Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 23 Juni 2026

Apakah Guru Ini Anak Haram Pendidikan?

Apakah Guru Ini Anak Haram Pendidikan?

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)

Pertanyaan itu terdengar keras. Bahkan mungkin membuat sebagian orang tersinggung. Namun pertanyaan itu muncul bukan karena kebencian, melainkan karena rasa kecewa yang sudah terlalu lama dipendam oleh banyak guru di negeri ini.

Apakah guru ini anak haram pendidikan?

Tentu yang dimaksud bukan dalam arti sebenarnya. Ini adalah sebuah metafora tentang perasaan sebagian guru yang merasa keberadaannya dibutuhkan, tenaganya dimanfaatkan, pengabdiannya dituntut, tetapi suaranya jarang didengar ketika kebijakan pendidikan dibuat.

Sebagai guru yang sudah lebih dari tiga dekade mengajar, saya merasakan sendiri bagaimana kehidupan guru terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Kurikulum berganti. Sistem penilaian berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Aplikasi pendidikan bermunculan silih berganti. Guru dituntut beradaptasi dengan semua perubahan itu.

Sebagian besar guru tidak pernah menolak perubahan.

Guru justru selalu berusaha belajar. Guru rela mengikuti pelatihan hingga malam hari. Guru rela menghabiskan akhir pekan untuk mengikuti webinar. Guru rela menggunakan uang pribadi membeli kuota internet agar tetap dapat meningkatkan kompetensinya.

Namun di tengah semangat belajar itu, ada satu pertanyaan yang terus muncul di benak banyak guru.

Apakah para pengambil kebijakan benar-benar mendengarkan suara guru yang berada di ruang kelas?

Sebab yang paling memahami kondisi pendidikan bukanlah mereka yang duduk di balik meja kantor berpendingin udara. Yang paling memahami kondisi pendidikan adalah mereka yang setiap hari berdiri di depan kelas, berhadapan langsung dengan puluhan siswa yang memiliki karakter, kemampuan, dan latar belakang yang berbeda-beda.

Setiap pagi guru datang ke sekolah bukan hanya membawa buku pelajaran. Guru juga membawa kesabaran, empati, dan harapan.

Mereka menghadapi murid yang belum sarapan.

Mereka menghadapi murid yang sedang mengalami masalah keluarga.

Mereka menghadapi murid yang kehilangan semangat belajar.

Mereka menghadapi murid yang kecanduan media sosial.

Mereka menghadapi murid yang menjadi korban perundungan.

Semua persoalan itu tidak pernah muncul dalam laporan statistik yang indah. Namun itulah kenyataan yang setiap hari dihadapi guru.

Sayangnya, suara dari ruang-ruang kelas itu sering kali seperti tidak sampai ke meja pengambil keputusan.

Yang terdengar justru laporan administratif.

Yang dihitung justru absensi.

Yang dipersoalkan justru kehadiran fisik.

Padahal pendidikan jauh lebih besar daripada sekadar angka dan laporan.

Pendidikan adalah proses memanusiakan manusia.

Pendidikan adalah membangun karakter generasi bangsa.

Pendidikan adalah pekerjaan hati yang tidak bisa diukur hanya dengan daftar hadir.

Beberapa waktu lalu saya membaca diskusi menarik di grup guru. Banyak rekan guru menyampaikan keresahan yang sama.

Mereka tidak menolak bekerja saat libur siswa jika memang ada tugas yang harus diselesaikan. Mereka juga tidak keberatan mengikuti kegiatan sekolah di luar jam pelajaran.

Yang mereka pertanyakan adalah mengapa kebijakan sering kali dibuat tanpa mempertimbangkan kondisi nyata yang mereka hadapi.

Mengapa guru yang seharusnya menjadi sumber informasi utama justru sering menjadi pihak yang terakhir diajak berdiskusi?

Mengapa suara guru lebih sering didengar ketika dibutuhkan untuk melaksanakan program, tetapi kurang didengar ketika menyampaikan persoalan di lapangan?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema.

Semakin lama, semakin banyak guru yang merasa bahwa mereka hanya menjadi objek kebijakan.

Mereka diperintah.

Mereka diminta melaksanakan.

Mereka diwajibkan melaporkan.

Namun jarang diajak merumuskan.

Padahal tidak ada pihak yang lebih memahami dunia pendidikan selain guru.

Ketika guru menyampaikan aspirasi, sering kali dianggap mengeluh.

Ketika guru menyampaikan kritik, sering kali dianggap tidak mendukung program.

Ketika guru meminta kejelasan regulasi, sering kali dianggap mempersulit keadaan.

Padahal yang sesungguhnya terjadi adalah guru sedang berusaha menjaga kualitas pendidikan.

Guru ingin kebijakan yang lahir benar-benar sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Guru ingin regulasi yang diterapkan dapat membantu proses pembelajaran, bukan justru menambah beban yang tidak relevan.

Guru ingin didengar.

Hanya itu.

Mereka tidak meminta fasilitas mewah.

Mereka tidak meminta perlakuan istimewa.

Mereka hanya berharap suara mereka diperhitungkan dalam pembangunan pendidikan nasional.

Saya teringat sebuah ungkapan yang sering disampaikan oleh para guru senior.

"Kalau ingin mengetahui kondisi pendidikan yang sebenarnya, datanglah ke ruang kelas."

Bukan ke ruang rapat.

Bukan ke ruang seminar.

Bukan ke ruang presentasi.

Tetapi ke ruang kelas.

Di sanalah kehidupan pendidikan yang sesungguhnya berlangsung.

Di sana ada guru yang berjuang membuat muridnya memahami pelajaran.

Di sana ada guru yang berusaha mendamaikan dua siswa yang bertengkar.

Di sana ada guru yang menyisihkan waktu untuk mendengarkan curahan hati muridnya.

Di sana ada guru yang tetap tersenyum meskipun sedang menghadapi berbagai persoalan pribadi.

Sayangnya, perjuangan itu sering tidak terlihat.

Yang terlihat hanya angka-angka laporan.

Yang terlihat hanya target administrasi.

Yang terlihat hanya dokumen yang harus diselesaikan.

Padahal pendidikan tidak pernah lahir dari dokumen.

Pendidikan lahir dari hubungan manusia dengan manusia.

Hubungan antara guru dan murid.

Karena itulah para pengambil kebijakan perlu lebih sering mendengarkan suara guru.

Bukan sekadar mendengar, tetapi benar-benar menyimak.

Bukan sekadar menerima laporan, tetapi memahami kenyataan.

Bukan sekadar membuat aturan, tetapi merasakan dampaknya di lapangan.

Jika hal itu dilakukan, saya yakin kualitas pendidikan Indonesia akan jauh lebih baik.

Guru akan merasa dihargai.

Guru akan merasa dilibatkan.

Guru akan merasa menjadi bagian penting dari perubahan.

Maka pertanyaan "Apakah guru ini anak haram pendidikan?" semoga tidak pernah lagi muncul di masa depan.

Karena sejatinya guru bukan anak haram pendidikan.

Guru bukan anak tiri pendidikan.

Guru bukan pelengkap dalam sistem pendidikan.

Guru adalah jantung pendidikan itu sendiri.

Ketika suara guru didengar, pendidikan akan menemukan arah yang benar.

Ketika guru dihargai, pendidikan akan tumbuh lebih kuat.

Dan ketika guru dilibatkan dalam setiap kebijakan, Indonesia akan memiliki masa depan yang lebih cerah melalui tangan-tangan para pendidik yang bekerja dengan hati.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Ketika Guru Harus Mengajari Dinas Pendidikan

Ketika Guru Harus Mengajari Dinas Pendidikan tentang Aturan Guru

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)

Siang itu telepon genggam saya berbunyi. Seperti biasa, grup WhatsApp PGRI ramai dengan berbagai diskusi pendidikan. Ada yang membahas pelatihan guru, ada yang berbagi informasi kegiatan sekolah, dan ada pula yang sedang mendiskusikan sebuah persoalan yang belakangan sering menjadi perbincangan hangat di kalangan guru.

Pak Asep, sahabat saya yang aktif menyuarakan aspirasi guru, menuliskan sebuah pandangan yang menarik perhatian banyak anggota grup. Ia mengatakan bahwa Dinas Pendidikan sesungguhnya adalah "orang tua" bagi guru. Kalimat sederhana itu langsung membuat saya berhenti sejenak dan membaca tulisannya sampai selesai.

Saya mengangguk pelan. Ada benarnya juga.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua tentu lebih memahami anaknya. Orang tua tahu kebutuhan anaknya, memahami kesulitan yang dihadapi anaknya, melindungi ketika anaknya mendapat masalah, dan membimbing ketika anaknya melakukan kesalahan. Logika yang sama sebenarnya berlaku dalam dunia pendidikan.

