Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Kamis, 01 Oktober 2026
otn 8 tinggal 28 hari lagi
Rabu, 30 September 2026
Saat Hati Mulai Lelah
Saat Hati Mulai Lelah, Jangan Biarkan Galau Menguasai Hidup
Pernahkah kita merasa tubuh masih sanggup bergerak, tetapi hati sudah terasa sangat lelah?
Pagi hari kita bangun, mandi, sarapan, lalu berangkat bekerja. Di sekolah kita bertemu siswa, mengajar, tersenyum, berdiskusi, menyelesaikan pekerjaan, dan sesekali bercanda dengan teman sejawat. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja. Namun ketika sendirian, pikiran justru mulai berkelana ke mana-mana.
Ada persoalan yang belum selesai. Ada ucapan seseorang yang masih teringat. Ada harapan yang belum terwujud. Ada kekecewaan yang belum bisa diterima. Ada masa lalu yang tiba-tiba muncul kembali.
Itulah saat ketika hati mulai lelah.
Saya, Omjay, belajar dari perjalanan hidup bahwa manusia tidak hanya membutuhkan kesehatan tubuh. Kita juga membutuhkan ketenangan pikiran dan kedamaian hati. Sebab ketika pikiran terlalu penuh, tubuh pun terkadang ikut merasakan dampaknya.
Sebagai guru yang telah puluhan tahun berada di dunia pendidikan, saya mengalami sendiri bahwa kehidupan seorang pendidik tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika pekerjaan terasa berat, ada tanggung jawab yang datang bersamaan, ada persoalan yang harus diselesaikan, dan ada kondisi yang membuat kita harus belajar menerima kenyataan.
Namun dari semua itu saya mendapatkan satu pelajaran penting: jangan menyimpan semua beban sendirian.
Kita memang harus kuat, tetapi kuat bukan berarti tidak boleh lelah.
Kita boleh menangis.
Kita boleh mengatakan, “Saya sedang tidak baik-baik saja.”
Kita boleh meminta bantuan.
Kita boleh mengambil waktu untuk beristirahat.
Dan yang paling penting, kita boleh belajar memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam diri kita.
Galau Itu Manusiawi
Galau dan sedih adalah bagian dari kehidupan. Hampir setiap orang pernah mengalaminya. Hanya bentuknya yang berbeda.
Ada orang yang galau karena pekerjaan. Ada yang sedih karena keluarga. Ada yang kecewa karena cita-citanya belum tercapai. Ada yang merasa sendirian meskipun berada di tengah banyak orang. Ada pula yang terus memikirkan sesuatu yang sebenarnya sudah berlalu.
Masalahnya bukan sekadar apakah kita pernah galau atau sedih.
Masalahnya adalah ketika kita membiarkan perasaan tersebut terlalu lama menguasai diri.
Kita kehilangan semangat. Sulit berkonsentrasi. Mudah marah. Tidak menikmati aktivitas yang biasanya menyenangkan. Pikiran terus menerus memikirkan hal yang sama.
Pada titik tertentu kita perlu berhenti sejenak dan bertanya kepada diri sendiri:
“Apa sebenarnya yang sedang saya rasakan?”
Pertanyaan sederhana itu bisa menjadi awal perubahan.
Sebab sering kali kita sibuk mencari solusi untuk masalah di luar diri, tetapi lupa memahami apa yang sedang terjadi di dalam diri sendiri.
Guru Juga Bisa Lelah
Saya sering bertemu dengan guru dalam berbagai kegiatan pendidikan. Ada satu kesamaan yang saya rasakan: banyak guru memiliki semangat luar biasa untuk mendidik anak-anak, tetapi terkadang lupa memberikan perhatian kepada dirinya sendiri.
Guru dituntut sabar.
Guru dituntut menjadi teladan.
Guru dituntut kreatif.
Guru harus mengikuti perkembangan teknologi.
Guru harus menguasai berbagai kompetensi.
Guru juga harus berhadapan dengan administrasi, tuntutan pekerjaan, harapan orang tua, karakter siswa yang beragam, dan perubahan dunia pendidikan yang sangat cepat.
Di tengah semua itu, guru tetap manusia.
Guru bisa kecewa.
Guru bisa sedih.
Guru bisa bingung.
Guru bisa kehilangan motivasi.
Karena itu, menjaga kesehatan mental dan emosional bukan sesuatu yang memalukan. Justru merupakan bagian dari ikhtiar agar kita dapat menjalankan peran dengan lebih baik.
Saya semakin yakin bahwa seorang guru yang mampu memahami dirinya akan lebih mudah memahami siswanya.
Guru yang mampu mengelola emosinya akan lebih mudah menghadapi berbagai karakter anak.
Guru yang mampu berdamai dengan dirinya akan lebih mudah memberikan ketenangan kepada orang lain.
Belajar Melepaskan Beban
Saya tertarik dengan tema T.G.S atau Terapi Galau & Sedih yang menghadirkan Aris Ahmad Jaya, yang dikenal sebagai Mr. Sugesti Indonesia dari ABCo Therapy Center.
Tema ini menarik karena berbicara tentang sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan manusia: galau, sedih, dan beban emosional.
Dalam kegiatan tersebut peserta diajak mengenali dan mengurai rasa galau serta mendapatkan teknik yang dapat digunakan untuk membantu menghadapi kesedihan dan beban emosional.
Bagi saya, kegiatan seperti ini dapat menjadi ruang refleksi.
Bukan berarti setiap persoalan kehidupan dapat diselesaikan hanya dengan mengikuti satu webinar. Bukan pula berarti semua masalah pasti berasal dari stres atau kesedihan.
