Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 20 Mei 2026

Air Mata dan Kegelisahan Guru Honorer di Ujung Tahun 2026

Air Mata Guru Honorer di Ujung Tahun 2026: Mengabdi Puluhan Tahun, Kini Dihantui Ketidakpastian

Suasana ruang guru di banyak sekolah terasa berbeda sejak terbitnya Surat Edaran Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Nomor 7 Tahun 2026. Di tengah aktivitas belajar mengajar yang tetap berjalan seperti biasa, tersimpan kegelisahan yang sulit disembunyikan dari wajah para guru honorer. Sebagian membaca isi surat edaran itu dengan tangan gemetar. Sebagian lainnya hanya terdiam lama setelah mengetahui bahwa penugasan guru non-ASN masih diperbolehkan hingga 31 Desember 2026.

Bagi masyarakat umum, surat edaran itu mungkin terlihat seperti dokumen administratif biasa. Namun bagi ribuan guru honorer di Indonesia, satu kalimat di dalamnya terasa seperti alarm yang mengingatkan bahwa masa pengabdian mereka bisa saja segera berakhir tanpa kepastian yang jelas.

Tidak sedikit guru honorer yang mengaku menangis setelah membaca isi aturan tersebut. Mereka merasa cemas memikirkan masa depan. Selama bertahun-tahun mereka telah mengabdi di sekolah negeri dengan penuh kesetiaan, tetapi kini mereka dihantui pertanyaan besar: setelah tahun 2026, apakah mereka masih memiliki tempat untuk mengajar?

Kegelisahan itu bukan tanpa alasan. Banyak guru honorer sudah mengabdikan hidupnya belasan bahkan puluhan tahun untuk dunia pendidikan. Mereka hadir paling pagi di sekolah dan sering pulang paling akhir. Mereka membantu murid memahami pelajaran, membimbing kegiatan sekolah, mendampingi lomba, hingga mengurus administrasi pendidikan yang terus bertambah dari tahun ke tahun.

Ironisnya, pengabdian sebesar itu sering kali tidak diiringi kesejahteraan yang memadai.

Masih banyak guru honorer yang menerima honor jauh di bawah kebutuhan hidup layak. Ada yang hanya menerima ratusan ribu rupiah setiap bulan. Bahkan di beberapa daerah, honor guru honorer dibayarkan tidak menentu. Namun mereka tetap bertahan. Bukan karena pekerjaan itu menjanjikan kekayaan, tetapi karena mereka mencintai dunia pendidikan.

Di desa-desa terpencil, guru honorer tetap datang ke sekolah meski harus melewati jalan rusak, menyeberangi sungai, atau mengendarai motor tua yang sering mogok di tengah perjalanan. Mereka tetap mengajar dengan senyum meski di rumah sendiri terkadang kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada guru honorer yang menggunakan uang pribadi untuk membeli spidol, kertas, bahkan membantu murid yang tidak mampu membeli buku. Ada pula yang rela menahan keinginan pribadi demi memastikan kegiatan belajar mengajar tetap berjalan baik.

Pengorbanan itu sering tidak terlihat.

Masyarakat hanya melihat guru berdiri di depan kelas. Padahal di balik itu, ada perjuangan panjang yang penuh air mata dan pengorbanan.

Kini, setelah muncul batas penugasan hingga akhir 2026, banyak guru honorer mulai dilanda kecemasan mendalam. Mereka takut kehilangan pekerjaan yang selama ini menjadi satu-satunya sumber penghasilan. Lebih dari itu, mereka takut kehilangan identitas sebagai seorang pendidik.

“Kalau tahun depan saya tidak mengajar lagi, saya harus kerja apa?” Pertanyaan itu mulai sering terdengar di ruang guru.

Bagi guru honorer yang masih muda, mungkin peluang mencari pekerjaan lain masih terbuka. Namun bagaimana dengan mereka yang sudah berusia di atas 40 atau 50 tahun? Setelah puluhan tahun mengajar, tentu tidak mudah memulai hidup baru dari nol.

Sebagian guru honorer bahkan tidak memiliki keterampilan lain selain mengajar. Hidup mereka telah sepenuhnya didedikasikan untuk sekolah dan murid-muridnya. Mereka menghabiskan usia produktif demi membantu negara mencerdaskan generasi bangsa.

Karena itulah, kegelisahan para guru honorer bukan sekadar soal kehilangan pekerjaan. Ini tentang rasa takut menghadapi masa depan yang gelap setelah pengabdian panjang yang belum tentu dihargai secara layak.

Di media sosial, banyak masyarakat menyampaikan simpati dan dukungan kepada para guru honorer. Tidak sedikit orang tua murid yang merasa sedih membayangkan guru-guru anak mereka harus berhenti mengajar. Sebab mereka tahu, di banyak sekolah justru guru honorer menjadi tulang punggung kegiatan belajar mengajar.

Ada sekolah yang kekurangan guru ASN sehingga hampir seluruh aktivitas pendidikan ditangani guru honorer. Mereka mengajar berbagai mata pelajaran, menjadi wali kelas, hingga mengurus kegiatan ekstrakurikuler.

Tanpa guru honorer, banyak sekolah sebenarnya akan kesulitan menjalankan proses pendidikan secara normal.

Karena itu, masyarakat berharap pemerintah tidak hanya melihat persoalan ini dari sisi administrasi kepegawaian semata. Di balik angka dan data, ada manusia-manusia yang telah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan Indonesia.

Pemerintah tentu memiliki tantangan besar dalam menata sistem pendidikan nasional. Penataan tenaga pendidik memang penting agar sesuai aturan dan kebutuhan jangka panjang. Namun masyarakat juga berharap kebijakan yang diambil tetap mempertimbangkan sisi kemanusiaan dan rasa keadilan bagi para guru honorer yang telah lama mengabdi.

Banyak pihak berharap ada solusi yang bijaksana dan manusiawi. Misalnya dengan memberikan jalur afirmasi yang adil, perlindungan kesejahteraan, pelatihan keterampilan tambahan, atau skema khusus bagi guru honorer yang telah lama mengabdi.

Sebab bagaimanapun, mereka bukan sekadar tenaga kerja biasa. Mereka adalah orang-orang yang ikut membentuk masa depan bangsa melalui pendidikan.

Anak-anak Indonesia belajar membaca, menulis, berhitung, bermimpi, dan mengenal masa depan dari tangan para guru. Termasuk dari tangan guru honorer yang selama ini bekerja dalam keterbatasan.

Sering kali kita lupa bahwa di balik kesuksesan seorang murid, ada guru yang diam-diam berjuang tanpa banyak sorotan.

Guru honorer tidak meminta hidup mewah. Mereka tidak menuntut fasilitas berlebihan. Yang mereka harapkan sebenarnya sederhana: kepastian untuk tetap mengabdi dan menjalani hidup dengan lebih tenang.

Mereka ingin tetap berdiri di depan kelas tanpa dihantui rasa takut bahwa suatu hari nanti pengabdian mereka akan berhenti begitu saja.

Karena sesungguhnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung sekolah megah, tetapi juga bangsa yang menghargai orang-orang yang dengan tulus mengajar di dalamnya.

Dan hari ini, ribuan guru honorer di Indonesia sedang menunggu satu hal yang paling mereka harapkan: kepastian bahwa pengabdian panjang mereka tidak akan berakhir dengan air mata.

Selasa, 19 Mei 2026

Omjay Guru Biasa Dengan Kisah Luar Biasa

Guru Biasa dengan Kisah Luar Biasa

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

“Omjay, saya bingung mau menulis apa. Hidup saya biasa saja.”

Kalimat itu sering sekali saya dengar dari para guru. Mereka merasa tidak punya pengalaman hebat. Tidak pernah menjadi pembicara internasional. Tidak pernah viral di media sosial. Tidak punya penghargaan nasional. Bahkan ada yang berkata lirih kepada saya, “Saya hanya guru biasa.”

Padahal justru di situlah letak keistimewaannya.

Saya tersenyum setiap mendengar kalimat itu. Sebab saya tahu, banyak guru tidak sadar bahwa ruang kelas kecil yang setiap hari mereka masuki sesungguhnya menyimpan ribuan kisah luar biasa. Kisah yang mungkin sederhana, tetapi mampu menyentuh hati banyak orang.

Saya teringat seorang guru di daerah pinggiran yang pernah menghubungi saya lewat WhatsApp. Ia mengatakan ingin belajar menulis, tetapi merasa minder.

“Omjay, murid saya biasa saja. Sekolah saya juga kecil. Tidak ada cerita menarik.”

Saya lalu bertanya sederhana.

“Apakah Ibu pernah membantu murid yang menangis?”

“Iya, sering.”

“Apakah Ibu pernah membelikan makanan untuk siswa yang lupa membawa bekal?”

