Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Sabtu, 22 Agustus 2026

Benarkah Kompasiana Tak Menarik Lagi?

Benarkah Kompasiana Tidak Menarik Lagi? Ketika GoPay Makin Sulit dan Blogger Mulai Melirik Tempat Lain

Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Suatu hari seorang teman bertanya kepada Omjay, "Jay, masih rajin menulis di Kompasiana?"

Saya tersenyum.

Pertanyaan sederhana itu ternyata menyimpan pertanyaan yang lebih besar.

"Masih menarik enggak sih menulis di Kompasiana? Sekarang GoPay-nya susah didapat. Di tempat lain katanya lebih mudah mendapatkan uang. Banyak blogger mulai pindah."

Saya tidak langsung menjawab.

Saya teringat perjalanan panjang Omjay bersama Kompasiana. Dulu, ketika pertama kali jatuh cinta pada dunia blogging, saya tidak pernah berpikir bahwa menulis bisa menghasilkan uang. Saya menulis karena senang berbagi pengalaman, senang berdiskusi dengan pembaca, dan senang ketika tulisan sederhana ternyata dibaca banyak orang.

Kemudian datanglah K-Rewards.

Bagi seorang blogger, mendapatkan apresiasi dari tulisan tentu menyenangkan. Apalagi kalau saldo digital itu bisa dicairkan menjadi sesuatu yang nyata. Bisa membeli buku, membayar kuota internet, mentraktir teman, atau sekadar membeli kopi sambil terus menulis.

Omjay pernah merasakan masa-masa itu.

Dalam tulisan saya pada 2025, saya pernah bercerita bagaimana K-Rewards menjadi salah satu bentuk apresiasi yang membuat aktivitas menulis terasa semakin menyenangkan. K-Rewards dikaitkan dengan keterbacaan tulisan dan menjadi salah satu pengalaman menarik bagi penulis yang aktif di Kompasiana.

Namun zaman berubah.

Sistem berubah.

Algoritma berubah.

Kebiasaan pembaca berubah.

Dan tentu saja, harapan penulis juga berubah.

Pada 2026, saya sendiri pernah menulis tentang GoPay Kompasiana yang semakin kecil. Saya melihat adanya keluhan dari sejumlah penulis mengenai nominal reward yang mereka terima. Bahkan dalam pengalaman Omjay, sudah sekitar setahun saya tidak mendapatkan GoPay Kompasiana. Namun anehnya, saya tetap menulis.

Mengapa?

Karena ternyata menulis bagi Omjay bukan hanya soal GoPay.

Menulis sudah menjadi kebutuhan jiwa.

Saya menulis ketika sedang bahagia. Saya menulis ketika sedang sedih. Saya menulis ketika mendapatkan pengalaman baru. Saya menulis setelah bertemu guru, siswa, penulis, dokter, teman lama, atau orang yang baru saya kenal.

Saya menulis karena selalu ada cerita.

Tetapi apakah semua penulis memiliki alasan yang sama?

Tentu tidak.

Ada penulis yang menjadikan blogging sebagai hobi. Ada yang ingin membangun personal branding. Ada yang ingin mendapatkan pembaca. Ada yang ingin mempromosikan buku. Ada yang ingin mendapatkan pekerjaan. Ada yang ingin menjadi influencer. Dan ada pula yang memang berharap mendapatkan penghasilan dari tulisan.

Karena itu, kalau seorang blogger kemudian membandingkan Kompasiana dengan platform lain yang dianggap lebih mudah menghasilkan uang, menurut saya itu sesuatu yang wajar.

Namanya juga mencari rezeki.

Seorang penulis tentu akan melihat di mana karya dan waktunya mendapatkan apresiasi yang paling baik.

Jangan Salah Memahami Blogger yang Pindah

Kalau ada blogger pindah ke platform lain, jangan buru-buru mengatakan mereka tidak setia.

Bisa jadi mereka sedang mencari jalan baru.

Seorang penulis membutuhkan tempat untuk tumbuh. Kalau sebuah platform mampu memberikan pembaca, komunitas, peluang ekonomi, dan pengalaman menulis yang baik, tentu penulis akan bertahan.

Sebaliknya, kalau penulis merasa sudah bekerja keras tetapi penghargaan yang diterima semakin kecil, mereka mungkin akan mencoba tempat lain.

Itu hukum sederhana dalam dunia digital.

Penulis punya pilihan.

Platform juga punya pilihan.

Namun menurut saya, persoalannya jangan hanya dilihat dari besar kecilnya GoPay.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah Kompasiana masih memberikan alasan kepada penulis untuk terus berkarya?

Jawaban saya: masih.

Mengapa?

Karena Kompasiana bukan hanya tempat mendapatkan uang.

Kompasiana adalah tempat bertemu dengan pembaca.

Tempat belajar menulis.

Tempat berdiskusi.

Tempat menemukan teman.

Tempat membangun reputasi.

Dan bagi sebagian orang, Kompasiana sudah menjadi bagian dari perjalanan hidup.

Omjay termasuk di dalamnya.

Saya tidak bisa melupakan begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan selama menjadi Kompasianer. Saya belajar dari tulisan orang lain. Saya mendapatkan teman baru. Saya mendapatkan pembaca. Saya pernah mendapatkan K-Rewards. Saya pernah menjadi Kompasianer Terpopuler. Saya juga mendapatkan kesempatan memperkenalkan buku dan gagasan kepada masyarakat yang lebih luas.

Jadi, kalau hari ini GoPay tidak lagi sebesar dulu, apakah saya harus berhenti menulis?

Tidak.

Saya tetap menulis.

Karena bagi Omjay, uang adalah bonus, sedangkan tulisan adalah investasi.

Tetapi Platform Juga Harus Mendengarkan Penulis

Di sisi lain, saya ingin mengatakan sesuatu dengan jujur.

Platform digital tidak boleh menganggap keluhan penulis sebagai angin lalu.

Penulis adalah bagian penting dari ekosistem.

Tanpa penulis, tidak ada konten.

Tanpa konten, tidak ada pembaca.

Tanpa pembaca, platform juga akan kehilangan daya tariknya.

Karena itu, ketika banyak penulis mempertanyakan sistem reward, mekanisme artikel utama, perubahan dashboard, atau pengalaman menggunakan platform, sebaiknya semua itu menjadi bahan evaluasi bersama.

Kompasiana sendiri pada 2026 masih melakukan berbagai program komunitas dan reward. Bahkan mekanisme Community Quarter Rewards mengalami penyesuaian pada tahun keempat penyelenggaraannya. Ini menunjukkan bahwa ekosistemnya masih bergerak dan terus mencoba beradaptasi.

Dashboard menulis pun masih dikembangkan. Informasi yang beredar di komunitas menyebutkan bahwa beberapa fitur baru sedang ditambahkan dan proses migrasi data berlangsung pada Agustus 2026.

Artinya, Kompasiana belum mati.

Kompasiana belum selesai.

Kompasiana sedang berubah.

Dan setiap perubahan pasti menimbulkan pro dan kontra.

Jangan Membandingkan Apel dengan Jeruk

Saya sering mengatakan kepada teman-teman blogger, jangan hanya melihat platform lain dari sisi uang yang terlihat.

Lihat ekosistemnya.

Berapa banyak pembaca yang bisa kita dapatkan?

Bagaimana kualitas interaksinya?

Apakah tulisan kita mudah ditemukan?

Apakah kita bisa membangun personal branding?

Apakah kita memiliki komunitas?

Apakah platform tersebut bertahan dalam jangka panjang?

Apakah aturan monetisasinya bisa berubah sewaktu-waktu?

Semua harus dihitung.

Sebab mendapatkan uang dari internet itu bukan sekadar menulis lalu uang datang.

Ada algoritma.

Ada kebijakan.

Ada persaingan.

Ada perubahan teknologi.

Ada perubahan perilaku pembaca.

Hari ini sebuah platform bisa memberikan penghasilan yang menarik. Besok kebijakannya bisa berubah.

Karena itu, Omjay tidak pernah menyarankan seorang penulis hanya bergantung kepada satu platform.

Bangunlah rumah digital sendiri.

Miliki blog pribadi.

Miliki buku.

Miliki komunitas.

Miliki media sosial.

Miliki newsletter jika diperlukan.

Dan gunakan berbagai platform sebagai jalan untuk menemukan pembaca.

Kompasiana boleh menjadi salah satu rumah kita.

Tetapi jangan sampai seluruh rumah kita hanya berdiri di atas tanah milik orang lain.

Rezeki Tidak Pernah Tertukar

Inilah pelajaran yang semakin Omjay pahami setelah bertahun-tahun menulis.

Rezeki tidak selalu datang melalui jalan yang kita duga.

Ketika GoPay Kompasiana tidak datang, mungkin rezeki datang melalui penjualan buku.

Ketika buku belum laku, mungkin datang undangan menjadi narasumber.

Ketika honor narasumber belum ada, mungkin datang teman baru.

Ketika tulisan tidak viral, mungkin ada satu pembaca yang mendapatkan manfaat besar.

Dan bukankah itu juga rezeki?

Kadang-kadang kita terlalu sibuk menghitung uang sampai lupa menghitung keberkahan.

Omjay pernah mengalami sendiri.

Ada tulisan yang menghasilkan uang.

Ada tulisan yang tidak menghasilkan uang.

Ada tulisan yang dibaca ribuan orang.

Ada tulisan yang hanya dibaca puluhan orang.

Tetapi semuanya tetap menjadi bagian dari perjalanan.

Sebab seorang penulis sejati tidak hanya menulis ketika dibayar.

Ia menulis karena mempunyai sesuatu yang ingin dibagikan.

Jadi, Benarkah Kompasiana Tidak Menarik Lagi?

Jawaban Omjay sederhana.

Masih menarik, tetapi tidak boleh berhenti berbenah.

Bagi penulis, daya tarik sebuah platform bukan hanya soal GoPay.

Bagi penulis, yang penting adalah tiga hal: pembaca, komunitas, dan peluang.

Kalau ketiganya tetap hidup, platform masih mempunyai masa depan.

Namun kalau penulis merasa tidak dihargai, tidak didengar, sulit mendapatkan pembaca, dan tidak mempunyai peluang berkembang, mereka tentu akan mencari alternatif.

Itu bukan ancaman.

Itu adalah masukan.

