Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 18 September 2026

Menjadi Ibu Menjadi Guru Ketika Keduanya Memanggil

Menjadi Guru, Menjadi Ibu: Ketika Kelas dan Rumah Sama-Sama Memanggil

Nama saya Iin Suparti. Saya mulai mengajar sejak tahun 1999. Sudah begitu banyak anak yang pernah saya temui, saya ajar, saya dampingi, dan saya saksikan tumbuh dari waktu ke waktu. Bagi saya, menjadi guru bukan sekadar pekerjaan yang dilakukan dari pagi hingga siang. Menjadi guru adalah perjalanan panjang yang mengajarkan saya tentang kesabaran, ketulusan, dan arti mencintai anak-anak yang bukan lahir dari rahim saya sendiri.

Tahun pelajaran ini saya mendapat amanah mengajar kelas 2C SD Negeri Bintaro 12. Setelah tiga tahun terakhir mengajar kelas 6, saya merasa senang sekaligus tertantang ketika kembali berhadapan dengan anak-anak kecil. Saya pikir pengalaman mengajar selama bertahun-tahun akan membuat saya mudah menyesuaikan diri. Ternyata saya harus belajar lagi.

Begitu masuk kelas, saya langsung merasakan perbedaannya. Anak-anak kelas 2 masih kecil, polos, penuh cerita, dan memiliki rasa ingin tahu yang luar biasa. Lima menit pertama ketika saya menjelaskan pelajaran mungkin masih terasa tenang. Semua mata memandang ke depan. Semua terlihat memperhatikan.

Tetapi setelah itu, satu per satu suara mulai terdengar.

"Bu, saya mau pipis."

"Bu, pensil saya hilang."

"Bu, tadi halaman berapa?"

"Bu, sekarang pakai buku apa?"

"Bu, saya tidak bawa buku."

Belum selesai menjawab satu pertanyaan, sudah muncul pertanyaan berikutnya. Kadang ada yang mengadu tentang temannya. Kadang ada yang tiba-tiba bercerita tentang sesuatu yang terjadi di rumah. Kadang saya baru menjelaskan satu bagian, sudah ada tangan kecil yang terangkat tinggi-tinggi.

Awalnya saya tersenyum, tetapi dalam hati saya berkata, "Ternyata mengajar kelas 2 tidak semudah yang saya bayangkan."

Saya kemudian teringat bahwa selama tiga tahun mengajar kelas 6, saya sudah terbiasa dengan anak-anak yang lebih mandiri. Saya bisa memberikan beberapa instruksi sekaligus dan mereka relatif mampu mengikutinya. Di kelas 2, saya harus kembali belajar menggunakan bahasa yang sederhana, instruksi yang pendek, contoh yang konkret, dan tentu saja kesabaran yang lebih panjang.

Saya akhirnya memahami satu hal penting: anak yang berbeda membutuhkan cara mendidik yang berbeda.

Guru tidak bisa memaksa anak mengikuti cara guru. Justru gurulah yang harus belajar menyesuaikan diri dengan kebutuhan anak.

Kelas 2 Mengajarkan Saya untuk Lebih Sabar

Hari demi hari saya mulai menikmati kembali dunia anak-anak kecil.

Saya belajar bahwa ketika seorang anak berkata, "Bu, pensil saya hilang," mungkin sebenarnya ia sedang belajar bertanggung jawab terhadap barang miliknya.

Ketika seorang anak mengadu tentang temannya, mungkin ia sedang belajar memahami hubungan sosial.

Ketika seorang anak bertanya berkali-kali, mungkin ia sedang belajar memastikan bahwa dirinya memahami apa yang harus dilakukan.

Dan ketika seorang anak tidak bisa duduk diam, mungkin ia memang sedang berada pada tahap perkembangan yang membutuhkan pendekatan berbeda.

Saya tidak lagi melihat celotehan mereka sebagai gangguan. Saya mulai melihatnya sebagai bagian dari kehidupan kelas.

Kelas 2 ternyata bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, berhitung, dan memahami pelajaran. Kelas 2 adalah tempat mereka belajar menjadi pribadi kecil yang perlahan-lahan mengenal tanggung jawab, disiplin, keberanian, dan kemandirian.

Di situlah saya merasa bahwa saya pun sedang belajar.

Saya belajar kembali menjadi guru bagi anak-anak kecil.

Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Di tengah perjalanan mengajar itu, saya juga mendapatkan kesempatan mengikuti workshop menulis bersama Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Om Jay, Guru Blogger Indonesia.

Dari kegiatan tersebut saya semakin memahami bahwa pengalaman seorang guru sebenarnya sangat kaya untuk dituliskan.

Menulis tidak harus menunggu mengalami sesuatu yang luar biasa.

Ruang kelas adalah sumber cerita.

Murid-murid adalah sumber inspirasi.

Percakapan sederhana dapat menjadi sebuah tulisan.

Bahkan rasa lelah seorang guru pun bisa menjadi bahan renungan yang bermakna.

Saya mulai melihat pengalaman mengajar kelas 2 dengan sudut pandang yang berbeda. Dulu mungkin saya hanya berpikir, "Anak-anak ini ramai sekali."

Sekarang saya bisa berkata, "Mereka sedang tumbuh. Dan saya mendapatkan kesempatan untuk menemani pertumbuhan mereka."

Itulah mungkin salah satu hadiah terbesar dari menulis. Menulis membuat kita berhenti sejenak, melihat kembali apa yang sudah kita jalani, lalu menemukan makna di balik peristiwa yang sebelumnya terlihat biasa saja.

Ketika Rumah Memanggil

Namun, perjalanan saya sebagai guru tahun ini tidak hanya berisi cerita tentang kelas.

Ada cerita lain yang jauh lebih dekat dengan hati saya.

Saat ini, saya juga harus merawat anak saya yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Di satu sisi ada tanggung jawab saya sebagai seorang ibu. Ada rasa khawatir, lelah, dan doa yang terus saya panjatkan. Ada saat-saat ketika pikiran saya tertuju kepada anak yang sedang dirawat.

Di sisi lain, ada anak-anak kelas 2C yang setiap hari menunggu saya di sekolah.

Dua dunia yang sama-sama membutuhkan hati saya.

Saya adalah seorang guru, tetapi saya juga seorang ibu.

Ketika berada di kelas, saya berusaha memberikan perhatian kepada murid-murid saya. Ketika pulang dan berada di rumah sakit, perhatian saya kembali tertuju kepada anak saya.

Kadang tubuh terasa lelah. Pikiran pun tidak selalu tenang. Tetapi seorang ibu dan guru sering kali memiliki cara sendiri untuk tetap berdiri meskipun hatinya sedang tidak sepenuhnya baik-baik saja.

Ada kekuatan yang muncul ketika kita tahu bahwa ada anak-anak yang membutuhkan kita.

Di sekolah, anak-anak kelas 2 membutuhkan guru yang sabar.

Di rumah sakit, anak saya membutuhkan seorang ibu yang hadir dan memberikan kekuatan.

Mungkin tidak semua orang mengetahui perjuangan itu.

Tidak semua orang melihat lelahnya.

Tidak semua orang tahu berapa banyak doa yang dipanjatkan dalam diam.

Tetapi saya percaya, setiap perjuangan yang dilakukan dengan cinta tidak pernah sia-sia.

Guru Juga Manusia

Kadang masyarakat melihat guru hanya ketika guru berada di depan kelas.

Guru terlihat tersenyum, menjelaskan pelajaran, membimbing anak, memeriksa tugas, dan memberikan motivasi.

Namun, di balik senyum itu bisa saja ada banyak cerita yang tidak terlihat.

Guru juga mempunyai keluarga.

Guru juga mempunyai anak.

Guru juga bisa merasa khawatir.

Guru juga bisa lelah.

Guru juga bisa menangis.

Tetapi ketika bel masuk berbunyi, guru kembali berusaha berdiri dan memberikan yang terbaik untuk murid-muridnya.

Bukan karena guru tidak memiliki masalah, melainkan karena guru memahami bahwa anak-anak yang berada di hadapannya juga memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dan kasih sayang.

Saya semakin memahami bahwa menjadi guru bukan berarti harus menjadi manusia yang sempurna.

Menjadi guru berarti terus belajar menjadi manusia yang lebih baik.

Belajar memahami.

Belajar bersabar.

Belajar memaafkan.

Belajar mendengarkan.

Dan yang paling penting, belajar mencintai.

Ada Doa di Balik Setiap Langkah

Ketika mengajar kelas 2, saya sering melihat wajah-wajah kecil yang penuh harapan.

Mungkin mereka belum memahami betapa pentingnya pendidikan bagi masa depan mereka.

Mungkin mereka belum mengerti bahwa guru mereka datang ke sekolah membawa banyak cerita dari rumah.

Mereka hanya tahu bahwa ada "Bu Iin" yang mengajar mereka.

Ada "Bu Iin" yang menjawab pertanyaan mereka.

Ada "Bu Iin" yang mengingatkan mereka untuk membuka buku.

Ada "Bu Iin" yang menegur ketika mereka berbuat salah.

Dan ada "Bu Iin" yang tetap tersenyum ketika kelas mulai ramai.

Sementara itu, jauh di dalam hati, ada seorang ibu yang juga sedang menitipkan harapan kepada Tuhan agar anaknya yang sedang dirawat segera diberikan kesembuhan.

Mungkin itulah kehidupan.

Kita tidak pernah tahu ujian apa yang sedang dibawa seseorang ketika ia datang ke hadapan kita.

Karena itu, jangan mudah menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat.

Bisa jadi seseorang yang hari ini tersenyum sedang menyimpan kekhawatiran yang besar.

Bisa jadi seseorang yang terlihat kuat sebenarnya sedang berjuang agar tidak menyerah.

Dan bisa jadi seorang guru yang tetap mengajar dengan penuh kasih sedang membawa doa untuk anaknya yang sedang terbaring di rumah sakit.

Saya Ingin Terus Belajar

Pengalaman mengajar kelas 2 dan pengalaman mendampingi anak yang sedang dirawat membuat saya semakin memahami bahwa kehidupan seorang guru adalah perjalanan belajar yang tidak pernah selesai.

Saya belajar dari murid.

Saya belajar dari keluarga.

Saya belajar dari keadaan.

Saya belajar dari kesulitan.

Saya juga belajar melalui tulisan.

Workshop menulis bersama Om Jay mengingatkan saya bahwa pengalaman yang kita jalani hari ini dapat menjadi pelajaran bagi orang lain ketika kita mau mengabadikannya melalui tulisan.

Karena itu, saya ingin terus menulis.

Bukan karena tulisan saya sempurna.

Bukan pula karena saya merasa paling hebat.

Saya menulis karena saya ingin merekam perjalanan.

Merekam pengalaman.

Merekam rasa.

Merekam perjuangan.

Sebab suatu hari nanti, ketika saya membaca kembali tulisan ini, saya ingin mengingat bahwa pernah ada masa ketika saya harus menyesuaikan diri kembali mengajar kelas 2, sekaligus menjalani hari-hari sebagai seorang ibu yang mendampingi anaknya di rumah sakit.

Dan saya ingin mengatakan kepada diri saya sendiri:

"Iin, ternyata kamu mampu melewati semuanya."

Penutup

Menjadi guru selama lebih dari dua puluh tahun telah mengajarkan saya bahwa setiap jenjang memiliki cerita dan tantangannya sendiri. Setelah tiga tahun mengajar kelas 6, saya kembali ke kelas 2 dan ternyata harus belajar dari awal tentang bagaimana memahami dunia anak-anak kecil.

Pada saat yang sama, kehidupan pribadi mengajarkan saya tentang arti kekuatan seorang ibu.

Di sekolah saya belajar mendampingi anak-anak.

Di rumah sakit saya belajar mendampingi anak sendiri.

Keduanya sama-sama membutuhkan cinta.

Keduanya sama-sama membutuhkan kesabaran.

Dan keduanya membuat saya semakin bersyukur atas kesempatan yang Tuhan berikan.

Saya tidak tahu seperti apa hari-hari yang akan datang. Tetapi saya ingin menjalaninya satu per satu.

Mengajar dengan hati.

Merawat dengan kasih.

Menulis dengan jujur.

Dan terus berdoa.

