Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 06 September 2026

KaKek Dimjati Bertemu Buya Hamka dan Mendirikan Al Azhar Kebayoran

Kake Dimjati dan Buya Hamka: Dari Sebuah Pertemuan Lahir Sebuah Jejak Pendidikan Islam

Setiap keluarga biasanya mempunyai cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Ada cerita tentang perjuangan, tentang pengorbanan, tentang keberhasilan, dan ada pula cerita yang baru terasa begitu berharga ketika kita sudah dewasa. Bagi saya, salah satu cerita yang menarik untuk terus digali adalah kisah Kake Dimjati, seorang guru yang ikut meletakkan dasar pendidikan Islam di kawasan Kebayoran, Jakarta.

Semakin saya mendengar kembali cerita tentang perjalanan beliau, semakin saya menyadari bahwa sejarah sebuah sekolah tidak selalu dimulai dari gedung yang megah. Kadang-kadang sejarah pendidikan justru bermula dari sebuah aula masjid, dari percakapan sederhana para tokoh masyarakat, dan dari keberanian seorang guru untuk memulai sesuatu yang belum tentu diketahui bagaimana akhirnya.

Kisah itu bermula ketika Kake Dimjati hijrah ke Jakarta. Kedatangannya ke Jakarta bukan semata-mata untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Ada sebuah amanah yang kemudian mempertemukannya dengan dunia pendidikan di kawasan Kebayoran. Baing, yang ketika itu menjadi bagian dari panitia pembangunan Masjid Agung Kebayoran di Jalan Sisingamangaraja, meminta Kake Dimjati untuk ikut memikirkan pendirian sekolah di lingkungan masjid tersebut.

Bagi Kake Dimjati, permintaan itu bukan perkara kecil. Mendirikan sekolah berarti memikirkan masa depan anak-anak. Pada masa itu, Jakarta tentu belum seperti sekarang. Fasilitas pendidikan belum sebanyak dan semudah yang kita lihat hari ini. Untuk membangun sebuah sekolah dibutuhkan keberanian, dukungan masyarakat, tenaga para pendidik, dan tentu saja keyakinan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan utama umat.

Baing dan Kake Dimjati kemudian mulai bergerak. Mereka menemui sejumlah tokoh masyarakat yang mempunyai perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan umat. Salah satu nama penting yang hadir dalam perjalanan tersebut adalah Buya Hamka.

Pertemuan dengan Buya Hamka menjadi bagian yang sangat menarik dalam kisah keluarga ini.

Nama Buya Hamka tentu tidak asing bagi masyarakat Indonesia. Beliau dikenal sebagai ulama, sastrawan, pemikir, pendidik, dan tokoh masyarakat yang mempunyai pengaruh besar. Namun bagi Kake Dimjati, Buya Hamka bukan hanya nama besar yang dikenal dari buku atau ceramah. Beliau adalah salah satu tokoh yang ditemui dalam ikhtiar membangun pendidikan Islam di kawasan Kebayoran.

Bayangkan suasana Jakarta pada masa itu. Jalan Sisingamangaraja belum seramai sekarang. Kawasan Kebayoran sedang berkembang. Masjid menjadi salah satu pusat kehidupan masyarakat, bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga tempat berkumpul, berdiskusi, bermusyawarah, dan memikirkan masa depan umat.

Di tengah suasana itulah Baing bersama Kake Dimjati mendatangi para tokoh masyarakat. Mereka menyampaikan gagasan tentang pentingnya menghadirkan sekolah Islam di lingkungan Masjid Agung Kebayoran. Salah satu tokoh yang mereka temui adalah Buya Hamka.

Saya membayangkan pertemuan itu bukan sekadar pertemuan biasa. Ada semangat yang sama di antara orang-orang tersebut: bagaimana membangun masyarakat melalui pendidikan. Sebab, masjid yang besar akan terasa lebih bermakna jika di sekitarnya juga tumbuh kegiatan pendidikan yang mencerdaskan anak-anak.

Kake Dimjati datang bukan membawa nama besar. Ia datang sebagai seorang guru dengan pengalaman dan kemauan untuk mengajar. Ia membawa keyakinan bahwa anak-anak harus diberi kesempatan memperoleh pendidikan yang baik. Sementara Buya Hamka merupakan salah satu tokoh yang telah lama memberikan perhatian terhadap pendidikan dan kehidupan umat.

Dalam pertemuan-pertemuan dengan para tokoh masyarakat itu, gagasan sekolah semakin menemukan bentuknya. Selain Buya Hamka, terdapat pula tokoh-tokoh lain seperti Cokro Aminoto, Sarjan Daud, Badaruddin, dan tokoh masyarakat lainnya. Mereka menjadi bagian dari lingkungan sosial yang ikut memberikan warna terhadap perjalanan awal pendidikan Islam di kawasan tersebut.

Dari rangkaian pertemuan dan pembicaraan itulah kemudian lahir langkah nyata.

Pada tahun 1960, Kake Dimjati mendirikan Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran.

Sekolah tersebut tidak langsung memiliki gedung sendiri. Kegiatan belajar mengajar dimulai dari aula Masjid Agung Kebayoran. Di tempat sederhana itulah Kake Dimjati mulai mengajar. Anak-anak datang untuk mendapatkan ilmu. Mereka belajar dengan fasilitas yang tentu jauh berbeda dengan sekolah masa kini.

Namun, ada sesuatu yang jauh lebih penting daripada fasilitas: semangat belajar dan ketulusan seorang guru.

Kake Dimjati mengajar dari hati. Ia tidak menunggu sekolah menjadi besar untuk mulai bekerja. Ia memulai dari apa yang tersedia. Aula masjid menjadi ruang kelas. Masjid menjadi bagian dari lingkungan pendidikan. Anak-anak menjadi murid-murid pertama yang ikut menyaksikan bagaimana sebuah lembaga pendidikan tumbuh dari bawah.

Jumlah murid semakin lama semakin bertambah. Aula masjid akhirnya tidak lagi mencukupi. Kegiatan belajar kemudian menggunakan ruangan-ruangan di sekitar Masjid Agung Kebayoran. Pertambahan jumlah murid tersebut justru menjadi bukti bahwa masyarakat membutuhkan sekolah yang dirintis Kake Dimjati.

Ada sesuatu yang mengharukan dari perjalanan seperti ini. Sebuah sekolah yang pada awalnya mungkin hanya dipandang sebagai kegiatan sederhana ternyata perlahan-lahan mendapatkan kepercayaan masyarakat. Anak-anak semakin banyak. Orang tua semakin percaya. Guru semakin sibuk. Dan sebuah lembaga pendidikan mulai memiliki kehidupan sendiri.

Kake Dimjati terus mengajar.

Ia bukan hanya menyaksikan pertumbuhan sekolah, tetapi menjadi bagian langsung dari pertumbuhan itu. Dari nol, ia ikut membawa sekolah tersebut menjadi lembaga pendidikan yang semakin dikenal.

Perjalanan itu kemudian memasuki babak baru sekitar tahun 1970. Pada masa Gubernur DKI Jakarta H. Ali Sadikin, dibangun gedung baru di halaman Masjid Agung. Gedung tersebut menghadap Jalan Sisingamangaraja. Kehadiran gedung baru menjadi tonggak penting dalam perkembangan sekolah.

Sekolah yang sebelumnya bermula dari Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran kemudian dikenal sebagai Sekolah Islam Teladan Al-Azhar.

Di sinilah letak bagian sejarah yang menurut saya sangat menarik untuk terus diceritakan.

Sebelum Al-Azhar dikenal luas seperti sekarang, telah ada sebuah sekolah yang dirintis dari lingkungan Masjid Agung Kebayoran. Sekolah itu lahir dari kepedulian masyarakat, dukungan para tokoh, dan kerja keras seorang guru bernama Kake Dimjati.

Dan di balik kisah tersebut, ada pertemuan dengan Buya Hamka.

Pertemuan itu mungkin berlangsung sederhana. Tidak ada kamera seperti sekarang. Tidak ada media sosial yang membuat setiap peristiwa langsung terdokumentasi. Tidak ada video yang bisa diputar kembali kapan saja. Yang tersisa adalah ingatan, cerita keluarga, dan jejak sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Justru karena itulah kisah tersebut terasa istimewa.

Bayangkan jika pada masa itu seseorang berkata kepada Kake Dimjati, "Sekolah yang sedang dirintis ini suatu hari akan berkembang menjadi lembaga pendidikan yang dikenal luas."

Mungkin Kake Dimjati hanya tersenyum.

Sebab seorang guru biasanya tidak berpikir terlalu jauh tentang nama besar. Ia berpikir tentang murid yang ada di hadapannya. Ia memikirkan bagaimana anak-anak itu bisa belajar dengan baik. Ia memikirkan bagaimana mereka menjadi manusia yang berilmu dan berakhlak.

Begitulah Kake Dimjati menjalani pengabdiannya.

Bertahun-tahun ia tetap mengajar. Bahkan ketika sekolah sudah semakin berkembang, masyarakat justru semakin banyak yang datang kepadanya untuk belajar secara privat. Permintaan untuk memberikan pelajaran tambahan semakin banyak sehingga waktunya semakin tersita.

Di sisi lain, kesehatan Kake Dimjati mulai terganggu. Tubuh yang selama bertahun-tahun digunakan untuk mengajar akhirnya meminta istirahat. Ia kemudian memutuskan untuk mengundurkan diri dari kegiatan mengajar di sekolah tersebut.

Keputusan itu tentu tidak mudah. Bagaimana mungkin seorang guru yang sejak awal ikut membangun sekolah kemudian harus meninggalkan ruang kelas yang telah menjadi bagian dari kehidupannya?

Namun, pengabdian seorang guru tidak pernah berhenti hanya karena ia tidak lagi berdiri di depan kelas.

Ilmu yang pernah diberikan tetap hidup dalam diri murid-muridnya. Nilai yang ditanamkan tetap tumbuh. Sekolah yang pernah dibangunnya terus berkembang. Dan cerita tentang perjuangannya tetap dapat diwariskan kepada generasi berikutnya.

Bagi saya, pertemuan Kake Dimjati dengan Buya Hamka menjadi salah satu bagian paling menarik dari perjalanan ini. Bukan karena ingin membesar-besarkan sebuah pertemuan, tetapi karena peristiwa itu menggambarkan semangat zaman ketika pendidikan Islam dibangun melalui gotong royong para tokoh dan masyarakat.

Ada ulama.

Ada guru.

Ada tokoh masyarakat.

Ada panitia pembangunan masjid.

Ada orang tua.

Dan ada anak-anak yang membutuhkan pendidikan.

Semua unsur tersebut bertemu dalam satu cita-cita: membangun manusia melalui pendidikan.

Hari ini, ketika kita melihat sekolah-sekolah besar berdiri dengan gedung yang megah, ruang kelas yang nyaman, laboratorium, perpustakaan, komputer, internet, dan berbagai fasilitas modern, kita sering lupa bahwa semua itu mempunyai sejarah panjang. Ada generasi sebelumnya yang memulai dengan fasilitas yang sangat sederhana.

Kake Dimjati adalah bagian dari generasi yang memulai itu.

Ia tidak menunggu semuanya sempurna. Ia mulai dari aula masjid.

Ia tidak menunggu jumlah murid banyak. Ia mulai dari murid yang ada.

Ia tidak menunggu gedung sekolah berdiri. Ia mengajar di tempat yang tersedia.

Dan ia tidak menunggu namanya dikenal. Ia bekerja karena percaya bahwa pendidikan harus diberikan kepada anak-anak.

Mungkin itulah makna terdalam dari kisah seorang guru.

Guru tidak selalu menikmati hasil dari apa yang ditanamnya. Kadang-kadang ia hanya menanam, menyiram, merawat, lalu generasi berikutnyalah yang menikmati teduhnya pohon.

Kake Dimjati telah menanam pohon itu sejak tahun 1960.

Pertemuan dengan Buya Hamka menjadi salah satu bagian dari perjalanan panjang tersebut. Dari pertemuan dengan para tokoh masyarakat, lahirlah sebuah gagasan. Dari gagasan lahirlah sekolah. Dari sekolah lahirlah generasi. Dan dari generasi itulah jejak pengabdian Kake Dimjati terus hidup.

Karena itu, ketika saya mendengar kembali kisah tersebut, saya tidak hanya melihatnya sebagai cerita tentang seorang kakek.

Saya melihatnya sebagai sebuah warisan.

Warisan tentang keberanian memulai.

Warisan tentang ketekunan seorang guru.

Warisan tentang pentingnya pendidikan.

Dan warisan tentang bagaimana sebuah perubahan besar terkadang bermula dari sebuah ruangan sederhana di sebuah masjid.

Kake Dimjati mungkin telah lama meninggalkan ruang kelas, tetapi ruang kelas tidak pernah benar-benar meninggalkan dirinya.

Namanya mungkin tidak selalu disebut ketika orang berbicara tentang sejarah pendidikan Islam di Jakarta. Namun, bagi keluarga dan mereka yang mengetahui perjalanan awalnya, ada sebuah kebanggaan yang tidak ternilai: pernah ada seorang guru yang memulai dari nol, mengajar di aula Masjid Agung Kebayoran, bertemu dengan para tokoh masyarakat termasuk Buya Hamka, dan ikut menanam benih yang kemudian tumbuh menjadi sebuah lembaga pendidikan besar.

Itulah kisah yang layak diwariskan.

Sebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang mampu membangun gedung-gedung pendidikan, tetapi juga bangsa yang mau mengingat orang-orang yang dahulu meletakkan batu pertamanya.

Dan bagi keluarga kami, salah satu orang yang patut dikenang adalah Kake Dimjati—seorang guru, perintis, dan pejuang pendidikan yang memulai langkahnya dari aula Masjid Agung Kebayoran.

Sebuah langkah sederhana.

Sebuah mimpi besar.

Dan sebuah warisan yang terus hidup hingga hari ini.

7 langkah aman Menghadapi Abu vulkanik

7 Langkah Aman Menghadapi Abu Vulkanik: Jangan Panik, Lindungi Diri dan Keluarga

Gunung api adalah bagian dari kehidupan masyarakat Indonesia. Negeri ini berada di kawasan yang memiliki banyak gunung api aktif sehingga masyarakat perlu memiliki pengetahuan yang cukup tentang apa yang harus dilakukan ketika terjadi erupsi. Salah satu dampak erupsi yang sering dirasakan masyarakat adalah hujan abu vulkanik. Abu yang terlihat seperti debu biasa sebenarnya dapat mengganggu kesehatan, mengotori lingkungan, mengganggu jarak pandang, bahkan merusak kendaraan dan berbagai peralatan jika tidak dibersihkan dengan cara yang tepat.

Infografik tentang “7 Langkah Aman Menghadapi Abu Vulkanik” memberikan pesan sederhana tetapi sangat penting: jangan menghadapi abu vulkanik dengan kepanikan, tetapi dengan pengetahuan dan tindakan yang benar. Partikel abu vulkanik dapat mengiritasi mata dan saluran pernapasan serta dapat menggores permukaan benda, terutama kaca kendaraan, jendela, dan kacamata. Karena itu, keselamatan manusia harus menjadi prioritas utama, sementara kegiatan membersihkan rumah dan kendaraan dilakukan setelah kondisi memungkinkan.

1. Bersihkan Abu Setelah Hujan Abu Berhenti

Ketika hujan abu terjadi, keinginan pertama kita mungkin segera membersihkan halaman, atap, kendaraan, atau benda-benda lain yang tertutup abu. Namun, membersihkan abu secara sembarangan justru dapat membuat partikel abu beterbangan dan kembali terhirup.

Langkah yang lebih aman adalah menunggu sampai hujan abu berhenti dan kondisi dinyatakan cukup aman. Abu yang menumpuk dapat dilembapkan dengan sedikit air, kemudian disapu atau dikumpulkan secara perlahan. Jangan menyiram abu secara berlebihan hingga terbawa masuk ke saluran air karena dapat menyebabkan penyumbatan.

Gunakan alat pelindung diri ketika melakukan pembersihan. Jika kondisi lingkungan masih dipenuhi abu di udara, sebaiknya jangan memaksakan diri untuk membersihkan. Keselamatan pernapasan lebih penting daripada halaman rumah yang harus segera terlihat bersih.

2. Bilas Kaca Sebelum Dilap

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan ketika membersihkan abu vulkanik adalah langsung mengelap kaca yang penuh abu dalam kondisi kering. Padahal, partikel abu vulkanik dapat bersifat abrasif sehingga menggosok permukaan kaca secara langsung berpotensi menimbulkan goresan.

Karena itu, kaca mata, jendela rumah, kaca kendaraan, dan permukaan kaca lainnya sebaiknya dibilas terlebih dahulu menggunakan air bersih. Setelah partikel abu terlepas, gunakan kain yang lembut untuk membersihkannya.

Prinsip sederhananya adalah: jangan menggosok abu kering pada permukaan kaca. Sedikit kesabaran dapat menyelamatkan kita dari kerusakan yang sebenarnya tidak perlu terjadi.

Hal ini juga berlaku pada kaca spion, lampu kendaraan, kamera, maupun benda elektronik yang memiliki permukaan kaca. Bersihkan secara perlahan dan hindari tindakan yang menyebabkan abu kembali beterbangan.

3. Gunakan Pelindung yang Tepat

Ketika berada di lingkungan yang terdampak abu vulkanik, perlindungan tubuh menjadi sangat penting. Infografik menyarankan penggunaan masker N95/KN95 yang sesuai ukuran dan terpasang rapat, kacamata pelindung, pakaian tertutup, dan sarung tangan.

Masker yang terpasang longgar tentu tidak memberikan perlindungan optimal. Karena itu, pastikan masker menutup hidung dan mulut dengan baik. Jangan membiasakan diri menurunkan masker ketika lingkungan masih berdebu hanya karena merasa sesak atau tidak nyaman.