Kompasiana memiliki sejarah panjang dalam perjalanan blogging Indonesia. Bahkan sampai sekarang masih ada artikel-artikel yang memperoleh keterbacaan sangat tinggi, dan komunitasnya masih menjalankan berbagai kegiatan.

Karena itu, Omjay memilih tidak ikut-ikutan mengatakan, "Kompasiana sudah tidak menarik."

Saya lebih suka mengatakan:

Kompasiana sedang berada di persimpangan perubahan.

Mau dibawa ke mana?

Tentu bukan hanya tugas pengelola.

Penulis juga punya peran.

Pembaca juga punya peran.

Komunitas juga punya peran.

Kalau kita ingin Kompasiana tetap menjadi rumah yang nyaman bagi blogger Indonesia, maka mari sama-sama menjaga rumah itu.

Pengelola mendengar suara penulis.

Penulis menghasilkan tulisan berkualitas.

Pembaca memberikan apresiasi.

Komunitas terus menghidupkan kegiatan.

Dan semua pihak terus beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Pada akhirnya, Omjay akan tetap menulis.

Di Kompasiana, di blog pribadi, di media lain, atau di buku.

Sebab Omjay sudah terlalu lama jatuh cinta kepada dunia menulis untuk berhenti hanya karena nominal GoPay mengecil.

GoPay boleh mengecil. Semangat menulis jangan ikut mengecil.

Dan kalau suatu hari ada platform yang memberikan rezeki lebih besar, silakan dicoba.

Tidak perlu merasa bersalah.

Namun jangan lupa satu hal.

Jangan mengejar uang sampai kehilangan alasan mengapa kita pertama kali belajar menulis.

Karena uang bisa habis.

Platform bisa berubah.

Algoritma bisa berganti.

Tetapi tulisan yang bermanfaat dapat tinggal jauh lebih lama di hati pembaca.

Itulah sebabnya Omjay masih memegang teguh satu kalimat:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam blogger persahabatan.

Omjay/Kakek Jay
Guru Blogger Indonesia

Belajar Tenang Menjalani Takdir

Inspirasi Pagi: Belajar Tenang Menjalani Takdir dan Menghadapi Kehidupan

Sabtu, 22 Agustus 2026

Pagi ini saya kembali belajar bahwa hidup bukan sekadar tentang bagaimana kita mendapatkan apa yang kita inginkan, tetapi juga bagaimana kita menyikapi apa yang belum menjadi milik kita. Ada kalanya kita sudah berusaha sekuat tenaga, berdoa siang dan malam, tetapi hasil yang datang tidak sesuai dengan harapan. Pada saat seperti itulah hati kita diuji. Apakah kita tetap bersyukur, atau justru sibuk menyalahkan keadaan?

Saya sering mengatakan kepada diri sendiri bahwa cara terbaik untuk mengalahkan seseorang bukanlah dengan membalas perkataannya, menjatuhkan dirinya, atau menunjukkan bahwa kita lebih hebat. Cara terbaik adalah tetap bersikap sopan dan menjaga akhlak. Ketika orang lain berbuat kurang baik kepada kita, jangan sampai keburukan itu membuat kita ikut menjadi buruk. Balaslah dengan kesantunan. Sebab akhlak yang baik sering kali lebih kuat daripada seribu kata-kata.

Dalam perjalanan hidup, saya juga belajar pentingnya hidup sederhana. Tidak semua yang terlihat mewah harus kita miliki. Tidak semua yang dimiliki orang lain harus kita kejar. Kemewahan bisa datang dan pergi, sementara ketenangan hati jauh lebih berharga. Hidup sederhana bukan berarti tidak boleh memiliki cita-cita besar. Justru dengan kesederhanaan kita belajar membedakan mana kebutuhan dan mana sekadar keinginan.

Saya teringat perjalanan saya sebagai guru, penulis, dan blogger. Banyak hal yang dahulu saya pikir akan menjadi milik saya, ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, banyak kesempatan yang tidak pernah saya bayangkan justru datang pada waktu yang tidak terduga. Dari sanalah saya semakin memahami bahwa apa yang ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah tertukar.

Apa yang menjadi rezeki kita akan menemukan jalannya. Apa yang terlewat mungkin memang bukan bagian dari perjalanan kita. Karena itu, hati akan menjadi lebih tenang jika kita berhenti terlalu lama menyesali sesuatu yang telah berlalu.

Namun menerima takdir bukan berarti kita boleh bermalas-malasan. Kita tetap harus bekerja, belajar, menulis, mengajar, dan berusaha sebaik mungkin. Jangan menunda pekerjaan hari ini hingga esok. Sebab pekerjaan yang ditunda biasanya tidak hilang. Ia hanya berpindah menjadi beban yang lebih besar di kemudian hari.

Sebagai seorang guru dan penulis, saya merasakan sendiri bahwa menulis membutuhkan disiplin. Kalau hari ini mengatakan, “Nanti saja menulisnya,” besok akan muncul alasan lain. Akhirnya ide hilang dan tulisan tidak pernah selesai. Karena itu saya terus berusaha memegang prinsip sederhana: menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Kekhawatiran juga sering menjadi penghalang. Kita terlalu sibuk memikirkan sesuatu yang belum terjadi. Padahal sebesar apa pun kekhawatiran kita, ia tidak akan mampu mengubah masa depan. Yang bisa kita lakukan adalah mempersiapkan diri, berusaha, berdoa, lalu menyerahkan hasilnya kepada Allah.

Saya pun belajar bahwa rasa takut sering kali lebih besar sebelum kita menghadapi persoalan. Ketika persoalan itu benar-benar dihadapi, ternyata kenyataannya tidak selalu seburuk yang kita bayangkan. Karena itu, jika ada sesuatu yang membuat kita cemas, jangan terus bersembunyi darinya. Hadapilah dengan tenang.

Dalam kehidupan, ketulusan juga menjadi bekal yang sangat penting. Ketika niat kita benar-benar baik karena Allah, kita tidak perlu terlalu sibuk mencari pengakuan manusia. Kita cukup melakukan yang terbaik. Biarkan Allah yang mengatur hasilnya.

Ada pekerjaan yang kita lakukan dengan susah payah tetapi tidak banyak orang mengetahuinya. Tidak apa-apa. Ada kebaikan yang kita lakukan tanpa mendapatkan pujian. Tidak masalah. Sebab nilai sebuah kebaikan tidak selalu ditentukan oleh banyaknya orang yang melihat, tetapi oleh ketulusan hati ketika melakukannya.

Saya juga semakin menyadari bahwa lingkungan pergaulan sangat menentukan perjalanan hidup. Menyendiri terkadang lebih baik daripada berada dalam pergaulan yang membuat kita jauh dari kebaikan. Namun memiliki sahabat yang saleh, tulus, dan mau mengingatkan ketika kita salah adalah sebuah karunia yang luar biasa.

Sahabat sejati bukan hanya orang yang hadir ketika kita tertawa. Ia juga hadir ketika kita sedang jatuh. Ia tidak selalu membenarkan perkataan kita, tetapi berani mengingatkan ketika langkah kita mulai menyimpang. Ia tidak iri ketika kita berhasil dan tidak meninggalkan kita ketika kita sedang mengalami kesulitan.

Pagi ini saya ingin mengingatkan diri sendiri: jangan terlalu takut dengan hari esok, jangan terlalu lama menyesali hari kemarin, dan jangan lupa mensyukuri hari ini.

Hari ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika kemarin ada kesalahan, perbaiki. Jika ada pekerjaan yang tertunda, selesaikan. Jika ada orang yang tersakiti, mintalah maaf. Jika ada cita-cita yang belum tercapai, teruslah berusaha.

Hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana kita. Tetapi saya percaya, Allah selalu memiliki rencana yang lebih baik. Tugas kita adalah menjalani setiap proses dengan sabar, ikhlas, dan penuh keyakinan.

Semoga pagi ini hati kita menjadi lebih tenang. Semoga langkah kita dimudahkan. Semoga pekerjaan kita diberkahi. Semoga keluarga kita diberikan kesehatan dan kebahagiaan. Semoga kita dipertemukan dengan orang-orang baik yang saling menguatkan dalam kebaikan.

Tetap semangat menjalani hari.

Jangan lupa bersyukur, jangan lelah berbuat baik, dan jangan berhenti belajar.

Barakallah fiikum.

Salam Blogger Persahabatan,

Omjay
Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Jumat, 21 Agustus 2026

kisah omjay: kaya belum tentu cukup miskin belum tentu kurang

Kaya Belum Tentu Cukup, Miskin Belum Tentu Kurang: Belajar Bahagia dari Kisah Omjay

Jumat pagi, 21 Agustus 2026, saya kembali merenungkan sebuah kalimat sederhana yang ternyata memiliki makna sangat dalam: kaya belum tentu cukup, miskin belum tentu kurang.

Kalimat itu membuat saya berhenti sejenak. Dalam kehidupan, sering kali kita mengukur kebahagiaan dari apa yang terlihat. Orang yang memiliki rumah besar dianggap bahagia. Orang yang mempunyai kendaraan bagus dianggap berkecukupan. Mereka yang memiliki banyak uang dianggap hidupnya tenang. Padahal, kenyataannya tidak selalu demikian.

Ada orang yang hartanya berlimpah, tetapi hatinya selalu merasa kurang. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana, tetapi wajahnya selalu dihiasi senyum dan hatinya dipenuhi rasa syukur.

Saya belajar bahwa kekayaan yang sesungguhnya bukan hanya tentang banyaknya harta, tetapi tentang kemampuan hati untuk merasa cukup.

Sebagai seorang guru dan blogger, saya merasakan sendiri bahwa perjalanan hidup tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana. Ada hari ketika pekerjaan terasa lancar, tulisan banyak dibaca, undangan berdatangan, dan berbagai kegiatan berjalan dengan baik. Namun, ada pula saat ketika tulisan yang sudah dibuat dengan sepenuh hati hanya dibaca sedikit orang. Ada rencana yang belum terwujud. Ada harapan yang masih harus menunggu waktu.

Dulu mungkin saya mudah bertanya, “Mengapa belum berhasil?”

Sekarang saya belajar menggantinya dengan pertanyaan, “Apa yang bisa saya syukuri hari ini?”

Pertanyaan sederhana itu ternyata mampu mengubah cara pandang.

