Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 03 Juni 2026

Pemanfaatan AI untuk Menulis

Berikut artikel yang dapat digunakan untuk materi KBMN PGRI maupun dipublikasikan di blog.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34: Pemanfaatan AI untuk Menulis.

Berikut artikel yang dapat digunakan untuk materi KBMN PGRI maupun dipublikasikan di blog.


Pemanfaatan AI untuk Menulis: Menjadikan Teknologi sebagai Sahabat Literasi


Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia


Perkembangan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia literasi dan kepenulisan. Jika dahulu seorang penulis harus menghabiskan waktu berjam-jam mencari referensi di perpustakaan, kini berbagai informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui internet. Bahkan saat ini hadir teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, yang mampu membantu manusia dalam berbagai pekerjaan, termasuk menulis.


Banyak orang masih bertanya-tanya, apakah AI akan menggantikan penulis? Apakah guru, dosen, mahasiswa, siswa, blogger, dan penulis profesional akan kehilangan perannya?


Jawabannya adalah tidak.


AI hanyalah alat bantu. Seperti halnya komputer, internet, atau mesin pencari, AI hadir untuk membantu manusia bekerja lebih cepat dan lebih efektif. Kreativitas, empati, pengalaman hidup, dan sentuhan hati tetap menjadi milik manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.


Mengenal AI dalam Dunia Menulis


Artificial Intelligence adalah teknologi yang dirancang untuk meniru kemampuan berpikir manusia. AI mampu memahami perintah, mengolah data, menganalisis informasi, hingga menghasilkan teks berdasarkan instruksi yang diberikan.


Saat ini banyak aplikasi AI yang dapat membantu penulis, seperti:


- ChatGPT

- Gemini

- Claude

- Copilot

- Perplexity AI

- DeepSeek


Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun pada prinsipnya, semuanya dapat digunakan untuk membantu proses menulis.


Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay melihat AI sebagai sahabat baru bagi para penulis. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi bukan menggantikan peran penulis.


Pengalaman Omjay Menggunakan AI


Awalnya Omjay termasuk orang yang penasaran dengan perkembangan AI. Sebagai guru Informatika, Omjay merasa perlu mempelajari teknologi baru agar tidak tertinggal zaman.


Ketika pertama kali mencoba AI, Omjay meminta bantuan membuat kerangka tulisan. Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam hitungan detik AI mampu membuat daftar isi yang biasanya memerlukan waktu cukup lama.


Namun Omjay segera menyadari satu hal penting.


Tulisan yang dihasilkan AI akan terasa datar apabila tidak diberi sentuhan pengalaman pribadi. Tulisan menjadi hidup ketika penulis memasukkan kisah nyata, emosi, refleksi, dan pelajaran hidup yang pernah dialaminya.


Sejak saat itu Omjay menggunakan AI bukan sebagai pengganti menulis, melainkan sebagai asisten pribadi yang membantu mempercepat proses kreatif.


Manfaat AI untuk Menulis


1. Membantu Mencari Ide Tulisan


Sering kali seorang penulis mengalami kebuntuan ide.


AI dapat membantu memberikan berbagai topik menarik yang dapat dikembangkan menjadi artikel, buku, atau materi pembelajaran.


Misalnya ketika ingin menulis tentang pendidikan, AI dapat memberikan puluhan ide judul yang relevan dengan kondisi saat ini.


2. Membuat Kerangka Tulisan


Banyak orang kesulitan memulai tulisan karena tidak tahu harus memulai dari mana.


AI dapat membantu menyusun:


- Judul

- Pendahuluan

- Subjudul

- Kesimpulan


Dengan adanya kerangka tulisan, penulis akan lebih mudah mengembangkan isi tulisan.


3. Membantu Menyusun Kalimat


AI dapat membantu memperbaiki struktur kalimat sehingga lebih jelas dan mudah dipahami pembaca.


Hal ini sangat membantu bagi penulis pemula yang masih belajar menyusun tulisan dengan baik.


4. Membantu Meringkas Informasi


Saat membaca artikel atau dokumen yang panjang, AI dapat membantu membuat ringkasan sehingga penulis lebih cepat memahami isi bacaan.


Waktu yang biasanya digunakan berjam-jam dapat dipersingkat menjadi beberapa menit saja.


5. Membantu Mengoreksi Tulisan


AI dapat membantu memeriksa:


- Kesalahan ejaan

- Tata bahasa

- Struktur paragraf

- Konsistensi tulisan


Namun hasil koreksi tetap harus diperiksa kembali oleh penulis.


6. Membantu Membuat Konten Pembelajaran


Bagi guru, AI sangat membantu dalam membuat:


- Modul ajar

- Soal latihan

- Rubrik penilaian

- Presentasi

- Ringkasan materi


Sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada proses pembelajaran.


Bahaya Menggunakan AI Tanpa Bijak


Walaupun memiliki banyak manfaat, penggunaan AI juga memiliki risiko apabila tidak digunakan dengan bijaksana.


1. Menjadi Malas Berpikir


Jika semua pekerjaan diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir kritis akan menurun.


Penulis harus tetap aktif membaca, menganalisis, dan mengembangkan ide sendiri.


2. Informasi Tidak Selalu Benar


AI bisa saja memberikan informasi yang kurang akurat.


Karena itu setiap informasi yang diperoleh perlu diverifikasi kembali dari sumber yang terpercaya.


3. Kehilangan Identitas Penulis


Tulisan yang sepenuhnya dibuat AI sering kali terasa kaku dan kurang memiliki jiwa.


Pembaca sebenarnya dapat merasakan apakah sebuah tulisan lahir dari pengalaman nyata atau hanya hasil olahan mesin.


Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar dengan AI


Inilah pesan yang selalu Omjay sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN).


AI memang canggih.


AI memang cepat.


AI memang membantu.


Tetapi AI tidak memiliki hati.


AI tidak pernah merasakan perjuangan seorang guru yang mengajar puluhan tahun.


AI tidak pernah menangis ketika kehilangan orang yang dicintai.


AI tidak pernah merasakan haru ketika melihat muridnya sukses.


Semua pengalaman hidup itu hanya dimiliki manusia.


Karena itulah tulisan terbaik akan lahir ketika teknologi bertemu dengan hati.


AI dapat membantu menyiapkan bahan baku tulisan, tetapi manusialah yang memberi rasa dan makna pada setiap kata.


Masa Depan Penulis di Era AI


Banyak orang takut profesi penulis akan hilang karena AI.


Kekhawatiran itu sebenarnya tidak perlu berlebihan.


Sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru justru melahirkan peluang baru.


Ketika komputer hadir, profesi penulis tidak hilang.


Ketika internet hadir, profesi penulis juga tidak hilang.


Demikian pula ketika AI hadir.


Yang akan tertinggal bukanlah penulis yang menggunakan AI, melainkan penulis yang menolak belajar teknologi.


Karena itu, tugas kita bukan melawan AI.


Tugas kita adalah belajar memanfaatkan AI secara bijaksana.


Penulis masa depan adalah mereka yang mampu menggabungkan kreativitas manusia dengan kecerdasan teknologi.


Penutup


AI adalah alat bantu yang luar biasa dalam dunia kepenulisan. Dengan AI, proses mencari ide, menyusun kerangka, mengoreksi tulisan, hingga membuat materi pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.


Namun kita harus selalu ingat bahwa AI hanyalah alat.


Tulisan yang menginspirasi lahir dari pengalaman, ketulusan, dan sentuhan hati manusia.


Karena itu, gunakanlah AI sebagai sahabat menulis, bukan sebagai pengganti berpikir.


Teruslah membaca.


Teruslah belajar.


Teruslah menulis setiap hari.


Dan seperti yang sering Omjay katakan kepada para sahabat penulis di seluruh Indonesia:


"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan AI. Sebab teknologi dapat membantu menulis, tetapi hanya hati yang mampu menyentuh hati."Semoga artikel ini bermanfaat untuk materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34: Pemanfaatan AI untuk Menulis.

Kenangan Seminar Guru TIK

Ketika Guru TIK Menyambut Lahirnya Mata Pelajaran Informatika

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali mengingatkan saya pada sebuah peristiwa penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Sebuah momen yang mungkin tidak banyak diketahui orang, tetapi memiliki arti sangat besar bagi para guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di seluruh Indonesia.

