Menulis Buku dalam Semalam dan Ditunggu Jutaan Guru
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia
"Pak Omjay, benarkah bisa menulis buku dalam semalam?"
Pertanyaan itu sering saya terima ketika mengisi pelatihan menulis bagi guru di berbagai daerah Indonesia. Ada yang bertanya dengan nada penasaran. Ada pula yang bertanya dengan nada tidak percaya.
Saya hanya tersenyum.
"Kalau menulis bukunya saja, bisa. Tetapi kalau menyiapkan ilmunya, pengalamannya, dan perjuangannya, itu tidak bisa semalam," jawab saya.
Jawaban itu membawa saya mengenang sebuah malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Malam ketika saya duduk sendirian di depan laptop. Rumah sudah sepi. Istri dan anak-anak sudah tertidur pulas. Jam di dinding menunjukkan pukul sebelas malam. Mata sebenarnya lelah karena seharian mengajar di SMP Labschool Jakarta, membimbing siswa, menjawab pesan WhatsApp dari peserta pelatihan menulis, dan menulis artikel di blog.
Namun malam itu hati saya tidak bisa diajak beristirahat.
Ada sesuatu yang terus mengetuk pintu pikiran saya.
Sebuah ide buku.
Saya membuka laptop dan mulai mengetik. Satu halaman. Dua halaman. Lima halaman. Sepuluh halaman. Kata demi kata mengalir begitu saja seperti air yang menemukan jalannya menuju lautan.
Saya tidak lagi memikirkan jumlah halaman.
Saya tidak lagi memikirkan apakah tulisan itu akan laku atau tidak.
Saya hanya ingin menuliskan apa yang selama ini tersimpan di hati.
Pengalaman menjadi guru.
Perjalanan menjadi blogger.
Kegagalan yang pernah saya alami.
Mimpi-mimpi yang dulu dianggap mustahil.
Semua keluar begitu saja.
Malam semakin larut. Udara semakin dingin. Mata mulai terasa berat. Namun semangat di dalam dada justru semakin menyala.
Pukul dua dini hari saya masih menulis.
Pukul tiga dini hari saya masih mengetik.
Pukul empat dini hari naskah itu akhirnya selesai.
Saya menatap layar laptop dengan perasaan haru.
Air mata hampir menetes.
Bukan karena lelah.
Bukan karena mengantuk.
Tetapi karena saya sadar bahwa buku itu bukan lahir dalam semalam.
Buku itu lahir dari perjalanan hidup selama puluhan tahun.
Apa yang saya tulis malam itu sesungguhnya adalah kumpulan pengalaman sejak kecil di Wanaraja Garut, ketika saya gemar membaca buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Buku itu adalah kumpulan kenangan saat menjadi mahasiswa IKIP Jakarta yang harus berhemat demi membeli buku. Buku itu adalah catatan perjalanan ketika saya pertama kali mengenal internet dan blog. Buku itu adalah hasil dari ribuan artikel yang saya tulis selama bertahun-tahun.
Orang melihat saya menulis buku dalam semalam.
Padahal sesungguhnya saya menyiapkan bahan bukunya selama puluhan tahun.
Dari pengalaman itu saya belajar bahwa tidak ada kesuksesan yang benar-benar instan. Yang terlihat cepat sering kali adalah hasil dari proses panjang yang tidak dilihat orang lain.
Banyak guru berkata kepada saya bahwa mereka ingin menulis buku.
Namun ketika saya bertanya berapa artikel yang sudah ditulis minggu ini, mereka terdiam.
Ketika saya bertanya buku apa yang sudah dibaca bulan ini, mereka tersenyum malu.
Padahal menulis buku yang bermutu bukan dimulai dari menulis buku.
Menulis buku yang bermutu dimulai dari membaca setiap hari, belajar setiap hari, mengajar dengan hati setiap hari, dan menulis sedikit demi sedikit setiap hari.
Saya selalu mengingatkan peserta KBMN PGRI bahwa satu artikel yang ditulis hari ini adalah satu batu bata yang akan membangun rumah besar bernama buku.
Jangan menunggu sempurna.
Jangan menunggu punya waktu luang.
Jangan menunggu pensiun.
Mulailah menulis sekarang.
Ketika artikel demi artikel terkumpul, suatu hari Anda akan terkejut melihat bahwa bahan buku Anda ternyata sudah sangat banyak.
Saya sendiri merasakan keajaiban itu.
Dari kebiasaan menulis setiap hari lahirlah berbagai buku yang dibaca guru-guru Indonesia. Banyak di antara mereka menghubungi saya melalui pesan pribadi.
Ada guru di Papua yang mengatakan bahwa tulisan saya membuatnya bangkit dari rasa putus asa.
Ada guru di Aceh yang mengatakan bahwa buku saya membuatnya berani membuat blog.
Ada guru di Nusa Tenggara Timur yang mengatakan bahwa tulisan saya menginspirasinya menerbitkan buku pertama.
Pesan-pesan seperti itulah yang membuat saya terus menulis.
Bukan royalti yang terbesar.
Bukan jumlah buku yang terjual.
Melainkan manfaat yang dirasakan pembaca.
Saya percaya bahwa buku yang bermutu bukanlah buku yang tebalnya ratusan halaman.
Buku yang bermutu adalah buku yang mampu mengubah kehidupan pembacanya.
Buku yang bermutu adalah buku yang membuat seseorang berani bermimpi.
Buku yang bermutu adalah buku yang membuat seseorang bangkit setelah jatuh.
Buku yang bermutu adalah buku yang menyalakan harapan ketika keadaan terasa gelap.
Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, menulis buku memang menjadi lebih mudah. Teknologi dapat membantu menyusun kerangka, memperbaiki tata bahasa, dan memberikan berbagai referensi. Namun teknologi tidak bisa menggantikan pengalaman hidup, ketulusan hati, dan perjuangan seorang penulis.
Itulah sebabnya saya selalu berkata kepada para guru bahwa AI bisa membantu menulis kata-kata, tetapi pengalaman hiduplah yang memberi ruh pada tulisan.
Ketika saya menyelesaikan buku dalam semalam, sesungguhnya yang bekerja bukan hanya jari-jari saya yang mengetik. Yang bekerja adalah pengalaman mengajar lebih dari tiga dekade, ribuan siswa yang pernah saya temui, jutaan kata yang pernah saya baca, serta jutaan doa yang mengiringi perjalanan hidup saya.
Jika hari ini Anda merasa belum mampu menulis buku, jangan berkecil hati. Mulailah dengan satu paragraf. Besok tambahkan satu paragraf lagi. Lusa tulislah satu halaman. Teruslah menulis tanpa lelah.
Sebab tidak ada buku besar yang lahir tanpa dimulai dari satu kalimat pertama.
Dan siapa tahu, suatu malam nanti, ketika semua orang sedang tertidur, Anda akan duduk di depan laptop dengan hati yang penuh semangat. Kata-kata mengalir tanpa henti. Halaman demi halaman terisi. Saat fajar menyingsing, sebuah buku selesai ditulis.
Orang-orang mungkin akan berkata bahwa Anda menulis buku dalam semalam.
Padahal hanya Anda dan Tuhan yang tahu bahwa buku itu sesungguhnya dibangun oleh ketekunan yang Anda lakukan setiap hari selama bertahun-tahun.
Teruslah menulis.
Teruslah berkarya.
Karena guru yang menulis akan dikenang lebih lama daripada usianya. Tulisannya akan terus hidup, menginspirasi, dan menyalakan harapan bagi generasi yang akan datang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.