Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 11 Juni 2026

omjay jadi pedagang buku dadakan

JUALAN BUKU ALA OMJAY: DARI GURU BIASA MENJADI PEDAGANG BUKU DADAKAN

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay) — Guru Blogger Indonesia

"Pak, buku Omjay sudah terbit?"

"Sudah."

"Berapa harganya?"

"Murah."

"Murah itu berapa?"

"Lebih murah daripada harga satu kali makan keluarga di restoran."

"Lho, kok bisa?"

"Iya, karena tujuan saya bukan bikin kaya raya, tapi bikin banyak orang kaya ilmu."

Begitulah percakapan yang sering terjadi akhir-akhir ini. Sejak empat buku terbaru saya selesai dicetak, mendadak saya berubah profesi. Pagi mengajar, siang menulis, malam jadi pedagang buku keliling WhatsApp.

Kadang saya sendiri tertawa.

Bayangkan saja. Selama lebih dari tiga puluh tahun mengajar, saya terbiasa berdiri di depan kelas menjelaskan pelajaran kepada siswa. Sekarang saya berdiri di depan grup WhatsApp menawarkan buku.

Bedanya, kalau siswa tidak memperhatikan saat belajar, saya masih bisa bilang:

"Anak-anak, perhatikan ke depan!"

Tapi kalau menawarkan buku di grup WhatsApp?

Yang terlihat cuma dua centang biru tanpa komentar.

Sakitnya tuh di sini.

Namun saya sadar, menjual buku memang tidak semudah menjual gorengan.

Kalau gorengan aromanya langsung menggoda.

Kalau buku?

Harus dibaca dulu baru terasa nikmatnya.

Meskipun begitu, saya tetap semangat.

Sebab saya percaya setiap buku memiliki takdir pembacanya sendiri.

Suatu hari seorang teman bertanya.

"Omjay, kenapa bikin empat buku sekaligus? Satu saja sudah susah menjualnya."

Saya tersenyum.

"Karena saya takut lupa."

"Lupa apa?"

"Lupa bahwa hidup ini terlalu berharga jika hanya dihabiskan untuk mengeluh."

Teman saya tertawa.

Lalu saya menjelaskan.

Buku pertama berjudul LABSCHOOL RUMAH KEDUAKU.

Buku ini lahir dari cinta saya kepada sekolah yang sudah menjadi bagian hidup selama puluhan tahun.

Di sana saya belajar menjadi guru.

Di sana saya belajar menjadi manusia.

Dan di sana pula saya menemukan ribuan kenangan yang tak mungkin saya beli dengan uang.

Buku kedua berjudul MENULIS DENGAN HATI.

Nah, ini buku yang sangat berbahaya.

Kenapa?

Karena setelah membacanya, banyak orang mendadak ingin menulis.

Ada yang mulai membuat blog.

Ada yang mulai menulis buku.

Ada yang mulai rajin menulis status panjang di media sosial.

Pokoknya efek sampingnya cukup mengkhawatirkan bagi orang yang malas menulis.

Buku ketiga berjudul KASTA TERTINGGI SEORANG GURU.

Judulnya memang terdengar mewah.

Tapi isinya sederhana.

Saya ingin mengajak para guru memahami bahwa kasta tertinggi seorang guru bukanlah jabatan.

Bukan pula penghargaan.

Melainkan ketika ilmunya terus hidup dalam diri murid-muridnya.

Karena guru sejati akan tetap dikenang bahkan ketika namanya mulai dilupakan.

Sedangkan buku keempat berjudul KISAH OMJAY: MENULIS SETIAP HARI DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI.

Ini buku yang paling dekat dengan hati saya.

Buku ini berisi perjalanan panjang seorang guru biasa yang mencoba menulis setiap hari.

Awalnya tidak ada yang membaca.

Kemudian mulai ada yang membaca.

Lalu ada yang mengomentari.

Kemudian ada yang membagikan.

Dan akhirnya tulisan-tulisan itu mengantarkan saya bertemu ribuan sahabat dari seluruh Indonesia.

Yang lucu adalah ketika ada teman bertanya.

"Omjay, kalau saya beli empat buku sekaligus, saya dapat apa?"

Saya jawab.

"Dapat empat buku."

Dia tertawa.

"Lalu bonusnya?"

"Dapat ilmu."

"Bukan itu maksud saya."

"Dapat motivasi."

"Bukan itu juga."

"Dapat inspirasi."

"Masih kurang."

Akhirnya saya berkata.

"Kalau beli empat buku sekaligus, Insya Allah dapat pahala karena membantu seorang guru tetap semangat menulis."

Nah, yang ini biasanya langsung diam.

Saya sering bercanda kepada teman-teman.

Harga buku cetak hanya Rp50.000.

Buku digital Rp25.000.

Kalau dihitung-hitung, harga satu buku bahkan lebih murah daripada biaya ngopi kekinian.

Bedanya, kopi habis dalam satu jam.

Buku bisa menemani bertahun-tahun.

Kopi menghangatkan tubuh.

Buku menghangatkan pikiran.

Kopi membuat mata melek beberapa jam.

Buku membuat wawasan melek sepanjang hayat.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, banyak orang bertanya.

"Apakah buku masih penting?"

Jawaban saya sederhana.

Justru semakin penting.

Karena AI bisa membantu kita menulis.

Tetapi AI tidak bisa menggantikan pengalaman hidup.

AI bisa menghasilkan ribuan kata dalam hitungan detik.

Namun air mata, perjuangan, kegagalan, harapan, dan doa yang tertulis dalam sebuah buku tetap berasal dari manusia.

Itulah sebabnya saya tetap menulis.

Itulah sebabnya saya tetap menerbitkan buku.

Dan itulah sebabnya saya mengajak sahabat semua untuk membaca.

Bukan karena saya ingin buku saya laris.

Tetapi karena saya ingin semakin banyak orang percaya bahwa pengalaman hidup layak dibagikan.

---

Kalau suatu hari nanti Anda melihat saya sibuk mempromosikan buku di media sosial, jangan bayangkan saya sedang menjadi sales profesional.

Bayangkan saja seorang guru tua yang masih percaya bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan seseorang.

Seorang guru yang terus menulis meskipun pernah sakit.

Seorang guru yang terus belajar meskipun usia terus bertambah.

Dan seorang guru yang ingin meninggalkan jejak kebaikan melalui buku-bukunya.

Jadi, kalau Anda bertanya apakah buku-buku Omjay layak dibeli?

Saya tidak akan menjawabnya.

Biarkan hati Anda yang menjawab.

Karena tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Salam Blogger Persahabatan.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Omjay)

Guru Blogger Indonesia :::

Salam blogger persajabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com
@semua
@sorotan

Prestasi, Harapan, dan Sebuah Proses yang Masih Berjalan




Prestasi, Harapan, dan Sebuah Proses yang Masih Berjalan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Belakangan ini, diskusi mengenai status kurasi sertifikat Olimpiade TIK Nasional (OTN) menjadi perhatian banyak peserta, guru pembimbing, orang tua, dan panitia. Saya membaca satu per satu komentar yang masuk. Ada nada kecewa, ada harapan, ada pertanyaan, bahkan ada kegelisahan yang sangat dapat dipahami.

Sebagai seorang guru yang telah mendampingi siswa berkompetisi selama puluhan tahun, saya memahami semua perasaan itu.

Saya dapat merasakan kegundahan seorang siswa yang telah berlatih berbulan-bulan, mengorbankan waktu bermain, bahkan rela menempuh perjalanan jauh demi mengikuti perlombaan. Ketika berhasil menjadi juara, tentu mereka berharap prestasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk melanjutkan pendidikan melalui jalur prestasi.

Karena itu, ketika muncul informasi bahwa sertifikat yang diperoleh belum dapat digunakan sebagaimana yang diharapkan, kekecewaan adalah sesuatu yang sangat manusiawi.

Salah seorang guru menyampaikan kegelisahannya dengan sangat tulus:

"Eventnya sudah lama selesai dari akhir tahun 2025, dan sekarang sudah Juni 2026. Apakah pihak panitia tidak bisa mengupayakan lebih cepat prosesnya?"

Pertanyaan tersebut sesungguhnya mewakili suara banyak peserta dan guru pembimbing di berbagai daerah.

Mereka tidak sedang mencari kesalahan siapa pun. Mereka hanya ingin mendapatkan kepastian karena masa pendaftaran sekolah terus berjalan.

Kegelisahan lainnya juga sangat menyentuh hati:

"Kasihan siswa-siswi kami, kecewa dan merasa sia-sia sudah berkompetisi, datang jauh, tetapi tidak bisa masuk kurasi."

Sebagai guru, saya memahami kalimat itu.

Di balik sebuah sertifikat terdapat perjuangan yang tidak sederhana.

Ada siswa yang harus bangun dini hari untuk berangkat lomba.

Ada orang tua yang menyisihkan penghasilannya demi mendukung anaknya.

Ada guru pembimbing yang rela meluangkan waktu di luar jam kerja.

Ada sekolah yang memberikan dukungan penuh agar siswanya dapat berprestasi.

Maka sangat wajar apabila muncul harapan besar agar hasil perjuangan tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi masa depan peserta didik.

Di sisi lain, panitia juga telah berupaya memberikan penjelasan. Untuk para juara, panitia bahkan memfasilitasi legalisir sertifikat dan Surat Keputusan (SK) Juara sebagai bentuk penguatan administrasi yang dapat digunakan sesuai ketentuan yang berlaku.

Panitia juga menjelaskan bahwa proses kurasi masih terus berjalan hingga saat ini. Bahkan ketika ditanya mengapa prosesnya belum selesai, panitia menjelaskan:

"Upaya kami berjalan, namun yang menentukan status tersebut bukan kami."

Kalimat ini penting untuk dipahami bersama.

Artinya, panitia memang memiliki kewajiban untuk melengkapi seluruh persyaratan administrasi dan terus melakukan komunikasi dengan pihak terkait. Namun keputusan akhir mengenai status kurasi berada pada lembaga yang berwenang melakukan verifikasi dan penetapan.

