Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 15 Oktober 2026

Ketika Saya Hampir Menyerah Kalah Materi kbmn pgri pertemuan ke 15

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Hari ke-15: Ketika Saya Hampir Menyerah Kalah

Bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam literasi! Salam semangat menulis!

Bapak dan Ibu peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang hebat, hari ini kita sudah memasuki hari ke-15. Artinya, kita telah melewati setengah perjalanan belajar menulis selama 30 hari.

Pernahkah Bapak dan Ibu merasa lelah, kehilangan semangat, kehabisan ide, atau bahkan ingin berhenti menulis?

Jika pernah, tenanglah. Kita tidak sendirian.

### 1\. Menyerah Bukan Berarti Gagal

Dalam perjalanan hidup, setiap orang pasti pernah mengalami masa sulit. Ada kalanya kita bersemangat, tetapi ada pula saat kita merasa lelah dan ingin menyerah.

Begitu juga dalam menulis. Pada awalnya, kita mungkin begitu bersemangat membuat blog dan menerbitkan artikel. Namun, setelah beberapa hari, kita mulai kehabisan ide. Tulisan terasa sulit diselesaikan. Kesibukan pekerjaan membuat kita tidak memiliki banyak waktu.

Namun, ingatlah bahwa rasa lelah bukan tanda bahwa kita tidak mampu. Rasa lelah adalah tanda bahwa kita perlu beristirahat, mengatur ulang langkah, lalu melanjutkan perjalanan.

Jangan buru-buru berhenti hanya karena hari ini terasa berat.

### 2\. Belajar dari Pengalaman Omjay

Sebagai guru dan penulis blog, Omjay juga memahami bahwa menulis membutuhkan perjuangan. Sejak mulai ngeblog pada tahun 2007, Omjay terus belajar menuangkan pengalaman, pengetahuan, dan pemikiran ke dalam tulisan.

Tidak semua tulisan mendapatkan banyak pembaca. Tidak setiap artikel mendapatkan komentar. Ada pula saat kita merasa tulisan yang dibuat belum sebagus tulisan orang lain.

Namun, Omjay belajar satu hal penting: jangan berhenti menulis hanya karena belum mendapatkan hasil yang diharapkan.

Tulisan yang sederhana bisa menjadi inspirasi bagi orang lain. Pengalaman kecil yang kita ceritakan dengan jujur mungkin menjadi pelajaran berharga bagi pembaca.

Kita tidak harus menjadi penulis hebat terlebih dahulu untuk mulai menulis. Justru dengan terus menulis, kita sedang belajar menjadi penulis yang lebih baik.

### 3\. Tiga Cara Bangkit Ketika Hampir Menyerah

Pertama, ingat kembali tujuan kita.

Mengapa kita mengikuti KBMN PGRI? Apakah ingin memiliki buku sendiri, menjadi blogger, berbagi pengalaman, atau menginspirasi sesama guru? Ingatlah tujuan itu ketika semangat mulai menurun.

Kedua, menulislah sedikit demi sedikit.

Jangan menunggu tulisan sempurna. Mulailah dengan satu paragraf, satu pengalaman, atau satu pelajaran hidup. Tulisan dapat diperbaiki setelah selesai dibuat.

Ketiga, jangan membandingkan perjalanan kita.

Setiap peserta memiliki kesibukan, kemampuan, dan pengalaman berbeda. Fokuslah pada kemajuan diri sendiri. Hari ini lebih baik daripada kemarin adalah pencapaian yang patut disyukuri.

### 4\. Tugas Menulis Hari ke-15

Tema tugas hari ini adalah “Ketika Saya Hampir Menyerah Kalah.”

Silakan Bapak dan Ibu menulis artikel berdasarkan pengalaman nyata yang pernah dialami.

Isi tulisan dapat menceritakan:

* Peristiwa apa yang pernah membuat Anda hampir menyerah?

* Mengapa Anda merasa tidak sanggup melanjutkan perjuangan?

* Apa yang Anda lakukan untuk bangkit kembali?

* Siapa yang memberikan dukungan atau inspirasi kepada Anda?

* Pelajaran apa yang dapat dibagikan kepada pembaca?

Tulislah dengan bahasa sendiri, jujur, dan berdasarkan pengalaman pribadi. Tidak perlu malu menceritakan kegagalan. Justru dari kegagalan, kita sering menemukan pelajaran yang paling bermakna.

Ketentuan tugas:

* Panjang tulisan sekitar 300–500 kata.

* Gunakan judul yang menarik.

* Publikasikan di blog pribadi.

* Sertakan refleksi atau pesan inspiratif di akhir tulisan.

* Bagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35 sesuai arahan pendamping.

### 5\. Pesan Inspirasi Omjay

Bapak dan Ibu guru hebat,

Kita sudah sampai di hari ke-15. Jangan biarkan rasa lelah hari ini menghapus semua perjuangan yang telah kita lakukan selama dua minggu terakhir.

Jika hari ini belum mampu menulis panjang, tulislah satu paragraf. Jika belum mampu menyelesaikan artikel, mulailah dengan membuat kerangkanya. Jika perlu beristirahat, beristirahatlah sejenak, kemudian kembali melangkah.

Tidak ada perjalanan panjang yang selalu mudah. Namun, setiap langkah kecil akan membawa kita semakin dekat kepada tujuan.

Ingatlah, kita mengikuti KBMN bukan sekadar untuk mengumpulkan tugas atau mendapatkan sertifikat. Kita sedang membangun kebiasaan membaca, menulis, berpikir, dan berbagi pengalaman.

Jangan hanya menulis untuk menyelesaikan kewajiban. Menulislah untuk meninggalkan jejak kebaikan.

Jangan menyerah hanya karena perjalanan terasa berat. Bisa jadi, kita sedang selangkah lebih dekat dengan impian yang selama ini diperjuangkan.

Salam Blogger Persahabatan!

Omjay, Guru Blogger Indonesia

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Kisah Omjay Belajar dari Forum Guru Asia Pasifik

Kisah Omjay: Belajar dari Forum Guru Asia-Pasifik, Memperjuangkan Pendidikan Publik, dan Menyambut Masa Depan AI

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada banyak cara untuk belajar menjadi guru yang lebih baik. Kita bisa belajar dari buku, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan rekan sejawat, atau membaca pengalaman para pendidik dari berbagai negara. Namun, ada satu kesempatan yang sangat berharga, yaitu belajar dari forum internasional yang mempertemukan para pemimpin organisasi guru, pendidik, dan pejuang pendidikan dari berbagai negara.

Bagi Omjay, seorang guru Informatika di SMP Labschool Jakarta sekaligus pegiat literasi digital, pertemuan seperti ini memberikan pelajaran penting bahwa perjuangan guru tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Perjuangan itu juga menyangkut masa depan pendidikan, kesejahteraan pendidik, kebebasan akademik, pemanfaatan teknologi, dan hak setiap anak untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas.

Mengenal 10th EI Asia-Pacific Regional Conference

Dalam dokumen program yang saya pelajari, 10th EI Asia-Pacific Regional Conference dijadwalkan berlangsung pada 10–15 Oktober 2026. Forum ini diselenggarakan dalam lingkup Education International Asia-Pacific, yang mempertemukan berbagai agenda dan isu penting mengenai pendidikan serta gerakan organisasi guru di kawasan Asia-Pasifik.

Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya berisi sidang pleno. Ada pula pertemuan khusus perempuan, pemuda, masyarakat adat, dan pendidikan tinggi, serta diskusi mengenai pendidikan publik, perubahan iklim, kecerdasan artifisial, dan masa depan organisasi guru.

Membaca agenda tersebut membuat saya berpikir bahwa dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru juga perlu memahami perubahan sosial, perkembangan teknologi, kebijakan pendidikan, dan kebutuhan peserta didik pada masa depan.

Pendidikan adalah urusan bersama. Karena itu, suara guru harus mendapatkan tempat dalam setiap pembicaraan mengenai arah pembangunan pendidikan.

Pendidikan Publik Harus Menjadi Perhatian Bersama

Salah satu agenda penting dalam konferensi ini adalah Go Public! Fund Education: Asia-Pacific, yang mengangkat perjuangan memajukan pendidikan publik dan mendorong pendanaan pendidikan yang memadai.

Tema ini sangat dekat dengan kehidupan guru di Indonesia. Kita mengetahui bahwa pendidikan yang berkualitas membutuhkan lebih dari sekadar gedung sekolah dan buku pelajaran. Sekolah membutuhkan guru yang kompeten, sarana pembelajaran yang memadai, lingkungan belajar yang aman, serta dukungan kebijakan yang berpihak kepada peserta didik.

Guru juga membutuhkan penghargaan yang layak atas profesinya. Kesejahteraan guru bukanlah persoalan yang terpisah dari kualitas pendidikan. Guru yang memperoleh dukungan dan kesempatan berkembang akan memiliki ruang lebih besar untuk meningkatkan kompetensinya.

Saya percaya, pendidikan publik yang kuat merupakan salah satu fondasi untuk membangun masyarakat yang adil dan berpengetahuan.

Setiap anak berhak memperoleh kesempatan belajar yang baik, tanpa harus dibatasi oleh keadaan ekonomi keluarganya. Karena itulah, pembiayaan pendidikan perlu dipandang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa, bukan sekadar pengeluaran dalam anggaran negara.

Ketika Guru Berbicara tentang Kecerdasan Artifisial

Sebagai guru Informatika, saya sangat tertarik pada agenda From Classroom to Tomorrow: AI and the Teaching Profession serta sidang pleno bertema AI and the Future of Education.

Kedua agenda tersebut menempatkan kecerdasan artifisial sebagai salah satu isu penting dalam pembicaraan tentang profesi guru dan masa depan pendidikan.

Saat ini, AI dapat membantu guru menyusun bahan ajar, membuat latihan soal, memberikan contoh pemrograman, mengembangkan ide pembelajaran, dan menjelaskan konsep yang sulit dipahami siswa. Peserta didik pun dapat memanfaatkan AI untuk mencari inspirasi dan mengeksplorasi pengetahuan baru.

Namun, ada pertanyaan mendasar yang perlu kita renungkan: siapa yang menentukan bagaimana AI digunakan di sekolah? Apakah guru hanya menjadi pengguna teknologi, atau ikut menentukan arah pemanfaatannya?

Bagi saya, guru harus menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan tersebut. Guru memahami karakter peserta didik, dinamika kelas, kebutuhan belajar, serta persoalan etika yang mungkin muncul ketika teknologi digunakan.

AI tidak boleh sekadar menjadi alat untuk mempercepat pekerjaan. Pemanfaatannya harus membantu peserta didik berpikir kritis, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab.

Saya selalu percaya bahwa teknologi dapat membantu manusia, tetapi tidak seharusnya menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dalam pendidikan.

Ketika siswa menggunakan AI untuk menulis artikel, misalnya, mereka tetap harus belajar merumuskan gagasan sendiri, memeriksa kebenaran informasi, menyusun argumen, dan menuliskan pengalaman pribadi. Guru perlu membimbing mereka agar tidak berhenti pada kegiatan menyalin jawaban yang dihasilkan mesin.

Sebab, tujuan pendidikan bukan hanya menghasilkan jawaban yang benar. Pendidikan juga membentuk manusia yang mampu berpikir, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Guru Harus Terus Belajar dan Bersuara

Hal lain yang menarik dari program konferensi tersebut adalah pembahasan mengenai kebebasan akademik, demokrasi, kesetaraan gender, perubahan iklim, dan peran organisasi guru.

Berbagai tema itu menunjukkan bahwa pekerjaan guru berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat. Guru tidak hanya menyampaikan pengetahuan, tetapi juga membantu generasi muda memahami dunia dan menemukan cara untuk berkontribusi di dalamnya.

Guru perlu memiliki ruang untuk mengembangkan kompetensi, menyampaikan gagasan, melakukan inovasi, serta berpartisipasi dalam pembicaraan mengenai kebijakan pendidikan.

Dalam konteks Indonesia, organisasi profesi dan komunitas belajar dapat menjadi tempat bagi guru untuk bertukar pengalaman, memperjuangkan kepentingan pendidikan, serta memperkuat solidaritas antarpengajar.

