Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 08 Juli 2026

Kasih Ibu Kepada Beta Tak Terhingga Sepanjang Masa

Hanya Memberi Tak Harap Kembali, Bagai Sang Surya Menyinari Dunia

Kisah Omjay Mengenang Kasih Ibu Sepanjang Masa

Penggalan lirik lagu Kasih Ibu kepada Beta yang berbunyi, "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Kasih ibu kepada beta tak terhingga sepanjang masa," selalu memiliki tempat yang istimewa di hati saya. Setiap kali mendengarnya, saya tidak hanya teringat kepada almarhumah ibu yang telah melahirkan dan membesarkan saya dengan penuh cinta, tetapi juga merenungkan betapa besar pengorbanan seorang ibu yang sering kali tidak pernah benar-benar dapat dibalas oleh anak-anaknya. Lagu sederhana yang diajarkan sejak duduk di bangku sekolah dasar itu ternyata menyimpan makna kehidupan yang semakin dalam ketika usia bertambah dan pengalaman hidup semakin panjang. Kini, setelah lebih dari tiga puluh tahun mengabdi sebagai guru, menjadi seorang ayah, bahkan telah merasakan kebahagiaan menjadi seorang kakek, saya semakin memahami bahwa kasih ibu adalah cinta yang paling tulus di dunia. Cinta yang tidak mengenal syarat, tidak mengenal batas, dan tidak pernah meminta balasan sedikit pun.

Saya sering mengatakan kepada para peserta Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN) bahwa tulisan terbaik lahir dari hati. Ketika hati berbicara, kata-kata akan mengalir dengan sendirinya tanpa harus dipaksakan. Demikian pula ketika saya menulis tentang ibu. Rasanya tidak ada habisnya mengenang setiap pengorbanan beliau yang begitu besar dalam perjalanan hidup saya. Semakin dewasa, semakin saya menyadari bahwa keberhasilan yang saya raih hari ini sesungguhnya dibangun di atas doa-doa panjang seorang ibu yang mungkin tidak pernah saya dengar secara langsung, tetapi selalu dipanjatkan dalam setiap sujudnya kepada Allah SWT.

Saya lahir dari keluarga sederhana. Orang tua saya, Achmad Abdullah dan Siti Khodijah, membesarkan enam orang anak dengan penuh kasih sayang, kesabaran, dan kerja keras. Kehidupan kami jauh dari kemewahan, tetapi rumah kami selalu dipenuhi kehangatan. Dari kedua orang tua, terutama ibu, saya belajar bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh banyaknya harta, melainkan oleh rasa syukur, kejujuran, saling menyayangi, dan semangat untuk terus berjuang. Sejak kecil saya menyaksikan bagaimana ibu bangun jauh sebelum matahari terbit. Beliau menyiapkan makanan, mencuci pakaian, membersihkan rumah, dan memastikan semua anaknya siap menjalani hari. Ketika malam tiba dan kami semua sudah terlelap, beliau masih memikirkan kebutuhan keluarga untuk esok hari. Semua dilakukan tanpa pernah mengeluh dan tanpa berharap dipuji.

Ketika masih kecil, saya menganggap semua itu adalah sesuatu yang biasa. Baru setelah saya berkeluarga dan memiliki anak, saya memahami betapa luar biasanya pengorbanan seorang ibu. Menjadi orang tua bukan hanya soal memenuhi kebutuhan makan dan pakaian, melainkan juga memberikan rasa aman, perhatian, pendidikan, dan kasih sayang yang tidak pernah putus. Seorang ibu rela mengurangi waktu tidurnya agar anak-anak dapat tidur dengan nyaman. Ia rela menahan lapar agar anak-anaknya kenyang lebih dahulu. Bahkan ketika tubuhnya sakit, ia tetap berusaha tersenyum agar anak-anaknya tidak ikut bersedih. Pengorbanan seperti itu tidak mungkin dapat dinilai dengan uang.

Lirik lagu, "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia," benar-benar menggambarkan sosok ibu. Matahari setiap hari menyinari bumi tanpa pernah meminta balasan. Ia memberikan cahaya kepada siapa saja tanpa membedakan kaya atau miskin, pintar atau bodoh, tua atau muda. Begitu pula kasih seorang ibu. Ia mencintai anak-anaknya tanpa syarat. Ia tidak pernah menghitung berapa banyak yang telah diberikan. Yang ada dalam hatinya hanyalah keinginan melihat anak-anaknya tumbuh sehat, berakhlak baik, memperoleh pendidikan yang layak, dan kelak menjadi manusia yang bermanfaat bagi sesama.

Selama mengabdi sebagai Guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya telah bertemu ribuan peserta didik dengan berbagai latar belakang kehidupan. Ada anak yang hidup berkecukupan, tetapi kurang mendapatkan perhatian dari orang tuanya. Ada pula anak yang hidup sederhana, tetapi memperoleh limpahan kasih sayang dari ibunya. Dari pengalaman itulah saya belajar bahwa kasih sayang jauh lebih berharga daripada kekayaan. Anak-anak yang mendapatkan cinta dan perhatian dari orang tua biasanya tumbuh lebih percaya diri, lebih kuat menghadapi masalah, dan lebih mudah bangkit ketika mengalami kegagalan. Di balik keberhasilan mereka, hampir selalu ada doa seorang ibu yang tidak pernah putus.

Saya juga menyaksikan begitu banyak kisah perjuangan seorang ibu demi pendidikan anaknya. Ada yang bekerja dari pagi hingga malam agar anaknya tetap bisa sekolah. Ada yang menjual perhiasan terakhirnya demi membayar biaya kuliah. Ada yang rela menahan keinginan membeli kebutuhan pribadi agar anak-anaknya dapat membeli buku pelajaran. Semua pengorbanan itu dilakukan dengan wajah penuh keikhlasan. Tidak pernah ada catatan utang yang harus dibayar. Tidak pernah ada perjanjian bahwa semua pengorbanan itu harus dikembalikan ketika anak telah sukses. Ibu hanya ingin melihat anak-anaknya hidup lebih baik daripada dirinya.

Sebagai guru, saya mencoba meneladani kasih seorang ibu dalam mendidik murid-murid. Saya percaya bahwa pendidikan sejatinya adalah bentuk kasih sayang. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga membimbing, menguatkan, memotivasi, dan mendoakan peserta didiknya agar berhasil. Ketika seorang guru mengajar dengan hati, ia sedang meneladani sifat seorang ibu yang hanya ingin melihat anak-anaknya berkembang menjadi pribadi yang lebih baik. Itulah sebabnya guru sering disebut sebagai orang tua kedua di sekolah.

Perjalanan panjang sebagai guru, penulis, blogger, dan narasumber membawa saya bertemu banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia. Dalam setiap perjalanan, saya selalu menemukan satu kesamaan, yaitu besarnya cinta seorang ibu kepada anak-anaknya. Tidak peduli tinggal di kota besar maupun di pelosok desa, kasih seorang ibu selalu sama. Ia selalu hadir dalam doa, perhatian, pengorbanan, dan keikhlasan yang tidak pernah habis. Semakin sering saya berinteraksi dengan para guru dan orang tua, semakin saya yakin bahwa pendidikan pertama dan utama sesungguhnya dimulai dari rumah, melalui sentuhan kasih seorang ibu.

Kini saya juga telah menjadi seorang kakek. Kehadiran cucu membuat saya semakin memahami bagaimana cinta dalam sebuah keluarga terus mengalir dari satu generasi ke generasi berikutnya. Saya melihat anak-anak saya berusaha memberikan kasih sayang yang sama kepada cucu saya sebagaimana dahulu saya menerima kasih sayang dari ibu. Di situlah saya menyadari bahwa cinta seorang ibu tidak pernah berhenti. Ia terus hidup melalui nilai-nilai yang diwariskan kepada anak-anaknya.

Kehidupan modern yang serba cepat sering membuat kita lupa meluangkan waktu bersama orang tua. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya sosok ibu setelah beliau tiada. Penyesalan itu tidak akan mampu mengembalikan waktu. Karena itu, selagi ibu masih ada, jangan pernah menunda untuk membahagiakannya. Luangkan waktu untuk menelepon, mengunjunginya, memeluknya, mendengarkan ceritanya, atau sekadar menemaninya minum teh di sore hari. Hal-hal sederhana seperti itu sering kali jauh lebih bermakna daripada hadiah yang mahal.

