Kake Dimjati dan Buya Hamka: Dari Sebuah Pertemuan Lahir Sebuah Jejak Pendidikan Islam
Setiap keluarga biasanya mempunyai cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada cerita tentang perjuangan, tentang pengorbanan, tentang keberhasilan, dan ada pula cerita yang baru terasa begitu berharga ketika kita sudah dewasa. Bagi saya, salah satu cerita yang menarik untuk terus digali adalah kisah Kake Dimjati, seorang guru yang ikut meletakkan dasar pendidikan Islam di kawasan Kebayoran, Jakarta.
Semakin saya mendengar kembali cerita tentang perjalanan beliau, semakin saya menyadari bahwa sejarah sebuah sekolah tidak selalu dimulai dari gedung yang megah. Kadang-kadang sejarah pendidikan justru bermula dari sebuah aula masjid, dari percakapan sederhana para tokoh masyarakat, dan dari keberanian seorang guru untuk memulai sesuatu yang belum tentu diketahui bagaimana akhirnya.
Kisah itu bermula ketika Kake Dimjati hijrah ke Jakarta. Kedatangannya ke Jakarta bukan semata-mata untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ada sebuah amanah yang kemudian mempertemukannya dengan dunia pendidikan di kawasan Kebayoran. Baing, yang ketika itu menjadi bagian dari panitia pembangunan Masjid Agung Kebayoran di Jalan Sisingamangaraja, meminta Kake Dimjati untuk ikut memikirkan pendirian sekolah di lingkungan masjid tersebut.
Bagi Kake Dimjati, permintaan itu bukan perkara kecil. Mendirikan sekolah berarti memikirkan masa depan anak-anak. Pada masa itu, Jakarta tentu belum seperti sekarang. Fasilitas pendidikan belum sebanyak dan semudah yang kita lihat hari ini. Untuk membangun sebuah sekolah dibutuhkan keberanian, dukungan masyarakat, tenaga para pendidik, dan tentu saja keyakinan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan utama umat.
Baing dan Kake Dimjati kemudian mulai bergerak. Mereka menemui sejumlah tokoh masyarakat yang mempunyai perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan umat. Salah satu nama penting yang hadir dalam perjalanan tersebut adalah Buya Hamka.
Pertemuan dengan Buya Hamka menjadi bagian yang sangat menarik dalam kisah keluarga ini.
Nama Buya Hamka tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Beliau dikenal sebagai ulama, sastrawan, pemikir, pendidik, dan tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh besar. Namun bagi Kake Dimjati, Buya Hamka bukan hanya nama besar yang dikenal dari buku atau ceramah. Beliau adalah salah satu tokoh yang ditemui dalam ikhtiar membangun pendidikan Islam di kawasan Kebayoran.
Bayangkan suasana Jakarta pada masa itu. Jalan Sisingamangaraja belum seramai sekarang. Kawasan Kebayoran sedang berkembang. Masjid menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat berkumpul, berdiskusi, bermusyawarah, dan memikirkan masa depan umat.
Di tengah suasana itulah Baing bersama Kake Dimjati mendatangi para tokoh masyarakat. Mereka menyampaikan gagasan tentang pentingnya menghadirkan sekolah Islam di lingkungan Masjid Agung Kebayoran. Salah satu tokoh yang mereka temui adalah Buya Hamka.
Saya membayangkan pertemuan itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada semangat yang sama di antara orang-orang tersebut: bagaimana membangun masyarakat melalui pendidikan. Sebab, masjid yang besar akan terasa lebih bermakna jika di sekitarnya juga tumbuh kegiatan pendidikan yang mencerdaskan anak-anak.
Kake Dimjati datang bukan membawa nama besar. Ia datang sebagai seorang guru dengan pengalaman dan kemauan untuk mengajar. Ia membawa keyakinan bahwa anak-anak harus diberi kesempatan memperoleh pendidikan yang baik. Sementara Buya Hamka merupakan salah satu tokoh yang telah lama memberikan perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan umat.
Dalam pertemuan-pertemuan dengan para tokoh masyarakat itu, gagasan sekolah semakin menemukan bentuknya. Selain Buya Hamka, terdapat pula tokoh-tokoh lain seperti Cokro Aminoto, Sarjan Daud, Badaruddin, dan tokoh masyarakat lainnya. Mereka menjadi bagian dari lingkungan sosial yang ikut memberikan warna terhadap perjalanan awal pendidikan Islam di kawasan tersebut.
Dari rangkaian pertemuan dan pembicaraan itulah kemudian lahir langkah nyata.
Pada tahun 1960, Kake Dimjati mendirikan Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran.
Sekolah tersebut tidak langsung memiliki gedung sendiri. Kegiatan belajar mengajar dimulai dari aula Masjid Agung Kebayoran. Di tempat sederhana itulah Kake Dimjati mulai mengajar. Anak-anak datang untuk mendapatkan ilmu. Mereka belajar dengan fasilitas yang tentu jauh berbeda dengan sekolah masa kini.
Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada fasilitas: semangat belajar dan ketulusan seorang guru.
Kake Dimjati mengajar dari hati. Ia tidak menunggu sekolah menjadi besar untuk mulai bekerja. Ia memulai dari apa yang tersedia. Aula masjid menjadi ruang kelas. Masjid menjadi bagian dari lingkungan pendidikan. Anak-anak menjadi murid-murid pertama yang ikut menyaksikan bagaimana sebuah lembaga pendidikan tumbuh dari bawah.
Jumlah murid semakin lama semakin bertambah. Aula masjid akhirnya tidak lagi mencukupi. Kegiatan belajar kemudian menggunakan ruangan-ruangan di sekitar Masjid Agung Kebayoran. Pertambahan jumlah murid tersebut justru menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan sekolah yang dirintis Kake Dimjati.
Ada sesuatu yang mengharukan dari perjalanan seperti ini. Sebuah sekolah yang pada awalnya mungkin hanya dipandang sebagai kegiatan sederhana ternyata perlahan-lahan mendapatkan kepercayaan masyarakat. Anak-anak semakin banyak. Orang tua semakin percaya. Guru semakin sibuk. Dan sebuah lembaga pendidikan mulai memiliki kehidupan sendiri.
Kake Dimjati terus mengajar.
Ia bukan hanya menyaksikan pertumbuhan sekolah, tetapi menjadi bagian langsung dari pertumbuhan itu. Dari nol, ia ikut membawa sekolah tersebut menjadi lembaga pendidikan yang semakin dikenal.
Perjalanan itu kemudian memasuki babak baru sekitar tahun 1970. Pada masa Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin, dibangun gedung baru di halaman Masjid Agung. Gedung tersebut menghadap Jalan Sisingamangaraja. Kehadiran gedung baru menjadi tonggak penting dalam perkembangan sekolah.
Sekolah yang sebelumnya bermula dari Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran kemudian dikenal sebagai Sekolah Islam Teladan Al-Azhar.
Di sinilah letak bagian sejarah yang menurut saya sangat menarik untuk terus diceritakan.
Sebelum Al-Azhar dikenal luas seperti sekarang, telah ada sebuah sekolah yang dirintis dari lingkungan Masjid Agung Kebayoran. Sekolah itu lahir dari kepedulian masyarakat, dukungan para tokoh, dan kerja keras seorang guru bernama Kake Dimjati.
Dan di balik kisah tersebut, ada pertemuan dengan Buya Hamka.
Pertemuan itu mungkin berlangsung sederhana. Tidak ada kamera seperti sekarang. Tidak ada media sosial yang membuat setiap peristiwa langsung terdokumentasi. Tidak ada video yang bisa diputar kembali kapan saja. Yang tersisa adalah ingatan, cerita keluarga, dan jejak sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Justru karena itulah kisah tersebut terasa istimewa.
Bayangkan jika pada masa itu seseorang berkata kepada Kake Dimjati, "Sekolah yang sedang dirintis ini suatu hari akan berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dikenal luas."
Mungkin Kake Dimjati hanya tersenyum.
Sebab seorang guru biasanya tidak berpikir terlalu jauh tentang nama besar. Ia berpikir tentang murid yang ada di hadapannya. Ia memikirkan bagaimana anak-anak itu bisa belajar dengan baik. Ia memikirkan bagaimana mereka menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.
Begitulah Kake Dimjati menjalani pengabdiannya.
Bertahun-tahun ia tetap mengajar. Bahkan ketika sekolah sudah semakin berkembang, masyarakat justru semakin banyak yang datang kepadanya untuk belajar secara privat. Permintaan untuk memberikan pelajaran tambahan semakin banyak sehingga waktunya semakin tersita.
Di sisi lain, kesehatan Kake Dimjati mulai terganggu. Tubuh yang selama bertahun-tahun digunakan untuk mengajar akhirnya meminta istirahat. Ia kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan mengajar di sekolah tersebut.
