Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 30 Juli 2026

komunikasi yang nyaman dengan cara menjadi pendengar yang aktif

Kisah Omjay: Strategi Mendengar Aktif untuk Menciptakan Komunikasi yang Nyaman
Blog https://wijayalabs.com/about

Dalam perjalanan hidup sebagai guru selama lebih dari tiga dekade, saya belajar bahwa kemampuan mengajar yang baik tidak hanya ditentukan oleh seberapa luas pengetahuan yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan mendengarkan. Banyak orang menganggap komunikasi yang efektif ditentukan oleh kepandaian berbicara. Padahal, pengalaman mengajarkan kepada saya bahwa komunikasi yang nyaman justru lahir ketika seseorang mampu mendengar dengan sepenuh hati. Itulah pelajaran berharga yang terus saya pegang hingga hari ini sebagai pendidik, penulis, narasumber, sekaligus pembelajar sepanjang hayat.

Pada masa-masa awal menjadi guru, saya sering bersemangat menjelaskan materi di depan kelas. Saya ingin seluruh siswa memahami apa yang saya sampaikan sehingga hampir seluruh waktu pembelajaran dipenuhi penjelasan dari saya. Setelah beberapa tahun mengajar, saya mulai menyadari bahwa tidak semua peserta didik membutuhkan guru yang banyak berbicara. Mereka lebih membutuhkan sosok yang bersedia mendengarkan pertanyaan, kebingungan, bahkan keluh kesah yang sering kali tidak sempat mereka ungkapkan. Sejak saat itulah saya mulai mengubah cara berkomunikasi di kelas.

Saya membiasakan diri memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan pendapat tanpa takut disalahkan. Ketika seorang anak berbicara, saya berusaha menghentikan aktivitas lain, memandang wajahnya, memperhatikan bahasa tubuhnya, kemudian mencoba memahami isi pesannya sebelum memberikan tanggapan. Ternyata perubahan sederhana tersebut membawa dampak yang luar biasa. Suasana kelas menjadi lebih hangat, siswa lebih percaya diri menyampaikan ide, dan proses belajar berlangsung dengan penuh rasa saling menghargai.

Pengalaman serupa juga saya rasakan ketika aktif di berbagai organisasi profesi guru. Dalam sebuah rapat atau diskusi, sering kali muncul perbedaan pandangan yang cukup tajam. Dahulu saya cenderung ingin segera memberikan solusi. Namun seiring bertambahnya pengalaman, saya memahami bahwa seseorang tidak selalu membutuhkan jawaban cepat. Banyak orang sebenarnya hanya ingin didengar. Ketika mereka merasa dihargai, suasana diskusi menjadi lebih tenang dan jalan keluar lebih mudah ditemukan. Mendengar aktif ternyata mampu meredakan ketegangan sebelum konflik berkembang menjadi lebih besar.

Strategi mendengar aktif bukan sekadar diam saat orang lain berbicara. Mendengar aktif berarti hadir sepenuhnya dalam percakapan. Pikiran tidak sibuk menyusun bantahan atau mencari alasan untuk memotong pembicaraan. Sebaliknya, perhatian diarahkan sepenuhnya kepada lawan bicara sehingga ia merasakan bahwa setiap kata yang disampaikan memiliki nilai. Kehadiran seperti inilah yang menciptakan rasa aman dalam berkomunikasi.

Dalam berbagai pelatihan menulis yang saya dampingi, saya juga menemukan hubungan yang sangat erat antara kemampuan mendengar dan kemampuan menulis. Penulis yang baik biasanya merupakan pendengar yang baik. Ia mampu menangkap cerita, memahami emosi, mengamati sudut pandang orang lain, lalu mengolah semuanya menjadi tulisan yang menyentuh hati pembaca. Karena itulah saya selalu mengajak para peserta untuk lebih banyak mendengarkan pengalaman orang lain sebelum mulai menulis. Setiap manusia menyimpan kisah yang layak dipelajari, asalkan kita bersedia membuka telinga dan hati.

Saya teringat ketika mengikuti program pendidikan di Tiongkok bersama puluhan guru dari berbagai daerah di Indonesia. Selama berada di sana, saya bertemu dengan banyak pendidik yang memiliki latar belakang berbeda. Daripada sibuk menceritakan pengalaman sendiri, saya memilih mendengarkan kisah mereka. Dari percakapan itulah saya memperoleh begitu banyak inspirasi tentang inovasi pembelajaran, budaya belajar, serta semangat para guru dalam menghadapi tantangan pendidikan. Pengalaman tersebut kemudian saya abadikan dalam berbagai tulisan di blog sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak orang.

Mendengar aktif juga menjadi bekal penting dalam kehidupan keluarga. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan nasihat panjang. Terkadang pasangan, anak, atau sahabat hanya membutuhkan seseorang yang bersedia menemani dan mendengarkan tanpa menghakimi. Ketika kita memberi ruang kepada mereka untuk menyampaikan isi hati, hubungan menjadi lebih erat karena komunikasi dibangun di atas rasa saling percaya.

Di era digital saat ini, tantangan untuk menjadi pendengar yang baik semakin besar. Gawai sering mengalihkan perhatian saat seseorang sedang berbicara. Tidak sedikit orang yang lebih sibuk melihat layar telepon daripada menatap lawan bicaranya. Akibatnya, komunikasi kehilangan kehangatan. Saya berusaha membiasakan diri menyimpan telepon genggam ketika sedang berdiskusi, memberikan kontak mata yang tulus, serta menunjukkan perhatian melalui anggukan atau pertanyaan lanjutan. Kebiasaan sederhana tersebut membuat orang merasa dihormati dan dihargai.

Sebagai guru, saya semakin yakin bahwa mendengar aktif merupakan bagian penting dari pendidikan karakter. Peserta didik akan belajar menghargai orang lain ketika mereka melihat gurunya memberikan teladan. Sikap saling mendengarkan melahirkan budaya dialog, mengurangi prasangka, serta menumbuhkan empati yang sangat dibutuhkan dalam kehidupan bermasyarakat. Sekolah bukan hanya tempat mentransfer ilmu, melainkan ruang untuk membangun manusia yang mampu berkomunikasi dengan santun dan penuh kepedulian.

Pengalaman hidup mengajarkan bahwa setiap orang ingin dimengerti sebelum diberi nasihat. Oleh sebab itu, saya selalu mengingatkan diri sendiri untuk lebih banyak mendengar daripada berbicara. Semakin banyak mendengarkan, semakin luas wawasan yang diperoleh. Semakin dalam memahami orang lain, semakin mudah membangun hubungan yang harmonis. Komunikasi yang nyaman bukan lahir dari kata-kata yang indah, melainkan dari kesediaan menghadirkan perhatian yang tulus kepada siapa pun yang sedang berbicara.

