Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Rabu, 24 Juni 2026
inilah 4 buku karya omjay
Kenangan Omjay di Turki Ketika Ikut Hari Anak Dunia di Ankara Turki
Kekuatan Baja Tua dan Muda Mengawal Keutuhan PGRI
Kekuatan Baja Tua dan Baja Muda Mengawal Keutuhan PGRI
Di tengah berbagai dinamika yang terjadi dalam tubuh organisasi profesi guru, semangat persatuan dan solidaritas kembali ditegaskan oleh para pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari seluruh Indonesia. Berbagai pernyataan yang disampaikan para pengurus PGRI provinsi dan kabupaten/kota menunjukkan bahwa komitmen untuk menjaga keutuhan organisasi tetap menjadi prioritas utama.
Semangat itu tergambar dari berbagai pandangan yang muncul dalam diskusi para pengurus PGRI pada 24 Juni 2026. Mereka menegaskan bahwa PGRI harus tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan dan gangguan yang berpotensi memecah belah organisasi.
Prameswara R.R. menyampaikan harapannya agar seluruh langkah yang dilakukan organisasi dapat berjalan cepat dan tepat sasaran. Ia mengibaratkan perjuangan organisasi seperti perangko kilat yang harus sampai kepada tujuan dengan tepat waktu dan tepat arah. Menurutnya, seluruh jajaran Pengurus Besar PGRI hingga pengurus di daerah perlu terus mendapatkan kekuatan dan keberhasilan dalam mengawal tegaknya organisasi dari berbagai gangguan yang datang dari pihak mana pun.
Semangat yang sama juga disampaikan Mohamad Ali. Menurutnya, langkah yang paling penting saat ini adalah menyamakan persepsi antara Pengurus Besar PGRI dan seluruh pengurus provinsi. Kesamaan pandangan terhadap berbagai persoalan organisasi akan menjadi modal utama untuk menjaga kekompakan dan keselarasan langkah. Ia menegaskan bahwa di bawah komando Ketua Umum PB PGRI bersama seluruh jajaran pengurus, prinsip kolektif kolegial harus benar-benar dijalankan agar setiap keputusan dan kebijakan organisasi dapat dilaksanakan secara bersama-sama.
Sementara itu, Sekretaris PGRI Jawa Barat, Hidayat Dede, menyampaikan sebuah metafora menarik mengenai perpaduan kekuatan para pemimpin PGRI di seluruh Indonesia. Ia menggambarkan para ketua PGRI provinsi senior sebagai "baja tua" yang memiliki pengalaman panjang dalam organisasi. Di sisi lain, para ketua provinsi yang lebih muda diibaratkan sebagai "besi muda" yang memiliki energi, semangat, dan daya juang tinggi.
Menurutnya, kolaborasi antara pengalaman dan semangat generasi baru itulah yang menjadi kekuatan besar dalam mengawal kepemimpinan PB PGRI Masa Bakti XXIII Tahun 2024–2029 di bawah pimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. Perpaduan tersebut diyakini mampu menjaga keabsahan dan keberlanjutan organisasi yang lahir dari Kongres XXIII PGRI.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa soliditas dan solidaritas tanpa batas harus menjadi identitas seluruh kader PGRI. Dengan menjunjung tinggi jati diri organisasi dan semangat pengabdian kepada guru Indonesia, PGRI harus tetap berdiri sebagai organisasi yang kuat, independen, demokratis, dan berkelanjutan.
Nada yang lebih tegas disampaikan Khailid Nasution. Ia menilai bahwa sudah saatnya organisasi tidak lagi hanya bersikap pasif menghadapi berbagai gangguan yang muncul. Jika selama ini banyak pihak menggunakan pepatah "anjing menggonggong, kafilah berlalu", maka menurutnya kondisi saat ini memerlukan sikap yang lebih tegas dan berani.
Ia mengusulkan agar semangat perjuangan PGRI mengadopsi pepatah "Sekali layar terkembang, surut kita berpantang". Ungkapan tersebut menggambarkan tekad yang tidak mudah menyerah dalam memperjuangkan kebenaran dan menjaga marwah organisasi. Bagi Khailid, gangguan yang terus dibiarkan justru dapat semakin mengganggu jalannya organisasi sehingga perlu disikapi secara lebih terukur dan tegas.
Sementara itu, Syaiful Amri menyampaikan fakta penting mengenai dukungan dari seluruh pengurus provinsi terhadap kepemimpinan PB PGRI. Ia menjelaskan bahwa sebanyak 32 pengurus provinsi hadir secara langsung dan menandatangani pernyataan dukungan. Empat provinsi lainnya memang tidak dapat hadir karena kendala transportasi dan agenda daerah yang telah terjadwal sebelumnya. Namun demikian, mereka tetap mengirimkan surat pernyataan dukungan secara resmi.
Dengan demikian, seluruh pengurus provinsi di Indonesia tetap berada dalam satu barisan di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB PGRI Prof. Dr. Unifah Rosyidi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kepemimpinan hasil Kongres XXIII tetap solid dan menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia.
Menariknya, di penghujung diskusi muncul sebuah refleksi yang menggambarkan semangat kebersamaan antar generasi. Menanggapi istilah "baja tua" dan "besi muda", Prameswara kembali memberikan pandangannya bahwa sesungguhnya semua pengurus adalah baja. Perbedaannya hanyalah pada usia dan pengalaman. Ia bahkan bercanda bahwa jika diibaratkan besi, maka besi dapat berkarat, sedangkan baja tetap kuat dan kokoh.
