Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 23 September 2026

Undangan Berbagi Ilmu TKA di SMKN 18 Jakarta

Dari Surat Undangan, Saya Belajar: Menjadi Guru Berarti Terus Berbagi

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru menerima surat undangan untuk menjadi narasumber. Bukan semata-mata karena mendapatkan kesempatan berbicara di depan banyak orang, tetapi karena ada kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.

Hari ini, Rabu, 23 September 2026, saya menerima sebuah surat yang membuat saya kembali merenungkan perjalanan panjang sebagai seorang guru.

Surat itu datang dari SMK Negeri 18 Jakarta, melalui surat bernomor 787/PK.01.04, tertanggal 22 September 2026. Isinya adalah permohonan kepada Kepala SMP Labschool Jakarta agar menugaskan saya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.

Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada:

  • Hari: Jumat
  • Tanggal: 25 September 2026
  • Waktu: 08.00 WIB sampai selesai
  • Tempat: Aula SMK Negeri 18 Jakarta
  • Acara: Kegiatan Pelatihan Literasi TKA

Bagi sebagian orang, mungkin surat seperti ini hanyalah surat undangan biasa.

Namun bagi saya, surat tersebut mempunyai makna yang lebih dalam.

Dari Guru Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat

Saya mulai mengajar sejak tahun 1994.

Artinya, perjalanan saya sebagai guru sudah sangat panjang. Banyak perubahan terjadi dalam dunia pendidikan. Dulu kita mengajar dengan papan tulis dan kapur. Kemudian hadir komputer, internet, LCD projector, smartphone, media sosial, pembelajaran digital, hingga sekarang kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).

Perubahan itu mengajarkan saya satu hal.

Guru tidak boleh berhenti belajar.

Ketika guru berhenti belajar, ia akan kesulitan mengajak muridnya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha belajar dari siapa saja dan dari mana saja.

Saya belajar dari buku.

Saya belajar dari pengalaman mengajar.

Saya belajar dari murid.

Saya belajar dari guru lain.

Saya belajar dari komunitas.

Dan sekarang saya juga belajar bagaimana teknologi AI dapat digunakan secara bijak dalam dunia pendidikan.

Undangan Ini Mengingatkan Saya pada Perjalanan Menulis

Menjadi narasumber juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan saya sebagai seorang penulis.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007.

Awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan pengalaman mengajar. Saya menulis apa yang saya lakukan di kelas, apa yang saya pelajari, dan apa yang saya rasakan sebagai seorang guru.

Ternyata tulisan-tulisan sederhana itu membawa saya ke banyak tempat.

Saya kemudian mendapatkan kesempatan menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pendidikan.

Dari satu undangan muncul undangan berikutnya.

Dari satu tulisan lahir tulisan lainnya.

Dari satu pertemuan saya bertemu banyak guru hebat.

Saya semakin percaya bahwa menulis adalah salah satu cara guru meninggalkan jejak kebaikan.

Ketika kita menulis, pengalaman yang kita miliki tidak berhenti di dalam diri kita.

Pengalaman itu dapat dibaca orang lain.

Dapat dipelajari.

Dapat dikembangkan.

Bahkan mungkin dapat menginspirasi guru yang belum pernah kita kenal.

Literasi TKA Bukan Sekadar Persiapan Menghadapi Tes

Dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA nanti, saya tentu tidak ingin sekadar berbicara tentang bagaimana menjawab soal.

Literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks.

Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolahnya, menilai kebenarannya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.

Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan seperti ini menjadi semakin penting.

Anak-anak kita setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi.

Ada informasi yang benar.

Ada informasi yang belum tentu benar.

Ada opini.

Ada iklan.

Ada konten yang dibuat manusia.

Ada pula konten yang dibuat dengan bantuan AI.

Karena itu, kemampuan literasi harus terus dibangun.

Guru mempunyai peran penting dalam proses tersebut.

Saya Datang Bukan untuk Menggurui

Jika nanti berdiri di depan para peserta pelatihan, saya tidak ingin merasa sebagai orang yang paling tahu.

Saya datang sebagai sesama pembelajar.

Saya akan membawa pengalaman.

Saya akan berbagi praktik yang pernah saya lakukan.

Saya juga akan membawa cerita tentang keberhasilan dan kegagalan.

Sebab dari kegagalan pun kita bisa belajar.

Saya percaya bahwa narasumber yang baik bukanlah orang yang membuat peserta merasa dirinya hebat.

Narasumber yang baik adalah orang yang membuat peserta pulang dengan membawa gagasan baru yang bisa dipraktikkan.

Itulah prinsip yang ingin saya pegang.

Terima Kasih atas Kepercayaan

Saya mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 18 Jakarta yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbagi dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.

Saya juga berterima kasih kepada Kepala SMP Labschool Jakarta atas dukungan dan kepercayaannya.

Surat undangan ini kembali mengingatkan saya bahwa perjalanan seorang guru memang tidak pernah selesai.

Mengajar membuat kita belajar.
Belajar membuat kita berkembang.
Menulis membuat pengalaman kita terdokumentasi.
Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain.

Maka, selama masih diberi kesempatan, saya akan terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi.

Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu kepada murid.

Menjadi guru adalah perjalanan untuk terus menjadi manusia pembelajar.

Dan seperti yang sering saya katakan:

“Menulislah dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan teruslah belajar sampai akhir hayat.”

Semoga kegiatan Pelatihan Literasi TKA di SMK Negeri 18 Jakarta, Jumat 25 September 2026, menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.

Salam literasi.
Salam guru pembelajar.
Salam Blogger Guru Indonesia.

Wijaya Kusumah
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Ketua IGTIK PGRI
Guru Blogger Indonesia


kisah omjay dan 10 ulama

Belajar Sampai Tua: Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia dan 10 Ulama yang Mengajarkan Kita bahwa Menuntut Ilmu Tidak Mengenal Pensiun

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. — Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada satu kalimat yang selalu saya pegang dalam perjalanan hidup sebagai guru:

“Selama kita masih hidup, selama itu pula kita masih menjadi murid.”

Saya, Omjay, seorang guru yang sudah puluhan tahun mengajar, masih terus belajar sampai hari ini.

Belajar teknologi.
Belajar menulis.
Belajar tentang kecerdasan artifisial.
Belajar dari murid.
Belajar dari guru lain.
Belajar dari pengalaman.
Bahkan belajar dari kesalahan sendiri.

Menjadi guru ternyata tidak berarti berhenti menjadi murid.

Justru semakin lama mengajar, saya semakin sadar bahwa ilmu yang saya miliki masih sangat sedikit dibandingkan luasnya ilmu Allah.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007. Ketika itu saya sedang menempuh pendidikan S2 di Pascasarjana UNJ. Saya bertemu dengan sosok blogger dan pendidik yang menginspirasi, Pak Dedi Dwitagama.

Dari sanalah saya semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu cara untuk belajar dan berbagi.

Blog menjadi ruang belajar saya.

Saya menulis bukan karena merasa paling tahu. Saya menulis karena ingin terus belajar.

Hari ini menulis tentang pendidikan.

Besok belajar tentang teknologi.

Lusa belajar tentang AI.

Kemudian belajar tentang coding, informatika, literasi digital, organisasi guru, dan berbagai persoalan pendidikan.

Semakin banyak menulis, semakin saya menyadari satu hal:

Ternyata ilmu itu tidak pernah habis.

Dan ternyata semangat seperti inilah yang telah dicontohkan oleh para ulama sejak berabad-abad lalu.

1. Imam Ahmad bin Hanbal: Membawa Tempat Tinta Sampai ke Liang Kubur

Imam Ahmad bin Hanbal رحمه الله adalah salah satu imam besar dalam Islam dan seorang ulama besar dalam ilmu hadits.

Ada ungkapan terkenal yang dinisbatkan kepada beliau:

مَعَ الْمَحْبَرَةِ إِلَى الْمَقْبَرَةِ

“Bersama tempat tinta sampai ke liang kubur.”

Pesannya sangat dalam.

Belajar tidak mengenal usia.

Menjadi ulama besar tidak membuat seseorang berhenti mencari ilmu.

Bahkan dalam riwayat yang disebutkan oleh sebagian sumber, ketika beliau sakit menjelang wafat, beliau masih meminta agar hadits yang pernah didengarnya dibacakan kepadanya.

Saya membayangkan:

Jika seorang ulama besar saja masih merasa perlu belajar, lalu siapa kita sehingga merasa sudah cukup berilmu?

Saya pun sering mengingatkan diri sendiri:

Jangan merasa sudah pintar hanya karena sudah lama mengajar.

Lama mengajar bukan berarti kita sudah mengetahui semuanya.

2. Al-Khathib Al-Baghdadi: Ilmu Kadang Harus Dicari dengan Perjalanan

Abu Bakr al-Khathib al-Baghdadi رحمه الله adalah seorang ulama besar dalam ilmu hadits dan sejarah.

Beliau melakukan perjalanan ke berbagai wilayah untuk mencari ilmu dan hadits.

Baghdad, Bashrah, Kufah, Naisabur, Rayy, Isfahan, Makkah, Syam, dan berbagai tempat lainnya menjadi bagian dari perjalanan ilmiahnya.

Dari kisah beliau saya belajar:

Ilmu tidak selalu datang mengetuk pintu rumah kita.

Kadang kitalah yang harus mengetuk pintu ilmu.

Hari ini perjalanan mencari ilmu mungkin tidak harus menggunakan unta atau berjalan kaki seperti para ulama dahulu.

Kita bisa membuka buku.

Mengikuti seminar.

Mengikuti webinar.

Membaca jurnal.

Menonton pembelajaran.

Berdiskusi dengan guru lain.

Bahkan memanfaatkan teknologi dan AI sebagai alat bantu belajar.

Namun prinsipnya tetap sama:

Jangan berhenti mencari ilmu.

3. Abu Nu'aim Al-Isfahani: Jangan Cepat Merasa Kenyang dengan Ilmu

Abu Nu'aim al-Isfahani رحمه الله dikenal sebagai ulama hadits.

Beliau memiliki banyak guru dan melakukan perjalanan untuk memperoleh ilmu dan hadits.

Ketika ilmu telah diperoleh, ilmu itu tidak berhenti pada dirinya sendiri.

Beliau mengajarkannya kepada orang lain.

Di sinilah saya menemukan hubungan yang sangat kuat dengan profesi guru.

Guru yang baik bukan hanya belajar untuk dirinya sendiri.

Guru belajar agar bisa membuat muridnya ikut bertumbuh.

Itulah sebabnya saya selalu berusaha membagikan apa yang saya pelajari melalui tulisan.

Saya menulis di blog.

Saya menulis di media.

Saya membuat bahan ajar.

Saya berbagi pengalaman kepada guru.

Saya belajar dari guru.

Kemudian saya menulis lagi.

Siklusnya terus berjalan.

Belajar → menulis → berbagi → mendapat masukan → belajar lagi.

4. Al-Khattabi: Bertambah Usia, Jangan Kehilangan Rasa Ingin Tahu

Imam al-Khattabi رحمه الله dikenal sebagai ulama yang memiliki perhatian besar terhadap hadits dan fikih.

Perjalanan ilmiahnya mencakup berbagai wilayah.

Kisah para ulama seperti beliau mengingatkan saya bahwa bertambah usia seharusnya tidak membuat rasa ingin tahu kita semakin kecil.

Justru sebaliknya.

Semakin tua, seharusnya semakin banyak pertanyaan yang kita ajukan kepada kehidupan.

Mengapa?

Karena pengalaman membuat kita memahami bahwa dunia ini jauh lebih luas daripada yang kita bayangkan ketika masih muda.

Saya merasakan sendiri.

Dulu saya belajar komputer.

Sekarang saya belajar AI.

Dulu saya menulis di blog.

