GoPay Kompasiana Makin Tipis, Iklannya Makin Manis: Sebuah Gugatan dengan Senyum
Ada satu misteri yang sampai sekarang belum berhasil dipecahkan oleh para penulis Kompasiana. Mengapa semakin rajin menulis, semakin banyak pembaca, semakin banyak iklan berseliweran, tetapi GoPay yang diterima penulis justru terasa semakin kecil?
Ini bukan teka-teki silang. Ini juga bukan soal matematika tingkat lanjut. Namun, kalau dibiarkan, bisa-bisa para Kompasianer harus mengikuti pelatihan khusus: “Cara Menghitung Penghasilan Tanpa Menangis.”
Saya sebagai penulis yang sudah cukup lama berkeliaran di dunia Kompasiana ingin menggugat dengan cara yang paling aman: menggugat sambil tersenyum. Sebab kalau menggugat sambil marah, nanti dikira sedang kurang piknik. Kalau menggugat sambil menangis, takutnya admin malah bingung harus memberikan tisu atau menjelaskan algoritma.
Pertanyaan sederhana saya kepada admin dan pengelola Kompasiana adalah: mengapa GoPay penulis semakin kecil, sementara iklan di Kompasiana terasa semakin banyak?
Dulu, ketika membuka artikel, kita merasa seperti sedang membaca tulisan. Sekarang, kadang-kadang rasanya seperti sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan. Baru membaca judul, ada iklan. Baru membaca paragraf pertama, ada iklan. Scroll sedikit, bertemu iklan lagi.
Saya sampai berpikir, jangan-jangan nanti ketika membuka artikel akan muncul tulisan: “Untuk melanjutkan membaca paragraf berikutnya, silakan nikmati iklan selama 30 detik.”
Kalau itu terjadi, saya tidak akan protes. Saya hanya ingin tahu, apakah setelah iklannya selesai, GoPay saya ikut bertambah?
Sebab inilah yang menjadi kegelisahan banyak penulis. Kami memahami bahwa sebuah platform membutuhkan biaya. Server harus dibayar, pegawai harus digaji, teknologi harus dikembangkan, dan iklan merupakan salah satu sumber pendapatan. Itu semua masuk akal.
Tetapi penulis juga punya kebutuhan yang masuk akal.
Penulis membutuhkan alasan untuk terus menulis.
Menulis bukan sekadar mengetik. Ada waktu yang dikeluarkan untuk mencari ide, membaca referensi, menyusun kalimat, mengedit tulisan, memilih foto, membuat judul, kemudian membagikan artikel ke berbagai media sosial. Bahkan setelah artikel terbit, penulis masih harus membalas komentar pembaca.
Kalau semua itu dihargai dengan GoPay yang semakin tipis, lama-lama muncul pertanyaan sederhana: apakah kami sedang menulis untuk mendapatkan penghasilan, atau sedang membantu menyediakan konten gratis agar iklan semakin ramai?
Nah, di sinilah humor mulai berubah menjadi pertanyaan serius.
Saya membayangkan ada seorang Kompasianer duduk di depan laptop sambil berkata kepada istrinya, “Bu, hari ini saya dapat GoPay dari Kompasiana.”
Istrinya menjawab, “Berapa?”
“Lumayan.”
“Bisa buat beli apa?”
“Bisa buat beli… semangat.”
Waduh!
Semangat memang penting. Tetapi warung tidak menerima pembayaran dengan semangat. Tukang nasi goreng juga belum tentu mau dibayar dengan jumlah pembaca. Kalau kita berkata, “Bang, saya punya 10.000 views,” mungkin tukang nasi goreng menjawab, “Bagus. Tapi saya tetap perlu uang untuk beli beras.”
Karena itu, saya berharap pengelola Kompasiana mau membuka ruang komunikasi yang sehat dengan para penulis. Jangan sampai penulis hanya diminta rajin membuat konten, sementara mekanisme penghargaan terhadap konten tersebut semakin sulit dipahami.
Kalau pendapatan iklan meningkat, apakah mungkin sebagian peningkatan itu bisa ikut dirasakan oleh para penulis?
Kalau jawabannya tidak memungkinkan, tentu kami ingin tahu alasannya.
Kalau algoritmanya berubah, jelaskan.
Kalau sistem perhitungan GoPay berubah, jelaskan.
Kalau jumlah iklan meningkat tetapi pendapatan penulis tidak otomatis meningkat karena ada banyak faktor lain, jelaskan juga.
Penulis sebenarnya bisa menerima kenyataan yang tidak menyenangkan, asalkan mendapatkan penjelasan yang menyenangkan.
Yang membuat penasaran adalah ketika angka pendapatan mengecil sementara iklan semakin rajin muncul. Rasanya seperti kita sedang melihat toko yang semakin penuh pembeli, tetapi pedagangnya berkata kepada pegawainya, “Gajimu bulan ini kita kurangi karena toko semakin ramai.”
Lho?
Bukankah biasanya kalau toko semakin ramai, peluang pendapatan juga semakin besar?
Tentu saja saya tidak sedang mengatakan bahwa seluruh pendapatan iklan harus dibagikan kepada penulis. Tidak sesederhana itu. Saya juga tidak tahu bagaimana biaya operasional Kompasiana dihitung. Tetapi sebagai penulis, saya merasa berhak bertanya: bagaimana sebenarnya hubungan antara iklan, traffic, engagement, dan GoPay?
Kami bukan ahli keuangan Kompasiana. Kami hanya penulis yang ingin memahami permainan di lapangan.
Sebab penulis itu sebenarnya makhluk yang sederhana. Diberi pembaca, senang. Diberi komentar, senang. Artikelnya masuk headline, senang. Mendapat apresiasi, senang. Kalau kemudian ada GoPay, tentu tambah senang.
Tetapi kalau pembaca banyak, iklan banyak, komentar ada, lalu GoPay makin kecil, penulis bisa mengalami kondisi psikologis baru yang mungkin belum ada dalam buku psikologi: “bingung monetisasi.”
Maka izinkan saya, Omjay, menyampaikan gugatan kecil dengan bahasa besar:
Wahai admin Kompasiana, jangan biarkan penulis hanya menjadi mesin produksi artikel.
Kami ingin menjadi bagian dari ekosistem yang sehat. Platform membutuhkan penulis, dan penulis membutuhkan platform. Pembaca membutuhkan tulisan yang berkualitas, sementara pengiklan membutuhkan pembaca. Semua sebenarnya saling membutuhkan.
Kalau satu bagian merasa semakin kecil sementara bagian lain terlihat semakin besar, tentu wajar jika muncul pertanyaan.
Saya berharap pertanyaan ini tidak dianggap sebagai serangan. Justru sebaliknya, ini adalah bentuk kepedulian dari penulis yang masih ingin Kompasiana menjadi rumah yang nyaman bagi para kreator.
Saya masih ingin menulis di Kompasiana. Saya masih ingin membaca tulisan teman-teman. Saya masih ingin berdiskusi di kolom komentar. Saya bahkan masih ingin mengejar GoPay.
Tetapi jangan sampai suatu hari nanti para penulis membuat slogan baru:
“Menulislah setiap hari, dapatkan pembaca sebanyak-banyaknya, dan buktikan bahwa GoPay bisa menghilang secara misterius.”
Hehehe.
Akhirnya, saya hanya punya satu permintaan sederhana kepada admin dan pengelola Kompasiana: tolong jelaskan kepada kami, para penulis, mengapa GoPay terasa semakin kecil ketika iklan terasa semakin besar?
Kami tidak minta bulan.
Kami hanya minta penjelasan yang terang.
Kalau memang ada alasan teknis, sampaikan. Kalau ada perubahan kebijakan, umumkan. Kalau sistem monetisasi sedang dievaluasi, beri tahu. Dengan komunikasi yang terbuka, penulis tidak perlu menerka-nerka.
Sebab penulis itu tugasnya menulis cerita, bukan menulis teori konspirasi tentang algoritma.
Dan kalau nanti GoPay kembali membesar, kami berjanji akan membuat artikel yang lebih bahagia:
“GoPay Kompasiana Membesar, Penulis Pun Kembali Bersinar.”
Semoga bukan sekadar judul.
Semoga menjadi kenyataan.
Karena pada akhirnya, penulis juga ingin mendapatkan apresiasi yang sepadan dengan tulisan yang mereka lahirkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.