Ungkapan sederhana tersebut mengandung makna mendalam. Dalam organisasi sebesar PGRI, tidak ada dikotomi antara senior dan junior. Yang ada adalah kolaborasi, saling melengkapi, dan saling menguatkan. Pengurus senior memberikan pengalaman dan kebijaksanaan, sementara generasi muda menghadirkan energi, kreativitas, dan inovasi.
Pada akhirnya, kekuatan terbesar PGRI bukan hanya terletak pada legalitas organisasi, tetapi juga pada soliditas para pengurus dan anggotanya. Ketika seluruh elemen organisasi mampu bergerak dalam satu irama, maka berbagai tantangan yang datang dari luar maupun dari dalam dapat dihadapi dengan lebih baik.
Semangat "Hidup Guru, Hidup PGRI, Solidaritas Yes" bukan sekadar slogan. Ia adalah tekad bersama untuk menjaga organisasi profesi guru terbesar di Indonesia agar tetap menjadi rumah perjuangan para guru, tempat berhimpun, berbagi, dan memperjuangkan kemajuan pendidikan bangsa.
Hidup Guru!
Hidup PGRI!
Solidaritas Yes!
Resensi Buku
RESENSI BUKU
BUMI TERSENYUM KEMBALI
Kisah Inspiratif tentang Pelestarian Lingkungan
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Genre: Kumpulan Cerpen Pendidikan Lingkungan
Sasaran Pembaca: Anak-anak, Remaja, Guru, Orang Tua, dan Pecinta Lingkungan
Buku yang Menyentuh Hati dan Menggerakkan Aksi Nyata
Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata, mulai dari sampah yang menggunung, krisis air bersih, banjir, hingga berkurangnya ruang hijau, hadir sebuah buku yang tidak sekadar mengajak pembaca memahami masalah lingkungan, tetapi juga menginspirasi mereka untuk menjadi bagian dari solusi. Buku Bumi Tersenyum Kembali karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) hadir sebagai oase literasi yang menyegarkan dan penuh harapan.
Berbeda dengan buku lingkungan yang sering kali dipenuhi teori dan data yang berat, buku ini menyajikan pesan-pesan pelestarian lingkungan melalui cerita pendek yang ringan, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca diajak masuk ke dalam dunia anak-anak, keluarga, guru, dan masyarakat yang berjuang menjaga bumi melalui tindakan sederhana namun berdampak besar.
Melalui dua puluh cerpen yang inspiratif, Omjay berhasil menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari rumah, sekolah, mushola, pekarangan, hingga lingkungan sekitar tempat tinggal kita.
Cerita yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kisah-kisah yang sangat dekat dengan pengalaman pembaca. Setiap cerita terasa nyata karena diambil dari persoalan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Pembaca akan menemukan kisah tentang anak-anak yang belajar memilah sampah di rumah, keluarga yang memanfaatkan pekarangan menjadi kebun produktif, warga yang mengubah sampah menjadi sumber penghasilan, hingga upaya sederhana menyelamatkan air wudhu agar tidak terbuang percuma.
Cerita seperti Mengelola Sampah di Rumah Itu Keren dan Merubah Sampah Jadi Cuan memberikan inspirasi bahwa sampah bukanlah musuh, melainkan sumber daya yang dapat dikelola dengan bijak. Sementara cerita Air Bersih Makin Sulit Didapat, Yuk Kita Lestarikan menjadi pengingat bahwa air yang selama ini dianggap melimpah ternyata semakin langka dan harus dijaga bersama.
Yang menarik, setiap cerita tidak hanya menghadirkan konflik dan penyelesaian yang menyentuh, tetapi juga dilengkapi dengan hikmah dan aksi nyata yang bisa langsung diterapkan oleh pembaca.
Mengajarkan Karakter Melalui Cerita
Buku ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga membangun karakter positif pembacanya. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, gotong royong, disiplin, kerja keras, kreativitas, kepedulian, dan rasa syukur tumbuh secara alami melalui alur cerita yang menarik.
Anak-anak yang membaca buku ini tidak akan merasa sedang digurui. Mereka akan menikmati petualangan para tokoh sambil menyerap pesan moral yang terselip di setiap halaman.
Inilah kekuatan sastra yang sesungguhnya. Cerita mampu masuk ke hati pembaca tanpa terasa memaksa. Ketika hati tersentuh, perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi.
Sangat Relevan dengan Kurikulum dan Program Sekolah
Buku Bumi Tersenyum Kembali memiliki nilai lebih karena sangat relevan dengan berbagai program pendidikan di Indonesia.
Buku ini dapat digunakan sebagai:
- Bahan literasi sekolah.
- Pendukung Gerakan Sekolah Adiwiyata.
- Referensi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
- Bahan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup.
- Bacaan keluarga di rumah.
- Sumber inspirasi kegiatan ekstrakurikuler.
- Materi diskusi komunitas peduli lingkungan.
Guru akan sangat terbantu karena setiap cerita dapat dijadikan bahan pembelajaran yang kontekstual. Orang tua juga dapat menggunakan buku ini sebagai sarana menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini kepada anak-anak mereka.
