu kalimat dapat melahirkan kalimat berikutnya.
Cobalah Tantangan Menulis 10 Menit
Jika masih merasa sulit, mari kita lakukan tantangan sederhana.
Sediakan waktu 10 menit.
Pilih salah satu tema: pengalaman paling berkesan sebagai guru, murid yang pernah memberi pelajaran berharga, pelajaran yang baru didapatkan hari ini, alasan mengapa ingin menjadi penulis, atau satu kejadian lucu dalam kehidupan.
Kemudian tulislah selama 10 menit.
Ada aturan sederhana: jangan menghapus, jangan mengedit, jangan takut salah, dan teruslah menulis.
Tujuannya bukan menghasilkan tulisan sempurna. Tujuannya adalah melatih otak dan tangan agar terbiasa menulis.
Sepuluh menit mungkin terasa singkat. Tetapi jika dilakukan secara rutin, hasilnya luar biasa.
Bayangkan jika setiap hari kita menulis selama 10 menit. Dalam satu bulan, kita sudah memiliki banyak catatan. Dari catatan itu bisa lahir artikel. Dari artikel bisa lahir buku.
Kuncinya adalah konsistensi.
Formula Menulis Cepat: 5 Langkah
Saya juga suka menggunakan lima langkah sederhana ketika mengajarkan menulis.
Pertama, temukan ide.
Kedua, tuliskan ide tersebut tanpa terlalu banyak berpikir.
Ketiga, kembangkan dengan menambahkan pengalaman, contoh, data, dialog, atau cerita.
Keempat, perbaiki dengan membaca ulang dan mengoreksi tulisan.
Kelima, publikasikan agar tulisan memiliki pembaca dan manfaat.
Yang perlu diperhatikan adalah jangan berhenti pada langkah kedua.
Banyak orang sudah punya ide, bahkan sudah menulis, tetapi tulisannya hanya tersimpan di laptop atau ponsel.
Sayang sekali.
Tulisan yang hanya tersimpan di dalam perangkat belum memberikan manfaat kepada banyak orang. Ketika dipublikasikan, tulisan memiliki kesempatan untuk dibaca, dikomentari, dikritik, dan memberikan inspirasi.
Menulis di Era AI
Hari ini kita hidup di era kecerdasan artifisial atau AI. Teknologi dapat membantu mencari ide, membuat kerangka, menemukan alternatif judul, memberikan umpan balik, bahkan membantu mengembangkan tulisan.
Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada AI: pengalaman dan cerita kita sendiri.
AI bisa membantu mencari dan mengolah informasi. AI dapat menjadi teman berpikir. Tetapi pengalaman hidup adalah milik kita.
Karena itu saya lebih suka mengatakan:
AI membantu, bukan menggantikan penulis.
Gunakan AI sebagai teman berpikir, bukan sebagai pengganti pikiran.
Guru yang mengalami langsung pembelajaran di kelas memiliki cerita yang tidak dimiliki oleh mesin. Seorang ibu memiliki pengalaman keluarga yang unik. Seorang siswa memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Seorang guru memiliki pengalaman menghadapi murid, orang tua, dan lingkungan sekolah.
Semua itu adalah kekayaan tulisan.
Teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi manusia tetap memiliki cerita.
Dan cerita itulah yang perlu ditulis.
Menulis Setiap Hari
Bagi saya, menulis bukan hanya aktivitas untuk menghasilkan buku. Menulis adalah cara merekam perjalanan kehidupan.
Saya sering menggunakan kalimat:
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Dengan menulis setiap hari, kita sedang membuat rekaman perjalanan hidup. Apa yang kita pikirkan hari ini mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat berharga beberapa tahun kemudian.
Blog adalah salah satu tempat yang sangat baik untuk menyimpan rekaman tersebut.
Tulisan hari ini mungkin hanya dibaca beberapa orang. Tetapi kita tidak pernah tahu siapa yang akan menemukannya di masa depan melalui mesin pencari, media sosial, grup WhatsApp, atau rekomendasi seorang teman.
Satu tulisan dapat memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada percakapan lisan.
Karena itu saya juga sering mengatakan:
“Blog adalah alat rekam yang ajaib.”
Apa yang kita tulis hari ini dapat menjadi jejak digital yang terus hidup.
Jangan Bilang Menulis Itu Sulit Sebelum Mencobanya
Pada akhirnya, persoalan menulis bukan semata-mata tentang kemampuan merangkai kata. Persoalannya adalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus belajar.
Jangan mengatakan menulis itu sulit sebelum kita benar-benar mencobanya.
Jangan takut tulisan pertama jelek.
Jangan menunggu punya ide besar.
Jangan menunggu mood.
Jangan menunggu waktu luang yang sempurna.
Jangan pula menunggu menjadi penulis hebat baru berani menulis.
Mulailah sekarang.
Tutup laptop yang belum digunakan. Buka buku catatan. Ambil ponsel. Kemudian tuliskan satu paragraf tentang apa yang sedang Anda pikirkan saat ini.
Tidak perlu hebat.
Tidak perlu sempurna.
Yang penting mulai menulis.
Sebab, setiap penulis hebat pernah menjadi penulis pemula. Setiap buku pernah dimulai dari satu halaman. Setiap artikel pernah dimulai dari satu kalimat.
Dan mungkin, satu kalimat yang Anda tulis hari ini akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.
Menulis itu mudah, asal mau memulai.
Salam Blogger Persahabatan.
Omjay
Guru Blogger Indonesia
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
6 Tag SEO
#MenulisItuMudah #TipsMenulis #BelajarMenulis #GuruMenulis #LiterasiDigital #MenulisSetiapHari