Panitia juga menegaskan:

"Proses kurasi tetap kami lanjutkan."

Bagi saya, pernyataan tersebut menunjukkan adanya komitmen untuk terus mengawal proses hingga selesai.

Namun di sisi lain, beberapa guru pembimbing juga menyampaikan pengalaman mereka terkait proses kurasi yang pernah dilakukan sekolah masing-masing. Salah satu masukan yang muncul adalah bahwa apabila terdapat kekurangan dokumen atau persyaratan administrasi, biasanya pihak yang melakukan kurasi akan memberikan pemberitahuan agar segera dilengkapi.

Seorang guru menyampaikan pendapatnya dengan santun:

"Memang betul bukan panitia yang menentukan. Tetapi jika ada kendala, biasanya pihak Puspresnas akan memberikan informasi mengenai kekurangan data atau dokumen yang harus dilengkapi. Karena itu kami berharap prosesnya dapat lebih cepat ditindaklanjuti."

Beliau juga menambahkan pengalaman yang pernah dialaminya:

"Sekolah kami juga pernah mengajukan kurasi, dan prosesnya kurang lebih hanya membutuhkan waktu sekitar satu bulan hingga mendapatkan persetujuan."

Pernyataan tersebut tentu bukan untuk menyalahkan siapa pun, melainkan sebagai bentuk harapan agar proses yang sedang berjalan dapat memperoleh perhatian dan pengawalan yang lebih intensif.

Apalagi bagi peserta didik yang saat ini sedang menghadapi tahapan penting dalam perjalanan pendidikannya, seperti Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB), setiap waktu yang berlalu terasa sangat berharga.

Karena itu, muncul harapan dari para guru dan orang tua agar komunikasi antara penyelenggara dan pihak yang berwenang dapat terus dilakukan secara aktif sehingga apabila terdapat dokumen yang kurang atau persyaratan yang belum terpenuhi, proses perbaikannya dapat segera dilakukan. Dengan demikian, para peserta memperoleh kepastian yang mereka butuhkan tanpa harus menunggu terlalu lama.

Harapan tersebut sesungguhnya lahir dari rasa peduli terhadap siswa-siswi yang telah berjuang dengan sungguh-sungguh. Mereka ingin memastikan bahwa setiap prestasi yang diraih anak-anak bangsa dapat memperoleh pengakuan dan manfaat yang semestinya.

Dalam situasi seperti ini, yang paling dibutuhkan adalah komunikasi yang terbuka dan saling menghargai.

Peserta berhak mendapatkan informasi yang jelas.

Guru pembimbing berhak mengetahui perkembangan terbaru.

Orang tua berhak memperoleh kepastian mengenai peluang penggunaan sertifikat yang dimiliki anak-anak mereka.

Sebaliknya, panitia juga berhak mendapatkan dukungan dan kesempatan untuk menyelesaikan proses yang masih berlangsung tanpa harus menjadi sasaran kemarahan yang berlebihan.

Saya melihat bahwa semua pihak sebenarnya memiliki tujuan yang sama.

Peserta ingin prestasinya diakui.

Guru ingin siswa binaannya memperoleh manfaat dari perjuangannya.

Orang tua ingin masa depan anaknya menjadi lebih baik.

Panitia ingin kompetisi yang mereka selenggarakan semakin berkualitas dan mendapatkan pengakuan resmi.

Karena tujuan kita sama, maka marilah kita menjaga suasana dialog tetap sehat dan produktif.

Kritik boleh disampaikan.

Masukan sangat diperlukan.

Evaluasi harus dilakukan.

Namun semuanya akan lebih baik jika disampaikan dengan bahasa yang santun dan penuh rasa saling menghormati.

Kepada para siswa yang merasa kecewa, saya ingin mengatakan satu hal.

Jangan pernah menganggap perjuangan kalian sia-sia.

Prestasi tidak hanya diukur dari apakah sertifikat itu diterima oleh sebuah sistem atau tidak.

Prestasi sejati adalah ilmu yang kalian peroleh selama proses belajar.

Prestasi sejati adalah keberanian kalian untuk bersaing secara sehat.

Prestasi sejati adalah karakter pantang menyerah yang tumbuh dalam diri kalian.

Sertifikat memang penting.

Tetapi kemampuan yang telah kalian bangun jauh lebih berharga.

Dan kepada panitia, saya yakin harapan terbesar peserta adalah mendapatkan informasi perkembangan yang terus diperbarui secara berkala sehingga mereka merasa didampingi dan diperhatikan selama menunggu proses kurasi selesai.

Semoga proses yang sedang berlangsung dapat segera memperoleh titik terang.

Semoga semua dokumen yang diperlukan dapat dipenuhi.

Semoga pihak yang berwenang segera memberikan keputusan terbaik.

Dan semoga ke depan setiap penyelenggaraan kompetisi dapat memiliki kepastian administrasi yang lebih kuat sejak awal sehingga tidak menimbulkan kebingungan di kemudian hari.

Mari kita jadikan peristiwa ini sebagai pembelajaran bersama.

Karena pada akhirnya, tujuan utama sebuah kompetisi bukan hanya menghasilkan juara, tetapi juga membangun generasi yang tangguh, jujur, berprestasi, dan mampu menyelesaikan setiap persoalan dengan kepala dingin serta hati yang lapang.

Tetap semangat.

Karena setiap perjuangan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh tidak akan pernah sia-sia. Prestasi boleh menunggu pengakuan administrasi, tetapi nilai perjuangan, ilmu, dan pengalaman yang diperoleh para peserta akan tetap menjadi bekal berharga sepanjang hayat.

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
"Mendidik dengan hati, menulis untuk menginspirasi."
Blog https://wijayalabs.com

Cara Mudah Jualan Buku ebook


Cara Mudah Menjual Buku Ebook Secara Online: Pengalaman Omjay Menerbitkan dan Menjual Buku di Google Play

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

“Kalau buku cetak membutuhkan biaya cetak, gudang, dan ongkos kirim, maka ebook hanya membutuhkan satu hal: kemauan untuk mulai.”

Kalimat itu sering saya sampaikan kepada para guru ketika berbagi tentang literasi digital. Sebab, saya sendiri sudah merasakan bagaimana sebuah tulisan sederhana yang awalnya hanya tersimpan di blog akhirnya berubah menjadi buku digital yang dapat dibaca orang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.

Dulu saya berpikir menerbitkan buku adalah pekerjaan yang rumit. Harus mencari penerbit besar, menunggu berbulan-bulan, mengurus distribusi, dan menghadapi banyak tantangan lainnya. Namun, perkembangan teknologi telah mengubah semuanya. Kini, seorang guru, dosen, mahasiswa, bahkan pelajar dapat menerbitkan dan menjual ebook secara mandiri melalui platform digital seperti Google Play Books.

Saya ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai seorang guru yang hobi menulis setiap hari. Pengalaman ini semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari karya tulisnya.

Awalnya Hanya Menulis di Blog

Perjalanan saya menjual ebook dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari di blog.

Setiap pagi saya menulis pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, kisah inspiratif, hingga catatan perjalanan hidup. Awalnya tidak ada tujuan untuk menghasilkan uang. Saya hanya ingin berbagi ilmu dan pengalaman.

Namun, seiring waktu, tulisan-tulisan itu semakin banyak. Ratusan artikel tersimpan rapi di blog pribadi.

Suatu hari seorang teman berkata,

"Omjay, tulisan sebanyak ini sayang kalau hanya menjadi artikel. Mengapa tidak dijadikan buku?"

Kalimat sederhana itu membuat saya berpikir.

Benar juga.

Mengapa tidak mengubah tulisan yang sudah ada menjadi sebuah ebook?

Akhirnya saya mulai mengumpulkan tulisan-tulisan terbaik, menyusunnya berdasarkan tema, lalu mengeditnya menjadi naskah buku digital.

Ternyata prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan.

Langkah Pertama: Tentukan Tema Buku

Kesalahan banyak penulis pemula adalah ingin menulis semuanya sekaligus.

Padahal pembaca lebih menyukai buku yang fokus pada satu tema.

Misalnya:

  • Pengalaman mengajar
  • Motivasi belajar
  • Literasi digital
  • Kisah inspiratif
  • Public speaking
  • Teknologi pendidikan
  • Kecerdasan buatan (AI)
  • Pengembangan diri

Ketika saya menulis buku, saya memilih tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai guru.

Karena pengalaman nyata selalu lebih mudah ditulis dibandingkan teori yang hanya dibaca dari buku.

Pembaca juga lebih menyukai kisah nyata daripada cerita yang dibuat-buat.

Langkah Kedua: Susun Naskah dengan Rapi

Setelah tema ditentukan, mulailah menyusun naskah.

Saya biasanya melakukan langkah berikut:

  1. Mengumpulkan artikel yang relevan.
  2. Mengelompokkan berdasarkan bab.
  3. Menambahkan pengantar dan penutup.
  4. Memperbaiki tata bahasa.
  5. Menambahkan ilustrasi atau foto pendukung.

Jangan terlalu mengejar kesempurnaan.

Lebih baik buku selesai daripada sempurna tetapi tidak pernah terbit.

Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan menulis:

"Buku yang selesai lebih berharga daripada naskah sempurna yang hanya tersimpan di laptop."

Langkah Ketiga: Buat Cover yang Menarik

Orang sering mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya.

Namun kenyataannya, pembaca pertama kali melihat cover.

Karena itu buatlah cover yang menarik.

Saat ini membuat cover jauh lebih mudah.

Kita bisa menggunakan:

  • Canva
  • AI Image Generator
  • PowerPoint
  • Photoshop

Saya sering membuat konsep cover sendiri, lalu meminta bantuan desainer untuk menyempurnakannya.

Cover yang baik harus:

  • Judul jelas
  • Nama penulis terbaca
  • Warna menarik
  • Tidak terlalu ramai

Ingat, cover adalah etalase buku Anda.