Jika guru adalah ujung tombak pendidikan, maka Dinas Pendidikan adalah pembina sekaligus pengarahnya. Seharusnya mereka menjadi pihak yang paling memahami tugas, fungsi, hak, dan kewajiban guru.

Namun kenyataan di lapangan terkadang berbeda.

Tidak sedikit guru yang merasa harus menjelaskan kembali aturan tentang guru kepada pihak yang justru memiliki kewenangan untuk membina guru. Kadang muncul kebijakan yang membuat guru bertanya-tanya. Bukan karena guru menolak bekerja, melainkan karena aturan yang sudah jelas tertulis dalam berbagai regulasi ditafsirkan berbeda-beda.

Saya teringat ketika menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan guru di banyak daerah. Pertanyaan yang sering muncul ternyata hampir sama. Bukan soal bagaimana mengajar yang baik. Bukan pula tentang teknologi pendidikan atau kecerdasan buatan. Pertanyaan yang paling sering muncul justru berkaitan dengan beban kerja guru, jam kerja guru, serta kewajiban hadir di sekolah saat peserta didik sedang libur.

Guru-guru itu bertanya dengan nada bingung.

"Pak Omjay, sebenarnya aturan yang benar seperti apa?"

Saya memahami kebingungan mereka. Sebab di satu daerah berlaku kebijakan tertentu, sementara di daerah lain diterapkan aturan yang berbeda. Akibatnya muncul persepsi yang beragam dan terkadang menimbulkan ketidaknyamanan.

Padahal guru tidak pernah menolak tugas.

Guru sudah terbiasa bekerja jauh melebihi jam pelajaran di kelas. Banyak masyarakat yang mengira tugas guru selesai ketika bel pulang sekolah berbunyi. Faktanya justru sebaliknya.

Ketika siswa pulang, guru masih harus memeriksa tugas, menyusun perangkat pembelajaran, membuat laporan, mengisi berbagai aplikasi, mengikuti rapat, mendampingi kegiatan sekolah, hingga membimbing peserta didik yang membutuhkan perhatian khusus.

Bahkan tidak sedikit guru yang masih bekerja ketika berada di rumah. Telepon dari orang tua murid masuk malam hari. Pesan WhatsApp dari siswa datang saat akhir pekan. Ada pula tugas administrasi yang harus diselesaikan sebelum batas waktu tertentu.

Itulah sebabnya profesi guru tidak bisa diukur hanya dari kehadiran fisik di sekolah.

Guru bukan pegawai administrasi biasa yang seluruh pekerjaannya selesai di kantor. Guru adalah tenaga profesional yang bekerja dengan manusia. Mereka mengelola karakter, membangun nilai, menanamkan akhlak, dan mengembangkan potensi peserta didik.

Pak Prameswara dalam diskusi grup menyampaikan sebuah analogi yang menurut saya sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa tugas ASN guru berbeda dengan ASN pada bidang administrasi lainnya. Jika diibaratkan mesin, bentuknya mungkin sama-sama mesin, tetapi oli yang digunakan berbeda.

Analogi itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.

Guru tidak hanya mengurus administrasi. Guru juga mengelola emosi peserta didik, membangun motivasi belajar, menanamkan karakter, serta menghadapi berbagai persoalan sosial yang dibawa siswa dari rumah. Tugas itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengisi absensi atau duduk di kantor selama jam kerja tertentu.

Saya tersenyum ketika membaca candaan Pak Prameswara yang mengatakan bahwa dulu belum ada kecerdasan buatan (AI) dan coding, tetapi hasil pendidikan mampu melahirkan presiden, menteri, pengusaha sukses, ilmuwan, dan tokoh bangsa.

Candaan itu memang mengandung pesan penting.

Teknologi sangat penting, tetapi jangan sampai kita melupakan manusia yang menggerakkannya. Secanggih apa pun teknologi pendidikan, kualitas guru tetap menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan.

Karena itu hubungan antara guru, organisasi profesi, dan birokrasi pendidikan harus bersifat simbiosis mutualisme.

Semua pihak harus saling memahami dan saling menguatkan.

Guru membutuhkan pembinaan yang tepat.

Dinas Pendidikan membutuhkan masukan dari guru di lapangan.

Organisasi profesi seperti PGRI berperan menjembatani komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.

Ketika ketiga unsur ini berjalan bersama, maka berbagai persoalan pendidikan dapat diselesaikan dengan lebih baik.

Saya sangat setuju dengan pendapat Pak Tomo Mohawi yang menyatakan bahwa guru dan Dinas Pendidikan adalah mitra strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. Hubungan keduanya tidak boleh dibangun atas dasar kecurigaan, melainkan atas dasar kepercayaan dan pemahaman yang sama terhadap regulasi.

Regulasi yang berasal dari Undang-Undang dan peraturan turunannya harus menjadi rujukan utama. Bukan sekadar kebijakan yang muncul karena interpretasi pribadi atau kebiasaan yang sudah berlangsung lama.

Sebab ketika regulasi diabaikan, yang muncul adalah kebingungan.

Ketika kebingungan muncul, yang dirugikan bukan hanya guru.

Peserta didik juga akan terkena dampaknya.

Pada akhirnya saya menyadari bahwa diskusi sederhana di grup WhatsApp siang itu sesungguhnya menyimpan pelajaran yang sangat berharga. Pendidikan yang baik tidak lahir dari banyaknya aturan baru. Pendidikan yang baik lahir dari kesamaan pemahaman terhadap aturan yang sudah ada.

Guru tidak membutuhkan perlakuan istimewa.

Guru hanya ingin hak dan kewajibannya dipahami secara benar.

Guru tidak menolak bekerja.

Guru hanya berharap profesinya dihargai sesuai regulasi yang berlaku.

Karena sesungguhnya ketika guru memperoleh perlindungan, pembinaan, dan penghargaan yang layak, mereka akan dapat fokus melakukan tugas utamanya, yaitu mendidik generasi bangsa.

Dan ketika guru dapat bekerja dengan tenang dan bahagia, pendidikan Indonesia akan melangkah lebih maju.

Bukankah tujuan akhir dari semua kebijakan pendidikan adalah menciptakan generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya?

Jika jawabannya ya, maka mari kita mulai dengan memahami guru sebagaimana negara telah mengaturnya. Sebab guru bukan sekadar pegawai yang hadir di sekolah. Guru adalah pembentuk masa depan bangsa.

KMPF UNJ

Foto yang Anda kirimkan adalah halaman majalah atau buletin yang memuat profil Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi Universitas Negeri Jakarta (KMPF UNJ). Berikut informasi lengkap yang dapat saya rangkum dari isi halaman tersebut.

KMPF UNJ: Wadah Kreativitas Mahasiswa Pecinta Fotografi

Sejarah Berdirinya KMPF UNJ

Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi (KMPF) Universitas Negeri Jakarta merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang fotografi di lingkungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Berdasarkan informasi pada dokumen tersebut, KMPF UNJ secara resmi berdiri pada:

Tanggal: 8 November 1980

Peresmian organisasi dilakukan oleh:

H. Thaher Husen

Beliau merupakan salah satu tokoh mahasiswa pada masa itu yang berperan dalam perkembangan organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus.

Organisasi ini lahir dari semangat sekelompok mahasiswa yang memiliki minat dan hobi yang sama di bidang fotografi meskipun berasal dari jurusan yang berbeda-beda.

Para Perintis KMPF UNJ

Tercatat delapan mahasiswa yang menjadi pelopor berdirinya KMPF UNJ, yaitu:

  1. Ahmad Sadek Hasan (Teknologi Pendidikan)
  2. Zulkifliwan Nasution (Teknologi Pendidikan)
  3. Nirsanto Hasnul (Pendidikan Khusus)
  4. Suyatno Suwandi (Bahasa Inggris)
  5. Hasnani Isma Kutai (Bahasa Inggris)
  6. Elies Kurniasih (Seni Rupa)
  7. A. Sanusi S.D. (Somatologi)
  8. Irzan Tahar (Teknologi Pendidikan)

Keberagaman latar belakang akademik tersebut menunjukkan bahwa fotografi mampu menjadi sarana pemersatu mahasiswa lintas disiplin ilmu.


Lambang KMPF UNJ

Logo KMPF UNJ berbentuk diafragma kamera yang terdiri dari tujuh bilah.

Warna-warna yang digunakan meliputi:

  • Hijau
  • Magenta
  • Merah muda
  • Ungu
  • Merah
  • Biru
  • Putih

Di bagian tengah logo terdapat lambang Universitas Negeri Jakarta yang menunjukkan identitas kelembagaan organisasi sebagai bagian dari UNJ.