Sekarang saya belajar bagaimana teknologi AI dapat membantu guru dan siswa.

Dulu internet masih menjadi sesuatu yang baru.

Sekarang anak-anak kita hidup dalam ekosistem digital.

Kalau guru berhenti belajar, bagaimana mungkin guru mampu membimbing generasi baru?

5. Ibnu Hajar Al-'Asqalani: Puluhan Tahun Bersama Ilmu

Ibnu Hajar al-'Asqalani رحمه الله dikenal melalui karya monumentalnya, Fathul Bari, syarah terhadap Shahih al-Bukhari.

Karya besar tidak lahir dalam satu malam.

Ia membutuhkan waktu, ketekunan, penelitian, membaca, menulis, memeriksa, dan terus memperbaiki.

Di sinilah saya belajar tentang pentingnya konsistensi.

Saya sendiri sudah menulis di blog sejak 2007.

Bagi sebagian orang, mungkin menulis blog terlihat sederhana.

Tetapi ketika dilakukan bertahun-tahun, tulisan itu menjadi perjalanan hidup.

Ada tulisan tentang guru.

Ada tentang pendidikan.

Ada tentang teknologi.

Ada tentang pengalaman mengajar.

Ada tentang perjalanan.

Ada tentang organisasi.

Ada tentang kehidupan.

Lama-kelamaan saya sadar:

Blog bukan sekadar tempat menyimpan tulisan.

Blog adalah jejak perjalanan belajar.

6. Abdullah bin Al-Mubarak: Keluar dari Zona Nyaman

Abdullah bin al-Mubarak رحمه الله adalah salah seorang imam besar yang dikenal dalam hadits, zuhud, dan berbagai bidang lainnya.

Beliau melakukan perjalanan yang luas untuk mencari ilmu.

Kisah beliau mengajarkan bahwa mencari ilmu membutuhkan pengorbanan.

Kadang kita harus meninggalkan kenyamanan.

Harus meluangkan waktu.

Harus membaca ketika orang lain sedang bersantai.

Harus belajar ketika orang lain berkata, “Sudahlah, kamu sudah tua.”

Saya pun belajar bahwa menjadi guru di zaman sekarang mengharuskan kita terus beradaptasi.

Teknologi berubah.

Kurikulum berubah.

Cara belajar siswa berubah.

Kecerdasan artifisial berkembang sangat cepat.

Kalau kita berhenti belajar, kita akan tertinggal.

7. Saya, Omjay, Juga Masih Belajar

Saya sering ditanya:

“Omjay sudah lama menjadi guru. Mengapa masih terus belajar?”

Jawabannya sederhana.

Karena saya seorang guru.

Dan guru tidak boleh berhenti belajar.

Saya mulai mengajar sejak 1994.

Puluhan tahun berada di dunia pendidikan tidak membuat saya merasa sudah selesai.

Justru saya semakin sadar bahwa menjadi guru adalah perjalanan panjang.

Saya masih belajar membuat pembelajaran yang lebih menarik.

Masih belajar coding.

Masih belajar AI.

Masih belajar menulis.

Masih belajar membuat media pembelajaran.

Masih belajar dari murid.

Masih belajar dari teman-teman guru.

Masih belajar dari para pembaca tulisan saya.

Dan mungkin, proses belajar itu tidak akan pernah selesai.

8. Jangan Menunggu Pensiun untuk Belajar

Ada orang berkata:

“Nanti kalau sudah pensiun saya akan belajar.”

Saya tersenyum mendengarnya.

Sebab kita tidak pernah tahu apakah kita akan sampai pada masa pensiun dengan kondisi yang kita harapkan.

Karena itu saya memilih belajar sekarang.

Bukan nanti.

Kalau ada buku, saya baca.

Kalau ada ilmu baru, saya pelajari.

Kalau ada guru yang lebih tahu, saya bertanya.

Kalau ada teknologi baru, saya mencoba memahaminya.

Kalau ada kesalahan, saya perbaiki.

Jangan menunggu waktu luang untuk belajar.

Sisihkan waktu untuk belajar.

9. Jangan Malu Belajar dari Orang yang Lebih Muda

Ini juga penting.

Kadang usia membuat seseorang merasa gengsi belajar dari orang yang lebih muda.

Menurut saya, itu justru penghalang terbesar dalam belajar.

Saya pernah belajar dari siswa.

Saya pernah belajar dari guru yang lebih muda.

Saya belajar dari mahasiswa.

Saya belajar dari komunitas.

Saya belajar dari para pembuat konten pendidikan.

Saya belajar dari teknologi.

Bahkan ketika menggunakan AI, saya selalu mengingat bahwa AI hanyalah alat.

Manusia tetap harus menggunakan akal, pengalaman, hati nurani, dan tanggung jawab.

Teknologi boleh semakin canggih.

Tetapi manusia harus tetap menjadi pembelajar.

10. Allah Mengajarkan Kita untuk Terus Meminta Tambahan Ilmu

Allah berfirman:

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah: Wahai Rabbku, tambahkanlah kepadaku ilmu.”

QS. Thaha: 114

Ayat ini sangat indah.

Kita tidak diperintahkan untuk merasa cukup.

Kita justru diajarkan meminta:

“Tambahkanlah kepadaku ilmu.”

Bagi saya, ayat ini sangat relevan bagi guru.

Karena setiap hari kita berhadapan dengan manusia yang sedang tumbuh.

Murid kita berubah.

Teknologi berubah.

Dunia berubah.

Maka guru pun harus terus berubah menjadi pembelajar.


Belajar Sampai Tua, Mengamalkan Sampai Wafat

Saya mungkin tidak akan pernah menjadi seperti Imam Ahmad bin Hanbal.

Tidak akan seperti al-Khathib al-Baghdadi.

Tidak akan seperti Ibnu Hajar al-'Asqalani.

Namun saya bisa meneladani semangat mereka dalam mencintai ilmu.

Saya bisa terus membaca.

Saya bisa terus menulis.

Saya bisa terus mengajar.

Saya bisa terus berbagi.

Saya bisa terus belajar dari siapa saja.

Dan saya bisa terus memperbaiki diri.

Itulah perjalanan saya sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Saya belajar bahwa umur bukan alasan untuk berhenti.

Pensiun dari pekerjaan mungkin suatu saat datang.

Tetapi pensiun dari belajar seharusnya tidak pernah ada.

Selama masih diberikan umur, mari belajar.

Selama masih diberikan kesempatan, mari berbagi.

Selama masih diberikan kesehatan, mari berkarya.

Dan selama masih diberikan napas, mari terus memperbaiki diri.

Tidak harus memulai dengan sesuatu yang besar.

Mulailah dari satu halaman buku.

Satu ayat.

Satu hadits.

Satu tulisan.

Satu keterampilan.

Satu kesalahan yang diperbaiki.

Satu kebaikan yang diamalkan.

Kemudian lakukan lagi besok.

Dan besoknya lagi.

Sampai akhirnya Allah memanggil kita.

Belajar sampai tua.

Mengamalkan sampai wafat.

Menulis dengan hati.

Berbagi dengan ikhlas.

Menginspirasi tanpa henti.

Semoga Allah menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai ilmu yang bermanfaat, mengamalkannya, mengajarkannya dengan ikhlas, dan terus belajar sampai akhir kehidupan.

اللَّهُمَّ زِدْنِي عِلْمًا نَافِعًا

“Ya Allah, tambahkanlah kepadaku ilmu yang bermanfaat.”

🤲 Salam Blogger Indonesia.

Omjay — Guru yang terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi.


Selasa, 22 September 2026

resensi buku kumpulan cerita guru sdn bintaro 12

Buku Kumpulan Artikel Pengalaman Mengajar: Jejak, Cerita, Tantangan, dan Pelajaran dari Ruang Kelas Guru-Guru SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan. Buku ini memiliki 296 halaman dan memuat 39 artikel/pengalaman guru yang terbagi dalam tiga bagian besar: perjalanan guru, belajar dari anak, serta refleksi dan perjuangan guru.  

Ringkasan Buku

Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan guru. Ia merupakan rekaman perjalanan, pengalaman, perjuangan, dan refleksi para pendidik SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan dalam menjalankan tugas mendidik anak-anak.

Gagasan utama buku ini sangat kuat: setiap guru memiliki cerita dan setiap ruang kelas meninggalkan jejak. Pengalaman yang selama ini mungkin hanya tersimpan dalam ingatan ternyata dapat diubah menjadi tulisan yang bermanfaat bagi guru lain. 

Buku diawali dengan kisah perjalanan seorang guru sejak 2006 hingga sekarang. Salah satu tulisan menggambarkan perjalanan mengajar melalui beberapa sekolah dan karakter peserta didik yang berbeda. Dari keterbatasan fasilitas, guru belajar tentang perjuangan dan kreativitas; dari lingkungan yang disiplin, belajar tentang ketertiban; dari masa pandemi, belajar beradaptasi dengan teknologi; dan dari anak-anak SD, belajar kembali tentang kesabaran, kehangatan, serta kegembiraan dalam mendidik.  

Bagian berikutnya membawa pembaca lebih dekat ke dunia anak. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga belajar memahami karakter setiap peserta didik. Anak yang aktif membutuhkan pengarahan, anak yang pemalu membutuhkan kesempatan, sementara anak yang mengalami kesulitan belajar membutuhkan pendampingan, bukan perbandingan. 

Buku ini juga menunjukkan bahwa guru adalah pembelajar sepanjang hayat. Guru belajar dari pelatihan, teknologi, pengalaman, rekan sejawat, dan yang paling penting, dari murid-muridnya sendiri. 

Pada akhirnya, buku ini mengajak guru untuk tidak membiarkan pengalaman mengajar hilang begitu saja. Tulislah pengalaman, abadikan perjalanan, bagikan pembelajaran, dan jadikan cerita sebagai warisan bagi generasi berikutnya. Gagasan tersebut sangat kuat dalam kata pengantar Om Jay. 

---

Resensi Buku

Ketika Guru Menulis, Ruang Kelas Menjadi Warisan

Ada banyak buku tentang pendidikan.

Ada buku tentang teori pembelajaran. Ada buku tentang kurikulum. Ada buku tentang metode mengajar. Ada pula buku tentang teknologi pendidikan.

Namun, Kumpulan Artikel Pengalaman Mengajar menawarkan sesuatu yang berbeda.

Buku ini membawa pembaca masuk ke tempat yang paling nyata dalam dunia pendidikan: ruang kelas dan kehidupan para guru.

Di balik papan tulis, buku pelajaran, tugas siswa, rapat sekolah, dan rutinitas mengajar, ternyata tersimpan begitu banyak cerita manusia.

Ada guru yang belajar memahami muridnya.

Ada guru yang harus beradaptasi dengan perubahan zaman.

Ada guru yang menghadapi keterbatasan.

Ada guru yang menemukan kebahagiaan ketika melihat muridnya berkembang.

Dan ada guru yang akhirnya menyadari bahwa selama ini bukan hanya dirinya yang mengajar anak-anak, tetapi anak-anak juga telah mengajarinya tentang kehidupan.

Itulah kekuatan utama buku ini.

Bukan sekadar buku, tetapi dokumentasi pengabdian

Kepala SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan dalam kata pengantarnya menegaskan bahwa buku ini merupakan rekam jejak perjalanan guru dalam menjalankan amanah sebagai pendidik. Di dalamnya terdapat cerita tentang ruang kelas, peserta didik, tantangan pembelajaran, kebersamaan warga sekolah, hingga pelajaran hidup yang diperoleh guru ketika mendampingi anak-anak. 

Karena itu, membaca buku ini terasa seperti membuka album perjalanan sebuah sekolah.

Setiap tulisan menjadi satu keping kenangan.

Setiap pengalaman menjadi pembelajaran.

Dan setiap guru menjadi bagian dari cerita besar tentang pendidikan.

