Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 22 Juni 2026

Dasar-Dasar Pendidikan Karya Mohammad Sjafei: Warisan Pemikiran Pendidikan dari INS Kayu Tanam

Dasar-Dasar Pendidikan Karya Mohammad Sjafei: Warisan Pemikiran Pendidikan dari INS Kayu Tanam

Image

Image

Image

Image

Nama Mohammad Sjafei merupakan salah satu tokoh pendidikan nasional yang memiliki pemikiran sangat maju pada masanya. Beliau dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Indonesische Nederlandsche School (INS) Kayu Tanam yang berdiri pada tahun 1926 di Kayu Tanam, Sumatera Barat. Sekolah ini lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang lebih banyak mencetak pegawai daripada manusia merdeka dan kreatif. (Wikipedia)

Dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan, Mohammad Sjafei mengemukakan gagasan bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berpikir merdeka, memiliki keterampilan hidup, berakhlak baik, serta mampu mengabdi kepada masyarakat. Pemikiran tersebut kemudian menjadi landasan utama penyelenggaraan pendidikan di INS Kayu Tanam.

Pendidikan untuk Kemerdekaan Berpikir

Menurut Mohammad Sjafei, tujuan pendidikan bukan sekadar mengisi otak peserta didik dengan berbagai pengetahuan. Pendidikan harus membebaskan manusia dari ketergantungan berpikir. Murid harus dilatih untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah secara mandiri.

Beliau menolak sistem pendidikan yang hanya menuntut hafalan. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan pembimbing yang membantu peserta didik mengembangkan potensinya. Pemikiran ini jauh mendahului konsep pembelajaran aktif yang saat ini dikenal sebagai student centered learning.

Pendidikan Harus Dekat dengan Kehidupan

Salah satu prinsip penting yang diajarkan Mohammad Sjafei adalah pendidikan harus berhubungan langsung dengan kehidupan nyata. Apa yang dipelajari di sekolah harus dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, di INS Kayu Tanam para siswa tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga belajar bertani, berkebun, membuat kerajinan, menggambar, musik, percetakan, hingga berbagai keterampilan teknis lainnya. Pendidikan tidak boleh menghasilkan manusia yang hanya pandai berbicara, tetapi tidak mampu bekerja.

Keseimbangan antara Otak, Hati, dan Tangan

Mohammad Sjafei percaya bahwa pendidikan yang baik harus mengembangkan tiga unsur utama manusia:

  1. Otak (cipta) untuk berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

  2. Hati (rasa) untuk membangun karakter dan moral.

  3. Tangan (karya) untuk menghasilkan keterampilan dan produktivitas.

Konsep ini kemudian menjadi ciri khas INS Kayu Tanam. Para siswa didorong menjadi manusia yang cerdas, berbudi pekerti, dan terampil bekerja. Pendidikan karakter tidak diajarkan melalui ceramah semata, tetapi melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Pendidikan Kemandirian

Di INS Kayu Tanam, siswa dibiasakan hidup mandiri. Mereka ikut menjaga kebersihan sekolah, mengelola berbagai kegiatan, bahkan terlibat dalam produksi barang yang dapat digunakan atau dijual.

Menurut Mohammad Sjafei, sekolah harus menjadi tempat latihan kehidupan. Jika sejak sekolah murid sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab, maka ketika dewasa mereka akan mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Pendidikan Nasional yang Berakar pada Budaya Bangsa

Mohammad Sjafei sangat menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ia mengkritik pendidikan kolonial yang terlalu berorientasi Barat dan kurang memperhatikan budaya lokal.

Di INS Kayu Tanam, nilai-nilai budaya Minangkabau, semangat gotong royong, kerja keras, dan kecintaan terhadap tanah air menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia Indonesia yang bangga terhadap bangsanya sendiri.

Guru sebagai Teladan

Dalam pandangan Mohammad Sjafei, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru harus menjadi contoh dalam sikap, perilaku, disiplin, dan semangat belajar.

Murid akan lebih mudah meniru tindakan guru daripada mendengarkan nasihatnya. Oleh sebab itu, seorang pendidik harus terus belajar dan mengembangkan diri sepanjang hayat.

Relevansi Pemikiran Mohammad Sjafei di Era Modern

Meskipun gagasan Mohammad Sjafei lahir hampir satu abad yang lalu, pemikirannya masih sangat relevan hingga saat ini. Ketika dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan revolusi digital dan kecerdasan buatan (AI), prinsip-prinsip yang beliau ajarkan justru semakin penting.

Pendidikan masa kini tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal ujian. Pendidikan harus membentuk generasi yang kreatif, kritis, mandiri, mampu bekerja sama, serta memiliki karakter yang kuat. Semua nilai tersebut telah diterapkan Mohammad Sjafei melalui INS Kayu Tanam sejak tahun 1926.

Kesimpulan

Buku Dasar-Dasar Pendidikan karya Mohammad Sjafei merupakan warisan pemikiran pendidikan Indonesia yang sangat berharga. Melalui INS Kayu Tanam, beliau menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang memerdekakan manusia, mengembangkan kecerdasan, membentuk karakter, serta melatih keterampilan hidup.

Filosofi pendidikan Mohammad Sjafei dapat diringkas dalam satu gagasan besar: sekolah harus menyiapkan manusia untuk hidup, bukan sekadar untuk lulus ujian. Pemikiran inilah yang menjadikan beliau dikenang sebagai salah satu pelopor pendidikan nasional yang berhasil membangun model pendidikan berbasis kemandirian, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat. (Wikipedia)

Kronologis Dugaan Pembegalan Organisasi pgri

Kronologis Dugaan Pembegalan Organisasi PGRI: Memahami Perjalanan Konflik dan Putusan Hukum yang Berkembang

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) merupakan organisasi profesi guru terbesar dan tertua di Indonesia yang selama puluhan tahun menjadi wadah perjuangan para pendidik dalam meningkatkan kualitas pendidikan nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, PGRI menghadapi dinamika organisasi yang cukup kompleks akibat munculnya kelompok yang mengklaim kepengurusan organisasi di luar struktur resmi yang telah ditetapkan melalui mekanisme organisasi dan pengesahan pemerintah.

Infografis berjudul “Kronologis Pembegal Organisasi PGRI” memuat rangkaian peristiwa sejak tahun 2023 hingga tahun 2026 yang menggambarkan berbagai langkah yang dilakukan oleh kelompok tertentu serta proses hukum yang menyertainya. Berikut penjelasan lengkap dari kronologi tersebut.

1. Februari 2023: Munculnya Provokasi Percepatan Kongres

Menurut informasi pada infografis, pada Februari 2023 terdapat upaya provokasi terhadap pengurus PGRI tingkat provinsi maupun kabupaten/kota untuk mempercepat pelaksanaan Kongres PGRI XXIII.

Kongres merupakan forum tertinggi organisasi yang memiliki aturan dan mekanisme tersendiri sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) PGRI. Oleh karena itu, setiap upaya percepatan kongres harus mengikuti prosedur organisasi yang berlaku.

Peristiwa ini disebut sebagai awal munculnya gerakan yang kemudian berkembang menjadi konflik organisasi yang lebih luas.

2. Tanggal 3–4 November 2023: Pelaksanaan KLB

Pada tanggal 3–4 November 2023, kelompok tersebut menyelenggarakan Kongres Luar Biasa (KLB).

Dalam infografis disebutkan bahwa KLB hanya dihadiri oleh enam pengurus PGRI provinsi dan beberapa pengurus kabupaten/kota. Namun penyelenggara mengklaim mendapat dukungan dari delapan belas pengurus provinsi.

Pihak yang menolak KLB menilai pelaksanaan tersebut tidak memenuhi ketentuan AD/ART PGRI sehingga legalitasnya dipersoalkan.

Perbedaan pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu sumber utama konflik organisasi.

3. Tanggal 13 November 2023: Terbitnya SK AHU Baru

Pada tanggal 13 November 2023 terjadi perubahan penting terkait administrasi organisasi.

Kelompok penyelenggara KLB memperoleh Surat Keputusan Administrasi Hukum Umum (SK AHU) dengan nomor AHU-0001568.AH.01.08 Tahun 2023 yang menggantikan SK sebelumnya.

Dalam infografis, peristiwa ini digambarkan sebagai tindakan “merampas” SK AHU yang selama ini menjadi dasar legalitas kepengurusan organisasi.

Terbitnya SK AHU tersebut kemudian menjadi objek sengketa dalam berbagai proses hukum berikutnya.

4. Tanggal 16 November 2023: Upaya Menduduki Gedung Guru

Beberapa hari setelah terbitnya SK AHU baru, muncul upaya untuk menduduki Gedung Guru Indonesia di kawasan Tanah Abang, Jakarta.

Namun menurut informasi dalam infografis, upaya tersebut gagal dilakukan.

Gedung Guru Indonesia sendiri merupakan salah satu simbol penting organisasi karena menjadi pusat aktivitas PGRI tingkat nasional.

5. Gugatan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat

Kelompok yang disebut dalam infografis sebagai “pembegal” kemudian mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dengan nomor perkara 653/Pdt.G/2023/PN Jkt.Pst.

Hasil persidangan menunjukkan gugatan tersebut dinyatakan kalah.

Putusan ini menjadi salah satu dasar yang digunakan pihak kepengurusan resmi untuk menegaskan bahwa klaim kelompok tersebut tidak memperoleh dukungan hukum yang cukup kuat.

6. Gugatan Perkara Nomor 744/Pdt.G/2023

Selain perkara sebelumnya, kelompok yang sama kembali mengajukan gugatan dengan nomor 744/Pdt.G/2023/PN Jkt.Pst.

Dalam infografis dijelaskan bahwa gugatan tersebut kembali dinyatakan kalah oleh pengadilan.

Kekalahan berulang ini menunjukkan bahwa jalur perdata yang ditempuh belum berhasil mengubah status hukum yang dipersengketakan.

7. Pembentukan Pengurus PGRI Versi Lain

Setelah berbagai gugatan dilakukan, kelompok tersebut disebut nekat membentuk kepengurusan PGRI versi mereka di sejumlah wilayah.

Wilayah yang disebut dalam infografis antara lain:

  • Kalimantan Tengah
  • Sumatera Selatan
  • Jawa Timur
  • Banten

Langkah ini dinilai memperluas konflik hingga ke daerah-daerah dan berpotensi menimbulkan kebingungan di kalangan anggota PGRI.

8. Laporan ke Bareskrim Polri

Konflik tidak hanya berlangsung di ranah organisasi dan perdata, tetapi juga memasuki ranah pidana.

PB PGRI yang sah disebut telah melaporkan kasus tersebut ke Bareskrim Polri dengan nomor laporan STTL/430/XI/2023/BARESKRIM.

Dalam infografis disebutkan pula bahwa telah diterbitkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) Nomor B/195/III/RES.1.11./2025/Dittipidum.

Disebutkan bahwa Teguh Sumarno dan beberapa pihak lainnya ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan pemalsuan surat dan penipuan dengan mengaku sebagai Ketua Umum PB PGRI.

Kasus pidana ini menjadi salah satu perkembangan paling serius dalam konflik yang terjadi.

9. Gugatan PTUN dan Kekalahan Telak

Selanjutnya diajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta dengan nomor perkara 659/G/2023/PTUN.JKT.

Gugatan tersebut berkaitan dengan keputusan administrasi yang menjadi dasar legalitas kepengurusan.

Dalam infografis dijelaskan bahwa gugatan tersebut dinyatakan kalah telak dan kemudian dikuatkan melalui Putusan Peninjauan Kembali Nomor 32/PK/TUN/2026.

Putusan PK merupakan upaya hukum luar biasa yang biasanya menjadi tahap akhir dalam sengketa tata usaha negara.

10. Gugatan Tindakan Faktual Pemerintah

Kelompok tersebut juga mengajukan gugatan tindakan faktual pemerintah ke PTUN Jakarta dengan nomor 337/G/TF/2025/PTUN.JKT.

Namun hasilnya kembali tidak sesuai harapan karena gugatan tersebut dinyatakan kalah.

Putusan ini semakin memperkuat posisi pihak yang selama ini mengklaim sebagai kepengurusan sah PGRI.

