Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com
Tampilkan postingan dengan label kisah Omjay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kisah Omjay. Tampilkan semua postingan

Rabu, 12 Agustus 2026

RUU Sisdiknas Dinilai Belum Membela Guru

RUU Sisdiknas Harapan Semua Guru: Jangan Hanya Mengubah Aturan, Tetapi Bela Nasib Pendidik

Kisah Omjay | Guru Blogger Indonesia

Membaca berita utama Kompas edisi Rabu, 12 Agustus 2026, saya kembali teringat pada satu harapan besar yang selama ini hidup di hati para guru: semoga RUU Sisdiknas benar-benar menjadi rumah besar yang mampu melindungi dan memuliakan guru Indonesia. Judul beritanya cukup menggugah perhatian, “RUU Sisdiknas Dinilai Belum Bela Nasib Guru.” Bagi saya, ini bukan sekadar judul berita. Ini adalah suara kegelisahan yang perlu didengar oleh para pengambil kebijakan.

PB PGRI menilai RUU Sisdiknas belum menjawab sejumlah persoalan mendasar yang dihadapi guru, terutama berkaitan dengan kesejahteraan, kepastian profesi, dan tata kelola. Karena itu, RUU tersebut dinilai tidak perlu buru-buru disahkan sebelum substansinya benar-benar mampu memberikan perlindungan dan kepastian bagi guru.

Sebagai guru yang sudah puluhan tahun berada di ruang kelas, saya memahami bahwa guru tidak membutuhkan janji yang terlalu tinggi. Guru membutuhkan kepastian. Kepastian bahwa profesinya dihargai, pekerjaannya dilindungi, penghasilannya layak, kariernya jelas, dan ketika menghadapi persoalan dalam menjalankan tugas, negara hadir memberikan perlindungan.

Guru setiap hari berdiri di depan murid dengan membawa tanggung jawab yang tidak ringan. Di tangan guru ada masa depan anak-anak Indonesia. Guru bukan hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga mendidik karakter, membangun kepercayaan diri, mengajarkan keterampilan, mendampingi murid menghadapi persoalan, bahkan sering kali menjadi tempat anak bercerita ketika mereka tidak tahu harus mengadu kepada siapa.

Karena itu, ketika negara menyusun undang-undang tentang sistem pendidikan nasional, suara guru semestinya menjadi salah satu suara yang paling penting untuk didengarkan.

Guru tidak ingin menjadi korban perubahan kebijakan

Dunia pendidikan sudah terlalu sering mengalami perubahan kebijakan. Kurikulum berubah, sistem berubah, aplikasi berubah, mekanisme administrasi berubah, tetapi guru tetap berada di ruang kelas yang sama: mendampingi anak-anak belajar dan bertumbuh.

Saya sering mengatakan kepada teman-teman guru bahwa perubahan kebijakan boleh terjadi, tetapi jangan sampai guru selalu menjadi korban dari perubahan tersebut.

Guru membutuhkan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan. Jangan sampai setiap pergantian kebijakan membuat guru kembali belajar dari awal, mengurus administrasi dari awal, memahami sistem baru dari awal, sementara persoalan mendasar tentang kesejahteraan dan perlindungan belum juga selesai.

RUU Sisdiknas seharusnya menjadi kesempatan untuk memperbaiki persoalan tersebut secara menyeluruh.

Bukan sekadar mengganti pasal demi pasal, tetapi memastikan bahwa sistem pendidikan benar-benar berpihak kepada proses pembelajaran dan manusia yang menjalankannya.

Kesejahteraan guru bukan sekadar angka

Ketika berbicara tentang kesejahteraan guru, pembahasannya jangan hanya berhenti pada nominal gaji atau tunjangan. Kesejahteraan juga menyangkut kepastian karier, status kepegawaian, kesempatan meningkatkan kompetensi, perlindungan hukum, beban kerja yang manusiawi, serta penghargaan terhadap profesionalisme guru.

Masih ada guru yang bertahun-tahun mengabdi dengan status yang tidak memberikan kepastian masa depan. Ada guru yang memiliki kompetensi dan pengalaman, tetapi jalur kariernya belum jelas. Ada pula guru yang harus menghadapi berbagai tuntutan administrasi sehingga waktu untuk mempersiapkan pembelajaran justru berkurang.

Guru tentu tidak takut bekerja keras. Sejak dahulu guru memang terbiasa bekerja dengan hati. Tetapi kerja keras harus mendapatkan penghargaan yang layak.

Jangan meminta guru menjadi profesional jika sistemnya belum memberikan kepastian untuk tumbuh sebagai seorang profesional.

Perlindungan guru harus nyata

Harapan berikutnya adalah perlindungan.

Guru membutuhkan rasa aman ketika melaksanakan tugas profesionalnya. Dalam mendidik anak, seorang guru tentu harus memiliki keberanian untuk menegakkan disiplin, memberikan penilaian secara objektif, dan mengambil keputusan berdasarkan kepentingan pendidikan.

Namun guru juga perlu memahami batas-batas kewenangannya dan mendapatkan pendampingan ketika muncul persoalan.

Perlindungan guru bukan berarti memberikan guru kekebalan hukum. Bukan pula berarti guru selalu benar. Guru juga manusia yang bisa melakukan kesalahan dan harus bertanggung jawab apabila terbukti melakukan pelanggaran.

Tetapi ketika seorang guru menghadapi persoalan karena menjalankan tugas profesionalnya, harus ada mekanisme perlindungan yang jelas, adil, dan tidak membuat guru merasa sendirian.

Guru jangan sampai berada dalam posisi takut mendidik karena khawatir setiap keputusan pedagogis dapat berujung pada persoalan hukum.

RUU Sisdiknas harus mendengar suara guru

Menurut saya, salah satu kekuatan RUU Sisdiknas nantinya adalah seberapa jauh proses penyusunannya mampu mendengarkan suara para pelaku pendidikan.

Jangan sampai undang-undang pendidikan disusun terlalu banyak dari meja birokrasi, sementara pengalaman guru di sekolah hanya menjadi catatan kecil.

Guru yang berada di kelas mengetahui persoalan pendidikan dari jarak paling dekat. Mereka tahu mengapa seorang anak sulit belajar. Mereka tahu bagaimana perubahan kurikulum dirasakan oleh sekolah. Mereka tahu persoalan administrasi yang menghabiskan waktu. Mereka tahu bagaimana kondisi guru di daerah, sekolah negeri, sekolah swasta, guru tetap, guru honorer, maupun berbagai persoalan lainnya.

Mendengarkan guru bukan berarti semua keinginan guru harus diterima. Tetapi suara guru harus menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan.

Saya berharap pembahasan RUU Sisdiknas dilakukan secara terbuka, partisipatif, dan sungguh-sungguh. Organisasi profesi guru, kepala sekolah, pengawas, dosen, tenaga kependidikan, orang tua, serta masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk menyampaikan pandangan.

Jangan terburu-buru mengesahkan

Bagi saya, ukuran keberhasilan sebuah undang-undang pendidikan bukanlah seberapa cepat undang-undang itu disahkan.

Ukuran keberhasilannya adalah seberapa besar undang-undang tersebut mampu memperbaiki kehidupan guru, meningkatkan kualitas pembelajaran, melindungi peserta didik, dan membangun sistem pendidikan yang berkelanjutan.

Kalau masih ada persoalan mendasar yang belum terjawab, tidak ada salahnya pembahasannya dilakukan dengan lebih matang.

Lebih baik sedikit lebih lama tetapi menghasilkan aturan yang kuat, daripada cepat disahkan tetapi kemudian menimbulkan persoalan baru.

Guru sudah terlalu sering menjadi pelaksana kebijakan. Kali ini guru berharap dapat menjadi bagian dari proses lahirnya kebijakan tersebut.

RUU Sisdiknas adalah harapan

Saya percaya sebagian besar guru tidak sedang meminta sesuatu yang berlebihan.

Guru hanya ingin dihargai sebagai profesi yang penting bagi masa depan bangsa.

Guru ingin bekerja dengan tenang. Guru ingin memiliki kepastian karier. Guru ingin mendapatkan penghasilan yang layak. Guru ingin memperoleh kesempatan meningkatkan kompetensi. Guru ingin mendapatkan perlindungan ketika menjalankan tugas. Dan yang paling penting, guru ingin dapat berkonsentrasi mendidik anak-anak tanpa terus dihantui ketidakpastian.

Inilah yang saya kira menjadi harapan banyak guru terhadap RUU Sisdiknas.

Jangan jadikan RUU Sisdiknas sekadar dokumen hukum. Jadikan ia sebagai komitmen negara untuk membangun pendidikan yang bermutu sekaligus memuliakan guru.

Sebab pendidikan yang hebat tidak mungkin lahir dari guru yang selalu gelisah dengan masa depannya.

Anak-anak membutuhkan guru yang tenang. Sekolah membutuhkan guru yang profesional. Bangsa membutuhkan guru yang bermartabat.

Maka, sebelum RUU Sisdiknas disahkan, mari bertanya sekali lagi:

Apakah aturan ini benar-benar sudah menjawab persoalan guru?

Jika jawabannya belum, mari kita sempurnakan bersama.

Sebab pada akhirnya, RUU Sisdiknas bukan hanya tentang sistem pendidikan. Ia adalah tentang masa depan anak-anak Indonesia dan tentang nasib orang-orang yang setiap hari mendidik mereka.

Dan bagi saya, sebagai guru, RUU Sisdiknas adalah harapan. Harapan agar guru tidak hanya diminta mencerdaskan kehidupan bangsa, tetapi juga benar-benar dijaga, dihargai, dan disejahterakan oleh negara.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Omjay
Guru Blogger Indonesia


Senin, 03 Agustus 2026

Pengantar Buku Dari Pak M Yusro Sekretaris BKPDM KemdikDasmen



Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

PENGANTAR/TESTIMONI

Buku “Belajar dari Negeri Tirai Bambu, Membawa Inspirasi untuk Indonesia”

Membaca buku Belajar dari Negeri Tirai Bambu, Membawa Inspirasi untuk Indonesia karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Om Jay) ini rasanya seperti duduk bersama seorang sahabat yang baru pulang dari perjalanan jauh, lalu dengan mata berbinar bercerita apa saja yang ia lihat dan rasakan di sana. Selama 21 hari mengikuti program pendidikan di China University of Mining and Technology, Xuzhou, Om Jay tidak sekadar mencatat seperti seorang turis, melainkan menyerapnya sebagai seorang guru, yakni bagaimana rasanya berada di tengah bangsa yang menjadikan belajar, riset, dan inovasi sebagai napas keseharian mereka. Dari situlah lahir refleksi yang jujur dan hangat tentang bagaimana sebuah negara membangun kualitas manusianya lewat budaya belajar yang tak pernah putus.