Bahasa Sederhana dan Mudah Dipahami
Salah satu keunggulan lain buku ini adalah penggunaan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mengalir. Omjay yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia memiliki kemampuan mengubah tema yang serius menjadi bacaan yang ringan dan menyenangkan.
Kalimat-kalimatnya mudah dipahami oleh anak-anak, tetapi tetap menarik untuk dibaca oleh remaja dan orang dewasa. Karena itu, buku ini menjadi bacaan lintas usia yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga.
Tidak berlebihan jika buku ini disebut sebagai buku yang cocok dibaca bersama. Orang tua dapat membacakannya kepada anak-anak, sementara guru dapat menjadikannya bahan membaca nyaring di kelas.
Buku yang Tidak Hanya Dibaca, Tetapi Dipraktikkan
Banyak buku selesai dibaca lalu disimpan di rak. Namun buku Bumi Tersenyum Kembali memiliki potensi berbeda. Buku ini mendorong pembaca untuk langsung bergerak.
Setelah membaca kisah tentang biopori, pembaca terdorong membuat lubang biopori di rumah. Setelah membaca cerita tentang pengelolaan sampah, pembaca terdorong memilah sampah. Setelah membaca kisah tentang pohon yang menjadi rumah burung, pembaca terdorong menanam pohon dan menjaga keanekaragaman hayati.
Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita. Buku ini adalah panduan aksi lingkungan yang dikemas dalam bentuk sastra yang menyenangkan.
Mengapa Buku Ini Berpotensi Menjadi Best Seller?
Ada beberapa alasan kuat mengapa buku ini memiliki peluang besar menjadi buku best seller:
Pertama, tema lingkungan adalah isu global yang semakin penting dari tahun ke tahun.
Kedua, buku ini menyasar pasar yang sangat luas, mulai dari siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, guru, orang tua, hingga komunitas lingkungan.
Ketiga, isi buku sangat relevan dengan program sekolah seperti Adiwiyata dan P5 sehingga berpotensi digunakan sebagai buku pendamping di banyak sekolah.
Keempat, ceritanya ringan, inspiratif, dan mudah dipahami sehingga cocok dibaca semua kalangan.
Kelima, buku ini menawarkan solusi nyata, bukan sekadar mengangkat masalah lingkungan.
Keenam, nama Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia memiliki jaringan pembaca, guru, dan komunitas literasi yang sangat luas di seluruh Indonesia.
Kesimpulan
Bumi Tersenyum Kembali adalah buku yang layak dimiliki setiap keluarga, sekolah, perpustakaan, dan komunitas pecinta lingkungan. Buku ini berhasil memadukan nilai pendidikan, sastra, karakter, dan aksi lingkungan dalam satu karya yang menarik dan inspiratif.
Jika Anda mencari buku yang mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun karakter positif generasi muda, maka buku ini adalah pilihan yang tepat.
Karena sesungguhnya, bumi tidak membutuhkan janji-janji besar. Bumi membutuhkan tindakan nyata. Dan tindakan nyata itu bisa dimulai dari satu cerita yang mengubah cara pandang kita terhadap alam.
Selamat membaca, terinspirasi, dan bergerak bersama menjaga bumi. Sebab ketika kita menjaga bumi, bumi pun akan menjaga kita.
⭐⭐⭐⭐⭐ 5/5 — Buku inspiratif yang wajib hadir di setiap rumah dan sekolah Indonesia.
Buku Kumpulan Cerpen Lingkungan
BUKU KUMPULAN CERPEN LINGKUNGAN
Judul Buku
BUMI TERSENYUM KEMBALI
Kumpulan Cerpen Inspiratif tentang Pelestarian Lingkungan untuk Anak, Remaja, Guru, dan Keluarga
Subjudul
Belajar Mencintai Alam Melalui Kisah yang Menginspirasi dan Menggerakkan Aksi Nyata
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
- Mengapa Cerita Menjadi Cara Terbaik Menanamkan Cinta Lingkungan
- Pesan Penulis untuk Generasi Penjaga Bumi
PRAKATA
- Bumi Sedang Menunggu Aksi Kita
- Dari Kepedulian Menjadi Kebiasaan
BAGIAN I
MENCINTAI BUMI DIMULAI DARI HATI
Cerpen 1
Mengapa Kita Harus Menjaga Bumi?
