Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 19 Juli 2026

kisah omjay: 1 Tulisan 1 Suara 1 Perubahan

1 Tulisan, 1 Suara, 1 Perubahan: Perjalanan Omjay Kembali Sehat dengan Menulis dari Hati

Ada masa dalam hidup ketika langkah terasa begitu berat. Tubuh yang selama puluhan tahun setia mengabdi sebagai guru mendadak memberi isyarat bahwa ia membutuhkan perhatian. Bagi saya, itu bukan sekadar ujian kesehatan. Itu adalah ujian tentang kesabaran, keikhlasan, dan keyakinan bahwa harapan tidak pernah benar-benar pergi selama kita masih mau berjuang.

Ketika dokter menyampaikan berbagai hasil pemeriksaan, pikiran saya seakan berhenti sesaat. Diabetes, tekanan darah tinggi, vertigo, hingga gejala stroke datang silih berganti. Sebagai seorang guru yang terbiasa berdiri di depan kelas, berbicara penuh semangat, menulis setiap hari, dan berpindah dari satu kegiatan ke kegiatan lainnya, saya harus menerima kenyataan bahwa tubuh memiliki batas.

Saat itu saya bertanya dalam hati, "Apakah perjalanan saya sebagai guru dan penulis akan berhenti sampai di sini?"

Jawabannya ternyata tidak.

Allah selalu memiliki cara untuk menguatkan hamba-Nya. Saya mulai menyadari bahwa sakit bukanlah akhir perjalanan. Sakit adalah cara Tuhan mengajarkan manusia untuk lebih menghargai setiap napas yang masih diberikan.

Saya belajar berjalan pelan. Saya belajar mengurangi ego yang selama ini ingin terus bekerja tanpa mengenal lelah. Saya belajar mendengarkan tubuh sendiri. Bahkan saya belajar menikmati pagi dengan cara yang sebelumnya jarang saya lakukan.

Di tengah proses pemulihan itu, saya kembali menemukan sahabat lama yang tidak pernah meninggalkan saya: menulis.

Menulis bukan lagi sekadar hobi. Menulis berubah menjadi terapi. Setiap kalimat yang saya ketik seolah mengobati luka batin yang tidak terlihat. Setiap cerita yang saya bagikan membuat beban di dada terasa lebih ringan. Saya tidak sedang mengejar jumlah pembaca ataupun popularitas. Saya hanya ingin terus hidup melalui tulisan.

Saya percaya, tulisan yang lahir dari air mata akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Banyak orang melihat saya tetap aktif mengajar, mengisi seminar, membimbing guru, dan menulis hampir setiap hari. Namun tidak semua mengetahui bahwa di balik senyum itu ada perjuangan panjang melawan rasa pusing yang datang tiba-tiba, tubuh yang mudah lelah, serta kekhawatiran apakah kesehatan akan kembali seperti dahulu.

Ada hari-hari ketika saya ingin menyerah. Ada saat-saat ketika tubuh meminta berhenti. Namun setiap kali membuka pesan dari para sahabat, membaca komentar pembaca, atau bertemu siswa yang berkata, "Terima kasih, Omjay. Tulisan Om membuat saya semangat," saya kembali menemukan alasan untuk bangkit.

Saya akhirnya memahami bahwa hidup bukan tentang seberapa kuat kita tidak pernah jatuh. Hidup adalah tentang seberapa sering kita memilih bangkit setelah terjatuh.

Perlahan saya mulai mengubah pola hidup. Saya lebih menjaga makanan, rutin bergerak, berolahraga, mengurangi stres, serta berusaha tidur lebih teratur. Semua itu tidak mudah. Mengubah kebiasaan yang telah dilakukan puluhan tahun membutuhkan tekad yang besar. Namun saya percaya bahwa kesehatan adalah amanah yang harus dijaga.

Di sela-sela perjuangan itu, lahirlah sebuah kalimat sederhana yang begitu bermakna bagi saya.

Satu tulisan. Satu suara. Satu perubahan.

Awalnya kalimat itu hanya terdengar sederhana. Namun semakin saya renungkan, semakin saya menyadari bahwa perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah kecil.

Satu tulisan mampu mengubah cara seseorang berpikir.

Satu suara mampu menguatkan orang yang hampir menyerah.

Satu perubahan kecil mampu mengubah masa depan sebuah keluarga.

Saya teringat perjalanan menulis sejak bertahun-tahun lalu. Ribuan halaman telah saya tulis. Ratusan artikel telah dipublikasikan. Puluhan buku berhasil diterbitkan. Semua itu ternyata bukan sekadar kumpulan kata. Semua menjadi jejak perjuangan seorang guru yang ingin tetap bermanfaat meski tubuhnya pernah melemah.

Kini saya semakin yakin bahwa menulis bukan hanya tentang menghasilkan karya. Menulis adalah meninggalkan warisan nilai.

Mungkin suatu hari nanti nama saya akan dilupakan. Jabatan akan berganti. Murid-murid akan tumbuh dewasa. Namun saya berharap tulisan-tulisan yang saya tinggalkan masih dapat menemani seseorang yang sedang kehilangan harapan.

Jika ada satu pembaca saja yang kembali bersemangat menjalani hidup setelah membaca tulisan saya, maka perjuangan ini tidak sia-sia.

Saya bersyukur memiliki keluarga yang terus menguatkan, sahabat yang selalu mendoakan, para guru yang tidak pernah berhenti memberi semangat, serta para pembaca yang setia menemani perjalanan saya. Dukungan mereka adalah obat yang tidak dijual di apotek mana pun.

Hari ini saya belum sepenuhnya sempurna. Tubuh saya masih terus belajar pulih. Saya juga masih harus menjaga pola hidup dengan disiplin. Namun saya tidak lagi takut menghadapi masa depan.

Saya percaya bahwa setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.

Karena itu saya ingin mengajak siapa pun yang sedang berjuang melawan penyakit, kesedihan, kegagalan, atau kehilangan harapan agar jangan pernah menyerah.

Mulailah dari satu langkah kecil.

Tulislah satu pengalaman.

Sampaikan satu suara kebaikan.

Lakukan satu perubahan hari ini.

Kelak, langkah kecil itu akan menjadi perjalanan panjang yang mengubah hidup banyak orang.

Izinkan saya menutup tulisan ini dengan kalimat yang kini begitu dekat di hati saya.

Satu tulisan, satu suara, satu perubahan.

Semoga setiap tulisan yang lahir dari hati mampu menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berada dalam gelap. Semoga setiap suara yang kita sampaikan menjadi penyemangat bagi mereka yang hampir menyerah. Dan semoga setiap perubahan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi amal baik yang terus mengalir hingga akhir hayat.

Sebab saya telah merasakannya sendiri. Ketika tubuh melemah, harapan jangan ikut sakit. Selama tangan masih mampu menulis, selama hati masih mampu bersyukur, dan selama Tuhan masih memberikan kesempatan hidup, selalu ada alasan untuk bangkit, berkarya, dan menginspirasi sesama.

Salam blogger persahabatan
Omjay guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

kisah omjay: Dari Satu Kalinat Menjadi SEJUTA Peluang

Dari Satu Kalimat Menjadi Sejuta Peluang: Kisah Omjay Membangun Rezeki Melalui Tulisan
Blog https://wijayalabs.com/about

Tidak ada suara tepuk tangan ketika langkah pertama dimulai. Tidak ada karpet merah yang menyambut. Yang ada hanyalah selembar halaman kosong, sebuah keyboard sederhana, dan tekad untuk tidak berhenti menulis.

Begitulah perjalanan Omjay bermula.

Di tengah kesibukan sebagai pendidik, waktu luang sering kali menjadi barang mewah. Pagi mengajar, siang menyiapkan pembelajaran, malam mendampingi keluarga. Di sela-sela itulah lahir catatan demi catatan yang kemudian menjelma menjadi ribuan tulisan. Tidak pernah terlintas bahwa kebiasaan sederhana itu suatu hari membuka begitu banyak pintu kesempatan.

Banyak orang mengira keberhasilan dalam dunia literasi selalu diawali bakat istimewa. Padahal, kenyataannya berbeda. Kemampuan berkembang karena latihan yang terus diulang. Setiap tulisan adalah ruang belajar. Setiap kesalahan menjadi guru yang memperkaya pengalaman. Setiap kritik menjadi bahan bakar untuk melangkah lebih jauh.

Menulis bukan perlombaan lari cepat. Ia menyerupai perjalanan mendaki gunung. Langkah kecil yang dilakukan tanpa putus jauh lebih berharga daripada berlari kencang lalu berhenti di tengah jalan.

Ketika dunia digital berkembang pesat, sebagian orang memanfaatkannya sebagai tempat mencari hiburan. Ada pula yang menjadikannya ruang untuk menebar ilmu. Pilihan kedua itulah yang diambil Omjay. Blog menjadi rumah bagi gagasan, pengalaman mengajar, refleksi kehidupan, serta semangat berbagi kepada siapa pun yang ingin belajar.

Pada masa-masa awal, jumlah pembaca belum seberapa. Tidak ada angka fantastis yang menghiasi statistik kunjungan. Namun keadaan itu tidak pernah menjadi alasan untuk berhenti. Sebuah tulisan tetap diterbitkan setiap kali selesai ditulis, karena tujuan utamanya bukan mengejar popularitas, melainkan membangun kebiasaan berkarya.

Waktu bekerja dengan caranya sendiri.

