Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 06 Juni 2026

Pensiun Bukan Akhir Perjalanan

Pensiun Bukan Akhir Perjalanan, Melainkan Awal Babak Kehidupan yang Baru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Suatu hari seorang sahabat menghubungi Omjay. Dengan suara yang hangat ia berkata, “Omjay, coba tuliskan tentang persiapan menjelang pensiun. Banyak teman yang mulai cemas menghadapi masa purna tugas.”

Permintaan itu membuat Omjay termenung cukup lama.

Pikiran Omjay langsung melayang kepada tiga sahabat guru di SMP Labschool Jakarta yang baru saja memasuki masa pensiun. Mereka adalah Pak Dedi Hadi Riski, Ibu Siti Johariah, dan Ibu Titin Setiawati.

Ketiganya telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk dunia pendidikan. Puluhan tahun mereka datang ke sekolah pagi-pagi, menyiapkan pembelajaran, mendidik siswa dengan penuh kesabaran, menghadiri rapat, mengoreksi tugas, dan menjalani berbagai dinamika kehidupan seorang guru.

Namun yang membuat Omjay kagum, ketika tiba waktunya memasuki masa pensiun, mereka tidak tampak sedih.

Sebaliknya, mereka terlihat bahagia.

Wajah mereka memancarkan ketenangan.

Mereka tersenyum lebih lepas.

Mereka menikmati hari-hari yang datang dengan rasa syukur.

Melihat mereka, Omjay belajar bahwa pensiun bukanlah sesuatu yang harus ditakuti.

Ketakutan yang Sering Menghantui

Banyak orang merasa cemas ketika mendekati masa pensiun.

Ada yang khawatir kehilangan penghasilan.

Ada yang takut kehilangan jabatan.

Ada yang takut kehilangan kesibukan.

Bahkan ada yang merasa dirinya tidak lagi berguna setelah tidak bekerja.

Padahal sesungguhnya yang berakhir hanyalah masa tugas formal.

Bukan kehidupan.

Bukan karya.

Bukan pengabdian.

Bukan pula kesempatan untuk memberi manfaat.

Sayangnya, banyak orang terlalu lama mengidentikkan dirinya dengan pekerjaannya.

Ketika menjadi guru, ia merasa dirinya adalah guru.

Ketika menjadi kepala sekolah, ia merasa dirinya adalah kepala sekolah.

Ketika menjadi pejabat, ia merasa dirinya adalah pejabat.

Akibatnya ketika jabatan itu selesai, ia merasa kehilangan identitas.

Di sinilah sumber kecemasan terbesar menjelang pensiun.

Padahal nilai seseorang tidak pernah ditentukan oleh jabatannya.

Nilai seseorang ditentukan oleh manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Belajar dari Tiga Sahabat

Omjay melihat sendiri bagaimana Pak Dedi Hadi Riski menjalani masa pensiunnya dengan penuh syukur.

Beliau tidak sibuk meratapi masa lalu.

Beliau justru menikmati waktu bersama keluarga yang selama ini mungkin terbagi dengan kesibukan pekerjaan.

Begitu pula Ibu Siti Johariah.

Beliau tampak menikmati kehidupannya dengan hati yang lapang.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada penyesalan.

Yang ada hanyalah rasa syukur karena telah menyelesaikan amanah dengan baik.

Ibu Titin Setiawati pun demikian.

Beliau memasuki masa purna tugas dengan senyum yang tulus.

Seolah ingin mengatakan bahwa pensiun hanyalah perpindahan ruang pengabdian.

Dari sekolah menuju masyarakat.

Dari ruang kelas menuju keluarga.

Dari jadwal kantor menuju kebebasan memilih aktivitas yang dicintai.

Melihat mereka bertiga, Omjay semakin yakin bahwa kebahagiaan masa pensiun bukan ditentukan oleh usia, melainkan oleh cara berpikir.

Menyiapkan Pensiun Sejak Masih Aktif Bekerja

Salah satu kesalahan terbesar adalah baru memikirkan pensiun ketika surat pensiun sudah keluar.

Padahal persiapan pensiun harus dimulai jauh-jauh hari.

Tidak hanya persiapan keuangan.

Tetapi juga persiapan mental.

Persiapan spiritual.

Dan persiapan aktivitas.

Keuangan memang penting.

Namun uang saja tidak cukup membuat seseorang bahagia.

Banyak pensiunan yang berkecukupan secara materi tetapi tetap merasa kesepian.

Mengapa?

Karena mereka kehilangan tujuan hidup.

Oleh sebab itu, setiap orang perlu memiliki kegiatan yang dicintai.

Ada yang menulis.

Ada yang berkebun.

Ada yang mengajar masyarakat.

Ada yang berbisnis.

Ada yang aktif di organisasi sosial.

Ada pula yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga.

Yang terpenting adalah tetap memiliki alasan untuk bangun pagi dengan penuh semangat.

Menulis Menjadi Teman Masa Pensiun

Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay percaya bahwa menulis adalah sahabat terbaik menjelang dan setelah pensiun.

Tulisan mampu menjaga pikiran tetap aktif.

Tulisan membuat pengalaman hidup tidak hilang begitu saja.

Tulisan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bayangkan jika pengalaman mengajar selama puluhan tahun hanya tersimpan di dalam ingatan.

Suatu saat semuanya akan terlupakan.

Namun ketika dituliskan, pengalaman itu akan hidup lebih lama daripada usia penulisnya.

Karena itulah Omjay selalu mengajak para guru untuk mulai menulis sejak sekarang.

Jangan menunggu pensiun.

Mulailah hari ini.

Tuliskan pengalaman mengajar.

Tuliskan kisah siswa.

Tuliskan pelajaran hidup.

Tuliskan perjalanan karier.

Kelak tulisan-tulisan itu bisa menjadi buku yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Pensiun Adalah Hadiah

Dulu Omjay pernah berpikir bahwa pensiun adalah akhir perjalanan.

Namun semakin bertambah usia, Omjay justru melihat pensiun sebagai hadiah.

Hadiah berupa waktu.

Hadiah berupa kebebasan.

Hadiah berupa kesempatan menikmati hidup dengan ritme yang lebih tenang.

Selama puluhan tahun kita bekerja mengikuti jadwal.

Bangun pagi.

Berangkat kerja.

Pulang sore.

Mengulang rutinitas yang sama.

Ketika pensiun datang, Allah memberikan kesempatan untuk menjalani hidup dengan cara yang berbeda.

Kita bisa lebih dekat dengan keluarga.

Lebih sering beribadah.

Lebih banyak membaca.

Lebih banyak menulis.

Lebih banyak berbagi pengalaman kepada generasi muda.

Bukankah itu sebuah nikmat yang luar biasa?

Jangan Takut Menjadi Tua

Setiap manusia pasti akan menua.

Setiap pekerja pasti akan pensiun.

Itu adalah hukum kehidupan yang tidak bisa ditolak.

Yang perlu kita lakukan bukanlah takut menghadapinya.

Melainkan mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Omjay teringat sebuah kalimat bijak:

"Jangan ukur hidup dari berapa lama kita bekerja, tetapi dari seberapa banyak manfaat yang kita tinggalkan."

Ketika masa pensiun tiba, sesungguhnya yang dihitung bukan lagi berapa jabatan yang pernah kita pegang.

Bukan berapa besar ruangan kerja yang pernah kita miliki.

Bukan berapa banyak penghargaan yang pernah kita terima.

Yang dikenang orang adalah kebaikan kita.

Ketulusan kita.

Dan manfaat yang pernah kita berikan.

Penutup

Melihat Pak Dedi Hadi Riski, Ibu Siti Johariah, dan Ibu Titin Setiawati memasuki masa pensiun dengan wajah penuh kebahagiaan membuat Omjay belajar satu hal penting.

Pensiun bukan akhir kehidupan.

Pensiun adalah awal dari babak baru yang mungkin justru lebih indah.

Karena itu jangan menyambut pensiun dengan ketakutan.

Sambutlah dengan rasa syukur.

Jangan menganggap pensiun sebagai kehilangan.

Anggaplah sebagai kesempatan.

Kesempatan untuk menikmati hasil perjuangan panjang.

Kesempatan untuk lebih dekat dengan keluarga.

Kesempatan untuk lebih dekat kepada Allah SWT.

