Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com
Tampilkan postingan dengan label kisah omjay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah omjay. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Agustus 2026

resensi buku mahkota di atas sejadah

Resensi Buku Mahkota di Atas Sajadah: Ketika Cinta, Perjuangan, dan Iman Bertemu

Judul: Mahkota di Atas Sajadah
Penulis: Agus Timorwoko
Jenis: Novel religi/romansa
Tebal: 121 halaman berdasarkan naskah yang dibaca

Menemukan Cinta di Tengah Perjuangan

M ahkota di Atas Sajadah karya Agus Timorwoko merupakan novel yang memadukan kisah kehidupan mahasiswa, persahabatan, kepemimpinan, pendidikan, dakwah, dan perjalanan menemukan pasangan hidup. Cerita mengambil latar kuat di Bengkulu atau yang dalam novel disebut sebagai Bumi Rafflesia. Pembukaan novel bahkan menghadirkan suasana alam Bengkulu dengan bunga Rafflesia sebagai salah satu identitas daerah tersebut.

Tokoh yang menjadi pusat perhatian adalah Falah, seorang mahasiswa yang aktif dalam organisasi kampus dan dipercaya menjadi Ketua BEM. Ia digambarkan sebagai sosok yang cerdas, berani, religius, rendah hati, serta memiliki kemampuan berkomunikasi dengan berbagai kelompok. Di sisi lain terdapat Naira, seorang perempuan muda yang memiliki perhatian besar terhadap ilmu agama, Al-Qur'an, pendidikan, dan kegiatan pembinaan muslimah. Naira digambarkan sebagai pribadi yang matang meskipun masih berusia muda.

Perjalanan Falah tidak sederhana. Ia harus membagi waktu antara kuliah, organisasi, mengajar les, persahabatan, kegiatan sosial, dan kehidupan pribadi. Dalam sebuah adegan, Falah bahkan menghadapi kelompok mahasiswa yang mengejek dan merendahkan dirinya serta Alia. Menariknya, konflik tersebut tidak diselesaikan dengan kekerasan. Falah memilih pendekatan dialogis dan mencoba menyentuh kesadaran mereka. Pada akhirnya, konflik justru berubah menjadi persahabatan.

Adegan tersebut menjadi salah satu bagian menarik dalam novel karena memperlihatkan bahwa keberanian tidak selalu berarti mengangkat tangan untuk berkelahi. Keberanian juga bisa berbentuk kemampuan mengendalikan emosi, berbicara dengan tenang, dan mencari jalan keluar yang bermartabat.

Falah bahkan mengajak kelompok yang sebelumnya berkonflik dengannya untuk melaksanakan salat berjamaah. Mereka menerima ajakan tersebut dan suasana yang semula tegang berubah menjadi lebih bersahabat.

Persahabatan sebagai Kekuatan Cerita

Selain kisah cinta, persahabatan menjadi salah satu kekuatan penting dalam novel ini. Falah memiliki sahabat seperti Adrian, Ardi, Anto, dan Sony. Mereka mempunyai karakter dan latar belakang berbeda, tetapi tetap terikat dalam persaudaraan.

Hubungan tersebut membuat novel tidak hanya berbicara mengenai percintaan. Pembaca juga diajak melihat kehidupan pemuda yang sedang berjuang menyelesaikan pendidikan, mengembangkan organisasi, menghadapi persoalan keluarga, dan mempersiapkan masa depan.

Persahabatan bahkan menjadi jembatan bagi Falah untuk memahami kelompok mahasiswa yang sebelumnya dianggap berbeda. Novel menunjukkan bahwa seseorang tidak seharusnya dinilai hanya dari penampilan atau label kelompoknya. Di balik penampilan yang dianggap eksentrik, kelompok Senat Malam digambarkan memiliki solidaritas dan kepedulian terhadap isu keadilan sosial.

Cinta yang Tidak Sekadar Berbasis Perasaan

Tema cinta dalam novel ini menarik karena tidak semata-mata dibangun melalui hubungan romantis. Falah menghadapi berbagai kemungkinan dan pertimbangan mengenai perempuan yang hadir dalam kehidupannya. Ia harus berhadapan dengan perasaan terhadap Alia, kedekatan dengan Maya, serta harapan keluarga yang berkaitan dengan Zahra.

Konflik tersebut membuat perjalanan menuju pernikahan tidak terasa instan. Falah harus menyelesaikan pendidikan, menyelesaikan amanah organisasi, dan menentukan pilihan hidupnya.

Pada akhirnya, Falah dan Naira dipertemukan dalam proses yang diarahkan pada kesiapan mental dan spiritual. Mereka mempersiapkan pernikahan selama beberapa bulan dan berusaha menjaga batas-batas yang mereka yakini sesuai dengan nilai agama.

Pernikahan Falah dan Naira kemudian menjadi penutup perjalanan panjang mereka. Nasihat Ustadz Amru setelah akad menegaskan bahwa pernikahan bukanlah akhir perjuangan, tetapi awal dari perjuangan yang lebih besar.

Kelebihan Buku

1. Nilai moral dan religius sangat kuat

Kekuatan utama novel ini adalah pesan moralnya. Pembaca tidak hanya diajak menikmati cerita, tetapi juga diajak merenungkan hubungan manusia dengan Allah, makna amanah, persahabatan, kepemimpinan, kesabaran, dan pernikahan.

2. Karakter tokohnya cukup beragam

Tokoh-tokohnya mempunyai latar dan kepribadian yang berbeda. Ada mahasiswa aktivis, guru, mahasiswa berprestasi, atlet, mahasiswa yang ahli IT, perempuan yang aktif membina muslimah, hingga kelompok mahasiswa yang memiliki karakter keras.

Keragaman tersebut membuat dunia cerita terasa lebih hidup.

3. Latar Bengkulu menjadi daya tarik tersendiri

Novel tidak hanya menggunakan Bengkulu sebagai nama tempat. Pembaca diajak mengenal beberapa ruang yang menjadi bagian dari kehidupan tokoh, seperti Pantai Panjang, kawasan kampus, dan Benteng Marlborough. Deskripsi Benteng Marlborough bahkan cukup panjang dan detail sehingga memberikan sentuhan wisata sejarah dalam novel.

4. Mengajarkan penyelesaian konflik tanpa kekerasan

Adegan Falah menghadapi kelompok Senat Malam menjadi salah satu bagian paling kuat. Ia memilih komunikasi dan pendekatan psikologis dibandingkan perkelahian. Pesan yang muncul cukup jelas: menghadapi kekerasan dengan kekerasan belum tentu menyelesaikan persoalan.

5. Memberikan inspirasi bagi generasi muda

Falah digambarkan sebagai mahasiswa yang tidak hanya mengejar nilai akademik. Ia aktif berorganisasi, mengajar, berdakwah, membangun persahabatan, dan tetap berusaha menjaga prinsip hidupnya.

Gambaran tersebut dapat menjadi inspirasi bahwa masa muda dapat digunakan untuk belajar, berkontribusi, dan membangun karakter.

Kekurangan Buku

1. Karakter utama cenderung terlalu ideal

Falah digambarkan memiliki banyak kelebihan sekaligus: cerdas, religius, pandai berorganisasi, mampu mengajar, ahli berdiplomasi, berani, santun, dan mampu menyelesaikan banyak persoalan.

Bagi sebagian pembaca, karakter yang terlalu sempurna dapat membuat tokoh terasa kurang manusiawi. Akan lebih menarik apabila tokoh utama juga memiliki kelemahan yang lebih kuat sehingga proses perubahan karakternya terasa semakin nyata.

2. Beberapa bagian terasa terlalu panjang

Deskripsi tempat, terutama ketika membahas Benteng Marlborough, sangat detail. Bagi pembaca yang menyukai informasi sejarah dan wisata, bagian tersebut tentu menarik. Namun bagi pembaca yang ingin segera mengikuti perkembangan konflik utama, uraian tersebut dapat terasa memperlambat alur.

3. Pesan moral terkadang disampaikan secara langsung

Novel cukup sering memasukkan nasihat agama dan moral secara eksplisit. Hal ini menjadi kekuatan untuk pembaca yang menyukai novel religi, tetapi bisa terasa terlalu menggurui bagi pembaca yang lebih menyukai pesan moral yang disampaikan secara tersirat melalui tindakan tokoh.

4. Konflik percintaan cukup banyak

Falah berhadapan dengan beberapa tokoh perempuan dan berbagai kemungkinan hubungan. Hal ini membuat cerita menjadi lebih dinamis, tetapi pada beberapa bagian juga dapat membuat pembaca harus mengingat cukup banyak nama dan hubungan antartokoh.

5. Alur penyelesaian konflik cenderung ideal

Beberapa konflik dapat diselesaikan dengan sangat baik dan relatif cepat. Misalnya konflik Falah dengan kelompok Senat Malam yang berakhir dengan perdamaian dan bahkan salat berjamaah. Secara moral adegan ini sangat kuat, tetapi dari sisi realisme, sebagian pembaca mungkin merasa penyelesaiannya terlalu ideal.

Nilai yang Dapat Dipetik

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat dibawa pulang setelah membaca Mahkota di Atas Sajadah.

Pertama, kepemimpinan bukan sekadar jabatan. Dalam novel, Falah menyampaikan bahwa pemimpin bukanlah orang yang mengejar popularitas atau gelar, melainkan orang yang mampu memberikan teladan dan melahirkan perubahan nyata.

Kedua, persahabatan dapat menjadi jalan menuju perubahan. Hubungan Falah dengan berbagai kelompok menunjukkan bahwa perbedaan tidak selalu harus berakhir dengan permusuhan.

Ketiga, pendidikan dan agama dapat berjalan beriringan. Tokoh-tokohnya tidak digambarkan hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga berusaha membangun karakter dan kehidupan spiritual.

Keempat, pernikahan membutuhkan persiapan. Dalam kisah Falah dan Naira, pernikahan bukan sekadar persoalan menemukan pasangan, tetapi juga kesiapan mental, spiritual, dan tanggung jawab. Bahkan setelah akad, mereka tetap melihat rumah tangga sebagai awal perjuangan baru.

Penilaian Akhir

Secara keseluruhan, Mahkota di Atas Sajadah adalah novel religi yang cocok bagi pembaca yang menyukai kisah kehidupan mahasiswa, persahabatan, organisasi, dakwah, dan perjalanan menuju pernikahan.

Kekuatan terbesar buku ini terletak pada pesan tentang iman, persahabatan, kepemimpinan, pendidikan, dan cinta yang diarahkan menuju tanggung jawab. Kekurangannya terutama terletak pada karakter yang terkadang terlalu ideal, beberapa deskripsi yang panjang, serta penyelesaian konflik yang cenderung sangat positif dan ideal.

Namun justru di situlah daya tarik novel ini. Buku ini tidak berusaha menggambarkan kehidupan sebagai dunia yang penuh kegelapan. Sebaliknya, penulis ingin menunjukkan bahwa di tengah konflik, godaan, perbedaan, dan berbagai ujian, manusia masih dapat memilih jalan kebaikan.

Jika harus diberi nilai, saya memberikan 4 dari 5 bintang.

M ahkota di Atas Sajadah pada akhirnya bukan sekadar cerita tentang siapa mendapatkan siapa. Lebih dalam dari itu, novel ini mengajak pembaca memahami bahwa cinta yang baik bukan hanya tentang perasaan yang berdebar, tetapi tentang bagaimana dua manusia mempersiapkan diri untuk memikul amanah bersama.

Sajadah dalam judul buku seolah menjadi simbol bahwa perjalanan menuju kebahagiaan tidak hanya membutuhkan langkah kaki, tetapi juga doa, kesabaran, pengendalian diri, dan ketundukan kepada Sang Pencipta.

Dan mungkin, itulah makna "mahkota" yang sebenarnya: bukan kemewahan, bukan popularitas, bukan pula kesempurnaan manusia, melainkan kehidupan yang dijalani dengan iman, tanggung jawab, dan kebermanfaatan bagi sesama.

tembok rakyat yang jujur

Ketika Tembok Kampung Lebih Jujur daripada Spanduk Pemerintah

Pagi-pagi, saya sedang menikmati kopi sambil membuka media sosial. Niat awalnya sederhana: mencari kabar terbaru, membaca tulisan teman, lalu mungkin menulis satu-dua paragraf untuk blog. Tetapi algoritma media sosial rupanya punya rencana lain. Tiba-tiba muncul sebuah foto tembok dengan tulisan yang membuat saya berhenti menyeruput kopi.

