Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 30 Agustus 2026

PGRI Akan Terus Berjuang Dalam Senyap untuk Guru Indonesia

PGRI Terus Bergerak dalam Senyap, Memperjuangkan Guru Tanpa Banyak Bicara

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada kalanya sebuah perjuangan tidak terdengar suaranya.

Tidak ada pengeras suara. Tidak ada spanduk besar. Tidak ada kerumunan yang memenuhi jalan. Bahkan terkadang tidak ada berita yang muncul setiap hari di media massa.

Namun, bukan berarti perjuangan itu berhenti.

Justru bisa jadi, ketika kita melihat suasana yang tenang, di tempat lain sedang berlangsung pembicaraan panjang untuk memperjuangkan nasib para guru.

Begitulah saya melihat perjuangan Persatuan Guru Republik Indonesia atau PGRI.

Pada Jumat malam, 29 Agustus 2026, saya mengirimkan sebuah berita dari JPNN.com kepada Ibu Prof. Dr. Unifah Rosyidi, Ketua Umum PB PGRI.

Saya mengirimkan berita tersebut karena saya tahu ada begitu banyak guru yang sedang menunggu kabar. Mereka bertanya, mereka berdiskusi, bahkan sebagian mulai gelisah.

Pertanyaan mereka sebenarnya sederhana.

“Sejauh mana perjuangan PGRI untuk memperjuangkan nasib guru?”

Terutama ketika berbagai persoalan kesejahteraan guru masih menjadi perhatian besar. Guru ingin mendapatkan kepastian. Guru ingin mengetahui arah perjuangan organisasi yang selama ini menjadi rumah bersama.

Tak lama kemudian, Ibu Ketum menjawab singkat.

“Mantap, buat artikelnya dalam kisah Omjay.”

Kalimat pendek itu justru membuat saya berpikir panjang.

Saya kemudian mengambil laptop dan mulai menulis.

Bukan karena saya sudah mengetahui seluruh proses perjuangan PGRI dari dalam.

Bukan pula karena saya ingin membela organisasi secara membabi buta.

Saya menulis karena saya adalah guru.

Saya menulis karena saya mendengar suara teman-teman guru.

Dan saya menulis karena saya percaya bahwa perjuangan guru perlu dicatat, dikawal, sekaligus disampaikan dengan cara yang santun dan bermartabat.

Guru Bertanya, Guru Menunggu

Saya memahami kegelisahan para guru.

Guru adalah manusia biasa yang memiliki keluarga, kebutuhan, tanggung jawab, dan harapan.

Di balik sosok guru yang berdiri di depan kelas, ada kehidupan yang tidak selalu terlihat oleh murid-muridnya.

Ada guru yang harus membayar cicilan rumah.

Ada yang membiayai pendidikan anak.

Ada yang membantu orang tua.

Ada yang setiap bulan harus menghitung pengeluaran dengan sangat hati-hati.

Ada guru yang sudah puluhan tahun mengabdi, tetapi masih berharap mendapatkan kepastian status dan kesejahteraan.

Namun ketika masuk sekolah, mereka tetap tersenyum.

“Selamat pagi, anak-anak.”

Kalimat itu mungkin terdengar sederhana.

Tetapi kita tidak pernah tahu berapa banyak persoalan yang sudah mereka tinggalkan di rumah sebelum masuk kelas.

Guru tetap mengajar.

Tetap membuat bahan ajar.

Tetap memeriksa tugas.

Tetap membimbing murid.

Tetap menghadapi perubahan kurikulum.

Tetap belajar teknologi baru.

Bahkan sekarang guru dituntut memahami koding, kecerdasan artifisial, literasi digital, dan berbagai perubahan pendidikan yang begitu cepat.

Tuntutannya semakin tinggi.

Karena itu, wajar jika guru berharap kesejahteraannya juga mendapatkan perhatian yang serius.

Guru tidak ingin hanya diberi kata-kata penghargaan setiap Hari Guru.

Guru ingin penghargaan itu hadir dalam bentuk kebijakan yang nyata.

Jangan Ukur Perjuangan Hanya dari Keramaian

Di zaman media sosial seperti sekarang, kita sering terjebak pada sesuatu yang terlihat.

Kalau ada aksi besar, kita anggap sedang berjuang.

Kalau ada konferensi pers, kita anggap sedang bekerja.

Kalau ada unggahan yang viral, kita anggap perjuangannya berhasil.

Sebaliknya, ketika tidak ada unggahan atau pernyataan keras, kita mengira tidak ada kegiatan.

Padahal belum tentu.

Dalam perjuangan kebijakan, banyak hal memang tidak bisa dilakukan dengan cara berteriak.

Ada meja perundingan.

Ada rapat.

Ada komunikasi.

Ada kajian.

Ada negosiasi.

Ada proses menyampaikan aspirasi.

Ada pembahasan dengan pemerintah.

Ada komunikasi dengan kementerian dan lembaga negara.

Ada pula proses panjang yang tidak semuanya dapat dipublikasikan kepada masyarakat setiap saat.

Karena itu, saya belajar untuk tidak terburu-buru menghakimi.

Saya lebih memilih bertanya.

Apa yang sedang diperjuangkan?

Bagaimana jalurnya?

Apa hasilnya?

Apa yang masih menjadi kendala?

Dan apa yang bisa dilakukan guru untuk membantu perjuangan tersebut?

Menurut saya, pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang jauh lebih produktif.

PGRI Adalah Rumah Besar Guru

Saya melihat PGRI bukan sekadar sebuah nama organisasi.

Bagi banyak guru, PGRI adalah rumah besar.

Rumah yang di dalamnya berkumpul guru dari berbagai daerah, jenjang pendidikan, status kepegawaian, usia, dan pengalaman.

Di dalam rumah besar itu tentu ada perbedaan pendapat.

Itu hal yang wajar.

Bahkan menurut saya, organisasi yang sehat adalah organisasi yang mampu menerima kritik.

Guru boleh bertanya.

Guru boleh menyampaikan kegelisahan.

Guru boleh meminta penjelasan.

Guru juga boleh mengingatkan pengurus organisasi jika ada hal yang dirasakan belum maksimal.

Tetapi jangan sampai kritik berubah menjadi kebencian.

Jangan sampai perbedaan pendapat membuat guru saling menjatuhkan.

Sebab ketika guru terpecah, perjuangan menjadi lebih sulit.

Kita boleh berbeda cara.

Tetapi tujuan kita harus tetap sama.

Meningkatkan martabat dan kesejahteraan guru serta memajukan pendidikan Indonesia.

Perjuangan Guru Tidak Bisa Instan

Saya pernah belajar satu hal dari perjalanan panjang sebagai guru.

Tidak semua hal bisa terjadi dengan cepat.

Saya sudah lebih dari tiga dekade berada di dunia pendidikan.

Saya menyaksikan sendiri bagaimana kebijakan pendidikan berubah dari masa ke masa.

Teknologi berubah.

Kurikulum berubah.

Sistem kepegawaian berubah.

Cara mengajar berubah.

Tetapi satu hal yang tidak boleh berubah adalah semangat guru untuk mendidik.

Saya juga melihat bahwa perubahan kebijakan membutuhkan waktu.

Apa yang hari ini dibicarakan bisa jadi baru terlihat hasilnya beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun kemudian.

Karena itu, perjuangan mengenai kesejahteraan guru tidak boleh hanya dilakukan ketika sedang ramai.

Ia harus terus dikawal.

Hari ini dibicarakan.

Besok ditanyakan lagi.

Kemudian dikaji.

Lalu diperjuangkan.

Setelah itu dievaluasi.

Jika belum berhasil, kita mencari jalan lain.

Begitu seterusnya.

Perjuangan adalah proses panjang.

Mengapa Guru Harus Tetap Bersatu?

Ada alasan sederhana mengapa guru membutuhkan organisasi profesi.

Karena jumlah guru sangat besar.

Jika masing-masing guru menyampaikan suara sendiri-sendiri, suara itu mudah tenggelam.

Tetapi ketika suara tersebut dihimpun dalam organisasi, aspirasi itu menjadi lebih terstruktur.

Inilah salah satu fungsi organisasi.

Mengumpulkan suara.

Menyusun aspirasi.

Membawa persoalan kepada pihak yang memiliki kewenangan.

Kemudian mengawal prosesnya.

PGRI memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan kepentingan guru dan pendidikan.

Tentu sejarah panjang tersebut tidak berarti semua persoalan otomatis selesai.

Justru tantangan pendidikan semakin kompleks.

Hari ini kita menghadapi persoalan kesejahteraan.

Besok muncul persoalan teknologi.

Kemudian muncul persoalan perlindungan guru.

Ada persoalan beban administrasi.

Ada persoalan status kepegawaian.

Ada persoalan kualitas pembelajaran.

Ada persoalan kecerdasan artifisial.

Semua membutuhkan perhatian.

Maka organisasi guru juga harus terus bergerak mengikuti zaman.

Guru Jangan Hanya Menunggu

Namun saya juga ingin mengajak teman-teman guru melihat persoalan ini dari sisi yang lain.

Jangan hanya menunggu organisasi bekerja.

Guru juga harus ikut bergerak.

Bagaimana caranya?

Sederhana.

Mulailah dengan menjadi guru yang profesional.

Terus belajar.

Terus membaca.

Terus menulis.

Terus mengikuti perkembangan pendidikan.

Terus meningkatkan kompetensi.

Dan jangan berhenti menyampaikan aspirasi melalui jalur yang benar.

Saya sendiri memilih menulis.

Saya menulis pengalaman mengajar.

Saya menulis perjalanan mengikuti berbagai kegiatan pendidikan.

Saya menulis tentang guru.

Saya menulis tentang teknologi.

Saya menulis tentang kehidupan.

Mengapa?

Karena saya percaya tulisan dapat menjadi rekam jejak perjuangan.

Apa yang kita tulis hari ini mungkin tidak langsung menghasilkan perubahan.

Tetapi suatu saat nanti tulisan itu bisa menjadi dokumen sejarah.

Bisa menjadi bahan refleksi.

Bisa menjadi inspirasi bagi guru lain.

Bahkan bisa menjadi pengingat bagi para pengambil kebijakan bahwa pernah ada guru yang menyuarakan persoalan tersebut.

Bergerak dalam Senyap Bukan Berarti Diam

Saya kembali teringat pesan Ibu Ketum.

“Mantap, buat artikelnya dalam kisah Omjay.”

Saya memaknainya sebagai sebuah ajakan untuk terus menjaga optimisme.

PGRI terus bergerak.

Mungkin tidak semuanya terlihat.

Mungkin tidak semuanya diberitakan.

Mungkin tidak semua proses bisa disampaikan secara terbuka.

Tetapi selama aspirasi guru terus dibawa dan diperjuangkan, kita tidak boleh kehilangan harapan.

Dalam sebuah perjuangan, terkadang kita memang harus bersabar.

Seperti petani yang menanam padi.

Hari pertama menanam, tidak langsung panen.

Hari kedua belum panen.

Hari ketiga juga belum.

Petani menyiram.

Membersihkan rumput.

Menjaga tanaman dari hama.

Menunggu hujan.

Menunggu matahari.

Kemudian setelah berbulan-bulan, barulah hasilnya terlihat.

Perjuangan guru pun demikian.

Kita menanam harapan.

Kita merawat persatuan.

Kita menyampaikan aspirasi.

Kita berdialog.

Kita mengawal kebijakan.

Dan kita menunggu hasilnya dengan tetap kritis.

Saya Memilih Menulis

Mungkin ada yang bertanya, mengapa Omjay selalu menulis?

Jawabannya sederhana.

Karena saya tidak ingin suara guru hilang begitu saja.

Saya ingin setiap kegelisahan memiliki ruang untuk disampaikan.

Saya ingin setiap perjuangan memiliki catatan.

