Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Sabtu, 30 Mei 2026
Panen Labu di Kampung Tegalpanjang Garut
Kisah omjay Menjaga Keistiqomahan
Mengapa Tulisan Kita Tidak Pernah Selesai?
indahnya Tinggal di Kampung Bojong Desa Wanamekar Wanaraja Garut
Indahnya Tinggal di Kampung Bojong Desa Wanamekar Wanaraja Garut Jawa Barat
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Pagi itu matahari baru saja menyapa bumi Garut dengan sinarnya yang hangat. Udara terasa sejuk, jauh berbeda dengan hiruk-pikuk kota besar yang penuh dengan kebisingan kendaraan dan gedung-gedung tinggi. Omjay berdiri di depan rumah keluarga di Kampung Bojong, Desa Wanamekar, Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut, Jawa Barat.
Di hadapan Omjay terlihat sebuah papan informasi kegiatan pembangunan desa yang terpasang rapi. Papan itu menjadi bukti bahwa pembangunan terus berjalan demi meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Tertera informasi tentang kegiatan rabat beton dan normalisasi saluran air limbah yang didanai oleh Dana Desa. Bagi sebagian orang mungkin itu hanya papan proyek biasa, tetapi bagi Omjay papan itu memiliki makna yang jauh lebih dalam.
Papan itu menjadi simbol bahwa desa terus bergerak maju.
Di balik setiap pembangunan jalan, saluran air, dan fasilitas umum lainnya, tersimpan harapan masyarakat agar kehidupan menjadi lebih baik.
Omjay tersenyum sambil memandangi suasana kampung yang begitu damai.
Burung-burung berkicau dari pepohonan. Angin pagi bertiup pelan membawa aroma tanah yang khas. Anak-anak mulai bermain di halaman rumah. Para ibu tampak menyapu halaman, sementara bapak-bapak bersiap berangkat ke sawah atau kebun.
Pemandangan sederhana itu menghadirkan kebahagiaan yang sulit ditemukan di tengah kehidupan kota yang serba cepat.
Kampung yang Menyimpan Banyak Kenangan
Bagi Omjay, Kampung Bojong bukan sekadar tempat singgah ketika mudik ke Garut. Kampung ini adalah tempat yang menyimpan banyak kenangan keluarga.
Di sinilah Omjay sering berkumpul bersama saudara, kerabat, dan keluarga besar. Canda tawa yang tercipta saat makan bersama terasa begitu hangat.
Tidak ada kemewahan yang berlebihan.
Tidak ada pusat perbelanjaan megah.
Tidak ada gedung pencakar langit.
Namun justru kesederhanaan itulah yang membuat hati merasa tenang.
Ketika berada di Kampung Bojong, Omjay merasakan waktu berjalan lebih lambat.
Tidak ada suara klakson yang saling bersahutan.
Tidak ada kemacetan panjang yang menguras emosi.
Yang ada hanyalah ketenangan dan kedamaian.
Di desa, manusia lebih dekat dengan alam.
Mereka mengenal tetangga satu per satu. Mereka saling membantu ketika ada kesulitan. Mereka bergotong royong ketika ada pekerjaan bersama.
Nilai-nilai kebersamaan masih terjaga dengan baik.
Desa yang Terus Berkembang
Saat melihat papan informasi pembangunan yang terpampang di depan bangunan desa, Omjay merasa bangga.
Pembangunan rabat beton dan normalisasi saluran air limbah merupakan langkah penting dalam meningkatkan kualitas lingkungan masyarakat.
Jalan yang baik akan memudahkan aktivitas warga.
Saluran air yang tertata akan menjaga kebersihan lingkungan.
Pembangunan seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi kehidupan sehari-hari.
Omjay teringat pesan para pemimpin bangsa bahwa pembangunan Indonesia harus dimulai dari desa.
Desa yang maju akan melahirkan masyarakat yang sejahtera.
Desa yang tertata akan menciptakan kehidupan yang lebih nyaman.
Karena itu, setiap rupiah yang digunakan untuk pembangunan desa harus benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat.