Guru belajar dari murid

Salah satu kekuatan buku ini adalah keberaniannya menampilkan guru sebagai manusia yang terus belajar.

Guru bukan sosok yang selalu tahu segala sesuatu.

Guru juga bisa salah.

Guru bisa lelah.

Guru bisa bingung menghadapi karakter anak yang berbeda.

Namun, guru yang baik mau melakukan refleksi dan terus memperbaiki diri.

Dalam salah satu tulisan, pengalaman mengajar kelas 1 memperlihatkan bahwa anak yang aktif tidak selalu harus dimarahi, anak pemalu tidak harus dipaksa, dan anak yang lambat memahami pelajaran tidak seharusnya dibandingkan dengan teman-temannya. 

Pesan seperti ini terasa sederhana, tetapi sangat dekat dengan kehidupan guru sehari-hari.

Dari pengalaman menjadi inspirasi

Buku ini juga mempunyai pesan literasi yang kuat.

Om Jay menegaskan bahwa pengalaman guru jangan berhenti menjadi kenangan pribadi. Ketika pengalaman dituliskan, pengalaman tersebut dapat menjadi dokumentasi, bahan refleksi, sekaligus sumber inspirasi bagi guru lainnya. 

Inilah yang membuat buku ini relevan bukan hanya bagi guru SD Negeri Bintaro 12.

Guru di sekolah lain pun dapat bercermin melalui kisah-kisah di dalamnya.

Mungkin pembaca akan menemukan pengalaman yang mirip dengan yang pernah dialaminya.

Mungkin menemukan solusi.

Mungkin menemukan inspirasi.

Atau mungkin justru tergerak untuk mulai menulis pengalaman mengajarnya sendiri.

Buku yang cocok untuk guru dan pegiat literasi

Menurut saya, salah satu nilai penting buku ini adalah dokumentasi budaya literasi guru.

Guru tidak hanya diminta membaca tulisan orang lain.

Guru juga diajak menjadi penulis atas pengalaman hidupnya sendiri.

Pesannya sangat jelas: tulisan guru tidak harus menggunakan bahasa rumit. Yang penting adalah kejujuran dalam bercerita—apa yang dialami, dirasakan, dilakukan, berhasil atau belum berhasil, dan apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut. 

Dengan demikian, buku ini dapat dibaca oleh:

Guru, sebagai bahan refleksi dan inspirasi.

Kepala sekolah, sebagai contoh pengembangan budaya literasi sekolah.

Mahasiswa pendidikan, untuk melihat realitas dunia sekolah dari pengalaman guru.

Orang tua, untuk memahami bahwa mendidik anak membutuhkan kesabaran dan kerja sama.

Penggiat literasi, sebagai contoh bagaimana pengalaman sehari-hari dapat diubah menjadi karya.

Sekolah, sebagai inspirasi untuk membuat buku antologi pengalaman guru.

Kelebihan Buku

1. Ceritanya dekat dengan kehidupan guru.
Pembaca tidak disuguhi teori yang terlalu abstrak, tetapi pengalaman nyata dari ruang kelas.

2. Banyak perspektif.
Buku ini terdiri atas banyak tulisan guru sehingga pembaca mendapatkan beragam pengalaman, karakter, dan sudut pandang.

3. Mengandung nilai refleksi.
Pembaca diajak tidak hanya membaca cerita, tetapi juga bertanya: Apa yang bisa saya pelajari dari pengalaman guru ini?

4. Menguatkan budaya menulis guru.
Buku ini membuktikan bahwa pengalaman mengajar dapat menjadi bahan tulisan yang bernilai.

5. Memiliki nilai dokumentasi sekolah.
Buku ini dapat menjadi bagian dari sejarah perjalanan SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan.

---

Kalimat Promosi yang Bisa Membuat Orang Tertarik Memesan

“Jangan hanya mengajar. Abadikan pengalaman Anda.”

Setiap guru memiliki cerita.

Ada cerita tentang murid pertama.

Ada cerita tentang kelas yang penuh tantangan.

Ada cerita tentang anak yang perlahan berubah.

Ada cerita tentang perjuangan, kesabaran, air mata, tawa, dan kebahagiaan ketika melihat peserta didik berhasil.

Semua itu terangkum dalam buku:

KUMPULAN ARTIKEL PENGALAMAN MENGAJAR

Jejak, Cerita, Tantangan, dan Pelajaran dari Ruang Kelas Guru-Guru SD Negeri Bintaro 12 Jakarta Selatan

📖 296 halaman
✍️ 39 artikel pengalaman guru
🏫 Kisah nyata dari ruang kelas
❤️ Penuh refleksi, inspirasi, dan ketulusan
📚 Cocok untuk guru, kepala sekolah, mahasiswa pendidikan, orang tua, dan pegiat literasi.

Buku ini mengingatkan kita bahwa pengalaman mengajar yang sederhana sekalipun bisa menjadi ilmu yang berharga ketika dituliskan.

Seperti pesan Om Jay:

> “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” 

Jangan biarkan cerita guru hilang bersama waktu.

📚 Pesan bukunya sekarang.
Jadikan buku ini teman membaca, sumber inspirasi, sekaligus pengingat bahwa setiap guru sedang menulis sejarah melalui murid-murid yang dididiknya.

Satu buku mungkin hanya beberapa ratus halaman.
Tetapi di dalamnya tersimpan puluhan perjalanan hidup guru dan ratusan pelajaran kehidupan.

Semoga buku ini menjadi jejak kebaikan yang terus dikenang, dibaca, dan menginspirasi.

Senin, 21 September 2026

Materi Budaya Digital Kelas 9 SMP

BAB 4

BUDAYA DIGITAL

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari bab ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Menjelaskan pengertian budaya digital dan karakteristiknya.
  2. Mengidentifikasi perubahan perilaku masyarakat akibat perkembangan teknologi digital.
  3. Menerapkan etika dan sopan santun dalam berkomunikasi di ruang digital.
  4. Menjelaskan pentingnya menjaga privasi dan keamanan data pribadi.
  5. Mengenali berbagai bentuk jejak digital serta dampaknya bagi kehidupan.
  6. Membedakan informasi yang benar, keliru, menyesatkan, dan berpotensi menjadi hoaks.
  7. Menerapkan prinsip berpikir kritis sebelum membagikan informasi.
  8. Menghargai hak cipta dan menggunakan karya digital secara bertanggung jawab.
  9. Menunjukkan perilaku positif, aman, sehat, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi digital.
  10. Membuat karya atau kampanye sederhana tentang budaya digital yang positif.

B. Peta Konsep

BUDAYA DIGITAL

├── 1. Pengertian Budaya Digital
│ ├── Perubahan perilaku
│ ├── Teknologi digital
│ └── Masyarakat digital

├── 2. Etika Digital
│ ├── Sopan santun
│ ├── Komunikasi
│ ├── Empati
│ └── Tanggung jawab

├── 3. Jejak Digital
│ ├── Jejak aktif
│ ├── Jejak pasif
│ └── Dampak jejak digital

├── 4. Privasi dan Keamanan Data
│ ├── Data pribadi
│ ├── Kata sandi
│ ├── Phishing
│ └── Keamanan akun

├── 5. Literasi Informasi
│ ├── Informasi
│ ├── Hoaks
│ ├── Verifikasi
│ └── Berpikir kritis

├── 6. Hak Cipta dan Kekayaan Intelektual
│ ├── Hak cipta
│ ├── Plagiarisme
│ └── Lisensi

└── 7. Budaya Digital Positif
├── Kreatif
├── Produktif
├── Aman
├── Santun
└── Bertanggung jawab


C. Materi Pembelajaran

1. Mengenal Budaya Digital

Pernahkah kamu menggunakan WhatsApp untuk berkomunikasi dengan teman? Pernahkah kamu mencari informasi melalui mesin pencari, menonton video pembelajaran, menggunakan media sosial, bermain gim daring, atau mengerjakan tugas menggunakan komputer?

Semua kegiatan tersebut merupakan bagian dari kehidupan digital.

Budaya digital adalah kebiasaan, nilai, norma, cara berpikir, dan perilaku manusia dalam menggunakan teknologi digital serta berinteraksi di ruang digital.

Teknologi tidak hanya mengubah cara manusia bekerja. Teknologi juga mengubah cara manusia belajar, berkomunikasi, mencari informasi, berbelanja, berkarya, dan bersosialisasi.

Contohnya:

  • dahulu orang mengirim surat untuk berkomunikasi jarak jauh;
  • sekarang pesan dapat dikirim melalui aplikasi komunikasi;
  • dahulu mencari informasi membutuhkan buku atau ensiklopedia;
  • sekarang informasi dapat ditemukan melalui internet;
  • dahulu karya seseorang hanya dapat dilihat oleh orang di sekitarnya;
  • sekarang karya dapat dibagikan kepada masyarakat luas melalui platform digital.

Perubahan tersebut memberikan banyak manfaat. Namun, penggunaan teknologi juga menimbulkan tantangan. Oleh karena itu, seorang pelajar perlu memiliki budaya digital yang baik.

Aktivitas 4.1 – Refleksi Digital

Tuliskan lima aktivitas digital yang kamu lakukan dalam satu hari.

No. Aktivitas Teknologi yang Digunakan Manfaat
1
2
3
4
5

Setelah mengisi tabel, diskusikan bersama teman: apakah semua aktivitas tersebut memberikan manfaat?


2. Etika Digital

Ketika berbicara dengan orang lain secara langsung, kita menggunakan sopan santun. Hal yang sama harus dilakukan ketika berkomunikasi menggunakan teknologi digital.

Etika digital adalah aturan, norma, dan perilaku yang seharusnya diterapkan seseorang ketika berinteraksi menggunakan teknologi dan internet.

Contoh etika digital:

  1. Menggunakan bahasa yang sopan.
  2. Menghargai pendapat orang lain.
  3. Tidak melakukan penghinaan atau perundungan.
  4. Tidak menyebarkan informasi pribadi orang lain.
  5. Tidak mengirim pesan secara berlebihan.
  6. Tidak mengunggah foto atau video orang lain tanpa mempertimbangkan izin dan konteksnya.
  7. Tidak menulis komentar yang merendahkan.
  8. Memeriksa informasi sebelum membagikannya.
  9. Menghargai karya orang lain.
  10. Bertanggung jawab atas konten yang dibuat dan dibagikan.

Contoh

Bayangkan seorang siswa mendapatkan nilai ujian yang rendah. Temannya kemudian mengambil foto hasil ujian tersebut dan mengunggahnya ke grup kelas dengan komentar yang mengejek.

Perbuatan tersebut tidak mencerminkan budaya digital yang baik.

Sebaliknya, teman yang memberikan dukungan dan membantu belajar menunjukkan penggunaan teknologi yang lebih positif.


3. Jejak Digital

Setiap aktivitas yang kita lakukan di internet dapat meninggalkan informasi tertentu yang disebut jejak digital.

Jejak digital dapat berupa:

  • unggahan media sosial;
  • komentar;
  • foto;
  • video;
  • riwayat aktivitas;
  • akun yang dibuat;
  • forum yang diikuti;
  • transaksi digital;
  • dan berbagai aktivitas lainnya.

Secara sederhana, jejak digital dapat dibedakan menjadi dua.

a. Jejak Digital Aktif

Jejak digital aktif merupakan informasi yang sengaja dibuat atau dibagikan oleh pengguna.

Contohnya:

  • membuat unggahan;
  • memberikan komentar;
  • mengunggah foto;
  • menulis artikel;
  • membuat video;
  • memberikan ulasan.

b. Jejak Digital Pasif

Jejak digital pasif merupakan data atau informasi yang dapat tercatat ketika seseorang menggunakan layanan digital, meskipun pengguna tidak secara langsung membuat unggahan.