Saya kemudian teringat bahwa bisa jadi apa yang kita miliki hari ini adalah bagian dari doa yang pernah kita panjatkan beberapa tahun lalu. Kita pernah berdoa ingin memiliki pekerjaan. Hari ini kita bekerja. Kita pernah berharap mempunyai keluarga yang menyayangi kita. Hari ini ada orang-orang yang menemani perjalanan hidup kita. Kita pernah memohon diberikan kesempatan untuk berbagi ilmu. Hari ini masih ada orang yang mau mendengarkan dan membaca tulisan kita.

Bukankah semua itu adalah nikmat?

Sering kali manusia terlalu sibuk mengejar apa yang belum dimiliki sampai lupa menikmati apa yang sudah ada di depan mata. Kita melihat keberhasilan orang lain, kemudian membandingkannya dengan kehidupan sendiri. Akibatnya, rasa syukur berubah menjadi keluhan.

Padahal, bahagia tidak selalu membutuhkan lebih banyak. Kadang-kadang bahagia justru datang ketika kita belajar mengurangi keinginan yang tidak perlu.

Sedikit ekspektasi, banyak toleransi.

Sedikit mengeluh, banyak bersyukur.

Sedikit menuntut, banyak memberi.

Kalimat tersebut sangat sederhana, tetapi tidak mudah dilakukan. Sebab manusia memang memiliki kecenderungan ingin mendapatkan lebih banyak. Setelah mendapatkan satu hal, ingin hal berikutnya. Setelah mencapai satu tujuan, mengejar tujuan lainnya.

Tidak ada yang salah dengan memiliki cita-cita. Sebagai guru, saya justru percaya bahwa kita harus terus bermimpi dan berusaha. Namun, jangan sampai cita-cita membuat kita lupa bersyukur atas perjalanan yang sedang dijalani.

Dalam ajaran Islam, kebahagiaan juga tidak sekadar dimaknai sebagai kesenangan duniawi. Ada konsep sa'adah, kebahagiaan yang hakiki dan kekal. Ada pula falah, keberhasilan atau kebahagiaan yang diperoleh setelah mencapai sesuatu yang dicari dengan cara yang benar.

Artinya, kebahagiaan bukan hanya ketika rekening bertambah, rumah semakin besar, atau jabatan semakin tinggi. Kebahagiaan sejati adalah ketika kehidupan kita memiliki makna, hati merasa tenteram, dan apa yang kita miliki membawa manfaat bagi orang lain.

Saya semakin memahami hal itu melalui perjalanan sebagai guru.

Guru mungkin tidak selalu menjadi profesi dengan penghasilan terbesar. Namun, ada kebahagiaan yang tidak bisa dibeli dengan uang ketika melihat murid berhasil. Ada rasa haru ketika seorang siswa yang dahulu belajar dengan susah payah akhirnya mampu mencapai cita-citanya. Ada kebahagiaan ketika tulisan yang kita buat ternyata menginspirasi seseorang untuk terus belajar.

Itulah kekayaan yang tidak terlihat.

Kita mungkin tidak kaya secara materi, tetapi bisa kaya pengalaman. Kita mungkin tidak memiliki banyak harta, tetapi bisa memiliki banyak sahabat. Kita mungkin tidak terkenal di mana-mana, tetapi tulisan dan kebaikan kecil kita bisa tinggal lama di hati seseorang.

Karena itu, saya berusaha memperbanyak syukur dan istighfar.

Syukur mengajarkan saya untuk melihat nikmat yang sudah diberikan Allah. Istighfar mengingatkan saya bahwa sebagai manusia, saya tidak pernah luput dari kesalahan dan kekurangan.

Saya teringat sebuah hadis riwayat Muslim nomor 2999 yang menjelaskan betapa menakjubkannya keadaan seorang mukmin. Ketika mendapatkan nikmat, ia bersyukur dan itu baik baginya. Ketika mendapatkan kesulitan, ia bersabar dan itu pun baik baginya.

Betapa indahnya ajaran tersebut.

Ketika senang, jangan lupa bersyukur.

Ketika susah, jangan kehilangan kesabaran.

Ketika mendapatkan keberhasilan, jangan sombong.

Ketika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.

Inilah yang terus saya pelajari dalam perjalanan kehidupan.

Menjadi guru mengajarkan saya untuk terus berbagi. Menjadi blogger mengajarkan saya untuk terus menulis. Menjadi manusia mengajarkan saya untuk terus belajar menerima kenyataan dengan hati yang lapang.

Saya percaya, hidup bukan perlombaan untuk menjadi lebih kaya daripada orang lain. Hidup adalah perjalanan untuk menjadi manusia yang lebih baik daripada diri kita kemarin.

Jika hari ini kita memiliki sedikit, syukurilah.

Jika hari ini kita memiliki banyak, jangan lupa berbagi.

Jika hari ini sedang mendapatkan kemudahan, gunakan untuk membantu orang lain.

Jika hari ini sedang menghadapi kesulitan, bersabarlah dan terus berdoa.

Sebab kaya belum tentu cukup, dan miskin belum tentu kurang. Yang membuat seseorang benar-benar kaya adalah hati yang tahu kapan harus merasa cukup.

Pagi ini saya mengajak diri sendiri dan para pembaca untuk berhenti sejenak dari segala keluhan. Lihatlah orang-orang yang masih menyayangi kita. Rasakan udara yang masih bisa kita hirup. Syukuri kesehatan, keluarga, pekerjaan, kesempatan belajar, dan setiap kebaikan kecil yang masih diberikan Allah kepada kita.

Jangan menunggu kehilangan untuk belajar menghargai.

Jangan menunggu sakit untuk belajar mensyukuri sehat.

Jangan menunggu kesepian untuk menghargai orang-orang yang selama ini menemani.

Dan jangan menunggu kaya untuk belajar berbagi.

Perbanyak syukur. Perbanyak istighfar. Kurangi mengeluh. Perbanyak memberi.

Insya Allah, hati menjadi lebih tenang dan hidup terasa lebih bahagia.

Tetap semangat menjalani hari.

Semoga Jumat pagi ini membawa keberkahan, ketenangan, kesehatan, dan kebahagiaan untuk kita semua.

Barakallah fiikum.

Salam Blogger Persahabatan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Kamis, 20 Agustus 2026

Rumus Bahagia

Rumus Bahagia dalam Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia

Bahagia bukan kebetulan, tetapi pilihan dan kebiasaan.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi semakin saya renungkan, semakin dalam maknanya. Dalam perjalanan hidup sebagai guru, blogger, penulis, dan pembelajar, saya menyadari bahwa kebahagiaan ternyata tidak selalu datang dari sesuatu yang besar. Bahagia sering kali tumbuh dari hal-hal kecil yang kita lakukan setiap hari.

Pagi ini saya mendapatkan sebuah gambar menarik tentang “Rumus Bahagia” yang dikaitkan dengan motivator nasional Aris Ahmad Jaya. Di dalamnya terdapat lima unsur penting yang jika kita jalankan dengan baik dapat membantu menghadirkan kehidupan yang lebih tenang, bermakna, dan bermanfaat.

Rumus itu adalah hati + pikiran + tubuh + hubungan + tujuan = bahagia.

Saya kemudian bertanya kepada diri sendiri, sudahkah kelima unsur itu saya rawat dalam kehidupan sehari-hari?

Sebagai seorang guru, saya belajar bahwa manusia bukan hanya membutuhkan kecerdasan. Kita membutuhkan hati yang baik, pikiran yang sehat, tubuh yang terjaga, hubungan yang harmonis, dan tujuan hidup yang jelas.

Hati yang Bersyukur

Unsur pertama adalah hati.

Bahagia dimulai dari hati yang mampu bersyukur. Bersyukur bukan berarti kita harus memiliki segala sesuatu yang kita inginkan. Justru syukur mengajarkan kita untuk menghargai apa yang sudah dimiliki.

Saya sering mengatakan kepada diri sendiri, jangan terlalu sibuk menghitung apa yang belum kita punya sampai lupa menghitung nikmat yang sudah kita terima.

Setiap pagi ketika membuka mata, sesungguhnya kita sudah menerima hadiah yang luar biasa. Kita masih diberi kesempatan untuk hidup, bernapas, bertemu keluarga, mengajar anak-anak, menulis, membaca, berjalan, dan berbagi pengalaman.

Sebagai guru, saya merasakan kebahagiaan ketika melihat siswa memahami pelajaran. Kebahagiaan juga muncul ketika ada pembaca yang mengatakan bahwa tulisan saya memberikan manfaat.

Ternyata kebahagiaan tidak selalu berbentuk uang.

Ada kebahagiaan ketika tulisan kita dibaca. Ada kebahagiaan ketika ilmu kita dibagikan. Ada kebahagiaan ketika orang lain menjadi lebih baik setelah mendengarkan nasihat kita.

Karena itu, saya terus belajar menjaga hati agar tetap ikhlas.

Pikiran yang Positif dan Solutif

Unsur kedua adalah pikiran.

Apa yang kita pikirkan sangat memengaruhi apa yang kita rasakan dan lakukan. Pikiran yang selalu dipenuhi keluhan akan membuat hidup terasa berat. Sebaliknya, pikiran yang positif membantu kita melihat peluang di tengah kesulitan.

Saya belajar dari pengalaman menjadi blogger bahwa tidak semua tulisan akan disukai orang. Tidak semua tulisan akan mendapatkan banyak pembaca. Tidak semua komentar akan menyenangkan hati.

Namun, saya memilih untuk terus menulis.

Mengapa?

Karena saya mempunyai prinsip sederhana:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Ketika ada masalah, saya berusaha tidak berhenti pada pertanyaan, “Mengapa ini terjadi kepada saya?”

Saya mencoba menggantinya dengan pertanyaan:

“Apa yang bisa saya lakukan setelah ini?”

Pertanyaan tersebut mengubah cara kita melihat persoalan.

Masalah tetap ada, tetapi kita menjadi lebih siap menghadapinya.

Pikiran positif bukan berarti menganggap semua masalah tidak ada. Pikiran positif berarti kita mengakui adanya masalah sekaligus percaya bahwa selalu ada jalan untuk mencari solusi.

Tubuh yang Sehat

Unsur ketiga adalah tubuh.

Kita sering baru menyadari pentingnya kesehatan setelah tubuh memberikan tanda-tanda tertentu. Padahal, tubuh adalah kendaraan yang kita gunakan untuk menjalani seluruh perjalanan kehidupan.

Sebagai guru, saya ingin terus bergerak dan menjaga kebugaran. Jalan kaki, berolahraga, melakukan aktivitas fisik, mengatur makanan, dan beristirahat cukup merupakan bagian dari usaha menjaga tubuh.