Tulisan di tembok itu kira-kira begini:

“Kami disuruh bayar pajak, disuruh buat laporan juga. Seharusnya kalian yang laporan, rinciannya ke rakyat untuk apa saja uang pajaknya.”

Saya langsung tertawa.

Bukan karena rakyat tidak mau membayar pajak. Bukan pula karena laporan itu tidak penting. Saya tertawa karena tulisan di tembok tersebut terasa seperti sedang mengajak pemerintah ngobrol dari hati ke hati.

Bedanya, kalau rakyat mengajak ngobrol lewat surat resmi, mungkin suratnya harus pakai kop, nomor surat, lampiran, tanda tangan, stempel, dan menunggu disposisi.

Kalau tembok?

Tinggal ambil cat.

Selesai.

Tidak perlu nomor surat. Tidak perlu stempel. Tidak perlu rapat koordinasi. Dan yang paling penting, tidak ada istilah “akan kami tindak lanjuti.”

Saya membayangkan kalau tembok bisa bicara, mungkin dia akan berkata, “Saya cuma menyampaikan aspirasi warga. Jangan salahkan saya. Saya hanya kebagian dinding.”

Sebagai guru dan blogger, saya kemudian berpikir, ternyata masyarakat Indonesia memiliki banyak cara untuk menyampaikan pendapat. Ada yang menulis di koran, ada yang membuat video, ada yang membuat meme, ada yang berdiskusi di warung kopi, dan ada juga yang memilih media paling murah meriah: tembok kampung.

Tembok ternyata bukan cuma tempat menempelkan poster calon pejabat.

Tembok juga bisa menjadi media sosial versi offline.

Tidak perlu kuota. Tidak perlu Wi-Fi. Tidak perlu tombol like. Tidak perlu follower.

Yang dibutuhkan cuma cat dan keberanian.

Kalau di media sosial seseorang bisa mendapatkan ribuan komentar, di tembok mungkin komentarnya berbentuk obrolan ibu-ibu yang sedang lewat.

“Eh, sudah baca tulisan di tembok?”

“Sudah.”

“Menurut kamu benar nggak?”

“Entahlah. Yang penting saya bayar pajak.”

“Terus?”

“Ya berharap uangnya dipakai dengan baik.”

Lalu percakapan selesai karena tukang sayur datang.

Begitulah demokrasi berjalan di gang-gang kecil.

Saya kemudian teringat pengalaman saya sebagai guru. Guru juga akrab dengan dunia laporan. Ada laporan pembelajaran, laporan kegiatan, laporan administrasi, laporan pertanggungjawaban, laporan evaluasi, dan kadang-kadang laporan yang membuat kita bertanya dalam hati:

“Ini laporan dibuat untuk siapa sebenarnya?”

Hehehe.

Jangan-jangan suatu hari nanti guru juga menulis di tembok sekolah:

“Kami disuruh mengajar, disuruh membuat laporan juga. Seharusnya yang membuat kebijakan juga membaca laporan kami.”

Waduh!

Kalau itu terjadi, mungkin kepala sekolah langsung mencari penghapus.

Tapi sebelum menghapus, saya kira ada baiknya membaca pesannya.

Sebab kritik tidak selalu berarti kebencian.

Kadang kritik justru merupakan bentuk kepedulian.

Masyarakat yang membayar pajak tentu memiliki hak untuk mengetahui bagaimana uang publik dikelola. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki kewajiban memberikan informasi yang mudah dipahami masyarakat. Tidak semua orang mampu membaca dokumen anggaran setebal skripsi mahasiswa tingkat akhir.

Rakyat mungkin tidak membutuhkan tabel yang rumit.

Mereka hanya ingin tahu:

“Uang kami digunakan untuk apa?”

Jalan diperbaiki atau tidak?

Sekolah dibantu atau tidak?

Puskesmas diperkuat atau tidak?

Transportasi diperbaiki atau tidak?

Pelayanan publik semakin mudah atau malah semakin banyak antreannya?

Kalau semua itu dijelaskan dengan bahasa sederhana, rakyat tentu akan lebih mudah memahami.

Saya membayangkan suatu saat ada papan pengumuman besar di setiap kelurahan:

PAJAK ANDA TAHUN INI DIGUNAKAN UNTUK:

  1. Memperbaiki jalan.
  2. Membantu pendidikan.
  3. Meningkatkan pelayanan kesehatan.
  4. Memperbaiki fasilitas umum.
  5. Dan lain-lain secara transparan.

Kalau perlu, dibuat versi digitalnya.

Klik.

Muncul rincian.

Klik lagi.

Muncul laporan.

Klik lagi.

Muncul foto hasil pembangunan.

Nah, rakyat senang.

Tidak perlu mencari-cari informasi sampai bertanya kepada tetangga.

Karena sebenarnya rakyat tidak alergi terhadap pajak.

Yang kadang membuat rakyat mengernyitkan dahi adalah ketika mereka diminta membayar dengan penuh disiplin, tetapi informasi mengenai penggunaannya terasa seperti soal ujian yang jawabannya disembunyikan guru.

Sebagai blogger, saya belajar satu hal penting: transparansi adalah bentuk komunikasi.

Kalau komunikasi dilakukan dengan baik, kecurigaan bisa berkurang.

Kalau komunikasi buruk, prasangka tumbuh subur.

Dan kalau prasangka sudah tumbuh subur, jangan heran kalau tembok kampung berubah menjadi kolom opini.

Saya jadi ingin membuat istilah baru:

“Jurnalisme Tembok.”

Medianya tembok.

Redakturnya warga.

Reporternya orang yang lewat.

Fotografernya netizen.

Distribusinya media sosial.

Komentarnya rakyat.

Dan algoritmanya… ya, tergantung seberapa menarik tulisan catnya!

Hehehe.

Namun, di balik humor itu ada pesan serius.

Kita hidup di zaman ketika masyarakat semakin kritis. Mereka bukan hanya ingin menjadi objek kebijakan. Mereka ingin menjadi bagian dari percakapan.

Maka, ketika rakyat bertanya, jangan buru-buru dianggap cerewet.

Ketika rakyat mengkritik, jangan langsung dianggap tidak bersyukur.

Ketika rakyat meminta laporan, jangan dianggap sebagai musuh.

Justru pertanyaan rakyat dapat menjadi pengingat agar pengelolaan uang publik dilakukan semakin transparan dan bertanggung jawab.

Saya sendiri percaya, uang rakyat harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pelayanan dan kemanfaatan.

Sebab pajak bukan sekadar angka yang masuk ke kas negara atau daerah. Di balik angka itu ada keringat orang tua, pedagang, guru, pekerja, pengusaha, petani, nelayan, dan jutaan masyarakat lainnya.

Mereka membayar bukan karena ingin menjadi pejabat.

Mereka membayar karena memang ada kewajiban sebagai warga negara.

Maka wajar jika mereka berharap pengelolaannya dilakukan dengan baik.

Akhirnya saya menutup ponsel dan kembali menyeruput kopi.

Saya tersenyum sendiri.

Hari ini saya belajar dari sebuah tembok.

Ternyata tembok yang selama ini kita kira hanya benda mati bisa menjadi papan pengingat kehidupan bernegara.

Kalau suatu hari saya melihat tembok bertuliskan:

“Omjay, jangan cuma menyuruh orang menulis. Omjay juga harus menulis!”

Saya akan menurut.

Saya ambil laptop.

Saya menulis.

Sebab mantra saya sederhana:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Dan hari ini yang terjadi adalah saya belajar bahwa terkadang tembok bisa lebih berani berbicara daripada manusia.

Bedanya, manusia kalau salah ngomong bisa bilang, “Maaf, tadi keceplosan.”

Kalau tulisan sudah dicat di tembok?

Wah, harus mengecat ulang.

Itulah sebabnya, sebelum menulis di tembok, sebaiknya pikirkan baik-baik.

Tetapi kalau menulis di blog, silakan.

Karena kalau ada yang tidak setuju, tinggal komentar.

Kalau komentarnya panjang, saya jawab.

Kalau debatnya makin panjang, saya bikin artikel baru.

Kalau artikelnya viral...

Alhamdulillah.

Kopi pun terasa lebih manis.

Dan mungkin, di situlah keajaiban menulis:

satu tulisan bisa membuat orang berpikir, satu humor bisa membuat orang tertawa, dan satu kritik yang disampaikan dengan baik bisa membuat kita semua belajar menjadi warga negara yang lebih dewasa.

🇮🇩 HARI INI PERJUANGAN MENULIS DI BLOG DIMULAI! ✍️🔥

Nah, setelah belajar dari tembok yang berani menyampaikan suara rakyat, saya semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu cara kita mengisi kemerdekaan.

Jangan cuma jadi pembaca.

Jangan hanya menjadi penonton.

Jangan sampai setiap hari kita sibuk membaca tulisan orang lain, tetapi ketika ditanya, “Kapan kamu mulai menulis?”, jawabannya selalu, “Nanti kalau sudah punya waktu.”

Masalahnya, kalau menunggu punya waktu luang, bisa-bisa kita menunggu sampai cucu kita menjadi kepala sekolah!

Hari ini, 17 Agustus 2026, bertepatan dengan semangat kemerdekaan Republik Indonesia, perjuangan menulis melalui Lomba Blog Wijaya Kusumah – Omjay Guru Blogger Indonesia resmi dimulai.

🎯 MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI!

Buat tulisan terbaikmu.

Ceritakan pengalamanmu.

Bagikan gagasanmu.

Tuliskan praktik baik yang pernah dilakukan.

Ceritakan kisah inspiratif.

Atau sampaikan ide yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.

Jangan biarkan ide bagus mati karena terlalu lama disimpan.

💪 Jangan takut tulisanmu belum sempurna.

✍️ Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

🔥 Mulailah menulis, karena penulis hebat juga pernah menjadi pemula.

Kalau tembok saja berani menyampaikan pesan dengan cat, masa kita yang punya laptop, ponsel, dan akses internet malah takut menulis?

Hehehe.

Tembok saja berani!

Masa blogger kalah berani?

Karena itu, jangan lupa daftar sebagai peserta Lomba Blog Wijaya Kusumah – Omjay Guru Blogger Indonesia.

👉 Daftar Lomba Blog Wijaya Kusumah – Omjay

Ayo ajak guru, siswa, mahasiswa, penulis, blogger, dan siapa saja yang punya cerita untuk ikut berjuang melalui tulisan.

Mari kita isi kemerdekaan dengan karya.

Mari kita ubah pengalaman menjadi tulisan.

Mari kita ubah tulisan menjadi inspirasi.

Dan mari kita buktikan bahwa blog masih bisa menjadi ruang perjuangan untuk menyebarkan gagasan positif, pengalaman baik, dan inspirasi bagi Indonesia.

Hari ini mungkin kita hanya menulis satu artikel.

Besok mungkin ada satu orang yang terinspirasi.

Lusa mungkin ada satu perubahan kecil.

Dan siapa tahu, beberapa tahun kemudian tulisan sederhana kita menjadi kenangan berharga yang dibaca anak cucu.

Itulah hebatnya tulisan.

Tulisan bisa selesai dibuat hari ini, tetapi umurnya bisa jauh lebih panjang daripada penulisnya.

Merdeka menulis!

Merdeka menginspirasi! 🇮🇩✍️🔥

Salam blogger Indonesia,

Omjay Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.


Minggu, 16 Agustus 2026

Susanah Ternyata Penjahit Bukan Pengupas Bawang

Susanah Ternyata Penjahit, Kisah Omjay tentang Pidato Presiden dan Komdigi yang Harus Menjahit Kembali Informasi

Oleh: Omjay Guru Blogger Indonesia

Ada satu cerita menarik yang membuat saya tersenyum sekaligus mengernyitkan dahi beberapa hari ini. Namanya Susanah. Seorang perempuan sederhana yang bekerja keras untuk membantu keluarganya memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam sebuah pidato kenegaraan, pekerjaan Susanah tiba-tiba berubah. Ia disebut sebagai buruh harian pengupas bawang dengan penghasilan Rp700 ribu per kilogram.

Waduh!

Kalau benar Rp700 ribu untuk mengupas satu kilogram bawang, saya kira bukan hanya warganet yang tertarik. Saya pun mungkin akan ikut antre mencari pekerjaan sebagai pengupas bawang. Guru blogger bisa banting setir menjadi pengupas bawang. Lumayan, siapa tahu sehari bisa mengupas 10 kilogram. Tinggal dikalikan saja.

Tetapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu.

