Selamat Datang di Blog Wijaya Kusumah

Untuk Pelayanan Informasi yang Lebih Baik, maka Isi Blog Wijaya Kusumah juga tersedia di blog baru di http://wijayalabs.com

Rabu, 12 Agustus 2026

Saat Masih Sekolah Apa yang Kamu Lakukan?

Saat Masih Sekolah, Apa yang Paling Kamu Rindukan?

Pagi itu saya melihat sebuah pertanyaan sederhana terpampang di layar: “Saat masih sekolah, apa yang paling kamu rindukan?” Pertanyaan tersebut sebenarnya sangat sederhana, tetapi diam-diam mampu membawa pikiran kita berjalan jauh ke masa lalu. Masa ketika seragam sekolah masih melekat di tubuh, tas tergantung di bahu, dan bel sekolah menjadi suara yang begitu akrab setiap hari.

Saya teringat masa sekolah saya sendiri. Ada banyak hal yang dulu terasa biasa saja, bahkan terkadang membuat kita ingin segera lulus. Namun setelah bertahun-tahun meninggalkan bangku sekolah, justru hal-hal sederhana itulah yang paling sering dirindukan. Bertemu teman setiap pagi, bercanda di dalam kelas, menunggu guru datang, mengerjakan tugas bersama, bahkan dimarahi guru pun kini menjadi kenangan yang terasa manis.

Sekolah ternyata bukan hanya tentang buku, pelajaran, nilai, dan ujian. Sekolah adalah tempat kita belajar menjadi manusia. Di sanalah kita pertama kali mengenal persahabatan, persaingan, kerja sama, tanggung jawab, kegagalan, keberhasilan, bahkan rasa kehilangan. Banyak pelajaran penting dalam kehidupan justru tidak tertulis di papan tulis dan tidak selalu keluar dalam soal ujian.

Ketika melihat para peserta kegiatan di PGRI Provinsi Jawa Barat seperti pada foto ini, saya membayangkan pertanyaan tersebut tentu memiliki jawaban yang berbeda-beda. Ada yang merindukan teman sebangku. Ada yang merindukan guru favorit. Ada yang rindu suasana kantin sekolah. Ada yang ingin kembali mengikuti upacara bendera. Ada pula yang mungkin sangat merindukan masa ketika masalah terbesar dalam hidup hanyalah pekerjaan rumah yang belum selesai.

Saya sendiri mungkin paling merindukan kebersamaan. Dulu, bertemu teman bukan sesuatu yang harus dijadwalkan melalui WhatsApp. Setiap hari kami otomatis bertemu di sekolah. Kalau ingin berbicara, tinggal duduk bersebelahan. Kalau ingin bermain, cukup berjalan ke halaman sekolah. Kalau ada masalah, teman-teman ada di depan mata untuk mendengarkan cerita.

Sekarang semuanya berbeda. Teknologi membuat kita semakin mudah berkomunikasi, tetapi belum tentu membuat kita semakin dekat. Kita bisa mengirim pesan kepada siapa saja dalam hitungan detik, tetapi pertemuan tatap muka justru menjadi sesuatu yang semakin mahal. Karena itu, kenangan masa sekolah terasa begitu berharga.

Ada satu hal lagi yang saya rindukan: semangat untuk bermimpi.

Ketika masih sekolah, rasanya dunia begitu luas. Kita bebas bercita-cita menjadi guru, dokter, insinyur, pengusaha, penulis, tentara, programmer, atau apa pun yang kita inginkan. Tidak terlalu banyak yang kita pikirkan tentang kegagalan. Yang ada dalam pikiran hanyalah bagaimana suatu hari nanti bisa menjadi seseorang yang membanggakan orang tua.

Seiring bertambahnya usia, ternyata kehidupan mengajarkan hal yang berbeda. Kita mulai mengenal tanggung jawab, kebutuhan keluarga, pekerjaan, berbagai persoalan, dan kenyataan bahwa tidak semua mimpi dapat diraih dengan mudah. Namun justru karena itulah saya selalu percaya bahwa mimpi anak-anak sekolah harus dirawat, bukan dipadamkan.

Sebagai seorang guru, saya sering melihat wajah anak-anak yang sedang tumbuh mencari jati dirinya. Mereka mungkin belum tahu akan menjadi apa kelak. Tidak apa-apa. Tugas guru bukan memaksa mereka segera menemukan semua jawaban, tetapi menemani mereka menemukan jalan.

Saya pernah berada di posisi mereka. Duduk di bangku sekolah, mendengarkan guru berbicara di depan kelas, menulis catatan, mengerjakan tugas, dan sesekali memandang keluar jendela sambil membayangkan masa depan. Kini saya justru berada di sisi lain kelas. Saya menjadi guru dan melihat generasi baru tumbuh dengan tantangan yang berbeda.

Itulah mengapa pertanyaan “Saat masih sekolah, apa yang paling kamu rindukan?” menjadi sangat bermakna bagi saya. Pertanyaan ini bukan sekadar mengajak kita bernostalgia. Lebih jauh lagi, pertanyaan ini mengingatkan bahwa waktu terus berjalan.

Anak-anak yang hari ini duduk di bangku sekolah suatu saat akan menjadi orang dewasa. Mereka akan bekerja, berkeluarga, menjadi guru, dokter, pengusaha, pejabat, atau profesi lainnya. Suatu hari nanti, mereka juga akan melihat foto-foto lama dan bertanya kepada dirinya sendiri, “Mengapa dulu saya tidak lebih menikmati masa sekolah?”

Maka, untuk para guru, mari kita ciptakan sekolah yang kelak dirindukan oleh murid-murid kita. Jangan hanya membuat mereka mengingat rumus dan teori, tetapi berikan pengalaman yang membekas di hati. Jadikan kelas sebagai tempat yang aman untuk bertanya, mencoba, gagal, belajar, dan tumbuh.

Untuk para murid, nikmatilah masa sekolah. Hargai guru-gurumu. Sayangi teman-temanmu. Jangan terlalu cepat ingin meninggalkan masa yang sedang kamu jalani. Sebab kelak, ketika semuanya sudah berlalu, kita mungkin akan rela membayar mahal hanya untuk kembali menikmati satu hari sebagai siswa.

Dan untuk saya sendiri, sekolah bukan sekadar masa lalu. Sekolah adalah bagian dari perjalanan hidup yang terus hidup dalam ingatan.

Hari ini saya menjadi guru. Besok mungkin saya akan menjadi kenangan bagi murid-murid saya. Semoga ketika mereka sudah dewasa nanti, ada satu hal yang mereka rindukan dari sekolah: suasana belajar yang membuat mereka merasa dihargai, dicintai, dan dipercaya untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Sebab pada akhirnya, yang paling kita rindukan dari sekolah bukanlah gedungnya, bukan seragamnya, bukan pula nilai rapornya.

Yang kita rindukan adalah orang-orang yang pernah membuat masa sekolah kita begitu berarti.

Dan mungkin, itulah alasan mengapa setiap kali bertemu teman lama atau guru yang pernah mengajar kita, hati tiba-tiba terasa hangat. Kita seperti kembali menjadi anak sekolah untuk beberapa saat.

Menulislah setiap hari dan buktikan apa yang terjadi. Karena kenangan yang dituliskan hari ini, bisa menjadi cerita yang dirindukan orang lain di kemudian hari.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan memberikan komentar pada blog ini, dan mohon untuk menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan yang benar.