Jika ibu telah dipanggil Allah SWT, jangan pernah berhenti mengirimkan doa. Doa anak yang saleh akan menjadi hadiah terindah bagi orang tua yang telah mendahului kita. Kenangan tentang kasih sayangnya akan tetap hidup sepanjang masa dan menjadi cahaya yang menerangi perjalanan hidup kita. Semakin bertambah usia, saya semakin merasakan bahwa doa ibu adalah kekuatan yang tidak terlihat, tetapi nyata pengaruhnya dalam setiap langkah kehidupan.

Melalui tulisan ini saya ingin mengajak para pembaca untuk kembali menghargai sosok ibu. Jangan menunggu Hari Ibu untuk mengucapkan terima kasih. Jangan menunggu sukses untuk membahagiakannya. Jangan menunggu kehilangan untuk menyadari betapa berharganya kehadirannya. Selagi masih ada kesempatan, bahagiakanlah ibu dengan bakti, perhatian, doa, dan kasih sayang. Sebab, sesungguhnya surga berada di bawah telapak kaki ibu, dan ridha Allah bergantung pada ridha kedua orang tua.

Akhirnya saya memahami bahwa lirik sederhana yang dahulu sering kami nyanyikan di sekolah ternyata mengandung pelajaran kehidupan yang luar biasa. "Hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia." Itulah hakikat kasih seorang ibu. Memberi tanpa menghitung. Mencintai tanpa syarat. Berkorban tanpa pamrih. Menguatkan tanpa lelah. Mendoakan tanpa henti. Semoga kita semua menjadi anak-anak yang mampu menghormati, menyayangi, dan membalas kasih ibu dengan bakti terbaik selama hayat masih dikandung badan. Karena sesungguhnya, kasih ibu kepada kita memang tak terhingga sepanjang masa.

Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia | Guru Paling Ngeblog Kompasiana 
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay

Selasa, 07 Juli 2026

Resensi Film Pursuit of Jade

Peringatan: spoiler besar untuk ending Pursuit of Jade (逐玉) di bawah ini.

Serial diadaptasi dari novel Zhu Yu (逐玉) karya Tuan Zi Lai Xi. Secara umum, adaptasi dramanya cukup setia, tetapi bagian akhir dibuat lebih ringkas dan lebih puitis dibanding novel.

Penjelasan ending film/serialnya:

  • Setelah melalui perang panjang, Xie Zheng akhirnya berhasil membongkar dalang sebenarnya di balik pembantaian keluarganya yang terjadi 17 tahun sebelumnya. Konspirasi politik yang selama ini tersembunyi akhirnya terungkap dan para pelaku menerima hukuman.

  • Fan Changyu, yang awalnya hanyalah putri seorang tukang jagal, tumbuh menjadi seorang jenderal yang disegani. Ia tidak hanya menjadi pendamping Xie Zheng, tetapi juga sosok yang ikut menentukan arah masa depan negeri.

  • Xie Zheng menolak dikuasai ambisi politik. Setelah semua dendam terselesaikan, ia memilih mengutamakan kehidupan damai bersama Fan Changyu daripada terus berada di pusat perebutan kekuasaan. Dalam novel, ia kemudian menjadi tokoh penting yang membantu pemerintahan sebagai wali atau penasihat sebelum akhirnya hidup lebih tenang bersama Changyu.

Perbedaan dengan novel

Inilah yang membuat banyak pembaca novel merasa dramanya kurang memberikan penutup yang memuaskan.

Di novel:

  • Xie Zheng dan Fan Changyu menikah secara resmi dengan seluruh prosesi adat, bukan sekadar tersirat.
  • Ada bab-bab tambahan yang memperlihatkan kehidupan rumah tangga mereka setelah perang, hubungan mereka yang semakin romantis, serta nasib tokoh-tokoh pendukung.
  • Bahkan terdapat ending alternatif ("what if") yang membayangkan bagaimana kehidupan mereka jika tragedi 17 tahun sebelumnya tidak pernah terjadi.

Makna adegan terakhir

Adegan terakhir dengan pohon harapan dan pita melambangkan bahwa:

  • dendam telah berakhir,
  • mereka akhirnya bebas menentukan masa depan sendiri,
  • cinta mereka berhasil bertahan melewati perang, pengkhianatan, dan perebutan kekuasaan.

Ending drama sengaja dibuat simbolis dan terbuka, sedangkan novel memberikan penutup yang jauh lebih lengkap, bahagia, dan penuh momen romantis sehingga banyak penggemar menganggap ending novel lebih memuaskan daripada ending dramanya.

omjay jangan bersedih

Jangan Bersedih, Allah Bersama Orang-Orang yang Sabar

Kisah Omjay, Guru Blogger Indonesia, Menemukan Kekuatan dalam Sabar, Tawakal, dan Menulis

Inspirasi pagi pada Selasa, 7 Juli 2026, menghadirkan pesan yang sangat menenangkan hati. Firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 40 mengingatkan, "Dan janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama orang yang sabar." Ayat tersebut menjadi penawar bagi siapa saja yang sedang menghadapi berbagai persoalan hidup. Dalam kehidupan ini tidak ada manusia yang terbebas dari ujian. Ada yang diuji dengan kesehatan, ekonomi, keluarga, pekerjaan, bahkan ada pula yang diuji dengan perkataan manusia yang menyakitkan hati. Namun, seorang mukmin selalu memiliki tempat kembali, yaitu kepada Allah SWT yang tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang sabar.

Pesan itulah yang selalu menguatkan hati Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang lebih dikenal sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia. Selama puluhan tahun mengabdi sebagai guru, Omjay telah mengalami begitu banyak dinamika kehidupan. Ada masa ketika hasil kerja kerasnya diapresiasi oleh banyak orang, tetapi tidak sedikit pula saat dirinya mendapatkan kritik, cibiran, bahkan diremehkan. Semua itu menjadi bagian dari perjalanan panjang yang membentuk kepribadiannya hingga menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, dan lebih ikhlas dalam menjalani kehidupan.

Omjay menyadari bahwa menjadi seorang guru bukan sekadar menyampaikan ilmu pengetahuan di depan kelas. Menjadi guru berarti menjadi pembelajar sepanjang hayat. Guru harus siap menerima perubahan, tantangan, bahkan kritik yang terkadang datang dari orang-orang yang tidak memahami perjuangannya. Di tengah derasnya perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence, banyak guru merasa cemas akan masa depannya. Namun Omjay memilih jalan yang berbeda. Ia justru menjadikan perubahan sebagai sahabat yang harus dipelajari, bukan musuh yang harus ditakuti. Sikap tersebut lahir dari keyakinan bahwa setiap kesulitan selalu mengandung kemudahan sebagaimana janji Allah SWT.

Perjalanan menjadi Guru Blogger Indonesia tidak diraih Omjay dalam semalam. Semua dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari. Saat sebagian orang menganggap kegiatan menulis hanyalah pekerjaan sampingan yang tidak menghasilkan apa-apa, Omjay tetap istiqamah menulis. Ia menuliskan pengalaman mengajar, kisah inspiratif, refleksi pendidikan, hingga berbagai motivasi untuk guru dan siswa. Banyak orang bertanya mengapa ia begitu tekun menulis. Jawabannya sederhana, karena menulis adalah ibadah yang dapat menyebarkan manfaat kepada banyak orang. Ketika tulisan mampu menginspirasi seseorang untuk menjadi lebih baik, di situlah seorang penulis memperoleh pahala yang terus mengalir.

Dalam perjalanan tersebut, Omjay pernah mengalami masa-masa sulit. Ada tulisan yang tidak dibaca, artikel yang ditolak media, hingga komentar yang meremehkan kualitas tulisannya. Pada awalnya tentu ada rasa sedih sebagai manusia biasa. Namun setiap kali hatinya mulai goyah, ia kembali mengingat firman Allah, "Dan janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." Ayat itu seolah menjadi energi baru yang menghidupkan semangatnya untuk terus berkarya tanpa harus sibuk membalas perkataan orang lain.

