Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Rabu, 02 September 2026
Pendafataran Peserta Kelas Belajar Menulis Gratis
Tanggalkan Baju Kesombonganmu dan Jadilah Orang yang Sabar dan Rendah Hati
Tanggalkan Baju Kesombonganmu, Jadilah Orang yang Rendah Hati dan Sabar
Inspirasi Pagi, Rabu 2 September 2026
Pagi ini saya kembali belajar dari kehidupan bahwa ilmu yang kita miliki seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Gelar yang tertulis di belakang nama, jabatan yang melekat di pundak, pengalaman yang panjang, ataupun penghargaan yang tersimpan di lemari, semuanya tidak akan memiliki makna apabila membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain. Justru semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin sadar bahwa masih begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Karena itu, pagi ini saya ingin mengajak diri saya sendiri dan sahabat pembaca untuk menanggalkan baju kesombongan, kemudian mengenakan pakaian kerendahan hati dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.
Sebagai seorang guru, saya sering merasakan bahwa ruang kelas adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi manusia. Kita memang datang ke sekolah membawa ilmu, pengalaman, dan berbagai pengetahuan yang ingin dibagikan kepada peserta didik. Namun, setiap kali berhadapan dengan anak-anak, saya menyadari bahwa mereka juga membawa pelajaran yang tidak tertulis di buku. Ada anak yang mengajarkan kesabaran, ada yang mengajarkan ketelitian, ada yang mengajarkan kejujuran, bahkan ada yang tanpa sengaja mengajarkan kita untuk tidak mudah marah. Guru yang merasa dirinya paling pintar biasanya akan cepat kecewa ketika muridnya tidak memahami penjelasan. Sebaliknya, guru yang rendah hati akan bertanya kepada dirinya sendiri, “Jangan-jangan cara mengajar saya yang perlu diperbaiki?”
Saya belajar bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bentuk persahabatan terbaik dengan diri sendiri. Banyak masalah dalam kehidupan sebenarnya tidak dimulai dari perbuatan besar, tetapi dari kata-kata kecil yang keluar tanpa dipikirkan. Satu kalimat yang menyakitkan dapat diingat seseorang selama bertahun-tahun, sedangkan permintaan maaf terkadang tidak mampu menghapus seluruh bekasnya. Karena itu, sebelum berbicara, saya berusaha mengingatkan diri agar bertanya terlebih dahulu: apakah perkataan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah disampaikan dengan cara yang baik? Kalau tidak, mungkin diam adalah pilihan yang jauh lebih bijaksana.
Begitu pula dengan kesabaran. Sabar bukan berarti menyerah dan membiarkan kehidupan berjalan tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap melakukan kebaikan meskipun hasilnya belum terlihat. Dalam perjalanan menulis, misalnya, saya pernah menulis banyak tulisan yang pembacanya hanya sedikit. Ada tulisan yang saya kira akan ramai ternyata sepi, sementara tulisan yang dibuat sederhana justru mendapatkan perhatian pembaca. Dari situ saya belajar bahwa tugas seorang penulis bukan memaksa orang membaca, melainkan terus menulis dengan hati yang tulus. Urusan kapan tulisan itu menemukan pembacanya, biarlah menjadi bagian dari perjalanan.
Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia sampai lupa memperbaiki diri sendiri. Kita ingin dipuji karena pintar, ingin dianggap hebat karena memiliki gelar, ingin dihormati karena jabatan, bahkan ingin dikenal karena banyaknya karya. Padahal, kehormatan seseorang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan orang lain. Orang yang benar-benar berilmu tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya pintar. Sikap, ucapan, dan perbuatannya akan menjadi bukti. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.
Saya juga percaya bahwa akal, iman, dan akhlak merupakan tiga hal yang harus berjalan bersama. Kecerdasan tanpa akhlak dapat membuat seseorang mudah merendahkan orang lain. Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi alat untuk menunjukkan kehebatan diri. Sebaliknya, ilmu yang disertai iman dan akhlak akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan. Orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu memenangkan perdebatan, melainkan orang yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memilih diam.
Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sebenarnya tidak selalu membutuhkan tenaga besar dan biaya mahal. Tersenyum kepada orang lain, menyapa dengan ramah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika bersalah, memberikan nasihat dengan tulus, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan adalah bentuk kebaikan yang sangat sederhana. Sayangnya, sesuatu yang sederhana sering kali justru sulit dilakukan karena ego kita ingin selalu menang. Kita ingin menjadi orang terakhir yang berbicara dan merasa paling benar. Padahal, terkadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan kesombongan yang ada di dalam diri sendiri.
Pagi ini saya kembali mengingat sebuah pelajaran penting: mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya, dan kehormatan seseorang adalah akhlaknya. Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di luar. Penampilan dapat berubah, jabatan dapat berganti, kekayaan dapat berkurang, dan popularitas dapat datang serta pergi. Namun, akhlak yang baik akan selalu meninggalkan jejak dalam ingatan orang lain.
Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya ingin terus belajar menulis bukan sekadar untuk mengejar jumlah tulisan atau pembaca, tetapi untuk berbagi pengalaman dan meninggalkan manfaat. Saya pun masih jauh dari sempurna. Masih ada saat ketika emosi datang lebih cepat daripada kesabaran. Masih ada saat ketika ego ingin didahulukan. Namun, bukankah hidup memang sebuah proses belajar? Yang penting adalah mau menyadari kekurangan, memperbaikinya, lalu mencoba lagi dengan hati yang lebih tenang.