Setelah dilakukan klarifikasi, Susanah ternyata bukan pengupas bawang. Ia adalah seorang penjahit kain majun atau kain perca. Upahnya pun bukan Rp700 ribu per kilogram, melainkan sekitar Rp700 per kilogram.

Nah, di sinilah cerita menjadi semakin menarik.

Saya membaca tulisan Bang Rosadi Jamani tentang persoalan ini sambil menyeruput kopi. Dalam hati saya berkata, “Waduh, ternyata Susanah tidak salah. Prabowo juga mungkin tidak salah karena beliau membaca naskah. Lalu, di mana simpul masalahnya?”

Susanah hanya bekerja.

Presiden hanya membaca pidato.

Sementara Komdigi kemudian harus turun tangan melakukan pelurusan informasi.

Saya pun membayangkan suasananya.

Presiden sudah selesai berpidato. Rakyat sudah mendengarkan. Media sudah memberitakan. Warganet sudah membuat meme. Bahkan mungkin ada orang yang mulai serius bertanya, “Di mana saya bisa melamar menjadi pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram?”

Kemudian datanglah klarifikasi.

“Mohon tenang. Susanah bukan pengupas bawang.”

Warganet mungkin menjawab, “Lho, terus siapa yang mengupas bawangnya?”

“Bukan itu persoalannya.”

“Terus Rp700 ribu?”

“Juga bukan.”

“Lalu berapa?”

“Rp700.”

Nah!

Di sinilah saya merasa kasihan kepada Komdigi.

Bukan karena Komdigi tidak boleh melakukan klarifikasi. Justru klarifikasi sangat penting. Informasi yang keliru memang harus segera diluruskan. Apalagi kalau informasi tersebut sudah telanjur disampaikan dalam forum kenegaraan dan didengar oleh jutaan masyarakat.

Tetapi saya jadi bertanya-tanya, mengapa pekerjaan meluruskan informasi harus dilakukan setelah pidato selesai?

Bukankah seharusnya data diperiksa lebih dahulu sebelum masuk ke naskah pidato?

Inilah pelajaran penting dari kisah Susanah.

Satu angka bisa mengubah seluruh cerita.

Rp700 menjadi Rp700.000 bukan sekadar salah ketik kecil. Nilainya melonjak seribu kali lipat. Pekerjaan Susanah pun berubah dari penjahit kain majun menjadi pengupas bawang.

Padahal Susanah sendiri tetap Susanah.

Ia tidak berubah.

Ia tetap seorang ibu yang bekerja keras membantu keluarganya.

Ia tetap seorang istri dari suami yang pekerjaannya tidak selalu tersedia.

Ia tetap ibu dari tiga anak yang berusaha mempertahankan pendidikan anak-anaknya meskipun terkadang harus berutang.

Menurut informasi yang diklarifikasi, dalam sehari Susanah mengerjakan sekitar 20 kilogram kain majun dengan penghasilan sekitar Rp14 ribu. Pada hari tertentu, bersama ibu-ibu lainnya, pekerjaannya bisa mencapai sekitar 50 kilogram.

Siang hari, ia masih bekerja mencuci ompreng di dapur program MBG untuk menambah penghasilan.

Saya membaca kisah itu lalu terdiam.

Di balik angka yang salah dalam sebuah pidato, ternyata ada kehidupan seorang manusia yang nyata.

Ada seorang ibu.

Ada keluarga.

Ada perjuangan.

Ada anak-anak yang ingin terus sekolah.

Ada dapur rumah tangga yang harus tetap mengepul.

Dan ada seorang perempuan yang mungkin tidak pernah membayangkan namanya akan menjadi pembicaraan nasional.

Susanah tidak meminta menjadi terkenal.

Ia tidak meminta pekerjaannya disebut dalam pidato.

Ia juga tidak meminta warganet mencari tahu tentang dirinya.

Ia hanya bekerja.

Maka menurut saya, jangan sampai kesalahan penyebutan membuat Susanah justru menjadi bahan tertawaan. Yang perlu kita tertawakan adalah situasinya, bukan orangnya.

Saya justru salut kepada Susanah.

Di tengah kehidupan yang tidak mudah, ia tetap bekerja. Ketika penghasilan suaminya sebagai buruh bangunan tidak menentu, ia ikut mencari tambahan penghasilan. Ketika kebutuhan pendidikan anak-anak terus berjalan, ia tidak menyerah.

Inilah wajah rakyat Indonesia yang sesungguhnya.

Rakyat kecil yang sering kali tidak masuk televisi, tetapi setiap hari bekerja keras menjaga keluarganya.

Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu menjadi bahan renungan pemerintah.

Pidato kenegaraan bukan tempat untuk mencoba-coba data.

Setiap angka harus diperiksa.

Setiap nama harus diverifikasi.

Setiap profesi harus dipastikan.

Sebab ketika seorang presiden menyampaikan sesuatu dari podium kenegaraan, masyarakat tentu menganggap informasi itu benar dan telah melalui proses pemeriksaan yang matang.

Kalau ternyata salah, pekerjaan rumahnya menjadi panjang.

Media memberitakan.

Warganet membahas.

Meme bermunculan.

Lalu kementerian terkait harus melakukan klarifikasi.

Saya membayangkan kalau kejadian seperti ini berulang terus, jangan-jangan nanti muncul direktorat baru.

Namanya:

Direktorat Jenderal Pelurusan Pidato Presiden.

Tugasnya sederhana.

Presiden membaca.

Tim mendengarkan.

Kalau benar, diam.

Kalau ada kesalahan, langsung bergerak.

“Cepat! Cari Susanah!”

“Siap!”

“Pekerjaannya apa?”

“Penjahit, Pak!”

“Di pidato tertulis apa?”

“Pengupas bawang!”

“Waduh! Siapkan klarifikasi!”

Begitulah humor kecil saya ketika membaca persoalan ini.

Namun di balik humor tersebut ada pesan serius.

Kita membutuhkan budaya verifikasi sebelum publikasi, bukan klarifikasi setelah viral.

Ini berlaku bukan hanya untuk pemerintah. Berlaku juga untuk kita semua.

Sebagai guru blogger, saya belajar bahwa ketika menulis satu nama, satu angka, satu tempat, atau satu peristiwa, sebaiknya kita melakukan pengecekan terlebih dahulu.

Jangan sampai tulisan sudah viral, baru kita mencari sumber.

Jangan sampai angka sudah salah, baru kita mencari pembenarannya.

Jangan sampai orang sudah dirugikan, baru kita sibuk membuat klarifikasi.

Apalagi di era media sosial. Satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi bola salju informasi.

Sekali masuk internet, ia sulit ditarik kembali.

Itulah yang terjadi pada kisah Susanah.

Pidatonya mungkin sudah selesai.

Tetapi ceritanya belum selesai.

Karena internet punya ingatan yang panjang.

Meme boleh lucu, tetapi jangan sampai manusia di balik meme dilupakan.

Bagi saya, kisah Susanah justru harus kita lihat dari sisi lain.

Ia adalah gambaran rakyat kecil yang bekerja keras.

Ia adalah seorang ibu yang tidak malu bekerja.

Ia adalah bagian dari jutaan keluarga Indonesia yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang sederhana.

Jangan hanya melihat angka Rp700.

Lihatlah manusia di balik angka itu.

Jangan hanya tertawa karena Rp700 ribu berubah menjadi Rp700.

Lihatlah perjuangan Susanah mendapatkan Rp700 tersebut.

Dan jangan pula menjadikan Komdigi sebagai kambing hitam karena melakukan klarifikasi.

Mereka justru sedang menjalankan tugasnya.

Yang perlu kita dorong adalah bagaimana sistem pemeriksaan informasi pemerintah diperkuat sehingga kementerian tidak perlu berkali-kali menjadi “pemadam kebakaran informasi”.

Saya jadi teringat kalimat sederhana:

“Lebih baik teliti sebelum bicara daripada sibuk meluruskan setelah bicara.”

Presiden memang manusia.

Pembaca pidato juga manusia.

Penulis naskah juga manusia.

Petugas pemeriksa data juga manusia.

Kesalahan bisa terjadi.

Tetapi karena yang berbicara adalah kepala negara, standar ketelitiannya tentu harus jauh lebih tinggi.

Sebab satu kalimat Presiden bisa didengar seluruh negeri.

Satu angka bisa menjadi berita.

Satu kesalahan bisa menjadi meme.

Dan satu klarifikasi bisa membuat satu kementerian bekerja ekstra.

Maka, semoga kisah Susanah menjadi pelajaran bersama.

Bukan untuk mempermalukan siapa pun.

Bukan untuk menghukum siapa pun.

Tetapi untuk memperbaiki cara kita mengelola informasi.

Dan untuk Susanah, saya hanya ingin mengatakan:

Tetaplah bekerja dan jangan berkecil hati.

Anda bukan sekadar nama dalam sebuah pidato.

Anda adalah gambaran perjuangan rakyat kecil yang tetap bekerja meskipun penghasilan tidak besar.

Anda mengajarkan kepada kita bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh ketekunan dan kejujuran dalam menjalani kehidupan.

Sementara untuk kita semua, terutama yang gemar menulis dan membuat konten, kisah Susanah memberi pelajaran sederhana:

Cek dulu sebelum menyebarkan. Verifikasi dulu sebelum menulis. Jangan buru-buru mengejar viral.

Sebab kalau salah, kita bisa saja membuat orang lain sibuk menjahit kembali informasi yang sudah terlanjur sobek.

Dan kali ini, Susanah ternyata seorang penjahit.

Komdigi pun akhirnya ikut menjahit.

Semoga ke depan, naskah pidato dijahit lebih rapi sebelum dibacakan.

Jangan sampai Presiden bicara satu kalimat, lalu satu kementerian harus mencari benang untuk meluruskannya.

Mari kita seruput kopi dulu.

Koptagul, wak!

Sambil tertawa, kita tetap belajar.

Karena di balik cerita yang lucu, selalu ada pelajaran yang serius.

Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Bang Rosadi Jamani dan dikembangkan kembali dalam gaya “Kisah Omjay”, dengan fokus pada sisi kemanusiaan, literasi informasi, dan pentingnya verifikasi data.


Sabtu, 15 Agustus 2026

Agustus Makin Panas Semenjak Ada Lomba Blog Omjay 2026 Berhadiah 125 Juta

🔥 AGUSTUS MAKIN PANAS! LOMBA BLOG OMJAY 2026 SIAP BIKIN JARI-JARI MENARI! 🇮🇩✍️

Apa yang paling seru di bulan Agustus?

Bukan cuma panjat pinang!

Bukan cuma lomba makan kerupuk!

Bukan cuma balap karung!

Dan bukan pula rebutan kursi saat acara tujuhbelasan. 😂

Tahun ini ada yang jauh lebih seru: LOMBA BLOG OMJAY 2026! 🔥🔥🔥

Bayangkan, di bulan ketika seluruh rakyat Indonesia sedang gegap gempita merayakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, para guru, mahasiswa, pelajar, blogger, penulis, dan pecinta literasi diajak bertanding dengan cara yang unik.

Bukan adu lari.

Bukan adu kuat.

Bukan adu cepat menghabiskan kerupuk.

Tetapi…

ADU GAGASAN!

ADU KREATIVITAS!

ADU KEKUATAN CERITA!

Dan yang paling penting…

ADU SIAPA YANG MAMPU MEMBUAT PEMBACA BERHENTI SCROLL LALU BERKATA: “Wah, keren juga tulisan ini!” 😄✍️

Inilah semangat “MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI!”

🇮🇩 KEMERDEKAAN BUKAN HANYA DIRAYAKAN, TAPI DITULISKAN!

Selama ini kita sering melihat kemerdekaan dirayakan dengan berbagai perlombaan di lingkungan RT, sekolah, kantor, kampung, dan komunitas.

Tetapi ada satu perlombaan yang bisa dilakukan sambil duduk manis di depan laptop atau memegang handphone.

Tidak perlu memakai sepatu olahraga.

Tidak perlu latihan fisik.

Tidak perlu takut jatuh dari panjat pinang.

Cukup siapkan ide, pengalaman, cerita, dan keberanian untuk menulis.

Lalu biarkan tulisanmu berlari menuju hati pembaca.

Inilah yang ingin dihidupkan melalui Lomba Blog OmJay 2026.

OmJay Guru Blogger Indonesia mengajak seluruh pecinta literasi untuk menjadikan momentum kemerdekaan sebagai kesempatan melahirkan karya.

Sebab Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang tidak hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu menuliskan gagasannya dengan baik.

Indonesia membutuhkan guru yang mau berbagi praktik baik.

Indonesia membutuhkan siswa yang berani bercerita.

