Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 01 Agustus 2026

Ketika Memgejar Akhirat Dunia Justru Menghampiri

Ketika Mengejar Akhirat, Dunia Justru Menghampiri

Kisah Omjay
Blog https://wijayalabs.com/about

Sabtu pagi selalu menjadi waktu yang istimewa bagi saya. Udara masih terasa sejuk, burung-burung mulai bernyanyi, dan sinar matahari perlahan menyapa bumi. Di saat seperti itulah saya senang merenungkan perjalanan hidup yang telah Allah anugerahkan. Usia terus bertambah, pengalaman semakin banyak, dan pelajaran kehidupan pun semakin terasa bermakna. Saya menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang mengumpulkan harta, mengejar jabatan, atau mendapatkan pujian manusia. Hidup adalah perjalanan menuju Allah. Ketika tujuan itu menjadi jelas, langkah-langkah kita akan terasa lebih ringan meskipun jalan yang dilalui tidak selalu mudah.

Saya teringat masa-masa ketika masih muda. Seperti kebanyakan orang, saya juga pernah berpikir bahwa kebahagiaan hanya bisa diraih dengan memiliki banyak materi. Saya bekerja keras, mengajar dari pagi hingga sore, mengikuti berbagai kegiatan, menulis di sela-sela kesibukan, dan berusaha memberikan yang terbaik untuk keluarga. Semua itu memang penting, tetapi ada satu hal yang sering terlupakan, yaitu memperbaiki hubungan dengan Allah. Ketika hati terlalu sibuk mengejar dunia, tanpa disadari waktu untuk beribadah menjadi berkurang, rasa syukur mulai menipis, dan hati mudah gelisah ketika keinginan tidak tercapai.

Seiring perjalanan waktu, Allah mengajarkan saya melalui berbagai peristiwa. Saya pernah mengalami masa-masa sulit, mulai dari kesehatan yang menurun hingga berbagai ujian yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Saat itulah saya memahami sebuah kalimat yang begitu dalam maknanya, "Ketika kamu mencari dunia, kamu kehilangan akhirat. Ketika kamu mencari akhirat, kamu mendapatkan dunia dan akhirat." Kalimat itu bukan sekadar kata-kata indah, melainkan kenyataan yang saya rasakan sendiri. Ketika niat bekerja saya ubah menjadi ibadah, ketika menulis saya niatkan untuk berbagi manfaat, dan ketika mengajar saya jadikan sebagai ladang amal, justru banyak pintu rezeki yang Allah bukakan tanpa saya duga.

Sebagai guru, saya belajar bahwa mengajarkan ilmu bukan sekadar memenuhi kewajiban profesi. Setiap huruf yang dipahami murid, setiap semangat yang tumbuh dalam diri mereka, bahkan setiap keberhasilan yang mereka raih di masa depan dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir. Inilah kekayaan yang sesungguhnya. Harta bisa habis, jabatan bisa berganti, tetapi ilmu yang bermanfaat akan terus hidup bahkan setelah kita meninggalkan dunia.

Ada kalanya kita merasa kecewa karena rencana yang telah disusun tidak berjalan sesuai harapan. Saya pun pernah mengalaminya. Pernah merasa sedih ketika usaha yang dilakukan tidak membuahkan hasil seperti yang diinginkan. Namun semakin bertambah usia, saya semakin yakin bahwa Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik daripada rencana manusia. Apa yang menurut kita baik belum tentu baik menurut Allah, dan apa yang kita anggap sebagai kegagalan sering kali menjadi jalan menuju keberhasilan yang lebih besar. Karena itu, ketika segala sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan, saya memilih untuk tetap percaya kepada Allah. Tugas kita hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasilnya adalah hak Allah.

Pelajaran lain yang sangat membekas dalam hidup saya adalah tentang sedekah. Banyak orang berpikir bahwa bersedekah akan mengurangi harta. Logika matematika memang mengatakan demikian. Jika seratus ribu rupiah dikurangi lima puluh ribu, sisanya tinggal lima puluh ribu. Namun dalam kehidupan nyata, saya berkali-kali menyaksikan bahwa sedekah memiliki rumus yang berbeda. Semakin ikhlas kita memberi, semakin Allah melapangkan rezeki dari arah yang tidak pernah disangka-sangka. Tidak selalu dalam bentuk uang, tetapi bisa berupa kesehatan, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, sahabat yang baik, kesempatan berkarya, hingga umur yang penuh keberkahan. Allah benar-benar menunjukkan bahwa sedekah bukan sekadar pengurangan, melainkan investasi yang hasilnya berlipat ganda.

Di era media sosial seperti sekarang, saya juga belajar menghadapi komentar dan penilaian orang lain. Sebagai penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan di blog dan media sosial, tentu tidak semua orang menyukai apa yang saya tulis. Ada yang memberikan kritik membangun, tetapi tidak sedikit pula yang memilih bergosip atau menyebarkan penilaian negatif. Dahulu saya mudah terganggu. Saya ingin menjelaskan semuanya agar orang memahami maksud saya. Namun semakin lama saya menyadari bahwa tidak semua omongan harus dijawab. Ada kalanya diam adalah jawaban terbaik. Ketika seseorang membicarakan keburukan kita tanpa alasan yang benar, sesungguhnya ia sedang memindahkan sebagian pahalanya kepada kita. Kesadaran itulah yang membuat hati menjadi lebih tenang dan tidak mudah terpancing emosi.

Saya semakin yakin bahwa kebahagiaan sejati bukan berasal dari banyaknya orang yang memuji, melainkan dari hati yang merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Hidup akan terasa ringan ketika kita tidak sibuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita hanya perlu menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin. Setiap pagi adalah kesempatan baru untuk memperbaiki niat, memperbanyak amal, memperluas manfaat, dan semakin mendekatkan diri kepada Allah.

Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Jabatan akan berakhir, kekayaan akan ditinggalkan, dan popularitas akan dilupakan. Yang akan menemani kita hanyalah amal saleh yang dilakukan dengan ikhlas. Oleh karena itu, jangan pernah lelah berbuat baik meskipun tidak semua orang menghargainya. Jangan berhenti berbagi ilmu meskipun tidak semua orang mengucapkan terima kasih. Jangan takut bersedekah karena Allah adalah sebaik-baik pemberi balasan. Dan jangan pernah berhenti berharap kepada Allah, karena pertolongan-Nya selalu datang pada waktu yang paling tepat.

