Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Rabu, 27 Mei 2026
Kiat Menulis yang Baik dan Menghasilkan Uang
kisah Omjay: 1 Hari 3 Kota
Menunggu TPG Cair Dengan Hati yang Tetap Ikhlas
Selasa, 26 Mei 2026
Ketika Waktu Mengajarkan Kita Arti Kehidupan
Ketika Waktu Mengajarkan Kita Arti Kehidupan
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia
“Ketika kita memahami bahwa setiap hari bukanlah bertambahnya satu hari, melainkan berkurangnya satu hari, maka kita akan mulai lebih menghargai hal-hal yang benar-benar penting.”
Kalimat itu sederhana. Namun ketika direnungkan dalam-dalam, ia mampu mengetuk hati siapa saja. Sebab kenyataannya, manusia sering merasa hidupnya masih panjang. Kita sibuk mengejar banyak hal, seolah waktu selalu tersedia tanpa batas. Padahal diam-diam usia terus berjalan. Hari demi hari bukan sedang bertambah, melainkan berkurang.
Foto senja itu terasa begitu dalam maknanya. Seorang lelaki duduk sendiri di bawah pohon besar memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik pegunungan. Pemandangan itu seperti menggambarkan kehidupan manusia. Kita datang ke dunia seperti matahari terbit, tumbuh dengan penuh semangat, lalu perlahan menuju senja kehidupan.
Banyak orang baru menyadari arti waktu ketika kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan orang tua. Kehilangan sahabat. Kehilangan kesehatan. Bahkan kehilangan kesempatan untuk meminta maaf kepada orang yang sudah pergi lebih dulu.
Omjay pernah merasakan bagaimana waktu begitu cepat berlalu. Dulu ketika masih muda, hari terasa panjang. Pagi ke sore terasa lama. Tahun demi tahun terasa lambat berjalan. Namun setelah usia bertambah, semuanya terasa berbeda. Tiba-tiba anak-anak tumbuh dewasa. Rambut mulai memutih. Teman-teman lama mulai jarang terdengar kabarnya. Bahkan ada yang telah dipanggil Tuhan lebih dahulu.
Di situlah Omjay memahami satu hal penting: hidup bukan soal siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling hebat. Hidup adalah tentang bagaimana kita menggunakan waktu yang Tuhan titipkan.
Sayangnya, manusia sering menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Kita terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain. Terlalu sibuk mengejar pujian. Terlalu sibuk membandingkan hidup dengan kehidupan orang lain di media sosial. Akibatnya, kita lupa menikmati hidup itu sendiri.
Padahal kebahagiaan sering hadir dalam hal-hal sederhana.
Duduk bersama keluarga saat makan malam.
Mendengar tawa anak-anak di rumah.
Mengobrol dengan sahabat lama.
Membaca buku di pagi hari.
Menulis dengan hati.
Beribadah dengan khusyuk.
Membantu orang lain tanpa pamrih.
Itulah momen-momen yang kelak akan dirindukan ketika usia semakin menua.
Omjay teringat pada seorang guru tua yang pernah berkata:
“Jangan menunggu waktu luang untuk berbuat baik. Karena suatu hari nanti, kita akan sadar bahwa waktu tidak pernah benar-benar luang.”
Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang.
Banyak orang berkata ingin membahagiakan orang tua nanti ketika sudah sukses. Namun takdir kadang tidak menunggu kesiapan manusia. Ada anak yang belum sempat membelikan rumah untuk ibunya, tetapi sang ibu sudah lebih dahulu meninggal dunia. Ada ayah yang bekerja keras siang malam demi keluarga, tetapi lupa meluangkan waktu bersama anak-anaknya hingga mereka tumbuh dewasa tanpa kedekatan emosional.
Waktu memang tidak pernah bisa diputar ulang.
Karena itu, hidup seharusnya membuat kita lebih bijak memilih prioritas. Tidak semua hal harus diperdebatkan. Tidak semua hinaan perlu dibalas. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ada hal-hal yang jauh lebih penting: kesehatan, keluarga, persahabatan, ilmu, ibadah, dan ketenangan hati.