Bentuk diafragma dipilih karena menjadi simbol utama dunia fotografi. Diafragma berfungsi mengatur cahaya yang masuk ke kamera sehingga sangat identik dengan proses penciptaan karya fotografi.


Visi KMPF UNJ

"Mewujudkan keanggotaan berkarakter dalam bidang fotografi spesifik yang berdaya guna."

Visi ini menunjukkan bahwa KMPF tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis memotret, tetapi juga pembentukan karakter anggota agar mampu berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.


Misi KMPF UNJ

Berdasarkan dokumen tersebut, misi KMPF UNJ adalah:

1. Membentuk Sistem Pendidikan Karakter Fotografi

KMPF berupaya mengembangkan pendidikan dan pelatihan fotografi secara mendalam sehingga anggota memiliki kompetensi yang kuat.

2. Membentuk Karakter Individu

Organisasi memberikan program yang berfokus pada pengembangan diri sehingga anggota memiliki karakter yang positif, disiplin, dan bertanggung jawab.

3. Meningkatkan Fasilitas Keanggotaan

KMPF berusaha meningkatkan berbagai fasilitas pendukung kegiatan fotografi agar tercipta identitas organisasi yang kuat dan loyalitas anggota yang tinggi.


Aktivitas dan Peran KMPF UNJ

Sebagai organisasi fotografi kampus, KMPF memiliki berbagai peran penting, antara lain:

Dokumentasi Kegiatan Kampus

Anggota KMPF sering terlibat dalam pendokumentasian kegiatan akademik maupun non-akademik di lingkungan UNJ.

Pendidikan dan Pelatihan

KMPF menjadi tempat belajar bagi mahasiswa yang ingin mendalami:

  • Teknik fotografi dasar
  • Fotografi jurnalistik
  • Fotografi human interest
  • Fotografi landscape
  • Fotografi portrait
  • Editing foto digital

Pameran Fotografi

Organisasi ini biasanya mengadakan pameran karya sebagai sarana apresiasi dan publikasi hasil karya anggota.

Pengabdian Masyarakat

Fotografi juga digunakan sebagai media edukasi dan dokumentasi kegiatan sosial kemasyarakatan.


Media Sosial dan Kontak KMPF UNJ

Pada halaman sebelah kanan tercantum beberapa media komunikasi organisasi:

Twitter/X

@kmpfunj

Email

kmpfunj@yahoo.com

Website

www.kmpfunj.or.id

Instagram

@kmpfunj204

Facebook

KMPF UNJ

Media-media tersebut digunakan sebagai sarana publikasi kegiatan, berbagi karya fotografi, serta komunikasi dengan anggota dan masyarakat umum.


Makna Penting KMPF UNJ bagi Mahasiswa

Keberadaan KMPF UNJ membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori di ruang kelas, tetapi juga ruang berkembangnya minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa.

Melalui organisasi ini mahasiswa belajar banyak hal, seperti:

  • Kepemimpinan
  • Kerja sama tim
  • Manajemen organisasi
  • Kreativitas visual
  • Komunikasi publik
  • Dokumentasi profesional

Banyak alumni organisasi fotografi kampus yang kemudian berkarier sebagai fotografer profesional, jurnalis foto, desainer visual, content creator, hingga akademisi di bidang komunikasi dan media.

KMPF UNJ yang berdiri sejak tahun 1980 merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan yang memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan dunia fotografi di lingkungan Universitas Negeri Jakarta. Selama lebih dari empat dekade, organisasi ini telah menjadi wadah lahirnya generasi fotografer muda yang kreatif, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kampus maupun masyarakat luas.

Buku Sampah Membawa Berkah

SAMPAH MEMBAWA BERKAH

Gerakan Bersih Radius Satu Meter untuk Mewujudkan Sekolah Bersih, Sehat, Berkarakter, dan Berprestasi

Penulis

Dr. Sony Teguh Trilaksono
Dr. Wijaya Kusumah

---

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

PRAKATA PENULIS

---

BAGIAN I

MEMBANGUN KESADARAN LINGKUNGAN SEJAK DARI SEKOLAH

Bab 1. Sekolah Adalah Rumah Kedua Anak-Anak Kita

- Lingkungan sekolah yang nyaman dan sehat
- Sekolah sebagai tempat tumbuh karakter
- Membangun budaya peduli lingkungan

Bab 2. Memahami Kondisi dan Permasalahan Lingkungan Global dan Nasional

- Krisis sampah dunia
- Perubahan iklim dan pemanasan global
- Pencemaran udara, air, dan tanah
- Tantangan Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan

Bab 3. Sampah Kecil, Masalah Besar

- Dampak sampah terhadap kesehatan
- Dampak sampah terhadap lingkungan
- Dampak sampah terhadap kualitas pembelajaran

Bab 4. Pendidikan Karakter Melalui Budaya Bersih

- Disiplin sebagai fondasi karakter
- Tanggung jawab terhadap lingkungan
- Menanamkan kepedulian sejak dini

---

BAGIAN II

GERAKAN BERSIH RADIUS SATU METER

Bab 5. Filosofi Gerakan Bersih Radius Satu Meter

- Berawal dari diri sendiri
- Perubahan besar dari tindakan kecil
- Menjadikan kebersihan sebagai kebiasaan

Bab 6. Berasa Selalu Ada di Depan Anak-Anak Kita

- Keteladanan sebagai metode pendidikan terbaik
- Guru sebagai figur inspiratif
- Membangun budaya malu membuang sampah sembarangan

Bab 7. Keteladanan Guru dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan

- Guru sebagai agen perubahan
- Mengajar melalui tindakan nyata
- Menggerakkan seluruh warga sekolah

Bab 8. Peran Murid, Orang Tua, dan Komunitas Sekolah

- Murid sebagai pelopor kebersihan
- Orang tua sebagai mitra pendidikan
- Kolaborasi seluruh warga sekolah

---

BAGIAN III

SAMPAH YANG MEMBAWA BERKAH

Bab 9. Mengenal Jenis-Jenis Sampah

- Sampah organik
- Sampah nonorganik
- Sampah B3

Bab 10. Sampah Organik dan Pemanfaatannya

- Kompos dan pupuk organik
- Budidaya tanaman sekolah
- Kebun sekolah berbasis lingkungan

Bab 11. Sampah Nonorganik dan Daur Ulang

- Pemilahan sampah
- Produk kreatif dari barang bekas
- Ekonomi sirkular di sekolah

Bab 12. Sampah B3 dan Penanganannya

- Mengenali sampah berbahaya
- Cara penyimpanan dan pengelolaan
- Keselamatan warga sekolah

Bab 13. Bank Sampah Sekolah

- Konsep dan manfaat bank sampah
- Sistem pengelolaan
- Pengalaman sekolah yang berhasil

Bab 14. Mengubah Sampah Menjadi Sumber Ekonomi dan Prestasi

- Kewirausahaan berbasis lingkungan
- Sedekah sampah
- Sampah sebagai sumber keberkahan

---

BAGIAN IV

GERAKAN SEKOLAH ADIWIYATA MENUJU INDONESIA RAMAH LINGKUNGAN

Bab 15. Tanggung Jawab Sekolah dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

- Sekolah sebagai pemangku kepentingan
- Pendidikan lingkungan hidup
- Membangun budaya peduli lingkungan

Bab 16. Memahami Gerakan Sekolah Berbudaya Peduli Lingkungan (Adiwiyata)

- Sejarah dan perkembangan Adiwiyata
- Prinsip dasar Adiwiyata
- Tujuan dan manfaat Adiwiyata

Bab 17. Komponen Utama Program Adiwiyata

- Kebijakan berwawasan lingkungan
- Kurikulum berbasis lingkungan
- Kegiatan partisipatif berbasis lingkungan
- Pengelolaan sarana dan prasarana ramah lingkungan

Bab 18. Strategi Implementasi Program Adiwiyata di Sekolah

- Perencanaan program
- Pelaksanaan program
- Monitoring dan evaluasi
- Penguatan budaya sekolah

---

BAGIAN V

STUDI KASUS DAN PRAKTIK BAIK SEKOLAH ADIWIYATA

Bab 19. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Tingkat Kabupaten dan Kota

Bab 20. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi

Bab 21. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Nasional

Bab 22. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Mandiri

Bab 23. Praktik Baik yang Dapat Ditiru oleh Sekolah Lain

Bab 24. Resume dan Otokritik Gerakan Sekolah Adiwiyata

- Capaian yang telah diraih
- Tantangan yang masih dihadapi
- Evaluasi implementasi program
- Strategi penguatan Gerakan Adiwiyata di masa depan

---

BAGIAN VI

KISAH INSPIRATIF DARI SEKOLAH BERSIH

Bab 25. Ketika Seorang Guru Memungut Sampah

Bab 26. Murid yang Mengubah Wajah Sekolahnya

Bab 27. Kantin Bersih, Siswa Sehat

Bab 28. Taman Sekolah yang Kembali Hijau

Bab 29. Dari Sampah Menjadi Prestasi

Bab 30. Sekolah Bersih, Anak Bahagia, Indonesia Jaya

---

PENUTUP

Bersih Radius Satu Meter, Indonesia Bersih Selamanya

---

LAMPIRAN

1. Instrumen Evaluasi Sekolah Adiwiyata
2. Panduan Gerakan Bersih Radius Satu Meter
3. SOP Pemilahan Sampah di Sekolah
4. Contoh Program Bank Sampah Sekolah
5. Deklarasi Sekolah Bebas Sampah
6. Indikator Sekolah Berbudaya Lingkungan
7. Dokumen Praktik Baik Sekolah Adiwiyata

---

MOTTO BUKU

"Jika setiap warga sekolah membersihkan radius satu meter di sekitarnya, maka seluruh sekolah akan bersih. Jika setiap sekolah bersih, maka Indonesia akan menjadi negeri yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan."