Artikel yang semula dibaca segelintir orang mulai dibagikan ke berbagai komunitas. Tulisan yang lahir dari pengalaman nyata terasa lebih dekat dengan kehidupan pembaca. Perlahan, kepercayaan tumbuh. Dari kepercayaan itulah kesempatan bermunculan.

Undangan berbicara hadir silih berganti. Pelatihan literasi mulai dipercayakan. Workshop kepenulisan mengisi kalender kegiatan. Dunia pendidikan membuka ruang kolaborasi yang semakin luas. Semua bermula dari tulisan yang dikerjakan dengan kesungguhan.

Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Sedikit yang menyaksikan perjalanan panjang di belakang layar.

Sebuah buku tidak lahir dalam semalam. Sebuah artikel yang menginspirasi juga bukan hasil satu kali duduk. Di balik setiap karya terdapat proses membaca, mengamati, merenung, memperbaiki, bahkan menghapus kalimat berkali-kali hingga menemukan bentuk terbaiknya.

Buku kemudian menjadi tonggak penting dalam perjalanan tersebut.

Bukan semata karena nilai ekonominya, melainkan karena buku mampu memperluas kepercayaan. Sebuah karya yang diterbitkan menjadi bukti kesungguhan seseorang dalam menguasai bidang tertentu. Dari sana, jalan menuju ruang pelatihan, seminar, pendampingan, hingga kerja sama profesional terbuka semakin lebar.

Menariknya, pencapaian itu tidak disimpan untuk diri sendiri.

Ribuan guru diajak menyadari bahwa pengalaman mengajar merupakan harta yang sangat berharga. Setiap hari ruang kelas menyuguhkan kisah tentang perjuangan, kreativitas, kegagalan, harapan, dan keberhasilan peserta didik. Semua itu layak diabadikan melalui tulisan agar dapat menginspirasi pendidik lain di berbagai daerah.

Banyak guru awalnya mengaku tidak percaya diri. Mereka merasa bahasa yang digunakan terlalu sederhana. Ada pula yang khawatir tulisannya dianggap biasa saja.

Padahal, pembaca tidak selalu mencari kalimat yang rumit. Mereka lebih membutuhkan pengalaman yang jujur, gagasan yang bermanfaat, serta solusi yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.

Di sinilah kekuatan tulisan yang lahir dari pengalaman.

Tulisan semacam itu memiliki ruh. Ia berbicara kepada hati pembacanya karena ditulis oleh seseorang yang benar-benar mengalami peristiwa tersebut.

Perjalanan membangun penghasilan dari dunia literasi juga mengajarkan bahwa sumber rezeki tidak hanya berasal dari satu pintu. Artikel membuka jalan menuju buku. Buku menghadirkan kesempatan menjadi pembicara. Pelatihan melahirkan komunitas belajar. Komunitas kemudian menghadirkan kolaborasi baru. Seluruhnya saling terhubung membentuk ekosistem yang terus bertumbuh.

Akan tetapi, semua peluang tersebut mempunyai akar yang sama, yakni konsistensi.

Tidak sedikit orang bersemangat pada pekan pertama, lalu kehilangan energi ketika hasil belum terlihat. Mereka berharap satu tulisan langsung menjadi perbincangan. Padahal, karya yang bertahan lama dibangun melalui kesabaran yang panjang.

Setiap tulisan ibarat benih. Tidak semuanya tumbuh pada waktu yang sama. Ada yang segera berkembang, ada pula yang baru memperlihatkan hasil setelah bertahun-tahun. Namun benih yang tidak pernah ditanam tentu tidak akan menghasilkan apa pun.

Karena itu, halaman kosong jangan dipandang sebagai sesuatu yang menakutkan. Ia justru merupakan ruang yang menunggu diisi oleh gagasan terbaik.

Menulis juga meninggalkan jejak yang tidak dapat dihapus waktu.

Uang dapat habis digunakan. Jabatan akan berganti. Popularitas bisa memudar. Namun gagasan yang dituliskan akan terus hidup, dibaca, dipelajari, bahkan menginspirasi generasi berikutnya.

Itulah sebabnya literasi memiliki nilai yang jauh melampaui angka rupiah.

Bagi seorang guru, tulisan merupakan warisan pemikiran. Bagi peserta didik, tulisan menjadi sumber pembelajaran. Bagi masyarakat, tulisan menghadirkan pengetahuan yang dapat mengubah cara berpikir.

Rezeki akhirnya bukan hanya hadir dalam bentuk materi. Ada kepuasan ketika mengetahui sebuah artikel mampu membangkitkan semangat seseorang. Ada kebahagiaan ketika sebuah buku menjadi teman belajar bagi banyak guru. Ada rasa syukur saat pengalaman sederhana ternyata mampu memberi manfaat bagi orang yang belum pernah ditemui.

Semua itu bermula dari keberanian menuliskan satu kalimat.

Satu kalimat berubah menjadi satu paragraf.
Satu paragraf berkembang menjadi satu artikel.
Satu artikel menjelma menjadi satu buku.
Satu buku membuka jalan menuju ribuan pembaca.

Lalu ribuan pembaca melahirkan kesempatan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Inilah pelajaran terbesar dari perjalanan Omjay. Kesuksesan dalam dunia kepenulisan bukan hadiah bagi mereka yang paling berbakat, melainkan buah bagi mereka yang tetap berkarya ketika orang lain memilih berhenti.

Maka, jangan menunggu waktu luang yang sempurna. Jangan menunggu merasa hebat. Jangan menunggu dipuji.

Mulailah hari ini.

Tuliskan pengalaman, renungan, ilmu, atau kisah yang hanya Anda miliki. Siapa tahu, tulisan yang lahir pada hari ini kelak menjadi cahaya bagi banyak orang sekaligus membuka pintu rezeki yang bahkan belum pernah terlintas dalam bayangan.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 17 Juli 2026

Ekskul Komputer di Expo Ekskul SMP Labschool Jakarta

Expo Ekskul SMP Labschool Jakarta yang Meriah, Saatnya Memilih Ekstrakurikuler Komputer untuk Menyongsong Masa Depan
Blog https://wijayalabs.com/about

Suasana SMP Labschool Jakarta hari itu benar-benar berbeda. Sejak pagi, halaman sekolah telah dipenuhi senyum, tawa, dan semangat para siswa yang ingin mengenal lebih dekat berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Aneka stan berdiri berjajar dengan dekorasi yang menarik perhatian. Ada stan olahraga yang memamerkan berbagai piala kejuaraan, stan seni yang dipenuhi lukisan dan hasil karya kreatif siswa, stan musik yang menghadirkan alunan lagu yang memikat, hingga stan bahasa dan sains yang tak kalah ramai. Semua berpadu menciptakan suasana Expo Ekstrakurikuler yang meriah dan penuh inspirasi.

Bagi saya, Expo Ekstrakurikuler bukan sekadar agenda tahunan sekolah. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ruang perjumpaan antara bakat, minat, dan cita-cita para siswa. Di sinilah mereka mulai mengenal potensi dirinya. Mereka bebas bertanya, mencoba, bahkan membayangkan masa depan yang ingin mereka raih. Setiap stan menawarkan pengalaman berbeda, namun semuanya memiliki tujuan yang sama, yaitu membantu siswa berkembang menjadi pribadi yang utuh, kreatif, dan percaya diri.

Di tengah keramaian itu, saya berdiri dengan penuh semangat di stan Ekstrakurikuler Komputer. Di atas meja tersusun rapi berbagai buku Informatika dan Koding serta Kecerdasan Artifisial (KKA), laptop yang menampilkan hasil karya siswa, serta berbagai contoh proyek yang telah mereka buat. Banyak siswa datang menghampiri dengan rasa penasaran. Ada yang memperhatikan tampilan animasi di layar laptop, ada yang bertanya tentang cara membuat permainan sederhana, dan ada pula yang ingin tahu apakah mereka bisa belajar membuat aplikasi meskipun belum pernah mengenal pemrograman.

Pertanyaan seperti itu selalu membuat saya tersenyum. Saya menjawab dengan penuh keyakinan, "Tentu saja bisa. Semua programmer hebat juga pernah menjadi pemula. Yang penting bukan seberapa pintar kita hari ini, tetapi seberapa besar kemauan kita untuk terus belajar."

Jawaban sederhana itu ternyata mampu menghilangkan keraguan mereka. Wajah-wajah yang semula ragu mulai berubah menjadi penuh antusias. Mereka mulai bertanya lebih banyak tentang kegiatan yang dilakukan dalam ekstrakurikuler komputer. Saat itulah saya menyadari bahwa banyak anak sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap dunia teknologi. Mereka hanya membutuhkan seseorang yang mau membimbing dan memberi kesempatan.

Perkembangan teknologi saat ini berlangsung sangat cepat. Hampir setiap aspek kehidupan manusia tidak lagi terlepas dari komputer, internet, dan kecerdasan artifisial. Dunia kerja masa depan pun semakin membutuhkan sumber daya manusia yang mampu berpikir logis, kreatif, kritis, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijaksana. Oleh karena itu, belajar komputer bukan lagi sekadar pilihan, melainkan menjadi bekal penting untuk menghadapi tantangan zaman.

Namun, belajar komputer di ekstrakurikuler bukan berarti anak-anak hanya duduk di depan layar sepanjang waktu. Justru sebaliknya, mereka diajak belajar melalui berbagai proyek yang menyenangkan. Mereka belajar menyusun logika berpikir, memecahkan masalah, berdiskusi dalam kelompok, serta menuangkan ide-ide kreatif menjadi sebuah karya nyata.

