Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 08 Juni 2026

Benarkah Pendidikan Menunda Pengangguran

Pendidikan Menunda Pengangguran? Sebuah Renungan dalam Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Beberapa waktu lalu saya membaca sebuah komentar yang cukup menarik. Isinya kurang lebih begini:

> "Semasa saya SD guru saya mengatakan pendidikan menunda pengangguran karena semasa sekolah tidak dianggap pengangguran. Bandingkan dengan orang tua saya. Usia 6 tahun sudah menafkahi diri sendiri, usia 17 tahun sudah jadi jutawan. Bahkan ikut membangun kantor Gubernur Riau. Banyak siswa berprestasi tidak dihargai. Penemu mobil listrik dipenjara, penemu teknologi diabaikan. Negara seolah tidak ingin maju di tangan pribumi."

Komentar itu membuat saya terdiam cukup lama.

Sebagai guru yang sudah mengajar lebih dari tiga puluh tahun, saya memahami mengapa ada sebagian masyarakat yang memandang pendidikan dengan rasa kecewa. Terlebih ketika mereka melihat banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi yang masih kesulitan mendapatkan pekerjaan.

Namun, benarkah pendidikan hanya menunda pengangguran?

Ketika Omjay Masih Kecil

Saya teringat masa kecil saya dahulu.

Ayah dan ibu selalu menanamkan pentingnya sekolah. Saat itu saya tidak pernah berpikir sekolah akan membuat saya kaya. Saya juga tidak pernah membayangkan suatu hari bisa menyandang gelar doktor.

Yang saya tahu, sekolah membuka wawasan.

Sekolah membuat saya mengenal dunia yang lebih luas daripada lingkungan tempat tinggal saya.

Banyak teman sebaya saya yang sejak kecil sudah bekerja membantu orang tuanya. Mereka belajar berdagang, bertani, atau menjadi tukang. Sebagian bahkan lebih cepat menghasilkan uang dibandingkan saya yang masih sibuk belajar di sekolah.

Kalau ukuran keberhasilan hanya uang, mungkin mereka memang lebih unggul saat itu.

Namun hidup ternyata jauh lebih panjang daripada sekadar usia belasan tahun.

Orang Tua Zaman Dulu dan Anak Zaman Sekarang

Saya sangat menghormati kisah orang tua yang sejak usia enam tahun sudah mandiri dan usia tujuh belas tahun sudah menjadi jutawan.

Generasi dahulu memang memiliki daya juang luar biasa.

Mereka hidup dalam kondisi yang keras.

Tidak ada gawai.

Tidak ada internet.

Tidak ada bantuan teknologi.

Mereka bertahan hidup dengan tenaga, keberanian, dan kreativitas.

Namun kita juga harus jujur bahwa kondisi zaman sudah berubah.

Jika dahulu seseorang bisa sukses hanya dengan keterampilan praktis, hari ini dunia menuntut kombinasi antara keterampilan, pendidikan, teknologi, dan kemampuan beradaptasi.

Seorang anak yang pandai memperbaiki mesin harus memahami teknologi digital.

Seorang pedagang harus memahami pemasaran online.

Seorang petani harus memahami teknologi pertanian modern.

Artinya pendidikan tetap diperlukan.

Bukan sekadar untuk mencari ijazah, tetapi untuk memahami perubahan zaman.

Pendidikan yang Salah Arah

Di sinilah saya setuju dengan sebagian kritik tersebut.

Masalahnya sering kali bukan pada pendidikan itu sendiri.

Masalahnya adalah pendidikan yang terlalu fokus pada nilai dan ijazah.

Banyak siswa diajarkan menghafal.

Banyak siswa dilatih menjawab soal.

Tetapi sedikit yang diajarkan cara memecahkan masalah nyata.

Akibatnya lahirlah lulusan yang memiliki ijazah tetapi bingung ketika menghadapi kehidupan.

Mereka menunggu pekerjaan.

Padahal seharusnya pendidikan mampu melahirkan pencipta lapangan kerja.

Saya sering mengatakan kepada murid-murid saya:

> "Jangan sekolah hanya untuk mencari kerja. Sekolahlah agar mampu menciptakan pekerjaan."

Mengapa Banyak Penemu Tidak Berkembang?

Komentar tersebut juga menyinggung tentang para inovator Indonesia yang merasa kurang mendapatkan dukungan.

Memang dalam sejarah Indonesia ada beberapa inovator yang menghadapi berbagai tantangan.

Ada yang kesulitan mendapatkan modal.

Ada yang terbentur regulasi.

Ada yang kalah bersaing dengan produk luar negeri.

Ada pula yang kurang mendapat perhatian media.

Hal seperti itu tentu menjadi pekerjaan rumah bangsa kita.

Karena sebuah negara maju lahir dari kemampuan menghargai inovasi.

Negara-negara besar seperti Jepang, Korea Selatan, Tiongkok, dan Amerika Serikat berkembang karena mereka menghargai para ilmuwan, penemu, dan inovatornya.

Indonesia juga harus bergerak ke arah yang sama.

Anak-anak yang kreatif harus diberi ruang.

Penemu muda harus diberi kesempatan.

Guru harus didorong untuk melahirkan inovasi.

Sekolah harus menjadi tempat tumbuhnya kreativitas, bukan sekadar tempat mengejar angka rapor.

Kisah Omjay dan Dunia Menulis

Saya sendiri merasakan bagaimana sebuah karya kadang tidak langsung dihargai.

Ketika pertama kali menulis blog, tidak banyak orang yang membaca tulisan saya.

Saya menulis setiap hari.

Kadang pembacanya hanya beberapa orang.

Bahkan ada tulisan yang tidak mendapatkan komentar sama sekali.

Namun saya terus menulis.

Hari demi hari.

Bulan demi bulan.

Tahun demi tahun.

Hingga akhirnya tulisan-tulisan itu membuka banyak pintu kesempatan.

Saya diundang menjadi narasumber.

Menulis buku.

Berkenalan dengan banyak tokoh pendidikan nasional.

Semua itu tidak terjadi dalam semalam.

Karena keberhasilan sering kali membutuhkan waktu yang panjang.

Sama seperti pendidikan.

Hasilnya tidak selalu terlihat hari ini.

Tetapi manfaatnya bisa dirasakan puluhan tahun kemudian.

Pendidikan dan Kehidupan Nyata

Bagi saya, pendidikan yang baik bukanlah pendidikan yang membuat anak hanya duduk di kelas.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membuat anak mampu hidup.

Mampu berpikir.

Mampu bekerja.

Mampu berwirausaha.

Mampu beradaptasi.

Mampu menjadi manusia yang bermanfaat.

Jika sekolah hanya menghasilkan pencari kerja, maka pendidikan memang perlu dievaluasi.

Tetapi jika sekolah mampu melahirkan manusia pembelajar sepanjang hayat, maka pendidikan tetap menjadi investasi terbaik.

Refleksi untuk Kita Semua

Komentar yang saya baca tadi sebenarnya mengandung pesan penting.

Jangan sampai pendidikan mematikan kreativitas.

Jangan sampai sekolah menjauhkan anak dari dunia nyata.

Jangan sampai siswa yang berbakat justru kehilangan semangat karena tidak mendapat dukungan.

Sebagai guru, saya merasa tertantang untuk terus memperbaiki cara mengajar.

Saya ingin murid-murid saya tidak hanya pintar menjawab soal.

Saya ingin mereka berani bermimpi.

Berani mencoba.

Berani gagal.

Berani menciptakan sesuatu yang baru.

Karena masa depan Indonesia tidak akan dibangun oleh mereka yang hanya menunggu perintah.

Masa depan Indonesia akan dibangun oleh mereka yang mampu berpikir, berkarya, dan berinovasi.

Dan di situlah pendidikan seharusnya berperan.

Bukan sekadar menunda pengangguran.

Melainkan membangun manusia yang mampu menciptakan masa depannya sendiri.

Sebagaimana pesan yang selalu saya sampaikan kepada para guru dan murid:

> "Ijazah mungkin membuka pintu pertama, tetapi karakter, kreativitas, dan kerja keraslah yang akan membuat kita tetap bertahan di dalamnya."

Mari kita jadikan pendidikan sebagai jalan untuk memerdekakan manusia, bukan sekadar alat untuk mendapatkan selembar kertas bernama ijazah. Karena bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki banyak sekolah, tetapi bangsa yang mampu melahirkan manusia-manusia yang berani berkarya untuk negerinya.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

peluncuran 4 judul buku karya omjay

Meluncurkan Satu Buku Itu Biasa, Meluncurkan Empat Buku Sekaligus Baru Luar Biasa

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

"Meluncurkan satu buku itu biasa. Meluncurkan empat buku sekaligus, itu baru luar biasa."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Omjay ketika menatap empat buku yang akan diluncurkan secara bersamaan pada tanggal 17 Juni 2026. Hati ini bergetar. Mata ini berkaca-kaca. Bukan karena merasa hebat, melainkan karena teringat perjalanan panjang yang telah dilalui.

Siapa sangka seorang guru biasa yang setiap hari mengajar di kelas bisa sampai pada titik ini?

Perjalanan itu tidak terjadi dalam semalam.

Tidak pula terjadi dalam hitungan bulan.

Semua berawal dari kebiasaan sederhana: menulis setiap hari.

Dulu Omjay bukanlah seorang penulis terkenal. Bahkan ketika pertama kali menulis di blog, pembacanya hanya segelintir orang. Terkadang tulisan yang dibuat dengan penuh semangat hanya dibaca beberapa orang saja.

Namun Omjay terus menulis.

Menulis ketika bahagia.

Menulis ketika sedih.

Menulis ketika sehat.

Bahkan menulis ketika sedang sakit.

Bagi Omjay, menulis adalah cara berbicara kepada dunia tanpa harus berteriak.

Menulis adalah cara meninggalkan jejak kehidupan.

Hari demi hari berlalu.

Tulisan demi tulisan terkumpul.

Blog demi blog terisi.

Artikel demi artikel lahir.

Sampai akhirnya tulisan-tulisan itu menjelma menjadi buku.

Dan kini, empat buku sekaligus siap diluncurkan.

Sebuah anugerah yang tidak pernah Omjay bayangkan sebelumnya.

Buku Pertama: Labschool Rumah Keduaku

Buku pertama berjudul "Labschool Rumah Keduaku."

Buku ini sangat spesial karena berisi kisah perjalanan Omjay selama lebih dari tiga dekade mengabdi di SMP Labschool Jakarta.

Labschool bukan sekadar tempat bekerja.

Labschool adalah rumah kedua.

Di sanalah Omjay bertumbuh sebagai guru.

Di sanalah Omjay belajar tentang dedikasi.

Di sanalah Omjay bertemu ribuan siswa yang kini telah sukses di berbagai bidang.

Setiap halaman buku ini dipenuhi kenangan yang tidak ternilai harganya.

Ada tawa.

Ada haru.

Ada perjuangan.

Ada cinta terhadap dunia pendidikan.

Buku Kedua: Menulis dengan Hati

Buku kedua berjudul "Menulis dengan Hati."

Buku ini lahir dari kegelisahan Omjay melihat perkembangan teknologi yang begitu cepat, terutama hadirnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Banyak orang bertanya kepada Omjay:

"Apakah AI akan menggantikan penulis?"

Jawabannya sederhana.

Tidak.

Karena AI tidak memiliki hati.

AI memang mampu membantu menulis dengan cepat.

Namun hanya manusialah yang mampu memberi rasa dalam tulisan.

Buku ini mengajak pembaca untuk tetap menjaga keaslian diri dalam menulis.

Karena tulisan terbaik bukan yang paling canggih.

Melainkan tulisan yang mampu menyentuh hati pembacanya.

Buku Ketiga: Kasta Tertinggi Seorang Guru

Buku ketiga berjudul "Kasta Tertinggi Seorang Guru."

Judulnya mungkin terdengar unik.

Namun maknanya sangat mendalam.

Menurut Omjay, kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan.

Bukan pula pangkat atau golongan.

Kasta tertinggi seorang guru adalah ketika ilmunya terus hidup dan memberi manfaat bagi banyak orang.

Guru yang menginspirasi muridnya.

Guru yang menyalakan harapan.

Guru yang meninggalkan warisan nilai kehidupan.

Itulah kasta tertinggi seorang guru.

Melalui buku ini, Omjay ingin mengajak para pendidik untuk terus berkarya dan meninggalkan jejak kebaikan.

Buku Keempat: Kisah Omjay Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Buku keempat berjudul "Kisah Omjay: Menulis Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi."

Inilah buku yang paling personal.

Buku ini adalah catatan perjalanan hidup Omjay sebagai guru, blogger, penulis, pembicara, dan pembelajar sepanjang hayat.

Di dalamnya terdapat kisah jatuh bangun.

Kisah perjuangan menyelesaikan studi doktoral.

Kisah menghadapi sakit.

Kisah kehilangan orang-orang tercinta.

Kisah perjalanan mengajar.

Kisah membangun komunitas literasi.

Dan tentu saja kisah bagaimana menulis setiap hari mampu mengubah kehidupan.

Buku ini menjadi bukti bahwa keajaiban sering kali lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Semua Berawal dari Satu Langkah

Saat melihat keempat buku itu berdiri berdampingan, Omjay kembali teringat pada satu pelajaran penting.

Tidak ada kesuksesan yang datang tiba-tiba.

Semuanya berawal dari satu langkah kecil.

Satu tulisan.

Satu halaman.

Satu ide.

Satu keberanian untuk memulai.

Banyak orang ingin menulis buku.

Namun sedikit yang mau menulis setiap hari.

Padahal buku yang tebal itu sesungguhnya hanya kumpulan halaman-halaman kecil yang ditulis secara konsisten.

Begitu pula kesuksesan.

Ia adalah kumpulan langkah kecil yang dilakukan terus-menerus.

Sebuah Pesan untuk Para Guru Indonesia

Melalui peluncuran empat buku ini, Omjay ingin menyampaikan pesan sederhana kepada para guru di seluruh Indonesia.

Jangan pernah meremehkan tulisan Anda.

Jangan pernah merasa pengalaman Anda tidak berharga.

Setiap guru memiliki cerita.

Setiap guru memiliki inspirasi.

Setiap guru memiliki ilmu yang layak diwariskan.

Mulailah menulis hari ini.

Tidak perlu menunggu sempurna.

Tidak perlu menunggu punya banyak waktu.

Tulislah apa yang Anda alami.

Tulislah apa yang Anda rasakan.

Tulislah apa yang Anda pelajari.

Karena suatu hari nanti, tulisan itu akan menjadi saksi perjalanan hidup Anda.

Dan siapa tahu, dari kebiasaan menulis setiap hari, lahirlah bukan hanya satu buku.

Bukan pula dua buku.

Tetapi empat buku sekaligus.

Maka benar adanya:

Meluncurkan satu buku itu biasa. Meluncurkan empat buku sekaligus, itu baru luar biasa.

Namun yang lebih luar biasa lagi adalah perjalanan panjang, kerja keras, doa, dan konsistensi yang mengantarkan seseorang hingga mampu mewujudkannya.

Semoga empat buku ini menjadi amal jariyah, menginspirasi banyak orang, dan menjadi bukti bahwa seorang guru tidak hanya mengajar di kelas, tetapi juga dapat mengubah dunia melalui tulisan.

Salam Literasi.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia 📚✍️✨

Malas Membaca Kok Kepengen Menjadi Penulis?

Malas Membaca Kok Kepengen Jadi Penulis? Emang Bisa?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

“Pak Omjay, saya ingin menjadi penulis.”

Saya tersenyum mendengar ucapan seorang guru muda yang mengikuti pelatihan menulis.

“Bagus sekali. Sudah berapa buku yang Anda baca bulan ini?” tanya saya.

Beliau terdiam.

“Kalau artikel?” lanjut saya.

Beliau tersenyum malu.

“Sejujurnya saya jarang membaca, Pak.”

Jawaban itu membuat saya teringat pada banyak orang yang ingin menjadi penulis terkenal, tetapi malas membaca. Mereka ingin menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi enggan mengisi pikirannya dengan bacaan yang bermutu.

Lalu muncul pertanyaan menarik.

Malas membaca kok kepengen jadi penulis? Emang bisa?

Jawabannya sederhana.

Bisa menulis, tetapi sulit menjadi penulis yang baik.

Kisah Omjay yang Gemar Membaca

Ketika masih kecil di Wanaraja, Garut, Omjay bukanlah anak yang istimewa. Namun ada satu kebiasaan yang membuat hidup berubah.

Saya suka membaca.

Apa saja saya baca.

Mulai dari buku pelajaran, majalah, koran bekas, hingga buku cerita yang dipinjam dari teman.

Bahkan ketika menjadi mahasiswa IKIP Jakarta, saya sering menghabiskan waktu di perpustakaan.

Saat teman-teman sibuk mengobrol, saya justru asyik membuka buku.

Dari situlah saya memahami satu hal penting.

Tulisan yang baik lahir dari bacaan yang banyak.

Karena ketika membaca, kita sedang menabung kata-kata, ide, pengalaman, dan pengetahuan ke dalam pikiran.

Kelak semua itu akan keluar kembali dalam bentuk tulisan.

Penulis Itu Seperti Sumur

Suatu hari saya mengibaratkan penulis seperti sumur.

Kalau sumurnya tidak pernah diisi air hujan, lama-kelamaan akan kering.

Begitu pula seorang penulis.

Kalau tidak pernah membaca, lama-kelamaan kehabisan ide.

Ia bingung mau menulis apa.

Ia duduk berjam-jam di depan komputer tetapi layar tetap kosong.

Sebaliknya, orang yang rajin membaca seperti memiliki sumur yang selalu penuh.

Ide datang dari mana-mana.

Tulisan mengalir tanpa dipaksa.

Karena otaknya dipenuhi bahan baku tulisan.

Banyak penelitian menunjukkan adanya hubungan positif antara kebiasaan membaca dan kemampuan menulis. Semakin tinggi minat dan kebiasaan membaca seseorang, semakin baik pula kemampuan menulisnya karena kosakata bertambah, wawasan semakin luas, dan ide lebih mudah dikembangkan. 

Mengapa Banyak Orang Malas Membaca?

Di era media sosial saat ini, banyak orang lebih senang menonton video pendek.

Lima belas detik.

Tiga puluh detik.

Satu menit.

Selesai.

Akibatnya kemampuan membaca panjang mulai berkurang.

Padahal menulis membutuhkan kemampuan berpikir yang mendalam.

Menulis bukan sekadar mengetik kata.

Menulis adalah mengolah gagasan.

Menulis adalah menyusun logika.

Menulis adalah menyampaikan pengalaman hidup kepada orang lain.

Semua itu membutuhkan bahan bakar.

Dan bahan bakarnya adalah membaca.

Pengalaman Omjay Menulis Setiap Hari

Sudah puluhan tahun saya menulis.

Ribuan artikel telah saya hasilkan.

Banyak orang bertanya.

“Pak Omjay, kok tidak pernah kehabisan ide?”

Saya selalu menjawab.

“Saya tidak pernah berhenti membaca.”

Setiap hari saya membaca berita.

Membaca buku.

Membaca tulisan teman.

Membaca komentar pembaca.

Membaca pengalaman hidup orang lain.

Semua bacaan itu berubah menjadi inspirasi.

Kadang sebuah artikel lahir hanya karena membaca satu kalimat yang menyentuh hati.

Kadang sebuah buku lahir dari satu pengalaman sederhana yang kemudian diperkaya oleh berbagai referensi bacaan.

AI Pun Tidak Bisa Menolong Orang yang Malas Membaca

Sekarang banyak orang mengandalkan AI.

Mereka berpikir:

“Tidak perlu membaca. Tinggal tanya AI.”

Padahal AI hanyalah alat bantu.

AI dapat membantu menyusun kalimat.

AI dapat membantu mencari ide.

Namun AI tidak bisa menggantikan pengalaman membaca yang dilakukan manusia.

Tulisan yang kuat lahir dari perpaduan antara pengalaman hidup dan wawasan yang luas.

Wawasan itu diperoleh melalui membaca.

Karena itulah saya selalu mengatakan kepada peserta KBMN PGRI:

Menulislah dengan hati, tetapi isi hati itu dengan bacaan yang berkualitas.

Kalau hati kosong dan pikiran kosong, apa yang akan ditulis?

Cara Mudah Memulai Kebiasaan Membaca

Banyak orang gagal membaca karena targetnya terlalu besar.

Ingin membaca satu buku sehari.

Akhirnya menyerah.

Mulailah dari yang kecil.

Bacalah 10 menit sehari.

Bacalah satu artikel setiap pagi.

Bacalah satu bab buku sebelum tidur.

Lakukan secara konsisten.

Sedikit demi sedikit akan menjadi bukit.

Lama-kelamaan membaca menjadi kebutuhan.

Dan ketika membaca menjadi kebutuhan, menulis akan menjadi kebiasaan.

Rahasia Penulis Hebat

Coba perhatikan para penulis besar.

Mereka semua pembaca yang rakus.

Mereka membaca lebih banyak daripada yang mereka tulis.

Karena mereka sadar bahwa membaca adalah investasi.

Semakin banyak membaca, semakin kaya kosakata.

Semakin banyak membaca, semakin luas wawasan.

Semakin banyak membaca, semakin mudah menemukan ide. 

Tidak ada jalan pintas.

Tidak ada tombol ajaib.

Tidak ada rahasia tersembunyi.

Rahasia terbesar seorang penulis adalah membaca.

Refleksi untuk Kita Semua

Hari ini saya ingin mengajak diri saya sendiri dan para pembaca untuk bercermin.

Jangan-jangan kita ingin menjadi penulis terkenal, tetapi malas membuka buku.

Jangan-jangan kita ingin menghasilkan tulisan yang menginspirasi, tetapi tidak pernah menambah wawasan.

Jangan-jangan kita ingin karya kita dibaca banyak orang, tetapi kita sendiri tidak suka membaca karya orang lain.

Jika itu yang terjadi, maka sudah saatnya berubah.

Mulailah membaca hari ini.

Tidak perlu langsung banyak.

Yang penting istiqamah.

Karena setiap halaman yang kita baca sesungguhnya sedang membangun kemampuan menulis kita.

Saya, Omjay, adalah saksi hidup bahwa membaca dapat mengubah hidup seseorang.

Dari seorang anak kampung di Garut menjadi guru, blogger, penulis buku, pembicara nasional, hingga meraih gelar doktor.

Semuanya berawal dari satu kebiasaan sederhana.

Membaca.

Jadi, kalau ada yang bertanya:

“Malas membaca kok kepengen jadi penulis? Emang bisa?”

Jawabannya:

Bisa menulis satu dua halaman. Tetapi untuk menjadi penulis yang mampu menginspirasi banyak orang, membaca adalah jalan yang tidak bisa dilewati begitu saja.

Sebab penulis hebat bukanlah orang yang paling banyak menulis.

Penulis hebat adalah orang yang tidak pernah berhenti belajar melalui membaca. 📚✍️

---

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Peluncuran Buku 4 Karya Omjay Rabu 17 Juni 2026

Membangun Reputasi Guru dan Berprestasi di Kancah Nasional

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas. Guru sejati adalah sosok yang terus belajar, berkarya, berbagi, dan memberi dampak luas bagi sesama. Reputasi seorang guru tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari konsistensi, kejujuran, kerja keras, serta keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Dalam kisah Omjay, reputasi guru dibangun dari hal sederhana: menulis setiap hari, berbagi ilmu tanpa lelah, aktif dalam komunitas guru, dan terus menghadirkan karya nyata. Dari ruang kelas SMP Labschool Jakarta, Omjay belajar bahwa guru yang ingin dikenal bukanlah guru yang sibuk mencari pujian, melainkan guru yang tekun meninggalkan jejak kebaikan.

Prestasi di kancah nasional dimulai dari keberanian tampil. Guru harus berani mengikuti lomba, menulis artikel, membuat buku, menjadi narasumber, membimbing siswa, dan aktif dalam organisasi profesi. Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Justru dari proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi, seorang guru akan menemukan jalan prestasinya.

Guru yang memiliki reputasi baik biasanya memiliki tiga kekuatan. Pertama, integritas. Ia dipercaya karena ucapannya selaras dengan perbuatannya. Kedua, kompetensi. Ia terus belajar agar tidak tertinggal zaman. Ketiga, kontribusi. Ia tidak hanya pintar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Di era digital, reputasi guru juga dapat dibangun melalui jejak karya. Blog, buku, media sosial, webinar, pelatihan, dan komunitas menjadi ruang baru bagi guru untuk berbagi inspirasi. Tulisan yang baik, konten edukatif, dan karya yang konsisten akan menjadi portofolio digital seorang guru.

Namun, prestasi nasional bukan tujuan akhir. Prestasi hanyalah bonus dari ketekunan. Tujuan utama guru adalah memberi manfaat. Ketika seorang guru ikhlas mengajar, rajin belajar, tulus berbagi, dan konsisten berkarya, maka reputasi akan tumbuh dengan sendirinya.

Omjay percaya, guru hebat bukan guru yang tidak pernah lelah. Guru hebat adalah guru yang tetap melangkah meski lelah. Teruslah menulis, teruslah berkarya, teruslah belajar, dan teruslah berbagi. Sebab guru yang berprestasi adalah guru yang mampu menginspirasi banyak hati.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia

Membangun Reputasi Guru dan Berprestasi

Membangun Reputasi Guru dan Berprestasi di Kancah Nasional

Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas. Guru sejati adalah sosok yang terus belajar, berkarya, berbagi, dan memberi dampak luas bagi sesama. Reputasi seorang guru tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari konsistensi, kejujuran, kerja keras, serta keberanian untuk terus memperbaiki diri.

Dalam kisah Omjay, reputasi guru dibangun dari hal sederhana: menulis setiap hari, berbagi ilmu tanpa lelah, aktif dalam komunitas guru, dan terus menghadirkan karya nyata. Dari ruang kelas SMP Labschool Jakarta, Omjay belajar bahwa guru yang ingin dikenal bukanlah guru yang sibuk mencari pujian, melainkan guru yang tekun meninggalkan jejak kebaikan.

Prestasi di kancah nasional dimulai dari keberanian tampil. Guru harus berani mengikuti lomba, menulis artikel, membuat buku, menjadi narasumber, membimbing siswa, dan aktif dalam organisasi profesi. Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Justru dari proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi, seorang guru akan menemukan jalan prestasinya.

Guru yang memiliki reputasi baik biasanya memiliki tiga kekuatan. Pertama, integritas. Ia dipercaya karena ucapannya selaras dengan perbuatannya. Kedua, kompetensi. Ia terus belajar agar tidak tertinggal zaman. Ketiga, kontribusi. Ia tidak hanya pintar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.

Di era digital, reputasi guru juga dapat dibangun melalui jejak karya. Blog, buku, media sosial, webinar, pelatihan, dan komunitas menjadi ruang baru bagi guru untuk berbagi inspirasi. Tulisan yang baik, konten edukatif, dan karya yang konsisten akan menjadi portofolio digital seorang guru.

Namun, prestasi nasional bukan tujuan akhir. Prestasi hanyalah bonus dari ketekunan. Tujuan utama guru adalah memberi manfaat. Ketika seorang guru ikhlas mengajar, rajin belajar, tulus berbagi, dan konsisten berkarya, maka reputasi akan tumbuh dengan sendirinya.

Omjay percaya, guru hebat bukan guru yang tidak pernah lelah. Guru hebat adalah guru yang tetap melangkah meski lelah. Teruslah menulis, teruslah berkarya, teruslah belajar, dan teruslah berbagi. Sebab guru yang berprestasi adalah guru yang mampu menginspirasi banyak hati.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia

Menjadi Guru yang Dirindukan

Menjadi Guru yang Dirindukan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Menjadi guru yang pintar mengajar itu penting. Menjadi guru yang menguasai teknologi juga sangat penting. Namun, ada satu hal yang jauh lebih berharga daripada semua itu, yaitu menjadi guru yang dirindukan oleh murid-muridnya.

Ketika seorang guru pindah tugas, pensiun, atau bahkan telah tiada, lalu murid-muridnya masih mengenang namanya dengan penuh hormat dan kasih sayang, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Guru seperti itu tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menyentuh hati dan mengubah kehidupan muridnya. Banyak pakar pendidikan menegaskan bahwa guru yang dirindukan bukan hanya pandai mengajar, tetapi mampu membangun hubungan yang hangat, menjadi teladan, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. 

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade di SMP Labschool Jakarta, Omjay sering merenungkan pertanyaan sederhana:

"Apakah murid-murid saya senang ketika bertemu saya?"

Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan seorang guru bukan hanya nilai rapor yang tinggi, melainkan bagaimana kehadiran guru mampu memberikan energi positif bagi peserta didik.

Ketika Murid Menyapa dengan Tulus

Suatu hari Omjay sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi. Tiba-tiba ada seorang pria dewasa menghampiri sambil tersenyum lebar.

"Pak Wijaya masih ingat saya?"

Omjay memperhatikan wajahnya. Jujur saja, Omjay tidak langsung mengenalinya. Maklum, ribuan siswa telah diajar selama puluhan tahun.

Pria itu kemudian berkata,

"Saya murid Bapak tahun 1998."

Mendengar itu, Omjay langsung tersenyum.

Yang membuat hati terharu bukan karena murid itu masih mengingat nama gurunya. Yang lebih mengharukan adalah kalimat berikutnya.

"Pak, saya sekarang menjadi dosen. Saya sering memakai cara mengajar Bapak dulu."

Saat itulah Omjay menyadari bahwa seorang guru tidak pernah tahu sejauh mana pengaruhnya terhadap kehidupan murid.

Mungkin kita lupa kepada mereka, tetapi mereka tidak pernah lupa kepada guru yang pernah menyentuh hatinya.

Mengajar dengan Hati

Guru yang dirindukan bukanlah guru yang paling galak ataupun yang paling lucu. Guru yang dirindukan adalah guru yang mengajar dengan hati.

Anak-anak bisa merasakan ketulusan.

Mereka tahu mana guru yang hanya datang untuk menyelesaikan jam mengajar dan mana guru yang benar-benar peduli kepada mereka.

Mengajar dengan hati berarti:

Mendengarkan murid ketika mereka bercerita.

Memberikan semangat ketika mereka gagal.

Menghargai usaha mereka sekecil apa pun.

Tidak mempermalukan mereka di depan teman-temannya.

Kasih sayang dan perhatian yang tulus merupakan fondasi utama hubungan guru dan murid yang sehat. Murid cenderung lebih menghormati dan menyukai guru yang menunjukkan empati dan kepedulian kepada mereka. 

Omjay masih ingat ketika ada seorang siswa yang nilainya selalu rendah dalam pelajaran Informatika. Alih-alih memarahinya, Omjay justru mengajaknya berbicara setelah jam pelajaran selesai.

Ternyata anak itu sedang menghadapi masalah keluarga.

Sejak saat itu Omjay lebih banyak memberikan motivasi daripada hukuman.

Beberapa tahun kemudian, siswa tersebut berhasil menjadi sarjana teknik.

Kadang-kadang yang dibutuhkan murid bukanlah ceramah panjang, tetapi telinga yang mau mendengarkan.

Menjadi Sahabat tanpa Kehilangan Wibawa

Zaman sudah berubah.

Anak-anak Generasi Z dan Generasi Alpha memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka tidak suka diperintah tanpa alasan.

Mereka ingin didengar.

Mereka ingin dihargai.

Karena itu guru perlu menjadi sahabat bagi muridnya tanpa kehilangan kewibawaan sebagai pendidik. Hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan membuat murid merasa nyaman untuk belajar dan berkembang. 

Omjay sering bercanda dengan siswa di kelas.

Kadang-kadang Omjay menyisipkan cerita lucu tentang pengalaman mengajar atau pengalaman menulis di blog.

Suasana kelas menjadi cair.

Murid tidak takut bertanya.

Murid tidak malu mengemukakan pendapat.

Namun ketika pembelajaran dimulai, mereka tetap memahami bahwa guru harus dihormati.

Menjadi sahabat bukan berarti kehilangan batas.

Justru melalui kedekatan yang sehat, proses pendidikan menjadi lebih efektif.

Menjadi Teladan

Murid lebih banyak meniru daripada mendengar.

Mereka memperhatikan setiap tindakan guru.

Mereka melihat bagaimana guru berbicara, berpakaian, bersikap, dan memperlakukan orang lain.

Karena itu guru yang dirindukan selalu berusaha menjadi teladan.

Tidak perlu sempurna.

Cukup menjadi contoh yang baik.

Jika guru meminta murid rajin membaca, maka guru juga harus rajin membaca.

Jika guru meminta murid disiplin, maka guru harus datang tepat waktu.

Jika guru meminta murid jujur, maka guru harus menunjukkan kejujuran dalam tindakan sehari-hari.

Keteladanan merupakan salah satu faktor utama yang membuat guru dikenang dan dihormati sepanjang hayat oleh murid-muridnya. 

Membuat Belajar Menjadi Menyenangkan

Tidak ada murid yang rindu kepada suasana kelas yang menegangkan.

Sebaliknya, mereka selalu merindukan guru yang membuat belajar terasa menyenangkan.

Omjay percaya bahwa teknologi hanyalah alat.

Yang terpenting adalah bagaimana guru menghidupkan kelas.

Kadang Omjay menggunakan video.

Kadang menggunakan kuis interaktif.

Kadang meminta siswa membuat proyek sederhana.

Yang penting murid merasa terlibat.

Mereka bukan hanya mendengar, tetapi juga mengalami proses belajar.

Guru yang kreatif dan mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan generasi saat ini cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian dan kecintaan murid. 

Ketika Pensiun Tiba

Sebentar lagi masa pensiun akan datang menghampiri Omjay.

Usia terus bertambah.

Rambut semakin memutih.

Tenaga tidak lagi sekuat dulu.

Namun ada satu harapan sederhana yang selalu Omjay simpan dalam hati.

Semoga ketika nanti Omjay tidak lagi berdiri di depan kelas, masih ada murid-murid yang mengenang dengan senyum.

Bukan karena Omjay guru yang hebat.

Tetapi karena Omjay pernah berusaha hadir dalam hidup mereka dengan tulus.

Karena pada akhirnya, guru yang dirindukan bukanlah guru yang paling banyak memberi tugas.

Bukan pula guru yang paling tinggi gelarnya.

Melainkan guru yang membuat murid merasa dihargai, dicintai, dan percaya bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik.

Mari kita menjadi guru yang kehadirannya dinantikan murid, yang kepergiannya dirindukan murid, dan yang namanya tetap dikenang ketika kita sudah tidak lagi berada di depan kelas.

Sebab sejatinya, warisan terbesar seorang guru bukanlah buku yang ditulisnya atau jabatan yang pernah diembannya, melainkan hati murid yang pernah disentuhnya dengan kasih sayang dan keteladanan. ❤️

"Jadilah guru yang dicintai ketika hadir, dirindukan ketika tidak ada, dan dikenang ketika telah tiada." 

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Ikhlas itu ....

Ikhlas Itu Ketika Kita Tetap Berjalan Walau Tidak Selalu Dihargai

Refleksi Pagi dalam Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Senin pagi, 8 Juni 2026, Omjay membaca sebuah pesan yang sangat sederhana, tetapi maknanya begitu dalam.

"Ketika kau lebih mempertanyakan apa amalmu dibanding apa posisimu, apa peranmu dibanding apa kedudukanmu, apa tugasmu dibanding apa jabatanmu."

Kalimat itu membuat Omjay terdiam cukup lama.

Pikiran Omjay melayang pada perjalanan hidup yang telah dilalui selama lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru. Banyak peristiwa datang dan pergi. Ada masa ketika nama sering disebut. Ada masa ketika karya mendapat apresiasi. Namun ada pula masa ketika apa yang sudah dilakukan seakan tidak terlihat oleh siapa pun.

Di situlah Omjay belajar tentang sebuah kata yang sangat mudah diucapkan tetapi sangat sulit dipraktikkan, yaitu ikhlas.

Ketika Jabatan Tidak Lagi Menjadi Tujuan

Dalam kehidupan, banyak orang mengejar jabatan.

Tidak sedikit yang merasa bahagia ketika mendapatkan posisi tertentu. Sebaliknya, banyak pula yang kecewa ketika tidak memperoleh jabatan yang diinginkan.

Omjay pernah berada pada fase itu.

Sebagai manusia biasa, tentu ada keinginan untuk dihargai. Ada harapan agar apa yang sudah dikerjakan mendapatkan pengakuan.

Namun semakin bertambah usia, Omjay mulai memahami bahwa jabatan hanyalah titipan.

Jabatan datang dan pergi.

Kedudukan bisa berubah.

Posisi dapat berganti.

Tetapi amal kebaikan akan tetap tinggal.

Ketika seseorang meninggal dunia, orang tidak akan bertanya berapa tinggi jabatannya.

Orang akan mengenang apa yang telah diperbuatnya.

Orang akan mengingat manfaat yang pernah diberikan kepada sesama.

Karena itu Omjay mulai mengubah pertanyaan dalam hidup.

Bukan lagi:

"Apa jabatan saya?"

Tetapi:

"Apa manfaat yang sudah saya berikan hari ini?"

Bukan lagi:

"Mengapa saya tidak dipilih?"

Melainkan:

"Apakah saya sudah bekerja dengan sungguh-sungguh?"

Perubahan cara berpikir itulah yang membuat hati menjadi lebih tenang.

Pelajaran dari Dunia Pendidikan

Sebagai guru di SMP Labschool Jakarta sejak tahun 1994, Omjay telah bertemu ribuan siswa.

Banyak di antara mereka yang kini telah menjadi dokter, dosen, pengusaha, tentara, polisi, programmer, pejabat, dan berbagai profesi lainnya.

Menariknya, ketika mereka bertemu kembali dengan Omjay, hampir tidak ada yang bertanya tentang jabatan yang pernah Omjay pegang.

Mereka justru mengenang hal-hal sederhana.

Ada yang masih ingat pelajaran Informatika.

Ada yang mengingat nasihat ketika mereka sedang mengalami masalah.

Ada yang mengingat motivasi menulis yang pernah diberikan.

Ada pula yang mengaku menjadi penulis karena terinspirasi dari blog Omjay.

Saat itulah Omjay sadar.

Yang membekas dalam kehidupan orang lain bukanlah jabatan kita.

Yang membekas adalah kebaikan yang pernah kita berikan.

Jangan Keluar dari Barisan Karena Tersinggung

Bagian lain dari inspirasi pagi itu juga sangat menyentuh.

"Ketika ketersinggungan pribadi tak membuatmu keluar dari barisan dan merusak tatanan."

Betapa sering manusia merasa tersinggung.

Kadang karena ucapan.

Kadang karena perlakuan.

Kadang karena merasa tidak dihargai.

Omjay pun pernah mengalaminya.

Ada tulisan yang dikritik.

Ada pendapat yang tidak diterima.

Ada usaha yang tidak diapresiasi.

Bahkan ada kalanya niat baik justru disalahpahami.

Dulu hati mudah kecewa.

Namun seiring perjalanan waktu, Omjay belajar satu hal.

Jika setiap ketersinggungan dijadikan alasan untuk berhenti berbuat baik, maka hidup akan dipenuhi luka.

Jika setiap kekecewaan membuat kita keluar dari barisan perjuangan, maka tidak akan ada pekerjaan besar yang selesai.

Karena itu Omjay memilih tetap berjalan.

Tetap menulis.

Tetap mengajar.

Tetap berbagi.

Tetap membantu siapa saja yang membutuhkan.

Bukan karena semua orang menghargai, tetapi karena Allah mengetahui apa yang kita lakukan.

Bersyukur Tidak Mengubah Keadaan Secara Instan

Kalimat berikutnya juga sangat dalam maknanya.

"Bersyukur memang tidak akan mengubah isi dompetmu ataupun mengubah keadaanmu dalam sekejap."

Benar sekali.

Bersyukur tidak serta-merta membuat rekening bertambah.

Bersyukur tidak langsung menghilangkan semua masalah.

Bersyukur juga tidak membuat semua keinginan langsung terwujud.

Namun bersyukur memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga.

Yaitu kekuatan hati.

Omjay merasakan sendiri hal itu.

Ketika mengalami vertigo.

Ketika harus dirawat di rumah sakit.

Ketika mengalami kecelakaan.

Ketika gula darah naik.

Ketika tekanan darah tidak stabil.

Bahkan ketika dokter melarang Omjay mengemudikan mobil sendiri.

Awalnya terasa berat.

Namun ketika mulai bersyukur, Omjay melihat semuanya dengan sudut pandang berbeda.

Ternyata naik transportasi umum membuat biaya lebih hemat.

Ternyata perjalanan menjadi lebih santai.

Ternyata ada kesempatan bertemu banyak orang baru.

Apa yang awalnya dianggap musibah justru menjadi jalan hadirnya nikmat lain.

Inilah keajaiban syukur.

Bukan mengubah keadaan secara instan, tetapi mengubah cara kita memandang keadaan.

Janji Allah Itu Pasti

Dalam Al-Qur'an Allah berfirman:

"Jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu." (QS. Ibrahim: 7)

Ayat ini bukan sekadar janji.

Ini adalah hukum kehidupan.

Semakin kita bersyukur, semakin banyak nikmat yang kita sadari.

Semakin kita mengeluh, semakin sedikit kebahagiaan yang kita rasakan.

Orang yang bersyukur tidak selalu memiliki segalanya.

Tetapi ia mampu melihat nikmat dalam segala hal.

Ia melihat kesehatan sebagai nikmat.

Ia melihat keluarga sebagai nikmat.

Ia melihat kesempatan hidup hari ini sebagai nikmat.

Bahkan ujian pun dilihat sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Refleksi untuk Diri Sendiri

Pagi ini Omjay mengajak diri sendiri untuk merenung.

Sudahkah kita lebih sibuk memperbaiki amal daripada mengejar posisi?

Sudahkah kita lebih fokus pada manfaat daripada jabatan?

Sudahkah kita tetap berada dalam barisan kebaikan meskipun pernah terluka oleh perkataan manusia?

Sudahkah kita mensyukuri nikmat yang selama ini sering kita abaikan?

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan mengejar pengakuan manusia.

Karena pada akhirnya yang akan kita bawa pulang bukan jabatan, bukan kedudukan, bukan pula popularitas.

Yang akan menemani kita adalah amal kebaikan.

Maka teruslah berbuat baik.

Teruslah berbagi ilmu.

Teruslah menulis.

Teruslah menebar manfaat.

Meskipun tidak semua orang melihatnya.

Karena Allah tidak pernah melewatkan satu pun kebaikan yang kita lakukan.

Semoga pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebahagiaan sejati bukan terletak pada tingginya jabatan, melainkan pada ketulusan hati dalam menjalankan amanah kehidupan.

Tetap semangat, tetap bersyukur, dan tetap ikhlas dalam setiap langkah.

Barakallahu fiikum. 🌹🙏🏻

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Pendidikan Bukan Pembodohan

Pendidikan Adalah Pembodohan? Sebuah Renungan dari Kisah Omjay

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Ketika pertama kali mendengar kalimat "Pendidikan adalah pembodohan", hati saya terusik. Sebagai seorang guru yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun di SMP Labschool Jakarta, saya merasa kalimat itu sangat menyakitkan. Bukankah pendidikan bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa? Bukankah sekolah menjadi tempat lahirnya generasi masa depan?

Namun, setelah merenung lebih dalam dan melihat berbagai kenyataan di lapangan, saya mulai memahami mengapa sebagian orang berani mengatakan bahwa pendidikan bisa menjadi alat pembodohan apabila dijalankan dengan cara yang salah.

Tulisan ini bukan untuk menyalahkan dunia pendidikan, melainkan sebagai bahan refleksi agar kita semua kembali kepada hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Ketika Murid Hanya Diajarkan Menghafal

Saya masih ingat ketika menjadi siswa sekolah dasar. Guru sering memberikan tugas menghafal.

Menghafal nama pahlawan.

Menghafal rumus.

Menghafal tanggal sejarah.

Menghafal definisi.

Semakin banyak hafalan, semakin dianggap pintar.

Ironisnya, setelah ujian selesai, sebagian besar hafalan itu hilang begitu saja.

Banyak siswa memperoleh nilai tinggi, tetapi tidak memahami makna dari apa yang dipelajari.

Mereka lulus ujian, tetapi tidak mampu memecahkan masalah kehidupan nyata.

Di sinilah pendidikan mulai kehilangan ruhnya.

Pendidikan yang hanya berorientasi pada hafalan sesungguhnya sedang membatasi kemampuan berpikir manusia.

Anak tidak diajak bertanya.

Anak tidak diajak berpikir kritis.

Anak tidak diajak menemukan.

Mereka hanya diminta menerima.

Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, bukankah itu bentuk pembodohan yang halus?

Ketika Nilai Lebih Penting daripada Ilmu

Selama menjadi guru, Omjay sering menemukan fenomena yang membuat hati sedih.

Banyak siswa belajar bukan karena ingin mengetahui sesuatu.

Mereka belajar hanya demi angka.

Mereka bertanya:

"Pak, ini keluar ujian tidak?"

Kalau tidak keluar ujian, mereka tidak tertarik mempelajarinya.

Padahal hakikat pendidikan bukan mengejar angka.

Nilai hanyalah alat ukur.

Bukan tujuan utama.

Ketika pendidikan hanya mengejar angka rapor, maka yang lahir bukan pembelajar sejati, melainkan pemburu nilai.

Akibatnya muncul budaya mencontek.

Muncul praktik membeli jawaban.

Muncul kebiasaan mencari jalan pintas.

Mereka terlihat pintar di atas kertas, tetapi rapuh ketika menghadapi kehidupan nyata.

Ketika Guru Tidak Lagi Menjadi Inspirasi

Omjay sangat beruntung pernah bertemu guru-guru hebat yang mengubah hidup saya.

Mereka bukan sekadar mengajar.

Mereka mendidik.

Mereka memberi teladan.

Mereka membangun karakter.

Namun dalam kenyataannya, ada sebagian guru yang terjebak dalam rutinitas administratif.

Terlalu banyak laporan.

Terlalu banyak dokumen.

Terlalu banyak pekerjaan teknis.

Akibatnya waktu untuk mendampingi siswa menjadi berkurang.

Hubungan guru dan murid menjadi semakin jauh.

Padahal pendidikan yang baik lahir dari kedekatan hati.

Ketika pendidikan kehilangan sentuhan kemanusiaan, maka proses belajar hanya menjadi aktivitas mekanis.

Masuk kelas.

Mencatat.

Mengerjakan soal.

Pulang.

Tidak ada inspirasi.

Tidak ada makna.

Tidak ada perubahan karakter.

Bukankah ini juga bentuk pembodohan?

Ketika Kreativitas Dimatikan

Omjay selalu percaya bahwa setiap anak memiliki keunikan.

Ada yang pandai menulis.

Ada yang berbakat menggambar.

Ada yang hebat berbicara.

Ada yang unggul dalam olahraga.

Ada yang jenius dalam teknologi.

Sayangnya, sistem pendidikan kadang memaksa semua anak harus sama.

Semua harus mendapat nilai tinggi pada mata pelajaran yang sama.

Semua harus mengikuti standar yang sama.

Anak yang berbeda sering dianggap bermasalah.

Padahal perbedaan adalah kekuatan.

Ketika kreativitas dibatasi dan keberagaman bakat tidak dihargai, pendidikan sedang mengajarkan keseragaman.

Akibatnya banyak anak kehilangan kepercayaan diri.

Mereka merasa bodoh hanya karena tidak unggul pada bidang tertentu.

Padahal bisa jadi mereka memiliki bakat luar biasa yang tidak pernah ditemukan.

Ketika Teknologi Digunakan Tanpa Kebijaksanaan

Saat ini kita hidup di era kecerdasan buatan atau AI.

Informasi tersedia dalam hitungan detik.

Jawaban dapat diperoleh dengan cepat.

AI dapat membuat artikel, presentasi, bahkan soal ujian.

Namun Omjay selalu mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat.

Jika digunakan tanpa berpikir, teknologi justru bisa menjadi alat pembodohan modern.

Banyak siswa kini hanya menyalin jawaban dari internet.

Banyak tugas diselesaikan tanpa memahami isi yang ditulis.

Banyak orang terlihat produktif, tetapi sebenarnya tidak belajar apa-apa.

Mereka mendapatkan hasil instan tanpa proses.

Padahal proses berpikir itulah yang membentuk kecerdasan manusia.

AI boleh membantu.

Google boleh membantu.

Teknologi boleh membantu.

Tetapi kemampuan berpikir tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada mesin.

Pendidikan Sejati Adalah Membebaskan

Meskipun ada banyak kritik terhadap dunia pendidikan, Omjay tetap percaya bahwa pendidikan adalah jalan terbaik untuk mengubah kehidupan.

Pendidikan bukan pembodohan apabila dijalankan sesuai hakikatnya.

Pendidikan sejati adalah pendidikan yang membebaskan manusia dari kebodohan.

Membebaskan dari kemiskinan.

Membebaskan dari ketakutan.

Membebaskan dari sikap pasrah.

Membebaskan dari ketergantungan.

Pendidikan harus membuat anak berani bertanya.

Pendidikan harus membuat anak mampu berpikir kritis.

Pendidikan harus membuat anak memiliki karakter yang kuat.

Pendidikan harus membuat manusia menjadi lebih manusia.

Sebagai guru, Omjay belajar bahwa tugas utama kami bukan mencetak siswa yang pandai mengerjakan soal.

Tugas kami adalah membantu mereka menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Tugas kami adalah menyalakan api semangat belajar sepanjang hayat.

Tugas kami adalah membentuk manusia yang berakhlak, kreatif, dan bermanfaat bagi sesama.

Penutup

Ketika seseorang berkata bahwa "pendidikan adalah pembodohan", mungkin yang dimaksud bukan pendidikan itu sendiri, melainkan praktik pendidikan yang kehilangan tujuan mulianya.

Pendidikan menjadi pembodohan ketika hanya mengajarkan hafalan tanpa pemahaman.

Pendidikan menjadi pembodohan ketika nilai lebih penting daripada karakter.

Pendidikan menjadi pembodohan ketika kreativitas dibunuh.

Pendidikan menjadi pembodohan ketika teknologi menggantikan proses berpikir.

Namun pendidikan akan menjadi cahaya kehidupan apabila mampu memanusiakan manusia.

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade, Omjay tetap optimistis. Saya percaya masih banyak guru hebat di seluruh Indonesia yang bekerja dengan hati. Mereka hadir bukan sekadar mengajar, tetapi menginspirasi.

Karena pada akhirnya, pendidikan yang sesungguhnya bukanlah proses mengisi kepala manusia dengan informasi, melainkan proses menyalakan cahaya dalam jiwa manusia agar mampu menerangi kehidupannya sendiri dan kehidupan orang lain.

Pendidikan bukan pembodohan. Yang perlu kita lawan adalah cara-cara pendidikan yang membuat manusia berhenti berpikir. Itulah refleksi Omjay, seorang guru yang masih terus belajar, menulis, dan berharap pendidikan Indonesia semakin memerdekakan setiap anak bangsa.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 07 Juni 2026

Blog Mengubah Cara Siswa Belajar Menulis

Blog Mengubah Cara Siswa Belajar Menulis

Kisah Disertasi Omjay tentang Pengelolaan Blog Kolaboratif di Sekolah

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd

Di era digital seperti sekarang, anak-anak sangat akrab dengan internet. Mereka setiap hari memegang handphone, membuka media sosial, menonton video YouTube, bermain game online, hingga berkomunikasi melalui aplikasi chat. Namun sayangnya, teknologi yang begitu canggih sering kali hanya digunakan untuk hiburan semata. Padahal, internet sebenarnya bisa menjadi alat belajar yang luar biasa bila dimanfaatkan dengan benar.

Hal inilah yang menginspirasi saya ketika melakukan penelitian disertasi doktoral di bidang teknologi pendidikan. Saya ingin membuktikan bahwa blog dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Dari pengalaman mengajar bertahun-tahun di sekolah, saya melihat banyak siswa sebenarnya memiliki ide yang bagus, tetapi kesulitan menuangkannya ke dalam tulisan. Mereka takut salah, malas menulis, dan merasa menulis adalah kegiatan yang membosankan.

Padahal, kemampuan menulis sangat penting untuk masa depan mereka. Menulis bukan hanya soal membuat karangan di sekolah, tetapi juga melatih cara berpikir, menyampaikan pendapat, dan membangun kreativitas. Karena itulah saya mencoba menghadirkan cara belajar baru melalui pengelolaan blog kolaboratif.

Penelitian ini dilakukan di SMP Labschool Jakarta dengan melibatkan ratusan siswa kelas VIII dan beberapa guru kolaborator. Kegiatan penelitian berlangsung pada masa pandemi Covid-19 ketika pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah masing-masing. Saat itu banyak guru mengalami kesulitan membuat pembelajaran online menjadi menarik. Interaksi guru dan siswa terasa sangat terbatas. Banyak siswa hanya hadir di kelas virtual tanpa benar-benar aktif belajar.

Saya kemudian memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Setiap siswa diminta membuat blog pribadi dan mengelolanya sendiri. Di blog itulah mereka menuliskan tugas-tugas sekolah, pengalaman pribadi, cerita inspiratif, hingga rangkuman pelajaran. Guru memberikan komentar positif pada tulisan siswa agar mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus menulis.

Hasilnya sungguh luar biasa.

Anak-anak yang awalnya malas menulis mulai menikmati kegiatan menulis di blog. Mereka merasa senang karena tulisan mereka bisa dibaca banyak orang, bukan hanya oleh guru di kelas. Ada rasa bangga ketika tulisan mendapatkan komentar dari teman atau pembaca lainnya. Bahkan beberapa siswa mulai kreatif menambahkan foto, video, dan desain menarik pada blog mereka.

Saya melihat perubahan besar dalam diri siswa. Mereka menjadi lebih percaya diri. Kemampuan menulis mereka meningkat dari waktu ke waktu. Tulisan yang awalnya pendek dan sederhana berubah menjadi lebih rapi, lebih panjang, dan lebih menarik dibaca. Blog ternyata bukan sekadar tempat menyimpan tugas sekolah, tetapi menjadi ruang kreativitas bagi siswa untuk mengekspresikan diri.

Yang lebih menarik lagi, kegiatan ini menciptakan kolaborasi antara guru dan siswa. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas, melainkan menjadi pendamping dan motivator. Guru membantu siswa menemukan ide tulisan, memperbaiki kesalahan, serta memberi semangat agar terus berkarya. Di sinilah pembelajaran kolaboratif benar-benar terjadi.

Saya juga menemukan bahwa blog mampu membangun budaya literasi digital di sekolah. Siswa belajar menggunakan internet secara positif. Mereka belajar bertanggung jawab terhadap tulisan yang dipublikasikan secara online. Mereka mulai memahami pentingnya kejujuran dalam berkarya dan menghindari plagiarisme atau copy paste.

Dalam penelitian ini, siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar berpikir kritis, belajar berkomunikasi, dan belajar memanfaatkan teknologi dengan bijak. Bahkan beberapa siswa berhasil membuat buku digital dari kumpulan tulisan mereka di blog. Sebuah pencapaian yang membanggakan untuk anak-anak SMP.

Sebagai guru, saya merasa sangat bahagia melihat perubahan tersebut. Saya semakin yakin bahwa setiap anak sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang bila diberikan ruang dan kesempatan. Terkadang yang mereka butuhkan hanyalah media yang tepat dan guru yang mau mendampingi dengan sabar.

Pengalaman penelitian ini juga memberikan pelajaran penting bagi saya pribadi. Dunia pendidikan harus terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Guru tidak boleh takut dengan teknologi. Justru teknologi harus dijadikan sahabat dalam pembelajaran. Blog hanyalah salah satu contoh sederhana bagaimana internet bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.

Saat ini menulis di blog menjadi semakin mudah. Anak-anak bisa menulis langsung dari handphone mereka. Mereka tidak harus memiliki laptop mahal untuk berkarya. Dengan koneksi internet dan kemauan belajar, siapa saja bisa menjadi penulis.

Saya percaya, bila budaya menulis terus dibangun sejak dini, maka akan lahir generasi yang lebih kreatif, kritis, dan berani menyampaikan gagasannya. Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan karya melalui teknologi tersebut.

Melalui disertasi ini saya ingin menyampaikan pesan sederhana kepada para guru di seluruh Indonesia: jangan pernah berhenti belajar dan mencoba hal baru. Jadikan teknologi sebagai jembatan untuk mendekatkan siswa pada dunia literasi. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membantu siswa menemukan potensi terbaik dalam dirinya.

Kini saya semakin yakin bahwa sebuah blog sederhana bisa mengubah cara siswa belajar menulis. Dari blog lahir keberanian, kreativitas, kolaborasi, dan semangat untuk terus belajar. Dan dari tulisan-tulisan kecil siswa hari ini, mungkin akan lahir penulis besar Indonesia di masa depan.

Salam literasi.

Universitas Negeri Jakarta
SMP Labschool Jakarta



Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Kebahagiaan Seorang Kakek

Kebahagiaan Seorang Kakek

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Hari ini, Ahad 7 Juni 2026, hati saya dipenuhi rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di hadapan saya berdiri seorang anak kecil yang lincah, lucu, dan selalu mampu menghadirkan senyum di wajah seluruh keluarga. Namanya Tanaya Faza Afisa, atau yang akrab kami panggil Tata.

Hari ini Tata genap berusia 2 tahun.

Di ruang sederhana yang dipenuhi tawa keluarga, kami berkumpul merayakan ulang tahunnya. Ada kue kecil di atas meja, ada dekorasi sederhana bertuliskan Happy Birthday 2, dan ada foto-foto perjalanan Tata sejak bayi yang tergantung di dinding. Semua tampak sederhana, tetapi bagi seorang kakek seperti saya, pemandangan itu terasa sangat luar biasa.

Saat melihat Tata berusaha mendekati kue ulang tahunnya dengan wajah polos dan penuh rasa ingin tahu, hati saya tiba-tiba teringat pada sebuah peristiwa besar dalam hidup saya.

Tepat empat tahun yang lalu.

7 Juni 2022.

Hari yang tidak pernah saya lupakan.

Hari ketika saya menjalani Ujian Terbuka Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Hari ketika perjuangan panjang selama delapan tahun akhirnya mencapai puncaknya.

Hari ketika saya resmi menyandang gelar doktor.

Ketika mengenang hari itu, saya masih bisa merasakan bagaimana jantung saya berdebar saat mempertahankan disertasi di hadapan para profesor penguji. Saya masih ingat bagaimana rasa cemas bercampur harap memenuhi pikiran saya.

Bertahun-tahun saya berjuang.

Bertahun-tahun saya menulis.

Bertahun-tahun saya bolak-balik antara tugas sebagai guru, keluarga, organisasi, dan kewajiban akademik.

Tidak mudah.

Ada saat-saat ketika saya hampir menyerah.

Ada saat-saat ketika tubuh terasa lelah.

Ada saat-saat ketika saya bertanya dalam hati, "Apakah saya mampu menyelesaikannya?"

Namun Allah SWT selalu menunjukkan jalan.

Dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar saya.

Istri saya yang setia mendampingi.

Anak-anak yang selalu memberi semangat.

Sahabat-sahabat yang mendoakan.

Para dosen pembimbing yang sabar membimbing.

Semua menjadi bagian dari perjalanan panjang itu.

Alhamdulillah.

Pada 7 Juni 2022, perjuangan itu berbuah manis.

Hari ini, empat tahun kemudian, tanggal yang sama kembali hadir dengan makna yang berbeda.

Bukan lagi tentang gelar akademik.

Bukan lagi tentang ujian terbuka.

Bukan lagi tentang disertasi.

Melainkan tentang seorang cucu yang tumbuh sehat dan bahagia.

Saya menyadari bahwa hidup memang penuh dengan kejutan yang indah.

Dulu saya bahagia karena berhasil meraih gelar doktor.

Kini saya bahagia karena melihat cucu saya tertawa.

Dulu saya berdiri di ruang sidang akademik.

Kini saya duduk di ruang keluarga.

Dulu saya mempertahankan disertasi.

Kini saya menikmati hasil perjuangan hidup bersama keluarga tercinta.

Dan ternyata kebahagiaan yang kedua terasa jauh lebih hangat.

Sebagai seorang kakek, saya mulai memahami bahwa usia bukan hanya soal bertambahnya angka.

Usia adalah kesempatan untuk melihat hasil dari perjalanan hidup yang panjang.

Melihat anak-anak tumbuh dewasa.

Melihat mereka membangun keluarga.

Melihat hadirnya cucu yang membawa warna baru dalam kehidupan.

Tata hadir membawa kebahagiaan yang sulit dijelaskan.

Setiap kali video call, hati saya berbunga-bunga.

Setiap kali mendengar suaranya memanggil, saya merasa lebih muda.

Setiap kali melihat senyumnya, segala lelah seakan menghilang.

Saya teringat ketika pertama kali menggendongnya saat masih bayi.

Tubuhnya kecil.

Tangannya mungil.

Tangisnya pelan.

Kini ia sudah berlari ke sana kemari.

Sudah mulai berbicara.

Sudah mulai mengenali orang-orang yang mencintainya.

Waktu berjalan begitu cepat.

Rasanya baru kemarin saya mengantar anak-anak ke sekolah.

Kini saya sudah menjadi kakek.

Rasanya baru kemarin saya menyelesaikan studi doktor.

Kini saya menyaksikan cucu saya merayakan ulang tahun kedua.

Begitulah kehidupan.

Waktu tidak pernah berhenti.

Usia terus bertambah.

Namun kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada jabatan, gelar, atau harta yang dimiliki.

Kebahagiaan sejati adalah ketika kita dapat berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat.

Kebahagiaan sejati adalah ketika kita masih diberi kesempatan melihat orang-orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang.

Kebahagiaan sejati adalah ketika rumah dipenuhi tawa anak-anak.

Sebagai seorang yang pernah mengalami berbagai ujian hidup—mulai dari sakit, kecelakaan, hingga kehilangan orang-orang tercinta—saya semakin menyadari bahwa keluarga adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT.

Hari ini saya tidak meminta hadiah apa pun.

Saya hanya berdoa.

Ya Allah...

Jagalah cucuku Tanaya Faza Afisa.

Jadikan ia anak yang sehat.

Jadikan ia anak yang salehah.

Jadikan ia anak yang cerdas dan bermanfaat bagi sesama.

Lindungi langkah-langkahnya.

Mudahkan jalannya meraih cita-cita.

Dan izinkan kakeknya ini menyaksikan ia tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.

Saya juga berdoa agar Allah senantiasa menjaga keluarga kami dalam kasih sayang-Nya.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa banyak gelar yang kita miliki.

Bukan pula berapa banyak jabatan yang pernah kita raih.

Melainkan seberapa banyak cinta yang kita berikan kepada keluarga.

Foto sederhana ulang tahun Tata hari ini mengajarkan saya satu hal penting.

Bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan.

Kadang kebahagiaan hadir dalam sebuah kue kecil.

Dalam tawa seorang cucu.

Dalam pelukan keluarga.

Dalam rasa syukur yang memenuhi hati.

Selamat ulang tahun yang ke-2, cucuku tercinta Tanaya Faza Afisa (Tata).

Terima kasih telah menghadirkan kebahagiaan baru dalam hidup Kakek.

Dan terima kasih Ya Allah, karena pada tanggal yang sama, Engkau pernah menghadiahkan gelar doktor kepada saya, dan hari ini Engkau menghadiahkan senyum seorang cucu yang membuat hidup terasa jauh lebih bermakna.

Bekasi, 7 Juni 2026

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia dan Kakek yang Berbahagia ❤️