Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Minggu, 23 Agustus 2026

Syukuran Hut YPTD yang ke-6 di Karimata Resto

Enam Tahun YPTD: Ketika Buku Menjadi Jalan Panjang Menebar Manfaat

Kisah Omjay
Blog https://wijayalabs.com

Sabtu, 23 Agustus 2026, mata saya tertuju pada sebuah spanduk yang terpampang di sebuah tempat acara di Jakarta Timur. Tulisan di spanduk itu sederhana, tetapi maknanya sangat dalam: “Dirgahayu ke-6 Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan.” Di bawahnya tercantum perjalanan waktu yang jelas, 19 Agustus 2019–19 Agustus 2026. Enam tahun bukanlah waktu yang sebentar. Ada perjalanan panjang, ada kerja keras, ada suka dan duka, dan tentu saja ada banyak cerita tentang bagaimana sebuah yayasan terus berkomitmen menghadirkan buku-buku berkualitas untuk masyarakat Indonesia.

Saya kemudian membaca tulisan lainnya yang membuat saya semakin kagum. Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan (YPTD) telah menerbitkan 417 judul buku. Angka 417 bukan sekadar angka. Di balik setiap judul buku ada penulis, ada gagasan, ada pengalaman, ada proses menyunting naskah, ada desain sampul, ada proses mencetak, dan yang paling penting adalah ada keberanian untuk meninggalkan jejak pemikiran dalam bentuk tulisan.

Bagi saya, buku adalah salah satu cara manusia berbicara kepada generasi yang belum tentu pernah ditemuinya. Seorang guru mungkin menulis pengalaman mengajarnya hari ini, tetapi beberapa tahun kemudian tulisan itu bisa dibaca oleh guru lain di berbagai daerah. Seorang kepala sekolah mungkin menuliskan praktik baik di sekolahnya, lalu pengalaman itu menjadi inspirasi bagi sekolah lain. Seorang penulis mungkin hanya merasa sedang bercerita tentang kehidupannya, tetapi ternyata kisah tersebut mampu menguatkan seseorang yang sedang berada dalam kesulitan.

Itulah mengapa saya selalu mengatakan bahwa menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Menulis bukan hanya pekerjaan untuk mendapatkan uang. Menulis adalah cara menyimpan pengalaman agar tidak hilang ditelan waktu. Ketika pengalaman sudah menjadi buku, ia memiliki kesempatan untuk hidup lebih lama daripada penulisnya.

Saya melihat semangat seperti itu dalam perjalanan YPTD. Enam tahun telah dilewati dengan menerbitkan ratusan judul buku. Bahkan pada spanduk tersebut juga tercantum Penghargaan Perpusnas 2024. Penghargaan tentu menjadi kebanggaan, tetapi menurut saya penghargaan yang paling penting adalah ketika buku yang diterbitkan benar-benar sampai kepada pembaca dan memberikan manfaat.

Ada satu kalimat yang juga menarik perhatian saya: “Berkomitmen menerbitkan buku berkualitas.” Kalimat ini terlihat singkat, tetapi sesungguhnya mengandung tanggung jawab besar. Menerbitkan buku bukan sekadar membuat sebuah naskah menjadi buku. Ada proses menjaga kualitas isi, bahasa, tampilan, dan nilai manfaatnya. Di situlah penerbit memiliki peran penting dalam menjaga agar gagasan para penulis tidak berhenti di dalam laptop atau tumpukan dokumen digital.

Sebagai seorang guru dan blogger yang sudah lama berada di dunia menulis, saya memahami betul bahwa banyak orang sebenarnya memiliki cerita yang sangat menarik, tetapi tidak semua orang berani menuliskannya. Ada guru yang puluhan tahun mengajar tetapi belum pernah menerbitkan buku. Ada orang tua yang memiliki pengalaman hidup luar biasa tetapi merasa kisahnya tidak layak dibaca. Ada kepala sekolah yang memiliki banyak praktik baik tetapi belum sempat mendokumentasikannya.

Padahal, bisa jadi pengalaman sederhana kita adalah sesuatu yang sangat berharga bagi orang lain.

Saya teringat perjalanan saya sendiri sebagai seorang guru blogger. Ketika mulai menulis, saya tidak pernah membayangkan bahwa tulisan-tulisan sederhana di blog kelak bisa berkembang menjadi buku. Dari blog saya belajar bahwa menulis harus dimulai dari hal-hal yang dekat dengan kehidupan. Jangan menunggu menjadi penulis hebat untuk mulai menulis. Justru dengan menulis terus-menerus, kita sedang menjalani proses menjadi penulis yang lebih baik.

Karena itu, keberadaan lembaga seperti YPTD sangat penting. Dunia literasi membutuhkan ekosistem. Penulis membutuhkan ruang untuk belajar. Naskah membutuhkan editor. Buku membutuhkan penerbit. Pembaca membutuhkan karya yang berkualitas. Semua unsur tersebut harus berjalan bersama agar budaya membaca dan menulis semakin kuat.

Saya membayangkan 417 judul buku yang sudah diterbitkan YPTD sebagai 417 pintu pengetahuan. Setiap pintu membawa pembaca ke dunia yang berbeda. Ada pengalaman pribadi, pendidikan, sosial, budaya, teknologi, agama, dan berbagai kisah kehidupan lainnya. Jika setiap buku dibaca oleh ratusan atau ribuan orang, betapa luasnya manfaat yang telah menyebar.

Enam tahun perjalanan YPTD juga mengingatkan kita bahwa membangun budaya literasi tidak bisa dilakukan secara instan. Diperlukan konsistensi. Diperlukan kesabaran. Diperlukan orang-orang yang mau bekerja bukan hanya ketika sedang ramai diperbincangkan, tetapi juga ketika tidak banyak orang memberikan perhatian.

Saya percaya, pekerjaan menerbitkan buku adalah pekerjaan peradaban.

Hari ini mungkin kita hanya melihat sebuah buku di atas meja. Namun beberapa tahun kemudian, buku tersebut bisa menjadi sumber inspirasi bagi seorang guru, bahan pembelajaran bagi seorang siswa, penguat bagi seseorang yang sedang menghadapi masalah, atau bahkan menjadi dokumen penting yang merekam perjalanan sebuah zaman.

Karena itu, saya memberikan apresiasi kepada YPTD yang telah melewati usia enam tahun. Semoga perjalanan panjang ini terus berlanjut. Semoga 417 judul buku bukan menjadi angka akhir, melainkan menjadi awal menuju ribuan judul buku berikutnya.

Bagi para guru, penulis, pegiat literasi, dan siapa pun yang memiliki pengalaman berharga, jangan takut untuk menulis. Jangan merasa tulisan kita terlalu sederhana. Jangan menunggu sempurna. Tuliskan pengalaman itu, rapikan, bagikan, dan jika memungkinkan abadikan dalam bentuk buku.

Sebab kita tidak pernah tahu siapa yang suatu hari nanti akan membutuhkan cerita kita.

Saya sendiri masih terus belajar menulis. Saya masih terus membuat catatan kecil dari perjalanan hidup. Dari ruang kelas, perjalanan, pertemuan dengan guru, kegiatan literasi, hingga berbagai kejadian sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu saya jadikan bahan untuk terus menulis.

Bagi saya, hidup adalah perjalanan dan menulis adalah cara untuk mengabadikan perjalanan tersebut.

Selamat ulang tahun ke-6 Yayasan Pustaka Thamrin Dahlan.

Teruslah menerbitkan buku berkualitas. Teruslah membuka ruang bagi para penulis. Teruslah menyalakan lilin literasi di tengah derasnya arus informasi digital.

Semoga semakin banyak penulis lahir, semakin banyak buku diterbitkan, semakin banyak pembaca tumbuh, dan semakin banyak gagasan baik yang mengubah kehidupan.

Buku boleh selesai ditulis, tetapi manfaatnya jangan pernah berhenti.

Salam literasi.

Omjay/Kakek Jay 
Guru Blogger Indonesia

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.