Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 03 Februari 2026

Tangisan Sunyi Guru Honorer

Tangisan Sunyi Guru Honorer: Ketika Air Mata Menjadi Saksi Ketidakadilan

Tangis itu pecah bukan di ruang kelas, bukan pula di hadapan murid-muridnya. Tangis itu jatuh diam-diam, di sudut rumah sederhana, saat malam semakin larut dan perut belum sepenuhnya terisi.
Ia seorang guru honorer. Pekerjaan yang mulia dalam ucapan, tetapi sering hina dalam perlakuan.

Pagi tadi ia tetap datang ke sekolah dengan senyum. Menyapa murid-muridnya dengan penuh cinta. Mengajarkan huruf, angka, dan harapan. Tak satu pun murid tahu bahwa gurunya semalam menangis. Tak satu pun tahu bahwa di balik papan tulis itu ada hati yang remuk.

Mengabdi dengan Air Mata

Sudah belasan tahun ia mengajar. Datang paling pagi, pulang paling sore. Menggantikan guru yang absen, membersihkan kelas tanpa diminta, bahkan patungan untuk kapur tulis dan spidol.
Namun ketika soal kesejahteraan ditanya, jawabannya selalu sama:
“Sabar ya, belum ada anggaran.”

Gajinya?
Tak sampai satu juta rupiah sebulan. Kadang dibayar tiga bulan sekali. Kadang lebih lama.
Sementara harga beras naik. Anak butuh susu. Motor butuh bensin.
Dan ia? Butuh keadilan.

Tangisnya pecah ketika anaknya bertanya polos,

> “Bu, besok uang jajan ada nggak?”

Ia berpaling. Tak sanggup menjawab.
Air mata jatuh tanpa suara.

Antara Idealime dan Realitas yang Kejam

Guru honorer selalu diminta ikhlas.
Ikhlas mengajar.
Ikhlas digaji kecil.
Ikhlas menunggu pengangkatan yang tak kunjung pasti.

Tapi adakah yang bertanya,
sampai kapan ikhlas harus dibayar dengan penderitaan?

Setiap tahun ada harapan baru.
Setiap tahun ada janji baru.
Tapi nasib guru honorer tetap seperti itu-itu saja.

Ironisnya, mereka yang mencerdaskan bangsa justru hidup dalam kecemasan.
Mereka yang membangun masa depan anak bangsa justru masa depannya sendiri gelap.

Tangisan yang Tak Pernah Didengar

Tangisan guru honorer bukan hanya soal uang.
Ini tentang harga diri.
Tentang rasa lelah yang tak pernah diakui.
Tentang pengabdian yang dianggap biasa.

Mereka tak menuntut kaya.
Tak minta fasilitas mewah.
Mereka hanya ingin hidup layak sebagai manusia.

Ketika melihat guru lain mendapat tunjangan, sertifikasi, dan penghargaan, mereka tersenyum. Tapi senyum itu pahit.
Bukan iri, melainkan luka.

“Apakah pengabdian kami kurang lama?”
“Apakah kami bukan guru yang sebenarnya?”

Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui, lalu kembali menjadi tangis di malam hari.

Jika Guru Terus Menangis, Siapa yang Akan Tertawa?

Bangsa ini sering bicara soal pendidikan.
Soal generasi emas.
Soal Indonesia maju.

Tapi bagaimana mungkin pendidikan maju jika gurunya menangis?
Bagaimana mungkin anak-anak tumbuh bahagia jika gurunya mengajar sambil menahan lapar?

Air mata guru honorer adalah alarm keras bagi negeri ini.
Jika kita terus menutup mata, maka suatu hari bukan hanya guru yang menangis, tetapi masa depan bangsa ikut runtuh.

Harapan di Balik Air Mata

Meski menangis, guru honorer tetap datang ke kelas.
Tetap mengajar dengan hati.
Tetap mencintai murid-muridnya tanpa syarat.

Karena bagi mereka, pendidikan bukan sekadar pekerjaan.
Ini adalah panggilan jiwa.

Namun panggilan jiwa tidak boleh terus-menerus dibayar dengan penderitaan.

Sudah saatnya negara hadir.
Bukan dengan janji, tapi dengan kebijakan nyata.
Bukan dengan simpati, tapi dengan keadilan.

Penutup: Jangan Biarkan Guru Menangis Sendiri

Jika hari ini Anda membaca tulisan ini dan mata terasa basah,
ingatlah…
di luar sana ada jutaan guru honorer yang menangis lebih lama dari yang Anda bayangkan.

Tangisan mereka bukan kelemahan.
Tangisan mereka adalah jeritan keadilan.

Dan semoga, suatu hari nanti, air mata itu berganti senyum.
Bukan karena mereka berhenti mengabdi,
tetapi karena akhirnya negeri ini menghargai gurunya sendiri.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 02 Februari 2026

Ketika TPG Terjebak Jam Mengajar: Catatan Hati Seorang Guru

Ketika TPG Terjebak Jam Mengajar: Catatan Hati Seorang Guru

Oleh: Omjay – Guru Blogger Indonesia

Beberapa hari terakhir, pesan-pesan dari guru terus masuk ke ponsel saya. Ada yang mengeluh, ada yang bertanya, ada pula yang hanya ingin didengar. Intinya sama: Tunjangan Profesi Guru (TPG) mereka terhenti karena jam mengajar tidak mencapai 24 jam tatap muka.

Sebagai guru, saya paham betul perasaan itu. Bukan soal besar kecilnya tunjangan semata, tetapi soal rasa keadilan dan pengakuan. Ketika seorang guru sudah bersertifikat pendidik, sudah diakui negara sebagai tenaga profesional, mengapa hak profesinya bisa gugur hanya karena hitungan jam?

Pertanyaan ini terus menggelayut di kepala saya.