Akhirnya saya memahami bahwa telinga yang mau mendengar sering kali lebih berharga daripada mulut yang pandai berbicara. Ketika kita belajar menjadi pendengar yang aktif, kita bukan hanya mempererat hubungan dengan orang lain, tetapi juga memperkaya diri dengan berbagai pelajaran kehidupan. Itulah strategi sederhana yang terus saya praktikkan sebagai Omjay: mendengar dengan hati, memahami dengan empati, lalu berbicara dengan penuh kebijaksanaan. Dari situlah komunikasi yang nyaman akan tumbuh, kepercayaan akan menguat, dan setiap perjumpaan menjadi kesempatan untuk saling menginspirasi.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Bukan Menjadi Guru Sempurna

Hari Ini Bukan Tentang Menjadi Guru Sempurna

Oleh: Omjay

Menjadi guru bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling hebat atau paling sempurna. Seorang guru tidak diukur dari seberapa sedikit ia melakukan kesalahan, tetapi dari seberapa besar kemauannya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi guru yang lebih baik daripada hari kemarin.

Kalimat inspiratif dalam gambar tersebut mengingatkan kita bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utama seorang pendidik. Yang jauh lebih penting adalah proses perubahan yang dilakukan secara konsisten. Guru yang hebat adalah guru yang selalu mengevaluasi dirinya setelah pembelajaran selesai. Ia bertanya, "Apakah murid saya sudah memahami pelajaran? Apakah cara saya mengajar sudah membuat mereka senang belajar? Apa yang harus saya perbaiki pada pertemuan berikutnya?" Refleksi seperti inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan profesional seorang guru.

Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, guru juga harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Teknologi berkembang begitu cepat, karakter peserta didik berubah, dan tantangan pembelajaran semakin kompleks. Jika guru berhenti belajar, maka pembelajaran di kelas akan tertinggal. Sebaliknya, guru yang terus membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan, menulis, dan berbagi pengalaman akan selalu menemukan cara baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.

Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mungkin hari ini kita belajar lebih sabar mendengarkan pendapat peserta didik. Besok kita mencoba metode pembelajaran yang lebih menarik. Lusa kita mulai membiasakan diri memberikan umpan balik yang membangun. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, jika dilakukan secara konsisten, akan melahirkan perubahan besar dalam kualitas pembelajaran. Refleksi yang dilakukan secara rutin terbukti membantu guru mengambil keputusan yang lebih baik dan meningkatkan kualitas mengajarnya.

Hadis Rasulullah SAW yang tertulis pada gambar tersebut juga memberikan motivasi luar biasa, "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Bagi seorang guru, mencari ilmu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menyebarkan manfaat kepada peserta didik. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Pada akhirnya, marilah kita tidak membandingkan diri dengan guru lain. Bandingkanlah diri kita dengan diri kita sendiri kemarin. Jika hari ini kita lebih sabar, lebih kreatif, lebih peduli kepada peserta didik, dan lebih semangat belajar daripada kemarin, berarti kita telah bertumbuh menjadi guru yang lebih baik.

Pertanyaan refleksi hari ini:

"Kebiasaan kecil apa yang akan saya ubah mulai besok agar menjadi guru yang lebih baik daripada hari ini?"

Karena guru hebat bukanlah guru yang sempurna, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar, bertumbuh, dan menginspirasi. Sebab, ketika guru terus bertumbuh, murid akan berkembang, sekolah akan maju, dan bangsa pun akan menjadi lebih kuat.

Ketika Omjay Dicela

Ketika Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya

Inspirasi Pagi
Kamis, 30 Juli 2026

"Jika orang berkata buruk tentangmu tidak usah galau. Karena sebenarnya mereka tidak berbicara tentang engkau. Mereka sedang memperlihatkan watak mereka sendiri."

Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan. Ada yang memberikan apresiasi dengan tulus, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan kritik yang menyakitkan, bahkan menilai tanpa mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dulu, setiap kali mendengar ucapan yang merendahkan, hati saya mudah terluka. Pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa masih ada orang yang memilih menjatuhkan sesamanya. Namun, semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa tidak semua perkataan buruk pantas disimpan dalam hati. Sebagian cukup dijadikan pelajaran agar kita semakin kuat menjalani kehidupan.

Sebagai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sekaligus penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan kepada masyarakat, saya merasakan betul bahwa berkarya selalu mengundang beragam tanggapan. Ada pembaca yang memperoleh manfaat lalu mengirimkan doa, ucapan terima kasih, bahkan menjadikan tulisan saya sebagai penyemangat hidup. Sebaliknya, ada pula yang memberikan komentar sinis, mengejek, atau meragukan kemampuan saya. Pada awalnya saya mencoba menjawab satu per satu, tetapi akhirnya saya memahami bahwa energi akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melahirkan karya berikutnya daripada melayani perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.

Saya teringat sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali, "Saat satu jarimu menuduh buruk orang lain, maka empat jarimu sedang menuduh buruk pada dirimu." Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan isi hatinya sendiri. Cara seseorang berbicara sering kali menjadi cermin karakter yang dimilikinya. Oleh sebab itu, saya belajar untuk tidak tergesa-gesa membalas perkataan yang menyakitkan. Diam yang penuh kesabaran sering kali lebih bermakna daripada jawaban panjang yang hanya memperkeruh suasana.

Pengalaman hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian membawa pelajaran berharga. Ketika saya mengalami berbagai cobaan, mulai dari masalah kesehatan hingga tantangan dalam perjalanan karier, banyak orang yang memberikan dukungan sehingga saya mampu bangkit kembali. Akan tetapi, ada juga yang memandang sinis dan menganggap saya tidak akan mampu melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya. Kenyataannya, justru dari keterbatasan itulah saya semakin terdorong untuk terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi. Saya ingin membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh komentar orang lain, melainkan oleh ketekunan dalam memperbaiki diri setiap hari.

Menulis telah menjadi sahabat terbaik dalam perjalanan hidup saya. Melalui tulisan, saya menuangkan pengalaman, kegagalan, harapan, dan rasa syukur agar dapat menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Saya percaya bahwa karya akan berbicara lebih lantang daripada perdebatan. Orang boleh saja meragukan kemampuan kita, tetapi waktu akan menunjukkan siapa yang tetap konsisten menebarkan manfaat. Ketika niat kita lurus untuk berbagi ilmu dan menginspirasi sesama, setiap langkah akan menemukan jalannya sendiri.

Karena itulah, saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan memikirkan penilaian yang tidak membangun. Saya memilih memaafkan, mendoakan, lalu melanjutkan pekerjaan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Sikap tersebut bukan berarti lemah, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi kehidupan. Semakin kita sibuk memperbaiki diri, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memikirkan keburukan orang lain.

Semoga setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi sumber kebaikan, bukan penyebab luka bagi sesama. Marilah menjadikan lisan sebagai sarana menyebarkan harapan, semangat, dan kasih sayang. Apabila suatu hari kita menjadi sasaran cibiran, jangan biarkan hati dipenuhi kebencian. Tetaplah melangkah dengan kepala tegak, hati yang ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap niat baik yang kita perjuangkan. Pada akhirnya, bukan penilaian manusia yang menentukan nilai hidup kita, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil kita tinggalkan untuk orang lain.

