Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 18 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke18 bersama Omjay

### MATERI PERTEMUAN KE-18 KBMN PGRI GELOMBANG 35

### AI dan Masa Depan Pendidikan: Guru Tetap di Hati, Teknologi Membantu Berkreasi

Narasumber: Omjay — Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. | Guru Blogger Indonesia

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam bahagia dan salam literasi untuk seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35 di mana pun berada.

Bapak dan Ibu guru hebat, apa kabar malam ini? Semoga semuanya sehat, bahagia, dan tetap bersemangat untuk belajar menulis. Kita sudah melewati banyak pertemuan dalam perjalanan belajar menulis selama bulan Oktober ini. Setiap hari kita berusaha menemukan ide, merangkai kata, membagikan pengalaman, dan menginspirasi pembaca melalui tulisan.

Pada pertemuan ke-18 ini, kita akan membahas tema yang sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini, yaitu AI dan Masa Depan Pendidikan.

Kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) semakin hadir dalam kehidupan sehari-hari. AI membantu kita mencari informasi, membuat rangkuman, menyusun bahan ajar, mengembangkan ide tulisan, bahkan memberikan umpan balik terhadap pekerjaan siswa. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah AI akan menggantikan guru? Apakah suatu saat nanti siswa cukup belajar dari mesin tanpa membutuhkan kehadiran seorang pendidik?

Mari kita membahasnya dengan pikiran terbuka, hati yang jernih, dan semangat untuk terus belajar.

### 1\. Tujuan pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ke-18 ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami pengertian AI dan perannya dalam dunia pendidikan.

* Mengenali peluang dan tantangan penggunaan AI bagi guru dan siswa.

* Memanfaatkan AI secara bijak untuk mendukung kegiatan belajar dan menulis.

* Menumbuhkan sikap kritis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab dalam menggunakan teknologi.

* Menghasilkan tulisan reflektif tentang AI dan masa depan pendidikan berdasarkan pengalaman atau pemikiran pribadi.

### 2\. Apa itu AI?

AI atau kecerdasan artifisial adalah teknologi yang memungkinkan komputer melakukan tugas-tugas yang biasanya membutuhkan kemampuan manusia, seperti memahami bahasa, mengenali pola, menganalisis informasi, menghasilkan teks, dan membantu memecahkan masalah.

Contohnya, ketika kita meminta AI menyusun kerangka artikel tentang pengalaman mengajar, AI dapat memberikan beberapa pilihan judul, menyusun urutan pembahasan, dan menyarankan pertanyaan untuk menggali pengalaman pribadi.

Ketika guru mengajarkan Informatika, AI juga dapat membantu menjelaskan konsep algoritma, memberikan contoh kode program, menyusun soal latihan, atau menawarkan cara berbeda untuk menjelaskan materi yang sulit dipahami siswa.

Namun, kita harus memahami satu hal: AI dapat membantu menghasilkan jawaban, tetapi jawabannya belum tentu benar. AI bisa memberikan informasi yang keliru, membuat contoh yang tidak sesuai, atau menyampaikan informasi seolah-olah benar padahal perlu diperiksa kembali.

Karena itu, manusia tetap harus berpikir, memeriksa, mempertimbangkan, dan mengambil keputusan.

### 3\. Bagaimana AI mengubah masa depan pendidikan?

Ada beberapa perubahan yang patut kita perhatikan.

### A. Pembelajaran menjadi lebih personal

Setiap siswa memiliki kemampuan, minat, dan kecepatan belajar yang berbeda. Ada siswa yang cepat memahami matematika, tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami bahasa. Ada pula siswa yang lebih mudah belajar melalui contoh, gambar, praktik, atau cerita.

AI dapat membantu menyediakan latihan dengan tingkat kesulitan berbeda, memberikan penjelasan alternatif, dan menyusun soal sesuai kebutuhan belajar siswa.

Meskipun demikian, guru tetap perlu mengamati perkembangan siswa secara langsung. Tidak semua kesulitan belajar dapat diketahui hanya dari jawaban di layar komputer.

### B. Guru memiliki lebih banyak pilihan dalam menyiapkan pembelajaran

Guru sering menghabiskan waktu untuk membuat soal, menyusun bahan presentasi, menyiapkan lembar kerja, dan merancang kegiatan pembelajaran.

AI dapat membantu mempercepat pekerjaan awal tersebut. Misalnya, guru dapat meminta AI menyusun sepuluh soal tentang keamanan digital untuk siswa SMP, lengkap dengan kunci jawaban dan pembahasannya.

Setelah itu, guru memeriksa ketepatan soal, menyesuaikan tingkat kesulitan, dan menghubungkannya dengan tujuan pembelajaran.

Dengan cara ini, AI menjadi asisten yang membantu pekerjaan guru, bukan pengganti tanggung jawab profesional guru.

### C. Literasi digital dan kemampuan berpikir kritis semakin penting

Di masa depan, siswa tidak cukup hanya mampu menggunakan perangkat digital. Mereka juga harus mampu menilai informasi, mengenali berita palsu, memahami risiko keamanan data, dan mempertanyakan jawaban yang diperoleh dari AI.

Contohnya, ketika AI memberikan informasi tentang suatu peristiwa sejarah, siswa perlu membandingkannya dengan buku pelajaran dan sumber tepercaya. Mereka tidak boleh langsung menyalin jawaban tanpa memahami isinya.

Inilah kesempatan bagi guru untuk membiasakan siswa bertanya: dari mana informasi ini berasal, apakah buktinya kuat, dan apakah kesimpulannya masuk akal?

### D. Keterampilan manusia tetap dibutuhkan

Pendidikan bukan sekadar proses memindahkan informasi dari guru kepada siswa. Pendidikan juga merupakan proses membangun karakter, tanggung jawab, empati, kejujuran, kreativitas, dan kemampuan bekerja sama.

AI dapat menghasilkan kalimat yang terdengar menyentuh, tetapi guru yang hadir di kelas dapat melihat siswa yang sedang kehilangan semangat, mendengarkan kegelisahannya, dan memberikan dukungan sesuai keadaan.

Teknologi dapat membantu proses pendidikan, tetapi hubungan antarmanusia tetap memiliki peran penting.

### 4\. Peluang AI bagi guru dan penulis

Sebagai guru sekaligus penulis, kita dapat memanfaatkan AI untuk berbagai kegiatan.

| Kegiatan                  | Contoh pemanfaatan AI                                |
| ------------------------- | ---------------------------------------------------- |
| Menyiapkan bahan ajar     | Membuat kerangka materi dan contoh sederhana         |
| Membuat soal              | Menyusun soal latihan sesuai tujuan pembelajaran     |
| Mengembangkan ide tulisan | Mencari sudut pandang dan pilihan judul              |
| Menyunting artikel        | Memeriksa ejaan, struktur, dan kejelasan kalimat     |
| Membuat refleksi          | Menyusun pertanyaan untuk mengevaluasi pembelajaran  |
| Belajar mandiri           | Meminta penjelasan alternatif atas konsep yang sulit |

Kuncinya adalah menggunakan AI untuk membantu proses berpikir, bukan menyerahkan seluruh proses berpikir kepadanya.

Misalnya, seorang guru ingin menulis artikel berjudul Pengalaman Mengajar yang Tak Terlupakan. AI dapat membantu membuat kerangka tulisan, tetapi cerita tentang siswa yang pernah membuat guru terharu harus berasal dari pengalaman nyata sang guru.

Detail peristiwa, perasaan, dialog, dan pelajaran hidup merupakan bagian penting yang memberikan jiwa pada tulisan.

AI boleh membantu merangkai kata, tetapi pengalaman nyata dan kejujuran penulis tidak boleh dihilangkan.

### 5\. Tantangan penggunaan AI dalam pendidikan

Di balik berbagai peluang, ada tantangan yang perlu kita hadapi bersama.

### A. Ketergantungan pada AI

Siswa bisa saja menggunakan AI untuk mengerjakan semua tugas tanpa membaca, memahami, atau memikirkan jawabannya. Guru pun dapat terjebak menggunakan bahan yang dihasilkan AI tanpa memeriksa kebenarannya.

Solusinya bukan sekadar melarang teknologi, melainkan mengajarkan cara menggunakannya secara bertanggung jawab.

Guru dapat meminta siswa menjelaskan proses berpikirnya, mempraktikkan konsep yang dipelajari, atau menceritakan pengalaman pribadi yang berkaitan dengan tugas.

### B. Kejujuran akademik

Jika siswa mengumpulkan tulisan yang seluruhnya dihasilkan AI dan mengaku sebagai karya pribadi tanpa mengikuti aturan tugas, proses belajarnya dapat kehilangan makna.

Karena itu, guru perlu menjelaskan kapan AI boleh digunakan, bagian apa yang harus dikerjakan sendiri, dan bagaimana mengungkapkan bantuan AI secara jujur.

Kita juga perlu berhati-hati agar tidak langsung menuduh siswa melakukan kecurangan hanya karena tulisannya tampak rapi. Penilaian harus berdasarkan proses dan bukti yang relevan, bukan dugaan semata.

### C. Privasi dan keamanan data

Jangan sembarangan memasukkan nama lengkap siswa, nilai, alamat, nomor telepon, rekam medis, atau informasi pribadi lainnya ke dalam layanan AI.

Guru perlu memeriksa kebijakan privasi layanan yang digunakan dan mengikuti aturan perlindungan data yang berlaku. Jika ingin menggunakan AI untuk membantu menganalisis hasil belajar, gunakan data yang telah diminimalkan atau dianonimkan sesuai kebutuhan.

### D. Kesenjangan akses teknologi

Tidak semua sekolah memiliki jaringan internet yang stabil, perangkat yang memadai, atau kemampuan untuk menggunakan layanan AI berbayar.