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen secara jelas menyebutkan bahwa guru adalah tenaga profesional. Profesionalisme itu dibuktikan dengan sertifikat pendidik yang diterbitkan oleh negara setelah guru memenuhi standar kompetensi. Sertifikat itu bukan hadiah, bukan pula formalitas. Ia adalah pengakuan negara bahwa seorang guru layak disebut profesional.

Dalam semangat itulah TPG lahir: sebagai penghargaan profesi.

Namun, dalam praktiknya, makna itu perlahan bergeser. TPG seakan berubah menjadi tunjangan berbasis jam mengajar. Jika jam kurang, meski hanya satu atau dua jam, maka hak profesi bisa hilang. Di sinilah kegelisahan itu bermula.

Saya sering merenung: apakah profesionalisme guru benar-benar diukur dari jumlah jam tatap muka? Apakah kerja guru hanya bernilai saat berdiri di depan kelas?

Padahal kita tahu, tugas guru jauh lebih luas dari itu. Guru merencanakan pembelajaran, menyusun perangkat ajar, melakukan asesmen, membimbing peserta didik, berkomunikasi dengan orang tua, mengikuti pelatihan, dan terus belajar agar tidak tertinggal zaman. Semua itu adalah kerja profesional, meski tidak selalu tercatat sebagai jam mengajar.

Realitas di lapangan juga tidak sesederhana di atas kertas. Banyak sekolah memiliki keterbatasan rombongan belajar. Ada mata pelajaran yang kelebihan guru. Ada kebijakan zonasi yang mengubah komposisi kelas. Dalam kondisi seperti ini, bukan kemauan guru yang menentukan jam, tetapi sistem.

Lalu, apakah adil jika guru menanggung konsekuensi dari sistem yang tidak ia rancang?

Saya teringat seorang guru senior yang berkata lirih, “Kami diminta profesional, tapi sering diperlakukan seperti pekerja harian yang dihitung per jam.” Kalimat itu sederhana, tetapi menohok.

TPG seharusnya bukan upah lembur mengajar. Ia adalah simbol penghargaan negara kepada profesi guru. Ketika TPG digantungkan sepenuhnya pada jam mengajar, maka yang terjadi bukan peningkatan mutu pendidikan, melainkan kegelisahan kolektif para guru.

Banyak guru akhirnya sibuk mengejar jam tambahan ke sana ke mari. Energi habis untuk urusan administratif, bukan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Padahal, pendidikan yang baik lahir dari guru yang bekerja dengan tenang dan bermartabat.

Saya tidak menolak pengaturan jam mengajar. Jam mengajar tetap penting sebagai bagian dari manajemen beban kerja. Namun, ia harus ditempatkan secara proporsional, adil, dan kontekstual. Jangan sampai jam mengajar menjadi alat untuk menggugurkan hak profesi yang sudah diakui undang-undang.

Sudah saatnya kebijakan TPG dikembalikan pada ruh Undang-Undang Guru dan Dosen. Sertifikat pendidik harus menjadi dasar utama penghargaan profesi. Sementara pengaturan jam mengajar menjadi instrumen pengelolaan kerja, bukan palu pemukul hak.

Guru ingin mengajar dengan hati, bukan dengan rasa takut. Guru ingin fokus mendidik, bukan sibuk menghitung jam. Guru ingin dimanusiakan, agar mampu memanusiakan manusia.

Semoga catatan sederhana ini menjadi pengingat bagi kita semua: pendidikan tidak akan maju jika gurunya terus didera kegelisahan. Negara besar adalah negara yang menghargai gurunya, bukan sekadar menghitung jamnya.

Salam hormat,
Omjay



Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Sabtu, 31 Januari 2026

Ketika Guru Bertemu Muridnya

Siang itu, hujan baru saja reda di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur. Udara masih menyisakan aroma tanah basah ketika sebuah pintu rumah sederhana terbuka perlahan. Di sanalah Ayah Didi, seorang guru sepuh yang rambutnya telah memutih oleh waktu, berdiri menyambut tamu yang sudah sangat lama tak ia jumpai. Tamu itu bukan orang asing. Ia adalah Dedi Dwitagama, mantan muridnya, yang dulu duduk rapi di bangku kelas, kini dikenal luas sebagai pendidik, penulis, dan penggerak literasi guru di Indonesia.

Pertemuan itu bukan pertemuan biasa. Ia adalah pertemuan batin antara guru dan murid, antara masa lalu dan masa kini, antara benih yang ditanam dan pohon yang kini berbuah lebat.

Guru yang Menanam, Murid yang Tumbuh

Ayah Didi adalah tipe guru yang mungkin tak banyak dikenal publik. Ia bukan pejabat, bukan tokoh viral, bukan pula pemburu panggung. Namun dari ruang kelas sederhananya, ia menanam nilai-nilai yang kelak tumbuh jauh melampaui dinding sekolah. Disiplin, kejujuran, keberanian berpikir, dan terutama cinta pada ilmu—itulah warisan yang ia titipkan kepada murid-muridnya.

Dedi Dwitagama masih ingat betul sosok Ayah Didi. Bukan karena galaknya, melainkan karena keteguhannya. “Beliau bukan guru yang banyak bicara,” kenang Dedi sambil tersenyum, “tapi setiap kata yang keluar selalu membuat kami berpikir.” Di kelas itulah, tanpa disadari, Dedi kecil mulai belajar bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan penuntun arah hidup.

Jatinegara Kaum dan Ingatan yang Pulang

Rumah Ayah Didi di Jatinegara Kaum tak banyak berubah. Kursi kayu tua masih setia di ruang tamu. Rak buku lama tetap berdiri, meski sebagian bukunya telah menguning. Namun justru di situlah kehangatan terasa. Rumah itu seakan menjadi museum hidup perjalanan seorang guru.

