Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Kamis, 30 Juli 2026
komunikasi yang nyaman dengan cara menjadi pendengar yang aktif
Bukan Menjadi Guru Sempurna
Hari Ini Bukan Tentang Menjadi Guru Sempurna
Oleh: Omjay
Menjadi guru bukanlah perlombaan untuk menjadi yang paling hebat atau paling sempurna. Seorang guru tidak diukur dari seberapa sedikit ia melakukan kesalahan, tetapi dari seberapa besar kemauannya untuk terus belajar, memperbaiki diri, dan bertumbuh. Setiap hari adalah kesempatan baru untuk menjadi guru yang lebih baik daripada hari kemarin.
Kalimat inspiratif dalam gambar tersebut mengingatkan kita bahwa kesempurnaan bukanlah tujuan utama seorang pendidik. Yang jauh lebih penting adalah proses perubahan yang dilakukan secara konsisten. Guru yang hebat adalah guru yang selalu mengevaluasi dirinya setelah pembelajaran selesai. Ia bertanya, "Apakah murid saya sudah memahami pelajaran? Apakah cara saya mengajar sudah membuat mereka senang belajar? Apa yang harus saya perbaiki pada pertemuan berikutnya?" Refleksi seperti inilah yang menjadi fondasi pertumbuhan profesional seorang guru.
Dalam dunia pendidikan yang terus berubah, guru juga harus terus memperbarui pengetahuan dan keterampilannya. Teknologi berkembang begitu cepat, karakter peserta didik berubah, dan tantangan pembelajaran semakin kompleks. Jika guru berhenti belajar, maka pembelajaran di kelas akan tertinggal. Sebaliknya, guru yang terus membaca, berdiskusi, mengikuti pelatihan, menulis, dan berbagi pengalaman akan selalu menemukan cara baru untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna.
Perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil. Mungkin hari ini kita belajar lebih sabar mendengarkan pendapat peserta didik. Besok kita mencoba metode pembelajaran yang lebih menarik. Lusa kita mulai membiasakan diri memberikan umpan balik yang membangun. Kebiasaan-kebiasaan sederhana itu, jika dilakukan secara konsisten, akan melahirkan perubahan besar dalam kualitas pembelajaran. Refleksi yang dilakukan secara rutin terbukti membantu guru mengambil keputusan yang lebih baik dan meningkatkan kualitas mengajarnya.
Hadis Rasulullah SAW yang tertulis pada gambar tersebut juga memberikan motivasi luar biasa, "Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga." (HR. Muslim). Bagi seorang guru, mencari ilmu bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk menyebarkan manfaat kepada peserta didik. Setiap ilmu yang diajarkan dengan ikhlas akan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Pada akhirnya, marilah kita tidak membandingkan diri dengan guru lain. Bandingkanlah diri kita dengan diri kita sendiri kemarin. Jika hari ini kita lebih sabar, lebih kreatif, lebih peduli kepada peserta didik, dan lebih semangat belajar daripada kemarin, berarti kita telah bertumbuh menjadi guru yang lebih baik.
Pertanyaan refleksi hari ini:
"Kebiasaan kecil apa yang akan saya ubah mulai besok agar menjadi guru yang lebih baik daripada hari ini?"
Karena guru hebat bukanlah guru yang sempurna, melainkan guru yang tidak pernah berhenti belajar, bertumbuh, dan menginspirasi. Sebab, ketika guru terus bertumbuh, murid akan berkembang, sekolah akan maju, dan bangsa pun akan menjadi lebih kuat.
Ketika Omjay Dicela
Ketika Dicela, Saya Memilih Berkaca dan Terus Berkarya
Inspirasi Pagi
Kamis, 30 Juli 2026
"Jika orang berkata buruk tentangmu tidak usah galau. Karena sebenarnya mereka tidak berbicara tentang engkau. Mereka sedang memperlihatkan watak mereka sendiri."