Langkah Keempat: Ubah Menjadi Format Ebook

Platform ebook biasanya menggunakan format:

  • PDF
  • EPUB

Google Play Books lebih menyukai format EPUB karena tampilannya lebih fleksibel di berbagai perangkat.

Saat pertama kali menerbitkan ebook, saya belajar banyak dari tutorial di internet.

Ternyata mengubah dokumen Word menjadi EPUB tidak sesulit yang dibayangkan.

Banyak aplikasi gratis yang dapat membantu proses ini.

Yang penting isi buku sudah rapi dan siap diterbitkan.

Langkah Kelima: Terbitkan di Google Play Books

Inilah bagian yang paling menarik.

Google Play Books memberikan kesempatan kepada penulis independen untuk menjual bukunya secara langsung.

Keuntungannya antara lain:

  • Jangkauan global
  • Tidak perlu mencetak buku
  • Tidak perlu gudang penyimpanan
  • Pembayaran otomatis
  • Bisa dijual 24 jam sehari

Saat pertama kali melihat buku saya tampil di Google Play, rasanya seperti mimpi.

Saya teringat masa-masa ketika harus membawa buku cetak ke berbagai acara hanya untuk menawarkan kepada pembaca.

Kini buku itu dapat ditemukan hanya dengan mengetik judulnya di internet.

Teknologi benar-benar mengubah cara penulis berkarya.

Langkah Keenam: Promosikan Melalui Media Sosial

Kesalahan terbesar setelah buku terbit adalah berhenti bekerja.

Padahal pekerjaan sebenarnya baru dimulai.

Buku yang tidak dipromosikan akan sulit ditemukan pembaca.

Saya memanfaatkan berbagai media:

  • Blog pribadi
  • Facebook
  • WhatsApp
  • Telegram
  • Kompasiana
  • YouTube
  • Webinar
  • Komunitas guru

Setiap kali mengisi pelatihan, saya selalu menyisipkan informasi tentang buku yang saya tulis.

Bukan untuk pamer.

Tetapi agar buku tersebut menemukan pembacanya.

Karena buku yang bermanfaat layak untuk diketahui lebih banyak orang.

Langkah Ketujuh: Bangun Personal Branding

Saya bersyukur dikenal sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Personal branding membantu pembaca mengenali karya kita.

Jika Anda seorang guru matematika, bangun reputasi sebagai penulis matematika.

Jika Anda guru bahasa, bangun reputasi sebagai penulis literasi.

Jika Anda dosen teknologi, bangun reputasi sebagai penulis teknologi.

Orang membeli buku bukan hanya karena judulnya.

Mereka membeli karena percaya kepada penulisnya.

Kepercayaan itu dibangun melalui konsistensi.

Jangan Takut Buku Tidak Laku

Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah:

"Omjay, bagaimana kalau bukunya tidak laku?"

Saya selalu menjawab:

"Yang tidak laku itu buku yang tidak pernah diterbitkan."

Banyak orang gagal sebelum mencoba.

Padahal setiap buku memiliki pembacanya sendiri.

Mungkin bukan ribuan.

Mungkin bukan jutaan.

Tetapi selalu ada orang yang membutuhkan ilmu yang kita tuliskan.

Saya sendiri tidak pernah menjadikan uang sebagai tujuan utama menulis.

Bagi saya, uang adalah bonus.

Tujuan utama saya adalah berbagi pengalaman dan meninggalkan jejak kebaikan.

Alhamdulillah, ketika niat itu dijaga, rezeki datang dengan caranya sendiri.

Menulis Adalah Investasi Abadi

Hari ini kita hidup di era kecerdasan buatan (AI).

Semua orang dapat membuat tulisan dengan bantuan teknologi.

Namun satu hal yang tidak bisa digantikan AI adalah pengalaman hidup manusia.

Kisah perjuangan seorang guru.

Cerita jatuh bangun seorang penulis.

Pengalaman menghadapi murid.

Kenangan bersama keluarga.

Semua itu adalah kekayaan yang tidak dimiliki mesin.

Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk mulai menulis dan menerbitkan ebook.

Jangan menunggu sempurna.

Jangan menunggu terkenal.

Jangan menunggu pensiun.

Mulailah sekarang.

Tulislah pengalaman terbaik Anda.

Susun menjadi buku.

Terbitkan secara digital.

Jual melalui Google Play Books dan berbagai platform lainnya.

Siapa tahu, tulisan yang Anda buat hari ini akan menjadi sumber inspirasi bagi ribuan orang di masa depan.

Sebab saya telah membuktikannya sendiri.

Dari seorang guru biasa yang menulis di blog setiap hari, kini karya-karya saya dapat dibaca oleh banyak orang melalui buku digital.

Dan saya semakin yakin bahwa guru yang menulis tidak akan pernah habis oleh zaman.

Karena ketika suara kita berhenti terdengar, tulisan kitalah yang akan terus berbicara. 📚✨

Peran PGRI Mendengar Jeritan Guru

Ketika Guru Menjerit karena Rombel Gemuk dan Jam Mengajar yang Kian Sulit

Kisah Omjay Mendengar Suara Hati Guru Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, seperti biasa, grup WhatsApp para guru ramai dengan berbagai diskusi. Ada yang membahas pembelajaran, ada yang berbagi informasi terbaru dari pemerintah, dan ada pula yang menyampaikan keluhan yang mewakili suara hati ribuan guru di seluruh Indonesia.

Salah satu pesan yang membuat saya terdiam datang dari seorang sahabat guru.

Beliau menuliskan harapan agar PB PGRI memperjuangkan dua hal yang dianggap sangat penting bagi kehidupan guru saat ini.

Pertama, jumlah siswa dalam satu kelas atau rombongan belajar (rombel) yang dinilai terlalu besar. Beliau berharap jumlah siswa dalam satu kelas diturunkan menjadi sekitar 20 hingga 25 orang agar proses pembelajaran lebih efektif.

Kedua, syarat minimal 24 jam tatap muka untuk menerima tunjangan profesi guru agar diturunkan menjadi 18 jam karena semakin banyak guru PPPK yang diangkat sehingga distribusi jam mengajar semakin sulit dipenuhi.

Saya membaca pesan itu berulang kali.

Lalu saya tersenyum kecil.

Bukan karena menganggapnya lucu, tetapi karena saya memahami betul kegelisahan yang sedang dirasakan para guru.

Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya melihat sendiri bagaimana perubahan kebijakan pendidikan selalu membawa konsekuensi baru di lapangan.

Ketika Satu Kelas Berisi Terlalu Banyak Anak

Saya masih ingat saat pertama kali mengajar tahun 1994.

Di beberapa sekolah negeri, jumlah siswa dalam satu kelas bisa mencapai 45 hingga 50 orang.

Bahkan ada yang lebih.

Guru berdiri di depan kelas seperti seorang konduktor orkestra yang harus mengendalikan puluhan karakter berbeda sekaligus.

Ada siswa yang cepat memahami pelajaran.

Ada yang harus dijelaskan berkali-kali.

Ada yang aktif bertanya.

Ada pula yang diam tetapi sebenarnya sedang kebingungan.

Bayangkan jika semua itu terjadi dalam satu ruangan dengan jumlah siswa mendekati lima puluh orang.

Tidak mudah.

Ketika jumlah siswa terlalu besar, perhatian guru otomatis terbagi.

Guru akhirnya lebih banyak mengajar secara massal daripada mendampingi secara personal.

Padahal setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.

Di era pembelajaran mendalam (deep learning) seperti sekarang, hubungan guru dan murid justru harus semakin dekat.

Guru perlu mengenal karakter setiap peserta didik.

Guru perlu mengetahui siapa yang sedang mengalami kesulitan belajar.

Guru perlu memahami siapa yang membutuhkan dukungan emosional.

Semua itu akan lebih mudah dilakukan jika jumlah siswa dalam kelas lebih proporsional.

Saya membayangkan betapa bahagianya guru jika satu kelas hanya berisi 20 hingga 25 siswa.

Guru bisa lebih fokus.

Pembelajaran lebih hidup.

Diskusi lebih berkualitas.

Penilaian lebih akurat.

Anak-anak pun mendapatkan perhatian yang layak.

Namun di sisi lain, persoalan ini tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.

Menurunkan jumlah siswa per rombel berarti pemerintah harus menyediakan lebih banyak ruang kelas, lebih banyak guru, dan lebih banyak anggaran.

Di sinilah pentingnya data yang akurat sebagaimana disampaikan sahabat saya dalam diskusi tersebut.

Setiap daerah memiliki kondisi berbeda.

Ada sekolah yang kelebihan murid.

Ada sekolah yang kekurangan murid.

Ada sekolah yang kekurangan guru.

Ada pula sekolah yang justru kelebihan guru pada mata pelajaran tertentu.

Karena itu, solusi terbaik harus berbasis data, bukan sekadar asumsi.

Tantangan Guru PPPK dan Jam Mengajar

Persoalan kedua yang tidak kalah penting adalah syarat 24 jam mengajar.

Jujur saja, ini menjadi topik yang sering saya dengar dalam berbagai pertemuan guru.

Ketika pemerintah mengangkat ratusan ribu guru PPPK, banyak sekolah merasa bersyukur.

Akhirnya kebutuhan guru mulai terpenuhi.

Namun muncul persoalan baru.

Jam mengajar yang tersedia harus dibagi kepada lebih banyak guru.

Akibatnya, tidak sedikit guru yang kesulitan memenuhi syarat minimal 24 jam tatap muka.

Saya pernah bertemu seorang guru yang harus mengajar di dua bahkan tiga sekolah berbeda hanya demi memenuhi kewajiban tersebut.

Pagi mengajar di sekolah induk.

Siang berpindah ke sekolah lain.

Sore masih harus menyelesaikan administrasi pembelajaran.

Belum lagi perjalanan yang melelahkan.

Ketika sampai di rumah, tenaga sudah hampir habis.

Padahal guru juga manusia.

Guru punya keluarga.

Guru punya anak.

Guru punya orang tua yang harus diperhatikan.

Dalam kondisi seperti itu, banyak guru bertanya:

"Mengapa tunjangan profesi harus dikaitkan dengan angka 24 jam?"

Pertanyaan ini memang sering muncul.

Terlebih di era digital saat ini, tugas guru tidak hanya mengajar di kelas.

Guru menyiapkan materi.

Guru membuat media pembelajaran.

Guru membimbing proyek siswa.

Guru melakukan asesmen.

Guru mengikuti pelatihan.

Guru mengembangkan kompetensi.

Bahkan banyak guru yang aktif menulis dan berbagi praktik baik kepada sesama guru.

Semua itu membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.

Guru Bukan Pemburu Jam

Sebagai guru, saya percaya bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah mengejar angka.

Bukan mengejar jumlah jam.

Bukan mengejar administrasi.

Bukan pula mengejar laporan semata.

Tujuan utama pendidikan adalah membantu peserta didik tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.

Karena itu, kebijakan apa pun hendaknya berorientasi pada kualitas pembelajaran.

Jika syarat 24 jam memang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, tentu perlu dikaji ulang secara komprehensif.

Namun jika tetap dipertahankan, pemerintah juga perlu memastikan distribusi guru dan distribusi jam mengajar berjalan lebih adil.

Yang paling penting adalah jangan sampai guru sibuk berburu jam hingga kehilangan fokus mendidik anak-anak.

Peran PGRI dalam Memperjuangkan Aspirasi Guru

Sebagai organisasi profesi terbesar di Indonesia, PGRI memiliki tugas besar untuk menyuarakan aspirasi anggotanya.

Tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks.

Tidak cukup hanya berdiskusi di grup WhatsApp.

Diperlukan komunikasi yang baik antara organisasi profesi, pemerintah, DPR, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian PAN-RB, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Perjuangan guru harus dilakukan dengan data yang kuat, kajian yang matang, dan dialog yang konstruktif.

Saya yakin suara guru akan lebih didengar jika disampaikan secara terorganisasi dan berbasis fakta.

Penutup

Ketika saya selesai membaca diskusi pagi itu, hati saya teringat kepada jutaan guru di seluruh Indonesia.

Mereka datang ke sekolah sebelum matahari tinggi.

Mereka mengajar dengan penuh kesabaran.

Mereka mendidik anak-anak bangsa dengan segala keterbatasan yang ada.

Di balik senyum mereka, terkadang tersimpan kegelisahan yang tidak terlihat.

Kegelisahan tentang rombel yang terlalu padat.

Kegelisahan tentang jam mengajar yang sulit dipenuhi.

Kegelisahan tentang kesejahteraan yang masih harus diperjuangkan.

Namun saya percaya, selama guru terus bersuara dengan santun, selama organisasi profesi terus memperjuangkan aspirasi anggotanya, dan selama pemerintah membuka ruang dialog yang sehat, maka jalan menuju pendidikan yang lebih baik akan selalu ada.

Karena sejatinya, ketika kita memperjuangkan nasib guru, kita sedang memperjuangkan masa depan anak-anak Indonesia.

Dan masa depan bangsa ini selalu dimulai dari ruang kelas tempat seorang guru mengajar dengan hati.

Salam Literasi. Salam Pendidikan. Tetap Semangat dan Terus Menginspirasi.
Barakallah fiikum.

Ikhlas Ketika Hanya Allah yang Menjadi Tujuan


IKHLAS: KETIKA HANYA ALLAH YANG MENJADI TUJUAN

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, kereta LRT Jabodebek melaju perlahan meninggalkan Stasiun Jatibening Baru menuju Dukuh Atas. Di balik jendela kereta yang sedikit berembun karena udara pagi, saya memandang gedung-gedung tinggi yang mulai ramai oleh aktivitas manusia.

Semua orang tampak sibuk.

Ada yang berangkat bekerja mengejar target.

Ada yang berdagang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada yang belajar untuk meraih cita-cita.

Ada pula yang beribadah dan melakukan banyak amal kebaikan.

Namun tiba-tiba saya bertanya pada diri sendiri.

"Untuk siapa sebenarnya semua yang kita lakukan?"

Pertanyaan sederhana itu terus berputar dalam kepala saya.

Mungkin karena pagi itu saya membaca sebuah pesan yang sangat menyentuh tentang ikhlas.

"Ikhlas adalah beramal hanya karena Allah, bukan karena ingin dipuji, digaji, atau ingin disebut alim."

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa menampar hati.

Saya terdiam.

Sebab jika jujur, tidak mudah menjaga hati agar tetap ikhlas.

Bahkan setelah lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru, saya masih terus belajar tentang keikhlasan.

Ketika Menjadi Guru Tidak Selalu Mendapat Tepuk Tangan

Sejak tahun 1994 saya mengajar di SMP Labschool Jakarta.

Ribuan siswa telah datang dan pergi.

Sebagian masih mengingat saya.

Sebagian lagi mungkin sudah lupa.

Dulu ketika masih muda, saya sering merasa senang jika mendapat pujian.

Senang ketika tulisan saya dibaca banyak orang.

Senang ketika siswa menyukai pelajaran yang saya ajarkan.

Senang ketika nama saya disebut dalam sebuah acara.

Perasaan itu manusiawi.

Namun semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa pujian manusia tidak akan pernah cukup.

Hari ini dipuji.

Besok bisa dicaci.

Hari ini dianggap hebat.

Besok bisa dilupakan.

Saya pernah menulis artikel yang dibaca puluhan ribu orang.

Komentarnya banyak.

Pesan masuk berdatangan.

Saya merasa bahagia.

Namun beberapa hari kemudian, artikel lain yang saya tulis hanya dibaca sedikit orang.

Saat itulah saya belajar.

Jika menulis hanya karena ingin dipuji manusia, maka kebahagiaan kita akan bergantung pada penilaian manusia.

Padahal manusia mudah berubah.

Karena itu saya mencoba mengubah niat.

Menulis karena Allah.

Mengajar karena Allah.

Berbagi ilmu karena Allah.

Bukan karena ingin terkenal.

Bukan karena ingin dipuji.

Bukan pula karena ingin dianggap paling pintar.

Pelajaran Keikhlasan Saat Sakit

Tahun 2025 dan 2026 menjadi masa yang berat dalam hidup saya.

Diabetes menyerang.

Hipertensi datang silih berganti.

Vertigo membuat tubuh kehilangan keseimbangan.

Saya beberapa kali keluar masuk rumah sakit.

Ada saat-saat ketika tubuh terasa lemah.

Ada saat-saat ketika saya bertanya dalam hati.

"Ya Allah, mengapa Engkau memberi ujian ini?"

Namun justru di ruang perawatan rumah sakit saya menemukan pelajaran besar tentang ikhlas.

Saya melihat pasien lain yang kondisinya jauh lebih berat.

Ada yang tidak bisa berjalan.

Ada yang tidak bisa berbicara.

Ada yang harus bergantung pada alat bantu.

Mereka tetap tersenyum.

Mereka tetap bersyukur.

Mereka tetap berdoa.

Saat itulah saya sadar.

Ternyata selama ini saya terlalu sibuk menghitung apa yang sudah saya lakukan.

Padahal Allah tidak meminta kita menghitung amal.

Allah meminta kita memperbaiki niat.

Keikhlasan sering kali lahir ketika manusia tidak lagi mampu mengandalkan dirinya sendiri.

Saat sakit, jabatan tidak berguna.

Popularitas tidak berguna.

Uang tidak selalu bisa menyembuhkan.

Yang tersisa hanyalah hubungan kita dengan Allah.

Amal yang Besar Bisa Menjadi Tidak Bernilai

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ada tiga golongan manusia yang pertama kali dilempar ke neraka.

Orang yang mati syahid tetapi ingin disebut pemberani.

Orang yang belajar Al-Qur'an agar disebut qari.

Dan orang yang bersedekah agar disebut dermawan.

Setiap kali membaca hadis itu, hati saya bergetar.

Karena ternyata yang menentukan nilai amal bukan hanya apa yang kita lakukan.

Tetapi mengapa kita melakukannya.

Banyak orang terlihat hebat di hadapan manusia.

Namun belum tentu hebat di hadapan Allah.

Sebaliknya, banyak orang yang tidak dikenal manusia tetapi sangat mulia di sisi Allah.

Mungkin seorang ibu yang setiap malam mendoakan anak-anaknya.

Mungkin seorang guru yang mengajar dengan penuh cinta meski gajinya tidak besar.

Mungkin seorang ayah yang bekerja keras tanpa pernah mengeluh.

Mungkin seorang petugas kebersihan yang menjaga lingkungan tetap bersih.

Mereka tidak terkenal.

Tidak viral.

Tidak masuk berita.

Tetapi Allah mengetahui setiap tetes keringat mereka.

Dan itu sudah cukup.

Air Mata yang Mengajarkan Keikhlasan

Suatu malam saya melihat cucu saya tertidur pulas.

Wajahnya begitu damai.

Saya teringat perjalanan hidup yang telah saya lalui.

Dari mahasiswa IKIP Jakarta yang sederhana.

Menjadi guru.

Menjadi penulis.

Menjadi blogger.

Menjadi doktor.

Menjadi kakek.

Begitu banyak perjalanan yang Allah izinkan saya lalui.

Namun ketika semua gelar dan pencapaian itu saya renungkan, saya sadar bahwa tidak ada satu pun yang bisa saya banggakan di hadapan Allah.

Semuanya adalah pemberian-Nya.

Saya hanya penerima amanah.

Saat itulah tanpa terasa air mata menetes.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena merasa betapa banyak nikmat yang Allah berikan meskipun saya sering lalai.

Betapa banyak kesempatan yang Allah berikan meskipun saya masih penuh kekurangan.