Sebagai bagian dari keluarga besar Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, saya ikut senang membaca buku ini karena menemukan begitu banyak hal yang terasa dekat dengan apa yang sedang kita perjuangkan bersama: pembelajaran berbasis proyek, integrasi STEAM, pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan secara bermakna, budaya literasi dan riset sejak dini, hingga peran guru sebagai fasilitator belajar sepanjang hayat. Semua itu ternyata selaras betul dengan semangat Pembelajaran Mendalam (deep learning) yang tengah kita perkuat di mana murid didorong menjadi pembelajar aktif, dan guru menjadi penggerak perubahan. Lewat kisah OmJay, kita diingatkan bahwa gagasan kebijakan yang baik tidak selalu lahir dari ruang rapat, tetapi bisa juga tumbuh dari kepekaan seorang guru yang jeli mengamati praktik baik di negeri orang. Semangat itu mengingatkan saya pada falsafah Ki Hajar Dewantara berikut ini.

“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani.”

Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan dan itulah persis sosok yang ditunjukkan OmJay sepanjang bukunya, yakni seorang guru yang terus bergerak, terus belajar, dan tak segan berbagi apa yang ia dapat kepada sesama pendidik di tanah air.

Yang paling menyentuh dari buku ini adalah kerendahan hatinya. OmJay menegaskan, belajar dari bangsa lain bukan berarti kita kehilangan jati diri, justru sebaliknya, itu memperkaya cara pandang kita untuk memajukan pendidikan bangsa sendiri. Semangat inilah yang juga digaungkan Confucius, tokoh besar dari negeri yang disinggahi OmJay, lewat kata-katanya yang sederhana namun dalam.

“Belajar tanpa berpikir adalah sia-sia; berpikir tanpa belajar adalah berbahaya.” 

Semoga buku ini menjadi bacaan yang menyenangkan sekaligus menggugah, bagi para murid, guru, kepala sekolah, mahasiswa, dosen, orang tua, dan siapa saja yang peduli pada dunia Pendidikan bahwa belajar itu tidak mengenal batas usia maupun geografis, dan investasi terbaik bagi masa depan bangsa tetap ada pada pendidikan, serta pada para guru/dosen yang tak pernah berhenti belajar dan memberikan cahaya ilmunya. Selamat membaca.

Jakarta, 3 Agustus 2026

Sekretaris Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah,
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah

Muhammad Yusro




Rangkuman Buku 90 Hari Remisi Diabetes

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi. Kirimkan email ke wijayalabs@gmail.com bila anda ingin mendapatkan buku digitalnya. terima kasih.



Berikut rangkuman buku "90 Hari Remisi Diabetes" berdasarkan isi dokumen yang Anda unggah.

Rangkuman Buku 90 Hari Remisi Diabetes

Buku ini menjelaskan bahwa diabetes tipe 2 dapat mencapai kondisi remisi melalui perubahan gaya hidup yang konsisten selama 90 hari. Fokus utamanya bukan sekadar menurunkan gula darah dengan obat, tetapi memperbaiki penyebab utama diabetes, yaitu resistensi insulin dan penurunan fungsi pankreas.

Tujuan Utama Program

Program memiliki dua sasaran utama:

  • Mengembalikan sensitivitas insulin sehingga tubuh kembali merespons insulin dengan baik.

  • Membantu memperbaiki fungsi pankreas agar produksi insulin menjadi lebih optimal.

Perubahan tersebut dilakukan melalui empat pilar utama gaya hidup sehat.


Empat Pilar Perubahan Gaya Hidup

1. Puasa (Intermittent Fasting)

Puasa menjadi langkah pertama karena dianggap membantu menurunkan kadar insulin dan meningkatkan sensitivitas insulin.

Prinsip yang diterapkan:

  • Mulai puasa 12–16 jam setiap hari.

  • Dilakukan bertahap hingga mampu mencapai 16–20 jam.

  • Menghindari kebiasaan makan atau ngemil terus-menerus.

  • Saat puasa tetap diperbolehkan minum air putih, teh tawar, atau kopi hitam (puasa basah).

Menurut buku ini, puasa memberikan kesempatan tubuh untuk:

  • menurunkan kadar insulin,

  • memperbaiki metabolisme,

  • mengurangi gula darah,

  • mengistirahatkan pankreas.


2. Mengubah Pola Makan

Perubahan pola makan dilakukan dengan mengurangi makanan yang memicu lonjakan gula darah.

Makanan yang dianjurkan untuk dikurangi:

  • minuman manis,

  • nasi dan roti,

  • gorengan berbahan tepung,

  • makanan ultra processed,

  • camilan tinggi gula.

Sebagai gantinya dianjurkan memperbanyak:

  • protein, terutama protein hewani,

  • sayuran,

  • buah rendah gula,

  • karbohidrat rendah indeks glikemik seperti kentang, ubi, jagung, atau beras rendah GI.

Perubahan dilakukan secara bertahap agar lebih mudah dipertahankan.


3. Olahraga

Olahraga membantu meningkatkan metabolisme dan sensitivitas insulin.

Tiga jenis olahraga yang dianjurkan:

  • Resistance training (latihan beban)

  • Kardio

  • Mobility exercise (yoga/pilates)

Rekomendasi latihan:

  • Resistance training: 3 kali per minggu.

  • Kardio: total 150 menit per minggu.

  • Mulai perlahan dan tingkatkan intensitas secara bertahap.


4. Tidur Berkualitas

Tidur yang cukup berperan penting dalam menjaga keseimbangan hormon dan metabolisme.

Anjuran dalam buku:

  • tidur 6–8 jam,

  • tidur sebelum pukul 22.00 bila memungkinkan,

  • memiliki jam tidur dan bangun yang konsisten,

  • menghindari penggunaan gadget sebelum tidur.

Tidur yang baik diyakini membantu memperbaiki sensitivitas insulin dan fungsi pankreas.


Program Perubahan Selama 12 Pekan

Program disusun bertahap agar perubahan menjadi kebiasaan.

Pekan 1–4

  • Menghentikan minuman manis.

  • Memulai puasa 12–16 jam.

  • Memperbaiki kualitas tidur.

  • Memulai olahraga ringan.

Pekan 5–8

  • Menambah konsumsi protein.

  • Menghindari makanan ultra processed.

  • Memperpanjang puasa menjadi 16–18 jam.

  • Berolahraga minimal tiga kali seminggu.

Pekan 9–12

  • Mengurangi gorengan berbahan tepung.

  • Berhenti makan 2–3 jam sebelum tidur.

  • Mengganti nasi dengan karbohidrat rendah indeks glikemik.

  • Mengurangi porsi karbohidrat serta menargetkan penurunan berat badan 5–10 kg dalam 3–6 bulan.


Pesan Utama Buku

Penulis menekankan bahwa remisi diabetes tidak dicapai melalui perubahan ekstrem, melainkan melalui perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten. Fokus utamanya adalah membangun kebiasaan sehat yang dapat dipertahankan seumur hidup, bukan sekadar menjalani diet sementara.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, buku 90 Hari Remisi Diabetes menawarkan panduan perubahan gaya hidup selama 12 minggu dengan empat pilar utama: puasa, pola makan sehat, olahraga, dan tidur yang cukup. Program disusun secara bertahap agar lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, dengan tujuan membantu memperbaiki metabolisme dan mengendalikan diabetes melalui kebiasaan sehat jangka panjang. Perlu dicatat bahwa beberapa bagian buku juga memuat rekomendasi mengenai suplemen atau herbal, namun efektivitas dan keamanannya sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan karena bukti ilmiahnya dapat bervariasi.




Minggu, 02 Agustus 2026

Percuma Menulis Kalau Tidak Dapat Cuan



Percuma Menulis Kalau Tidak Dapat Cuan?

Oleh: Omjay, Guru Blogger Indonesia

"Percuma menulis kalau tidak dapat cuan."

Kalimat itu beberapa kali mampir ke telinga saya. Ada yang mengucapkannya sambil bercanda, ada pula yang mengatakannya dengan nada serius. Mereka melihat banyak orang menghabiskan waktu berjam-jam di depan laptop, menuangkan ide ke dalam tulisan, tetapi penghasilannya belum tentu terlihat. Di era media sosial yang serba cepat, ketika sebuah video berdurasi satu menit bisa menghasilkan jutaan rupiah, kegiatan menulis sering dianggap sebagai pekerjaan yang kurang menjanjikan.

Saya hanya tersenyum setiap kali mendengar pendapat itu. Bukan karena saya merasa paling benar, melainkan karena saya pernah berada di posisi yang sama. Dahulu saya juga bertanya-tanya, apakah menulis benar-benar ada manfaatnya? Apakah waktu yang saya habiskan untuk mengetik setiap hari tidak lebih baik digunakan untuk melakukan pekerjaan lain yang hasilnya langsung terlihat?

Jawaban atas pertanyaan itu tidak saya temukan dalam semalam. Jawabannya saya temukan setelah bertahun-tahun menjalani kebiasaan menulis tanpa mengenal lelah.

Saya memulai perjalanan sebagai penulis bukan karena ingin menjadi terkenal atau memperoleh penghasilan besar. Saya hanya ingin menyimpan pengalaman agar tidak hilang ditelan waktu. Sebagai guru, saya merasa setiap hari selalu ada pelajaran baru yang layak dibagikan. Ada cerita tentang murid yang menginspirasi, pengalaman mengajar yang penuh tantangan, perjalanan mengikuti pelatihan, hingga kisah sederhana bersama keluarga. Semua itu saya tuliskan di blog pribadi.

Saat itu, tidak banyak orang yang membaca tulisan saya. Jumlah pengunjung blog masih sedikit. Komentar pun bisa dihitung dengan jari. Namun saya terus menulis. Saya percaya bahwa setiap tulisan adalah jejak perjalanan hidup yang suatu saat akan memiliki makna, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.

Banyak orang menganggap cuan hanya berbentuk uang. Padahal, kehidupan mengajarkan kepada saya bahwa rezeki memiliki banyak wajah. Ada rezeki berupa kesehatan, ilmu, sahabat yang baik, kesempatan belajar, kemudahan dalam pekerjaan, hingga kepercayaan dari orang lain. Semua itu adalah "cuan" yang nilainya sering kali jauh lebih besar daripada angka di rekening bank.

Karena rajin menulis, saya mulai dikenal oleh banyak guru dari berbagai daerah. Mereka menghubungi saya untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, bahkan mengundang saya menjadi narasumber dalam berbagai pelatihan. Saya tidak pernah membayangkan bahwa tulisan sederhana di blog mampu membuka pintu-pintu kesempatan yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.

Dari kebiasaan menulis lahirlah buku-buku yang saya terbitkan. Dari buku-buku itu saya bertemu dengan banyak pembaca yang kemudian menjadi sahabat seperjuangan. Saya juga memperoleh kesempatan belajar ke luar negeri, berbagi pengalaman di berbagai komunitas, hingga dipercaya membimbing ribuan guru dalam kelas belajar menulis. Jika ditanya apakah semua itu menghasilkan cuan, jawabannya tentu iya. Namun cuan itu datang sebagai akibat dari konsistensi berkarya, bukan sebagai tujuan utama.

Di sinilah letak kesalahpahaman yang sering terjadi. Banyak orang ingin memperoleh hasil sebelum membangun proses. Mereka baru mau menulis jika ada bayaran. Padahal dunia kepenulisan mengajarkan hal yang sebaliknya. Kita perlu membangun kebiasaan terlebih dahulu, meningkatkan kualitas tulisan, memperluas jaringan, dan menjaga konsistensi. Setelah itu, peluang akan datang dengan sendirinya.