Kehidupan manusia jauh lebih kompleks.
Namun, belajar mengenali emosi adalah langkah yang baik.
Kita perlu mengetahui kapan harus berusaha sendiri, kapan harus berbicara dengan orang yang dipercaya, dan kapan perlu mendapatkan bantuan dari tenaga profesional yang kompeten.
Jangan Percaya Semua yang Ada di Kepala Kita
Ada satu hal yang menarik dari pengalaman hidup.
Ketika sedang sedih, pikiran kita terkadang menghasilkan berbagai kesimpulan yang belum tentu benar.
Kita merasa tidak dihargai.
Kita merasa semua orang meninggalkan kita.
Kita merasa tidak akan berhasil.
Kita merasa masa depan akan selalu buruk.
Padahal belum tentu demikian.
Karena itu, jangan mengambil keputusan besar ketika emosi sedang berada di titik paling berat.
Tenangkan diri terlebih dahulu.
Berikan waktu kepada pikiran untuk kembali jernih.
Berbicara dengan orang yang dipercaya juga dapat membantu kita melihat persoalan dari sudut pandang yang berbeda.
Saya sendiri menemukan bahwa menulis adalah salah satu cara yang membantu saya melakukan refleksi.
Ketika sesuatu memenuhi pikiran, saya menulis.
Saya menuangkan pengalaman, perasaan, kegelisahan, dan pelajaran hidup ke dalam tulisan. Setelah menjadi tulisan, saya bisa membacanya kembali dengan jarak yang berbeda.
Ternyata tidak semua masalah harus dilawan.
Sebagian harus diselesaikan.
Sebagian harus diterima.
Dan sebagian lainnya harus dilepaskan.
Jangan Memusuhi Kesedihan
Kesedihan tidak selalu menjadi musuh.
Kadang kesedihan justru mengajarkan kita tentang arti kehilangan.
Kegagalan mengajarkan kita tentang kesabaran.
Kekecewaan mengajarkan kita untuk tidak menggantungkan kebahagiaan sepenuhnya kepada orang lain.
Kesendirian mengajarkan kita mengenal diri sendiri.
Dan perjalanan hidup mengajarkan bahwa tidak ada keadaan yang berlangsung selamanya.
Hari ini kita mungkin sedang sedih.
Tetapi bukan berarti kita akan sedih selamanya.
Hari ini kita mungkin gagal.
Tetapi bukan berarti seluruh kehidupan kita adalah kegagalan.
Hari ini kita mungkin belum mendapatkan apa yang kita inginkan.
Tetapi masih ada kesempatan untuk mencoba lagi.
Itulah sebabnya saya selalu berusaha menjaga semangat untuk terus belajar dan menulis.
Hidup Tidak Harus Selalu Sempurna
Kita sering melihat kehidupan orang lain melalui media sosial.
Ada yang tampak sukses.
Ada yang tampak bahagia.
Ada yang sering bepergian.
Ada yang mendapatkan penghargaan.
Ada yang memiliki keluarga harmonis.
Ada yang kariernya melesat.
Kemudian tanpa sadar kita membandingkan kehidupan mereka dengan kehidupan kita.
Di sinilah masalah baru muncul.
Kita lupa bahwa yang kita lihat hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Jangan membandingkan halaman pertama kehidupan kita dengan halaman ke-100 kehidupan orang lain.
Setiap orang memiliki waktunya sendiri.
Setiap orang memiliki perjuangannya sendiri.
Setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat.
Maka, kalau hari ini kita sedang berada dalam masa sulit, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa kehidupan kita buruk.
Mungkin kita hanya sedang berada di satu bab yang belum selesai.
Mari Beri Ruang untuk Diri Sendiri
Saya belajar bahwa merawat diri bukan berarti egois.
Beristirahat bukan berarti malas.
Menolak sesuatu yang tidak sanggup kita lakukan bukan berarti lemah.
Mencari bantuan bukan berarti gagal.
Dan mengakui bahwa kita sedang sedih bukan berarti kita kalah.
Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar.
Tarik napas.
Berdoa.
Berjalan.
Berbicara.
Menulis.
Membaca.
Berkumpul dengan orang-orang yang memberikan energi positif.
Atau sekadar duduk dalam keheningan dan bertanya kepada diri sendiri:
“Apa yang sebenarnya saya butuhkan saat ini?”
Pertanyaan itu sederhana, tetapi jawabannya bisa sangat berarti.
Dari Galau Menuju Damai
Saya tidak ingin mengatakan bahwa setelah mengikuti webinar atau membaca sebuah artikel, semua masalah akan langsung hilang.
Tidak.
Kehidupan tidak sesederhana itu.
Tetapi setiap pengetahuan baru dapat menjadi satu anak tangga menuju pemahaman yang lebih baik.
Webinar T.G.S (Terapi Galau & Sedih) dapat menjadi salah satu ruang belajar bagi siapa saja yang ingin memahami dirinya, mengenali rasa galau, dan belajar mengelola kesedihan dengan cara yang lebih sehat.
Yang paling penting, kita tidak berhenti pada pengetahuan.
Kita mempraktikkannya dalam kehidupan.
Kita belajar mengenali emosi.
Kita belajar mengendalikan respons.
Kita belajar berkomunikasi.
Kita belajar memaafkan.
Kita belajar menerima.
Dan akhirnya kita belajar melepaskan.
Sebab terkadang yang membuat kita lelah bukan masalah yang sedang terjadi, tetapi keinginan kita agar sesuatu yang sudah terjadi bisa kembali seperti semula.
Padahal hidup terus bergerak.
Kita pun harus bergerak.