— Dr. Sony Teguh Trilaksono & Dr. Wijaya Kusumah

Rangkuman Kegiatan Raker SMP Labschool Jakarta

Rangkuman Rapat Kerja (RAKER – UPSKILLING) SMP Labschool Jakarta Tahun Ajaran 2026/2027

RAKER dan Upskilling SMP Labschool Jakarta dilaksanakan selama tiga hari, 23–25 Juni 2026, dengan tujuan meningkatkan kompetensi guru dan tenaga kependidikan, memperkuat kerja sama tim, menyusun program kerja tahun ajaran baru, serta membangun budaya kerja yang positif dan produktif.

Hari Pertama – Selasa, 23 Juni 2026

Fokus kegiatan hari pertama adalah penguatan visi sekolah, sosialisasi program, dan peningkatan kompetensi pembelajaran digital.

Agenda utama:

  • Sambutan dan arahan Kepala SMP Labschool Jakarta, Dr. Yati Suwartini, M.Pd.
  • Doa bersama.
  • Sosialisasi:
    • IKU (Indikator Kinerja Utama)
    • Sekolah Aman dan Nyaman
    • Sarana dan Prasarana Sekolah
  • Upskilling tentang penerapan pendekatan TPACK dalam pembuatan media pembelajaran interaktif berbasis digital oleh Syahidah Humairoh, S.Pd.
  • Pleno penyusunan kelas.
  • Kegiatan reflektif “Menulis Surat Cinta untuk Labschool.”
  • Malam kebersamaan melalui Labs Talent.

Hari Kedua – Rabu, 24 Juni 2026

Fokus kegiatan hari kedua adalah pengembangan soft skills, komunikasi efektif, growth mindset, dan team building.

Agenda utama:

  • Salat Subuh berjamaah.
  • Upskilling Effective Communication & Growth Mindset oleh Kevin Kautsar.
  • Smart Competition.
  • Fun Team Building Games sesi 1 dan 2.
  • Creativity Competition.
  • Final Project Team Building.
  • Review kegiatan.
  • Awarding Night, termasuk penghargaan Labs Talent dan kegiatan tukar kado.

Hari Ketiga – Kamis, 25 Juni 2026

Fokus kegiatan hari ketiga adalah kebugaran, konsolidasi organisasi, dan persiapan tahun ajaran baru.

Agenda utama:

  • Salat Subuh berjamaah.
  • Senam sehat bersama.
  • Bersih-bersih dan sarapan.
  • Pembagian tugas dan penetapan koordinator.
  • Kick Off Tahun Ajaran 2026/2027.
  • Kembali ke Labschool Jakarta.

Tujuan Strategis Kegiatan

RAKER dan Upskilling ini dirancang untuk:

  1. Menyamakan persepsi seluruh guru dan tenaga kependidikan mengenai arah kebijakan sekolah.
  2. Meningkatkan kompetensi guru dalam pembelajaran digital berbasis TPACK.
  3. Mengembangkan kemampuan komunikasi dan pola pikir bertumbuh (growth mindset).
  4. Memperkuat kolaborasi antar guru melalui team building.
  5. Menyusun pembagian tugas dan struktur kerja tahun ajaran baru.
  6. Menumbuhkan rasa memiliki terhadap SMP Labschool Jakarta melalui kegiatan refleksi dan kebersamaan.

Informasi Dress Code

Selasa

  • Pagi–sore: Bebas rapi dan membawa laptop.
  • Sore–malam: Bebas rapi atau sesuai kesepakatan rumpun.

Rabu

  • Team Building: Kaos Lastrun warna navy atau kaos warna navy.
  • Sore: Sesuai kesepakatan rumpun.
  • Membawa pakaian untuk berenang/basah-basahan.

Kamis

  • Senam pagi: Kaos POMG atau kaos hitam.
  • Setelah kegiatan: Membawa pakaian ganti bebas.

Catatan Penting

Laptop digunakan untuk kegiatan di sekolah. Jika tidak diperlukan di lokasi Grand Ussu, laptop dapat ditinggalkan di sekolah.

Kesimpulan

RAKER–UPSKILLING SMP Labschool Jakarta Tahun Ajaran 2026/2027 tidak hanya menjadi forum penyusunan program kerja, tetapi juga menjadi sarana peningkatan kompetensi guru, penguatan budaya kerja, pembentukan karakter tim yang solid, serta penyegaran semangat untuk menyambut tahun ajaran baru. Kegiatan ini memadukan unsur akademik, profesional, spiritual, reflektif, dan rekreatif sehingga diharapkan mampu melahirkan tim pendidik Labschool yang semakin unggul, kolaboratif, inovatif, dan siap memberikan layanan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

 

terima kasih pak erwin walas 8f

Laporan Hasil Belajar Kelas 8F: Ketika Angka Bertemu Karakter dan Kebersamaan

Oleh: Erwin Marwiansyah, M.Pd.
Wali Kelas 8F SMP Labschool Jakarta

Tahun pelajaran 2025/2026 telah sampai pada penghujung semester kedua. Sebagai wali kelas 8F, saya memandang laporan hasil belajar bukan sekadar kumpulan angka yang tercetak di atas kertas rapor. Di balik setiap nilai yang diperoleh siswa, terdapat perjuangan, kerja keras, doa orang tua, dedikasi guru, serta proses panjang yang membentuk karakter dan kepribadian mereka. Semester ini menjadi perjalanan yang penuh warna bagi keluarga besar kelas 8F, yang kami banggakan dengan nama Fellavatiqa.

Selama satu tahun terakhir, anak-anak telah tumbuh dan berkembang dalam berbagai aspek. Mereka tidak hanya belajar memahami konsep-konsep akademik di ruang kelas, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, disiplin, kerja sama, empati, dan kepemimpinan. Setiap hari yang mereka lalui di sekolah menjadi bagian dari proses pembentukan diri menuju pribadi yang lebih matang dan siap menghadapi tantangan di jenjang berikutnya.

Berdasarkan hasil evaluasi semester dua, capaian akademik kelas 8F menunjukkan hasil yang sangat membanggakan. Nilai rata-rata kelas pada berbagai mata pelajaran berada pada kategori yang sangat baik. Mata pelajaran Informatika menjadi salah satu mata pelajaran dengan capaian tertinggi dengan rata-rata 94,5. Sementara itu Pendidikan Pancasila memperoleh rata-rata 93,2 dan Bahasa Indonesia mencapai 91,5. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa kelas 8F mampu menjaga konsistensi belajar dan menunjukkan kesungguhan dalam mengikuti proses pembelajaran sepanjang semester.

Jika dilihat lebih rinci, nilai rata-rata kelas pada semester ini adalah sebagai berikut: Pendidikan Agama dan Budi Pekerti 91,2; Pendidikan Pancasila 93,2; Bahasa Indonesia 91,5; Matematika 91,5; IPA 91,1; IPS 88,8; Bahasa Inggris 90,4; Informatika 94,5; PJOK 88,4; Seni Budaya 87,3; dan Bahasa Jepang 85,0. Data ini memperlihatkan bahwa secara umum seluruh mata pelajaran berada pada kategori baik hingga sangat baik. Tentu capaian tersebut tidak hadir secara instan, melainkan melalui proses belajar yang panjang dan konsisten.

Prestasi akademik tertinggi semester ini diraih oleh dua siswa hebat yang memperoleh rata-rata nilai sama, yaitu Azzahra Rusmana dan Humaira Putri Harianto dengan rata-rata 94,64. Keduanya menunjukkan ketekunan luar biasa dalam belajar dan mampu mempertahankan performa akademik yang sangat baik di hampir seluruh mata pelajaran. Selain mereka, terdapat pula siswa-siswa berprestasi lainnya yang masuk dalam lima besar kelas, yaitu Muhammad Fathiregansyah Zain dengan rata-rata 93,55, Raffasya Zhian Al Fajry dengan rata-rata 92,36, serta Rafiandra Mada Alfarizqi dengan rata-rata 92,18. Keberhasilan mereka patut diapresiasi dan diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi teman-teman yang lain.