Saya teringat sebuah pepatah yang mengatakan bahwa pohon tidak langsung berbuah pada hari pertama ditanam. Ia harus disiram, dipupuk, dirawat, dan dijaga dari hama. Bahkan terkadang bertahun-tahun baru menghasilkan buah yang manis. Menulis juga demikian. Setiap artikel yang kita terbitkan adalah benih. Mungkin hari ini belum menghasilkan apa-apa, tetapi suatu saat benih itu akan tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang.

Di zaman digital seperti sekarang, tulisan memiliki usia yang jauh lebih panjang daripada ucapan. Kata-kata yang kita tulis hari ini masih bisa dibaca bertahun-tahun kemudian. Bahkan ketika kita sedang tidur, sedang mengajar, atau sedang berkumpul bersama keluarga, tulisan kita tetap bekerja. Ia menginspirasi pembaca, menjawab pertanyaan mereka, dan menyebarkan manfaat ke berbagai penjuru dunia.

Saya merasakan sendiri bagaimana sebuah tulisan mampu mempertemukan saya dengan orang-orang yang belum pernah saya kenal sebelumnya. Ada yang datang hanya untuk mengucapkan terima kasih karena merasa terbantu. Ada yang bercerita bahwa mereka mulai berani menulis setelah membaca artikel saya. Ada pula guru yang akhirnya berhasil menerbitkan buku karena termotivasi oleh pengalaman yang saya bagikan.

Momen seperti itulah yang membuat saya sadar bahwa nilai sebuah tulisan tidak bisa diukur hanya dengan uang. Betapa bahagianya ketika tulisan kita mampu mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Bukankah itu juga sebuah keuntungan yang luar biasa?

Bukan berarti saya menganggap uang tidak penting. Sebagai kepala keluarga, saya memahami bahwa kebutuhan hidup harus dipenuhi. Penulis juga berhak memperoleh penghargaan atas karya yang dihasilkannya. Tidak ada yang salah ketika seseorang memperoleh royalti buku, honor sebagai narasumber, pendapatan dari artikel, atau kerja sama dengan berbagai pihak. Semua itu adalah rezeki yang halal dan patut disyukuri.

Namun, jika sejak awal tujuan utama menulis hanya mengejar uang, biasanya semangat akan cepat padam. Ketika artikel tidak banyak dibaca, kita kecewa. Ketika buku belum laris, kita menyerah. Ketika honor belum datang, kita berhenti berkarya. Akibatnya, kita kehilangan kesempatan untuk berkembang.

Saya selalu mengingatkan diri sendiri bahwa tugas saya adalah menulis dengan sebaik-baiknya. Soal apakah tulisan itu menghasilkan uang hari ini, bulan depan, atau beberapa tahun lagi, saya serahkan kepada Allah. Yang penting saya terus belajar, terus berbagi, dan terus memperbaiki kualitas tulisan.

Selama puluhan tahun menjadi guru, saya semakin yakin bahwa ilmu yang dibagikan tidak akan pernah berkurang. Justru semakin banyak kita berbagi, semakin banyak pula pintu rezeki yang dibukakan. Menulis adalah salah satu bentuk sedekah ilmu yang manfaatnya terus mengalir. Mungkin kita tidak mengenal semua pembaca, tetapi mereka mengenal kita melalui tulisan-tulisan yang kita tinggalkan.

Kini saya memahami makna kalimat yang selalu saya pegang teguh: "Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi." Kalimat sederhana itu bukan sekadar slogan, melainkan pengalaman hidup yang benar-benar saya rasakan. Saya membuktikan bahwa konsistensi menulis mampu mengubah kehidupan seseorang, membuka kesempatan baru, memperluas persahabatan, meningkatkan kompetensi, dan pada akhirnya juga menghadirkan rezeki.

Jadi, apakah percuma menulis kalau tidak dapat cuan?

Menurut saya, yang percuma bukanlah menulis tanpa cuan. Yang benar-benar percuma adalah berhenti menulis hanya karena cuan belum datang. Sebab setiap tulisan yang kita hasilkan sesungguhnya sedang membangun masa depan kita sedikit demi sedikit. Ada tulisan yang menghasilkan uang, ada yang menghasilkan ilmu, ada yang menghasilkan kepercayaan, dan ada pula yang menghasilkan doa-doa baik dari para pembaca.

Teruslah menulis. Jangan biarkan semangatmu mati hanya karena hasil belum terlihat. Nikmati prosesnya, cintai setiap kata yang lahir dari hati, dan jadikan tulisan sebagai jalan untuk menebarkan manfaat. Percayalah, ketika manfaat terus mengalir kepada sesama, Allah akan menghadirkan rezeki melalui jalan yang tidak pernah kita sangka.

Karena pada akhirnya, cuan terbaik dari sebuah tulisan bukan sekadar angka di rekening, melainkan jejak kebaikan yang terus hidup dan menginspirasi, bahkan ketika kita sudah tidak lagi mampu menggenggam pena.

Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay 
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com

Rabu, 22 Juli 2026

Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ

Salam Blogger Persahabatan Omjay http://wijayalabs.com Menulislah Terus setiap hari, dan buktikan apa yang terjadi

Kisah Omjay: Memperjuangkan Pensiun Bulanan untuk Guru Labschool UNJ
Blog https://wijayalabs.com/about

Menjadi guru adalah panggilan jiwa. Profesi ini bukan sekadar pekerjaan yang dimulai pada pagi hari lalu berakhir ketika bel pulang sekolah berbunyi. Guru mengabdikan waktu, tenaga, pikiran, bahkan perasaannya demi membentuk generasi penerus bangsa. Selama puluhan tahun mengajar di SMP Labschool UNJ, saya menyaksikan sendiri bagaimana banyak rekan guru mencurahkan seluruh hidupnya untuk pendidikan. Mereka datang lebih awal daripada siswa, pulang paling akhir setelah memastikan semua tugas selesai, dan rela mengorbankan waktu bersama keluarga demi keberhasilan peserta didik.

Pengabdian seperti itu tentu layak mendapatkan penghargaan yang bermartabat. Salah satunya adalah jaminan kehidupan yang layak setelah memasuki masa purna tugas. Sayangnya, kenyataan yang dihadapi sebagian guru sekolah swasta, termasuk guru di bawah yayasan, sering kali berbeda dengan harapan. Ketika masa mengajar berakhir, penghasilan rutin ikut berhenti. Padahal kebutuhan hidup tetap berjalan. Biaya kesehatan meningkat seiring bertambahnya usia. Kebutuhan keluarga tidak pernah berhenti. Sementara tenaga sudah tidak lagi sekuat dahulu.

Setiap kali menghadiri acara pelepasan guru purnabakti, hati saya selalu dipenuhi rasa haru. Wajah-wajah yang dahulu penuh semangat mendidik kini memasuki babak baru kehidupan. Tepuk tangan bergema, bunga diberikan, foto kenangan diabadikan, lalu perlahan semua kembali menjalani aktivitas masing-masing. Namun muncul satu pertanyaan yang terus mengusik hati. Bagaimana kehidupan para guru hebat itu setelah tidak lagi menerima gaji bulanan?

Pertanyaan itulah yang mendorong saya menulis kisah ini. Bukan untuk mengeluh, melainkan mengajak semua pihak memikirkan masa depan para guru yang telah mengabdikan hidupnya bagi dunia pendidikan.

Saya membayangkan betapa indahnya apabila setiap guru Labschool UNJ memasuki masa pensiun dengan hati tenang. Mereka tetap memperoleh penghasilan bulanan sehingga tidak perlu khawatir memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka dapat menikmati hari tua bersama keluarga, mengajar secara sukarela bila masih mampu, menulis buku, berbagi pengalaman, atau menjadi mentor bagi guru muda tanpa dibayangi kecemasan ekonomi.

Harapan tersebut bukan sesuatu yang mustahil. Banyak perusahaan swasta telah memiliki program dana pensiun bagi karyawannya. Program seperti Dana Pensiun Pemberi Kerja (DPPK) memungkinkan perusahaan atau yayasan menghimpun iuran selama pegawai masih aktif bekerja. Ketika pegawai memasuki masa pensiun, manfaat pensiun dapat dibayarkan secara berkala sesuai ketentuan. Selain itu tersedia pula Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK) yang dapat menjadi alternatif bagi institusi yang belum memiliki dana pensiun sendiri.

Di sisi lain, seluruh pekerja termasuk guru yayasan juga dapat memperoleh perlindungan melalui BPJS Ketenagakerjaan. Program tersebut meliputi Jaminan Hari Tua (JHT), Jaminan Pensiun (JP), Jaminan Kecelakaan Kerja, dan Jaminan Kematian. Apabila memenuhi persyaratan, peserta Jaminan Pensiun dapat menerima manfaat bulanan setelah memasuki usia pensiun.

Sebagai guru yang telah mengabdi selama puluhan tahun, saya percaya bahwa kesejahteraan guru tidak boleh hanya dibicarakan ketika masih aktif mengajar. Masa purna tugas juga harus menjadi perhatian bersama. Pengabdian selama tiga puluh hingga empat puluh tahun bukanlah perjalanan singkat. Itu adalah investasi kemanusiaan yang hasilnya dinikmati oleh bangsa ini melalui lahirnya generasi yang cerdas, berkarakter, dan berakhlak mulia.

Saya membayangkan suatu hari nanti Yayasan Pembina UNJ bersama pimpinan Labschool, perwakilan guru, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama merancang sistem pensiun yang berkelanjutan. Setiap guru memberikan iuran sesuai kemampuan. Yayasan pun ikut memberikan kontribusi. Dana tersebut dikelola secara profesional, transparan, dan akuntabel sehingga tumbuh menjadi jaminan kesejahteraan pada masa tua.

Program seperti itu bukan hanya memberikan rasa aman kepada guru senior. Guru-guru muda pun akan bekerja dengan semangat karena mengetahui bahwa pengabdiannya dihargai hingga akhir masa kerja. Rasa memiliki terhadap sekolah semakin kuat. Loyalitas meningkat. Kualitas pendidikan ikut bertambah karena guru dapat berkonsentrasi mengajar tanpa dihantui kekhawatiran mengenai masa depannya.

Saya selalu percaya bahwa sekolah hebat dibangun oleh guru yang sejahtera. Ketika guru merasa dihargai, semangat mengajarnya akan memancar kepada peserta didik. Anak-anak memperoleh teladan tentang arti dedikasi. Orang tua semakin percaya kepada sekolah. Lingkaran kebaikan pun terus berputar.

Perjuangan menghadirkan pensiun bulanan tentu membutuhkan waktu. Dibutuhkan komunikasi yang baik, kajian yang matang, serta komitmen seluruh pihak. Namun setiap perubahan besar selalu diawali oleh sebuah gagasan sederhana. Gagasan itu kemudian berkembang menjadi gerakan yang membawa manfaat bagi banyak orang.

