Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 14 Juli 2026

pb pgri: Saatnya Mereformasi Dana BOS

Saatnya Mereformasi Dana BOS demi Masa Depan Pendidikan Indonesia

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Pendidikan merupakan investasi terbesar sebuah bangsa. Namun, investasi tersebut tidak akan menghasilkan kualitas yang diharapkan apabila sekolah-sekolah masih terus berjuang memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari. Di balik semangat guru mengajar dan siswa belajar, terdapat persoalan mendasar yang selama ini belum terselesaikan, yaitu ketidakcukupan pendanaan operasional sekolah.

Pada tanggal 13 Juli 2026, Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menyampaikan Policy Brief kepada DPR RI yang berisi usulan reformulasi kebijakan Biaya Operasional Sekolah (BOS). Dokumen tersebut lahir dari berbagai aspirasi guru, kepala sekolah, dan pengelola pendidikan di seluruh Indonesia yang selama bertahun-tahun menghadapi kenyataan bahwa dana BOS belum mampu memenuhi kebutuhan riil sekolah.

Selama ini, perhitungan dana BOS masih menggunakan pendekatan per jumlah peserta didik. Semakin banyak siswa, semakin besar dana yang diterima sekolah. Sekilas, sistem tersebut tampak adil. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini menyimpan kelemahan yang cukup serius.

Sekolah tidak hanya memiliki biaya yang bergantung pada jumlah siswa, tetapi juga memiliki biaya tetap yang harus dibayarkan setiap bulan. Listrik, air, internet, perawatan gedung, kebersihan, keamanan, hingga pengelolaan berbagai aplikasi pemerintah seperti ARKAS dan Dapodik tetap harus berjalan meskipun jumlah siswa sedikit. Karena itulah, sekolah kecil maupun sekolah di daerah terpencil sering mengalami kesulitan keuangan yang jauh lebih besar dibanding sekolah besar di perkotaan.

Perubahan dunia pendidikan juga telah membawa konsekuensi baru. Kini sekolah wajib menyediakan jaringan internet yang memadai, perangkat komputer untuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), pemeliharaan perangkat TIK, serta berbagai kebutuhan digital lainnya. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sayangnya, komponen tersebut belum sepenuhnya terakomodasi dalam formula BOS yang berlaku saat ini.

PB PGRI menilai bahwa dana BOS Reguler di banyak daerah hanya mampu menutup sekitar 50 hingga 65 persen kebutuhan operasional sekolah. Bahkan di wilayah pinggiran dan daerah 3T, kemampuan tersebut dapat turun hingga di bawah 40 persen. Akibatnya, tidak sedikit kepala sekolah yang harus menunda pembayaran listrik, menggunakan dana pribadi, meminjam ke koperasi, atau berharap pada bantuan komite sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Kondisi seperti ini tentu tidak sehat bagi sistem pendidikan nasional.

Persoalan lainnya adalah ketimpangan BOS Daerah (BOSDA). Daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi mampu memberikan tambahan dana yang cukup besar kepada sekolah. Sebaliknya, banyak pemerintah daerah yang memiliki kemampuan fiskal rendah tidak mampu memberikan BOSDA sama sekali. Akibatnya, kesenjangan mutu pendidikan antardaerah semakin melebar.

Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan bahwa sekolah swasta perlu mendapatkan perhatian yang sama. Selama ini sekolah swasta telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan bagi masyarakat. Banyak sekolah swasta yang melayani peserta didik dari keluarga kurang mampu. Oleh karena itu, dukungan operasional terhadap sekolah swasta perlu diberikan secara lebih adil agar tidak terjadi diskriminasi dalam pelayanan pendidikan.

Kajian yang dilakukan PB PGRI memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara dana BOS yang diterima dengan kebutuhan riil sekolah. Pada jenjang SMP, misalnya, kebutuhan operasional diperkirakan mencapai sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4,2 juta per siswa per tahun. Sementara rata-rata dana BOS yang tersedia masih jauh di bawah kebutuhan tersebut. Kekurangan terbesar terjadi pada pembiayaan laboratorium komputer, praktikum IPA, pemeliharaan perangkat digital, serta jaringan internet yang kini menjadi kebutuhan utama pembelajaran.

Melihat kondisi tersebut, PB PGRI mengusulkan perubahan besar terhadap formula pembiayaan pendidikan nasional. Formula baru yang disebut sebagai formula hibrida menggabungkan tiga komponen utama.

Pertama adalah Base Funding, yaitu dana dasar yang diterima setiap sekolah tanpa melihat jumlah peserta didik. Dana ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional tetap seperti listrik, air, internet, pemeliharaan gedung, dan tenaga administrasi.

Kedua adalah Variable Funding, yaitu dana berdasarkan jumlah siswa seperti yang selama ini telah diterapkan. Dana ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan langsung peserta didik seperti buku, alat tulis, dan kegiatan pembelajaran.

Ketiga adalah Geographical Premium, yaitu tambahan dana berdasarkan kondisi geografis daerah. Sekolah yang berada di wilayah kepulauan, pegunungan, perbatasan, dan daerah 3T memperoleh tambahan anggaran karena biaya operasional mereka jauh lebih tinggi dibanding sekolah di kota besar.

Selain reformulasi BOS, PB PGRI juga meminta DPR RI mendorong pemerintah daerah agar mengalokasikan BOSDA secara lebih jelas melalui aturan yang mewajibkan sebagian anggaran pendidikan daerah digunakan sebagai dana pendamping BOS. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketimpangan antarwilayah sekaligus memberikan kepastian hukum bagi pemerintah daerah agar tidak khawatir terjadi tumpang tindih pendanaan.

Usulan lain yang tidak kalah penting adalah pembukaan formasi ASN atau PPPK khusus bagi Tenaga Administrasi Sekolah. Selama ini banyak guru harus merangkap mengelola administrasi keuangan dan aplikasi digital sekolah sehingga waktu mereka untuk mengajar menjadi berkurang. Dengan adanya tenaga administrasi yang profesional, guru dapat kembali fokus pada tugas utamanya, yaitu mendidik peserta didik.

Sebagai seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun di dunia pendidikan, saya melihat bahwa usulan PB PGRI ini bukan sekadar permintaan tambahan anggaran. Yang diperjuangkan adalah keadilan bagi seluruh sekolah di Indonesia agar memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan layanan pendidikan terbaik kepada anak-anak bangsa.

Dana BOS sejatinya bukan hanya angka dalam dokumen anggaran negara. Dana BOS adalah napas bagi sekolah, harapan bagi guru, dan jembatan menuju masa depan generasi Indonesia. Jika sistem pendanaannya mampu mengikuti perubahan zaman, maka sekolah akan lebih fokus meningkatkan kualitas pembelajaran daripada sibuk mencari cara menutupi kekurangan biaya operasional.

Sudah saatnya kebijakan pendanaan pendidikan bergerak mengikuti kebutuhan nyata di lapangan. Reformulasi BOS sebagaimana diusulkan PB PGRI menjadi momentum penting untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adil, lebih berkualitas, dan lebih berpihak kepada seluruh peserta didik di Indonesia. Sebab, ketika sekolah memperoleh dukungan yang memadai, guru dapat mengajar dengan tenang, siswa belajar dengan nyaman, dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa akan semakin mudah diwujudkan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ketika Nikmat Dicabut Allah

Ketika Nikmat Itu Dicabut, Barulah Kita Tersadar

Kisah Omjay tentang Rasa Syukur yang Datang Setelah Ujian

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam Omjay. Isinya sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia sering kali baru menyadari berharganya sebuah nikmat ketika nikmat itu telah diambil oleh Allah SWT.

Kalimat pertama langsung mengetuk hati Omjay.

"Jika Allah tarik nikmat kaki, barulah kita rajin ke masjid."

Omjay terdiam cukup lama. Pikiran langsung melayang pada pengalaman hidup beberapa waktu lalu ketika kesehatan sempat menurun. Saat tubuh masih sehat, berjalan menuju masjid terasa begitu mudah. Bahkan kadang-kadang langkah kaki justru diarahkan ke tempat-tempat yang tidak terlalu penting dibandingkan rumah Allah.