Indonesia membutuhkan mahasiswa yang kritis.

Indonesia membutuhkan blogger yang kreatif.

Indonesia membutuhkan penulis yang tidak lelah menyebarkan energi positif.

Dan mungkin…

Indonesia sedang menunggu tulisanmu!

🚨 MALAM INI ADA WEBINAR NASIONAL!

Nah, buat Anda yang sudah penasaran dan bertanya-tanya:

“Bagaimana sih lombanya?”

“Apa temanya?”

“Siapa saja yang boleh ikut?”

“Apa hadiahnya?”

“Bagaimana cara mendaftarnya?”

Tenang!

Malam ini semuanya akan dibahas dalam Webinar Nasional & Sosialisasi Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81.

📅 Sabtu, 15 Agustus 2026

Pukul 19.00 WIB

💻 Live via Zoom Meeting

Jadi, jangan sampai malam ini malah sibuk mencari sandal untuk lomba 17-an, sementara kesempatan emas ada di depan mata. 😂

Segera siapkan kopi, teh, camilan, laptop, atau handphone.

Karena malam ini kita akan ngobrol tentang menulis, blogging, literasi digital, dan peluang menjadi pemenang Lomba Blog OmJay 2026.

🎁 EH, ADA HADIAH DAN BENEFIT SPONSOR JUGA!

Ini bagian yang biasanya membuat mata peserta langsung melek. 😂

Selain kesempatan menunjukkan kemampuan menulis, lomba ini juga menghadirkan benefit menarik dari Euro Management Indonesia.

Total benefit pendidikan yang disiapkan mencapai:

💰 Rp125.000.000!

Bukan uang tunai yang dibagikan begitu saja, tetapi berupa benefit pendidikan yang sangat menarik, antara lain:

✅ IELTS Prediction Test
✅ SAT Prediction Test
✅ Kursus Bahasa Jerman 20 Jam
GRATIS!

Wah!

Menulis dapat pengalaman.

Menulis dapat jaringan.

Menulis dapat kesempatan dikenal.

Menulis dapat peluang memenangkan hadiah.

Dan yang lebih menarik, bisa mendapatkan benefit pendidikan bertaraf internasional.

Kalau sudah begini, masih mau bilang menulis itu tidak ada gunanya?

Hehehe…

Coba pikirkan lagi! 😄

✍️ JANGAN CUMA JADI PEMBACA, JADILAH PEMBUAT CERITA!

Ada jutaan orang setiap hari membuka internet.

Mereka membaca berita.

Mereka membaca artikel.

Mereka melihat video.

Mereka membaca status media sosial.

Tetapi tidak semuanya mau mengambil waktu untuk menulis.

Padahal setiap orang sebenarnya memiliki cerita.

Guru punya cerita.

Kepala sekolah punya cerita.

Siswa punya cerita.

Mahasiswa punya cerita.

Orang tua punya cerita.

Blogger punya cerita.

Bahkan pengalaman sederhana ketika mengajar di kelas pun bisa menjadi tulisan yang sangat menarik jika ditulis dengan hati.

OmJay sering mengatakan:

“Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.”

Kalimat sederhana ini sebenarnya mengandung tantangan besar.

Menulis bukan sekadar menghasilkan kata.

Menulis adalah meninggalkan jejak.

Hari ini kita menulis satu artikel.

Besok mungkin ada orang yang membacanya.

Lusa mungkin ada orang yang terinspirasi.

Bulan depan mungkin ada orang yang menerapkan gagasan kita.

Dan beberapa tahun kemudian, tulisan itu bisa menjadi dokumentasi perjalanan hidup yang sangat berharga.

🔥 LOMBA BLOG INI BISA JADI PANGGUNG ANDA!

Bagi sebagian orang, lomba adalah tempat mencari juara.

Tetapi bagi OmJay, lomba blog juga bisa menjadi panggung untuk menunjukkan karya.

Mungkin selama ini Anda menulis hanya untuk diri sendiri.

Mungkin tulisan Anda hanya tersimpan di laptop.

Mungkin pengalaman mengajar Anda hanya diketahui teman-teman di sekolah.

Mungkin gagasan Anda selama ini hanya berhenti di grup WhatsApp.

Nah!

Sekarang waktunya naik kelas.

Tulis. Publikasikan. Bagikan.

Biarkan lebih banyak orang membaca.

Biarkan tulisan Anda menjadi inspirasi.

Dan siapa tahu…

Juri justru menemukan tulisan Anda sebagai salah satu karya terbaik!

🚀 JANGAN TAKUT TULISANMU JELEK!

Ini penyakit yang sering menyerang calon penulis.

Baru mau menulis sudah berkata:

“Ah, tulisan saya biasa saja.”

“Saya bukan penulis.”

“Saya tidak pintar merangkai kata.”

“Saya takut tidak bagus.”

“Takut tidak menang.”

Stop!

Jangan kalah sebelum bertanding.

Kalau panjat pinang saja harus mencoba berkali-kali untuk mencapai puncak, menulis juga begitu.

Tulisan pertama mungkin masih berantakan.

Tulisan kedua mulai lebih baik.

Tulisan kesepuluh mulai menemukan gaya.

Tulisan keseratus bisa membuat orang berkata:

“Wah, ini penulisnya sudah matang!”

Jadi jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.

Mulailah menulis agar suatu hari menjadi penulis hebat.

🇮🇩 INILAH CARA KITA MENGISI KEMERDEKAAN

Kemerdekaan memberikan kita ruang untuk berpikir.

Kemerdekaan memberikan kita kesempatan untuk belajar.

Kemerdekaan memberikan kita kebebasan menyampaikan gagasan dengan bertanggung jawab.

Maka mari gunakan kemerdekaan itu untuk sesuatu yang positif.

Daripada hanya berkata:

“Merdeka!”

Mari kita buktikan dengan karya.

Daripada hanya memasang bendera di depan rumah, mari kita pasang juga semangat berkarya di dalam diri.

Daripada hanya menonton perlombaan, mari ikut perlombaan.

Dan kalau tidak bisa berlari…

ya menulislah! 😂

Karena dalam Lomba Blog OmJay 2026, yang dicari bukan siapa yang paling cepat berlari.

Tetapi siapa yang mampu membuat kata-kata berlari menuju hati pembaca.

🔥 SUDAH SIAP IKUT?

Kalau jawabannya SIAP!

Maka jangan berhenti sampai di sini.

Ajak teman.

Ajak guru.

Ajak siswa.

Ajak mahasiswa.

Ajak komunitas.

Ajak blogger.

Ajak siapa saja yang punya cerita dan ingin menginspirasi Indonesia.

Karena semakin banyak orang menulis, semakin banyak pula gagasan positif yang beredar di ruang digital.

Mari kita buat internet Indonesia tidak hanya ramai oleh konten hiburan.

Mari kita penuhi ruang digital dengan ilmu, pengalaman, kreativitas, inspirasi, dan cerita-cerita baik.

Dan akhirnya, kita bisa mengatakan:

“Saya memang tidak ikut panjat pinang tahun ini, tetapi saya ikut memanjatkan harapan melalui tulisan.” 😂✍️🇮🇩

Jadi sekali lagi…

🇮🇩 MERDEKA MENULIS!

🔥 MERDEKA BERKARYA!

✍️ MERDEKA MENGINSPIRASI!

Lomba Blog OmJay 2026 — saatnya tulisanmu bersinar!

Jangan hanya menjadi penonton.

Jadilah bagian dari sejarah.

Tulis ceritamu. Bagikan inspirasimu. Menangkan kesempatanmu!

OmJay Guru Blogger Indonesia

#LombaBlog2026 #OmJayGuruBloggerIndonesia #MerdekaMenulis #MerdekaMenginspirasi #KemerdekaanRI81 #MenulisUntukIndonesia #LiterasiDigital #WebinarNasional #EuroManagementIndonesia #Beasiswa125Juta #IELTS #SAT #BahasaJerman #BloggerIndonesia #GuruMenulis #IndonesiaMembaca #IndonesiaMenulis

Sosialisasi Lomba Blog Omjay

🇮🇩 MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI! ✍️🔥

Saatnya buktikan bahwa tulisanmu mampu membawa perubahan untuk Indonesia!

OmJay Guru Blogger Indonesia dengan bangga mengundang Anda mengikuti Webinar Nasional & Sosialisasi Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81.

📅 Sabtu, 15 Agustus 2026
🕖 Pukul 19.00 WIB
💻 Live via Zoom Meeting
Join Zoom Meeting
https://us06web.zoom.us/j/85380891054?pwd=bcCwpVOs07dP4V7KFS5STsZ6vznWP8.1

Meeting ID: 853 8089 1054
Passcode: 12345

🎯 Yang akan Anda dapatkan:
✅ Informasi lengkap Ketentuan Lomba Blog Nasional
✅ Teknik menulis artikel yang menarik & berkualitas
✅ Strategi meningkatkan literasi digital
✅ Tips menjadi penulis blog yang inspiratif
✅ Informasi hadiah dan sponsor lomba

🎁 Benefit Spesial dari Sponsor: Euro Management Indonesia 🏆 Total Benefit Pendidikan Senilai Rp125.000.000, berupa: 
✔ IELTS Prediction Test 
✔ SAT Prediction Test 
✔ Kursus Bahasa Jerman 20 Jam
💯 GRATIS! 

Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk menambah wawasan, memperluas jaringan, dan membuka peluang meraih hadiah serta benefit pendidikan bertaraf internasional.

📲 Segera daftar, ajak rekan, guru, mahasiswa, pelajar, dan seluruh pecinta literasi untuk bergabung!

_Link Registrasi Pendaftaran :_
https://forms.gle/ewt6gSQy6uSger679

Penyelenggara: OmJay Guru Blogger Indonesia

Sponsor Utama: Euro Management Indonesia – Gateway to Study Worldwide

#LombaBlog2026 #OmJayGuruBloggerIndonesia #EuroManagementIndonesia #KemerdekaanRI81 #MenulisUntukIndonesia #LiterasiDigital #Beasiswa125Juta #IELTS #SAT #BahasaJerman #WebinarNasional #StudyAbroad

Jumat, 14 Agustus 2026

Kisah Kakek Mas Ahmad Dimjati


Jejak Kakek Dimjati di Al-Azhar: Dari Aula Masjid hingga Menjadi Sekolah Besar

Ada cerita yang terasa berbeda ketika datang langsung dari anaknya sendiri. Cerita itu bukan sekadar kenangan seorang cucu kepada kakeknya, tetapi kesaksian dari orang yang menyaksikan perjalanan hidup sang ayah dari dekat. Begitulah kisah Kakek M.A. Dimjati yang diceritakan oleh Mas Achmad Hanafi, Om Oi, anak beliau.

Menurut cerita Om Oi, dahulu nama masjid yang sekarang dikenal sebagai Masjid Agung Al-Azhar adalah Masjid Agung Kebayoran. Dalam pembangunan masjid tersebut, Uyut H.M.D. Sutawijaya, ayah dari Nene Djubaedah, juga ikut menjadi panitia pembangunan. Saat itu beliau bekerja di Kotapraja dan kantornya berada di kawasan CSW, yang sekarang dikenal sebagai lokasi Gedung ASEAN. Dari lingkungan inilah keluarga kemudian memiliki hubungan yang cukup dekat dengan perjalanan awal Masjid Agung Kebayoran.

Namun, ada bagian sejarah yang sangat menarik dan penting bagi keluarga, yaitu kiprah Kakek M.A. Dimjati dalam mendirikan dan mengembangkan sekolah di lingkungan masjid tersebut.

Pada sekitar tahun 1960-an, menurut penuturan Om Oi, sekolah yang didirikan Kakek Dimjati bernama Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran. Sekolah itu pada awalnya belum memiliki gedung besar seperti sekolah yang kita kenal sekarang. Kegiatan belajar mengajar justru dimulai dari tempat yang sangat sederhana, yaitu aula masjid.

Bayangkan suasana kelas pada masa itu. Anak-anak belajar di aula masjid, duduk di bawah, dengan bangku panjang yang dalam satu baris dapat digunakan oleh sekitar sepuluh orang. Tidak ada ruang kelas yang megah. Tidak ada fasilitas modern. Tidak ada berbagai perangkat teknologi seperti yang dimiliki sekolah masa kini.

Tetapi pendidikan tidak pernah menunggu gedung menjadi sempurna.

Ada guru yang mau mengajar. Ada murid yang mau belajar. Ada orang tua yang percaya kepada pendidikan. Dan ada sosok seperti Kakek Dimjati yang berani memulai.

