Kisah Wijaya Kusumah
Dari Naik Transportasi Umum ke Menulis Buku: Kisah OmJay Mengubah Musibah Vertigo dan Stroke Menjadi Inspirasi Literasi Indonesia
Musibah mengubah cara OmJay bepergian, tetapi justru melahirkan inspirasi baru. Dari transportasi umum lahir kisah, buku, dan gerakan literasi.
Setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda. Ada kalanya kita berjalan di jalan yang mulus, tetapi tidak jarang pula kita harus melewati jalan yang penuh tikungan, tanjakan, bahkan jurang yang menguji kesabaran. Saya percaya bahwa tidak ada peristiwa yang terjadi tanpa hikmah. Allah selalu memiliki rencana terbaik bagi hamba-Nya yang mau bersabar dan mengambil pelajaran.
Saya merasakan sendiri bagaimana sebuah musibah ternyata mampu mengubah arah kehidupan. Bukan mengubah menjadi lebih buruk, tetapi justru membuka pintu-pintu pengalaman yang sebelumnya tidak pernah saya bayangkan.
Beberapa waktu lalu saya mengalami vertigo yang cukup berat, kemudian disusul serangan stroke. Saat itu saya benar-benar merasakan bahwa kesehatan adalah nikmat yang luar biasa. Ketika tubuh tidak lagi sekuat dahulu, barulah kita menyadari betapa berharganya setiap langkah yang selama ini kita anggap biasa.
Setelah menjalani pemeriksaan dan pengobatan, dokter memberikan pesan yang sangat tegas. Demi keselamatan, saya tidak diperbolehkan lagi mengemudikan mobil sendiri. Keluarga pun mendukung keputusan tersebut. Awalnya saya merasa sedih. Selama bertahun-tahun saya terbiasa menyetir dari rumah menuju SMP Labschool Jakarta, menghadiri seminar di berbagai kota, menjadi narasumber pelatihan guru, hingga mengunjungi berbagai komunitas literasi.
Kini semua itu harus berubah.
Saya harus belajar menjadi penumpang.
Keputusan tersebut tentu tidak mudah diterima. Ada rasa kehilangan. Ada rasa khawatir akan berkurangnya aktivitas. Bahkan sempat terlintas dalam pikiran, apakah saya masih bisa produktif seperti sebelumnya?
Namun, Allah ternyata sedang mengajarkan saya pelajaran yang jauh lebih berharga.
Sejak tidak lagi membawa mobil, saya mulai menggunakan transportasi umum setiap hari. Dari rumah menuju sekolah, kemudian kembali pulang dengan moda transportasi yang tersedia. Awalnya saya menganggap perjalanan itu hanyalah rutinitas baru. Ternyata perjalanan tersebut menjadi sekolah kehidupan yang sesungguhnya.
Di dalam kendaraan umum saya bertemu dengan begitu banyak manusia dari berbagai latar belakang. Ada pegawai kantor yang berangkat sejak subuh agar tidak terlambat bekerja. Ada siswa yang membawa tas besar sambil tetap tersenyum. Ada ibu yang menggendong anak kecil dengan penuh kasih sayang. Ada pedagang yang membawa barang dagangannya demi memenuhi kebutuhan keluarga. Ada petugas kebersihan yang bekerja tanpa banyak mendapat sorotan, tetapi jasanya begitu besar bagi masyarakat.
Di dalam kendaraan umum, semua menjadi sama.
Tidak ada ruang khusus bagi jabatan.
Tidak ada tempat istimewa bagi gelar akademik.
Semua duduk berdampingan sebagai manusia yang sedang berjuang menjalani kehidupannya masing-masing.
Saya belajar bahwa kehidupan tidak hanya tentang mencapai tujuan, tetapi juga menikmati setiap proses perjalanan.