Di dalam foto tersebut tampak para guru TIK berdiri bersama penuh semangat dalam sebuah kegiatan bertajuk “Seminar Nasional Guru Informatika: Penguatan Guru TIK dalam Menyambut Mata Pelajaran Informatika.”

Di belakang para peserta terpampang spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang kepada peserta seminar nasional. Wajah-wajah yang hadir saat itu memancarkan harapan. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: memperjuangkan agar kompetensi guru TIK tetap dibutuhkan dan menjadi bagian penting dalam masa depan pendidikan Indonesia.

Saat itu, dunia pendidikan sedang berada pada persimpangan jalan. Mata pelajaran TIK yang pernah diajarkan di sekolah mengalami berbagai dinamika kebijakan. Banyak guru TIK merasa cemas. Mereka bertanya-tanya tentang masa depan profesinya.

Namun di tengah kegelisahan tersebut, secercah harapan muncul.

Pemerintah mulai menggagas lahirnya mata pelajaran Informatika, sebuah bidang ilmu yang lebih luas daripada sekadar penggunaan komputer. Informatika mengajarkan cara berpikir komputasional, pemrograman, analisis data, kecerdasan buatan, hingga literasi digital yang kini menjadi kebutuhan abad ke-21.

Sebagai guru yang sejak lama mengajar bidang teknologi, saya merasakan betul bagaimana suasana hati para guru ketika itu.

Ada rasa khawatir.

Ada rasa tidak pasti.

Tetapi juga ada semangat untuk belajar kembali.

Karena seorang guru sejati tidak pernah berhenti belajar.

Seminar nasional yang terekam dalam foto tersebut menjadi salah satu momentum bersejarah. Kegiatan itu dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., yang sejak lama dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa guru harus menjadi aktor utama perubahan pendidikan dan harus siap menghadapi transformasi digital.

Kehadiran Prof. Unifah memberikan energi baru bagi para guru TIK.

Beliau memahami bahwa perubahan kurikulum tidak boleh membuat guru kehilangan harapan. Sebaliknya, perubahan harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas wawasan.

Di seminar tersebut para guru diajak melihat masa depan pendidikan dengan lebih optimis.

Bahwa teknologi bukan ancaman.

Bahwa digitalisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Bahwa guru tetap menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan.

Selain dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, kegiatan tersebut juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia saat itu, Rudiantara. Kehadiran beliau menjadi simbol kuat bahwa penguatan literasi digital harus dimulai dari sekolah dan guru memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi Indonesia menghadapi era digital. Seminar tersebut juga mendorong guru Informatika untuk membekali peserta didik dengan kemampuan literasi digital yang baik.

Saya masih ingat suasana ruangan saat itu.

Para peserta mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mereka sadar bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat.

Internet berkembang pesat.

Media sosial mulai mendominasi kehidupan masyarakat.

Big data, cloud computing, dan kecerdasan buatan mulai diperbincangkan.

Anak-anak yang duduk di bangku sekolah saat itu kelak akan hidup di dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Karena itulah guru harus berubah.

Guru harus belajar lagi.

Guru harus meningkatkan kompetensinya.

Di sinilah peran seminar nasional tersebut menjadi sangat penting.

Bukan sekadar acara seremonial.

Bukan hanya kumpul-kumpul guru.

Tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk mempersiapkan masa depan.

Saya melihat banyak guru yang awalnya khawatir justru pulang dengan penuh semangat.

Mereka mulai mengikuti pelatihan coding.

Belajar pemrograman.

Memahami computational thinking.

Belajar kecerdasan buatan.

Belajar keamanan siber.

Belajar literasi digital.

Bahkan banyak yang kemudian menjadi pelopor pembelajaran Informatika di sekolah masing-masing.

Hari ini, ketika mata pelajaran Informatika telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Indonesia, saya sering mengenang kembali momen yang ada dalam foto tersebut.

Foto itu bukan sekadar gambar.

Foto itu adalah saksi sejarah.

Saksi perjuangan para guru yang tidak menyerah pada perubahan.

Saksi bahwa guru Indonesia memiliki daya juang luar biasa.

Saksi bahwa ketika diberi kesempatan belajar, guru Indonesia mampu berkembang dengan sangat cepat.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.

Perjalanan yang mengajarkan bahwa perubahan tidak bisa dihindari.

Tetapi perubahan bisa dihadapi.

Bahkan perubahan bisa menjadi peluang besar jika kita mau belajar.

Kini kita memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Tantangan baru kembali muncul. Banyak guru bertanya apakah AI akan menggantikan guru.

Jawabannya tidak.

AI tidak akan menggantikan guru.

Tetapi guru yang mampu memanfaatkan AI akan menggantikan guru yang tidak mau belajar.

Pesan itulah yang sesungguhnya telah diajarkan sejak seminar nasional dalam foto tersebut.

Bahwa kompetensi harus terus diperbarui.

Bahwa belajar tidak mengenal usia.

Bahwa guru harus selalu berada di garis depan perubahan.

Ketika saya memandang foto lama itu, hati saya terasa hangat.

Saya melihat bukan hanya wajah-wajah guru.

Saya melihat pejuang pendidikan.

Saya melihat orang-orang yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempersiapkan masa depan anak bangsa.

Dan saya percaya, selama masih ada guru yang mau belajar, Indonesia akan selalu memiliki harapan.

Karena di balik setiap kemajuan teknologi, tetap ada seorang guru yang mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak.

Di balik setiap kecerdasan buatan, tetap ada guru yang menanamkan nilai kemanusiaan.

Dan di balik setiap generasi hebat, selalu ada guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Terima kasih para guru TIK.

Terima kasih para guru Informatika.

**Kalian bukan sekadar mengajarkan teknologi. Kalian sedang membangun masa depan Indonesia.**

Pemanfaatan AI untuk Menulis

Pemanfaatan AI untuk Menulis: Materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pada hari Rabu, 3 Juni 2026 pukul 19.00 WIB, Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 kembali mengadakan pertemuan ke-19 dengan tema yang sangat relevan dengan perkembangan zaman, yaitu “Pemanfaatan AI untuk Menulis.”

Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Grup WhatsApp KBMN dengan moderator Dail Ma’ruf, M.Pd. dan narasumber Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay).

Tema ini dipilih karena saat ini dunia pendidikan, literasi, dan kepenulisan sedang mengalami perubahan besar akibat hadirnya teknologi Artificial Intelligence (AI). Banyak guru, mahasiswa, siswa, dosen, bahkan penulis profesional mulai memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan mereka.

Namun muncul pertanyaan penting:

Apakah AI akan menggantikan penulis?

Jawabannya adalah tidak.

AI hanyalah alat bantu. Penulis tetap manusia yang memiliki hati, pengalaman, emosi, nilai, dan kebijaksanaan yang tidak dapat digantikan mesin.

---

Mengenal Artificial Intelligence (AI)

Artificial Intelligence atau kecerdasan buatan adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kecerdasan manusia.

Contohnya:

Menjawab pertanyaan

Membuat ringkasan

Menulis artikel

Menerjemahkan bahasa

Membuat gambar

Membantu riset

Mengolah data

Saat ini banyak aplikasi AI yang populer digunakan, seperti:

ChatGPT

Gemini

Claude

Copilot

DeepSeek

Perplexity

Grok

Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangannya.

---

Mengapa Penulis Perlu Mengenal AI?

Omjay sering mengatakan kepada para guru:

> "Jangan takut kepada teknologi. Takutlah jika kita tidak mau belajar teknologi."

Perkembangan teknologi tidak bisa dihentikan.

Seperti ketika komputer menggantikan mesin ketik.

Seperti ketika internet menggantikan surat menyurat.

Kini AI hadir untuk membantu manusia bekerja lebih cepat.

Jika guru dan penulis tidak belajar AI, maka mereka akan tertinggal.

Namun jika mempelajarinya dengan bijak, AI akan menjadi sahabat yang sangat membantu.