Di ekstrakurikuler komputer SMP Labschool Jakarta, siswa dikenalkan pada dunia coding secara bertahap. Mereka memulai dari aplikasi yang mudah dipahami seperti Scratch untuk membuat animasi dan permainan sederhana. Setelah mulai memahami konsep dasar pemrograman, mereka belajar membuat website, mengenal bahasa pemrograman modern, hingga mencoba memanfaatkan kecerdasan artifisial sebagai alat bantu belajar. Semua dilakukan sesuai kemampuan dan perkembangan peserta didik sehingga belajar terasa menyenangkan, bukan menakutkan.

Saya selalu percaya bahwa keberhasilan belajar tidak hanya diukur dari nilai yang diperoleh. Yang jauh lebih penting adalah perubahan sikap dan karakter yang tumbuh selama proses pembelajaran. Hal itulah yang saya lihat setiap tahun di ekstrakurikuler komputer.

Ada siswa yang awalnya sangat pendiam, bahkan malu berbicara di depan kelas. Setelah beberapa bulan mengikuti kegiatan, ia mulai berani mempresentasikan hasil program yang dibuatnya. Ada pula siswa yang sempat berkali-kali gagal menjalankan program karena kesalahan kecil dalam penulisan kode. Alih-alih menyerah, ia justru semakin tertantang untuk menemukan letak kesalahan tersebut. Ketika akhirnya berhasil, senyum bangga di wajahnya menjadi hadiah yang tak ternilai.

Momen-momen seperti itulah yang membuat saya semakin mencintai profesi sebagai guru. Saya tidak hanya mengajarkan cara membuat program komputer, tetapi juga membantu siswa belajar menghadapi kegagalan, melatih kesabaran, membangun rasa percaya diri, dan menanamkan semangat pantang menyerah. Karakter-karakter inilah yang kelak akan menjadi bekal penting dalam kehidupan mereka.

Expo Ekstrakurikuler menjadi kesempatan terbaik untuk memperlihatkan hasil kerja keras para anggota ekskul komputer. Mereka dengan bangga menunjukkan game sederhana yang telah dibuat, animasi yang bergerak dengan menarik, hingga website yang dapat diakses melalui internet. Melihat karya mereka dipuji oleh teman-temannya menjadi pengalaman yang membangun rasa percaya diri sekaligus memotivasi mereka untuk terus berkarya.

Sebagai pembimbing, saya merasa bangga melihat perkembangan anak-anak tersebut. Mereka datang dengan kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang sudah mengenal komputer sejak kecil, ada pula yang baru pertama kali mencoba membuat program. Namun di dalam ekstrakurikuler, semua belajar bersama tanpa saling merendahkan. Yang lebih mampu membantu temannya yang masih kesulitan. Budaya saling berbagi pengetahuan inilah yang membuat suasana belajar menjadi hangat dan menyenangkan.

Saya sering mengatakan kepada para siswa bahwa teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah manusia yang menggunakannya. Teknologi akan memberikan manfaat besar apabila digunakan untuk menciptakan solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat. Karena itu, saya selalu mendorong siswa agar tidak sekadar menjadi pengguna aplikasi, tetapi berani menjadi pencipta inovasi.

Siapa yang dapat memastikan masa depan? Mungkin hari ini seorang siswa hanya belajar membuat permainan sederhana menggunakan Scratch. Lima atau sepuluh tahun lagi, bukan tidak mungkin ia menjadi programmer profesional, pengembang aplikasi pendidikan, ahli keamanan siber, ilmuwan data, insinyur kecerdasan artifisial, atau bahkan mendirikan perusahaan rintisan berbasis teknologi yang mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang. Semua mimpi besar itu berawal dari keberanian mengambil langkah pertama.

Di era digital seperti sekarang, kemampuan coding bukan hanya milik mahasiswa teknik informatika atau programmer profesional. Coding telah menjadi keterampilan masa depan yang dapat dipelajari siapa saja sejak usia sekolah. Melalui kegiatan ekstrakurikuler komputer, siswa belajar memahami cara berpikir komputasional, memecahkan masalah secara sistematis, serta mengembangkan kreativitas melalui teknologi.

Saya juga percaya bahwa setiap anak memiliki kelebihan yang berbeda. Ada yang berbakat di bidang olahraga, seni, musik, bahasa, sains, ataupun teknologi. Tidak ada bidang yang lebih tinggi daripada yang lain. Yang terpenting adalah setiap siswa mendapatkan kesempatan untuk menemukan dunia yang membuatnya berkembang dan merasa bahagia. Expo Ekstrakurikuler menjadi jembatan yang mempertemukan setiap siswa dengan passion mereka masing-masing.

Melihat ramainya stan Ekstrakurikuler Komputer pada Expo tahun ini membuat hati saya dipenuhi rasa syukur. Semakin banyak siswa yang tertarik mempelajari teknologi, semakin besar pula harapan lahirnya generasi Indonesia yang siap menghadapi tantangan Revolusi Industri 4.0 dan era kecerdasan artifisial. Mereka bukan hanya akan menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi yang membawa manfaat bagi masyarakat.

Akhirnya, saya mengajak seluruh siswa SMP Labschool Jakarta untuk tidak ragu bergabung bersama Ekstrakurikuler Komputer. Tidak perlu takut jika belum pernah belajar coding. Tidak perlu minder jika merasa belum mahir menggunakan komputer. Semua peserta memulai perjalanan dari titik yang sama. Yang dibutuhkan hanyalah rasa ingin tahu, kemauan belajar, kerja keras, dan keberanian mencoba.

Mari kita jadikan Expo Ekstrakurikuler bukan sekadar acara tahunan, tetapi sebagai langkah awal menuju masa depan yang lebih cerah. Hari ini kita belajar coding, besok kita menciptakan inovasi. Hari ini kita menjadi siswa yang penuh semangat belajar, kelak kita menjadi generasi yang membawa perubahan bagi Indonesia melalui teknologi.

Ayo bergabung di Ekstrakurikuler Komputer SMP Labschool Jakarta!

Belajar dengan gembira, berkarya tanpa henti, berinovasi dengan teknologi, dan siapkan diri menjadi pemimpin di era digital.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

expo ekskul di smp Labschool jakarta

Expo Ekskul SMP Labschool Jakarta yang Meriah, Saatnya Memilih Ekstrakurikuler Komputer untuk Menyongsong Masa Depan

Suasana SMP Labschool Jakarta pagi itu begitu semarak. Lapangan sekolah yang biasanya digunakan untuk berolahraga berubah menjadi panggung kreativitas. Spanduk besar bertuliskan "Expo Ekskul 2026" menyambut setiap siswa yang datang dengan penuh rasa ingin tahu. Berbagai stan ekstrakurikuler berdiri berdampingan, menampilkan karya terbaik mereka. Ada musik, olahraga, seni, bahasa, sains, hingga berbagai kegiatan pengembangan diri. Expo ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengenal lebih dekat beragam pilihan ekstrakurikuler yang tersedia di sekolah. Kegiatan seperti ini menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mengembangkan potensi peserta didik secara utuh melalui program akademik dan nonakademik.

Di tengah kemeriahan itu, ada satu stan yang selalu membuat saya bersemangat, yaitu Ekstrakurikuler Komputer. Sebagai pembimbing ekskul, saya melihat sendiri bagaimana rasa penasaran siswa muncul ketika melihat hasil karya kakak-kakak kelas mereka. Ada yang berhenti cukup lama untuk melihat animasi yang dibuat dengan Scratch, ada yang mencoba permainan sederhana hasil pemrograman, dan ada pula yang bertanya, "Pak, apakah saya juga bisa membuat aplikasi seperti ini?"

Saya selalu tersenyum mendengar pertanyaan itu. Sebab jawabannya sederhana, "Bisa, asal mau belajar."

Belajar komputer hari ini bukan sekadar belajar mengetik atau menggunakan aplikasi perkantoran. Dunia telah berubah sangat cepat. Hampir semua bidang pekerjaan membutuhkan kemampuan berpikir logis, memecahkan masalah, dan memahami teknologi. Karena itulah ekstrakurikuler komputer hadir bukan hanya untuk mengajarkan siswa menjadi pengguna teknologi, tetapi juga menjadi pencipta teknologi.

Di ekskul komputer, siswa diajak mengenal dunia pemrograman secara menyenangkan. Mereka belajar membuat game sederhana, merancang animasi, membuat website, hingga mengenal kecerdasan artifisial. Semua dimulai dari langkah-langkah kecil yang mudah dipahami. Tidak ada siswa yang langsung mahir. Semua berproses, saling membantu, dan tumbuh bersama.

Yang membuat saya bangga bukan hanya hasil karya mereka, melainkan perubahan sikap yang terjadi. Anak-anak yang awalnya pemalu mulai berani mempresentasikan hasil programnya di depan teman-temannya. Mereka belajar bekerja sama dalam tim, belajar menerima kegagalan ketika program mengalami kesalahan, lalu mencoba lagi sampai berhasil. Di situlah karakter pantang menyerah dibangun.

Saya percaya bahwa setiap anak memiliki bakat yang berbeda. Ada yang bersinar di lapangan olahraga, ada yang memukau di panggung seni, dan ada pula yang menemukan dunianya di depan komputer. Tidak ada yang lebih hebat satu sama lain. Semua memiliki kesempatan untuk berkembang sesuai minat dan potensinya.