Saya Memilih Terus Menulis
Di usia saya sekarang, saya semakin menyadari bahwa hidup bukan hanya tentang berapa banyak yang sudah kita capai.
Hidup juga tentang berapa banyak orang yang bisa kita beri manfaat.
Karena itu saya terus menulis.
Saya menulis pengalaman menjadi guru.
Saya menulis tentang pendidikan.
Saya menulis tentang teknologi.
Saya menulis tentang siswa.
Saya menulis tentang kehidupan.
Dan sesekali saya menulis tentang perasaan.
Bukan karena saya memiliki kehidupan yang sempurna.
Justru karena saya tahu kehidupan penuh dengan warna.
Ada bahagia.
Ada sedih.
Ada sukses.
Ada gagal.
Ada tawa.
Ada air mata.
Semuanya menjadi bagian dari perjalanan.
Saya ingin terus belajar menjalani semuanya dengan hati yang lebih lapang.
Kalau sedang bahagia, saya bersyukur.
Kalau sedang sedih, saya belajar menerima.
Kalau sedang gagal, saya mencoba lagi.
Kalau sedang galau, saya berhenti sejenak dan mencari jalan keluar.
Dan kalau tidak tahu harus berbuat apa, saya berdoa.
Karena pada akhirnya, kita tidak selalu bisa mengendalikan apa yang terjadi dalam kehidupan.
Tetapi kita masih bisa belajar mengendalikan bagaimana kita meresponsnya.
Jangan biarkan satu masalah mengambil seluruh kebahagiaan dalam hidup kita.
Jangan biarkan satu kekecewaan membuat kita lupa bahwa masih banyak hal baik yang layak disyukuri.
Jangan biarkan kesedihan membuat kita berhenti bermimpi.
Dan jangan biarkan galau membuat kita lupa bahwa hari esok masih menyimpan kemungkinan baru.
Hidup terus berjalan.
Mari kita jalani dengan hati yang lebih tenang.
Jika hari ini berat, istirahatlah.
Jika hari ini sedih, menangislah bila perlu.
Jika hari ini galau, carilah tempat untuk bercerita.
Jika membutuhkan bantuan, jangan ragu mencarinya.
Kemudian, setelah hati mulai tenang, bangkitlah dan lanjutkan perjalanan.
Karena masih banyak orang yang membutuhkan senyum kita.
Masih banyak ilmu yang bisa kita bagikan.
Masih banyak tulisan yang bisa kita lahirkan.
Dan masih banyak kebaikan yang bisa kita lakukan.
Menulislah dengan hati. Hidupilah kehidupan dengan syukur. Jangan menyerah hanya karena hari ini terasa berat.
Salam literasi.
Salam sehat.
Salam bahagia.
Omjay — Guru Blogger Indonesia
Selasa, 29 September 2026
kata pengantar omjay untuk buku antologi guru guru sdn johar baru 04
Senin, 28 September 2026
kisah omjay: Jernih Hati dan Luhur Budi Untuk Masa Depan
Minggu, 27 September 2026
Kisah Omjay di Hari Minggu Bersama Anak Cucu
Melampaui Diri Sendiri: Kisah Omjay Menikmati Hari Minggu Bersama Anak dan Cucu
Inspirasi Minggu, 27 September 2026
“Mungkin hidupmu tidak seberuntung orang lain. Tapi orang lain belum tentu bisa sekuat kamu.”
Kalimat sederhana itu kembali terlintas dalam pikiran saya pada Minggu pagi ini. Setelah melewati hari-hari yang cukup padat dengan berbagai aktivitas sebagai guru, penulis, blogger, dan penggiat pendidikan, saya memilih menikmati hari Minggu dengan cara yang sederhana: berkumpul bersama keluarga, bercengkerama dengan anak-anak, bermain dan bercanda bersama cucu, serta menikmati waktu yang tidak selalu bisa kita dapatkan di tengah kesibukan.
Bagi saya, kebahagiaan ternyata tidak selalu harus dicari jauh-jauh. Kadang kebahagiaan hadir begitu dekat, bahkan duduk di samping kita. Ketika anak-anak berkumpul, ketika cucu tersenyum dan mengajak bermain, ketika obrolan keluarga terdengar di ruang rumah, ada rasa syukur yang sulit digantikan oleh apa pun. Pada saat seperti itu saya semakin menyadari bahwa perjalanan kehidupan bukan hanya tentang pekerjaan, pencapaian, penghargaan, atau seberapa banyak tulisan yang berhasil dibuat. Ada keluarga yang harus kita jaga, ada orang-orang yang kita cintai, dan ada waktu yang tidak mungkin kembali.
Hari Minggu, Saatnya Menikmati Kehidupan
Hari Minggu bagi saya bukan sekadar hari libur dari rutinitas mengajar. Hari Minggu adalah kesempatan untuk berhenti sejenak, menarik napas lebih panjang, melihat kembali perjalanan yang sudah dilalui, dan menikmati kebersamaan bersama orang-orang yang kita sayangi. Kesibukan terkadang membuat kita lupa bahwa anak-anak terus bertumbuh dan cucu-cucu terus berkembang. Waktu berjalan begitu cepat. Apa yang hari ini masih kecil, tiba-tiba sudah besar. Apa yang dahulu sering kita gendong, suatu hari mungkin sudah mampu berlari dan memanggil kita dengan penuh keceriaan.
Karena itu, ketika ada kesempatan berkumpul bersama anak dan cucu, saya berusaha menikmatinya. Tidak perlu acara yang mewah. Tidak perlu pergi ke tempat yang jauh. Cukup duduk bersama, makan bersama, bercerita, bercanda, mendengarkan cerita anak-anak, dan melihat tingkah cucu yang kadang membuat kita tertawa. Hal-hal sederhana seperti inilah yang sering kali justru menjadi kenangan paling berharga.
