Susanah Ternyata Penjahit, Kisah Omjay tentang Pidato Presiden dan Komdigi yang Harus Menjahit Kembali Informasi
Oleh: Omjay Guru Blogger Indonesia
Ada satu cerita menarik yang membuat saya tersenyum sekaligus mengernyitkan dahi beberapa hari ini. Namanya Susanah. Seorang perempuan sederhana yang bekerja keras untuk membantu keluarganya memenuhi kebutuhan hidup. Namun, dalam sebuah pidato kenegaraan, pekerjaan Susanah tiba-tiba berubah. Ia disebut sebagai buruh harian pengupas bawang dengan penghasilan Rp700 ribu per kilogram.
Waduh!
Kalau benar Rp700 ribu untuk mengupas satu kilogram bawang, saya kira bukan hanya warganet yang tertarik. Saya pun mungkin akan ikut antre mencari pekerjaan sebagai pengupas bawang. Guru blogger bisa banting setir menjadi pengupas bawang. Lumayan, siapa tahu sehari bisa mengupas 10 kilogram. Tinggal dikalikan saja.
Tetapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu.
Setelah dilakukan klarifikasi, Susanah ternyata bukan pengupas bawang. Ia adalah seorang penjahit kain majun atau kain perca. Upahnya pun bukan Rp700 ribu per kilogram, melainkan sekitar Rp700 per kilogram.
Nah, di sinilah cerita menjadi semakin menarik.
Saya membaca tulisan Bang Rosadi Jamani tentang persoalan ini sambil menyeruput kopi. Dalam hati saya berkata, “Waduh, ternyata Susanah tidak salah. Prabowo juga mungkin tidak salah karena beliau membaca naskah. Lalu, di mana simpul masalahnya?”
Susanah hanya bekerja.
Presiden hanya membaca pidato.
Sementara Komdigi kemudian harus turun tangan melakukan pelurusan informasi.
Saya pun membayangkan suasananya.
Presiden sudah selesai berpidato. Rakyat sudah mendengarkan. Media sudah memberitakan. Warganet sudah membuat meme. Bahkan mungkin ada orang yang mulai serius bertanya, “Di mana saya bisa melamar menjadi pengupas bawang dengan upah Rp700 ribu per kilogram?”
Kemudian datanglah klarifikasi.
“Mohon tenang. Susanah bukan pengupas bawang.”
Warganet mungkin menjawab, “Lho, terus siapa yang mengupas bawangnya?”
“Bukan itu persoalannya.”
“Terus Rp700 ribu?”
“Juga bukan.”
“Lalu berapa?”
“Rp700.”
Nah!
Di sinilah saya merasa kasihan kepada Komdigi.
Bukan karena Komdigi tidak boleh melakukan klarifikasi. Justru klarifikasi sangat penting. Informasi yang keliru memang harus segera diluruskan. Apalagi kalau informasi tersebut sudah telanjur disampaikan dalam forum kenegaraan dan didengar oleh jutaan masyarakat.
Tetapi saya jadi bertanya-tanya, mengapa pekerjaan meluruskan informasi harus dilakukan setelah pidato selesai?
Bukankah seharusnya data diperiksa lebih dahulu sebelum masuk ke naskah pidato?
Inilah pelajaran penting dari kisah Susanah.
Satu angka bisa mengubah seluruh cerita.
Rp700 menjadi Rp700.000 bukan sekadar salah ketik kecil. Nilainya melonjak seribu kali lipat. Pekerjaan Susanah pun berubah dari penjahit kain majun menjadi pengupas bawang.
Padahal Susanah sendiri tetap Susanah.
Ia tidak berubah.
Ia tetap seorang ibu yang bekerja keras membantu keluarganya.
Ia tetap seorang istri dari suami yang pekerjaannya tidak selalu tersedia.
Ia tetap ibu dari tiga anak yang berusaha mempertahankan pendidikan anak-anaknya meskipun terkadang harus berutang.