Contohnya dapat berupa data teknis penggunaan layanan atau aktivitas tertentu yang tercatat oleh sistem.

Mengapa Jejak Digital Penting?

Sebelum mengunggah sesuatu, tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah saya tetap nyaman jika unggahan ini dilihat guru, orang tua, teman, atau masyarakat beberapa tahun mendatang?

Internet membuat informasi dapat tersebar dengan cepat. Karena itu, kita perlu berpikir sebelum mengunggah dan membagikan sesuatu.


4. Privasi dan Data Pribadi

Privasi adalah hak seseorang untuk menjaga informasi tentang dirinya agar tidak digunakan atau disebarluaskan secara sembarangan.

Contoh data pribadi antara lain:

  • nama lengkap;
  • alamat;
  • nomor telepon;
  • tanggal lahir;
  • alamat surat elektronik;
  • foto;
  • identitas sekolah;
  • informasi akun;
  • kata sandi;
  • dan informasi lain yang dapat berkaitan dengan seseorang.

Tidak semua data harus dibagikan kepada publik.

Cara Menjaga Data Pribadi

Beberapa kebiasaan yang dapat dilakukan:

  1. Gunakan kata sandi yang kuat dan berbeda untuk akun penting.
  2. Jangan membagikan kata sandi kepada teman.
  3. Aktifkan autentikasi tambahan jika tersedia.
  4. Berhati-hati ketika membuka tautan.
  5. Jangan memberikan data pribadi kepada pihak yang tidak dikenal.
  6. Periksa alamat situs sebelum memasukkan data.
  7. Hindari menggunakan komputer umum untuk menyimpan informasi sensitif.
  8. Keluar dari akun setelah menggunakan perangkat bersama.
  9. Perbarui perangkat lunak secara berkala.
  10. Laporkan aktivitas mencurigakan kepada orang dewasa yang dipercaya atau pihak yang sesuai.

5. Mengenal Phishing

Phishing adalah upaya untuk memperoleh informasi tertentu dengan cara menipu pengguna, misalnya melalui pesan, situs, atau tautan yang dibuat seolah-olah berasal dari pihak yang tepercaya.

Contoh pesan:

"Selamat! Anda mendapatkan hadiah. Klik tautan berikut dan masukkan data akun untuk mengambil hadiah."

Pesan seperti itu perlu dicurigai.

Tanda-Tanda yang Perlu Diwaspadai

  • meminta kata sandi;
  • meminta kode verifikasi;
  • meminta data pribadi;
  • menggunakan bahasa yang mendesak;
  • memberikan hadiah yang tidak masuk akal;
  • meminta korban segera mengeklik tautan;
  • alamat situs terlihat mencurigakan.

Prinsip sederhana:

Berhenti – Periksa – Jangan Terburu-buru.

Jika ragu, jangan mengeklik tautan dan mintalah bantuan orang dewasa atau pihak yang dapat dipercaya.


6. Literasi Informasi dan Hoaks

Internet menyediakan informasi dalam jumlah yang sangat besar. Namun, tidak semua informasi yang ditemukan di internet benar.

Karena itu, siswa perlu memiliki literasi informasi, yaitu kemampuan untuk menemukan, memahami, mengevaluasi, menggunakan, dan membagikan informasi secara tepat dan bertanggung jawab.

Hoaks

Hoaks adalah informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan sebagai sesuatu yang benar.

Hoaks dapat berbentuk:

  • teks;
  • foto;
  • video;
  • audio;
  • judul berita;
  • tangkapan layar;
  • atau gabungan berbagai media.

Cara Memeriksa Informasi

Sebelum membagikan informasi, lakukan beberapa langkah:

1. Periksa sumber

Siapa yang membuat informasi tersebut?

2. Periksa tanggal

Apakah informasinya masih relevan?

3. Bandingkan dengan sumber lain

Apakah media atau sumber tepercaya lainnya memberitakan hal yang sama?

4. Periksa konteks

Apakah foto atau video digunakan sesuai konteks aslinya?

5. Jangan hanya membaca judul

Baca isi informasi secara lengkap.

6. Jangan terburu-buru membagikan

Jika belum yakin, lebih baik tidak membagikannya.


7. Berpikir Kritis di Dunia Digital

Berpikir kritis berarti tidak langsung menerima semua informasi sebagai kebenaran.

Ketika mendapatkan informasi, kita dapat menggunakan pertanyaan berikut:

  • Apa yang sebenarnya dikatakan?
  • Siapa yang menyampaikan?
  • Apa buktinya?
  • Kapan informasi tersebut dibuat?
  • Dari mana sumbernya?
  • Apakah ada sumber lain yang mendukung?
  • Apakah terdapat kepentingan tertentu di balik informasi tersebut?

Kemampuan berpikir kritis sangat penting karena teknologi membuat informasi dapat tersebar dengan sangat cepat.


8. Hak Cipta dan Menghargai Karya Orang Lain

Internet memberikan kemudahan untuk menemukan gambar, musik, video, tulisan, dan berbagai karya lainnya.

Namun, mudah ditemukan bukan berarti bebas digunakan tanpa memperhatikan hak pencipta.

Hak cipta merupakan hak yang berkaitan dengan karya yang dibuat seseorang atau pihak tertentu.

Contoh karya yang dapat memiliki perlindungan hak cipta:

  • buku;
  • artikel;
  • foto;
  • musik;
  • video;
  • ilustrasi;
  • perangkat lunak;
  • karya seni;
  • dan berbagai karya kreatif lainnya.

Contoh Perilaku yang Tidak Tepat

Seorang siswa mengambil artikel milik orang lain dan mengumpulkannya sebagai tugas tanpa mencantumkan sumber.

Perbuatan tersebut tidak menghargai karya penulis.

Cara Menghargai Karya Digital

  1. Mencantumkan sumber.
  2. Tidak mengaku karya orang lain sebagai karya sendiri.
  3. Memahami ketentuan penggunaan karya.
  4. Menggunakan karya yang memang diperbolehkan untuk digunakan.
  5. Menghargai lisensi karya.
  6. Membuat karya sendiri jika memungkinkan.

9. Perundungan Siber

Perundungan siber (cyberbullying) adalah tindakan menyakiti, mempermalukan, mengintimidasi, atau mengganggu orang lain melalui teknologi digital.

Contohnya:

  • mengirim pesan penghinaan;
  • menyebarkan foto seseorang untuk mempermalukannya;
  • membuat akun palsu untuk mengejek;
  • menyebarkan rumor;
  • mengucilkan seseorang secara sengaja melalui ruang digital.

Jika melihat perundungan siber:

  1. Jangan ikut menyebarkan.
  2. Jangan membalas dengan tindakan yang sama.
  3. Simpan bukti jika diperlukan.
  4. Gunakan fitur pelaporan pada platform.
  5. Ceritakan kepada orang tua, guru, atau orang dewasa yang dipercaya.
  6. Berikan dukungan kepada korban.

Budaya digital yang sehat dibangun dengan saling menghormati.


10. Keseimbangan Kehidupan Digital

Teknologi merupakan alat yang membantu manusia. Namun, penggunaan teknologi perlu dilakukan secara seimbang.

Penggunaan perangkat digital secara berlebihan dapat mengurangi waktu untuk:

  • belajar;
  • tidur;
  • berolahraga;
  • berinteraksi dengan keluarga;
  • bermain secara langsung;
  • dan melakukan kegiatan produktif lainnya.

Karena itu, siswa perlu membuat kebiasaan digital yang sehat.

Contohnya:

  • mengatur waktu penggunaan perangkat;
  • mengutamakan tugas sekolah;
  • beristirahat secara teratur;
  • melakukan aktivitas fisik;
  • tidak menggunakan perangkat secara berlebihan menjelang tidur;
  • menggunakan teknologi untuk kegiatan yang bermanfaat.

11. Budaya Digital untuk Belajar

Teknologi digital dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat bermanfaat.

Siswa dapat menggunakan teknologi untuk:

  • mencari bahan pembelajaran;
  • membuat presentasi;
  • membuat video;
  • belajar pemrograman;
  • berdiskusi;
  • melakukan penelitian;
  • membuat infografis;
  • bekerja sama dalam kelompok;
  • dan menghasilkan karya digital.

Prinsip pentingnya adalah:

Gunakan teknologi bukan hanya untuk konsumsi, tetapi juga untuk mencipta.

Jangan hanya menjadi penonton. Jadilah pembuat karya.


12. Kecerdasan Buatan dan Budaya Digital

Perkembangan kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) memberikan berbagai peluang baru bagi siswa.

AI dapat membantu:

  • mencari ide;
  • memahami materi;
  • membuat latihan;
  • membantu proses pemrograman;
  • membuat rancangan;
  • menganalisis informasi;
  • dan mendukung kreativitas.

Namun, AI harus digunakan secara bertanggung jawab.

Siswa tidak boleh:

  • menyerahkan seluruh proses berpikir kepada AI;
  • menyalin jawaban AI tanpa memahami isinya;
  • menggunakan AI untuk menipu dalam tugas;
  • memasukkan data pribadi atau rahasia ke dalam layanan yang tidak seharusnya;
  • menganggap semua keluaran AI pasti benar.

Prinsipnya:

AI adalah alat bantu belajar, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia.

Siswa tetap harus membaca, memeriksa, memahami, dan bertanggung jawab atas hasil pekerjaannya.


13. Menjadi Warga Digital yang Baik

Seorang warga digital yang baik memiliki beberapa karakter.

Cerdas

Mampu memilih dan mengevaluasi informasi.

Aman

Mampu menjaga akun dan data pribadi.

Santun

Menghormati orang lain dalam komunikasi digital.

Kreatif

Menghasilkan karya yang bermanfaat.

Kritis

Tidak mudah percaya terhadap informasi yang belum terbukti.

Bertanggung Jawab

Memahami bahwa setiap tindakan digital dapat memiliki konsekuensi.

Produktif

Menggunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan memecahkan masalah.


D. Aktivitas Pembelajaran

Aktivitas 1 – Audit Jejak Digital

Buatlah daftar aktivitas digital yang kamu lakukan selama satu minggu.

Kelompokkan menjadi:

  • aktivitas belajar;
  • aktivitas komunikasi;
  • aktivitas hiburan;
  • aktivitas membuat karya;
  • aktivitas lainnya.

Kemudian jawab:

  1. Aktivitas apa yang paling banyak kamu lakukan?
  2. Aktivitas apa yang paling memberikan manfaat?
  3. Apakah ada aktivitas yang perlu dikurangi?
  4. Karya digital apa yang ingin kamu buat?

Aktivitas 2 – Detektif Informasi

Guru menyediakan sebuah informasi yang beredar di internet.

Secara berkelompok, siswa melakukan pemeriksaan:

Aspek Hasil Pemeriksaan
Sumber informasi
Tanggal publikasi
Penulis/pembuat
Bukti pendukung
Sumber pembanding
Kesimpulan

Presentasikan hasil pemeriksaan di depan kelas.


Aktivitas 3 – Poster Budaya Digital

Buat poster digital bertema:

"Jadilah Warga Digital yang Cerdas, Aman, Santun, dan Bertanggung Jawab."

Poster dapat dibuat menggunakan aplikasi desain atau aplikasi pengolah presentasi.

Poster harus memuat:

  • judul;
  • pesan utama;
  • minimal tiga tips;
  • ilustrasi;
  • nama pembuat.

E. Kesimpulan

Budaya digital merupakan bagian penting dari kehidupan masyarakat modern. Teknologi digital memberikan banyak kesempatan untuk belajar, berkomunikasi, berkreasi, dan bekerja sama.

Namun, penggunaan teknologi harus disertai tanggung jawab.

Seorang siswa perlu memahami etika digital, menjaga data pribadi, memperhatikan jejak digital, menghargai hak cipta, mengenali informasi palsu, menghindari perundungan siber, dan menggunakan teknologi secara seimbang.