Masa depan pendidikan yang baik harus tetap memperhatikan keadilan. Siswa yang tidak memiliki akses teknologi tidak boleh kehilangan kesempatan belajar.

Guru perlu menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi sekolah dan menyediakan alternatif kegiatan yang dapat dilakukan tanpa perangkat digital.

### 6\. Guru seperti apa yang dibutuhkan pada masa depan?

Menurut Omjay, guru masa depan bukanlah guru yang harus mengetahui semua hal tentang teknologi. Guru masa depan adalah guru yang mau terus belajar, berani mencoba hal baru, dan mampu membimbing siswa menggunakan teknologi secara bijaksana.

Guru perlu mengembangkan setidaknya lima kemampuan berikut.

* Literasi digital. Memahami cara kerja teknologi, manfaatnya, dan risikonya.

* Berpikir kritis. Memeriksa informasi dan tidak mudah percaya pada setiap jawaban AI.

* Kreativitas. Merancang kegiatan pembelajaran yang menarik dan sesuai kebutuhan siswa.

* Komunikasi dan empati. Mendengarkan siswa serta membangun hubungan yang sehat.

* Etika digital. Menghargai privasi, hak cipta, kejujuran, dan tanggung jawab.

Guru tidak harus menjadi ahli AI dalam satu malam. Kita dapat belajar secara bertahap, dimulai dari satu alat, satu kegiatan, dan satu pengalaman baru.

Jangan malu bertanya. Jangan takut mencoba. Jika menemui kesalahan, jadikan kesalahan itu sebagai bahan pembelajaran.

### 7\. Contoh praktik sederhana: Menggunakan AI untuk pembelajaran

Mari kita mencoba sebuah contoh yang bisa diterapkan oleh guru.

Seorang guru Informatika kelas VIII ingin mengajarkan keamanan digital. Ia dapat menggunakan AI untuk membantu menyusun rancangan pembelajaran.

Contoh perintah atau prompt:

> Saya seorang guru Informatika kelas VIII SMP. Bantu saya menyusun kegiatan pembelajaran selama 40 menit tentang keamanan kata sandi dan phishing. Gunakan bahasa sederhana, berikan satu studi kasus yang dekat dengan kehidupan siswa, lima pertanyaan diskusi, dan satu tugas refleksi. Pastikan kegiatan mendorong siswa berpikir kritis dan tidak meminta mereka membagikan kata sandi pribadi.

Setelah mendapatkan jawaban, guru memeriksa apakah materinya benar, apakah contoh kasusnya sesuai usia siswa, dan apakah kegiatan tersebut aman dilakukan di kelas.

Guru kemudian menambahkan pengalaman mengajar, kondisi siswa, serta pendekatan yang sesuai dengan lingkungan sekolahnya.

Dengan demikian, AI membantu menyiapkan bahan awal, sedangkan guru tetap memegang kendali atas tujuan, isi, metode, dan evaluasi pembelajaran.

### 8\. Masa depan pendidikan: Berkolaborasi, bukan sekadar berkompetisi dengan AI

Bapak dan Ibu guru yang berbahagia, kita tidak perlu melihat AI semata-mata sebagai ancaman. Teknologi ini dapat menjadi kesempatan untuk memperbaiki proses pembelajaran, membuka ruang kreativitas, dan membantu guru mengembangkan kompetensi.

Namun, kita juga tidak boleh menerima semua perkembangan teknologi tanpa pertimbangan. Setiap alat perlu dinilai berdasarkan manfaat, risiko, keadilan, dan kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan.

Bayangkan sebuah kelas pada masa depan. Siswa menggunakan AI untuk mengeksplorasi ide, tetapi mereka tetap berdiskusi, melakukan percobaan, membaca buku, menulis refleksi, dan bekerja sama. Guru tidak hanya memeriksa hasil akhir, tetapi juga mendampingi proses berpikir dan perkembangan karakter siswa.

Itulah masa depan pendidikan yang patut kita perjuangkan: pendidikan yang memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan.

Bagi peserta KBMN PGRI Gelombang 35, hal ini juga berlaku dalam kegiatan menulis. Kita boleh memanfaatkan AI untuk menemukan ide, menyusun kerangka, dan memperbaiki ejaan. Namun, jangan sampai kebiasaan menggunakan AI membuat kita berhenti mengamati kehidupan, mendengarkan cerita orang lain, dan menuliskan pengalaman sendiri.

Tulisan yang bermakna tidak hanya dinilai dari susunan katanya, tetapi juga dari kejujuran, kedalaman pemikiran, dan manfaat yang diberikan kepada pembaca.

### 9\. Pertanyaan refleksi untuk peserta

Silakan Bapak dan Ibu menjawab pertanyaan berikut dalam hati atau melalui diskusi bersama peserta lainnya.

* Apa pengalaman pertama Anda menggunakan AI untuk kegiatan mengajar atau menulis?

* Manfaat apa yang paling Anda rasakan ketika menggunakan AI?

* Pernahkah Anda menemukan jawaban AI yang kurang tepat? Bagaimana Anda menyikapinya?

* Apa yang harus tetap dilakukan manusia meskipun teknologi AI semakin canggih?

* Bagaimana cara mengajarkan siswa agar menggunakan AI secara jujur dan bertanggung jawab?

Tidak ada jawaban yang harus sama. Setiap guru memiliki pengalaman dan sudut pandang yang berbeda. Justru perbedaan pengalaman itulah yang dapat memperkaya tulisan kita.

### 10\. Tugas menulis pertemuan ke-18

### Tugas Bahagia: AI dan Masa Depan Pendidikan

KBMN PGRI Gelombang 35 — Pertemuan ke-18

Judul tulisan: Bebas dan menarik, sesuai pengalaman masing-masing.

Tema: AI dan Masa Depan Pendidikan.

Panjang tulisan: 300–500 kata.

Bentuk tulisan: Artikel reflektif berdasarkan pengalaman, pengamatan, atau pendapat pribadi.

Panduan isi tulisan:

* Ceritakan pengalaman atau pandangan Anda tentang AI.

* Jelaskan manfaat AI bagi guru, siswa, atau kegiatan menulis.

* Ceritakan tantangan atau kekhawatiran yang Anda rasakan.

* Sampaikan harapan Anda terhadap masa depan pendidikan.

* Tutup tulisan dengan pesan inspiratif bagi guru dan siswa.

Publikasi: Unggah tulisan di blog pribadi atau media yang digunakan dalam kegiatan KBMN PGRI, kemudian bagikan tautannya di grup sesuai arahan panitia.

Target belajar: Menghasilkan satu tulisan yang jujur, sederhana, dan bermanfaat. Tidak harus sempurna. Yang penting, selesai, berani dibagikan, dan terus diperbaiki.

### Contoh pilihan judul

* AI Tidak Menggantikan Guru, tetapi Mengajak Guru Terus Belajar

* Ketika Saya Mulai Mengenal Kecerdasan Artifisial

* Masa Depan Pendidikan di Tangan Guru yang Mau Berubah

* Belajar Menulis Bersama AI tanpa Kehilangan Suara Hati

* Antara Kecanggihan Teknologi dan Ketulusan Seorang Guru

* Murid Saya, AI, dan Pelajaran tentang Kejujuran

* Menjadi Guru di Tengah Perubahan Zaman

### Latihan menulis selama 15 menit

Agar tugas terasa ringan, lakukan langkah berikut.

* Lima menit pertama: tuliskan pengalaman atau pendapat tentang AI tanpa takut salah.

* Lima menit berikutnya: tambahkan contoh nyata, tantangan, atau harapan.

* Lima menit terakhir: buat judul, tulis kesimpulan, dan periksa kembali tulisan.

Jika ingin menggunakan AI, mintalah bantuan untuk mengembangkan kerangka atau memeriksa ejaan. Jangan memasukkan pengalaman yang tidak pernah terjadi hanya agar tulisan terlihat menarik.

### 11\. Rubrik penilaian sederhana

| Aspek                             | Bobot |
| --------------------------------- | ----- |
| Kesesuaian dengan tema            | 25    |
| Keaslian pengalaman dan pemikiran | 30    |
| Kejelasan isi dan alur tulisan    | 25    |
| Refleksi dan manfaat bagi pembaca | 20    |
| Total                             | 100   |

Rubrik ini dapat digunakan sebagai panduan belajar, bukan untuk membuat peserta takut menulis. Berikan apresiasi terhadap keberanian mencoba, kejujuran, dan kemajuan setiap peserta. Ingat, tujuan KBMN bukan hanya menghasilkan tulisan yang bagus, tetapi juga membangun kebiasaan menulis.

### 12\. Penutup: Teknologi boleh canggih, hati tetap menjadi kompas

Bapak dan Ibu guru hebat, masa depan pendidikan sedang berubah. AI akan terus berkembang, berbagai pekerjaan akan menjadi lebih mudah, dan cara kita memperoleh pengetahuan akan semakin beragam. Namun, perubahan itu tidak berarti guru kehilangan perannya.

Guru tetap dibutuhkan untuk menanamkan nilai, membangun karakter, memberikan teladan, serta menuntun siswa memahami makna pengetahuan dalam kehidupan nyata.

Begitu pula dengan menulis. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Tulislah pengalaman sederhana hari ini. Bisa tentang siswa yang membuat kita tersenyum, kesalahan yang memberikan pelajaran, atau teknologi yang mengubah cara kita mengajar.

Dari pengalaman sederhana itulah lahir tulisan yang dapat menginspirasi orang lain.

Mari kita jadikan AI sebagai sahabat belajar, bukan pengganti pikiran. Jadikan teknologi sebagai alat untuk berkarya, bukan alasan untuk berhenti berusaha. Teruslah membaca, menulis, berbagi, dan menginspirasi.