Saya teringat perjalanan panjang saya sebagai pendidik dan pegiat literasi. Sejak mengenal dunia blog pada 2007, saya terus berusaha menulis dan membagikan pengalaman mengajar. Saya belajar bahwa tulisan sederhana dari seorang guru dapat menjadi sumber inspirasi bagi guru lainnya.

Pengalaman di kelas yang kita tuliskan hari ini mungkin dapat membantu seorang guru di daerah lain menemukan solusi untuk persoalan pembelajarannya. Begitu pula pengalaman guru dari negara lain yang dapat memperluas wawasan kita.

Karena itu, saya mengajak rekan-rekan guru untuk tidak berhenti belajar. Bacalah buku, ikuti kegiatan pengembangan profesi, berdiskusilah dengan sesama pendidik, dan bagikan pengalaman melalui tulisan.

Jangan takut menyampaikan gagasan. Namun, pastikan gagasan tersebut disampaikan dengan data, argumentasi yang baik, dan semangat untuk memperbaiki keadaan.

Solidaritas Guru Melampaui Batas Negara

Salah satu pelajaran penting dari forum regional seperti ini adalah arti solidaritas.

Guru di berbagai negara mungkin menghadapi persoalan yang berbeda. Ada yang berjuang meningkatkan kualitas pembelajaran, ada yang menghadapi perubahan teknologi, dan ada pula yang memperjuangkan kondisi kerja serta kebebasan akademik.

Meskipun berbeda bahasa dan budaya, para pendidik memiliki kepentingan yang sama: memastikan pendidikan berjalan dengan baik dan peserta didik memperoleh kesempatan untuk berkembang.

Program konferensi ini juga memuat sesi Organising for the Future We Want, yang mengajak peserta memikirkan bentuk gerakan organisasi guru yang kuat untuk menghadapi empat tahun mendatang.

Tema tersebut memberikan pelajaran bahwa perubahan tidak cukup hanya diharapkan. Perubahan membutuhkan kerja bersama, kepemimpinan, strategi, dan keterlibatan anggota.

Dalam kehidupan organisasi guru di Indonesia, semangat itu dapat diwujudkan melalui kegiatan berbagi praktik baik, pelatihan, diskusi kebijakan, pendampingan guru muda, dan pengembangan kompetensi digital.

Guru yang kuat bukanlah guru yang berjalan sendirian. Guru yang kuat adalah guru yang mau belajar bersama, saling mendukung, dan bekerja sama untuk mencapai tujuan pendidikan.

Membawa Semangat Global ke Ruang Kelas Indonesia

Lalu, apa yang dapat kita pelajari dari agenda konferensi ini untuk diterapkan di sekolah?

Menurut saya, ada beberapa hal yang patut menjadi perhatian.

Pertama, guru harus terus meningkatkan kompetensi. Perkembangan teknologi dan perubahan kebutuhan peserta didik menuntut kita untuk terus memperbarui pengetahuan.

Kedua, pemanfaatan AI harus dilakukan secara bijak. Guru dan siswa perlu memahami manfaat, keterbatasan, risiko, serta tanggung jawab ketika menggunakan teknologi tersebut.

Ketiga, pendidikan publik harus diperkuat. Setiap anak perlu mendapatkan kesempatan belajar yang berkualitas, sedangkan guru membutuhkan dukungan untuk menjalankan profesinya secara profesional.

Keempat, organisasi guru perlu menjadi ruang belajar dan perjuangan bersama. Organisasi tidak hanya menjadi tempat berkumpul, tetapi juga wadah untuk membangun gagasan dan memperjuangkan perbaikan pendidikan.

Kelima, guru perlu mendokumentasikan pengalaman melalui tulisan. Dengan menulis, kita dapat membagikan praktik baik, merekam perubahan, dan memberikan inspirasi kepada generasi pendidik berikutnya.

Bagi saya, kelima hal tersebut saling berkaitan. Guru yang terus belajar akan lebih siap menghadapi perubahan. Guru yang mampu bekerja sama akan lebih kuat menghadapi tantangan. Sementara itu, guru yang menulis dapat menyebarkan pengetahuan dan pengalaman kepada masyarakat yang lebih luas.

Penutup: Menjadi Guru yang Terus Bertumbuh

Mempelajari program 10th EI Asia-Pacific Regional Conference mengingatkan saya bahwa masa depan pendidikan harus dibangun melalui kerja bersama.

Pendidikan bukan hanya tentang kurikulum, ujian, nilai rapor, atau kecanggihan perangkat digital. Pendidikan juga berbicara tentang keadilan, martabat manusia, kebebasan berpikir, kesejahteraan guru, dan harapan bagi generasi muda.

Sebagai guru Informatika, saya menyambut perkembangan AI dengan semangat untuk terus belajar. Namun, saya juga ingin mengingatkan bahwa teknologi harus tetap berada dalam kendali manusia yang bertanggung jawab.

Kita boleh menggunakan mesin untuk membantu pekerjaan. Kita boleh memanfaatkan AI untuk memperluas wawasan. Akan tetapi, empati, keteladanan, pengalaman hidup, dan kepedulian seorang guru tetap harus menjadi bagian penting dari proses pendidikan.

Saya, Omjay, akan terus belajar, menulis, dan berbagi. Sebab, menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan pelajaran hari ini, melainkan juga tentang menyiapkan manusia untuk menghadapi kehidupan esok hari.

Guru yang hebat bukanlah guru yang merasa paling pintar, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar dan bersedia berbagi ilmu kepada sesama.

Mari terus memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi, dan menjaga hati dalam mendidik. Dari ruang kelas di Indonesia, semoga lahir generasi yang cerdas, berkarakter, kreatif, dan mampu menggunakan teknologi untuk kebaikan bersama.

Salam Blogger Persahabatan.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
Menulislah dengan hati, berbagi inspirasi, dan teruslah belajar sepanjang hayat.

Siapa yang Mengatur Internet?

INTERNET TIDAK MENGATUR DIRINYA SENDIRI: SIAPA YANG MENENTUKAN MASA DEPAN INTERNET?

Mengapa tata kelola internet penting dan mengapa generasi muda harus ikut bersuara?

Internet telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Kita menggunakannya untuk belajar, bekerja, berkomunikasi, berbelanja, mencari informasi, hingga membangun usaha. Hanya dengan beberapa sentuhan pada layar telepon pintar, kita dapat terhubung dengan orang-orang di berbagai belahan dunia.

Namun, pernahkah kita bertanya, siapa yang sebenarnya mengatur internet? Siapa yang memastikan bahwa alamat sebuah situs web dapat ditemukan? Siapa yang mengoordinasikan nama domain agar kita bisa mengakses situs yang dituju tanpa kebingungan?

Internet mungkin terlihat seperti dunia yang berjalan secara otomatis. Padahal, di balik kemudahan tersebut, terdapat sistem, standar teknis, kebijakan, organisasi, dan kerja sama berbagai pihak yang membuat internet dapat berfungsi dengan baik.

Internet tidak mengatur dirinya sendiri. Ada manusia, organisasi, pemerintah, komunitas teknis, perusahaan, dan masyarakat sipil yang bekerja sama membentuk tata kelolanya.

Mengenal Tata Kelola Internet

Tata kelola internet atau internet governance adalah proses penyusunan dan penerapan prinsip, aturan, kebijakan, serta standar yang memengaruhi cara internet berkembang dan digunakan.

Tata kelola internet tidak berarti bahwa satu organisasi mengendalikan seluruh aktivitas di internet. Sebaliknya, tata kelola internet melibatkan banyak pemangku kepentingan dengan tanggung jawab dan kepentingan yang berbeda-beda.

Ada pihak yang mengembangkan teknologi, mengelola infrastruktur jaringan, menyediakan layanan internet, menetapkan kebijakan publik, melindungi hak pengguna, serta memperjuangkan agar internet tetap terbuka dan dapat diakses oleh masyarakat luas.

Karena internet digunakan oleh miliaran orang di seluruh dunia, pengelolaannya tidak dapat dilakukan oleh satu negara, satu perusahaan, atau satu organisasi saja.

Diperlukan dialog, koordinasi, transparansi, dan kerja sama internasional agar internet dapat terus berkembang tanpa mengabaikan keamanan, stabilitas, keterbukaan, dan kepentingan masyarakat.

Apa Itu ICANN?

Salah satu organisasi penting dalam ekosistem tata kelola internet adalah ICANN, singkatan dari Internet Corporation for Assigned Names and Numbers.

ICANN merupakan organisasi nirlaba yang mengoordinasikan sejumlah pengenal unik internet, terutama sistem nama domain dan parameter tertentu yang memungkinkan perangkat serta layanan internet saling menemukan dan berkomunikasi.

Untuk memahami peran ICANN, mari kita menggunakan contoh sederhana.

Ketika ingin membuka sebuah situs web, kita biasanya mengetikkan nama domain seperti google.com atau wikipedia.org. Kita tidak perlu menghafal deretan angka alamat IP yang digunakan komputer untuk berkomunikasi di jaringan.

Sistem Nama Domain atau Domain Name System (DNS) membantu menerjemahkan nama domain menjadi informasi alamat yang diperlukan agar perangkat dapat menemukan layanan yang dituju.

ICANN berperan dalam koordinasi sistem pengenal unik tersebut, termasuk kebijakan dan pengelolaan tingkat atas dalam sistem nama domain. Sementara itu, banyak organisasi lain juga memiliki peran penting dalam pengoperasian DNS dan infrastruktur internet secara keseluruhan.

Artinya, ICANN bukan pemilik seluruh internet dan tidak mengatur semua hal yang dilakukan orang di dunia maya. ICANN juga bukan lembaga yang menentukan seluruh isi situs web, mengelola setiap jaringan internet, atau mengawasi semua percakapan pengguna.

Perannya lebih khusus, tetapi sangat penting bagi interoperabilitas dan kestabilan sistem pengenal unik internet.

Mengapa Tata Kelola Internet Penting?

Bayangkan jika setiap negara atau perusahaan membuat sistem nama domain sendiri tanpa koordinasi. Nama situs yang sama mungkin menunjuk ke tujuan yang berbeda, atau sistem internet di satu wilayah tidak dapat bekerja secara konsisten dengan sistem di wilayah lain.

Tanpa koordinasi teknis yang baik, pengalaman menggunakan internet bisa menjadi jauh lebih rumit.

Tata kelola internet membantu menjaga agar berbagai jaringan dan sistem dapat berfungsi bersama. Namun, kepentingannya tidak hanya berkaitan dengan persoalan teknis.

Tata kelola internet juga menyentuh sejumlah persoalan penting, antara lain:

1. Keamanan dan stabilitas internet

Internet perlu memiliki infrastruktur yang andal agar masyarakat dapat mengakses informasi dan layanan digital. Koordinasi teknis membantu mengurangi risiko gangguan pada sistem pengenal unik.

2. Akses dan inklusi digital

Setiap orang seharusnya memiliki kesempatan untuk memperoleh manfaat dari internet. Karena itu, persoalan kesenjangan akses, keterjangkauan, kemampuan digital, dan akses bagi kelompok yang kurang terlayani perlu mendapat perhatian.

3. Privasi dan perlindungan data

Aktivitas digital menghasilkan banyak data. Masyarakat perlu memahami bagaimana data dikumpulkan, digunakan, disimpan, dan dilindungi. Persoalan ini melibatkan berbagai pihak, termasuk pembuat kebijakan, penyedia layanan, dan masyarakat.

4. Kebebasan berekspresi dan hak asasi manusia

Internet membuka ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan, berdiskusi, berkarya, dan memperoleh informasi. Tata kelola internet perlu memperhatikan hak asasi manusia serta keseimbangan antara kebebasan, keamanan, dan tanggung jawab.

5. Masa depan teknologi digital

Perkembangan kecerdasan artifisial, komputasi awan, Internet of Things, dan teknologi baru lainnya memunculkan tantangan yang semakin kompleks. Masyarakat membutuhkan ruang dialog agar perkembangan teknologi membawa manfaat yang luas.

Semua persoalan tersebut menunjukkan bahwa internet bukan hanya urusan komputer dan jaringan. Internet juga berkaitan dengan kehidupan sosial, ekonomi, pendidikan, budaya, dan masa depan demokrasi.

Siapa Saja yang Terlibat dalam Tata Kelola Internet?

Tata kelola internet membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pendekatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan ini sering disebut multistakeholder model.

Beberapa kelompok yang memiliki peran penting adalah sebagai berikut.

Pemerintah. Pemerintah menyusun kebijakan publik, regulasi, serta program yang berkaitan dengan infrastruktur digital, keamanan, perlindungan konsumen, dan hak warga negara.

Komunitas teknis. Para insinyur, peneliti, dan organisasi teknis mengembangkan standar serta protokol agar berbagai perangkat dan jaringan dapat saling terhubung.

Sektor swasta. Perusahaan telekomunikasi, penyedia layanan internet, perusahaan teknologi, dan pengelola platform digital menyediakan infrastruktur maupun layanan yang digunakan masyarakat.

Masyarakat sipil. Organisasi masyarakat, pemerhati hak digital, akademisi, dan kelompok advokasi memberikan perspektif mengenai kepentingan publik, privasi, kebebasan berekspresi, serta keadilan digital.

Dunia pendidikan dan generasi muda. Guru, peneliti, pelajar, mahasiswa, dan komunitas pendidikan membawa pengalaman nyata tentang bagaimana teknologi digunakan dan bagaimana dampaknya terhadap kehidupan masyarakat.

Tidak semua pihak memiliki kewenangan yang sama dalam setiap proses. Namun, keterlibatan berbagai perspektif dapat membantu menghasilkan keputusan yang lebih terbuka, seimbang, dan mempertimbangkan kepentingan publik.

Mengapa Generasi Muda Harus Ikut Bersuarа?

Generasi muda merupakan salah satu kelompok yang paling dekat dengan perkembangan teknologi digital. Mereka menggunakan internet untuk belajar, bermain, berkomunikasi, membuat konten, membangun komunitas, dan mengembangkan kreativitas.

Namun, menjadi pengguna internet yang aktif tidak otomatis berarti memahami bagaimana internet dikelola.

Anak muda perlu mengetahui bahwa keputusan mengenai teknologi digital dapat memengaruhi masa depan mereka. Kebijakan tentang privasi, keamanan siber, akses digital, kecerdasan artifisial, dan kebebasan berekspresi akan menentukan lingkungan digital yang mereka gunakan pada masa mendatang.

Jika generasi muda tidak terlibat dalam diskusi, kebutuhan dan pengalaman mereka berisiko kurang terwakili.

Keterlibatan tidak harus dimulai dengan menjadi ahli teknologi atau pejabat organisasi internasional. Generasi muda dapat memulainya dengan membaca, berdiskusi, mengikuti seminar, bergabung dalam komunitas, melakukan penelitian, serta menyampaikan pendapat secara bertanggung jawab.

Mereka juga dapat memanfaatkan pengalaman sehari-hari sebagai pengguna internet untuk mengajukan pertanyaan penting.

Mengapa akses internet di beberapa daerah masih terbatas? Bagaimana data pribadi kita dilindungi? Bagaimana cara menghadapi disinformasi? Siapa yang bertanggung jawab ketika layanan digital menimbulkan kerugian? Bagaimana memastikan kecerdasan artifisial dikembangkan dan digunakan secara bertanggung jawab?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini merupakan pintu masuk menuju pemahaman tata kelola internet yang lebih mendalam.

ICANN87 Fellowship: Kesempatan Belajar dan Berpartisipasi

Program fellowship yang diselenggarakan ICANN memberikan kesempatan kepada peserta terpilih untuk mempelajari ekosistem internet, memahami proses pengembangan kebijakan, serta mengenal berbagai pemangku kepentingan yang terlibat di dalamnya.

Melalui kesempatan seperti ini, peserta dapat memperluas wawasan, membangun jejaring, dan memahami bahwa masa depan internet dibentuk melalui proses diskusi dan kolaborasi.

Bagi generasi muda, pengalaman mengikuti kegiatan internasional tentang tata kelola internet dapat menjadi sarana pembelajaran yang berharga. Mereka tidak hanya belajar tentang istilah teknis, tetapi juga mengenai pentingnya dialog, keterbukaan, keberagaman perspektif, dan tanggung jawab bersama.

Peserta fellowship juga dapat berperan sebagai penghubung pengetahuan dengan masyarakat di lingkungannya. Pengetahuan yang diperoleh tidak seharusnya berhenti pada diri sendiri, tetapi dapat dibagikan melalui artikel, diskusi komunitas, kegiatan pendidikan, dan media sosial.

Dengan cara tersebut, pembahasan tata kelola internet yang mungkin terasa rumit dapat menjadi lebih mudah dipahami oleh masyarakat luas.

Peran Guru dan Sekolah dalam Membangun Kesadaran Digital

Dunia pendidikan memiliki peran penting dalam mempersiapkan generasi muda menghadapi masa depan digital.

Selama ini, pembelajaran teknologi sering berfokus pada keterampilan menggunakan perangkat lunak, membuat presentasi, mengolah data, atau menulis program komputer. Semua keterampilan tersebut penting, tetapi belum cukup.

Peserta didik juga perlu memahami bagaimana teknologi memengaruhi kehidupan manusia, siapa saja yang berperan dalam ekosistem digital, serta apa hak dan tanggung jawab mereka sebagai warga digital.

Dalam pembelajaran Informatika, misalnya, guru dapat mengajak siswa mendiskusikan cara kerja nama domain, DNS, alamat IP, dan jaringan komputer. Setelah memahami dasar teknisnya, siswa dapat diajak membahas persoalan yang lebih luas, seperti keamanan data, kesenjangan digital, etika penggunaan kecerdasan artifisial, dan tata kelola internet.

Guru dapat memberikan tugas sederhana kepada siswa untuk meneliti perjalanan sebuah permintaan ketika mereka membuka situs web, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, lalu mendiskusikan mengapa koordinasi diperlukan agar layanan tersebut dapat diakses.

Pembelajaran seperti ini membantu siswa melihat hubungan antara pengetahuan teknis dan kehidupan sehari-hari.

Mereka tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pembelajar kritis yang mampu memahami dampak dan tanggung jawab di balik penggunaannya.

Bagaimana Anak Muda Dapat Mulai Terlibat?

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan generasi muda untuk mulai memahami tata kelola internet.

Pertama, tingkatkan literasi digital. Jangan hanya belajar menggunakan aplikasi, tetapi pahami juga keamanan, privasi, etika, dan cara kerja dasar teknologi yang digunakan.

Kedua, cari sumber informasi yang tepercaya. Pelajari materi dari organisasi teknis, lembaga pendidikan, komunitas internet, dan sumber lain yang memiliki kredibilitas.

Ketiga, ikut berdiskusi. Manfaatkan forum, seminar, lokakarya, komunitas, atau kegiatan pendidikan untuk bertukar gagasan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang berbeda.

Keempat, sampaikan gagasan secara bertanggung jawab. Tulislah artikel, buatlah video edukasi, atau lakukan kegiatan literasi digital yang membantu orang lain memahami persoalan internet.

Kelima, bangun kolaborasi. Perubahan dalam ekosistem digital membutuhkan kerja sama antara pelajar, guru, akademisi, pemerintah, industri, dan masyarakat sipil.

Keenam, terus belajar. Tata kelola internet berkembang seiring perubahan teknologi dan kebutuhan masyarakat. Karena itu, keterlibatan yang bermakna memerlukan kemauan untuk memperbarui pengetahuan dan mendengarkan perspektif yang berbeda.

Langkah-langkah tersebut dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk pelajar yang baru mengenal dunia teknologi.

Internet Adalah Tanggung Jawab Bersama

Internet telah memberikan banyak manfaat bagi manusia. Teknologi ini membuka kesempatan belajar, mempercepat komunikasi, mendukung inovasi, dan menghubungkan masyarakat lintas negara.

Namun, manfaat tersebut tidak muncul begitu saja. Internet membutuhkan infrastruktur, standar teknis, kebijakan, koordinasi, serta partisipasi banyak pihak.

Karena itu, memahami tata kelola internet merupakan bagian penting dari literasi digital. Kita perlu mengetahui bukan hanya bagaimana menggunakan internet, melainkan juga bagaimana internet dikoordinasikan, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana keputusan yang dibuat dapat memengaruhi kehidupan kita.

ICANN merupakan salah satu bagian penting dari ekosistem tersebut, khususnya dalam koordinasi nama domain dan pengenal unik internet. Namun, masa depan internet tidak ditentukan oleh ICANN saja. Masa depan itu juga dipengaruhi oleh pemerintah, komunitas teknis, sektor swasta, masyarakat sipil, dunia pendidikan, dan para pengguna internet di seluruh dunia.

Generasi muda berhak memperoleh pemahaman dan kesempatan untuk ikut berpartisipasi dalam percakapan tersebut.

Kita tidak harus menunggu sampai menjadi ahli untuk mulai peduli. Kita dapat memulainya dengan belajar, bertanya, berdiskusi, menulis, dan membagikan pengetahuan kepada orang lain.

Internet tidak mengatur dirinya sendiri. Internet berkembang melalui kerja sama manusia. Karena itu, masa depan internet seharusnya tidak hanya dibicarakan oleh mereka yang sudah berkuasa atau ahli, tetapi juga oleh generasi muda yang akan hidup paling lama bersama dampak keputusan digital hari ini.

Mari menjadi pengguna internet yang cerdas, kritis, bertanggung jawab, dan berani menyuarakan gagasan demi masa depan digital yang lebih terbuka, aman, inklusif, dan bermanfaat bagi semua orang.

Rabu, 14 Oktober 2026

modul dan materi kbmn pgri gelombang 35 pertemuan ke-15

### MODUL AJAR KBMN PGRI GELOMBANG 35

### Pertemuan ke-15: Setengah Perjalanan, Apa yang Saya Rasakan?

![Teacher Work-Life Balance: Evidence-Based Strategies](https://images.openai.com/static-rsc-4/_IXLuOEZEGERTCDNEKuVNegB0PpqpMnhpeaF7y_C89I76bnvFiqgO3UDR1ANyufgFvRGr-3sqZ3MtzcO0t-ypIF0E5nry9_n49vbsuc2AqicL3uMnYkh9X-0SG9JQiD1q_xmr55_VIaTV08pKetXKuDPdG8e8UVkCTnELFspJAaKlbSCKlYD7zB11MDV0YtF?purpose=fullsize)

Menengok perjalanan, mensyukuri proses, dan menuliskan perasaan dengan hati.

Bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam literasi! Salam blogger Indonesia!

Selamat datang, Bapak dan Ibu Guru hebat, peserta KBMN PGRI Gelombang 35. Kita kembali belajar bersama untuk merawat semangat menulis, berbagi pengalaman, dan mengabadikan kisah kehidupan melalui tulisan.

Pada pertemuan ke-15 ini, kita akan berhenti sejenak untuk melihat perjalanan yang sudah kita lalui. Kita telah belajar menulis berbagai pengalaman, mengenang sosok inspiratif, mengambil pelajaran dari kehidupan, dan mencoba menuangkan isi hati menjadi sebuah tulisan.

Sekarang, mari kita bertanya kepada diri sendiri:

“Setelah menjalani setengah perjalanan belajar menulis, apa yang sebenarnya saya rasakan?”

Apakah kita merasa bahagia? Lelah? Bangga? Bingung? Mulai percaya diri? Atau justru merasa belum mengalami kemajuan?

Apa pun jawabannya, semuanya layak dituliskan.

### A. Identitas Modul

Program

Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 35

Pertemuan

Ke-15 — Setengah Perjalanan: Apa yang Saya Rasakan?

Fokus pembelajaran

Refleksi diri, menulis pengalaman, mengungkapkan perasaan, dan membangun komitmen untuk terus menulis.

Produk akhir

Artikel refleksi berjudul “Setengah Perjalanan, Apa yang Saya Rasakan?” yang dipublikasikan di blog pribadi peserta.

### B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pembelajaran ini, peserta diharapkan mampu:

* Mengenali perkembangan kemampuan menulis sejak mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35.

* Mengidentifikasi perasaan, tantangan, dan pengalaman selama mengikuti kegiatan.

* Menemukan pelajaran berharga dari proses belajar menulis.

* Menyusun artikel refleksi yang jujur, runtut, menarik, dan menyentuh hati.

* Menetapkan komitmen untuk menyelesaikan perjalanan belajar menulis hingga akhir program.