Melihat pembangunan di Desa Wanamekar, Omjay merasa optimis bahwa desa ini akan terus berkembang menjadi desa yang lebih maju dan mandiri.
Belajar dari Kehidupan Desa
Ada banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kehidupan masyarakat desa.
Masyarakat desa mengajarkan arti kesederhanaan.
Mereka tidak berlomba-lomba menunjukkan kemewahan.
Mereka hidup sesuai kebutuhan.
Mereka bekerja keras setiap hari.
Mereka bersyukur atas apa yang dimiliki.
Ketika musim panen tiba, mereka bersyukur.
Ketika hasil panen tidak sesuai harapan, mereka tetap bersabar.
Kehidupan desa mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu berasal dari banyaknya harta.
Kebahagiaan sering kali lahir dari rasa syukur.
Omjay menyadari bahwa masyarakat modern terkadang terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa menikmati hidup.
Padahal kebahagiaan sering hadir dalam hal-hal sederhana.
Secangkir kopi hangat di pagi hari.
Obrolan santai bersama keluarga.
Udara segar tanpa polusi.
Dan kesempatan menikmati alam ciptaan Allah SWT.
Menulis di Tengah Kedamaian Desa
Sebagai seorang guru dan penulis, Omjay selalu menemukan inspirasi ketika berada di Kampung Bojong.
Suasana desa yang tenang membuat pikiran lebih jernih.
Ide-ide tulisan mengalir lebih lancar.
Banyak artikel yang lahir dari perenungan sederhana ketika menikmati suasana kampung.
Omjay sering membawa laptop atau telepon genggam untuk mencatat ide yang muncul.
Setiap sudut desa seolah memiliki cerita.
Ada cerita tentang perjuangan petani.
Ada cerita tentang gotong royong warga.
Ada cerita tentang anak-anak yang bercita-cita tinggi.
Semua itu menjadi sumber inspirasi yang tidak pernah habis.
Karena itulah Omjay selalu mengatakan:
"Tulisanku adalah tabunganku. Tulisan-tulisan itu suatu saat akan menjadi buku yang bermutu dan tersimpan di alat rekam yang ajaib bernama blog."
Blog menjadi tempat Omjay menyimpan kenangan, pengalaman, dan pelajaran hidup yang diperoleh dari berbagai perjalanan.
Termasuk perjalanan sederhana ke Kampung Bojong, Desa Wanamekar.
Bersyukur Memiliki Kampung Halaman
Tidak semua orang masih memiliki kesempatan menikmati suasana kampung yang asri.
Banyak orang lahir dan tumbuh di tengah hiruk-pikuk perkotaan.
Karena itu, Omjay merasa sangat bersyukur masih bisa menikmati udara segar Garut yang menenangkan hati.
Ketika berdiri memandang jalan kampung yang mulai tertata rapi, Omjay berdoa dalam hati.
Semoga Desa Wanamekar semakin maju.
Semoga masyarakatnya semakin sejahtera.
Semoga semangat gotong royong tetap terjaga.
Semoga generasi mudanya tumbuh menjadi generasi yang berpendidikan dan berakhlak mulia.
Kampung Bojong mungkin hanya sebuah kampung kecil di Kecamatan Wanaraja, Kabupaten Garut. Namun bagi Omjay, kampung ini adalah tempat yang selalu mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak terletak pada kemewahan dunia, melainkan pada hati yang penuh syukur, keluarga yang saling menyayangi, dan lingkungan yang membuat jiwa merasa damai.
Ketika sore mulai tiba dan matahari perlahan tenggelam di balik perbukitan Garut, Omjay kembali memandang sekeliling.
Hamparan langit terlihat begitu indah.
Angin berhembus lembut.
Suara anak-anak masih terdengar bermain di kejauhan.
Saat itulah Omjay kembali menyadari satu hal penting:
Kadang-kadang, untuk menemukan ketenangan hidup, kita tidak perlu pergi jauh. Cukup pulang ke kampung, menyapa alam, berkumpul bersama keluarga, dan mensyukuri nikmat Allah yang begitu melimpah.