Saya semakin menyadari bahwa bergerak bukan hanya membuat badan menjadi lebih sehat. Bergerak juga membuat pikiran menjadi lebih segar.

Kadang-kadang ketika ide menulis tidak muncul, saya memilih berjalan kaki. Setelah tubuh bergerak, pikiran menjadi lebih terbuka. Ide yang sebelumnya terasa buntu tiba-tiba muncul.

Maka benar sebuah nasihat sederhana:

Gerak sekarang, sehat di masa depan.

Tidak perlu menunggu menjadi kaya untuk hidup sehat. Tidak perlu menunggu tua untuk menjaga tubuh. Kesehatan harus dirawat sejak sekarang.

Hubungan yang Baik

Unsur keempat adalah hubungan.

Manusia tidak bisa hidup sendirian. Kita membutuhkan keluarga, sahabat, teman kerja, murid, tetangga, dan masyarakat.

Bagi saya, hubungan yang baik adalah salah satu sumber kebahagiaan terbesar.

Seorang guru bisa memiliki banyak ilmu, tetapi ilmu itu akan terasa lebih indah jika dibagikan dengan cara yang baik. Seorang penulis bisa menghasilkan banyak buku, tetapi kebahagiaan akan semakin terasa ketika buku tersebut memberikan manfaat bagi pembacanya.

Hubungan juga membutuhkan komunikasi.

Kadang-kadang masalah bukan muncul karena seseorang tidak menyayangi kita, tetapi karena terjadi kesalahpahaman dalam berkomunikasi.

Karena itu, saya belajar untuk lebih banyak mendengar.

Mendengar dengan hati.

Tidak buru-buru menyela. Tidak langsung menghakimi. Tidak merasa diri paling benar.

Dalam kehidupan keluarga maupun komunitas, kemampuan mendengar sering kali lebih penting daripada kemampuan berbicara.

Hubungan yang baik juga dibangun dengan saling menghargai, saling memaafkan, dan saling membantu.

Tujuan Hidup yang Jelas

Unsur kelima adalah tujuan.

Hidup akan terasa lebih bermakna ketika kita mempunyai tujuan.

Saya bersyukur perjalanan hidup saya sebagai guru membawa saya pada dunia pendidikan, menulis, blogging, dan berbagi ilmu. Dari sana saya menemukan banyak kesempatan untuk belajar sekaligus memberikan manfaat.

Menjadi guru bagi saya bukan sekadar pekerjaan.

Guru adalah jalan pengabdian.

Begitu pula menulis. Saya tidak ingin menulis hanya untuk memenuhi halaman. Saya ingin tulisan saya meninggalkan jejak kebaikan.

Saya ingin pengalaman yang saya alami dapat menjadi pembelajaran bagi orang lain.

Ketika tujuan hidup jelas, kita tidak mudah kehilangan arah.

Tidak semua tujuan harus besar.

Membantu satu siswa memahami pelajaran adalah tujuan yang baik.

Membuat satu orang tersenyum adalah tujuan yang baik.

Menulis satu artikel yang memberikan inspirasi juga merupakan tujuan yang baik.

Kebaikan kecil yang dilakukan terus-menerus dapat menghasilkan perubahan besar.

Bahagia adalah Hasil dari Syukur, Usaha, dan Doa

Dari gambar tersebut ada satu kalimat yang sangat menarik perhatian saya:

“Bahagia adalah hasil dari syukur, usaha, dan doa yang dilakukan setiap hari.”

Saya sangat setuju.

Syukur tanpa usaha bisa membuat kita pasif. Usaha tanpa doa bisa membuat kita lupa bahwa manusia memiliki keterbatasan. Sementara doa tanpa usaha tentu tidak cukup.

Ketiganya perlu berjalan bersama.

Syukur membuka pintu kebahagiaan.

Usaha membangun masa depan.

Doa menguatkan keyakinan.

Ketika ketiganya berjalan seimbang, hidup terasa lebih tenang.

Saya belajar bahwa kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa masalah. Bahagia adalah kemampuan untuk tetap menemukan makna meskipun masalah datang silih berganti.

Guru menghadapi masalah di sekolah.

Penulis menghadapi kebuntuan ide.

Blogger menghadapi perubahan platform.

Orang tua menghadapi persoalan keluarga.

Setiap manusia memiliki tantangannya sendiri.

Namun, kita selalu memiliki pilihan tentang bagaimana menyikapinya.

Kebahagiaan Dimulai dari Diri Sendiri

Ada satu hal penting yang saya pelajari dari rumus bahagia ini: jangan menunggu orang lain membuat kita bahagia.

Mulailah dari diri sendiri.

Bangun pagi dengan rasa syukur.

Jaga ibadah dan doa.

Berpikir positif.

Bergerak dan menjaga kesehatan.

Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan sahabat.

Mengerjakan sesuatu yang memiliki makna.

Berbuat baik kepada orang lain.

Kemudian jangan lupa tidur dan beristirahat dengan cukup.

Kebiasaan-kebiasaan kecil tersebut apabila dilakukan terus-menerus akan membentuk kehidupan yang lebih baik.

Saya teringat bahwa kehidupan seorang guru sebenarnya penuh dengan kesempatan untuk bahagia. Ketika masuk kelas, saya bertemu generasi muda. Ketika menulis, saya bertemu dengan gagasan. Ketika membaca, saya bertemu dengan ilmu. Ketika berbagi, saya bertemu dengan kebahagiaan.

Ternyata kebahagiaan itu dekat sekali.

Kita saja yang terkadang terlalu jauh mencarinya.

Menjadi Guru yang Bahagia

Saya percaya guru yang bahagia akan lebih mudah menularkan energi positif kepada siswanya.

Guru tidak harus selalu sempurna.

Guru juga manusia.

Guru bisa lelah, kecewa, sedih, dan menghadapi berbagai persoalan. Tetapi guru dapat belajar untuk kembali bangkit.

Guru yang mampu menjaga hatinya akan lebih mudah memberikan keteladanan.

Guru yang menjaga pikirannya akan lebih kreatif menemukan solusi.

Guru yang menjaga tubuhnya akan lebih siap menjalankan tugas.

Guru yang menjaga hubungan akan lebih mudah bekerja sama.

Guru yang memiliki tujuan akan tahu untuk apa ia mendidik.

Pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang nilai akademik. Pendidikan juga tentang bagaimana membantu anak-anak menjadi manusia yang baik, sehat, bahagia, dan bermanfaat.

Penutup: Bahagia Itu Dilatih Setiap Hari

Hari ini saya semakin percaya bahwa bahagia bukan sesuatu yang jatuh dari langit tanpa usaha.

Bahagia adalah pilihan.

Bahagia adalah kebiasaan.

Bahagia adalah hasil dari cara kita merawat hati, mengelola pikiran, menjaga tubuh, membangun hubungan, dan menjalani tujuan hidup.

Kalau hari ini belum bahagia, jangan buru-buru menyalahkan keadaan.

Mari bertanya kepada diri sendiri.

Bagaimana keadaan hati saya?

Apa yang sedang saya pikirkan?

Sudahkah saya menjaga tubuh?

Bagaimana hubungan saya dengan keluarga dan orang-orang di sekitar?

Apakah saya masih mempunyai tujuan hidup yang ingin diperjuangkan?

Lalu mari kita lengkapi semuanya dengan syukur, usaha, dan doa.

Sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia, saya ingin terus belajar menjalani rumus sederhana ini. Saya ingin tetap menulis, mengajar, berbagi, bergerak, dan memberikan manfaat selama Allah masih memberikan kesempatan.

Sebab pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa banyak yang berhasil kita kumpulkan.

Hidup adalah tentang seberapa banyak kebaikan yang mampu kita tinggalkan.

Dan mungkin, di situlah letak kebahagiaan yang sesungguhnya.

Hati bersyukur. Pikiran positif. Tubuh sehat. Hubungan baik. Tujuan jelas.

Itulah rumus bahagia.

Mari kita praktikkan setiap hari.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Blog https://wijayalabs.com

Mari Belajar Mengenal Kebenaran

Belajar Mengenal Kebenaran dan Terus Bersabar: Kisah Omjay

Pagi ini, Kamis, 20 Agustus 2026, saya kembali mendapatkan inspirasi yang sederhana, tetapi sangat dalam. Ada pesan yang mengingatkan saya bahwa dalam menjalani kehidupan, jangan sampai kita mengenali kebenaran hanya karena melihat siapa yang menyampaikannya. Sebaliknya, kenalilah kebenaran itu sendiri. Dengan begitu, kita akan mengetahui siapa yang berada di jalan yang benar.

Nasihat tersebut terasa sangat relevan dalam kehidupan saya sebagai guru, penulis, dan blogger. Selama bertahun-tahun menjadi guru, saya belajar bahwa manusia bisa berubah. Hari ini seseorang bisa menjadi panutan, tetapi belum tentu selamanya demikian. Begitu pula sebaliknya. Seseorang yang hari ini belum kita kenal bisa saja memberikan pelajaran yang sangat berharga.

Karena itu, saya selalu berusaha belajar melihat substansi, bukan sekadar siapa yang berbicara. Dalam dunia pendidikan, misalnya, sebuah gagasan tidak otomatis menjadi benar hanya karena disampaikan oleh orang terkenal. Sebaliknya, gagasan yang sederhana pun bisa mengandung kebenaran apabila didukung ilmu, pengalaman, dan niat yang baik.

Bagi saya, inilah pentingnya ilmu.

Ilmu lebih baik daripada harta. Harta harus kita jaga, sedangkan ilmu justru menjaga kita. Harta bisa habis ketika dibelanjakan, sementara ilmu semakin bertambah ketika dibagikan kepada orang lain.

Pengalaman menjadi guru membuat saya merasakan sendiri kebenaran kalimat tersebut. Ketika saya mengajar, ilmu yang saya berikan kepada siswa tidak membuat ilmu saya berkurang. Justru ketika menjelaskan sesuatu kepada murid, saya sering menemukan pemahaman baru. Ketika menulis, saya juga belajar. Ketika berbagi pengalaman melalui blog, saya mendapatkan pelajaran dari komentar dan tanggapan pembaca.

Menulis setiap hari akhirnya bukan sekadar kegiatan menghasilkan tulisan. Menulis menjadi cara saya merawat ilmu.

