Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 26 Mei 2026

Ketika Waktu Mengajarkan Kita Arti Kehidupan

Ketika Waktu Mengajarkan Kita Arti Kehidupan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

“Ketika kita memahami bahwa setiap hari bukanlah bertambahnya satu hari, melainkan berkurangnya satu hari, maka kita akan mulai lebih menghargai hal-hal yang benar-benar penting.”

Kalimat itu sederhana. Namun ketika direnungkan dalam-dalam, ia mampu mengetuk hati siapa saja. Sebab kenyataannya, manusia sering merasa hidupnya masih panjang. Kita sibuk mengejar banyak hal, seolah waktu selalu tersedia tanpa batas. Padahal diam-diam usia terus berjalan. Hari demi hari bukan sedang bertambah, melainkan berkurang.

Foto senja itu terasa begitu dalam maknanya. Seorang lelaki duduk sendiri di bawah pohon besar memandang matahari yang perlahan tenggelam di balik pegunungan. Pemandangan itu seperti menggambarkan kehidupan manusia. Kita datang ke dunia seperti matahari terbit, tumbuh dengan penuh semangat, lalu perlahan menuju senja kehidupan.

Banyak orang baru menyadari arti waktu ketika kehilangan sesuatu yang berharga. Kehilangan orang tua. Kehilangan sahabat. Kehilangan kesehatan. Bahkan kehilangan kesempatan untuk meminta maaf kepada orang yang sudah pergi lebih dulu.

Omjay pernah merasakan bagaimana waktu begitu cepat berlalu. Dulu ketika masih muda, hari terasa panjang. Pagi ke sore terasa lama. Tahun demi tahun terasa lambat berjalan. Namun setelah usia bertambah, semuanya terasa berbeda. Tiba-tiba anak-anak tumbuh dewasa. Rambut mulai memutih. Teman-teman lama mulai jarang terdengar kabarnya. Bahkan ada yang telah dipanggil Tuhan lebih dahulu.

Di situlah Omjay memahami satu hal penting: hidup bukan soal siapa yang paling kaya, paling terkenal, atau paling hebat. Hidup adalah tentang bagaimana kita menggunakan waktu yang Tuhan titipkan.

Sayangnya, manusia sering menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Kita terlalu sibuk memikirkan penilaian orang lain. Terlalu sibuk mengejar pujian. Terlalu sibuk membandingkan hidup dengan kehidupan orang lain di media sosial. Akibatnya, kita lupa menikmati hidup itu sendiri.

Padahal kebahagiaan sering hadir dalam hal-hal sederhana.

Duduk bersama keluarga saat makan malam.
Mendengar tawa anak-anak di rumah.
Mengobrol dengan sahabat lama.
Membaca buku di pagi hari.
Menulis dengan hati.
Beribadah dengan khusyuk.
Membantu orang lain tanpa pamrih.

Itulah momen-momen yang kelak akan dirindukan ketika usia semakin menua.

Omjay teringat pada seorang guru tua yang pernah berkata:

“Jangan menunggu waktu luang untuk berbuat baik. Karena suatu hari nanti, kita akan sadar bahwa waktu tidak pernah benar-benar luang.”

Kalimat itu terus terngiang hingga sekarang.

Banyak orang berkata ingin membahagiakan orang tua nanti ketika sudah sukses. Namun takdir kadang tidak menunggu kesiapan manusia. Ada anak yang belum sempat membelikan rumah untuk ibunya, tetapi sang ibu sudah lebih dahulu meninggal dunia. Ada ayah yang bekerja keras siang malam demi keluarga, tetapi lupa meluangkan waktu bersama anak-anaknya hingga mereka tumbuh dewasa tanpa kedekatan emosional.

Waktu memang tidak pernah bisa diputar ulang.

Karena itu, hidup seharusnya membuat kita lebih bijak memilih prioritas. Tidak semua hal harus diperdebatkan. Tidak semua hinaan perlu dibalas. Tidak semua keinginan harus dipenuhi. Ada hal-hal yang jauh lebih penting: kesehatan, keluarga, persahabatan, ilmu, ibadah, dan ketenangan hati.

Sering kali manusia baru menghargai kesehatan setelah sakit. Baru menghargai kebersamaan setelah kehilangan. Baru menghargai waktu setelah usia senja datang menghampiri.

Padahal hidup yang bermakna bukan tentang umur yang panjang, melainkan tentang manfaat yang diberikan selama hidup.

Omjay belajar bahwa setiap pagi sebenarnya adalah kesempatan baru dari Tuhan. Kesempatan untuk menjadi lebih baik. Kesempatan meminta maaf. Kesempatan memperbaiki hubungan yang retak. Kesempatan menulis kebaikan yang akan dikenang orang lain.

Maka jangan menunda berbuat baik.

Jika hari ini masih bisa memeluk orang tua, peluklah.
Jika hari ini masih bisa meminta maaf, lakukanlah.
Jika hari ini masih bisa membantu orang lain, bantulah.
Jika hari ini masih diberi kesehatan, bersyukurlah.

Karena tidak ada yang tahu berapa sisa waktu yang dimiliki.

Foto senja itu mengajarkan bahwa hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi tentang apakah perjalanan kita memberi makna bagi orang lain. Matahari yang tenggelam tidak pernah marah karena malam datang. Ia tetap indah hingga akhir waktunya.

Begitulah seharusnya manusia menjalani hidup.

Tetap menjadi pribadi yang memberi cahaya meski usia terus berkurang. Tetap menebar kebaikan meski dunia kadang tidak menghargai. Tetap rendah hati meski memiliki banyak pencapaian.

Sebab pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah berapa banyak harta yang dimiliki, tetapi berapa banyak hati yang pernah disentuh dengan kebaikan.

Dan ketika suatu hari nanti waktu kita benar-benar habis, semoga yang tertinggal bukan hanya nama, tetapi juga doa-doa baik dari orang-orang yang pernah merasakan manfaat kehadiran kita.

Karena hidup yang paling indah bukan hidup yang paling lama, melainkan hidup yang paling bermakna.

Resensi Buku Labschool Rumah Keduaku

Ringkasan Buku “Labschool: Rumah Keduaku”

Karya Dr. Wijaya Kusumah

Buku “Labschool: Rumah Keduaku” merupakan karya reflektif dan inspiratif yang ditulis oleh Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd atau yang akrab disapa Omjay. Buku ini bukan sekadar menceritakan perjalanan sebuah sekolah, tetapi menggambarkan bagaimana sebuah lembaga pendidikan mampu menjadi tempat tumbuh, tempat pulang, sekaligus rumah kedua bagi guru, siswa, dan seluruh warga sekolah.

Dalam buku setebal 187 halaman ini, Omjay membagikan pengalaman pengabdiannya selama 34 tahun di SMP Labschool Jakarta. Melalui gaya bahasa yang hangat dan menyentuh, pembaca diajak memahami bahwa pendidikan sejati bukan hanya tentang angka, nilai rapor, dan prestasi akademik, melainkan tentang membentuk manusia yang berkarakter, beretika, dan memiliki empati terhadap sesama.

Pada bagian awal buku, penulis menekankan bahwa Labschool bukan hanya sekolah biasa. Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Labschool tahun 1992, Omjay merasakan suasana yang berbeda: lingkungan yang ramah, guru yang penuh dedikasi, dan budaya belajar yang hidup. Hubungan antara guru dan siswa digambarkan seperti hubungan orang tua dan anak. Guru tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing, mendengar keluh kesah siswa, bahkan menjadi tempat bersandar ketika siswa menghadapi persoalan hidup.

Buku ini juga mengupas sejarah Labschool sebagai sekolah laboratorium di bawah IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta). Labschool didirikan pada tahun 1968 sebagai tempat praktik bagi calon guru sekaligus pusat inovasi pendidikan. Dari sinilah Labschool berkembang menjadi sekolah unggulan yang dikenal luas masyarakat karena mampu menyeimbangkan kecerdasan intelektual dan pembentukan karakter siswa.

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah penggambaran suasana sekolah yang humanis. Omjay menegaskan bahwa sekolah ideal bukan sekolah yang menakutkan, melainkan sekolah yang membuat siswa bahagia datang setiap pagi. Di Labschool, siswa diajarkan untuk merasa aman, nyaman, dan dihargai. Guru hadir sebagai sahabat sekaligus teladan. Pendidikan dipandang sebagai proses memanusiakan manusia.