Menurut informasi yang diklarifikasi, dalam sehari Susanah mengerjakan sekitar 20 kilogram kain majun dengan penghasilan sekitar Rp14 ribu. Pada hari tertentu, bersama ibu-ibu lainnya, pekerjaannya bisa mencapai sekitar 50 kilogram.
Siang hari, ia masih bekerja mencuci ompreng di dapur program MBG untuk menambah penghasilan.
Saya membaca kisah itu lalu terdiam.
Di balik angka yang salah dalam sebuah pidato, ternyata ada kehidupan seorang manusia yang nyata.
Ada seorang ibu.
Ada keluarga.
Ada perjuangan.
Ada anak-anak yang ingin terus sekolah.
Ada dapur rumah tangga yang harus tetap mengepul.
Dan ada seorang perempuan yang mungkin tidak pernah membayangkan namanya akan menjadi pembicaraan nasional.
Susanah tidak meminta menjadi terkenal.
Ia tidak meminta pekerjaannya disebut dalam pidato.
Ia juga tidak meminta warganet mencari tahu tentang dirinya.
Ia hanya bekerja.
Maka menurut saya, jangan sampai kesalahan penyebutan membuat Susanah justru menjadi bahan tertawaan. Yang perlu kita tertawakan adalah situasinya, bukan orangnya.
Saya justru salut kepada Susanah.
Di tengah kehidupan yang tidak mudah, ia tetap bekerja. Ketika penghasilan suaminya sebagai buruh bangunan tidak menentu, ia ikut mencari tambahan penghasilan. Ketika kebutuhan pendidikan anak-anak terus berjalan, ia tidak menyerah.
Inilah wajah rakyat Indonesia yang sesungguhnya.
Rakyat kecil yang sering kali tidak masuk televisi, tetapi setiap hari bekerja keras menjaga keluarganya.
Namun, ada satu hal yang menurut saya perlu menjadi bahan renungan pemerintah.
Pidato kenegaraan bukan tempat untuk mencoba-coba data.
Setiap angka harus diperiksa.
Setiap nama harus diverifikasi.
Setiap profesi harus dipastikan.
Sebab ketika seorang presiden menyampaikan sesuatu dari podium kenegaraan, masyarakat tentu menganggap informasi itu benar dan telah melalui proses pemeriksaan yang matang.
Kalau ternyata salah, pekerjaan rumahnya menjadi panjang.
Media memberitakan.
Warganet membahas.
Meme bermunculan.
Lalu kementerian terkait harus melakukan klarifikasi.
Saya membayangkan kalau kejadian seperti ini berulang terus, jangan-jangan nanti muncul direktorat baru.
Namanya:
Direktorat Jenderal Pelurusan Pidato Presiden.
Tugasnya sederhana.
Presiden membaca.
Tim mendengarkan.
Kalau benar, diam.
Kalau ada kesalahan, langsung bergerak.
“Cepat! Cari Susanah!”
“Siap!”
“Pekerjaannya apa?”
“Penjahit, Pak!”
“Di pidato tertulis apa?”
“Pengupas bawang!”
“Waduh! Siapkan klarifikasi!”
Begitulah humor kecil saya ketika membaca persoalan ini.
Namun di balik humor tersebut ada pesan serius.
Kita membutuhkan budaya verifikasi sebelum publikasi, bukan klarifikasi setelah viral.
Ini berlaku bukan hanya untuk pemerintah. Berlaku juga untuk kita semua.
Sebagai guru blogger, saya belajar bahwa ketika menulis satu nama, satu angka, satu tempat, atau satu peristiwa, sebaiknya kita melakukan pengecekan terlebih dahulu.
Jangan sampai tulisan sudah viral, baru kita mencari sumber.
Jangan sampai angka sudah salah, baru kita mencari pembenarannya.
Jangan sampai orang sudah dirugikan, baru kita sibuk membuat klarifikasi.
Apalagi di era media sosial. Satu kesalahan kecil bisa berubah menjadi bola salju informasi.
Sekali masuk internet, ia sulit ditarik kembali.
