Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 21 Juni 2026

Ketika Penulis Hebat Menulis Tentang Omjay

Ketika Penulis Hebat Menuliskan Kisah Saya

Oleh: Omjay (Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd.)

Pagi itu saya tersenyum membaca sebuah tulisan dari Bang Rosadi Jamani. Rosadi Jamani 

Saya mengenalnya sebagai penulis yang produktif, cerdas, kritis, dan memiliki gaya khas yang mampu membuat pembaca tersenyum sekaligus berpikir. Tulisan beliau mengalir ringan, penuh humor, namun sarat makna. Saya termasuk salah satu pembacanya yang setia.

Jujur saja, ketika membaca artikel berjudul "Penulis Hebat Minta Kisahnya Ditulis dengan Gaya Koptagul", hati saya terasa hangat. Bukan karena nama saya disebut berkali-kali, tetapi karena saya melihat ketulusan seorang sahabat literasi yang mampu memandang segala sesuatu dengan sudut pandang yang indah.

Saya merasa apa yang ditulis Bang Ros terlalu berlebihan. Saya hanyalah seorang guru biasa yang kebetulan senang menulis. Saya bukan penulis hebat seperti yang beliau gambarkan. 

Saya masih terus belajar merangkai kata, belajar memahami kehidupan, dan belajar menyampaikan pengalaman agar bermanfaat bagi orang lain.

Kalau ada yang bertanya apa rahasia saya bisa menulis setiap hari, jawabannya sebenarnya sangat sederhana. Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi penulis besar. Saya hanya berusaha mencatat apa yang saya lihat, apa yang saya alami, dan apa yang saya rasakan. Dari situlah tulisan-tulisan saya lahir.

Banyak orang mengira menulis harus menunggu inspirasi datang. Padahal inspirasi itu sering kali sudah ada di sekitar kita. Perjalanan naik LRT, obrolan dengan murid, pertemuan dengan sahabat, pengalaman sakit di rumah sakit, hingga secangkir kopi di pagi hari bisa menjadi bahan tulisan yang berharga. 

Menulis bagi saya bukan pekerjaan yang luar biasa. Menulis adalah cara saya bersyukur kepada Allah SWT atas kesempatan hidup yang masih diberikan hingga hari ini.

Karena itulah saya merasa Bang Ros juga pantas disebut sebagai penulis hebat. Bayangkan saja, dalam satu bulan mampu menulis 110 artikel. Angka itu bukan hasil keberuntungan. Itu adalah hasil disiplin, kerja keras, dan kecintaan terhadap dunia literasi.

Ketika saya bertanya bagaimana beliau bisa menulis sebanyak itu, sesungguhnya saya sedang belajar. Saya ingin mengetahui bagaimana seorang penulis mampu menjaga api semangatnya tetap menyala setiap hari. 

Sebab dalam dunia menulis, kita semua adalah murid. Tidak peduli berapa banyak buku yang sudah diterbitkan atau berapa banyak artikel yang sudah ditulis, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari dari orang lain.

Tulisan Bang Ros juga mengingatkan saya tentang satu hal penting. Bahwa menulis bukanlah perlombaan siapa yang paling cepat atau siapa yang paling banyak. Menulis adalah perjalanan panjang untuk meninggalkan jejak kebaikan.

Empat buku yang saya luncurkan beberapa waktu lalu sesungguhnya bukanlah sebuah pencapaian pribadi. Buku-buku itu lahir karena banyak orang baik yang hadir dalam perjalanan hidup saya. 

Ada keluarga yang selalu mendukung, ada murid-murid yang menginspirasi, ada sahabat-sahabat guru yang terus memberi semangat, dan ada para pembaca yang setia menemani tulisan saya selama bertahun-tahun.

Buku Labschool Rumah Keduaku adalah ungkapan rasa syukur atas kesempatan mengabdi lebih dari tiga dekade di sekolah yang saya cintai. Buku Menulislah dengan Hati lahir dari keyakinan bahwa teknologi boleh berkembang sangat cepat, tetapi hati manusia tetap menjadi sumber inspirasi yang tidak tergantikan. 

Buku Kasta Tertinggi Seorang Guru merupakan refleksi bahwa keberhasilan seorang guru tidak diukur dari jabatan, melainkan dari keberhasilan murid-muridnya. Sedangkan buku Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi adalah catatan sederhana tentang kekuatan konsistensi.

Saya sepakat dengan Bang Ros bahwa kita hidup di zaman serba instan. Segala sesuatu ingin cepat. Semua ingin hasil besar dengan usaha kecil. Padahal banyak hal baik dalam hidup justru tumbuh perlahan. Pohon besar tidak tumbuh dalam semalam. Ilmu tidak datang dalam sehari. Begitu pula karya.

Karena itu saya selalu mengajak para guru, mahasiswa, pelajar, dan siapa saja untuk mulai menulis dari sekarang. Tidak perlu menunggu sempurna. Tidak perlu menunggu menjadi ahli. Tulis saja apa yang diketahui. Tulis apa yang dirasakan. Tulis pengalaman sehari-hari. Lama-kelamaan tulisan itu akan menjadi saksi perjalanan hidup kita.

Kepada Bang Rosadi Jamani, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Tulisan beliau bukan hanya membuat saya tersenyum, tetapi juga mengingatkan bahwa persahabatan dalam dunia literasi adalah anugerah yang sangat berharga.

Saya yakin, apa yang kita tulis hari ini mungkin akan terlupakan besok. Namun semangat untuk terus berbagi ilmu dan inspirasi akan selalu menemukan jalannya kepada orang-orang yang membutuhkan.

Insya Allah, suatu hari nanti kita akan duduk bersama menikmati secangkir Koptagul sambil berbincang tentang tulisan, pendidikan, dan mimpi-mimpi yang belum selesai diperjuangkan. Bukan untuk saling memuji, tetapi untuk saling belajar.

Sebab pada akhirnya, sehebat apa pun seorang penulis, ia tetap seorang pembelajar.

Dan selama masih mau belajar, selama masih mau berbagi, selama masih mau menulis, maka harapan akan selalu hidup.

Salam literasi.
Omjay Guru Blogger Indonesia

"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.