Saya sering mengatakan, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.” Kalimat itu bukan hanya slogan bagi saya. Ia menjadi kebiasaan yang menemani perjalanan hidup saya sebagai guru blogger Indonesia.

Ilmu yang tidak dibagikan akan berhenti pada diri sendiri. Tetapi ilmu yang dibagikan dapat tumbuh menjadi manfaat bagi banyak orang.

Nasihat pagi ini juga mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya dapat dilihat dalam tiga kelompok. Ada orang berilmu yang mengamalkan ilmunya, ada orang yang sedang menuntut ilmu dan berjalan menuju keselamatan, serta ada orang yang tidak memiliki pegangan ilmu sehingga mudah mengikuti ke mana arah angin bertiup.

Saya merasa masih berada pada kelompok kedua: seorang pembelajar.

Meskipun sudah puluhan tahun menjadi guru, saya tidak pernah merasa selesai belajar. Justru semakin banyak belajar, semakin saya menyadari betapa luasnya ilmu yang belum saya ketahui.

Dunia berubah begitu cepat. Teknologi berubah. Kecerdasan artifisial berkembang. Cara belajar anak-anak berubah. Guru pun harus terus belajar agar tidak tertinggal zaman.

Bagi saya, menjadi guru bukan berarti menjadi orang yang paling tahu. Guru justru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Saya juga teringat pada pesan bahwa orang-orang yang hanya mengejar harta akan meninggalkan hartanya ketika wafat. Sementara orang berilmu dapat terus hidup melalui ilmu dan kebaikan yang ditinggalkannya.

Inilah yang membuat saya semakin yakin bahwa warisan terbaik seorang guru bukanlah rumah mewah, kendaraan mahal, atau banyaknya harta. Warisan terbaik seorang guru adalah ilmu, tulisan, keteladanan, dan kebaikan yang terus dikenang murid-muridnya.

Seorang guru mungkin suatu hari tidak lagi berdiri di depan kelas. Namun, kalimat yang pernah diucapkannya bisa terus hidup di hati seorang murid. Buku yang ditulisnya bisa dibaca generasi berikutnya. Tulisan di blog yang dibuat dengan tulus bisa ditemukan orang lain bertahun-tahun kemudian.

Itulah mengapa saya ingin terus menulis.

Saya ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.

Namun, perjalanan hidup tidak selalu mudah. Ada kalanya kita menghadapi kritik, perbedaan pendapat, kekecewaan, bahkan perlakuan yang tidak sesuai dengan harapan. Dalam keadaan seperti itu, nasihat tentang kesabaran menjadi sangat penting.

Jika kita bersabar, ketentuan Allah tetap terjadi dan kita mendapatkan pahala. Jika kita tidak bersabar, ketentuan itu tetap terjadi, tetapi kita kehilangan kesempatan mendapatkan pahala dan justru bisa terjerumus dalam dosa.

Kalimat tersebut membuat saya merenung cukup lama.

Ternyata sabar bukan berarti menyerah. Sabar bukan berarti tidak melakukan apa-apa. Sabar adalah kemampuan untuk tetap berada di jalan yang benar meskipun perjalanan terasa berat.

Ada kalanya kita sudah berusaha dengan sebaik-baiknya, tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Ada kalanya tulisan yang kita buat tidak dibaca banyak orang. Ada kalanya kebaikan yang kita lakukan tidak langsung mendapatkan apresiasi.

Namun, apakah itu berarti kita harus berhenti berbuat baik?

Tentu tidak.

Saya memilih untuk terus berjalan.

Saya akan terus menulis, terus belajar, terus berbagi, dan terus melakukan kebaikan semampu saya. Jika hasilnya belum terlihat hari ini, mungkin manfaatnya akan dirasakan orang lain suatu hari nanti.

Ada satu kalimat yang sangat kuat dalam inspirasi pagi ini:

“Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan kesabaranku.”

Kalimat tersebut bagi saya menggambarkan keteguhan hati.

Dalam perjalanan menjadi guru dan blogger, saya belajar bahwa tidak semua perjuangan harus selesai dalam satu hari. Ada impian yang membutuhkan waktu bertahun-tahun. Ada tulisan yang baru terasa manfaatnya setelah lama diterbitkan. Ada kebaikan yang baru kembali kepada kita ketika kita sudah lupa pernah melakukannya.

Karena itu, jangan mudah menyerah hanya karena hasil belum terlihat.

Teruslah belajar.

Teruslah menulis.

Teruslah berbagi.

Teruslah bersabar.

Dan yang paling penting, jangan menggantungkan kebenaran hanya kepada manusia. Peganglah ilmu dan kebenaran dengan hati yang jernih. Dengan ilmu, kita tidak mudah terbawa arus. Dengan kesabaran, kita tidak mudah kehilangan arah.

Pagi ini saya kembali diingatkan bahwa hidup bukan hanya tentang berapa banyak harta yang berhasil kita kumpulkan, tetapi tentang berapa banyak ilmu dan kebaikan yang berhasil kita wariskan.

Semoga tulisan sederhana ini menjadi pengingat bagi saya sendiri dan juga bagi siapa saja yang membacanya.

Mari menjadi manusia yang terus belajar, tidak mudah terbawa angin, berani mencari kebenaran, dan sabar dalam menjalani ketetapan-Nya.

Tetap semangat.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Barakallah fiikum.

Rabu, 19 Agustus 2026

Sumbangan Buku Karya Omjay untuk Perpustakaan Labschool UNJ

Sumbangan Buku Omjay untuk Perpustakaan Labschool UNJ

Ada kebahagiaan yang tidak bisa diukur dengan uang. Salah satunya adalah ketika buku yang kita tulis dan kita perjuangkan dengan penuh cinta akhirnya bisa kembali ke tempat yang sangat dekat dengan perjalanan hidup kita.

Itulah yang saya rasakan ketika berkesempatan memberikan sumbangan buku karya Omjay untuk Perpustakaan Labschool UNJ.

Hari itu saya datang dengan membawa sebuah harapan sederhana. Saya ingin buku-buku karya saya tidak hanya tersimpan di rumah, di rak buku pribadi, atau dibaca oleh orang-orang yang mengenal saya. Saya ingin buku tersebut memiliki kehidupan baru. Saya ingin buku itu dibaca oleh guru, siswa, tenaga kependidikan, alumni, dan siapa saja yang datang ke perpustakaan.

Bagi saya, buku akan menjadi lebih bermakna ketika dibaca.

Buku yang hanya tersimpan di rak memang tetap menjadi buku. Namun, buku yang dibaca dapat berubah menjadi pengetahuan. Pengetahuan yang direnungkan dapat menjadi pengalaman. Pengalaman yang dibagikan dapat menjadi inspirasi. Dari situlah sebuah buku menemukan makna yang sesungguhnya.

Saya teringat perjalanan panjang sebagai guru dan blogger. Selama bertahun-tahun saya menulis berbagai pengalaman tentang pendidikan, guru, keluarga, perjalanan, teknologi, literasi, dan kehidupan sehari-hari. Saya menulis bukan karena merasa paling pintar, tetapi karena ingin berbagi pengalaman.

Mantra yang selalu saya pegang adalah, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Hari ini saya semakin merasakan bahwa menulis memang dapat membuat pengalaman sederhana menjadi sesuatu yang berharga. Apa yang kita alami hari ini mungkin terasa biasa saja. Tetapi beberapa tahun kemudian, tulisan tersebut bisa menjadi dokumentasi perjalanan hidup dan bahkan memberikan manfaat kepada orang lain.

Karena itulah saya merasa bahagia ketika buku-buku karya Omjay bisa menjadi bagian dari koleksi perpustakaan Labschool.

Perpustakaan Labschool Jakarta sendiri merupakan salah satu ruang penting dalam kehidupan akademik sekolah. Perpustakaan menjadi pusat sumber belajar dan terus berkembang mengikuti perjalanan Labschool. Saat ini perpustakaan juga menyediakan koleksi digital dan berbagai fasilitas yang mendukung kegiatan membaca serta belajar.

Bagi saya, perpustakaan bukan sekadar ruangan yang dipenuhi rak buku.

Perpustakaan adalah rumah bagi gagasan.

Di dalamnya ada ilmu, pengalaman, imajinasi, penelitian, cerita, dan mimpi. Seorang siswa yang datang ke perpustakaan mungkin awalnya hanya ingin mencari buku untuk mengerjakan tugas. Tetapi siapa tahu, dari buku yang dibacanya, lahir sebuah cita-cita besar.

Bisa jadi ada seorang siswa yang membaca buku tentang teknologi lalu tertarik menjadi programmer. Ada yang membaca buku biografi kemudian ingin menjadi guru. Ada yang membaca buku tentang menulis lalu mulai membuat blog. Ada pula yang menemukan keberanian untuk menuliskan pengalaman hidupnya setelah membaca karya orang lain.

Itulah keajaiban sebuah buku.

Buku tidak pernah memaksa pembacanya menjadi apa. Buku hanya membuka pintu. Pembacalah yang menentukan ke mana ia akan melangkah.

Saya juga teringat bahwa Labschool memiliki perhatian yang kuat terhadap budaya membaca dan menulis. Bahkan Labschool Press hadir untuk mewadahi karya tulis guru dan siswa agar dapat diterbitkan dan dinikmati oleh civitas Labschool serta masyarakat luas.

Karena itu, menyumbangkan buku ke perpustakaan Labschool terasa sangat istimewa bagi saya.

Ada hubungan emosional di sana.

Saya adalah guru yang sudah lama mengabdikan diri di dunia pendidikan. Banyak pengalaman hidup saya terjadi bersama dunia sekolah. Saya belajar dari murid, belajar dari guru, belajar dari orang tua, belajar dari perjalanan, dan tentu saja belajar dari buku.

Kini, ketika saya menghasilkan buku, saya ingin buku itu kembali kepada dunia pendidikan.

Saya ingin buku karya Omjay menjadi bagian kecil dari perjalanan literasi di Labschool.

Saya membayangkan suatu hari nanti ada siswa yang mengambil salah satu buku karya saya dari rak perpustakaan. Ia membuka halaman pertama. Kemudian membaca beberapa halaman. Mungkin ia tersenyum. Mungkin ia menemukan pengalaman yang mirip dengan kehidupannya. Mungkin pula ia mendapatkan inspirasi untuk mulai menulis.

Kalau hal itu terjadi, saya sudah merasa sangat bersyukur.

Sebab bagi seorang penulis, kebahagiaan terbesar bukan hanya ketika bukunya terjual. Kebahagiaan yang lebih dalam adalah ketika tulisannya dibaca dan memberikan manfaat.

Saya belajar bahwa berbagi buku adalah salah satu bentuk sedekah ilmu.

Kita tidak pernah tahu siapa yang akan mendapatkan manfaat dari buku yang kita berikan. Bisa jadi hari ini belum ada yang membacanya. Namun beberapa bulan atau beberapa tahun kemudian, seseorang mungkin menemukan buku itu dan mendapatkan inspirasi yang mengubah hidupnya.

Itulah alasan saya tidak ingin terlalu sayang kepada buku.

Kalau buku hanya disimpan karena takut rusak, ia tidak akan memberikan manfaat yang maksimal. Tetapi ketika buku diberikan kepada perpustakaan, ia mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan banyak pembaca.

Saya pun teringat pesan sederhana dari sebuah ungkapan yang sangat saya sukai: membaca dan menulis adalah jalan untuk membuka dunia.

Hari ini saya kembali belajar bahwa perjalanan seorang guru tidak berhenti ketika selesai mengajar di kelas. Guru juga dapat terus belajar, menulis, berbagi, dan meninggalkan jejak melalui karya.

Saya ingin buku-buku karya Omjay menjadi salah satu jejak kecil itu.

Bukan jejak untuk membanggakan diri, tetapi jejak kebaikan.

Semoga buku-buku yang saya sumbangkan dapat menjadi teman bagi para siswa Labschool. Semoga ada ilmu yang mereka dapatkan. Semoga ada inspirasi yang mereka temukan. Semoga ada mimpi yang tumbuh setelah mereka membaca.

Dan semoga kelak ada siswa Labschool yang berkata dalam hati, “Saya juga ingin menulis buku.”

Kalau kalimat itu benar-benar muncul dalam hati seorang siswa setelah membaca buku karya saya, saya merasa perjuangan menulis selama ini tidak sia-sia.

Hari ini saya kembali memahami satu hal.

Buku boleh berpindah tangan, tetapi ilmu dan kebaikan yang ada di dalamnya dapat terus berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Terima kasih kepada Perpustakaan Labschool UNJ yang telah menerima sumbangan buku karya Omjay.

Semoga buku-buku ini menjadi bagian dari perjalanan panjang literasi di Labschool.

Saya, Omjay Guru Blogger Indonesia, akan terus berusaha menulis, berbagi, dan menginspirasi.

Sebab saya percaya, satu tulisan bisa mengubah pikiran, satu buku bisa membuka dunia, dan satu kebaikan kecil bisa menjadi jejak yang dikenang sepanjang masa.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Salam literasi.

Omjay Guru Blogger Indonesia

inspirasi Pagi Bersama Omjay

Menang dengan Kebijaksanaan, Bukan dengan Amarah: Kisah Omjay Belajar Menjaga Lisan

Inspirasi Pagi, Rabu, 19 Agustus 2026

Pagi ini Omjay kembali mendapatkan pelajaran kehidupan yang sederhana, tetapi begitu dalam maknanya. Kadang-kadang nasihat terbaik bukanlah sesuatu yang baru kita dengar, melainkan sesuatu yang sudah sering kita dengar tetapi belum sepenuhnya kita jalankan.

Kemenangan diperoleh dengan kebijakan. Kebijakan diperoleh dengan berpikir secara mendalam dan benar. Pikiran yang benar adalah dengan menyimpan baik-baik segala rahasia.

Kalimat itu membuat Omjay berhenti sejenak. Dalam perjalanan kehidupan, ternyata tidak semua hal harus dibicarakan. Tidak semua rahasia harus dibuka. Tidak semua cerita harus disampaikan kepada orang lain. Ada saatnya kita harus belajar diam, bukan karena tidak mampu berbicara, tetapi karena kita memahami bahwa diam adalah bagian dari kebijaksanaan.

Sebagai seorang guru dan blogger, Omjay setiap hari berhadapan dengan banyak orang. Ada siswa, guru, orang tua, sahabat, teman di komunitas, dan banyak orang yang datang membawa cerita. Ada yang bercerita tentang keberhasilan. Ada pula yang datang membawa kesedihan, masalah keluarga, persoalan pekerjaan, bahkan kegelisahan yang tidak sanggup mereka ceritakan kepada banyak orang.

Di situlah Omjay belajar bahwa kepercayaan adalah amanah.

Ketika seseorang bercerita kepada kita, jangan buru-buru menjadikannya bahan pembicaraan. Jangan menjadikan kelemahan orang lain sebagai hiburan. Sebab, bisa jadi suatu hari nanti kita berada dalam posisi yang sama dan berharap ada seseorang yang mampu menjaga cerita kita dengan baik.

Omjay juga teringat sebuah nasihat yang sangat menyentuh hati:

Yang paling patut mengampuni ialah orang yang paling memiliki kemampuan untuk menghukum.

Betapa indahnya kalimat tersebut.

Orang yang benar-benar kuat bukanlah orang yang selalu membalas kesalahan orang lain. Orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika mempunyai kesempatan untuk membalas.

Dalam kehidupan, kita mungkin pernah disakiti. Pernah diremehkan. Pernah dituduh. Pernah disalahpahami. Bahkan mungkin pernah diperlakukan tidak adil oleh orang yang kita percaya.

Rasanya ingin membalas.

Namun, ketika hati mulai tenang, kita sadar bahwa membalas keburukan dengan keburukan hanya akan memperpanjang luka. Sebaliknya, memaafkan bukan berarti kita membenarkan kesalahan orang lain. Memaafkan adalah cara kita membebaskan hati dari beban kebencian.

Omjay belajar bahwa hidup ini terlalu singkat untuk terus menyimpan dendam.

Ada satu lagi nasihat yang membuat Omjay semakin berhati-hati dalam berbicara:

Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu.

Sederhana sekali, tetapi sulit dilakukan.

Sebelum berbicara, sebenarnya kita hanya perlu bertanya kepada diri sendiri, “Kalau kalimat ini ditujukan kepada saya, apakah saya akan merasa senang?”

Jika jawabannya tidak, mungkin sebaiknya kita menahan diri.

Lidah memang tidak bertulang. Ia bisa bergerak ke mana saja. Namun, satu kalimat yang keluar dari mulut terkadang tidak bisa ditarik kembali. Luka karena perkataan bisa lebih dalam daripada luka karena benda tajam.

Omjay sering mengingatkan diri sendiri bahwa menulis juga harus demikian. Jangan hanya mengejar tulisan yang ramai dibaca. Jangan mengejar viral dengan mengorbankan perasaan orang lain. Menulislah dengan hati.

Sebab, tulisan memiliki umur yang panjang.

Perkataan mungkin hanya terdengar beberapa detik, tetapi tulisan bisa dibaca bertahun-tahun kemudian. Karena itu, seorang penulis harus belajar bertanggung jawab terhadap setiap kata yang dituliskannya.

Kemudian ada nasihat yang sangat dalam:

Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya.

Omjay memaknainya sebagai ajakan untuk berpikir sebelum berbicara.

Orang bijak tidak membiarkan lidahnya berlari lebih cepat daripada pikirannya. Ia mempertimbangkan apakah perkataannya benar, apakah bermanfaat, dan apakah waktunya tepat.

Sebaliknya, orang yang tidak berpikir sering kali berbicara terlebih dahulu, kemudian menyesal setelahnya.

Itulah sebabnya Omjay ingin terus belajar menjadi manusia yang lebih baik. Tidak mudah memang. Usia bertambah, pengalaman bertambah, tetapi ternyata belajar mengendalikan diri tetap menjadi pekerjaan seumur hidup.

Kadang kita merasa sudah banyak pengalaman. Namun, satu kejadian kecil bisa mengajarkan sesuatu yang belum pernah kita pahami sebelumnya.

Pagi ini Omjay kembali belajar bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain.

Kemenangan sejati adalah ketika kita berhasil mengalahkan ego dalam diri sendiri.

Kita menang ketika mampu memilih diam daripada menyakiti. Kita menang ketika mampu memaafkan meskipun punya kesempatan membalas. Kita menang ketika mampu menjaga rahasia meskipun orang lain mungkin ingin mengetahuinya. Kita menang ketika mampu berpikir jernih sebelum mengambil keputusan.

Dan yang paling penting, kita menang ketika hati tetap baik meskipun dunia tidak selalu memperlakukan kita dengan baik.

Semoga pagi ini kita semua diberi kemampuan untuk menjaga lisan, menjaga hati, menjaga rahasia, dan menjaga kepercayaan.

Jangan terburu-buru membalas. Jangan mudah menyebarkan cerita. Jangan mengatakan sesuatu yang kita sendiri tidak ingin mendengarnya.

Mari belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana.

Karena pada akhirnya, bukan berapa banyak orang yang berhasil kita kalahkan yang akan dikenang, tetapi berapa banyak hati yang berhasil kita jaga agar tidak terluka.

Tetap semangat menjalani hari.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Barakallah fiikum.

Selasa, 18 Agustus 2026

kisah omjay menjadi blogger dan lebih merdeka di blog pribadi

Kisah Omjay: Lebih Merdeka Menulis di Blog Pribadi

Menjadi blogger ternyata bukan hanya soal rajin menulis dan mengumpulkan pembaca. Setelah menjalani perjalanan panjang sebagai blogger, Omjay justru menemukan satu hal yang semakin terasa penting: kemerdekaan dalam menulis.

Dulu, Omjay merasa senang ketika tulisan bisa dimuat di berbagai platform besar. Ada rasa bangga ketika tulisan dibaca banyak orang, mendapatkan komentar, memperoleh apresiasi, bahkan bisa menghasilkan cuan. Salah satu tempat yang pernah menjadi rumah bagi banyak tulisan Omjay adalah blog keroyokan seperti Kompasiana dan berbagai platform dalam jaringan media online.

Namun, semakin lama menulis, Omjay semakin memahami bahwa ada perbedaan besar antara menulis di rumah sendiri dan menulis di rumah orang lain.

Blog pribadi adalah rumah digital milik sendiri. Kita yang menentukan ruangnya. Kita yang memilih desainnya. Kita yang menentukan tulisan apa yang ingin dipublikasikan. Kita juga yang bertanggung jawab terhadap isi tulisan tersebut.

Di situlah Omjay merasakan sebuah kemerdekaan.