Sering kali manusia baru menghargai kesehatan setelah sakit. Baru menghargai kebersamaan setelah kehilangan. Baru menghargai waktu setelah usia senja datang menghampiri.
Padahal hidup yang bermakna bukan tentang umur yang panjang, melainkan tentang manfaat yang diberikan selama hidup.
Omjay belajar bahwa setiap pagi sebenarnya adalah kesempatan baru dari Tuhan. Kesempatan untuk menjadi lebih baik. Kesempatan meminta maaf. Kesempatan memperbaiki hubungan yang retak. Kesempatan menulis kebaikan yang akan dikenang orang lain.
Maka jangan menunda berbuat baik.
Jika hari ini masih bisa memeluk orang tua, peluklah.
Jika hari ini masih bisa meminta maaf, lakukanlah.
Jika hari ini masih bisa membantu orang lain, bantulah.
Jika hari ini masih diberi kesehatan, bersyukurlah.
Karena tidak ada yang tahu berapa sisa waktu yang dimiliki.
Foto senja itu mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi tentang apakah perjalanan kita memberi makna bagi orang lain. Matahari yang tenggelam tidak pernah marah karena malam datang. Ia tetap indah hingga akhir waktunya.
Begitulah seharusnya manusia menjalani hidup.
Tetap menjadi pribadi yang memberi cahaya meski usia terus berkurang. Tetap menebar kebaikan meski dunia kadang tidak menghargai. Tetap rendah hati meski memiliki banyak pencapaian.
Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi berapa banyak hati yang pernah disentuh dengan kebaikan.
Dan ketika suatu hari nanti waktu kita benar-benar habis, semoga yang tertinggal bukan hanya nama, tetapi juga doa-doa baik dari orang-orang yang pernah merasakan manfaat kehadiran kita.
Karena hidup yang paling indah bukan hidup yang paling lama, melainkan hidup yang paling bermakna.
Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku
Ringkasan Buku “Labschool: Rumah Keduaku”
Karya Dr. Wijaya Kusumah
Buku “Labschool: Rumah Keduaku” merupakan karya reflektif dan inspiratif yang ditulis oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab disapa Omjay. Buku ini bukan sekadar menceritakan perjalanan sebuah sekolah, tetapi menggambarkan bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu menjadi tempat tumbuh, tempat pulang, sekaligus rumah kedua bagi guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.
Dalam buku setebal 187 halaman ini, Omjay membagikan pengalaman pengabdiannya selama 34 tahun di SMP Labschool Jakarta. Melalui gaya bahasa yang hangat dan menyentuh, pembaca diajak memahami bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang angka, nilai rapor, dan prestasi akademik, melainkan tentang membentuk manusia yang berkarakter, beretika, dan memiliki empati terhadap sesama.
Pada bagian awal buku, penulis menekankan bahwa Labschool bukan hanya sekolah biasa. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Labschool tahun 1992, Omjay merasakan suasana yang berbeda: lingkungan yang ramah, guru yang penuh dedikasi, dan budaya belajar yang hidup. Hubungan antara guru dan siswa digambarkan seperti hubungan orang tua dan anak. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, mendengar keluh kesah siswa, bahkan menjadi tempat bersandar ketika siswa menghadapi persoalan hidup.
Buku ini juga mengupas sejarah Labschool sebagai sekolah laboratorium di bawah IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta). Labschool didirikan pada tahun 1968 sebagai tempat praktik bagi calon guru sekaligus pusat inovasi pendidikan. Dari sinilah Labschool berkembang menjadi sekolah unggulan yang dikenal luas masyarakat karena mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter siswa.