Ikhlas Adalah Rahasia Kebahagiaan

Semakin saya belajar tentang kehidupan, semakin saya yakin bahwa ikhlas adalah rahasia kebahagiaan.

Orang yang ikhlas tidak mudah kecewa.

Karena ia tidak menggantungkan harapannya kepada manusia.

Orang yang ikhlas tidak mudah marah.

Karena ia yakin Allah melihat segala usahanya.

Orang yang ikhlas tidak sibuk mencari pengakuan.

Karena ia tahu bahwa penilaian Allah jauh lebih penting daripada tepuk tangan manusia.

Hari ini mungkin kita mengajar tanpa dihargai.

Menulis tanpa dibaca.

Berbuat baik tanpa dipuji.

Membantu tanpa disebut.

Namun yakinlah.

Tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di sisi Allah.

Mungkin manusia lupa.

Mungkin manusia tidak tahu.

Tetapi Allah Maha Mengetahui.

Karena itu teruslah berbuat baik.

Teruslah menebar manfaat.

Teruslah menulis.

Teruslah mengajar.

Teruslah membantu sesama.

Dan ketika melakukannya, bisikkan dalam hati:

"Ya Allah, aku lakukan semua ini hanya karena-Mu."

Sebab pada akhirnya yang kita bawa pulang bukanlah pujian manusia.

Bukan jabatan.

Bukan gelar.

Bukan pula popularitas.

Yang akan menemani kita di alam kubur hanyalah amal yang dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Semoga Allah membersihkan niat kita, menerima amal kita, dan menjadikan setiap langkah hidup kita bernilai ibadah di sisi-Nya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. :::

Semoga artikel ini dapat menjadi bahan renungan pagi yang menyentuh hati pembaca dan mengingatkan kita bahwa keikhlasan adalah rahasia amal yang diterima Allah SWT.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Bagaimana Cara Mendapatkan Uang Dari Menulis?

Membangun Penghasilan Menulis dari Nol hingga Ratusan Juta Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia

Di era digital seperti sekarang, menulis bukan lagi sekadar hobi pengisi waktu luang. Menulis telah berubah menjadi jalan rezeki yang mampu menghasilkan jutaan bahkan ratusan juta rupiah. Banyak orang bermimpi menjadi penulis sukses, tetapi tidak sedikit yang menyerah sebelum memulai. Mereka merasa tidak berbakat, tidak punya koneksi, atau takut tulisannya tidak dibaca orang.

Namun kisah Dr. Wijaya Kusumah atau yang akrab disapa Omjay membuktikan bahwa semua orang bisa membangun penghasilan dari menulis, asalkan mau belajar, konsisten, dan tidak mudah menyerah.

Omjay bukan lahir sebagai penulis terkenal. Beliau memulai semuanya dari nol. Seorang guru biasa yang memiliki semangat luar biasa dalam berbagi ilmu melalui tulisan. Dari blog sederhana, media sosial, hingga buku, Omjay terus menulis tanpa lelah. Perlahan tetapi pasti, tulisan-tulisannya dikenal banyak orang. Dari situlah pintu rezeki mulai terbuka.

Menulis Dimulai dari Keberanian

Banyak orang gagal menjadi penulis bukan karena tidak mampu menulis, tetapi karena takut memulai. Takut salah. Takut dikritik. Takut dianggap tidak pintar.

Omjay pernah mengatakan bahwa penulis hebat bukanlah orang yang langsung pandai menulis, melainkan orang yang terus menulis meski tulisannya belum sempurna.

Awalnya, tulisan Omjay mungkin dibaca hanya oleh beberapa orang. Namun beliau tidak berhenti. Setiap hari beliau belajar memperbaiki gaya bahasa, memperkaya wawasan, dan memahami kebutuhan pembaca. Dari sinilah terbentuk jam terbang menulis yang luar biasa.

Menulis itu seperti menanam pohon. Hari pertama belum terlihat hasilnya. Minggu pertama belum menghasilkan apa-apa. Tetapi jika dirawat dengan konsisten, suatu hari akan tumbuh besar dan berbuah lebat.

Blog Menjadi Ladang Rezeki

Saat banyak orang hanya menggunakan internet untuk hiburan, Omjay justru memanfaatkannya untuk berkarya. Blog menjadi rumah bagi ide-idenya. Dari pengalaman mengajar, motivasi pendidikan, teknologi, hingga kisah inspiratif, semua ditulis dengan hati.

Lama-kelamaan blog tersebut memiliki banyak pembaca. Ketika pembaca bertambah, peluang penghasilan pun mulai datang. Ada tawaran menjadi narasumber, pelatihan menulis, kerja sama media, hingga penerbitan buku.

Inilah yang sering tidak dipahami banyak orang. Penghasilan besar dari menulis tidak datang secara instan. Penghasilan itu lahir dari kepercayaan. Dan kepercayaan dibangun melalui konsistensi karya.

Seseorang yang terus menulis akan dikenal sebagai ahli di bidangnya. Ketika sudah dipercaya, maka peluang ekonomi akan mengikuti.

Menulis Buku Membuka Banyak Jalan

Salah satu sumber penghasilan terbesar seorang penulis adalah buku. Omjay membuktikan bahwa guru pun bisa menghasilkan banyak karya buku.

Buku bukan hanya menghasilkan royalti. Buku juga meningkatkan reputasi. Ketika seseorang memiliki buku, ia lebih mudah dipercaya sebagai pembicara, trainer, atau mentor.

Banyak guru akhirnya mengundang Omjay untuk berbagi ilmu menulis. Dari seminar, workshop, kelas online, hingga pelatihan nasional, semuanya menjadi sumber penghasilan tambahan yang sangat besar.

Menariknya, Omjay tidak hanya memikirkan dirinya sendiri. Beliau membantu banyak guru Indonesia agar berani menulis dan menerbitkan buku. Ribuan guru akhirnya memiliki karya karena terinspirasi oleh perjuangan beliau.

Media Sosial sebagai Mesin Personal Branding

Di zaman sekarang, penulis tidak cukup hanya pandai menulis. Penulis juga harus mampu membangun personal branding.

Omjay aktif membagikan tulisan motivasi, pengalaman hidup, kegiatan pendidikan, dan semangat literasi melalui berbagai media sosial. Dari sinilah banyak orang mengenal beliau sebagai “Guru Blogger Indonesia”.

Personal branding yang kuat membuat peluang datang tanpa dicari. Banyak lembaga pendidikan, komunitas, dan instansi akhirnya mengundang Omjay sebagai pembicara.

Penghasilan besar sering kali lahir bukan hanya dari tulisan itu sendiri, tetapi dari dampak tulisan tersebut terhadap orang lain.

Konsistensi adalah Rahasia Utama

Banyak orang ingin cepat terkenal. Baru menulis dua atau tiga artikel sudah berharap viral. Ketika tidak ada hasil, mereka berhenti.

Omjay mengajarkan bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada bakat.

Menulis satu halaman setiap hari selama setahun akan menghasilkan ratusan halaman tulisan. Menulis satu artikel setiap hari akan membangun ribuan pembaca. Sedikit demi sedikit, tulisan itu akan menjadi aset digital yang terus menghasilkan.

Hari ini mungkin tulisan kita dibaca sepuluh orang. Besok bisa seratus orang. Tahun depan mungkin puluhan ribu orang.

Tidak ada kesuksesan besar tanpa proses panjang.

Penghasilan Menulis Bisa Sangat Besar

Banyak orang meremehkan profesi penulis. Padahal dunia literasi memiliki potensi ekonomi luar biasa.

Penghasilan penulis bisa berasal dari:

Royalti buku

Honor artikel

Blog monetisasi

Seminar dan pelatihan

Kelas online

Menjadi pembicara

Endorsement pendidikan

Konsultasi

Affiliate digital

Penjualan ebook

Ketika semua sumber ini digabungkan, bukan tidak mungkin penghasilan mencapai ratusan juta rupiah.

Namun semua itu tidak datang dalam semalam. Dibutuhkan ketekunan bertahun-tahun seperti yang dilakukan Omjay.

Menulis dengan Hati

Salah satu kekuatan tulisan Omjay adalah ketulusan. Beliau menulis bukan sekadar mencari uang, tetapi ingin berbagi manfaat.

Tulisan yang lahir dari hati akan lebih mudah menyentuh pembaca. Orang bisa merasakan kejujuran dalam setiap kalimat.

Karena itu, jangan hanya mengejar viral atau uang. Fokuslah memberi manfaat. Ketika tulisan kita membantu banyak orang, rezeki biasanya datang mengikuti.

Guru Harus Berani Menulis

Omjay sering mengingatkan bahwa guru adalah gudang pengalaman. Setiap hari guru memiliki cerita inspiratif di kelas. Sayangnya, banyak pengalaman berharga hilang karena tidak ditulis.

Padahal pengalaman seorang guru bisa menjadi artikel, buku, modul, atau materi pelatihan yang bernilai ekonomi tinggi.

Jika setiap guru mau menulis satu halaman setiap hari, maka Indonesia akan dipenuhi karya luar biasa.

Penutup

Perjalanan Dr. Wijaya Kusumah membangun penghasilan dari menulis membuktikan bahwa kesuksesan tidak selalu dimulai dari modal besar. Kadang cukup dimulai dari keberanian menulis satu paragraf setiap hari.

Menulis bukan hanya menghasilkan uang, tetapi juga meninggalkan jejak kebaikan. Tulisan mampu menginspirasi, mengubah hidup orang lain, dan membuka pintu rezeki yang tidak pernah disangka.

Jangan menunggu sempurna untuk mulai menulis. Mulailah sekarang. Karena siapa tahu, tulisan sederhana hari ini akan menjadi jalan menuju kesuksesan besar di masa depan.

Salam nlogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 10 Juni 2026

Sahabat yang Pergi dan Kenangan yang Tak Pernah Mati


Sahabat yang Pergi, Kenangan yang Tak Pernah Mati

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali saya pandangi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Warnanya memang sudah memudar dimakan usia. Beberapa bagian bahkan terlihat buram. Namun kenangan di dalamnya justru semakin jelas terlihat dalam hati saya.