### C. Materi Inti: Setengah Perjalanan, Saatnya Bercermin

### 1\. Mengapa kita perlu berhenti sejenak?

Dalam sebuah perjalanan panjang, seseorang tidak selalu harus berlari. Ada saatnya kita berhenti, menarik napas, melihat ke belakang, lalu menentukan langkah berikutnya.

Begitu pula dengan perjalanan menulis.

Ketika pertama kali mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35, mungkin ada peserta yang merasa tidak percaya diri. Ada yang bingung menentukan judul. Ada yang kesulitan menyusun paragraf. Ada pula yang sudah terbiasa menulis, tetapi masih ingin memperbaiki kualitas tulisannya.

Setelah mengikuti berbagai pertemuan, tentu ada pengalaman yang bisa kita renungkan.

Mungkin sekarang kita lebih berani menuangkan pikiran. Mungkin kita mulai terbiasa menulis setiap hari. Bisa jadi, kita masih sering menunda karena kesibukan mengajar, mengurus keluarga, atau menjalankan tugas lainnya.

Tidak masalah. Yang penting, kita menyadari keadaan diri sendiri.

Refleksi bukan kegiatan untuk menghakimi diri, melainkan kesempatan untuk memahami diri dan memperbaiki langkah.

### 2\. Lima pertanyaan untuk merenungkan perjalanan menulis

Pertanyaan 1: Dari mana saya memulai?

Ingatlah perasaan saat pertama kali mengikuti KBMN. Apakah Anda merasa antusias, takut, ragu, atau belum memiliki pengalaman menulis di blog?

Pertanyaan 2: Apa yang saya rasakan sekarang?

Apakah menulis mulai terasa menyenangkan? Apakah Anda semakin percaya diri? Ceritakan perasaan yang paling dominan dan penyebabnya.

Pertanyaan 3: Apa tantangan terbesar saya?

Mungkin sulit membagi waktu, mencari ide, memulai paragraf pertama, menyunting tulisan, atau menjaga konsistensi.

Pertanyaan 4: Apa perubahan yang sudah saya alami?

Apakah Anda mulai berani bercerita, lebih teratur menulis, memahami cara mengelola blog, atau lebih peka melihat pelajaran dari kehidupan?

Pertanyaan 5: Apa langkah saya selanjutnya?

Tentukan satu kebiasaan yang ingin dipertahankan dan satu hal yang ingin diperbaiki untuk menyelesaikan program ini.

### 3\. Belajar menerima perasaan sendiri

Dalam proses belajar, perasaan kita bisa berubah-ubah.

Ada hari ketika ide mengalir deras. Ada pula hari ketika kita duduk di depan layar komputer, tetapi tidak tahu harus menulis apa.

Kadang-kadang, kita merasa bangga setelah menyelesaikan sebuah artikel. Namun, ketika membaca kembali tulisan sendiri, kita menemukan banyak kekurangan.

Jangan buru-buru menyerah.

Tulisan pertama tidak harus sempurna. Tulisan berikutnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki tulisan sebelumnya.

Jangan pula membandingkan perjalanan kita dengan perjalanan orang lain. Setiap peserta mempunyai kesibukan, pengalaman, dan kecepatan belajar yang berbeda.

Ukuran keberhasilan bukan semata-mata banyaknya artikel yang dipublikasikan. Keberhasilan juga terlihat ketika kita berani memulai, menyelesaikan tulisan, menerima masukan, dan mencoba lagi.

### 4\. Menulis dengan hati, bukan sekadar memenuhi tugas

Sebagai guru, kita memiliki banyak cerita. Ada pengalaman bersama murid, perjuangan menghadapi pekerjaan, pertemuan dengan sosok inspiratif, hingga peristiwa sederhana di rumah yang mengajarkan arti kesabaran.

Cerita tersebut bisa menjadi bahan tulisan yang bermakna.

Cobalah mengingat satu peristiwa ketika Anda hampir menyerah menulis, tetapi akhirnya berhasil menyelesaikan sebuah artikel.

Apa yang terjadi? Siapa yang membantu Anda? Apa yang Anda rasakan? Apa pelajaran yang diperoleh?

Jangan hanya menuliskan bahwa Anda merasa senang atau sedih. Jelaskan peristiwa yang membuat perasaan itu muncul.

Dengan begitu, pembaca tidak sekadar mengetahui perasaan Anda, tetapi juga dapat memahami perjalanan yang melatarbelakanginya.

### D. Contoh Artikel Refleksi Peserta

# Setengah Perjalanan, Saya Belajar Mengenal Diri Sendiri

Ketika pertama kali mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35, saya memiliki harapan untuk menjadi penulis yang lebih baik. Saya ingin belajar menyusun kata, merangkai pengalaman, dan membagikan cerita yang bermanfaat bagi orang lain.

Namun, perjalanan itu ternyata tidak selalu mudah.

Sebagai seorang guru, saya memiliki banyak kesibukan. Ada tugas mengajar, mempersiapkan pembelajaran, memeriksa pekerjaan murid, dan menyelesaikan berbagai tanggung jawab lainnya. Tidak jarang saya merasa lelah ketika harus kembali duduk di depan komputer untuk menulis.

Pernah ada saatnya saya bingung menentukan judul. Saya sudah memiliki ide, tetapi sulit mengembangkannya menjadi sebuah artikel. Saya pun bertanya kepada diri sendiri, apakah saya mampu menyelesaikan perjalanan belajar ini?

Setelah melewati berbagai pertemuan, saya mulai memahami bahwa menulis bukan sekadar kemampuan menyusun kalimat. Menulis adalah keberanian untuk menyampaikan pikiran, kejujuran dalam menceritakan pengalaman, dan kesediaan untuk terus belajar.

Saya mulai menyadari bahwa pengalaman sederhana pun dapat menjadi tulisan yang bermakna. Percakapan dengan murid, nasihat seorang teman, atau peristiwa kecil di rumah bisa memberikan inspirasi jika kita mau merenungkannya.

Kini, ketika berada di tengah perjalanan, saya merasakan kebahagiaan sekaligus tantangan. Saya bahagia karena telah berani mencoba. Saya juga menyadari bahwa masih banyak hal yang perlu dipelajari.

Saya tidak ingin berhenti hanya karena tulisan saya belum sempurna. Saya ingin terus berlatih, membaca karya orang lain, menerima kritik, dan memperbaiki tulisan sedikit demi sedikit.

Setengah perjalanan ini mengajarkan saya bahwa keberhasilan tidak selalu dimulai dengan langkah besar. Terkadang, keberhasilan dimulai dari keputusan sederhana untuk tidak menyerah hari ini.

Saya ingin menyelesaikan perjalanan KBMN PGRI Gelombang 35 dengan membawa kebiasaan baik: membaca, menulis, dan berbagi.

Sebab, sebuah tulisan mungkin terlihat sederhana bagi penulisnya, tetapi bisa menjadi sumber inspirasi bagi seseorang yang membacanya.

**Saya belum menjadi penulis yang sempurna. Namun, saya ingin menjadi pembelajar yang tidak berhenti berusaha.**

Catatan: Contoh di atas merupakan model tulisan. Peserta sebaiknya mengganti pengalaman dan perasaannya dengan kisah nyata masing-masing agar tulisan terasa lebih autentik.

### E. Langkah-Langkah Pembelajaran

* Pembukaan dan motivasi — 10 menit

    * Fasilitator menyapa peserta.

    * Mengajak peserta mengingat pengalaman sejak pertemuan pertama.

    * Menyampaikan tujuan pertemuan ke-15.

* Refleksi perjalanan — 15 menit

    * Peserta mengingat pengalaman paling berkesan.

    * Peserta mencatat perasaan, tantangan, dan perubahan yang dialami.

    * Peserta menentukan pelajaran yang ingin dibagikan.

* Praktik menulis — 30 menit

    * Peserta menyusun artikel dengan judul yang ditentukan.

    * Peserta menggunakan pengalaman nyata sebagai bahan tulisan.

    * Peserta memeriksa kembali alur, ejaan, dan kejelasan pesan.

* Berbagi dan apresiasi — 15 menit

    * Peserta membagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35.

    * Peserta membaca tulisan rekan dan memberikan komentar yang santun.

* Penutup dan komitmen — 10 menit

    * Peserta menyebutkan satu kemajuan dan satu tantangan.

    * Fasilitator menguatkan semangat menulis.

    * Peserta menetapkan target untuk perjalanan selanjutnya.

### F. Tugas Pertemuan ke-15

### Tantangan Menulis Refleksi Diri

KBMN PGRI Gelombang 35 bersama Omjay

Tema utama: “Setengah Perjalanan, Apa yang Saya Rasakan?”

Petunjuk pengerjaan:

* Tulislah artikel sepanjang 500–800 kata.

* Ceritakan pengalaman nyata sejak mengikuti KBMN PGRI Gelombang 35.

* Jelaskan perasaan Anda ketika memulai dan ketika mencapai tahap ini.

* Ceritakan satu tantangan yang pernah dihadapi serta cara mengatasinya.

* Tuliskan perubahan atau kemajuan yang paling Anda syukuri.

* Akhiri dengan komitmen untuk melanjutkan perjalanan menulis.

* Publikasikan artikel di blog pribadi.

* Bagikan tautan artikel ke grup KBMN PGRI Gelombang 35 sesuai arahan fasilitator.

Pilihan judul:

* Setengah Perjalanan, Saya Tidak Ingin Menyerah

* Dari Ragu Menjadi Berani Menulis

* Perjalanan Menulis yang Mengubah Diri Saya

* Di Tengah Perjalanan, Saya Belajar Bersyukur

* Catatan Kecil dari Seorang Pembelajar

* Belum Sempurna, tetapi Terus Berusaha

### Lembar refleksi sebelum menulis

Gunakan pertanyaan berikut untuk menemukan bahan tulisan Anda.

1. Bagaimana perasaan saya saat pertama mengikuti KBMN?

2. Apa pengalaman paling berkesan selama belajar?

3. Apa tantangan terbesar yang saya hadapi?

4. Apa kemajuan yang paling saya syukuri?

5. Apa komitmen saya untuk perjalanan selanjutnya?

 Salin jawaban refleksi

Setelah menjawab pertanyaan tersebut, kembangkan setiap jawaban menjadi beberapa paragraf. Tambahkan detail peristiwa, dialog jika diperlukan, dan pelajaran yang diperoleh agar artikel Anda terasa hidup.

### G. Rubrik Penilaian Tugas

| Aspek penilaian                        | Bobot |
| -------------------------------------- | ----- |
| Kejujuran dan kedalaman refleksi       | 25    |
| Kesesuaian dengan tema                 | 20    |
| Keruntutan dan pengembangan cerita     | 20    |
| Penggunaan bahasa dan keterbacaan      | 15    |
| Pelajaran serta komitmen ke depan      | 10    |
| Publikasi di blog dan pembagian tautan | 10    |
| Total                                  | 100   |

Penilaian bukan untuk mencari siapa yang paling hebat, melainkan untuk membantu peserta berkembang. Tulisan yang sederhana tetapi jujur dan kaya pengalaman dapat menjadi tulisan yang sangat bermakna.

### H. Pesan Motivasi Omjay

Bapak dan Ibu Guru peserta KBMN PGRI Gelombang 35 yang hebat,

Kita telah sampai pada sebuah titik penting dalam perjalanan belajar. Setengah perjalanan bukanlah garis akhir. Justru di sinilah kita perlu menguatkan langkah.

Jika hari ini Anda merasa sudah berkembang, bersyukurlah. Jika Anda merasa masih tertinggal, jangan berkecil hati. Jika Anda pernah tidak mengerjakan tugas, mulailah kembali. Kesempatan untuk memperbaiki diri selalu terbuka selama kita bersedia belajar.

Jangan biarkan rasa takut membuat kita berhenti menulis. Jangan pula menunggu waktu luang yang sempurna, karena kesibukan seorang guru seolah tidak pernah habis.

Sisihkan waktu, walaupun hanya sedikit. Tuliskan pengalaman yang masih tersimpan dalam ingatan. Ubah kegelisahan menjadi cerita, pengalaman menjadi pelajaran, dan tulisan menjadi warisan kebaikan.

Ingatlah, Bapak dan Ibu, kita tidak harus menjadi penulis terkenal untuk menghasilkan tulisan yang bermanfaat. Kita hanya perlu menulis dengan jujur, belajar dengan tekun, dan membagikan kebaikan melalui kata-kata.

Teruslah menulis meskipun perlahan. Jangan berhenti hanya karena perjalanan terasa melelahkan. Sebab, perjalanan seribu langkah selalu dimulai dari langkah pertama, lalu dilanjutkan dengan langkah-langkah berikutnya.

Salam blogger Indonesia!

Omjay, Guru Blogger Indonesia

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

### I. Checklist sebelum mengumpulkan tugas

Persiapan pengumpulan

0/6

Saya sudah menulis artikel sesuai tema pertemuan ke-15.

Saya menggunakan pengalaman nyata dan perasaan pribadi.

Artikel saya memiliki pembukaan, isi, dan penutup.

Saya sudah membaca ulang dan memperbaiki tulisan.

Artikel sudah dipublikasikan di blog pribadi.

Tautan artikel sudah dibagikan ke grup KBMN PGRI Gelombang 35.

Penutup: Mari kita jadikan pertemuan ke-15 sebagai kesempatan untuk mengenali diri sendiri. Jangan hanya menghitung berapa banyak tugas yang telah diselesaikan. Hitung pula keberanian yang tumbuh, kebiasaan baik yang terbentuk, dan pengalaman yang kini mampu kita ceritakan.

Karena pada akhirnya, perjalanan belajar menulis bukan hanya tentang menghasilkan artikel. Perjalanan ini juga tentang menemukan suara diri sendiri dan memberi manfaat kepada sesama melalui tulisan.

15 Hari Menuju OTN 8 di JICC Senayan Jakarta

15 Hari Menuju OTN 8: Dari Perjuangan Panitia untuk Prestasi Anak Negeri

Oleh: Wijaya Kusumah



Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Hari ini, 14 Oktober 2026, ketika saya menuliskan kisah ini, pelaksanaan Olimpiade TIK dan Informatika ke-8 (OTN 8) tinggal 15 hari lagi. Insyaallah, OTN 8 akan dilaksanakan di JICC Senayan, Jakarta, pada 29 Oktober sampai 1 November 2026 sebagai bagian dari rangkaian Main Event Indocomtech 2026.



Bagi sebagian orang, 15 hari mungkin terasa masih cukup panjang. Namun bagi panitia, 28 hari adalah waktu yang sangat berharga. Setiap hari ada pekerjaan yang harus diselesaikan, setiap informasi harus dipastikan, setiap peserta harus dilayani, setiap cabang lomba harus dipersiapkan, dan setiap narasumber serta mitra harus terus dikomunikasikan.



Saya bersyukur karena sampai hari ini persiapan OTN 8 terus bergerak. Banyak tangan bekerja, banyak pikiran dicurahkan, dan banyak doa dipanjatkan agar kegiatan ini benar-benar memberikan manfaat bagi anak-anak Indonesia.



Semnas OTN 8: Menghadirkan Tokoh-Tokoh Inspiratif



Salah satu bagian penting dalam rangkaian OTN 8 adalah Seminar Nasional OTN 8 yang akan dilaksanakan pada 29 Oktober 2026 mulai pukul 13.00 WIB.



Kami berharap seminar nasional ini tidak hanya menjadi acara pembukaan, tetapi menjadi ruang belajar bersama bagi guru, orang tua, siswa, dan masyarakat umum untuk memahami perkembangan teknologi, kecerdasan artifisial, coding, pendidikan, dan masa depan anak-anak Indonesia.



Beberapa narasumber yang telah kami hubungi antara lain Prof. Eko Indrajit dan Pak Dedi Dwitagama. Kami juga telah menghubungi Kepala Puspresnas Kemendikdasmen serta pihak Epson Indonesia untuk turut mengisi rangkaian acara Semnas OTN 8.



Pak Simon Simarmata juga terus bergerak menghubungi dan berkoordinasi dengan para narasumber. Saya melihat sendiri bahwa sebuah kegiatan besar tidak pernah berdiri karena kerja satu orang. Ia lahir dari kerja bersama.



Karena itu, kami berharap guru, orang tua, siswa, mahasiswa, dan masyarakat umum dapat ikut hadir dalam Seminar Nasional OTN 8. Target kami adalah 100 peserta. Bukan semata-mata mengejar angka 100, tetapi ingin menciptakan sebuah ruang pertemuan yang mempertemukan gagasan, pengalaman, dan semangat untuk memajukan pendidikan Indonesia.



Saya membayangkan, di ruangan seminar nanti akan hadir guru yang sedang mencari inspirasi, orang tua yang ingin memahami masa depan pendidikan anaknya, siswa yang sedang menemukan cita-citanya, dan para praktisi teknologi yang ingin berbagi pengalaman.

Semoga dari pertemuan itu lahir gagasan-gagasan baru.



Lima Cabang Lomba OTN 8 Semakin Siap



Selain Semnas, lima cabang lomba OTN 8 juga terus dipersiapkan oleh para penanggung jawab masing-masing.



Pak Ramly mempersiapkan lomba E-Sport Mobile Legends dengan penuh perhatian. E-Sport bukan sekadar bermain gim. Jika dikelola dengan baik, kompetisi dapat menjadi ruang bagi siswa untuk belajar strategi, kerja sama tim, komunikasi, disiplin, dan sportivitas.



Pak Ratno mempersiapkan lomba robotik. Kami berharap cabang ini semakin banyak diminati siswa. Robotik bukan hanya tentang membuat robot bergerak, tetapi juga melatih logika, kreativitas, pemecahan masalah, ketekunan, dan kemampuan bekerja dalam tim.



Ibu Maria mempersiapkan lomba coding membuat game. Saya sangat berharap banyak siswa SD, SMP, SMA, dan SMK berani mencoba. Tidak harus langsung menjadi programmer hebat. Yang paling penting adalah berani mulai membuat sesuatu.



Sementara itu, Pak Rohandi mempersiapkan lomba film pendek. Melalui film, siswa dapat belajar bercerita, bekerja sama, menggunakan teknologi, menyampaikan pesan, dan melihat persoalan di sekitarnya dengan cara yang kreatif.



Kemudian Pak Asep digantikan Pak Rama telah mempersiapkan soal-soal Lomba Cerdas Cermat OTN untuk seluruh jenjang, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga SMK.

Terima kasih kepada seluruh penanggung jawab lomba yang terus bekerja di balik layar. Nama mereka mungkin tidak selalu terlihat oleh peserta, tetapi pekerjaan mereka sangat menentukan keberhasilan OTN 8.



Dua Sponsor yang Mendukung OTN 8



Alhamdulillah, sampai saat ini sudah ada dua sponsor yang siap mendukung OTN 8, yaitu Epson Indonesia dan Euro Management.

Dukungan tersebut hadir dalam bentuk barang maupun beasiswa.



Bagi kami, dukungan sponsor bukan hanya soal nilai materi. Lebih dari itu, dukungan tersebut merupakan bentuk kepercayaan bahwa kegiatan pendidikan seperti OTN layak diperjuangkan.



Kami ingin agar anak-anak Indonesia memiliki kesempatan untuk menunjukkan kemampuan mereka. Anak yang selama ini hanya dikenal sebagai siswa di kelas, mungkin saja ternyata memiliki kemampuan luar biasa dalam coding, robotik, film, cerdas cermat, atau e-sport.

Kompetisi dapat menjadi pintu untuk menemukan potensi itu.



Pendaftaran Sudah Dibuka



Informasi dan pendaftaran peserta OTN 8 telah dipublikasikan melalui beberapa kanal, antara lain website resmi KOGTIK.com, GurupenggerakIndonesia.id, dan blog WijayaLabs.com.



Kami juga berharap website OTN.or.id yang dikelola oleh Ibu Lilis Juwita dapat segera diperbarui sehingga informasi OTN 8 semakin mudah ditemukan masyarakat.



Kami ingin informasi tentang OTN 8 sampai ke sekolah-sekolah, guru, orang tua, dan siswa di berbagai daerah.

Jangan sampai ada anak yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi tidak mengetahui bahwa ada kesempatan untuk menunjukkan kemampuannya.



Karena itu, saya mengajak para guru untuk menyampaikan informasi OTN 8 kepada siswa. Saya juga mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya mengikuti kegiatan positif yang sesuai dengan minat dan bakat mereka. Tidak semua anak harus menjadi juara. Tetapi setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk mencoba.



Ada Sebuah Perjuangan yang Tidak Boleh Dilupakan



Di balik persiapan OTN 8 tahun ini, ada sebuah kisah yang sangat personal bagi saya. Tahun lalu, proses kurasi Puspresnas sempat mengalami kendala setelah ketua kami, Pak Bambang, meninggal dunia karena serangan jantung.

Kehilangan beliau tentu meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi kami.



Pada masa yang hampir bersamaan, saya sendiri juga mengalami ujian kesehatan berupa serangan stroke. Kondisi tersebut membuat saya harus menjalani proses pemulihan dan tidak dapat bekerja seperti biasanya. Namun kegiatan harus tetap berjalan.



Pekerjaan yang belum selesai harus diteruskan. Proses kurasi yang sempat terhenti harus dilanjutkan. Dalam keadaan seperti itu, Pak Rohandi dan Pak Ratno ikut mengambil peran untuk meneruskan proses yang ada.



Di sinilah saya semakin memahami bahwa sebuah organisasi bukan dibangun oleh satu orang. Ketika satu orang tidak mampu melanjutkan tugasnya, harus ada orang lain yang bersedia meneruskan perjuangan. Itulah arti sebuah tim. Itulah arti kebersamaan. Dan itulah alasan mengapa saya selalu percaya bahwa kegiatan pendidikan harus dibangun dengan hati.



OTN Bukan Sekadar Perlombaan



Bagi saya, OTN bukan hanya tentang siapa yang mendapatkan juara pertama. OTN adalah tentang keberanian seorang anak untuk mencoba.

Ada siswa yang mungkin selama ini pendiam di kelas, tetapi sangat kreatif ketika membuat game. Ada siswa yang senang membongkar dan merakit sesuatu, lalu menemukan kegembiraan ketika mengikuti robotik. Ada siswa yang memiliki kemampuan berpikir cepat dan tepat ketika mengikuti cerdas cermat.



Ada pula anak yang mungkin setiap hari bermain gim dan kemudian belajar bahwa bermain secara sehat juga membutuhkan strategi, komunikasi, kerja sama, dan sportivitas.



Ada anak yang senang membuat video dan bercerita. Melalui lomba film pendek, ia menemukan bahwa teknologi dapat digunakan untuk menyampaikan pesan yang baik. Itulah yang ingin kami bangun melalui OTN. 



Teknologi bukan hanya untuk dikonsumsi. Teknologi harus dipelajari, digunakan, dan diciptakan.



Harapan agar OTN 8 Masuk Jalur Prestasi



Salah satu harapan besar kami tahun ini adalah agar OTN 8 dapat terkurasi oleh Puspresnas Kemendikdasmen, sehingga ke depan dapat menjadi bagian dari jalur prestasi bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, sesuai dengan ketentuan dan mekanisme yang berlaku.



Kami menyadari bahwa proses kurasi bukanlah sesuatu yang sederhana. Ada berbagai persyaratan dan proses yang harus dipenuhi.

Karena itu, kami berusaha mempersiapkan OTN 8 dengan lebih baik.



Kami belajar dari pengalaman sebelumnya. Kami memperbaiki administrasi. Kami memperkuat pelaksanaan lomba. Kami menyiapkan soal dan sistem kompetisi. Kami membangun komunikasi dengan berbagai pihak.



Semua dilakukan agar OTN 8 dapat menjadi kegiatan yang kredibel, tertib, dan memberikan manfaat nyata bagi peserta. Kami tidak ingin anak-anak datang hanya untuk menerima sertifikat. Kami ingin mereka pulang membawa pengalaman. Membawa keberanian. Membawa persahabatan. Dan mungkin membawa sebuah mimpi baru.



15 Hari Lagi, Mari Kita Bergerak Bersama

Kini tinggal 15 hari.

Saya membayangkan tanggal 29 Oktober nanti, ketika pintu JICC Senayan dibuka dan anak-anak dari berbagai sekolah mulai berdatangan.

Ada yang datang bersama orang tua.