Kita tidak akan pernah meraih kesuksesan jika tidak pernah memulainya. Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu pintar untuk belajar. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Dan jangan menunggu tua untuk menjadi bijaksana. Mulailah dari hal kecil hari ini.
Tanggalkan baju kesombonganmu. Lepaskan keinginan untuk selalu dipuji. Rendahkan hati di hadapan sesama manusia dan tundukkan diri di hadapan Allah. Jagalah lisan, perbaiki akhlak, berikan nasihat dengan tulus, dan rawat kesabaran dalam setiap keadaan. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita berdiri yang paling penting, tetapi seberapa banyak orang yang merasa nyaman dan mendapatkan manfaat ketika berada di dekat kita.
Tetap semangat menjalani hari. Terus belajar, terus berbagi, terus menulis, dan terus memperbaiki diri.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Barakallah fiikum.
Selasa, 01 September 2026
otn 2026 akan segera digelar di jicc senayan
OTN 2026 Akan Kembali Digelar di Senayan, Saatnya Guru Informatika Bersiap
Kabar baik datang untuk para guru, peserta didik, dan pegiat teknologi pendidikan di Indonesia. Olimpiade Informatika dan KKA atau OTN 2026 direncanakan kembali digelar di kawasan Senayan, Jakarta, sekitar bulan Oktober 2026. Setelah sebelumnya menjadi ruang bertemunya guru, peserta didik, komunitas, dan pegiat informatika, OTN 2026 diharapkan dapat menghadirkan semangat baru dalam mengembangkan kompetensi digital di tengah perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat.
Bagi saya, OTN bukan sekadar sebuah kegiatan perlombaan. OTN adalah momentum untuk mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan informatika, koding, dan kecerdasan artifisial. Di sinilah guru dapat saling berbagi pengalaman, peserta didik dapat menguji kemampuan, dan komunitas dapat membangun jejaring yang lebih luas. Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi manusia yang menggunakannya tetap harus belajar, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Tahun 2026 menjadi tahun yang menarik karena Informatika dan Koding serta Kecerdasan Artifisial atau KKA semakin mendapatkan tempat penting dalam dunia pendidikan. Peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu belajar bagaimana teknologi bekerja, bagaimana membuat solusi digital, bagaimana menyusun algoritma, serta bagaimana menggunakan kecerdasan artifisial secara bijak. Karena itu, kegiatan seperti OTN memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya belajar teknologi sejak dini.
Komunitas Guru Informatika dan KKA PGRI tentu memiliki peran penting dalam perjalanan ini. Komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk belajar bersama. Guru yang sudah berpengalaman dapat berbagi dengan guru yang baru mulai mengajar informatika. Sebaliknya, guru muda sering membawa energi dan gagasan baru yang membuat pembelajaran menjadi lebih segar. Dari pertemuan seperti inilah lahir kolaborasi yang kadang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.
Saya membayangkan suasana OTN 2026 nanti akan kembali semarak. Para peserta datang dengan semangat membawa karya, ide, dan kemampuan terbaiknya. Ada yang sibuk mempersiapkan materi lomba, ada yang berlatih coding, ada yang mencoba memanfaatkan AI untuk menyelesaikan persoalan, dan tentu saja ada guru yang sibuk mendampingi anak didiknya sambil sesekali bertanya, “Pak, kalau ini salah bagaimana?” Saya biasanya menjawab dengan santai, “Tidak apa-apa salah. Yang penting jangan berhenti belajar.”
Bagi seorang guru, kesalahan dalam proses belajar bukanlah akhir perjalanan. Justru dari kesalahan itulah peserta didik belajar menemukan cara yang lebih baik. Inilah semangat yang seharusnya dibawa dalam OTN 2026. Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi juga tentang siapa yang berani mencoba, belajar dari kegagalan, dan pulang membawa pengalaman baru.
Jika OTN 2026 benar-benar digelar sekitar Oktober di JICC Senayan, Jakarta, saya berharap kegiatan ini menjadi pertemuan besar keluarga informatika dan KKA Indonesia. Semoga bukan hanya peserta lomba yang mendapatkan manfaat, tetapi juga para guru, sekolah, komunitas, dan masyarakat pendidikan secara lebih luas.
Tentu kita masih menunggu informasi resmi mengenai tanggal, rangkaian kegiatan, kategori lomba, mekanisme pendaftaran, serta ketentuan peserta. Namun sejak sekarang, tidak ada salahnya para guru dan peserta didik mulai mempersiapkan diri. Belajar coding, memahami konsep informatika, mengenal kecerdasan artifisial, membuat karya digital, dan yang paling penting membangun keberanian untuk mencoba.
Saya percaya, masa depan pendidikan Indonesia membutuhkan guru yang tidak takut terhadap teknologi. Guru tidak harus menjadi programmer hebat untuk mengajarkan informatika, tetapi guru harus mau terus belajar. Sebab teknologi terus berubah. Hari ini kita belajar satu aplikasi, besok mungkin muncul aplikasi baru. Hari ini kita mengenal satu model AI, besok mungkin lahir teknologi yang jauh lebih canggih.
OTN 2026 mudah-mudahan menjadi salah satu panggung untuk menunjukkan bahwa guru Indonesia siap menghadapi perubahan tersebut. Dari Senayan, semoga lahir inspirasi baru, kolaborasi baru, dan generasi baru yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi manusia.
Bagi saya, OTN 2026 bukan hanya tentang olimpiade. Ia adalah tentang semangat belajar tanpa henti. Sebab di dunia informatika, satu hal yang pasti adalah perubahan. Dan guru yang mau terus belajar akan selalu memiliki tempat dalam perubahan itu.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Belajarlah setiap hari dan rasakan bagaimana teknologi dapat menjadi sahabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. OTN 2026, semoga kita bertemu kembali di Senayan!
tpg belum cair guru kembali diuji kesabarannya
Membaca Buku ICT for Cambridge
Menemukan Inspirasi Mengajar dari Buku ICT Cambridge IGCSE, Sebuah Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
Ada kalanya seorang guru mendapatkan inspirasi bukan dari pelatihan yang mahal, seminar yang ramai, atau teknologi terbaru yang sedang viral, tetapi justru dari sebuah buku yang sudah lama berada di atas meja. Itulah yang saya rasakan ketika melihat dan membaca buku ICT for Cambridge IGCSE™ Coursebook Third Edition karya David Waller, Victoria Wright, dan Denise Taylor. Buku terbitan Cambridge University Press ini bukan sekadar buku pelajaran teknologi informasi. Bagi saya, buku ini seperti cermin yang mengajak seorang guru Informatika bertanya kembali: sudahkah pembelajaran teknologi di kelas benar-benar membuat siswa mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan persoalan kehidupan?
Buku yang saya pegang tersebut adalah edisi ketiga yang diterbitkan pada 2021 dan memiliki ISBN 9781108901093. Buku ini secara resmi tercatat sebagai salah satu endorsed resources untuk Cambridge IGCSE Information and Communication Technology, termasuk syllabus 0417 dan 0983, serta mendukung pembelajaran untuk ujian mulai 2023. Cambridge menjelaskan bahwa buku ini dirancang bukan hanya untuk memperkuat pemahaman teori, tetapi juga keterampilan praktik dan kemampuan menerapkan ICT dalam situasi kehidupan nyata.
Sebagai guru yang sudah lama mengajar Informatika, saya langsung tertarik dengan pendekatan tersebut. Saya selalu percaya bahwa belajar komputer tidak cukup hanya dengan menghafal pengertian hardware, software, jaringan, database, spreadsheet, atau internet. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk menyentuh, mencoba, salah, memperbaiki, kemudian menghasilkan sesuatu. Kalau siswa hanya mampu menjawab soal pilihan ganda tentang spreadsheet tetapi tidak mampu menggunakannya untuk mengolah data kelas, menurut saya pembelajaran itu belum selesai. Komputer bukan benda pajangan di laboratorium. Komputer adalah alat untuk berpikir, berkarya, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.
Yang menarik perhatian saya dari buku Cambridge ini adalah adanya pendekatan bertahap dalam kegiatan praktik. Cambridge menjelaskan bahwa tugas praktik dalam buku tersebut menggunakan tiga tingkatan, yaitu Getting Started, Practice, dan Challenge. Dengan pola seperti ini, siswa pemula dapat memulai dari keterampilan dasar, kemudian berlatih, lalu siswa yang lebih percaya diri dapat menghadapi tantangan yang lebih tinggi.
Saya membayangkan suasana kelas ketika pendekatan tersebut diterapkan. Guru tidak perlu lagi berkata, “Anak-anak, ikuti semua langkah yang saya lakukan.” Sebaliknya, guru dapat memberikan sebuah masalah dan membiarkan siswa mencari jalan keluarnya. Ada siswa yang cepat memahami, ada yang perlu dibimbing, dan ada pula yang tiba-tiba menemukan cara berbeda dari gurunya. Di situlah pembelajaran menjadi hidup. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Guru menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan jawaban.
Buku ini juga menarik karena tidak berhenti pada keterampilan menggunakan aplikasi. Materinya mencakup sistem komputer, perangkat input dan output, media penyimpanan, jaringan, dampak penggunaan teknologi informasi, berbagai aplikasi ICT, systems life cycle, keselamatan dan keamanan, komunikasi, serta manajemen file. Setelah itu siswa masuk ke wilayah keterampilan praktik seperti gambar, layout, styles, proofreading, grafik dan chart, produksi dokumen, database, presentasi, spreadsheet, sampai website authoring.
Bagi saya, susunan seperti ini memberikan pesan penting bahwa literasi digital tidak sama dengan sekadar bisa menggunakan gawai. Anak yang setiap hari menggunakan telepon pintar belum tentu memahami keamanan data. Anak yang pandai membuat video belum tentu memahami hak cipta. Anak yang bisa mengakses internet belum tentu mampu menilai informasi yang benar dan salah. Anak yang mahir menggunakan aplikasi belum tentu mampu mengolah data menjadi informasi. Karena itu, pendidikan Informatika harus jauh lebih luas daripada sekadar mengajarkan tombol mana yang harus diklik.
Saya juga tertarik dengan konsep ICT in Context yang terdapat dalam buku ini. Fitur tersebut menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata sehingga siswa dapat melihat relevansi teknologi dalam kehidupan dan dunia kerja. Ada pula fitur Reflection yang mendorong siswa menilai dan mengevaluasi perjalanan belajarnya sendiri.
Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat dengan pengalaman saya sebagai guru dan blogger. Menulis di blog selama bertahun-tahun mengajarkan saya bahwa teknologi akan menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk menghasilkan karya. Saya tidak ingin siswa hanya menjadi konsumen teknologi. Saya ingin mereka menjadi pencipta. Mereka dapat membuat tulisan, infografis, spreadsheet, database, presentasi, website, aplikasi sederhana, bahkan memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijaksana untuk membantu proses belajar.