Salam literasi. Salam inspirasi.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Rabu, 29 Juli 2026

Pengalaman Belajar di China tahun 2019

Belajar di Negeri Tirai Bambu: Kisah Omjay Menimba Ilmu di China Bersama 52 Guru Indonesia

"Perjalanan sejauh ribuan kilometer akan menjadi lebih bermakna ketika setiap langkahnya diabadikan dalam tulisan."

Tahun 2019 menjadi salah satu bab terindah dalam perjalanan hidup saya sebagai guru. Saya mendapatkan kesempatan berharga mengikuti Program Pelatihan Guru dan Kepala Sekolah Berprestasi Kementerian Pendidikan Republik Indonesia di China University of Mining and Technology (CUMT), Xuzhou, Tiongkok. Bersama 52 guru dan kepala sekolah terbaik dari seluruh Indonesia, saya belajar, berdiskusi, dan menyaksikan secara langsung bagaimana dunia pendidikan di China berkembang begitu pesat. 

Foto bersama yang kami abadikan di depan kampus CUMT menjadi saksi bahwa mimpi seorang guru Indonesia dapat mengantarkannya menembus batas negara. Kami datang dari berbagai provinsi, latar belakang, dan jenjang pendidikan, tetapi memiliki tujuan yang sama, yaitu pulang membawa ilmu untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Selama 21 hari berada di China, saya tidak ingin pengalaman berharga itu hanya menjadi kenangan di dalam ingatan. Setiap malam, setelah seluruh kegiatan selesai, saya membuka laptop atau menulis melalui telepon genggam. Saya menuliskan apa yang saya lihat, dengar, rasakan, dan pelajari. Tulisan-tulisan itu kemudian saya publikasikan di blog pribadi wijayalabs.com dan di Kompasiana agar para guru di Indonesia dapat ikut belajar dari pengalaman kami. 

Banyak pelajaran yang saya peroleh selama berada di Negeri Tirai Bambu. Saya melihat bagaimana teknologi benar-benar menjadi bagian dari proses pembelajaran. Guru-guru memanfaatkan multimedia secara maksimal, siswa aktif bertanya, berdiskusi, dan mengerjakan proyek. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, melainkan pada aktivitas peserta didik. Saya juga berkesempatan mengunjungi sekolah-sekolah, laboratorium robotika, pusat inovasi, hingga tempat pengembangan teknologi yang membuka wawasan baru tentang pentingnya pendidikan STEM dan literasi digital. 

Yang paling mengesankan bukan hanya gedung-gedung modern atau kecanggihan teknologinya, tetapi budaya belajar masyarakatnya. Disiplin, menghargai waktu, bekerja keras, dan semangat belajar sepanjang hayat benar-benar terasa dalam kehidupan sehari-hari. Saya semakin yakin bahwa kemajuan sebuah bangsa selalu dimulai dari pendidikan yang berkualitas.

Selama berada di China, saya juga belajar bahwa menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan perjalanan. Ketika teman-teman sibuk beristirahat setelah kegiatan, saya memilih menyelesaikan jurnal harian. Kini, bertahun-tahun kemudian, tulisan-tulisan itu masih bisa dibaca dan menjadi sumber inspirasi bagi banyak guru. Inilah bukti bahwa tulisan mampu mengalahkan waktu.

Perjalanan ke China semakin menguatkan motto hidup saya:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Karena saya menulis setiap hari, pengalaman belajar di China tidak hanya menjadi milik saya, tetapi juga menjadi milik ribuan pembaca yang mengikuti kisah perjalanan tersebut melalui blog dan Kompasiana. Tulisan telah menjadikan perjalanan singkat selama 21 hari sebagai warisan ilmu yang terus hidup hingga hari ini.

Saya bersyukur pernah menjadi bagian dari rombongan 52 guru Indonesia yang belajar di China. Pengalaman itu mengajarkan bahwa seorang guru tidak boleh berhenti belajar. Di mana pun berada, guru harus terus membuka diri terhadap ilmu baru, teknologi baru, dan pengalaman baru, agar dapat kembali ke tanah air membawa perubahan bagi peserta didiknya.

Salam Literasi. Salam Inspirasi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi." 
Blog https://wijayalabs.com

kisah omjay sebelum ajal tiba

Sebelum Ajal Tiba: Jangan Menunggu Sempurna untuk Berbuat Baik

Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Blog https://wijayalabs.com/about

Pagi itu, seperti biasa, saya membuka telepon genggam. Sebuah pesan singkat yang dikirimkan seorang sahabat langsung menarik perhatian saya. Isinya sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

"Orang hebat itu adalah orang yang meninggalkan dunia sebelum ia meninggal dunia."

Saya terdiam beberapa saat. Kalimat itu mengajak saya merenung. Bukankah pada akhirnya semua manusia akan meninggalkan dunia? Namun, ternyata yang dimaksud bukanlah meninggalkan dunia secara fisik, melainkan meninggalkan jejak kebaikan yang terus hidup meskipun jasad telah tiada.

Saya teringat perjalanan hidup sebagai guru selama puluhan tahun. Tidak ada harta melimpah yang saya miliki. Namun, saya bersyukur masih diberi kesempatan untuk menulis setiap hari, mengajar dengan sepenuh hati, berbagi ilmu kepada sesama guru, dan menyemangati siapa pun yang ingin belajar. Dari sanalah saya memahami bahwa warisan terbaik bukan hanya bangunan megah atau tabungan yang banyak, tetapi ilmu yang bermanfaat dan hati yang pernah menguatkan orang lain.

Pesan itu kemudian melanjutkan, "Orang yang bersedekah sampai kaya, bukan kaya baru bersedekah." Kalimat ini menampar saya dengan lembut. Betapa sering kita menunda berbagi karena merasa belum cukup. Padahal, sedekah tidak menunggu seseorang menjadi kaya. Justru sedekah mengajarkan kita bahwa keberkahan sering kali datang kepada mereka yang mau berbagi dalam keadaan lapang maupun sempit.

Saya pernah bertemu seorang guru honorer yang penghasilannya sangat sederhana. Namun, setiap kali ada teman yang kesulitan, ia selalu menyisihkan sebagian rezekinya. Anehnya, hidupnya selalu terasa cukup. Dari beliau saya belajar bahwa kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan luasnya hati.

Pesan berikutnya berbunyi, "Orang yang berdakwah sampai jadi alim, bukan sudah alim baru berdakwah." Saya memaknainya sebagai ajakan untuk tidak menunggu sempurna sebelum berbagi kebaikan. Kita memang harus terus belajar, tetapi jangan sampai keinginan menjadi sempurna membuat kita berhenti menyampaikan hal-hal baik yang sudah kita ketahui.

