Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 24 Juni 2026

Kekuatan Baja Tua dan Muda Mengawal Keutuhan PGRI

Kekuatan Baja Tua dan Baja Muda Mengawal Keutuhan PGRI

Di tengah berbagai dinamika yang terjadi dalam tubuh organisasi profesi guru, semangat persatuan dan solidaritas kembali ditegaskan oleh para pengurus Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dari seluruh Indonesia. Berbagai pernyataan yang disampaikan para pengurus PGRI provinsi dan kabupaten/kota menunjukkan bahwa komitmen untuk menjaga keutuhan organisasi tetap menjadi prioritas utama.

Semangat itu tergambar dari berbagai pandangan yang muncul dalam diskusi para pengurus PGRI pada 24 Juni 2026. Mereka menegaskan bahwa PGRI harus tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan dan gangguan yang berpotensi memecah belah organisasi.

Prameswara R.R. menyampaikan harapannya agar seluruh langkah yang dilakukan organisasi dapat berjalan cepat dan tepat sasaran. Ia mengibaratkan perjuangan organisasi seperti perangko kilat yang harus sampai kepada tujuan dengan tepat waktu dan tepat arah. Menurutnya, seluruh jajaran Pengurus Besar PGRI hingga pengurus di daerah perlu terus mendapatkan kekuatan dan keberhasilan dalam mengawal tegaknya organisasi dari berbagai gangguan yang datang dari pihak mana pun.

Semangat yang sama juga disampaikan Mohamad Ali. Menurutnya, langkah yang paling penting saat ini adalah menyamakan persepsi antara Pengurus Besar PGRI dan seluruh pengurus provinsi. Kesamaan pandangan terhadap berbagai persoalan organisasi akan menjadi modal utama untuk menjaga kekompakan dan keselarasan langkah. Ia menegaskan bahwa di bawah komando Ketua Umum PB PGRI bersama seluruh jajaran pengurus, prinsip kolektif kolegial harus benar-benar dijalankan agar setiap keputusan dan kebijakan organisasi dapat dilaksanakan secara bersama-sama.

Sementara itu, Sekretaris PGRI Jawa Barat, Hidayat Dede, menyampaikan sebuah metafora menarik mengenai perpaduan kekuatan para pemimpin PGRI di seluruh Indonesia. Ia menggambarkan para ketua PGRI provinsi senior sebagai "baja tua" yang memiliki pengalaman panjang dalam organisasi. Di sisi lain, para ketua provinsi yang lebih muda diibaratkan sebagai "besi muda" yang memiliki energi, semangat, dan daya juang tinggi.

Menurutnya, kolaborasi antara pengalaman dan semangat generasi baru itulah yang menjadi kekuatan besar dalam mengawal kepemimpinan PB PGRI Masa Bakti XXIII Tahun 2024–2029 di bawah pimpinan Prof. Dr. Unifah Rosyidi, M.Pd. Perpaduan tersebut diyakini mampu menjaga keabsahan dan keberlanjutan organisasi yang lahir dari Kongres XXIII PGRI.

Lebih jauh, ia menegaskan bahwa soliditas dan solidaritas tanpa batas harus menjadi identitas seluruh kader PGRI. Dengan menjunjung tinggi jati diri organisasi dan semangat pengabdian kepada guru Indonesia, PGRI harus tetap berdiri sebagai organisasi yang kuat, independen, demokratis, dan berkelanjutan.

Nada yang lebih tegas disampaikan Khailid Nasution. Ia menilai bahwa sudah saatnya organisasi tidak lagi hanya bersikap pasif menghadapi berbagai gangguan yang muncul. Jika selama ini banyak pihak menggunakan pepatah "anjing menggonggong, kafilah berlalu", maka menurutnya kondisi saat ini memerlukan sikap yang lebih tegas dan berani.

Ia mengusulkan agar semangat perjuangan PGRI mengadopsi pepatah "Sekali layar terkembang, surut kita berpantang". Ungkapan tersebut menggambarkan tekad yang tidak mudah menyerah dalam memperjuangkan kebenaran dan menjaga marwah organisasi. Bagi Khailid, gangguan yang terus dibiarkan justru dapat semakin mengganggu jalannya organisasi sehingga perlu disikapi secara lebih terukur dan tegas.

Sementara itu, Syaiful Amri menyampaikan fakta penting mengenai dukungan dari seluruh pengurus provinsi terhadap kepemimpinan PB PGRI. Ia menjelaskan bahwa sebanyak 32 pengurus provinsi hadir secara langsung dan menandatangani pernyataan dukungan. Empat provinsi lainnya memang tidak dapat hadir karena kendala transportasi dan agenda daerah yang telah terjadwal sebelumnya. Namun demikian, mereka tetap mengirimkan surat pernyataan dukungan secara resmi.

Dengan demikian, seluruh pengurus provinsi di Indonesia tetap berada dalam satu barisan di bawah kepemimpinan Ketua Umum PB PGRI Prof. Dr. Unifah Rosyidi. Fakta tersebut menunjukkan bahwa dukungan terhadap kepemimpinan hasil Kongres XXIII tetap solid dan menyeluruh di seluruh wilayah Indonesia.

Menariknya, di penghujung diskusi muncul sebuah refleksi yang menggambarkan semangat kebersamaan antar generasi. Menanggapi istilah "baja tua" dan "besi muda", Prameswara kembali memberikan pandangannya bahwa sesungguhnya semua pengurus adalah baja. Perbedaannya hanyalah pada usia dan pengalaman. Ia bahkan bercanda bahwa jika diibaratkan besi, maka besi dapat berkarat, sedangkan baja tetap kuat dan kokoh.

Ungkapan sederhana tersebut mengandung makna mendalam. Dalam organisasi sebesar PGRI, tidak ada dikotomi antara senior dan junior. Yang ada adalah kolaborasi, saling melengkapi, dan saling menguatkan. Pengurus senior memberikan pengalaman dan kebijaksanaan, sementara generasi muda menghadirkan energi, kreativitas, dan inovasi.

Pada akhirnya, kekuatan terbesar PGRI bukan hanya terletak pada legalitas organisasi, tetapi juga pada soliditas para pengurus dan anggotanya. Ketika seluruh elemen organisasi mampu bergerak dalam satu irama, maka berbagai tantangan yang datang dari luar maupun dari dalam dapat dihadapi dengan lebih baik.

Semangat "Hidup Guru, Hidup PGRI, Solidaritas Yes" bukan sekadar slogan. Ia adalah tekad bersama untuk menjaga organisasi profesi guru terbesar di Indonesia agar tetap menjadi rumah perjuangan para guru, tempat berhimpun, berbagi, dan memperjuangkan kemajuan pendidikan bangsa.

Hidup Guru!

Hidup PGRI!

Solidaritas Yes!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.