Kisah Omjay untuk Presiden Prabowo: Indonesia di Ambang Kemajuan, Saatnya Bergerak Bersama
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah (Omjay)
Pagi itu, ketika saya membuka telepon genggam, mata saya tertuju pada sebuah poster yang mengajak masyarakat mengirimkan tulisan untuk buku bertema "Indonesia di Ambang Kemajuan atau Krisis?". Ajakan itu terasa begitu menggugah hati. Sebagai seorang guru yang telah lebih dari tiga dekade mengabdikan diri di dunia pendidikan, saya merasa tema tersebut bukan sekadar pertanyaan, melainkan undangan bagi setiap anak bangsa untuk merenungkan masa depan Indonesia dengan jujur, kritis, dan penuh harapan.
Saya kemudian teringat kepada Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Dalam perjalanan hidup saya sebagai guru, saya pernah memiliki kenangan yang sangat berkesan ketika putra beliau, Didit Hediprasetyo, masih bersekolah di SMP Labschool Jakarta. Pengalaman itu membuat saya percaya bahwa setiap pemimpin besar juga pernah menjadi orang tua yang menitipkan harapan kepada para guru. Sejak saat itu saya semakin yakin bahwa pendidikan merupakan jembatan paling kuat untuk menghubungkan cita-cita keluarga dengan masa depan bangsa.
Sebagai guru, saya menyaksikan perubahan Indonesia dari waktu ke waktu. Saya mengajar sejak tahun 1994. Saat itu komputer masih menjadi barang mewah di sekolah, internet belum mudah diakses, dan sebagian besar administrasi pendidikan masih dilakukan secara manual. Kini dunia telah berubah sangat cepat. Teknologi kecerdasan buatan hadir di hadapan kita. Anak-anak dapat belajar dari mana saja, guru dapat menulis buku dengan bantuan teknologi, dan informasi mengalir begitu deras tanpa mengenal batas ruang maupun waktu. Perubahan itu membawa peluang besar, tetapi juga menghadirkan tantangan yang tidak kecil.
Dalam berbagai perjalanan saya mengisi seminar, pelatihan guru, dan kegiatan literasi di berbagai daerah, saya bertemu ribuan guru yang memiliki semangat luar biasa. Mereka mengajar di kota maupun di pelosok desa dengan keterbatasan fasilitas, tetapi tidak pernah kehilangan harapan. Saya melihat sendiri bagaimana guru rela menggunakan uang pribadi untuk membeli kuota internet, memperbaiki perangkat pembelajaran, bahkan membantu murid yang kesulitan secara ekonomi. Semua itu dilakukan karena mereka percaya bahwa pendidikan adalah investasi terbesar bagi masa depan Indonesia.
Namun di balik semangat itu, saya juga melihat kenyataan yang harus menjadi perhatian bersama. Masih ada sekolah yang membutuhkan perbaikan, masih ada anak-anak yang kesulitan memperoleh akses pendidikan berkualitas, dan masih ada guru yang terus berjuang meningkatkan kompetensi di tengah perubahan teknologi yang sangat cepat. Tantangan tersebut tidak boleh dipandang sebagai alasan untuk pesimis. Justru di situlah kesempatan bagi bangsa ini untuk membuktikan bahwa kita mampu bergerak maju melalui kerja sama dan gotong royong.
Saya selalu percaya bahwa Indonesia tidak sedang berada di ambang krisis apabila seluruh elemen bangsa mau saling bergandengan tangan. Krisis sesungguhnya terjadi ketika kita berhenti belajar, berhenti mendengar, dan berhenti peduli kepada sesama. Sebaliknya, kemajuan akan hadir ketika pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, perguruan tinggi, komunitas, dan masyarakat berjalan dalam satu tujuan, yaitu membangun manusia Indonesia yang unggul sekaligus berkarakter.