Ketika melihat bagian spreadsheet, database, grafik, dan website authoring, saya langsung membayangkan bagaimana materi tersebut dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis proyek. Misalnya siswa diberikan data sederhana tentang kegiatan kelas. Mereka diminta membersihkan data, mengolahnya menggunakan spreadsheet, membuat grafik, menarik kesimpulan, kemudian mempublikasikan hasil analisisnya dalam sebuah halaman web. Dengan satu proyek saja, siswa dapat belajar pengolahan data, visualisasi, komunikasi, desain, dan pemecahan masalah.
Saya pun semakin yakin bahwa guru Informatika perlu rajin membaca buku dari berbagai sumber. Tidak harus meniru semuanya, tetapi mengambil gagasan terbaik kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa Indonesia. Buku Cambridge ini dibuat untuk konteks Cambridge IGCSE sehingga tentu tidak bisa langsung dianggap sebagai kurikulum Indonesia. Namun, pendekatan pembelajarannya dapat menjadi inspirasi yang sangat berharga bagi guru.
Ada satu hal lagi yang membuat saya tersenyum. Kadang-kadang kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar materi sampai lupa bertanya kepada siswa, “Apa yang bisa kamu lakukan dengan pengetahuan ini?” Padahal pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran. Anak tidak akan membawa semua definisi buku ke masa depannya. Namun, kemampuan berpikir, memecahkan masalah, bekerja dengan data, berkomunikasi, membuat karya, dan belajar secara mandiri akan terus mereka bawa.
Buku ini akhirnya membuat saya kembali kepada prinsip sederhana yang selama ini saya pegang sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia: menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Membaca buku membuat kita mendapatkan ide. Mengajar membuat ide itu diuji. Menulis membuat pengalaman tersebut terdokumentasi. Ketika pengalaman dibagikan kepada orang lain, muncullah inspirasi baru. Begitulah guru seharusnya terus bergerak dari membaca, mencoba, menulis, berbagi, lalu belajar kembali.
Bagi saya, ICT for Cambridge IGCSE™ Coursebook Third Edition bukan hanya buku Cambridge. Ia adalah pengingat bahwa pembelajaran Informatika seharusnya membawa siswa dari mengetahui menjadi melakukan, dari melakukan menjadi menciptakan, dan dari menciptakan menjadi mampu memecahkan persoalan nyata. Teknologi boleh berubah sangat cepat, tetapi kemampuan manusia untuk belajar, berpikir, berkarya, dan berbagi tidak pernah kehilangan makna.
Mungkin itulah alasan saya senang menemukan buku ini. Di tengah perkembangan AI yang begitu cepat, kita justru semakin membutuhkan pendidikan Informatika yang kuat. Anak-anak tidak cukup diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka harus diajarkan mengapa teknologi digunakan, kapan harus digunakan, bagaimana menggunakannya secara aman, dan untuk tujuan apa teknologi tersebut dimanfaatkan.
Sebagai guru, saya ingin terus belajar. Sebagai blogger, saya ingin terus menulis. Sebagai pendidik, saya ingin terus mencoba. Sebab saya percaya, guru yang berhenti belajar akan segera tertinggal oleh muridnya sendiri. Dan seperti biasa, saya kembali mengingat kalimat sederhana yang selalu menemani perjalanan saya:
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Hari ini saya membaca buku Cambridge. Besok mungkin saya mencoba satu pendekatan baru di kelas. Lusa saya menuliskan pengalamannya. Dari sebuah buku, lahirlah sebuah ide. Dari sebuah ide, lahirlah pembelajaran. Dan dari pembelajaran, semoga lahir generasi yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam memanfaatkannya.
Inilah kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia yang percaya bahwa membaca buku bukanlah akhir dari belajar. Membaca adalah awal dari sebuah perjalanan untuk mencoba, berkarya, dan menginspirasi.
Senin, 31 Agustus 2026
Ketika AI Mengajarkan Saya Menjadi Manusia yang Lebih Bijaksana
Ketika AI Mengajarkan Saya Menjadi Manusia yang Lebih Bijaksana
Ada sebuah pengalaman sederhana yang membuat saya kembali berpikir bahwa menjadi guru pada zaman sekarang bukan hanya soal menguasai teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang memiliki hati. Ketika teknologi kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) berkembang begitu cepat, saya justru semakin sering bertanya kepada diri sendiri, apakah guru harus takut kepada AI, atau justru belajar bersahabat dengannya. Pertanyaan itu muncul bukan karena saya tidak mengenal teknologi, sebab sebagai guru Informatika saya sudah cukup lama bersentuhan dengan komputer, internet, blog, media sosial, dan berbagai teknologi pembelajaran, tetapi karena saya melihat AI membawa perubahan yang jauh lebih besar. AI bukan hanya membantu manusia mencari informasi atau membuat tulisan, tetapi juga mulai memengaruhi cara manusia belajar, bekerja, berpikir, berkomunikasi, bahkan mengambil keputusan dalam kehidupan sehari-hari.
Saya masih ingat perjalanan saya belajar teknologi sejak menjadi guru. Dahulu komputer terasa seperti sesuatu yang istimewa, kemudian internet hadir dan mengubah cara kita mendapatkan informasi. Setelah itu muncul blog yang membuat saya berani menulis dan berbagi pengalaman kepada banyak orang. Saya mulai ngeblog sejak tahun 2007 dan bergabung dengan Kompasiana pada tahun 2008. Dari blog itulah saya belajar bahwa seorang guru ternyata bisa menjadi penulis, dan seorang penulis bisa menjadi guru yang terus belajar dari pembacanya. Kini, ketika AI hadir dengan kemampuan yang semakin luar biasa, saya kembali berada pada posisi sebagai pembelajar. Saya tidak ingin hanya menjadi orang yang menggunakan AI, tetapi ingin memahami bagaimana teknologi ini dapat digunakan secara bijaksana untuk membantu pendidikan tanpa menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan.
Di kelas, saya mulai melihat bahwa AI dapat menjadi teman belajar yang menarik apabila digunakan dengan benar. Siswa dapat bertanya, mencoba ide, mencari alternatif penyelesaian masalah, membuat rancangan, bahkan berdiskusi dengan bantuan teknologi. Guru pun dapat terbantu dalam menyiapkan bahan ajar, mencari inspirasi aktivitas pembelajaran, dan mengembangkan berbagai bentuk evaluasi. Namun, semakin sering saya menggunakan AI, semakin saya menyadari bahwa teknologi secanggih apa pun tetap tidak dapat menggantikan sentuhan seorang guru. AI mungkin mampu memberikan jawaban dalam hitungan detik, tetapi seorang guru harus mampu melihat mata siswanya, memahami kegelisahannya, mendengarkan ceritanya, memberikan semangat ketika ia gagal, dan mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu memiliki jawaban yang bisa ditemukan melalui mesin pencari.
Di situlah saya merasa AI justru mengajarkan manusia untuk kembali menjadi manusia. Ketika pekerjaan yang bersifat rutin mulai dapat dilakukan oleh mesin, manusia memiliki kesempatan lebih besar untuk mengembangkan kemampuan yang tidak mudah digantikan teknologi, seperti empati, kreativitas, komunikasi, kolaborasi, tanggung jawab, karakter, dan kebijaksanaan. Seorang siswa mungkin dapat meminta AI membuat sebuah tulisan, tetapi pengalaman hidup yang melahirkan tulisan tersebut tetap menjadi miliknya sendiri. Karena itu saya selalu mengingatkan diri saya dan para siswa bahwa menggunakan AI bukan berarti menyerahkan seluruh pekerjaan kepada AI. Kita harus tetap berpikir, memeriksa, menyunting, bertanya, dan bertanggung jawab terhadap apa yang kita hasilkan.
Pengalaman ini membuat saya semakin yakin bahwa guru masa depan bukanlah guru yang melawan teknologi, tetapi guru yang mampu menggunakan teknologi sambil tetap menjaga hati. AI boleh semakin pintar, tetapi manusia tidak boleh kehilangan kebijaksanaan. Teknologi boleh membuat pekerjaan menjadi lebih cepat, tetapi pendidikan tetap membutuhkan proses yang manusiawi. Seorang guru bukan hanya menyampaikan pengetahuan, melainkan membantu anak menemukan dirinya, membangun kepercayaan diri, belajar dari kesalahan, dan berani menghadapi masa depan.
Saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk terus belajar di usia sekarang. Setelah puluhan tahun menjadi guru dan bertahun-tahun menulis di blog, saya kembali menemukan pelajaran baru melalui AI. Ternyata belajar teknologi tidak pernah selesai, sebagaimana perjalanan seorang guru juga tidak pernah berakhir. Setiap zaman membawa tantangannya sendiri, dan tugas kita bukan mengeluh terhadap perubahan, melainkan belajar beradaptasi tanpa kehilangan jati diri. Bagi saya, inilah pelajaran terbesar dari AI: semakin pintar teknologi yang kita ciptakan, semakin besar pula tanggung jawab kita untuk menjadi manusia yang bijaksana.
Menurut sahabat pembaca blog Omjay, apakah kehadiran AI akan membuat guru semakin mudah digantikan, atau justru membuat peran guru semakin penting karena pendidikan membutuhkan manusia yang memiliki hati dan empati? Saya ingin mendengar pengalaman dan pendapat Anda di kolom komentar, karena bisa jadi dari komentar pembaca inilah saya mendapatkan pelajaran baru untuk tulisan berikutnya.
Minggu, 30 Agustus 2026
Buku Terbaru Omjay Agustus 2026
Resensi Buku Menulis Tanpa Henti, Menginspirasi Tanpa Tapi
Saya buatkan resensi sekaligus tulisan promosi yang emosional, mengalir, dan membangun rasa penasaran pembaca dari Aceh sampai Papua—tanpa terdengar seperti iklan yang terlalu memaksa.
PGRI Akan Terus Berjuang Dalam Senyap untuk Guru Indonesia
PGRI Terus Bergerak dalam Senyap, Memperjuangkan Guru Tanpa Banyak Bicara
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Ada kalanya sebuah perjuangan tidak terdengar suaranya.
Tidak ada pengeras suara. Tidak ada spanduk besar. Tidak ada kerumunan yang memenuhi jalan. Bahkan terkadang tidak ada berita yang muncul setiap hari di media massa.
Namun, bukan berarti perjuangan itu berhenti.
Justru bisa jadi, ketika kita melihat suasana yang tenang, di tempat lain sedang berlangsung pembicaraan panjang untuk memperjuangkan nasib para guru.