Namun ketika tubuh melemah, berjalan beberapa langkah saja terasa berat. Saat itulah muncul kerinduan yang luar biasa untuk kembali melangkahkan kaki menuju masjid. Betapa benarnya, nikmat berjalan adalah karunia yang sering terlupakan.

Pesan berikutnya tidak kalah menyentuh.

"Jika Allah tarik nikmat tangan, barulah kita mau berwudhu dan berdoa."

Omjay kembali mengingat masa ketika tangan terasa lemah akibat gangguan kesehatan. Aktivitas sederhana seperti mengancingkan baju atau memegang gelas saja membutuhkan perjuangan. Pada saat itulah Omjay benar-benar memahami bahwa tangan yang sehat bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah nikmat yang luar biasa.

Selama ini tangan digunakan untuk mengetik artikel, menulis buku, berjabat tangan dengan sahabat, memeluk keluarga, mengusap kepala cucu tercinta, hingga mengangkat kedua telapak tangan untuk berdoa kepada Allah SWT. Semua itu terasa begitu mudah ketika tubuh sehat.

Padahal tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Lalu Omjay membaca kalimat berikutnya.

"Jika Allah tarik nikmat mata, barulah kita mau merenung bukti-bukti kebesaran-Nya."

Sebagai seorang guru dan penulis, mata adalah sahabat setia Omjay. Mata membantu membaca ratusan buku, meneliti berbagai referensi, memeriksa tugas siswa, menulis ribuan artikel, dan menikmati indahnya ciptaan Allah.

Tetapi pernah suatu ketika mata terasa kabur karena kelelahan dan kadar gula darah yang meningkat. Saat itulah muncul rasa takut kehilangan nikmat melihat.

Bagaimana mungkin seorang penulis dapat terus berkarya tanpa kemampuan membaca?

Bagaimana seorang guru dapat mengajar tanpa melihat wajah murid-muridnya?

Sejak saat itu Omjay semakin memahami bahwa setiap kali mata terbuka di pagi hari, sesungguhnya Allah sedang menghadiahkan nikmat yang luar biasa besar.

Kemudian pesan itu berlanjut.

"Jika Allah tarik nikmat telinga, barulah kita mau mendengar ceramah dan nasihat agama."

Betapa sering telinga kita dipenuhi berbagai informasi yang belum tentu bermanfaat. Kita rela berjam-jam mendengarkan hiburan, tetapi terkadang merasa berat meluangkan beberapa menit untuk mendengarkan kajian agama atau membaca Al-Qur'an.

Padahal telinga adalah pintu ilmu.

Melalui telinga kita belajar.

Melalui telinga kita menerima nasihat.

Melalui telinga kita memperbaiki diri.

Terakhir, Omjay membaca kalimat yang sangat menohok.

"Jika Allah tarik nikmat mulut, barulah kita mau berkata yang baik dan mengaji."

Betapa banyak kata yang keluar tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Terkadang mulut lebih cepat berbicara daripada hati yang bijaksana. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan agar berkata baik atau lebih baik diam.

Mulut juga merupakan nikmat besar yang memungkinkan kita membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, mengajar, memberi semangat kepada orang lain, dan menyampaikan ilmu yang bermanfaat.

Sebagai guru, Omjay menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kelas bisa menjadi penyemangat atau justru melemahkan semangat belajar siswa. Oleh karena itu, menjaga lisan adalah bagian dari ibadah yang harus terus dilatih.

Pengalaman hidup mengajarkan Omjay bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Setelah melewati berbagai ujian kesehatan, Omjay semakin memahami arti syukur. Dulu mungkin Omjay sering terburu-buru menjalani aktivitas tanpa sempat menikmati nikmat yang telah Allah berikan.

Kini setiap pagi menjadi kesempatan untuk mengucapkan, "Alhamdulillah."

Masih bisa bangun tidur.

Masih bisa berjalan.

Masih bisa melihat.

Masih bisa mendengar.

Masih bisa menulis.

Masih bisa mengajar.

Masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Semua itu bukan hak kita, melainkan anugerah Allah SWT yang dapat diambil kapan saja sesuai kehendak-Nya.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:

"Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmat-Ku kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa syukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah", tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Bersyukur berarti menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang baik, telinga untuk mendengar ilmu, tangan untuk berbuat kebaikan, kaki untuk melangkah menuju tempat yang diridai Allah, dan lisan untuk menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati.

Sebagai Omjay yang telah mengabdi puluhan tahun menjadi guru, ada satu pelajaran yang ingin dibagikan kepada para siswa, sahabat guru, dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai. Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan. Jangan menunggu usia senja untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu musibah untuk bersyukur.

Syukur adalah cara terbaik menikmati hidup.

Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup meskipun hartanya sedikit. Orang yang bersyukur akan tetap tersenyum meskipun sedang diuji. Orang yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia karena ia menyadari bahwa setiap napas adalah hadiah dari Allah SWT.

Semoga setiap pagi yang kita jalani menjadi awal untuk memperbaiki diri. Semoga kaki kita senantiasa melangkah menuju kebaikan, tangan kita gemar menolong sesama, mata kita melihat kebesaran Allah, telinga kita mendengar nasihat yang bermanfaat, dan lisan kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik.

Mari kita menjadi hamba yang pandai bersyukur sebelum Allah mengingatkan kita melalui kehilangan. Sebab nikmat yang paling indah bukanlah yang paling besar, melainkan nikmat yang masih kita miliki hari ini dan kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya.

Tetap semangat, tetap bersyukur, dan teruslah menebarkan kebaikan. Insya Allah, hidup akan menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Senin, 13 Juli 2026

Capaian Pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran kelas 9

Capaian pembelajaran dan Tujuan Pembelajaran 

Berikut contoh Capaian Pembelajaran (CP) dan Tujuan Pembelajaran (TP) mata pelajaran Informatika dan Koding & Kecerdasan Artifisial (KKA) Kelas IX SMP yang selaras dengan Kurikulum Nasional.

Capaian Pembelajaran (CP) Informatika dan KKA Kelas IX

Pada akhir kelas IX, peserta didik diharapkan mampu:

Berpikir komputasional untuk menganalisis dan menyelesaikan masalah secara sistematis.

Merancang, membuat, menguji, dan menyempurnakan program sederhana menggunakan bahasa pemrograman visual maupun berbasis teks.

Memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan artifisial secara kreatif, produktif, etis, dan bertanggung jawab.

Mengolah, menganalisis, dan menyajikan data menggunakan perangkat digital.

Memahami jaringan komputer, internet, keamanan digital, serta perlindungan data pribadi.

Mengembangkan proyek digital yang mengintegrasikan pemrograman, data, dan AI untuk menyelesaikan masalah di lingkungan sekitar.

Menerapkan etika digital, hak cipta, dan prinsip penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Tujuan Pembelajaran (TP)

Semester Ganjil

1. Menjelaskan konsep berpikir komputasional dan menerapkannya dalam penyelesaian masalah.

2. Mengembangkan program menggunakan struktur percabangan, perulangan, variabel, dan fungsi.

3. Mendesain antarmuka aplikasi sederhana yang ramah pengguna.

4. Mengumpulkan, mengolah, dan memvisualisasikan data menggunakan aplikasi digital.

5. Menjelaskan konsep dasar kecerdasan artifisial, machine learning, dan dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.

6. Menggunakan platform AI sederhana (misalnya Teachable Machine atau AI Builder) untuk membuat model klasifikasi sederhana.

7. Menunjukkan perilaku sebagai warga digital yang beretika dan bertanggung jawab.

Semester Genap

1. Mengembangkan proyek berbasis pemrograman untuk menyelesaikan masalah nyata.

2. Mengintegrasikan AI ke dalam proyek digital sederhana.

3. Mengevaluasi hasil pengujian program dan melakukan perbaikan (debugging).

4. Menjelaskan pentingnya keamanan siber, kata sandi yang kuat, autentikasi, dan perlindungan data pribadi.

5. Berkolaborasi dalam tim menggunakan aplikasi digital untuk mengembangkan proyek.

6. Menyajikan hasil proyek secara lisan maupun digital dengan percaya diri.

7. Melakukan refleksi terhadap proses pembelajaran dan penggunaan AI secara etis.

Hasil Akhir yang Diharapkan

Di akhir kelas IX, peserta didik mampu menghasilkan proyek digital yang mengintegrasikan:

Berpikir komputasional.