Pesan Omjay untuk peserta KBMN PGRI Gelombang 35:

> “Masa depan pendidikan bukan hanya tentang seberapa canggih teknologi yang kita gunakan, melainkan tentang seberapa bijaksana kita mendidik manusia. AI dapat membantu kita menulis lebih cepat, tetapi pengalaman, kejujuran, dan hati kitalah yang membuat tulisan menjadi bermakna.”

Mari kita tutup pertemuan ini dengan tiga semangat sederhana:

Belajar dengan gembira. Menulis dengan hati. Menggunakan AI dengan bijaksana.

Salam blogger persahabatan.

Salam literasi dari Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Belajar Mengenal ccNSO di ICANN87 Bali

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi



Belajar Mengenal ccNSO di ICANN87 Bali: Kisah Omjay Memahami Rumah Besar Pengelola Domain Internet Dunia

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Ada banyak hal yang baru kita pahami ketika bersedia melangkah keluar dari ruang kelas, meninggalkan rutinitas pekerjaan, dan bertemu dengan orang-orang yang memiliki pengalaman serta pengetahuan berbeda. Bagi saya, perjalanan ke Bali untuk mengikuti kegiatan ICANN87 menjadi kesempatan berharga untuk belajar tentang dunia internet dari sudut pandang yang lebih luas.

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya sudah lama mengajarkan kepada murid-murid tentang jaringan komputer, internet, nama domain, alamat IP, keamanan digital, dan berbagai teknologi yang mendukung kehidupan modern. Namun, mengikuti kegiatan internasional seperti ICANN87 membuat saya semakin menyadari bahwa internet bukan sekadar jaringan yang menghubungkan komputer dan telepon pintar. Di balik kemudahan kita membuka sebuah situs web, ada sistem global, organisasi, kebijakan, dan kerja sama banyak pihak yang memastikan internet tetap berjalan.

Salah satu materi yang menarik perhatian saya adalah presentasi berjudul Introduction to the ccNSO, yang disampaikan oleh Biyi Oladipo dari .ng, Wakil Ketua Dewan ccNSO. Materi ini membuka wawasan saya tentang peran organisasi pengelola domain negara dalam ekosistem internet dunia.

Saya pun berpikir, pengetahuan seperti ini sangat penting dibagikan kepada guru, mahasiswa, pelajar, dan masyarakat Indonesia agar kita tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga memahami bagaimana internet dikelola.

Mengenal ccNSO, rumah bersama pengelola domain negara

Apa itu ccNSO?

ccNSO merupakan singkatan dari Country Code Names Supporting Organization. Organisasi ini merupakan bagian dari struktur multistakeholder ICANN dan menjadi wadah bagi para pengelola country code top-level domain atau ccTLD.

Agar lebih mudah dipahami, mari kita mengenal contoh nama domain yang sering dijumpai ketika berselancar di internet.

Domain .id digunakan untuk Indonesia. Domain .jp berkaitan dengan Jepang, .uk dengan Britania Raya, .au dengan Australia, dan .ng dengan Nigeria. Sementara itu, .cn digunakan untuk Tiongkok dan .de untuk Jerman.

Bagian akhir dari nama domain tersebut bukan sekadar rangkaian huruf. Domain negara membantu menunjukkan identitas negara atau wilayah di ruang digital.

Organisasi atau entitas yang mengelola domain tingkat atas berkode negara memiliki tanggung jawab penting dalam memastikan domain tersebut dikelola dengan baik. Melalui ccNSO, para pengelola domain dapat bertukar pengalaman, membahas persoalan bersama, serta berkontribusi dalam pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan ccTLD.

Dari materi yang saya pelajari, saya semakin memahami bahwa pengelolaan internet tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan komunikasi, kerja sama, dan kesediaan mendengarkan berbagai kepentingan.

Inilah pelajaran penting dari model tata kelola internet yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Domain negara memiliki peran strategis

Dalam presentasinya, ccNSO menampilkan data mengenai kekuatan domain tingkat atas. Lima dari sepuluh domain tingkat atas terbesar dalam daftar yang ditampilkan merupakan ccTLD. Materi tersebut juga menunjukkan bahwa ccTLD mencakup hampir 40 persen pendaftaran domain dalam gambaran pasar yang digunakan pada presentasi.

Data itu merujuk pada laporan kuartal kedua tahun 2026 dari Verisign DNIB.

Angka tersebut membuat saya semakin memahami bahwa domain negara memiliki posisi penting dalam ekosistem internet. Domain negara bukan hanya identitas digital, melainkan juga bagian dari infrastruktur yang menopang aktivitas masyarakat, lembaga pendidikan, pemerintahan, bisnis, dan berbagai layanan publik.

Bayangkan ketika sebuah sekolah memiliki situs web dengan domain .id. Melalui situs itu, sekolah dapat menyampaikan informasi kepada orang tua, menampilkan karya murid, memublikasikan kegiatan pembelajaran, dan memperkenalkan program pendidikan kepada masyarakat luas.

Demikian pula dengan lembaga pemerintahan, perguruan tinggi, perusahaan, dan komunitas. Nama domain dapat membantu membangun identitas sekaligus memudahkan masyarakat menemukan layanan yang dibutuhkan.

Namun, kita perlu memahami bahwa penggunaan domain negara tidak dengan sendirinya menjamin sebuah situs aman atau tepercaya. Pengguna internet tetap perlu memeriksa alamat situs, memastikan keaslian layanan, dan menjaga data pribadi agar tidak dicuri oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai guru Informatika, saya ingin murid-murid memahami hal ini sejak dini. Mereka perlu mengetahui bahwa internet menawarkan banyak manfaat, tetapi juga membutuhkan kecermatan dan tanggung jawab.

Setiap negara memiliki tantangan pengelolaan yang berbeda

Hal menarik lainnya dari presentasi ccNSO adalah penjelasan bahwa setiap pengelola domain negara memiliki karakteristik yang berbeda.

Perbedaan tersebut dapat dilihat dari wilayah geografis, model tata kelola, model pengelolaan registri, jumlah domain, hingga jumlah pegawai yang terlibat.

Artinya, pengelolaan domain sebuah negara tidak selalu dapat disamakan dengan negara lainnya. Kondisi geografis, kebutuhan masyarakat, sumber daya manusia, struktur organisasi, dan kebijakan setempat dapat memengaruhi cara sebuah domain dikelola.

Saya melihat hal ini sebagai pelajaran yang sangat relevan bagi dunia pendidikan Indonesia.

Setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda. Ada sekolah dengan fasilitas komputer lengkap dan jaringan internet cepat. Ada pula sekolah yang masih berjuang mendapatkan akses internet stabil serta perangkat pembelajaran yang memadai.

Karena itu, ketika kita membicarakan transformasi digital, kita tidak boleh hanya berfokus pada teknologi yang digunakan. Kita juga harus memperhatikan kesiapan manusia, kebijakan, infrastruktur, dan kebutuhan masing-masing lingkungan.

Prinsip yang sama dapat kita pelajari dari pengelolaan domain negara. Tidak semua persoalan bisa diselesaikan menggunakan satu pendekatan yang seragam.

ccNSO dan perannya dalam tata kelola internet global

Dalam struktur ICANN, ccNSO menjadi salah satu bagian yang mewakili kepentingan para pengelola domain negara.

Materi presentasi menjelaskan bahwa Dewan ccNSO terdiri atas 15 wakil terpilih dari lima wilayah geografis ICANN dan tiga anggota yang ditunjuk oleh Nominating Committee ICANN. Dewan ini bertugas mengoordinasikan urusan ccNSO dan memimpin pengembangan rekomendasi kebijakan.

Melalui mekanisme tersebut, berbagai pengalaman dari negara dan wilayah yang berbeda dapat dibawa ke dalam pembahasan bersama.

Bagi saya, inilah salah satu nilai penting dari tata kelola internet global: keputusan yang berdampak luas perlu dibicarakan dengan mempertimbangkan beragam perspektif.

Internet digunakan oleh masyarakat dengan bahasa, budaya, kebutuhan, dan tingkat perkembangan teknologi yang berbeda-beda. Oleh karena itu, pembahasannya tidak cukup hanya melihat kepentingan satu negara atau satu kelompok.

Keterlibatan berbagai pihak membantu memperkaya sudut pandang dan membuka kesempatan untuk mencari solusi yang lebih baik.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip ini sebenarnya sederhana. Ketika menghadapi masalah bersama, kita perlu mendengarkan pihak-pihak yang terdampak, memahami persoalan dari berbagai sisi, lalu mencari jalan keluar melalui dialog.

Dari keamanan domain hingga pemulihan bencana

Saya juga tertarik ketika presentasi menjelaskan berbagai tantangan yang dihadapi komunitas ccNSO.

Beberapa di antaranya adalah menjaga ketahanan layanan ketika terjadi gangguan, mengatasi penyalahgunaan nama domain, meningkatkan keamanan operasional, memperluas penerimaan universal, serta mendukung tata kelola internet yang melibatkan banyak pemangku kepentingan.

Ada pula kelompok kajian dan komite yang membahas berbagai persoalan, termasuk pemulihan bencana, keamanan operasional, penyalahgunaan DNS, dan penerimaan universal.

Apa maknanya bagi masyarakat biasa?

Ketika kita mengetik alamat situs web, kita berharap situs itu dapat dibuka dengan cepat dan aman. Kita jarang memikirkan apa yang terjadi ketika suatu layanan mengalami gangguan, infrastruktur terdampak bencana, atau sebuah nama domain disalahgunakan untuk menipu pengguna.

Padahal, di balik pengalaman sederhana tersebut terdapat pekerjaan teknis dan koordinasi yang sangat penting.