“Iya pernah.”

“Apakah Ibu pernah merasa sedih ketika murid tidak masuk sekolah karena membantu orang tuanya bekerja?”

“Iya, pernah sekali sampai saya menangis.”

Saya lalu berkata pelan kepadanya:

“Itulah tulisan yang paling berharga.”

Tiba-tiba ia terdiam.

Banyak guru mengira tulisan hebat harus penuh teori, data rumit, atau bahasa tinggi. Padahal tulisan yang paling kuat justru lahir dari kejujuran hati. Dari pengalaman nyata. Dari perjuangan sederhana yang manusiawi.

Tulisan yang mampu membuat pembaca berkata, “Saya pernah merasakan itu.”

Menjadi guru bukan hanya soal mengajar matematika, bahasa Indonesia, atau informatika. Menjadi guru adalah perjalanan emosi yang panjang. Ada tawa. Ada lelah. Ada kecewa. Ada harapan. Semua itu adalah bahan tulisan yang tidak akan pernah habis.

Saya sendiri belajar banyak dari ruang kelas.

Dulu ketika mulai menulis blog, saya juga tidak merasa punya kisah istimewa. Saya hanya guru biasa yang setiap hari berangkat pagi, mengajar, lalu pulang sore. Namun ketika saya mulai menulis pengalaman sederhana, ternyata banyak orang merasa dekat.

Saya pernah menulis tentang murid yang tertidur di kelas karena semalaman membantu orang tuanya berjualan. Ada juga kisah tentang siswa yang diam-diam menyimpan surat kecil berisi ucapan terima kasih kepada gurunya. Hal-hal sederhana seperti itu justru membuat pembaca terharu.

Karena manusia selalu tersentuh oleh ketulusan.

Kadang guru tidak sadar bahwa dirinya sedang menjadi cahaya bagi orang lain.

Seorang guru mungkin lupa apa yang dia ajarkan hari itu. Namun murid bisa mengingat selamanya cara gurunya tersenyum, memberi semangat, atau memaafkan kesalahan mereka.

Itulah mengapa pengalaman guru sangat layak ditulis.

Jangan tunggu menjadi terkenal untuk mulai menulis.

Jangan tunggu sempurna untuk mulai berkarya.

Tulislah sekarang. Tulislah apa yang dilihat, dirasakan, dan diperjuangkan setiap hari.

Bisa jadi tulisan sederhana itu menjadi penguat bagi guru lain yang hampir menyerah.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang gajinya sangat kecil. Untuk pergi ke sekolah saja ia harus naik motor tua puluhan kilometer setiap hari. Ketika saya bertanya mengapa masih bertahan menjadi guru, jawabannya membuat hati saya diam lama.

“Karena saya ingin anak-anak di kampung saya punya masa depan lebih baik.”

Kalimat itu sederhana. Namun ketika ditulis dengan hati, ia mampu mengguncang perasaan pembaca.

Banyak orang mungkin melihat guru hanya berdiri di depan kelas. Tetapi sesungguhnya guru sedang menjaga masa depan bangsa sedikit demi sedikit.

Ada guru yang diam-diam menahan sakit demi tetap mengajar.

Ada guru yang tetap tersenyum meski masalah hidupnya berat.

Ada guru yang menggunakan uang pribadinya untuk membantu murid membeli buku.

Ada guru yang pulang paling akhir karena memastikan siswanya aman.

Bukankah semua itu layak dituliskan?

Menulis bukan tentang siapa yang paling pintar merangkai kata. Menulis adalah keberanian membagikan makna hidup kepada orang lain.

Tulisan guru memiliki kekuatan karena lahir dari pengalaman nyata. Tidak dibuat-buat. Tidak penuh pencitraan. Apa adanya, tetapi mengandung nilai kehidupan.

Saya percaya, setiap guru sesungguhnya adalah penulis kehidupan.

Ruang kelas adalah perpustakaan cerita.

Papan tulis adalah saksi perjuangan.

Dan murid-murid adalah halaman-halaman kenangan yang tidak akan pernah habis dibaca.

Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk mulai menulis dari hal paling sederhana.

Tulislah tentang murid yang membuat Anda tersenyum hari ini.

Tulislah tentang rasa haru ketika siswa akhirnya bisa membaca.

Tulislah tentang perjuangan datang ke sekolah saat hujan deras.

Tulislah tentang kegagalan, lalu bagaimana Anda bangkit kembali.

Percayalah, tulisan yang keluar dari hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca.

Di era digital seperti sekarang, guru tidak boleh hanya menjadi pembaca. Guru juga harus menjadi pencipta karya. Sebab tulisan guru bukan sekadar rangkaian kata, tetapi jejak perjuangan yang akan dikenang sepanjang masa.

Mungkin hari ini tulisan itu hanya dibaca beberapa orang.

Namun siapa tahu, suatu hari nanti ada seseorang yang kembali bersemangat hidup karena membaca pengalaman sederhana seorang guru.

Dan bukankah itu sudah sangat berarti?

Saya selalu percaya, guru yang menulis bukan hanya sedang mengabadikan cerita. Ia sedang menyalakan harapan.

Maka jangan pernah berkata:

“Saya tidak punya kisah istimewa.”

Karena sesungguhnya, setiap guru adalah kisah istimewa itu sendiri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Copy-Paste AI



Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Copy-Paste AI

Kisah Omjay di Tengah Gelombang Kecerdasan Buatan

Di sebuah ruang guru yang mulai lengang menjelang sore, Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay duduk memandangi layar laptopnya. Di depannya terbuka sebuah tulisan panjang yang tampak rapi, indah, dan nyaris tanpa kesalahan. Tulisan itu dibuat hanya dalam hitungan detik oleh ChatGPT.

Omjay tersenyum kecil.
Teknologi memang luar biasa.

Namun beberapa menit kemudian, senyumnya berubah menjadi renungan panjang ketika seorang guru muda menghampirinya sambil berkata:

“Omjay, sekarang menulis gampang ya. Tinggal buka ChatGPT, copy-paste, lalu posting. Cepat dapat pujian.”

Omjay terdiam.

Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi menyimpan kegelisahan besar tentang masa depan literasi. Sebagai guru yang puluhan tahun mencintai dunia menulis, Omjay tahu betul bahwa tulisan bukan sekadar kumpulan kata. Tulisan adalah rekaman jiwa manusia.

Omjay lalu mengingat perjalanan panjangnya ketika mulai belajar menulis dulu. Tidak ada AI. Tidak ada mesin pintar. Yang ada hanyalah buku-buku, pengalaman hidup, kegagalan, dan semangat belajar setiap hari.

Omjay pernah menulis hingga larut malam hanya untuk menghasilkan satu artikel sederhana. Kadang tulisannya ditolak media. Kadang tidak ada yang membaca. Bahkan tidak sedikit yang mengkritik.

Tetapi dari proses itulah lahir ketekunan.

“Menulis itu bukan soal cepat selesai,” kata Omjay pelan.
“Menulis itu perjalanan mengenal diri sendiri.”

Guru muda tadi tersenyum malu. Ia mulai memahami arah pembicaraan Omjay.

Omjay lalu menjelaskan bahwa ChatGPT memang alat luar biasa. AI bisa membantu mencari ide, menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, bahkan memberi inspirasi. Namun AI tetaplah alat bantu.

“Ibarat kamera,” ujar Omjay,
“kamera bisa memotret pemandangan indah, tetapi kamera tidak bisa menggantikan mata manusia yang mampu merasakan keharuan.”

Begitu pula AI.

AI bisa menghasilkan tulisan cepat, tetapi tidak bisa menggantikan pengalaman manusia yang pernah jatuh, gagal, menangis, bangkit, lalu belajar memahami kehidupan.

Omjay kemudian bercerita tentang seorang siswa yang pernah mengumpulkan tugas sangat bagus. Kalimatnya rapi. Bahasanya tinggi. Tetapi ketika ditanya isi tulisannya, siswa itu justru bingung menjelaskan.

Ternyata semua hasil copy-paste AI.

“Di situlah saya sedih,” kata Omjay.
“Anak itu kehilangan kesempatan belajar berpikir.”

Menurut Omjay, bahaya terbesar dari budaya copy-paste bukan hanya soal plagiarisme. Bahaya terbesarnya adalah hilangnya proses belajar. Orang menjadi ingin serba instan. Padahal karakter kuat justru lahir dari proses panjang.

Omjay mengibaratkan menulis seperti menanam pohon.

Kalau pohon plastik memang langsung jadi dan tampak indah. Tetapi ia tidak pernah tumbuh, tidak berbuah, dan tidak memberi keteduhan sejati.