Dan kesempatan untuk terus berkarya tanpa dibatasi oleh jam kerja.

Sebab sejatinya manusia tidak pernah pensiun untuk berbuat baik.

Selama napas masih berembus, selama hati masih berdetak, dan selama pikiran masih bekerja, selalu ada cara untuk memberi manfaat kepada sesama.

Itulah pensiun yang sesungguhnya.

Bukan berhenti berkarya.

Melainkan berkarya dengan cara yang berbeda.

Kasta Tertinggi Seorang Guru

Resensi Buku

KASTA TERTINGGI SEORANG GURU

Ketika Mengajar Menjadi Ibadah, Menulis Menjadi Warisan, dan Murid Menjadi Amal Jariyah

Judul: Kasta Tertinggi Seorang Guru
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Tebal: 200 Halaman
Penerbit: Literasi Nusantara
ISBN: Dalam Proses
Kategori: Pendidikan, Motivasi, Autobiografi, Literasi

Guru Sejati Tidak Pernah Pensiun dari Pengabdiannya

Di tengah derasnya arus teknologi, kecerdasan buatan (AI), dan perubahan dunia pendidikan yang begitu cepat, hadir sebuah buku yang mengingatkan kita pada hakikat seorang guru. Buku berjudul "Kasta Tertinggi Seorang Guru" karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) bukan sekadar buku pendidikan biasa. Buku setebal 200 halaman ini adalah catatan perjalanan hidup, refleksi pengabdian, dan warisan pemikiran seorang guru yang telah mengabdikan dirinya selama lebih dari tiga dekade di SMP Labschool Jakarta.

Ketika pertama kali membaca judulnya, mungkin sebagian orang akan bertanya, "Apa sebenarnya kasta tertinggi seorang guru?" Apakah menjadi kepala sekolah? Pengawas? Profesor? Atau pejabat pendidikan?

Melalui buku ini, Omjay memberikan jawaban yang sederhana tetapi sangat mendalam. Kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan yang disandangnya, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berubah karena ilmu yang dibagikannya.

Kalimat tersebut menjadi benang merah yang menghubungkan seluruh isi buku.

Perjalanan 34 Tahun yang Menginspirasi

Buku ini disusun berdasarkan pengalaman nyata Omjay selama 34 tahun menjadi guru. Pembaca diajak menyusuri perjalanan hidup seorang guru dari masa muda hingga menjadi sosok yang dikenal luas sebagai Guru Blogger Indonesia.

Omjay tidak hanya bercerita tentang keberhasilan. Ia juga membuka lembaran-lembaran kehidupannya yang penuh perjuangan, kegagalan, sakit, kehilangan, dan proses belajar yang tidak pernah berhenti.

Kisah-kisah yang ditulis terasa hidup karena lahir dari pengalaman nyata. Pembaca akan menemukan cerita tentang hari pertama mengajar, menghadapi murid-murid dengan karakter yang beragam, membangun hubungan dengan orang tua siswa, hingga menyaksikan murid-muridnya tumbuh menjadi pribadi yang sukses.

Keunggulan buku ini adalah kejujuran penulis dalam bercerita. Tidak ada kesan menggurui. Omjay menempatkan dirinya sebagai seorang pembelajar yang terus berkembang bersama murid-muridnya.

Menulis yang Mengubah Takdir

Salah satu bagian paling menarik dalam buku ini adalah kisah perjalanan Omjay sebagai penulis.

Banyak guru menganggap menulis sebagai pekerjaan yang sulit. Namun Omjay membuktikan bahwa menulis dapat dilakukan oleh siapa saja yang memiliki kemauan belajar dan konsistensi.

Melalui blog yang dikelolanya selama bertahun-tahun, Omjay berhasil mendokumentasikan ribuan pengalaman hidup dan pendidikan. Tulisan-tulisan itulah yang kemudian menjadi sumber inspirasi bagi banyak guru di Indonesia.

Dalam buku ini, pembaca akan menemukan berbagai pelajaran berharga tentang:

  • Pentingnya menulis setiap hari.
  • Blog sebagai alat rekam kehidupan.
  • Menulis sebagai sarana refleksi diri.
  • Menulis untuk berbagi manfaat.
  • Menulis sebagai warisan abadi.

Pesan yang sangat kuat dari buku ini adalah bahwa guru yang menulis akan hidup lebih lama melalui karya-karyanya.

Pendidikan di Era Artificial Intelligence

Buku ini juga sangat relevan dengan perkembangan zaman karena membahas dunia pendidikan di era AI.

Sebagai guru Informatika, Omjay memiliki pandangan yang seimbang terhadap perkembangan teknologi. Ia tidak memandang AI sebagai ancaman, tetapi juga tidak memujanya secara berlebihan.

Menurut Omjay, teknologi hanyalah alat. Yang menentukan manfaat atau mudaratnya tetap manusia.

Dalam beberapa bab, pembaca diajak memahami bagaimana guru dapat memanfaatkan AI untuk meningkatkan kualitas pembelajaran tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.

Pesan penting yang berulang kali muncul dalam buku ini adalah:

"AI boleh membantu menulis, tetapi hati manusialah yang memberi makna pada tulisan."

Pandangan tersebut menjadi sangat relevan di tengah maraknya penggunaan teknologi dalam dunia pendidikan.

Ketika Guru Diuji Kehidupan

Bagian yang paling menyentuh hati terdapat pada bab-bab akhir buku.

Omjay menuliskan pengalaman pribadinya ketika menghadapi berbagai ujian kehidupan, mulai dari masalah kesehatan, kecelakaan, kehilangan orang-orang tercinta, hingga perjuangan bangkit kembali setelah sakit.

Kisah tentang hipertensi, diabetes, vertigo, hingga serangan yang menyerupai stroke tidak ditulis dengan nada keluhan. Sebaliknya, semua pengalaman itu menjadi sumber pembelajaran tentang pentingnya bersyukur dan menjaga kesehatan.

Pembaca akan merasakan bahwa buku ini bukan hanya berbicara tentang profesi guru, tetapi juga tentang perjalanan menjadi manusia yang lebih baik.

Banyak bagian yang mampu mengaduk emosi dan membuat pembaca merenung tentang arti kehidupan.

Kelebihan Buku

Beberapa kelebihan buku ini antara lain:

1. Ditulis dari Pengalaman Nyata

Seluruh isi buku berasal dari pengalaman langsung penulis sehingga terasa autentik dan menyentuh.

2. Bahasa Ringan dan Mengalir

Omjay menggunakan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan.

3. Kaya Nilai Pendidikan

Buku ini mengandung banyak pelajaran tentang pendidikan, karakter, kepemimpinan, dan kehidupan.

4. Relevan dengan Zaman

Pembahasan tentang AI dan literasi digital menjadikan buku ini sangat aktual.

5. Inspiratif dan Memotivasi

Setiap bab menghadirkan semangat baru bagi pembaca untuk terus belajar dan berkarya.

Kekurangan Buku

Jika ada kekurangan, mungkin karena banyaknya kisah inspiratif yang disajikan membuat pembaca ingin mendapatkan cerita yang lebih panjang pada beberapa bagian tertentu. Namun justru hal itu menunjukkan bahwa buku ini mampu membangun kedekatan emosional dengan pembacanya.

Layak Dibaca oleh Siapa?

Buku ini sangat direkomendasikan untuk:

  • Guru dan tenaga pendidik.
  • Kepala sekolah.
  • Dosen dan mahasiswa pendidikan.
  • Pegiat literasi.
  • Orang tua.
  • Pelajar dan mahasiswa.
  • Siapa saja yang ingin memahami makna pengabdian.

Kesimpulan

"Kasta Tertinggi Seorang Guru" bukan sekadar buku tentang profesi guru. Buku ini adalah refleksi kehidupan yang ditulis dengan hati oleh seorang guru yang telah mengabdikan dirinya selama 34 tahun di dunia pendidikan.

Melalui 200 halaman yang sarat inspirasi, Omjay mengajak pembaca memahami bahwa ukuran kesuksesan seorang guru bukanlah jabatan, pangkat, atau penghargaan yang diraih, melainkan jejak kebaikan yang ditinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya.

Buku ini mengajarkan bahwa mengajar adalah ibadah, menulis adalah warisan, dan murid adalah amal jariyah yang akan terus mengalirkan pahala bahkan ketika seorang guru telah tiada.