11. Proses Banding

Infografis menjelaskan bahwa terdapat putusan banding dengan nomor 66/B/TF/2026/PT.TUN.JKT.

Namun putusan tersebut disebut belum berkekuatan hukum tetap (inkracht).

Artinya, masih terdapat kemungkinan adanya upaya hukum lanjutan sehingga status hukumnya belum final.

12. Kasasi oleh Menteri Hukum dan PB PGRI

Tahap berikutnya adalah pengajuan kasasi.

Dalam infografis disebutkan bahwa Menteri Hukum bersama PB PGRI yang sah mengajukan kasasi terhadap putusan tersebut.

Kasasi merupakan mekanisme hukum yang diajukan ke Mahkamah Agung untuk menguji penerapan hukum oleh pengadilan di bawahnya.

Hasil kasasi ini nantinya akan menjadi salah satu penentu arah penyelesaian sengketa yang masih berlangsung.

13. SK AHU Tahun 2023 Dinyatakan Tidak Berlaku

Poin terakhir dalam infografis menjelaskan bahwa dengan terbitnya SK AHU Nomor AHU-0001597.AH.01.08 Tahun 2023 tanggal 20 November 2023 serta adanya Putusan Kasasi Nomor 333 K/TUN/2025 yang diperkuat Putusan Peninjauan Kembali Nomor 32/PK/TUN/2026, maka SK AHU Nomor AHU-0001568.AH.01.08 Tahun 2023 tanggal 13 November 2023 dinyatakan tidak berlaku.

Kesimpulan ini digunakan sebagai dasar bahwa kepengurusan PB PGRI yang dipimpin Prof. Dr. Unifah Rosyidi tetap memiliki legitimasi organisasi dan hukum.

Penutup

Kronologi dalam infografis ini menunjukkan bahwa konflik internal PGRI telah berlangsung cukup panjang dan melibatkan berbagai jalur penyelesaian, mulai dari mekanisme organisasi, gugatan perdata, sengketa tata usaha negara, hingga proses pidana. Berbagai putusan pengadilan yang disebutkan dalam infografis digunakan oleh pihak PB PGRI untuk menegaskan legalitas kepengurusan yang sah dan memberikan kepastian kepada anggota di seluruh Indonesia.

Bagi para guru dan pengurus PGRI di daerah, hal terpenting adalah tetap menjaga persatuan organisasi, menghormati proses hukum yang berlaku, serta tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum terverifikasi. PGRI dibangun oleh semangat perjuangan guru Indonesia, sehingga penyelesaian setiap persoalan hendaknya dilakukan melalui jalur organisasi dan hukum yang bermartabat demi menjaga marwah organisasi serta memperkuat peran PGRI dalam memajukan pendidikan Indonesia.

Satu Guru, Satu Hati, Bela Organisasi. PGRI Kuat, Guru Hebat, Indonesia Bermartabat.

Sarapan Pagi Gratis di Depan Warteg Rizki

Sarapan Pagi Gratis di Depan Stasiun LRT Cikunir 1: Rezeki yang Datang Bersama Kebaikan

Pagi itu udara di kawasan Jalan Raya Caman, Jatibening, Bekasi terasa begitu segar. Matahari belum sepenuhnya meninggi ketika saya, Omjay, melangkahkan kaki menuju Stasiun LRT Cikunir 1 untuk berangkat beraktivitas seperti biasa. Sejak dokter menyarankan saya lebih banyak menggunakan transportasi umum, perjalanan pagi dengan LRT menjadi bagian dari rutinitas yang saya nikmati. Selain lebih hemat, perjalanan menggunakan LRT memberikan banyak pengalaman menarik yang sering kali menjadi bahan tulisan di blog saya.

Namun pagi itu terasa berbeda. Allah SWT kembali menunjukkan bahwa rezeki bisa datang dari arah yang tidak pernah kita duga sebelumnya. Ketika berjalan di sekitar area depan Stasiun LRT Cikunir 1, pandangan saya tertuju kepada sosok yang sudah tidak asing lagi. Di depan Warteg Rizki, saya melihat Pak Haji Dedi Hadi Rizki bersama istrinya sedang sibuk melayani banyak orang. Wajah mereka tampak ceria dan penuh semangat meskipun waktu masih sangat pagi.

Saya mendekat dan ternyata mereka sedang membagikan sarapan pagi gratis kepada para pengguna LRT, pekerja, pengemudi ojek online, pedagang kecil, dan masyarakat yang melintas di sekitar stasiun. Pemandangan itu begitu menghangatkan hati. Di tengah kehidupan kota yang serba cepat dan penuh kesibukan, masih ada orang-orang baik yang dengan tulus berbagi kepada sesama.

Pak Haji Dedi dan istrinya menyambut setiap orang dengan senyuman. Tidak ada perbedaan perlakuan. Semua yang datang dipersilakan menikmati sarapan yang telah mereka siapkan. Saya melihat beberapa pekerja yang terburu-buru menuju stasiun, petugas kebersihan, hingga para penumpang LRT yang sengaja berhenti sejenak untuk menerima sarapan pagi tersebut.

Ketika melihat saya datang, Pak Haji Dedi langsung menyapa dengan ramah.

"Pak Omjay, silakan sarapan dulu. Jangan langsung berangkat," katanya sambil tersenyum.

Saya tentu merasa sangat senang. Apalagi setelah melihat menu yang tersedia. Selain makanan pagi yang mengenyangkan, ada juga pisang goreng hangat yang menjadi salah satu makanan favorit saya sejak lama. Rasanya sederhana, tetapi bagi saya sangat istimewa. Pisang goreng yang masih hangat di pagi hari, ditemani secangkir minuman hangat dan suasana penuh kebersamaan, menjadi kenikmatan yang sulit digambarkan dengan kata-kata.

Saya pun menikmati sarapan tersebut sambil berbincang santai dengan Pak Haji Dedi dan istrinya. Dari percakapan itu saya semakin memahami bahwa kegiatan berbagi sarapan pagi ini bukan sekadar kegiatan sosial biasa. Ada nilai kemanusiaan, kepedulian, dan rasa syukur yang ingin mereka sebarkan kepada masyarakat.

Pak Haji Dedi percaya bahwa usaha yang dijalankan akan semakin berkah ketika sebagian rezekinya dibagikan kepada orang lain. Filosofi itu sangat sederhana, tetapi sering kali sulit dilakukan oleh banyak orang. Tidak semua orang mampu berbagi ketika sedang memiliki kelebihan. Namun Pak Haji Dedi dan istrinya memilih menjadikan berbagi sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Saya teringat sebuah pesan yang sering disampaikan para ulama bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Justru dengan berbagi, Allah SWT akan membuka pintu-pintu rezeki yang lebih luas. Apa yang dilakukan Pak Haji Dedi dan istrinya pagi itu menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang membuat saya semakin terharu adalah cara mereka melayani masyarakat. Tidak ada kesan sedang mencari pujian atau popularitas. Mereka melakukannya dengan penuh ketulusan. Senyum yang mereka berikan kepada setiap penerima sarapan menunjukkan bahwa kebahagiaan sejati memang lahir ketika kita mampu membahagiakan orang lain.

Di sela-sela kegiatan tersebut, saya memperhatikan wajah-wajah para penerima sarapan. Banyak di antara mereka yang tampak gembira. Ada yang mengucapkan terima kasih berkali-kali. Ada pula yang mendoakan agar usaha Warteg Rizki semakin maju dan berkembang. Doa-doa sederhana itu meluncur dari hati yang tulus.

Sebagai seorang guru, saya belajar banyak dari peristiwa pagi itu. Pendidikan sejatinya tidak hanya berlangsung di ruang kelas. Pendidikan juga hadir melalui keteladanan. Apa yang dilakukan Pak Haji Dedi dan istrinya merupakan bentuk pendidikan karakter yang sangat kuat. Mereka mengajarkan nilai kepedulian, empati, gotong royong, dan rasa syukur melalui tindakan nyata.

Saya membayangkan jika semakin banyak pelaku usaha yang memiliki semangat berbagi seperti ini, tentu kehidupan masyarakat akan menjadi lebih hangat. Tidak harus dalam jumlah besar. Kadang-kadang satu bungkus nasi, secangkir kopi, atau sepotong pisang goreng bisa menjadi penyemangat bagi seseorang untuk menjalani hari dengan lebih baik.

Peristiwa pagi ini juga mengingatkan saya bahwa keberhasilan sebuah usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh. Keberhasilan juga dapat diukur dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada masyarakat sekitar. Warteg Rizki tidak hanya menjadi tempat makan, tetapi juga menjadi tempat tumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang sangat dibutuhkan di zaman sekarang.

Sebelum berpisah dan melanjutkan perjalanan menuju LRT, saya sempat mengabadikan momen kebersamaan bersama Pak Haji Dedi dan istrinya. Foto sederhana itu akan menjadi pengingat bahwa kebaikan selalu memiliki cara untuk hadir di tengah kesibukan kehidupan kota.

Dari lubuk hati yang paling dalam, saya mengucapkan terima kasih kepada Pak Haji Dedi Hadi Rizki dan istri atas sarapan pagi yang penuh berkah. Terima kasih atas pisang goreng hangat yang menjadi favorit saya. Terima kasih atas ketulusan berbagi yang telah menginspirasi banyak orang pada pagi hari ini.

Saya berdoa semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan, keberkahan, dan kelancaran usaha kepada Pak Haji Dedi beserta keluarga. Semoga Warteg Rizki semakin ramai pengunjung, semakin maju usahanya, semakin luas manfaatnya, dan semakin banyak orang yang merasakan kebaikan dari keberadaannya.

Pagi ini saya kembali belajar bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal-hal besar. Kadang-kadang kebahagiaan hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: sebuah senyuman tulus, sepiring sarapan pagi gratis, dan sepotong pisang goreng hangat yang dibagikan dengan penuh kasih sayang. Itulah pelajaran berharga yang saya bawa dari depan Warteg Rizki di Stasiun LRT Cikunir 1, Jatibening, Bekasi. Sebuah kisah sederhana yang mengingatkan kita semua bahwa berbagi adalah bahasa universal yang mampu menyatukan hati manusia.

Minggu, 21 Juni 2026

Resensi Buku Informatika dan KKA Karya Omjay

RESENSI BUKU

Identitas Buku

Judul Buku: Informatika Kelas VIII SMP Labschool Jakarta
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Jenjang: SMP Kelas VIII
Kurikulum: Kurikulum Merdeka
Edisi: 2026
Penerbit: SMP Labschool Jakarta
Jumlah Halaman: 844 halaman
Tagline: "Berpikir komputasional untuk membentuk generasi digital yang cerdas, kreatif, dan beretika."


Informatika Modern untuk Generasi Digital Masa Depan

Perkembangan teknologi digital yang begitu cepat telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan manusia. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), internet, komputasi awan, analisis data, keamanan siber, hingga media sosial menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan generasi muda saat ini. Dalam konteks tersebut, kehadiran buku "Informatika Kelas VIII SMP Labschool Jakarta" karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. menjadi sangat relevan sebagai panduan belajar yang komprehensif bagi siswa SMP dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Buku ini tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga membangun pola pikir komputasional, kreativitas, kemampuan pemecahan masalah, literasi digital, serta karakter peserta didik yang bertanggung jawab dalam memanfaatkan teknologi.


Isi dan Struktur Buku

Buku ini disusun secara sistematis dan modern dengan mengacu pada Kurikulum Merdeka serta delapan elemen utama Informatika yang ditetapkan pemerintah. Materi diperluas dengan berbagai topik terkini yang sangat dibutuhkan oleh peserta didik masa kini.

Buku terdiri atas 10 bab utama, yaitu:

Bab 1. Informatika dan Pembelajarannya

Membahas peran Informatika dalam kehidupan modern, profil pelajar Pancasila, tantangan teknologi masa depan, hingga pengenalan AI dalam kehidupan sehari-hari.

Bab 2. Berpikir Komputasional

Mengajarkan dekomposisi masalah, pengenalan pola, abstraksi, algoritma, fungsi, relasi, sistem bilangan, hingga struktur data sederhana.