Perjalanan hidup mengajarkan saya bahwa tidak semua orang akan menyukai apa yang kita lakukan. Ada yang memberikan apresiasi dengan tulus, tetapi tidak sedikit pula yang melontarkan kritik yang menyakitkan, bahkan menilai tanpa mengenal siapa diri kita sebenarnya. Dulu, setiap kali mendengar ucapan yang merendahkan, hati saya mudah terluka. Pikiran dipenuhi pertanyaan mengapa masih ada orang yang memilih menjatuhkan sesamanya. Namun, semakin bertambah usia dan pengalaman, saya menyadari bahwa tidak semua perkataan buruk pantas disimpan dalam hati. Sebagian cukup dijadikan pelajaran agar kita semakin kuat menjalani kehidupan.
Sebagai guru yang telah puluhan tahun mengabdikan diri di dunia pendidikan sekaligus penulis yang hampir setiap hari membagikan tulisan kepada masyarakat, saya merasakan betul bahwa berkarya selalu mengundang beragam tanggapan. Ada pembaca yang memperoleh manfaat lalu mengirimkan doa, ucapan terima kasih, bahkan menjadikan tulisan saya sebagai penyemangat hidup. Sebaliknya, ada pula yang memberikan komentar sinis, mengejek, atau meragukan kemampuan saya. Pada awalnya saya mencoba menjawab satu per satu, tetapi akhirnya saya memahami bahwa energi akan jauh lebih bermanfaat jika digunakan untuk melahirkan karya berikutnya daripada melayani perdebatan yang tidak menghasilkan kebaikan.
Saya teringat sebuah nasihat yang dinisbatkan kepada Imam Ghazali, "Saat satu jarimu menuduh buruk orang lain, maka empat jarimu sedang menuduh buruk pada dirimu." Kalimat sederhana itu memiliki makna yang sangat dalam. Ketika seseorang sibuk mencari kesalahan orang lain, sesungguhnya ia sedang memperlihatkan isi hatinya sendiri. Cara seseorang berbicara sering kali menjadi cermin karakter yang dimilikinya. Oleh sebab itu, saya belajar untuk tidak tergesa-gesa membalas perkataan yang menyakitkan. Diam yang penuh kesabaran sering kali lebih bermakna daripada jawaban panjang yang hanya memperkeruh suasana.
Pengalaman hidup juga mengajarkan bahwa setiap ujian membawa pelajaran berharga. Ketika saya mengalami berbagai cobaan, mulai dari masalah kesehatan hingga tantangan dalam perjalanan karier, banyak orang yang memberikan dukungan sehingga saya mampu bangkit kembali. Akan tetapi, ada juga yang memandang sinis dan menganggap saya tidak akan mampu melanjutkan aktivitas seperti sebelumnya. Kenyataannya, justru dari keterbatasan itulah saya semakin terdorong untuk terus belajar, mengajar, menulis, dan berbagi inspirasi. Saya ingin membuktikan bahwa seseorang tidak ditentukan oleh komentar orang lain, melainkan oleh ketekunan dalam memperbaiki diri setiap hari.
Menulis telah menjadi sahabat terbaik dalam perjalanan hidup saya. Melalui tulisan, saya menuangkan pengalaman, kegagalan, harapan, dan rasa syukur agar dapat menjadi pelajaran bagi siapa pun yang membacanya. Saya percaya bahwa karya akan berbicara lebih lantang daripada perdebatan. Orang boleh saja meragukan kemampuan kita, tetapi waktu akan menunjukkan siapa yang tetap konsisten menebarkan manfaat. Ketika niat kita lurus untuk berbagi ilmu dan menginspirasi sesama, setiap langkah akan menemukan jalannya sendiri.
Karena itulah, saya tidak ingin menghabiskan hidup dengan memikirkan penilaian yang tidak membangun. Saya memilih memaafkan, mendoakan, lalu melanjutkan pekerjaan yang memberi manfaat bagi banyak orang. Sikap tersebut bukan berarti lemah, melainkan bentuk kedewasaan dalam menyikapi kehidupan. Semakin kita sibuk memperbaiki diri, semakin sedikit waktu yang tersisa untuk memikirkan keburukan orang lain.
