Ketika Tembok Kampung Lebih Jujur daripada Spanduk Pemerintah
Pagi-pagi, saya sedang menikmati kopi sambil membuka media sosial. Niat awalnya sederhana: mencari kabar terbaru, membaca tulisan teman, lalu mungkin menulis satu-dua paragraf untuk blog. Tetapi algoritma media sosial rupanya punya rencana lain. Tiba-tiba muncul sebuah foto tembok dengan tulisan yang membuat saya berhenti menyeruput kopi.
Tulisan di tembok itu kira-kira begini:
“Kami disuruh bayar pajak, disuruh buat laporan juga. Seharusnya kalian yang laporan, rinciannya ke rakyat untuk apa saja uang pajaknya.”
Saya langsung tertawa.
Bukan karena rakyat tidak mau membayar pajak. Bukan pula karena laporan itu tidak penting. Saya tertawa karena tulisan di tembok tersebut terasa seperti sedang mengajak pemerintah ngobrol dari hati ke hati.
Bedanya, kalau rakyat mengajak ngobrol lewat surat resmi, mungkin suratnya harus pakai kop, nomor surat, lampiran, tanda tangan, stempel, dan menunggu disposisi.
Kalau tembok?
Tinggal ambil cat.
Selesai.
Tidak perlu nomor surat. Tidak perlu stempel. Tidak perlu rapat koordinasi. Dan yang paling penting, tidak ada istilah “akan kami tindak lanjuti.”
Saya membayangkan kalau tembok bisa bicara, mungkin dia akan berkata, “Saya cuma menyampaikan aspirasi warga. Jangan salahkan saya. Saya hanya kebagian dinding.”
Sebagai guru dan blogger, saya kemudian berpikir, ternyata masyarakat Indonesia memiliki banyak cara untuk menyampaikan pendapat. Ada yang menulis di koran, ada yang membuat video, ada yang membuat meme, ada yang berdiskusi di warung kopi, dan ada juga yang memilih media paling murah meriah: tembok kampung.
Tembok ternyata bukan cuma tempat menempelkan poster calon pejabat.
Tembok juga bisa menjadi media sosial versi offline.
Tidak perlu kuota. Tidak perlu Wi-Fi. Tidak perlu tombol like. Tidak perlu follower.
Yang dibutuhkan cuma cat dan keberanian.
Kalau di media sosial seseorang bisa mendapatkan ribuan komentar, di tembok mungkin komentarnya berbentuk obrolan ibu-ibu yang sedang lewat.
“Eh, sudah baca tulisan di tembok?”
“Sudah.”
“Menurut kamu benar nggak?”
“Entahlah. Yang penting saya bayar pajak.”
“Terus?”
“Ya berharap uangnya dipakai dengan baik.”
Lalu percakapan selesai karena tukang sayur datang.
Begitulah demokrasi berjalan di gang-gang kecil.
Saya kemudian teringat pengalaman saya sebagai guru. Guru juga akrab dengan dunia laporan. Ada laporan pembelajaran, laporan kegiatan, laporan administrasi, laporan pertanggungjawaban, laporan evaluasi, dan kadang-kadang laporan yang membuat kita bertanya dalam hati:
“Ini laporan dibuat untuk siapa sebenarnya?”
Hehehe.
Jangan-jangan suatu hari nanti guru juga menulis di tembok sekolah:
“Kami disuruh mengajar, disuruh membuat laporan juga. Seharusnya yang membuat kebijakan juga membaca laporan kami.”
Waduh!
Kalau itu terjadi, mungkin kepala sekolah langsung mencari penghapus.
Tapi sebelum menghapus, saya kira ada baiknya membaca pesannya.
Sebab kritik tidak selalu berarti kebencian.
Kadang kritik justru merupakan bentuk kepedulian.
Masyarakat yang membayar pajak tentu memiliki hak untuk mengetahui bagaimana uang publik dikelola. Di sisi lain, pemerintah juga memiliki kewajiban memberikan informasi yang mudah dipahami masyarakat. Tidak semua orang mampu membaca dokumen anggaran setebal skripsi mahasiswa tingkat akhir.