Nasihat Imam Syafi'i yang berbunyi, "Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu," juga menjadi pegangan hidup Omjay. Ia memahami bahwa dunia hanyalah tempat singgah sementara. Jabatan, penghargaan, popularitas, bahkan harta tidak akan dibawa ketika seseorang meninggalkan dunia. Yang akan menemani hanyalah amal saleh yang dikerjakan dengan ikhlas. Oleh karena itu, setiap tulisan yang dibuatnya selalu diniatkan sebagai amal jariyah. Ia berharap setiap ilmu yang dibagikan dapat terus memberikan manfaat meskipun suatu hari nanti dirinya telah tiada.

Pandangan tersebut membuat Omjay tidak mudah silau oleh pujian. Ia juga tidak mudah hancur oleh cacian. Pesan Imam Ghazali yang mengatakan, "Jangan biarkan hatimu mendapat kesenangan karena pujian dari orang lain, kamu akan sedih dengan kecaman mereka suatu hari nanti," benar-benar menjadi prinsip hidupnya. Ia belajar bahwa manusia memiliki penilaian yang selalu berubah-ubah. Hari ini seseorang dipuji, esok bisa saja dicela. Hari ini seseorang dianggap hebat, besok mungkin dilupakan. Jika kebahagiaan bergantung pada penilaian manusia, maka hidup akan dipenuhi kegelisahan. Karena itulah Omjay memilih menjadikan ridha Allah sebagai tujuan utama.

Ada sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam perjalanan hidupnya. Ketika mengikuti berbagai pelatihan guru, Omjay bertemu dengan banyak pendidik hebat dari seluruh Indonesia. Mereka memiliki semangat yang luar biasa dalam belajar dan berbagi. Namun tidak semua perjalanan berjalan mulus. Ada kalanya usaha yang dilakukan tidak memperoleh hasil sesuai harapan. Ada program yang gagal, ada kegiatan yang sepi peserta, bahkan ada rencana yang harus dibatalkan. Dalam situasi seperti itu, Omjay selalu mengingatkan dirinya bahwa tugas manusia hanyalah berusaha dengan sungguh-sungguh, sedangkan hasil sepenuhnya menjadi hak Allah SWT.

Kebiasaan bertawakal itulah yang membuat Omjay tetap tenang menghadapi berbagai perubahan kebijakan pendidikan. Kurikulum berubah, sistem penilaian berubah, teknologi berkembang sangat cepat, tetapi prinsip hidupnya tidak pernah berubah. Ia terus belajar, terus menulis, terus berbagi, dan terus mendekatkan diri kepada Allah. Baginya, keberhasilan bukanlah ketika memperoleh penghargaan atau menjadi terkenal, melainkan ketika ilmu yang dimiliki mampu memberi manfaat bagi sesama.

Suatu hari seorang guru muda bertanya kepada Omjay tentang rahasia semangatnya yang tidak pernah padam. Dengan senyum hangat ia menjawab bahwa semangat itu berasal dari keyakinan kepada Allah. Ketika seseorang menyandarkan harapannya kepada manusia, maka ia akan sering kecewa. Namun ketika seseorang menggantungkan harapannya kepada Allah, ia akan selalu memiliki alasan untuk bangkit. Allah tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang terus berusaha dan berdoa.

Nasihat yang mengatakan, "Jika ada orang yang menjatuhkanmu, bangkitlah karena Allah. Jangan putus asa hanya karena manusia. Jangan menyerah hanya karena urusan dunia, ingat ada Allah. Dia Maha Segalanya. Mohonlah pertolongan kepada-Nya," benar-benar menjadi cermin perjalanan hidup Omjay. Ia pernah diremehkan, tetapi tetap memilih memperbaiki diri. Ia pernah gagal, tetapi tetap melanjutkan langkah. Ia pernah kecewa, tetapi tidak berhenti berharap kepada Allah. Semua pengalaman itu justru menguatkan mentalnya sebagai seorang pendidik sekaligus penulis.

Bagi Omjay, menulis bukan hanya aktivitas intelektual, melainkan juga terapi hati. Ketika hati gelisah, ia menuangkannya dalam tulisan. Ketika memperoleh ilmu baru, ia membagikannya melalui artikel. Ketika melihat keberhasilan orang lain, ia menjadikannya inspirasi, bukan alasan untuk iri. Sikap seperti inilah yang membuatnya terus berkembang hingga dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia yang produktif menghasilkan ribuan tulisan.

Firman Allah dalam Surah Ath-Thalaq yang menyatakan, "Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya," telah berkali-kali terbukti dalam perjalanan hidupnya. Banyak kesempatan baik datang tanpa diduga. Undangan menjadi narasumber, kesempatan menerbitkan buku, hingga bertemu dengan banyak tokoh pendidikan hadir sebagai buah dari kesabaran, kerja keras, doa, dan tawakal kepada Allah. Semua itu semakin menguatkan keyakinannya bahwa rezeki tidak hanya berupa uang, tetapi juga kesehatan, ilmu yang bermanfaat, sahabat yang baik, keluarga yang mendukung, dan kesempatan untuk terus berkarya.

Omjay juga selalu mengajak para guru agar tidak mudah menyerah menghadapi tantangan zaman. Dunia pendidikan akan terus berubah, tetapi nilai keikhlasan, kesabaran, dan ketulusan dalam mengajar tidak akan pernah berubah. Guru yang terus belajar akan selalu menemukan jalan. Guru yang terus berbagi akan selalu dikenang. Guru yang terus mendekat kepada Allah akan memperoleh ketenangan yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Di era kecerdasan buatan saat ini, Omjay mengingatkan bahwa teknologi hanyalah alat. Yang menentukan kualitas seorang guru tetaplah hati, akhlak, keteladanan, dan keikhlasan. AI dapat membantu membuat materi pembelajaran, tetapi tidak mampu menggantikan kasih sayang seorang guru kepada muridnya. AI dapat membantu menyusun tulisan, tetapi tidak mampu menggantikan ketulusan hati seorang penulis yang ingin memberikan manfaat kepada pembacanya. Oleh sebab itu, setiap guru harus terus meningkatkan kompetensinya sambil menjaga hubungan yang baik dengan Allah SWT.

Menjelang akhir setiap tulisan yang dibuatnya, Omjay selalu mengajak pembaca untuk tidak mudah bersedih menghadapi kehidupan. Kesedihan hanyalah bagian dari perjalanan menuju kedewasaan. Kegagalan hanyalah pelajaran menuju keberhasilan. Kritik hanyalah sarana untuk memperbaiki diri. Selama Allah masih memberikan kesempatan hidup, berarti masih ada kesempatan untuk berubah menjadi lebih baik.

Semoga inspirasi pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa tidak ada alasan untuk putus asa selama Allah masih menjadi tempat bergantung. Jadikan kesabaran sebagai pakaian, tawakal sebagai kekuatan, doa sebagai senjata, dan menebarkan manfaat sebagai tujuan hidup. Ketika hati dipenuhi keyakinan kepada Allah, maka tidak ada satu pun ujian yang terasa terlalu berat. Sebaliknya, setiap cobaan akan menjadi tangga yang mengangkat derajat seorang hamba di sisi-Nya.

Tetaplah melangkah dengan penuh keyakinan. Teruslah menulis, teruslah belajar, teruslah berbagi, dan teruslah menebarkan kebaikan sebagaimana yang telah dicontohkan Omjay, Guru Blogger Indonesia. Selama Allah bersama orang-orang yang sabar, maka tidak ada perjuangan yang sia-sia dan tidak ada air mata yang terbuang percuma. Semua akan berbuah indah pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Barakallah fiikum.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Minggu, 05 Juli 2026

Kisah Omjay: Jangan Pernah Putus Asa Dari Rahmat Allah

Jangan Pernah Putus Asa dari Rahmat Allah

Kisah Omjay Menemukan Cahaya di Balik Setiap Ujian

Ahad pagi selalu menjadi waktu yang indah untuk merenung. Udara masih sejuk, suasana masih tenang, dan hati terasa lebih mudah menerima nasihat. Di pagi seperti inilah Omjay, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., biasanya membuka hari dengan membaca Al-Qur'an, berzikir, dan merenungkan makna kehidupan.

Ada satu ayat yang selalu menguatkan langkahnya ketika menghadapi berbagai ujian hidup.

