Kisah Omjay: Ketika Tubuh Memberi Sinyal, Sudahkah Kita Mau Mendengarkan?
Sore itu, setelah pulang dari Rapat Kerja (Raker) SMP Labschool Jakarta, saya duduk sejenak untuk melepas lelah. Hari itu terasa begitu padat. Bersama kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan, kami berdiskusi tentang berbagai program yang akan membawa SMP Labschool Jakarta menjadi sekolah yang semakin unggul. Ketika membuka ponsel, saya menemukan sebuah gambar sederhana berjudul "Faktor Utama yang Membuat Tubuh Tidak Sehat". Gambar itu memuat empat penyebab utama menurunnya kesehatan, yaitu pola makan yang buruk, kurang bergerak, kurang tidur, dan stres yang tidak terkelola. Semakin lama saya memandang gambar tersebut, semakin saya merasa seolah-olah tubuh saya sendiri sedang berbicara dan mengingatkan saya agar tidak mengabaikan kesehatannya.
Sebagai guru yang telah mengabdi lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya menyadari bahwa kesehatan sering kali baru benar-benar dihargai ketika mulai terganggu. Saat usia masih muda, tubuh terasa begitu kuat. Begadang hingga larut malam demi menyusun perangkat pembelajaran atau menulis artikel masih sanggup dilakukan. Sarapan sering dilewati karena terburu-buru mengejar kendaraan menuju sekolah. Duduk berjam-jam di depan komputer atau mengetik artikel melalui telepon genggam terasa biasa saja. Namun waktu mengajarkan saya bahwa tubuh memiliki batas. Ketika batas itu dilampaui, tubuh mulai mengirimkan sinyal yang tidak boleh diabaikan.
Saya pernah merasakan bagaimana diabetes, tekanan darah tinggi, hingga vertigo membuat aktivitas sehari-hari menjadi sangat terbatas. Bahkan beberapa kali saya harus menjalani perawatan di rumah sakit. Pengalaman tersebut mengubah cara pandang saya terhadap kesehatan. Saya semakin yakin bahwa penyakit tidak datang secara tiba-tiba. Penyakit hadir sebagai akumulasi dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang kita lakukan setiap hari. Apa yang ditampilkan dalam gambar itu benar adanya. Pola makan yang buruk, kurang bergerak, kurang tidur, dan stres yang berkepanjangan menjadi pintu masuk berbagai penyakit kronis apabila kita tidak segera mengubah gaya hidup.
Hal pertama yang saya renungkan adalah pola makan. Dulu saya termasuk penyuka makanan manis dan gorengan. Minuman kemasan, makanan cepat saji, dan camilan tinggi gula sering menjadi teman ketika bekerja. Alasannya sederhana, praktis dan mudah didapat. Padahal tubuh membutuhkan makanan bergizi, bukan sekadar makanan yang mengenyangkan. Setelah divonis menderita diabetes, saya mulai belajar mengurangi gula, memperbanyak sayur, buah, ikan, serta minum air putih. Perubahan itu memang tidak mudah, tetapi saya merasakan manfaatnya. Tubuh menjadi lebih segar dan kadar gula darah lebih terkontrol.
Hal kedua adalah kurang bergerak. Sebagai guru sekaligus penulis, saya sering menghabiskan waktu berjam-jam duduk di depan layar. Ketika sedang asyik menulis, saya bahkan lupa berdiri. Kebiasaan itu ternyata sangat berbahaya. Kini saya membiasakan berjalan kaki lebih banyak, memanfaatkan tangga di stasiun LRT, mengikuti senam Ling Tien Kung setiap pekan, serta menyempatkan bergerak di sela-sela aktivitas mengajar. Saya menyadari bahwa tubuh diciptakan untuk bergerak, bukan hanya duduk sepanjang hari.
Poin ketiga yang sangat menyentuh hati saya adalah kurang tidur. Banyak guru memiliki kebiasaan begadang demi menyelesaikan administrasi, membuat soal, memeriksa tugas, atau menulis. Saya pun pernah mengalaminya. Rasanya waktu dua puluh empat jam sehari tidak pernah cukup. Namun setelah beberapa kali mengalami gangguan kesehatan, saya mulai belajar mengatur waktu. Saya ingin tetap produktif menulis, tetapi tidak lagi mengorbankan waktu istirahat. Tidur yang cukup ternyata menjadi investasi penting agar tubuh mampu memperbaiki diri dan kembali bugar keesokan harinya.
Bagian terakhir yang paling sering dialami banyak orang adalah stres yang tidak terkelola. Menjadi guru bukan pekerjaan yang ringan. Tanggung jawab mendidik anak-anak bangsa, menyelesaikan administrasi, mengikuti berbagai pelatihan, hingga memenuhi harapan keluarga sering kali menghadirkan tekanan yang tidak sedikit. Saya bersyukur memiliki satu terapi yang sangat ampuh, yaitu menulis. Ketika hati terasa sesak, saya menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ketika pikiran terasa penuh, saya menuliskannya menjadi artikel yang dapat dibaca banyak orang. Menulis bukan hanya menghasilkan buku dan artikel, tetapi juga menjadi obat bagi jiwa saya.
Sejak rutin menulis setiap hari, saya merasakan hidup menjadi lebih tenang. Pikiran yang semula kusut perlahan menjadi jernih. Banyak pembaca yang mengirimkan pesan bahwa tulisan-tulisan saya memberi semangat untuk terus berkarya dan menjaga kesehatan. Hal itu membuat saya semakin yakin bahwa berbagi pengalaman adalah bagian dari ibadah dan bentuk rasa syukur atas nikmat yang Allah SWT berikan.
Karena itulah saya ingin mengajak para guru, sahabat, dan seluruh pembaca untuk mulai memperhatikan empat hal sederhana yang terdapat pada gambar tersebut. Mari kita memperbaiki pola makan dengan mengurangi gula, garam, dan makanan cepat saji. Luangkan waktu untuk bergerak dan berolahraga setiap hari. Tidurlah dengan cukup agar tubuh memiliki kesempatan memperbaiki dirinya. Kelola stres dengan cara yang positif melalui ibadah, olahraga, membaca, menulis, atau berkumpul bersama keluarga tercinta.
Saya percaya perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Jangan menunggu tubuh memberikan peringatan keras baru kita berubah. Dengarkan sinyal-sinyal kecil yang diberikan tubuh mulai hari ini. Tubuh yang sehat akan membuat kita mampu mengajar dengan penuh semangat, menulis dengan hati, dan menginspirasi lebih banyak orang.
Bagi sahabat yang ingin membaca lebih banyak kisah inspiratif tentang dunia pendidikan, kesehatan, literasi, perjalanan hidup, serta pengalaman saya sebagai Guru Blogger Indonesia, silakan berkunjung ke blog pribadi saya di https://wijayalabs.com. Di sana saya berbagi pengalaman nyata dengan harapan semakin banyak orang terdorong untuk terus belajar, terus menulis, dan terus menjaga kesehatan. Sebab saya selalu percaya, menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi, tetapi jangan pernah lupa menjaga kesehatan, karena tubuh yang sehat adalah modal utama untuk terus berkarya dan menginspirasi negeri.