Sedangkan pohon asli membutuhkan waktu. Harus disiram, dirawat, diterpa hujan, bahkan terkadang hampir mati. Namun dari proses itulah pohon menjadi kuat dan bermanfaat.

Begitu juga tulisan manusia.

Tulisan yang lahir dari hati akan terasa berbeda. Ada emosi di dalamnya. Ada pengalaman hidup. Ada napas kemanusiaan yang tidak bisa sepenuhnya digantikan mesin.

Omjay tidak anti teknologi. Justru ia termasuk guru yang aktif memanfaatkan teknologi untuk pendidikan. Ia percaya guru harus terus belajar mengikuti perkembangan zaman.

Namun ia juga percaya bahwa kecerdasan buatan tidak boleh mematikan kecerdasan manusia.

“AI boleh membantu menulis,” kata Omjay,
“tetapi jangan sampai AI mengambil alih hati dan pikiran kita.”

Di era sekarang, menurut Omjay, tantangan terbesar bukan lagi mencari informasi. Informasi sudah berlimpah di internet. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana manusia tetap jujur di tengah kemudahan teknologi.

Sebab sekarang orang bisa terlihat pintar hanya dengan sekali klik.

  • Bisa membuat artikel dalam hitungan detik.
  • Bisa membuat pidato tanpa berpikir panjang.
  • Bahkan bisa tampak produktif tanpa benar-benar berkarya.

Namun Omjay percaya, waktu akan selalu membedakan mana karya yang lahir dari proses dan mana yang sekadar hasil tempelan instan.

Pembaca yang berpengalaman biasanya dapat merasakan.

  • Tulisan asli manusia memiliki jiwa.
  • Kadang sederhana, tetapi menyentuh hati.
  • Kadang tidak sempurna, tetapi terasa hidup.

Sedangkan tulisan hasil copy-paste mentah dari AI sering terasa dingin. Kata-katanya indah, tetapi tidak memiliki kedalaman rasa.

Omjay lalu menatap para guru muda yang mendengarkannya sore itu.

Ia berkata dengan suara lembut:

“Gunakan AI sebagai teman belajar, bukan sebagai jalan pintas untuk mendapat pengakuan.”

Kalimat itu membuat suasana ruang guru menjadi hening.

Omjay memahami bahwa generasi hari ini hidup di zaman yang berbeda. Teknologi berkembang sangat cepat. Namun nilai kejujuran tetap tidak boleh hilang.

Ia berharap para guru mampu mengajarkan kepada siswa bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan teks, melainkan melatih:

  • berpikir,

  • merasakan,

  • memahami,

  • dan bertanggung jawab terhadap gagasan sendiri.

Sebab pada akhirnya, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang pandai membuat tulisan. Dunia membutuhkan manusia yang jujur dalam berkarya.

Menjelang magrib, Omjay menutup laptopnya perlahan.

Ia kembali tersenyum.

Teknologi boleh semakin canggih. AI boleh semakin pintar. Tetapi selama manusia masih mau berpikir, belajar, dan menulis dengan hati, maka ruh literasi tidak akan pernah mati.

Dan Omjay percaya, tulisan terbaik bukanlah tulisan yang paling cepat dibuat mesin, melainkan tulisan yang mampu membuat manusia lain merasa ditemani, dipahami, dan dikuatkan.

Karena itu, di tengah gelombang kecerdasan buatan, Omjay selalu mengingatkan:

“Menulis dengan bantuan AI itu boleh. Tetapi jangan pernah kehilangan suara asli diri sendiri.”


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi


waktu

Jam Kehidupan yang Hanya Diputar Sekali

Kisah Omjay dan Pelajaran Tentang Waktu

Pagi itu udara di sekolah masih terasa sejuk. Matahari belum sepenuhnya naik ketika Omjay melangkahkan kaki memasuki halaman sekolah. Beberapa siswa terlihat berjalan tergesa sambil membawa tas besar di punggung mereka. Ada yang masih mengantuk, ada yang sibuk bercanda, dan ada pula yang berjalan sambil menatap layar ponsel.

Omjay hanya tersenyum.

Di tangannya ada secangkir kopi hangat dan sebuah buku kecil berisi catatan harian. Seperti biasa, sebelum memulai aktivitas, beliau duduk sejenak di ruang guru sambil merenung tentang kehidupan.

Hari itu beliau membaca sebuah kalimat sederhana:

> “Jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.”

Kalimat itu tampak singkat, tetapi terasa begitu dalam menghunjam hati. Omjay terdiam cukup lama. Beliau membayangkan perjalanan hidupnya selama ini. Dari seorang guru biasa, kemudian dikenal banyak orang sebagai Guru Blogger Indonesia, hingga akhirnya mampu menulis ribuan artikel yang menginspirasi banyak guru di seluruh Indonesia.

Semua itu ternyata tidak terjadi dalam semalam.

Ada waktu yang dipakai dengan sungguh-sungguh. Ada malam-malam panjang ketika orang lain tidur, tetapi Omjay masih menulis. Ada hari-hari lelah ketika tubuh ingin beristirahat, tetapi hati tetap ingin berkarya.

Omjay pernah berkata kepada murid-muridnya:

“Orang sukses bukan karena punya waktu lebih banyak. Tetapi karena mereka menghargai waktu yang dimiliki.”

Kalimat itu kembali terngiang di kepalanya pagi itu.

Beliau lalu teringat pada seorang teman lama yang dulu sangat pandai. Temannya memiliki banyak mimpi besar. Ingin menulis buku. Ingin menjadi pembicara. Ingin melanjutkan kuliah hingga doktoral. Namun semua hanya tinggal rencana.

Mengapa?

Karena terlalu sering berkata:

“Nanti saja.” “Besok masih ada waktu.” “Tahun depan saja mulai serius.”

Padahal hidup tidak pernah memberi jaminan bahwa “besok” itu pasti ada.

Omjay kemudian membuka laptopnya dan mulai mengetik sebuah tulisan. Jarinya bergerak cepat menuliskan pengalaman hidup yang pernah ia alami.

Beliau pernah berada di titik lelah luar biasa. Mengajar sejak pagi, menghadiri seminar, membimbing guru, menulis artikel, hingga larut malam masih membalas pesan para sahabat literasi. Banyak orang bertanya:

“Pak Jay kok tidak capek?”

Omjay hanya tersenyum sambil berkata:

“Capek itu biasa. Tapi waktu yang hilang tidak akan kembali.”

Kalimat itu sederhana, tetapi penuh makna.

Beliau sadar betul bahwa umur manusia terbatas. Karena itu, setiap detik harus memiliki nilai ibadah dan manfaat. Menjadi guru bukan sekadar datang ke sekolah lalu pulang menerima gaji. Menjadi guru adalah meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun suatu hari jasad sudah tiada.

Omjay sering mengingatkan bahwa tulisan adalah warisan abadi. Ketika seseorang meninggal dunia, hartanya mungkin habis. Jabatan bisa digantikan orang lain. Namun ilmu dan tulisan akan terus hidup.

Karena itulah beliau memilih menulis setiap hari.

Kadang tulisannya dibaca ribuan orang. Kadang hanya dibaca beberapa orang saja. Namun beliau tidak pernah berhenti. Sebab baginya, menulis adalah cara menghidupkan waktu.

Suatu hari, seorang guru muda bertanya kepada Omjay:

“Bagaimana caranya agar bisa produktif seperti Bapak?”

Omjay menjawab dengan tenang:

“Jangan tunggu semangat datang. Mulailah bergerak, nanti semangat akan mengikuti.”

Jawaban itu membuat guru muda tersebut terdiam.

Memang benar. Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu, tetapi karena terlalu banyak menunda. Mereka menunggu waktu yang sempurna. Menunggu suasana hati baik. Menunggu kondisi nyaman.

Padahal waktu terus berjalan.

Jarum jam kehidupan tidak pernah berhenti menunggu kesiapan manusia.

Omjay sendiri pernah merasakan kehilangan orang-orang tercinta secara mendadak. Ada sahabat yang kemarin masih bercanda, hari ini sudah dipanggil Allah SWT. Ada rekan guru yang dulu aktif mengajar, tiba-tiba sakit dan tak lagi mampu berdiri di depan kelas.

Peristiwa-peristiwa itu membuat beliau semakin sadar bahwa hidup benar-benar singkat.

Karena itu Omjay selalu berusaha mengisi hidup dengan hal-hal baik: menulis, mengajar, berbagi ilmu, memotivasi guru, membantu siswa, dan menyebarkan semangat literasi.

Beliau percaya, hidup yang bermakna bukan hidup yang panjang, tetapi hidup yang bermanfaat.

Pagi itu, setelah selesai menulis, Omjay memandang keluar jendela ruang guru. Siswa-siswa mulai memenuhi lapangan sekolah. Suara tawa mereka terdengar riang.

Omjay tersenyum haru.

Beliau sadar, mungkin suatu hari dirinya akan pensiun. Rambut semakin memutih. Tenaga semakin berkurang. Tetapi selama masih diberi kesempatan hidup, beliau ingin terus berkarya.

Sebab tidak ada yang tahu kapan jarum jam kehidupan berhenti.

Mungkin satu jam lagi. Mungkin besok. Mungkin bulan depan. Mungkin tahun depan.

Tidak ada manusia yang tahu.

Yang kita miliki hanyalah hari ini.

Karena itu Omjay selalu mengajak para guru dan murid untuk menghargai waktu. Jangan habiskan hidup hanya untuk mengeluh. Jangan sibuk iri pada kehidupan orang lain. Jangan terlalu lama marah dan menyimpan dendam.

Gunakan waktu untuk sesuatu yang membuat hidup bernilai.

Jika punya ilmu, bagikan. Jika punya rezeki, bantulah orang lain. Jika punya kesempatan, berkaryalah. Jika punya mimpi, mulailah sekarang.

Jangan menunggu sempurna untuk bergerak.

Sebab hidup bukan tentang siapa yang paling kaya atau paling terkenal. Hidup adalah tentang siapa yang paling banyak memberi manfaat sebelum waktu habis.

Di akhir tulisannya, Omjay menuliskan kalimat sederhana yang sangat menyentuh:

> “Ketika jarum jam kehidupan berhenti, yang tersisa hanyalah amal, ilmu, dan kebaikan yang pernah kita tinggalkan.”

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua.

Bahwa hidup terlalu berharga untuk disia-siakan.

Mari bekerja dengan sungguh-sungguh. Mari berkarya selagi mampu. Mari mencintai keluarga sebelum terlambat. Mari menulis, mengajar, dan berbagi ilmu selama masih diberi kesempatan.

Karena jam kehidupan hanya diputar satu kali saja.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 18 Mei 2026

Kisah omjay Berkarya dan berprestasi bersama bu Rita Wati

Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional Lewat Tulisan

Kisah Omjay dalam KBMN Gelombang 34

Senin malam, 18 Mei 2026, pukul 19.00.wib ruang virtual KBMN Gelombang 34 kembali dipenuhi semangat belajar. Para guru dari berbagai daerah di Indonesia berkumpul dalam satu tujuan mulia: belajar menulis dan bertumbuh bersama. 

Pertemuan ke-13 kali ini terasa begitu istimewa karena menghadirkan narasumber hebat, Rita Wati, seorang penulis dan akademisi yang telah membuktikan bahwa karya tulis mampu membawa seseorang dikenal di tingkat nasional.

Acara dipandu dengan hangat oleh moderator muda penuh semangat, Edmu Yulfizar Abdan Syakura. Tema malam itu sangat menggugah hati: “Berkarya dan Berprestasi di Kancah Nasional.”

Bagi Omjay, tema itu bukan sekadar kalimat motivasi. Tema itu adalah perjalanan hidup yang benar-benar beliau alami.

Di tengah kesibukan sebagai guru, Omjay pernah berada di titik lelah. Mengajar setiap hari, menyiapkan administrasi sekolah, mendampingi siswa, hingga menghadapi berbagai persoalan pendidikan membuat waktu terasa habis begitu saja. Namun di balik semua itu, ada satu kebiasaan kecil yang terus beliau jaga: menulis.

Awalnya sederhana. Omjay hanya ingin berbagi pengalaman mengajar. Kadang menulis tentang siswa, kadang tentang perjalanan hidup, kadang tentang keresahan dunia pendidikan. Tulisan-tulisan itu diunggah di blog pribadi tanpa berharap apa-apa.

Namun siapa sangka, dari tulisan sederhana itulah jalan prestasi mulai terbuka.

Omjay sering mengatakan bahwa tulisan memiliki kekuatan yang tidak terlihat. Ketika seseorang menulis dengan hati, tulisannya akan menemukan jalannya sendiri menuju hati pembaca. Dan benar saja, perlahan tulisan Omjay mulai dibaca banyak orang. Ada guru yang merasa termotivasi. Ada siswa yang kembali semangat belajar. Ada kepala sekolah yang terinspirasi memperbaiki budaya literasi di sekolahnya.

Menulis ternyata bukan hanya tentang kata-kata. Menulis adalah tentang memberi manfaat.

Dalam pertemuan KBMN malam itu, narasumber menjelaskan bahwa karya tulis bisa menjadi jembatan menuju prestasi nasional. Banyak guru yang akhirnya menjadi pembicara, penulis buku, bahkan mendapatkan penghargaan karena konsisten menulis.

Omjay tersenyum mendengar penjelasan tersebut. Sebab beliau pernah mengalami sendiri bagaimana tulisan membuka pintu-pintu yang sebelumnya terasa mustahil.

Dari blog sederhana, Omjay mulai diundang menjadi narasumber. Dari tulisan harian, lahirlah buku-buku inspiratif. Dari kebiasaan menulis, beliau dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Padahal semuanya dimulai dari satu langkah kecil: berani menulis.

Malam itu peserta KBMN tampak antusias. Banyak yang awalnya merasa tidak percaya diri menulis. Ada yang berkata dirinya tidak pandai merangkai kata. Ada yang takut tulisannya jelek. Ada pula yang merasa usianya sudah tidak muda lagi untuk mulai belajar.

Namun Omjay selalu punya jawaban sederhana.

“Menulislah dulu. Jangan takut salah. Karena penulis hebat pun dulu pernah menjadi penulis pemula.”

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi sangat menguatkan.

Di sela diskusi, moderator membacakan beberapa resume peserta yang sudah diunggah ke blog. Salah satunya tulisan dari yang mengangkat semangat berkarya di tengah keterbatasan. Ada juga tulisan dari yang menekankan bahwa menulis bukan sekadar mengejar popularitas, tetapi sarana bertumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Omjay merasa haru membaca semangat para peserta. Dulu beliau juga seperti mereka. Belajar perlahan. Menulis perlahan. Bahkan sering ditertawakan karena terlalu rajin menulis di blog.

Tetapi Omjay percaya satu hal: orang yang terus berkarya tidak akan pernah kalah oleh keadaan.

Prestasi tidak selalu dimulai dari panggung besar. Kadang prestasi dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari. Dari keberanian mengunggah tulisan pertama. Dari keberanian menerima kritik dan terus belajar.

Malam semakin larut, tetapi suasana KBMN semakin hangat. Banyak peserta mulai sadar bahwa menulis bukan bakat bawaan. Menulis adalah keterampilan yang diasah setiap hari.

Omjay lalu bercerita bahwa beliau pernah mengalami masa ketika tulisannya sepi pembaca. Tidak ada komentar. Tidak ada apresiasi. Namun beliau tetap menulis. Sebab tujuan utama menulis bukan mencari pujian, melainkan menyampaikan kebaikan.

Dan ternyata konsistensi itulah yang akhirnya membawa hasil.

Kini banyak guru mulai sadar bahwa menulis dapat menjadi jalan pengabdian. Lewat tulisan, seorang guru bisa menginspirasi ribuan orang tanpa harus bertemu langsung. Lewat tulisan, pengalaman mengajar yang berharga tidak hilang begitu saja. Lewat tulisan, ilmu dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

KBMN Gelombang 34 malam itu bukan sekadar kelas menulis biasa. Ia menjadi ruang tumbuh bagi banyak guru Indonesia. Ruang tempat mimpi-mimpi kecil dirawat bersama. Ruang tempat para guru belajar percaya bahwa mereka juga mampu berkarya di tingkat nasional.

Di akhir sesi, Omjay kembali mengingatkan bahwa setiap orang memiliki cerita yang layak dituliskan. Jangan merasa hidup kita biasa saja. Justru pengalaman sederhana sering kali paling menyentuh hati pembaca.

Seorang guru yang sabar mengajar di pelosok desa punya cerita berharga. Seorang ibu yang membagi waktu antara keluarga dan menulis punya kisah luar biasa. Seorang guru honorer yang tetap mengabdi meski penuh keterbatasan juga memiliki inspirasi besar.

Semua itu pantas ditulis.

Karena tulisan bukan hanya meninggalkan jejak tinta. Tulisan meninggalkan jejak kehidupan.

KBMN Gelombang 34 kembali membuktikan bahwa gerakan literasi guru Indonesia masih terus menyala. Dan Omjay percaya, selama para guru terus menulis, harapan pendidikan Indonesia akan selalu hidup.