Setiap pagi saya mulai memperhatikan hal-hal kecil yang dahulu sering terlewatkan. Seorang anak muda dengan sigap mempersilakan lansia duduk. Seorang pelajar membantu mengambilkan barang yang jatuh milik penumpang lain. Sopir dan petugas transportasi tetap melayani penumpang dengan ramah meskipun harus menghadapi kemacetan dan berbagai karakter manusia.
Hal-hal sederhana seperti itulah yang menghangatkan hati saya.
Saya semakin yakin bahwa kebaikan masih tumbuh subur di negeri ini. Sayangnya, kebaikan sering kali kalah ramai dibandingkan berita-berita negatif yang memenuhi media sosial.
Sebagai seorang guru sekaligus blogger, saya merasa memiliki tanggung jawab untuk menyebarkan kabar baik. Bukankah tugas seorang pendidik bukan hanya mengajar di ruang kelas, tetapi juga menghadirkan harapan melalui tulisan?
Akhirnya saya mulai menuliskan pengalaman sehari-hari selama menggunakan transportasi umum. Saya menuliskannya apa adanya. Tidak saya tambah-tambahi, tidak pula saya kurangi. Saya hanya ingin berbagi bahwa setiap perjalanan memiliki cerita.
Tulisan-tulisan tersebut saya unggah ke blog pribadi.
Di luar dugaan, respons pembaca begitu luar biasa.
Banyak yang mengatakan bahwa mereka ikut merasakan perjalanan saya. Ada yang mengaku kembali semangat menggunakan transportasi umum. Ada pula yang tersentuh karena menyadari bahwa musibah tidak selalu menjadi penghalang untuk berkarya.
Saya semakin percaya pada kalimat yang selama ini selalu saya sampaikan kepada para peserta pelatihan menulis.
"Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi."
Kalimat itu bukan sekadar slogan. Kalimat itu adalah pengalaman hidup saya sendiri.
Dahulu saya menulis tentang perjalanan belajar ke Jepang, Tiongkok, Turki, dan berbagai daerah di Indonesia. Kini saya menulis tentang perjalanan yang jaraknya tidak terlalu jauh, tetapi maknanya sangat mendalam.
Perjalanan dari rumah menuju sekolah ternyata mampu melahirkan puluhan ide tulisan.
Saya menyadari bahwa inspirasi tidak harus dicari sampai ke luar negeri. Inspirasi justru berada di sekitar kita. Di halte, di stasiun, di dalam bus, di kereta, bahkan di bangku tempat kita menunggu kendaraan datang.
Yang dibutuhkan hanyalah kepekaan melihat kehidupan.
Semakin sering saya menulis, semakin banyak pula pembaca yang mengirimkan cerita mereka. Ada guru yang mulai kembali aktif menulis. Ada mahasiswa yang berani membuat blog pribadi. Ada pelajar yang menjadikan pengalaman sehari-hari sebagai bahan artikel.
Saya merasa sangat bahagia.
Ternyata satu tulisan mampu melahirkan tulisan lainnya.
Satu inspirasi mampu melahirkan ribuan inspirasi baru.
Dari situlah muncul keinginan untuk mengumpulkan seluruh pengalaman tersebut menjadi sebuah buku. Saya ingin meninggalkan jejak bahwa perjalanan sederhana menggunakan transportasi umum ternyata menyimpan pelajaran kehidupan yang luar biasa.
Buku itu bukan sekadar kumpulan cerita perjalanan. Buku itu adalah bukti bahwa Allah mampu mengubah musibah menjadi keberkahan.
Buku itu juga menjadi saksi bahwa keterbatasan fisik tidak pernah membatasi semangat untuk terus berkarya.
Agar semangat menulis semakin meluas, saya kemudian menginisiasi Lomba Blog Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Saya ingin momentum kemerdekaan tidak hanya diperingati dengan upacara dan perlombaan tradisional, tetapi juga dirayakan melalui karya-karya literasi yang menginspirasi bangsa.
Menulis adalah bentuk kemerdekaan berpikir.
Menulis adalah bentuk keberanian menyampaikan gagasan.