Ketika Dedi melangkah masuk, Ayah Didi terdiam sejenak. Matanya menyipit, mencoba memastikan wajah di hadapannya. Lalu senyum itu merekah. Senyum seorang guru yang melihat muridnya pulang, bukan sekadar bertamu.

“Pak Guru…” ucap Dedi pelan.

Panggilan itu sederhana, namun penuh makna. Tak ada titel, tak ada embel-embel prestasi. Di hadapan Ayah Didi, Dedi Dwitagama tetaplah muridnya.

Obrolan yang Menyambung Zaman

Percakapan mereka mengalir tanpa skrip. Tentang kelas dulu, tentang teman-teman lama, tentang dunia pendidikan yang kini berubah cepat. Ayah Didi mendengarkan dengan seksama ketika Dedi bercerita tentang guru-guru yang menulis, tentang literasi digital, tentang perubahan cara belajar anak-anak zaman sekarang.

“Zaman berubah,” kata Ayah Didi pelan, “tapi guru jangan berubah kehilangan hatinya.”

Kalimat itu menghentikan sejenak obrolan. Dedi terdiam. Ia sadar, sejauh apa pun teknologi melaju, inti pendidikan tetap sama: hubungan manusia dengan manusia.

Pertemuan yang Menguatkan Makna Guru

Bagi Ayah Didi, pertemuan ini bukan soal kebanggaan. Ia tak pernah menuntut murid-muridnya menjadi terkenal. Baginya, cukup satu hal: muridnya menjadi manusia yang bermanfaat. Melihat Dedi tumbuh menjadi pendidik yang menggerakkan guru lain, itu sudah lebih dari cukup.

Sementara bagi Dedi Dwitagama, pertemuan ini adalah pengingat. Bahwa semua langkah jauhnya berawal dari seorang guru yang mungkin kini jarang disebut, tapi jasanya tak terhapus waktu. Di tengah kesibukan, ia kembali diingatkan untuk tetap rendah hati, untuk terus menghormati guru, dan untuk tak lupa dari mana ia berasal.

Guru dan Murid: Ikatan yang Tak Pernah Usang

Pertemuan di Jatinegara Kaum itu mungkin tak diliput media. Tak ada kamera, tak ada panggung. Namun nilainya jauh lebih besar. Ia adalah bukti bahwa ikatan guru dan murid tak pernah benar-benar putus, meski waktu memisahkan puluhan tahun.

Di negeri ini, sering kali guru dilupakan setelah muridnya berhasil. Padahal, setiap keberhasilan murid selalu menyimpan jejak guru di belakangnya. Ayah Didi adalah salah satu dari ribuan guru yang bekerja dalam sunyi, namun pengaruhnya menjalar jauh.

Saat Dedi pamit, Ayah Didi menggenggam tangannya erat. Tak banyak pesan, hanya satu kalimat sederhana, “Teruslah jadi guru, jangan berhenti belajar.”

Penutup: Pulang yang Menghangatkan Jiwa

Ketika pintu rumah kembali tertutup, hujan benar-benar berhenti. Langit Jatinegara Kaum tampak lebih cerah. Pertemuan itu mungkin singkat, tapi maknanya panjang. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya soal kurikulum dan angka, melainkan relasi, keteladanan, dan ingatan yang hidup.

Di sanalah, di sebuah rumah sederhana, seorang guru dan murid membuktikan bahwa waktu boleh berjalan, dunia boleh berubah, tetapi rasa hormat dan cinta dalam pendidikan akan selalu menemukan jalannya untuk pulang.

Menjaga Api Literasi di PGRI

Guru Disuruh Literasi, Tapi Dibungkam: Kisah Omjay dan PGRI di Persimpangan Sejarah Pendidikan

Setiap kali kata literasi diucapkan dalam forum pendidikan, ia terdengar indah dan menjanjikan. Guru diminta membaca, menulis, berpikir kritis, dan menjadi teladan intelektual. Namun setelah acara selesai, realitas kembali menampar: guru tenggelam dalam administrasi, dibebani laporan, dan sering kali kehilangan ruang untuk bersuara.

Ironisnya, di saat guru diminta literat, suara mereka justru kerap dianggap mengganggu. Kritik dicap keluhan. Opini ditafsirkan sebagai pembangkangan. Tulisan guru dipandang berbahaya jika tak sejalan dengan narasi resmi. Di titik inilah literasi kehilangan rohnya.

Namun tidak semua guru memilih diam. Salah satunya adalah Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., guru dengan lebih dari 33 tahun pengabdian yang memilih menulis sebagai jalan perlawanan paling sunyi, tetapi paling bermakna.

Menulis Bukan Hobi, Tapi Sikap Hidup Guru

Omjay bukan guru yang lahir dari ruang nyaman. Ia hidup bersama perubahan kebijakan pendidikan yang datang silih berganti, sering tanpa arah dan minim empati pada realitas sekolah. Ia menyaksikan bagaimana guru dipuji sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, tetapi kerap dilupakan ketika bicara kesejahteraan, martabat, dan kebebasan berpikir.

Alih-alih mengeluh di ruang guru, Omjay memilih menulis. Dari blog pribadi hingga media nasional, ia menuangkan keresahan, harapan, dan kritik dengan jujur. Bagi Omjay, menulis bukan untuk mencari popularitas. Menulis adalah cara menjaga kewarasan dan martabat profesi guru.

Ia meyakini satu hal sederhana namun mendasar:
guru yang berhenti menulis sedang menghapus dirinya sendiri dari sejarah pendidikan.

Literasi Guru yang Direduksi Jadi Program

Selama ini literasi guru sering direduksi menjadi program seremonial: pojok baca, lomba menulis sesekali, atau pelatihan yang berakhir pada sertifikat. Padahal literasi sejati adalah keberanian berpikir dan bersuara.

