Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah
Minggu, 04 Oktober 2026
Murid
Materi Keempat KBMN PGRI Gelombang 35 dengan Tema Murid yang Memberikan Pelajaran Pada Gurunya
OTN 8 Siap Digelar 25 Hari Lagi. Sudahkah Anda Mendaftarkan Diri?
kisah omjay: ketika Allah Mengambil Setir Mobilku
Sabtu, 03 Oktober 2026
Materi KBMN PGRI Gelombang 35 Pertemuan Ketiga Bersama Omjay Guru Blogger Indonesia
Pengalaman Belajar
Belajar Mendalam dalam Kisah Omjay: Dari Memahami, Mengaplikasi, hingga Merefleksi
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. – Omjay, Guru Blogger Indonesia
Pagi itu saya kembali mendapatkan satu pemahaman penting tentang pendidikan. Sebuah slide sederhana terpampang di layar dengan judul “Pengalaman Belajar”.
Di dalamnya terdapat sebuah siklus yang menarik perhatian saya:
Memahami → Mengaplikasi → Merefleksi
Di tengah lingkaran itu tertulis Pembelajaran Mendalam.
Saya langsung berpikir, “Bukankah sebenarnya guru setiap hari sedang melakukan perjalanan seperti ini?”
Guru mengajak peserta didik memahami sesuatu. Setelah memahami, mereka mencoba menerapkannya. Kemudian mereka melihat kembali apa yang sudah dilakukan, menemukan kekurangan, dan memperbaikinya.
Bagi saya, inilah pembelajaran yang sesungguhnya.
Belajar bukan sekadar menghafal
Selama menjadi guru, saya semakin menyadari bahwa keberhasilan pembelajaran tidak cukup diukur dari kemampuan siswa menjawab soal.
Siswa bisa saja mendapatkan nilai tinggi dalam sebuah ujian, tetapi belum tentu memahami makna dari apa yang dipelajarinya.
Sebaliknya, seorang siswa mungkin melakukan kesalahan ketika mengerjakan sebuah tugas. Namun, jika ia mampu menyadari kesalahannya, memperbaikinya, dan mencoba kembali, sebenarnya ia sedang mengalami proses belajar yang sangat berharga.
Karena itu, pembelajaran mendalam bukan sekadar membuat siswa mengetahui sesuatu, tetapi membantu mereka memahami, menggunakan, dan merefleksikan pengetahuan tersebut.
Dalam gambar yang saya lihat, pengalaman belajar diarahkan secara bertahap untuk mencapai pembelajaran mendalam.
Ada tiga proses penting yang digambarkan melalui sebuah siklus.
1. Memahami
Tahap pertama adalah memahami.
Pada tahap ini peserta didik membangun pengetahuan. Mereka tidak hanya menerima informasi dari guru, tetapi berusaha menemukan hubungan antara pengetahuan baru dengan pengalaman yang sudah dimiliki.
Sebagai guru Informatika di SMP Labschool Jakarta, saya sering menemukan bahwa siswa lebih mudah memahami materi ketika mereka melihat contoh nyata.
Misalnya ketika belajar tentang kecerdasan artifisial, saya tidak ingin siswa hanya mengetahui definisi AI dari buku.
Saya mengajak mereka bertanya:
“Di mana kalian menemukan AI dalam kehidupan sehari-hari?”
Mereka kemudian mulai menyebutkan mesin pencari, rekomendasi video, kamera pada telepon pintar, penerjemah otomatis, chatbot, hingga berbagai aplikasi yang mereka gunakan.
Dari situ pembelajaran menjadi lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Mereka tidak sekadar menghafal pengertian AI.
Mereka memahami keberadaan AI dalam kehidupan sehari-hari.
2. Mengaplikasi
Setelah memahami, siswa perlu diberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan.
Inilah bagian yang sering membuat pembelajaran menjadi lebih hidup.
Pengetahuan yang hanya tersimpan di kepala belum tentu memberikan manfaat jika tidak digunakan.
Dalam pembelajaran Informatika dan Koding, misalnya, setelah siswa memahami algoritma, mereka dapat diminta membuat langkah-langkah penyelesaian sebuah masalah.
Setelah memahami konsep coding, mereka dapat membuat program sederhana.
Setelah memahami AI, mereka dapat mencoba menggunakan AI secara bertanggung jawab untuk membantu proses belajar.
Saya selalu senang melihat siswa mulai berkata,
“Pak, ternyata saya bisa membuatnya.”
Kalimat sederhana itu sangat berarti bagi seorang guru.
Ada rasa percaya diri yang tumbuh.
Siswa mulai menyadari bahwa dirinya bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga bisa menjadi pencipta teknologi.