Salah satu kekuatan utama buku ini adalah penggambaran suasana sekolah yang humanis. Omjay menegaskan bahwa sekolah ideal bukan sekolah yang menakutkan, melainkan sekolah yang membuat siswa bahagia datang setiap pagi. Di Labschool, siswa diajarkan untuk merasa aman, nyaman, dan dihargai. Guru hadir sebagai sahabat sekaligus teladan. Pendidikan dipandang sebagai proses memanusiakan manusia.
Penulis juga mengangkat pentingnya kolaborasi antara guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Sekolah yang baik, menurut Omjay, adalah sekolah yang mampu membuat siswa merasa dicintai dan dipercaya. Bahkan senyum seorang guru ketika memasuki kelas dianggap mampu mengubah suasana hati siswa dan meninggalkan pengaruh mendalam dalam kehidupan mereka.
Selain membahas dunia pendidikan secara umum, buku ini juga dipenuhi kisah nyata dan pengalaman siswa Labschool. Ada cerita tentang kegiatan MPLS, SALAM, PERJUSA, SAKSI, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang membangun kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial siswa. Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan terbaik sering lahir dari pengalaman sederhana yang membekas di hati siswa sepanjang hidup mereka.
Bagian lain yang menarik adalah pembahasan tentang motto Labschool: “Iman, Ilmu, dan Amal.” Tiga pilar ini menjadi fondasi pendidikan Labschool. Iman membentuk karakter dan moral siswa, ilmu menjadi bekal untuk menghadapi tantangan zaman, sedangkan amal mengajarkan bahwa ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.
Omjay juga menyoroti bagaimana Labschool beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan era digital. Pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan teknologi, coding, literasi digital, hingga penggunaan kecerdasan buatan mulai diperkenalkan kepada siswa. Namun, di tengah kemajuan teknologi tersebut, Labschool tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan karakter. Teknologi digunakan untuk memperkuat pembelajaran, bukan menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan.
Di bagian akhir, buku ini menegaskan bahwa Labschool bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membangun harapan dan masa depan. Sekolah digambarkan sebagai rumah kedua yang memberikan ilmu, kenangan, persahabatan, dan nilai kehidupan yang terus dibawa siswa hingga dewasa. Pendidikan yang baik, menurut Omjay, adalah pendidikan yang membuat siswa pulang dengan senyum dan mengenang sekolahnya dengan penuh syukur.
Resensi Buku
“Labschool: Rumah Keduaku”
Ketika Sekolah Menjadi Tempat Pulang yang Penuh Makna
Judul Buku: Labschool: Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah
Penerbit: Independen
Tebal: 187 halaman
Genre: Pendidikan, Motivasi, Inspirasi
Buku “Labschool: Rumah Keduaku” adalah karya yang sangat relevan dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Di tengah dunia pendidikan yang sering terjebak pada angka, ranking, dan kompetisi akademik, Omjay hadir membawa perspektif berbeda: sekolah harus menjadi tempat yang membahagiakan.
Kekuatan utama buku ini terletak pada kejujuran dan kedalaman pengalaman penulis. Omjay tidak menulis sebagai pengamat luar, tetapi sebagai pelaku pendidikan yang telah puluhan tahun hidup di dalam dunia sekolah. Karena itu, setiap cerita terasa nyata, hangat, dan dekat dengan kehidupan pembaca.
Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan menyentuh hati. Banyak bagian dalam buku ini yang terasa seperti percakapan seorang guru kepada murid-muridnya. Pembaca tidak hanya mendapatkan informasi tentang Labschool, tetapi juga diajak merenungkan kembali hakikat pendidikan yang sesungguhnya.
Keunggulan lain buku ini adalah keberhasilannya memadukan kisah pribadi, sejarah sekolah, refleksi pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan dalam satu alur yang mengalir. Omjay mampu menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang baik.
Bagian tentang “Iman, Ilmu, dan Amal” menjadi salah satu inti terkuat buku ini. Nilai-nilai tersebut terasa relevan di era digital saat ini, ketika banyak generasi muda cerdas secara teknologi tetapi kehilangan arah moral dan empati sosial.