Saya semakin memahami bahwa hidup tidak harus selalu mengejar sesuatu yang besar. Ada waktunya kita berjuang, ada waktunya kita bekerja keras, ada waktunya kita menulis, mengajar, menghadiri kegiatan, dan berbagi ilmu. Namun ada pula waktunya kita berhenti sejenak dan menikmati hasil dari perjalanan tersebut bersama keluarga.
Jangan Membandingkan Jalan Hidup
Dalam perjalanan hidup, kita sering kali tergoda untuk membandingkan diri dengan orang lain. Kita melihat seseorang yang tampak lebih sukses, lebih kaya, lebih terkenal, lebih sehat, atau lebih bahagia. Tanpa sadar kita kemudian bertanya kepada diri sendiri, “Mengapa hidup saya tidak seperti dia?”
Padahal kita hanya melihat sebagian kecil dari kehidupan orang lain. Kita melihat keberhasilannya, tetapi tidak selalu melihat perjuangannya. Kita melihat senyumnya, tetapi tidak mengetahui air mata yang pernah jatuh. Kita melihat pencapaiannya, tetapi tidak mengetahui berapa kali dia mengalami kegagalan. Begitu pula orang lain tidak pernah mengetahui seluruh perjalanan hidup yang sudah kita lalui.
Saya pun belajar untuk tidak terlalu sibuk membandingkan kehidupan saya dengan kehidupan orang lain. Setiap orang mempunyai jalan masing-masing. Ada yang berjalan cepat, ada yang berjalan perlahan. Ada yang mendapatkan kesempatan lebih awal, ada yang harus menunggu lebih lama. Ada yang langsung berhasil, ada pula yang harus jatuh berkali-kali sebelum akhirnya menemukan jalannya.
Tugas kita bukan melampaui orang lain. Tugas kita adalah melampaui diri sendiri.
Kalimat itu semakin terasa maknanya ketika saya melihat perjalanan hidup saya sendiri. Saya tidak harus menjadi lebih hebat daripada siapa pun. Saya hanya perlu berusaha menjadi Omjay yang lebih baik daripada Omjay kemarin. Kalau kemarin belum sempat menulis, hari ini saya mencoba menulis. Kalau kemarin belum sempat belajar, hari ini saya kembali belajar. Kalau kemarin ada kekurangan, hari ini saya berusaha memperbaikinya. Kalau kemarin ada kesalahan, hari ini saya mencoba mengambil pelajaran darinya.
Anak dan Cucu Mengajarkan Arti Kehidupan
Berkumpul bersama anak dan cucu ternyata juga menjadi ruang belajar bagi saya. Dari anak-anak saya belajar bahwa setiap generasi memiliki tantangan yang berbeda. Dari cucu saya belajar tentang keceriaan, kesederhanaan, dan kemampuan menikmati sesuatu tanpa terlalu banyak memikirkan masa depan.
Cucu tidak membutuhkan banyak hal untuk merasa bahagia. Kadang sebuah permainan sederhana sudah cukup membuat mereka tertawa. Sebuah cerita kecil bisa membuat mereka penasaran. Sebuah pelukan bisa membuat mereka merasa aman. Melihat hal itu, saya kembali belajar bahwa manusia sebenarnya tidak membutuhkan terlalu banyak alasan untuk bersyukur.
Ketika usia bertambah, kita sering mengejar hal-hal yang semakin banyak. Kita ingin memiliki lebih banyak, mencapai lebih banyak, dikenal lebih banyak, dan menghasilkan lebih banyak. Namun anak dan cucu justru mengingatkan bahwa kebahagiaan juga bisa ditemukan dalam hal-hal yang sangat sederhana.
Duduk bersama keluarga.
Makan bersama.
Tertawa bersama.
Berdoa bersama.
Mendengarkan cerita.
Dan menikmati waktu yang sedang berjalan.
Mungkin itulah salah satu bentuk kekayaan yang sesungguhnya.
Menulis Adalah Bagian dari Perjalanan
Sebagai seorang guru dan penulis, saya tentu tidak bisa jauh dari kegiatan menulis. Menulis sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup saya sejak bertahun-tahun lalu. Saya menulis bukan hanya karena ingin mendapatkan pembaca atau penghargaan. Saya menulis karena melalui tulisan saya dapat menyimpan pengalaman, berbagi pengetahuan, menyampaikan gagasan, dan mungkin memberikan semangat kepada seseorang yang sedang membutuhkan.
Tidak semua tulisan mendapatkan perhatian besar. Tidak semua tulisan dibaca banyak orang. Tidak semua tulisan menghasilkan sesuatu secara materi. Tetapi saya percaya bahwa setiap tulisan mempunyai waktunya sendiri.
Bisa jadi hari ini hanya dibaca beberapa orang. Namun suatu hari nanti, tulisan tersebut mungkin ditemukan oleh seseorang yang sedang membutuhkan inspirasi. Bisa jadi tulisan yang kita anggap sederhana justru menjadi pengingat bagi orang lain untuk tidak menyerah.
Itulah sebabnya saya berusaha menulis dengan hati. Saya ingin setiap tulisan memiliki kehidupan. Ada pengalaman di dalamnya, ada pembelajaran, ada rasa syukur, dan ada pesan yang dapat dibawa pulang oleh pembacanya.
Menikmati Proses Kehidupan
Semakin bertambah usia, saya semakin memahami bahwa kehidupan bukan hanya tentang hasil. Proses justru sering kali jauh lebih berharga daripada hasil yang kita dapatkan.