Inilah bagian yang membuat saya semakin terharu ketika menelusuri kisah Kakek Dimjati. Sebuah sekolah yang kelak berkembang besar ternyata pernah dimulai dari aula masjid dengan bangku panjang dan murid-murid yang duduk bersama-sama. Kebesaran sebuah lembaga pendidikan ternyata memang sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Seiring berjalannya waktu, jumlah murid semakin banyak. Aula masjid tidak lagi mampu menampung seluruh anak yang ingin belajar. Karena itu, kegiatan belajar kemudian dipindahkan ke beberapa ruangan di sekitar Masjid Agung Kebayoran. Guru yang mengajar juga bertambah. Kakek Dimjati tidak lagi sendirian. Beberapa guru ikut membantu agar anak-anak dapat memperoleh pendidikan dengan lebih baik.

Menurut Om Oi, bahkan ada anak dari kawasan Kedutaan yang bersekolah di madrasah tersebut. Ini menunjukkan bahwa sekolah yang dirintis dari lingkungan masjid itu mulai mendapatkan kepercayaan masyarakat yang lebih luas.

Di bagian penerimaan murid, ada pula seorang yang dikenal bernama Habib Abdullah. Rumahnya berada di belakang Masjid Agung. Kehadiran orang-orang seperti inilah yang ikut menjadi bagian dari cerita awal perjalanan sekolah tersebut.

Kalau kita berhenti sejenak dan membayangkan keadaan pada masa itu, ada sebuah pelajaran yang sangat dalam. Kakek Dimjati tidak sedang membangun sebuah sekolah besar untuk dirinya sendiri. Ia sedang membangun tempat agar anak-anak dapat belajar. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa beberapa puluh tahun kemudian lembaga pendidikan tersebut akan berkembang menjadi bagian dari jaringan pendidikan Al-Azhar yang begitu dikenal masyarakat.

Pada sekitar tahun 1970, menurut cerita Om Oi, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian membangun gedung baru khusus untuk sekolah di halaman depan Masjid Agung. Gedung itu menghadap Jalan Sisingamangaraja. Dengan adanya gedung baru tersebut, kegiatan pendidikan menjadi semakin berkembang.

Nama sekolah itu kemudian dikenal sebagai Sekolah Islam Teladan Al-Azhar. Dalam perjalanan berikutnya, tempat tersebut mengalami perubahan fungsi dan perkembangan hingga kini dikenal sebagai bagian dari lingkungan Universitas Al-Azhar Indonesia.

Bagi saya, cerita ini bukan hanya tentang sebuah gedung. Justru yang paling penting adalah manusia yang berada di balik lahirnya pendidikan tersebut.

Kakek Dimjati adalah salah satu orang yang memulai dari bawah. Ia tidak menunggu sekolah memiliki gedung sendiri. Ia tidak menunggu murid datang dalam jumlah banyak. Ia memulai dari aula masjid. Ketika murid bertambah, ia mencari ruang. Ketika jumlah guru tidak mencukupi, ia menambah guru.

Ada sebuah semangat yang sangat kuat di sana: pendidikan harus berjalan meskipun fasilitas belum sempurna.

Dan ternyata, semangat seperti itulah yang sering menjadi awal dari perubahan besar.

Om Oi bahkan masih mengingat sesuatu yang bagi orang lain mungkin dianggap sepele, tetapi bagi keluarga merupakan benda bersejarah. Dahulu, Kakek Dimjati masih menyimpan stempel sekolah Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran.

Saya membayangkan stempel itu. Mungkin bentuknya sederhana. Mungkin sudah tidak terlihat istimewa. Tetapi kalau benda tersebut masih ada, sesungguhnya ia bukan sekadar stempel. Ia adalah saksi bisu dari sebuah masa ketika Kakek Dimjati bersama para guru lainnya berjuang mendidik anak-anak di aula Masjid Agung Kebayoran.

Satu cap di atas kertas mungkin terlihat kecil. Tetapi di balik cap itu ada nama sekolah, ada guru, ada murid, ada orang tua, ada perjuangan, dan ada sejarah.

Karena itu, kalau stempel tersebut masih tersimpan di keluarga, menurut saya benda itu layak dirawat dengan baik. Bahkan kalau memungkinkan, perlu difoto, dicatat keterangannya, dan disimpan bersama dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan sejarah Kakek Dimjati. Kelak benda sederhana itu bisa menjadi bagian penting dari dokumentasi sejarah keluarga dan pendidikan.

Kisah ini juga membuat saya melihat kembali foto lama Kakek M.A. Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru. Foto itu sekarang memiliki makna yang lebih dalam. Kita tidak lagi hanya melihat beberapa orang guru berdiri di depan sebuah bangunan. Kita sedang melihat orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan pada masa awal.

Di dalam foto itu ada wajah-wajah yang mungkin sudah tidak dikenal oleh generasi sekarang. Tetapi mereka pernah berdiri bersama, mengajar bersama, dan berjuang bersama. Salah satunya adalah Kakek Dimjati.

Sementara itu, di rumah, cucu-cucunya mengenang beliau sebagai Engki yang murah senyum, ramah, tidak suka marah, memberikan permen ketika pulang, senang makan lobak putih, dan selepas salat Subuh sering memberikan kultum sebelum berdoa. Jadi, sosok Kakek Dimjati memiliki dua wajah kenangan yang saling melengkapi: seorang pendidik yang berjuang di luar rumah dan seorang kakek yang penuh kasih sayang di tengah keluarga.

Kini, ketika anak dan cucu beliau mulai mengumpulkan kembali cerita-cerita lama, saya merasa sedang membuka sebuah album sejarah yang selama ini tersimpan dalam ingatan keluarga.

Ada cerita tentang Al-Azhar. Ada cerita tentang madrasah. Ada cerita tentang aula masjid. Ada cerita tentang murid-murid yang semakin banyak. Ada cerita tentang guru-guru yang kemudian ikut membantu. Ada cerita tentang gedung baru pada masa Ali Sadikin. Ada cerita tentang stempel sekolah yang pernah disimpan Kakek Dimjati.

Semua cerita itu seperti kepingan puzzle. Kalau dikumpulkan satu demi satu, akan terlihat gambaran besar tentang perjuangan seorang guru yang mungkin tidak pernah merasa dirinya sedang menulis sejarah.

Justru itulah keindahan seorang pendidik. Ia bekerja pada zamannya, mengajar anak-anak di hadapannya, dan menanamkan ilmu tanpa mengetahui bagaimana besar buah dari pekerjaannya kelak.

Kakek Dimjati mungkin tidak pernah menyangka bahwa cucu-cucunya puluhan tahun kemudian akan duduk bersama, bertanya, mengingat, membuka foto lama, mencari dokumen, dan mencoba menyusun kembali perjalanan hidupnya.

Tetapi itulah yang sekarang sedang dilakukan.

Kita sedang mencari kembali jejak seorang guru yang dahulu mencari muridnya sendiri.

Dari aula Masjid Agung Kebayoran, dari bangku panjang yang diduduki banyak anak, dari ruang-ruang sederhana di sekitar masjid, dari bertambahnya murid dan guru, hingga berdirinya gedung sekolah yang lebih besar—semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan.

Semoga kisah Kakek M.A. Dimjati tidak berhenti sebagai cerita keluarga. Semoga ia menjadi inspirasi bahwa sekolah besar dapat bermula dari ruang sederhana, pendidikan besar dapat lahir dari kepedulian kecil, dan seorang guru dapat meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang daripada usia hidupnya.

Gedung boleh berubah, nama sekolah boleh berubah, zaman boleh berganti. Tetapi jejak seorang guru yang tulus mendidik akan selalu tinggal dalam ingatan murid, anak, cucu, dan generasi yang datang sesudahnya.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seseorang melihat kembali foto lama Kakek Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru, ia akan bertanya, “Siapa mereka?”

Lalu keluarga akan menjawab dengan bangga:

“Mereka adalah orang-orang yang pernah ikut menanam benih pendidikan. Dan salah satunya adalah Kakek M.A. Dimjati.”


Mari belajar etos kerja dan kedisiplinan dari Jepang

Belajar Etos Kerja dan Kedisiplinan dari Negeri Sakura

Ketika saya berada di Jepang, ada banyak hal yang menarik perhatian dan membuat saya kagum. Jepang bukan hanya dikenal sebagai negara maju dengan teknologi yang canggih, tetapi juga memiliki budaya kerja, kedisiplinan, kesederhanaan, dan sikap menghargai orang lain yang sangat kuat. Selama berada di Negeri Sakura, saya melihat sendiri bagaimana masyarakat Jepang menjalani kehidupan sehari-hari dengan penuh semangat dan tanggung jawab.

Hal pertama yang sangat berkesan bagi saya adalah etos kerja masyarakat Jepang. Sejak pagi hari, aktivitas sudah terlihat begitu hidup. Para pekerja berangkat menuju kantor dan tempat kerja dengan semangat. Mereka menjalankan pekerjaan dengan sungguh-sungguh dan memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas yang dikerjakan. Semangat bekerja seperti ini menjadi salah satu kekuatan masyarakat Jepang dalam membangun negaranya.

Saya melihat bahwa bekerja bagi masyarakat Jepang bukan sekadar mencari penghasilan. Ada rasa tanggung jawab dan kebanggaan terhadap pekerjaan yang dilakukan. Mereka berusaha memberikan yang terbaik dalam menjalankan tugasnya. Semangat tersebut terlihat bukan hanya di kantor, tetapi juga dalam berbagai aktivitas kehidupan sehari-hari.

Hal menarik lainnya adalah pola hidup sederhana. Masyarakat Jepang tidak selalu bergantung pada kendaraan pribadi untuk bepergian. Banyak orang memilih berjalan kaki, menggunakan sepeda, atau memanfaatkan transportasi umum. Kebiasaan ini membuat kehidupan di kota menjadi lebih teratur sekaligus menunjukkan bahwa kemajuan sebuah negara tidak selalu harus diwujudkan dalam gaya hidup yang berlebihan.

Berjalan kaki dan menggunakan sepeda juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jepang. Mereka terbiasa melakukan aktivitas dengan sederhana dan efisien. Transportasi umum tersedia dengan baik sehingga masyarakat dapat menggunakannya untuk pergi ke tempat kerja, sekolah, maupun berbagai aktivitas lainnya. Dari sini saya belajar bahwa hidup sederhana bukan berarti tertinggal. Justru kesederhanaan dapat menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern yang maju.

Kemudian saya menemukan hal yang tidak kalah menarik, yaitu kedisiplinan dalam menjaga kebersihan. Ketika berjalan di beberapa kawasan kota Jepang, saya melihat lingkungan yang bersih, rapi, dan nyaman. Masyarakat memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. Kebersihan bukan hanya menjadi tugas petugas kebersihan, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Bagi saya, kebiasaan sederhana seperti tidak membuang sampah sembarangan memiliki dampak yang luar biasa. Ketika setiap orang memiliki kesadaran yang sama, lingkungan menjadi bersih tanpa harus selalu diingatkan. Inilah salah satu budaya positif yang menurut saya sangat layak dipelajari dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Hal lain yang membuat saya terkesan adalah sikap menghormati dan menghargai orang lain. Ketika berada di hotel, saya merasakan sendiri bagaimana petugas memberikan pelayanan dengan ramah. Mereka menyambut tamu dengan sopan dan menunjukkan rasa hormat, salah satunya melalui kebiasaan membungkukkan badan ketika memberikan penghormatan.

Bagi saya, sikap tersebut bukan sekadar gerakan tubuh. Ada nilai budaya yang terkandung di dalamnya, yaitu menghargai orang lain. Siapa pun tamunya, mereka berusaha memberikan pelayanan dengan baik. Saya yang datang dari Indonesia merasa sangat dihargai ketika mendapatkan pelayanan seperti itu.

Budaya menghormati orang lain juga terlihat dalam kehidupan masyarakat Jepang. Mereka terbiasa menggunakan ungkapan terima kasih, meminta maaf, dan memberikan salam. Hal-hal sederhana seperti ini ternyata mampu menciptakan suasana komunikasi yang nyaman. Kita dapat belajar bahwa keramahan tidak membutuhkan biaya besar, tetapi membutuhkan kesadaran dan kebiasaan yang dilakukan secara terus-menerus.

Saya juga terkesan dengan kedisiplinan berlalu lintas di Jepang. Kendaraan berjalan dengan tertib dan masyarakat mengikuti aturan yang telah ditetapkan. Penumpang menaikkan dan menurunkan kendaraan di tempat yang semestinya. Semua berjalan secara teratur sehingga perjalanan menjadi lebih aman dan nyaman.