Sebuah buku yang layak dibaca, dimiliki, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Nilai Resensi: ⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

"Guru boleh pensiun dari sekolah, tetapi pengaruhnya akan terus hidup dalam hati murid-muridnya."Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay).


Menjadi Sehat Kembali Dengan Senam Ling Tien Kung

Menemukan Kembali Semangat Hidup Bersama Senam Ling Tien Kung

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Setiap hari Sabtu pagi, ketika sebagian orang masih menikmati hangatnya tempat tidur, Omjay sudah bersiap menuju lapangan Blok A Jatibening Indah, Bekasi. Udara pagi yang sejuk, suara burung yang bernyanyi, serta senyum hangat para peserta senam menjadi penyemangat tersendiri untuk memulai hari.

Di lapangan sederhana itu terpampang sebuah spanduk bertuliskan "Sasana Dharma Samudera Ling Tien Kung", sebuah komunitas yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan Omjay untuk kembali sehat setelah mengalami berbagai ujian kesehatan.

Banyak orang mungkin mengenal Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia yang aktif menulis setiap hari. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa beberapa tahun terakhir Omjay harus berjuang melawan berbagai penyakit, mulai dari diabetes, hipertensi, vertigo, hingga gejala yang menyerupai serangan stroke.

Pengalaman itu mengubah cara pandang Omjay tentang kesehatan.

Ketika Tubuh Memberi Peringatan

Awalnya Omjay termasuk orang yang sangat sibuk.

Pagi mengajar di sekolah, siang mengikuti kegiatan organisasi, malam menulis artikel, dan akhir pekan menghadiri seminar atau pelatihan.

Tubuh terasa kuat sehingga sering kali mengabaikan tanda-tanda kelelahan.

Hingga suatu hari kesehatan mulai terganggu.

Tekanan darah naik.

Gula darah meningkat.

Vertigo datang tanpa diundang.

Bahkan pada bulan Maret 2026, saat perjalanan mudik ke Bandung, Omjay mengalami kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Tangan kanan sulit digerakkan dan mulut terasa terkunci. Gejalanya sangat mirip dengan stroke.

Saat itu Omjay benar-benar merasakan betapa berharganya kesehatan.

Ketika tubuh tidak lagi mampu bekerja sebagaimana mestinya, jabatan, harta, dan kesibukan terasa tidak berarti.

Yang paling penting adalah sehat.

Sejak saat itulah Omjay mulai serius mencari cara untuk memperbaiki kualitas hidup.

Selain menjalani pengobatan dari dokter, mengatur pola makan, dan mengonsumsi obat secara teratur, Omjay juga mencari olahraga yang aman dan sesuai dengan kondisi kesehatan.

Pilihan itu akhirnya jatuh kepada Senam Ling Tien Kung.

Mengenal Sejarah Ling Tien Kung

Ling Tien Kung berasal dari Indonesia dan dikembangkan oleh Master H. Gerson Poyk, seorang praktisi kesehatan yang memiliki kepedulian besar terhadap kesehatan masyarakat.

Nama Ling Tien Kung berasal dari bahasa Tionghoa.

  • Ling berarti spiritual atau jiwa.
  • Tien berarti langit.
  • Kung berarti latihan atau keterampilan.

Secara sederhana, Ling Tien Kung dapat dimaknai sebagai latihan yang menyelaraskan tubuh, pikiran, dan energi kehidupan.

Senam ini mulai dikenal luas karena menawarkan metode latihan yang sederhana, mudah dipelajari, dan dapat dilakukan oleh berbagai kalangan usia.

Berbeda dengan olahraga berat yang membutuhkan tenaga besar, Ling Tien Kung lebih menekankan pada:

  • Peregangan tubuh.
  • Pengaturan pernapasan.
  • Pelemasan persendian.
  • Aktivasi energi tubuh.
  • Relaksasi pikiran.

Banyak peserta mengaku merasakan manfaat setelah rutin mengikuti latihan, seperti tubuh lebih segar, tidur lebih nyenyak, nyeri berkurang, dan kualitas hidup meningkat.

Karena gerakannya relatif ringan, senam ini banyak diikuti oleh lansia maupun mereka yang sedang dalam masa pemulihan kesehatan.

Terapi Tanpa Obat, Tanpa Alat, Tanpa Pijat

Salah satu slogan yang menarik perhatian Omjay ketika pertama kali melihat spanduk Ling Tien Kung adalah:

"Tanpa Obat – Tanpa Alat – Tanpa Pijat."

Tentu saja slogan ini bukan berarti menggantikan pengobatan medis.

Namun lebih kepada ajakan agar tubuh diberi kesempatan untuk mengoptimalkan kemampuan alaminya dalam menjaga kesehatan.

Tubuh manusia sebenarnya memiliki mekanisme penyembuhan yang luar biasa.

Ketika otot-otot diregangkan dengan benar, aliran darah menjadi lebih lancar.

Ketika pernapasan diatur dengan baik, oksigen yang masuk ke tubuh meningkat.

Ketika pikiran lebih tenang, hormon stres menurun.

Semua itu membantu tubuh bekerja lebih optimal.

Inilah yang dirasakan Omjay selama mengikuti latihan Ling Tien Kung.

Pengalaman Omjay Mengikuti Ling Tien Kung

Awalnya Omjay datang hanya karena ingin mencoba.

Namun setelah beberapa kali mengikuti latihan, Omjay mulai merasakan perubahan.

Tubuh yang biasanya kaku di pagi hari menjadi lebih ringan.

Leher dan bahu yang sering tegang mulai terasa nyaman.

Tidur menjadi lebih berkualitas.

Yang paling penting, semangat hidup kembali tumbuh.

Setiap Sabtu pagi Omjay bertemu banyak teman baru.

Ada pensiunan, guru, pegawai, ibu rumah tangga, hingga anggota TNI AL yang ikut berlatih bersama.

Mereka datang dengan tujuan yang sama.

Yaitu ingin hidup sehat.

Suasana kekeluargaan yang hangat membuat latihan terasa menyenangkan.

Tidak ada persaingan.

Tidak ada tuntutan.

Semua saling mendukung.

Kadang setelah latihan, peserta berbincang santai sambil berbagi pengalaman kesehatan.

Dari sanalah Omjay belajar bahwa banyak orang sedang berjuang melawan penyakit yang berbeda-beda.

Namun mereka tidak menyerah.

Mereka memilih bergerak.

Mereka memilih berusaha.

Mereka memilih berharap.

Kesehatan Adalah Investasi Terbaik

Pengalaman sakit mengajarkan Omjay sebuah pelajaran berharga.

Kita sering bekerja keras mencari uang.

Namun lupa menjaga kesehatan.

Padahal ketika sakit datang, uang yang telah dikumpulkan bisa habis untuk biaya pengobatan.

Karena itu menjaga kesehatan bukanlah pengeluaran.

Melainkan investasi.

Ling Tien Kung mengingatkan Omjay bahwa menjaga kesehatan tidak harus mahal.

Cukup meluangkan waktu.

Cukup menggerakkan tubuh.

Cukup menjaga pola hidup.

Dan yang terpenting, tetap bersyukur.

Menjadi Pribadi yang Lebih Bersyukur

Setelah mengalami berbagai ujian kesehatan, Omjay semakin menyadari bahwa setiap tarikan napas adalah nikmat yang luar biasa.

Dulu mungkin Omjay sering mengeluh karena macet, pekerjaan menumpuk, atau target yang belum tercapai.

Kini Omjay lebih banyak bersyukur.

Bersyukur masih bisa berjalan.

Bersyukur masih bisa mengajar.

Bersyukur masih bisa menulis.

Bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga.

Dan bersyukur masih bisa mengikuti senam Ling Tien Kung setiap Sabtu pagi.

Bagi Omjay, Ling Tien Kung bukan sekadar senam.

Ia adalah perjalanan menuju kesehatan yang lebih baik.

Ia adalah sarana mempererat persaudaraan.

Ia adalah pengingat bahwa tubuh harus dirawat sebelum terlambat.

Penutup

Jika ada satu pelajaran yang ingin Omjay bagikan kepada para pembaca, pelajaran itu adalah:

Jangan menunggu sakit untuk mulai hidup sehat.

