Kisah Omjay: Empat Puluh Tahun Mengabdi, Gaji Terakhir Rp414 Ribu
Pagi itu, ketika Omjay membuka media sosial, sebuah video singkat menghentikan jemari yang sedang menggulir layar ponsel. Seorang guru yang akrab disapa Bu Ijah menyampaikan kisahnya dengan suara yang tenang. Setelah 40 tahun mengabdi sebagai guru, beliau memutuskan berhenti mengajar. Gaji terakhir yang diterimanya hanyalah Rp414.000. Kisah itu menyentuh hati jutaan orang dan mengundang pertanyaan besar, mengapa hal seperti ini masih bisa terjadi di negeri yang begitu menghargai pendidikan?
Sebagai seorang guru yang telah puluhan tahun berada di dunia pendidikan, Omjay merasakan sesak di dada. Bukan karena angka Rp414.000 semata, melainkan karena angka itu menjadi simbol dari perjalanan panjang seorang pendidik yang mungkin telah melahirkan ribuan murid sukses, tetapi belum memperoleh kesejahteraan yang layak.
Guru sesungguhnya bukan sekadar profesi. Guru adalah panggilan jiwa. Setiap hari mereka datang lebih awal ke sekolah, menyiapkan bahan ajar, mendampingi siswa yang kesulitan belajar, menghibur anak yang sedang bersedih, bahkan sering kali mengeluarkan uang pribadi demi membantu kegiatan pembelajaran. Semua dilakukan bukan karena mengejar kekayaan, melainkan karena cinta kepada dunia pendidikan.
Namun, cinta saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Guru juga harus makan, membayar listrik, membeli obat ketika sakit, membiayai pendidikan anak, dan mempersiapkan hari tua. Ketika seorang guru yang telah mengabdi selama empat dekade masih menerima gaji yang sangat kecil, tentu ada persoalan yang harus menjadi perhatian bersama.
Mengapa hal ini bisa terjadi? Salah satu penyebabnya adalah masih adanya guru yang berstatus non-ASN atau guru honorer yang sistem penggajiannya bergantung pada kemampuan lembaga atau yayasan tempat mereka mengajar. Tidak semua sekolah memiliki kemampuan finansial yang sama. Ada sekolah yang mampu memberikan penghasilan layak, tetapi ada pula yang bertahan dengan dana yang sangat terbatas sehingga gaji guru ikut terbatas.
Selain itu, perubahan kebijakan pengangkatan guru selama bertahun-tahun juga menyebabkan sebagian guru tetap berada dalam status yang belum memberikan kepastian kesejahteraan. Mereka terus mengajar dengan penuh dedikasi sambil berharap suatu hari memperoleh kesempatan mendapatkan penghasilan yang lebih baik.
Omjay percaya, masyarakat sering melihat guru hanya ketika berada di depan kelas. Padahal pekerjaan guru jauh lebih banyak daripada jam mengajar. Guru menyusun administrasi pembelajaran, menilai hasil belajar, mengikuti pelatihan, menghadiri rapat, membimbing siswa di luar jam sekolah, bahkan tetap menjawab pertanyaan murid melalui telepon genggam pada malam hari. Semua dilakukan dengan penuh tanggung jawab.
Ironisnya, banyak lulusan yang berhasil menjadi dokter, insinyur, pengusaha, dosen, pejabat, hingga pemimpin bangsa berawal dari tangan seorang guru. Tanpa guru, mustahil lahir generasi penerus yang berkualitas. Karena itu, kesejahteraan guru bukan sekadar urusan individu, melainkan investasi bagi masa depan bangsa.
Omjay teringat sebuah pepatah, "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati gurunya." Menghormati guru tentu bukan hanya dengan ucapan saat Hari Guru Nasional atau memberikan bunga pada acara perpisahan. Penghormatan sejati diwujudkan melalui perlindungan, kepastian karier, dan kesejahteraan yang layak.
Kisah Bu Ijah hendaknya tidak hanya menjadi tontonan yang viral selama beberapa hari. Kisah ini seharusnya menjadi bahan renungan bagi seluruh pemangku kepentingan agar tidak ada lagi guru yang mengakhiri masa pengabdiannya dengan rasa sedih karena kesejahteraannya belum terpenuhi.
Meski demikian, Omjay juga melihat sisi yang sangat mengharukan. Selama empat puluh tahun, Bu Ijah tetap memilih mengajar. Itu berarti beliau telah mendidik ribuan anak bangsa dengan hati yang tulus. Nilai pengabdiannya jauh lebih besar daripada nominal yang diterimanya setiap bulan. Jejak ilmu yang ditinggalkannya akan terus hidup dalam diri murid-muridnya.
Omjay berharap pemerintah, masyarakat, sekolah, organisasi profesi guru, dan dunia usaha dapat bergandengan tangan memperjuangkan kesejahteraan guru. Pendidikan yang berkualitas lahir dari guru yang bekerja dengan tenang, sehat, dan memiliki kehidupan yang layak.
Di akhir tulisan ini, Omjay ingin menyampaikan rasa hormat kepada seluruh guru Indonesia. Terutama kepada mereka yang tetap mengajar dengan penuh semangat meskipun menghadapi berbagai keterbatasan. Semoga kisah Bu Ijah menjadi pengingat bahwa pengabdian seorang guru tidak boleh diukur hanya dengan angka di slip gaji, tetapi juga menjadi panggilan bagi kita semua untuk memastikan tidak ada lagi guru yang harus mengakhiri pengabdiannya dengan kesejahteraan yang jauh dari harapan.
Sebab, ketika guru dimuliakan, pendidikan akan semakin berkualitas. Ketika pendidikan berkualitas, bangsa akan semakin kuat. Dan ketika bangsa menjadi kuat, jasa para guru akan dikenang sepanjang masa. Semoga kisah ini bukan sekadar menjadi viral, melainkan menjadi awal lahirnya perubahan nyata bagi kesejahteraan seluruh guru Indonesia.
Salam blogger persahabatan
Blog https://wijayalabs.com
Wijaya Kusumah - omjay
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.