---

Manfaat AI untuk Menulis

1. Membantu Mencari Ide Tulisan

Banyak orang ingin menulis tetapi bingung memulai dari mana.

AI dapat membantu memberikan:

Judul tulisan

Kerangka artikel

Daftar isi buku

Ide cerita

Tema blog

Misalnya cukup mengetik:

"Berikan saya 20 ide artikel tentang pendidikan karakter."

Dalam hitungan detik AI akan memberikan banyak pilihan.

---

2. Membuat Kerangka Tulisan

Kerangka adalah fondasi tulisan.

AI dapat membantu menyusun:

Pendahuluan

Isi

Penutup

Sehingga penulis tidak mulai dari nol.

Namun kerangka tersebut tetap perlu dikembangkan menggunakan pengalaman dan pemikiran pribadi.

---

3. Membantu Riset

Dulu mencari referensi membutuhkan waktu lama.

Kini AI membantu:

Mencari informasi awal

Menjelaskan konsep

Merangkum materi

Membandingkan teori

Waktu riset menjadi lebih efisien.

---

4. Membantu Menyunting Tulisan

AI dapat membantu:

Memperbaiki tata bahasa

Memeriksa ejaan

Memperjelas kalimat

Mengubah gaya bahasa

Sehingga tulisan menjadi lebih nyaman dibaca.

---

5. Membantu Membuat Judul yang Menarik

Judul adalah pintu masuk pembaca.

AI dapat memberikan berbagai alternatif judul yang lebih menarik dan SEO-friendly.

Misalnya:

Judul biasa:

"Pentingnya Menulis Setiap Hari"

Dapat dikembangkan menjadi:

"Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi dalam Hidup Anda"

Atau:

"Rahasia Penulis Produktif: Menulis Sedikit Setiap Hari"

---

Pengalaman Omjay Menggunakan AI

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay tidak menolak kehadiran AI.

Justru Omjay memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas.

Namun Omjay memiliki prinsip:

AI adalah asisten, bukan pengganti.

Ketika menulis artikel, Omjay tetap menggunakan:

Pengalaman pribadi

Kisah nyata

Perjalanan hidup

Refleksi pendidikan

Nilai-nilai kemanusiaan

AI hanya membantu mempercepat proses.

Karena tulisan yang menyentuh hati lahir dari pengalaman manusia.

AI tidak pernah merasakan:

Menjadi guru selama lebih dari 30 tahun

Mengajar ribuan siswa

Menempuh perjalanan dari Bekasi ke Garut

Menangis saat meraih gelar doktor

Bersyukur ketika bisa mengunjungi Jepang dan Tiongkok

Semua itu hanya dimiliki manusia.

---

Bahaya Menggunakan AI Tanpa Bijak

Walaupun bermanfaat, AI juga memiliki risiko.

1. Menjadi Malas Berpikir

Jika semua pekerjaan diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir kritis akan menurun.

Padahal menulis adalah proses berpikir.

---

2. Informasi Bisa Salah

AI kadang memberikan informasi yang tidak akurat.

Karena itu setiap hasil AI harus diverifikasi.

---

3. Hilangnya Keaslian Tulisan

Tulisan yang seluruhnya dibuat AI sering terasa datar.

Tidak ada jiwa.

Tidak ada pengalaman.

Tidak ada emosi.

Karena itu penulis harus tetap menjadi pengendali utama.

---

Cara Menggunakan AI Secara Bijak

Omjay memberikan beberapa tips:

Gunakan AI untuk:

✅ Mencari ide

✅ Membuat kerangka

✅ Menyunting tulisan

✅ Membantu riset

✅ Membuat ilustrasi

✅ Merangkum materi

Jangan gunakan AI untuk:

❌ Menyontek

❌ Membuat karya palsu

❌ Menyebarkan hoaks

❌ Menggantikan proses berpikir

❌ Menghilangkan identitas penulis

---

Menulis dengan Hati di Era AI

Inilah pesan utama yang ingin disampaikan kepada peserta KBMN Gelombang 34.

Di era AI, kemampuan menggunakan teknologi memang penting.

Namun yang lebih penting adalah menjaga nilai kemanusiaan dalam tulisan.

Tulisan yang baik bukan sekadar kumpulan kata.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang:

Menginspirasi

Mengedukasi

Menggerakkan

Menyentuh hati pembaca

AI dapat membantu menyusun kalimat.

Tetapi AI tidak memiliki hati.

AI tidak memiliki pengalaman hidup.

AI tidak memiliki empati.

Karena itu penulis tetap memiliki peran yang sangat penting.

---

Penutup

Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34 menjadi momentum penting bagi para guru dan penulis untuk memahami bahwa AI bukan musuh, melainkan alat yang dapat dimanfaatkan secara bijak.

Sebagaimana kalkulator tidak menggantikan matematika, AI juga tidak akan menggantikan penulis.

Yang akan terjadi adalah:

Penulis yang mampu memanfaatkan AI akan melampaui penulis yang menolak AI.

Namun penulis yang hanya mengandalkan AI tanpa berpikir akan kehilangan jati dirinya.

Mari jadikan AI sebagai sahabat belajar dan berkarya.

Tetaplah menulis dengan hati, berbagi pengalaman, menyebarkan inspirasi, dan meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.

Sebab pada akhirnya, teknologi akan terus berubah, tetapi nilai kemanusiaan dalam tulisan akan selalu abadi.

"Gunakan AI untuk membantu menulis, tetapi biarkan hati Anda yang memimpin tulisan itu."

— Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Menulis itu Bukan Sekedar Hobi

Menulis Itu Bukan Sekadar Hobi, Tetapi Jalan Menuju Masa Depan

Kisah Omjay Menjadi Narasumber di SMKN 40 Jakarta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay melangkahkan kaki menuju SMKN 40 Jakarta. Undangan sebagai narasumber telah diterima beberapa hari sebelumnya. Tema yang diminta sangat menarik dan dekat dengan dunia anak muda, yaitu “Cara Menghasilkan Uang dengan Menulis.”

Ketika memasuki ruang kelas, Omjay melihat puluhan siswa SMK sudah duduk dengan rapi. Sebagian membawa laptop, sebagian lagi memegang telepon genggam. Wajah mereka tampak penasaran.

Di era media sosial seperti sekarang, banyak anak muda ingin cepat mendapatkan uang. Ada yang bercita-cita menjadi YouTuber, selebgram, influencer, atau content creator. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa hampir semua profesi digital itu membutuhkan satu kemampuan yang sama.

Kemampuan menulis.

Omjay tersenyum lalu memulai materinya dengan sebuah pertanyaan sederhana.

"Siapa yang suka menulis?"

Hanya beberapa tangan yang terangkat.

Kemudian Omjay bertanya lagi.

"Siapa yang ingin punya penghasilan sendiri?"

Hampir seluruh tangan langsung terangkat.

Suasana kelas pun menjadi riuh.

Omjay tersenyum kembali.

"Nah, kalau kalian ingin punya penghasilan sendiri, maka mulai hari ini belajarlah menulis."

Para siswa mulai memperhatikan dengan serius.

---

Menulis Mengubah Hidup Omjay

Omjay bukan berasal dari keluarga kaya.

Ketika masih muda, Omjay hanyalah seorang guru biasa yang mengajar dengan penuh semangat. Gaji guru saat itu tidak sebesar sekarang. Bahkan untuk membeli buku kadang harus menabung terlebih dahulu.

Namun Omjay memiliki satu kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan.

Menulis setiap hari.

Apa yang dilihat ditulis.

Apa yang didengar ditulis.

Apa yang dirasakan ditulis.

Awalnya tulisan-tulisan itu hanya tersimpan di buku catatan.

Kemudian berkembang menjadi tulisan di blog.

Lalu menjadi artikel di berbagai media online.

Akhirnya berubah menjadi buku.

Dari kegiatan sederhana itulah banyak pintu rezeki terbuka.

Omjay mulai diundang menjadi narasumber di berbagai kota.

Banyak sekolah, kampus, komunitas, dan organisasi yang mengundang Omjay untuk berbagi pengalaman.

Bahkan melalui aktivitas menulis, Omjay mendapatkan kesempatan belajar ke berbagai negara seperti Jepang dan Tiongkok.