Bab 3. Teknologi Informasi dan Komunikasi

Membahas perangkat produktivitas digital, kolaborasi berbasis cloud, pengelolaan dokumen digital, hingga pemanfaatan AI untuk meningkatkan produktivitas belajar.

Bab 4. Sistem Komputer

Menjelaskan perangkat keras, perangkat lunak, CPU, memori, representasi data, gerbang logika, dan Internet of Things (IoT).

Bab 5. Jaringan Komputer dan Internet

Mengupas konsep jaringan, internet, routing, teknologi 5G, keamanan digital, autentikasi, hingga ancaman siber.

Bab 6. Analisis Data

Mengenalkan pengolahan data, visualisasi data, dashboard sederhana, pivot table, hingga pengantar big data.

Bab 7. Algoritma dan Pemrograman

Berisi pembelajaran Scratch, Blockly, variabel, percabangan, perulangan, debugging, dan robotika dasar.

Bab 8. Dampak Sosial Informatika

Membahas media sosial, jejak digital, hoaks, cyberbullying, privasi data, hak cipta, serta etika penggunaan teknologi.

Bab 9. Kecerdasan Buatan untuk Pelajar

Salah satu bagian paling menarik karena membahas AI, Generative AI, chatbot, prompt engineering, serta penggunaan AI secara bertanggung jawab.

Bab 10. Praktik Lintas Bidang dan Proyek Akhir

Mengarahkan siswa menghasilkan karya nyata berupa website sekolah, dashboard data, game edukasi, kampanye literasi digital, hingga proyek berbasis AI.


Keunggulan Buku

1. Sangat Relevan dengan Era AI

Keunggulan utama buku ini adalah keberaniannya memasukkan materi Artificial Intelligence (AI) secara khusus dalam satu bab tersendiri.

Di saat banyak buku Informatika SMP masih fokus pada komputer dan aplikasi perkantoran, buku ini sudah membahas:

  • Generative AI
  • Chatbot
  • Prompt Engineering
  • AI dalam pendidikan
  • Etika penggunaan AI
  • Karier masa depan di bidang AI

Hal ini membuat buku terasa sangat modern dan sesuai kebutuhan peserta didik tahun 2026 dan seterusnya.


2. Berbasis Proyek (Project-Based Learning)

Setiap bab dilengkapi proyek yang mendorong siswa tidak hanya memahami teori tetapi juga menghasilkan karya nyata.

Contohnya:

  • Merancang Smart Home
  • Membuat Dashboard Data
  • Membuat Game Edukasi
  • Audit Keamanan Digital
  • Kampanye Anti Hoaks
  • Menulis Artikel dengan AI

Pendekatan ini sangat sesuai dengan semangat Kurikulum Merdeka yang menekankan pembelajaran aktif.


3. Mengembangkan Berpikir Komputasional

Buku ini tidak menjadikan Informatika sebagai pelajaran menghafal.

Sebaliknya, siswa diajak untuk:

  • Berpikir logis
  • Berpikir sistematis
  • Menganalisis masalah
  • Menyusun algoritma
  • Menemukan solusi

Keterampilan tersebut sangat penting untuk menghadapi tantangan masa depan.


4. Menanamkan Karakter Pelajar Pancasila

Selain aspek teknologi, buku ini juga mengintegrasikan nilai-nilai:

  • Gotong royong
  • Kreativitas
  • Kemandirian
  • Bernalar kritis
  • Berkebinekaan global
  • Akhlak mulia

Dengan demikian, teknologi tidak diposisikan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai alat untuk membangun manusia yang lebih baik.


5. Bahasa Mudah Dipahami

Penyajian materi dilakukan secara runtut dan komunikatif.

Konsep-konsep yang cukup rumit seperti:

  • Sistem bilangan
  • Jaringan komputer
  • Analisis data
  • Algoritma
  • AI

disampaikan secara bertahap sehingga mudah dipahami oleh siswa SMP.


Kekurangan Buku

Sebagai karya yang sangat komprehensif, terdapat beberapa hal yang dapat menjadi masukan untuk penyempurnaan edisi berikutnya.

1. Jumlah Halaman Sangat Tebal

Dengan lebih dari 800 halaman, buku ini tergolong sangat lengkap, namun mungkin cukup berat bagi sebagian siswa.

Versi ringkas atau modular dapat menjadi alternatif agar lebih mudah digunakan.

2. Membutuhkan Dukungan Praktik

Beberapa materi seperti:

  • AI
  • Dashboard Data
  • IoT
  • Robotika

akan lebih optimal jika didukung laboratorium komputer dan koneksi internet yang memadai.

3. Materi AI Perlu Pembaruan Berkala

Karena perkembangan AI berlangsung sangat cepat, beberapa bagian perlu diperbarui secara rutin agar tetap relevan dengan perkembangan teknologi terbaru.


Nilai Pendidikan

Buku ini tidak hanya mengajarkan penggunaan teknologi, tetapi juga membentuk cara berpikir siswa.

Peserta didik diajak menjadi:

  • Pemecah masalah
  • Kreator teknologi
  • Pengguna teknologi yang bijak
  • Warga digital yang bertanggung jawab
  • Pembelajar sepanjang hayat

Inilah yang membedakan buku ini dari banyak buku Informatika konvensional.


Kesimpulan

"Informatika Kelas VIII SMP Labschool Jakarta" merupakan salah satu buku Informatika SMP yang sangat lengkap, modern, dan visioner. Buku ini berhasil menggabungkan konsep dasar Informatika dengan perkembangan teknologi terkini seperti Artificial Intelligence, keamanan siber, data science, cloud computing, dan literasi digital.

Melalui pendekatan berbasis proyek dan penguatan Profil Pelajar Pancasila, buku ini tidak hanya membekali siswa dengan keterampilan teknis, tetapi juga membangun karakter yang kuat di era digital.

Buku ini sangat layak digunakan sebagai buku pegangan siswa SMP, referensi guru Informatika, maupun bahan pengembangan kurikulum sekolah yang ingin menghadirkan pembelajaran Informatika yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

Penilaian Akhir

⭐⭐⭐⭐⭐ (5/5)

"Bukan sekadar mengajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi membimbing siswa menjadi pencipta teknologi yang cerdas, kreatif, dan beretika." – Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.

Ketika Penulis Hebat Menulis Tentang Omjay

Ketika Penulis Hebat Menuliskan Kisah Saya

Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.)

Pagi itu saya tersenyum membaca sebuah tulisan dari Bang Rosadi Jamani. Rosadi Jamani 

Saya mengenalnya sebagai penulis yang produktif, cerdas, kritis, dan memiliki gaya khas yang mampu membuat pembaca tersenyum sekaligus berpikir. Tulisan beliau mengalir ringan, penuh humor, namun sarat makna. Saya termasuk salah satu pembacanya yang setia.

Jujur saja, ketika membaca artikel berjudul "Penulis Hebat Minta Kisahnya Ditulis dengan Gaya Koptagul", hati saya terasa hangat. Bukan karena nama saya disebut berkali-kali, tetapi karena saya melihat ketulusan seorang sahabat literasi yang mampu memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang indah.

Saya merasa apa yang ditulis Bang Ros terlalu berlebihan. Saya hanyalah seorang guru biasa yang kebetulan senang menulis. Saya bukan penulis hebat seperti yang beliau gambarkan. 

Saya masih terus belajar merangkai kata, belajar memahami kehidupan, dan belajar menyampaikan pengalaman agar bermanfaat bagi orang lain.

Kalau ada yang bertanya apa rahasia saya bisa menulis setiap hari, jawabannya sebenarnya sangat sederhana. Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi penulis besar. Saya hanya berusaha mencatat apa yang saya lihat, apa yang saya alami, dan apa yang saya rasakan. Dari situlah tulisan-tulisan saya lahir.

Banyak orang mengira menulis harus menunggu inspirasi datang. Padahal inspirasi itu sering kali sudah ada di sekitar kita. Perjalanan naik LRT, obrolan dengan murid, pertemuan dengan sahabat, pengalaman sakit di rumah sakit, hingga secangkir kopi di pagi hari bisa menjadi bahan tulisan yang berharga. 

Menulis bagi saya bukan pekerjaan yang luar biasa. Menulis adalah cara saya bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan hidup yang masih diberikan hingga hari ini.

Karena itulah saya merasa Bang Ros juga pantas disebut sebagai penulis hebat. Bayangkan saja, dalam satu bulan mampu menulis 110 artikel. Angka itu bukan hasil keberuntungan. Itu adalah hasil disiplin, kerja keras, dan kecintaan terhadap dunia literasi.

Ketika saya bertanya bagaimana beliau bisa menulis sebanyak itu, sesungguhnya saya sedang belajar. Saya ingin mengetahui bagaimana seorang penulis mampu menjaga api semangatnya tetap menyala setiap hari. 

Sebab dalam dunia menulis, kita semua adalah murid. Tidak peduli berapa banyak buku yang sudah diterbitkan atau berapa banyak artikel yang sudah ditulis, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari orang lain.

Tulisan Bang Ros juga mengingatkan saya tentang satu hal penting. Bahwa menulis bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat atau siapa yang paling banyak. Menulis adalah perjalanan panjang untuk meninggalkan jejak kebaikan.

Empat buku yang saya luncurkan beberapa waktu lalu sesungguhnya bukanlah sebuah pencapaian pribadi. Buku-buku itu lahir karena banyak orang baik yang hadir dalam perjalanan hidup saya. 

Ada keluarga yang selalu mendukung, ada murid-murid yang menginspirasi, ada sahabat-sahabat guru yang terus memberi semangat, dan ada para pembaca yang setia menemani tulisan saya selama bertahun-tahun.

Buku Labschool Rumah Keduaku adalah ungkapan rasa syukur atas kesempatan mengabdi lebih dari tiga dekade di sekolah yang saya cintai. Buku Menulislah dengan Hati lahir dari keyakinan bahwa teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi hati manusia tetap menjadi sumber inspirasi yang tidak tergantikan. 

Buku Kasta Tertinggi Seorang Guru merupakan refleksi bahwa keberhasilan seorang guru tidak diukur dari jabatan, melainkan dari keberhasilan murid-muridnya. Sedangkan buku Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi adalah catatan sederhana tentang kekuatan konsistensi.

Saya sepakat dengan Bang Ros bahwa kita hidup di zaman serba instan. Segala sesuatu ingin cepat. Semua ingin hasil besar dengan usaha kecil. Padahal banyak hal baik dalam hidup justru tumbuh perlahan. Pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Ilmu tidak datang dalam sehari. Begitu pula karya.

Karena itu saya selalu mengajak para guru, mahasiswa, pelajar, dan siapa saja untuk mulai menulis dari sekarang. Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu menunggu menjadi ahli. Tulis saja apa yang diketahui. Tulis apa yang dirasakan. Tulis pengalaman sehari-hari. Lama-kelamaan tulisan itu akan menjadi saksi perjalanan hidup kita.

Kepada Bang Rosadi Jamani, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tulisan beliau bukan hanya membuat saya tersenyum, tetapi juga mengingatkan bahwa persahabatan dalam dunia literasi adalah anugerah yang sangat berharga.

Saya yakin, apa yang kita tulis hari ini mungkin akan terlupakan besok. Namun semangat untuk terus berbagi ilmu dan inspirasi akan selalu menemukan jalannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Insya Allah, suatu hari nanti kita akan duduk bersama menikmati secangkir Koptagul sambil berbincang tentang tulisan, pendidikan, dan mimpi-mimpi yang belum selesai diperjuangkan. Bukan untuk saling memuji, tetapi untuk saling belajar.

Sebab pada akhirnya, sehebat apa pun seorang penulis, ia tetap seorang pembelajar.

Dan selama masih mau belajar, selama masih mau berbagi, selama masih mau menulis, maka harapan akan selalu hidup.