"Janganlah kamu putus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada putus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir." (QS. Yusuf: 87)

Ayat tersebut bukan sekadar rangkaian kata yang indah. Ayat itu adalah obat bagi hati yang sedang gelisah, penawar bagi jiwa yang sedang lelah, dan pelita bagi siapa saja yang merasa hidupnya berada di jalan buntu.

Omjay memahami bahwa hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan. Sebagai seorang guru, penulis, pembicara, sekaligus ayah dalam keluarga, beliau pernah merasakan kegagalan, penolakan, dan kesedihan. Ada tulisan yang tidak dimuat media, ada rencana yang gagal terlaksana, bahkan ada doa yang terasa lama dikabulkan.

Namun setiap kali hati mulai lemah, beliau kembali mengingat firman Allah.

"Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan." (QS. Al-Insyirah: 6)

Bukan setelah kesulitan, tetapi bersama kesulitan. Artinya, ketika Allah memberikan ujian, pada saat yang sama Allah juga telah menyiapkan jalan keluarnya. Tugas manusia hanyalah terus berikhtiar, bersabar, dan tidak berhenti berharap kepada-Nya.

Omjay sering mengingatkan para guru yang mengikuti pelatihan menulis agar tidak menyerah hanya karena satu atau dua tulisan ditolak. Seorang penulis hebat bukanlah mereka yang tidak pernah gagal, melainkan mereka yang selalu bangkit setiap kali mengalami kegagalan.

Begitu pula dalam kehidupan. Tidak ada orang sukses yang jalannya selalu mulus. Semua pernah jatuh. Semua pernah menangis. Semua pernah merasa tidak mampu. Yang membedakan hanyalah cara mereka menyikapi ujian.

Ada yang berhenti di tengah jalan karena putus asa. Ada pula yang terus melangkah karena yakin Allah sedang menyiapkan sesuatu yang lebih baik.

Omjay memilih menjadi orang yang kedua.

Beliau percaya bahwa setiap langkah kecil menuju kebaikan tidak pernah sia-sia. Ketika mengajar dengan penuh keikhlasan, Allah melihatnya. Ketika menulis untuk menginspirasi orang lain, Allah mencatatnya. Ketika membantu sesama tanpa mengharapkan balasan, Allah telah menyiapkan ganjaran terbaik.

Karena itulah beliau sangat menyukai firman Allah:

"Maka ingatlah kamu kepada-Ku; niscaya Aku ingat pula kepadamu." (QS. Al-Baqarah: 152)

Betapa indah janji Allah itu. Jika manusia mengingat Allah melalui salat, doa, zikir, membaca Al-Qur'an, dan berbuat baik, maka Allah akan mengingat hamba-Nya dengan kasih sayang, pertolongan, serta keberkahan hidup.

Tidak ada kemuliaan yang lebih besar daripada diingat oleh Allah.

Omjay juga meyakini bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan pernah berkurang. Justru semakin banyak berbagi, semakin luas manfaat yang dirasakan.

Rasulullah ﷺ bersabda,

"Barang siapa yang memberi petunjuk kepada kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang melakukannya." (HR. Muslim)

Hadis ini menjadi penyemangat Omjay untuk terus menulis setiap hari. Barangkali ada seorang guru yang termotivasi mengajar lebih baik setelah membaca tulisannya. Mungkin ada seorang siswa yang kembali semangat belajar. Bisa jadi ada seorang pembaca yang kembali rajin beribadah karena tersentuh oleh sebuah artikel.

Jika itu terjadi, pahala akan terus mengalir selama manfaatnya masih dirasakan orang lain.

Inilah investasi terbaik yang tidak pernah merugi.

Dalam kehidupan rumah tangga pun Omjay belajar bahwa jodoh bukan hanya tentang bertemu, melainkan tentang menjaga amanah yang telah Allah titipkan. Banyak pasangan mampu menemukan cinta, tetapi tidak semuanya mampu merawatnya dengan kesabaran, keikhlasan, dan saling memaafkan.

Karena sesungguhnya jodoh telah Allah tetapkan. Yang menjadi tugas manusia adalah menjaga kepercayaan, memperbanyak syukur, dan membangun keluarga yang dipenuhi kasih sayang.

Di sisi lain, Omjay selalu mengingatkan dirinya agar tidak meremehkan dosa sekecil apa pun.

Rasulullah ﷺ mengingatkan agar manusia tidak melihat kecilnya dosa, tetapi melihat kepada siapa dosa itu dilakukan.

Sering kali manusia merasa aman karena menganggap kesalahan yang diperbuat hanyalah hal sepele. Padahal setitik noda yang dibiarkan terus-menerus dapat menggelapkan hati.

Karena itu, setiap hari adalah kesempatan untuk memperbaiki diri, memperbanyak istigfar, memperbaiki ibadah, dan memohon ampun kepada Allah.

Omjay percaya bahwa manusia terbaik bukanlah yang tidak pernah berbuat salah, melainkan mereka yang segera bertobat ketika menyadari kesalahannya.

Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mengeluh. Terlalu berharga untuk diisi dengan putus asa. Allah masih memberikan napas, kesehatan, keluarga, sahabat, dan kesempatan berbuat baik. Itu semua adalah tanda bahwa rahmat-Nya masih terbuka lebar.

Mari kita jadikan Ahad ini sebagai awal untuk memperbaiki diri. Perbanyak syukur ketika mendapat nikmat. Bersabar ketika mendapat ujian. Teruslah menebarkan ilmu, senyum, dan manfaat kepada sesama.

Percayalah, tidak ada doa yang sia-sia. Tidak ada air mata yang terbuang percuma. Tidak ada kebaikan yang hilang tanpa balasan.

Selama kita masih menggantungkan harapan kepada Allah, selalu ada alasan untuk bangkit dan melangkah.

Semoga Allah menjaga hati kita agar tidak pernah putus asa dari rahmat-Nya, menguatkan langkah kita dalam setiap ujian, melapangkan rezeki yang halal dan berkah, menjaga keluarga kita dalam kebaikan, serta menjadikan kita pribadi yang selalu bermanfaat bagi orang lain.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Satu Foto, Satu Kerinduan yang Tak Terlupakan

Satu Foto, Seumur Hidup Kerinduan

Kisah Omjay Mengenang Orang Tua dan Kakak Tercinta

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

"Setiap keluarga memiliki album kenangan. Namun ada satu foto yang nilainya jauh melebihi emas. Sebab, ketika sebagian orang di dalamnya telah kembali kepada Allah, foto itu berubah menjadi jendela kerinduan."

Saya memandangi kembali sebuah foto keluarga yang diambil beberapa tahun lalu. Foto itu sederhana. Tidak di studio mewah. Tidak memakai pakaian seragam. Bahkan latar belakangnya hanyalah sebuah tembok biasa. Namun bagi saya, foto itu adalah harta yang tak ternilai.

Di dalam foto itu ada enam bersaudara, anak-anak dari pasangan Achmad Abdullah dan Siti Khodijah. Senyum kami mengembang tanpa menyadari bahwa waktu akan membawa perubahan yang begitu besar. Kini, salah satu senyum itu hanya tinggal kenangan.

Kakak sulung kami, almarhum Dodi Achmad Fadillah, telah lebih dahulu dipanggil Allah Swt.

Setiap kali melihat foto ini, hati saya selalu berkata, "Andai waktu bisa diputar kembali."

Namun saya sadar, hidup tidak pernah berjalan mundur.

Keluarga Sederhana yang Kaya Kasih Sayang

Saya, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang akrab disapa Omjay, adalah anak keempat dari enam bersaudara.

Urutan kami adalah:

Almarhum Dodi Achmad Fadillah (anak pertama)

Dwi Setiawaty (anak kedua)

Ata Sukawinata (anak ketiga)

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) (anak keempat)

Nunung Widianingsih (anak kelima)

Anita Yulianita (anak keenam)

Kami terdiri atas tiga laki-laki dan tiga perempuan.

Ayah kami, Achmad Abdullah, adalah seorang PNS di TNI Angkatan Laut. Beliau bukan orang yang banyak bicara. Namun setiap tindakannya mengajarkan arti tanggung jawab. Beliau selalu berangkat bekerja dengan penuh disiplin, seolah ingin menunjukkan kepada anak-anaknya bahwa rezeki yang halal harus diperjuangkan dengan sungguh-sungguh.

