Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Kamis, 07 Mei 2026
Darimana Ide Menulis Datang?
Dahsyatnya Sakaratul Maut
Dahsyatnya Sakaratul Maut: Sebuah Pengingat untuk Manusia yang Sering Lalai
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, manusia sering lupa bahwa hidup di dunia hanyalah persinggahan sementara. Kita sibuk mengejar jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia, tetapi sering melupakan satu kenyataan yang pasti datang: kematian.
Sebuah buku berjudul Dahsyatnya Sakaratul Maut karya Dr. Aidh Abdullah Al-Qarni menjadi pengingat keras sekaligus lembut bagi hati yang mulai lalai. Buku ini bukan sekadar bacaan biasa, tetapi tamparan spiritual yang membuat kita merenung tentang akhir perjalanan hidup manusia.
Ketika saya memegang buku ini, pikiran saya langsung melayang kepada kenyataan hidup yang sering kita abaikan. Saat ini kita sehat, tertawa, bercanda, bekerja, dan menikmati dunia. Namun suatu hari nanti kita akan terbaring lemah tanpa daya. Nafas yang selama ini terasa ringan akan berubah berat. Mata yang selama ini melihat dunia perlahan tertutup. Dan pada saat itulah manusia memasuki fase paling menegangkan dalam hidupnya: sakaratul maut.
Dalam bagian belakang buku tertulis kalimat yang sangat menggugah:
"Saat ini kita hidup. Tapi suatu ketika nanti kita mati. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan dan di mana kita mati."
Kalimat sederhana itu terasa sangat dalam. Tidak ada manusia yang tahu kapan ajal datang. Tidak ada yang bisa menolak kematian. Orang kaya tidak bisa menyogok malaikat maut. Orang berpangkat tidak bisa meminta tambahan waktu. Bahkan dokter terbaik di dunia pun tidak mampu menghalangi datangnya ajal.
Buku ini menjelaskan bahwa sakaratul maut bukan peristiwa biasa. Ia adalah fase dahsyat yang dialami setiap manusia. Bahkan Rasulullah SAW pun merasakan beratnya sakaratul maut. Dalam hadis disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW pernah merasakan sakit yang sangat luar biasa menjelang wafatnya. Hal itu menunjukkan bahwa kematian memang bukan sesuatu yang ringan.
Membaca buku ini membuat saya merenung panjang. Betapa selama ini manusia sering merasa hidupnya akan lama. Kita menunda tobat. Menunda salat. Menunda meminta maaf. Menunda bersedekah. Seolah-olah kita yakin masih memiliki waktu panjang.
Padahal kematian bisa datang kapan saja.
Ada orang yang pagi masih bercanda, sore sudah tiada. Ada yang baru selesai membangun rumah megah, tetapi belum sempat menikmatinya. Ada yang baru pensiun, lalu dipanggil Allah SWT. Semua itu menjadi bukti bahwa hidup manusia sangat rapuh.
Sebagai seorang guru, saya sering berpikir bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya soal nilai rapor atau kecerdasan akademik. Pendidikan juga harus mengajarkan manusia tentang makna kehidupan dan kematian. Anak-anak perlu dibimbing agar tidak hanya sukses di dunia, tetapi juga selamat di akhirat.
Buku ini mengingatkan bahwa kematian bagi orang saleh bisa menjadi sesuatu yang indah. Kalimat dalam buku tersebut sangat menarik:
"Kematian yang dibenci bisa menjadi disenangi dan digandrungi."
Mengapa demikian? Karena bagi orang beriman, kematian adalah gerbang menuju pertemuan dengan Allah SWT. Orang-orang saleh justru merindukan akhir kehidupan yang husnul khatimah. Mereka ingin meninggal dalam keadaan baik, dalam keadaan sujud, membaca Al-Qur’an, berdzikir, atau sedang melakukan amal saleh.
Sebaliknya, bagi orang yang hidupnya dipenuhi dosa dan kesombongan, kematian menjadi sesuatu yang sangat menakutkan. Mereka takut menghadapi kenyataan amal perbuatannya sendiri.
Saya jadi teringat banyak kisah nyata yang pernah saya dengar. Ada orang sederhana yang meninggal dengan wajah tenang dan senyum mengembang. Ada pula orang yang sepanjang hidupnya bergelimang harta tetapi meninggal dalam kegelisahan luar biasa. Semua itu seakan menjadi bukti bahwa kualitas hidup seseorang menentukan kualitas akhir hidupnya.
Buku ini juga mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah ujian. Jabatan hanyalah titipan. Kekayaan hanyalah amanah. Popularitas hanyalah sementara. Tidak ada yang abadi selain amal kebaikan.