Foto itu diambil saat kami masih menjadi mahasiswa Jurusan Elektro Elektronika FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990. Saat itu kami masih muda. Wajah-wajah penuh harapan. Senyum yang mengembang tanpa beban. Kami berdiri dan duduk berdesakan sambil memamerkan piala kemenangan yang berhasil diraih.

Tidak ada yang menyangka bahwa waktu akan bergerak begitu cepat.

Tiga puluh enam tahun berlalu seperti kedipan mata.

Sebagian dari kami sudah menjadi guru, dosen, pengusaha, pegawai negeri, dan pensiunan. Sebagian telah menjadi kakek dan nenek. Sebagian lagi masih aktif berkarya untuk bangsa.

Namun ada dua sahabat yang kini hanya tinggal nama dan kenangan.

Iis Nurhayati.

Hasyim Subarna.

Awedyo Utomo.

Mereka telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.

Setiap kali melihat foto ini, hati saya selalu bergetar. Di antara tawa dan canda yang membeku dalam gambar tersebut, ada cerita persahabatan yang tak akan pernah bisa saya lupakan.

Ketika Kami Masih Muda

Tahun 1990 adalah masa yang indah.

Kami datang dari berbagai daerah dengan membawa mimpi yang sama. Menjadi guru teknik yang mampu mencerdaskan anak bangsa.

Kampus IKIP Jakarta menjadi rumah kedua kami.

Di ruang kuliah yang sederhana kami belajar elektronika, listrik, mesin, pendidikan, dan kehidupan.

Kami sering mengerjakan tugas hingga larut malam.

Kadang uang di kantong tinggal beberapa lembar ribuan.

Kadang harus menahan lapar demi membeli buku.

Kadang harus menumpang tidur di kamar teman karena kehabisan ongkos pulang.

Namun justru di situlah letak kebahagiaan kami.

Karena kami menjalaninya bersama.

Saya masih ingat bagaimana kami bercanda di kantin kampus.

Saya masih ingat bagaimana kami saling meminjam catatan menjelang ujian.

Saya masih ingat bagaimana kami berjuang menyelesaikan praktikum yang terasa begitu sulit.

Dan saya masih ingat suara tawa Iis Nurhayati yang selalu membuat suasana menjadi hangat.

Saya juga masih ingat sosok Hasyim Subarna yang penuh semangat dan mudah bergaul dengan siapa saja.

Hari-hari itu terasa begitu dekat.

Padahal sudah puluhan tahun berlalu.

Waktu Mengajarkan Banyak Hal

Ketika masih mahasiswa, kami sering berbicara tentang masa depan.

Kami membayangkan akan bertemu kembali saat sudah sukses.

Kami berjanji akan terus menjaga silaturahmi.

Namun waktu ternyata memiliki jalannya sendiri.

Satu per satu sahabat sibuk dengan kehidupan masing-masing.

Ada yang mengajar di sekolah.

Ada yang membangun keluarga.

Ada yang merantau ke kota lain.

Ada yang jarang terdengar kabarnya.

Meski begitu, setiap kali bertemu kembali, rasanya seperti tidak pernah berpisah.

Persahabatan sejati memang seperti itu.

Ia tidak membutuhkan pertemuan setiap hari.

Ia hidup dalam hati.

Dan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.

Kabar yang Membuat Hati Terdiam

Saya masih ingat perasaan ketika mendengar kabar bahwa Iis Nurhayati telah meninggal dunia.

Sejenak saya terdiam.

Tidak percaya.

Rasanya baru kemarin kami tertawa bersama di kampus.

Baru kemarin kami berdiskusi tentang tugas kuliah.

Baru kemarin kami berfoto bersama seperti dalam gambar itu.

Namun ternyata waktu tidak bisa diajak bernegosiasi.

Kematian datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.

Beberapa waktu kemudian, kabar duka kembali datang.

Hasyim Subarna juga berpulang.

Sekali lagi hati saya seperti kehilangan sebagian dari masa muda saya.

Sahabat yang dulu duduk bersama di bangku kuliah kini telah pergi untuk selamanya.

Yang tersisa hanyalah foto-foto lama, kenangan, dan doa.

Foto yang Menyimpan Ribuan Cerita

Banyak orang menganggap foto hanyalah gambar.

Namun bagi saya, foto adalah mesin waktu.

Ketika saya memandang foto ini, saya tidak hanya melihat wajah-wajah lama.

Saya melihat perjuangan.

Saya melihat mimpi.

Saya melihat persahabatan.

Saya melihat cinta.

Saya melihat pengorbanan.

Dan saya melihat betapa berharganya setiap detik kehidupan.

Di foto ini tidak ada yang memikirkan penyakit.

Tidak ada yang memikirkan kematian.

Tidak ada yang memikirkan usia tua.

Kami hanya sekumpulan anak muda yang sedang menikmati hidup dan mengejar cita-cita.

Namun kini sebagian rambut telah memutih.

Sebagian tubuh mulai melemah.

Sebagian sahabat bahkan sudah lebih dahulu meninggalkan dunia.

Foto ini mengajarkan kepada saya bahwa hidup sesungguhnya sangat singkat.

Terlalu singkat untuk saling membenci.

Terlalu singkat untuk saling menyakiti.

Terlalu singkat untuk memutus tali persahabatan.

Untuk Iis dan Hasyim

Sahabatku Iis Nurhayati.

Sahabatku Hasyim Subarna.

Mungkin jasad kalian telah lama beristirahat di alam keabadian.

Namun kenangan tentang kalian masih hidup di hati kami.

Kalian tetap hadir dalam setiap reuni.

Kalian tetap hadir dalam setiap cerita yang kami kenang bersama.

Kalian tetap hadir ketika kami membuka album foto lama.

Kalian tetap hadir dalam doa-doa yang kami panjatkan.

Hari ini, saat saya menulis kisah ini, air mata saya jatuh perlahan.

Bukan karena saya tidak ikhlas.

Tetapi karena saya merindukan kalian.

Merindukan masa-masa ketika hidup terasa begitu sederhana.

Merindukan tawa yang pernah memenuhi lorong-lorong kampus IKIP Jakarta.

Merindukan persahabatan yang tumbuh tanpa kepentingan.

Selamat Jalan Sahabatku

Kini saya memahami satu hal penting.

Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan orang yang kita cintai.

Selama namanya masih disebut dalam doa.

Selama kebaikannya masih dikenang.

Selama kenangannya masih hidup di hati.

Maka ia sesungguhnya tidak pernah pergi.

Untuk sahabat-sahabat FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990, mari kita jaga silaturahmi yang masih tersisa.

Mari kita saling mendoakan.

Mari kita saling menguatkan.

Karena suatu hari nanti, foto-foto yang kita ambil hari ini juga akan menjadi kenangan bagi generasi berikutnya.

Dan ketika saat itu tiba, semoga mereka berkata:

"Mereka adalah sahabat-sahabat yang saling mencintai karena Allah, saling mendukung dalam perjuangan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak pernah hilang ditelan waktu."

Selamat jalan, Iis Nurhayati.

Selamat jalan, Hasyim Subarna.

Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.

Namamu akan selalu hidup dalam kenangan, dan doa kami akan selalu mengiringimu.

Al-Fatihah untuk kedua sahabat tercinta. 🤲🏻💐

"Persahabatan sejati tidak berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Ia hanya berpindah tempat, dari hadapan mata menuju kedalaman hati." ❤️

Closing Ceremony KBMN PGRI

Jangan Lewatkan! Closing Ceremony KBMN PGRI Gelombang 34: Merayakan Perjalanan Menulis yang Mengubah Hidup

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Ada banyak pelatihan yang pernah kita ikuti. Ada banyak webinar yang pernah kita hadiri. Namun, hanya sedikit kegiatan yang benar-benar meninggalkan jejak mendalam dalam perjalanan hidup seseorang.

Salah satunya adalah Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI Gelombang 34.

Setelah berbulan-bulan belajar bersama, menulis bersama, saling menguatkan, dan saling menginspirasi, kini saatnya kita berkumpul kembali dalam sebuah acara yang penuh makna, yaitu Closing Ceremony KBMN PGRI Gelombang 34 yang akan dilaksanakan pada:

📅 Sabtu, 13 Juni 2026
🕖 Pukul 19.00 – 21.00 WIB
💻 Daring melalui Zoom Meeting (link akan dibagikan kemudian) 

Acara ini didukung oleh IGTIK PGRI, KOGTIK, KSGN, dan Penerbit Andi Yogyakarta sebagai bentuk komitmen bersama dalam membangun budaya literasi di Indonesia. 

Mengapa Anda Harus Hadir?

Banyak orang mengira bahwa acara penutupan hanyalah seremoni biasa. Padahal, bagi saya, acara penutupan justru merupakan puncak dari sebuah perjalanan.

Di sinilah kita akan melihat bagaimana peserta yang awalnya ragu menulis kini mampu menerbitkan tulisan di blog, membuat resume berkualitas, bahkan mulai menulis buku.

Saya masih ingat ketika KBMN pertama kali dimulai. Ada peserta yang mengaku tidak pernah menulis satu artikel pun. Ada yang merasa dirinya tidak berbakat menulis. Ada pula yang berkata bahwa usia sudah tidak muda lagi sehingga sulit belajar teknologi.

Namun perlahan-lahan mereka berubah.

Mereka belajar menulis setiap malam.

Mereka membaca resume peserta lain.

Mereka berlatih menuangkan gagasan.

Mereka belajar mengalahkan rasa takut.

Dan kini mereka siap menunjukkan hasil perjuangannya.

Bukankah itu luar biasa?

Menyaksikan Kisah Inspiratif Para Peserta

Salah satu bagian paling menarik dalam Closing Ceremony nanti adalah sesi penampilan dan testimoni peserta KBMN Gelombang 34. 