Di sinilah pengetahuan aplikatif menjadi penting.
3. Merefleksi
Tahap berikutnya yang tidak kalah penting adalah merefleksi.
Bagi saya, refleksi sering kali menjadi bagian yang terlupakan dalam pembelajaran.
Setelah tugas selesai, guru terkadang langsung memberikan nilai.
Padahal masih ada pertanyaan yang jauh lebih penting:
Apa yang sudah dipelajari?
Apa yang masih sulit?
Apa kesalahan yang terjadi?
Mengapa kesalahan itu terjadi?
Apa yang akan dilakukan agar menjadi lebih baik?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana tersebut dapat membuat siswa belajar mengenal dirinya sendiri.
Mereka mulai memiliki kemampuan regulasi diri.
Mereka tidak lagi selalu menunggu guru mengatakan apa yang harus dilakukan.
Mereka mulai mampu merencanakan, mengerjakan, memantau, mengevaluasi, dan memperbaiki proses belajarnya.
Bagi saya, inilah salah satu tujuan penting pendidikan.
Pengetahuan bukan hanya tentang materi
Slide tersebut juga mengingatkan saya bahwa pembelajaran mendalam tidak hanya berkaitan dengan satu jenis pengetahuan.
Ada pengetahuan esensial, pengetahuan aplikatif, serta pengetahuan nilai dan karakter.
Ketiganya perlu berjalan bersama.
Pengetahuan esensial menjawab pertanyaan:
“Apa yang perlu saya ketahui?”
Pengetahuan aplikatif menjawab:
“Bagaimana pengetahuan ini dapat saya gunakan?”
Sedangkan pengetahuan nilai dan karakter mengajak siswa bertanya:
“Untuk apa pengetahuan ini digunakan dan bagaimana saya menggunakannya dengan baik?”
Pertanyaan terakhir sangat penting di era teknologi dan kecerdasan artifisial.
Siswa mungkin mampu menggunakan AI.
Tetapi apakah mereka mampu menggunakannya secara bertanggung jawab?
Siswa mungkin mampu membuat konten digital.
Tetapi apakah mereka memahami etika dalam membuat dan menyebarkan konten?
Siswa mungkin mampu mencari informasi dengan cepat.
Tetapi apakah mereka mampu membedakan informasi yang benar dan keliru?
Di sinilah pendidikan karakter menjadi bagian yang tidak boleh dipisahkan dari pembelajaran teknologi.
Pengalaman Omjay menggunakan KKA
Ketika saya mengajarkan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), saya semakin merasakan bahwa pembelajaran tidak bisa hanya berorientasi pada hasil akhir.
Saya lebih suka mengajak siswa menikmati proses.
Misalnya, ketika siswa diminta membuat sebuah proyek sederhana, saya membiarkan mereka mengalami proses mencoba.
Ada yang berhasil.
Ada yang salah.
Ada yang programnya tidak berjalan.
Ada yang bingung mencari penyebabnya.
Ada pula yang akhirnya meminta bantuan temannya.
Saya mengatakan kepada mereka:
“Kesalahan bukan musuh dalam belajar. Kesalahan adalah guru yang mengajarkan kita sesuatu.”
Dari kesalahan itulah siswa belajar melakukan debugging.
Mereka belajar berpikir logis.
Mereka belajar bekerja sama.
Mereka belajar bertanya.
Mereka belajar mencari solusi.
Dan yang paling penting, mereka belajar untuk tidak mudah menyerah.
Pembelajaran mendalam membutuhkan pengalaman
Bagi saya, pengalaman adalah guru yang sangat kuat.
Saya sudah lama berada di dunia pendidikan. Sejak mengajar di SMP Labschool Jakarta, saya melihat perubahan zaman yang luar biasa. Teknologi berubah, perangkat berubah, aplikasi berubah, bahkan cara anak-anak belajar juga berubah.
Namun ada satu hal yang tidak berubah.
Anak-anak tetap membutuhkan guru yang mau mendampingi proses belajarnya.
Teknologi dapat memberikan informasi dengan sangat cepat.
AI dapat membantu mencari ide.
Internet dapat menyediakan berbagai sumber belajar.
Tetapi pengalaman belajar tetap membutuhkan manusia yang mampu memberikan makna.
Guru bukan sekadar penyampai materi.
Guru adalah pendamping perjalanan belajar.
Karena itu saya percaya bahwa teknologi seharusnya memperkuat pembelajaran, bukan menghilangkan sisi kemanusiaan dalam pendidikan.
Belajar adalah sebuah siklus
Saya kemudian melihat kembali gambar berbentuk lingkaran itu.