Ironisnya, manusia sering bertengkar karena urusan dunia yang tidak akan dibawa mati. Persaudaraan rusak karena warisan. Persahabatan hancur karena jabatan. Bahkan keluarga bisa saling membenci hanya karena materi.
Padahal ketika maut datang, semuanya selesai.
Yang menemani manusia bukan mobil mewahnya. Bukan rumah besarnya. Bukan rekeningnya. Yang menemani hanyalah amal ibadah dan doa anak saleh.
Sebagai guru blogger, saya merasa tulisan seperti ini penting untuk dibagikan. Di era media sosial sekarang, manusia terlalu banyak disibukkan oleh pencitraan. Orang berlomba memperlihatkan kemewahan hidupnya, tetapi jarang memperlihatkan kedekatannya kepada Allah SWT.
Buku Dahsyatnya Sakaratul Maut mengajak kita untuk kembali merenungi tujuan hidup. Ia mengingatkan bahwa dunia bukan tempat tinggal selamanya. Dunia hanyalah tempat singgah sebelum perjalanan panjang menuju akhirat.
Membaca buku ini membuat hati terasa kecil. Kesombongan runtuh. Keangkuhan perlahan luluh. Kita sadar bahwa manusia hanyalah makhluk lemah yang suatu saat akan kembali kepada Sang Pencipta.
Karena itu, mumpung masih diberi kesempatan hidup, mari memperbaiki diri. Mari lebih banyak berbuat baik. Mari menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Mari memperbanyak ibadah dan sedekah. Jangan sampai ketika ajal datang, kita justru penuh penyesalan.
Tidak ada manusia yang sempurna. Kita semua pernah salah. Namun Allah SWT selalu membuka pintu tobat bagi hamba-Nya yang mau kembali.
Akhirnya, buku ini bukan sekadar buku tentang kematian. Ia adalah buku tentang kehidupan. Tentang bagaimana manusia seharusnya hidup dengan lebih bermakna sebelum ajal benar-benar datang menjemput.
Semoga kita semua diberikan akhir kehidupan yang baik, husnul khatimah, dan termasuk golongan orang-orang saleh yang dirindukan surga.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
Wow Sepatu 27 Miliar dan Pendidikan yang kehilangan arah
Sepatu Rp 27 Miliar dan Pendidikan yang Kehilangan Arah
Di sebuah negeri yang masih menyimpan jutaan anak putus sekolah, ruang kelas rusak, dan guru honorer dengan gaji memprihatinkan, publik dikejutkan oleh polemik pengadaan sepatu senilai Rp 27 miliar untuk program Sekolah Rakyat. Angka itu bukan sekadar nominal. Ia menjadi simbol dari cara berpikir pendidikan yang selama ini sering terjebak pada tampilan luar, bukan pada kualitas isi pendidikan itu sendiri.
Masyarakat pun bertanya-tanya: benarkah sepatu mahal dapat menyelamatkan masa depan pendidikan Indonesia?
Pertanyaan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya sangat mendalam. Sebab selama bertahun-tahun, pendidikan kita memang sering sibuk mengurusi hal-hal yang tampak di mata: seragam harus sama, sepatu harus hitam, tas harus tertentu, atribut harus lengkap, rambut harus seragam, hingga cara berpakaian harus identik. Anak-anak akhirnya lebih banyak dinilai dari penampilan dibandingkan isi pikirannya.
Padahal pendidikan sejati tidak pernah lahir dari keseragaman penampilan.
Anak menjadi cerdas bukan karena memakai sepatu yang sama. Anak berkembang bukan karena warna seragamnya serupa. Yang membuat anak tumbuh adalah guru yang menginspirasi, lingkungan belajar yang sehat, buku-buku yang mudah diakses, budaya membaca yang hidup, dan ruang berpikir yang merdeka.
Ironisnya, di tengah semangat “pendidikan gratis”, banyak orang tua justru merasa sekolah semakin mahal. Tahun ajaran baru sering menjadi musim kecemasan. Ada orang tua yang harus meminjam uang demi membeli seragam, sepatu, tas, buku paket, hingga atribut sekolah. Bahkan ada yang rela menjual barang berharga agar anaknya tidak malu datang ke sekolah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa pendidikan kita diam-diam sedang berubah menjadi arena penyeragaman sosial.
Anak-anak didorong tampil sama, tetapi belum tentu mendapatkan kesempatan belajar yang setara.