Melihat antusiasme siswa saat Expo Ekskul membuat hati saya semakin optimistis. Masa depan Indonesia sedang dipersiapkan dari sekolah. Mungkin hari ini mereka hanya mencoba membuat permainan sederhana. Namun siapa sangka beberapa tahun lagi mereka mampu menciptakan aplikasi yang bermanfaat bagi masyarakat, menjadi programmer, pengembang gim, ahli keamanan siber, atau inovator teknologi yang mengharumkan nama bangsa.

Karena itulah saya mengajak seluruh siswa SMP Labschool Jakarta untuk tidak ragu memilih Ekstrakurikuler Komputer. Jangan takut jika belum pernah belajar coding. Jangan minder jika merasa belum menguasai teknologi. Semua peserta memulai dari nol. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk belajar dan keberanian untuk mencoba.

Expo Ekskul bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah gerbang yang membuka kesempatan bagi setiap siswa menemukan passion dan masa depannya. Semoga semakin banyak siswa yang bergabung bersama kami, belajar dengan gembira, berkarya tanpa henti, dan membuktikan bahwa teknologi dapat menjadi jalan untuk memberikan manfaat bagi banyak orang.

Ayo bergabung di Ekstrakurikuler Komputer SMP Labschool Jakarta!

"Hari ini belajar coding, besok menciptakan inovasi. Hari ini menjadi siswa, kelak menjadi pemimpin di era digital."


Kamis, 16 Juli 2026

Jawaban Soal Pg Python Bab 1 halaman 27-40


Berikut jawaban yang benar untuk soal 1–3 pada halaman tersebut:

1. Perbedaan utama antara fungsi yang menggunakan return dan yang hanya menggunakan print adalah...

✅ Jawaban: B

Alasan: return mengembalikan nilai sehingga dapat disimpan dalam variabel, digunakan dalam ekspresi, atau diteruskan ke fungsi lain. Sedangkan print hanya menampilkan hasil ke layar.

---

2. Definisi fungsi def hitung(a, b=10): berarti...

✅ Jawaban: B

Alasan: Parameter a wajib diisi, sedangkan b bersifat opsional dengan nilai default 10 jika tidak diberikan.

---

3. Pemanggilan fungsi hitung(5) pada definisi def hitung(a, b=10): menghasilkan...

✅ Jawaban: B

Alasan: Saat dipanggil hitung(5), maka:

a = 5

b = 10 (menggunakan nilai default)

---

Kunci Jawaban

1. B

2. B

3. B

Berikut jawaban yang benar untuk soal nomor 4–9 pada gambar:

4. Fungsi yang mengembalikan dua nilai sekaligus (return a, b) saat dipanggil menghasilkan...

✅ B. Tuple berisi dua nilai yang bisa di-unpack: x, y = fungsi()

5. Cara pemanggilan fungsi dengan keyword argument f(b=5, a=3) pada def f(a, b) berguna karena...

✅ B. Urutan argumen bebas, lebih jelas karena nama parameter disebutkan.

6. Nilai yang dikembalikan oleh fungsi tanpa return statement adalah...

✅ B. None – tipe data khusus Python yang berarti "tidak ada nilai".

7. Fungsi yang menggunakan return lebih baik daripada fungsi yang print karena...

✅ B. Nilai dari return bisa digunakan kembali: disimpan, diteruskan, atau digabung dengan ekspresi lain.

8. Kode:

x = hitung(5)
print(x*2)

hanya bisa bekerja jika fungsi hitung...

✅ B. Menggunakan return dan mengembalikan nilai numerik.

9. Hasil kode berikut:

def f(x, n=2):
    return x**n

print(f(3), f(3,3))

f(3) = 3² = 9

f(3,3) = 3³ = 27

✅ Jawaban: B. 9 27

Kunci Jawaban

4. B

5. B

6. B

7. B

8. B

9. B

Berikut jawaban yang benar untuk soal 10–15 berdasarkan materi Python:

10. Parameter "wajib" (positional) dalam definisi fungsi adalah...

✅ A. Parameter yang harus selalu diisi saat fungsi dipanggil.

11. Fungsi yang bisa digunakan dalam ekspresi kondisional seperti if cek_lulus(nilai): disebut...

✅ B. Fungsi yang mengembalikan nilai Boolean atau nilai yang bisa dievaluasi sebagai True/False.

12. Alasan terbaik untuk memecah program besar menjadi banyak fungsi kecil adalah...

✅ B. Setiap fungsi bisa diuji sendiri, dipakai ulang, dan lebih mudah dipahami.

13. Cara yang benar untuk membuat Dictionary kosong di Python adalah...

✅ B. dict = {} atau dict = dict().

14. Jika siswa = {"nama": "Andi", "nilai": 88}, cara mengakses nama siswa adalah...

✅ B. siswa["nama"]

15. Untuk menambahkan key "email" dengan value "andi@labschool.id" ke dictionary siswa, kode yang benar adalah...

✅ B. siswa["email"] = "andi@labschool.id"

Kunci Jawaban

10. A

11. B

12. B

13. B

14. B

15. B

Berikut jawaban yang benar untuk soal 16–20:

16. Perbedaan antara siswa["hp"] dan siswa.get("hp", "Tidak ada") ketika key "hp" tidak ada adalah...

✅ B. siswa["hp"] menghasilkan KeyError; siswa.get() mengembalikan nilai default "Tidak ada".

17. Cara menghapus key "email" dari dictionary siswa adalah...

✅ C. siswa.pop("email") juga benar, tetapi del siswa["email"] lebih umum — pilihan B dan C keduanya benar.

18. Untuk mengecek apakah key "nama" ada dalam dictionary siswa, cara yang benar adalah...

✅ B. "nama" in siswa

19. Keunggulan Dictionary dibanding List untuk menyimpan data siswa adalah...

✅ B. Dictionary memberikan akses yang bermakna (siswa["nama"]) dibanding akses numerik (siswa[0]).

20. Cara melakukan loop melalui semua pasangan key-value dalam Dictionary adalah...

✅ C. A dan B keduanya benar, tetapi B lebih Pythonic (for key, value in dict.items():).

Kunci Jawaban

16. B

17. C

18. B

19. B

20. C

Berikut jawaban yang benar untuk soal 21–25:

21. Format data JSON yang banyak digunakan di internet berkaitan erat dengan Dictionary Python karena...

✅ B. JSON menggunakan format key-value yang identik dengan Dictionary Python sehingga mudah dikonversi.

22. Dictionary yang berisi Dictionary di dalamnya (nested dict) diakses dengan...

✅ B. data["kunci1"]["kunci2"] (akses bertingkat).

23. Untuk menggunakan modul random di Python, langkah pertama yang harus dilakukan adalah...

✅ B. import random (modul bawaan Python, cukup diimpor).

24. Perbedaan antara random.randint(1,10) dan random.random() adalah...

✅ B. randint() mengembalikan bilangan bulat acak dalam rentang 1–10, sedangkan random() mengembalikan bilangan pecahan (float) antara 0,0 hingga kurang dari 1,0.

25. Fungsi math.sqrt(16) mengembalikan...

✅ B. 4.0 (float)

Kunci Jawaban

21. B

22. B

23. B

24. B

25. B

Gugup Hilang Wibawa Datang

Gugup Hilang, Wibawa Datang: Ayo Belajar Public Speaking untuk Guru di Era Konten Bersama APKAS PGRI Kota Tangerang

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat itu selalu saya pegang teguh selama bertahun-tahun. Namun, seiring berkembangnya zaman, saya menyadari bahwa guru tidak hanya dituntut mampu menulis dengan baik, tetapi juga harus mampu berbicara dengan baik. Di era digital seperti sekarang, kemampuan public speaking menjadi salah satu kompetensi penting yang harus dimiliki setiap guru.

Saya, Omjay, merasakan sendiri perubahan tersebut. Dahulu, guru cukup mengajar di depan kelas. Kini, guru juga diminta membuat video pembelajaran, menjadi narasumber webinar, mengisi podcast, membuat konten edukasi di media sosial, hingga berbicara di berbagai forum. Semua itu membutuhkan keberanian berbicara di depan publik.

Sayangnya, masih banyak guru yang mengaku gugup ketika diminta tampil di depan kamera atau berbicara di hadapan banyak orang. Tangan berkeringat, suara bergetar, pikiran kosong, bahkan lupa apa yang ingin disampaikan. Padahal ketika mengajar di kelas, mereka sangat menguasai materi. Mengapa hal itu bisa terjadi? Jawabannya sederhana. Mereka belum terbiasa berbicara di ruang publik yang lebih luas.

Karena itulah saya sangat mengapresiasi kegiatan pelatihan Public Speaking untuk Guru di Era Konten yang diselenggarakan oleh APKAS PGRI Kota Tangerang. Kegiatan seperti ini bukan sekadar pelatihan berbicara, tetapi juga menjadi wadah membangun rasa percaya diri para guru agar mampu tampil sebagai pendidik yang inspiratif di era digital.

Saya percaya bahwa guru adalah konten kreator terbaik. Setiap hari guru menghasilkan konten pembelajaran. Bedanya, dulu kontennya hanya dinikmati oleh siswa di dalam kelas. Kini, melalui media sosial, YouTube, Instagram, Facebook, TikTok, hingga podcast, karya guru dapat menginspirasi ribuan bahkan jutaan orang.

Namun, konten yang baik tidak hanya ditentukan oleh materi yang hebat. Cara menyampaikan materi juga sangat menentukan. Di sinilah pentingnya public speaking. Guru yang mampu berbicara dengan percaya diri akan lebih mudah menarik perhatian audiens, menyampaikan pesan secara efektif, serta membangun wibawa sebagai seorang pendidik.