Ada yang datang bersama guru.

Ada yang datang bersama teman-temannya.

Mungkin ada yang terlihat percaya diri. Mungkin ada pula yang gugup.

Tetapi semuanya memiliki satu kesamaan: mereka datang untuk belajar dan mencoba.



Bagi saya, pemandangan seperti itu jauh lebih berharga daripada sekadar melihat jumlah peserta yang banyak.

Sebab di balik setiap peserta ada harapan orang tua.

Di balik setiap guru pendamping ada bentuk dukungan.

Dan di balik setiap anak yang berani mengikuti lomba, ada sebuah mimpi yang sedang diperjuangkan.

Karena itu, saya mengajak siswa SD, SMP, SMA, dan SMK di seluruh Indonesia untuk ikut OTN 8.

Saya mengajak para guru untuk memberikan kesempatan kepada siswanya.

Saya mengajak orang tua untuk mendukung anak-anaknya.

Dan saya mengajak masyarakat untuk ikut menjadi bagian dari gerakan pendidikan berbasis teknologi ini.



OTN 8 bukan hanya milik panitia. OTN 8 adalah ruang bersama untuk anak-anak Indonesia.



Mari kita jadikan JICC Senayan pada 29 Oktober–1 November 2026 sebagai tempat bertemunya anak-anak hebat, guru-guru hebat, orang tua hebat, dan para penggerak pendidikan yang memiliki satu harapan: melihat generasi muda Indonesia tumbuh menjadi manusia yang kreatif, berkarakter, mampu menggunakan teknologi, dan siap menghadapi masa depan.



Terima kasih kepada seluruh panitia, para PJ lomba, narasumber, sponsor, sekolah, guru, orang tua, dan semua pihak yang telah memberikan dukungan.

Terima kasih kepada Pak Simon Simarmata, Pak Ramly, Pak Ratno, Ibu Maria, Pak Rohandi, Pak Asep, Pak Rama, Ibu Lilis Juwita, serta seluruh tim yang bekerja dalam diam tetapi memberikan kontribusi yang sangat berarti.



Perjalanan menuju OTN 8 masih 15 hari. Masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Masih ada informasi yang harus disebarkan. Masih ada peserta yang harus diajak. Dan masih ada doa yang harus dipanjatkan. Semoga perjuangan kecil ini menjadi bagian dari perjalanan besar pendidikan Indonesia.



Sampai bertemu di JICC Senayan, Jakarta.

29 Oktober–1 November 2026.

OTN 8.

Mari berkompetisi dengan sehat, belajar dengan gembira, berkarya dengan hati, dan menjadikan teknologi sebagai jalan untuk meraih masa depan.

Menang itu membanggakan. Tetapi berani mencoba adalah kemenangan pertama.



Salam pendidikan.

Wijaya Kusumah

Omjay Guru Blogger Indonesia



https://s.id/otn82026

belajar pemrograman dengan scratch


Belajar Pemrograman dengan Scratch: Cara Mudah Membuat Animasi dan Permainan untuk Siswa Kelas VIII SMP

Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pendahuluan

Pernahkah kalian bermain gim di komputer atau ponsel? Pernahkah kalian melihat karakter kartun yang bisa bergerak, berbicara, melompat, atau mengeluarkan suara ketika tombol ditekan? Semua itu dapat dibuat menggunakan pemrograman komputer.

Pemrograman adalah kegiatan memberikan perintah kepada komputer agar komputer melakukan sesuatu sesuai dengan keinginan kita. Misalnya, kita memberikan perintah agar karakter kucing bergerak ke kanan, melompat, atau mengatakan “Halo, teman-teman!”

Dahulu, belajar pemrograman sering dianggap sulit karena kita harus menulis banyak kode dengan aturan tertentu. Namun, sekarang ada aplikasi yang membuat belajar pemrograman menjadi lebih mudah dan menyenangkan. Salah satunya adalah Scratch.

Scratch cocok digunakan oleh siswa kelas VIII SMP yang ingin belajar membuat animasi, cerita interaktif, dan permainan sederhana. Kita tidak harus langsung menghafal bahasa pemrograman yang rumit. Kita cukup menyusun blok-blok perintah seperti menyusun potongan puzzle.

Melalui Scratch, kita dapat belajar berpikir logis, kreatif, sistematis, dan mampu memecahkan masalah. Keterampilan ini sangat berguna, bukan hanya dalam pelajaran Informatika, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari.

1. Apa Itu Scratch?

Scratch adalah lingkungan pemrograman visual yang dikembangkan oleh Lifelong Kindergarten Group di MIT Media Lab. Scratch dirancang agar anak-anak dan pemula dapat belajar membuat program dengan cara yang mudah dipahami.

Dalam Scratch, perintah pemrograman ditampilkan dalam bentuk blok berwarna. Kita dapat menyeret dan menyambungkan blok-blok tersebut untuk membuat sebuah program.

Contohnya, kita ingin membuat karakter kucing berjalan sepuluh langkah. Kita cukup menggunakan blok perintah gerakan, kemudian menggabungkannya dengan blok yang menjalankan program ketika bendera hijau diklik.

Scratch dapat digunakan untuk membuat berbagai karya, seperti:

  1. Animasi cerita tentang kehidupan di sekolah.
  2. Permainan menangkap buah.
  3. Kuis pengetahuan umum.
  4. Simulasi lampu lalu lintas.
  5. Cerita interaktif tentang menjaga lingkungan.
  6. Permainan matematika sederhana.

Scratch dapat diakses melalui situs resminya, yaitu https://scratch.mit.edu. Kita dapat mencoba editor Scratch melalui peramban yang didukung. Beberapa fitur dapat digunakan secara luring dengan aplikasi Scratch Desktop yang sesuai.

2. Mengapa Siswa Kelas VIII Perlu Belajar Scratch?

Belajar Scratch bukan sekadar bermain dengan karakter kartun. Ada banyak keterampilan yang dapat kita pelajari.

Pertama, melatih berpikir logis.

Kita harus menentukan urutan perintah yang benar. Jika perintahnya salah atau tidak berurutan, program mungkin tidak berjalan sesuai keinginan.

Kedua, melatih kreativitas.

Kita bebas membuat karakter, latar belakang, cerita, dan permainan sesuai imajinasi kita.

Ketiga, belajar memecahkan masalah.

Ketika karakter tidak bergerak atau skor tidak bertambah, kita harus mencari penyebabnya dan memperbaiki program.

Keempat, melatih kesabaran dan ketelitian.

Membuat program membutuhkan percobaan. Kadang-kadang program berhasil pada percobaan pertama, tetapi kadang-kadang kita harus memperbaikinya beberapa kali.

Kelima, belajar bekerja sama.

Kita dapat membuat proyek bersama teman, saling memberikan ide, menguji program, dan membantu menemukan kesalahan.

Dengan demikian, Scratch dapat menjadi sarana belajar yang menyenangkan sekaligus melatih keterampilan penting untuk masa depan.

3. Mengenal Bagian-Bagian Scratch

Ketika membuka editor Scratch, kita akan menemukan beberapa bagian utama.

A. Panggung (Stage)

Panggung adalah tempat karakter dan objek menampilkan aksinya. Jika kita membuat permainan menangkap buah, panggung menjadi tempat buah jatuh dan pemain bergerak untuk menangkapnya.

Kita dapat mengganti latar belakang panggung sesuai tema proyek.

B. Sprite

Sprite adalah karakter atau objek yang digunakan dalam proyek Scratch.

Contohnya adalah kucing, bola, burung, buah, atau karakter buatan sendiri. Sprite dapat bergerak, berbicara, berubah penampilan, dan berinteraksi dengan sprite lainnya.

C. Area Kode

Area kode merupakan tempat kita menyusun blok-blok perintah untuk mengatur perilaku sprite.

Misalnya, kita dapat menyusun perintah agar karakter bergerak ketika tombol panah kanan ditekan.

D. Palet Blok

Palet blok berisi kumpulan perintah yang dikelompokkan berdasarkan fungsi dan ditandai dengan warna tertentu.

Beberapa kelompok blok yang sering digunakan adalah:

  • Motion (Gerakan): mengatur gerakan dan posisi sprite.
  • Looks (Tampilan): mengubah penampilan atau menampilkan teks.
  • Sound (Suara): memainkan suara.
  • Events (Kejadian): menentukan kapan program dimulai atau merespons suatu kejadian.
  • Control (Kontrol): mengatur pengulangan dan percabangan.
  • Sensing (Sensor): mendeteksi tombol, sentuhan, dan kondisi tertentu.
  • Operators (Operator): melakukan perhitungan dan perbandingan.
  • Variables (Variabel): menyimpan nilai, seperti skor permainan.

E. Tombol Bendera Hijau dan Berhenti

Bendera hijau digunakan untuk menjalankan proyek yang memiliki perintah pemicu yang sesuai. Tombol berhenti digunakan untuk menghentikan jalannya proyek.

Dengan mengenal bagian-bagian tersebut, kita akan lebih mudah membuat program pertama.

4. Mengenal Konsep Dasar Pemrograman dalam Scratch

Sebelum membuat proyek, kita perlu memahami beberapa konsep dasar pemrograman.

A. Urutan Perintah (Sequence)

Sequence adalah urutan langkah yang dijalankan oleh komputer.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari adalah membuat mi instan. Kita perlu menyiapkan alat dan bahan, memasak mi, menyiapkan bumbu, lalu menyajikannya.

Jika urutannya tidak tepat, hasilnya bisa berbeda.

Dalam Scratch, kita juga harus menyusun perintah secara berurutan. Misalnya:

  1. Ketika bendera hijau diklik.
  2. Karakter mengatakan “Halo!”
  3. Karakter bergerak 50 langkah.
  4. Karakter mengatakan “Selamat belajar!”

Urutan ini membuat karakter melakukan aksi sesuai rencana.

B. Perulangan (Loop)

Perulangan adalah perintah untuk menjalankan suatu aksi berkali-kali.

Contohnya, ketika kita bertepuk tangan lima kali, kita mengulangi gerakan yang sama beberapa kali.

Dalam Scratch, blok repeat (10) digunakan untuk mengulang perintah di dalamnya sebanyak sepuluh kali.

Misalnya, karakter bergerak 10 langkah sebanyak lima kali. Karakter akan menempuh total 50 langkah apabila setiap gerakan berhasil dilakukan.

Perulangan membuat program lebih ringkas karena kita tidak perlu menuliskan perintah yang sama berulang kali.

C. Percabangan (Condition)

Percabangan memungkinkan program memilih tindakan berdasarkan suatu kondisi.

Contohnya, jika hujan turun, kita menggunakan payung. Jika tidak hujan, kita mungkin tidak memerlukannya.

Dalam Scratch, blok if ... then dapat digunakan untuk menjalankan perintah apabila kondisi tertentu terpenuhi. Blok if ... then ... else dapat digunakan untuk memilih salah satu dari dua tindakan.

Misalnya, jika skor mencapai 10, pemain menang. Jika skor belum mencapai 10, permainan dilanjutkan.

D. Variabel (Variable)

Variabel adalah tempat untuk menyimpan suatu nilai yang dapat berubah.

Dalam permainan, variabel dapat digunakan untuk menyimpan skor, jumlah nyawa, waktu, atau jumlah jawaban yang benar.

Contohnya, skor awal pemain adalah 0. Ketika pemain berhasil menangkap buah, skor bertambah 1.

Variabel membuat program dapat mengingat perkembangan permainan.

E. Kejadian (Event)

Event adalah kejadian yang memicu suatu tindakan dalam program.

Contohnya:

  • Bendera hijau diklik.
  • Tombol spasi ditekan.
  • Karakter menyentuh objek tertentu.
  • Sebuah pesan diterima oleh sprite lain.

Event membuat program dapat merespons tindakan pengguna.

5. Praktik Pertama: Membuat Karakter Kucing Bergerak

Sekarang, mari kita membuat program sederhana. Proyek ini cocok bagi pemula yang baru mengenal Scratch.

Tujuan: Membuat karakter kucing mengatakan “Halo, teman-teman!” kemudian bergerak ke kanan.

Langkah 1: Buka Scratch

Buka situs https://scratch.mit.edu, kemudian pilih menu untuk membuat proyek baru atau Create.

Jika menggunakan Scratch Desktop, buka aplikasi dan buat proyek baru.