Begitulah saya melihat perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI.
Pada Jumat malam, 29 Agustus 2026, saya mengirimkan sebuah berita dari JPNN.com kepada Ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi, Ketua Umum PB PGRI.
Saya mengirimkan berita tersebut karena saya tahu ada begitu banyak guru yang sedang menunggu kabar. Mereka bertanya, mereka berdiskusi, bahkan sebagian mulai gelisah.
Pertanyaan mereka sebenarnya sederhana.
“Sejauh mana perjuangan PGRI untuk memperjuangkan nasib guru?”
Terutama ketika berbagai persoalan kesejahteraan guru masih menjadi perhatian besar. Guru ingin mendapatkan kepastian. Guru ingin mengetahui arah perjuangan organisasi yang selama ini menjadi rumah bersama.
Tak lama kemudian, Ibu Ketum menjawab singkat.
“Mantap, buat artikelnya dalam kisah Omjay.”
Kalimat pendek itu justru membuat saya berpikir panjang.
Saya kemudian mengambil laptop dan mulai menulis.
Bukan karena saya sudah mengetahui seluruh proses perjuangan PGRI dari dalam.
Bukan pula karena saya ingin membela organisasi secara membabi buta.
Saya menulis karena saya adalah guru.
Saya menulis karena saya mendengar suara teman-teman guru.
Dan saya menulis karena saya percaya bahwa perjuangan guru perlu dicatat, dikawal, sekaligus disampaikan dengan cara yang santun dan bermartabat.
Guru Bertanya, Guru Menunggu
Saya memahami kegelisahan para guru.
Guru adalah manusia biasa yang memiliki keluarga, kebutuhan, tanggung jawab, dan harapan.
Di balik sosok guru yang berdiri di depan kelas, ada kehidupan yang tidak selalu terlihat oleh murid-muridnya.
Ada guru yang harus membayar cicilan rumah.
Ada yang membiayai pendidikan anak.
Ada yang membantu orang tua.
Ada yang setiap bulan harus menghitung pengeluaran dengan sangat hati-hati.
Ada guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, tetapi masih berharap mendapatkan kepastian status dan kesejahteraan.
Namun ketika masuk sekolah, mereka tetap tersenyum.
“Selamat pagi, anak-anak.”
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.
Tetapi kita tidak pernah tahu berapa banyak persoalan yang sudah mereka tinggalkan di rumah sebelum masuk kelas.
Guru tetap mengajar.
Tetap membuat bahan ajar.
Tetap memeriksa tugas.
Tetap membimbing murid.
Tetap menghadapi perubahan kurikulum.
Tetap belajar teknologi baru.
Bahkan sekarang guru dituntut memahami koding, kecerdasan artifisial, literasi digital, dan berbagai perubahan pendidikan yang begitu cepat.
Tuntutannya semakin tinggi.
Karena itu, wajar jika guru berharap kesejahteraannya juga mendapatkan perhatian yang serius.
Guru tidak ingin hanya diberi kata-kata penghargaan setiap Hari Guru.
Guru ingin penghargaan itu hadir dalam bentuk kebijakan yang nyata.
Jangan Ukur Perjuangan Hanya dari Keramaian
Di zaman media sosial seperti sekarang, kita sering terjebak pada sesuatu yang terlihat.
Kalau ada aksi besar, kita anggap sedang berjuang.
Kalau ada konferensi pers, kita anggap sedang bekerja.
Kalau ada unggahan yang viral, kita anggap perjuangannya berhasil.
Sebaliknya, ketika tidak ada unggahan atau pernyataan keras, kita mengira tidak ada kegiatan.
Padahal belum tentu.
Dalam perjuangan kebijakan, banyak hal memang tidak bisa dilakukan dengan cara berteriak.
Ada meja perundingan.
Ada rapat.
Ada komunikasi.
Ada kajian.
Ada negosiasi.
Ada proses menyampaikan aspirasi.
Ada pembahasan dengan pemerintah.
Ada komunikasi dengan kementerian dan lembaga negara.
Ada pula proses panjang yang tidak semuanya dapat dipublikasikan kepada masyarakat setiap saat.
Karena itu, saya belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi.
Saya lebih memilih bertanya.
Apa yang sedang diperjuangkan?
Bagaimana jalurnya?
Apa hasilnya?
Apa yang masih menjadi kendala?
Dan apa yang bisa dilakukan guru untuk membantu perjuangan tersebut?
Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang jauh lebih produktif.
PGRI Adalah Rumah Besar Guru
Saya melihat PGRI bukan sekadar sebuah nama organisasi.
Bagi banyak guru, PGRI adalah rumah besar.
Rumah yang di dalamnya berkumpul guru dari berbagai daerah, jenjang pendidikan, status kepegawaian, usia, dan pengalaman.
Di dalam rumah besar itu tentu ada perbedaan pendapat.
Itu hal yang wajar.
Bahkan menurut saya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menerima kritik.
Guru boleh bertanya.
Guru boleh menyampaikan kegelisahan.
Guru boleh meminta penjelasan.
Guru juga boleh mengingatkan pengurus organisasi jika ada hal yang dirasakan belum maksimal.
Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi kebencian.
Jangan sampai perbedaan pendapat membuat guru saling menjatuhkan.
Sebab ketika guru terpecah, perjuangan menjadi lebih sulit.
Kita boleh berbeda cara.
Tetapi tujuan kita harus tetap sama.
