Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Senin, 08 Juni 2026

Menjadi Guru yang Dirindukan

Menjadi Guru yang Dirindukan

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay), Guru Blogger Indonesia

Menjadi guru yang pintar mengajar itu penting. Menjadi guru yang menguasai teknologi juga sangat penting. Namun, ada satu hal yang jauh lebih berharga daripada semua itu, yaitu menjadi guru yang dirindukan oleh murid-muridnya.

Ketika seorang guru pindah tugas, pensiun, atau bahkan telah tiada, lalu murid-muridnya masih mengenang namanya dengan penuh hormat dan kasih sayang, itulah keberhasilan yang sesungguhnya. Guru seperti itu tidak hanya mengajar pelajaran, tetapi juga menyentuh hati dan mengubah kehidupan muridnya. Banyak pakar pendidikan menegaskan bahwa guru yang dirindukan bukan hanya pandai mengajar, tetapi mampu membangun hubungan yang hangat, menjadi teladan, dan menghadirkan pembelajaran yang bermakna. 

Sebagai guru yang telah mengajar lebih dari tiga dekade di SMP Labschool Jakarta, Omjay sering merenungkan pertanyaan sederhana:

"Apakah murid-murid saya senang ketika bertemu saya?"

Karena sesungguhnya, ukuran keberhasilan seorang guru bukan hanya nilai rapor yang tinggi, melainkan bagaimana kehadiran guru mampu memberikan energi positif bagi peserta didik.

Ketika Murid Menyapa dengan Tulus

Suatu hari Omjay sedang berjalan di sebuah pusat perbelanjaan di Bekasi. Tiba-tiba ada seorang pria dewasa menghampiri sambil tersenyum lebar.

"Pak Wijaya masih ingat saya?"

Omjay memperhatikan wajahnya. Jujur saja, Omjay tidak langsung mengenalinya. Maklum, ribuan siswa telah diajar selama puluhan tahun.

Pria itu kemudian berkata,

"Saya murid Bapak tahun 1998."

Mendengar itu, Omjay langsung tersenyum.

Yang membuat hati terharu bukan karena murid itu masih mengingat nama gurunya. Yang lebih mengharukan adalah kalimat berikutnya.

"Pak, saya sekarang menjadi dosen. Saya sering memakai cara mengajar Bapak dulu."

Saat itulah Omjay menyadari bahwa seorang guru tidak pernah tahu sejauh mana pengaruhnya terhadap kehidupan murid.

Mungkin kita lupa kepada mereka, tetapi mereka tidak pernah lupa kepada guru yang pernah menyentuh hatinya.

Mengajar dengan Hati

Guru yang dirindukan bukanlah guru yang paling galak ataupun yang paling lucu. Guru yang dirindukan adalah guru yang mengajar dengan hati.

Anak-anak bisa merasakan ketulusan.

Mereka tahu mana guru yang hanya datang untuk menyelesaikan jam mengajar dan mana guru yang benar-benar peduli kepada mereka.

Mengajar dengan hati berarti:

Mendengarkan murid ketika mereka bercerita.

Memberikan semangat ketika mereka gagal.

Menghargai usaha mereka sekecil apa pun.

Tidak mempermalukan mereka di depan teman-temannya.

Kasih sayang dan perhatian yang tulus merupakan fondasi utama hubungan guru dan murid yang sehat. Murid cenderung lebih menghormati dan menyukai guru yang menunjukkan empati dan kepedulian kepada mereka. 

Omjay masih ingat ketika ada seorang siswa yang nilainya selalu rendah dalam pelajaran Informatika. Alih-alih memarahinya, Omjay justru mengajaknya berbicara setelah jam pelajaran selesai.

Ternyata anak itu sedang menghadapi masalah keluarga.

Sejak saat itu Omjay lebih banyak memberikan motivasi daripada hukuman.

Beberapa tahun kemudian, siswa tersebut berhasil menjadi sarjana teknik.

Kadang-kadang yang dibutuhkan murid bukanlah ceramah panjang, tetapi telinga yang mau mendengarkan.

Menjadi Sahabat tanpa Kehilangan Wibawa

Zaman sudah berubah.