Kisah Raka dan Planet Biru yang Menangis
- Ketika Langit Tak Lagi Biru
- Surat dari Masa Depan
- Perjalanan Menyelamatkan Bumi
- Janji Raka untuk Alam
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 2
Kita Jaga Bumi, Maka Bumi Pun Akan Menjaga Kita
Pesan Kakek Penjaga Hutan
- Hutan yang Memberi Kehidupan
- Bencana yang Mengubah Segalanya
- Kesadaran Warga Desa
- Alam yang Kembali Bersahabat
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
BAGIAN II
SAMPAH BUKAN MUSUH, TETAPI PELUANG
Cerpen 3
Mengelola Sampah di Rumah Itu Keren
Keluarga Hebat Pengelola Sampah
- Rumah yang Penuh Sampah
- Tantangan Tujuh Hari Tanpa Sampah
- Belajar Memilah Sampah
- Rumah Menjadi Lebih Bersih
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 4
Merubah Sampah Menjadi Cuan
Bank Sampah Harapan Baru
- Sampah yang Dianggap Tidak Berharga
- Ide Cemerlang dari Sekolah
- Menabung Sampah untuk Masa Depan
- Ketika Sampah Membiayai Mimpi
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 5
Festival Daur Ulang di Kampung Ceria
- Kreativitas dari Barang Bekas
- Lomba Inovasi Lingkungan
- Hadiah Tak Terduga
- Kampung yang Menjadi Inspirasi
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
BAGIAN III
MENJAGA AIR UNTUK MASA DEPAN
Cerpen 6
Air Bersih Makin Sulit Didapat, Yuk Kita Lestarikan
Petualangan Mencari Setetes Air
- Kemarau Panjang Melanda
- Sumur yang Mengering
- Belajar Menghemat Air
- Air Kembali Mengalir
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 7
Jangan Buang Percuma Air Wudhu di Musholamu
Air Wudhu yang Menumbuhkan Kehidupan
- Ide Sederhana dari Imam Mushola
- Menampung Air Wudhu
- Kebun Hijau di Halaman Mushola
- Sedekah Air untuk Lingkungan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 8
Sungai Kecil di Belakang Sekolah
- Sungai yang Penuh Sampah
- Gerakan Bersih Sungai
- Ikan-Ikan Kembali Datang
- Sekolah Ramah Lingkungan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
BAGIAN IV
HIJAUKAN PEKARANGAN, HIJAUKAN KEHIDUPAN
Cerpen 9
Menanam di Pekarangan Itu Asyik
Kebun Mini Keluarga Bahagia
- Pekarangan yang Terlupakan
- Menanam Bersama Ayah dan Ibu
- Panen Pertama yang Membanggakan
- Sayur Segar dari Rumah Sendiri
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 10
Suburkan Tanah Pekaranganmu dengan Lubang Resapan Biopori
Misi Rahasia Penyelamat Tanah
- Halaman yang Sering Tergenang
- Mengenal Lubang Biopori
- Sampah Organik Menjadi Pupuk
- Tanah yang Kembali Subur
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 11
Kebun Sekolah yang Mengubah Murid Pemalas
- Belajar Bertanggung Jawab
- Menanam dengan Penuh Kesabaran
- Hasil Panen yang Membahagiakan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
BAGIAN V
BERSAHABAT DENGAN SATWA DAN ALAM
Cerpen 12
Jadikan Pohon di Rumahmu Menjadi Sarang Burung
Burung-Burung yang Kembali Bernyanyi
- Pohon Mangga Kesayangan
- Burung yang Kehilangan Rumah
- Membuat Rumah Burung Sederhana
- Kicauan yang Membawa Kebahagiaan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 13
Penjaga Pohon Tua di Ujung Kampung
- Pohon yang Akan Ditebang
- Perjuangan Anak-Anak Kampung
- Pohon sebagai Rumah Kehidupan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 14
Sahabat Kupu-Kupu
- Taman Bunga yang Menarik Serangga Penyerbuk
- Belajar Tentang Rantai Kehidupan
- Menjaga Keanekaragaman Hayati
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
BAGIAN VI
BELAJAR LANGSUNG DARI ALAM
Cerpen 15
Yuk Belajar di Alam
Sekolah Tanpa Dinding
- Kelas yang Membosankan
- Guru Mengajak Belajar di Alam
- Menemukan Ilmu di Sekitar Kita
- Alam Sebagai Guru Terbaik
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 16
Kemah Hijau di Hutan Pendidikan
- Mengenal Ekosistem
- Belajar Menjadi Penjaga Alam
- Pengalaman yang Tak Terlupakan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 17
Jejak Kecil Penyelamat Lingkungan
- Gerakan Satu Anak Satu Pohon
- Perubahan yang Bermula dari Hal Kecil
- Ketika Banyak Orang Ikut Bergerak
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
BAGIAN VII
GERAKAN BERSAMA MENYELAMATKAN BUMI
Cerpen 18
Kampung Nol Sampah
- Mimpi Besar Ketua RT
- Gotong Royong Warga
- Lingkungan Menjadi Bersih dan Sehat
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 19
Sekolah Adiwiyata yang Membanggakan
- Perubahan Dimulai dari Kelas
- Gerakan Radius Satu Meter
- Sekolah Menjadi Teladan
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
Cerpen 20
Bumi Tersenyum Kembali
- Ketika Semua Bergerak Bersama
- Anak-Anak Penjaga Bumi
- Harapan untuk Masa Depan
- Pesan untuk Generasi Berikutnya
- Hikmah Cerita
- Aksi Nyata yang Bisa Dilakukan
PENUTUP
Sepuluh Langkah Menjadi Sahabat Bumi
Deklarasi Penjaga Lingkungan
Janji Hijau Pembaca Buku
LAMPIRAN
- Panduan Membuat Kompos Sederhana
- Cara Membuat Lubang Biopori
- Cara Membuat Bank Sampah Sekolah
- Program Satu Anak Satu Pohon
- Kegiatan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) Bertema Gaya Hidup Berkelanjutan
- Gerakan Sekolah Adiwiyata
- Referensi dan Bacaan Lingkungan
Jumlah halaman yang disarankan: 180–220 halaman. Buku ini dapat digunakan sebagai bahan literasi sekolah, pendamping Projek P5, Gerakan Sekolah Adiwiyata, serta bacaan keluarga yang menyenangkan dan edukatif.