Semua berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Menulis.

---

Mengapa Menulis Bisa Menghasilkan Uang?

Omjay menjelaskan kepada para siswa bahwa tulisan adalah aset digital.

Sekali tulisan dipublikasikan di internet, tulisan tersebut dapat dibaca ribuan bahkan jutaan orang.

Karena itulah banyak perusahaan, media, dan organisasi membutuhkan orang yang mampu menulis dengan baik. Peluang menghasilkan uang dari menulis terbuka melalui blog, artikel lepas, content writing, copywriting, hingga penerbitan buku. 

Tulisan yang bermanfaat akan terus dicari orang.

Tulisan yang baik akan menjadi portofolio.

Tulisan yang konsisten akan membangun reputasi.

Dan reputasi yang baik akan mendatangkan peluang.

---

Lima Cara Menghasilkan Uang dengan Menulis

Di depan kelas, Omjay menuliskan lima cara yang bisa dilakukan siswa SMK.

1. Menjadi Blogger

Blogger adalah profesi yang sangat cocok untuk siswa.

Buatlah blog gratis terlebih dahulu.

Tulislah pengalaman belajar, praktik kerja lapangan, teknologi, otomotif, kuliner, atau hobi yang disukai.

Jika blog berkembang dan memiliki banyak pembaca, blog dapat dimonetisasi melalui iklan atau kerja sama dengan berbagai pihak. 

Omjay sendiri memulai perjalanan menulis melalui blog.

Sampai hari ini blog masih menjadi rumah utama karya-karyanya.

---

2. Menjadi Penulis Artikel Freelance

Banyak media online membutuhkan artikel berkualitas.

Siswa yang mampu menulis dengan baik dapat mengirimkan artikel ke berbagai platform.

Setiap artikel yang diterima biasanya mendapatkan honor sesuai kebijakan media. Peluang ini terus berkembang karena kebutuhan konten digital semakin besar. 

---

3. Menjadi Content Writer

Saat ini hampir semua perusahaan membutuhkan konten untuk website dan media sosial.

Mereka membutuhkan orang yang mampu membuat tulisan menarik.

Profesi content writer menjadi salah satu pekerjaan yang banyak dicari di era digital. 

---

4. Mengikuti Lomba Menulis

Banyak lomba menulis menawarkan hadiah jutaan rupiah.

Selain hadiah uang, lomba juga dapat meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri.

Bahkan tidak sedikit penulis terkenal yang memulai kariernya dari lomba menulis.

---

5. Menulis Buku Digital

Saat ini menerbitkan buku jauh lebih mudah.

Siswa dapat menerbitkan buku digital secara mandiri.

Buku yang berisi pengalaman, keterampilan, atau pengetahuan tertentu dapat menjadi sumber penghasilan jangka panjang. 

---

Rahasia Sukses Menulis

Seorang siswa bertanya,

"Omjay, apa rahasia agar bisa menghasilkan uang dari menulis?"

Omjay tersenyum.

"Rahasianya sederhana."

Seluruh kelas menjadi hening.

"Lakukan tiga hal ini."

Pertama, menulislah setiap hari.

Jangan menunggu inspirasi.

Inspirasi justru datang ketika kita mulai menulis.

Kedua, bangun portofolio.

Semua tulisan yang dibuat simpan di blog atau media online.

Portofolio adalah bukti kemampuan kita.

Ketiga, jangan mudah menyerah.

Banyak penulis berhenti sebelum berhasil.

Padahal keberhasilan sering datang setelah seseorang bertahan lebih lama dibandingkan orang lain.

---

Tulisan Adalah Tabungan Masa Depan

Di akhir sesi, Omjay menunjukkan beberapa buku hasil tulisannya.

Para siswa terlihat kagum.

Mereka tidak menyangka seorang guru bisa menghasilkan begitu banyak karya.

Omjay kemudian berkata,

"Anak-anak, uang bisa habis. Barang bisa rusak. Tetapi tulisan akan tetap hidup."

Tulisan yang baik akan terus dibaca.

Tulisan yang bermanfaat akan terus menginspirasi.

Tulisan yang ikhlas akan menjadi amal jariyah.

Karena itu jangan pernah meremehkan kemampuan menulis.

Mulailah dari hal yang sederhana.

Tuliskan apa yang kalian pelajari hari ini.

Tuliskan pengalaman praktik di sekolah.

Tuliskan cita-cita dan impian kalian.

Tuliskan apa yang kalian ketahui.

Lalu bagikan kepada dunia.

Siapa tahu dari tulisan sederhana itu lahir peluang yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya.

Omjay membuktikan sendiri bahwa menulis telah mengubah hidupnya.

Dari seorang guru biasa menjadi Guru Blogger Indonesia yang dikenal banyak orang.

Dari sebuah blog sederhana lahir buku, persahabatan, perjalanan ke berbagai daerah bahkan ke luar negeri.

Semua berawal dari satu langkah kecil.

Mulailah menulis hari ini.

Karena tulisanmu bukan sekadar rangkaian kata.

Tulisanmu adalah tabungan masa depan. ✍️📚💡

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada Berapa Ekor Kucing yang Anda Lihat?

Blog Omjay: https://wijayalabs.com
Motto: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.



Dari gambar tersebut, saya menghitung ada 11 ekor kucing.


Rinciannya:


7 kucing besar yang terlihat jelas di bagian depan dan tengah.


4 kucing tersembunyi:


1. Di sisi kiri dekat batang pohon (hanya sebagian tubuh terlihat).



2. Di belakang kucing tengah dekat aliran sungai.



3. Di kanan belakang dekat sungai.



4. Di pojok kanan bawah di balik semak-semak.





Total = 7 + 4 = 11 ekor kucing. 🐱


Gambar seperti ini memang termasuk teka-teki visual karena beberapa kucing disamarkan dengan warna yang sama dengan lingkungan sekitarnya. Jika diperhatikan sekilas, banyak orang hanya melihat 7–8 kucing saja.

Menulis Sebagai Jalan Karya

Menulis sebagai Jalan Karya, Manfaat, dan Jejak Guru Tangguh

Kisah Omjay Membaca Resume Peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay berangkat menuju sekolah seperti biasa. Dari rumahnya di Jatibening Indah, Bekasi, Omjay berjalan menuju Stasiun Cikunir. Udara pagi masih terasa sejuk. Matahari baru saja menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Para pekerja, mahasiswa, dan pelajar mulai memadati stasiun untuk memulai aktivitas mereka.

Tak lama kemudian, LRT Jabodebek yang ditunggu pun datang. Omjay naik kereta dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas. Seperti biasa, perjalanan pagi itu dimanfaatkan untuk membaca dan belajar. Di dalam kereta yang melaju tenang di atas rel layang, Omjay membuka ponsel dan melihat daftar pengumpulan resume peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18.

Satu per satu tautan blog peserta dibuka.

Ada tulisan dari Hayatunnufus, Imas Masitoh, Anis Solihah, Neng Galih, Atu Maesaroh, Tini Suhartini, dan Annisa.

Kereta terus melaju membelah hiruk-pikuk Jakarta. Dari balik jendela tampak gedung-gedung tinggi berdiri megah. Namun perhatian Omjay tertuju pada tulisan-tulisan para peserta. Setiap resume dibaca dengan penuh perhatian. Sesekali Omjay tersenyum ketika menemukan kalimat yang ditulis dengan penuh semangat. Di lain waktu, Omjay mengangguk kagum melihat perkembangan kemampuan menulis para peserta.

Bagi Omjay, perjalanan dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas bukan sekadar perjalanan menuju tempat bekerja. Perjalanan itu menjadi ruang belajar, ruang membaca, sekaligus ruang refleksi. Dari tulisan-tulisan peserta, Omjay melihat tumbuhnya semangat belajar yang luar biasa.

Semangat yang mengingatkan Omjay pada perjalanan panjangnya sendiri saat belajar menulis hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Saat membaca resume-resume tersebut, Omjay menemukan benang merah yang sama.

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah jalan berkarya, jalan berbagi manfaat, dan jalan meninggalkan jejak kebaikan.

Menulis Adalah Perjalanan Panjang

Dalam berbagai resume peserta, tergambar jelas bagaimana perjalanan seorang penulis tidak selalu mudah.

Ada rasa malas.

Ada rasa takut.

Ada rasa ragu.

Ada pula kekhawatiran bahwa tulisan yang dibuat tidak akan dibaca orang lain.

Omjay pernah merasakan semua itu.

Saat pertama kali membuat blog pada tahun 2008, Omjay juga sering bertanya dalam hati.

"Apakah ada yang mau membaca tulisan saya?"

"Apakah tulisan saya cukup bagus?"

"Apakah saya mampu menulis setiap hari?"

Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam benak banyak penulis pemula.

Namun seiring waktu, Omjay menyadari satu hal penting.

Penulis besar bukanlah orang yang langsung hebat sejak awal.

Penulis besar adalah orang yang terus menulis meskipun tulisannya masih sederhana.

Mereka tidak berhenti hanya karena belum sempurna.

Mereka terus belajar dari setiap tulisan yang dibuat.

Karena itulah Omjay selalu mengajak peserta KBMN untuk terus menulis.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu banyak pembaca.

Tulislah sekarang juga.

Guru Tangguh Tidak Pernah Berhenti Belajar

Tema yang banyak muncul dalam resume peserta adalah tentang ketangguhan guru.

Omjay sangat setuju.

Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa sudah tahu semuanya.

Guru yang hebat adalah guru yang selalu belajar.

Setiap malam peserta KBMN meluangkan waktu mengikuti pelatihan menulis.

Mereka sudah lelah mengajar.

Mereka sudah sibuk mengurus keluarga.

Sebagian harus menyelesaikan administrasi sekolah.

Namun mereka masih menyempatkan diri belajar.

Itulah ketangguhan yang sesungguhnya.

Omjay teringat ketika menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta.

Perjalanan itu tidak mudah.

Delapan tahun perjuangan.

Banyak tantangan yang harus dihadapi.

Ada masa-masa ketika semangat menurun.

Ada saat-saat ketika tubuh terasa lelah.

Namun Omjay terus berjalan.

Karena Omjay percaya bahwa belajar adalah proses seumur hidup.

Semangat yang sama kini terlihat pada peserta KBMN Gelombang 34.

Mereka sedang membangun masa depan melalui tulisan.

Menulis Membuat Guru Abadi

Ketika membaca resume para peserta, Omjay kembali teringat pesan yang selalu disampaikannya.

Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi guru tidak akan pernah pensiun dari menulis.

Tulisan membuat seorang guru tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ilmu yang disampaikan secara lisan mungkin akan terlupakan.

Namun ilmu yang ditulis akan terus hidup.

Tulisan dapat dibaca kapan saja.

Tulisan dapat ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Tulisan dapat menginspirasi generasi berikutnya.

Karena itu Omjay selalu mengatakan,

"Guru yang menulis akan abadi."

Bukan karena namanya terkenal.

Melainkan karena ilmunya terus bermanfaat.

Blog Adalah Rumah Karya

Hal menarik dari daftar resume KBMN kali ini adalah seluruh peserta telah memiliki blog pribadi.

Mereka menulis dan mempublikasikan karya mereka secara terbuka.

Bagi Omjay, blog adalah rumah karya.

Rumah tempat menyimpan gagasan.

Rumah tempat berbagi pengalaman.

Rumah tempat mendokumentasikan perjalanan hidup.

Rumah tempat meninggalkan jejak kebaikan.

Omjay sendiri telah merasakan manfaat luar biasa dari blog.

Dari blog, Omjay mendapatkan banyak sahabat.

Dari blog, Omjay mendapatkan kesempatan menjadi narasumber di berbagai daerah.

Dari blog, Omjay bisa berbagi pengalaman dengan ribuan guru di seluruh Indonesia.

Bahkan dari blog pula Omjay mendapatkan kesempatan mengunjungi berbagai negara, termasuk Jepang dan Tiongkok.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Menulis setiap hari.

Menulis dengan Hati

Ada satu pelajaran penting yang Omjay dapatkan setelah membaca resume peserta.

Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang penuh kata-kata rumit.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang lahir dari hati.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan merasakan kejujurannya.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan menemukan makna di balik setiap kalimat.

Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisan itu akan lebih mudah menyentuh hati orang lain.

Karena itulah Omjay selalu mengingatkan peserta KBMN.

"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi."

Teknologi boleh membantu.

Kecerdasan buatan boleh membantu.

Aplikasi boleh membantu.

Namun hati seorang penulis tetap tidak bisa digantikan.

Kejujuran.

Pengalaman.

Perjuangan.

Harapan.

Doa.

Semuanya lahir dari hati.

Dan itulah yang membuat sebuah tulisan menjadi hidup.

Resume Hari Ini, Buku Besar Esok Hari

Ketika kereta mulai mendekati Dukuh Atas, Omjay menutup ponselnya sejenak.

Pikirannya melayang pada masa depan para peserta KBMN.

Mungkin hari ini mereka hanya menulis resume.

Mungkin hari ini mereka masih belajar menyusun paragraf.

Mungkin hari ini mereka masih merasa tulisannya biasa saja.

Namun siapa yang tahu?

Beberapa tahun ke depan bisa jadi mereka telah menerbitkan buku.

Menjadi blogger terkenal.

Menjadi narasumber nasional.

Atau menjadi inspirasi bagi ribuan guru lainnya.

Karena setiap penulis besar selalu memulai dari langkah kecil.

Dan langkah kecil itu adalah keberanian untuk mulai menulis.

Terus Menulis dan Buktikan Apa yang Terjadi

Sesampainya di Dukuh Atas, Omjay melanjutkan perjalanan menuju SMP Labschool Jakarta.

Namun pesan dari resume-resume yang dibacanya masih terngiang di dalam hati.

Setiap resume bukan sekadar tugas pelatihan.

Resume-resume itu adalah jejak perjuangan para guru yang sedang belajar meninggalkan karya melalui tulisan.

Mereka sedang menanam benih-benih kebaikan.

Mereka sedang membangun warisan ilmu.

Mereka sedang menyiapkan jejak yang akan dikenang oleh banyak orang.

Karena sesungguhnya menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan.

Menulis adalah tentang berbagi manfaat.

Menulis adalah tentang mengabadikan pengalaman.

Menulis adalah tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun usia terus bertambah.

Maka kepada seluruh peserta KBMN Gelombang 34, Omjay ingin berpesan:

Jangan berhenti menulis.

Jangan berhenti belajar.

Jangan berhenti berkarya.

Sebab tulisan yang Anda buat hari ini mungkin akan menjadi cahaya bagi seseorang di masa depan.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah berkarya.

Karena siapa yang menanam kebaikan melalui tulisan, akan menuai manfaat yang tak pernah putus meskipun dirinya telah tiada.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Blog Alat Rekam yang Ajaib

Berikut artikel yang dapat Omjay publikasikan di blog atau Kompasiana.

Semoga artikel ini dapat menambah semangat para guru dan peserta KBMN untuk terus menulis dan menjadikan blog sebagai "gudang karya" yang kelak berubah menjadi buku-buku yang bermanfaat bagi banyak orang.

Blog Omjay: https://wijayalabs.com
Motto: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi.


Blog Adalah Tempat Ajaib Mengumpulkan Karya

Menulis sebagai Jalan Karya, Manfaat, dan Jejak Guru Tangguh

Kisah Omjay Membaca Resume Peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18 di LRT Jabodebek

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay berangkat menuju SMP Labschool Jakarta seperti biasa. Dari rumahnya di Jatibening Indah, Bekasi, Omjay berjalan menuju Stasiun Cikunir. Udara pagi terasa sejuk. Matahari baru saja menyembulkan sinarnya dari ufuk timur. Para pekerja, mahasiswa, dan pelajar mulai memadati stasiun untuk memulai aktivitas hari itu.

Tak lama kemudian, LRT Jabodebek yang ditunggu datang. Omjay naik kereta dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas. Seperti biasa, perjalanan pagi dimanfaatkan untuk membaca, belajar, dan menulis. Duduk di dalam kereta yang melaju tenang di atas rel layang, Omjay membuka ponsel dan melihat daftar pengumpulan resume peserta KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-18.