Begitu pula dengan menulis. Saya selalu mengatakan kepada para peserta pelatihan menulis, "Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kemampuan akan tumbuh seiring kebiasaan. Keberanian akan lahir karena terus mencoba.

Kalimat berikutnya membuat saya semakin tersentuh, "Orang yang datang ke masjid sampai tua, bukan sudah tua baru ke masjid." Kehidupan tidak pernah memberi jaminan bahwa kita akan sampai pada usia tua. Karena itu, jangan menunda ibadah. Jangan menunggu waktu luang. Jangan menunggu pensiun. Jangan menunggu semua urusan selesai. Mulailah hari ini, karena hari esok belum tentu menjadi milik kita.

Terakhir, saya membaca kalimat yang paling dalam maknanya, "Orang beramal sampai ikhlas, bukan ikhlas baru beramal." Betapa sering kita menunggu hati benar-benar bersih sebelum berbuat baik. Padahal, keikhlasan justru tumbuh melalui proses. Semakin sering kita beramal, semakin kita belajar membersihkan niat hanya karena Allah.

Perjalanan hidup saya juga penuh ujian. Pernah mengalami sakit, menjalani masa pemulihan, hingga merasakan betapa berharganya setiap detik kehidupan. Pengalaman itu mengajarkan bahwa umur adalah rahasia Allah. Tidak ada yang tahu kapan perjalanan ini akan berakhir. Karena itu, setiap pagi adalah kesempatan baru untuk memperbaiki diri, meminta maaf, berbagi ilmu, menolong sesama, dan menanam amal yang kelak menjadi bekal.

Hari ini saya kembali mengingatkan diri sendiri bahwa hidup bukan tentang menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah sekarang. Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu pintar untuk berbagi ilmu. Jangan menunggu tua untuk rajin beribadah. Jangan menunggu sempurna untuk berbuat baik.

Sebab, ajal tidak pernah mengirim undangan sebelum datang menjemput.

Mari kita isi setiap hari dengan karya, doa, ilmu, dan amal yang bermanfaat. Semoga ketika suatu saat kita meninggalkan dunia ini, nama kita tetap hidup dalam doa orang-orang yang pernah merasakan manfaat dari kehadiran kita.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Berbuat baiklah setiap hari dan saksikan bagaimana Allah menumbuhkan keberkahan dalam hidup kita.

Salam blogger persahabatan 
Omjay
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 26 Juli 2026

Buku Kisah Omjay 4 Tahun Lalu

Empat Tahun Berlalu, Buku Ini Tetap Mengajarkan Saya Menjadi Manusia
Blog https://wijayalabs.com/about

Empat tahun telah berlalu sejak buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia terbit. Waktu bergerak begitu tenang, tetapi meninggalkan jejak yang begitu dalam. Saat buku itu pertama kali hadir di tangan para pembaca, usia saya tepat lima puluh tahun. Kini, tanpa terasa, saya telah menginjak usia lima puluh empat. Angka memang bertambah, namun makna kehidupan terus bertumbuh bersama pengalaman yang tak pernah berhenti memberi pelajaran.

Ketika memandang kembali sampul buku itu, saya tidak sekadar melihat foto diri sendiri. Saya melihat potongan perjalanan panjang yang penuh warna. Ada kisah perjuangan sebagai seorang guru, suami, ayah, sahabat, penulis, sekaligus pembelajar sepanjang hayat. Buku tersebut bukan sekadar kumpulan tulisan, melainkan cermin yang memantulkan perjalanan batin seorang manusia yang terus berusaha memperbaiki diri.

Selama empat tahun terakhir, kehidupan memberikan banyak kejutan. Ada saat-saat membahagiakan ketika bertemu ribuan pembaca, berbagi ilmu kepada guru dari berbagai daerah, menerbitkan buku-buku baru, hingga menyaksikan teknologi kecerdasan buatan mengubah cara manusia bekerja. Namun, ada pula masa yang menguji ketabahan. Kondisi kesehatan mengingatkan saya bahwa tubuh mempunyai batas, sedangkan semangat sering kali ingin melampaui kemampuan fisik.

Di situlah saya memahami sebuah kenyataan yang dahulu belum sepenuhnya saya mengerti. Menjadi manusia bukanlah perlombaan menuju kesempurnaan. Menjadi manusia berarti belajar menerima keterbatasan tanpa kehilangan harapan. Kesadaran seperti inilah yang justru menghadirkan kedewasaan.

Banyak orang mengira usia hanyalah hitungan kalender. Padahal, usia sesungguhnya adalah akumulasi kebijaksanaan yang berhasil dipetik dari setiap peristiwa. Ada orang yang berumur panjang, tetapi miskin hikmah. Sebaliknya, ada yang usianya tidak terlalu tua, namun pemikirannya telah matang karena mampu merenungkan setiap pengalaman.

Ilmu psikologi perkembangan menyebutkan bahwa semakin bertambah umur, seseorang memiliki peluang lebih besar membangun generativity, yaitu dorongan untuk meninggalkan warisan yang bermanfaat bagi generasi berikutnya. Warisan itu tidak selalu berupa harta. Gagasan, keteladanan, karya tulis, dan inspirasi sering kali jauh lebih bernilai karena dapat terus hidup meskipun pemiliknya telah tiada.

Kesadaran itulah yang membuat saya tetap menulis hingga hari ini. Setiap tulisan adalah ikhtiar meninggalkan jejak kebaikan. Kata-kata mungkin sederhana, tetapi mampu menyeberangi ruang dan waktu. Seorang pembaca yang belum pernah saya temui bisa memperoleh semangat hanya karena membaca sebuah pengalaman yang saya bagikan dengan tulus.

Empat tahun setelah buku ini terbit, saya juga belajar bahwa perjalanan hidup tidak selalu bergerak naik. Ada kalanya seseorang harus melambat. Justru ketika langkah diperlambat, kita memiliki kesempatan mengamati hal-hal kecil yang sebelumnya terlewat. Senyum keluarga, sapaan murid, doa sahabat, udara pagi, bahkan secangkir teh hangat ternyata menyimpan kebahagiaan yang dahulu sering diabaikan.

Saya semakin yakin bahwa rasa syukur bukan muncul setelah memperoleh semuanya. Sebaliknya, rasa syukur membuat kita mampu menikmati apa pun yang telah dimiliki. Inilah pengetahuan yang sangat berharga. Otak manusia memiliki kecenderungan yang disebut hedonic adaptation, yaitu cepat terbiasa dengan pencapaian baru sehingga kebahagiaan mudah memudar. Karena itu, melatih syukur setiap hari membantu menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat optimisme.

Teknologi berkembang sangat pesat. Kecerdasan buatan kini mampu membantu manusia menulis, menerjemahkan, menganalisis data, bahkan menghasilkan karya visual. Namun satu hal tetap tidak dapat digantikan mesin, yaitu ketulusan hati. Pengalaman hidup yang lahir dari air mata, tawa, perjuangan, dan doa akan selalu mempunyai nilai yang berbeda dibanding sekadar rangkaian kalimat yang tersusun rapi.