Mari berkunjung dan saling menguatkan melalui tulisan. 🔥🥰

Menimbang Ulang Tujuan Pendidikan Nasional dalam RUU Sisdiknas

Menimbang Ulang Tujuan Pendidikan Nasional dalam RUU SISDIKNAS

Pendidikan adalah fondasi utama sebuah bangsa. Dari ruang-ruang kelaslah lahir generasi penerus yang akan menentukan arah masa depan Indonesia. Karena itu, ketika Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) membahas Rancangan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional (RUU SISDIKNAS), perhatian masyarakat menjadi sangat penting. Salah satu catatan kritis datang dari Riadi Budiman yang menilai bahwa rumusan tujuan pendidikan nasional dalam Undang-Undang SISDIKNAS saat ini belum sepenuhnya selaras dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945.

Masukan tersebut bukan sekadar persoalan redaksi hukum, melainkan menyangkut arah besar pendidikan Indonesia: apakah pendidikan hanya menghasilkan manusia cerdas secara intelektual, atau juga manusia yang kuat iman, takwa, dan akhlaknya.

Pendidikan Nasional dan Amanat Konstitusi

Dalam Pasal 31 ayat (3) UUD 1945 ditegaskan:

“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.”

Kalimat “dalam rangka” memiliki makna yang sangat mendalam. Frasa tersebut menunjukkan bahwa peningkatan keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia bukan sekadar pelengkap pendidikan, melainkan menjadi dasar utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

Artinya, kecerdasan bangsa tidak boleh dilepaskan dari pondasi moral dan spiritual. Pendidikan tidak hanya bertugas mencetak manusia pintar, tetapi juga manusia yang memiliki hati nurani, etika, dan tanggung jawab kepada Tuhan.

Hal ini diperkuat lagi oleh Pasal 31 ayat (5) UUD 1945:

“Pemerintah memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk kemajuan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.”

Konstitusi dengan jelas menegaskan bahwa pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus dibingkai oleh nilai agama dan persatuan bangsa. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak boleh berjalan tanpa arah moral.

Di era digital seperti sekarang, amanat ini terasa semakin relevan. Kecanggihan teknologi dapat menjadi berkah, tetapi juga bisa menjadi ancaman jika tidak dikendalikan oleh nilai-nilai agama dan kemanusiaan. Artificial Intelligence (AI), media sosial, hingga perkembangan teknologi informasi dapat digunakan untuk mencerdaskan bangsa, tetapi juga bisa menjadi alat penyebar kebencian, hoaks, pornografi, hingga penipuan apabila tidak disertai pendidikan karakter dan spiritual.

Kelemahan Pasal 3 UU SISDIKNAS

Pasal 3 UU SISDIKNAS yang berlaku saat ini berbunyi:

“Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa…”

Kemudian dilanjutkan dengan daftar tujuan peserta didik agar menjadi manusia yang:

  • beriman dan bertakwa,
  • berakhlak mulia,
  • sehat,
  • berilmu,
  • cakap,
  • kreatif,
  • mandiri,
  • demokratis,
  • dan bertanggung jawab.

Sekilas rumusan ini terlihat lengkap. Namun menurut Riadi Budiman, terdapat beberapa kelemahan mendasar.

1. Tidak Ada Hierarki Tujuan

Semua unsur tujuan pendidikan disusun sejajar dan setara. Akibatnya, keimanan dan ketakwaan seolah hanya salah satu poin di antara banyak tujuan lain.

Padahal, konstitusi menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai fondasi utama. Dengan kata lain, kecerdasan intelektual seharusnya tumbuh di atas dasar moral dan spiritual.

Jika tidak ada penegasan hierarki, maka orientasi pendidikan mudah bergeser menjadi sekadar mengejar prestasi akademik, nilai ujian, atau kompetensi kerja.

2. Nilai Demokrasi Tidak Dihubungkan dengan Nilai Agama

Frasa “demokratis serta bertanggung jawab” tidak dijelaskan dalam bingkai ketuhanan. Hal ini dapat menimbulkan penafsiran yang terlalu bebas dan sekuler.

Padahal demokrasi Indonesia memiliki ciri khas yang berbeda dengan liberalisme Barat. Demokrasi Indonesia berdasarkan Pancasila yang menjunjung tinggi Ketuhanan Yang Maha Esa.

Demokrasi tanpa moral agama dapat melahirkan kebebasan tanpa batas, individualisme, dan hilangnya rasa hormat terhadap nilai budaya bangsa.

3. Tidak Mencerminkan Semangat “Dalam Rangka”

Konstitusi menghendaki agar mencerdaskan bangsa dilakukan dalam kerangka peningkatan iman dan akhlak. Namun Pasal 3 UU SISDIKNAS belum memperlihatkan hubungan tersebut secara tegas.

Akibatnya, pendidikan agama sering dipahami hanya sebagai mata pelajaran tersendiri, bukan sebagai ruh yang menjiwai seluruh proses pendidikan.

Dampak yang Mulai Terlihat

Kritik terhadap sistem pendidikan bukan tanpa alasan. Banyak fenomena sosial yang menunjukkan adanya krisis moral di tengah meningkatnya kecerdasan intelektual.

Kita menyaksikan:

  • maraknya korupsi,
  • intoleransi,
  • kekerasan pelajar,
  • penyalahgunaan teknologi,
  • perundungan digital,
  • hingga menurunnya etika sosial.

Ironisnya, banyak pelaku merupakan orang-orang berpendidikan tinggi. Ini menunjukkan bahwa kecerdasan akademik saja tidak cukup.

Sekolah dan perguruan tinggi sering berhasil mencetak lulusan pintar, tetapi belum tentu berhasil membentuk manusia yang jujur, berempati, dan berakhlak mulia.

Di sisi lain, pendidikan agama kerap diposisikan hanya sebagai pelengkap kurikulum. Nilai agama belum sepenuhnya menjadi napas dalam pembelajaran matematika, sains, teknologi, ekonomi, maupun pendidikan kewarganegaraan.

Pentingnya Reorientasi Pendidikan Nasional

RUU SISDIKNAS menjadi momentum penting untuk memperbaiki arah pendidikan nasional. Pendidikan Indonesia perlu kembali menempatkan nilai ketuhanan sebagai poros utama.

Hal ini bukan berarti pendidikan menjadi sempit atau anti ilmu pengetahuan. Justru sebaliknya. Bangsa Indonesia membutuhkan generasi yang:

  • cerdas secara intelektual,
  • unggul dalam teknologi,
  • kreatif dan inovatif,
  • tetapi tetap memiliki iman, moral, dan tanggung jawab sosial.

Ilmu tanpa akhlak dapat melahirkan kerusakan. Teknologi tanpa nilai agama dapat disalahgunakan. Demokrasi tanpa etika dapat berubah menjadi kebebasan yang liar.

Karena itu, pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi harus berjalan bersama nilai agama dan persatuan bangsa sebagaimana amanat UUD 1945.

Pendidikan sebagai Pembentuk Peradaban

Pendidikan sejatinya bukan hanya proses transfer ilmu, melainkan proses membangun peradaban.

Guru bukan sekadar pengajar materi pelajaran, tetapi pembentuk karakter bangsa. Sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai rapor, tetapi tempat menanamkan kejujuran, disiplin, toleransi, dan tanggung jawab.

Apabila RUU SISDIKNAS mampu memperjelas hierarki tujuan pendidikan dengan menempatkan iman, takwa, dan akhlak mulia sebagai landasan utama, maka pendidikan Indonesia akan memiliki arah yang lebih kokoh.

Generasi masa depan Indonesia tidak hanya akan menjadi manusia yang pintar menggunakan teknologi, tetapi juga bijak dalam menggunakannya. Mereka tidak hanya cerdas berpikir, tetapi juga luhur budi pekertinya.

Pada akhirnya, bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju secara ekonomi dan teknologi, tetapi bangsa yang mampu menjaga moral, spiritualitas, dan kemanusiaannya. Dan semua itu bermula dari pendidikan yang benar-benar berakar pada nilai ketuhanan dan akhlak mulia.

Tanggalkan Baju Kesombonganmu

Menulis dengan Hati, Bukan Sekadar Mengejar Panggung

Di sebuah grup menulis, kita tidak hanya sedang belajar merangkai kata. Kita juga sedang belajar menghargai rasa, menjaga empati, dan memahami etika dalam berinteraksi. Sebab dunia literasi bukan sekadar tempat memamerkan tulisan, melainkan ruang bersama untuk saling menguatkan.

Apa yang disampaikan dalam pesan tersebut sebenarnya bukan hanya tentang satu orang atau satu peristiwa tertentu. Ada kegelisahan yang cukup dalam di sana. Kegelisahan tentang bagaimana sebagian orang terkadang terlalu sibuk mengejar perhatian, sampai lupa menjaga perasaan orang lain.

Menulis memang membutuhkan keberanian. Namun keberanian tanpa empati sering kali berubah menjadi sikap yang melukai.