Luangkan waktu untuk berolahraga.

Jaga pola makan.

Istirahat yang cukup.

Kelola stres.

Dan temukan komunitas positif yang dapat mendukung perjalanan kesehatan Anda.

Omjay mungkin pernah jatuh karena penyakit.

Namun Omjay memilih untuk bangkit.

Melangkah perlahan.

Menggerakkan tubuh setiap Sabtu pagi bersama sahabat-sahabat Ling Tien Kung di Lapangan Blok A Jatibening Indah Bekasi.

Karena kesehatan bukanlah tujuan akhir.

Kesehatan adalah kendaraan yang mengantarkan kita untuk terus berkarya, menginspirasi, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Salam sehat, salam literasi, dan salam bahagia dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Dapatkan Buku Terbaru Omjay!

📚 BUKU TERBARU OMJAY SUDAH TERBIT!

"Menulislah dengan Hati: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi"

Buku ini berisi kisah nyata perjalanan Omjay selama lebih dari 30 tahun menjadi guru, pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, semangat literasi, serta cara menulis dengan hati di era AI.

Jika Anda guru, dosen, mahasiswa, pelajar, atau pegiat literasi, buku ini wajib dimiliki.

Karena tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya. ❤️

Pesan sekarang:
👉 https://wijayalabs.com/2026/06/05/mau-pesan-buku-terbaru-omjay-2/

Jangan sampai kehabisan. Yuk miliki bukunya sekarang juga!

Belajar Pantun di KBMN PGRI

Belajar Pantun Bersama KBMN 34: Ketika Omjay Kembali Jatuh Cinta pada Pantun

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Malam itu, seperti biasa, Omjay membuka grup WhatsApp Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34. Satu per satu peserta mulai mengumpulkan resume hasil belajar mereka dari pertemuan ke-20. Tema yang dibahas kali ini terasa berbeda dibandingkan tema-tema sebelumnya. Jika biasanya peserta belajar menulis artikel, buku, blog, atau memanfaatkan AI untuk menulis, kali ini mereka diajak kembali mengenal salah satu warisan budaya bangsa yang sangat kaya makna, yaitu pantun.

Ketika membaca daftar resume yang masuk, hati Omjay terasa hangat. Ada tulisan dari Hayatunnufus dengan judul Saatnya Jatuh Cinta pada Pantun, Sa’diyah dengan tulisan Kaidah Pantun, Hanifah dengan Pantun Oh Pantun, dan Anis Solihah yang menulis Membuka Mata Melalui Pantun.

Keempat tulisan itu memiliki gaya yang berbeda, tetapi menyampaikan pesan yang sama: pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, melainkan warisan budaya yang sarat nilai, nasihat, kreativitas, dan pendidikan karakter.

Saat membaca resume-resume tersebut dalam perjalanan menuju sekolah menggunakan kereta LRT dari Stasiun Cikunir menuju Dukuh Atas, Omjay tersenyum sendiri. Ingatan masa kecil kembali hadir. Dulu, ketika Omjay masih duduk di bangku sekolah dasar, pantun sering menjadi bagian dari pelajaran Bahasa Indonesia. Guru meminta murid membuat pantun nasihat, pantun jenaka, atau pantun persahabatan.

Sayangnya, seiring perkembangan zaman, pantun mulai jarang terdengar dalam kehidupan sehari-hari. Anak-anak lebih akrab dengan media sosial, video pendek, dan berbagai bentuk komunikasi instan. Padahal, pantun memiliki kekuatan luar biasa untuk melatih kreativitas berbahasa.

Tulisan Hayatunnufus mengajak pembacanya untuk kembali jatuh cinta pada pantun. Menurutnya, pantun bukan hanya milik masa lalu. Pantun tetap relevan digunakan saat ini karena mampu menyampaikan pesan dengan cara yang santun, indah, dan menyenangkan. Omjay sangat setuju dengan pendapat tersebut.

Di tengah maraknya komentar kasar di media sosial, pantun justru mengajarkan cara berkomunikasi dengan penuh etika. Kritik bisa disampaikan melalui pantun. Nasihat bisa diberikan melalui pantun. Bahkan ungkapan kasih sayang pun dapat dibungkus dengan pantun yang menarik.

Sementara itu, Sa’diyah mengingatkan pentingnya memahami kaidah pantun. Pantun memiliki aturan yang khas, yaitu terdiri atas empat baris, bersajak a-b-a-b, memiliki sampiran dan isi, serta jumlah suku kata yang relatif seimbang.

Melalui tulisannya, Omjay kembali menyadari bahwa menulis pantun sebenarnya melatih kemampuan berpikir sistematis. Kita tidak hanya menyusun kata-kata yang indah, tetapi juga harus memperhatikan struktur, irama, dan makna.

Dalam dunia pendidikan modern yang menekankan keterampilan berpikir kritis dan kreatif, pantun ternyata memiliki peran yang sangat penting.

Tulisan Hanifah yang berjudul Pantun Oh Pantun membawa Omjay pada kesadaran lain. Pantun memiliki daya tarik karena sifatnya yang ringan dan menyenangkan. Banyak orang merasa takut menulis artikel panjang, tetapi mereka lebih percaya diri ketika diminta membuat pantun.

Dari sebuah pantun sederhana, seseorang dapat mulai belajar menulis. Ia belajar memilih kata yang tepat. Ia belajar menyusun kalimat yang efektif. Ia belajar menyampaikan pesan secara ringkas namun bermakna.

Omjay teringat perjalanan panjangnya sebagai penulis. Semua penulis besar memulai langkah dari tulisan-tulisan sederhana. Tidak ada yang langsung mampu menulis buku tebal dalam semalam. Semuanya berawal dari keberanian merangkai kata demi kata.

Karena itu, pantun dapat menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi siapa saja yang ingin belajar menulis.

Tulisan Anis Solihah yang berjudul Membuka Mata Melalui Pantun memberikan perspektif yang menarik. Pantun tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan dan refleksi kehidupan.

Sejak zaman dahulu, masyarakat Indonesia menggunakan pantun untuk menyampaikan pesan moral. Melalui pantun, orang tua mengajarkan sopan santun kepada anak-anak. Melalui pantun, para tokoh masyarakat menyampaikan petuah kepada generasi muda.

Pantun menjadi media pendidikan karakter yang sangat efektif karena pesannya disampaikan secara halus dan mudah diingat.

Semakin lama membaca resume para peserta KBMN, semakin Omjay yakin bahwa pantun masih memiliki tempat penting di era digital.

Bahkan di tengah hadirnya kecerdasan buatan (AI), pantun tetap membutuhkan sentuhan rasa manusia. AI mungkin mampu membuat pantun dengan cepat, tetapi hanya manusia yang mampu memberikan pengalaman hidup, emosi, dan makna mendalam di balik setiap bait pantun.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan bahwa teknologi boleh berkembang, tetapi budaya jangan sampai hilang.

Pantun adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia. Jika generasi muda berhenti mengenalnya, maka kita kehilangan salah satu kekayaan budaya yang sangat berharga.

Melalui KBMN PGRI Gelombang 34, para peserta tidak hanya belajar menulis, tetapi juga ikut melestarikan budaya literasi bangsa.

Malam itu Omjay menutup layar ponselnya dengan hati yang bahagia. Resume-resume yang dikirim peserta bukan sekadar tugas. Di dalamnya tersimpan semangat belajar, kecintaan terhadap budaya, dan tekad untuk terus berkembang menjadi penulis yang lebih baik.

Omjay percaya, siapa pun yang terus belajar menulis akan menemukan jalan menuju kesuksesan. Dan siapa pun yang mencintai pantun berarti ikut menjaga warisan budaya Indonesia agar tetap hidup di tengah derasnya arus zaman.

Sebelum turun dari kereta, Omjay pun tersenyum sambil membuat sebuah pantun sederhana:

Pergi ke pasar membeli ketan,
Pulangnya singgah membeli durian.
Belajar pantun menambah wawasan,
Melestarikan budaya untuk masa depan.