Saya ingin generasi guru berikutnya mengetahui bahwa sebelum mereka menikmati sebuah kebijakan, ada orang-orang yang pernah memperjuangkannya.

Menulis bagi saya bukan sekadar mencari pembaca.

Menulis adalah cara saya merawat ingatan.

Menulis adalah cara saya berbicara kepada banyak orang.

Menulis adalah cara saya mengajak guru berdiskusi.

Dan menulis adalah cara saya menjaga harapan.

Itulah sebabnya saya selalu mengingatkan teman-teman:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Jangan Kehilangan Harapan

Untuk teman-teman guru yang sedang bertanya tentang kesejahteraan, saya ingin mengatakan satu hal.

Jangan kehilangan harapan.

Teruslah menyampaikan aspirasi.

Teruslah mengawal perjuangan.

Teruslah bertanya dengan cara yang santun.

Teruslah memberikan masukan.

Dan teruslah menjaga persatuan.

Kita tidak tahu kapan sebuah kebijakan akan berubah.

Kita tidak tahu kapan harapan itu menjadi kenyataan.

Tetapi kita tahu satu hal.

Jika kita berhenti berjuang, maka kemungkinan perubahan akan semakin kecil.

Sebaliknya, jika kita terus bergerak, terus berdialog, terus menulis, terus menyampaikan aspirasi, dan terus mengawal prosesnya, maka selalu ada kemungkinan perubahan terjadi.

Mungkin bukan hari ini.

Mungkin bukan besok.

Tetapi bisa jadi suatu hari nanti.

PGRI dan Harapan Guru Indonesia

Saya berharap PGRI terus menjadi rumah besar yang mampu menyatukan suara guru Indonesia.

Saya berharap perjuangan terhadap kesejahteraan guru terus dikawal.

Saya berharap pemerintah juga semakin mendengarkan suara guru.

Sebab pendidikan tidak akan pernah bisa berdiri kokoh jika orang-orang yang berada di garis depan pendidikan justru merasa tidak diperhatikan.

Kita ingin guru Indonesia menjadi guru yang bermartabat.

Guru yang sejahtera.

Guru yang terlindungi.

Guru yang profesional.

Guru yang terus belajar.

Guru yang mampu beradaptasi dengan teknologi.

Dan yang paling penting, guru yang tetap memiliki hati untuk mendidik.

Pada akhirnya, perjuangan kesejahteraan guru bukan hanya tentang angka.

Bukan hanya tentang gaji.

Bukan hanya tentang tunjangan.

Lebih jauh dari itu, perjuangan tersebut adalah perjuangan untuk memberikan penghargaan yang layak kepada orang-orang yang setiap hari membantu menyiapkan masa depan bangsa.

Karena di tangan gurulah anak-anak belajar membaca dunia.

Di tangan gurulah karakter dibentuk.

Di tangan gurulah mimpi-mimpi anak Indonesia dirawat.

Maka sudah sepantasnya guru mendapatkan perhatian yang layak.

Penutup: Tetap Bergerak, Tetap Berharap

Malam itu saya kembali menatap layar komputer.

Tulisan ini belum selesai.

Tetapi hati saya sudah menemukan kesimpulan.

Saya tidak ingin mengajak guru untuk hanya menunggu.

Saya juga tidak ingin mengajak guru untuk terus marah.

Saya ingin mengajak guru untuk tetap bergerak.

Bergerak melalui tulisan.

Bergerak melalui organisasi.

Bergerak melalui dialog.

Bergerak melalui karya.

Bergerak melalui pendidikan yang berkualitas.

Dan tentu saja, bergerak dengan tetap menjaga persatuan.

Sebab perjuangan yang besar tidak selalu dimulai dari kerumunan yang besar.

Kadang perjuangan dimulai dari satu pertanyaan sederhana.

“Apa kabar perjuangan guru hari ini?”

Kemudian pertanyaan itu disampaikan kepada organisasi.

Dibawa ke meja pembahasan.

Diperjuangkan melalui berbagai jalur.

Dan akhirnya menjadi sebuah perubahan.

Mungkin itulah arti bergerak dalam senyap.

Bukan berarti diam.

Bukan berarti menyerah.

Bukan berarti tidak bekerja.

Tetapi memilih bekerja dengan tenang, terukur, dan terus-menerus.

Saya percaya, suatu saat nanti guru akan memetik hasil dari perjuangan panjang ini.

Karena itu, jangan pernah berhenti berharap.

Jangan pernah berhenti bersuara.

Dan jangan pernah berhenti menulis.

Saya, Omjay, akan terus menulis kisah guru Indonesia.

Bukan karena saya paling tahu tentang perjuangan.

Tetapi karena saya juga bagian dari keluarga besar guru Indonesia.

Saya merasakan kegelisahan mereka.

Saya mendengar pertanyaan mereka.

Dan saya ingin ikut menjaga harapan mereka.

Semoga PGRI terus kuat.

Semoga para pengurusnya terus diberikan kekuatan untuk memperjuangkan aspirasi guru.

Semoga pemerintah semakin serius meningkatkan kesejahteraan dan perlindungan guru.

Dan semoga guru Indonesia tetap bersatu dalam memperjuangkan masa depan pendidikan bangsa.

Karena perjuangan belum selesai.

Perjalanan masih panjang.

Dan kita masih punya harapan.

PGRI terus bergerak dalam senyap.

Guru terus mengabdi dengan ikhlas.

Kita terus mengawal perjuangan dengan sabar.

Sebab saya percaya:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam guru Indonesia.

Salam PGRI.

Guru kuat, Indonesia hebat.

Sabtu, 29 Agustus 2026

PGRI terus bergerak

PGRI Terus Bergerak dalam Senyap

Banyak guru bertanya kepada saya, “Omjay, bagaimana perjuangan PGRI terhadap kenaikan gaji guru tahun 2026? Mengapa sampai sekarang belum juga ada kenaikan gaji?”

Saya memahami pertanyaan itu. Saya juga merasakan kegelisahan yang sama. Guru adalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan hidup. Ada keluarga yang harus dinafkahi, anak yang harus disekolahkan, cicilan yang harus dibayar, dan berbagai kebutuhan lainnya yang terus meningkat. Karena itu, ketika berbicara tentang kesejahteraan guru, kita tidak sedang membicarakan angka semata. Kita sedang berbicara tentang kehidupan manusia.

Namun, ada satu hal yang perlu dipahami oleh teman-teman guru.

PGRI terus bergerak dalam senyap.

Tidak semua perjuangan harus diumumkan di media sosial. Tidak semua pertemuan harus diketahui publik. Tidak semua pembicaraan dengan pemerintah dapat langsung disampaikan kepada seluruh guru. Ada proses panjang yang harus ditempuh melalui komunikasi, advokasi, dialog, kajian, dan perjuangan kebijakan.

PGRI sebagai organisasi profesi dan perjuangan guru tentu memiliki tanggung jawab untuk terus menyuarakan kepentingan guru Indonesia. Salah satu persoalan penting yang tidak boleh berhenti diperjuangkan adalah kesejahteraan guru.

Saya percaya, para pengurus PGRI tidak tinggal diam.

Mungkin kita tidak selalu melihat beritanya. Mungkin kita tidak selalu mengetahui apa yang sedang dibicarakan di ruang-ruang pertemuan. Tetapi bukan berarti perjuangan itu berhenti.

Justru terkadang, perjuangan yang paling serius berlangsung dalam senyap.

Ada komunikasi yang terus dilakukan. Ada aspirasi yang terus disampaikan. Ada berbagai persoalan guru yang terus dibawa ke meja pembahasan dengan pemerintah. Ada upaya agar kebijakan yang dihasilkan benar-benar memberikan perhatian lebih besar kepada kehidupan dan kesejahteraan guru.

Sebagai guru, kita tentu boleh bertanya.

Bahkan menurut saya, guru memang harus bertanya.

Guru berhak mengetahui sejauh mana organisasi yang menjadi rumah perjuangannya memperjuangkan nasib mereka. Pertanyaan guru bukan bentuk ketidakpercayaan. Pertanyaan guru adalah bentuk kepedulian.

Namun, saya juga mengajak teman-teman guru untuk tidak mudah menyimpulkan bahwa ketika belum ada pengumuman kenaikan gaji, berarti tidak ada perjuangan.

Perjuangan organisasi tidak selalu terlihat di permukaan.

Seperti seorang guru yang sedang mengajar di kelas. Dari luar mungkin terlihat hanya berdiri di depan murid. Tetapi di balik itu ada persiapan materi, membaca buku, membuat modul, menilai tugas, membimbing siswa, berdiskusi dengan orang tua, dan menyelesaikan berbagai persoalan pendidikan.

Begitu pula perjuangan PGRI.

Ada pekerjaan yang terlihat dan ada pekerjaan yang berlangsung dalam senyap.

Tentu kita semua berharap perjuangan itu menghasilkan kebijakan yang nyata. Guru tidak hanya membutuhkan kata-kata, tetapi juga membutuhkan peningkatan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, menurut saya, perjuangan tidak boleh berhenti.

PGRI harus terus menyuarakan aspirasi guru kepada pemerintah. Guru juga harus terus memberikan masukan kepada PGRI. Keduanya harus berjalan bersama.

Saya percaya, organisasi yang kuat bukan organisasi yang tidak pernah mendapat pertanyaan. Organisasi yang kuat adalah organisasi yang mampu mendengar pertanyaan anggotanya dan menjadikannya energi untuk terus berjuang.

Kepada teman-teman guru yang bertanya tentang kenaikan gaji tahun 2026, saya ingin mengatakan:

Bersabarlah, tetapi jangan berhenti berharap.

Mari kita kawal bersama perjuangan ini. Jangan mudah percaya pada kabar yang belum jelas sumbernya. Mari menunggu informasi resmi dari pemerintah dan PB PGRI.

Saya sendiri akan terus mengikuti perkembangan perjuangan PGRI dan menyampaikan informasi yang saya dapatkan kepada teman-teman guru melalui tulisan.

Sebab saya percaya, perjuangan untuk guru tidak boleh dilakukan seorang diri.

PGRI adalah rumah besar guru Indonesia. Di rumah besar inilah suara guru seharusnya dikumpulkan, diperjuangkan, dan disampaikan kepada pengambil kebijakan.

Mungkin hari ini perjuangan itu belum terlihat hasilnya.

Mungkin hari ini kita masih bertanya.

Tetapi saya percaya, PGRI terus bergerak dalam senyap.

Dan ketika waktunya tiba, kita berharap perjuangan yang dilakukan dalam senyap itu menghasilkan kabar baik yang dapat dirasakan oleh guru di seluruh Indonesia.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam perjuangan untuk guru Indonesia.

— Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Blog https://wijayalabs.com

kenangan indah di kontrakan ungu 2019

Kenangan Indah di Kontrakan Ungu: Ketika Rumah Kecil Mengajarkan Arti Kebahagiaan

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay)

Ada masa-masa tertentu dalam kehidupan yang baru terasa begitu berharga setelah waktu berlalu cukup lama. Ketika kita sedang menjalaninya, mungkin kita menganggap semuanya biasa saja. Bahkan, terkadang kita merasa tidak nyaman, sedih, atau berharap masa itu segera berakhir. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, justru masa-masa sederhana itulah yang sering datang kembali dalam ingatan. Ia hadir melalui potongan-potongan kenangan kecil. Terkadang melalui sebuah aroma, sebuah tempat, sebuah lagu, atau sekadar warna cat pada dinding rumah. Begitulah kenangan saya tentang sebuah rumah kecil yang dulu kami tempati sementara. Sebuah rumah kontrakan dengan warna yang mudah dikenali. Kami menyebutnya Kontrakan Ungu.