Penulis juga mengangkat pentingnya kolaborasi antara guru, kepala sekolah, orang tua, dan masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat. Sekolah yang baik, menurut Omjay, adalah sekolah yang mampu membuat siswa merasa dicintai dan dipercaya. Bahkan senyum seorang guru ketika memasuki kelas dianggap mampu mengubah suasana hati siswa dan meninggalkan pengaruh mendalam dalam kehidupan mereka.

Selain membahas dunia pendidikan secara umum, buku ini juga dipenuhi kisah nyata dan pengalaman siswa Labschool. Ada cerita tentang kegiatan MPLS, SALAM, PERJUSA, SAKSI, hingga berbagai kegiatan ekstrakurikuler yang membangun kedisiplinan, kepemimpinan, kerja sama, dan kepedulian sosial siswa. Kisah-kisah tersebut menunjukkan bahwa pendidikan terbaik sering lahir dari pengalaman sederhana yang membekas di hati siswa sepanjang hidup mereka.

Bagian lain yang menarik adalah pembahasan tentang motto Labschool: “Iman, Ilmu, dan Amal.” Tiga pilar ini menjadi fondasi pendidikan Labschool. Iman membentuk karakter dan moral siswa, ilmu menjadi bekal untuk menghadapi tantangan zaman, sedangkan amal mengajarkan bahwa ilmu harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat.

Omjay juga menyoroti bagaimana Labschool beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan era digital. Pembelajaran berbasis proyek, pemanfaatan teknologi, coding, literasi digital, hingga penggunaan kecerdasan buatan mulai diperkenalkan kepada siswa. Namun, di tengah kemajuan teknologi tersebut, Labschool tetap menjaga nilai-nilai kemanusiaan dan pendidikan karakter. Teknologi digunakan untuk memperkuat pembelajaran, bukan menggantikan sentuhan manusia dalam pendidikan.

Di bagian akhir, buku ini menegaskan bahwa Labschool bukan hanya tempat belajar, tetapi tempat membangun harapan dan masa depan. Sekolah digambarkan sebagai rumah kedua yang memberikan ilmu, kenangan, persahabatan, dan nilai kehidupan yang terus dibawa siswa hingga dewasa. Pendidikan yang baik, menurut Omjay, adalah pendidikan yang membuat siswa pulang dengan senyum dan mengenang sekolahnya dengan penuh syukur.


Resensi Buku

“Labschool: Rumah Keduaku”

Ketika Sekolah Menjadi Tempat Pulang yang Penuh Makna

Judul Buku: Labschool: Rumah Keduaku
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah
Penerbit: Independen
Tebal: 187 halaman
Genre: Pendidikan, Motivasi, Inspirasi

Buku “Labschool: Rumah Keduaku” adalah karya yang sangat relevan dengan kondisi pendidikan Indonesia saat ini. Di tengah dunia pendidikan yang sering terjebak pada angka, ranking, dan kompetisi akademik, Omjay hadir membawa perspektif berbeda: sekolah harus menjadi tempat yang membahagiakan.

Kekuatan utama buku ini terletak pada kejujuran dan kedalaman pengalaman penulis. Omjay tidak menulis sebagai pengamat luar, tetapi sebagai pelaku pendidikan yang telah puluhan tahun hidup di dalam dunia sekolah. Karena itu, setiap cerita terasa nyata, hangat, dan dekat dengan kehidupan pembaca.

Bahasa yang digunakan sederhana, komunikatif, dan menyentuh hati. Banyak bagian dalam buku ini yang terasa seperti percakapan seorang guru kepada murid-muridnya. Pembaca tidak hanya mendapatkan informasi tentang Labschool, tetapi juga diajak merenungkan kembali hakikat pendidikan yang sesungguhnya.

Keunggulan lain buku ini adalah keberhasilannya memadukan kisah pribadi, sejarah sekolah, refleksi pendidikan, dan nilai-nilai kehidupan dalam satu alur yang mengalir. Omjay mampu menunjukkan bahwa sekolah yang baik bukan hanya menghasilkan siswa pintar, tetapi juga manusia yang baik.

Bagian tentang “Iman, Ilmu, dan Amal” menjadi salah satu inti terkuat buku ini. Nilai-nilai tersebut terasa relevan di era digital saat ini, ketika banyak generasi muda cerdas secara teknologi tetapi kehilangan arah moral dan empati sosial.

Meski demikian, buku ini masih memiliki beberapa pengulangan ide di beberapa bagian. Beberapa pembahasan tentang pendidikan karakter dan sekolah sebagai rumah kedua diulang dengan sudut pandang yang mirip. Namun, hal itu tidak terlalu mengurangi kekuatan emosional buku ini.

Secara keseluruhan, “Labschool: Rumah Keduaku” adalah buku yang layak dibaca oleh guru, siswa, orang tua, kepala sekolah, hingga siapa saja yang peduli terhadap masa depan pendidikan Indonesia. Buku ini mengingatkan kita bahwa pendidikan terbaik selalu dimulai dari hati.

Buku ini bukan hanya tentang Labschool. Buku ini tentang harapan. Tentang guru yang mengajar dengan cinta. Tentang sekolah yang memeluk siswanya. Tentang pendidikan yang memanusiakan manusia.

Ketika Waktu Menjadi Guru Kehidupan

Kisah Omjay: Ketika Waktu Menjadi Guru Kehidupan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd — Omjay, Guru Blogger Indonesia

“Waktu adalah uang.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Hampir semua orang pernah mengucapkannya. Namun semakin usia bertambah, Omjay justru menyadari satu kenyataan yang membuat hati bergetar:

Uang yang hilang masih bisa dicari.
Tetapi waktu yang pergi tidak akan pernah kembali.

Pagi itu, Selasa 26 Mei 2026, langit masih gelap ketika Omjay terbangun sebelum adzan Subuh. Rumah masih sunyi. Istri dan anak-anak masih tertidur lelap. Hanya suara kipas angin dan detik jam dinding yang terdengar perlahan.

Tik…
Tik…
Tik…

Omjay duduk di ruang kerja kecilnya. Di atas meja ada laptop tua yang setia menemani menulis, beberapa buku pendidikan yang mulai kusam, catatan webinar, dan secangkir kopi hangat yang mengepul perlahan.

Jam digital di layar laptop menunjukkan:

04.17…

04.18…

04.19…

Detik demi detik berjalan tanpa bisa dihentikan.

Saat itulah dada Omjay terasa sesak oleh sebuah kesadaran yang sering manusia lupakan: hidup ini sebenarnya sedang menghitung mundur umur kita.

Kita tahu saldo rekening kita.
Kita tahu umur kendaraan kita.
Kita tahu masa berlaku SIM dan KTP kita.

Namun tidak ada seorang pun yang tahu berapa sisa waktu hidupnya.

Dan justru itulah rahasia terbesar kehidupan.

Omjay menatap langit Subuh dari balik jendela rumah. Hatinya tiba-tiba teringat firman Allah:

وَالْعَصْرِ

“Demi masa.”

Ayat pendek. Hanya beberapa kata. Tetapi mampu mengguncang hati siapa pun yang mau merenung.

Mengapa Allah bersumpah dengan waktu?

Karena waktu adalah kehidupan itu sendiri.

Ketika waktu habis, habislah kesempatan manusia.

Air Mata Seorang Guru Tua

Beberapa tahun lalu, Omjay pernah bertemu seorang guru senior yang sudah pensiun. Rambutnya putih semua. Jalannya perlahan menggunakan tongkat kayu. Namun wajahnya terlihat teduh.

Mereka berbincang lama di sebuah acara pendidikan.

Tiba-tiba guru tua itu berkata pelan sambil menatap jauh:

“Jay… dulu saya terlalu sibuk mengejar pekerjaan. Saya pikir hidup hanya tentang karier dan penghasilan. Sampai akhirnya saya sadar… anak-anak saya tumbuh tanpa banyak waktu bersama saya.”

Suara beliau mulai bergetar.

“Saat mereka kecil, saya sibuk rapat. Saat mereka remaja, saya sibuk tugas luar kota. Sekarang mereka sudah dewasa… dan saya hanya punya kenangan.”

Omjay terdiam.

Guru tua itu lalu mengusap air matanya.

“Yang paling mahal dalam hidup ternyata bukan rumah… bukan mobil… tapi waktu bersama orang-orang yang kita cintai.”

Kalimat itu menghantam hati Omjay begitu dalam.

Betapa banyak manusia bekerja siang malam demi masa depan, tetapi lupa menikmati hari ini.

Betapa banyak ayah kehilangan masa kecil anaknya karena terlalu sibuk.

Betapa banyak manusia menunda ibadah karena merasa masih punya waktu panjang.

Padahal kematian tidak pernah memberi tanda.