Masih banyak sekolah yang kekurangan guru berkualitas. Masih banyak perpustakaan kosong tanpa buku menarik. Masih banyak siswa yang belum mampu memahami bacaan sederhana. Literasi dan numerasi kita pun masih menjadi pekerjaan rumah besar bangsa ini.
Namun anehnya, yang sering menjadi prioritas justru proyek-proyek fisik dan atribut.
Kita seperti sedang membangun kemasan megah untuk isi yang belum tentu kuat.
Sebagai seorang guru, banyak pendidik sebenarnya memahami bahwa semangat belajar anak tidak lahir dari mahalnya perlengkapan sekolah. Anak-anak justru paling bahagia ketika gurunya mengajar dengan hati, ketika mereka diberi kesempatan bertanya, ketika pendapat mereka dihargai, dan ketika sekolah menjadi tempat yang aman untuk tumbuh.
Sayangnya, budaya pendidikan kita masih sering memaksa anak untuk “taat bentuk” daripada “aktif berpikir”.
Anak yang bajunya kurang rapi sering ditegur lebih cepat dibanding anak yang kesulitan membaca. Anak yang sepatunya lusuh kadang merasa minder di kelas. Bahkan ada siswa yang malu datang ke sekolah hanya karena tidak mampu membeli atribut baru.
Di sinilah pendidikan perlahan kehilangan ruhnya.
Pendidikan seharusnya memerdekakan manusia, bukan membebani keluarga dengan tuntutan simbolik.
Ki Hadjar Dewantara sejak dulu sudah mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses menuntun kodrat anak agar mereka mampu mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Artinya, pendidikan harus fokus pada pengembangan manusia, bukan sekadar keseragaman administratif.
Kalau anggaran Rp 27 miliar itu dialihkan untuk memperkuat perpustakaan sekolah, mungkin ribuan buku baru bisa hadir untuk anak-anak Indonesia. Jika digunakan untuk pelatihan guru, mungkin kualitas pembelajaran meningkat. Jika dipakai memperbaiki sekolah rusak di daerah terpencil, mungkin banyak anak bisa belajar lebih nyaman.
Karena itu, polemik ini seharusnya menjadi momentum refleksi nasional.
Kita perlu bertanya dengan jujur: apa sebenarnya tujuan pendidikan Indonesia?
Apakah kita ingin mencetak anak-anak yang sekadar terlihat rapi dan seragam? Ataukah kita ingin melahirkan generasi yang kritis, kreatif, berani berpikir, dan memiliki karakter kuat?
Pertanyaan ini penting karena masa depan bangsa tidak dibangun oleh sepatu mahal. Masa depan bangsa dibangun oleh kualitas manusia yang lahir dari pendidikan bermakna.
Banyak negara maju justru memberi ruang kebebasan lebih besar kepada siswa. Mereka tidak terlalu sibuk mengatur warna sepatu atau model rambut. Fokus utama mereka adalah kualitas pembelajaran, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, riset, dan inovasi.
Sementara di Indonesia, energi pendidikan sering habis untuk urusan administratif dan simbolik.
Kita lupa bahwa anak-anak memiliki mimpi yang jauh lebih besar daripada sekadar tampil seragam.
Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, masyarakat tentu berharap setiap anggaran pendidikan benar-benar menyentuh kebutuhan utama siswa. Pendidikan harus hadir sebagai jalan pembebasan sosial, bukan menjadi tambahan beban ekonomi keluarga.
Polemik sepatu Rp 27 miliar akhirnya menyadarkan kita bahwa bangsa ini membutuhkan perubahan cara pandang dalam mengelola pendidikan.
Sekolah tidak boleh hanya menjadi tempat menyeragamkan tubuh anak-anak.
Sekolah harus menjadi ruang yang memerdekakan pikiran mereka.
Karena pada akhirnya, pendidikan bukan tentang siapa yang memakai sepatu paling mahal. Pendidikan adalah tentang siapa yang mampu menyalakan cahaya pengetahuan di dalam dirinya.
Dan cahaya itu tidak pernah lahir dari kulit sepatu.
Ia lahir dari guru yang tulus, buku yang dibaca, pengalaman hidup, diskusi yang sehat, dan keberanian untuk berpikir merdeka.
Rabu, 06 Mei 2026
Diksi
Guru yang Paling Mahal
Benarkah Uang Obat Paling Ampuh?
Ketika Harga Kebutuhan Rakyat Kecil Naik
Ketika Harga Kebutuhan Naik, Harapan Rakyat Kecil Ikut Terjepit
Di sebuah sudut sederhana, terpampang selembar papan harga yang mungkin bagi sebagian orang terlihat biasa saja. Namun bagi rakyat kecil, tulisan itu seperti “alarm kehidupan” yang berbunyi pelan tapi menyayat hati:
- Beras 1 liter = Rp13.000
- Gas 3 kg = Rp20.000
- Air mineral 3 liter = Rp10.000
- Air mineral 5 liter = Rp15.000
Angka-angka itu bukan sekadar nominal. Ia adalah cerita. Ia adalah perjuangan. Ia adalah potret nyata kehidupan masyarakat hari ini.
Bagi mereka yang penghasilannya tetap, bahkan kadang tidak menentu, kenaikan harga kebutuhan pokok bukan hanya soal uang yang bertambah. Ini soal pilihan hidup yang semakin sempit. Hari ini beli beras, besok harus menunda beli gas. Hari ini bisa memasak, besok mungkin hanya makan seadanya.
Beras: Dari Sekadar Makanan Jadi Beban Pikiran
Beras adalah simbol kehidupan masyarakat Indonesia. Hampir setiap rumah tangga bergantung pada beras sebagai makanan utama. Ketika harga beras naik, yang terdampak bukan hanya dompet, tetapi juga ketenangan hati.
Dulu, membeli beras mungkin terasa ringan. Sekarang, setiap liter yang dibeli terasa seperti mengurangi kesempatan untuk membeli kebutuhan lain. Seorang ibu rumah tangga harus berhitung lebih cermat. Apakah cukup untuk makan hari ini dan besok? Apakah harus mengurangi porsi?
Bagi guru seperti Omjay, pemandangan ini bukan sekadar angka di papan. Ini adalah kenyataan yang sering diceritakan oleh siswa di kelas. Ada anak yang datang ke sekolah dengan perut kosong. Ada yang mengaku hanya makan sekali sehari. Semua karena kondisi ekonomi keluarga yang semakin tertekan.
Gas 3 Kg: Api yang Tak Selalu Menyala
Gas elpiji 3 kg adalah “penyelamat dapur” bagi masyarakat kecil. Namun ketika harganya naik, dapur pun terancam “padam”.
Bayangkan seorang ibu yang harus memilih: membeli gas atau membeli lauk untuk anaknya. Tanpa gas, ia tak bisa memasak. Tapi tanpa lauk, makanan menjadi hambar. Di sinilah dilema kehidupan muncul—dan itu nyata.
Kenaikan harga gas bukan hanya soal energi, tetapi soal keberlangsungan hidup. Banyak pedagang kecil juga terdampak. Warung nasi, gorengan, hingga usaha rumahan harus memutar otak agar tetap bertahan tanpa menaikkan harga terlalu tinggi.
Air Mineral: Kebutuhan Dasar yang Tak Lagi Sederhana
Air adalah kebutuhan paling dasar manusia. Namun kini, bahkan air mineral pun ikut “naik kelas” menjadi barang yang harus dipikirkan matang-matang sebelum dibeli.
Harga air mineral 3 liter dan 5 liter yang meningkat menunjukkan bahwa kebutuhan paling mendasar pun tidak lagi mudah dijangkau. Ini ironis. Di negeri yang kaya sumber daya air, masyarakatnya harus membeli air dengan harga yang semakin tinggi.
Bagi sebagian orang mungkin ini hal kecil. Tapi bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, setiap rupiah sangat berarti. Membeli air berarti mengurangi uang untuk kebutuhan lain.
Omjay dan Suara Hati Rakyat
Sebagai seorang guru dan penulis, Omjay sering mendengar keluh kesah masyarakat. Dari obrolan sederhana di warung, hingga cerita siswa di sekolah. Semua mengarah pada satu hal: hidup semakin berat.
Namun di balik semua itu, ada pelajaran penting yang bisa kita ambil. Bahwa kehidupan bukan hanya tentang bertahan, tetapi juga tentang saling menguatkan.
Omjay percaya bahwa di tengah kesulitan, masih ada harapan. Masih ada kepedulian. Masih ada solidaritas.
Saatnya Kita Peduli
Tulisan di papan harga itu mungkin akan terus berubah. Bisa jadi minggu depan lebih mahal lagi. Tapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah kepedulian kita.
Mari kita lebih peka.
Mari kita lebih peduli.
Mari kita saling membantu.
Karena di balik setiap kenaikan harga, ada cerita manusia yang berjuang. Ada keluarga yang berusaha bertahan. Ada anak-anak yang tetap ingin sekolah meski perut belum tentu kenyang.
Dan di sanalah, kita diuji: apakah kita hanya melihat angka, atau kita mampu melihat makna di baliknya?
Tulisan ini juga dapat dibaca di blog Omjay: https://wijayalabs.com
Salam literasi.
Salam empati.
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)