Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Kamis, 11 Juni 2026
omjay jadi pedagang buku dadakan
Prestasi, Harapan, dan Sebuah Proses yang Masih Berjalan
Cara Mudah Jualan Buku ebook
Cara Mudah Menjual Buku Ebook Secara Online: Pengalaman Omjay Menerbitkan dan Menjual Buku di Google Play
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
“Kalau buku cetak membutuhkan biaya cetak, gudang, dan ongkos kirim, maka ebook hanya membutuhkan satu hal: kemauan untuk mulai.”
Kalimat itu sering saya sampaikan kepada para guru ketika berbagi tentang literasi digital. Sebab, saya sendiri sudah merasakan bagaimana sebuah tulisan sederhana yang awalnya hanya tersimpan di blog akhirnya berubah menjadi buku digital yang dapat dibaca orang dari berbagai daerah bahkan berbagai negara.
Dulu saya berpikir menerbitkan buku adalah pekerjaan yang rumit. Harus mencari penerbit besar, menunggu berbulan-bulan, mengurus distribusi, dan menghadapi banyak tantangan lainnya. Namun, perkembangan teknologi telah mengubah semuanya. Kini, seorang guru, dosen, mahasiswa, bahkan pelajar dapat menerbitkan dan menjual ebook secara mandiri melalui platform digital seperti Google Play Books.
Saya ingin berbagi pengalaman pribadi sebagai seorang guru yang hobi menulis setiap hari. Pengalaman ini semoga bisa menjadi inspirasi bagi siapa saja yang ingin mendapatkan penghasilan tambahan dari karya tulisnya.
Awalnya Hanya Menulis di Blog
Perjalanan saya menjual ebook dimulai dari kebiasaan sederhana, yaitu menulis setiap hari di blog.
Setiap pagi saya menulis pengalaman mengajar, refleksi pendidikan, kisah inspiratif, hingga catatan perjalanan hidup. Awalnya tidak ada tujuan untuk menghasilkan uang. Saya hanya ingin berbagi ilmu dan pengalaman.
Namun, seiring waktu, tulisan-tulisan itu semakin banyak. Ratusan artikel tersimpan rapi di blog pribadi.
Suatu hari seorang teman berkata,
"Omjay, tulisan sebanyak ini sayang kalau hanya menjadi artikel. Mengapa tidak dijadikan buku?"
Kalimat sederhana itu membuat saya berpikir.
Benar juga.
Mengapa tidak mengubah tulisan yang sudah ada menjadi sebuah ebook?
Akhirnya saya mulai mengumpulkan tulisan-tulisan terbaik, menyusunnya berdasarkan tema, lalu mengeditnya menjadi naskah buku digital.
Ternyata prosesnya tidak sesulit yang saya bayangkan.
Langkah Pertama: Tentukan Tema Buku
Kesalahan banyak penulis pemula adalah ingin menulis semuanya sekaligus.
Padahal pembaca lebih menyukai buku yang fokus pada satu tema.
Misalnya:
- Pengalaman mengajar
- Motivasi belajar
- Literasi digital
- Kisah inspiratif
- Public speaking
- Teknologi pendidikan
- Kecerdasan buatan (AI)
- Pengembangan diri
Ketika saya menulis buku, saya memilih tema yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sebagai guru.
Karena pengalaman nyata selalu lebih mudah ditulis dibandingkan teori yang hanya dibaca dari buku.
Pembaca juga lebih menyukai kisah nyata daripada cerita yang dibuat-buat.
Langkah Kedua: Susun Naskah dengan Rapi
Setelah tema ditentukan, mulailah menyusun naskah.
Saya biasanya melakukan langkah berikut:
- Mengumpulkan artikel yang relevan.
- Mengelompokkan berdasarkan bab.
- Menambahkan pengantar dan penutup.
- Memperbaiki tata bahasa.
- Menambahkan ilustrasi atau foto pendukung.