Kini, ketika saya kembali membuka lembaran perjalanan hidup pada tahun 2019, ingatan saya melayang kepada masa ketika rumah kami sedang direnovasi. Pada saat itu, kami sekeluarga harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu. Kami membutuhkan tempat tinggal selama proses renovasi berlangsung. Akhirnya, pilihan kami jatuh pada sebuah rumah kontrakan sederhana yang letaknya tidak terlalu jauh dari lingkungan tempat kami biasa beraktivitas.

Selama hampir dua bulan, rumah kontrakan itulah yang menjadi tempat kami pulang.

Pada awalnya, tentu saja ada rasa canggung. Setelah terbiasa tinggal di rumah sendiri, tiba-tiba kami harus menyesuaikan diri dengan sebuah rumah yang jauh lebih kecil. Rumah itu sangat mungil. Kalau ingin bergurau, semua tempat terasa dekat ke mana-mana. Kamar mandi dekat. Kamar tidur dekat. Ruang tamu dekat. Dapur pun dekat. Bahkan, rasanya kalau berjalan beberapa langkah saja, kita sudah sampai ke ruangan lain.

He-he-he.

Rumah itu memang hanya memiliki satu kamar. Ruangannya terbatas. Fasilitasnya sederhana. Tidak ada kemewahan yang bisa dibanggakan. Namun, siapa sangka rumah mungil itu kemudian meninggalkan kenangan yang begitu besar dalam perjalanan keluarga kami?

Saat pertama kali pindah, saya sempat merasa sedih.

Rumah kami sedang direnovasi. Ada sesuatu yang terasa hilang ketika untuk sementara waktu kita harus meninggalkan rumah sendiri. Rumah bukan hanya tempat berteduh. Di dalamnya ada kebiasaan, ada cerita, ada kenangan, dan ada kenyamanan yang telah tumbuh selama bertahun-tahun. Setiap sudut rumah seakan sudah mengenal kehidupan penghuninya.

Ketika semua itu harus ditinggalkan sementara, ada perasaan asing yang muncul.

Namun, kehidupan selalu mengajarkan satu hal kepada saya. Manusia ternyata memiliki kemampuan luar biasa untuk beradaptasi.

Apa yang pada awalnya terasa asing, perlahan menjadi biasa.

Apa yang semula terasa sempit, lama-lama menjadi nyaman.

Dan apa yang awalnya kami anggap hanya sebagai tempat tinggal sementara, ternyata berubah menjadi tempat lahirnya banyak kenangan indah.

Yang paling membuat saya bahagia adalah melihat kedua putri saya, Intan dan Berlian. Berbeda dengan saya yang sempat merasa harus beradaptasi dengan suasana baru, mereka justru terlihat sangat menikmati kehidupan di lingkungan Kontrakan Ungu.

Anak-anak memang sering mengajarkan kepada orang dewasa tentang cara menikmati hidup.

Mereka tidak terlalu memikirkan luas atau sempitnya rumah. Mereka tidak bertanya apakah rumah itu milik sendiri atau rumah kontrakan. Mereka tidak menghitung fasilitas apa yang tidak tersedia. Yang mereka lihat sederhana saja: adakah teman untuk bermain?

Dan ternyata, di lingkungan Kontrakan Ungu, teman-teman baru begitu mudah ditemukan.

Di situlah saya melihat wajah anak-anak saya berubah semakin ceria. Mereka bermain bersama anak-anak seusianya. Mereka bercanda. Mereka tertawa. Mereka belajar mengenal lingkungan baru. Mereka menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang mungkin dianggap sederhana oleh orang dewasa.

Sebuah pertemanan.

Sebuah permainan.

Sebuah tawa bersama.

Hal-hal kecil itu ternyata cukup untuk membuat masa kecil terasa begitu indah.

Suasana tersebut sangat berbeda dengan lingkungan tempat tinggal kami sebelumnya. Kami tinggal di kawasan yang rumah-rumahnya cukup besar. Lingkungannya tenang dan cenderung sepi. Orang-orang memiliki kesibukan masing-masing. Pagi hari berangkat bekerja. Anak-anak pergi ke sekolah. Sore hari kembali ke rumah. Setelah itu, banyak keluarga memilih menikmati waktu di dalam rumah masing-masing.

Tidak ada yang salah dengan keadaan tersebut. Setiap lingkungan memiliki karakter yang berbeda.

Namun, tinggal di Kontrakan Ungu membuat saya melihat kehidupan dari sisi yang lain.

Di lingkungan itu, interaksi antarmanusia terasa lebih dekat.

Orang lebih mudah menyapa.

Anak-anak lebih mudah bermain bersama.

Tetangga lebih sering bertemu.

Ada kehidupan sosial yang terasa lebih hidup.

Saya merasakan bahwa kami bisa dengan cepat berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Tidak peduli apakah seseorang sudah lama tinggal di sana atau baru datang seperti kami. Entah bagaimana, suasana di lingkungan itu membuat orang-orang lebih mudah saling mengenal.

Mungkin karena jarak rumah yang berdekatan.

Mungkin karena ruang hidup yang membuat penghuninya lebih sering bertemu.

Atau mungkin karena pada dasarnya manusia memang membutuhkan manusia lainnya.

Kami pun mulai mengenal lingkungan baru itu.

Rumah yang kami tempati disebut Kontrakan Ungu karena warna tembok bagian luarnya berwarna ungu. Nama yang sederhana. Tidak ada papan nama khusus. Tidak ada sejarah besar yang melekat padanya. Namun, bagi keluarga kami, nama Kontrakan Ungu kemudian menjadi bagian dari cerita kehidupan.

Di sekitar sana, banyak sekali berdiri rumah-rumah kontrakan.

Saya kemudian mulai memperhatikan kehidupan para penghuninya.

Ada keluarga yang tinggal sementara.

Ada pasangan muda yang baru memulai kehidupan.

Ada orang-orang yang sedang bekerja dan membutuhkan tempat tinggal dekat dengan tempat mencari nafkah.

Ada pula mereka yang mungkin masih mengumpulkan rezeki sedikit demi sedikit untuk suatu hari nanti bisa memiliki rumah sendiri.

Dari tempat sederhana itu, saya kembali belajar bahwa kehidupan setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

Ada orang yang diberi kemudahan untuk memiliki rumah sendiri sejak usia muda.

Ada yang harus bekerja puluhan tahun sebelum mampu membeli rumah.

Ada pula yang hingga saat ini masih memilih tinggal di rumah kontrakan karena keadaan dan rezeki belum memungkinkan untuk memiliki rumah sendiri.

Apakah yang tinggal di rumah kontrakan lebih rendah daripada yang tinggal di rumah sendiri?

Tentu tidak.

Rumah bukan ukuran kemuliaan seseorang.

Harta bukan ukuran kebahagiaan seseorang.

Dan kepemilikan bukan satu-satunya tanda keberhasilan dalam hidup.

Saya melihat banyak orang yang tinggal sederhana tetapi memiliki kehidupan yang hangat. Mereka saling membantu. Mereka berbagi. Mereka mengenal tetangganya. Mereka masih sempat tersenyum dan menyapa orang lain.

Dari Kontrakan Ungu, saya belajar bahwa kebahagiaan ternyata tidak membutuhkan alamat yang mewah.

Kebahagiaan bisa tinggal di mana saja.

Ia bisa hadir di rumah besar.

Ia bisa hadir di rumah sederhana.

Ia bahkan bisa tumbuh di sebuah rumah kontrakan yang hanya memiliki satu kamar.

Selama ada rasa syukur dan kebersamaan, sebuah tempat tinggal akan memiliki makna.

Selama tinggal di sana, saya juga mendapatkan inspirasi lain.

Saya mulai memperhatikan bisnis rumah kontrakan.

Ternyata, rumah kontrakan menjadi salah satu usaha yang cukup menarik. Para penghuni membayar sewa setiap bulan sesuai dengan fasilitas yang tersedia. Ada rumah kontrakan yang sangat sederhana dengan harga sewa yang lebih terjangkau. Ada pula kontrakan dengan fasilitas lebih lengkap dan harga yang tentu saja lebih tinggi.

Saya sempat berbincang dengan pemilik kontrakan.

Dari perbincangan itu, muncul sebuah mimpi dalam hati saya.

“Bagaimana kalau suatu hari nanti saya juga memiliki beberapa rumah kontrakan?”

Mimpi itu bukan sekadar keinginan untuk mencari keuntungan. Saya membayangkan sebuah rumah kontrakan yang dirancang dengan nyaman. Sebuah tempat tinggal sederhana tetapi tetap mengikuti kebutuhan manusia modern.

Saya membayangkan tersedia akses internet yang baik.

Saya membayangkan penghuninya memiliki fasilitas yang memudahkan aktivitas sehari-hari.

Saya membayangkan rumah kontrakan bukan hanya menjadi tempat singgah, melainkan tempat yang membuat orang merasa nyaman untuk pulang.

Sebuah mimpi memang selalu dimulai dari pikiran.

Kadang-kadang, mimpi itu lahir ketika kita sedang berada di tempat yang sederhana.

Siapa yang menyangka bahwa tinggal di sebuah kontrakan bisa membuat saya memiliki gagasan untuk suatu hari membangun rumah kontrakan sendiri?

Begitulah kehidupan.

Inspirasi tidak selalu datang dari seminar besar.

Tidak selalu muncul dari ruangan mewah.

Tidak selalu lahir ketika kita membaca buku-buku hebat.

Inspirasi bisa datang dari mana saja.

Bahkan dari dinding rumah berwarna ungu.

Kontrakan Ungu juga memberikan sesuatu yang sangat penting dalam perjalanan saya sebagai seorang penulis.

Banyak tulisan lahir selama kami tinggal di sana.

Entah mengapa, suasana baru membuat pikiran saya seperti mendapatkan energi baru. Saya lebih mudah menemukan bahan tulisan. Kehidupan di sekitar saya seakan menjadi sumber cerita yang tidak pernah habis.

Saya kembali membuktikan bahwa seorang penulis sebenarnya tidak perlu terlalu jauh mencari bahan tulisan.

Hidup adalah bahan tulisan.

Apa yang kita lihat bisa menjadi tulisan.

Apa yang kita dengar bisa menjadi tulisan.

Apa yang kita rasakan bisa menjadi tulisan.

Bahkan, apa yang sedang kita jalani hari ini bisa menjadi cerita yang suatu hari nanti dibaca kembali dengan penuh haru.

Kontrakan Ungu adalah salah satu buktinya.

Saat tinggal di sana, mungkin saya tidak pernah membayangkan bahwa bertahun-tahun kemudian saya masih akan menuliskan kembali kenangan tersebut. Saya hanya menjalani hari demi hari seperti biasa. Bangun pagi. Beraktivitas. Mengajar. Menulis. Kembali ke rumah. Berkumpul bersama keluarga.

Semua terasa biasa.

Namun, waktu ternyata mengubah sesuatu yang biasa menjadi istimewa.

Ketika anak-anak semakin besar, kenangan masa kecil mereka perlahan menjadi bagian dari sejarah keluarga.

Intan dan Berlian yang dahulu bermain dengan riang di sekitar Kontrakan Ungu kini tentu telah tumbuh dewasa. Waktu berjalan begitu cepat. Anak-anak yang dahulu berlarian, bermain, dan tertawa bersama teman-temannya kini menjalani perjalanan hidupnya sendiri.

Di sinilah seorang ayah terkadang merasa terharu.

Kita tidak bisa menghentikan waktu.

Kita tidak bisa meminta anak-anak untuk tetap kecil selamanya.

Kita tidak bisa kembali kepada sebuah pagi dan berkata, “Jangan cepat-cepat tumbuh.”

Yang bisa kita lakukan hanyalah menyimpan kenangan.

Dan salah satu cara terbaik menyimpan kenangan adalah dengan menuliskannya.

Tulisan membuat saya bisa kembali berjalan ke masa lalu.