Langkah 2: Pilih Sprite

Biasanya, Scratch menyediakan karakter kucing sebagai sprite awal. Kita dapat menggunakan karakter tersebut untuk latihan pertama.

Langkah 3: Susun Blok Perintah

Susun blok-blok berikut secara berurutan:

  1. when green flag clicked
  2. say [Halo, teman-teman!] for (2) seconds
  3. move (50) steps

Dalam bahasa sederhana, artinya:

  • Ketika bendera hijau diklik, program dimulai.
  • Kucing mengatakan “Halo, teman-teman!” selama dua detik.
  • Setelah itu, kucing bergerak 50 langkah.

Langkah 4: Jalankan Program

Klik bendera hijau. Amati apa yang dilakukan kucing.

Jika program berjalan sesuai rencana, berarti kalian telah berhasil membuat program pertama.

Langkah 5: Kembangkan Program

Cobalah mengganti teks sapaan menjadi “Selamat belajar Informatika!”

Kalian juga dapat mengubah jumlah langkah menjadi 100 atau menambahkan suara.

Dari latihan sederhana ini, kita belajar bahwa komputer menjalankan perintah sesuai instruksi yang diberikan.

6. Praktik Kedua: Membuat Permainan Menangkap Buah

Setelah berhasil membuat karakter bergerak, kita dapat mencoba membuat permainan sederhana.

Judul proyek: Ayo Tangkap Buah!

Dalam permainan ini, pemain menggerakkan keranjang ke kiri dan ke kanan untuk menangkap buah. Setiap buah yang berhasil ditangkap menambah skor pemain.

A. Menyiapkan Objek

Siapkan dua sprite:

  1. Keranjang sebagai pemain.
  2. Buah sebagai objek yang ditangkap.

Pilih latar belakang yang sesuai, misalnya taman atau kebun.

B. Membuat Variabel Skor

Buat variabel bernama Skor.

Atur nilai awal skor menjadi 0 ketika permainan dimulai.

Contoh blok perintah untuk variabel:

  • when green flag clicked
  • set [Skor] to (0)

Artinya, setiap kali permainan baru dimulai, skor kembali menjadi nol.

C. Menggerakkan Keranjang

Pada sprite keranjang, susun perintah yang membuat keranjang bergerak ketika tombol panah kiri atau kanan ditekan.

Contoh logikanya:

  • Jika tombol panah kiri ditekan, gerakkan keranjang ke kiri.
  • Jika tombol panah kanan ditekan, gerakkan keranjang ke kanan.

Kalian dapat menggunakan blok if ... then dan blok pendeteksi tombol dari kategori Sensing.

D. Membuat Buah Jatuh

Pada sprite buah, buat program yang menempatkan buah di bagian atas panggung, kemudian menggerakkannya ke bawah.

Jika buah menyentuh keranjang, tambahkan skor 1 dan kembalikan buah ke posisi atas.

Jika buah mencapai bagian bawah panggung tanpa tertangkap, buah juga dapat dikembalikan ke posisi atas agar permainan berlanjut.

Gunakan blok perulangan forever untuk menjalankan mekanisme permainan selama permainan berlangsung.

E. Menguji Permainan

Klik bendera hijau dan coba mainkan permainan.

Periksa beberapa hal berikut:

  1. Apakah keranjang bergerak sesuai tombol yang ditekan?
  2. Apakah buah jatuh dari atas?
  3. Apakah skor bertambah ketika buah tertangkap?
  4. Apakah permainan tetap berjalan setelah buah mencapai bawah panggung?

Jika ada bagian yang tidak berfungsi, periksa kembali susunan bloknya.

F. Menambahkan Fitur

Setelah permainan dasar berhasil, kalian dapat menambahkan fitur seperti:

  • Batas waktu 30 detik.
  • Efek suara ketika buah tertangkap.
  • Buah yang jatuh semakin cepat.
  • Bonus skor untuk buah tertentu.
  • Pesan “Permainan Selesai” ketika waktu habis.

Proyek ini mengajarkan penggunaan gerakan, kejadian, perulangan, kondisi, dan variabel dalam satu permainan sederhana.

7. Scratch dan Kehidupan Sehari-hari

Pemrograman bukan hanya tentang komputer. Banyak konsep Scratch yang sebenarnya kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh pertama: Lampu lalu lintas.

Lampu lalu lintas memiliki urutan warna yang diatur sesuai sistemnya. Kita dapat membuat simulasi lampu lalu lintas menggunakan Scratch dengan mengubah tampilan lampu secara bergantian.

Contoh kedua: Kuis di kelas.

Kita dapat membuat kuis yang menampilkan pertanyaan. Jika jawaban benar, skor bertambah. Jika jawaban salah, program menampilkan pesan agar pemain mencoba kembali.

Contoh ketiga: Jadwal kegiatan sekolah.

Kita dapat membuat animasi yang menunjukkan urutan kegiatan siswa, mulai dari datang ke sekolah, belajar di kelas, beristirahat, hingga pulang.

Contoh keempat: Menjaga kebersihan lingkungan.

Kita dapat membuat permainan yang meminta pemain mengarahkan sampah ke tempat sampah yang sesuai. Permainan ini dapat mengajarkan pentingnya menjaga kebersihan.

Dari contoh-contoh tersebut, kita memahami bahwa pemrograman dapat digunakan untuk menyampaikan informasi, menyelesaikan masalah, dan membantu orang lain belajar.

8. Apa yang Dimaksud dengan Debugging?

Ketika membuat program, kita mungkin menemukan kesalahan. Misalnya, karakter tidak bergerak, skor tidak bertambah, atau permainan berhenti sebelum waktunya.

Proses mencari dan memperbaiki kesalahan dalam program disebut debugging.

Debugging merupakan bagian penting dalam belajar pemrograman. Kita tidak perlu langsung menyerah ketika program tidak berjalan sesuai harapan.

Berikut langkah sederhana untuk melakukan debugging:

  1. Jalankan program dan amati masalahnya.
  2. Tentukan bagian yang tidak bekerja dengan benar.
  3. Periksa blok perintah yang berkaitan.
  4. Perbaiki susunan atau nilai perintah.
  5. Jalankan kembali program.
  6. Pastikan masalah sudah teratasi.

Contohnya, skor permainan tidak bertambah ketika buah menyentuh keranjang. Kita dapat memeriksa apakah kondisi sentuhan sudah benar dan apakah perintah untuk menambah skor berada pada bagian program yang tepat.

Kesalahan bukan berarti kita gagal. Kesalahan adalah kesempatan untuk belajar dan meningkatkan kemampuan.

9. Sikap Bijak Saat Menggunakan Scratch

Ketika belajar Scratch, kita juga harus memperhatikan etika digital.

Pertama, gunakan Scratch untuk kegiatan yang positif dan bermanfaat.

Kedua, hormati karya orang lain. Jika menggunakan ide, gambar, atau karya orang lain, perhatikan izin dan ketentuan penggunaannya serta berikan penghargaan yang sesuai.

Ketiga, jangan membagikan informasi pribadi, seperti alamat rumah, kata sandi, atau nomor telepon, kepada orang yang tidak dikenal.

Keempat, gunakan internet dengan pendampingan guru atau orang tua ketika diperlukan.

Kelima, jangan hanya menyalin proyek orang lain. Pelajari cara kerjanya, kemudian kembangkan dengan ide sendiri.

Kita boleh terinspirasi oleh karya orang lain, tetapi kita perlu berusaha menghasilkan karya yang menunjukkan kreativitas dan pemahaman kita sendiri.

10. Tips Agar Berhasil Belajar Scratch

Agar belajar Scratch semakin menyenangkan, lakukan beberapa hal berikut.

  1. Mulailah dari proyek sederhana. Jangan langsung membuat permainan yang terlalu rumit.
  2. Pahami fungsi setiap blok. Jangan sekadar menyambungkan blok tanpa mengetahui kegunaannya.
  3. Berani mencoba. Ubah angka, teks, suara, dan gerakan untuk melihat hasilnya.
  4. Uji program secara berkala. Jangan menunggu semua blok selesai sebelum menjalankan program.
  5. Catat kesalahan yang ditemukan. Catatan dapat membantu kalian menghindari kesalahan yang sama.
  6. Berdiskusi dengan teman. Kalian dapat bertukar ide dan saling membantu.
  7. Buat karya sendiri. Pilih tema yang dekat dengan kehidupan kalian, misalnya sekolah, keluarga, olahraga, atau lingkungan.

Ingatlah bahwa kemampuan pemrograman berkembang melalui latihan yang teratur. Tidak semua orang langsung berhasil pada percobaan pertama.

11. Manfaat Belajar Scratch untuk Masa Depan

Kemampuan berpikir komputasional sangat penting di era digital. Berpikir komputasional adalah cara menyelesaikan masalah secara logis dan terstruktur.

Saat membuat permainan Scratch, kita belajar membagi masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, menentukan langkah, dan memeriksa hasilnya.

Keterampilan ini juga bermanfaat ketika kita belajar matematika, mengerjakan proyek kelompok, menyusun jadwal, atau merencanakan kegiatan sekolah.

Scratch juga dapat menjadi langkah awal untuk mempelajari bahasa pemrograman lain, seperti Python atau JavaScript. Konsep dasar seperti urutan perintah, perulangan, kondisi, dan variabel tetap berguna ketika kita mempelajari bahasa pemrograman yang lebih lanjut.

Teknologi akan terus berkembang. Karena itu, siswa tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Kita juga dapat belajar menjadi pembuat karya digital yang kreatif, bertanggung jawab, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Kesimpulan

Scratch adalah lingkungan pemrograman visual yang membantu siswa belajar membuat animasi, cerita interaktif, dan permainan sederhana dengan menyusun blok-blok perintah.

Melalui Scratch, kita dapat memahami konsep dasar pemrograman, seperti urutan perintah, perulangan, percabangan, variabel, dan kejadian. Kita juga belajar melakukan debugging ketika program mengalami kesalahan.

Belajar Scratch tidak harus menunggu menjadi ahli komputer. Kita dapat memulainya dari proyek sederhana, seperti membuat karakter kucing bergerak, membuat animasi kegiatan sekolah, atau membuat permainan menangkap buah.

Hal yang paling penting adalah berani mencoba, mau belajar dari kesalahan, dan terus mengembangkan kreativitas.

Pesan Omjay untuk siswa kelas VIII SMP:

Jangan takut belajar pemrograman. Mulailah dari hal sederhana, kemudian kembangkan sedikit demi sedikit. Gunakan teknologi untuk belajar, berkarya, dan membantu orang lain.

Ingatlah, kalian bukan hanya bisa bermain gim. Kalian juga bisa belajar membuat gim sendiri!

Selamat belajar Scratch. Teruslah berkreasi, teruslah mencoba, dan jadilah generasi yang cerdas, kreatif, serta bijak dalam menggunakan teknologi.

kisah Omjay menunggu pencairan tpg

Yang Kuat Itu Bukan Fisik, tetapi Iman: Kisah Omjay yang Masih Sabar Menunggu Pencairan TPG

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Rabu pagi, 14 Oktober 2026, saya kembali merenungkan sebuah nasihat kehidupan yang begitu menyentuh hati. Inspirasi pagi ini mengingatkan saya bahwa kekuatan sejati bukan terletak pada fisik yang sempurna, melainkan pada iman, kesabaran, dan keteguhan hati dalam menjalani kehidupan.

Ada satu kalimat yang terus terngiang dalam pikiran saya.

Yang kuat itu bukan fisik, tetapi iman.

Kalimat sederhana ini mengandung makna yang sangat dalam. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mengukur kekuatan seseorang dari penampilan fisiknya. Orang yang sehat, gagah, dan mampu melakukan banyak aktivitas sering dianggap sebagai orang yang kuat. Padahal, kekuatan yang sesungguhnya tidak selalu terlihat dari luar.

Ada orang yang tubuhnya sehat, tetapi mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan. Sebaliknya, ada orang yang memiliki keterbatasan fisik, tetapi semangat hidupnya luar biasa. Mereka terus berjuang, berusaha, dan menjalani kehidupan dengan penuh rasa syukur.

Dari mereka, kita belajar bahwa kekuatan hati jauh lebih berharga daripada sekadar kekuatan fisik.