Sementara ibu kami, Siti Khodijah, adalah seorang perawat fisioterapi. Tangan beliau terbiasa membantu orang lain agar kembali sehat. Setelah bekerja seharian, beliau masih sempat memasak, mencuci, menemani kami belajar, bahkan menghibur kami ketika sedih.

Kami bukan keluarga yang bergelimang harta.

Tetapi kami tumbuh dalam limpahan kasih sayang.

Ayah dan ibu tidak pernah memanjakan kami dengan kemewahan. Sebaliknya, mereka mendidik kami agar hidup sederhana, saling menghormati, dan tidak pernah meninggalkan ibadah.

Kini, ketika saya telah menjadi seorang guru dan memiliki keluarga sendiri, saya baru benar-benar memahami betapa berat perjuangan kedua orang tua kami.

Rumah Kecil yang Selalu Ramai

Masa kecil kami penuh cerita.

Kami pernah berebut tempat tidur.

Berebut lauk favorit.

Berebut saluran televisi.

Bahkan kadang berebut siapa yang harus mencuci piring.

Saat itu kami sering mengeluh karena rumah terasa sempit.

Kini justru saya merindukan rumah kecil itu.

Saya rindu suara ayah yang memanggil nama anak-anaknya.

Saya rindu ibu yang sibuk di dapur.

Saya rindu candaan kakak-kakak dan adik-adik yang memenuhi rumah.

Dulu semua terasa biasa.

Sekarang semuanya menjadi luar biasa karena hanya tinggal kenangan.

Kakak Sulung yang Pulang Lebih Dulu

Di antara kami berenam, kakak sulung, Dodi Achmad Fadillah, adalah sosok yang selalu berusaha menjaga adik-adiknya.

Beliau tidak banyak bicara, tetapi selalu hadir ketika keluarga membutuhkan.

Tak pernah terlintas dalam pikiran kami bahwa beliau akan pergi begitu cepat.

Serangan jantung merenggutnya dari tengah-tengah keluarga.

Hari itu menjadi salah satu hari paling berat dalam hidup kami.

Kami hanya bisa mengiringinya dengan doa dan air mata.

Saya masih sulit mempercayai kenyataan bahwa orang yang selama ini bisa kami telepon, kami datangi, dan kami peluk kini telah terbujur kaku.

Kematian memang selalu datang tanpa mengetuk pintu.

Ia tidak menunggu seseorang selesai menyusun rencana.

Ia tidak menunggu anak-anak selesai membalas jasa orang tua.

Ia datang tepat pada waktu yang telah Allah tetapkan.

Satu Liang Lahat, Sejuta Kerinduan

Yang membuat hati kami semakin haru adalah kenyataan bahwa kakak sulung kami dimakamkan di TPU Pondok Malaka, Jakarta Timur, dalam satu liang lahat bersama ayah dan bunda.

Saat berdiri di depan pusara itu, saya merasa seperti sedang melihat kembali perjalanan hidup keluarga kami.

Ayah yang dahulu membimbing kami.

Ibu yang dahulu memeluk kami.

Kini beristirahat berdampingan dengan anak sulung yang begitu mereka cintai.

Tak ada lagi percakapan.

Tak ada lagi tawa.

Yang tersisa hanyalah doa-doa yang terus mengalir dari anak-anak dan cucu-cucu mereka.

Di situlah saya menyadari bahwa sebesar apa pun cinta kita kepada keluarga, suatu hari nanti semuanya akan kembali kepada Allah.

Warisan yang Tak Pernah Habis

Hari ini kami berenam telah memiliki keluarga masing-masing.

Alhamdulillah, semua anak Achmad Abdullah dan Siti Khodijah telah menikah dan dikaruniai anak.

Kami mungkin tinggal berjauhan.

Kesibukan sering membuat kami tidak bisa berkumpul sesering dulu.

Namun setiap kali bertemu, selalu ada cerita tentang ayah, ibu, dan kakak sulung.

Kami sadar bahwa warisan terbesar yang mereka tinggalkan bukanlah rumah, tanah, atau tabungan.

Warisan terbesar mereka adalah persaudaraan.

Ayah dan ibu mengajarkan bahwa saudara kandung adalah sahabat pertama dalam hidup.

Jangan sampai hubungan itu rusak hanya karena persoalan dunia.

Karena ketika orang tua telah tiada, saudara kandunglah yang akan menjadi tempat berbagi kenangan.

Dari Foto Menjadi Pengingat Kehidupan

Kini foto keluarga itu memiliki makna yang berbeda.

Dulu saya melihatnya sebagai dokumentasi.

Sekarang saya melihatnya sebagai pengingat.

Pengingat bahwa hidup sangat singkat.

Pengingat agar saya lebih sering menghubungi saudara.

Pengingat agar saya lebih mencintai keluarga.

Pengingat bahwa tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang akan dipanggil Allah lebih dahulu.

Kalau hari ini kita masih bisa memeluk orang tua, lakukanlah.

Kalau hari ini kita masih memiliki saudara, jangan pelit menyapa.

Kalau hari ini masih ada kesempatan meminta maaf, jangan menunggu esok.

Sebab penyesalan selalu datang ketika kesempatan telah pergi.

Sebuah Doa untuk Mereka yang Kami Cintai

Sebagai anak keempat, saya merasa sangat bersyukur pernah dilahirkan di tengah keluarga sederhana yang penuh kasih sayang.

Saya bangga menjadi anak dari Achmad Abdullah dan Siti Khodijah.

Saya bangga memiliki kakak dan adik yang saling menguatkan.

Dan saya bangga pernah memiliki kakak sulung seperti almarhum Dodi Achmad Fadillah.

Semoga Allah Swt. mengampuni segala dosa ayahanda Achmad Abdullah, ibunda Siti Khodijah, dan kakak tercinta Dodi Achmad Fadillah.

Semoga Allah melapangkan kubur mereka, menerangi alam barzakh mereka, menerima seluruh amal ibadah mereka, dan mempertemukan kami kembali di surga-Nya yang penuh kenikmatan.

Aamiin ya Rabbal 'alamin.

Hari ini saya belajar bahwa foto keluarga bukan sekadar gambar. Ia adalah saksi perjalanan hidup, saksi cinta yang tak pernah habis, dan saksi bahwa waktu terus berjalan.

Maka, selama Allah masih memberi kesempatan, peluklah keluarga kita. Ucapkan bahwa kita mencintai mereka. Luangkan waktu untuk berkumpul. Abadikan setiap momen bersama.

Karena kelak, ketika salah satu dari mereka telah lebih dahulu pulang kepada Sang Pencipta, kita akan menyadari bahwa kenangan adalah harta paling berharga yang tidak dapat dibeli dengan apa pun.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 04 Juli 2026

Merangkai Tulisan Jadi Cuan

Merangkai Tulisan Jadi Cuan di Era AI: Kisah Omjay yang Tak Pernah Berhenti Menulis

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

"Kalau AI bisa menulis, apakah manusia masih perlu belajar menulis?"

Pertanyaan itu sering saya dengar dalam berbagai seminar, pelatihan guru, maupun diskusi di komunitas literasi. Sebagian orang mulai khawatir. Mereka merasa kemampuan menulis akan tergantikan oleh teknologi. Ada pula yang berpikir bahwa tidak perlu lagi belajar merangkai kata karena semuanya bisa dikerjakan oleh AI.

Saya justru memandangnya dari sudut yang berbeda.

AI memang dapat membantu menyusun kalimat, memperbaiki tata bahasa, bahkan membuat draf artikel dalam hitungan detik. Namun, AI tidak memiliki pengalaman hidup, perjuangan, air mata, kegagalan, maupun rasa syukur yang dimiliki manusia. AI dapat membantu merangkai kata, tetapi makna di balik setiap kata tetap lahir dari hati penulis.

Karena itulah saya tetap menulis.

Saya percaya bahwa tulisan yang lahir dari pengalaman nyata akan selalu memiliki tempat di hati pembaca.

Menulis Berawal dari Keberanian

Dulu saya bukan penulis hebat. Saya hanya seorang guru yang ingin berbagi pengalaman kepada sesama guru. Tulisan pertama saya jauh dari kata sempurna. Ada yang mengkritik, ada yang mengoreksi, bahkan ada yang tidak membacanya sama sekali.