Meningkatkan martabat dan kesejahteraan guru serta memajukan pendidikan Indonesia.
Perjuangan Guru Tidak Bisa Instan
Saya pernah belajar satu hal dari perjalanan panjang sebagai guru.
Tidak semua hal bisa terjadi dengan cepat.
Saya sudah lebih dari tiga dekade berada di dunia pendidikan.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana kebijakan pendidikan berubah dari masa ke masa.
Teknologi berubah.
Kurikulum berubah.
Sistem kepegawaian berubah.
Cara mengajar berubah.
Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah semangat guru untuk mendidik.
Saya juga melihat bahwa perubahan kebijakan membutuhkan waktu.
Apa yang hari ini dibicarakan bisa jadi baru terlihat hasilnya beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.
Karena itu, perjuangan mengenai kesejahteraan guru tidak boleh hanya dilakukan ketika sedang ramai.
Ia harus terus dikawal.
Hari ini dibicarakan.
Besok ditanyakan lagi.
Kemudian dikaji.
Lalu diperjuangkan.
Setelah itu dievaluasi.
Jika belum berhasil, kita mencari jalan lain.
Begitu seterusnya.
Perjuangan adalah proses panjang.
Mengapa Guru Harus Tetap Bersatu?
Ada alasan sederhana mengapa guru membutuhkan organisasi profesi.
Karena jumlah guru sangat besar.
Jika masing-masing guru menyampaikan suara sendiri-sendiri, suara itu mudah tenggelam.
Tetapi ketika suara tersebut dihimpun dalam organisasi, aspirasi itu menjadi lebih terstruktur.
Inilah salah satu fungsi organisasi.
Mengumpulkan suara.
Menyusun aspirasi.
Membawa persoalan kepada pihak yang memiliki kewenangan.
Kemudian mengawal prosesnya.
PGRI memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kepentingan guru dan pendidikan.
Tentu sejarah panjang tersebut tidak berarti semua persoalan otomatis selesai.
Justru tantangan pendidikan semakin kompleks.
Hari ini kita menghadapi persoalan kesejahteraan.
Besok muncul persoalan teknologi.
Kemudian muncul persoalan perlindungan guru.
Ada persoalan beban administrasi.
Ada persoalan status kepegawaian.
Ada persoalan kualitas pembelajaran.
Ada persoalan kecerdasan artifisial.
Semua membutuhkan perhatian.
Maka organisasi guru juga harus terus bergerak mengikuti zaman.
Guru Jangan Hanya Menunggu
Namun saya juga ingin mengajak teman-teman guru melihat persoalan ini dari sisi yang lain.
Jangan hanya menunggu organisasi bekerja.
Guru juga harus ikut bergerak.
Bagaimana caranya?
Sederhana.
Mulailah dengan menjadi guru yang profesional.
Terus belajar.
Terus membaca.
Terus menulis.
Terus mengikuti perkembangan pendidikan.
Terus meningkatkan kompetensi.
Dan jangan berhenti menyampaikan aspirasi melalui jalur yang benar.
Saya sendiri memilih menulis.
Saya menulis pengalaman mengajar.
Saya menulis perjalanan mengikuti berbagai kegiatan pendidikan.
Saya menulis tentang guru.
Saya menulis tentang teknologi.
Saya menulis tentang kehidupan.
Mengapa?
Karena saya percaya tulisan dapat menjadi rekam jejak perjuangan.
Apa yang kita tulis hari ini mungkin tidak langsung menghasilkan perubahan.
Tetapi suatu saat nanti tulisan itu bisa menjadi dokumen sejarah.
Bisa menjadi bahan refleksi.
Bisa menjadi inspirasi bagi guru lain.
Bahkan bisa menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan bahwa pernah ada guru yang menyuarakan persoalan tersebut.
Bergerak dalam Senyap Bukan Berarti Diam
Saya kembali teringat pesan Ibu Ketum.
“Mantap, buat artikelnya dalam kisah Omjay.”
Saya memaknainya sebagai sebuah ajakan untuk terus menjaga optimisme.
PGRI terus bergerak.
Mungkin tidak semuanya terlihat.
Mungkin tidak semuanya diberitakan.
Mungkin tidak semua proses bisa disampaikan secara terbuka.
Tetapi selama aspirasi guru terus dibawa dan diperjuangkan, kita tidak boleh kehilangan harapan.
Dalam sebuah perjuangan, terkadang kita memang harus bersabar.
Seperti petani yang menanam padi.
Hari pertama menanam, tidak langsung panen.
Hari kedua belum panen.
Hari ketiga juga belum.
Petani menyiram.
Membersihkan rumput.
Menjaga tanaman dari hama.
Menunggu hujan.
Menunggu matahari.
Kemudian setelah berbulan-bulan, barulah hasilnya terlihat.
Perjuangan guru pun demikian.
Kita menanam harapan.
Kita merawat persatuan.
Kita menyampaikan aspirasi.
Kita berdialog.
Kita mengawal kebijakan.
Dan kita menunggu hasilnya dengan tetap kritis.
Saya Memilih Menulis
Mungkin ada yang bertanya, mengapa Omjay selalu menulis?
Jawabannya sederhana.
Karena saya tidak ingin suara guru hilang begitu saja.
Saya ingin setiap kegelisahan memiliki ruang untuk disampaikan.
Saya ingin setiap perjuangan memiliki catatan.