Dari pengalaman tersebut saya semakin memahami bahwa aturan sebenarnya dibuat bukan untuk menyulitkan manusia. Aturan dibuat agar kehidupan bersama menjadi lebih tertib. Ketika masyarakat memiliki kesadaran untuk menaati aturan, semua orang mendapatkan manfaatnya.

Namun, dari semua pengalaman itu, ada satu pelajaran besar yang saya bawa pulang dari Jepang, yaitu budaya kerja keras. Masyarakat Jepang memiliki semangat yang tinggi dalam menjalankan aktivitas. Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh dan memiliki etos kerja yang kuat. Bahkan dalam beberapa keadaan, semangat bekerja tersebut membuat mereka bisa begitu larut dalam pekerjaan.

Sebagai seorang guru, pengalaman melihat langsung budaya Jepang membuat saya banyak melakukan refleksi. Saya bertanya kepada diri sendiri, apa yang bisa kita pelajari dan terapkan di Indonesia? Tentu kita tidak harus meniru Jepang secara keseluruhan. Setiap bangsa memiliki budaya dan karakter masing-masing. Namun, nilai-nilai positif seperti disiplin, kerja keras, tanggung jawab, hidup sederhana, menjaga kebersihan, menghargai orang lain, dan menaati aturan adalah nilai universal yang dapat dipelajari siapa saja.

Perjalanan ke Jepang bagi saya bukan sekadar perjalanan ke luar negeri. Saya tidak hanya melihat gedung tinggi, teknologi canggih, kereta yang tertib, atau kota yang bersih. Saya melihat budaya yang membentuk manusia. Saya melihat bagaimana kebiasaan baik yang dilakukan setiap hari pada akhirnya menjadi karakter masyarakat.

Sepulang dari Jepang, saya semakin yakin bahwa kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan kekayaan alam. Kemajuan juga dibangun dari karakter manusia. Bangsa yang memiliki masyarakat disiplin, pekerja keras, bertanggung jawab, menghargai sesama, dan peduli terhadap lingkungan akan memiliki kekuatan besar untuk berkembang.

Karena itu, pengalaman sembilan hari saya di Jepang pada Mei 2016 menjadi pengalaman yang sangat berharga. Saya datang sebagai guru pendamping siswa SMP Labschool Jakarta, tetapi pulang membawa banyak pelajaran tentang kehidupan. Perjalanan tersebut mengajarkan saya bahwa menjadi maju bukan hanya tentang memiliki teknologi terbaru, melainkan tentang bagaimana manusia menggunakan waktu, menaati aturan, menghargai orang lain, dan bekerja dengan sepenuh hati.

Jepang telah memberikan saya banyak inspirasi. Negeri Sakura mengajarkan bahwa etos kerja, disiplin, kesederhanaan, kebersihan, keramahan, dan rasa hormat dapat menjadi kekuatan sebuah bangsa. Nilai-nilai itulah yang menurut saya layak kita renungkan dan terapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga pengalaman sederhana ini dapat menjadi bahan pembelajaran bagi kita semua. Tidak perlu selalu pergi jauh untuk mendapatkan pelajaran hidup, tetapi ketika kesempatan datang, bukalah mata, bukalah hati, dan belajarlah sebanyak mungkin. Sebab perjalanan yang baik bukan hanya membawa kita ke tempat baru, tetapi juga membuat kita pulang sebagai manusia yang lebih baik.

Kamis, 13 Agustus 2026

gopay kompasiana

GoPay Kompasiana Makin Tipis, Iklannya Makin Manis: Sebuah Gugatan dengan Senyum

Ada satu misteri yang sampai sekarang belum berhasil dipecahkan oleh para penulis Kompasiana. Mengapa semakin rajin menulis, semakin banyak pembaca, semakin banyak iklan berseliweran, tetapi GoPay yang diterima penulis justru terasa semakin kecil?

Ini bukan teka-teki silang. Ini juga bukan soal matematika tingkat lanjut. Namun, kalau dibiarkan, bisa-bisa para Kompasianer harus mengikuti pelatihan khusus: “Cara Menghitung Penghasilan Tanpa Menangis.”

Saya sebagai penulis yang sudah cukup lama berkeliaran di dunia Kompasiana ingin menggugat dengan cara yang paling aman: menggugat sambil tersenyum. Sebab kalau menggugat sambil marah, nanti dikira sedang kurang piknik. Kalau menggugat sambil menangis, takutnya admin malah bingung harus memberikan tisu atau menjelaskan algoritma.

Pertanyaan sederhana saya kepada admin dan pengelola Kompasiana adalah: mengapa GoPay penulis semakin kecil, sementara iklan di Kompasiana terasa semakin banyak?

Dulu, ketika membuka artikel, kita merasa seperti sedang membaca tulisan. Sekarang, kadang-kadang rasanya seperti sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Baru membaca judul, ada iklan. Baru membaca paragraf pertama, ada iklan. Scroll sedikit, bertemu iklan lagi.

Saya sampai berpikir, jangan-jangan nanti ketika membuka artikel akan muncul tulisan: “Untuk melanjutkan membaca paragraf berikutnya, silakan nikmati iklan selama 30 detik.”

Kalau itu terjadi, saya tidak akan protes. Saya hanya ingin tahu, apakah setelah iklannya selesai, GoPay saya ikut bertambah?

Sebab inilah yang menjadi kegelisahan banyak penulis. Kami memahami bahwa sebuah platform membutuhkan biaya. Server harus dibayar, pegawai harus digaji, teknologi harus dikembangkan, dan iklan merupakan salah satu sumber pendapatan. Itu semua masuk akal.

Tetapi penulis juga punya kebutuhan yang masuk akal.

Penulis membutuhkan alasan untuk terus menulis.

Menulis bukan sekadar mengetik. Ada waktu yang dikeluarkan untuk mencari ide, membaca referensi, menyusun kalimat, mengedit tulisan, memilih foto, membuat judul, kemudian membagikan artikel ke berbagai media sosial. Bahkan setelah artikel terbit, penulis masih harus membalas komentar pembaca.

Kalau semua itu dihargai dengan GoPay yang semakin tipis, lama-lama muncul pertanyaan sederhana: apakah kami sedang menulis untuk mendapatkan penghasilan, atau sedang membantu menyediakan konten gratis agar iklan semakin ramai?

Nah, di sinilah humor mulai berubah menjadi pertanyaan serius.

Saya membayangkan ada seorang Kompasianer duduk di depan laptop sambil berkata kepada istrinya, “Bu, hari ini saya dapat GoPay dari Kompasiana.”

Istrinya menjawab, “Berapa?”

“Lumayan.”

“Bisa buat beli apa?”

“Bisa buat beli… semangat.”

Waduh!

Semangat memang penting. Tetapi warung tidak menerima pembayaran dengan semangat. Tukang nasi goreng juga belum tentu mau dibayar dengan jumlah pembaca. Kalau kita berkata, “Bang, saya punya 10.000 views,” mungkin tukang nasi goreng menjawab, “Bagus. Tapi saya tetap perlu uang untuk beli beras.”

Karena itu, saya berharap pengelola Kompasiana mau membuka ruang komunikasi yang sehat dengan para penulis. Jangan sampai penulis hanya diminta rajin membuat konten, sementara mekanisme penghargaan terhadap konten tersebut semakin sulit dipahami.

Kalau pendapatan iklan meningkat, apakah mungkin sebagian peningkatan itu bisa ikut dirasakan oleh para penulis?

Kalau jawabannya tidak memungkinkan, tentu kami ingin tahu alasannya.

Kalau algoritmanya berubah, jelaskan.

Kalau sistem perhitungan GoPay berubah, jelaskan.

Kalau jumlah iklan meningkat tetapi pendapatan penulis tidak otomatis meningkat karena ada banyak faktor lain, jelaskan juga.

Penulis sebenarnya bisa menerima kenyataan yang tidak menyenangkan, asalkan mendapatkan penjelasan yang menyenangkan.

Yang membuat penasaran adalah ketika angka pendapatan mengecil sementara iklan semakin rajin muncul. Rasanya seperti kita sedang melihat toko yang semakin penuh pembeli, tetapi pedagangnya berkata kepada pegawainya, “Gajimu bulan ini kita kurangi karena toko semakin ramai.”

Lho?

Bukankah biasanya kalau toko semakin ramai, peluang pendapatan juga semakin besar?

Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh pendapatan iklan harus dibagikan kepada penulis. Tidak sesederhana itu. Saya juga tidak tahu bagaimana biaya operasional Kompasiana dihitung. Tetapi sebagai penulis, saya merasa berhak bertanya: bagaimana sebenarnya hubungan antara iklan, traffic, engagement, dan GoPay?

Kami bukan ahli keuangan Kompasiana. Kami hanya penulis yang ingin memahami permainan di lapangan.

Sebab penulis itu sebenarnya makhluk yang sederhana. Diberi pembaca, senang. Diberi komentar, senang. Artikelnya masuk headline, senang. Mendapat apresiasi, senang. Kalau kemudian ada GoPay, tentu tambah senang.

Tetapi kalau pembaca banyak, iklan banyak, komentar ada, lalu GoPay makin kecil, penulis bisa mengalami kondisi psikologis baru yang mungkin belum ada dalam buku psikologi: “bingung monetisasi.”

Maka izinkan saya, Omjay, menyampaikan gugatan kecil dengan bahasa besar:

Wahai admin Kompasiana, jangan biarkan penulis hanya menjadi mesin produksi artikel.

Kami ingin menjadi bagian dari ekosistem yang sehat. Platform membutuhkan penulis, dan penulis membutuhkan platform. Pembaca membutuhkan tulisan yang berkualitas, sementara pengiklan membutuhkan pembaca. Semua sebenarnya saling membutuhkan.

Kalau satu bagian merasa semakin kecil sementara bagian lain terlihat semakin besar, tentu wajar jika muncul pertanyaan.

Saya berharap pertanyaan ini tidak dianggap sebagai serangan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian dari penulis yang masih ingin Kompasiana menjadi rumah yang nyaman bagi para kreator.

Saya masih ingin menulis di Kompasiana. Saya masih ingin membaca tulisan teman-teman. Saya masih ingin berdiskusi di kolom komentar. Saya bahkan masih ingin mengejar GoPay.

Tetapi jangan sampai suatu hari nanti para penulis membuat slogan baru:

“Menulislah setiap hari, dapatkan pembaca sebanyak-banyaknya, dan buktikan bahwa GoPay bisa menghilang secara misterius.”

Hehehe.

Akhirnya, saya hanya punya satu permintaan sederhana kepada admin dan pengelola Kompasiana: tolong jelaskan kepada kami, para penulis, mengapa GoPay terasa semakin kecil ketika iklan terasa semakin besar?

Kami tidak minta bulan.

Kami hanya minta penjelasan yang terang.

Kalau memang ada alasan teknis, sampaikan. Kalau ada perubahan kebijakan, umumkan. Kalau sistem monetisasi sedang dievaluasi, beri tahu. Dengan komunikasi yang terbuka, penulis tidak perlu menerka-nerka.

Sebab penulis itu tugasnya menulis cerita, bukan menulis teori konspirasi tentang algoritma.

Dan kalau nanti GoPay kembali membesar, kami berjanji akan membuat artikel yang lebih bahagia:

“GoPay Kompasiana Membesar, Penulis Pun Kembali Bersinar.”

Semoga bukan sekadar judul.

Semoga menjadi kenyataan.

Karena pada akhirnya, penulis juga ingin mendapatkan apresiasi yang sepadan dengan tulisan yang mereka lahirkan.


Rabu, 12 Agustus 2026

Saat Masih Sekolah Apa yang Kamu Lakukan?

Saat Masih Sekolah, Apa yang Paling Kamu Rindukan?

Pagi itu saya melihat sebuah pertanyaan sederhana terpampang di layar: “Saat masih sekolah, apa yang paling kamu rindukan?” Pertanyaan tersebut sebenarnya sangat sederhana, tetapi diam-diam mampu membawa pikiran kita berjalan jauh ke masa lalu. Masa ketika seragam sekolah masih melekat di tubuh, tas tergantung di bahu, dan bel sekolah menjadi suara yang begitu akrab setiap hari.

Saya teringat masa sekolah saya sendiri. Ada banyak hal yang dulu terasa biasa saja, bahkan terkadang membuat kita ingin segera lulus. Namun setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, justru hal-hal sederhana itulah yang paling sering dirindukan. Bertemu teman setiap pagi, bercanda di dalam kelas, menunggu guru datang, mengerjakan tugas bersama, bahkan dimarahi guru pun kini menjadi kenangan yang terasa manis.