Namun demikian, saya selalu menekankan kepada seluruh siswa dan orang tua bahwa pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada angka dan peringkat. Nilai memang penting sebagai indikator pencapaian akademik, tetapi yang jauh lebih penting adalah proses yang dijalani untuk meraih nilai tersebut. Anak yang rajin berusaha, memiliki sikap baik, jujur, bertanggung jawab, dan terus berupaya memperbaiki diri adalah pemenang sejati dalam pendidikan. Karena itulah kami di SMP Labschool Jakarta selalu berusaha menyeimbangkan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter.

Memasuki tahun pelajaran berikutnya, para siswa akan naik ke kelas IX. Masa ini merupakan tahap yang sangat penting karena mereka akan menghadapi berbagai agenda besar seperti School Expo, Career Day, pendalaman materi, Last Run, doa bersama, ujian sekolah, serta Tes Kemampuan Akademik (TKA). Oleh karena itu, persiapan sejak dini menjadi hal yang sangat penting agar mereka mampu menghadapi berbagai tantangan tersebut dengan baik.

Selain agenda akademik, sekolah juga membuka berbagai kesempatan pengembangan diri melalui program internasional seperti AYIMUN 22 di Malaysia yang akan dilaksanakan pada Agustus 2026. Program ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk memperluas wawasan global, mengembangkan kemampuan komunikasi internasional, serta membangun jejaring dengan peserta dari berbagai negara. Kesempatan seperti ini sangat berharga untuk membentuk generasi muda yang berwawasan luas dan siap bersaing di tingkat global.

Peran orang tua tetap menjadi faktor utama dalam keberhasilan pendidikan anak. Karena itu, komunikasi dua arah antara orang tua dan anak perlu terus diperkuat. Orang tua diharapkan aktif mendampingi putra-putrinya dalam merencanakan aktivitas akademik maupun nonakademik, memantau pergaulan mereka, membiasakan kedisiplinan, menanamkan nilai-nilai keagamaan, serta membangun kebiasaan baik di rumah. Kolaborasi antara sekolah dan keluarga merupakan kunci keberhasilan pendidikan yang sesungguhnya.

Pada kesempatan ini, saya juga ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh orang tua siswa kelas 8F. Terima kasih atas kepercayaan, dukungan, kerja sama, serta komunikasi yang terjalin dengan baik selama satu tahun terakhir. Setiap masukan, kritik, dan saran yang diberikan menjadi bahan refleksi bagi kami untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan kepada anak-anak tercinta.

Kepada seluruh siswa kelas 8F Fellavatiqa, saya bangga menjadi bagian dari perjalanan kalian selama satu tahun ini. Terima kasih karena telah menjadi generasi muda yang penuh semangat, kreatif, dan terus berusaha menjadi lebih baik setiap hari. Kalian telah memberikan banyak cerita, pengalaman, dan kenangan indah yang akan selalu menjadi bagian dari perjalanan pendidikan kita bersama. Saya juga memohon maaf apabila selama mendampingi kalian masih terdapat kekurangan dan kesalahan.

Kini semester telah berakhir. Saatnya menikmati masa liburan bersama keluarga tercinta. Gunakan waktu ini untuk beristirahat, mempererat hubungan dengan keluarga, memperkaya pengalaman, dan mempersiapkan diri menghadapi tantangan baru di kelas IX. Tetaplah menjadi pribadi yang rendah hati, rajin belajar, dan berakhlak mulia.

Selamat berlibur, anak-anak Fellavatiqa. Sampai bertemu kembali di kelas IX. Jadilah dirimu sendiri di mana pun berada. Teruslah berprestasi, teruslah menjadi juara, dan teruslah mengukir cerita indah dalam

perjalanan hidup kalian.

Keluarga Adalah Harta yang Paling Berharga

Keluarga adalah Harta Paling Berharga dalam Kehidupan

Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.)

Pagi itu, ketika matahari mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, saya membaca sebuah pesan inspiratif yang begitu menyentuh hati. Pesan sederhana itu berbunyi:

"KELUARGA adalah orang-orang yang menerima Anda apa adanya. KELUARGA adalah orang-orang yang membuat Anda tersenyum dan mencintai apa pun yang terjadi. KELUARGA adalah orang-orang yang menyebut nama kita dalam setiap doanya."

Di bagian akhir pesan itu terdapat sebuah hadis yang sangat indah:

"Sebaik-baiknya kamu adalah yang paling baik dengan keluarganya." (HR. Muslim)

Pesan singkat tersebut membuat saya terdiam sejenak. Pikiran saya melayang kepada orang-orang yang selama ini selalu hadir dalam kehidupan saya. Mereka adalah keluarga yang tak pernah lelah memberikan cinta, dukungan, semangat, dan doa dalam setiap langkah perjalanan hidup saya. Dari sanalah saya semakin yakin bahwa keluarga adalah harta paling berharga yang dimiliki manusia.

Banyak orang mengukur kebahagiaan dari jumlah uang yang dimiliki, luasnya rumah yang dihuni, kendaraan yang dikendarai, atau jabatan yang disandang. Tidak sedikit pula yang menghabiskan sebagian besar hidupnya mengejar kekayaan dan prestise. Semua itu memang penting sebagai sarana menjalani kehidupan. Namun pengalaman hidup mengajarkan kepada saya bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari hal-hal tersebut. Kebahagiaan sejati sering kali hadir dari pelukan hangat keluarga yang menerima kita apa adanya.

Saya pernah mengalami masa-masa sulit dalam kehidupan. Ketika kesehatan menurun, saat tubuh tidak lagi sekuat dulu, dan ketika berbagai tantangan datang silih berganti, keluarga selalu menjadi tempat pertama untuk kembali. Mereka tidak menanyakan berapa banyak uang yang saya miliki. Mereka juga tidak menilai saya dari banyaknya penghargaan yang pernah diraih. Mereka hadir dengan tulus, menemani, menghibur, dan menguatkan hati yang sedang lemah.

Saat saya menjalani perawatan karena sakit, keluarga menjadi sumber energi yang luar biasa. Istri saya dengan sabar mendampingi. Anak-anak memberikan perhatian yang membuat hati terasa hangat. Bahkan cucu kecil saya yang masih polos mampu menghadirkan senyum di tengah rasa sakit yang sedang dirasakan. Pada saat-saat seperti itulah saya menyadari bahwa kesehatan bisa menurun, jabatan bisa berakhir, dan harta bisa berkurang, tetapi kasih sayang keluarga akan selalu menjadi pelabuhan yang menenangkan.

Sebagai seorang guru, penulis, dan blogger, saya sering mendapatkan kesempatan untuk berbagi inspirasi kepada banyak orang. Tidak sedikit yang melihat hasilnya berupa buku-buku yang terbit, artikel yang dibaca ribuan orang, atau undangan menjadi narasumber di berbagai daerah. Namun sesungguhnya di balik semua itu ada keluarga yang selalu mendukung dengan penuh keikhlasan.

Ketika saya menulis hingga larut malam, keluarga memahami. Ketika saya harus berangkat pagi untuk mengajar atau menghadiri kegiatan pendidikan, keluarga mengerti. Ketika saya sibuk menyelesaikan sebuah naskah buku, keluarga memberikan ruang agar saya dapat berkarya dengan tenang. Dukungan seperti itu tidak bisa dinilai dengan uang. Itulah bentuk cinta yang sesungguhnya.

Saya teringat sebuah nasihat yang mengatakan bahwa rumah bukan sekadar bangunan yang memiliki dinding dan atap. Rumah adalah tempat di mana hati merasa diterima. Rumah adalah tempat seseorang bisa menjadi dirinya sendiri tanpa takut dihakimi. Rumah adalah tempat di mana cinta tumbuh dan doa dipanjatkan setiap hari.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat seperti sekarang, banyak orang tanpa sadar menghabiskan waktunya untuk bekerja dan mengejar target. Mereka berangkat sebelum anak-anak bangun dan pulang ketika anak-anak sudah tertidur. Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan momen-momen berharga bersama keluarga. Padahal waktu yang telah berlalu tidak akan pernah bisa dibeli kembali.

Karena itu saya selalu berusaha menyediakan waktu khusus untuk keluarga. Meskipun sederhana, kebersamaan itu sangat berarti. Makan bersama, berbincang santai, berjalan-jalan, atau sekadar duduk bersama sambil menikmati secangkir teh dapat menjadi kenangan yang tak ternilai harganya. Kebahagiaan keluarga sering kali hadir dari hal-hal kecil yang dilakukan dengan penuh cinta.