Sebagai Omjay, saya tidak pernah lelah mengajak semua guru untuk terus menulis. Tulisan memiliki kekuatan luar biasa. Dari tulisan lahir ide. Dari ide lahir perubahan. Dari perubahan lahir kebijakan yang mampu meningkatkan kesejahteraan banyak orang. Karena itulah saya berharap semakin banyak guru menyuarakan pentingnya perlindungan hari tua bagi tenaga pendidik.

Saya tidak sedang meminta keistimewaan. Saya hanya berharap setiap guru yang telah mengabdikan hidupnya memperoleh penghormatan yang layak ketika memasuki masa purna tugas. Guru tidak ingin menjadi beban bagi anak-anaknya. Guru hanya ingin menikmati masa tua dengan tenang setelah puluhan tahun membimbing anak bangsa.

Semoga suatu hari nanti, ketika seorang guru Labschool UNJ mengakhiri tugasnya di ruang kelas, senyumnya bukan hanya karena bangga melihat murid-muridnya sukses, tetapi juga karena yakin kehidupannya setelah pensiun tetap terjamin. Itulah hadiah terindah bagi seorang pendidik. Penghargaan yang tidak hanya diberikan dalam bentuk piagam atau bunga, melainkan dalam kepastian bahwa pengabdian panjangnya tidak berakhir dengan kecemasan.

Saya percaya mimpi itu dapat diwujudkan apabila seluruh keluarga besar Labschool UNJ memiliki visi yang sama. Mari membangun sistem yang menghormati guru sejak hari pertama mengajar hingga hari terakhir menikmati masa pensiun. Sebab bangsa yang menghargai gurunya adalah bangsa yang sedang menyiapkan masa depan terbaik bagi generasi berikutnya.

Salam Blogger Persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru Blogger Indonesia
Blog https://wijayalabs.com


Minggu, 28 Juni 2026

Resensi Buku Terapi


Resensi Buku

Terapi Nonfarmakologis pada Pasien Diabetes Melitus

Diabetes melitus bukan lagi sekadar penyakit yang diderita oleh kalangan tertentu. Saat ini, diabetes telah menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di dunia. Banyak penderita yang bergantung pada obat-obatan, tetapi belum memahami bahwa perubahan gaya hidup dan terapi nonfarmakologis juga memiliki peran penting dalam menjaga kadar gula darah tetap stabil. Buku Terapi Nonfarmakologis pada Pasien Diabetes Melitus hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut dengan menyajikan berbagai pendekatan ilmiah yang mudah dipahami dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Buku Terapi Nonfarmakologis pada Pasien Diabetes Melitus merupakan buku monograf yang diterbitkan oleh Deepublish Yogyakarta pada tahun 2024. Buku ini ditulis oleh Ns. Wahyu Dwi Ari Wibowo, S.Kep., Ns. Sapondra Wijaya, S.Kep., M.Kep., Ns. Susmini, S.Kep., S.K.M., M.Kes., Nadi Aprilyadi, S.Kep., S.Sos., M.Kes., dan Dwie Saputri, A.Md.Kep. Buku setebal 104 halaman ini memiliki ISBN 978-623-02-7973-7 dan secara khusus membahas berbagai pendekatan nonfarmakologis dalam pengelolaan diabetes melitus, termasuk terapi komplementer, perubahan gaya hidup sehat, serta asuhan keperawatan keluarga sebagai bagian penting dari manajemen diabetes.

Keunggulan buku ini terletak pada penyajiannya yang sistematis dan berbasis bukti ilmiah. Pembaca diajak memahami konsep dasar diabetes melitus, mulai dari definisi, penyebab, klasifikasi, faktor risiko, manifestasi klinis, pemeriksaan penunjang, hingga penatalaksanaan penyakit secara menyeluruh. Materi disusun secara runtut sehingga mudah dipahami baik oleh mahasiswa, tenaga kesehatan, maupun masyarakat umum yang ingin mengetahui lebih dalam tentang diabetes.

Yang membuat buku ini berbeda dari buku sejenis adalah pembahasannya mengenai berbagai terapi nonfarmakologis yang dapat menjadi pendamping terapi medis. Penulis menguraikan secara lengkap terapi senam kaki, Swedish Massage, dan terapi akupresur beserta manfaat, indikasi, kontraindikasi, serta langkah-langkah pelaksanaannya. Setiap terapi dilengkapi dengan Standar Operasional Prosedur (SOP) dan ilustrasi sehingga pembaca dapat mempraktikkannya dengan benar sesuai prosedur.

Selain itu, buku ini membahas secara komprehensif asuhan keperawatan keluarga pada pasien diabetes melitus. Materi mencakup proses pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, penyusunan intervensi, implementasi tindakan, hingga evaluasi hasil berdasarkan studi kasus nyata. Dengan demikian, buku ini menjadi referensi yang sangat bermanfaat bagi mahasiswa keperawatan, dosen, perawat, tenaga kesehatan, maupun keluarga pasien yang ingin memberikan pendampingan secara optimal.

Bahasa yang digunakan sederhana namun tetap ilmiah sehingga mudah dipahami oleh berbagai kalangan. Setiap bab disusun secara logis dan saling berkaitan sehingga pembaca dapat mempelajari materi secara bertahap. Buku ini tidak hanya memberikan teori, tetapi juga menawarkan panduan praktis yang dapat langsung diterapkan dalam pelayanan kesehatan maupun kehidupan sehari-hari.

Di era ketika jumlah penderita diabetes terus meningkat, buku ini menjadi bacaan yang sangat relevan. Pendekatan nonfarmakologis yang dijelaskan di dalamnya dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien, mengurangi risiko komplikasi, serta mendukung keberhasilan terapi medis. Tentunya, berbagai terapi yang dibahas tetap perlu diterapkan sesuai kondisi pasien dan sebagai pendamping pengobatan yang dianjurkan oleh tenaga kesehatan.

Mengapa buku ini layak dimiliki?

  • Buku monograf berbasis referensi ilmiah terbaru.
  • Membahas terapi nonfarmakologis secara lengkap dan aplikatif.
  • Dilengkapi SOP, ilustrasi, dan contoh kasus.
  • Sangat cocok untuk mahasiswa keperawatan, dosen, perawat, tenaga kesehatan, kader kesehatan, serta keluarga pasien.
  • Menjadi referensi praktis dalam pengelolaan diabetes melitus secara holistik.

Buku Terapi Nonfarmakologis pada Pasien Diabetes Melitus layak menjadi koleksi perpustakaan kampus, rumah sakit, puskesmas, institusi pendidikan kesehatan, maupun koleksi pribadi. Isinya tidak hanya memperkaya wawasan, tetapi juga menjadi panduan praktis dalam memberikan pelayanan kesehatan yang lebih komprehensif kepada pasien diabetes.

Segera miliki buku ini dan tingkatkan pemahaman Anda tentang pengelolaan diabetes melitus melalui pendekatan nonfarmakologis yang ilmiah, aman, dan aplikatif.

📚 Pemesanan buku dapat menghubungi Omjay melalui WhatsApp: 0815-9155-5515.

Rabu, 24 Juni 2026

Resensi Buku

RESENSI BUKU

BUMI TERSENYUM KEMBALI

Kisah Inspiratif tentang Pelestarian Lingkungan

Penulis: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Genre: Kumpulan Cerpen Pendidikan Lingkungan
Sasaran Pembaca: Anak-anak, Remaja, Guru, Orang Tua, dan Pecinta Lingkungan


Buku yang Menyentuh Hati dan Menggerakkan Aksi Nyata

Di tengah berbagai persoalan lingkungan yang semakin nyata, mulai dari sampah yang menggunung, krisis air bersih, banjir, hingga berkurangnya ruang hijau, hadir sebuah buku yang tidak sekadar mengajak pembaca memahami masalah lingkungan, tetapi juga menginspirasi mereka untuk menjadi bagian dari solusi. Buku Bumi Tersenyum Kembali karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) hadir sebagai oase literasi yang menyegarkan dan penuh harapan.

Berbeda dengan buku lingkungan yang sering kali dipenuhi teori dan data yang berat, buku ini menyajikan pesan-pesan pelestarian lingkungan melalui cerita pendek yang ringan, menyenangkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Pembaca diajak masuk ke dalam dunia anak-anak, keluarga, guru, dan masyarakat yang berjuang menjaga bumi melalui tindakan sederhana namun berdampak besar.

Melalui dua puluh cerpen yang inspiratif, Omjay berhasil menunjukkan bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dengan langkah besar. Perubahan dapat dimulai dari rumah, sekolah, mushola, pekarangan, hingga lingkungan sekitar tempat tinggal kita.


Cerita yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

Kekuatan utama buku ini terletak pada kemampuannya menghadirkan kisah-kisah yang sangat dekat dengan pengalaman pembaca. Setiap cerita terasa nyata karena diambil dari persoalan yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Pembaca akan menemukan kisah tentang anak-anak yang belajar memilah sampah di rumah, keluarga yang memanfaatkan pekarangan menjadi kebun produktif, warga yang mengubah sampah menjadi sumber penghasilan, hingga upaya sederhana menyelamatkan air wudhu agar tidak terbuang percuma.

Cerita seperti Mengelola Sampah di Rumah Itu Keren dan Merubah Sampah Jadi Cuan memberikan inspirasi bahwa sampah bukanlah musuh, melainkan sumber daya yang dapat dikelola dengan bijak. Sementara cerita Air Bersih Makin Sulit Didapat, Yuk Kita Lestarikan menjadi pengingat bahwa air yang selama ini dianggap melimpah ternyata semakin langka dan harus dijaga bersama.

Yang menarik, setiap cerita tidak hanya menghadirkan konflik dan penyelesaian yang menyentuh, tetapi juga dilengkapi dengan hikmah dan aksi nyata yang bisa langsung diterapkan oleh pembaca.


Mengajarkan Karakter Melalui Cerita

Buku ini tidak hanya berbicara tentang lingkungan, tetapi juga membangun karakter positif pembacanya. Nilai-nilai seperti tanggung jawab, gotong royong, disiplin, kerja keras, kreativitas, kepedulian, dan rasa syukur tumbuh secara alami melalui alur cerita yang menarik.

Anak-anak yang membaca buku ini tidak akan merasa sedang digurui. Mereka akan menikmati petualangan para tokoh sambil menyerap pesan moral yang terselip di setiap halaman.

Inilah kekuatan sastra yang sesungguhnya. Cerita mampu masuk ke hati pembaca tanpa terasa memaksa. Ketika hati tersentuh, perubahan perilaku akan lebih mudah terjadi.


Sangat Relevan dengan Kurikulum dan Program Sekolah

Buku Bumi Tersenyum Kembali memiliki nilai lebih karena sangat relevan dengan berbagai program pendidikan di Indonesia.

Buku ini dapat digunakan sebagai:

  • Bahan literasi sekolah.
  • Pendukung Gerakan Sekolah Adiwiyata.
  • Referensi Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5).
  • Bahan pembelajaran Pendidikan Lingkungan Hidup.
  • Bacaan keluarga di rumah.
  • Sumber inspirasi kegiatan ekstrakurikuler.
  • Materi diskusi komunitas peduli lingkungan.

