Kisah Omjay: Menerbitkan Buku Sendiri atau Bersama Penerbit? Sebuah Pilihan yang Mengubah Masa Depan Penulis
Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
"Pak Omjay, lebih enak menerbitkan buku sendiri atau melalui penerbit?"
Pertanyaan itu sering sekali saya terima, baik saat mengisi webinar, pelatihan menulis, maupun ketika berdiskusi dengan para guru yang sedang menyelesaikan naskah pertamanya. Setiap kali mendengar pertanyaan tersebut, saya selalu tersenyum. Sebab, saya pernah berada di posisi yang sama. Dulu saya juga bingung menentukan pilihan. Apakah lebih baik menerbitkan sendiri atau mempercayakan naskah kepada penerbit?
Pengalaman mengajarkan bahwa tidak ada jawaban yang mutlak benar. Semua bergantung pada tujuan yang ingin dicapai oleh seorang penulis. Saya kemudian teringat perjalanan panjang saya menulis di blog sejak bertahun-tahun lalu. Dari tulisan sederhana yang saya unggah setiap hari, perlahan lahir buku demi buku yang mempertemukan saya dengan banyak sahabat di seluruh Indonesia.
Saya menyadari bahwa buku bukan sekadar kumpulan halaman yang dijilid rapi. Buku adalah jejak perjalanan hidup. Buku adalah warisan ilmu. Karena itulah saya selalu mengatakan kepada peserta pelatihan menulis, "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Ketika pertama kali menerbitkan buku melalui penerbit, saya merasakan begitu banyak kemudahan. Saya tidak perlu memikirkan pengurusan ISBN, tata letak isi buku, desain sampul, hingga proses pencetakan. Semua dikerjakan oleh tim profesional. Saya tinggal fokus menyelesaikan naskah sebaik mungkin.
Bagi penulis pemula, cara ini sangat membantu. Mereka dapat belajar memahami proses penerbitan tanpa harus direpotkan oleh urusan teknis. Selain itu, nama penerbit yang sudah dikenal sering kali meningkatkan kepercayaan pembaca terhadap buku yang diterbitkan.
Namun, seiring berjalannya waktu, saya juga belajar bahwa menerbitkan melalui penerbit memiliki tantangan tersendiri. Penulis harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan penerbit. Royalti biasanya sudah ditentukan, desain buku mengikuti kebijakan penerbit, bahkan waktu terbit pun harus menyesuaikan antrean produksi. Tidak jarang seorang penulis harus menunggu berbulan-bulan hingga bukunya benar-benar hadir di tangan pembaca.
Di sisi lain, saya mulai mengenal dunia self-publishing atau menerbitkan buku secara mandiri. Dunia ini memberikan kebebasan yang luar biasa. Penulis dapat menentukan sendiri desain sampul, harga jual, jumlah cetakan, bahkan strategi pemasaran. Keuntungan yang diperoleh dari setiap buku juga biasanya lebih besar dibandingkan jika diterbitkan melalui penerbit konvensional.
Tentu saja kebebasan itu datang bersama tanggung jawab yang tidak sedikit. Penulis harus mencari editor, desainer sampul, layout artist, percetakan, hingga memasarkan bukunya sendiri. Jika tidak memiliki jaringan yang kuat, buku yang bagus pun bisa saja hanya tersimpan di gudang.
Pengalaman itulah yang membuat saya memahami bahwa kedua pilihan tersebut memiliki kelebihan sekaligus kekurangan. Tidak ada yang sepenuhnya lebih baik. Yang paling penting adalah menyesuaikan pilihan dengan tujuan.
Saya kemudian melihat perjalanan saya sendiri. Selama bertahun-tahun menjadi guru, blogger, dan narasumber pelatihan menulis, saya diberi kesempatan membangun jaringan yang sangat luas. Saya memiliki blog, media sosial, komunitas guru, webinar nasional, hingga kelompok belajar menulis yang tersebar di berbagai daerah. Jaringan inilah yang menjadi kekuatan utama ketika memasarkan buku.
Karena itu, jika ada yang bertanya kepada saya sekarang, saya biasanya memberikan jawaban yang sedikit berbeda. Saya tidak lagi memilih salah satu. Saya justru menyarankan memanfaatkan keduanya secara bijaksana.
Buku-buku akademik, buku referensi, modul pembelajaran, atau buku yang menyasar pasar nasional sangat baik diterbitkan melalui penerbit profesional. Dengan demikian, distribusinya lebih luas dan kualitas produksinya terjaga. Sementara itu, buku-buku inspirasi, kumpulan artikel, kisah perjalanan hidup, atau materi pelatihan dapat diterbitkan secara mandiri agar prosesnya lebih cepat dan keuntungan yang diperoleh penulis lebih besar.
Saya percaya bahwa seorang penulis tidak boleh bergantung hanya pada satu jalan. Dunia penerbitan terus berubah. Teknologi berkembang sangat cepat. Kini seseorang bahkan dapat memasarkan bukunya melalui media sosial, marketplace, webinar, dan komunitas tanpa harus memiliki toko buku sendiri.
Di era kecerdasan buatan seperti sekarang, peluang seorang penulis justru semakin terbuka lebar. AI dapat membantu menyusun kerangka tulisan, memperbaiki tata bahasa, bahkan memberikan ide-ide baru. Namun, AI tidak akan pernah mampu menggantikan pengalaman hidup, ketulusan, dan nilai-nilai yang lahir dari hati seorang penulis.
Saya bermimpi suatu hari nanti semakin banyak guru di Indonesia tidak hanya menjadi pembaca, tetapi juga menjadi penulis yang produktif. Bahkan saya membayangkan lahir sebuah penerbit yang benar-benar dikelola oleh guru untuk guru. Di sana, karya-karya para pendidik dapat diterbitkan dengan biaya terjangkau, kualitas baik, dan distribusi yang luas. Dengan demikian, ilmu yang selama ini hanya tersimpan di ruang kelas dapat menjangkau masyarakat yang lebih luas melalui buku.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa pertanyaan "lebih enak menerbitkan sendiri atau melalui penerbit?" bukanlah pertanyaan yang paling penting. Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah, "Apakah kita sudah mulai menulis?"
Sebab, buku yang paling hebat sekalipun tidak akan pernah lahir jika naskahnya tidak pernah selesai ditulis. Sebaliknya, naskah sederhana yang diselesaikan dengan penuh kesungguhan dapat mengubah kehidupan banyak orang.
Itulah sebabnya saya selalu mengajak siapa pun yang ingin menjadi penulis untuk tidak menunda. Mulailah menulis hari ini. Terbitkan karya Anda melalui jalur yang paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan. Jangan takut mencoba. Jangan takut belajar. Jangan takut gagal. Karena setiap penulis besar selalu memulai dari halaman pertama yang sederhana.
Saya yakin, selama kita terus menulis dengan hati, berbagi dengan ikhlas, dan belajar tanpa henti, setiap buku yang lahir akan menjadi jejak digital yang bermanfaat bagi generasi mendatang. Dan ketika suatu hari nama kita mungkin telah dilupakan, tulisan-tulisan itulah yang akan terus hidup, menginspirasi, dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.