Saya juga belajar bahwa keluarga bukanlah tempat mencari kesempurnaan. Setiap anggota keluarga memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Ada kalanya terjadi perbedaan pendapat, kesalahpahaman, bahkan konflik kecil. Namun cinta dan komunikasi yang baik akan membantu menyelesaikan semuanya. Keluarga yang bahagia bukanlah keluarga yang tidak pernah memiliki masalah, melainkan keluarga yang mampu menghadapi masalah bersama-sama.

Ketika saya melihat cucu saya tumbuh setiap hari, saya semakin memahami makna kebahagiaan yang sesungguhnya. Melihat senyumnya, mendengar tawanya, dan menyaksikan perkembangan dirinya menjadi hadiah yang sangat berharga. Momen-momen sederhana seperti itu sering kali jauh lebih membahagiakan daripada berbagai pencapaian yang pernah diraih.

Saya percaya bahwa salah satu bentuk investasi terbaik dalam kehidupan adalah investasi kepada keluarga. Bukan hanya investasi materi, tetapi juga investasi waktu, perhatian, kasih sayang, dan doa. Anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan penuh cinta akan memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi masa depan. Pasangan yang saling menghargai akan menciptakan rumah yang penuh ketenangan. Orang tua yang dihormati akan menjadi sumber keberkahan bagi seluruh keluarga.

Hadis Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling baik kepada keluarganya menjadi pengingat bagi kita semua. Jangan sampai kita terlihat baik kepada banyak orang di luar rumah, tetapi lupa menunjukkan kebaikan kepada keluarga sendiri. Jangan sampai kita murah senyum kepada orang lain, tetapi pelit memberikan perhatian kepada orang-orang yang setiap hari hidup bersama kita.

Pagi ini saya kembali bersyukur atas nikmat keluarga yang Allah SWT berikan. Mereka adalah orang-orang yang selalu menerima saya apa adanya. Mereka adalah orang-orang yang tetap mencintai saya dalam keadaan sehat maupun sakit, dalam keadaan berhasil maupun gagal. Mereka adalah orang-orang yang tidak pernah lelah menyebut nama saya dalam setiap doa yang mereka panjatkan.

Marilah kita menjaga keluarga dengan sebaik-baiknya. Luangkan waktu untuk mereka. Dengarkan cerita mereka. Peluk mereka ketika masih ada kesempatan. Ucapkan terima kasih dan maaf sebelum terlambat. Sebab pada akhirnya, ketika usia terus bertambah dan perjalanan hidup semakin panjang, kita akan menyadari bahwa keluarga adalah anugerah terindah yang Allah titipkan kepada kita.

Keluarga adalah tempat pulang. Keluarga adalah sumber kekuatan. Keluarga adalah sekolah pertama kehidupan. Dan keluarga adalah harta paling berharga yang tidak dapat digantikan oleh apa pun di dunia ini.

Salam literasi. Salam keluarga bahagia.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Tetap semangat, tetap bersyukur, dan bahagiakan keluarga tercinta.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Rapat Kerja SMP Labschool Jakarta

INFO DETAIL RAPAT KERJA SMP LABSCHOOL JAKARTA TAHUN AJARAN 2026/2027

Berdasarkan dokumen Jadwal Acara Rapat Kerja SMP Labschool Jakarta Tahun Ajaran 2026/2027, kegiatan Raker dan Upskilling dilaksanakan selama empat hari, mulai tanggal 12 Juni 2026 dan dilanjutkan pada 23–25 Juni 2026. Kegiatan ini dirancang tidak hanya untuk menyusun program kerja sekolah, tetapi juga memperkuat kompetensi guru, membangun budaya kerja kolaboratif, meningkatkan komunikasi tim, serta mempererat kebersamaan seluruh keluarga besar SMP Labschool Jakarta. 

A. RAPAT KERJA

Jumat, 12 Juni 2026

Kegiatan diawali dengan registrasi peserta oleh Tim Tata Usaha pada pukul 06.30–07.30 WIB. Setelah seluruh peserta hadir, acara dibuka dengan sambutan dan arahan dari Kepala SMP Labschool Jakarta, Dr. Yati Suwartini, M.Pd. yang memberikan gambaran umum mengenai arah kebijakan sekolah dan target yang akan dicapai pada tahun ajaran baru. Selanjutnya, pembukaan resmi dilakukan oleh Kepala BPS Labschool UNJ, Prof. Dr. Totok Bintoro, M.Pd., sebagai bentuk dukungan institusi terhadap pengembangan mutu pendidikan di lingkungan Labschool. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Pak Humaedi sebagai bentuk ikhtiar spiritual agar seluruh agenda raker berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik bagi sekolah. 

Materi utama pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Totok Bintoro, M.Pd. dengan tema:

"Meneguhkan Peran Guru Labschool dalam Ekosistem Pembelajaran."

Materi ini diperkirakan menekankan pentingnya guru sebagai agen perubahan yang mampu menghadirkan pembelajaran berkualitas, adaptif terhadap perkembangan teknologi, serta mampu membangun karakter peserta didik sesuai nilai-nilai Labschool. 

Setelah coffee break, sesi kedua diisi oleh Kepala SMP Labschool Jakarta, Dr. Yati Suwartini, M.Pd., yang membahas arah kepemimpinan sekolah, target akademik, penguatan budaya sekolah, serta strategi menghadapi tantangan pendidikan di era digital. 

Pada siang hari peserta melaksanakan Isama (Istirahat, Salat, dan Makan), kemudian dilanjutkan dengan:

Upskilling 1

"STEAM It Up! Seni Mengajar yang Menggerakkan, Bukan Sekadar Menyampaikan."

Sesi ini bertujuan memperkaya kemampuan guru dalam menerapkan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics) sehingga pembelajaran menjadi lebih kreatif, bermakna, dan berpusat pada peserta didik. 

---

B. UPSKILLING DAN PENGUATAN PROGRAM SEKOLAH

Selasa, 23 Juni 2026

Hari kedua diawali dengan pengondisian peserta oleh Pak Humaedi, dilanjutkan arahan Kepala Sekolah dan doa bersama. 

Materi pertama membahas:

Sosialisasi IKU, Sekolah Aman dan Nyaman, serta Sarana Prasarana

Materi ini disampaikan oleh unsur pimpinan sekolah dan wakil kepala sekolah. Fokus pembahasan mencakup:

Indikator Kinerja Utama (IKU) sekolah.

Program peningkatan mutu layanan pendidikan.

Penguatan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak.

Optimalisasi sarana dan prasarana pembelajaran. 

Setelah coffee break, peserta mengikuti:

Upskilling 2

"Penerapan Pendekatan TPACK Membuat Media Interaktif Berbasis Digital"

Narasumber: Syahidah Humairoh, S.Pd.

Materi ini sangat relevan dengan kebutuhan guru abad ke-21 karena mengintegrasikan:

Teknologi (Technology)

Pedagogi (Pedagogy)

Konten Pembelajaran (Content Knowledge)

Guru diharapkan mampu membuat media pembelajaran digital yang menarik, interaktif, dan efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dalam belajar. 

Pada sore hari peserta menuju lokasi kegiatan luar ruang dan mengikuti agenda reflektif:

Menulis Surat Cinta untuk Labschool

Dalam kegiatan ini seluruh peserta diminta menuliskan:

Kekhawatiran terhadap masa depan SMP Labschool Jakarta.

Harapan dan impian bagi perkembangan sekolah.

Kegiatan ini menjadi sarana refleksi dan partisipasi seluruh guru serta tenaga kependidikan dalam membangun sekolah secara bersama-sama. 

Malam harinya dilaksanakan:

Labs Talent

Ajang ini menjadi wadah bagi guru dan karyawan untuk menampilkan bakat terbaik mereka dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan. 

---

C. TEAM BUILDING DAN PENGUATAN KARAKTER TIM

Rabu, 24 Juni 2026

Hari ketiga diawali dengan salat subuh berjamaah, sarapan bersama, dan persiapan kegiatan. 

Kegiatan utama pagi hari adalah:

Upskilling

Effective Communication & Growth Mindset

Narasumber: Kevin Kautsar

Materi ini bertujuan membangun:

Pola pikir bertumbuh (growth mindset).

Komunikasi efektif antar guru dan tenaga kependidikan.

Kemampuan menghadapi perubahan dan tantangan secara positif. 