Guru akan sangat terbantu karena setiap cerita dapat dijadikan bahan pembelajaran yang kontekstual. Orang tua juga dapat menggunakan buku ini sebagai sarana menanamkan kecintaan terhadap lingkungan sejak dini kepada anak-anak mereka.


Bahasa Sederhana dan Mudah Dipahami

Salah satu keunggulan lain buku ini adalah penggunaan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mengalir. Omjay yang dikenal sebagai Guru Blogger Indonesia memiliki kemampuan mengubah tema yang serius menjadi bacaan yang ringan dan menyenangkan.

Kalimat-kalimatnya mudah dipahami oleh anak-anak, tetapi tetap menarik untuk dibaca oleh remaja dan orang dewasa. Karena itu, buku ini menjadi bacaan lintas usia yang dapat dinikmati seluruh anggota keluarga.

Tidak berlebihan jika buku ini disebut sebagai buku yang cocok dibaca bersama. Orang tua dapat membacakannya kepada anak-anak, sementara guru dapat menjadikannya bahan membaca nyaring di kelas.


Buku yang Tidak Hanya Dibaca, Tetapi Dipraktikkan

Banyak buku selesai dibaca lalu disimpan di rak. Namun buku Bumi Tersenyum Kembali memiliki potensi berbeda. Buku ini mendorong pembaca untuk langsung bergerak.

Setelah membaca kisah tentang biopori, pembaca terdorong membuat lubang biopori di rumah. Setelah membaca cerita tentang pengelolaan sampah, pembaca terdorong memilah sampah. Setelah membaca kisah tentang pohon yang menjadi rumah burung, pembaca terdorong menanam pohon dan menjaga keanekaragaman hayati.

Buku ini bukan sekadar kumpulan cerita. Buku ini adalah panduan aksi lingkungan yang dikemas dalam bentuk sastra yang menyenangkan.


Mengapa Buku Ini Berpotensi Menjadi Best Seller?

Ada beberapa alasan kuat mengapa buku ini memiliki peluang besar menjadi buku best seller:

Pertama, tema lingkungan adalah isu global yang semakin penting dari tahun ke tahun.

Kedua, buku ini menyasar pasar yang sangat luas, mulai dari siswa SD, SMP, SMA, mahasiswa, guru, orang tua, hingga komunitas lingkungan.

Ketiga, isi buku sangat relevan dengan program sekolah seperti Adiwiyata dan P5 sehingga berpotensi digunakan sebagai buku pendamping di banyak sekolah.

Keempat, ceritanya ringan, inspiratif, dan mudah dipahami sehingga cocok dibaca semua kalangan.

Kelima, buku ini menawarkan solusi nyata, bukan sekadar mengangkat masalah lingkungan.

Keenam, nama Omjay sebagai Guru Blogger Indonesia memiliki jaringan pembaca, guru, dan komunitas literasi yang sangat luas di seluruh Indonesia.


Kesimpulan

Bumi Tersenyum Kembali adalah buku yang layak dimiliki setiap keluarga, sekolah, perpustakaan, dan komunitas pecinta lingkungan. Buku ini berhasil memadukan nilai pendidikan, sastra, karakter, dan aksi lingkungan dalam satu karya yang menarik dan inspiratif.

Jika Anda mencari buku yang mampu menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membangun karakter positif generasi muda, maka buku ini adalah pilihan yang tepat.

Karena sesungguhnya, bumi tidak membutuhkan janji-janji besar. Bumi membutuhkan tindakan nyata. Dan tindakan nyata itu bisa dimulai dari satu cerita yang mengubah cara pandang kita terhadap alam.

Selamat membaca, terinspirasi, dan bergerak bersama menjaga bumi. Sebab ketika kita menjaga bumi, bumi pun akan menjaga kita.

⭐⭐⭐⭐⭐ 5/5 — Buku inspiratif yang wajib hadir di setiap rumah dan sekolah Indonesia.

Selasa, 23 Juni 2026

Buku Sampah Membawa Berkah

SAMPAH MEMBAWA BERKAH

Gerakan Bersih Radius Satu Meter untuk Mewujudkan Sekolah Bersih, Sehat, Berkarakter, dan Berprestasi

Penulis

Dr. Sony Teguh Trilaksono
Dr. Wijaya Kusumah

---

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

PRAKATA PENULIS

---

BAGIAN I

MEMBANGUN KESADARAN LINGKUNGAN SEJAK DARI SEKOLAH

Bab 1. Sekolah Adalah Rumah Kedua Anak-Anak Kita

- Lingkungan sekolah yang nyaman dan sehat
- Sekolah sebagai tempat tumbuh karakter
- Membangun budaya peduli lingkungan

Bab 2. Memahami Kondisi dan Permasalahan Lingkungan Global dan Nasional

- Krisis sampah dunia
- Perubahan iklim dan pemanasan global
- Pencemaran udara, air, dan tanah
- Tantangan Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan

Bab 3. Sampah Kecil, Masalah Besar

- Dampak sampah terhadap kesehatan
- Dampak sampah terhadap lingkungan
- Dampak sampah terhadap kualitas pembelajaran

Bab 4. Pendidikan Karakter Melalui Budaya Bersih

- Disiplin sebagai fondasi karakter
- Tanggung jawab terhadap lingkungan
- Menanamkan kepedulian sejak dini

---

BAGIAN II

GERAKAN BERSIH RADIUS SATU METER

Bab 5. Filosofi Gerakan Bersih Radius Satu Meter

- Berawal dari diri sendiri
- Perubahan besar dari tindakan kecil
- Menjadikan kebersihan sebagai kebiasaan

Bab 6. Berasa Selalu Ada di Depan Anak-Anak Kita

- Keteladanan sebagai metode pendidikan terbaik
- Guru sebagai figur inspiratif
- Membangun budaya malu membuang sampah sembarangan

Bab 7. Keteladanan Guru dalam Menjaga Kebersihan Lingkungan

- Guru sebagai agen perubahan
- Mengajar melalui tindakan nyata
- Menggerakkan seluruh warga sekolah

Bab 8. Peran Murid, Orang Tua, dan Komunitas Sekolah

- Murid sebagai pelopor kebersihan
- Orang tua sebagai mitra pendidikan
- Kolaborasi seluruh warga sekolah

---

BAGIAN III

SAMPAH YANG MEMBAWA BERKAH

Bab 9. Mengenal Jenis-Jenis Sampah

- Sampah organik
- Sampah nonorganik
- Sampah B3

Bab 10. Sampah Organik dan Pemanfaatannya

- Kompos dan pupuk organik
- Budidaya tanaman sekolah
- Kebun sekolah berbasis lingkungan

Bab 11. Sampah Nonorganik dan Daur Ulang

- Pemilahan sampah
- Produk kreatif dari barang bekas
- Ekonomi sirkular di sekolah

Bab 12. Sampah B3 dan Penanganannya

- Mengenali sampah berbahaya
- Cara penyimpanan dan pengelolaan
- Keselamatan warga sekolah

Bab 13. Bank Sampah Sekolah

- Konsep dan manfaat bank sampah
- Sistem pengelolaan
- Pengalaman sekolah yang berhasil

Bab 14. Mengubah Sampah Menjadi Sumber Ekonomi dan Prestasi

- Kewirausahaan berbasis lingkungan
- Sedekah sampah
- Sampah sebagai sumber keberkahan

---

BAGIAN IV

GERAKAN SEKOLAH ADIWIYATA MENUJU INDONESIA RAMAH LINGKUNGAN

Bab 15. Tanggung Jawab Sekolah dalam Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup

- Sekolah sebagai pemangku kepentingan
- Pendidikan lingkungan hidup
- Membangun budaya peduli lingkungan

Bab 16. Memahami Gerakan Sekolah Berbudaya Peduli Lingkungan (Adiwiyata)

- Sejarah dan perkembangan Adiwiyata
- Prinsip dasar Adiwiyata
- Tujuan dan manfaat Adiwiyata

Bab 17. Komponen Utama Program Adiwiyata

- Kebijakan berwawasan lingkungan
- Kurikulum berbasis lingkungan
- Kegiatan partisipatif berbasis lingkungan
- Pengelolaan sarana dan prasarana ramah lingkungan

Bab 18. Strategi Implementasi Program Adiwiyata di Sekolah

- Perencanaan program
- Pelaksanaan program
- Monitoring dan evaluasi
- Penguatan budaya sekolah

---

BAGIAN V

STUDI KASUS DAN PRAKTIK BAIK SEKOLAH ADIWIYATA

Bab 19. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Tingkat Kabupaten dan Kota

Bab 20. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Tingkat Provinsi

Bab 21. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Nasional

Bab 22. Kisah Sukses Sekolah Adiwiyata Mandiri

Bab 23. Praktik Baik yang Dapat Ditiru oleh Sekolah Lain

Bab 24. Resume dan Otokritik Gerakan Sekolah Adiwiyata

- Capaian yang telah diraih
- Tantangan yang masih dihadapi
- Evaluasi implementasi program
- Strategi penguatan Gerakan Adiwiyata di masa depan

---

BAGIAN VI

KISAH INSPIRATIF DARI SEKOLAH BERSIH

Bab 25. Ketika Seorang Guru Memungut Sampah

Bab 26. Murid yang Mengubah Wajah Sekolahnya

Bab 27. Kantin Bersih, Siswa Sehat

Bab 28. Taman Sekolah yang Kembali Hijau

Bab 29. Dari Sampah Menjadi Prestasi

Bab 30. Sekolah Bersih, Anak Bahagia, Indonesia Jaya

---

PENUTUP

Bersih Radius Satu Meter, Indonesia Bersih Selamanya

---

LAMPIRAN

1. Instrumen Evaluasi Sekolah Adiwiyata
2. Panduan Gerakan Bersih Radius Satu Meter
3. SOP Pemilahan Sampah di Sekolah
4. Contoh Program Bank Sampah Sekolah
5. Deklarasi Sekolah Bebas Sampah
6. Indikator Sekolah Berbudaya Lingkungan
7. Dokumen Praktik Baik Sekolah Adiwiyata

---

MOTTO BUKU

"Jika setiap warga sekolah membersihkan radius satu meter di sekitarnya, maka seluruh sekolah akan bersih. Jika setiap sekolah bersih, maka Indonesia akan menjadi negeri yang sehat, nyaman, dan ramah lingkungan."

— Dr. Sony Teguh Trilaksono & Dr. Wijaya Kusumah

Senin, 22 Juni 2026

Dasar-Dasar Pendidikan Karya Mohammad Sjafei: Warisan Pemikiran Pendidikan dari INS Kayu Tanam

Dasar-Dasar Pendidikan Karya Mohammad Sjafei: Warisan Pemikiran Pendidikan dari INS Kayu Tanam

Image

Image

Image

Image

Nama Mohammad Sjafei merupakan salah satu tokoh pendidikan nasional yang memiliki pemikiran sangat maju pada masanya. Beliau dikenal sebagai pendiri dan pemimpin Indonesische Nederlandsche School (INS) Kayu Tanam yang berdiri pada tahun 1926 di Kayu Tanam, Sumatera Barat. Sekolah ini lahir sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem pendidikan kolonial Belanda yang lebih banyak mencetak pegawai daripada manusia merdeka dan kreatif. (Wikipedia)

Dalam buku Dasar-Dasar Pendidikan, Mohammad Sjafei mengemukakan gagasan bahwa pendidikan harus mampu membentuk manusia yang berpikir merdeka, memiliki keterampilan hidup, berakhlak baik, serta mampu mengabdi kepada masyarakat. Pemikiran tersebut kemudian menjadi landasan utama penyelenggaraan pendidikan di INS Kayu Tanam.