Rakyat mungkin tidak membutuhkan tabel yang rumit.
Mereka hanya ingin tahu:
“Uang kami digunakan untuk apa?”
Jalan diperbaiki atau tidak?
Sekolah dibantu atau tidak?
Puskesmas diperkuat atau tidak?
Transportasi diperbaiki atau tidak?
Pelayanan publik semakin mudah atau malah semakin banyak antreannya?
Kalau semua itu dijelaskan dengan bahasa sederhana, rakyat tentu akan lebih mudah memahami.
Saya membayangkan suatu saat ada papan pengumuman besar di setiap kelurahan:
PAJAK ANDA TAHUN INI DIGUNAKAN UNTUK:
- Memperbaiki jalan.
- Membantu pendidikan.
- Meningkatkan pelayanan kesehatan.
- Memperbaiki fasilitas umum.
- Dan lain-lain secara transparan.
Kalau perlu, dibuat versi digitalnya.
Klik.
Muncul rincian.
Klik lagi.
Muncul laporan.
Klik lagi.
Muncul foto hasil pembangunan.
Nah, rakyat senang.
Tidak perlu mencari-cari informasi sampai bertanya kepada tetangga.
Karena sebenarnya rakyat tidak alergi terhadap pajak.
Yang kadang membuat rakyat mengernyitkan dahi adalah ketika mereka diminta membayar dengan penuh disiplin, tetapi informasi mengenai penggunaannya terasa seperti soal ujian yang jawabannya disembunyikan guru.
Sebagai blogger, saya belajar satu hal penting: transparansi adalah bentuk komunikasi.
Kalau komunikasi dilakukan dengan baik, kecurigaan bisa berkurang.
Kalau komunikasi buruk, prasangka tumbuh subur.
Dan kalau prasangka sudah tumbuh subur, jangan heran kalau tembok kampung berubah menjadi kolom opini.
Saya jadi ingin membuat istilah baru:
“Jurnalisme Tembok.”
Medianya tembok.
Redakturnya warga.
Reporternya orang yang lewat.
Fotografernya netizen.
Distribusinya media sosial.
Komentarnya rakyat.
Dan algoritmanya… ya, tergantung seberapa menarik tulisan catnya!
Hehehe.
Namun, di balik humor itu ada pesan serius.
Kita hidup di zaman ketika masyarakat semakin kritis. Mereka bukan hanya ingin menjadi objek kebijakan. Mereka ingin menjadi bagian dari percakapan.
Maka, ketika rakyat bertanya, jangan buru-buru dianggap cerewet.
Ketika rakyat mengkritik, jangan langsung dianggap tidak bersyukur.
Ketika rakyat meminta laporan, jangan dianggap sebagai musuh.
Justru pertanyaan rakyat dapat menjadi pengingat agar pengelolaan uang publik dilakukan semakin transparan dan bertanggung jawab.
Saya sendiri percaya, uang rakyat harus kembali kepada rakyat dalam bentuk pelayanan dan kemanfaatan.
Sebab pajak bukan sekadar angka yang masuk ke kas negara atau daerah. Di balik angka itu ada keringat orang tua, pedagang, guru, pekerja, pengusaha, petani, nelayan, dan jutaan masyarakat lainnya.
Mereka membayar bukan karena ingin menjadi pejabat.
Mereka membayar karena memang ada kewajiban sebagai warga negara.
Maka wajar jika mereka berharap pengelolaannya dilakukan dengan baik.
Akhirnya saya menutup ponsel dan kembali menyeruput kopi.
Saya tersenyum sendiri.
Hari ini saya belajar dari sebuah tembok.
Ternyata tembok yang selama ini kita kira hanya benda mati bisa menjadi papan pengingat kehidupan bernegara.
Kalau suatu hari saya melihat tembok bertuliskan:
“Omjay, jangan cuma menyuruh orang menulis. Omjay juga harus menulis!”
Saya akan menurut.
Saya ambil laptop.
Saya menulis.
Sebab mantra saya sederhana:
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Dan hari ini yang terjadi adalah saya belajar bahwa terkadang tembok bisa lebih berani berbicara daripada manusia.
