Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 29 September 2026

kata pengantar omjay untuk buku antologi guru guru sdn johar baru 04

KATA PENGANTAR

Menulis dengan Hati, Mengabadikan Pengalaman, dan Menginspirasi Sesama

Bismillahirrahmanirrahim.

Alhamdulillah, puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat, nikmat, dan karunia-Nya sehingga buku antologi tulisan guru-guru SDN Johar Baru 04 Jakarta ini dapat hadir di hadapan pembaca. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan. Buku ini adalah kumpulan pengalaman, pemikiran, kegelisahan, perjuangan, pembelajaran, dan cinta para guru kepada anak-anak yang mereka dampingi setiap hari.

Ketika saya membaca tulisan-tulisan dalam buku ini, saya kembali diingatkan pada satu hal sederhana: setiap guru sebenarnya memiliki buku yang belum selesai ditulis. Buku itu bernama pengalaman. Setiap hari guru bertemu dengan anak-anak yang berbeda karakter, menghadapi persoalan yang berbeda, mencoba strategi pembelajaran yang berbeda, lalu pulang membawa cerita yang kadang membuat tersenyum, terharu, bahkan merenung panjang.

Sayangnya, tidak semua pengalaman tersebut sempat dituliskan. Banyak kisah guru berhenti menjadi percakapan di ruang guru. Banyak pengalaman berharga hanya tersimpan dalam ingatan. Padahal, pengalaman yang dituliskan dapat menjadi pengetahuan bagi orang lain. Kisah seorang guru ketika mendampingi seorang anak yang takut belajar Bahasa Inggris, misalnya, memperlihatkan bahwa sebelum mengajarkan materi, guru perlu memahami manusia yang sedang belajar. Pendekatan yang humanis, permainan, komunikasi, dan pendampingan dapat membuka kembali keberanian anak untuk belajar. 

Buku ini juga memperlihatkan bahwa menjadi guru tidak cukup hanya pandai menyampaikan materi. Guru perlu hadir dengan hati. Ada anak yang datang ke sekolah dengan persoalan keluarga, ada anak yang kurang percaya diri, ada anak yang belum lancar membaca dan menulis, ada pula anak yang membutuhkan perhatian lebih agar berani berkomunikasi. Salah satu tulisan dalam antologi ini bahkan mengisahkan pendampingan seorang siswa kelas 1 yang mengalami hambatan dalam berbicara dan akhirnya membutuhkan dukungan untuk membangun rasa percaya dirinya. 

Saya melihat inilah kekuatan utama buku ini. Guru tidak hanya bercerita tentang keberhasilan, tetapi juga tentang proses. Ada tantangan, ada kesulitan, ada kegagalan, ada kegelisahan, kemudian ada usaha untuk mencari jalan keluar. Dari proses itulah pembelajaran seorang guru berlangsung.

Menariknya lagi, buku ini tidak memisahkan pendidikan dari perkembangan zaman. Kita menemukan pengalaman guru menggunakan Papan Interaktif Digital untuk mengajarkan rantai makanan kepada siswa kelas 5A. Teknologi digunakan untuk membuat pembelajaran lebih interaktif dan membantu siswa memahami konsep melalui pengalaman yang lebih konkret. Namun, sebagaimana tergambar dalam tulisan tersebut, teknologi tetaplah alat bantu. Di balik perangkat digital tetap ada guru, interaksi, diskusi, pertanyaan, kolaborasi, dan pengalaman belajar. 

Bagi saya, pemanfaatan teknologi dalam pendidikan harus tetap menempatkan manusia sebagai pusatnya. Teknologi boleh semakin canggih, kecerdasan artifisial boleh semakin berkembang, tetapi pendidikan tetap membutuhkan hati seorang guru. Anak-anak membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan, memahami, membimbing, memberi contoh, dan percaya kepada mereka ketika mereka sendiri belum mampu mempercayai dirinya.

Karena itulah saya merasa bersyukur dapat ikut menjadi bagian dari perjalanan literasi guru-guru SDN Johar Baru 04 Jakarta. Menulis bukan hanya aktivitas menghasilkan buku. Menulis adalah cara guru melakukan refleksi. Ketika guru menulis, guru sebenarnya sedang bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sudah saya lakukan, apa yang saya pelajari, apa yang perlu saya perbaiki, dan apa yang dapat saya bagikan kepada orang lain?

Saya selalu percaya bahwa guru yang mau menulis sedang membangun jejak pendidikan yang tidak mudah hilang. Suara guru hari ini dapat dibaca oleh guru lain beberapa tahun kemudian. Pengalaman sederhana di kelas 1 dapat memberikan inspirasi bagi guru kelas 1 di sekolah lain. Sebuah strategi pembelajaran yang dicoba di SDN Johar Baru 04 dapat menjadi gagasan baru bagi sekolah lain. Bahkan sebuah kisah tentang seorang anak dapat mengingatkan kita semua bahwa di balik setiap perilaku siswa terdapat cerita yang perlu dipahami.

Buku ini juga memperlihatkan bahwa pendidikan adalah pekerjaan bersama. Kepala sekolah, guru, murid, orang tua, alumni, masyarakat, dan berbagai pihak memiliki peran dalam menciptakan lingkungan belajar yang baik. Hal tersebut sejalan dengan semangat yang tampak dalam buku ini bahwa pengalaman pendidikan tidak seharusnya disimpan sendiri, tetapi dibagikan agar manfaatnya semakin luas. 

Saya memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada seluruh guru SDN Johar Baru 04 Jakarta yang telah berani menulis dan berbagi pengalaman. Tidak mudah menulis ketika kesibukan mengajar, administrasi sekolah, mendampingi murid, dan berbagai tugas lainnya terus menunggu. Namun, keberanian untuk menyediakan waktu dan menuangkan pengalaman menjadi tulisan adalah sebuah langkah penting dalam membangun budaya literasi dan budaya refleksi di sekolah.

Kepada para guru penulis, jangan pernah merasa bahwa cerita Bapak dan Ibu terlalu sederhana untuk dibagikan. Justru sering kali kisah yang sederhana adalah kisah yang paling dekat dengan kehidupan guru lainnya. Jangan menunggu menjadi guru hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sebagai guru, maka tulisan itulah yang kelak menjadi saksi perjalanan untuk menjadi guru yang lebih baik.

Saya berharap buku antologi ini tidak berhenti sebagai dokumentasi. Semoga buku ini menjadi jembatan yang mempertemukan pengalaman para guru dengan pembaca, khususnya para pendidik. Semoga ada guru yang menemukan inspirasi, ada kepala sekolah yang mendapatkan gagasan, ada orang tua yang semakin memahami perjuangan guru, dan ada pembaca yang semakin menghargai profesi guru.

Saya juga berharap buku ini menjadi awal dari karya-karya berikutnya. Setelah satu buku lahir, jangan berhenti menulis. Karena satu tulisan dapat melahirkan tulisan berikutnya. Satu pengalaman dapat membuka pengalaman baru. Dan satu guru yang mulai menulis dapat mengajak guru-guru lain untuk ikut menulis.

Menulislah dengan hati. Ceritakan pengalaman dengan jujur. Bagikan praktik baik dengan rendah hati. Sebab pengalaman seorang guru mungkin hanya berlangsung satu hari di ruang kelas, tetapi ketika dituliskan, manfaatnya dapat berlangsung jauh lebih lama.

Akhirnya, selamat kepada keluarga besar SDN Johar Baru 04 Jakarta atas lahirnya buku antologi ini. Semoga buku ini menjadi bagian dari perjalanan panjang untuk menghadirkan pendidikan yang lebih manusiawi, menyenangkan, bermakna, dan berpihak pada tumbuh kembang anak.

Teruslah mengajar.
Teruslah belajar.
Teruslah menulis.
Dan teruslah menginspirasi.

Karena guru boleh selesai mengajar pada suatu hari, tetapi tulisan guru dapat terus mengajar siapa saja yang membacanya.

Jakarta, 29 September 2026

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 28 September 2026

kisah omjay: Jernih Hati dan Luhur Budi Untuk Masa Depan

Jernih Hati, Luhur Budi, dan Masa Depan yang Cerah

Kisah Omjay Hari Ini di Kompasiana
Inspirasi Pagi, Senin 28 September 2026
Oleh: Wijaya Kusumah Wijaya Kusumah - omjay 

Pagi itu suasana kelas Informatika di SMP Labschool Jakarta terasa hidup. Suara ketikan keyboard terdengar bersahutan. Beberapa siswa serius menatap layar komputer, sebagian berdiskusi dengan teman di sebelahnya, sementara yang lain sibuk mencoba menjalankan program yang mereka buat.

Di tengah suasana tersebut, saya melihat seorang siswa duduk diam. Matanya tertuju pada layar. Tangannya berhenti di atas keyboard. Wajahnya tampak bingung.

"Pak, saya tidak bisa. Coding saya error terus," katanya.

Saya mendekatinya. Saya tidak langsung mengambil alih komputer atau memperbaiki kodenya. Saya justru bertanya, "Menurut kamu, bagian mana yang membuat programnya error?"

Ia kembali memperhatikan layar. Kami membaca kode itu perlahan. Saya memberikan beberapa pertanyaan agar ia menemukan sendiri kesalahannya. Akhirnya ditemukan satu bagian kode yang keliru.

Kami perbaiki.

Program dijalankan kembali.

Masih error.

"Coba sekali lagi," kata saya.

Kami periksa bersama. Beberapa saat kemudian program itu akhirnya berjalan. Wajahnya yang semula tegang berubah menjadi senyum.

"Pak, ternyata saya bisa!"

Saya ikut tersenyum.

Bagi orang lain mungkin itu hanya kejadian kecil di kelas Informatika. Bagi saya, kejadian tersebut menyimpan pelajaran yang jauh lebih besar daripada sekadar coding.

Saya berkata kepadanya, "Jangan bilang saya tidak bisa. Katakan saya belum bisa."

Kata belum membuka pintu harapan. "Saya tidak bisa" seperti menutup perjalanan. Sebaliknya, "saya belum bisa" berarti masih ada kesempatan untuk belajar, mencoba, memperbaiki kesalahan, dan berkembang.

Guru Tidak Hanya Mengajarkan Materi

Saya sudah mengajar di SMP Labschool Jakarta sejak 1994. Puluhan tahun berada di dunia pendidikan membuat saya bertemu dengan begitu banyak siswa dan berbagai karakter manusia.

Ada siswa yang cepat memahami pelajaran. Ada yang membutuhkan waktu lebih lama. Ada yang berani mencoba. Ada pula yang takut salah.

Dari mereka saya belajar bahwa menjadi guru bukan sekadar menyampaikan materi. Guru juga membantu siswa menemukan keberanian untuk mencoba.

Dalam Informatika, error bukan selalu kegagalan. Error justru bagian dari proses belajar. Siswa belajar mencari penyebab, membaca pesan kesalahan, memperbaiki kode, mencoba kembali, dan mengevaluasi hasilnya.

Tanpa disadari, mereka sedang belajar logika, ketelitian, kesabaran, dan pantang menyerah.

Bukankah kehidupan juga demikian?

Kita semua pernah mengalami "error". Ada rencana yang tidak berjalan, harapan yang belum terwujud, keputusan yang ternyata keliru, atau usaha yang belum memberikan hasil.

Yang penting bukan berapa kali kita mengalami kegagalan, tetapi apakah kita mau memperbaiki kesalahan dan mencoba kembali.

Dari Kelas, Saya Belajar Tentang Hati

Pengalaman sederhana di kelas tersebut membuat saya teringat pada sebuah kalimat yang terus saya renungkan:

Barangsiapa yang jernih hatinya, akan diperbaiki pula oleh Allah pada apa yang nyata di wajahnya.

Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang pencapaian, jabatan, popularitas, atau seberapa banyak orang mengenal kita.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita menjaga hati, menjaga lisan, memperlakukan orang lain, dan memberikan manfaat.

Hati yang jernih membuat kita tidak mudah dikuasai kemarahan. Hati yang bersih membantu kita menerima perbedaan. Hati yang penuh syukur membuat kita mampu menikmati hal-hal sederhana.

Saya sendiri masih belajar tentang semua itu.

Dari Guru Menjadi Blogger

Perjalanan saya sebagai guru kemudian membawa saya semakin dekat dengan dunia teknologi dan menulis. Saya mulai serius menulis blog sejak 2007. Awalnya blog menjadi tempat berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Lama-kelamaan saya menyadari bahwa pengalaman seorang guru ternyata dapat menjadi bahan belajar bagi banyak orang.

Saya kemudian aktif menulis di Kompasiana. Pengalaman mengajar, perjalanan, pertemuan dengan guru, kegiatan pendidikan, keluarga, bahkan kejadian sederhana sehari-hari menjadi sumber tulisan.

Dari situlah saya memegang prinsip:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Saya tidak menulis karena merasa sudah menjadi penulis hebat. Saya menulis karena masih belajar.

Ketika menulis tentang kesabaran, saya sedang mengingatkan diri sendiri agar lebih sabar. Ketika menulis tentang kejujuran, saya sedang mengingatkan diri sendiri agar tetap jujur.

Menulis bagi saya adalah cara bercermin.

Ketika Guru Mulai Berani Menulis

Dalam berbagai kegiatan literasi dan komunitas belajar, saya bertemu banyak guru yang sebenarnya memiliki pengalaman luar biasa tetapi tidak percaya diri menulis.

Saya sering mengatakan kepada mereka, "Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat. Tuliskan saja pengalaman yang Anda alami."

Ada yang awalnya hanya berani menulis satu halaman. Kemudian berkembang menjadi artikel, buku, atau blog.