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk lebih mengutamakan akhirat tanpa melupakan tanggung jawab di dunia. Ketika hati dipenuhi keimanan, dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan sarana untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang abadi. Semoga Allah senantiasa membimbing setiap langkah kita, melimpahkan keberkahan dalam umur, keluarga, pekerjaan, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang istiqamah dalam kebaikan.

Tetap semangat, terus belajar, terus berbagi, terus menulis, dan terus menebarkan manfaat. Karena hidup yang paling indah adalah hidup yang membawa kebaikan bagi sesama dan menjadi bekal terbaik untuk kembali kepada Allah SWT.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 31 Juli 2026

kisah omjay belajar sabar dalam menjalani hidup

Nasihat Pagi yang Menguatkan Hati: Kisah Omjay Belajar Sabar dalam Menjalani Kehidupan
Blig https://wijayalabs.com/about

Jumat pagi selalu menghadirkan suasana yang berbeda bagi saya. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Sebelum memulai aktivitas mengajar, menulis, dan menjalankan berbagai amanah sebagai pendidik, saya membiasakan diri membaca kalimat-kalimat hikmah yang mampu menyegarkan pikiran sekaligus menenangkan hati. Pagi ini saya membaca sebuah nasihat sederhana yang berbunyi, "Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling sabar dalam ketaatan." Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Saya teringat perjalanan hidup yang telah saya lalui selama puluhan tahun sebagai guru. Ternyata benar, kehidupan bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling dahulu mencapai tujuan, melainkan perjalanan panjang untuk tetap istiqamah menjalankan kebaikan meskipun jalan yang ditempuh sering kali berliku, penuh ujian, bahkan terkadang terasa sangat melelahkan.

Saya masih mengingat masa-masa ketika cita-cita terasa begitu jauh dari kenyataan. Menjadi guru bukanlah pekerjaan yang menjanjikan kemewahan. Banyak orang memilih profesi lain yang dianggap lebih bergengsi dan menghasilkan penghasilan lebih besar. Namun, saya tetap bertahan karena percaya bahwa setiap langkah yang diniatkan untuk mencari ridha Allah tidak akan pernah sia-sia. Keyakinan itulah yang membuat saya mampu bertahan menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas belajar, kesibukan mengajar, melanjutkan pendidikan hingga jenjang doktor, sampai menghadapi berbagai persoalan kesehatan yang sempat membuat langkah saya terhenti. Dalam setiap ujian, saya belajar bahwa kesabaran bukan berarti menyerah, melainkan tetap melangkah walaupun langkah itu terasa berat.

Nasihat berikutnya yang sangat menyentuh hati berbunyi, "Apa yang Allah ambil darimu, akan diganti dengan sesuatu yang lebih baik jika kamu bersabar." Saya pernah merasakan kehilangan kesempatan, kehilangan kesehatan, bahkan kehilangan kenyamanan yang selama ini dianggap biasa. Saat tubuh mulai memberi sinyal bahwa saya harus lebih menjaga diri, saya sempat bertanya mengapa semua ini terjadi. Akan tetapi, setelah merenungkannya lebih dalam, saya justru menemukan banyak hikmah yang sebelumnya tidak pernah saya sadari. Saya menjadi lebih dekat kepada keluarga, lebih menghargai waktu, lebih disiplin menjaga kesehatan, dan semakin rajin menulis. Seolah-olah Allah sedang mengajarkan bahwa kehilangan bukanlah akhir dari segalanya, tetapi awal dari perjalanan baru yang lebih bermakna apabila dijalani dengan penuh keikhlasan.

Saya juga belajar untuk tidak terlalu menggantungkan kebahagiaan kepada manusia. Kalimat, "Jangan takut kehilangan manusia, takutlah kehilangan ridha Allah," menjadi pengingat yang sangat kuat. Dalam perjalanan hidup, tidak semua orang akan memahami niat baik kita. Ada yang mengapresiasi, ada pula yang mencibir. Ada yang mendukung, ada juga yang menjatuhkan. Jika hati terlalu sibuk mengejar penilaian manusia, kita akan mudah kecewa. Sebaliknya, ketika tujuan utama adalah mencari ridha Allah, maka pujian tidak membuat kita tinggi hati dan hinaan tidak membuat kita kehilangan semangat. Itulah pelajaran yang terus saya pegang selama menjadi guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat.

Perjalanan hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian memiliki tujuan yang mulia. Ketika saya menghadapi cobaan kesehatan beberapa waktu lalu, banyak sahabat yang mengirimkan doa dan memberikan semangat. Saya menyadari bahwa ujian tidak datang untuk menghancurkan kehidupan seseorang. Justru melalui ujian itulah Allah menguatkan hati, membersihkan dosa, sekaligus mengingatkan bahwa manusia memiliki keterbatasan. Kita boleh merencanakan banyak hal, tetapi tetap Allah yang menentukan hasil akhirnya. Saat hati mulai pasrah kepada-Nya, beban yang terasa berat perlahan berubah menjadi kekuatan untuk bangkit kembali.

Sebagai seorang guru, saya sering mengatakan kepada para siswa bahwa rezeki bukan hanya berbentuk uang. Ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keluarga yang harmonis, sahabat yang tulus, kesempatan berbagi pengalaman, bahkan kemampuan menulis setiap hari juga merupakan rezeki yang luar biasa. Karena itu, saya sangat menyukai nasihat, "Rezeki tidak pernah salah alamat, ia datang di waktu yang paling tepat." Kalimat tersebut mengajarkan agar kita tidak iri terhadap pencapaian orang lain. Setiap orang memiliki garis hidup yang berbeda. Ada yang berhasil di usia muda, ada yang baru menuai hasil setelah puluhan tahun berjuang. Yang terpenting adalah terus berikhtiar tanpa kehilangan harapan.

Dalam perjalanan menulis ribuan artikel, saya juga sering merasakan doa yang belum langsung dikabulkan. Ada keinginan yang harus menunggu bertahun-tahun sebelum akhirnya menjadi kenyataan. Pada awalnya memang terasa berat, tetapi setelah melihat ke belakang, saya menyadari bahwa waktu yang Allah pilih selalu lebih baik daripada waktu yang saya inginkan. Ketika doa belum terkabul, bukan berarti Allah tidak mendengar. Justru pada masa penantian itulah karakter kita sedang dibentuk menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih matang dalam memaknai kehidupan.