Itulah sebabnya saya terus percaya bahwa menulis bukan hanya kegiatan intelektual, melainkan juga perjalanan spiritual. Ketika seseorang menulis dengan hati, ia sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Setiap paragraf menjadi ruang refleksi, sedangkan setiap titik mengajarkan bahwa semua perjalanan memiliki jeda untuk merenung.

Kini, pada usia lima puluh empat tahun, saya tidak lagi mengejar pengakuan. Saya lebih ingin menjadi manusia yang bermanfaat. Jika suatu hari nama saya terlupakan, semoga tulisan-tulisan yang pernah saya tinggalkan masih mampu menyalakan semangat belajar, menumbuhkan keberanian berkarya, serta menguatkan mereka yang sedang berjuang menghadapi kehidupan.

Buku Kisah Omjay: 50 Tahun Menjadi Manusia mungkin telah berusia empat tahun. Kertasnya bisa menguning, sampulnya mungkin mulai memudar, tetapi nilai yang dikandungnya justru semakin menemukan makna baru. Sebab kehidupan tidak berhenti pada usia lima puluh, lima puluh empat, atau angka berapa pun. Kehidupan adalah kesempatan tanpa henti untuk terus belajar menjadi manusia yang lebih arif, lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih mencintai sesama.

Saya menutup tulisan ini dengan keyakinan sederhana. Selama napas masih berembus, masih ada halaman baru yang dapat ditulis. Selama hati tetap menyala, selalu ada pengalaman yang layak dibagikan. Dan selama ilmu terus diamalkan, usia bukan sekadar pertambahan angka, melainkan perjalanan indah menuju kematangan jiwa. Menjadi tua adalah keniscayaan, tetapi terus bertumbuh menjadi manusia yang membawa manfaat adalah pilihan yang akan selalu saya perjuangkan.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indinesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 24 Juli 2026

Hari jumat

Hari Jumat Mengingatkan Omjay: Hidup Hanya Sekali, Sudahkah Kita Menyiapkan Bekal?
Blog https://wijayalabs.com/about

Suara azan Subuh berkumandang lembut ketika Omjay membuka mata pada Jumat pagi, 24 Juli 2026. Udara terasa sejuk, tetapi hati justru dipenuhi renungan yang begitu dalam. Hari Jumat selalu menghadirkan suasana berbeda. Bukan sekadar penanda akhir pekan, melainkan pengingat bahwa hidup terus berjalan menuju satu tujuan yang pasti. Tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan putaran waktu.

Pengalaman keluar masuk rumah sakit beberapa waktu lalu mengubah cara Omjay memandang kehidupan. Ketika tubuh melemah, tekanan darah melonjak, dan langkah terasa berat, tersadar bahwa manusia sebenarnya tidak memiliki kuasa atas usia. Selama ini banyak rencana disusun, banyak impian ingin diwujudkan, tetapi kapan perjalanan berakhir tidak pernah ada yang mengetahui.

Mungkin setahun lagi. Mungkin sebulan lagi. Bisa jadi sepekan lagi. Bahkan sehari, sejam, atau beberapa menit lagi. Semua menjadi rahasia Allah SWT.

Kesadaran itulah yang membuat setiap Jumat terasa begitu istimewa. Hari yang penuh keberkahan ini mengajak setiap insan menghentikan sejenak kesibukan dunia. Jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia pada akhirnya akan ditinggalkan. Yang akan menemani hanyalah amal saleh yang pernah dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Sebagai guru, Omjay sering mengatakan kepada para murid, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Namun semakin bertambah usia, kalimat itu memiliki makna yang lebih luas. Bukan hanya menulis karya, tetapi juga menulis kebaikan dalam lembar kehidupan. Setiap senyum yang diberikan, ilmu yang diajarkan, doa yang dipanjatkan, sedekah yang disisihkan, hingga sholawat yang dilantunkan akan menjadi catatan indah yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Hari Jumat juga menjadi waktu terbaik memperbanyak sholawat kepada Rasulullah SAW. Lisan yang biasanya sibuk membicarakan urusan dunia, hari ini semoga dipenuhi pujian kepada manusia terbaik yang telah membawa cahaya Islam kepada umatnya. Semoga dengan sholawat, hati menjadi lebih tenang, dosa diampuni, dan langkah hidup selalu mendapat petunjuk.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

"Bagi mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 127).

Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa surga bukan diraih karena angan-angan, melainkan karena amal saleh yang dilakukan secara konsisten. Kebaikan sekecil apa pun tidak akan pernah sia-sia di sisi Allah.

OmJay menyadari bahwa setiap tulisan yang dipublikasikan bukan sekadar mengejar pembaca atau komentar. Lebih dari itu, semoga setiap kalimat yang mengajak kepada kebaikan menjadi amal jariyah yang terus mengalir meskipun kelak raga telah tiada. Bukankah ilmu yang bermanfaat merupakan salah satu amalan yang tidak akan terputus?

Maka, selagi napas masih berembus, jangan menunda berbuat baik. Selagi tangan masih mampu bergerak, gunakan untuk membantu sesama. Selagi lisan masih diberi kesempatan berbicara, ucapkan kata-kata yang menyejukkan. Selagi hati masih berdenyut, penuhilah dengan zikir dan rasa syukur.

Hari Jumat adalah hari syafaat. Jauhilah maksiat, perbanyak sholawat, dan manfaatkan setiap detik sebagai bekal menuju kampung akhirat. Semoga ketika putaran kehidupan berhenti tanpa pemberitahuan, Allah SWT berkenan menyambut kepulangan kita dengan penuh kasih sayang dan menempatkan kita di Darussalam, surga yang telah dijanjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Semoga Jumat ini menjadi titik awal untuk memperbaiki diri, memperbanyak ibadah, dan menebarkan manfaat kepada sebanyak mungkin manusia. Sebab hidup hanya diputar sekali, tetapi balasan amal akan berlangsung untuk selama-lamanya.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 22 Juli 2026

Semangkuk Mie Hangat di Negeri Panda

Kisah Omjay: Semangkuk Mi Hangat di Negeri Panda, Persahabatan yang Menghangatkan Jiwa
Blog https://wijayalabs.com/about

Langit pagi di kota Xuzhou, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, terasa begitu sejuk. Angin berembus lembut menyapu halaman China University of Mining and Technology (CUMT). Di kampus ternama itu, enam guru Indonesia sedang mengikuti pelatihan dan pembelajaran STEAM. Mereka datang membawa harapan besar, bukan sekadar menambah ilmu, melainkan juga membawa mimpi untuk menghadirkan pendidikan yang lebih bermakna bagi anak-anak Indonesia.

