Menjaga Hati dari Kesombongan yang Tersembunyi
### Kisah Omjay tentang Kerendahan Hati yang Mengangkat Derajat Manusia
**Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia**
Pagi itu udara terasa sejuk. Kereta LRT Jabodebek yang membawa Omjay menuju tempat kerja melaju perlahan meninggalkan stasiun. Dari balik jendela kereta, Omjay memandangi gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh. Di tengah perjalanan itu, sebuah pesan inspirasi pagi masuk ke grup WhatsApp.
Pesan tersebut berbicara tentang kesombongan yang tersembunyi.
Omjay membacanya perlahan. Setiap kalimat terasa mengetuk hati.
*"Kesombongan tidak selalu tampak dalam bentuk meremehkan orang lain secara terang-terangan. Ada kesombongan yang lebih halus, lebih tersembunyi, dan justru lebih berbahaya karena sulit disadari."*
Omjay terdiam.
Benar juga.
Selama ini banyak orang mengira sombong itu hanya ketika seseorang memamerkan kekayaannya, merendahkan orang lain, atau berbicara dengan angkuh.
Padahal kesombongan memiliki wajah yang jauh lebih halus.
Ia bisa menyelinap ke dalam hati orang-orang yang rajin beribadah.
Ia bisa masuk ke dalam diri orang-orang yang berilmu.
Ia bahkan bisa bersembunyi dalam diri para aktivis, guru, pemimpin, dan orang-orang yang dianggap baik.
Kesombongan yang tersembunyi sering kali datang dalam bentuk perasaan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain.
Merasa lebih pintar.
Merasa lebih saleh.
Merasa lebih berjasa.
Merasa lebih banyak berkorban.
Dan yang paling berbahaya, merasa bahwa keberhasilan itu murni hasil usaha diri sendiri.
### Belajar dari Pengalaman Hidup
Omjay teringat perjalanan hidupnya sendiri.
Dulu, ketika baru menjadi guru muda di SMP Labschool Jakarta, Omjay sering merasa bangga ketika berhasil mengajar dengan baik.
Bangga ketika murid-murid menyukai pelajaran Informatika.
Bangga ketika mendapatkan penghargaan.
Bangga ketika tulisan-tulisan mulai dimuat di berbagai media.
Bangga ketika banyak orang mengenal Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia.
Namun seiring bertambahnya usia, Omjay mulai menyadari satu hal penting.
Semua itu bukan semata-mata karena kemampuan pribadi.
Ada begitu banyak tangan Allah yang bekerja di balik setiap keberhasilan.
Allah yang memberikan kesehatan.
Allah yang mempertemukan dengan guru-guru hebat.
Allah yang menghadirkan kesempatan.
Allah yang memberikan ide.
Allah yang menggerakkan hati orang lain untuk membantu.
Tanpa semua itu, Omjay hanyalah manusia biasa yang penuh keterbatasan.
Kesadaran inilah yang perlahan mengikis kesombongan yang mungkin pernah tumbuh tanpa disadari.
### Ketika Allah Mengingatkan Lewat Ujian
Beberapa waktu lalu Omjay mengalami ujian kesehatan yang cukup berat.
Vertigo.
Hipertensi.
Diabetes.
Bahkan sempat mengalami kondisi yang menyerupai serangan stroke.
Saat itu Omjay yang biasanya mengendarai mobil sendiri harus berhenti menyetir.
Dokter melarang Omjay mengemudi.
Awalnya hati merasa sedih.
Bagaimana mungkin seseorang yang terbiasa mandiri harus bergantung pada transportasi umum?
Namun ternyata Allah sedang mengajarkan pelajaran berharga.
Hari demi hari Omjay mulai menikmati perjalanan menggunakan LRT dan kereta.
Biayanya lebih murah.
Tubuh lebih rileks.
Waktu perjalanan bisa digunakan untuk menulis.