Kini, di usia yang tidak lagi muda, saya semakin memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah. Jabatan, harta, popularitas, dan berbagai pencapaian hanyalah titipan yang suatu saat akan ditinggalkan. Yang akan tetap menemani adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, doa anak-anak yang saleh, dan karya yang menginspirasi banyak orang. Karena itulah saya terus berusaha menulis setiap hari. Saya berharap tulisan-tulisan sederhana yang lahir dari pengalaman hidup dapat menjadi amal jariyah yang terus mengalir manfaatnya, bahkan ketika saya sudah tidak lagi berada di dunia ini.

Akhirnya, saya menyadari bahwa kebahagiaan sejati tidak lahir dari banyaknya harta ataupun tingginya kedudukan, melainkan dari hati yang dipenuhi rasa syukur dan keikhlasan. Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup, sementara orang yang ikhlas akan menemukan ketenangan dalam keadaan apa pun. Itulah sebabnya saya selalu mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk tidak berhenti memperbaiki hubungan dengan Allah. Hati yang dekat dengan-Nya tidak akan lama terpuruk karena selalu memiliki harapan untuk bangkit. Semoga setiap nasihat yang kita baca pada pagi hari tidak hanya berhenti menjadi rangkaian kata-kata indah, tetapi benar-benar menjadi cahaya yang menerangi langkah kehidupan kita. Tetaplah bersabar, teruslah bersyukur, jangan pernah berhenti berbuat baik, dan yakinlah bahwa Allah selalu mengetahui setiap lelah yang kita sembunyikan dari pandangan manusia. Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

belum bisa

Satu Kata yang Mengubah Masa Depan: Kekuatan Kata “Belum”

Dalam kehidupan, sering kali kita menjadi hakim yang paling keras bagi diri sendiri. Ketika menghadapi kesulitan, kegagalan, atau tantangan baru, kalimat yang pertama kali muncul adalah, “Saya tidak bisa.” Tanpa disadari, kalimat sederhana itu menjadi penghalang yang menutup pintu harapan. Pikiran menjadi pesimis, semangat menurun, dan akhirnya kita memilih berhenti sebelum benar-benar mencoba. Padahal, perubahan besar terkadang hanya membutuhkan satu kata sederhana yang mampu mengubah cara berpikir kita. Kata itu adalah “belum.”

Mengganti kalimat “Saya tidak bisa” menjadi “Saya belum bisa” tampak seperti perubahan kecil. Namun, dampaknya sangat besar. Kata “belum” menunjukkan bahwa kemampuan bukanlah sesuatu yang tetap, melainkan sesuatu yang dapat terus berkembang melalui proses belajar, latihan, dan pengalaman. Kata itu memberi ruang bagi harapan, usaha, dan keyakinan bahwa suatu hari nanti apa yang belum dikuasai akan menjadi kemampuan yang membanggakan.

Dalam dunia pendidikan, konsep ini dikenal sebagai growth mindset atau pola pikir berkembang yang dipopulerkan oleh psikolog Carol S. Dweck melalui bukunya Mindset: The New Psychology of Success. Menurutnya, orang yang memiliki pola pikir berkembang percaya bahwa kecerdasan dan kemampuan dapat ditingkatkan melalui kerja keras, strategi yang tepat, dan kemauan untuk terus belajar. Sebaliknya, orang dengan pola pikir tetap cenderung menganggap kemampuan adalah bakat bawaan sehingga mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan.

Bagi seorang guru, kata “belum” memiliki makna yang sangat mendalam. Ketika seorang siswa belum mampu menyelesaikan soal matematika, belum lancar membaca, belum percaya diri berbicara di depan kelas, atau belum memahami konsep tertentu, tugas guru bukanlah memberi label bahwa siswa itu tidak mampu. Sebaliknya, guru perlu membantu siswa menyadari bahwa mereka belum berhasil, tetapi sedang berada dalam proses belajar. Dengan begitu, siswa akan memiliki keberanian untuk mencoba lagi tanpa takut gagal.

Hal yang sama juga berlaku bagi para guru. Di era digital saat ini, banyak guru yang merasa kesulitan menggunakan teknologi, memanfaatkan kecerdasan artifisial, membuat media pembelajaran interaktif, atau mengelola kelas digital. Jangan pernah berkata, “Saya tidak bisa menggunakan teknologi.” Ubah menjadi, “Saya belum bisa menggunakan teknologi, tetapi saya sedang belajar.” Kalimat itu akan membangkitkan motivasi untuk mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan rekan sejawat, membaca buku, dan terus meningkatkan kompetensi diri.

Perubahan besar memang selalu diawali dari langkah kecil. Sebuah pohon yang rindang berawal dari benih mungil yang tumbuh perlahan. Demikian pula kesuksesan. Tidak ada orang yang langsung menjadi ahli dalam satu malam. Semua melewati proses panjang yang dipenuhi latihan, kegagalan, evaluasi, dan semangat untuk bangkit kembali. Kata “belum” mengingatkan kita bahwa perjalanan masih panjang dan kesempatan untuk berkembang masih selalu terbuka.

Refleksi ini juga sejalan dengan ajaran Islam. Allah Swt. berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 216 bahwa boleh jadi kita membenci sesuatu, padahal itulah yang terbaik bagi kita. Ayat tersebut mengajarkan bahwa keterbatasan hari ini bukanlah akhir dari perjalanan. Di balik setiap kesulitan, Allah telah menyiapkan pelajaran, hikmah, dan kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih kuat. Karena itu, jangan pernah menganggap kegagalan sebagai akhir segalanya. Bisa jadi kegagalan adalah pintu menuju keberhasilan yang lebih besar.

Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Ada yang gagal dalam pendidikan, pekerjaan, usaha, bahkan dalam kehidupan keluarga. Namun, mereka yang berhasil bukanlah orang yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang terus berkata kepada dirinya sendiri, “Saya belum berhasil, tetapi saya akan terus belajar dan mencoba.” Sikap inilah yang membuat seseorang tetap melangkah ketika orang lain memilih menyerah.

Hari ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri. Kalimat apa yang paling sering kita ucapkan ketika menghadapi kesulitan? Apakah kita masih mengatakan “Saya tidak bisa,” atau sudah mulai membiasakan diri berkata, “Saya belum bisa”? Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan arah masa depan kita. Sebab, perubahan tidak selalu dimulai dari tindakan besar, tetapi sering kali berawal dari cara kita berbicara kepada diri sendiri.