Misalnya, seseorang menerima pesan yang mengatasnamakan bank dan diminta mengeklik tautan tertentu. Sekilas, alamat situs pada tautan itu mungkin terlihat meyakinkan. Namun, jika ternyata mengarah ke situs palsu, pengguna dapat kehilangan kata sandi, informasi pribadi, bahkan akses ke rekeningnya.

Oleh sebab itu, keamanan internet tidak hanya menjadi tanggung jawab pengelola infrastruktur. Pengguna juga harus meningkatkan literasi digitalnya.

Di sekolah, murid perlu dibiasakan memeriksa alamat situs, mengenali tautan mencurigakan, tidak sembarangan memberikan kode OTP, menggunakan kata sandi yang kuat, serta mengaktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia.

Teknologi keamanan harus berjalan bersama pendidikan karakter digital.

Kita tidak cukup hanya mengajarkan murid menggunakan aplikasi. Kita juga harus membentuk kebiasaan agar mereka mampu menggunakan teknologi dengan aman, bijak, dan bertanggung jawab.

Mengapa guru Informatika perlu belajar tata kelola internet?

Sebagai guru Informatika, saya merasa pembelajaran di kelas harus terus berkembang mengikuti perubahan teknologi.

Dahulu, pembelajaran TIK mungkin lebih banyak berfokus pada penggunaan komputer, aplikasi perkantoran, dan keterampilan dasar mengakses internet. Kini, murid perlu memahami lebih banyak hal, termasuk keamanan siber, identitas digital, privasi, kecerdasan artifisial, dan bagaimana layanan internet dikelola.

Materi mengenai ccNSO dapat menjadi pintu masuk untuk menjelaskan konsep nama domain, DNS, dan tata kelola internet.

DNS atau Domain Name System merupakan sistem yang membantu menerjemahkan nama domain, seperti alamat situs yang mudah diingat manusia, menjadi informasi yang diperlukan agar perangkat dapat menemukan layanan internet yang dituju.

Tanpa perlu membahas seluruh kerumitan teknisnya sekaligus, guru dapat mengajak murid melakukan simulasi sederhana. Mereka dapat membandingkan nama domain, mengenali ekstensi domain negara, dan mendiskusikan mengapa sebuah situs perlu memiliki identitas yang jelas.

Pembelajaran kemudian dapat dikembangkan menjadi proyek kecil. Murid diminta merancang situs web sekolah fiktif, menentukan nama domain yang sesuai, membuat aturan keamanan, dan menyusun panduan untuk mencegah penipuan digital.

Dengan cara ini, konsep yang awalnya terasa jauh dan rumit menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.

Saya percaya pembelajaran Informatika akan lebih bermakna ketika murid tidak hanya menghafal istilah, tetapi juga memahami manfaat dan dampaknya bagi masyarakat.

Memulai dari langkah kecil untuk berkontribusi secara global

Satu hal yang menggugah perhatian saya dari presentasi tersebut adalah ajakan agar masyarakat memulai dari langkah kecil untuk berpartisipasi dalam komunitas global.

Materi ccNSO mendorong calon peserta untuk mengikuti pertemuan publik ICANN, menghadiri sesi terbuka ccNSO secara langsung atau daring, mengikuti buletin informasi, dan membangun hubungan dengan pengelola ccTLD di wilayah masing-masing.

Bagi saya, pesan tersebut sangat dekat dengan dunia pendidikan.

Tidak semua orang harus langsung menjadi pakar teknologi atau pengambil kebijakan internasional. Kita dapat memulai dengan membaca, bertanya, mengikuti diskusi, membagikan pengetahuan, dan membangun komunitas belajar.

Sebagai guru, saya dapat membawa pengetahuan yang diperoleh dari ICANN87 ke ruang kelas dan komunitas pendidikan. Saya dapat menulis artikel, berdiskusi dengan rekan guru, serta mengajak murid melihat internet dari perspektif yang lebih luas.

Saya juga dapat menghubungkan pembelajaran tersebut dengan kegiatan literasi digital, coding, dan kecerdasan artifisial yang semakin penting di sekolah.

Dari langkah kecil itulah, pengetahuan dapat menyebar dan memberi manfaat kepada lebih banyak orang.

Bali menjadi ruang belajar yang membuka wawasan

Mengikuti ICANN87 di Bali merupakan pengalaman yang mengingatkan saya bahwa belajar tidak mengenal batas usia maupun profesi.

Seorang guru tidak boleh berhenti belajar setelah bertahun-tahun mengajar. Justru semakin lama kita berada di dunia pendidikan, semakin besar tanggung jawab kita untuk memperbarui pengetahuan dan membagikan pengalaman kepada generasi berikutnya.

Saya datang sebagai guru Informatika dari Indonesia. Saya belajar tentang pengelolaan domain negara, tata kelola internet, keamanan operasional, dan pentingnya kerja sama lintas wilayah.

Saya pulang membawa bahan refleksi untuk pembelajaran di sekolah dan tulisan untuk masyarakat.

Bagi saya, kesempatan mengikuti forum internasional bukan semata-mata tentang menghadiri acara atau memperoleh sertifikat. Hal yang lebih penting adalah apa yang dapat kita pelajari, bagaimana kita menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat, dan sejauh mana pengetahuan tersebut dapat dibagikan.

Ilmu akan menjadi lebih bermakna ketika tidak berhenti pada diri sendiri.

Penutup: Jadilah pengguna internet yang cerdas dan warga digital yang bertanggung jawab

Pengalaman belajar mengenai ccNSO di ICANN87 mengingatkan saya bahwa internet merupakan hasil kerja bersama banyak pihak. Ada pengelola domain, pengembang teknologi, organisasi internasional, pemerintah, komunitas teknis, dunia pendidikan, dan pengguna yang memiliki peran masing-masing.

Kita mungkin tidak terlibat langsung dalam rapat kebijakan internasional. Namun, kita tetap dapat mengambil bagian dengan menggunakan internet secara bertanggung jawab, menjaga keamanan data, menghargai privasi, dan meningkatkan literasi digital.

Sebagai guru, saya ingin murid-murid memahami bahwa internet bukan sekadar tempat mencari jawaban atau bermain gim. Internet adalah ruang digital yang membuka kesempatan untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Saya pun semakin yakin bahwa pendidikan Informatika harus mengajarkan lebih dari sekadar keterampilan teknis. Pendidikan ini juga harus menumbuhkan kesadaran, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap sesama pengguna internet.

Dari Bali, saya belajar bahwa dunia digital sangat luas. Akan tetapi, untuk mengambil bagian di dalamnya, kita tidak harus menunggu menjadi orang hebat terlebih dahulu.

Kita bisa memulainya dengan belajar, berbagi, dan terus menulis.

Menulislah dengan hati, bagikan ilmu dengan tulus, dan jadilah guru yang terus belajar sepanjang hayat.

Salam blogger persahabatan,

Wijaya Kusumah (Omjay)

Guru Informatika SMP Labschool Jakarta
Guru Blogger Indonesia

Kisah Omjay: Menjadi Fellowship ICANN87 Bali

Tiba-tiba ada telpon masuk ke ponsel jadul Omjay. Mbak Ulfa dari PANDI atau pengelola nama domain Indonesia menelpon Omjay. Katanya Omjay diajak pergi ke Bali untuk mengikuti program fellowship kegiatan ICANN87 di Bali.



Tentu saja Omjay senang mendapatkan kabar gembira tersebut. Sebab sudah lama tidak pergi ke Bali. Apalagi pergi ke Bali gratis dimana semua tiket pesawat dan penginapan selama di Bali ditanggung PANDI. Omjay dikasih uang saku pula.

Fellowship adalah program pendanaan atau beasiswa yang diberikan kepada individu untuk mengembangkan bidang keilmuan atau proyek tertentu untuk pelatihan pembelajaran atau penelitian.

Program ini biasanya diselenggarakan oleh universitas atau lembaga penelitian atau organisasi internasional atau pemerintah dan lebih berfokus pada kontribusi peserta terhadap riset atau pengembangan profesional daripada pembiayaan pendidikan formal.

Omjay diminta membuat blog pribadi di https://wijayalabschool.my.id yang dikelola oleh PANDI dan dibantu pak Bambang atau Mr.Bams dari Bandung. Alhamdulillah bisa tayang di internet.

Ada 17 orang fellowship yang diberangkatkan PANDI ke Bali. Salah satunya adalah Omjay. Semalam kami dikumpulkan di ruang meeting hotel Tijili Bali untuk mendapatkan pengarahan dari pak Isnawan ketua PANDI.


Kami diminta menulis apa saja yang kami lihat di Bali selama pelaksanaan kegiatan ICANN87. ICANN adalah organisasi nirlaba yang mengelola sistem nama domain, alamat IP, dan parameter teknis internet secara global untuk menjaga stabilitas dan keamanan jaringan.

ICANN singkatan dari internet corporation for assigned names and numbers, didirikan pada 18 September 1998 sebagai organisasi nirlaba independen untuk mengelola sistem identifikasi unik di internet, termasuk domain names system atau DNS dana alamat IP yang sebelumnya dikoordinasikan oleh pemerintah Amerika Serikat dan organisasi lain.

Tujuan utama ICANN adalah memastikan internet tetap stabil, aman, dan dapat dioperasikan secara global.


Terpilih menjadi salah satu fellowship PANDI buat Omjay adalah sebuah kehormatan dan keberuntungan. Omjay bersyukur kepada Allah SWT, dan semoga selama berada di Bali Omjay semakin sehat setelah terkena serangan stroke dan penyakit darah tinggi serta diabetes.

Selama seminggu Omjay berada di Bali dari 16 sampai 23 Oktober 2026, dan rencananya kembali ke Jakarta hari Jumat pagi pukul 07.00 WITA. 