Kacamata pelindung juga bermanfaat untuk mengurangi paparan abu terhadap mata. Sementara itu, pakaian tertutup dan sarung tangan dapat membantu melindungi kulit ketika kita harus melakukan aktivitas di lingkungan yang banyak mengandung abu.

Bagi anak-anak, lansia, dan orang yang memiliki kondisi kesehatan tertentu, kehati-hatian perlu ditingkatkan. Jika aktivitas di luar rumah tidak benar-benar diperlukan, lebih baik tetap berada di dalam ruangan yang terlindungi.

4. Jangan Mengucek Mata

Mata merupakan bagian tubuh yang sangat sensitif terhadap partikel asing. Ketika abu masuk ke mata, reaksi spontan yang sering dilakukan adalah menguceknya. Padahal, tindakan tersebut justru dapat memperparah iritasi dan berpotensi menyebabkan goresan pada permukaan mata.

Jika abu masuk ke mata, jangan mengucek mata. Lepaskan lensa kontak apabila sedang menggunakannya, kemudian bilas mata secara perlahan menggunakan air bersih yang mengalir.

Setelah dibilas, berikan waktu agar mata kembali nyaman. Jika gangguan mata menetap, terasa sangat nyeri, penglihatan terganggu, atau muncul keluhan serius lainnya, jangan menunda untuk mendapatkan pertolongan medis.

Pesan ini tampak sederhana, tetapi sering kali justru hal-hal sederhana yang menentukan keselamatan ketika situasi darurat terjadi.

5. Bersihkan Kendaraan dengan Aman

Kendaraan yang terparkir di luar rumah dapat menjadi salah satu benda yang paling mudah terkena abu vulkanik. Mobil dan sepeda motor mungkin terlihat sangat kotor setelah hujan abu, tetapi jangan terburu-buru mengambil kain atau lap untuk menggosoknya.

Abu yang menempel pada permukaan kendaraan sebaiknya dibilas dengan air terlebih dahulu. Setelah abu terlepas, barulah kendaraan dibersihkan secara hati-hati. Hindari langsung mengelap atau menyikat permukaan kendaraan ketika masih banyak abu kering yang menempel.

Selain berpotensi menggores cat dan kaca, aktivitas membersihkan kendaraan di tengah kondisi udara yang masih dipenuhi abu juga dapat meningkatkan risiko abu terhirup.

Bahkan, jika kendaraan belum diperlukan untuk perjalanan penting, ada baiknya menunda penggunaannya. Mengendarai kendaraan ketika hujan abu masih berlangsung dapat mengurangi jarak pandang dan meningkatkan risiko kecelakaan.

6. Cegah Abu Masuk ke Dalam Rumah

Rumah seharusnya menjadi tempat perlindungan ketika abu vulkanik bertebaran di luar. Namun, rumah tidak otomatis aman apabila pintu, jendela, dan ventilasi dibiarkan terbuka.

Tutup pintu, jendela, dan ventilasi ketika abu vulkanik sedang beterbangan. Celah yang memungkinkan abu masuk juga dapat ditutup menggunakan bahan yang tersedia, seperti plastik, perekat, atau kain lembap.

Perhatikan pula ruangan yang menjadi tempat berkumpul keluarga. Jangan sampai abu yang berasal dari luar terbawa masuk melalui alas kaki, pakaian, atau barang-barang lainnya.

Membersihkan rumah juga harus dilakukan dengan hati-hati. Hindari tindakan yang membuat abu beterbangan kembali ke udara. Jika memungkinkan, lakukan pembersihan secara perlahan setelah kondisi lingkungan cukup aman.

7. Utamakan Kesehatan

Pada akhirnya, semua langkah tersebut bermuara pada satu hal: kesehatan harus menjadi prioritas utama.

Ketika terjadi hujan abu, batasi aktivitas di luar rumah. Jangan merasa harus tetap beraktivitas seperti biasa hanya karena abu terlihat seperti debu biasa. Kondisi udara dapat berubah dan paparan abu dalam jumlah tertentu dapat mengganggu saluran pernapasan serta mata.

Jika seseorang mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau gangguan mata yang menetap, segera cari pertolongan medis. Jangan menunggu sampai kondisi menjadi lebih parah.

Kita juga perlu memperhatikan anggota keluarga yang mungkin lebih rentan terhadap gangguan akibat kualitas udara dan partikel debu. Pastikan mereka berada di tempat yang terlindungi dan memiliki akses terhadap kebutuhan dasar selama kondisi darurat berlangsung.

Jangan Mudah Percaya Informasi yang Belum Jelas

Dalam situasi bencana, informasi sama pentingnya dengan perlengkapan keselamatan. Berita yang tidak benar dapat membuat masyarakat panik atau justru mengambil keputusan yang membahayakan.

Karena itu, masyarakat perlu memantau informasi resmi dari lembaga yang berwenang, seperti Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG/MAGMA Indonesia), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), BPBD, serta petugas di wilayah terdampak.

Jangan hanya mengandalkan pesan berantai di WhatsApp atau unggahan media sosial yang sumbernya tidak jelas. Periksa sumber informasi sebelum meneruskannya kepada keluarga, tetangga, atau masyarakat lainnya.

Dalam keadaan bencana, satu informasi yang benar dapat menyelamatkan banyak orang. Sebaliknya, satu informasi yang keliru dapat menimbulkan kepanikan dan keputusan yang salah.

Abu Vulkanik Bukan Sekadar Debu Biasa

Ada pelajaran penting yang dapat kita ambil dari tujuh langkah tersebut. Abu vulkanik tidak boleh dianggap sebagai debu biasa yang cukup disapu dan dibersihkan sesuka hati. Kita membutuhkan cara yang tepat untuk melindungi pernapasan, mata, kulit, rumah, kendaraan, dan lingkungan.

Yang tidak kalah penting adalah menjaga ketenangan. Jangan panik, tetapi jangan pula meremehkan. Dengarkan arahan petugas, gunakan alat pelindung yang sesuai, kurangi aktivitas di luar rumah, dan bantu anggota keluarga memahami apa yang harus dilakukan.

Bencana alam memang tidak selalu bisa kita cegah, tetapi risikonya dapat kita kurangi dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan. Anak-anak pun perlu diajarkan sejak dini bahwa ketika terjadi bencana, keselamatan bukan hanya tentang berlari menjauh, melainkan juga tentang mengetahui tindakan yang benar.

Pada akhirnya, menghadapi abu vulkanik bukan sekadar persoalan membersihkan rumah setelah gunung api meletus. Ini adalah persoalan budaya sadar bencana. Kita belajar untuk tidak panik, tidak gegabah, tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi, serta selalu mendahulukan keselamatan manusia.

Tujuh langkah sederhana hari ini bisa menjadi perlindungan yang sangat berarti bagi keluarga kita ketika bencana benar-benar datang.

Pesan Omjay: Mengetahui apa yang harus dilakukan sebelum bencana terjadi jauh lebih baik daripada baru belajar ketika bencana sudah terjadi. Jangan panik, tetap waspada, lindungi keluarga, dan ikuti informasi resmi.

Teaser 150 karakter

Abu vulkanik bukan sekadar debu. Kenali 7 langkah aman untuk melindungi diri, keluarga, rumah, kendaraan, dan kesehatan saat hujan abu terjadi.

6 Tag SEO Kompasiana

Abu Vulkanik, Erupsi Gunung Api, Mitigasi Bencana, Kesiapsiagaan Bencana, BNPB, Kesehatan Masyarakat

Sabtu, 05 September 2026

Alumni SMPN 30 di HUT Sekolah yang ke 65

Meriahkan HUT ke-65 SMPN 30 Jakarta, Alumni Kembali Menjalin Silaturahmi

Blog https://wijayalabs.com

Ada yang istimewa ketika para alumni kembali berkumpul di sekolah tempat mereka pernah belajar. Wajah boleh berubah karena waktu, rambut boleh mulai memutih, tetapi kenangan masa sekolah seolah tidak pernah benar-benar pergi. Itulah suasana yang terasa dalam peringatan HUT ke-65 SMPN 30 Jakarta yang berlangsung meriah dan penuh keakraban.

Dari foto yang diabadikan, tampak para alumni berdiri bersama di atas panggung dengan mengenakan kaus bertema HUT ke-65. Senyum dan canda terlihat jelas di wajah mereka. Sebuah panggung sederhana menjadi saksi bahwa reuni bukan sekadar bertemu teman lama, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat persaudaraan yang telah terjalin sejak masa sekolah.

Di belakang para alumni terpampang tulisan besar “MEMPERINGATI HUT KE-65 SMPN 30 JAKARTA”. Identitas Lintas Angkatan SMP Negeri 30 Jakarta juga terlihat pada spanduk. Kehadiran lintas generasi menunjukkan bahwa ikatan alumni mampu melampaui batas usia dan tahun kelulusan.

Bagi saya, kegiatan seperti ini mempunyai makna yang sangat penting. Sekolah bukan hanya tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Sekolah juga menjadi tempat seseorang menemukan sahabat, belajar bekerja sama, mengenal kehidupan, dan menyimpan begitu banyak kenangan. Setelah puluhan tahun berlalu, kenangan itu justru menjadi semakin berharga.