Pendidikan untuk Kemerdekaan Berpikir

Menurut Mohammad Sjafei, tujuan pendidikan bukan sekadar mengisi otak peserta didik dengan berbagai pengetahuan. Pendidikan harus membebaskan manusia dari ketergantungan berpikir. Murid harus dilatih untuk mencari, menemukan, dan memecahkan masalah secara mandiri.

Beliau menolak sistem pendidikan yang hanya menuntut hafalan. Guru bukan satu-satunya sumber ilmu, melainkan pembimbing yang membantu peserta didik mengembangkan potensinya. Pemikiran ini jauh mendahului konsep pembelajaran aktif yang saat ini dikenal sebagai student centered learning.

Pendidikan Harus Dekat dengan Kehidupan

Salah satu prinsip penting yang diajarkan Mohammad Sjafei adalah pendidikan harus berhubungan langsung dengan kehidupan nyata. Apa yang dipelajari di sekolah harus dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Karena itu, di INS Kayu Tanam para siswa tidak hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung. Mereka juga belajar bertani, berkebun, membuat kerajinan, menggambar, musik, percetakan, hingga berbagai keterampilan teknis lainnya. Pendidikan tidak boleh menghasilkan manusia yang hanya pandai berbicara, tetapi tidak mampu bekerja.

Keseimbangan antara Otak, Hati, dan Tangan

Mohammad Sjafei percaya bahwa pendidikan yang baik harus mengembangkan tiga unsur utama manusia:

  1. Otak (cipta) untuk berpikir dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

  2. Hati (rasa) untuk membangun karakter dan moral.

  3. Tangan (karya) untuk menghasilkan keterampilan dan produktivitas.

Konsep ini kemudian menjadi ciri khas INS Kayu Tanam. Para siswa didorong menjadi manusia yang cerdas, berbudi pekerti, dan terampil bekerja. Pendidikan karakter tidak diajarkan melalui ceramah semata, tetapi melalui pengalaman hidup sehari-hari.

Pendidikan Kemandirian

Di INS Kayu Tanam, siswa dibiasakan hidup mandiri. Mereka ikut menjaga kebersihan sekolah, mengelola berbagai kegiatan, bahkan terlibat dalam produksi barang yang dapat digunakan atau dijual.

Menurut Mohammad Sjafei, sekolah harus menjadi tempat latihan kehidupan. Jika sejak sekolah murid sudah terbiasa bekerja dan bertanggung jawab, maka ketika dewasa mereka akan mampu berdiri di atas kaki sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain.

Pendidikan Nasional yang Berakar pada Budaya Bangsa

Mohammad Sjafei sangat menekankan pentingnya pendidikan yang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Ia mengkritik pendidikan kolonial yang terlalu berorientasi Barat dan kurang memperhatikan budaya lokal.

Di INS Kayu Tanam, nilai-nilai budaya Minangkabau, semangat gotong royong, kerja keras, dan kecintaan terhadap tanah air menjadi bagian penting dalam proses pendidikan. Pendidikan harus melahirkan manusia Indonesia yang bangga terhadap bangsanya sendiri.

Guru sebagai Teladan

Dalam pandangan Mohammad Sjafei, guru tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran. Guru harus menjadi contoh dalam sikap, perilaku, disiplin, dan semangat belajar.

Murid akan lebih mudah meniru tindakan guru daripada mendengarkan nasihatnya. Oleh sebab itu, seorang pendidik harus terus belajar dan mengembangkan diri sepanjang hayat.

Relevansi Pemikiran Mohammad Sjafei di Era Modern

Meskipun gagasan Mohammad Sjafei lahir hampir satu abad yang lalu, pemikirannya masih sangat relevan hingga saat ini. Ketika dunia pendidikan sedang menghadapi tantangan revolusi digital dan kecerdasan buatan (AI), prinsip-prinsip yang beliau ajarkan justru semakin penting.

Pendidikan masa kini tidak cukup hanya menghasilkan siswa yang mampu menjawab soal ujian. Pendidikan harus membentuk generasi yang kreatif, kritis, mandiri, mampu bekerja sama, serta memiliki karakter yang kuat. Semua nilai tersebut telah diterapkan Mohammad Sjafei melalui INS Kayu Tanam sejak tahun 1926.

Kesimpulan

Buku Dasar-Dasar Pendidikan karya Mohammad Sjafei merupakan warisan pemikiran pendidikan Indonesia yang sangat berharga. Melalui INS Kayu Tanam, beliau menunjukkan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan yang memerdekakan manusia, mengembangkan kecerdasan, membentuk karakter, serta melatih keterampilan hidup.

Filosofi pendidikan Mohammad Sjafei dapat diringkas dalam satu gagasan besar: sekolah harus menyiapkan manusia untuk hidup, bukan sekadar untuk lulus ujian. Pemikiran inilah yang menjadikan beliau dikenang sebagai salah satu pelopor pendidikan nasional yang berhasil membangun model pendidikan berbasis kemandirian, kreativitas, dan pengabdian kepada masyarakat. (Wikipedia)

Kamis, 18 Juni 2026

Buku Membacalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi



DAFTAR ISI

MEMBACALAH SETIAP HARI DAN BUKTIKAN APA YANG TERJADI

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)

Kata Pengantar

Prakata Penulis

Mengapa Buku Ini Ditulis?

Cara Memanfaatkan Buku Ini

BAGIAN I

MEMULAI PERJALANAN MEMBACA

Bab 1. Membaca Adalah Investasi Masa Depan

Bab 2. Mengapa Banyak Orang Malas Membaca?

Bab 3. Kekuatan Satu Halaman Setiap Hari

Bab 4. Membaca dan Perubahan Hidup

Bab 5. Kisah Orang-Orang Hebat yang Gemar Membaca

Bab 6. Membaca sebagai Jendela Dunia

Bab 7. Membaca untuk Mengenal Diri Sendiri

Bab 8. Membaca dan Membangun Karakter

Bab 9. Membaca sebagai Gaya Hidup

Bab 10. Menjadikan Membaca Sebagai Kebiasaan

BAGIAN II

MEMBANGUN KEBIASAAN MEMBACA

Bab 11. Rahasia Konsisten Membaca Setiap Hari

Bab 12. Melawan Godaan Gadget dan Media Sosial

Bab 13. Menentukan Target Bacaan

Bab 14. Teknik Membaca 15 Menit Setiap Hari

Bab 15. Membuat Jadwal Membaca yang Menyenangkan

Bab 16. Membangun Sudut Baca di Rumah

Bab 17. Membaca Saat Waktu Luang

Bab 18. Membaca Sebelum Tidur

Bab 19. Membaca Bersama Keluarga

Bab 20. Membaca dan Kesehatan Mental

BAGIAN III

MEMBACA UNTUK BELAJAR DAN BERKARYA

Bab 21. Membaca Melahirkan Ide

Bab 22. Membaca dan Menulis Tidak Bisa Dipisahkan

Bab 23. Dari Membaca Menjadi Penulis

Bab 24. Membaca Buku dan Menulis Resensi

Bab 25. Membaca untuk Guru Profesional

Bab 26. Membaca untuk Pelajar Berprestasi

Bab 27. Membaca untuk Mahasiswa Produktif

Bab 28. Membaca untuk Pemimpin Masa Depan

Bab 29. Membaca dan Berpikir Kritis

Bab 30. Membaca untuk Memecahkan Masalah

BAGIAN IV

MEMBACA DI ERA DIGITAL

Bab 31. Buku Cetak atau Buku Digital?

Bab 32. Memanfaatkan Perpustakaan Digital

Bab 33. Membaca Artikel di Blog dan Website

Bab 34. Membaca di Kompasiana dan Media Online

Bab 35. Memilih Informasi yang Kredibel

Bab 36. Membaca di Era Artificial Intelligence (AI)

Bab 37. AI Membantu Kita Membaca Lebih Cepat

Bab 38. Menghindari Hoaks dengan Banyak Membaca

Bab 39. Literasi Digital untuk Semua

Bab 40. Masa Depan Membaca di Era Teknologi

BAGIAN V

KISAH INSPIRATIF OMJAY DAN PARA PEMBACA

Bab 41. Bagaimana Membaca Mengubah Hidup Omjay

Bab 42. Dari Guru Biasa Menjadi Guru Blogger Indonesia

Bab 43. Buku-Buku yang Menginspirasi Perjalanan Omjay

Bab 44. Membaca dan Menulis Setiap Hari

Bab 45. Kisah Guru yang Hidupnya Berubah karena Membaca

Bab 46. Kisah Siswa yang Menemukan Mimpi dari Buku

Bab 47. Komunitas Literasi yang Mengubah Kehidupan

Bab 48. Membaca Sebagai Amal Jariyah

Bab 49. Membacalah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Bab 50. Warisan Terbaik Seorang Pembaca

EPILOG

Membaca Hari Ini, Sukses Esok Hari

Profil Penulis

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Tentang Omjay

  • Guru Informatika SMP Labschool Jakarta

  • Penulis puluhan buku pendidikan dan literasi

  • Founder Komunitas Belajar Menulis Nusantara (KBMN)

  • Aktif menulis di:

    • wijayalabs.blogspot.com

    • kompasiana.com/wijayalabs

    • wijayalabs.wordpress.com

Referensi

Ucapan Terima Kasih

Indeks

Tagline Buku:
"Satu halaman hari ini, seribu perubahan untuk esok hari." 📚✨




Peluncuran Buku Terbaru Omjay

Menulis dengan Hati di Era AI: Kisah Omjay Meluncurkan Empat Buku Sekaligus

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

"Meluncurkan satu buku itu biasa. Meluncurkan empat buku sekaligus, itu baru luar biasa." — Omjay

Malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah saya lupakan. Melalui sebuah acara daring yang disiarkan langsung di YouTube, saya berkesempatan meluncurkan empat buku sekaligus hasil perjalanan panjang sebagai guru, penulis, blogger, dan pegiat literasi Indonesia. Acara tersebut menjadi bukti bahwa mimpi besar dapat terwujud ketika seseorang mau menulis setiap hari dan tidak pernah menyerah.

📺 Tonton rekaman acaranya di sini:


Menulis Adalah Perjalanan Hidup

Banyak orang bertanya kepada saya, "Omjay, bagaimana caranya bisa menulis begitu banyak buku?"

Jawaban saya sederhana.

Saya tidak pernah memulai dengan tujuan menjadi penulis terkenal. Saya hanya ingin mencatat pengalaman hidup sebagai guru. Setiap hari saya menulis. Kadang hanya beberapa paragraf. Kadang satu artikel penuh. Kadang menulis ketika sedang bahagia. Kadang menulis ketika sedang sedih.

Lama-kelamaan tulisan itu menumpuk menjadi ribuan artikel di blog. Dari blog itulah lahir banyak buku.

Saya percaya bahwa setiap orang memiliki cerita. Masalahnya bukan pada ada atau tidaknya cerita, tetapi mau atau tidaknya kita menuliskannya.

Menulis bukan tentang bakat semata. Menulis adalah soal kebiasaan.

Karena itulah salah satu buku yang saya luncurkan berjudul "Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi." Buku ini lahir dari pengalaman nyata seorang guru biasa yang menemukan keajaiban melalui konsistensi menulis setiap hari.


Empat Buku, Empat Pesan Kehidupan

Dalam acara peluncuran tersebut saya memperkenalkan empat buku yang memiliki benang merah yang sama, yaitu tentang pengabdian, pendidikan, dan kekuatan menulis.

1. Labschool Rumah Keduaku

Buku ini adalah catatan perjalanan lebih dari tiga dekade saya mengabdi di SMP Labschool Jakarta.

Labschool bukan sekadar tempat saya bekerja. Labschool adalah rumah kedua. Tempat saya belajar menjadi guru yang sesungguhnya. Tempat saya tumbuh bersama siswa, rekan guru, dan seluruh keluarga besar sekolah.

Dalam buku ini saya berbagi kisah tentang pendidikan yang tidak hanya mengejar nilai akademik, tetapi juga membentuk karakter, kejujuran, disiplin, dan kepedulian sosial.


2. Menulislah dengan Hati

Buku ini sangat personal bagi saya.

Di era kecerdasan buatan (AI), banyak orang dapat menghasilkan tulisan dengan cepat. Namun saya percaya ada satu hal yang tidak bisa digantikan teknologi, yaitu hati manusia.

Tulisan yang lahir dari pengalaman, kejujuran, perjuangan, dan ketulusan akan selalu memiliki ruh yang menyentuh pembacanya.

Melalui buku ini saya ingin mengajak guru, siswa, dan masyarakat untuk tetap menulis dengan hati. AI boleh membantu, tetapi hati tetap menjadi sumber utama inspirasi.


3. Kasta Tertinggi Seorang Guru

Ketika mendengar judul buku ini, banyak yang penasaran.

Apa sebenarnya kasta tertinggi seorang guru?

Bukan jabatan.

Bukan pangkat.

Bukan gelar akademik.

Kasta tertinggi seorang guru adalah ketika ilmunya terus hidup dalam diri murid-muridnya.

Seorang guru sejati meninggalkan warisan berupa ilmu, karakter, dan keteladanan. Ketika murid-muridnya berhasil dan bermanfaat bagi masyarakat, saat itulah seorang guru mencapai kasta tertingginya.


4. Kisah Omjay: Menulislah Setiap Hari dan Buktikan Apa yang Terjadi

Buku ini menjadi semacam autobiografi sederhana perjalanan saya sebagai guru blogger Indonesia.

Saya ingin menunjukkan kepada pembaca bahwa siapa pun bisa menjadi penulis.

Tidak harus hebat terlebih dahulu.

Tidak harus sempurna terlebih dahulu.

Mulailah dari apa yang ada.

Tulislah pengalaman hari ini.

Tulislah apa yang dipelajari hari ini.

Tulislah apa yang dirasakan hari ini.

Lalu lakukan setiap hari.

Suatu saat Anda akan terkejut melihat hasilnya.


Kehadiran Para Tokoh Pendidikan

Acara peluncuran buku menjadi semakin istimewa karena menghadirkan para tokoh pendidikan yang memberikan apresiasi dan bedah buku.

Salah satunya adalah Prof. Dr. Cepi Riyana, M.Pd., pakar teknologi pendidikan yang dikenal luas melalui karya-karyanya di bidang pendidikan digital dan kecerdasan artifisial. Beliau memberikan pandangan menarik tentang pentingnya guru terus berkarya dan menulis di era AI.

Kehadiran para narasumber membuat saya semakin yakin bahwa budaya literasi harus terus ditumbuhkan di kalangan guru Indonesia.

Guru tidak cukup hanya mengajar.

Guru juga perlu menulis.

Karena tulisan akan membuat pengalaman mengajar menjadi warisan yang tidak lekang oleh waktu.


Menulis di Era AI

Saat ini kita hidup di era yang sangat berbeda.

Kecerdasan buatan berkembang sangat cepat.

Banyak pekerjaan yang dahulu dilakukan manusia kini dapat dibantu teknologi.

Namun saya selalu mengatakan kepada para guru:

"AI adalah alat, bukan pengganti."

Teknologi dapat membantu mencari informasi.

Teknologi dapat membantu menyusun ide.

Teknologi dapat membantu mempercepat proses penulisan.

Tetapi pengalaman hidup, empati, ketulusan, dan nilai-nilai kemanusiaan tetap berasal dari manusia.

Karena itulah guru harus mampu beradaptasi dengan teknologi tanpa kehilangan jati dirinya.

Guru yang mampu memadukan teknologi dan hati akan menjadi guru yang relevan di masa depan.


Pesan untuk Para Guru Indonesia

Melalui peluncuran empat buku ini, saya ingin menyampaikan satu pesan sederhana.

Jangan pernah meremehkan tulisan Anda.

Pengalaman yang menurut Anda biasa saja bisa menjadi inspirasi bagi orang lain.

Cerita kecil di ruang kelas bisa menjadi pelajaran berharga bagi guru di daerah lain.

Kesalahan yang pernah kita alami bisa menjadi hikmah bagi banyak orang.

Mulailah menulis.

Tidak perlu menunggu sempurna.

Tidak perlu menunggu punya banyak waktu.

Mulailah hari ini.

Tulislah satu paragraf.

Besok satu paragraf lagi.

Lakukan terus menerus.

Karena menulis bukan perlombaan cepat, melainkan perjalanan panjang yang penuh makna.


Penutup

Ketika acara peluncuran berakhir, saya merenung sejenak.

Empat buku itu sesungguhnya bukan hanya kumpulan tulisan.

Empat buku itu adalah rekaman perjalanan hidup.

Tentang pengabdian sebagai guru.

Tentang perjuangan menjaga semangat belajar.

Tentang keyakinan bahwa tulisan dapat mengubah kehidupan.

Dan tentang harapan agar semakin banyak guru Indonesia yang berani menulis dan berbagi.

Saya hanyalah seorang guru biasa.

Namun menulis setiap hari telah membawa saya bertemu banyak orang hebat, berbagi inspirasi kepada ribuan guru, dan menghasilkan karya yang bermanfaat.

Maka saya ingin mengajak Anda semua:

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Karena siapa tahu, suatu hari nanti, tulisan Anda akan menjadi cahaya yang menerangi jalan orang lain. ✍️📚

Salam Literasi,
Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Selasa, 16 Juni 2026

Alhamdulillah Buku Terbaru Omjay Terkirim Via JNE dengan biaya terjangkau

Buku Terbaru Omjay Terkirim via JNE dengan Biaya Terjangkau

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay) – Guru Blogger Indonesia

Alhamdulillah, kabar menggembirakan datang dari dunia literasi. Buku-buku terbaru karya Omjay kini mulai dikirim ke berbagai daerah di Indonesia melalui layanan JNE dengan biaya pengiriman yang cukup terjangkau. Dari Bekasi hingga Solo, dari Depok hingga Gorontalo, dari Lombok hingga Malang, buku-buku Omjay telah berangkat menemui para pembacanya. Data pengiriman tanggal 16 Juni 2026 menunjukkan bahwa dalam satu pagi saja, sebelas paket buku berhasil dikirim ke berbagai kota dengan ongkos kirim yang relatif ringan.

Sebagai penulis sekaligus guru yang telah mengabdikan diri lebih dari tiga dekade di dunia pendidikan, saya merasakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata ketika melihat buku-buku yang ditulis dengan penuh cinta itu akhirnya sampai ke tangan pembaca. Setiap buku yang dikirim bukan sekadar tumpukan kertas berisi tulisan, melainkan jejak pengalaman hidup, refleksi pendidikan, semangat literasi, dan harapan agar semakin banyak guru serta masyarakat Indonesia gemar membaca dan menulis.

Pagi itu, saya membuka laporan pengiriman JNE. Satu per satu nama penerima muncul di layar. Ada yang berasal dari Solo, Depok, Bogor, Demak, Jakarta Timur, Gorontalo, Sidoarjo, Lombok Barat, Malang, Banjarnegara, hingga Bandung Barat. Saya tersenyum haru membayangkan buku-buku itu sedang menempuh perjalanan panjang melewati jalan raya, pelabuhan, bandara, dan berbagai jalur distribusi lainnya demi sampai ke rumah para pembaca.

Yang membuat saya semakin bersyukur adalah biaya pengirimannya masih sangat bersahabat. Untuk wilayah yang dekat seperti Depok, Bogor, dan Jakarta Timur, ongkos kirimnya hanya sekitar Rp10.000. Sementara untuk daerah yang lebih jauh seperti Demak, Malang, Banjarnegara, atau Solo, biaya pengiriman tetap berada dalam kisaran yang masih terjangkau. Bahkan untuk wilayah yang cukup jauh seperti Lombok dan Gorontalo, biaya pengirimannya tetap masuk akal dibandingkan manfaat ilmu yang akan diperoleh pembacanya.

Banyak orang bertanya kepada saya, mengapa masih bersusah payah menerbitkan buku cetak di era digital dan kecerdasan buatan? Bukankah sekarang semuanya bisa dibaca melalui layar gawai? Pertanyaan itu selalu saya jawab dengan senyum. Buku cetak memiliki keistimewaan yang tidak tergantikan. Ada aroma kertas yang menenangkan, ada sensasi membalik halaman demi halaman, dan ada kedekatan emosional antara penulis dan pembaca yang sulit digantikan oleh teknologi apa pun.

Saya masih ingat ketika pertama kali menulis buku. Saat itu saya hanya seorang guru yang ingin berbagi pengalaman kepada sesama pendidik. Tidak pernah terbayang bahwa suatu hari buku-buku saya akan dikirim ke berbagai daerah di Indonesia. Semua berawal dari kebiasaan sederhana: menulis setiap hari. Dari satu tulisan menjadi puluhan tulisan, dari puluhan tulisan menjadi ratusan tulisan, lalu lahirlah buku demi buku yang kini menemani perjalanan literasi bangsa.

Melihat laporan pengiriman hari ini membuat saya semakin yakin bahwa budaya membaca dan menulis di Indonesia masih hidup. Banyak guru, mahasiswa, dosen, kepala sekolah, dan pegiat literasi yang rela menyisihkan sebagian rezekinya untuk membeli buku. Mereka memahami bahwa buku bukan pengeluaran, melainkan investasi pengetahuan yang nilainya akan terus bertambah sepanjang hayat.

Saya juga mengucapkan terima kasih kepada JNE yang telah membantu mendistribusikan buku-buku karya Omjay ke berbagai penjuru negeri. Kehadiran jasa pengiriman yang cepat, aman, dan terjangkau sangat membantu para penulis independen seperti saya. Tanpa dukungan layanan logistik yang baik, buku-buku mungkin akan sulit menjangkau pembaca yang berada jauh dari kota besar.