Sekolah ternyata bukan hanya tentang buku, pelajaran, nilai, dan ujian. Sekolah adalah tempat kita belajar menjadi manusia. Di sanalah kita pertama kali mengenal persahabatan, persaingan, kerja sama, tanggung jawab, kegagalan, keberhasilan, bahkan rasa kehilangan. Banyak pelajaran penting dalam kehidupan justru tidak tertulis di papan tulis dan tidak selalu keluar dalam soal ujian.

Ketika melihat para peserta kegiatan di PGRI Provinsi Jawa Barat seperti pada foto ini, saya membayangkan pertanyaan tersebut tentu memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang merindukan teman sebangku. Ada yang merindukan guru favorit. Ada yang rindu suasana kantin sekolah. Ada yang ingin kembali mengikuti upacara bendera. Ada pula yang mungkin sangat merindukan masa ketika masalah terbesar dalam hidup hanyalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Saya sendiri mungkin paling merindukan kebersamaan. Dulu, bertemu teman bukan sesuatu yang harus dijadwalkan melalui WhatsApp. Setiap hari kami otomatis bertemu di sekolah. Kalau ingin berbicara, tinggal duduk bersebelahan. Kalau ingin bermain, cukup berjalan ke halaman sekolah. Kalau ada masalah, teman-teman ada di depan mata untuk mendengarkan cerita.

Sekarang semuanya berbeda. Teknologi membuat kita semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu membuat kita semakin dekat. Kita bisa mengirim pesan kepada siapa saja dalam hitungan detik, tetapi pertemuan tatap muka justru menjadi sesuatu yang semakin mahal. Karena itu, kenangan masa sekolah terasa begitu berharga.

Ada satu hal lagi yang saya rindukan: semangat untuk bermimpi.

Ketika masih sekolah, rasanya dunia begitu luas. Kita bebas bercita-cita menjadi guru, dokter, insinyur, pengusaha, penulis, tentara, programmer, atau apa pun yang kita inginkan. Tidak terlalu banyak yang kita pikirkan tentang kegagalan. Yang ada dalam pikiran hanyalah bagaimana suatu hari nanti bisa menjadi seseorang yang membanggakan orang tua.

Seiring bertambahnya usia, ternyata kehidupan mengajarkan hal yang berbeda. Kita mulai mengenal tanggung jawab, kebutuhan keluarga, pekerjaan, berbagai persoalan, dan kenyataan bahwa tidak semua mimpi dapat diraih dengan mudah. Namun justru karena itulah saya selalu percaya bahwa mimpi anak-anak sekolah harus dirawat, bukan dipadamkan.

Sebagai seorang guru, saya sering melihat wajah anak-anak yang sedang tumbuh mencari jati dirinya. Mereka mungkin belum tahu akan menjadi apa kelak. Tidak apa-apa. Tugas guru bukan memaksa mereka segera menemukan semua jawaban, tetapi menemani mereka menemukan jalan.

Saya pernah berada di posisi mereka. Duduk di bangku sekolah, mendengarkan guru berbicara di depan kelas, menulis catatan, mengerjakan tugas, dan sesekali memandang keluar jendela sambil membayangkan masa depan. Kini saya justru berada di sisi lain kelas. Saya menjadi guru dan melihat generasi baru tumbuh dengan tantangan yang berbeda.

Itulah mengapa pertanyaan “Saat masih sekolah, apa yang paling kamu rindukan?” menjadi sangat bermakna bagi saya. Pertanyaan ini bukan sekadar mengajak kita bernostalgia. Lebih jauh lagi, pertanyaan ini mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah suatu saat akan menjadi orang dewasa. Mereka akan bekerja, berkeluarga, menjadi guru, dokter, pengusaha, pejabat, atau profesi lainnya. Suatu hari nanti, mereka juga akan melihat foto-foto lama dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa dulu saya tidak lebih menikmati masa sekolah?”

Maka, untuk para guru, mari kita ciptakan sekolah yang kelak dirindukan oleh murid-murid kita. Jangan hanya membuat mereka mengingat rumus dan teori, tetapi berikan pengalaman yang membekas di hati. Jadikan kelas sebagai tempat yang aman untuk bertanya, mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh.

Untuk para murid, nikmatilah masa sekolah. Hargai guru-gurumu. Sayangi teman-temanmu. Jangan terlalu cepat ingin meninggalkan masa yang sedang kamu jalani. Sebab kelak, ketika semuanya sudah berlalu, kita mungkin akan rela membayar mahal hanya untuk kembali menikmati satu hari sebagai siswa.

Dan untuk saya sendiri, sekolah bukan sekadar masa lalu. Sekolah adalah bagian dari perjalanan hidup yang terus hidup dalam ingatan.

Hari ini saya menjadi guru. Besok mungkin saya akan menjadi kenangan bagi murid-murid saya. Semoga ketika mereka sudah dewasa nanti, ada satu hal yang mereka rindukan dari sekolah: suasana belajar yang membuat mereka merasa dihargai, dicintai, dan dipercaya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita rindukan dari sekolah bukanlah gedungnya, bukan seragamnya, bukan pula nilai rapornya.

Yang kita rindukan adalah orang-orang yang pernah membuat masa sekolah kita begitu berarti.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa setiap kali bertemu teman lama atau guru yang pernah mengajar kita, hati tiba-tiba terasa hangat. Kita seperti kembali menjadi anak sekolah untuk beberapa saat.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Karena kenangan yang dituliskan hari ini, bisa menjadi cerita yang dirindukan orang lain di kemudian hari.


Selasa, 11 Agustus 2026

Dua Pejuang PGRI

Dua Pejuang PGRI: Ayah Didi dan Pak Syam, Mengabdi Tanpa Banyak Bicara

Ada foto yang sekadar menjadi kenangan. Ada pula foto yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, pengabdian, persahabatan, dan kesetiaan. Foto dua orang pejuang PGRI ini adalah salah satunya. Di sebuah ruang tunggu bandara, Ayah Didi dan Pak Syam duduk berdampingan sambil membentangkan bendera PGRI. Wajah mereka mungkin terlihat sederhana, tetapi di baliknya tersimpan perjalanan panjang memperjuangkan martabat guru dan pendidikan Indonesia.

Bagi saya, melihat foto ini seperti membuka kembali lembaran sejarah perjuangan para guru. Bendera PGRI yang mereka pegang bukan sekadar kain dengan lambang organisasi. Di dalamnya ada harapan jutaan guru. Ada suara guru yang ingin didengar. Ada perjuangan agar profesi guru dihargai. Ada doa agar anak-anak Indonesia memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Ayah Didi dan Pak Syam adalah dua sosok yang layak disebut pejuang PGRI.

Mereka bukan pejuang yang membawa senjata. Senjata mereka adalah keteguhan hati, keberanian menyampaikan aspirasi, kesetiaan kepada organisasi, dan keyakinan bahwa guru harus terus diperjuangkan. Perjuangan mereka mungkin tidak selalu masuk berita. Tidak selalu mendapatkan penghargaan. Bahkan mungkin tidak banyak orang yang mengetahui berapa banyak waktu, tenaga, pikiran, dan perasaan yang telah mereka korbankan.

Namun begitulah perjuangan seorang guru.

Sering kali yang paling tulus justru tidak banyak berbicara tentang pengorbanannya.

Ayah Didi dan Pak Syam mengajarkan kepada kita bahwa berjuang tidak harus menunggu menjadi orang besar. Berjuang bisa dimulai dari kepedulian terhadap teman sejawat. Berjuang bisa dilakukan dengan hadir ketika organisasi membutuhkan. Berjuang bisa diwujudkan dengan menyampaikan suara guru dengan cara yang bermartabat.

Saya membayangkan perjalanan panjang yang telah mereka lalui. Berangkat dari satu daerah ke daerah lain, menghadiri pertemuan, berdiskusi, menyampaikan aspirasi, mendengarkan keluhan guru, kemudian kembali pulang membawa harapan baru. Tidak semua perjalanan mudah. Ada rasa lelah, ada perbedaan pendapat, ada kekecewaan, bahkan mungkin ada saat ketika perjuangan terasa seperti tidak menghasilkan apa-apa.

Tetapi mereka tetap berjalan.

Karena bagi seorang pejuang, hasil bukan satu-satunya alasan untuk berjuang. Ada nilai yang jauh lebih besar, yaitu keyakinan bahwa apa yang diperjuangkan itu benar dan bermanfaat bagi orang lain.

Foto ini juga mengingatkan saya bahwa PGRI bukan hanya sebuah organisasi. PGRI adalah rumah besar guru Indonesia. Di dalamnya berkumpul guru-guru dari berbagai daerah, berbagai latar belakang, dan berbagai generasi. Mereka dipersatukan oleh satu cita-cita: menjaga martabat guru dan memperjuangkan pendidikan Indonesia.

Bendera PGRI yang dibentangkan Ayah Didi dan Pak Syam seakan sedang berkata kepada kita semua: jangan pernah lelah memperjuangkan guru.

Guru boleh berganti generasi. Pengurus organisasi boleh berganti. Zaman terus berubah. Teknologi berkembang begitu cepat. Tantangan pendidikan semakin kompleks. Namun semangat perjuangan untuk memuliakan guru tidak boleh berhenti.

Hari ini mungkin kita menikmati hasil dari perjuangan orang-orang terdahulu. Besok, generasi setelah kita akan menikmati hasil dari apa yang kita perjuangkan hari ini.

Karena itu, jangan pernah menganggap kecil sebuah perjuangan.

Sebuah tulisan yang menyuarakan keresahan guru mungkin menjadi awal perubahan. Sebuah pertemuan kecil mungkin menghasilkan kebijakan besar. Sebuah keberanian untuk berbicara mungkin membuka jalan bagi ribuan guru lainnya.

Dan terkadang, sebuah foto sederhana di ruang tunggu bandara dapat menjadi pengingat bahwa perjuangan itu nyata.

Saya melihat Ayah Didi dan Pak Syam bukan hanya sebagai dua orang yang sedang memegang bendera PGRI. Saya melihat dua manusia yang sedang memegang amanah sejarah.

Amanah untuk meneruskan perjuangan para pendahulu.

Amanah untuk menjaga marwah guru.

Amanah untuk memastikan bahwa guru tidak berjalan sendirian.

Kita mungkin tidak tahu sampai kapan tenaga mereka akan terus kuat. Usia akan bertambah. Rambut akan memutih. Langkah mungkin tidak lagi secepat dahulu. Tetapi semangat pengabdian tidak harus menjadi tua.

Justru semakin bertambah usia, semakin banyak pengalaman yang dapat diwariskan kepada generasi muda.

Kepada para pejuang PGRI seperti Ayah Didi dan Pak Syam, izinkan kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih karena telah menunjukkan bahwa menjadi guru bukan sekadar pekerjaan. Menjadi guru adalah pengabdian. Dan memperjuangkan guru adalah bagian dari perjuangan menjaga masa depan bangsa.

Semoga langkah mereka selalu dimudahkan. Semoga setiap lelah menjadi amal kebaikan. Semoga setiap perjalanan menjadi catatan sejarah yang indah. Dan semoga generasi guru hari ini tidak melupakan jasa para pejuang yang telah berjalan lebih dahulu.

Dua pejuang PGRI, Ayah Didi dan Pak Syam.

Mungkin suatu hari foto ini hanya tinggal gambar dalam album kenangan. Namun cerita di baliknya jangan sampai hilang.

Sebab sebuah bangsa tidak hanya dibangun oleh mereka yang namanya tertulis dalam buku sejarah. Bangsa juga dibangun oleh orang-orang sederhana yang bekerja dalam diam, berjuang tanpa pamrih, dan tetap berdiri ketika perjuangan terasa berat.

Guru adalah pejuang. PGRI adalah rumah perjuangannya. Dan perjuangan itu harus terus dilanjutkan.

Salam hormat untuk Ayah Didi dan Pak Syam. Semoga semangat juang kalian menjadi inspirasi bagi kami semua.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Senin, 10 Agustus 2026

Jangan Diam

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/6a79011934777c0b3058e432/jangan-diam-ketika-kebaikan-membutuhkan-suara

Minggu, 09 Agustus 2026

Guru Labschool Menjaga Nilai

Guru Labschool: Menjaga Nilai, Menyalakan Ilmu, dan Menjadi Teladan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ada pesan yang sangat menarik dari Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., Penasihat Labschool, tentang bagaimana seharusnya seorang guru menjalankan perannya dalam pendidikan. Bagi saya, pesan tersebut bukan sekadar teori tentang profesi guru, tetapi sebuah pengingat bahwa menjadi guru berarti memikul tanggung jawab yang jauh lebih besar daripada sekadar menyampaikan materi pelajaran di dalam kelas.