Mulailah hari ini dengan mengganti satu kata dalam setiap tantangan yang datang. Tambahkan kata “belum” pada setiap keterbatasan yang kita rasakan. Dengan begitu, kita sedang menanam benih optimisme, membuka pintu pembelajaran, dan membangun keyakinan bahwa setiap usaha kecil hari ini adalah langkah besar menuju masa depan yang lebih baik. Teruslah belajar, teruslah bertumbuh, dan teruslah menginspirasi, karena masa depan selalu berpihak kepada mereka yang tidak pernah berhenti mengatakan, “Saya belum bisa, tetapi saya sedang belajar.”

Kamis, 30 Juli 2026

komunikasi yang nyaman dengan cara menjadi pendengar yang aktif

Kisah Omjay: Strategi Mendengar Aktif untuk Menciptakan Komunikasi yang Nyaman
Blog https://wijayalabs.com/about

Dalam perjalanan hidup sebagai guru selama lebih dari tiga dekade, saya belajar bahwa kemampuan mengajar yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mendengarkan. Banyak orang menganggap komunikasi yang efektif ditentukan oleh kepandaian berbicara. Padahal, pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa komunikasi yang nyaman justru lahir ketika seseorang mampu mendengar dengan sepenuh hati. Itulah pelajaran berharga yang terus saya pegang hingga hari ini sebagai pendidik, penulis, narasumber, sekaligus pembelajar sepanjang hayat.

Pada masa-masa awal menjadi guru, saya sering bersemangat menjelaskan materi di depan kelas. Saya ingin seluruh siswa memahami apa yang saya sampaikan sehingga hampir seluruh waktu pembelajaran dipenuhi penjelasan dari saya. Setelah beberapa tahun mengajar, saya mulai menyadari bahwa tidak semua peserta didik membutuhkan guru yang banyak berbicara. Mereka lebih membutuhkan sosok yang bersedia mendengarkan pertanyaan, kebingungan, bahkan keluh kesah yang sering kali tidak sempat mereka ungkapkan. Sejak saat itulah saya mulai mengubah cara berkomunikasi di kelas.

Saya membiasakan diri memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat tanpa takut disalahkan. Ketika seorang anak berbicara, saya berusaha menghentikan aktivitas lain, memandang wajahnya, memperhatikan bahasa tubuhnya, kemudian mencoba memahami isi pesannya sebelum memberikan tanggapan. Ternyata perubahan sederhana tersebut membawa dampak yang luar biasa. Suasana kelas menjadi lebih hangat, siswa lebih percaya diri menyampaikan ide, dan proses belajar berlangsung dengan penuh rasa saling menghargai.

Pengalaman serupa juga saya rasakan ketika aktif di berbagai organisasi profesi guru. Dalam sebuah rapat atau diskusi, sering kali muncul perbedaan pandangan yang cukup tajam. Dahulu saya cenderung ingin segera memberikan solusi. Namun seiring bertambahnya pengalaman, saya memahami bahwa seseorang tidak selalu membutuhkan jawaban cepat. Banyak orang sebenarnya hanya ingin didengar. Ketika mereka merasa dihargai, suasana diskusi menjadi lebih tenang dan jalan keluar lebih mudah ditemukan. Mendengar aktif ternyata mampu meredakan ketegangan sebelum konflik berkembang menjadi lebih besar.

Strategi mendengar aktif bukan sekadar diam saat orang lain berbicara. Mendengar aktif berarti hadir sepenuhnya dalam percakapan. Pikiran tidak sibuk menyusun bantahan atau mencari alasan untuk memotong pembicaraan. Sebaliknya, perhatian diarahkan sepenuhnya kepada lawan bicara sehingga ia merasakan bahwa setiap kata yang disampaikan memiliki nilai. Kehadiran seperti inilah yang menciptakan rasa aman dalam berkomunikasi.

Dalam berbagai pelatihan menulis yang saya dampingi, saya juga menemukan hubungan yang sangat erat antara kemampuan mendengar dan kemampuan menulis. Penulis yang baik biasanya merupakan pendengar yang baik. Ia mampu menangkap cerita, memahami emosi, mengamati sudut pandang orang lain, lalu mengolah semuanya menjadi tulisan yang menyentuh hati pembaca. Karena itulah saya selalu mengajak para peserta untuk lebih banyak mendengarkan pengalaman orang lain sebelum mulai menulis. Setiap manusia menyimpan kisah yang layak dipelajari, asalkan kita bersedia membuka telinga dan hati.

Saya teringat ketika mengikuti program pendidikan di Tiongkok bersama puluhan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Selama berada di sana, saya bertemu dengan banyak pendidik yang memiliki latar belakang berbeda. Daripada sibuk menceritakan pengalaman sendiri, saya memilih mendengarkan kisah mereka. Dari percakapan itulah saya memperoleh begitu banyak inspirasi tentang inovasi pembelajaran, budaya belajar, serta semangat para guru dalam menghadapi tantangan pendidikan. Pengalaman tersebut kemudian saya abadikan dalam berbagai tulisan di blog sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Mendengar aktif juga menjadi bekal penting dalam kehidupan keluarga. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan nasihat panjang. Terkadang pasangan, anak, atau sahabat hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menemani dan mendengarkan tanpa menghakimi. Ketika kita memberi ruang kepada mereka untuk menyampaikan isi hati, hubungan menjadi lebih erat karena komunikasi dibangun di atas rasa saling percaya.

Di era digital saat ini, tantangan untuk menjadi pendengar yang baik semakin besar. Gawai sering mengalihkan perhatian saat seseorang sedang berbicara. Tidak sedikit orang yang lebih sibuk melihat layar telepon daripada menatap lawan bicaranya. Akibatnya, komunikasi kehilangan kehangatan. Saya berusaha membiasakan diri menyimpan telepon genggam ketika sedang berdiskusi, memberikan kontak mata yang tulus, serta menunjukkan perhatian melalui anggukan atau pertanyaan lanjutan. Kebiasaan sederhana tersebut membuat orang merasa dihormati dan dihargai.