Bedanya, manusia kalau salah ngomong bisa bilang, “Maaf, tadi keceplosan.”
Kalau tulisan sudah dicat di tembok?
Wah, harus mengecat ulang.
Itulah sebabnya, sebelum menulis di tembok, sebaiknya pikirkan baik-baik.
Tetapi kalau menulis di blog, silakan.
Karena kalau ada yang tidak setuju, tinggal komentar.
Kalau komentarnya panjang, saya jawab.
Kalau debatnya makin panjang, saya bikin artikel baru.
Kalau artikelnya viral...
Alhamdulillah.
Kopi pun terasa lebih manis.
Dan mungkin, di situlah keajaiban menulis:
satu tulisan bisa membuat orang berpikir, satu humor bisa membuat orang tertawa, dan satu kritik yang disampaikan dengan baik bisa membuat kita semua belajar menjadi warga negara yang lebih dewasa.
๐ฎ๐ฉ HARI INI PERJUANGAN MENULIS DI BLOG DIMULAI! ✍️๐ฅ
Nah, setelah belajar dari tembok yang berani menyampaikan suara rakyat, saya semakin yakin bahwa menulis adalah salah satu cara kita mengisi kemerdekaan.
Jangan cuma jadi pembaca.
Jangan hanya menjadi penonton.
Jangan sampai setiap hari kita sibuk membaca tulisan orang lain, tetapi ketika ditanya, “Kapan kamu mulai menulis?”, jawabannya selalu, “Nanti kalau sudah punya waktu.”
Masalahnya, kalau menunggu punya waktu luang, bisa-bisa kita menunggu sampai cucu kita menjadi kepala sekolah!
Hari ini, 17 Agustus 2026, bertepatan dengan semangat kemerdekaan Republik Indonesia, perjuangan menulis melalui Lomba Blog Wijaya Kusumah – Omjay Guru Blogger Indonesia resmi dimulai.
๐ฏ MERDEKA MENULIS, MERDEKA MENGINSPIRASI!
Buat tulisan terbaikmu.
Ceritakan pengalamanmu.
Bagikan gagasanmu.
Tuliskan praktik baik yang pernah dilakukan.
Ceritakan kisah inspiratif.
Atau sampaikan ide yang selama ini hanya berputar-putar di kepala.
Jangan biarkan ide bagus mati karena terlalu lama disimpan.
๐ช Jangan takut tulisanmu belum sempurna.
✍️ Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis.
๐ฅ Mulailah menulis, karena penulis hebat juga pernah menjadi pemula.
Kalau tembok saja berani menyampaikan pesan dengan cat, masa kita yang punya laptop, ponsel, dan akses internet malah takut menulis?
Hehehe.
Tembok saja berani!
Masa blogger kalah berani?
Karena itu, jangan lupa daftar sebagai peserta Lomba Blog Wijaya Kusumah – Omjay Guru Blogger Indonesia.
๐ Daftar Lomba Blog Wijaya Kusumah – Omjay
Ayo ajak guru, siswa, mahasiswa, penulis, blogger, dan siapa saja yang punya cerita untuk ikut berjuang melalui tulisan.
Mari kita isi kemerdekaan dengan karya.
Mari kita ubah pengalaman menjadi tulisan.
Mari kita ubah tulisan menjadi inspirasi.
Dan mari kita buktikan bahwa blog masih bisa menjadi ruang perjuangan untuk menyebarkan gagasan positif, pengalaman baik, dan inspirasi bagi Indonesia.
Hari ini mungkin kita hanya menulis satu artikel.
Besok mungkin ada satu orang yang terinspirasi.
Lusa mungkin ada satu perubahan kecil.
Dan siapa tahu, beberapa tahun kemudian tulisan sederhana kita menjadi kenangan berharga yang dibaca anak cucu.
Itulah hebatnya tulisan.
Tulisan bisa selesai dibuat hari ini, tetapi umurnya bisa jauh lebih panjang daripada penulisnya.
Merdeka menulis!
Merdeka menginspirasi! ๐ฎ๐ฉ✍️๐ฅ
Salam blogger Indonesia,
Omjay Guru Blogger Indonesia
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.