Setelah mengikuti rangkaian kegiatan akademik yang padat, rombongan memutuskan berjalan kaki menyusuri kawasan sekitar kampus. Langkah demi langkah membawa mereka menuju sebuah masjid yang berdiri tenang di tengah lingkungan masyarakat Tionghoa Muslim. Bangunan sederhana itu memancarkan kedamaian. Kaligrafi menghiasi dinding, sementara papan informasi berbahasa Mandarin memperlihatkan betapa Islam telah lama hidup berdampingan dengan budaya Tiongkok.

Menjelang waktu makan siang, rasa lapar mulai menyapa. Tak jauh dari masjid, terdapat warung kecil yang menjual mi instan khas Tiongkok. Bukan restoran mewah dengan dekorasi megah, melainkan tempat sederhana yang dipenuhi aroma kuah hangat dan senyum ramah penjualnya.

Enam guru Indonesia itu pun membeli semangkuk mi panas. Tidak ada kursi empuk. Tidak ada meja makan yang panjang. Mereka memilih duduk di tepi trotoar, menikmati hidangan sederhana bersama-sama. Botol air mineral diletakkan di samping kaki. Canda dan tawa mengalir tanpa dibuat-buat.

Pemandangan itu mungkin terlihat biasa bagi orang yang melintas. Namun, bagi Omjay, momen sederhana seperti itulah yang sering menyimpan makna paling dalam.

Ketika seseorang berada jauh dari tanah air, kebersamaan menjadi kemewahan yang sulit dinilai dengan materi. Semangkuk mi yang harganya murah terasa jauh lebih lezat karena disantap bersama sahabat seperjuangan.

Tidak ada yang mengeluh karena harus duduk di pinggir jalan. Tidak ada yang sibuk mencari tempat paling nyaman. Semua menikmati suasana apa adanya. Justru kesederhanaan itu melahirkan rasa syukur yang semakin besar.

Omjay teringat sebuah pepatah yang mengatakan, "Perjalanan terbaik bukan hanya tentang tempat yang dikunjungi, tetapi tentang orang-orang yang berjalan bersama."

Belajar STEAM di CUMT tentu menjadi pengalaman akademik yang luar biasa. Para dosen memperlihatkan bagaimana sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika dipadukan dalam pembelajaran yang kreatif. Mahasiswa didorong berpikir kritis, berkolaborasi, serta menghasilkan inovasi yang bermanfaat bagi masyarakat.

Namun, di balik ruang kuliah yang modern, ada pelajaran kehidupan yang jauh lebih berharga.

Persahabatan.

Enam guru itu berasal dari latar belakang berbeda. Ada yang mengajar informatika, ada yang mengampu mata pelajaran lain. Daerah asal mereka pun tidak sama. Akan tetapi, ketika berada di negeri orang, semua perbedaan melebur menjadi satu keluarga besar.

Semangkuk mi hangat menjadi saksi bahwa kebersamaan tidak membutuhkan kemewahan.

Omjay percaya, pendidikan tidak hanya dibangun di dalam ruang kelas. Pendidikan juga tumbuh ketika guru belajar saling menghargai, saling membantu, dan saling menguatkan.

Ketika salah seorang masih kesulitan menggunakan sumpit, teman di sebelahnya membantu sambil tertawa. Ketika ada yang belum terbiasa dengan cita rasa makanan Tiongkok, yang lain memberikan semangat untuk mencoba. Suasana penuh keakraban membuat rasa rindu kepada keluarga di Indonesia sedikit terobati.

Di dekat masjid itu pula, Omjay merasakan bahwa Islam benar-benar mengajarkan persaudaraan tanpa mengenal batas negara. Walaupun berada ribuan kilometer dari Indonesia, azan tetap terdengar merdu. Masjid tetap menjadi tempat yang menenangkan hati. Senyum para jamaah Muslim Tionghoa seakan mengatakan bahwa umat Islam adalah saudara, di mana pun berada.

Momen sederhana tersebut mengingatkan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia kehilangan rasa kemanusiaan.

STEAM memang mengajarkan inovasi. Artificial Intelligence membantu pekerjaan manusia. Robot semakin canggih. Komputer mampu memproses data dalam hitungan detik. Akan tetapi, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan kehangatan persahabatan.

Robot tidak dapat merasakan haru ketika menikmati makan siang bersama teman seperjuangan.

Kecerdasan buatan tidak mampu menghadirkan rasa syukur ketika menemukan masjid di negeri yang asing.

Semua itu hanya dapat dirasakan oleh hati manusia.

Omjay berharap pengalaman belajar di CUMT tidak berhenti sebagai cerita perjalanan luar negeri semata. Ilmu yang diperoleh hendaknya dibawa pulang untuk memperkaya pembelajaran di sekolah masing-masing. Anak-anak Indonesia berhak merasakan pendidikan yang kreatif, menyenangkan, dan relevan dengan perkembangan zaman.

Namun, ada bekal lain yang tidak kalah penting untuk dibawa pulang, yaitu semangat kebersamaan.

Bangsa yang besar dibangun oleh orang-orang yang mampu bekerja sama, bukan saling menjatuhkan. Guru yang hebat bukan hanya pandai mengajar, tetapi juga mampu menjadi sahabat bagi sesama pendidik.

Foto sederhana yang memperlihatkan enam guru menikmati mi di dekat masjid mungkin tidak akan menjadi berita utama dunia. Tidak ada kemewahan yang dipamerkan. Tidak ada pencapaian yang diumumkan dengan gegap gempita. Akan tetapi, foto itu menyimpan kisah yang jauh lebih berharga daripada sekadar dokumentasi perjalanan.

Di balik setiap senyum, tersimpan perjuangan meninggalkan keluarga demi menuntut ilmu. Di balik setiap suapan mi hangat, terdapat tekad untuk membawa perubahan bagi pendidikan Indonesia. Di balik setiap tawa, ada doa yang dipanjatkan agar perjalanan ini menjadi amal kebaikan yang terus mengalir manfaatnya.

Omjay menatap foto itu dengan hati yang penuh syukur. Semoga persahabatan enam guru Indonesia di negeri Panda terus terjalin erat. Semoga ilmu yang diperoleh di China University of Mining and Technology menjadi cahaya yang menerangi ruang-ruang kelas di tanah air. Dan semoga semangkuk mi sederhana yang disantap di dekat masjid itu menjadi kenangan indah yang selalu mengingatkan bahwa kebahagiaan sejati tidak diukur dari kemewahan, melainkan dari hati yang bersyukur, persaudaraan yang tulus, serta semangat belajar yang tidak pernah padam.

Karena pada akhirnya, perjalanan yang paling berharga bukanlah seberapa jauh kaki melangkah, melainkan seberapa banyak ilmu, kasih sayang, dan inspirasi yang dibawa pulang untuk dibagikan kepada sesama. Itulah makna perjalanan enam guru Indonesia di CUMT, sebuah kisah sederhana yang akan terus hidup dalam ingatan, menghangatkan hati layaknya semangkuk mi di tengah udara sejuk Negeri Panda.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ
Blog https://wijayalabs.com/about

Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan yang dimulai pada pagi hari lalu berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi. Guru mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaannya demi membentuk generasi penerus bangsa. Selama puluhan tahun mengajar di SMP Labschool UNJ, saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak rekan guru mencurahkan seluruh hidupnya untuk pendidikan. Mereka datang lebih awal daripada siswa, pulang paling akhir setelah memastikan semua tugas selesai, dan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi keberhasilan peserta didik.

