Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 10 Juni 2026

Sahabat yang Pergi dan Kenangan yang Tak Pernah Mati


Sahabat yang Pergi, Kenangan yang Tak Pernah Mati

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali saya pandangi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Warnanya memang sudah memudar dimakan usia. Beberapa bagian bahkan terlihat buram. Namun kenangan di dalamnya justru semakin jelas terlihat dalam hati saya.

Foto itu diambil saat kami masih menjadi mahasiswa Jurusan Elektro Elektronika FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990. Saat itu kami masih muda. Wajah-wajah penuh harapan. Senyum yang mengembang tanpa beban. Kami berdiri dan duduk berdesakan sambil memamerkan piala kemenangan yang berhasil diraih.

Tidak ada yang menyangka bahwa waktu akan bergerak begitu cepat.

Tiga puluh enam tahun berlalu seperti kedipan mata.

Sebagian dari kami sudah menjadi guru, dosen, pengusaha, pegawai negeri, dan pensiunan. Sebagian telah menjadi kakek dan nenek. Sebagian lagi masih aktif berkarya untuk bangsa.

Namun ada dua sahabat yang kini hanya tinggal nama dan kenangan.

Iis Nurhayati.

Hasyim Subarna.

Mereka telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.

Setiap kali melihat foto ini, hati saya selalu bergetar. Di antara tawa dan canda yang membeku dalam gambar tersebut, ada cerita persahabatan yang tak akan pernah bisa saya lupakan.

Ketika Kami Masih Muda

Tahun 1990 adalah masa yang indah.

Kami datang dari berbagai daerah dengan membawa mimpi yang sama. Menjadi guru teknik yang mampu mencerdaskan anak bangsa.

Kampus IKIP Jakarta menjadi rumah kedua kami.

Di ruang kuliah yang sederhana kami belajar elektronika, listrik, mesin, pendidikan, dan kehidupan.

Kami sering mengerjakan tugas hingga larut malam.

Kadang uang di kantong tinggal beberapa lembar ribuan.

Kadang harus menahan lapar demi membeli buku.

Kadang harus menumpang tidur di kamar teman karena kehabisan ongkos pulang.

Namun justru di situlah letak kebahagiaan kami.

Karena kami menjalaninya bersama.

Saya masih ingat bagaimana kami bercanda di kantin kampus.

Saya masih ingat bagaimana kami saling meminjam catatan menjelang ujian.

Saya masih ingat bagaimana kami berjuang menyelesaikan praktikum yang terasa begitu sulit.

Dan saya masih ingat suara tawa Iis Nurhayati yang selalu membuat suasana menjadi hangat.

Saya juga masih ingat sosok Hasyim Subarna yang penuh semangat dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Hari-hari itu terasa begitu dekat.

Padahal sudah puluhan tahun berlalu.

Waktu Mengajarkan Banyak Hal

Ketika masih mahasiswa, kami sering berbicara tentang masa depan.

Kami membayangkan akan bertemu kembali saat sudah sukses.

Kami berjanji akan terus menjaga silaturahmi.

Namun waktu ternyata memiliki jalannya sendiri.

Satu per satu sahabat sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ada yang mengajar di sekolah.

Ada yang membangun keluarga.

Ada yang merantau ke kota lain.

Ada yang jarang terdengar kabarnya.

Meski begitu, setiap kali bertemu kembali, rasanya seperti tidak pernah berpisah.

Persahabatan sejati memang seperti itu.

Ia tidak membutuhkan pertemuan setiap hari.

Ia hidup dalam hati.

Dan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

Kabar yang Membuat Hati Terdiam

Saya masih ingat perasaan ketika mendengar kabar bahwa Iis Nurhayati telah meninggal dunia.

Sejenak saya terdiam.

Tidak percaya.

Rasanya baru kemarin kami tertawa bersama di kampus.

Baru kemarin kami berdiskusi tentang tugas kuliah.

Baru kemarin kami berfoto bersama seperti dalam gambar itu.

Namun ternyata waktu tidak bisa diajak bernegosiasi.

Kematian datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

Beberapa waktu kemudian, kabar duka kembali datang.

Hasyim Subarna juga berpulang.

Sekali lagi hati saya seperti kehilangan sebagian dari masa muda saya.

Sahabat yang dulu duduk bersama di bangku kuliah kini telah pergi untuk selamanya.

Yang tersisa hanyalah foto-foto lama, kenangan, dan doa.

Foto yang Menyimpan Ribuan Cerita

Banyak orang menganggap foto hanyalah gambar.

Namun bagi saya, foto adalah mesin waktu.

Ketika saya memandang foto ini, saya tidak hanya melihat wajah-wajah lama.

Saya melihat perjuangan.

Saya melihat mimpi.

Saya melihat persahabatan.

Saya melihat cinta.

Saya melihat pengorbanan.

Dan saya melihat betapa berharganya setiap detik kehidupan.

Di foto ini tidak ada yang memikirkan penyakit.

Tidak ada yang memikirkan kematian.

Tidak ada yang memikirkan usia tua.

Kami hanya sekumpulan anak muda yang sedang menikmati hidup dan mengejar cita-cita.

Namun kini sebagian rambut telah memutih.

Sebagian tubuh mulai melemah.

Sebagian sahabat bahkan sudah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Foto ini mengajarkan kepada saya bahwa hidup sesungguhnya sangat singkat.

Terlalu singkat untuk saling membenci.

Terlalu singkat untuk saling menyakiti.

Terlalu singkat untuk memutus tali persahabatan.

Untuk Iis dan Hasyim

Sahabatku Iis Nurhayati.

Sahabatku Hasyim Subarna.

Mungkin jasad kalian telah lama beristirahat di alam keabadian.

Namun kenangan tentang kalian masih hidup di hati kami.

Kalian tetap hadir dalam setiap reuni.

Kalian tetap hadir dalam setiap cerita yang kami kenang bersama.

Kalian tetap hadir ketika kami membuka album foto lama.

Kalian tetap hadir dalam doa-doa yang kami panjatkan.

Hari ini, saat saya menulis kisah ini, air mata saya jatuh perlahan.

Bukan karena saya tidak ikhlas.

Tetapi karena saya merindukan kalian.

Merindukan masa-masa ketika hidup terasa begitu sederhana.

Merindukan tawa yang pernah memenuhi lorong-lorong kampus IKIP Jakarta.

Merindukan persahabatan yang tumbuh tanpa kepentingan.

Selamat Jalan Sahabatku

Kini saya memahami satu hal penting.

Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan orang yang kita cintai.

Selama namanya masih disebut dalam doa.

Selama kebaikannya masih dikenang.

Selama kenangannya masih hidup di hati.

Maka ia sesungguhnya tidak pernah pergi.

Untuk sahabat-sahabat FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990, mari kita jaga silaturahmi yang masih tersisa.

Mari kita saling mendoakan.

Mari kita saling menguatkan.

Karena suatu hari nanti, foto-foto yang kita ambil hari ini juga akan menjadi kenangan bagi generasi berikutnya.

Dan ketika saat itu tiba, semoga mereka berkata:

"Mereka adalah sahabat-sahabat yang saling mencintai karena Allah, saling mendukung dalam perjuangan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak pernah hilang ditelan waktu."

Selamat jalan, Iis Nurhayati.

Selamat jalan, Hasyim Subarna.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.

Namamu akan selalu hidup dalam kenangan, dan doa kami akan selalu mengiringimu.

Al-Fatihah untuk kedua sahabat tercinta. ๐Ÿคฒ๐Ÿป๐Ÿ’

"Persahabatan sejati tidak berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Ia hanya berpindah tempat, dari hadapan mata menuju kedalaman hati." ❤️

Closing Ceremony KBMN PGRI

Jangan Lewatkan! Closing Ceremony KBMN PGRI Gelombang 34: Merayakan Perjalanan Menulis yang Mengubah Hidup

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Ada banyak pelatihan yang pernah kita ikuti. Ada banyak webinar yang pernah kita hadiri. Namun, hanya sedikit kegiatan yang benar-benar meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan hidup seseorang.

Salah satunya adalah Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34.

Setelah berbulan-bulan belajar bersama, menulis bersama, saling menguatkan, dan saling menginspirasi, kini saatnya kita berkumpul kembali dalam sebuah acara yang penuh makna, yaitu Closing Ceremony KBMN PGRI Gelombang 34 yang akan dilaksanakan pada:

๐Ÿ“… Sabtu, 13 Juni 2026
๐Ÿ•– Pukul 19.00 – 21.00 WIB
๐Ÿ’ป Daring melalui Zoom Meeting (link akan dibagikan kemudian) 

Acara ini didukung oleh IGTIK PGRI, KOGTIK, KSGN, dan Penerbit Andi Yogyakarta sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun budaya literasi di Indonesia. 

Mengapa Anda Harus Hadir?

Banyak orang mengira bahwa acara penutupan hanyalah seremoni biasa. Padahal, bagi saya, acara penutupan justru merupakan puncak dari sebuah perjalanan.

Di sinilah kita akan melihat bagaimana peserta yang awalnya ragu menulis kini mampu menerbitkan tulisan di blog, membuat resume berkualitas, bahkan mulai menulis buku.

Saya masih ingat ketika KBMN pertama kali dimulai. Ada peserta yang mengaku tidak pernah menulis satu artikel pun. Ada yang merasa dirinya tidak berbakat menulis. Ada pula yang berkata bahwa usia sudah tidak muda lagi sehingga sulit belajar teknologi.

Namun perlahan-lahan mereka berubah.

Mereka belajar menulis setiap malam.

Mereka membaca resume peserta lain.

Mereka berlatih menuangkan gagasan.

Mereka belajar mengalahkan rasa takut.

Dan kini mereka siap menunjukkan hasil perjuangannya.

Bukankah itu luar biasa?

Menyaksikan Kisah Inspiratif Para Peserta

Salah satu bagian paling menarik dalam Closing Ceremony nanti adalah sesi penampilan dan testimoni peserta KBMN Gelombang 34. 

Dalam sesi tersebut akan ditampilkan:

๐ŸŽค Puisi oleh Emmi Suhaimi
๐ŸŽญ Pantun oleh Sa'diyah
๐Ÿ“– Dongeng oleh Aan
๐ŸŽต Penampilan lagu oleh Neng Galih
❤️ Testimoni seluruh peserta KBMN 34 

Saya yakin banyak kisah mengharukan yang akan dibagikan.

Mungkin ada guru dari daerah terpencil yang kini percaya diri menulis.

Mungkin ada peserta yang berhasil membuat blog pertamanya.

Mungkin ada yang akhirnya berani menerbitkan buku setelah mengikuti KBMN.

Semua kisah itu layak didengar.

Semua kisah itu layak diapresiasi.

Karena setiap tulisan lahir dari perjuangan.

Bertemu Tokoh-Tokoh Hebat Dunia Pendidikan

Acara ini juga menghadirkan tokoh-tokoh yang selama ini menjadi inspirasi para guru Indonesia. 

Di antaranya:

Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma sebagai Keynote Speaker

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) sebagai Founder KBMN

Muliadi, M.Pd. selaku Ketua Panitia KBMN Gelombang 34

Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. (Bunda Kanjeng)

Aam Nurhasanah, S.Pd.

Widya Setianingsih, S.Ag. 


Bagi peserta, ini adalah kesempatan berharga untuk mendengarkan pengalaman mereka secara langsung.

Sering kali satu kalimat inspiratif mampu mengubah arah hidup seseorang.

KBMN Bukan Sekadar Kelas Menulis

Sebagai Founder KBMN, saya selalu mengatakan bahwa KBMN bukan hanya tempat belajar menulis.

KBMN adalah rumah kedua bagi para pegiat literasi.

Di sini kita belajar:

✅ Menulis dengan hati
✅ Menulis dengan konsisten
✅ Menulis untuk berbagi manfaat
✅ Menulis untuk membangun reputasi
✅ Menulis untuk meninggalkan jejak kebaikan

Di era kecerdasan buatan saat ini, kemampuan menulis justru semakin penting.

AI dapat membantu kita menyusun kalimat.

AI dapat membantu mencari referensi.

Namun pengalaman hidup, ketulusan hati, dan nilai kemanusiaan dalam tulisan tetap berasal dari penulisnya.

Karena itulah KBMN hadir.

Kami ingin melahirkan penulis-penulis yang bukan hanya pandai merangkai kata, tetapi juga mampu menginspirasi banyak orang.

Momentum yang Tidak Akan Terulang

Setiap gelombang KBMN memiliki cerita uniknya sendiri.

Gelombang 34 akan dikenang sebagai angkatan yang penuh semangat, kreatif, dan kompak.

Para peserta saling membantu.

Para moderator bekerja dengan penuh dedikasi.

Panitia bekerja tanpa lelah.

Semua demi satu tujuan: meningkatkan budaya literasi bangsa. 

Karena itu, Closing Ceremony bukan sekadar acara penutupan.

Ini adalah momen untuk mengenang perjuangan bersama.

Momen untuk mengucapkan terima kasih kepada para narasumber, moderator, panitia, dan seluruh peserta.

Momen untuk merayakan keberhasilan kecil yang kelak akan menjadi keberhasilan besar.

Mari Hadir dan Menjadi Bagian Sejarah

Saya mengajak seluruh peserta KBMN Gelombang 34, alumni KBMN, guru, dosen, mahasiswa, pegiat literasi, dan sahabat pendidikan Indonesia untuk hadir bersama.

Mari kita ramaikan acara ini.

Mari kita tunjukkan bahwa budaya menulis masih hidup.

Mari kita buktikan bahwa guru Indonesia adalah pembelajar sepanjang hayat.

Jangan hanya menjadi penonton kesuksesan orang lain.

Datanglah dan jadilah bagian dari sejarah perjalanan literasi Indonesia.

Catat tanggalnya!

๐Ÿ“… Sabtu, 13 Juni 2026
๐Ÿ•– Pukul 19.00 – 21.00 WIB
๐Ÿ’ป Zoom Meeting (link menyusul) 

Sampai jumpa di Closing Ceremony KBMN PGRI Gelombang 34.

Karena setiap tulisan yang kita buat hari ini, bisa menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang di masa depan. ✍️๐Ÿ“š๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ

Salam Literasi,
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah omjay: Ketika Syukur dan Impian Bertemu

KETIKA SYUKUR DAN IMPIAN BERTEMU

Kisah Omjay Menemukan Bahagia di Tengah Ujian Hidup

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Pagi itu kereta LRT Jabodebek melaju perlahan menuju Dukuh Atas. Dari balik jendela kereta, Omjay memandangi langit Jakarta yang mulai terang. Orang-orang duduk sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ada yang menatap layar ponsel, ada yang terkantuk-kantuk, dan ada pula yang menatap kosong ke luar jendela.

Di tengah perjalanan itu, Omjay merenung tentang sebuah kalimat sederhana yang sangat dalam maknanya.

"Ketika kita fokus pada rasa syukur, gelombang kekecewaan akan padam dan gelombang cinta masuk. Maka bahagia akan terus menemani Anda."

Kalimat itu terasa begitu dekat dengan perjalanan hidup Omjay beberapa bulan terakhir.

Jujur saja, ketika dokter melarang Omjay mengendarai mobil pribadi karena kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, hati ini sempat kecewa. Selama bertahun-tahun Omjay terbiasa membawa mobil sendiri ke sekolah, ke seminar, ke workshop, dan ke berbagai kegiatan literasi.

Tiba-tiba semua berubah.

Omjay harus naik transportasi umum.

Awalnya terasa berat.

Ada rasa kehilangan kenyamanan. Ada rasa sedih karena merasa tidak sebebas dulu lagi.

Namun Allah selalu punya cara menunjukkan nikmat-Nya dari arah yang tidak pernah kita duga.

Ketika mulai menjalani hari-hari dengan naik LRT, KRL, dan transportasi umum lainnya, Omjay menemukan kebahagiaan baru.

Omjay bisa duduk santai tanpa harus menghadapi kemacetan.

Omjay bisa membaca buku selama perjalanan.

Omjay bisa menulis artikel setiap pagi.

Omjay bisa mengamati kehidupan dari dekat.

Bahkan banyak ide tulisan lahir saat berada di dalam kereta.

Saat itulah Omjay menyadari bahwa rasa syukur mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.

Masalah yang sama bisa terlihat berbeda ketika kita melihatnya dengan kacamata syukur.

Orang yang tidak bersyukur akan melihat apa yang hilang.

Sedangkan orang yang bersyukur akan melihat apa yang masih dimiliki.

Omjay teringat ketika beberapa bulan lalu harus dirawat di rumah sakit karena hipertensi, diabetes, dan gejala yang menyerupai stroke.

Saat itu tangan kanan sempat sulit digerakkan.

Mulut terasa kaku.

Kepala berputar hebat.

Di atas tempat tidur rumah sakit, Omjay hanya bisa berdoa sambil memandang langit-langit kamar.

Dalam kondisi seperti itu, Omjay baru benar-benar memahami bahwa sehat adalah nikmat yang luar biasa.

Selama sehat, sering kali manusia lupa bersyukur.

Kita baru menyadari mahalnya kesehatan ketika sedang sakit.

Kita baru menyadari berharganya keluarga ketika berada jauh dari mereka.

Kita baru memahami arti waktu ketika kesempatan mulai berkurang.

Karena itulah para sufi mengatakan:

"Jika syukur tidak ada dalam hatimu maka bahagia akan sirna dari dirimu."

Kalimat itu benar adanya.

Bahagia bukan soal banyaknya harta.

Bahagia bukan soal tingginya jabatan.

Bahagia bukan soal banyaknya pujian.

Bahagia adalah kemampuan melihat nikmat Allah yang masih ada di depan mata.

Bahagia adalah kemampuan mengucapkan "Alhamdulillah" dalam setiap keadaan.

---

Selain syukur, pagi itu Omjay juga merenungkan tentang kekuatan sebuah impian.

Banyak orang menganggap angan-angan hanyalah khayalan.

Padahal sering kali apa yang kita bayangkan dengan sungguh-sungguh berubah menjadi doa yang diam-diam naik ke langit.

Omjay menjadi saksi hidup tentang hal itu.

Ketika masih menjadi mahasiswa IKIP Jakarta, Omjay pernah membayangkan suatu hari bisa menjadi dosen, penulis, dan pembicara yang berbagi pengalaman kepada banyak orang.

Saat itu mimpi tersebut terasa sangat jauh.

Omjay hanyalah mahasiswa biasa yang harus berjuang keras menyelesaikan kuliah.

Namun mimpi itu tidak pernah padam.

Setiap hari Omjay terus belajar.

Terus mengajar.

Terus menulis.

Terus mencoba.

Tahun demi tahun berlalu.

Tanpa disadari, satu per satu mimpi itu mulai menjadi kenyataan.

Omjay berhasil menyelesaikan pendidikan doktor.

Omjay menulis puluhan buku.

Omjay menjadi pembicara di berbagai daerah.

Omjay dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Apakah semua itu terjadi secara instan?

Tentu tidak.

Semuanya berawal dari sebuah impian.

Sebuah angan-angan yang terus dipelihara dengan doa dan kerja keras.

Karena itu Omjay sangat menyukai hadis yang berbunyi:

"Barangsiapa yang mengangankan sesuatu kepada Allah, maka perbanyaklah angan-angan tersebut karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla."

Betapa indahnya pesan itu.

Allah tidak pernah membatasi impian hamba-Nya.

Justru Allah menyukai hamba yang memiliki harapan besar kepada-Nya.

Hari ini Omjay masih memiliki banyak impian.

Ingin terus sehat.

Ingin terus menulis.

Ingin terus berbagi ilmu.

Ingin melihat anak dan cucu tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.

Ingin melihat semakin banyak guru Indonesia menjadi penulis.

Ingin melihat literasi tumbuh subur di negeri ini.

Semua itu masih Omjay simpan dalam hati dan terus Omjay doakan setiap hari.

Sebab Omjay percaya bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan tidak akan pernah sia-sia.

Mungkin tidak datang hari ini.

Mungkin tidak datang besok.

Namun Allah selalu memiliki waktu terbaik untuk mengabulkannya.

---

Sahabatku, jika hari ini Anda sedang kecewa, cobalah menghitung kembali nikmat yang masih Anda miliki.

Jika hari ini Anda merasa gagal, cobalah mengingat kembali impian yang pernah membuat Anda bersemangat.

Jangan biarkan kekecewaan mengalahkan rasa syukur.

Jangan biarkan kenyataan hari ini membunuh impian masa depan.

Tetaplah bersyukur.

Tetaplah bermimpi.

Tetaplah berdoa.

Karena syukur akan menghadirkan kebahagiaan.

Dan impian yang disertai doa akan membuka jalan menuju keajaiban.

Sebagaimana yang Omjay alami dalam perjalanan hidup ini.

Dari seorang guru biasa yang terus menulis setiap hari, hingga akhirnya Allah mempertemukan Omjay dengan ribuan sahabat literasi di seluruh Indonesia.

Maka pagi ini mari kita berjanji kepada diri sendiri.

Tidak akan berhenti bersyukur.

Tidak akan berhenti bermimpi.

Tidak akan berhenti berharap kepada Allah.

Karena selama hati masih dipenuhi syukur dan harapan, selalu ada alasan untuk tersenyum dan melangkah maju.

Tetap semangat.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay Jadi Panitia Qurban di Kampus fptk ikip Jakarta

Dari Panitia Kurban Menjadi Guru Blogger Indonesia

Kisah Omjay Saat Menjadi Mahasiswa IKIP Jakarta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali muncul di layar telepon genggam saya. Warnanya sudah memudar. Gambarnya tidak seterang foto zaman sekarang. Namun, nilainya jauh lebih berharga daripada ribuan foto digital yang tersimpan di memori ponsel.

Di dalam foto itu tampak sekelompok mahasiswa berdiri dan jongkok bersama di depan kampus tercinta, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) IKIP Jakarta. Kami adalah para mahasiswa yang sedang bertugas menjadi panitia kurban kampus.

Saat melihat foto itu, hati saya langsung terbang puluhan tahun ke belakang. Kembali ke masa ketika saya masih seorang mahasiswa sederhana yang penuh mimpi, semangat, dan harapan.

Kala itu, saya belum menyandang gelar doktor. Saya belum menjadi guru yang dikenal banyak orang. Saya juga belum menulis ribuan artikel seperti sekarang.

Saya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang sedang belajar tentang kehidupan.

Belajar dari Sebuah Kepanitiaan

Menjadi panitia kurban di kampus bukanlah pekerjaan yang ringan.

Beberapa hari sebelum Iduladha, kami sudah sibuk rapat. Kami membagi tugas. Ada yang bertanggung jawab pada administrasi, konsumsi, dokumentasi, hingga pembagian daging kurban.

Sebagai mahasiswa, kami tidak mendapatkan bayaran.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.

Kami mendapatkan pengalaman.

Saya masih ingat bagaimana kami bekerja sejak pagi hingga malam. Bahkan terkadang harus pulang larut karena memastikan semua persiapan berjalan lancar.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada protes.

Tidak ada yang bertanya, "Saya dapat apa?"

Yang ada hanya semangat kebersamaan.

Kami percaya bahwa melayani adalah bagian dari proses belajar.

Hari ini saya baru menyadari bahwa pengalaman menjadi panitia kurban itulah yang diam-diam membentuk karakter saya sebagai guru.

Kampus yang Mengajarkan Kehidupan

Banyak orang berpikir bahwa kuliah hanya belajar teori.

Padahal kampus mengajarkan jauh lebih banyak daripada itu.

Di ruang kelas kami belajar tentang ilmu.

Namun di organisasi dan kepanitiaan kami belajar tentang kehidupan.

Kami belajar bekerja sama dengan orang yang berbeda karakter.

Kami belajar mengendalikan emosi.

Kami belajar memimpin dan dipimpin.

Kami belajar menghargai waktu.

Kami belajar bertanggung jawab.

Semua pelajaran itu tidak tertulis dalam buku teks.

Namun justru pelajaran itulah yang paling sering saya gunakan hingga hari ini.

Ketika menjadi guru di SMP Labschool Jakarta, saya merasakan manfaatnya.

Saat harus memimpin kegiatan sekolah, mengelola kelas, menyelenggarakan seminar nasional, hingga mendirikan komunitas menulis guru, pengalaman masa mahasiswa itu seperti hidup kembali.

Saya sadar bahwa Allah sedang menyiapkan saya jauh sebelum saya menjadi seperti sekarang.

Persahabatan yang Tidak Pernah Hilang

Salah satu hal yang paling saya rindukan dari masa mahasiswa adalah persahabatan.

Di foto itu ada banyak wajah sahabat yang pernah berjuang bersama.

Sebagian masih sering berkomunikasi.

Sebagian sudah lama tidak bertemu.

Bahkan mungkin ada yang kini tinggal di kota yang sangat jauh.

Namun kenangan itu tetap hidup.

Kami pernah makan bersama dari uang patungan.

Kami pernah berjalan kaki karena uang di kantong hampir habis.

Kami pernah tertawa bersama.

Kami juga pernah menghadapi berbagai kesulitan bersama.

Saat itu kami tidak memiliki banyak harta.

Namun kami kaya akan persahabatan.

Hari ini ketika usia sudah melewati setengah abad, saya semakin memahami bahwa sahabat sejati adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup.

Foto tua itu menjadi saksi bahwa kami pernah berjalan bersama dalam sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan.

Kurban yang Mengajarkan Keikhlasan

Ada pelajaran lain yang saya dapatkan saat menjadi panitia kurban.

Pelajaran tentang keikhlasan.

Setiap tahun saya melihat orang-orang yang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk berkurban.

Mereka tidak mencari pujian.

Mereka tidak meminta penghargaan.

Mereka hanya berharap ridha Allah SWT.

Pemandangan itu sangat membekas di hati saya.

Saya belajar bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang hanya mengumpulkan sebanyak mungkin untuk diri sendiri.

Hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain.

Pelajaran itulah yang kemudian saya pegang ketika menjadi guru.

Saya ingin ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat.

Saya ingin tulisan yang saya buat bisa menginspirasi.

Saya ingin pengalaman hidup saya bisa menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Karena sejatinya manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Dari Mahasiswa Biasa Menjadi Guru yang Terus Belajar

Jika ada yang mengatakan kepada mahasiswa dalam foto itu bahwa suatu hari ia akan menjadi doktor, menulis buku, berbicara di berbagai seminar nasional, dan dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, mungkin saya sendiri tidak akan percaya.

Saat itu saya hanya menjalani hidup hari demi hari.

Belajar.

Berorganisasi.

Beribadah.

Bersahabat.

Dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Namun ternyata setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita pada tujuan yang besar.

Hari ini saya sering bertemu mahasiswa yang merasa minder karena belum sukses.

Saya selalu mengatakan kepada mereka:

"Jangan terburu-buru membandingkan dirimu dengan orang lain. Fokuslah menjadi versi terbaik dirimu sendiri."

Karena kesuksesan tidak datang dalam semalam.

Kesuksesan dibangun dari ribuan langkah kecil yang sering kali tidak terlihat orang lain.

Seperti ketika dahulu saya menjadi panitia kurban kampus.

Tidak ada yang memotret perjuangan kami saat rapat hingga larut malam.

Tidak ada yang melihat lelah kami saat mempersiapkan acara.

Namun Allah melihat semuanya.

Dan setiap pengalaman itu menjadi batu bata yang membangun kehidupan saya hari ini.

Terima Kasih Kampusku

Melihat foto ini membuat hati saya dipenuhi rasa syukur.

Terima kasih kepada IKIP Jakarta yang kini menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Terima kasih kepada para dosen yang telah membimbing kami.

Terima kasih kepada para sahabat seperjuangan.

Terima kasih kepada semua pengalaman yang pernah hadir dalam hidup saya.

Foto tua ini mengingatkan saya bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai.

Tetapi tentang bagaimana kita bertumbuh di sepanjang perjalanan.

Dan dari sekumpulan mahasiswa sederhana yang menjadi panitia kurban kampus itu, saya belajar satu hal yang tidak pernah berubah hingga hari ini:

Orang besar bukanlah mereka yang selalu berada di depan panggung. Orang besar adalah mereka yang dengan ikhlas mau bekerja di belakang layar demi keberhasilan banyak orang.

Alhamdulillah, saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Dan kenangan itu akan selalu hidup di dalam hati saya, sepanjang hayat. ❤️

Bekasi, Juni 2026
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Persiapan Pelepasan Siswa SMP Labschool Jakarta 2026 di Balai Sudirman Jakarta

Air Mata di Balik Senyum Pelepasan Siswa SMP Labschool Jakarta 2026

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, Rabu, 10 Juni 2026, Balai Sudirman Jakarta masih sibuk dengan berbagai persiapan. Lampu-lampu panggung menyala terang. Layar raksasa menampilkan tema yang begitu indah:

"Cerdas dalam Ilmu, Kuat dalam Karakter, Gemilang dalam Prestasi."

Tema itu bukan sekadar rangkaian kata-kata indah. Di balik setiap kalimatnya tersimpan perjalanan panjang anak-anak hebat SMP Labschool Jakarta yang telah berjuang selama tiga tahun menempuh pendidikan.

Saya berdiri memandangi panggung yang masih kosong.

Kursi-kursi tamu belum seluruhnya terisi.

Suara teknisi terdengar mengatur tata cahaya dan tata suara.

Namun entah mengapa, hati saya sudah terasa penuh.

Bukan karena acara belum dimulai.

Bukan pula karena kesibukan persiapan.

Tetapi karena saya tahu, beberapa jam lagi akan ada banyak air mata yang jatuh.

Air mata kebahagiaan.

Air mata haru.

Dan air mata perpisahan.

Sebagai guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya sudah berkali-kali menghadiri acara pelepasan siswa. Namun setiap pelepasan selalu memiliki cerita yang berbeda.

Setiap angkatan mempunyai kenangan yang tidak akan pernah sama.

Begitu pula dengan Angkatan Tahun Ajaran 2025/2026 ini.

Saya masih ingat ketika mereka pertama kali datang ke SMP Labschool Jakarta.

Sebagian masih terlihat pemalu.

Sebagian lagi masih sangat bergantung kepada orang tua.

Ada yang menangis ketika mengikuti kegiatan sekolah.

Ada yang gugup saat presentasi di depan kelas.

Ada yang takut berbicara.

Ada pula yang kesulitan beradaptasi.

Tetapi waktu telah mengubah semuanya.

Hari ini mereka tumbuh menjadi remaja yang percaya diri.

Mereka belajar memimpin.

Belajar bekerja sama.

Belajar menghormati perbedaan.

Belajar bangkit dari kegagalan.

Belajar mengelola emosi.

Dan yang paling penting, mereka belajar menjadi manusia yang berkarakter.

Karena itulah tema tahun ini terasa sangat tepat.

Cerdas dalam ilmu.

Karena ilmu adalah bekal untuk menghadapi masa depan.

Namun ilmu saja tidak cukup.

Karena banyak orang pintar tetapi gagal menjadi manusia yang baik.

Maka lahirlah kalimat kedua:

Kuat dalam karakter.

Karakter adalah fondasi kehidupan.

Karakter adalah kejujuran ketika tidak ada yang melihat.

Karakter adalah tanggung jawab ketika menghadapi kesulitan.

Karakter adalah keberanian untuk berkata benar.

Karakter adalah kemampuan untuk tetap rendah hati ketika berada di puncak prestasi.

Lalu tema itu ditutup dengan kalimat:

Gemilang dalam prestasi.

Prestasi bukan hanya nilai rapor.

Prestasi bukan hanya piala.

Prestasi bukan hanya medali.

Prestasi terbesar adalah ketika seorang anak mampu menjadi pribadi yang lebih baik dari dirinya kemarin.

Saya kembali memandang layar besar di depan panggung.

Tiba-tiba ingatan saya melayang kepada para orang tua.

Mungkin saat ini mereka sedang bersiap datang ke Balai Sudirman.

Mereka akan mengenakan pakaian terbaik.

Mereka akan duduk dengan bangga menyaksikan putra-putrinya berjalan menuju masa depan.

Tetapi siapa yang tahu berapa banyak perjuangan yang mereka sembunyikan?

Ada ayah yang setiap pagi berangkat bekerja sebelum matahari terbit.

Ada ibu yang rela mengurangi kebutuhannya demi biaya pendidikan anak.

Ada orang tua yang diam-diam menangis ketika anaknya sakit.

Ada yang berjuang membayar sekolah di tengah kesulitan ekonomi.

Ada yang terus mendoakan anaknya setiap selesai salat.

Hari ini adalah hari mereka juga.

Hari ini bukan hanya pelepasan siswa.

Hari ini adalah pelepasan sebagian rasa cemas para orang tua.

Hari ini adalah bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.

Sebagai guru, saya sering melihat sesuatu yang tidak terlihat oleh banyak orang.

Saya melihat bagaimana seorang ibu menunggu anaknya selesai lomba.

Saya melihat bagaimana seorang ayah datang diam-diam menyaksikan anaknya tampil di panggung.

Saya melihat bagaimana orang tua menahan lelah demi masa depan buah hatinya.

Karena itu, setiap kali acara pelepasan berlangsung, saya selalu yakin bahwa yang paling banyak menangis biasanya bukan siswa.

Melainkan para ibu.

Mengapa?

Karena seorang ibu selalu mengingat perjalanan anaknya sejak kecil.

Ia ingat saat pertama kali menggendong.

Ia ingat saat pertama kali mengantar sekolah.

Ia ingat saat anaknya jatuh lalu menangis.

Ia ingat saat anaknya belajar membaca.

Ia ingat saat anaknya demam semalaman.

Dan hari ini ia melihat anak itu berdiri tegak di atas panggung sebagai seorang lulusan SMP.

Bagaimana mungkin air mata tidak jatuh?

Saya sendiri sebagai seorang ayah dan kakek memahami perasaan itu.

Ketika melihat cucu saya, Tanaya Faza Afisa, tumbuh dari hari ke hari, saya semakin mengerti bahwa waktu berjalan begitu cepat.

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku SMP, beberapa tahun lagi akan menjadi mahasiswa.

Beberapa tahun setelah itu mereka akan bekerja.

Menikah.

Membangun keluarga.

Dan suatu hari nanti mereka akan mengenang masa-masa di Labschool sebagai salah satu kenangan terindah dalam hidupnya.

Mungkin mereka akan lupa nilai ujian tertentu.

Mungkin mereka akan lupa rumus matematika yang pernah dipelajari.

Tetapi mereka tidak akan lupa guru yang pernah menyemangati mereka.

Mereka tidak akan lupa sahabat yang menemani masa remaja.

Mereka tidak akan lupa sekolah yang menjadi rumah kedua mereka.

Karena sekolah sejatinya bukan hanya tempat belajar.

Sekolah adalah tempat tumbuh.

Tempat menemukan jati diri.

Tempat membangun mimpi.

Dan bagi banyak siswa, Labschool Jakarta telah menjadi rumah kedua yang penuh cinta.

Menjelang acara dimulai, saya menarik napas panjang.

Saya bersyukur dapat menjadi bagian dari perjalanan mereka.

Saya bersyukur pernah menyaksikan mereka tumbuh.

Saya bersyukur pernah belajar bersama mereka.

Hari ini kami memang melepas mereka.

Namun sesungguhnya guru tidak pernah benar-benar melepaskan muridnya.

Doa seorang guru akan selalu mengikuti ke mana pun muridnya melangkah.

Kepada seluruh lulusan SMP Labschool Jakarta Tahun Ajaran 2025/2026, melangkahlah dengan penuh keyakinan.

Bawalah ilmu yang telah kalian pelajari.

Pegang teguh karakter yang telah kalian bangun.

Raihlah prestasi setinggi langit.

Dan ketika suatu hari kalian sukses, jangan pernah lupa kepada orang tua yang mendoakan kalian dalam setiap sujudnya.

Jangan lupa kepada guru yang pernah mengajarkan huruf demi huruf kehidupan.

Karena sesungguhnya, hari ini bukan akhir perjalanan.

Hari ini adalah awal dari babak baru kehidupan.

Selamat jalan anak-anakku.

Terbanglah setinggi mungkin.

Namun jangan pernah lupa pulang.

Sebab di Labschool Jakarta akan selalu ada guru-guru yang bangga menyebut nama kalian dalam setiap doa. ❤️

"Cerdas dalam Ilmu, Kuat dalam Karakter, Gemilang dalam Prestasi." Sebuah tema yang bukan hanya untuk dikenang, tetapi untuk dijalani sepanjang kehidupan.

Selasa, 09 Juni 2026

Guru Ideal di Mata Peserta Didik




Guru Ideal di Mata Peserta Didik

Saat tulisan ini dibuat, penulis sedang mempersiapkan diri mengikuti final Lomba Keberhasilan Guru dalam Pembelajaran 2008 tingkat nasional yang diselenggarakan rutin setiap tahun oleh Direktorat Jenderal Peningkatan Mutu Pendidikan dan Tenaga Kependidikan, Depdiknas. Ada rasa bangga dan bahagia karena diberi kesempatan menjadi finalis dalam lomba bergengsi tersebut.

Namun, di balik kebanggaan itu, muncul sebuah pertanyaan kecil di dalam hati: apakah dengan menjadi finalis lomba berarti penulis sudah menjadi guru ideal? Seperti apakah sebenarnya sosok guru ideal yang dibutuhkan saat ini? Apakah guru ideal hanyalah mereka yang sudah lulus sertifikasi? Ataukah ada nilai-nilai lain yang jauh lebih penting dari sekadar penghargaan dan pengakuan?

Guru ideal adalah dambaan setiap peserta didik. Ia bukan hanya pengajar, tetapi juga panutan yang mampu memberikan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Ilmunya bagaikan mata air yang tak pernah kering. Semakin diambil, semakin jernih dan memberi kesejukan bagi siapa saja yang meminumnya. Kehadirannya mampu menghilangkan dahaga ilmu dan memberikan semangat belajar kepada anak didiknya.

Guru ideal menguasai materi pelajaran dengan baik dan mampu menyampaikannya secara sederhana sehingga mudah dipahami peserta didik. Cara mengajarnya menyenangkan, suaranya enak didengar, dan penjelasannya mudah dimengerti. Ilmu yang diajarkannya terus tumbuh dan bersemi di hati para siswa.

Namun, guru ideal bukanlah sosok yang merasa paling benar. Ia justru terbuka terhadap kritik dan masukan dari peserta didiknya. Dari sanalah ia belajar memperbaiki diri. Guru ideal memahami bahwa proses belajar tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada dirinya sendiri. Melalui umpan balik dari peserta didik, seorang guru dapat mengetahui kekurangan dalam cara mengajarnya dan terus melakukan perbaikan.

Dari hasil perenungan mendalam dan diskusi bersama teman-teman guru di sekolah tempat penulis bertugas, muncul beberapa pandangan yang mengerucut pada tiga ciri utama guru ideal.

Pertama, guru ideal adalah guru yang memahami dengan baik profesinya. Menjadi guru bukan sekadar pekerjaan, tetapi panggilan jiwa yang mulia. Guru adalah sosok yang memberi dengan tulus tanpa banyak menuntut balasan, selain mengharap ridho Tuhan Yang Maha Esa. Filosofi hidupnya sederhana: tangan di atas lebih mulia daripada tangan di bawah. Ia mendidik dengan hati.

Kehadirannya selalu dirindukan peserta didik. Wajahnya ceria, penuh semangat, dan mampu menghadirkan suasana belajar yang menyenangkan. Dalam kesehariannya, ia membiasakan budaya 5S: Salam, Sapa, Senyum, Syukur, dan Sabar. Sikap sederhana itu ternyata mampu menciptakan hubungan yang hangat antara guru dan peserta didik.

Kedua, guru ideal adalah guru yang memiliki sifat jujur, mampu menyampaikan kebenaran dengan baik, dapat dipercaya, dan cerdas. Guru seperti ini mampu menjadi teladan karena memiliki budi pekerti luhur. Ia selalu berkata benar, mengajarkan kebaikan, serta menjaga amanah yang diberikan kepadanya.

Guru yang ideal memiliki motto hidup: iman, ilmu, dan amal. Ia memiliki keimanan yang kuat, terus belajar memperdalam ilmu pengetahuan, lalu mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang diajarkan selaras dengan apa yang dilakukan.

Ketiga, guru ideal adalah guru yang memiliki lima kecerdasan dalam dirinya, yaitu kecerdasan intelektual, moral, sosial, emosional, dan motorik.

Kecerdasan intelektual penting agar guru mampu menguasai ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan zaman. Namun, kecerdasan intelektual saja tidak cukup. Kecerdasan tersebut harus diimbangi dengan kecerdasan moral. Tanpa moral yang baik, seseorang bisa menghalalkan segala cara demi mencapai keberhasilan. Fenomena korupsi yang marak di kalangan orang terdidik menjadi bukti bahwa kecerdasan tanpa moral dapat membawa kehancuran.

Karena itu, kejujuran menjadi fondasi utama dalam pendidikan. Kecerdasan moral akan menjaga seseorang tetap berada di jalan yang benar dalam situasi apa pun. Kejujuran adalah kunci keberhasilan dan kesuksesan sejati.

Selain itu, guru ideal juga harus memiliki kecerdasan sosial. Ia tidak boleh egois dan harus peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Guru perlu mampu bekerja sama dengan siapa pun meskipun memiliki karakter yang berbeda-beda. Sikap saling menghargai dan kemampuan membangun hubungan baik menjadi modal penting dalam dunia pendidikan.

Kecerdasan emosional juga sangat diperlukan. Guru harus mampu mengendalikan emosi, tidak mudah marah, tersinggung, atau merendahkan orang lain. Guru yang mampu mengelola emosinya akan lebih bijaksana dalam menghadapi berbagai persoalan di sekolah maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

Sementara itu, kecerdasan motorik diperlukan agar guru tetap aktif, kreatif, dan produktif. Guru yang memiliki semangat bergerak dan berkarya akan lebih mudah beradaptasi dengan perubahan zaman. Ia akan terus belajar, berinovasi, dan berprestasi demi memberikan yang terbaik bagi peserta didiknya.

Karena itu, sudah sewajarnya jika kita sebagai guru berlomba-lomba menjadi sosok guru ideal. Ideal di mata peserta didik, ideal di mata masyarakat, dan ideal di hadapan Sang Maha Pencipta.

Jika semakin banyak guru ideal hadir di sekolah-sekolah kita, maka akan semakin banyak pula sekolah berkualitas yang mampu membentuk generasi berkarakter, berakhlak mulia, dan cinta pada ilmu pengetahuan.

Semoga sosok guru ideal benar-benar hadir sebagai hadiah terindah bagi dunia pendidikan Indonesia, terutama dalam peringatan Hari Guru setiap tanggal 25 November.

Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Blog https://wijayalabs.com

Kisah omjay; Teknik Mengobati Trauma Anak

TEKNIK MENGOBATI TRAUMA ANAK DENGAN ILMU HYPNOSIS

Pengalaman Omjay Menjadi Guru Selama 34 Tahun Mendampingi Anak-anak yang Terluka Hatinya

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Menjadi guru selama 34 tahun bukan hanya mengajarkan mata pelajaran di dalam kelas. Menjadi guru juga berarti menjadi pendengar yang baik, sahabat yang setia, sekaligus penyembuh luka batin yang sering kali tidak terlihat oleh mata.

Selama mengajar di SMP Labschool Jakarta sejak tahun 1994, saya bertemu ribuan siswa dengan berbagai karakter dan latar belakang kehidupan. Ada siswa yang ceria, aktif, dan penuh semangat. Namun ada pula siswa yang menyimpan luka batin yang dalam akibat pengalaman masa lalu yang menyakitkan.

Luka itu dikenal sebagai trauma.

Trauma pada anak sering kali tidak terlihat secara fisik. Namun dampaknya sangat besar terhadap proses belajar, perkembangan kepribadian, dan hubungan sosial mereka.

Sebagai guru, saya pernah menghadapi siswa yang tiba-tiba menangis saat diminta maju ke depan kelas. Ada pula yang selalu menundukkan kepala ketika diajak berbicara. Bahkan ada siswa yang sangat pintar tetapi nilainya terus menurun karena mengalami tekanan psikologis di rumah.

Dari pengalaman itulah saya mulai tertarik mempelajari ilmu komunikasi bawah sadar atau yang dikenal dengan hypnosis dan hypnotherapy.

Tentu yang saya pelajari bukanlah hypnosis untuk hiburan seperti yang sering ditampilkan di televisi. Saya mempelajari hypnosis pendidikan yang bertujuan membantu anak membangun kembali kepercayaan dirinya.

Memahami Trauma Anak

Suatu hari saya menemukan seorang siswa yang selalu duduk di pojok kelas.

Ia jarang berbicara.

Ketika teman-temannya bercanda, ia hanya diam.

Ketika guru bertanya, ia terlihat gugup.

Awalnya saya mengira ia hanya pemalu.

Namun setelah beberapa kali berbincang secara pribadi, saya mengetahui bahwa anak tersebut sering mendapatkan bentakan keras di rumah.

Setiap kali melakukan kesalahan kecil, ia dimarahi.

Akibatnya, alam bawah sadarnya menyimpan keyakinan negatif.

"Saya bodoh."

"Saya tidak mampu."

"Saya selalu salah."

Kalimat-kalimat itu terus berulang dalam pikirannya.

Inilah yang disebut sugesti negatif.

Jika terus dibiarkan, sugesti tersebut dapat menjadi penghambat perkembangan anak.

Kekuatan Pikiran Bawah Sadar

Dalam ilmu hypnosis dijelaskan bahwa sebagian besar perilaku manusia dipengaruhi oleh pikiran bawah sadar.

Apa yang sering didengar anak sejak kecil akan tersimpan kuat di dalam dirinya.

Jika seorang anak terus mendengar:

"Kamu hebat."

"Kamu bisa."

"Kami bangga padamu."

Maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Sebaliknya, jika yang sering didengar adalah:

"Kamu nakal."

"Kamu bodoh."

"Kamu tidak berguna."

Maka pikiran bawah sadar akan menerima kalimat tersebut sebagai kebenaran.

Karena itulah guru dan orang tua harus berhati-hati dalam berbicara kepada anak.

Kata-kata bisa menjadi obat.

Namun kata-kata juga bisa menjadi racun.

Pengalaman Omjay Menggunakan Teknik Hypnosis Sederhana

Suatu ketika saya mendampingi seorang siswa yang sangat takut berbicara di depan kelas.

Setiap presentasi, tubuhnya gemetar.

Keringat dingin bercucuran.

Wajahnya pucat.

Alih-alih memaksanya tampil, saya mengajaknya berbicara santai sepulang sekolah.

Saya meminta ia duduk dengan nyaman.

Kemudian saya mengajaknya menarik napas perlahan.

"Sekarang bayangkan kamu sedang berada di tempat yang paling kamu sukai."

Anak itu mulai rileks.

Setelah beberapa menit saya berkata lembut:

"Kamu anak yang hebat."

"Kamu mampu berbicara dengan baik."

"Kamu memiliki banyak teman yang mendukungmu."

"Kamu semakin percaya diri setiap hari."

Saya mengulang sugesti positif tersebut beberapa kali.

Teknik sederhana ini sebenarnya merupakan bagian dari hypnosis ringan yang sering digunakan dalam dunia pendidikan.

Tujuannya bukan mengendalikan pikiran anak.

Melainkan membantu anak mengganti keyakinan negatif menjadi keyakinan positif.

Beberapa minggu kemudian terjadi perubahan yang luar biasa.

Anak tersebut mulai berani bertanya.

Mulai aktif berdiskusi.

Dan akhirnya mampu melakukan presentasi di depan kelas.

Saya masih ingat senyum bahagianya ketika berhasil menyelesaikan presentasi tanpa rasa takut.

Membangun Kedekatan Emosional

Dari pengalaman selama 34 tahun menjadi guru, saya menyadari bahwa teknik hypnosis yang paling ampuh sebenarnya bukanlah teknik yang rumit.

Yang paling ampuh adalah kedekatan emosional.

Anak yang merasa dicintai akan lebih mudah menerima sugesti positif.

Anak yang merasa dihargai akan lebih cepat pulih dari trauma.

Karena itu saya selalu berusaha menyapa siswa dengan ramah.

Menghafal nama mereka.

Mendengarkan cerita mereka.

Menghargai pendapat mereka.

Ketika hubungan emosional sudah terbangun, proses penyembuhan menjadi lebih mudah.

Teknik Sederhana Mengurangi Trauma Anak

Berikut beberapa teknik yang sering saya gunakan sebagai guru:

1. Mendengarkan tanpa menghakimi

Biarkan anak bercerita.

Jangan langsung menyalahkan.

Kadang anak hanya membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan.

2. Memberikan afirmasi positif

Ucapkan kalimat-kalimat yang membangun.

Misalnya:

Kamu hebat.

Kamu berharga.

Kamu pasti bisa.

Saya percaya padamu.


3. Mengajak relaksasi ringan

Latihan pernapasan sederhana dapat membantu anak merasa lebih tenang.

4. Mengingatkan keberhasilan masa lalu

Ajak anak mengingat pengalaman sukses yang pernah diraih.

Hal ini membantu meningkatkan rasa percaya diri.

5. Menjadi teladan yang menenangkan

Guru yang sabar dan penuh empati adalah terapi terbaik bagi siswa yang sedang terluka.

Guru Adalah Penyembuh Hati

Pengalaman panjang mengajar membuat saya memahami satu hal penting.

Tidak semua luka dapat disembuhkan dengan obat.

Ada luka yang hanya bisa disembuhkan dengan perhatian.

Ada luka yang hanya bisa sembuh dengan kasih sayang.

Ada luka yang hanya bisa pulih ketika seseorang merasa dihargai.

Di sinilah peran guru menjadi sangat mulia.

Guru bukan hanya mengajarkan rumus matematika, tata bahasa, atau teknologi.

Guru juga membantu membangun kembali kepercayaan diri anak yang sempat runtuh.

Guru membantu menyalakan kembali harapan yang hampir padam.

Guru membantu mengobati trauma yang tersembunyi di dalam hati anak.

Penutup

Selama 34 tahun menjadi guru, saya belajar bahwa setiap anak adalah pribadi yang unik. Di balik senyum mereka mungkin tersimpan kesedihan. Di balik kenakalan mereka mungkin tersembunyi luka yang belum sembuh.

Karena itu, mari kita lebih banyak mendengar daripada menghakimi. Lebih banyak memuji daripada mencela. Lebih banyak memberi harapan daripada menakut-nakuti.

Ilmu hypnosis dalam dunia pendidikan bukanlah ilmu sulap atau sihir. Ia adalah seni berkomunikasi dengan hati, menggunakan kata-kata positif untuk membantu anak menemukan kembali kekuatan yang sesungguhnya ada dalam dirinya.

Ketika seorang guru mampu menyentuh hati muridnya, saat itulah pendidikan mencapai makna yang paling hakiki.

Sebab anak-anak mungkin akan lupa apa yang kita ajarkan, tetapi mereka tidak akan pernah lupa bagaimana kita membuat mereka merasa dihargai, dicintai, dan dipercaya.

Salam Literasi. Menulislah dengan Hati dan Buktikan Apa yang Terjadi.
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia.
Blog https://wijayalabs.com

Kebersamaan yang Tak Akan Terlupakan dan Tak Akan Luntur oleh Waktu



Kebersamaan yang Tak Akan Terlupakan dan Tak Akan Luntur oleh Waktu

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Sebuah foto sering kali menyimpan ribuan cerita. Ia mampu membawa kita kembali ke masa lalu, menghadirkan kenangan yang pernah kita jalani bersama. Begitu pula ketika Pak Syamsuardi mengunggah foto kebersamaan kami, para penulis buku Informatika dari Ikatan Guru Informatika Indonesia, saat berkumpul di kantor penerbit Andi Yogyakarta pada tahun 2021.

Saat melihat foto itu kembali, hati saya terasa hangat. Ingatan saya melayang pada masa ketika kami datang dari berbagai daerah di Indonesia dengan satu tujuan yang sama, yaitu berbagi ilmu dan pengalaman melalui buku. Kami bukan sekadar penulis. Kami adalah sahabat seperjuangan yang memiliki mimpi yang sama: memajukan pendidikan Informatika di Indonesia.

Foto tersebut diambil setelah serangkaian diskusi, rapat, dan penyusunan naskah buku Informatika yang akan digunakan oleh para guru dan siswa di seluruh Indonesia. Wajah-wajah yang tersenyum dalam foto itu menyimpan semangat, harapan, dan perjuangan yang luar biasa.

Kala itu dunia pendidikan sedang mengalami perubahan besar. Kurikulum terus berkembang. Teknologi digital semakin masuk ke ruang-ruang kelas. Guru Informatika dituntut untuk terus belajar dan beradaptasi. Kami menyadari bahwa buku yang baik dapat menjadi jembatan bagi guru dan siswa untuk memahami dunia digital dengan lebih mudah.



Di kantor Penerbit Andi Yogyakarta itulah kami dipertemukan.

Ada yang datang dari Sumatra.

Ada yang datang dari Jawa.

Ada yang datang dari Kalimantan.

Ada yang datang dari Sulawesi.

Perbedaan daerah, suku, budaya, dan latar belakang seolah menghilang ketika kami duduk bersama membahas isi buku. Yang tersisa hanyalah semangat untuk berkarya bagi bangsa.

Saya masih ingat suasana ruangan saat itu. Tawa dan diskusi silih berganti. Kadang kami berbeda pendapat tentang isi materi. Kadang kami berdebat tentang contoh soal yang tepat. Namun semua dilakukan dengan semangat persaudaraan.

Tidak ada yang merasa paling hebat.

Tidak ada yang merasa paling pintar.

Semua saling melengkapi.

Semua saling belajar.

Itulah indahnya kolaborasi.

Bagi saya pribadi, pertemuan tersebut menjadi salah satu momen yang sangat berharga dalam perjalanan hidup sebagai guru. Selama lebih dari tiga puluh tahun mengajar di SMP Labschool Jakarta, saya belajar bahwa ilmu akan berkembang ketika dibagikan kepada orang lain.

Melalui buku, ilmu yang kita tuliskan dapat melampaui batas ruang dan waktu.

Melalui buku, seorang guru dapat mengajar ribuan siswa yang bahkan tidak pernah ditemuinya.

Melalui buku, jejak pemikiran akan tetap hidup meskipun usia terus bertambah.

Karena itulah saya merasa sangat bersyukur bisa menjadi bagian dari tim penulis buku Informatika tersebut.

Yang membuat saya terharu bukan hanya karena buku yang kami hasilkan akhirnya diterbitkan. Yang lebih berharga adalah persahabatan yang lahir selama proses itu berlangsung.

Empat tahun telah berlalu sejak foto tersebut diambil.

Banyak hal telah berubah.

Ada yang kini mendapat amanah jabatan baru.

Ada yang sudah pensiun dari tugas formalnya sebagai guru.

Ada yang semakin aktif menulis.

Ada yang sibuk menjadi narasumber di berbagai daerah.

Ada pula yang terus mengabdikan diri di sekolah masing-masing.

Namun ketika melihat foto itu, rasanya kami masih seperti dulu.

Masih tertawa bersama.

Masih berdiskusi bersama.

Masih saling menyemangati.

Inilah yang saya sebut sebagai persahabatan sejati.

Persahabatan yang tidak dibangun karena kepentingan sesaat.

Persahabatan yang tidak dibangun karena jabatan.

Persahabatan yang tidak dibangun karena keuntungan materi.

Persahabatan yang lahir dari perjuangan bersama.

Dan persahabatan seperti itulah yang biasanya bertahan sangat lama.

Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan:

"Orang hebat menghasilkan karya, tetapi orang-orang yang saling mendukung akan menghasilkan sejarah."

Foto di kantor Penerbit Andi Yogyakarta itu bukan sekadar dokumentasi kegiatan.

Foto itu adalah catatan sejarah.

Sejarah tentang guru-guru yang memilih untuk terus belajar.

Sejarah tentang guru-guru yang tidak menyerah menghadapi perubahan zaman.

Sejarah tentang guru-guru yang percaya bahwa pendidikan dapat mengubah masa depan bangsa.

Hari ini, ketika kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) semakin berkembang pesat, saya semakin menyadari pentingnya kebersamaan seperti yang pernah kami bangun saat itu.

Teknologi boleh berubah.

Perangkat boleh berganti.

Kurikulum boleh diperbarui.

Namun nilai-nilai persahabatan, kolaborasi, dan gotong royong tidak akan pernah usang.

AI dapat membantu kita menulis.

AI dapat membantu kita membuat materi pembelajaran.

AI dapat membantu kita mengolah data.

Tetapi AI tidak dapat menggantikan hangatnya persahabatan.

AI tidak dapat menggantikan kebahagiaan saat bertemu sahabat lama.

AI tidak dapat menggantikan rasa haru ketika melihat perjuangan teman-teman yang berjalan bersama dalam satu cita-cita.

Karena itulah saya selalu mengatakan kepada para guru muda bahwa membangun jaringan pertemanan yang baik jauh lebih penting daripada sekadar mengumpulkan sertifikat pelatihan.

Ilmu bisa dicari.

Buku bisa ditulis.

Teknologi bisa dipelajari.

Tetapi sahabat seperjuangan adalah anugerah yang tidak mudah ditemukan.

Ketika saya melihat kembali foto itu, saya tidak hanya melihat sekumpulan penulis buku Informatika.

Saya melihat keluarga besar.

Saya melihat sahabat-sahabat yang pernah berbagi mimpi.

Saya melihat orang-orang hebat yang dengan segala keterbatasannya tetap memilih untuk berkarya.

Dan saya percaya, meskipun waktu terus berjalan, rambut semakin memutih, dan usia semakin bertambah, kenangan indah itu tidak akan pernah luntur.

Sebab kenangan yang dibangun dengan ketulusan akan selalu hidup di dalam hati.

Terima kasih Pak Syamsuardi yang telah mengunggah kembali foto bersejarah ini.

Foto yang mengingatkan kami bahwa karya boleh selesai, tetapi persahabatan tidak pernah berakhir.

Foto yang mengingatkan kami bahwa waktu boleh berlalu, tetapi kebersamaan yang tulus akan selalu menemukan tempat terbaik di hati setiap orang yang pernah menjalaninya.

Kebersamaan itu tak akan terlupakan.

Kebersamaan itu tak akan luntur oleh waktu.

Dan selama buku-buku yang kami tulis masih dibaca oleh generasi berikutnya, semangat persahabatan para guru penulis Informatika Indonesia akan terus hidup, menginspirasi, dan menerangi perjalanan pendidikan bangsa Indonesia. ❤️๐Ÿ“š๐Ÿ‡ฎ๐Ÿ‡ฉ


Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Dari Buku Digital Menjadi Tambahan Rezeki

Dari Buku Digital Menjadi Tambahan Rezeki: Kisah Omjay Menjawab Pertanyaan Seorang Sahabat

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

"Aamiin ya Rabbal'alamin. Sebenarnya saya ingin terus berkarya dari buku digital, contohnya biar tambah pengalaman juga nambah tambahan saku, Omjay... hehehe. Caranya bagaimana?"

Pertanyaan itu membuat saya tersenyum. Saya teringat perjalanan panjang yang saya lalui selama lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru dan penulis. Dahulu saya juga memiliki pertanyaan yang hampir sama. Saya bertanya-tanya, apakah menulis bisa menghasilkan uang? Apakah buku digital dapat menjadi sumber penghasilan? Apakah karya yang kita tulis akan dibaca orang?

Hari ini saya bisa menjawab dengan yakin. Ya, bisa!

Namun, saya juga harus jujur bahwa hasil yang besar tidak datang dalam semalam. Semua membutuhkan proses, kesabaran, dan konsistensi.

Saya memulai perjalanan menulis dari hal yang sangat sederhana. Saya menulis pengalaman mengajar di sekolah. Saya menulis kegiatan sehari-hari. Saya menulis apa yang saya lihat, apa yang saya rasakan, dan apa yang saya pelajari.

Tulisan-tulisan itu saya unggah ke blog pribadi. Saat itu saya tidak memikirkan uang. Saya hanya ingin berbagi pengalaman kepada orang lain.

Ternyata Allah memiliki rencana yang indah.

Tulisan yang saya bagikan setiap hari mulai dibaca banyak orang. Para guru dari berbagai daerah membaca tulisan saya. Mereka memberikan komentar dan masukan. Mereka bahkan meminta saya membagikan pengalaman menulis kepada mereka.

Dari sinilah saya belajar satu hal penting.

Rezeki sering datang dari manfaat yang kita berikan kepada orang lain.

Ketika tulisan kita bermanfaat, orang akan datang mencari tulisan tersebut. Ketika orang merasakan manfaatnya, mereka akan menghargai karya kita.

Saat ini zaman sudah berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Buku tidak harus dicetak di percetakan besar. Buku tidak harus menunggu penerbit terkenal.

Sekarang siapa pun bisa membuat buku digital sendiri.

Seorang guru dapat menulis modul pembelajaran. Seorang ibu rumah tangga dapat menulis resep masakan. Seorang pensiunan dapat menulis pengalaman hidupnya. Seorang pelajar dapat menulis kisah perjuangannya meraih prestasi.

Semua bisa menjadi buku digital.

Lalu bagaimana caranya agar buku digital dapat menambah pengalaman sekaligus menambah uang saku?

Pertama, tulislah sesuatu yang benar-benar Anda kuasai.

Jangan menulis hanya karena mengikuti tren. Tulislah sesuatu yang dekat dengan kehidupan Anda. Pembaca menyukai pengalaman nyata karena terasa lebih jujur dan lebih menyentuh.

Jika Anda seorang guru, tulislah pengalaman mengajar. Jika Anda seorang pebisnis, tulislah pengalaman berwirausaha. Jika Anda seorang ibu, tulislah pengalaman mendidik anak.

Pengalaman adalah harta yang tidak dimiliki semua orang.

Kedua, bangun kebiasaan menulis setiap hari.

Saya selalu mengatakan bahwa menulis itu seperti olahraga. Semakin sering dilakukan, semakin kuat kemampuan kita.

Banyak orang gagal bukan karena tidak mampu menulis. Mereka gagal karena tidak konsisten menulis.

Tulisan yang baik lahir dari latihan yang berulang-ulang.

Saya sendiri berusaha menulis setiap hari. Bahkan ketika sedang sakit, saya tetap menulis. Bahkan ketika sedang berada di perjalanan menggunakan LRT atau kereta, saya tetap menulis.

Menulis sudah menjadi bagian dari kehidupan saya.

Ketiga, manfaatkan teknologi dan kecerdasan buatan secara bijak.

Hari ini kita hidup di era AI. Teknologi dapat membantu membuat kerangka tulisan, mencari referensi, dan memperbaiki tata bahasa.

Namun hati dan pengalaman tetap harus berasal dari diri kita sendiri.

AI dapat membantu menulis lebih cepat, tetapi AI tidak dapat menggantikan pengalaman hidup yang kita alami.

Karena itu saya selalu mengatakan:

"Menulislah dengan hati, bukan hanya dengan teknologi."

Keempat, ubah tulisan menjadi buku digital.

Setelah memiliki banyak tulisan, kumpulkan tulisan tersebut menjadi satu tema.

Misalnya tema pendidikan, motivasi, perjalanan hidup, kesehatan, atau pengalaman mengajar.

Kemudian susun menjadi buku digital dalam format PDF atau e-book.

Buku digital memiliki banyak kelebihan. Biaya produksinya murah. Distribusinya mudah. Pembacanya bisa berasal dari seluruh Indonesia bahkan dunia.

Kelima, bangun personal branding.

Orang membeli buku bukan hanya karena judulnya bagus. Mereka membeli buku karena percaya kepada penulisnya.

Oleh sebab itu, bangun reputasi melalui blog, media sosial, webinar, dan komunitas.

Saya bersyukur karena blog dan media sosial membantu banyak orang mengenal saya sebagai Guru Blogger Indonesia.

Reputasi yang dibangun bertahun-tahun akhirnya membuka banyak peluang baru.

Saya sering diundang menjadi narasumber. Saya mendapat kesempatan menerbitkan buku. Saya bertemu banyak sahabat hebat dari seluruh Indonesia.

Semua itu berawal dari sebuah tulisan sederhana.

Keenam, jangan terlalu fokus pada uang di awal perjalanan.

Banyak orang berhenti menulis karena tulisannya belum menghasilkan uang.

Padahal menulis adalah investasi jangka panjang.

Tanamlah manfaat terlebih dahulu. Setelah itu rezeki akan mengikuti.

Saya percaya bahwa setiap tulisan baik memiliki jalannya sendiri untuk menemukan pembacanya.

Hari ini mungkin tulisan kita dibaca sepuluh orang.

Besok mungkin dibaca seratus orang.

Lima tahun lagi mungkin dibaca ribuan orang.

Karena itu jangan pernah menyerah.

Sahabatku, jika Anda ingin menambah pengalaman dan menambah uang saku melalui buku digital, mulailah dari sekarang.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu waktu luang.

Jangan menunggu memiliki komputer mahal.

Mulailah dari ponsel yang ada di tangan Anda.

Tulislah satu halaman hari ini.

Tulislah satu pengalaman hari ini.

Tulislah satu pelajaran hidup hari ini.

Lakukan terus setiap hari.

Insya Allah suatu saat Anda akan tersenyum melihat kumpulan tulisan itu berubah menjadi buku yang dibaca banyak orang.

Dan ketika buku itu mulai memberikan manfaat sekaligus tambahan penghasilan, Anda akan berkata:

"Alhamdulillah, ternyata menulis bukan hanya menyimpan kenangan, tetapi juga membuka jalan rezeki yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya."

Karena sesungguhnya, tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.Semoga artikel ini dapat menjadi penyemangat bagi para guru dan pegiat literasi yang ingin mulai menghasilkan karya dan rezeki dari buku digital. Teruslah menulis, karena setiap tulisan adalah jejak kebaikan yang akan hidup lebih lama daripada usia kita. ๐ŸŒน๐Ÿ“š✍️

Salam bligger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Inilah 3 Ciri Guru Hebat yang Tetap Dirindukan di Era AI




Inilah 3 Ciri Guru Hebat yang Tetap Dirindukan di Era AI

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Perkembangan kecerdasan buatan (AI) saat ini sungguh luar biasa. Dalam hitungan detik, AI mampu menjawab pertanyaan, membuat rangkuman, menulis artikel, menyusun soal, bahkan membantu membuat media pembelajaran yang menarik.

Namun ada satu pertanyaan penting yang sering muncul dalam benak banyak guru dan dosen:

Apakah AI akan menggantikan peran guru?

Jawabannya sederhana.

Tidak.

AI mungkin mampu menggantikan sebagian pekerjaan guru, tetapi tidak akan pernah mampu menggantikan kehadiran seorang guru yang hebat.

Mengapa?

Karena siswa dan mahasiswa tidak hanya membutuhkan informasi. Mereka membutuhkan inspirasi, keteladanan, kasih sayang, motivasi, dan hubungan emosional yang tidak bisa diberikan oleh mesin.

Dalam video yang saya tonton, dijelaskan bahwa sehebat apa pun AI berkembang, ada tiga ciri guru yang akan selalu dirindukan oleh murid-muridnya.

Ketika mendengar penjelasan itu, saya langsung teringat perjalanan saya mengajar lebih dari tiga dekade di SMP Labschool Jakarta.

Saya menyaksikan sendiri bahwa murid tidak selalu mengingat apa yang diajarkan gurunya. Namun mereka selalu mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka.

1. Guru yang Peduli kepada Muridnya

AI bisa menjawab soal matematika.

AI bisa menjelaskan konsep fisika.

AI bahkan bisa membuatkan modul pembelajaran dalam hitungan detik.

Tetapi AI tidak bisa merasakan kesedihan seorang murid yang sedang menghadapi masalah keluarga.

AI tidak bisa menepuk pundak siswa yang gagal ujian sambil berkata:

"Nak, jangan menyerah. Kamu pasti bisa."

Saya masih ingat ketika mengajar di Labschool Jakarta. Ada seorang siswa yang nilai Informatikanya sangat rendah.

Banyak guru menganggapnya malas.

Namun setelah saya ajak berbicara dari hati ke hati, ternyata ia sedang menghadapi masalah yang berat di rumah.

Sejak saat itu saya lebih sering menyemangatinya.

Bukan hanya mengajari materi pelajaran.

Tetapi juga mendengarkan keluh kesahnya.

Beberapa tahun kemudian, siswa tersebut datang menemui saya.

Dengan mata berkaca-kaca ia berkata,

"Pak Omjay, terima kasih karena dulu Bapak tidak menyerah pada saya."

Saat itulah saya menyadari bahwa yang paling diingat murid bukanlah rumus yang kita ajarkan.

Tetapi perhatian yang kita berikan.

Inilah ciri pertama guru hebat:

Peduli kepada murid sebagai manusia, bukan sekadar peserta didik.

2. Guru yang Menjadi Teladan

Murid belajar lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibanding apa yang mereka dengar.

AI bisa menjelaskan tentang kejujuran.

Tetapi AI tidak bisa menjadi contoh orang yang jujur.

AI bisa menjelaskan tentang disiplin.

Tetapi AI tidak bisa menunjukkan bagaimana datang tepat waktu setiap hari.

Seorang guru hebat mengajar dengan perilakunya.

Saya teringat pesan almarhum guru saya dahulu:

"Anak-anak tidak membutuhkan guru yang sempurna. Mereka membutuhkan guru yang memberikan contoh."

Karena itulah saya berusaha tetap menulis setiap hari.

Bukan karena ingin terkenal.

Tetapi karena ingin memberi teladan bahwa belajar tidak pernah berhenti.

Ketika murid melihat gurunya terus membaca buku, menulis artikel, mengikuti pelatihan, dan terus berkembang, mereka belajar satu hal penting:

Belajar adalah proses seumur hidup.

Di era AI sekarang, keteladanan menjadi semakin penting.

Karena murid bisa mendapatkan informasi dari mana saja.

Namun mereka hanya bisa mendapatkan inspirasi dari orang-orang yang mereka kagumi.

Guru hebat adalah guru yang hidupnya menjadi pelajaran.

3. Guru yang Mampu Menginspirasi dan Menggerakkan

AI dapat memberikan jawaban.

Tetapi AI tidak dapat menyalakan semangat.

Guru hebat tidak hanya mentransfer ilmu.

Guru hebat membangkitkan mimpi.

Saya masih ingat ketika pertama kali mengajak siswa membuat blog.

Banyak yang berkata,

"Pak, saya tidak bisa menulis."

Saya hanya tersenyum.

Lalu saya berkata,

"Tulis saja satu paragraf setiap hari."

Hari demi hari mereka mulai menulis.

Minggu demi minggu tulisan mereka bertambah.

Beberapa di antaranya kini menjadi penulis yang produktif.

Ada yang menjadi dosen.

Ada yang menjadi profesional di berbagai bidang.

Mereka bukan hanya belajar menulis.

Mereka belajar percaya pada dirinya sendiri.

Dan itulah kekuatan seorang guru.

Guru yang hebat mampu membuat murid melihat potensi terbaik dalam dirinya.

Ketika seorang murid percaya bahwa dirinya mampu, maka masa depannya mulai berubah.

AI tidak bisa melakukan itu.

Karena inspirasi lahir dari hubungan manusia dengan manusia.

Implementasi di Kelas Berdasarkan Prinsip Deep Quantum Learning

Dalam pendekatan Deep Quantum Learning, guru tidak lagi berperan sebagai satu-satunya sumber ilmu.

Guru menjadi fasilitator yang membangkitkan kesadaran belajar murid.

Beberapa implementasi yang dapat dilakukan di kelas antara lain:

1. Bangun Koneksi Emosional

Kenali nama murid, hobinya, cita-citanya, dan kesulitannya.

2. Berikan Pengalaman Belajar Bermakna

Hubungkan materi dengan kehidupan nyata.

3. Dorong Rasa Ingin Tahu

Jangan hanya memberi jawaban, tetapi ajukan pertanyaan yang memancing berpikir.

4. Jadikan Murid Subjek Pembelajaran

Biarkan mereka aktif mencari, menemukan, dan menyimpulkan.

5. Gunakan AI Sebagai Asisten

Bukan sebagai pengganti guru.

6. Bangun Refleksi Diri

Ajak murid merenungkan apa yang dipelajari dan bagaimana manfaatnya bagi kehidupan.

7. Menjadi Guru yang Menginspirasi

Terus belajar, terus berkembang, dan terus memberi teladan.

Penutup

Hari ini AI memang semakin canggih.

Besok mungkin akan lebih canggih lagi.

Namun ada satu hal yang tidak akan pernah tergantikan.

Yaitu sentuhan hati seorang guru.

Sebab murid tidak akan selalu mengingat nilai rapornya.

Mereka tidak akan selalu mengingat materi yang diajarkan.

Tetapi mereka akan selalu mengingat guru yang peduli kepada mereka, memberi teladan yang baik, dan menginspirasi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih hebat.

Karena pada akhirnya, teknologi bisa membantu proses belajar.

Tetapi hanya guru yang bisa menyentuh hati.

Dan guru yang mampu menyentuh hati akan selalu dirindukan, bahkan ketika dunia sudah dipenuhi oleh kecerdasan buatan.

Guru boleh kalah cepat dari AI.

Tetapi guru yang mengajar dengan hati tidak akan pernah tergantikan oleh AI. ❤️๐Ÿ“š✍️


Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com



Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi