Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Senin, 08 Juni 2026
Benarkah Pendidikan Menunda Pengangguran
peluncuran 4 judul buku karya omjay
Malas Membaca Kok Kepengen Menjadi Penulis?
Peluncuran Buku 4 Karya Omjay Rabu 17 Juni 2026
Membangun Reputasi Guru dan Berprestasi di Kancah Nasional
Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas. Guru sejati adalah sosok yang terus belajar, berkarya, berbagi, dan memberi dampak luas bagi sesama. Reputasi seorang guru tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari konsistensi, kejujuran, kerja keras, serta keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Dalam kisah Omjay, reputasi guru dibangun dari hal sederhana: menulis setiap hari, berbagi ilmu tanpa lelah, aktif dalam komunitas guru, dan terus menghadirkan karya nyata. Dari ruang kelas SMP Labschool Jakarta, Omjay belajar bahwa guru yang ingin dikenal bukanlah guru yang sibuk mencari pujian, melainkan guru yang tekun meninggalkan jejak kebaikan.
Prestasi di kancah nasional dimulai dari keberanian tampil. Guru harus berani mengikuti lomba, menulis artikel, membuat buku, menjadi narasumber, membimbing siswa, dan aktif dalam organisasi profesi. Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Justru dari proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi, seorang guru akan menemukan jalan prestasinya.
Guru yang memiliki reputasi baik biasanya memiliki tiga kekuatan. Pertama, integritas. Ia dipercaya karena ucapannya selaras dengan perbuatannya. Kedua, kompetensi. Ia terus belajar agar tidak tertinggal zaman. Ketiga, kontribusi. Ia tidak hanya pintar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Di era digital, reputasi guru juga dapat dibangun melalui jejak karya. Blog, buku, media sosial, webinar, pelatihan, dan komunitas menjadi ruang baru bagi guru untuk berbagi inspirasi. Tulisan yang baik, konten edukatif, dan karya yang konsisten akan menjadi portofolio digital seorang guru.
Namun, prestasi nasional bukan tujuan akhir. Prestasi hanyalah bonus dari ketekunan. Tujuan utama guru adalah memberi manfaat. Ketika seorang guru ikhlas mengajar, rajin belajar, tulus berbagi, dan konsisten berkarya, maka reputasi akan tumbuh dengan sendirinya.
Omjay percaya, guru hebat bukan guru yang tidak pernah lelah. Guru hebat adalah guru yang tetap melangkah meski lelah. Teruslah menulis, teruslah berkarya, teruslah belajar, dan teruslah berbagi. Sebab guru yang berprestasi adalah guru yang mampu menginspirasi banyak hati.
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Membangun Reputasi Guru dan Berprestasi
Membangun Reputasi Guru dan Berprestasi di Kancah Nasional
Menjadi guru bukan hanya tentang mengajar di ruang kelas. Guru sejati adalah sosok yang terus belajar, berkarya, berbagi, dan memberi dampak luas bagi sesama. Reputasi seorang guru tidak dibangun dalam sehari. Ia lahir dari konsistensi, kejujuran, kerja keras, serta keberanian untuk terus memperbaiki diri.
Dalam kisah Omjay, reputasi guru dibangun dari hal sederhana: menulis setiap hari, berbagi ilmu tanpa lelah, aktif dalam komunitas guru, dan terus menghadirkan karya nyata. Dari ruang kelas SMP Labschool Jakarta, Omjay belajar bahwa guru yang ingin dikenal bukanlah guru yang sibuk mencari pujian, melainkan guru yang tekun meninggalkan jejak kebaikan.
Prestasi di kancah nasional dimulai dari keberanian tampil. Guru harus berani mengikuti lomba, menulis artikel, membuat buku, menjadi narasumber, membimbing siswa, dan aktif dalam organisasi profesi. Jangan menunggu sempurna untuk memulai. Justru dari proses mencoba, gagal, memperbaiki, dan mencoba lagi, seorang guru akan menemukan jalan prestasinya.
Guru yang memiliki reputasi baik biasanya memiliki tiga kekuatan. Pertama, integritas. Ia dipercaya karena ucapannya selaras dengan perbuatannya. Kedua, kompetensi. Ia terus belajar agar tidak tertinggal zaman. Ketiga, kontribusi. Ia tidak hanya pintar untuk dirinya sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
Di era digital, reputasi guru juga dapat dibangun melalui jejak karya. Blog, buku, media sosial, webinar, pelatihan, dan komunitas menjadi ruang baru bagi guru untuk berbagi inspirasi. Tulisan yang baik, konten edukatif, dan karya yang konsisten akan menjadi portofolio digital seorang guru.
Namun, prestasi nasional bukan tujuan akhir. Prestasi hanyalah bonus dari ketekunan. Tujuan utama guru adalah memberi manfaat. Ketika seorang guru ikhlas mengajar, rajin belajar, tulus berbagi, dan konsisten berkarya, maka reputasi akan tumbuh dengan sendirinya.
Omjay percaya, guru hebat bukan guru yang tidak pernah lelah. Guru hebat adalah guru yang tetap melangkah meski lelah. Teruslah menulis, teruslah berkarya, teruslah belajar, dan teruslah berbagi. Sebab guru yang berprestasi adalah guru yang mampu menginspirasi banyak hati.
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Menjadi Guru yang Dirindukan
Ikhlas itu ....
Pendidikan Bukan Pembodohan
Minggu, 07 Juni 2026
Blog Mengubah Cara Siswa Belajar Menulis
Blog Mengubah Cara Siswa Belajar Menulis
Kisah Disertasi Omjay tentang Pengelolaan Blog Kolaboratif di Sekolah
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Di era digital seperti sekarang, anak-anak sangat akrab dengan internet. Mereka setiap hari memegang handphone, membuka media sosial, menonton video YouTube, bermain game online, hingga berkomunikasi melalui aplikasi chat. Namun sayangnya, teknologi yang begitu canggih sering kali hanya digunakan untuk hiburan semata. Padahal, internet sebenarnya bisa menjadi alat belajar yang luar biasa bila dimanfaatkan dengan benar.
Hal inilah yang menginspirasi saya ketika melakukan penelitian disertasi doktoral di bidang teknologi pendidikan. Saya ingin membuktikan bahwa blog dapat digunakan sebagai media pembelajaran yang menyenangkan sekaligus mampu meningkatkan keterampilan menulis siswa. Dari pengalaman mengajar bertahun-tahun di sekolah, saya melihat banyak siswa sebenarnya memiliki ide yang bagus, tetapi kesulitan menuangkannya ke dalam tulisan. Mereka takut salah, malas menulis, dan merasa menulis adalah kegiatan yang membosankan.
Padahal, kemampuan menulis sangat penting untuk masa depan mereka. Menulis bukan hanya soal membuat karangan di sekolah, tetapi juga melatih cara berpikir, menyampaikan pendapat, dan membangun kreativitas. Karena itulah saya mencoba menghadirkan cara belajar baru melalui pengelolaan blog kolaboratif.
Penelitian ini dilakukan di SMP Labschool Jakarta dengan melibatkan ratusan siswa kelas VIII dan beberapa guru kolaborator. Kegiatan penelitian berlangsung pada masa pandemi Covid-19 ketika pembelajaran dilakukan secara daring dari rumah masing-masing. Saat itu banyak guru mengalami kesulitan membuat pembelajaran online menjadi menarik. Interaksi guru dan siswa terasa sangat terbatas. Banyak siswa hanya hadir di kelas virtual tanpa benar-benar aktif belajar.
Saya kemudian memanfaatkan blog sebagai media pembelajaran. Setiap siswa diminta membuat blog pribadi dan mengelolanya sendiri. Di blog itulah mereka menuliskan tugas-tugas sekolah, pengalaman pribadi, cerita inspiratif, hingga rangkuman pelajaran. Guru memberikan komentar positif pada tulisan siswa agar mereka merasa dihargai dan termotivasi untuk terus menulis.
Hasilnya sungguh luar biasa.
Anak-anak yang awalnya malas menulis mulai menikmati kegiatan menulis di blog. Mereka merasa senang karena tulisan mereka bisa dibaca banyak orang, bukan hanya oleh guru di kelas. Ada rasa bangga ketika tulisan mendapatkan komentar dari teman atau pembaca lainnya. Bahkan beberapa siswa mulai kreatif menambahkan foto, video, dan desain menarik pada blog mereka.
Saya melihat perubahan besar dalam diri siswa. Mereka menjadi lebih percaya diri. Kemampuan menulis mereka meningkat dari waktu ke waktu. Tulisan yang awalnya pendek dan sederhana berubah menjadi lebih rapi, lebih panjang, dan lebih menarik dibaca. Blog ternyata bukan sekadar tempat menyimpan tugas sekolah, tetapi menjadi ruang kreativitas bagi siswa untuk mengekspresikan diri.
Yang lebih menarik lagi, kegiatan ini menciptakan kolaborasi antara guru dan siswa. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan di kelas, melainkan menjadi pendamping dan motivator. Guru membantu siswa menemukan ide tulisan, memperbaiki kesalahan, serta memberi semangat agar terus berkarya. Di sinilah pembelajaran kolaboratif benar-benar terjadi.
Saya juga menemukan bahwa blog mampu membangun budaya literasi digital di sekolah. Siswa belajar menggunakan internet secara positif. Mereka belajar bertanggung jawab terhadap tulisan yang dipublikasikan secara online. Mereka mulai memahami pentingnya kejujuran dalam berkarya dan menghindari plagiarisme atau copy paste.
Dalam penelitian ini, siswa tidak hanya belajar menulis, tetapi juga belajar berpikir kritis, belajar berkomunikasi, dan belajar memanfaatkan teknologi dengan bijak. Bahkan beberapa siswa berhasil membuat buku digital dari kumpulan tulisan mereka di blog. Sebuah pencapaian yang membanggakan untuk anak-anak SMP.
Sebagai guru, saya merasa sangat bahagia melihat perubahan tersebut. Saya semakin yakin bahwa setiap anak sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang bila diberikan ruang dan kesempatan. Terkadang yang mereka butuhkan hanyalah media yang tepat dan guru yang mau mendampingi dengan sabar.
Pengalaman penelitian ini juga memberikan pelajaran penting bagi saya pribadi. Dunia pendidikan harus terus berubah mengikuti perkembangan zaman. Guru tidak boleh takut dengan teknologi. Justru teknologi harus dijadikan sahabat dalam pembelajaran. Blog hanyalah salah satu contoh sederhana bagaimana internet bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.
Saat ini menulis di blog menjadi semakin mudah. Anak-anak bisa menulis langsung dari handphone mereka. Mereka tidak harus memiliki laptop mahal untuk berkarya. Dengan koneksi internet dan kemauan belajar, siapa saja bisa menjadi penulis.
Saya percaya, bila budaya menulis terus dibangun sejak dini, maka akan lahir generasi yang lebih kreatif, kritis, dan berani menyampaikan gagasannya. Indonesia membutuhkan generasi muda yang bukan hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan karya melalui teknologi tersebut.
Melalui disertasi ini saya ingin menyampaikan pesan sederhana kepada para guru di seluruh Indonesia: jangan pernah berhenti belajar dan mencoba hal baru. Jadikan teknologi sebagai jembatan untuk mendekatkan siswa pada dunia literasi. Mengajar bukan sekadar menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membantu siswa menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Kini saya semakin yakin bahwa sebuah blog sederhana bisa mengubah cara siswa belajar menulis. Dari blog lahir keberanian, kreativitas, kolaborasi, dan semangat untuk terus belajar. Dan dari tulisan-tulisan kecil siswa hari ini, mungkin akan lahir penulis besar Indonesia di masa depan.
Salam literasi.
Universitas Negeri Jakarta
SMP Labschool Jakarta
Kebahagiaan Seorang Kakek
Kebahagiaan Seorang Kakek
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Hari ini, Ahad 7 Juni 2026, hati saya dipenuhi rasa syukur yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Di hadapan saya berdiri seorang anak kecil yang lincah, lucu, dan selalu mampu menghadirkan senyum di wajah seluruh keluarga. Namanya Tanaya Faza Afisa, atau yang akrab kami panggil Tata.
Hari ini Tata genap berusia 2 tahun.
Di ruang sederhana yang dipenuhi tawa keluarga, kami berkumpul merayakan ulang tahunnya. Ada kue kecil di atas meja, ada dekorasi sederhana bertuliskan Happy Birthday 2, dan ada foto-foto perjalanan Tata sejak bayi yang tergantung di dinding. Semua tampak sederhana, tetapi bagi seorang kakek seperti saya, pemandangan itu terasa sangat luar biasa.
Saat melihat Tata berusaha mendekati kue ulang tahunnya dengan wajah polos dan penuh rasa ingin tahu, hati saya tiba-tiba teringat pada sebuah peristiwa besar dalam hidup saya.
Tepat empat tahun yang lalu.
7 Juni 2022.
Hari yang tidak pernah saya lupakan.
Hari ketika saya menjalani Ujian Terbuka Doktor Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Hari ketika perjuangan panjang selama delapan tahun akhirnya mencapai puncaknya.
Hari ketika saya resmi menyandang gelar doktor.
Ketika mengenang hari itu, saya masih bisa merasakan bagaimana jantung saya berdebar saat mempertahankan disertasi di hadapan para profesor penguji. Saya masih ingat bagaimana rasa cemas bercampur harap memenuhi pikiran saya.
Bertahun-tahun saya berjuang.
Bertahun-tahun saya menulis.
Bertahun-tahun saya bolak-balik antara tugas sebagai guru, keluarga, organisasi, dan kewajiban akademik.
Tidak mudah.
Ada saat-saat ketika saya hampir menyerah.
Ada saat-saat ketika tubuh terasa lelah.
Ada saat-saat ketika saya bertanya dalam hati, "Apakah saya mampu menyelesaikannya?"
Namun Allah SWT selalu menunjukkan jalan.
Dukungan keluarga menjadi kekuatan terbesar saya.
Istri saya yang setia mendampingi.
Anak-anak yang selalu memberi semangat.
Sahabat-sahabat yang mendoakan.
Para dosen pembimbing yang sabar membimbing.
Semua menjadi bagian dari perjalanan panjang itu.
Alhamdulillah.
Pada 7 Juni 2022, perjuangan itu berbuah manis.
Hari ini, empat tahun kemudian, tanggal yang sama kembali hadir dengan makna yang berbeda.
Bukan lagi tentang gelar akademik.
Bukan lagi tentang ujian terbuka.
Bukan lagi tentang disertasi.
Melainkan tentang seorang cucu yang tumbuh sehat dan bahagia.
Saya menyadari bahwa hidup memang penuh dengan kejutan yang indah.
Dulu saya bahagia karena berhasil meraih gelar doktor.
Kini saya bahagia karena melihat cucu saya tertawa.
Dulu saya berdiri di ruang sidang akademik.
Kini saya duduk di ruang keluarga.
Dulu saya mempertahankan disertasi.
Kini saya menikmati hasil perjuangan hidup bersama keluarga tercinta.
Dan ternyata kebahagiaan yang kedua terasa jauh lebih hangat.
Sebagai seorang kakek, saya mulai memahami bahwa usia bukan hanya soal bertambahnya angka.
Usia adalah kesempatan untuk melihat hasil dari perjalanan hidup yang panjang.
Melihat anak-anak tumbuh dewasa.
Melihat mereka membangun keluarga.
Melihat hadirnya cucu yang membawa warna baru dalam kehidupan.
Tata hadir membawa kebahagiaan yang sulit dijelaskan.
Setiap kali video call, hati saya berbunga-bunga.
Setiap kali mendengar suaranya memanggil, saya merasa lebih muda.
Setiap kali melihat senyumnya, segala lelah seakan menghilang.
Saya teringat ketika pertama kali menggendongnya saat masih bayi.
Tubuhnya kecil.
Tangannya mungil.
Tangisnya pelan.
Kini ia sudah berlari ke sana kemari.
Sudah mulai berbicara.
Sudah mulai mengenali orang-orang yang mencintainya.
Waktu berjalan begitu cepat.
Rasanya baru kemarin saya mengantar anak-anak ke sekolah.
Kini saya sudah menjadi kakek.
Rasanya baru kemarin saya menyelesaikan studi doktor.
Kini saya menyaksikan cucu saya merayakan ulang tahun kedua.
Begitulah kehidupan.
Waktu tidak pernah berhenti.
Usia terus bertambah.
Namun kebahagiaan sejati ternyata bukan terletak pada jabatan, gelar, atau harta yang dimiliki.
Kebahagiaan sejati adalah ketika kita dapat berkumpul bersama keluarga dalam keadaan sehat.
Kebahagiaan sejati adalah ketika kita masih diberi kesempatan melihat orang-orang yang kita cintai tumbuh dan berkembang.
Kebahagiaan sejati adalah ketika rumah dipenuhi tawa anak-anak.
Sebagai seorang yang pernah mengalami berbagai ujian hidup—mulai dari sakit, kecelakaan, hingga kehilangan orang-orang tercinta—saya semakin menyadari bahwa keluarga adalah nikmat terbesar yang diberikan Allah SWT.
Hari ini saya tidak meminta hadiah apa pun.
Saya hanya berdoa.
Ya Allah...
Jagalah cucuku Tanaya Faza Afisa.
Jadikan ia anak yang sehat.
Jadikan ia anak yang salehah.
Jadikan ia anak yang cerdas dan bermanfaat bagi sesama.
Lindungi langkah-langkahnya.
Mudahkan jalannya meraih cita-cita.
Dan izinkan kakeknya ini menyaksikan ia tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.
Saya juga berdoa agar Allah senantiasa menjaga keluarga kami dalam kasih sayang-Nya.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa banyak gelar yang kita miliki.
Bukan pula berapa banyak jabatan yang pernah kita raih.
Melainkan seberapa banyak cinta yang kita berikan kepada keluarga.
Foto sederhana ulang tahun Tata hari ini mengajarkan saya satu hal penting.
Bahwa kebahagiaan tidak selalu hadir dalam kemewahan.
Kadang kebahagiaan hadir dalam sebuah kue kecil.
Dalam tawa seorang cucu.
Dalam pelukan keluarga.
Dalam rasa syukur yang memenuhi hati.
Selamat ulang tahun yang ke-2, cucuku tercinta Tanaya Faza Afisa (Tata).
Terima kasih telah menghadirkan kebahagiaan baru dalam hidup Kakek.
Dan terima kasih Ya Allah, karena pada tanggal yang sama, Engkau pernah menghadiahkan gelar doktor kepada saya, dan hari ini Engkau menghadiahkan senyum seorang cucu yang membuat hidup terasa jauh lebih bermakna.
Bekasi, 7 Juni 2026
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia dan Kakek yang Berbahagia ❤️