Setelah itu peserta mengikuti berbagai aktivitas yang dikelola oleh EO Team Building, antara lain:

1. Opening Activity.

2. Smart Competition.

3. Fun Team Building Games 1.

4. Fun Team Building Games 2.

5. Creativity Competition.

6. Final Project Team Building.

7. General Review. 

Rangkaian kegiatan ini dirancang untuk:

Meningkatkan kekompakan tim.

Melatih kepemimpinan.

Memperkuat kerja sama lintas bidang.

Menumbuhkan rasa saling percaya antar anggota tim sekolah. 

Malam hari dilaksanakan:

Awarding Night

Acara penghargaan yang meliputi:

Penampilan terbaik Labs Talent.

Tukar kado.

Hiburan musik.

Pemberian penghargaan dan apresiasi kepada peserta. 

---

D. PENUTUP DAN KICK OFF TAHUN AJARAN BARU

Kamis, 25 Juni 2026

Hari terakhir diawali dengan:

Salat subuh berjamaah.

Senam sehat bersama guru olahraga.

Bersih-bersih lingkungan.

Sarapan bersama. 

Kemudian dilakukan:

Pembagian Tugas dan Koordinator Tim

Sesi ini sangat penting karena menjadi tahap final penyusunan struktur kerja dan pembagian tanggung jawab seluruh program sekolah pada tahun ajaran 2026/2027. 

Setelah itu dilaksanakan:

Kick Off Tahun Ajaran 2026/2027

Kick Off menjadi momentum resmi dimulainya persiapan operasional sekolah untuk memasuki tahun ajaran baru dengan semangat, visi, dan komitmen yang sama. 

---

CATATAN PENTING

Beberapa ketentuan tambahan yang tercantum dalam dokumen antara lain:

Surat cinta untuk Labschool berisi kekhawatiran dan harapan terhadap SMP Labschool Jakarta.

Perlengkapan yang disiapkan berupa kertas A4 warna-warni, solatip putih, pulpen, dan snack untuk kalung.

Penghargaan Labs Talent berupa sertifikat ukuran A3, bingkai, piala bergilir, dan kalung snack.

Dress code malam Awarding Night menggunakan tema sesuai MGMP masing-masing.

Pada tanggal 24 Juni peserta mengenakan Last Run Navy Angkatan 31 atau pakaian berwarna navy. 

Kesimpulan

Rapat Kerja SMP Labschool Jakarta Tahun Ajaran 2026/2027 tidak hanya berfokus pada penyusunan program sekolah, tetapi juga menekankan peningkatan kompetensi guru melalui STEAM dan TPACK, penguatan budaya sekolah, pembangunan karakter tim melalui team building, serta refleksi bersama melalui kegiatan "Surat Cinta untuk Labschool". Seluruh rangkaian kegiatan menunjukkan komitmen SMP Labschool Jakarta untuk terus menjadi sekolah unggul yang mengedepankan profesionalisme, kolaborasi, inovasi, dan semangat kekeluargaan. 

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 22 Juni 2026

Dasar-Dasar Pendidikan Karya Mohammad Sjafei: Warisan Pemikiran Pendidikan dari INS Kayu Tanam

Dasar-Dasar Pendidikan Karya Mohammad Sjafei: Warisan Pemikiran Pendidikan dari INS Kayu Tanam

Image

Image

Image

Image

Nama Mohammad Sjafei merupakan salah satu tokoh pendidikan nasional yang memiliki pemikiran sangat maju pada masanya. Beliau dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Indonesische Nederlandsche School (INS) Kayu Tanam yang berdiri pada tahun 1926 di Kayu Tanam, Sumatera Barat. Sekolah ini lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang lebih banyak mencetak pegawai daripada manusia merdeka dan kreatif. (Wikipedia)

Dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan, Mohammad Sjafei mengemukakan gagasan bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berpikir merdeka, memiliki keterampilan hidup, berakhlak baik, serta mampu mengabdi kepada masyarakat. Pemikiran tersebut kemudian menjadi landasan utama penyelenggaraan pendidikan di INS Kayu Tanam.

Pendidikan untuk Kemerdekaan Berpikir

Menurut Mohammad Sjafei, tujuan pendidikan bukan sekadar mengisi otak peserta didik dengan berbagai pengetahuan. Pendidikan harus membebaskan manusia dari ketergantungan berpikir. Murid harus dilatih untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah secara mandiri.

Beliau menolak sistem pendidikan yang hanya menuntut hafalan. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan pembimbing yang membantu peserta didik mengembangkan potensinya. Pemikiran ini jauh mendahului konsep pembelajaran aktif yang saat ini dikenal sebagai student centered learning.

Pendidikan Harus Dekat dengan Kehidupan

Salah satu prinsip penting yang diajarkan Mohammad Sjafei adalah pendidikan harus berhubungan langsung dengan kehidupan nyata. Apa yang dipelajari di sekolah harus dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, di INS Kayu Tanam para siswa tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga belajar bertani, berkebun, membuat kerajinan, menggambar, musik, percetakan, hingga berbagai keterampilan teknis lainnya. Pendidikan tidak boleh menghasilkan manusia yang hanya pandai berbicara, tetapi tidak mampu bekerja.

Keseimbangan antara Otak, Hati, dan Tangan

Mohammad Sjafei percaya bahwa pendidikan yang baik harus mengembangkan tiga unsur utama manusia:

  1. Otak (cipta) untuk berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

  2. Hati (rasa) untuk membangun karakter dan moral.

  3. Tangan (karya) untuk menghasilkan keterampilan dan produktivitas.

Konsep ini kemudian menjadi ciri khas INS Kayu Tanam. Para siswa didorong menjadi manusia yang cerdas, berbudi pekerti, dan terampil bekerja. Pendidikan karakter tidak diajarkan melalui ceramah semata, tetapi melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Pendidikan Kemandirian

Di INS Kayu Tanam, siswa dibiasakan hidup mandiri. Mereka ikut menjaga kebersihan sekolah, mengelola berbagai kegiatan, bahkan terlibat dalam produksi barang yang dapat digunakan atau dijual.

Menurut Mohammad Sjafei, sekolah harus menjadi tempat latihan kehidupan. Jika sejak sekolah murid sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab, maka ketika dewasa mereka akan mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Pendidikan Nasional yang Berakar pada Budaya Bangsa

Mohammad Sjafei sangat menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ia mengkritik pendidikan kolonial yang terlalu berorientasi Barat dan kurang memperhatikan budaya lokal.

Di INS Kayu Tanam, nilai-nilai budaya Minangkabau, semangat gotong royong, kerja keras, dan kecintaan terhadap tanah air menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia Indonesia yang bangga terhadap bangsanya sendiri.

Guru sebagai Teladan

Dalam pandangan Mohammad Sjafei, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru harus menjadi contoh dalam sikap, perilaku, disiplin, dan semangat belajar.

Murid akan lebih mudah meniru tindakan guru daripada mendengarkan nasihatnya. Oleh sebab itu, seorang pendidik harus terus belajar dan mengembangkan diri sepanjang hayat.

Relevansi Pemikiran Mohammad Sjafei di Era Modern

Meskipun gagasan Mohammad Sjafei lahir hampir satu abad yang lalu, pemikirannya masih sangat relevan hingga saat ini. Ketika dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan revolusi digital dan kecerdasan buatan (AI), prinsip-prinsip yang beliau ajarkan justru semakin penting.

Pendidikan masa kini tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal ujian. Pendidikan harus membentuk generasi yang kreatif, kritis, mandiri, mampu bekerja sama, serta memiliki karakter yang kuat. Semua nilai tersebut telah diterapkan Mohammad Sjafei melalui INS Kayu Tanam sejak tahun 1926.

Kesimpulan

Buku Dasar-Dasar Pendidikan karya Mohammad Sjafei merupakan warisan pemikiran pendidikan Indonesia yang sangat berharga. Melalui INS Kayu Tanam, beliau menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang memerdekakan manusia, mengembangkan kecerdasan, membentuk karakter, serta melatih keterampilan hidup.

Filosofi pendidikan Mohammad Sjafei dapat diringkas dalam satu gagasan besar: sekolah harus menyiapkan manusia untuk hidup, bukan sekadar untuk lulus ujian. Pemikiran inilah yang menjadikan beliau dikenang sebagai salah satu pelopor pendidikan nasional yang berhasil membangun model pendidikan berbasis kemandirian, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat. (Wikipedia)

Kronologis Dugaan Pembegalan Organisasi pgri

Kronologis Dugaan Pembegalan Organisasi PGRI: Memahami Perjalanan Konflik dan Putusan Hukum yang Berkembang

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi profesi guru terbesar dan tertua di Indonesia yang selama puluhan tahun menjadi wadah perjuangan para pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, PGRI menghadapi dinamika organisasi yang cukup kompleks akibat munculnya kelompok yang mengklaim kepengurusan organisasi di luar struktur resmi yang telah ditetapkan melalui mekanisme organisasi dan pengesahan pemerintah.

