Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 06 Oktober 2026

Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya

Narasumber: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay Guru Blogger Indonesia

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti materi ini, peserta diharapkan mampu:

  1. Menemukan satu buku yang memberikan pengaruh dalam kehidupan.
  2. Mengidentifikasi gagasan penting dari buku tersebut.
  3. Menghubungkan isi buku dengan pengalaman pribadi.
  4. Menulis artikel reflektif berdasarkan pengalaman membaca.
  5. Mempublikasikan tulisan di blog pribadi.
  6. Membagikan tautan tulisan sebagai bagian dari tugas praktik KBMN PGRI Gelombang 35.

1. Mengapa Kita Perlu Menulis tentang Buku?

Ada buku yang selesai kita baca, lalu kita lupakan.

Namun, ada juga buku yang selesai kita baca tetapi mengubah cara kita melihat kehidupan.

Buku seperti itu bukan sekadar kumpulan halaman. Ia menjadi teman berpikir, guru, bahkan kadang menjadi titik balik dalam perjalanan hidup kita.

Saya percaya:

Buku yang baik bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi mengubah cara kita memandang kehidupan.

Karena itu, dalam pembelajaran kali ini kita tidak diminta sekadar membuat resensi buku.

Kita akan menulis kisah perubahan diri setelah membaca sebuah buku.


2. Buku Apa yang Bisa Dipilih?

Peserta bebas memilih buku.

Buku tersebut bisa berupa:

  • buku pendidikan;
  • buku agama;
  • buku motivasi;
  • buku biografi;
  • buku sejarah;
  • novel;
  • buku teknologi;
  • buku parenting;
  • buku pengembangan diri;
  • buku karya guru;
  • buku karya teman;
  • atau buku lain yang pernah memberikan pengaruh kepada kita.

Tidak harus buku baru.

Tidak harus buku terkenal.

Bahkan, buku lama yang pernah kita baca ketika masih sekolah pun boleh dipilih.

Yang terpenting adalah:

Ada perubahan cara pandang setelah membaca buku tersebut.


3. Pertanyaan Pemantik

Sebelum menulis, peserta silakan menjawab pertanyaan berikut.

Pertanyaan 1

Apa buku yang paling berkesan bagi saya?

Tuliskan judul dan penulisnya.

Pertanyaan 2

Kapan saya membaca buku tersebut?

Misalnya ketika:

  • masih sekolah;
  • kuliah;
  • menjadi guru;
  • mengalami kegagalan;
  • sedang menghadapi masalah;
  • atau ketika sedang mencari inspirasi.

Pertanyaan 3

Bagian apa yang paling berkesan?

Tidak perlu menceritakan seluruh isi buku.

Pilih satu gagasan, satu kisah, satu kalimat, atau satu pengalaman yang paling membekas.

Pertanyaan 4

Apa yang berubah dalam diri saya setelah membaca buku itu?

Inilah pertanyaan paling penting.

Misalnya:

Sebelum membaca buku tersebut, saya takut berbicara di depan orang lain. Setelah membacanya, saya mulai berani mencoba.

Atau:

Sebelum membaca buku itu, saya menganggap kegagalan sebagai akhir perjalanan. Setelah membacanya, saya memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses belajar.


4. Jangan Hanya Menceritakan Isi Buku

Kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah terlalu banyak menceritakan isi buku.

Misalnya:

Buku ini bercerita tentang seorang guru yang mengalami banyak masalah. Pada bab pertama dijelaskan.... Pada bab kedua dijelaskan....

Tulisan seperti itu lebih mirip ringkasan.

Padahal tugas kita bukan membuat ringkasan.

Kita ingin membuat tulisan yang personal dan reflektif.

Bandingkan:

Ringkasan:

Buku tersebut menjelaskan pentingnya membaca dan menulis.

Tulisan reflektif:

Setelah membaca buku tersebut, saya mulai menyadari bahwa membaca tanpa menulis membuat pengetahuan mudah hilang. Sejak saat itu saya mencoba menulis setiap hari, meskipun hanya beberapa paragraf.

Tulisan kedua lebih hidup karena ada pengalaman pribadi.


5. Rumus Sederhana Menulis

Gunakan rumus:

BUKU → PENGALAMAN → PERUBAHAN → PELAJARAN

BUKU

Buku apa yang dibaca?

PENGALAMAN

Apa yang terjadi ketika atau setelah membaca buku tersebut?

PERUBAHAN

Apa yang berubah dalam diri kita?

PELAJARAN

Apa yang bisa dipelajari pembaca dari pengalaman tersebut?

Dengan empat unsur ini, tulisan akan lebih mudah dikembangkan.


6. Struktur Artikel

Peserta dapat menggunakan struktur berikut.

Judul

Buat judul yang menarik dan personal.

Contoh:

  • Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya tentang Kegagalan
  • Satu Buku yang Membuat Saya Berani Menulis
  • Ketika Sebuah Buku Mengajarkan Saya untuk Tidak Menyerah
  • Buku yang Membuat Saya Melihat Guru dengan Cara Berbeda
  • Dari Pembaca Menjadi Penulis
  • Sebuah Buku, Sebuah Perubahan
  • Buku yang Mengubah Jalan Hidup Saya

Pembukaan

Awali dengan cerita.

Jangan langsung:

Saya akan membahas buku....

Lebih menarik jika dimulai dengan pengalaman.

Contoh:

Ada masa ketika saya menganggap membaca hanyalah kegiatan untuk mengisi waktu luang. Saya membaca ketika memiliki waktu. Setelah selesai, buku saya tutup dan selesai pula ceritanya. Sampai suatu hari saya membaca sebuah buku yang membuat saya berhenti cukup lama dan bertanya kepada diri sendiri: selama ini saya sebenarnya sedang menjalani hidup seperti apa?

Pembukaan seperti ini membuat pembaca ingin melanjutkan.


7. Ceritakan Buku yang Dipilih

Setelah pembukaan, perkenalkan bukunya.

Tuliskan:

  • judul;
  • penulis;
  • penerbit jika diketahui;
  • tahun terbit jika diketahui;
  • alasan memilih buku tersebut.

Tidak perlu terlalu panjang.

Fokus pada hubungan buku dengan kehidupan kita.


8. Ceritakan Bagian yang Mengubah Cara Pandang

Ini adalah bagian utama.

Pilih satu atau dua gagasan penting dari buku.

Kemudian jelaskan:

Apa yang saya pikirkan sebelum membaca buku?

Lalu:

Apa yang saya pikirkan setelah membaca buku?

Contoh:

Sebelum membaca buku itu, saya selalu berpikir bahwa orang sukses adalah orang yang jarang gagal. Setelah membaca buku tersebut, cara pandang saya berubah. Saya mulai memahami bahwa orang sukses justru adalah mereka yang mampu belajar dari kegagalan.

Inilah inti tulisan kita.


9. Hubungkan dengan Pengalaman Pribadi

Tulisan akan menjadi kuat ketika pembaca menemukan kisah nyata.

Misalnya:

Saya pernah gagal mengikuti sebuah perlombaan. Saat itu saya merasa kecewa. Saya bahkan sempat berpikir untuk berhenti mencoba. Namun, gagasan dalam buku tersebut membuat saya melihat kegagalan dari sudut pandang berbeda.

Kemudian ceritakan apa yang terjadi.

Tidak perlu pengalaman luar biasa.

Pengalaman sederhana pun bisa menjadi tulisan yang menarik jika ditulis dengan jujur.


10. Akhiri dengan Refleksi

Pada bagian akhir, jawab pertanyaan:

Apa yang saya lakukan setelah cara pandang saya berubah?

Misalnya:

Sejak membaca buku tersebut, saya mulai berani menulis setiap hari. Tulisan pertama saya mungkin tidak sempurna. Namun, saya belajar bahwa tulisan yang tidak sempurna jauh lebih baik daripada tulisan yang tidak pernah dibuat.

Kemudian berikan pesan kepada pembaca.


11. Menulis dengan Hati

Dalam KBMN PGRI, kita tidak hanya belajar teknik menulis.

Kita belajar menemukan cerita dalam kehidupan sendiri.

Saya sering mengingatkan:

Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan teknologi.

Kecerdasan buatan boleh membantu mencari ide, membuat kerangka, atau memperbaiki bahasa.

Namun, pengalaman hidup kita tidak boleh digantikan.

Karena itu, tulisan peserta harus memiliki:

pengalaman pribadi + pemikiran pribadi + perasaan pribadi.

Itulah yang membuat tulisan memiliki jiwa.


12. Tugas Praktik KBMN PGRI Gelombang 35

Tugas Utama

Tulislah artikel dengan tema:

“Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya”

Ketentuan:

  1. Pilih satu buku yang pernah dibaca.
  2. Ceritakan alasan memilih buku tersebut.
  3. Ceritakan gagasan yang paling berkesan.
  4. Hubungkan dengan pengalaman pribadi.
  5. Jelaskan perubahan cara pandang setelah membaca buku tersebut.
  6. Tuliskan pelajaran yang diperoleh.
  7. Panjang tulisan minimal 500 kata.
  8. Gunakan bahasa Indonesia yang baik dan mudah dipahami.
  9. Tambahkan minimal satu gambar yang relevan.
  10. Publikasikan di blog pribadi masing-masing peserta.
  11. Cantumkan nama penulis dan identitas KBMN PGRI Gelombang 35.
  12. Bagikan tautan artikel di grup kelas sesuai petunjuk panitia.

13. Tantangan Tambahan

Bagi peserta yang ingin mendapatkan pengalaman lebih dalam, tambahkan:

A. Satu kutipan

Tuliskan satu kalimat pendek dari buku yang paling menginspirasi.

Kemudian jelaskan:

Mengapa kalimat tersebut penting bagi saya?

B. Foto buku

Jika memungkinkan, tampilkan foto buku yang dibaca.

C. Foto diri

Peserta boleh menambahkan foto sedang membaca buku tersebut.

D. Rekomendasi

Akhiri artikel dengan:

Apakah saya merekomendasikan buku ini kepada orang lain? Mengapa?


14. Checklist Sebelum Dipublikasikan

Sebelum menekan tombol Publish, periksa:

☐ Apakah judul sudah menarik?

