Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Selasa, 30 Juni 2026

Arisan Adalah Modal Sosial

Arisan adalah modal sosial

Resensi Buku

Arisan Adalah Modal Sosial: Ketika Kebersamaan Menjadi Kekuatan Masyarakat

Di tengah kehidupan modern yang semakin individualistis, masih adakah ruang bagi nilai gotong royong, persaudaraan, dan kepedulian antarsesama? Buku "Dinamika Arisan sebagai Manifestasi Modal Sosial dan Sistem Pendukung Mutualistik Masyarakat Perantau di Kota Kupang" karya Karolus Ngambut memberikan jawaban yang sangat meyakinkan. Buku ini mengajak pembaca melihat arisan bukan sekadar kegiatan mengumpulkan uang secara bergiliran, melainkan sebuah kekuatan sosial yang mampu menjaga persatuan, mempererat persaudaraan, sekaligus menjadi penyangga kehidupan masyarakat perantau.

Sebagai seorang pendidik sekaligus penulis, saya merasa buku ini menawarkan sudut pandang yang segar. Selama ini banyak orang memandang arisan hanya sebagai aktivitas rutin bulanan yang identik dengan ibu-ibu atau kelompok masyarakat tertentu. Namun, melalui kajian yang mendalam, Karolus Ngambut berhasil membuktikan bahwa arisan merupakan salah satu bentuk modal sosial (social capital) yang memiliki dampak luar biasa bagi kehidupan masyarakat.

Buku ini mengambil lokasi penelitian pada masyarakat perantau asal Manggarai Raya yang menetap di Kota Kupang. Penulis menunjukkan bagaimana arisan telah berkembang menjadi institusi sosial yang tidak hanya berfungsi membantu kebutuhan ekonomi, tetapi juga menjadi wadah memperkuat identitas budaya, membangun jaringan sosial, menyelesaikan persoalan bersama, hingga memperkokoh kehidupan beragama. Hal ini menjadikan buku ini berbeda dari tulisan-tulisan lain yang hanya membahas arisan dari sisi ekonomi semata.

Salah satu kekuatan terbesar buku ini adalah landasan teorinya yang kokoh. Karolus Ngambut mengaitkan fenomena arisan dengan pemikiran para ilmuwan dunia seperti Louis Wirth, Anthony Giddens, Emile Durkheim, Robert Putnam, Ray Oldenburg, Max Weber, hingga Paul Godfrey. Teori-teori tersebut dijelaskan secara kontekstual sehingga pembaca dapat memahami bahwa praktik sederhana seperti arisan ternyata memiliki makna akademis yang sangat luas.

Yang membuat saya semakin tertarik adalah cara penulis memadukan teori dengan realitas kehidupan masyarakat. Pembaca tidak hanya diajak memahami konsep, tetapi juga melihat bagaimana masyarakat perantau saling membantu ketika ada anggota yang mengalami musibah, mengadakan pesta adat, membutuhkan biaya pendidikan anak, ataupun menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari. Semua itu berlangsung melalui mekanisme arisan yang telah dipercaya selama bertahun-tahun.

Buku ini juga menjelaskan berbagai jenis arisan yang berkembang di Kota Kupang. Ada arisan berbasis hubungan keluarga, arisan berdasarkan daerah asal, arisan lingkungan tempat tinggal, hingga arisan yang dibentuk untuk tujuan tertentu seperti pendidikan atau pembangunan rumah. Penjelasan ini membuka wawasan bahwa arisan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat tanpa kehilangan nilai kebersamaannya.

Yang paling menarik menurut saya adalah pembahasan mengenai arisan sebagai support system bagi masyarakat perantau. Ketika seseorang jauh dari keluarga, teman-teman dalam kelompok arisan hadir menggantikan peran keluarga besar. Mereka saling menguatkan, saling membantu, bahkan menjadi tempat berbagi suka dan duka. Nilai kemanusiaan seperti inilah yang semakin langka di era digital sekarang.