Menulis di blog pribadi membuat Omjay merasa tidak terlalu terikat dengan kepentingan perusahaan media. Omjay bisa menulis pengalaman sehari-hari, perjalanan, pendidikan, teknologi, guru, keluarga, kegiatan komunitas, hingga refleksi kehidupan tanpa harus terlalu memikirkan apakah tulisan tersebut cocok dengan algoritma sebuah platform.

Tentu saja, Omjay tetap menghargai platform besar seperti Kompasiana dan jaringan media online lainnya. Platform tersebut telah memberikan banyak pengalaman kepada Omjay dan tentu memiliki peran dalam perjalanan panjang sebagai blogger. Banyak tulisan Omjay lahir dan berkembang di sana.

Tetapi perjalanan panjang membuat Omjay belajar bahwa punya rumah sendiri jauh lebih penting daripada selamanya menjadi penghuni rumah orang lain.

Bayangkan saja kita sudah puluhan tahun menulis. Setiap hari membuat tulisan. Tulisan tersebut kemudian menjadi aset digital. Kalau semuanya hanya tersimpan di platform milik perusahaan lain, maka kita harus selalu mengikuti aturan pemilik rumah.

Hari ini aturannya begini, besok bisa berubah.

Hari ini tulisan panjang disukai pembaca, besok mungkin algoritma lebih menyukai video pendek. Hari ini tulisan tertentu ramai, besok belum tentu. Bahkan sistem penghargaan, monetisasi, tampilan, distribusi konten, dan kebijakan platform dapat berubah sewaktu-waktu.

Sebagai blogger yang sudah cukup lama berada di dunia digital, Omjay akhirnya berpikir sederhana.

Mengapa tidak membangun dan memperkuat rumah sendiri?

Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa perubahan besar dalam cara Omjay memandang aktivitas blogging.

Blog pribadi bukan sekadar tempat memajang tulisan. Blog pribadi adalah arsip perjalanan hidup.

Tulisan yang dibuat hari ini bisa menjadi kenangan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang. Pengalaman mengajar, perjalanan naik transportasi umum, bertemu guru, mengikuti seminar, menulis buku, mendampingi siswa, membangun komunitas, sampai berbagai peristiwa kecil dalam kehidupan bisa terdokumentasikan dengan baik.

Suatu hari nanti, mungkin ada anak cucu Omjay yang ingin mengetahui bagaimana perjalanan kakeknya sebagai guru dan blogger.

Mereka tinggal membuka blog.

Di sana ada cerita.

Ada pengalaman.

Ada pemikiran.

Ada perjuangan.

Ada kesalahan.

Ada keberhasilan.

Semuanya menjadi jejak digital yang dibangun sedikit demi sedikit.

Inilah yang membuat Omjay semakin mencintai blog pribadi.

Ada satu hal lagi yang membuat Omjay berpikir lebih dalam. Ketika kita terus-menerus membuat konten untuk platform milik perusahaan, secara tidak langsung kita ikut membantu membangun ekosistem dan aset perusahaan tersebut.

Tidak ada yang salah dengan itu. Platform memang membutuhkan penulis dan pembuat konten. Perusahaan media membutuhkan karya dari para kreator untuk membuat pembacanya terus datang.

Tetapi Omjay kemudian bertanya kepada dirinya sendiri:

Kalau saya sudah menulis puluhan tahun, aset digital saya sendiri sudah sebanyak apa?

Pertanyaan itu cukup menampar.

Jangan sampai kita sangat rajin memperkaya platform orang lain, tetapi lupa memperkaya rumah digital sendiri.

Karena itu, Omjay sekarang ingin lebih serius menghidupkan kembali blog pribadi. Bukan berarti berhenti total menulis di platform lain. Bukan pula berarti memusuhi media online atau blog keroyokan.

Sama sekali bukan.

Omjay justru melihat semua platform sebagai jalan distribusi.

Tulisan bisa dipublikasikan di blog pribadi sebagai rumah utama. Setelah itu, sebagian gagasan dapat dibagikan melalui media sosial atau platform lain untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.

Dengan cara seperti itu, kita tidak kehilangan rumah sendiri.

Kalau suatu saat algoritma berubah, kita tetap memiliki arsip.

Kalau suatu saat platform mengubah kebijakan, kita tetap memiliki tempat untuk menulis.

Kalau suatu saat monetisasi berubah, kita tetap memiliki aset digital yang bisa dikembangkan.

Inilah kemerdekaan yang sekarang dirasakan Omjay.

Kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa aturan. Kemerdekaan berarti memiliki ruang untuk menentukan arah sendiri dengan penuh tanggung jawab.

Sebagai guru blogger Indonesia, Omjay merasa perjalanan ini seperti kembali ke awal. Dulu ketika mulai ngeblog, Omjay hanya ingin menulis dan berbagi. Tidak terlalu memikirkan jumlah pembaca, algoritma, ranking, atau penghasilan.

Menulis karena ingin berbagi.

Menulis karena ada pengalaman.

Menulis karena ada sesuatu yang ingin disampaikan.

Menulis karena percaya bahwa pengalaman seorang guru bisa menjadi inspirasi bagi guru lainnya.

Prinsip itu kini terasa kembali.

Bedanya, Omjay sekarang sudah memiliki pengalaman jauh lebih panjang.

Omjay sudah melihat bagaimana dunia blogging berubah dari masa ke masa. Dari blog sederhana, media sosial, portal berita, platform komunitas, sampai era kecerdasan artifisial.

Semua berubah.

Tetapi satu hal yang tidak berubah adalah kebutuhan manusia untuk bercerita.

Karena itu, Omjay ingin terus menulis.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Kalimat itu bukan sekadar slogan. Bagi Omjay, kalimat tersebut adalah cara menjaga warisan pengalaman.

Blog pribadi mungkin tidak langsung ramai.

Tidak selalu mendapatkan ribuan pembaca.

Tidak selalu menghasilkan uang dalam waktu singkat.

Namun, blog pribadi memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kendali dan kepemilikan atas karya sendiri.

Kalau tulisan kita terus bertambah, suatu saat blog itu bisa menjadi perpustakaan pribadi. Bahkan mungkin menjadi ensiklopedia kecil tentang perjalanan hidup seorang guru blogger.

Itulah pelajaran penting yang Omjay dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi blogger.

Jangan hanya rajin membuat konten. Bangunlah aset digital sendiri.

Gunakan platform orang lain untuk memperluas jangkauan, tetapi jangan lupa membangun rumah sendiri.

Jangan hanya mengejar ramai hari ini. Pikirkan juga jejak yang akan tersisa puluhan tahun kemudian.

Dan jangan sampai kita begitu sibuk memperkaya perusahaan media online, tetapi lupa memperkaya diri sendiri dengan karya, pengetahuan, pengalaman, dan aset digital yang kita miliki.

Bagi Omjay, inilah makna baru menjadi blogger.

Bukan sekadar menulis untuk dibaca.

Tetapi menulis untuk meninggalkan jejak.

Bukan sekadar mengejar cuan.

Tetapi membangun aset dan warisan pemikiran.

Bukan sekadar menjadi penghuni platform.

Tetapi memiliki rumah digital sendiri.

Di rumah itulah Omjay merasa lebih merdeka.

Di sanalah Omjay bisa menjadi dirinya sendiri.

Dan selama jari masih mampu mengetik, Omjay akan terus menulis.

Karena bagi seorang guru blogger, tulisan bukan hanya kumpulan kata.

Tulisan adalah jejak kehidupan yang suatu hari akan berbicara kepada generasi berikutnya.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Alhamdulillah Kami PJJ Lagi di Zoom

Hari Ini Kami PJJ Lagi, Kisah Omjay Mengajar dari Rumah

Hari ini, Selasa, 18 Agustus 2026, suasana belajar di SMP Labschool Jakarta kembali terasa berbeda. Setelah kemarin kami bersama-sama mengikuti upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, dilanjutkan dengan pelantikan organisasi siswa serta kegiatan lari lintas juang bersama guru, hari ini kegiatan belajar mengajar dilaksanakan melalui Pembelajaran Jarak Jauh atau PJJ.

Bagi Omjay, PJJ bukan lagi sesuatu yang asing. Dunia pembelajaran daring sudah pernah menjadi bagian penting dalam perjalanan pendidikan beberapa tahun terakhir. Namun, setiap kali PJJ kembali dilaksanakan, selalu ada pengalaman baru yang bisa diceritakan. Kali ini, PJJ terasa seperti sebuah jeda setelah rangkaian kegiatan kemerdekaan yang cukup padat.

Dalam surat pemberitahuan sekolah, dijelaskan bahwa kegiatan pembelajaran tanggal 18 Agustus 2026 dilaksanakan secara PJJ melalui Zoom. Kebijakan ini berkaitan dengan rangkaian kegiatan 17 Agustus yang melibatkan siswa dan guru.

Pagi-pagi Omjay kembali menyiapkan perangkat untuk mengajar. Laptop harus siap, koneksi internet harus aman, dan aplikasi Zoom harus dapat digunakan dengan baik. Bagi guru, PJJ memang terlihat sederhana karena cukup duduk di depan laptop. Namun, sebenarnya ada banyak hal yang harus dipersiapkan agar pembelajaran tetap berjalan efektif.

Anak-anak pun mempunyai tanggung jawab yang sama. Mereka harus masuk Zoom menggunakan nama sesuai ketentuan sekolah, menunggu di waiting room sebagai bagian dari presensi, kemudian masuk ke ruang utama setelah diizinkan oleh host. Bahkan, kamera diharapkan tetap aktif selama pembelajaran, kecuali guru memberikan izin untuk mematikannya.

Omjay selalu merasa bahwa teknologi hanyalah alat. Yang paling penting adalah bagaimana guru dan siswa menggunakan teknologi tersebut untuk menciptakan pengalaman belajar yang bermakna. Jangan sampai PJJ hanya berubah menjadi kegiatan menatap layar selama berjam-jam tanpa interaksi.

Karena itu, ketika pembelajaran dimulai, siswa tetap diajak untuk mengikuti kegiatan dengan tertib. Setiap pagi ada ibadah bersama, kemudian briefing pagi, dan setelah itu siswa masuk ke kelas masing-masing melalui breakout room yang telah ditentukan.

