Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Minggu, 31 Mei 2026
Pesan Jenderal Polisi Hoegeng
Jadikan Menulis Sebagai Proses Pencerahan Diri
Menulis untuk Pencerahan Diri
Saran Buat Presiden Prabowo
Ketika Saran Seorang Sahabat Menyentuh Hati Bangsa
Kisah Omjay tentang Perjalanan, Pengabdian, dan Efisiensi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu Omjay membuka ponsel sambil menikmati secangkir kopi hangat di kampung halaman Wanaraja Garut. Udara terasa sejuk. Burung-burung berkicau di pepohonan. Seperti biasa, Omjay membaca berbagai berita yang sedang ramai diperbincangkan masyarakat.
Salah satu berita yang menarik perhatian Omjay adalah pernyataan mantan Wakil Menteri Luar Negeri, Dino Patti Djalal. Beliau memberikan saran kepada Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, agar mengurangi intensitas perjalanan ke luar negeri dan lebih memanfaatkan teknologi komunikasi seperti video call atau konferensi daring.
Ketika membaca berita itu, Omjay terdiam cukup lama.
Bukan karena setuju atau tidak setuju.
Tetapi Omjay teringat sebuah pelajaran hidup yang sangat sederhana.
Kadang-kadang, nasihat yang baik tidak selalu datang dari lawan. Justru sering datang dari sahabat yang peduli.
Dino Patti Djalal bukan orang sembarangan. Beliau pernah menjadi diplomat, duta besar, dan tokoh hubungan internasional Indonesia. Ketika beliau menyampaikan pendapat, tentu ada pengalaman panjang yang melatarbelakanginya. Dalam pernyataannya, Dino menilai perjalanan luar negeri yang terlalu sering dapat menimbulkan persepsi kurang baik di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang sedang menghadapi banyak tantangan. Ia juga mengusulkan penggunaan teknologi komunikasi agar lebih efisien dari sisi biaya negara.
Omjay kemudian membayangkan kehidupan sehari-hari sebagai seorang guru.
Bukankah guru juga sering mengalami hal yang sama?
Ketika seorang kepala sekolah memberikan masukan kepada guru, itu bukan berarti membenci gurunya.
Ketika pengawas sekolah memberikan kritik, bukan berarti ingin menjatuhkan.
Ketika murid memberi saran kepada guru, belum tentu murid itu kurang ajar.
Bisa jadi mereka peduli.
Bisa jadi mereka melihat sesuatu yang luput dari perhatian kita.
Omjay teringat masa-masa awal menjadi guru pada tahun 1994. Saat itu Omjay masih muda dan penuh semangat. Ketika mendapat kritik dari senior, hati kadang terasa panas. Rasanya ingin membela diri.
Namun seiring bertambahnya usia dan pengalaman, Omjay menyadari bahwa kritik yang tulus sebenarnya adalah hadiah yang sangat mahal.
Tidak semua orang mau mengingatkan.
Banyak orang memilih diam.
Banyak orang memilih menjadi penonton.
Banyak pula yang hanya berani berbicara di belakang.
Karena itu, ketika seseorang menyampaikan masukan dengan terbuka dan bertanggung jawab, sesungguhnya ia sedang menunjukkan kepeduliannya.
Dalam dunia pendidikan, Omjay sering mengajarkan kepada siswa bahwa teknologi seharusnya memudahkan pekerjaan manusia.
Ketika pandemi Covid-19 melanda dunia beberapa tahun lalu, jutaan guru dan siswa di Indonesia belajar melalui Zoom, Google Meet, dan berbagai platform digital lainnya.
Awalnya terasa sulit.
Namun perlahan semua beradaptasi.
Ternyata banyak pekerjaan yang dapat diselesaikan tanpa harus selalu bertemu secara langsung.
Bukan berarti pertemuan tatap muka tidak penting.
Tetap penting.
Sangat penting bahkan.
Tetapi kita belajar bahwa teknologi dapat membantu menghemat waktu, tenaga, dan biaya.
Apa yang disampaikan Dino Patti Djalal sebenarnya mengingatkan kita semua bahwa kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan bijak. Ia mencontohkan bahwa komunikasi virtual bisa menjadi alternatif untuk beberapa agenda diplomasi tertentu sehingga negara dapat menghemat anggaran yang besar.
Saat membaca itu, Omjay tersenyum.
Karena Omjay sendiri merasakan manfaat teknologi.
Dulu jika ingin berbagi ilmu kepada guru-guru di seluruh Indonesia, Omjay harus naik pesawat, naik kereta, atau menempuh perjalanan panjang.
Sekarang?
Cukup membuka laptop.
Cukup membuka aplikasi Zoom.
Ribuan guru bisa belajar bersama dari Aceh sampai Papua.
Ilmu tetap tersampaikan.
Persaudaraan tetap terjalin.
Manfaat tetap dirasakan.
Namun Omjay juga memahami bahwa tidak semua urusan bisa digantikan teknologi.
Ada diplomasi yang membutuhkan kehadiran langsung.
Ada kerja sama yang membutuhkan tatapan mata.
Ada negosiasi yang membutuhkan sentuhan kemanusiaan.
Karena itu, yang terpenting bukan soal pergi atau tidak pergi.
Melainkan soal keseimbangan.
Soal efisiensi.
Soal memilih mana yang benar-benar penting dan mana yang bisa dilakukan dengan cara yang lebih sederhana.
Dalam kehidupan sehari-hari, Omjay sering melihat banyak orang yang lupa membedakan kebutuhan dan keinginan.
Mereka rela mengeluarkan uang besar untuk sesuatu yang sebenarnya bisa dilakukan dengan lebih hemat.
Padahal uang yang dihemat bisa digunakan untuk hal yang lebih bermanfaat.
Begitu pula dalam pengelolaan negara.
Setiap rupiah yang digunakan sesungguhnya berasal dari rakyat.
Karena itu harus dipertanggungjawabkan dengan sebaik-baiknya.
Omjay percaya bahwa siapa pun pemimpinnya pasti ingin memberikan yang terbaik untuk bangsa.
Presiden Prabowo tentu memiliki pertimbangan tersendiri dalam menjalankan diplomasi luar negeri. Bahkan berbagai lawatan internasional dilakukan untuk memperkuat hubungan ekonomi, pertahanan, perdagangan, dan kepentingan strategis Indonesia di dunia internasional.
Namun di sisi lain, suara masyarakat dan masukan dari tokoh-tokoh berpengalaman juga perlu didengar.
Karena bangsa yang besar bukanlah bangsa yang anti kritik.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu mendengarkan berbagai pandangan dengan kepala dingin.
Pagi itu Omjay menutup ponselnya.
Kemudian Omjay membuka laptop.
Jari-jari mulai menari di atas keyboard.
Tulisan demi tulisan mengalir seperti air sungai yang tidak pernah berhenti mengalir menuju lautan.
Omjay kembali teringat sebuah pelajaran hidup yang selalu dipegang hingga hari ini.
Jika kita ingin menjadi pribadi yang terus bertumbuh, jangan takut mendengar kritik.
Jika kita ingin menjadi pemimpin yang dicintai rakyat, jangan alergi terhadap masukan.
Jika kita ingin menjadi guru yang dicintai murid, jangan pernah merasa paling benar.
Karena sesungguhnya manusia hebat bukanlah manusia yang selalu dipuji.
Manusia hebat adalah manusia yang mau belajar dari setiap suara yang datang menghampiri.
Dan seperti yang selalu Omjay yakini:
Menulislah setiap hari. Catat setiap peristiwa. Renungkan setiap pelajaran hidup. Sebab dari sebuah berita sederhana, kita bisa menemukan hikmah yang luar biasa untuk kehidupan.
Tulisan Omjay hari ini kembali mengingatkan bahwa perjalanan terjauh bukanlah perjalanan ke luar negeri.
Perjalanan terjauh adalah perjalanan menuju kebijaksanaan hati.
Mengapa Masih Ada Guru yang DIBAYAR MURAH?
Mengapa Masih Ada Guru Digaji Kecil? Sebuah Renungan dari Kisah Omjay
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Suatu hari, Omjay menonton sebuah video yang membahas kompetensi guru dan kesejahteraan mereka. Pembicara dalam video itu menggunakan daya nalar kritis dan analitis. Ia tidak hanya melihat persoalan guru dari permukaan, tetapi mencoba menghubungkan antara kompetensi, kebijakan pemerintah, status kepegawaian, anggaran pendidikan, dan realitas kehidupan para guru di lapangan.
Daya nalar yang digunakan adalah nalar sebab-akibat (kausalitas). Ia mencoba menjawab pertanyaan besar: Mengapa guru yang memiliki tanggung jawab besar masih banyak yang digaji kecil?
Pertanyaan itu terus berputar di kepala Omjay.
Malam semakin larut. Namun pikiran Omjay justru semakin terjaga. Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, Omjay melihat sendiri bagaimana banyak guru berjuang dalam diam.
Mereka datang paling pagi.
Pulang paling sore.
Mengoreksi tugas hingga larut malam.
Menjadi guru, konselor, orang tua, motivator, bahkan terkadang menjadi tempat curhat siswa.
Namun ketika tanggal tua datang, sebagian dari mereka masih harus menghitung uang di dompet dengan hati-hati.
Ada guru yang gajinya bahkan belum cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya selama satu bulan.
Ironis sekali.
Padahal semua orang sepakat bahwa pendidikan adalah fondasi kemajuan bangsa.
Namun mengapa orang-orang yang membangun fondasi itu justru sering kali hidup dalam keterbatasan?
Omjay teringat seorang guru honorer yang pernah ditemuinya dalam sebuah pelatihan.
Guru itu datang dari daerah yang jauh.
Ia mengajar setiap hari dengan penuh semangat.
Murid-murid mencintainya.
Orang tua menghormatinya.
Namun ketika Omjay bertanya berapa penghasilannya setiap bulan, ia hanya tersenyum.
"Kadang tiga ratus ribu, Om. Kadang lima ratus ribu. Kalau sekolah sedang kesulitan dana, ya harus menunggu."
Omjay terdiam.
Dalam hati ia bertanya:
Bagaimana mungkin seorang guru yang mengajar puluhan anak setiap hari harus bertahan hidup dengan penghasilan sebesar itu?
Padahal harga kebutuhan pokok terus naik.
Biaya pendidikan anak terus bertambah.
Biaya kesehatan tidak pernah murah.
Persoalan ini ternyata bukan hanya terjadi di satu daerah.
Banyak penelitian dan laporan menunjukkan bahwa kesejahteraan guru honorer masih menjadi masalah besar di Indonesia. Sebuah kajian dalam Jurnal Pendidikan Tambusai menyebutkan bahwa guru honorer menghadapi rendahnya kesejahteraan, ketidakjelasan status kerja, dan terbatasnya kesempatan pengembangan profesional. Beban kerja mereka sering kali hampir sama dengan guru ASN, tetapi hak dan fasilitas yang diterima jauh berbeda.
Di sisi lain, pemerintah sebenarnya terus berupaya memperbaiki kondisi tersebut.
Tahun 2026 pemerintah meningkatkan berbagai tunjangan guru non-ASN, memperluas program sertifikasi, serta melanjutkan pengangkatan guru honorer menjadi PPPK. Lebih dari 900 ribu guru honorer telah diangkat menjadi ASN PPPK dalam lima tahun terakhir.
Namun persoalan guru ternyata tidak sesederhana menaikkan angka tunjangan.
Masalahnya jauh lebih kompleks.
Pertama, jumlah guru honorer yang sangat besar membuat proses penataan membutuhkan waktu panjang.
Kedua, kemampuan keuangan setiap daerah berbeda-beda.
Ketiga, masih ada sekolah yang sangat bergantung pada dana terbatas untuk menggaji guru.
Keempat, distribusi anggaran pendidikan belum sepenuhnya dirasakan merata oleh semua guru.
Omjay melihat persoalan ini seperti sebuah rumah besar.
Semua orang ingin rumah pendidikan Indonesia berdiri kokoh.
Namun sebagian tukangnya masih bekerja dengan upah yang belum layak.
Tentu rumah itu tetap bisa dibangun.
Tetapi pembangunan akan berjalan lebih baik jika para tukangnya hidup dengan sejahtera.
Ada sebuah kenyataan yang kadang menyedihkan.
Masyarakat sering memuji guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Kalimat itu memang indah.
Namun terkadang pujian tidak mampu membayar kebutuhan hidup.
Guru juga manusia.
Mereka memiliki keluarga.
Mereka memiliki anak yang harus sekolah.
Mereka memiliki orang tua yang harus dirawat.
Mereka memiliki kebutuhan hidup seperti profesi lainnya.
Karena itu penghargaan kepada guru tidak cukup hanya melalui kata-kata.
Penghargaan harus diwujudkan dalam bentuk kesejahteraan yang layak.
Omjay pernah mendengar sebuah kalimat yang sangat mengena.
"Bangsa yang besar tidak hanya menghormati gurunya ketika Hari Guru, tetapi juga memastikan gurunya hidup dengan layak setiap hari."
Kalimat itu terus membekas dalam hati.
Sebab Omjay tahu, di balik senyum para guru terdapat banyak perjuangan yang tidak terlihat.
Ada guru yang naik motor puluhan kilometer setiap hari.
Ada guru yang mengajar sambil berjualan kecil-kecilan demi menambah penghasilan.
Ada guru yang harus mengajar di dua atau tiga sekolah sekaligus.
Ada pula guru yang tetap masuk kelas meskipun sedang menghadapi masalah ekonomi yang berat.
Mereka tetap tersenyum.
Mereka tetap mengajar.
Mereka tetap memberikan ilmu terbaik untuk anak-anak bangsa.
Inilah yang membuat Omjay selalu hormat kepada profesi guru.
Karena menjadi guru bukan hanya soal pekerjaan.
Menjadi guru adalah panggilan jiwa.
Namun panggilan jiwa tidak boleh dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan mereka.
Kompetensi guru memang penting.
Pelatihan guru memang penting.
Sertifikasi guru memang penting.
Tetapi kesejahteraan guru juga sama pentingnya.
Karena guru yang sejahtera akan lebih fokus mengajar.
Guru yang tenang akan lebih kreatif mendidik.
Guru yang dihargai akan lebih bersemangat membimbing generasi masa depan.
Ketika menutup laptop malam itu, Omjay kembali menulis sebuah kalimat di blognya:
"Jangan pernah bertanya mengapa pendidikan belum maju jika kita masih membiarkan banyak guru berjuang sendirian. Sebab di ruang kelas yang sederhana itu, ada guru yang sedang menanam masa depan bangsa dengan penghasilan yang kadang tidak cukup untuk masa depannya sendiri."
Semoga suatu hari nanti tidak ada lagi guru yang harus memilih antara membeli buku untuk muridnya atau membeli kebutuhan dapur keluarganya.
Semoga suatu hari nanti profesi guru benar-benar dihargai setinggi jasa yang mereka berikan.
Karena sesungguhnya, ketika kita memuliakan guru, kita sedang memuliakan masa depan bangsa Indonesia. ✍️
**Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Sebab tulisan mampu menyuarakan jeritan yang tak terdengar dan memperjuangkan harapan yang sering terlupakan.**