Namun saya tidak berhenti.

Saya terus belajar.

Saya membaca buku, mengikuti pelatihan, berdiskusi dengan para penulis senior, lalu kembali menulis. Sedikit demi sedikit kemampuan itu berkembang.

Saya menyadari satu hal.

Orang yang terus menulis akan semakin terampil, sedangkan orang yang hanya menunggu sempurna sering kali tidak pernah menghasilkan karya.

Tulisan yang Mengubah Kehidupan

Seiring waktu, tulisan-tulisan saya mulai dikenal. Saya aktif menulis di blog, media daring, dan berbagai platform literasi. Dari situlah banyak pintu rezeki terbuka.

Saya diundang menjadi narasumber, mengisi pelatihan guru, menjadi mentor menulis, menerbitkan buku, hingga menjalin kolaborasi dengan berbagai komunitas pendidikan.

Saya belajar bahwa tulisan bukan hanya kumpulan kata. Tulisan adalah investasi yang terus bekerja bahkan ketika penulisnya sedang beristirahat.

Satu artikel yang kita tulis hari ini bisa dibaca ribuan orang beberapa tahun kemudian. Satu buku yang diterbitkan hari ini bisa menginspirasi generasi berikutnya.

Inilah kekuatan menulis.

AI Bukan Musuh Penulis

Banyak orang takut AI akan mengambil pekerjaan penulis.

Menurut saya, ketakutan itu muncul karena kita belum memahami cara memanfaatkannya.

AI bukan pengganti manusia. AI adalah alat bantu.

Saya menggunakan AI untuk mencari ide, membuat kerangka tulisan, memeriksa ejaan, atau menemukan sudut pandang baru. Namun isi tulisan tetap saya lengkapi dengan pengalaman pribadi, nilai-nilai pendidikan, dan kisah nyata yang saya alami.

Justru dengan bantuan AI, proses menulis menjadi lebih cepat sehingga saya memiliki lebih banyak waktu untuk membaca, berdiskusi, dan memperkaya wawasan.

Teknologi akan menjadi sahabat jika digunakan dengan bijak.

Merangkai Kata Menjadi Cuan

Banyak orang bertanya kepada saya, "Apakah menulis bisa menghasilkan uang?"

Jawabannya tentu bisa.

Artikel dapat menghasilkan honor ketika dimuat di media. Buku dapat memberikan royalti. Pelatihan menulis membuka peluang menjadi narasumber. Blog dapat dimonetisasi. Konten media sosial yang berkualitas dapat menghadirkan kerja sama dengan berbagai pihak.

Bahkan, kemampuan menulis juga sangat dibutuhkan dalam dunia pendidikan, bisnis, pemasaran, dan komunikasi.

Yang terpenting adalah membangun kepercayaan.

Ketika orang mengenal kualitas tulisan kita, mereka akan datang bukan hanya untuk membaca, tetapi juga untuk belajar dan bekerja sama.

Menulis Adalah Personal Branding

Saya sering mengatakan kepada para guru bahwa menulis adalah cara terbaik memperkenalkan diri kepada dunia.

Tidak semua orang dapat bertemu langsung dengan kita.

Namun tulisan dapat menjangkau pembaca dari berbagai daerah, bahkan berbagai negara.

Tulisan menjadi duta yang memperkenalkan siapa diri kita, apa nilai yang kita perjuangkan, dan bagaimana kita ingin memberikan manfaat kepada sesama.

Semakin banyak karya yang bermanfaat, semakin kuat pula kepercayaan masyarakat kepada kita.

Jangan Takut Memulai

Kesalahan terbesar bukanlah tulisan yang kurang bagus.

Kesalahan terbesar adalah tidak pernah mulai menulis.

Tulislah pengalaman mengajar.

Tulislah perjalanan hidup.

Tulislah kegagalan yang pernah dialami.

Tulislah keberhasilan yang dapat menjadi inspirasi.

Tidak ada pengalaman yang terlalu sederhana jika mampu memberikan manfaat bagi orang lain.

Konsistensi Mengalahkan Bakat

Selama bertahun-tahun saya belajar bahwa keberhasilan seorang penulis lebih banyak ditentukan oleh konsistensi daripada bakat.

Menulis satu halaman setiap hari akan menghasilkan ratusan halaman dalam setahun.

Menulis satu artikel setiap minggu akan menghasilkan puluhan artikel dalam setahun.

Sedikit demi sedikit, karya akan terkumpul menjadi buku, modul, bahan pelatihan, atau konten digital yang bernilai ekonomi.

Warisan Terindah

Harta bisa habis.

Jabatan bisa berakhir.

Popularitas bisa memudar.

Namun tulisan akan terus hidup selama masih ada yang membacanya.

Itulah sebabnya saya selalu mengajak para guru untuk menulis.

Guru bukan hanya mengajar di kelas, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran melalui karya tulis.

Ketika suatu hari kita tidak lagi berdiri di depan kelas, tulisan-tulisan kita masih akan mengajar banyak orang.

Penutup

Era AI bukanlah akhir dari dunia menulis. Sebaliknya, era ini menjadi kesempatan besar bagi siapa saja yang mau belajar, beradaptasi, dan terus berkarya.

AI dapat membantu mempercepat proses, tetapi hanya manusialah yang mampu menghadirkan empati, pengalaman, nilai, dan kebijaksanaan dalam setiap tulisan.

Mari jadikan AI sebagai mitra, bukan pesaing.

Mari terus membaca agar wawasan semakin luas.

Mari terus menulis agar ilmu semakin bermanfaat.

Dan mari terus berkarya agar setiap rangkaian kata tidak hanya menginspirasi, tetapi juga menjadi sumber rezeki yang halal, berkah, dan membawa manfaat bagi banyak orang.

Karena pada akhirnya, tulisan yang lahir dari hati akan menemukan jalannya sendiri menuju hati para pembaca—dan dari sanalah, insyaallah, cuan akan mengikuti sebagai buah dari karya yang tulus dan konsisten.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Kunci Kebahagiaan Sejati

Kunci Kebahagiaan Sejati Ada dalam Syukur

Inspirasi Pagi
Sabtu, 4 Juli 2026

"Kunci dari segala kebahagiaan adalah bersyukur. Jika banyak ia bersyukur, jika sedikit ia juga bersyukur. Sehingga tidak ada celah bagi kesedihan."

Di zaman yang serba cepat ini, banyak orang mengejar kebahagiaan ke mana-mana. Ada yang mengira kebahagiaan ada pada jabatan yang tinggi. Ada yang mengejarnya melalui harta yang melimpah. Sebagian lagi berharap kebahagiaan datang ketika memiliki rumah mewah, kendaraan baru, atau popularitas di media sosial.

Namun kenyataannya, tidak sedikit orang yang memiliki semuanya justru tetap merasa hampa. Sebaliknya, kita sering melihat orang yang hidup sederhana, tetapi wajahnya selalu dipenuhi senyum dan ketenangan.

Apa rahasianya?

Jawabannya adalah syukur.

Syukur bukan hanya ucapan "Alhamdulillah" di bibir. Syukur adalah keadaan hati yang menerima setiap ketentuan Allah dengan penuh keyakinan bahwa semua yang diberikan-Nya adalah yang terbaik.

Orang yang pandai bersyukur akan menemukan kebahagiaan dalam segala keadaan. Ketika diberi rezeki yang banyak, ia bersyukur. Ketika rezekinya sedikit, ia tetap bersyukur karena masih diberi kesempatan hidup, kesehatan, keluarga, dan iman.

Karena itu, tidak ada ruang bagi kesedihan untuk menguasai hatinya.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, 'Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Aku akan menambah (nikmat) kepadamu. Tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.'"
(QS. Ibrahim: 7)

Ayat yang mulia ini bukan sekadar janji tentang bertambahnya harta. Nikmat yang Allah tambahkan bisa berupa kesehatan, keberkahan usia, ketenangan hati, keluarga yang harmonis, ilmu yang bermanfaat, sahabat yang baik, hingga kemudahan dalam menjalani kehidupan.

Banyak orang hartanya bertambah, tetapi ketenangannya berkurang. Sebaliknya, ada orang yang hartanya biasa saja, tetapi hidupnya penuh keberkahan karena ia selalu bersyukur.