Jika guru hanya mengajar lalu diam, maka narasi pendidikan akan ditulis oleh mereka yang tidak pernah mengajar. Oleh pejabat, konsultan, dan pengambil kebijakan yang melihat sekolah dari balik meja, bukan dari balik papan tulis.

Di sinilah tulisan guru menjadi penting—bahkan menakutkan. Karena tulisan yang jujur adalah cermin yang memaksa sistem bercermin.

Api Literasi yang Dinyalakan dari Pinggir

Apa yang dilakukan Omjay bukan gerakan besar dengan anggaran besar. Ia menyalakan api literasi dari pinggir—dari tulisan sederhana, dari ajakan tulus kepada sesama guru, dari contoh nyata bahwa menulis itu mungkin dan perlu.

Banyak guru awalnya hanya pembaca. Lalu memberanikan diri menulis. Awalnya ragu, takut salah, takut dianggap sok pintar. Omjay selalu menegaskan:
“Menulislah dari pengalaman, bukan dari kesempurnaan.”

Api itu pun menular. Guru mulai menulis tentang muridnya, tentang sekolahnya, tentang kebijakan yang membingungkan, dan tentang harapan akan pendidikan yang lebih manusiawi. Bahkan tenaga kependidikan—kepala sekolah, pengawas, pustakawan, hingga staf tata usaha—ikut menemukan suaranya.

Sekolah yang literat bukan pabrik nilai, melainkan ekosistem berpikir.

Di Mana PGRI Saat Api Itu Hampir Padam?

Jika guru adalah api, maka PGRI seharusnya menjadi penjaga nyala itu. Bukan sekadar organisasi struktural yang sibuk dengan rapat dan seremonial, tetapi rumah besar tempat suara guru dilindungi dan dirawat.

Sayangnya, fakta di lapangan tak selalu ideal. Tak sedikit guru yang bahkan tak memahami peran strategis PGRI dalam kehidupan profesional mereka. Literasi belum sepenuhnya menjadi gerakan, masih sering berhenti sebagai slogan.

Padahal PGRI lahir dari sejarah perjuangan. Ia dibentuk untuk membela martabat guru, bukan sekadar menjadi mitra pemerintah yang selalu mengangguk.

PGRI dan Tanggung Jawab Intelektual Guru

Literasi guru bukan urusan individu. Ia adalah tanggung jawab kolektif. PGRI memiliki posisi strategis untuk menjadikan literasi sebagai kekuatan advokasi.

Apa yang dilakukan Omjay seharusnya menjadi arus utama PGRI:

melindungi guru yang menulis kritis,

menyediakan ruang aman bagi perbedaan pendapat,

dan menjadikan tulisan guru sebagai dasar memperjuangkan kebijakan yang adil.

Jika guru takut menulis karena khawatir dianggap melawan atasan, maka di situlah PGRI diuji: hadir membela atau memilih diam.

Dari Seremonial ke Gerakan Nyata

Sudah saatnya PGRI keluar dari zona nyaman. Literasi tidak tumbuh dari baliho dan jargon, tetapi dari ekosistem yang sehat. PGRI dapat:

membangun media literasi guru yang independen,

mendorong pengurus menjadi teladan menulis,

dan mengangkat tulisan guru sebagai suara resmi organisasi.

Tulisan guru bukan ancaman. Justru itulah denyut nadi pendidikan yang sesungguhnya.

Omjay dan Pertanyaan untuk PGRI

Kisah Omjay membuktikan bahwa satu guru bisa menyalakan api. Namun api itu akan jauh lebih besar jika PGRI meniupkannya, bukan memadamkannya.

Organisasi guru yang kuat bukan yang anti kritik, tetapi yang tahan diuji. Guru bukan prajurit yang hanya patuh, melainkan intelektual yang berpikir.

Penutup: PGRI atau Penonton Sejarah?

Pertanyaannya kini sederhana namun tajam:
apakah PGRI ingin menjadi penggerak literasi guru, atau hanya penonton ketika suara guru perlahan dibungkam?

Jika guru diam, pendidikan akan mati perlahan.
Jika guru menulis, pendidikan masih punya harapan.

Dan selama masih ada guru seperti Omjay—yang menulis dengan jujur dan berani—api literasi belum padam. Tinggal satu pertanyaan terakhir: siapa yang mau menjaga nyalanya bersama?

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kamis, 29 Januari 2026

Jadilah Seperti Pohon

Belajar dari Pohon: Kisah Omjay dan Makna Mengabdi di PGRI

Inspirasi Pagi, Kamis 29 Januari 2026, mengingatkan kita bahwa organisasi ibarat sebuah pohon. Dari sanalah saya teringat perjalanan seorang guru bernama Omjay—Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd—yang selama puluhan tahun hidupnya diabdikan untuk dunia pendidikan dan organisasi guru.

Omjay sering mengatakan, “Saya bukan siapa-siapa, hanya guru yang terus belajar.” Kalimat sederhana itu justru mencerminkan makna terdalam dari sebuah organisasi. Di PGRI, tidak semua harus menjadi ketua. Tidak semua harus tampil di depan. Tapi setiap posisi memiliki arti, sebagaimana bagian-bagian pohon yang saling menguatkan.

Menjadi Batang yang Kokoh

Dalam perjalanan panjangnya di dunia pendidikan, Omjay kerap berada di posisi yang menuntut konsistensi. Ia tidak selalu berada di panggung utama, tetapi menjadi batang—menopang, menegakkan nilai, dan menjaga agar organisasi tetap berdiri lurus.