Pemrograman.

Pengolahan data.

Kecerdasan Artifisial (AI).

Keamanan digital.

Kolaborasi dan komunikasi.

Proyek dapat berupa aplikasi sederhana, permainan edukatif, sistem klasifikasi berbasis AI, atau solusi digital untuk membantu memecahkan permasalahan di sekolah maupun masyarakat.

Kerangka CP dan TP ini dapat dikembangkan menjadi Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) kelas IX selama satu tahun, lengkap dengan materi, asesmen, dan proyek pembelajaran berbasis deep learning sesuai kebijakan Kemendikdasmen.

Salam blogget persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay di Hari Pertama Masuk Sekolah

Hari Pertama Sekolah, Hari Menanam Harapan

Kisah Omjay Menyambut Tahun Ajaran 2026–2027 di SMP Labschool Jakarta

Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.)

Bismillahirrahmanirrahim.

Mentari pagi seakan tersenyum lebih cerah ketika saya melangkahkan kaki menuju SMP Labschool Jakarta pada hari pertama masuk sekolah tahun ajaran 2026–2027. Udara pagi masih terasa sejuk, namun semangat yang memenuhi lingkungan sekolah jauh lebih hangat. Dari kejauhan tampak para guru mulai berdatangan dengan wajah ceria. Petugas keamanan menyambut setiap tamu dengan ramah, sementara para siswa mulai memenuhi halaman sekolah bersama orang tua mereka.
Bagi sebagian orang, hari pertama sekolah hanyalah awal kalender pendidikan. Namun bagi saya, hari pertama sekolah adalah awal perjalanan panjang membangun karakter, menumbuhkan mimpi, dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada generasi muda Indonesia.

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya belajar bahwa pelajaran paling penting bukan hanya yang tertulis di buku, melainkan yang tertanam di hati para siswa. Hari pertama menjadi momentum emas untuk membangun hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik.

Sejak pukul 06.45 pagi seluruh warga sekolah berkumpul di Lapangan Utama Labschool Jakarta untuk mengikuti apel bersama. Suasana begitu khidmat sekaligus penuh semangat. Seragam baru yang dikenakan para siswa tampak begitu rapi. Di wajah mereka terpancar rasa penasaran, bahagia, sekaligus sedikit gugup. Saya teringat ketika dahulu menjadi siswa baru. Perasaan itu ternyata tidak pernah berubah, meskipun zaman terus berganti.

Usai apel bersama, seluruh guru dan siswa mengikuti briefing awal tahun di aula sekolah. Berbagai informasi penting disampaikan agar seluruh warga sekolah memiliki visi yang sama dalam menjalani tahun ajaran baru. Saya melihat para siswa mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka mulai memahami bahwa sekolah bukan hanya tempat belajar mata pelajaran, tetapi juga tempat membangun karakter, melatih kepemimpinan, bekerja sama, serta belajar menghargai sesama.
Kegiatan berikutnya adalah perkenalan di kelas masing-masing. Inilah saat yang paling saya sukai. Saya selalu memulai dengan memperkenalkan diri bukan sebagai guru yang harus ditakuti, melainkan sebagai sahabat belajar. Saya mengatakan kepada mereka bahwa di kelas ini kita akan belajar bersama, saling menghormati, saling membantu, dan tidak takut melakukan kesalahan selama mau belajar memperbaikinya.

Saya meminta setiap siswa memperkenalkan dirinya. Ada yang berbicara dengan penuh percaya diri, ada pula yang masih malu-malu. Semua saya sambut dengan senyuman dan tepuk tangan. Saya ingin mereka merasakan bahwa kelas adalah rumah kedua yang aman untuk bertumbuh.

Setelah saling mengenal, kami menyusun komitmen kelas bersama. Saya tidak ingin aturan dibuat sepihak oleh guru. Saya mengajak siswa berdiskusi tentang bagaimana menciptakan kelas yang nyaman, disiplin, jujur, dan menyenangkan. Ketika aturan lahir dari kesepakatan bersama, siswa akan lebih bertanggung jawab untuk menjalankannya.

Usai waktu istirahat, kegiatan pembelajaran dimulai dengan pengenalan Capaian Pembelajaran (CP), Tujuan Pembelajaran (TP), dan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP). Saya menjelaskan kepada siswa bahwa setiap materi yang dipelajari memiliki tujuan yang jelas. Mereka bukan sekadar mengejar nilai, tetapi sedang mempersiapkan diri menghadapi kehidupan di masa depan.
Sebagai guru Informatika, saya juga menyampaikan bahwa perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial (AI), dan dunia digital harus disikapi dengan bijaksana. Teknologi dapat membantu manusia belajar lebih cepat, tetapi karakter yang baik tetap menjadi fondasi utama. Kepintaran tanpa kejujuran akan kehilangan maknanya.

Hari pertama tahun ajaran ini terasa semakin istimewa karena sekolah kami mendapat kehormatan menerima kunjungan Ibu Dr. Maulani Mega Hapsari, S.IP., M.A., Direktur Sekolah Menengah Pertama Kemendikdasmen. Kehadiran beliau menjadi penyemangat bagi seluruh warga SMP Labschool Jakarta.

Bagi kami para guru, kunjungan tersebut bukan sekadar agenda seremonial. Ini menjadi bukti bahwa pemerintah terus memberikan perhatian terhadap peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Kami berharap kunjungan ini semakin memperkuat kolaborasi antara sekolah dan pemerintah dalam menghadirkan pembelajaran yang berkualitas, menyenangkan, dan berpusat pada peserta didik.

Saya membayangkan para siswa akan memperoleh pengalaman berharga karena dapat melihat langsung sosok pemimpin pendidikan nasional yang memiliki perhatian besar terhadap kemajuan sekolah menengah pertama di Indonesia. Semoga kehadiran beliau mampu menginspirasi anak-anak untuk terus belajar, berprestasi, dan memiliki cita-cita yang tinggi.

Di sela-sela kesibukan hari pertama, saya sempat mengamati wajah-wajah para guru. Saya melihat semangat yang sama seperti yang saya rasakan ketika pertama kali mengajar puluhan tahun lalu. Profesi guru memang penuh tantangan. Namun setiap senyum siswa selalu menjadi energi baru yang tidak pernah habis.

Saya selalu percaya bahwa masa depan bangsa sedang duduk di bangku-bangku kelas hari ini. Mereka kelak akan menjadi dokter, guru, ilmuwan, pengusaha, insinyur, pemimpin, bahkan mungkin Menteri Pendidikan di masa depan. Tugas guru adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik yang telah Allah titipkan.

Saya pun mengingatkan para siswa bahwa kesuksesan tidak datang secara instan. Kesuksesan dibangun dari disiplin, kejujuran, kerja keras, doa, dan kemauan untuk terus belajar. Hari pertama sekolah hanyalah langkah awal. Masih ada perjalanan panjang yang harus dilalui dengan penuh semangat.

Sebagai Omjay, saya selalu membawa pesan sederhana kepada setiap siswa.

"Jangan takut bermimpi besar. Jangan malu bertanya. Jangan menyerah ketika gagal. Karena setiap orang hebat pernah menjadi pemula."

Pesan itu saya sampaikan bukan sekadar kata-kata motivasi. Saya mengalaminya sendiri selama perjalanan hidup sebagai guru. Saya pernah gagal, pernah jatuh, pernah lelah. Namun saya terus belajar, terus menulis, terus berbagi, hingga akhirnya Allah mempertemukan saya dengan begitu banyak sahabat dan kesempatan yang luar biasa.

Hari pertama sekolah juga mengingatkan saya bahwa pendidikan adalah investasi jangka panjang. Hasilnya mungkin tidak langsung terlihat hari ini, tetapi suatu saat nanti kita akan melihat para siswa tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.

Menjelang pulang sekolah, saya melihat para siswa berjalan keluar gerbang dengan wajah yang lebih ceria dibanding saat mereka datang pagi hari. Mereka sudah mulai mengenal teman-teman baru, mengenal guru-guru mereka, dan mulai merasa bahwa SMP Labschool Jakarta adalah rumah kedua yang akan menemani perjalanan belajar mereka selama tiga tahun ke depan.