Salam literasi.
Omjay Guru Blogger Indonesia

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Resensi Buku PGRI Abadi Karya Omjay

RESENSI BUKU

PGRI ABADI: Menjaga Marwah Guru, Menguatkan Pendidikan Indonesia

Judul Buku: PGRI Abadi: Menjaga Marwah Guru, Menguatkan Pendidikan Indonesia
Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.
Jumlah Halaman: 395 halaman
Jumlah Bab: 34 Bab
Penerbit: Independen
Genre: Pendidikan, Organisasi Profesi, Pengembangan Guru, Transformasi Pendidikan Indonesia

Identitas Buku

Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi dunia pendidikan Indonesia, mulai dari perubahan kurikulum, perkembangan teknologi digital, hingga munculnya kecerdasan buatan (AI), hadir sebuah buku yang berusaha menjawab pertanyaan penting: bagaimana organisasi profesi guru tetap relevan dan menjadi penggerak perubahan pendidikan nasional?

Melalui buku PGRI Abadi, Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd., yang dikenal luas sebagai Omjay atau Guru Blogger Indonesia, menyajikan sebuah karya komprehensif yang tidak hanya membahas sejarah dan perjuangan PGRI, tetapi juga menawarkan peta jalan masa depan pendidikan Indonesia yang berbasis profesionalisme guru, inovasi pembelajaran, literasi digital, dan transformasi organisasi profesi.

Ringkasan Isi Buku

Buku ini dibagi menjadi 34 bab yang tersusun secara sistematis. Pada bagian awal, pembaca diajak memahami akar sejarah lahirnya Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) sejak Kongres Guru Indonesia di Surakarta tahun 1945. Penulis mengingatkan bahwa PGRI lahir bukan sekadar sebagai organisasi profesi, tetapi sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan bangsa melalui pendidikan.

Bab-bab berikutnya membahas landasan hukum profesi guru, visi pendidikan nasional, nilai karakter guru Indonesia, serta filosofi pendidikan yang menjadi fondasi perjuangan PGRI. Penulis menekankan bahwa guru bukan hanya pengajar, melainkan figur moral, agen perubahan, sekaligus penjaga masa depan bangsa.

Yang menarik, buku ini tidak berhenti pada aspek historis dan normatif. Penulis menghadirkan pembahasan yang sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan abad ke-21, seperti penguatan kompetensi guru, mentoring, pembelajaran berbasis STEM, literasi digital, penggunaan Learning Management System (LMS), serta pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran.

Lebih jauh lagi, buku ini menawarkan konsep sekolah unggul, budaya inovasi, pendidikan inklusif, kolaborasi orang tua dan komunitas, analisis data pendidikan, pembelajaran personal berbasis AI, proyek kolaboratif digital, hingga roadmap penguatan guru dan sekolah menuju tahun 2030.

Keunggulan Buku

1. Komprehensif dan Visioner

Salah satu kekuatan utama buku ini adalah cakupannya yang sangat luas. Penulis berhasil menghubungkan sejarah perjuangan guru dengan tantangan masa depan pendidikan. Pembaca tidak hanya diajak mengenang masa lalu, tetapi juga melihat peluang dan strategi menghadapi perubahan zaman.

Buku ini menunjukkan bahwa PGRI tidak boleh terjebak dalam romantisme sejarah semata. Organisasi profesi guru harus mampu bertransformasi menjadi organisasi modern yang berbasis data, riset, teknologi, dan inovasi pendidikan.

2. Berbasis Regulasi dan Kajian Akademik

Penulis mengutip berbagai regulasi penting seperti Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Dengan demikian, argumentasi yang disampaikan memiliki dasar hukum yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademis.

3. Relevan dengan Era Digital dan AI

Tidak banyak buku organisasi profesi guru yang secara serius membahas AI, analisis data, LMS, dan personalisasi pembelajaran. Dalam buku ini, Omjay menunjukkan bahwa guru masa depan harus melek teknologi tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaannya.

Pesan penting yang terus muncul adalah bahwa AI bukan pengganti guru. Teknologi hanyalah alat bantu, sedangkan hati, empati, karakter, dan keteladanan tetap menjadi kekuatan utama seorang pendidik.

4. Praktis dan Implementatif

Buku ini tidak hanya berisi teori. Banyak bagian yang menyajikan panduan praktis, strategi implementasi, indikator keberhasilan, sistem mentoring guru, pengembangan modul pembelajaran, hingga checklist transformasi digital sekolah. Hal ini membuat buku mudah diterapkan oleh guru, kepala sekolah, maupun pengurus organisasi profesi.

Nilai-Nilai yang Diangkat

Ada beberapa nilai besar yang menjadi benang merah buku ini:

  • Profesionalisme guru.
  • Integritas dan karakter pendidik.
  • Kolaborasi dan gotong royong.
  • Inovasi pembelajaran.
  • Literasi digital dan AI.
  • Pendidikan inklusif.
  • Kepemimpinan guru.
  • Transformasi organisasi profesi.
  • Penguatan ekosistem pendidikan nasional.

Nilai-nilai tersebut disampaikan secara konsisten dari awal hingga akhir buku sehingga memberikan arah yang jelas bagi pembaca.

Kekurangan Buku

Sebagai sebuah karya yang sangat luas cakupannya, beberapa pembahasan terasa padat dan akademis sehingga mungkin membutuhkan konsentrasi lebih bagi pembaca umum.

Selain itu, karena buku ini lebih banyak berbicara pada level kebijakan, organisasi, dan strategi pendidikan, pembaca yang mencari kisah-kisah personal perjuangan guru mungkin berharap lebih banyak narasi pengalaman lapangan.

Namun demikian, kekurangan tersebut tidak mengurangi nilai substansial buku ini sebagai referensi pendidikan.

Siapa yang Perlu Membaca Buku Ini?

Buku PGRI Abadi sangat layak dibaca oleh:

  • Pengurus PGRI di semua tingkatan.
  • Guru ASN maupun swasta.
  • Kepala sekolah dan pengawas.
  • Dosen dan mahasiswa pendidikan.
  • Pengambil kebijakan pendidikan.
  • Aktivis organisasi profesi guru.
  • Pegiat literasi dan transformasi digital pendidikan.

Kesimpulan

PGRI Abadi bukan sekadar buku tentang organisasi guru. Buku ini adalah manifesto pendidikan yang mengajak seluruh insan pendidikan untuk kembali menempatkan guru sebagai pilar utama pembangunan bangsa. Melalui perpaduan sejarah, regulasi, filosofi pendidikan, teknologi, dan strategi transformasi organisasi, Dr. Wijaya Kusumah menghadirkan sebuah karya yang relevan, inspiratif, dan visioner.

Buku ini mengingatkan kita bahwa marwah guru harus terus dijaga, kompetensi harus terus ditingkatkan, dan pendidikan Indonesia hanya akan maju apabila guru mendapatkan tempat terhormat sebagai penggerak peradaban.

Nilai Resensi: 9/10

"PGRI Abadi bukan hanya buku tentang masa lalu perjuangan guru, melainkan peta jalan menuju masa depan pendidikan Indonesia yang lebih bermartabat, profesional, dan adaptif terhadap perubahan zaman."

Alimudin Garbis Murid yang Mengikuti Jejak Gurunya

Alimudin Garbis Murid yang Diam-Diam Mengikuti Jejak Omjay

Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia

Pagi itu saya membaca sebuah tulisan dari sahabat lama, seorang penulis, dosen, jurnalis, sekaligus kreator konten yang saya kenal sejak lama, yaitu Alimudin Garbis. Tulisan itu membuat saya terdiam cukup lama. Bukan karena isinya memuji saya, melainkan karena tulisan itu mengingatkan kembali pada perjalanan panjang yang sering kali tidak saya sadari telah memberi pengaruh kepada orang lain.

Alimudin bercerita tentang pertemuan kami bertahun-tahun lalu di sebuah seminar Ikatan Guru Indonesia (IGI) di Jakarta. Saat itu ia sedang mengalami musibah. Laptop kecil kesayangannya hilang karena tertidur di kawasan Senayan. Kehilangan laptop tentu bukan perkara ringan. Apalagi bagi seorang penulis yang menyimpan banyak karya dan ide di dalamnya. Namun takdir mempertemukan kami dalam suasana yang berbeda.

Saat peserta lain duduk rapi di kursi seminar, saya memilih duduk di pinggir ruangan. Kebiasaan itu masih saya lakukan sampai sekarang. Saya lebih senang duduk di dekat dinding atau dekat colokan listrik. Selain lebih leluasa membuka laptop, saya bisa langsung menulis ketika ide datang tanpa harus terganggu lalu-lalang peserta seminar.

Menurut Alimudin, saat itu saya terlihat seperti panitia yang sedang menunggu peserta masuk. Padahal saya bukan panitia. Saya hanya sedang melakukan kebiasaan yang sampai hari ini masih saya jalani, yaitu menulis.

Ketika itu saya sedang menyusun sebuah artikel untuk Kompasiana. Cara saya menulis memang sederhana. Saya tidak langsung membuat paragraf panjang. Saya biasanya menuliskan poin-poin penting terlebih dahulu. Ide yang muncul saya tangkap dalam bentuk pointer. Setelah semua poin terkumpul, barulah saya merangkainya menjadi kalimat dan paragraf yang utuh.

Tanpa saya sadari, cara sederhana itu diperhatikan oleh Alimudin. Ia mendekat, melihat prosesnya, lalu menyimpannya dalam ingatan. Dari situlah, katanya, ia mulai mengenal lebih dekat dunia menulis yang saya geluti.

Membaca kisah itu membuat saya tersenyum. Sebab sesungguhnya saya tidak pernah merasa menjadi orang hebat. Saya hanyalah seorang guru yang kebetulan jatuh cinta kepada dunia menulis. Saya juga mengalami banyak kegagalan, penolakan, dan masa-masa ketika tulisan saya tidak dibaca siapa pun.

Saya masih ingat ketika pertama kali menulis di blog. Pengunjungnya hanya hitungan jari. Tidak ada komentar. Tidak ada yang membagikan tulisan saya. Namun saya terus menulis. Saya percaya bahwa menulis bukan soal terkenal atau tidak terkenal. Menulis adalah proses belajar sepanjang hayat.

Karena itulah saya selalu menyampaikan kepada para guru dan peserta pelatihan menulis bahwa konsistensi jauh lebih penting daripada bakat. Banyak orang pandai menulis, tetapi tidak konsisten. Banyak orang memiliki ide luar biasa, tetapi berhenti di tengah jalan. Sebaliknya, orang yang terus menulis sedikit demi sedikit setiap hari akan menghasilkan karya yang luar biasa pada waktunya.

Ketika membaca pengakuan Alimudin bahwa ia tidak mengikuti konsistensi saya, saya justru melihat hal yang berbeda. Saya melihat seorang murid yang berhasil menemukan jalannya sendiri. Ia tetap menulis. Ia berkembang menjadi dosen. Ia menjadi jurnalis. Ia aktif membuat konten dan membagikan gagasan kepada masyarakat.

Bukankah itu tujuan seorang guru?

Guru tidak harus menciptakan murid yang sama persis dengan dirinya. Guru yang baik justru melahirkan murid yang menemukan keunikan dan kekuatannya sendiri. Karena itu saya bangga membaca kisah Alimudin. Mungkin ia tidak menulis sebanyak saya. Mungkin ia tidak mengikuti semua kebiasaan saya. Namun ia tetap berkarya dan memberi manfaat kepada banyak orang.

Yang membuat saya semakin terharu adalah ketika ia mengatakan bahwa sampai sekarang ia masih memiliki kebiasaan duduk di pinggir ruangan saat menghadiri acara. Ia mencari colokan listrik, membuka laptop atau telepon genggam, lalu mulai menulis dan memperbarui status di media sosial.

Saya tertawa ketika membacanya. Ternyata kebiasaan sederhana itu menular juga.

Bagi sebagian orang, duduk di pinggir ruangan mungkin terlihat aneh. Namun bagi seorang penulis, inspirasi bisa datang kapan saja. Seminar bukan hanya tempat mendengarkan narasumber. Seminar juga tempat menemukan ide. Kadang satu kalimat dari pembicara dapat berubah menjadi satu artikel. Kadang satu foto dapat berubah menjadi satu buku. Kadang satu percakapan sederhana dapat menjadi inspirasi yang mengubah hidup seseorang.

