Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Kamis, 11 Juni 2026

Ikhlas Ketika Hanya Allah yang Menjadi Tujuan


IKHLAS: KETIKA HANYA ALLAH YANG MENJADI TUJUAN

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Pagi itu, kereta LRT Jabodebek melaju perlahan meninggalkan Stasiun Jatibening Baru menuju Dukuh Atas. Di balik jendela kereta yang sedikit berembun karena udara pagi, saya memandang gedung-gedung tinggi yang mulai ramai oleh aktivitas manusia.

Semua orang tampak sibuk.

Ada yang berangkat bekerja mengejar target.

Ada yang berdagang demi memenuhi kebutuhan keluarga.

Ada yang belajar untuk meraih cita-cita.

Ada pula yang beribadah dan melakukan banyak amal kebaikan.

Namun tiba-tiba saya bertanya pada diri sendiri.

"Untuk siapa sebenarnya semua yang kita lakukan?"

Pertanyaan sederhana itu terus berputar dalam kepala saya.

Mungkin karena pagi itu saya membaca sebuah pesan yang sangat menyentuh tentang ikhlas.

"Ikhlas adalah beramal hanya karena Allah, bukan karena ingin dipuji, digaji, atau ingin disebut alim."

Kalimat itu sederhana, tetapi terasa menampar hati.

Saya terdiam.

Sebab jika jujur, tidak mudah menjaga hati agar tetap ikhlas.

Bahkan setelah lebih dari tiga puluh tahun menjadi guru, saya masih terus belajar tentang keikhlasan.

Ketika Menjadi Guru Tidak Selalu Mendapat Tepuk Tangan

Sejak tahun 1994 saya mengajar di SMP Labschool Jakarta.

Ribuan siswa telah datang dan pergi.

Sebagian masih mengingat saya.

Sebagian lagi mungkin sudah lupa.

Dulu ketika masih muda, saya sering merasa senang jika mendapat pujian.

Senang ketika tulisan saya dibaca banyak orang.

Senang ketika siswa menyukai pelajaran yang saya ajarkan.

Senang ketika nama saya disebut dalam sebuah acara.

Perasaan itu manusiawi.

Namun semakin bertambah usia, saya mulai memahami bahwa pujian manusia tidak akan pernah cukup.

Hari ini dipuji.

Besok bisa dicaci.

Hari ini dianggap hebat.

Besok bisa dilupakan.

Saya pernah menulis artikel yang dibaca puluhan ribu orang.

Komentarnya banyak.

Pesan masuk berdatangan.

Saya merasa bahagia.

Namun beberapa hari kemudian, artikel lain yang saya tulis hanya dibaca sedikit orang.

Saat itulah saya belajar.

Jika menulis hanya karena ingin dipuji manusia, maka kebahagiaan kita akan bergantung pada penilaian manusia.

Padahal manusia mudah berubah.

Karena itu saya mencoba mengubah niat.

Menulis karena Allah.

Mengajar karena Allah.

Berbagi ilmu karena Allah.

Bukan karena ingin terkenal.

Bukan karena ingin dipuji.

Bukan pula karena ingin dianggap paling pintar.

Pelajaran Keikhlasan Saat Sakit

Tahun 2025 dan 2026 menjadi masa yang berat dalam hidup saya.

Diabetes menyerang.

Hipertensi datang silih berganti.

Vertigo membuat tubuh kehilangan keseimbangan.

Saya beberapa kali keluar masuk rumah sakit.

Ada saat-saat ketika tubuh terasa lemah.

Ada saat-saat ketika saya bertanya dalam hati.

"Ya Allah, mengapa Engkau memberi ujian ini?"

Namun justru di ruang perawatan rumah sakit saya menemukan pelajaran besar tentang ikhlas.

Saya melihat pasien lain yang kondisinya jauh lebih berat.

Ada yang tidak bisa berjalan.

Ada yang tidak bisa berbicara.

Ada yang harus bergantung pada alat bantu.

Mereka tetap tersenyum.

Mereka tetap bersyukur.

Mereka tetap berdoa.

Saat itulah saya sadar.

Ternyata selama ini saya terlalu sibuk menghitung apa yang sudah saya lakukan.

Padahal Allah tidak meminta kita menghitung amal.

Allah meminta kita memperbaiki niat.

Keikhlasan sering kali lahir ketika manusia tidak lagi mampu mengandalkan dirinya sendiri.

Saat sakit, jabatan tidak berguna.

Popularitas tidak berguna.