Di era kecerdasan artifisial, kemampuan manusia untuk berpikir kritis, kreatif, beretika, dan bertanggung jawab semakin penting.

Teknologi seharusnya membantu manusia menjadi lebih produktif dan bermanfaat.

Jadilah pengguna teknologi yang cerdas. Jadilah pembuat karya digital yang kreatif. Jadilah warga digital yang santun dan bertanggung jawab.


F. Soal Pilihan Ganda

Pilihlah jawaban yang paling tepat!

1.

Budaya digital adalah ....

A. kebiasaan menggunakan komputer untuk bermain gim
B. kebiasaan, nilai, norma, dan perilaku manusia dalam menggunakan teknologi digital
C. kegiatan membeli perangkat komputer
D. kemampuan memperbaiki komputer

Jawaban: B

2.

Contoh etika digital adalah ....

A. menghina orang lain di media sosial
B. menyebarkan informasi pribadi teman
C. menggunakan bahasa yang sopan ketika berkomunikasi
D. membagikan berita tanpa membaca isinya

Jawaban: C

3.

Informasi yang ditinggalkan seseorang ketika menggunakan internet disebut ....

A. data analog
B. jejak digital
C. data manual
D. perangkat keras

Jawaban: B

4.

Contoh jejak digital aktif adalah ....

A. mengunggah foto ke media sosial
B. perangkat mendapatkan alamat IP
C. sistem mencatat aktivitas layanan
D. perangkat terhubung ke jaringan

Jawaban: A

5.

Berikut yang termasuk data pribadi adalah ....

A. warna langit
B. nama lengkap dan nomor telepon
C. nama planet
D. jumlah hari dalam satu minggu

Jawaban: B

6.

Kata sandi sebaiknya ....

A. mudah ditebak
B. sama untuk semua akun
C. dibagikan kepada teman
D. kuat dan tidak mudah ditebak

Jawaban: D

7.

Phishing merupakan ....

A. teknik memperbaiki komputer
B. upaya penipuan untuk memperoleh informasi tertentu
C. kegiatan membuat animasi
D. proses mencetak dokumen

Jawaban: B

8.

Jika menerima tautan mencurigakan, tindakan yang tepat adalah ....

A. langsung mengekliknya
B. membagikannya kepada semua teman
C. memeriksa terlebih dahulu dan tidak terburu-buru mengeklik
D. memasukkan kata sandi

Jawaban: C

9.

Hoaks adalah ....

A. semua informasi dari internet
B. informasi palsu atau menyesatkan yang disebarkan sebagai sesuatu yang benar
C. semua berita lama
D. informasi dari buku pelajaran

Jawaban: B

10.

Salah satu cara memeriksa informasi adalah ....

A. hanya membaca judul
B. mempercayai pesan dari teman
C. membandingkan dengan sumber lain yang tepercaya
D. langsung membagikan informasi

Jawaban: C

11.

Berpikir kritis berarti ....

A. menerima semua informasi
B. tidak pernah mempercayai informasi
C. mengevaluasi informasi berdasarkan bukti dan sumber
D. selalu menolak informasi baru

Jawaban: C

12.

Mengambil karya orang lain dan mengakuinya sebagai karya sendiri disebut ....

A. kolaborasi
B. plagiarisme
C. komunikasi
D. kreativitas

Jawaban: B

13.

Salah satu cara menghargai karya orang lain adalah ....

A. menghapus nama pencipta
B. mengaku sebagai pembuat
C. mencantumkan sumber
D. menjualnya tanpa izin

Jawaban: C

14.

Cyberbullying adalah ....

A. belajar menggunakan internet
B. perundungan yang dilakukan melalui teknologi digital
C. membuat video pembelajaran
D. menggunakan komputer di sekolah

Jawaban: B

15.

Ketika melihat cyberbullying, sebaiknya kita ....

A. ikut menyebarkan
B. ikut mengejek
C. melaporkan dan meminta bantuan orang yang dipercaya
D. membuat akun untuk membalas

Jawaban: C

16.

Salah satu manfaat teknologi digital dalam pendidikan adalah ....

A. mempersulit komunikasi
B. menyediakan sumber belajar
C. menghilangkan kebutuhan untuk berpikir
D. membuat semua informasi pasti benar

Jawaban: B

17.

Sebelum membagikan berita, sebaiknya ....

A. langsung membagikannya
B. membaca dan memeriksa sumbernya
C. mengubah judulnya agar menarik
D. menghapus nama penulis

Jawaban: B

18.

Contoh penggunaan teknologi secara produktif adalah ....

A. membuat aplikasi sederhana
B. menyebarkan rumor
C. mengejek teman
D. menyebarkan hoaks

Jawaban: A

19.

Jejak digital perlu diperhatikan karena ....

A. semua aktivitas digital pasti hilang
B. aktivitas digital dapat meninggalkan informasi tentang seseorang
C. internet tidak dapat menyimpan data
D. unggahan hanya dapat dilihat selama satu menit

Jawaban: B

20.

Ketika menggunakan AI untuk mengerjakan tugas, siswa sebaiknya ....

A. menyalin seluruh jawaban tanpa membaca
B. menggunakan AI untuk membantu belajar dan tetap memeriksa hasilnya
C. menyerahkan semua tugas kepada AI
D. memasukkan semua data pribadi ke AI

Jawaban: B

21.

Salah satu prinsip menjadi warga digital yang baik adalah ....

A. bertanggung jawab
B. menyebarkan informasi tanpa pemeriksaan
C. membuka data pribadi orang lain
D. menggunakan teknologi untuk merugikan orang lain

Jawaban: A

22.

Informasi yang belum terbukti kebenarannya sebaiknya ....

A. langsung disebarkan
B. diberi judul yang lebih sensasional
C. diperiksa terlebih dahulu
D. dikirim ke semua grup

Jawaban: C

23.

Ketika menggunakan komputer milik bersama, setelah selesai sebaiknya ....

A. meninggalkan akun tetap terbuka
B. menyimpan kata sandi di komputer
C. keluar dari akun
D. memberikan kata sandi kepada pengguna berikutnya

Jawaban: C

24.

Salah satu ciri komunikasi digital yang baik adalah ....

A. menggunakan kata-kata kasar
B. menghargai perbedaan pendapat
C. mempermalukan orang lain
D. menyebarkan percakapan pribadi

Jawaban: B

25.

Tujuan utama mempelajari budaya digital adalah ....

A. agar siswa menggunakan internet sepanjang hari
B. agar siswa mampu menggunakan teknologi secara cerdas, aman, santun, dan bertanggung jawab
C. agar siswa memiliki banyak akun media sosial
D. agar siswa menjadi terkenal di internet

Jawaban: B


G. Soal Praktik

Praktik 1 – Membuat Kampanye Budaya Digital

Judul

Kampanye "Bijak Bermedia Digital"

Tujuan

Siswa mampu menerapkan prinsip budaya digital melalui karya kreatif.

Tugas

Buatlah sebuah poster, infografis, atau video pendek dengan salah satu tema berikut:

  1. Stop Cyberbullying.
  2. Jaga Data Pribadi.
  3. Saring Sebelum Sharing.
  4. Bijak Menggunakan AI.
  5. Hargai Karya Digital.
  6. Bangun Jejak Digital Positif.

Ketentuan

Jika membuat poster:

  • ukuran minimal A4;
  • memiliki judul;
  • memiliki pesan utama;
  • memuat minimal lima tips;
  • mencantumkan nama pembuat.

Jika membuat video:

  • durasi 2–3 menit;
  • memiliki pesan yang jelas;
  • menggunakan bahasa yang santun;
  • tidak menggunakan karya orang lain tanpa memperhatikan hak penggunaannya;
  • mencantumkan sumber jika menggunakan materi dari pihak lain.

H. Rubrik Penilaian Praktik

Aspek Skor Maksimal
Kesesuaian tema 20
Ketepatan informasi 20
Kreativitas 20
Etika penggunaan sumber 15
Kualitas penyajian 15
Presentasi 10
Total 100

Kriteria

90–100: Sangat Baik
80–89: Baik
70–79: Cukup
<70: Perlu Bimbingan


I. Proyek Kelompok

"Audit Budaya Digital Sekolah"

Bentuk kelompok yang terdiri atas 4–5 siswa.

Lakukan pengamatan sederhana mengenai kebiasaan digital siswa di lingkungan sekolah.

Contoh aspek yang dapat diamati:

  • penggunaan perangkat digital;
  • kebiasaan menggunakan media sosial;
  • keamanan kata sandi;
  • kebiasaan membagikan informasi;
  • etika komunikasi dalam grup;
  • penggunaan teknologi untuk belajar.

Produk Akhir

Setiap kelompok membuat:

  1. laporan singkat;
  2. infografis;
  3. presentasi;
  4. rekomendasi untuk membangun budaya digital yang lebih baik.

Pertanyaan Refleksi

  1. Apa kebiasaan digital yang sudah baik?
  2. Apa masalah yang ditemukan?
  3. Apa penyebabnya?
  4. Apa solusi yang dapat dilakukan?
  5. Bagaimana peran siswa dalam menciptakan budaya digital yang positif?

J. Refleksi Peserta Didik

Setelah mempelajari bab ini, lengkapi kalimat berikut:

Saya baru mengetahui bahwa ....

Hal yang paling menarik bagi saya adalah ....

Mulai hari ini saya akan ....

Kebiasaan digital yang ingin saya perbaiki adalah ....

Saya akan menggunakan teknologi untuk ....


K. Daftar Pustaka

Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan. Capaian Pembelajaran Informatika pada Kurikulum Merdeka. Jakarta: Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.

Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia & Siberkreasi. Modul Literasi Digital. Jakarta: Kominfo.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku Panduan Guru Informatika SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. Buku Siswa Informatika SMP/MTs Kelas IX. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

International Society for Technology in Education (ISTE). ISTE Standards for Students. Arlington, Virginia: ISTE.

UNESCO. Media and Information Literacy: Policy and Strategy Guidelines. Paris: UNESCO.

UNICEF. Digital Literacy and Online Safety Resources for Children. New York: UNICEF.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2022 tentang Perlindungan Data Pribadi.


L. Pesan Penutup

Teknologi digital akan terus berkembang. Perangkat mungkin berubah, aplikasi mungkin berganti, dan kecerdasan artifisial akan semakin banyak digunakan.

Namun, satu hal yang tidak boleh berubah adalah karakter manusia.

Gunakan teknologi dengan akal sehat.
Gunakan internet dengan etika.
Gunakan AI dengan tanggung jawab.
Gunakan media sosial untuk menyebarkan manfaat.
Gunakan keterampilan digital untuk menghasilkan karya.

Karena budaya digital yang baik bukan hanya tentang bagaimana kita menggunakan teknologi, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap menjadi manusia yang beretika ketika menggunakan teknologi.

Surat Undangan Menjadi Narsum di SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat

Menulis Itu Mudah: Ketika Omjay Berbagi Pengalaman dan Menumbuhkan Budaya Literasi Guru

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru diminta datang bukan sekadar untuk berbicara, tetapi untuk berbagi pengalaman.

Bagi saya, berbagi ilmu adalah bagian dari perjalanan panjang seorang guru.

Pada Kamis, 24 September 2026, pukul 13.00–15.00 WIB, saya mendapat kesempatan untuk menjadi narasumber dalam Workshop Literasi Guru di SD Negeri Johar Baru 04, Jakarta Pusat. Kegiatan akan berlangsung di Ruang ANBK SD Negeri Johar Baru 04 dengan tema yang sangat dekat dengan perjalanan hidup saya sebagai guru dan blogger:

“Menulis Itu Mudah, Menggali Ide, Merangkai Kata, Menjadi Karya.”