Hari ini dunia sudah berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Kehadiran kecerdasan buatan seperti ChatGPT membuat proses menulis menjadi jauh lebih mudah. Namun saya selalu percaya bahwa teknologi hanyalah alat bantu. Ide, pengalaman, emosi, dan nilai-nilai kehidupan tetap berasal dari manusia.

Karena itu saya senang ketika Alimudin tetap menulis. Saya senang ketika ia tetap berbagi pengalaman. Saya senang ketika ia tetap menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Kepada sahabatku Alimudin Garbis, izinkan saya menyampaikan bahwa saya tidak pernah menganggapmu sekadar peserta seminar yang pernah bertemu di Jakarta. Saya menganggapmu sahabat seperjuangan dalam dunia literasi. Jika hari ini engkau menjadi dosen, jurnalis, dan kreator konten yang menginspirasi banyak orang, maka sesungguhnya engkau telah melangkah jauh melampaui apa yang pernah saya bayangkan.

Seorang guru akan merasa bahagia bukan ketika dipuji, tetapi ketika melihat murid-muridnya tumbuh dan berkembang. Seorang guru akan merasa sukses bukan ketika namanya terkenal, tetapi ketika murid-muridnya berhasil menemukan jalan hidupnya sendiri.

Terima kasih telah mengingat pertemuan sederhana itu. Terima kasih telah berbagi kisah yang membuat saya kembali merenungkan makna menjadi seorang guru.

Teruslah menulis, teruslah berbagi, dan teruslah menginspirasi.

Siapa tahu suatu hari nanti saya benar-benar harus memanggil Anda dengan gelar yang Anda tuliskan di akhir pesan itu:

Alimudin Garbis, Share Creator... Calon Presiden Indonesia.

Salam hangat dari guru yang masih setia duduk di pinggir ruangan mencari colokan listrik dan menulis apa saja yang bisa ditulis.

Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

kopdar dadakan di depan sd perguruan cikini

📸 Kopdar Dadakan di Depan Cikini: Silaturahmi yang Menguatkan Hati

Pagi yang cerah di kawasan Cikini menjadi momen yang menyenangkan bagi Omjay. Tanpa direncanakan jauh-jauh hari, Omjay berkesempatan melakukan kopi darat (kopdar) dadakan bersama sahabat literasi dan pegiat pendidikan, Pak Iwan Percik. Pertemuan sederhana itu berlangsung di depan kawasan Cikini yang teduh dan nyaman, ditemani semilir angin pagi serta rindangnya pepohonan yang membuat suasana semakin hangat dan akrab.

Dalam foto terlihat dua sahabat yang sama-sama menunjukkan jempol sebagai tanda semangat dan optimisme. Senyum yang mengembang di wajah mereka menggambarkan kebahagiaan karena masih diberi kesempatan untuk bertemu, berbagi cerita, dan saling menguatkan dalam perjalanan hidup serta pengabdian di dunia pendidikan.

Bagi Omjay, setiap pertemuan dengan sahabat merupakan anugerah yang patut disyukuri. Apalagi di tengah kesibukan masing-masing, masih ada waktu untuk duduk bersama, berbincang santai, dan bertukar pikiran tentang banyak hal. Mulai dari dunia pendidikan, literasi, perkembangan teknologi, hingga pengalaman hidup yang penuh pelajaran berharga.

Pak Iwan Percik dikenal sebagai sosok yang ramah, rendah hati, dan memiliki kepedulian besar terhadap dunia pendidikan. Dalam pertemuan singkat itu, banyak ide dan inspirasi yang muncul. Obrolan mengalir begitu saja tanpa terasa waktu berjalan cepat. Kadang diselingi canda, kadang pula serius membahas masa depan pendidikan Indonesia di era kecerdasan buatan (AI) yang berkembang sangat pesat.

Omjay percaya bahwa silaturahmi adalah energi positif yang mampu memperpanjang umur, melapangkan rezeki, dan memperkuat persaudaraan. Tidak harus selalu dalam acara resmi atau pertemuan besar. Kopdar sederhana di pinggir jalan, taman kota, atau bangku taman seperti ini justru sering menghadirkan kehangatan yang lebih terasa.

Di tengah dunia yang semakin digital, pertemuan langsung tetap memiliki makna yang tidak tergantikan. Kita bisa melihat ekspresi sahabat, mendengar tawa mereka secara langsung, dan merasakan kedekatan yang sulit diperoleh hanya melalui layar gawai. Karena itulah Omjay selalu berusaha menjaga hubungan baik dengan para sahabat di berbagai daerah.

Kopdar dadakan bersama Pak Iwan Percik ini menjadi pengingat bahwa persahabatan sejati tidak membutuhkan kemewahan. Cukup ada waktu, niat baik, dan hati yang tulus untuk saling menyapa. Dari pertemuan sederhana lahir ide-ide besar, semangat baru, dan motivasi untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara.

Semoga silaturahmi ini terus terjaga dan menjadi inspirasi bagi banyak orang untuk tidak melupakan pentingnya bertemu, berdiskusi, dan saling mendukung dalam kebaikan. Terima kasih Pak Iwan Percik atas waktu dan kebersamaannya. Semoga kita semua senantiasa diberikan kesehatan, keberkahan umur, dan kesempatan untuk terus menebarkan manfaat kepada sesama.

Salam Literasi,

Omjay
Guru Blogger Indonesia
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." ✍️📚😊

Sabtu, 20 Juni 2026

Eksis SMP Labschool Jakarta di TIM Sabtu dan Minggu

EKSIS 2026: Ketika Panggung Teater Menjadi Ruang Belajar Kehidupan

Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia

Sabtu, 20 Juni 2026 menjadi hari yang sangat berkesan bagi keluarga besar SMP Labschool Jakarta. Hari itu bukan sekadar agenda sekolah biasa, melainkan sebuah perayaan kreativitas, kerja sama, keberanian, dan ekspresi seni para siswa melalui kegiatan Euforia Kreativitas Seni Siswa (EKSIS) 2026. Dalam kegiatan tersebut, para siswa menampilkan berbagai pertunjukan drama yang dipersiapkan dengan penuh kesungguhan dan semangat. Acara ini berlangsung di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta (IKJ) dan menghadirkan berbagai pementasan yang sarat makna serta pesan kehidupan.

Sebagai guru yang sudah puluhan tahun mendampingi siswa belajar dan bertumbuh, Omjay merasa bangga melihat bagaimana para peserta didik mampu menunjukkan potensi terbaiknya melalui seni teater. Di era kecerdasan buatan (AI) yang serba digital seperti sekarang, kegiatan seni pertunjukan tetap memiliki tempat yang sangat penting. Melalui teater, siswa belajar berbicara dengan percaya diri, bekerja sama dalam tim, mengelola emosi, memahami karakter manusia, dan menyampaikan pesan kepada masyarakat melalui cerita yang mereka bawakan.

Pagi hari sejak pukul delapan, suasana Teater Luwes sudah dipenuhi semangat para siswa, guru, orang tua, dan para pendukung acara. Pementasan pertama dibuka oleh Ekstrakurikuler Teater SMP Labschool Jakarta dengan drama berjudul "Astronot Nyasar" yang berlangsung pukul 08.00 hingga 09.00 WIB. Drama ini menjadi pembuka yang sangat menarik karena menggabungkan unsur komedi, petualangan, dan imajinasi. Para pemain tampil dengan penuh percaya diri sehingga mampu mengundang gelak tawa sekaligus kekaguman para penonton.

Setelah itu, panggung dilanjutkan oleh siswa kelas 8D yang membawakan drama berjudul "Kala Bersamamu Datang Kembali" pada pukul 10.00 hingga 11.00 WIB. Drama ini menghadirkan nuansa emosional yang menyentuh hati. Para siswa berhasil menampilkan kemampuan akting yang semakin matang dan menunjukkan bahwa mereka telah berlatih dengan sungguh-sungguh sebelum hari pementasan.

Menjelang siang, giliran kelas 8C tampil membawakan drama berjudul "Dusun Abhrawa" pada pukul 12.00 hingga 13.00 WIB. Pertunjukan ini mengangkat nilai-nilai kebersamaan, budaya, dan kehidupan masyarakat yang sarat pesan moral. Para pemain tampil kompak dan mampu menghidupkan suasana panggung dengan sangat baik.

Pukul 14.00 hingga 15.00 WIB, kelas 8A menampilkan drama berjudul "Jejak yang Hilang". Judulnya saja sudah membuat penonton penasaran. Drama ini mengajak penonton mengikuti alur cerita yang penuh misteri dan kejutan. Para siswa menunjukkan kreativitas dalam mengolah cerita, dialog, serta tata panggung sehingga pertunjukan menjadi semakin menarik untuk disaksikan.

Memasuki sore hari, kelas 8G tampil dengan drama "Ada Apa dengan Amelia?" pada pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Pertunjukan ini menjadi salah satu pementasan yang banyak dinantikan karena menghadirkan konflik cerita yang dekat dengan kehidupan remaja. Para pemain mampu membangun emosi penonton dan menyampaikan pesan yang mendalam melalui akting yang natural dan meyakinkan.

Setelah jeda istirahat selama tiga puluh menit, acara kembali dilanjutkan pada malam hari. Kelas 8E mendapat kehormatan menjadi penampil penutup dengan drama berjudul "Sisa Cahaya yang Tak Mereka Lihat" yang berlangsung pukul 18.30 hingga 19.30 WIB. Judul yang puitis ini menghadirkan pertunjukan yang mengajak penonton merenungkan makna kehidupan, harapan, dan perjuangan. Tepuk tangan meriah dari para penonton menjadi bukti bahwa seluruh kerja keras para siswa selama berlatih tidak sia-sia.

Bagi Omjay, kegiatan seperti EKSIS bukan sekadar ajang unjuk bakat. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan laboratorium kehidupan bagi para siswa. Di atas panggung, mereka belajar menghadapi rasa takut, mengatasi rasa gugup, dan tampil di depan banyak orang. Mereka belajar menghargai waktu karena harus datang tepat saat latihan maupun pementasan. Mereka belajar bertanggung jawab terhadap peran masing-masing. Mereka juga belajar menghargai kerja keras teman-teman yang bertugas di belakang layar, mulai dari pengatur tata cahaya, tata suara, kostum, properti, hingga dokumentasi.

Dalam dunia pendidikan modern, keberhasilan siswa tidak hanya diukur dari nilai akademik semata. Kemampuan berkomunikasi, kreativitas, kolaborasi, berpikir kritis, dan empati justru menjadi keterampilan penting yang harus dimiliki generasi masa depan. Melalui kegiatan teater seperti EKSIS, semua keterampilan tersebut dapat berkembang secara alami dan menyenangkan.

Omjay teringat pesan yang sering disampaikan para pakar pendidikan bahwa setiap anak memiliki panggungnya masing-masing. Ada yang bersinar di kelas melalui prestasi akademik. Ada yang bersinar di lapangan olahraga. Ada pula yang menemukan kepercayaan dirinya melalui seni dan budaya. Tugas sekolah adalah menyediakan ruang agar setiap anak dapat menemukan potensi terbaiknya.

Melihat antusiasme para siswa dalam EKSIS 2026, Omjay semakin yakin bahwa pendidikan yang baik harus memberi kesempatan kepada peserta didik untuk belajar secara utuh. Mereka tidak hanya belajar menghafal teori, tetapi juga belajar menjadi manusia yang kreatif, berani, dan berkarakter.

Terima kasih kepada seluruh guru, pembina ekstrakurikuler, panitia, orang tua, dan tentu saja para siswa yang telah bekerja keras menyukseskan kegiatan EKSIS 2026. Semoga pengalaman berharga ini menjadi kenangan indah yang akan terus membekas dalam perjalanan hidup mereka.

Sebagaimana motto Omjay yang selalu saya gaungkan kepada para siswa dan guru di seluruh Indonesia:

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Kini saya ingin menambahkan satu kalimat lagi:

"Berkaryalah setiap hari dan buktikan bahwa setiap anak memiliki cahaya yang mampu menerangi dunia."

Kita Sambut BSKAP Nomor 20 Tahun 2026

Kepka BSKAP Nomor 020 Tahun 2026: Apa yang Harus Dilakukan Guru?