Sepiring makanan sehat yang Sederhana
Sepiring Makanan Sehat yang Sederhana, Murah, dan Bergizi
Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, banyak orang menganggap makanan sehat harus mahal, rumit, dan hanya bisa dinikmati di restoran atau kafe tertentu. Padahal, makanan sehat justru sering hadir dalam bentuk yang sederhana seperti yang terlihat pada foto di atas. Sepiring nasi dengan sayuran hijau, telur, tahu, lauk protein, sambal, dan petai merupakan contoh menu rumahan yang kaya gizi dan sangat baik untuk menjaga kesehatan tubuh.
Makanan sehat bukan sekadar soal rasa kenyang, tetapi bagaimana tubuh memperoleh zat gizi yang dibutuhkan untuk bekerja secara optimal. Ketika tubuh mendapatkan asupan karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, mineral, dan serat dalam jumlah yang seimbang, maka energi akan lebih stabil, daya tahan tubuh meningkat, dan risiko berbagai penyakit dapat ditekan.
Menu pada foto tersebut memperlihatkan kombinasi makanan yang cukup lengkap. Ada nasi putih sebagai sumber energi, sayur hijau sebagai sumber serat dan vitamin, telur sebagai sumber protein berkualitas tinggi, tahu sebagai protein nabati, lauk protein hewani, sambal sebagai pelengkap cita rasa, serta petai yang memiliki kandungan nutrisi tertentu yang bermanfaat bagi tubuh.
Nasi putih sering menjadi sasaran kritik karena dianggap menyebabkan kenaikan gula darah. Padahal nasi tetap merupakan sumber karbohidrat yang penting bagi tubuh. Karbohidrat adalah bahan bakar utama yang digunakan otak dan otot untuk beraktivitas. Yang perlu diperhatikan bukan menghindari nasi sepenuhnya, melainkan mengatur porsinya sesuai kebutuhan. Dalam konsep gizi seimbang, nasi tetap dapat menjadi bagian dari pola makan sehat jika dikonsumsi bersama sayuran dan sumber protein.
Bagian yang paling menonjol dalam foto tersebut adalah sayuran hijau yang tampak seperti kangkung rebus atau tumis sederhana. Sayuran hijau merupakan salah satu makanan yang sangat dianjurkan untuk dikonsumsi setiap hari. Kandungan seratnya membantu memperlancar pencernaan, menjaga kesehatan usus, dan membantu mengontrol kadar gula darah. Selain itu, sayuran hijau kaya akan vitamin A, vitamin C, vitamin K, zat besi, magnesium, dan berbagai antioksidan yang berfungsi melindungi sel tubuh dari kerusakan.
Kehadiran telur dalam menu ini juga memberikan nilai gizi yang sangat baik. Telur merupakan salah satu sumber protein terbaik yang mudah diperoleh dan relatif murah. Di dalam telur terdapat asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk memperbaiki jaringan dan membentuk sel-sel baru. Kuning telur mengandung vitamin D, vitamin B12, kolin, serta berbagai mineral penting. Banyak penelitian menunjukkan bahwa konsumsi telur dalam jumlah wajar tidak meningkatkan risiko penyakit jantung pada orang sehat.
Selain telur, terdapat tahu goreng yang menjadi sumber protein nabati. Tahu mengandung protein, kalsium, zat besi, dan berbagai nutrisi penting lainnya. Protein nabati dari tahu sangat baik dikombinasikan dengan protein hewani sehingga tubuh memperoleh asupan gizi yang lebih lengkap. Tahu juga dikenal rendah kalori sehingga cocok bagi mereka yang sedang menjaga berat badan.
Lauk berwarna cokelat yang tampak pada foto kemungkinan merupakan ayam atau ikan goreng. Baik ayam maupun ikan merupakan sumber protein yang sangat baik. Protein berperan dalam membangun dan memperbaiki jaringan tubuh, memperkuat sistem imun, serta menjaga massa otot. Jika lauk tersebut adalah ikan, maka manfaatnya akan semakin besar karena ikan mengandung asam lemak omega-3 yang baik untuk kesehatan jantung dan otak.
Petai yang terlihat di atas nasi sering menimbulkan perdebatan karena aromanya yang khas. Namun di balik aromanya yang kuat, petai ternyata memiliki banyak manfaat kesehatan. Petai mengandung serat, kalium, vitamin C, dan antioksidan. Kalium membantu menjaga tekanan darah tetap stabil dan mendukung fungsi otot serta saraf. Meskipun demikian, konsumsi petai tetap perlu dalam jumlah wajar, terutama bagi mereka yang memiliki gangguan ginjal.
Sambal yang menjadi pelengkap makanan juga memiliki manfaat tersendiri. Cabai mengandung capsaicin yang dapat membantu meningkatkan metabolisme tubuh dan memberikan sensasi hangat. Selain itu, cabai kaya vitamin C yang berperan dalam meningkatkan daya tahan tubuh. Namun, konsumsi sambal sebaiknya tidak berlebihan agar tidak mengganggu lambung, terutama bagi yang memiliki riwayat maag.
Jika dilihat secara keseluruhan, menu pada foto ini sudah mencerminkan prinsip "Isi Piringku" yang dianjurkan oleh pemerintah. Dalam konsep tersebut, setengah piring diisi dengan sayur dan buah, sementara setengah lainnya diisi dengan sumber karbohidrat dan protein. Walaupun belum terdapat buah dalam menu ini, keberadaan sayur yang cukup banyak sudah menjadi nilai positif yang patut diapresiasi.