Allah Melihat Hati dan Amal

Sering kali kita kecewa karena merasa tidak dihargai.

Kita membantu orang lain, tetapi tidak diucapkan terima kasih.

Kita berbuat baik, tetapi malah dilupakan.

Kita memberi perhatian, tetapi tidak dibalas.

Padahal Rasulullah ﷺ telah mengingatkan bahwa penilaian Allah berbeda dengan penilaian manusia.

Beliau bersabda:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian."
(HR. Muslim No. 2564)

Hadis ini mengajarkan bahwa ukuran kemuliaan seseorang bukanlah wajahnya, bukan pula kekayaannya, melainkan kebersihan hati dan amal salehnya.

Maka jangan pernah berhenti berbuat baik hanya karena manusia tidak menghargainya.

Jika manusia lupa, Allah tidak pernah lupa.

Jika manusia tidak melihat, Allah Maha Melihat.

Jika manusia tidak membalas, Allah adalah sebaik-baik Pemberi balasan.

Berbuat Baik Tanpa Mengharap Balasan

Ikhlas adalah kunci diterimanya amal.

Allah berfirman:

"Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah karena mengharap keridaan Allah. Kami tidak menghendaki balasan dan tidak pula ucapan terima kasih darimu."
(QS. Al-Insan: 9)

Betapa indahnya ayat ini.

Orang-orang saleh tidak berbuat baik agar dipuji. Mereka tidak membantu karena ingin dipuji sebagai orang dermawan. Mereka hanya berharap Allah ridha kepada mereka.

Begitu pula seharusnya kita.

Jangan kecewa jika kebaikan kita tidak dihargai.

Jangan sedih jika perhatian kita dianggap biasa.

Jangan berhenti menolong hanya karena pernah disakiti.

Karena sesungguhnya semua amal itu tersimpan rapi di sisi Allah.

Bersyukur Membuka Pintu Ketenangan

Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik baginya. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya."
(HR. Muslim No. 2999)

Hadis ini memberikan pelajaran luar biasa.

Orang beriman selalu berada dalam keuntungan.

Saat diberi nikmat, ia bersyukur.

Saat diuji, ia bersabar.

Dua sikap inilah yang membuat hidupnya damai.

Ia tidak mudah iri melihat keberhasilan orang lain.

Ia tidak mudah mengeluh ketika diuji.

Ia percaya bahwa semua sudah diatur oleh Allah Yang Maha Bijaksana.

Nikmat yang Sering Dilupakan

Sering kali kita sibuk menghitung apa yang belum kita miliki, hingga lupa menghitung nikmat yang sudah Allah berikan.

Masih bisa bernapas.

Masih diberi iman.

Masih memiliki keluarga.

Masih dapat sujud.

Masih bisa membaca Al-Qur'an.

Masih diberi kesempatan bertobat.

Bukankah semua itu adalah nikmat yang luar biasa?

Allah berfirman:

"Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya."
(QS. An-Nahl: 18)

Karena itu, biasakanlah memulai hari dengan mengucapkan Alhamdulillah.

Bukan sekadar ucapan, tetapi kesadaran bahwa hari ini adalah hadiah dari Allah.

Syukur dalam Kehidupan Sehari-hari

Syukur dapat diwujudkan dalam banyak bentuk:

  • Menggunakan nikmat untuk beribadah.
  • Menolong sesama.
  • Menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain.
  • Menjalankan pekerjaan dengan jujur.
  • Menghormati orang tua.
  • Menyayangi keluarga.
  • Memperbanyak sedekah.
  • Menjaga salat lima waktu.
  • Membaca Al-Qur'an setiap hari.
  • Memperbanyak istigfar dan zikir.

Syukur bukan hanya ucapan, tetapi tindakan nyata.

Penutup

Hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Ada hari ketika kita tertawa, ada pula hari ketika air mata mengalir. Namun seorang mukmin tidak pernah kehilangan harapan karena ia tahu bahwa Allah selalu bersamanya.

Mari jadikan syukur sebagai gaya hidup.

Ketika rezeki bertambah, ucapkan Alhamdulillah.

Ketika diuji, tetaplah berkata Alhamdulillah.

Ketika dihargai, bersyukurlah.

Ketika diabaikan, tetaplah berbuat baik karena Allah melihat setiap amal kita.

Ingatlah, penghargaan manusia hanya sementara, tetapi balasan Allah kekal selamanya.

Semoga Allah menjadikan hati kita termasuk hati yang selalu bersyukur, lisan yang senantiasa berzikir, serta amal yang ikhlas hanya mengharap rida-Nya.

Aamiin Ya Rabbal 'Alamin.

Tetap Semangat.

Barakallahu fiikum.


Istimewanya Sholat Tahajud

Istimewanya Sholat Tahajud: Saat Dunia Terlelap, Hamba Pilihan Bangun Menghadap Allah

"Dan pada sebagian malam, bertahajudlah kamu sebagai ibadah tambahan bagimu. Mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra: 79)

Di saat kebanyakan manusia masih terlelap dalam tidurnya, ada sebagian hamba Allah yang diam-diam bangun. Mereka mengambil air wudu dengan mata yang masih berat, lalu berdiri menghadap kiblat. Tidak ada tepuk tangan. Tidak ada pujian manusia. Hanya ada keheningan malam dan harapan yang dipanjatkan kepada Sang Pencipta.

Itulah sholat tahajud, ibadah yang begitu istimewa. Sholat yang menjadi kebiasaan para nabi, orang-orang saleh, dan hamba-hamba yang merindukan kedekatan dengan Allah SWT.

Sholat tahajud bukan sekadar ibadah sunnah biasa. Ia adalah tanda kerinduan seorang hamba kepada Rabb-nya. Ketika dunia menawarkan kenyamanan tidur, ia memilih bangun demi mendapatkan kasih sayang Allah.

Rasulullah SAW sendiri sangat menjaga sholat tahajud. Bahkan ketika kedua kaki beliau bengkak karena lama berdiri dalam sholat, beliau tetap melaksanakannya. Ketika ditanya mengapa beliau masih bersungguh-sungguh beribadah padahal dosa-dosanya telah diampuni, beliau menjawab,

"Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?" (HR. Bukhari dan Muslim).

Tahajud mengajarkan bahwa cinta kepada Allah dibuktikan dengan pengorbanan. Mengorbankan rasa kantuk, kenyamanan, dan waktu istirahat demi beberapa rakaat sholat yang mungkin hanya disaksikan para malaikat.

Dalam sepertiga malam terakhir, Allah membuka pintu langit dan menyeru hamba-hamba-Nya. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah berfirman,

"Siapa yang berdoa kepada-Ku, akan Aku kabulkan. Siapa yang meminta kepada-Ku, akan Aku beri. Siapa yang memohon ampun kepada-Ku, akan Aku ampuni." (HR. Bukhari dan Muslim).

Betapa luar biasanya kesempatan itu. Tidak perlu membuat janji. Tidak perlu mengantre. Tidak perlu membayar apa pun. Cukup bangun, berwudu, lalu bersujud dengan penuh keikhlasan.

Banyak orang merasakan perubahan hidup setelah membiasakan sholat tahajud. Hati menjadi lebih tenang, rezeki terasa lebih berkah, urusan yang rumit perlahan dipermudah, dan doa-doa yang lama dipendam menemukan jalannya. Semua itu bukan karena tahajud adalah "jalan pintas" menuju keberhasilan, melainkan karena tahajud mendekatkan seorang hamba kepada Allah, sumber segala pertolongan.

Gambar yang beredar sering menyebutkan bahwa pada hari kiamat akan ada seruan bagi orang-orang yang mengerjakan tahajud lalu mereka dipersilakan masuk surga tanpa hisab. Pesan tersebut mengandung semangat untuk mencintai tahajud, namun penyandaran redaksinya kepada hadis tertentu perlu diteliti kembali derajat dan keabsahannya. Karena itu, lebih baik kita berpegang pada dalil-dalil yang sahih tentang keutamaan tahajud yang telah jelas diajarkan Rasulullah SAW.