☐ Apakah saya menyebutkan buku yang dipilih?

☐ Apakah saya menceritakan pengalaman pribadi?

☐ Apakah ada perubahan cara pandang?

☐ Apakah tulisan saya bukan sekadar ringkasan buku?

☐ Apakah ada pelajaran yang bisa diambil pembaca?

☐ Apakah tulisan minimal 500 kata?

☐ Apakah sudah ada gambar?

☐ Apakah sudah memeriksa ejaan?

☐ Apakah artikel sudah dipublikasikan di blog?

☐ Apakah tautan artikel sudah disalin?


15. Format Pengumpulan Tugas

Peserta mengirimkan:

Nama:
Kelas: KBMN PGRI Gelombang 35
Judul artikel:
Judul buku:
Penulis buku:
Link blog:

Contoh:

Nama: Ahmad
Kelas: KBMN PGRI Gelombang 35
Judul: Buku yang Mengubah Cara Pandang Saya tentang Kegagalan
Buku: Man's Search for Meaning
Penulis: Viktor E. Frankl
Link: https://namablog.blogspot.com/....


16. Tantangan Menulis 60 Menit

Agar peserta tidak terlalu lama berpikir, gunakan pembagian waktu berikut.

10 menit: memilih buku.

10 menit: menjawab pertanyaan pemantik.

25 menit: menulis artikel.

10 menit: mengedit tulisan.

5 menit: menerbitkan di blog dan membagikan link.

Jangan menunggu tulisan sempurna.

Tulisan yang selesai jauh lebih berharga daripada tulisan yang hanya ada di kepala.


17. Penutup Materi

Bapak/Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

barangkali kita telah membaca puluhan bahkan ratusan buku.

Namun, mungkin hanya beberapa buku yang benar-benar mengubah kita.

Ada buku yang membuat kita menjadi lebih sabar.

Ada buku yang membuat kita berani bermimpi.

Ada buku yang membuat kita bangkit dari kegagalan.

Ada buku yang membuat kita memahami orang lain.

Ada pula buku yang membuat kita akhirnya berani menulis.

Buku tersebut layak diceritakan.

Sebab pengalaman membaca kita mungkin menjadi cahaya bagi orang lain.

Mungkin ada seorang guru yang sedang kehilangan semangat.

Mungkin ada seorang siswa yang sedang takut gagal.

Mungkin ada orang tua yang sedang mencari arah.

Mungkin ada seseorang yang sedang ingin memulai kembali hidupnya.

Dan bisa jadi, mereka menemukan kekuatan dari tulisan sederhana yang kita publikasikan di blog.

Karena itu, jangan berpikir bahwa tulisan kita tidak penting.

Tulislah. Bagikan. Inspirasi orang lain.

Dan ingat pesan saya:

“Menulis bukan hanya meninggalkan kata-kata. Menulis adalah meninggalkan jejak pemikiran dan pengalaman hidup.”

Selamat menulis.

Salam blogger guru Indonesia.

Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Sekjen IGTIK PGRI
Founder KBMN PGRI

Senin, 05 Oktober 2026

kisah Omjay Gagal Naik kereta LRT

Gagal Naik LRT, Belajar Menunggu dengan Sabar

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Malam ini saya mengalami sebuah kegagalan kecil.

Saya gagal naik kereta LRT tujuan Jati Mulya dari Stasiun Cikoko.

Sebenarnya saya sudah hampir masuk ke dalam kereta. Namun, petugas keamanan LRT mencegah saya untuk naik.

Kereta pun akhirnya berangkat tanpa saya.

Untuk beberapa detik, tentu ada rasa kecewa.

Saya melihat kereta yang tadi hampir saya naiki perlahan meninggalkan stasiun.

Dalam hati mungkin muncul kalimat sederhana:

“Ah, gagal lagi.”

Tetapi ternyata kegagalan kecil itu tidak perlu membuat saya marah.

Saya hanya perlu menunggu.

Informasi di stasiun menunjukkan bahwa kereta berikutnya akan datang sekitar enam menit lagi.

Enam menit.

Bagi sebagian orang, enam menit mungkin terasa sangat singkat.

Namun ketika kita sedang terburu-buru, enam menit bisa terasa panjang.

Saya pun memilih duduk dan menunggu.

Saya mencoba menikmati waktu yang ada.

Saya menarik napas.

Saya melihat orang-orang di sekitar.

Saya memperhatikan suasana stasiun.

Dan kemudian saya tersenyum sendiri.

Ternyata hidup memang seperti perjalanan menggunakan kereta.

Kadang-kadang kita sudah merasa berada di waktu yang tepat.

Kita sudah hampir sampai.

Kita sudah hampir mendapatkan sesuatu yang kita inginkan.

Tetapi tiba-tiba ada sesuatu yang membuat kita harus berhenti.

Kereta berangkat.

Kesempatan terlewat.

Rencana berubah.

Apa yang harus kita lakukan?

Mengeluh?

Atau menunggu kereta berikutnya?

Saya memilih menunggu.

Sebab kereta berikutnya akan datang.

Dan perjalanan saya belum selesai.

Dari pengalaman kecil malam ini, saya kembali belajar bahwa gagal bukan berarti selesai.

Gagal naik satu kereta bukan berarti kita tidak akan sampai ke tujuan.

Kita hanya perlu menunggu kereta berikutnya.

Begitu pula dalam kehidupan.

Gagal mengikuti lomba bukan berarti kita tidak akan pernah menang.

Gagal ujian bukan berarti kita tidak akan pernah lulus.

Gagal menerbitkan buku bukan berarti kita tidak akan pernah menjadi penulis.

Gagal menyelesaikan pendidikan tepat waktu bukan berarti kita tidak akan menjadi sarjana atau doktor.

Saya sendiri pernah mengalaminya.

Pendidikan S3 yang seharusnya dapat saya selesaikan dalam waktu lebih singkat ternyata membutuhkan waktu delapan tahun.

Saya pernah gagal.

Saya pernah kehilangan kesempatan.

Saya pernah kecewa.

Tetapi saya memilih untuk bangkit dan mencari jalan.

Akhirnya pada tahun 2022 saya menyelesaikan pendidikan doktor Teknologi Pendidikan.

Hari ini saya kembali mendapatkan pelajaran yang sama dari sebuah kejadian yang sangat sederhana.

Jangan terlalu lama bersedih ketika gagal.

Jika satu kereta sudah berangkat, tunggulah kereta berikutnya.

Jika satu kesempatan terlewat, persiapkan diri untuk kesempatan berikutnya.

Jika satu tulisan belum berhasil, tulislah lagi.

Jika satu ujian belum lulus, belajar lagi.

Jika satu rencana gagal, cari cara lain.

Hidup tidak berhenti hanya karena satu kegagalan.

Malam ini saya hanya menunggu enam menit.

Namun enam menit itu mengajarkan saya tentang kesabaran.

Saya belajar bahwa tidak semua hal harus terjadi sesuai dengan keinginan kita.

Ada kalanya kita harus menerima keadaan.

Ada kalanya kita harus berhenti sejenak.

Ada kalanya kita harus menunggu.

Dan selama menunggu, kita bisa melakukan sesuatu yang sangat penting:

berpikir.

Mungkin kegagalan memang sengaja hadir untuk memberikan kita waktu berpikir.

Waktu untuk mengevaluasi.

Waktu untuk menarik napas.

Waktu untuk menenangkan hati.

Waktu untuk menyadari bahwa ternyata kita tidak perlu terburu-buru.

Akhirnya, kereta LRT berikutnya datang.

Saya pun bersiap naik.

Perjalanan menuju Jati Mulya berlanjut.

Saya tersenyum.

Bukan karena berhasil naik kereta.

Tetapi karena saya mendapatkan sebuah pelajaran dari kegagalan kecil malam ini.

Ternyata gagal naik kereta bisa mengajarkan kita cara menunggu.

Dan menunggu mengajarkan kita untuk sabar.

Sabar mengajarkan kita untuk menerima.

Menerima mengajarkan kita untuk tidak mudah mengeluh.

Dan tidak mudah mengeluh membuat kita lebih kuat menghadapi perjalanan kehidupan.

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35, jangan pernah meremehkan pengalaman kecil.

Pengalaman sederhana bisa menjadi bahan tulisan yang luar biasa.

Kita tidak harus menunggu mengalami kejadian besar untuk mulai menulis.

Gagal naik LRT pun bisa menjadi tulisan.

Yang penting adalah kita mau bertanya kepada diri sendiri:

“Apa yang saya pelajari dari kejadian ini?”

Setelah menemukan jawabannya, tuliskan.

Dengan bantuan kecerdasan buatan, tulisan kita bisa dibantu menjadi lebih menarik dan enak dibaca. Namun pengalaman, perasaan, dan pelajaran hidup tetap berasal dari diri kita sendiri.

Karena itu saya selalu percaya:

AI dapat membantu merapikan tulisan, tetapi hati kitalah yang memberikan jiwa pada tulisan.

Malam ini saya gagal naik LRT.

Tetapi saya tidak gagal mencapai tujuan.

Saya hanya harus menunggu enam menit lebih lama.

Dan ternyata, enam menit itu adalah guru kecil yang mengajarkan saya arti kesabaran.

Berkali kita gagal, lekas bangkit dan cari akal.
Berkali kita jatuh, lekas berdiri, jangan mengeluh.

Teruslah menulis.

Sebab bisa jadi, pengalaman kecil yang kita anggap tidak berarti justru menjadi tulisan yang menguatkan seseorang yang sedang menghadapi kegagalannya sendiri.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia

Materi Kelima kbmn pgri gelombang 35 dengan tema Kegagalan yang Mengajarkan Saya

Berikut materi pertemuan kelima KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar. Tema ini cocok dibuat reflektif agar peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar mengubah kegagalan menjadi tulisan yang menginspirasi.

Materi Pertemuan Kelima KBMN PGRI Gelombang 35

“Kegagalan yang Mengajarkan Saya”

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia

A. Pembukaan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat malam Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

Pada pertemuan kelima ini, kita akan belajar menulis dari sesuatu yang sering kita sembunyikan, yaitu kegagalan.

Kita biasanya senang menceritakan keberhasilan.