Guru adalah sosok yang ikut menentukan seperti apa generasi masa depan akan tumbuh. Guru tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menjaga nilai, memberikan keteladanan, membangun karakter, serta mengantarkan peserta didik menjadi manusia yang memiliki kemampuan sekaligus kepribadian yang baik.

Dalam pemaparan Prof. Arief Rachman, terdapat lima peran penting guru, yaitu konservator, inovator, transmitor, transformator, dan organisator. Kelima peran tersebut semakin bermakna ketika dihubungkan dengan 7 Nilai Dasar Labschool, yaitu bertakwa, berintegritas tinggi, berdaya juang kuat, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi.

Jika kita renungkan, lima peran guru dan tujuh nilai dasar tersebut sesungguhnya saling berkaitan. Guru menjadi orang yang menjaga nilai sekaligus menjadi contoh bagaimana nilai itu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Guru sebagai Konservator: Menjaga Nilai

Peran pertama guru adalah sebagai konservator, yaitu memelihara sistem nilai yang menjadi sumber norma kedewasaan.

Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, peran ini menjadi sangat penting. Teknologi berubah, cara belajar berubah, media komunikasi berubah, bahkan karakter peserta didik juga mengalami perubahan. Namun, ada nilai-nilai yang tidak boleh ikut berubah.

Kejujuran tetap harus dijaga. Tanggung jawab tetap harus ditanamkan. Kesopanan tetap harus dikedepankan. Kepedulian kepada sesama tetap harus tumbuh. Demikian pula ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa harus menjadi bagian penting dalam kehidupan peserta didik.

Di sinilah guru berperan sebagai penjaga nilai.

Guru Labschool tidak hanya mengajarkan kepada peserta didik bagaimana menjadi pintar, tetapi juga bagaimana menjadi manusia yang baik. Karena itu, nilai pertama dari 7 Nilai Dasar Labschool adalah bertakwa.

Ketakwaan menjadi landasan agar ilmu yang dimiliki tidak digunakan untuk sesuatu yang merugikan orang lain. Kecerdasan harus berjalan bersama moral dan tanggung jawab.

Guru sebagai Inovator: Terus Belajar dan Berkembang

Peran kedua adalah inovator. Guru harus mampu mengembangkan sistem nilai dan ilmu pengetahuan sesuai dengan perkembangan zaman.

Guru yang baik tidak boleh berhenti belajar.

Saya merasakan sendiri tantangan ini sebagai guru Informatika. Dunia teknologi berubah begitu cepat. Apa yang dianggap baru beberapa tahun lalu, sekarang mungkin sudah menjadi sesuatu yang biasa. Hari ini kita berbicara tentang pemrograman, kecerdasan artifisial, keamanan digital, data, dan berbagai teknologi baru.

Karena itu, guru harus memiliki semangat belajar sepanjang hayat.

Namun inovasi bukan sekadar menggunakan teknologi terbaru. Inovasi adalah keberanian mencari cara yang lebih baik agar peserta didik dapat belajar dengan lebih bermakna.

Dalam konteks ini, nilai berintelektual tinggi menjadi penting. Peserta didik tidak cukup hanya menghafal pengetahuan. Mereka perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, mampu memecahkan masalah, dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

Guru pun harus memberikan contoh bahwa belajar tidak pernah berhenti meskipun seseorang sudah menjadi guru.

Guru sebagai Transmitor: Mewariskan Nilai kepada Generasi Berikutnya

Peran ketiga adalah transmitor, yaitu meneruskan sistem nilai kepada peserta didik.

Guru pada hakikatnya adalah jembatan antara generasi masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Nilai-nilai baik yang telah diwariskan oleh para pendidik terdahulu harus terus diteruskan kepada generasi muda. Kejujuran, kerja keras, disiplin, tanggung jawab, gotong royong, rasa hormat, kepedulian, dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan harus tetap hidup.

Namun cara menyampaikannya tentu harus menyesuaikan zaman.

Anak-anak sekarang tumbuh di tengah dunia digital. Mereka mendapatkan informasi bukan hanya dari guru dan buku, tetapi juga dari internet, media sosial, video, dan kecerdasan artifisial.

Karena itu, guru harus mampu menjadi jembatan yang menghubungkan nilai-nilai luhur dengan kehidupan peserta didik saat ini.

Nilainya boleh tetap, tetapi cara menyampaikannya harus kreatif.

Di sinilah nilai berbudi pekerti luhur menjadi sangat penting. Peserta didik tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga akhlak dan sikap yang baik dalam kehidupan sehari-hari.

Guru sebagai Transformator: Menjadi Teladan

Menurut saya, inilah salah satu peran guru yang paling berat sekaligus paling mulia, yaitu sebagai transformator.

Guru menerjemahkan sistem nilai melalui kepribadian dan perilakunya dalam berinteraksi dengan peserta didik.

Dengan kata lain, guru tidak cukup hanya berbicara tentang nilai. Guru harus menunjukkan nilai tersebut melalui tindakan nyata.

Jika guru ingin murid jujur, guru harus menunjukkan kejujuran.

Jika guru ingin murid disiplin, guru harus memberikan contoh kedisiplinan.

Jika guru ingin murid menghargai orang lain, guru harus terlebih dahulu menghargai peserta didiknya.

Jika guru ingin murid berani mengakui kesalahan, guru pun tidak perlu malu meminta maaf ketika melakukan kesalahan.

Anak-anak mungkin lupa dengan materi pelajaran yang disampaikan guru. Namun mereka sering kali mengingat bagaimana gurunya memperlakukan mereka.

Karena itu, guru sesungguhnya adalah kurikulum yang hidup.

Nilai berintegritas tinggi sangat erat dengan peran ini. Integritas berarti adanya keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Guru tidak hanya mengajarkan kebaikan, tetapi berusaha hidup dalam kebaikan tersebut.

Guru sebagai Organisator: Menyelenggarakan Pendidikan dengan Tanggung Jawab

Peran kelima adalah organisator, yaitu penyelenggara proses pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Guru harus mampu merancang pembelajaran, mengelola kelas, memahami kebutuhan peserta didik, menciptakan suasana belajar yang nyaman, serta memastikan proses pendidikan berjalan dengan baik.

Tanggung jawab guru bukan hanya menyelesaikan materi pelajaran.

Guru perlu bertanya kepada dirinya sendiri: apakah peserta didik saya berkembang? Apakah mereka menjadi lebih mandiri? Apakah mereka berani berpikir? Apakah mereka memiliki daya juang? Apakah mereka mampu bekerja sama? Apakah mereka memiliki karakter yang baik?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting karena pendidikan bukan sekadar menghasilkan anak yang mendapatkan nilai tinggi, tetapi menghasilkan manusia yang mampu menjalani kehidupannya dengan baik.

Karena itu, nilai mandiri dan berdaya juang kuat menjadi bagian penting dari karakter yang harus dibangun di Labschool.

Peserta didik perlu belajar menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, bertanggung jawab terhadap pilihannya, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.

Tujuh Nilai Dasar Labschool

Ketika Prof. Arief menyampaikan 7 Nilai Dasar Labschool, saya melihat bahwa ketujuh nilai tersebut sebenarnya merupakan gambaran manusia seperti apa yang ingin dibentuk melalui pendidikan.

Pertama, bertakwa. Peserta didik memiliki landasan spiritual dan menjadikan nilai ketuhanan sebagai pedoman dalam kehidupan.

Kedua, berintegritas tinggi. Peserta didik memiliki kejujuran dan konsistensi antara perkataan, sikap, dan perbuatan.

Ketiga, berdaya juang kuat. Peserta didik tidak mudah menyerah, memiliki semangat menghadapi tantangan, dan terus berusaha mencapai yang terbaik.

Keempat, berkepribadian utuh. Peserta didik berkembang secara seimbang, bukan hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional, sosial, moral, dan spiritual.

Kelima, berbudi pekerti luhur. Peserta didik memiliki kesantunan, kepedulian, rasa hormat, dan akhlak yang baik.

Keenam, mandiri. Peserta didik mampu mengambil keputusan dan bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri.

Ketujuh, berintelektual tinggi. Peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, logis, serta memiliki semangat untuk terus belajar.

Ketujuh nilai ini tidak akan tumbuh hanya karena dituliskan di dalam dokumen sekolah. Nilai akan tumbuh ketika seluruh warga sekolah menghidupkannya.

Dan guru memiliki posisi yang sangat strategis untuk menghidupkan nilai tersebut.

Guru dan Tantangan Zaman

Sebagai guru di Labschool, saya semakin menyadari bahwa tantangan pendidikan hari ini bukan semakin ringan.

Peserta didik hidup dalam dunia yang penuh informasi. Mereka bisa mendapatkan jawaban hanya dalam hitungan detik. Dengan kecerdasan artifisial, mereka bahkan bisa memperoleh bantuan untuk menulis, membuat gambar, menyusun presentasi, hingga menghasilkan program komputer.

Namun pertanyaannya bukan lagi sekadar "Apakah anak bisa mendapatkan jawaban?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah anak tahu bagaimana menggunakan jawaban tersebut dengan benar?

Di sinilah guru tetap dibutuhkan.

Teknologi mungkin bisa memberikan informasi, tetapi guru membantu peserta didik menemukan makna.

Teknologi bisa memberikan jawaban, tetapi guru mengajarkan tanggung jawab.

Teknologi bisa membuat sesuatu dengan cepat, tetapi guru mengajarkan kepada anak mengapa sesuatu itu harus dibuat dan untuk siapa manfaatnya.

Karena itu, secanggih apa pun teknologi pendidikan, peran manusia sebagai pendidik tetap sangat penting.

Menjadi Guru Berarti Menjadi Teladan

Setelah mendengarkan pemikiran Prof. Arief Rachman, saya semakin memahami bahwa menjadi guru Labschool bukan hanya tentang mengajar.

Guru adalah konservator yang menjaga nilai.

Guru adalah inovator yang terus belajar dan berkembang.

Guru adalah transmitor yang mewariskan nilai kepada generasi berikutnya.

Guru adalah transformator yang menerjemahkan nilai melalui keteladanan.

Guru adalah organisator yang memastikan proses pendidikan berjalan dengan penuh tanggung jawab.

Sementara itu, 7 Nilai Dasar Labschool menjadi arah karakter yang hendak dibangun: bertakwa, berintegritas tinggi, berdaya juang kuat, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi.

Semua itu mengingatkan saya bahwa ukuran keberhasilan seorang guru sebenarnya tidak berhenti pada nilai rapor peserta didik.

Bisa jadi, bertahun-tahun setelah lulus, seorang murid tidak lagi mengingat rumus yang pernah diajarkan gurunya. Mereka mungkin lupa halaman buku yang pernah dibaca bersama. Mereka mungkin lupa tugas-tugas yang pernah diberikan.

Tetapi mereka akan mengingat seorang guru yang pernah percaya kepada mereka.

Mereka akan mengingat guru yang pernah memberikan semangat ketika mereka hampir menyerah.

Mereka akan mengingat guru yang mengajarkan kejujuran.

Mereka akan mengingat guru yang memperlakukan mereka dengan penuh hormat.

Dan mungkin suatu hari nanti, ketika mereka menjadi orang tua, profesional, pemimpin, atau guru, nilai-nilai itu akan mereka teruskan kepada generasi berikutnya.

Itulah warisan seorang guru.

Bukan sekadar materi pelajaran yang selesai disampaikan, tetapi nilai kehidupan yang terus hidup dalam diri peserta didik.

Terima kasih Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd., Penasihat Labschool, atas pengingat yang begitu bermakna. Semoga kami para guru Labschool mampu terus menjaga amanah pendidikan, menjadi pembelajar sepanjang hayat, dan memberikan keteladanan terbaik bagi peserta didik.

Sebab pada akhirnya, pendidikan bukan hanya tentang membuat anak menjadi pintar, tetapi membantu mereka menjadi manusia yang bertakwa, berintegritas, tangguh, berkepribadian utuh, berbudi pekerti luhur, mandiri, dan berintelektual tinggi.

Itulah guru Labschool.
Itulah pendidikan yang berkarakter.
Itulah warisan yang harus terus kita jaga.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.