Infografis berjudul “Kronologis Pembegal Organisasi PGRI” memuat rangkaian peristiwa sejak tahun 2023 hingga tahun 2026 yang menggambarkan berbagai langkah yang dilakukan oleh kelompok tertentu serta proses hukum yang menyertainya. Berikut penjelasan lengkap dari kronologi tersebut.

1. Februari 2023: Munculnya Provokasi Percepatan Kongres

Menurut informasi pada infografis, pada Februari 2023 terdapat upaya provokasi terhadap pengurus PGRI tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk mempercepat pelaksanaan Kongres PGRI XXIII.

Kongres merupakan forum tertinggi organisasi yang memiliki aturan dan mekanisme tersendiri sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PGRI. Oleh karena itu, setiap upaya percepatan kongres harus mengikuti prosedur organisasi yang berlaku.

Peristiwa ini disebut sebagai awal munculnya gerakan yang kemudian berkembang menjadi konflik organisasi yang lebih luas.

2. Tanggal 3–4 November 2023: Pelaksanaan KLB

Pada tanggal 3–4 November 2023, kelompok tersebut menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB).

Dalam infografis disebutkan bahwa KLB hanya dihadiri oleh enam pengurus PGRI provinsi dan beberapa pengurus kabupaten/kota. Namun penyelenggara mengklaim mendapat dukungan dari delapan belas pengurus provinsi.

Pihak yang menolak KLB menilai pelaksanaan tersebut tidak memenuhi ketentuan AD/ART PGRI sehingga legalitasnya dipersoalkan.

Perbedaan pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber utama konflik organisasi.

3. Tanggal 13 November 2023: Terbitnya SK AHU Baru

Pada tanggal 13 November 2023 terjadi perubahan penting terkait administrasi organisasi.

Kelompok penyelenggara KLB memperoleh Surat Keputusan Administrasi Hukum Umum (SK AHU) dengan nomor AHU-0001568.AH.01.08 Tahun 2023 yang menggantikan SK sebelumnya.

Dalam infografis, peristiwa ini digambarkan sebagai tindakan “merampas” SK AHU yang selama ini menjadi dasar legalitas kepengurusan organisasi.

Terbitnya SK AHU tersebut kemudian menjadi objek sengketa dalam berbagai proses hukum berikutnya.

4. Tanggal 16 November 2023: Upaya Menduduki Gedung Guru

Beberapa hari setelah terbitnya SK AHU baru, muncul upaya untuk menduduki Gedung Guru Indonesia di kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Namun menurut informasi dalam infografis, upaya tersebut gagal dilakukan.

Gedung Guru Indonesia sendiri merupakan salah satu simbol penting organisasi karena menjadi pusat aktivitas PGRI tingkat nasional.

5. Gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Kelompok yang disebut dalam infografis sebagai “pembegal” kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 653/Pdt.G/2023/PN Jkt.Pst.

Hasil persidangan menunjukkan gugatan tersebut dinyatakan kalah.

Putusan ini menjadi salah satu dasar yang digunakan pihak kepengurusan resmi untuk menegaskan bahwa klaim kelompok tersebut tidak memperoleh dukungan hukum yang cukup kuat.

6. Gugatan Perkara Nomor 744/Pdt.G/2023

Selain perkara sebelumnya, kelompok yang sama kembali mengajukan gugatan dengan nomor 744/Pdt.G/2023/PN Jkt.Pst.

Dalam infografis dijelaskan bahwa gugatan tersebut kembali dinyatakan kalah oleh pengadilan.

Kekalahan berulang ini menunjukkan bahwa jalur perdata yang ditempuh belum berhasil mengubah status hukum yang dipersengketakan.

7. Pembentukan Pengurus PGRI Versi Lain

Setelah berbagai gugatan dilakukan, kelompok tersebut disebut nekat membentuk kepengurusan PGRI versi mereka di sejumlah wilayah.

Wilayah yang disebut dalam infografis antara lain:

  • Kalimantan Tengah
  • Sumatera Selatan
  • Jawa Timur
  • Banten

Langkah ini dinilai memperluas konflik hingga ke daerah-daerah dan berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan anggota PGRI.

8. Laporan ke Bareskrim Polri

Konflik tidak hanya berlangsung di ranah organisasi dan perdata, tetapi juga memasuki ranah pidana.

PB PGRI yang sah disebut telah melaporkan kasus tersebut ke Bareskrim Polri dengan nomor laporan STTL/430/XI/2023/BARESKRIM.

Dalam infografis disebutkan pula bahwa telah diterbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) Nomor B/195/III/RES.1.11./2025/Dittipidum.

Disebutkan bahwa Teguh Sumarno dan beberapa pihak lainnya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemalsuan surat dan penipuan dengan mengaku sebagai Ketua Umum PB PGRI.

Kasus pidana ini menjadi salah satu perkembangan paling serius dalam konflik yang terjadi.

9. Gugatan PTUN dan Kekalahan Telak

Selanjutnya diajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta dengan nomor perkara 659/G/2023/PTUN.JKT.

Gugatan tersebut berkaitan dengan keputusan administrasi yang menjadi dasar legalitas kepengurusan.

Dalam infografis dijelaskan bahwa gugatan tersebut dinyatakan kalah telak dan kemudian dikuatkan melalui Putusan Peninjauan Kembali Nomor 32/PK/TUN/2026.

Putusan PK merupakan upaya hukum luar biasa yang biasanya menjadi tahap akhir dalam sengketa tata usaha negara.

10. Gugatan Tindakan Faktual Pemerintah

Kelompok tersebut juga mengajukan gugatan tindakan faktual pemerintah ke PTUN Jakarta dengan nomor 337/G/TF/2025/PTUN.JKT.

Namun hasilnya kembali tidak sesuai harapan karena gugatan tersebut dinyatakan kalah.

Putusan ini semakin memperkuat posisi pihak yang selama ini mengklaim sebagai kepengurusan sah PGRI.

11. Proses Banding

Infografis menjelaskan bahwa terdapat putusan banding dengan nomor 66/B/TF/2026/PT.TUN.JKT.

Namun putusan tersebut disebut belum berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Artinya, masih terdapat kemungkinan adanya upaya hukum lanjutan sehingga status hukumnya belum final.

12. Kasasi oleh Menteri Hukum dan PB PGRI

Tahap berikutnya adalah pengajuan kasasi.

Dalam infografis disebutkan bahwa Menteri Hukum bersama PB PGRI yang sah mengajukan kasasi terhadap putusan tersebut.

Kasasi merupakan mekanisme hukum yang diajukan ke Mahkamah Agung untuk menguji penerapan hukum oleh pengadilan di bawahnya.

Hasil kasasi ini nantinya akan menjadi salah satu penentu arah penyelesaian sengketa yang masih berlangsung.

13. SK AHU Tahun 2023 Dinyatakan Tidak Berlaku

Poin terakhir dalam infografis menjelaskan bahwa dengan terbitnya SK AHU Nomor AHU-0001597.AH.01.08 Tahun 2023 tanggal 20 November 2023 serta adanya Putusan Kasasi Nomor 333 K/TUN/2025 yang diperkuat Putusan Peninjauan Kembali Nomor 32/PK/TUN/2026, maka SK AHU Nomor AHU-0001568.AH.01.08 Tahun 2023 tanggal 13 November 2023 dinyatakan tidak berlaku.

Kesimpulan ini digunakan sebagai dasar bahwa kepengurusan PB PGRI yang dipimpin Prof. Dr. Unifah Rosyidi tetap memiliki legitimasi organisasi dan hukum.

Penutup

Kronologi dalam infografis ini menunjukkan bahwa konflik internal PGRI telah berlangsung cukup panjang dan melibatkan berbagai jalur penyelesaian, mulai dari mekanisme organisasi, gugatan perdata, sengketa tata usaha negara, hingga proses pidana. Berbagai putusan pengadilan yang disebutkan dalam infografis digunakan oleh pihak PB PGRI untuk menegaskan legalitas kepengurusan yang sah dan memberikan kepastian kepada anggota di seluruh Indonesia.

Bagi para guru dan pengurus PGRI di daerah, hal terpenting adalah tetap menjaga persatuan organisasi, menghormati proses hukum yang berlaku, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. PGRI dibangun oleh semangat perjuangan guru Indonesia, sehingga penyelesaian setiap persoalan hendaknya dilakukan melalui jalur organisasi dan hukum yang bermartabat demi menjaga marwah organisasi serta memperkuat peran PGRI dalam memajukan pendidikan Indonesia.

Satu Guru, Satu Hati, Bela Organisasi. PGRI Kuat, Guru Hebat, Indonesia Bermartabat.