Saya pun menengadah sejenak sambil mengucapkan syukur kepada Allah SWT.

"Ya Allah, bimbinglah kami menjadi guru yang mampu mendidik dengan ilmu, membimbing dengan kasih sayang, memberi teladan dengan akhlak, dan menginspirasi dengan karya."

Selamat datang para siswa hebat di SMP Labschool Jakarta.

Mari kita songsong tahun ajaran 2026–2027 dengan hati yang penuh syukur, pikiran yang terbuka, dan semangat untuk terus belajar. Semoga setiap langkah yang kita ayunkan di sekolah ini menjadi bagian dari perjalanan menuju masa depan yang gemilang.

Selamat belajar, selamat bertumbuh, dan selamat mengukir prestasi.

Salam Pemuda Juara!

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 12 Juli 2026

Apa yang Harus Dipersiapkan Guru Di Hari Pertama Sekolah?

Apa yang Harus Disiapkan Seorang Guru di Hari Pertama Masuk Sekolah?

Refleksi Omjay setelah 34 Tahun Menjadi Guru

Oleh Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Hari pertama masuk sekolah selalu memiliki aroma yang berbeda. Setelah libur panjang, lorong-lorong sekolah kembali dipenuhi langkah kaki, tawa anak-anak, dan wajah-wajah baru yang menyimpan harapan. Bagi sebagian orang, hari pertama hanyalah awal kalender akademik. Namun bagi saya, setelah 34 tahun menjadi guru di SMP Labschool Jakarta, hari pertama adalah kesempatan emas untuk menanam benih kepercayaan.

Saya masih ingat hari pertama mengajar puluhan tahun lalu. Malam sebelumnya saya menyiapkan RPP, daftar hadir, dan spidol warna-warni. Saya merasa semuanya sudah lengkap. Ternyata saya keliru. Keesokan harinya, ketika berdiri di depan kelas, saya melihat mata-mata murid yang canggung, penasaran, bahkan ada yang tampak takut. Saat itulah saya sadar: yang paling penting dipersiapkan guru bukan hanya administrasi, melainkan hati untuk menyambut murid.

Sejak hari itu, saya selalu memiliki daftar persiapan pribadi menjelang tahun ajaran baru.

---

1. Menyiapkan Hati yang Gembira

Anak-anak dapat merasakan suasana hati gurunya. Jika guru datang dengan wajah tegang, kelas pun ikut kaku. Karena itu, saya membiasakan tidur cukup, berdoa, dan datang lebih awal ke sekolah.

Saya sering berkata pada diri sendiri:

«Hari ini mungkin biasa bagi saya, tetapi bisa menjadi hari yang sangat berkesan bagi seorang murid.»

Kalimat sederhana itu membuat saya lebih sabar dan lebih hangat dalam menyapa.

---

2. Datang Lebih Awal dan Mengenali Lingkungan

Selama 34 tahun mengajar, saya hampir selalu datang sebelum bel berbunyi pada hari pertama. Ada banyak manfaatnya:

- Mengecek ruang kelas.
- Memastikan LCD, komputer, dan internet berfungsi.
- Menata tempat duduk agar nyaman.
- Menyapa petugas sekolah dan rekan guru.
- Menyambut murid di depan kelas.

Sering kali, sapaan pertama seperti “Selamat datang, Nak!” mampu mengurangi kegugupan murid baru.

---

3. Mengenal Nama Murid Secepat Mungkin

Dari pengalaman saya, mendengar namanya disebut dengan benar membuat murid merasa dihargai.

Saya biasanya:

- Membaca daftar siswa sebelum masuk kelas.
- Meminta setiap murid memperkenalkan diri.
- Menuliskan nama panggilan yang mereka sukai.
- Mengaitkan nama dengan ciri atau hobi tertentu agar mudah diingat.

Mungkin saya belum hafal semuanya pada hari pertama, tetapi usaha kecil itu sangat berarti bagi mereka.

---

4. Menyiapkan Perangkat Mengajar Secukupnya

Guru tetap perlu siap secara profesional. Yang biasanya saya bawa:

- Jadwal pelajaran.
- Daftar hadir siswa.
- Modul atau bahan ajar minggu pertama.
- Spidol dan alat tulis cadangan.
- Presentasi singkat pengenalan mata pelajaran.
- Rencana kegiatan perkenalan.

Namun saya belajar bahwa minggu pertama tidak harus dipenuhi materi berat. Yang lebih penting adalah membangun hubungan dan kesiapan belajar.

---

5. Menjelaskan Harapan dengan Bahasa Positif

Dulu saya membuka kelas dengan daftar larangan. Sekarang saya lebih suka mengatakan:

- Mari saling menghormati.
- Mari berani bertanya.
- Mari mencoba sebelum menyerah.
- Mari menjaga kelas tetap nyaman.

Pendekatan positif membuat suasana kelas lebih bersahabat.

---

6. Mendengarkan Murid

Pada hari pertama, saya selalu menyediakan waktu bertanya:

- Apa yang paling kalian sukai?
- Apa yang membuat kalian gugup?
- Apa harapan kalian tahun ini?

Jawaban mereka sering mengejutkan. Ada yang ingin punya teman baru, ada yang takut pelajaran sulit, ada yang ingin lebih percaya diri berbicara di depan kelas. Dari sinilah guru mulai memahami kebutuhan murid.

---

7. Menyiapkan Aktivitas yang Menyenangkan

Sebagai guru Informatika, saya kerap mengajak murid melakukan permainan sederhana:

- Tebak fakta unik tentang diri sendiri.
- Menuliskan cita-cita di secarik kertas.
- Membuat kartu identitas digital sederhana.
- Berdiskusi tentang teknologi yang mereka sukai.

Kelas langsung lebih hidup, dan saya mendapatkan banyak informasi tentang karakter mereka.

---

8. Berkolaborasi dengan Rekan Guru dan Orang Tua

Hari pertama bukan perjuangan sendirian. Saya selalu berusaha:

- Berkoordinasi dengan wali kelas.
- Mengetahui informasi penting tentang siswa.
- Menyapa orang tua jika ada kesempatan.
- Menjaga komunikasi yang baik sejak awal.

Ketika guru, sekolah, dan orang tua berjalan bersama, murid merasa lebih aman.

---

9. Menjadi Teladan

Murid lebih banyak melihat daripada mendengar. Karena itu saya berusaha:

- Datang tepat waktu.
- Berpakaian rapi.
- Mengucapkan salam.
- Mendengarkan saat murid berbicara.
- Mengakui jika melakukan kesalahan.

Keteladanan kecil setiap hari jauh lebih kuat daripada ceramah panjang.

---

10. Menyiapkan Doa dan Harapan

Menjelang masuk kelas pertama, saya biasanya berdoa dalam hati:

«Ya Allah, jadikanlah hari ini bermanfaat. Mudahkan saya mendidik dengan sabar, dan mudahkan anak-anak belajar dengan gembira.»

Doa itu menenangkan saya. Setelah 34 tahun mengajar, saya semakin yakin bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi mengantarkan manusia muda bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

---

Checklist Singkat Hari Pertama Guru

Sebelum berangkat

- Bangun lebih awal dan berdoa.
- Siapkan jadwal, daftar hadir, dan bahan ajar.
- Periksa laptop, charger, dan alat tulis.

Setiba di sekolah

- Datang lebih awal.
- Cek ruang dan perangkat pembelajaran.
- Sapa rekan guru dan tenaga kependidikan.

Saat di kelas

- Sambut murid dengan ramah.
- Perkenalkan diri secara singkat.
- Kenali nama dan harapan murid.
- Jelaskan aturan kelas secara positif.
- Lakukan aktivitas perkenalan yang menyenangkan.

Setelah kelas selesai

- Catat nama dan karakter murid yang sudah dikenali.
- Evaluasi kegiatan hari pertama.
- Siapkan tindak lanjut untuk pertemuan berikutnya.