Jangan terlalu mengejar kesempurnaan.
Lebih baik buku selesai daripada sempurna tetapi tidak pernah terbit.
Saya sering mengatakan kepada peserta pelatihan menulis:
"Buku yang selesai lebih berharga daripada naskah sempurna yang hanya tersimpan di laptop."
Langkah Ketiga: Buat Cover yang Menarik
Orang sering mengatakan jangan menilai buku dari sampulnya.
Namun kenyataannya, pembaca pertama kali melihat cover.
Karena itu buatlah cover yang menarik.
Saat ini membuat cover jauh lebih mudah.
Kita bisa menggunakan:
- Canva
- AI Image Generator
- PowerPoint
- Photoshop
Saya sering membuat konsep cover sendiri, lalu meminta bantuan desainer untuk menyempurnakannya.
Cover yang baik harus:
- Judul jelas
- Nama penulis terbaca
- Warna menarik
- Tidak terlalu ramai
Ingat, cover adalah etalase buku Anda.
Langkah Keempat: Ubah Menjadi Format Ebook
Platform ebook biasanya menggunakan format:
- EPUB
Google Play Books lebih menyukai format EPUB karena tampilannya lebih fleksibel di berbagai perangkat.
Saat pertama kali menerbitkan ebook, saya belajar banyak dari tutorial di internet.
Ternyata mengubah dokumen Word menjadi EPUB tidak sesulit yang dibayangkan.
Banyak aplikasi gratis yang dapat membantu proses ini.
Yang penting isi buku sudah rapi dan siap diterbitkan.
Langkah Kelima: Terbitkan di Google Play Books
Inilah bagian yang paling menarik.
Google Play Books memberikan kesempatan kepada penulis independen untuk menjual bukunya secara langsung.
Keuntungannya antara lain:
- Jangkauan global
- Tidak perlu mencetak buku
- Tidak perlu gudang penyimpanan
- Pembayaran otomatis
- Bisa dijual 24 jam sehari
Saat pertama kali melihat buku saya tampil di Google Play, rasanya seperti mimpi.
Saya teringat masa-masa ketika harus membawa buku cetak ke berbagai acara hanya untuk menawarkan kepada pembaca.
Kini buku itu dapat ditemukan hanya dengan mengetik judulnya di internet.
Teknologi benar-benar mengubah cara penulis berkarya.
Langkah Keenam: Promosikan Melalui Media Sosial
Kesalahan terbesar setelah buku terbit adalah berhenti bekerja.
Padahal pekerjaan sebenarnya baru dimulai.
Buku yang tidak dipromosikan akan sulit ditemukan pembaca.
Saya memanfaatkan berbagai media:
- Blog pribadi
- Telegram
- Kompasiana
- YouTube
- Webinar
- Komunitas guru
Setiap kali mengisi pelatihan, saya selalu menyisipkan informasi tentang buku yang saya tulis.
Bukan untuk pamer.
Tetapi agar buku tersebut menemukan pembacanya.
Karena buku yang bermanfaat layak untuk diketahui lebih banyak orang.
Langkah Ketujuh: Bangun Personal Branding
Saya bersyukur dikenal sebagai Omjay, Guru Blogger Indonesia.
Personal branding membantu pembaca mengenali karya kita.
Jika Anda seorang guru matematika, bangun reputasi sebagai penulis matematika.
Jika Anda guru bahasa, bangun reputasi sebagai penulis literasi.
Jika Anda dosen teknologi, bangun reputasi sebagai penulis teknologi.
Orang membeli buku bukan hanya karena judulnya.
Mereka membeli karena percaya kepada penulisnya.
Kepercayaan itu dibangun melalui konsistensi.
Jangan Takut Buku Tidak Laku
Pertanyaan yang paling sering saya terima adalah:
"Omjay, bagaimana kalau bukunya tidak laku?"