Semoga setiap perkataan yang kita ucapkan menjadi sumber kebaikan, bukan penyebab luka bagi sesama. Marilah menjadikan lisan sebagai sarana menyebarkan harapan, semangat, dan kasih sayang. Apabila suatu hari kita menjadi sasaran cibiran, jangan biarkan hati dipenuhi kebencian. Tetaplah melangkah dengan kepala tegak, hati yang ikhlas, dan keyakinan bahwa Allah Swt. mengetahui setiap niat baik yang kita perjuangkan. Pada akhirnya, bukan penilaian manusia yang menentukan nilai hidup kita, melainkan seberapa besar manfaat yang berhasil kita tinggalkan untuk orang lain.
Salam literasi. Salam inspirasi.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Rabu, 29 Juli 2026
Pengalaman Belajar di China tahun 2019
kisah omjay sebelum ajal tiba
Minggu, 26 Juli 2026
Buku Kisah Omjay 4 Tahun Lalu
Jumat, 24 Juli 2026
Hari jumat
Rabu, 22 Juli 2026
Semangkuk Mie Hangat di Negeri Panda
Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ
Blog https://wijayalabs.com/about
Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan yang dimulai pada pagi hari lalu berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi. Guru mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaannya demi membentuk generasi penerus bangsa. Selama puluhan tahun mengajar di SMP Labschool UNJ, saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak rekan guru mencurahkan seluruh hidupnya untuk pendidikan. Mereka datang lebih awal daripada siswa, pulang paling akhir setelah memastikan semua tugas selesai, dan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi keberhasilan peserta didik.
Pengabdian seperti itu tentu layak mendapatkan penghargaan yang bermartabat. Salah satunya adalah jaminan kehidupan yang layak setelah memasuki masa purna tugas. Sayangnya, kenyataan yang dihadapi sebagian guru sekolah swasta, termasuk guru di bawah yayasan, sering kali berbeda dengan harapan. Ketika masa mengajar berakhir, penghasilan rutin ikut berhenti. Padahal kebutuhan hidup tetap berjalan. Biaya kesehatan meningkat seiring bertambahnya usia. Kebutuhan keluarga tidak pernah berhenti. Sementara tenaga sudah tidak lagi sekuat dahulu.
Setiap kali menghadiri acara pelepasan guru purnabakti, hati saya selalu dipenuhi rasa haru. Wajah-wajah yang dahulu penuh semangat mendidik kini memasuki babak baru kehidupan. Tepuk tangan bergema, bunga diberikan, foto kenangan diabadikan, lalu perlahan semua kembali menjalani aktivitas masing-masing. Namun muncul satu pertanyaan yang terus mengusik hati. Bagaimana kehidupan para guru hebat itu setelah tidak lagi menerima gaji bulanan?
Pertanyaan itulah yang mendorong saya menulis kisah ini. Bukan untuk mengeluh, melainkan mengajak semua pihak memikirkan masa depan para guru yang telah mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan.
Saya membayangkan betapa indahnya apabila setiap guru Labschool UNJ memasuki masa pensiun dengan hati tenang. Mereka tetap memperoleh penghasilan bulanan sehingga tidak perlu khawatir memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka dapat menikmati hari tua bersama keluarga, mengajar secara sukarela bila masih mampu, menulis buku, berbagi pengalaman, atau menjadi mentor bagi guru muda tanpa dibayangi kecemasan ekonomi.
Harapan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Banyak perusahaan swasta telah memiliki program dana pensiun bagi karyawannya. Program seperti Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) memungkinkan perusahaan atau yayasan menghimpun iuran selama pegawai masih aktif bekerja. Ketika pegawai memasuki masa pensiun, manfaat pensiun dapat dibayarkan secara berkala sesuai ketentuan. Selain itu tersedia pula Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang dapat menjadi alternatif bagi institusi yang belum memiliki dana pensiun sendiri.