---

Penutup

Jika ada satu pelajaran paling berharga dari 34 tahun perjalanan saya sebagai guru, maka pelajaran itu adalah ini:

Hari pertama sekolah bukan tentang seberapa banyak materi yang berhasil diajarkan, melainkan seberapa banyak hati murid yang berhasil disentuh.

Ketika murid merasa diterima, dihargai, dan aman, proses belajar akan mengalir dengan sendirinya. Maka, siapkanlah perangkat mengajar, rapikan administrasi, dan pastikan teknologi siap digunakan. Tetapi jangan lupa membawa bekal terpenting seorang guru: senyum yang tulus, telinga yang mau mendengar, dan hati yang siap membersamai setiap anak belajar.

Selamat memasuki tahun ajaran baru. Semoga setiap langkah guru menjadi cahaya yang menerangi masa depan anak-anak Indonesia.

Omjay – Guru Blogger Indonesia
“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 11 Juli 2026

Belajar Berkebun di Rumah oma Bersama Mang Sukirno dari Kuningan

Belajar Berkebun di Rumah Oma Bersama Mang Sukirno dari Kuningan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)

Bismillahirrahmanirrahim.

Pagi itu udara terasa begitu segar. Matahari baru saja menyapa bumi dengan sinarnya yang hangat. Setelah beberapa hari terakhir disibukkan dengan aktivitas mengajar, menulis, dan berbagai kegiatan organisasi, hari itu saya memilih menikmati suasana rumah dengan cara yang berbeda. Saya ingin belajar berkebun.

Sudah lama sebenarnya saya memiliki keinginan menanam sayuran sendiri di halaman rumah. Selain sebagai hobi baru, saya juga berharap dapat menikmati sayuran segar hasil tangan sendiri. Apalagi setelah mengalami berbagai ujian kesehatan, saya semakin menyadari pentingnya mengonsumsi makanan sehat setiap hari.

Hari itu saya memulai langkah kecil dengan menanam bayam unggul.

Sebelum mulai bekerja, saya mengangkat kedua tangan sambil berdoa.

"Bismillah. Ya Allah, semoga tanaman ini tumbuh subur, membawa keberkahan, dan menjadi pengingat bahwa setiap usaha yang baik akan Engkau tumbuhkan pada waktunya."

Saya tidak sendiri. Ada seseorang yang dengan sabar membimbing saya, yaitu Mang Sukirno, sahabat yang berasal dari Kuningan, Jawa Barat. Beliau sudah lama terbiasa bercocok tanam sehingga banyak ilmu praktis yang saya pelajari darinya.

"Pak Omjay, tanahnya jangan terlalu padat. Benih bayam itu kecil, jadi cukup ditabur tipis saja," katanya sambil tersenyum.

Saya mengikuti setiap arahan beliau. Mulai dari menggemburkan tanah, membersihkan rumput liar, mencampurkan pupuk organik, hingga menaburkan benih bayam secara merata. Ternyata berkebun tidak sesederhana yang saya bayangkan. Ada teknik, ada ketelitian, dan tentu saja ada kesabaran.

Mang Sukirno berkali-kali mengingatkan bahwa tanaman tidak bisa dipaksa tumbuh.

"Yang penting dirawat setiap hari. Disiram secukupnya, jangan berlebihan. Insya Allah nanti tumbuh sendiri."

Kalimat sederhana itu langsung mengingatkan saya pada dunia pendidikan.

Bukankah mendidik anak juga demikian?

Guru tidak bisa memaksa murid menjadi pintar dalam semalam. Orang tua pun tidak dapat memaksa anak menjadi dewasa hanya dengan sekali nasihat. Semua membutuhkan proses, perhatian, kasih sayang, dan doa yang tidak pernah putus.

Benih bayam yang saya taburkan pagi itu seolah menjadi simbol harapan. Hari ini mungkin belum terlihat hasilnya. Besok pun mungkin belum tampak perubahan. Namun jika dirawat dengan tekun, beberapa minggu lagi daun-daun hijau akan mulai bermunculan.

Begitulah kehidupan.

Setiap kebaikan yang kita tanam hari ini mungkin belum langsung kita petik hasilnya. Tetapi Allah tidak pernah menyia-nyiakan usaha hamba-Nya.

Saya teringat kebiasaan menulis setiap hari yang sudah saya lakukan bertahun-tahun. Dulu tulisan saya dibaca sedikit orang. Lama-kelamaan pembaca bertambah. Kemudian lahirlah buku-buku, komunitas menulis, pelatihan, hingga ribuan guru yang ikut belajar bersama.

Semuanya berawal dari satu benih kecil: kebiasaan menulis setiap hari.

Kini saya belajar bahwa berkebun pun memiliki filosofi yang sama.

Tanamlah yang baik.

Rawatlah dengan sabar.

Jangan bosan berdoa.

Lalu biarkan Allah yang menumbuhkannya.

Mang Sukirno juga bercerita bahwa seorang petani sejati tidak pernah marah ketika hujan datang atau matahari bersinar terik. Semua diterima sebagai bagian dari proses kehidupan.

Saya tersenyum mendengarnya.

Betapa sering manusia ingin hasil yang cepat, padahal alam mengajarkan bahwa segala sesuatu memiliki waktunya sendiri.

Sebelum mengakhiri kegiatan pagi itu, saya kembali melihat bedengan tempat benih bayam unggul telah ditanam.

Belum ada daun.

Belum ada batang.

Belum ada warna hijau.

Yang ada hanyalah keyakinan.

Keyakinan bahwa benih-benih kecil itu sedang bekerja di dalam tanah.

Demikian pula impian kita. Walaupun belum terlihat hasilnya, bukan berarti tidak sedang bertumbuh. Mungkin Allah sedang mempersiapkan waktu terbaik untuk memunculkannya.

Saya pulang ke dalam rumah dengan hati yang lebih tenang. Tangan memang sedikit kotor oleh tanah, tetapi hati terasa jauh lebih bersih.

Terima kasih, Mang Sukirno dari Kuningan, yang telah mengajarkan saya bahwa berkebun bukan sekadar menanam sayuran. Berkebun adalah belajar menghargai proses kehidupan.

Semoga bayam unggul yang kami tanam hari ini tumbuh subur, menghijau, dan kelak dapat dipanen bersama keluarga.

Lebih dari itu, semoga Allah juga menumbuhkan benih-benih kebaikan yang selama ini kita tanam dalam kehidupan.

Karena sesungguhnya, hidup adalah tentang apa yang kita tanam hari ini untuk kita petik di kemudian hari.

Bismillah... semoga bayamnya tumbuh subur. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Salam literasi, salam sehat, dan salam berkebun.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Blog https://wijayalabs.com
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia

Seandainya Omjay Tiada

Seandainya Omjay Tiada

Jejak Cinta Seorang Guru yang Tak Pernah Benar-Benar Pergi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay Guru Blogger Indonesia)
Blog https://wijayalabs.com

Suatu hari, mungkin telepon genggam banyak orang akan berdering. Sebuah kabar akan menyebar dari grup WhatsApp ke grup WhatsApp lainnya. Dari komunitas guru ke komunitas penulis. Dari ruang kelas ke ruang keluarga. Kabar itu hanya terdiri dari beberapa kalimat, tetapi mampu membuat banyak orang terdiam.

"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Omjay telah berpulang."

Seandainya hari itu benar-benar datang, mungkin banyak orang tidak akan langsung percaya. Mereka akan membuka kembali media sosial Omjay. Mereka akan membaca lagi tulisan-tulisannya. Mereka akan melihat foto-fotonya saat tersenyum bersama guru-guru dari berbagai daerah. Mereka berharap kabar itu keliru.

Namun hidup memang memiliki aturan yang tidak pernah bisa ditawar. Setiap yang bernyawa pasti akan kembali kepada Sang Pencipta. Tidak ada seorang pun yang dapat menghindarinya.

Lalu, apa yang akan tertinggal ketika Omjay tiada?

Bukan rumah yang megah. Bukan mobil mewah. Bukan pula harta yang berlimpah. Yang tertinggal hanyalah kenangan, doa, ilmu, dan tulisan yang pernah ditinggalkan.