Kehilangan yang Mengubah Omjay

Omjay pernah kehilangan sahabat baik secara mendadak.

Masih sempat bercanda.
Masih sempat mengirim pesan WhatsApp.
Masih sempat merencanakan pertemuan.

Namun esok paginya kabar duka datang.

“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un…”

Omjay tercekat.

Tidak percaya.

Baru kemarin berbicara, hari ini sudah terbujur kaku.

Saat melayat, Omjay melihat anak-anak sahabatnya menangis di samping jenazah ayah mereka. Istrinya duduk lemas memandangi wajah suaminya untuk terakhir kali.

Dan saat itulah Omjay sadar…

Hidup ini benar-benar singkat.

Manusia sering merasa masih punya banyak waktu:

nanti kalau tua baru ibadah,

nanti kalau kaya baru sedekah,

nanti kalau senggang baru membaca Al-Qur’an,

nanti kalau pensiun baru dekat keluarga.

Padahal belum tentu “nanti” itu datang.

Waktu yang Terbuang Diam-Diam

Omjay juga manusia biasa.

Pernah terlalu lama bermain media sosial.
Pernah sibuk membaca komentar yang tidak penting.
Pernah menunda pekerjaan yang sebenarnya bisa selesai hari itu.

Tanpa sadar, waktu habis sedikit demi sedikit.

Padahal Rasulullah SAW sudah mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang sering manusia lalaikan:

kesehatan,

dan waktu luang.

Kini Omjay mulai belajar memperbaiki diri.

Omjay mencoba menjadikan sholat sebagai pengatur kehidupan.

Subuh menjadi awal perjuangan.
Zuhur menjadi jeda untuk mengingat Allah di tengah dunia yang sibuk.
Ashar menjadi alarm bahwa usia hari mulai senja.
Maghrib menjadi tanda pulang dari hiruk pikuk dunia.
Isya menjadi waktu kembali berserah sebelum tidur.

Ternyata sholat bukan hanya kewajiban.

Sholat adalah cara Allah menyelamatkan manusia dari kehilangan arah hidup.

Menulis untuk Melawan Lupa

Banyak orang bertanya kepada Omjay:

“Kenapa masih terus menulis sampai larut malam?”

Omjay hanya tersenyum kecil.

Karena Omjay sadar, umur manusia terbatas. Tetapi tulisan bisa hidup jauh lebih lama dibanding penulisnya.

Suatu hari nanti, Omjay mungkin sudah tiada.

Namun Omjay berharap tulisan-tulisan tentang guru, pendidikan, persahabatan, dan kehidupan masih bisa dibaca orang lain.

Mungkin ada seorang guru yang kembali semangat setelah membaca tulisan Omjay.

Mungkin ada anak muda yang kembali menghargai orang tuanya setelah membaca kisah sederhana ini.

Mungkin ada seseorang yang kembali rajin sholat setelah tersentuh oleh tulisan tentang waktu.

Dan jika itu terjadi, maka tulisan menjadi amal jariyah yang terus hidup.

Itulah sebabnya Omjay terus menulis.

Bukan untuk terkenal.

Tetapi agar hidup lebih bermanfaat.

Ketika Jam Kehidupan Berhenti

Hari demi hari berlalu begitu cepat.

Anak-anak tumbuh dewasa.
Rambut mulai memutih.
Tubuh mulai mudah lelah.

Dan tanpa terasa, umur terus berkurang.

Omjay akhirnya memahami:

Waktu = umur.
Umur = kesempatan.

Selama masih diberi napas, berarti Allah masih memberi kesempatan:

untuk meminta maaf,

memperbaiki diri,

memeluk orang tua,

menyayangi pasangan,

mendidik anak,

membantu sesama,

menulis kebaikan,

dan bersujud kepada-Nya.

Karena suatu hari nanti…

Jam kehidupan akan berhenti berdetak.

Laptop akan mati.
Aktivitas akan selesai.
Media sosial akan ditinggalkan.
Dan manusia hanya membawa amalnya.

Saat itu tidak ada lagi kesempatan mengulang waktu.

Pesan Omjay untuk Kita Semua

Jika hari ini kita masih diberi umur, jangan habiskan hidup hanya untuk hal yang sia-sia.

Kurangi:

scroll tanpa tujuan,

debat yang tidak bermanfaat,

iri hati,

dan menunda kebaikan.

Perbanyak:

membaca,

menulis,

berdzikir,

memeluk keluarga,

membantu sesama,

dan mendekat kepada Allah.

Karena pada akhirnya…

Orang yang paling bahagia bukan yang paling kaya.

Tetapi yang paling mampu menggunakan waktunya untuk sesuatu yang bermakna.

Semoga kita tidak menjadi manusia yang menyesal ketika waktu sudah habis.

Sebab waktu adalah amanah.

Dan setiap detiknya akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Tetap semangat menebar kebaikan.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan
Dr. Wijaya Kusumah
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Kemuliaan Sholat Tahajud

Kisah Omjay: Kemuliaan Sholat Tahajud yang Mengubah Hidup

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd
Guru Blogger Indonesia

Malam itu begitu sunyi. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari. Sebagian besar manusia masih terlelap dalam mimpi panjangnya. Jalanan sepi. Suara kendaraan nyaris tak terdengar. Hanya angin malam yang sesekali berhembus lembut menembus jendela rumah.

Di saat banyak orang masih menikmati tidurnya, Omjay perlahan bangun dari pembaringan. Mata masih terasa berat, tubuh pun belum sepenuhnya segar. Namun ada satu panggilan hati yang membuatnya berusaha melawan rasa malas. Panggilan itu adalah panggilan untuk bermunajat kepada Allah melalui sholat tahajud.

Omjay menyadari bahwa hidup ini tidak selalu berjalan mulus. Ada banyak persoalan yang datang silih berganti. Sebagai guru, penulis, pembicara, sekaligus ayah dalam keluarga, tanggung jawab yang dipikul terasa begitu besar. Terkadang hati lelah, pikiran penat, dan tubuh terasa rapuh menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Namun Omjay menemukan satu rahasia ketenangan yang luar biasa: sholat tahajud.

Awalnya memang tidak mudah. Bangun malam membutuhkan perjuangan. Apalagi ketika tubuh sangat lelah setelah aktivitas seharian mengajar, menulis artikel, mengikuti webinar, dan mendampingi keluarga. Ada kalanya alarm sudah berbunyi, tetapi tangan justru mematikannya lalu kembali tidur.

Akan tetapi Omjay terus belajar memaksa diri. Ia teringat pesan para ulama bahwa sholat tahajud adalah kebiasaan orang-orang saleh sejak zaman dahulu. Tahajud bukan hanya ibadah sunnah biasa, melainkan jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Dalam keheningan malam, Omjay mengambil air wudhu. Air dingin menyentuh wajahnya dan perlahan mengusir kantuk. Setelah itu ia berdiri menghadap kiblat. Tak ada sorotan kamera. Tak ada tepuk tangan manusia. Tak ada pujian. Hanya ada dirinya dan Allah SWT.

Saat itulah Omjay merasakan sesuatu yang berbeda.

Sholat tahajud menghadirkan ketenangan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Di dalam sujud panjangnya, Omjay mencurahkan semua isi hati. Tentang lelahnya menjadi guru. Tentang perjuangan mendidik anak bangsa. Tentang harapan agar keluarga selalu sehat. Tentang doa-doa sederhana yang mungkin tidak pernah ia sampaikan kepada siapa pun.

Air mata terkadang jatuh tanpa disadari.

Omjay merasakan bahwa manusia sebenarnya sangat kecil di hadapan Allah. Jabatan, harta, popularitas, dan pujian manusia tidak ada artinya ketika hati sedang gelisah. Yang mampu menenangkan hanyalah kedekatan dengan Sang Pencipta.

Sejak rutin melaksanakan tahajud, Omjay mulai merasakan banyak perubahan dalam hidupnya.

Bukan berarti hidup menjadi tanpa masalah. Ujian tetap datang. Tantangan tetap ada. Namun hati menjadi lebih kuat menghadapinya. Ada ketenangan yang sulit dibeli dengan uang.

Ketika menghadapi masalah pekerjaan, Omjay tidak mudah panik. Ketika tulisan mendapat kritik, ia belajar lebih sabar. Ketika tubuh lelah, jiwanya tetap terasa hidup.

Omjay juga merasakan kemudahan dalam banyak urusan. Ide-ide menulis mengalir lebih lancar. Kesempatan berbagi ilmu datang dari berbagai tempat. Banyak orang yang tiba-tiba menghubunginya untuk mengisi seminar, webinar, atau pelatihan menulis.