Meski demikian, buku ini masih memiliki beberapa pengulangan ide di beberapa bagian. Beberapa pembahasan tentang pendidikan karakter dan sekolah sebagai rumah kedua diulang dengan sudut pandang yang mirip. Namun, hal itu tidak terlalu mengurangi kekuatan emosional buku ini.
Secara keseluruhan, “Labschool: Rumah Keduaku” adalah buku yang layak dibaca oleh guru, siswa, orang tua, kepala sekolah, hingga siapa saja yang peduli terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Buku ini mengingatkan kita bahwa pendidikan terbaik selalu dimulai dari hati.
Buku ini bukan hanya tentang Labschool. Buku ini tentang harapan. Tentang guru yang mengajar dengan cinta. Tentang sekolah yang memeluk siswanya. Tentang pendidikan yang memanusiakan manusia.
Ketika Waktu Menjadi Guru Kehidupan
Kemuliaan Sholat Tahajud
Senin, 25 Mei 2026
Bagaimana Mengelola Majalah Sekolah?
Majalah Sekolah: Pohon Literasi yang Menumbuhkan Mimpi
Dalam Kisah Dr. Wijaya Kusumah, Guru Blogger Indonesia
Malam itu, saya kembali membuka layar laptop sambil menatap sebuah flyer kegiatan KBMN PGRI Gelombang ke-34. Tema yang diangkat begitu menarik hati: Mengelola Majalah Sekolah. Sebuah tema sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kekuatan besar dalam dunia pendidikan.
Saya tersenyum sendiri. Ingatan saya melayang jauh ke masa ketika majalah sekolah menjadi kebanggaan bersama. Di sanalah siswa belajar menulis, belajar berpikir, belajar menyampaikan gagasan, dan belajar percaya diri. Tidak sedikit siswa yang akhirnya menjadi penulis hebat karena pernah memulai langkah kecil dari majalah sekolah.
Majalah sekolah memang ibarat pohon literasi di sekolah.
Ia ditanam dari benih-benih kecil berupa tulisan sederhana. Lalu disiram dengan semangat membaca, rasa ingin tahu, dan keberanian berkarya. Seiring waktu, pohon itu tumbuh besar, menaungi banyak siswa dengan pengetahuan dan pengalaman.
Ketika melihat flyer kegiatan KBMN malam itu, saya merasa bahagia karena masih ada guru-guru hebat yang peduli terhadap budaya literasi sekolah. Narasumbernya adalah Widya Arema dengan moderator Mutmainah. Mereka akan berbagi pengalaman tentang bagaimana mengelola majalah sekolah agar hidup dan dicintai warga sekolah.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh PGRI melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI. Sebuah komunitas yang selama ini terus menyalakan api literasi di tengah kesibukan guru-guru Indonesia.
Saya teringat pengalaman pribadi ketika pertama kali mengelola media sekolah. Saat itu fasilitas sangat terbatas. Komputer masih sedikit. Internet belum semudah sekarang. Bahkan mencetak majalah sekolah membutuhkan perjuangan luar biasa.
Namun justru dari keterbatasan itulah lahir kreativitas.
Saya masih ingat bagaimana siswa begitu antusias menyerahkan tulisan mereka. Ada yang menulis puisi tentang ibu, ada yang membuat cerpen persahabatan, ada pula yang melaporkan kegiatan sekolah seperti wartawan profesional. Semua tulisan itu dikumpulkan dengan penuh semangat.
Kadang saya membaca tulisan siswa sambil tersenyum haru. Banyak tulisan mereka sederhana, tetapi jujur dan tulus. Di sanalah saya sadar bahwa tugas guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menyediakan ruang agar suara siswa dapat didengar.
Majalah sekolah menjadi ruang itu.
Banyak sekolah hari ini berlomba membangun gedung megah, membeli perangkat canggih, dan mempercantik fasilitas fisik. Namun sering kali mereka lupa membangun budaya literasi. Padahal sekolah akan dikenal luas bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena karya-karya yang dihasilkan siswanya.