Saya ingin generasi guru berikutnya mengetahui bahwa sebelum mereka menikmati sebuah kebijakan, ada orang-orang yang pernah memperjuangkannya.
Menulis bagi saya bukan sekadar mencari pembaca.
Menulis adalah cara saya merawat ingatan.
Menulis adalah cara saya berbicara kepada banyak orang.
Menulis adalah cara saya mengajak guru berdiskusi.
Dan menulis adalah cara saya menjaga harapan.
Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan teman-teman:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Jangan Kehilangan Harapan
Untuk teman-teman guru yang sedang bertanya tentang kesejahteraan, saya ingin mengatakan satu hal.
Jangan kehilangan harapan.
Teruslah menyampaikan aspirasi.
Teruslah mengawal perjuangan.
Teruslah bertanya dengan cara yang santun.
Teruslah memberikan masukan.
Dan teruslah menjaga persatuan.
Kita tidak tahu kapan sebuah kebijakan akan berubah.
Kita tidak tahu kapan harapan itu menjadi kenyataan.
Tetapi kita tahu satu hal.
Jika kita berhenti berjuang, maka kemungkinan perubahan akan semakin kecil.
Sebaliknya, jika kita terus bergerak, terus berdialog, terus menulis, terus menyampaikan aspirasi, dan terus mengawal prosesnya, maka selalu ada kemungkinan perubahan terjadi.
Mungkin bukan hari ini.
Mungkin bukan besok.
Tetapi bisa jadi suatu hari nanti.
PGRI dan Harapan Guru Indonesia
Saya berharap PGRI terus menjadi rumah besar yang mampu menyatukan suara guru Indonesia.
Saya berharap perjuangan terhadap kesejahteraan guru terus dikawal.
Saya berharap pemerintah juga semakin mendengarkan suara guru.
Sebab pendidikan tidak akan pernah bisa berdiri kokoh jika orang-orang yang berada di garis depan pendidikan justru merasa tidak diperhatikan.
Kita ingin guru Indonesia menjadi guru yang bermartabat.
Guru yang sejahtera.
Guru yang terlindungi.
Guru yang profesional.
Guru yang terus belajar.
Guru yang mampu beradaptasi dengan teknologi.
Dan yang paling penting, guru yang tetap memiliki hati untuk mendidik.
Pada akhirnya, perjuangan kesejahteraan guru bukan hanya tentang angka.
Bukan hanya tentang gaji.
Bukan hanya tentang tunjangan.
Lebih jauh dari itu, perjuangan tersebut adalah perjuangan untuk memberikan penghargaan yang layak kepada orang-orang yang setiap hari membantu menyiapkan masa depan bangsa.
Karena di tangan gurulah anak-anak belajar membaca dunia.
Di tangan gurulah karakter dibentuk.
Di tangan gurulah mimpi-mimpi anak Indonesia dirawat.
Maka sudah sepantasnya guru mendapatkan perhatian yang layak.
Penutup: Tetap Bergerak, Tetap Berharap
Malam itu saya kembali menatap layar komputer.
Tulisan ini belum selesai.
Tetapi hati saya sudah menemukan kesimpulan.
Saya tidak ingin mengajak guru untuk hanya menunggu.
Saya juga tidak ingin mengajak guru untuk terus marah.
Saya ingin mengajak guru untuk tetap bergerak.
Bergerak melalui tulisan.
Bergerak melalui organisasi.
Bergerak melalui dialog.
Bergerak melalui karya.
Bergerak melalui pendidikan yang berkualitas.
Dan tentu saja, bergerak dengan tetap menjaga persatuan.
Sebab perjuangan yang besar tidak selalu dimulai dari kerumunan yang besar.
Kadang perjuangan dimulai dari satu pertanyaan sederhana.
“Apa kabar perjuangan guru hari ini?”
Kemudian pertanyaan itu disampaikan kepada organisasi.
Dibawa ke meja pembahasan.
Diperjuangkan melalui berbagai jalur.
Dan akhirnya menjadi sebuah perubahan.
Mungkin itulah arti bergerak dalam senyap.
Bukan berarti diam.
Bukan berarti menyerah.
Bukan berarti tidak bekerja.
Tetapi memilih bekerja dengan tenang, terukur, dan terus-menerus.
Saya percaya, suatu saat nanti guru akan memetik hasil dari perjuangan panjang ini.
Karena itu, jangan pernah berhenti berharap.
Jangan pernah berhenti bersuara.
Dan jangan pernah berhenti menulis.
Saya, Omjay, akan terus menulis kisah guru Indonesia.
Bukan karena saya paling tahu tentang perjuangan.
Tetapi karena saya juga bagian dari keluarga besar guru Indonesia.
Saya merasakan kegelisahan mereka.
Saya mendengar pertanyaan mereka.
Dan saya ingin ikut menjaga harapan mereka.
Semoga PGRI terus kuat.
Semoga para pengurusnya terus diberikan kekuatan untuk memperjuangkan aspirasi guru.
Semoga pemerintah semakin serius meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan guru.
Dan semoga guru Indonesia tetap bersatu dalam memperjuangkan masa depan pendidikan bangsa.
Karena perjuangan belum selesai.
Perjalanan masih panjang.
Dan kita masih punya harapan.
PGRI terus bergerak dalam senyap.
Guru terus mengabdi dengan ikhlas.
Kita terus mengawal perjuangan dengan sabar.
Sebab saya percaya:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam guru Indonesia.
Salam PGRI.
Guru kuat, Indonesia hebat.