Ia percaya semua itu bukan semata-mata karena kemampuan dirinya. Ada pertolongan Allah yang datang melalui keberkahan sholat malam.

Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman bahwa orang yang bangun malam untuk bersujud dan berdoa memiliki kedudukan mulia di sisi-Nya. Tahajud mengajarkan manusia untuk rendah hati. Sebab di malam hari, tidak ada yang melihat kecuali Allah.

Omjay pernah mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya. Ada saat di mana ekonomi terasa berat, kesehatan menurun, dan pekerjaan begitu melelahkan. Pada saat itulah tahajud menjadi tempat mengadu paling nyaman.

Di atas sajadah malam, Omjay belajar bahwa tidak semua masalah harus diceritakan kepada manusia. Ada luka yang cukup disampaikan kepada Allah. Ada air mata yang lebih indah jatuh saat sujud panjang di sepertiga malam.

Keajaiban tahajud bukan hanya soal terkabulnya doa. Namun bagaimana tahajud mengubah hati manusia menjadi lebih ikhlas, lebih sabar, dan lebih bersyukur.

Omjay juga sering mengajak para guru untuk membiasakan tahajud. Menjadi guru bukan pekerjaan ringan. Guru bukan hanya mengajar pelajaran, tetapi juga mendidik karakter anak bangsa. Beban moral seorang guru sangat besar. Karena itu guru membutuhkan kekuatan batin yang kokoh.

Menurut Omjay, kekuatan itu salah satunya lahir dari tahajud.

Guru yang dekat dengan Allah akan lebih sabar menghadapi murid. Lebih tenang menghadapi tekanan pekerjaan. Lebih ikhlas menjalani pengabdian.

Omjay teringat satu malam ketika dirinya sangat lelah sepulang kegiatan seminar pendidikan. Tubuh terasa capek luar biasa. Ia hampir saja melewatkan tahajud malam itu. Namun entah mengapa hatinya terus tergerak untuk bangun.

Dengan langkah pelan ia mengambil wudhu lalu sholat.

Di akhir doa, Omjay menangis cukup lama. Ia memohon agar Allah menjaga keluarganya, memberikan kesehatan, memudahkan rezeki, dan menjadikan dirinya guru yang bermanfaat.

Esok paginya, Omjay menerima kabar baik yang tak pernah disangka. Salah satu tulisannya mendapat apresiasi besar dan membuka jalan rezeki baru. Saat itulah Omjay semakin yakin bahwa Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang mau mendekat.

Tahajud bukan tentang menjadi manusia sempurna. Tahajud adalah tentang usaha memperbaiki diri setiap hari.

Omjay percaya, di balik gelapnya malam ada cahaya harapan bagi orang-orang yang mau bersujud kepada Allah. Ketika dunia terasa berat, tahajud menjadi tempat terbaik untuk menguatkan hati.

Kini Omjay memahami satu hal penting dalam hidup: manusia boleh punya banyak rencana, tetapi Allah adalah sebaik-baik penolong. Dan salah satu cara terbaik mengetuk pintu pertolongan-Nya adalah melalui sholat tahajud.

Karena di sepertiga malam, doa-doa yang lahir dari hati yang tulus akan terbang menuju langit, membawa harapan, air mata, dan keyakinan bahwa Allah selalu mendengar setiap hamba-Nya.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 25 Mei 2026

Bagaimana Mengelola Majalah Sekolah?

Majalah Sekolah: Pohon Literasi yang Menumbuhkan Mimpi

Dalam Kisah Dr. Wijaya Kusumah, Guru Blogger Indonesia

Malam itu, saya kembali membuka layar laptop sambil menatap sebuah flyer kegiatan KBMN PGRI Gelombang ke-34. Tema yang diangkat begitu menarik hati: Mengelola Majalah Sekolah. Sebuah tema sederhana, tetapi sesungguhnya menyimpan kekuatan besar dalam dunia pendidikan.

Saya tersenyum sendiri. Ingatan saya melayang jauh ke masa ketika majalah sekolah menjadi kebanggaan bersama. Di sanalah siswa belajar menulis, belajar berpikir, belajar menyampaikan gagasan, dan belajar percaya diri. Tidak sedikit siswa yang akhirnya menjadi penulis hebat karena pernah memulai langkah kecil dari majalah sekolah.

Majalah sekolah memang ibarat pohon literasi di sekolah.

Ia ditanam dari benih-benih kecil berupa tulisan sederhana. Lalu disiram dengan semangat membaca, rasa ingin tahu, dan keberanian berkarya. Seiring waktu, pohon itu tumbuh besar, menaungi banyak siswa dengan pengetahuan dan pengalaman.

Ketika melihat flyer kegiatan KBMN malam itu, saya merasa bahagia karena masih ada guru-guru hebat yang peduli terhadap budaya literasi sekolah. Narasumbernya adalah Widya Arema dengan moderator Mutmainah. Mereka akan berbagi pengalaman tentang bagaimana mengelola majalah sekolah agar hidup dan dicintai warga sekolah.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh PGRI melalui Kelas Belajar Menulis Nusantara PGRI. Sebuah komunitas yang selama ini terus menyalakan api literasi di tengah kesibukan guru-guru Indonesia.

Saya teringat pengalaman pribadi ketika pertama kali mengelola media sekolah. Saat itu fasilitas sangat terbatas. Komputer masih sedikit. Internet belum semudah sekarang. Bahkan mencetak majalah sekolah membutuhkan perjuangan luar biasa.

Namun justru dari keterbatasan itulah lahir kreativitas.

Saya masih ingat bagaimana siswa begitu antusias menyerahkan tulisan mereka. Ada yang menulis puisi tentang ibu, ada yang membuat cerpen persahabatan, ada pula yang melaporkan kegiatan sekolah seperti wartawan profesional. Semua tulisan itu dikumpulkan dengan penuh semangat.

Kadang saya membaca tulisan siswa sambil tersenyum haru. Banyak tulisan mereka sederhana, tetapi jujur dan tulus. Di sanalah saya sadar bahwa tugas guru bukan hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga menyediakan ruang agar suara siswa dapat didengar.

Majalah sekolah menjadi ruang itu.

Banyak sekolah hari ini berlomba membangun gedung megah, membeli perangkat canggih, dan mempercantik fasilitas fisik. Namun sering kali mereka lupa membangun budaya literasi. Padahal sekolah akan dikenal luas bukan hanya karena bangunannya, tetapi karena karya-karya yang dihasilkan siswanya.

Majalah sekolah mampu menjadi wajah sebuah sekolah.

Ketika sebuah sekolah memiliki majalah yang aktif, masyarakat akan melihat bahwa sekolah tersebut hidup. Ada kreativitas di dalamnya. Ada semangat belajar. Ada keberanian siswa menyampaikan gagasan.

Majalah sekolah juga menjadi media dokumentasi perjalanan sekolah. Semua kegiatan, prestasi, dan cerita inspiratif dapat diabadikan di sana. Bertahun-tahun kemudian, majalah itu akan menjadi jejak sejarah yang sangat berharga.

Saya pernah bertemu seorang alumni yang masih menyimpan majalah sekolahnya puluhan tahun lalu. Dengan mata berkaca-kaca ia menunjukkan tulisan pertamanya yang dimuat saat SMP. Tulisan itu sederhana sekali, tetapi menjadi kenangan yang tidak terlupakan.

“Dari sinilah saya mulai suka menulis,” katanya kepada saya.

Kalimat itu begitu membekas di hati saya.

Karena itulah saya selalu percaya bahwa majalah sekolah bukan sekadar kumpulan tulisan. Ia adalah tempat lahirnya mimpi-mimpi besar.

Dalam dunia digital saat ini, majalah sekolah sebenarnya memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Jika dulu harus dicetak dengan biaya mahal, sekarang sekolah dapat membuat majalah digital, blog sekolah, bahkan media online sekolah.

Saya sendiri banyak belajar bahwa kekuatan tulisan dapat menjangkau banyak orang melalui internet. Blog sederhana yang saya kelola akhirnya mempertemukan saya dengan banyak guru hebat di seluruh Indonesia. Semua bermula dari keberanian menulis dan berbagi pengalaman.

Itulah sebabnya kegiatan KBMN malam ini menjadi sangat penting. Guru-guru perlu belajar bagaimana mengelola majalah sekolah secara kreatif dan menarik. Mulai dari menentukan tema, membangun tim redaksi, melatih siswa menulis, hingga mempublikasikan karya mereka kepada masyarakat luas.

Majalah sekolah tidak boleh mati.