Di sisi lain, seluruh pekerja termasuk guru yayasan juga dapat memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Program tersebut meliputi Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian. Apabila memenuhi persyaratan, peserta Jaminan Pensiun dapat menerima manfaat bulanan setelah memasuki usia pensiun.
Sebagai guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun, saya percaya bahwa kesejahteraan guru tidak boleh hanya dibicarakan ketika masih aktif mengajar. Masa purna tugas juga harus menjadi perhatian bersama. Pengabdian selama tiga puluh hingga empat puluh tahun bukanlah perjalanan singkat. Itu adalah investasi kemanusiaan yang hasilnya dinikmati oleh bangsa ini melalui lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.
Saya membayangkan suatu hari nanti Yayasan Pembina UNJ bersama pimpinan Labschool, perwakilan guru, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama merancang sistem pensiun yang berkelanjutan. Setiap guru memberikan iuran sesuai kemampuan. Yayasan pun ikut memberikan kontribusi. Dana tersebut dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel sehingga tumbuh menjadi jaminan kesejahteraan pada masa tua.
Program seperti itu bukan hanya memberikan rasa aman kepada guru senior. Guru-guru muda pun akan bekerja dengan semangat karena mengetahui bahwa pengabdiannya dihargai hingga akhir masa kerja. Rasa memiliki terhadap sekolah semakin kuat. Loyalitas meningkat. Kualitas pendidikan ikut bertambah karena guru dapat berkonsentrasi mengajar tanpa dihantui kekhawatiran mengenai masa depannya.
Saya selalu percaya bahwa sekolah hebat dibangun oleh guru yang sejahtera. Ketika guru merasa dihargai, semangat mengajarnya akan memancar kepada peserta didik. Anak-anak memperoleh teladan tentang arti dedikasi. Orang tua semakin percaya kepada sekolah. Lingkaran kebaikan pun terus berputar.
Perjuangan menghadirkan pensiun bulanan tentu membutuhkan waktu. Dibutuhkan komunikasi yang baik, kajian yang matang, serta komitmen seluruh pihak. Namun setiap perubahan besar selalu diawali oleh sebuah gagasan sederhana. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Sebagai Omjay, saya tidak pernah lelah mengajak semua guru untuk terus menulis. Tulisan memiliki kekuatan luar biasa. Dari tulisan lahir ide. Dari ide lahir perubahan. Dari perubahan lahir kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Karena itulah saya berharap semakin banyak guru menyuarakan pentingnya perlindungan hari tua bagi tenaga pendidik.
Saya tidak sedang meminta keistimewaan. Saya hanya berharap setiap guru yang telah mengabdikan hidupnya memperoleh penghormatan yang layak ketika memasuki masa purna tugas. Guru tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Guru hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang setelah puluhan tahun membimbing anak bangsa.
Semoga suatu hari nanti, ketika seorang guru Labschool UNJ mengakhiri tugasnya di ruang kelas, senyumnya bukan hanya karena bangga melihat murid-muridnya sukses, tetapi juga karena yakin kehidupannya setelah pensiun tetap terjamin. Itulah hadiah terindah bagi seorang pendidik. Penghargaan yang tidak hanya diberikan dalam bentuk piagam atau bunga, melainkan dalam kepastian bahwa pengabdian panjangnya tidak berakhir dengan kecemasan.
Saya percaya mimpi itu dapat diwujudkan apabila seluruh keluarga besar Labschool UNJ memiliki visi yang sama. Mari membangun sistem yang menghormati guru sejak hari pertama mengajar hingga hari terakhir menikmati masa pensiun. Sebab bangsa yang menghargai gurunya adalah bangsa yang sedang menyiapkan masa depan terbaik bagi generasi berikutnya.
Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