Saya menyambut undangan tersebut dengan penuh rasa syukur. Sebab bagi saya, setiap kesempatan bertemu dengan para guru adalah kesempatan untuk belajar dan berbagi.

Menulis Dimulai dari Pengalaman

Saya selalu mengatakan bahwa sebenarnya guru adalah manusia yang kaya akan cerita.

Setiap hari guru bertemu dengan anak-anak. Ada anak yang sulit memahami pelajaran. Ada anak yang tiba-tiba menjadi sangat bersemangat. Ada anak yang membuat gurunya tersenyum. Ada pula kejadian sederhana di kelas yang ternyata menyimpan pelajaran luar biasa.

Semua itu adalah bahan tulisan.

Persoalannya sering kali bukan karena guru tidak memiliki ide. Justru guru mempunyai begitu banyak pengalaman yang layak dituliskan.

Karena itu, saya selalu mengajak para guru untuk tidak menunggu menjadi penulis hebat terlebih dahulu.

Mulailah menulis dari apa yang kita alami.

Tuliskan apa yang kita lihat. Tuliskan apa yang kita rasakan. Tuliskan apa yang kita pikirkan. Kemudian biarkan tulisan itu tumbuh menjadi sebuah karya.

Dari Guru Menjadi Penulis

Perjalanan saya menulis juga tidak terjadi dalam satu malam.

Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007. Pada awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan pengalaman dan berbagi pengetahuan. Namun, tulisan-tulisan sederhana itu ternyata membawa saya bertemu dengan banyak orang, komunitas, dan pengalaman baru.

Saya semakin percaya bahwa menulis bukan sekadar kegiatan menghasilkan tulisan.

Menulis adalah cara guru berbagi pengalaman.

Ketika seorang guru menuliskan praktik baiknya, guru lain dapat belajar. Ketika seorang guru menuliskan pengalaman menghadapi murid, guru lain dapat memperoleh inspirasi. Ketika seorang guru menuliskan perjalanan pembelajarannya, pengalaman itu dapat menjadi warisan pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Itulah kekuatan literasi.

Menggali Ide dari Hal-Hal Sederhana

Dalam workshop di SD Negeri Johar Baru 04 nanti, saya ingin mengajak para guru melihat bahwa ide tulisan sebenarnya berada sangat dekat dengan kehidupan kita.

Tidak perlu mencari tema terlalu jauh.

Cobalah bertanya kepada diri sendiri:

Apa yang saya lakukan hari ini?

Apa yang membuat saya bahagia sebagai guru?

Apa tantangan yang saya hadapi di kelas?

Apa perubahan yang terjadi pada murid saya?

Pelajaran apa yang saya peroleh hari ini?

Dari pertanyaan sederhana itulah sebuah tulisan dapat dimulai.

Satu paragraf hari ini dapat menjadi satu halaman besok. Satu halaman berkembang menjadi artikel. Artikel-artikel yang terus dikumpulkan kemudian dapat menjelma menjadi sebuah buku.

Jangan pernah meremehkan tulisan sederhana. Bisa jadi tulisan sederhana itulah yang suatu hari menginspirasi banyak orang.

Guru Harus Berani Meninggalkan Jejak

Saya ingin mengajak guru-guru SD Negeri Johar Baru 04 untuk mulai meninggalkan jejak melalui tulisan.

Bukan sekadar mengejar popularitas, melainkan meninggalkan pengalaman dan pengetahuan yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Bayangkan jika setiap guru menulis satu pengalaman mengajar setiap minggu.

Dalam satu tahun akan terkumpul puluhan tulisan.

Jika tulisan itu dikumpulkan bersama-sama, bukan tidak mungkin akan lahir buku karya guru-guru SD Negeri Johar Baru 04.

Buku tersebut bukan hanya menjadi dokumentasi sekolah. Buku itu menjadi bukti bahwa para guru pernah mengajar, belajar, berjuang, dan berbagi.

Kamis, 24 September 2026, Semoga Menjadi Awal

Saya berharap workshop pada Kamis, 24 September 2026 tidak berhenti ketika kegiatan berakhir pada pukul 15.00 WIB.

Justru setelah workshop selesai, kegiatan menulis yang sesungguhnya dimulai.

Guru pulang membawa ide.

Guru mulai menulis.

Guru saling membaca.

Guru saling memberikan masukan.

Kemudian lahirlah karya.

Dari satu guru menjadi sepuluh guru. Dari sepuluh guru menjadi sebuah komunitas. Dari satu sekolah kemudian menginspirasi sekolah lainnya.

Budaya literasi tumbuh karena ada yang berani memulai.

Semoga 24 September 2026 menjadi salah satu titik awal tumbuhnya budaya menulis yang semakin kuat di SD Negeri Johar Baru 04.

Menulis dengan Hati

Saya selalu percaya bahwa tulisan yang baik bukan hanya tulisan yang memiliki tata bahasa yang benar.

Tulisan yang baik adalah tulisan yang memiliki hati.

Tulisan yang lahir dari pengalaman. Tulisan yang jujur. Tulisan yang memberikan manfaat.

Karena itu, pesan saya kepada para guru sangat sederhana:

Jangan takut menulis.

Jangan menunggu sempurna.

Tulislah pengalamanmu.

Bagikan ilmumu.

Abadikan praktik baikmu.

Suatu saat nanti mungkin kita sudah tidak lagi berada di dalam kelas. Namun, tulisan kita masih dapat dibaca. Pengalaman kita masih dapat dipelajari. Karya kita masih dapat menginspirasi.

Itulah mengapa saya selalu mengatakan:

Menulislah dengan hati, karena pengalaman seorang guru terlalu berharga jika hanya disimpan dalam ingatan.

Sampai bertemu dengan bapak dan ibu guru hebat di SD Negeri Johar Baru 04 pada Kamis, 24 September 2026, pukul 13.00–15.00 WIB.

Mari kita menggali ide, merangkai kata, dan menjadikannya sebuah karya.

Dari Johar Baru, kita menulis.
Dari tulisan, kita berbagi.
Dari berbagi, kita menginspirasi.

Salam literasi!

Salam Blogger Persahabatan!

Omjay
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia


Saatnya Talenta Muda Indonesia Menunjukkan Karya di OTN 8 JICC Senayan Jakarta

OTN 8 2026: Saatnya Talenta Digital Muda Indonesia Menunjukkan Karya

“Cerdas Berpikir, Kreatif Berkoding, Bijak Menggunakan AI”

Teknologi berkembang begitu cepat. Dunia pendidikan Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir logis, memecahkan masalah, berkarya dengan kode, mengembangkan robot, memahami informatika, dan menggunakan kecerdasan artifisial secara bijak.

Dari semangat itulah Olimpiade TIK, Informatika, Koding dan Kecerdasan Artifisial (OTN) ke-8 Tahun 2026 hadir.

OTN 8 akan dilaksanakan pada 29 Oktober–1 November 2026 di JICC Senayan, Jakarta, diselenggarakan oleh Komunitas Guru Informatika dan KKA PGRI.

Bukan Sekadar Lomba, tetapi Panggung Prestasi

OTN 8 dirancang sebagai ruang bertemunya siswa, guru, sekolah, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk membangun ekosistem talenta digital Indonesia.

Ada lima cabang lomba yang menjadi panggung bagi peserta:

  • Cerdas Cermat Informatika & KKA
  • Koding Membuat Game
  • Robotik
  • Informatika & KKA
  • E-Sport Mobile Legends

Selain itu, OTN 8 menghadirkan Seminar Nasional Informatika dengan tema “Membangun Talenta Digital Pelajar Indonesia melalui Informatika, Koding, dan AI.”

Peserta berasal dari jenjang SD/MI, SMP/MTs, hingga SMA/SMK/MA, dengan tingkat tantangan yang disesuaikan dengan jenjang peserta. Proposal menargetkan 600 peserta, terdiri atas 500 peserta lomba dan 100 peserta seminar nasional.

Untuk Peserta: Datang Membawa Semangat, Pulang Membawa Pengalaman

Bagi siswa, OTN bukan hanya tentang menjadi juara.

Ada kesempatan untuk:

Berani mencoba.
Berani berkompetisi.
Berani menciptakan karya.
Berani memecahkan masalah.
Berani menunjukkan kemampuan di hadapan generasi digital lainnya.

Setiap peserta dan pendamping juga memperoleh sertifikat elektronik resmi, sedangkan para juara mendapatkan trofi, medali, sertifikat juara, dan uang pembinaan.

Karena prestasi yang sesungguhnya bukan hanya tentang piala yang dibawa pulang, tetapi tentang pengalaman yang membentuk keberanian dan karakter seorang pembelajar.


Untuk Sponsor: Mari Menjadi Bagian dari Ekosistem Talenta Digital Indonesia

OTN 8 juga membuka ruang kolaborasi bagi perusahaan teknologi, AI, perangkat keras, telekomunikasi, industri kreatif, dan perguruan tinggi.

Inilah kesempatan bagi dunia usaha dan industri untuk hadir lebih dekat dengan generasi muda yang sedang tumbuh menjadi talenta digital Indonesia.

Dengan menjadi mitra OTN 8, perusahaan tidak hanya mendukung sebuah kegiatan lomba. Dukungan tersebut ditempatkan dalam kerangka pengembangan talenta, literasi digital, kreativitas teknologi, dan budaya belajar Informatika, Koding, serta AI.

Proposal OTN 8 menetapkan paket sponsor utama sebesar Rp25.000.000, dengan fasilitas antara lain:

  • logo pada materi publikasi dan backdrop utama;
  • penyebutan nama sponsor dalam sesi acara;
  • sertifikat penghargaan kemitraan;
  • publikasi melalui media sosial resmi OTN;
  • kesempatan membuka booth/expo produk;
  • dokumentasi kegiatan sebagai mitra pendukung ekosistem digital Indonesia.

Dengan lokasi kegiatan di JICC Senayan, Jakarta, OTN 8 dirancang menjadi ruang perjumpaan antara dunia pendidikan dan dunia teknologi.

Mengapa Dukungan Sponsor Penting?

Di balik satu anak yang berani mengikuti lomba, ada proses belajar yang panjang.

Di balik sebuah game sederhana, ada algoritma.

Di balik robot yang bergerak, ada logika, pemrograman, sensor, dan rekayasa.

Di balik pemanfaatan AI, ada pengetahuan, kreativitas, sekaligus tanggung jawab.

Dan di balik semua itu, dibutuhkan ekosistem yang mau mendukung.

Karena itu, kami mengajak perusahaan dan mitra industri untuk tidak hanya menjadi penonton perkembangan teknologi, tetapi ikut menyalakan api semangat generasi digital Indonesia.


OTN 8: Dari Kompetisi Menuju Gerakan

OTN 8 menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar perlombaan, melainkan bagian dari gerakan membangun budaya Informatika, Koding, dan AI di kalangan generasi muda Indonesia.

Mari kita bayangkan sebuah panggung di JICC Senayan.

Seorang siswa SD berani tampil dalam cerdas cermat.

Seorang pelajar SMP mempresentasikan game yang dibuatnya sendiri.

Seorang siswa SMA mengembangkan robot dengan penuh kreativitas.

Tim lainnya belajar bahwa kemenangan bukan hanya soal menjadi nomor satu, tetapi juga tentang kerja sama, sportivitas, kreativitas, dan keberanian mencoba.

Di sisi lain, para guru mendapatkan inspirasi baru. Sekolah menemukan talenta. Dunia industri bertemu calon generasi digital. Dan sponsor mendapatkan kesempatan untuk hadir dalam sebuah gerakan pendidikan yang mempertemukan teknologi dengan masa depan anak bangsa.

Itulah OTN 8.

Bukan hanya tempat mencari juara.

OTN 8 adalah tempat menumbuhkan calon pembuat teknologi Indonesia.