Memulai tahajud tidak harus langsung panjang. Dua rakaat dengan khusyuk jauh lebih baik daripada banyak rakaat tetapi dilakukan dengan terpaksa. Tidurlah lebih awal, pasang alarm, lalu mohonlah kepada Allah agar dibangunkan. Jika suatu malam belum berhasil bangun, jangan putus asa. Teruslah mencoba hingga tahajud menjadi kebiasaan yang indah.

Sesungguhnya, kemenangan seorang mukmin bukan hanya diukur dari jabatan, kekayaan, atau popularitas. Kemenangan sejati adalah ketika namanya dikenal di langit karena sering bersujud di penghujung malam.

Semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita untuk menjadi bagian dari hamba-hamba yang menghidupkan malam dengan sholat tahajud. Semoga setiap air mata yang jatuh dalam sujud menjadi penghapus dosa, setiap doa yang dipanjatkan menjadi sebab datangnya pertolongan, dan setiap langkah menuju sajadah menjadi jalan menuju ridha-Nya.

Mari mulai malam ini. Bangunlah beberapa menit sebelum Subuh. Berdirilah menghadap Allah. Mungkin di saat itulah doa yang selama ini kita nantikan sedang menunggu untuk dikabulkan. Aamiin.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 03 Juli 2026

otw Bandung dari Jatibening

Bismillahirrahmanirrahim... OTW Bandung Naik Bus Primajasa 🚌

Pagi ini saya kembali belajar bahwa setiap perjalanan selalu membawa pelajaran baru. Dengan mengucapkan "Bismillah", saya melangkahkan kaki menuju Bandung menggunakan bus Primajasa RedWhite Star.

Dari foto yang saya ambil, bus sudah siap mengantar penumpang menuju tujuan. Wajah saya pun tampak penuh harap, menikmati suasana pagi sambil menunggu keberangkatan. Perjalanan darat seperti ini selalu memiliki cerita tersendiri. Kita bisa melihat kehidupan dari balik jendela bus, menyapa sesama penumpang, dan merenungkan banyak hal yang sering terlewat ketika hidup berjalan terlalu cepat.

Naik bus bukan sekadar berpindah tempat. Ada kesempatan untuk membaca buku, menulis artikel, berdzikir, atau sekadar menikmati pemandangan sepanjang jalan menuju Kota Kembang. Primajasa sendiri telah lama melayani berbagai rute di Jawa Barat dan Jabodetabek, termasuk Bandung, dengan armada antarkota dan layanan RedWhite Star.

Semoga perjalanan hari ini:

  • Dilancarkan oleh Allah SWT.
  • Diberi keselamatan sampai tujuan.
  • Dipertemukan dengan orang-orang baik.
  • Menjadi perjalanan yang membawa manfaat dan keberkahan.

Doa safar:

"Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wa ma kunna lahu muqrinin. Wa inna ila Rabbina lamunqalibun."

Mohon doa dari sahabat semua, semoga perjalanan menuju Bandung berjalan lancar, selamat, sehat, dan penuh keberkahan.

Salam hangat dari Omjay.
"Setiap perjalanan adalah sekolah kehidupan. Selalu ada ilmu yang bisa dipetik bagi mereka yang mau membuka hati." 🌿🚍

Omjay Lahir Zaman Presiden Soeharto Tapi Kamu Kok Masih Jomblo?

Lahir Zaman Soeharto, Kok Masih Jomblo? Ternyata Presidennya Sudah Berganti Tujuh Kali

"Usia itu memang angka, tetapi jumlah presiden yang sudah berganti kadang lebih menyadarkan daripada angka di KTP."

Ada seorang teman yang sedang duduk santai sambil menyeruput kopi. Tiba-tiba ia berkata, "Saya lahir zaman Pak Soeharto."

Saya mengangguk.

Lalu ia melanjutkan, "Sekarang presidennya sudah Pak Prabowo."

Saya kembali mengangguk.

Ia kemudian menarik napas panjang dan berkata, "Yang berubah banyak sekali. Jalan berubah, gedung berubah, teknologi berubah, harga cabai berubah, model rambut berubah, bahkan anak tetangga yang dulu saya gendong sekarang sudah punya anak. Yang belum berubah cuma satu..."

"Apa?"

"Status saya."

Kami pun tertawa bersama.

Kalau dipikir-pikir memang lucu. Kita lahir ketika Presiden Soeharto masih memimpin Indonesia. Waktu itu telepon rumah adalah barang mewah, internet masih terdengar seperti nama planet baru, dan foto harus dicetak dulu sebelum bisa dipamerkan kepada tetangga.

Kemudian sejarah bergulir.

Pak Soeharto mengakhiri masa jabatannya, lalu digantikan oleh B.J. Habibie. Orang-orang mulai kagum dengan kecerdasan beliau. Dunia teknologi mulai berkembang. Namun, sebagian dari kita masih sibuk mengejar layang-layang.

Setelah itu datang Gus Dur. Beliau terkenal dengan humor-humornya yang cerdas. Banyak orang tertawa, tetapi juga berpikir. Sayangnya, saat itu kita masih lebih sibuk memikirkan nilai rapor daripada politik negara.

Lalu hadir Megawati Soekarnoputri sebagai presiden perempuan pertama Indonesia. Zaman mulai berubah lagi. Sementara itu, sebagian anak sekolah mulai belajar bahwa PR bukan hanya pekerjaan rumah, tetapi juga singkatan dari "Pusing Rame-rame."

Kemudian Indonesia dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono selama dua periode. Pada masa ini, media sosial mulai ramai. Facebook menjadi tempat reuni nasional. Semua orang mendadak menjadi fotografer, penyair, sekaligus pakar segala bidang.

Setelah itu datang era Joko Widodo. Jalan tol bertambah panjang, kereta cepat hadir, layanan digital berkembang pesat. Belanja cukup dari ponsel. Bayar cukup pakai QR. Bahkan memesan makanan tinggal klik. Yang sulit tetap sama: mengajak teman mengembalikan uang pinjaman.

Kini Indonesia memasuki era Presiden Prabowo Subianto. Harapan baru kembali tumbuh. Program-program baru mulai berjalan. Masyarakat berharap Indonesia semakin maju.

Namun, di tengah pergantian presiden yang silih berganti, ada satu kenyataan yang membuat kita tersenyum.

Dompet tetap terasa tipis setiap akhir bulan.

Ada juga yang bercanda, "Presiden sudah berganti tujuh kali, tetapi password Wi-Fi tetangga tetap tidak berubah."

Yang lain menimpali, "Presiden berganti, tetapi pertanyaan keluarga saat Lebaran tetap sama. Kapan nikah?"

Begitulah hidup.

Pergantian presiden adalah bagian dari perjalanan bangsa. Setiap pemimpin memiliki tantangan dan kontribusinya masing-masing. Sebagai rakyat, kita boleh bercanda, tetapi tetap menghargai siapa pun yang diberi amanah memimpin negeri.

Kalau ada pelajaran yang bisa kita ambil, mungkin sederhana saja.

Jangan terlalu sering mengeluh karena waktu berjalan sangat cepat. Tahu-tahu rambut sudah mulai beruban. Tahu-tahu anak kecil yang dulu memanggil kita "Om" sekarang memanggil kita "Pakde". Tahu-tahu lagu yang kita anggap baru ternyata sudah masuk kategori lagu nostalgia.

Yang paling penting, jangan sampai semangat ikut berganti setiap kali presiden berganti.

Tetaplah bekerja, tetaplah berkarya, tetaplah menjadi orang baik. Karena siapa pun presidennya, nasi goreng tetap enak dimakan malam hari, kopi tetap nikmat diminum pagi hari, dan tawa tetap menjadi obat paling murah untuk mengusir penat.

Jadi, kalau hari ini Anda merasa usia sudah bertambah, jangan sedih. Anggap saja Anda bukan semakin tua, tetapi semakin berpengalaman menyaksikan sejarah Indonesia.

Dan kalau ada teman berkata, "Aku lahir zaman Pak Soeharto."

Jawablah sambil tersenyum, "Berarti kamu saksi hidup perjalanan bangsa. Sekarang tinggal buktikan, jangan cuma umur yang bertambah, saldo rekening juga ikut bertambah."

Semoga kita semua bisa tertawa, tersenyum, dan tetap optimis menyongsong masa depan Indonesia yang lebih baik.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com