Saya sering mengatakan bahwa silaturahmi adalah investasi kehidupan. Kita tidak pernah tahu kapan sebuah pertemuan akan membuka pintu kebaikan. Bisa jadi teman yang dahulu duduk sebangku kini menjadi seorang profesional, pengusaha, pendidik, birokrat, atau tokoh masyarakat. Semua memiliki perjalanan masing-masing, tetapi pernah dipersatukan oleh satu sekolah yang sama.

Peringatan HUT ke-65 SMPN 30 Jakarta menjadi momentum untuk kembali mengingat perjalanan panjang sekolah sekaligus memperkuat hubungan antarlulusan. Generasi muda pun dapat belajar bahwa keberhasilan sebuah sekolah tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari seberapa kuat para alumninya menjaga rasa memiliki terhadap almamater.

Yang menarik, reuni seperti ini biasanya selalu menghadirkan cerita. Ada yang dahulu terkenal rajin, ada yang suka bercanda di kelas, ada yang sering terlambat, bahkan ada pula yang mungkin dahulu jarang berbicara tetapi kini menjadi orang penting. Ketika bertemu kembali, semua perbedaan itu mencair.

“Dulu kita bertemu sebagai siswa, hari ini kita bertemu sebagai keluarga besar alumni.”

Kalimat sederhana tersebut menggambarkan semangat yang terpancar dari kegiatan ini.

Enam puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Di dalamnya tentu ada perjalanan panjang, pergantian generasi, perubahan zaman, serta berbagai prestasi yang telah ditorehkan. SMPN 30 Jakarta telah menjadi bagian dari perjalanan hidup banyak orang yang pernah belajar di dalamnya.

Karena itu, HUT ke-65 bukan hanya perayaan sebuah angka. Ini adalah kesempatan untuk mengucapkan terima kasih kepada para guru yang pernah mendidik, mengenang sahabat-sahabat lama, serta meneruskan semangat kebersamaan kepada generasi berikutnya.

Saya percaya, almamater yang kuat lahir dari hubungan yang kuat antara sekolah, guru, siswa, orang tua, dan alumni. Ketika semuanya bergerak bersama, sekolah tidak hanya menjadi bangunan tempat belajar, tetapi berubah menjadi rumah besar yang selalu dirindukan.

Melihat kebersamaan para alumni dalam peringatan HUT ke-65 SMPN 30 Jakarta, saya kembali teringat satu hal: waktu boleh berjalan, tetapi persahabatan tidak harus berakhir.

Selamat ulang tahun ke-65 untuk SMPN 30 Jakarta. Semoga semakin maju, semakin berprestasi, semakin menginspirasi, dan terus melahirkan generasi terbaik untuk Indonesia.

Menulis kenangan adalah cara sederhana untuk membuat sebuah peristiwa tidak hilang ditelan waktu.

Salam silaturahmi dan salam literasi.
Omjay, Guru Blogger Indonesia
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Senam Ling Tien Kung dan Manfaatnya Bagi Penyintas Stroke

Senam Ling Tien Kung dan Manfaatnya bagi Penyintas Stroke
Oleh Wijaya Kusumah - omjay 
Blog https://wijayalabs.com

Bagi penyintas stroke, bergerak adalah bagian penting dari proses pemulihan. Aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur dapat membantu meningkatkan kemampuan berjalan, keseimbangan, kekuatan, suasana hati, serta menurunkan berbagai faktor risiko stroke berulang. American Stroke Association juga menekankan bahwa olahraga setelah stroke perlu disesuaikan dengan kemampuan dan kondisi masing-masing orang. 

Dalam konteks inilah Senam Ling Tien Kung menarik untuk dibicarakan. Gerakannya relatif sederhana dan dilakukan dengan pengaturan tubuh serta pernapasan. Namun, perlu ditegaskan bahwa bukti ilmiah khusus mengenai Ling Tien Kung untuk pemulihan stroke masih terbatas. Ada penelitian tugas akhir di Universitas Airlangga yang secara khusus meneliti hubungan gerakan Ling Tien Kung dengan regulasi tekanan darah pada pasien pascastroke, tetapi penelitian tersebut belum cukup untuk menyimpulkan bahwa Ling Tien Kung merupakan terapi stroke yang terbukti secara klinis. 

Mengapa olahraga ringan penting bagi penyintas stroke?

Setelah stroke, seseorang bisa mengalami kelemahan anggota tubuh, gangguan keseimbangan, kesulitan berjalan, mudah lelah, atau berkurangnya rasa percaya diri. Latihan fisik yang dilakukan dengan tepat dapat membantu proses adaptasi dan pemulihan tersebut.

Bahkan, penelitian terhadap berbagai latihan tradisional Tiongkok seperti Tai Chi, Baduanjin, dan Wuqinxi menemukan manfaat terhadap fungsi motorik, keseimbangan, dan kesehatan mental pasien stroke. Meta-analisis terhadap 27 uji acak menemukan adanya perbaikan bermakna pada fungsi motorik, keseimbangan, dan kesehatan mental. 

Artinya, prinsip latihan yang terkontrol, bertahap, tidak berlebihan, dan dilakukan secara rutin memiliki dasar yang cukup baik dalam rehabilitasi stroke. Tetapi hasil penelitian terhadap latihan tradisional tersebut tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa Ling Tien Kung memiliki manfaat yang sama.

Kalau dikaitkan dengan pengalaman Omjay

Bagi Omjay Guru Blogger Indonesia, aktivitas seperti Ling Tien Kung bisa menjadi bagian dari gaya hidup aktif setelah mengalami masalah kesehatan yang berkaitan dengan stroke. Yang paling penting bukan mengejar gerakan yang sempurna, tetapi konsisten bergerak sesuai kemampuan tubuh.

Misalnya, latihan dapat diarahkan untuk:

menjaga kelenturan tubuh;

melatih koordinasi gerakan;

mempertahankan kekuatan otot;

membantu keseimbangan;

mengurangi terlalu banyak duduk;

meningkatkan kebugaran secara bertahap;

membangun kepercayaan diri untuk kembali beraktivitas.

American Stroke Association menyebutkan bahwa aktivitas fisik setelah stroke dapat membantu mobilitas, berjalan, keseimbangan, suasana hati, serta mengurangi risiko jatuh dan berbagai faktor risiko penyakit kardiovaskular. 

Tetapi jangan menjadikan senam sebagai pengganti pengobatan

Ini bagian yang sangat penting.

Ling Tien Kung sebaiknya dipandang sebagai aktivitas pendukung, bukan pengganti obat, kontrol dokter, fisioterapi, atau rehabilitasi medis. Penyintas stroke mempunyai kondisi yang sangat beragam. Ada yang sudah mampu berjalan mandiri, tetapi ada pula yang masih mempunyai gangguan keseimbangan atau kelemahan pada satu sisi tubuh.

Karena itu, sebelum meningkatkan intensitas latihan, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau fisioterapis. American Stroke Association secara khusus menyarankan penyintas stroke mendiskusikan program aktivitas fisik dengan tim kesehatan dan, bila diperlukan, menjalani latihan dengan pengawasan profesional. 

Jangan memaksakan diri. Bila tubuh terasa sangat lelah, pusing, nyeri dada, sesak, atau muncul gejala neurologis baru seperti wajah mencong, bicara pelo, kelemahan atau mati rasa mendadak pada salah satu sisi tubuh, latihan harus dihentikan dan perlu mendapatkan pertolongan medis segera.

Filosofi sederhana untuk Omjay

Bagi saya, ada pelajaran menarik dari kebiasaan berolahraga setelah stroke:

> Tidak perlu menunggu tubuh sempurna untuk mulai bergerak. Bergeraklah sesuai kemampuan, sedikit demi sedikit, tetapi dilakukan dengan konsisten.

Senam bisa menjadi momentum untuk bertemu teman, mendapatkan semangat, tertawa bersama, dan menjaga pikiran tetap positif. Bagi seorang guru dan penulis seperti Omjay, kesehatan tubuh juga menjadi modal untuk terus menulis, mengajar, berbagi ilmu, dan menginspirasi banyak orang.

Jadi, Ling Tien Kung boleh menjadi salah satu pilihan aktivitas fisik bagi penyintas stroke yang sudah dinyatakan aman untuk berolahraga, tetapi manfaatnya perlu ditempatkan secara proporsional: bukan “obat stroke”, melainkan bagian dari pola hidup aktif dan pemulihan yang lebih luas.

Dan seperti mantra Omjay:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Sekarang bisa ditambah satu kalimat:

*“Bergeraklah setiap hari, sesuai kemampuan, dan syukuri setiap kemajuan.”*

Kamis, 03 September 2026

Rahasia Tetap Percaya Diri Meskipun Belum Kuasai Materi

Rahasia Tetap Percaya Diri Meski Belum Menguasai Materi Saat Berbicara

Oleh: Omjay Guru Blogger Indonesia

Pernahkah Anda diminta berbicara di depan banyak orang, tetapi sebenarnya belum terlalu menguasai materi yang akan disampaikan? Kalau pernah, jangan buru-buru panik. Saya, Omjay Guru Blogger Indonesia, juga pernah berada dalam situasi seperti itu.