Selamat kepada seluruh peserta KBMN 34 yang telah menulis resume pertemuan ke-20. Teruslah menulis, teruslah belajar, dan teruslah berkarya. Sebab, seperti yang selalu Omjay yakini, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalannya menuju hati pembaca.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 05 Juni 2026

kaidah pantun

Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34

Pertemuan ke-20: Kaidah Pantun

Informasi Kegiatan

Tema: Kaidah Pantun
Program: Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34
Pertemuan: Ke-20
Hari/Tanggal: Jumat, 5 Juni 2026
Waktu: Pukul 19.00 WIB
Tempat: Daring melalui Grup WhatsApp KBMN
Moderator: Lely Suryani, S.Pd. SD
Narasumber: Miftahul Hadi, S.Pd.

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pembelajaran menulis yang diselenggarakan oleh komunitas KBMN PGRI bekerja sama dengan KSGN (Komunitas Sejuta Guru Ngeblog) dan Melintas.id. Pertemuan ke-20 mengangkat tema yang sangat menarik dan dekat dengan budaya bangsa Indonesia, yaitu Kaidah Pantun.


Mengapa Belajar Pantun Penting?

Pantun merupakan salah satu warisan budaya Nusantara yang telah hidup sejak ratusan tahun lalu. Pantun bukan sekadar rangkaian kata berima, tetapi mengandung nilai pendidikan, moral, nasihat, humor, bahkan kritik sosial yang disampaikan secara santun.

Di era digital saat ini, kemampuan membuat pantun menjadi semakin menarik karena:

  • Melatih kreativitas berbahasa.
  • Mengasah kemampuan memilih kata.
  • Meningkatkan keterampilan menulis.
  • Melestarikan budaya bangsa.
  • Menjadi media komunikasi yang menyenangkan.
  • Membantu guru membuat pembelajaran lebih menarik.

Tidak heran jika pantun kini sering digunakan dalam pidato, presentasi, pembelajaran, media sosial, hingga acara resmi pemerintahan.


Materi yang Akan Dipelajari

Peserta KBMN akan diajak memahami berbagai aspek penting dalam penulisan pantun, antara lain:

1. Pengertian Pantun

Pantun adalah puisi lama yang terdiri atas empat baris dalam satu bait dengan pola rima tertentu dan memiliki sampiran serta isi.

2. Struktur Pantun

Pantun memiliki dua bagian utama:

Sampiran

  • Baris pertama dan kedua.
  • Berfungsi sebagai pengantar.

Isi

  • Baris ketiga dan keempat.
  • Berisi pesan utama.

Contoh:

Pergi ke pasar membeli ikan,
Ikan dibeli bersama ketan.
Rajin belajar sepanjang zaman,
Agar sukses di masa depan.

Dua baris pertama adalah sampiran, sedangkan dua baris terakhir adalah isi.

3. Ciri-Ciri Pantun

  • Terdiri dari empat baris.
  • Setiap baris 8–12 suku kata.
  • Bersajak a-b-a-b.
  • Memiliki sampiran dan isi.
  • Mengandung pesan tertentu.

4. Jenis-Jenis Pantun

  • Pantun Nasihat
  • Pantun Pendidikan
  • Pantun Agama
  • Pantun Jenaka
  • Pantun Cinta
  • Pantun Persahabatan
  • Pantun Anak-anak

5. Teknik Membuat Pantun

Peserta akan belajar:

  • Menentukan tema.
  • Menulis isi terlebih dahulu.
  • Membuat sampiran yang sesuai.
  • Menyesuaikan rima.
  • Memastikan jumlah suku kata seimbang.

Mengenal Narasumber

Miftahul Hadi

Beliau dikenal sebagai pendidik yang aktif dalam dunia literasi dan kepenulisan. Pengalamannya dalam mengembangkan budaya menulis menjadi modal penting untuk membimbing peserta memahami teknik menulis pantun yang baik dan benar.

Melalui materi ini peserta tidak hanya diajarkan teori, tetapi juga praktik langsung membuat pantun yang menarik dan bermakna.


Peran Moderator

Lely Suryani

Sebagai moderator, beliau akan memandu jalannya diskusi sehingga kegiatan berlangsung interaktif, tertib, dan menyenangkan. Peserta dapat bertanya langsung seputar kesulitan membuat pantun maupun penerapannya dalam pembelajaran.


Manfaat bagi Guru dan Penulis

Bagi guru, materi pantun sangat bermanfaat untuk:

  • Membuat pembelajaran Bahasa Indonesia lebih kreatif.
  • Mengembangkan literasi siswa.
  • Menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
  • Menjadi media pembelajaran karakter.
  • Mengasah kemampuan berpikir kritis dan kreatif.

Bagi penulis, pantun melatih kepekaan bahasa, ketelitian memilih diksi, serta kemampuan menyampaikan pesan secara singkat namun berkesan.


Pesan untuk Peserta KBMN

KBMN bukan sekadar tempat belajar menulis, tetapi wadah bertumbuh bagi para guru, penulis, dan pegiat literasi dari seluruh Indonesia. Setiap pertemuan menghadirkan ilmu baru yang dapat langsung dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sebagaimana sering disampaikan oleh Omjay, Guru Blogger Indonesia:

"Menulis adalah keterampilan yang akan semakin tajam jika terus diasah. Pantun mengajarkan kita memilih kata dengan cermat, menyusun pesan dengan indah, dan menyampaikan makna dengan cara yang menyenangkan."

Maka jangan lewatkan pertemuan ke-20 KBMN PGRI Gelombang 34 ini. Mari belajar bersama, melestarikan budaya bangsa, dan mengembangkan kemampuan menulis melalui seni berpantun.

Pantun Penutup

Jalan-jalan ke Kota Blitar,
Jangan lupa membeli ketan.
Mari belajar menulis pintar,
Dengan pantun yang penuh pesan.

Salam literasi.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Judul Buku: Labschool Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Penerbit: Labschool UNJ
Tebal: 190 halaman
Genre: Pendidikan, Inspirasi, Memoar Pendidikan

Ketika Sekolah Bukan Sekadar Tempat Belajar

Ada banyak buku tentang pendidikan yang berbicara mengenai kurikulum, metode pembelajaran, atau teori pendidikan. Namun, buku Labschool Rumah Keduaku karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay menghadirkan sesuatu yang berbeda. Buku ini tidak hanya membahas pendidikan sebagai sebuah sistem, tetapi menghadirkan pendidikan sebagai pengalaman hidup yang penuh makna.

Sejak membaca halaman-halaman awal buku ini, pembaca akan langsung merasakan kedekatan emosional penulis dengan Labschool. Bagi Omjay, Labschool bukan sekadar tempat bekerja selama puluhan tahun, melainkan rumah kedua yang telah membentuk dirinya sebagai pendidik, penulis, sekaligus manusia yang terus belajar sepanjang hayat.

Kalimat yang menjadi ruh buku ini sangat kuat:

"Di Labschool, kita tidak hanya belajar untuk hidup, tetapi belajar bagaimana menjalani hidup dengan penuh makna."

Kalimat tersebut bukan sekadar slogan, melainkan benar-benar terasa dalam setiap bab buku.

Mengangkat Wajah Humanis Pendidikan

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah keberhasilannya menggambarkan sekolah sebagai rumah kedua. Di tengah dunia pendidikan yang sering kali terjebak pada angka, ranking, dan capaian akademik, Omjay mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati adalah tentang memanusiakan manusia.

Melalui pengalaman pribadinya selama lebih dari tiga dekade mengabdi di SMP Labschool Jakarta, penulis menunjukkan bahwa hubungan guru dan siswa tidak boleh berhenti pada aktivitas mengajar dan belajar saja. Guru adalah pembimbing, sahabat, bahkan orang tua kedua bagi peserta didik.

Buku ini mengajak pembaca melihat bahwa keberhasilan pendidikan bukan hanya diukur dari nilai rapor, tetapi dari tumbuhnya karakter, empati, kejujuran, tanggung jawab, dan semangat belajar dalam diri siswa. Pesan ini terasa sangat relevan di era digital ketika banyak orang lebih fokus pada hasil daripada proses.

Kaya Kisah dan Pengalaman Nyata

Tidak seperti buku pendidikan yang cenderung teoritis, Labschool Rumah Keduaku dipenuhi kisah nyata yang hangat dan membumi.