Saya selalu menjawab:
"Yang tidak laku itu buku yang tidak pernah diterbitkan."
Banyak orang gagal sebelum mencoba.
Padahal setiap buku memiliki pembacanya sendiri.
Mungkin bukan ribuan.
Mungkin bukan jutaan.
Tetapi selalu ada orang yang membutuhkan ilmu yang kita tuliskan.
Saya sendiri tidak pernah menjadikan uang sebagai tujuan utama menulis.
Bagi saya, uang adalah bonus.
Tujuan utama saya adalah berbagi pengalaman dan meninggalkan jejak kebaikan.
Alhamdulillah, ketika niat itu dijaga, rezeki datang dengan caranya sendiri.
Menulis Adalah Investasi Abadi
Hari ini kita hidup di era kecerdasan buatan (AI).
Semua orang dapat membuat tulisan dengan bantuan teknologi.
Namun satu hal yang tidak bisa digantikan AI adalah pengalaman hidup manusia.
Kisah perjuangan seorang guru.
Cerita jatuh bangun seorang penulis.
Pengalaman menghadapi murid.
Kenangan bersama keluarga.
Semua itu adalah kekayaan yang tidak dimiliki mesin.
Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk mulai menulis dan menerbitkan ebook.
Jangan menunggu sempurna.
Jangan menunggu terkenal.
Jangan menunggu pensiun.
Mulailah sekarang.
Tulislah pengalaman terbaik Anda.
Susun menjadi buku.
Terbitkan secara digital.
Jual melalui Google Play Books dan berbagai platform lainnya.
Siapa tahu, tulisan yang Anda buat hari ini akan menjadi sumber inspirasi bagi ribuan orang di masa depan.
Sebab saya telah membuktikannya sendiri.
Dari seorang guru biasa yang menulis di blog setiap hari, kini karya-karya saya dapat dibaca oleh banyak orang melalui buku digital.
Dan saya semakin yakin bahwa guru yang menulis tidak akan pernah habis oleh zaman.
Karena ketika suara kita berhenti terdengar, tulisan kitalah yang akan terus berbicara. 📚✨
Peran PGRI Mendengar Jeritan Guru
Ketika Guru Menjerit karena Rombel Gemuk dan Jam Mengajar yang Kian Sulit
Kisah Omjay Mendengar Suara Hati Guru Indonesia
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Pagi itu, seperti biasa, grup WhatsApp para guru ramai dengan berbagai diskusi. Ada yang membahas pembelajaran, ada yang berbagi informasi terbaru dari pemerintah, dan ada pula yang menyampaikan keluhan yang mewakili suara hati ribuan guru di seluruh Indonesia.
Salah satu pesan yang membuat saya terdiam datang dari seorang sahabat guru.
Beliau menuliskan harapan agar PB PGRI memperjuangkan dua hal yang dianggap sangat penting bagi kehidupan guru saat ini.
Pertama, jumlah siswa dalam satu kelas atau rombongan belajar (rombel) yang dinilai terlalu besar. Beliau berharap jumlah siswa dalam satu kelas diturunkan menjadi sekitar 20 hingga 25 orang agar proses pembelajaran lebih efektif.
Kedua, syarat minimal 24 jam tatap muka untuk menerima tunjangan profesi guru agar diturunkan menjadi 18 jam karena semakin banyak guru PPPK yang diangkat sehingga distribusi jam mengajar semakin sulit dipenuhi.
Saya membaca pesan itu berulang kali.
Lalu saya tersenyum kecil.
Bukan karena menganggapnya lucu, tetapi karena saya memahami betul kegelisahan yang sedang dirasakan para guru.
Selama lebih dari tiga dekade menjadi guru, saya melihat sendiri bagaimana perubahan kebijakan pendidikan selalu membawa konsekuensi baru di lapangan.
Ketika Satu Kelas Berisi Terlalu Banyak Anak
Saya masih ingat saat pertama kali mengajar tahun 1994.
Di beberapa sekolah negeri, jumlah siswa dalam satu kelas bisa mencapai 45 hingga 50 orang.
Bahkan ada yang lebih.
Guru berdiri di depan kelas seperti seorang konduktor orkestra yang harus mengendalikan puluhan karakter berbeda sekaligus.
Ada siswa yang cepat memahami pelajaran.
Ada yang harus dijelaskan berkali-kali.
Ada yang aktif bertanya.
Ada pula yang diam tetapi sebenarnya sedang kebingungan.
Bayangkan jika semua itu terjadi dalam satu ruangan dengan jumlah siswa mendekati lima puluh orang.
Tidak mudah.
Ketika jumlah siswa terlalu besar, perhatian guru otomatis terbagi.
Guru akhirnya lebih banyak mengajar secara massal daripada mendampingi secara personal.
Padahal setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda.
Di era pembelajaran mendalam (deep learning) seperti sekarang, hubungan guru dan murid justru harus semakin dekat.
Guru perlu mengenal karakter setiap peserta didik.
Guru perlu mengetahui siapa yang sedang mengalami kesulitan belajar.
Guru perlu memahami siapa yang membutuhkan dukungan emosional.
Semua itu akan lebih mudah dilakukan jika jumlah siswa dalam kelas lebih proporsional.
Saya membayangkan betapa bahagianya guru jika satu kelas hanya berisi 20 hingga 25 siswa.
Guru bisa lebih fokus.
Pembelajaran lebih hidup.
Diskusi lebih berkualitas.
Penilaian lebih akurat.
Anak-anak pun mendapatkan perhatian yang layak.
Namun di sisi lain, persoalan ini tidak sesederhana membalikkan telapak tangan.
Menurunkan jumlah siswa per rombel berarti pemerintah harus menyediakan lebih banyak ruang kelas, lebih banyak guru, dan lebih banyak anggaran.
Di sinilah pentingnya data yang akurat sebagaimana disampaikan sahabat saya dalam diskusi tersebut.
Setiap daerah memiliki kondisi berbeda.
Ada sekolah yang kelebihan murid.
Ada sekolah yang kekurangan murid.
Ada sekolah yang kekurangan guru.
Ada pula sekolah yang justru kelebihan guru pada mata pelajaran tertentu.
Karena itu, solusi terbaik harus berbasis data, bukan sekadar asumsi.
Tantangan Guru PPPK dan Jam Mengajar
Persoalan kedua yang tidak kalah penting adalah syarat 24 jam mengajar.
Jujur saja, ini menjadi topik yang sering saya dengar dalam berbagai pertemuan guru.
Ketika pemerintah mengangkat ratusan ribu guru PPPK, banyak sekolah merasa bersyukur.
Akhirnya kebutuhan guru mulai terpenuhi.
Namun muncul persoalan baru.
Jam mengajar yang tersedia harus dibagi kepada lebih banyak guru.
Akibatnya, tidak sedikit guru yang kesulitan memenuhi syarat minimal 24 jam tatap muka.
Saya pernah bertemu seorang guru yang harus mengajar di dua bahkan tiga sekolah berbeda hanya demi memenuhi kewajiban tersebut.
Pagi mengajar di sekolah induk.
Siang berpindah ke sekolah lain.
Sore masih harus menyelesaikan administrasi pembelajaran.
Belum lagi perjalanan yang melelahkan.
Ketika sampai di rumah, tenaga sudah hampir habis.
Padahal guru juga manusia.
Guru punya keluarga.
Guru punya anak.
Guru punya orang tua yang harus diperhatikan.
Dalam kondisi seperti itu, banyak guru bertanya:
"Mengapa tunjangan profesi harus dikaitkan dengan angka 24 jam?"
Pertanyaan ini memang sering muncul.
Terlebih di era digital saat ini, tugas guru tidak hanya mengajar di kelas.