Sebagai pengurus, menjadi batang berarti tidak mudah patah oleh konflik, tidak goyah oleh kritik, dan tidak silau oleh jabatan. Batang memang jarang dipuji, tapi tanpanya pohon akan roboh. Begitulah Omjay menjalani perannya: bekerja tenang, tidak gaduh, namun berdampak.

Menjadi Cabang yang Merangkul

Omjay dikenal sebagai guru blogger yang gemar menggandeng guru-guru lain untuk menulis dan bersuara. Ia tidak berjalan sendiri. Ia mengajak, memotivasi, dan membuka ruang.

Inilah peran cabang dalam organisasi PGRI: menghubungkan ranting-ranting, menyatukan perbedaan, dan memberi ruang tumbuh. Cabang yang baik tidak mematahkan ranting kecil, tetapi menguatkannya agar ikut menjulang.

Banyak guru muda mengenal dunia literasi karena sentuhan Omjay. Ia tidak merasa lebih hebat, justru menunduk agar yang lain bisa tumbuh.

Menjadi Daun yang Meneduhkan

Daun tidak pernah berteriak tentang jasanya. Ia hanya bekerja, menyerap cahaya, dan memberi keteduhan. Omjay, di banyak kesempatan, menjadi daun—menguatkan guru yang lelah, mendengarkan keluh kesah honorer, dan menyemangati mereka yang hampir menyerah.

Bagi pengurus PGRI, inilah tugas mulia: menaungi, bukan menghakimi. Mendampingi, bukan mendikte. Organisasi akan hidup jika anggotanya merasa teduh, bukan tertekan.

Menjadi Buah yang Manis

Karya-karya Omjay—artikel, buku, dan pelatihan—adalah buah yang bisa dinikmati banyak orang. Buah yang manis menjaga nama baik pohon. Begitu pula pengurus organisasi: hasil kerja kitalah yang akan dikenang, bukan jabatan yang pernah disandang.

Buah tidak tumbuh instan. Ia lahir dari proses panjang: akar yang kuat, batang yang kokoh, dan daun yang setia bekerja. Begitu pula reputasi PGRI dibangun dari kerja senyap para pengurusnya.

Menjadi Akar yang Tak Terlihat

Inilah bagian yang paling sering dilupakan. Omjay berkali-kali menyampaikan bahwa pekerjaan paling mulia sering kali tidak terlihat. Rapat yang melelahkan, administrasi yang rumit, atau tugas-tugas sunyi yang jarang diapresiasi—itulah akar.

Tanpa akar, pohon akan tumbang. Tanpa pengurus yang mau bekerja di balik layar, organisasi hanya akan menjadi papan nama.

Penutup: Bekerja dengan Hati

Kisah Omjay mengajarkan satu hal penting bagi pengurus PGRI:
Kerjakan posisimu sebaik mungkin, dengan hati, bukan demi sorotan.

Organisasi bukan soal siapa yang paling tinggi, tetapi siapa yang paling kuat menopang.
Bukan siapa yang paling terdengar, tetapi siapa yang paling setia bekerja.

Jika hari ini kita berada di batang, cabang, daun, buah, atau bahkan akar yang tak terlihat—jalani dengan ikhlas. Karena pohon yang kuat bukan dibangun oleh satu bagian, melainkan oleh kesungguhan semua peran.

Tetap semangat mengabdi, para pengurus PGRI.
Barakallah fiikum. 🌱

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 26 Januari 2026

Kabar Duka Pak Tori Meninggal

Kabar Duka: Staf Keuangan BPS Labschool UNJ, Tori Aprijono, S.E. Wafat

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un.
Kabar duka menyelimuti keluarga besar BPS Labschool Universitas Negeri Jakarta. Telah berpulang ke rahmatullah Bapak Tori Aprijono, S.E., Staf Keuangan BPS Labschool UNJ, pada Senin, 26 Januari 2026, bertepatan dengan 16 Rajab 1447 Hijriah.

Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi seluruh sivitas akademika Labschool UNJ yang mengenal beliau sebagai pribadi yang ramah, bersahaja, dan penuh tanggung jawab dalam menjalankan amanah.

Sosok Pekerja Tulus dan Berdedikasi

Semasa hidupnya, Bapak Tori Aprijono, S.E. dikenal sebagai sosok yang tekun, teliti, dan dapat dipercaya, khususnya dalam menjalankan tugas-tugas keuangan yang menjadi tulang punggung keberlangsungan operasional lembaga. Di balik angka dan laporan keuangan, almarhum selalu bekerja dengan hati, menjaga integritas, serta menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Rekan kerja mengenang almarhum sebagai pribadi yang rendah hati, mudah membantu, dan tidak banyak mengeluh. Senyumnya yang hangat dan sikapnya yang menenangkan membuat suasana kerja terasa lebih nyaman. Almarhum bukan hanya rekan kerja, tetapi juga sahabat bagi banyak orang.

Kehilangan Besar bagi Keluarga Besar Labschool UNJ

Kepergian Bapak Tori Aprijono merupakan kehilangan besar bagi BPS Labschool UNJ. Dedikasi beliau selama ini menjadi bagian penting dari perjalanan lembaga. Banyak hal yang telah beliau sumbangkan, meski sering kali dilakukan tanpa sorotan.

Pimpinan, guru, tenaga kependidikan, serta seluruh keluarga besar Labschool UNJ menyampaikan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya atas wafatnya almarhum. Doa terbaik dipanjatkan agar segala amal ibadah beliau diterima oleh Allah SWT dan segala khilaf diampuni.

Doa dan Harapan

Semoga Allah SWT melapangkan kubur almarhum, menerangi tempat peristirahatannya, serta menempatkan beliau di sisi terbaik-Nya bersama orang-orang saleh.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, semoga diberikan ketabahan, kekuatan, dan keikhlasan dalam menghadapi ujian ini. Semoga cinta, doa, dan kenangan indah bersama almarhum menjadi penguat di hari-hari mendatang.