Saya sering mengatakan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN), jangan takut salah ketika berbicara. Semua pembicara hebat pernah gugup. Semua narasumber terkenal pernah melakukan kesalahan. Yang membedakan hanyalah mereka terus berlatih hingga rasa gugup berubah menjadi rasa percaya diri.

Public speaking bukan bakat bawaan. Ia adalah keterampilan yang dapat dipelajari. Semakin sering berlatih, semakin baik kemampuan kita. Bahkan, kesalahan demi kesalahan justru menjadi guru terbaik dalam proses belajar.

Di era konten seperti sekarang, guru harus mampu menjadi komunikator yang baik. Ketika membuat video pembelajaran, misalnya, guru harus mampu membuka pembicaraan dengan menarik, menjelaskan materi secara runtut, menjaga kontak mata dengan kamera, menggunakan intonasi yang jelas, serta menutup pembelajaran dengan pesan yang menginspirasi.

Saya sendiri pernah mengalami rasa gugup ketika pertama kali menjadi narasumber seminar. Rasanya luar biasa. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya. Namun saya belajar satu hal. Ketika fokus kita bukan pada diri sendiri, melainkan pada manfaat yang akan diterima peserta, rasa gugup perlahan menghilang.

Saya juga belajar bahwa wibawa bukan dibangun melalui suara yang keras atau wajah yang serius. Wibawa lahir dari penguasaan materi, ketulusan berbagi ilmu, sikap yang rendah hati, serta kemampuan menghargai audiens. Orang akan menghormati pembicara yang mampu memberikan manfaat.

Pelatihan public speaking yang diselenggarakan APKAS PGRI Kota Tangerang menjadi momentum penting bagi para guru untuk meningkatkan kompetensi abad ke-21. Guru masa kini bukan hanya pendidik, tetapi juga inspirator, motivator, fasilitator, bahkan influencer pendidikan yang menyebarkan nilai-nilai positif kepada masyarakat.

Saya berharap semakin banyak guru yang berani tampil membuat konten edukasi. Jangan takut videonya belum sempurna. Jangan malu jika jumlah penontonnya masih sedikit. Semua kreator besar memulai dari langkah kecil. Yang terpenting adalah terus berkarya dan terus belajar.

Media digital memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang. Guru di kota maupun di desa memiliki peluang yang sama untuk dikenal karena karya dan dedikasinya. Banyak guru Indonesia yang kini menjadi inspirasi nasional berkat keberaniannya berbagi melalui media digital.

Saya yakin, ketika guru mampu menguasai public speaking, maka proses pembelajaran juga akan semakin menarik. Siswa menjadi lebih antusias, komunikasi lebih efektif, dan suasana belajar menjadi lebih hidup. Tidak hanya itu, kepercayaan masyarakat terhadap profesi guru pun akan semakin meningkat.

Melalui kegiatan ini, APKAS PGRI Kota Tangerang telah menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas sumber daya guru. Saya berharap kegiatan serupa terus dilaksanakan secara berkelanjutan dengan menghadirkan para praktisi komunikasi, konten kreator pendidikan, jurnalis, maupun tokoh-tokoh inspiratif yang dapat memperkaya wawasan para peserta.

Akhirnya, saya ingin mengajak seluruh guru Indonesia untuk tidak berhenti belajar. Jangan hanya menguasai materi pelajaran, tetapi kuasailah juga seni menyampaikan materi tersebut. Karena ilmu yang disampaikan dengan komunikasi yang baik akan lebih mudah dipahami dan lebih lama diingat.

Mari kita ubah rasa gugup menjadi keberanian. Mari kita ubah keraguan menjadi kepercayaan diri. Mari kita jadikan setiap guru sebagai pembicara yang menginspirasi, pendidik yang dicintai, dan konten kreator yang menyebarkan ilmu bagi negeri.

Ingatlah, gugup hanyalah tamu yang datang sesaat. Namun, jika kita terus belajar dan berlatih, gugup akan pergi, dan wibawa akan datang dengan sendirinya. Bersama APKAS PGRI Kota Tangerang, mari melangkah menuju guru yang semakin profesional, komunikatif, dan siap berkarya di era konten digital.

Salam literasi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 15 Juli 2026

kisah omjay belajar sabar dari kehidupan

Belajar Sabar dari Kehidupan: Kisah Omjay Menemukan Guru di Setiap Ujian

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Blog https://wijayalabs.com/about

Kehidupan adalah ruang belajar yang tidak pernah menutup pintunya. Setiap hari selalu ada pelajaran baru yang Allah titipkan kepada kita melalui berbagai peristiwa dan orang-orang yang kita jumpai. Ada yang datang membawa kebahagiaan, ada pula yang menghadirkan ujian. Kadang pelajaran itu hadir melalui keberhasilan yang membanggakan, tetapi tidak jarang justru datang dalam bentuk kekecewaan, kegagalan, atau pertemuan dengan orang-orang yang menguji kesabaran kita.

Ketika saya membaca sebuah pesan inspiratif tentang sabar, memaafkan, memberi, dan rendah hati, hati saya seolah diajak menelusuri kembali perjalanan panjang selama lebih dari tiga puluh empat tahun mengabdi sebagai guru. Saya semakin yakin bahwa sekolah terbaik bukan hanya ruang kelas tempat saya mengajar, melainkan kehidupan itu sendiri. Di sanalah Allah menghadirkan guru-guru terbaik dalam wujud berbagai peristiwa dan manusia yang kita temui setiap hari. Setiap pertemuan, setiap cobaan, dan setiap pengalaman merupakan bagian dari proses Allah mendidik hamba-Nya agar menjadi pribadi yang lebih bijaksana, lebih bersyukur, lebih ikhlas, lebih penuh kasih sayang, dan lebih matang dalam menjalani kehidupan.

Pesan inspirasi yang saya baca pagi ini sangat sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

Mau belajar sabar? Nanti kita akan bertemu orang-orang yang keras kepala kepada kita.

Mau belajar memaafkan? Nanti kita akan bertemu orang-orang yang akan menyakiti kita.

Mau belajar memberi? Sebentar lagi kita akan dihadapkan dengan orang-orang yang berkekurangan.

Mau belajar rendah hati? Tunggu saja, akan ada orang-orang yang merendahkan diri kita.

Sepintas kalimat-kalimat itu terlihat sederhana. Namun, jika direnungkan lebih dalam, itulah kenyataan hidup yang kita alami hampir setiap hari. Tidak ada satu pun manusia yang hidup tanpa ujian. Justru melalui ujian itulah kualitas diri kita ditempa.

Saya teringat masa-masa awal menjadi guru. Semangat mengajar begitu besar. Saya berharap semua siswa mudah memahami pelajaran, semua rekan kerja memiliki pemikiran yang sama, dan setiap program berjalan sesuai rencana. Kenyataannya tidak demikian. Ada siswa yang sulit diatur, ada yang malas belajar, ada pula yang berkali-kali mengulangi kesalahan yang sama.

Saat itu saya sering merasa lelah. Saya bertanya dalam hati, mengapa begitu sulit mengubah seseorang?

Kini, setelah puluhan tahun mengajar, saya menemukan jawabannya. Tugas guru bukan mengubah semua orang dalam waktu singkat. Tugas guru adalah terus menanam benih kebaikan. Soal kapan benih itu tumbuh, biarlah Allah yang menentukan waktunya.

Dari sanalah saya belajar arti sabar yang sesungguhnya.

Sabar bukan berarti menyerah. Sabar juga bukan berarti membiarkan kesalahan terus terjadi. Sabar adalah kemampuan mengendalikan hati ketika hasil belum sesuai harapan. Sabar adalah tetap berbuat baik meskipun belum melihat hasilnya.

Banyak siswa yang dahulu dikenal nakal, bertahun-tahun kemudian datang menemui saya. Mereka bercerita bahwa nasihat yang dulu mereka abaikan ternyata baru mereka pahami setelah dewasa. Ada yang kini menjadi guru, pengusaha, pegawai negeri, bahkan pemimpin di tempat kerjanya.

Saat mendengar kisah mereka, hati saya terharu. Ternyata setiap kebaikan yang kita tanam tidak pernah sia-sia.

Pelajaran berikutnya adalah memaafkan.

Dalam kehidupan, kita tidak mungkin menyenangkan semua orang. Ada yang menyukai kita, ada pula yang kurang berkenan dengan sikap atau pendapat kita. Sebagai guru, narasumber, maupun penulis, saya pernah menerima kritik yang tajam. Ada yang mengomentari tulisan tanpa membaca sampai selesai. Ada pula yang memberikan penilaian berdasarkan prasangka.

Jika mengikuti emosi, mungkin saya akan membalas dengan kemarahan. Namun pengalaman mengajarkan bahwa kemarahan hanya memperpanjang persoalan.

Saya memilih memaafkan.

Memaafkan ternyata bukan hadiah untuk orang lain, melainkan hadiah bagi diri sendiri. Ketika kita memaafkan, hati menjadi lebih tenang. Pikiran menjadi lebih jernih. Energi yang semula habis untuk memelihara kebencian dapat digunakan untuk berkarya dan menebarkan manfaat.

Pelajaran berikutnya adalah memberi.

Selama aktif mendampingi guru-guru dari berbagai daerah melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN), saya bertemu banyak sosok luar biasa. Ada guru yang mengajar di sekolah sederhana dengan fasilitas terbatas. Ada yang harus menempuh perjalanan jauh melewati sungai, perbukitan, bahkan jalan berlumpur demi mendidik anak-anak bangsa.