Ketika saya membaca tulisan lama, saya seperti bertemu kembali dengan diri saya pada masa itu. Saya bisa merasakan kembali suasana yang dahulu pernah saya jalani. Saya bisa membayangkan rumah mungil itu. Saya bisa mendengar kembali tawa anak-anak. Saya bisa merasakan suasana lingkungan yang ramai oleh kehidupan.

Itulah salah satu keajaiban menulis.

Tulisan adalah mesin waktu.

Kita memang tidak bisa kembali secara fisik ke masa lalu. Namun, melalui tulisan, kita bisa membuka pintu kenangan kapan saja.

Kita bisa kembali kepada rumah masa kecil.

Kita bisa kembali kepada sekolah pertama.

Kita bisa kembali kepada orang-orang yang pernah hadir dalam kehidupan kita.

Kita bisa kembali kepada sebuah rumah kontrakan berwarna ungu.

Bagi sebagian orang, mungkin itu hanyalah sebuah kontrakan biasa.

Bagi orang lain, mungkin tempat itu bahkan tidak memiliki arti apa-apa.

Namun, bagi saya, Kontrakan Ungu memiliki cerita.

Di tempat itulah saya melihat anak-anak belajar bersosialisasi.

Di tempat itulah mereka mendapatkan teman baru.

Di tempat itulah saya kembali melihat arti sederhana dari kebahagiaan.

Dan tanpa saya sadari, tinggal di sana juga menjadi salah satu cara untuk memberikan pendidikan kehidupan kepada anak-anak.

Saya ingin mereka memahami bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai dengan keadaan yang kita inginkan.

Ada masa ketika kita tinggal di rumah sendiri.

Ada masa ketika kita harus tinggal di rumah kontrakan.

Ada masa ketika kehidupan terasa lapang.

Ada pula masa ketika kita harus belajar hidup dalam keterbatasan.

Namun, keterbatasan tidak harus membuat kita kehilangan kebahagiaan.

Justru dari keterbatasan, kita bisa belajar banyak hal.

Kita belajar bersyukur.

Kita belajar menyesuaikan diri.

Kita belajar berbagi ruang.

Kita belajar memahami keadaan orang lain.

Dan yang paling penting, kita belajar bahwa manusia tidak bisa hidup sendirian.

Kebersamaan menjadi sesuatu yang sangat berharga.

Di Kontrakan Ungu, saya ingin anak-anak memahami bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama. Ada orang yang sedang berjuang untuk membeli rumah. Ada keluarga yang bekerja keras agar anak-anaknya tetap bisa sekolah. Ada orang yang tinggal di rumah kontrakan sambil menabung sedikit demi sedikit demi sebuah impian.

Karena itu, jangan pernah merendahkan seseorang hanya karena tempat tinggalnya.

Jangan pernah merasa lebih tinggi hanya karena memiliki lebih banyak harta.

Hari ini kita mungkin sedang mendapatkan rezeki yang cukup. Namun, kita tidak pernah tahu bagaimana keadaan di masa depan.

Roda kehidupan terus berputar.

Apa yang kita miliki hari ini adalah titipan.

Apa yang kita banggakan hari ini bisa saja suatu hari nanti hilang.

Karena itu, manusia harus selalu belajar rendah hati.

Bantulah orang lain sesuai dengan kemampuan kita.

Tidak perlu menunggu kaya untuk berbagi.

Tidak perlu menunggu memiliki banyak untuk peduli.

Senyum pun bisa menjadi bentuk kebaikan.

Sapaan bisa menjadi tanda kepedulian.

Tenaga bisa menjadi bantuan.

Ilmu yang kita miliki pun bisa dibagikan kepada orang lain.

Kebaikan tidak pernah harus menunggu kita sempurna.

Ketika saya mengenang kembali Kontrakan Ungu, saya tidak mengingat betapa sempitnya rumah itu.

Saya tidak lagi memikirkan bahwa hanya ada satu kamar.

Saya tidak mengingat fasilitas apa saja yang mungkin tidak tersedia.

Semua itu seakan kalah oleh satu hal yang jauh lebih besar.

Kenangan.

Kenangan tentang sebuah keluarga yang sedang belajar menyesuaikan diri.

Kenangan tentang dua anak perempuan yang begitu ceria.

Kenangan tentang teman-teman baru.

Kenangan tentang tawa dan kebersamaan.

Kenangan tentang seorang ayah yang terus menulis di tengah perjalanan hidupnya.

Kenangan tentang sebuah mimpi yang lahir dari rumah kontrakan.

Dan kenangan tentang pelajaran sederhana bahwa kebahagiaan tidak pernah ditentukan oleh seberapa besar rumah yang kita tinggali.

Saya kembali teringat wajah anak-anak saya pada masa itu.

Mereka begitu mudah menemukan kebahagiaan.

Barangkali, sebagai orang dewasa, kita perlu belajar kembali dari anak-anak.

Kita terlalu sering merasa bahagia harus menunggu semuanya lengkap.

Menunggu rumah lebih besar.

Menunggu penghasilan lebih banyak.

Menunggu pekerjaan lebih baik.

Menunggu memiliki kendaraan baru.

Menunggu semua keinginan terpenuhi.

Padahal, kalau terus menunggu, mungkin kita lupa menikmati hari ini.

Anak-anak tidak seperti itu.

Mereka bisa bahagia dengan teman.

Mereka bisa bahagia dengan permainan sederhana.

Mereka bisa tertawa meskipun rumah yang ditempati tidak besar.

Dari mereka, saya belajar satu hal.

Kebahagiaan tidak selalu datang ketika kita memiliki lebih banyak. Kadang-kadang, kebahagiaan datang ketika kita mampu mensyukuri apa yang sedang kita miliki.

Kontrakan Ungu hanyalah persinggahan sementara dalam perjalanan hidup keluarga kami.

Kami tinggal di sana hanya hampir dua bulan.

Waktu yang sebenarnya tidak terlalu lama.

Namun, ternyata tidak semua kenangan ditentukan oleh panjangnya waktu.

Ada kenangan yang lahir dalam hitungan tahun tetapi perlahan memudar.

Ada pula kenangan yang hanya berlangsung beberapa minggu, tetapi terus tinggal di dalam hati.

Kontrakan Ungu adalah salah satunya.

Kini, bertahun-tahun setelah masa itu berlalu, saya masih bisa menuliskannya.

Saya masih bisa merasakan kehangatan kenangannya.

Saya masih bisa membayangkan bagaimana kehidupan kami saat itu.

Dan saya semakin yakin bahwa setiap fase kehidupan memiliki hikmahnya sendiri.

Jangan pernah meremehkan hari-hari sederhana.

Jangan merasa bahwa kehidupan kita tidak memiliki cerita.

Sebab, kelak ketika waktu telah berlalu, mungkin justru hari-hari sederhana itulah yang paling kita rindukan.

Rumah kecil.

Satu kamar.

Dinding berwarna ungu.

Anak-anak yang bermain.

Teman-teman baru.

Tulisan-tulisan yang lahir.

Serta sebuah keluarga yang belajar menemukan kebahagiaan di tengah perubahan.

Semua itu kini menjadi bagian dari perjalanan hidup saya.

Kontrakan Ungu telah mengajarkan banyak hal.

Tentang kesederhanaan.

Tentang kebersamaan.

Tentang persahabatan.

Tentang rasa syukur.

Tentang pendidikan kehidupan.

Dan tentu saja, tentang pentingnya menulis setiap kenangan.

Karena kenangan yang tidak ditulis bisa saja perlahan dilupakan.

Namun, kenangan yang dituliskan akan tetap hidup.

Ia bisa dibaca kembali oleh anak-anak.

Ia bisa dibaca oleh cucu-cucu.

Ia bisa menjadi saksi bahwa pernah ada sebuah keluarga yang tinggal sementara di sebuah rumah kecil berwarna ungu.

Dan di rumah sederhana itu, mereka menemukan sesuatu yang mungkin jauh lebih mahal daripada sebuah bangunan.

Mereka menemukan kebersamaan.

Mereka menemukan keceriaan.

Mereka menemukan rasa syukur.

Saya menutup tulisan ini dengan sebuah keyakinan sederhana.

Rumah memang penting. Kita semua tentu memiliki impian untuk tinggal di rumah yang nyaman. Namun, jangan sampai kita lupa bahwa yang membuat sebuah rumah menjadi indah bukan hanya bentuk bangunannya.

Rumah menjadi indah karena ada orang-orang yang saling mencintai di dalamnya.

Rumah menjadi hangat karena ada kebersamaan.

Rumah menjadi penuh kenangan karena ada tawa.

Dan rumah, sekecil apa pun, bisa menjadi tempat yang sangat membahagiakan apabila kita mampu mensyukurinya.

Terima kasih, Kontrakan Ungu.

Engkau memang hanya menjadi tempat tinggal sementara.

Namun, kenanganmu tidak pernah sementara.

Engkau mungkin hanya sebuah rumah kecil dengan satu kamar.

Namun, engkau telah memberikan ruang yang begitu luas di dalam ingatan kami.

Sampai hari ini, ketika saya kembali mengenangmu, saya masih tersenyum.

Saya teringat anak-anak yang dahulu begitu ceria.

Saya teringat teman-teman baru di sekitar rumah.

Saya teringat kehidupan sederhana yang kami jalani.

Dan saya kembali memahami bahwa ternyata banyak hal indah dalam hidup yang baru benar-benar kita sadari nilainya setelah semuanya berlalu.

Kontrakan Ungu mungkin telah lama kami tinggalkan. Namun, keceriaan dan kenangan yang lahir di dalamnya akan selalu menemukan rumah di hati kami.

Salam Blogger Persahabatan,

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Membacalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Membacalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada satu kebiasaan sederhana yang terus saya jaga sampai hari ini: membaca setiap hari. Tidak harus membaca buku tebal sampai berjam-jam. Tidak harus menyelesaikan puluhan halaman dalam sekali duduk. Kadang cukup membaca beberapa halaman buku, sebuah artikel, berita pendidikan, tulisan seorang sahabat, atau bahkan catatan kecil yang muncul di layar ponsel. Bagi saya, membaca bukan sekadar aktivitas untuk menambah pengetahuan. Membaca adalah cara untuk menjaga pikiran tetap hidup.

Saya, Omjay, guru blogger Indonesia, semakin menyadari bahwa kemampuan seseorang untuk menulis sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak ia membaca. Orang yang rajin membaca akan memiliki lebih banyak bahan untuk diceritakan. Ia mempunyai lebih banyak sudut pandang untuk dipertimbangkan. Ia menemukan kosakata baru, gagasan baru, pengalaman baru, bahkan pertanyaan-pertanyaan baru yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Karena itu, selain kalimat “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi”, saya juga ingin mengajak siapa pun yang sedang belajar menulis untuk memulai dari kebiasaan yang sangat sederhana: “Membacalah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Saya percaya dua kebiasaan ini tidak dapat dipisahkan.

Membaca memberi kita bahan bakar. Menulis membuat bahan bakar itu berubah menjadi energi yang bermanfaat.

Membaca Mengubah Cara Kita Melihat Dunia

Ketika masih menjadi pelajar, mungkin kita menganggap membaca sebagai kewajiban. Ada buku pelajaran yang harus dibaca karena besok ada ulangan. Ada tugas yang harus diselesaikan karena guru memberikan pekerjaan rumah. Ada materi yang harus dipahami karena akan keluar dalam ujian.

Namun, semakin bertambah usia, saya justru melihat membaca dari perspektif yang berbeda.

Membaca adalah perjalanan.

Setiap kali membuka sebuah buku, kita sebenarnya sedang memasuki dunia yang berbeda. Kita bisa belajar dari pengalaman orang lain tanpa harus mengalami semua peristiwa itu sendiri. Kita bisa mengetahui kegagalan seseorang tanpa harus mengulangi kegagalan yang sama. Kita bisa memahami keberhasilan seseorang sekaligus mengetahui perjuangan panjang yang berada di balik keberhasilan tersebut.

Itulah salah satu keajaiban membaca.