Semoga anak saya segera diberikan kesembuhan. Semoga anak-anak kelas 2C tumbuh menjadi anak-anak yang baik, mandiri, dan penuh semangat belajar. Dan semoga perjalanan kecil saya sebagai guru dan ibu dapat menjadi cerita yang kelak memberikan manfaat bagi orang lain.

Karena pada akhirnya, mungkin inilah hakikat seorang guru:

bukan hanya mengajarkan pelajaran kepada anak-anak, tetapi juga belajar dari kehidupan untuk menjadi manusia yang lebih sabar, lebih kuat, dan lebih penuh kasih.


Setiap Insan Dapat 1 Peranan inilah Panggung Sandiwara

Setiap Insan Punya Peranan, Selamat Bapak Ibu yang Lolos Tahap Kedua Lomba Blog Omjay

Teaser:
Ada yang menang lomba, ada yang belum. Tetapi setiap tulisan meninggalkan jejak. Selamat kepada bapak ibu yang lolos tahap kedua Lomba Blog Omjay.

Pagi ini saya teringat sebuah lagu lama yang pernah begitu akrab dengan kehidupan saya. Lagu “Panggung Sandiwara” yang dipopulerkan Ahmad Albar. Ada penggalan lirik yang sampai sekarang masih terasa dalam ketika saya renungkan: setiap insan punya satu peranan yang harus dimainkan.

Kalimat sederhana itu ternyata sangat dalam.

Semakin bertambah usia, semakin saya memahami bahwa hidup memang seperti panggung. Kita datang dengan peran masing-masing. Tidak semua orang menjadi pemeran utama. Tidak semua orang berdiri di tengah panggung dan mendapatkan tepuk tangan. Ada yang bekerja di balik layar. Ada yang menyiapkan panggung. Ada yang mengatur cahaya. Ada yang menulis cerita. Ada pula yang hanya duduk menjadi penonton.

Namun semuanya punya arti.

Begitu juga dalam dunia pendidikan dan literasi.

Ada guru yang setiap hari berdiri di depan kelas. Ada guru yang bekerja keras menyiapkan pembelajaran meskipun tidak pernah masuk berita. Ada guru yang menulis praktik baiknya di blog. Ada yang membaca tulisan orang lain lalu mencoba menerapkannya di sekolah. Ada pula yang diam-diam menjadi penyemangat bagi teman sejawatnya.

Mungkin tidak terkenal.

Mungkin tidak mendapatkan penghargaan.

Tetapi perannya tetap penting.

Hari ini saya ingin mengucapkan selamat kepada bapak dan ibu yang berhasil masuk tahap kedua Lomba Blog Omjay.

Alhamdulillah.

Setelah melewati tahap pertama, perjalanan bapak dan ibu masih berlanjut.

Silakan cek email masing-masing untuk mendapatkan informasi mengenai tahap berikutnya.

Saya bisa membayangkan perasaan bapak dan ibu ketika membaca email tersebut. Ada yang tersenyum. Ada yang langsung mengabarkan kepada keluarga. Ada yang mengirimkan pesan ke grup WhatsApp. Ada yang mungkin masih tidak percaya bahwa tulisannya berhasil melangkah ke tahap kedua.

Nikmati kebahagiaan itu.

Tetapi jangan terlalu lama terlena.

Karena setelah satu pintu terbuka, ada pintu berikutnya yang harus kita lewati.

Dan di sinilah sebenarnya inti dari sebuah lomba menulis.

Bukan sekadar mencari siapa yang paling hebat.

Bukan sekadar mencari siapa yang mendapatkan hadiah.

Lomba menulis seharusnya menjadi ruang belajar.

Kita belajar berani menuangkan pikiran. Kita belajar menyusun pengalaman menjadi cerita. Kita belajar memilih kata. Kita belajar membuat judul. Kita belajar membaca tulisan orang lain. Kita belajar menerima kritik. Kita belajar memperbaiki tulisan.

Dan yang paling penting, kita belajar menghargai proses.

Saya sudah menulis selama bertahun-tahun. Blog pribadi saya menjadi saksi perjalanan itu. Ada tulisan yang saya banggakan. Ada tulisan yang ketika saya baca kembali membuat saya tersenyum karena merasa masih banyak kekurangan.

Tetapi saya tidak malu dengan tulisan lama.

Sebab tulisan lama adalah bagian dari perjalanan.

Kalau hari ini tulisan kita belum bagus, jangan berhenti menulis.

Tulisan yang buruk masih bisa diperbaiki. Tetapi tulisan yang tidak pernah dibuat tidak akan pernah bisa diperbaiki.

Itulah mengapa saya terus mengajak guru untuk ngeblog.

Tulislah pengalaman di kelas.

Tulislah perjalanan mengikuti pelatihan.

Tulislah keberhasilan siswa.

Tulislah kegagalan pembelajaran.

Tulislah hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

Karena kita tidak pernah tahu tulisan mana yang suatu hari nanti akan menyentuh hati orang lain.

Saya sering mengatakan bahwa blog adalah alat rekam yang ajaib.

Apa yang kita tulis hari ini mungkin terasa biasa saja. Tetapi lima atau sepuluh tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi dokumen sejarah perjalanan hidup kita sebagai guru.

Saya sendiri merasakan manfaatnya.

Tulisan-tulisan yang saya buat sejak lama menjadi semacam album kehidupan. Ketika membacanya kembali, saya seperti sedang bertemu dengan Omjay yang masih muda, masih penuh semangat, masih banyak bermimpi, dan masih terus mencari jalan untuk belajar.

Perjalanan menulis juga mengantarkan saya mengenal banyak orang.

Salah satunya melalui Kompasiana.

Saya menulis bukan untuk mengejar popularitas. Saya menulis karena ingin merekam apa yang saya alami dan berbagi apa yang saya pelajari. Pelan-pelan, tulisan demi tulisan menjadi jejak yang ternyata membawa saya menuju berbagai pengalaman.

Saya pernah menulis kisah perjalanan tersebut dalam artikel “Alhamdulillah, Omjay Pelan-Pelan Menuju Maestro Kompasiana.”

Baca kisah Omjay di Kompasiana

Saya menyadari satu hal: tidak ada perjalanan yang benar-benar instan.

Semua membutuhkan waktu.

Begitu pula dengan bapak dan ibu yang hari ini berhasil masuk tahap kedua.

Jangan hanya melihat hasil akhirnya.

Lihatlah perjalanan yang sudah ditempuh.

Mungkin sebelum menulis, bapak dan ibu harus mencari waktu di tengah kesibukan mengajar. Mungkin harus menunggu anak tidur. Mungkin harus menulis setelah pekerjaan rumah selesai. Mungkin harus berkali-kali menghapus tulisan karena merasa kurang bagus.

Tetapi akhirnya tulisan itu selesai.

Dikirim.

Dan sekarang masuk tahap kedua.

Itu sudah merupakan sebuah pencapaian.

Selamat!

Namun saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada bapak dan ibu yang belum berhasil masuk tahap kedua.

Tolong jangan berhenti menulis hanya karena nama kita tidak ada dalam daftar.

Jangan biarkan satu hasil lomba membuat kita kehilangan keberanian untuk berkarya.

Bisa jadi tulisan kita belum terpilih kali ini, tetapi tulisan itu tetap bermanfaat bagi pembacanya.

Bisa jadi juri belum menemukan sesuatu yang mereka cari dalam tulisan kita, tetapi pembaca lain justru menemukan inspirasi di sana.

Dan bisa jadi kemenangan terbesar seorang guru bukanlah mendapatkan piala.

Kemenangan terbesar seorang guru adalah ketika pengalaman dan pengetahuannya membuat guru lain menjadi lebih baik dan membuat muridnya belajar lebih bahagia.

Itulah mengapa saya tidak ingin Lomba Blog Omjay berhenti sebagai sebuah perlombaan.

Saya ingin setelah lomba selesai, bapak dan ibu tetap menulis.

Blog tetap diisi.

Pengalaman tetap direkam.

Praktik baik tetap dibagikan.

Inspirasi tetap disebarkan.

Sebab dunia pendidikan membutuhkan lebih banyak cerita nyata dari ruang kelas.

Kita terlalu sering mendengar teori.

Sekarang saatnya guru berbicara tentang pengalaman.

Apa yang dilakukan?

Bagaimana caranya?

Apa masalahnya?

Apa yang berubah?

Apa yang dipelajari?

Cerita-cerita itulah yang menurut saya sangat berharga.

Jangan tunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis.

Mulailah menulis agar suatu hari tulisan kita dikenal karena manfaatnya.

Dan jangan menunggu sempurna untuk berbagi.

Berbagilah, lalu sempurnakan tulisan kita dari waktu ke waktu.

Bapak dan ibu peserta Lomba Blog Omjay, ingatlah bahwa kita semua sedang memainkan peran masing-masing.

Ada yang sedang berada di tahap pertama.

Ada yang sekarang masuk tahap kedua.

Ada yang nanti menjadi finalis.

Ada yang mendapatkan penghargaan.

Ada pula yang belum berhasil tahun ini.

Tetapi cerita kita belum selesai.

Panggung masih panjang.

Tulisan kita masih banyak.

Inspirasi kita masih menunggu untuk dibagikan.

Maka, kepada bapak dan ibu yang lolos tahap kedua, sekali lagi saya ucapkan:

Selamat!

Silakan cek email masing-masing.

Baca informasinya dengan teliti.

Persiapkan diri.

Tulis dengan hati.

Jangan takut berbeda.

Jangan takut sederhana.

Jangan takut tulisan kita belum sempurna.

Yang penting, tulisan itu jujur, memiliki makna, dan memberikan manfaat.

Dan kepada semua peserta, baik yang lanjut maupun yang belum, saya titip satu pesan:

Jangan berhenti menulis hanya karena belum menang.

Sebab mungkin kita tidak memenangkan lomba hari ini.

Tetapi kita sedang memenangkan sesuatu yang jauh lebih panjang:

jejak kehidupan.

Suatu hari nanti, anak-anak kita mungkin membaca tulisan kita.

Murid-murid kita mungkin menemukannya.

Guru lain mungkin belajar darinya.

Dan orang yang bahkan tidak pernah kita kenal mungkin mendapatkan kekuatan dari cerita yang pernah kita tuliskan.

Saat itulah kita sadar bahwa tulisan ternyata mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada penulisnya.

Maka teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah menginspirasi.

Karena setiap insan memang memiliki satu peranan yang harus dimainkan.

Mainkan peran kita sebaik mungkin.

Dan untuk bapak ibu guru, jangan lupa:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam Blogger Persahabatan.

Yuk kita ngeblog!

Kamis, 17 September 2026

menulis itu mudah asal mau memulai

Menulis Itu Mudah, Asal Mau Memulai: Jangan Bilang Sulit Sebelum Kamu Mencobanya

Teaser 150 karakter:
Menulis bukan soal bakat. Menulis adalah kebiasaan. Mulailah dari hal kecil, tuliskan pengalaman, lalu biarkan tulisan menemukan jalannya.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada satu kalimat yang sering saya dengar ketika mengajak guru dan siswa menulis: “Saya sebenarnya ingin menulis, Omjay, tetapi saya tidak tahu harus mulai dari mana.” Kalimat berikutnya biasanya lebih panjang. Tidak punya ide, takut tulisan jelek, tidak percaya diri, tidak punya waktu, belum menemukan mood, bahkan merasa tidak pandai merangkai kata.

Saya tersenyum setiap kali mendengarnya. Bukan karena ingin menertawakan mereka, tetapi karena saya pernah merasakan hal yang sama.

Banyak orang mengira menulis adalah pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang yang berbakat. Padahal, kalau kita mau jujur, sebagian besar orang yang sekarang dikenal sebagai penulis hebat juga memulainya dari tulisan yang sederhana. Mereka pernah menghasilkan tulisan yang tidak sempurna. Mereka pernah bingung memilih judul. Mereka pernah kehabisan ide. Mereka pernah menulis kalimat yang kemudian ingin diperbaiki.

Perbedaannya hanya satu: mereka terus menulis.

Itulah pesan utama yang ingin saya sampaikan melalui materi “Menulis Itu Mudah”. Jangan membuat kegiatan menulis menjadi sesuatu yang rumit sebelum kita benar-benar mencobanya.