Guru menyiapkan materi.
Guru membuat media pembelajaran.
Guru membimbing proyek siswa.
Guru melakukan asesmen.
Guru mengikuti pelatihan.
Guru mengembangkan kompetensi.
Bahkan banyak guru yang aktif menulis dan berbagi praktik baik kepada sesama guru.
Semua itu membutuhkan waktu dan energi yang tidak sedikit.
Guru Bukan Pemburu Jam
Sebagai guru, saya percaya bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah mengejar angka.
Bukan mengejar jumlah jam.
Bukan mengejar administrasi.
Bukan pula mengejar laporan semata.
Tujuan utama pendidikan adalah membantu peserta didik tumbuh menjadi manusia yang lebih baik.
Karena itu, kebijakan apa pun hendaknya berorientasi pada kualitas pembelajaran.
Jika syarat 24 jam memang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini, tentu perlu dikaji ulang secara komprehensif.
Namun jika tetap dipertahankan, pemerintah juga perlu memastikan distribusi guru dan distribusi jam mengajar berjalan lebih adil.
Yang paling penting adalah jangan sampai guru sibuk berburu jam hingga kehilangan fokus mendidik anak-anak.
Peran PGRI dalam Memperjuangkan Aspirasi Guru
Sebagai organisasi profesi terbesar di Indonesia, PGRI memiliki tugas besar untuk menyuarakan aspirasi anggotanya.
Tantangan pendidikan hari ini semakin kompleks.
Tidak cukup hanya berdiskusi di grup WhatsApp.
Diperlukan komunikasi yang baik antara organisasi profesi, pemerintah, DPR, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Agama, Kementerian PAN-RB, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Perjuangan guru harus dilakukan dengan data yang kuat, kajian yang matang, dan dialog yang konstruktif.
Saya yakin suara guru akan lebih didengar jika disampaikan secara terorganisasi dan berbasis fakta.
Penutup
Ketika saya selesai membaca diskusi pagi itu, hati saya teringat kepada jutaan guru di seluruh Indonesia.
Mereka datang ke sekolah sebelum matahari tinggi.
Mereka mengajar dengan penuh kesabaran.
Mereka mendidik anak-anak bangsa dengan segala keterbatasan yang ada.
Di balik senyum mereka, terkadang tersimpan kegelisahan yang tidak terlihat.
Kegelisahan tentang rombel yang terlalu padat.
Kegelisahan tentang jam mengajar yang sulit dipenuhi.
Kegelisahan tentang kesejahteraan yang masih harus diperjuangkan.
Namun saya percaya, selama guru terus bersuara dengan santun, selama organisasi profesi terus memperjuangkan aspirasi anggotanya, dan selama pemerintah membuka ruang dialog yang sehat, maka jalan menuju pendidikan yang lebih baik akan selalu ada.
Karena sejatinya, ketika kita memperjuangkan nasib guru, kita sedang memperjuangkan masa depan anak-anak Indonesia.
Dan masa depan bangsa ini selalu dimulai dari ruang kelas tempat seorang guru mengajar dengan hati.
Salam Literasi. Salam Pendidikan. Tetap Semangat dan Terus Menginspirasi.
Barakallah fiikum.
Ikhlas Ketika Hanya Allah yang Menjadi Tujuan
Bagaimana Cara Mendapatkan Uang Dari Menulis?
Rabu, 10 Juni 2026
Sahabat yang Pergi dan Kenangan yang Tak Pernah Mati
Sahabat yang Pergi, Kenangan yang Tak Pernah Mati
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
Foto lama itu kembali saya pandangi dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Warnanya memang sudah memudar dimakan usia. Beberapa bagian bahkan terlihat buram. Namun kenangan di dalamnya justru semakin jelas terlihat dalam hati saya.