Ketika berhasil menerbitkan buku, kita bangga.
Ketika tulisan mendapatkan banyak pembaca, kita bahagia.
Ketika mendapatkan penghargaan, kita ingin membagikannya kepada orang lain.

Namun, pernahkah kita menulis tentang saat kita gagal?

Gagal bukan berarti kita tidak mampu.

Gagal adalah bagian dari proses belajar.

Bahkan sering kali, kegagalan memberikan pelajaran yang jauh lebih dalam daripada keberhasilan.

---

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses kehidupan.

2. Menemukan pengalaman kegagalan yang memiliki nilai pembelajaran.

3. Mengubah pengalaman pribadi menjadi tulisan yang menarik.

4. Menulis dengan jujur, sederhana, dan menyentuh.

5. Membagikan hikmah dari kegagalan kepada pembaca.

6. Mempublikasikan tulisan di blog pribadi.

---

C. Apa Itu Kegagalan?

Kegagalan adalah keadaan ketika sesuatu yang kita harapkan belum tercapai sesuai dengan rencana.

Contohnya:

gagal memenangkan lomba;

gagal menerbitkan buku;

gagal menyelesaikan tulisan;

gagal mendapatkan pekerjaan;

gagal dalam ujian;

gagal mengembangkan blog;

gagal mengajak siswa mengikuti kegiatan;

gagal mencapai target;

gagal mempertahankan sebuah kebiasaan baik;

atau gagal memenuhi harapan orang lain.

Tetapi ada satu hal penting yang harus kita pahami:

> Kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan adalah salah satu guru terbaik dalam kehidupan.

---

D. Mengapa Kegagalan Perlu Ditulis?

Banyak orang malu menceritakan kegagalannya.

Padahal, pengalaman gagal bisa menjadi tulisan yang sangat kuat.

Mengapa?

Karena pembaca tidak selalu membutuhkan cerita tentang orang yang sempurna.

Pembaca membutuhkan cerita tentang orang biasa yang pernah jatuh, kemudian bangkit kembali.

Tulisan tentang kegagalan dapat membuat pembaca berkata:

> “Ternyata saya tidak sendirian.”

Atau:

> “Kalau dia bisa bangkit, saya juga harus mencoba lagi.”

Di sinilah kekuatan sebuah tulisan.

Tulisan yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu, tetapi membuat pembaca merasa dan belajar.

---

E. Rumus Sederhana Menulis Kegagalan

Agar mudah menulis, gunakan rumus:

GAGAL → SADAR → BELAJAR → BANGKIT → BERBAGI

1. Gagal

Ceritakan apa yang terjadi.

Apa yang gagal?

Kapan terjadi?

Di mana?

Siapa yang terlibat?

---

2. Sadar

Ceritakan perasaan kita ketika mengalami kegagalan.

Apakah kecewa?

Sedih?

Malu?

Marah?

Hampir menyerah?

Tulislah dengan jujur.

---

3. Belajar

Ini bagian yang sangat penting.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa yang saya pelajari dari kegagalan tersebut?”

---

4. Bangkit

Apa yang kemudian kita lakukan?

Apakah mencoba lagi?

Memperbaiki kesalahan?

Belajar dari orang lain?

Mengubah strategi?

---

5. Berbagi

Terakhir, berikan hikmah kepada pembaca.

Misalnya:

> “Saya belajar bahwa gagal bukan alasan untuk berhenti. Gagal hanya mengajarkan saya cara yang belum tepat.”

---

F. Contoh Tulisan

Kegagalan yang Mengajarkan Saya untuk Tidak Mudah Menyerah

Saya pernah gagal.

Bahkan berkali-kali.

Ada tulisan yang tidak banyak dibaca. Ada kegiatan yang pesertanya sedikit. Ada rencana yang sudah disusun dengan baik tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.

Dulu saya menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan.

Saya merasa sudah berusaha, tetapi mengapa hasilnya belum sesuai dengan yang saya inginkan?

Namun, perjalanan waktu mengubah cara pandang saya.

Saya mulai memahami bahwa tidak semua usaha langsung menghasilkan keberhasilan.

Kadang-kadang kita harus mencoba berkali-kali.

Kadang-kadang kita harus jatuh terlebih dahulu agar tahu bagaimana cara berdiri.

Dari kegagalan, saya belajar mengevaluasi diri.

Saya bertanya kepada diri sendiri: apa yang kurang? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang bisa saya lakukan dengan cara yang berbeda?

Ternyata kegagalan bukan musuh.

Kegagalan adalah guru.

Ia mengajarkan kesabaran. Ia mengajarkan ketekunan. Ia mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menyalahkan keadaan.

Yang paling penting, kegagalan mengajarkan saya untuk tetap berjalan.

Hari ini saya tidak lagi takut gagal.

Saya justru takut jika gagal lalu berhenti mencoba.

Sebab saya percaya, selama kita masih mau belajar dan mencoba, perjalanan belum selesai.

Mungkin hari ini kita gagal.

Tetapi bisa jadi, kegagalan hari ini sedang mempersiapkan kita untuk keberhasilan yang lebih besar pada hari esok.

Jangan takut gagal.

Tulislah kegagalan itu.

Renungkan pelajarannya.

Kemudian bangkitlah.

Sebab suatu hari nanti, pengalaman yang dahulu membuat kita menangis mungkin justru menjadi cerita yang membuat orang lain kembali memiliki harapan.
---

G. Latihan Menulis Peserta

Sekarang Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 silakan memilih satu pengalaman kegagalan.

Tidak perlu mencari pengalaman yang luar biasa.

Gunakan pengalaman sederhana.

Lengkapi kalimat berikut:

Saya pernah gagal ketika...

Saat itu saya merasa...

Hal yang paling membuat saya kecewa adalah...

Kemudian saya menyadari bahwa...

Dari kegagalan itu saya belajar...

Setelah itu saya mencoba...

Sekarang saya memahami bahwa...

Pesan saya kepada pembaca adalah...

Dari jawaban tersebut, Bapak dan Ibu sudah memiliki bahan tulisan.

Tinggal dikembangkan menjadi beberapa paragraf.

---

H. Struktur Tulisan

Agar tulisan lebih mudah dibuat, gunakan struktur sederhana berikut:

Judul

Buat judul yang menggugah.

Contoh:

Kegagalan yang Mengajarkan Saya

Saya Pernah Gagal

Ketika Harapan Tidak Sesuai Kenyataan

Belajar dari Kegagalan

Saya Jatuh, Tetapi Tidak Berhenti

Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

Dari Gagal Saya Belajar

Terima Kasih, Kegagalan

Pembukaan

Ceritakan pengalaman.

Isi

Ceritakan masalah, perasaan, dan proses yang dialami.

Refleksi

Tuliskan pelajaran yang diperoleh.

Penutup

Berikan pesan kepada pembaca.

---

I. Jangan Takut Menulis Pengalaman Pribadi

Ada peserta yang berkata:

> “Pak, pengalaman saya biasa saja. Apakah layak ditulis?”

Jawaban saya:

Layak.

Sebab tulisan yang menarik tidak selalu berasal dari pengalaman yang luar biasa.

Kadang-kadang pengalaman sederhana justru sangat dekat dengan kehidupan pembaca.

Seorang guru yang gagal membuat siswanya memahami materi.

Seorang ibu yang gagal mendampingi anaknya belajar.

Seorang penulis yang berkali-kali gagal menerbitkan buku.

Seorang guru yang sudah menulis tetapi tidak ada yang membaca.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

Yang membuatnya menarik adalah makna yang kita temukan dari pengalaman tersebut.

---

J. Prinsip Penting Omjay

Saya sering mengingatkan peserta KBMN:

> “Menulislah dengan hati, bukan hanya dengan pikiran.”

Ketika menulis kegagalan, jangan hanya menceritakan kronologi.

Masukkan perasaan.

Masukkan renungan.

Masukkan pembelajaran.

Dan yang paling penting, jangan menulis untuk menunjukkan bahwa kita paling hebat.

Tulislah agar orang lain mendapatkan manfaat.

Pengalaman kita mungkin biasa bagi kita, tetapi bisa sangat berarti bagi orang lain.

---

K. Tugas Pertemuan Kelima

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 mendapatkan tugas:

✍️ Tugas:

Tulislah artikel dengan tema:

“Kegagalan yang Mengajarkan Saya”

Ketentuan sederhana:

500–700 kata.

Berdasarkan pengalaman pribadi.

Memiliki nilai pembelajaran.

Menggunakan bahasa sendiri.

Tidak perlu takut salah.

Publikasikan di blog masing-masing.

Bagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus tantangan:

Tambahkan satu foto yang berkaitan dengan cerita.

Foto tidak harus foto ketika mengalami kegagalan.

Bisa foto tempat, kegiatan, buku, perjalanan, atau sesuatu yang mengingatkan kita pada peristiwa tersebut.

---

L. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan.

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Menulislah, maka kita sedang belajar menjadi penulis.

Jangan menunggu memiliki pengalaman luar biasa.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah kita jalani.

Dan jangan takut menulis tentang kegagalan.

Sebab bisa jadi, cerita kegagalan kita hari ini adalah semangat bagi seseorang yang sedang hampir menyerah.

Mari kita ubah kegagalan menjadi tulisan.

Mari kita ubah luka menjadi pelajaran.

Mari kita ubah pengalaman menjadi inspirasi.

Dan mari kita terus menulis.

Membaca membuat kita tahu.
Menulis membuat kita berbagi.
Berbagi membuat hidup kita lebih berarti.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia
KBMN PGRI Gelombang 35
Blog https://wijayalabs.com

kisah Omjay 8 tahun menjadi doktor

Berikut materi pertemuan kelima KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar. Tema ini cocok dibuat reflektif agar peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar mengubah kegagalan menjadi tulisan yang menginspirasi.

Materi Pertemuan Kelima KBMN PGRI Gelombang 35

“Kegagalan yang Mengajarkan Saya”

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia

A. Pembukaan

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Selamat malam Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35.

Pada pertemuan kelima ini, kita akan belajar menulis dari sesuatu yang sering kita sembunyikan, yaitu kegagalan.

Kita biasanya senang menceritakan keberhasilan.