Berikut ini suasana pagi di Bali yang diliput dan direkam Mr. Bams di channel youtubenya.

(1156) Pagi Hari di Hotel Tijili Bali - ICANN87 - YouTube


Salam Blogger Persahabatan 
Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

kisah omjay memahami dns belajar dari icann87

Belajar dari ICANN87 Bali: Memahami DNS, Menjaga Netralitas Internet, dan Waspada Website Palsu

Oleh: Wijaya Kusumah (Omjay), Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Ada banyak hal yang bisa kita pelajari ketika bersedia keluar dari rutinitas sehari-hari. Terkadang, perjalanan bukan hanya membawa kita ke tempat yang baru, tetapi juga membuka pikiran terhadap sesuatu yang selama ini kita gunakan tanpa benar-benar memahaminya.

Itulah yang saya rasakan ketika mengikuti kegiatan ICANN87 di Bali, Minggu, 18 Oktober 2026. Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya mendapatkan kesempatan untuk menyimak pembahasan tentang salah satu bagian penting dari infrastruktur internet dunia, yaitu DNS Root Server System.

Selama ini, kita terbiasa membuka Google, membaca berita di Kompasiana, mengakses media sosial, mengirim email, atau mengunjungi blog pribadi. Kita cukup mengetik nama website pada peramban, lalu informasi yang dibutuhkan muncul di layar. Semuanya terasa sederhana, cepat, dan seolah-olah berlangsung secara otomatis.

Namun, pernahkah kita bertanya, bagaimana komputer menemukan alamat website yang kita ketik? Siapa yang mengatur sistem penamaan domain? Mengapa internet dapat digunakan oleh masyarakat di berbagai negara? Dan bagaimana kita melindungi diri ketika ada orang yang memanfaatkan teknologi untuk menipu dan mencuri data pribadi?

Pertanyaan-pertanyaan itulah yang membuat pengalaman belajar di ICANN87 Bali terasa sangat berharga bagi saya.

Dari Bali, Omjay Belajar tentang Jantung Sistem Nama Domain

Di dalam ruang pertemuan, saya menyimak presentasi berjudul RSSAC and the DNS Root Server System. Salah satu pemateri yang tercantum dalam slide adalah Jeff Osborn, Chair RSSAC. Materi tersebut menjelaskan fungsi sistem root server, peran resolver, server otoritatif, serta bagaimana informasi dalam Root Zone digunakan untuk membantu pencarian nama domain.

Saya memperhatikan slide demi slide sambil mencoba menghubungkan materi teknis itu dengan pelajaran Informatika yang saya ajarkan kepada murid-murid.

DNS merupakan singkatan dari Domain Name System. Secara sederhana, DNS adalah sistem yang membantu perangkat menemukan informasi yang diperlukan untuk mengakses layanan internet berdasarkan nama domain.

Manusia lebih mudah mengingat nama seperti "google.com", "kompas.com", atau "wijayalabs.com" daripada menghafalkan alamat IP yang digunakan sebuah layanan. DNS membantu menghubungkan nama yang mudah diingat tersebut dengan informasi teknis yang dibutuhkan komputer.

Saya mengibaratkannya seperti buku kontak pada telepon genggam. Ketika ingin menghubungi seseorang, kita cukup mencari namanya. Kita tidak harus menghafalkan semua nomor telepon teman, keluarga, dan rekan kerja.

Tentu saja, DNS jauh lebih kompleks daripada buku kontak biasa. Sistem ini tersebar di berbagai server dan melibatkan banyak pihak yang memiliki tanggung jawab berbeda.

Bagi saya, memahami DNS merupakan langkah penting agar guru dan murid tidak hanya menjadi pengguna internet, tetapi juga memahami bagaimana teknologi yang mereka gunakan setiap hari bekerja.

Mengapa Root Server Sangat Penting?

Salah satu pelajaran menarik dari presentasi tersebut adalah bahwa root server tidak menyimpan seluruh isi internet.

Root server menyediakan informasi rujukan menuju server untuk domain tingkat atas atau Top-Level Domain (TLD), seperti ".com", ".org", dan ".id".

Bayangkan kita ingin mengunjungi sebuah website dengan nama domain yang belum diketahui oleh DNS resolver. Jika informasi yang diperlukan belum tersedia dalam cache, resolver dapat memulai pencarian melalui hierarki DNS.

Resolver dapat menghubungi root server untuk memperoleh rujukan menuju server TLD yang sesuai. Setelah itu, resolver dapat melanjutkan pencarian menuju server yang berwenang atas domain tersebut. Server DNS otoritatif kemudian memberikan jawaban untuk nama yang ditanyakan, jika informasi itu berada dalam kewenangannya.

Jawaban tersebut dikirimkan kembali kepada perangkat pengguna.

Proses ini sering berlangsung sangat cepat. Bahkan, ketika informasi masih tersedia dalam cache, resolver mungkin tidak perlu menghubungi root server sama sekali.

Saya mendapatkan pemahaman baru bahwa root server bukanlah tempat penyimpanan seluruh artikel, video, foto, atau aplikasi yang kita akses. Perannya adalah membantu resolver menemukan arah yang benar dalam hierarki DNS.

Dalam presentasi, dijelaskan pula bahwa sistem root server dirancang untuk memiliki ketahanan. Terdapat 13 identitas root server yang dikenal dengan huruf A sampai M. Setiap identitas dilayani oleh operator terkait dan dapat memiliki banyak instans di berbagai lokasi.

Dengan dukungan teknologi seperti anycast, permintaan DNS dapat dilayani oleh infrastruktur yang tersebar. Hal ini membantu meningkatkan ketahanan layanan ketika terjadi gangguan pada salah satu lokasi atau instans.

Saya belajar bahwa sistem yang tangguh tidak seharusnya bergantung pada satu mesin atau satu lokasi saja.

Root Server Bukan Penjaga Gerbang Internet

Ada satu kesimpulan presentasi yang menarik perhatian saya. Sistem root server bukanlah gatekeeper yang secara langsung menentukan apakah seseorang boleh mengunjungi sebuah website.

Root server tidak memeriksa seluruh isi website untuk menentukan apakah artikel, video, atau gambar di dalamnya boleh dilihat oleh pengguna. Tugasnya berkaitan dengan penyediaan rujukan DNS, bukan pengawasan seluruh konten internet.

Informasi mengenai server TLD dalam Root Zone juga tidak ditentukan sendiri oleh operator root server. Proses pengelolaan informasi tersebut melibatkan pihak-pihak yang mempunyai tanggung jawab berbeda, termasuk fungsi IANA dan Root Zone Maintainer.

Pembagian tanggung jawab ini penting agar perubahan informasi dilakukan melalui mekanisme yang teratur.

Sebagai guru, saya melihat pelajaran yang lebih luas. Sebuah sistem besar membutuhkan pembagian tugas, prosedur yang jelas, dan kerja sama. Tidak semua keputusan harus dibuat oleh satu pihak, dan tidak semua persoalan dapat diselesaikan hanya dengan satu teknologi.

Internet merupakan contoh nyata bagaimana infrastruktur global dapat berjalan melalui koordinasi banyak organisasi dan operator.

Netralitas Internet dan Hak Masyarakat Mengakses Informasi

Dari pembahasan teknis tentang DNS, pikiran saya kemudian tertuju pada persoalan yang lebih luas, yaitu keterbukaan internet dan netralitas internet.

Netralitas internet umumnya merujuk pada prinsip bahwa penyedia layanan internet memperlakukan lalu lintas data secara setara, tanpa diskriminasi yang tidak semestinya berdasarkan sumber, tujuan, konten, layanan, atau aplikasi.

Dalam penerapannya, aturan mengenai netralitas internet dapat berbeda menurut kebijakan dan hukum masing-masing negara. Pengelolaan jaringan yang wajar untuk menjaga keamanan dan kinerja juga perlu dibedakan dari pembatasan yang tidak semestinya.

Bagi saya, internet yang terbuka memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk belajar, menyampaikan pendapat, mengembangkan usaha, dan membagikan pengetahuan.

Seorang guru di Jakarta dapat menulis artikel dan membagikannya kepada pembaca dari berbagai daerah. Seorang murid dapat mempelajari ilmu dari universitas di negara lain. Seorang pelaku usaha kecil dapat memperkenalkan produknya kepada konsumen yang sebelumnya sulit dijangkau.

Semua itu menunjukkan bahwa internet bukan sekadar kumpulan kabel, komputer, dan server. Internet telah menjadi ruang penting bagi pendidikan, ekonomi, komunikasi, dan perkembangan kebudayaan.

Namun, keterbukaan internet harus disertai tanggung jawab. Kita tetap perlu menghormati hukum, menjaga privasi, melindungi anak, dan mencegah penyalahgunaan teknologi.

Internet Multibahasa: Jangan Sampai Bahasa Menjadi Penghalang

Hal lain yang penting bagi masa depan internet adalah dukungan terhadap berbagai bahasa dan sistem tulisan.

Tidak semua orang di dunia menggunakan huruf Latin. Ada masyarakat yang menggunakan aksara Arab, Mandarin, Thailand, Hindi, dan beragam sistem tulisan lainnya.

Karena itu, pengembangan internet perlu memperhatikan kebutuhan pengguna dari berbagai latar belakang bahasa.

Salah satu mekanismenya adalah Internationalized Domain Names (IDN), yang memungkinkan nama domain menggunakan karakter dari berbagai sistem tulisan sesuai standar yang berlaku.

Dalam mekanisme IDN, Punycode digunakan untuk merepresentasikan label domain internasional dalam bentuk ASCII yang kompatibel dengan DNS. Label yang dikodekan menggunakan mekanisme ini biasanya memiliki awalan "xn--".