Foto itu diambil saat kami masih menjadi mahasiswa Jurusan Elektro Elektronika FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990. Saat itu kami masih muda. Wajah-wajah penuh harapan. Senyum yang mengembang tanpa beban. Kami berdiri dan duduk berdesakan sambil memamerkan piala kemenangan yang berhasil diraih.
Tidak ada yang menyangka bahwa waktu akan bergerak begitu cepat.
Tiga puluh enam tahun berlalu seperti kedipan mata.
Sebagian dari kami sudah menjadi guru, dosen, pengusaha, pegawai negeri, dan pensiunan. Sebagian telah menjadi kakek dan nenek. Sebagian lagi masih aktif berkarya untuk bangsa.
Namun ada dua sahabat yang kini hanya tinggal nama dan kenangan.
Iis Nurhayati.
Hasyim Subarna.
Awedyo Utomo.
Mereka telah lebih dahulu menghadap Sang Pencipta.
Setiap kali melihat foto ini, hati saya selalu bergetar. Di antara tawa dan canda yang membeku dalam gambar tersebut, ada cerita persahabatan yang tak akan pernah bisa saya lupakan.
Ketika Kami Masih Muda
Tahun 1990 adalah masa yang indah.
Kami datang dari berbagai daerah dengan membawa mimpi yang sama. Menjadi guru teknik yang mampu mencerdaskan anak bangsa.
Kampus IKIP Jakarta menjadi rumah kedua kami.
Di ruang kuliah yang sederhana kami belajar elektronika, listrik, mesin, pendidikan, dan kehidupan.
Kami sering mengerjakan tugas hingga larut malam.
Kadang uang di kantong tinggal beberapa lembar ribuan.
Kadang harus menahan lapar demi membeli buku.
Kadang harus menumpang tidur di kamar teman karena kehabisan ongkos pulang.
Namun justru di situlah letak kebahagiaan kami.
Karena kami menjalaninya bersama.
Saya masih ingat bagaimana kami bercanda di kantin kampus.
Saya masih ingat bagaimana kami saling meminjam catatan menjelang ujian.
Saya masih ingat bagaimana kami berjuang menyelesaikan praktikum yang terasa begitu sulit.
Dan saya masih ingat suara tawa Iis Nurhayati yang selalu membuat suasana menjadi hangat.
Saya juga masih ingat sosok Hasyim Subarna yang penuh semangat dan mudah bergaul dengan siapa saja.
Hari-hari itu terasa begitu dekat.
Padahal sudah puluhan tahun berlalu.
Waktu Mengajarkan Banyak Hal
Ketika masih mahasiswa, kami sering berbicara tentang masa depan.
Kami membayangkan akan bertemu kembali saat sudah sukses.
Kami berjanji akan terus menjaga silaturahmi.
Namun waktu ternyata memiliki jalannya sendiri.
Satu per satu sahabat sibuk dengan kehidupan masing-masing.
Ada yang mengajar di sekolah.
Ada yang membangun keluarga.
Ada yang merantau ke kota lain.
Ada yang jarang terdengar kabarnya.
Meski begitu, setiap kali bertemu kembali, rasanya seperti tidak pernah berpisah.
Persahabatan sejati memang seperti itu.
Ia tidak membutuhkan pertemuan setiap hari.
Ia hidup dalam hati.
Dan akan selalu menemukan jalannya untuk kembali.
Kabar yang Membuat Hati Terdiam
Saya masih ingat perasaan ketika mendengar kabar bahwa Iis Nurhayati telah meninggal dunia.
Sejenak saya terdiam.
Tidak percaya.
Rasanya baru kemarin kami tertawa bersama di kampus.
Baru kemarin kami berdiskusi tentang tugas kuliah.
Baru kemarin kami berfoto bersama seperti dalam gambar itu.
Namun ternyata waktu tidak bisa diajak bernegosiasi.
Kematian datang tanpa memberi tahu terlebih dahulu.
Beberapa waktu kemudian, kabar duka kembali datang.
Hasyim Subarna juga berpulang.
Sekali lagi hati saya seperti kehilangan sebagian dari masa muda saya.
Sahabat yang dulu duduk bersama di bangku kuliah kini telah pergi untuk selamanya.
Yang tersisa hanyalah foto-foto lama, kenangan, dan doa.
Foto yang Menyimpan Ribuan Cerita
Banyak orang menganggap foto hanyalah gambar.
Namun bagi saya, foto adalah mesin waktu.
Ketika saya memandang foto ini, saya tidak hanya melihat wajah-wajah lama.
Saya melihat perjuangan.
Saya melihat mimpi.
Saya melihat persahabatan.
Saya melihat cinta.
Saya melihat pengorbanan.
Dan saya melihat betapa berharganya setiap detik kehidupan.
Di foto ini tidak ada yang memikirkan penyakit.
Tidak ada yang memikirkan kematian.
Tidak ada yang memikirkan usia tua.
Kami hanya sekumpulan anak muda yang sedang menikmati hidup dan mengejar cita-cita.
Namun kini sebagian rambut telah memutih.
Sebagian tubuh mulai melemah.
Sebagian sahabat bahkan sudah lebih dahulu meninggalkan dunia.
Foto ini mengajarkan kepada saya bahwa hidup sesungguhnya sangat singkat.
Terlalu singkat untuk saling membenci.
Terlalu singkat untuk saling menyakiti.
Terlalu singkat untuk memutus tali persahabatan.
Untuk Iis dan Hasyim
Sahabatku Iis Nurhayati.
Sahabatku Hasyim Subarna.
Mungkin jasad kalian telah lama beristirahat di alam keabadian.
Namun kenangan tentang kalian masih hidup di hati kami.
Kalian tetap hadir dalam setiap reuni.
Kalian tetap hadir dalam setiap cerita yang kami kenang bersama.
Kalian tetap hadir ketika kami membuka album foto lama.
Kalian tetap hadir dalam doa-doa yang kami panjatkan.
Hari ini, saat saya menulis kisah ini, air mata saya jatuh perlahan.
Bukan karena saya tidak ikhlas.
Tetapi karena saya merindukan kalian.
Merindukan masa-masa ketika hidup terasa begitu sederhana.
Merindukan tawa yang pernah memenuhi lorong-lorong kampus IKIP Jakarta.
Merindukan persahabatan yang tumbuh tanpa kepentingan.
Selamat Jalan Sahabatku
Kini saya memahami satu hal penting.
Kita tidak akan pernah benar-benar kehilangan orang yang kita cintai.
Selama namanya masih disebut dalam doa.
Selama kebaikannya masih dikenang.
Selama kenangannya masih hidup di hati.
Maka ia sesungguhnya tidak pernah pergi.
Untuk sahabat-sahabat FPTK IKIP Jakarta angkatan 1990, mari kita jaga silaturahmi yang masih tersisa.
Mari kita saling mendoakan.
Mari kita saling menguatkan.
Karena suatu hari nanti, foto-foto yang kita ambil hari ini juga akan menjadi kenangan bagi generasi berikutnya.
Dan ketika saat itu tiba, semoga mereka berkata:
"Mereka adalah sahabat-sahabat yang saling mencintai karena Allah, saling mendukung dalam perjuangan, dan meninggalkan jejak kebaikan yang tak pernah hilang ditelan waktu."
Selamat jalan, Iis Nurhayati.
Selamat jalan, Hasyim Subarna.
Terima kasih telah menjadi bagian dari perjalanan hidup kami.
Namamu akan selalu hidup dalam kenangan, dan doa kami akan selalu mengiringimu.
Al-Fatihah untuk kedua sahabat tercinta. 🤲🏻💐
"Persahabatan sejati tidak berakhir ketika seseorang meninggal dunia. Ia hanya berpindah tempat, dari hadapan mata menuju kedalaman hati." ❤️