Ketika berhasil menerbitkan buku, kita bangga.
Ketika tulisan mendapatkan banyak pembaca, kita bahagia.
Ketika mendapatkan penghargaan, kita ingin membagikannya kepada orang lain.

Namun, pernahkah kita menulis tentang saat kita gagal?

Gagal bukan berarti kita tidak mampu.

Gagal adalah bagian dari proses belajar.

Bahkan sering kali, kegagalan memberikan pelajaran yang jauh lebih dalam daripada keberhasilan.

---

B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Memahami bahwa kegagalan adalah bagian dari proses kehidupan.

2. Menemukan pengalaman kegagalan yang memiliki nilai pembelajaran.

3. Mengubah pengalaman pribadi menjadi tulisan yang menarik.

4. Menulis dengan jujur, sederhana, dan menyentuh.

5. Membagikan hikmah dari kegagalan kepada pembaca.

6. Mempublikasikan tulisan di blog pribadi.

---

C. Apa Itu Kegagalan?

Kegagalan adalah keadaan ketika sesuatu yang kita harapkan belum tercapai sesuai dengan rencana.

Contohnya:

gagal memenangkan lomba;

gagal menerbitkan buku;

gagal menyelesaikan tulisan;

gagal mendapatkan pekerjaan;

gagal dalam ujian;

gagal mengembangkan blog;

gagal mengajak siswa mengikuti kegiatan;

gagal mencapai target;

gagal mempertahankan sebuah kebiasaan baik;

atau gagal memenuhi harapan orang lain.

Tetapi ada satu hal penting yang harus kita pahami:

> Kegagalan bukan akhir dari perjalanan. Kegagalan adalah salah satu guru terbaik dalam kehidupan.

---

D. Mengapa Kegagalan Perlu Ditulis?

Banyak orang malu menceritakan kegagalannya.

Padahal, pengalaman gagal bisa menjadi tulisan yang sangat kuat.

Mengapa?

Karena pembaca tidak selalu membutuhkan cerita tentang orang yang sempurna.

Pembaca membutuhkan cerita tentang orang biasa yang pernah jatuh, kemudian bangkit kembali.

Tulisan tentang kegagalan dapat membuat pembaca berkata:

> “Ternyata saya tidak sendirian.”

Atau:

> “Kalau dia bisa bangkit, saya juga harus mencoba lagi.”

Di sinilah kekuatan sebuah tulisan.

Tulisan yang baik bukan hanya membuat pembaca tahu, tetapi membuat pembaca merasa dan belajar.

---

E. Rumus Sederhana Menulis Kegagalan

Agar mudah menulis, gunakan rumus:

GAGAL → SADAR → BELAJAR → BANGKIT → BERBAGI

1. Gagal

Ceritakan apa yang terjadi.

Apa yang gagal?

Kapan terjadi?

Di mana?

Siapa yang terlibat?

---

2. Sadar

Ceritakan perasaan kita ketika mengalami kegagalan.

Apakah kecewa?

Sedih?

Malu?

Marah?

Hampir menyerah?

Tulislah dengan jujur.

---

3. Belajar

Ini bagian yang sangat penting.

Tanyakan kepada diri sendiri:

“Apa yang saya pelajari dari kegagalan tersebut?”

---

4. Bangkit

Apa yang kemudian kita lakukan?

Apakah mencoba lagi?

Memperbaiki kesalahan?

Belajar dari orang lain?

Mengubah strategi?

---

5. Berbagi

Terakhir, berikan hikmah kepada pembaca.

Misalnya:

> “Saya belajar bahwa gagal bukan alasan untuk berhenti. Gagal hanya mengajarkan saya cara yang belum tepat.”

---

F. Contoh Tulisan

Kegagalan yang Mengajarkan Saya untuk Tidak Mudah Menyerah

Saya pernah gagal.

Bahkan berkali-kali.

Ada tulisan yang tidak banyak dibaca. Ada kegiatan yang pesertanya sedikit. Ada rencana yang sudah disusun dengan baik tetapi hasilnya tidak sesuai harapan.

Dulu saya menganggap kegagalan sebagai sesuatu yang memalukan.

Saya merasa sudah berusaha, tetapi mengapa hasilnya belum sesuai dengan yang saya inginkan?

Namun, perjalanan waktu mengubah cara pandang saya.

Saya mulai memahami bahwa tidak semua usaha langsung menghasilkan keberhasilan.

Kadang-kadang kita harus mencoba berkali-kali.

Kadang-kadang kita harus jatuh terlebih dahulu agar tahu bagaimana cara berdiri.

Dari kegagalan, saya belajar mengevaluasi diri.

Saya bertanya kepada diri sendiri: apa yang kurang? Apa yang harus diperbaiki? Apa yang bisa saya lakukan dengan cara yang berbeda?

Ternyata kegagalan bukan musuh.

Kegagalan adalah guru.

Ia mengajarkan kesabaran. Ia mengajarkan ketekunan. Ia mengajarkan kita untuk tidak terlalu cepat menyalahkan keadaan.

Yang paling penting, kegagalan mengajarkan saya untuk tetap berjalan.

Hari ini saya tidak lagi takut gagal.

Saya justru takut jika gagal lalu berhenti mencoba.

Sebab saya percaya, selama kita masih mau belajar dan mencoba, perjalanan belum selesai.

Mungkin hari ini kita gagal.

Tetapi bisa jadi, kegagalan hari ini sedang mempersiapkan kita untuk keberhasilan yang lebih besar pada hari esok.

Jangan takut gagal.

Tulislah kegagalan itu.

Renungkan pelajarannya.

Kemudian bangkitlah.

Sebab suatu hari nanti, pengalaman yang dahulu membuat kita menangis mungkin justru menjadi cerita yang membuat orang lain kembali memiliki harapan.
---

G. Latihan Menulis Peserta

Sekarang Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 silakan memilih satu pengalaman kegagalan.

Tidak perlu mencari pengalaman yang luar biasa.

Gunakan pengalaman sederhana.

Lengkapi kalimat berikut:

Saya pernah gagal ketika...

Saat itu saya merasa...

Hal yang paling membuat saya kecewa adalah...

Kemudian saya menyadari bahwa...

Dari kegagalan itu saya belajar...

Setelah itu saya mencoba...

Sekarang saya memahami bahwa...

Pesan saya kepada pembaca adalah...

Dari jawaban tersebut, Bapak dan Ibu sudah memiliki bahan tulisan.

Tinggal dikembangkan menjadi beberapa paragraf.

---

H. Struktur Tulisan

Agar tulisan lebih mudah dibuat, gunakan struktur sederhana berikut:

Judul

Buat judul yang menggugah.

Contoh:

Kegagalan yang Mengajarkan Saya

Saya Pernah Gagal

Ketika Harapan Tidak Sesuai Kenyataan

Belajar dari Kegagalan

Saya Jatuh, Tetapi Tidak Berhenti

Kegagalan Bukan Akhir Segalanya

Dari Gagal Saya Belajar

Terima Kasih, Kegagalan

Pembukaan

Ceritakan pengalaman.

Isi

Ceritakan masalah, perasaan, dan proses yang dialami.

Refleksi

Tuliskan pelajaran yang diperoleh.

Penutup

Berikan pesan kepada pembaca.

---

I. Jangan Takut Menulis Pengalaman Pribadi

Ada peserta yang berkata:

> “Pak, pengalaman saya biasa saja. Apakah layak ditulis?”

Jawaban saya:

Layak.

Sebab tulisan yang menarik tidak selalu berasal dari pengalaman yang luar biasa.

Kadang-kadang pengalaman sederhana justru sangat dekat dengan kehidupan pembaca.

Seorang guru yang gagal membuat siswanya memahami materi.

Seorang ibu yang gagal mendampingi anaknya belajar.

Seorang penulis yang berkali-kali gagal menerbitkan buku.

Seorang guru yang sudah menulis tetapi tidak ada yang membaca.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

Yang membuatnya menarik adalah makna yang kita temukan dari pengalaman tersebut.

---

J. Prinsip Penting Omjay

Saya sering mengingatkan peserta KBMN:

> “Menulislah dengan hati, bukan hanya dengan pikiran.”

Ketika menulis kegagalan, jangan hanya menceritakan kronologi.

Masukkan perasaan.

Masukkan renungan.

Masukkan pembelajaran.

Dan yang paling penting, jangan menulis untuk menunjukkan bahwa kita paling hebat.

Tulislah agar orang lain mendapatkan manfaat.

Pengalaman kita mungkin biasa bagi kita, tetapi bisa sangat berarti bagi orang lain.

---

K. Tugas Pertemuan Kelima

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 mendapatkan tugas:

✍️ Tugas:

Tulislah artikel dengan tema:

“Kegagalan yang Mengajarkan Saya”

Ketentuan sederhana:

500–700 kata.

Berdasarkan pengalaman pribadi.

Memiliki nilai pembelajaran.

Menggunakan bahasa sendiri.

Tidak perlu takut salah.

Publikasikan di blog masing-masing.

Bagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus tantangan:

Tambahkan satu foto yang berkaitan dengan cerita.

Foto tidak harus foto ketika mengalami kegagalan.

Bisa foto tempat, kegiatan, buku, perjalanan, atau sesuatu yang mengingatkan kita pada peristiwa tersebut.

---

L. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang saya banggakan.

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Menulislah, maka kita sedang belajar menjadi penulis.

Jangan menunggu memiliki pengalaman luar biasa.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah kita jalani.

Dan jangan takut menulis tentang kegagalan.

Sebab bisa jadi, cerita kegagalan kita hari ini adalah semangat bagi seseorang yang sedang hampir menyerah.

Mari kita ubah kegagalan menjadi tulisan.

Mari kita ubah luka menjadi pelajaran.

Mari kita ubah pengalaman menjadi inspirasi.

Dan mari kita terus menulis.

Membaca membuat kita tahu.
Menulis membuat kita berbagi.
Berbagi membuat hidup kita lebih berarti.

Salam literasi.

Omjay – Guru Blogger Indonesia
KBMN PGRI Gelombang 35
Blog https://wijayalabs.com

Murid yang Memberikan Pelajaran

Berikut materi pertemuan keempat KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar pada 4 Oktober 2026.

Materi Pertemuan Keempat KBMN PGRI Gelombang 35

Murid yang Memberikan Pelajaran kepada Gurunya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 4 Oktober 2026

> “Guru memang mengajarkan banyak hal kepada murid. Namun, guru yang baik juga mau belajar dari muridnya.”

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan pengalaman ketika murid memberikan pelajaran berharga.

2. Mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita.

3. Menulis dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh.

4. Menemukan nilai atau hikmah dari pengalaman bersama murid.

5. Mempublikasikan tulisan di blog atau media sosial secara positif.

---

B. Pembukaan: Guru Juga Seorang Pembelajar

Selama ini kita sering berpikir bahwa guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada murid.

Guru menjelaskan materi.

Murid mendengarkan.

Guru memberikan tugas.

Murid mengerjakan.

Guru memberikan nilai.

Namun dalam kehidupan nyata, hubungan guru dan murid tidak sesederhana itu.

Ada kalanya murid justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada gurunya.

Murid mengajarkan guru tentang kesabaran.

Murid mengajarkan guru tentang ketulusan.

Murid mengajarkan guru tentang perjuangan.

Murid mengajarkan guru tentang keberanian mencoba.

Bahkan, kadang-kadang murid mengajarkan guru tentang teknologi yang belum dikuasainya.

Di sinilah seorang guru perlu memiliki kerendahan hati.

Guru tidak harus selalu paling tahu. Guru harus selalu mau belajar.

---

C. Kisah Omjay: Belajar dari Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay mengalami banyak peristiwa menarik bersama murid.

Dunia teknologi berubah sangat cepat.

Hari ini guru mengajarkan sebuah aplikasi. Besok muncul aplikasi baru.

Hari ini guru menjelaskan teknologi tertentu. Beberapa bulan kemudian teknologi tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.

Murid yang tumbuh bersama teknologi terkadang menemukan cara yang lebih cepat.

Mereka mencoba.

Mereka salah.

Mereka mencoba lagi.

Kemudian mereka berhasil.

Dari situlah guru mendapatkan pelajaran.

Murid mengajarkan kita untuk tidak takut mencoba.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat memberikan sebuah proyek kepada murid.

Guru menjelaskan langkah-langkah dasarnya.

Setelah itu murid diberikan kesempatan untuk bereksperimen.

Tidak jarang hasil karya murid justru membuat guru terkejut.

Ada murid yang menemukan cara berbeda.

Ada murid yang menghasilkan desain lebih kreatif.

Ada murid yang membuat program dengan pendekatan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai guru, kita tidak perlu merasa tersaingi.

Justru kita harus berkata:

“Wah, bagus sekali. Bagaimana kamu membuatnya?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuka pintu pembelajaran baru.

---

D. Murid Bukan Hanya Objek Pembelajaran

Salah satu kesalahan dalam pendidikan adalah menganggap murid hanya sebagai objek.

Guru berbicara.

Murid mendengarkan.

Guru menjelaskan.

Murid mencatat.

Padahal murid adalah subjek pembelajaran.

Mereka mempunyai pengalaman.

Mereka mempunyai ide.

Mereka mempunyai kreativitas.

Mereka mempunyai cara pandang sendiri.

Karena itu, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara dan berkarya.

Cobalah bertanya kepada murid:

Apa yang kamu sukai?

Apa yang kamu pelajari hari ini?

Apa yang paling sulit?

Bagaimana cara kamu menyelesaikannya?

Apa yang bisa saya pelajari dari kamu?

Jika kamu menjadi guru, apa yang akan kamu ajarkan kepada teman-teman?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Kadang-kadang jawaban murid sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran besar.

---

E. Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Pengalaman bersama murid sebenarnya adalah bahan tulisan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak guru merasa:

> “Saya tidak punya pengalaman menarik untuk ditulis.”

Padahal hampir setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.

Ada murid yang datang terlambat.

Ada murid yang tiba-tiba memberikan hadiah.

Ada murid yang berhasil setelah berkali-kali gagal.

Ada murid yang awalnya pendiam kemudian menjadi percaya diri.

Ada murid yang membantu gurunya memahami teknologi.

Ada murid yang memberikan nasihat sederhana tetapi sangat bermakna.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

---

F. Rumus Sederhana Menulis Kisah Murid

Gunakan rumus:

Kejadian → Perasaan → Pelajaran → Hikmah

1. Kejadian

Apa yang terjadi?

Contoh:

> Suatu hari saya sedang mengajarkan materi coding. Salah seorang murid mengatakan bahwa ada cara lain yang menurutnya lebih sederhana.

2. Perasaan

Apa yang Omjay rasakan?

> Awalnya saya penasaran. Saya kemudian meminta murid tersebut menjelaskan caranya di depan kelas.

3. Pelajaran

Apa yang Omjay pelajari?

> Saya menyadari bahwa seorang guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

4. Hikmah

Apa makna dari pengalaman tersebut?

> Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kelas adalah tempat belajar bersama. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru.

---

G. Contoh Tulisan

Judul: Hari Itu Murid Saya Mengajarkan Sesuatu yang Berharga

Hari itu saya sedang mengajar Informatika.

Saya menjelaskan sebuah materi kepada murid-murid. Setelah memberikan contoh, saya meminta mereka mencoba sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang murid mengangkat tangan.

“Omjay, boleh saya mencoba cara yang berbeda?”

Saya menjawab, “Silakan.”

Murid tersebut kemudian maju ke depan kelas.

Ia menunjukkan caranya.

Saya memperhatikan dengan saksama.

Ternyata cara yang digunakan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Namun hasilnya tetap benar.

Saya tersenyum.

Dalam hati saya berkata, ternyata murid saya hari ini sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya belajar bahwa dalam pembelajaran tidak selalu hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan.

Murid tersebut mungkin tidak sadar bahwa hari itu ia telah menjadi guru bagi gurunya sendiri.

Saya kemudian berkata kepada seluruh kelas:

“Anak-anak, hari ini Omjay belajar dari teman kalian.”

Kelas menjadi ramai.

Mereka tersenyum.

Saya pun ikut tersenyum.

Dari peristiwa sederhana itu saya mendapatkan pelajaran penting.

Guru tidak harus selalu merasa paling pintar. Guru harus berani mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar.

Sebab dunia terus berubah.

Teknologi terus berkembang.

Murid-murid kita juga terus berkembang.

Kalau guru berhenti belajar, maka guru akan tertinggal.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Hari itu saya tidak hanya mengajar Informatika.

Saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari seorang murid.

Dan pelajaran itu akan selalu saya ingat.

---

H. Latihan Menulis Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang giliran peserta.

Silakan pilih satu murid yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Anda.

Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.

Ambil pengalaman sederhana.

Tuliskan dengan pola berikut:

Judul:
Murid yang Mengajarkan Saya ...

1. Kejadian
Apa yang dilakukan murid?

2. Perasaan saya
Apa yang saya rasakan saat itu?

3. Pelajaran
Apa yang saya pelajari dari murid tersebut?

4. Hikmah
Apa pesan yang bisa dibagikan kepada pembaca?

Target tulisan:

500–700 kata.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang teman.

---

I. Tugas Pertemuan Keempat

Tugas: “Muridku, Guruku”

Buat sebuah tulisan dengan tema:

> “Murid yang Memberikan Pelajaran Berharga kepada Saya.”

Kemudian:

1. Publikasikan di blog masing-masing.

2. Berikan judul yang menarik.

3. Sertakan foto jika memungkinkan.

4. Berikan satu pesan atau hikmah di bagian akhir.

5. Bagikan link tulisan kepada kelompok KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus

Jika memungkinkan, wawancarai murid tersebut.

Tanyakan:

> “Apa yang kamu pelajari dari saya sebagai guru?”

Jawaban murid bisa menjadi bagian menarik dari tulisan.

---

J. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

jangan menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai menulis.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati.

Sebab terkadang sebuah kejadian kecil di kelas justru memiliki makna yang besar.

Murid yang kita ajar hari ini mungkin suatu saat menjadi dokter, guru, programmer, pengusaha, pejabat, seniman, atau pemimpin bangsa.

Namun sebelum mereka menjadi orang besar, mereka pernah duduk di bangku kelas kita.

Dan mungkin tanpa kita sadari, mereka juga pernah memberikan pelajaran yang mengubah cara pandang kita sebagai guru.

> Guru mengajar dengan ilmu.
Guru mendidik dengan keteladanan.
Guru belajar dari pengalaman.
Dan guru yang hebat tidak malu belajar dari muridnya.

Menulislah dengan hati.
Tuliskan kisah muridmu.
Karena suatu hari nanti, kisah itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia
Ketua IGTIK PGRI dan KOGTIK

Alhamdulillah Omjay Terpilih ke Bali oleh Pandi

Alhamdulillah, Omjay Terpilih sebagai Peserta ICANN 87 Bali: Sebuah Amanah untuk Belajar dan Berkontribusi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd.

Ada kabar yang membuat hati saya bersyukur pada hari ini.

Senin, 5 Oktober 2026, saya menerima surat pemberitahuan dari Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI). Isinya membuat saya terdiam sejenak. Setelah membaca dengan teliti, saya mengucapkan:

“Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah. Ini bukan sekadar kesempatan, tetapi sebuah amanah.”

Dalam surat tersebut, saya dinyatakan terpilih sebagai peserta ICANN 87 Bali. Surat resmi PANDI itu ditujukan kepada saya, Dr. Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd., sebagai peserta terpilih ICANN 87 Bali.

Bagi saya, terpilih mengikuti sebuah kegiatan internasional bukan sekadar tentang pergi ke Bali. Lebih jauh dari itu, ini adalah kesempatan untuk belajar, membuka wawasan, membangun jejaring, dan membawa pulang pengetahuan untuk dibagikan kepada guru dan masyarakat Indonesia.

Dari Guru, Blogger, hingga Belajar tentang Tata Kelola Internet

Saya hanyalah seorang guru yang sejak lama senang belajar dan berbagi.

Saya mengajar Informatika di SMP Labschool Jakarta. Saya menulis di blog. Saya menulis di Kompasiana. Saya aktif dalam kegiatan guru, khususnya yang berkaitan dengan Informatika, Koding, Kecerdasan Artifisial, dan literasi digital.

Saya percaya bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar.

Dunia berubah.

Teknologi berubah.

Internet berubah.

Kebutuhan peserta didik juga berubah.

Karena itu, guru harus terus membuka jendela pengetahuan. Jangan sampai guru meminta muridnya belajar, tetapi gurunya sendiri berhenti belajar.

Kesempatan mengikuti ICANN 87 Bali menjadi salah satu jendela baru bagi saya.

Surat dari PANDI menjelaskan bahwa program ini ditujukan untuk mendukung peningkatan kapasitas, wawasan, dan partisipasi masyarakat Indonesia dalam ekosistem tata kelola Internet global.

Kalimat tersebut sangat menarik perhatian saya.

Tata kelola Internet bukan hanya urusan para ahli teknologi.

Guru, sekolah, orang tua, peserta didik, komunitas, organisasi profesi, dan masyarakat pengguna Internet juga memiliki hubungan dengan perkembangan ekosistem Internet.

Hampir setiap hari kita menggunakan Internet.

Kita mencari informasi melalui Internet.

Kita mengajar menggunakan Internet.

Kita berkomunikasi melalui Internet.

Kita menulis dan menerbitkan karya melalui Internet.

Anak-anak kita belajar dengan Internet.

Bahkan sekarang kecerdasan artifisial berkembang sangat cepat dengan memanfaatkan ekosistem digital dan Internet.

Maka, semakin banyak masyarakat yang memahami bagaimana Internet berkembang dan dikelola, semakin baik pula kualitas masyarakat digital Indonesia.

ICANN 87 Bali, 17–22 Oktober 2026

Berdasarkan surat PANDI, kegiatan yang akan saya ikuti adalah ICANN87 Annual General Meeting.

Kegiatan tersebut akan berlangsung:

📅 17–22 Oktober 2026
📍 Bali International Convention Center (BICC), Bali, Indonesia
🌐 Penyelenggara: Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN).

Ada rasa haru ketika membaca tanggal tersebut.

Tidak lama lagi.

Bali akan menjadi tempat bertemunya berbagai pemikiran dan pengalaman dalam sebuah kegiatan yang berkaitan dengan ekosistem tata kelola Internet global.

Saya tentu tidak ingin datang hanya untuk hadir secara fisik.

Saya ingin datang dengan pikiran terbuka dan hati yang siap belajar.

Sebuah Kesempatan yang Harus Dipertanggungjawabkan

Ada satu hal penting yang saya pelajari dari surat PANDI tersebut.

Terpilih bukan berarti mendapatkan hadiah untuk bersenang-senang.

Terpilih berarti mendapatkan kepercayaan.

PANDI meminta peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan secara penuh, hadir sesuai jadwal, mengikuti sesi, diskusi, pertemuan, workshop, serta agenda lainnya. Peserta juga diharapkan berpartisipasi secara aktif dan profesional.

Saya membaca ketentuan tersebut dengan penuh kesadaran.

Artinya, saya harus mempersiapkan diri sebaik mungkin.

Saya tidak boleh datang hanya sebagai penonton.

Saya ingin menjadi peserta yang aktif bertanya, aktif berdiskusi, aktif mendengarkan, dan aktif membangun jejaring.

Sebab setiap pertemuan dengan orang lain selalu membawa kemungkinan lahirnya pengetahuan baru.

Membawa Nama Indonesia

Ada bagian lain dari surat tersebut yang membuat saya semakin sadar bahwa kesempatan ini adalah amanah.

Peserta diharapkan menjaga nama baik PANDI, institusi atau organisasi asal, dan Indonesia selama mengikuti kegiatan.

Peserta juga diminta menjunjung tinggi etika, profesionalitas, dan tata tertib. Selain itu, peserta diharapkan aktif membangun jejaring serta berpartisipasi dalam diskusi yang relevan.

Saya membacanya perlahan.

Saya tidak hanya membawa nama Omjay.

Saya membawa nama guru.

Saya membawa nama sekolah.

Saya membawa nama organisasi yang saya ikuti.

Dan tentu saja, saya membawa nama Indonesia.

Karena itu saya harus menjaga sikap.

Saya harus menghormati orang lain.

Saya harus mau mendengar.

Saya harus berani berbagi pengalaman.

Dan yang paling penting, saya harus pulang membawa sesuatu yang bermanfaat.

Ilmu Jangan Berhenti di Bali

Saya punya prinsip sederhana dalam hidup.

Ilmu yang kita dapatkan akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada orang lain.

Kalau nanti saya mendapatkan pengetahuan baru dari ICANN 87 Bali, saya ingin menuliskannya.

Saya ingin membagikannya melalui blog.

Saya ingin menuliskannya di Kompasiana.

Saya ingin berdiskusi dengan guru-guru Informatika.

Saya ingin berbagi dengan komunitas guru.

Kalau ada pengetahuan yang relevan untuk peserta didik, tentu akan saya sederhanakan agar dapat dipahami oleh mereka.

PANDI sendiri dalam suratnya mengharapkan peserta mendokumentasikan dan/atau menyampaikan pengalaman serta pengetahuan yang diperoleh dari kegiatan sesuai arahan PANDI.

Bagi saya, ini sejalan dengan kebiasaan yang selama ini saya jalani.

Belajar, menulis, berbagi.

Belajar untuk diri sendiri.

Menulis untuk mengikat ilmu.

Berbagi agar ilmu tersebut memberikan manfaat kepada orang lain.

Saya Teringat Perjalanan Panjang sebagai Guru

Ketika menerima surat ini, saya kembali teringat perjalanan panjang saya sebagai guru.

Saya mulai mengajar pada tahun 1994.

Sudah begitu banyak perubahan teknologi yang saya saksikan.

Dulu komputer belum seperti sekarang.

Internet belum menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Blog belum menjadi kebiasaan masyarakat.

Media sosial belum seperti sekarang.

Sekarang kita berada di zaman kecerdasan artifisial.

Anak-anak kita tumbuh bersama teknologi.

Dunia pendidikan menghadapi perubahan yang luar biasa cepat.

Di tengah perubahan tersebut, saya memilih untuk terus belajar.

Saya percaya bahwa guru yang mau belajar akan selalu memiliki sesuatu untuk diberikan kepada muridnya.

Dan guru yang mau menulis akan memiliki kesempatan untuk membuat pengalaman hidupnya menjadi pengetahuan yang bisa diwariskan.

Jangan Takut Belajar Hal Baru

Ada kalanya kita merasa sudah cukup umur untuk belajar.

Padahal menurut saya justru semakin bertambah usia, semakin kita harus rendah hati untuk belajar.

Saya mungkin sudah lama menjadi guru.

Tetapi ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru, saya kembali menjadi seorang pembelajar.

Itulah yang saya rasakan menjelang ICANN 87 Bali.

Saya tidak datang sebagai orang yang paling tahu.

Saya datang sebagai guru yang ingin tahu lebih banyak.

Saya ingin memahami bagaimana perkembangan ekosistem Internet global.

Saya ingin mendengar berbagai perspektif.

Saya ingin mengenal orang-orang baru.

Saya ingin memperluas jejaring.

Dan saya ingin membawa pulang inspirasi untuk dunia pendidikan Indonesia.

Terima Kasih PANDI

Saya mengucapkan terima kasih kepada Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) atas kesempatan yang diberikan.

Surat tertanggal 5 Oktober 2026 tersebut secara resmi menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya saya sebagai peserta ICANN 87 Bali. PANDI juga berharap kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk memperluas wawasan, memperkuat jejaring, serta meningkatkan kontribusi dalam pengembangan ekosistem Internet Indonesia dan global.

Saya menerima harapan tersebut sebagai sebuah amanah.

InsyaAllah saya akan berusaha mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan sebaik-baiknya.

Saya juga akan mendokumentasikan perjalanan ini.

Bukan untuk membanggakan diri.

Tetapi untuk berbagi pengalaman.

Sebab saya percaya, cerita seorang guru bisa menjadi inspirasi bagi guru lainnya.

Dari Bali untuk Indonesia

Saya membayangkan nanti ketika berada di Bali.

Saya mungkin akan duduk di sebuah ruangan bersama banyak orang yang memiliki pengalaman berbeda.

Saya mungkin akan mendengar istilah-istilah baru.

Saya mungkin akan menemukan pemikiran yang sebelumnya belum pernah saya temui.

Saya mungkin akan bertemu orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap masa depan Internet.

Dan saya akan kembali mengingat satu hal:

Saya adalah guru.

Apa pun yang saya pelajari harus memiliki jalan untuk kembali kepada pendidikan.

Kembali kepada sekolah.

Kembali kepada guru.

Kembali kepada murid.

Kembali kepada masyarakat.

Karena perjalanan seorang guru tidak pernah benar-benar berhenti di tempat ia belajar.

Guru belajar di satu tempat, lalu membawa ilmunya ke tempat lain.

Begitulah seharusnya ilmu bergerak.

Menulis Perjalanan, Mengabadikan Pengalaman

Saya sudah lama percaya bahwa pengalaman yang tidak ditulis akan mudah dilupakan.

Karena itu, perjalanan menuju ICANN 87 Bali ini akan saya jadikan bagian dari perjalanan menulis saya.

Saya akan menulis apa yang saya lihat.

Saya akan menulis apa yang saya dengar.

Saya akan menulis apa yang saya pelajari.

Saya akan menulis siapa saja yang saya temui.

Dan yang paling penting, saya akan menulis apa manfaatnya bagi pendidikan Indonesia.

Mungkin tulisan-tulisan tersebut nantinya tidak sempurna.

Tidak masalah.

Saya selalu mengatakan kepada peserta didik dan guru:

Jangan menunggu tulisan sempurna untuk mulai menulis.

Mulailah dari pengalaman.

Mulailah dari apa yang kita rasakan.

Mulailah dari apa yang kita lihat.

Kemudian tulislah dengan hati.

Sebuah Babak Baru

Hari ini saya mendapatkan sebuah surat.

Tetapi bagi saya, surat itu bukan sekadar selembar dokumen.

Surat itu seperti sebuah pintu.

Pintu menuju pengalaman baru.

Pintu menuju pengetahuan baru.

Pintu menuju jejaring baru.

Dan mungkin juga pintu menuju kontribusi baru.

Saya bersyukur bisa mendapatkan kesempatan tersebut.

Namun saya juga sadar, semakin besar kesempatan yang diberikan, semakin besar pula tanggung jawab yang harus dijalankan.

Alhamdulillah.

Bismillah.

Semoga perjalanan menuju ICANN 87 Bali pada 17–22 Oktober 2026 menjadi perjalanan yang membawa manfaat.

Semoga saya bisa belajar dengan baik.

Semoga saya bisa menjaga nama baik Indonesia.

Semoga saya bisa membangun jejaring yang positif.

Dan semoga semua pengalaman tersebut dapat saya tuliskan serta bagikan kepada guru-guru dan masyarakat Indonesia.

Karena pada akhirnya, saya ingin terus memegang prinsip sederhana:

Belajar sepanjang hayat, menulis setiap hari, dan berbagi tanpa henti.

Dari seorang guru.

Dari seorang blogger.

Dari seorang pembelajar.

Omjay.

Dr. Wijaya Kusumah, S.Pd., M.Pd.


Teaser Kompasiana

Alhamdulillah, Omjay terpilih sebagai peserta ICANN 87 Bali. Sebuah kesempatan belajar, membangun jejaring, dan membawa pulang pengalaman untuk pendidikan Indonesia.

Tag

ICANN87 PANDI ICANN87Bali GuruIndonesia GuruInformatika LiterasiDigital Internet TataKelolaInternet Omjay WijayaKusumah Kompasiana

Minggu, 04 Oktober 2026

Murid

Berikut materi pertemuan keempat KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar pada 4 Oktober 2026.

Materi Pertemuan Keempat KBMN PGRI Gelombang 35

Murid yang Memberikan Pelajaran kepada Gurunya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 4 Oktober 2026

> “Guru memang mengajarkan banyak hal kepada murid. Namun, guru yang baik juga mau belajar dari muridnya.”

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan pengalaman ketika murid memberikan pelajaran berharga.

2. Mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita.

3. Menulis dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh.

4. Menemukan nilai atau hikmah dari pengalaman bersama murid.

5. Mempublikasikan tulisan di blog atau media sosial secara positif.

---

B. Pembukaan: Guru Juga Seorang Pembelajar

Selama ini kita sering berpikir bahwa guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada murid.

Guru menjelaskan materi.

Murid mendengarkan.

Guru memberikan tugas.

Murid mengerjakan.

Guru memberikan nilai.

Namun dalam kehidupan nyata, hubungan guru dan murid tidak sesederhana itu.

Ada kalanya murid justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada gurunya.

Murid mengajarkan guru tentang kesabaran.

Murid mengajarkan guru tentang ketulusan.

Murid mengajarkan guru tentang perjuangan.

Murid mengajarkan guru tentang keberanian mencoba.

Bahkan, kadang-kadang murid mengajarkan guru tentang teknologi yang belum dikuasainya.

Di sinilah seorang guru perlu memiliki kerendahan hati.

Guru tidak harus selalu paling tahu. Guru harus selalu mau belajar.

---

C. Kisah Omjay: Belajar dari Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay mengalami banyak peristiwa menarik bersama murid.

Dunia teknologi berubah sangat cepat.

Hari ini guru mengajarkan sebuah aplikasi. Besok muncul aplikasi baru.

Hari ini guru menjelaskan teknologi tertentu. Beberapa bulan kemudian teknologi tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.

Murid yang tumbuh bersama teknologi terkadang menemukan cara yang lebih cepat.

Mereka mencoba.

Mereka salah.

Mereka mencoba lagi.

Kemudian mereka berhasil.

Dari situlah guru mendapatkan pelajaran.

Murid mengajarkan kita untuk tidak takut mencoba.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat memberikan sebuah proyek kepada murid.

Guru menjelaskan langkah-langkah dasarnya.

Setelah itu murid diberikan kesempatan untuk bereksperimen.

Tidak jarang hasil karya murid justru membuat guru terkejut.

Ada murid yang menemukan cara berbeda.

Ada murid yang menghasilkan desain lebih kreatif.

Ada murid yang membuat program dengan pendekatan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai guru, kita tidak perlu merasa tersaingi.

Justru kita harus berkata:

“Wah, bagus sekali. Bagaimana kamu membuatnya?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuka pintu pembelajaran baru.

---

D. Murid Bukan Hanya Objek Pembelajaran

Salah satu kesalahan dalam pendidikan adalah menganggap murid hanya sebagai objek.

Guru berbicara.

Murid mendengarkan.

Guru menjelaskan.

Murid mencatat.

Padahal murid adalah subjek pembelajaran.

Mereka mempunyai pengalaman.

Mereka mempunyai ide.

Mereka mempunyai kreativitas.

Mereka mempunyai cara pandang sendiri.

Karena itu, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara dan berkarya.

Cobalah bertanya kepada murid:

Apa yang kamu sukai?

Apa yang kamu pelajari hari ini?

Apa yang paling sulit?

Bagaimana cara kamu menyelesaikannya?

Apa yang bisa saya pelajari dari kamu?

Jika kamu menjadi guru, apa yang akan kamu ajarkan kepada teman-teman?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Kadang-kadang jawaban murid sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran besar.

---

E. Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Pengalaman bersama murid sebenarnya adalah bahan tulisan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak guru merasa:

> “Saya tidak punya pengalaman menarik untuk ditulis.”

Padahal hampir setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.

Ada murid yang datang terlambat.

Ada murid yang tiba-tiba memberikan hadiah.

Ada murid yang berhasil setelah berkali-kali gagal.

Ada murid yang awalnya pendiam kemudian menjadi percaya diri.

Ada murid yang membantu gurunya memahami teknologi.

Ada murid yang memberikan nasihat sederhana tetapi sangat bermakna.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

---

F. Rumus Sederhana Menulis Kisah Murid

Gunakan rumus:

Kejadian → Perasaan → Pelajaran → Hikmah

1. Kejadian

Apa yang terjadi?

Contoh:

> Suatu hari saya sedang mengajarkan materi coding. Salah seorang murid mengatakan bahwa ada cara lain yang menurutnya lebih sederhana.

2. Perasaan

Apa yang Omjay rasakan?

> Awalnya saya penasaran. Saya kemudian meminta murid tersebut menjelaskan caranya di depan kelas.

3. Pelajaran

Apa yang Omjay pelajari?

> Saya menyadari bahwa seorang guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

4. Hikmah

Apa makna dari pengalaman tersebut?

> Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kelas adalah tempat belajar bersama. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru.

---

G. Contoh Tulisan

Judul: Hari Itu Murid Saya Mengajarkan Sesuatu yang Berharga

Hari itu saya sedang mengajar Informatika.

Saya menjelaskan sebuah materi kepada murid-murid. Setelah memberikan contoh, saya meminta mereka mencoba sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang murid mengangkat tangan.

“Omjay, boleh saya mencoba cara yang berbeda?”

Saya menjawab, “Silakan.”

Murid tersebut kemudian maju ke depan kelas.

Ia menunjukkan caranya.

Saya memperhatikan dengan saksama.

Ternyata cara yang digunakan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Namun hasilnya tetap benar.

Saya tersenyum.

Dalam hati saya berkata, ternyata murid saya hari ini sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya belajar bahwa dalam pembelajaran tidak selalu hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan.

Murid tersebut mungkin tidak sadar bahwa hari itu ia telah menjadi guru bagi gurunya sendiri.

Saya kemudian berkata kepada seluruh kelas:

“Anak-anak, hari ini Omjay belajar dari teman kalian.”

Kelas menjadi ramai.

Mereka tersenyum.

Saya pun ikut tersenyum.

Dari peristiwa sederhana itu saya mendapatkan pelajaran penting.

Guru tidak harus selalu merasa paling pintar. Guru harus berani mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar.

Sebab dunia terus berubah.

Teknologi terus berkembang.

Murid-murid kita juga terus berkembang.

Kalau guru berhenti belajar, maka guru akan tertinggal.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Hari itu saya tidak hanya mengajar Informatika.

Saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari seorang murid.

Dan pelajaran itu akan selalu saya ingat.

---

H. Latihan Menulis Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang giliran peserta.

Silakan pilih satu murid yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Anda.

Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.

Ambil pengalaman sederhana.

Tuliskan dengan pola berikut:

Judul:
Murid yang Mengajarkan Saya ...

1. Kejadian
Apa yang dilakukan murid?

2. Perasaan saya
Apa yang saya rasakan saat itu?

3. Pelajaran
Apa yang saya pelajari dari murid tersebut?

4. Hikmah
Apa pesan yang bisa dibagikan kepada pembaca?

Target tulisan:

500–700 kata.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang teman.

---

I. Tugas Pertemuan Keempat

Tugas: “Muridku, Guruku”

Buat sebuah tulisan dengan tema:

> “Murid yang Memberikan Pelajaran Berharga kepada Saya.”

Kemudian:

1. Publikasikan di blog masing-masing.

2. Berikan judul yang menarik.

3. Sertakan foto jika memungkinkan.

4. Berikan satu pesan atau hikmah di bagian akhir.

5. Bagikan link tulisan kepada kelompok KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus

Jika memungkinkan, wawancarai murid tersebut.

Tanyakan:

> “Apa yang kamu pelajari dari saya sebagai guru?”

Jawaban murid bisa menjadi bagian menarik dari tulisan.

---

J. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

jangan menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai menulis.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati.

Sebab terkadang sebuah kejadian kecil di kelas justru memiliki makna yang besar.

Murid yang kita ajar hari ini mungkin suatu saat menjadi dokter, guru, programmer, pengusaha, pejabat, seniman, atau pemimpin bangsa.

Namun sebelum mereka menjadi orang besar, mereka pernah duduk di bangku kelas kita.

Dan mungkin tanpa kita sadari, mereka juga pernah memberikan pelajaran yang mengubah cara pandang kita sebagai guru.

> Guru mengajar dengan ilmu.
Guru mendidik dengan keteladanan.
Guru belajar dari pengalaman.
Dan guru yang hebat tidak malu belajar dari muridnya.

Menulislah dengan hati.
Tuliskan kisah muridmu.
Karena suatu hari nanti, kisah itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia
Ketua IGTIK PGRI dan KOGTIK

Materi Keempat KBMN PGRI Gelombang 35 dengan Tema Murid yang Memberikan Pelajaran Pada Gurunya

Berikut materi pertemuan keempat KBMN PGRI Gelombang 35 yang bisa langsung digunakan untuk mengajar pada 4 Oktober 2026.

Materi Pertemuan Keempat KBMN PGRI Gelombang 35

Murid yang Memberikan Pelajaran kepada Gurunya

Bersama Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 4 Oktober 2026

> “Guru memang mengajarkan banyak hal kepada murid. Namun, guru yang baik juga mau belajar dari muridnya.”

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

1. Menemukan pengalaman ketika murid memberikan pelajaran berharga.

2. Mengubah pengalaman tersebut menjadi sebuah cerita.

3. Menulis dengan bahasa sederhana, jujur, dan menyentuh.

4. Menemukan nilai atau hikmah dari pengalaman bersama murid.

5. Mempublikasikan tulisan di blog atau media sosial secara positif.

---

B. Pembukaan: Guru Juga Seorang Pembelajar

Selama ini kita sering berpikir bahwa guru adalah orang yang memberikan pelajaran kepada murid.

Guru menjelaskan materi.

Murid mendengarkan.

Guru memberikan tugas.

Murid mengerjakan.

Guru memberikan nilai.

Namun dalam kehidupan nyata, hubungan guru dan murid tidak sesederhana itu.

Ada kalanya murid justru memberikan pelajaran yang sangat berharga kepada gurunya.

Murid mengajarkan guru tentang kesabaran.

Murid mengajarkan guru tentang ketulusan.

Murid mengajarkan guru tentang perjuangan.

Murid mengajarkan guru tentang keberanian mencoba.

Bahkan, kadang-kadang murid mengajarkan guru tentang teknologi yang belum dikuasainya.

Di sinilah seorang guru perlu memiliki kerendahan hati.

Guru tidak harus selalu paling tahu. Guru harus selalu mau belajar.

---

C. Kisah Omjay: Belajar dari Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, Omjay mengalami banyak peristiwa menarik bersama murid.

Dunia teknologi berubah sangat cepat.

Hari ini guru mengajarkan sebuah aplikasi. Besok muncul aplikasi baru.

Hari ini guru menjelaskan teknologi tertentu. Beberapa bulan kemudian teknologi tersebut berkembang menjadi sesuatu yang berbeda.

Murid yang tumbuh bersama teknologi terkadang menemukan cara yang lebih cepat.

Mereka mencoba.

Mereka salah.

Mereka mencoba lagi.

Kemudian mereka berhasil.

Dari situlah guru mendapatkan pelajaran.

Murid mengajarkan kita untuk tidak takut mencoba.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat memberikan sebuah proyek kepada murid.

Guru menjelaskan langkah-langkah dasarnya.

Setelah itu murid diberikan kesempatan untuk bereksperimen.

Tidak jarang hasil karya murid justru membuat guru terkejut.

Ada murid yang menemukan cara berbeda.

Ada murid yang menghasilkan desain lebih kreatif.

Ada murid yang membuat program dengan pendekatan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Sebagai guru, kita tidak perlu merasa tersaingi.

Justru kita harus berkata:

“Wah, bagus sekali. Bagaimana kamu membuatnya?”

Kalimat sederhana tersebut dapat membuka pintu pembelajaran baru.

---

D. Murid Bukan Hanya Objek Pembelajaran

Salah satu kesalahan dalam pendidikan adalah menganggap murid hanya sebagai objek.

Guru berbicara.

Murid mendengarkan.

Guru menjelaskan.

Murid mencatat.

Padahal murid adalah subjek pembelajaran.

Mereka mempunyai pengalaman.

Mereka mempunyai ide.

Mereka mempunyai kreativitas.

Mereka mempunyai cara pandang sendiri.

Karena itu, guru perlu memberikan ruang kepada murid untuk berbicara dan berkarya.

Cobalah bertanya kepada murid:

Apa yang kamu sukai?

Apa yang kamu pelajari hari ini?

Apa yang paling sulit?

Bagaimana cara kamu menyelesaikannya?

Apa yang bisa saya pelajari dari kamu?

Jika kamu menjadi guru, apa yang akan kamu ajarkan kepada teman-teman?

Pertanyaan terakhir sangat menarik.

Kadang-kadang jawaban murid sederhana.

Tetapi justru dari kesederhanaan itu muncul pelajaran besar.

---

E. Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Pengalaman bersama murid sebenarnya adalah bahan tulisan yang sangat kaya.

Sayangnya, banyak guru merasa:

> “Saya tidak punya pengalaman menarik untuk ditulis.”

Padahal hampir setiap hari guru mengalami berbagai peristiwa.

Ada murid yang datang terlambat.

Ada murid yang tiba-tiba memberikan hadiah.

Ada murid yang berhasil setelah berkali-kali gagal.

Ada murid yang awalnya pendiam kemudian menjadi percaya diri.

Ada murid yang membantu gurunya memahami teknologi.

Ada murid yang memberikan nasihat sederhana tetapi sangat bermakna.

Semua itu bisa menjadi tulisan.

---

F. Rumus Sederhana Menulis Kisah Murid

Gunakan rumus:

Kejadian → Perasaan → Pelajaran → Hikmah

1. Kejadian

Apa yang terjadi?

Contoh:

> Suatu hari saya sedang mengajarkan materi coding. Salah seorang murid mengatakan bahwa ada cara lain yang menurutnya lebih sederhana.

2. Perasaan

Apa yang Omjay rasakan?

> Awalnya saya penasaran. Saya kemudian meminta murid tersebut menjelaskan caranya di depan kelas.

3. Pelajaran

Apa yang Omjay pelajari?

> Saya menyadari bahwa seorang guru tidak harus selalu menjadi orang yang paling tahu.

4. Hikmah

Apa makna dari pengalaman tersebut?

> Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa kelas adalah tempat belajar bersama. Guru belajar dari murid, dan murid belajar dari guru.

---

G. Contoh Tulisan

Judul: Hari Itu Murid Saya Mengajarkan Sesuatu yang Berharga

Hari itu saya sedang mengajar Informatika.

Saya menjelaskan sebuah materi kepada murid-murid. Setelah memberikan contoh, saya meminta mereka mencoba sendiri.

Tidak lama kemudian, seorang murid mengangkat tangan.

“Omjay, boleh saya mencoba cara yang berbeda?”

Saya menjawab, “Silakan.”

Murid tersebut kemudian maju ke depan kelas.

Ia menunjukkan caranya.

Saya memperhatikan dengan saksama.

Ternyata cara yang digunakan berbeda dengan contoh yang saya berikan.

Namun hasilnya tetap benar.

Saya tersenyum.

Dalam hati saya berkata, ternyata murid saya hari ini sedang mengajarkan sesuatu kepada saya.

Saya belajar bahwa dalam pembelajaran tidak selalu hanya ada satu jalan untuk mencapai tujuan.

Murid tersebut mungkin tidak sadar bahwa hari itu ia telah menjadi guru bagi gurunya sendiri.

Saya kemudian berkata kepada seluruh kelas:

“Anak-anak, hari ini Omjay belajar dari teman kalian.”

Kelas menjadi ramai.

Mereka tersenyum.

Saya pun ikut tersenyum.

Dari peristiwa sederhana itu saya mendapatkan pelajaran penting.

Guru tidak harus selalu merasa paling pintar. Guru harus berani mengatakan bahwa dirinya juga masih belajar.

Sebab dunia terus berubah.

Teknologi terus berkembang.

Murid-murid kita juga terus berkembang.

Kalau guru berhenti belajar, maka guru akan tertinggal.

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Hari itu saya tidak hanya mengajar Informatika.

Saya mendapatkan pelajaran kehidupan dari seorang murid.

Dan pelajaran itu akan selalu saya ingat.

---

H. Latihan Menulis Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Sekarang giliran peserta.

Silakan pilih satu murid yang pernah memberikan pelajaran berharga kepada Anda.

Tidak perlu mencari cerita yang luar biasa.

Ambil pengalaman sederhana.

Tuliskan dengan pola berikut:

Judul:
Murid yang Mengajarkan Saya ...

1. Kejadian
Apa yang dilakukan murid?

2. Perasaan saya
Apa yang saya rasakan saat itu?

3. Pelajaran
Apa yang saya pelajari dari murid tersebut?

4. Hikmah
Apa pesan yang bisa dibagikan kepada pembaca?

Target tulisan:

500–700 kata.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang teman.

---

I. Tugas Pertemuan Keempat

Tugas: “Muridku, Guruku”

Buat sebuah tulisan dengan tema:

> “Murid yang Memberikan Pelajaran Berharga kepada Saya.”

Kemudian:

1. Publikasikan di blog masing-masing.

2. Berikan judul yang menarik.

3. Sertakan foto jika memungkinkan.

4. Berikan satu pesan atau hikmah di bagian akhir.

5. Bagikan link tulisan kepada kelompok KBMN PGRI Gelombang 35.

Bonus

Jika memungkinkan, wawancarai murid tersebut.

Tanyakan:

> “Apa yang kamu pelajari dari saya sebagai guru?”

Jawaban murid bisa menjadi bagian menarik dari tulisan.

---

J. Penutup

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35,

jangan menunggu pengalaman yang luar biasa untuk mulai menulis.

Tulislah pengalaman sederhana yang pernah menyentuh hati.

Sebab terkadang sebuah kejadian kecil di kelas justru memiliki makna yang besar.

Murid yang kita ajar hari ini mungkin suatu saat menjadi dokter, guru, programmer, pengusaha, pejabat, seniman, atau pemimpin bangsa.

Namun sebelum mereka menjadi orang besar, mereka pernah duduk di bangku kelas kita.

Dan mungkin tanpa kita sadari, mereka juga pernah memberikan pelajaran yang mengubah cara pandang kita sebagai guru.

> Guru mengajar dengan ilmu.
Guru mendidik dengan keteladanan.
Guru belajar dari pengalaman.
Dan guru yang hebat tidak malu belajar dari muridnya.

Menulislah dengan hati.
Tuliskan kisah muridmu.
Karena suatu hari nanti, kisah itu bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia
Ketua IGTIK PGRI dan KOGTIK