Belajar Sabar dari Saudara-Saudara Kita

Saya sering membayangkan betapa luar biasanya perjuangan saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik, tetapi tetap berusaha mendatangi masjid untuk menunaikan salat berjamaah. Ada yang harus menggunakan kursi roda, ada yang membutuhkan bantuan orang lain, dan ada pula yang harus menempuh perjalanan dengan penuh perjuangan.

Bagi sebagian orang, pergi ke masjid mungkin merupakan kegiatan yang sederhana. Tinggal berjalan kaki beberapa menit, kemudian menunaikan salat bersama jamaah lainnya.

Namun, bagi saudara-saudara kita yang memiliki keterbatasan fisik, perjalanan tersebut bisa menjadi perjuangan yang tidak mudah.

Mereka mengajarkan kepada kita bahwa ketika hati sudah memiliki tekad yang kuat, keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang untuk melakukan kebaikan.

Masyaallah. Sungguh, ada pelajaran berharga yang dapat kita petik dari perjuangan mereka.

Lalu, bagaimana dengan kita yang masih diberi kesehatan dan kesempatan untuk beraktivitas?

Sudahkah kita memanfaatkan nikmat tersebut untuk beribadah, bekerja, membantu sesama, dan menjalankan amanah dengan sebaik-baiknya?

Pertanyaan itulah yang membuat saya kembali bercermin.

Omjay Masih Sabar Menunggu Pencairan TPG

Sebagai seorang guru yang telah lama mengabdi di dunia pendidikan, saya memahami bahwa kesabaran merupakan bagian penting dari perjalanan hidup seorang pendidik.

Ada kalanya kita mendapatkan kabar menggembirakan. Namun, ada pula saatnya kita harus menunggu sesuatu yang menjadi hak kita dengan penuh kesabaran.

Saat ini, saya masih sabar menunggu pencairan Tunjangan Profesi Guru (TPG) yang saya nantikan.

Bagi seorang guru, TPG bukan sekadar angka yang masuk ke rekening. Tunjangan tersebut merupakan bentuk penghargaan atas profesionalitas guru yang telah memenuhi persyaratan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Di balik penantian itu, ada kebutuhan keluarga yang harus dipenuhi. Ada biaya pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, biaya transportasi, dan berbagai keperluan lainnya yang terus berjalan setiap hari.

Kehidupan tidak pernah berhenti hanya karena kita sedang menunggu pencairan sebuah tunjangan.

Harga kebutuhan sehari-hari tetap harus dibayar. Tagihan tetap datang. Tanggung jawab keluarga tetap menanti untuk diselesaikan.

Karena itu, saya memahami jika ada guru yang merasa gelisah ketika pencairan TPG belum juga diterima. Guru juga manusia biasa yang memiliki kebutuhan, perasaan, dan tanggung jawab keluarga.

Namun, saya berusaha untuk tetap tenang. Saya tidak ingin penantian ini membuat saya kehilangan semangat untuk mengajar, menulis, dan berbagi ilmu kepada sesama.

Saya percaya, setiap persoalan perlu dihadapi dengan kepala dingin dan hati yang jernih.

Jika ada kendala administrasi, mari kita periksa bersama. Jika ada informasi yang belum jelas, mari kita cari keterangan dari sumber resmi. Jika terdapat hak guru yang belum terpenuhi, mari kita perjuangkan melalui jalur yang tepat.

Kesabaran bukan berarti kita diam dan membiarkan persoalan berlarut-larut. Kesabaran adalah kemampuan untuk tetap mengendalikan diri sambil terus melakukan ikhtiar yang benar.

Jangan Sampai Penantian Mematikan Semangat Mengajar

Saya selalu percaya bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan untuk mendapatkan penghasilan. Menjadi guru adalah panggilan hati untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

Setiap pagi, ada siswa yang datang ke sekolah dengan berbagai cerita. Ada yang bersemangat belajar, ada yang masih kesulitan memahami pelajaran, dan ada pula yang membutuhkan perhatian lebih dari gurunya.

Mereka tidak seharusnya menjadi korban dari kegelisahan yang sedang kita hadapi.

Ketika memasuki ruang kelas, kita tetap memiliki tanggung jawab untuk mendampingi mereka belajar. Kita perlu mengajarkan pengetahuan, menanamkan karakter, dan memberikan teladan tentang bagaimana menghadapi kesulitan dengan bijaksana.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya terus berusaha belajar dan berbagi pengetahuan kepada peserta didik. Perkembangan teknologi, koding, dan kecerdasan artifisial menuntut kita untuk terus memperbarui kemampuan.

Saya juga terus menulis di blog dan berbagai media sebagai cara untuk berbagi pengalaman serta menyebarkan inspirasi.

Bagi saya, kegiatan mengajar dan menulis merupakan bagian dari ikhtiar untuk tetap bermanfaat bagi orang lain.

Saya tidak ingin persoalan pencairan TPG membuat saya berhenti berkarya. Saya juga tidak ingin rasa kecewa mengalahkan rasa syukur atas kesempatan yang masih diberikan Allah kepada saya untuk mengabdi.

Menunggu boleh membuat hati lelah. Namun, jangan sampai penantian membuat kita kehilangan arah.

Guru tetap perlu mengajar dengan sepenuh hati. Guru tetap perlu belajar. Guru tetap perlu menjaga kesehatan dan keharmonisan keluarga. Pada saat yang sama, hak-hak guru juga harus mendapatkan perhatian dan kepastian.

Kesejahteraan guru dan mutu pendidikan seharusnya berjalan beriringan, bukan dipertentangkan.

Iman Mengajarkan Kita untuk Tidak Mudah Menyerah

Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur'an:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا

Artinya:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

(QS. Al-'Ankabut: 69)

Ayat ini mengingatkan kita tentang pentingnya kesungguhan dalam berjuang di jalan Allah. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu terus berikhtiar melakukan kebaikan, memperbaiki diri, dan menjalankan amanah.

Saya menyadari bahwa kesabaran bukan sesuatu yang mudah dilakukan. Kadang-kadang hati terasa gelisah. Pikiran dipenuhi pertanyaan. Kita ingin mengetahui kapan penantian ini akan berakhir.

Namun, iman mengajarkan kita agar tidak mudah berputus asa.

Ketika menghadapi kesulitan, kita tetap berusaha mencari jalan keluar. Ketika menghadapi ketidakpastian, kita berusaha memperoleh informasi yang benar. Ketika merasa lelah, kita beristirahat sejenak, berdoa, lalu kembali melanjutkan perjuangan.

Kita tidak harus berpura-pura selalu kuat. Mengakui rasa lelah juga merupakan bagian dari kejujuran kepada diri sendiri.

Yang terpenting, jangan sampai rasa lelah itu membuat kita berhenti berbuat baik.

Saya belajar bahwa kesabaran harus berjalan bersama ikhtiar, doa, dan tanggung jawab. Kita boleh berharap kepada Allah, tetapi kita juga perlu menjalankan kewajiban dan menyelesaikan persoalan dengan cara yang benar.

Guru Juga Manusia yang Membutuhkan Perhatian

Saya ingin menyampaikan bahwa guru adalah manusia biasa. Guru bisa merasa lelah, sedih, kecewa, dan khawatir. Guru juga memiliki keluarga yang harus dijaga kesejahteraannya.

Di balik senyum seorang guru di depan kelas, terkadang ada persoalan pribadi yang tidak diketahui oleh murid-muridnya.

Ada guru yang sedang memikirkan biaya sekolah anaknya. Ada yang harus membantu orang tuanya. Ada yang sedang berjuang menjaga kesehatan. Ada pula yang menunggu haknya agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Meskipun demikian, banyak guru tetap datang ke sekolah, mengajar, memeriksa tugas, mempersiapkan materi, dan mendampingi peserta didik dengan penuh tanggung jawab.

Karena itu, guru perlu mendapatkan penghargaan yang layak, bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui kebijakan yang memberikan kepastian dan keadilan.

Pencairan tunjangan yang menjadi hak guru sesuai ketentuan perlu dilaksanakan secara transparan, tepat waktu, dan disertai informasi yang jelas apabila terjadi kendala.

Guru yang sejahtera tentu memiliki peluang lebih baik untuk berkonsentrasi menjalankan tugas profesionalnya.

Saya berharap persoalan pencairan TPG yang masih dinantikan oleh sebagian guru dapat segera memperoleh kejelasan. Semoga seluruh proses administrasi berjalan lancar dan hak para guru yang telah memenuhi persyaratan dapat diterima sesuai ketentuan.

Harapan ini bukan semata-mata untuk kepentingan pribadi, melainkan juga untuk memberikan ketenangan kepada para pendidik yang setiap hari ikut membangun masa depan bangsa.

Tetap Bersyukur, Tetap Berjuang

Rabu pagi ini, saya kembali mengingatkan diri sendiri agar tidak hanya menghitung apa yang belum saya miliki.

Saya masih diberi kesempatan untuk bernapas. Saya masih bisa belajar. Saya masih bisa menulis. Saya masih bisa berbagi ilmu. Saya masih memiliki keluarga dan sahabat yang memberikan dukungan.

Semua itu merupakan nikmat yang patut saya syukuri.

Menunggu pencairan TPG memang membutuhkan kesabaran. Namun, saya tidak ingin seluruh perhatian saya hanya tertuju pada sesuatu yang belum datang.

Masih banyak pekerjaan baik yang dapat dilakukan. Masih banyak siswa yang membutuhkan pendampingan. Masih banyak guru yang bisa diajak belajar bersama. Masih banyak tulisan yang dapat dibuat untuk memberikan manfaat kepada pembaca.

Saya ingin terus menjalani kehidupan dengan semangat dan rasa syukur.

Jika hari ini TPG belum cair, saya akan tetap berusaha menjalankan tugas sebaik-baiknya sambil mencari informasi resmi mengenai perkembangannya. Jika ada dokumen yang perlu diperiksa atau administrasi yang harus dilengkapi, saya akan berusaha menyelesaikannya sesuai prosedur.

Saya juga berharap para guru yang sedang menunggu pencairan tunjangan tidak merasa sendirian. Mari kita saling menguatkan, berbagi informasi yang dapat dipercaya, dan memperjuangkan hak secara bijaksana.

Sebab, kekuatan seorang guru tidak hanya terlihat ketika ia berdiri di depan kelas. Kekuatan itu juga terlihat ketika ia mampu menghadapi kesulitan tanpa kehilangan tanggung jawab dan harapan.

Penutup: Kuatkan Iman, Luruskan Niat, Lanjutkan Pengabdian

Sahabat guru yang saya hormati, mari kita jadikan inspirasi pagi ini sebagai bahan renungan bersama.

Jangan mengukur kekuatan hanya dari tubuh yang sehat atau kemampuan fisik yang sempurna. Kekuatan sejati juga tercermin dari keteguhan iman, kelapangan hati, kesabaran, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah.

Saya, Omjay, masih belajar menjadi pribadi yang sabar. Saya masih belajar menerima kenyataan, mengendalikan perasaan, dan terus berusaha ketika menghadapi persoalan.

Saya juga masih sabar menunggu pencairan TPG. Saya berharap penantian ini segera berakhir dengan kabar baik bagi para guru yang berhak menerimanya.

Namun, selama masih menunggu, saya tidak ingin berhenti mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi.

Semoga Allah Swt. memberikan kesehatan, kekuatan, dan kesabaran kepada seluruh guru Indonesia. Semoga kesejahteraan para pendidik semakin diperhatikan, administrasi tunjangan berjalan lancar, dan setiap hak yang menjadi kewajiban dapat ditunaikan dengan baik.

Sebab, guru yang kuat bukanlah guru yang tidak pernah mengeluh, melainkan guru yang tetap berikhtiar, menjaga integritas, dan tidak kehilangan harapan ketika menghadapi kesulitan.

Tetap semangat, sahabat guru!

Jangan biarkan penantian memadamkan cahaya pengabdian kita.

Semoga Allah memudahkan segala urusan, melapangkan rezeki, menguatkan iman, dan menjadikan setiap langkah kita sebagai amal kebaikan.

Aamiin ya Rabbal 'aalamiin.

Salam Blogger Persahabatan

Omjay Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Menulislah dengan hati, berbagi dengan tulus, dan teruslah menginspirasi tanpa henti.