Menulis adalah cara meninggalkan warisan yang akan terus hidup meskipun penulisnya telah tiada.
Sebelum lomba dimulai, saya mengundang seluruh sahabat literasi mengikuti Webinar Nasional dan Sosialisasi Lomba Blog Hari Kemerdekaan RI ke-81 yang akan dilaksanakan pada Sabtu, 15 Agustus 2026 pukul 19.00 WIB melalui Zoom Meeting.
Dalam webinar tersebut saya akan berbagi kisah perjalanan selama menggunakan transportasi umum setelah mengalami vertigo dan stroke. Saya juga akan menjelaskan secara lengkap mengenai ketentuan lomba, teknik menulis artikel yang menarik, strategi membangun literasi digital, cara menjadi blogger yang konsisten, hingga berbagai peluang yang bisa diraih melalui dunia kepenulisan.
Kegiatan ini semakin istimewa karena didukung oleh Euro Management Indonesia yang menyediakan total benefit pendidikan senilai Rp125.000.000 berupa IELTS Prediction Test, SAT Prediction Test, dan Kursus Bahasa Jerman selama 20 jam secara gratis sesuai ketentuan yang berlaku.
Saya berharap kegiatan ini menjadi titik awal lahirnya lebih banyak penulis Indonesia yang tidak hanya pandai merangkai kata, tetapi juga mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
Saya selalu percaya bahwa tulisan yang baik bukanlah tulisan yang viral sesaat. Tulisan yang baik adalah tulisan yang mampu mengubah cara berpikir pembacanya menjadi lebih positif.
Musibah yang saya alami memang membuat saya tidak lagi memegang setir mobil. Namun, musibah itu justru membawa saya memegang "setir kehidupan" dengan cara yang berbeda. Saya belajar menjadi penumpang yang lebih sabar, menjadi pengamat yang lebih peka, dan menjadi penulis yang lebih bersyukur.
Kini saya memahami bahwa Allah tidak sedang mengambil kebahagiaan saya. Allah hanya mengubah jalannya agar saya menemukan kebahagiaan yang baru.
Dari bangku transportasi umum saya menemukan senyum yang tulus.
Saya menemukan kepedulian yang sederhana.
Saya menemukan persaudaraan di antara orang-orang yang bahkan tidak saling mengenal.
Dan yang paling penting, saya menemukan kembali alasan mengapa saya harus terus menulis.
Saya ingin mengajak siapa pun yang membaca tulisan ini untuk tidak pernah menyerah pada keadaan. Jangan menunggu hidup menjadi sempurna untuk mulai berkarya. Justru di tengah keterbatasanlah sering lahir karya-karya terbaik.
Jika hari ini Anda sedang menghadapi ujian, yakinlah bahwa setiap ujian membawa pelajaran. Jika hari ini Anda sedang merasa kehilangan, percayalah bahwa Allah sedang menyiapkan hadiah yang mungkin belum Anda lihat.
Mari kita rayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 dengan memerdekakan pikiran melalui tulisan. Mari memenuhi ruang digital dengan kisah-kisah yang menumbuhkan harapan, menyebarkan semangat, dan menginspirasi sesama.
Semoga kita dipertemukan dalam Webinar Nasional dan Sosialisasi Lomba Blog pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Mari belajar bersama, berbagi pengalaman, dan membuktikan bahwa satu tulisan dapat mengubah kehidupan banyak orang.
Karena saya telah membuktikannya sendiri.
Dari sebuah musibah lahirlah rasa syukur.
Dari rasa syukur lahirlah tulisan.
Dari tulisan lahirlah buku.
Dan dari buku, semoga lahir semakin banyak insan yang mencintai literasi dan menjadikan menulis sebagai jalan untuk menebarkan manfaat.
Salam Blogger Persahabatan.
Salam Literasi.
Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.
Salam blogger persahabatan
Wijaya Kusumah - omjay
Guru blogger indonesia
Blog https://wijayalabs.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.