Keputusan itu tentu tidak mudah. Bagaimana mungkin seorang guru yang sejak awal ikut membangun sekolah kemudian harus meninggalkan ruang kelas yang telah menjadi bagian dari kehidupannya?
Namun, pengabdian seorang guru tidak pernah berhenti hanya karena ia tidak lagi berdiri di depan kelas.
Ilmu yang pernah diberikan tetap hidup dalam diri murid-muridnya. Nilai yang ditanamkan tetap tumbuh. Sekolah yang pernah dibangunnya terus berkembang. Dan cerita tentang perjuangannya tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bagi saya, pertemuan Kake Dimjati dengan Buya Hamka menjadi salah satu bagian paling menarik dari perjalanan ini. Bukan karena ingin membesar-besarkan sebuah pertemuan, tetapi karena peristiwa itu menggambarkan semangat zaman ketika pendidikan Islam dibangun melalui gotong royong para tokoh dan masyarakat.
Ada ulama.
Ada guru.
Ada tokoh masyarakat.
Ada panitia pembangunan masjid.
Ada orang tua.
Dan ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan.
Semua unsur tersebut bertemu dalam satu cita-cita: membangun manusia melalui pendidikan.
Hari ini, ketika kita melihat sekolah-sekolah besar berdiri dengan gedung yang megah, ruang kelas yang nyaman, laboratorium, perpustakaan, komputer, internet, dan berbagai fasilitas modern, kita sering lupa bahwa semua itu mempunyai sejarah panjang. Ada generasi sebelumnya yang memulai dengan fasilitas yang sangat sederhana.
Kake Dimjati adalah bagian dari generasi yang memulai itu.
Ia tidak menunggu semuanya sempurna. Ia mulai dari aula masjid.
Ia tidak menunggu jumlah murid banyak. Ia mulai dari murid yang ada.
Ia tidak menunggu gedung sekolah berdiri. Ia mengajar di tempat yang tersedia.
Dan ia tidak menunggu namanya dikenal. Ia bekerja karena percaya bahwa pendidikan harus diberikan kepada anak-anak.
Mungkin itulah makna terdalam dari kisah seorang guru.
Guru tidak selalu menikmati hasil dari apa yang ditanamnya. Kadang-kadang ia hanya menanam, menyiram, merawat, lalu generasi berikutnyalah yang menikmati teduhnya pohon.
Kake Dimjati telah menanam pohon itu sejak tahun 1960.
Pertemuan dengan Buya Hamka menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang tersebut. Dari pertemuan dengan para tokoh masyarakat, lahirlah sebuah gagasan. Dari gagasan lahirlah sekolah. Dari sekolah lahirlah generasi. Dan dari generasi itulah jejak pengabdian Kake Dimjati terus hidup.
Karena itu, ketika saya mendengar kembali kisah tersebut, saya tidak hanya melihatnya sebagai cerita tentang seorang kakek.
Saya melihatnya sebagai sebuah warisan.
Warisan tentang keberanian memulai.
Warisan tentang ketekunan seorang guru.
Warisan tentang pentingnya pendidikan.
Dan warisan tentang bagaimana sebuah perubahan besar terkadang bermula dari sebuah ruangan sederhana di sebuah masjid.
Kake Dimjati mungkin telah lama meninggalkan ruang kelas, tetapi ruang kelas tidak pernah benar-benar meninggalkan dirinya.
Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika orang berbicara tentang sejarah pendidikan Islam di Jakarta. Namun, bagi keluarga dan mereka yang mengetahui perjalanan awalnya, ada sebuah kebanggaan yang tidak ternilai: pernah ada seorang guru yang memulai dari nol, mengajar di aula Masjid Agung Kebayoran, bertemu dengan para tokoh masyarakat termasuk Buya Hamka, dan ikut menanam benih yang kemudian tumbuh menjadi sebuah lembaga pendidikan besar.
Itulah kisah yang layak diwariskan.
Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung pendidikan, tetapi juga bangsa yang mau mengingat orang-orang yang dahulu meletakkan batu pertamanya.
Dan bagi keluarga kami, salah satu orang yang patut dikenang adalah Kake Dimjati—seorang guru, perintis, dan pejuang pendidikan yang memulai langkahnya dari aula Masjid Agung Kebayoran.
Sebuah langkah sederhana.
Sebuah mimpi besar.
Dan sebuah warisan yang terus hidup hingga hari ini.