Menulis Itu Sulit Kalau Kita Belum Memulainya

Saya sering mengatakan kepada guru-guru, “Menulis itu seperti berbicara dengan sahabat.” Ketika berbicara, kita tidak sibuk memikirkan apakah setiap kalimat sudah sempurna. Kita cukup menyampaikan apa yang ingin kita ceritakan.

Begitu pula dengan menulis.

Tuliskan saja apa yang ada di kepala dan hati. Jangan langsung berpikir tentang tata bahasa yang sempurna, struktur tulisan yang rumit, atau bagaimana pembaca akan memberikan penilaian. Semua itu bisa diperbaiki setelah tulisan selesai.

Kesulitan terbesar dalam menulis sering kali bukan berada di tangan, melainkan berada di pikiran.

Kita terlalu banyak berpikir sebelum mulai mengetik.

“Bagaimana kalau tulisan saya jelek?”

“Bagaimana kalau tidak ada yang membaca?”

“Bagaimana kalau ada yang mengkritik?”

“Bagaimana kalau tulisan saya dianggap tidak penting?”

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu akhirnya membuat jari kita tidak bergerak. Laptop sudah terbuka. Ponsel sudah berada di tangan. Buku catatan sudah tersedia. Tetapi satu paragraf pun belum selesai.

Karena itu, saya selalu mengajak siapa saja yang ingin belajar menulis untuk melakukan satu hal sederhana: mulailah.

Tidak perlu menunggu tulisan menjadi hebat.

Tuliskan sesuatu yang bermakna.

Dari Mana Mendapatkan Ide?

Pertanyaan berikutnya biasanya muncul: “Omjay, kalau saya mau menulis, idenya dari mana?”

Jawabannya sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita.

Ide bisa datang dari pengalaman, keluarga, sekolah, murid, guru, buku, berita, percakapan, perjalanan, foto, masalah sehari-hari, bahkan dari sebuah kejadian sederhana yang kita alami pagi ini.

Misalnya, seorang guru melihat seorang siswa datang terlambat ke sekolah. Jangan hanya berhenti pada kalimat, “Hari ini ada siswa yang terlambat.”

Cobalah bertanya lebih jauh.

Mengapa ia terlambat?

Apa yang terjadi di rumah?

Bagaimana perasaan siswa tersebut?

Bagaimana guru menyikapinya?

Apa pelajaran yang dapat diambil?

Dari satu kejadian sederhana saja, kita bisa mendapatkan sebuah tulisan.

Saya menyebutnya “jangan menunggu ide besar.” Tuliskan hal kecil yang bermakna. Sebab, sering kali sesuatu yang kita anggap sederhana justru sangat berarti bagi orang lain.

Pengalaman mengajar selama bertahun-tahun membuat saya semakin percaya bahwa setiap guru sebenarnya memiliki ribuan cerita. Masalahnya bukan kekurangan cerita, tetapi belum membiasakan diri untuk merekamnya dalam bentuk tulisan.

Guru melihat siswa setiap hari. Guru menghadapi berbagai karakter anak. Guru menemukan masalah pembelajaran. Guru mencoba berbagai metode. Guru mengalami keberhasilan dan kegagalan.

Semua itu adalah bahan tulisan.

Sayang sekali apabila pengalaman tersebut hilang begitu saja setelah bel pulang berbunyi.

Gunakan Rumus 3M: Mulai dari Hal Kecil, Mulai dari Diri Sendiri, Mulai Saat Ini

Agar tidak terlalu banyak berpikir, saya menggunakan sebuah rumus sederhana, yaitu 3M.

Pertama, mulai dari hal kecil.

Jangan langsung bercita-cita menulis buku 200 halaman. Kalau baru belajar menulis, satu paragraf pun sudah merupakan sebuah kemajuan. Setelah terbiasa, satu halaman akan terasa ringan. Kemudian berkembang menjadi artikel. Dari beberapa artikel, kita bisa membuat kumpulan tulisan. Dari kumpulan tulisan itulah sebuah buku dapat lahir.

Kedua, mulai dari diri sendiri.

Tuliskan pengalaman yang benar-benar kita alami. Ketika menulis berdasarkan pengalaman sendiri, biasanya kita tidak terlalu kesulitan mencari bahan. Kita tinggal mengingat kembali apa yang terjadi, siapa yang terlibat, bagaimana perasaan kita, dan apa pembelajaran yang diperoleh.

Ketiga, mulai saat ini.

Jangan menunggu besok.

Kalau ada ide hari ini, tuliskan hari ini. Kalau menunggu besok, belum tentu ide tersebut masih kita ingat. Kalau menunggu waktu luang, bisa jadi waktu luang tidak pernah datang.

Saya lebih suka mengatakan, “Kalau bukan sekarang, kapan lagi?”

Jangan Takut Tulisan Jelek

Salah satu penghambat terbesar dalam menulis adalah ketakutan terhadap tulisan sendiri.

Kita sering berkata, “Tulisan saya jelek.”

Saya justru ingin mengubah kalimat itu menjadi:

“Tulisan saya sedang belajar menjadi lebih baik.”

Ada perbedaan besar di antara keduanya.

Kalimat pertama membuat kita berhenti. Kalimat kedua membuat kita terus bergerak.

Tulisan yang belum sempurna masih bisa diperbaiki. Tulisan yang belum pernah dibuat tidak bisa diperbaiki.

Karena itu, jangan takut tulisan pertama kita jelek. Tulis saja. Setelah selesai, baca kembali. Perbaiki. Edit. Tambahkan data. Perkuat cerita. Ganti judul jika diperlukan. Kemudian publikasikan.

Prosesnya sederhana:

Tulis → Baca → Perbaiki → Publikasikan.

Jangan membebani diri dengan tuntutan bahwa tulisan pertama harus langsung sempurna.

Menulis itu seperti pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam. Demikian pula kemampuan menulis. Semakin sering kita membaca, menulis, mengevaluasi, dan menulis kembali, kemampuan kita akan semakin berkembang.

Tidak Punya Ide? Tulis Lima Pertanyaan Ini

Ada hari ketika kita merasa benar-benar tidak memiliki ide. Pada saat seperti itu, jangan langsung menyerah.

Ambil kertas atau buka aplikasi catatan, kemudian jawab lima pertanyaan sederhana:

Apa yang saya alami hari ini?

Apa yang membuat saya bahagia?

Apa yang membuat saya kecewa?

Apa yang saya pelajari hari ini?

Apa yang ingin saya bagikan kepada orang lain?

Jawaban dari kelima pertanyaan tersebut bisa menjadi bahan tulisan.

Misalnya hari ini seorang guru merasa bahagia karena seorang siswa yang biasanya pasif tiba-tiba berani mempresentasikan hasil pekerjaannya. Peristiwa itu mungkin terlihat biasa bagi orang lain, tetapi bagi guru tersebut bisa menjadi cerita yang sangat bermakna.

Begitu pula ketika kita mengalami kegagalan.

Jangan hanya menyimpan kegagalan sebagai kenangan. Jadikan ia bahan pembelajaran. Tuliskan apa yang terjadi, mengapa gagal, apa yang kita lakukan setelahnya, dan apa yang akhirnya kita pelajari.

Pengalaman adalah guru. Tulisan adalah alat untuk merekam pelajaran dari pengalaman tersebut.

Tidak Punya Mood? Tulis Saja

Ada lagi alasan yang sering muncul: “Saya sedang tidak mood menulis.”

Saya memahami hal itu. Namun, kalau kita selalu menunggu mood, tulisan bisa tidak pernah selesai.

Justru sering kali mood muncul setelah kita mulai menulis, bukan sebelum menulis.

Cobalah tuliskan satu kalimat.

Kemudian satu kalimat berikutnya.

Lalu satu paragraf.

Tanpa terasa, tulisan mulai mengalir.

Tidak perlu menunggu inspirasi datang mengetuk pintu. Kadang-kadang kita harus membuka pintunya terlebih dahulu.

Kalimat sederhana seperti “Hari ini saya tidak punya ide untuk menulis” pun sebenarnya bisa menjadi awal sebuah tulisan.

Mengapa?

Karena setelah kalimat itu, kita bisa bertanya: mengapa tidak punya ide? Apa yang terjadi hari ini? Apa yang sedang kita rasakan? Dari sana cerita bisa berkembang.

Coba Tantangan Menulis 10 Menit

Kalau masih merasa menulis itu sulit, saya punya tantangan sederhana.

Sediakan waktu 10 menit.

Jangan menghapus tulisan.

Jangan takut salah.

Jangan takut tulisan jelek.

Jangan berhenti untuk terlalu lama berpikir.

Tulislah terus selama 10 menit.

Pilih salah satu tema yang paling dekat dengan kehidupan kita: pengalaman paling berkesan sebagai guru, murid yang tidak pernah menyerah, pelajaran yang kita dapatkan hari ini, alasan mengapa kita ingin menjadi penulis, atau satu kejadian lucu dalam kehidupan.

Sepuluh menit mungkin terdengar singkat. Tetapi kalau dilakukan secara konsisten, sepuluh menit setiap hari akan menjadi kebiasaan yang luar biasa.

Satu hari satu tulisan.

Tidak harus panjang.

Yang penting ada sesuatu yang direkam.

Dari Satu Tulisan Bisa Menjadi Banyak Karya

Jangan meremehkan satu tulisan.

Satu catatan kecil bisa berkembang menjadi artikel. Artikel bisa menjadi tulisan blog. Beberapa artikel dapat dikumpulkan menjadi buku. Buku dapat menjadi warisan pemikiran.

Inilah salah satu alasan saya terus menulis sejak bertahun-tahun lalu.

Saya tidak pernah tahu tulisan mana yang suatu hari akan dibaca orang lain dan memberikan manfaat.

Sebuah pengalaman di kelas yang kita tulis hari ini mungkin dibaca seorang guru di daerah lain beberapa tahun kemudian. Bisa jadi ia mendapatkan inspirasi dari sana. Bisa jadi ia mencoba cara yang sama kepada muridnya. Bisa jadi kemudian lahir perubahan yang lebih besar.

Kita mungkin tidak melihat seluruh dampaknya.

Tetapi kita sudah meninggalkan jejak.

Itulah mengapa saya sering mengatakan:

“Blog adalah alat rekam yang ajaib.”

Apa yang kita tulis hari ini dapat menjadi dokumentasi perjalanan hidup dan perjalanan profesi kita di masa depan.

Bagaimana dengan AI?

Di era kecerdasan artifisial seperti sekarang, kita juga tidak perlu takut menggunakan AI untuk membantu proses menulis.

AI dapat membantu mencari alternatif judul, membuat kerangka, memberikan pertanyaan pemantik, membantu memperbaiki struktur tulisan, atau memberikan umpan balik.

Namun ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada AI: pengalaman kita sendiri.

Pengalaman adalah milik kita.

Sudut pandang adalah milik kita.

Perasaan adalah milik kita.

Cerita yang kita alami adalah milik kita.

Karena itu, gunakan AI sebagai teman berpikir, bukan sebagai pengganti pikiran.

Tulisan yang baik bukan sekadar kumpulan kalimat yang tersusun rapi. Di dalamnya ada pengalaman, pemikiran, nilai, dan suara penulis.

AI membantu kita menulis. Tetapi manusialah yang memberikan makna.

Jangan Bilang Menulis Itu Sulit Sebelum Kamu Mencobanya

Pada akhirnya, saya ingin mengajak guru, siswa, mahasiswa, orang tua, dan siapa saja untuk berhenti mengatakan “menulis itu sulit” sebelum benar-benar mencobanya.

Menulis tidak harus dimulai dengan buku.

Tidak harus dimulai dengan artikel panjang.

Tidak harus dimulai dengan bahasa yang indah.

Mulailah dari satu kalimat.

Kemudian satu paragraf.

Lalu satu halaman.

Setelah itu, lakukan kembali esok hari.

Menulis setiap hari. Rasakan apa yang terjadi.

Mungkin pada awalnya tulisan kita masih sederhana. Tidak apa-apa. Kita sedang belajar. Yang penting jangan berhenti.

Sebab kemampuan menulis bukan hadiah yang turun dari langit. Ia tumbuh dari kebiasaan.

Hari ini satu paragraf.