Dari situ Omjay belajar bahwa manusia tidak boleh terlalu bangga dengan apa yang dimilikinya.
Hari ini kita sehat.
Besok bisa sakit.
Hari ini kita kuat.
Besok bisa lemah.
Hari ini kita dipuji.
Besok bisa dilupakan.
Semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Kesadaran ini membuat hati menjadi lebih lembut.
### Semakin Tinggi, Semakin Menunduk
Omjay teringat pepatah yang sangat terkenal.
*"Semakin tinggi pohon, semakin ia menunduk."*
Pepatah itu ternyata bukan sekadar kata-kata indah.
Pohon mangga yang berbuah lebat justru cabangnya merunduk ke bawah.
Sebaliknya, pohon yang tidak berbuah sering kali menjulang tinggi tanpa manfaat.
Begitu pula manusia.
Orang yang benar-benar berilmu biasanya lebih rendah hati.
Mereka tidak sibuk menunjukkan kehebatan diri.
Mereka lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Mereka lebih banyak memberi daripada meminta.
Mereka lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri.
Sebaliknya, orang yang sedikit ilmu tetapi banyak kesombongan sering kali merasa paling benar.
Merasa paling pintar.
Merasa paling berjasa.
Padahal belum tentu demikian.
### Syukur Adalah Obat Kesombongan
Menurut Omjay, salah satu cara terbaik menjaga hati dari kesombongan adalah memperbanyak syukur.
Ketika mendapatkan keberhasilan, ucapkan:
*"Alhamdulillah."*
Ketika mendapatkan penghargaan, ucapkan:
*"Ini karunia Allah."*
Ketika tulisan dibaca banyak orang, katakan:
*"Semoga tulisan ini bermanfaat."*
Ketika mendapat jabatan, ingat bahwa jabatan adalah amanah.
Ketika memperoleh ilmu, ingat bahwa ilmu adalah titipan.
Syukur membuat hati tetap membumi.
Syukur mengingatkan bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Orang yang bersyukur tidak akan mudah sombong karena ia sadar dirinya hanyalah penerima karunia.
### Menjadi Manusia yang Terus Belajar
Hingga hari ini Omjay masih terus belajar.
Belajar menulis.
Belajar mengajar.
Belajar mendengarkan.
Belajar menerima kritik.
Belajar menerima kenyataan bahwa masih banyak kekurangan dalam diri.
Semakin banyak belajar, semakin Omjay menyadari betapa luasnya ilmu Allah.
Apa yang kita ketahui ternyata hanya setetes air dibandingkan samudra ilmu-Nya.
Karena itulah tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Yang pantas kita banggakan hanyalah rahmat Allah yang masih memberi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
### Refleksi Pagi untuk Kita Semua
Sahabat pembaca, marilah kita menjaga hati dari kesombongan yang tersembunyi.
Jangan terlalu sibuk menghitung amal kita.
Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jangan terlalu cepat merasa hebat.
Karena bisa jadi orang yang kita anggap biasa justru lebih mulia di sisi Allah.
Mari isi hari-hari kita dengan syukur.
Perbanyak istighfar.
Perbanyak introspeksi diri.
Perbanyak berbuat baik tanpa merasa diri paling baik.
Sebab pada akhirnya yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya pujian manusia, melainkan rahmat Allah SWT.
Ketika hati mulai merasa hebat, segera ingatlah bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Dan ketika hati mulai merasa rendah, ingatlah bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya yang rendah hati.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemampuan untuk menjaga hati, menundukkan ego, memperbanyak syukur, dan terus berjalan di jalan kebaikan hingga akhir hayat.
**Tetap semangat, tetap rendah hati, dan teruslah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.**
**Barakallah fiikum.**
Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com
### Kisah Omjay tentang Kerendahan Hati yang Mengangkat Derajat Manusia
**Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia**
Pagi itu udara terasa sejuk. Kereta LRT Jabodebek yang membawa Omjay menuju tempat kerja melaju perlahan meninggalkan stasiun. Dari balik jendela kereta, Omjay memandangi gedung-gedung tinggi yang berdiri kokoh. Di tengah perjalanan itu, sebuah pesan inspirasi pagi masuk ke grup WhatsApp.