Mari Menjadi Bagian dari OTN 8

Untuk siswa dan sekolah:
Siapkan kemampuan terbaikmu. Daftarkan diri dan buktikan bahwa kamu mampu berpikir, berkarya, dan berinovasi.

Untuk guru dan pendamping:
Dukung peserta didik untuk berani keluar dari zona nyaman dan menunjukkan karya terbaiknya.

Untuk perusahaan dan dunia industri:
Mari hadir sebagai mitra dalam membangun ekosistem talenta digital Indonesia.

Sebab masa depan teknologi Indonesia tidak hanya dibangun oleh mereka yang sudah besar hari ini.

Masa depan itu sedang belajar di ruang-ruang kelas kita.

Dan OTN 8 ingin memberikan mereka sebuah panggung.

OTN 8 TAHUN 2026

29 Oktober – 1 November 2026
JICC Senayan, Jakarta

CERDAS BERPIKIR
KREATIF BERKODING
BIJAK MENGGUNAKAN AI

Info Panitia OTN: 08159155515 (Omjay)

Minggu, 20 September 2026

SEJARAH DAN REKAM JEJAK OLIMPIADE TIK-INFORMATIKA NASIONAL (OTN)

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



SEJARAH DAN REKAM JEJAK

OLIMPIADE TIK-INFORMATIKA NASIONAL (OTN)

Dari Gerakan Komunitas Guru Menjadi Ekosistem Prestasi Digital Nasional

Pendahuluan

Perjalanan Olimpiade TIK-Informatika Nasional (OTN) bukanlah perjalanan yang dibangun dalam satu malam. OTN tumbuh dari semangat para guru dan pegiat pendidikan yang melihat bahwa perkembangan teknologi informasi tidak cukup hanya diperkenalkan sebagai alat bantu pembelajaran. Teknologi perlu dipelajari, dikuasai, dikembangkan, dan dimanfaatkan untuk melahirkan generasi Indonesia yang kreatif, inovatif, berkarakter, serta mampu bersaing di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat.

Gagasan tersebut kemudian diwujudkan melalui sebuah ajang kompetisi yang memberikan ruang kepada peserta didik untuk menunjukkan kemampuan mereka di bidang TIK dan Informatika.

Sejak pertama kali diselenggarakan pada 2016, OTN terus mengalami perkembangan. Dari kegiatan yang pada awalnya berlangsung di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta, OTN kemudian bergerak ke berbagai lokasi, menjangkau peserta dari berbagai daerah, memperluas cabang lomba, dan menghadirkan berbagai bentuk kegiatan pendukung seperti seminar nasional serta pameran teknologi.

Dalam perkembangannya, OTN juga menyesuaikan diri dengan perubahan istilah dan kebutuhan pendidikan. TIK yang dahulu menjadi istilah utama kemudian berkembang menjadi Informatika, sementara perkembangan kecerdasan artifisial membuka ruang baru untuk memperkuat kompetensi digital peserta didik.

Karena itu, OTN Ke-8 pada tahun 2026 tidak berdiri sendiri. OTN Ke-8 merupakan kelanjutan dari perjalanan panjang tujuh penyelenggaraan sebelumnya.


OTN 1 — 2016

Memulai dari Aula Kementerian

Tonggak pertama OTN dimulai pada 2016 di Aula Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta.

Pada fase awal ini, OTN menjadi ruang pertemuan bagi guru dan peserta didik yang memiliki perhatian terhadap perkembangan teknologi informasi dalam pendidikan.

Penyelenggaraan pertama menjadi fondasi penting. OTN mulai memperkenalkan gagasan bahwa kompetensi teknologi tidak hanya dipelajari melalui kegiatan pembelajaran di sekolah, tetapi juga dapat dikembangkan melalui kompetisi yang sehat, kreatif, dan edukatif.

Dari sinilah sebuah perjalanan panjang dimulai.

OTN belum memiliki perjalanan sepanjang sekarang. Namun, justru dari kegiatan pertama inilah lahir keyakinan bahwa kompetisi TIK-Informatika dapat dikembangkan menjadi kegiatan nasional yang berkelanjutan.

OTN 1 adalah titik awal.


OTN 2 — 2017

Memperluas Jejaring dan Antusiasme

Setahun kemudian, OTN kembali diselenggarakan pada 2017, masih di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, tepatnya di Gedung D.

Penyelenggaraan kedua menunjukkan bahwa gagasan OTN tidak berhenti pada satu kegiatan. Antusiasme peserta dari berbagai daerah terus berkembang.

OTN mulai membangun sebuah jejaring yang mempertemukan peserta didik, guru, komunitas, dan para pegiat teknologi pendidikan.

Dari sini muncul sebuah prinsip penting yang terus dibawa hingga sekarang:

kompetisi bukan hanya tentang mencari juara, tetapi menciptakan ruang belajar dan mempertemukan talenta.


OTN 3 — 2018

Membawa Semangat Nasional ke Bali

Pada 2018, OTN memasuki fase baru dengan penyelenggaraan di Hotel Mahajaya, Bali.

Perpindahan lokasi ke luar Pulau Jawa menjadi bagian penting dalam perjalanan OTN. Kegiatan tidak lagi terpusat di Jakarta, tetapi mulai membawa semangat kompetisi TIK-Informatika ke daerah.

Bali menjadi saksi bahwa teknologi dapat menjadi bahasa bersama yang mempertemukan peserta didik dari berbagai latar belakang.

Perjalanan OTN ke Bali sekaligus memperkuat semangat bahwa pengembangan talenta digital harus dilakukan secara lebih luas dan tidak terbatas pada satu wilayah.

OTN mulai bergerak dari pusat menuju jejaring nasional.


OTN 4 — 2019

Bertumbuh dengan Skala yang Lebih Besar

Perjalanan berikutnya berlangsung pada 2019 di Jakarta Hilton Convention Center (JHCC), Jakarta.

Pada tahap ini, OTN semakin berkembang sebagai kegiatan berskala nasional. Arsip OTN mencatat bahwa penyelenggaraan tersebut diikuti antusiasme besar dan melibatkan berbagai lembaga pendidikan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa OTN mulai memiliki ekosistem yang lebih luas.

Kompetisi tidak lagi hanya berbicara tentang kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mulai memberikan ruang bagi kreativitas, komunikasi, karya digital, dan kemampuan peserta dalam memecahkan persoalan.

Namun, perjalanan tersebut kemudian menghadapi tantangan besar.


OTN 5 — 2023

Bangkit Setelah Pandemi

Pandemi COVID-19 membawa perubahan besar bagi dunia pendidikan dan berbagai kegiatan kompetisi.

Setelah melewati masa tersebut, OTN kembali hadir pada 2023 di Universitas Islam 45 (Unisma) Bekasi.

Kembalinya OTN menjadi simbol kebangkitan.

Para guru, peserta didik, komunitas, dan penyelenggara kembali membangun ruang perjumpaan secara langsung. Semangat kompetisi dan pembelajaran digital kembali dihidupkan.

OTN 5 menjadi pengingat bahwa sebuah gerakan pendidikan dapat mengalami jeda, tetapi semangat untuk memberikan ruang prestasi kepada peserta didik dapat terus dilanjutkan.

Dari pandemi, OTN belajar tentang ketahanan.


OTN 6 — 2024

Naik Kelas di ICE BSD

Pada 2024, OTN memasuki babak baru dengan penyelenggaraan di ICE BSD Serpong, Banten.

Perpindahan ke venue berskala besar menjadi salah satu indikator perkembangan penyelenggaraan OTN.

Pada fase ini, OTN semakin memperkuat konsep kompetisi teknologi yang memadukan berbagai bidang dan keterampilan.

Penggunaan ruang kegiatan yang lebih besar memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengikuti lomba sekaligus berinteraksi dengan berbagai aktivitas teknologi dan pendidikan.

OTN mulai membangun wajah baru sebagai sebuah ekosistem kegiatan teknologi pendidikan, bukan sekadar perlombaan.


OTN 7 — 2025

Technology for New Era

Tahun 2025 menjadi salah satu fase penting dalam sejarah OTN.

OTN kembali diselenggarakan di ICE BSD Serpong dengan tema “Technology for New Era.” Arsip resmi OTN mencatat penyelenggaraan pada 23–26 Oktober 2025 dan menghadirkan berbagai cabang kompetisi serta seminar nasional.

Perkembangan cabang lomba menunjukkan semakin luasnya kompetensi yang ingin dikembangkan. OTN 2025 menghadirkan antara lain:

  • Film pendek;

  • E-Sports;

  • Gambar digital;

  • Membuat game;

  • Robotik;

  • Presentasi Canva;

  • Desain web;

  • Menulis di blog;

  • Fotografi;

  • LCC Informatika.

Daftar tersebut menunjukkan bahwa kompetensi digital tidak hanya berkaitan dengan pemrograman. Kreativitas, komunikasi, desain, produksi konten, robotika, pemecahan masalah, dan literasi digital juga menjadi bagian dari ekosistem kompetisi.

OTN 2025 juga menjadi momentum penting karena pada September 2025, OTN mempublikasikan informasi mengenai status kurasi oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas). Hal tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan OTN dalam membangun standar penyelenggaraan dan rekam jejak kompetisi.

Dengan demikian, OTN 7 bukan hanya meneruskan tradisi OTN sebelumnya, tetapi juga menjadi jembatan menuju tahap pengembangan berikutnya.


OTN 8 — 2026

Dari Rekam Jejak Menuju Ekosistem Prestasi yang Lebih Kuat

Tahun 2026 menjadi momentum penting dengan hadirnya OTN Ke-8.

OTN Ke-8 dirancang bukan sekadar mengulang kegiatan sebelumnya. Perkembangan teknologi telah membawa dunia pendidikan memasuki fase baru, terutama dengan semakin pentingnya coding, informatika, kecerdasan artifisial, robotika, kreativitas digital, dan kemampuan problem solving.

Karena itu, OTN Ke-8 diarahkan untuk semakin dekat dengan kebutuhan kompetensi peserta didik pada masa kini.

Rencana OTN Ke-8 mencakup berbagai cabang kompetisi, termasuk Cerdas Cermat Informatika, Koding, Robotik, Informatika dan Kecerdasan Artifisial, serta E-Sports Mobile Legend, disertai agenda seminar nasional dan kegiatan pendukung lainnya.

Pengembangan tersebut merupakan bagian dari upaya menjadikan OTN sebagai ruang aktualisasi talenta digital yang lebih luas.

Selain kompetisi bagi peserta didik, OTN Ke-8 juga membuka gagasan untuk mengenalkan coding sejak usia dini melalui rencana lomba coding tingkat TK/PAUD.

Dengan demikian, perjalanan OTN tidak hanya bergerak ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, tetapi juga mulai memikirkan bagaimana budaya computational thinking dan literasi teknologi diperkenalkan sejak usia dini.


Delapan Penyelenggaraan, Satu Garis Perjalanan

Jika perjalanan OTN dirangkum, maka terlihat sebuah garis perkembangan:

2016 — Memulai
OTN 1 lahir di Aula Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta.

2017 — Memperluas
OTN 2 memperkuat jejaring dan antusiasme peserta.

2018 — Menjangkau daerah
OTN 3 membawa kegiatan ke Bali.

2019 — Bertumbuh
OTN 4 memperkuat skala nasional di Jakarta.

2023 — Bangkit
OTN 5 hadir kembali setelah pandemi.

2024 — Naik kelas
OTN 6 berkembang di ICE BSD.

2025 — Menguatkan ekosistem
OTN 7 hadir dengan beragam cabang kompetisi dan seminar nasional serta mencatat proses kurasi Puspresnas.

2026 — Mengembangkan talenta masa depan
OTN 8 diarahkan untuk memperkuat kompetensi Informatika, Koding, Robotika, Kecerdasan Artifisial, dan bidang digital lainnya.