Sebagai guru, saya semakin yakin bahwa mendengar aktif merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Peserta didik akan belajar menghargai orang lain ketika mereka melihat gurunya memberikan teladan. Sikap saling mendengarkan melahirkan budaya dialog, mengurangi prasangka, serta menumbuhkan empati yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, melainkan ruang untuk membangun manusia yang mampu berkomunikasi dengan santun dan penuh kepedulian.

Pengalaman hidup mengajarkan bahwa setiap orang ingin dimengerti sebelum diberi nasihat. Oleh sebab itu, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Semakin banyak mendengarkan, semakin luas wawasan yang diperoleh. Semakin dalam memahami orang lain, semakin mudah membangun hubungan yang harmonis. Komunikasi yang nyaman bukan lahir dari kata-kata yang indah, melainkan dari kesediaan menghadirkan perhatian yang tulus kepada siapa pun yang sedang berbicara.

Akhirnya saya memahami bahwa telinga yang mau mendengar sering kali lebih berharga daripada mulut yang pandai berbicara. Ketika kita belajar menjadi pendengar yang aktif, kita bukan hanya mempererat hubungan dengan orang lain, tetapi juga memperkaya diri dengan berbagai pelajaran kehidupan. Itulah strategi sederhana yang terus saya praktikkan sebagai Omjay: mendengar dengan hati, memahami dengan empati, lalu berbicara dengan penuh kebijaksanaan. Dari situlah komunikasi yang nyaman akan tumbuh, kepercayaan akan menguat, dan setiap perjumpaan menjadi kesempatan untuk saling menginspirasi.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Bukan Menjadi Guru Sempurna

Hari Ini Bukan Tentang Menjadi Guru Sempurna

Oleh: Omjay

Menjadi guru bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling hebat atau paling sempurna. Seorang guru tidak diukur dari seberapa sedikit ia melakukan kesalahan, tetapi dari seberapa besar kemauannya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi guru yang lebih baik daripada hari kemarin.

Kalimat inspiratif dalam gambar tersebut mengingatkan kita bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utama seorang pendidik. Yang jauh lebih penting adalah proses perubahan yang dilakukan secara konsisten. Guru yang hebat adalah guru yang selalu mengevaluasi dirinya setelah pembelajaran selesai. Ia bertanya, "Apakah murid saya sudah memahami pelajaran? Apakah cara saya mengajar sudah membuat mereka senang belajar? Apa yang harus saya perbaiki pada pertemuan berikutnya?" Refleksi seperti inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan profesional seorang guru.

Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, guru juga harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Teknologi berkembang begitu cepat, karakter peserta didik berubah, dan tantangan pembelajaran semakin kompleks. Jika guru berhenti belajar, maka pembelajaran di kelas akan tertinggal. Sebaliknya, guru yang terus membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan, menulis, dan berbagi pengalaman akan selalu menemukan cara baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mungkin hari ini kita belajar lebih sabar mendengarkan pendapat peserta didik. Besok kita mencoba metode pembelajaran yang lebih menarik. Lusa kita mulai membiasakan diri memberikan umpan balik yang membangun. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, jika dilakukan secara konsisten, akan melahirkan perubahan besar dalam kualitas pembelajaran. Refleksi yang dilakukan secara rutin terbukti membantu guru mengambil keputusan yang lebih baik dan meningkatkan kualitas mengajarnya.

Hadis Rasulullah SAW yang tertulis pada gambar tersebut juga memberikan motivasi luar biasa, "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Bagi seorang guru, mencari ilmu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menyebarkan manfaat kepada peserta didik. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Pada akhirnya, marilah kita tidak membandingkan diri dengan guru lain. Bandingkanlah diri kita dengan diri kita sendiri kemarin. Jika hari ini kita lebih sabar, lebih kreatif, lebih peduli kepada peserta didik, dan lebih semangat belajar daripada kemarin, berarti kita telah bertumbuh menjadi guru yang lebih baik.

Pertanyaan refleksi hari ini:

"Kebiasaan kecil apa yang akan saya ubah mulai besok agar menjadi guru yang lebih baik daripada hari ini?"

Karena guru hebat bukanlah guru yang sempurna, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar, bertumbuh, dan menginspirasi. Sebab, ketika guru terus bertumbuh, murid akan berkembang, sekolah akan maju, dan bangsa pun akan menjadi lebih kuat.

Ketika Omjay Dicela

Ketika Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya

Inspirasi Pagi
Kamis, 30 Juli 2026

"Jika orang berkata buruk tentangmu tidak usah galau. Karena sebenarnya mereka tidak berbicara tentang engkau. Mereka sedang memperlihatkan watak mereka sendiri."

Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan. Ada yang memberikan apresiasi dengan tulus, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan kritik yang menyakitkan, bahkan menilai tanpa mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dulu, setiap kali mendengar ucapan yang merendahkan, hati saya mudah terluka. Pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa masih ada orang yang memilih menjatuhkan sesamanya. Namun, semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa tidak semua perkataan buruk pantas disimpan dalam hati. Sebagian cukup dijadikan pelajaran agar kita semakin kuat menjalani kehidupan.

Sebagai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sekaligus penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan kepada masyarakat, saya merasakan betul bahwa berkarya selalu mengundang beragam tanggapan. Ada pembaca yang memperoleh manfaat lalu mengirimkan doa, ucapan terima kasih, bahkan menjadikan tulisan saya sebagai penyemangat hidup. Sebaliknya, ada pula yang memberikan komentar sinis, mengejek, atau meragukan kemampuan saya. Pada awalnya saya mencoba menjawab satu per satu, tetapi akhirnya saya memahami bahwa energi akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melahirkan karya berikutnya daripada melayani perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.

Saya teringat sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali, "Saat satu jarimu menuduh buruk orang lain, maka empat jarimu sedang menuduh buruk pada dirimu." Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan isi hatinya sendiri. Cara seseorang berbicara sering kali menjadi cermin karakter yang dimilikinya. Oleh sebab itu, saya belajar untuk tidak tergesa-gesa membalas perkataan yang menyakitkan. Diam yang penuh kesabaran sering kali lebih bermakna daripada jawaban panjang yang hanya memperkeruh suasana.

Pengalaman hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian membawa pelajaran berharga. Ketika saya mengalami berbagai cobaan, mulai dari masalah kesehatan hingga tantangan dalam perjalanan karier, banyak orang yang memberikan dukungan sehingga saya mampu bangkit kembali. Akan tetapi, ada juga yang memandang sinis dan menganggap saya tidak akan mampu melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya. Kenyataannya, justru dari keterbatasan itulah saya semakin terdorong untuk terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi. Saya ingin membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh komentar orang lain, melainkan oleh ketekunan dalam memperbaiki diri setiap hari.