Satu per satu tautan blog peserta dibuka.

Ada tulisan dari Hayatunnufus, Imas Masitoh, Anis Solihah, Neng Galih, Atu Maesaroh, Tini Suhartini, Tuti Umyati, dan Annisa. Delapan guru hebat itu telah menuangkan hasil belajar mereka ke dalam blog pribadi masing-masing.

Saat membaca tulisan mereka, hati Omjay terasa hangat.

Di tengah kesibukan mengajar, mengurus keluarga, dan menyelesaikan berbagai tugas sekolah, mereka masih menyempatkan diri menulis. Mereka tidak hanya mengikuti pelatihan. Mereka benar-benar mempraktikkan apa yang dipelajari.

Kereta terus melaju membelah hiruk-pikuk Jakarta. Dari balik jendela tampak gedung-gedung tinggi berdiri megah. Namun perhatian Omjay tertuju pada tulisan para peserta.

Setiap resume dibaca dengan penuh perhatian.

Setiap paragraf menunjukkan semangat belajar yang luar biasa.

Dan dari situlah Omjay menemukan satu benang merah yang sama.

Menulis bukan sekadar merangkai kata. Menulis adalah jalan berkarya, jalan berbagi manfaat, dan jalan meninggalkan jejak kebaikan.

Menulis Adalah Perjalanan Panjang

Dalam berbagai resume peserta, tergambar jelas bahwa perjalanan seorang penulis tidak selalu mudah.

Ada rasa malas.

Ada rasa takut.

Ada rasa tidak percaya diri.

Ada kekhawatiran bahwa tulisan yang dibuat tidak akan dibaca orang lain.

Omjay pernah merasakan semua itu.

Ketika pertama kali membuat blog pada tahun 2008, Omjay juga sering bertanya dalam hati.

"Apakah tulisan saya cukup bagus?"

"Apakah ada yang akan membacanya?"

"Apakah saya mampu menulis setiap hari?"

Namun seiring waktu Omjay memahami bahwa penulis besar bukanlah orang yang langsung hebat sejak awal.

Penulis besar adalah orang yang terus menulis meskipun tulisannya masih sederhana.

Mereka tidak berhenti karena takut salah.

Mereka tidak menyerah karena belum sempurna.

Mereka terus belajar dari setiap tulisan yang dibuat.

Karena itulah Omjay selalu mengajak peserta KBMN untuk terus menulis.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu terkenal.

Mulailah dari sekarang.

Guru Tangguh Tidak Pernah Berhenti Belajar

Tema besar yang muncul dari resume peserta adalah tentang ketangguhan seorang guru.

Omjay sangat setuju.

Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa sudah tahu segalanya.

Guru yang hebat adalah guru yang terus belajar.

Setiap malam peserta KBMN meluangkan waktu mengikuti pelatihan menulis.

Mereka sudah lelah mengajar.

Mereka sudah sibuk mengurus keluarga.

Namun mereka tetap hadir untuk belajar.

Inilah ketangguhan yang sesungguhnya.

Omjay teringat ketika menyelesaikan studi doktoralnya di Universitas Negeri Jakarta.

Perjalanan itu tidak mudah.

Delapan tahun penuh perjuangan.

Berbagai tantangan datang silih berganti.

Namun Omjay terus berjalan karena yakin bahwa belajar adalah proses sepanjang hayat.

Semangat yang sama kini Omjay lihat pada para peserta KBMN Gelombang 34.

Mereka sedang membangun masa depan melalui tulisan.

Blog Adalah Rumah Karya

Salah satu hal yang membuat Omjay bangga adalah semakin banyak peserta yang aktif mengelola blog pribadi mereka.

Tulisan Hayatunnufus, Imas Masitoh, Anis Solihah, Neng Galih, Atu Maesaroh, Tini Suhartini, Tuti Umyati, dan Annisa menunjukkan bahwa budaya literasi mulai tumbuh dengan baik.

Tulisan Ibu Tuti Umyati di blog umiya110572.blogspot.com menjadi salah satu contoh bagaimana guru mampu mengabadikan proses belajar melalui tulisan. Ketika tulisan dipublikasikan di blog, ilmu yang diperoleh tidak hanya bermanfaat untuk diri sendiri, tetapi juga dapat dibaca dan menginspirasi orang lain.

Bagi Omjay, blog adalah rumah karya.

Rumah tempat menyimpan gagasan.

Rumah tempat berbagi pengalaman.

Rumah tempat mendokumentasikan perjalanan hidup.

Rumah tempat meninggalkan jejak kebaikan.

Omjay sendiri telah merasakan manfaat luar biasa dari blog.

Dari blog, Omjay mendapatkan banyak sahabat.

Dari blog, Omjay mendapatkan kesempatan menjadi narasumber di berbagai daerah.

Dari blog, Omjay mendapatkan kesempatan mengunjungi berbagai negara.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Menulis setiap hari.

Menulis Membuat Guru Abadi

Ketika membaca resume para peserta, Omjay kembali teringat pesan yang selalu disampaikannya.

Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi guru tidak akan pernah pensiun dari menulis.

Tulisan membuat seorang guru tetap hidup dalam ingatan banyak orang.

Ilmu yang disampaikan secara lisan mungkin akan terlupakan.

Namun ilmu yang ditulis akan terus hidup.

Tulisan dapat dibaca kapan saja.

Tulisan dapat ditemukan kembali bertahun-tahun kemudian.

Tulisan dapat menginspirasi generasi berikutnya.

Karena itu Omjay selalu mengatakan:

"Guru yang menulis akan abadi."

Bukan karena namanya terkenal.

Melainkan karena ilmunya terus bermanfaat.

Menulis dengan Hati

Ada satu pelajaran penting yang Omjay dapatkan setelah membaca resume peserta.

Tulisan yang baik bukanlah tulisan yang penuh kata-kata rumit.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang lahir dari hati.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan merasakan kejujurannya.

Ketika seseorang menulis dengan hati, pembaca akan menemukan makna yang mendalam.

Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisan itu akan lebih mudah menyentuh hati orang lain.

Karena itulah Omjay selalu mengingatkan peserta KBMN.

"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi."

Teknologi boleh membantu.

AI boleh membantu.

Aplikasi boleh membantu.

Namun hati seorang penulis tidak akan pernah bisa digantikan.

Kejujuran.

Pengalaman.

Perjuangan.

Harapan.

Doa.

Semua itu lahir dari hati.

Dan itulah yang membuat tulisan menjadi hidup.

Resume Hari Ini, Buku Besar Esok Hari

Ketika kereta mulai mendekati Dukuh Atas, Omjay menutup ponselnya sejenak.

Pikirannya melayang pada masa depan para peserta KBMN.

Mungkin hari ini mereka hanya menulis resume.

Mungkin hari ini mereka masih belajar menyusun paragraf.

Mungkin hari ini mereka masih merasa tulisannya biasa saja.

Namun siapa yang tahu?

Beberapa tahun ke depan mereka mungkin telah menerbitkan buku.

Menjadi blogger terkenal.

Menjadi narasumber nasional.

Atau menjadi inspirasi bagi ribuan guru lainnya.

Karena setiap penulis besar selalu memulai dari langkah kecil.

Dan langkah kecil itu adalah keberanian untuk mulai menulis.

Terus Menulis dan Buktikan Apa yang Terjadi

Sesampainya di Dukuh Atas, Omjay melanjutkan perjalanan menuju SMP Labschool Jakarta.

Namun pesan dari resume-resume yang dibacanya masih terngiang di dalam hati.

Setiap resume bukan sekadar tugas pelatihan.

Resume-resume itu adalah jejak perjuangan para guru yang sedang belajar meninggalkan karya melalui tulisan.

Mereka sedang menanam benih-benih kebaikan.

Mereka sedang membangun warisan ilmu.

Mereka sedang menyiapkan jejak yang akan dikenang oleh banyak orang.

Karena sesungguhnya menulis bukan hanya tentang menghasilkan tulisan.

Menulis adalah tentang berbagi manfaat.

Menulis adalah tentang mengabadikan pengalaman.

Menulis adalah tentang meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun usia terus bertambah.

