Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Jumat, 14 Agustus 2026

Kisah Kakek Mas Ahmad Dimjati


Jejak Kakek Dimjati di Al-Azhar: Dari Aula Masjid hingga Menjadi Sekolah Besar

Ada cerita yang terasa berbeda ketika datang langsung dari anaknya sendiri. Cerita itu bukan sekadar kenangan seorang cucu kepada kakeknya, tetapi kesaksian dari orang yang menyaksikan perjalanan hidup sang ayah dari dekat. Begitulah kisah Kakek M.A. Dimjati yang diceritakan oleh Mas Achmad Hanafi, Om Oi, anak beliau.

Menurut cerita Om Oi, dahulu nama masjid yang sekarang dikenal sebagai Masjid Agung Al-Azhar adalah Masjid Agung Kebayoran. Dalam pembangunan masjid tersebut, Uyut H.M.D. Sutawijaya, ayah dari Nene Djubaedah, juga ikut menjadi panitia pembangunan. Saat itu beliau bekerja di Kotapraja dan kantornya berada di kawasan CSW, yang sekarang dikenal sebagai lokasi Gedung ASEAN. Dari lingkungan inilah keluarga kemudian memiliki hubungan yang cukup dekat dengan perjalanan awal Masjid Agung Kebayoran.

Namun, ada bagian sejarah yang sangat menarik dan penting bagi keluarga, yaitu kiprah Kakek M.A. Dimjati dalam mendirikan dan mengembangkan sekolah di lingkungan masjid tersebut.

Pada sekitar tahun 1960-an, menurut penuturan Om Oi, sekolah yang didirikan Kakek Dimjati bernama Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran. Sekolah itu pada awalnya belum memiliki gedung besar seperti sekolah yang kita kenal sekarang. Kegiatan belajar mengajar justru dimulai dari tempat yang sangat sederhana, yaitu aula masjid.

Bayangkan suasana kelas pada masa itu. Anak-anak belajar di aula masjid, duduk di bawah, dengan bangku panjang yang dalam satu baris dapat digunakan oleh sekitar sepuluh orang. Tidak ada ruang kelas yang megah. Tidak ada fasilitas modern. Tidak ada berbagai perangkat teknologi seperti yang dimiliki sekolah masa kini.

Tetapi pendidikan tidak pernah menunggu gedung menjadi sempurna.

Ada guru yang mau mengajar. Ada murid yang mau belajar. Ada orang tua yang percaya kepada pendidikan. Dan ada sosok seperti Kakek Dimjati yang berani memulai.

Inilah bagian yang membuat saya semakin terharu ketika menelusuri kisah Kakek Dimjati. Sebuah sekolah yang kelak berkembang besar ternyata pernah dimulai dari aula masjid dengan bangku panjang dan murid-murid yang duduk bersama-sama. Kebesaran sebuah lembaga pendidikan ternyata memang sering kali dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana.

Seiring berjalannya waktu, jumlah murid semakin banyak. Aula masjid tidak lagi mampu menampung seluruh anak yang ingin belajar. Karena itu, kegiatan belajar kemudian dipindahkan ke beberapa ruangan di sekitar Masjid Agung Kebayoran. Guru yang mengajar juga bertambah. Kakek Dimjati tidak lagi sendirian. Beberapa guru ikut membantu agar anak-anak dapat memperoleh pendidikan dengan lebih baik.

Menurut Om Oi, bahkan ada anak dari kawasan Kedutaan yang bersekolah di madrasah tersebut. Ini menunjukkan bahwa sekolah yang dirintis dari lingkungan masjid itu mulai mendapatkan kepercayaan masyarakat yang lebih luas.

Di bagian penerimaan murid, ada pula seorang yang dikenal bernama Habib Abdullah. Rumahnya berada di belakang Masjid Agung. Kehadiran orang-orang seperti inilah yang ikut menjadi bagian dari cerita awal perjalanan sekolah tersebut.

Kalau kita berhenti sejenak dan membayangkan keadaan pada masa itu, ada sebuah pelajaran yang sangat dalam. Kakek Dimjati tidak sedang membangun sebuah sekolah besar untuk dirinya sendiri. Ia sedang membangun tempat agar anak-anak dapat belajar. Ia mungkin tidak pernah membayangkan bahwa beberapa puluh tahun kemudian lembaga pendidikan tersebut akan berkembang menjadi bagian dari jaringan pendidikan Al-Azhar yang begitu dikenal masyarakat.

Pada sekitar tahun 1970, menurut cerita Om Oi, Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin kemudian membangun gedung baru khusus untuk sekolah di halaman depan Masjid Agung. Gedung itu menghadap Jalan Sisingamangaraja. Dengan adanya gedung baru tersebut, kegiatan pendidikan menjadi semakin berkembang.

Nama sekolah itu kemudian dikenal sebagai Sekolah Islam Teladan Al-Azhar. Dalam perjalanan berikutnya, tempat tersebut mengalami perubahan fungsi dan perkembangan hingga kini dikenal sebagai bagian dari lingkungan Universitas Al-Azhar Indonesia.

Bagi saya, cerita ini bukan hanya tentang sebuah gedung. Justru yang paling penting adalah manusia yang berada di balik lahirnya pendidikan tersebut.

Kakek Dimjati adalah salah satu orang yang memulai dari bawah. Ia tidak menunggu sekolah memiliki gedung sendiri. Ia tidak menunggu murid datang dalam jumlah banyak. Ia memulai dari aula masjid. Ketika murid bertambah, ia mencari ruang. Ketika jumlah guru tidak mencukupi, ia menambah guru.

Ada sebuah semangat yang sangat kuat di sana: pendidikan harus berjalan meskipun fasilitas belum sempurna.

Dan ternyata, semangat seperti itulah yang sering menjadi awal dari perubahan besar.

Om Oi bahkan masih mengingat sesuatu yang bagi orang lain mungkin dianggap sepele, tetapi bagi keluarga merupakan benda bersejarah. Dahulu, Kakek Dimjati masih menyimpan stempel sekolah Madrasah Islamiyah Masjid Agung Kebayoran.

Saya membayangkan stempel itu. Mungkin bentuknya sederhana. Mungkin sudah tidak terlihat istimewa. Tetapi kalau benda tersebut masih ada, sesungguhnya ia bukan sekadar stempel. Ia adalah saksi bisu dari sebuah masa ketika Kakek Dimjati bersama para guru lainnya berjuang mendidik anak-anak di aula Masjid Agung Kebayoran.

Satu cap di atas kertas mungkin terlihat kecil. Tetapi di balik cap itu ada nama sekolah, ada guru, ada murid, ada orang tua, ada perjuangan, dan ada sejarah.

Karena itu, kalau stempel tersebut masih tersimpan di keluarga, menurut saya benda itu layak dirawat dengan baik. Bahkan kalau memungkinkan, perlu difoto, dicatat keterangannya, dan disimpan bersama dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan sejarah Kakek Dimjati. Kelak benda sederhana itu bisa menjadi bagian penting dari dokumentasi sejarah keluarga dan pendidikan.

Kisah ini juga membuat saya melihat kembali foto lama Kakek M.A. Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru. Foto itu sekarang memiliki makna yang lebih dalam. Kita tidak lagi hanya melihat beberapa orang guru berdiri di depan sebuah bangunan. Kita sedang melihat orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan pendidikan pada masa awal.

Di dalam foto itu ada wajah-wajah yang mungkin sudah tidak dikenal oleh generasi sekarang. Tetapi mereka pernah berdiri bersama, mengajar bersama, dan berjuang bersama. Salah satunya adalah Kakek Dimjati.

Sementara itu, di rumah, cucu-cucunya mengenang beliau sebagai Engki yang murah senyum, ramah, tidak suka marah, memberikan permen ketika pulang, senang makan lobak putih, dan selepas salat Subuh sering memberikan kultum sebelum berdoa. Jadi, sosok Kakek Dimjati memiliki dua wajah kenangan yang saling melengkapi: seorang pendidik yang berjuang di luar rumah dan seorang kakek yang penuh kasih sayang di tengah keluarga.

Kini, ketika anak dan cucu beliau mulai mengumpulkan kembali cerita-cerita lama, saya merasa sedang membuka sebuah album sejarah yang selama ini tersimpan dalam ingatan keluarga.

Ada cerita tentang Al-Azhar. Ada cerita tentang madrasah. Ada cerita tentang aula masjid. Ada cerita tentang murid-murid yang semakin banyak. Ada cerita tentang guru-guru yang kemudian ikut membantu. Ada cerita tentang gedung baru pada masa Ali Sadikin. Ada cerita tentang stempel sekolah yang pernah disimpan Kakek Dimjati.

Semua cerita itu seperti kepingan puzzle. Kalau dikumpulkan satu demi satu, akan terlihat gambaran besar tentang perjuangan seorang guru yang mungkin tidak pernah merasa dirinya sedang menulis sejarah.

Justru itulah keindahan seorang pendidik. Ia bekerja pada zamannya, mengajar anak-anak di hadapannya, dan menanamkan ilmu tanpa mengetahui bagaimana besar buah dari pekerjaannya kelak.

Kakek Dimjati mungkin tidak pernah menyangka bahwa cucu-cucunya puluhan tahun kemudian akan duduk bersama, bertanya, mengingat, membuka foto lama, mencari dokumen, dan mencoba menyusun kembali perjalanan hidupnya.

Tetapi itulah yang sekarang sedang dilakukan.

Kita sedang mencari kembali jejak seorang guru yang dahulu mencari muridnya sendiri.

Dari aula Masjid Agung Kebayoran, dari bangku panjang yang diduduki banyak anak, dari ruang-ruang sederhana di sekitar masjid, dari bertambahnya murid dan guru, hingga berdirinya gedung sekolah yang lebih besar—semuanya menjadi bagian dari perjalanan panjang pendidikan.

Semoga kisah Kakek M.A. Dimjati tidak berhenti sebagai cerita keluarga. Semoga ia menjadi inspirasi bahwa sekolah besar dapat bermula dari ruang sederhana, pendidikan besar dapat lahir dari kepedulian kecil, dan seorang guru dapat meninggalkan warisan yang jauh lebih panjang daripada usia hidupnya.

Gedung boleh berubah, nama sekolah boleh berubah, zaman boleh berganti. Tetapi jejak seorang guru yang tulus mendidik akan selalu tinggal dalam ingatan murid, anak, cucu, dan generasi yang datang sesudahnya.

Dan mungkin, suatu hari nanti, ketika seseorang melihat kembali foto lama Kakek Dimjati bersama para guru Al-Azhar Kebayoran Baru, ia akan bertanya, “Siapa mereka?”

Lalu keluarga akan menjawab dengan bangga:

“Mereka adalah orang-orang yang pernah ikut menanam benih pendidikan. Dan salah satunya adalah Kakek M.A. Dimjati.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.