Ketika seorang guru berkata, "Omjay, sekarang saya berani menulis," saya merasakan kebahagiaan tersendiri.

Bagi saya, melihat orang lain tumbuh karena pernah kita beri semangat adalah sebuah keberhasilan.

Itulah sebabnya saya tidak pernah bosan mengajak guru untuk menulis pengalaman mereka sendiri. Sebab setiap guru memiliki cerita. Setiap kelas memiliki kisah. Setiap siswa memiliki perjuangan.

Sayang sekali jika semua itu hilang begitu saja karena tidak pernah dituliskan.

Tidak Semua Perbedaan Harus Dimenangkan

Tentu perjalanan hidup tidak selalu mulus. Ada kritik, perbedaan pendapat, kesalahpahaman, dan komentar yang terkadang membuat hati tidak nyaman.

Semakin bertambah usia, saya belajar bahwa tidak semua perkataan harus dibalas. Tidak semua komentar perlu dilayani. Tidak semua perbedaan harus dimenangkan.

Ada saatnya kita diam, tersenyum, lalu kembali bekerja.

Diam bukan berarti kalah. Terkadang diam adalah bentuk pengendalian diri. Saya lebih memilih membuktikan sesuatu melalui karya daripada menghabiskan energi dalam pertengkaran.

Di sinilah saya belajar tentang luhur budi.

Ketika seseorang berbicara kasar, kita tidak harus membalas dengan kasar. Ketika ada yang meremehkan, kita tidak perlu menjawab dengan kemarahan.

Kesopanan bukan kelemahan.

Kesopanan menunjukkan bahwa kita mampu mengendalikan diri.

Kejujuran Dimulai dari Keteladanan

Sebagai guru, saya sadar bahwa siswa tidak hanya mendengar apa yang saya katakan. Mereka memperhatikan bagaimana saya bersikap.

Guru boleh berbicara panjang tentang kejujuran, tetapi keteladanan jauh lebih kuat daripada nasihat.

Begitu pula dalam menulis. Saya berusaha menulis berdasarkan pengalaman dan pembelajaran yang saya dapatkan. Saya tidak ingin tulisan hanya menjadi kumpulan kata yang terlihat indah, tetapi kehilangan makna.

Tulisan yang lahir dari pengalaman memiliki kekuatan tersendiri.

Karena itu, saya ingin terus menulis dengan hati.

Belajar Menghargai Waktu

Pengalaman hidup juga mengajarkan saya untuk lebih menghargai waktu dan kesehatan. Ada masa ketika saya harus lebih berhati-hati dalam menjalani aktivitas.

Dari sana saya semakin menghargai hal-hal sederhana: bangun pagi, bertemu keluarga, mengajar, berjalan, menulis, dan berbagi ilmu.

Saya tidak ingin menghabiskan terlalu banyak energi untuk hal-hal yang tidak memberikan manfaat.

Tidak semua komentar harus dijawab.

Tidak semua perdebatan harus dimenangkan.

Ada pekerjaan yang jauh lebih penting: menjaga hati, keluarga, diri sendiri, terus belajar, dan memberikan manfaat.

Masa Lalu Bukan Penjara

Masa lalu tidak boleh menjadi penjara.

Kalau pernah salah, perbaiki. Kalau pernah gagal, belajar. Kalau pernah kecewa, jangan kehilangan harapan.

Saya memilih melihat masa lalu sebagai guru, bukan sebagai beban.

Bertemu siswa mengajarkan saya kesabaran. Bertemu guru mengajarkan kebersamaan. Menulis mengajarkan kejujuran. Kritik mengajarkan introspeksi. Kegagalan mengajarkan ketekunan. Keberhasilan mengajarkan rasa syukur.

Hidup adalah sekolah yang tidak pernah selesai.

Menjadi Guru yang Terus Belajar

Dunia pendidikan terus berubah. Teknologi berkembang. Coding, kecerdasan artifisial, literasi digital, dan berbagai teknologi baru semakin dekat dengan kehidupan siswa.

Sebagai guru Informatika, saya merasa harus terus belajar.

Namun, di tengah perkembangan teknologi tersebut, saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa teknologi hanyalah alat. Pendidikan tetap membutuhkan manusia yang memiliki hati, empati, keteladanan, dan pengalaman.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tidak boleh kehilangan sentuhan manusia.

Itulah yang saya lihat dari pengalaman siswa di kelas tadi. Ia tidak hanya membutuhkan komputer dan coding. Ia membutuhkan seorang guru yang bersedia mendampingi dan mengatakan, "Coba lagi."

Kadang-kadang satu kalimat sederhana dapat mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri.

Jernihkan Hati, Teruslah Berkarya

Pagi ini, Senin 28 September 2026, saya kembali mengingatkan diri sendiri untuk menjaga hati.

Hati yang jernih membuat kita lebih mudah memaafkan. Rasa syukur membuat kita mampu melihat nikmat. Keikhlasan membuat kita tidak terlalu bergantung pada pengakuan manusia.

Saya ingin menjalani kehidupan dengan prinsip sederhana:

Berbuat baik, berkata baik, menulis yang baik, dan memberikan manfaat sebanyak mungkin.

Tidak perlu selalu dipuji. Tidak perlu selalu dikenal. Tidak perlu selalu dianggap benar.

Cukup terus berjalan dalam kebaikan.

Sebab manusia mungkin salah menilai kita, tetapi Allah mengetahui isi hati, niat, perjuangan, dan setiap langkah yang kita lakukan.

Inilah kisah Omjay hari ini: seorang guru yang masih belajar menjadi guru, seorang blogger yang masih belajar menjadi penulis, dan seorang manusia yang masih belajar menjaga hati.

Pengalaman di kelas tadi kembali mengingatkan saya bahwa kita semua mungkin pernah mengalami "error" dalam kehidupan.

Jangan buru-buru mengatakan, "Saya tidak bisa."

Mungkin kita hanya sedang berada pada tahap:

"Saya belum bisa."

Mari Menulis Kisah Kita Sendiri

Mari mulai dari diri sendiri. Jika pernah kecewa, belajar memaafkan. Jika pernah gagal, mencoba kembali. Jika pernah salah, berani memperbaiki. Jika pernah diremehkan, jangan berhenti berkarya.

Tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Tidak perlu menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Tuliskan pengalaman kita. Bagikan ilmu yang kita miliki. Hadirkan manfaat melalui karya sederhana.

Siapa tahu tulisan yang kita anggap biasa ternyata sedang dibutuhkan oleh seseorang yang hampir menyerah. Siapa tahu satu kalimat yang kita tuliskan mampu membuat seorang guru kembali bersemangat, seorang siswa kembali percaya diri, atau seorang pembaca berani memulai langkah baru.

Mari menulis dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan berkarya untuk memberi manfaat.

Saya, Omjay, akan terus belajar, terus mengajar, dan terus menulis.

Bagaimana dengan Anda?

Apa satu kebaikan yang akan Anda lakukan hari ini? Pengalaman apa yang ingin Anda tuliskan agar menjadi inspirasi bagi orang lain?

Mari mulai hari ini.

Jangan hanya menjadi pembaca. Jadilah penulis kehidupan Anda sendiri.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Barakallah fiikum.
Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 27 September 2026

Kisah Omjay di Hari Minggu Bersama Anak Cucu

Melampaui Diri Sendiri: Kisah Omjay Menikmati Hari Minggu Bersama Anak dan Cucu

Inspirasi Minggu, 27 September 2026

“Mungkin hidupmu tidak seberuntung orang lain. Tapi orang lain belum tentu bisa sekuat kamu.”

Kalimat sederhana itu kembali terlintas dalam pikiran saya pada Minggu pagi ini. Setelah melewati hari-hari yang cukup padat dengan berbagai aktivitas sebagai guru, penulis, blogger, dan penggiat pendidikan, saya memilih menikmati hari Minggu dengan cara yang sederhana: berkumpul bersama keluarga, bercengkerama dengan anak-anak, bermain dan bercanda bersama cucu, serta menikmati waktu yang tidak selalu bisa kita dapatkan di tengah kesibukan.

Bagi saya, kebahagiaan ternyata tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang kebahagiaan hadir begitu dekat, bahkan duduk di samping kita. Ketika anak-anak berkumpul, ketika cucu tersenyum dan mengajak bermain, ketika obrolan keluarga terdengar di ruang rumah, ada rasa syukur yang sulit digantikan oleh apa pun. Pada saat seperti itu saya semakin menyadari bahwa perjalanan kehidupan bukan hanya tentang pekerjaan, pencapaian, penghargaan, atau seberapa banyak tulisan yang berhasil dibuat. Ada keluarga yang harus kita jaga, ada orang-orang yang kita cintai, dan ada waktu yang tidak mungkin kembali.

Hari Minggu, Saatnya Menikmati Kehidupan

Hari Minggu bagi saya bukan sekadar hari libur dari rutinitas mengajar. Hari Minggu adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas lebih panjang, melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui, dan menikmati kebersamaan bersama orang-orang yang kita sayangi. Kesibukan terkadang membuat kita lupa bahwa anak-anak terus bertumbuh dan cucu-cucu terus berkembang. Waktu berjalan begitu cepat. Apa yang hari ini masih kecil, tiba-tiba sudah besar. Apa yang dahulu sering kita gendong, suatu hari mungkin sudah mampu berlari dan memanggil kita dengan penuh keceriaan.

Karena itu, ketika ada kesempatan berkumpul bersama anak dan cucu, saya berusaha menikmatinya. Tidak perlu acara yang mewah. Tidak perlu pergi ke tempat yang jauh. Cukup duduk bersama, makan bersama, bercerita, bercanda, mendengarkan cerita anak-anak, dan melihat tingkah cucu yang kadang membuat kita tertawa. Hal-hal sederhana seperti inilah yang sering kali justru menjadi kenangan paling berharga.

Saya semakin memahami bahwa hidup tidak harus selalu mengejar sesuatu yang besar. Ada waktunya kita berjuang, ada waktunya kita bekerja keras, ada waktunya kita menulis, mengajar, menghadiri kegiatan, dan berbagi ilmu. Namun ada pula waktunya kita berhenti sejenak dan menikmati hasil dari perjalanan tersebut bersama keluarga.

Jangan Membandingkan Jalan Hidup

Dalam perjalanan hidup, kita sering kali tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat seseorang yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih terkenal, lebih sehat, atau lebih bahagia. Tanpa sadar kita kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”

Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak selalu melihat perjuangannya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui air mata yang pernah jatuh. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak mengetahui berapa kali dia mengalami kegagalan. Begitu pula orang lain tidak pernah mengetahui seluruh perjalanan hidup yang sudah kita lalui.

Saya pun belajar untuk tidak terlalu sibuk membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Setiap orang mempunyai jalan masing-masing. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan perlahan. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih awal, ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang langsung berhasil, ada pula yang harus jatuh berkali-kali sebelum akhirnya menemukan jalannya.

Tugas kita bukan melampaui orang lain. Tugas kita adalah melampaui diri sendiri.

Kalimat itu semakin terasa maknanya ketika saya melihat perjalanan hidup saya sendiri. Saya tidak harus menjadi lebih hebat daripada siapa pun. Saya hanya perlu berusaha menjadi Omjay yang lebih baik daripada Omjay kemarin. Kalau kemarin belum sempat menulis, hari ini saya mencoba menulis. Kalau kemarin belum sempat belajar, hari ini saya kembali belajar. Kalau kemarin ada kekurangan, hari ini saya berusaha memperbaikinya. Kalau kemarin ada kesalahan, hari ini saya mencoba mengambil pelajaran darinya.

Anak dan Cucu Mengajarkan Arti Kehidupan

Berkumpul bersama anak dan cucu ternyata juga menjadi ruang belajar bagi saya. Dari anak-anak saya belajar bahwa setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Dari cucu saya belajar tentang keceriaan, kesederhanaan, dan kemampuan menikmati sesuatu tanpa terlalu banyak memikirkan masa depan.

Cucu tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa bahagia. Kadang sebuah permainan sederhana sudah cukup membuat mereka tertawa. Sebuah cerita kecil bisa membuat mereka penasaran. Sebuah pelukan bisa membuat mereka merasa aman. Melihat hal itu, saya kembali belajar bahwa manusia sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak alasan untuk bersyukur.

Ketika usia bertambah, kita sering mengejar hal-hal yang semakin banyak. Kita ingin memiliki lebih banyak, mencapai lebih banyak, dikenal lebih banyak, dan menghasilkan lebih banyak. Namun anak dan cucu justru mengingatkan bahwa kebahagiaan juga bisa ditemukan dalam hal-hal yang sangat sederhana.

Duduk bersama keluarga.

Makan bersama.

Tertawa bersama.

Berdoa bersama.

Mendengarkan cerita.

Dan menikmati waktu yang sedang berjalan.

Mungkin itulah salah satu bentuk kekayaan yang sesungguhnya.

Menulis Adalah Bagian dari Perjalanan

Sebagai seorang guru dan penulis, saya tentu tidak bisa jauh dari kegiatan menulis. Menulis sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sejak bertahun-tahun lalu. Saya menulis bukan hanya karena ingin mendapatkan pembaca atau penghargaan. Saya menulis karena melalui tulisan saya dapat menyimpan pengalaman, berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, dan mungkin memberikan semangat kepada seseorang yang sedang membutuhkan.

Tidak semua tulisan mendapatkan perhatian besar. Tidak semua tulisan dibaca banyak orang. Tidak semua tulisan menghasilkan sesuatu secara materi. Tetapi saya percaya bahwa setiap tulisan mempunyai waktunya sendiri.