Dalam kehidupan bermedia sosial maupun di grup komunitas, ada satu hal sederhana yang kadang terlupakan, yaitu menghargai momentum orang lain. Ketika seseorang baru saja membagikan karya, pengalaman, atau tulisannya, sesungguhnya ia sedang membuka pintu hati. Ia ingin berbagi cerita, berbagi ilmu, atau sekadar berharap ada teman yang membaca dengan tulus.

Namun apa jadinya jika beberapa detik kemudian ada orang lain langsung menimpali dengan memposting karya miliknya sendiri demi mencari perhatian yang sama?

Mungkin bagi sebagian orang itu dianggap biasa. Tidak ada aturan tertulis yang dilanggar. Tidak ada kata-kata kasar yang diucapkan. Tetapi dalam etika pergaulan, terutama di komunitas literasi, sikap seperti itu bisa terasa kurang bijak.

Mengapa?

Karena komunikasi bukan hanya soal apa yang dilakukan, tetapi juga soal kapan dan bagaimana melakukannya.

Ada perasaan yang kadang tidak tertulis. Ada ruang penghormatan yang semestinya dijaga. Saat seseorang sedang berbagi, alangkah indahnya bila kita memberi ruang sejenak untuk karya itu bernapas. Membaca, mengapresiasi, atau sekadar memberikan dukungan kecil jauh lebih bermakna daripada buru-buru mengalihkan perhatian kepada diri sendiri.

Inilah yang disebut empati digital.

Sayangnya, di era media sosial hari ini, banyak orang terjebak dalam budaya “aku juga harus terlihat.” Akibatnya, setiap momen orang lain dianggap peluang untuk ikut naik panggung. Dalam bahasa populer, mungkin disebut “riding the wave.” Menumpang gelombang perhatian yang sedang mengarah kepada orang lain.

Padahal penulis sejati tidak dibentuk oleh seberapa sering ia muncul, tetapi oleh seberapa dalam ia menghargai sesama.

Kita semua tentu pernah merasa diabaikan. Pernah merasa apa yang kita bagikan seolah tenggelam karena orang lain lebih sibuk mempromosikan dirinya sendiri. Rasanya tidak nyaman. Dan ketika itu terus berulang, perlahan muncul rasa lelah.

Lebih menyedihkan lagi bila kebiasaan itu menjadi pola.

Komunitas menulis semestinya menjadi rumah yang hangat. Tempat setiap anggota merasa dihargai. Tempat senior memberi teladan dan junior belajar adab. Karena sesungguhnya kekuatan komunitas bukan pada banyaknya postingan, tetapi pada kualitas hubungan antar anggotanya.

Kita patut belajar dari para penulis senior yang tetap rendah hati meski karya mereka luar biasa. Mereka tidak sibuk berebut sorotan. Mereka justru lebih banyak memberi ruang kepada orang lain untuk tumbuh.

Sikap itulah yang membuat mereka dihormati.

Banyak penulis besar tidak lahir karena rajin mencari perhatian, melainkan karena rajin menjaga perasaan orang lain. Mereka memahami bahwa tulisan yang baik lahir dari hati yang baik.

Apa gunanya tulisan indah jika sikap kita membuat orang lain tidak nyaman?

Apa artinya ribuan pembaca bila kita kehilangan empati?

Kadang kita terlalu fokus pada angka: jumlah viewer, komentar, like, dan share. Sampai lupa bahwa di balik layar ada manusia dengan hati dan perasaan. Ada teman yang ingin dihargai. Ada sahabat yang ingin didengar.

Etika dalam komunitas sebenarnya sederhana.

Jika teman sedang berbagi cerita, dengarkan dulu.

Jika orang lain sedang mendapat perhatian, jangan terburu-buru mencuri panggung.

Jika ingin dihargai, maka belajarlah menghargai.

Karena rasa hormat tidak lahir dari aturan grup, tetapi dari kedewasaan diri.

Tulisan yang hebat bukan hanya yang viral. Tulisan yang hebat adalah tulisan yang membuat pembacanya merasa dihormati sebagai manusia. Dan itu dimulai dari perilaku penulisnya sendiri.

Kita semua tentu masih belajar. Tidak ada manusia yang sempurna. Bisa jadi seseorang tidak sadar bahwa tindakannya mengganggu orang lain. Bisa jadi ia hanya terlalu bersemangat menunjukkan karyanya. Karena itu, teguran yang disampaikan dengan baik juga merupakan bentuk kasih sayang dalam komunitas.

Terkadang kita memang perlu bercermin.

Sudahkah kita hadir sebagai teman yang menyenangkan?

Ataukah tanpa sadar kita justru membuat ruang bersama terasa sesak?

Dunia literasi membutuhkan lebih banyak empati daripada ego. Sebab menulis sejatinya adalah pekerjaan hati. Kata-kata yang lahir dari hati akan sampai ke hati. Namun sikap yang tidak berempati juga akan terasa, meskipun tidak diucapkan secara langsung.

Mari kita jadikan komunitas menulis sebagai taman yang indah. Tempat setiap orang bisa tumbuh tanpa saling menutupi cahaya satu sama lain. Karena matahari tidak pernah iri kepada bulan. Dan bulan tidak pernah marah ketika bintang bersinar.

Semua punya waktunya sendiri untuk bercahaya.

Semoga kita semua dapat belajar, bukan hanya menjadi penulis yang pandai merangkai kata, tetapi juga manusia yang mampu menjaga etika dan empati di mana pun berada.

Sebab pada akhirnya, orang mungkin lupa apa yang kita tulis. Tetapi mereka akan selalu ingat bagaimana sikap kita terhadap sesama.

Belajar Menulis Dari Omjay


Belajar Menulis dari Om Jay: Semua Penulis Hebat Pernah Menjadi Pemula

“Saya seneng baca Om Jay, tapi belum bisa nulis kaya Om Jay.”

Kalimat sederhana itu disampaikan oleh Pak Ujang dalam sebuah grup WhatsApp. Lalu dijawab santai oleh Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Om Jay:

“Nanti juga lama-lama bisa kalau belajar menulis setiap hari hehehe.”

Jawaban singkat itu terlihat sederhana. Namun di balik kalimat tersebut tersimpan pesan yang sangat dalam bagi siapa pun yang ingin belajar menulis. Bahwa kemampuan menulis bukan bakat yang turun dari langit. Menulis adalah keterampilan yang diasah setiap hari dengan kesabaran, latihan, dan keberanian untuk terus mencoba.

Banyak orang kagum melihat tulisan para penulis hebat. Mereka membaca artikel yang menyentuh hati, cerita yang menginspirasi, atau opini yang menggugah pikiran. Namun sering kali mereka lupa bahwa semua penulis hebat juga pernah menjadi pemula. Mereka pernah bingung memulai tulisan pertama. Pernah merasa tulisannya jelek. Pernah takut dikritik orang lain. Bahkan mungkin pernah ditertawakan.

Tetapi ada satu hal yang membedakan penulis sukses dengan orang yang hanya bermimpi menjadi penulis. Mereka terus menulis meskipun belum sempurna.

Menulis itu seperti belajar berjalan. Tidak mungkin seorang anak langsung bisa berlari. Ia akan jatuh berkali-kali. Namun karena terus mencoba, akhirnya ia bisa berjalan dengan baik. Begitu pula dengan menulis.

Banyak orang berkata, “Saya tidak berbakat menulis.”

Padahal sebenarnya mereka belum membiasakan diri menulis.

Om Jay sering mengingatkan bahwa menulis adalah soal kebiasaan. Semakin sering menulis, semakin terlatih otak kita menuangkan ide ke dalam kata-kata. Awalnya mungkin hanya satu paragraf. Besok menjadi dua paragraf. Lama-lama bisa menulis satu halaman penuh tanpa terasa.

Masalah terbesar penulis pemula sebenarnya bukan tidak bisa menulis, tetapi takut memulai.

Takut salah. Takut jelek. Takut dibandingkan. Takut dikritik.

Padahal tulisan pertama memang tidak harus sempurna.

Jangan menunggu hebat untuk mulai menulis. Mulailah menulis agar menjadi hebat.

Kalimat ini sangat penting untuk direnungkan para penulis pemula. Sebab kesempurnaan tidak lahir dalam semalam. Bahkan buku-buku best seller pun lahir dari proses panjang revisi, perbaikan, dan latihan terus-menerus.

Menulis juga bukan hanya soal kemampuan merangkai kata indah. Menulis adalah keberanian menyampaikan isi hati dan pikiran. Tulisan yang jujur sering kali lebih menyentuh daripada tulisan yang terlalu rumit.