Omjay hanyalah seorang guru biasa. Mengajar dari pagi hingga siang, lalu menulis ketika malam tiba. Ketika orang lain memilih beristirahat, Omjay memilih menyalakan laptop. Jemarinya menari di atas papan ketik, merangkai kata demi kata. Ia percaya bahwa tulisan adalah sedekah ilmu yang akan terus hidup, bahkan ketika penulisnya telah tiada.

Banyak yang bertanya mengapa Omjay begitu rajin menulis.

Jawabannya sederhana.

Karena umur manusia terbatas, tetapi tulisan dapat melintasi zaman.

Karena suara manusia suatu hari akan berhenti, tetapi tulisan akan terus berbicara kepada siapa pun yang membacanya.

Karena guru sejati bukan hanya mengajar di dalam kelas, melainkan juga mengajar melalui setiap kalimat yang ditinggalkannya.

Jika suatu hari Omjay tiada, mungkin ruang kerja kecilnya akan menjadi sunyi. Laptop yang biasa digunakan menulis akan tertutup. Kursi yang selama ini menjadi saksi perjuangan menyelesaikan artikel demi artikel akan kosong.

Namun sunyi itu tidak akan benar-benar sepi.

Di balik layar komputer itu masih tersimpan ribuan naskah. Masih ada artikel yang pernah menguatkan hati guru. Masih ada kisah yang menginspirasi siswa. Masih ada tulisan yang mengajak orang untuk tidak pernah berhenti belajar.

Setiap tulisan akan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang guru yang begitu mencintai dunia literasi.

Mungkin ada peserta KBMN yang akan mengenang bagaimana Omjay selalu menyemangati mereka.

"Jangan takut menulis."

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat sederhana itu mungkin akan terus bergema di hati banyak orang. Kalimat itu tidak hanya menjadi slogan, tetapi menjadi semangat hidup.

Ada yang akhirnya menerbitkan buku karena dorongan Omjay.

Ada yang berani membuat blog.

Ada yang kembali percaya diri setelah bertahun-tahun merasa tidak mampu menulis.

Semua itu mungkin tampak kecil.

Namun bagi orang yang merasakannya, itu adalah titik balik kehidupan.

Jika Omjay tiada, mungkin siswa-siswanya akan mengenang sosok guru yang tidak pernah lelah belajar. Guru yang selalu berkata bahwa teknologi harus menjadi sahabat, bukan musuh. Guru yang mengajarkan bahwa kecerdasan buatan hanyalah alat, sedangkan hati manusia tetap menjadi penulis terbaik.

Mungkin rekan-rekan guru akan mengenang perjuangannya memperjuangkan literasi digital, pembelajaran informatika, dan kecintaan kepada dunia pendidikan.

Banyak perjalanan telah dilalui.

Ada tawa.

Ada air mata.

Ada kegagalan.

Ada keberhasilan.

Ada saat tubuh sakit karena diabetes, tekanan darah tinggi, bahkan ketika stroke sempat menguji kehidupan. Namun Omjay tetap berusaha bangkit. Sebab ia percaya, selama masih diberi napas, masih ada kesempatan untuk berkarya.

Mungkin keluarganya akan menjadi orang yang paling merasakan kehilangan.

Istri yang selama ini menemani dalam suka dan duka.

Anak-anak yang selalu menjadi kebanggaan.

Cucu yang menjadi pelipur lara.

Mereka akan mengenang bahwa Omjay bukan manusia sempurna. Ia juga pernah lelah. Pernah sedih. Pernah kecewa. Namun ia selalu berusaha kembali tersenyum karena yakin bahwa Allah tidak akan memberikan ujian di luar kemampuan hamba-Nya.

Jika Omjay tiada, janganlah terlalu lama menangis.

Karena setiap manusia pasti memiliki waktu untuk pulang.

Yang lebih penting adalah melanjutkan semua kebaikan yang pernah dimulainya.

Teruslah membaca.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah mengajar dengan hati.

Jangan biarkan semangat itu ikut terkubur bersama jasadnya.

Biarlah semangat itu hidup dalam diri setiap guru Indonesia.

Suatu hari nanti, mungkin ada seorang guru muda yang berkata, "Saya mulai menulis karena membaca artikel Omjay."

Mungkin ada seorang siswa yang berkata, "Saya mencintai teknologi karena dulu diajarkan Omjay."

Mungkin ada seorang penulis yang berkata, "Buku pertama saya lahir karena dulu Omjay pernah menyemangati saya."

Bukankah itu adalah kebahagiaan yang luar biasa?

Sesungguhnya manusia tidak benar-benar mati ketika napasnya berhenti.

Manusia baru benar-benar mati ketika tidak ada lagi kebaikan yang dikenang.

Karena itu, selama masih diberi kesempatan hidup, mari memperbanyak amal, ilmu, dan karya yang bermanfaat.

Semoga ketika suatu hari Omjay benar-benar dipanggil Allah SWT, tidak hanya keluarga yang mendoakannya, tetapi juga ribuan murid, guru, sahabat, dan pembaca yang pernah merasakan manfaat dari ilmu dan tulisannya.

Semoga setiap artikel yang pernah ditulis menjadi cahaya di alam kubur.

Semoga setiap ilmu yang diamalkan menjadi pahala yang terus mengalir.

Semoga setiap huruf yang pernah menginspirasi menjadi saksi bahwa hidup ini tidak dijalani dengan sia-sia.

Dan semoga ketika nama Omjay disebut, orang tidak hanya berkata, "Beliau seorang guru."

Tetapi mereka berkata, "Beliau telah mengajarkan kami cara hidup yang bermanfaat bagi sesama."

Karena pada akhirnya, usia hanyalah angka.

Jabatan hanyalah titipan.

Harta hanyalah pinjaman.

Yang benar-benar abadi adalah amal saleh, ilmu yang bermanfaat, anak yang saleh, dan doa-doa tulus yang dipanjatkan oleh mereka yang pernah disentuh oleh kebaikan kita.

Maka, sebelum hari itu benar-benar tiba, marilah kita saling memaafkan, saling menguatkan, dan berlomba-lomba meninggalkan jejak kebaikan. Sebab kita tidak pernah tahu, tulisan mana yang akan menjadi penyelamat, senyuman mana yang akan menjadi penghapus dosa, dan pertolongan kecil mana yang akan menjadi sebab datangnya rahmat Allah SWT.

Seandainya Omjay tiada, jangan biarkan kisahnya berakhir. Lanjutkanlah semangatnya. Teruskanlah perjuangannya. Hidupkanlah budaya membaca dan menulis di mana pun berada.

Sebab seorang guru mungkin akan pergi, tetapi ilmu, cinta, dan keteladanannya akan tetap hidup di hati orang-orang yang pernah disentuhnya.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, umur yang penuh keberkahan, dan kesempatan untuk terus berkarya sebelum tiba saat kembali kepada-Nya. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 10 Juli 2026

Kisah Omjay: Episode Terakhir Terikat Janji

Kisah Wijaya Kusumah - omjay 
Blog https://wijayalabs.com

Episode Terakhir Terikat Janji: Janji yang Akhirnya Terpenuhi

Mentari pagi menyinari halaman rumah keluarga Kusuma. Setelah berbulan-bulan dipenuhi air mata, pengkhianatan, dan pertarungan melawan kejahatan, akhirnya semua pelaku berhasil ditangkap. Dipa yang selama ini menjadi dalang berbagai kejahatan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup setelah seluruh bukti berhasil diungkap oleh Sena, polisi yang selama ini menyamar sebagai penjual ketoprak. 

Davina datang mengunjungi Sena yang sedang berdiri di tepi danau.

"Apa semua sudah selesai?" tanya Davina.

Sena tersenyum.

"Sudah... sekarang tidak ada lagi rahasia di antara kita."

Davina menitikkan air mata. "Kalau begitu... tepati janjimu."

Sena berlutut, mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya.

"Davina Kusuma... maukah kamu menjadi istriku?"

Dengan air mata bahagia, Davina mengangguk.

"Aku mau...."

Mereka berpelukan. Tepuk tangan keluarga dan sahabat menggema. Bahkan Novan yang dahulu paling keras menentang hubungan mereka kini tersenyum bangga.

Beberapa minggu kemudian....

Masjid yang dihiasi bunga putih dipenuhi tamu undangan.