Penulis menghadirkan berbagai pengalaman tentang:

  • Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS)
  • Perkemahan Jumat Sabtu (Perjusa)
  • Studi Apresiasi Kepemimpinan Siswa (SAKSI)
  • SALAM (Studi Amaliah Islam)
  • Pentas Seni
  • Kegiatan ekstrakurikuler
  • Hubungan guru, siswa, dan alumni

Yang menarik, Omjay tidak hanya menuliskan pandangannya sebagai guru. Ia juga menyisipkan tulisan para siswa Labschool yang menceritakan pengalaman mereka tentang sekolah sebagai rumah kedua.

Pendekatan ini membuat buku terasa hidup karena pembaca dapat melihat Labschool dari berbagai sudut pandang.

Kisah-kisah sederhana yang ditampilkan justru menjadi kekuatan terbesar buku ini. Pembaca diajak mengenang masa sekolahnya sendiri, mengingat guru-guru yang pernah membimbingnya, serta menyadari bahwa kenangan sekolah sering kali menjadi bagian terindah dalam perjalanan hidup seseorang.

Menampilkan Filosofi Pendidikan Labschool

Buku ini juga memberikan gambaran mendalam mengenai sejarah dan filosofi Labschool sebagai sekolah laboratorium yang lahir dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Salah satu bagian yang sangat menarik adalah pembahasan mengenai motto Labschool:

Iman – Ilmu – Amal.

Menurut penulis, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi utama pendidikan Labschool:

  • Iman membangun karakter dan moral.
  • Ilmu membentuk kecerdasan dan kemampuan berpikir.
  • Amal mengajarkan pentingnya memberi manfaat bagi sesama.

Konsep ini menunjukkan bahwa pendidikan yang ideal harus mampu menyeimbangkan aspek spiritual, intelektual, dan sosial.

Di tengah maraknya pendidikan yang hanya mengejar prestasi akademik, filosofi ini terasa sangat relevan dan dibutuhkan.

Relevan dengan Tantangan Zaman

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan mengenai Labschool di era digital. Penulis menjelaskan bagaimana sekolah harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Omjay menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Sentuhan manusia tetap menjadi inti pendidikan.

Pandangan ini sangat penting di era kecerdasan buatan (AI), ketika banyak proses pembelajaran mulai didukung teknologi. Buku ini mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi, pendidikan tetap membutuhkan hati, keteladanan, dan hubungan antarmanusia.

Kelebihan Buku

Beberapa kelebihan buku ini antara lain:

1. Bahasa sederhana dan komunikatif

Penulis menggunakan bahasa yang ringan sehingga mudah dipahami oleh guru, siswa, orang tua, maupun masyarakat umum.

2. Penuh inspirasi

Setiap bab menghadirkan nilai-nilai kehidupan yang dapat menjadi bahan refleksi.

3. Kaya pengalaman nyata

Isi buku berasal dari pengalaman langsung penulis selama puluhan tahun mengabdi di dunia pendidikan.

4. Dokumentasi sejarah yang berharga

Buku ini menjadi catatan penting perjalanan Labschool dan budaya pendidikan yang dibangun di dalamnya.

5. Menghidupkan kembali makna sekolah

Pembaca diajak melihat sekolah bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi sebagai tempat bertumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Kekurangan Buku

Sebagai karya yang sangat personal, beberapa bagian buku terasa lebih bersifat dokumentasi pengalaman dibandingkan analisis mendalam. Namun justru di situlah letak keunikannya. Buku ini memang ditulis dari hati seorang guru yang ingin berbagi pengalaman, bukan sebagai kajian akademik yang kaku.

Kesimpulan

Labschool Rumah Keduaku bukan sekadar buku tentang sebuah sekolah. Buku ini adalah surat cinta seorang guru kepada dunia pendidikan.

Melalui tulisan yang hangat dan penuh ketulusan, Omjay berhasil menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang berkarakter, berempati, dan siap menghadapi kehidupan.

Buku ini sangat layak dibaca oleh:

  • Guru dan tenaga pendidik
  • Kepala sekolah
  • Mahasiswa pendidikan
  • Orang tua
  • Alumni Labschool
  • Siapa saja yang mencintai dunia pendidikan

Pada akhirnya, buku ini mengingatkan kita bahwa kenangan terbaik tentang sekolah bukanlah nilai ujian yang tinggi, melainkan guru yang menginspirasi, sahabat yang menemani, dan lingkungan yang membuat kita merasa pulang.

Nilai Resensi: 9/10

"Labschool Rumah Keduaku adalah bukti bahwa sekolah yang hebat bukan hanya mencerdaskan otak, tetapi juga menghangatkan hati."

Resensi Buku Kisah Omjay Menulis Setiap Hari

Resensi Buku

Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Genre: Motivasi, Pendidikan, Literasi, Biografi Inspiratif
Tagline: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Sebuah Buku yang Mampu Mengubah Cara Pandang Kita Tentang Menulis

Banyak orang ingin menulis buku, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana. Banyak guru ingin berbagi pengalaman, tetapi merasa kisah hidupnya tidak menarik. Banyak pula yang berpikir bahwa menjadi penulis hebat hanya bisa dilakukan oleh orang-orang berbakat.

Buku "Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi" hadir untuk mematahkan semua anggapan tersebut.

Buku ini bukan teori yang rumit. Bukan pula kisah seorang tokoh yang lahir dengan segala kelebihan. Justru sebaliknya.

Ini adalah kisah nyata seorang guru biasa yang memilih untuk terus menulis setiap hari hingga akhirnya dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia. Dari sebuah blog sederhana, lahirlah puluhan buku, ribuan artikel, ratusan seminar nasional, serta jaringan pertemanan yang tersebar di seluruh Indonesia. 

Mengapa Buku Ini Layak Dibaca?

Karena buku ini ditulis dari pengalaman nyata.

Omjay tidak hanya mengajarkan cara menulis, tetapi menunjukkan bagaimana menulis telah mengubah hidupnya.

Pembaca akan diajak menyaksikan perjalanan seorang guru yang awalnya hanya menulis di blog untuk berbagi pengalaman mengajar. Sedikit demi sedikit tulisannya dibaca banyak orang. Dari situlah berbagai peluang datang menghampiri.

Buku ini membuktikan bahwa:

Menulis dapat membuka pintu rezeki.

Menulis dapat memperluas jaringan pertemanan.

Menulis dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Menulis dapat mengabadikan gagasan.

Menulis dapat menjadi amal jariyah ilmu.


Yang paling menarik, Omjay tidak pernah menggurui pembacanya. Ia bercerita dengan bahasa sederhana, hangat, dan mengalir seperti sedang berbincang langsung dengan sahabatnya.

Kekuatan Terbesar Buku Ini

Kekuatan buku ini terletak pada kejujuran.

Pembaca akan menemukan kisah perjuangan, kegagalan, keraguan, dan proses panjang yang sering tidak terlihat di balik kesuksesan seseorang.

Di era media sosial saat ini, banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Buku ini justru memperlihatkan prosesnya.

Pembaca akan belajar bahwa keberhasilan bukanlah hasil kerja semalam, melainkan akumulasi dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari.

Dan kebiasaan kecil itu adalah:

MENULIS.

Cocok Dibaca Oleh Siapa?

Buku ini sangat cocok untuk:

✅ Guru dan dosen
✅ Mahasiswa
✅ Pelajar SMP dan SMA
✅ Blogger pemula
✅ Penulis pemula
✅ Pegiat literasi
✅ Orang tua
✅ Siapa saja yang ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan

Bahkan bagi mereka yang merasa tidak berbakat menulis, buku ini mampu membangkitkan semangat untuk mulai mencoba.

Nilai Lebih yang Tidak Banyak Dimiliki Buku Motivasi Lain

Berbeda dengan banyak buku motivasi yang hanya berisi teori, buku ini berisi pengalaman nyata selama puluhan tahun.

Dr. Wijaya Kusumah dikenal sebagai pendidik, blogger, penulis, dan penggerak literasi yang telah menginspirasi ribuan guru melalui berbagai komunitas menulis dan literasi digital. 

Karena itu, setiap halaman terasa hidup.

Pembaca tidak hanya mendapatkan motivasi, tetapi juga mendapatkan contoh nyata bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil.

Kalimat yang Akan Terus Terngiang di Hati Pembaca

> "Saya bukan siapa-siapa. Saya hanya guru biasa yang suka menulis. Tetapi saya percaya, tulisan kecil yang kita bagikan hari ini bisa menjadi inspirasi besar bagi seseorang di masa depan."