Selain IDN, ada pula konsep Universal Acceptance (UA). Konsep ini mendorong aplikasi dan layanan digital agar dapat menerima, memproses, menyimpan, menampilkan, serta menggunakan nama domain dan alamat email yang valid, termasuk format internasional.

Mengapa hal ini penting?

Bayangkan seseorang memiliki alamat email yang sah, tetapi formulir pendaftaran sebuah layanan menolaknya hanya karena aplikasi tersebut tidak dirancang untuk menerima format alamat tersebut. Akibatnya, pengguna kehilangan kesempatan mengakses layanan bukan karena alamatnya tidak valid, melainkan karena aplikasi belum mendukung keberagaman format.

Sebagai guru Informatika, saya ingin murid-murid memahami bahwa teknologi yang baik bukan hanya teknologi yang canggih. Teknologi juga harus dapat digunakan oleh sebanyak mungkin orang secara aman dan benar.

Internet yang mendukung berbagai bahasa membantu membuka kesempatan belajar dan berkomunikasi bagi masyarakat yang lebih luas.

Waspada Website Palsu: Jangan Mudah Tertipu oleh Tampilan

Di balik berbagai kemudahan internet, ada risiko yang harus kita pahami. Salah satunya adalah website palsu yang dibuat untuk menipu pengguna dan mengambil data pribadi.

Saya merasa materi ini penting untuk dibagikan kepada pembaca Kompasiana, terutama para guru, orang tua, dan murid yang setiap hari menggunakan internet.

Website palsu dapat dibuat menyerupai situs bank, marketplace, layanan pemerintah, sekolah, atau media sosial. Pelaku berusaha membuat halaman tersebut tampak meyakinkan agar pengunjung tidak menyadari bahwa mereka sedang berhadapan dengan situs yang berbahaya.

Salah satu metode yang umum digunakan adalah phishing. Pelaku mengirimkan tautan melalui email, SMS, aplikasi percakapan, atau media sosial. Pesannya bisa berupa pemberitahuan hadiah, permintaan verifikasi akun, atau ancaman bahwa akun akan diblokir.

Ketika korban membuka tautan tersebut, ia mungkin diminta memasukkan nama pengguna, kata sandi, kode OTP, atau informasi keuangan.

Jika informasi itu diserahkan kepada pelaku, data tersebut dapat disalahgunakan untuk mencoba mengambil alih akun atau melakukan penipuan berikutnya.

Yang perlu kita pahami, website palsu pun dapat memiliki nama domain dan alamat IP yang berfungsi secara teknis. DNS tidak otomatis mengetahui bahwa pemilik sebuah website berniat menipu pengunjung.

Itulah sebabnya kita tidak boleh menganggap sebuah website aman hanya karena berhasil dibuka.

Apakah Website dengan HTTPS Pasti Aman?

Banyak orang merasa tenang ketika melihat ikon gembok dan tulisan HTTPS pada alamat website. Padahal, HTTPS bukan jaminan bahwa pemilik website dapat dipercaya.

HTTPS membantu mengenkripsi komunikasi antara perangkat pengguna dan website serta melindungi koneksi sesuai mekanisme keamanan yang digunakan. Namun, website palsu juga dapat menggunakan HTTPS.

Karena itu, kita perlu memeriksa nama domain secara teliti. Jangan hanya melihat logo, warna, atau tampilan halaman yang menyerupai situs resmi.

Jika menerima pesan tentang hadiah, pemblokiran akun, atau permintaan verifikasi yang mendesak, jangan terburu-buru mengeklik tautannya. Bukalah aplikasi atau website resmi melalui alamat yang sudah diketahui.

Jangan pernah memberikan kata sandi, kode OTP, atau kode pemulihan akun kepada pihak yang tidak terverifikasi.

Kita juga perlu menggunakan kata sandi yang unik untuk setiap akun, mengaktifkan autentikasi multifaktor jika tersedia, dan memperbarui sistem operasi serta aplikasi secara berkala.

Apabila terlanjur memasukkan informasi rahasia pada website yang mencurigakan, segera ganti kata sandi melalui layanan resmi, amankan email utama, keluarkan sesi login yang tidak dikenal, dan hubungi penyedia layanan atau bank jika informasi keuangan terlibat.

Bagi saya, literasi digital bukan hanya kemampuan mengoperasikan komputer. Literasi digital berarti mampu berpikir kritis, memeriksa informasi, mengenali risiko, dan menjaga diri ketika menggunakan teknologi.

Mengajarkan Keamanan Digital kepada Murid

Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya ingin membawa pelajaran dari ICANN87 Bali ke ruang kelas.

Saya dapat mengajak murid melakukan simulasi sederhana tentang cara mengenali website palsu. Guru menyiapkan contoh halaman fiktif yang aman, kemudian murid diminta mengamati nama domain, isi pesan, permintaan informasi, dan tanda-tanda yang patut dicurigai.

Murid dapat berdiskusi tentang mengapa nama domain perlu diperiksa, apakah HTTPS menjamin kejujuran pemilik website, dan apa yang harus dilakukan ketika menerima tautan mencurigakan.

Kegiatan tersebut tidak perlu meminta murid memasukkan kata sandi sungguhan atau memberikan data pribadi. Tujuannya adalah melatih kewaspadaan, bukan mengambil risiko yang tidak diperlukan.

Saya juga ingin mengajarkan penggunaan perintah sederhana seperti "nslookup" untuk mengenalkan cara memperoleh informasi DNS sebuah domain. Dengan demikian, murid dapat menghubungkan konsep yang dipelajari dengan praktik nyata secara aman.

Mereka belajar bahwa internet memiliki mekanisme teknis yang dapat diamati, tetapi keamanan tetap membutuhkan pengetahuan, kebiasaan baik, dan tanggung jawab manusia.

Saya berharap murid-murid tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga tumbuh sebagai warga digital yang cerdas dan beretika.

Membawa Pulang Ilmu dari Bali

Mengikuti ICANN87 di Bali memberikan pengalaman berharga bagi saya. Saya tidak hanya memperoleh wawasan tentang DNS Root Server System, tetapi juga mendapatkan bahan refleksi mengenai keterbukaan internet, keberagaman bahasa, tata kelola, dan keamanan digital.

Saya semakin memahami bahwa internet bekerja melalui banyak komponen yang saling terhubung. DNS membantu menemukan layanan, root server memberikan rujukan dalam hierarki DNS, dan berbagai pihak bekerja bersama untuk menjaga infrastruktur tersebut tetap berfungsi.

Namun, teknologi saja tidak cukup. Pengguna juga harus memahami risiko, melindungi informasi pribadi, dan menggunakan internet secara bertanggung jawab.

Saya bersyukur dapat belajar dari forum internasional ini. Pengetahuan yang saya peroleh akan lebih bermakna jika dibagikan kembali kepada murid, guru, dan masyarakat luas.

Sebagai Omjay, guru blogger Indonesia, saya percaya bahwa menulis merupakan salah satu cara untuk mengabadikan pengalaman sekaligus membagikan ilmu. Saya ingin pengalaman belajar di Bali ini tidak berhenti sebagai kenangan pribadi, tetapi menjadi bahan pembelajaran yang bermanfaat bagi pembaca.

Perjalanan ini mengingatkan saya bahwa guru harus terus belajar. Dunia berubah, teknologi berkembang, dan tantangan pendidikan semakin beragam. Jika guru berhenti belajar, pengetahuan yang dibagikan kepada murid bisa tertinggal oleh perkembangan zaman.

Karena itu, mari terus membuka pikiran, memperluas wawasan, dan berbagi pengalaman.

Internet menghubungkan dunia, pengetahuan membuka pikiran, dan tulisan membantu ilmu menjangkau lebih banyak orang.

Salam Blogger Persahabatan.

Salam literasi dari Omjay, guru blogger Indonesia.

Sabtu, 17 Oktober 2026

Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan ke17 bersama Omjay

### MATERI KBMN PGRI GELOMBANG 35 — PERTEMUAN KE-17

![Ribuan Sekolah di Indonesia Belum Punya Akses Internet dan Jaringan Listrik](https://images.openai.com/static-rsc-4/55wUK-fNudVVHmxrb0LToBVIUApt48dKAzdaOId6u5U4nbjgpXBC62tNLmwPtUEXP36itAPoMimAGzewudigfxQGHskc5B8vWa-S8me80CEc7wTNX-rOAtmhoX4SZuZX6LF313LZghEy2zbrF6ZdS5VDRzynsc3ZrKvRrMmsFlyDTOO--xpGHnsK2yVMeQSu?purpose=fullsize)

![Coding dan AI Jadi Mata Pelajaran Wajib di Sekolah? Ini Faktanya!](https://images.openai.com/static-rsc-4/XhTlyQfjoEgC-09BfrxPgoWgvfbxFGz66-k0qLBn9bfiNUXD4wBXK_dYp0tEC3XAGr6ARvp1QVx1VqiGyULqiIxYIFJS4_ylMieeGhK_dDLgvNq_o3fu8rxcW59MK4RhEU4DNBARl5kRh4JKo0RyrL2UziMPUKe_0RgilW43QXxyrQCo4c90Jkqu40xAx4vX?purpose=fullsize)

![Beragam Inovasi Sekolah di Bawah Yayasan Pendidikan Telkom Bandung](https://images.openai.com/static-rsc-4/EBBXsl_g99sKPD_AvLSjcVb5hjwJDwjE7dW3bVMKPMam5eqoAdXsZbuRerLT7UApVmK5-dnla5ewU5VRIkCsB8OZ-lBXW465sL2Xa5LRaZ7fvz_2qSmgm6YDtfg1y1oVSjMmag1kAZHIUgbGI0oHoibYKasMeqHXsy3Yd_Pyo7TZOe2_sTLor2pvZvyNoIRK?purpose=fullsize)

### TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN

### Menjadi Guru yang Adaptif, Kreatif, dan Produktif di Era Digital

Narasumber: Omjay — Guru Blogger Indonesia

KBMN PGRI Gelombang 35 | Sabtu, 17 Oktober 2026 | Pertemuan ke-17

### A. Pembukaan: Guru Harus Terus Belajar

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Salam bahagia dan salam literasi!