Dalam sesi tersebut akan ditampilkan:

🎤 Puisi oleh Emmi Suhaimi
🎭 Pantun oleh Sa'diyah
📖 Dongeng oleh Aan
🎵 Penampilan lagu oleh Neng Galih
❤️ Testimoni seluruh peserta KBMN 34 

Saya yakin banyak kisah mengharukan yang akan dibagikan.

Mungkin ada guru dari daerah terpencil yang kini percaya diri menulis.

Mungkin ada peserta yang berhasil membuat blog pertamanya.

Mungkin ada yang akhirnya berani menerbitkan buku setelah mengikuti KBMN.

Semua kisah itu layak didengar.

Semua kisah itu layak diapresiasi.

Karena setiap tulisan lahir dari perjuangan.

Bertemu Tokoh-Tokoh Hebat Dunia Pendidikan

Acara ini juga menghadirkan tokoh-tokoh yang selama ini menjadi inspirasi para guru Indonesia. 

Di antaranya:

Dr. Sumardiansyah Perdana Kusuma sebagai Keynote Speaker

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) sebagai Founder KBMN

Muliadi, M.Pd. selaku Ketua Panitia KBMN Gelombang 34

Dra. Sri Sugiastuti, M.Pd. (Bunda Kanjeng)

Aam Nurhasanah, S.Pd.

Widya Setianingsih, S.Ag. 


Bagi peserta, ini adalah kesempatan berharga untuk mendengarkan pengalaman mereka secara langsung.

Sering kali satu kalimat inspiratif mampu mengubah arah hidup seseorang.

KBMN Bukan Sekadar Kelas Menulis

Sebagai Founder KBMN, saya selalu mengatakan bahwa KBMN bukan hanya tempat belajar menulis.

KBMN adalah rumah kedua bagi para pegiat literasi.

Di sini kita belajar:

✅ Menulis dengan hati
✅ Menulis dengan konsisten
✅ Menulis untuk berbagi manfaat
✅ Menulis untuk membangun reputasi
✅ Menulis untuk meninggalkan jejak kebaikan

Di era kecerdasan buatan saat ini, kemampuan menulis justru semakin penting.

AI dapat membantu kita menyusun kalimat.

AI dapat membantu mencari referensi.

Namun pengalaman hidup, ketulusan hati, dan nilai kemanusiaan dalam tulisan tetap berasal dari penulisnya.

Karena itulah KBMN hadir.

Kami ingin melahirkan penulis-penulis yang bukan hanya pandai merangkai kata, tetapi juga mampu menginspirasi banyak orang.

Momentum yang Tidak Akan Terulang

Setiap gelombang KBMN memiliki cerita uniknya sendiri.

Gelombang 34 akan dikenang sebagai angkatan yang penuh semangat, kreatif, dan kompak.

Para peserta saling membantu.

Para moderator bekerja dengan penuh dedikasi.

Panitia bekerja tanpa lelah.

Semua demi satu tujuan: meningkatkan budaya literasi bangsa. 

Karena itu, Closing Ceremony bukan sekadar acara penutupan.

Ini adalah momen untuk mengenang perjuangan bersama.

Momen untuk mengucapkan terima kasih kepada para narasumber, moderator, panitia, dan seluruh peserta.

Momen untuk merayakan keberhasilan kecil yang kelak akan menjadi keberhasilan besar.

Mari Hadir dan Menjadi Bagian Sejarah

Saya mengajak seluruh peserta KBMN Gelombang 34, alumni KBMN, guru, dosen, mahasiswa, pegiat literasi, dan sahabat pendidikan Indonesia untuk hadir bersama.

Mari kita ramaikan acara ini.

Mari kita tunjukkan bahwa budaya menulis masih hidup.

Mari kita buktikan bahwa guru Indonesia adalah pembelajar sepanjang hayat.

Jangan hanya menjadi penonton kesuksesan orang lain.

Datanglah dan jadilah bagian dari sejarah perjalanan literasi Indonesia.

Catat tanggalnya!

📅 Sabtu, 13 Juni 2026
🕖 Pukul 19.00 – 21.00 WIB
💻 Zoom Meeting (link menyusul) 

Sampai jumpa di Closing Ceremony KBMN PGRI Gelombang 34.

Karena setiap tulisan yang kita buat hari ini, bisa menjadi cahaya yang menerangi kehidupan banyak orang di masa depan. ✍️📚🇮🇩

Salam Literasi,
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kisah omjay: Ketika Syukur dan Impian Bertemu

KETIKA SYUKUR DAN IMPIAN BERTEMU

Kisah Omjay Menemukan Bahagia di Tengah Ujian Hidup

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Pagi itu kereta LRT Jabodebek melaju perlahan menuju Dukuh Atas. Dari balik jendela kereta, Omjay memandangi langit Jakarta yang mulai terang. Orang-orang duduk sibuk dengan pikirannya masing-masing. Ada yang menatap layar ponsel, ada yang terkantuk-kantuk, dan ada pula yang menatap kosong ke luar jendela.

Di tengah perjalanan itu, Omjay merenung tentang sebuah kalimat sederhana yang sangat dalam maknanya.

"Ketika kita fokus pada rasa syukur, gelombang kekecewaan akan padam dan gelombang cinta masuk. Maka bahagia akan terus menemani Anda."

Kalimat itu terasa begitu dekat dengan perjalanan hidup Omjay beberapa bulan terakhir.

Jujur saja, ketika dokter melarang Omjay mengendarai mobil pribadi karena kondisi kesehatan yang belum pulih sepenuhnya, hati ini sempat kecewa. Selama bertahun-tahun Omjay terbiasa membawa mobil sendiri ke sekolah, ke seminar, ke workshop, dan ke berbagai kegiatan literasi.

Tiba-tiba semua berubah.

Omjay harus naik transportasi umum.

Awalnya terasa berat.

Ada rasa kehilangan kenyamanan. Ada rasa sedih karena merasa tidak sebebas dulu lagi.

Namun Allah selalu punya cara menunjukkan nikmat-Nya dari arah yang tidak pernah kita duga.

Ketika mulai menjalani hari-hari dengan naik LRT, KRL, dan transportasi umum lainnya, Omjay menemukan kebahagiaan baru.

Omjay bisa duduk santai tanpa harus menghadapi kemacetan.

Omjay bisa membaca buku selama perjalanan.

Omjay bisa menulis artikel setiap pagi.

Omjay bisa mengamati kehidupan dari dekat.

Bahkan banyak ide tulisan lahir saat berada di dalam kereta.

Saat itulah Omjay menyadari bahwa rasa syukur mampu mengubah cara pandang seseorang terhadap hidup.

Masalah yang sama bisa terlihat berbeda ketika kita melihatnya dengan kacamata syukur.

Orang yang tidak bersyukur akan melihat apa yang hilang.

Sedangkan orang yang bersyukur akan melihat apa yang masih dimiliki.

Omjay teringat ketika beberapa bulan lalu harus dirawat di rumah sakit karena hipertensi, diabetes, dan gejala yang menyerupai stroke.

Saat itu tangan kanan sempat sulit digerakkan.

Mulut terasa kaku.

Kepala berputar hebat.

Di atas tempat tidur rumah sakit, Omjay hanya bisa berdoa sambil memandang langit-langit kamar.

Dalam kondisi seperti itu, Omjay baru benar-benar memahami bahwa sehat adalah nikmat yang luar biasa.

Selama sehat, sering kali manusia lupa bersyukur.

Kita baru menyadari mahalnya kesehatan ketika sedang sakit.

Kita baru menyadari berharganya keluarga ketika berada jauh dari mereka.

Kita baru memahami arti waktu ketika kesempatan mulai berkurang.

Karena itulah para sufi mengatakan:

"Jika syukur tidak ada dalam hatimu maka bahagia akan sirna dari dirimu."

Kalimat itu benar adanya.

Bahagia bukan soal banyaknya harta.

Bahagia bukan soal tingginya jabatan.

Bahagia bukan soal banyaknya pujian.

Bahagia adalah kemampuan melihat nikmat Allah yang masih ada di depan mata.

Bahagia adalah kemampuan mengucapkan "Alhamdulillah" dalam setiap keadaan.

---

Selain syukur, pagi itu Omjay juga merenungkan tentang kekuatan sebuah impian.

Banyak orang menganggap angan-angan hanyalah khayalan.

Padahal sering kali apa yang kita bayangkan dengan sungguh-sungguh berubah menjadi doa yang diam-diam naik ke langit.

Omjay menjadi saksi hidup tentang hal itu.

Ketika masih menjadi mahasiswa IKIP Jakarta, Omjay pernah membayangkan suatu hari bisa menjadi dosen, penulis, dan pembicara yang berbagi pengalaman kepada banyak orang.

Saat itu mimpi tersebut terasa sangat jauh.

Omjay hanyalah mahasiswa biasa yang harus berjuang keras menyelesaikan kuliah.

Namun mimpi itu tidak pernah padam.

Setiap hari Omjay terus belajar.

Terus mengajar.

Terus menulis.

Terus mencoba.

Tahun demi tahun berlalu.

Tanpa disadari, satu per satu mimpi itu mulai menjadi kenyataan.

Omjay berhasil menyelesaikan pendidikan doktor.

Omjay menulis puluhan buku.

Omjay menjadi pembicara di berbagai daerah.

Omjay dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia.

Apakah semua itu terjadi secara instan?

Tentu tidak.

Semuanya berawal dari sebuah impian.

Sebuah angan-angan yang terus dipelihara dengan doa dan kerja keras.

Karena itu Omjay sangat menyukai hadis yang berbunyi:

"Barangsiapa yang mengangankan sesuatu kepada Allah, maka perbanyaklah angan-angan tersebut karena ia sedang meminta kepada Allah Azza wa Jalla."

Betapa indahnya pesan itu.

Allah tidak pernah membatasi impian hamba-Nya.

Justru Allah menyukai hamba yang memiliki harapan besar kepada-Nya.

Hari ini Omjay masih memiliki banyak impian.