Kalimat sederhana itu menjadi ruh dari keseluruhan buku.

Kesimpulan

"Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi" bukan sekadar buku tentang menulis.

Ini adalah buku tentang harapan.

Tentang mimpi yang diwujudkan melalui konsistensi.

Tentang seorang guru yang membuktikan bahwa tulisan mampu mengubah kehidupan.

Jika Anda sedang mencari buku yang mampu membangkitkan semangat berkarya, menggerakkan hati untuk mulai menulis, dan membuat Anda percaya bahwa setiap orang memiliki kisah berharga untuk dibagikan, maka buku ini wajib ada di rak buku Anda.

⭐⭐⭐⭐⭐ 5/5

Satu buku yang tidak hanya menginspirasi Anda untuk menulis, tetapi juga menginspirasi Anda untuk mengubah hidup melalui tulisan. 📖✨

"Menulislah setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi." — Omjay.

Rabu, 03 Juni 2026

Pemanfaatan AI untuk Menulis

Berikut artikel yang dapat digunakan untuk materi KBMN PGRI maupun dipublikasikan di blog.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34: Pemanfaatan AI untuk Menulis.

Berikut artikel yang dapat digunakan untuk materi KBMN PGRI maupun dipublikasikan di blog.


Pemanfaatan AI untuk Menulis: Menjadikan Teknologi sebagai Sahabat Literasi


Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia


Perkembangan teknologi telah mengubah banyak aspek kehidupan manusia, termasuk dunia literasi dan kepenulisan. Jika dahulu seorang penulis harus menghabiskan waktu berjam-jam mencari referensi di perpustakaan, kini berbagai informasi dapat diperoleh dalam hitungan detik melalui internet. Bahkan saat ini hadir teknologi yang lebih canggih lagi, yaitu Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan, yang mampu membantu manusia dalam berbagai pekerjaan, termasuk menulis.


Banyak orang masih bertanya-tanya, apakah AI akan menggantikan penulis? Apakah guru, dosen, mahasiswa, siswa, blogger, dan penulis profesional akan kehilangan perannya?


Jawabannya adalah tidak.


AI hanyalah alat bantu. Seperti halnya komputer, internet, atau mesin pencari, AI hadir untuk membantu manusia bekerja lebih cepat dan lebih efektif. Kreativitas, empati, pengalaman hidup, dan sentuhan hati tetap menjadi milik manusia yang tidak dapat digantikan oleh mesin.


Mengenal AI dalam Dunia Menulis


Artificial Intelligence adalah teknologi yang dirancang untuk meniru kemampuan berpikir manusia. AI mampu memahami perintah, mengolah data, menganalisis informasi, hingga menghasilkan teks berdasarkan instruksi yang diberikan.


Saat ini banyak aplikasi AI yang dapat membantu penulis, seperti:


- ChatGPT

- Gemini

- Claude

- Copilot

- Perplexity AI

- DeepSeek


Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Namun pada prinsipnya, semuanya dapat digunakan untuk membantu proses menulis.


Sebagai Guru Blogger Indonesia, Omjay melihat AI sebagai sahabat baru bagi para penulis. AI dapat membantu mempercepat pekerjaan, tetapi bukan menggantikan peran penulis.


Pengalaman Omjay Menggunakan AI


Awalnya Omjay termasuk orang yang penasaran dengan perkembangan AI. Sebagai guru Informatika, Omjay merasa perlu mempelajari teknologi baru agar tidak tertinggal zaman.


Ketika pertama kali mencoba AI, Omjay meminta bantuan membuat kerangka tulisan. Hasilnya cukup mengejutkan. Dalam hitungan detik AI mampu membuat daftar isi yang biasanya memerlukan waktu cukup lama.


Namun Omjay segera menyadari satu hal penting.


Tulisan yang dihasilkan AI akan terasa datar apabila tidak diberi sentuhan pengalaman pribadi. Tulisan menjadi hidup ketika penulis memasukkan kisah nyata, emosi, refleksi, dan pelajaran hidup yang pernah dialaminya.


Sejak saat itu Omjay menggunakan AI bukan sebagai pengganti menulis, melainkan sebagai asisten pribadi yang membantu mempercepat proses kreatif.


Manfaat AI untuk Menulis


1. Membantu Mencari Ide Tulisan


Sering kali seorang penulis mengalami kebuntuan ide.


AI dapat membantu memberikan berbagai topik menarik yang dapat dikembangkan menjadi artikel, buku, atau materi pembelajaran.


Misalnya ketika ingin menulis tentang pendidikan, AI dapat memberikan puluhan ide judul yang relevan dengan kondisi saat ini.


2. Membuat Kerangka Tulisan


Banyak orang kesulitan memulai tulisan karena tidak tahu harus memulai dari mana.


AI dapat membantu menyusun:


- Judul

- Pendahuluan

- Subjudul

- Kesimpulan


Dengan adanya kerangka tulisan, penulis akan lebih mudah mengembangkan isi tulisan.


3. Membantu Menyusun Kalimat


AI dapat membantu memperbaiki struktur kalimat sehingga lebih jelas dan mudah dipahami pembaca.


Hal ini sangat membantu bagi penulis pemula yang masih belajar menyusun tulisan dengan baik.


4. Membantu Meringkas Informasi


Saat membaca artikel atau dokumen yang panjang, AI dapat membantu membuat ringkasan sehingga penulis lebih cepat memahami isi bacaan.


Waktu yang biasanya digunakan berjam-jam dapat dipersingkat menjadi beberapa menit saja.


5. Membantu Mengoreksi Tulisan


AI dapat membantu memeriksa:


- Kesalahan ejaan

- Tata bahasa

- Struktur paragraf

- Konsistensi tulisan


Namun hasil koreksi tetap harus diperiksa kembali oleh penulis.


6. Membantu Membuat Konten Pembelajaran


Bagi guru, AI sangat membantu dalam membuat:


- Modul ajar

- Soal latihan

- Rubrik penilaian

- Presentasi

- Ringkasan materi


Sehingga guru memiliki lebih banyak waktu untuk fokus pada proses pembelajaran.


Bahaya Menggunakan AI Tanpa Bijak


Walaupun memiliki banyak manfaat, penggunaan AI juga memiliki risiko apabila tidak digunakan dengan bijaksana.


1. Menjadi Malas Berpikir


Jika semua pekerjaan diserahkan kepada AI, kemampuan berpikir kritis akan menurun.


Penulis harus tetap aktif membaca, menganalisis, dan mengembangkan ide sendiri.


2. Informasi Tidak Selalu Benar


AI bisa saja memberikan informasi yang kurang akurat.


Karena itu setiap informasi yang diperoleh perlu diverifikasi kembali dari sumber yang terpercaya.


3. Kehilangan Identitas Penulis


Tulisan yang sepenuhnya dibuat AI sering kali terasa kaku dan kurang memiliki jiwa.


Pembaca sebenarnya dapat merasakan apakah sebuah tulisan lahir dari pengalaman nyata atau hanya hasil olahan mesin.


Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar dengan AI


Inilah pesan yang selalu Omjay sampaikan kepada para peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN).


AI memang canggih.


AI memang cepat.


AI memang membantu.


Tetapi AI tidak memiliki hati.


AI tidak pernah merasakan perjuangan seorang guru yang mengajar puluhan tahun.


AI tidak pernah menangis ketika kehilangan orang yang dicintai.


AI tidak pernah merasakan haru ketika melihat muridnya sukses.


Semua pengalaman hidup itu hanya dimiliki manusia.


Karena itulah tulisan terbaik akan lahir ketika teknologi bertemu dengan hati.


AI dapat membantu menyiapkan bahan baku tulisan, tetapi manusialah yang memberi rasa dan makna pada setiap kata.


Masa Depan Penulis di Era AI


Banyak orang takut profesi penulis akan hilang karena AI.


Kekhawatiran itu sebenarnya tidak perlu berlebihan.


Sejarah menunjukkan bahwa setiap teknologi baru justru melahirkan peluang baru.


Ketika komputer hadir, profesi penulis tidak hilang.


Ketika internet hadir, profesi penulis juga tidak hilang.


Demikian pula ketika AI hadir.


Yang akan tertinggal bukanlah penulis yang menggunakan AI, melainkan penulis yang menolak belajar teknologi.