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu saya menerima kiriman dokumen yang cukup tebal. Halaman demi halaman saya buka dengan penuh rasa ingin tahu. Sebagai guru yang sudah lebih dari tiga puluh tahun mengajar, saya selalu tertarik membaca setiap kebijakan pendidikan terbaru. Dari pengalaman selama ini, saya belajar bahwa perubahan kebijakan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, perubahan adalah bagian dari perjalanan pendidikan yang harus dipahami dan diikuti oleh setiap guru.

Dokumen yang saya baca ternyata adalah Keputusan Kepala Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (BSKAP) Nomor 020 Tahun 2026 tentang Perubahan atas Keputusan Kepala BSKAP Nomor 046/H/KR/2025 mengenai Capaian Pembelajaran (CP) Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah. Keputusan tersebut ditetapkan pada tanggal 11 Juni 2026 dan menjadi acuan baru bagi pelaksanaan pembelajaran di sekolah.

Sebagai guru, saya langsung bertanya kepada diri sendiri. Apa yang baru? Apa dampaknya bagi guru? Apakah kita harus mengubah perangkat ajar yang selama ini sudah dibuat?

Pertanyaan itu mungkin juga muncul di benak banyak guru di seluruh Indonesia.

Guru Harus Menjadi Pembelajar

Saya teringat pesan almarhum Prof. Arief Rachman yang sering mengatakan bahwa guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ketika sebuah kebijakan baru lahir, guru tidak cukup hanya mendengar informasi dari teman atau membaca ringkasannya di media sosial. Guru perlu membaca sumber aslinya agar memahami konteks dan tujuan perubahan tersebut.

Dari dokumen yang saya pelajari, perubahan terbesar berada pada Capaian Pembelajaran Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, baik untuk Pendidikan Agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, Khonghucu, maupun Pendidikan Khusus bagi peserta didik berkebutuhan khusus.

Artinya, guru agama perlu memberikan perhatian khusus terhadap dokumen ini karena akan menjadi dasar dalam menyusun perangkat pembelajaran tahun pelajaran baru.

Bukan Sekadar Mengajar Materi

Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah penekanan yang kuat terhadap pembentukan karakter peserta didik. Pendidikan agama tidak hanya diposisikan sebagai mata pelajaran yang mengajarkan pengetahuan keagamaan semata, tetapi juga menjadi sarana membangun kepribadian dan akhlak mulia.

Dalam dokumen tersebut terlihat adanya penguatan terhadap nilai-nilai:

  • Keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
  • Akhlak mulia
  • Bernalar kritis
  • Kreativitas
  • Kolaborasi
  • Kemandirian
  • Komunikasi
  • Kepedulian sosial

Ketika membaca bagian ini, saya tersenyum. Inilah sebenarnya yang selama ini diharapkan masyarakat dari sekolah. Orang tua tidak hanya ingin anaknya pintar matematika atau sains. Mereka juga ingin anaknya memiliki karakter yang baik, jujur, bertanggung jawab, dan menghargai orang lain.

Moderasi Beragama Semakin Dikuatkan

Hal lain yang menurut saya sangat penting adalah penguatan moderasi beragama. Indonesia adalah negara yang kaya dengan keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa. Oleh karena itu, pendidikan harus menjadi ruang yang menumbuhkan sikap saling menghormati.

Dalam capaian pembelajaran terbaru ini tampak adanya penekanan pada:

  • Toleransi
  • Persaudaraan
  • Kerukunan
  • Cinta tanah air
  • Penghargaan terhadap perbedaan

Sebagai guru, saya melihat ini sebagai langkah yang sangat baik. Anak-anak kita hidup di era digital. Mereka berinteraksi dengan banyak orang melalui media sosial. Jika sejak kecil mereka belajar menghargai perbedaan, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu menjaga persatuan bangsa.

Pendidikan Inklusif Semakin Mendapat Perhatian

Satu hal yang membuat saya terharu adalah perhatian yang semakin besar terhadap peserta didik berkebutuhan khusus.

Dokumen ini tidak hanya mengatur capaian pembelajaran untuk peserta didik reguler, tetapi juga menyusun capaian pembelajaran khusus yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan peserta didik berkebutuhan khusus.

Saya membayangkan betapa bahagianya para guru SLB dan orang tua peserta didik berkebutuhan khusus ketika melihat perhatian pemerintah terhadap pendidikan inklusif semakin kuat.

Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua anak untuk berkembang sesuai potensinya.

Apa yang Harus Dilakukan Guru?

Setelah membaca dokumen tersebut, saya menyimpulkan bahwa ada beberapa langkah yang perlu segera dilakukan guru.

Pertama, membaca dan memahami dokumen CP terbaru secara menyeluruh.

Kedua, menyesuaikan Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) dengan capaian pembelajaran yang baru.

Ketiga, memperbarui modul ajar dan perangkat pembelajaran yang digunakan di kelas.

Keempat, berdiskusi bersama rekan guru melalui MGMP, KKG, atau komunitas belajar agar memiliki pemahaman yang sama.

Kelima, mengikuti pelatihan dan webinar yang membahas implementasi CP terbaru.

Jangan sampai kita mengajar menggunakan perangkat lama sementara kebijakannya sudah berubah.

Jangan Takut dengan Perubahan

Saya memahami bahwa sebagian guru mungkin merasa lelah ketika mendengar adanya perubahan kurikulum atau capaian pembelajaran. Namun pengalaman mengajarkan saya bahwa perubahan selalu membawa peluang untuk menjadi lebih baik.

Saat Kurikulum Merdeka diperkenalkan, banyak guru merasa bingung. Namun setelah dipelajari dan dipraktikkan, banyak guru justru merasakan manfaatnya.

Begitu pula dengan perubahan CP tahun 2026 ini.

Jika kita membaca, memahami, dan mengimplementasikannya dengan baik, maka perubahan ini dapat membantu guru menciptakan pembelajaran yang lebih bermakna bagi peserta didik.

Menjadi Guru yang Selalu Belajar

Saya menutup dokumen itu dengan satu keyakinan sederhana. Guru yang hebat bukanlah guru yang mengetahui segalanya. Guru yang hebat adalah guru yang selalu mau belajar.

Kebijakan boleh berubah. Kurikulum boleh berganti. Teknologi boleh berkembang. Bahkan kecerdasan buatan (AI) kini hadir membantu pekerjaan manusia.

Namun satu hal yang tidak boleh berubah adalah semangat guru untuk terus belajar demi memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak Indonesia.

Karena pada akhirnya, masa depan bangsa ini tidak ditentukan oleh seberapa banyak kebijakan yang diterbitkan, tetapi oleh seberapa serius guru mempelajari dan melaksanakannya di ruang kelas.

Mari kita sambut Kepka BSKAP Nomor 020 Tahun 2026 dengan semangat belajar, semangat berbagi, dan semangat mengabdi. Sebab guru pembelajar akan selalu menemukan jalan untuk membawa muridnya menuju masa depan yang lebih baik.

Salam Literasi,

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Menulis Lambat Tanpa Bantuan AI Itu Asyik dan Sehat Serta Bikin Otak Sehat

Menulis Lambat Tanpa Bantuan AI, Otak Jadi Sehat dan Hati Lebih Kuat

Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia

Di era kecerdasan buatan (AI) seperti sekarang, menulis menjadi sangat mudah. Cukup mengetik beberapa kata perintah, lalu dalam hitungan detik muncul artikel panjang yang terlihat rapi dan menarik. Banyak orang mulai mengandalkan AI untuk membuat tulisan, laporan, artikel, bahkan buku. Namun, Omjay memilih jalan yang berbeda. Sampai hari ini, Omjay tetap berusaha menulis setiap hari tanpa bantuan AI dan lebih mengandalkan kecerdasan buatan yang telah Allah SWT titipkan kepada manusia, yaitu otak dan akal pikirannya.

Bagi sebagian orang, cara Omjay mungkin dianggap kuno dan lambat. Ketika orang lain bisa menghasilkan puluhan halaman dalam waktu singkat, Omjay masih duduk berjam-jam di depan layar ponsel atau laptop untuk merangkai kalimat demi kalimat. Akan tetapi, justru di situlah letak kenikmatan menulis yang sesungguhnya. Menulis lambat membuat kita berpikir lebih dalam, merenung lebih lama, dan menemukan makna yang lebih kaya dari setiap pengalaman hidup yang kita alami.

Sejak pertama kali mengenal dunia blog, Omjay membiasakan diri menulis berdasarkan pengalaman pribadi. Apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami, semuanya bisa menjadi bahan tulisan. Saat naik LRT dari Bekasi menuju Jakarta, Omjay menulis. Ketika menunggu kereta datang, Omjay menulis. Saat berada di ruang guru, Omjay menulis. Bahkan ketika sedang sakit dan menjalani perawatan di rumah sakit, Omjay tetap berusaha menulis. Kebiasaan itu membuat otak terus bekerja dan tidak pernah berhenti belajar.

Menulis tanpa bantuan AI ibarat berolahraga bagi otak. Ketika seseorang berlari, otot tubuhnya menjadi kuat. Ketika seseorang menulis dengan pikirannya sendiri, otaknya menjadi lebih tajam. Ia dipaksa mengingat pengalaman, menyusun ide, menghubungkan berbagai informasi, memilih kata yang tepat, serta menyampaikan pesan dengan bahasa yang mudah dipahami pembaca. Semua proses itu merupakan latihan berpikir yang sangat baik bagi kesehatan otak.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa aktivitas menulis dapat meningkatkan daya ingat, melatih konsentrasi, memperkuat kemampuan analisis, dan membantu menjaga kesehatan mental. Saat menulis, seseorang sebenarnya sedang berdialog dengan dirinya sendiri. Ia belajar memahami apa yang sedang dipikirkan dan dirasakannya. Karena itulah banyak orang merasa lebih tenang setelah menulis.

Omjay merasakan manfaat itu secara langsung. Ketika menghadapi masalah, menulis menjadi tempat curhat yang paling setia. Ketika mendapatkan kebahagiaan, menulis menjadi cara untuk mensyukuri nikmat Allah SWT. Ketika mengalami kegagalan, menulis membantu menemukan pelajaran berharga yang bisa dibagikan kepada orang lain. Tulisan-tulisan itulah yang kemudian menjadi jejak perjalanan hidup yang tak ternilai harganya.

Bukan berarti Omjay menolak kehadiran AI. Teknologi adalah bagian dari perkembangan zaman yang tidak mungkin dihindari. AI dapat membantu manusia dalam berbagai pekerjaan. Namun, Omjay percaya bahwa AI seharusnya menjadi alat bantu, bukan pengganti kemampuan berpikir manusia. Jika semua pekerjaan berpikir diserahkan kepada mesin, lama-kelamaan manusia akan kehilangan kebiasaan menggunakan akalnya sendiri.

Bayangkan jika setiap kali mendapat tugas menulis, seseorang langsung meminta AI mengerjakannya. Ia tidak lagi berusaha mencari ide, menyusun argumen, atau memilih kata yang tepat. Akibatnya, kemampuan berpikir kritis dan kreatif akan menurun. Padahal Allah SWT telah menganugerahkan otak yang luar biasa kepada manusia. Otak itu perlu dilatih agar tetap sehat dan berfungsi dengan baik.

Omjay sering mengatakan kepada para guru dan peserta pelatihan menulis bahwa menulis bukan hanya soal menghasilkan tulisan. Menulis adalah proses belajar. Ketika kita menulis, sebenarnya kita sedang belajar memahami dunia dan memahami diri sendiri. Karena itulah hasil tulisan yang lahir dari pengalaman pribadi biasanya terasa lebih hidup dan menyentuh hati pembaca.

Tulisan yang dibuat dengan hati memiliki energi yang berbeda. Pembaca dapat merasakan kejujuran penulis di dalamnya. Mereka bisa merasakan kegembiraan, kesedihan, perjuangan, dan harapan yang disampaikan melalui rangkaian kata-kata. Hal seperti itu tidak mudah digantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

Selama lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru dan blogger, Omjay belajar bahwa kemampuan menulis tidak datang secara instan. Kemampuan itu tumbuh sedikit demi sedikit melalui latihan yang terus-menerus. Sama seperti menanam pohon, hasilnya tidak terlihat dalam sehari. Namun jika disiram dan dirawat setiap hari, suatu saat pohon itu akan tumbuh besar dan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi banyak orang.