Memahami.
Mengaplikasi.
Merefleksi.
Kemudian kembali lagi untuk memahami sesuatu yang lebih baik.
Begitu seterusnya.
Tidak ada titik akhir dalam belajar.
Hari ini kita memahami sesuatu.
Besok kita mencoba menerapkannya.
Setelah itu kita melakukan refleksi.
Dari refleksi, kita menemukan kekurangan.
Kekurangan tersebut menjadi dasar untuk belajar kembali.
Maka terbentuklah sebuah siklus pembelajaran yang terus berkembang.
Saya teringat prinsip sederhana yang sering saya pegang:
Menulislah dari pengalaman, belajarlah dari pengalaman, dan bagikan pengalaman agar menjadi pembelajaran bagi orang lain.
Pengalaman seorang guru sebenarnya adalah sumber belajar yang sangat kaya.
Pengalaman ketika mengajar.
Pengalaman ketika gagal.
Pengalaman ketika menemukan metode baru.
Pengalaman ketika melihat siswa berhasil.
Semuanya dapat menjadi bahan refleksi.
Guru juga harus terus belajar
Sering kali kita berbicara tentang siswa yang harus belajar sepanjang hayat.
Padahal guru pun harus melakukan hal yang sama.
Saya sendiri terus belajar menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi pendidikan, Informatika, Koding, dan AI.
Saya belajar bukan karena sudah pintar.
Saya belajar karena sadar bahwa dunia terus berubah.
Hari ini kita merasa sudah menguasai sebuah teknologi. Besok muncul teknologi baru.
Hari ini kita merasa sudah memahami cara mengajar. Besok kita bertemu siswa dengan karakter dan kebutuhan yang berbeda.
Karena itu, guru tidak boleh berhenti belajar.
Guru yang berhenti belajar akan kesulitan mengajak muridnya menjadi pembelajar sepanjang hayat.
Dari pembelajaran menuju kehidupan
Pada akhirnya, pembelajaran mendalam bukan hanya tentang apa yang terjadi di ruang kelas.
Tujuan akhirnya adalah bagaimana pengetahuan itu dibawa ke kehidupan.
Siswa belajar matematika untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.
Siswa belajar bahasa untuk berkomunikasi.
Siswa belajar Informatika untuk memecahkan masalah dengan teknologi.
Siswa belajar AI agar mampu menggunakan teknologi secara bijaksana.
Siswa belajar karakter agar pengetahuan yang dimilikinya digunakan untuk kebaikan.
Karena itu, saya melihat pendidikan sebagai sebuah perjalanan.
Memahami membuat kita tahu.
Mengaplikasi membuat kita mampu.
Merefleksi membuat kita bertumbuh.
Dan ketika ketiganya berjalan bersama, terjadilah pembelajaran mendalam.
Penutup: Guru pun sedang menjalani proses belajar
Saya pulang dari kegiatan itu dengan sebuah kesadaran baru.
Ternyata bukan hanya murid yang sedang belajar.
Saya sebagai guru juga sedang belajar.
Setiap pertemuan dengan siswa memberikan pengalaman baru.
Setiap kesalahan memberikan pelajaran.
Setiap keberhasilan memberikan rasa syukur.
Setiap refleksi memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri.
Itulah mengapa saya menikmati perjalanan sebagai guru.
Saya tidak ingin hanya menjadi guru yang menyampaikan materi.
Saya ingin menjadi guru yang terus belajar, terus berbagi, dan terus memberikan inspirasi.
Sebab pendidikan bukan tentang seberapa banyak materi yang mampu kita selesaikan.
Pendidikan adalah tentang seberapa dalam pengalaman belajar mampu mengubah cara seseorang berpikir, bersikap, berkarya, dan menjalani kehidupannya.
Dan perjalanan itu tidak pernah selesai.
Mari terus memahami.
Mari terus mengaplikasikan.
Mari terus merefleksikan.
Mari terus belajar.
Karena sesungguhnya, belajar adalah perjalanan seumur hidup.
— Omjay
Guru Blogger Indonesia
Pendaftaran Lomba OTN 8 di JICC Senayan Jakarta
Workshop Persiapan AMI SMP Labschool Jakarta
Workshop Persiapan AMI 2026 SMP Labschool Jakarta: Menata Administrasi, Pembelajaran, dan Pemanfaatan AI
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Persiapan menghadapi Audit Mutu Internal (AMI) 2026 bukan sekadar menyiapkan dokumen administrasi. Lebih dari itu, AMI menjadi momentum bagi sekolah untuk melakukan refleksi, memperbaiki proses pembelajaran, menata administrasi, dan memastikan berbagai program sekolah berjalan secara terencana dan terdokumentasi.
Untuk itulah SMP Labschool Jakarta melaksanakan Workshop Persiapan AMI 2026 selama tiga hari, mulai Jumat, 2 Oktober sampai Minggu, 4 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan ini dirancang tidak hanya dalam bentuk paparan materi, tetapi juga dilanjutkan dengan praktik, pelengkapan administrasi, brainstorming, hingga pengumpulan dokumen AMI.
Hari Pertama: Memahami Arah Sekolah dan Instrumen AMI
Kegiatan dimulai pada Jumat, 2 Oktober 2026 dengan registrasi peserta pukul 13.00–13.30 dan dilanjutkan dengan pembukaan.
Materi pertama berlangsung pukul 14.00–15.30 dengan tema “Mewujudkan Sekolah Hijau melalui Pembelajaran Berbasis Lingkungan”. Materi ini disampaikan oleh Dr. Taufiq Supriadi dengan PJ Ali Topan, S.Pd.
Tema sekolah hijau menarik karena pendidikan tidak hanya berbicara mengenai pencapaian akademik. Sekolah juga mempunyai tanggung jawab untuk membangun kepedulian peserta didik terhadap lingkungan.
Setelah ISOMA, peserta mendapatkan Paparan Instrumen AMI pukul 16.00–17.30. Materi ini disampaikan oleh Pandu Novialdi, M.Pd., dengan Fardiah Musni, S.Pd. sebagai PJ.
Pemahaman terhadap instrumen AMI menjadi penting karena dokumen yang disiapkan harus benar-benar menggambarkan pelaksanaan program sekolah.
Malam harinya, pukul 19.30–21.00, peserta mengikuti Paparan Program Sekolah Model yang disampaikan oleh Dr. Yati Suwartini, M.Pd. dengan PJ Siti Innayatu Sholiha, S.Pd.
Hari pertama menjadi fondasi penting. Peserta tidak hanya mendengarkan materi, tetapi mulai memahami bahwa AMI berkaitan erat dengan budaya mutu sekolah.
Hari Kedua: Dari Materi Menuju Praktik
Sabtu, 3 Oktober 2026 menjadi hari yang cukup padat.
Setelah sarapan, pukul 08.00–10.00 guru mengikuti Penyusunan Rencana Pembelajaran PM, KKA, berbasis STEM dan LITNUM. Materi ini menghadirkan Adien Novarisa, M.Pd., dengan PJ Wianti, S.S.
Sementara itu, tenaga kependidikan mendapatkan materi ISO 15489 dan 30301 yang dijadwalkan pukul 08.00–12.00, dengan narasumber masih dalam konfirmasi dan PJ Ilham Wijiyatno, S.Kom.
Menariknya, setelah sesi materi, peserta langsung diarahkan untuk melengkapi administrasi pembelajaran dan instrumen AMI. Kegiatan ini dilakukan beberapa sesi, yaitu pukul 10.00–12.00, 13.00–15.00, dan kembali pukul 19.30–21.00.
Di sinilah workshop benar-benar terasa manfaatnya.
Peserta tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi langsung membuka dokumen, memeriksa kelengkapan administrasi, memperbaiki bagian yang masih kurang, dan memastikan bukti pelaksanaan pembelajaran tersedia.
Ada Sesi Brainstorming Penggunaan AI
Salah satu kegiatan yang menarik dalam workshop ini adalah Brainstorming Penggunaan AI yang dilaksanakan Sabtu, 3 Oktober 2026 pukul 15.30–17.30.
Kegiatan tersebut melibatkan Pimpinan Sekolah dengan PJ Ita Berleani, S.Pd.
Kehadiran AI dalam agenda workshop menunjukkan bahwa perkembangan teknologi tidak bisa dipisahkan dari pengelolaan dan pembelajaran di sekolah.
AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu untuk mencari ide, menyusun rancangan, menganalisis data, membantu pekerjaan administratif, maupun mendukung proses pembelajaran.
Namun, penggunaan AI tetap membutuhkan kebijaksanaan manusia.
AI adalah alat. Guru tetap menjadi manusia yang menentukan tujuan, memberikan konteks, melakukan verifikasi, dan mengambil keputusan.
Karena itu, brainstorming menjadi penting agar penggunaan AI di sekolah tidak sekadar mengikuti tren, tetapi benar-benar diarahkan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan dan pembelajaran.
Hari Ketiga: Mengumpulkan dan Memastikan Kelengkapan
Minggu, 4 Oktober 2026 menjadi tahap akhir workshop.
Kegiatan dimulai dengan sarapan pukul 06.00–08.00. Selanjutnya pukul 08.00–10.00 dilaksanakan Pengumpulan Administrasi Pembelajaran dan Instrumen AMI yang dikoordinasikan oleh panitia. Setelah itu, kegiatan ditutup pada pukul 10.00.
Dengan demikian, rangkaian workshop selama tiga hari memiliki alur yang cukup jelas:
memahami → menyusun → melengkapi → mengevaluasi → mengumpulkan.
Inilah yang membuat persiapan AMI menjadi proses pembelajaran bagi seluruh warga sekolah.
AMI Bukan Sekadar Menyiapkan Dokumen
Sering kali ketika mendengar kata audit, yang terbayang adalah tumpukan dokumen dan administrasi.
Padahal, AMI seharusnya menjadi kesempatan untuk bertanya:
- Apakah program sekolah sudah berjalan?
- Apakah pembelajaran sudah direncanakan dengan baik?
- Apakah dokumen yang dibuat sesuai dengan praktik di lapangan?
- Apakah bukti pelaksanaan tersedia?
- Apa yang sudah baik?
- Apa yang masih perlu diperbaiki?
Dokumen memang penting. Namun, dokumen harus menjadi cermin dari praktik nyata, bukan sekadar dibuat karena akan diperiksa.
Karena itu, kegiatan workshop seperti ini menjadi ruang yang baik bagi guru, tenaga kependidikan, dan pimpinan sekolah untuk duduk bersama, melihat kembali pekerjaan yang telah dilakukan, kemudian memperbaikinya secara berkelanjutan.
Belajar Bersama untuk Meningkatkan Mutu Sekolah
Dari jadwal workshop terlihat bahwa persiapan AMI 2026 di SMP Labschool Jakarta tidak hanya berfokus pada satu bidang.
Ada pembelajaran berbasis lingkungan, instrumen AMI, program sekolah model, perencanaan pembelajaran PM dan KKA, STEM dan LITNUM, pengelolaan arsip melalui ISO, administrasi pembelajaran, hingga pemanfaatan AI.
Semua bagian tersebut saling berkaitan.
Sekolah yang bermutu bukan hanya sekolah yang memiliki banyak program. Sekolah yang bermutu adalah sekolah yang mampu merencanakan program, melaksanakan dengan baik, mendokumentasikan, mengevaluasi, dan melakukan perbaikan secara berkelanjutan.
Workshop Persiapan AMI 2026 menjadi salah satu langkah untuk membangun budaya tersebut.
Pada akhirnya, AMI bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti.
AMI adalah kesempatan untuk bercermin.
Melalui AMI, sekolah dapat melihat apa yang sudah dilakukan, apa yang belum lengkap, dan apa yang harus diperbaiki.
Dan dari sanalah peningkatan mutu sekolah dimulai.
Menata dokumen, memperbaiki pembelajaran, memanfaatkan teknologi, dan membangun budaya mutu bersama.
Itulah semangat Workshop Persiapan AMI SMP Labschool Jakarta 2026.
Jakarta, 3 Oktober 2026
Jumat, 02 Oktober 2026
Tugas Pertemuan Kedua KBMN PGRI
📝 TUGAS PERTEMUAN KEDUA
KBMN PGRI GELOMBANG 35
Tema: PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN
Sahabat penulis KBMN PGRI Gelombang 35,
Setiap orang mempunyai cerita.
Tidak harus cerita besar. Pengalaman sederhana dalam kehidupan sehari-hari juga bisa menjadi tulisan yang menarik dan menginspirasi.
Pada pertemuan kedua ini, mari kita belajar menulis dari pengalaman sendiri.
🎯 TUGAS
Tulislah satu pengalaman yang paling berkesan atau tidak terlupakan dalam kehidupan Anda.
Pengalaman tersebut boleh berupa:
- pengalaman pertama menjadi guru;
- pengalaman pertama mengajar;
- pengalaman mengikuti pelatihan;
- pengalaman bertemu seseorang;
- pengalaman mendapatkan hadiah;
- pengalaman mengalami kegagalan;
- pengalaman meraih keberhasilan;
- pengalaman perjalanan;
- pengalaman menulis;
- pengalaman bersama keluarga;
- pengalaman membantu orang lain;
- atau pengalaman sederhana lainnya.
✍️ Ketentuan Tugas
Tulislah cerita sebanyak 300–500 kata.
Agar mudah, jawab terlebih dahulu 5 pertanyaan berikut:
1. Apa pengalaman yang Anda alami?
2. Kapan dan di mana pengalaman itu terjadi?
3. Siapa saja yang terlibat?
4. Apa yang Anda rasakan saat mengalami kejadian tersebut?
5. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?
Setelah menjawab kelima pertanyaan tersebut, gabungkan jawaban Anda menjadi sebuah cerita.
📌 Format Sederhana
Judul:
Buat judul yang menarik.
Pembuka:
Ceritakan kapan dan bagaimana pengalaman itu dimulai.
Isi:
Ceritakan kejadian yang Anda alami dan perasaan Anda.
Penutup:
Tuliskan pelajaran atau hikmah yang Anda dapatkan.
🌱 Contoh judul
- Pengalaman Pertama Menjadi Guru
- Hari yang Tidak Pernah Saya Lupakan
- Ketika Saya Hampir Menyerah
- Pengalaman Pertama Saya Menulis
- Sebuah Pertemuan yang Mengubah Hidup Saya
- Dari Kegagalan Saya Belajar
- Perjalanan yang Penuh Makna
💡 Tips
Jangan takut tulisan Anda jelek.
Jangan terlalu lama mencari kata-kata yang indah.
Tulislah apa yang Anda alami dan rasakan.
Tulislah dengan bahasa sendiri.
Tidak perlu menggunakan bahasa yang rumit.
Yang paling penting adalah mulai menulis.
📮 Cara Mengumpulkan
- Tulis pengalaman Anda di blog pribadi atau media yang ditentukan.
- Berikan judul yang menarik.
- Baca kembali tulisan sebelum dipublikasikan.
- Bagikan tautan tulisan di grup KBMN PGRI Gelombang 35 sesuai petunjuk panitia.
🌟 Kalimat Penyemangat
"Jangan menunggu menjadi penulis untuk mulai menulis. Mulailah menulis, maka perlahan kita akan menjadi penulis."
Selamat menulis pengalaman terbaik Anda.
Bisa jadi pengalaman yang menurut kita sederhana, justru menjadi inspirasi bagi orang lain.
Salam literasi.
Omjay
Guru Blogger Indonesia
KBMN PGRI Gelombang 35
Pertemuan Kedua KBMN PGRI Gelombang 35 Pengalaman yang Tak Terlupakan
PERTEMUAN KEDUA
KBMN PGRI GELOMBANG 35
PENGALAMAN YANG TAK TERLUPAKAN
Menulis Kisah Nyata dengan Hati
A. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pertemuan kedua ini, peserta diharapkan mampu:
- Menemukan pengalaman pribadi yang menarik untuk ditulis.
- Mengubah pengalaman menjadi sebuah cerita yang enak dibaca.
- Menentukan konflik atau masalah dalam cerita.
- Menuliskan perasaan dan refleksi dari pengalaman tersebut.
- Membuat tulisan yang menyentuh, inspiratif, dan memiliki pesan.
- Membiasakan diri menulis dari pengalaman sehari-hari.
B. Mengapa Pengalaman Layak Ditulis?
Setiap orang memiliki cerita.
Ada pengalaman yang membuat kita bahagia, sedih, kecewa, takut, bangga, malu, terharu, bahkan hampir menyerah.
Namun, tidak semua pengalaman harus berlalu begitu saja.
Pengalaman yang kita tuliskan akan menjadi dokumentasi kehidupan.
Apa yang hari ini terlihat sederhana, beberapa tahun kemudian bisa menjadi kenangan yang sangat berharga.
Menulis pengalaman berarti mengabadikan perjalanan hidup.
Kita tidak harus menjadi penulis terkenal untuk mulai menulis.
Kita hanya perlu memiliki pengalaman dan keberanian untuk menceritakannya.
C. Pengalaman yang Tak Terlupakan Itu Seperti Apa?
Pengalaman tak terlupakan tidak selalu berupa peristiwa besar.
Contohnya:
- pertama kali menjadi guru;
- pertama kali berdiri di depan kelas;
- bertemu dengan seseorang yang mengubah hidup;
- mendapatkan penghargaan;
- mengalami kegagalan;
- kehilangan seseorang yang dicintai;
- melakukan perjalanan yang berkesan;
- mengalami kecelakaan;
- berhasil melewati masa sulit;
- bertemu kembali dengan sahabat lama;
- pengalaman mengikuti pelatihan;
- pengalaman menerbitkan buku;
- pengalaman pertama kali menulis;
- pengalaman menggunakan AI dalam pembelajaran;
- pengalaman membantu orang lain;
- pengalaman yang membuat kita semakin bersyukur.
Kuncinya bukan seberapa besar peristiwanya, tetapi seberapa besar maknanya bagi kita.
D. Rumus Sederhana Menulis Pengalaman
Gunakan rumus:
5W + 1H + PERASAAN + MAKNA
1. What — Apa yang terjadi?
Tuliskan peristiwa yang dialami.
2. Who — Siapa yang terlibat?
Ceritakan tokoh-tokoh yang ada dalam pengalaman tersebut.
3. When — Kapan terjadi?
Tuliskan waktu atau periode kejadian.
4. Where — Di mana terjadi?
Gambarkan tempat kejadian.
5. Why — Mengapa terjadi?
Jelaskan latar belakang peristiwa.
6. How — Bagaimana kejadiannya?
Ceritakan kronologi secara runtut.
Kemudian tambahkan:
7. Feel — Apa yang saya rasakan?
Inilah bagian yang membuat tulisan menjadi hidup.
8. Meaning — Apa maknanya?
Apa pelajaran yang diperoleh dari pengalaman tersebut?
E. Jangan Hanya Menceritakan Peristiwa
Kesalahan yang sering terjadi ketika menulis pengalaman adalah hanya menceritakan kronologi.
Contoh:
Saya pergi ke sekolah. Setelah itu saya mengajar. Kemudian saya pulang. Besoknya saya kembali mengajar.
Tulisan seperti ini memang benar, tetapi belum tentu menarik.
Cobalah memasukkan perasaan.
Pagi itu saya berdiri di depan kelas dengan tangan sedikit gemetar. Puluhan pasang mata siswa memandang ke arah saya. Untuk pertama kalinya saya menyadari bahwa menjadi guru bukan hanya tentang menyampaikan materi. Ada tanggung jawab besar yang harus saya jalankan.
Tulisan kedua lebih hidup karena pembaca dapat merasakan suasananya.
Jadi, jangan hanya menceritakan apa yang terjadi. Ceritakan juga apa yang kita rasakan.
F. Gunakan Teknik "Tunjukkan, Jangan Hanya Katakan"
Daripada menulis:
Saya sangat sedih.
Cobalah:
Saya terdiam cukup lama. Mata saya mulai berkaca-kaca. Tidak ada kata yang mampu keluar dari mulut saya.
Daripada:
Saya sangat bahagia.
Cobalah:
Saya tersenyum lebar. Rasanya ingin segera menelepon keluarga dan memberitahu mereka bahwa perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan hasil.
Dengan cara ini, pembaca seolah-olah hadir di dalam cerita.
G. Struktur Tulisan Pengalaman
Peserta dapat menggunakan struktur sederhana berikut.
1. Judul
Buat judul yang menarik dan menggugah rasa ingin tahu.
Contoh:
- "Hari yang Tidak Akan Pernah Saya Lupakan"
- "Ketika Saya Hampir Menyerah"
- "Satu Pertemuan yang Mengubah Hidup Saya"
- "Pelajaran Berharga dari Sebuah Kegagalan"
- "Dari Air Mata Menuju Senyuman"
- "Perjalanan Panjang yang Mengajarkan Kesabaran"
2. Pembuka
Mulailah dengan adegan, pertanyaan, dialog, atau pernyataan yang menarik.
Contoh:
"Pak, jangan menyerah!"
Kalimat sederhana itu sampai sekarang masih teringat dalam benak saya.
3. Isi
Ceritakan peristiwa secara runtut.
Gunakan paragraf yang mengalir.
Masukkan:
- tempat;
- waktu;
- tokoh;
- kejadian;
- konflik;
- dialog;
- perasaan.
4. Klimaks
Ceritakan bagian paling menegangkan, menyedihkan, membahagiakan, atau menentukan.
5. Penyelesaian
Ceritakan bagaimana masalah tersebut berakhir.
6. Refleksi
Tuliskan pelajaran yang diperoleh.
Bagian ini sangat penting karena mengubah pengalaman biasa menjadi tulisan yang bermakna.
H. Contoh Tulisan Singkat
"Hari Ketika Saya Belajar untuk Tidak Menyerah"
Pagi itu hujan turun cukup deras.
Saya sebenarnya ingin membatalkan kegiatan yang sudah direncanakan sejak beberapa minggu sebelumnya. Kondisi tubuh terasa lelah. Pikiran juga tidak sepenuhnya tenang.
Namun, saya memilih berangkat.
Sesampainya di lokasi, saya melihat beberapa peserta sudah menunggu. Mereka datang dengan semangat belajar yang luar biasa.
Saya kemudian berpikir, "Kalau mereka saja mau datang dan belajar, mengapa saya harus menyerah?"
Kegiatan pun dimulai.
Hari itu saya belajar sesuatu yang sederhana tetapi sangat berarti.
Terkadang kita tidak membutuhkan motivasi yang besar untuk terus berjalan. Kita hanya perlu melihat bahwa masih ada orang lain yang membutuhkan kehadiran kita.