Pengabdian seperti itu tentu layak mendapatkan penghargaan yang bermartabat. Salah satunya adalah jaminan kehidupan yang layak setelah memasuki masa purna tugas. Sayangnya, kenyataan yang dihadapi sebagian guru sekolah swasta, termasuk guru di bawah yayasan, sering kali berbeda dengan harapan. Ketika masa mengajar berakhir, penghasilan rutin ikut berhenti. Padahal kebutuhan hidup tetap berjalan. Biaya kesehatan meningkat seiring bertambahnya usia. Kebutuhan keluarga tidak pernah berhenti. Sementara tenaga sudah tidak lagi sekuat dahulu.

Setiap kali menghadiri acara pelepasan guru purnabakti, hati saya selalu dipenuhi rasa haru. Wajah-wajah yang dahulu penuh semangat mendidik kini memasuki babak baru kehidupan. Tepuk tangan bergema, bunga diberikan, foto kenangan diabadikan, lalu perlahan semua kembali menjalani aktivitas masing-masing. Namun muncul satu pertanyaan yang terus mengusik hati. Bagaimana kehidupan para guru hebat itu setelah tidak lagi menerima gaji bulanan?

Pertanyaan itulah yang mendorong saya menulis kisah ini. Bukan untuk mengeluh, melainkan mengajak semua pihak memikirkan masa depan para guru yang telah mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan.

Saya membayangkan betapa indahnya apabila setiap guru Labschool UNJ memasuki masa pensiun dengan hati tenang. Mereka tetap memperoleh penghasilan bulanan sehingga tidak perlu khawatir memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka dapat menikmati hari tua bersama keluarga, mengajar secara sukarela bila masih mampu, menulis buku, berbagi pengalaman, atau menjadi mentor bagi guru muda tanpa dibayangi kecemasan ekonomi.

Harapan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Banyak perusahaan swasta telah memiliki program dana pensiun bagi karyawannya. Program seperti Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) memungkinkan perusahaan atau yayasan menghimpun iuran selama pegawai masih aktif bekerja. Ketika pegawai memasuki masa pensiun, manfaat pensiun dapat dibayarkan secara berkala sesuai ketentuan. Selain itu tersedia pula Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang dapat menjadi alternatif bagi institusi yang belum memiliki dana pensiun sendiri.

Di sisi lain, seluruh pekerja termasuk guru yayasan juga dapat memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Program tersebut meliputi Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian. Apabila memenuhi persyaratan, peserta Jaminan Pensiun dapat menerima manfaat bulanan setelah memasuki usia pensiun.

Sebagai guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun, saya percaya bahwa kesejahteraan guru tidak boleh hanya dibicarakan ketika masih aktif mengajar. Masa purna tugas juga harus menjadi perhatian bersama. Pengabdian selama tiga puluh hingga empat puluh tahun bukanlah perjalanan singkat. Itu adalah investasi kemanusiaan yang hasilnya dinikmati oleh bangsa ini melalui lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Saya membayangkan suatu hari nanti Yayasan Pembina UNJ bersama pimpinan Labschool, perwakilan guru, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama merancang sistem pensiun yang berkelanjutan. Setiap guru memberikan iuran sesuai kemampuan. Yayasan pun ikut memberikan kontribusi. Dana tersebut dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel sehingga tumbuh menjadi jaminan kesejahteraan pada masa tua.

Program seperti itu bukan hanya memberikan rasa aman kepada guru senior. Guru-guru muda pun akan bekerja dengan semangat karena mengetahui bahwa pengabdiannya dihargai hingga akhir masa kerja. Rasa memiliki terhadap sekolah semakin kuat. Loyalitas meningkat. Kualitas pendidikan ikut bertambah karena guru dapat berkonsentrasi mengajar tanpa dihantui kekhawatiran mengenai masa depannya.

Saya selalu percaya bahwa sekolah hebat dibangun oleh guru yang sejahtera. Ketika guru merasa dihargai, semangat mengajarnya akan memancar kepada peserta didik. Anak-anak memperoleh teladan tentang arti dedikasi. Orang tua semakin percaya kepada sekolah. Lingkaran kebaikan pun terus berputar.

Perjuangan menghadirkan pensiun bulanan tentu membutuhkan waktu. Dibutuhkan komunikasi yang baik, kajian yang matang, serta komitmen seluruh pihak. Namun setiap perubahan besar selalu diawali oleh sebuah gagasan sederhana. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Sebagai Omjay, saya tidak pernah lelah mengajak semua guru untuk terus menulis. Tulisan memiliki kekuatan luar biasa. Dari tulisan lahir ide. Dari ide lahir perubahan. Dari perubahan lahir kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Karena itulah saya berharap semakin banyak guru menyuarakan pentingnya perlindungan hari tua bagi tenaga pendidik.

Saya tidak sedang meminta keistimewaan. Saya hanya berharap setiap guru yang telah mengabdikan hidupnya memperoleh penghormatan yang layak ketika memasuki masa purna tugas. Guru tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Guru hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang setelah puluhan tahun membimbing anak bangsa.

Semoga suatu hari nanti, ketika seorang guru Labschool UNJ mengakhiri tugasnya di ruang kelas, senyumnya bukan hanya karena bangga melihat murid-muridnya sukses, tetapi juga karena yakin kehidupannya setelah pensiun tetap terjamin. Itulah hadiah terindah bagi seorang pendidik. Penghargaan yang tidak hanya diberikan dalam bentuk piagam atau bunga, melainkan dalam kepastian bahwa pengabdian panjangnya tidak berakhir dengan kecemasan.

Saya percaya mimpi itu dapat diwujudkan apabila seluruh keluarga besar Labschool UNJ memiliki visi yang sama. Mari membangun sistem yang menghormati guru sejak hari pertama mengajar hingga hari terakhir menikmati masa pensiun. Sebab bangsa yang menghargai gurunya adalah bangsa yang sedang menyiapkan masa depan terbaik bagi generasi berikutnya.

Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com


Senin, 20 Juli 2026

Spanyol Juara Dunia Sepakbola 2026

Ketika La Roja Menaklukkan Dunia, Omjay Menemukan Makna Kemenangan yang Sesungguhnya
Klik https://wijayalabs.com/about

Peluit panjang akhirnya memecah langit malam. Ribuan pasang mata di stadion bergemuruh. Jutaan penggemar di berbagai penjuru bumi bersorak tanpa mampu menyembunyikan luapan emosi. Spanyol menorehkan babak baru dalam sejarah sepak bola. Gol Ferran Torres mengantarkan La Roja mengangkat trofi paling bergengsi di muka bumi. Bukan sekadar kemenangan, melainkan penegasan bahwa ketekunan, kecerdasan, dan kekompakan mampu mengalahkan siapa pun.

Saya menikmati partai puncak itu dengan perasaan yang sulit dilukiskan. Sebagai Omjay, pertandingan selalu menghadirkan lebih dari sekadar angka pada papan skor. Lapangan hijau sering kali berubah menjadi ruang belajar yang menyampaikan pelajaran kehidupan tanpa selembar buku maupun sebatang kapur.

Sejak wasit meniup peluit awal, irama permainan langsung memikat perhatian. Operan pendek nan presisi menjadi ciri khas Spanyol. Bola berpindah dengan elegan, seolah setiap sentuhan telah dirancang jauh sebelum pertandingan dimulai. Argentina pun membalas melalui determinasi yang luar biasa. Tidak ada ruang yang dibiarkan terbuka. Seluruh pemain bekerja tanpa mengenal lelah.

Saya terpukau menyaksikan kecerdasan membaca situasi. Tidak seorang pun berusaha menjadi pusat perhatian. Semua menjalankan peran dengan kesadaran penuh bahwa kejayaan hanya lahir melalui kolaborasi. Pemandangan tersebut mengingatkan saya pada suasana sekolah. Keberhasilan pendidikan tidak pernah bertumpu pada seorang guru semata, melainkan tercipta melalui sinergi kepala sekolah, pendidik, peserta didik, orang tua, serta seluruh warga sekolah.

Menit demi menit bergulir. Serangan silih berganti. Penyelamatan gemilang terus bermunculan. Ketegangan merayap hingga ke ruang keluarga para penonton. Bahkan secangkir kopi yang saya seduh perlahan kehilangan kehangatannya karena perhatian sepenuhnya tertuju pada layar televisi.

Saat pertandingan memasuki tambahan waktu, suasana berubah semakin menegangkan. Tidak sedikit yang mulai membayangkan drama adu penalti. Namun sepak bola selalu menyimpan kejutan bagi mereka yang tetap memelihara keyakinan.

Kemudian tibalah momen yang mengubah segalanya.

Sebuah rangkaian serangan dibangun melalui kesabaran luar biasa. Aliran bola bergerak laksana alunan simfoni. Nico Williams melepaskan umpan yang sangat matang. Ferran Torres menyambutnya dengan sentuhan sederhana, tetapi mematikan. Bola meluncur deras menuju jaring gawang Argentina.

Stadion berguncang.

Sorak-sorai membelah angkasa.

Air mata kebahagiaan mengalir tanpa dapat dibendung.

Saya ikut berdiri. Bukan semata-mata merayakan keberhasilan Spanyol, melainkan mengagumi perjalanan panjang yang akhirnya berbuah manis. Gol tersebut lahir melalui kesabaran, ketelitian, keberanian, dan kepercayaan antarpemain.

Peristiwa itu mengingatkan saya pada perjalanan menulis. Sebuah tulisan berkualitas tidak muncul begitu saja. Kalimat demi kalimat harus dipahat dengan kesungguhan. Gagasan memerlukan perenungan. Pengalaman membutuhkan penghayatan. Kesabaran menjadi sahabat terbaik sepanjang proses kreatif.

Saya teringat perjalanan selama puluhan tahun menjadi guru. Tidak sedikit murid yang datang dengan rasa minder. Sebagian merasa dirinya biasa-biasa saja. Ada pula yang nyaris kehilangan harapan. Namun waktu membuktikan bahwa sentuhan pendidikan mampu mengubah arah kehidupan. Banyak di antara mereka kini menjadi pribadi sukses pada bidang masing-masing.

Hal serupa tampak pada perjalanan Spanyol. Tidak semua generasi memperoleh keberuntungan secara instan. Ada masa ketika mereka tersingkir lebih awal. Ada fase penuh kekecewaan. Ada pula periode yang memaksa seluruh elemen melakukan pembenahan. Semua pengalaman tersebut menjadi fondasi menuju pencapaian tertinggi.

Saya semakin yakin bahwa kehidupan selalu menghargai proses.

Pohon rindang tidak tumbuh dalam semalam.

Samudra tidak tercipta oleh setetes hujan.

Pelangi tidak muncul tanpa mendung.

Demikian pula keberhasilan. Setiap pencapaian besar lahir melalui perjalanan panjang yang dipenuhi pengorbanan.

Pertandingan final malam itu menjadi cermin yang sangat indah. Saya melihat keberanian, ketulusan, kedisiplinan, pengorbanan, serta keteguhan berpadu menjadi satu kesatuan. Nilai-nilai tersebut sesungguhnya jauh lebih berharga dibandingkan sekadar mengangkat trofi.

Sebagai pendidik, saya percaya ruang kelas juga memiliki "Piala Dunia" masing-masing. Seorang peserta didik yang semula kesulitan membaca lalu mampu memahami buku pertama merupakan kemenangan. Anak yang sebelumnya takut berbicara kemudian berani menyampaikan pendapat di depan teman-temannya juga merupakan prestasi. Guru yang tetap mengajar dengan hati di tengah berbagai tantangan telah memenangkan pertandingan hidupnya.

Malam itu saya tidak hanya menyaksikan Spanyol mengalahkan Argentina. Saya menyaksikan keyakinan mengalahkan keraguan. Saya menyaksikan kerja sama mengalahkan ego. Saya menyaksikan ketekunan mengalahkan keputusasaan.

Peluit akhir menandai berakhirnya pertandingan, tetapi makna yang tertinggal justru baru memulai perjalanan panjang di dalam benak saya.

Saya menutup siaran dengan senyum penuh syukur. Secangkir kopi yang telah dingin tetap saya habiskan hingga tetes terakhir. Rasanya berbeda. Bukan karena campuran gula atau biji kopinya, melainkan karena malam itu saya memperoleh inspirasi yang tidak dapat dibeli oleh apa pun.

Kemenangan Spanyol menjadi pengingat bahwa keberhasilan tidak pernah memilih usia, latar belakang, ataupun profesi. Siapa saja berhak meraihnya selama bersedia memeluk disiplin, memelihara semangat belajar, menjaga integritas, serta menghormati proses.

Sebagai Omjay, saya akan terus menulis, terus berbagi, terus belajar, dan terus mengajak siapa pun untuk menyalakan harapan melalui rangkaian aksara. Sebab saya percaya, setiap lembar tulisan mampu menjadi gol kemenangan bagi seseorang yang sedang mencari cahaya di tengah perjalanan hidupnya.

Akhirnya, La Roja membawa pulang mahkota dunia. Sementara saya membawa pulang pelajaran yang jauh lebih berharga: impian sebesar apa pun akan menemukan jalannya apabila disertai keteguhan hati, kegigihan yang tak surut, serta kesediaan melangkah tanpa pernah berhenti.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru Blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com