Apa kabar Bapak dan Ibu guru hebat peserta KBMN PGRI Gelombang 35? Semoga selalu sehat, bahagia, dan tetap semangat belajar menulis setiap hari.

Malam ini kita kembali belajar bersama dalam pertemuan ke-17. Tema kita sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu Teknologi dan Pendidikan.

Bapak dan Ibu yang saya banggakan, dunia pendidikan terus berubah. Dahulu, guru mengandalkan papan tulis, kapur, buku pelajaran, dan perpustakaan. Sekarang, kita mengenal laptop, telepon pintar, internet, blog, video pembelajaran, kelas virtual, dan kecerdasan artifisial atau AI.

Namun, ada satu hal yang tidak boleh berubah, yaitu hati seorang guru dalam mendidik murid-muridnya.

Teknologi boleh semakin canggih, tetapi pendidikan tetap membutuhkan keteladanan, empati, kesabaran, dan kasih sayang.

Saya, Omjay, sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta sekaligus Guru Blogger Indonesia, merasakan bahwa teknologi memberikan banyak kesempatan bagi guru untuk belajar, berkarya, dan berbagi pengalaman.

Saya mulai menulis blog sejak tahun 2007. Dari kebiasaan sederhana menulis, saya belajar bahwa pengalaman seorang guru tidak seharusnya berhenti di ruang kelas. Pengalaman itu bisa dibagikan kepada guru lain melalui tulisan di internet.

Itulah salah satu kekuatan teknologi dalam pendidikan.

### B. Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti pertemuan ini, peserta diharapkan mampu:

* Memahami peran teknologi dalam kegiatan pendidikan.

* Mengenali manfaat teknologi untuk meningkatkan kompetensi guru.

* Menggunakan teknologi secara bijak, aman, dan bertanggung jawab.

* Memanfaatkan blog sebagai media dokumentasi dan berbagi pengalaman mengajar.

* Menghasilkan satu tulisan sederhana tentang teknologi dan pendidikan.

### C. Materi Inti

### 1\. Apa Itu Teknologi Pendidikan?

Teknologi pendidikan adalah pemanfaatan teknologi dan berbagai proses yang mendukung pembelajaran agar lebih efektif, menarik, mudah diakses, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

Teknologi pendidikan bukan hanya komputer atau internet. Buku digital, video pembelajaran, radio pendidikan, aplikasi belajar, hingga media sederhana yang dibuat guru juga dapat mendukung proses pembelajaran.

Contohnya, guru yang mengajarkan materi tentang lingkungan dapat menggunakan foto, video, atau presentasi untuk membantu murid memahami kondisi lingkungan secara lebih nyata.

Teknologi bukan tujuan akhir. Teknologi adalah alat untuk membantu manusia belajar dengan lebih baik.

### 2\. Lima Manfaat Teknologi bagi Guru

![Developer e-learning Jepang dan startup lokal kembangkan kelas digital - ANTARA News](https://images.openai.com/static-rsc-4/-iIvPKfENDrLzNBoWMs8Bbe18FyhQq-tqa5ikxLSc8FeTzxMhZiYKfvqnjU-MAyxjnED6tkY0Kx_Ey3oeRy6fgreJrHK1k3trJia5NefyAEIDntu0Xe72SE12fnuMCytNNxJVK22M2ChEsbXxTWlI7udjw64PI54EBdWW-2eF1r-L3VUBxmCDXXvmHL0N35A?purpose=fullsize)

Pertama, mempermudah persiapan pembelajaran.

Guru dapat menggunakan sumber digital untuk mencari referensi, menyusun materi, membuat soal, dan merancang aktivitas belajar.

![Course: 14: Teacher Professional Development](https://images.openai.com/static-rsc-4/OyYn7yJ9Er-MqgPgqT7juEgvqUo844OVC62UUedPv2kJ8f3pQrXyZ-8YDjkWkBLBUfWRsEiZ6PYgM2gUuAvq3lAQg1QjaYP8onAasVsCkjb1i5iBH1LQSB7GljIpOToe3OE-lVY7_BjnziOtwbDfoz4hI4ZHwaIVjy3PpPWnGMW-D_J7xpVg1icNTvFNZThy?purpose=fullsize)

Kedua, memperluas kesempatan belajar.

Guru dapat mengikuti webinar, pelatihan daring, komunitas belajar, dan berbagi ilmu tanpa harus selalu bepergian.

![Teachmate embeds AI training into teacher education | ETIH EdTech News — EdTech Innovation Hub](https://images.openai.com/static-rsc-4/VJbFDK9xVvHaP70a0lkuxN6zbWyOhWlofFRAvFx7aUNd1B0YSOFncIbjHUlQ4jhw8ggT1Y128PrqQDsM2mwUzzqxhMJq6pxencRwZjFKF_6iT0CjmG3GGWcxGyqeRCqKYwFSIgQ1rDUJdxGQhQJNhA3EdkH4L-js_fukrVWDeej2THO7HGgG21ng6F6NnsNj?purpose=fullsize)

Ketiga, mendokumentasikan pengalaman.

Blog membantu guru menyimpan cerita pembelajaran, praktik baik, refleksi, dan gagasan yang bisa dibaca kembali.

![Technology in Education: Unlocking 21st-Century Engagement](https://images.openai.com/static-rsc-4/gC1vX70b_lalK1tqnBqHAwIweXLLSKr6Rizrr_voJchORhWZi0SGXOq_1pXzK_xUYRIAGcn3H28XyXszE4asijzhh8Ke1es0I8xisFsY8I9qctZv3FzBwKCLk6VoPQezMFSgFd-DYc2I0FQJZ34Xjdy4qeUMgyZ_VdUpuDqFQO1ilhG6gWWSU9YUuwiD5YvW?purpose=fullsize)

Keempat, membuat pembelajaran lebih menarik.

Kuis interaktif, video, simulasi, dan presentasi dapat membantu murid memahami konsep yang sulit.

![Professional Learning Communities: Collaboration for Student Success
 – Happy Teacher Professional Development](https://images.openai.com/static-rsc-4/BUwtFU2QOr6gWe4rbAMeDw1RvTugLLFej32PzxYa3-fLgE9t9bPxqRdRp4NAoN2SY7zcfbmvFdo3OUAspJ19dcPQYnd349yyRMoOonQdNE5eG8Oz1ybZzDW5rWIHXaB2dg6WezB2oN0TwweXZ6fBoOW3LxZOBnKVMMNHgdqmNi468Mpf5BRaK5Fwk6R7dppU?purpose=fullsize)

Kelima, membangun kolaborasi.

Guru dari sekolah dan daerah yang berbeda dapat saling belajar, memberikan masukan, dan mengembangkan karya bersama.

### 3\. Blog: Rumah Digital Seorang Guru

Bapak dan Ibu guru hebat, pernahkah kita membayangkan bahwa pengalaman mengajar selama bertahun-tahun bisa menjadi sumber inspirasi bagi banyak orang?

Misalnya, seorang guru SD berhasil mengajarkan membaca kepada murid yang awalnya mengalami kesulitan. Guru tersebut dapat menuliskan prosesnya dalam sebuah artikel.

Guru SMP dapat berbagi pengalaman menggunakan metode pembelajaran yang menyenangkan. Guru SMA dapat menulis tentang cara membimbing murid menghadapi tantangan belajar.

Tulisan itu kemudian dipublikasikan melalui blog pribadi.

Blog bukan sekadar tempat memajang tulisan. Blog dapat menjadi:

* Buku harian profesional, tempat guru mencatat perjalanan mengajarnya.

* Perpustakaan pribadi, tempat menyimpan materi dan sumber belajar.

* Ruang berbagi, tempat guru menginspirasi pembaca.

* Portofolio digital, yang menunjukkan perkembangan kompetensi dan karya seorang guru.

Saya, Omjay, merasakan bahwa kebiasaan menulis blog membuka kesempatan untuk berbagi pengalaman dengan pembaca yang lebih luas.

Karena itu, saya mengajak Bapak dan Ibu untuk tidak menunggu menjadi penulis hebat terlebih dahulu. Mulailah menulis dari pengalaman sederhana yang benar-benar kita alami.

### 4\. Kecerdasan Artifisial (AI) dalam Pendidikan

Saat ini, guru juga dapat memanfaatkan AI untuk membantu pekerjaan sehari-hari.

Contohnya:

* Mencari ide untuk artikel pendidikan.

* Menyusun kerangka tulisan.

* Membuat variasi pertanyaan untuk diskusi.

* Menyederhanakan penjelasan materi yang sulit.

* Memeriksa ejaan dan memperbaiki struktur tulisan.

Namun, ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan.

Pertama, periksa kembali informasi yang dihasilkan AI karena jawabannya bisa keliru.

Kedua, jangan memasukkan data pribadi murid atau informasi rahasia ke layanan AI tanpa dasar dan perlindungan yang memadai.

Ketiga, jangan menyalin hasil AI begitu saja. Tambahkan pengalaman, pemikiran, dan refleksi pribadi.

Keempat, hormati hak cipta dan sampaikan penggunaan AI secara transparan apabila relevan.

Pegangan kita adalah:

Gunakan AI untuk membantu berpikir dan berkarya, bukan untuk menggantikan pikiran, pengalaman, dan tanggung jawab kita sebagai guru.