Pesan tersebut berbicara tentang kesombongan yang tersembunyi.
Omjay membacanya perlahan. Setiap kalimat terasa mengetuk hati.
*"Kesombongan tidak selalu tampak dalam bentuk meremehkan orang lain secara terang-terangan. Ada kesombongan yang lebih halus, lebih tersembunyi, dan justru lebih berbahaya karena sulit disadari."*
Omjay terdiam.
Benar juga.
Selama ini banyak orang mengira sombong itu hanya ketika seseorang memamerkan kekayaannya, merendahkan orang lain, atau berbicara dengan angkuh.
Padahal kesombongan memiliki wajah yang jauh lebih halus.
Ia bisa menyelinap ke dalam hati orang-orang yang rajin beribadah.
Ia bisa masuk ke dalam diri orang-orang yang berilmu.
Ia bahkan bisa bersembunyi dalam diri para aktivis, guru, pemimpin, dan orang-orang yang dianggap baik.
Kesombongan yang tersembunyi sering kali datang dalam bentuk perasaan bahwa diri kita lebih baik daripada orang lain.
Merasa lebih pintar.
Merasa lebih saleh.
Merasa lebih berjasa.
Merasa lebih banyak berkorban.
Dan yang paling berbahaya, merasa bahwa keberhasilan itu murni hasil usaha diri sendiri.
### Belajar dari Pengalaman Hidup
Omjay teringat perjalanan hidupnya sendiri.
Dulu, ketika baru menjadi guru muda di SMP Labschool Jakarta, Omjay sering merasa bangga ketika berhasil mengajar dengan baik.
Bangga ketika murid-murid menyukai pelajaran Informatika.
Bangga ketika mendapatkan penghargaan.
Bangga ketika tulisan-tulisan mulai dimuat di berbagai media.
Bangga ketika banyak orang mengenal Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia.
Namun seiring bertambahnya usia, Omjay mulai menyadari satu hal penting.
Semua itu bukan semata-mata karena kemampuan pribadi.
Ada begitu banyak tangan Allah yang bekerja di balik setiap keberhasilan.
Allah yang memberikan kesehatan.
Allah yang mempertemukan dengan guru-guru hebat.
Allah yang menghadirkan kesempatan.
Allah yang memberikan ide.
Allah yang menggerakkan hati orang lain untuk membantu.
Tanpa semua itu, Omjay hanyalah manusia biasa yang penuh keterbatasan.
Kesadaran inilah yang perlahan mengikis kesombongan yang mungkin pernah tumbuh tanpa disadari.
### Ketika Allah Mengingatkan Lewat Ujian
Beberapa waktu lalu Omjay mengalami ujian kesehatan yang cukup berat.
Vertigo.
Hipertensi.
Diabetes.
Bahkan sempat mengalami kondisi yang menyerupai serangan stroke.
Saat itu Omjay yang biasanya mengendarai mobil sendiri harus berhenti menyetir.
Dokter melarang Omjay mengemudi.
Awalnya hati merasa sedih.
Bagaimana mungkin seseorang yang terbiasa mandiri harus bergantung pada transportasi umum?
Namun ternyata Allah sedang mengajarkan pelajaran berharga.
Hari demi hari Omjay mulai menikmati perjalanan menggunakan LRT dan kereta.
Biayanya lebih murah.
Tubuh lebih rileks.
Waktu perjalanan bisa digunakan untuk menulis.
Dari situ Omjay belajar bahwa manusia tidak boleh terlalu bangga dengan apa yang dimilikinya.
Hari ini kita sehat.
Besok bisa sakit.
Hari ini kita kuat.
Besok bisa lemah.
Hari ini kita dipuji.