Ada kalanya kita mendapat undangan menjadi narasumber, moderator, guru tamu, atau pembicara dalam sebuah kegiatan. Waktu persiapan sangat terbatas. Materi belum semuanya dibaca. Slide belum sempurna. Bahkan terkadang baru mengetahui tema pembicaraan beberapa saat sebelum acara dimulai.

Lalu muncul pertanyaan dalam hati, “Bagaimana kalau nanti saya ditanya dan tidak bisa menjawab?”

Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Namun, saya belajar bahwa percaya diri bukan berarti harus mengetahui semuanya. Percaya diri adalah keberanian untuk tetap berbicara sambil menyadari bahwa kita masih terus belajar.

Rahasia pertama yang saya lakukan adalah jujur kepada peserta. Saya tidak malu mengatakan bahwa saya belum mengetahui semuanya. Justru dengan kejujuran itu, suasana menjadi lebih cair. Saya bisa berkata, “Bapak dan Ibu, materi ini masih terus saya pelajari. Kalau ada yang lebih memahami, mari kita belajar bersama.”

Ajaibnya, kalimat sederhana itu sering membuat peserta merasa lebih dekat. Mereka tidak sedang berhadapan dengan orang yang merasa paling pintar, tetapi dengan seorang pembelajar yang mau berbagi pengalaman.

Rahasia kedua adalah berbicara berdasarkan pengalaman. Ketika teori belum sepenuhnya dikuasai, pengalaman menjadi penyelamat. Saya bisa menceritakan apa yang pernah saya lakukan sebagai guru, blogger, penulis, atau narasumber. Pengalaman nyata biasanya lebih mudah diceritakan daripada teori yang baru saja kita baca.

Rahasia ketiga adalah jangan takut mengatakan “saya belum tahu”. Bagi sebagian orang, kalimat itu terasa seperti kelemahan. Bagi saya, justru sebaliknya. Mengatakan belum tahu menunjukkan bahwa kita memiliki kerendahan hati untuk terus belajar.

Jika ada pertanyaan yang belum bisa saya jawab, saya biasanya mengatakan, “Pertanyaan ini menarik. Saya belum memiliki jawaban yang tepat. Izinkan saya mempelajarinya terlebih dahulu.” Setelah itu, saya mencatat pertanyaannya. Jangan sampai pertanyaan peserta hilang begitu saja.

Rahasia berikutnya adalah kuasai inti, bukan semuanya. Sebelum berbicara, saya berusaha memahami tiga hal: apa tujuan pembicaraan, siapa pesertanya, dan pesan utama apa yang ingin saya tinggalkan. Kalau tiga hal itu sudah jelas, saya tidak perlu menghafalkan seluruh materi.

Saya juga selalu berusaha menjadikan pembicaraan sebagai percakapan. Tidak perlu terlalu kaku. Sesekali humor boleh digunakan. Bertanya kepada peserta juga penting. Dengan begitu, pembicara tidak merasa sedang sendirian menghadapi ruangan.

Dari pengalaman panjang mengajar dan menulis, saya semakin yakin bahwa orang percaya kepada pembicara bukan karena pembicara mengetahui segalanya, tetapi karena pembicara tulus, jujur, dan memberikan manfaat.

Jadi, kalau suatu hari Anda diminta berbicara dan merasa belum menguasai materi, jangan langsung menolak. Persiapkan bagian terpenting, ceritakan pengalaman Anda, dengarkan peserta, dan berani mengatakan belum tahu ketika memang belum tahu.

Tidak ada manusia yang mengetahui semuanya.

Kita semua adalah pembelajar.

Dan saya, Omjay, terus belajar sambil berbagi. Sebab saya percaya pada satu prinsip sederhana:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Begitu pula dalam berbicara. Berbicaralah dengan hati, berbagi dengan rendah hati, dan teruslah belajar setiap hari. Percaya diri akan tumbuh bukan karena kita sempurna, tetapi karena kita berani memulai.

Rabu, 02 September 2026

Pendafataran Peserta Kelas Belajar Menulis Gratis

📢 PENDAFTARAN KELAS BELAJAR MENULIS NUSANTARA (KBMN PGRI) ✍️🇮🇩

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bagi Bapak/Ibu guru, pendidik, tenaga kependidikan, mahasiswa, dan siapa saja yang memiliki keinginan untuk belajar menulis, mengembangkan kemampuan literasi, serta menghasilkan karya, kini dibuka pendaftaran peserta Kelas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) PGRI.

KBMN PGRI hadir sebagai ruang belajar bersama bagi para penulis pemula maupun yang sudah berpengalaman. Di sini kita tidak hanya belajar teori menulis, tetapi juga belajar menemukan ide, mengembangkan tulisan, melakukan editing, menerbitkan buku, membangun personal branding, hingga memanfaatkan teknologi dan AI secara bijak dalam proses menulis.

🌟 Mengapa ikut KBMN PGRI?

✅ Belajar menulis bersama mentor dan penulis berpengalaman
✅ Mendapatkan wawasan dan pengalaman dalam dunia kepenulisan
✅ Bergabung dengan komunitas penulis dari berbagai daerah
✅ Memiliki kesempatan mengembangkan karya menjadi buku
✅ Membangun jejaring dan kolaborasi sesama guru dan penulis
✅ Menjadikan menulis sebagai kebiasaan yang produktif dan inspiratif

Seperti pesan Omjay, “Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Justru dengan terus menulis, kita belajar, berkembang, dan perlahan menemukan gaya tulisan kita sendiri.

📝 DAFTAR SEKARANG

Silakan mengisi formulir pendaftaran melalui tautan berikut:

"Formulir Pendaftaran KBMN PGRI" (https://forms.gle/9NDd8mZAbPeDooyH7?utm_source=chatgpt.com)

📌 Jangan lewatkan kesempatan untuk belajar, menulis, berkarya, dan menginspirasi bersama KBMN PGRI.

Mari bergabung dan menjadi bagian dari keluarga besar Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI.

✍️ Menulis adalah cara sederhana untuk meninggalkan jejak kebaikan.

Salam literasi!
Salam KBMN PGRI! 🇮🇩✍️

Tanggalkan Baju Kesombonganmu dan Jadilah Orang yang Sabar dan Rendah Hati

Tanggalkan Baju Kesombonganmu, Jadilah Orang yang Rendah Hati dan Sabar

Inspirasi Pagi, Rabu 2 September 2026

Pagi ini saya kembali belajar dari kehidupan bahwa ilmu yang kita miliki seharusnya membuat kita semakin rendah hati, bukan semakin tinggi hati. Gelar yang tertulis di belakang nama, jabatan yang melekat di pundak, pengalaman yang panjang, ataupun penghargaan yang tersimpan di lemari, semuanya tidak akan memiliki makna apabila membuat kita merasa lebih hebat daripada orang lain. Justru semakin banyak ilmu yang kita miliki, seharusnya semakin sadar bahwa masih begitu banyak hal yang belum kita ketahui. Karena itu, pagi ini saya ingin mengajak diri saya sendiri dan sahabat pembaca untuk menanggalkan baju kesombongan, kemudian mengenakan pakaian kerendahan hati dan kesabaran dalam menjalani kehidupan.

Sebagai seorang guru, saya sering merasakan bahwa ruang kelas adalah tempat terbaik untuk belajar menjadi manusia. Kita memang datang ke sekolah membawa ilmu, pengalaman, dan berbagai pengetahuan yang ingin dibagikan kepada peserta didik. Namun, setiap kali berhadapan dengan anak-anak, saya menyadari bahwa mereka juga membawa pelajaran yang tidak tertulis di buku. Ada anak yang mengajarkan kesabaran, ada yang mengajarkan ketelitian, ada yang mengajarkan kejujuran, bahkan ada yang tanpa sengaja mengajarkan kita untuk tidak mudah marah. Guru yang merasa dirinya paling pintar biasanya akan cepat kecewa ketika muridnya tidak memahami penjelasan. Sebaliknya, guru yang rendah hati akan bertanya kepada dirinya sendiri, “Jangan-jangan cara mengajar saya yang perlu diperbaiki?”

Saya belajar bahwa menjaga lisan merupakan salah satu bentuk persahabatan terbaik dengan diri sendiri. Banyak masalah dalam kehidupan sebenarnya tidak dimulai dari perbuatan besar, tetapi dari kata-kata kecil yang keluar tanpa dipikirkan. Satu kalimat yang menyakitkan dapat diingat seseorang selama bertahun-tahun, sedangkan permintaan maaf terkadang tidak mampu menghapus seluruh bekasnya. Karena itu, sebelum berbicara, saya berusaha mengingatkan diri agar bertanya terlebih dahulu: apakah perkataan ini benar, apakah bermanfaat, dan apakah disampaikan dengan cara yang baik? Kalau tidak, mungkin diam adalah pilihan yang jauh lebih bijaksana.