Sena mengenakan jas putih, sementara Davina tampil anggun dengan gaun pengantin muslimah berwarna putih.

Ijab kabul berlangsung khidmat.

"Saya terima nikahnya Davina Kusuma binti Novan Kusuma dengan maskawin seperangkat alat salat dan emas 25 gram dibayar tunai."

"Sah...."

Suara para saksi bergema.

Davina tak mampu menahan air mata ketika Sena mencium keningnya.

"Mulai hari ini," kata Sena pelan, "aku bukan lagi polisi yang menyamar. Aku hanya ingin menjadi suami yang menjaga dan mencintaimu seumur hidup."

Davina menggenggam tangan Sena.

"Dulu kita terikat oleh kebohongan. Sekarang kita terikat oleh cinta dan janji yang sesungguhnya."

Semua tamu berdiri memberikan tepuk tangan.

Reza akhirnya resmi bertunangan dengan Jihan. Mereka ikut berbahagia menyaksikan pernikahan sahabat mereka.

Beberapa bulan kemudian....

Sena kembali bertugas sebagai anggota kepolisian, tetapi kini setiap pulang kerja selalu disambut Davina di rumah sederhana yang mereka bangun bersama.

Di teras rumah, Davina membawa kabar bahagia.

"Mas..."

"Iya?"

"Aku hamil."

Sena terdiam beberapa saat, lalu memeluk istrinya erat.

"Terima kasih, Ya Allah...."

Kamera menyorot foto pernikahan mereka yang tergantung di ruang tamu.

Narasi penutup berbunyi:

"Setiap janji akan menemukan jalannya. Kejujuran memang sering datang terlambat, tetapi cinta yang tulus akan selalu menemukan rumahnya. Karena pada akhirnya, bukan kebohongan yang menyatukan dua hati, melainkan keberanian untuk saling percaya."

Sena dan Davina berjalan bergandengan tangan menyusuri taman sambil menikmati matahari terbenam.

Layar perlahan menghitam.

TAMAT. ❤️

Jalan Jalan Pagi di Springhill Yume Lagoon Cisauk Tangerang

Jalan-Jalan Pagi Omjay di Sekitar Perumahan Springhill Yume Lagoon Cisauk Tangerang

Ketika Setiap Langkah Menjadi Dzikir, Syukur, dan Sumber Inspirasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay – Guru Blogger Indonesia)

Pagi itu langit Cisauk masih diselimuti cahaya lembut ketika saya membuka pintu rumah. Jam di tangan baru menunjukkan sekitar pukul enam. Udara terasa begitu segar. Angin berembus perlahan, membawa aroma pepohonan yang basah oleh embun. Burung-burung berkicau riang seolah mengajak setiap orang untuk menyambut hari dengan penuh semangat.
Saya pun melangkahkan kaki menyusuri jalan-jalan yang rapi di sekitar Perumahan Springhill Yume Lagoon, Cisauk, Tangerang. Tidak ada target harus berjalan berapa kilometer. Tidak ada keinginan memecahkan rekor langkah. Saya hanya ingin menikmati pagi, mensyukuri kesehatan, dan berdialog dengan diri sendiri.

Sejak Allah menguji saya dengan diabetes dan gejala stroke beberapa waktu lalu, cara saya memandang hidup berubah. Dahulu saya sering menganggap sehat sebagai sesuatu yang biasa. Kini saya menyadari bahwa kesehatan adalah nikmat luar biasa yang sering baru disadari ketika mulai berkurang.

Karena itulah setiap pagi saya berusaha meluangkan waktu berjalan kaki. Langkah demi langkah menjadi bagian dari ikhtiar menjaga amanah tubuh yang Allah titipkan.
Sepanjang perjalanan, saya melihat begitu banyak pemandangan yang menyejukkan hati. Ada anak-anak yang bersepeda sambil tertawa lepas. Ada pasangan lansia yang berjalan berdampingan dengan senyum bahagia. Ada seorang ayah yang menggandeng putrinya sambil mengajarkan cara menyeberang jalan dengan benar. Ada pula para pekerja yang berangkat lebih awal dengan semangat mencari rezeki halal.

Saya menyadari bahwa setiap orang sedang berjalan pada jalan hidupnya masing-masing. Ada yang sedang mengejar cita-cita, ada yang sedang berjuang melawan penyakit, ada yang sedang membangun keluarga, dan ada pula yang sedang berusaha bangkit dari kegagalan.

Bukankah hidup memang seperti perjalanan pagi?

Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, melainkan apakah kita tetap melangkah dengan hati yang bersyukur.

Di tepi danau, saya berhenti sejenak. Permukaan air tampak tenang memantulkan cahaya matahari yang mulai menghangat. Saya duduk di bangku taman sambil menarik napas panjang.

Dalam keheningan itu saya berdoa.

"Ya Allah, terima kasih Engkau masih memberiku kesempatan menikmati pagi ini. Berilah kesehatan agar aku terus dapat mengajar, menulis, dan berbagi manfaat kepada sesama."

Saya percaya doa yang dipanjatkan dengan hati yang tulus akan selalu menemukan jalannya.

Saya lalu teringat perjalanan hidup saya sebagai guru. Lebih dari tiga dekade saya mengabdikan diri di dunia pendidikan. Banyak generasi telah saya temui. Ada yang kini menjadi dosen, dokter, pengusaha, programmer, guru, bahkan pemimpin di berbagai bidang.

Semua berawal dari ruang kelas.

Saya semakin yakin bahwa profesi guru adalah profesi yang tidak pernah berhenti menanam. Hasilnya mungkin baru terlihat bertahun-tahun kemudian.

Ketika berjalan melewati deretan pepohonan yang rindang, saya melihat bagaimana pohon-pohon itu tetap berdiri tegak. Mereka tidak pernah meminta pujian. Mereka hanya terus memberi keteduhan.

Dalam hati saya berkata, "Beginilah seharusnya seorang guru."

Mengajar bukan untuk mencari tepuk tangan. Mengajar adalah menebarkan manfaat. Seperti pohon yang terus memberi kesejukan kepada siapa saja yang singgah di bawahnya.
Semakin jauh berjalan, semakin banyak ide bermunculan. Saya memang sering mendapatkan inspirasi ketika berjalan kaki. Pikiran menjadi lebih jernih. Hati menjadi lebih tenang.

Tidak heran jika banyak tulisan saya lahir dari perjalanan sederhana seperti ini.

Saya teringat kalimat yang selalu saya sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN):

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat itu bukan hanya slogan. Itu adalah pengalaman hidup saya sendiri. Saya belajar bahwa tulisan-tulisan kecil yang dibuat dengan konsisten dapat membuka pintu-pintu rezeki, memperluas persahabatan, dan meninggalkan jejak kebaikan.
Berjalan pagi juga mengajarkan saya tentang kesabaran. Tidak semua jalan lurus. Ada tanjakan, ada tikungan, ada jalan yang harus dilewati dengan lebih hati-hati.

Begitu pula kehidupan.

Kadang kita menghadapi kegagalan, kehilangan, atau ujian yang terasa berat. Namun selama kita terus melangkah dan tidak menyerah, selalu ada harapan di ujung perjalanan.

Saya juga bersyukur karena masih diberi kesempatan mendampingi keluarga, mengajar para siswa, menulis di Kompasiana, membina komunitas guru, dan berbagi pengalaman kepada banyak orang. Semua itu adalah anugerah yang tidak boleh disia-siakan.

Pagi semakin terang. Matahari mulai bersinar penuh. Saya merasakan keringat membasahi punggung, tetapi hati justru terasa ringan. Tubuh memang lelah, tetapi jiwa terasa segar.

Saya pulang sambil membawa satu pelajaran penting.

Kebahagiaan tidak selalu ditemukan di tempat-tempat mewah. Kebahagiaan sering hadir dalam langkah-langkah sederhana, dalam udara pagi yang sejuk, dalam sapaan tetangga, dalam senyum orang-orang yang kita temui, dan dalam rasa syukur yang tumbuh di hati.

Sesampainya di rumah, saya menyiapkan secangkir teh hangat. Laptop pun saya buka. Jari-jari mulai menari di atas papan ketik. Semua pengalaman pagi itu saya tuangkan menjadi tulisan.