Bagi penderita diabetes, hipertensi, atau mereka yang sedang menjalani pola hidup sehat seperti Omjay yang berusaha menjaga kadar gula darah dan tekanan darah, menu seperti ini sangat baik jika porsinya diatur dengan tepat. Perbanyak sayuran, kurangi makanan yang terlalu berminyak, dan imbangi dengan aktivitas fisik teratur seperti berjalan kaki, bersepeda, atau senam Ling Tien Kung yang rutin dilakukan setiap pekan.
Yang menarik dari menu ini adalah kesederhanaannya. Tidak ada makanan mahal, tidak ada bahan impor, dan tidak ada proses pengolahan yang rumit. Semua bahan mudah ditemukan di pasar tradisional maupun warung sekitar rumah. Hal ini membuktikan bahwa hidup sehat tidak harus mahal. Yang diperlukan adalah kesadaran untuk memilih makanan yang bergizi dan mengonsumsinya secara seimbang.
Pada akhirnya, kesehatan bukan dibangun oleh satu kali makan sehat, melainkan oleh kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari. Sepiring makanan sederhana seperti ini dapat menjadi investasi kesehatan jangka panjang jika dikonsumsi secara teratur dan disertai pola hidup yang sehat. Tubuh yang sehat akan membuat kita lebih produktif, lebih bahagia, dan lebih siap menjalani aktivitas sehari-hari.
Mari kita biasakan mengisi piring dengan makanan bergizi, memperbanyak sayuran, mengonsumsi protein secukupnya, serta menjaga keseimbangan antara makan, bergerak, dan beristirahat. Dari sepiring makanan sederhana inilah kesehatan yang besar bisa dimulai. Karena sesungguhnya, makanan sehat bukan soal kemewahan, melainkan soal pilihan dan kebiasaan yang kita bangun setiap hari.
Selasa, 23 Juni 2026
Apakah Guru Ini Anak Haram Pendidikan?
Ketika Guru Harus Mengajari Dinas Pendidikan
Ketika Guru Harus Mengajari Dinas Pendidikan tentang Aturan Guru
Oleh: Omjay (Wijaya Kusumah)
Siang itu telepon genggam saya berbunyi. Seperti biasa, grup WhatsApp PGRI ramai dengan berbagai diskusi pendidikan. Ada yang membahas pelatihan guru, ada yang berbagi informasi kegiatan sekolah, dan ada pula yang sedang mendiskusikan sebuah persoalan yang belakangan sering menjadi perbincangan hangat di kalangan guru.
Pak Asep, sahabat saya yang aktif menyuarakan aspirasi guru, menuliskan sebuah pandangan yang menarik perhatian banyak anggota grup. Ia mengatakan bahwa Dinas Pendidikan sesungguhnya adalah "orang tua" bagi guru. Kalimat sederhana itu langsung membuat saya berhenti sejenak dan membaca tulisannya sampai selesai.
Saya mengangguk pelan. Ada benarnya juga.
Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua tentu lebih memahami anaknya. Orang tua tahu kebutuhan anaknya, memahami kesulitan yang dihadapi anaknya, melindungi ketika anaknya mendapat masalah, dan membimbing ketika anaknya melakukan kesalahan. Logika yang sama sebenarnya berlaku dalam dunia pendidikan.
Jika guru adalah ujung tombak pendidikan, maka Dinas Pendidikan adalah pembina sekaligus pengarahnya. Seharusnya mereka menjadi pihak yang paling memahami tugas, fungsi, hak, dan kewajiban guru.
Namun kenyataan di lapangan terkadang berbeda.
Tidak sedikit guru yang merasa harus menjelaskan kembali aturan tentang guru kepada pihak yang justru memiliki kewenangan untuk membina guru. Kadang muncul kebijakan yang membuat guru bertanya-tanya. Bukan karena guru menolak bekerja, melainkan karena aturan yang sudah jelas tertulis dalam berbagai regulasi ditafsirkan berbeda-beda.
Saya teringat ketika menjadi narasumber dalam berbagai kegiatan guru di banyak daerah. Pertanyaan yang sering muncul ternyata hampir sama. Bukan soal bagaimana mengajar yang baik. Bukan pula tentang teknologi pendidikan atau kecerdasan buatan. Pertanyaan yang paling sering muncul justru berkaitan dengan beban kerja guru, jam kerja guru, serta kewajiban hadir di sekolah saat peserta didik sedang libur.
Guru-guru itu bertanya dengan nada bingung.
"Pak Omjay, sebenarnya aturan yang benar seperti apa?"
Saya memahami kebingungan mereka. Sebab di satu daerah berlaku kebijakan tertentu, sementara di daerah lain diterapkan aturan yang berbeda. Akibatnya muncul persepsi yang beragam dan terkadang menimbulkan ketidaknyamanan.
Padahal guru tidak pernah menolak tugas.
Guru sudah terbiasa bekerja jauh melebihi jam pelajaran di kelas. Banyak masyarakat yang mengira tugas guru selesai ketika bel pulang sekolah berbunyi. Faktanya justru sebaliknya.
Ketika siswa pulang, guru masih harus memeriksa tugas, menyusun perangkat pembelajaran, membuat laporan, mengisi berbagai aplikasi, mengikuti rapat, mendampingi kegiatan sekolah, hingga membimbing peserta didik yang membutuhkan perhatian khusus.