Kita bisa duduk di tempat yang sama, tetapi pikiran kita dapat berjalan sangat jauh.

Sebagai seorang guru, saya merasakan sendiri manfaatnya. Ketika membaca tulisan guru lain, saya menemukan inspirasi untuk pembelajaran. Ketika membaca buku pendidikan, saya memperoleh perspektif baru tentang bagaimana mendampingi peserta didik. Ketika membaca perkembangan teknologi, saya mendapatkan ide untuk membawa teknologi tersebut ke dalam kelas.

Bahkan ketika membaca tulisan yang tidak berkaitan langsung dengan pendidikan, sering kali saya menemukan sesuatu yang dapat digunakan untuk memperkaya pembelajaran.

Membaca membuat kita tidak mudah merasa paling tahu.

Semakin banyak membaca, semakin kita sadar bahwa pengetahuan kita ternyata masih sangat sedikit.

Dari Membaca Lahir Gagasan

Ada masa ketika seseorang berkata, “Saya ingin menulis, tetapi tidak tahu mau menulis apa.”

Saya sering menjawabnya dengan sederhana.

Bacalah.

Jangan buru-buru memaksa diri menulis jika kepala sedang kosong. Ambillah sebuah buku. Baca artikel. Buka kembali catatan lama. Dengarkan pengalaman orang lain. Perhatikan lingkungan sekitar. Amati apa yang sedang terjadi di sekolah.

Dari membaca, biasanya muncul pertanyaan.

Dari pertanyaan, lahirlah gagasan.

Dari gagasan, lahirlah tulisan.

Itulah proses yang saya alami selama bertahun-tahun menjadi guru dan blogger.

Kadang sebuah tulisan lahir bukan karena saya sudah memiliki gagasan besar. Justru gagasan itu muncul setelah membaca sesuatu.

Saya membaca sebuah berita pendidikan, lalu muncul pertanyaan. Saya membaca pengalaman seorang guru, lalu teringat pengalaman saya sendiri. Saya membaca buku, kemudian menemukan kalimat yang membuat saya merenung. Dari perenungan itu lahirlah sebuah tulisan.

Jadi, jangan menunggu inspirasi datang.

Jemput inspirasi dengan membaca.

Membaca Tidak Harus Mahal

Di zaman sekarang, akses terhadap bacaan semakin luas. Kita tidak selalu harus membeli buku baru untuk mendapatkan pengetahuan.

Perpustakaan sekolah dapat menjadi tempat yang sangat berharga. Perpustakaan daerah juga menyediakan banyak sumber belajar. Selain itu, internet membuka kesempatan bagi kita untuk membaca berbagai artikel, jurnal, berita, dan sumber pengetahuan lainnya.

Tetapi ada satu hal yang harus kita ingat.

Tidak semua informasi di internet layak dipercaya.

Karena itu, membaca juga harus disertai kemampuan berpikir kritis. Jangan langsung percaya hanya karena sebuah tulisan terlihat menarik. Periksa sumbernya. Bandingkan dengan sumber lain. Perhatikan siapa yang menulisnya dan apa tujuan tulisannya.

Dengan begitu, membaca bukan hanya membuat kita banyak tahu, tetapi juga membuat kita semakin bijaksana dalam menerima informasi.

Omjay dan Kebiasaan Membaca

Dalam perjalanan saya sebagai guru blogger Indonesia, membaca menjadi bagian penting dari proses belajar.

Saya menulis bukan karena saya sudah mengetahui semuanya.

Saya menulis karena saya terus belajar.

Saya membaca tulisan orang lain. Saya membaca komentar pembaca. Saya membaca buku. Saya membaca berita. Saya membaca perkembangan dunia pendidikan dan teknologi. Dari sanalah saya mendapatkan banyak bahan untuk menulis.

Ketika seseorang membaca tulisan kita kemudian memberikan komentar, komentar tersebut pun dapat menjadi bahan pembelajaran.

Ada kritik yang membuat kita memperbaiki tulisan.

Ada masukan yang membuat kita melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

Ada pula apresiasi sederhana yang membuat kita semakin bersemangat.

Semua itu merupakan bagian dari perjalanan seorang penulis.

Maka saya tidak pernah menganggap membaca dan menulis sebagai kegiatan yang terpisah. Keduanya berjalan beriringan.

Membaca setiap hari. Menulis setiap hari. Berbagi setiap hari.

Jika dilakukan secara konsisten, kita akan terkejut melihat perubahan yang terjadi dalam diri kita.

Apa yang Terjadi Jika Kita Membaca Setiap Hari?

Pertama, kosakata kita bertambah.

Kita menemukan kata-kata baru yang sebelumnya jarang digunakan. Kita belajar bagaimana sebuah gagasan disampaikan dengan kalimat yang menarik. Lama-kelamaan, kemampuan berbahasa kita berkembang.

Kedua, wawasan kita semakin luas.

Hari ini kita membaca tentang pendidikan. Besok tentang teknologi. Lusa tentang budaya. Hari berikutnya tentang sejarah. Tanpa terasa, berbagai pengetahuan tersebut tersimpan dalam pikiran kita dan dapat saling terhubung.

Ketiga, kemampuan berpikir kritis meningkat.

Membaca banyak sumber membuat kita belajar membandingkan informasi. Kita tidak mudah menerima sebuah pendapat begitu saja.

Keempat, ide menulis semakin banyak.

Ini yang saya rasakan sendiri.

Semakin banyak membaca, semakin banyak hal yang ingin dituliskan. Bukan karena kita kehabisan cerita, tetapi karena kita mulai melihat banyak hal dari berbagai perspektif.

Kelima, kita menjadi lebih percaya diri.

Ketika memiliki pengetahuan yang cukup, kita lebih berani menyampaikan pendapat. Tentu tetap dengan kerendahan hati dan kesediaan untuk menerima koreksi.

Membaca Adalah Investasi Jangka Panjang

Saya sering mengatakan kepada guru dan peserta didik bahwa jangan melihat membaca sebagai kegiatan yang hasilnya harus langsung terlihat.

Membaca adalah investasi.

Hari ini mungkin kita membaca lima halaman dan merasa tidak mendapatkan apa-apa. Besok kita membaca sepuluh halaman dan masih merasa biasa saja. Namun, bertahun-tahun kemudian, berbagai bacaan itu ternyata telah membentuk cara berpikir kita.

Pengetahuan yang kita baca mungkin tidak langsung digunakan hari ini.

Tetapi suatu hari nanti, ketika menghadapi sebuah persoalan, tiba-tiba kita teringat sesuatu yang pernah kita baca.

Di situlah kita menyadari bahwa tidak ada bacaan yang benar-benar sia-sia.

Sama seperti menanam pohon.

Kita menanam hari ini, tetapi tidak langsung menikmati buahnya.

Kita harus merawatnya, menyiramnya, dan menunggu dengan sabar.

Begitu pula membaca.

Baca sedikit demi sedikit, tetapi terus-menerus.

Ajak Anak-Anak Membaca

Sebagai guru, saya juga memiliki harapan besar agar budaya membaca kembali menjadi bagian dari kehidupan peserta didik.

Jangan hanya meminta anak membaca ketika ada tugas.

Ajak mereka membaca karena mereka ingin tahu.

Guru bisa memberikan waktu beberapa menit sebelum pembelajaran dimulai untuk membaca. Anak-anak dapat memilih buku sesuai minat mereka. Setelah membaca, mereka bisa menceritakan kembali apa yang mereka dapatkan.

Tidak perlu selalu berupa ujian.

Bisa melalui percakapan.

Bisa melalui tulisan pendek.

Bisa melalui gambar.

Bisa melalui presentasi.

Bahkan bisa melalui sebuah pertanyaan sederhana:

“Apa hal baru yang kamu temukan hari ini?”

Pertanyaan sederhana tersebut dapat membuka pintu menuju kebiasaan belajar sepanjang hayat.

Membaca, Menulis, dan Berbagi

Saya belajar satu hal penting selama menjalani perjalanan sebagai guru blogger.

Pengetahuan akan semakin bermakna ketika dibagikan.

Karena itu, setelah membaca, jangan berhenti sampai di sana. Cobalah menuliskan kembali apa yang kita pahami dengan bahasa sendiri.

Tidak perlu menyalin.

Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.

Tuliskan pengalaman dan pemahaman kita.

Jika kita seorang guru, tuliskan pengalaman mengajar.

Jika kita seorang siswa, tuliskan pengalaman belajar.

Jika kita orang tua, tuliskan pengalaman mendampingi anak.

Jika kita menemukan sesuatu yang menarik, ceritakan kepada orang lain.

Dengan cara seperti itu, membaca menghasilkan tulisan, tulisan menghasilkan percakapan, dan percakapan menghasilkan pengetahuan baru.

Inilah ekosistem literasi yang saya impikan.

Mulailah Hari Ini

Tidak perlu menunggu memiliki banyak waktu.

Mulailah dengan sepuluh menit.

Sepuluh menit membaca setiap hari jauh lebih baik daripada berjam-jam membaca tetapi hanya dilakukan sekali dalam sebulan.

Pilih bacaan yang kita sukai.

Letakkan buku di tempat yang mudah dijangkau.

Kurangi waktu menggulir layar tanpa tujuan.

Gantilah sebagian waktu tersebut dengan membaca sesuatu yang memberikan manfaat.

Kemudian tuliskan satu atau dua paragraf tentang apa yang kita baca.

Lakukan terus.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Bulan demi bulan.

Suatu saat nanti kita akan melihat perubahan yang luar biasa.

Pikiran menjadi lebih kaya.

Bahasa menjadi lebih hidup.

Tulisan menjadi lebih bernyawa.

Dan yang paling penting, kita menjadi manusia yang terus belajar.

Itulah alasan saya ingin mengajak siapa pun untuk membuktikan sendiri sebuah kebiasaan sederhana:

Membacalah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Jangan hanya percaya kepada kata-kata saya.

Cobalah sendiri.

Baca satu halaman hari ini.

Besok baca satu halaman lagi.

Kemudian tuliskan apa yang Anda pikirkan.

Karena membaca bukan sekadar melihat huruf demi huruf. Membaca adalah cara kita berdialog dengan dunia.

Dan ketika dialog itu kita tuangkan kembali dalam bentuk tulisan, mungkin suatu hari nanti tulisan sederhana kita mampu menginspirasi orang lain.

Saya, Omjay, akan terus membaca.

Saya akan terus menulis.

Saya akan terus berbagi.

Sebab saya percaya, selama kita masih mau membaca dan belajar, perjalanan kita tidak pernah benar-benar berhenti.

Membacalah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam literasi.

Omjay/Kakek Jay 
Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Jumat, 28 Agustus 2026

art satupena 2026 yang keren

ART SATUPENA 2026: Menata Rumah Besar Para Penulis Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Ada dokumen yang ketika kita baca hanya terasa seperti kumpulan pasal dan ayat. Namun ada pula dokumen yang membuat kita berhenti sejenak, kemudian berpikir, ke mana organisasi ini akan dibawa?

Begitulah perasaan saya ketika membaca Anggaran Rumah Tangga Perkumpulan Penulis Indonesia (SATUPENA) yang merupakan hasil pelaksanaan mandat Kongres SATUPENA tanggal 13 Agustus 2026.

Dokumen tersebut ditetapkan oleh Dewan Formatur SATUPENA di Jakarta pada 26 Agustus 2026. ART ini disusun sebagai pelaksanaan mandat Kongres untuk melakukan perubahan, penyesuaian, penyempurnaan, dan finalisasi AD dan ART dalam batas waktu yang telah diberikan.

Saya membacanya sebagai seorang guru yang sudah lama bersentuhan dengan dunia pendidikan, teknologi, blogging, buku, komunitas, dan literasi.

Saya membacanya pula sebagai seorang penulis yang percaya bahwa organisasi penulis tidak boleh hanya sibuk dengan persoalan internal. Organisasi penulis harus mampu memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, menulis adalah jalan pengabdian.

Tulisan dapat menjadi ilmu.

Tulisan dapat menjadi inspirasi.

Tulisan dapat menjadi kritik.

Tulisan dapat menjadi dokumentasi sejarah.

Dan tulisan juga dapat menjadi jembatan yang mempertemukan manusia dengan manusia lainnya.

Karena itulah saya melihat ART SATUPENA 2026 bukan sekadar aturan organisasi. Saya melihatnya sebagai bagian dari upaya menata sebuah rumah besar bagi para penulis Indonesia.

Mengapa Organisasi Penulis Membutuhkan ART?

Saya pernah berada dalam berbagai komunitas. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa sebuah komunitas bisa tumbuh karena semangat, tetapi sebuah organisasi membutuhkan sistem.

Semangat membuat orang mau berkumpul.

Namun sistem membuat organisasi mampu bertahan.

Di awal berdirinya sebuah komunitas, mungkin tidak terlalu banyak aturan yang diperlukan. Semua orang saling mengenal. Semua bisa berbicara langsung. Persoalan dapat diselesaikan sambil minum kopi.

Tetapi ketika organisasi berkembang, anggota semakin banyak, wilayah semakin luas, program semakin beragam, dan tanggung jawab semakin besar, maka diperlukan aturan yang jelas.

Di sinilah ART memiliki peran penting.

ART SATUPENA secara tegas menyatakan dirinya sebagai ketentuan pelaksanaan lebih lanjut dari Anggaran Dasar. ART tersebut mengikat anggota, Dewan Pengawas, Badan Pengurus, kepengurusan SATUPENA Pulau dan Provinsi, serta alat kelengkapan organisasi.

Bagi saya, ini penting.

Sebab organisasi yang sehat harus memiliki kepastian mengenai siapa melakukan apa, bagaimana keputusan dibuat, bagaimana konflik diselesaikan, bagaimana keuangan dikelola, dan bagaimana organisasi mempertanggungjawabkan kegiatannya kepada anggota.

Tanpa aturan, organisasi mudah berjalan berdasarkan kehendak orang per orang.

Dengan aturan, organisasi memiliki rambu-rambu.

Tetapi tentu saja, aturan bukan tujuan akhir.

Aturan adalah alat untuk mencapai tujuan organisasi.

SATUPENA dan Rumah Besar Kepenulisan

Saya senang melihat bahwa ART SATUPENA memberikan ruang kepada berbagai kelompok yang berkaitan dengan dunia kepenulisan, literasi, ilmu pengetahuan, seni, dan budaya.

Keanggotaan SATUPENA terdiri atas Anggota Biasa, Anggota Luar Biasa, dan Anggota Kehormatan. Anggota Biasa memiliki rekam kegiatan atau karya dalam bidang yang berkaitan dengan maksud dan tujuan Perkumpulan. Anggota Luar Biasa memiliki perhatian, kontribusi, atau keterlibatan dalam pengembangan bidang tersebut, sedangkan Anggota Kehormatan adalah mereka yang dinilai mempunyai jasa atau kontribusi penting.

Saya melihatnya sebagai sebuah pintu yang terbuka.

Dunia literasi Indonesia sangat luas.

Ada penulis buku.

Ada penulis artikel.

Ada blogger.

Ada wartawan.

Ada guru yang menulis pengalaman mengajarnya.

Ada dosen yang menulis hasil penelitian.

Ada sastrawan.

Ada budayawan.

Ada peneliti.

Ada pegiat literasi di desa.

Ada anak muda yang menulis melalui media digital.

Semuanya memiliki cerita.

Semuanya memiliki pengalaman.

Semuanya berpotensi memberikan kontribusi.

Sebagai Omjay, saya sering mengatakan bahwa setiap orang sebenarnya mempunyai buku di dalam dirinya.

Masalahnya adalah tidak semua orang mau mengeluarkannya.

Ada yang merasa tidak pandai menulis.

Ada yang takut salah.

Ada yang takut dikritik.

Ada yang merasa ceritanya tidak penting.

Padahal bisa jadi pengalaman sederhana seorang guru di sebuah sekolah justru menjadi inspirasi bagi guru lain di daerah yang berbeda.

Karena itu, organisasi penulis harus mampu menjadi tempat belajar.

Bukan tempat untuk saling merasa paling hebat.

Hak Menyampaikan Pendapat dan Kewajiban Menjaga Etika

Salah satu hal yang menurut saya sangat penting adalah keseimbangan antara hak dan kewajiban.

ART memberikan hak kepada Anggota Biasa untuk mengikuti kegiatan, memperoleh informasi dan pelayanan organisasi, menyampaikan pendapat, usul, dan kritik secara bertanggung jawab, memilih dan dipilih, serta memperoleh perlindungan organisasi sesuai kemampuan dan kewenangan Perkumpulan.

Tetapi anggota juga memiliki kewajiban.

Mereka harus mematuhi AD, ART, dan keputusan organisasi. Mereka harus menjaga nama baik organisasi, menjunjung etika profesi, menghormati sesama anggota, menghormati keberagaman dan kebebasan berkarya, serta berpartisipasi sesuai kemampuan.

Saya kira prinsip ini sangat relevan dengan dunia digital hari ini.

Kita hidup di zaman ketika siapa pun dapat menjadi penulis.

Dengan sebuah telepon genggam, seseorang bisa membuat tulisan dan menyebarkannya kepada ribuan orang.

Persoalannya bukan lagi apakah seseorang bisa menerbitkan tulisan.

Persoalannya adalah apakah ia siap mempertanggungjawabkan tulisannya.

Kita perlu belajar membedakan kritik dengan penghinaan.

Kita perlu membedakan kebebasan berpendapat dengan menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.

Kita perlu memahami bahwa kebebasan berkarya harus berjalan bersama etika.

Penulis boleh berbeda pendapat.

Penulis boleh kritis.

Penulis boleh menyampaikan kegelisahan.

Tetapi semua itu sebaiknya dilakukan dengan akal sehat dan hati yang jernih.

Kongres dan Demokrasi Organisasi

Saya juga tertarik membaca ketentuan mengenai Kongres.

ART memungkinkan Kongres diselenggarakan secara luring, daring, atau gabungan antara keduanya. Peserta yang hadir secara daring memiliki hak dan kedudukan yang sama dengan peserta luring sepanjang identitas, status keanggotaan, kehadiran, dan hak suaranya dapat diverifikasi.

Bagi saya sebagai guru dan pegiat teknologi pendidikan, ketentuan ini menunjukkan bahwa organisasi tidak boleh alergi terhadap teknologi.

Teknologi bukan pengganti manusia.

Teknologi adalah alat untuk membantu manusia.

Dengan teknologi, anggota yang berada jauh dari Jakarta tetap dapat mengikuti kegiatan organisasi.

Dengan teknologi, rapat dapat dilakukan tanpa semua orang harus mengeluarkan biaya perjalanan.

Dengan teknologi, dokumen dapat dibagikan lebih cepat.

Namun penggunaan teknologi harus disertai tata kelola yang baik.

ART mengatur bahwa keputusan Kongres diutamakan melalui musyawarah untuk mufakat. Jika mufakat tidak tercapai, pemungutan suara dapat dilakukan sesuai ketentuan Anggaran Dasar. Sistem pemungutan dan penghitungan suara juga harus memungkinkan hasilnya diverifikasi dan dicatat dalam berita acara.

Inilah demokrasi organisasi.

Bukan berarti semua orang harus selalu setuju.

Justru demokrasi memberi ruang untuk berbeda pendapat.

Yang penting, setelah keputusan diambil, semua pihak menghormati mekanisme yang telah disepakati.

Kepemimpinan Tidak Sekadar Jabatan

Dalam organisasi, jabatan memang diperlukan.

Namun saya belajar bahwa jabatan bukanlah tujuan.

Jabatan adalah amanah.

ART mengatur Dewan Formatur yang menjalankan mandat Kongres, termasuk menyusun dan menetapkan Dewan Pengawas dan Badan Pengurus serta melakukan finalisasi AD dan ART sesuai mandat yang diberikan. Masa kerja Dewan Formatur untuk menyelesaikan mandat tersebut dibatasi paling lambat 30 hari kalender sejak Kongres ditutup.

Selanjutnya, Badan Pengurus menjalankan kepemimpinan dan pengelolaan organisasi sehari-hari. Ketua Umum memimpin Badan Pengurus serta mengambil kebijakan organisasi dalam rangka melaksanakan AD, ART, keputusan Kongres, dan program Perkumpulan.

Saya berharap siapa pun yang mendapatkan amanah kepemimpinan di SATUPENA mampu memahami satu hal:

memimpin penulis berarti memimpin manusia-manusia yang memiliki gagasan.

Setiap penulis memiliki karakter.

Ada yang kritis.

Ada yang pendiam.

Ada yang vokal.

Ada yang produktif.

Ada yang lebih suka bekerja di belakang layar.

Ada yang aktif dalam komunitas.

Ada pula yang lebih nyaman bekerja sendiri.

Pemimpin harus mampu merangkul semuanya.

Jangan sampai organisasi penulis justru kehilangan penulis karena mereka merasa tidak didengar.

Pengawasan dan Transparansi

Organisasi yang besar membutuhkan pengawasan.

ART mengatur Dewan Pengawas untuk menjalankan fungsi pengawasan tanpa mengambil alih kewenangan eksekutif Badan Pengurus. Dewan Pengawas dapat meminta keterangan, dokumen, dan laporan yang relevan secara patut dan proporsional.

Bagi saya, pengawasan bukan berarti mencari-cari kesalahan.

Pengawasan adalah menjaga organisasi agar tetap berada di jalur yang benar.

Hal yang sama berlaku dalam pengelolaan keuangan.

ART menyatakan bahwa seluruh penerimaan dan pengeluaran harus dicatat secara tertib, transparan, akuntabel, efisien, dan dapat dipertanggungjawabkan. Laporan kegiatan dan laporan keuangan disampaikan kepada anggota sekurang-kurangnya satu kali dalam satu tahun.

Saya kira anggota organisasi berhak mengetahui bagaimana organisasi dikelola.

Kepercayaan tidak lahir dari slogan.

Kepercayaan lahir dari keterbukaan.

Semakin transparan sebuah organisasi, semakin mudah anggota merasa menjadi bagian dari organisasi tersebut.

Jangan Hanya Berpusat di Jakarta

Sebagai orang yang hidup di Indonesia, saya selalu percaya bahwa kekuatan bangsa ini berada di daerah.

Begitu pula dengan dunia kepenulisan.

Indonesia tidak hanya Jakarta.

Ada penulis dari Aceh.

Ada penulis dari Sumatra.

Ada penulis dari Jawa.

Ada penulis dari Kalimantan.

Ada penulis dari Sulawesi.

Ada penulis dari Bali dan Nusa Tenggara.

Ada penulis dari Maluku.

Ada penulis dari Papua.

Mereka memiliki cerita yang tidak kalah menarik.

ART SATUPENA memberikan struktur berupa SATUPENA Pulau dan SATUPENA Provinsi. Ketua SATUPENA Pulau bertugas mengoordinasikan kepengurusan provinsi dalam wilayahnya, memperkuat komunikasi dan kerja sama antarprovinsi, membantu pengembangan organisasi dan keanggotaan, serta melakukan koordinasi dan evaluasi.

Sementara itu, SATUPENA Provinsi bertugas memimpin organisasi, mengembangkan keanggotaan, dan melaksanakan kebijakan serta program Perkumpulan di tingkat provinsi.

Saya berharap struktur ini benar-benar menjadi jalan untuk mendekatkan SATUPENA kepada penulis di daerah.

Jangan sampai organisasi hanya aktif ketika ada kongres.

Jangan sampai anggota hanya menerima informasi dari pusat.

Mari bangun kegiatan yang membuat penulis daerah merasa memiliki rumah sendiri.

Pelatihan menulis.

Diskusi buku.

Bedah karya.

Festival literasi.

Penerbitan antologi.

Pendampingan penulis pemula.

Kegiatan literasi sekolah.

Kolaborasi dengan perguruan tinggi.

Bahkan program menulis untuk masyarakat di desa.

Semua itu dapat menjadi kegiatan yang membuat organisasi benar-benar hidup.

Teknologi, AI, dan Tantangan Penulis Masa Kini

Ada satu hal yang menurut saya tidak boleh diabaikan oleh organisasi penulis pada zaman sekarang: teknologi.

Dunia penulisan sedang mengalami perubahan besar.

Kecerdasan artifisial atau AI telah hadir dalam kehidupan sehari-hari. Orang dapat menggunakan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, menerjemahkan teks, bahkan membantu melakukan berbagai pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang.

Tetapi saya selalu mengingatkan:

AI adalah alat. Manusia tetap memiliki hati.

Penulis jangan kehilangan identitasnya hanya karena menggunakan teknologi.

Justru teknologi seharusnya membantu penulis menjadi lebih produktif.

Di sinilah saya berharap organisasi seperti SATUPENA dapat menjadi tempat belajar bersama mengenai perkembangan teknologi.

Penulis perlu memahami AI.

Penulis juga perlu memahami etika penggunaannya.

Kita harus mampu membedakan antara menggunakan teknologi sebagai alat bantu dengan menyerahkan seluruh proses berpikir kepada mesin.

Sebab tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang benar secara tata bahasa.

Tulisan yang baik memiliki pengalaman.

Memiliki gagasan.

Memiliki sudut pandang.

Memiliki kejujuran.

Dan yang paling penting, memiliki manusia di baliknya.

Konflik Tidak Harus Menjadi Perpecahan

Tidak ada organisasi yang sempurna.

Selama ada manusia, pasti ada perbedaan.

Yang satu punya pendapat A.

Yang lain percaya pada pendapat B.

Yang satu ingin organisasi bergerak cepat.

Yang lain ingin semuanya dilakukan dengan sangat hati-hati.

Perbedaan seperti ini wajar.

Yang tidak wajar adalah ketika perbedaan berubah menjadi permusuhan.

Karena itu saya mengapresiasi adanya mekanisme penyelesaian perselisihan internal dalam ART SATUPENA.

Perselisihan terlebih dahulu diselesaikan melalui musyawarah dengan itikad baik. Jika tidak selesai, tersedia mekanisme mediasi Badan Pengurus dan dalam kondisi tertentu dapat dimintakan penyelesaian kepada Dewan Pengawas. Pengadilan ditempatkan sebagai upaya terakhir setelah mekanisme internal ditempuh.

Saya teringat satu kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau kita sedang marah kepada seseorang, jangan langsung menulis.

Tarik napas.

Diam sebentar.

Baca kembali apa yang ingin kita tulis.

Tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah tulisan saya menyelesaikan masalah atau justru memperbesar masalah?

Pertanyaan sederhana ini sangat penting, terutama bagi seorang penulis.

Sebab tulisan memiliki daya.

Sekali dipublikasikan, ia dapat bergerak jauh melampaui apa yang kita bayangkan.

Menata Rumah, Bukan Sekadar Membuat Aturan

Setelah membaca ART SATUPENA 2026, saya semakin yakin bahwa organisasi ini sedang berusaha menata rumah besarnya.

Rumah itu bukan gedung.

Rumah itu bukan kantor.

Rumah itu adalah orang-orang yang berada di dalamnya.

Anggota adalah penghuninya.

Pengurus adalah pengelolanya.

Dewan Pengawas adalah bagian yang memastikan rumah tetap terawat.

Aturan adalah fondasinya.

Program adalah aktivitas kehidupan di dalamnya.

Dan karya para penulis adalah cahaya yang membuat rumah itu bermanfaat bagi masyarakat.

ART juga mengatur bahwa seluruh keputusan, peraturan, kepengurusan, dan alat kelengkapan organisasi yang sudah ada tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan AD dan ART. Kepengurusan SATUPENA Pulau dan Provinsi yang telah ditetapkan sebelumnya juga tetap sah sampai dilakukan perubahan atau penetapan lain.

Artinya, perubahan organisasi tidak harus selalu berarti memulai semuanya dari nol.

Ada kesinambungan.

Ada sejarah.

Ada pengalaman.

Ada orang-orang yang sudah bekerja.

Tugas kita adalah memperbaiki apa yang perlu diperbaiki dan melanjutkan apa yang sudah baik.

Harapan Seorang Guru Blogger

Saya menulis refleksi ini bukan sebagai orang yang merasa paling tahu tentang organisasi penulis.

Saya justru sedang belajar.

Selama menjadi guru, saya belajar bahwa organisasi yang baik adalah organisasi yang mau mendengar.

Selama menjadi blogger, saya belajar bahwa konsistensi lebih penting daripada popularitas sesaat.

Selama menulis buku, saya belajar bahwa sebuah karya membutuhkan kesabaran.

Selama berada di komunitas literasi, saya belajar bahwa kita tidak akan pernah bisa berjalan sendirian.

Dan selama menjadi pendidik, saya belajar bahwa ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan.

Karena itu saya berharap SATUPENA 2026 tidak berhenti pada dokumen ART.

Saya berharap pasal-pasal tersebut diterjemahkan menjadi gerakan.

Gerakan menulis.

Gerakan membaca.

Gerakan menerbitkan buku.

Gerakan mendokumentasikan pengalaman.

Gerakan menghidupkan literasi daerah.

Gerakan melindungi kebebasan berkarya.

Gerakan meningkatkan kompetensi penulis.

Dan gerakan mempertemukan penulis senior dengan penulis pemula.

Dari Penulis untuk Indonesia

ART SATUPENA ditutup dengan sebuah pesan yang menurut saya sangat penting. Seluruh anggota, Dewan Pengawas, Badan Pengurus, Ketua SATUPENA Pulau, Ketua SATUPENA Provinsi, serta alat kelengkapan organisasi wajib melaksanakan ART dengan itikad baik, penuh tanggung jawab, dan semangat pengabdian kepada dunia kepenulisan dan literasi Indonesia.

Kata yang saya garis bawahi adalah pengabdian.

Menulis memang bisa menjadi profesi.

Menulis juga bisa menghasilkan pendapatan.

Buku bisa dijual.

Artikel bisa dimonetisasi.

Konten digital bisa menghasilkan penghasilan.

Namun jauh di atas semua itu, menulis dapat menjadi pengabdian.

Ketika seorang guru menulis pengalaman mengajar, ia sedang meninggalkan jejak bagi guru lainnya.

Ketika seorang penulis daerah menuliskan tradisi masyarakatnya, ia sedang menyelamatkan memori budaya.

Ketika seorang peneliti menulis hasil penelitiannya, ia sedang membagikan pengetahuan.

Ketika seorang penulis muda menceritakan kegelisahan generasinya, ia sedang menyuarakan zamannya.

Dan ketika seorang blogger menuliskan pengalaman sehari-hari dengan jujur, ia sedang mendokumentasikan kehidupan.

Itulah kekuatan tulisan.

Mari Menulis dan Merawat Rumah Bersama

Pada akhirnya, saya melihat ART SATUPENA 2026 sebagai sebuah langkah untuk menata organisasi agar memiliki tata kelola yang lebih jelas, demokratis, transparan, dan mampu menjangkau penulis di berbagai wilayah Indonesia.

Tetapi dokumen sebaik apa pun tidak akan memiliki arti apabila tidak dijalankan.

Karena itu, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai setelah dokumen selesai.

Bagaimana pengurus menjalankannya?

Bagaimana anggota berpartisipasi?

Bagaimana kritik diterima?

Bagaimana konflik diselesaikan?

Bagaimana keuangan dilaporkan?

Bagaimana penulis pemula dibimbing?

Bagaimana penulis daerah diberdayakan?

Bagaimana teknologi dimanfaatkan?

Bagaimana literasi Indonesia dikembangkan?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang akan menentukan masa depan organisasi.

Sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia, saya ingin mengajak para penulis Indonesia untuk terus menulis.

Jangan menunggu menjadi terkenal.

Jangan menunggu memiliki buku.

Jangan menunggu memiliki jabatan.

Jangan menunggu tulisan kita dianggap hebat.

Mulailah dari pengalaman sendiri.

Tuliskan apa yang kita lihat.

Tuliskan apa yang kita rasakan.

Tuliskan apa yang kita pelajari.

Tuliskan apa yang kita pikirkan.

Dan yang paling penting, tuliskan sesuatu yang memberikan manfaat.

Sebab mungkin tulisan kita hari ini hanya dibaca oleh sepuluh orang.

Tetapi kita tidak pernah tahu, siapa di antara sepuluh orang itu yang kelak berubah hidupnya karena tulisan kita.

Itulah alasan saya terus menulis.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Mari kita jadikan SATUPENA sebagai rumah besar yang bukan hanya pandai membuat aturan, tetapi juga mampu melahirkan karya.

Rumah yang bukan hanya ramai ketika kongres berlangsung, tetapi hidup setiap hari.

Rumah yang tidak hanya berada di pusat, tetapi hadir sampai ke daerah.

Rumah yang mampu merangkul perbedaan.

Rumah yang menjaga etika.

Rumah yang transparan.

Rumah yang demokratis.

Dan rumah yang menjadikan kepenulisan dan literasi sebagai bagian penting dari perjalanan mencerdaskan bangsa Indonesia.

Salam literasi.

Salam menulis.

Salam SATUPENA.

Omjay, Guru Blogger Indonesia

Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 26 Agustus 2026

Bagaimana Cara Melindungi blog Agar Tetap Hidup dan Terlindungi?

Bagaimana Cara Melindungi Blog agar Tetap Hidup dan Bertahan Lama?

Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada satu hal yang selalu saya syukuri dalam perjalanan menjadi guru dan blogger: saya masih memiliki rumah digital tempat menyimpan gagasan, pengalaman, pembelajaran, dan perjalanan hidup.

Rumah digital itu adalah blog Wijaya Labs, yang dapat dikunjungi di .

Bagi saya, blog bukan sekadar tempat menulis. Blog adalah arsip perjalanan hidup. Di dalamnya tersimpan pengalaman menjadi guru, cerita tentang pendidikan, kegiatan literasi, pembelajaran Informatika, berbagai kegiatan organisasi, pengalaman mengikuti kegiatan, sampai kisah sederhana yang mungkin suatu hari nanti akan menjadi kenangan berharga.

Karena itulah saya sering berpikir: bagaimana caranya supaya blog kita terlindungi dan bisa bertahan?

Pertanyaan ini semakin penting di zaman sekarang. Teknologi berubah sangat cepat. Platform bisa berganti. Algoritma mesin pencari dapat berubah. Media sosial bisa kehilangan popularitas. Bahkan sebuah layanan internet yang hari ini kita anggap besar, suatu saat bisa berubah kebijakan atau berhenti beroperasi.

Blog pribadi karena itu harus diperlakukan sebagai aset digital jangka panjang.

Blog adalah Rumah Digital

Saya sudah menulis di internet selama bertahun-tahun. Salah satu pelajaran terbesar yang saya dapatkan adalah jangan menggantungkan seluruh karya pada satu platform.

Saya pernah menggunakan berbagai tempat untuk menulis. Namun saya tetap membutuhkan rumah sendiri.

Blog pribadi memberikan ruang bagi kita untuk menentukan apa yang ingin ditulis, bagaimana tulisan ditampilkan, dan bagaimana arsip tersebut disimpan. Blog juga dapat menjadi identitas digital seorang guru, dosen, penulis, profesional, maupun siapa saja yang ingin meninggalkan jejak melalui tulisan.

Blog Wijaya Labs sendiri terus berkembang menjadi tempat saya menyimpan berbagai karya dan informasi. Bahkan pada 2026, blog tersebut masih aktif memuat tulisan tentang pendidikan, literasi, pembelajaran, lomba blog, hingga kisah kehidupan Omjay.

Bagi saya, inilah alasan mengapa blog harus dijaga.

Jangan hanya rajin menulis. Kita juga harus rajin melindungi tulisan.

1. Jangan Hanya Menyimpan Tulisan di Blog

Kesalahan yang sering dilakukan blogger pemula adalah merasa aman karena tulisan sudah dipublikasikan.

Padahal, tulisan yang sudah tayang di internet belum tentu aman selamanya.

Karena itu, saya selalu menyarankan agar tulisan penting mempunyai salinan.

Simpan artikel dalam beberapa bentuk. Misalnya dokumen Word, PDF, atau file teks. Kalau memungkinkan, simpan juga foto, video, dan dokumen pendukungnya.

Saya membayangkan begini.

Kalau suatu hari terjadi masalah pada blog, kita tidak panik karena semua tulisan masih mempunyai cadangan.

Backup adalah asuransi karya.

Jangan menunggu blog bermasalah baru mencari cadangan.

2. Lakukan Backup Secara Berkala

Kalau blog sudah berisi ratusan atau bahkan ribuan tulisan, backup menjadi semakin penting.

Buatlah kebiasaan sederhana. Misalnya melakukan backup secara berkala dan menyimpan salinannya di tempat yang berbeda.

Jangan hanya menyimpan backup di komputer yang sama dengan blog atau perangkat yang sama dengan file asli. Jika perangkat rusak, terkena malware, hilang, atau mengalami masalah lainnya, cadangan juga bisa ikut hilang.

Saya belajar bahwa karya digital harus mempunyai lebih dari satu tempat penyimpanan.

Satu salinan bisa hilang. Dua salinan lebih aman. Tiga salinan jauh lebih menenangkan.

3. Lindungi Akun Administrator

Blog yang bagus tetapi akun administratornya lemah tetap berbahaya.

Gunakan password yang kuat dan berbeda dari password akun lain.

Jangan menggunakan password yang mudah ditebak seperti tanggal lahir, nama anak, nama sekolah, atau kombinasi sederhana.

Kalau platform blog menyediakan autentikasi dua faktor atau fitur keamanan tambahan, manfaatkan.

Kita sering merasa, “Ah, siapa yang mau meretas blog saya?”

Justru pemikiran seperti itulah yang perlu dihindari.

Blog mungkin tidak terkenal, tetapi akun administrator tetap merupakan pintu masuk menuju seluruh karya kita.

4. Jangan Sembarangan Memasang Plugin atau Script

Bagi pengguna WordPress dan platform lain yang mendukung plugin, tema, widget, atau script tambahan, kita harus berhati-hati.

Jangan memasang sesuatu hanya karena terlihat menarik.

Setiap tambahan pada blog dapat membawa manfaat, tetapi juga dapat membawa risiko keamanan jika berasal dari sumber yang tidak terpercaya atau tidak lagi diperbarui.

Saya lebih memilih blog sederhana tetapi sehat daripada blog penuh hiasan tetapi rentan.

Blog yang cepat, bersih, mudah dibaca, dan aman menurut saya jauh lebih penting daripada blog yang dipenuhi berbagai efek visual.

5. Jangan Menggantungkan Masa Depan pada Algoritma

Sebagai blogger yang sudah cukup lama menulis, saya merasakan sendiri bahwa dunia digital terus berubah.

Dulu orang mencari informasi melalui mesin pencari. Sekarang mereka juga menggunakan media sosial, video pendek, komunitas, newsletter, dan berbagai teknologi kecerdasan artifisial.

Algoritma dapat berubah kapan saja.

Karena itu, jangan sampai semangat menulis kita bergantung pada jumlah kunjungan hari ini.

Hari ini artikel kita bisa dibaca ribuan orang.

Besok mungkin hanya puluhan.

Tidak masalah.

Yang penting tulisan tersebut tetap menjadi bagian dari arsip digital kita.

Saya pernah menulis bahwa platform dan algoritma dapat berubah, tetapi tulisan yang bermanfaat bisa tinggal jauh lebih lama di hati pembaca.

6. Bangun Identitas Digital Sendiri

Saya bersyukur memiliki nama Wijaya Labs dan identitas sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia.

Ketika seseorang mencari nama saya, blog menjadi salah satu tempat untuk menemukan informasi tentang perjalanan, karya, dan aktivitas saya.

Inilah pentingnya membangun identitas digital secara konsisten.

Gunakan nama, foto, profil, dan informasi yang konsisten di berbagai platform.

Namun jangan sampai semua platform menjadi satu-satunya tempat kita menyimpan karya.

Media sosial adalah tempat berjejaring.

Blog adalah salah satu rumah untuk menyimpan karya.

Keduanya dapat saling mendukung.

7. Jangan Lupa Memperbarui Blog

Blog yang bertahan bukan hanya blog yang aman, tetapi juga blog yang hidup.

Tidak perlu menulis artikel panjang setiap hari.

Satu paragraf pun tidak masalah.

Satu pengalaman mengajar.

Satu refleksi.

Satu foto kegiatan.

Satu tips Informatika.

Satu cerita perjalanan.

Satu pelajaran kehidupan.

Semuanya bisa menjadi bahan tulisan.

Saya sendiri masih berusaha memegang prinsip:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Kalimat itu bukan sekadar slogan bagi saya. Itu adalah kebiasaan.

Blog saya berisi perjalanan yang terus bergerak. Dari tulisan lama sampai tulisan baru, semuanya menjadi bagian dari perjalanan Omjay sebagai guru dan blogger Indonesia.

8. Simpan Domain dan Data dengan Baik

Kalau menggunakan domain sendiri, jangan lupa mencatat informasi penting mengenai domain tersebut.

Pastikan email pemilik domain aktif. Catat kapan masa berlaku domain berakhir. Jangan sampai domain kedaluwarsa hanya karena lupa memperpanjang.

Sebab domain bukan hanya alamat internet.

Bagi seorang blogger, domain bisa menjadi identitas dan merek pribadi.

Ketika sebuah alamat sudah dikenal pembaca selama bertahun-tahun, kehilangan domain bisa menjadi persoalan besar.

Karena itu, perpanjangan domain harus menjadi bagian dari agenda rutin blogger.

9. Jangan Hanya Mengandalkan Satu Platform

Pengalaman saya mengajarkan bahwa seorang blogger sebaiknya memiliki strategi penyimpanan dan distribusi yang beragam.

Tulisan utama bisa berada di blog pribadi.

Sebagian tulisan dapat dikembangkan menjadi buku.

Tulisan tertentu dapat dibagikan melalui media sosial.

Tulisan lainnya dapat dipublikasikan di platform komunitas atau media yang relevan.

Dengan demikian, karya tidak berhenti di satu tempat.

Namun tetap harus diperhatikan hak cipta dan aturan masing-masing platform.

Bagi saya, blog pribadi tetap menjadi rumah utama.

10. Buat Arsip yang Mudah Dicari

Bayangkan blog kita sudah berusia 10, 15, atau 20 tahun.

Tulisan akan semakin banyak.

Kalau tidak dikelola, pembaca akan kesulitan menemukan artikel lama.

Karena itu gunakan kategori dan tag secara konsisten.

Buat halaman khusus untuk karya-karya penting.

Misalnya:

- Profil dan perjalanan Omjay
- Pendidikan
- Informatika
- Koding dan AI
- Literasi
- Kisah Guru
- Buku
- Webinar
- Lomba Blog
- Opini
- Inspirasi

Arsip yang rapi membuat blog bukan hanya menjadi tempat menulis, tetapi juga menjadi perpustakaan digital pribadi.

11. Hati-Hati dengan Informasi Pribadi

Blog memang tempat berbagi.

Tetapi tidak semua hal harus dipublikasikan.

Jangan sembarangan menampilkan password, nomor identitas, informasi keuangan, data pribadi orang lain, atau informasi sensitif.

Sebelum menekan tombol “Publish”, biasakan bertanya kepada diri sendiri:

Apakah informasi ini aman jika dibaca orang lain lima atau sepuluh tahun lagi?

Pertanyaan sederhana ini dapat menyelamatkan kita dari banyak masalah.

12. Jangan Takut dengan AI

Sekarang kita memasuki era kecerdasan artifisial.

AI dapat membantu mencari ide, membuat kerangka tulisan, memperbaiki bahasa, menerjemahkan, bahkan membantu membuat kode program.

Tetapi saya tetap percaya bahwa pengalaman manusia adalah sumber tulisan yang sangat berharga.

AI dapat membantu kita bekerja lebih cepat.

Namun pengalaman mengajar selama bertahun-tahun tidak bisa begitu saja digantikan oleh mesin.

Ketika saya menulis kisah Omjay, yang membuat tulisan tersebut memiliki rasa adalah pengalaman yang benar-benar saya jalani.

Guru yang mengajar di kelas mempunyai pengalaman.

Guru yang bertemu murid mempunyai cerita.

Guru yang mengalami kegagalan mempunyai pelajaran.

Guru yang berhasil menyelesaikan masalah mempunyai inspirasi.

Tulislah pengalaman itu.

Sebab pengalaman nyata adalah salah satu kekuatan terbesar seorang blogger.

Blog Boleh Sederhana, Tetapi Jangan Mati

Saya tidak pernah bercita-cita membuat blog yang paling hebat.

Saya hanya ingin blog saya tetap hidup.

Saya ingin ketika suatu hari murid, guru, teman, keluarga, atau pembaca mencari nama Omjay, mereka menemukan jejak digital yang bermanfaat.

Mungkin mereka menemukan tulisan tentang pembelajaran.

Mungkin mereka menemukan kisah seorang guru.

Mungkin mereka menemukan tutorial Informatika.

Mungkin mereka menemukan cerita tentang buku.

Atau mungkin mereka menemukan tulisan sederhana yang membuat mereka tersenyum dan kembali bersemangat.

Itulah yang saya harapkan dari blog.

Bukan hanya banyak pengunjung.

Tetapi banyak manfaat.

Penutup: Lindungi Blog, Rawat Karya, Terus Menulis

Dari perjalanan saya sebagai blogger, saya belajar bahwa mempertahankan blog membutuhkan tiga hal: keamanan, konsistensi, dan kecintaan terhadap karya.

Keamanan berarti kita melakukan backup, menjaga akun, memperbarui sistem, dan berhati-hati dalam mengelola data.

Konsistensi berarti kita terus menulis meskipun pembaca tidak selalu banyak.

Kecintaan berarti kita menyadari bahwa tulisan bukan sekadar konten.

Tulisan adalah jejak.

Blog adalah rumah.

Dan setiap tulisan adalah bagian dari perjalanan kehidupan.

Blog Wijaya Labs masih saya rawat karena saya percaya, perjalanan seorang guru tidak berhenti ketika bel sekolah berbunyi. Guru dapat terus mengajar melalui tulisan. Guru dapat terus berbagi melalui internet. Guru dapat meninggalkan warisan ilmu melalui blog dan buku.

Maka, kalau Anda memiliki blog, jangan biarkan ia mati.

Rawatlah.

Backup-lah.

Lindungilah.

Perbaruilah.

Dan yang paling penting, isilah dengan karya yang bermanfaat.

Sebab kita tidak pernah tahu kapan sebuah tulisan sederhana akan ditemukan seseorang dan menjadi jawaban atas pertanyaan yang selama ini ia cari.

Saya, Omjay Guru Blogger Indonesia, akan terus belajar menjaga rumah digital ini.

Rumah yang bernama Wijaya Labs.

Rumah tempat saya menulis, belajar, berbagi, dan meninggalkan jejak.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan.

Omjay blog https://wijayalabs.com
Guru Blogger Indonesia