Begitu pula dengan kesabaran. Sabar bukan berarti menyerah dan membiarkan kehidupan berjalan tanpa usaha. Sabar adalah kemampuan untuk tetap melakukan kebaikan meskipun hasilnya belum terlihat. Dalam perjalanan menulis, misalnya, saya pernah menulis banyak tulisan yang pembacanya hanya sedikit. Ada tulisan yang saya kira akan ramai ternyata sepi, sementara tulisan yang dibuat sederhana justru mendapatkan perhatian pembaca. Dari situ saya belajar bahwa tugas seorang penulis bukan memaksa orang membaca, melainkan terus menulis dengan hati yang tulus. Urusan kapan tulisan itu menemukan pembacanya, biarlah menjadi bagian dari perjalanan.

Kadang-kadang kita terlalu sibuk mengejar pengakuan manusia sampai lupa memperbaiki diri sendiri. Kita ingin dipuji karena pintar, ingin dianggap hebat karena memiliki gelar, ingin dihormati karena jabatan, bahkan ingin dikenal karena banyaknya karya. Padahal, kehormatan seseorang sesungguhnya tidak hanya ditentukan oleh apa yang dimilikinya, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan orang lain. Orang yang benar-benar berilmu tidak perlu terus-menerus mengatakan bahwa dirinya pintar. Sikap, ucapan, dan perbuatannya akan menjadi bukti. Seperti padi, semakin berisi semakin merunduk.

Saya juga percaya bahwa akal, iman, dan akhlak merupakan tiga hal yang harus berjalan bersama. Kecerdasan tanpa akhlak dapat membuat seseorang mudah merendahkan orang lain. Ilmu tanpa kebijaksanaan dapat berubah menjadi alat untuk menunjukkan kehebatan diri. Sebaliknya, ilmu yang disertai iman dan akhlak akan menjadi cahaya yang menerangi kehidupan. Orang yang bijaksana bukanlah orang yang selalu memenangkan perdebatan, melainkan orang yang tahu kapan harus berbicara, kapan harus mendengarkan, dan kapan harus memilih diam.

Dalam kehidupan sehari-hari, kebaikan sebenarnya tidak selalu membutuhkan tenaga besar dan biaya mahal. Tersenyum kepada orang lain, menyapa dengan ramah, mengucapkan terima kasih, meminta maaf ketika bersalah, memberikan nasihat dengan tulus, dan tidak membalas keburukan dengan keburukan adalah bentuk kebaikan yang sangat sederhana. Sayangnya, sesuatu yang sederhana sering kali justru sulit dilakukan karena ego kita ingin selalu menang. Kita ingin menjadi orang terakhir yang berbicara dan merasa paling benar. Padahal, terkadang kemenangan terbesar adalah ketika kita berhasil mengalahkan kesombongan yang ada di dalam diri sendiri.

Pagi ini saya kembali mengingat sebuah pelajaran penting: mahkota seseorang adalah akalnya, derajat seseorang adalah agamanya, dan kehormatan seseorang adalah akhlaknya. Kalimat tersebut mengingatkan saya bahwa manusia tidak dinilai hanya dari apa yang tampak di luar. Penampilan dapat berubah, jabatan dapat berganti, kekayaan dapat berkurang, dan popularitas dapat datang serta pergi. Namun, akhlak yang baik akan selalu meninggalkan jejak dalam ingatan orang lain.

Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya ingin terus belajar menulis bukan sekadar untuk mengejar jumlah tulisan atau pembaca, tetapi untuk berbagi pengalaman dan meninggalkan manfaat. Saya pun masih jauh dari sempurna. Masih ada saat ketika emosi datang lebih cepat daripada kesabaran. Masih ada saat ketika ego ingin didahulukan. Namun, bukankah hidup memang sebuah proses belajar? Yang penting adalah mau menyadari kekurangan, memperbaikinya, lalu mencoba lagi dengan hati yang lebih tenang.

Kita tidak akan pernah meraih kesuksesan jika tidak pernah memulainya. Karena itu, jangan menunggu menjadi sempurna untuk berbuat baik. Jangan menunggu kaya untuk berbagi. Jangan menunggu pintar untuk belajar. Jangan menunggu terkenal untuk menulis. Dan jangan menunggu tua untuk menjadi bijaksana. Mulailah dari hal kecil hari ini.

Tanggalkan baju kesombonganmu. Lepaskan keinginan untuk selalu dipuji. Rendahkan hati di hadapan sesama manusia dan tundukkan diri di hadapan Allah. Jagalah lisan, perbaiki akhlak, berikan nasihat dengan tulus, dan rawat kesabaran dalam setiap keadaan. Sebab pada akhirnya, bukan seberapa tinggi kita berdiri yang paling penting, tetapi seberapa banyak orang yang merasa nyaman dan mendapatkan manfaat ketika berada di dekat kita.

Tetap semangat menjalani hari. Terus belajar, terus berbagi, terus menulis, dan terus memperbaiki diri.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Barakallah fiikum.

Selasa, 01 September 2026

otn 2026 akan segera digelar di jicc senayan

OTN 2026 Akan Kembali Digelar di Senayan, Saatnya Guru Informatika Bersiap

Kabar baik datang untuk para guru, peserta didik, dan pegiat teknologi pendidikan di Indonesia. Olimpiade Informatika dan KKA atau OTN 2026 direncanakan kembali digelar di kawasan Senayan, Jakarta, sekitar bulan Oktober 2026. Setelah sebelumnya menjadi ruang bertemunya guru, peserta didik, komunitas, dan pegiat informatika, OTN 2026 diharapkan dapat menghadirkan semangat baru dalam mengembangkan kompetensi digital di tengah perubahan teknologi yang berlangsung begitu cepat.

Bagi saya, OTN bukan sekadar sebuah kegiatan perlombaan. OTN adalah momentum untuk mempertemukan orang-orang yang memiliki kepedulian terhadap pendidikan informatika, koding, dan kecerdasan artifisial. Di sinilah guru dapat saling berbagi pengalaman, peserta didik dapat menguji kemampuan, dan komunitas dapat membangun jejaring yang lebih luas. Teknologi boleh berkembang dengan sangat cepat, tetapi manusia yang menggunakannya tetap harus belajar, berpikir kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Tahun 2026 menjadi tahun yang menarik karena Informatika dan Koding serta Kecerdasan Artifisial atau KKA semakin mendapatkan tempat penting dalam dunia pendidikan. Peserta didik tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi. Mereka perlu belajar bagaimana teknologi bekerja, bagaimana membuat solusi digital, bagaimana menyusun algoritma, serta bagaimana menggunakan kecerdasan artifisial secara bijak. Karena itu, kegiatan seperti OTN memiliki peran strategis dalam menumbuhkan budaya belajar teknologi sejak dini.

Komunitas Guru Informatika dan KKA PGRI tentu memiliki peran penting dalam perjalanan ini. Komunitas bukan hanya tempat berkumpul, tetapi juga ruang untuk belajar bersama. Guru yang sudah berpengalaman dapat berbagi dengan guru yang baru mulai mengajar informatika. Sebaliknya, guru muda sering membawa energi dan gagasan baru yang membuat pembelajaran menjadi lebih segar. Dari pertemuan seperti inilah lahir kolaborasi yang kadang tidak pernah kita rencanakan sebelumnya.

Saya membayangkan suasana OTN 2026 nanti akan kembali semarak. Para peserta datang dengan semangat membawa karya, ide, dan kemampuan terbaiknya. Ada yang sibuk mempersiapkan materi lomba, ada yang berlatih coding, ada yang mencoba memanfaatkan AI untuk menyelesaikan persoalan, dan tentu saja ada guru yang sibuk mendampingi anak didiknya sambil sesekali bertanya, “Pak, kalau ini salah bagaimana?” Saya biasanya menjawab dengan santai, “Tidak apa-apa salah. Yang penting jangan berhenti belajar.”

Bagi seorang guru, kesalahan dalam proses belajar bukanlah akhir perjalanan. Justru dari kesalahan itulah peserta didik belajar menemukan cara yang lebih baik. Inilah semangat yang seharusnya dibawa dalam OTN 2026. Kompetisi bukan hanya tentang siapa yang menjadi juara, tetapi juga tentang siapa yang berani mencoba, belajar dari kegagalan, dan pulang membawa pengalaman baru.

Jika OTN 2026 benar-benar digelar sekitar Oktober di JICC Senayan, Jakarta, saya berharap kegiatan ini menjadi pertemuan besar keluarga informatika dan KKA Indonesia. Semoga bukan hanya peserta lomba yang mendapatkan manfaat, tetapi juga para guru, sekolah, komunitas, dan masyarakat pendidikan secara lebih luas.

Tentu kita masih menunggu informasi resmi mengenai tanggal, rangkaian kegiatan, kategori lomba, mekanisme pendaftaran, serta ketentuan peserta. Namun sejak sekarang, tidak ada salahnya para guru dan peserta didik mulai mempersiapkan diri. Belajar coding, memahami konsep informatika, mengenal kecerdasan artifisial, membuat karya digital, dan yang paling penting membangun keberanian untuk mencoba.

Saya percaya, masa depan pendidikan Indonesia membutuhkan guru yang tidak takut terhadap teknologi. Guru tidak harus menjadi programmer hebat untuk mengajarkan informatika, tetapi guru harus mau terus belajar. Sebab teknologi terus berubah. Hari ini kita belajar satu aplikasi, besok mungkin muncul aplikasi baru. Hari ini kita mengenal satu model AI, besok mungkin lahir teknologi yang jauh lebih canggih.

OTN 2026 mudah-mudahan menjadi salah satu panggung untuk menunjukkan bahwa guru Indonesia siap menghadapi perubahan tersebut. Dari Senayan, semoga lahir inspirasi baru, kolaborasi baru, dan generasi baru yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menciptakan teknologi yang bermanfaat bagi manusia.

Bagi saya, OTN 2026 bukan hanya tentang olimpiade. Ia adalah tentang semangat belajar tanpa henti. Sebab di dunia informatika, satu hal yang pasti adalah perubahan. Dan guru yang mau terus belajar akan selalu memiliki tempat dalam perubahan itu.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Belajarlah setiap hari dan rasakan bagaimana teknologi dapat menjadi sahabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. OTN 2026, semoga kita bertemu kembali di Senayan!

tpg belum cair guru kembali diuji kesabarannya

TPG Belum Cair, Guru Kembali Diuji dengan Mata Pelajaran Kesabaran

Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Pagi itu, Selasa, 1 September 2026, grup percakapan guru kembali ramai. Bukan karena ada kabar kenaikan kesejahteraan, bukan pula karena pemerintah memberikan hadiah istimewa kepada para guru. Yang ramai justru pertanyaan yang sejak beberapa minggu terakhir terus berulang: “TPG sudah cair belum?” Pertanyaan sederhana, tetapi jawabannya ternyata tidak sesederhana mengisi daftar hadir di sekolah.

Ada guru yang mengabarkan bahwa TPG di Jawa Barat sudah cair sejak malam sebelumnya. Ada pula guru di Jawa Barat yang sampai siang masih menunggu “hilal” masuknya tunjangan ke rekening. Saya membaca percakapan itu sambil tersenyum getir. Seorang guru mengatakan hampir setiap hari membuka mobile banking. Saya kemudian bergurau, jangan-jangan sekarang ada mata pelajaran baru bagi guru, yaitu Matpel Kesabaran, dengan praktik wajib berupa membuka mobile banking setiap pagi, siang, sore, dan malam.

Guru memang manusia paling terlatih dalam urusan sabar. Menunggu siswa mengumpulkan tugas saja sudah biasa. Menunggu rapat selesai juga biasa. Menunggu kebijakan pemerintah yang berubah-ubah pun sudah menjadi bagian dari perjalanan profesi. Namun, kalau yang ditunggu adalah tunjangan profesi guru yang menjadi hak setelah memenuhi berbagai persyaratan, tentu rasa sabar itu memiliki batas.

Dalam percakapan tersebut muncul berbagai pengalaman dari para guru. Ada yang menyebut pencairan mulai dilakukan sejak 31 Agustus, tetapi belum semua guru menerimanya. Ada pula yang menyampaikan bahwa di Jakarta masih ada guru yang belum menerima. Bahkan saya mendapat laporan bahwa di Bekasi terdapat guru yang tunjangan sertifikasinya belum cair sejak April hingga memasuki September. Artinya, ada yang sudah menunggu sekitar enam bulan.

Saya tidak ingin menjadikan pengalaman pribadi atau cerita di grup percakapan sebagai satu-satunya dasar untuk menyimpulkan bahwa seluruh daerah mengalami persoalan yang sama. Setiap daerah bisa memiliki mekanisme dan waktu pencairan yang berbeda. Namun, banyaknya keluhan dari guru menunjukkan satu hal penting: pemerintah dan organisasi profesi guru perlu memberikan informasi yang jelas, terbuka, dan mudah dipahami.

Guru tidak membutuhkan janji yang muluk-muluk. Guru hanya ingin kepastian. Kalau memang ada kendala administrasi, sampaikan kendalanya. Kalau ada proses verifikasi yang belum selesai, jelaskan tahapannya. Kalau dana sudah tersedia tetapi pencairan membutuhkan waktu, berikan informasi yang transparan. Jangan biarkan guru hanya menjadi penonton yang setiap hari mengecek saldo rekening sambil bertanya dalam hati, “Hari ini cair nggak, ya?”

Yang lebih menarik, percakapan guru juga mulai membicarakan soal berbagai potongan. Ada yang mempertanyakan potongan pajak dan BPJS, bahkan muncul cerita mengenai pemotongan tambahan yang disebut berkaitan dengan kesalahan pemotongan sebelumnya. Hal seperti ini tentu membutuhkan penjelasan resmi agar tidak berkembang menjadi prasangka.

Menurut saya, masalah potongan harus dibicarakan secara terbuka. Guru berhak mengetahui berapa jumlah tunjangan yang seharusnya diterima, berapa yang dipotong, apa dasar pemotongannya, dan ke mana dana tersebut dialokasikan. Transparansi bukan bentuk ketidakpercayaan kepada pemerintah. Justru transparansi adalah cara membangun kepercayaan.

Dalam percakapan grup itu, muncul pula gagasan untuk membuat petisi apabila persoalan TPG belum mendapatkan kepastian. Saya kira gagasan tersebut perlu dibicarakan secara serius oleh organisasi guru. Bukan untuk membuat keributan, apalagi untuk mencari musuh, tetapi untuk menyampaikan aspirasi secara tertib, terukur, dan bermartabat.

Saya teringat kalimat yang sering saya sampaikan kepada teman-teman guru: organisasi guru akan kuat kalau guru-gurunya bersatu dan berani menyampaikan suara secara bersama-sama. Jangan sampai ada puluhan organisasi guru, tetapi ketika guru menghadapi persoalan yang sama, semuanya justru diam sendiri-sendiri.

Saya berharap para pengurus organisasi profesi dan komunitas guru dapat segera duduk bersama. Tidak harus langsung menggelar pertemuan besar. Kalau perlu, mulai saja dengan Zoom. Kita kumpulkan data, dengarkan suara guru dari berbagai daerah, petakan persoalan pencairan TPG, lalu rumuskan langkah yang tepat untuk disampaikan kepada kementerian dan pemerintah daerah.

Jangan sampai guru hanya diminta sabar tanpa pernah diberi kepastian. Sabar itu baik, tetapi kepastian juga merupakan hak. Guru sudah terlalu lama menjadi profesi yang selalu diminta memahami keadaan. Sekarang mungkin sudah waktunya pemerintah memahami keadaan guru.

Saya teringat kembali candaan saya di grup tadi: “Kayak ada mata pelajaran baru namanya kesabaran.” Semua tertawa. Tetapi di balik tawa itu sebenarnya ada kegelisahan. Sebab guru boleh bercanda, boleh tersenyum, bahkan boleh tetap mengajar dengan penuh dedikasi, tetapi kebutuhan hidup tetap berjalan.

Anak harus makan. Listrik harus dibayar. Transportasi harus tersedia. Kebutuhan sekolah juga tidak berhenti. Guru pun memiliki keluarga yang membutuhkan kepastian.

Karena itu, memasuki September 2026, saya berharap persoalan TPG tidak lagi menjadi misteri bulanan. Datanglah tepat waktu, tepat jumlah, dan dengan mekanisme yang transparan. Kalau memang ada kendala, sampaikan kepada guru secara terbuka.

Dan untuk organisasi guru, saya kira inilah saatnya bergerak bersama. Tidak perlu saling menunggu. Tidak perlu menunggu guru lain bersuara lebih dahulu. Mulailah dari data, dialog, dan persatuan.

Sebab guru yang setiap hari mengajarkan anak-anak tentang disiplin, tanggung jawab, dan kejujuran tentu pantas mendapatkan hal yang sama dari negara yang mereka layani.

Guru boleh sabar. Tetapi jangan jadikan kesabaran guru sebagai alasan untuk terus menunda kepastian.

Saya, Omjay, Guru Blogger Indonesia, memilih menuliskan kegelisahan ini. Bukan karena ingin mencari masalah, tetapi karena saya percaya bahwa tulisan dapat menjadi jembatan antara suara guru dan mereka yang memiliki kewenangan untuk memperbaikinya.

Kalau suara guru bersatu, insyaallah bukan hanya TPG yang akan lebih tepat waktu, tetapi juga penghargaan terhadap profesi guru akan semakin bermartabat.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Membaca Buku ICT for Cambridge

Menemukan Inspirasi Mengajar dari Buku ICT Cambridge IGCSE, Sebuah Kisah Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada kalanya seorang guru mendapatkan inspirasi bukan dari pelatihan yang mahal, seminar yang ramai, atau teknologi terbaru yang sedang viral, tetapi justru dari sebuah buku yang sudah lama berada di atas meja. Itulah yang saya rasakan ketika melihat dan membaca buku ICT for Cambridge IGCSE™ Coursebook Third Edition karya David Waller, Victoria Wright, dan Denise Taylor. Buku terbitan Cambridge University Press ini bukan sekadar buku pelajaran teknologi informasi. Bagi saya, buku ini seperti cermin yang mengajak seorang guru Informatika bertanya kembali: sudahkah pembelajaran teknologi di kelas benar-benar membuat siswa mampu menggunakan teknologi untuk memecahkan persoalan kehidupan?