Bahkan tidak sedikit guru yang masih bekerja ketika berada di rumah. Telepon dari orang tua murid masuk malam hari. Pesan WhatsApp dari siswa datang saat akhir pekan. Ada pula tugas administrasi yang harus diselesaikan sebelum batas waktu tertentu.
Itulah sebabnya profesi guru tidak bisa diukur hanya dari kehadiran fisik di sekolah.
Guru bukan pegawai administrasi biasa yang seluruh pekerjaannya selesai di kantor. Guru adalah tenaga profesional yang bekerja dengan manusia. Mereka mengelola karakter, membangun nilai, menanamkan akhlak, dan mengembangkan potensi peserta didik.
Pak Prameswara dalam diskusi grup menyampaikan sebuah analogi yang menurut saya sangat menarik. Beliau mengatakan bahwa tugas ASN guru berbeda dengan ASN pada bidang administrasi lainnya. Jika diibaratkan mesin, bentuknya mungkin sama-sama mesin, tetapi oli yang digunakan berbeda.
Analogi itu sederhana, tetapi mengandung makna yang dalam.
Guru tidak hanya mengurus administrasi. Guru juga mengelola emosi peserta didik, membangun motivasi belajar, menanamkan karakter, serta menghadapi berbagai persoalan sosial yang dibawa siswa dari rumah. Tugas itu tidak bisa diselesaikan hanya dengan mengisi absensi atau duduk di kantor selama jam kerja tertentu.
Saya tersenyum ketika membaca candaan Pak Prameswara yang mengatakan bahwa dulu belum ada kecerdasan buatan (AI) dan coding, tetapi hasil pendidikan mampu melahirkan presiden, menteri, pengusaha sukses, ilmuwan, dan tokoh bangsa.
Candaan itu memang mengandung pesan penting.
Teknologi sangat penting, tetapi jangan sampai kita melupakan manusia yang menggerakkannya. Secanggih apa pun teknologi pendidikan, kualitas guru tetap menjadi faktor utama keberhasilan pendidikan.
Karena itu hubungan antara guru, organisasi profesi, dan birokrasi pendidikan harus bersifat simbiosis mutualisme.
Semua pihak harus saling memahami dan saling menguatkan.
Guru membutuhkan pembinaan yang tepat.
Dinas Pendidikan membutuhkan masukan dari guru di lapangan.
Organisasi profesi seperti PGRI berperan menjembatani komunikasi agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Ketika ketiga unsur ini berjalan bersama, maka berbagai persoalan pendidikan dapat diselesaikan dengan lebih baik.
Saya sangat setuju dengan pendapat Pak Tomo Mohawi yang menyatakan bahwa guru dan Dinas Pendidikan adalah mitra strategis dalam penyelenggaraan pendidikan. Hubungan keduanya tidak boleh dibangun atas dasar kecurigaan, melainkan atas dasar kepercayaan dan pemahaman yang sama terhadap regulasi.
Regulasi yang berasal dari Undang-Undang dan peraturan turunannya harus menjadi rujukan utama. Bukan sekadar kebijakan yang muncul karena interpretasi pribadi atau kebiasaan yang sudah berlangsung lama.
Sebab ketika regulasi diabaikan, yang muncul adalah kebingungan.
Ketika kebingungan muncul, yang dirugikan bukan hanya guru.
Peserta didik juga akan terkena dampaknya.
Pada akhirnya saya menyadari bahwa diskusi sederhana di grup WhatsApp siang itu sesungguhnya menyimpan pelajaran yang sangat berharga. Pendidikan yang baik tidak lahir dari banyaknya aturan baru. Pendidikan yang baik lahir dari kesamaan pemahaman terhadap aturan yang sudah ada.
Guru tidak membutuhkan perlakuan istimewa.
Guru hanya ingin hak dan kewajibannya dipahami secara benar.
Guru tidak menolak bekerja.
Guru hanya berharap profesinya dihargai sesuai regulasi yang berlaku.
Karena sesungguhnya ketika guru memperoleh perlindungan, pembinaan, dan penghargaan yang layak, mereka akan dapat fokus melakukan tugas utamanya, yaitu mendidik generasi bangsa.
Dan ketika guru dapat bekerja dengan tenang dan bahagia, pendidikan Indonesia akan melangkah lebih maju.
Bukankah tujuan akhir dari semua kebijakan pendidikan adalah menciptakan generasi yang lebih baik daripada generasi sebelumnya?
Jika jawabannya ya, maka mari kita mulai dengan memahami guru sebagaimana negara telah mengaturnya. Sebab guru bukan sekadar pegawai yang hadir di sekolah. Guru adalah pembentuk masa depan bangsa.
KMPF UNJ
Foto yang Anda kirimkan adalah halaman majalah atau buletin yang memuat profil Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi Universitas Negeri Jakarta (KMPF UNJ). Berikut informasi lengkap yang dapat saya rangkum dari isi halaman tersebut.
KMPF UNJ: Wadah Kreativitas Mahasiswa Pecinta Fotografi
Sejarah Berdirinya KMPF UNJ
Kelompok Mahasiswa Peminat Fotografi (KMPF) Universitas Negeri Jakarta merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak di bidang fotografi di lingkungan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).