Jika majalah sekolah mati, maka salah satu ruang ekspresi siswa ikut hilang. Anak-anak hanya menjadi pembaca pasif media sosial tanpa belajar menghasilkan karya sendiri.

Padahal menulis adalah keterampilan penting masa depan.

Siswa yang terbiasa menulis akan lebih terampil berpikir kritis, mampu menyampaikan pendapat dengan baik, dan memiliki kepercayaan diri tinggi. Mereka tidak hanya menjadi penonton perubahan zaman, tetapi juga mampu menjadi bagian dari perubahan itu sendiri.

Saya membayangkan malam ini banyak guru dari berbagai daerah akan berkumpul melalui Zoom. Mereka datang dengan semangat yang sama: ingin membangun budaya literasi di sekolah masing-masing.

Mungkin ada guru dari desa terpencil yang tetap berjuang menghidupkan majalah sekolah meski fasilitas terbatas. Ada pula guru muda yang ingin memulai media digital sekolah pertama mereka. Semua berkumpul dalam satu semangat: mencerdaskan anak bangsa melalui tulisan.

Sungguh indah melihat guru-guru Indonesia terus belajar.

Saya percaya, ketika guru mau belajar, maka siswa akan ikut tumbuh. Ketika guru gemar menulis, maka siswa akan berani berkarya. Dan ketika sekolah memiliki budaya literasi yang kuat, maka masa depan pendidikan Indonesia akan semakin cerah.

Majalah sekolah adalah pohon literasi itu.

Ia harus terus dirawat, disiram, dan dijaga bersama. Sebab dari pohon itulah akan lahir buah-buah pengetahuan yang bermanfaat bagi generasi masa depan.

Malam ini, kelas KBMN bukan hanya tentang belajar mengelola majalah sekolah. Lebih dari itu, ini adalah upaya menanam harapan agar budaya literasi tetap hidup di sekolah-sekolah Indonesia.

Dan saya yakin, selama masih ada guru yang mau menulis dan mengajak siswa berkarya, pohon literasi itu tidak akan pernah tumbang.

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Guru Blogger Indonesia

webinar pgri bengkuku

Webinar APKS PGRI Bengkulu: Menanamkan Jiwa Inovator Melalui Pembelajaran Mendalam Berbasis Coding dan Kecerdasan Artifisial

Semangat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) dan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) tahun 2026 terasa begitu kuat dalam kegiatan webinar yang diselenggarakan oleh APKS PGRI Provinsi Bengkulu. Webinar bertema “Implementasi Pembelajaran Mendalam Berbasis DTBL (Design Thinking Based Learning) – KKA (Koding dan Kecerdasan Artifisial) untuk Menanamkan Jiwa Inovator Berbasis Solusi” menjadi ruang belajar bersama bagi para guru dan insan pendidikan untuk menyongsong masa depan pendidikan Indonesia yang lebih maju dan bermutu. 

Kegiatan webinar tersebut dilaksanakan pada Senin, 25 Mei 2026 mulai pukul 09.00 WIB hingga 11.30 WIB melalui Zoom Meeting. Sejak pagi hari, para peserta, panitia, dan undangan sudah mulai memasuki ruang virtual dengan penuh antusias. Banyak guru dari berbagai daerah di Provinsi Bengkulu ikut hadir untuk mendengarkan paparan materi tentang pembelajaran mendalam yang kini menjadi perhatian penting dalam dunia pendidikan. 

Acara diawali dengan proses pembukaan yang berlangsung khidmat dan penuh semangat nasionalisme. Lagu Indonesia Raya dan Mars PGRI dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta webinar. Momentum tersebut mengingatkan kembali bahwa guru memiliki peran besar dalam membangun masa depan bangsa melalui pendidikan yang berkualitas. 

Ketua APKS PGRI Provinsi Bengkulu, Dr. Asep Suparman, S.Pi., M.Pd menyampaikan laporan kegiatan webinar. Dalam laporannya, beliau menjelaskan bahwa perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Guru tidak lagi hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga harus mampu menjadi fasilitator pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kritis peserta didik.

Menurut beliau, pendekatan pembelajaran mendalam berbasis DTBL-KKA sangat relevan diterapkan di era digital saat ini. Peserta didik perlu dilatih untuk berpikir solutif, kreatif, dan mampu menghasilkan inovasi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, guru perlu memahami bagaimana mengintegrasikan coding dan kecerdasan artifisial dalam proses pembelajaran tanpa meninggalkan nilai-nilai karakter dan kemanusiaan.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh Ketua PGRI Provinsi Bengkulu, Dr. H. Haryadi, S.Pd., MM., M.Si. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa transformasi pendidikan tidak bisa dihindari. Guru harus terus belajar dan beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kehadiran kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) bukan ancaman bagi guru, tetapi alat bantu yang dapat memperkuat kualitas pembelajaran apabila digunakan secara bijak.

Beliau juga mengajak seluruh guru untuk tidak takut mempelajari teknologi baru. Guru Indonesia, khususnya di Bengkulu, harus mampu menjadi pelopor perubahan pendidikan. Dengan semangat belajar sepanjang hayat, guru akan tetap menjadi sosok penting dalam mendidik generasi bangsa.

Kegiatan webinar semakin bermakna dengan sambutan dan arahan dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Bengkulu, H. Zulhendri, S.Sos., M.Pd. Beliau menyampaikan bahwa pendidikan bermutu untuk semua bukan hanya slogan, tetapi harus diwujudkan melalui pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Guru harus mampu menghadirkan pembelajaran yang membuat peserta didik aktif berpikir, aktif bertanya, dan aktif menciptakan solusi.

Beliau menilai bahwa pendekatan Design Thinking Based Learning sangat tepat diterapkan karena mampu melatih peserta didik memahami masalah nyata di lingkungan sekitar, kemudian mencari solusi melalui kreativitas dan kolaborasi. Ketika coding dan kecerdasan artifisial dipadukan dengan pendekatan pembelajaran mendalam, maka peserta didik akan memiliki kemampuan inovasi yang lebih kuat.

Puncak pembukaan webinar ditandai dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi acara oleh Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa guru Indonesia harus terus bergerak maju mengikuti perkembangan teknologi dan perubahan dunia pendidikan global. Namun demikian, beliau mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat, sedangkan sentuhan hati seorang guru tetap menjadi kekuatan utama pendidikan.

Prof. Unifah Rosyidi juga memberikan motivasi kepada para guru agar tidak berhenti belajar. Menurut beliau, guru yang terus belajar akan mampu melahirkan generasi yang cerdas, kreatif, dan berkarakter. Pendidikan Indonesia membutuhkan guru-guru inovatif yang mampu mengubah tantangan menjadi peluang.

Setelah acara pembukaan selesai, kegiatan dilanjutkan dengan acara inti berupa paparan materi dari narasumber utama, Dr. Rahmad Ramelan Setia Budi, M.Pd. 

Dalam pemaparannya, Dr. Rahmad menjelaskan secara detail tentang implementasi pembelajaran mendalam berbasis DTBL-KKA. Beliau menerangkan bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berfokus pada hafalan materi, tetapi menekankan pada pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan pemecahan masalah.

Beliau juga menjelaskan bahwa pendekatan Design Thinking membantu peserta didik memahami masalah nyata melalui beberapa tahapan, mulai dari memahami kebutuhan pengguna, merumuskan masalah, mencari ide solusi, membuat prototipe, hingga melakukan evaluasi. Ketika proses tersebut dipadukan dengan coding dan kecerdasan artifisial, peserta didik akan terbiasa berpikir inovatif dan berbasis solusi.

Paparan materi berlangsung menarik dan interaktif. Banyak peserta terlihat antusias menyimak penjelasan narasumber. Bahkan dalam sesi tanya jawab, berbagai pertanyaan muncul dari para guru mengenai implementasi AI di sekolah, tantangan penggunaan teknologi, hingga strategi pembelajaran coding yang mudah diterapkan di kelas.

Moderator webinar, Fenty Hanifa Carolina, M.Pd, berhasil memandu jalannya diskusi dengan sangat baik sehingga suasana webinar tetap hidup dan penuh semangat belajar. 

Kegiatan webinar ini menjadi bukti nyata bahwa dunia pendidikan Indonesia terus bergerak maju. Guru-guru kini semakin terbuka terhadap inovasi dan teknologi pembelajaran. Webinar APKS PGRI Provinsi Bengkulu bukan hanya menjadi ajang berbagi ilmu, tetapi juga menjadi ruang inspirasi bagi para guru untuk terus berkembang.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, guru memang dituntut untuk mampu beradaptasi. Namun lebih dari itu, guru juga harus tetap menjadi teladan dalam menanamkan nilai-nilai kemanusiaan, karakter, dan semangat gotong royong kepada peserta didik.

