Kisah Omjay: Lebih Merdeka Menulis di Blog Pribadi
Menjadi blogger ternyata bukan hanya soal rajin menulis dan mengumpulkan pembaca. Setelah menjalani perjalanan panjang sebagai blogger, Omjay justru menemukan satu hal yang semakin terasa penting: kemerdekaan dalam menulis.
Dulu, Omjay merasa senang ketika tulisan bisa dimuat di berbagai platform besar. Ada rasa bangga ketika tulisan dibaca banyak orang, mendapatkan komentar, memperoleh apresiasi, bahkan bisa menghasilkan cuan. Salah satu tempat yang pernah menjadi rumah bagi banyak tulisan Omjay adalah blog keroyokan seperti Kompasiana dan berbagai platform dalam jaringan media online.
Namun, semakin lama menulis, Omjay semakin memahami bahwa ada perbedaan besar antara menulis di rumah sendiri dan menulis di rumah orang lain.
Blog pribadi adalah rumah digital milik sendiri. Kita yang menentukan ruangnya. Kita yang memilih desainnya. Kita yang menentukan tulisan apa yang ingin dipublikasikan. Kita juga yang bertanggung jawab terhadap isi tulisan tersebut.
Di situlah Omjay merasakan sebuah kemerdekaan.
Menulis di blog pribadi membuat Omjay merasa tidak terlalu terikat dengan kepentingan perusahaan media. Omjay bisa menulis pengalaman sehari-hari, perjalanan, pendidikan, teknologi, guru, keluarga, kegiatan komunitas, hingga refleksi kehidupan tanpa harus terlalu memikirkan apakah tulisan tersebut cocok dengan algoritma sebuah platform.
Tentu saja, Omjay tetap menghargai platform besar seperti Kompasiana dan jaringan media online lainnya. Platform tersebut telah memberikan banyak pengalaman kepada Omjay dan tentu memiliki peran dalam perjalanan panjang sebagai blogger. Banyak tulisan Omjay lahir dan berkembang di sana.
Tetapi perjalanan panjang membuat Omjay belajar bahwa punya rumah sendiri jauh lebih penting daripada selamanya menjadi penghuni rumah orang lain.
Bayangkan saja kita sudah puluhan tahun menulis. Setiap hari membuat tulisan. Tulisan tersebut kemudian menjadi aset digital. Kalau semuanya hanya tersimpan di platform milik perusahaan lain, maka kita harus selalu mengikuti aturan pemilik rumah.
Hari ini aturannya begini, besok bisa berubah.
Hari ini tulisan panjang disukai pembaca, besok mungkin algoritma lebih menyukai video pendek. Hari ini tulisan tertentu ramai, besok belum tentu. Bahkan sistem penghargaan, monetisasi, tampilan, distribusi konten, dan kebijakan platform dapat berubah sewaktu-waktu.
Sebagai blogger yang sudah cukup lama berada di dunia digital, Omjay akhirnya berpikir sederhana.
Mengapa tidak membangun dan memperkuat rumah sendiri?
Pertanyaan sederhana itu ternyata membawa perubahan besar dalam cara Omjay memandang aktivitas blogging.
Blog pribadi bukan sekadar tempat memajang tulisan. Blog pribadi adalah arsip perjalanan hidup.
Tulisan yang dibuat hari ini bisa menjadi kenangan lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun mendatang. Pengalaman mengajar, perjalanan naik transportasi umum, bertemu guru, mengikuti seminar, menulis buku, mendampingi siswa, membangun komunitas, sampai berbagai peristiwa kecil dalam kehidupan bisa terdokumentasikan dengan baik.
Suatu hari nanti, mungkin ada anak cucu Omjay yang ingin mengetahui bagaimana perjalanan kakeknya sebagai guru dan blogger.
Mereka tinggal membuka blog.
Di sana ada cerita.
Ada pengalaman.
Ada pemikiran.
Ada perjuangan.
Ada kesalahan.
Ada keberhasilan.
Semuanya menjadi jejak digital yang dibangun sedikit demi sedikit.
Inilah yang membuat Omjay semakin mencintai blog pribadi.
Ada satu hal lagi yang membuat Omjay berpikir lebih dalam. Ketika kita terus-menerus membuat konten untuk platform milik perusahaan, secara tidak langsung kita ikut membantu membangun ekosistem dan aset perusahaan tersebut.
Tidak ada yang salah dengan itu. Platform memang membutuhkan penulis dan pembuat konten. Perusahaan media membutuhkan karya dari para kreator untuk membuat pembacanya terus datang.