Banyak penulis pemula merasa minder ketika membaca tulisan orang lain yang terlihat hebat. Padahal mereka tidak tahu perjuangan panjang di balik tulisan tersebut. Bisa jadi penulis itu sudah menulis selama bertahun-tahun. Sudah membaca ratusan buku. Sudah berkali-kali gagal sebelum akhirnya dikenal banyak orang.

Karena itu, jangan bandingkan langkah pertama kita dengan langkah keseratus orang lain.

Fokuslah pada proses belajar kita sendiri.

Kalau hari ini baru bisa menulis satu paragraf, itu sudah bagus. Kalau hari ini baru berani menulis status pendek, itu juga kemajuan. Kalau hari ini baru mulai menulis diary atau catatan harian, itu pun langkah luar biasa.

Yang penting terus bergerak.

Menulis setiap hari akan membuat kita menemukan gaya tulisan sendiri. Lama-lama kita akan tahu bagaimana menyusun kalimat, memilih kata, dan menyampaikan pesan dengan lebih baik. Semua itu tidak datang tiba-tiba, tetapi melalui latihan yang konsisten.

Om Jay adalah contoh nyata bahwa kebiasaan menulis bisa membawa seseorang dikenal luas. Beliau tidak lahir langsung sebagai “Guru Blogger Indonesia.” Semua dimulai dari keberanian menulis dan membagikan pengalaman hidupnya kepada orang lain. Dari tulisan sederhana, akhirnya lahirlah ribuan tulisan yang menginspirasi banyak pembaca di seluruh Indonesia.

Yang menarik, Om Jay tidak pernah pelit berbagi semangat kepada penulis pemula. Beliau selalu percaya bahwa setiap orang bisa menulis jika mau belajar dan berlatih.

Menulis juga memiliki kekuatan luar biasa dalam kehidupan seseorang. Dengan menulis, kita bisa meninggalkan jejak pemikiran. Dengan menulis, kita bisa berbagi pengalaman hidup. Bahkan dengan menulis, kita bisa menguatkan hati orang lain yang sedang terluka.

Kadang kita tidak sadar bahwa tulisan sederhana yang kita buat ternyata mampu memberi harapan bagi pembaca.

Karena itu, jangan pernah meremehkan tulisan sendiri.

Tulisan yang menurut kita biasa saja mungkin sangat berarti bagi orang lain.

Untuk para penulis pemula, jangan malu belajar. Banyak membaca, banyak mendengar, dan banyak berlatih. Tidak ada penulis hebat yang berhenti belajar. Semakin banyak membaca, semakin kaya kosa kata dan ide kita.

Cobalah menulis dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Tulis pengalaman sehari-hari. Tulis kenangan masa kecil. Tulis kisah perjalanan hidup. Tulis tentang guru, keluarga, sahabat, atau perjuangan hidup yang pernah dialami. Semua pengalaman hidup sebenarnya bisa menjadi tulisan yang menarik jika ditulis dengan hati.

Dan yang paling penting, jangan menyerah hanya karena kritik.

Kritik bukan tanda kita gagal. Kritik adalah bagian dari proses belajar menjadi lebih baik.

Bisa jadi hari ini tulisan kita belum bagus. Namun jika terus belajar dan menulis setiap hari, perlahan kemampuan itu akan tumbuh. Seperti tanaman yang disiram setiap hari, tulisan juga akan berkembang jika terus dirawat dengan latihan dan semangat belajar.

Akhirnya, pesan Om Jay sangat layak kita renungkan bersama:

“Nanti juga lama-lama bisa kalau belajar menulis setiap hari.”

Kalimat sederhana itu mengandung harapan besar. Bahwa siapa pun bisa menjadi penulis selama mau memulai, mau belajar, dan mau terus berlatih tanpa lelah.

Sebab penulis hebat bukanlah mereka yang langsung sempurna, tetapi mereka yang tidak berhenti menulis meskipun masih belajar.

kopdar Dadakan di Labschhool UNJ


Tamu Dadakan di Labschool: Pertemuan Hangat yang Menguatkan Persahabatan dan Semangat Pendidikan

Hari itu suasana di sekolah berjalan seperti biasa. Aktivitas belajar mengajar berlangsung dengan ritme yang akrab di lingkungan Labschool Jakarta. Para guru sibuk menjalankan tugasnya, siswa belajar dengan penuh semangat, dan ruang-ruang sekolah dipenuhi percakapan tentang pendidikan, masa depan, serta harapan. Namun di tengah kesibukan itu, sebuah kejutan kecil datang membawa kebahagiaan yang tidak terduga.


Omjay atau Dr. Wijaya Kusumah kedatangan tamu istimewa. Tamu itu bukan tamu resmi dengan undangan mewah atau acara besar penuh protokoler. Mereka datang sederhana, penuh kehangatan, dan membawa energi persahabatan yang tulus. Mereka adalah Ibu Helwiyah dan Prof Muda, dua sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap dunia pendidikan dan persahabatan.

Pertemuan itu berlangsung sederhana di ruang kerja Labschool. Tidak ada kemewahan. Tidak ada panggung besar. Namun justru dalam kesederhanaan itulah tersimpan makna yang mendalam. Kadang-kadang, kebahagiaan tidak datang dari acara megah, tetapi dari pertemuan tulus antarsahabat yang saling menghargai dan menguatkan.

Dalam foto yang diabadikan hari itu, tampak senyum hangat menghiasi wajah ketiganya. Senyum yang bukan dibuat-buat, melainkan lahir dari rasa syukur karena masih diberi kesempatan untuk bertemu, berbincang, dan berbagi cerita. Ibu Helwiyah terlihat anggun dengan hijab lembut dan senyum teduhnya. Prof Muda tampil sederhana namun penuh wibawa. Sementara Omjay berdiri di tengah dengan wajah penuh kebahagiaan menerima tamu yang datang tanpa jarak.

Bagi Omjay, tamu dadakan seperti ini justru sering meninggalkan kesan yang paling dalam. Sebab pertemuan spontan biasanya berlangsung lebih jujur dan apa adanya. Tidak ada skenario. Tidak ada pencitraan. Yang ada hanyalah kehangatan hati.

Obrolan mereka pun mengalir begitu saja. Dari cerita tentang pendidikan, pengalaman mengajar, dunia literasi, hingga kisah kehidupan sehari-hari. Di sela percakapan, sesekali terdengar tawa kecil yang membuat suasana semakin akrab. Ruangan yang tadinya biasa saja berubah menjadi ruang penuh energi positif.

Omjay percaya bahwa pendidikan bukan hanya tentang buku dan nilai akademik. Pendidikan sejati juga tumbuh dari hubungan antarmanusia yang saling menguatkan. Ketika guru saling menyemangati, ketika sahabat datang membawa perhatian, ketika seseorang rela meluangkan waktu untuk bersilaturahmi, di situlah pendidikan hati sedang berlangsung.

Pertemuan sederhana itu juga mengingatkan bahwa persahabatan di dunia pendidikan adalah anugerah yang sangat berharga. Guru sering kali terlihat kuat di depan murid-muridnya, tetapi sesungguhnya guru juga manusia biasa yang membutuhkan dukungan moral, perhatian, dan teman berbagi cerita. Kehadiran sahabat seperti Ibu Helwiyah dan Prof Muda menjadi pengingat bahwa perjuangan mendidik generasi bangsa tidak dijalani sendirian.

Dalam dunia yang semakin sibuk dan individualistis, silaturahmi menjadi sesuatu yang mahal nilainya. Banyak orang terlalu sibuk mengejar urusan masing-masing hingga lupa menyapa sahabatnya. Padahal, satu kunjungan sederhana bisa menghadirkan kebahagiaan luar biasa. Satu pertemuan hangat bisa menghapus lelah yang menumpuk selama berhari-hari.

Omjay merasakan hal itu hari tersebut. Kehadiran tamu dadakan justru menjadi penyegar jiwa di tengah rutinitas sekolah yang padat. Ada rasa haru ketika melihat masih ada orang-orang baik yang menjaga hubungan dengan tulus. Tidak datang karena kepentingan, tetapi datang karena persaudaraan.

Prof Muda dalam obrolannya banyak memberikan motivasi tentang pentingnya terus belajar sepanjang hayat. Menurutnya, guru tidak boleh berhenti berkembang. Dunia berubah begitu cepat. Teknologi bergerak maju. Tantangan pendidikan semakin kompleks. Karena itu guru harus terus membuka diri terhadap ilmu baru tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Sementara Ibu Helwiyah berbagi banyak cerita tentang ketulusan dalam mendidik. Baginya, seorang guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga penjaga harapan. Dari tangan guru lahir generasi yang kelak menentukan masa depan bangsa. Karena itu guru harus mengajar dengan hati, bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

Omjay mendengarkan semua itu dengan penuh perhatian. Sebagai seorang guru blogger Indonesia, Omjay memang dikenal aktif menulis dan berbagi inspirasi pendidikan kepada masyarakat luas. Namun di balik aktivitas menulisnya, Omjay tetaplah seorang manusia yang bahagia ketika dikelilingi sahabat-sahabat baik.