Berdasarkan informasi pada dokumen tersebut, KMPF UNJ secara resmi berdiri pada:
Tanggal: 8 November 1980
Peresmian organisasi dilakukan oleh:
H. Thaher Husen
Beliau merupakan salah satu tokoh mahasiswa pada masa itu yang berperan dalam perkembangan organisasi kemahasiswaan di lingkungan kampus.
Organisasi ini lahir dari semangat sekelompok mahasiswa yang memiliki minat dan hobi yang sama di bidang fotografi meskipun berasal dari jurusan yang berbeda-beda.
Para Perintis KMPF UNJ
Tercatat delapan mahasiswa yang menjadi pelopor berdirinya KMPF UNJ, yaitu:
- Ahmad Sadek Hasan (Teknologi Pendidikan)
- Zulkifliwan Nasution (Teknologi Pendidikan)
- Nirsanto Hasnul (Pendidikan Khusus)
- Suyatno Suwandi (Bahasa Inggris)
- Hasnani Isma Kutai (Bahasa Inggris)
- Elies Kurniasih (Seni Rupa)
- A. Sanusi S.D. (Somatologi)
- Irzan Tahar (Teknologi Pendidikan)
Keberagaman latar belakang akademik tersebut menunjukkan bahwa fotografi mampu menjadi sarana pemersatu mahasiswa lintas disiplin ilmu.
Lambang KMPF UNJ
Logo KMPF UNJ berbentuk diafragma kamera yang terdiri dari tujuh bilah.
Warna-warna yang digunakan meliputi:
- Hijau
- Magenta
- Merah muda
- Ungu
- Merah
- Biru
- Putih
Di bagian tengah logo terdapat lambang Universitas Negeri Jakarta yang menunjukkan identitas kelembagaan organisasi sebagai bagian dari UNJ.
Bentuk diafragma dipilih karena menjadi simbol utama dunia fotografi. Diafragma berfungsi mengatur cahaya yang masuk ke kamera sehingga sangat identik dengan proses penciptaan karya fotografi.
Visi KMPF UNJ
"Mewujudkan keanggotaan berkarakter dalam bidang fotografi spesifik yang berdaya guna."
Visi ini menunjukkan bahwa KMPF tidak hanya berorientasi pada kemampuan teknis memotret, tetapi juga pembentukan karakter anggota agar mampu berkarya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Misi KMPF UNJ
Berdasarkan dokumen tersebut, misi KMPF UNJ adalah:
1. Membentuk Sistem Pendidikan Karakter Fotografi
KMPF berupaya mengembangkan pendidikan dan pelatihan fotografi secara mendalam sehingga anggota memiliki kompetensi yang kuat.
2. Membentuk Karakter Individu
Organisasi memberikan program yang berfokus pada pengembangan diri sehingga anggota memiliki karakter yang positif, disiplin, dan bertanggung jawab.
3. Meningkatkan Fasilitas Keanggotaan
KMPF berusaha meningkatkan berbagai fasilitas pendukung kegiatan fotografi agar tercipta identitas organisasi yang kuat dan loyalitas anggota yang tinggi.
Aktivitas dan Peran KMPF UNJ
Sebagai organisasi fotografi kampus, KMPF memiliki berbagai peran penting, antara lain:
Dokumentasi Kegiatan Kampus
Anggota KMPF sering terlibat dalam pendokumentasian kegiatan akademik maupun non-akademik di lingkungan UNJ.
Pendidikan dan Pelatihan
KMPF menjadi tempat belajar bagi mahasiswa yang ingin mendalami:
- Teknik fotografi dasar
- Fotografi jurnalistik
- Fotografi human interest
- Fotografi landscape
- Fotografi portrait
- Editing foto digital
Pameran Fotografi
Organisasi ini biasanya mengadakan pameran karya sebagai sarana apresiasi dan publikasi hasil karya anggota.
Pengabdian Masyarakat
Fotografi juga digunakan sebagai media edukasi dan dokumentasi kegiatan sosial kemasyarakatan.
Media Sosial dan Kontak KMPF UNJ
Pada halaman sebelah kanan tercantum beberapa media komunikasi organisasi:
Twitter/X
@kmpfunj
Website
@kmpfunj204
KMPF UNJ
Media-media tersebut digunakan sebagai sarana publikasi kegiatan, berbagi karya fotografi, serta komunikasi dengan anggota dan masyarakat umum.
Makna Penting KMPF UNJ bagi Mahasiswa
Keberadaan KMPF UNJ membuktikan bahwa kampus tidak hanya menjadi tempat belajar teori di ruang kelas, tetapi juga ruang berkembangnya minat, bakat, dan kreativitas mahasiswa.
Melalui organisasi ini mahasiswa belajar banyak hal, seperti:
- Kepemimpinan
- Kerja sama tim
- Manajemen organisasi
- Kreativitas visual
- Komunikasi publik
- Dokumentasi profesional
Banyak alumni organisasi fotografi kampus yang kemudian berkarier sebagai fotografer profesional, jurnalis foto, desainer visual, content creator, hingga akademisi di bidang komunikasi dan media.
KMPF UNJ yang berdiri sejak tahun 1980 merupakan salah satu organisasi kemahasiswaan yang memiliki sejarah panjang dalam mengembangkan dunia fotografi di lingkungan Universitas Negeri Jakarta. Selama lebih dari empat dekade, organisasi ini telah menjadi wadah lahirnya generasi fotografer muda yang kreatif, berkarakter, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi kampus maupun masyarakat luas.