OTN Bukan Sekadar Lomba

Ada satu hal yang penting untuk ditegaskan.

OTN bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara.

OTN adalah ruang bertemunya peserta didik, guru, sekolah, komunitas, praktisi, dunia pendidikan, dan mitra teknologi.

Melalui kompetisi, peserta belajar menghadapi tantangan.

Melalui penjurian, peserta belajar menerima proses dan hasil.

Melalui karya, peserta belajar menunjukkan kreativitas.

Melalui pertemuan dengan peserta dari daerah lain, mereka belajar tentang keberagaman.

Melalui teknologi, mereka belajar memecahkan persoalan kehidupan.

Karena itu, nilai OTN tidak hanya dapat dilihat dari jumlah piala yang diberikan, tetapi juga dari proses pembelajaran, karya yang lahir, jejaring yang terbentuk, pengalaman peserta, serta keberlanjutan ekosistem yang dibangun dari tahun ke tahun.


Mengapa Rekam Jejak Ini Penting?

Bagi sebuah ajang prestasi, keberlanjutan merupakan bagian penting dari rekam jejak.

OTN memiliki perjalanan sejak 2016 hingga 2026, dengan satu periode jeda pada masa pandemi. Dalam perjalanan tersebut, OTN telah berpindah lokasi, mengembangkan format kegiatan, memperluas cabang lomba, membangun jejaring, menghadirkan seminar nasional, dan memasuki tahap kurasi.

Rekam jejak tersebut menjadi modal untuk melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas.

Karena itu, OTN Ke-8 tidak ingin hanya mengatakan bahwa kegiatan ini sudah berlangsung berkali-kali. OTN ingin menunjukkan bukti perjalanan, dokumentasi, penyelenggara, lokasi, cabang lomba, peserta, juri, mitra, karya, pemenang, publikasi, serta evaluasi setiap penyelenggaraan.

Semua bukti tersebut perlu dihimpun dalam satu portofolio nasional yang tertata.


Menuju OTN yang Semakin Berkualitas

OTN Ke-8 menjadi momentum untuk melakukan pembenahan dan peningkatan standar penyelenggaraan.

Beberapa langkah yang perlu terus diperkuat antara lain:

  1. Dokumentasi setiap penyelenggaraan dari OTN 1 hingga OTN 8.

  2. Database peserta dan pemenang setiap tahun.

  3. Dokumentasi karya peserta yang dapat diverifikasi.

  4. Profil dan kompetensi juri setiap cabang lomba.

  5. Petunjuk teknis yang jelas dan transparan.

  6. Sistem pendaftaran dan hasil lomba yang terdokumentasi.

  7. Publikasi kegiatan melalui media resmi.

  8. Evaluasi setelah setiap penyelenggaraan.

  9. Kemitraan dengan sekolah, perguruan tinggi, komunitas, dunia industri, dan lembaga terkait.

  10. Penyelarasan cabang lomba dengan perkembangan kompetensi Informatika, Koding, dan Kecerdasan Artifisial.

Dengan dokumentasi yang semakin baik, perjalanan OTN dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita, tetapi sebagai rekam jejak yang dapat diverifikasi dan dievaluasi.


Harapan untuk OTN Ke-8

Setelah tujuh kali penyelenggaraan, OTN memasuki tahun kedelapan dengan semangat yang semakin kuat.

Harapannya, OTN Ke-8 dapat menjadi ruang yang semakin baik bagi peserta didik Indonesia untuk mengembangkan kemampuan di bidang Informatika, Koding, Robotika, Kecerdasan Artifisial, kreativitas digital, dan kompetensi teknologi lainnya.

Pada saat yang sama, OTN ingin terus belajar meningkatkan kualitas penyelenggaraan.

Bagi OTN, proses menuju sebuah ajang prestasi yang berkualitas adalah perjalanan bersama. Karena itu, keterbukaan terhadap evaluasi, perbaikan tata kelola, penguatan dokumentasi, peningkatan kualitas juri, transparansi lomba, dan pengembangan kompetensi peserta menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan ke depan.


Dari Guru, untuk Talenta Digital Indonesia

Delapan penyelenggaraan OTN merupakan cerita tentang ketekunan.

Cerita tentang guru yang tidak berhenti membuka ruang belajar.

  • Cerita tentang peserta didik yang berani mencoba.
  • Cerita tentang sekolah yang memberikan kesempatan.
  • Cerita tentang komunitas yang membangun jejaring.
  • Cerita tentang para mitra yang memberikan dukungan.

Dan cerita tentang sebuah gerakan yang terus berusaha tumbuh mengikuti perkembangan zaman.

Dari Aula Kementerian pada 2016 hingga berbagai ruang kegiatan nasional pada tahun-tahun berikutnya, OTN terus bergerak.

Kini, OTN Ke-8 membawa harapan baru.

Bukan sekadar menjadi lebih besar, tetapi menjadi lebih tertata, lebih transparan, lebih terukur, lebih terdokumentasi, dan semakin memberi ruang bagi lahirnya talenta digital Indonesia.

Inilah perjalanan OTN.

Delapan penyelenggaraan, satu semangat: membuka ruang prestasi, membangun talenta, dan menyiapkan generasi Indonesia menghadapi masa depan digital.

OTN Ke-8 — mari melangkah bersama menuju ekosistem prestasi Informatika dan Kecerdasan Artifisial yang semakin berkualitas.



Ringkasan Persiapan Rapat OTN 2026

Persiapan OTN Ke-8 Terus Dimatangkan, Juknis Lomba Ditargetkan Final Senin

Jakarta, 20 September 2026 — Persiapan Olimpiade TIK Informatika Nasional (OTN) Ke-8 Tahun 2026 terus dimatangkan oleh panitia dan tim penyelenggara. Berbagai aspek mulai dari legalitas organisasi, penguatan portal digital, proses kurasi, pendanaan, hingga finalisasi petunjuk teknis (juknis) lomba menjadi bagian penting dalam rangkaian koordinasi menuju pelaksanaan OTN Ke-8.

Koordinasi berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan. Selain membahas agenda teknis, pertemuan juga menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan solidaritas antaranggota tim yang selama ini terlibat dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan informatika dan teknologi pendidikan.

Penguatan Kelembagaan dan Legalitas

Salah satu pembahasan penting adalah penyelesaian legalitas organisasi. Sekretariat atau markas tim di kawasan KOGTIK telah disepakati dan dimasukkan dalam draf akta notaris.

Untuk mendukung penyelesaian akta tersebut, panitia telah memperoleh bantuan dari Prof. Eko. Saat ini masih terdapat kebutuhan dana sebesar Rp2.000.000 yang sedang diupayakan melalui berbagai bentuk dukungan, antara lain iuran sukarela, dana talangan, maupun bantuan dari donatur dan senior organisasi.

Penyelesaian legalitas diharapkan dapat semakin memperkuat kelembagaan dan mendukung keberlanjutan berbagai program yang dijalankan.

Portal OTN.or.id Terus Diperbarui

Aspek komunikasi publik juga menjadi perhatian dalam persiapan OTN Ke-8. Portal resmi OTN.or.id diharapkan terus diperbarui sehingga masyarakat, sekolah, guru, peserta, dan orang tua dapat memperoleh informasi secara mudah dan transparan.

Informasi yang perlu diperbarui meliputi cabang lomba, jadwal kegiatan, mekanisme pendaftaran, ketentuan perlombaan, serta skema pelaksanaan hybrid apabila diterapkan.

Penguatan portal digital menjadi bagian penting agar seluruh informasi OTN Ke-8 dapat tersampaikan secara terpusat dan mudah diakses calon peserta.

Rekam Jejak OTN dan Proses Kurasi

Panitia juga membahas strategi penguatan rekam jejak kegiatan OTN dalam kaitannya dengan proses kurasi pada tingkat kementerian/Puspresnas.

Data dan dokumentasi kegiatan OTN pada tahun-tahun sebelumnya akan diinventarisasi kembali sebagai bagian dari portofolio penyelenggaraan. Sementara itu, untuk OTN Ke-8 tahun 2026, informasi kepada publik perlu disampaikan secara terbuka bahwa kegiatan masih berada dalam proses pengajuan kurasi, karena pelaksanaan lomba tahun ini belum berlangsung.

Langkah tersebut dilakukan agar informasi mengenai status kegiatan dapat dipahami dengan baik oleh peserta, sekolah, guru pendamping, orang tua, serta mitra penyelenggara.

Gagasan Lomba Coding untuk TK/PAUD

OTN Ke-8 juga membuka ruang bagi munculnya inovasi cabang perlombaan. Salah satu gagasan yang sedang dikembangkan adalah lomba coding untuk tingkat TK/PAUD.

Dalam simulasi awal, apabila terdapat minimal 10 peserta dengan biaya pendaftaran Rp150.000 per peserta, maka diperoleh potensi dana sebesar Rp1.500.000. Dana tersebut direncanakan untuk mendukung penyediaan piala dan hadiah perlombaan.

Panitia juga membuka peluang kerja sama dengan lembaga atau mitra coding untuk memberikan dukungan berupa goodie bag, merchandise, maupun sponsorship. Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi peserta sejak usia dini.

Momentum Hari Guru Nasional

Dalam koordinasi juga dibahas peluang keikutsertaan guru dalam berbagai ajang kompetisi yang berkaitan dengan Hari Guru Nasional (HGN). Kegiatan semacam ini menjadi salah satu ruang bagi guru untuk mengembangkan kreativitas, menunjukkan kompetensi, dan mendokumentasikan prestasi.

Panitia mendorong guru dan sekolah untuk memanfaatkan berbagai kesempatan kompetisi secara positif sebagai bagian dari pengembangan profesional dan peningkatan kualitas pendidikan.

Juknis Menjadi Prioritas

Salah satu pekerjaan utama yang kini dikebut adalah penyelesaian petunjuk teknis (juknis) seluruh cabang lomba OTN Ke-8.

Panitia menargetkan seluruh juknis dapat final pada Senin dan selanjutnya siap dipublikasikan kepada calon peserta. Juknis diharapkan memberikan informasi yang jelas mengenai persyaratan peserta, mekanisme pendaftaran, jadwal, ketentuan perlombaan, teknis pelaksanaan, serta aspek penilaian masing-masing cabang lomba.

Dengan tersedianya juknis yang final, calon peserta, guru pendamping, sekolah, dan orang tua akan memiliki acuan yang lebih jelas dalam mempersiapkan keikutsertaan pada OTN Ke-8.

Semangat Kebersamaan Menuju OTN Ke-8

Persiapan OTN Ke-8 juga tidak terlepas dari dukungan dan semangat rekan-rekan dari berbagai daerah. Salah satunya disampaikan oleh Pak Narno dari Karimun yang menyatakan kesediaannya untuk hadir pada agenda pertemuan berikutnya dengan biaya mandiri.

Semangat tersebut menunjukkan bahwa OTN terus dibangun melalui jejaring persahabatan dan kolaborasi para pegiat pendidikan, informatika, teknologi, guru, serta berbagai pihak yang memiliki perhatian terhadap pengembangan kompetensi digital generasi muda.

Rangkaian koordinasi kemudian ditutup dengan doa bersama. Seluruh tim memohon kepada Allah SWT agar setiap tahapan persiapan hingga pelaksanaan OTN Ke-8 diberikan kemudahan, perlindungan, kelancaran, dan keberkahan.

Dengan semangat kolaborasi, OTN Ke-8 diharapkan menjadi ruang bagi pelajar untuk menunjukkan kemampuan di bidang informatika, coding, teknologi, dan kecerdasan artifisial, sekaligus menjadi wadah bagi guru dan sekolah untuk terus bergerak bersama membangun generasi digital Indonesia.

Bismillah. Bersama kita siapkan OTN Ke-8. Dari guru, oleh guru, untuk generasi digital Indonesia.