Karena itulah Omjay tetap berpegang pada motto yang selama ini menjadi pegangan hidupnya, yaitu "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Menulis setiap hari telah membuka banyak pintu kesempatan dalam hidup Omjay. Dari menulis, Omjay mendapatkan banyak sahabat, kesempatan berbicara di berbagai forum, menerbitkan buku, serta berbagi inspirasi kepada guru-guru di seluruh Indonesia.

Bagi siapa saja yang ingin mulai menulis, jangan takut jika tulisan terasa lambat. Jangan khawatir jika tulisan belum sempurna. Menulislah dengan kemampuan sendiri terlebih dahulu. Gunakan pengalaman hidup sebagai sumber inspirasi. Nikmati proses berpikir yang terjadi di dalamnya. Biarkan otak bekerja dan berkembang sebagaimana mestinya.

Pada akhirnya, teknologi akan terus berubah dan berkembang. Namun kemampuan berpikir, merenung, dan menulis dengan hati akan selalu menjadi kekuatan utama manusia. AI boleh membantu, tetapi jangan sampai kita menggadaikan otak kepada teknologi. Gunakan AI secara bijak sebagai alat bantu, bukan sebagai pengganti akal dan kreativitas.

Menulis lambat tanpa bantuan AI memang membutuhkan waktu lebih lama. Akan tetapi, di balik kelambatan itu tersimpan proses belajar yang luar biasa. Otak menjadi lebih sehat, pikiran menjadi lebih tajam, hati menjadi lebih peka, dan tulisan menjadi lebih bermakna. Itulah sebabnya Omjay tetap memilih menulis setiap hari dengan mengandalkan kecerdasan buatan terbaik yang diberikan Tuhan kepada manusia, yaitu akal dan pikiran yang terus diasah melalui kebiasaan membaca, berpikir, dan menulis.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Jumat, 19 Juni 2026

Tidak Cukup Hanya Pelatihan Guru

Tidak Cukup Hanya Pelatihan: Guru Hebat Tumbuh Bersama, Bukan Sendirian

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Suatu hari saya merenung setelah mengikuti berbagai kegiatan pelatihan guru yang begitu padat. Ada pelatihan tatap muka, webinar, lokakarya, kursus daring, hingga pelatihan mandiri yang bisa diakses kapan saja melalui internet. Materinya sangat beragam, mulai dari literasi, numerasi, pembelajaran mendalam, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), koding, pendidikan anti korupsi, hingga kepemimpinan digital. Semua itu menunjukkan bahwa dunia pendidikan terus bergerak dan guru dituntut untuk terus belajar agar tidak tertinggal oleh perubahan zaman.

Sebagai guru yang sudah lebih dari tiga puluh tahun mengajar, saya merasakan betul bahwa menjadi guru bukanlah profesi yang bisa dijalani dengan bekal ilmu yang sama sepanjang hayat. Setiap generasi murid memiliki karakter yang berbeda. Teknologi yang mereka gunakan berubah sangat cepat. Cara mereka belajar juga terus berkembang. Karena itulah guru harus menjadi pembelajar sepanjang hayat.

Saya teringat sebuah perumpamaan yang sangat indah. Guru ibarat sebuah wadah yang harus terus diisi air baru. Jika tidak diisi, wadah itu akan kosong. Jika dibiarkan terlalu lama, air di dalamnya akan menjadi keruh. Namun ketika terus diisi dengan pengetahuan baru, pengalaman baru, dan wawasan baru, maka air di dalamnya akan tetap segar dan mampu memberikan kehidupan bagi siapa pun yang meminumnya.

Selama ini pemerintah telah berupaya menyediakan berbagai program Pengembangan Kompetensi Berkelanjutan (PKB). Program tersebut menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kualitas guru di seluruh Indonesia. Tantangannya tentu tidak ringan. Indonesia adalah negara kepulauan yang sangat luas. Guru tersebar dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote. Tidak mudah menghadirkan pelatihan tatap muka yang menjangkau semua guru secara merata.

Karena itulah pelatihan daring menjadi solusi yang sangat membantu. Banyak guru mengikuti pelatihan secara mandiri melalui berbagai platform digital. Mereka belajar pada malam hari setelah mengajar. Mereka menyisihkan waktu di sela-sela kesibukan keluarga. Bahkan ada yang rela menghabiskan kuota internet pribadinya demi menambah ilmu dan keterampilan baru.

Saya selalu kagum kepada guru-guru seperti itu. Mereka tidak menunggu diperintah. Mereka tidak menunggu undangan resmi. Mereka belajar karena sadar bahwa tugas mendidik anak bangsa adalah amanah yang harus dijalankan dengan sebaik-baiknya. Guru seperti inilah yang sesungguhnya memiliki jiwa pendidik sejati.

Namun setelah sekian lama mengikuti dan mengamati berbagai program pelatihan, saya sampai pada sebuah kesimpulan penting. Pelatihan saja ternyata tidak cukup untuk melahirkan guru profesional yang berdampak luas.

Mengapa demikian?

Karena ilmu yang diperoleh dalam pelatihan sering kali berhenti pada sertifikat jika tidak dipraktikkan, didiskusikan, dan dievaluasi bersama. Banyak guru yang pulang dari pelatihan dengan semangat membara. Mereka membawa modul, catatan, dan berbagai ide baru. Namun beberapa minggu kemudian semangat itu perlahan memudar karena tidak ada teman berdiskusi dan tidak ada pendamping yang membantu menerapkannya di kelas.

Di sinilah pentingnya komunitas belajar.

Saya merasakan manfaat luar biasa ketika bergabung dan mengembangkan berbagai komunitas guru. Dalam komunitas, para guru saling menguatkan. Mereka berbagi pengalaman mengajar. Mereka saling memberi solusi ketika menghadapi kesulitan. Mereka belajar dari keberhasilan maupun kegagalan rekan-rekannya.

Komunitas belajar membuat guru tidak merasa berjalan sendirian.

Melalui komunitas pula lahir berbagai inovasi pendidikan yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Banyak guru yang awalnya tidak percaya diri akhirnya mampu menjadi narasumber nasional karena didukung oleh teman-temannya. Banyak guru yang awalnya tidak pernah menulis akhirnya mampu menerbitkan buku karena mendapatkan motivasi dari komunitas literasi.

Saya sendiri menjadi saksi bagaimana kekuatan komunitas mampu mengubah kehidupan seseorang. Ketika para guru saling berbagi ilmu dan pengalaman, maka proses belajar menjadi lebih hidup dan bermakna. Tidak ada yang merasa paling hebat. Semua belajar bersama untuk tujuan yang sama, yaitu memberikan pendidikan terbaik bagi peserta didik.

Selain komunitas belajar, ada satu hal yang sering terlupakan tetapi sangat penting, yaitu pendampingan mengajar atau supervisi akademik.

Banyak guru muda yang sebenarnya memiliki semangat tinggi, tetapi masih membutuhkan bimbingan. Mereka memerlukan masukan tentang cara mengelola kelas, menyusun pembelajaran yang menarik, memanfaatkan teknologi secara efektif, hingga membangun komunikasi yang baik dengan siswa.

Di sinilah peran guru senior dan kepala sekolah menjadi sangat penting. Supervisi akademik bukanlah kegiatan mencari kesalahan guru. Supervisi adalah proses menemani guru agar terus berkembang. Ketika dilakukan dengan pendekatan yang manusiawi dan berkelanjutan, supervisi mampu meningkatkan kualitas pembelajaran secara signifikan.

Saya pernah belajar banyak dari guru-guru senior yang dengan sabar memberikan masukan. Kadang masukan itu terasa berat diterima. Namun setelah direnungkan, justru dari sanalah saya tumbuh menjadi guru yang lebih baik. Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa keberhasilan seorang guru tidak pernah lahir dari kesempurnaan, melainkan dari kemauan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.

Oleh karena itu, guru profesional sesungguhnya lahir dari perpaduan tiga kekuatan besar. Pertama, pelatihan yang memberikan pengetahuan dan keterampilan baru. Kedua, komunitas belajar yang menumbuhkan kolaborasi dan semangat berbagi. Ketiga, pendampingan mengajar yang membantu guru menerapkan ilmunya secara nyata di kelas.

Ketiga unsur tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Ibarat sebuah hidangan yang menyehatkan, pelatihan adalah nasi, komunitas belajar adalah lauknya, dan supervisi akademik adalah sayurnya. Semuanya saling melengkapi agar menghasilkan nutrisi yang sempurna bagi pertumbuhan profesional guru.

Memang ada guru-guru hebat yang berhasil berkembang secara mandiri. Mereka belajar sendiri, mencari sumber ilmu sendiri, dan mencapai keberhasilan melalui perjuangan pribadi yang luar biasa. Saya sangat menghormati mereka. Namun pendidikan tidak boleh hanya melahirkan individu-individu hebat. Pendidikan harus melahirkan ekosistem yang hebat.

Bangsa ini membutuhkan guru yang tidak hanya sukses untuk dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengangkat dan menginspirasi guru-guru lainnya. Kita membutuhkan guru yang rela berbagi, rela mendampingi, dan rela berjalan bersama. Sebab kemajuan pendidikan tidak dibangun oleh satu orang guru yang berlari sangat cepat, melainkan oleh ribuan guru yang berjalan bersama menuju tujuan yang sama.

Sebagai penutup, saya ingin meninggalkan sebuah pesan yang selalu saya pegang selama menjadi guru.

Jangan pernah lelah belajar, tetapi jangan pula belajar sendirian. Ilmu yang kita miliki akan menjadi lebih bermakna ketika dibagikan kepada orang lain. Guru terbaik bukanlah guru yang paling banyak ilmunya, melainkan guru yang mampu menyalakan semangat belajar di hati guru lainnya. Ketika satu guru menginspirasi banyak guru, maka sesungguhnya ia sedang mengubah masa depan ribuan anak Indonesia.

Salam literasi.
Blog https://wijayalabs.com
Omjay
Guru Blogger Indonesia

Buku Omjay Terbang Ke Penjuru Tanah Air

Buku-Buku Omjay Terbang ke Berbagai Penjuru Indonesia

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Sore itu saya tersenyum bahagia ketika membuka laporan pengiriman buku dari JNE. Satu per satu nama pemesan buku muncul di layar komputer. Ada yang berasal dari Maluku Utara, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Jawa Barat, hingga Sulawesi Tenggara. Hati saya bergetar haru. Buku-buku yang saya tulis dengan penuh perjuangan kini sedang melakukan perjalanan panjang menuju para pembacanya di berbagai daerah Indonesia.

Sebagai seorang guru yang mencintai dunia literasi, saya tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari tulisan-tulisan yang lahir dari kebiasaan menulis setiap hari dapat menjangkau begitu banyak orang. Dulu saya hanya menulis di blog sebagai sarana berbagi pengalaman mengajar, berbagi inspirasi, dan berbagi semangat kepada sesama guru. Namun ternyata tulisan-tulisan itu menemukan jalannya sendiri.

Saya masih ingat ketika pertama kali menerbitkan buku. Rasanya sangat berbeda dengan menulis artikel di blog. Menulis buku membutuhkan kesabaran, ketekunan, dan keberanian. Kita harus siap menerima kritik, siap menerima penolakan, dan siap menghadapi kenyataan bahwa menjual buku tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Bahkan hingga hari ini saya masih belajar bagaimana memasarkan buku dengan baik. Saya pernah bercanda kepada sahabat-sahabat literasi bahwa menulis buku itu jauh lebih mudah daripada menjualnya. Ketika menulis, kita hanya perlu berhadapan dengan layar komputer dan ide-ide yang berputar di kepala. Namun ketika menjual buku, kita harus berhadapan dengan banyak hal, mulai dari promosi, distribusi, pengiriman, hingga pelayanan kepada pembeli.

Karena itulah saya sangat bersyukur ketika melihat laporan pengiriman buku hari ini. Ada tujuh paket buku yang dikirim ke berbagai daerah di Indonesia melalui layanan JNE. Mulai dari Ternate Tengah di Maluku Utara, Kasembon di Kabupaten Malang, Tenggarong di Kabupaten Kutai Kartanegara, Jonggol di Kabupaten Bogor, Kesamben di Kabupaten Jombang, Wolowa di Kabupaten Buton, hingga Bandung Barat.

Ketika melihat nama-nama kota tersebut, saya membayangkan perjalanan panjang yang akan ditempuh buku-buku itu. Ada yang harus menyeberangi laut, ada yang harus melewati pegunungan, ada pula yang harus menempuh perjalanan darat berjam-jam sebelum akhirnya sampai ke tangan pembacanya.

Bagi sebagian orang, buku mungkin hanyalah kumpulan kertas yang dijilid rapi. Namun bagi saya, setiap buku memiliki ruh dan cerita. Di dalamnya terdapat pengalaman hidup, pelajaran berharga, serta harapan agar pembaca mendapatkan manfaat dari setiap halaman yang dibaca.

Saya percaya bahwa buku memiliki kekuatan luar biasa. Buku dapat mengubah cara berpikir seseorang. Buku dapat menginspirasi orang untuk bangkit dari keterpurukan. Buku dapat menjadi teman perjalanan yang setia. Bahkan buku mampu menghubungkan orang-orang yang tidak pernah saling bertemu secara langsung.

Ketika seorang pembaca di Ternate membaca buku karya saya, sesungguhnya sedang terjadi sebuah pertemuan ide antara penulis di Bekasi dan pembaca di Maluku Utara. Ketika seorang guru di Kutai Kartanegara membuka halaman demi halaman buku saya, sesungguhnya sedang terjalin jembatan pengetahuan yang melampaui batas geografis.

Itulah keajaiban literasi.

Laporan pengiriman hari itu juga mengingatkan saya pada perjuangan panjang membangun kebiasaan menulis setiap hari. Banyak orang bertanya kepada saya, bagaimana cara menulis secara konsisten?

Jawaban saya sederhana. Mulailah dari hal-hal kecil. Tulis apa yang dilihat, didengar, dirasakan, dan dialami. Jangan menunggu sempurna. Jangan menunggu punya waktu luang. Tulislah sekarang juga.

Saya sendiri memulai dari blog pribadi. Setiap hari saya berusaha menulis. Kadang hanya beberapa paragraf. Kadang satu artikel panjang. Ada tulisan yang dibaca ribuan orang. Ada pula yang hanya dibaca segelintir orang. Namun saya tetap menulis.

Lama-kelamaan tulisan-tulisan itu terkumpul menjadi buku.

Dari pengalaman tersebut saya belajar bahwa hasil besar sering kali berasal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Tidak ada buku yang langsung jadi dalam semalam. Tidak ada penulis yang langsung hebat dalam satu hari. Semua membutuhkan proses panjang.

Karena itu saya selalu mengajak para guru untuk menulis. Guru yang menulis akan meninggalkan jejak pemikiran yang dapat dibaca lintas generasi. Pengalaman mengajar yang ditulis akan menjadi warisan berharga bagi guru-guru berikutnya.

Ketika laporan JNE menunjukkan tujuh paket buku dikirim dalam satu hari dengan total pengiriman Rp437.000, saya tidak melihat angka tersebut sebagai nilai ekonomi semata. Saya melihatnya sebagai tanda bahwa semangat literasi masih hidup di negeri ini. Ada orang-orang yang masih mencintai buku. Ada guru-guru yang masih ingin belajar. Ada pembaca yang masih percaya bahwa ilmu pengetahuan dapat mengubah kehidupan.

Perjalanan buku-buku itu juga menjadi pengingat bahwa karya yang ditulis dengan hati akan selalu menemukan pembacanya. Mungkin tidak hari ini. Mungkin tidak besok. Namun pada waktunya, tulisan yang bermanfaat akan sampai kepada orang yang membutuhkannya.

Sore itu saya menutup laporan pengiriman dengan rasa syukur yang mendalam. Saya berdoa semoga setiap buku yang dikirim membawa manfaat, menambah wawasan, dan menginspirasi pembacanya untuk terus belajar.

Saya juga semakin yakin bahwa keputusan untuk menulis setiap hari adalah keputusan terbaik dalam hidup saya. Dari kebiasaan sederhana itulah lahir berbagai kesempatan, pertemanan, pengalaman, dan karya yang kini berkeliling Indonesia.

Maka kepada sahabat literasi di mana pun berada, saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana:

Jangan pernah berhenti menulis. Jangan pernah lelah membaca. Sebab sebuah tulisan yang lahir hari ini mungkin akan mengubah kehidupan seseorang di tempat yang jauh, pada waktu yang tidak pernah kita duga.

Salam literasi.

Omjay Guru Blogger Indonesia ✍️📚🇮🇩

Tabligh Akbar di Labschool Jakarta

Menjadikan Rumah Sebagai Sekolah Pertama

Omjay Hadiri Tabligh Akbar, Infaq, dan Bakti Sosial Menyambut Tahun Baru Islam 1448 H

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu suasana aula sudah tampak ramai. Para peserta datang dengan wajah ceria dan penuh semangat menyambut Tahun Baru Islam 1448 Hijriah. Spanduk besar di layar utama menampilkan tema yang sangat menyentuh hati:

"Menjadikan Rumah sebagai Sekolah Pertama: Semangat Muharram untuk Kebangkitan Akhlak."

Tema tersebut menjadi pengingat bagi saya bahwa pendidikan sejatinya tidak dimulai di sekolah, melainkan di rumah. Sekolah hanyalah melanjutkan pendidikan yang telah ditanamkan oleh orang tua sejak anak lahir ke dunia.

Saya berkesempatan menghadiri kegiatan Tabligh Akbar, Infaq, dan Bakti Sosial yang diselenggarakan oleh keluarga besar Labschool bersama berbagai mitra pendidikan. Acara berlangsung dengan khidmat dan penuh makna. Hadir para guru, orang tua, siswa, alumni, serta masyarakat yang ingin memperdalam pemahaman tentang pentingnya keluarga dalam membangun generasi berakhlak mulia.

Pada layar utama terpampang foto penceramah muda Koh Dennis Lim, yang dikenal luas karena dakwahnya yang menyejukkan dan dekat dengan generasi muda. Kehadirannya menjadi daya tarik tersendiri bagi para peserta.

Rumah Adalah Madrasah Pertama

Dalam kehidupan modern saat ini, banyak orang tua menyerahkan sepenuhnya pendidikan anak kepada sekolah. Padahal, waktu anak di sekolah hanya beberapa jam setiap hari. Selebihnya, mereka berada di rumah bersama keluarga.

Saya teringat pesan bijak yang sering disampaikan para ulama:

"Al-ummu madrasatul ula."

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya.

Namun sesungguhnya bukan hanya ibu, melainkan seluruh anggota keluarga memiliki tanggung jawab pendidikan. Ayah memberikan teladan kepemimpinan dan tanggung jawab. Ibu menanamkan kasih sayang dan kelembutan. Kakak menjadi contoh perilaku bagi adiknya. Semua anggota keluarga adalah guru.

Dari rumah anak belajar berbicara, bersikap, menghormati orang lain, beribadah, dan memahami nilai-nilai kehidupan. Jika rumah berhasil menjadi sekolah pertama yang baik, maka sekolah formal akan lebih mudah mengembangkan potensi anak.

Semangat Muharram untuk Kebangkitan Akhlak

Bulan Muharram selalu mengingatkan kita pada semangat hijrah. Hijrah bukan hanya berpindah tempat, tetapi juga berpindah menjadi pribadi yang lebih baik.

Dalam konteks pendidikan keluarga, hijrah berarti memperbaiki pola asuh, memperbaiki komunikasi antara orang tua dan anak, serta memperkuat pendidikan karakter di rumah.

Saat ini kita hidup di era digital. Anak-anak lebih banyak berinteraksi dengan gawai dibandingkan dengan anggota keluarganya. Banyak orang tua sibuk bekerja. Anak sibuk bermain media sosial. Akibatnya, komunikasi keluarga semakin berkurang.

Karena itulah tema kegiatan ini terasa sangat relevan.

Kebangkitan akhlak harus dimulai dari rumah.

Ketika anak melihat ayahnya jujur, ia belajar kejujuran.

Ketika anak melihat ibunya rajin beribadah, ia belajar kedisiplinan spiritual.

Ketika anak melihat keluarganya saling menghormati, ia belajar toleransi dan kasih sayang.

Akhlak tidak diajarkan hanya melalui ceramah, tetapi melalui keteladanan sehari-hari.

Pendidikan Karakter Tidak Bisa Diwakilkan

Sebagai guru yang sudah lebih dari tiga dekade mengajar di sekolah, saya sering menemukan kenyataan bahwa keberhasilan pendidikan karakter sangat dipengaruhi oleh lingkungan keluarga.

Anak yang terbiasa mendapatkan kasih sayang dan perhatian di rumah biasanya lebih percaya diri, mudah bekerja sama, dan memiliki empati tinggi.

Sebaliknya, anak yang kurang mendapatkan perhatian sering kali mengalami kesulitan dalam mengendalikan emosi dan berinteraksi dengan lingkungan sosialnya.

Karena itu saya selalu mengatakan kepada para orang tua bahwa pendidikan karakter tidak bisa diwakilkan.

Sekolah dapat membantu.

Guru dapat membimbing.

Namun pondasi utamanya tetap berada di rumah.

Rumah adalah sekolah pertama.

Orang tua adalah guru pertama.

Keluarga adalah kurikulum pertama.

Indahnya Berbagi Melalui Infaq dan Bakti Sosial

Selain mendengarkan tausiyah, kegiatan ini juga diisi dengan program infaq dan bakti sosial. Inilah bentuk nyata pendidikan karakter yang sesungguhnya.

Anak-anak tidak hanya diajarkan teori tentang kepedulian sosial, tetapi juga diajak mempraktikkannya secara langsung.

Mereka belajar bahwa hidup bukan hanya tentang menerima, tetapi juga memberi.

Mereka belajar bahwa kebahagiaan tidak hanya diperoleh ketika mendapatkan sesuatu, tetapi juga ketika mampu membantu orang lain.

Nilai-nilai seperti empati, kepedulian, gotong royong, dan rasa syukur tumbuh melalui pengalaman nyata seperti ini.

Saya melihat banyak wajah bahagia hari itu. Bukan hanya mereka yang menerima bantuan, tetapi juga mereka yang memberikan bantuan.

Di situlah letak keindahan berbagi.

Refleksi Omjay

Ketika acara berakhir, saya pulang membawa banyak pelajaran berharga. Sebagai seorang guru, saya semakin yakin bahwa keberhasilan pendidikan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kurikulum yang hebat atau teknologi yang canggih.

Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh kualitas keluarga.

Jika rumah-rumah di Indonesia menjadi sekolah pertama yang baik, maka sekolah-sekolah akan lebih mudah melahirkan generasi yang cerdas dan berakhlak mulia.

Jika orang tua menjadi teladan yang baik, maka guru akan lebih mudah mendidik anak-anaknya.

Jika keluarga berhasil menanamkan nilai-nilai kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan kasih sayang, maka bangsa ini akan memiliki masa depan yang cerah.

Melalui kegiatan Tabligh Akbar ini, saya diingatkan kembali bahwa pendidikan terbaik dimulai dari rumah. Semangat Muharram mengajak kita berhijrah menjadi keluarga yang lebih baik, lebih peduli, dan lebih dekat kepada Allah SWT.

Mari kita jadikan rumah sebagai sekolah pertama yang penuh cinta, penuh ilmu, dan penuh keteladanan.

Sebab dari rumah yang baik akan lahir anak-anak yang baik. Dari anak-anak yang baik akan lahir masyarakat yang baik. Dan dari masyarakat yang baik akan terbangun Indonesia yang lebih maju dan berakhlak mulia.

"Rumah adalah tempat anak belajar mengenal kehidupan. Ketika rumah menjadi sekolah pertama yang baik, masa depan bangsa akan menjadi lebih baik."

Omjay, Guru Blogger Indonesia.