Dan Kampung Bojong, Desa Wanamekar, Wanaraja, Garut, selalu menjadi tempat yang mengingatkan Omjay akan makna kebahagiaan yang sesungguhnya.
Menulis yang Baik dan Menghasilkan Uang
Resume kbmn pgri dalam Menerbitkan Buku
Resensi Buku Menulislah Dengan Hati
Kisah Omjay: Hangatnya Kumpul Keluarga di Bandung Bersama Cucu Kakek Jay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain berkumpul bersama keluarga. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau perjalanan yang jauh tidak akan mampu menggantikan hangatnya kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.
Malam itu, suasana rumah di Bandung terasa begitu hangat. Setelah melewati berbagai aktivitas dan perjalanan yang cukup melelahkan, Omjay akhirnya dapat menikmati momen sederhana namun sangat berharga bersama keluarga besar. Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tampak anggota keluarga duduk santai menikmati kebersamaan.
Ada yang sibuk memainkan telepon genggam, ada yang berbincang ringan, ada pula yang hanya duduk sambil tersenyum menikmati suasana. Di tengah-tengah mereka, cucu kecil Kakek Jay menjadi pusat perhatian. Tingkah lucunya membuat suasana rumah semakin hidup.
Omjay memandangi mereka satu per satu.
Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak selalu mudah didapatkan. Kesibukan pekerjaan, sekolah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya sering kali membuat anggota keluarga berada di tempat yang berbeda-beda.
Karena itulah, setiap momen kebersamaan selalu terasa istimewa.
Malam itu Omjay teringat pesan almarhum ayahnya.
"Jangan pernah lupa pulang. Karena sejauh apa pun kita pergi, keluarga adalah tempat kita kembali."
Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam hati.
Anak-anak yang dahulu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menempuh pendidikan, ada yang bekerja, dan ada pula yang mulai merencanakan masa depannya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin Omjay mengantar mereka ke sekolah. Baru kemarin mengajarkan mereka membaca dan menulis. Baru kemarin menggendong mereka ketika menangis.
Kini mereka sudah mampu berjalan sendiri.
Sementara itu, Omjay dan istri mulai memasuki fase kehidupan yang berbeda. Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Langkah yang dahulu begitu cepat kini mulai melambat.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Kasih sayang keluarga.
Malam semakin larut. Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Cucu Kakek Jay berlarian ke sana kemari dengan penuh semangat. Tingkahnya yang polos membuat semua orang tersenyum.
Anak kecil memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghadirkan kebahagiaan.
Mereka tidak memikirkan jabatan.
Mereka tidak memikirkan harta.
Mereka tidak memikirkan masalah kehidupan.
Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan menikmati hidup.
Melihat cucu bermain, Omjay kembali belajar tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya.
Ternyata kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.
Kebahagiaan bisa hadir dari senyum seorang cucu.
Dari obrolan ringan di ruang keluarga.
Dari secangkir teh hangat yang dinikmati bersama.
Dari tawa sederhana yang muncul tanpa dibuat-buat.
Di tengah percakapan keluarga malam itu, Omjay menyadari bahwa usia manusia terus bertambah. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Hari ini kita masih dapat berkumpul.
Besok belum tentu.
Karena itulah setiap pertemuan harus disyukuri.
Setiap pelukan harus dihargai.
Setiap kebersamaan harus dinikmati.
Banyak orang baru menyadari pentingnya keluarga ketika kehilangan kesempatan untuk bersama.
Padahal keluarga adalah anugerah terbesar yang Allah titipkan kepada kita.
Omjay teringat berbagai perjalanan hidup yang telah dilalui selama ini. Dari perjuangan menyelesaikan pendidikan doktor selama delapan tahun, perjalanan ke Jepang dan China untuk belajar, hingga aktivitas mengajar dan berbagi ilmu di berbagai daerah Indonesia.
Semua pencapaian itu tentu membanggakan.
Namun ketika kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga, Omjay menyadari bahwa keluarga tetap menjadi sumber kekuatan utama.
Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir saat kita jatuh.
Mereka adalah orang-orang yang selalu mendoakan ketika kita menghadapi kesulitan.
Mereka adalah orang-orang yang tetap menerima kita apa adanya.
Malam itu tidak ada acara mewah.
Tidak ada restoran mahal.
Tidak ada pesta besar.
Hanya duduk bersama di ruang keluarga.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam kesederhanaan.
Ketika semua orang mulai lelah dan satu per satu bersiap beristirahat, Omjay masih duduk sejenak menikmati suasana.
Beliau memandang wajah-wajah yang dicintainya.
Hati terasa penuh syukur.
Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.
Kesehatan.
Keluarga.
Anak-anak yang tumbuh dengan baik.
Cucu yang membawa keceriaan.
Sahabat dan kerabat yang selalu mendukung.
Semua itu adalah karunia yang tidak ternilai harganya.
Dalam hati Omjay berdoa.
"Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam kebaikan. Berikan kesehatan kepada keluarga kami. Jadikan anak cucu kami generasi yang saleh dan salehah. Satukan hati kami dalam kasih sayang dan keberkahan-Mu."
Malam di Bandung pun semakin sunyi.
Namun kehangatan keluarga tetap terasa.
Momen sederhana itu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah dunia. Tidak akan masuk berita televisi. Tidak akan menjadi perbincangan banyak orang.
Tetapi bagi Omjay, momen itu adalah harta yang sangat berharga.
Karena pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang dari seberapa banyak harta yang dimiliki.
Bukan pula dari seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih.
Melainkan dari seberapa besar cinta yang ia tanamkan kepada keluarganya.
Dan malam itu, di sebuah rumah sederhana di Bandung, Omjay kembali belajar bahwa keluarga adalah sekolah kehidupan terbaik. Dari keluarga kita belajar mencintai. Dari keluarga kita belajar berbagi. Dan dari keluarga pula kita belajar arti pulang yang sesungguhnya.
Pesan Omjay:
"Jangan menunggu hari raya untuk berkumpul. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Selagi masih ada waktu, duduklah bersama keluarga, dengarkan cerita mereka, peluk mereka, dan abadikan kenangan indah itu dalam hati. Karena suatu hari nanti, kenangan itulah yang akan menjadi harta paling berharga dalam hidup kita." ❤️🙏🏻
Jumat, 29 Mei 2026
Kebahagiaan Keluarga Omjay
Kisah Omjay: Hangatnya Kumpul Keluarga di Bandung Bersama Cucu Kakek Jay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Tidak ada kebahagiaan yang lebih indah selain berkumpul bersama keluarga. Harta yang melimpah, jabatan yang tinggi, atau perjalanan yang jauh tidak akan mampu menggantikan hangatnya kebersamaan dengan orang-orang yang kita cintai.
Malam itu, suasana rumah di Bandung terasa begitu hangat. Setelah melewati berbagai aktivitas dan perjalanan yang cukup melelahkan, Omjay akhirnya dapat menikmati momen sederhana namun sangat berharga bersama keluarga besar. Dalam sebuah ruangan yang tidak terlalu luas, tampak anggota keluarga duduk santai menikmati kebersamaan.
Ada yang sibuk memainkan telepon genggam, ada yang berbincang ringan, ada pula yang hanya duduk sambil tersenyum menikmati suasana. Di tengah-tengah mereka, cucu kecil Kakek Jay menjadi pusat perhatian. Tingkah lucunya membuat suasana rumah semakin hidup.
Omjay memandangi mereka satu per satu.
Di zaman yang serba cepat seperti sekarang, kesempatan berkumpul bersama keluarga tidak selalu mudah didapatkan. Kesibukan pekerjaan, sekolah, organisasi, dan berbagai aktivitas lainnya sering kali membuat anggota keluarga berada di tempat yang berbeda-beda.
Karena itulah, setiap momen kebersamaan selalu terasa istimewa.
Malam itu Omjay teringat pesan almarhum ayahnya.
"Jangan pernah lupa pulang. Karena sejauh apa pun kita pergi, keluarga adalah tempat kita kembali."
Kalimat sederhana itu terus terngiang dalam hati.
Anak-anak yang dahulu masih kecil kini telah tumbuh dewasa. Mereka memiliki kesibukan masing-masing. Ada yang sedang menempuh pendidikan, ada yang bekerja, dan ada pula yang mulai merencanakan masa depannya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin Omjay mengantar mereka ke sekolah. Baru kemarin mengajarkan mereka membaca dan menulis. Baru kemarin menggendong mereka ketika menangis.
Kini mereka sudah mampu berjalan sendiri.
Sementara itu, Omjay dan istri mulai memasuki fase kehidupan yang berbeda. Rambut yang dahulu hitam kini mulai memutih. Langkah yang dahulu begitu cepat kini mulai melambat.
Namun ada satu hal yang tidak pernah berubah.
Kasih sayang keluarga.
Malam semakin larut. Tawa kecil terdengar dari sudut ruangan. Cucu Kakek Jay berlarian ke sana kemari dengan penuh semangat. Tingkahnya yang polos membuat semua orang tersenyum.
Anak kecil memang memiliki kemampuan luar biasa untuk menghadirkan kebahagiaan.
Mereka tidak memikirkan jabatan.
Mereka tidak memikirkan harta.
Mereka tidak memikirkan masalah kehidupan.
Mereka hanya ingin bermain, tertawa, dan menikmati hidup.
Melihat cucu bermain, Omjay kembali belajar tentang makna kebahagiaan yang sesungguhnya.
Ternyata kebahagiaan tidak selalu harus dicari jauh-jauh.
Kebahagiaan bisa hadir dari senyum seorang cucu.
Dari obrolan ringan di ruang keluarga.
Dari secangkir teh hangat yang dinikmati bersama.
Dari tawa sederhana yang muncul tanpa dibuat-buat.
Di tengah percakapan keluarga malam itu, Omjay menyadari bahwa usia manusia terus bertambah. Waktu terus berjalan tanpa pernah menunggu siapa pun.
Hari ini kita masih dapat berkumpul.
Besok belum tentu.
Karena itulah setiap pertemuan harus disyukuri.
Setiap pelukan harus dihargai.
Setiap kebersamaan harus dinikmati.
Banyak orang baru menyadari pentingnya keluarga ketika kehilangan kesempatan untuk bersama.
Padahal keluarga adalah anugerah terbesar yang Allah titipkan kepada kita.
Omjay teringat berbagai perjalanan hidup yang telah dilalui selama ini. Dari perjuangan menyelesaikan pendidikan doktor selama delapan tahun, perjalanan ke Jepang dan China untuk belajar, hingga aktivitas mengajar dan berbagi ilmu di berbagai daerah Indonesia.
Semua pencapaian itu tentu membanggakan.
Namun ketika kembali ke rumah dan berkumpul bersama keluarga, Omjay menyadari bahwa keluarga tetap menjadi sumber kekuatan utama.
Mereka adalah orang-orang yang selalu hadir saat kita jatuh.
Mereka adalah orang-orang yang selalu mendoakan ketika kita menghadapi kesulitan.
Mereka adalah orang-orang yang tetap menerima kita apa adanya.
Malam itu tidak ada acara mewah.
Tidak ada restoran mahal.
Tidak ada pesta besar.
Hanya duduk bersama di ruang keluarga.
Namun justru di situlah letak keindahannya.
Kebahagiaan sejati sering kali hadir dalam kesederhanaan.
Ketika semua orang mulai lelah dan satu per satu bersiap beristirahat, Omjay masih duduk sejenak menikmati suasana.
Beliau memandang wajah-wajah yang dicintainya.
Hati terasa penuh syukur.
Betapa banyak nikmat yang telah Allah berikan.
Kesehatan.
Keluarga.
Anak-anak yang tumbuh dengan baik.
Cucu yang membawa keceriaan.
Sahabat dan kerabat yang selalu mendukung.
Semua itu adalah karunia yang tidak ternilai harganya.
Dalam hati Omjay berdoa.
"Ya Allah, panjangkanlah umur kami dalam kebaikan. Berikan kesehatan kepada keluarga kami. Jadikan anak cucu kami generasi yang saleh dan salehah. Satukan hati kami dalam kasih sayang dan keberkahan-Mu."
Malam di Bandung pun semakin sunyi.
Namun kehangatan keluarga tetap terasa.
Momen sederhana itu mungkin tidak akan tercatat dalam sejarah dunia. Tidak akan masuk berita televisi. Tidak akan menjadi perbincangan banyak orang.
Tetapi bagi Omjay, momen itu adalah harta yang sangat berharga.
Karena pada akhirnya, manusia tidak akan dikenang dari seberapa banyak harta yang dimiliki.
Bukan pula dari seberapa tinggi jabatan yang pernah diraih.
Melainkan dari seberapa besar cinta yang ia tanamkan kepada keluarganya.
Dan malam itu, di sebuah rumah sederhana di Bandung, Omjay kembali belajar bahwa keluarga adalah sekolah kehidupan terbaik. Dari keluarga kita belajar mencintai. Dari keluarga kita belajar berbagi. Dan dari keluarga pula kita belajar arti pulang yang sesungguhnya.
Pesan Omjay:
"Jangan menunggu hari raya untuk berkumpul. Jangan menunggu kehilangan untuk menghargai. Selagi masih ada waktu, duduklah bersama keluarga, dengarkan cerita mereka, peluk mereka, dan abadikan kenangan indah itu dalam hati. Karena suatu hari nanti, kenangan itulah yang akan menjadi harta paling berharga dalam hidup kita." ❤️🙏🏻
Sholat Jumat di Masjid jami Al Islam Bandung
Muara Tulisan Adalah Buku
Jangan Biarkan Naskah Anda Hanya Menjadi File di Laptop!
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Berapa banyak tulisan yang sudah Anda buat selama ini?
Berapa banyak ide yang tersimpan rapi di laptop, flashdisk, Google Drive, atau bahkan masih berdiam di dalam pikiran?
Mungkin ada puluhan artikel yang sudah selesai ditulis. Mungkin ada kumpulan puisi yang selama ini hanya dibaca sendiri. Ada pula catatan pengalaman mengajar yang begitu inspiratif, tetapi belum pernah dibukukan. Bahkan bisa jadi ada naskah yang sudah bertahun-tahun menunggu untuk diwujudkan menjadi buku.
Pertanyaannya, sampai kapan karya itu hanya menjadi dokumen digital yang tersimpan diam?
Tulisan yang baik tidak cukup hanya ditulis. Tulisan yang baik harus dibaca, dibagikan, dan diwariskan. Salah satu cara terbaik untuk mewujudkannya adalah dengan menerbitkan buku.
Buku adalah jejak peradaban.
Buku adalah saksi perjalanan hidup.
Buku adalah warisan pemikiran yang akan tetap hidup meskipun penulisnya telah tiada.
Karena itulah, banyak penulis bermimpi melihat namanya tercetak di sampul buku. Ada kebanggaan tersendiri ketika karya yang lahir dari proses panjang akhirnya dapat digenggam, dibaca, dan menginspirasi banyak orang.
Namun kenyataannya, masih banyak calon penulis yang ragu melangkah.
Ada yang bertanya:
"Bagaimana cara menerbitkan buku?"
"Apakah harus melalui penerbit besar?"
"Apakah biaya menerbitkan buku mahal?"
"Bagaimana agar buku terlihat profesional dan menarik?"
"Bisakah penulis pemula menerbitkan buku?"
"Bagaimana memilih penerbit yang tepat?"
Pertanyaan-pertanyaan itu sering muncul dalam benak para penulis.
Kabar baiknya, semua pertanyaan tersebut akan mendapatkan jawaban secara langsung dalam kegiatan Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-17 yang akan dilaksanakan:
📅 Jumat, 29 Mei 2026
🕖 Pukul 19.00 WIB
📍 Daring melalui Grup WhatsApp KBMN
Mengangkat tema yang sangat menarik:
"Terbitkan Buku Semakin Mudah Bersama Penerbit Indie"
Tema ini sangat relevan bagi siapa saja yang memiliki impian menjadi penulis buku.
Malam nanti peserta akan diajak memahami dunia penerbitan secara lebih dekat. Bukan hanya teori, tetapi juga pengalaman nyata dari praktisi yang telah membantu banyak penulis mewujudkan impian mereka menjadi kenyataan.
Hadir sebagai narasumber adalah:
Mukminin, M.Pd.
Beliau dikenal sebagai salah satu founder penerbitan buku yang telah banyak membantu para penulis menerbitkan karya-karya terbaiknya.
Dengan pengalaman yang dimiliki, peserta akan memperoleh banyak wawasan berharga tentang proses penerbitan buku, mulai dari naskah hingga menjadi buku yang siap dibaca masyarakat.
Acara akan dipandu oleh moderator yang energik dan inspiratif:
Yandri Novita Sari, S.Pd.
Kehadiran moderator yang komunikatif akan membuat diskusi menjadi lebih hidup dan interaktif.
Mengapa Anda perlu mengikuti kegiatan ini?
Karena menulis tanpa menerbitkan ibarat menanam pohon tanpa membiarkannya berbuah.
Setiap tulisan memiliki muara.
Muara dari tulisan adalah pembaca.
Dan buku adalah salah satu jembatan terbaik agar tulisan sampai kepada lebih banyak pembaca.
Bagi para guru, buku bukan hanya sarana berbagi ilmu. Buku juga menjadi bukti profesionalisme dan karya nyata yang dapat memberikan manfaat luas bagi dunia pendidikan.
Bagi mahasiswa, buku menjadi portofolio intelektual yang membanggakan.
Bagi pegiat literasi, buku adalah media dakwah ilmu yang sangat efektif.
Bagi masyarakat umum, buku adalah warisan pemikiran yang nilainya tidak ternilai.
Dalam dunia yang semakin digital, buku justru tetap memiliki tempat istimewa.
Ketika seseorang memegang buku hasil karyanya sendiri, ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Omjay masih ingat ketika pertama kali menerima buku karya sendiri dari percetakan. Rasanya seperti melihat mimpi yang akhirnya menjadi nyata.
Berbulan-bulan menulis.
Berkali-kali merevisi.
Mengorbankan waktu istirahat.
Menahan rasa lelah.
Semua terbayar ketika buku itu akhirnya hadir dalam genggaman.
Pengalaman itulah yang ingin dibagikan kepada para peserta KBMN.
Sebab setiap orang sebenarnya memiliki potensi menjadi penulis buku.
Yang membedakan hanyalah keberanian untuk memulai dan kesediaan untuk terus belajar.
KBMN selama ini telah melahirkan banyak penulis baru dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak peserta yang awalnya merasa tidak mampu menulis, akhirnya berhasil menerbitkan buku bahkan menjadi penulis produktif.
Malam nanti bisa jadi menjadi titik awal perjalanan Anda.
Bisa jadi buku yang selama ini hanya ada dalam angan-angan mulai menemukan jalannya menuju kenyataan.
Bisa jadi malam nanti Anda menemukan jawaban atas semua keraguan yang selama ini menghambat langkah.
Karena itu, jangan sampai terlewat.
Siapkan buku catatan.
Siapkan semangat belajar.
Siapkan pertanyaan terbaik Anda.
Mari belajar bersama dan menimba ilmu langsung dari ahlinya.
Ingatlah satu hal:
Tulisan yang hanya disimpan akan menjadi arsip.
Tulisan yang diterbitkan akan menjadi inspirasi.
Jangan biarkan naskah Anda terus tertidur di dalam folder laptop.
Bangunkan ia.
Rapikan ia.
Terbitkan ia.
Dan biarkan karya Anda menemukan para pembacanya.
Sampai jumpa malam ini di KBMN PGRI Gelombang 34 Pertemuan ke-17, pukul 19.00 WIB.
Mari wujudkan mimpi menjadi penulis buku.
Karena setiap buku besar selalu berawal dari satu tulisan sederhana yang berani diterbitkan.
Salam Literasi!
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
— Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia.