Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Sabtu, 28 Maret 2026
Mengulik dan Menganalisis Tulisan Omjay Sepanjang Bulan September 2024 di Kompasiana
Reuni Dadakan Alumni IKIP Jakarta
Ziarah Kubur di TPU Pondok Malaka1 Jaktim
Jumat, 27 Maret 2026
Tiga Penyakit yang Diam Diam Mengintai Omjay
Rabu, 25 Maret 2026
Lidah
Lidah Kecil, Penentu Nasib Besar
Inspirasi Pagi – Rabu, 25 Maret 2026
Di antara sekian banyak nikmat yang Allah berikan kepada manusia, ada satu yang sering kita anggap sepele, padahal dampaknya luar biasa besar: lidah. Ia kecil, tersembunyi, tidak bertulang, namun kekuatannya mampu mengangkat derajat manusia setinggi langit—atau justru menjatuhkannya ke tempat yang paling hina.
Lidah tidak memiliki otot yang kuat seperti tangan, tidak pula sekeras kaki yang mampu melangkah jauh. Tetapi dari lidahlah keluar kata-kata yang mampu melukai hati, merusak persaudaraan, bahkan menghancurkan kehidupan seseorang. Sebaliknya, dari lidah pula lahir dzikir, doa, nasihat, dan kalimat-kalimat kebaikan yang menjadi jalan menuju ridha Allah.
Allah telah mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
"Dan janganlah sebagian kalian mengghibahi sebagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kalian memakan daging bangkai saudaranya yang telah mati? Tentu kalian merasa jijik. Maka bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12)
Perumpamaan ini begitu kuat dan menggugah. Menggunjing atau ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudara sendiri—sesuatu yang menjijikkan, menjauhkan nurani, dan merusak hati. Namun ironisnya, banyak dari kita melakukannya tanpa rasa bersalah. Bahkan terkadang dianggap sebagai hal biasa dalam obrolan sehari-hari.
Padahal, setiap kata yang keluar dari lidah tidak pernah luput dari catatan malaikat. Tidak ada yang sia-sia. Semuanya akan dipertanggungjawabkan.
Lidah dan Ujian Kehidupan
Dalam kehidupan sehari-hari, lidah sering menjadi sumber ujian. Saat emosi memuncak, lidah ingin melampiaskan kemarahan. Saat iri menyelimuti hati, lidah tergoda untuk mencela. Saat berkumpul dengan teman, lidah mudah tergelincir dalam ghibah dan fitnah.
Di sinilah letak perjuangan sejati. Bukan sekadar menahan lapar dan haus, tetapi menahan ucapan. Bukan hanya menjaga perbuatan, tetapi juga menjaga perkataan.
Betapa banyak hubungan retak karena satu kalimat. Betapa banyak hati terluka karena satu ucapan. Dan betapa banyak penyesalan datang karena lidah yang tidak terjaga.
Namun sebaliknya, satu kata yang baik bisa menjadi penyelamat. Satu nasihat bisa mengubah hidup seseorang. Satu dzikir bisa menenangkan jiwa.
Lidah yang Menghidupkan Hati
Lidah yang digunakan untuk berdzikir akan membawa ketenangan. Mengucap Subhanallah, Alhamdulillah, dan Allahu Akbar bukan sekadar rutinitas, tetapi energi yang menghidupkan hati yang kering.
Lidah yang membaca Al-Qur’an akan menjadi cahaya. Lidah yang mengucap doa akan membuka pintu langit. Lidah yang memberi semangat akan menguatkan orang lain.
Bayangkan jika setiap pagi kita memulai hari dengan kata-kata baik. Menyapa dengan senyum, mendoakan orang lain, dan menghindari ucapan yang menyakitkan. Dunia ini akan terasa jauh lebih damai.
Belajar Menjaga Lidah
Menjaga lidah bukan perkara mudah, tetapi bukan pula mustahil. Ada beberapa langkah sederhana yang bisa kita lakukan:
-
Berpikir sebelum berbicara
Tanyakan pada diri sendiri: apakah ini benar? apakah ini bermanfaat? apakah ini menyakitkan? -
Perbanyak diam
Rasulullah mengajarkan bahwa diam adalah keselamatan. Tidak semua hal harus diucapkan. -
Isi waktu dengan dzikir
Lidah yang sibuk berdzikir akan sulit digunakan untuk hal yang sia-sia. -
Ingat akhirat
Setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Kesadaran ini akan membuat kita lebih berhati-hati.
Penutup: Pilihan di Ujung Lidah
Pada akhirnya, lidah adalah pilihan. Ia bisa menjadi jalan menuju surga atau justru menyeret ke neraka. Semua tergantung bagaimana kita menggunakannya.
Hari ini, mari kita mulai dengan niat sederhana: menjaga ucapan, menghindari ghibah, dan memperbanyak dzikir. Karena bisa jadi, keselamatan kita di akhirat kelak bukan ditentukan oleh seberapa besar amal kita, tetapi oleh seberapa baik kita menjaga lidah.
Tetap semangat memperbaiki diri.
Semoga setiap kata yang keluar dari lisan kita menjadi pahala, bukan dosa.
Barakallahu fiikum.
Senin, 23 Maret 2026
Buat Apa Kita Menulis?
Buat Apa Kita Menulis?
Kisah Omjay yang Menyentuh Hati
Suatu malam yang sunyi, Omjay duduk sendirian di depan laptopnya. Jam dinding sudah menunjukkan lewat tengah malam, tetapi jemarinya masih setia menari di atas keyboard. Tidak ada honor menanti, tidak ada kontrak penerbitan, dan tidak ada jaminan tulisannya akan dibaca banyak orang. Namun, ia tetap menulis.
Di sela-sela keheningan itu, Omjay pernah bertanya pada dirinya sendiri, “Buat apa aku menulis?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya tidak selalu mudah. Banyak orang menulis untuk uang. Tidak sedikit pula yang menulis agar dikenal, agar namanya muncul di media, agar dianggap hebat dan pintar. Omjay tidak menolak bahwa semua itu adalah hal yang wajar. Manusia memang membutuhkan pengakuan dan penghidupan. Tetapi, dalam perjalanan hidupnya sebagai guru dan pegiat literasi, ia menemukan bahwa alasan terdalam untuk menulis jauh lebih dalam daripada sekadar uang atau popularitas.
Omjay masih ingat ketika pertama kali menulis di blog. Tulisan-tulisannya tidak langsung mendapat komentar. Tidak ada yang membagikan. Bahkan, kadang ia sendiri merasa seperti berbicara di ruang kosong. Namun ia tetap menulis. Ia menulis tentang pengalaman mengajar, tentang murid-muridnya, tentang kegelisahan seorang guru yang ingin pendidikan di negeri ini menjadi lebih baik.
Suatu hari, sebuah pesan singkat masuk ke ponselnya. Seorang guru dari daerah terpencil menulis, “Terima kasih, Pak. Tulisan Bapak membuat saya semangat kembali mengajar. Saya merasa tidak sendirian.”
Saat membaca pesan itu, mata Omjay berkaca-kaca. Ia tidak mendapatkan uang dari tulisan tersebut. Ia juga tidak menjadi terkenal karena satu artikel itu. Namun, ia menyadari bahwa tulisannya telah menyentuh hati seseorang, bahkan mungkin mengubah hari dan semangat hidup orang lain.
Sejak saat itu, Omjay mengerti: menulis bukan sekadar soal dilihat banyak orang, tetapi tentang menyentuh satu hati pun sudah cukup berarti.
Ada masa di mana Omjay mengalami kesulitan hidup. Saat kesehatan menurun, saat pekerjaan menumpuk, bahkan ketika ia harus beristirahat di rumah sakit, ia tetap memikirkan tulisan. Bukan karena dikejar deadline, tetapi karena menulis adalah cara baginya untuk berbicara dengan dunia. Menulis adalah terapi, tempat ia mencurahkan rasa syukur, kesedihan, dan harapan.
Banyak orang mengira menulis itu harus menghasilkan uang agar dianggap berhasil. Omjay tidak menolak bahwa menulis bisa menjadi sumber rezeki. Ia pun pernah merasakan kebahagiaan saat tulisannya dimuat dan mendapat honor. Namun, ia selalu mengingatkan dirinya sendiri bahwa jika menulis hanya untuk uang, maka semangat itu akan mudah padam ketika uang tidak datang.
Begitu juga dengan popularitas. Menjadi dikenal memang menyenangkan, tetapi ketenaran sering kali tidak abadi. Nama bisa naik dan turun, tetapi tulisan yang tulus akan tetap hidup di hati pembacanya, bahkan ketika nama penulisnya sudah dilupakan.
Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya,
“Menulislah bukan agar kalian terkenal, tetapi agar kalian dikenang karena kebaikan yang kalian bagikan.”
Dalam setiap tulisannya, Omjay mencoba menyisipkan nilai-nilai kehidupan. Ia menulis tentang kejujuran, tentang kesabaran, tentang perjuangan menjadi guru di tengah keterbatasan. Ia percaya bahwa tulisan adalah warisan. Jika suatu hari ia sudah tidak lagi mengajar, tidak lagi hadir di ruang kelas, tulisannya masih bisa berbicara kepada generasi berikutnya.
Ia membayangkan, mungkin suatu hari nanti, seorang anak muda akan membaca tulisannya dan menemukan semangat baru. Mungkin ada seorang guru yang hampir menyerah, lalu kembali bangkit setelah membaca kisahnya. Bagi Omjay, kemungkinan kecil itu sudah cukup menjadi alasan untuk terus menulis.
Suatu ketika, seorang teman bertanya,
“Omjay, kalau tidak dibayar, kenapa masih rajin menulis?”
Omjay tersenyum. Ia tidak langsung menjawab. Ia hanya membuka salah satu artikelnya dan menunjukkan kolom komentar yang berisi ucapan terima kasih dari para pembaca. Lalu ia berkata pelan,
“Ini bayaran yang tidak bisa dihitung dengan uang.”
Menulis bagi Omjay adalah ibadah. Ia percaya bahwa setiap kata yang membawa kebaikan akan menjadi amal jariyah. Selama tulisannya masih dibaca dan menginspirasi, selama itu pula pahala mengalir. Keyakinan inilah yang membuatnya tetap menulis, bahkan di saat tubuh lelah dan pikiran penat.
Di penghujung malam, sebelum menutup laptopnya, Omjay sering berdoa dalam hati,
“Ya Allah, jika tulisanku bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, izinkan aku terus menulis.”
Maka, ketika kita bertanya, buat apa kita menulis? Jawabannya bisa berbeda bagi setiap orang. Ada yang menulis untuk uang, ada yang menulis untuk terkenal, dan itu tidak salah. Namun, kisah Omjay mengajarkan bahwa menulis juga bisa menjadi jalan untuk berbagi, menguatkan, dan meninggalkan jejak kebaikan di dunia.
Karena pada akhirnya, bukan seberapa banyak uang yang kita dapat dari tulisan, dan bukan seberapa terkenal nama kita karenanya. Yang lebih penting adalah: berapa banyak hati yang pernah kita sentuh melalui kata-kata yang kita tuliskan. ✍️💙
Rabu, 18 Maret 2026
Saat Vertigo Menyerang di Saat Perjalanan Mudik Omjay
Judul: “Di Antara Nyawa dan Doa: Saat Vertigo Menyerang di Perjalanan Mudik Omjay”
Perjalanan mudik yang seharusnya penuh kebahagiaan, berubah menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam hidup Omjay.
Hari itu, jalanan padat. Mobil melaju perlahan, sesekali berhenti karena arus kendaraan yang tak kunjung reda. Di dalam mobil, suasana awalnya hangat—canda kecil, obrolan ringan, dan harapan akan bertemu keluarga di kampung halaman.
Namun, takdir berkata lain.
Tiba-tiba, dunia Omjay terasa berputar hebat. Vertigo yang selama ini kadang datang dan pergi, kini menyerang tanpa ampun. Kepala terasa berat, pandangan kabur, dan tubuh mulai kehilangan kendali.
Belum sempat ia berkata apa-apa, sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Tangan kanannya mendadak tak bisa digerakkan.
Mulutnya terasa kaku… terkunci.
Seolah ada sesuatu yang menahan setiap kata yang ingin keluar.
Dalam diam yang mencekam itu, Omjay hanya bisa pasrah. Dalam hati, ia berbisik lirih, “Ya Allah… apakah ini saatnya?”
Istri yang duduk di sampingnya langsung panik, namun tetap berusaha tenang. Dengan tangan gemetar, ia segera meraih tas obat yang selalu dibawa. Ia tahu, ini bukan sekadar pusing biasa.
Keponakan Omjay, Alda, yang ikut dalam perjalanan itu, sigap membantu. Dengan cepat ia mengambil air mineral dan menyiapkan obat. Tangannya cekatan, tapi matanya tak bisa menyembunyikan rasa takut.
Di dalam mobil yang sempit itu, waktu terasa berjalan sangat lambat.
Detik demi detik terasa seperti ujian panjang antara hidup dan mati.
Omjay yang biasanya kuat, yang selama ini dikenal sebagai guru penuh semangat, kini hanya bisa terbaring lemah. Dalam kondisi itu, ia terpaksa membatalkan puasanya.
Bukan karena ingin… tapi karena keadaan memaksa.
Air yang diminumnya bukan sekadar pelepas dahaga, tapi menjadi saksi bahwa manusia memang tak pernah benar-benar kuat tanpa izin-Nya.
Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam berlalu.
Perlahan… tubuhnya mulai merespons.
Tangan yang semula kaku mulai bisa digerakkan sedikit demi sedikit. Mulut yang terasa terkunci mulai bisa mengucap istighfar.
“Allahu Akbar… Alhamdulillah…”
Air mata jatuh tanpa bisa ditahan.
Bukan karena sakitnya, tapi karena rasa syukur yang begitu dalam.
Ia masih diberi kesempatan.
Ia masih hidup.
Ia masih bisa kembali kepada keluarganya.
Peristiwa itu bukan yang pertama. Omjay sudah berulang kali keluar masuk rumah sakit. Lima rumah sakit pernah ia datangi, mencari kesembuhan dari penyakit yang diam-diam menggerogoti tubuhnya: darah tinggi dan diabetes.
Dua penyakit yang sering dianggap “biasa”, tapi bisa menjadi sangat berbahaya jika diabaikan.
Dan hari itu, di dalam mobil, Omjay seperti diingatkan kembali oleh Allah…
Bahwa tubuh ini punya batas.
Bahwa kesehatan bukan sesuatu yang bisa ditunda untuk dijaga.
Bahwa hidup bukan hanya tentang bekerja, menulis, dan mengabdi… tapi juga tentang merawat diri.
Kini, setelah kondisi berangsur membaik, Omjay kembali menulis.
Dengan semangat yang tak lagi sama—bukan sekadar ingin berbagi, tapi ingin mengingatkan.
Menulis bukan lagi hanya soal kata-kata…
Tapi tentang rasa syukur yang tak terhingga.
Tentang hidup yang masih diberi kesempatan kedua.
Dengan bantuan kecerdasan buatan, Omjay mulai menyusun kembali kisahnya. Namun yang paling penting bukanlah teknologinya, melainkan hatinya yang kini jauh lebih sadar.
Bahwa setiap detik kehidupan adalah anugerah.
Bahwa setiap napas adalah amanah.
Kisah ini bukan sekadar cerita sakit.
Ini adalah panggilan.
Untuk kita semua.
Untuk lebih peduli pada kesehatan.
Untuk tidak menunda istirahat.
Untuk tidak menganggap remeh penyakit.
Untuk menjaga pola makan, mengontrol gula darah, menjaga tekanan darah, dan rutin memeriksakan diri.
Karena sering kali, kita baru sadar pentingnya sehat… ketika tubuh sudah tak lagi bisa diajak kompromi.
Di balik semua itu, ada satu hal yang paling menyentuh hati Omjay.
Kehadiran keluarga.
Istri yang sigap.
Keponakan yang tanggap.
Doa-doa yang mengalir tanpa henti.
Dan kini…
Omjay hanya bisa memohon kepada siapa pun yang membaca kisah ini:
“Mohon doanya… agar saya bisa kembali sehat… agar saya masih bisa menulis… agar saya masih bisa mengabdi sebagai guru…”
Karena sejatinya…
Kita semua sedang berjalan di perjalanan yang sama.
Menuju pulang.
Namun tak ada yang tahu…
Apakah kita akan sampai dengan selamat, atau justru diuji di tengah jalan seperti Omjay.
Maka sebelum terlambat…
Jaga kesehatan.
Sayangi tubuh kita.
Dan jangan pernah lupa…
Bahwa hidup ini rapuh.
Namun selama masih ada napas…
Masih ada kesempatan untuk berubah.
Penutup yang Menggetarkan:
Di dalam mobil itu, Omjay hampir kehilangan segalanya… tapi justru menemukan satu hal yang paling berharga—bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita berjalan, tapi seberapa sadar kita mensyukuri setiap langkah yang masih Allah izinkan.