Besok bisa dilupakan.
Semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Kesadaran ini membuat hati menjadi lebih lembut.
### Semakin Tinggi, Semakin Menunduk
Omjay teringat pepatah yang sangat terkenal.
*"Semakin tinggi pohon, semakin ia menunduk."*
Pepatah itu ternyata bukan sekadar kata-kata indah.
Pohon mangga yang berbuah lebat justru cabangnya merunduk ke bawah.
Sebaliknya, pohon yang tidak berbuah sering kali menjulang tinggi tanpa manfaat.
Begitu pula manusia.
Orang yang benar-benar berilmu biasanya lebih rendah hati.
Mereka tidak sibuk menunjukkan kehebatan diri.
Mereka lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Mereka lebih banyak memberi daripada meminta.
Mereka lebih banyak bersyukur daripada membanggakan diri.
Sebaliknya, orang yang sedikit ilmu tetapi banyak kesombongan sering kali merasa paling benar.
Merasa paling pintar.
Merasa paling berjasa.
Padahal belum tentu demikian.
### Syukur Adalah Obat Kesombongan
Menurut Omjay, salah satu cara terbaik menjaga hati dari kesombongan adalah memperbanyak syukur.
Ketika mendapatkan keberhasilan, ucapkan:
*"Alhamdulillah."*
Ketika mendapatkan penghargaan, ucapkan:
*"Ini karunia Allah."*
Ketika tulisan dibaca banyak orang, katakan:
*"Semoga tulisan ini bermanfaat."*
Ketika mendapat jabatan, ingat bahwa jabatan adalah amanah.
Ketika memperoleh ilmu, ingat bahwa ilmu adalah titipan.
Syukur membuat hati tetap membumi.
Syukur mengingatkan bahwa semua nikmat berasal dari Allah.
Orang yang bersyukur tidak akan mudah sombong karena ia sadar dirinya hanyalah penerima karunia.
### Menjadi Manusia yang Terus Belajar
Hingga hari ini Omjay masih terus belajar.
Belajar menulis.
Belajar mengajar.
Belajar mendengarkan.
Belajar menerima kritik.
Belajar menerima kenyataan bahwa masih banyak kekurangan dalam diri.
Semakin banyak belajar, semakin Omjay menyadari betapa luasnya ilmu Allah.
Apa yang kita ketahui ternyata hanya setetes air dibandingkan samudra ilmu-Nya.
Karena itulah tidak ada alasan untuk menyombongkan diri.
Yang pantas kita banggakan hanyalah rahmat Allah yang masih memberi kesempatan untuk terus belajar dan memperbaiki diri.
### Refleksi Pagi untuk Kita Semua
Sahabat pembaca, marilah kita menjaga hati dari kesombongan yang tersembunyi.
Jangan terlalu sibuk menghitung amal kita.
Jangan terlalu sibuk membandingkan diri dengan orang lain.
Jangan terlalu cepat merasa hebat.
Karena bisa jadi orang yang kita anggap biasa justru lebih mulia di sisi Allah.
Mari isi hari-hari kita dengan syukur.
Perbanyak istighfar.
Perbanyak introspeksi diri.
Perbanyak berbuat baik tanpa merasa diri paling baik.
Sebab pada akhirnya yang akan menyelamatkan kita bukanlah banyaknya pujian manusia, melainkan rahmat Allah SWT.
Ketika hati mulai merasa hebat, segera ingatlah bahwa semua yang kita miliki hanyalah titipan.
Dan ketika hati mulai merasa rendah, ingatlah bahwa Allah selalu dekat dengan hamba-Nya yang rendah hati.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kemampuan untuk menjaga hati, menundukkan ego, memperbanyak syukur, dan terus berjalan di jalan kebaikan hingga akhir hayat.
**Tetap semangat, tetap rendah hati, dan teruslah menjadi pribadi yang bermanfaat bagi sesama.**
**Barakallah fiikum.**
Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.