> “Insya Allah almarhum husnul khotimah, amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya.”

Selamat jalan, Pak Tori Aprijono, S.E.
Jasa dan kebaikanmu akan selalu kami kenang. 🤍

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 17 Januari 2026

Ketika Koruptor Menuduh Koruptor

Ketika Koruptor Menuduh Koruptor: Negara yang Sibuk Berpura-pura Jujur

> “Di India, koruptor menuduh koruptor menjadi korup dan korup menyelidiki koruptor dan membebaskan koruptor menjadi korup.”
— Shekhar Kapur

Kalimat ini terdengar lucu. Tapi sesungguhnya ia mengerikan. Karena ketika kita tertawa membacanya, bisa jadi kita sedang menertawakan diri sendiri. Sebab kalimat Shekhar Kapur itu bukan hanya potret India. Ia adalah cermin besar bangsa-bangsa yang lelah pada kebenaran, tetapi masih pura-pura menegakkan keadilan.

Di negeri seperti ini, korupsi tidak lagi bersembunyi. Ia tampil percaya diri, mengenakan jas rapi, berbicara tentang integritas, lalu pulang tanpa rasa bersalah. Yang disidang hanyalah nama. Yang dihukum hanyalah opini publik. Sistemnya tetap utuh, seolah tidak pernah salah.

Dan di tengah sandiwara itu, pendidikan diminta tetap mengajarkan kejujuran.

Negara yang Pandai Mengajar, Tapi Gagal Memberi Contoh

Sebagai guru, Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd) sering gelisah. Bukan karena kurikulum semata, bukan karena teknologi, tetapi karena kontradiksi brutal antara apa yang diajarkan di sekolah dan apa yang dipertontonkan di luar sekolah.

Di kelas, guru diminta menanamkan nilai kejujuran.
Di luar kelas, siswa menyaksikan kebohongan dirayakan.

Di buku pelajaran, korupsi disebut kejahatan luar biasa.
Di dunia nyata, korupsi sering diperlakukan sebagai kesalahan administratif.

Lalu kita bertanya dengan wajah polos: “Mengapa anak-anak kita kehilangan moral?”

Pertanyaan itu seharusnya diarahkan ke cermin, bukan ke ruang kelas.

Pendidikan Tidak Netral, Tapi Sering Dipaksa Diam

Omjay percaya satu hal yang sering dianggap berbahaya: pendidikan tidak pernah netral. Ia selalu berpihak. Jika ia tidak berpihak pada kebenaran, maka ia sedang berpihak pada pembiaran.

Masalahnya, di negeri yang koruptor menuduh koruptor, keberanian sering dianggap ancaman. Kritik dilabeli kebencian. Kejujuran dicurigai. Guru yang bersuara dianggap “tidak tahu diri”.

Akhirnya banyak yang memilih aman.
Diam dianggap bijak.
Patuh dianggap profesional.

Padahal, diam dalam ketidakadilan adalah pengkhianatan paling sopan.

Literasi: Musuh Alami Korupsi

Mengapa korupsi takut pada literasi?
Karena literasi melahirkan pertanyaan.
Dan pertanyaan adalah awal kehancuran kebohongan.

Bagi Omjay, literasi bukan sekadar bisa membaca dan menulis. Literasi adalah kemampuan membongkar narasi palsu, menolak normalisasi kebusukan, dan berpikir waras di tengah kegilaan massal.

Itulah sebabnya Omjay menulis. Bukan untuk mencari aman. Bukan untuk menyenangkan siapa pun. Tetapi untuk menjaga akal sehat tetap hidup.

Melalui tulisan di blog dan media seperti Melintas.id, Omjay mengingatkan: korupsi tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh subur dari hal-hal kecil yang dibiarkan.

Menyontek yang dianggap remeh.
Titip absen yang dianggap biasa.
Laporan palsu yang dianggap cerdik.

Dari situlah lahir generasi yang pintar, tapi miskin nurani.

Guru di Negeri yang Gemar Menyalahkan Guru

Ironisnya, ketika moral runtuh, yang pertama disalahkan adalah guru.
Ketika karakter rusak, yang dituding adalah sekolah.

Padahal guru hanya satu simpul kecil dalam sistem besar yang bobrok.

Omjay sadar, guru bukan pahlawan super. Guru manusia biasa. Tetapi jika guru ikut menyerah, maka tamatlah sudah. Karena pendidikan adalah benteng terakhir saat institusi lain runtuh.

Kisah Omjay adalah kisah tentang bertahan di tengah kelelahan. Tetap menulis ketika suara dibungkam. Tetap mendidik ketika teladan langka. Tetap kritis ketika banyak memilih netral—padahal netral adalah ilusi.

Melintas.id: Ruang yang Tidak Takut Berpikir

Di tengah media yang sibuk mengejar klik, Melintas.id memilih jalur sunyi: literasi dan edukasi. Di sinilah tulisan-tulisan yang tidak nyaman menemukan tempat. Di sinilah kritik tidak perlu berteriak untuk terdengar.

Bagi Omjay, Melintas.id bukan sekadar media. Ia adalah ruang perlawanan intelektual. Ruang di mana guru, orang tua, dan warga waras bisa saling menguatkan lewat kata-kata.

Karena perubahan besar selalu dimulai dari pikiran yang berani berbeda.

Menulis sebagai Bentuk Perlawanan Paling Elegan

Omjay selalu berpesan: menulislah dengan hati, bukan dengan pesanan.
Karena tulisan yang jujur mungkin tidak disukai hari ini, tetapi ia akan menjadi arsip kebenaran di masa depan.

Kutipan Shekhar Kapur adalah peringatan keras: jika koruptor terus membersihkan koruptor, maka kebenaran akan terus dikubur hidup-hidup. Maka pendidikan harus bergerak lebih dulu—sebelum nurani kalah oleh kekuasaan.