Tetapi Omjay kemudian bertanya kepada dirinya sendiri:
Kalau saya sudah menulis puluhan tahun, aset digital saya sendiri sudah sebanyak apa?
Pertanyaan itu cukup menampar.
Jangan sampai kita sangat rajin memperkaya platform orang lain, tetapi lupa memperkaya rumah digital sendiri.
Karena itu, Omjay sekarang ingin lebih serius menghidupkan kembali blog pribadi. Bukan berarti berhenti total menulis di platform lain. Bukan pula berarti memusuhi media online atau blog keroyokan.
Sama sekali bukan.
Omjay justru melihat semua platform sebagai jalan distribusi.
Tulisan bisa dipublikasikan di blog pribadi sebagai rumah utama. Setelah itu, sebagian gagasan dapat dibagikan melalui media sosial atau platform lain untuk menjangkau pembaca yang lebih luas.
Dengan cara seperti itu, kita tidak kehilangan rumah sendiri.
Kalau suatu saat algoritma berubah, kita tetap memiliki arsip.
Kalau suatu saat platform mengubah kebijakan, kita tetap memiliki tempat untuk menulis.
Kalau suatu saat monetisasi berubah, kita tetap memiliki aset digital yang bisa dikembangkan.
Inilah kemerdekaan yang sekarang dirasakan Omjay.
Kemerdekaan bukan berarti bebas melakukan apa saja tanpa aturan. Kemerdekaan berarti memiliki ruang untuk menentukan arah sendiri dengan penuh tanggung jawab.
Sebagai guru blogger Indonesia, Omjay merasa perjalanan ini seperti kembali ke awal. Dulu ketika mulai ngeblog, Omjay hanya ingin menulis dan berbagi. Tidak terlalu memikirkan jumlah pembaca, algoritma, ranking, atau penghasilan.
Menulis karena ingin berbagi.
Menulis karena ada pengalaman.
Menulis karena ada sesuatu yang ingin disampaikan.
Menulis karena percaya bahwa pengalaman seorang guru bisa menjadi inspirasi bagi guru lainnya.
Prinsip itu kini terasa kembali.
Bedanya, Omjay sekarang sudah memiliki pengalaman jauh lebih panjang.
Omjay sudah melihat bagaimana dunia blogging berubah dari masa ke masa. Dari blog sederhana, media sosial, portal berita, platform komunitas, sampai era kecerdasan artifisial.
Semua berubah.
Tetapi satu hal yang tidak berubah adalah kebutuhan manusia untuk bercerita.
Karena itu, Omjay ingin terus menulis.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Bagi Omjay, kalimat tersebut adalah cara menjaga warisan pengalaman.
Blog pribadi mungkin tidak langsung ramai.
Tidak selalu mendapatkan ribuan pembaca.
Tidak selalu menghasilkan uang dalam waktu singkat.
Namun, blog pribadi memberikan sesuatu yang jauh lebih berharga: kendali dan kepemilikan atas karya sendiri.
Kalau tulisan kita terus bertambah, suatu saat blog itu bisa menjadi perpustakaan pribadi. Bahkan mungkin menjadi ensiklopedia kecil tentang perjalanan hidup seorang guru blogger.
Itulah pelajaran penting yang Omjay dapatkan setelah bertahun-tahun menjadi blogger.
Jangan hanya rajin membuat konten. Bangunlah aset digital sendiri.
Gunakan platform orang lain untuk memperluas jangkauan, tetapi jangan lupa membangun rumah sendiri.
Jangan hanya mengejar ramai hari ini. Pikirkan juga jejak yang akan tersisa puluhan tahun kemudian.
Dan jangan sampai kita begitu sibuk memperkaya perusahaan media online, tetapi lupa memperkaya diri sendiri dengan karya, pengetahuan, pengalaman, dan aset digital yang kita miliki.
Bagi Omjay, inilah makna baru menjadi blogger.
Bukan sekadar menulis untuk dibaca.
Tetapi menulis untuk meninggalkan jejak.
Bukan sekadar mengejar cuan.
Tetapi membangun aset dan warisan pemikiran.
Bukan sekadar menjadi penghuni platform.
Tetapi memiliki rumah digital sendiri.
Di rumah itulah Omjay merasa lebih merdeka.
Di sanalah Omjay bisa menjadi dirinya sendiri.
Dan selama jari masih mampu mengetik, Omjay akan terus menulis.
Karena bagi seorang guru blogger, tulisan bukan hanya kumpulan kata.
Tulisan adalah jejak kehidupan yang suatu hari akan berbicara kepada generasi berikutnya.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.