Karena itu, tugas kita bukan melawan AI.


Tugas kita adalah belajar memanfaatkan AI secara bijaksana.


Penulis masa depan adalah mereka yang mampu menggabungkan kreativitas manusia dengan kecerdasan teknologi.


Penutup


AI adalah alat bantu yang luar biasa dalam dunia kepenulisan. Dengan AI, proses mencari ide, menyusun kerangka, mengoreksi tulisan, hingga membuat materi pembelajaran dapat dilakukan dengan lebih cepat dan efisien.


Namun kita harus selalu ingat bahwa AI hanyalah alat.


Tulisan yang menginspirasi lahir dari pengalaman, ketulusan, dan sentuhan hati manusia.


Karena itu, gunakanlah AI sebagai sahabat menulis, bukan sebagai pengganti berpikir.


Teruslah membaca.


Teruslah belajar.


Teruslah menulis setiap hari.


Dan seperti yang sering Omjay katakan kepada para sahabat penulis di seluruh Indonesia:


"Menulislah dengan hati, bukan sekadar dengan AI. Sebab teknologi dapat membantu menulis, tetapi hanya hati yang mampu menyentuh hati."Semoga artikel ini bermanfaat untuk materi Pertemuan ke-19 KBMN PGRI Gelombang 34: Pemanfaatan AI untuk Menulis.

Kenangan Seminar Guru TIK

Ketika Guru TIK Menyambut Lahirnya Mata Pelajaran Informatika

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali mengingatkan saya pada sebuah peristiwa penting dalam perjalanan pendidikan Indonesia. Sebuah momen yang mungkin tidak banyak diketahui orang, tetapi memiliki arti sangat besar bagi para guru Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) di seluruh Indonesia.

Di dalam foto tersebut tampak para guru TIK berdiri bersama penuh semangat dalam sebuah kegiatan bertajuk “Seminar Nasional Guru Informatika: Penguatan Guru TIK dalam Menyambut Mata Pelajaran Informatika.”

Di belakang para peserta terpampang spanduk besar bertuliskan ucapan selamat datang kepada peserta seminar nasional. Wajah-wajah yang hadir saat itu memancarkan harapan. Mereka datang dari berbagai daerah dengan satu tujuan yang sama: memperjuangkan agar kompetensi guru TIK tetap dibutuhkan dan menjadi bagian penting dalam masa depan pendidikan Indonesia.

Saat itu, dunia pendidikan sedang berada pada persimpangan jalan. Mata pelajaran TIK yang pernah diajarkan di sekolah mengalami berbagai dinamika kebijakan. Banyak guru TIK merasa cemas. Mereka bertanya-tanya tentang masa depan profesinya.

Namun di tengah kegelisahan tersebut, secercah harapan muncul.

Pemerintah mulai menggagas lahirnya mata pelajaran Informatika, sebuah bidang ilmu yang lebih luas daripada sekadar penggunaan komputer. Informatika mengajarkan cara berpikir komputasional, pemrograman, analisis data, kecerdasan buatan, hingga literasi digital yang kini menjadi kebutuhan abad ke-21.

Sebagai guru yang sejak lama mengajar bidang teknologi, saya merasakan betul bagaimana suasana hati para guru ketika itu.

Ada rasa khawatir.

Ada rasa tidak pasti.

Tetapi juga ada semangat untuk belajar kembali.

Karena seorang guru sejati tidak pernah berhenti belajar.

Seminar nasional yang terekam dalam foto tersebut menjadi salah satu momentum bersejarah. Kegiatan itu dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd., yang sejak lama dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menegaskan bahwa guru harus menjadi aktor utama perubahan pendidikan dan harus siap menghadapi transformasi digital.

Kehadiran Prof. Unifah memberikan energi baru bagi para guru TIK.

Beliau memahami bahwa perubahan kurikulum tidak boleh membuat guru kehilangan harapan. Sebaliknya, perubahan harus menjadi kesempatan untuk meningkatkan kompetensi dan memperluas wawasan.

Di seminar tersebut para guru diajak melihat masa depan pendidikan dengan lebih optimis.

Bahwa teknologi bukan ancaman.

Bahwa digitalisasi bukan sesuatu yang harus ditakuti.

Bahwa guru tetap menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan.

Selain dibuka oleh Ketua Umum PB PGRI, kegiatan tersebut juga mendapat kehormatan dengan hadirnya Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia saat itu, Rudiantara. Kehadiran beliau menjadi simbol kuat bahwa penguatan literasi digital harus dimulai dari sekolah dan guru memiliki peran sentral dalam menyiapkan generasi Indonesia menghadapi era digital. Seminar tersebut juga mendorong guru Informatika untuk membekali peserta didik dengan kemampuan literasi digital yang baik.

Saya masih ingat suasana ruangan saat itu.

Para peserta mendengarkan dengan penuh perhatian.

Mereka sadar bahwa dunia sedang berubah dengan sangat cepat.

Internet berkembang pesat.

Media sosial mulai mendominasi kehidupan masyarakat.

Big data, cloud computing, dan kecerdasan buatan mulai diperbincangkan.

Anak-anak yang duduk di bangku sekolah saat itu kelak akan hidup di dunia yang jauh berbeda dari generasi sebelumnya.

Karena itulah guru harus berubah.

Guru harus belajar lagi.

Guru harus meningkatkan kompetensinya.

Di sinilah peran seminar nasional tersebut menjadi sangat penting.

Bukan sekadar acara seremonial.

Bukan hanya kumpul-kumpul guru.

Tetapi menjadi ruang belajar bersama untuk mempersiapkan masa depan.

Saya melihat banyak guru yang awalnya khawatir justru pulang dengan penuh semangat.

Mereka mulai mengikuti pelatihan coding.

Belajar pemrograman.

Memahami computational thinking.

Belajar kecerdasan buatan.

Belajar keamanan siber.

Belajar literasi digital.

Bahkan banyak yang kemudian menjadi pelopor pembelajaran Informatika di sekolah masing-masing.

Hari ini, ketika mata pelajaran Informatika telah menjadi bagian penting dalam sistem pendidikan Indonesia, saya sering mengenang kembali momen yang ada dalam foto tersebut.

Foto itu bukan sekadar gambar.

Foto itu adalah saksi sejarah.

Saksi perjuangan para guru yang tidak menyerah pada perubahan.

Saksi bahwa guru Indonesia memiliki daya juang luar biasa.

Saksi bahwa ketika diberi kesempatan belajar, guru Indonesia mampu berkembang dengan sangat cepat.

Sebagai Guru Blogger Indonesia, saya merasa bersyukur pernah menjadi bagian dari perjalanan itu.

Perjalanan yang mengajarkan bahwa perubahan tidak bisa dihindari.

Tetapi perubahan bisa dihadapi.

Bahkan perubahan bisa menjadi peluang besar jika kita mau belajar.

Kini kita memasuki era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence). Tantangan baru kembali muncul. Banyak guru bertanya apakah AI akan menggantikan guru.

Jawabannya tidak.

AI tidak akan menggantikan guru.

Tetapi guru yang mampu memanfaatkan AI akan menggantikan guru yang tidak mau belajar.

Pesan itulah yang sesungguhnya telah diajarkan sejak seminar nasional dalam foto tersebut.

Bahwa kompetensi harus terus diperbarui.

Bahwa belajar tidak mengenal usia.

Bahwa guru harus selalu berada di garis depan perubahan.

Ketika saya memandang foto lama itu, hati saya terasa hangat.

Saya melihat bukan hanya wajah-wajah guru.

Saya melihat pejuang pendidikan.

Saya melihat orang-orang yang rela meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran untuk mempersiapkan masa depan anak bangsa.

Dan saya percaya, selama masih ada guru yang mau belajar, Indonesia akan selalu memiliki harapan.

Karena di balik setiap kemajuan teknologi, tetap ada seorang guru yang mengajarkan cara menggunakannya dengan bijak.

Di balik setiap kecerdasan buatan, tetap ada guru yang menanamkan nilai kemanusiaan.

Dan di balik setiap generasi hebat, selalu ada guru yang tidak pernah berhenti belajar.

Terima kasih para guru TIK.

Terima kasih para guru Informatika.

**Kalian bukan sekadar mengajarkan teknologi. Kalian sedang membangun masa depan Indonesia.**