Ketika mengajar, saya menikmati proses melihat siswa belajar. Ketika menulis, saya menikmati proses menuangkan pikiran. Ketika menjadi bagian dari komunitas pendidikan, saya menikmati proses bertemu dengan guru-guru dari berbagai daerah. Ketika berkumpul bersama keluarga, saya menikmati proses melihat anak-anak dan cucu bertumbuh.
Tidak semuanya berjalan sempurna. Ada hari ketika kita merasa lelah. Ada saat ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Ada masa ketika hasil yang kita tunggu belum juga datang. Namun bukan berarti perjalanan harus dihentikan.
Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar untuk mengumpulkan tenaga, kemudian melanjutkan perjalanan kembali.
Saya percaya bahwa setiap orang mempunyai waktunya sendiri. Karena itu, saya tidak ingin terlalu memaksa kehidupan berjalan sesuai dengan keinginan saya. Ada hal-hal yang bisa saya usahakan, tetapi ada pula hal-hal yang harus saya serahkan kepada Allah.
Tugas saya adalah berusaha.
Tugas saya adalah belajar.
Tugas saya adalah berdoa.
Tugas saya adalah bersyukur.
Selebihnya, biarlah Allah yang menentukan jalan terbaik.
Hari Ini Harus Lebih Baik
Saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa ukuran keberhasilan tidak selalu seberapa jauh kita dibandingkan dengan orang lain. Ukuran yang lebih penting adalah apakah hari ini kita sudah menjadi pribadi yang lebih baik daripada kemarin.
Kalau kemarin mudah marah, hari ini belajar lebih sabar. Kalau kemarin malas membaca, hari ini membaca walaupun hanya beberapa halaman. Kalau kemarin belum sempat menulis, hari ini menghasilkan sebuah tulisan. Kalau kemarin kurang bersyukur, hari ini mencoba memperbanyak rasa syukur. Kalau kemarin sempat merasa putus asa, hari ini kembali menumbuhkan harapan.
Tidak perlu langsung berubah menjadi luar biasa.
Sedikit demi sedikit saja.
Hari demi hari.
Langkah demi langkah.
Sebab perjalanan panjang selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten.
Keluarga Adalah Tempat Kembali
Minggu ini saya kembali merasakan bahwa keluarga adalah salah satu tempat terbaik untuk pulang. Di luar rumah kita mungkin memiliki banyak peran. Sebagai guru, kita harus mengajar. Sebagai penulis, kita harus berkarya. Sebagai pengurus organisasi, kita harus melayani dan bekerja bersama. Sebagai blogger, kita terus berbagi informasi dan pengalaman.
Namun ketika berada bersama keluarga, kita bisa menjadi diri sendiri.
Tidak perlu terlalu banyak pencitraan.
Tidak perlu membuktikan apa-apa.
Cukup hadir dan menikmati kebersamaan.
Melihat anak tersenyum dan cucu tertawa sudah menjadi kebahagiaan tersendiri. Dari sana saya kembali mendapatkan energi untuk melanjutkan perjalanan pada hari-hari berikutnya.
Saya sadar bahwa waktu bersama keluarga tidak akan pernah bisa diulang. Karena itu, selama masih diberikan kesempatan oleh Allah, saya ingin menikmatinya sebaik mungkin.
Omjay Terus Berjalan
Saya pun masih terus belajar. Masih banyak kekurangan, masih banyak kesalahan, dan masih banyak impian yang belum tercapai. Tetapi saya tidak ingin berhenti hanya karena perjalanan belum sempurna.
Saya ingin terus menjadi guru yang belajar, guru yang berbagi, guru yang menulis, dan guru yang berusaha memberikan manfaat bagi orang lain. Saya ingin terus menulis selama masih diberikan kesempatan dan kesehatan. Saya ingin terus berbagi pengalaman agar perjalanan yang saya lalui tidak berhenti hanya menjadi cerita pribadi, tetapi dapat memberikan manfaat bagi guru, siswa, keluarga, dan masyarakat.
Hari Minggu bersama anak dan cucu membuat saya kembali memahami satu hal penting: hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Hidup adalah tentang bagaimana kita menjalani perjalanan dengan penuh syukur, menjaga orang-orang yang kita cintai, terus memperbaiki diri, dan memberikan manfaat selama masih diberi kesempatan.
Mungkin kehidupan saya tidak selalu seberuntung orang lain. Namun saya percaya bahwa Allah telah memberikan kekuatan yang cukup untuk melewati setiap perjalanan. Bahkan mungkin, tanpa saya sadari, kekuatan untuk terus bertahan, terus belajar, terus menulis, dan terus berbagi itulah salah satu hadiah terbesar yang Allah berikan kepada saya.
Maka pada Minggu pagi ini, ketika saya bisa berkumpul bersama anak dan cucu, saya kembali mengingatkan diri sendiri untuk tidak terlalu sibuk mengejar kehidupan orang lain. Nikmati apa yang ada di depan mata. Syukuri keluarga yang masih bersama. Hargai waktu yang masih diberikan. Teruslah berkarya, tetapi jangan lupa menikmati kehidupan.
Jangan menyerah.
Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jangan berhenti hanya karena hasil belum terlihat.
Teruslah melangkah.
Nikmati prosesnya.
Perbaiki diri setiap hari.
Dan ketika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, mungkin kita akan tersenyum sambil berkata, “Ternyata semua perjuangan itu memang ada hikmahnya.”
Saya percaya, Allah Maha Tahu kapan kita harus berhenti sejenak, kapan kita harus kembali berjalan, dan kapan hati kita siap menerima kebahagiaan.
Hari ini saya memilih bersyukur.
Bersyukur masih bisa berkumpul bersama keluarga.
Bersyukur masih bisa melihat anak-anak tersenyum.
Bersyukur masih bisa bermain dan bercanda bersama cucu.
Bersyukur masih bisa mengajar.
Bersyukur masih bisa menulis.
Bersyukur masih bisa berbagi.
Dan yang paling penting, bersyukur masih diberikan kesempatan untuk terus melampaui diri sendiri.
Bukan untuk mengalahkan orang lain.
Tetapi untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diri saya kemarin.
Terus belajar. Terus menulis. Terus berbagi. Terus bersyukur.
Karena hidup adalah perjalanan, dan setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.
Barakallah fiikum.
Salam literasi.
Omjay – Guru Blogger Indonesia
Blog: https://wijayalabs.com
Sabtu, 26 September 2026
Ayo ikutan OTN 8 di JICC Senayan Jakarta
OTN 8 2026 Hadir di JICC Senayan: Saatnya Siswa dan Guru Indonesia Unjuk Kreativitas di Dunia Teknologi
Oleh: Wijaya Kusumah
Perkembangan teknologi digital berlangsung begitu cepat. Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI), coding, robotik, informatika, hingga teknologi digital lainnya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Di tengah perubahan tersebut, sekolah memiliki peran penting untuk memberikan ruang kepada peserta didik agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu berpikir, berkarya, berkreasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan inovasi dengan teknologi.
Salah satu ruang untuk mewujudkan semangat tersebut adalah OTN 8 Tahun 2026.
OTN 8 Hadir di JICC Senayan Jakarta
Olimpiade TIK dan Informatika ke-8 atau OTN 8 Tahun 2026 akan dilaksanakan pada:
📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta
OTN 8 menjadi bagian dari rangkaian kegiatan teknologi dan pendidikan yang berlangsung dalam Main Event Indocomtech 2026.
Berdasarkan matriks Rundown Main Event Indocomtech, berbagai cabang kegiatan OTN dijadwalkan selama penyelenggaraan, antara lain OTN Coding, OTN Robotic, OTN E-Sport, OTN Cerdas Cermat Informatika, dan OTN Film Pendek.
Ini bukan sekadar perlombaan.
OTN 8 merupakan kesempatan bagi anak-anak Indonesia untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda. Mereka dapat menguji kemampuan, bekerja sama, berpikir kreatif, menyelesaikan persoalan, sekaligus membangun kepercayaan diri.
Ada Coding, Robotik, Informatika, Film Pendek, dan E-Sport
Teknologi tidak hanya tentang komputer.
Teknologi adalah tentang cara manusia berpikir dan menciptakan solusi.
Karena itu, OTN 8 menghadirkan berbagai kegiatan dengan karakter kemampuan yang berbeda.
💻 OTN Coding
Coding melatih peserta untuk berpikir logis, sistematis, dan terstruktur.
Melalui coding, siswa belajar bahwa sebuah masalah dapat dipecahkan secara bertahap melalui algoritma dan instruksi yang tepat.
🤖 OTN Robotic
Robotik menggabungkan kreativitas, logika, teknologi, dan pemecahan masalah.
Siswa tidak hanya belajar membuat sesuatu bergerak, tetapi juga belajar bagaimana sebuah sistem dapat dirancang agar mampu menjalankan fungsi tertentu.
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
Kegiatan ini menjadi ruang untuk menguji wawasan dan kemampuan peserta dalam bidang informatika.
Dalam matriks kegiatan, OTN Cerdas Cermat Informatika tercantum pada rangkaian acara Jumat, 30 Oktober 2026.
🎬 OTN Film Pendek
Teknologi juga dapat digunakan untuk bercerita.
Melalui film pendek, siswa dapat menggabungkan ide, penulisan cerita, pengambilan gambar, penyuntingan, dan kreativitas visual.
OTN Film Pendek juga tercantum dalam rangkaian kegiatan OTN pada Jumat, 30 Oktober 2026.
🎮 OTN E-Sport
E-sport menjadi salah satu bagian dari ekosistem digital yang berkembang di kalangan generasi muda.
Dalam rundown, OTN E-Sport tercantum pada Minggu, 1 November 2026.
Seminar Nasional OTN 8 Terbuka untuk Umum
Selain kompetisi, OTN 8 juga menghadirkan Seminar Nasional PGRI.
Yang menarik, pendaftaran Seminar Nasional OTN 8 terbuka untuk umum.
Jadi, kegiatan ini tidak hanya diperuntukkan bagi peserta lomba.
Guru, kepala sekolah, mahasiswa, orang tua, pemerhati pendidikan, komunitas, praktisi teknologi, dan masyarakat umum yang ingin menambah wawasan dapat mengikuti kegiatan seminar sesuai mekanisme pendaftaran yang disediakan panitia.
Dalam matriks Main Event Indocomtech, Seminar Nasional PGRI tercantum sebagai salah satu agenda pada Kamis, 29 Oktober 2026.
Ini menjadi kesempatan yang baik untuk mempertemukan dunia pendidikan dengan perkembangan teknologi.
Guru Jangan Hanya Menjadi Penonton
Sebagai guru, kita sering meminta siswa untuk berani mencoba.
Namun, terkadang kita lupa bahwa anak-anak membutuhkan kesempatan nyata.
Karena itu, mari kita mulai dari sekolah.
Guru dapat memilih siswa yang memiliki minat pada coding.
Ajak siswa yang senang merakit untuk mengenal robotik.
Berikan kesempatan kepada siswa yang kreatif untuk membuat film pendek.
Dorong siswa yang memiliki wawasan informatika untuk mengikuti cerdas cermat.
Dan berikan ruang bagi siswa yang tertarik dengan dunia e-sport untuk belajar tentang strategi, kerja sama, disiplin, dan sportivitas.
Tidak semua anak harus menjadi juara.
Tetapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba.
Bisa jadi pengalaman mengikuti OTN 8 menjadi awal dari perjalanan panjang mereka di dunia teknologi.
Jangan Tunggu Sampai Terlambat
Kadang kita baru mengetahui potensi seorang anak setelah memberikan kesempatan kepadanya.
Ada anak yang awalnya dianggap biasa saja, tetapi ternyata memiliki kemampuan coding yang luar biasa.
Ada siswa yang pendiam di kelas, tetapi sangat kreatif ketika membuat film.
Ada yang senang bermain dan bereksperimen dengan robot.
Ada pula yang memiliki kemampuan berpikir cepat dalam bidang informatika.
Karena itu, jangan matikan mimpi anak-anak hanya karena kita belum melihat potensinya hari ini.
Berikan mereka kesempatan.
Berikan mereka pengalaman.
Berikan mereka panggung untuk menunjukkan kemampuan.
OTN 8 hadir untuk menjadi salah satu panggung tersebut.
Ayo Daftarkan Peserta OTN 8
Bagi sekolah, guru, orang tua, dan siswa yang ingin mengikuti OTN 8, pendaftaran peserta dapat dilakukan melalui:
👉
Jangan menunggu sampai mendekati hari pelaksanaan.
Segera informasikan kepada kepala sekolah, guru, orang tua, dan peserta didik yang memiliki minat di bidang teknologi.
Mari kita siapkan generasi muda Indonesia untuk menghadapi masa depan dengan kreativitas, kompetensi, karakter, dan kemampuan menggunakan teknologi secara bijak.
OTN 8 2026
📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta
🏆 OTN Coding
🤖 OTN Robotic
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🎮 OTN E-Sport
🎤 Seminar Nasional OTN 8 – Terbuka untuk Umum
Mari Belajar, Berkarya, Berkompetisi, dan Menginspirasi.
Jangan hanya menjadi pengguna teknologi.
Jadilah generasi yang mampu menciptakan teknologi dan menggunakannya untuk kebaikan.
Ayo daftar OTN 8 sekarang!
👉
📱 Versi Caption Instagram/Facebook
OTN 8 2026 SEGERA HADIR! 🚀
Saatnya siswa Indonesia menunjukkan kreativitas dan kemampuan di bidang teknologi.
📍 JICC Senayan, Jakarta
📅 29 Oktober–1 November 2026
Ada berbagai kegiatan menarik:
💻 Coding
🤖 Robotik
🧠 Cerdas Cermat Informatika
🎬 Film Pendek
🎮 E-Sport
Bukan hanya lomba, OTN 8 adalah ruang untuk belajar, berkarya, berkompetisi, dan membangun kepercayaan diri.
🎤 Seminar Nasional OTN 8 juga terbuka untuk umum!
Guru, kepala sekolah, mahasiswa, orang tua, komunitas pendidikan, praktisi, dan masyarakat umum dapat ikut berpartisipasi.
🔥 Ayo daftarkan peserta OTN 8 sekarang!
👉
Jangan hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta teknologi!
#OTN8 #OTN2026 #Coding #Robotik #Informatika #KecerdasanArtifisial #E Sport #FilmPendek #Indocomtech #JICC #KOGTIK #PGRI #SemnasOTN8 #PendidikanIndonesia
📱 Versi WhatsApp/Grup Guru
INFO OTN 8 2026
Bapak/Ibu Guru dan Sahabat Pendidikan,
OTN 8 Tahun 2026 akan dilaksanakan pada:
📅 29 Oktober–1 November 2026
📍 JICC Senayan, Jakarta
Cabang kegiatan antara lain:
💻 OTN Coding
🤖 OTN Robotic
🧠 OTN Cerdas Cermat Informatika
🎬 OTN Film Pendek
🎮 OTN E-Sport
Selain perlombaan, tersedia juga Seminar Nasional OTN 8 yang terbuka untuk umum.
Mari ajak siswa berbakat di sekolah untuk ikut berkompetisi dan memberikan pengalaman belajar yang berbeda.
👉 Pendaftaran:
OTN 8 — Belajar, Berkarya, Berkompetisi, dan Menginspirasi.
Jumat, 25 September 2026
Strategi Membaca Soal TKA
Kamis, 24 September 2026
Belajar dan Berbagi Ilmu Menulis di SDN Johar Baru 04 Jakarta Pusat
Rabu, 23 September 2026
Undangan Berbagi Ilmu TKA di SMKN 18 Jakarta
Dari Surat Undangan, Saya Belajar: Menjadi Guru Berarti Terus Berbagi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Ada kebahagiaan tersendiri ketika seorang guru menerima surat undangan untuk menjadi narasumber. Bukan semata-mata karena mendapatkan kesempatan berbicara di depan banyak orang, tetapi karena ada kepercayaan yang diberikan kepada kita untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan.
Hari ini, Rabu, 23 September 2026, saya menerima sebuah surat yang membuat saya kembali merenungkan perjalanan panjang sebagai seorang guru.
Surat itu datang dari SMK Negeri 18 Jakarta, melalui surat bernomor 787/PK.01.04, tertanggal 22 September 2026. Isinya adalah permohonan kepada Kepala SMP Labschool Jakarta agar menugaskan saya menjadi narasumber dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.
Kegiatan tersebut akan dilaksanakan pada:
- Hari: Jumat
- Tanggal: 25 September 2026
- Waktu: 08.00 WIB sampai selesai
- Tempat: Aula SMK Negeri 18 Jakarta
- Acara: Kegiatan Pelatihan Literasi TKA
Bagi sebagian orang, mungkin surat seperti ini hanyalah surat undangan biasa.
Namun bagi saya, surat tersebut mempunyai makna yang lebih dalam.
Dari Guru Menjadi Pembelajar Sepanjang Hayat
Saya mulai mengajar sejak tahun 1994.
Artinya, perjalanan saya sebagai guru sudah sangat panjang. Banyak perubahan terjadi dalam dunia pendidikan. Dulu kita mengajar dengan papan tulis dan kapur. Kemudian hadir komputer, internet, LCD projector, smartphone, media sosial, pembelajaran digital, hingga sekarang kita berhadapan dengan kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI).
Perubahan itu mengajarkan saya satu hal.
Guru tidak boleh berhenti belajar.
Ketika guru berhenti belajar, ia akan kesulitan mengajak muridnya untuk menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Itulah sebabnya saya selalu berusaha belajar dari siapa saja dan dari mana saja.
Saya belajar dari buku.
Saya belajar dari pengalaman mengajar.
Saya belajar dari murid.
Saya belajar dari guru lain.
Saya belajar dari komunitas.
Dan sekarang saya juga belajar bagaimana teknologi AI dapat digunakan secara bijak dalam dunia pendidikan.
Undangan Ini Mengingatkan Saya pada Perjalanan Menulis
Menjadi narasumber juga tidak bisa dilepaskan dari perjalanan saya sebagai seorang penulis.
Saya mulai menulis di blog sejak tahun 2007.
Awalnya saya hanya ingin mendokumentasikan pengalaman mengajar. Saya menulis apa yang saya lakukan di kelas, apa yang saya pelajari, dan apa yang saya rasakan sebagai seorang guru.
Ternyata tulisan-tulisan sederhana itu membawa saya ke banyak tempat.
Saya kemudian mendapatkan kesempatan menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan pendidikan.
Dari satu undangan muncul undangan berikutnya.
Dari satu tulisan lahir tulisan lainnya.
Dari satu pertemuan saya bertemu banyak guru hebat.
Saya semakin percaya bahwa menulis adalah salah satu cara guru meninggalkan jejak kebaikan.
Ketika kita menulis, pengalaman yang kita miliki tidak berhenti di dalam diri kita.
Pengalaman itu dapat dibaca orang lain.
Dapat dipelajari.
Dapat dikembangkan.
Bahkan mungkin dapat menginspirasi guru yang belum pernah kita kenal.
Literasi TKA Bukan Sekadar Persiapan Menghadapi Tes
Dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA nanti, saya tentu tidak ingin sekadar berbicara tentang bagaimana menjawab soal.
Literasi jauh lebih luas daripada sekadar kemampuan membaca teks.
Literasi adalah kemampuan memahami informasi, mengolahnya, menilai kebenarannya, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk mengambil keputusan.
Di tengah derasnya informasi digital, kemampuan seperti ini menjadi semakin penting.
Anak-anak kita setiap hari berhadapan dengan berbagai informasi.
Ada informasi yang benar.
Ada informasi yang belum tentu benar.
Ada opini.
Ada iklan.
Ada konten yang dibuat manusia.
Ada pula konten yang dibuat dengan bantuan AI.
Karena itu, kemampuan literasi harus terus dibangun.
Guru mempunyai peran penting dalam proses tersebut.
Saya Datang Bukan untuk Menggurui
Jika nanti berdiri di depan para peserta pelatihan, saya tidak ingin merasa sebagai orang yang paling tahu.
Saya datang sebagai sesama pembelajar.
Saya akan membawa pengalaman.
Saya akan berbagi praktik yang pernah saya lakukan.
Saya juga akan membawa cerita tentang keberhasilan dan kegagalan.
Sebab dari kegagalan pun kita bisa belajar.
Saya percaya bahwa narasumber yang baik bukanlah orang yang membuat peserta merasa dirinya hebat.
Narasumber yang baik adalah orang yang membuat peserta pulang dengan membawa gagasan baru yang bisa dipraktikkan.
Itulah prinsip yang ingin saya pegang.
Terima Kasih atas Kepercayaan
Saya mengucapkan terima kasih kepada SMK Negeri 18 Jakarta yang telah memberikan kepercayaan kepada saya untuk berbagi dalam kegiatan Pelatihan Literasi TKA.
Saya juga berterima kasih kepada Kepala SMP Labschool Jakarta atas dukungan dan kepercayaannya.
Surat undangan ini kembali mengingatkan saya bahwa perjalanan seorang guru memang tidak pernah selesai.
Mengajar membuat kita belajar.
Belajar membuat kita berkembang.
Menulis membuat pengalaman kita terdokumentasi.
Berbagi membuat ilmu kita bermanfaat bagi orang lain.
Maka, selama masih diberi kesempatan, saya akan terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi.
Karena bagi saya, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu kepada murid.
Menjadi guru adalah perjalanan untuk terus menjadi manusia pembelajar.
Dan seperti yang sering saya katakan:
“Menulislah dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan teruslah belajar sampai akhir hayat.”
Semoga kegiatan Pelatihan Literasi TKA di SMK Negeri 18 Jakarta, Jumat 25 September 2026, menjadi ruang bertemunya pengalaman, gagasan, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.
Salam literasi.
Salam guru pembelajar.
Salam Blogger Guru Indonesia.
Wijaya Kusumah
Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Ketua IGTIK PGRI
Guru Blogger Indonesia