Sejak saat itu saya semakin percaya bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang siapa yang paling cepat sampai.
Kadang-kadang, kemenangan terbesar adalah ketika kita mampu mengatakan kepada diri sendiri:
"Saya belum selesai. Saya masih ingin berjuang."
I. Latihan Menulis Peserta
Sekarang silakan pilih SATU pengalaman yang paling membekas dalam hidup Anda.
Kemudian jawab pertanyaan berikut:
1. Apa peristiwanya?
....................................................
2. Kapan peristiwa itu terjadi?
....................................................
3. Di mana peristiwa itu terjadi?
....................................................
4. Siapa saja yang terlibat?
....................................................
5. Apa masalah atau konflik yang terjadi?
....................................................
6. Apa yang Anda rasakan saat itu?
....................................................
7. Bagaimana peristiwa tersebut berakhir?
....................................................
8. Apa pelajaran yang Anda dapatkan?
....................................................
9. Jika peristiwa itu terjadi kembali, apa yang akan Anda lakukan?
....................................................
J. Tantangan Menulis KBMN PGRI Gelombang 35
TUGAS PERTEMUAN KEDUA
Tulislah sebuah artikel dengan tema:
"Pengalaman yang Tak Terlupakan"
Ketentuan:
- Panjang tulisan minimal 500 kata.
- Berdasarkan pengalaman nyata.
- Memiliki judul yang menarik.
- Memiliki pembuka yang kuat.
- Memuat konflik atau persoalan.
- Menggambarkan perasaan penulis.
- Memiliki penyelesaian.
- Diakhiri dengan refleksi atau pesan.
- Gunakan bahasa yang mudah dipahami.
- Publikasikan di blog masing-masing.
Jika belum memiliki pengalaman yang dianggap besar, jangan khawatir.
Tulislah pengalaman kecil yang memiliki makna besar bagi kehidupan Anda.
K. Tips Agar Tulisan Lebih Menarik
1. Tulislah seperti sedang bercerita kepada seorang sahabat.
Jangan terlalu sibuk memikirkan apakah tulisan kita sudah sempurna.
2. Jangan takut menceritakan kegagalan.
Kegagalan sering kali justru menjadi bagian paling menarik dalam sebuah cerita.
3. Masukkan dialog.
Dialog membuat cerita terasa hidup.
4. Masukkan detail.
Ceritakan suasana tempat, ekspresi wajah, suara, cuaca, dan keadaan sekitar.
5. Jangan terburu-buru mengedit.
Tulis dahulu sampai selesai.
Setelah itu baru lakukan penyuntingan.
6. Tulislah dengan hati.
AI dapat membantu mencari ide, membuat kerangka, atau memperbaiki bahasa.
Namun pengalaman, perasaan, dan suara pribadi tetap berasal dari manusia.
Tulislah pengalaman Anda dengan jujur.
L. Kalimat Pemantik untuk Memulai Menulis
Jika masih bingung memulai, gunakan salah satu kalimat berikut:
"Saya tidak pernah menyangka bahwa hari itu akan mengubah hidup saya."
"Sampai hari ini saya masih mengingat kejadian tersebut."
"Ada satu pengalaman yang tidak pernah bisa saya lupakan."
"Saat itu saya berpikir semuanya sudah berakhir."
"Pagi itu terlihat seperti pagi biasa, tetapi ternyata..."
"Lima tahun telah berlalu, tetapi kejadian itu masih terasa dekat."
"Saya belajar sebuah pelajaran penting dari kegagalan tersebut."
"Jika waktu dapat diputar kembali, saya ingin kembali ke hari itu."
M. Penutup
Menulis pengalaman bukan sekadar menceritakan masa lalu.
Menulis pengalaman adalah cara kita memahami perjalanan hidup.
Ada pengalaman yang menjadi kenangan.
Ada pengalaman yang menjadi pelajaran.
Ada pengalaman yang menjadi luka.
Ada pengalaman yang menjadi kekuatan.
Dan ada pengalaman yang mungkin suatu hari nanti menjadi inspirasi bagi orang lain.
Karena itu, jangan biarkan pengalaman hidup berlalu tanpa dokumentasi.
Tulislah.
Mungkin bagi kita cerita itu sederhana.
Namun bagi orang lain, cerita kita bisa menjadi alasan untuk tetap bertahan dan tidak menyerah.
"Pengalaman adalah guru terbaik, tetapi pengalaman yang ditulis dapat menjadi guru bagi banyak orang."
Selamat menulis.
Salam Blogger Indonesia.
Omjay – Guru Blogger Indonesia KBMN PGRI Gelombang 35 Menulis setiap hari, menginspirasi tanpa henti.