Penulis juga mengangkat konsep Third Space atau ruang ketiga, yaitu ruang di luar rumah dan tempat kerja yang menjadi tempat masyarakat membangun komunikasi secara santai dan setara. Dalam konteks ini, arisan menjadi media mempererat hubungan sosial, bertukar informasi, berdiskusi mengenai persoalan masyarakat, bahkan menjaga keharmonisan lingkungan. Pembahasan ini membuat pembaca menyadari bahwa arisan memiliki fungsi sosial yang jauh lebih luas daripada yang selama ini dipahami.

Keunggulan lain buku ini adalah adanya refleksi nilai-nilai keagamaan. Penulis menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi dapat berjalan berdampingan dengan nilai spiritual. Arisan tidak hanya menghasilkan manfaat materi, tetapi juga memperkuat kepedulian, rasa syukur, solidaritas, dan pengabdian kepada sesama. Inilah yang membuat buku ini tidak terasa kering seperti karya ilmiah pada umumnya.

Dari sisi bahasa, buku ini cukup mudah dipahami. Walaupun menggunakan teori-teori sosiologi modern, penulis berusaha menyajikannya secara sistematis sehingga pembaca dari berbagai latar belakang tetap dapat mengikuti alur pembahasannya. Mahasiswa, dosen, guru, peneliti, aktivis sosial, tokoh masyarakat, hingga pengurus organisasi kemasyarakatan akan memperoleh banyak inspirasi dari buku ini.

Saya juga mengapresiasi bagian rekomendasi yang diberikan penulis. Ia tidak berhenti pada analisis, tetapi menawarkan solusi konkret agar pemerintah daerah, tokoh masyarakat, dan komunitas perantau dapat memanfaatkan arisan sebagai mitra pembangunan sosial. Gagasan tersebut sangat relevan dengan kondisi Indonesia yang memiliki budaya gotong royong sebagai kekayaan bangsa.

Bagi saya, buku ini layak dijadikan referensi dalam bidang sosiologi, pembangunan masyarakat, pemberdayaan komunitas, pendidikan karakter, maupun penguatan modal sosial. Bahkan organisasi kemasyarakatan, koperasi, maupun pemerintah daerah dapat menjadikannya sebagai bahan diskusi dalam merancang program pemberdayaan masyarakat.

Tidak berlebihan jika saya mengatakan bahwa karya Karolus Ngambut berhasil mengangkat praktik sederhana menjadi sebuah kajian ilmiah yang bernilai tinggi. Buku ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sebuah masyarakat tidak hanya ditentukan oleh uang atau teknologi, tetapi juga oleh kekuatan kepercayaan, solidaritas, dan kepedulian antarmanusia.

Saya percaya buku ini akan membuka cara pandang baru bagi siapa pun yang membacanya. Setelah menutup halaman terakhir, pembaca tidak lagi memandang arisan sebagai sekadar kegiatan rutin, tetapi sebagai warisan budaya yang mampu memperkuat persaudaraan, menjaga ketahanan sosial, dan membangun masa depan masyarakat yang lebih harmonis.

Kesimpulannya, buku "Dinamika Arisan sebagai Manifestasi Modal Sosial dan Sistem Pendukung Mutualistik Masyarakat Perantau di Kota Kupang" merupakan bacaan yang sangat layak dimiliki. Isinya kaya teori, kuat dalam data, dekat dengan realitas kehidupan, sekaligus memberikan inspirasi bagi pembangunan masyarakat Indonesia. Saya merekomendasikan buku ini kepada mahasiswa, dosen, guru, peneliti, pegiat sosial, aparat pemerintah, dan siapa saja yang ingin memahami betapa berharganya modal sosial dalam kehidupan bermasyarakat.

Selamat kepada Karolus Ngambut atas karya ilmiah yang luar biasa ini. Semoga buku ini dibaca oleh semakin banyak orang, menjadi referensi penting di berbagai perguruan tinggi, serta menginspirasi lahirnya penelitian dan gerakan sosial yang memperkuat semangat gotong royong di Indonesia.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.