Bisa jadi hari ini hanya dibaca beberapa orang. Namun suatu hari nanti, tulisan tersebut mungkin ditemukan oleh seseorang yang sedang membutuhkan inspirasi. Bisa jadi tulisan yang kita anggap sederhana justru menjadi pengingat bagi orang lain untuk tidak menyerah.

Itulah sebabnya saya berusaha menulis dengan hati. Saya ingin setiap tulisan memiliki kehidupan. Ada pengalaman di dalamnya, ada pembelajaran, ada rasa syukur, dan ada pesan yang dapat dibawa pulang oleh pembacanya.

Menikmati Proses Kehidupan

Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang hasil. Proses justru sering kali jauh lebih berharga daripada hasil yang kita dapatkan.

Ketika mengajar, saya menikmati proses melihat siswa belajar. Ketika menulis, saya menikmati proses menuangkan pikiran. Ketika menjadi bagian dari komunitas pendidikan, saya menikmati proses bertemu dengan guru-guru dari berbagai daerah. Ketika berkumpul bersama keluarga, saya menikmati proses melihat anak-anak dan cucu bertumbuh.

Tidak semuanya berjalan sempurna. Ada hari ketika kita merasa lelah. Ada saat ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika hasil yang kita tunggu belum juga datang. Namun bukan berarti perjalanan harus dihentikan.

Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.

Saya percaya bahwa setiap orang mempunyai waktunya sendiri. Karena itu, saya tidak ingin terlalu memaksa kehidupan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Ada hal-hal yang bisa saya usahakan, tetapi ada pula hal-hal yang harus saya serahkan kepada Allah.

Tugas saya adalah berusaha.

Tugas saya adalah belajar.

Tugas saya adalah berdoa.

Tugas saya adalah bersyukur.

Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan jalan terbaik.

Hari Ini Harus Lebih Baik

Saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu seberapa jauh kita dibandingkan dengan orang lain. Ukuran yang lebih penting adalah apakah hari ini kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin.

Kalau kemarin mudah marah, hari ini belajar lebih sabar. Kalau kemarin malas membaca, hari ini membaca walaupun hanya beberapa halaman. Kalau kemarin belum sempat menulis, hari ini menghasilkan sebuah tulisan. Kalau kemarin kurang bersyukur, hari ini mencoba memperbanyak rasa syukur. Kalau kemarin sempat merasa putus asa, hari ini kembali menumbuhkan harapan.

Tidak perlu langsung berubah menjadi luar biasa.

Sedikit demi sedikit saja.

Hari demi hari.

Langkah demi langkah.

Sebab perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.

Keluarga Adalah Tempat Kembali

Minggu ini saya kembali merasakan bahwa keluarga adalah salah satu tempat terbaik untuk pulang. Di luar rumah kita mungkin memiliki banyak peran. Sebagai guru, kita harus mengajar. Sebagai penulis, kita harus berkarya. Sebagai pengurus organisasi, kita harus melayani dan bekerja bersama. Sebagai blogger, kita terus berbagi informasi dan pengalaman.

Namun ketika berada bersama keluarga, kita bisa menjadi diri sendiri.

Tidak perlu terlalu banyak pencitraan.

Tidak perlu membuktikan apa-apa.

Cukup hadir dan menikmati kebersamaan.

Melihat anak tersenyum dan cucu tertawa sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Dari sana saya kembali mendapatkan energi untuk melanjutkan perjalanan pada hari-hari berikutnya.

Saya sadar bahwa waktu bersama keluarga tidak akan pernah bisa diulang. Karena itu, selama masih diberikan kesempatan oleh Allah, saya ingin menikmatinya sebaik mungkin.

Omjay Terus Berjalan

Saya pun masih terus belajar. Masih banyak kekurangan, masih banyak kesalahan, dan masih banyak impian yang belum tercapai. Tetapi saya tidak ingin berhenti hanya karena perjalanan belum sempurna.

Saya ingin terus menjadi guru yang belajar, guru yang berbagi, guru yang menulis, dan guru yang berusaha memberikan manfaat bagi orang lain. Saya ingin terus menulis selama masih diberikan kesempatan dan kesehatan. Saya ingin terus berbagi pengalaman agar perjalanan yang saya lalui tidak berhenti hanya menjadi cerita pribadi, tetapi dapat memberikan manfaat bagi guru, siswa, keluarga, dan masyarakat.

Hari Minggu bersama anak dan cucu membuat saya kembali memahami satu hal penting: hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani perjalanan dengan penuh syukur, menjaga orang-orang yang kita cintai, terus memperbaiki diri, dan memberikan manfaat selama masih diberi kesempatan.

Mungkin kehidupan saya tidak selalu seberuntung orang lain. Namun saya percaya bahwa Allah telah memberikan kekuatan yang cukup untuk melewati setiap perjalanan. Bahkan mungkin, tanpa saya sadari, kekuatan untuk terus bertahan, terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi itulah salah satu hadiah terbesar yang Allah berikan kepada saya.

Maka pada Minggu pagi ini, ketika saya bisa berkumpul bersama anak dan cucu, saya kembali mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu sibuk mengejar kehidupan orang lain. Nikmati apa yang ada di depan mata. Syukuri keluarga yang masih bersama. Hargai waktu yang masih diberikan. Teruslah berkarya, tetapi jangan lupa menikmati kehidupan.

Jangan menyerah.

Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.

Jangan berhenti hanya karena hasil belum terlihat.

Teruslah melangkah.

Nikmati prosesnya.

Perbaiki diri setiap hari.

Dan ketika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum sambil berkata, “Ternyata semua perjuangan itu memang ada hikmahnya.”

Saya percaya, Allah Maha Tahu kapan kita harus berhenti sejenak, kapan kita harus kembali berjalan, dan kapan hati kita siap menerima kebahagiaan.

Hari ini saya memilih bersyukur.

Bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Bersyukur masih bisa melihat anak-anak tersenyum.

Bersyukur masih bisa bermain dan bercanda bersama cucu.

Bersyukur masih bisa mengajar.

Bersyukur masih bisa menulis.

Bersyukur masih bisa berbagi.

Dan yang paling penting, bersyukur masih diberikan kesempatan untuk terus melampaui diri sendiri.

Bukan untuk mengalahkan orang lain.

Tetapi untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diri saya kemarin.

Terus belajar. Terus menulis. Terus berbagi. Terus bersyukur.

Karena hidup adalah perjalanan, dan setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.

Barakallah fiikum.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com

Sabtu, 26 September 2026

Ayo ikutan OTN 8 di JICC Senayan Jakarta

OTN 8 2026 Hadir di JICC Senayan: Saatnya Siswa dan Guru Indonesia Unjuk Kreativitas di Dunia Teknologi

Oleh: Wijaya Kusumah

Perkembangan teknologi digital berlangsung begitu cepat. Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), coding, robotik, informatika, hingga teknologi digital lainnya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Di tengah perubahan tersebut, sekolah memiliki peran penting untuk memberikan ruang kepada peserta didik agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir, berkarya, berkreasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan inovasi dengan teknologi.

Salah satu ruang untuk mewujudkan semangat tersebut adalah OTN 8 Tahun 2026.

OTN 8 Hadir di JICC Senayan Jakarta

Olimpiade TIK dan Informatika ke-8 atau OTN 8 Tahun 2026 akan dilaksanakan pada:

📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta

OTN 8 menjadi bagian dari rangkaian kegiatan teknologi dan pendidikan yang berlangsung dalam Main Event Indocomtech 2026.

Berdasarkan matriks Rundown Main Event Indocomtech, berbagai cabang kegiatan OTN dijadwalkan selama penyelenggaraan, antara lain OTN Coding, OTN Robotic, OTN E-Sport, OTN Cerdas Cermat Informatika, dan OTN Film Pendek.

Ini bukan sekadar perlombaan.

OTN 8 merupakan kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka dapat menguji kemampuan, bekerja sama, berpikir kreatif, menyelesaikan persoalan, sekaligus membangun kepercayaan diri.


Ada Coding, Robotik, Informatika, Film Pendek, dan E-Sport

Teknologi tidak hanya tentang komputer.

Teknologi adalah tentang cara manusia berpikir dan menciptakan solusi.

Karena itu, OTN 8 menghadirkan berbagai kegiatan dengan karakter kemampuan yang berbeda.

💻 OTN Coding

Coding melatih peserta untuk berpikir logis, sistematis, dan terstruktur.

Melalui coding, siswa belajar bahwa sebuah masalah dapat dipecahkan secara bertahap melalui algoritma dan instruksi yang tepat.

🤖 OTN Robotic

Robotik menggabungkan kreativitas, logika, teknologi, dan pemecahan masalah.

Siswa tidak hanya belajar membuat sesuatu bergerak, tetapi juga belajar bagaimana sebuah sistem dapat dirancang agar mampu menjalankan fungsi tertentu.

🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika

Kegiatan ini menjadi ruang untuk menguji wawasan dan kemampuan peserta dalam bidang informatika.

Dalam matriks kegiatan, OTN Cerdas Cermat Informatika tercantum pada rangkaian acara Jumat, 30 Oktober 2026.

🎬 OTN Film Pendek

Teknologi juga dapat digunakan untuk bercerita.

Melalui film pendek, siswa dapat menggabungkan ide, penulisan cerita, pengambilan gambar, penyuntingan, dan kreativitas visual.

OTN Film Pendek juga tercantum dalam rangkaian kegiatan OTN pada Jumat, 30 Oktober 2026.

🎮 OTN E-Sport

E-sport menjadi salah satu bagian dari ekosistem digital yang berkembang di kalangan generasi muda.

Dalam rundown, OTN E-Sport tercantum pada Minggu, 1 November 2026.


Seminar Nasional OTN 8 Terbuka untuk Umum

Selain kompetisi, OTN 8 juga menghadirkan Seminar Nasional PGRI.

Yang menarik, pendaftaran Seminar Nasional OTN 8 terbuka untuk umum.

Jadi, kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi peserta lomba.

Guru, kepala sekolah, mahasiswa, orang tua, pemerhati pendidikan, komunitas, praktisi teknologi, dan masyarakat umum yang ingin menambah wawasan dapat mengikuti kegiatan seminar sesuai mekanisme pendaftaran yang disediakan panitia.

Dalam matriks Main Event Indocomtech, Seminar Nasional PGRI tercantum sebagai salah satu agenda pada Kamis, 29 Oktober 2026.

Ini menjadi kesempatan yang baik untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan perkembangan teknologi.


Guru Jangan Hanya Menjadi Penonton

Sebagai guru, kita sering meminta siswa untuk berani mencoba.

Namun, terkadang kita lupa bahwa anak-anak membutuhkan kesempatan nyata.

Karena itu, mari kita mulai dari sekolah.

Guru dapat memilih siswa yang memiliki minat pada coding.

Ajak siswa yang senang merakit untuk mengenal robotik.

Berikan kesempatan kepada siswa yang kreatif untuk membuat film pendek.

Dorong siswa yang memiliki wawasan informatika untuk mengikuti cerdas cermat.

Dan berikan ruang bagi siswa yang tertarik dengan dunia e-sport untuk belajar tentang strategi, kerja sama, disiplin, dan sportivitas.

Tidak semua anak harus menjadi juara.

Tetapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba.

Bisa jadi pengalaman mengikuti OTN 8 menjadi awal dari perjalanan panjang mereka di dunia teknologi.


Jangan Tunggu Sampai Terlambat

Kadang kita baru mengetahui potensi seorang anak setelah memberikan kesempatan kepadanya.

Ada anak yang awalnya dianggap biasa saja, tetapi ternyata memiliki kemampuan coding yang luar biasa.

Ada siswa yang pendiam di kelas, tetapi sangat kreatif ketika membuat film.

Ada yang senang bermain dan bereksperimen dengan robot.

Ada pula yang memiliki kemampuan berpikir cepat dalam bidang informatika.

Karena itu, jangan matikan mimpi anak-anak hanya karena kita belum melihat potensinya hari ini.

Berikan mereka kesempatan.

Berikan mereka pengalaman.

Berikan mereka panggung untuk menunjukkan kemampuan.

OTN 8 hadir untuk menjadi salah satu panggung tersebut.


Ayo Daftarkan Peserta OTN 8

Bagi sekolah, guru, orang tua, dan siswa yang ingin mengikuti OTN 8, pendaftaran peserta dapat dilakukan melalui:

👉

Jangan menunggu sampai mendekati hari pelaksanaan.

Segera informasikan kepada kepala sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik yang memiliki minat di bidang teknologi.

Mari kita siapkan generasi muda Indonesia untuk menghadapi masa depan dengan kreativitas, kompetensi, karakter, dan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.


OTN 8 2026

📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta

🏆 OTN Coding
🤖 OTN Robotic
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🎮 OTN E-Sport
🎤 Seminar Nasional OTN 8 – Terbuka untuk Umum

Mari Belajar, Berkarya, Berkompetisi, dan Menginspirasi.

Jangan hanya menjadi pengguna teknologi.

Jadilah generasi yang mampu menciptakan teknologi dan menggunakannya untuk kebaikan.

Ayo daftar OTN 8 sekarang!

👉


📱 Versi Caption Instagram/Facebook

OTN 8 2026 SEGERA HADIR! 🚀

Saatnya siswa Indonesia menunjukkan kreativitas dan kemampuan di bidang teknologi.

📍 JICC Senayan, Jakarta
📅 29 Oktober–1 November 2026

Ada berbagai kegiatan menarik:

💻 Coding
🤖 Robotik
🧠 Cerdas Cermat Informatika
🎬 Film Pendek
🎮 E-Sport

Bukan hanya lomba, OTN 8 adalah ruang untuk belajar, berkarya, berkompetisi, dan membangun kepercayaan diri.

🎤 Seminar Nasional OTN 8 juga terbuka untuk umum!

Guru, kepala sekolah, mahasiswa, orang tua, komunitas pendidikan, praktisi, dan masyarakat umum dapat ikut berpartisipasi.

🔥 Ayo daftarkan peserta OTN 8 sekarang!

👉

Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta teknologi!

#OTN8 #OTN2026 #Coding #Robotik #Informatika #KecerdasanArtifisial #E Sport #FilmPendek #Indocomtech #JICC #KOGTIK #PGRI #SemnasOTN8 #PendidikanIndonesia


📱 Versi WhatsApp/Grup Guru

INFO OTN 8 2026

Bapak/Ibu Guru dan Sahabat Pendidikan,

OTN 8 Tahun 2026 akan dilaksanakan pada:

📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta

Cabang kegiatan antara lain:

💻 OTN Coding
🤖 OTN Robotic
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🎮 OTN E-Sport

Selain perlombaan, tersedia juga Seminar Nasional OTN 8 yang terbuka untuk umum.

Mari ajak siswa berbakat di sekolah untuk ikut berkompetisi dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda.

👉 Pendaftaran:

OTN 8 — Belajar, Berkarya, Berkompetisi, dan Menginspirasi.


Jumat, 25 September 2026

Strategi Membaca Soal TKA

TKA SMK Bukan Sekadar Ujian, tetapi Latihan Membaca dengan Cerdas

Oleh: Wijaya Kusumah

“Kalau melihat soal panjang, langsung pusing.”

“Kalau pilihan jawabannya A, B, C, D, dan E, saya biasanya memilih yang kelihatannya paling benar.”

Pernah mengalami hal seperti itu?

Bagi sebagian siswa SMK, melihat soal panjang dalam sebuah asesmen memang bisa menimbulkan rasa khawatir. Apalagi ketika waktu terbatas dan pilihan jawaban terlihat hampir semuanya benar.

Namun, dalam literasi TKA, memilih jawaban tidak cukup hanya berdasarkan perasaan atau tebakan.

Siswa perlu belajar menjadi pembaca yang cerdas.

Materi Literasi TKA SMK yang saya gunakan dalam pembelajaran bersama siswa SMKN 18 Jakarta menekankan bahwa kemampuan literasi bukan sekadar membaca cepat. Siswa perlu memahami teks, menemukan informasi, mencari bukti, melakukan analisis, menarik kesimpulan, dan mengevaluasi informasi.

Baca, Pahami, Cari Bukti, Analisis, Jawab

Ada satu rumus sederhana yang menurut saya penting untuk diingat siswa:

BACA → PAHAMI → CARI BUKTI → ANALISIS → JAWAB.

Bukan:

BACA → TEBAK → BERHARAP BENAR.

Dalam soal literasi, jawaban yang terlihat paling benar belum tentu menjadi jawaban yang paling tepat. Jawaban harus mempunyai dasar yang dapat ditemukan melalui informasi atau penalaran dari teks.

Inilah perubahan pola pikir yang perlu dibangun.

Ketika mendapatkan soal panjang, jangan langsung mengatakan, “Wah, susah!”

Ubahlah pertanyaan itu menjadi:

“Informasi apa yang sebenarnya diminta?”

Pertanyaan sederhana ini dapat membantu siswa lebih fokus.

Mengenal Dua Dunia Teks

Dalam literasi TKA SMK, siswa akan berhadapan dengan berbagai bentuk teks.

Pertama, teks informasi.

Contohnya artikel, berita, laporan, prosedur, informasi ilmiah, informasi teknologi, infografik, dan teks mengenai fenomena sosial.

Dari teks informasi, siswa dapat ditanya tentang gagasan utama, informasi tersurat, informasi tersirat, hubungan antarinformasi, kesimpulan, hingga bukti yang mendukung jawaban.

Kedua, teks fiksi.

Misalnya cerpen, cerita, narasi, atau kutipan novel.

Dalam teks fiksi, siswa perlu memperhatikan tokoh, karakter tokoh, konflik, latar, makna ungkapan, alasan tokoh melakukan sesuatu, serta pesan yang dapat ditemukan dalam cerita.

Dengan demikian, membaca soal TKA sebenarnya merupakan latihan untuk memahami informasi secara utuh.

Trik Membaca Teks Informasi: K-B-B-K

Ada strategi sederhana yang dapat digunakan siswa ketika membaca teks informasi, yaitu K-B-B-K:

K = Kata kunci

B = Bukti

B = Bandingkan

K = Kesimpulan

Caranya sederhana.

Pertama, baca pertanyaan.

Kedua, cari kata kunci.

Ketiga, kembali ke teks dan temukan buktinya.

Keempat, bandingkan bukti tersebut dengan pilihan jawaban.

Terakhir, buat kesimpulan dan tentukan jawaban yang paling sesuai.

Strategi ini membantu siswa agar tidak membaca seluruh teks dengan kecepatan yang sama. Bagian yang berkaitan langsung dengan pertanyaan perlu mendapatkan perhatian lebih.

Jangan Takut dengan Informasi Tersirat

Salah satu jenis soal yang sering membuat siswa ragu adalah soal informasi tersirat.

Informasi tersirat tidak selalu ditulis secara langsung.

Karena itu, siswa perlu menghubungkan beberapa informasi yang tersedia.

Rumus sederhananya:

Bukti teks + logika = inferensi.

Misalnya, sebuah teks menjelaskan bahwa setelah halte baru dibangun dekat sekolah, semakin banyak siswa menggunakan bus kota.

Tidak ada kalimat yang secara langsung mengatakan, “Siswa menggunakan bus karena halte menjadi lebih dekat.”

Namun, kita dapat menghubungkan informasi tersebut.

Halte baru → lebih mudah diakses → siswa lebih banyak menggunakan transportasi umum.

Inilah yang disebut kemampuan menalar.

Bagaimana dengan Teks Fiksi?

Untuk teks fiksi, siswa dapat menggunakan pola:

TOKOH → KONFLIK → BUKTI → MAKNA

Siapa tokohnya?

Apa masalah yang dihadapinya?

Tindakan atau perkataan apa yang menunjukkan karakternya?

Apa nilai atau pesan yang dapat dipetik?

Misalnya dalam cerita tentang seorang siswa bernama Raka yang takut mengatakan bahwa laptop kelompoknya rusak. Pada akhirnya Raka berani mengatakan keadaan sebenarnya kepada teman-temannya.

Jangan hanya melihat bahwa Raka merasa takut.

Perhatikan tindakan akhirnya.

Ia tetap mengatakan keadaan yang sebenarnya.

Maka karakter Raka yang paling kuat adalah berani berkata jujur.

Artinya, dalam memahami karakter tokoh, kita harus melihat bukti berupa tindakan dan perkataan tokoh, bukan sekadar perasaan yang muncul pada awal cerita.

Jangan Terjebak pada Soal HOTS

Istilah HOTS kadang membuat siswa merasa takut.

Padahal, soal penalaran pada dasarnya mengajak siswa untuk menghubungkan informasi, membandingkan, menganalisis, menyimpulkan, mengevaluasi, dan menggunakan bukti.

Jadi, ketika bertemu soal panjang, jangan langsung menyerah.

Baca pertanyaannya.

Cari kata kuncinya.

Temukan bukti.

Gunakan logika.

Kemudian tentukan jawaban.

Soal yang panjang tidak selalu berarti soal yang sulit.

Yang penting adalah mengetahui apa yang sebenarnya ditanyakan.

Strategi Tiga Putaran

Selain kemampuan membaca, siswa juga perlu mempunyai strategi mengatur waktu.

Gunakan metode 3 PUTARAN.

Putaran 1 – Mudah

Kerjakan soal yang jawabannya dapat ditemukan dengan cepat.

Putaran 2 – Analisis

Kerjakan soal yang membutuhkan penalaran lebih panjang.

Putaran 3 – Sulit

Kembali kepada soal yang sebelumnya ditandai dan belum selesai.

Dengan strategi tersebut, siswa tidak membiarkan satu soal menghabiskan waktu untuk mengerjakan soal lainnya.

Ada satu kalimat menarik yang bisa menjadi pengingat:

“Jangan menikah dengan satu soal!”

Kalau satu soal membuat kita terjebak terlalu lama, tinggalkan sementara.

Kerjakan soal berikutnya.

Nanti, jika masih ada waktu, kembali lagi.

Tujuan kita bukan memenangkan satu soal.

Tujuan kita adalah memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk keseluruhan asesmen.

Gunakan Eliminasi Jika Ragu

Bagaimana kalau masih ragu memilih jawaban?

Gunakan teknik eliminasi.

Coret pilihan yang:

1. tidak sesuai dengan teks;
2. terlalu ekstrem;
3. tidak memiliki bukti;
4. keluar dari pembahasan;
5. bertentangan dengan informasi dalam teks.

Jika akhirnya tinggal dua pilihan, kembali lagi kepada bukti.

Jangan berkata:

“Kayaknya A.”

Biasakan berkata:

“Saya memilih A karena ada bukti pada bagian tertentu dari teks.”

Inilah pola berpikir yang harus dilatih siswa.

Pilihan Ganda Kompleks Perlu Ketelitian

Siswa juga perlu memahami bahwa dalam pilihan ganda kompleks, bisa terdapat lebih dari satu jawaban yang benar.

Karena itu, jangan terburu-buru memilih satu jawaban.

Periksa setiap pernyataan.

Apakah benar-benar didukung oleh teks?

Apakah bertentangan dengan teks?

Apakah hanya terlihat benar berdasarkan pengetahuan kita, tetapi tidak didukung oleh informasi dalam bacaan?

Kuncinya adalah membaca instruksi dengan teliti dan memeriksa setiap pilihan berdasarkan isi teks.

Kesalahan Bukan untuk Ditakuti

Ada satu kebiasaan belajar yang sangat penting setelah latihan TKA.

Jangan hanya menghitung berapa soal yang benar.

Jangan pula hanya melihat nilai.

Yang lebih penting adalah bertanya:

“Mengapa jawaban saya benar?”

dan

“Mengapa jawaban saya salah?”

Materi latihan menyarankan latihan mandiri sekitar 15 menit setiap hari, dengan fokus yang berbeda-beda: teks informasi, gagasan utama, inferensi, kesimpulan, teks fiksi, soal campuran, dan evaluasi kesalahan.

Dengan latihan kecil tetapi konsisten, kemampuan membaca dan menalar dapat terus berkembang.

Jangan Kalah Sebelum Bertanding

Kepada siswa SMKN 18 Jakarta, saya ingin menyampaikan satu pesan.

Jangan menganggap TKA sebagai sesuatu yang harus ditakuti.

Anggaplah TKA sebagai kesempatan untuk menunjukkan kemampuan membaca, berpikir, menganalisis, dan mengambil keputusan berdasarkan informasi.

Jangan hanya bertanya:

“Jawabannya apa?”

Mulailah bertanya:

“Mengapa jawaban itu benar?”

Sebab orang yang hebat bukan hanya orang yang mampu menemukan jawaban.

Orang yang hebat adalah orang yang mampu menjelaskan alasan di balik jawabannya.

Soal boleh panjang.

Waktu boleh terbatas.

Pilihan jawaban boleh membingungkan.

Tetapi siswa tetap mempunyai senjata yang sangat kuat:

pikiran yang tenang.

Baca dengan teliti.

Cari buktinya.

Gunakan logika.

Atur waktu.

Dan percaya kepada proses belajar yang sudah dijalani.

Siswa tidak harus menjadi sempurna untuk menghadapi TKA.

Siswa hanya perlu datang dengan persiapan, mengerjakan dengan strategi, dan memberikan usaha terbaik.

SMKN 18 Jakarta bisa!

Semangat belajar. Semangat membaca. Semangat menalar. Semangat menghadapi TKA!

---

Baca → Cari Bukti → Gunakan Logika → Pilih Jawaban → Cek Kembali.

Itulah kebiasaan sederhana yang perlu terus dilatih dalam literasi TKA SMK.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 24 September 2026

Belajar dan Berbagi Ilmu Menulis di SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat

Belajar dan Berbagi Ilmu Menulis Bersama Guru-Guru Hebat di SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat

Ada pertemuan yang sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang luar biasa.

Hari ini saya berkesempatan hadir dan belajar bersama guru-guru hebat di SDN Johar Baru 04, Jakarta Pusat. Suasana penuh keakraban, senyum, dan semangat berbagi terlihat dalam kebersamaan kami.

Bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di depan kelas. Guru juga harus terus belajar. Bahkan ketika sudah lama mengajar, selalu ada ilmu baru yang bisa kita dapatkan dari pengalaman dan cerita guru lainnya.

Menulis adalah salah satu cara untuk mengabadikan pengalaman itu.

Apa yang kita alami di sekolah, bagaimana kita menghadapi siswa, keberhasilan pembelajaran, kesulitan yang kita hadapi, hingga praktik baik yang kita lakukan, semuanya dapat menjadi bahan tulisan yang bermanfaat bagi guru lainnya.

Saya selalu percaya bahwa setiap guru memiliki cerita yang layak dituliskan.

Tidak harus menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Justru dengan menulis secara rutin, kita belajar menjadi penulis yang lebih baik.

Pertemuan bersama guru-guru SDN Johar Baru 04 hari ini kembali mengingatkan saya bahwa budaya literasi dapat tumbuh dari hal sederhana: mau berbagi pengalaman dan mau belajar dari orang lain.

Terima kasih kepada keluarga besar SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat atas sambutan dan kebersamaannya.

Mari terus belajar, terus berbagi, dan terus menulis.

Menulis dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan menginspirasi tanpa henti.