Di sinilah tantangan guru muncul. Mengajar secara daring membutuhkan energi yang berbeda. Guru harus lebih sering menyapa, bertanya, memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab, dan memastikan mereka benar-benar mengikuti pembelajaran. Suara guru tidak boleh terlalu monoton. Interaksi harus dibuat hidup agar anak-anak tidak cepat bosan.

Omjay pun kembali mengingat satu hal penting: belajar tidak mengenal tempat. Di kelas bisa belajar. Di rumah juga bisa belajar. Di perjalanan pun seseorang bisa mendapatkan pelajaran. Bahkan dari pengalaman mengikuti upacara, pelantikan organisasi siswa, dan lari lintas juang kemarin, banyak nilai pendidikan yang dapat dipetik.

PJJ hari ini juga mengajarkan bahwa kemerdekaan dalam belajar bukan berarti bebas melakukan apa saja. Ada aturan yang harus ditaati. Mikrofon harus dimatikan ketika guru menjelaskan dan dinyalakan ketika siswa diminta berbicara. Siswa juga diharapkan tidak mengganggu pembelajaran dengan chat yang tidak sesuai topik, membuat suara bising, atau mengganti nama dan virtual background sembarangan.

Namun, aturan bukan berarti membuat pembelajaran menjadi kaku. Justru dengan aturan yang jelas, kegiatan belajar bisa berlangsung lebih nyaman. Siswa tetap diberi ruang untuk bertanya, menjawab, dan berpartisipasi aktif. Mereka juga diminta mencatat materi penting dan mengumpulkan tugas melalui platform yang ditentukan guru.

Omjay menikmati kembali pengalaman PJJ ini. Ada rasa rindu juga kepada suasana kelas secara langsung. Rindu melihat ekspresi siswa ketika memahami sebuah materi. Rindu mendengar celotehan mereka. Rindu melihat tangan-tangan yang terangkat ketika ingin bertanya.

Tetapi PJJ memberikan pengalaman berbeda. Guru dipaksa menjadi lebih kreatif. Siswa dilatih menjadi lebih mandiri. Orang tua pun mempunyai peran untuk mendukung suasana belajar dari rumah agar tetap kondusif.

Setelah pembelajaran selesai, proses belajar sebenarnya belum berakhir. Siswa masih perlu mengisi evaluasi atau mengerjakan tugas apabila diberikan, merapikan catatan, mengulang kembali materi secara mandiri, dan menghubungi guru jika masih ada materi yang belum dipahami.

Bagi Omjay, hari ini bukan sekadar “PJJ lagi.” Hari ini adalah kesempatan untuk kembali membuktikan bahwa guru tetap bisa mengajar dengan hati meskipun tidak berada di ruang kelas yang sama dengan siswanya.

Kemerdekaan yang kita rayakan kemarin mengingatkan Omjay bahwa pendidikan juga harus terus bergerak. Teknologi boleh berubah. Platform belajar boleh berganti. Cara mengajar boleh berkembang. Tetapi satu hal jangan sampai hilang: semangat guru untuk mendidik dan semangat siswa untuk belajar.

Hari ini kami PJJ lagi. Laptop kembali menyala. Zoom kembali dibuka. Anak-anak kembali hadir dari rumah masing-masing. Jarak memang memisahkan ruang belajar, tetapi tidak boleh memisahkan semangat untuk belajar.

Inilah kisah Omjay hari ini. Dari depan layar, kami kembali belajar bersama. Sebab bagi seorang guru, kelas bukan hanya sebuah ruangan. Kelas adalah tempat di mana ilmu, pengalaman, dan hati bertemu untuk menumbuhkan masa depan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Undangan Ulang Tahun Keenam Penerbit YPTD Jakarta

Kisah Omjay di Milad ke-6 YPTD: Merawat Literasi, Menjaga Silaturahmi
Blog https://wijayalabs.com

Ada undangan yang terasa biasa ketika pertama kali membacanya. Namun, bagi saya, ada undangan yang justru mengingatkan bahwa perjalanan panjang dalam dunia literasi tidak pernah dilakukan sendirian. Salah satunya adalah undangan syukuran Milad ke-6 Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan atau YPTD.

Pada Minggu, 23 Agustus 2026, Sahabat Literasi Penerbit YPTD diundang untuk berkumpul dalam acara Syukuran Milad YPTD ke-6. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung pukul 11.00–14.00 WIB di Restoran Karimata Ikan Bakar Dalam Bambu, di samping Taman Mini Square, Jakarta Timur. Nama saya, Dr. Wijaya Kusuma atau yang lebih akrab dipanggil Om Jay, juga tercantum dalam daftar undangan tersebut.

Bagi saya, undangan ini bukan sekadar ajakan makan bersama. Di balik sebuah acara syukuran, ada perjalanan, perjuangan, persahabatan, dan semangat untuk terus membuat buku serta menyebarkan manfaat melalui tulisan. Dunia literasi memang tidak selalu ramai oleh sorotan. Kadang seorang penulis hanya duduk di depan laptop, mengetik kalimat demi kalimat, lalu berharap tulisannya bisa memberikan manfaat bagi orang lain.

Tetapi dari tulisan-tulisan sederhana itulah, sebuah gerakan besar bisa tumbuh.

Saya mengenal dunia literasi sebagai ruang yang mempertemukan banyak orang dengan latar belakang berbeda. Ada guru, penulis, dosen, praktisi, pegiat komunitas, dan sahabat-sahabat yang memiliki satu kesamaan: mereka percaya bahwa pengalaman akan lebih bermakna jika dituliskan dan dibagikan.

Karena itu, saya selalu percaya bahwa menulis bukan hanya pekerjaan menyusun kata. Menulis adalah cara meninggalkan jejak kebaikan.

Ketika seseorang menulis pengalaman mengajar, orang lain bisa mendapatkan inspirasi. Ketika seorang guru menuliskan praktik baiknya, guru lain dapat belajar. Ketika seseorang menuliskan perjalanan hidupnya, anak cucunya kelak dapat mengenal sejarah keluarganya. Dan ketika buku diterbitkan serta dibaca banyak orang, pengalaman pribadi bisa berubah menjadi pengetahuan bersama.

Enam tahun perjalanan YPTD menjadi momentum yang menarik untuk direnungkan. Undangan yang ditandatangani Pimpinan YPTD Thamrin Dahlan dan Bendahara YPTD Enida Busri tersebut mengajak Sahabat Literasi untuk hadir, bersilaturahmi, sekaligus mempererat kebersamaan dalam semangat literasi.

Saya membayangkan suasana pertemuan nanti. Ada wajah-wajah sahabat yang selama ini mungkin lebih sering saya jumpai melalui tulisan, pesan WhatsApp, atau media sosial. Ada pula sahabat yang sudah lama tidak bertemu. Pertemuan seperti inilah yang membuat gerakan literasi terasa hidup.

Sebab literasi bukan hanya soal buku.

Literasi adalah tentang manusia.

Buku memang menjadi salah satu hasil akhirnya, tetapi proses yang melahirkan buku jauh lebih penting. Ada keberanian untuk memulai menulis. Ada ketekunan menyelesaikan naskah. Ada proses membaca dan memperbaiki tulisan. Ada editor yang membantu. Ada penerbit yang memberikan ruang. Ada pembaca yang kemudian memberikan makna baru terhadap tulisan tersebut.

Saya sendiri merasakan betapa pentingnya ekosistem seperti ini. Sebagai guru blogger, saya sudah lama mengajak guru dan masyarakat untuk menulis. Pesan saya sederhana: menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Kalimat itu bukan sekadar slogan.

Menulis membuat kita lebih peka terhadap kehidupan. Ketika kita terbiasa menulis, perjalanan ke sekolah bisa menjadi cerita. Pertemuan dengan murid bisa menjadi inspirasi. Naik kendaraan umum bisa melahirkan renungan. Bahkan sebuah undangan menghadiri acara literasi pun dapat menjadi bahan tulisan.

Itulah keajaiban menulis.

Benda yang tampak sederhana bisa menjadi cerita yang bermakna ketika dilihat dengan hati.

Saya pun belajar bahwa silaturahmi merupakan bagian penting dalam perjalanan literasi. Kita mungkin bisa menulis sendirian, tetapi kita tidak bisa membangun gerakan literasi seorang diri. Dibutuhkan sahabat, komunitas, penerbit, pembaca, dan banyak tangan yang bekerja bersama.

Karena itu, Milad ke-6 YPTD layak dipandang sebagai sebuah momentum untuk bersyukur. Enam tahun bukan waktu yang sebentar. Ada kerja keras yang tentu sudah dilalui, ada buku-buku yang telah lahir, ada penulis yang berkembang, dan ada persahabatan yang terus dirawat.

Saya bersyukur nama saya tercantum sebagai salah satu undangan. Mudah-mudahan pada hari Minggu nanti saya dapat hadir, bertemu dengan para sahabat literasi, menikmati suasana kebersamaan, sekaligus menyerap energi positif dari orang-orang yang terus bergerak dalam dunia membaca dan menulis.

Bagi Om Jay, literasi adalah perjalanan panjang.

Tidak harus selalu dimulai dengan tulisan yang hebat. Mulailah dengan cerita yang jujur. Tuliskan apa yang kita lihat, rasakan, pikirkan, dan alami. Jangan menunggu menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis. Justru dengan menulis secara konsisten, kita sedang membangun diri menjadi seorang penulis.

Saya berharap semangat seperti ini terus tumbuh. YPTD tidak hanya menjadi tempat lahirnya buku, tetapi juga menjadi ruang bertemunya gagasan, pengalaman, dan persahabatan. Semoga semakin banyak guru, orang tua, anak muda, dan masyarakat yang berani menuliskan kisahnya.

Sebab setiap orang sebenarnya memiliki cerita.

Hanya saja tidak semua orang mau menuliskannya.

Dan saya akan terus mengajak sahabat-sahabat semua untuk menulis. Jangan biarkan pengalaman baik hilang begitu saja. Jangan biarkan perjalanan hidup berlalu tanpa jejak. Abadikan dalam tulisan, karena tulisan yang baik dapat hidup jauh lebih lama daripada usia penulisnya.

Selamat Milad ke-6 Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan.

Semoga YPTD semakin maju, semakin kuat dalam mengembangkan gerakan literasi, semakin banyak melahirkan buku berkualitas, dan semakin luas memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia.

Mari terus membaca.

Mari terus menulis.

Mari terus berbagi.

Karena dari literasi, kita belajar. Dari tulisan, kita berbagi. Dan dari silaturahmi, kita menguatkan perjalanan.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.