Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 31 Mei 2026

Pesan Jenderal Polisi Hoegeng

Memang Penting Jadi Orang Pintar, Tapi Lebih Penting Jadi Orang Baik

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara di kampung Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menggantung di atas hamparan sawah yang menghijau. Burung-burung kecil beterbangan dari satu pohon ke pohon lainnya, seolah sedang mengajarkan sebuah pelajaran kehidupan yang sederhana namun bermakna.

Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir kopi hangat. Di tangannya tergenggam sebuah telepon pintar yang setiap hari menjadi jendela untuk melihat dunia.

Seperti biasa, Omjay membaca berbagai tulisan yang beredar di media sosial. Di antara sekian banyak tulisan, matanya berhenti pada sebuah kutipan yang sangat terkenal dari Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso.

"Memang penting jadi orang pintar, tapi lebih penting jadi orang baik."

Omjay membacanya sekali. Lalu membacanya lagi. Dan kembali membacanya untuk ketiga kali. Semakin dibaca, semakin terasa dalam maknanya.

Kalimat itu sederhana. Tidak panjang. Tidak rumit. Namun mengandung pelajaran hidup yang luar biasa.

Omjay lalu teringat perjalanan panjangnya sebagai guru selama lebih dari tiga dekade. Dalam dunia pendidikan, Omjay bertemu ribuan siswa dengan berbagai karakter.

Ada siswa yang sangat pintar. Nilai matematikanya selalu sempurna. Cepat memahami pelajaran. Cepat menjawab soal. Cepat menguasai teknologi. Namun tidak semuanya memiliki sikap yang baik.

Sebaliknya, ada juga siswa yang nilainya biasa saja. Tidak selalu menjadi juara kelas. Tidak selalu tampil menonjol.

Tetapi mereka sopan. Mereka jujur. Mereka menghormati guru. Mereka senang membantu teman yang kesulitan. Dan anehnya, dalam kehidupan nyata setelah dewasa, justru banyak di antara mereka yang berhasil membangun kehidupan yang lebih bermakna.

Saat itulah Omjay memahami bahwa kepintaran memang penting, tetapi kebaikan jauh lebih penting.

Belajar dari Keteladanan Hoegeng

Nama Hoegeng bukan sekadar nama dalam buku sejarah.

Beliau adalah simbol integritas.

Ketika banyak orang menggunakan jabatan untuk memperkaya diri, Hoegeng memilih hidup sederhana.

Ketika banyak orang tergoda oleh kekuasaan, Hoegeng memilih mempertahankan kejujuran.

Beliau membuktikan bahwa menjadi baik bukanlah kelemahan.

Justru menjadi baik membutuhkan keberanian yang luar biasa.

Orang pintar banyak.

Orang kaya banyak.

Orang berjabatan tinggi juga banyak.

Tetapi orang yang tetap jujur ketika memiliki kesempatan untuk berbuat curang, itulah yang langka.

Omjay membayangkan jika seluruh pejabat Indonesia meneladani Hoegeng.

Mungkin korupsi akan berkurang.

Mungkin rakyat akan lebih sejahtera.

Mungkin pendidikan akan semakin maju.

Sebab akar dari banyak masalah bangsa sesungguhnya bukan kurangnya orang pintar.

Indonesia tidak kekurangan orang pintar.

Yang sering kurang adalah orang baik yang memegang amanah dengan jujur.

Sekolah Bisa Mengajarkan Ilmu, Tetapi Karakter Dibentuk Setiap Hari

Sebagai guru, Omjay sering merenungkan satu pertanyaan penting.

Apa tujuan pendidikan?

Apakah sekadar menghasilkan siswa dengan nilai tinggi?

Apakah sekadar membuat mereka lulus ujian?

Apakah sekadar membuat mereka diterima di perguruan tinggi favorit?

Jawabannya tentu tidak.

Pendidikan sejati adalah membentuk manusia yang utuh.

Manusia yang cerdas sekaligus berakhlak.

Manusia yang pintar sekaligus peduli.

Manusia yang sukses tanpa kehilangan hati nurani.

Omjay teringat banyak murid yang sudah menjadi dokter, insinyur, pengusaha, dosen, programmer, dan berbagai profesi lainnya.

Namun yang paling membanggakan bukanlah jabatan mereka.

Yang paling membanggakan adalah ketika mereka tetap rendah hati.

Tetap menghormati gurunya.

Tetap peduli kepada sesama.

Tetap membantu orang lain.

Karena itulah tanda bahwa pendidikan berhasil.

Guru sejati bukan hanya mengajar pelajaran.

Guru sejati juga mengajarkan kehidupan.

Murid Akan Lupa Rumus, Tetapi Tidak Akan Lupa Kebaikan

Ada satu pelajaran yang selalu Omjay pegang selama menjadi guru.

Murid mungkin akan lupa rumus matematika.

Murid mungkin akan lupa teori yang diajarkan.

Murid mungkin akan lupa isi presentasi guru.

Tetapi mereka tidak akan lupa bagaimana guru memperlakukan mereka.

Mereka akan ingat guru yang sabar mendengarkan.

Mereka akan ingat guru yang memberi semangat ketika mereka gagal.

Mereka akan ingat guru yang percaya kepada mereka ketika orang lain meragukan mereka.

Kebaikan meninggalkan jejak yang jauh lebih lama dibandingkan pengetahuan.

Karena itu, Omjay selalu berusaha menjadi guru yang bukan hanya pintar mengajar, tetapi juga baik kepada murid.

Sebab ilmu bisa dicari di internet.

Ilmu bisa diperoleh dari buku.

Ilmu bisa dipelajari dari video.

Tetapi keteladanan harus dilihat langsung.

Menjadi Baik di Era Digital

Hari ini kita hidup di era kecerdasan buatan.

Teknologi berkembang sangat cepat.

Informasi tersedia dalam hitungan detik.

Anak-anak semakin mudah menjadi pintar.

Namun ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi.

Yaitu hati yang baik.

Artificial Intelligence bisa menjawab pertanyaan.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan kasih sayang.

AI bisa menulis artikel.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan ketulusan.

AI bisa membantu pekerjaan manusia.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan karakter baik yang dibangun melalui keteladanan.

Karena itu Omjay selalu mengingatkan para guru dan siswa.

Belajarlah setinggi mungkin.

Kuasailah teknologi.

Kuasailah AI.

Kuasailah ilmu pengetahuan.

Tetapi jangan pernah kehilangan akhlak.

Karena ketika kepintaran tidak dibimbing oleh kebaikan, maka kepintaran itu bisa menjadi bencana.

Tulisan yang Akan Dikenang

Saat matahari mulai meninggi di atas langit Garut, Omjay menutup telepon pintarnya.

Kutipan Hoegeng masih terngiang di telinga.

"Memang penting jadi orang pintar, tapi lebih penting jadi orang baik."

Kalimat itu terasa seperti nasihat yang tidak akan pernah usang dimakan zaman.

Omjay lalu membuka blog pribadinya di .

Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard.

Ia menuliskan refleksi pagi itu agar bisa dibaca banyak orang.

Karena Omjay percaya, tulisan bukan sekadar rangkaian kata.

Tulisan adalah warisan pemikiran.

Tulisan adalah jejak kebaikan.

Tulisan adalah cara menyebarkan nilai-nilai yang akan hidup lebih lama daripada usia penulisnya.

Dan pada akhirnya, Omjay semakin yakin bahwa dunia ini tidak membutuhkan lebih banyak orang pintar yang saling mengalahkan.

Dunia membutuhkan lebih banyak orang baik yang saling menguatkan.

Sebab kepintaran membuat kita dikagumi.

Namun kebaikan membuat kita dicintai.

Kepintaran membuat kita berhasil.

Namun kebaikan membuat hidup kita berarti.

Maka jika hari ini kita harus memilih, jadilah orang yang terus belajar agar pintar. Tetapi jangan pernah berhenti menjadi orang baik.

Karena sejarah membuktikan, orang pintar mungkin dikenang karena prestasinya.

Tetapi orang baik akan dikenang karena keteladanannya.Semoga artikel ini cocok untuk dipublikasikan di blog Omjay atau Kompasiana dengan pesan kuat tentang pendidikan karakter, keteladanan Hoegeng, dan peran guru dalam membentuk generasi yang pintar sekaligus baik.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jadikan Menulis Sebagai Proses Pencerahan Diri

Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay duduk sendirian di teras rumah kampung di Wanaraja, Garut. Udara terasa sejuk. Kabut tipis masih menggantung di antara pepohonan. Burung-burung kecil berkicau riang seolah sedang menyampaikan pesan kehidupan kepada siapa saja yang mau mendengarkan.

Di tangan Omjay ada secangkir kopi hangat.

Di hadapannya terbentang hamparan sawah hijau yang memanjakan mata.

Namun pikiran Omjay justru sedang berjalan jauh menembus ruang digital yang kini dipenuhi jutaan tulisan setiap hari.

Saat membuka ponsel, Omjay membaca sebuah tulisan yang membuat hatinya bergetar.

Judulnya sederhana.

"Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi."

Omjay terdiam cukup lama.

Ada sesuatu yang terasa menancap dalam hati.

Sebab di tengah dunia yang semakin gaduh, pertanyaan itu terasa sangat penting.

Mengapa kita menulis?

Apakah untuk mencari perhatian?

Apakah untuk mengejar popularitas?

Apakah untuk menjadi viral?

Ataukah untuk menghadirkan cahaya bagi kehidupan orang lain?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.

Sebagai seorang guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade dan menulis selama bertahun-tahun, Omjay melihat perubahan besar dalam dunia literasi.

Dahulu orang menulis dengan kesabaran.

Mereka membaca banyak buku.

Mencatat gagasan.

Berdiskusi.

Merenung.

Lalu menuliskan pemikirannya dengan hati-hati.

Hari ini semuanya terasa berbeda.

Segalanya bergerak sangat cepat.

Orang ingin cepat terkenal.

Cepat viral.

Cepat mendapatkan perhatian.

Bahkan terkadang lebih sibuk menghitung jumlah like daripada menghitung manfaat dari tulisannya sendiri.

Padahal tulisan yang viral belum tentu bernilai.

Tulisan yang ramai diperbincangkan belum tentu membawa pencerahan.

Sebaliknya, tulisan yang sederhana dan nyaris tak terdengar justru sering kali mampu mengubah kehidupan seseorang.

Omjay teringat masa-masa awal ketika membuat blog.

Saat itu belum banyak orang mengenal dirinya.

Tulisan yang dipublikasikan sering kali hanya dibaca satu atau dua orang.

Kadang tidak ada komentar sama sekali.

Sepi.

Sunyi.

Namun Omjay tetap menulis.

Hari demi hari.

Minggu demi minggu.

Tahun demi tahun.

Apa yang dilihat ditulis.

Apa yang didengar ditulis.

Apa yang dirasakan ditulis.

Apa yang dipelajari ditulis.

Bukan karena ingin terkenal.

Tetapi karena Omjay percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan.

Tulisan adalah rekaman perjalanan manusia.

Tulisan adalah saksi zaman.

Tulisan adalah warisan pemikiran yang akan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.

Banyak orang mengira menulis itu pekerjaan yang sia-sia.

Padahal sesungguhnya menulis adalah cara manusia mengabadikan makna hidupnya.

Bertahun-tahun kemudian Omjay mulai merasakan keajaiban dari kebiasaan sederhana itu.

Tulisan-tulisan yang dahulu sepi pembaca perlahan menemukan jalannya sendiri.

Ada guru dari pelosok negeri yang menghubungi Omjay dan berkata bahwa tulisannya membuat mereka kembali bersemangat mengajar.

Ada mahasiswa yang menjadikan tulisan Omjay sebagai referensi penelitian.

Ada orang tua yang mengaku kembali bangkit dari keterpurukan setelah membaca kisah-kisah sederhana yang Omjay bagikan.

Saat itulah Omjay memahami satu hal.

Tulisan tidak bekerja seperti petir yang langsung menyambar langit.

Tulisan bekerja seperti air.

Pelan.

Tenang.

Diam-diam mengalir.

Namun mampu menghidupkan banyak kehidupan.

Di era media sosial saat ini, sensasi sering kali lebih menarik daripada substansi.

Judul dibuat bombastis.

Isi dibuat provokatif.

Emosi pembaca sengaja dipancing agar tulisan cepat menyebar.

Akibatnya, banyak tulisan hanya hidup beberapa jam lalu hilang tanpa meninggalkan makna.

Hari ini viral.

Besok dilupakan.

Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban besar dibangun oleh tulisan-tulisan yang mencerahkan.

Buku-buku yang mengubah dunia tidak lahir dari sensasi.

Mereka lahir dari kejujuran berpikir.

Dari ketekunan belajar.

Dari keberanian menyampaikan kebenaran.

Dan dari ketulusan berbagi ilmu kepada sesama.

Tulisan yang baik bukan sekadar membuat pembaca berkata,

"Wah, keren sekali!"

Tetapi membuat pembaca berkata,

"Hari ini saya mendapatkan pelajaran berharga."

Itulah pencerahan.

Itulah tujuan sejati dari sebuah tulisan.

Omjay masih ingat ketika pertama kali mendapat kesempatan belajar ke Jepang pada tahun 2016.

Kemudian pada tahun 2019 Omjay berkesempatan belajar ke China.

Saat berdiri di negeri yang maju itu, Omjay memandangi gedung-gedung tinggi dan perkembangan teknologi yang begitu luar biasa.

Tiba-tiba air mata menetes tanpa disadari.

Omjay membatin dalam hati.

"Ya Allah, kalau dulu saya menyerah menulis, mungkin saya tidak akan pernah sampai di sini."

Air mata itu bukan karena kesedihan.

Air mata itu lahir dari rasa syukur.

Siapa sangka kebiasaan sederhana menulis setiap hari mampu membuka begitu banyak pintu kehidupan?

Menulis mempertemukan Omjay dengan ribuan sahabat.

Menulis membawa Omjay berkeliling Indonesia.

Menulis mengantarkan Omjay belajar ke berbagai negara.

Menulis membuka kesempatan yang dahulu hanya menjadi mimpi.

Karena itu Omjay selalu berpesan kepada para guru, mahasiswa, siswa, dan siapa saja yang ingin mulai menulis:

Menulislah setiap hari.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Jangan menunggu terkenal.

Jangan menunggu viral.

Tulislah sekarang juga.

Tulislah apa yang ada di hati.

Tulislah pengalamanmu.

Tulislah perjuanganmu.

Tulislah kegagalanmu.

Tulislah harapanmu.

Sebab tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati yang lain.

Hari ini mungkin tulisanmu hanya dibaca sepuluh orang.

Besok mungkin seratus orang.

Lima tahun lagi mungkin ribuan orang.

Tetapi sesungguhnya yang paling penting bukan jumlah pembacanya.

Yang paling penting adalah manfaatnya.

Sebab tulisan yang bermanfaat akan hidup jauh lebih lama dibanding sensasi sesaat.

Tulisan yang mencerahkan akan terus menyala seperti lilin di tengah kegelapan.

Tulisan yang menginspirasi akan menjadi sedekah ilmu yang pahalanya terus mengalir.

Matahari pagi mulai meninggi.

Kabut perlahan menghilang.

Suara ayam jantan masih terdengar bersahutan dari kejauhan.

Omjay menatap layar ponselnya sekali lagi.

Lalu tersenyum.

Di zaman yang penuh kegaduhan ini, dunia tidak kekurangan orang yang bisa berbicara.

Dunia juga tidak kekurangan orang yang bisa membuat sensasi.

Tetapi dunia masih membutuhkan lebih banyak orang yang mau menghadirkan pencerahan.

Orang-orang yang menulis dengan hati.

Orang-orang yang menjadikan pena sebagai jalan pengabdian.

Orang-orang yang percaya bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cahaya yang mampu menerangi kehidupan manusia.

Karena pada akhirnya, tulisan yang paling berharga bukanlah tulisan yang paling viral.

Melainkan tulisan yang mampu membuat seseorang menjadi lebih baik setelah membacanya.

Maka jika hari ini engkau mulai menulis, jangan tanyakan berapa banyak orang yang membaca tulisanmu.

Jangan tanyakan berapa banyak yang memberi tanda suka.

Jangan tanyakan apakah tulisanmu viral atau tidak.

Tanyakanlah satu hal yang lebih penting:

"Apakah tulisan ini mampu memberi cahaya bagi kehidupan orang lain?"

Jika jawabannya "iya", teruslah menulis.

Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika dirimu sudah tiada, tulisan itulah yang masih berbicara.

Menyapa para pembacanya.

Menguatkan hati mereka.

Menginspirasi langkah mereka.

Dan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang penulis yang memilih menghadirkan pencerahan, bukan sekadar sensasi.

Karena sesungguhnya umur manusia terbatas.

Tetapi tulisan yang lahir dari hati bisa hidup melintasi zaman.

---

Salam Blogger Persahabatan

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

๐ŸŒ Blog: https://wijayalabs.com

"Tulisan adalah jejak kehidupan. Menulislah setiap hari dan lihatlah keajaiban yang Allah hadirkan dalam hidupmu."

Menulis untuk Pencerahan Diri

Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay duduk sendirian di teras rumah kampung di Wanaraja Garut. Udara masih terasa dingin. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan. Burung-burung kecil bernyanyi seolah sedang menyampaikan pesan dari langit.

Di tangan Omjay ada secangkir kopi hangat. Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang hijau. Namun pikiran Omjay justru sedang berjalan jauh menembus ruang digital yang kini dipenuhi jutaan tulisan setiap hari.

Saat membuka ponsel, Omjay membaca sebuah tulisan berjudul “Menulis untuk Pencerahan, Bukan Sekadar Sensasi.” Judul itu membuat Omjay terdiam cukup lama. Hati Omjay seperti disentuh oleh sebuah pertanyaan yang sederhana, tetapi sangat dalam.

Mengapa kita menulis?Apakah untuk mencari perhatian? Apakah untuk mengejar viral? Ataukah untuk meninggalkan cahaya bagi kehidupan orang lain? Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.

Sebab sebagai seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar dan menulis, Omjay melihat perubahan yang sangat besar dalam dunia literasi. Dahulu orang menulis dengan penuh kesabaran. Mereka mencari referensi, membaca buku, merenung, lalu menuliskan pemikirannya dengan hati-hati.

Hari ini semuanya berubah. Banyak orang ingin cepat terkenal. Banyak orang ingin cepat viral. Banyak orang lebih sibuk menghitung jumlah like dibanding menghitung manfaat tulisannya.

Padahal tulisan yang viral belum tentu bernilai. Tulisan yang ramai dibicarakan belum tentu membawa pencerahan.

Omjay teringat saat pertama kali membuat blog bertahun-tahun lalu. Saat itu tidak banyak orang membaca tulisannya. Kadang hanya satu atau dua orang. Bahkan sering kali tidak ada komentar sama sekali. Namun Omjay tetap menulis.

Setiap hari. Setiap waktu. Apa yang dilihat ditulis. Apa yang didengar ditulis. Apa yang dirasakan ditulis. Bukan karena ingin terkenal. Tetapi karena Omjay percaya bahwa tulisan adalah jejak kehidupan.

Tulisan adalah rekaman perjalanan manusia. Tulisan adalah tabungan amal yang mungkin suatu hari akan dibaca oleh orang yang membutuhkannya.

Bertahun-tahun kemudian Omjay mulai merasakan keajaiban dari menulis.Tulisan yang dahulu sepi pembaca ternyata perlahan menemukan jalannya sendiri.

Ada guru dari pelosok yang menghubungi Omjay. Ada mahasiswa yang menjadikan tulisan Omjay sebagai referensi. Ada orang tua yang mengaku kembali bersemangat hidup setelah membaca kisah sederhana yang Omjay tulis.

Saat itulah Omjay sadar. Ternyata tulisan tidak bekerja seperti petir yang langsung menyambar. Tulisan bekerja seperti air.

Pelan. Tenang. Tetapi mampu menghidupkan banyak kehidupan.

Di era media sosial saat ini, banyak orang berlomba-lomba membuat sensasi. Judul dibuat bombastis. Isi dibuat provokatif. Emosi pembaca sengaja dipancing agar tulisan cepat menyebar. Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi dunia literasi. Banyak tulisan yang mengejar perhatian sesaat tetapi kehilangan makna jangka panjang.

Omjay tidak mengatakan bahwa viral itu salah.

Tidak.

Viral bisa menjadi jalan kebaikan.

Namun ketika viral menjadi tujuan utama, sering kali substansi mulai ditinggalkan.

Yang dicari bukan lagi kebenaran.

Tetapi perhatian.

Yang dicari bukan lagi manfaat.

Tetapi popularitas.

Padahal sejarah membuktikan bahwa peradaban besar dibangun oleh tulisan-tulisan yang mencerahkan.

Buku-buku yang mengubah dunia tidak lahir dari sensasi.

Mereka lahir dari kejujuran berpikir.

Dari ketekunan belajar.

Dari ketulusan berbagi ilmu.

Tulisan yang baik bukan sekadar membuat orang berkata, “Wah, keren!”

Tetapi membuat pembaca berkata, “Saya mendapatkan pelajaran berharga hari ini.”

Itulah pencerahan.

Omjay teringat sebuah pengalaman yang membuatnya menangis.

Berkat menulis, Omjay yang hanya seorang guru biasa pernah diundang ke berbagai daerah di Indonesia.

Berkat menulis, Omjay bisa belajar hingga ke Jepang dan China.

Berkat menulis, Omjay bertemu banyak sahabat yang sebelumnya tidak pernah dikenal.

Semua itu bukan karena Omjay hebat.

Semua itu karena tulisan membuka jalan yang tidak pernah disangka.

Saat berada di China tahun 2019, Omjay berdiri memandangi negeri yang begitu maju.

Saat itu Omjay membatin.

“Ya Allah, kalau dulu saya menyerah menulis, mungkin saya tidak akan pernah sampai di sini.”

Air mata Omjay menetes.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena bersyukur.

Dari sebuah kebiasaan sederhana bernama menulis, Allah membuka begitu banyak pintu kehidupan.

Karena itu Omjay selalu mengatakan kepada para guru:

Menulislah setiap hari.

Jangan tunggu sempurna.

Jangan tunggu hebat.

Jangan tunggu viral.

Tulislah apa yang ada di hati.

Tulislah pengalamanmu.

Tulislah perjuanganmu.

Tulislah kegagalanmu.

Tulislah harapanmu.

Sebab tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya menuju hati yang lain.

Hari ini mungkin tulisanmu dibaca sepuluh orang.

Besok mungkin seratus orang.

Lima tahun lagi mungkin ribuan orang.

Tetapi yang paling penting bukan jumlah pembacanya.

Yang paling penting adalah manfaatnya.

Menulis yang berorientasi pada kebermanfaatan akan menghadirkan nilai yang jauh lebih panjang dibanding sensasi sesaat. Tulisan yang reflektif, edukatif, dan bermakna mampu menjadi bagian dari sedekah peradaban yang terus hidup melintasi zaman.

Matahari pagi mulai naik.

Kabut perlahan menghilang.

Suara ayam jantan bersahutan dari kejauhan.

Omjay menatap layar ponselnya sekali lagi.

Lalu tersenyum.

Di zaman yang penuh kegaduhan ini, dunia tidak kekurangan orang yang bisa berbicara.

Dunia juga tidak kekurangan orang yang bisa membuat sensasi.

Yang masih sangat dibutuhkan adalah orang-orang yang mau menghadirkan pencerahan. Orang-orang yang menulis dengan hati. Orang-orang yang menjadikan pena sebagai jalan pengabdian.Karena pada akhirnya, tulisan yang paling berharga bukanlah tulisan yang paling viral.

Melainkan tulisan yang mampu membuat seseorang menjadi lebih baik setelah membacanya. Maka jika hari ini engkau mulai menulis, jangan tanyakan berapa banyak yang membaca.

Tanyakanlah:
Apakah tulisan ini memberi cahaya bagi kehidupan orang lain?

Jika jawabannya iya, teruslah menulis.

Sebab mungkin suatu hari nanti, ketika dirimu sudah tiada, tulisan itulah yang masih berbicara.

Menyapa pembacanya. IkutnMenguatkan hatinya. Dan menjadi saksi bahwa pernah ada seorang penulis yang memilih menghadirkan pencerahan, bukan sekadar sensasi.Tulisan ini terinspirasi dari refleksi literasi yang menekankan pentingnya menulis sebagai jalan pencerahan, kebermanfaatan, dan sedekah peradaban, bukan sekadar mengejar viralitas atau sensasi sesaat. 

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Saran Buat Presiden Prabowo

Ketika Saran Seorang Sahabat Menyentuh Hati Bangsa

Kisah Omjay tentang Perjalanan, Pengabdian, dan Efisiensi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu Omjay membuka ponsel sambil menikmati secangkir kopi hangat di kampung halaman Wanaraja Garut. Udara terasa sejuk. Burung-burung berkicau di pepohonan. Seperti biasa, Omjay membaca berbagai berita yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat.

Salah satu berita yang menarik perhatian Omjay adalah pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Beliau memberikan saran kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar mengurangi intensitas perjalanan ke luar negeri dan lebih memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call atau konferensi daring.

Ketika membaca berita itu, Omjay terdiam cukup lama.

Bukan karena setuju atau tidak setuju.

Tetapi Omjay teringat sebuah pelajaran hidup yang sangat sederhana.

Kadang-kadang, nasihat yang baik tidak selalu datang dari lawan. Justru sering datang dari sahabat yang peduli.

Dino Patti Djalal bukan orang sembarangan. Beliau pernah menjadi diplomat, duta besar, dan tokoh hubungan internasional Indonesia. Ketika beliau menyampaikan pendapat, tentu ada pengalaman panjang yang melatarbelakanginya. Dalam pernyataannya, Dino menilai perjalanan luar negeri yang terlalu sering dapat menimbulkan persepsi kurang baik di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi banyak tantangan. Ia juga mengusulkan penggunaan teknologi komunikasi agar lebih efisien dari sisi biaya negara.

Omjay kemudian membayangkan kehidupan sehari-hari sebagai seorang guru.

Bukankah guru juga sering mengalami hal yang sama?

Ketika seorang kepala sekolah memberikan masukan kepada guru, itu bukan berarti membenci gurunya.

Ketika pengawas sekolah memberikan kritik, bukan berarti ingin menjatuhkan.

Ketika murid memberi saran kepada guru, belum tentu murid itu kurang ajar.

Bisa jadi mereka peduli.

Bisa jadi mereka melihat sesuatu yang luput dari perhatian kita.

Omjay teringat masa-masa awal menjadi guru pada tahun 1994. Saat itu Omjay masih muda dan penuh semangat. Ketika mendapat kritik dari senior, hati kadang terasa panas. Rasanya ingin membela diri.

Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman, Omjay menyadari bahwa kritik yang tulus sebenarnya adalah hadiah yang sangat mahal.

Tidak semua orang mau mengingatkan.

Banyak orang memilih diam.

Banyak orang memilih menjadi penonton.

Banyak pula yang hanya berani berbicara di belakang.

Karena itu, ketika seseorang menyampaikan masukan dengan terbuka dan bertanggung jawab, sesungguhnya ia sedang menunjukkan kepeduliannya.

Dalam dunia pendidikan, Omjay sering mengajarkan kepada siswa bahwa teknologi seharusnya memudahkan pekerjaan manusia.

Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia beberapa tahun lalu, jutaan guru dan siswa di Indonesia belajar melalui Zoom, Google Meet, dan berbagai platform digital lainnya.

Awalnya terasa sulit.

Namun perlahan semua beradaptasi.

Ternyata banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan tanpa harus selalu bertemu secara langsung.

Bukan berarti pertemuan tatap muka tidak penting.

Tetap penting.

Sangat penting bahkan.

Tetapi kita belajar bahwa teknologi dapat membantu menghemat waktu, tenaga, dan biaya.

Apa yang disampaikan Dino Patti Djalal sebenarnya mengingatkan kita semua bahwa kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan bijak. Ia mencontohkan bahwa komunikasi virtual bisa menjadi alternatif untuk beberapa agenda diplomasi tertentu sehingga negara dapat menghemat anggaran yang besar.

Saat membaca itu, Omjay tersenyum.

Karena Omjay sendiri merasakan manfaat teknologi.

Dulu jika ingin berbagi ilmu kepada guru-guru di seluruh Indonesia, Omjay harus naik pesawat, naik kereta, atau menempuh perjalanan panjang.

Sekarang?

Cukup membuka laptop.

Cukup membuka aplikasi Zoom.

Ribuan guru bisa belajar bersama dari Aceh sampai Papua.

Ilmu tetap tersampaikan.

Persaudaraan tetap terjalin.

Manfaat tetap dirasakan.

Namun Omjay juga memahami bahwa tidak semua urusan bisa digantikan teknologi.

Ada diplomasi yang membutuhkan kehadiran langsung.

Ada kerja sama yang membutuhkan tatapan mata.

Ada negosiasi yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan.

Karena itu, yang terpenting bukan soal pergi atau tidak pergi.

Melainkan soal keseimbangan.

Soal efisiensi.

Soal memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana.

Dalam kehidupan sehari-hari, Omjay sering melihat banyak orang yang lupa membedakan kebutuhan dan keinginan.

Mereka rela mengeluarkan uang besar untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih hemat.

Padahal uang yang dihemat bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.

Begitu pula dalam pengelolaan negara.

Setiap rupiah yang digunakan sesungguhnya berasal dari rakyat.

Karena itu harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.

Omjay percaya bahwa siapa pun pemimpinnya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa.

Presiden Prabowo tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menjalankan diplomasi luar negeri. Bahkan berbagai lawatan internasional dilakukan untuk memperkuat hubungan ekonomi, pertahanan, perdagangan, dan kepentingan strategis Indonesia di dunia internasional.

Namun di sisi lain, suara masyarakat dan masukan dari tokoh-tokoh berpengalaman juga perlu didengar.

Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang anti kritik.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mendengarkan berbagai pandangan dengan kepala dingin.

Pagi itu Omjay menutup ponselnya.

Kemudian Omjay membuka laptop.

Jari-jari mulai menari di atas keyboard.

Tulisan demi tulisan mengalir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir menuju lautan.

Omjay kembali teringat sebuah pelajaran hidup yang selalu dipegang hingga hari ini.

Jika kita ingin menjadi pribadi yang terus bertumbuh, jangan takut mendengar kritik.

Jika kita ingin menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, jangan alergi terhadap masukan.

Jika kita ingin menjadi guru yang dicintai murid, jangan pernah merasa paling benar.

Karena sesungguhnya manusia hebat bukanlah manusia yang selalu dipuji.

Manusia hebat adalah manusia yang mau belajar dari setiap suara yang datang menghampiri.

Dan seperti yang selalu Omjay yakini:

Menulislah setiap hari. Catat setiap peristiwa. Renungkan setiap pelajaran hidup. Sebab dari sebuah berita sederhana, kita bisa menemukan hikmah yang luar biasa untuk kehidupan.

Tulisan Omjay hari ini kembali mengingatkan bahwa perjalanan terjauh bukanlah perjalanan ke luar negeri.

Perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju kebijaksanaan hati.

 

Mengapa Masih Ada Guru yang DIBAYAR MURAH?

Mengapa Masih Ada Guru Digaji Kecil? Sebuah Renungan dari Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Suatu hari, Omjay menonton sebuah video yang membahas kompetensi guru dan kesejahteraan mereka. Pembicara dalam video itu menggunakan daya nalar kritis dan analitis. Ia tidak hanya melihat persoalan guru dari permukaan, tetapi mencoba menghubungkan antara kompetensi, kebijakan pemerintah, status kepegawaian, anggaran pendidikan, dan realitas kehidupan para guru di lapangan.

Daya nalar yang digunakan adalah nalar sebab-akibat (kausalitas). Ia mencoba menjawab pertanyaan besar: Mengapa guru yang memiliki tanggung jawab besar masih banyak yang digaji kecil?

Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.

Malam semakin larut. Namun pikiran Omjay justru semakin terjaga. Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, Omjay melihat sendiri bagaimana banyak guru berjuang dalam diam.

Mereka datang paling pagi.

Pulang paling sore.

Mengoreksi tugas hingga larut malam.

Menjadi guru, konselor, orang tua, motivator, bahkan terkadang menjadi tempat curhat siswa.

Namun ketika tanggal tua datang, sebagian dari mereka masih harus menghitung uang di dompet dengan hati-hati.

Ada guru yang gajinya bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama satu bulan.

Ironis sekali.

Padahal semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa.

Namun mengapa orang-orang yang membangun fondasi itu justru sering kali hidup dalam keterbatasan?

Omjay teringat seorang guru honorer yang pernah ditemuinya dalam sebuah pelatihan.

Guru itu datang dari daerah yang jauh.

Ia mengajar setiap hari dengan penuh semangat.

Murid-murid mencintainya.

Orang tua menghormatinya.

Namun ketika Omjay bertanya berapa penghasilannya setiap bulan, ia hanya tersenyum.

"Kadang tiga ratus ribu, Om. Kadang lima ratus ribu. Kalau sekolah sedang kesulitan dana, ya harus menunggu."

Omjay terdiam.

Dalam hati ia bertanya:

Bagaimana mungkin seorang guru yang mengajar puluhan anak setiap hari harus bertahan hidup dengan penghasilan sebesar itu?

Padahal harga kebutuhan pokok terus naik.

Biaya pendidikan anak terus bertambah.

Biaya kesehatan tidak pernah murah.

Persoalan ini ternyata bukan hanya terjadi di satu daerah.

Banyak penelitian dan laporan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru honorer masih menjadi masalah besar di Indonesia. Sebuah kajian dalam Jurnal Pendidikan Tambusai menyebutkan bahwa guru honorer menghadapi rendahnya kesejahteraan, ketidakjelasan status kerja, dan terbatasnya kesempatan pengembangan profesional. Beban kerja mereka sering kali hampir sama dengan guru ASN, tetapi hak dan fasilitas yang diterima jauh berbeda.

Di sisi lain, pemerintah sebenarnya terus berupaya memperbaiki kondisi tersebut.

Tahun 2026 pemerintah meningkatkan berbagai tunjangan guru non-ASN, memperluas program sertifikasi, serta melanjutkan pengangkatan guru honorer menjadi PPPK. Lebih dari 900 ribu guru honorer telah diangkat menjadi ASN PPPK dalam lima tahun terakhir.

Namun persoalan guru ternyata tidak sesederhana menaikkan angka tunjangan.

Masalahnya jauh lebih kompleks.

Pertama, jumlah guru honorer yang sangat besar membuat proses penataan membutuhkan waktu panjang.

Kedua, kemampuan keuangan setiap daerah berbeda-beda.

Ketiga, masih ada sekolah yang sangat bergantung pada dana terbatas untuk menggaji guru.

Keempat, distribusi anggaran pendidikan belum sepenuhnya dirasakan merata oleh semua guru.

Omjay melihat persoalan ini seperti sebuah rumah besar.

Semua orang ingin rumah pendidikan Indonesia berdiri kokoh.

Namun sebagian tukangnya masih bekerja dengan upah yang belum layak.

Tentu rumah itu tetap bisa dibangun.

Tetapi pembangunan akan berjalan lebih baik jika para tukangnya hidup dengan sejahtera.

Ada sebuah kenyataan yang kadang menyedihkan.

Masyarakat sering memuji guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.

Kalimat itu memang indah.

Namun terkadang pujian tidak mampu membayar kebutuhan hidup.

Guru juga manusia.

Mereka memiliki keluarga.

Mereka memiliki anak yang harus sekolah.

Mereka memiliki orang tua yang harus dirawat.

Mereka memiliki kebutuhan hidup seperti profesi lainnya.

Karena itu penghargaan kepada guru tidak cukup hanya melalui kata-kata.

Penghargaan harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan yang layak.

Omjay pernah mendengar sebuah kalimat yang sangat mengena.

"Bangsa yang besar tidak hanya menghormati gurunya ketika Hari Guru, tetapi juga memastikan gurunya hidup dengan layak setiap hari."

Kalimat itu terus membekas dalam hati.

Sebab Omjay tahu, di balik senyum para guru terdapat banyak perjuangan yang tidak terlihat.

Ada guru yang naik motor puluhan kilometer setiap hari.

Ada guru yang mengajar sambil berjualan kecil-kecilan demi menambah penghasilan.

Ada guru yang harus mengajar di dua atau tiga sekolah sekaligus.

Ada pula guru yang tetap masuk kelas meskipun sedang menghadapi masalah ekonomi yang berat.

Mereka tetap tersenyum.

Mereka tetap mengajar.

Mereka tetap memberikan ilmu terbaik untuk anak-anak bangsa.

Inilah yang membuat Omjay selalu hormat kepada profesi guru.

Karena menjadi guru bukan hanya soal pekerjaan.

Menjadi guru adalah panggilan jiwa.

Namun panggilan jiwa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan mereka.

Kompetensi guru memang penting.

Pelatihan guru memang penting.

Sertifikasi guru memang penting.

Tetapi kesejahteraan guru juga sama pentingnya.

Karena guru yang sejahtera akan lebih fokus mengajar.

Guru yang tenang akan lebih kreatif mendidik.

Guru yang dihargai akan lebih bersemangat membimbing generasi masa depan.

Ketika menutup laptop malam itu, Omjay kembali menulis sebuah kalimat di blognya:

"Jangan pernah bertanya mengapa pendidikan belum maju jika kita masih membiarkan banyak guru berjuang sendirian. Sebab di ruang kelas yang sederhana itu, ada guru yang sedang menanam masa depan bangsa dengan penghasilan yang kadang tidak cukup untuk masa depannya sendiri."

Semoga suatu hari nanti tidak ada lagi guru yang harus memilih antara membeli buku untuk muridnya atau membeli kebutuhan dapur keluarganya.

Semoga suatu hari nanti profesi guru benar-benar dihargai setinggi jasa yang mereka berikan.

Karena sesungguhnya, ketika kita memuliakan guru, kita sedang memuliakan masa depan bangsa Indonesia. ✍️

**Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Sebab tulisan mampu menyuarakan jeritan yang tak terdengar dan memperjuangkan harapan yang sering terlupakan.**

Semuanya Berawal Dari Menulis

Kisah Omjay: Menulis dari Hati, Rezeki pun Mengikuti

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kalimat sederhana itu telah mengubah hidup Omjay. Dulu Omjay tidak pernah membayangkan bahwa kebiasaan menulis yang dilakukan setiap hari akan mengantarkannya melihat dunia, bertemu banyak orang hebat, dan memperoleh pengalaman berharga yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Semua berawal dari sebuah kebiasaan kecil: menulis.

Bukan menulis karena ingin terkenal. Bukan pula menulis karena ingin mendapatkan uang. Omjay menulis karena ingin berbagi pengalaman sebagai guru. Omjay ingin meninggalkan jejak pemikiran yang bisa dibaca kembali oleh murid, sahabat, dan generasi berikutnya.

Saat pertama kali membuat blog, pembacanya sangat sedikit. Bahkan sering kali tulisan yang dibuat dengan penuh semangat hanya dibaca beberapa orang saja. Ada rasa kecewa. Ada rasa sedih. Bahkan terkadang muncul pertanyaan dalam hati:

"Untuk apa menulis jika tidak ada yang membaca?"

Namun Omjay teringat pesan seorang guru.

"Tugas kita adalah menulis yang baik. Soal siapa yang membaca, biarkan Allah yang mengatur."

Sejak saat itu Omjay memutuskan untuk terus menulis.

Setiap hari.

Tanpa menunggu mood.

Tanpa menunggu inspirasi datang.

Tanpa menunggu sempurna.

Karena Omjay percaya bahwa tulisan yang baik akan menemukan pembacanya sendiri.

Menulis Membuat Omjay Menangis

Ada satu momen yang tidak pernah Omjay lupakan.

Ketika Omjay mendapat kesempatan belajar ke Negeri Tirai Bambu, China, pada tahun 2019.

Saat pesawat mulai lepas landas, Omjay memandang keluar jendela. Awan putih terlihat begitu indah. Hati Omjay bergetar.

Air mata perlahan menetes.

Omjay teringat masa kecil yang sederhana.

Terbayang bagaimana dulu harus berjuang untuk sekolah.

Terbayang perjalanan menjadi guru sejak tahun 1994.

Terbayang ribuan tulisan yang pernah dibuat di blog.

Saat itu Omjay menangis.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena bersyukur.

Siapa sangka seorang guru biasa dari Indonesia bisa berdiri di negeri yang dulu hanya bisa dilihat melalui buku pelajaran?

Siapa sangka tulisan-tulisan sederhana di blog membuka begitu banyak pintu kesempatan?

Omjay semakin yakin bahwa tulisan bukan hanya rangkaian kata.

Tulisan adalah jalan takdir yang sedang Allah bukakan.

Dari Blog Menuju Dunia

Banyak orang mengira bahwa menulis hanya menghasilkan buku.

Padahal manfaat menulis jauh lebih besar.

Karena menulis, Omjay mendapatkan kesempatan menjadi narasumber di berbagai daerah.

Karena menulis, Omjay bertemu para guru hebat dari seluruh Indonesia.

Karena menulis, Omjay mendapatkan sahabat baru yang jumlahnya ribuan.

Karena menulis, Omjay memperoleh kesempatan belajar ke Jepang pada tahun 2016.

Karena menulis, Omjay dapat berbagi ilmu melalui webinar, pelatihan, dan komunitas guru.

Karena menulis, Omjay dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Yang lebih membahagiakan lagi, tulisan-tulisan itu terus hidup meskipun Omjay sedang tidur.

Blog bekerja selama 24 jam.

Tulisan yang dibuat hari ini bisa dibaca orang lain tahun depan.

Bahkan mungkin puluhan tahun lagi.

Itulah keajaiban menulis.

Menulislah dari Hati

Salah satu rahasia menulis yang Omjay pelajari adalah:

Menulislah dari hati.

Banyak orang terlalu sibuk memikirkan teknik menulis sehingga lupa menyentuh hati pembaca.

Padahal pembaca tidak selalu mencari tulisan yang paling cerdas.

Pembaca mencari tulisan yang paling jujur.

Tulisan yang lahir dari pengalaman nyata.

Tulisan yang penuh ketulusan.

Tulisan yang membuat pembaca berkata:

"Saya pernah merasakan hal yang sama."

Ketika Omjay menulis tentang keluarga, pendidikan, perjuangan hidup, kesehatan, perjalanan, atau pengalaman mengajar, pembaca merasa dekat.

Karena tulisan itu bukan hasil rekayasa.

Tulisan itu lahir dari kehidupan sehari-hari.

Maka jangan takut menulis pengalaman sederhana.

Karena pengalaman sederhana yang ditulis dengan hati bisa menjadi luar biasa.

Teruslah Kritis dengan Menulis

Menulis juga membuat kita menjadi pribadi yang kritis.

Saat menulis, kita belajar membaca.

Saat membaca, kita belajar berpikir.

Saat berpikir, kita belajar memahami masalah.

Dan ketika memahami masalah, kita akan menemukan solusi.

Itulah sebabnya Omjay selalu mengajak guru dan siswa untuk membiasakan diri menulis.

Bangsa yang maju adalah bangsa yang masyarakatnya gemar membaca dan menulis.

Perubahan besar dalam sejarah dunia lahir dari tulisan.

Buku mengubah peradaban.

Artikel mengubah cara berpikir.

Tulisan menggerakkan manusia.

Karena itu jangan hanya menjadi penonton.

Jadilah penulis.

Jadilah pencatat sejarah kehidupan.

Uang Akan Mengikuti Karya

Banyak orang bertanya kepada Omjay:

"Bagaimana cara mendapatkan uang dari menulis?"

Jawaban Omjay sederhana.

Jangan kejar uangnya terlebih dahulu. Kejar manfaatnya.

Jika tulisan kita bermanfaat, uang akan mengikuti.

Jika tulisan kita membantu banyak orang, rezeki akan datang dengan caranya sendiri.

Omjay merasakan sendiri bagaimana tulisan menghasilkan kesempatan menjadi narasumber, pelatih, penulis buku, pengelola komunitas, hingga berbagai kerja sama pendidikan.

Semua itu berawal dari satu kebiasaan kecil:

menulis setiap hari.

Tulisan Adalah Tabungan Kehidupan

Hari ini Omjay semakin percaya bahwa tulisan adalah tabungan terbaik.

Uang bisa habis.

Jabatan bisa berakhir.

Popularitas bisa hilang.

Namun tulisan akan tetap hidup.

Tulisan menjadi warisan pemikiran yang bisa terus memberi manfaat.

Karena itu Omjay selalu mengatakan:

"Tulisanku adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."

Blog adalah rumah bagi ide-ide kita.

Blog adalah museum perjalanan hidup kita.

Blog adalah saksi bahwa kita pernah hadir dan berusaha memberi manfaat bagi sesama.

Penutup

Jika hari ini Anda masih ragu untuk menulis, mulailah dari satu paragraf.

Jika besok masih ragu, tulislah satu halaman.

Jika lusa masih ragu, tetaplah menulis.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu hebat.

Karena tidak ada penulis hebat yang lahir tanpa proses menulis setiap hari.

Omjay sudah membuktikannya.

Dari sebuah blog sederhana, Allah mempertemukan Omjay dengan ribuan sahabat, membawa Omjay ke Jepang, China, dan berbagai daerah di Indonesia, serta membuka pintu rezeki yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya.

Maka pesan Omjay untuk Anda sederhana:

Teruslah kritis dengan menulis. Teruslah belajar dengan menulis. Teruslah berbagi dengan menulis. Menulislah setiap hari, lalu perhatikan apa yang terjadi.

Siapa tahu, tulisan sederhana yang Anda buat hari ini menjadi jalan datangnya ilmu, persahabatan, keberkahan, dan rezeki yang mengubah hidup Anda di masa depan. Karena sesungguhnya, tulisan yang baik akan selalu menemukan pembacanya sendiri. ✍️๐Ÿ“š๐ŸŒ

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Ketika Omjay Bermimpi Menerbitkan Buku

Ketika Mimpi Menjadi Buku: Kisah Omjay Menyaksikan Cahaya Literasi dari KBMN 34

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Malam itu langit terasa biasa saja. Tidak ada bintang yang jatuh. Tidak ada petir yang menyambar. Tidak ada peristiwa besar yang menghentikan langkah manusia.

Namun di balik layar gawai dan laptop para peserta KBMN 34, sesungguhnya sedang lahir sebuah peristiwa yang jauh lebih besar.

Peristiwa itu bernama harapan.

Harapan yang ditulis dengan jari-jari penuh semangat.

Harapan yang dirangkai menjadi kalimat demi kalimat.

Harapan yang suatu saat akan menjelma menjadi sebuah buku.

Omjay tersenyum ketika melihat satu demi satu resume Pertemuan ke-17 KBMN 34 masuk ke dalam daftar pengumpulan tugas. Nama-nama itu bukan sekadar deretan peserta. Mereka adalah para pejuang literasi yang sedang berjalan menuju impian mereka masing-masing.

Ada Ibu Imas Masitoh.

Ada Hayatunnufus.

Ada Tuti Umyati.

Ada Tini Suhartini.

Ada Emi Suhaimi.

Ada Nani Suryani.

Ada ST. Rahmawati.

Ada Anis Solihah.

Ada Sa'diyah.

Mereka mungkin tinggal berjauhan.

Mereka mungkin berbeda usia.

Mereka mungkin memiliki profesi dan kesibukan yang tidak sama.

Namun malam itu mereka dipersatukan oleh satu hal yang sangat mulia.

Keinginan untuk menulis.

Dan lebih dari itu, keinginan untuk menerbitkan buku.

---

Omjay teringat masa lalu.

Bertahun-tahun yang lalu, Omjay juga pernah berdiri di titik yang sama.

Penuh keraguan.

Penuh pertanyaan.

"Apakah saya bisa menulis buku?"

"Apakah tulisan saya layak dibaca?"

"Apakah ada yang mau membeli buku saya?"

Pertanyaan itu terus berputar di kepala.

Sampai akhirnya Omjay menyadari satu hal penting.

Tidak ada penulis hebat yang langsung lahir sebagai penulis hebat.

Semua berawal dari keberanian menulis satu halaman pertama.

Semua berawal dari keberanian mempublikasikan tulisan pertama.

Semua berawal dari keberanian bermimpi.

Malam itu narasumber KBMN 34, Cak Inin Nastain, membagikan pengalaman dan ilmunya tentang dunia penerbitan buku.

Bagi sebagian orang, menerbitkan buku terdengar rumit.

Mahal.

Melelahkan.

Banyak syarat.

Banyak kendala.

Namun setelah mengikuti materi tersebut, para peserta mulai memahami bahwa menerbitkan buku saat ini jauh lebih mudah dibandingkan dahulu.

Teknologi telah membuka jalan.

Internet telah menjembatani mimpi.

Platform digital telah memperpendek jarak antara penulis dan pembaca.

Yang paling sulit ternyata bukan menerbitkan buku.

Yang paling sulit justru adalah memulai menulis.

---

Omjay selalu percaya bahwa setiap manusia memiliki kisah yang layak dibukukan.

Setiap guru memiliki pengalaman yang berharga.

Setiap ibu memiliki cerita perjuangan.

Setiap ayah memiliki pelajaran kehidupan.

Setiap anak memiliki impian.

Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya cerita.

Masalahnya adalah apakah cerita itu dituliskan atau tidak.

Betapa banyak pengalaman berharga yang hilang begitu saja karena tidak pernah dicatat.

Betapa banyak ilmu yang ikut terkubur bersama pemiliknya karena tidak pernah diwariskan dalam bentuk tulisan.

Padahal tulisan adalah mesin waktu yang mampu membawa pikiran seseorang melintasi zaman.

Tulisan mampu membuat seseorang tetap hidup meski raganya telah lama tiada.

Tulisan mampu menyentuh hati orang yang bahkan belum pernah kita kenal.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan kepada para peserta KBMN:

"Tulisanmu adalah tabunganmu."

Ketika orang lain menabung uang di bank, penulis menabung kata demi kata.

Ketika orang lain mengumpulkan emas, penulis mengumpulkan gagasan.

Ketika orang lain menyimpan harta di brankas, penulis menyimpan pengalaman di blog.

Dan suatu saat nanti, tabungan itu akan tumbuh menjadi buku yang bernilai.

---

Melihat daftar resume yang terus bertambah, hati Omjay terasa hangat.

Ada rasa bahagia yang sulit dijelaskan.

Bahagia karena melihat semangat literasi terus menyala.

Bahagia karena semakin banyak guru yang berani menulis.

Bahagia karena semakin banyak orang yang percaya bahwa dirinya mampu menjadi penulis.

Dulu banyak peserta yang berkata:

"Saya tidak bisa menulis."

"Saya bingung memulai."

"Saya tidak punya bakat."

Namun kini mereka mampu membuat resume yang rapi.

Mampu menulis refleksi.

Mampu membagikan pengalaman belajar.

Mampu menyusun artikel yang menarik.

Itulah bukti bahwa kemampuan menulis bukan bakat semata.

Menulis adalah keterampilan yang bisa dilatih.

Semakin sering menulis, semakin tajam kemampuan berpikir.

Semakin sering menulis, semakin kaya kosakata.

Semakin sering menulis, semakin kuat rasa percaya diri.

---

Omjay membayangkan beberapa tahun ke depan.

Mungkin suatu hari nanti Omjay akan berjalan memasuki sebuah toko buku.

Di rak-rak buku itu berjajar karya para alumni KBMN.

Ada buku karya Ibu Imas.

Ada buku karya Hayatunnufus.

Ada buku karya Tuti Umyati.

Ada buku karya Tini Suhartini.

Ada buku karya Emi Suhaimi.

Ada buku karya Nani Suryani.

Ada buku karya Rahmawati.

Ada buku karya Anis Solihah.

Ada buku karya Sa'diyah.

Dan mungkin masih banyak lagi.

Saat itu Omjay akan tersenyum bangga.

Karena setiap buku yang lahir bukan hanya kumpulan kertas dan tinta.

Melainkan bukti bahwa seseorang pernah berani memperjuangkan mimpinya.

---

Sebelum menutup laptop malam itu, Omjay kembali menatap daftar resume peserta.

Di balik setiap tautan blog, tersimpan semangat yang luar biasa.

Di balik setiap artikel, tersimpan harapan yang besar.

Di balik setiap kata, tersimpan impian yang sedang tumbuh.

Maka Omjay ingin berpesan kepada seluruh peserta KBMN 34:

Jangan pernah berhenti menulis.

Jangan menunggu sempurna untuk mulai.

Jangan menunggu hebat untuk berkarya.

Tulislah hari ini.

Tulislah apa yang Anda lihat.

Tulislah apa yang Anda rasakan.

Tulislah apa yang Anda alami.

Karena setiap tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Dan ingatlah satu hal yang selalu Omjay yakini:

Buku besar selalu dimulai dari satu halaman. Tulisan hebat selalu dimulai dari satu kalimat. Penulis terkenal selalu dimulai dari keberanian untuk menulis hari ini.

Mari terus menulis.

Mari terus berbagi.

Mari terus menyalakan cahaya literasi Indonesia.

Sebab boleh jadi, tulisan yang sedang Anda ketik malam ini akan menjadi warisan terbaik yang tetap hidup bahkan ketika usia kita telah berhenti menghitung waktu.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay Tentang Istintsaar

ISTINTSAAR: SUNNAH RASUL YANG MENYEHATKAN DAN SERING DILUPAKAN

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara di Kampung Bojong, Wanaraja, Garut terasa begitu sejuk. Kabut tipis masih menyelimuti pepohonan dan sawah yang membentang hijau di depan rumah keluarga Omjay. Ayam jantan berkokok bersahut-sahutan. Suara azan Subuh dari masjid kampung terdengar merdu menembus kesunyian pagi.

Omjay terbangun perlahan dari tidurnya. Seperti biasa, sebelum beranjak dari tempat tidur, Omjay duduk sejenak. Kebiasaan ini sudah lama dilakukan. Selain memberi kesempatan tubuh menyesuaikan diri setelah tidur, Omjay juga ingin memulai hari dengan mengingat Allah SWT.

Lalu Omjay membaca doa bangun tidur yang diajarkan Rasulullah SAW:

"Alhamdulillaahil ladzii ahyaanaa ba'da maa amaatanaa wa ilaihin nusyuur."

Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami (tidur), dan hanya kepada-Nya kami akan dibangkitkan.

Setelah membaca doa tersebut, Omjay teringat sebuah tulisan yang dibagikan oleh sahabatnya mengenai sunnah Rasulullah SAW yang sering diabaikan banyak orang, yaitu Istintsaar.

Awalnya Omjay mengira hal itu hanya bagian kecil dari wudhu yang biasa dilakukan sehari-hari. Namun setelah membaca hadis-hadis yang menjelaskannya, Omjay merasa bahwa sunnah ini menyimpan hikmah yang luar biasa.

Istintsaar adalah mengeluarkan air dari hidung setelah sebelumnya memasukkannya ke dalam rongga hidung. Biasanya dilakukan bersamaan dengan istinsyaq, yaitu menghirup air ke dalam hidung saat berwudhu.

Rasulullah SAW bersabda:

"Apabila salah seorang dari kalian bangun dari tidurnya, hendaklah ia beristintsaar tiga kali, karena sesungguhnya setan bermalam di dalam hidungnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Ketika membaca hadis tersebut, Omjay merenung cukup lama.

Mengapa Rasulullah SAW memberikan perhatian khusus pada hidung saat bangun tidur?

Ternyata Islam tidak pernah mengajarkan sesuatu tanpa hikmah. Apa yang diajarkan Rasulullah SAW selalu mengandung manfaat, baik yang dapat dipahami secara langsung maupun yang baru diketahui manusia setelah ilmu pengetahuan berkembang.

Omjay kemudian menuju kamar mandi untuk berwudhu. Dengan perlahan ia memasukkan air ke dalam hidung lalu mengeluarkannya kembali. Dilakukan tiga kali sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW.

Rasanya begitu segar.

Udara pagi yang sebelumnya terasa berat kini terasa lebih ringan masuk ke rongga pernapasan.

Omjay teringat penjelasan para ulama bahwa secara syariat, istintsaar merupakan sunnah muakkadah yang sangat dianjurkan. Dalam Mazhab Syafi'i dan mayoritas ulama, amalan ini menjadi bagian penting dalam penyempurnaan wudhu.

Namun yang lebih menarik perhatian Omjay adalah penjelasan dari sisi kesehatan.

Saat manusia tidur selama berjam-jam, berbagai partikel debu, kuman, lendir, dan kotoran dapat menumpuk di rongga hidung. Membersihkan hidung dengan air membantu mengurangi risiko infeksi saluran pernapasan atas.

Dalam dunia medis modern, praktik membersihkan rongga hidung bahkan dikenal sebagai salah satu cara menjaga kesehatan pernapasan. Banyak dokter THT menganjurkan pembilasan hidung untuk membantu membersihkan saluran napas dari debu dan alergen.

Subhanallah.

Empat belas abad yang lalu Rasulullah SAW sudah mengajarkan kebiasaan sehat ini kepada umatnya.

Omjay semakin yakin bahwa Islam bukan hanya agama ibadah ritual, tetapi juga agama yang sangat memperhatikan kesehatan manusia.

Di tengah perkembangan teknologi yang begitu pesat, banyak orang mencari berbagai metode kesehatan modern. Ada yang membeli alat pembersih hidung mahal. Ada yang mengonsumsi suplemen kesehatan dengan harga tinggi.

Padahal sebagian solusi kesehatan telah diajarkan Rasulullah SAW sejak dahulu.

Sayangnya, sering kali kita lebih tertarik pada hal-hal baru daripada menghidupkan sunnah yang sederhana.

Omjay teringat pesan gurunya ketika masih muda.

"Kebaikan yang kecil tetapi dilakukan terus-menerus lebih dicintai Allah daripada amalan besar yang dilakukan sesekali."

Istintsaar mungkin terlihat sederhana.

Tidak membutuhkan biaya.

Tidak membutuhkan alat khusus.

Tidak membutuhkan waktu lama.

Namun manfaatnya luar biasa.

Selain membersihkan hidung secara fisik, amalan ini juga menjadi bentuk ketaatan kepada Rasulullah SAW.

Bukankah seorang muslim sejati berusaha meneladani Nabi Muhammad SAW dalam setiap aspek kehidupannya?

Mulai dari bangun tidur, makan, minum, bekerja, hingga tidur kembali.

Pagi itu setelah selesai berwudhu dan melaksanakan shalat Subuh, Omjay duduk di depan laptop kesayangannya.

Jari-jarinya mulai menari di atas keyboard.

Omjay ingin menuliskan pengalaman dan renungannya agar semakin banyak orang mengenal sunnah yang satu ini.

Sebagaimana yang selalu Omjay katakan kepada para peserta pelatihan menulis:

"Tulisan yang baik adalah tulisan yang memberi manfaat bagi orang lain."

Bisa jadi ada pembaca yang selama ini langsung bangun dan beraktivitas tanpa mengetahui sunnah istintsaar.

Bisa jadi ada pembaca yang baru menyadari bahwa membersihkan hidung setelah bangun tidur bukan sekadar kebiasaan biasa, melainkan ajaran Rasulullah SAW yang sarat hikmah.

Omjay berharap tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi dirinya sendiri terlebih dahulu.

Karena sesungguhnya ilmu yang tidak diamalkan hanya akan menjadi catatan di kepala. Namun ilmu yang diamalkan akan menjadi cahaya dalam kehidupan.

Menjelang matahari terbit, Omjay menutup laptopnya.

Di luar rumah, suara burung mulai ramai berkicau. Cahaya keemasan menyinari dedaunan yang basah oleh embun pagi.

Omjay tersenyum.

Hari baru telah dimulai.

Dimulai dengan doa.

Dimulai dengan wudhu.

Dimulai dengan menghidupkan sunnah Rasulullah SAW.

Sunnah yang mungkin sederhana, tetapi mampu menghadirkan keberkahan dalam hidup.

Semoga kita semua diberi kemudahan untuk menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari, termasuk sunnah istintsaar yang menyehatkan tubuh sekaligus membersihkan jiwa.

Sebagaimana doa yang diajarkan Rasulullah SAW:

"Allahumma a'innaa 'alaa dzikrika wa syukrika wa husni 'ibaadatik."

"Ya Allah, tolonglah kami agar senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah kepada-Mu dengan sebaik-baiknya."

Aamiin ya Rabbal 'Alamiin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 30 Mei 2026

Panen Labu di Kampung Tegalpanjang Garut

Panen Labu di Kampung Tegalpanjang Garut: Nikmat Sederhana yang Mengajarkan Rasa Syukur

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu udara di Kampung Tegalpanjang, Garut, terasa begitu sejuk. Embun masih menempel di dedaunan. Burung-burung kecil berkicau merdu seolah menyambut datangnya mentari pagi. Langit tampak cerah membiru. Di kejauhan terlihat hamparan sawah dan kebun yang menghijau, menghadirkan ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kota.

Omjay berdiri di halaman rumah sambil menghirup udara segar khas pegunungan Garut. Hati terasa damai. Tidak ada suara klakson kendaraan yang saling bersahutan. Tidak ada kemacetan yang membuat kepala pening. Yang terdengar hanya suara alam yang mengajak manusia untuk kembali mengingat Sang Pencipta.

Saat berjalan menuju kebun kecil milik keluarga, Omjay melihat sesuatu yang membuat hati terasa gembira. Di bawah rimbunnya daun-daun hijau, bergelantungan buah labu yang siap dipanen. Bentuknya unik, berwarna hijau muda, tampak segar dan sehat.

“Alhamdulillah, panennya banyak sekali,” kata Omjay sambil tersenyum.

Satu per satu labu dipetik dengan hati-hati. Ada yang berukuran besar, ada pula yang masih kecil. Semuanya dikumpulkan ke dalam ember hitam besar. Tidak terasa ember itu perlahan penuh oleh hasil panen pagi itu.

Melihat tumpukan labu yang memenuhi ember, Omjay teringat sebuah pelajaran hidup yang sangat berharga.

Manusia sering kali sibuk mengejar sesuatu yang besar hingga lupa mensyukuri hal-hal kecil yang sudah Allah berikan.

Padahal kebahagiaan tidak selalu datang dari rumah mewah, kendaraan mahal, atau jabatan tinggi. Kebahagiaan justru sering hadir melalui hal-hal sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Seperti pagi itu.

Melihat hasil panen labu saja sudah mampu menghadirkan rasa syukur yang begitu besar di dalam hati.

Omjay kemudian duduk di bawah pohon sambil memperhatikan hasil panen yang telah terkumpul. Tiba-tiba teringat masa kecil dahulu ketika tinggal di kampung.

Dulu, hampir setiap rumah memiliki kebun sendiri. Tidak perlu pergi ke pasar untuk membeli sayuran. Di belakang rumah sudah tersedia cabai, tomat, kangkung, singkong, pepaya, dan berbagai tanaman lainnya.

Ketika musim panen tiba, hasilnya tidak hanya dinikmati sendiri. Tetangga pun ikut merasakan.

Jika satu rumah panen banyak, maka sebagian hasil panen dibagikan kepada tetangga.

Begitulah kehidupan kampung mengajarkan arti berbagi.

Tidak ada yang merasa rugi ketika memberi.

Justru kebahagiaan bertambah ketika melihat orang lain ikut menikmati rezeki yang Allah titipkan.

Omjay tersenyum mengingat masa-masa itu.

Hari ini, nilai-nilai tersebut mulai jarang ditemukan di kota besar. Banyak orang hidup berdampingan tetapi tidak saling mengenal. Rumah berdempetan, tetapi hati terasa berjauhan.

Karena itulah setiap kali pulang ke Garut, Omjay selalu merasa sedang pulang ke sekolah kehidupan.

Kampung mengajarkan banyak hal.

Kampung mengajarkan kesederhanaan.

Kampung mengajarkan gotong royong.

Kampung mengajarkan rasa syukur.

Dan kampung mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu diukur dengan materi.

Sambil memandangi hasil panen labu, Omjay kembali merenung.

Labu-labu itu tidak tumbuh dalam semalam.

Mereka membutuhkan waktu.

Mereka membutuhkan sinar matahari.

Mereka membutuhkan air.

Mereka membutuhkan kesabaran.

Sama seperti kehidupan manusia.

Kesuksesan tidak datang secara instan.

Ilmu tidak datang dalam semalam.

Buku tidak selesai ditulis dalam satu hari.

Gelar doktor yang diraih Omjay pun tidak diperoleh dengan mudah.

Delapan tahun perjalanan kuliah S3 dijalani dengan penuh perjuangan. Ada rasa lelah. Ada rasa ingin menyerah. Ada biaya yang harus dikeluarkan. Ada waktu yang harus dikorbankan.

Namun semua itu akhirnya membuahkan hasil.

Persis seperti tanaman labu yang dirawat dengan penuh kesabaran.

Apa yang ditanam dengan baik akan menghasilkan buah yang baik.

Karena itu Omjay selalu berpesan kepada para guru dan murid di seluruh Indonesia:

“Jangan pernah bosan menanam kebaikan.”

Hari ini mungkin kita belum melihat hasilnya.

Besok mungkin belum terlihat juga.

Tetapi suatu saat nanti, Allah akan menunjukkan buah dari semua usaha yang telah kita lakukan.

Melihat panen labu pagi itu membuat Omjay semakin yakin bahwa kehidupan selalu memberi pelajaran kepada siapa saja yang mau belajar.

Bahkan dari sebuah labu sederhana.

Labu tidak pernah protes ketika terkena panas matahari.

Labu tidak mengeluh ketika harus tumbuh perlahan.

Labu hanya terus bertumbuh hingga akhirnya siap dipanen.

Begitu pula manusia.

Jika ingin berhasil, teruslah bertumbuh.

Teruslah belajar.

Teruslah memperbaiki diri.

Teruslah berbuat baik.

Dan biarkan waktu yang membuktikan hasilnya.

Menjelang siang, sebagian labu mulai dibersihkan. Ada yang akan dimasak menjadi sayur. Ada yang akan dibagikan kepada keluarga dan tetangga.

Melihat itu semua, hati Omjay terasa hangat.

Rezeki memang akan terasa lebih nikmat ketika dibagikan.

Sebagaimana ilmu yang dibagikan kepada murid-murid akan menjadi amal jariyah.

Sebagaimana tulisan yang dibagikan kepada pembaca akan menjadi warisan peradaban.

Karena itulah Omjay selalu mengatakan:

“Tulisanku adalah tabunganku. Tulisanku kusimpan dalam alat rekam yang ajaib bernama blog. Kelak ketika usia tak lagi muda, tulisan-tulisan itu akan tetap hidup, menginspirasi, dan memberi manfaat bagi banyak orang.”

Panen labu di Kampung Tegalpanjang Garut pagi itu bukan sekadar kegiatan memetik hasil kebun.

Lebih dari itu, panen tersebut menjadi pengingat bahwa hidup ini sesungguhnya adalah proses menanam dan memanen.

Siapa yang menanam kebaikan akan memanen keberkahan.

Siapa yang menanam ilmu akan memanen kebijaksanaan.

Siapa yang menanam kesabaran akan memanen kebahagiaan.

Dan siapa yang menanam rasa syukur akan memanen ketenangan hati.

Di tengah dunia yang semakin sibuk dan serba cepat, semoga kita tetap mampu menikmati kebahagiaan sederhana seperti menikmati hasil panen di kampung halaman.

Karena sering kali, kebahagiaan yang paling tulus justru lahir dari hal-hal yang paling sederhana.

Alhamdulillah, panen labu hari ini mengajarkan Omjay satu hal penting: jangan pernah berhenti bersyukur atas nikmat kecil, sebab dari situlah Allah menghadirkan nikmat yang jauh lebih besar.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah omjay Menjaga Keistiqomahan

Kisah Omjay: Menjaga Keistiqamahan Meski Tidak Dipuji Manusia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Sabtu 30 Mei 2026, udara di Wanaraja Garut terasa begitu sejuk. Mentari belum sepenuhnya menampakkan sinarnya. Burung-burung mulai berkicau menyambut datangnya pagi. Setelah menunaikan sholat Subuh, Omjay duduk di teras rumah sambil menikmati secangkir teh hangat.

Di hadapannya terbentang hamparan sawah yang menghijau. Angin pagi berhembus pelan membawa ketenangan. Dalam suasana yang damai itu, Omjay merenungkan satu hal yang sering menjadi ujian dalam kehidupan manusia: bagaimana tetap istiqamah berbuat baik meski tidak dipuji manusia.

Tidak mudah memang.

Manusia pada dasarnya senang dihargai. Senang ketika hasil kerjanya diapresiasi. Senang ketika usahanya diakui. Senang ketika namanya disebut dan jasanya dikenang.

Omjay pun manusia biasa.

Sebagai guru yang sudah mengabdi lebih dari tiga dekade, ada kalanya Omjay merasa lelah. Ada kalanya kerja keras yang dilakukan seolah tidak terlihat. Ada kalanya tulisan yang dibuat dengan penuh kesungguhan hanya dibaca sedikit orang.

Namun perjalanan hidup mengajarkan Omjay sebuah pelajaran penting.

Berbuat baik bukan untuk dipuji manusia. Berbuat baik adalah bentuk pengabdian kepada Allah.

Ketika Tulisan Tidak Mendapat Banyak Pembaca

Sebagai penulis dan blogger, Omjay menulis hampir setiap hari.

Ada tulisan yang dibaca ribuan orang.

Ada pula tulisan yang hanya dibaca puluhan orang.

Awalnya, Omjay juga pernah merasa kecewa ketika sebuah tulisan yang dibuat dengan sepenuh hati ternyata sepi pembaca.

"Apakah tulisan saya tidak menarik?"

"Apakah tulisan saya tidak bermanfaat?"

Pertanyaan-pertanyaan itu pernah menghampiri hati.

Namun semakin lama menulis, Omjay menyadari bahwa ukuran keberhasilan bukan semata jumlah pembaca.

Bisa jadi satu tulisan yang hanya dibaca satu orang justru mengubah hidupnya.

Bisa jadi satu artikel sederhana mampu menginspirasi seseorang yang sedang putus asa.

Bisa jadi satu kalimat yang ditulis dengan ikhlas menjadi amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Sejak saat itu Omjay berusaha menulis bukan untuk mengejar pujian.

Omjay menulis karena ingin berbagi.

Omjay menulis karena ingin meninggalkan jejak kebaikan.

Omjay menulis karena percaya bahwa tulisan adalah investasi akhirat.

Seperti yang sering Omjay sampaikan:

"Tulisan adalah tabunganku untuk menjadi buku yang bermutu dan tersimpan dalam alat rekam yang ajaib bernama blog."

Belajar dari Guru-Guru Hebat

Dalam perjalanan sebagai pengurus organisasi profesi guru dan pegiat literasi, Omjay bertemu banyak guru luar biasa.

Ada guru yang setiap hari mengajar di pelosok tanpa fasilitas memadai.

Ada guru yang rela mengeluarkan biaya pribadi demi membantu siswanya.

Ada guru yang diam-diam membelikan seragam bagi murid yang kurang mampu.

Hebatnya, banyak dari mereka tidak pernah mempublikasikan apa yang dilakukan.

Tidak ada unggahan media sosial.

Tidak ada konferensi pers.

Tidak ada pencitraan.

Mereka bekerja dalam diam.

Mereka mengabdi dengan tulus.

Mereka tetap melayani meski tidak ada yang memuji.

Dari mereka, Omjay belajar bahwa amal terbaik sering kali dilakukan tanpa sorotan kamera.

Kebaikan yang paling kuat justru lahir dari hati yang ikhlas.

Allah Tidak Pernah Lupa

Suatu hari Omjay pernah membaca sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati.

"Jika manusia lupa menghargaimu, jangan sedih. Allah tidak pernah lupa mencatat kebaikanmu."

Kalimat itu begitu sederhana, tetapi sangat dalam maknanya.

Manusia memiliki keterbatasan.

Kadang lupa.

Kadang tidak tahu.

Kadang bahkan salah menilai.

Namun Allah Maha Melihat.

Tidak ada satu tetes keringat yang sia-sia.

Tidak ada satu langkah menuju kebaikan yang terlewat dari pengawasan-Nya.

Tidak ada satu huruf yang kita tulis untuk menyebarkan ilmu yang hilang begitu saja.

Semua tercatat dengan sempurna.

Kesadaran inilah yang membuat Omjay terus berusaha menjaga semangat.

Ketika tidak ada yang memuji, tetap menulis.

Ketika tidak ada yang mengapresiasi, tetap berbagi.

Ketika tidak ada yang melihat, tetap berbuat baik.

Karena tujuan utama bukanlah manusia.

Tujuan utama adalah ridha Allah.

Istiqamah Itu Tidak Mudah

Omjay menyadari bahwa istiqamah jauh lebih sulit daripada memulai.

Banyak orang bersemangat di awal.

Namun hanya sedikit yang mampu bertahan dalam perjalanan panjang.

Menulis sehari itu mudah.

Menulis setiap hari selama bertahun-tahun membutuhkan komitmen.

Mengajar sehari itu mudah.

Mengajar puluhan tahun dengan penuh cinta membutuhkan keikhlasan.

Berbuat baik sekali dua kali itu mudah.

Berbuat baik terus-menerus tanpa mengharapkan balasan adalah ujian sesungguhnya.

Karena itu, istiqamah bukan tentang kesempurnaan.

Istiqamah adalah tentang terus berjalan meski perlahan.

Tetap bangkit ketika jatuh.

Tetap melangkah ketika lelah.

Tetap berbuat baik ketika tidak ada yang memperhatikan.

Pesan Omjay untuk Sahabat Semua

Pagi ini Omjay ingin berbagi pesan sederhana kepada para sahabat pembaca.

Jika hari ini usaha kita belum dihargai, jangan berhenti.

Jika kerja keras kita belum terlihat, jangan menyerah.

Jika kebaikan kita belum mendapat pengakuan, jangan berkecil hati.

Teruslah melangkah.

Teruslah berkarya.

Teruslah menulis.

Teruslah mengajar.

Teruslah berbagi.

Karena sesungguhnya yang paling penting bukanlah tepuk tangan manusia.

Yang paling penting adalah ridha Allah SWT.

Kelak mungkin manusia lupa pada nama kita.

Mungkin mereka tidak mengenang jasa kita.

Namun jika Allah menerima amal kita, maka itulah keberhasilan yang sesungguhnya.

Pagi semakin terang. Matahari mulai muncul dari balik awan. Omjay menutup catatan kecilnya sambil tersenyum.

Hatinya terasa tenang.

Sebab ia sadar bahwa hidup bukanlah perlombaan mencari pujian manusia.

Hidup adalah perjalanan panjang untuk mengumpulkan amal terbaik menuju perjumpaan dengan Sang Pencipta.

Mari kita terus menjaga keistiqamahan.

Tetap berbuat baik meski tidak dipuji.

Tetap menolong meski tidak disebut.

Tetap berkarya meski tidak selalu diapresiasi.

Karena pada akhirnya, yang menentukan nilai hidup kita bukanlah banyaknya pujian manusia, melainkan seberapa besar ridha Allah kepada kita.

Ayo semangat berbuat baik hari ini.

Barakallah fiikum. ๐ŸŒท

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com