Uang tidak selalu bisa menyembuhkan.

Yang tersisa hanyalah hubungan kita dengan Allah.

Amal yang Besar Bisa Menjadi Tidak Bernilai

Rasulullah SAW pernah mengingatkan bahwa ada tiga golongan manusia yang pertama kali dilempar ke neraka.

Orang yang mati syahid tetapi ingin disebut pemberani.

Orang yang belajar Al-Qur'an agar disebut qari.

Dan orang yang bersedekah agar disebut dermawan.

Setiap kali membaca hadis itu, hati saya bergetar.

Karena ternyata yang menentukan nilai amal bukan hanya apa yang kita lakukan.

Tetapi mengapa kita melakukannya.

Banyak orang terlihat hebat di hadapan manusia.

Namun belum tentu hebat di hadapan Allah.

Sebaliknya, banyak orang yang tidak dikenal manusia tetapi sangat mulia di sisi Allah.

Mungkin seorang ibu yang setiap malam mendoakan anak-anaknya.

Mungkin seorang guru yang mengajar dengan penuh cinta meski gajinya tidak besar.

Mungkin seorang ayah yang bekerja keras tanpa pernah mengeluh.

Mungkin seorang petugas kebersihan yang menjaga lingkungan tetap bersih.

Mereka tidak terkenal.

Tidak viral.

Tidak masuk berita.

Tetapi Allah mengetahui setiap tetes keringat mereka.

Dan itu sudah cukup.

Air Mata yang Mengajarkan Keikhlasan

Suatu malam saya melihat cucu saya tertidur pulas.

Wajahnya begitu damai.

Saya teringat perjalanan hidup yang telah saya lalui.

Dari mahasiswa IKIP Jakarta yang sederhana.

Menjadi guru.

Menjadi penulis.

Menjadi blogger.

Menjadi doktor.

Menjadi kakek.

Begitu banyak perjalanan yang Allah izinkan saya lalui.

Namun ketika semua gelar dan pencapaian itu saya renungkan, saya sadar bahwa tidak ada satu pun yang bisa saya banggakan di hadapan Allah.

Semuanya adalah pemberian-Nya.

Saya hanya penerima amanah.

Saat itulah tanpa terasa air mata menetes.

Bukan karena sedih.

Tetapi karena merasa betapa banyak nikmat yang Allah berikan meskipun saya sering lalai.

Betapa banyak kesempatan yang Allah berikan meskipun saya masih penuh kekurangan.

Ikhlas Adalah Rahasia Kebahagiaan

Semakin saya belajar tentang kehidupan, semakin saya yakin bahwa ikhlas adalah rahasia kebahagiaan.

Orang yang ikhlas tidak mudah kecewa.

Karena ia tidak menggantungkan harapannya kepada manusia.

Orang yang ikhlas tidak mudah marah.

Karena ia yakin Allah melihat segala usahanya.

Orang yang ikhlas tidak sibuk mencari pengakuan.

Karena ia tahu bahwa penilaian Allah jauh lebih penting daripada tepuk tangan manusia.

Hari ini mungkin kita mengajar tanpa dihargai.

Menulis tanpa dibaca.

Berbuat baik tanpa dipuji.

Membantu tanpa disebut.

Namun yakinlah.

Tidak ada satu pun kebaikan yang hilang di sisi Allah.

Mungkin manusia lupa.

Mungkin manusia tidak tahu.

Tetapi Allah Maha Mengetahui.

Karena itu teruslah berbuat baik.

Teruslah menebar manfaat.

Teruslah menulis.

Teruslah mengajar.

Teruslah membantu sesama.

Dan ketika melakukannya, bisikkan dalam hati:

"Ya Allah, aku lakukan semua ini hanya karena-Mu."

Sebab pada akhirnya yang kita bawa pulang bukanlah pujian manusia.

Bukan jabatan.

Bukan gelar.

Bukan pula popularitas.

Yang akan menemani kita di alam kubur hanyalah amal yang dilakukan dengan hati yang ikhlas.

Semoga Allah membersihkan niat kita, menerima amal kita, dan menjadikan setiap langkah hidup kita bernilai ibadah di sisi-Nya.

Aamiin Ya Rabbal ‘Alamin. :::

Semoga artikel ini dapat menjadi bahan renungan pagi yang menyentuh hati pembaca dan mengingatkan kita bahwa keikhlasan adalah rahasia amal yang diterima Allah SWT.

Salam blogger persahabatan 
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.