Buku yang saya pegang tersebut adalah edisi ketiga yang diterbitkan pada 2021 dan memiliki ISBN 9781108901093. Buku ini secara resmi tercatat sebagai salah satu endorsed resources untuk Cambridge IGCSE Information and Communication Technology, termasuk syllabus 0417 dan 0983, serta mendukung pembelajaran untuk ujian mulai 2023. Cambridge menjelaskan bahwa buku ini dirancang bukan hanya untuk memperkuat pemahaman teori, tetapi juga keterampilan praktik dan kemampuan menerapkan ICT dalam situasi kehidupan nyata. 

Sebagai guru yang sudah lama mengajar Informatika, saya langsung tertarik dengan pendekatan tersebut. Saya selalu percaya bahwa belajar komputer tidak cukup hanya dengan menghafal pengertian hardware, software, jaringan, database, spreadsheet, atau internet. Anak-anak harus diberi kesempatan untuk menyentuh, mencoba, salah, memperbaiki, kemudian menghasilkan sesuatu. Kalau siswa hanya mampu menjawab soal pilihan ganda tentang spreadsheet tetapi tidak mampu menggunakannya untuk mengolah data kelas, menurut saya pembelajaran itu belum selesai. Komputer bukan benda pajangan di laboratorium. Komputer adalah alat untuk berpikir, berkarya, berkomunikasi, memecahkan masalah, dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Yang menarik perhatian saya dari buku Cambridge ini adalah adanya pendekatan bertahap dalam kegiatan praktik. Cambridge menjelaskan bahwa tugas praktik dalam buku tersebut menggunakan tiga tingkatan, yaitu Getting Started, Practice, dan Challenge. Dengan pola seperti ini, siswa pemula dapat memulai dari keterampilan dasar, kemudian berlatih, lalu siswa yang lebih percaya diri dapat menghadapi tantangan yang lebih tinggi. 

Saya membayangkan suasana kelas ketika pendekatan tersebut diterapkan. Guru tidak perlu lagi berkata, “Anak-anak, ikuti semua langkah yang saya lakukan.” Sebaliknya, guru dapat memberikan sebuah masalah dan membiarkan siswa mencari jalan keluarnya. Ada siswa yang cepat memahami, ada yang perlu dibimbing, dan ada pula yang tiba-tiba menemukan cara berbeda dari gurunya. Di situlah pembelajaran menjadi hidup. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber jawaban. Guru menjadi fasilitator yang membantu siswa menemukan jawaban.

Buku ini juga menarik karena tidak berhenti pada keterampilan menggunakan aplikasi. Materinya mencakup sistem komputer, perangkat input dan output, media penyimpanan, jaringan, dampak penggunaan teknologi informasi, berbagai aplikasi ICT, systems life cycle, keselamatan dan keamanan, komunikasi, serta manajemen file. Setelah itu siswa masuk ke wilayah keterampilan praktik seperti gambar, layout, styles, proofreading, grafik dan chart, produksi dokumen, database, presentasi, spreadsheet, sampai website authoring. 

Bagi saya, susunan seperti ini memberikan pesan penting bahwa literasi digital tidak sama dengan sekadar bisa menggunakan gawai. Anak yang setiap hari menggunakan telepon pintar belum tentu memahami keamanan data. Anak yang pandai membuat video belum tentu memahami hak cipta. Anak yang bisa mengakses internet belum tentu mampu menilai informasi yang benar dan salah. Anak yang mahir menggunakan aplikasi belum tentu mampu mengolah data menjadi informasi. Karena itu, pendidikan Informatika harus jauh lebih luas daripada sekadar mengajarkan tombol mana yang harus diklik.

Saya juga tertarik dengan konsep ICT in Context yang terdapat dalam buku ini. Fitur tersebut menghubungkan pembelajaran dengan situasi nyata sehingga siswa dapat melihat relevansi teknologi dalam kehidupan dan dunia kerja. Ada pula fitur Reflection yang mendorong siswa menilai dan mengevaluasi perjalanan belajarnya sendiri. 

Di sinilah saya melihat hubungan yang kuat dengan pengalaman saya sebagai guru dan blogger. Menulis di blog selama bertahun-tahun mengajarkan saya bahwa teknologi akan menjadi lebih bermakna ketika digunakan untuk menghasilkan karya. Saya tidak ingin siswa hanya menjadi konsumen teknologi. Saya ingin mereka menjadi pencipta. Mereka dapat membuat tulisan, infografis, spreadsheet, database, presentasi, website, aplikasi sederhana, bahkan memanfaatkan kecerdasan artifisial secara bijaksana untuk membantu proses belajar.

Ketika melihat bagian spreadsheet, database, grafik, dan website authoring, saya langsung membayangkan bagaimana materi tersebut dapat dikembangkan menjadi pembelajaran berbasis proyek. Misalnya siswa diberikan data sederhana tentang kegiatan kelas. Mereka diminta membersihkan data, mengolahnya menggunakan spreadsheet, membuat grafik, menarik kesimpulan, kemudian mempublikasikan hasil analisisnya dalam sebuah halaman web. Dengan satu proyek saja, siswa dapat belajar pengolahan data, visualisasi, komunikasi, desain, dan pemecahan masalah.

Saya pun semakin yakin bahwa guru Informatika perlu rajin membaca buku dari berbagai sumber. Tidak harus meniru semuanya, tetapi mengambil gagasan terbaik kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan siswa Indonesia. Buku Cambridge ini dibuat untuk konteks Cambridge IGCSE sehingga tentu tidak bisa langsung dianggap sebagai kurikulum Indonesia. Namun, pendekatan pembelajarannya dapat menjadi inspirasi yang sangat berharga bagi guru.

Ada satu hal lagi yang membuat saya tersenyum. Kadang-kadang kita sebagai guru terlalu sibuk mengejar materi sampai lupa bertanya kepada siswa, “Apa yang bisa kamu lakukan dengan pengetahuan ini?” Padahal pertanyaan itulah yang seharusnya menjadi pusat pembelajaran. Anak tidak akan membawa semua definisi buku ke masa depannya. Namun, kemampuan berpikir, memecahkan masalah, bekerja dengan data, berkomunikasi, membuat karya, dan belajar secara mandiri akan terus mereka bawa.

Buku ini akhirnya membuat saya kembali kepada prinsip sederhana yang selama ini saya pegang sebagai Omjay Guru Blogger Indonesia: menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Membaca buku membuat kita mendapatkan ide. Mengajar membuat ide itu diuji. Menulis membuat pengalaman tersebut terdokumentasi. Ketika pengalaman dibagikan kepada orang lain, muncullah inspirasi baru. Begitulah guru seharusnya terus bergerak dari membaca, mencoba, menulis, berbagi, lalu belajar kembali.

Bagi saya, ICT for Cambridge IGCSE™ Coursebook Third Edition bukan hanya buku Cambridge. Ia adalah pengingat bahwa pembelajaran Informatika seharusnya membawa siswa dari mengetahui menjadi melakukan, dari melakukan menjadi menciptakan, dan dari menciptakan menjadi mampu memecahkan persoalan nyata. Teknologi boleh berubah sangat cepat, tetapi kemampuan manusia untuk belajar, berpikir, berkarya, dan berbagi tidak pernah kehilangan makna.

Mungkin itulah alasan saya senang menemukan buku ini. Di tengah perkembangan AI yang begitu cepat, kita justru semakin membutuhkan pendidikan Informatika yang kuat. Anak-anak tidak cukup diajarkan bagaimana menggunakan teknologi. Mereka harus diajarkan mengapa teknologi digunakan, kapan harus digunakan, bagaimana menggunakannya secara aman, dan untuk tujuan apa teknologi tersebut dimanfaatkan.

Sebagai guru, saya ingin terus belajar. Sebagai blogger, saya ingin terus menulis. Sebagai pendidik, saya ingin terus mencoba. Sebab saya percaya, guru yang berhenti belajar akan segera tertinggal oleh muridnya sendiri. Dan seperti biasa, saya kembali mengingat kalimat sederhana yang selalu menemani perjalanan saya:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Hari ini saya membaca buku Cambridge. Besok mungkin saya mencoba satu pendekatan baru di kelas. Lusa saya menuliskan pengalamannya. Dari sebuah buku, lahirlah sebuah ide. Dari sebuah ide, lahirlah pembelajaran. Dan dari pembelajaran, semoga lahir generasi yang tidak hanya pandai menggunakan teknologi, tetapi juga bijaksana dalam memanfaatkannya.

Inilah kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia yang percaya bahwa membaca buku bukanlah akhir dari belajar. Membaca adalah awal dari sebuah perjalanan untuk mencoba, berkarya, dan menginspirasi.