Pertemuan itu akhirnya ditutup dengan foto bersama. Sebuah foto sederhana, tetapi menyimpan banyak cerita. Kelak mungkin foto itu hanya terlihat sebagai dokumentasi biasa. Namun bagi mereka yang ada di dalamnya, foto tersebut adalah pengingat tentang persahabatan, perjuangan, dan cinta terhadap dunia pendidikan.

Kadang hidup memang tidak membutuhkan terlalu banyak hal besar untuk merasa bahagia. Cukup ada orang-orang baik yang datang membawa senyum dan ketulusan. Cukup ada sahabat yang masih mau menyempatkan diri untuk bertemu. Cukup ada ruang kecil tempat berbagi cerita dengan hati yang lapang.

Tamu dadakan di Labschool hari itu menjadi bukti bahwa silaturahmi tidak pernah sia-sia. Ia menghadirkan energi baru, memperpanjang umur persaudaraan, dan menguatkan langkah perjuangan. Dari ruang sederhana itu lahir kembali semangat untuk terus mengabdi di dunia pendidikan.

Omjay pun kembali teringat satu hal penting dalam hidup: manusia hebat bukan hanya mereka yang memiliki jabatan tinggi atau popularitas besar, tetapi mereka yang tetap rendah hati menjaga hubungan baik dengan sesama.

Semoga pertemuan hangat itu menjadi kenangan indah yang terus hidup dalam hati. Dan semoga semakin banyak insan pendidikan yang menjaga persaudaraan, saling mendukung, dan terus menyalakan cahaya ilmu bagi generasi Indonesia.

Sidang Terbuka UNJ

Di tengah hiruk-pikuk aktivitas ibu kota, sebuah spanduk besar terpampang megah di lingkungan Universitas Negeri Jakarta. Spanduk itu bukan sekadar penanda acara biasa, melainkan simbol semangat akademik, kemajuan pendidikan, dan cita-cita besar dunia kampus dalam menyiapkan generasi unggul Indonesia. Tulisan besar “Sidang Terbuka Universitas Negeri Jakarta” menjadi perhatian siapa saja yang melintas di kawasan tersebut.

Acara ini diselenggarakan dalam rangka pembukaan Dies Natalis ke-62 UNJ. Sebuah usia yang tidak lagi muda bagi sebuah perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Selama lebih dari enam dekade, Universitas Negeri Jakarta telah menjadi salah satu pusat pendidikan yang melahirkan banyak guru, akademisi, peneliti, birokrat, hingga tokoh bangsa yang berkiprah di berbagai bidang.

Tema yang diangkat dalam sidang terbuka kali ini sangat relevan dengan kebutuhan zaman, yakni:

“Penguatan Talenta Unggul bagi Dunia Kerja Melalui Integrasi Pendidikan Humanis dalam Mewujudkan UNJ Berdampak dan Bereputasi Global.”

Tema tersebut menunjukkan bahwa dunia pendidikan saat ini tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademik semata, tetapi juga menekankan pentingnya pendidikan yang humanis. Artinya, mahasiswa tidak hanya dipersiapkan menjadi tenaga kerja profesional, melainkan juga manusia yang memiliki empati, karakter kuat, kemampuan komunikasi, dan kepedulian sosial.

Di era kecerdasan buatan dan revolusi digital saat ini, perguruan tinggi memang dituntut untuk menghasilkan lulusan yang mampu bersaing secara global. Namun di sisi lain, nilai-nilai kemanusiaan tidak boleh hilang. Inilah yang tampaknya ingin ditegaskan oleh UNJ melalui Dies Natalis ke-62 mereka.

Acara sidang terbuka tersebut dijadwalkan berlangsung pada Senin, 18 Mei 2026 mulai pukul 08.00 WIB hingga selesai, bertempat di Aula Latief Hendraningrat Gedung Dewi Sartika UNJ. Aula tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu pusat kegiatan akademik dan seremonial penting di lingkungan kampus.

Dalam spanduk terlihat dua tokoh penting yang menjadi sorotan utama acara. Di sisi kiri terdapat foto Prof. Dr. Komarudin selaku Rektor UNJ yang akan memberikan sambutan resmi. Kehadiran beliau menjadi simbol arah kepemimpinan kampus dalam membawa UNJ menuju perguruan tinggi berkelas dunia.

Sementara di sisi kanan terpampang foto Prof. Yassierli yang dijadwalkan menyampaikan orasi ilmiah. Kehadiran Menteri Ketenagakerjaan dalam forum akademik ini tentu memiliki makna mendalam. Dunia kerja saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat akibat perkembangan teknologi, otomatisasi, dan transformasi industri. Karena itu, kolaborasi antara dunia pendidikan dan dunia kerja menjadi sangat penting.

Orasi ilmiah dari Menteri Ketenagakerjaan diperkirakan akan membahas bagaimana perguruan tinggi harus mampu menyiapkan talenta unggul yang siap menghadapi tantangan global. Mahasiswa tidak cukup hanya menguasai teori, tetapi juga harus memiliki keterampilan praktis, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, serta daya adaptasi tinggi terhadap perubahan zaman.

Menariknya, di bawah spanduk utama terdapat pula banner bertuliskan “Zero Waste Green Campus – Bersama Kita Jaga Kampus, Jaga Bumi.” Banner tersebut menunjukkan bahwa UNJ tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap isu lingkungan hidup.

Gerakan zero waste atau minim sampah kini memang menjadi perhatian banyak kampus di dunia. Kesadaran menjaga lingkungan harus dimulai dari lingkungan pendidikan agar mahasiswa terbiasa hidup ramah lingkungan sejak dini. Pesan tersebut menjadi sangat penting di tengah meningkatnya persoalan sampah dan perubahan iklim global.

Kehadiran banner lingkungan di bawah spanduk Dies Natalis seolah memberikan pesan bahwa kampus modern bukan hanya kampus yang cerdas secara intelektual, tetapi juga bertanggung jawab terhadap keberlanjutan bumi. Pendidikan dan kepedulian lingkungan harus berjalan beriringan.

Jika diperhatikan lebih jauh, foto ini juga memperlihatkan suasana khas lingkungan perkotaan Jakarta. Kabel-kabel listrik yang melintang di atas jalan, aktivitas mahasiswa yang berlalu-lalang, serta suasana kampus yang ramai menjadi gambaran nyata kehidupan akademik di tengah padatnya ibu kota. Namun di balik kesibukan itu, semangat untuk terus belajar dan membangun masa depan bangsa tetap menyala.

Dies Natalis bukan sekadar acara ulang tahun kampus. Lebih dari itu, Dies Natalis merupakan momentum refleksi perjalanan panjang sebuah institusi pendidikan. Pada usia ke-62, UNJ tentu telah mengalami berbagai perubahan dan tantangan. Dari masa ke masa, kampus ini terus bertransformasi mengikuti perkembangan zaman.

Sebagai salah satu perguruan tinggi yang memiliki sejarah panjang dalam dunia pendidikan Indonesia, UNJ memiliki tanggung jawab besar untuk terus melahirkan generasi pendidik dan profesional berkualitas. Tema tentang pendidikan humanis yang diangkat kali ini menunjukkan bahwa UNJ ingin tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah derasnya arus modernisasi.

Bagi para mahasiswa, kegiatan seperti sidang terbuka Dies Natalis juga menjadi ruang inspirasi. Mereka dapat belajar langsung dari para pemimpin bangsa, akademisi, dan tokoh nasional yang hadir dalam acara tersebut. Tidak sedikit mahasiswa yang kemudian termotivasi untuk meningkatkan prestasi akademik maupun kontribusi sosialnya setelah mengikuti forum ilmiah semacam ini.

Sementara bagi para dosen dan tenaga kependidikan, Dies Natalis menjadi pengingat bahwa tugas mendidik bukan sekadar mengajar di ruang kelas, melainkan membentuk karakter dan masa depan generasi muda Indonesia.

Foto spanduk ini akhirnya bukan hanya sekadar dokumentasi acara kampus. Ia menjadi simbol harapan besar dunia pendidikan Indonesia. Harapan agar perguruan tinggi mampu melahirkan talenta unggul yang cerdas, berkarakter, peduli lingkungan, dan siap membawa Indonesia bersaing di tingkat global.

Di usia ke-62, Universitas Negeri Jakarta tampaknya ingin menegaskan bahwa kampus bukan hanya tempat mencari gelar, tetapi juga tempat membangun peradaban.