PENGANTAR/TESTIMONI
Buku “Belajar dari Negeri Tirai Bambu,
Membawa Inspirasi untuk Indonesia”
Membaca buku Belajar dari Negeri Tirai
Bambu, Membawa Inspirasi untuk Indonesia karya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd (Om
Jay) ini rasanya seperti duduk bersama seorang sahabat yang baru pulang
dari perjalanan jauh, lalu dengan mata berbinar bercerita apa saja yang ia
lihat dan rasakan di sana. Selama 21 hari mengikuti program pendidikan di China
University of Mining and Technology, Xuzhou, Om Jay tidak sekadar mencatat
seperti seorang turis, melainkan menyerapnya sebagai seorang guru, yakni bagaimana
rasanya berada di tengah bangsa yang menjadikan belajar, riset, dan inovasi
sebagai napas keseharian mereka. Dari situlah lahir refleksi yang jujur dan
hangat tentang bagaimana sebuah negara membangun kualitas manusianya lewat
budaya belajar yang tak pernah putus.
Sebagai bagian dari keluarga besar
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, saya ikut senang membaca buku ini
karena menemukan begitu banyak hal yang terasa dekat dengan apa yang sedang
kita perjuangkan bersama: pembelajaran berbasis proyek, integrasi STEAM,
pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan secara bermakna, budaya literasi
dan riset sejak dini, hingga peran guru sebagai fasilitator belajar sepanjang
hayat. Semua itu ternyata selaras betul dengan semangat Pembelajaran Mendalam (deep
learning) yang tengah kita perkuat di mana murid didorong menjadi
pembelajar aktif, dan guru menjadi penggerak perubahan. Lewat kisah OmJay, kita
diingatkan bahwa gagasan kebijakan yang baik tidak selalu lahir dari ruang
rapat, tetapi bisa juga tumbuh dari kepekaan seorang guru yang jeli mengamati
praktik baik di negeri orang. Semangat itu mengingatkan saya pada falsafah Ki
Hajar Dewantara berikut ini.
“Ing ngarsa sung tuladha, ing madya
mangun karsa, tut wuri handayani.”
Di depan memberi teladan, di tengah
membangun semangat, di belakang memberi dorongan dan itulah persis sosok yang
ditunjukkan OmJay sepanjang bukunya, yakni seorang guru yang terus bergerak,
terus belajar, dan tak segan berbagi apa yang ia dapat kepada sesama pendidik
di tanah air.
Yang paling menyentuh dari buku ini
adalah kerendahan hatinya. OmJay menegaskan, belajar dari bangsa lain bukan
berarti kita kehilangan jati diri, justru sebaliknya, itu memperkaya cara
pandang kita untuk memajukan pendidikan bangsa sendiri. Semangat inilah yang
juga digaungkan Confucius, tokoh besar dari negeri yang disinggahi OmJay,
lewat kata-katanya yang sederhana namun dalam.
“Belajar tanpa berpikir adalah sia-sia;
berpikir tanpa belajar adalah berbahaya.”
Semoga buku ini menjadi bacaan yang
menyenangkan sekaligus menggugah, bagi para murid, guru, kepala sekolah,
mahasiswa, dosen, orang tua, dan siapa saja yang peduli pada dunia Pendidikan bahwa
belajar itu tidak mengenal batas usia maupun geografis, dan investasi terbaik
bagi masa depan bangsa tetap ada pada pendidikan, serta pada para guru/dosen yang
tak pernah berhenti belajar dan memberikan cahaya ilmunya. Selamat membaca.
Jakarta, 3 Agustus 2026
Sekretaris Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah,
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah
Muhammad Yusro


Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.