Melalui webinar ini, semangat pendidikan bermutu untuk semua semakin terasa nyata. Guru bukan hanya mengajar, tetapi juga membimbing lahirnya generasi inovator masa depan yang mampu menciptakan solusi bagi berbagai persoalan bangsa.

Sebagaimana semangat Hardiknas dan Harkitnas, pendidikan sejatinya adalah jalan kebangkitan bangsa. Ketika guru terus belajar dan berinovasi, maka Indonesia akan memiliki masa depan yang lebih cerah.

Salam blogger persahabatan
Omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 24 Mei 2026

Tulisanmu adalah Konten Mahal

Tulisanmu Adalah Konten Mahal

Kisah Omjay tentang Harga Sebuah Tulisan yang Lahir dari Hati

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah

Banyak orang mengira menulis hanyalah pekerjaan sederhana. Tinggal duduk, mengetik beberapa kalimat, lalu selesai. Padahal, di balik sebuah tulisan yang menyentuh hati, ada pengalaman hidup, air mata, perjuangan, bahkan doa yang ikut terselip di setiap paragrafnya. Karena itulah, tulisan sebenarnya adalah konten mahal.

Saya menyadari hal itu ketika mulai aktif menulis di blog pribadi dan berbagai media online. Awalnya, saya hanya ingin berbagi pengalaman sebagai guru. Saya menulis tentang kelas, murid, perjalanan hidup, hingga kisah-kisah sederhana yang sering dianggap sepele oleh orang lain. Namun ternyata, tulisan sederhana itu mampu mengetuk hati banyak pembaca.

Suatu malam, saya menerima pesan dari seorang guru di daerah pelosok Indonesia. Ia berkata bahwa tulisan saya membuatnya kembali semangat mengajar. Ia hampir menyerah menjadi guru karena merasa tidak dihargai. Gaji kecil, beban kerja besar, dan tuntutan administrasi membuat hidupnya terasa berat. Namun setelah membaca tulisan saya di blog [wijayalabs.com](https://wijayalabs.com?utm_source=chatgpt.com), ia merasa tidak sendirian.

Saat membaca pesan itu, saya terdiam cukup lama. Ternyata tulisan bukan hanya rangkaian kata. Tulisan dapat menjadi pelukan bagi hati yang lelah. Tulisan bisa menjadi cahaya bagi mereka yang sedang berada dalam kegelapan.

Di situlah saya mulai memahami bahwa tulisan adalah konten mahal.

Mahal bukan karena dibayar jutaan rupiah. Mahal karena proses lahirnya tidak mudah. Ada waktu yang dikorbankan. Ada tenaga yang dikeluarkan. Ada pengalaman hidup yang dibagikan dengan tulus.

Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya. Mereka membaca artikel dalam waktu lima menit, tetapi tidak tahu bahwa penulisnya mungkin membutuhkan waktu berjam-jam untuk menyelesaikannya. Bahkan ada tulisan yang lahir dari luka batin yang mendalam.

Saya pernah menulis ketika hati sedang sedih. Saat itu saya merasa lelah menghadapi berbagai persoalan hidup. Namun saya memilih menuliskannya menjadi sebuah artikel inspiratif. Anehnya, justru tulisan yang lahir dari rasa sakit itu paling banyak dibaca orang. Banyak pembaca mengaku menangis setelah membacanya.

Dari pengalaman itu saya belajar bahwa tulisan yang paling mahal adalah tulisan yang ditulis dengan hati.

Hari ini, dunia dipenuhi konten. Setiap detik orang mengunggah video, foto, dan tulisan di media sosial. Namun tidak semua konten memiliki nilai. Banyak yang hanya lewat begitu saja tanpa meninggalkan makna. Sebaliknya, tulisan yang lahir dari pengalaman nyata akan terus hidup di hati pembacanya.

Itulah sebabnya saya selalu mengatakan kepada teman-teman guru agar jangan takut menulis. Pengalaman mengajar di kelas adalah harta yang sangat mahal. Kisah mendidik murid dengan penuh kesabaran adalah inspirasi yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Saya teringat ketika mengikuti pelatihan menulis beberapa tahun lalu. Saat itu ada seorang peserta berkata, “Saya bukan penulis hebat. Saya tidak punya cerita menarik.”

Saya tersenyum mendengar ucapannya.

Saya lalu berkata kepadanya, “Selama Ibu masih hidup, selama Ibu pernah berjuang, maka Ibu punya cerita yang layak ditulis.”

Benar saja. Ketika ia mulai menulis tentang perjuangannya menjadi guru honorer di desa terpencil, banyak orang terharu membacanya. Tulisan itu kemudian dibagikan ribuan kali di media sosial.

Kadang kita tidak sadar bahwa pengalaman hidup sendiri justru menjadi konten paling mahal.

Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, banyak orang bisa membuat tulisan dengan cepat. Teknologi memang membantu manusia bekerja lebih mudah. Namun tulisan yang benar-benar menyentuh tetap membutuhkan rasa. Mesin bisa menyusun kata, tetapi hati manusialah yang memberi jiwa pada tulisan tersebut.

Karena itu, saya selalu percaya bahwa penulis yang menulis dengan hati tidak akan tergantikan.

Tulisan mahal bukan tulisan yang penuh kata sulit. Bukan pula tulisan yang dipenuhi istilah hebat. Tulisan mahal adalah tulisan yang mampu membuat pembaca merasa ditemani, dikuatkan, dan dimanusiakan.

Saya pernah bertemu seorang pembaca yang berkata, “Pak Omjay, tulisan Bapak seperti sedang berbicara langsung kepada saya.”

Kalimat itu sederhana, tetapi sangat membahagiakan. Sebagai penulis, tidak ada yang lebih indah selain mengetahui bahwa tulisan kita bermanfaat bagi orang lain.

Menulis juga mengajarkan saya tentang keikhlasan. Tidak semua tulisan langsung ramai dibaca. Ada artikel yang sepi pengunjung. Ada tulisan yang nyaris tidak mendapat komentar. Namun saya tetap menulis.

Mengapa?

Karena saya percaya, tulisan yang baik akan menemukan pembacanya sendiri pada waktu yang tepat.

Tulisan ibarat benih. Ketika ditanam dengan tulus, suatu hari akan tumbuh menjadi pohon yang memberi manfaat bagi banyak orang.

Kini saya semakin yakin bahwa setiap orang sebenarnya bisa menjadi penulis. Tidak harus terkenal terlebih dahulu. Tidak harus menunggu sempurna. Mulailah dari pengalaman hidup sendiri.

Tulislah tentang perjuanganmu. Tulislah tentang ibumu. Tulislah tentang murid-muridmu. Tulislah tentang kegagalan dan harapanmu.

Sebab suatu hari nanti, tulisan itu mungkin menjadi penguat bagi orang lain yang sedang hampir menyerah.

Dan ketika tulisanmu berhasil menghidupkan harapan seseorang, saat itulah kamu akan sadar bahwa tulisanmu adalah konten mahal yang nilainya jauh melebihi materi.

Teruslah menulis. Karena tulisan yang lahir dari hati akan selalu menemukan jalan menuju hati pembacanya.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Belajar Kritis dari Film Dokumenter Pesta Babi

Pesta Babi di Papua dan Jeritan Rakyat yang Terpinggirkan

Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita membuka mata banyak orang tentang kenyataan pahit yang dialami masyarakat adat di Papua Selatan. Film karya Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale itu bukan sekadar tontonan biasa. Ia menjadi suara bagi rakyat kecil yang selama ini merasa tidak didengar di tanahnya sendiri. 

Di balik gemerlap istilah pembangunan dan Proyek Strategis Nasional (PSN), tersimpan luka mendalam masyarakat adat Papua. Hutan dibuka, tanah ulayat diambil, dan ruang hidup perlahan menghilang. Pemerintah menyebutnya pembangunan demi ketahanan pangan nasional. Namun bagi banyak warga Papua, pembangunan itu terasa seperti badai besar yang datang tanpa meminta izin kepada pemilik tanah adat. 

Film itu memperlihatkan kehidupan suku Marind, Awyu, Yei, dan Muyu yang selama turun-temurun hidup berdampingan dengan alam. Hutan bukan sekadar kumpulan pohon bagi mereka. Hutan adalah ibu yang memberi makan, sungai adalah sumber kehidupan, dan tanah adalah warisan leluhur yang sakral. Ketika alat berat masuk dan pohon-pohon tumbang, yang hilang bukan hanya lingkungan, tetapi juga identitas dan masa depan mereka. 

Ironisnya, rakyat Papua sering kali hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Kapal-kapal besar datang membawa ekskavator dan alat berat. Perusahaan-perusahaan raksasa masuk dengan izin negara. Namun masyarakat adat merasa suara mereka tidak benar-benar dilibatkan. Mereka melihat pembangunan berjalan cepat, tetapi kesejahteraan yang dijanjikan belum sepenuhnya mereka rasakan. 

Banyak orang mungkin bertanya, mengapa judulnya “Pesta Babi”? Dalam budaya Papua, pesta babi adalah tradisi sakral yang melambangkan persaudaraan, syukur, dan kebersamaan. Namun dalam film ini, istilah itu menjadi metafora yang menyakitkan. Seolah ada pesta besar yang dinikmati para pemilik modal dan kekuasaan, sementara masyarakat adat hanya menerima sisa penderitaan dan kehilangan. 

Yang membuat hati semakin sedih adalah munculnya berbagai cerita tentang intimidasi terhadap pemutaran film tersebut. Beberapa acara nonton bareng dibubarkan dengan alasan keamanan. Akibatnya, banyak orang merasa ruang diskusi dan kritik terhadap pembangunan menjadi semakin sempit. 

Padahal kritik tidak selalu berarti menolak pembangunan. Banyak masyarakat Papua sebenarnya tidak anti kemajuan. Mereka juga ingin jalan bagus, sekolah layak, rumah sakit memadai, dan kehidupan yang lebih baik. Namun mereka ingin pembangunan yang manusiawi. Pembangunan yang menghormati hak adat, menjaga lingkungan, dan melibatkan rakyat sebagai subjek, bukan sekadar objek pembangunan.

Pemerintah dan sejumlah pihak memang menegaskan bahwa proyek food estate di Wanam bertujuan memperkuat ketahanan pangan nasional dan membuka lapangan pekerjaan. Mereka juga menyebut tidak semua lokasi dalam film berkaitan langsung dengan PSN tersebut.  Namun perdebatan ini justru menunjukkan bahwa ada jurang besar antara narasi pembangunan dari pusat dengan kenyataan yang dirasakan sebagian masyarakat di lapangan.

Papua bukan tanah kosong. Papua memiliki manusia, budaya, sejarah, dan martabat yang harus dihormati. Ketika pembangunan hanya diukur dari jumlah hektare lahan yang dibuka atau angka investasi yang masuk, maka ada sisi kemanusiaan yang perlahan hilang. Alam Papua mungkin kaya, tetapi rakyatnya tidak boleh terus merasa miskin di tanah sendiri.

Kita harus belajar bahwa pembangunan sejati bukan sekadar membangun infrastruktur besar. Pembangunan sejati adalah ketika rakyat merasa aman, dihargai, dan dilibatkan. Ketika anak-anak Papua tetap bisa melihat hutan leluhurnya berdiri tegak. Ketika masyarakat adat tidak kehilangan identitas demi proyek yang katanya untuk masa depan bangsa.

Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita akhirnya menjadi pengingat bahwa suara rakyat kecil tidak boleh dibungkam. Sebab bangsa yang besar bukan bangsa yang hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi bangsa yang mampu menjaga keadilan bagi seluruh rakyatnya, termasuk masyarakat adat Papua.

Papua terlalu indah untuk hanya dilihat sebagai sumber kekayaan alam. Papua adalah rumah bagi jutaan manusia yang ingin hidup damai dan dihormati. Jika pembangunan terus berjalan tanpa mendengar jeritan rakyatnya, maka yang tersisa hanyalah luka panjang yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sudah waktunya pembangunan di Papua benar-benar berpihak kepada rakyat Papua. Bukan hanya menghadirkan proyek besar, tetapi juga menghadirkan keadilan, kesejahteraan, dan penghormatan terhadap manusia dan alam yang selama ini menjaga tanah itu dengan penuh cinta. 

https://youtu.be/MpdrWgDRVf8?si=8gRbF4LUVlyAtKMK

Pidato Presiden Prabowo Harapan Baru Kesejahteraan Guru

Kesejahteraan Guru Jadi Prioritas: Harapan Baru Pendidikan Indonesia

Pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai penyusunan RAPBN 2027 membawa angin segar bagi dunia pendidikan Indonesia. Dalam pidatonya di Sidang Paripurna DPR RI pada 20 Mei 2025, beliau menegaskan bahwa kesejahteraan guru akan menjadi salah satu prioritas utama dalam penyusunan RAPBN 2027. Kalimat itu terdengar sederhana, namun bagi jutaan guru di Indonesia, ucapan tersebut seperti embun yang menyejukkan hati setelah perjalanan panjang penuh pengabdian.

Guru adalah pondasi bangsa. Dari tangan seorang guru lahir dokter, tentara, polisi, pengusaha, menteri, bahkan presiden. Namun ironisnya, masih banyak guru yang hidup dalam keterbatasan. Ada guru honorer yang harus mengajar dari pagi hingga sore dengan gaji yang bahkan belum cukup memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Ada guru yang tetap datang ke sekolah meski harus menempuh perjalanan jauh dengan kendaraan seadanya. Bahkan tidak sedikit guru yang tetap tersenyum di depan murid-muridnya walaupun di rumah mereka sedang memikirkan biaya sekolah anak atau tagihan kebutuhan hidup.

Pernyataan Presiden Prabowo tentang kesejahteraan guru menjadi harapan besar bahwa negara mulai benar-benar memberi perhatian serius kepada para pendidik. Sebab selama ini, guru sering diminta profesional, kreatif, inovatif, dan berdedikasi tinggi, tetapi kesejahteraan mereka belum sepenuhnya sejalan dengan tuntutan tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, guru bukan hanya mengajar pelajaran di kelas. Guru juga menjadi pendengar keluh kesah murid, menjadi motivator, bahkan sering menjadi orang tua kedua di sekolah. Banyak guru yang rela menggunakan uang pribadinya untuk membantu siswa membeli buku, seragam, atau sekadar memberi makan kepada murid yang belum sarapan. Pengabdian seperti itu tidak selalu terlihat, tetapi nyata adanya.

Saya teringat kisah seorang guru honorer di daerah pinggiran Bekasi. Setiap pagi beliau berangkat mengajar menggunakan sepeda motor tua. Saat hujan deras turun, jas hujan tipis yang dipakainya tak mampu menahan dinginnya angin. Namun beliau tetap datang ke sekolah tepat waktu. Ketika ditanya mengapa tetap semangat mengajar dengan penghasilan kecil, beliau menjawab pelan, “Kalau saya menyerah, siapa yang akan mengajar anak-anak ini?”

Jawaban itu sederhana, tetapi sangat menyentuh hati. Guru sering kali bekerja bukan hanya karena profesi, melainkan karena panggilan jiwa.

Karena itu, ketika pemerintah menyatakan bahwa kesejahteraan guru menjadi prioritas dalam RAPBN 2027, masyarakat tentu berharap bukan hanya menjadi slogan atau janji politik semata. Guru membutuhkan bukti nyata. Mereka berharap ada peningkatan kesejahteraan yang benar-benar dirasakan, mulai dari kenaikan gaji, perlindungan kerja, tunjangan yang tepat sasaran, hingga kepastian status bagi guru honorer.

Kesejahteraan guru bukan sekadar soal uang. Kesejahteraan juga berarti penghargaan terhadap martabat profesi guru. Guru harus merasa aman, dihormati, dan didukung dalam menjalankan tugasnya. Sebab pendidikan yang berkualitas tidak akan lahir dari guru yang hidup dalam tekanan ekonomi dan ketidakpastian.

Negara-negara maju memahami betul pentingnya guru. Mereka menjadikan profesi guru sebagai pekerjaan yang terhormat dengan kesejahteraan yang baik. Akibatnya, banyak generasi muda terbaik tertarik menjadi guru. Indonesia pun seharusnya bergerak ke arah yang sama. Jika guru disejahterakan, maka kualitas pendidikan akan meningkat. Jika pendidikan meningkat, maka masa depan bangsa juga akan menjadi lebih baik.

Pidato Presiden Prabowo itu juga menjadi pengingat bahwa investasi terbesar bangsa sebenarnya bukan pada gedung mewah atau proyek besar semata, melainkan pada manusia. Dan manusia berkualitas lahir dari pendidikan yang baik. Pendidikan yang baik lahir dari guru yang bahagia dan sejahtera.

Sebagai seorang guru, saya merasakan bahwa penghargaan paling indah bukan hanya sertifikat atau tepuk tangan, tetapi ketika negara hadir memperhatikan kehidupan para pendidiknya. Guru tidak ingin dipuji berlebihan. Guru hanya ingin hidup layak agar dapat fokus mendidik generasi bangsa dengan hati yang tenang.

Di berbagai pelosok Indonesia, masih ada guru yang mengajar di ruang kelas sederhana dengan fasilitas terbatas. Ada yang harus menyeberangi sungai, mendaki bukit, bahkan berjalan kaki berjam-jam demi menemui murid-muridnya. Mereka tetap bertahan karena percaya bahwa pendidikan adalah cahaya bagi masa depan bangsa.

Bayangkan jika seluruh guru Indonesia benar-benar sejahtera. Mereka dapat mengajar dengan lebih fokus, lebih kreatif, dan lebih bersemangat. Murid-murid akan mendapatkan pendidikan yang lebih berkualitas. Sekolah menjadi tempat yang menyenangkan. Dan Indonesia akan memiliki generasi emas yang cerdas sekaligus berkarakter.

Harapan itu kini mulai tumbuh kembali. Pernyataan Presiden Prabowo memberikan sinyal bahwa pemerintah memahami pentingnya peran guru dalam membangun bangsa. Namun tentu saja, masyarakat akan menunggu langkah konkret dan realisasi nyata dari komitmen tersebut.

Guru Indonesia sudah terlalu lama mengabdi dengan segala keterbatasan. Sudah saatnya mereka mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Sebab ketika guru sejahtera, sesungguhnya bangsa sedang menyiapkan masa depan yang lebih cerah.

Semoga RAPBN 2027 benar-benar menjadi titik awal perubahan besar bagi dunia pendidikan Indonesia. Semoga kesejahteraan guru bukan lagi sekadar wacana, tetapi menjadi kenyataan yang dirasakan hingga ke pelosok negeri.

Karena di balik kemajuan sebuah bangsa, selalu ada guru yang bekerja dalam diam, mengajar dengan hati, dan berjuang tanpa lelah demi masa depan anak negeri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sukseskan Gerakan Nasional 1 juta Guru Mahir Koding

Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI: Harapan Baru Pendidikan Indonesia di Era Digital

Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dunia, pendidikan Indonesia menghadapi tantangan besar yang tidak bisa dihindari. Kehadiran Artificial Intelligence (AI), coding, dan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia, termasuk cara belajar, cara mengajar, dan cara berpikir generasi muda. Dalam situasi inilah, guru tidak boleh tertinggal. Guru harus mampu menjadi pemimpin perubahan, bukan sekadar penonton perkembangan zaman.

Karena itulah, peluncuran Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI oleh Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) menjadi kabar menggembirakan bagi dunia pendidikan Indonesia. Program besar ini resmi diluncurkan dalam Konferensi Kerja Nasional (Konkernas) II PB PGRI di Jakarta pada tanggal 16–18 April 2026.

Gerakan ini bukan hanya sebuah program pelatihan biasa. Ini adalah tonggak sejarah baru transformasi pendidikan Indonesia menuju era kecerdasan artifisial. Sebuah gerakan besar yang membawa harapan agar guru Indonesia mampu berdiri sejajar dengan guru-guru dunia dalam menghadapi perubahan teknologi yang sangat cepat.

Ketua Umum PB PGRI, Prof. Dr. Unifah Rosyidi, menegaskan bahwa guru harus menjadi pelaku utama transformasi pendidikan. Guru tidak boleh takut terhadap teknologi. Sebaliknya, teknologi harus dijadikan sahabat untuk menciptakan pembelajaran yang lebih kreatif, lebih menarik, dan lebih manusiawi.

Pernyataan tersebut terasa sangat menyentuh hati. Selama ini banyak guru yang merasa cemas menghadapi perkembangan AI. Ada yang takut tergantikan. Ada yang merasa terlambat belajar teknologi. Bahkan ada pula yang menganggap coding dan AI hanya untuk anak muda atau kalangan tertentu saja. Namun melalui gerakan nasional ini, PB PGRI ingin menyampaikan pesan kuat bahwa semua guru bisa belajar, semua guru bisa berkembang, dan semua guru mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI memiliki target yang sangat besar dan visioner. Program ini menargetkan pelatihan bagi satu juta guru Indonesia, melibatkan 50 ribu sekolah, menghadirkan 10 ribu trainer nasional, menghasilkan 3 juta media pembelajaran digital, serta mendorong lahirnya 10 juta proyek teknologi siswa Indonesia.

Angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik angka itu ada mimpi besar tentang masa depan pendidikan Indonesia. Bayangkan jika jutaan guru mulai memahami AI dan coding. Bayangkan jika siswa Indonesia sejak dini terbiasa berpikir kreatif, kritis, dan inovatif melalui teknologi. Tentu Indonesia akan memiliki generasi emas yang siap bersaing di tingkat global.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Dr. Atip Latipulhayat, juga memberikan apresiasi atas langkah progresif PB PGRI tersebut. Menurut beliau, kemampuan AI dan coding bukan lagi sekadar pilihan tambahan, tetapi sudah menjadi kompetensi masa depan yang harus dipersiapkan mulai sekarang.

Apa yang disampaikan pemerintah tersebut memang sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Banyak pekerjaan di masa depan akan berubah akibat AI. Bahkan beberapa jenis pekerjaan mungkin hilang dan digantikan teknologi otomatis. Namun di sisi lain, akan lahir banyak peluang kerja baru yang membutuhkan kemampuan berpikir komputasional, kreativitas digital, dan kecakapan teknologi.

Di sinilah peran guru menjadi sangat penting. Guru bukan hanya mengajarkan materi pelajaran, tetapi juga menyiapkan generasi muda menghadapi dunia yang terus berubah. Guru harus mampu membimbing siswa agar tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta teknologi.

Program nasional ini akan dilaksanakan secara bertahap melalui berbagai kegiatan, mulai dari pelatihan daring, workshop praktik, mentoring implementasi di sekolah, hingga showcase inovasi guru dan siswa. Materi yang diberikan juga sangat lengkap, mencakup literasi AI, prompt engineering, coding, computational thinking, pembuatan media pembelajaran digital, pengembangan game edukasi, web development, hingga project-based learning berbasis teknologi.

Menariknya lagi, program ini tidak hanya berhenti pada pelatihan semata. PB PGRI juga akan menghadirkan platform pembelajaran nasional yang menyediakan LMS pelatihan, repository karya guru, bank prompt AI, bank proyek coding, forum komunitas guru, hingga sistem sertifikasi digital nasional.

Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak bisa dilakukan secara setengah-setengah. Dibutuhkan ekosistem yang mendukung agar guru benar-benar mampu berkembang secara berkelanjutan.

Direktur Program Nasional Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI, James F. Tomasouw, mengatakan bahwa gerakan ini dirancang sebagai gerakan kolaboratif lintas sektor yang melibatkan pemerintah, organisasi profesi, universitas, industri teknologi, dan komunitas pendidikan.

Kolaborasi memang menjadi kunci keberhasilan pendidikan masa depan. Dunia pendidikan tidak bisa berjalan sendiri. Dibutuhkan kerja sama semua pihak agar guru Indonesia memiliki akses terhadap teknologi dan pelatihan berkualitas.

Banyak peserta Konkernas II PB PGRI menyambut gerakan nasional ini dengan penuh antusiasme. Mereka menilai program ini sebagai salah satu langkah paling progresif dalam sejarah pengembangan kompetensi guru di Indonesia.

Harapan besar kini tertumpu pada gerakan ini. Guru Indonesia selama ini dikenal memiliki semangat luar biasa dalam belajar dan beradaptasi. Meski menghadapi keterbatasan fasilitas, banyak guru tetap mampu melahirkan inovasi pembelajaran yang menginspirasi.

Kini saatnya guru Indonesia melangkah lebih jauh. AI bukan ancaman, melainkan peluang. Coding bukan sesuatu yang menakutkan, tetapi jembatan menuju masa depan pendidikan yang lebih modern dan kreatif.

Gerakan Nasional 1 Juta Guru Mahir Coding dan AI bukan sekadar program teknologi. Ini adalah gerakan kebangkitan guru Indonesia. Sebuah gerakan yang ingin memastikan bahwa guru tetap menjadi cahaya peradaban di tengah perubahan zaman yang sangat cepat.

Semoga gerakan besar ini benar-benar mampu melahirkan jutaan guru inovator yang menginspirasi anak-anak Indonesia untuk bermimpi lebih tinggi, berpikir lebih maju, dan menciptakan masa depan bangsa yang lebih gemilang.