Salam literasi dari Omjay.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

#SDNJoharBaru04 #GuruMenulis #LiterasiGuru #BelajarBersama #GuruInspiratif #Omjay

Rabu, 23 September 2026

Undangan Berbagi Ilmu TKA di SMKN 18 Jakarta

Dari Surat Undangan, Saya Belajar: Menjadi Guru Berarti Terus Berbagi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru menerima surat undangan untuk menjadi narasumber. Bukan semata-mata karena mendapatkan kesempatan berbicara di depan banyak orang, tetapi karena ada kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Hari ini, Rabu, 23 September 2026, saya menerima sebuah surat yang membuat saya kembali merenungkan perjalanan panjang sebagai seorang guru.

Surat itu datang dari SMK Negeri 18 Jakarta, melalui surat bernomor 787/PK.01.04, tertanggal 22 September 2026. Isinya adalah permohonan kepada Kepala SMP Labschool Jakarta agar menugaskan saya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada:

  • Hari: Jumat
  • Tanggal: 25 September 2026
  • Waktu: 08.00 WIB sampai selesai
  • Tempat: Aula SMK Negeri 18 Jakarta
  • Acara: Kegiatan Pelatihan Literasi TKA

Bagi sebagian orang, mungkin surat seperti ini hanyalah surat undangan biasa.

Namun bagi saya, surat tersebut mempunyai makna yang lebih dalam.

Dari Guru Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Saya mulai mengajar sejak tahun 1994.

Artinya, perjalanan saya sebagai guru sudah sangat panjang. Banyak perubahan terjadi dalam dunia pendidikan. Dulu kita mengajar dengan papan tulis dan kapur. Kemudian hadir komputer, internet, LCD projector, smartphone, media sosial, pembelajaran digital, hingga sekarang kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Perubahan itu mengajarkan saya satu hal.

Guru tidak boleh berhenti belajar.

Ketika guru berhenti belajar, ia akan kesulitan mengajak muridnya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha belajar dari siapa saja dan dari mana saja.

Saya belajar dari buku.

Saya belajar dari pengalaman mengajar.

Saya belajar dari murid.

Saya belajar dari guru lain.

Saya belajar dari komunitas.

Dan sekarang saya juga belajar bagaimana teknologi AI dapat digunakan secara bijak dalam dunia pendidikan.

Undangan Ini Mengingatkan Saya pada Perjalanan Menulis

Menjadi narasumber juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan saya sebagai seorang penulis.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007.

Awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan pengalaman mengajar. Saya menulis apa yang saya lakukan di kelas, apa yang saya pelajari, dan apa yang saya rasakan sebagai seorang guru.

Ternyata tulisan-tulisan sederhana itu membawa saya ke banyak tempat.

Saya kemudian mendapatkan kesempatan menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pendidikan.

Dari satu undangan muncul undangan berikutnya.

Dari satu tulisan lahir tulisan lainnya.

Dari satu pertemuan saya bertemu banyak guru hebat.

Saya semakin percaya bahwa menulis adalah salah satu cara guru meninggalkan jejak kebaikan.

Ketika kita menulis, pengalaman yang kita miliki tidak berhenti di dalam diri kita.

Pengalaman itu dapat dibaca orang lain.

Dapat dipelajari.

Dapat dikembangkan.

Bahkan mungkin dapat menginspirasi guru yang belum pernah kita kenal.

Literasi TKA Bukan Sekadar Persiapan Menghadapi Tes

Dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA nanti, saya tentu tidak ingin sekadar berbicara tentang bagaimana menjawab soal.

Literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks.

Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolahnya, menilai kebenarannya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.

Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan seperti ini menjadi semakin penting.

Anak-anak kita setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi.

Ada informasi yang benar.

Ada informasi yang belum tentu benar.

Ada opini.

Ada iklan.

Ada konten yang dibuat manusia.

Ada pula konten yang dibuat dengan bantuan AI.

Karena itu, kemampuan literasi harus terus dibangun.

Guru mempunyai peran penting dalam proses tersebut.

Saya Datang Bukan untuk Menggurui

Jika nanti berdiri di depan para peserta pelatihan, saya tidak ingin merasa sebagai orang yang paling tahu.

Saya datang sebagai sesama pembelajar.

Saya akan membawa pengalaman.

Saya akan berbagi praktik yang pernah saya lakukan.

Saya juga akan membawa cerita tentang keberhasilan dan kegagalan.

Sebab dari kegagalan pun kita bisa belajar.

Saya percaya bahwa narasumber yang baik bukanlah orang yang membuat peserta merasa dirinya hebat.

Narasumber yang baik adalah orang yang membuat peserta pulang dengan membawa gagasan baru yang bisa dipraktikkan.

Itulah prinsip yang ingin saya pegang.

Terima Kasih atas Kepercayaan

Saya mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 18 Jakarta yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbagi dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.

Saya juga berterima kasih kepada Kepala SMP Labschool Jakarta atas dukungan dan kepercayaannya.

Surat undangan ini kembali mengingatkan saya bahwa perjalanan seorang guru memang tidak pernah selesai.

Mengajar membuat kita belajar.
Belajar membuat kita berkembang.
Menulis membuat pengalaman kita terdokumentasi.
Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain.

Maka, selama masih diberi kesempatan, saya akan terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi.

Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu kepada murid.

Menjadi guru adalah perjalanan untuk terus menjadi manusia pembelajar.

Dan seperti yang sering saya katakan:

“Menulislah dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan teruslah belajar sampai akhir hayat.”

Semoga kegiatan Pelatihan Literasi TKA di SMK Negeri 18 Jakarta, Jumat 25 September 2026, menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Salam literasi.
Salam guru pembelajar.
Salam Blogger Guru Indonesia.

Wijaya Kusumah
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Ketua IGTIK PGRI
Guru Blogger Indonesia


kisah omjay dan 10 ulama

Belajar Sampai Tua: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia dan 10 Ulama yang Mengajarkan Kita bahwa Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Pensiun

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada satu kalimat yang selalu saya pegang dalam perjalanan hidup sebagai guru:

“Selama kita masih hidup, selama itu pula kita masih menjadi murid.”

Saya, Omjay, seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar, masih terus belajar sampai hari ini.

Belajar teknologi.
Belajar menulis.
Belajar tentang kecerdasan artifisial.
Belajar dari murid.
Belajar dari guru lain.
Belajar dari pengalaman.
Bahkan belajar dari kesalahan sendiri.

Menjadi guru ternyata tidak berarti berhenti menjadi murid.

Justru semakin lama mengajar, saya semakin sadar bahwa ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit dibandingkan luasnya ilmu Allah.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007. Ketika itu saya sedang menempuh pendidikan S2 di Pascasarjana UNJ. Saya bertemu dengan sosok blogger dan pendidik yang menginspirasi, Pak Dedi Dwitagama.

Dari sanalah saya semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu cara untuk belajar dan berbagi.

Blog menjadi ruang belajar saya.

Saya menulis bukan karena merasa paling tahu. Saya menulis karena ingin terus belajar.

Hari ini menulis tentang pendidikan.

Besok belajar tentang teknologi.

Lusa belajar tentang AI.

Kemudian belajar tentang coding, informatika, literasi digital, organisasi guru, dan berbagai persoalan pendidikan.

Semakin banyak menulis, semakin saya menyadari satu hal:

Ternyata ilmu itu tidak pernah habis.

Dan ternyata semangat seperti inilah yang telah dicontohkan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu.

1. Imam Ahmad bin Hanbal: Membawa Tempat Tinta Sampai ke Liang Kubur

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله adalah salah satu imam besar dalam Islam dan seorang ulama besar dalam ilmu hadits.

Ada ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada beliau:

مَعَ الْمَحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ

“Bersama tempat tinta sampai ke liang kubur.”

Pesannya sangat dalam.

Belajar tidak mengenal usia.

Menjadi ulama besar tidak membuat seseorang berhenti mencari ilmu.

Bahkan dalam riwayat yang disebutkan oleh sebagian sumber, ketika beliau sakit menjelang wafat, beliau masih meminta agar hadits yang pernah didengarnya dibacakan kepadanya.

Saya membayangkan:

Jika seorang ulama besar saja masih merasa perlu belajar, lalu siapa kita sehingga merasa sudah cukup berilmu?

Saya pun sering mengingatkan diri sendiri:

Jangan merasa sudah pintar hanya karena sudah lama mengajar.

Lama mengajar bukan berarti kita sudah mengetahui semuanya.

2. Al-Khathib Al-Baghdadi: Ilmu Kadang Harus Dicari dengan Perjalanan

Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi رحمه الله adalah seorang ulama besar dalam ilmu hadits dan sejarah.

Beliau melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk mencari ilmu dan hadits.

Baghdad, Bashrah, Kufah, Naisabur, Rayy, Isfahan, Makkah, Syam, dan berbagai tempat lainnya menjadi bagian dari perjalanan ilmiahnya.

Dari kisah beliau saya belajar:

Ilmu tidak selalu datang mengetuk pintu rumah kita.

Kadang kitalah yang harus mengetuk pintu ilmu.

Hari ini perjalanan mencari ilmu mungkin tidak harus menggunakan unta atau berjalan kaki seperti para ulama dahulu.

Kita bisa membuka buku.

Mengikuti seminar.

Mengikuti webinar.

Membaca jurnal.

Menonton pembelajaran.

Berdiskusi dengan guru lain.

Bahkan memanfaatkan teknologi dan AI sebagai alat bantu belajar.

Namun prinsipnya tetap sama:

Jangan berhenti mencari ilmu.

3. Abu Nu'aim Al-Isfahani: Jangan Cepat Merasa Kenyang dengan Ilmu

Abu Nu'aim al-Isfahani رحمه الله dikenal sebagai ulama hadits.

Beliau memiliki banyak guru dan melakukan perjalanan untuk memperoleh ilmu dan hadits.

Ketika ilmu telah diperoleh, ilmu itu tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Beliau mengajarkannya kepada orang lain.

Di sinilah saya menemukan hubungan yang sangat kuat dengan profesi guru.

Guru yang baik bukan hanya belajar untuk dirinya sendiri.

Guru belajar agar bisa membuat muridnya ikut bertumbuh.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha membagikan apa yang saya pelajari melalui tulisan.

Saya menulis di blog.

Saya menulis di media.

Saya membuat bahan ajar.

Saya berbagi pengalaman kepada guru.

Saya belajar dari guru.

Kemudian saya menulis lagi.

Siklusnya terus berjalan.

Belajar → menulis → berbagi → mendapat masukan → belajar lagi.

4. Al-Khattabi: Bertambah Usia, Jangan Kehilangan Rasa Ingin Tahu

Imam al-Khattabi رحمه الله dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian besar terhadap hadits dan fikih.

Perjalanan ilmiahnya mencakup berbagai wilayah.

Kisah para ulama seperti beliau mengingatkan saya bahwa bertambah usia seharusnya tidak membuat rasa ingin tahu kita semakin kecil.

Justru sebaliknya.

Semakin tua, seharusnya semakin banyak pertanyaan yang kita ajukan kepada kehidupan.

Mengapa?

Karena pengalaman membuat kita memahami bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan ketika masih muda.

Saya merasakan sendiri.

Dulu saya belajar komputer.

Sekarang saya belajar AI.

Dulu saya menulis di blog.

Sekarang saya belajar bagaimana teknologi AI dapat membantu guru dan siswa.

Dulu internet masih menjadi sesuatu yang baru.

Sekarang anak-anak kita hidup dalam ekosistem digital.

Kalau guru berhenti belajar, bagaimana mungkin guru mampu membimbing generasi baru?

5. Ibnu Hajar Al-'Asqalani: Puluhan Tahun Bersama Ilmu

Ibnu Hajar al-'Asqalani رحمه الله dikenal melalui karya monumentalnya, Fathul Bari, syarah terhadap Shahih al-Bukhari.

Karya besar tidak lahir dalam satu malam.

Ia membutuhkan waktu, ketekunan, penelitian, membaca, menulis, memeriksa, dan terus memperbaiki.

Di sinilah saya belajar tentang pentingnya konsistensi.

Saya sendiri sudah menulis di blog sejak 2007.

Bagi sebagian orang, mungkin menulis blog terlihat sederhana.

Tetapi ketika dilakukan bertahun-tahun, tulisan itu menjadi perjalanan hidup.

Ada tulisan tentang guru.

Ada tentang pendidikan.

Ada tentang teknologi.

Ada tentang pengalaman mengajar.

Ada tentang perjalanan.

Ada tentang organisasi.

Ada tentang kehidupan.

Lama-kelamaan saya sadar:

Blog bukan sekadar tempat menyimpan tulisan.

Blog adalah jejak perjalanan belajar.

6. Abdullah bin Al-Mubarak: Keluar dari Zona Nyaman

Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله adalah salah seorang imam besar yang dikenal dalam hadits, zuhud, dan berbagai bidang lainnya.

Beliau melakukan perjalanan yang luas untuk mencari ilmu.

Kisah beliau mengajarkan bahwa mencari ilmu membutuhkan pengorbanan.

Kadang kita harus meninggalkan kenyamanan.

Harus meluangkan waktu.

Harus membaca ketika orang lain sedang bersantai.

Harus belajar ketika orang lain berkata, “Sudahlah, kamu sudah tua.”

Saya pun belajar bahwa menjadi guru di zaman sekarang mengharuskan kita terus beradaptasi.

Teknologi berubah.

Kurikulum berubah.

Cara belajar siswa berubah.

Kecerdasan artifisial berkembang sangat cepat.

Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal.

7. Saya, Omjay, Juga Masih Belajar

Saya sering ditanya:

“Omjay sudah lama menjadi guru. Mengapa masih terus belajar?”

Jawabannya sederhana.

Karena saya seorang guru.