### 5\. Tantangan Pendidikan di Era Digital

Teknologi memang membawa banyak manfaat, tetapi juga menghadirkan tantangan.

| Tantangan                  | Sikap yang perlu dikembangkan             |
| -------------------------- | ----------------------------------------- |
| Informasi palsu            | Membiasakan verifikasi sumber             |
| Kecanduan gawai            | Mengatur waktu penggunaan perangkat       |
| Kesenjangan akses internet | Menyiapkan alternatif pembelajaran luring |
| Plagiarisme                | Menghargai karya dan mencantumkan sumber  |
| Ketergantungan pada AI     | Melatih pemikiran kritis dan kreativitas  |
| Privasi digital            | Menjaga data pribadi guru dan murid       |

Guru yang hebat bukanlah guru yang menggunakan teknologi paling mahal. Guru yang hebat adalah guru yang mampu memilih teknologi sesuai kebutuhan muridnya.

Jika internet tidak tersedia, pembelajaran tetap bisa berjalan melalui buku, diskusi, permainan edukatif, dan kegiatan langsung. Kreativitas guru tidak boleh berhenti hanya karena keterbatasan fasilitas.

### D. Kisah Inspiratif: Dari Pengalaman Menjadi Tulisan

Bayangkan seorang guru bernama Bu Rina.

Setiap hari, Bu Rina menghadapi murid-murid yang memiliki karakter berbeda. Suatu hari, ia menemukan cara sederhana untuk membuat murid lebih berani bertanya, yaitu memberikan kesempatan kepada mereka untuk menuliskan pertanyaan di secarik kertas.

Awalnya, Bu Rina menganggap cara itu biasa saja. Namun, setelah diterapkan, semakin banyak murid yang berani menyampaikan kesulitan mereka.

Bu Rina kemudian menulis pengalaman tersebut di blog pribadinya dengan judul Cara Sederhana Membuat Murid Berani Bertanya.

Tulisan itu dibaca guru lain. Seorang guru di sekolah berbeda mencoba cara serupa dan merasakan manfaatnya.

Dari kisah ini, kita belajar bahwa sesuatu yang sederhana di ruang kelas dapat menjadi inspirasi ketika dibagikan melalui teknologi.

Bapak dan Ibu, kita tidak harus menunggu memiliki pengalaman luar biasa untuk menulis. Pengalaman sehari-hari pun dapat menjadi tulisan yang bermakna.

### E. Rumus Mudah Menulis Artikel Teknologi dan Pendidikan

Gunakan rumus 5P: Pengalaman, Permasalahan, Praktik, Pelajaran, dan Penutup.

### 1

Pengalaman

Ceritakan pengalaman nyata saat menggunakan teknologi atau mengajar.

### 2

Permasalahan

Apa kesulitan atau tantangan yang dihadapi?

### 3

Praktik

Apa yang dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut?

### 4

Pelajaran

Apa yang dipelajari dari pengalaman tersebut?

### 5

Penutup

Tuliskan harapan atau pesan untuk pembaca.

Dengan rumus ini, peserta tidak perlu bingung memulai tulisan. Cukup ceritakan apa yang dialami, apa yang dilakukan, dan apa yang bisa dipelajari orang lain.

### F. Contoh Artikel Singkat

### Teknologi Membantu Saya Menjadi Guru yang Lebih Kreatif

Setiap guru memiliki pengalaman yang berbeda dalam mengajar. Saya pun merasakan bahwa teknologi memberikan banyak kesempatan untuk membuat pembelajaran menjadi lebih menarik.

Dahulu, saya lebih sering mengandalkan buku dan penjelasan di depan kelas. Sekarang, saya mulai memanfaatkan video pembelajaran, presentasi digital, dan berbagai sumber belajar di internet.

Tentu saja, menggunakan teknologi tidak selalu mudah. Ada kalanya koneksi internet bermasalah atau murid mengalami kesulitan menggunakan aplikasi. Dari situ, saya belajar bahwa guru harus selalu menyiapkan alternatif pembelajaran.

Saya juga menyadari bahwa teknologi tidak dapat menggantikan peran guru. Perhatian, keteladanan, dan kepedulian terhadap murid tetap menjadi bagian penting dari pendidikan.

Melalui pengalaman ini, saya semakin yakin bahwa guru harus terus belajar. Teknologi akan memberikan manfaat besar apabila digunakan secara bijak dan sesuai kebutuhan.

Saya ingin terus belajar dan berbagi pengalaman melalui tulisan. Semoga tulisan sederhana ini dapat menginspirasi guru lain untuk memanfaatkan teknologi dalam pendidikan.

Catatan: Contoh ini merupakan model penulisan. Peserta diharapkan menggantinya dengan pengalaman pribadi agar tulisannya lebih autentik.

### G. Tugas Pertemuan ke-17: Mudah, Meriah, dan Membahagiakan

### Tantangan Menulis 15–30 Menit

Tema tugas: “Teknologi yang Membantu Saya Menjadi Guru yang Lebih Baik”

Tugas ini dirancang sederhana. Peserta tidak perlu membuat tulisan ilmiah atau menguasai aplikasi yang rumit.

Petunjuk pengerjaan:

* Pilih satu teknologi yang pernah digunakan, misalnya WhatsApp, YouTube, Google Forms, blog, laptop, atau AI.

* Ceritakan pengalaman menggunakannya dalam kegiatan belajar atau pekerjaan sehari-hari.

* Tuliskan manfaat dan satu tantangan yang pernah dihadapi.

* Akhiri dengan pelajaran atau harapan.

* Publikasikan di blog pribadi. Jika belum memiliki blog, tulis di dokumen atau media yang tersedia, lalu bagikan di grup KBMN sesuai arahan pengurus.

Ketentuan tugas:

* Panjang tulisan: 200–300 kata.

* Judul bebas, tetapi sesuai tema.

* Gunakan bahasa sendiri.

* Boleh menyertakan satu foto milik sendiri jika tersedia dan aman untuk dibagikan.

* Tidak perlu sempurna. Yang penting selesai dan berani berbagi.

    Contoh pilihan judul:

* Belajar Menulis dengan Bantuan Teknologi

* Pengalaman Pertama Saya Menggunakan AI

* WhatsApp, Sahabat Komunikasi Guru dan Murid

* Mengapa Saya Ingin Memiliki Blog Pendidikan?

* Teknologi Sederhana, Manfaat Luar Biasa

* Dari Papan Tulis ke Dunia Digital

     Salin tugas untuk grup KBMN

### Rubrik penilaian sederhana

| Aspek                           | Nilai |
| ------------------------------- | ----- |
| Kesesuaian dengan tema          | 25    |
| Pengalaman atau gagasan pribadi | 30    |
| Kejelasan dan keterbacaan       | 25    |
| Ketuntasan tugas                | 20    |
| Total                           | 100   |

Penilaian sebaiknya menjadi sarana penyemangat, bukan membuat peserta takut menulis. Berikan apresiasi atas usaha, keberanian memulai, dan kemauan memperbaiki karya.

### H. Pesan Omjay untuk Peserta KBMN PGRI Gelombang 35

Bapak dan Ibu guru hebat,

Kita hidup pada zaman ketika informasi mudah ditemukan, tetapi pengalaman berharga tetap membutuhkan manusia yang mau mengolahnya menjadi pengetahuan.

Jangan sampai kita hanya menjadi pengguna teknologi. Jadilah pencipta karya yang bermanfaat melalui teknologi.

Jangan hanya membaca tulisan orang lain. Cobalah menulis pengalaman sendiri.

Jangan menunggu memiliki laptop terbaru atau koneksi internet yang sempurna. Gunakan fasilitas yang ada. Jika hanya memiliki telepon pintar, kita tetap dapat menulis. Jika belum bisa membuat blog, kita dapat memulai dari catatan sederhana.

Saya, Omjay, ingin mengajak seluruh peserta KBMN PGRI Gelombang 35 untuk menjadikan kegiatan menulis sebagai kebiasaan yang menyenangkan.

Menulis bukan perlombaan untuk menunjukkan siapa yang paling hebat. Menulis adalah perjalanan untuk mengenali diri sendiri, membagikan pengalaman, dan memberikan manfaat kepada orang lain.

Teknologi dapat membantu tulisan kita menjangkau lebih banyak pembaca. Namun, ketulusan, kejujuran, dan pengalaman nyata tetap menjadi kekuatan utama sebuah tulisan.

Ingatlah tiga pesan Omjay:

* Menulislah dari pengalaman.

* Gunakan teknologi dengan bijaksana.

* Bagikan ilmu agar semakin banyak orang merasakan manfaatnya.

### I. Penutup dan Refleksi

Sebelum mengakhiri pertemuan ke-17, mari kita renungkan tiga pertanyaan berikut.

* Teknologi apa yang paling membantu kegiatan mengajar atau belajar kita?

* Apa tantangan terbesar saat menggunakan teknologi?

* Pengalaman apa yang ingin kita bagikan melalui tulisan?

Bapak dan Ibu dapat menjawab pertanyaan tersebut dalam beberapa kalimat di grup KBMN PGRI Gelombang 35. Jawaban sederhana pun sangat berharga.

Semoga pertemuan malam ini membuat kita semakin bersemangat belajar, menulis, dan berbagi.

Terima kasih telah belajar bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia.

Mari kita buktikan bahwa guru yang hebat bukan hanya guru yang mengajar di depan kelas, tetapi juga guru yang terus belajar dan meninggalkan jejak kebaikan melalui tulisan.

Salam blogger, salam literasi, dan salam bahagia!

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

### Kalimat penyemangat malam ini

### "Teknologi membuat kita terhubung, pendidikan membuat kita bertumbuh, dan tulisan membuat pengalaman kita terus hidup."

— Semangat belajar dan menulis bersama Omjay, Guru Blogger Indonesia