Catatan Terakhir Omjay

Omjay tahu, satu tulisan tidak akan menjatuhkan sistem. Tetapi ia yakin, sistem yang rapuh selalu takut pada orang-orang yang masih berpikir jernih.

Di negeri yang sibuk berpura-pura jujur, Omjay memilih jujur sungguhan.
Di tengah kebisingan kepalsuan, ia memilih literasi.
Di antara koruptor yang saling menuduh, ia memilih mendidik.

Karena ketika semua ikut bermain sandiwara, orang yang menolak berakting akan terlihat paling berbahaya.

Dan Omjay memilih menjadi orang itu.

---

Salam Blogger Persahabatan,
Wijaya Kusumah (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
🌐 https://wijayalabs.com

Rabu, 14 Januari 2026

Hidup Sesudah Mati

Hidup Sesudah Mati: Perjalanan Panjang yang Sering Kita Lupakan

Kematian adalah satu-satunya kepastian dalam hidup yang tak pernah meminta izin. Ia datang tanpa jadwal, tanpa peringatan, dan tanpa bisa ditunda. Namun ironisnya, justru hal yang paling pasti inilah yang paling sering kita lupakan. Kita sibuk merencanakan hidup, mengejar dunia, menumpuk harta, jabatan, dan pujian, seolah-olah kematian tidak pernah ada dalam daftar rencana kita.

Padahal, bagi seorang mukmin, kematian bukanlah akhir segalanya. Ia hanyalah gerbang menuju kehidupan yang sesungguhnya: hidup sesudah mati.

Kematian Bukan Akhir, Tapi Awal

Allah SWT berfirman:

> “Setiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.”
(QS. Al-Ankabut: 57)

Ayat ini menegaskan bahwa kematian bukan titik akhir perjalanan manusia. Setelah ruh berpisah dari jasad, manusia akan memasuki fase baru yang disebut alam barzakh. Di sanalah amal perbuatan mulai menampakkan hasilnya. Tak ada lagi harta, pangkat, atau gelar akademik yang menemani—yang ada hanyalah iman dan amal.

Alam Barzakh: Kesunyian yang Penuh Makna

Alam kubur sering kita bayangkan sebagai tempat yang gelap dan menakutkan. Namun sejatinya, kubur akan terasa lapang dan menenangkan bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sebaliknya, ia menjadi tempat yang sempit dan menyiksa bagi mereka yang lalai dan durhaka.

Rasulullah SAW bersabda:

> “Kubur itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau jurang dari jurang-jurang neraka.”
(HR. Tirmidzi)

Kesunyian di alam barzakh adalah momen perhitungan tanpa suara. Tidak ada kesempatan kedua. Tidak ada waktu untuk memperbaiki kesalahan. Semuanya telah selesai di dunia.

Hari Kebangkitan dan Pertanggungjawaban

Setelah alam barzakh, manusia akan dibangkitkan pada hari kiamat. Hari yang sangat dahsyat, ketika semua manusia dikumpulkan tanpa pakaian, tanpa harta, dan tanpa pelindung kecuali amalnya sendiri.

Allah SWT berfirman:

> “Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya). Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasannya).”
(QS. Az-Zalzalah: 7–8)

Tak ada yang luput dari perhitungan. Bahkan niat yang tersembunyi di dalam hati pun akan dihisab.

Surga dan Neraka: Tujuan Akhir

Hidup sesudah mati berujung pada dua tempat: surga atau neraka. Surga adalah tempat penuh kenikmatan yang tak pernah terlintas dalam pikiran manusia. Sementara neraka adalah tempat siksa yang tak sanggup dibayangkan oleh akal sehat.

Namun rahmat Allah jauh lebih luas daripada murka-Nya. Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum sampai di tenggorokan. Selama matahari belum terbit dari barat.

Hidup di Dunia: Ladang untuk Akhirat

Dunia bukan tujuan, melainkan ladang amal. Apa yang kita tanam hari ini, itulah yang akan kita tuai di akhirat nanti. Salat, sedekah, kejujuran, kesabaran, memaafkan, dan membantu sesama—semua itu adalah investasi abadi.

Ali bin Abi Thalib r.a. pernah berkata:

> “Dunia telah pergi meninggalkan kita, dan akhirat telah datang mendekati kita. Maka jadilah kalian anak-anak akhirat, bukan anak-anak dunia.”

Penutup: Sudah Siapkah Kita?

Hidup sesudah mati bukan cerita fiksi, bukan dongeng pengantar tidur. Ia adalah kebenaran yang pasti kita alami. Pertanyaannya bukan apakah kita akan mati, tetapi kapan dan dalam keadaan bagaimana kita mati.

Semoga kita termasuk orang-orang yang ketika ajal menjemput, tersenyum karena telah mempersiapkan bekal terbaik. Bukan mereka yang menyesal karena terlalu sibuk mencintai dunia dan melupakan kehidupan yang abadi.

Karena sejatinya, hidup yang sesungguhnya baru dimulai… setelah kita mati.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Senin, 12 Januari 2026

Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar

Contoh Praktik Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) di Kelas Sekolah Dasar

Perubahan zaman menuntut sekolah untuk tidak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga membekali siswa dengan cara berpikir yang relevan dengan era digital. Salah satu upaya penting yang kini mulai diperkenalkan adalah pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), termasuk di jenjang Sekolah Dasar (SD).

Namun, masih banyak guru SD yang bertanya-tanya: bagaimana cara mengajarkannya di kelas? Apakah harus mahir komputer? Apakah butuh perangkat mahal? Jawabannya: tidak. KKA di SD justru bisa diajarkan secara sederhana, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan anak.