Majalah sekolah mampu menjadi wajah sebuah sekolah.
Ketika sebuah sekolah memiliki majalah yang aktif, masyarakat akan melihat bahwa sekolah tersebut hidup. Ada kreativitas di dalamnya. Ada semangat belajar. Ada keberanian siswa menyampaikan gagasan.
Majalah sekolah juga menjadi media dokumentasi perjalanan sekolah. Semua kegiatan, prestasi, dan cerita inspiratif dapat diabadikan di sana. Bertahun-tahun kemudian, majalah itu akan menjadi jejak sejarah yang sangat berharga.
Saya pernah bertemu seorang alumni yang masih menyimpan majalah sekolahnya puluhan tahun lalu. Dengan mata berkaca-kaca ia menunjukkan tulisan pertamanya yang dimuat saat SMP. Tulisan itu sederhana sekali, tetapi menjadi kenangan yang tidak terlupakan.
“Dari sinilah saya mulai suka menulis,” katanya kepada saya.
Kalimat itu begitu membekas di hati saya.
Karena itulah saya selalu percaya bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah tempat lahirnya mimpi-mimpi besar.
Dalam dunia digital saat ini, majalah sekolah sebenarnya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Jika dulu harus dicetak dengan biaya mahal, sekarang sekolah dapat membuat majalah digital, blog sekolah, bahkan media online sekolah.
Saya sendiri banyak belajar bahwa kekuatan tulisan dapat menjangkau banyak orang melalui internet. Blog sederhana yang saya kelola akhirnya mempertemukan saya dengan banyak guru hebat di seluruh Indonesia. Semua bermula dari keberanian menulis dan berbagi pengalaman.
Itulah sebabnya kegiatan KBMN malam ini menjadi sangat penting. Guru-guru perlu belajar bagaimana mengelola majalah sekolah secara kreatif dan menarik. Mulai dari menentukan tema, membangun tim redaksi, melatih siswa menulis, hingga mempublikasikan karya mereka kepada masyarakat luas.
Majalah sekolah tidak boleh mati.
Jika majalah sekolah mati, maka salah satu ruang ekspresi siswa ikut hilang. Anak-anak hanya menjadi pembaca pasif media sosial tanpa belajar menghasilkan karya sendiri.
Padahal menulis adalah keterampilan penting masa depan.
Siswa yang terbiasa menulis akan lebih terampil berpikir kritis, mampu menyampaikan pendapat dengan baik, dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Mereka tidak hanya menjadi penonton perubahan zaman, tetapi juga mampu menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.
Saya membayangkan malam ini banyak guru dari berbagai daerah akan berkumpul melalui Zoom. Mereka datang dengan semangat yang sama: ingin membangun budaya literasi di sekolah masing-masing.
Mungkin ada guru dari desa terpencil yang tetap berjuang menghidupkan majalah sekolah meski fasilitas terbatas. Ada pula guru muda yang ingin memulai media digital sekolah pertama mereka. Semua berkumpul dalam satu semangat: mencerdaskan anak bangsa melalui tulisan.
Sungguh indah melihat guru-guru Indonesia terus belajar.
Saya percaya, ketika guru mau belajar, maka siswa akan ikut tumbuh. Ketika guru gemar menulis, maka siswa akan berani berkarya. Dan ketika sekolah memiliki budaya literasi yang kuat, maka masa depan pendidikan Indonesia akan semakin cerah.
Majalah sekolah adalah pohon literasi itu.
Ia harus terus dirawat, disiram, dan dijaga bersama. Sebab dari pohon itulah akan lahir buah-buah pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi masa depan.
Malam ini, kelas KBMN bukan hanya tentang belajar mengelola majalah sekolah. Lebih dari itu, ini adalah upaya menanam harapan agar budaya literasi tetap hidup di sekolah-sekolah Indonesia.
Dan saya yakin, selama masih ada guru yang mau menulis dan mengajak siswa berkarya, pohon literasi itu tidak akan pernah tumbang.
— Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia