BERDERMA KATA: Sedekah yang Bikin Grup WA Tidak Seperti Kuburan
Pagi-pagi saya membuka WhatsApp. Niat awal sebenarnya sederhana: mau mencari informasi penting. Tapi seperti biasa, niat sering kalah oleh godaan.
Baru membuka satu grup, saya sudah menemukan puluhan pesan.
Ada yang mengirim video motivasi.
Ada yang mengirim berita.
Ada yang mengirim foto sarapan.
Ada yang mengirim poster kegiatan.
Ada yang mengirim tulisan panjangnya sendiri.
Ada pula yang mengirim video kucing mengejar ayam.
Saya membaca semuanya sambil tersenyum. Namun ada satu hal yang menarik perhatian saya. Hampir semua postingan itu berlalu begitu saja.
Sepi.
Tidak ada respons.
Tidak ada emoji.
Tidak ada komentar.
Tidak ada satu pun yang menulis, “Terima kasih.”
Grup WhatsApp mendadak terasa seperti ruang kelas setelah bel pulang. Semua orang sudah pergi, tetapi papan tulis masih penuh tulisan.
Saya kemudian teringat pada cerita tentang Vito, seorang teman yang punya kebiasaan unik. Dia jarang sekali membuat postingan, tetapi hampir selalu merespons postingan orang lain.
Ada yang mengirim tulisan motivasi, Vito menjawab, “Wah, postingan ini membuat gue semakin optimis menghadapi hidup. Thanks, Bro.”
Ada yang mengirim cerita lucu, dia menjawab, “Menghibur banget! Makasih, Bro.”
Ada yang mengirim informasi teknologi, dia langsung berkomentar, “Luar biasa! Membuka wawasan sekali. Sering-sering posting kayak ginian, Bro.”
Bahkan ketika seseorang mengirim tulisannya sendiri, Vito tetap hadir dengan komentar sederhana, “Wah, tulisan lo mencerahkan sekali. Ditunggu tulisan berikutnya, Bro.”
Saya kemudian bertanya kepada Vito, “To, lo itu sebenarnya dibayar berapa sih sama admin grup?”
Vito bingung.
“Dibayar? Emangnya gue kerja di grup?”
“Lha, tiap orang posting selalu lo respons. Jangan-jangan admin memberikan tunjangan kinerja?”
Dia tertawa.
“Gue cuma berderma kata, Om.”
Saya langsung terdiam.
Berderma kata.
Wah, ini istilah menarik.
Selama ini saya mengenal sedekah harta. Ada orang menyumbangkan uang. Ada yang menyumbangkan makanan. Ada yang mewakafkan tanah. Ada pula yang menyumbangkan waktu dan tenaga.
Ternyata ada juga sedekah yang modalnya cuma jempol.
Murah sekali.
Tidak perlu transfer bank.
Tidak perlu antre di ATM.
Tidak perlu membawa uang tunai.
Cukup mengetik:
“Terima kasih.”
“Bagus sekali.”
“Menginspirasi.”
“Semoga bermanfaat.”
“Ditunggu tulisan berikutnya.”
Selesai.
Tapi efeknya bisa luar biasa.
Saya kemudian berpikir, jangan-jangan kita selama ini terlalu pelit memberikan kata-kata baik.
Uang Rp10.000 saja kadang kita pikir-pikir mau diberikan kepada orang lain.
Tapi memberikan kata “terima kasih” pun kadang terasa seperti kehilangan aset negara.
Ada orang mengirim tulisan sepanjang 1.500 kata.
Kita baca.
Kita suka.
Kita dapat manfaat.
Tetapi untuk mengetik “terima kasih” saja tangan kita terasa kram.
Akhirnya kita hanya membaca.
Lalu pergi.
Seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Padahal di balik tulisan itu ada manusia.
Ada orang yang mungkin menghabiskan waktu dua jam untuk menulis.
Ada orang yang mungkin sedang belajar.
Ada orang yang mungkin sedang mencari keberanian untuk mempublikasikan pikirannya.
Ada orang yang mungkin hanya ingin didengar.
Dan satu komentar sederhana bisa membuatnya berkata dalam hati, “Oh, ternyata tulisan saya dibaca orang.”
Inilah yang saya sebut sebagai **berderma kata**.
Kita tidak selalu mampu memberikan harta dalam jumlah besar. Tetapi hampir semua orang mampu memberikan apresiasi.
Masalahnya cuma satu: **mau atau tidak?**
Saya jadi teringat seorang teman di dunia literasi bernama Meta Tangkudung.
Di grup The Writers, Meta termasuk orang yang rajin memberikan respons. Tidak hanya di WhatsApp, di website pun dia rajin memberikan komentar pada tulisan orang lain.
Komentarnya positif.
Tidak bertele-tele.
Tidak sok pintar.
Tidak mencari kesalahan.
Tetapi cukup untuk membuat penulis merasa bahwa tulisannya benar-benar dibaca.
Bagi seorang penulis, komentar seperti itu bisa menjadi vitamin.
Apalagi penulis pemula.
Kadang seseorang sudah berjuang menulis berjam-jam, kemudian artikelnya tayang.
Lalu...
Sunyi.
Tidak ada yang membaca.
Tidak ada komentar.
Tidak ada yang menyapa.
Penulis akhirnya menatap layar sambil bertanya, “Apakah tulisan saya jelek?”
Padahal belum tentu.
Bisa jadi orang lain belum sempat membaca.
Atau sudah membaca tetapi lupa memberikan respons.
Atau lebih parah lagi, sudah membaca tetapi jempolnya sedang malas bekerja.
Ini penyakit zaman digital.
Jempol kita sangat aktif menggulir layar, tetapi mendadak pensiun ketika diminta mengetik komentar positif.
Lucu, ya?
Untuk menggulir TikTok bisa sampai tiga jam.
Untuk mengetik “Keren, Pak” butuh perjuangan batin tujuh hari tujuh malam.
Saya pun kemudian memahami mengapa “berderma kata” menjadi penting.
Kita hidup di zaman ketika orang setiap hari dibombardir oleh berita negatif.
Bangun tidur membaca konflik.
Sarapan membaca perdebatan.
Siang membaca komentar saling serang.
Sore melihat orang bertengkar di media sosial.
Malam sebelum tidur masih membaca orang saling menghujat.
Besok pagi diulang lagi.
Kalau begini terus, kapan hati kita mendapatkan vitamin?
Jangan-jangan kita bukan kekurangan informasi.
Kita justru kelebihan informasi tetapi kekurangan apresiasi.
Kita terlalu sering menjadi hakim di media sosial, tetapi jarang menjadi penyemangat.
Kita cepat menemukan kesalahan orang lain, tetapi lambat menemukan kebaikannya.
Ada orang salah ketik satu huruf, langsung dikoreksi.
Ada orang menulis 1.000 kata dengan susah payah, tidak ada satu pun yang memberi apresiasi.
Ini yang menurut saya perlu kita ubah.
Bukan berarti semua tulisan harus dipuji.
Bukan pula berarti kita tidak boleh mengkritik.
Kritik tetap penting.
Tetapi kritik bisa disampaikan dengan cara yang manusiawi.
Jangan sampai seseorang baru belajar menulis langsung kita sambut seperti sedang ujian doktoral.
“Argumentasi Anda lemah.”
“Data Anda tidak valid.”
“Referensinya mana?”
“Ini plagiarisme bukan?”
Lho, Pak!
Dia baru belajar menulis.
Belum tentu dia sedang mengajukan disertasi.
Kadang orang hanya butuh satu kalimat sederhana:
“Terus menulis. Tulisanmu semakin bagus.”
Kalimat sederhana itu mungkin tidak mengubah dunia.
Tetapi bisa mengubah hari seseorang.
Bisa mengubah perasaan seseorang.
Bisa membuat seseorang kembali percaya diri.
Bahkan mungkin membuat seseorang kembali menulis setelah sebelumnya ingin menyerah.
Itulah kekuatan kata.
Kata memang tidak bisa dimakan.
Tetapi kata bisa membuat orang semangat mencari makanan.
Kata tidak bisa dipakai membayar listrik.
Tetapi kata bisa membuat seseorang kembali bekerja ketika hampir menyerah.
Kata tidak bisa membeli obat.
Tetapi kata-kata yang baik kadang mampu menenangkan hati orang yang sedang gelisah.
Karena itu, saya mulai berpikir bahwa **berderma kata seharusnya menjadi budaya baru di ruang digital.**
Bayangkan kalau setiap anggota grup WhatsApp melakukan hal yang sama seperti Vito.
Ada orang posting, kita respons.
Tidak harus panjang.
Tidak harus pintar.
Tidak harus menggunakan bahasa akademik.
Cukup tulus.
“Terima kasih sudah berbagi.”
“Menarik sekali.”
“Saya mendapatkan wawasan baru.”
“Semoga bermanfaat.”
“Atau bahkan cukup: Mantap, Bro!”
Sudah.
Selesai.
Tapi jangan salah.
Bagi orang yang menerima, mungkin itu sangat berarti.
Saya bahkan membayangkan kalau gerakan ini benar-benar dilakukan banyak orang, grup WhatsApp kita akan terasa berbeda.
Tidak lagi seperti pasar yang ramai tetapi semua orang berteriak sendiri.
Tidak lagi seperti ruang tunggu yang penuh manusia tetapi tidak ada yang saling menyapa.
Melainkan menjadi ruang digital yang hangat.
Ruang tempat orang merasa dihargai.
Ruang tempat orang berani berbagi.
Ruang tempat orang tidak takut tulisannya ditertawakan.
Ruang tempat orang belajar saling menguatkan.
Maka saya setuju kalau **“Berderma Kata” dijadikan sebuah gerakan literasi.**
Tidak perlu menunggu kaya.
Tidak perlu menunggu menjadi tokoh terkenal.
Tidak perlu menunggu punya banyak pengikut.
Tidak perlu menunggu menjadi pejabat.
Bahkan tidak perlu menunggu punya buku best seller.
Mulailah dari grup WhatsApp kita sendiri.
Hari ini, kalau ada teman mengirim tulisan, jangan hanya membaca.
Berikan satu kata.
Kalau ada teman mengirim kabar baik, jangan hanya melihat.
Berikan selamat.
Kalau ada teman sedang belajar, jangan ditertawakan.
Berikan semangat.
Kalau ada teman membuat karya, jangan buru-buru mencari kekurangannya.
Hargai dulu keberaniannya.
Karena bisa jadi, di balik satu postingan yang terlihat sederhana, ada seseorang yang sedang berjuang keras untuk tetap percaya bahwa dirinya masih berharga.
Dan akhirnya saya mengerti mengapa saya kagum kepada Vito.
Bukan karena dia punya banyak harta.
Bukan karena dia sering tampil.
Bukan karena dia paling pintar.
Tetapi karena dia mau membuat orang lain merasa dihargai.
Dia mungkin tidak sadar, tetapi setiap respons positif yang dia tuliskan adalah sebuah sedekah kecil.
Sedekah yang tidak membuat rekening banknya berkurang.
Sedekah yang tidak membuat dompetnya menipis.
Sedekah yang bahkan mungkin hanya membutuhkan waktu lima detik.
Tetapi bisa membuat orang lain tersenyum selama berjam-jam.
Nah, kalau begitu, mulai sekarang mari kita **berderma kata**.
Tapi hati-hati.
Jangan sampai terlalu rajin berderma kata, nanti grup WA berubah menjadi tempat semua orang saling memuji.
Ada yang posting foto nasi goreng:
“Wah, luar biasa. Menginspirasi!”
Ada yang posting foto sandal:
“Indah sekali. Membuka wawasan.”
Ada yang posting, “Saya baru bangun tidur.”
Dijawab:
“Masyaallah. Sangat mencerahkan. Ditunggu bangun berikutnya.”
Nah, itu namanya bukan lagi berderma kata.
Itu sudah **berderma ngawur**.
Hehehe...
Jadi, berdermalah dengan tulus.
Berikan kata yang baik ketika memang ada sesuatu yang baik untuk diapresiasi.
Sebab dunia digital sudah terlalu bising oleh kebencian.
Kalau kita tidak mampu memadamkan seluruh kebisingan itu, setidaknya jangan ikut menambah suara berisiknya.
Mari kita menjadi orang yang menghadirkan kesejukan.
Mari kita menjadi Vito berikutnya.
Mari menjadi Meta berikutnya.
Mari menjadi Omjay berikutnya.
Eh, jangan Omjay deh.
Nanti kalau semua orang jadi Omjay, siapa yang mau membaca tulisan Omjay?
Hehehe...
**Berderma kata itu murah, tetapi nilainya bisa sangat mahal bagi orang yang menerimanya.**
Maka, kalau hari ini ada seseorang mengirim tulisan di grup WA, jangan buru-buru pergi.
Berhenti sebentar.
Baca.
Rasakan.
Lalu berikan satu kalimat yang baik.
Siapa tahu, satu kalimat dari jempol kita hari ini menjadi alasan seseorang untuk tidak menyerah menulis esok hari.
**Yuk, berderma kata.**
Karena kadang-kadang, yang dibutuhkan seseorang bukan uang kita, bukan nasihat kita, bahkan bukan solusi kita.
Dia hanya ingin tahu satu hal:
**“Apakah ada yang membaca dan menghargai saya?”**
Dan jawaban itu bisa kita berikan hanya dengan beberapa kata.
Murah sekali.
Tetapi indah sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.