Sebagai penulis yang setiap hari berusaha menuangkan pengalaman melalui blog, saya sering mengingatkan diri sendiri bahwa tulisan bukan sekadar rangkaian kata. Tulisan adalah jejak pemikiran yang dapat menggerakkan banyak orang. Motto yang selalu saya pegang adalah, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Dari ribuan artikel yang saya tulis, saya belajar bahwa perubahan besar sering kali berawal dari gagasan sederhana yang dibagikan dengan hati yang tulus. Ketika satu tulisan mampu menginspirasi seorang guru, kemudian guru itu menginspirasi ratusan murid, maka dampaknya akan meluas jauh melampaui yang kita bayangkan.
Bapak Presiden Prabowo tentu memikul tanggung jawab yang sangat besar dalam memimpin Indonesia. Harapan masyarakat terhadap pemerintahan baru juga sangat tinggi. Saya yakin keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari megahnya gedung, panjangnya jalan tol, atau tingginya pertumbuhan ekonomi. Ukuran keberhasilan yang sesungguhnya adalah ketika setiap anak Indonesia memperoleh pendidikan yang bermutu, setiap guru merasa dihargai, setiap keluarga hidup dengan harapan, dan setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang sesuai potensinya.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, Indonesia memiliki peluang menjadi bangsa yang disegani apabila mampu membangun sumber daya manusia yang kreatif, inovatif, dan berintegritas. Teknologi hanyalah alat. Manusialah yang menentukan apakah teknologi menjadi sarana membangun peradaban atau justru menghancurkannya. Oleh karena itu, pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan pendidikan digital. Anak-anak perlu diajarkan berpikir kritis, bekerja sama, menghargai perbedaan, serta menggunakan teknologi secara bertanggung jawab.
Saya juga berharap budaya literasi terus mendapat perhatian. Bangsa yang gemar membaca dan menulis akan lebih siap menghadapi perubahan. Saya telah merasakan sendiri bagaimana menulis mampu membuka banyak pintu kesempatan, mempertemukan saya dengan tokoh-tokoh inspiratif, membawa saya berbagi ilmu ke berbagai daerah, bahkan memperluas persahabatan hingga ke luar negeri. Semua itu berawal dari keberanian menulis satu halaman demi satu halaman setiap hari.
Sebagai warga negara, saya ingin menyampaikan pesan sederhana kepada Presiden Prabowo. Teruslah mendengarkan suara rakyat, terutama suara para guru yang setiap hari berada di garis depan pendidikan. Guru bukan hanya pengajar mata pelajaran, tetapi juga pembentuk karakter generasi penerus bangsa. Ketika guru diberikan ruang untuk berkembang, diberikan perlindungan, dan diberikan kesempatan meningkatkan kompetensinya, sesungguhnya negara sedang menyiapkan masa depan yang lebih baik.
Saya membayangkan Indonesia pada usia kemerdekaan yang ke-81 menjadi bangsa yang semakin dewasa, semakin kuat menghadapi tantangan global, dan semakin mampu menjaga persatuan di tengah keberagaman. Kita memiliki modal yang sangat besar berupa semangat gotong royong, kekayaan budaya, sumber daya alam, dan jutaan anak muda yang penuh kreativitas. Modal tersebut akan menjadi kekuatan luar biasa apabila dipadukan dengan kepemimpinan yang visioner, birokrasi yang melayani, dan masyarakat yang terus belajar.
Ketika saya menutup laptop setelah menyelesaikan tulisan ini, saya kembali teringat kepada para murid yang pernah saya ajar selama puluhan tahun. Mereka kini telah menjadi dokter, guru, pengusaha, insinyur, anggota TNI, polisi, pegawai negeri, hingga orang tua yang mendidik generasi berikutnya. Dari merekalah saya belajar bahwa tugas seorang guru bukan sekadar mengajar di ruang kelas, melainkan menanam benih harapan yang akan tumbuh menjadi pohon-pohon besar bagi Indonesia.
Semoga Indonesia benar-benar berada di ambang kemajuan, bukan di ambang krisis. Semoga Presiden Prabowo bersama seluruh rakyat Indonesia mampu membawa negeri ini menjadi bangsa yang maju, adil, makmur, berdaulat, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Sebagai guru, saya akan terus menulis, terus mengajar, dan terus menginspirasi, karena saya percaya perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten dan penuh cinta kepada Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.