Ingin terus sehat.

Ingin terus menulis.

Ingin terus berbagi ilmu.

Ingin melihat anak dan cucu tumbuh menjadi pribadi yang membanggakan.

Ingin melihat semakin banyak guru Indonesia menjadi penulis.

Ingin melihat literasi tumbuh subur di negeri ini.

Semua itu masih Omjay simpan dalam hati dan terus Omjay doakan setiap hari.

Sebab Omjay percaya bahwa doa yang dipanjatkan dengan penuh keyakinan tidak akan pernah sia-sia.

Mungkin tidak datang hari ini.

Mungkin tidak datang besok.

Namun Allah selalu memiliki waktu terbaik untuk mengabulkannya.

---

Sahabatku, jika hari ini Anda sedang kecewa, cobalah menghitung kembali nikmat yang masih Anda miliki.

Jika hari ini Anda merasa gagal, cobalah mengingat kembali impian yang pernah membuat Anda bersemangat.

Jangan biarkan kekecewaan mengalahkan rasa syukur.

Jangan biarkan kenyataan hari ini membunuh impian masa depan.

Tetaplah bersyukur.

Tetaplah bermimpi.

Tetaplah berdoa.

Karena syukur akan menghadirkan kebahagiaan.

Dan impian yang disertai doa akan membuka jalan menuju keajaiban.

Sebagaimana yang Omjay alami dalam perjalanan hidup ini.

Dari seorang guru biasa yang terus menulis setiap hari, hingga akhirnya Allah mempertemukan Omjay dengan ribuan sahabat literasi di seluruh Indonesia.

Maka pagi ini mari kita berjanji kepada diri sendiri.

Tidak akan berhenti bersyukur.

Tidak akan berhenti bermimpi.

Tidak akan berhenti berharap kepada Allah.

Karena selama hati masih dipenuhi syukur dan harapan, selalu ada alasan untuk tersenyum dan melangkah maju.

Tetap semangat.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kisah Omjay Jadi Panitia Qurban di Kampus fptk ikip Jakarta

Dari Panitia Kurban Menjadi Guru Blogger Indonesia

Kisah Omjay Saat Menjadi Mahasiswa IKIP Jakarta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Foto lama itu kembali muncul di layar telepon genggam saya. Warnanya sudah memudar. Gambarnya tidak seterang foto zaman sekarang. Namun, nilainya jauh lebih berharga daripada ribuan foto digital yang tersimpan di memori ponsel.

Di dalam foto itu tampak sekelompok mahasiswa berdiri dan jongkok bersama di depan kampus tercinta, Fakultas Pendidikan Teknologi dan Kejuruan (FPTK) IKIP Jakarta. Kami adalah para mahasiswa yang sedang bertugas menjadi panitia kurban kampus.

Saat melihat foto itu, hati saya langsung terbang puluhan tahun ke belakang. Kembali ke masa ketika saya masih seorang mahasiswa sederhana yang penuh mimpi, semangat, dan harapan.

Kala itu, saya belum menyandang gelar doktor. Saya belum menjadi guru yang dikenal banyak orang. Saya juga belum menulis ribuan artikel seperti sekarang.

Saya hanyalah seorang mahasiswa biasa yang sedang belajar tentang kehidupan.

Belajar dari Sebuah Kepanitiaan

Menjadi panitia kurban di kampus bukanlah pekerjaan yang ringan.

Beberapa hari sebelum Iduladha, kami sudah sibuk rapat. Kami membagi tugas. Ada yang bertanggung jawab pada administrasi, konsumsi, dokumentasi, hingga pembagian daging kurban.

Sebagai mahasiswa, kami tidak mendapatkan bayaran.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih berharga daripada uang.

Kami mendapatkan pengalaman.

Saya masih ingat bagaimana kami bekerja sejak pagi hingga malam. Bahkan terkadang harus pulang larut karena memastikan semua persiapan berjalan lancar.

Tidak ada keluhan.

Tidak ada protes.

Tidak ada yang bertanya, "Saya dapat apa?"

Yang ada hanya semangat kebersamaan.

Kami percaya bahwa melayani adalah bagian dari proses belajar.

Hari ini saya baru menyadari bahwa pengalaman menjadi panitia kurban itulah yang diam-diam membentuk karakter saya sebagai guru.

Kampus yang Mengajarkan Kehidupan

Banyak orang berpikir bahwa kuliah hanya belajar teori.

Padahal kampus mengajarkan jauh lebih banyak daripada itu.

Di ruang kelas kami belajar tentang ilmu.

Namun di organisasi dan kepanitiaan kami belajar tentang kehidupan.

Kami belajar bekerja sama dengan orang yang berbeda karakter.

Kami belajar mengendalikan emosi.

Kami belajar memimpin dan dipimpin.

Kami belajar menghargai waktu.

Kami belajar bertanggung jawab.

Semua pelajaran itu tidak tertulis dalam buku teks.

Namun justru pelajaran itulah yang paling sering saya gunakan hingga hari ini.

Ketika menjadi guru di SMP Labschool Jakarta, saya merasakan manfaatnya.

Saat harus memimpin kegiatan sekolah, mengelola kelas, menyelenggarakan seminar nasional, hingga mendirikan komunitas menulis guru, pengalaman masa mahasiswa itu seperti hidup kembali.

Saya sadar bahwa Allah sedang menyiapkan saya jauh sebelum saya menjadi seperti sekarang.

Persahabatan yang Tidak Pernah Hilang

Salah satu hal yang paling saya rindukan dari masa mahasiswa adalah persahabatan.

Di foto itu ada banyak wajah sahabat yang pernah berjuang bersama.

Sebagian masih sering berkomunikasi.

Sebagian sudah lama tidak bertemu.

Bahkan mungkin ada yang kini tinggal di kota yang sangat jauh.

Namun kenangan itu tetap hidup.

Kami pernah makan bersama dari uang patungan.

Kami pernah berjalan kaki karena uang di kantong hampir habis.

Kami pernah tertawa bersama.

Kami juga pernah menghadapi berbagai kesulitan bersama.

Saat itu kami tidak memiliki banyak harta.

Namun kami kaya akan persahabatan.

Hari ini ketika usia sudah melewati setengah abad, saya semakin memahami bahwa sahabat sejati adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup.

Foto tua itu menjadi saksi bahwa kami pernah berjalan bersama dalam sebuah perjalanan panjang bernama kehidupan.

Kurban yang Mengajarkan Keikhlasan

Ada pelajaran lain yang saya dapatkan saat menjadi panitia kurban.

Pelajaran tentang keikhlasan.

Setiap tahun saya melihat orang-orang yang rela mengeluarkan sebagian hartanya untuk berkurban.

Mereka tidak mencari pujian.

Mereka tidak meminta penghargaan.

Mereka hanya berharap ridha Allah SWT.

Pemandangan itu sangat membekas di hati saya.

Saya belajar bahwa hidup yang bermakna bukanlah hidup yang hanya mengumpulkan sebanyak mungkin untuk diri sendiri.

Hidup yang bermakna adalah hidup yang memberi manfaat kepada orang lain.

Pelajaran itulah yang kemudian saya pegang ketika menjadi guru.

Saya ingin ilmu yang saya miliki bisa bermanfaat.

Saya ingin tulisan yang saya buat bisa menginspirasi.

Saya ingin pengalaman hidup saya bisa menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Karena sejatinya manusia terbaik adalah yang paling banyak manfaatnya bagi sesama.

Dari Mahasiswa Biasa Menjadi Guru yang Terus Belajar

Jika ada yang mengatakan kepada mahasiswa dalam foto itu bahwa suatu hari ia akan menjadi doktor, menulis buku, berbicara di berbagai seminar nasional, dan dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia, mungkin saya sendiri tidak akan percaya.

Saat itu saya hanya menjalani hidup hari demi hari.

Belajar.

Berorganisasi.

Beribadah.

Bersahabat.

Dan berusaha menjadi manusia yang lebih baik.

Namun ternyata setiap langkah kecil yang dilakukan dengan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita pada tujuan yang besar.

Hari ini saya sering bertemu mahasiswa yang merasa minder karena belum sukses.

Saya selalu mengatakan kepada mereka:

"Jangan terburu-buru membandingkan dirimu dengan orang lain. Fokuslah menjadi versi terbaik dirimu sendiri."

Karena kesuksesan tidak datang dalam semalam.

Kesuksesan dibangun dari ribuan langkah kecil yang sering kali tidak terlihat orang lain.

Seperti ketika dahulu saya menjadi panitia kurban kampus.

Tidak ada yang memotret perjuangan kami saat rapat hingga larut malam.

Tidak ada yang melihat lelah kami saat mempersiapkan acara.

Namun Allah melihat semuanya.

Dan setiap pengalaman itu menjadi batu bata yang membangun kehidupan saya hari ini.

Terima Kasih Kampusku

Melihat foto ini membuat hati saya dipenuhi rasa syukur.

Terima kasih kepada IKIP Jakarta yang kini menjadi Universitas Negeri Jakarta.

Terima kasih kepada para dosen yang telah membimbing kami.

Terima kasih kepada para sahabat seperjuangan.

Terima kasih kepada semua pengalaman yang pernah hadir dalam hidup saya.

Foto tua ini mengingatkan saya bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang seberapa cepat kita sampai.

Tetapi tentang bagaimana kita bertumbuh di sepanjang perjalanan.

Dan dari sekumpulan mahasiswa sederhana yang menjadi panitia kurban kampus itu, saya belajar satu hal yang tidak pernah berubah hingga hari ini:

Orang besar bukanlah mereka yang selalu berada di depan panggung. Orang besar adalah mereka yang dengan ikhlas mau bekerja di belakang layar demi keberhasilan banyak orang.

Alhamdulillah, saya pernah menjadi bagian dari mereka.

Dan kenangan itu akan selalu hidup di dalam hati saya, sepanjang hayat. ❤️

Bekasi, Juni 2026
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com