Maka kepada seluruh peserta KBMN Gelombang 34, Omjay ingin berpesan:

Jangan berhenti menulis.

Jangan berhenti belajar.

Jangan berhenti berkarya.

Sebab tulisan yang Anda buat hari ini mungkin akan menjadi cahaya bagi seseorang di masa depan.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah berkarya.

Karena siapa yang menanam kebaikan melalui tulisan, akan menuai manfaat yang tak pernah putus meskipun dirinya telah tiada.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Berkali Kita Gagal Lekas Bangkit dan Cari Akal

Ketika Ujian Datang, Jangan Mengeluh, Lekas Bangkit dan Cari Akal

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara di kampung Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Burung-burung kecil bernyanyi menyambut datangnya mentari pagi. Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat. Di tangannya tergenggam sebuah ponsel yang berisi pesan inspirasi pagi tentang ujian hidup.

Omjay membaca kalimat demi kalimat dengan penuh perhatian.

"Barangsiapa yang dikehendaki Allah kebaikan padanya, maka Allah akan menimpakan ujian kepadanya." (HR. Bukhari)

Kalimat itu membuat Omjay terdiam cukup lama.

Pikirannya melayang pada perjalanan hidup yang telah dilalui selama puluhan tahun. Sebagai seorang guru, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat, Omjay menyadari bahwa hidup tidak pernah berjalan lurus tanpa hambatan. Selalu ada jalan terjal yang harus dilalui. Selalu ada ujian yang harus dihadapi.

Namun semakin bertambah usia, Omjay semakin memahami bahwa ujian bukanlah tanda kebencian Allah.

Justru sering kali ujian adalah tanda kasih sayang-Nya.

Ketika manusia terlalu nyaman, terkadang ia lupa bersyukur.

Ketika semua berjalan lancar, terkadang ia lupa berdoa.

Ketika hidup terasa mudah, terkadang ia lupa kepada Allah.

Karena itulah Allah menghadirkan ujian agar manusia kembali mendekat kepada-Nya.

Omjay teringat pengalaman beberapa bulan yang lalu.

Saat perjalanan mudik menuju Bandung, tubuhnya tiba-tiba terasa lemas. Kepala berputar hebat. Tangan kanan sulit digerakkan. Mulut terasa kaku. Keluarga panik karena gejalanya menyerupai stroke.

Omjay segera dibawa ke rumah sakit.

Empat hari ia dirawat.

Berbaring di atas ranjang rumah sakit membuat Omjay banyak merenung.

Mengapa ini terjadi?

Awalnya pertanyaan itu muncul.

Namun perlahan Omjay mengganti pertanyaannya.

Bukan lagi, "Mengapa Allah memberikan ujian ini kepadaku?"

Tetapi, "Pelajaran apa yang sedang Allah ajarkan kepadaku?"

Ternyata banyak sekali.

Omjay belajar bahwa kesehatan adalah nikmat yang luar biasa.

Omjay belajar bahwa keluarga adalah anugerah yang tak ternilai.

Omjay belajar bahwa waktu sangat berharga.

Dan yang paling penting, Omjay belajar untuk lebih berserah diri kepada Allah.

Sejak saat itu Omjay semakin yakin bahwa setiap ujian pasti mengandung hikmah.

Kadang hikmahnya langsung terlihat.

Kadang harus menunggu bertahun-tahun untuk memahaminya.

Namun hikmah itu selalu ada.

Sama seperti ketika Omjay berkali-kali gagal dalam perjalanan hidupnya.

Saat masih muda, banyak impian yang tidak langsung terwujud.

Ada cita-cita yang tertunda.

Ada rencana yang berantakan.

Ada usaha yang tidak berjalan sesuai harapan.

Ada tulisan yang ditolak.

Ada pekerjaan yang tidak menghasilkan seperti yang diinginkan.

Tetapi Omjay tidak ingin berhenti hanya karena gagal.

Karena Omjay selalu mengingat satu kalimat sederhana:

"Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal."

Gagal bukan akhir perjalanan.

Gagal adalah bagian dari perjalanan.

Orang yang sukses bukanlah orang yang tidak pernah gagal.

Melainkan orang yang selalu bangkit setiap kali gagal.

Begitu pula ketika kita jatuh.

Tidak ada manusia yang selalu kuat.

Tidak ada manusia yang selalu benar.

Tidak ada manusia yang selalu berhasil.

Setiap orang pasti pernah jatuh.

Namun yang membedakan adalah sikap setelah jatuh.

Omjay selalu berusaha memegang prinsip:

"Berkali kita jatuh, lekas berdiri, jangan mengeluh."

Mengeluh tidak akan menyelesaikan masalah.

Mengeluh tidak membuat keadaan menjadi lebih baik.

Mengeluh hanya menghabiskan energi yang seharusnya digunakan untuk mencari solusi.

Karena itu ketika masalah datang, Omjay memilih bergerak.

Ketika pintu tertutup, Omjay mencari pintu lain.

Ketika jalan buntu, Omjay mencari jalan baru.

Ketika kesempatan hilang, Omjay menciptakan kesempatan baru.

Prinsip itulah yang membuat Omjay terus menulis hingga hari ini.

Dulu banyak orang bertanya,

"Apa manfaat menulis setiap hari?"

Bahkan ada yang menganggap kegiatan menulis hanyalah pekerjaan sia-sia.

Namun Omjay tetap menulis.

Hari demi hari.

Tahun demi tahun.

Hingga akhirnya tulisan-tulisan itu membuka banyak pintu rezeki.

Omjay bisa bertemu banyak sahabat hebat.

Bisa berbagi ilmu ke berbagai daerah.

Bahkan bisa mengunjungi berbagai negara.

Semua bermula dari kebiasaan sederhana: menulis setiap hari.

Kalau saat itu Omjay menyerah ketika tulisan pertama tidak dibaca orang, mungkin semua itu tidak akan terjadi.

Karena itu Omjay selalu percaya bahwa kesuksesan sering kali tersembunyi di balik kesulitan.

Kemudahan sering kali lahir setelah kesabaran.

Dan pertolongan Allah sering kali datang pada saat yang tidak kita duga.

Tugas kita hanyalah terus berusaha.

Terus berdoa.

Terus memperbaiki diri.

Dan terus berbaik sangka kepada Allah.

Jangan pernah berpikir bahwa Allah meninggalkan kita ketika ujian datang.

Justru mungkin saat itulah Allah sedang menggenggam tangan kita lebih erat.

Mungkin Allah sedang membersihkan dosa-dosa kita.

Mungkin Allah sedang mengangkat derajat kita.

Mungkin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada yang kita minta.

Karena itu, jika hari ini Anda sedang menghadapi masalah, jangan menyerah.

Jika hari ini Anda sedang gagal, jangan putus asa.

Jika hari ini Anda sedang jatuh, jangan terlalu lama berada di bawah.

Bangkitlah.

Cari akal.

Cari solusi.

Cari jalan keluar.

Lalu melangkahlah kembali.

Sebab tidak ada malam yang berlangsung selamanya.

Tidak ada hujan yang turun tanpa berhenti.

Dan tidak ada ujian yang kekal abadi.

Percayalah, setelah kesulitan pasti ada kemudahan.

Setelah air mata akan datang senyuman.

Setelah perjuangan akan datang kemenangan.

Mari kita belajar menjadi hamba yang sabar, ridha, dan selalu berbaik sangka kepada Allah.

Karena setiap takdir yang Allah tetapkan selalu mengandung kebaikan, meskipun saat ini belum mampu kita pahami.

Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal.

Berkali kita jatuh, lekas berdiri, jangan mengeluh.

Semoga Allah menjadikan kita pribadi yang kuat menghadapi ujian, lapang menerima takdir, dan istiqamah dalam kebaikan.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 02 Juni 2026

Wow kisah Cing Ato guru Madrasah Inspiratif

Berikut resume kisah Omjay dari materi Cing Ato/Pak Suharto.

Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Malam itu, Selasa, 2 Juni 2026, suasana Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI Gelombang 34 terasa berbeda. Pertemuan ke-18 menghadirkan materi yang sangat menyentuh hati, yaitu “Guru Tangguh: Jejak Guru Madrasah Inspiratif.” Narasumbernya adalah Pak Suharto, S.Ag., M.Pd., yang akrab disapa Cing Ato.

Omjay merasa sangat bahagia melihat semangat peserta KBMN yang terus menyala. Grup WhatsApp dikunci oleh moderator, Ibu Raliyanti, agar acara berjalan tertib. Peserta diminta menyimak video narasumber terlebih dahulu. Dari awal saja, aura inspirasi sudah terasa kuat.

Ketika Cing Ato mulai menyapa peserta, suasana menjadi hangat. Beliau membuka cerita dengan rendah hati. Katanya, beliau sebenarnya malu menjadi narasumber karena merasa masih banyak kekurangan. Namun justru dari kerendahan hati itulah peserta melihat kebesaran jiwa seorang guru madrasah yang tangguh.

Cing Ato bercerita bahwa beliau adalah alumni KBMN Gelombang 8 bersama Teh Aam dan Pak Mukminin. Uniknya, beliau mengaku tidak lulus. Peserta tentu bertanya-tanya, bagaimana mungkin seseorang yang tidak lulus KBMN kemudian menjadi narasumber?

Jawabannya sungguh mengharukan.

Saat mengikuti KBMN, Cing Ato sedang dalam kondisi sakit berat. Selang masih menempel di leher dan hidungnya. Beliau hanya mampu mengikuti pelatihan sebatas kemampuan. Ketika pusing, beliau berhenti. Esok paginya, beliau membaca kembali materi di grup WhatsApp dan menyalinnya. Namun karena banyak materi berbentuk voice note, beliau kesulitan membuat resume lengkap.

Akhirnya, beliau tidak mengumpulkan resume dan dinyatakan tidak lulus.

Tetapi cerita tidak berhenti di sana.

Materi-materi yang sempat beliau kumpulkan kemudian menjadi bahan tulisan. Dari proses itu lahirlah buku berjudul “Belajar Tak Bertepi.” Setelah terus menulis dan akhirnya menerbitkan buku, beliau dianggap berhasil menuntaskan perjuangan literasinya. Inilah pelajaran penting bagi peserta KBMN. Lulus sejati bukan sekadar mendapat sertifikat, tetapi mampu melahirkan karya nyata.

Cing Ato lalu berkisah tentang awal mula menulis. Ada dua alasan utama yang membuat beliau menulis. Pertama, karena kebutuhan. Ketika diangkat menjadi wakil kepala bidang kurikulum, beliau melihat banyak administrasi guru dibuat asal ada. Dari situlah muncul keinginan menulis buku panduan administrasi pembelajaran. Namun beliau merasa kehabisan kata dan belum paham ilmu perbukuan.

Tahun 2016, beliau mengikuti pelatihan yang diselenggarakan KSGN. Di sanalah beliau bertemu dengan tiga guru besarnya, yaitu Omjay, Om Dedi Dwitama, dan Dr. Namin ibn Kholdun. Dari pelatihan itulah kemampuan menulisnya mulai tumbuh.

Tahun 2017, beliau mengikuti pelatihan Media Guru di Cipanas, Bogor. Dari pelatihan tersebut, lahirlah buku solo perdana. Namun ujian besar datang tidak lama setelah itu. Tubuh beliau tiba-tiba tumbang. Hampir seluruh saraf mati. Tidak ada yang bergerak kecuali leher dan mata. Napas dibantu oksigen. Leher dilubangi. Selama hampir 18 bulan, beliau terbujur kaku di atas pembaringan. Empat bulan lebih beliau dirawat di RSCM.

Namun luar biasanya, Cing Ato tidak larut dalam kesedihan.

Beliau berkata bahwa dirinya ridha terhadap ketetapan Allah. Dalam sakitnya, beliau merenung. Apa yang masih bisa dilakukan agar hidup tetap bermanfaat bagi banyak orang? Dari renungan itulah muncul jawaban: menulis.

Akhirnya, beliau menulis tentang apa yang dialami, dirasakan, dan dipelajari. Malam hari sebelum tidur, beliau mencari ide. Setelah Subuh, beliau menulis satu artikel sederhana. Tulisan itu kemudian dibagikan di Facebook. Ternyata respons pembaca luar biasa. Sejak saat itu, menulis menjadi terapi jiwa dan raga.

Ketika sudah bisa duduk dan menekan keyboard laptop, tulisan-tulisan yang berserakan di media sosial dikumpulkan. Tulisan itu diikat menjadi buku. Dari sakit, lahir karya. Dari keterbatasan, muncul kebermanfaatan.

Cing Ato juga menjadikan buku sebagai sedekah dan wakaf. Banyak buku beliau bagikan kepada lembaga pendidikan, kelompok literasi, dan masyarakat. Baginya, menulis bukan hanya tentang uang. Menulis adalah jalan berbagi, jalan silaturahmi, dan jalan amal jariah.

Hasil dari ketekunan menulis sangat luar biasa. Beliau mendapatkan banyak teman literasi, penghasilan, kesempatan berbagi, serta berbagai penghargaan. Di antaranya penganugerahan sebagai pahlawan pendidikan, penghargaan IKALUIN Award 2024 kategori pendidikan dan pengembangan umat, GTK Berprestasi Nasional kategori Guru Madrasah Inspiratif 2024, apresiasi sebagai Guru Tangguh dari Darul Qur’an Ciledug, tampil di TVONE pada Hari Pendidikan Nasional 2024, tampil di DAAI TV sebagai narasumber inspiratif 2025, dikunjungi para YouTuber, mahasiswa, dan kembali menjadi narasumber KBMN.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan sederhana: menulis setiap hari.

Cing Ato juga mendirikan kelas belajar menulis di madrasah tempatnya mengajar. Dari sana telah lahir empat buku antologi. Walaupun peserta awalnya tidak banyak, beliau tetap berjalan. Muridnya ada 700 orang, tetapi yang ikut literasi hanya 13 siswa. Namun beliau tidak kecewa. Baginya, dari satu orang bisa tumbuh seribu kebaikan.

Dalam sesi tanya jawab, banyak pelajaran penting disampaikan. Untuk mewujudkan tulisan menjadi buku, Cing Ato menyarankan agar guru menulis setiap hari dari apa yang bisa, dirasakan, dan dialami. Guru juga harus membangun jejaring dengan komunitas penulis dan penerbit.

Tentang semangat menulis, beliau berpesan agar jangan menunggu mood. Menulislah walau hanya satu kalimat. Konsistenlah. Perbanyak membaca tulisan teman, membaca buku penulis hebat, mengikuti pelatihan, dan bersahabat dengan komunitas literasi.

Ketika ditanya tentang hal paling berat dalam menulis di tengah keterbatasan, Cing Ato menjawab dengan sangat kuat. Baginya, tidak ada yang berat jika kita terus mencoba. Setiap rintangan harus dilompati. Bekal membaca buku motivasi, mendengar video motivasi, dan memperdalam agama membuat beliau tegar seperti batu karang di tengah lautan.

Di akhir materi, Cing Ato memberikan pesan penutup yang sangat menggetarkan hati.

Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini kalau kita yakin, percaya, mau belajar, bersungguh-sungguh, dan konsisten. Kesuksesan akan membersamai orang-orang yang tidak mudah menyerah.

Omjay terharu mendengar kisah murid literasinya itu. Dulu Cing Ato mengikuti KBMN dalam keadaan sakit. Kini beliau hadir sebagai narasumber yang memberi cahaya kepada banyak guru. Inilah bukti bahwa menulis dapat mengubah hidup seseorang.

Cing Ato menutup dengan kalimat yang terinspirasi dari ajian pamungkas Omjay:

“Menulislah setiap hari dan lihatlah apa yang terjadi.”

Kalimat itu menjadi pesan kuat bagi seluruh peserta KBMN Gelombang 34. Guru yang menulis tidak hanya meninggalkan kata-kata, tetapi juga meninggalkan jejak perjuangan. Guru tangguh bukan guru yang tidak pernah jatuh. Guru tangguh adalah guru yang tetap bangkit, tetap berkarya, dan tetap memberi manfaat meskipun tubuh sedang diuji.

Salam literasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com