Mereka mengajarkan kepada saya bahwa memberi tidak selalu identik dengan harta.

Memberi bisa berupa ilmu yang dibagikan dengan tulus.

Memberi bisa berupa waktu untuk mendengarkan.

Memberi bisa berupa semangat kepada mereka yang hampir menyerah.

Memberi bisa berupa senyuman yang menguatkan.

Memberi bisa berupa doa yang dipanjatkan dengan penuh keikhlasan.

Semakin sering kita berbagi, semakin kita menyadari bahwa rezeki tidak selalu bertambah dalam bentuk materi. Rezeki juga hadir dalam bentuk kesehatan, persahabatan, kesempatan, ilmu yang bermanfaat, dan hati yang damai.

Kemudian saya belajar tentang rendah hati.

Semakin lama mengajar, semakin banyak kesempatan yang Allah berikan kepada saya. Saya dipercaya menjadi narasumber, menulis buku, berbagi pengalaman di berbagai forum, hingga bertemu banyak guru hebat dari seluruh Indonesia.

Semua itu tentu patut disyukuri.

Namun pada saat yang sama, saya menyadari bahwa setiap pencapaian bisa menjadi ujian baru jika tidak disertai kerendahan hati.

Allah sering menghadirkan orang-orang yang mengkritik, meremehkan, bahkan meragukan kemampuan kita. Dahulu saya menganggap mereka sebagai pengganggu. Kini saya justru menganggap mereka sebagai pengingat agar tidak terjebak dalam kesombongan.

Karena sesungguhnya tidak ada manusia yang benar-benar hebat. Apa pun yang kita miliki hanyalah titipan Allah. Ilmu adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Kesehatan adalah titipan. Bahkan kesempatan untuk terus bernapas pun merupakan nikmat yang setiap saat dapat diambil kembali.

Beberapa tahun terakhir saya juga belajar banyak dari ujian kesehatan. Ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, saya mulai memahami betapa berharganya nikmat sehat. Hal-hal sederhana yang dulu dianggap biasa kini terasa sangat istimewa. Bisa berjalan, mengajar, menulis, bercengkerama dengan keluarga, dan berkumpul dengan sahabat merupakan anugerah yang luar biasa.

Pengalaman itu mengajarkan bahwa rasa syukur tidak boleh menunggu datangnya musibah. Bersyukur harus menjadi kebiasaan setiap hari.

Saya juga semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu bentuk rasa syukur. Selama tangan masih mampu mengetik dan pikiran masih mampu berpikir, saya ingin terus berbagi pengalaman kepada sebanyak mungkin orang. Barangkali ada satu kalimat yang mampu menguatkan hati seseorang. Barangkali ada satu cerita yang mampu mengubah cara pandang seorang pembaca. Itulah yang membuat saya terus menulis hingga hari ini.

Saya selalu memegang teguh kalimat yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat itu bukan sekadar ajakan untuk rajin menulis. Kalimat tersebut mengajarkan bahwa perubahan besar lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Begitu pula dengan kesabaran, keikhlasan, memaafkan, dan berbagi. Semua membutuhkan latihan yang terus-menerus.

Kehidupan adalah sekolah yang tidak pernah meluluskan kita sebelum waktunya. Setiap hari ada pelajaran baru. Setiap ujian adalah soal yang harus kita jawab dengan sikap terbaik. Setiap orang yang hadir dalam hidup kita membawa pesan yang berbeda-beda.

Ada yang hadir untuk membuat kita tersenyum.

Ada yang hadir untuk mengajarkan kesabaran.

Ada yang hadir untuk mengajarkan keikhlasan.

Ada yang hadir agar kita belajar memaafkan.

Ada pula yang hadir untuk mengingatkan bahwa kita hanyalah manusia biasa yang harus terus belajar.

Karena itu, jangan terlalu cepat mengeluh ketika bertemu orang yang keras kepala. Mungkin Allah sedang mengajari kita sabar.

Jangan terlalu kecewa ketika disakiti orang lain. Mungkin Allah sedang mengajari kita memaafkan.

Jangan menutup mata terhadap mereka yang kekurangan. Mungkin Allah sedang membuka kesempatan bagi kita untuk berbagi.

Dan jangan marah ketika diremehkan. Mungkin Allah sedang menjaga hati kita agar tetap rendah hati.

Pada akhirnya saya memahami bahwa semua yang terjadi dalam hidup ini tidak pernah sia-sia. Setiap peristiwa mengandung hikmah. Setiap ujian menyimpan pelajaran. Setiap air mata membawa kedewasaan. Selama kita mau merenung, kehidupan akan terus menjadi guru terbaik yang membimbing langkah kita menuju pribadi yang lebih baik.

Semoga kita semua diberi hati yang lapang untuk bersabar, jiwa yang lembut untuk memaafkan, tangan yang ringan untuk berbagi, serta hati yang tetap rendah meskipun diberi banyak nikmat. Mari menjalani setiap hari dengan penuh rasa syukur dan menjadikan setiap ujian sebagai kesempatan untuk semakin mendekat kepada Allah SWT.

Sebab pada akhirnya, kebahagiaan sejati bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan memiliki hati yang mampu menemukan hikmah di balik setiap ujian kehidupan.

Salam literasi.

Salam Blogger Persahabatan.
Wijaya Kusumah - omjay 
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Blog https://wijayalabs.com

Selasa, 14 Juli 2026

Perjuangan ketua Umum PB PGRI yang Luar Biasa

Menggugat Pemahaman, Menegaskan Perjuangan: Napas Panjang Perjuangan PGRI untuk Guru Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Blog https://wijayalabs.com/about

Menjadi pemimpin organisasi profesi guru terbesar di Indonesia bukanlah pekerjaan yang mudah. Setiap hari ada harapan yang harus dijaga, ada aspirasi yang harus diperjuangkan, dan tidak sedikit kritik yang harus diterima dengan lapang dada. Di balik setiap keputusan yang diambil, terdapat proses panjang yang sering kali tidak terlihat oleh publik.

Dalam beberapa waktu terakhir, muncul berbagai komentar yang menyatakan bahwa PGRI tidak bekerja, bahkan ada yang menuduh organisasi ini hanya diam melihat berbagai persoalan yang dihadapi guru, terutama guru honorer dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). Tuduhan seperti ini tentu menyakitkan, terutama bagi mereka yang setiap hari berada di garis depan memperjuangkan kebijakan pendidikan.

Padahal, perjuangan organisasi tidak selalu terlihat di media sosial. Banyak pertemuan resmi, rapat koordinasi, penyusunan naskah akademik, audiensi dengan kementerian, DPR RI, Badan Kepegawaian Negara, hingga diskusi panjang bersama para ahli hukum yang tidak pernah menjadi konsumsi publik. Semua dilakukan dengan satu tujuan, yaitu memperjuangkan masa depan guru Indonesia.

Di bawah kepemimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., Ketua Umum PB PGRI, organisasi ini terus memilih jalan dialog, argumentasi ilmiah, dan advokasi kebijakan. Jalan ini memang tidak selalu menghasilkan keputusan secara instan, tetapi itulah cara yang bermartabat dalam memperjuangkan hak-hak guru.

Masih banyak yang lupa bahwa lahirnya skema PPPK bukan hadir begitu saja. Ketika Undang-Undang ASN mulai disusun, PGRI menjadi salah satu organisasi yang aktif menyampaikan berbagai masukan agar guru honorer memperoleh kepastian hukum yang lebih baik. Salah satu hasil perjuangan yang sering terlupakan adalah perubahan masa perjanjian kerja. Pada awal pembahasan, masa kontrak yang dirancang jauh lebih pendek dan menimbulkan ketidakpastian. Melalui berbagai masukan dan perjuangan panjang, akhirnya masa perjanjian kerja dapat diperpanjang sehingga memberikan rasa aman yang lebih baik bagi para guru.

Perjuangan itu tentu belum selesai. Ketika berbagai persoalan PPPK kembali muncul, mulai dari ketidakjelasan formasi, pengangkatan yang belum merata, hingga evaluasi kebijakan di berbagai daerah, PGRI kembali hadir. Organisasi ini terus menyampaikan aspirasi agar guru yang telah mengabdi bertahun-tahun tidak menjadi korban perubahan kebijakan.

Sayangnya, tidak semua orang melihat proses tersebut. Sebagian hanya melihat hasil akhirnya. Ketika hasil belum sesuai harapan, yang muncul adalah tudingan bahwa PGRI tidak bekerja.

Padahal, memperjuangkan kebijakan nasional tidak sama seperti membalikkan telapak tangan. Ada regulasi yang harus dihormati, ada mekanisme legislasi yang harus dilalui, ada kajian akademik yang harus dipersiapkan, dan ada kepentingan nasional yang harus dipertimbangkan. Semua itu membutuhkan kesabaran, konsistensi, dan napas perjuangan yang panjang.

Sikap inilah yang selalu ditunjukkan oleh Ketua Umum PB PGRI. Berulang kali beliau menerima kritik, bahkan tidak jarang hujatan yang sangat keras. Namun, semuanya dijawab dengan kerja nyata, bukan dengan kemarahan.

Beliau pernah menggambarkan bahwa PGRI harus menjadi seperti lautan. Laut menerima semua aliran sungai, baik yang jernih maupun yang keruh. Laut tidak memilih siapa yang datang kepadanya. Begitu pula PGRI. Organisasi ini tetap membuka pintu bagi seluruh guru Indonesia, termasuk mereka yang sering mengkritik dengan kata-kata yang kurang pantas.

Filosofi tersebut bukan sekadar ungkapan. Itulah sikap yang terus dipraktikkan dalam kepemimpinan organisasi. Sebagai organisasi profesi, PGRI memahami bahwa setiap guru memiliki harapan, kekecewaan, bahkan kemarahan. Namun semuanya tetap dipandang sebagai bagian dari keluarga besar pendidikan Indonesia.

Dalam berbagai kesempatan, PGRI juga aktif memperjuangkan peningkatan anggaran pendidikan, termasuk memberikan masukan mengenai dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Setiap usulan yang disampaikan selalu didasarkan pada data lapangan, kajian akademik, dan kebutuhan nyata sekolah. Bukan sekadar tuntutan emosional, melainkan argumentasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kini perjuangan memasuki babak yang lebih besar. Salah satu fokus utama yang terus didorong adalah revisi Undang-Undang ASN. Harapan besar yang diperjuangkan adalah menghadirkan sistem kepegawaian yang semakin memberikan kepastian bagi guru, termasuk penyempurnaan pengelolaan PPPK dan perlindungan profesi guru. Semua gagasan tersebut disusun melalui naskah akademik, diskusi dengan para pakar, serta komunikasi intensif dengan berbagai pemangku kepentingan.

Inilah perjuangan yang sering tidak terlihat. Tidak ada sorotan kamera ketika berjam-jam menyusun naskah akademik. Tidak ada tepuk tangan ketika berdiskusi hingga larut malam mencari rumusan terbaik. Tidak ada unggahan viral ketika menyampaikan argumentasi di hadapan para pengambil kebijakan. Namun pekerjaan itulah yang sesungguhnya menentukan arah masa depan pendidikan Indonesia.

Kita tentu boleh berbeda pendapat. Kritik juga merupakan bagian dari demokrasi. Namun kritik akan jauh lebih bermakna apabila didasarkan pada pemahaman yang utuh, bukan sekadar asumsi atau potongan informasi yang beredar di media sosial.

PGRI bukan organisasi yang sempurna. Masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Masih banyak guru yang menunggu keadilan. Masih banyak persoalan kesejahteraan yang harus diperjuangkan. Akan tetapi, mengatakan bahwa PGRI tidak melakukan apa-apa tentu tidak mencerminkan kenyataan.

Perjuangan organisasi adalah perjuangan maraton, bukan lari cepat. Kadang hasilnya baru terlihat setelah bertahun-tahun. Banyak kebijakan yang hari ini dinikmati guru merupakan hasil advokasi panjang yang dimulai jauh sebelumnya.

Karena itu, sudah saatnya seluruh guru Indonesia memperkuat persatuan. Perbedaan pandangan tidak seharusnya memecah barisan. Justru dalam kebersamaanlah suara guru akan semakin didengar oleh para pengambil kebijakan.

Sebagaimana yang terus dicontohkan oleh Ketua Umum PB PGRI, perjuangan tidak dibangun dengan kemarahan, melainkan dengan keteguhan hati, kecerdasan berpikir, dan keikhlasan mengabdi. Mungkin tidak semua orang memahami setiap langkah yang ditempuh organisasi. Namun sejarah selalu mencatat bahwa perubahan besar lahir dari mereka yang tetap bekerja, bahkan ketika usahanya tidak banyak mendapat tepuk tangan.

Semoga seluruh ikhtiar yang dilakukan PGRI menjadi amal kebaikan bagi kemajuan pendidikan Indonesia. Dan semoga setiap guru tetap percaya bahwa perjuangan yang dilakukan dengan kesabaran, ilmu pengetahuan, persatuan, dan doa pada akhirnya akan menghadirkan perubahan yang membawa keadilan bagi seluruh insan pendidikan di negeri ini.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

pb pgri: Saatnya Mereformasi Dana BOS

Saatnya Mereformasi Dana BOS demi Masa Depan Pendidikan Indonesia

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Pendidikan merupakan investasi terbesar sebuah bangsa. Namun, investasi tersebut tidak akan menghasilkan kualitas yang diharapkan apabila sekolah-sekolah masih terus berjuang memenuhi kebutuhan operasional sehari-hari. Di balik semangat guru mengajar dan siswa belajar, terdapat persoalan mendasar yang selama ini belum terselesaikan, yaitu ketidakcukupan pendanaan operasional sekolah.

Pada tanggal 13 Juli 2026, Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menyampaikan Policy Brief kepada DPR RI yang berisi usulan reformulasi kebijakan Biaya Operasional Sekolah (BOS). Dokumen tersebut lahir dari berbagai aspirasi guru, kepala sekolah, dan pengelola pendidikan di seluruh Indonesia yang selama bertahun-tahun menghadapi kenyataan bahwa dana BOS belum mampu memenuhi kebutuhan riil sekolah.

Selama ini, perhitungan dana BOS masih menggunakan pendekatan per jumlah peserta didik. Semakin banyak siswa, semakin besar dana yang diterima sekolah. Sekilas, sistem tersebut tampak adil. Namun dalam praktiknya, pendekatan ini menyimpan kelemahan yang cukup serius.

Sekolah tidak hanya memiliki biaya yang bergantung pada jumlah siswa, tetapi juga memiliki biaya tetap yang harus dibayarkan setiap bulan. Listrik, air, internet, perawatan gedung, kebersihan, keamanan, hingga pengelolaan berbagai aplikasi pemerintah seperti ARKAS dan Dapodik tetap harus berjalan meskipun jumlah siswa sedikit. Karena itulah, sekolah kecil maupun sekolah di daerah terpencil sering mengalami kesulitan keuangan yang jauh lebih besar dibanding sekolah besar di perkotaan.

Perubahan dunia pendidikan juga telah membawa konsekuensi baru. Kini sekolah wajib menyediakan jaringan internet yang memadai, perangkat komputer untuk Asesmen Nasional Berbasis Komputer (ANBK), pemeliharaan perangkat TIK, serta berbagai kebutuhan digital lainnya. Semua itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sayangnya, komponen tersebut belum sepenuhnya terakomodasi dalam formula BOS yang berlaku saat ini.

PB PGRI menilai bahwa dana BOS Reguler di banyak daerah hanya mampu menutup sekitar 50 hingga 65 persen kebutuhan operasional sekolah. Bahkan di wilayah pinggiran dan daerah 3T, kemampuan tersebut dapat turun hingga di bawah 40 persen. Akibatnya, tidak sedikit kepala sekolah yang harus menunda pembayaran listrik, menggunakan dana pribadi, meminjam ke koperasi, atau berharap pada bantuan komite sekolah agar kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung. Kondisi seperti ini tentu tidak sehat bagi sistem pendidikan nasional.

Persoalan lainnya adalah ketimpangan BOS Daerah (BOSDA). Daerah dengan Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang tinggi mampu memberikan tambahan dana yang cukup besar kepada sekolah. Sebaliknya, banyak pemerintah daerah yang memiliki kemampuan fiskal rendah tidak mampu memberikan BOSDA sama sekali. Akibatnya, kesenjangan mutu pendidikan antardaerah semakin melebar.

Dalam dokumen tersebut juga dijelaskan bahwa sekolah swasta perlu mendapatkan perhatian yang sama. Selama ini sekolah swasta telah menjadi mitra strategis pemerintah dalam menyediakan layanan pendidikan bagi masyarakat. Banyak sekolah swasta yang melayani peserta didik dari keluarga kurang mampu. Oleh karena itu, dukungan operasional terhadap sekolah swasta perlu diberikan secara lebih adil agar tidak terjadi diskriminasi dalam pelayanan pendidikan.

Kajian yang dilakukan PB PGRI memperlihatkan adanya kesenjangan yang cukup besar antara dana BOS yang diterima dengan kebutuhan riil sekolah. Pada jenjang SMP, misalnya, kebutuhan operasional diperkirakan mencapai sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4,2 juta per siswa per tahun. Sementara rata-rata dana BOS yang tersedia masih jauh di bawah kebutuhan tersebut. Kekurangan terbesar terjadi pada pembiayaan laboratorium komputer, praktikum IPA, pemeliharaan perangkat digital, serta jaringan internet yang kini menjadi kebutuhan utama pembelajaran.

Melihat kondisi tersebut, PB PGRI mengusulkan perubahan besar terhadap formula pembiayaan pendidikan nasional. Formula baru yang disebut sebagai formula hibrida menggabungkan tiga komponen utama.

Pertama adalah Base Funding, yaitu dana dasar yang diterima setiap sekolah tanpa melihat jumlah peserta didik. Dana ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional tetap seperti listrik, air, internet, pemeliharaan gedung, dan tenaga administrasi.

Kedua adalah Variable Funding, yaitu dana berdasarkan jumlah siswa seperti yang selama ini telah diterapkan. Dana ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan langsung peserta didik seperti buku, alat tulis, dan kegiatan pembelajaran.

Ketiga adalah Geographical Premium, yaitu tambahan dana berdasarkan kondisi geografis daerah. Sekolah yang berada di wilayah kepulauan, pegunungan, perbatasan, dan daerah 3T memperoleh tambahan anggaran karena biaya operasional mereka jauh lebih tinggi dibanding sekolah di kota besar.

Selain reformulasi BOS, PB PGRI juga meminta DPR RI mendorong pemerintah daerah agar mengalokasikan BOSDA secara lebih jelas melalui aturan yang mewajibkan sebagian anggaran pendidikan daerah digunakan sebagai dana pendamping BOS. Langkah ini diharapkan mampu mengurangi ketimpangan antarwilayah sekaligus memberikan kepastian hukum bagi pemerintah daerah agar tidak khawatir terjadi tumpang tindih pendanaan.

Usulan lain yang tidak kalah penting adalah pembukaan formasi ASN atau PPPK khusus bagi Tenaga Administrasi Sekolah. Selama ini banyak guru harus merangkap mengelola administrasi keuangan dan aplikasi digital sekolah sehingga waktu mereka untuk mengajar menjadi berkurang. Dengan adanya tenaga administrasi yang profesional, guru dapat kembali fokus pada tugas utamanya, yaitu mendidik peserta didik.

Sebagai seorang guru yang telah mengabdi puluhan tahun di dunia pendidikan, saya melihat bahwa usulan PB PGRI ini bukan sekadar permintaan tambahan anggaran. Yang diperjuangkan adalah keadilan bagi seluruh sekolah di Indonesia agar memiliki kesempatan yang sama dalam memberikan layanan pendidikan terbaik kepada anak-anak bangsa.

Dana BOS sejatinya bukan hanya angka dalam dokumen anggaran negara. Dana BOS adalah napas bagi sekolah, harapan bagi guru, dan jembatan menuju masa depan generasi Indonesia. Jika sistem pendanaannya mampu mengikuti perubahan zaman, maka sekolah akan lebih fokus meningkatkan kualitas pembelajaran daripada sibuk mencari cara menutupi kekurangan biaya operasional.

Sudah saatnya kebijakan pendanaan pendidikan bergerak mengikuti kebutuhan nyata di lapangan. Reformulasi BOS sebagaimana diusulkan PB PGRI menjadi momentum penting untuk membangun sistem pendidikan yang lebih adil, lebih berkualitas, dan lebih berpihak kepada seluruh peserta didik di Indonesia. Sebab, ketika sekolah memperoleh dukungan yang memadai, guru dapat mengajar dengan tenang, siswa belajar dengan nyaman, dan cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa akan semakin mudah diwujudkan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ketika Nikmat Dicabut Allah

Ketika Nikmat Itu Dicabut, Barulah Kita Tersadar

Kisah Omjay tentang Rasa Syukur yang Datang Setelah Ujian

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)

Pagi itu sebuah pesan singkat masuk ke telepon genggam Omjay. Isinya sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Pesan tersebut mengingatkan bahwa manusia sering kali baru menyadari berharganya sebuah nikmat ketika nikmat itu telah diambil oleh Allah SWT.

Kalimat pertama langsung mengetuk hati Omjay.

"Jika Allah tarik nikmat kaki, barulah kita rajin ke masjid."

Omjay terdiam cukup lama. Pikiran langsung melayang pada pengalaman hidup beberapa waktu lalu ketika kesehatan sempat menurun. Saat tubuh masih sehat, berjalan menuju masjid terasa begitu mudah. Bahkan kadang-kadang langkah kaki justru diarahkan ke tempat-tempat yang tidak terlalu penting dibandingkan rumah Allah.

Namun ketika tubuh melemah, berjalan beberapa langkah saja terasa berat. Saat itulah muncul kerinduan yang luar biasa untuk kembali melangkahkan kaki menuju masjid. Betapa benarnya, nikmat berjalan adalah karunia yang sering terlupakan.

Pesan berikutnya tidak kalah menyentuh.

"Jika Allah tarik nikmat tangan, barulah kita mau berwudhu dan berdoa."

Omjay kembali mengingat masa ketika tangan terasa lemah akibat gangguan kesehatan. Aktivitas sederhana seperti mengancingkan baju atau memegang gelas saja membutuhkan perjuangan. Pada saat itulah Omjay benar-benar memahami bahwa tangan yang sehat bukanlah sesuatu yang biasa. Ia adalah nikmat yang luar biasa.

Selama ini tangan digunakan untuk mengetik artikel, menulis buku, berjabat tangan dengan sahabat, memeluk keluarga, mengusap kepala cucu tercinta, hingga mengangkat kedua telapak tangan untuk berdoa kepada Allah SWT. Semua itu terasa begitu mudah ketika tubuh sehat.

Padahal tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama.

Lalu Omjay membaca kalimat berikutnya.

"Jika Allah tarik nikmat mata, barulah kita mau merenung bukti-bukti kebesaran-Nya."

Sebagai seorang guru dan penulis, mata adalah sahabat setia Omjay. Mata membantu membaca ratusan buku, meneliti berbagai referensi, memeriksa tugas siswa, menulis ribuan artikel, dan menikmati indahnya ciptaan Allah.

Tetapi pernah suatu ketika mata terasa kabur karena kelelahan dan kadar gula darah yang meningkat. Saat itulah muncul rasa takut kehilangan nikmat melihat.

Bagaimana mungkin seorang penulis dapat terus berkarya tanpa kemampuan membaca?

Bagaimana seorang guru dapat mengajar tanpa melihat wajah murid-muridnya?

Sejak saat itu Omjay semakin memahami bahwa setiap kali mata terbuka di pagi hari, sesungguhnya Allah sedang menghadiahkan nikmat yang luar biasa besar.

Kemudian pesan itu berlanjut.

"Jika Allah tarik nikmat telinga, barulah kita mau mendengar ceramah dan nasihat agama."

Betapa sering telinga kita dipenuhi berbagai informasi yang belum tentu bermanfaat. Kita rela berjam-jam mendengarkan hiburan, tetapi terkadang merasa berat meluangkan beberapa menit untuk mendengarkan kajian agama atau membaca Al-Qur'an.

Padahal telinga adalah pintu ilmu.

Melalui telinga kita belajar.

Melalui telinga kita menerima nasihat.

Melalui telinga kita memperbaiki diri.

Terakhir, Omjay membaca kalimat yang sangat menohok.

"Jika Allah tarik nikmat mulut, barulah kita mau berkata yang baik dan mengaji."

Betapa banyak kata yang keluar tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Terkadang mulut lebih cepat berbicara daripada hati yang bijaksana. Padahal Rasulullah SAW mengajarkan agar berkata baik atau lebih baik diam.

Mulut juga merupakan nikmat besar yang memungkinkan kita membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, mengajar, memberi semangat kepada orang lain, dan menyampaikan ilmu yang bermanfaat.

Sebagai guru, Omjay menyadari bahwa setiap kata yang diucapkan di depan kelas bisa menjadi penyemangat atau justru melemahkan semangat belajar siswa. Oleh karena itu, menjaga lisan adalah bagian dari ibadah yang harus terus dilatih.

Pengalaman hidup mengajarkan Omjay bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang bisa dianggap remeh. Setelah melewati berbagai ujian kesehatan, Omjay semakin memahami arti syukur. Dulu mungkin Omjay sering terburu-buru menjalani aktivitas tanpa sempat menikmati nikmat yang telah Allah berikan.

Kini setiap pagi menjadi kesempatan untuk mengucapkan, "Alhamdulillah."

Masih bisa bangun tidur.

Masih bisa berjalan.

Masih bisa melihat.

Masih bisa mendengar.

Masih bisa menulis.

Masih bisa mengajar.

Masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Semua itu bukan hak kita, melainkan anugerah Allah SWT yang dapat diambil kapan saja sesuai kehendak-Nya.

Allah SWT telah mengingatkan dalam firman-Nya:

"Jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah nikmat-Ku kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).

Ayat ini menjadi pengingat bahwa syukur bukan sekadar ucapan "Alhamdulillah", tetapi juga diwujudkan dalam tindakan nyata. Bersyukur berarti menggunakan mata untuk melihat hal-hal yang baik, telinga untuk mendengar ilmu, tangan untuk berbuat kebaikan, kaki untuk melangkah menuju tempat yang diridai Allah, dan lisan untuk menyampaikan kata-kata yang menenangkan hati.

Sebagai Omjay yang telah mengabdi puluhan tahun menjadi guru, ada satu pelajaran yang ingin dibagikan kepada para siswa, sahabat guru, dan siapa pun yang membaca tulisan ini. Jangan menunggu kehilangan untuk mulai menghargai. Jangan menunggu sakit untuk menjaga kesehatan. Jangan menunggu usia senja untuk memperbanyak ibadah. Jangan menunggu musibah untuk bersyukur.

Syukur adalah cara terbaik menikmati hidup.

Orang yang bersyukur akan selalu merasa cukup meskipun hartanya sedikit. Orang yang bersyukur akan tetap tersenyum meskipun sedang diuji. Orang yang bersyukur akan selalu menemukan alasan untuk bahagia karena ia menyadari bahwa setiap napas adalah hadiah dari Allah SWT.

Semoga setiap pagi yang kita jalani menjadi awal untuk memperbaiki diri. Semoga kaki kita senantiasa melangkah menuju kebaikan, tangan kita gemar menolong sesama, mata kita melihat kebesaran Allah, telinga kita mendengar nasihat yang bermanfaat, dan lisan kita selalu mengucapkan kata-kata yang baik.

Mari kita menjadi hamba yang pandai bersyukur sebelum Allah mengingatkan kita melalui kehilangan. Sebab nikmat yang paling indah bukanlah yang paling besar, melainkan nikmat yang masih kita miliki hari ini dan kita gunakan untuk beribadah kepada-Nya.

Tetap semangat, tetap bersyukur, dan teruslah menebarkan kebaikan. Insya Allah, hidup akan menjadi lebih bermakna dan penuh keberkahan. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.