Saya percaya, setiap perjalanan akan menjadi kenangan. Setiap kenangan akan menjadi cerita. Dan setiap cerita yang ditulis dengan hati akan menemukan pembacanya sendiri.

Semoga kita semua diberikan kesehatan untuk terus melangkah, kekuatan untuk terus berjuang, dan kesempatan untuk terus berbagi manfaat kepada sesama.

Jangan menunggu sehat untuk bersyukur. Bersyukurlah, maka semoga Allah menjaga kesehatan kita. Jangan menunggu waktu luang untuk berbuat baik. Mulailah dari hal-hal kecil yang dapat kita lakukan hari ini.

Mari terus berjalan, terus belajar, terus mengajar, dan terus menulis. Sebab setiap langkah yang kita ayunkan bisa menjadi amal, setiap ilmu yang kita bagikan bisa menjadi pahala, dan setiap tulisan yang menginspirasi dapat menjadi warisan yang tetap hidup meski kelak kita telah tiada.

Salam sehat. Salam literasi. Salam blogger Indonesia.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

Tahajud Adalah Undangan Istimewa Dari Allah

Sholat Tahajud: Undangan Istimewa dari Allah di Sepertiga Malam

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak semua undangan datang dalam bentuk surat, pesan WhatsApp, atau kartu yang dihiasi tinta emas. Ada undangan yang jauh lebih istimewa, lebih mulia, dan hanya diterima oleh mereka yang dipilih Allah. Undangan itu datang setiap malam, ketika sebagian besar manusia masih terlelap dalam mimpi. Itulah undangan untuk melaksanakan sholat tahajud.

Saya baru benar-benar memahami makna tahajud ketika usia semakin bertambah dan tubuh mulai sering memberi tanda bahwa kehidupan di dunia tidaklah abadi. Penyakit diabetes yang saya alami, tekanan darah yang harus dijaga, hingga berbagai ujian hidup membuat saya semakin sadar bahwa manusia tidak memiliki tempat bergantung selain kepada Allah SWT.

Pada awalnya, bangun di sepertiga malam bukan perkara mudah. Alarm sering dimatikan, rasa kantuk lebih kuat daripada niat. Namun, setiap kali berhasil bangun dan berwudhu dengan air yang dingin, hati justru terasa hangat. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Seolah-olah Allah sedang berkata, "Hamba-Ku, Aku menunggumu."

Dalam kesunyian malam, tidak ada suara kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk pekerjaan, tidak ada notifikasi media sosial yang mengganggu. Yang ada hanyalah seorang hamba yang berdiri menghadap Rabb-nya. Saat itulah air mata sering kali mengalir tanpa disadari. Semua beban yang selama ini dipendam terasa ringan ketika dipasrahkan kepada Allah.

Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan sholat tahajud, meskipun seluruh dosa beliau telah diampuni. Mengapa beliau tetap melaksanakannya? Karena tahajud bukan sekadar ibadah tambahan, melainkan wujud cinta seorang hamba kepada Tuhannya. Jika Rasul yang dijamin surga saja begitu menjaga tahajud, bagaimana dengan kita yang penuh dosa?

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra: 79).

Ayat ini memberikan harapan besar. Tahajud bukan hanya mendatangkan pahala, tetapi juga mengangkat derajat seseorang. Banyak orang mencari kehormatan melalui jabatan, kekayaan, atau popularitas. Padahal, kemuliaan sejati datang dari kedekatan kepada Allah.

Saya sering mendengar kisah para sahabat, ulama, dan orang-orang saleh yang menjadikan tahajud sebagai rahasia kesuksesan mereka. Ketika orang lain masih tidur, mereka justru sedang mengetuk pintu langit. Ketika orang lain sibuk mencari jalan keluar kepada manusia, mereka lebih dahulu meminta pertolongan kepada Allah.

Dalam perjalanan hidup saya sebagai guru selama lebih dari tiga puluh tahun, saya menyaksikan banyak keajaiban doa. Ada murid yang awalnya dianggap biasa saja, tetapi akhirnya berhasil meraih cita-cita yang tinggi. Ada guru yang bertahun-tahun menunggu rezeki, lalu Allah bukakan jalan yang tidak pernah disangka. Semua itu mengingatkan saya bahwa tidak ada doa yang sia-sia, apalagi jika dipanjatkan pada sepertiga malam terakhir.

Rasulullah SAW bersabda bahwa pada sepertiga malam terakhir Allah turun ke langit dunia dan berfirman, "Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni."

Betapa luar biasanya kesempatan itu. Sang Pencipta alam semesta membuka pintu rahmat-Nya dan mengundang hamba-hamba-Nya untuk datang. Sayangnya, sering kali kita lebih memilih melanjutkan tidur daripada memenuhi undangan tersebut.

Tahajud mengajarkan keikhlasan. Tidak ada yang melihat kecuali Allah. Tidak ada tepuk tangan manusia. Tidak ada pujian. Hanya ada hubungan yang begitu dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya. Karena itulah tahajud menjadi salah satu amalan yang paling tulus.

Saya pernah merasakan masa-masa ketika tubuh terasa lemah akibat penyakit. Saat itu saya berpikir mungkin saya tidak lagi mampu melakukan banyak hal. Namun setiap kali Allah membangunkan saya untuk tahajud, saya merasa mendapatkan energi baru. Hati menjadi lebih tenang, pikiran lebih jernih, dan semangat hidup kembali tumbuh. Saya percaya bahwa kekuatan seorang mukmin bukan hanya berasal dari makanan yang bergizi atau obat yang diminum, tetapi juga dari doa-doa yang dipanjatkan di keheningan malam.

Banyak orang bertanya, apa rahasia agar bisa istiqamah tahajud? Jawabannya sederhana, tetapi membutuhkan latihan. Tidurlah lebih awal, kurangi begadang yang tidak bermanfaat, pasang niat yang kuat sebelum tidur, dan mintalah kepada Allah agar dibangunkan. Jika suatu malam gagal bangun, jangan menyerah. Teruslah mencoba. Allah melihat kesungguhan usaha kita.

Tahajud bukan hanya untuk orang yang sedang memiliki masalah. Jangan menunggu sakit baru rajin tahajud. Jangan menunggu kehilangan baru menangis di hadapan Allah. Jadikan tahajud sebagai kebutuhan hati, bukan sekadar pelarian ketika sedang mengalami kesulitan.

Sebagai seorang guru, saya juga belajar bahwa pendidikan terbaik bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui keteladanan. Anak-anak akan lebih mudah belajar jika melihat orang tuanya bangun malam untuk beribadah. Murid-murid akan lebih terinspirasi ketika gurunya tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga dekat dengan Allah.

Tahajud adalah sekolah keikhlasan. Ia melatih kesabaran, keteguhan, kerendahan hati, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah selalu datang pada waktu yang paling tepat. Tidak semua doa langsung dikabulkan sesuai keinginan kita, tetapi setiap doa pasti didengar oleh Allah. Kadang Allah mengabulkan segera, kadang menundanya, dan kadang menggantinya dengan sesuatu yang jauh lebih baik.

Malam adalah waktu yang penuh rahasia. Ketika dunia seolah berhenti sejenak, langit justru terbuka lebar bagi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh harap. Jangan sia-siakan kesempatan emas itu.

Mulailah malam ini. Bangunlah meski hanya beberapa menit sebelum Subuh. Berwudhulah, dirikan dua rakaat tahajud, lalu curahkan seluruh isi hati kepada Allah. Mintalah ampunan, kesehatan, keberkahan rezeki, kebahagiaan keluarga, kemudahan dalam pekerjaan, serta husnul khatimah.

Siapa tahu, justru pada malam itulah Allah mengabulkan doa yang selama ini kita tunggu. Sebab sholat tahajud bukan sekadar ibadah sunah, melainkan undangan istimewa dari Allah kepada hamba-hamba-Nya yang ingin semakin dekat dengan-Nya.

Semoga kita termasuk orang-orang yang mampu memenuhi undangan mulia itu, sehingga setiap malam menjadi jalan menuju ketenangan hati, keberkahan hidup, dan ridha Allah SWT. Aamiin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com