Besok satu halaman.

Lusa satu artikel.

Beberapa waktu kemudian mungkin menjadi sebuah buku.

Dan suatu hari nanti, kita akan tersenyum ketika membaca tulisan lama sambil berkata, “Ternyata saya pernah memulai dari tulisan sesederhana itu.”

Itulah keajaiban menulis.

Tulisan yang awalnya hanya beberapa kalimat dapat berubah menjadi kenangan, pengetahuan, inspirasi, bahkan warisan pemikiran.

Jadi, kalau hari ini Anda masih bertanya, “Apakah menulis itu sulit?”

Saya hanya ingin mengatakan:

Jangan bilang menulis itu sulit sebelum kamu mencobanya.

Sekarang tutup sejenak rasa takut itu. Buka laptop. Ambil ponsel. Buka buku catatan. Tulis satu kalimat tentang apa yang sedang Anda pikirkan.

Jangan tunggu hebat untuk mulai menulis. Mulailah menulis, lalu biarkan tulisan membuat Anda semakin hebat.

Salam Blogger Persahabatan.

Yuk kita ngeblog!

6 Tag SEO

#MenulisItuMudah #MenulisSetiapHari #GuruMenulis #LiterasiDigital #KisahOmjay #GuruBloggerIndonesia

Ketika Hati Belajar Pulang

Ketika Hati Belajar Pulang kepada Allah

Inspirasi Pagi, Kamis, 17 September 2026

Ada pagi ketika kita bangun dengan tubuh yang terasa segar. Namun ada pula pagi ketika kita membuka mata dan menyadari bahwa hidup ini ternyata tidak selamanya berjalan sesuai dengan keinginan. Ada hari ketika pekerjaan lancar, rezeki datang, tubuh sehat, dan keluarga berkumpul. Tetapi ada pula hari ketika Allah mengajarkan sesuatu melalui kesulitan, rasa sakit, kehilangan, atau kejadian yang membuat kita kembali bertanya kepada diri sendiri: sudah sejauh mana hati ini dekat kepada Allah?

Pagi ini saya kembali membaca sebuah nasihat yang sangat dalam tentang iman, persahabatan dengan orang-orang saleh, menjaga hati, bertaubat, membantu fakir miskin, serta tidak menjadi manusia yang tamak terhadap dunia. Kalimat-kalimat itu sederhana, tetapi semakin direnungkan, semakin terasa bahwa nasihat tersebut bukan sekadar untuk dibaca. Ia adalah nasihat untuk diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Saya, Omjay, semakin menyadari bahwa manusia sering kali terlalu sibuk memperbaiki apa yang terlihat oleh orang lain, tetapi lupa memperbaiki apa yang tersembunyi di dalam dirinya sendiri. Kita sibuk menjaga penampilan, menjaga nama baik, menjaga pekerjaan, menjaga hubungan dengan banyak orang, tetapi apakah kita sudah sungguh-sungguh menjaga hati?

Hati adalah tempat yang sangat menentukan arah kehidupan. Ketika hati dipenuhi rasa syukur, kita akan lebih mudah melihat nikmat Allah. Ketika hati dipenuhi keikhlasan, kita tidak terlalu kecewa ketika kebaikan kita tidak dihargai. Ketika hati dipenuhi zikrullah, kita memiliki tempat untuk kembali ketika dunia terasa berat.

Nasihat untuk “mengunci pintu kalbu” terasa sangat kuat bagi saya. Bukan berarti kita harus menutup diri dari kehidupan, tetapi kita perlu berhati-hati terhadap apa yang kita izinkan masuk ke dalam hati. Tidak semua perkataan harus dipercaya. Tidak semua berita harus diikuti. Tidak semua pujian perlu membuat kita terlena. Tidak semua celaan harus membuat kita jatuh. Bahkan tidak semua keinginan harus kita turuti.

Ada banyak hal yang masuk melalui mata dan telinga, kemudian perlahan-lahan tinggal di dalam hati. Karena itu, hati perlu dijaga. Jika hati terus-menerus diisi dengan iri, marah, dendam, kesombongan, dan ketamakan, maka kehidupan kita pun akan terasa berat. Sebaliknya, jika hati diisi dengan zikir, syukur, sabar, taubat, dan kasih sayang kepada sesama, insyaallah langkah kita akan menjadi lebih ringan.

Saya belajar bahwa perjalanan hidup bukan hanya tentang bagaimana mendapatkan sesuatu, tetapi juga bagaimana belajar melepaskan sesuatu.

Harta yang kita kumpulkan suatu hari akan ditinggalkan. Jabatan yang kita banggakan akan berakhir. Popularitas akan berlalu. Tulisan yang kita buat mungkin suatu saat tidak lagi dibaca. Bahkan tubuh yang hari ini kita rawat dengan baik pun pada akhirnya akan kembali kepada tanah.

Lalu apa yang akan kita bawa?

Pertanyaan itu seharusnya membuat kita lebih banyak berpikir.

Saya yang selama bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai guru, penulis, blogger, dan penggerak komunitas semakin merasakan bahwa perjalanan hidup sebenarnya adalah perjalanan belajar. Setiap pengalaman memberikan pelajaran. Setiap pertemuan meninggalkan hikmah. Setiap kesulitan mengajarkan kesabaran. Setiap kesalahan membuka kesempatan untuk bertaubat dan memperbaiki diri.

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajarkan ilmu kepada murid. Menjadi manusia juga berarti terus belajar menjadi pribadi yang lebih baik.

Karena itu, saya sangat terkesan dengan nasihat agar kita bersahabat dengan orang-orang saleh dan menjadikan mereka sebagai teladan dalam perkataan dan perbuatan. Lingkungan sangat menentukan bagaimana seseorang bertumbuh. Ketika kita dekat dengan orang yang gemar berbuat baik, kita akan terdorong melakukan kebaikan. Ketika kita berada di lingkungan yang senang berbagi ilmu, kita terdorong untuk terus belajar. Ketika kita berteman dengan orang-orang yang mengingatkan kepada Allah, hati kita pun lebih mudah diingatkan ketika mulai lalai.

Saya percaya, sahabat yang baik bukan hanya sahabat yang hadir ketika kita tertawa. Sahabat yang baik adalah orang yang berani mengingatkan ketika kita mulai salah jalan.

Begitu pula dalam keluarga. Kita tidak hanya membutuhkan orang yang memberikan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup. Kita membutuhkan orang-orang yang saling mengingatkan untuk tetap berada di jalan kebaikan.

Nasihat tentang membantu kaum fakir miskin juga membuat saya kembali merenung. Terkadang kita merasa belum memiliki cukup untuk berbagi. Kita menunggu menjadi kaya terlebih dahulu baru ingin bersedekah. Padahal kebaikan tidak selalu harus menunggu memiliki banyak harta.

Senyum bisa menjadi kebaikan. Ilmu yang dibagikan bisa menjadi kebaikan. Menolong orang yang sedang kesulitan bisa menjadi kebaikan. Memberikan waktu kepada seseorang yang membutuhkan teman berbicara juga bisa menjadi kebaikan.

Yang penting adalah keikhlasan.

Jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa bahwa sebagian rezeki yang Allah titipkan kepada kita sebenarnya terdapat hak orang lain di dalamnya.

Saya juga teringat dengan perjalanan menulis yang saya jalani selama bertahun-tahun. Saya sering mengatakan bahwa “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Namun semakin lama menulis, saya semakin memahami bahwa tulisan bukan hanya alat untuk mengejar pembaca, komentar, atau popularitas. Tulisan juga bisa menjadi cara untuk merekam perjalanan hidup dan membagikan pengalaman kepada orang lain.

Blog adalah alat rekam yang ajaib. Apa yang kita tuliskan hari ini bisa menjadi pengingat bagi diri sendiri bertahun-tahun kemudian. Bahkan mungkin menjadi inspirasi bagi orang lain yang tidak pernah kita kenal.

Karena itu, saya ingin terus belajar menulis bukan hanya dengan pikiran, tetapi juga dengan hati.

Sebab tulisan yang lahir dari hati mudah-mudahan bisa sampai ke hati.

Pagi ini, mari kita bertanya kepada diri sendiri: apa yang sedang kita isi ke dalam hati?

Apakah kita lebih banyak mengisinya dengan keluhan atau syukur?

Apakah kita lebih sering mengingat kesalahan orang lain atau kesalahan diri sendiri?

Apakah kita lebih sibuk menghitung harta yang belum dimiliki atau mensyukuri rezeki yang sudah diberikan Allah?

Apakah kita sudah menyediakan waktu untuk berzikir, berdoa, membaca Al-Qur'an, dan memohon ampun kepada-Nya?

Kita tidak pernah tahu kapan perjalanan hidup ini akan berakhir. Karena itu, jangan menunggu tua untuk menjadi baik. Jangan menunggu sakit untuk belajar bersyukur. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai orang-orang yang kita cintai. Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk berbagi.

Mari mulai dari sekarang.

Kunci pintu hati dari kesombongan, iri hati, dendam, dan ketamakan. Bukalah pintu hati untuk ilmu, kasih sayang, keikhlasan, kesabaran, dan kebaikan. Jika melakukan kesalahan, segera bertaubat. Jika menyakiti orang lain, beranilah meminta maaf. Jika mendapatkan rezeki, jangan lupa berbagi. Jika mendapatkan ilmu, jangan pelit untuk mengajarkannya.

Semoga hari demi hari iman kita semakin bertambah. Semoga Allah memurnikan keimanan kita, memperbaiki perangai kita, melembutkan hati kita, dan memberikan kesadaran untuk menerima perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya.

Pada akhirnya, hidup ini bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan, tetapi seberapa banyak kebaikan yang berhasil kita tinggalkan.

Semoga ketika tiba waktunya kita bertemu Allah Azza wa Jalla, kita datang bukan sebagai manusia yang merasa telah sempurna, tetapi sebagai hamba yang membawa hati yang penuh harap, penuh taubat, dan penuh keyakinan kepada-Nya.

Tetap semangat menebar kebaikan.

Barakallah fiikum.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay
Guru Blogger Indonesia

Rabu, 16 September 2026

Menulis Itu Mudah Asal Mau Memulai

Menulis Itu Mudah, Asal Mau Memulai

Teaser: Banyak orang merasa menulis itu sulit. Padahal, yang paling sulit bukan menulis, melainkan mengalahkan rasa takut untuk memulai.

Menulis sering kali terlihat seperti pekerjaan yang hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang pandai merangkai kata. Kita melihat tulisan yang bagus di buku, media massa, blog, atau media sosial, lalu diam-diam berkata dalam hati, “Saya tidak mungkin bisa menulis seperti itu.” Akhirnya, niat menulis berhenti sebelum satu kalimat pun berhasil dibuat.

Padahal, benarkah menulis itu sulit?

Saya justru percaya sebaliknya. Menulis itu mudah, asal mau memulai. Kalimat ini bukan sekadar slogan. Selama bertahun-tahun menjadi guru dan menulis di blog, saya belajar bahwa kemampuan menulis tidak lahir karena seseorang tiba-tiba menjadi hebat dalam merangkai kata. Kemampuan itu tumbuh karena seseorang bersedia membaca, mencoba, berlatih, melakukan kesalahan, memperbaiki tulisan, lalu menulis lagi.

Saya sering mengatakan kepada guru dan peserta pelatihan, jangan terlalu cepat mengatakan, “Saya tidak bisa menulis.” Cobalah bertanya kepada diri sendiri, “Apa sebenarnya yang membuat saya belum mulai menulis?”

Pertanyaan sederhana itu sering membuka persoalan yang lebih besar.

Apa yang Membuat Kita Takut Menulis?

Ketika seseorang mengatakan menulis itu sulit, biasanya ada banyak alasan yang berada di belakangnya. Ada yang merasa tidak punya ide. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada yang merasa tidak pandai memilih kata. Ada yang mengatakan tidak punya waktu. Ada pula yang menunggu suasana hati atau mood yang tepat.

Ada juga orang yang terlalu banyak berpikir sebelum mulai menulis.

Kalimat pertama belum dibuat, tetapi sudah membayangkan bagaimana komentar pembaca. Baru satu paragraf, sudah memikirkan apakah tulisan tersebut akan viral. Bahkan belum selesai menulis, sudah sibuk membandingkan tulisannya dengan karya penulis lain yang sudah bertahun-tahun berlatih.

Di sinilah masalahnya.

Kesulitan terbesar dalam menulis sering kali bukan berada di tangan, tetapi di pikiran.

Tangan sebenarnya bisa mengetik. Jari bisa menekan tombol huruf di laptop atau ponsel. Buku catatan juga tersedia. Namun, pikiran terus berkata, “Nanti saja.”

Besok berubah menjadi minggu depan. Minggu depan berubah menjadi bulan depan. Tanpa terasa, ide yang semula begitu kuat akhirnya hilang.

Karena itu, jangan menunggu tulisan sempurna untuk mulai menulis. Mulailah dari tulisan yang sederhana.

Jangan Membuat Menulis Menjadi Rumit

Menulis sebenarnya tidak jauh berbeda dengan berbicara kepada seorang sahabat.

Ketika berbicara dengan teman, kita tidak sibuk memikirkan apakah setiap kalimat sudah sempurna. Kita hanya menyampaikan apa yang ingin disampaikan. Mengapa ketika menulis kita justru menjadi sangat takut?

Cobalah menulis dengan cara sederhana.

Tanyakan terlebih dahulu, “Apa yang ingin saya ceritakan?”

Setelah itu tuliskan.

Jangan langsung memikirkan kesempurnaan. Jangan takut salah. Jangan terlalu lama memikirkan judul. Tulis saja apa yang ada di kepala. Setelah selesai, barulah baca kembali, perbaiki bagian yang kurang jelas, kemudian publikasikan jika memang sudah siap.

Rumus sederhananya:

Tulis → Baca → Perbaiki → Publikasikan.

Dengan cara seperti ini, menulis tidak lagi menjadi pekerjaan yang menakutkan. Menulis berubah menjadi kebiasaan.

Dari Mana Mendapatkan Ide?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah, “Saya tidak punya ide untuk menulis.”

Benarkah kita tidak punya ide?

Coba lihat kehidupan sehari-hari.

Ide ada di sekitar kita. Pengalaman mengajar di kelas bisa menjadi tulisan. Percakapan dengan murid bisa menjadi tulisan. Pengalaman bersama keluarga bisa menjadi tulisan. Buku yang baru selesai dibaca bisa menjadi bahan tulisan. Berita yang menarik perhatian kita bisa dikembangkan menjadi artikel.

Bahkan perjalanan menuju sekolah, kejadian sederhana di ruang guru, pengalaman mengikuti pelatihan, kegagalan dalam sebuah kegiatan, atau keberhasilan seorang siswa menyelesaikan tugas dapat menjadi cerita yang menarik.

Jangan menunggu ide besar. Tuliskan hal kecil yang bermakna.

Satu pengalaman sederhana bisa menjadi artikel. Beberapa artikel dapat menjadi kumpulan tulisan. Kumpulan tulisan bisa berkembang menjadi buku. Pada akhirnya, tulisan-tulisan itu dapat menjadi warisan pemikiran yang terus dibaca orang lain.

Saya menyebutnya sebagai proses dari tulisan menjadi banyak karya.

Mulailah dari catatan kecil. Kembangkan menjadi artikel. Publikasikan di blog. Kumpulkan tulisan-tulisan tersebut. Setelah jumlahnya cukup, susun menjadi buku.

Jangan pernah meremehkan satu tulisan.

Bisa jadi tulisan yang hari ini kita anggap sederhana justru menjadi awal lahirnya sebuah buku beberapa tahun kemudian.

Gunakan Rumus 3M

Bagi saya, ada rumus sederhana untuk mulai menulis: Mulai dari Hal Kecil, Mulai dari Diri Sendiri, dan Mulai Saat Ini.

Mulai dari hal kecil. Jangan langsung memaksakan diri menulis buku. Satu paragraf pun cukup. Satu pengalaman pun cukup. Yang penting mulai.

Mulai dari diri sendiri. Tulislah pengalaman yang benar-benar kita alami. Ketika menulis pengalaman sendiri, biasanya kita tidak akan kehabisan bahan karena kita memiliki cerita, perasaan, kejadian, dan pelajaran yang bisa dibagikan.

Mulai saat ini. Jangan menunggu besok. Sebab, kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Tiga langkah sederhana ini dapat mengubah kebiasaan seseorang. Yang awalnya hanya berniat menulis, perlahan menjadi orang yang benar-benar menulis.

Jangan Takut Tulisan Jelek

Salah satu musuh terbesar penulis pemula adalah rasa takut.

Takut tulisannya jelek.

Padahal, tulisan yang belum sempurna masih bisa diperbaiki. Tulisan yang tidak pernah dibuat sama sekali tidak bisa diperbaiki.

Karena itu, ubahlah cara berpikir.

Daripada berkata:

“Tulisan saya jelek.”

lebih baik mengatakan:

“Tulisan saya sedang belajar menjadi lebih baik.”

Kalimat sederhana tersebut mengubah cara kita memandang proses belajar.

Tidak ada penulis yang langsung menghasilkan tulisan sempurna pada percobaan pertama. Menulis adalah proses. Semakin sering menulis dan membaca, semakin terasah kemampuan kita.

Menulis itu seperti pisau. Semakin sering diasah, semakin tajam.

Begitu juga kemampuan menulis. Semakin sering membaca, menulis, mengevaluasi, lalu menulis kembali, kemampuan kita akan berkembang.

Ketika Tidak Punya Ide, Cobalah Bertanya

Ada hari ketika kita merasa benar-benar tidak punya ide. Tidak perlu panik.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang saya alami hari ini?

Apa yang membuat saya bahagia?

Apa yang membuat saya kecewa?

Apa yang saya pelajari?

Apa yang ingin saya bagikan kepada orang lain?

Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pintu masuk menuju sebuah tulisan.

Kadang-kadang kita merasa tidak punya ide karena terlalu jauh mencari sesuatu yang besar. Padahal, ide terbaik justru sedang berada di depan mata.

Pengalaman hari ini adalah bahan tulisan.

Kesalahan hari ini adalah bahan pembelajaran.

Percakapan hari ini adalah bahan cerita.

Bahkan kegagalan hari ini dapat menjadi tulisan yang menginspirasi orang lain.

Jangan Menunggu Mood

Ada satu kebiasaan yang sering menghambat penulis pemula: menunggu mood.

“Saya akan menulis kalau sedang punya mood.”

Masalahnya, mood tidak selalu datang sesuai jadwal.

Kalau kita hanya menulis ketika mood datang, bisa jadi kita lebih sering menunggu daripada menulis.

Karena itu, tulis saja sebelum mood datang.

Sering kali justru mood muncul setelah kita mulai menulis.

Awalnya hanya satu kalimat. Kemudian menjadi satu paragraf. Setelah itu muncul paragraf kedua. Tidak terasa, tulisan mulai mengalir.

Jadi jangan menunggu mood untuk menulis.

Menulislah, maka mood bisa menyusul.

Bahkan ketika kita sedang tidak memiliki ide untuk menulis, kita bisa menulis kalimat sederhana seperti, “Hari ini saya tidak punya ide untuk menulis.” Dari kalimat tersebut kita dapat bercerita tentang mengapa kita kehilangan ide, apa yang terjadi sepanjang hari, dan bagaimana akhirnya kita menemukan kembali semangat untuk menulis.

Itulah menariknya menulis.

Satu kalimat dapat melahirkan kalimat berikutnya.

Cobalah Tantangan Menulis 10 Menit

Jika masih merasa sulit, mari kita lakukan tantangan sederhana.

Sediakan waktu 10 menit.

Pilih salah satu tema: pengalaman paling berkesan sebagai guru, murid yang pernah memberi pelajaran berharga, pelajaran yang baru didapatkan hari ini, alasan mengapa ingin menjadi penulis, atau satu kejadian lucu dalam kehidupan.

Kemudian tulislah selama 10 menit.

Ada aturan sederhana: jangan menghapus, jangan mengedit, jangan takut salah, dan teruslah menulis.

Tujuannya bukan menghasilkan tulisan sempurna. Tujuannya adalah melatih otak dan tangan agar terbiasa menulis.

Sepuluh menit mungkin terasa singkat. Tetapi jika dilakukan secara rutin, hasilnya luar biasa.

Bayangkan jika setiap hari kita menulis selama 10 menit. Dalam satu bulan, kita sudah memiliki banyak catatan. Dari catatan itu bisa lahir artikel. Dari artikel bisa lahir buku.

Kuncinya adalah konsistensi.

Formula Menulis Cepat: 5 Langkah

Saya juga suka menggunakan lima langkah sederhana ketika mengajarkan menulis.

Pertama, temukan ide.

Kedua, tuliskan ide tersebut tanpa terlalu banyak berpikir.

Ketiga, kembangkan dengan menambahkan pengalaman, contoh, data, dialog, atau cerita.

Keempat, perbaiki dengan membaca ulang dan mengoreksi tulisan.

Kelima, publikasikan agar tulisan memiliki pembaca dan manfaat.

Yang perlu diperhatikan adalah jangan berhenti pada langkah kedua.

Banyak orang sudah punya ide, bahkan sudah menulis, tetapi tulisannya hanya tersimpan di laptop atau ponsel.

Sayang sekali.

Tulisan yang hanya tersimpan di dalam perangkat belum memberikan manfaat kepada banyak orang. Ketika dipublikasikan, tulisan memiliki kesempatan untuk dibaca, dikomentari, dikritik, dan memberikan inspirasi.

Menulis di Era AI

Hari ini kita hidup di era kecerdasan artifisial atau AI. Teknologi dapat membantu mencari ide, membuat kerangka, menemukan alternatif judul, memberikan umpan balik, bahkan membantu mengembangkan tulisan.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada AI: pengalaman dan cerita kita sendiri.

AI bisa membantu mencari dan mengolah informasi. AI dapat menjadi teman berpikir. Tetapi pengalaman hidup adalah milik kita.

Karena itu saya lebih suka mengatakan:

AI membantu, bukan menggantikan penulis.

Gunakan AI sebagai teman berpikir, bukan sebagai pengganti pikiran.

Guru yang mengalami langsung pembelajaran di kelas memiliki cerita yang tidak dimiliki oleh mesin. Seorang ibu memiliki pengalaman keluarga yang unik. Seorang siswa memiliki perjalanan belajar yang berbeda. Seorang guru memiliki pengalaman menghadapi murid, orang tua, dan lingkungan sekolah.

Semua itu adalah kekayaan tulisan.

Teknologi boleh berkembang semakin canggih, tetapi manusia tetap memiliki cerita.

Dan cerita itulah yang perlu ditulis.

Menulis Setiap Hari

Bagi saya, menulis bukan hanya aktivitas untuk menghasilkan buku. Menulis adalah cara merekam perjalanan kehidupan.

Saya sering menggunakan kalimat:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Dengan menulis setiap hari, kita sedang membuat rekaman perjalanan hidup. Apa yang kita pikirkan hari ini mungkin akan menjadi sesuatu yang sangat berharga beberapa tahun kemudian.

Blog adalah salah satu tempat yang sangat baik untuk menyimpan rekaman tersebut.

Tulisan hari ini mungkin hanya dibaca beberapa orang. Tetapi kita tidak pernah tahu siapa yang akan menemukannya di masa depan melalui mesin pencari, media sosial, grup WhatsApp, atau rekomendasi seorang teman.

Satu tulisan dapat memiliki umur yang jauh lebih panjang daripada percakapan lisan.

Karena itu saya juga sering mengatakan:

“Blog adalah alat rekam yang ajaib.”

Apa yang kita tulis hari ini dapat menjadi jejak digital yang terus hidup.

Jangan Bilang Menulis Itu Sulit Sebelum Mencobanya

Pada akhirnya, persoalan menulis bukan semata-mata tentang kemampuan merangkai kata. Persoalannya adalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus belajar.

Jangan mengatakan menulis itu sulit sebelum kita benar-benar mencobanya.

Jangan takut tulisan pertama jelek.

Jangan menunggu punya ide besar.

Jangan menunggu mood.

Jangan menunggu waktu luang yang sempurna.

Jangan pula menunggu menjadi penulis hebat baru berani menulis.

Mulailah sekarang.

Tutup laptop yang belum digunakan. Buka buku catatan. Ambil ponsel. Kemudian tuliskan satu paragraf tentang apa yang sedang Anda pikirkan saat ini.

Tidak perlu hebat.

Tidak perlu sempurna.

Yang penting mulai menulis.

Sebab, setiap penulis hebat pernah menjadi penulis pemula. Setiap buku pernah dimulai dari satu halaman. Setiap artikel pernah dimulai dari satu kalimat.

Dan mungkin, satu kalimat yang Anda tulis hari ini akan menjadi awal dari perjalanan panjang yang tidak pernah Anda bayangkan sebelumnya.

Menulis itu mudah, asal mau memulai.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

6 Tag SEO

#MenulisItuMudah #TipsMenulis #BelajarMenulis #GuruMenulis #LiterasiDigital #MenulisSetiapHari

353 guru ikut pembelajaran mendalam KKA

353 Pendidik DKI Jakarta Belajar Pembelajaran Mendalam, Koding, dan Kecerdasan Artifisial: Guru Tidak Boleh Berhenti Belajar

Jakarta kembali menjadi ruang belajar bagi para pendidik. Sebanyak 353 peserta mendapat tugas mengikuti Pelatihan Penguatan Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Berbasis Kelompok Kerja Angkatan 3 Siklus 2 Tahun 2026.

Ada satu hal yang selalu menarik dari dunia pendidikan: ketika teknologi berkembang begitu cepat, guru justru dituntut untuk semakin rajin belajar. Bukan karena guru harus menjadi manusia paling hebat dalam menguasai teknologi, tetapi karena guru memiliki tanggung jawab untuk memastikan teknologi benar-benar digunakan untuk memperkuat proses belajar peserta didik.

Hal itulah yang terasa dalam Surat Tugas Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta Nomor e-0576/KG.11.00 tentang peserta Pelatihan Penguatan Implementasi Pembelajaran Mendalam (PM) serta Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) Berbasis Kelompok Kerja Angkatan 3 Siklus 2 Tahun 2026. Surat tersebut merupakan tindak lanjut dari surat BGTK DKI Jakarta Nomor 0858/B/B7.27/PP.01.03/2026 tertanggal 25 Agustus 2026.

Yang menarik, pelatihan ini bukan hanya berbicara mengenai teknologi. Ada dua kata penting yang perlu diperhatikan, yaitu Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial. Keduanya menunjukkan bahwa perubahan pendidikan tidak cukup dilakukan dengan memasukkan perangkat digital ke ruang kelas. Guru tetap membutuhkan pemahaman pedagogis agar teknologi yang digunakan memiliki tujuan pembelajaran yang jelas.

Surat tugas tersebut mencantumkan 353 peserta. Mereka berasal dari berbagai kelompok kerja dan satuan pendidikan di lingkungan DKI Jakarta. Daftar tersebut melibatkan pendidik dan tenaga kependidikan dari berbagai jenjang serta kelompok kerja, mulai dari PAUD/TK, SD, SMP, SMA, MGMP, MKKS, MKPS, hingga kelompok kerja lainnya. Peserta terakhir dalam daftar adalah nomor 353, Rudy Trisno.

Angka 353 bukan sekadar angka.

Di balik setiap nama ada seorang guru, kepala sekolah, pengawas, atau pendidik yang membawa pengalaman dari sekolahnya masing-masing. Mereka datang dengan persoalan yang berbeda, karakter peserta didik yang berbeda, fasilitas yang berbeda, dan pengalaman teknologi yang berbeda pula. Karena itu, pelatihan berbasis kelompok kerja menjadi penting. Guru tidak hanya belajar dari narasumber, tetapi juga dapat belajar dari pengalaman rekan-rekan sesama pendidik.

Guru Belajar, Sekolah Ikut Bergerak

Pelatihan dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan, yaitu pukul 08.00–15.30 WIB. Ada ketentuan penting dalam surat tugas tersebut: setiap sekolah harus memastikan proses belajar mengajar tetap berlangsung selama guru mengikuti kegiatan pelatihan. Karena itu, sekolah diminta menyiapkan guru pengganti.

Ketentuan ini sederhana, tetapi maknanya besar.

Guru memang harus belajar, tetapi peserta didik juga tidak boleh kehilangan haknya untuk mendapatkan pembelajaran. Artinya, pengembangan kompetensi guru dan keberlangsungan pembelajaran di sekolah harus berjalan bersama.

Di sinilah manajemen sekolah memiliki peran penting. Pelatihan guru bukan kegiatan yang berdiri sendiri. Ketika seorang guru meninggalkan kelas untuk mengikuti pelatihan, sekolah harus memiliki sistem yang memungkinkan peserta didik tetap mendapatkan layanan pembelajaran.

Dengan demikian, budaya belajar bukan hanya menjadi tanggung jawab guru secara individual. Sekolah juga perlu menjadi organisasi pembelajar.

Dari Koding Menuju Cara Berpikir

Koding sering kali dipahami sebatas menulis baris-baris program. Padahal, dalam pendidikan, koding dapat menjadi pintu masuk untuk melatih cara berpikir sistematis.

Ketika siswa belajar membuat program, mereka belajar memahami masalah, menyusun langkah, mencoba, menemukan kesalahan, memperbaiki kesalahan, lalu menguji kembali hasilnya. Proses tersebut membutuhkan ketekunan.

Kehadiran Kecerdasan Artifisial kemudian membawa tantangan baru. Guru tidak cukup hanya mengetahui bahwa AI dapat menghasilkan teks, gambar, kode, atau berbagai bentuk keluaran lainnya. Guru perlu memahami bagaimana teknologi tersebut digunakan dalam proses pembelajaran dan bagaimana peserta didik tetap menjadi manusia yang berpikir.

AI dapat membantu guru dan siswa, tetapi proses pendidikan tidak boleh kehilangan unsur manusia.

Guru tetap memiliki peran dalam membimbing, memberikan konteks, mengajukan pertanyaan, mengoreksi pemahaman, membangun karakter, dan membantu peserta didik menemukan makna dari apa yang mereka pelajari.

Karena itu, pembelajaran mendalam menjadi sangat relevan untuk dibicarakan bersama dengan koding dan kecerdasan artifisial.

Teknologi boleh semakin canggih. Namun, tujuan pendidikan tetap harus berpihak pada perkembangan peserta didik.

Belajar Bersama dalam Kelompok Kerja

Daftar peserta dalam surat tugas menunjukkan keberagaman kelompok kerja. Misalnya terdapat peserta dari IPI DKI Jakarta, kelompok MKKS, MKPS, MGMP, PKG PAUD, serta berbagai kelompok kerja lainnya.

Kegiatan juga berlangsung di sejumlah tempat. Dalam daftar tersebut tercatat antara lain kegiatan di BGTK DKI Jakarta, TK Negeri Senen 01, TK IKAL 2, SDN Tanjung Duren Selatan 01, TK Regina Pacis, SMP Labschool Kebayoran Baru, SMP Labschool Jakarta, hingga SMP Negeri 1 Jakarta.

Salah satu yang menarik adalah adanya kegiatan MGMP Informatika SMP JT 1 yang tercatat berlangsung pada 8 September 2026 di SMP Labschool Jakarta.

Bagi guru Informatika, perkembangan KKA tentu menjadi bagian yang sangat dekat dengan pembelajaran sehari-hari. Namun, tantangannya bukan sekadar mengajarkan teknologi terbaru. Tantangannya adalah bagaimana membuat teknologi tersebut menjadi pengalaman belajar yang bermakna bagi siswa.

Guru Informatika hari ini bukan hanya mengajarkan perangkat dan aplikasi. Guru juga berhadapan dengan pertanyaan yang jauh lebih besar: bagaimana menyiapkan generasi yang mampu menggunakan teknologi secara cerdas, kritis, kreatif, aman, dan bertanggung jawab.

Ada Tanggung Jawab Setelah Pelatihan

Satu hal penting dalam surat tugas ini jangan sampai terlewatkan.

Peserta tidak berhenti pada kehadiran di ruang pelatihan. Mereka juga diwajibkan menyampaikan laporan tertulis hasil pelatihan kepada Kepala Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta.

Ini berarti pelatihan diharapkan menghasilkan sesuatu yang dapat dilaporkan dan ditindaklanjuti.

Bagi saya, laporan pelatihan seharusnya tidak hanya menjadi dokumen administratif. Lebih jauh dari itu, laporan dapat menjadi rekaman perjalanan belajar seorang guru. Apa yang dipelajari? Apa yang berubah? Apa yang dapat diterapkan di sekolah? Apa kendalanya? Apa yang perlu diperbaiki?

Pertanyaan-pertanyaan seperti itu justru membuat pelatihan memiliki makna.

Sebab, ukuran keberhasilan sebuah pelatihan bukan hanya berapa banyak guru yang hadir. Ukuran lainnya adalah apa yang terjadi setelah guru kembali ke sekolah.

Apakah pembelajaran berubah?

Apakah siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih baik?

Apakah guru menjadi lebih percaya diri?

Apakah kelompok kerja menjadi lebih aktif?

Apakah praktik baik menyebar dari satu sekolah ke sekolah lainnya?

Di situlah dampak sebenarnya mulai terlihat.

Jangan Sampai Guru Belajar, Tetapi Kelas Tidak Berubah

Ada kalimat yang menurut saya layak direnungkan bersama: jangan sampai guru mengikuti banyak pelatihan, tetapi tidak ada perubahan berarti di ruang kelas.

Pelatihan adalah pintu masuk. Perubahan sesungguhnya terjadi ketika pengetahuan yang diperoleh dibawa pulang, dicoba, dievaluasi, lalu diperbaiki.

Tidak semua materi pelatihan harus langsung berhasil ketika diterapkan. Guru boleh mencoba dan gagal. Guru boleh menemukan kendala. Bahkan kegagalan dalam mencoba sebuah strategi pembelajaran dapat menjadi bahan belajar berikutnya.

Yang penting, ada keberanian untuk mencoba.

Inilah semangat yang dibutuhkan dalam menghadapi pembelajaran mendalam, koding, dan kecerdasan artifisial. Dunia pendidikan sedang bergerak. Guru pun harus bergerak.

Bukan berarti guru harus mengejar semua teknologi yang muncul. Guru justru perlu memilih teknologi yang benar-benar relevan dengan tujuan pembelajaran.

Teknologi adalah alat.

Guru tetap manusia yang menentukan untuk apa alat tersebut digunakan.

353 Nama, 353 Cerita, dan Satu Semangat Belajar

Jika kita melihat daftar 353 peserta secara lebih dekat, kita sebenarnya sedang melihat 353 cerita pendidikan.

Ada guru yang mungkin sudah puluhan tahun mengajar. Ada yang sedang belajar teknologi dari awal. Ada yang sudah terbiasa menggunakan perangkat digital. Ada pula yang mungkin baru mulai mengenal berbagai konsep KKA.

Semua berada dalam satu ruang belajar.

Itulah indahnya profesi guru.

Guru yang hari ini menjadi peserta pelatihan, besok dapat menjadi orang yang berbagi kepada rekan-rekannya. Pengetahuan tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan dapat bergerak dari satu guru ke guru lainnya, dari satu sekolah ke sekolah lainnya, hingga akhirnya sampai kepada peserta didik.

Semoga Pelatihan Penguatan Implementasi Pembelajaran Mendalam serta Koding dan Kecerdasan Artifisial Berbasis Kelompok Kerja Angkatan 3 Siklus 2 Tahun 2026 benar-benar menjadi bagian dari perjalanan perubahan pendidikan di DKI Jakarta.

Sebab pada akhirnya, pendidikan tidak berubah hanya karena ada kebijakan baru.

Pendidikan berubah ketika guru mau belajar, mencoba, berbagi, dan terus memperbaiki pembelajaran.

Dan 353 peserta pelatihan ini telah mendapatkan satu kesempatan penting untuk terus bertumbuh sebagai pendidik.

Guru tidak boleh berhenti belajar. Sebab ketika guru berhenti belajar, ruang kelas juga berisiko berhenti berkembang.

Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Minggu, 13 September 2026

OTN 8 Tanggal 29 Oktober - 1 Nopember 2026 Harus Siap Dikurasi, Bukan Sekadar Sukses Dilaksanakan di JICC Senayan

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi




OTN 8 Tanggal 29 Oktober - 1 Nopember 2026 Harus Siap Dikurasi, Bukan Sekadar Sukses Dilaksanakan di JICC Senayan

Inilah Kisah Omjay | Menyiapkan Olimpiade TIK, Informatika, Koding dan Kecerdasan Artifisial dengan Bukti yang Lengkap agar OTN 8 terkurasi puspresnas kemdikdasmen.

Ada satu hal penting yang perlu dipahami seluruh panitia OTN 8 Tahun 2026. Juga para peserta OTN yang nanti akan bertanding di OTN 8 JICC Senayan Jakarta.

Menyelenggarakan lomba itu bukan hanya soal acara berjalan sukses. Lebih dari itu, setiap proses harus dapat dibuktikan.

OTN 8 Tahun 2026 atau Olimpiade TIK, Informatika, Koding dan Kecerdasan Artifisial sedang dipersiapkan dengan semangat yang lebih besar. Bukan sekadar ingin membuat sebuah perlombaan yang meriah, tetapi juga ingin membangun sebuah ajang yang tertib, kredibel, transparan, dan memberikan manfaat bagi peserta.

Karena itu, sejak awal panitia perlu membiasakan satu prinsip sederhana:

Apa yang kita kerjakan harus ada buktinya. Apa yang kita klaim harus dapat diverifikasi.

Prinsip sederhana inilah yang menurut saya penting dipahami oleh semua panitia.

Jangan Menunggu Acara Selesai
Kesalahan yang sering terjadi dalam sebuah kegiatan adalah dokumen baru dicari setelah acara selesai.

Ketika diminta foto rapat panitia, baru mencari foto.
Ketika diminta daftar juri, baru mencari surat tugas.
Ketika diminta data peserta, baru membuka kembali formulir pendaftaran.
Ketika diminta bukti publikasi pemenang, baru berpikir akan dipublikasikan di mana.
Cara seperti ini tentu akan menyulitkan panitia. OTN 8 harus dibangun dengan sistem dokumentasi sejak awal.

Artinya, ketika rapat berlangsung, dokumentasikan. Ketika SK panitia ditandatangani, simpan dengan baik. Ketika juri ditetapkan, simpan CV dan bukti kompetensinya. Ketika peserta mendaftar, data disimpan secara rapi.

Dengan demikian, ketika seluruh dokumen diperlukan, panitia tidak perlu bekerja dari awal lagi.

Kurasi Membutuhkan Bukti
Dalam Pedoman Kurasi Talenta, Instrumen 1A digunakan untuk memperoleh data dan informasi mengenai ajang, penyelenggara, serta komponen penyelenggaraan dan kebernilaian ajang. Penilaian tidak hanya melihat ada atau tidaknya kegiatan, tetapi juga bagaimana kegiatan tersebut diselenggarakan dan seberapa bernilai kegiatan tersebut.

Pedoman tersebut membagi penilaian ke dalam dua aspek besar, yaitu penyelenggaraan dan kebernilaian.

Pada aspek penyelenggaraan terdapat komponen yang berkaitan dengan ajang dan cabang ajang. Sementara itu, aspek kebernilaian melihat kebermanfaatan, persaingan, kepesertaan, orientasi penyelenggaraan, serta kewajaran penyelenggaraan.

Jadi, panitia OTN 8 tidak cukup hanya mengatakan: "OTN 8 diikuti banyak sekolah."

Pertanyaannya kemudian: Mana datanya?
Tidak cukup mengatakan: "Juri OTN 8 adalah para ahli."
Pertanyaan berikutnya: Apa bukti kualifikasi jurinya?
Tidak cukup mengatakan: "OTN 8 bermanfaat bagi peserta."
Pertanyaannya: Apa bentuk manfaatnya dan apa buktinya?
Inilah pola berpikir yang perlu dibangun sejak sekarang.

Panitia Harus Punya Satu Sistem Dokumentasi
Saya mengusulkan agar panitia OTN 8 membuat folder digital bersama yang tertata sejak awal. Misalnya:

00_PROFIL_PENYELENGGARA

01_SK_KEPANITIAAN

02_JUKNIS

03_JURI

04_PESERTA

05_SARPRAS

06_PEMBIAYAAN

07_PENGHARGAAN

08_PUBLIKASI

09_MEDIA

10_KEMITRAAN

11_DOKUMENTASI

12_DATA_PEMENANG

13_SERTIFIKAT

14_LAPORAN_AKHIR

Setiap koordinator bidang mempunyai tanggung jawab memasukkan bukti kegiatannya ke dalam folder yang sudah ditentukan. Dengan cara ini, panitia tidak bekerja sendiri-sendiri. Kita bekerja sebagai satu tim.

Juknis Jangan Sekadar Ada
Salah satu dokumen penting adalah petunjuk teknis atau juknis. Juknis harus menjelaskan lomba dengan bahasa yang mudah dipahami peserta.

Untuk OTN 8, peserta akan mengikuti berbagai cabang lomba, antara lain Cerdas Cermat Informatika dan KKA, Koding, Robotik, Informatika dan Kecerdasan Artifisial, serta E-Sport Mobile Legend.

Setiap lomba membutuhkan aturan yang jelas. Siapa pesertanya? Bagaimana cara mendaftar? Apa syaratnya? Bagaimana babak penyisihannya? Bagaimana sistem penilaiannya? Apa yang menjadi kriteria kemenangan? Bagaimana jika terjadi pelanggaran? Siapa yang mengambil keputusan?

Semua harus ditulis dengan jelas. Jangan sampai peserta baru mengetahui aturan ketika perlombaan sudah dimulai.

Juri Harus Kredibel
Juri adalah bagian yang sangat penting dalam sebuah kompetisi. Juri bukan hanya nama yang ditulis di poster. Kualifikasi juri harus dapat dibuktikan.

Karena itu, panitia perlu menyiapkan surat tugas atau keputusan penetapan juri, biodata, riwayat pendidikan atau pengalaman, serta bukti kompetensi yang relevan apabila tersedia.

Pedoman kurasi juga memuat kebutuhan informasi mengenai kualifikasi juri, asal juri, serta unsur-unsur yang terlibat dalam penyelenggaraan.

Bagi saya, semakin jelas rekam jejak juri, semakin kuat kepercayaan peserta terhadap OTN 8. Kompetisi yang baik harus memiliki sistem penilaian yang dapat dipertanggungjawabkan.

Data Peserta Jangan Hilang
Data peserta juga harus menjadi perhatian. Jangan hanya menyimpan jumlah peserta. Simpan data secara lengkap dan terstruktur. Berapa sekolah yang mengikuti? Dari daerah mana saja? Jenjang SD, SMP, SMA atau SMK? Berapa peserta setiap cabang? Berapa sekolah yang mengikuti secara daring atau luring, jika format tersebut digunakan?

Data tersebut nantinya dapat menjadi bukti bahwa OTN 8 memiliki kepesertaan yang nyata dan terukur.

Pedoman kurasi memang meminta informasi mengenai tingkat peserta, sebaran peserta, jumlah peserta, tahapan penyelenggaraan, dan frekuensi penyelenggaraan.

Jadi, sejak pendaftaran dibuka, sistem pendataan peserta harus sudah dipersiapkan.

Dokumentasi Jangan Hanya Foto Bersama
Ada kebiasaan yang perlu kita ubah. Dokumentasi kegiatan jangan hanya foto panitia berdiri bersama. Foto seperti itu memang bagus untuk kenangan.

Namun untuk pertanggungjawaban kegiatan, kita membutuhkan dokumentasi yang menggambarkan proses. Misalnya:

foto rapat panitia,
foto technical meeting,
foto peserta mengikuti lomba,
foto juri melakukan penilaian,
foto proses pertandingan,
foto penggunaan sarana dan prasarana,
foto seminar nasional,
foto penyerahan penghargaan,
serta foto kegiatan lainnya.
Video juga dapat disimpan sebagai dokumentasi pendukung.

https://www.youtube.com/watch?v=YHkO7aWTMdo

Hal yang paling penting adalah setiap dokumentasi diberi nama file yang jelas. Jangan menyimpan file dengan nama: IMG_1234.jpg

Lebih baik: 2026-10-30_TM_CerdasCermat.jpg

Dengan begitu, orang lain dapat memahami isi dokumen tanpa harus membuka satu per satu.

Publikasi Pemenang Harus Jelas
Setelah lomba selesai, pekerjaan panitia belum selesai. Pemenang harus diumumkan dengan jelas. Data juara harus terdokumentasi. Sertifikat harus tersimpan. Jika ada berita atau publikasi mengenai pemenang, simpan tautannya.

Pedoman kurasi juga memasukkan publikasi pemenang secara daring sebagai salah satu data yang perlu diperhatikan. Karena itu, bidang publikasi dan dokumentasi harus bekerja sama dengan baik. Jangan sampai panitia mempunyai data pemenang tetapi masyarakat sulit menemukan informasinya.

Bagaimana dengan Pembiayaan? Panitia juga perlu menyiapkan bukti pembiayaan. Dari mana sumber dana OTN 8? Bagaimana penggunaannya? Apakah ada dukungan sponsor? Apakah ada kontribusi peserta? Apakah ada dukungan lembaga atau mitra?

Semua harus dicatat secara transparan sesuai aturan organisasi dan ketentuan yang berlaku. Jangan sampai aspek keuangan justru menjadi bagian yang paling lemah dalam sebuah kegiatan besar.

Kegiatan yang baik bukan hanya bagus ketika dilihat dari panggung, tetapi juga tertib ketika diperiksa dokumennya.

Lima Pertanyaan Penting
Selain penyelenggaraan, panitia juga perlu memikirkan aspek kebernilaian. Pedoman kurasi menilai kebernilaian melalui lima aspek utama, yaitu:

Kebermanfaatan

Tingkat persaingan

Kepesertaan

Orientasi penyelenggaraan

Kewajaran

Penilaian kebernilaian dilakukan melalui pertimbangan para ahli atau expert judgement.

Karena itu, sejak awal panitia harus bertanya:

Apa manfaat OTN 8 bagi peserta?
Apakah kompetisinya sehat dan adil?
Apakah peserta berasal dari berbagai sekolah dan daerah?
Apakah orientasi kegiatan benar-benar untuk pengembangan talenta?
Apakah seluruh biaya, aturan, penghargaan, dan pelaksanaan berlangsung secara wajar?
Pertanyaan-pertanyaan ini jangan baru dijawab ketika mengisi instrumen kurasi. Jawabannya harus terlihat dalam pelaksanaan kegiatan.

OTN 8 Harus Bisa Dipertanggungjawabkan
Saya percaya OTN 8 Tahun 2026 dapat menjadi ajang yang semakin baik apabila semua panitia mempunyai kesadaran yang sama.

Kita tidak perlu takut dengan proses kurasi. Yang perlu kita lakukan adalah mempersiapkan kegiatan dengan benar sejak awal.

Pedoman kurasi menjelaskan bahwa data dan dokumen yang disampaikan akan melalui proses verifikasi dan validasi sebelum diberikan kepada kurator.

Artinya, dokumen bukan sekadar formalitas. Dokumen adalah bukti bahwa kegiatan benar-benar dilaksanakan. Karena itu, saya mengajak seluruh panitia OTN 8 untuk bekerja dengan prinsip:

Rancang dengan baik.
Laksanakan dengan jujur.
Dokumentasikan dengan lengkap.
Publikasikan dengan terbuka.
Simpan semua buktinya.

Jangan Menunggu Besok
OTN 8 masih dalam tahap persiapan. Justru sekarang adalah waktu yang tepat untuk merapikan semuanya.

Ketua panitia tidak mungkin mengerjakan semua hal.
Sekretaris tidak mungkin menyimpan semua dokumen.
Bendahara tidak mungkin mengetahui semua kegiatan.
Koordinator lomba tidak mungkin mendokumentasikan semuanya.
Karena itu, setiap bidang harus mempunyai PIC yang jelas. Setiap PIC harus tahu:

Apa tugas saya?
Apa dokumen yang harus saya hasilkan?
Kapan batas waktunya?
Di mana dokumen harus disimpan?
Kalau empat pertanyaan ini bisa dijawab, pekerjaan panitia akan jauh lebih mudah.

OTN 8 Bukan Sekadar Perlombaan
Bagi saya, OTN 8 bukan sekadar perlombaan.

OTN 8 adalah bagian dari ikhtiar guru dan komunitas pendidikan untuk memberikan ruang kepada peserta didik agar berani menunjukkan kemampuan di bidang teknologi, informatika, koding, robotik, kecerdasan artifisial, dan bidang kompetisi digital lainnya.

Kita ingin peserta datang bukan hanya untuk mendapatkan medali.

Mereka datang untuk belajar.
Mereka datang untuk berkompetisi secara sehat.
Mereka datang untuk bertemu teman-teman baru.
Mereka datang untuk menguji kemampuan.
Dan yang paling penting, mereka pulang membawa pengalaman.

Kalau semua proses tersebut terdokumentasi dengan baik, maka OTN 8 akan mempunyai rekam jejak yang kuat. Bukan hanya dikenang oleh peserta.

Tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan kepada orang tua, sekolah, mitra, masyarakat, dan pihak-pihak yang berkepentingan.

Penutup: Rancang, Laksanakan, Buktikan
Saya sering mengatakan bahwa menjadi guru bukan hanya mengajar.

Guru juga perlu belajar mengelola kegiatan, membangun jejaring, menulis, mendokumentasikan, dan membagikan pengalaman.

Begitu pula dengan OTN 8. Kita tidak ingin hanya mengatakan: "OTN 8 sukses."

Kita ingin dapat menunjukkan:

"Inilah panitianya."
"Inilah juknisnya."
"Inilah jurinya."
"Inilah pesertanya."
"Inilah proses perlombaannya."
"Inilah dokumentasinya."
"Inilah pemenangnya."
"Inilah publikasinya."
"Inilah laporan akhirnya."
Dengan bukti yang lengkap, sebuah kegiatan akan mempunyai cerita yang jauh lebih kuat. Maka, untuk seluruh panitia OTN 8 Tahun 2026, mari kita mulai dari sekarang.

Tidak perlu menunggu acara selesai. Tidak perlu menunggu ada permintaan dokumen. Tidak perlu menunggu batas akhir pengajuan.

Kita siapkan semuanya sejak hari ini. Sebab sebuah ajang yang baik bukan hanya terlihat hebat ketika dilaksanakan, tetapi juga rapi ketika dibuktikan.

OTN 8: Rancang. Laksanakan. Dokumentasikan. Buktikan.
OTN 8 2026 hadir bukan sekadar lomba, tetapi panggung talenta digital pelajar untuk mengasah koding, robotik, KKA, informatika, dan E-Sport sekaligus menyiapkan ajang yang kredibel dan siap dikurasi.

OTN 8 2026 bukan sekadar lomba. Panitia harus menyiapkan kegiatan yang tertib, kredibel, terdokumentasi, dan siap dibuktikan untuk proses kurasi.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay/Kakek Jay

Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/6aa5e102ed64152c611a5055/otn-8-2026-harus-siap-dikurasi-bukan-sekadar-sukses-dilaksanakan-di-jicc

Sabtu, 12 September 2026

Kegiatan Makro Mahasiswa Teknik Elektro UNJ

Ketika Omjay Kembali ke Teknik Elektro UNJ: Pohon-Pohon Itu Masih Menyimpan Kenangan

Ada perasaan yang sulit dijelaskan ketika kaki kembali menginjak tempat yang pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup.

Hari itu, saya berkesempatan hadir dalam acara MAKRO Teknik Elektro UNJ bersama sahabat seperjuangan, Agus Suryadi angkatan 1990 dan Dida Daniarsyah angkatan 1991.

Bagi saya, pertemuan ini bukan sekadar menghadiri sebuah acara mahasiswa.

Ini seperti membuka kembali album kenangan yang selama puluhan tahun tersimpan rapi di dalam hati.

Saya memandang gedung lama Teknik Elektro yang masih berdiri. Bangunan itu mungkin terlihat biasa bagi sebagian orang. Namun bagi saya, gedung tersebut menyimpan begitu banyak cerita.

Di sanalah saya pernah menjadi mahasiswa.

Dari IKIP Jakarta Menjadi Universitas Negeri Jakarta

Tahun 1990 adalah tahun yang tidak pernah saya lupakan.

Saat itu saya pertama kali mengenakan status sebagai mahasiswa IKIP Jakarta, mengambil pendidikan di bidang Teknik Elektro. Saya datang sebagai anak muda dengan banyak mimpi, tetapi belum tahu akan dibawa ke mana perjalanan hidup ini.

Kini, nama IKIP Jakarta sudah berubah menjadi Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Waktu memang terus berjalan.

Gedung boleh mengalami perubahan. Nama institusi boleh berubah. Generasi mahasiswa juga terus berganti.

Tetapi kenangan tidak pernah benar-benar hilang.

Ketika saya melihat gedung lama Teknik Elektro, pikiran saya melayang jauh ke masa lalu.

Saya seperti kembali menjadi mahasiswa tahun 1990.

Masih muda.

Masih penuh semangat.

Masih sering berdiskusi dengan teman-teman.

Masih belajar memahami rangkaian listrik, elektronika, kehidupan kampus, sekaligus belajar memahami kehidupan.

Yang membuat hati saya semakin tersentuh adalah ketika melihat pohon-pohon di depan gedung Teknik Elektro masih ada.

Pohon-pohon itu seolah menjadi saksi bisu perjalanan waktu.

Dulu, saya mungkin tidak pernah berpikir bahwa puluhan tahun kemudian saya akan kembali ke tempat ini sebagai seorang guru dan bertemu dengan mahasiswa-mahasiswa baru.

Pohon-pohon itu tetap tumbuh.

Mahasiswanya berganti.

Generasinya berganti.

Tetapi kenangan indahnya tetap tinggal di hati.

Bertemu Adik-Adik Mahasiswa

Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada adik-adik mahasiswa Teknik Elektro UNJ yang sudah mengundang saya.

Rasanya seperti mimpi.

Saya bisa bertemu dengan adik-adik kelas yang begitu baik hati, ramah, penuh semangat, dan memiliki keinginan kuat untuk menuntut ilmu.

Saya melihat wajah-wajah muda yang mengingatkan saya kepada diri sendiri ketika pertama kali menjadi mahasiswa.

Ada semangat.

Ada rasa ingin tahu.

Ada mimpi.

Dan ada harapan besar untuk masa depan.

Saya pun merasa mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan sedikit pengalaman kepada generasi yang akan melanjutkan perjalanan Teknik Elektro UNJ.

Saya tidak ingin hanya bercerita tentang teori.

Saya ingin berbagi tentang perjalanan hidup.

Sebab setelah puluhan tahun menjalani kehidupan, saya semakin menyadari bahwa keberhasilan seseorang tidak hanya ditentukan oleh nilai akademik.

Ilmu itu penting.

Tetapi pengalaman juga penting.

Dan yang tidak kalah penting adalah relasi.

Rumus Sukses 2P + 267

Dalam kesempatan tersebut, saya menyampaikan sebuah rumus sederhana yang saya sebut sebagai rumus sukses 2P + 267.

2P adalah Pendidikan dan Pengalaman.

P pertama adalah Pendidikan.

Sebagai mahasiswa, jangan pernah merasa bahwa kuliah hanya kewajiban untuk mendapatkan ijazah.

Kuliah adalah kesempatan untuk membangun fondasi kehidupan.

Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kuasai bidang yang dipelajari. Jangan malu bertanya. Jangan takut mencoba sesuatu yang baru.

Namun pendidikan saja belum cukup.

Kita membutuhkan P yang kedua, yaitu Pengalaman.

Pengalaman diperoleh ketika kita berani terlibat dalam organisasi, mengikuti kegiatan kampus, membuat proyek, mengikuti perlombaan, berdiskusi, bekerja dalam tim, menghadapi kegagalan, dan mencoba kembali.

Dari pengalaman itulah seseorang menjadi semakin matang.

Lalu ada 267, yang saya ibaratkan sebagai tangga lagu relasi.

Relasi adalah tangga yang membantu kita naik menuju kesempatan-kesempatan baru.

Bukan berarti mencari teman hanya untuk kepentingan pribadi.

Bukan pula membangun hubungan karena ingin mendapatkan keuntungan sesaat.

Relasi dibangun dengan silaturahmi, kepercayaan, kolaborasi, dan saling memberikan manfaat.

Jangan pernah meremehkan orang yang kita temui hari ini.

Bisa jadi, suatu hari nanti teman yang duduk di samping kita di bangku kuliah menjadi orang yang membuka pintu kesempatan bagi kita.

Begitu pula sebaliknya.

Kita mungkin menjadi orang yang membuka jalan bagi orang lain.

Karena itu, jagalah hubungan baik.

Dulu Saya Adalah Mereka

Ada satu hal yang membuat pertemuan ini begitu menyentuh hati.

Ketika berdiri di hadapan mahasiswa Teknik Elektro UNJ, saya sadar bahwa dulu saya adalah mereka.

Dulu saya juga duduk sebagai mahasiswa.

Dulu saya juga memiliki banyak pertanyaan tentang masa depan.

Dulu saya juga belum mengetahui bahwa perjalanan hidup akan membawa saya menjadi guru, blogger, penulis, dan terus belajar sampai hari ini.

Kalau ada yang bertanya kepada saya, apakah saya sudah merencanakan semuanya sejak menjadi mahasiswa tahun 1990?

Jawabannya tentu tidak.

Hidup ternyata memiliki jalannya sendiri.

Tugas kita adalah terus belajar, berusaha, berdoa, dan membuka diri terhadap kesempatan yang datang.

Kadang-kadang jalan yang kita kira biasa saja ternyata membawa kita kepada tempat yang luar biasa.

Kembali Bukan Berarti Mundur

Kembali ke kampus setelah puluhan tahun bukan berarti kita mundur ke masa lalu.

Justru dari masa lalu kita belajar menghargai perjalanan.

Saya berdiri di antara adik-adik mahasiswa dengan membawa pengalaman yang jauh lebih panjang daripada ketika saya pertama kali masuk kampus.

Namun saya tidak merasa lebih tinggi.

Saya justru merasa sebagai seorang kakak yang sedang berbagi cerita kepada adik-adiknya.

Saya ingin mengatakan kepada mereka:

Jangan sia-siakan masa kuliah.

Nikmati prosesnya.

Bangun persahabatan.

Aktif berkegiatan.

Perbanyak pengalaman.

Jaga nama baik almamater.

Dan yang paling penting, jangan pernah berhenti belajar.

Sebab dunia setelah kampus jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan.

Terima Kasih, Adik-Adik Teknik Elektro UNJ

Terima kasih kepada adik-adik mahasiswa Teknik Elektro UNJ yang telah memberikan kesempatan kepada saya untuk kembali ke rumah lama ini.

Terima kasih karena telah membuat seorang alumni tahun 1990 kembali merasakan denyut kehidupan kampus.

Terima kasih karena membuat saya kembali mengenang masa muda.

Ketika acara selesai dan saya melihat kembali gedung lama serta pohon-pohon yang ada di depannya, hati saya terasa hangat.

Ternyata ada tempat-tempat tertentu yang tidak pernah benar-benar kita tinggalkan.

Kita hanya pergi untuk menjalani kehidupan.

Lalu suatu hari, kita kembali.

Dan ketika kembali, kenangan itu menyambut kita dengan cara yang sangat indah.

Saya pun tersenyum.

IKIP Jakarta boleh berganti nama menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Generasi boleh berganti.

Mahasiswa boleh datang dan pergi.

Tetapi semangat untuk belajar, berkarya, dan mengabdi akan selalu hidup.

Hari itu saya pulang membawa kebahagiaan.

Bukan karena saya telah memberikan sesuatu kepada adik-adik mahasiswa.

Justru saya merasa merekalah yang telah memberikan hadiah kepada saya: kesempatan untuk kembali menjadi mahasiswa, walau hanya sejenak.

Salam dari seorang alumni Teknik Elektro IKIP Jakarta angkatan 1990.

Salam blogger persahabatan.
Omjay guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Sebab suatu hari nanti, tulisan yang kita buat hari ini mungkin akan menjadi pohon kenangan yang menaungi generasi setelah kita.