Itulah yang terjadi pada kisah Susanah.
Pidatonya mungkin sudah selesai.
Tetapi ceritanya belum selesai.
Karena internet punya ingatan yang panjang.
Meme boleh lucu, tetapi jangan sampai manusia di balik meme dilupakan.
Bagi saya, kisah Susanah justru harus kita lihat dari sisi lain.
Ia adalah gambaran rakyat kecil yang bekerja keras.
Ia adalah seorang ibu yang tidak malu bekerja.
Ia adalah bagian dari jutaan keluarga Indonesia yang berjuang memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang sederhana.
Jangan hanya melihat angka Rp700.
Lihatlah manusia di balik angka itu.
Jangan hanya tertawa karena Rp700 ribu berubah menjadi Rp700.
Lihatlah perjuangan Susanah mendapatkan Rp700 tersebut.
Dan jangan pula menjadikan Komdigi sebagai kambing hitam karena melakukan klarifikasi.
Mereka justru sedang menjalankan tugasnya.
Yang perlu kita dorong adalah bagaimana sistem pemeriksaan informasi pemerintah diperkuat sehingga kementerian tidak perlu berkali-kali menjadi “pemadam kebakaran informasi”.
Saya jadi teringat kalimat sederhana:
“Lebih baik teliti sebelum bicara daripada sibuk meluruskan setelah bicara.”
Presiden memang manusia.
Pembaca pidato juga manusia.
Penulis naskah juga manusia.
Petugas pemeriksa data juga manusia.
Kesalahan bisa terjadi.
Tetapi karena yang berbicara adalah kepala negara, standar ketelitiannya tentu harus jauh lebih tinggi.
Sebab satu kalimat Presiden bisa didengar seluruh negeri.
Satu angka bisa menjadi berita.
Satu kesalahan bisa menjadi meme.
Dan satu klarifikasi bisa membuat satu kementerian bekerja ekstra.
Maka, semoga kisah Susanah menjadi pelajaran bersama.
Bukan untuk mempermalukan siapa pun.
Bukan untuk menghukum siapa pun.
Tetapi untuk memperbaiki cara kita mengelola informasi.
Dan untuk Susanah, saya hanya ingin mengatakan:
Tetaplah bekerja dan jangan berkecil hati.
Anda bukan sekadar nama dalam sebuah pidato.
Anda adalah gambaran perjuangan rakyat kecil yang tetap bekerja meskipun penghasilan tidak besar.
Anda mengajarkan kepada kita bahwa harga diri seseorang tidak ditentukan oleh besar kecilnya penghasilan, melainkan oleh ketekunan dan kejujuran dalam menjalani kehidupan.
Sementara untuk kita semua, terutama yang gemar menulis dan membuat konten, kisah Susanah memberi pelajaran sederhana:
Cek dulu sebelum menyebarkan. Verifikasi dulu sebelum menulis. Jangan buru-buru mengejar viral.
Sebab kalau salah, kita bisa saja membuat orang lain sibuk menjahit kembali informasi yang sudah terlanjur sobek.
Dan kali ini, Susanah ternyata seorang penjahit.
Komdigi pun akhirnya ikut menjahit.
Semoga ke depan, naskah pidato dijahit lebih rapi sebelum dibacakan.
Jangan sampai Presiden bicara satu kalimat, lalu satu kementerian harus mencari benang untuk meluruskannya.
Mari kita seruput kopi dulu.
Koptagul, wak!
Sambil tertawa, kita tetap belajar.
Karena di balik cerita yang lucu, selalu ada pelajaran yang serius.
Tulisan ini terinspirasi dari tulisan Bang Rosadi Jamani dan dikembangkan kembali dalam gaya “Kisah Omjay”, dengan fokus pada sisi kemanusiaan, literasi informasi, dan pentingnya verifikasi data.
Ternyata oh ternyata... Jenis pekerjaannya pun salah. Bu Susanah semoga saat terkenal jadi dapat endorse biar bisa mengubah nasib. Aamiin
BalasHapus