Artikel ini menyajikan contoh praktik KKA di kelas SD yang mudah diterapkan oleh guru, bahkan oleh guru yang baru pertama kali mengenal koding dan AI.


KKA di SD: Bukan Tentang Kode, Tapi Cara Berpikir

Sebelum masuk ke praktik, penting dipahami bahwa KKA di sekolah dasar bukan bertujuan mencetak programmer cilik. Fokus utamanya adalah melatih:

  • Berpikir logis dan runtut

  • Memecahkan masalah sederhana

  • Berani mencoba dan memperbaiki kesalahan

  • Bekerja sama dan berkomunikasi

Dengan kata lain, KKA adalah sarana untuk membentuk cara berpikir komputasional, bukan menghafal bahasa pemrograman.


Praktik 1: Unplugged Coding – Bermain Jadi Robot

(Tanpa Komputer, Kelas 1–3)

Praktik paling sederhana bisa dimulai tanpa komputer sama sekali. Guru cukup mengajak siswa bermain peran.

Satu siswa berperan sebagai robot, dan siswa lainnya sebagai programmer. Programmer memberi perintah sederhana seperti “maju dua langkah”, “belok kanan”, atau “berhenti”. Robot hanya boleh bergerak sesuai perintah.

Tujuannya sederhana: membawa robot menuju satu titik, misalnya meja guru atau sebuah kursi.

Dari kegiatan ini, siswa belajar bahwa:

  • Perintah harus jelas

  • Urutan perintah sangat penting

  • Satu kesalahan kecil bisa membuat tujuan tidak tercapai

Tanpa disadari, siswa sedang belajar algoritma, inti dari koding.


Praktik 2: Menyusun Urutan Kegiatan Sehari-hari

(Kelas 2–4)

Guru menyiapkan kartu bergambar aktivitas sehari-hari: bangun tidur, mandi, sarapan, berangkat sekolah. Kartu dibagikan secara acak kepada kelompok kecil.

Tugas siswa adalah menyusun kartu tersebut menjadi urutan yang benar. Setelah itu, guru mengaitkan kegiatan ini dengan koding.

“Komputer itu seperti kita tadi. Kalau urutannya salah, hasilnya juga salah.”

Kegiatan sederhana ini membuat siswa memahami bahwa logika koding ada di kehidupan sehari-hari, bukan sesuatu yang asing.


Praktik 3: Koding Visual dengan Scratch Jr

(Dengan Perangkat, Kelas 3–6)

Jika sekolah memiliki tablet atau komputer, guru dapat menggunakan aplikasi Scratch Jr atau Scratch.

Guru tidak perlu menjelaskan istilah rumit. Cukup menunjukkan balok perintah seperti:

  • maju

  • putar

  • berhenti

Siswa diberi tantangan sederhana: buat karakter berjalan menuju rumahnya. Jika karakter tidak sampai tujuan, siswa diminta memperbaiki susunan perintah.

Di sinilah pembelajaran bermakna terjadi. Siswa belajar bahwa:

  • Salah itu wajar

  • Kesalahan bisa diperbaiki

  • Mencoba ulang adalah bagian dari belajar


Praktik 4: Cerita Digital Interaktif

(Integrasi Bahasa Indonesia, Kelas 4–6)

KKA tidak berdiri sendiri. Guru bisa mengintegrasikannya dengan mata pelajaran lain.

Dalam praktik ini, siswa diminta menulis cerita pendek, lalu mengubahnya menjadi animasi sederhana menggunakan Scratch. Karakter bisa bergerak, berbicara, atau berubah latar.

Hasilnya bukan hanya pembelajaran koding, tetapi juga:

  • Literasi membaca dan menulis

  • Kreativitas

  • Kepercayaan diri saat presentasi


Praktik 5: Mengenal Kecerdasan Artifisial (AI) Secara Sederhana

(Tanpa Coding)

Untuk mengenalkan AI, guru tidak perlu membuat program canggih. Cukup ajak siswa berdiskusi.

Guru bertanya, “Mengapa ponsel bisa mengenali wajah?”
Dari jawaban siswa, guru menjelaskan bahwa AI belajar dari banyak contoh.

Siswa kemudian diajak berdiskusi tentang:

  • Manfaat AI

  • Risiko penggunaan AI

  • Etika dan privasi

Di sinilah pendidikan karakter bertemu dengan teknologi.


Praktik 6: Simulasi AI di Kelas

(Role Play, Kelas 4–6)

Guru menyiapkan gambar hewan dan benda. Siswa berperan sebagai “mesin pintar”. Guru memberi contoh beberapa kali, lalu siswa diminta menebak gambar baru berdasarkan contoh sebelumnya.

Melalui permainan ini, siswa memahami bahwa:

  • AI bisa salah

  • AI tergantung pada data

  • Manusia tetap memegang kendali


Penilaian dalam Pembelajaran KKA

Penilaian KKA di SD sebaiknya tidak berfokus pada angka. Guru dapat menilai melalui:

  • Keaktifan siswa

  • Proses berpikir

  • Kerja sama

  • Kreativitas

Portofolio karya siswa jauh lebih bermakna daripada tes tertulis.


Penutup: Guru Tidak Harus Hebat Teknologi, Cukup Berani Memulai

Koding dan Kecerdasan Artifisial di sekolah dasar bukan tentang kecanggihan alat, melainkan tentang keberanian guru untuk belajar bersama siswa.

Guru tidak harus sempurna.
Guru tidak harus ahli.
Guru cukup satu langkah lebih maju dan mau mencoba.

Dari kelas sederhana, lahir generasi yang tidak hanya memakai teknologi, tetapi memahami, mengendalikan, dan menggunakannya dengan bijak.


Salam Blogger Persahabatan 
Omjay http://wijayalabs.com 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi


Ngobrol Santai Bareng Omjay