Dan guru tidak boleh berhenti belajar.

Saya mulai mengajar sejak 1994.

Puluhan tahun berada di dunia pendidikan tidak membuat saya merasa sudah selesai.

Justru saya semakin sadar bahwa menjadi guru adalah perjalanan panjang.

Saya masih belajar membuat pembelajaran yang lebih menarik.

Masih belajar coding.

Masih belajar AI.

Masih belajar menulis.

Masih belajar membuat media pembelajaran.

Masih belajar dari murid.

Masih belajar dari teman-teman guru.

Masih belajar dari para pembaca tulisan saya.

Dan mungkin, proses belajar itu tidak akan pernah selesai.

8. Jangan Menunggu Pensiun untuk Belajar

Ada orang berkata:

“Nanti kalau sudah pensiun saya akan belajar.”

Saya tersenyum mendengarnya.

Sebab kita tidak pernah tahu apakah kita akan sampai pada masa pensiun dengan kondisi yang kita harapkan.

Karena itu saya memilih belajar sekarang.

Bukan nanti.

Kalau ada buku, saya baca.

Kalau ada ilmu baru, saya pelajari.

Kalau ada guru yang lebih tahu, saya bertanya.

Kalau ada teknologi baru, saya mencoba memahaminya.

Kalau ada kesalahan, saya perbaiki.

Jangan menunggu waktu luang untuk belajar.

Sisihkan waktu untuk belajar.

9. Jangan Malu Belajar dari Orang yang Lebih Muda

Ini juga penting.

Kadang usia membuat seseorang merasa gengsi belajar dari orang yang lebih muda.

Menurut saya, itu justru penghalang terbesar dalam belajar.

Saya pernah belajar dari siswa.

Saya pernah belajar dari guru yang lebih muda.

Saya belajar dari mahasiswa.

Saya belajar dari komunitas.

Saya belajar dari para pembuat konten pendidikan.

Saya belajar dari teknologi.

Bahkan ketika menggunakan AI, saya selalu mengingat bahwa AI hanyalah alat.

Manusia tetap harus menggunakan akal, pengalaman, hati nurani, dan tanggung jawab.

Teknologi boleh semakin canggih.

Tetapi manusia harus tetap menjadi pembelajar.

10. Allah Mengajarkan Kita untuk Terus Meminta Tambahan Ilmu

Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

QS. Thaha: 114

Ayat ini sangat indah.

Kita tidak diperintahkan untuk merasa cukup.

Kita justru diajarkan meminta:

“Tambahkanlah kepadaku ilmu.”

Bagi saya, ayat ini sangat relevan bagi guru.

Karena setiap hari kita berhadapan dengan manusia yang sedang tumbuh.

Murid kita berubah.

Teknologi berubah.

Dunia berubah.

Maka guru pun harus terus berubah menjadi pembelajar.


Belajar Sampai Tua, Mengamalkan Sampai Wafat

Saya mungkin tidak akan pernah menjadi seperti Imam Ahmad bin Hanbal.

Tidak akan seperti al-Khathib al-Baghdadi.

Tidak akan seperti Ibnu Hajar al-'Asqalani.

Namun saya bisa meneladani semangat mereka dalam mencintai ilmu.

Saya bisa terus membaca.

Saya bisa terus menulis.

Saya bisa terus mengajar.

Saya bisa terus berbagi.

Saya bisa terus belajar dari siapa saja.

Dan saya bisa terus memperbaiki diri.

Itulah perjalanan saya sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Saya belajar bahwa umur bukan alasan untuk berhenti.

Pensiun dari pekerjaan mungkin suatu saat datang.

Tetapi pensiun dari belajar seharusnya tidak pernah ada.

Selama masih diberikan umur, mari belajar.

Selama masih diberikan kesempatan, mari berbagi.

Selama masih diberikan kesehatan, mari berkarya.

Dan selama masih diberikan napas, mari terus memperbaiki diri.

Tidak harus memulai dengan sesuatu yang besar.

Mulailah dari satu halaman buku.

Satu ayat.

Satu hadits.

Satu tulisan.

Satu keterampilan.

Satu kesalahan yang diperbaiki.

Satu kebaikan yang diamalkan.

Kemudian lakukan lagi besok.

Dan besoknya lagi.

Sampai akhirnya Allah memanggil kita.

Belajar sampai tua.

Mengamalkan sampai wafat.

Menulis dengan hati.

Berbagi dengan ikhlas.

Menginspirasi tanpa henti.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, mengajarkannya dengan ikhlas, dan terus belajar sampai akhir kehidupan.

اللَّهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعًا

“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.”

🤲 Salam Blogger Indonesia.

Omjay — Guru yang terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi.


Selasa, 22 September 2026

resensi buku kumpulan cerita guru sdn bintaro 12

Buku Kumpulan Artikel Pengalaman Mengajar: Jejak, Cerita, Tantangan, dan Pelajaran dari Ruang Kelas Guru-Guru SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan. Buku ini memiliki 296 halaman dan memuat 39 artikel/pengalaman guru yang terbagi dalam tiga bagian besar: perjalanan guru, belajar dari anak, serta refleksi dan perjuangan guru.  

Ringkasan Buku

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan guru. Ia merupakan rekaman perjalanan, pengalaman, perjuangan, dan refleksi para pendidik SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan dalam menjalankan tugas mendidik anak-anak.

Gagasan utama buku ini sangat kuat: setiap guru memiliki cerita dan setiap ruang kelas meninggalkan jejak. Pengalaman yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam ingatan ternyata dapat diubah menjadi tulisan yang bermanfaat bagi guru lain. 

Buku diawali dengan kisah perjalanan seorang guru sejak 2006 hingga sekarang. Salah satu tulisan menggambarkan perjalanan mengajar melalui beberapa sekolah dan karakter peserta didik yang berbeda. Dari keterbatasan fasilitas, guru belajar tentang perjuangan dan kreativitas; dari lingkungan yang disiplin, belajar tentang ketertiban; dari masa pandemi, belajar beradaptasi dengan teknologi; dan dari anak-anak SD, belajar kembali tentang kesabaran, kehangatan, serta kegembiraan dalam mendidik.  

Bagian berikutnya membawa pembaca lebih dekat ke dunia anak. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar memahami karakter setiap peserta didik. Anak yang aktif membutuhkan pengarahan, anak yang pemalu membutuhkan kesempatan, sementara anak yang mengalami kesulitan belajar membutuhkan pendampingan, bukan perbandingan. 

Buku ini juga menunjukkan bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Guru belajar dari pelatihan, teknologi, pengalaman, rekan sejawat, dan yang paling penting, dari murid-muridnya sendiri. 

Pada akhirnya, buku ini mengajak guru untuk tidak membiarkan pengalaman mengajar hilang begitu saja. Tulislah pengalaman, abadikan perjalanan, bagikan pembelajaran, dan jadikan cerita sebagai warisan bagi generasi berikutnya. Gagasan tersebut sangat kuat dalam kata pengantar Om Jay. 

---

Resensi Buku

Ketika Guru Menulis, Ruang Kelas Menjadi Warisan

Ada banyak buku tentang pendidikan.

Ada buku tentang teori pembelajaran. Ada buku tentang kurikulum. Ada buku tentang metode mengajar. Ada pula buku tentang teknologi pendidikan.

Namun, Kumpulan Artikel Pengalaman Mengajar menawarkan sesuatu yang berbeda.

Buku ini membawa pembaca masuk ke tempat yang paling nyata dalam dunia pendidikan: ruang kelas dan kehidupan para guru.

Di balik papan tulis, buku pelajaran, tugas siswa, rapat sekolah, dan rutinitas mengajar, ternyata tersimpan begitu banyak cerita manusia.

Ada guru yang belajar memahami muridnya.

Ada guru yang harus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ada guru yang menghadapi keterbatasan.

Ada guru yang menemukan kebahagiaan ketika melihat muridnya berkembang.

Dan ada guru yang akhirnya menyadari bahwa selama ini bukan hanya dirinya yang mengajar anak-anak, tetapi anak-anak juga telah mengajarinya tentang kehidupan.

Itulah kekuatan utama buku ini.

Bukan sekadar buku, tetapi dokumentasi pengabdian

Kepala SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan dalam kata pengantarnya menegaskan bahwa buku ini merupakan rekam jejak perjalanan guru dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Di dalamnya terdapat cerita tentang ruang kelas, peserta didik, tantangan pembelajaran, kebersamaan warga sekolah, hingga pelajaran hidup yang diperoleh guru ketika mendampingi anak-anak. 

Karena itu, membaca buku ini terasa seperti membuka album perjalanan sebuah sekolah.

Setiap tulisan menjadi satu keping kenangan.

Setiap pengalaman menjadi pembelajaran.

Dan setiap guru menjadi bagian dari cerita besar tentang pendidikan.

Guru belajar dari murid

Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya menampilkan guru sebagai manusia yang terus belajar.

Guru bukan sosok yang selalu tahu segala sesuatu.

Guru juga bisa salah.

Guru bisa lelah.

Guru bisa bingung menghadapi karakter anak yang berbeda.

Namun, guru yang baik mau melakukan refleksi dan terus memperbaiki diri.

Dalam salah satu tulisan, pengalaman mengajar kelas 1 memperlihatkan bahwa anak yang aktif tidak selalu harus dimarahi, anak pemalu tidak harus dipaksa, dan anak yang lambat memahami pelajaran tidak seharusnya dibandingkan dengan teman-temannya. 

Pesan seperti ini terasa sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan guru sehari-hari.

Dari pengalaman menjadi inspirasi

Buku ini juga mempunyai pesan literasi yang kuat.

Om Jay menegaskan bahwa pengalaman guru jangan berhenti menjadi kenangan pribadi. Ketika pengalaman dituliskan, pengalaman tersebut dapat menjadi dokumentasi, bahan refleksi, sekaligus sumber inspirasi bagi guru lainnya. 

Inilah yang membuat buku ini relevan bukan hanya bagi guru SD Negeri Bintaro 12.

Guru di sekolah lain pun dapat bercermin melalui kisah-kisah di dalamnya.

Mungkin pembaca akan menemukan pengalaman yang mirip dengan yang pernah dialaminya.

Mungkin menemukan solusi.

Mungkin menemukan inspirasi.

Atau mungkin justru tergerak untuk mulai menulis pengalaman mengajarnya sendiri.

Buku yang cocok untuk guru dan pegiat literasi

Menurut saya, salah satu nilai penting buku ini adalah dokumentasi budaya literasi guru.

Guru tidak hanya diminta membaca tulisan orang lain.

Guru juga diajak menjadi penulis atas pengalaman hidupnya sendiri.

Pesannya sangat jelas: tulisan guru tidak harus menggunakan bahasa rumit. Yang penting adalah kejujuran dalam bercerita—apa yang dialami, dirasakan, dilakukan, berhasil atau belum berhasil, dan apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut. 

Dengan demikian, buku ini dapat dibaca oleh:

Guru, sebagai bahan refleksi dan inspirasi.

Kepala sekolah, sebagai contoh pengembangan budaya literasi sekolah.

Mahasiswa pendidikan, untuk melihat realitas dunia sekolah dari pengalaman guru.

Orang tua, untuk memahami bahwa mendidik anak membutuhkan kesabaran dan kerja sama.

Penggiat literasi, sebagai contoh bagaimana pengalaman sehari-hari dapat diubah menjadi karya.

Sekolah, sebagai inspirasi untuk membuat buku antologi pengalaman guru.

Kelebihan Buku

1. Ceritanya dekat dengan kehidupan guru.
Pembaca tidak disuguhi teori yang terlalu abstrak, tetapi pengalaman nyata dari ruang kelas.

2. Banyak perspektif.
Buku ini terdiri atas banyak tulisan guru sehingga pembaca mendapatkan beragam pengalaman, karakter, dan sudut pandang.

3. Mengandung nilai refleksi.
Pembaca diajak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga bertanya: Apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman guru ini?

4. Menguatkan budaya menulis guru.
Buku ini membuktikan bahwa pengalaman mengajar dapat menjadi bahan tulisan yang bernilai.

5. Memiliki nilai dokumentasi sekolah.
Buku ini dapat menjadi bagian dari sejarah perjalanan SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan.

---

Kalimat Promosi yang Bisa Membuat Orang Tertarik Memesan

“Jangan hanya mengajar. Abadikan pengalaman Anda.”

Setiap guru memiliki cerita.

Ada cerita tentang murid pertama.

Ada cerita tentang kelas yang penuh tantangan.

Ada cerita tentang anak yang perlahan berubah.

Ada cerita tentang perjuangan, kesabaran, air mata, tawa, dan kebahagiaan ketika melihat peserta didik berhasil.

Semua itu terangkum dalam buku:

KUMPULAN ARTIKEL PENGALAMAN MENGAJAR

Jejak, Cerita, Tantangan, dan Pelajaran dari Ruang Kelas Guru-Guru SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan

📖 296 halaman
✍️ 39 artikel pengalaman guru
🏫 Kisah nyata dari ruang kelas
❤️ Penuh refleksi, inspirasi, dan ketulusan
📚 Cocok untuk guru, kepala sekolah, mahasiswa pendidikan, orang tua, dan pegiat literasi.

Buku ini mengingatkan kita bahwa pengalaman mengajar yang sederhana sekalipun bisa menjadi ilmu yang berharga ketika dituliskan.

Seperti pesan Om Jay:

> “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” 

Jangan biarkan cerita guru hilang bersama waktu.

📚 Pesan bukunya sekarang.
Jadikan buku ini teman membaca, sumber inspirasi, sekaligus pengingat bahwa setiap guru sedang menulis sejarah melalui murid-murid yang dididiknya.