Menulis telah menjadi sahabat terbaik dalam perjalanan hidup saya. Melalui tulisan, saya menuangkan pengalaman, kegagalan, harapan, dan rasa syukur agar dapat menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Saya percaya bahwa karya akan berbicara lebih lantang daripada perdebatan. Orang boleh saja meragukan kemampuan kita, tetapi waktu akan menunjukkan siapa yang tetap konsisten menebarkan manfaat. Ketika niat kita lurus untuk berbagi ilmu dan menginspirasi sesama, setiap langkah akan menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah, saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan memikirkan penilaian yang tidak membangun. Saya memilih memaafkan, mendoakan, lalu melanjutkan pekerjaan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Sikap tersebut bukan berarti lemah, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi kehidupan. Semakin kita sibuk memperbaiki diri, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memikirkan keburukan orang lain.

Semoga setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi sumber kebaikan, bukan penyebab luka bagi sesama. Marilah menjadikan lisan sebagai sarana menyebarkan harapan, semangat, dan kasih sayang. Apabila suatu hari kita menjadi sasaran cibiran, jangan biarkan hati dipenuhi kebencian. Tetaplah melangkah dengan kepala tegak, hati yang ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap niat baik yang kita perjuangkan. Pada akhirnya, bukan penilaian manusia yang menentukan nilai hidup kita, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil kita tinggalkan untuk orang lain.

Salam literasi. Salam inspirasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Rabu, 29 Juli 2026

Pengalaman Belajar di China tahun 2019

Belajar di Negeri Tirai Bambu: Kisah Omjay Menimba Ilmu di China Bersama 52 Guru Indonesia

"Perjalanan sejauh ribuan kilometer akan menjadi lebih bermakna ketika setiap langkahnya diabadikan dalam tulisan."

Tahun 2019 menjadi salah satu bab terindah dalam perjalanan hidup saya sebagai guru. Saya mendapatkan kesempatan berharga mengikuti Program Pelatihan Guru dan Kepala Sekolah Berprestasi Kementerian Pendidikan Republik Indonesia di China University of Mining and Technology (CUMT), Xuzhou, Tiongkok. Bersama 52 guru dan kepala sekolah terbaik dari seluruh Indonesia, saya belajar, berdiskusi, dan menyaksikan secara langsung bagaimana dunia pendidikan di China berkembang begitu pesat. 

Foto bersama yang kami abadikan di depan kampus CUMT menjadi saksi bahwa mimpi seorang guru Indonesia dapat mengantarkannya menembus batas negara. Kami datang dari berbagai provinsi, latar belakang, dan jenjang pendidikan, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu pulang membawa ilmu untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Selama 21 hari berada di China, saya tidak ingin pengalaman berharga itu hanya menjadi kenangan di dalam ingatan. Setiap malam, setelah seluruh kegiatan selesai, saya membuka laptop atau menulis melalui telepon genggam. Saya menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan pelajari. Tulisan-tulisan itu kemudian saya publikasikan di blog pribadi wijayalabs.com dan di Kompasiana agar para guru di Indonesia dapat ikut belajar dari pengalaman kami. 

Banyak pelajaran yang saya peroleh selama berada di Negeri Tirai Bambu. Saya melihat bagaimana teknologi benar-benar menjadi bagian dari proses pembelajaran. Guru-guru memanfaatkan multimedia secara maksimal, siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan mengerjakan proyek. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan pada aktivitas peserta didik. Saya juga berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah, laboratorium robotika, pusat inovasi, hingga tempat pengembangan teknologi yang membuka wawasan baru tentang pentingnya pendidikan STEM dan literasi digital. 

Yang paling mengesankan bukan hanya gedung-gedung modern atau kecanggihan teknologinya, tetapi budaya belajar masyarakatnya. Disiplin, menghargai waktu, bekerja keras, dan semangat belajar sepanjang hayat benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Saya semakin yakin bahwa kemajuan sebuah bangsa selalu dimulai dari pendidikan yang berkualitas.

Selama berada di China, saya juga belajar bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan perjalanan. Ketika teman-teman sibuk beristirahat setelah kegiatan, saya memilih menyelesaikan jurnal harian. Kini, bertahun-tahun kemudian, tulisan-tulisan itu masih bisa dibaca dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak guru. Inilah bukti bahwa tulisan mampu mengalahkan waktu.

Perjalanan ke China semakin menguatkan motto hidup saya:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Karena saya menulis setiap hari, pengalaman belajar di China tidak hanya menjadi milik saya, tetapi juga menjadi milik ribuan pembaca yang mengikuti kisah perjalanan tersebut melalui blog dan Kompasiana. Tulisan telah menjadikan perjalanan singkat selama 21 hari sebagai warisan ilmu yang terus hidup hingga hari ini.

Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari rombongan 52 guru Indonesia yang belajar di China. Pengalaman itu mengajarkan bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Di mana pun berada, guru harus terus membuka diri terhadap ilmu baru, teknologi baru, dan pengalaman baru, agar dapat kembali ke tanah air membawa perubahan bagi peserta didiknya.

Salam Literasi. Salam Inspirasi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi." 
Blog https://wijayalabs.com

kisah omjay sebelum ajal tiba

Sebelum Ajal Tiba: Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Pagi itu, seperti biasa, saya membuka telepon genggam. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan seorang sahabat langsung menarik perhatian saya. Isinya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

"Orang hebat itu adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum ia meninggal dunia."

Saya terdiam beberapa saat. Kalimat itu mengajak saya merenung. Bukankah pada akhirnya semua manusia akan meninggalkan dunia? Namun, ternyata yang dimaksud bukanlah meninggalkan dunia secara fisik, melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun jasad telah tiada.

Saya teringat perjalanan hidup sebagai guru selama puluhan tahun. Tidak ada harta melimpah yang saya miliki. Namun, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati, berbagi ilmu kepada sesama guru, dan menyemangati siapa pun yang ingin belajar. Dari sanalah saya memahami bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan megah atau tabungan yang banyak, tetapi ilmu yang bermanfaat dan hati yang pernah menguatkan orang lain.

Pesan itu kemudian melanjutkan, "Orang yang bersedekah sampai kaya, bukan kaya baru bersedekah." Kalimat ini menampar saya dengan lembut. Betapa sering kita menunda berbagi karena merasa belum cukup. Padahal, sedekah tidak menunggu seseorang menjadi kaya. Justru sedekah mengajarkan kita bahwa keberkahan sering kali datang kepada mereka yang mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang penghasilannya sangat sederhana. Namun, setiap kali ada teman yang kesulitan, ia selalu menyisihkan sebagian rezekinya. Anehnya, hidupnya selalu terasa cukup. Dari beliau saya belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan luasnya hati.

Pesan berikutnya berbunyi, "Orang yang berdakwah sampai jadi alim, bukan sudah alim baru berdakwah." Saya memaknainya sebagai ajakan untuk tidak menunggu sempurna sebelum berbagi kebaikan. Kita memang harus terus belajar, tetapi jangan sampai keinginan menjadi sempurna membuat kita berhenti menyampaikan hal-hal baik yang sudah kita ketahui.

Begitu pula dengan menulis. Saya selalu mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis, "Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kemampuan akan tumbuh seiring kebiasaan. Keberanian akan lahir karena terus mencoba.

Kalimat berikutnya membuat saya semakin tersentuh, "Orang yang datang ke masjid sampai tua, bukan sudah tua baru ke masjid." Kehidupan tidak pernah memberi jaminan bahwa kita akan sampai pada usia tua. Karena itu, jangan menunda ibadah. Jangan menunggu waktu luang. Jangan menunggu pensiun. Jangan menunggu semua urusan selesai. Mulailah hari ini, karena hari esok belum tentu menjadi milik kita.

Terakhir, saya membaca kalimat yang paling dalam maknanya, "Orang beramal sampai ikhlas, bukan ikhlas baru beramal." Betapa sering kita menunggu hati benar-benar bersih sebelum berbuat baik. Padahal, keikhlasan justru tumbuh melalui proses. Semakin sering kita beramal, semakin kita belajar membersihkan niat hanya karena Allah.

Perjalanan hidup saya juga penuh ujian. Pernah mengalami sakit, menjalani masa pemulihan, hingga merasakan betapa berharganya setiap detik kehidupan. Pengalaman itu mengajarkan bahwa umur adalah rahasia Allah. Tidak ada yang tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Karena itu, setiap pagi adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri, meminta maaf, berbagi ilmu, menolong sesama, dan menanam amal yang kelak menjadi bekal.

Hari ini saya kembali mengingatkan diri sendiri bahwa hidup bukan tentang menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah sekarang. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu pintar untuk berbagi ilmu. Jangan menunggu tua untuk rajin beribadah. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.

Sebab, ajal tidak pernah mengirim undangan sebelum datang menjemput.

Mari kita isi setiap hari dengan karya, doa, ilmu, dan amal yang bermanfaat. Semoga ketika suatu saat kita meninggalkan dunia ini, nama kita tetap hidup dalam doa orang-orang yang pernah merasakan manfaat dari kehadiran kita.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Berbuat baiklah setiap hari dan saksikan bagaimana Allah menumbuhkan keberkahan dalam hidup kita.

Salam blogger persahabatan 
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 26 Juli 2026

Buku Kisah Omjay 4 Tahun Lalu

Empat Tahun Berlalu, Buku Ini Tetap Mengajarkan Saya Menjadi Manusia
Blog https://wijayalabs.com/about

Empat tahun telah berlalu sejak buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia terbit. Waktu bergerak begitu tenang, tetapi meninggalkan jejak yang begitu dalam. Saat buku itu pertama kali hadir di tangan para pembaca, usia saya tepat lima puluh tahun. Kini, tanpa terasa, saya telah menginjak usia lima puluh empat. Angka memang bertambah, namun makna kehidupan terus bertumbuh bersama pengalaman yang tak pernah berhenti memberi pelajaran.

Ketika memandang kembali sampul buku itu, saya tidak sekadar melihat foto diri sendiri. Saya melihat potongan perjalanan panjang yang penuh warna. Ada kisah perjuangan sebagai seorang guru, suami, ayah, sahabat, penulis, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cermin yang memantulkan perjalanan batin seorang manusia yang terus berusaha memperbaiki diri.

Selama empat tahun terakhir, kehidupan memberikan banyak kejutan. Ada saat-saat membahagiakan ketika bertemu ribuan pembaca, berbagi ilmu kepada guru dari berbagai daerah, menerbitkan buku-buku baru, hingga menyaksikan teknologi kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja. Namun, ada pula masa yang menguji ketabahan. Kondisi kesehatan mengingatkan saya bahwa tubuh mempunyai batas, sedangkan semangat sering kali ingin melampaui kemampuan fisik.

Di situlah saya memahami sebuah kenyataan yang dahulu belum sepenuhnya saya mengerti. Menjadi manusia bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan. Menjadi manusia berarti belajar menerima keterbatasan tanpa kehilangan harapan. Kesadaran seperti inilah yang justru menghadirkan kedewasaan.

Banyak orang mengira usia hanyalah hitungan kalender. Padahal, usia sesungguhnya adalah akumulasi kebijaksanaan yang berhasil dipetik dari setiap peristiwa. Ada orang yang berumur panjang, tetapi miskin hikmah. Sebaliknya, ada yang usianya tidak terlalu tua, namun pemikirannya telah matang karena mampu merenungkan setiap pengalaman.

Ilmu psikologi perkembangan menyebutkan bahwa semakin bertambah umur, seseorang memiliki peluang lebih besar membangun generativity, yaitu dorongan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Warisan itu tidak selalu berupa harta. Gagasan, keteladanan, karya tulis, dan inspirasi sering kali jauh lebih bernilai karena dapat terus hidup meskipun pemiliknya telah tiada.

Kesadaran itulah yang membuat saya tetap menulis hingga hari ini. Setiap tulisan adalah ikhtiar meninggalkan jejak kebaikan. Kata-kata mungkin sederhana, tetapi mampu menyeberangi ruang dan waktu. Seorang pembaca yang belum pernah saya temui bisa memperoleh semangat hanya karena membaca sebuah pengalaman yang saya bagikan dengan tulus.

Empat tahun setelah buku ini terbit, saya juga belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu bergerak naik. Ada kalanya seseorang harus melambat. Justru ketika langkah diperlambat, kita memiliki kesempatan mengamati hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat. Senyum keluarga, sapaan murid, doa sahabat, udara pagi, bahkan secangkir teh hangat ternyata menyimpan kebahagiaan yang dahulu sering diabaikan.

Saya semakin yakin bahwa rasa syukur bukan muncul setelah memperoleh semuanya. Sebaliknya, rasa syukur membuat kita mampu menikmati apa pun yang telah dimiliki. Inilah pengetahuan yang sangat berharga. Otak manusia memiliki kecenderungan yang disebut hedonic adaptation, yaitu cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga kebahagiaan mudah memudar. Karena itu, melatih syukur setiap hari membantu menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat optimisme.

Teknologi berkembang sangat pesat. Kecerdasan buatan kini mampu membantu manusia menulis, menerjemahkan, menganalisis data, bahkan menghasilkan karya visual. Namun satu hal tetap tidak dapat digantikan mesin, yaitu ketulusan hati. Pengalaman hidup yang lahir dari air mata, tawa, perjuangan, dan doa akan selalu mempunyai nilai yang berbeda dibanding sekadar rangkaian kalimat yang tersusun rapi.

Itulah sebabnya saya terus percaya bahwa menulis bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan juga perjalanan spiritual. Ketika seseorang menulis dengan hati, ia sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Setiap paragraf menjadi ruang refleksi, sedangkan setiap titik mengajarkan bahwa semua perjalanan memiliki jeda untuk merenung.

Kini, pada usia lima puluh empat tahun, saya tidak lagi mengejar pengakuan. Saya lebih ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Jika suatu hari nama saya terlupakan, semoga tulisan-tulisan yang pernah saya tinggalkan masih mampu menyalakan semangat belajar, menumbuhkan keberanian berkarya, serta menguatkan mereka yang sedang berjuang menghadapi kehidupan.

Buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia mungkin telah berusia empat tahun. Kertasnya bisa menguning, sampulnya mungkin mulai memudar, tetapi nilai yang dikandungnya justru semakin menemukan makna baru. Sebab kehidupan tidak berhenti pada usia lima puluh, lima puluh empat, atau angka berapa pun. Kehidupan adalah kesempatan tanpa henti untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih arif, lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih mencintai sesama.

Saya menutup tulisan ini dengan keyakinan sederhana. Selama napas masih berembus, masih ada halaman baru yang dapat ditulis. Selama hati tetap menyala, selalu ada pengalaman yang layak dibagikan. Dan selama ilmu terus diamalkan, usia bukan sekadar pertambahan angka, melainkan perjalanan indah menuju kematangan jiwa. Menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi terus bertumbuh menjadi manusia yang membawa manfaat adalah pilihan yang akan selalu saya perjuangkan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indinesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 24 Juli 2026

Hari jumat

Hari Jumat Mengingatkan Omjay: Hidup Hanya Sekali, Sudahkah Kita Menyiapkan Bekal?
Blog https://wijayalabs.com/about

Suara azan Subuh berkumandang lembut ketika Omjay membuka mata pada Jumat pagi, 24 Juli 2026. Udara terasa sejuk, tetapi hati justru dipenuhi renungan yang begitu dalam. Hari Jumat selalu menghadirkan suasana berbeda. Bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan pengingat bahwa hidup terus berjalan menuju satu tujuan yang pasti. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan putaran waktu.

Pengalaman keluar masuk rumah sakit beberapa waktu lalu mengubah cara Omjay memandang kehidupan. Ketika tubuh melemah, tekanan darah melonjak, dan langkah terasa berat, tersadar bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kuasa atas usia. Selama ini banyak rencana disusun, banyak impian ingin diwujudkan, tetapi kapan perjalanan berakhir tidak pernah ada yang mengetahui.

Mungkin setahun lagi. Mungkin sebulan lagi. Bisa jadi sepekan lagi. Bahkan sehari, sejam, atau beberapa menit lagi. Semua menjadi rahasia Allah SWT.

Kesadaran itulah yang membuat setiap Jumat terasa begitu istimewa. Hari yang penuh keberkahan ini mengajak setiap insan menghentikan sejenak kesibukan dunia. Jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang akan menemani hanyalah amal saleh yang pernah dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Sebagai guru, Omjay sering mengatakan kepada para murid, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Namun semakin bertambah usia, kalimat itu memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menulis karya, tetapi juga menulis kebaikan dalam lembar kehidupan. Setiap senyum yang diberikan, ilmu yang diajarkan, doa yang dipanjatkan, sedekah yang disisihkan, hingga sholawat yang dilantunkan akan menjadi catatan indah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Hari Jumat juga menjadi waktu terbaik memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Lisan yang biasanya sibuk membicarakan urusan dunia, hari ini semoga dipenuhi pujian kepada manusia terbaik yang telah membawa cahaya Islam kepada umatnya. Semoga dengan sholawat, hati menjadi lebih tenang, dosa diampuni, dan langkah hidup selalu mendapat petunjuk.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 127).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa surga bukan diraih karena angan-angan, melainkan karena amal saleh yang dilakukan secara konsisten. Kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.

OmJay menyadari bahwa setiap tulisan yang dipublikasikan bukan sekadar mengejar pembaca atau komentar. Lebih dari itu, semoga setiap kalimat yang mengajak kepada kebaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir meskipun kelak raga telah tiada. Bukankah ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amalan yang tidak akan terputus?

Maka, selagi napas masih berembus, jangan menunda berbuat baik. Selagi tangan masih mampu bergerak, gunakan untuk membantu sesama. Selagi lisan masih diberi kesempatan berbicara, ucapkan kata-kata yang menyejukkan. Selagi hati masih berdenyut, penuhilah dengan zikir dan rasa syukur.

Hari Jumat adalah hari syafaat. Jauhilah maksiat, perbanyak sholawat, dan manfaatkan setiap detik sebagai bekal menuju kampung akhirat. Semoga ketika putaran kehidupan berhenti tanpa pemberitahuan, Allah SWT berkenan menyambut kepulangan kita dengan penuh kasih sayang dan menempatkan kita di Darussalam, surga yang telah dijanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Semoga Jumat ini menjadi titik awal untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menebarkan manfaat kepada sebanyak mungkin manusia. Sebab hidup hanya diputar sekali, tetapi balasan amal akan berlangsung untuk selama-lamanya.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com