Perjalanan sebuah buku sesungguhnya sangat panjang. Ia dimulai dari sebuah ide yang muncul di kepala penulis. Kemudian ide itu ditulis menjadi naskah, diedit, ditata, dicetak, dipromosikan, dipesan pembaca, dikemas dengan hati-hati, lalu dikirim hingga akhirnya sampai ke tangan pembacanya. Setiap tahap membutuhkan kerja keras dan kesabaran. Karena itu, setiap kali melihat paket buku berangkat dari agen JNE, saya selalu merasa sedang menyaksikan lahirnya sebuah perjalanan ilmu yang baru.

Kepada para sahabat literasi yang telah memesan buku terbaru Omjay, saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Dukungan Anda menjadi energi bagi saya untuk terus menulis dan berkarya. Semoga buku-buku yang Anda terima tidak hanya menjadi koleksi di rak, tetapi benar-benar dibaca, direnungkan, dan menginspirasi lahirnya karya-karya baru.

Bagi yang belum memesan, jangan khawatir. Buku-buku terbaru Omjay masih tersedia dan siap dikirim ke seluruh Indonesia melalui JNE dengan biaya pengiriman yang terjangkau. Mari terus menyalakan semangat literasi. Sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang gemar membaca, menulis, dan berbagi ilmu kepada sesamanya.

Karena saya percaya, setiap buku yang dibaca akan membuka jendela dunia. Dan setiap buku yang ditulis akan membuat penulisnya tetap hidup dalam ingatan, bahkan ketika raganya telah tiada. Itulah keajaiban literasi yang selalu saya yakini sepanjang perjalanan sebagai guru, blogger, dan penulis Indonesia. 📚🇮🇩

Salam Literasi,

Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia

Jumat, 12 Juni 2026

Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran




Meneguhkan Peran Guru dalam Ekosistem Pembelajaran

Rangkuman dan Telaah Materi Prof. Dr. Totok Bintoro, Kepala BPS Labschool UNJ

Materi yang disampaikan Prof. Dr. Totok Bintoro berjudul "Meneguhkan Peran Guru Labschool dalam Ekosistem Pembelajaran" menegaskan bahwa guru bukan lagi sekadar pengajar yang menyampaikan materi di depan kelas, melainkan menjadi pusat kehidupan sebuah ekosistem pembelajaran yang sehat, dinamis, dan transformatif. 

Apa Itu Ekosistem Pembelajaran?

Prof. Totok memulai dengan menjelaskan konsep ekosistem. Dalam ilmu biologi, ekosistem adalah hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya yang saling memengaruhi demi menjaga keberlangsungan hidup. Konsep ini kemudian diterapkan dalam dunia pendidikan. 

Ekosistem pembelajaran adalah jejaring kolaboratif yang melibatkan siswa, guru, tenaga kependidikan, orang tua, sekolah, pemerintah, masyarakat, dan berbagai pihak lainnya yang saling berinteraksi untuk menciptakan lingkungan belajar yang adaptif, inklusif, dan berpusat pada peserta didik. 

Dalam ekosistem yang sehat, semua unsur bergerak harmonis menuju tujuan yang sama, yaitu memanusiakan manusia secara manusiawi agar lahir manusia-manusia yang berkualitas dan berkarakter. 

Guru Adalah Jantung Ekosistem Pembelajaran

Pesan paling kuat dalam presentasi ini adalah bahwa guru merupakan jantung dari ekosistem pembelajaran. 

Jika jantung berhenti berdetak, seluruh tubuh akan lumpuh. Demikian pula jika guru kehilangan semangat, kreativitas, dan komitmen, maka ekosistem pendidikan akan kehilangan energi kehidupannya.

Menurut Prof. Totok, peran guru telah berevolusi menjadi:

1. Aktivator Pembelajaran Mendalam

Guru membantu siswa memahami konsep secara mendalam, bukan sekadar menghafal fakta. Guru mendorong peserta didik berpikir kritis, kreatif, dan mampu memecahkan masalah nyata. 

2. Fasilitator dan Adaptor Teknologi

Di era digital dan kecerdasan buatan (AI), guru harus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana pembelajaran yang interaktif sekaligus membimbing siswa menjadi pembelajar mandiri. 

3. Pembangun Karakter dan Budaya Kelas

Guru menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menyenangkan sehingga siswa tidak takut gagal dan berani mencoba hal-hal baru. 

4. Kolaborator Dunia Nyata

Guru menghubungkan pembelajaran dengan kehidupan nyata melalui kerja sama dengan praktisi, akademisi, dunia usaha, dan dunia industri. 


Labschool Sebagai Lembaga Pendidikan Transformatif

Prof. Totok menegaskan bahwa Labschool bukan sekadar sekolah unggulan, melainkan lembaga pendidikan transformatif. 

Pendidikan transformatif memiliki ciri-ciri:

Berpusat pada refleksi kritis

Mendorong perubahan pola pikir

Berbasis masalah nyata

Mengembangkan dialog rasional

Membentuk pribadi yang mandiri

Mengedepankan kolaborasi dan partisipasi aktif 


Target pendidikan seperti ini bukan hanya menghasilkan siswa yang pandai menjawab soal ujian, tetapi menghasilkan manusia yang:

Berpikir kritis

Adaptif terhadap perubahan

Memiliki empati sosial

Kreatif

Mampu memecahkan masalah

Peka terhadap tantangan global

Mampu melakukan refleksi diri 


Karakter Guru Transformatif

Prof. Totok menggambarkan karakter guru masa depan yang dibutuhkan Labschool dan Indonesia.

Inspiratif

Guru mampu membangkitkan semangat dan harapan peserta didik.

Mengajar dengan Transformasi

Fokus guru bukan hanya mentransfer ilmu, tetapi mengubah sikap, nilai, keyakinan, dan karakter siswa. 

Inovatif

Terbuka terhadap ide baru, berani mencoba hal baru, dan menciptakan budaya inovasi. 

Mentor

Membangun hubungan yang kuat dengan peserta didik dan rekan sejawat. 

Membimbing Berpikir Kritis

Membantu siswa menjadi pembelajar yang mampu menetapkan tujuan hidup dan melakukan refleksi terhadap dirinya sendiri. 


Pendidikan Karakter Dimulai dari Keluarga

Salah satu slide yang sangat menarik menjelaskan bahwa pembentukan karakter tidak hanya dilakukan sekolah.

Ekosistem pembentukan budi pekerti dimulai dari:

1. Keluarga sebagai pembentuk pertama.


2. Sekolah yang menyempurnakan melalui pendidikan dan keteladanan.


3. Masyarakat dan dunia kerja yang memberikan pengaruh lanjutan.


4. Budaya, ilmu pengetahuan, ideologi, politik, media, dan teknologi yang terus memengaruhi kehidupan anak. 



Karena itu pendidikan karakter tidak boleh hanya dibebankan kepada guru.


Akar Karakter yang Harus Ditanamkan

Prof. Totok menggunakan ilustrasi pohon karakter.

Akar yang harus ditanamkan adalah:

Bersyukur

Ikhlas

Jujur

Sabar

Rendah hati

Menghargai sesama

Sederhana

Ketahanan menghadapi kesulitan

Kerja keras 


Jika akar ini kuat, maka akan tumbuh batang, ranting, daun, bunga, dan buah yang baik.

Buahnya adalah manusia yang:

Menghargai diri sendiri

Menghargai orang lain

Menghargai kelompok dan komunitas

Menghargai lingkungan dan keindahan alam 


Ekosistem Pendidikan Labschool

Prof. Totok menggambarkan pendidikan sebagai sebuah sistem besar.

Inputnya adalah siswa.

Prosesnya melibatkan:

Kurikulum

Pendidik dan tenaga kependidikan

Sarana dan prasarana

Pembiayaan

Manajemen sekolah

Dukungan orang tua

Dukungan masyarakat

Dukungan pemerintah dan lingkungan sosial. 


Output akhirnya adalah lulusan unggul yang mampu memberikan kontribusi bagi bangsa dan dunia. 



Mutu atau Mati

Salah satu bagian yang paling menggugah adalah slogan:

"Mutu atau Mati"

Prof. Totok mengajak seluruh insan Labschool untuk membangun budaya mutu melalui pendekatan Total Quality Management (TQM). 

Prinsip TQM yang harus diterapkan:

Customer Satisfaction

Kepuasan pelanggan, yaitu siswa, orang tua, dan masyarakat.

Respect for People

Menghargai setiap individu dalam organisasi.

Speaking with Fact

Semua keputusan berdasarkan data dan fakta.

Continuous Improvement

Perbaikan berkelanjutan atau Kaizen. 

Budaya mutu harus menjadi nafas dalam setiap perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengendalian, dan pengawasan sekolah. 


---

Strategi Membangun Labschool UNJ

Prof. Totok menawarkan tiga strategi utama:

Policy

Kebijakan, regulasi, tata kelola, dan penjaminan mutu.

Technical

Manajemen pendidikan, kurikulum, sistem pembelajaran, pembinaan SDM, serta penghargaan dan evaluasi kinerja.

Cultural

Budaya Labschool, nilai-nilai dasar Labschool, spirit Labschool, dan panduan hidup warga Labschool. 


Waspadai Kesuksesan Semu

Pada bagian akhir, Prof. Totok mengingatkan tentang bahaya Isomorphic Mimicry.

Istilah ini menggambarkan sesuatu yang tampak berhasil dari luar, tetapi sesungguhnya tidak memiliki kualitas yang sesungguhnya. Beliau mengibaratkan dua jenis ular yang terlihat sama, tetapi salah satunya berbisa dan yang lainnya tidak. 

Dalam pendidikan, sekolah tidak boleh hanya tampak hebat karena gedung megah, sertifikat, atau pencitraan.

Kehebatan harus lahir dari mutu yang nyata, budaya belajar yang kuat, karakter yang baik, dan hasil pendidikan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh peserta didik dan masyarakat. 


Kesimpulan

Materi Prof. Dr. Totok Bintoro mengingatkan kita bahwa guru adalah jantung kehidupan sekolah. Ketika guru terus belajar, berinovasi, berkolaborasi, dan menjaga integritasnya, maka seluruh ekosistem pendidikan akan hidup dan berkembang.

Labschool UNJ ingin menjadi lembaga pendidikan transformatif yang tidak hanya menghasilkan siswa cerdas secara akademik, tetapi juga melahirkan manusia yang berkarakter, berempati, kreatif, adaptif, dan siap menghadapi tantangan dunia.

Pesan yang paling membekas dari presentasi ini adalah bahwa pendidikan sejati bukan sekadar mengejar nilai, melainkan membentuk manusia seutuhnya. Guru menjadi aktor utama yang menjaga denyut kehidupan ekosistem pembelajaran itu setiap hari. Sebagaimana slogan penutup yang ditampilkan Prof. Totok Bintoro:

"Dari Labschool untuk Indonesia dan Dunia." 

Oleh: Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. (Omjay)
Guru Blogger Indonesia – SMP Labschool Jakarta