Anak-anak Generasi Z dan Generasi Alpha memiliki karakter yang berbeda dengan generasi sebelumnya.

Mereka tidak suka diperintah tanpa alasan.

Mereka ingin didengar.

Mereka ingin dihargai.

Karena itu guru perlu menjadi sahabat bagi muridnya tanpa kehilangan kewibawaan sebagai pendidik. Hubungan yang hangat dan penuh kepercayaan membuat murid merasa nyaman untuk belajar dan berkembang. 

Omjay sering bercanda dengan siswa di kelas.

Kadang-kadang Omjay menyisipkan cerita lucu tentang pengalaman mengajar atau pengalaman menulis di blog.

Suasana kelas menjadi cair.

Murid tidak takut bertanya.

Murid tidak malu mengemukakan pendapat.

Namun ketika pembelajaran dimulai, mereka tetap memahami bahwa guru harus dihormati.

Menjadi sahabat bukan berarti kehilangan batas.

Justru melalui kedekatan yang sehat, proses pendidikan menjadi lebih efektif.

Menjadi Teladan

Murid lebih banyak meniru daripada mendengar.

Mereka memperhatikan setiap tindakan guru.

Mereka melihat bagaimana guru berbicara, berpakaian, bersikap, dan memperlakukan orang lain.

Karena itu guru yang dirindukan selalu berusaha menjadi teladan.

Tidak perlu sempurna.

Cukup menjadi contoh yang baik.

Jika guru meminta murid rajin membaca, maka guru juga harus rajin membaca.

Jika guru meminta murid disiplin, maka guru harus datang tepat waktu.

Jika guru meminta murid jujur, maka guru harus menunjukkan kejujuran dalam tindakan sehari-hari.

Keteladanan merupakan salah satu faktor utama yang membuat guru dikenang dan dihormati sepanjang hayat oleh murid-muridnya. 

Membuat Belajar Menjadi Menyenangkan

Tidak ada murid yang rindu kepada suasana kelas yang menegangkan.

Sebaliknya, mereka selalu merindukan guru yang membuat belajar terasa menyenangkan.

Omjay percaya bahwa teknologi hanyalah alat.

Yang terpenting adalah bagaimana guru menghidupkan kelas.

Kadang Omjay menggunakan video.

Kadang menggunakan kuis interaktif.

Kadang meminta siswa membuat proyek sederhana.

Yang penting murid merasa terlibat.

Mereka bukan hanya mendengar, tetapi juga mengalami proses belajar.

Guru yang kreatif dan mampu menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan generasi saat ini cenderung lebih mudah mendapatkan perhatian dan kecintaan murid. 

Ketika Pensiun Tiba

Sebentar lagi masa pensiun akan datang menghampiri Omjay.

Usia terus bertambah.

Rambut semakin memutih.

Tenaga tidak lagi sekuat dulu.

Namun ada satu harapan sederhana yang selalu Omjay simpan dalam hati.

Semoga ketika nanti Omjay tidak lagi berdiri di depan kelas, masih ada murid-murid yang mengenang dengan senyum.

Bukan karena Omjay guru yang hebat.

Tetapi karena Omjay pernah berusaha hadir dalam hidup mereka dengan tulus.

Karena pada akhirnya, guru yang dirindukan bukanlah guru yang paling banyak memberi tugas.

Bukan pula guru yang paling tinggi gelarnya.

Melainkan guru yang membuat murid merasa dihargai, dicintai, dan percaya bahwa mereka mampu meraih masa depan yang lebih baik.

Mari kita menjadi guru yang kehadirannya dinantikan murid, yang kepergiannya dirindukan murid, dan yang namanya tetap dikenang ketika kita sudah tidak lagi berada di depan kelas.

Sebab sejatinya, warisan terbesar seorang guru bukanlah buku yang ditulisnya atau jabatan yang pernah diembannya, melainkan hati murid yang pernah disentuhnya dengan kasih sayang dan keteladanan. ❤️

"Jadilah guru yang dicintai ketika hadir, dirindukan ketika tidak ada, dan dikenang ketika telah tiada." 

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia 
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.