Satu buku mungkin hanya beberapa ratus halaman.
Tetapi di dalamnya tersimpan puluhan perjalanan hidup guru dan ratusan pelajaran kehidupan.

Semoga buku ini menjadi jejak kebaikan yang terus dikenang, dibaca, dan menginspirasi.

Senin, 21 September 2026

Materi Budaya Digital Kelas 9 SMP

BAB 4

BUDAYA DIGITAL

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian budaya digital dan karakteristiknya.
  2. Mengidentifikasi perubahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi digital.
  3. Menerapkan etika dan sopan santun dalam berkomunikasi di ruang digital.
  4. Menjelaskan pentingnya menjaga privasi dan keamanan data pribadi.
  5. Mengenali berbagai bentuk jejak digital serta dampaknya bagi kehidupan.
  6. Membedakan informasi yang benar, keliru, menyesatkan, dan berpotensi menjadi hoaks.
  7. Menerapkan prinsip berpikir kritis sebelum membagikan informasi.
  8. Menghargai hak cipta dan menggunakan karya digital secara bertanggung jawab.
  9. Menunjukkan perilaku positif, aman, sehat, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi digital.
  10. Membuat karya atau kampanye sederhana tentang budaya digital yang positif.

B. Peta Konsep

BUDAYA DIGITAL

├── 1. Pengertian Budaya Digital
│ ├── Perubahan perilaku
│ ├── Teknologi digital
│ └── Masyarakat digital
│
├── 2. Etika Digital
│ ├── Sopan santun
│ ├── Komunikasi
│ ├── Empati
│ └── Tanggung jawab
│
├── 3. Jejak Digital
│ ├── Jejak aktif
│ ├── Jejak pasif
│ └── Dampak jejak digital
│
├── 4. Privasi dan Keamanan Data
│ ├── Data pribadi
│ ├── Kata sandi
│ ├── Phishing
│ └── Keamanan akun
│
├── 5. Literasi Informasi
│ ├── Informasi
│ ├── Hoaks
│ ├── Verifikasi
│ └── Berpikir kritis
│
├── 6. Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual
│ ├── Hak cipta
│ ├── Plagiarisme
│ └── Lisensi
│
└── 7. Budaya Digital Positif
├── Kreatif
├── Produktif
├── Aman
├── Santun
└── Bertanggung jawab


C. Materi Pembelajaran

1. Mengenal Budaya Digital

Pernahkah kamu menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan teman? Pernahkah kamu mencari informasi melalui mesin pencari, menonton video pembelajaran, menggunakan media sosial, bermain gim daring, atau mengerjakan tugas menggunakan komputer?

Semua kegiatan tersebut merupakan bagian dari kehidupan digital.

Budaya digital adalah kebiasaan, nilai, norma, cara berpikir, dan perilaku manusia dalam menggunakan teknologi digital serta berinteraksi di ruang digital.

Teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja. Teknologi juga mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, mencari informasi, berbelanja, berkarya, dan bersosialisasi.

Contohnya:

  • dahulu orang mengirim surat untuk berkomunikasi jarak jauh;
  • sekarang pesan dapat dikirim melalui aplikasi komunikasi;
  • dahulu mencari informasi membutuhkan buku atau ensiklopedia;
  • sekarang informasi dapat ditemukan melalui internet;
  • dahulu karya seseorang hanya dapat dilihat oleh orang di sekitarnya;
  • sekarang karya dapat dibagikan kepada masyarakat luas melalui platform digital.

Perubahan tersebut memberikan banyak manfaat. Namun, penggunaan teknologi juga menimbulkan tantangan. Oleh karena itu, seorang pelajar perlu memiliki budaya digital yang baik.

Aktivitas 4.1 – Refleksi Digital

Tuliskan lima aktivitas digital yang kamu lakukan dalam satu hari.

No. Aktivitas Teknologi yang Digunakan Manfaat
1
2
3
4
5

Setelah mengisi tabel, diskusikan bersama teman: apakah semua aktivitas tersebut memberikan manfaat?


2. Etika Digital

Ketika berbicara dengan orang lain secara langsung, kita menggunakan sopan santun. Hal yang sama harus dilakukan ketika berkomunikasi menggunakan teknologi digital.

Etika digital adalah aturan, norma, dan perilaku yang seharusnya diterapkan seseorang ketika berinteraksi menggunakan teknologi dan internet.

Contoh etika digital:

  1. Menggunakan bahasa yang sopan.
  2. Menghargai pendapat orang lain.
  3. Tidak melakukan penghinaan atau perundungan.
  4. Tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.
  5. Tidak mengirim pesan secara berlebihan.
  6. Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa mempertimbangkan izin dan konteksnya.
  7. Tidak menulis komentar yang merendahkan.
  8. Memeriksa informasi sebelum membagikannya.
  9. Menghargai karya orang lain.
  10. Bertanggung jawab atas konten yang dibuat dan dibagikan.

Contoh

Bayangkan seorang siswa mendapatkan nilai ujian yang rendah. Temannya kemudian mengambil foto hasil ujian tersebut dan mengunggahnya ke grup kelas dengan komentar yang mengejek.

Perbuatan tersebut tidak mencerminkan budaya digital yang baik.

Sebaliknya, teman yang memberikan dukungan dan membantu belajar menunjukkan penggunaan teknologi yang lebih positif.


3. Jejak Digital

Setiap aktivitas yang kita lakukan di internet dapat meninggalkan informasi tertentu yang disebut jejak digital.

Jejak digital dapat berupa:

  • unggahan media sosial;
  • komentar;
  • foto;
  • video;
  • riwayat aktivitas;
  • akun yang dibuat;
  • forum yang diikuti;
  • transaksi digital;
  • dan berbagai aktivitas lainnya.

Secara sederhana, jejak digital dapat dibedakan menjadi dua.

a. Jejak Digital Aktif

Jejak digital aktif merupakan informasi yang sengaja dibuat atau dibagikan oleh pengguna.

Contohnya:

  • membuat unggahan;
  • memberikan komentar;
  • mengunggah foto;
  • menulis artikel;
  • membuat video;
  • memberikan ulasan.

b. Jejak Digital Pasif

Jejak digital pasif merupakan data atau informasi yang dapat tercatat ketika seseorang menggunakan layanan digital, meskipun pengguna tidak secara langsung membuat unggahan.

Contohnya dapat berupa data teknis penggunaan layanan atau aktivitas tertentu yang tercatat oleh sistem.

Mengapa Jejak Digital Penting?

Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah saya tetap nyaman jika unggahan ini dilihat guru, orang tua, teman, atau masyarakat beberapa tahun mendatang?

Internet membuat informasi dapat tersebar dengan cepat. Karena itu, kita perlu berpikir sebelum mengunggah dan membagikan sesuatu.


4. Privasi dan Data Pribadi

Privasi adalah hak seseorang untuk menjaga informasi tentang dirinya agar tidak digunakan atau disebarluaskan secara sembarangan.

Contoh data pribadi antara lain:

  • nama lengkap;
  • alamat;
  • nomor telepon;
  • tanggal lahir;
  • alamat surat elektronik;
  • foto;
  • identitas sekolah;
  • informasi akun;
  • kata sandi;
  • dan informasi lain yang dapat berkaitan dengan seseorang.

Tidak semua data harus dibagikan kepada publik.

Cara Menjaga Data Pribadi

Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan:

  1. Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk akun penting.
  2. Jangan membagikan kata sandi kepada teman.
  3. Aktifkan autentikasi tambahan jika tersedia.
  4. Berhati-hati ketika membuka tautan.
  5. Jangan memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.
  6. Periksa alamat situs sebelum memasukkan data.
  7. Hindari menggunakan komputer umum untuk menyimpan informasi sensitif.
  8. Keluar dari akun setelah menggunakan perangkat bersama.
  9. Perbarui perangkat lunak secara berkala.
  10. Laporkan aktivitas mencurigakan kepada orang dewasa yang dipercaya atau pihak yang sesuai.

5. Mengenal Phishing

Phishing adalah upaya untuk memperoleh informasi tertentu dengan cara menipu pengguna, misalnya melalui pesan, situs, atau tautan yang dibuat seolah-olah berasal dari pihak yang tepercaya.

Contoh pesan:

"Selamat! Anda mendapatkan hadiah. Klik tautan berikut dan masukkan data akun untuk mengambil hadiah."

Pesan seperti itu perlu dicurigai.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

  • meminta kata sandi;
  • meminta kode verifikasi;
  • meminta data pribadi;
  • menggunakan bahasa yang mendesak;
  • memberikan hadiah yang tidak masuk akal;
  • meminta korban segera mengeklik tautan;
  • alamat situs terlihat mencurigakan.

Prinsip sederhana:

Berhenti – Periksa – Jangan Terburu-buru.

Jika ragu, jangan mengeklik tautan dan mintalah bantuan orang dewasa atau pihak yang dapat dipercaya.


6. Literasi Informasi dan Hoaks

Internet menyediakan informasi dalam jumlah yang sangat besar. Namun, tidak semua informasi yang ditemukan di internet benar.

Karena itu, siswa perlu memiliki literasi informasi, yaitu kemampuan untuk menemukan, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan membagikan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.

Hoaks

Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan sebagai sesuatu yang benar.

Hoaks dapat berbentuk:

  • teks;
  • foto;
  • video;
  • audio;
  • judul berita;
  • tangkapan layar;
  • atau gabungan berbagai media.

Cara Memeriksa Informasi

Sebelum membagikan informasi, lakukan beberapa langkah:

1. Periksa sumber

Siapa yang membuat informasi tersebut?

2. Periksa tanggal

Apakah informasinya masih relevan?

3. Bandingkan dengan sumber lain

Apakah media atau sumber tepercaya lainnya memberitakan hal yang sama?

4. Periksa konteks

Apakah foto atau video digunakan sesuai konteks aslinya?

5. Jangan hanya membaca judul

Baca isi informasi secara lengkap.

6. Jangan terburu-buru membagikan

Jika belum yakin, lebih baik tidak membagikannya.


7. Berpikir Kritis di Dunia Digital

Berpikir kritis berarti tidak langsung menerima semua informasi sebagai kebenaran.

Ketika mendapatkan informasi, kita dapat menggunakan pertanyaan berikut:

  • Apa yang sebenarnya dikatakan?
  • Siapa yang menyampaikan?
  • Apa buktinya?
  • Kapan informasi tersebut dibuat?
  • Dari mana sumbernya?
  • Apakah ada sumber lain yang mendukung?
  • Apakah terdapat kepentingan tertentu di balik informasi tersebut?

Kemampuan berpikir kritis sangat penting karena teknologi membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat.


8. Hak Cipta dan Menghargai Karya Orang Lain

Internet memberikan kemudahan untuk menemukan gambar, musik, video, tulisan, dan berbagai karya lainnya.

Namun, mudah ditemukan bukan berarti bebas digunakan tanpa memperhatikan hak pencipta.

Hak cipta merupakan hak yang berkaitan dengan karya yang dibuat seseorang atau pihak tertentu.

Contoh karya yang dapat memiliki perlindungan hak cipta:

  • buku;
  • artikel;
  • foto;
  • musik;
  • video;
  • ilustrasi;
  • perangkat lunak;
  • karya seni;
  • dan berbagai karya kreatif lainnya.

Contoh Perilaku yang Tidak Tepat

Seorang siswa mengambil artikel milik orang lain dan mengumpulkannya sebagai tugas tanpa mencantumkan sumber.

Perbuatan tersebut tidak menghargai karya penulis.

Cara Menghargai Karya Digital

  1. Mencantumkan sumber.
  2. Tidak mengaku karya orang lain sebagai karya sendiri.
  3. Memahami ketentuan penggunaan karya.
  4. Menggunakan karya yang memang diperbolehkan untuk digunakan.
  5. Menghargai lisensi karya.
  6. Membuat karya sendiri jika memungkinkan.

9. Perundungan Siber

Perundungan siber (cyberbullying) adalah tindakan menyakiti, mempermalukan, mengintimidasi, atau mengganggu orang lain melalui teknologi digital.

Contohnya:

  • mengirim pesan penghinaan;
  • menyebarkan foto seseorang untuk mempermalukannya;
  • membuat akun palsu untuk mengejek;
  • menyebarkan rumor;
  • mengucilkan seseorang secara sengaja melalui ruang digital.

Jika melihat perundungan siber:

  1. Jangan ikut menyebarkan.
  2. Jangan membalas dengan tindakan yang sama.
  3. Simpan bukti jika diperlukan.
  4. Gunakan fitur pelaporan pada platform.
  5. Ceritakan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya.
  6. Berikan dukungan kepada korban.

Budaya digital yang sehat dibangun dengan saling menghormati.


10. Keseimbangan Kehidupan Digital

Teknologi merupakan alat yang membantu manusia. Namun, penggunaan teknologi perlu dilakukan secara seimbang.

Penggunaan perangkat digital secara berlebihan dapat mengurangi waktu untuk:

  • belajar;
  • tidur;
  • berolahraga;
  • berinteraksi dengan keluarga;
  • bermain secara langsung;
  • dan melakukan kegiatan produktif lainnya.

Karena itu, siswa perlu membuat kebiasaan digital yang sehat.

Contohnya:

  • mengatur waktu penggunaan perangkat;
  • mengutamakan tugas sekolah;
  • beristirahat secara teratur;
  • melakukan aktivitas fisik;
  • tidak menggunakan perangkat secara berlebihan menjelang tidur;
  • menggunakan teknologi untuk kegiatan yang bermanfaat.

11. Budaya Digital untuk Belajar

Teknologi digital dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat bermanfaat.

Siswa dapat menggunakan teknologi untuk:

  • mencari bahan pembelajaran;
  • membuat presentasi;
  • membuat video;
  • belajar pemrograman;
  • berdiskusi;
  • melakukan penelitian;
  • membuat infografis;
  • bekerja sama dalam kelompok;
  • dan menghasilkan karya digital.

Prinsip pentingnya adalah:

Gunakan teknologi bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk mencipta.

Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah pembuat karya.


12. Kecerdasan Buatan dan Budaya Digital

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) memberikan berbagai peluang baru bagi siswa.

AI dapat membantu:

  • mencari ide;
  • memahami materi;
  • membuat latihan;
  • membantu proses pemrograman;
  • membuat rancangan;
  • menganalisis informasi;
  • dan mendukung kreativitas.

Namun, AI harus digunakan secara bertanggung jawab.

Siswa tidak boleh:

  • menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI;
  • menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya;
  • menggunakan AI untuk menipu dalam tugas;
  • memasukkan data pribadi atau rahasia ke dalam layanan yang tidak seharusnya;
  • menganggap semua keluaran AI pasti benar.

Prinsipnya:

AI adalah alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.

Siswa tetap harus membaca, memeriksa, memahami, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.


13. Menjadi Warga Digital yang Baik

Seorang warga digital yang baik memiliki beberapa karakter.

Cerdas

Mampu memilih dan mengevaluasi informasi.

Aman

Mampu menjaga akun dan data pribadi.

Santun

Menghormati orang lain dalam komunikasi digital.

Kreatif

Menghasilkan karya yang bermanfaat.

Kritis

Tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terbukti.

Bertanggung Jawab

Memahami bahwa setiap tindakan digital dapat memiliki konsekuensi.

Produktif

Menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan memecahkan masalah.


D. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas 1 – Audit Jejak Digital

Buatlah daftar aktivitas digital yang kamu lakukan selama satu minggu.

Kelompokkan menjadi:

  • aktivitas belajar;
  • aktivitas komunikasi;
  • aktivitas hiburan;
  • aktivitas membuat karya;
  • aktivitas lainnya.

Kemudian jawab:

  1. Aktivitas apa yang paling banyak kamu lakukan?
  2. Aktivitas apa yang paling memberikan manfaat?
  3. Apakah ada aktivitas yang perlu dikurangi?
  4. Karya digital apa yang ingin kamu buat?

Aktivitas 2 – Detektif Informasi

Guru menyediakan sebuah informasi yang beredar di internet.

Secara berkelompok, siswa melakukan pemeriksaan:

Aspek Hasil Pemeriksaan
Sumber informasi
Tanggal publikasi
Penulis/pembuat
Bukti pendukung
Sumber pembanding
Kesimpulan

Presentasikan hasil pemeriksaan di depan kelas.


Aktivitas 3 – Poster Budaya Digital

Buat poster digital bertema:

"Jadilah Warga Digital yang Cerdas, Aman, Santun, dan Bertanggung Jawab."

Poster dapat dibuat menggunakan aplikasi desain atau aplikasi pengolah presentasi.

Poster harus memuat:

  • judul;
  • pesan utama;
  • minimal tiga tips;
  • ilustrasi;
  • nama pembuat.

E. Kesimpulan

Budaya digital merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat modern. Teknologi digital memberikan banyak kesempatan untuk belajar, berkomunikasi, berkreasi, dan bekerja sama.

Namun, penggunaan teknologi harus disertai tanggung jawab.

Seorang siswa perlu memahami etika digital, menjaga data pribadi, memperhatikan jejak digital, menghargai hak cipta, mengenali informasi palsu, menghindari perundungan siber, dan menggunakan teknologi secara seimbang.

Di era kecerdasan artifisial, kemampuan manusia untuk berpikir kritis, kreatif, beretika, dan bertanggung jawab semakin penting.

Teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih produktif dan bermanfaat.

Jadilah pengguna teknologi yang cerdas. Jadilah pembuat karya digital yang kreatif. Jadilah warga digital yang santun dan bertanggung jawab.


F. Soal Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling tepat!

1.

Budaya digital adalah ....

A. kebiasaan menggunakan komputer untuk bermain gim
B. kebiasaan, nilai, norma, dan perilaku manusia dalam menggunakan teknologi digital
C. kegiatan membeli perangkat komputer
D. kemampuan memperbaiki komputer

Jawaban: B

2.

Contoh etika digital adalah ....

A. menghina orang lain di media sosial
B. menyebarkan informasi pribadi teman
C. menggunakan bahasa yang sopan ketika berkomunikasi
D. membagikan berita tanpa membaca isinya

Jawaban: C

3.

Informasi yang ditinggalkan seseorang ketika menggunakan internet disebut ....

A. data analog
B. jejak digital
C. data manual
D. perangkat keras

Jawaban: B

4.

Contoh jejak digital aktif adalah ....

A. mengunggah foto ke media sosial
B. perangkat mendapatkan alamat IP
C. sistem mencatat aktivitas layanan
D. perangkat terhubung ke jaringan

Jawaban: A

5.

Berikut yang termasuk data pribadi adalah ....

A. warna langit
B. nama lengkap dan nomor telepon
C. nama planet
D. jumlah hari dalam satu minggu

Jawaban: B

6.

Kata sandi sebaiknya ....

A. mudah ditebak
B. sama untuk semua akun
C. dibagikan kepada teman
D. kuat dan tidak mudah ditebak

Jawaban: D

7.

Phishing merupakan ....

A. teknik memperbaiki komputer
B. upaya penipuan untuk memperoleh informasi tertentu
C. kegiatan membuat animasi
D. proses mencetak dokumen

Jawaban: B

8.

Jika menerima tautan mencurigakan, tindakan yang tepat adalah ....

A. langsung mengekliknya
B. membagikannya kepada semua teman
C. memeriksa terlebih dahulu dan tidak terburu-buru mengeklik
D. memasukkan kata sandi

Jawaban: C

9.

Hoaks adalah ....

A. semua informasi dari internet
B. informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan sebagai sesuatu yang benar
C. semua berita lama
D. informasi dari buku pelajaran

Jawaban: B

10.

Salah satu cara memeriksa informasi adalah ....

A. hanya membaca judul
B. mempercayai pesan dari teman
C. membandingkan dengan sumber lain yang tepercaya
D. langsung membagikan informasi

Jawaban: C

11.

Berpikir kritis berarti ....

A. menerima semua informasi
B. tidak pernah mempercayai informasi
C. mengevaluasi informasi berdasarkan bukti dan sumber
D. selalu menolak informasi baru

Jawaban: C

12.

Mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri disebut ....

A. kolaborasi
B. plagiarisme
C. komunikasi
D. kreativitas

Jawaban: B

13.

Salah satu cara menghargai karya orang lain adalah ....

A. menghapus nama pencipta
B. mengaku sebagai pembuat
C. mencantumkan sumber
D. menjualnya tanpa izin

Jawaban: C

14.

Cyberbullying adalah ....

A. belajar menggunakan internet
B. perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital
C. membuat video pembelajaran
D. menggunakan komputer di sekolah

Jawaban: B

15.

Ketika melihat cyberbullying, sebaiknya kita ....

A. ikut menyebarkan
B. ikut mengejek
C. melaporkan dan meminta bantuan orang yang dipercaya
D. membuat akun untuk membalas

Jawaban: C

16.

Salah satu manfaat teknologi digital dalam pendidikan adalah ....

A. mempersulit komunikasi
B. menyediakan sumber belajar
C. menghilangkan kebutuhan untuk berpikir
D. membuat semua informasi pasti benar

Jawaban: B

17.

Sebelum membagikan berita, sebaiknya ....

A. langsung membagikannya
B. membaca dan memeriksa sumbernya
C. mengubah judulnya agar menarik
D. menghapus nama penulis

Jawaban: B

18.

Contoh penggunaan teknologi secara produktif adalah ....

A. membuat aplikasi sederhana
B. menyebarkan rumor
C. mengejek teman
D. menyebarkan hoaks

Jawaban: A

19.

Jejak digital perlu diperhatikan karena ....

A. semua aktivitas digital pasti hilang
B. aktivitas digital dapat meninggalkan informasi tentang seseorang
C. internet tidak dapat menyimpan data
D. unggahan hanya dapat dilihat selama satu menit

Jawaban: B

20.

Ketika menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, siswa sebaiknya ....

A. menyalin seluruh jawaban tanpa membaca
B. menggunakan AI untuk membantu belajar dan tetap memeriksa hasilnya
C. menyerahkan semua tugas kepada AI
D. memasukkan semua data pribadi ke AI

Jawaban: B

21.

Salah satu prinsip menjadi warga digital yang baik adalah ....

A. bertanggung jawab
B. menyebarkan informasi tanpa pemeriksaan
C. membuka data pribadi orang lain
D. menggunakan teknologi untuk merugikan orang lain

Jawaban: A

22.

Informasi yang belum terbukti kebenarannya sebaiknya ....

A. langsung disebarkan
B. diberi judul yang lebih sensasional
C. diperiksa terlebih dahulu
D. dikirim ke semua grup

Jawaban: C

23.

Ketika menggunakan komputer milik bersama, setelah selesai sebaiknya ....

A. meninggalkan akun tetap terbuka
B. menyimpan kata sandi di komputer
C. keluar dari akun
D. memberikan kata sandi kepada pengguna berikutnya

Jawaban: C

24.

Salah satu ciri komunikasi digital yang baik adalah ....

A. menggunakan kata-kata kasar
B. menghargai perbedaan pendapat
C. mempermalukan orang lain
D. menyebarkan percakapan pribadi

Jawaban: B

25.

Tujuan utama mempelajari budaya digital adalah ....

A. agar siswa menggunakan internet sepanjang hari
B. agar siswa mampu menggunakan teknologi secara cerdas, aman, santun, dan bertanggung jawab
C. agar siswa memiliki banyak akun media sosial
D. agar siswa menjadi terkenal di internet

Jawaban: B


G. Soal Praktik

Praktik 1 – Membuat Kampanye Budaya Digital

Judul

Kampanye "Bijak Bermedia Digital"

Tujuan

Siswa mampu menerapkan prinsip budaya digital melalui karya kreatif.

Tugas

Buatlah sebuah poster, infografis, atau video pendek dengan salah satu tema berikut:

  1. Stop Cyberbullying.
  2. Jaga Data Pribadi.
  3. Saring Sebelum Sharing.
  4. Bijak Menggunakan AI.
  5. Hargai Karya Digital.
  6. Bangun Jejak Digital Positif.

Ketentuan

Jika membuat poster:

  • ukuran minimal A4;
  • memiliki judul;
  • memiliki pesan utama;
  • memuat minimal lima tips;
  • mencantumkan nama pembuat.

Jika membuat video:

  • durasi 2–3 menit;
  • memiliki pesan yang jelas;
  • menggunakan bahasa yang santun;
  • tidak menggunakan karya orang lain tanpa memperhatikan hak penggunaannya;
  • mencantumkan sumber jika menggunakan materi dari pihak lain.

H. Rubrik Penilaian Praktik

Aspek Skor Maksimal
Kesesuaian tema 20
Ketepatan informasi 20
Kreativitas 20
Etika penggunaan sumber 15
Kualitas penyajian 15
Presentasi 10
Total 100

Kriteria

90–100: Sangat Baik
80–89: Baik
70–79: Cukup
<70: Perlu Bimbingan


I. Proyek Kelompok

"Audit Budaya Digital Sekolah"

Bentuk kelompok yang terdiri atas 4–5 siswa.

Lakukan pengamatan sederhana mengenai kebiasaan digital siswa di lingkungan sekolah.

Contoh aspek yang dapat diamati:

  • penggunaan perangkat digital;
  • kebiasaan menggunakan media sosial;
  • keamanan kata sandi;
  • kebiasaan membagikan informasi;
  • etika komunikasi dalam grup;
  • penggunaan teknologi untuk belajar.

Produk Akhir

Setiap kelompok membuat:

  1. laporan singkat;
  2. infografis;
  3. presentasi;
  4. rekomendasi untuk membangun budaya digital yang lebih baik.

Pertanyaan Refleksi

  1. Apa kebiasaan digital yang sudah baik?
  2. Apa masalah yang ditemukan?
  3. Apa penyebabnya?
  4. Apa solusi yang dapat dilakukan?
  5. Bagaimana peran siswa dalam menciptakan budaya digital yang positif?

J. Refleksi Peserta Didik

Setelah mempelajari bab ini, lengkapi kalimat berikut:

Saya baru mengetahui bahwa ....

Hal yang paling menarik bagi saya adalah ....

Mulai hari ini saya akan ....

Kebiasaan digital yang ingin saya perbaiki adalah ....

Saya akan menggunakan teknologi untuk ....


K. Daftar Pustaka

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Capaian Pembelajaran Informatika pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia & Siberkreasi. Modul Literasi Digital. Jakarta: Kominfo.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku Panduan Guru Informatika SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku Siswa Informatika SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

International Society for Technology in Education (ISTE). ISTE Standards for Students. Arlington, Virginia: ISTE.

UNESCO. Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines. Paris: UNESCO.

UNICEF. Digital Literacy and Online Safety Resources for Children. New York: UNICEF.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.


L. Pesan Penutup

Teknologi digital akan terus berkembang. Perangkat mungkin berubah, aplikasi mungkin berganti, dan kecerdasan artifisial akan semakin banyak digunakan.

Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah karakter manusia.

Gunakan teknologi dengan akal sehat.
Gunakan internet dengan etika.
Gunakan AI dengan tanggung jawab.
Gunakan media sosial untuk menyebarkan manfaat.
Gunakan keterampilan digital untuk menghasilkan karya.

Karena budaya digital yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang beretika ketika menggunakan teknologi.